Full Text - EJournal Stikes PPNI Bina Sehat Mojokerto

advertisement
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
109
ABSTRAK
STRATEGI KOPING DALAM ASUHAN KEPERAWATAN TERHADAP RESPONS
PSIKOLOGIS PENDERITA HIV-AIDSDI POLI VCT RSUD
PROF DR SOEKANDAR MOJOSARI
OLEH:
LutfiWahyuni
Eka Nur So’emah
Pasien yang terinfeksi HIV-AIDS akan mengalami berbagai macam respon psikologis
yang mana dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh pasien. Pasien tidak bisa menerima
kenyataan bahwa dirinya yang saat ini mengalami penyakit yang mematikan ini. Sehingga
perawat diharapkan dapat memberikan strategi koping untuk mengembalikan kualitas hidup
pasien HIV-AIDS.Penelitian ini bertujuan mencari ada tidaknya pengaruh strategi koping
terhadap respon psikologis penderita HIV-AIDS di Poli VCT RSUD Prof Dr Soekandar
Mojosari.Desain penelitian yang digunakan yaitu One Group Pre Experimental, dengan populasi
dari pasien yang rawat jalan di Poli VCT RSUD Prof Dr Soekandar Mojosari sebanyak 18
responden. Sampling pada penelitian ini menggunakan Consecutive Sampling. Variable
Independen dalam penelitian ini adalah strategi koping dan variabel dependennya adalah
respon psikologis penderita HIV- AIDS. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner
dalam bentuk check list. Penelitian dilakukan di Poli VCT RSUD Prof Dr Soekandar Mojosari
Kab Mojokerto pada bulan April-Juni 2014.Setelah didapatkan nilai dari masing-masing kriteria,
selanjutnya dianalisis dengan menggunakan ujiWilcoxon Signed Rank Testdengan nilai
signifikan = 0,05untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variable independent dan
variable dependen.Hasil yang ditunjukkan dari respon psikologis pasien yaitu terdapat adanya
pengaruh strategi koping terhadap respon psikologis pasien HIV/AIDS pada respon denial
(penolakan) (p = 0,002), terdapat adanya pengaruh strategi koping terhadap respon psikologis
pasien HIV/AIDS pada respon anger (p=0,009), terdapat adanya pengaruh strategi koping
terhadap respon psikologis pasien HIV/AIDS pada respon bargaining (p=0,000), tidak terdapat
adanya pengaruh strategi koping terhadap respon psikologis pasien HIV/AIDS pada respon
depresi (p=0,261), dan tidak terdapat adanya pengaruh strategi koping terhadap respon
psikologis pasien HIV/AIDS pada respon menerima (p = 0,812).
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
Saat
PENDAHULUAN
Individu
yang
positif
terinfeksi
ini
berkembang
kaitannya
fisik
Psychoneuroimmunology.
umumnya
psikologis.Lingkungan
belum
bisa
menerima,
pada
takut,
yang
mempelajari tentang modulasi sistem imun dan
HIVakan mengalami perubahan baik secara
maupun
ilmu
110
dengan
menggunakan
stres
pendekatan
yaitu
Dengan
ilmu
ini
dapat
mendiskriminasi sehingga membuat penderita
dijelaskan bahwa stres yang dialami pasien
semakin tertekan. Dalam kondisi
psikologis
HIV-AIDS akan memodulasi sistem imun
menurunnya
melalui jalur HPA (Hipothalamic-Pituitary-
seperti
kekebalan
ini
menyebabkan
tubuh
yang
lebih
Adrenocortical) axis dan sistem limbik (yang
cepat.Sampai dengan saat ini HIV (Human
mengatur emosi) dan learning process. Kondisi
Immuno
stres tersebut akan menstimulasi hypothalamus
Deficiency
berlangsung
Virus)
masih
sangat
meresahkan masyarakat dan penderita itu
untuk
sendiri. Pasien tidak bisa menerima kenyataan
mengaktivasi ANS (Autonomic Nerve System)
bahwa dirinya yang saat ini mengalami
untuk
penyakit
mengeluarkan
yang
mematikan
ini.Respons
melepas
neuropeptida
menstimulasi
medula
yang
akan
adrenal
dan
katekolamin. Disamping itu
psikologis yang ditunjukkan adalah berupa
hypofiseakan melepas β-endorphin dan ACTH
penolakan, marah, tawar menawar, depresi,
(Adrenocorticotropic Hormone) yang akan
menerima. Jumlah orang yang terinfeksi terus
menstimulasi
meningkat pesat dan tersebar luas di seluruh
mengeluarkan kortikosteroid. Katekolamin dan
dunia. WHO (World Health Organization)
kortikosteroid inilah yang merupakan hormon
menyebutkan 16,3 juta penderita HIV/AIDS
yang bereaksi terhadap kondisi stres dan
telah meninggal terhitung sejak ditemukannya
mampu memodulasi system imun menjadi lebih
penyakit tersebut dan memperkirakan bahwa
baik bila kondisi stres dapat dikendalikan. Dan
pada tahun 2010 jumlah penderita yang
karena stres yang lama dan berkepanjangan
terinfeksi HIV mencapai 40 juta orang. Data
akan berdampak pada penurunan sistem imun
yang diperoleh dari RSUD Prof Dr. Soekandar
dan
Mojosari Mojokerto tahun 2010 sebanyak 52
penyakit.Dengan
mencermati
adanya
orang dengan pengobatan dan kurang lebih 200
keterkaitan
kondisi
dengan
orang yang sudah teregistrasi.
