peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang memerlukan gerak karena hampir
seluruh aktifitas manusia dalam hidupnya dilakukan dengan bergerak.
Dalam melakukan pekerjaan apapun profesinya manusia juga harus
bergerak oleh karena itu apabila terjadi sakit atau cedera yang
menyebabkan manusia terbatasi geraknya jelas akan mengurangi
produktifitas kerja yang tentunya akan menurunkan pula keadaan sosial
ekonomi manusia tersebut. Begitu pentingnya bergerak bagi manusia
sehingga manusia akan selalu berusaha untuk mencegah supaya tidak
cedera atau sakit yang menyebabkan pembatasan diri dalam bergerak.
Namun, sayangnya masyarakat Indonesia masih kurang memperhatikan
pentingnya pencegahan sakit atau cedera yang mengakibatkan penurunan
gerak dan aktifitas fungsional tubuh ini.
Salah satu usaha untuk mencegah sakit adalah dengan olahraga.
Olahraga adalah serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk
memelihara
gerak
(mempertahankan
hidup)
dan
meningkatkan
kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Olahraga merupakan
alat untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan jasmani, rohani
dan sosial. (AS Watson 1999).
1
2
Masalahnya yang pertama adalah olahraga dirasakan bukan satu
hal yang penting ketika seseorang merasa sehat terlebih dalam lingkungan
yang serba sibuk dengan pekerjaan. Dalam sebuah polling yang
melibatkan sekitar 1100 wanita di Inggris menujukan empat dari lima
wanita tidak melakukan cukup olahraga untuk menjaga kesehatan mereka
satu dari empat bahkan tidak melakukan sama sekali dan hanya satu dari
lima yang berolahraga lima kali seminggu atau lebih dari 30 menit
(….www.pjnhk.go.id, 2010). Masalah kedua adalah seringkali olahraga
dilakukan secara tidak teratur sehingga hal ini justru lebih sering
menyebabkan kelelahan dan cedera yang membuat sesorang malas untuk
melakukan olahraga. Selain itu pemahaman tentang olahraga yang baik
dan benar dan keselamatan dalam berolahraga sering diabaikan sehingga
sering terjadi cedera saat melakukan olahraga
Atlet adalah seorang yang melakukan olahraga sebagai aktifitas
yang bertujuan yaitu untuk prestasi dan sebagai profesi sehingga mereka
akan sangat memperhatikan usaha pencegahan cedera saat berolahraga ini
namun sayangnya seringkali sebagai seorang atlet apalagi yang profesional
maka mereka akan menjalani rutinitas pelatihan dengan intensitas tinggi
dan jadwal pertandingan yang ketat sehingga mereka sering mengalami
sindroma penggunaan berlebihan/ overuse syndrome yaitu suatu cedera
dengan ciri adanya kumpulan berbagai gejala akibat penggunaan struktur
tubuh secara berlebihan. Dengan demikian atlit walaupun secara umum
memiliki kesehatan dan kebugaran yang lebih baik dibanding orang
3
kebanyakan namun justru mereka lebih rentan terhadap suatu cedera yang
dapat mempengaruhi aktifitas gerak dan tentunya keadaan sosial ekonomi.
Untuk itulah sekarang ini dilakukan berbagai usaha untuk
mencegah cedera pada atlet agar mereka dapat tetap melakukan pelatihan
dan pertandingan dengan aman dan mempunyai umur prestasi yang lama.
Ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang berkembang saat ini
menunjang dilakukannya penelitian mengenai tekinik – teknik dalam
mencegah cedera dan meningkatkan prestasi atlet serta mengaplikasikan
penelitian tersebut pada atlet. Sumber daya manusia yang terlibat di dalam
olahraga prestasi pun semakin banyak. Jika sebelumnya seorang atlet
hanya didampingi seorang pelatih maka sekarang ada pelatih fisik, dokter
spesialis olahraga dan fisioterapis hingga pemijat/ masseur dan manajer
atlet untuk menunjang kemampuan atlet (Kemenegpora, 2000).
Fisioterapis merupakan salah satu profesi kesehatan yang
mempunyai kompetensi dalam bidang latihan dan olahraga serta
mempunyai obyek forma gangguan gerak dan kemampuan fungsional.
Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan
kepada individu dan atau kelompok unutk mengembangkan, memelihara
dan mengembalikan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan
dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak,
peralatan (fisik, elektroterapeutis, mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi
(Kepmenkes 1363/2001 pasal 1 ayat 2).
Sehingga fisioterapi sangat berperan didalam mengembangkan,
memelihara, dan memulihkan kemampuan fungsional klien yang
diantarnya adalah atlet olahraga
4
Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah suatu fenomena
yang sering ditemui dan terdokumentasi dengan baik, sering terjadi
sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau intensitas tinggi
(Connolly et al. 2003; MacIntyre et al. 1995). Gejala-gejala yang
menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap
gerak pasif, bengkak, penurunan kekuatan dan daya ledak otot, sakit lokal,
dan rasa posisisendi/ proprioception yang terganggu (Proske and Morgan
2001). Gejala - gejala akan sering muncul dalam 24 jam setelah latihan
dan biasanya menghilang setelah 3 – 4 hari (Clarkson and Sayers 1999).
DOMS ini lebih banyak terjadi pada olahraga yang banyak
melakukan gerakan yang sama dengan intensitas tinggi misal pada
olahraga berenang, bersepeda, bola basket, badminton dan sebagainya.
Untuk otot-otot yang berada di kuadran bawah maka yang sering
mengalami DOMS adalah otot erector spinae, kelompok otot adductor, otot
hamstring dan otot-otot quadriceps. Otot – otot tersebut memang otot yang
terus menerus melakukan kontraksi eksentrik dengan intensitas tinggi. Jika
melihat struktur serabut ototnya maka otot – otot tersebut adalah otot yang
dominan dengan serabut otot tipe I yaitu otot dengan tipe slow twitch yang
berfungsi sebagai stabilisator atau mempertahankan sikap tubuh dengan
kecepatan kontraktil lambat, kekuatan motor unit yang rendah, tahan
terhadap kelelahan, memiliki kapasitas aerobik yang tinggi, serta bila
terjadi patologi cenderung untuk tegang dan memendek, secara
mikroskopik otot ini berwarna merah. Jika tidak dicegah dengan cara
5
pencegahan yang tepat maka akan terjadi DOMS sehingga mengakibatkan
seseorang melakukan pengurangan gerak dan aktifitas fisik karena adanya
nyeri dan pengurangan kemampuan gerak sehingga pada atlit dapat
mengganggu program latihan dan dapat menyebabkan penurunan prestasi.
Fisioterapis
dapat
menggunakan
berbagai
macam
metode
intervensi untuk mencegah gejala dan tanda DOMS. Metode yang banyak
dipakai adalah melakukan gerakan serupa yang spesifik sebagaimana
olahraga yang akan dikerjakan sebelum atau sesudah olahaga, pijat
olahraga/ sport massage terutama gerakan vibrasi, peregangan/ stretching,
perendaman dengan air dingin atau es/ cryotherapy hingga elektroterapi
seperti terapi gelombang suara/ Ultrasound therapy dan Perangsangan
Saraf dengan gelombang listrik (Transcutaneus Electrotherapy Nerve
Stimulation/TENS)
Pemanasan dan pendinginan dengan melakukan latihan kontraksi
otot eksentrik ringan dengan gerakan yang spesifik sebagaimana latihan/
olahraga yang akan atau telah dilakukan dan peregangan sebelum dan
sesudah latihan/ olahraga adalah salah satu cara yang banyak dipakai
dalam mencegah terjadinya cedera termasuk DOMS. Sementara mobilisasi
saraf adalah metode yang relatif baru dan belum banyak diaplikasikan di
olahraga dalam mencegah DOMS. Adanya penelitian bahwa peregangan
yang diberikan sebelum olahraga justru melemahkan kinerja otot justru
menarik peneliti untuk melakukan penelitian yang menggabungkan
peregangan dengan mobilisasi saraf.
6
Dari berbagai gejala dan tanda DOMS khususnya yang terjadi pada
otot-otot anggota gerak bawah maka yang paling mudah untuk dirasakan
secara subyektif oleh mereka yang mengalami dan diteliti secara obyektif
adalah nyeri tekan, lingkar otot-otot tungkai atas (lingkar paha) serta
kemampuan fungsi otot, yang dalam hal ini kemampuan lompat.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dalam mencegah
terjadinya DOMS perlu dilakukan penelitian mengenai perbandingan
efektifitas antara peregangan/ stretching ditambah mobilisasi saraf
khususnya pada otot punggung bawah dan otot paha atas depan dan
belakang serta saraf tepi yang mempersarafinya sebagai program
pemanasan sebelum latihan dibandingkan dengan peregangan/ stretching
ditambah mobilisasi saraf khususnya pada otot punggung bawah dan otot
paha atas depan dan belakang serta saraf tepi yang mempersarafinya
sebagai program pendinginan setelah latihan/ olahraga pada kelompok
yang gemar berolahraga basket.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar
belakang masalah diatas
maka
penulis
merumuskan masalah yang diteliti adalah :
1.2.1
Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai
program pemanasan mencegah timbulnya nyeri tekan?
1.2.2
Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai
program pemanasan mencegah timbulnya pembengkakan otot – otot paha?
7
1.2.3
Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai
program pemanasan memperbaiki kemampuan lompat?
1.2.4
Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai
program pendinginan mencegah timbulnya nyeri tekan?
1.2.5
Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai
program pendinginan mencegah pembengkakan otot – otot paha?
1.2.6
Apakah peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai
program pendinginan memperbaiki kemampuan lompat?
1.2.7
Apakah ada perbedaan antara peregangan otot dan mobilisasi saraf
sebelum latihan sebagai program pemanasan dan setelah latihan sebagai
program pendinginan dalam mencegah timbulnya nyeri tekan yang
merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS?
1.2.8
Apakah ada perbedaan antara peregangan otot dan mobilisasi saraf
sebelum latihan sebagai program pemanasan dan setelah latihan sebagai
program pendinginan dalam mencegah timbulnya pembengkakan otot –
otot paha yang merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS?
1.2.9
Apakah ada perbedaan antara peregangan otot dan mobilisasi saraf
sebelum latihan sebagai program pemanasan dan setelah latihan sebagai
program pendinginan dalam memperbaiki kemampuan lompat yang
merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS?
8
1.3
Tujuan Penelitian
1.3.1
Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas peregangan otot dan mobilisasi saraf dalam
mencegah timbulnya nyeri tekan dan bengkak otot – otot paha serta
memperbaiki kemampuan lompat yang merupakan sebagian gejala dan
tanda DOMS
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf
sebelum latihan sebagai program pemanasan dapat mencegah
timbulnya nyeri tekan
2. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf
sebelum latihan sebagai program pemanasan dapat mencegah
timbulnya pembengkakan otot – otot paha
3. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf
sebelum latihan sebagai program pemanasan dapat memperbaiki
kemampuan lompat
4. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah
latihan sebagai program pendinginan dapat mencegah timbulnya nyeri
tekan
5. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah
latihan sebagai program pendinginan dapat mencegah timbulnya
pembengkakan otot – otot paha
9
6. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah
latihan sebagai program pendinginan dapat memperbaiki kemampuan
lompat
7. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih
efektif dilakukan setelah latihan sebagai program pendinginan dalam
mencegah timbulnya nyeri tekan dibandingkan dengan peregangan otot
dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum latihan sebagai program
pemanasan
8. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih
efektif dilakukan setelah latihan sebagai program pendinginan dalam
mencegah pembengkakan otot – otot paha dibandingkan dengan
peregangan otot dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum latihan
sebagai program pemanasan
9. Untuk mengetahui bahwa peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih
efektif dilakukan setelah latihan sebagai program pendinginan dalam
memperbaiki kemampuan lompat dibandingkan dengan peregangan
otot dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum latihan sebagai
program pemanasan
10
1.4
Manfaat Penelitian
1.4.1
Bagi Pengembangan ilmu pengetahuan
1. Untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan dalam
bidang fisioterapi khususnya fisiologi olahraga tentang peregangan dan
mobilisasi saraf terhadap pencegahan timbulnya
nyeri tekan,
pembengkakan otot – otot paha serta memperbaiki kemampuan lompat
yang merupakan sebagian gejala dan tanda DOMS
2. Untuk melihat pengaruh peregangan dan mobilisasi saraf terhadap
pencegahan timbulnya nyeri tekan, pembesaran lingkar otot–otot
tungkai atas serta memperbaiki kemampuan lompat yang merupakan
gejala dan tanda DOMS
1.4.2
Bagi Institusi pendidikan
1. Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan informasi untuk program
fisioterapi khususnya fisiologi olahraga
2. Sebagai bahan penelitian selanjutnya
1.4.3
Bagi peneliti
1.
