gambaran penerimaan diri orangtua terhadap anak - e

advertisement
GAMBARAN PENERIMAAN DIRI ORANGTUA TERHADAP
ANAK YANG MENJADI KORBAN
PELECEHAN SEKSUAL
Lathifa Hermayeni, Yolivia Irna Aviani
Universitas Negeri Padang
e-mail: [email protected]
Abstract: Overview acceptance of parents to children who are victims of sexual abuse.
This study aimed to obtain the picture of self-acceptance parents of children who were
victims of sexual abuse. The method used qualitative method with phenomenological
approach. This study used two subjects who was husband and wife with the criteria of
having children 6-12 years old, caring, nurturing and guiding children at home. Data
were obtained through semi-structured interviews and in depth interviews. The resulted of
this study indicated that the picture self-acceptance parents of children who are victims of
sexual abuse is determined by how the subjects through a process of self-acceptance.
Keywords: Self-acceptance, parents, children, victims of sexual abuse.
Abstrak: Gambaran penerimaan diri orangtua terhadap anak yang menjadi
korban pelecehan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
penerimaan diri orangtua terhadap anak yang menjadi korban pelecehan seksual. Metode
yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini
menggunakan 2 orang subjek yang merupakan pasangan suami istri dengan kriteria
memiliki anak berusia 6-12 tahun yang menjadi korban pelecehan seksual, merawat,
mengasuh dan membimbing anak dirumah. Data diperoleh melalui wawancara secara
semi terstruktur dan mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran
penerimaan diri orangtua terhadap anak yang menjadi korban pelecehan seksual
ditentukan oleh bagaimana subjek melewati proses penerimaan diri, yaitu: diri sebagai
konten, diri sebagai proses dan diri sebagai konteks.
Kata kunci: Penerimaan diri, orangtua, anak, korban pelecehan seksual.
PENDAHULUAN
Pelecehan seksual merupakan salah
Bentuk pelecehan
seksual sangat
luas
satu perilaku yang menyimpang dan sudah
meliputi main mata, siulan nakal, komentar
keluar dari norma yang ada di masyarakat.
yang berkonotasi
44
seks,
humor
porno,
Hermayeni & Aviani, Gambaran Penerimaan Diri Orangtua Terhadap.....| 45
cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di
mengungkapkan
bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau
pelecehan seksual setidaknya selama lima
isyarat bersifat seksual, ajakan berkencan
tahun, sementara sekitar 25% dilaporkan
dengan iming-iming atau ancaman, ajakan
tidak mengungkap-kan pelecehan sesksual
melakukan
sampai mereka menjadi orang dewasa.
hubungan
seksual
sampai
perkosaan (Wardhani & Lestari, 2007).
pengalaman-pengalaman
Pada penelitian ini pelecehan seksual
yang
yang terjadi pada anak sudah mencapai
menjadi korban pelecehan seksual adalah
menyentuh atau menyakiti bagian tubuh
anak-anak.
Undang-Undang
zona erogen. Zona erogen terdiri dari genital
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002
(alat kelamin), bokong, anus, perineum (area
tentang Perlindungan Anak menjelaskan
antara alat kelamin dan anus), payudara
bahwa anak adalah seseorang yang belum
(terutama puting, baik pria maupun wanita),
berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk
paha bagian dalam, ketiak, pusar, leher,
anak
kandungan.
telinga (terutama daun telinga) dan mulut
Menurut (Calhoun & Acocella, 1995) anak
(bibir, lidah dan seluruh rongga mulut)
yang rentan menjadi korban pelecehan
(Fuadi, 2011).
Pada
penelitian
Menurut
yang
masih
ini
dalam
orang
seksual adalah anak yang berusia 3-17
Pelecehan seksual yang terjadi pada
tahun. Peneliti berfokus pada anak yang
anak biasanya dilakukan oleh orang-orang
berusia 7-12 tahun dimana mereka berada di
terdekat
tahap perkambangan konkret operasional.