progresivitas penyakit maka perlu adanya
kortek
adrenal
meningkatkan
antara
untuk
progresivitas
stres
pendampingan yang tepat dan penerimaan
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
keluarga
atau
lingkungan
agar
dapat
mengurangi stres pada pasien HIV.
yang
yang
berguna
untuk
memulai
timbulnya respon kekebalan dari sel limfosit.
menyerang sel–sel yang mengandung limfosit–
Sel ini tidak hanya bekerja sebagai gudang bagi
antigen
langerhans,
virus itu namun fungsi tambahan dari sel itu
mikroglia dan sel lain mencakup sel pembunuh
akan terganggu. Sebagai tambahan bagi CD4
alami, dan berkaitan dengan imunitas seluler.
atau suatu molekul yang sangat mirip dengan
Terjadi penurunan progresif jumlah sel CD4
CD4 itu, diketahui ada di dalam otak, namun
pada darah tepi.Aktivitas sel B poliklonal
sampai saat ini masih belum jelas sel otak yang
dengan
hipergammaglobulinemia
dan
mana
kurangnya
respon
juga
beberapa peristiwa yang meskipun jarang yang
merupakan gambaran penyakit ini. Dalam 10
menyatakan bahwa virus itu juga memasuki sel
tahun, 50% individu mengalami AIDS( Millan
yang tidak mengeluarkan CD4.
& Scott,2001)
Mekanisme Koping
makrofag,
umum
sel
RNA
tambahan
yang
CD4,
mengadung
pada kulit dan bagian dendritik sel darah dan
kelenjar getah bening.Sel ini merupakan sel
Human Immuno Deficiency Virus adalah
retrovirus
111
humoral,
yang
mengeluarkan
bahan
ini.Ada
Target utama dari virus ini adalah
Menurut Lazarus (1984), koping
himpunan sel limfosit (T) yang dikeluarkan
mempunyai dua fungsi utama, yaitu mengatasi
oleh timus, yang dikenal sebagai sel T
masalah penyebab stres dan mengatur respons
helper/inducer. Sel ini pada permukaannya
emosi terhadap masalah tersebut.
membawa suatu molekul glikoprotein yang di
sebut
Koping
adalah
proses
CD4, yang tampak berikatan dengan
pemecahan masalah yang dipergunakan untuk
selubung glikoprotein dari HIV itu. Kerusakan
mengelola stress atau kejadian dimana manusia
pada CD4 yang berikatan dengan jumlah
itu berada. Kemampuan koping dan adaptasi
limfosit.Ini
terhadap stres merupakan faktor penentu yang
sebagian
paling
efek
sedikitnya
imnosupresif
merupakan
dari
virus
penting
dalam
kesejahteraan
itu.Namun, sekarang ini telah diketahui, bahwa
manusia.Mekanisme koping adalah suatu upaya
CD4 ini juga timbul walaupun dengan densitas
yang diarahkan pada pengelolaan stres.Cara
yang rendah, pada sel lainnya seperti juga sel
yang diperoleh dari keturunan/didapati untuk
limfosit helper/inducer itu.Sebagian besar sel
merespon terhadap lingkungan yang berubah,
monosit
juga
spesifik masalah atau situasi. Koping adalah
mengangkut CD4, seperti juga sel Langerhans
proses atau cara untuk merespon tergadap
dan
makrofag
memang
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
112
lingkungan (stimulus) untuk mencapai kondisi
masalah yang tidak selesai, harapan yang tidak
adaptasi. Koping selalu mempunyai tujuan
terpenuhi
(purpsefull).Koping
dengan
sesuatunya tidak benar. Marah, bermusuhan dan
perilaku atau keterampilan yang digunakan oleh
perilaku yang beresiko tinggi biasanya terjadi).