Penelitian ini berguna untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan
kesempatan bagi penulis untuk memperlajari manfaat peregangan otot
dan mobilisasi saraf terhadap terhadap pencegahan timbulnya nyeri
tekan dan bengkak otot – otot paha serta memperbaiki kemampuan
lompat yang merupakan gejala dan tanda DOMS
2.
Kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat selama
perkuliahan
11
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS)/ PEGAL OTOT
YANG TERLAMBAT MUNCUL
2.1.1
DEFINISI DOMS
Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah nama yang
diberikan oleh seorang fisiologis bernama Sonja Trierweiler, yang
mempunyai tipikal gangguan yang menyebabkan kekakuan, bengkak,
peurunan kekuatan dan nyeri pada otot (Szymanski, D. 2003). Deskripsi
tentang DOMS pertama kali secara detail diberikan oleh Hough pada tahun
1902. (Amir H Bakhtiary et al. 2007). DOMS adalah gangguan berupa
pegal otot yang terjadi akibat latihan yang tidak lazim yang menyebabkan
kerusakan pada membran sel otot sehingga meyebabkan terjadinya respon
inflamasi. DOMS sering dialami oleh semua individu yang melakukan
aktifitas fisik tanpa melihat tingkat kebugarannya dan ini adalah respon
fisiologis normal untuk meningkatkan penggunaan tenaga dan sebagai
pengenalan terhadap aktifitas fisk yang tidak dikenal sebelumnya.
Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah suatu fenomena
yang sering ditemui dan terdokumentasi dengan baik, sering terjadi
sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau intensitas tinggi
(Connolly et al. 2003; MacIntyre et al. 1995). Gejala-gejala yang
11
12
menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap
gerak pasif, bengkak, penurunan kekuatan dan daya ledak otot, sakit lokal,
dan rasa posisisendi/ proprioception yang terganggu (Proske and Morgan
2001). Gejala - gejala akan sering muncul dalam 24 jam setelah latihan
dan biasanya menghilang setelah 3 – 4 hari (Clarkson and Sayers 1999).
DOMS adalah sensasi ketidaknyamanan atau nyeri pada otot-otot
yang terjadi setelah melakukan latihan yang tidak biasa dilakukan atau
dengan intensitas tinggi. Pegal pada otot secara normal meningkat
intensitasnya selama 24 jam pertama setelah latihan dan mencapai
puncaknya pada 24 sampai 72 jam setelahnya, kemudian menghilang 5
sampai 7 hari setelah latihan. Gejala yang dirasakan adalah mobilitas dan
flexibilitas yang berkurang dan otot terasa sensitif saat disentuh atau
digerakkan. Ada beberapa alasan yang menerangkan mengapa DOMS
terjadi, diantaranya:
1) Robekan-robekan kecil pada otot itu sendiri
2) Terbentuknya cairan di jaringan sekitarnya
3) Spasme otot
4) Peregangan berlebih/ over stretching dan kemungkinan robekan dari
tendon dan jaringan konektif yang berhubungan dengan otot lainnya
(McCardle et al. 1986).
Semua alasan ini tidak didukung dengan berbagai hasil penelitian yang
sama. Bukti yang paling kuat menyatakan robekan mikroskopik pada otot
13
dan kerusakan pada jaringan konektif yang berhubungan dengan otot
adalah faktor utama yang terlibat dalam timbulnya DOMS.
DOMS dilaporkan sebagai kejadian yang paling sering terjadi pada
peserta lomba lari marathon dan kompetisi angkat besi (Sohan P. Selkar et
al 2009).
2.1.2
PATOFISIOLOGI DOMS
Proses terjadinya DOMS sampai saat ini masih belum jelas namun
sebelumnya DOMS dihubungkan dengan pembentukan asam laktat di
dalam otot setelah kerja atau olahraga yang intens namun sekarang
terbukti bahwa ternyata asumsi ini tidak berhubungan langsung dengan
kejadian DOMS.
DOMS sering ditimbulkan terutama oleh latihan eksentrik seperti
lari menuruni bukit/ downhill running, plyometrics, dan latihan dengan
tahanan/ resistance training. Berbagai latihan ini menyebabkan kerusakan
pada sel membran otot sehingga akan memulai terjadinya respon
inflamasi, menyebabkan pembentukan produk-produk sampah metabolik,
yang berperan sebagai stimulus kimiawi kepada ujung saraf/ nerve
endings. Kontraksi eksentrik yang terjadi saat otot yang aktif sedang
memanjang ini berhubungan dengan kenaikan yang terlambat pada tingkat
serum dari enzyme spesifik otot seperti creatine kinase (CK) sehingga
menyebabkan kerusakan serabut otot (Jones et al. 1989). Karena itu latihan
yang menyebabkan kerusakan otot/ exercise-induced muscle damage
14
seharusnya dihubungkan dengan inflamasi aseptik. Ini didukung beberapa
bukti bahwa otot yang terkena mengalami nyeri dan bengkak dan dari
pemeriksaan histologis dengan dari sampel biopsi mengindikasikan
disrupsi ultrastructural dari beberapa serabut otot (Newham 1988; Lieber
et al. 1991), infiltratsi leucocytes (Jones et al. 1986), degranulasi sel mast
dan peningkatan konstituen plasma di dalam ruang extracellular (Stauber
et al. 1990).
Gambar 1
Mikroskop elektron menunjukkan pola yang normal dari protein-protein otot
(serabut yang secara teratur terulang disebut Z discs)
Gambar 2
Mikroskop elektron menunjukkan serabut yang terbelah (disebut cucuran Z disc)
15
Delayed-onset muscle soreness yang terjadi setelah latihan yang
tidak lazim atau setelah latihan eksentrik berhubungan dengan inflasmasi,
nekrosis jaringan dan pengeluaran enzim-enzim otot. Percobaan ini
meginvestigasi lama waktu perubahan pada leukosit yang dalam sirkulasi
dan tingkat serum dari beberapa reaktan pada fase akut, aktivitas serum
creatine kinase (CK) dan nyeri otot setelah latihan naik turun bangku
selama 40 menit pada subyek yang sehat namun tidak terlatih. Nyeri pegal
otot tungkai terbesar terjadi 2 hari setelah latihan. Nilai puncak serum CK
[mean (SD) 540 (502) IU.l-1] terjadi 1-7 hari setelah latihan. Serum Creactive protein (CRP) tidak berubah dari level pre-exercise [7.8 (3.4)
mg.l-1 ] sampai segera setelah latihan [7.9 (2.3) mg.1 -1] tetapi meningkat
pada puncak 17.0 (3.9) mg.1-1, 1 hari setelah latihan, setelah itu turun ke
level basal. Tingkat serum besi dan zinc turun dibanding pre-exercise pada
1 – 3 hari post-exercise. Serum albumin, IgG and IgM turun dibanding
tingkat pre-exercise dari 1 hari post-exercise, mencapai nilai minimal
(sekitar 80% dari tingkat basal) pada 7 hari post-exercise. Dua dan tiga
hari setelah latihan, jumlah leuksoit total, neutrophils, monocytes dan
basophils
turun
15-20%
dibawah
tingkat
pre-exercise,
dimana
lymphocytes, eosinophils dan platelets tidak berubah. Hasil ini
menunjukkan bahwa respon inflamasi fase akut dimulai dalam 1 hari dari
latihan yang menyebabkan DOMS dan nekrosis jaringan yang terjadi
kemudian yang dapat terjadi tidak disertai perubahan tanda yang lebih jauh
pada reaktan fase akut seperti CRP. (Michael Gleeson et al 1995)
16
2.1.3
BERBAGAI MACAM TEKNIK TERAPI UNTUK
MENCEGAH DOMS
Atlet-atlet elit sering mudah terkena kerusakan otot karena otot-
ototnya secara reguler dikenai kontraksi intensitas tinggi berulang (Allen
et al. 2004). Saat ini, penggunaan berbagai bentuk hidroterapi seperti cold
water immersion (CWI), hot water immersion (HWI), dan contrast water
therapy (CWT) sebagai intervensi recovery setelah latihan telah mendapat
popularitas dan sekarang adalah praktik yang biasa di dalam lingkungan
keolahragaan yang elit (Cochrane 2004; Vaile et al. 2007).
Berbagai macam bentuk cryotherapy menunjukkan dapat menghasilkan
repon-respon fisiologis yang berbagai macam meliputi menurunkan
pembengkakan
(Yanagisawa
et
al.
2004),
temperature
jaringan
(Enwemeka et al. 2002), denyut jantung (heart rate) dan curah jantung
(cardiac output) (Sramek et al. 2000), meningkatkan pembersihan creatine
kinase (Eston and Peters 1999) dan efek-efek analgesik, menghasilkan
perubahan persepsi nyeri dan ketidaknyamanan (Bailey et al.2007).
Bagaimanapun, nampak ada konflik kesimpulan mengenai efek CWI pada
performa, dengan beberapa studi menyimpulkan efek-efek
yang
menguntungkan (Bailey et al. 2007; Burke et al. 2000; Lane and Wenger
2004) dan yang lain yang mengindikasikan perubahan-perubahan yang
tidak berarti (Isabell et al. 1992; Paddon-Jones and Quigley 1997;
Sellwood et al. 2007; Yamane et al.2006). Sebaliknya, meskipun terbatas
risetnya, HWI mempengaruhi tubuh secara berbeda berupa kenaikan HR,
17
cardiac output dan temperatur jaringan dan dapat meningkatkan respon
inflamasi (Wilcock et al. 2006). Contrast water therapy (CWT)
memasukkan kombinasi efek dari CWI dan HWI. Riset mengenai efek
fisiologis CWT dan perannya dalam mengembalikan atau mempertahnkan
performa setelah latihan yang mengakibatkan kelelahan otot masih
terbatas fatigue, pengetahuan saai ini menyarankan CWT menjadi
intervensi yang menjanjikan pemulihan/ recovery (CoVey et al. 2004; Gill
et al. 2006; Vaile et al. 2007).
Juga terlihat bahwa latihan eksentrik yang ringan melindungi atlet
dari DOMS. Penelitian Balnave dan Thompson menguak bahwa latihan
dengan kotraksi eksentrik otot sebagai program dasar pemanasan dapat
melindungi atlet dari kerusakan otot yang terlihat ataupun tidak. Yang juga
didukung oleh penelitian Schwane et al. Hortobagyi T et al. meneliti
respon adaptif pada pemanjangan dan pemendekan otot quadriceps pada
manusia. Studi ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap latihan dengan
kontraksi eksentrik berhubungan dengan adaptasi neural dan hipertrofi otot
yang lebih besar daripada latihan konsentrik. Johansson et al. menysatakan
bahwa latihan eksentrik mempunyai efek pencegahan pada pegal otot/
muscle soreness, gangguan keempukan otot/ tenderness dan kehilangan
daya. Armstrong juga menyatakan pandangan yang serupa juga bahwa
latihan yang spesifik terdahulu dari otot yang teribat dapat menjadi
pencegahan untuk DOMS. Studi saat ini dengan bantuan visual analog
scale mempunyai penemuan yang kontradiktif dibanding studi diatas.
18
Studi saat ini menunjukkan bahwa DOMS dapat dicegah sampai tingkat
tertentu dan keempukan otot dapat diturunkan dengan latihan otot
eksentrik. Penemuan pada studi saat ini menunjukkan bahwa khasiat
latihan otot eccentric quadriceps femoris mengurangi keparahan DOMS
pada subyek atletik. Latihan otot eksentrik ini karenanya dapat diberikan
sebagai komponen tambahan pada program pemanasan/ warm up seorang
atlet terutama latihan otot eksentrik mungkin vital dalam mengurangi
DOMS otot qudriceps pada pelari jarak jauh.
Peregangan otot/ stretching sering digunakan untuk memfasilitasi
pemulihan setelah latihan yang intensif meskipun hal ini telah
didiskusikan kontroversinya sehubungan dengan khasiatnya. Program
peregangan gagal untuk mengurangi terjadinya atau membesarnya
kerusakan otot setelah latihan yang intensif. Mempertimbangkan sifat
fisiologis dari muscle spindle maka kita mungkin berharap beberapa efek
stretching pada tonus otot dan pengurangannya seharusnya bermakna pada
pemulihan fungsional otot yang digunakan berlebih/ overexerted.