Acocella, 1995) pelaku pelecehan seksual
Piaget (dalam Feldman, 2012) menyatakan
pada anak adalah keluarga atau rekan dekat,
pada tahap ini anak dicirikan dengan
hanya sekitar seperempat dari keseluruhan
mengembangkan kemampuan untuk berpikir
kasus dilakukan oleh orang asing dan
secara logis dan mulai mengatasi beberapa
biasanya pelaku berusia sekitar 20 tahun
karakteristik egosentris.
lebih tua dari usia anak yang menjadi
Kasus pelecehan seksual pada anak
jarang terungkap di lingkungan masyarakat.
anak.
Menurut
(Calhoun
&
korban pelecehan seksual.
Pelecehan seskual yang dialami anak
2010)
dapat mempengaruhi proses perkembangan
mengemukakan bahwa anak tidak mungkin
anak. Menurut Briere & Elliott (1997) anak
untuk mengakui kesalahan atau meng-
yang mengalami pelecehan seksual akan
ungkapkan
korban
mengalami stress pasca trauma, distorsi
pelecehan seksusal. Smith dan rekan (dalam
kognitif, rasa sakit emosional, menghindari,
Tishelman,
suatu gangguan harga diri, dan kesulitan
Brown
sekitar
(dalam
Tishelman,
mereka
2010)
50%
menjadi
menemukan
anak
tertunda
bahwa
untuk
interpersonal.
46 | Jurnal RAP UNP, Vol. 7, No. 1, Mei 2016, hlm. 44-54
Dampak terbesar pada anak yang
positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
mengalami pelecehan seksual yang akan
Ellis
terus menerus berlanjut hingga kehidupan
penerimaan diri merupakan sebuah kondisi
dewasanya
yang menumbuhkan penyesuaian pribadi
adalah
ketakutan
sehingga
menghasilkan orang dewasa yang cemas,
dkk,
2003)
mengatakan
dan kesejahteraan atau kebahagiaan.
depresi, pemarah, tidak percaya pada orang
lain (Kendall-Tacket, 1993).
(Flett
Hurlock
(2006)
juga
berpendapat
bahwa individu yang menerima dirinya,
Effendi (2008) menyatakan Reaksi
menyenangi dirinya dan puas akan dirinya
yang pertama kali muncul ketika orang tua
sehingga ia akan menganggap dirinya
mengetahui memiliki anak dengan kelainan
berharga, dapat menerima dirinya secara
adalah timbulnya perasaan bingung dan
akurat dan lebih realistis. Dari pernyataan di
terpukul. Dari perasaan-perasaan inilah
atas
kemudian timbul reaksi yang beragam,
penerimaan orangtua terhadap anak yang
antara lain rasa bersalah, rasa kecawa, rasa
menjadi korban pelecehan seksual di bawah
malu, penolakan, dan rasa menerima apa
umur.
adanya (Efendi 2008). Reaksi orangtua
METODE
tersebut dapat mempengaruhi kondisi dan
perilaku
mereka
terhadap
anaknya.
maka
peneliti
Penelitian
tertarik
meneliti
menggunakan
jenis
penelitian kualitatif fenomenologi untuk
Penerimaan orangtua akan mempengaruhi
menggali
perilaku orangtua terhadap anaknya.
Penelitian dengan metode fenomenologi
Penerimaan
orangtua
anak
yang
dan
mengeksplorasi
data.
dipandang sesuai untuk menggali dan
menjadi korban pelecehan seksual dapat
mengeksplorasi
mempengaruhi
penerimaan diri orangtua terhadap anak
proses
pemulihan
dan
perkembangan anak dalam mengahadapi
kondisi hidupnya. Orangtua memiliki sikap
data
terkait
gambaran
yang menjadi korban pelecehan seksual.