individu untuk menyeseuaikan diri dengan
3) Tawar Menawar; Mencoba menunda hal-hal
kejadian dan lingkungan. Strategi koping yang
yang tidak terelakkan (contoh: banyak berjanji,
adaptif yaitu berfokus pada masalah atau
seringkali kepada Allah, berkaul). 4) Depresi;
pemecahan sumber stress meliputi upaya
Bereaksi terhadap berbagai macam kehilangan,
mengubah lingkungan kerja misal dengan
persiapan
mengatasi masalah interpersonal/menciptakan
(misal:pendiam, menarik diri, sedih, suasana
hubungan baru, mengubah rutinitas kerja
hati muram, sering melamun, tidak berdaya,
maupun mengubah persepsi tentang tuntutan
merasa bersalah, perubahan pada nafsu makan
kebutuhan dan kemampuan.
dan/atau pola tidur merupakan ciri yang sering
berhubungan
Respons Psikologis Penderita HIVAIDS;
Seperti
yang
telah
dikemukakan
(misal:merasa
emosional
timbul).
5)
kematian,
kabar bahwa dirinya positif HIV sebagai suatu
damai.(contoh:
hukuman mati.
kesedihan)
kehilangan
lain
yang
menyulut
untuk
segala
perpisahan
Penerimaan;
Berusaha
menyesuaikan diri terhadap kehilangan dan
sebelumnya dimana sebagian pasien menerima
Hal ini, disertai dengan
bahwa
pergumulan
berakhir,
kurang
mencari
terlibat
dengan
respons
psikologis dan tidak jarang beberapa pasien
MODEL PENELITIAN
akan menjalani sebagian atau seluruh respon
Jenis
penelitian
ini
merupakan
Dr.
penelitian “ Pra Experimental dengan desain
Elisabeth Kubler-Ross. Respons Psikologis ini
One Group Pre post test desain ”. Populasi
yaitu : 1) Penolakan; Merupakan tahapan yang
pada
memberikan
waktu
untuk
penderitaHIV-AIDS rawat jalan di poli VCT
memproses
informasi
mengaktifkan
RSUD Prof Dr Soekandar Mojosari Kab
yang
Mojokerto. Sampel pada penelitian ini adalah
psikologis
yang
pertahanannya
dikemukakan
pada
dan
(misal:pasien
oleh
pasien
tidak
penelitian
ini
adalahseluruh
mempercayai diagnosa akan bertanya pendapat
sebagian penderita HIV-AIDS rawat
banyak dokter lain, tidak mau menceritakan
VCT RSUD Prof Dr Soekandar Mojosari Kab
gejala yang dialaminya, tetap menunjukkan
Mojokerto. Sesuai kriteria penelitian. Sampling
perilaku rutinnya. 2) Marah; Bereaksi terhadap
dalam
penelitian
ini
menggunkan
di poli
teknik
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
Consecutive
sampling.
yang
kemudian dilakukan perhitungan menggunakan
digunakan untuk pengumpulan data berupa
uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test dengan
kuesioner
Respon
pertimbangan tujuan dari penelitian ini adalah
Psikologis terdiri dari 15 pertanyaan berbentuk
untuk mengetahui adanya pengaruh variabel
skala Likert dan untuk praktek atau tindakan
independent dan variabel dependen tanpa ada
menggunakan lembar observasi dengan pilihan
kelompok kontrol, skala data yang digunakan
ya / tidak. Sistem penilaian akhir yaitu dengan
adalah ordinal dan sampel yang digunakan
cara menjumlahkan seluruh item pertanyaan
bebas.
untuk
Instrumen
113
mengevaluasi
kemudian dikalikan dengan skor tertingginya,
dan diklasifikasikan dalam 76-100 % = Baik,
HASIL DAN PEMBAHASAN
56-75% = Cukup, <56% = kurang.
