analisis strategi pengembangan usaha

advertisement
1
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA
ESTHER SEAFOOD
Oleh :
SRI REZEKI SIANTURI
A14104011
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
2
RINGKASAN
SRI REZEKI SIANTURI. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Esther
Seafood. Dibimbing oleh HARMINI.
Sektor perikanan memberikan peranan besar dalam perekonomian
Indonesia, dimana berdasarkan harga berlaku, PDB subsektor perikanan (Industri
Penangkapan dan Budidaya Ikan) hingga kini berperan strategis dalam
memberikan sumbangan terhadap PDB sektor pertanian maupun PDB Nasional.
Sumbangan PDB Perikanan terhadap sektor Pertanian adalah terbesar kedua
setelah tanaman bahan pangan. Pada tahun 2006, besarnya sumbangan PDB
Perikanan adalah 72.979,9 milyar rupiah atau 16,95 persen dari PDB Sektor
Pertanian, dimana PDB sektor tanaman bahan pangan sebesar 49,60 persen. Jika
dilihat dari jumlah produksi hasil perikanan dan kelautan, maka sektor ini juga
dikatakan sebagai sektor yang penting bagi perekonomian Indonesia karena
tingkat produksinya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pemasaran hasil perikanan merupakan salah satu kegiatan untuk
meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap seafood. Pemasok atau supplier
seafood merupakan bagian dari subsistem pemasaran yang memasok bahan baku
ke pengecer (supermarket atau swalayan) atau restoran-restoran, dimana
sebelumnya telah dilakukan proses pasca penangkapan misalnya pencucian,
seleksi, sampai pengepakan sehingga produk tersebut memiliki nilai tambah yang
tentunya kesegarannya tetap terjaga.
Esther Seafood merupakan perusahaan perseorangan yang bergerak di
bidang pemasaran, dimana ada dua bisnis yang dijalankan yaitu memasok bahan
baku seafood ke pengecer serta sebagai pengecer seafood. Kedua bisnis ini
dijalankan secara bersamaan di dalam satu manajemen. Selain penurunan tingkat
penjualan, masalah lain yang dihadapi adalah meningkatnya persaingan dalam
bisnis seafood serta perusahaan belum memiliki formulasi strategi yang baik. Hal
tersebut di atas menjadi menjadi alasan diperlukannya suatu formulasi strategi
pengembangan usaha dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal
perusahaan.
Tujuan penelitian ini yaitu : (1) Menganalisis lingkungan internal dan
eksternal yang dapat mempengaruhi Esther Seafood, dan (2) Merumuskan
alternatif strategi pengembangan usaha Esther Seafood.
Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai April 2008 di PO. Esther
Seafood Jl. Tanjung Raya Blok 7 No. 9 Taman Cimanggu, Bogor, Jawa Barat.
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer
didapatkan dari hasil observasi langsung, hasil wawancara dengan pemilik
perusahaan dan pegawai administrasi, serta hasil pengisian kuisioner. Data
sekunder didapatkan dari pemilik dan pegawai administrasi perusahaan, situs
internet, buku teks manajemen strategis, majalah, Departemen Kelautan dan
Perikanan Republik Indonesia, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor.
Metode yang dilakukan dalam pengolahan dan analisis data dilakukan dengan
analisis lingkungan internal dan eksternal menggunakan Matriks IFE, EFE dan IE;
analisis alternatif strategi dengan Matriks SWOT; dan pemilihan alternatif strategi
terbaik dengan Matriks QSP.
3
Berdasarkan hasil analisis Matriks IFE didapatkan total skor terboboti
sebesar 2.7340. Hal tersebut menandakan bahwa kekuatan internal yang dimiliki
perusahaan Esther Seafood berada dalam kondisi rata-rata. Faktor yang menjadi
kekuatan terbesar adalah harga yang kompetitif dengan skor terbobot 0.3428.
Faktor yang menjadi kelemahan terbesar adalah luas lahan dan bangunan yang
masih terbatas dengan skor terbobot 0.0866.
Hasil analisis Matriks EFE didapatkan total skor terbobot sebesar 3.2396.
Hal tersebut menunjukan bahwa kondisi lingkungan eksternal perusahaan Esther
Seafood dalam merespon peluang dan ancaman berada dalam posisi tinggi. Faktor
yang menjadi peluang terbesar bagi perusahaan adalah peluang utama yang
dimiliki perusahaan adalah memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan
catering) dengan skor terboboti 0.2768. Faktor yang menjadi ancaman terbesar
perusahaan adalah jam kerja kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang
dibuka serentak 0.3644.
Total skor terboboti Matriks IFE dan EFE menempatkan perusahaan pada
kuadran II pada Matriks IE. Kondisi tersebut menunjukan bahwa saat ini
perusahaan Esther Seafood berada pada posisi growth and build (tumbuh dan
bina). Dimana pada sel ini strategi yang harus dijalankan oleh perusahaan adalah
strategi intensif (penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk)
atau strategi integratif (integrasi ke belakang, ke depan, horizontal).
Berdasarkan hasil dari analisis Matriks SWOT didapatkan 9 alternatif strategi
yang mungkin. Kemudian 9 alternatif strategi tersebut disusun menurut tingkat
kepentingannya sehingga didapatkan prioritas strategi yaitu : (1) Memperluas
skala usaha dengan meningkatkan penawaran dan pangsa pasar (TAS = 5.3734 ),
(2) Mengadakan bidang yang berkonsentrasi dalam pemasaran (TAS = 5.3269),
(3) Mengefisienkan penggunaan peralatan untuk menghemat BBM (TAS =
5.2174), (4) Melakukan survey pasar tentang bisnis perikanan (TAS = 5.1799), (5)
Mengembangkan produk menjadi produk “ready to cook” (TAS = 5.1125) ,(6)
Meningkatkan penanganan dengan es agar tetap menjaga kesegaran seafood (TAS
= 5.0119) ,(7) Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan (TAS = 5.0476), (8)
Memperbaiki sistem manajemen perusahaan (TAS = 4.8332) ,(9) Melakukan
pembelian coldstorage (TAS = 3.8984).
Berdasarkan hasil matriks QSP alternatif strategi terbaik yang dapat
dilakukan saat ini adalah memperluas skala usaha dengan meningkatkan
penawaran dan pangsa pasar. Hal tersebut penting agar perusahaan dapat terus
bertahan dalam persaingan, apalagi dengan kondisi perusahaan saat ini yang telah
kehilangan banyak pelanggan. Perusahaan Esther Seafood diharapkan dapat
mengimplementasikan rekomendasi strategi yang dianggap paling sesuai.
Perusahaan Esther Seafood sebaiknya melakukan analisis pasar tentang perikanan
di Indonesia supaya dengan itu perusahaan dapat melihat adanya peluang ekspor
yang selama ini belum pernah direncanakan oleh perusahaan. Perusahaan
sebaiknya melakukan pengembangan yaitu mulai memasuki pasar yang selama ini
belum pernah dimasuki, apalagi dengan kondisi perusahaan yang buruk setelah
kehilangan banyak pelanggan.
4
ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA
ESTHER SEAFOOD
Oleh :
SRI REZEKI SIANTURI
A14104011
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANAN BOGOR
2008
5
Judul
Nama
NRP
: Analisis Strategi Pengembangan Usaha Esther Seafood.
: Sri Rezeki Sianturi
: A14104011
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Ir. Harmini, M.Si
NIP. 131 688 732
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr
NIP. 131 124 019
Tanggal lulus :
6
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
” ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA ESTHER SEAFOOD ”
BELUM PERNAH DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU
LEMBAGA LAIN MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR
AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI
INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK
MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU
DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI
BAHAN
RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.