Kriteria
pemilihan
subjek
dalam
penerimaan diri yang baik secara langsung
penelitian ini adalah subjek yang memiliki
akan berdampak pada penerimaan orangtua
anak yang berusia 6-12 tahun dan telah
tersebut terhadap anaknya yang memiliki
menjadi korban pelecehan seksual serta
kondisi normal maupun tidak normal atau
pelaku pelecehan seksual bukan orangtua
cacat (Mardian, 2013).
kandung dan berusia lebih tua 20 tahun dari
Rogers
mengatakan
(dalam
bahwa
Lynn,
2010)
pengembangan
penerimaan diri dan penerimaan orang lain
mengarah pada pandangan yang lebih lebih
pada anak. Kriteria selanjutnya orangtua
merawat,
mengasuh
anaknya di rumah.
dan
membimbing
Hermayeni & Aviani, Gambaran Penerimaan Diri Orangtua Terhadap..... | 47
Dalam pengumpulan data, peneliti
menggunakan
wawancara
wawancara oleh dua orang asisten peneliti.
mendalam (in depth interview) dalam
Untuk meningkatkan kredibilitas dalam
bentuk semi terstruktur, yaitu wawancara
penelitian ini, peneliti melakukan triangulasi
yang pertanyaannya ditetntukan terlebih
yang mengacu pada upaya mengambil
dahulu dan berbentuk open ended question
sumber-sumber data yang berbeda untuk
(Poerwandari,
Pertanyaan-
menjelaskan suatu hal. Triangulasi data
lepas
dari
digunakan sebagai proses memantapkan
pedoman wawancara yang disusun dengan
derajat kepercayaan dan konsistensi data.
tujuan
gambaran
Triangulasi mencari dengan cepat pengujian
penerimaan diri orangtua terhadap anak
data yang sudah ada dalam memperkuat
yang menjadi korban pelecehan seksual
tafsir dan meningkatkan kebijakan serta
berdasarka
program yang berbasis pada bukti yang telah
pertanyaan
metode
antar subjek serta pengecekan verbatim
2009).
tersebut
untuk
tidak
mengungkap
proses,
faktor
dan
aspek
penerimaan diri.
ada (Gunawan, 2014).
Teknik analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis tematik
HASIL DAN PEMBAHASAN
dengan melakukan koding terhadap hasil
Hasil
transkrip wawancara yang telah diverbatim.
Subjek dalam penelitian ini adalah
Koding adalah proses untuk membuat
sepasang suami istri yang memiliki anak
kategorisasi data kualitatif dan juga untuk
berusia 8 tahun yang berinisial V dan telah
menguraikan implikasi dan rincian dari
menjadi korban pelecehan seksual. Istri
kategori (Moleong, 2005). Analisis tematik
yang berinisial RS berusia 34 tahun. Ia
menurut Poerwandari (2009) adalah proses
merupakan
yang dapat digunakan di semua metode
memiliki dua orang anak perempuan dan
kulaitatif.
satu
orang
Ibu
anak
Rumah
Tangga
laki-laki.
yang
Sedangkan
pengecekan
suaminya yang berinisial AF berusia 39
keabsahan data menggunakan kredibilitas.
tahun dan ia seorang pedagang ikan di kota
Untuk meningkatkan kredibilitas penelitian,
B.
Dalam penelitian ini,
peneliti
melakukan
triangulasi
yang
Peristiwa pelecehan seksual
yang
mengacu pada upaya mengambil sumber-
dialami V terjadi di bulan puasa pada tahun
sumber
untuk
2015 ketika masyarakat di kampung sedang
Triangulasi
melaksanakan shalat tarawih. V mengalami
dilakukan dengan cara memanfaatkan data
pelecehan seksual di bagian tubuh zona
wawancara dan membuat analisis banding
erogennya seperti alat kelamin yang di
data
menjelaskan
yang
suatu
berbeda
hal.
48 | Jurnal RAP UNP, Vol. 7, No. 1, Mei 2016, hlm. 44-54
pegang dan diraba, payudara yang diraba,
anaknya dan tidak berperilaku keras kepada
pipi di cium dan kepala dibelai oleh pelaku.
anaknya yang mengalami pelecehan seksual
Pelaku pelecehan seksual adalah tetangga V
seperti tidak memarahi anak.
berusia 73 tahun yang jarak rumahnya
sekitar 500 m² dari tempat tinggal V.