Setelah dilakukan analisis data dan
melihat hasilnya maka ada beberapa hal yang
akan dibahas, yaitu : pengaruh strategi koping
terhadap respon psikologis pasien HIV/AIDS
Instrumen
yang
digunakan
untuk
pada respon penolakan, pengaruh strategi
pengumpulan data berupa kuesioner untuk
koping terhadap respon psikologis
mengevaluasi Respon Psikologis terdiri dari 15
HIV/AIDS pada repon anger, pengaruh strategi
pertanyaan berbentuk skala Likert dan untuk
koping terhadap respon psikologis
praktek atau tindakan menggunakan lembar
HIV/AIDS pada respon bargaining, pengaruh
observasi dengan pilihan ya / tidak. Sistem
strategi koping terhadap respon psikologis
penilaian
pasien HIV/AIDS pada respon depresi dan
akhir
menjumlahkan
yaitu
seluruh
dengan
item
cara
pertanyaan
pengaruh strategi
pasien
pasien
koping terhadap respon
kemudian dikalikan dengan skor tertingginya,
psikologis pasien HIV/AIDS pada respon
dan diklasifikasikan dalam 76-100 % = Baik,
menerima.
56-75% = Cukup, <56% = kurang.
Dalam penelitian ini
analisis
data
1. Respon Denial
dilakukan setelah data dari kuisioner terkumpul
yang
kemudian
untuk
pengaruh strategi koping terhadap respon
mengetahui kelengkapan isinya, setelah data
psikologis pasien HIV/AIDS pada respon
lengkap
denial
berdasarkan
diperiksa
dikumpulkan
sub
variable
ulang
Dari analisis data diatas terdapat adanya
dan
yang
ditabulasi
diteliti,
(penolakan).Walaupun
didapatkan
sudah
signifikan
hasil
yang
tapi
pada
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
114
kenyataannya pasien ada yang masih merasakan
lama. Strategi koping yang sesuai adalah
adanya penolakan dari dalam dirinya terlebih
dengan menceritakan apa yang masih menjadi
dengan
masalah pasien saat ini.
hasil
pemeriksaannya.
Hal
ini
ditunjukkan dengan jawaban pasien seperti,
pada fase pre denial “ Kupikir mungkin ada
2. Respon Anger
kesalahan dalam pemeriksaan. Masa sih aku
Dari analisis data diatas terdapat adanya
yang kena, aku pakenya gak dengan teman
pengaruh strategi koping terhadap respon
yang kena AIDS kog !“ dan ternyata pada fase
psikologis pasien HIV/AIDS pada respon
post Denial “ Aku masih gak percaya dengan
anger.Walaupun hasil yang didapatkan sudah
hasilnya. Lha wong aku memang ada sakit
signifikan tapi pada kenyataannya pasien ada
livernya! Tapi aku terima-terima aja, mau
yang masih merasakan adanya kemarahan dari
diapakan lagi?”
dalam
Menurut
Folkman
terlebih
dengan
hasil
Lazarus
pemeriksaannya. Hal ini ditunjukkan dengan
mengatakan Penderita AIDS sangat mudah
jawaban pasien seperti, “ Jangan sampe ada
merasa bersalah dan menerima penolakan dari
yang tahu dengan sakit saya. Coba kalo orang
sekitarnya. Hal ini disebabkan karena anggapan
tuaku gak cerai!”. “ Suster aku minta tolong
bahwa tingkah laku mereka, terutama tingkah
rahasiakan sakitku ini sama sepupuku. Bilang
laku seksual, dapat membahayakan orang lain.
aja aku sakitnya sariawan. Aku gak mau
Emosi yang berkaitan dengan menularkan
sepupuku shock.”.“Aku takut karena sakitku ini
kuman
orang-orang
berbahaya
dapat
dan
dirinya
membuat
pasien
menjauhi
terus
dikeluarkan
dalam
pekerjaan,
masih baru ditempatku bekerja ini.Jadi tolong
kesehatan, dan bantuan masyarakat, akibat rasa
kalau mau menghubungi aku lewat HP saja
takut akan tertular dan prejudis. Ketakutan yang
jangan telepon rumah.”
irasional
dan
perumahan,
respon
yang
negatif
pekerjaanku.Apalagi
aku
merasa seperti dibuang. Diskriminasi timbul
masalah
dari
aku
aku
dari
Menurut Hunt seorang pasien menjadi
masyarakat merupakan masalah yang setiap
marah dan frustasi dapat disebabkan karena
hari secara terus menerus harus dihadapi pasien,
tidak sanggup menanggulangi virus, terhadap
keluarga, dan kelompok yang mendukung.