Bogor, Agustus 2008
Sri Rezeki Sianturi
A14104011
7
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tarutung pada tanggal 11 Oktober 1985. Penulis
adalah anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Bapak Rindu Sianturi
dan Ibu Mardiana Nainggolan.
Penulis memulai pendidikan di SDN No. 173118 Tarutung pada Tahun
1992 dan lulus pada Tahun 1998. Kemudian penulis melanjutkan pendidikan ke
SLTP Negeri 5 Tarutung pada Tahun 1998 dan lulus pada Tahun 2001. Pada
Tahun 2001 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri
I Tarutung dan lulus pada Tahun 2004. Penulis diterima menjadi mahasiswa
Program Studi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor pada Tahun 2004 melalui jalur Ujian Saringan Masuk IPB (USMI).
Selama kuliah, penulis aktif dalam kegiatan organisasi intra kampus pada
Unit Kegiatan Mahasiswa PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) sebagai
anggota Komisi Kesenian periode 2006–2007. Pada Tahun 2007- 2008 penulis
juga aktif sebagai anggota Departemen Pengembangan Minat dan Bakat
MISETA. Sejak Tahun 2004 sampai saat ini penulis masih aktif sebagai anggota
Paduan Suara Agriaswara IPB. Selain itu, penulis pernah mengikuti berbagai
kepanitiaan, yaitu Festival Seni pada Tahun 2006 dan 2007 serta seksi acara pada
Natal CIVA (Civitas Akademika) IPB Tahun 2007. Penulis pernah menerima
beasiswa PPA dan BRI.
8
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas kasih,
kekuatan dan penyertaan-Nya dalam hidup penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan
skripsi
ini.
Skripsi
ini
diajukan
sebagai
syarat
dalam
menyelesaikan pendidikan pada Program Sarjana Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Pemilihan topik dan judul penelitian ini didasarkan atas ketertarikan
penulis terhadap berkembangnya bisnis atau usaha di bidang periakanan laut,
sehingga di dalam sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perikanan laut
sangat dibutuhkan strategi yang tepat untuk dapat bertahan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak kekurangan dalam
penulisan skripsi ini. Besar harapan penulis, kiranya penelitian ini dapat
memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat maupun bagi para pembaca.
Bogor, Agustus 2008
Sri Rezeki Sianturi
9
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih setia dan penyertaanNya yang senantiasa hadir dalam hidup penulis, terutama selama proses penulisan
skripsi ini. Penulis menyadari bahwa selama penulisan skripsi tidak lepas dari
kerja sama, doa, dukungan, dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Ir. Harmini, M.Si atas bimbingan, dukungan dan arahan yang diberikan
selaku dosen pembimbing skripsi ini;
2. Bapak Ir. Burhanuddin, MM selaku dosen penguji utama atas kesediaannya
menguji serta kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini;
3. Ibu Tintin Sarianti, SP selaku dosen penguji komisi pendidikan atas berbagai
perbaikan dalam penyempurnaan skripsi ini;
4. Seluruh pihak Esther Seafood, Ibu Esther dan keluarga, Mas Norman, Mba
Yuyun atas semua bantuan dan kerja samanya. Semoga Esther Seafood tetap
sukses dan dapat menjalankan semua visi dan misinya. God Bless You all.
5. Orang tuaku tercinta, Bapak Rindu Sianturi dan Ibu Mardiana Nainggolan,
atas kasih sayang, dukungan, nasehat dan arahan yang tiada henti-hentinya
diberikan kepada penulis. Karya tulis ini adalah persembahan dan wujud
terima kasih kepada Papa dan Mama.
6.
Kakak, abang, adekku yang kusayangi, Kak Ellys dan keluarga, Kak Bunga
dan keluarga, Ito Deddy, Hertika, Ito Jimmy atas dukungan, doa, perhatian,
dan kasih sayang kalian. Love you all.
7. Eleazar Dodo S. SE (Pa Guz). Terimakasih atas doa, support, kasih sayang,
dan bantuannya selama penyelesaian skripsi ini.
10
8. Sahabat-sahabatku: Acuy, Efendi, Loci, Irna, Nova, Venty, Vera, Lika, Reni,
Jane, Richard, Saut, Erika TEP, Marlina, Dina, Bang Christo, Bang Renata.
Terimakasih atas persahabatan yang tak akan ternilai dengan apapun.
9. AGB 41: Yanti, Nia, Dika, Yustika, Arisman, Ranzur, Tika, Agnes, Tere, Sri
Suci, Iwan, Bertha, Cikung, dan teman AGB lain yang tak bisa ku paparkan
satu persatu. Sukses untuk kita di masa mendatang.
10. Teman-teman seperjuangan: Agung, Latifa, Taufik, dan Tutik. Kalian
memang luar biasa kawan!
11. Artist in IPB (Art.com): Erika, Pretty, Sonti, Angel, Tri, Yunita, Koyo, Didit,
Azis, Rio, Putra, Agus, dan artist-artist lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu
persatu.
12. PARTARU (Parsadaan Anak Rantau Tarutung): Lisbet, Irma, Laura, Ester,
Angel, Johana, Ka Irene, Landes, Agus, Jonner, Felix, Roni, Boy, Christian;
dan Teman-teman INERTIA: Ronald, Ruth, Eli, Saari, dll.
13. Agria Swara IPB: Melvin, Ika, Ajeng, Widi, Mas Budi, Greth, Putri, Ka
Paulina, Ka Christin, Cibi, Bang Putra, dan teman agria terhormat lainnya.
14. Purwacaraka Music Studio: Bondongan (Mba Tantri, Mas Indra, Attik,
Ferdinan, Mas Nugie); Bangbarung (Mba Pipit, Mas Mpew, Mas Wawan,
Mas Dance); Cikini (M’Venty, Mba Delly, Mas Pondi, Mas Didi, Mas Erik).
15. Mba Dewi, Mba Dian, Teh Ida, Pak Yusuf, Mas Hamid. Terimakasih atas
bantuannya selama perkuliahan, seminar, dan sidang.
16. Seluruh pihak yang telah mendukung dan berdoa bagi penulis, yang tidak
dapat disebutkan satu per satu. Terimakasih sebesar-besarnya, tanpa kalian
penulis tidak akan mampu menyelesaikan skripsi ini.
11
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL............................................................................................ xiii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xv
I.
PENDAHULUAN.................................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Perumusan Masalah .........................................................................
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................
1
1
4
8
8
II.
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................
2.1 Pengertian, Sejarah, dan Jenis-jenis Seafood ...................................
2.2 Penyimpanan dan Pengolahan Seafood............................................
2.3 Nilai Gizi Seafood ...........................................................................
2.4 Penelitian Terdahulu ........................................................................
9
9
10
12
13
III.
KERANGKA PEMIKIRAN ..............................................................
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ..........................................................
3.1.1 Konsep Manajemen ................................................................
3.1.2 Konsep Strategi ......................................................................
3.1.3 Konsep Manajemen Strategis .................................................
3.1.4 Proses Manajemen Strategis...................................................
3.1.5 Formulasi Strategi ..................................................................
3.1.5.1 Menentukan Visi, Misi, dan Tujuan ............................
3.1.5.2 Analisis Lingkungan....................................................
3.1.6 Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal .....................
3.1.7 Matriks Internal Eksternal ......................................................
3.1.8 Matriks SWOT .......................................................................
3.1.9 Matriks QSP ...........................................................................
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional .....................................................
17
17
17
17
18
20
23
24
24
33
34
36
37
37
IV.