Proses penerimaan diri sebagai proses
RS yaitu ia merasa bersalah atas pelecehan
Setelah V dilecehkan secara seksual
seksual yang dialami anak keduanya. Ia
oleh pelaku, ia mengalami ketakutan dan
berharap anak keduanya tidak memiliki
tidak mau keluar dari rumah. V hanya
masalah di masa depan. Ia menerima
bermain dengan kakaknya. V merasa takut
kondisi anaknya yang menjadi korban
untuk bertemu pelaku karena pelaku masih
pelecehan seksual ketika pelaku sudah
berada di sekitar tempat tinggalnya.
mendapatkan hukuman atas perbuatannya.
Reaksi awal RS dan AF ketika
mengetahui
korban
yang baik untuk anak-anaknya. Ia terkejut
pelecehan seksual adalah terkejut, marah
dan tidak menyangka anaknya menjadi
kepada pelaku dan tidak menyangka. Reaksi
korban pelecehan seksual. Ia langsung
ini yang membuat RS dan AF berusaha
memperjuangkan
untuk menaikkan kasus pelecehan seksual
kepolisian untuk di tindak lanjuti agar
pada
pelaku
V
anaknya
ke
menjadi
Sedangkan AF merasa belum menjadi bapak
pengadilan
agar
pelaku
mendapatkan hukuman.
kasus
tersebut
mendapatkan
hukuman
ke
atas
perbuatannya.
Penerimaan diri RS dan AF dapat di
Proses penerimaan diri yang terakhir
ketahui ketika mereka melewati tiga tahapan
adalah
proses penerimaan diri. Dimana proses
penerimaan RS sebagai konteks yaitu ia
penerimaan diri yang pertama adalah diri
marah dan tidak suka perbuatan pelaku yang
sebagai proses. Proses penerimaan diri RS
melecehkan anaknya secara seksual. RS
sebagai
berusaha
mengurus
berusaha
konten
yaitu
anaknya
ia
hanya
dengan
membahagiakan
ingin
baik
dan
anak-anaknya.
Setelah anak kedua RS menjadi korban
diri
sebagai
memenuhi
konteks.
Proses
kebutuhan
dan
keinginan anaknya. Ia terus berdoa agar
anaknya dapat berhasil.
Proses
penerimaan
AF
sebagai
pelecehan seksual, ia lebih berhati-hati
konteks yaitu ia harus memenuhi kebutuhan
dalam menjaga dan mengawasi anaknya.
anaknya. Setelah ia mengetahui dampak apa
Sedangkan proses penerimaan
AF sebagai
konten yaitu
ia
diri
ingin
yang akan terjadi pada anaknya yang
mengalami
pelecehan
seksual,
ia
membahagiakan anak-anaknya dan berusaha
memberikan perhatian lebih dan tidak
memenuhi semua kebutuhan dan keinginan
berperilaku keras kepada anaknya. Ia terus
Hermayeni & Aviani, Gambaran Penerimaan Diri Orangtua Terhadap..... | 49
melihat
perkembangan
dan
perubahan
perilaku anaknya karena takut anaknya akan
berdiskusi dengan istri untuk mencari solusi
dari suatu masalah yang mereka miliki.
memiliki masalah yang disebabkan oleh
peristiwa pelecehan seksual tersebut.
Ada
beberapa
faktor
Dinamika
terhadap
penerimaan
anak
yang
orangtua
menjadi
korban
yang
pelecehan seksual dapat dilihat dari proses,
mempengaruhi proses penerimaan RS dan
faktor dan aspek penerimaan diri individu.
AF seperti adanya pemahaman tentang diri,
Berdasarkan hasil penelitian diatas orangtua
usaha untuk mempertahankan harapan, tidak
dapat menerima kondisi anaknya yang
ada tekanan yang berat dari lingkungan.
menjadi korban pelecehan seksual ketika
Faktor yang sangat mempengaruhi proses
sudah melewati proses penerimaan diri yang
penerimaan RS dan AF adalah dukungan
terdiri dari diri sebagai proses di mana RS
sosial dan bebas hambatan lingkungan.