kesehatan involunter/pembatasan pola hidup
Oleh karena itu untuk memunculkan
yang baru merasa “terperangkap” dan masa
kembali pikiran yang positif pada pasien
depan tak menentu.Menurut Kubler dan Ross
HIV/AIDS membutuhkan waktu yang cukup
(1991) marah bereaksi terhadap masalah yang
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
tidak selesai, harapan yang tidak terpenuhi
menerus
(misal:merasa bahwa segala sesuatunya tidak
pertanyaan kepada diri sendiri dan berakhir
benar. Marah, bermusuhan dan perilaku yang
dengan kesimpulan bahwa semua penyebabnya
beresiko tinggi biasanya terjadi).
terletak
Menurut peneliti adanya pengaruh strategi
membuat orang merasa dirinya tidak berguna,
koping terhadap respon psikologis penderita
dan dapat membuat seorang pasien bertanya-
HIV/AIDS
tanya
sangat
memerlukan
informasi
dialami
pada
dalam
seringkali
115
kelemahan
dirinya
menimbulkan
diri.Kegagalan
tentang
ketepatan
terkait dengan penyakit, penularan, perawatan
pengobatannya ini.Terlebih apabila kegagalan
dan tentang pengobatan.Hal tersebut diperjelas
dalam pengobatan terjadi biasanya pasien
dengan
berpikir untuk melakukan pengobatan di luar
menilai
discussion
hasil
adri
focus
yang dilaksanakan
group
pada
akhir
seperti pada pengobatan alternatif.
pertemuan dengan penderita yaitu pada tanggal
Oleh karena itu informasi yang tepat
26 Januari 2005 yang dihadiri oleh 13 pasien
dapat mengatasi perasaan tawar menawar
HIV-AIDS.
tentang
perawatan
pasien.Informasi
ini
disampaikan membutuhkan waktu yang cukup
lama, hanya saja waktu yang diberikan pada
3. Respon bargaining
Dari analisis data diatas terdapat adanya
peneliti
sangat
terbatas
sehingga
dalam
pengaruh strategi koping terhadap respon
pemantauan reaksi dari respon pasien masih
psikologis pasien HIV/AIDS pada respon
belum sempurna.
bargaining.Walaupun hasil yang didapatkan
sudah signifikan tapi pada kenyataannya pasien
4. Respon depresi
ada yang masih merasakan adanya kondisi yang
Dari analisis data diatas tidak terdapat
tawar menawar dari dalam dirinya terlebih
adanya pengaruh strategi koping terhadap
dengan
ini
respon psikologis pasien HIV/AIDS pada
ditunjukkan dengan jawaban pasien seperti, “
respon depresi.Hasil yang didapatkan tidak
Kalo aku sembuh, aku gak mau ‘pake ‘ yang
signifikan tapi pada kenyataannya pasien ada
gitu lagi. Tapi apa aku masih bisa sembuh ?
yang masih merasakan adanya kondisi yang
Obatnya apa aku bisa beli diluar ?Gimana kalo
tertekan dari dalam dirinya terlebih dengan
aku ke pengobatan alternatif saja “.
hasil pemeriksaannya. Hal ini ditunjukkan
hasil
Menurut
pemeriksaannya.
William
Hal
dan
menyatakan bahwa kegagalan
Rawlin
yang terus
dengan jawaban pasien seperti, “ Aku takut aku
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
116
cepat mati. Apalagi kalo pas aku udah gak
signifikan yang mana pada kenyataannya pasien
punya uang untuk beli obatnya.”.
ada yang masih belum menerima adanya
Menurut Folkman dan Lazarus pasien
kondisi yang tertekan dari dalam dirinya
yang terus menerus depresi disebabkan karena
terlebih dengan hasil pemeriksaannya. Hal ini
pasien tersebut mengalami kemunduran fisik
ditunjukkan dengan jawaban pasien seperti, “
yang tak tekendali, tak hadir dalam perawatan
Aku gak tau apa mungkin ini salah satu cobaan
dalam pengaturan hidup virus selanjutnya,
Tuhan buat aku ?”.