METODE PENELITIAN ....................................................................
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................
4.2 Jenis dan Sumber Data.....................................................................
4.3 Metode Pengambilan Sampel...........................................................
4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ............................................
4.4.1 IFE dan EFE ..........................................................................
4.4.2 IE ............................................................................................
4.4.3 Analisis SWOT.......................................................................
4.4.4 QSPM .....................................................................................
41
41
41
41
42
43
49
50
52
V.
ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN .................................. 54
5.1 Visi dan Misi Perusahaan ................................................................ 54
5.2 Analisis Lingkungan Internal........................................................... 55
12
VI.
5.2.1 Fungsi Manajemen dan Sumberdaya Manusia.......................
5.2.2 Fungsi Keuangan ....................................................................
5.2.3 Fungsi Penelitian dan Pengembangan ....................................
5.2.4 Fungsi Produksi dan Operasi .................................................
5.2.5 Fungsi Pemasaran ...................................................................
5.3 Identifikasi Lingkungan Internal......................................................
5.3.1 Kekuatan Perusahaan..............................................................
5.3.2 Kelemahan Perusahaan...........................................................
5.4 Analisis Lingkungan Eksternal ........................................................
5.4.1 Analisis Lingkungan Makro ...................................................
5.4.1.1 Lingkungan politik dan Hukum...................................
5.4.1.2 Lingkungan Demografi ...............................................
5.4.1.3 Lingkungan Ekonomi ..................................................
5.4.1.4 Lingkungan Alam........................................................
5.4.1.5 Lingkungan Teknologi ................................................
5.4.1.6 Lingkungan Sosial Budaya..........................................
5.4.2 Analisis Lingkungn Industri ...................................................
5.4.2.1 Kekuatan Tawar Menawar Pemasok ...........................
5.4.2.2 Kekuatan Tawar Menawar Pembeli ............................
5.4.2.3 Produk Substitusi.........................................................
5.4.2.4 Ancaman Pendatang Baru ...........................................
5.4.2.5 Para Pesaing dalam Industri ........................................
5.5 Identifikasi Lingkungan Eksternal .................................................
5.5.1 Peluang Perusahaan ................................................................
5.5.2 Ancaman Perusahaan..............................................................
55
63
66
66
71
75
75
78
80
80
80
83
86
88
89
90
91
91
92
93
93
95
95
95
98
PERUMUSAN STRATEGI PERUSAHAAN ...................................
6.1 Analisis Matriks IFE dan EFE ........................................................
6.1.1 Analisis Lingkungan Internal dengan Menggunakan
Matriks IFE .............................................................................
6.1.2 Analisis Lingkungan Eksternal dengan Menggunakan
Matriks EFE ............................................................................
6.2 Matriks IE ........................................................................................
6.3 Matriks SWOT.................................................................................
6.4 Matriks QSPM .................................................................................
100
100
100
102
103
105
110
VII. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 112
7.1 Kesimpulan ...................................................................................... 112
7.2 Saran................................................................................................. 113
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 114
LAMPIRAN..................................................................................................... 116
13
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1
Jumlah Produksi Perikanan Nasional Tahun 2001-2006 ..................... 2
2
Jumlah Konsumsi Ikan Nasional Tahun 2001-2006 ............................ 2
3
Data Penjualan PO. Esther Seafood Tahun 2007-Januari
2008 ..................................................................................................... 5
4
Jumlah Perusahaan Pesaing Esther Seafood di Jakarta
dan Jawa Barat .................................................................................... 7
5
Komposisi Gizi Beberapa Jenis Ikan Air Laut dan Ikan
Air Tawar ............................................................................................. 12
6
Perbandingan Penelitian dengan Penelitian Terdahulu......................... 16
7
Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal ............................................ 44
8
Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal ............................................ 44
9
Matriks IFE (Internal Factor Evaluation) ........................................... 48
10 Matriks EFE (External Factor Evaluation) ......................................... 48
11 Matriks SWOT .................................................................................... 51
12 QSPM .................................................................................................. 52
13 Daftar Perusahaan Esther Seafood untuk Divisi
Delivery ............................................................................................... 68
14 Jumlah Konsumsi Ikan di Beberapa Negara di Asia
Tahun 2002 .......................................................................................... 84
15 Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun
2001-2010 ........................................................................................... 86
16 Laporan Inflasi Per Bulan di Indonesia Tahun 2008 .......................... 87
17 Jumlah Konsumsi Ikan Menurut Propinsi di Indonesia
Tahun 2005 ......................................................................................... 90
18 Matriks IFE (Gabungan Responden 1 dan Responden 2).................... 102
19 Matriks EFE (Gabungan Responden 1 dan Responden2).................... 103
14
20 Matriks SWOT ..................................................................................... 106
15
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1
Model Komprehensif Manajemen Strategis................................... 19
2
Model Lima Kekuatan Bersaing Porter.......................................... 32
3
Kerangka Pemikiran Operasional Perusahaan Esther Seafood...... 40
4
Matriks Internal Eksternal.............................................................. 49
5
Struktur Organisasi Esther Seafood ............................................... 63
6
Proses Operasi Esther Seafood....................................................... 69
7
Matriks IE Perusahaan Esther Seafood .......................................... 104
16
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan, dimana wilayah
perairannya lebih luas dibandingkan wilayah daratan. Luas wilayah perairan
Indonesia kurang lebih sekitar 5,9 juta km², sedangkan luas wilayah daratan
Indonesia hanya kurang lebih sekitar 1,8 juta km². Dengan luas perairan yang tiga
kali lebih luas dibandingkan daratan, maka potensi perikanan dan kelautan di
Indonesia dapat dikatakan cukup menjanjikan. 6
Sektor perikanan memberikan peranan besar dalam perekonomian
Indonesia, dimana berdasarkan harga berlaku, PDB subsektor perikanan (Industri
Penangkapan dan Budidaya Ikan) hingga kini berperan strategis dalam
memberikan sumbangan terhadap PDB sektor pertanian maupun PDB Nasional.
Sumbangan PDB Perikanan terhadap sektor Pertanian adalah terbesar kedua
setelah tanaman bahan pangan. Pada tahun 2006, besarnya sumbangan PDB
Perikanan adalah 72.979,9 milyar rupiah atau 16,95 persen dari PDB Sektor
Pertanian, dimana PDB sektor tanaman bahan pangan sebesar 49,60 persen. 7 Jika
dilihat dari jumlah produksi hasil perikanan dan kelautan, maka sektor ini juga
dikatakan sebagai sektor yang penting bagi perekonomian Indonesia karena
tingkat produksinya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Tabel 1).
Salah satu potensi perikanan dan kelautan Indonesia adalah sumber daya
laut yang bisa dimanfaatkan sebagai hidangan atau makanan (seafood). Seafood
6
http://www.samarinda.go.id/2007/11/14/kantor-perikanan-kampanyekan-konsumsi-ikan (30
Januari 2008)
7
Statistik Kelautan dan Perikanan Tahun 2006, halaman xxviii
17
merupakan bahan pangan yang dapat meningkatkan kecerdasan otak anak serta
banyak mengandung zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan tubuh seperti protein,
lemak, vitamin, dan mineral.