dan AF memahami dirinya sebagai orangtua
Penerimaan diri orangtua terhadap
sebelum dan sesudah peristiwa pelecehan
pelecehan
seksual. Proses penerimaan diri yang kedua
seksual berdasarkan lima aspek yang yaitu
adalah diri sebagai proses dimana RS dan
penilaian positif terhadap diri sendiri dan
AF mengetahui apa yang dirasakannya pada
orang lain, respon atas penolakan dan
masa lalu dan pada saat ini. Proses
kritikan, keseimbangan antara “real self”
penerimaan diri yang terakhir RS dan AF
dan “ideal self”, lebih terbuka dan fleksibel
mengakui apa yang mereka rasakan dari
dalam menjalankan hidup, serta penerimaan
berbagai perspektif dari dalam diri sehingga
diri dan penerimaan orang lain.
terbentuk konsep diri yang stabil untuk
anak
yang
menjadi
korban
Berdasarkan lima aspek penerimaan
menerima kondisi anak.
diri, RS mengatakan dirinya adalah orang
Pada penelitian ini, ada bebrrapa
yang tertutup dan tidak mudah percaya
faktor peenrimaan diri yang mempengaruhi
dengan orang lain sehingga ia kesulitan
penerimaan RS dan AF terhadap anak yang
untuk mengontrol emosinya karena suka
menjadi korban pelecehan seksual yaitu
memendam dan menyelesaikan masalah
adanya pemahaman diri, harapan yang
pribadi sendirian tanpa bantuan orang lain.
realistik, bebas dari hambatan lingkungan,
Sedangkan AF adalah orang yang menerima
sikap lingkungan seseorang, konsep diri
kondisi dan keadaannya secara lapang dada.
yang
Ia tidak suka memikirkan suatu hal secara
menengah
berlebihan.
sosial dan peran orangtua untuk menjadi
Ia
langsung
menyelesaikan
permasalahan yang di miliki. Ia juga suka
stabil,
orangtua
kondisi
kebawah,
yang
ekonomi
adanya
efektif
yang
dukungan
bagi
anak.
50 | Jurnal RAP UNP, Vol. 7, No. 1, Mei 2016, hlm. 44-54
Berdasarakan
beberapa
aspek
penelitian
diketahui
penerimaan
diri
pada
menyembunyikan kondisi anak yang pernah
dilecehkan secara seksual oleh seseorang.
orangtua seperti RS dan AF mengetahui
Sisca & Moningka (2009) mengatakan
kelebihan dan menerima kekurangannya,
bahwa pelecehan seksual yang terjadi pada
dapat menerima kritikan dan saran dari
masa
orang lain, adanya keseimbangan antara real
peristiwa krusial karena membawa dampak
self
dalam
negatif pada kehidupan korban di masa
menjalankan hidup dan menerima orang
dewasanya. Anak yang menjadi korban
lain.
pelecehan seksual berhak mendapatkan
Pembahasan
kesejahteraan dalam menjalani hidupnya.
dan
ideal
self,
fleksibel
kanak-kanak
merupakan
suatu
Penerimaan diri adalah suatu tingkatan
Tugas dan peran orangtua sangat penting
kesadaran individu tentang karakteristik
untuk memenuhi tugas dan hak anak dalam
pribadinya dan mempunyai kemauan untuk
memberikan kesejahteraan anak (Huraerah
hidup dengan keadaan tersebut, hal ini
2006).
memiliki
Supratiknya (1995) mengatakan orang
sehingga
yang menerima diri biasanya lebih bisa
menerima kelebihan dan kelemahannya
menerima orang lain. Apabila orang tua
(Hurlock, 2006). Menurut Davies (2008)
memiliki sikap penerimaan diri yang baik
penerimaan diri berarti menerima diri tanpa
secara langsung akan berdampak pada
syarat
seseorang
penerimaan orang tua tersebut terhadap
kompeten atau berperilaku dengan benar
anaknya yang memiliki kondisi normal
dan
maupun tidak normal atau cacat. Cartwright
berarti
individu
pengetahuan
tersebut
tentang
terlepas
apakah
dari
dirinya
apakah
orang
lain
cenderung
menyatakan persetujuan atau hormat pada
(Calvin
dirinya.
penelitiannya
Berdasarkan
terlihat
hasil
gambaran
penerimaan
orangtua
mempengaruhi
kondisi
anak
pelecehan
dan
menerima
yang
menajdi
diri
penerimaan
korban
diri pada orang lain.