Perubahan pada aktivitas EMG menemukan setelah peregangan dari otot
yang dilatih dalam hal pengurangan tonus otot. Stretching sendiri telah
menunjukkan dapat merangsang peningkatan aktifitas serum creatine
kinase secara moderat yang bagaimanapun jauh lebih sedikit dibanding
peningkatan yang ditemukan setelah latihan yang berat.
19
2.2
PEREGANGAN/ STRETCHING
Stretching atau peregangan merupakan istilah umum yang
digunakan untuk menggambarkan suatu manuver terapeutik yang
bertujuan untuk memanjangkan struktur jaringan lunak yang memendek
secara patologis maupun non patologis sehingga dapat meningkatkan Luas
Gerak Sendi (LGS). Pada umumnya stretching dibagi dalam dua
kelompok yaitu aktif stretching (peregangan aktif) latihan fleksibilitas dan
pasif stretching (peregangan pasif). Ada beberapa tipe stretching yaitu:
auto stretching (peregangan aktif) latihan fleksibilitas, stretching pasif dan
contract relax stretching.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam
melakukan stretching, yaitu fleksibilitas dan peregangan berlebih/
overstretch. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk menggerakan sendi
atau beberapa sendi melalui LGS yang bebas nyeri. Fleksibilitas
bergantung pada ekstensibilitas otot, yang menyebabkan otot dapat
melewati suatu sendi dengan relaks, memanjang dan berada dalam medan
gaya stretch. Arthrokinematik dari sendi yang bergerak serta kemampuan
jaringan konektif periartikular untuk berubah bentuk (memanjang) juga
mempengaruhi LGS sendi dan fleksibilitas secara keseluruhan. Seringkali
istilah “fleksibilitas” digunakan merujuk lebih spesifik pada kemampuan
unit muskulotendinogen untuk memanjang sebagaimana segmen tubuh
atau sendi bergerak melalui LGS penuh.
Fleksibilitas dinamik merupakan LGS yang dilakukan sendi secara
aktif. Aspek fleksibilitas ini bergantung pada derajat LGS sendi yang
20
dihasilkan oleh kontraksi otot dan besarnya tahanan jaringan yang terulur
selama pergerakan aktif.
Fleksibilitas pasif merupakan derajat LGS sendi yang secara pasif
dapat digerakkan melalui LGS yang ada dan bergantung pada
ekstensibilitas otot dan jaringan konektif yang melewati dan mengelilingi
sendi. Pasif fleksibilitas biasanya merupakan prasyarat untuk dinamik
fleksibilitas, tetapi tidak mutlak.
Sementara
peregangan
berlebih/
Overstretch
adalah
suatu
peregangan melampaui LGS normal sendi dan jaringan lunak disekitarnya,
sehinga menghasilkan hipermobilitas. Overstretch diperlukan bagi orangorang tertentu yang sehat dengan kekuatan dan stabilitas normal yaitu
orang-orang tertentu berperan aktif dalam olahraga yang memerlukan
fleksibilitas berlebihan. Overstretch menjadi abnormal ketika struktur
penopang sendi dan kekuatan otot disekitar sendi tidak cukup dan tidak
dapat mempetahankan stabilitas sendi dan posisi fungsional selama
aktivitas. Kondisi ini seringkali dikenal sebagai “stretch weakness”.
Peregangan/ Stretching diindikasikan untuk berbagai kasus antara
lain:
-
Miostatik kontraktur: merupakan kasus yang paling sering terjadi
biasanya tanpa disertai patologis pada jaringan lunak (soft tissue) dan
dapat diatasi dengan gentle stretching exercise dalam waktu yang
pendek misalnya pada otot hamstring, otot rektus femoris dan otot
gastroknemius.
21
-
Scar Tissue Contracture Adhession: paling sering terjadi pada kapsul
sendi bahu dan bila pasien menggerakkan bahu terdapat nyeri sehingga
pasien
cenderung
melakukan
imobilisasi
akibatnya
kadar
glikoaminoglikans dan air dalam sendi berkurang sehingga fleksibilitas
dan ekstensibilitas sendi berkurang.
-
Fibrotic Adhession: kasus yang lebih berat dari kondisi kedua di atas
karena biasanya bersifat kronis dan terdapat jaringan fibrotik sepeti
pada kondisi tortikolis.
-
Kontraktur: biasanya digunakan untuk mengembalikan lingkup gerak
sendi dengan tindakan operatif karena dengan penanganan manual
tidak menghasilkan dampak yang baik.
Sementara kontraindikasi dari stretching antara lain
-
Terdapat fraktur yang masih baru pada daerah persendian otot yang
akan diregang,
-
Post immobilisasi yang lama karena otot sudah kehilangan tensile
strength,
-
Ditemukan adanya tanda-tanda inflamasi akut.
22
2.2.1
KONSEP DASAR DAN KONSEP NEUROFISIOLOGIS
PEREGANGAN
Sebelum menerapkan teknik stretching ada beberapa konsep dasar
dan konsep neurofisiologis yang berperan penting saat terjadi stretching
otot seperti propioseptor, stretch refleks dan komponennya, reaksi
pemanjangan otot dan juga resiprokal inhibisi.
2.2.1.1 Propioseptor
Akhir suatu serabut saraf yang menerima seluruh informasi tentang
sistem muskuloskeletal dan menyampaikannya kepada sistem saraf pusat
dikenal dengan nama propioseptor. Propioseptor juga disebut dengan
nama mekanoreseptor yang merupakan sumber dari seluruh propiosepsi
yaitu persepsi tentang gerak dan posisi tubuh. Propioseptor mendeteksi
setiap perubahan gerak dan posisi tubuh, tegangan atau usaha yang terjadi
di dalam tubuh. Propioseptor dapat ditemukan diseluruh akhir serabut
saraf pada sendi, otot, dan tendon. Propioseptor yang berhubungan dengan
stretching otot terletak di tendon dan di serabut otot.
Ada dua jenis serabut otot yaitu serabut intrafusal dan serabut
ekstrafusal. Serabut ekstrafusal merupakan satu-satunya yang mengandung
miofibril sehingga sering disamakan artinya dengan serabut otot.
Sedangkan serabut intrafusal disebut sebagai spindel otot dan terletak
sejajar dengan serabut ekstrafusal. Pada saat serabut ekstrafusal
memanjang maka serabut intrafusal juga memanjang (spindel otot juga
ikut memanjang).
23
Spindel otot atau reseptor stretch merupakan propioseptor pertama
dan terutama di dalam otot. Adalah organ sensoris utama pada otot yang
terdiri dari serabut kecil intrafusal yang terletak sejajar dengan serabut
ekstrafusal. Spindel otot atau reseptor stretch merupakan propioseptor
utama di dalam otot. Spindel otot terdiri dari dua serabut yang sensitif
terhadap perubahan panjang otot. Spindel otot berfungsi memonitor
kecepatan dan durasi penguluran sehingga pada saat otot terulur maka
serabut intrafusal dan ekstrafusal akan terulur. Pada saat otot di stretch
secara aktif dengan perlahan dan lembut, spindel otot tidak terstimulasi
optimal. Bila di stretch secara tiba-tiba, maka spindle otot akan
terstimulasi dan berkontraksi dan menahan perubahan panjang pada otot
karena adanya stretch reflex pada muscle spindle.
Propioseptor kedua yang ikut berperan selama proses stretching
otot terjadi berlokasi di tendon dekat dengan akhir serabut otot yang
disebut dengan golgi tendon organ yaitu suatu mekanisme proteksi yang
menginhibisi kontraksi otot dan memiliki treshold yang sangat lambat
untuk melaju setelah otot berkontraksi serta mempunyai treshold yang
tinggi saat dilakukan penguluran secara pasif. Golgi tendo organ
dikelilingi oleh ujung serabut ekstrafusal yang peka terhadap tegangan otot
yang disebabkan oleh pemberian pasif stretching. Pada saat otot
berkontraksi akan mengakibatkan peningkatan tegangan pada tendon
dimana golgi tendon terletak. Golgi tendon organ sensitif terhadap
perubahan tegangan dan menilai rata-rata tegangan dalam otot. Bila
24
penyebaran tegangan meluas maka golgi tendon organ melaju dan
menimbulkan rileksasi otot. Ketika otot di stretch secara aktif dengan
perlahan dan lembut, maka golgi tendon akan terstimulasi optimal,
sehingga penguluran akan terjadi pada serabut otot serta fascia dimana
jumlah sarkomer bertambah dan fascia terulur.
Tipe ketiga dari propioseptor disebut dengan pacinian corpuscle
yang terletak dekat dengan golgi tendon organ dan bertanggung jawab
untuk mendeteksi perubahan gerak dan tekanan dalam tubuh.
2.2.1.2 Reflek regang/ Stretch Reflexs dan Komponennya
Pada saat otot terulur maka spindel otot juga terulur. Spindel otot
akan melaporkan perubahan panjang dan seberapa cepat perubahan
panjang itu terjadi serta memberikan sinyal ke medula spinalis untuk
meneruskan informasi ini ke susunan saraf pusat. Spindel otot akan
memicu stretch refleks yang biasa disebut juga dengan refleks miostatis
untuk mencoba menahan perubahan panjang otot yang terjadi dengan cara
otot yang diulur tadi kemudian berkontraksi. Semakin tiba-tiba terjadi
perubahan panjang otot maka akan menyebabkan otot berkontraksi
semakin kuat. Fungsi dasar spindel otot ini membantu memelihara tonus
otot dan mencegah cidera otot.
Salah satu alasan untuk mempertahankan suatu penguluran dalam
jangka waktu yang lama adalah pada saat otot dipertahankan pada posisi
terulur maka spindel otot akan terbiasa dengan panjang otot yang baru dan
25
akan mengurangi sinyal tadi. Secara bertahap reseptor stretch akan terlatih
untuk memberikan panjang yang lebih besar lagi terhadap otot.
Stretch refleks mempunyai dua komponen yaitu komponen statis
dan komponen dinamis. Komponen statis ditemukan di sepanjang pada
saat otot terulur. Komponen dinamis ditemukan hanya pada akhir saat otot
diulur dan responnya menyebabkan perubahan panjang otot yang segera.
Alasan yang mendasari stretch refleks mempunyai dua komponen adalah
karena terdapat dua serabut otot intrafusal yaitu serabut rantai nuklear
(nuclear chain fibers) yang bertanggung jawab untuk komponen statis dan
serabut tas nuklear (nuclear bag fibers) yang bertanggung jawab untuk
komponen dinamis.
Serabut rantai nuklear (nuclear chain fibers) panjang dan tipis dan
segera memanjang pada saat diulur. Pada saat serabut ini diulur saraf
stretch refleks akan meningkatkan tingkat sinyalnya yang diikuti dengan
segera peningkatan panjang otot. Hal ini merupakan komponen statis
stretch refleks. Serabut tas nuklear (nuclear bag
fibers) berkumpul
ditengah otot sehingga mereka lebih elastis. Nerve ending stretching pada
serabut ini terbungkus di daerah tengah yang memanjang dengan cepat
saat serabut otot terulur. Daerah tengah bagian luar adalah kebalikannya
beraksi seperti terisi cairan kental yang menghambat kecepatan penguluran
dan kemudian memanjang di bawah pengaruh tegangan otot yang panjang.
Jadi ketika menginginkan penguluran yang cepat pada serabut ini daerah
tengah luar memanjang dan daerah tengah menjadi sangat memendek.
26
2.2.2
RESPON
MEKANIK
DAN
NEUROFISIOLOGI
PADA
OTOT TERHADAP PEREGANGAN/ STRETCHING
Stretching yang diberikan pada otot maka akan memiliki pengaruh
yang pertama akan terjadi pada komponen elastin (aktin dan miosin) dan
tegangan dalam otot meningkat dengan tajam, sarkomer memanjang dan
bila dilakukan terus-menerus otot akan beradaptasi dan hal ini hanya
bertahan sementara untuk mendapatkan panjang otot yang diinginkan
Respon mekanik otot terhadap peregangan bergantung pada
myofibril dan sarkomer otot. Setiap otot tersusun dari beberapa serabut
otot. Satu serabut otot terdiri atas beberapa myofibril. Serabut myofibril
tersusun dari beberapa sarkomer yang terletak sejajar dengan serabut otot.
Sarkomer merupakan unit kontraktil dari myofibril dan terdiri atas filamen
aktin dan miosin yang saling tumpang tindih. Sarkomer memberikan
kemampuan pada otot untuk berkontraksi dan relaksasi, serta mempunyai
kemampuan elastisitas jika diregangkan.