Tabel 1. Jumlah Produksi Perikanan Nasional Tahun 2001-2006 (Ton)
Tahun
Rincian
Perikanan
Tangkap
Perikanan
Budidaya
Perikanan
Laut
Perairan
Umum
Budidaya
Laut
Tambak
Kolam
Karamba
Jaring
Apung
Sawah
Kenaikan
Rata-rata
(%)
20012006
2001
2002
2003
2004
2005
2006
3.966.480
4.073.506
4.383.103
4.320.241
4.408.499
4.468.010
2,45
310.241
304.989
308.693
330.880
297.370
301.150
-0,43
221.010
234.859
249.242
420.919
890.074
1.365.918
49,24
454.710
222.792
39.340
473.128
254.625
40.742
501.977
281.262
40.304
559.612
286.182
53.695
643.975
331.962
67.889
629.610
381.946
56.200
6,89
11,51
8,99
40.710
47.172
57.628
62.371
109.421
143.251
30,52
98.190
86.627
93.779
85.831
120.353
105.671
3,21
Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007e
Peningkatan permintaan dan kebutuhan akan seafood sebagai akibat dari
pertambahan penduduk dan perubahan konsumsi masyarakat ke arah protein
hewani dapat dilihat dari konsumsi ikan nasional yang meningkat dari tahun ke
tahun, seperti disajikan dalam Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Jumlah Konsumsi Ikan Nasional Tahun 2001-2006
Tahun
Kg/Kapita/Tahun
Persentase Peningkatan
2001
22.47
1.42
2002
22.79
-1.89
2003
22.36
0.58
2004
22.49
6.49
2005
23.95
4.51
2006
25.03
Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan, 2007e
Jumlah konsumsi ikan nasional yang semakin terus meningkat ternyata
belum menunjukkan kecukupan konsumsi ikan di Indonesia. Ketersediaan ikan
untuk konsumsi di kalangan masyarakat Indonesia (25,03 kg/kapita/tahun) masih
berada di bawah standar Food Agricultural Organization (FAO) sebesar 26-30
18
kg/kapita/tahun. Bila dibandingkan tingkat konsumsi ikan pada beberapa negara
maju, seperti Jepang (110 kg/kapita/tahun), Korea Selatan (85 kg/kapita/tahun),
Malaysia (45 kg/kapita/tahun), dan Thailand (35 kg/kapita/tahun), maka Indonesia
masih berada di bawah. Rendahnya tingkat konsumsi Indonesia disebabkan
rendahnya pemahaman tentang pentingnya gizi yang dikandung dalam ikan, serta
pentingnya laut untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Padahal semua negara
di dunia mengakui kekayaan laut Indonesia, namun justru kekayaan tersebut
dimanfaatkan oleh negara-negara lain. 8
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Departemen Kelautan dan
Perikanan telah membentuk Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) melalui
Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 29/MEN/2006.
Keberadaan Forikan Indonesia dimaksudkan untuk mendorong peningkatan
konsumsi ikan di Indonesia dapat menjadi Gerakan Nasional yaitu GEMARIKAN
(Gemar Makan Ikan) yang dikampanyekan sejak 20 September 2006. 9 Dengan
demikian jelaslah bahwa hasil perikanan (termasuk di dalamnya seafood)
merupakan elemen penting di dalam perekonomian Indonesia, karena di samping
untuk kesehatan dan kecerdasan juga akan mendukung produktivitas, penciptaan
lapangan kerja, peningkatan investasi, dan kesejahteraan.
Pemasaran hasil perikanan merupakan salah satu kegiatan untuk
meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap seafood. Pemasok atau supplier
seafood merupakan bagian dari subsistem pemasaran yang memasok bahan baku
ke pengecer (supermarket atau swalayan) atau restoran-restoran, dimana
8
Program Gemar Makan Ikan Sebagai Strategi Membangun Anak Bangsa Berkualitas,
Departemen Kelautan dan Perikanan 2007.
9
GEMARIKAN Sebagai Strategi Peningkatan Pemasaran Hasil Perikanan, “Craby & Starky”
Buletin Pengolahan dan Pemasaran Perikanan, Edisi September 2007
19
sebelumnya telah dilakukan proses pasca penangkapan misalnya pencucian,
seleksi, sampai pengepakan sehingga produk tersebut memiliki nilai tambah yang
tentunya kesegarannya tetap terjaga.
Perusahaan Esther Seafood merupakan salah satu pemasok seafood di
Kota Bogor yang sudah menjalankan bisnis ini sejak tahun 1993. Pemilik Esther
Seafood tertarik dengan bisnis ini karena pada saat usaha ini belum dijalankan,
beliau melihat kurangnya pasar untuk seafood yang berkualitas di Kota Bogor. 10
Kota Bogor sebagai kota yang strategis karena dekat dengan ibukota Indonesia,
juga dekat dengan kota-kota besar lainnya, menjadi peluang bagi Esther Seafood
untuk memasarkan seafood sekaligus membantu program pemerintah dalam
meningkatkan konsumsi ikan di Indonesia. Persaingan yang semakin ketat serta
omset yang harus dipertahankan membuat perusahaan harus memformulasikan
suatu strategi agar tetap bertahan dan omsetnya dapat dipertahankan bahkan
ditingkatkan.
1.2. Perumusan Masalah
Esther Seafood merupakan perusahaan perseorangan yang bergerak di
bidang pemasaran, dimana ada dua bisnis yang dijalankan yaitu memasok bahan
baku seafood ke pengecer serta sebagai pengecer seafood. Kedua bisnis ini
dijalankan secara bersamaan di dalam satu manajemen. Sebagai pemasok, Esther
Seafood sudah memiliki konsumen sebagai sasarannya yaitu di supermarketsupermarket yang ada di Bogor, Sukabumi, Jakarta, bahkan di Bandung. Sebagai
pemasar atau pengecer Esther Seafood telah membuka counter melalui kerja sama
dengan berbagai supermarket di Bogor dan Sukabumi.
10
Wawancara dengan Pemilik Perusahaan Esther Seafood
20
Sampai saat ini Esther Seafood telah bekerja sama dengan 19 supermarket
yang ada di Jakarta dan Jawa Barat dimana sebelumnya ada sebanyak 23
supermarket. Adanya kebijakan Superindo Pusat (pelanggan Esther Seafood yang
paling besar) yang berhak memilih pemasok dan memutuskan hubungan dengan
pemasok membuat Esther Seafood harus siap kapan saja dikeluarkan dari daftar
pemasok Superindo. Sampai awal Tahun 2008 Esther Seafood menguasai seluruh
cabang Superindo Bandung yaitu sebanyak tujuh cabang, namun bagi Superindo
Pusat hal tersebut merupakan monopoli pasar oleh Esther Seafood. Karena itu
pada sejak Bulan Mei 2008 Superindo Pusat mengganti Esther Seafood dengan
pemasok lain dimana empat cabang diberikan kepada pemasok tersebut.
Berkurangnya pelanggan Esther Seafood yaitu cabang Superindo
Bandung telah mengurangi omset perusahaan. Tabel 3 menunjukkan data
penjualan Esther Seafood Tahun 2007 sampai Juni 2008 yang mengalami
fluktuasi dan penurunan omset sejak Mei 2008.
Tabel 3. Data Penjualan PO. Esther Seafood Tahun 2007-Juni 2008
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Sumber: PO Esther Seafood
Nilai Penjualan (Rupiah)
510.136.395
580.909.649
591.350.264
536.513.220
513.792.807
510.936.558
490.178.493
470.758.624
530.955.662
500.243.156
540.256.581
590.654.251
610.180.491
630.489.560
610.389.490
554.575.708
449.585.957
443.858.612
Persentase Peningkatan
13.87
1.80
-9.27
-4.24
-0.56
-4.06
-3.96
12.79
-5.79
8.00
9.32
3.31
3.33
-3.19
-9.14
-18.93
-1.27
21
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penjualan Esther Seafood
mengalami fluktuasi, seperti akhir tahun dan awal tahun penjualannya meningkat,
hal ini dikarenakan adanya perilaku musiman, misalnya hari raya atau tahun baru.