RS
diri menurut Maslow (Feist & Feist, 2009)
anaknya
yang mengatakan individu menerima diri
pelecehan
apa adanya tanpa bersikap defensif, berpura-
sendiri
bersalah
dan
menambahkan,
mengakibatkan bertambahnya penerimaan
pura,
rumah
dalam
bertambahnya penerimaan diri sendiri akan
seksual dengan mengasuh, mendidik anak
di
juga
1993)
Berdasarkan pengertian penerimaan
seksual.
kondisi
Gardner,
menjadi
yang
korban
AF
penelitan,
&
tidak
dan
tidak
yang
mempunyai
perasaan
menghancurkan
diri,
mempunyai selera yang baik terhadap
Hermayeni & Aviani, Gambaran Penerimaan Diri Orangtua Terhadap..... | 51
makanan, tidur dan seks, serta tidak
diri
terbebani oleh kecemasan dan rasa malu
yang
yang berlebihan.
memanfaatkan
RS menerima kondisi dirinya sebagai
seorang ibu dan seorang istri yang tidak
sendiri dengan
kekangan-kekangan
berlebih-lebihan
atau
sifat-sifat
tidak
yang
luar
biasa, dan menyatakan perasaannya dengan
wajar.
memiliki pekerjaan dan hanya mengurus
Sedangkan AF memiliki kepercayaan
anak dirumah. Ia mengharuskan anak untuk
atas
menyelesaikan
bermain,
menghadapi hidupnya, tidak menganggap
menyuruh anak untuk bermain di sekitar
dirinya sebagai orang hebat atau aneh dan
rumah, tidak pergi keluar atau bermain
tidak mengharapkan bahwa orang lain
sendirian dan menemani anak jika anak
mengucilkannya,
tidak
malu-malu
atau
serba
dicela
orang
lain,
tugas
sebelum
ingin bermain di tempat yang jauh dari
rumah.
takut
untuk
dapat
mempertanggung jawabkan perbuatannya,
Sedangkan AF adalah orang yang
menerima kondisi dirinya tanpa berpurapura menjadi orang lain dan tidak ada rasa
bersalah yang menghancurkan diri. Ia
menerima
dirinya
sebagai
ayah
yang
mempunyai tiga orang anak dan ia merasa
mengikuti standar pola hidupnya sendiri dan
tidak ikut-ikutan, tidak menganiaya diri
sendiri dengan kekangan-kekangan yang
berlebih-lebihan,
berkarir, ia masih berusaha meningkatkan
karirnya dengan berencana membuka suatu
usaha agar dapat membantu perekonomian
Berdasarkan
Berdasarkan
hasil
penelitian, RS
dan AF memiliki beberapa ciri-ciri yang
dikemukakan
oleh
Sheerer
(dalam
Sutadipura, 1984). RS menyadari atas
kemampuannya untuk dapat menghadapi
hidupnya, tidak menganggap dirinya sebagai
hebat
mengharapkan
mengucilkannya,
aspek
atau
aneh
bahwa
dan
tidak
orang
lain
mempertanggung
jawabkan perbuatannya, tidak menganiaya
menyatakan
proses,
penerimaan
diri
faktor
di
atas
dan
dapat
di ketahui penerimaan setiap individu
itu berbeda-beda. RS dan AF sudah bisa
menerima
keluarganya.
dan
perasaannya dengan wajar.
puas telah menjadi orangtua. Tetapi dalam
orang
kemampuannya
mengalami
kondisi
anak
pelecehan
mereka
seksual
yang
karena
anaknya V tidak mengalami perubahan
perilaku dan tidak ada dampak yang
berbahaya
dari
peristiwa
pelecehan
seksual tersebut. Akan tetapi AF masih
mengalami ketakutan akan masa depan
anaknya
pelecehan
karena
ia
seksual
khawatir
dampak
muncul
setelah
anak tersebut dewasa atau memahami
peristiwa tersebut.