Ketika otot secara pasif diregang, maka pemanjangan awal terjadi
pada rangkaian komponen elastis (sarkomer) dan tension meningkat secara
drastis. Kemudian, ketika gaya regangan dilepaskan maka setiap sarkomer
akan kembali ke posisi resting length. Kecenderungan otot untuk kembali
ke posisi resting length setelah peregangan disebut dengan elastisitas.
Respon neurofisiologi otot terhadap peregangan bergantung pada
struktur muscle spindle dan golgi tendon organ. Ketika otot diregang
dengan sangat cepat, maka serabut afferent primer merangsang α (alpha)
27
motorneuron pada medulla spinalis dan memfasilitasi kontraksi serabut
ekstrafusal yaitu meningkatkan ketegangan (tension) pada otot. Hal ini
dinamakan dengan monosynaptik stretch refleks. Tetapi jika peregangan
dilakukan secara lambat pada otot, maka golgi tendon organ terstimulasi
dan
menginhibisi
ketegangan
pada
otot
sehinggga
pemanjangan pada komponen elastik otot yang paralel.
Gambar 3. Struktur otot rangka
memberikan
28
2.2.3
PEREGANGAN
METODE
KONTRAKSI
RILEKSASI/
CONTRACT RELAX STRETCHING
Contract relax stretching merupakan kombinasi dari tipe stretching
isometrik dengan stretching pasif. Dikatakan demikian karena teknik
contract relax stretching yang dilakukan memberikan kontraksi isometrik
pada otot yang memendek dan kemudian dilanjutkan dengan rileksasi dan
stretching pasif pada otot tersebut. Adapun tujuan dari pemberian contract
relax stretching adalah untuk memanjangkan/ mengulur struktur jaringan
lunak (soft tissue) seperti otot, fasia tendon dan ligamen yang memendek
secara patologis maupun non patologis sehingga dapat meningkatkan
lingkup gerak sendi dan mengurangi nyeri akibat spasme, pemendekan
otot/ akibat fibrosis.
Secara
umum
contract
relax
stretching
dilakukan
untuk
mendapatkan efek rileksasi dan pengembalian panjang dari otot dan
jaringan ikat. Jaringan ikat membutuhkan waktu 20 detik untuk mencapai
efek rileksasi sedangkan otot membutuhkan waktu 2 menit untuk dapat
mencapai efek rileksasi. Efek contract relax stretching jangka panjang
pada manusia didapatkan bahwa individu yang mendapatkan contract
relax stretching dengan durasi 15-45 detik menunjukkan panjang otot
yang maksimum. Contract relax stretching dengan durasi 20 dan 30 detik
dapat mencapai efek yang maksimal pada minggu ke-7 dan contract relax
stretching dengan durasi 10 detik mencapai efek maksimal pada minggu
ke-10 sedangkan contract relax stretching yang diberikan dengan durasi
29
30 detik dapat menghasilkan efek maksimal pada minggu keenam dan
ketujuh.
Dalam penerapan prosedur contract relax stretching pasien
menunjukkan suatu kontraksi isometrik dari otot yang mengalami
ketegangan sebelum secara pasif otot dipanjangkan. Alasan penerapan
teknik ini adalah bahwa kontraksi isometrik yang diberikan sebelum
stretching dari otot yang mengalami ketegangan akan menghasilkan
rileksasi sebagai hasil dari autogenic inhibition. Adanya kontraksi
isometrik akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari spindel otot
untuk segera menyesuaikan panjang panjang otot yang maksimal. Golgi
tendon organ dapat terlibat dan menghambat ketegangan otot sehingga
otot dapat dengan mudah dipanjangkan.
Respon Otot Terhadap Contract Relax Stretching pada dasarnya
terjadi pada komponen elastik (aktin dan miosin) dan tegangan dalam otot
meningkat dengan tajam, sarkomer memanjang dan bila hal ini dilakukan
terus-menerus otot akan beradaptasi dan hal ini hanya bertahan sementara
untuk mendapatkan panjang otot yang diinginkan (Kischner & Colby,
2007). Contract relax stretching yang dilakukan pada serabut otot pertama
kali mempengaruhi sarkomer yang merupakan unit kontraksi dasar pada
serabut otot. Pada saat sarkomer berkontraksi area yang tumpang tindih
antara komponen miofilamen tebal dan komponen miofilamen tipis akan
meningkat. Apabila terjadi penguluran (stretch) area yang tumpang tindih
ini akan berkurang yang menyebabkan serabut otot memanjang. Pada saat
30
serabut otot berada pada posisi memanjang yang maksimum maka seluruh
sarkomer terulur secara penuh dan memberikan dorongan kepada jaringan
penghubung yang ada disekitarnya. Sehingga pada saat ketegangan
meningkat serabut kolagen pada jaringan penghubung berubah posisinya
di sepanjang diterimanya dorongan tersebut. Oleh sebab itu pada saat
terjadi suatu penguluran maka serabut otot akan terulur penuh melebihi
panjang serabut otot itu pada kondisi normal yang dihasilkan oleh
sarkomer. Ketika penguluran terjadi hal ini menyebabkan serabut yang
berada pada posisi yang tidak teratur dirubah posisinya sehingga menjadi
lurus sesuai dengan arah ketegangan yang diterima. Perubahan dan
pelurusan posisi ini memulihkan jaringan parut untuk kembali normal.
Mekanisme Penambahan Panjang Otot dengan dengan intervensi
contract relax stretching adalah dengan kontraksi isometrik pada contract
relax stretching akan meningkatkan rileksasi otot melalui pelepasan
analgesik endogenus opiat sehingga nyeri regang dapat diturunkan atau
dihilangkan. Adanya komponen stretching pada contract relax stretching
maka panjang otot dapat dikembalikan dengan mengaktifasi golgi tendon
organ sehingga rileksasi dapat dicapai dan nyeri akibat ketegangan otot
dapat diturunkan dan mata rantai viscous circle dapat diputuskan.
Pemberian intervensi contract relax stretching dapat megurangi iritasi
terhadap saraf Aδ dan C yang menimbulkan nyeri akibat adanya abnormal
crosslinks dapat diturunkan. Hal ini dapat terjadi karena pada saat
diberikan intervensi contract relax stretching serabut otot ditarik keluar
31
sampai panjang sarkomer penuh. Ketika hal ini terjadi maka akan
membantu meluruskan kembali beberapa kekacauan serabut atau akibat
abnormal cross links pada ketegangan akibat pemendekan otot.
Adanya kontraksi isometrik pada intervensi contract relax
stretching akan membantu menggerakkan stretch reseptor dari spindel otot
untuk segera menyesuaikan panjang otot maksimal. Pada kontraksi
isometrik ini terjadi penurunan stroke volume jantung, diafragma menekan
organ dalam dan pembuluh darah yang ada di dalamnya sehingga menekan
darah agar keluar dari organ dalam. Pada kontraksi isometrik selama 6
detik yang diikuti dengan inspirasi maksimal akan mengaktifkan motor
unit maksimal yang ada pada seluruh otot. Menurut Jacobson kontraksi
maksimal ini juga akan menstimulus golgi tendo organ sehingga memicu
rileksasi otot setelah kontraksi (reverse innervation) yang menyebabkan
terjadinya pelepasan adhesi yang terdapat di dalam intermiofibril dan
tendon dengan perbandingan 2:3.
Pada metode contract relax stretching rileksasi setelah kontraksi
isometrik maksimal dilakukan selama 9 detik dimana dalam proses ini
diperoleh rileksasi maksimal yang difasilitasi oleh reverse innervation
tadi. Proses rileksasi yang diikuti ekspirasi maksimal akan memudahkan
perolehan pelemasan otot. Apabila dilakukan peregangan secara
bersamaan pada saat rileksasi dan ekspirasi maksimal maka diperoleh
pelepasan adhesi yang optimal pada jaringan ikat otot (fasia dan tendo).
Pada intervensi contract relax stretching dengan adanya kontraksi
32
isometrik dengan inspirasi dalam dan stretching yang diikuti ekspirasi
maksimal yang dilakukan dengan ritmis menimbulkan reaksi pumping
action yang ritmis pula sehingga akan membantu memindahkan produk
sampah/ zat-zat iritan penyebab nyeri otot kembali ke jantung.
Gambar 4. Contoh peregangan dengan metode contract-relax yang
dilakukan sendiri (peregangan aktif)
Gambar 5. Contoh peregangan dengan metode contract-relax yang
dilakukan dengan bantuan fisioterapis
33
2. 3.
Peregangan/ Mobilisasi saraf (Neural Mobilisation/ Neural stretching)
Berbagai faktor seperti trauma, jaringan parut/ scar tissue dan
perubahan sendi yang menglami arthritis dapat mempengaruhi mobilitas
saraf karena mereka berjalan melalui otot dan pembungkus otot/ fascia di
dalam tubuh. Tes penekanan saraf/ neural tension tests banyak digunakan
oleh fisioterapis untuk memeriksa mobilitas saraf tersebut. Mobilisasi
saraf sendiri berarti penggunaan berbagai macam tes tersebut (kadangkadang dengan modifikasi) untuk penggunaan terapi selain juga untuk
pemeriksaan/ asesmen.
Contoh tes mobilisasi saraf pada kuadran bawah, antara lain:

straight leg raise (SLR)

prone knee bend (PKB)

Slump test
Gambar 6. straight leg raise (SLR)
34

Gambar 7. prone knee bend (PKB)
.
Gambar 8. Slump test
Istilah mobilisasi saraf sendiri masih rancu karena memasukkan tes
penekanan saraf juga pergerakan meluncur saraf/ neural gliding dalam
satu istilah. Tujuan dari gerakan meluncur saraf/ neural gliding sendiri
adalah untuk memfasilitasi gerakan saraf yang kemungkinan terhambat
tanpa menekannya namun sekarang istilah yang digunakan untuk
35
mencakup
gerakan
penekanan
dan
peluncuran
saraf
disebut
neurodynamics.
Untuk menyelidiki mengapa slump stretching dapat menjadi terapi
pada penaganan strain otot hamstring tingkat 1 (Grade 1 hamstring
strains), sebuah penelitian menguji efek slump stretch pada aliran keluar
simpatis/ sympathetic outflow pada anggota gerak bawah 10 orang normal
dan atlet elit atletik (Bersama dengan beberapa hal lain, saraf simpatis
menyebabkan penyempitan pembuluh darah pada kulit dan pelebaran
pembuluh darah pada otot, yang mungkin terlibat pada proses
penyembuhan jaringan otot).
Gambaran Telethermographic diambil pada empat lokasi sebelum
dan setelah peregangan pada kedua sisi tungkai yang diregang maupun
yang tidak. Gambaran ini menunjukkan perubahan pada temperatur kulit
sebagai respon terhadap refleks. Peningkatan temperatur kulit pada tungkai
yang diulur mengindikasikan bahwa efek vasodilator secara signifikan
terjadi pada tungkai ini, sementara pada tungkai yangtidak diulur
menunjukkan
sedikit
penurunan
berkesimpulan
bahwa
slump
temperatur
stretching
dapat
sehingga
peneliti
mempunyai
efek
penghambatan simpatik yang dapat menjadi mekanisme fisiologis yang
mendasari untuk efek terapi slump stretch pada strain hamstring tingkat 1.
Studi pada kadaver mengindikasikan bahwa posisi-posisi dimana
anggota gerak ditempatkan saat neural tension tests benar – benar
memberikan regangan pada struktur saraf. Pada studi dengan tubuh hidup
36
yang utuh kaliper digital digunakan untuk menguji gerakan saraf/ nerve
excursion dan ukuran microstrain mengukur regangan ketika upper limb
neural tension test dilakukan. Hasilnya menunjukkan bahwa tes median
nerve tension menyebabkan regangan pada median nerve sebesar 7.6%
dan tes ulnar-nerve tension test menyebabkan peregangan sebesar 2.1%
pada ulnar nerve.
Gambar 9. Diseksi gerakan di dalam pelvis pada komponen proksimal dari saraf
sciatica sepanjang gerak fleksi lateral tulang belakang bagian lumbal.
Kiri – neutral. Tengah – fleksi lateral ke kiri (ipsilateral). Right – fleksi lateral ke
kanan (contralateral).
Jaringan saraf mengendur saat fleksi ipsilateral dan menegang saat fleksi
kontralateral
37
Atas — saat mengendur, serabut saraf dan arachnoid berkerut.