Pada awal tahun 2008, perusahaan mengalami peningkatan penjualan namun sejak
Bulan Mei 2008 terjadi penurunan penjualan sebesar 18-20 persen. Penurunan
omset yang diakibatkan oleh kebijakan Superindo Pusat tentunya menjadi sebuah
permasalahan bagi perusahaan Esther Seafood sehingga diperlukan strategi untuk
meningkatkan kembali tingkat penjualan. Selain penurunan tingkat penjualan,
masalah lain yang dihadapi adalah meningkatnya persaingan dalam bisnis seafood
serta perusahaan belum memiliki formulasi strategi yang baik.
Banyaknya persaingan dalam bidang usaha perdagangan hasil perikanan
terlihat dari jumlah perusahaan perdagangan besar dan eceran khusus hasil
perikanan di Kota Bogor pada tahun 2007 sebanyak 94 perusahaan dan pada tahun
2008 terjadi peningkatan sebesar 9,6 persen menjadi 103 perusahaan
(Disperindag, Kota Bogor, 2008). Perusahaan sejenis yang menjadi pesaing
perusahaan Esther Seafood sangat banyak di berbagai daerah di Indonesia.
Tabel 4 menunjukkan daftar perusahaan yang menjadi pesaing utama Esther
Seafood di Jakarta dan Jawa Barat.
Sebuah perusahaan tidak terlepas dari berbagai permasalahan baik dari
dalam maupun dari luar perusahaan. Namun hal tersebut dapat diatasi jika
perusahaan dapat menetapkan kekuatan atau kelebihan serta mengenali peluang
eksternal perusahaan sehingga dapat menghasilkan formulasi strategi alternatif
yang dapat dilaksanakan. Karena itu perusahaan Esther Seafood dapat
menetapkan atau merumuskan formulasi strategi pengembangan usaha agar dapat
22
mengatasi kelemahan dan ancaman dengan menggunakan kekuatan dan
memanfaatkan peluang yang ada.
Tabel 4. Daftar Perusahaan Pesaing Esther Seafood di Jakarta dan Jawa
Barat Tahun 2008
No
1
2
Nama
Perusahaan
Banyuasin,
Seafood
Chain
Supply
CV. PMP
Indonesia
3
PT. Era
Mandiri
Cemerlang
4
Vanda
Seafood
5
Indah
Seafood
6
Mutiara
seafood
7
AMJ
8
UD
Jamaluddin
Sifat Usaha
Jenis barang yang dijual
Dagang dari
kategori
Makanan &
Minuman
Dagang dari
kategori
Makanan &
Minuman
Pabrikan dari
kategori
Makanan &
Minuman
Dagang
kepiting telor, kepiting jantan, udang windu,
udang api, bawal, baronang, kuwe, kakap merah,
tenggiri, cumi-cumi, kerang dara, kerang bambu
dan kerang hijau.
Ikan Tuna Segar
Abon Ikan Tuna/Marlin
Ikan Tuna Kaleng
Dagang dari
kategori
Makanan &
Minuman
Distributor /
importir frozen
seafood
Dagang dari
kategori
Makanan &
Minuman
Dagang dari
kategori
Makanan &
Minuman
Mahi Mahi, Bawal Hitam, Swordfish, Kakap
Merah, Lencam
Nila Merah, tongkol lisong, Ikan Layang Beku
Daging Kepiting Capit, Tuna Saku , Crab Egg or
Telur Kepiting, Kepitinf Soka, gurita, Gindara
Fillet, Kerang Hijau, Gindara fish, Shisamo fish,
Cumi Kupas
bahan makanan mentah berupa ikan untuk
dikonsumsi. Dan tersedia dalam kondisi beku
maupun segar.
Kepiting soka, Shisamo, Scallop, Abalone,
Shark fin (hisit), Mahi mahi fillet, Gindara steak,
Cumi kupas, Salmon, gurita, daging kepiting,
daging rajungan, sotong kupas, baronang
Oilfish fillet / Fillet Gindara
Ikan Meka, Lamadang, Kakap batu
Marlin Loin, cumi size
ikan kakap merah, ikan lodi, ikan bawal hitam,
ikan manyun, ikan jaan, ikan cunang, cumi
Sumber : PO Esther Seafood
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang timbul dan yang perlu
dikaji dalam penelitian ini adalah:
a. Bagaimana lingkungan internal dan eksternal PO Esther Seafood?
b. Apakah strategi alternatif yang dapat dilakukan untuk mengembangkan usaha
PO Eshter Seafood?
23
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka dapat dirumuskan tujuan
dari penelitian ini adalah :
a. Menganalisis lingkungan internal dan eksternal PO Esther Seafood.
b. Merumuskan strategi alternatif pengembangan usaha PO Esther Seafood.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi Esther Seafood maupun
pembaca. Penelitian ini diharapkan berguna bagi perusahaan dalam menentukan
proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan strategi pengembangan
usaha. Kegunaan penelitian bagi pembaca adalah sebagai sumber informasi
mengenai strategi pengembangan usaha di Esther Seafood dan sebagai masukan
untuk penelitian selanjutnya.
24
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian, Sejarah, dan Jenis-jenis Seafood
Berdasarkan Wikipedia Indonesia, Seafood (makanan laut) didefenisikan
sebagai sebutan untuk makanan berupa hewan dan tumbuhan laut yang ditangkap,
dipancing, diambil dari laut maupun hasil budidaya. Burung dan burung aid yang
terdapat di laut tidak termasuk ke dalam makanan laut. Di beberapa negara, istilah
”makanan laut” juga mencakup mamalia laut, ikan dan kerang yang ditangkap
atau dikumpulkan nelayan dari air tawar (danau atau sungai). Makanan laut
merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral (seng, zat besi, selenium,
magnesium, dan iodium).
Seafood sudah dikonsumsi oleh manusia sejak zaman purba. Orang Mesir
kuno memanfaatkan seafood sebagai sumber protein yang diperoleh dengan cara
memancing di Laut Mediterania dan Sungai Nil, serta memelihara ikan di kolam.
Orang Yunani kuno juga memakan ikan dan kerang-kerangan dalam bentuk segar
atau kering.
Banyak sekali jenis seafood yang terdapat di laut, antara lain ikan,
Moluska (cumi-cumi, kerang, tiram, dan gurita), Crustacea (udang windu, rebon,
udang putih, udang karang, dan kepiting), Echinodermata (teripang, bulu babi),
Ubur-ubur, dan Rumput Laut. Seafood yang paling sering kita temui di restoran
atau supermarket adalah ikan, kerang, kepiting, udang, dan rumput laut.
Kesegaran merupakan salah satu ciri khas dan kelebihan dari seafood.
Biasanya seafood tersedia dalam bentuk segar, kering, atau beku. Ikan segar atau
ikan beku biasanya dijual setelah dibekukan di dalam lemari es atau didinginkan
25
dengan es. Ciri-ciri ikan bermutu baik adalah warna tubuh cerah, tidak berbau
amis, matanya jernih dan menonjol, daging lunak, dan insang terlihat merah tua
atau merah jambu.