52 | Jurnal RAP UNP, Vol. 7, No. 1, Mei 2016, hlm. 44-54
SIMPULAN DAN SARAN
pelecehan sesksual tersebut. RS dan AF
Simpulan
memeberikan perhatian lebih dan lebih
Kesimpulan
yang
didapat
dari
penelitian adalah sebagai berikut:
berhati-hati
dalam
mengawasi
anak
seperti mengantar dan menjemput anak
sekolah, menemani anak bermain, dan
1. Reaksi
awal
orangtua
V
ketika
memberikan aktivitas rutin kepada anak.
mengetahui peristiwa pelecehan seksual
4. Dukungan sosial dan bantuan yang
yang dialami V adalah bingung, terkejut
diberikan adik AF dan T (pihak
dan tidak menyangka dengan perbuatan
yayasan) untuk menyeleaikan kasus
pelaku yang terjadi di bulan ramadhan.
pelecehan sekual anaknya di pengadilan
2. Proeses penerimaan RS dan AF sebagai
dapat mempengaruhi proes penerimaan
orangtua V yang menegetahui V menjadi
dan
korban pelecehan sekual adalah merasa
kondisi anaknya. T juga memberikan
marah dan tidak suka dengan perbuatan
penyuluhan
pelaku. Orangtau beruaha menaikkan
seksual
kaus pelecehan seksual ke pengadilan
rumah RS dan AF agar tidak ada
agar pelaku mendapatkan hukuman.
masyarakat yang mengucilkan atau
Orangtua V mencari informai mengenai
mengungkit masalah pelecehan seksual
dampak pelecehan seksual bagi anak dan
tersebut.
memberikan perhatian lebih kepada V
dan
lebih
mewaspadai
penerimana
orangtua
terhadap
mengenai
kepada
pelecehan
masyarakat
sekitar
5. RS dan AF sudah bisa menerima
lingkungan
kondisi anak mereka yang mengalami
bermain V. RS dan AF siap bertanggung
pelecehan seksual karena anaknya V
jawab dengan segala kondisi yang
tidak mengalami perubahan perilaku
dialami V setelah peristiwa pelecehan
dan tidak ada dampak yang berbahaya
seksual terebut.
dari
3. Penerimaan orangtua anak yang menjadi
korban
pelecehan
seksual
peristiwa
tersebut.
Akan
pelecehan
tetapi
AF
seksual
masih
dapat
mengalami ketakutan akan masa depan
mempengaruhi proses pemulihan dan
anaknya karena ia khawatir dampak
perkembangan anak dalam mengahadapi
pelecehan seksual muncul setelah anak
kondisi hidupnya. RS dan AF sudah
tersebut
menerima kondisi V yang menjadi
peristiwa tersebut.
korban pelecehan seksual karena kondisi
V yang tidak memiliki masalah dan
tidak
ingin
mengingat
peristiwa
dewasa
atau
memahami
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka
disampaikan beberapa saran sebagai berikut:
Hermayeni & Aviani, Gambaran Penerimaan Diri Orangtua Terhadap..... | 53
yang
Proses penerimaan diri, faktor-faktor
memberikan perhatian lebih kepada
mempengaruhi
anak,
dan
aspek
yang
mengasuh,
menjaga
menunjang kepercayan diri dapat menjadi
membimbing anak
acuan
dirumah serta mengawasi perilaku anak
setiap orang
untuk
menerima
dirinya secara utuh. Dukungan dan bantuan
orang lain untuk menyelesaikan kasus
secara
dan
langsung
setelah mengalami pelecehan seksual.
2.
Orangtua harus terus mengawasi dan
pelecehan seksual sangat mempengaruhi
mewaspadai lingkungan sekolah dan
penerimaan orangtua terhadap kondisi anak
bermain
yang menjadi korban pelecehan seksual.
pelecehan seksual yang dilakuakn oleh
1.
orang terdekat maupun orang asing.
Bagi orangtua yang memiliki anak
korban
pelecehan
seksual
agar
terhindar
dari
harus
DAFTAR RUJUKAN
Briere, J., & Elliott, D. M. (1997).