melebihi
batas
kemungkinan
pekerjaan,
antara
sehat
penolakan
emosional
sakit,
sosial,
dan
dan
Menurut Folkman dan Lazarus seorang
dalam
pasien menerima keadaanya karena dipengaruhi
seksual.,
pula oleh rasa bersalah terhadap “pelanggaran”
menyalahkan diri sendiri dan menganggap
yang
dirinya berada dibarisan pertama yang mudah
dianggapnya sebagai suatu hukuman, terhadap
terinfeksi.
kemungkinan penyebaran infeksi ke orang
Oleh karena itu untuk membebaskan
pasien dari perasaan tertekan memerlukan
cukup
waktu
untuk
terus
telah
lainnya
lewat
dan
sehingga
terhadap
penyakit
kelakuan
ini
sebagai
homoseks atau pemakaian obat – obatan.
memberikan
Hasil analisis data di atas mendukung
dorongan. Oleh karena itu menurut peneliti
hasil uji statistik yang menunjukkan mengapa
keterlibatan perawat selama proses pengobatan
masih ada responden yang tidak mengalami
dan perawatan sangat membantu. Dorongan
perubahan respon menerima.Hal itu disebabkan
dari perawat akan sangat membantu paien
karena adanya keterbatasan waktu dalam
dalam meningkatkan kualitas hidup terkait
penelitian, sehingga waktu untuk dilakukannya
dengan menurunnya stres yang dialami pasien.
konseling
sehingga progresivitas penyakit HIV menjadi
konseling yang terus menerus dan berkelanjutan
AIDS dapat diperlambat dan umur harapan
diharapkan pasien akan sampai pada respon
hidup pasien lebih panjang.
menerima.
5. Respon Menerima
Dari analisis data diatas tidak terdapat
adanya pengaruh strategi koping terhadap
respon psikologis pasien HIV/AIDS pada
respon menerima.Hasil yang didapatkan tidak
terbatas.
Dengan
pemberian
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
RENCANA
TINDAK
LANJUT
117
ini dapat mengatasi perasaan tawar menawar
tentang perawatan pasien.
PENELITIAN
1. Melanjutkan
Program
kegiatan
4. Strategi koping tidak berpengaruh terhadap
konseling pada penderita HIV/AIDS di
respon psikologis (depresi) penderita HIV-
Wilayah Puskesmas Kab mojokerto
AIDS, dengan nilai signifikansi (p)=0,261.
2. Sosialisasi Program kegiatan konseling
Respon
depresi
ini
dipengaruhi
pada penderita HIV/AIDS di Wilayah
keterlibatan
Puskesmas Kab mojokerto
pengobatan dan. perawatan
3. Sosialisasi
tentang
perawat
selama
oleh
proses
pentingnya
5. Strategi koping tidak berpengaruh terhadap
mengunjungi poli VCT bagi penderita
respon psikologis (menerima) penderita
HIV/AIDS
HIV-AIDS,
dengan
nilai
signifikansi
(p)=0,812. Respon menerima ini dipengaruhi
oleh rasa bersalah terhadap “pelanggaran”
KESIMPULAN
1. Strategi
koping
berpengaruh
terhadap
yang telah lewat sehingga penyakit ini
respons psikologis (penolakan) penderita
dianggapnya
HIV–AIDS,
signifikansi
terhadap kemungkinan penyebaran infeksi
(p)=0,002 Respon penolakan ini dipengaruhi
ke orang lainnya dan terhadap kelakuan
oleh
sebagai homoseks atau pemakaian obat–
emosi
menularkan
dengan
yang
kuman
nilai
berkaitan
berbahaya
dengan
dapat
sebagai
suatu
hukuman,
obatan.
membuat pasien merasa seperti dibuang.
2. Strategi koping berpengaruh terhadap respon
psikologis (marah) penderita HIV –AIDS,
dengan nilai signifikansi (p) = 0,009. Respon
marah ini dipengaruhi oleh informasi terkait
dengan penyakit, penularan, perawatan dan
tentang pengobatan.
3. Strategi koping berpengaruh terhadap respon
DAFTAR PUSTAKA
Adler, M. W. (1996). Petunjuk Penting
AIDS.EGC. Jakarta.
Arif Mansjoer. (2000). Kapita Selekta
Kedokteran.Media Aesculapius. Jakarta.
Arjatmo Tjokronegoro. (1994). Seluk Beluk
AIDS Yang Perlu Anda Ketahui.FKUI.
Jakarta.
psikologis (tawar menawar) penderita HIV –
AIDS, dengan nilai signifikansi (p) = 0,000.