Kerang, kepiting, dan udang merupakan hewan laut yang memiliki
cangkang, dimana cangkang yang masih utuh, tidak retak atau pecah menjadi ciriciri atau mutu yang baik. Cangkang kerang atau tiram yang masih hidup akan
menutup bila dipegang dengan tangan. Kaki-kaki dari kepiting dan udang karang
yang hidup masih bisa bergerak. 11
2.2. Penyimpanan dan Pengolahan Seafood
Setelah dibeli di pasar atau ditangkap di laut, kesegaran seafood harus
dipertahankan agar tidak rusak karena seafood merupakan produk hewani yang
sangat mudah mengalami kerusakan atau kemunduran mutu dibandingkan
produk-produk hewani maupun nabati lainnya. Hal ini disebabkan oleh lunaknya
jaringan daging seafood, tingginya kadar zat-zat gizi (air, protein, dan lemak)
sehingga merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroba
pembusuk dan sangat potensial terhadap kerusakan zat-zat gizi yang dipengaruhi
oleh cahaya, oksigen, maupun logam-logam yang bersifat prooksidan.12
Kesegaran seafood dijaga dengan memasukkannya ke dalam kemasan berisi es,
kotak es, atau lemari es. Sebelum kualitasnya menurun seafood harus segera
dimasak atau dikonsumsi. 13
11
http://id.wikipedia.org/wiki/Makanan _laut (30 Januari 2008)
Departemen Kelautan dan Perikanan (2007). “Program Gemar Makan Ikan sebagai Strategi
Membangun Anak Bangsa Berkualitas”, (hal. 13)
13
http://id.wikipedia.org/wiki/Makanan _laut (30 Januari 2008)
12
26
Menurut DKP (2007d), ada dua cara menghambat pembusukan seafood,
yaitu penanganan dengan bersih untuk mengurangi jumlah bakteri pada tubuh
seafood dan perlakuan pendinginan di bawah suhu 4,40C. Kebersihan seafood
diusahakan pada pusat konsentrasi alami bakteri pada seafood yaitu selaput lendir,
insang, dan rongga perut harus dibuang, dicuci hingga bersih. Pembusukan
seafood berlangsung lebih cepat pada suhu di atas 4,40C terutama pada ikan-ikan
berjenis Scombroide yaitu tuna, cakalang, marlin, kembung, tongkol. Seafood
sebaiknya berada pada suhu dingin di bawah 4,40C bila akan disimpan dalam
waktu lama. Titik beku seafood terjadi antara -1,10C sampai dengan -2,20C.
Berdasarkan Wikipedia Indonesia, untuk pengolahan seafood, ada banyak
cara yang dapat dilakukan, antara lain:
a. Pematangan dengan cara direbus, digoreng, dibakar, ditumis, dikukus, atau
dipepes menjadi berbagai masakan dan makanan olahan misalnya kerang
rebus, udang bakar, kepiting rebus, ikan goreng, ikan pepes, kepiting
rebus, ikan goreng, ikan pepes, kerupuk, bakso, dan masih banyak lagi.
b. Pengeringan dan penggaraman misalnya udang kering, ikan asin, dan cumi
asin.
c. Perendaman dengan cuka atau minyak misalnya carpaccio, ceviche, dan
pekelharing.
d. Fermentasi misalnya kecap ikan dan narezushi.
e. Penyajian sewaktu masih segar (mentah) sebagai sashimi, sushi, atau
campuran selada.
27
2.3. Nilai Gizi Seafood
Ada berbagai macam gizi yang terkandung dalam seafood dan tentunya
sangat berguna bagi kesehatan manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
seafood mengandung protein yang berkualitas tinggi yang tersusun dari asam
amino yang dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan serta sangat mudah
dicerna dan diserap oleh tubuh. Kandungan lemaknya sebagian besar adalah asam
lemak tidak jenuh yang dibutuhkan untuk petumbuhan dan dapat membantu
menurunkan kolesterol darah tinggi. Vitamin yang larut dalam air terdapat di
dalam ikan yang tergolong dalam kelompok vitamin B yaitu B6, B12, biotin, dan
niacin. Kelompok ini banyak terdapat dalam ikan yang dagingnya berwarna gelap.
Mineral pada ikan terdiri atas seng, zat besi, selenium, magnesium, yodium, serta
kalsium dan flour. 14
Menurut DKP (2007d), adapun komposisi zat gizi (setiap 100 gram) dari
beberapa jenis ikan air tawar dan ikan air laut adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Komposisi Gizi Beberapa Jenis Ikan Air Laut dan Ikan Air Tawar
Protein
Lemak
Kalsium
Fosfor
Besi
Ikan (100 gr)
(gram)
(gram)
(mg)
(mg)
(mg)
Kakap
20
0.7
20
200
1
Peda
28
4
174
316
1
Teri Kering
33.3
2.9
1209
1225
3
Bandeng
20
4.8
20
150
2
Ikan Mas
16
2
2
150
2
Lele
18.2
2.2
34
116
0.2
Kembung
22
1
20
200
1
Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan (2007d).
14
http://www.dkp.go.id/content.php?c=1741 (diakses tanggal 30 Januari 2008)
28
2.4. Penelitian Terdahulu
Menurut penelitian yang dilakukan Fitriyani (2005) tentang analisis
strategi pemasaran ekspor ikan dan invertebrata hias air laut, studi kasus di CV
Banyu Biru menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengalami banyak
permasalahan internal maupun eksternal perusahaan. Permasalahan tersebut antara
lain dituduh menyelundupkan koral ke Amerika, keterlambatan pembayaran utang
oleh pelanggan, adanya keluhan dari pelanggan, serta masih banyak masalah lain
yang sering dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari strategi pemasaran
terbaik agar dapat memulihkan perusahaan dari permasalahan serta meningkatkan
penjualan atau tingkat ekspor perusahaan.
Matriks EFE, IFE, IE, dan QSPM adalah alat analisis yang digunakan
dalam penelitian tersebut. Berdasarkan pencocokan matriks IFE dan EFE
diketahui posisi perusahaan pada matriks IE berada pada sel IV yang disebut
posisi tumbuh dan bina, di mana alternatif strategi yang dipilih adalah strategi
intersif dan strategi integrasi. Alternatif strategi terpilih pada matriks QSPM
adalah promosi yang efektif dan efisien, menambah jumlah karyawan pemasaran
yang berpendidikan tinggi.
Menurut penelitian yang dilakukan Akhsan (2006) tentang analisis strategi
pemasaran pada CV. Celup Mitra Saudara, Bogor, Jawa Barat menunjukkan
bahwa perusahaan ini telah menerapkan strategi bauran pemasaran seperti harga
yang relatif terjangkau, promosi dari mulut ke mulut, penggunaan brosur, internet,
dan surat kabar. Selain itu juga perusahaan ini sangat menjaga kehigienisan
tempat dan makanan agar konsumen nyaman.
29
Dari hasil analsis matriks IFE diperoleh nilai rata-rata sebesar 2,720 yang
menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki kondisi lingkungan internal
rata-rata. Hasil analisis EFE diperoleh dengan nilai total rata-rata sebesar 2,354
yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan sedang (di bawah
rata-rata) dalam merespon peluang yang ada. Dari hasil matriks IE diperoleh
bahwa perusahaan berada pada posisi sel V sehingga strategi yang bisa
dipergunakan adalah strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk. Prioritas
strategi pemasaran dengan menggunakan analisis QSPM diperoleh strategi
mempertahankan pelangan yang ada serta mempertahankan dan memelihara
wilayah pemasaran yang telah ada dengan nilai TAS 5,335.
Menurut penelitian yang dilakukan Dwirayani (2006) tentang analisis
strategi pemasaran produk Milk Cup pada PT Agronesia Divisi BMC di Bandung,
menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengalami banyak permasalahan yaitu
mengalami penurunan penjualan pada sistem keagenan sehingga perusahaan
mengalami kerugian sebesar empat persen dari total pendapatan. Penelitian ini
bertujuan untuk mencari strategi pemasaran terbaik agar dapat memulihkan
perusahaan dari permasalahan serta meningkatkan penjualan.