Psychological
assessment
of
interpersonal victimization effects in
adults and children. Psychotherapy:
Theory, Research & Practice, 34, 353364.
Calhoun J.F & Acocella J.R. (1995).
Psikologi tentang penyesuaian dan
hubungan kemanusiaan. Edisi ketiga.
Terjemahan oleh Prof Dr.NY.R.S
Satmoko. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Calvin, S. H, & Gardner, L. (1993).
Psikologi kepribadian 2 teori-teori
holistik. Yogyakarta: Konisious.
Davies, M. F. (2008). Irrational beliefs and
unconditional
self-acceptance,
the
relative importance of different types of
irrational belief. Journal of RationalEmotive & Cognitive-Behavior Therapy,
26 (2).
Effendi,
M.
(2008).
psikopedagogik anak
Jakarta: Bumi Aksara.
anak
Pengantar
berkelainan.
Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Teori
kepribadian. Jakarta: Salemba
Humanika.
Feldman, R.S. (2012). Pengantar psikologi
understanding psychology. Jakarta:
Salemba Humanika.
Flett, G. L, et al. (2003). Dimensions of
perfectionism,
unconditional
selfacceptance, and depression. Journal of
Rational-Emotive & Cognitive-Behavior
Therapy. 21 (2), 119-138.
Fuadi, M. A. (2011). Dinamika psikologis
kekerasan seksual studi fenomenologi
psikoislamika, Jurnal Psikologi Islam
(JPI), 8 (2).
Gunawan, I. (2014). Metode penelitian
kualitatif teori & praktik. Jakarta: Bumi
Aksara.
Hurlock, E. B. (2006). Personality
development. New Delhi: Tata mcgrow
Hill Publishing Company, Ltd.
Huraerah, A. (2006). Kekerasan terhadap
anak. Bandung: Penerbit Nuansa.
Kerig,
3. Patricia K & Wenar, Charles. (2006).
Develpmental psychopathology from
infacy
through
adolescence.
Maidenhead, UK: Mc Graw Hill.
54 | Jurnal RAP UNP, Vol. 7, No. 1, Mei 2016, hlm. 44-54
Kendall-Tacket, K. A., Williams, L. M., &
Finkelhor, D. (1993). Impact of sexual
abuse on children: areview and
synthesis of recent empirical studies.
Psychological Bulletin, 113, 164-180.
4.
Lynn, S. J. (2010). Healthcare system, long
beach.state university of new york at
binghamton. Imagination, cognition and
personality. Journal of Acceptance: An
Historical And Conceptual, 30 (1).
Gambaran
Mardian,
Debi.
(2013).
penerimaan diri orang tua yang
memiliki anak cerebral palsy. Program
Studi Psikologi Jurusan Bimbingan dan
Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Padang
Moleong, L. J. (2005). Metodologi peneltian
kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
O'Kelly, M. (2013). Self-acceptance in
women. In m. E. Bernard, the strength
o self acceptance. New York: Springer
Heidelberg
Dordrecht London.
Poerwandari, K. (2009). Pendekatan untuk
penelitian perilaku manusia. Jakarta:
LPSP3 UI.
Sisca, H., & Moningka, C. (2009).
Resiliensi perempuan dewasa muda
yang pernah mengalami kekerasan
seksual di masa kanak-kanak. Jurnal
Proceedin
PESAT
(Psikologi,
Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Sipil),3.
Sutadipura, B. (1984). Kompetensi guru dan
kesehatan mental. Bandung: Angkasa.
Supraktiknya, A. (1995) Komunikasi antar
pribadi. Yogyakarta: Kanisius.
Tishelman, A.C. (2010). The clinical–
forensic dichotomy in sexual abuse
evaluations: moving toward an
integrative model. Journal Of Child
Sexual Abuse, 19, 590–608.
Wardhani, Y.F & Lestari, W. (2007).
Gangguan stres pasca trauma pada
korban pelecehan seksual dan
perkosaan. Surabaya: Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sistim dan
Kebijakan Kesehatan.
Download