Bart Smet. (1994). Psikologi Kesehatan.PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Respon tawar menawar ini dipengaruhi oleh
informasi yang tepat yang mana informasi
Budi Anna Keliat.(1992). Gangguan Konsep
Diri. EGC. Jakarta.
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
Charles Abraham. (1997). Psikologi Sosial
Untuk Perawat.EGC. Jakarta.
Christine Hancock. (1999). Kamus
Keperawatan.EGC. Jakarta.
Chris dan Hertin.(2003). Terapi
Alternatif.Yayasan Surviva Paski.
Yogyakarta.
Graham Mytton. (1999). Pengantar Riset
Khalayak.UNESCO. Jakarta.
J. Guwandi. (2004). Informed Consent.FKUI.
Jakarta.
Mc Millan & Scott.(1996). Atlas Bantu
Penyakit Akibat Hubungan Seksual.
Penerbit Hipokrates. Jakarta.
Nursalam.(2003). Konsep & Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.
Penerbit Salemba Medika. Jakarta.
Prayetni.(1999). Konsep Koping Dalam
Pelayanan Keperawatan. Majalah Bina
Sehat. Edisi September – November.
Jakarta.
Richard D. Muma. (1997). HIV Manual Untuk
Tenaga Kesehatan.EGC. Jakarta.
Saifuddin Azwar. (1986). Seri Pengukuran
Psikologi Reliabilitas dan Validitas
Interpretasi dan Komputasi. Liberty.
Yogyakarta.
Sarlito,WS. (1995). Teori – Teori Psikologi
Sosial.PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Shelley E. Taylor. (1995). Health
Psychology.McGraw - Hill International.
Los Angeles.
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
118
Sjaifoellah Noer. (1996). Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.
Sjaiful Fahmi D. (1997).Penyakit Menular
Seksual. FK Universitas Indonesia.
Jakarta.
Stuart & Sundeen.(1998). Buku Saku
Keperawatan Jiwa.EGC. Jakarta.
Suharsimi Arikunto. (1998). Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Rineka Cipta. Jakarta.
Sutrisno Hadi. (1993). Statistik 2. Andi Offset.
Yogyakarta.
Tri Rusmi Widayatun. (1999). Ilmu Perilaku
M.A. 104. CV.Infomedika. Jakarta.
Weits and Lonnguisl.The Sociology of Health
Healing And Wellness.
Wahyu.(1992). Bimbingan Penulisan
Skripsi.Tarsito. Bandung
(2004). Buku Panduan Penyusunan Proposal
Dan Skripsi. Departemen Pendidikan
Nasional Universitas Airlangga FK
Unair Program Studi Ilmu Keperawatan.
Surabaya.
Asnani.(2002). Faktor – faktor Yang
Mempengaruhi Sikap Perawat Dalam
Memberikan ASKEP Kepada Klien Di
Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr.Soetomo
Surabaya.PSIK FK UNAIR angkatan II.
Surabaya.(Skripsi)
Sugeng. (2002). Strategi Koping Perawat ICU
Dalam Menghadapi Stress Kerja Di ICU
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. PSIK FK
UNAIR angkatan II. Surabaya. (Skripsi)
Dedi H. Purwadi. (2002). Bertemu Empat
Pengidap HIV ( 2 habis ).
JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT
www.indonesia.com/bernas/022002/15/U
TAMA/15uta3.htm
Dinas Informasi dan Komunikasi.(2004). Info
Penting JATIM TERBESAR
KETIGAJUMLAH PENDERITA HIV /
AIDS.www.yahoo.com/aids.htm/
Jacinta F. Rini. (2002). Konsep Diri .epsikologi .com. Jakarta
.
Wynn Wagner. (2000). Empat Petunjuk Untuk
TetapSelamat.www.yahoo.com/Health/
DiseasesandConditions/AIDSHIV/Orga
nizations
[email protected]. (2004). Pengertian
HIV/AIDS. Sanggar Kerja Yayasan
Pelita Ilmu. Jakarta.
(2003). Data Statistik Penderita HIV / AIDS
Hingga
2003.www.mx2.tempo.co.id/pdat/prs/kli
ping/aids.htm/
(2000). Warta AIDS
Jakarta.www.rad.net.id/aids
(2000). Pria dan AIDS – Suatu
Pendekatan Jender.
www.MSN.com/UNAIDS.htm/
VOLUME 10 NOMOR 2, Juli – Desember 2014
119
Download