Bawah — saat menegang. © NDS 2007
Mobilisasi saraf ini bila dikombinasikan dengan peregangan
diharapkan dapat membawa hasil yang positif baik pada struktur jaringan
saraf maupun otot (tendon dan fascia/ pembungkus otot) sehingga dicapai
hasil yang maksimal dalam perbaikan gerakan dan fungsi dari otot
tersebut. Chris Mallac, pada artikelnya mengenai diagnosis dan penyebab
strain hamstring, menemukan bagaimana treatment pada jaringan non saraf
menghasilkan perbaikan pada neural test yang selumnya positif memiliki
gejala neural
Ellis dan Hing, dalam ulasan sistematis mereka pada uji acak
dengan kontrol/ randomised controlled trials, melihat apakah mobilisasi
saraf efektif sebagai modalitas terapi. Dari 10 uji yang sesuai dengan
kriteria mereka, disimpulkan: ‘Bahwa bukti terbatas untuk mendukung
penggunaan mobilisasi saraf.’ Dibutuhkan pendekatan yang lebih
terstandar dan grup subyek yang homogen
38
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Berpikir
Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah gangguan berupa
pegal otot yang terjadi akibat latihan yang tidak lazim yang menyebabkan
kerusakan pada membran sel otot sehingga meyebabkan terjadinya respon
inflamasi. DOMS sering dialami oleh semua individu yang melakukan
aktifitas fisik tanpa melihat tingkat kebugarannya dan ini adalah respon
fisiologis normal untuk meningkatkan penggunaan tenaga dan sebagai
pengenalan terhadap aktifitas fisk yang tidak dikenal sebelumnya.
Delayed onset muscle soreness (DOMS) adalah suatu fenomena
yang sering ditemui dan terdokumentasi dengan baik, sering terjadi
sebagai akibat dari latihan eksentrik yang tidak lazim atau intensitas tinggi
(Connolly et al. 2003; MacIntyre et al. 1995). Gejala-gejala yang
menyertai meliputi pemendekan otot, peningkatan kekakuan terhadap
gerak pasif, bengkak, penurunan kekuatan dan daya ledak otot, sakit lokal,
dan rasa posisi sendi/ proprioception yang terganggu (Proske and Morgan
2001). Gejala - gejala akan sering muncul dalam 24 jam setelah latihan
dan biasanya menghilang setelah 3 – 4 hari (Clarkson and Sayers 1999).
DOMS dilaporkan sebagai kejadian yang paling sering terjadi pada
peserta lomba lari marathon dan kompetisi angkat besi.
Atlet-atlet elit sering mudah terkena kerusakan otot karena ototototnya secara reguler dikenai kontraksi intensitas tinggi berulang (Allen
38
39
et al. 2004). Saat ini, penggunaan berbagai bentuk hidroterapi seperti cold
water immersion (CWI), hot water immersion (HWI), dan contrast water
therapy (CWT) sebagai intervensi recovery setelah latihan telah mendapat
popularitas dan sekarang adalah praktik yang biasa di dalam lingkungan
keolahragaan yang elit (Cochrane 2004; Vaile et al. 2007).
Juga terlihat bahwa latihan eksentrik yang ringan melindungi atlet
dari DOMS. Penelitian Balnave dan Thompson menguak bahwa latihan
dengan kotraksi eksentrik otot sebagai program dasar pemanasan dapat
melindungi atlet dari kerusakan otot yang terlihat ataupun tidak. Yang juga
didukung oleh penelitian Schwane et al. Hortobagyi T et al. meneliti
respon adaptif pada pemanjangan dan pemendekan otot quadriceps pada
manusia. Studi ini menunjukkan bahwa adaptasi terhadap latihan dengan
kontraksi eksentrik berhubungan dengan adaptasi neural dan hipertrofi otot
yang lebih besar daripada latihan konsentrik. Johansson et al. menysatakan
bahwa latihan eksentrik mempunyai efek pencegahan pada pegal otot/
muscle soreness, keempukan otot/ tenderness dan kehilangan daya.
Armstrong juga menyatakan pandangan yang serupa juga bahwa latihan
yang spesifik terdahulu dari otot yang teribat dapat menjadi pencegahan
untuk DOMS.
Peregangan otot/ stretching sering digunakan untuk memfasilitasi
pemulihan setelah latihan yang intensif meskipun hal ini telah didiskusikan
kontroversinya sehubungan dengan khasiatnya. Program peregangan gagal
untuk mengurangi terjadinya atau membesarnya kerusakan otot setelah
40
latihan yang intensif. Mempertimbangkan sifat fisiologis dari muscle
spindle maka kita mungkin berharap beberapa efek stretching pada tonus
otot dan pengurangannya seharusnya bermakna pada pemulihan fungsional
otot yang digunakan berlebih/ overexerted. Pada kenyataanya, perubahan
pada aktivitas EMG menemukan setelah peregangan dari otot yang dilatih
dalam hal pengurangan tonus otot.
Mobilisasi saraf saat ini juga banyak dilakukan untuk terapi
mengurangi nyeri akibat iritasi saraf tepi sciatica serta strain otot
hamstring. Dari berbagai macam netode mobilisasi saraf untuk anggota
gerak bawah maka yang paling populer digunakan adalah slump test/
slump stretching. Untuk menyelidiki mengapa slump stretching dapat
menjadi terapi pada penaganan strain otot hamstring tingkat 1 (Grade 1
hamstring strains), sebuah penelitian menguji efek slump stretch pada
aliran keluar simpatis/ sympathetic outflow pada anggota gerak bawah 10
orang normal dan atlet elit atletik. Gambaran Telethermographic diambil
pada empat lokasi sebelum dan setelah peregangan pada kedua sisi tungkai
yang diregang maupun yang tidak. Gambaran ini menunjukkan perubahan
pada temperatur kulit sebagai respon terhadap refleks. Peningkatan
temperatur kulit pada tungkai yang diulur mengindikasikan bahwa efek
vasodilator secara signifikan terjadi pada tungkai ini, sementara pada
tungkai yang tidak diulur menunjukkan sedikit penurunan temperatur
sehingga
peneliti
berkesimpulan
bahwa
slump
stretching
dapat
mempunyai efek penghambatan simpatik yang dapat menjadi mekanisme
41
fisiologis yang mendasari untuk efek terapi slump stretch pada strain
hamstring tingkat 1.
Atas dasar kerangka teori tersebut maka penulis melakukan
penelitian peregangan otot – otot paha dan mobilisasi saraf metode slump
test untuk melihat pengaruhnya terhadap pencegahan timbulnya nyeri
tekan dan pembengkakan otot – otot paha serta memperbaiki kemampuan
lompat pada orang dewasa normal yang biasa bermain bola basket.
3.2 Kerangka Konsep
Pegal otot yang terlambat
muncul/ DOMS
Faktor eksternal
 Kurangnya pemanasan
 Kurangnya pendinginan
 Latihan yang tidak
lazim atau fokus terus
menerus pada grup otot
tertentu
 Spasme/ penambahan lingkar otot
 Nyeri tekan otot
 Penurunan kemampuan fungsi otot
Peregangan dan mobilisasi
saraf setelah latihan
Peregangan dan mobilisasi saraf
sebelum latihan



Faktor internal
 Inflamasi akut
jaringan otot
 Genetik
- Mempertahankan metabolisme
- Meningkatkan elastisitas otot
- Mengurangi nyeri
Menaikkan temperature jaringan
Meningkatkan elastisitas otot
Menurunkan reaksi neuromuskuler
HASIL
 Spasme/ penambahan lingkar otot setelah
latihan berkurang
 Nyeri tekan otot setelah latihan berkurang
 Kemampuan fungsi otot tidak berkurang
42
3.3 Hipotesis Penelitian
Dalam gambaran keadaan di atas, maka yang menjadi hipotesis penelitian ini
adalah :
1. Peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai program
pemanasan dapat mencegah timbulnya nyeri tekan
2. Peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai program
pemanasan dapat mencegah timbulnya bengkak otot–otot tungkai atas
3. Peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan sebagai program
pemanasan dapat memperbaiki kemampuan lompat.
4. Peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program
pendinginan dapat mencegah timbulnya nyeri tekan
5. Peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program
pendinginan dapat mencegah timbulnya bengkak otot–otot paha
6. Peregangan otot dan mobilisasi saraf setelah latihan sebagai program
pendinginan dapat memperbaiki kemampuan lompat.
7. Peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih efektif setelah latihan sebagai
program
pendinginan
dalam
mencegah
timbulnya
nyeri
tekan
dibandingkan dengan peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan
sebagai program pemanasan
8. Peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih efektif setelah latihan sebagai
program pendinginan dalam mencegah timbulnya bengkak otot–otot paha
dibandingkan dengan peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan
sebagai program pemanasan
43
9. Peregangan otot dan mobilisasi saraf lebih efektif setelah latihan sebagai
program
pendinginan
dalam
memperbaiki
kemampuan
lompat
dibandingkan dengan peregangan otot dan mobilisasi saraf sebelum latihan
sebagai program pemanasan
44
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan:
1. Rancangan penelitian experimental murni.
2. Rancangan pre test dan post test, control group design. dengan skema
peneitian digambarkan sebagai berikut
O1
P
S
P1
Q
Q
P2
O2
R
O3
O4
Gambar. 4.1 Rancangan desain penelitian pre test dan post test
P = Populasi
S = Sampel
R = Randomisasi
P1 = Perlakuan 1 (peregangan otot-otot paha dan slump test sebelum latihan)
P2 = Perlakuan 2 (peregangan otot-otot paha dan slump test setelah latihan)
O1 = Pre tes kelompok kontrol
O2 = Pos tes kelompok kontrol
Q = Pelatihan kontraksi eksentrik untuk menimbulkan DOMS
O3 = Pre tes kelompok perlakuan
O4 = Pos tes kelompok perlakuan
44
45
4.2.
Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pusat Kebugaran Mandira RS.Dr.Suyoto
Bintaro - Jakarta Selatan.
4.2.2
Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan mulai 30 Juli 2010 sampai dengan 1
Desember 2010
4.3
Penentuan Sumber Data
4.3.1 Variabilitas Populasi
4.3.1.1 Populasi target
Dalam penelitian ini populasi target adalah warga kompleks
Sawangan Regensi Depok serta fisioterapis RS.Aminah, RS.Dr.Soeyoto
dan klinik Retna yang gemar berolahraga dan bisa bermain bola basket.
4.3.1.2 Populasi terjangkau
Dalam penelitian ini populasi terjangkau adalah warga kompleks
Sawangan Regensi Depok serta fisioterapis RS.Aminah, RS.Dr.Soeyoto
dan klinik Retna yang bersedia ikut dalam program penelitian.
4.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian adalah jumlah sampel yang diambil dari populasi
terjangkau, disesuaikan dengan kriteria inklusi yang dibahas dalam kriteria
eligibilitas.
46
4.3.3 Kriteria eligibilitas,
Kriteria pemilihan yang membatasi karakteristik populasi terjangkau,
yaitu:
4.3.3.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Berbadan sehat (tidak sedang cedera atau mendapatkan terapi akibat
cedera)
2. Berusia 18 – 35 tahun
3. Bersedia menjadi sampel dalam penelitian
4. Mampu mengerti instruksi yang diberikan.
4.3.3.2 Kriteria ekslusi
1. Mengalami kondisi yang tidak memungkinkan diterapkan pelatihan.
2. Menderita sakit atau cedera pada sistem muskuloskeletal
4.3.3.3 Kriteria Penggugur
Adalah sampel yang memenuhi kriteria inklusi, karena sesuatu
keadaan dikeluarkan dari sampel, antara lain
1. Tidak memenuhi jumlah waktu perlakuan yang ditetapkan yaitu
selama 3 (tiga) kali (segera setelah perlakuan, 1 hari sesudah dan 2 hari
sesudah)
2. Meminum obat pereda nyeri ketika dalam rentang penelitian
47
4.4
Besar Sampel
Besar sampel yang diperlukan dalam penelitian ini berdasarkan rumus Pocock :
2 2
n
  ,  
2
 2  1 
Keterangan :
n = Jumlah Sampel
 = Simpang baku (dari tes awal)
 = Tingkat kesalahan I (ditetapkan 0,05)
Interval kepercayaan (1   )  0,95
 = Tingkat kesalahan II (ditetapkan 0,2)
Interval kepercayaan (1   )  0,8
 ( ,  ) = Integral interval kepercayaan 7,9
1 = rerata nilai pada kelompok kontrol (dari penelitian sebelumnya)
2 = rerata nilai pada kelompok perlakuan (dari penelitian sebelumnya)
Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan didapatkan hasil rerata
nyeri tekan pada kelompok yang diberi latihan eksentrik saja (kontrol) 24 jam
setelah perlakuan, 1 = 75,0 mm dengan standar deviasi  = 1,1019 dan rerata
kelompok yang diberi perlakuan latihan eksentrik diikuti peregangan diharapkan
naik nilai ambang nyerinya sebesar 20% menjadi 2 = 76,66. Dengan demikian
dapat dihitung sebagai berikut :
2(1,019) 2
n
x7,9
76,6  75,02
48
n
2,42
x7,9
2,56
n  7,48
Dari hasil penghitungan di atas maka sampel ditetapkan berjumlah 8 sampel per
kelompok perlakuan sehingga total sampel adalah 16 orang, dengan perincian:
1. Kelompok I, akan diberikan perlakuan peregangan otot – otot paha dan slump
test sebelum latihan.