Matriks EFE, IFE, IE, dan QSPM adalah alat analisis yang digunakan
dalam penelitian tersebut. Berdasarkan pencocokan matriks IFE dan EFE
diketahui posisi perusahaan pada matriks IE berada pada sel I yang disebut posisi
tumbuh dan bina, di mana alternatif strategi yang dipilih adalah strategi intersif
dan strategi integrasi karena semuanya memerlukan usaha intensif untuk
memperbaiki posisi bersaing perusahaan dengan produk yang sudah ada. Strategi
intensif yang dapat dilakukan yaitu penetrasi pasar, pengembangan pasar atau
30
pengembangan produk sedangkan strategi integratif yang dapat dilakukan yaitu
integrasi ke depan, integrasi ke belakang atau integrasi horizontal. Alternatif
strategi terpilih pada matriks QSPM adalah memperbaiki sistem keagenan dengan
merevisi kontrak kerja dengan agen sehingga dapat memperjelas tanggung jawab
agen tersebut.
Dari berbagai penelitian terdahulu di atas maka disimpulkan bahwa sebuah
perusahaan penting sekali dalam menetapkan strategi pemasaran dalam
menghadapi kondisi internal maupun eksternal.
Penelitian yang dilakukan
Fitriyani (2005) tentang analisis strategi pemasaran ekspor ikan dan invertebrata
hias air laut, studi kasus di CV Banyu Biru, merupakan penelitian yang menjadi
penelitian terdahulu bagi penulis dimana komoditinya adalah hasil perikanan. Jadi
penulis dapat mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari penelitian
tersebut. Sementara untuk penelitian yang dilakukan Dwirayani (2006) tentang
analisis strategi pemasaran produk Milk Cup pada PT Agronesia Divisi BMC di
Bandung dan penelitian yang dilakukan Akhsan (2006) tentang analisis strategi
pemasaran pada CV. Celup Mitra Saudara, Bogor, Jawa Barat menjadi penelitian
terdahulu bagi penulis dalam hal alat atau metode yang digunakan yang sama
dengan alat dan metode yang digunakan penulis, sehingga diharapkan dapat
menjadi pertimbangan serta mengembangkan penelitian tersebut.
31
Tabel 6. Perbandingan Penelitian dengan Penelitian Terdahulu
No.
1
2
3
Judul Penelitian
Tahun
Analisis Strategi Pemasaran
2005
Ekspor Ikan Dan Invertebrata Hias
Air Laut, Studi Kasus di CV
Banyu Biru
Analisis Strategi Pemasaran pada
2006
CV. Celup Mitra Saudara, Bogor,
Jawa Barat
Analisis Strategi Pemasaran
Produk Milk Cup pada PT
Agronesia Divisi BMC di
Bandung
2006
Nama Peneliti
Sisi Fitriyani
Suryadin
Akhsan
Dina Dwirayani
Persamaan dengan Penelitian
- Meneliti komoditi yang sama
yaitu hasil perikanan
- Menggunakan alat penelitian
yang sama
Menggunakan alat atau metode
yang sama yaitu matriks IE,
SWOT, dan QSPM
- Perusahaan mengalami
permasalahan yang sama
yaitu mengalami penurunan
penjualan
- Hasil pada matriks IE
berada pada sel V sel I yang
disebut posisi tumbuh dan
bina, di mana alternatif
strategi yang dipilih adalah
strategi intersif dan strategi
integrasi.
Sumber: Skripsi Sisi Fitriyani (2005), Suryadin Akhsan (2006), Dina Dwirayani (2006)
Perbedaan dengan
Penelitian
Hasil pada matriks IE
berada pada sel IV
- Komoditi yang berbeda
- Hasil pada matriks IE
berada pada sel V
- Komoditi yang berbeda
116
III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1.
Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Konsep Manajemen
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan,
dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan semua lainlain sumberdaya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah
ditetapkan (Stoner, 1992). Manajemen merupakan seni dalam mengelola
sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan organisasi. Manajemen mengacu
pada lima fungsi dasar yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian
(organizing),
penyusunan
staf
(staffing),
kepemimpinan
(leading),
dan
pengendalian (controlling).
3.1.2. Konsep Strategi
Strategi merupakan tindakan potensial yang membutuhkan keputusan
manajemen tingkat atas dan sumberdaya perusahaan dalam jumlah yang besar
(David, 2006). Strategi merupakan suatu alat untuk mencapai sasaran atau tujuan
yang bersifat jangka panjang. Sasaran merupakan hal yang ingin dicapai oleh
organisasi dan strategi merupakan rencana organisasi dalam mencapai sasaran
yang telah ditetapkan. Strategi yang dilakukan dalam organisasi dapat berupa
ekspansi geografis, diversifikasi, pengembangan produk, divestasi, likuidasi,
akuisisi, dan joint venture.
117
3.1.3. Konsep Manajemen Strategis
Manajemen strategis merupakan kumpulan keputusan dan tindakan yang
menghasilkan perumusan dan penerapan strategi yang didesain untuk mencapai
sasaran organisasi (Pearce dan Robinson, 1988). Menurut David (2006),
manajemen strategis merupakan suatu tindakan yang direncanakan dan dilakukan
untuk menghasilkan strategi yang efektif agar tujuan perusahaan dapat tercapai.
Manajemen strategis (strategic management) dapat didefinisikan sebagai seni dan
ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas
fungsi yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya.
Proses manajemen strategis adalah jalan yang dilalui oleh para pengambil
keputusan strategi untuk menentukan sasaran organisasi dan membuat kesimpulan
strategis yang berkesinambungan. Manajemen strategi merupakan serangkaian
keputusan dan tindakan manajerial yang menetukan kinerja perusahaan dalam
jangka panjang (Hunger dan Wheelen, 2003).
Fokus
dalam
manajemen
strategi
mengintegrasikan
manajemen,
pemasaran, keuangan/akuntansi, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan,
dan sistem informasi untuk mencapai keberhasilan dalam organisasi. Manajemen
strategi dibutuhkan oleh organisasi agar dapat menang dalam kompetisi.
Manajemen strategi menghasilkan rencana dari pilihan berbagai alternatif yang
baik. Tujuan dari manajemen strategi adalah untuk mengeksploitasi dan
menciptakan peluang baru yang berbeda untuk masa mendatang (perencanaan
jangka panjang) dan mencoba mengoptimalkan tren sekarang untuk masa datang
(David, 2006).
118
Manajemen strategi merupakan hal yang dinamis dan berkelanjutan.
Perubahan
komponen
utama
dalam
model
manajemen
strategi
dapat
mengakibatkan perubahan dalam semua komponen lain dalam model manajemen
strategi. Aplikasi manajemen strategis berbeda untuk setiap organisasi. Langkah
formal dalam manajemen strategis biasanya diterapkan dalam organisasi yang
besar, memiliki banyak divisi, pasar maupun produk. Berikut ini model
komprehensif manajemen strategi menurut David (2006).
Menjalankan
Audit
Eksternal
Mengemba
ngkan
Pernyataan
Visi dan
Misi
Menetap
kan
Tujuan
Jangka
Panjang
Merumuskan
Mengevaluasi
dan Memilih
Strategi
Implementasi
Strategi- isu
manajemen
Implementasi
Strategi- isu-isu
pemasaran,
keuangan,
akuntansi,
penelitian dan
pengembangan,si
stem informasi
manajemen
Menguk
ur dan
Mengeva
luasi
Kinerja
Menjalankan
Audit
Internal
Gambar 1. Model Komprehensif Manajemen Strategis.