2. Kelompok II akan diberikan perlakuan peregangan otot – otot paha dan slump
test setelah latihan.
4.5
Variabel Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa variabel antara lain:
1. Variabel bebas
Peregangan dan Mobilisasi saraf sebelum dan setelah latihan.
2. Variabel terikat
Nyeri tekan, Bengkak Otot paha dan Kemampuan lompat.
3. Variabel kontrol
-
Umur, tinggi dan berat badan, kebiasaan berolahraga
49
4.6
Definisi Operasional
-
Stretching atau peregangan yang dilakukan dengan metode contractrelax yaitu peneliti/ fisioterapis memberikan tahanan ketika atlet
mengkontraksikan otot yang akan diregang selama 10 detik setelah itu
maka dilakukan gerakan yang berlawanan/ otot diregang lagi oleh
fisioterapis selama 20 detik (dilakukan pada otot hamstring,
quadriceps, illiotibial band/ tensorfaciae latae, glutei, dan adductors).
-
Mobilisasi saraf yang diberikan berupa gerakan slump test yaitu atlet
duduk dengan posisi sedikit membungkuk, kedua tangan bertemu di
belakang punggung dengan jari-jari tangan saling terjalin. Gerakan
berikutnya yaitu tungkai diangkat 900 dengan lutut lurus dan
pergelangan kaki dorsoflexi 900 lalu gerakan terakhir kepala
ditundukkan pelan-pelan sampai dagu menyentuh dada
-
Nyeri tekan adalah rasa tidak nyaman apapun yang dirasakan ketika
otot diberi tekanan. Dilakukan dengan spuit 10 cc (yang sudah diambil
jarumnya) dan diberi nilai dari 0 – 10 dengan satuan sentimeter
-
Bengkak otot paha adalah pembesaran lingkar paha yang patologis.
Diukur dengan mengambil lingkar paha tepat pada setengah panjang
paha
-
Kemampuan lompat adalah kemampuan otot untuk membuat tubuh
bergerak vertikal keatas. Diukur dengan meteran
50
4.7
Cara Pengumpulan Data.
Data tentang gejala dan tanda DOMS didapat dengan melakukan
pencatatan dari beberapa indikator, meliputi:
1. Kemampuan lompat (jump performance)
2. Pengukuran lingkar paha (thigh circumference)
3. Ambang Nyeri tekan/ Pressure pain threshold (PPT)
4.8
Prosedur penelitian.
4.8.1
Prosedur administrasi
1. Pengumpulan buku, jurnal baik melalui perpustakaan maupun
internet sebagai sumber penelitian.
2. Menyusun blangko isian data sampel.
3. Mengundang sampel untuk mengisi blangko dan menjelaskan
prosedur penelitian
4.8.2
Prosedur pengukuran Awal
Sampel diambil data tentang karakteristik sampel dengan
menggunakan kuesioner penelitian yang ditetapkan kemudian
diberi perlakuan berupa protokol latihan yang merangsang
terjadinya DOMS yaitu dengan alat leg press dengan rangkaian
latihan yang terdiri dari 3 set kontraksi eksentrik bi-lateral leg press
selama 10 kali dengan beban 120% dari repetisi maksimum sekali
[1-RM (concentric)] diikuti oleh 2 set masing – masing 10 kali
51
dengan beban 100% 1-RM. (Hortobagyi and Katch 1990).
Sepanjang tiap kontraksi eksentrik, beban ditahan dengan kedua
tungkai dari ekstensi penuh ke sudut 90 0 (Vaile et al. 2007) dengan
kontraksi berlangsung selama 3–5 detik. Subyek menyelesaikan
satu kali kontraksi setiap 15 detik dan mempunyai periode istirahat
3 menit diantara satu set (Nosaka & Newton 2002; Vaile. 2007).
1. Kemampuan lompat (jump performance)
Subyek diminta untuk melompat dengan barbell (seberat 30% dari
kemampuan saat isometric squat) sebanyak 3 kali dan yang paling
ttinggi dicatat untuk analisis. Subyek diminta untuk meletakkan
barbell dipundak kemudian lutut jongkok 90°, tahan selama 2
detik, dan kemudian lompat keatas (Vaile et al. 2007).
2. Pengukuran lingkar paha (thigh circumference)
Menggunakan meteran ukur, dilakukan pengukuran pada titik tepat
setengah panjang paha atas.
3. Ambang Nyeri tekan/ Pressure pain threshold (PPT)
Dilakukan pada 3 titik 5, 10 dan 15 cm diatasa kedua patella diukur
dengan alat semprot 20 ml dengan pegas didalam dan diberi skala
dari 0 sampai 10. Ujung yang bulat pada alat semprot diletakkan
tepat diatas titik dengan posisi vertical dan pistonnya ditekan.
Subyek diminta untuk menyatakan sensasi apapun yang tidak enak
(nyeri) dan kemudian angka indikator pada alat semprot dicatat
sebagai nilai ambang nyeri tekan.
52
4.9
Instrumen Penelitian
Intrumen penelitian adalah sebagai berikut:
1. Form pencatatan data awal
2.
Timbangan berat badan dan tinggi badan
3. Multi Gym equipment merek cybex yang memiliki fungsi leg press
4.10
Tahap pelaksanaan Penelitian
Secara garis besar pelaksanaan penelitian dilakukan dengan tatacara dan tata
urutan sebagai berikut :
1. Seluruh subyek penelitian diundang
untuk diberikan penjelasan
mengenahi tujuan penelitian dan tatacara penelitian.
2. Secara acak subyek penelitian di pisah 8 orang dimasukan dalam
kelompok I dan 8 orang dimasukkan dalam kelompok II.
3. Untuk kelompok satu diberikan tata cara melakukan pelatihan dengan
menggunakan alat multi gym dengan urutan sebagai berikut :
a. Pertama mereka diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan
kemampuan lompat untuk mendapat data awal sesuai dengan
prosedur.
b. Lima menit awal diberikan pemanasan dengan peregangan dan
mobilisasi saraf
c. Berikutnya subyek penelitian melakukan pelatihan sebagaimana
prosedur penelitian dengan alat leg press
d. Begitu selesai maka dilakukan pendinginan dengan lari–lari kecil
e. Diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan kemampuan lompat 0, 24
dan 48 jam setelah Pelatihan.
53
4. Untuk Kelompok dua diberikan tatacara sebagai berikut:
a. Pertama mereka diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan
kemampuan loncat untuk mendapat data awal sesuai dengan
prosedur.
b. Lima menit awal diberikan pemanasan dengan lari – lari ringan
c. Berikutnya subyek penelitian melakukan pelatihan sebagaimana
prosedur penelitian dengan alat leg press
d. Diberikan pendinginan dengan peregangan dan mobilisasi saraf
e. Diukur data lingkar paha, nyeri tekan dan kemampuan lompat 0,
24 dan 48 jam setelah Pelatihan.
5. Setiap perlakukan di jalankan maka di ceklis oleh peneliti.
4.11
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisa dengan langkah langkah sebagai berikut :
1. Statistik Diskriptif digunakan untuk menggambarkan karakteristik fisik dan
kemampuan fungsi sampel yang meliputi umur, kebiasaan olah raga, tinggi
badan dan berat badan, lingkar paha, nyeri tekan dan kemampuan lompat.
2. Uji normalitas data dengan Saphiro Wilk Test, bertujuan untuk
mengetahui distribusi data masing-masing kelompok perlakuan. Batas
kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Jika hasilnya p > 0,05
maka dikatakan bahwa data berdistribusi normal dan apabila p < 0,05
menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal.
3. Uji homogenitas data dengan Levene Test, bertujuan untuk mengetahui
variasi data. Batas kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Apabila
54
hasilnya p > 0,05 maka data homogen dan apabila p < 0,05 berarti data tidak
homogen.
4. Uji komparasi data tiga gejala dan tanda DOMS yaitu lingkar paha,
kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum dan setelah perlakuan pada
masing-masing kelompok perlakuan dengan menggunakan uji parametrik (trelated test). Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis nomor-1 sampa 6.
Batas kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Jika hasilnya p > 0,05,
maka Ho diterima dan Ha ditolak (hipotesis penelitian ditolak atau tidak ada
perbedaan yang signifikan) dan jika p < 0,05 maka Ho ditolak atau Ha
diterima (hipotesis penelitian diterima atau ada perbedaan yang signifikan).
Uji komparsi data tiga gejala dan tanda DOMS yaitu lingkar paha,
kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum dan setelah perlakuan antara
kelompok-1 dan kelompok-2 dengan menggunakan uji komparasi parametrik
(Independent t-test) karena data berdistribusi normal. Uji ini bertujuan untuk
membandingkan efek dari perlakuan terhadap tiga gejala dan tanda DOMS
yaitu lingkar paha, kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum sebelum dan
sesudah pelatihan antar kelompok-1 dan kelompok-2. Uji ini digunakan
untuk menguji hipotesis nomor-7 sampai 9. Batas kemaknaan yang
digunakan adalah α = 0,05. Jika hasilnya p > 0,05 maka Ho diterima atau Hi
ditolak (hipotesis penelitian ditolak atau tidak ada perbedaan yang signifikan)
dan apabila p < 0,05 maka Ho ditolak atau Hi diterima (hipotesis penelitian
diterima atau ada perbedaan yang signifikan).
55
4.12 Kelemahan Penelitian
Setelah penelitian dijalankan maka peneliti melihat adanya beberapa
kelemahan diantaranya adalah :
1. Penelitian terpaksa hanya dilakukan selama dua hari karena keterbatasan
waktu sampel dan peneliti.
2.
Pekerjaan yang berbeda menyebabkan pola istirahat berbeda, dimana ada
sampel yang berprofesi sebagai security dan profesi lain yang berlaku
jam kerja shift.
56
4.13
Alur Penelitian
Populasi
Kriteria Inklusi
dan Ekslusi
Acak sampel
sederhana
sampel
sampel acak
Kelompok I
Kelompok II
Pengukuran awal
Pengukuran awal
Perlakuan dengan
peregangan
dan
mobilisasi
saraf
sebelum pelatihan
Perlakuan
dengan
peregangan
dan
mobilisasi
saraf
setelah pelatihan
Pengukuran Akhir
Analisis Data
Penyusunan Tesis
Gamabar 4.2 Bagan Alur Penelitian
57
BAB V
HASIL PENELITIAN
Dari hasil perlakuan yang telah dilakukan terhadap dua kelompok
perlakuan masing-masing kelompok 1 dengan peregangan dan mobilisasi saraf
sebelum latihan dan kelompok 2 dengan peregangan dan mobilisasi saraf setelah
latihan, di dapatkan data untuk dilakukan analisa. Data awal yang didapat berupa
karakteristik kondisi fisik subyek penelitian yang meliputi, umur, tinggi, berat
badan, kebiasaan olah raga, lingkar paha, kemampuan lompat dan nyeri tekan.
Sesuai dengan rumus pocock pada bab IV maka penelitian ini
menggunakan 16 subyek penelitian yang dibagi dua kelompok. Penelitian
dilakukan secara single blind dimana peneliti melakukan sendiri perlakukan yang
diberikan untuk kedua kelompok subyek penelitian.
5.1
Deskripsi data awal kondisi fisik Subyek
Deskripsi karakteristik fisik subyek penelitian disajikan pada Tabel 5.1 di
bawah ini.
Tabel 5.1
Karakteristik kondisi fisik subyek
Rerata + SD
Karakteristik
Subyek
Kelompok 1 (N=8) Kelompok 2 (N=8)
Umur (th)
32,75 ± 6,49
30,75 ± 3,45
Berat badan (kg)
65.75 ± 7.978
72,54 ± 10.056
Tinggi Badan (cm)
169.63 ± 2.669
170.75 ± 5.548
Lingkar paha middle (cm)
51.588 ± 6.5283
47.825 ± 5.7797
Kemampuan Lompat Cm)
59.88 ± 3.603
57.38 ± 3.462
Nyeri tekan (cm)
7.563 ± 1.0836
7.500 ± 1.1019
57
58
Disamping data diatas subyek penelitian juga terdistribusi dalam data
lain berupa kebiasan olah raga. Dari data kebiasaan olah raga didapatkan bahwa
bahwa 4 orang (25,0%) rutin menjalankan olah raga, 8 orang (50,0%) jarang olah
raga dan 4 orang (50,0%) hampir tidak pernah olah raga.
5.2
Uji Normalitas dan Homogenitas Data
Untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan maka terlebih dahulu
dilakukan uji normalitas dan homogenitas data hasil tes tiga parameter gejala dan
tanda DOMS yaitu lingkar paha, kemampuan lompat dan nyeri tekan sebelum dan
sesudah pelatihan dan uji homogenitas data sebelum pelatihan. Karena jumlah
sampel < 30 orang maka Uji normalitas dengan menggunakan uji shapiro wilk,
sedangkan uji homogenitas menggunakan Levene Test, yang hasilnya tertera pada
Tabel 5.2 dan 5.3.
Tabel 5.2 Hasil Uji Normalitas tiga parameter DOMS Sebelum dan
Sesudah Perlakuan
Variabel
p. Uji Normalitas
(Saphiro Wilk-Test)
Lingkar paha sebelum
latihan
Nyeri tekan sebelum
latihan
Kemampuan lompat
sebelum latihan
Lingkar Paha sesudah
latihan
Nyeri tekan sesudah
latihan
Kemampuan lompat
sesudah latihan
Kelompok 1
Kelompok 2
0.466
0.502
0.595
0.314
0.673
0.691
0.479
0.494
0.426
0.453
0.796
0.754
59
Tabel 5.3 Hasil Uji Homogenitas tiga parameter DOMS
Sesudah Perlakuan
Variabel
p. Uji Homogenitas
(Lavene-Test)
Lingkar
Paha
sesudah
intervensi kelompok I dan II
Nyeri
tekan
sesudah
intervensi kelompok I dan II
Kemampuan lompat sesudah
intervensi kelompok I dan II
0.406
0.661
0.580
Hasil uji normalitas (Saphiro Wilk-Test) ketiga parameter gejala dan tanda
DOMS sebelum pelatihan semua kelompok berdistribusi normal (p > 0,05).
Demikian juga dengan data setelah pelatihan pada kedua kelompok berdistribusi
normal (p > 0,05).
Hasil uji homogenitas (Levene-Test) menunjukkan ketiga parameter
sesudah pelatihan pada kedua kelompok p > 0,05, yang berarti data adalah
homogen.
5.3
Uji hipotesis I - VI parameter DOMS sebelum dan sesudah pelatihan
pada masing – masing kelompok
Untuk mengetahui perbedaan parameter DOMS sebelum dan sesudah
pelatihan pada masing-masing kelompok digunakan Paired Samples Test yang
hasilnya tertera pada Tabel 5.4
60
Tabel 5.4
Uji hipotesis parameter DOMS sebelum dan Sesudah Pelatihan
Kelompok I dan II
Kelompok I
Mean
Lingkar Paha
-0.35000
Sebelum Sesudah Perlakuan
Nyeri Tekan
0.87500
Sebelum Sesudah Perlakuan
Kemampuan
1.0000
Lompat Sebelum sesudah Perlakuan
Kelompok II
t
p
Mean
t
p
-7.561
.021
-.28750
-4.952
.002
1.673
.010
.43750
2.966
.021
5.584
0.138
-2.0000
-3.528
.010
Tabel 5.4 memperlihatkan bengkak paha antara sebelum dan sesudah
pelatihan pada kelompok I yang dianalisis dengan dengan uji Paired Samples
Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan
menghasilkan penurunan bengkak yang bermakna (p < 0,05) demikian pula untuk
nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I juga
menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p < 0,05). Bengkak Paha
setelah pelatihan yang dipakai adalah lingkar paha yang diukur seketika begitu
selesai pelatihansedangkan nyeri tekan diukur 48 jam setelah pelatihan.
Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I
menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan tidak
menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p > 0,05).
Kemampuan lompat setelah pelatihan yang dipakai adalah kemampuan lompat 48
jam setelah selesai pelatihan.
61
Bengkak paha antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II yang
dianalisis dengan dengan uji Paired Samples Test menunjukkan bahwa
peregangan dan mobilisasi saraf setelah latihan menghasilkan penurunan bengkak
yang bermakna (p < 0,05) demikian pula untuk nyeri tekan antara sebelum dan
sesudah pelatihan pada kelompok II juga menghasilkan penurunan nyeri tekan
yang bermakna (p < 0,05). Bengkak Paha setelah pelatihan yang dipakai adalah
lingkar paha yang diukur seketika begitu selesai pelatihan sedangkan nyeri tekan
diukur 48 jam setelah pelatihan. Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah
pelatihan pada kelompok II menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf
setelah latihan juga menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna
(p < 0,05). Kemampuan lompat setelah pelatihan yang dipakai adalah kemampuan
lompat 48 jam setelah selesai pelatihan.
5.4
Uji hipotesis VII – IX beda perubahan ketiga parameter DOMS pada
kedua kelompok
Uji beda ini bertujuan untuk membandingkan selisih hasil tiga parameter
DOMS antara kelompok I (peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan)
dan kelompok II (peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan). Hasil
analisis kemaknaan dengan uji independent t-test (tidak berpasangan) disajikan
pada Tabel 5.5
62
Tabel 5.5
Uji hipotesis beda pengaruh perlakuan pada tiga parameter DOMS sebelum
dan Sesudah Pelatihan
Variabel
t
p
Mean
Difference
Lingkar Paha Sebelum 0.842
0.414
0.06250
Sesudah Perlakuan
Nyeri Tekan Sebelum -2.033
0.061
-0.43750
Sesudah Perlakuan
Kemampuan Lompat
-3.642
0.003
3.0000
Sebelum - sesudah
Perlakuan
Tabel 5.5 memperlihatkan perbedaan penurunan bengkak paha antara
sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan uji
Independent Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf
yang diberikan sebelum atau setelah pelatihan tidak memiliki perbedaan yang
bermakna (p > 0,05).
Sedangkan untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah
pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan dengan uji Independent
Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang
diberikan setelah pelatihan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang
bermakna (p < 0,05) dibandingkan peregangan dan mobilisasi saraf yang
diberikan sebelum pelatihan
Untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I
dan II yang dianalisis dengan dengan uji Independent Samples Test menunjukkan
bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang diberikan sebelum atau setelah
pelatihan juga menghasilkan perubahan nyeri tekan yang bermakna (p < 0,05)
63
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1.
Kondisi Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah karyawan dengan beragam profesi berjumlah 16
orang yang dibagi menjadi dua kelompok masing–masing beranggotakan 8 orang.
Data karakteristik fisik yang didapat adalah umur, kebiasaan olah raga, tinggi
badan, berat badan, dan lingkar paha serta data karakterisitk kemampuan fungsi
yaitu kemampuan lompat dannyeri tekan.
Secara rata-rata umur kelompok satu adalah 32,75 tahun sedangkan ratarata umur kelompok dua adalah 30,75 tahun. Selain itu penelitian ini juga
mendapatkan data kebiasaan olah raga yang mana didapatkan bahwa bahwa 4
orang (25,0%) rutin menjalankan olah raga, 8 orang (50,0%) jarang olah raga dan
4 orang (50,0%) hampir tidak pernah olah raga sehingga memang dari kriteria
umur dan kebiasan olahraga ini subyek memenuhi kriteria untuk melakukan
tindakan pelatihan yang diberikan.
6.2.
Distribusi dan Varians Subyek Penelitian
Distribusi subyek penelitian kedua kelompok sebelum dan sesudah
pelatihan, dilakukan uji normalitas dengan Shapiro-Wilk Test, sedangakan
homoginitas varians antara kedua kelompok pelatihan diuji dengan Levene Test.
Variabel yang diuji adalah tiga parameter DOMS sebelum dan sesudah pelatihan
pada masing-masing kelompok dan selisih antara tiga parameter DOMS sebelum
63
64
pelatihan dan sesudah pelatihan pada kedua kelompok. Hasil uji normalitas
(Saphiro Wilk-Test) ketiga parameter gejala dan tanda DOMS sebelum pelatihan
semua kelompok berdistribusi normal (p < 0,05). Demikian juga dengan data
setelah pelatihan pada kedua kelompok berdistribusi normal. (p < 0,05).
Sementara hasil uji homogenitas (Levene-Test) menunjukkan ketiga parameter
sebelum pelatihan p > 0,05, yang berarti data adalah homogen.
. Dengan demikan kedua kelompok baik sebelum perlakuan, setelah
perlakuan berdistribusi normal dan data sebelum perlakuan bersifat homogen
sehingga merupakan data parametrik.
6.3.
Pengaruh peregangan dan mobilisasi saraf sebelum pelatihan
terhadap gejala dan tanda DOMS otot – otot tungkai atas
Tabel 5.4 memperlihatkan lingkar paha antara sebelum dan sesudah
pelatihan pada kelompok I yang dianalisis dengan dengan uji Paired Samples
Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan
menghasilkan poenurunan bengkak paha yang bermakna (p < 0,05) demikian pula
untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I juga
menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p < 0,05). Hal ini sesuai
dengan penelitian Gladson R. F. Bertolini et al dari Laboratorium Studi Cedera
dan sumber daya Fisioterapi, Universidade Estadual do Oeste do Paraná
(UNIOESTE), Cascavel, Brazil tahun 2009 yang menyatakan peregangan dan
mobilisasi saraf efektif dalam mengurangi nyeria akiat sciatica/ nyeri akibat iritasi
saraf tepi
65
Kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I
menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum latihan tidak
menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p > 0,05). Hal ini
sesuai dengan penelitian Nelson et al tahun 2005 yang menyatakan mayoritas
penelitian pada peregangan/ stretching hingga 60 menit sebelum olahraga
menunjukkan efek yang negatif pada daya ledak eksplosif otot/ explosive power
6.4.
Pengaruh peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan terhadap
gejala dan tanda DOMS otot – otot tungkai atas
Tabel 5.4 memperlihatkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah
pelatihan menghasilkan penurunan bengkak paha dan nyeri tekan yang bermakna
(p < 0,05) antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II demikian juga
untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok II
menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan
menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p < 0,05). Hal ini
sesuai dengan penelitian meta-analisis Rob D Herbert dan Michael Gabriel dari
Sekolah Fisioterapi Universitas Sydney tahun 2002 bahwa peregangan sebelum
atau sesudah latihan tidak terlihat bermanfaat secara praktis dalam pencegahan
cedera dan pegal otot namun memang penelitan mengenai efek peregangan
terhadap kemampuan olahraga masih kurang sehingga perlu diteliti lebih lanjut.
66
6.5.
Perbedaan pengaruh pemberian peregangan dan mobilisasi saraf
setelah pelatihan dibandingkan sebelum pelatihan terhadap gejala
dan tanda DOMS otot – otot tungkai atas.
Tabel 5.5 memperlihatkan perbedaan penurunan bengkak paha antara
sebelum dan sesudah pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan
dengan uji Independent Samples Test tidak menghasilkan perbedaan yang
bermakna (p > 0,05).
Sedangkan untuk nyeri tekan antara sebelum dan sesudah pelatihan pada
kelompok I dan II dan untuk kemampuan lompat antara sebelum dan sesudah
pelatihan pada kelompok I dan II yang dianalisis dengan dengan uji Independent
Samples Test menunjukkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf yang
diberikan setelah pelatihan menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang
bermakna (p < 0,05) dibandingkan peregangan dan mobilisasi saraf yang
diberikan sebelum pelatihan
Dengan hasil uji statistik ini mengisyaratkan bahwa pemberian peregangan
dan mobilisasi saraf setelah pelatihan tidak mempunyai pengaruh yang bermakna
dalam mengurangi bengkak pada otot tungkai atas dibandingkan jika diberikan
sebelum pelatihan karena tetapi pemberian peregangan dan mobilisasi saraf
setelah pelatihan mampu mengurangi nyeri tekan dan memperbaiki kemampuan
lompat secara bermakna jika dibandingkan dengan pemberian seblum latihan
sebagai program pemanasan.
Mengingat kemampuan lompat adalah karakteristik kemampuan fungsi
yang terpenting pada olahragawan yang cidera maka pemberian peregangan dan
67
mobilisasi saraf setelah pelatihan tetap dapat dijadikan alternatif terbaik untuk
mengurangi gejala dan tanda DOMS terutama untuk mengurangi nyeri tekan pada
otot-otot tungkai atas dan memperbaiki kemampuan lompat
Sehubungan dengan perbedaan yang kurang bermakna untuk pemberian
peregangan dan mobilisasi saraf setelah pelatihan pada parameter lingkar paha
setelah pelatihan terjadi karen pelatihan yang diberikan mungkin tidak cukup kuat
untuk menimbulkan bengkak pada otot-otot paha. Pemulihan juga akan menjadi
lebih optimal lagi jika diikuti dengan istirahat yang cukup.
68
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1.
Simpulan
Berdasar analisis penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut
1. Peregangan otot – otot paha dan slump test sebelum pelatihan sebagai
pemanasan menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna (p <
0,05) sebesar 0.001 dan bengkak paha yang bermakna (p < 0,05)
sebesar 0.000 akan tetapi kemampuan lompat tidak mengalami
perubahan yang bermakna (p > 0,05) yaitu sebesar 0.138 sehingga
dapat disimpulkan bahwa peregangan dan mobilisasi saraf sebelum
pelatihan sebagai pemanasan mencegah timbulnya nyeri tekan dan
bengkak paha akan tetapi tidak memperbaiki kemampuan lompat.
2. Peregangan otot – otot paha dan slump test setelah pelatihan sebagai
pendinginan menghasilkan penurunan bengkak paha yang bermakna (p
< 0,05) sebesar 0.002, penurunan nyeri yang bermakna sebesar 0,021
juga menghasilkan perubahan kemampuan lompat yang bermakna (p <
0,05) sebesar 0.010 sehingga dapat disimpulkan bahwa peregangan
otot – otot paha dan slump test setelah pelatihan sebagai pendinginan
mencegah timbulnya bengkak paha, nyeri tekan dan memperbaiki
kemampuan lompat
68
69
3. Peregangan otot – otot paha dan slump test setelah pelatihan sebagai
pendinginan menghasilkan penurunan nyeri tekan yang bermakna yaitu
sebesar 0,061 (p < 0,05) juga menghasilkan perubahan kemampuan
lompat yang bermakna (p < 0,05) sebesar 0.003 jika dibandingkan
dengan Peregangan otot – otot paha dan slump test sebelum pelatihan
sebagai pemanasan, akan tetapi untuk pengurangan bengkak paha tidak
memiliki perbedaan yang bermakna p > 0,05 yaitu sebesar 0.414
sehingga dapat disimpulkan bahwa peregangan otot – otot paha dan
slump test setelah pelatihan sebagai pendinginan mencegah timbulnya
nyeri tekan dan memperbaiki kemampuan lompat, akan tetapi tidak
mencegah timbulnya bengkak paha jika dibandingkan dengan
peregangan otot – otot paha dan slump test sebelum pelatihan sebagai
pemanasan
7.2.
Saran
Beberapa saran yang dapat diajukan berdasarkan temuan dan kajian dalam
penelitian ini adalah :
1. Peregangan otot – otot paha dan slump test setelah latihan dapat
digunakan dalam mencegah timbulnya nyeri tekan dan meningkatkan
kemampuan lompat sehingga dapat digunakan sebagai pilihan utama
untuk program pendinginan setelah olahraga bagi guru olahraga,
pelatih, fisioterapis atau orang awam yang melakukan olahraga
70
2. Perlu diadakan penelitian lanjutan tentang peregangan dan mobilisasi
saraf dengan metode lain
3. Pola istirahat perlu diseragamkan untuk mendapat hasil yang lebih
baik
.
71
DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2010………. www.pjnhk.go.id, diakses pada tanggal 10 oktober 2010
Amir H Bakhtiary. 2007. Influence of vibration on delayed onset of muscle
soreness following eccentric exercise. Br J Sports Med;41:145–148.
Armstrong RB. 1984. Mechanism of exercise-induced delayed onset muscular
soreness: A brief review. Med Sci Sports Exerc 16: 529-38.
Bertolini R.F Gladson, Silva ST, Trindade LD, Ciena PA, Carvalho RA. 2009.
Neural mobilization and static stretching in an experimental sciatica
model –an experimental study. Rev Bras Fisioter, São Carlos, v.13, n.6, p.
493-8: ISSN 1413-3555
Cochrane DJ. 2004 Alternating hot and cold water immersion for athlete recovery:
a review. Phys Ther Sport 5:26–32
Clarkson PM, Sayers SP. 1999. Etiology of exercise-induced muscle damage. Can
J Appl Physiol 24(3):234–248
Connolly, D. A., Sayers, S. P. & McHugh, M. P. 2003. Treatment and prevention
of delayed onset muscle soreness (abstract). Journal of Strength
Conditioning Research, 17(1):197-208. Retrieved from PubMed.gov on
July 24, 2006.
Ellis RF, Hing WA. 2008. Neural mobilization: a systematic review of
randomized controlled trials with an analysis of therapeutic efficacy. The
Journal of Manual and Manipulative Therapy 16 (1), 8-22
Guyton, A.C., J. E. Hall, 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokeran.Edisi 11. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Hortobagyi T, Hill JP, Houmard JA. 1996. Adaptive responses to muscle
lengthening and shortening in humans. Appl Physiol; 80: 765-72.
Herbert D Rob, Gabriel Michael. 2002. Effects of stretching before and after
exercising on muscle soreness and risk of injury: systematic review. BMJ
volume 325 31; 325:468
Johansson PH, Lindstrom L, Sundelin G. 1999.The effects of preexercise
stretching on muscular soreness, tenderness and force loss following
heavy eccentric exercise. Scan J Med Sci Sports. 9: 219-25
72
Kemenegpora. 2000. Lokakarya peran tenaga kesehatan di bidang olahraga,
Bogor
Kysner Caroline & Colby Lyn Allen. 2007. Therapeutic Exercise Foundation and
Techniques. Philadephia : FA. Davis.
Mallac C. 2006. What the slump test can reveal. Sports Injury Bulletin: 62, 6
MacIntyre DL, Reid WD, McKenzie DC. 1995. Delayed muscle soreness. The
inflammatory response to muscle injury and its clinical implications.
Sports Med 20(1):24–40.
Michael Gleeson et al. 1995. Haematological and acute-phase responses
associated with delayed-onset muscle soreness in humans. Eur J Appl
Physiol 71:137-142
Morgan L. David, Proske Uwe. 2004. Popping sarcomere hypothesis explains
stretch induced muscle damage. Proceedings of the Australian
Physiological and Pharmacological Society 34: 19-23
Nosaka K, Newton M. 2002. Repeated eccentric exercise bouts do not exacerbate
muscle damage and repair. J Strength Cond Res;16:117–22.
Pocock, 2007. Clinical Trial, A Practical Approach. New York: A Willey
Medical Publication.
Proske U, Morgan DL. 2001. Muscle damage from eccentric exercise.
Mechanism, mechanical signs, adaptation and clinical applications. J
Physiol 537(Pt 2):333–345
Reisman Simone, Allen J. Trevor, Proske Uwe. 2009. Changes in passive tension
after stretch of unexercised and eccentrically exercised human plantar
flexor muscles. Exp Brain Res (2009) 193:545–554
Sohan P. Selkar. 2009. Effect of Eccentric Muscle Training to Reduce Severity of
Delayed Onset Muscle Soreness in Athletic Subjects. Eur J Gen Med; 6(4):
213-217
Szymanski, D. 2003. Recommendations for the avoidance of delayed-onset muscle
soreness. Strength and Conditioning Journal 23(4): 7–13.
Torres R, Appell H.J, Duarte J. A. 2007. Acute Effects of Stretching on Muscle
Stiffness After a Bout of Exhaustive Eccentric Exercise. Int J Sports Med.
New York: ISSN 0172-4622
73
Vaile J, Gill N, Blazevich AJ. 2007. The effect of contrast water therapy on
symptoms of delayed onset muscle soreness (DOMS) and explosive
athletic performance. J Strength Cond Res 21(3):697–702
Watson AS dalam Bloomfield, J, Fricker PA dan Fitch KD. 1995 : Science and
medicine in Sport, 2nd edition. Victoria: Blackwell science
Wang, SS, Whitney SL, Burdett RG, Janosky, JE. 1993. Lower extremity
muscular flexibility in long distance runners. J Orthop Sports Phys Ther 17:102107.
74
Lampiran 1.1
SURAT PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
( INFORMED CONSENT)
Pada hari ini Tanggal…….Bulan……..Tahun…………yang bertanda tangan
dibawah ini saya :
Nama
:
Jenis Kelamin
: laki-laki / Perempuan
Umur
:
Alamat
:
th
Telp/Hp :
dengan ini menyatakan bahwa setelah saya mendapatkan arahan dan penjelasan
secara terbuka dan rinci tentang pelaksanaan dan prosedur seta manfaat dari
penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti, maka saya bersedia menjadi
responden dengan hak, kewajiban dan prosedur penelitian yang telah disepakati
bersama, apabila terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan saya akan
menarik diri secara otomatis.
Demikian Surat Pernyataan ini dibuat dan ditanda tangani bersama dengan
sadar tanpa ada paksaan agar dapat dipergunakan sebagaiana mestinya.
Peneliti,
(
Yang membuat persetujuan,
)
(
)
75
Lampiran 1.2
LAMPIRAN INFORMED CONSENT
A. Judul Penelitian
PEREGANGAN OTOT – OTOT PAHA DAN SLUMP TEST
SETELAH LATIHAN MENCEGAH TIMBULNYA NYERI TEKAN
DAN BENGKAK OTOT – OTOT PAHA SERTA MEMPERBAIKI
KEMAMPUAN LOMPAT PADA ORANG DEWASA
B. Tujuan Penelitian :
Secara umum penelitian ini untuk mengetahui manfaat peregangan dan
mobilisasi saraf terhadap pengurangan bengkak paha dan nyeri tekan dan
perbaikan kemampuan lompat pada mereka yang biasa berolahraga bola basket.
C. Lama penelitian :
6 bulan.
D. Hak dan kewajiban sampel penelitian pengguna komputer
1. Hak sampel:
a. Sampel berhak menerima pengarahan dan penjelasan yang terbuka dan
rinci tentang tujuan penelitian.
b. Sampel berhak mengundurkan diri apabila
terjadi hal-hal yang
menyimpang dari tujuan penelitian
c. Sampel berhak mengundurkan diri karena alasan responden mendapatkan
kendala yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
2. Kewajiban sampel :
a. Sampel wajib mengikuti proses pelaksanaan dari awal sampai akhir
penelitian.
76
b. Sampel wajib memberikan keterangan yang jujur dan keluhan-keluhan apa
yang dialami selama pelaksanaan penelitian
E. Prosedur penelitian:
Prosedur penelitian yang melibatkan pengguna komputer terutama dalam
pengambilan data adalah sebagai berikut :
1. Data pribadi sampel dan pemeriksaan fisik
2. Perlakuan dengan memberi peregangan dan mobilisasi saraf sebelum dan
sesudah latihan, kemudian diukur parameter:
1) Pemeriksaan nyeri tekan
2) Pemeriksaan lingkar paha
3) Pemeriksaan kemampuan lompat
77
Lampiran 1.3
FORMULIR PENGUMPULAN DATA PRIBADI RESPONDEN
Bapak / Ibu/ Sdr Yang terhormat,
Untuk memperoleh persamaan informasi bagi kita semua, maka mohon diisi
dengan benar beberapa hal, sebagai berikut :
A. Diisi oleh responden
:
1. Nama
: ……………………………………………….
2. Umur
: ……………………. Tahun
(dihitung berdasarkan tanggal
kelahiran yang tercatat di akte
kelahiran, dengan pembulatan ke
baweah )
3. Jenis kelamin
: Laki-laki / perempuan
B. Disi oleh peneliti
Status kesehatan :
1. Pemeriksaan Fisik
2. Tekanan Darah
3. Denyut Nadi
:
: ……………………………….
: Sistolik…….../ Diastik………
: …………….per menit
78
Lampiran 1.4
Lembar checklist
Pelaksanaan aplikasi peregangan dan mobilisasi saraf
Nama
:
Saksi / pengamat
:
Waktu pelaksanaan :
Tgl
pelaksanaan
Stretching
Slump Test
Paraf saksi /
pengamat
Keterangan
Ket :
Beri tanda ( V ) bila kegiatan aplikasi stretching dan mobilisasi saraf
dilakukan
79
80
Download