Sumber : David (2006)
Model komprehensif tersebut merupakan model manajemen strategis yang
telah diterima secara luas. Namun dalam penerapannya model tersebut tidak
menjamin keberhasilan dalam menerapkan manajemen strategis. Model tersebut
membantu dalam menjelaskan proses menajemen strategis untuk memformulasi,
mengimplementasi, dan mengevaluasi strategi.
119
Bisnis yang menerapkan manajemen strategis akan mendapatkan manfaat
bagi organisasinya baik secara finansial maupun non finansial. Bisnis yang
menerapkan manajemen strategis akan berdampak positif dalam penigkatan
profitabilitas, penjualan, dan produktivitas. Manfaat non finansial yang bisa
didapat adalah meningkatnya kesadaran atas ancaman eksternal, pemahaman yang
lebih baik atas strategi pesaing, meningkatnya produktivitas karyawan,
mengurangi keengganan untuk berubah, dan pengertian yang lebih baik atas
hubungan antara kinerja dan penghargaan (David, 2006).
3.1.4. Proses Manajemen Strategis
Proses dalam manajemen strategis terdiri dari tiga tahapan (David, 2006)
yaitu formulasi strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi.
A. Formulasi strategi
Dalam formulasi strategi dilakukan pengembangan visi dan misi,
mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal, mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka panjang, merumuskan alternatif
strategi, dan memilih strategi tertentu yang akan dijalankan.
Formulasi strategi didasarkan pada analisis yang menyeluruh terhadap
pengaruh faktor lingkungan eksternal dan internal perusahaan (Rangkuti, 2001).
Tahap formulasi strategi pengambil keputusan akan menentukan bisnis apa yang
akan dimasuki, bisnis yang harus ditinggalkan, cara mengalokasikan sumber daya
organisasi, apakah akan melakukan ekspansi atau diversifikasi bisnis, dan
bagaimana mencegah pengambil alihan secara paksa.
120
Pengambil keputusan harus menentukan alternatif strategi yang akan
menguntungkan organisasi dengan mempertimbangkan keterbatasan sumberdaya
yang dimiliki oleh organisasi.
B. Implementasi Strategi
Implementasi strategi yaitu tahapan dimana alternatif pilihan strategi
dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai
tujuan organisasi, disebut juga sebagai tahap pelaksanaan alternatif strategi
pilihan. Alternatif strategi yang dapat dijalankan oleh sebuah organisasi dapat
dikategorikan menjadi empat jenis dengan 12 tindakan (David, 2006) yaitu :
1. Strategi Integrasi
Strategi ini melibatkan akuisisi kepemilikan atau meningkatkan kontrol
terhadap distributor, pemasok atau pesaing. Tipe strategi integrasi terdiri
dari :
a. Integrasi ke depan, yaitu peningkatan kontrol terhadap distributor atau
pengecer.
b. Integrasi ke belakang, yaitu strategi mencari kepemilikan atau
meningkatkan kontrol atas pemasok perusahaan.
c. Integrasi horizontal, yaitu mencari kepemilikan atau meningktkan
kontrol atas pesaing perusahaan.
2. Strategi Intensif
Strategi intensif membutuhkan usaha yang intensif agar posisi kompetitif
perusahaan dengan produk yang ada saat ini membaik. Tipe strategi
intensif terdiri dari :
121
a. Penetrasi pasar, yaitu meningkatkan pangsa pasar untuk produk
dengan upaya pemasaran yang lebih besar.
b. Pengembangan pasar, yaitu mengembangkan pasar dengan cara
memperkenalkan produk yang sudah ada pada wilayah geografi yang
baru.
c. Pengembangan produk, yaitu strategi meningkatkan penjualan dengan
memperbaiki produk yang ada atau melakukan modifikasi produk.
3. Strategi Diversifikasi
Strategi ini dilakukan dengan cara mendiversifikasi aktivitas bisnis. Tipe
strategi diversifikasi terdiri dari :
a. Diversifikasi konsentrik, yaitu menambah produk yang berhubungan
secara umum.
b. Diversifikasi horizontal, yaitu menambah produk baru yang tidak
berkaitan untuk pelanggan yang ada saat ini.
c. Diversifikasi konglomerat, yaitu menambah produk baru yang tidak
berkaitan.
4. Strategi Defensif
Tipe strategi defensif terdiri dari :
a. Retrencment, yaitu pengelompokkan ulang melalui penjualan aset dan
biaya untuk membalikkan penjualan dan laba yang menurun.
b. Divestasi, yaitu menjual satu divisi atau bagian suatu organisasi.
c. Likuidasi, yaitu menjual seluruh aset perusahaan secara terpisah-pisah
atau sepotong-sepotong untuk nilai riilnya.
122
Tahap implementasi strategi pengambil keputusan menetapkan tujuan
tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber
daya sehingga strategi yang telah diformulasikan dapat dijalankan. Tahapan
implementasi merupakan tahap yang paling sulit karena dalam implementasi
strategi melibatkan banyak individu. Tahap ini membutuhkan disiplin, komitmen,
dan pengorbanan setiap individu yang terlibat. Strategi dapat dijalankan dengan
baik apabila setiap indvidu yang terlibat memiliki motivasi dalam menjalankan
strategi yang telah dipilih. Karena itu kemampuan interpersonal sangat dibutuhkan
dalam tahap implementasi strategi ini.
C. Evaluasi Strategi
Tahapan evaluasi strategi merupakan tahap final dalam manajemen
strategi. Evaluasi strategi dilakukan untuk dapat mengetahui apakah strategi
berjalan dengan baik sesuai dengan harapan. Tahap evaluasi strategi berarti
mengevaluasi hasil implementasi dan memastikan bahwa strategi yang telah
disesuaikan dapat mencapai tujuan perusahaan (Jauch dan Glueck, 1988).
Terdapat tiga aktivitas dasar dalam evaluasi strategi yaitu (1) meninjau
ulang faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi saat ini, (2)
mengukur kinerja, dan (3) mengambil tindakan korektif. Evaluasi dibutuhkan
karena faktor eksternal dan internal dalam organisasi selalu berubah sehingga
selalu membutuhkan penyesuaian dalam menghadapi perubahan tersebut.
3.1.5. Formulasi Strategis
Tahap formulasi strategi terdiri dari beberapa tahapan yaitu (1)
menentukan visi dan misi, (2) analisis lingkungan internal (3) analisis lingkungan
eksternal (4) menetapkan tujuan jangka panjang.
123
3.1.5.1. Menentukan Visi, Misi dan Tujuan
Visi adalah suatu pandangan yang jauh tentang perusahaan dan tujuan
perusahaan dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut
(Dirgantoro, 2001). Pernyataan visi menjawab pertanyaan “Apa yang ingin kita
capai?”. Visi menggambarkan cita-cita perusahaan ke depan dan mengarahkan
misi perusahaan.
Misi adalah pernyataan jangka panjang mengenai tujuan yang
membedakan suatu bisnis dari usaha lain yang serupa. Pernyataan misi menjawab
pertanyaan “Apa bisnis kita?”. Misi dijadikan sebagai standar dan pedoman dalam
melaksanakan kegiatan operasional perusahaan dalam mencapai tujuan organisasi.
Tujuan merupakan pusat dari kegiatan perusahaan yang digunakan sebagai
penilai prestasi perusahaan. Tujuan berperan penting dalam perumusan dan
implementasi strategi perusahaan, karena itu manajemen puncak haru mampu
merumuskan, melembagakan, mengkombinasikan dan menguatkan tujuan
perusahaan melalui perusahaan.
3.1.5.2. Analisis Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor-faktor di dalam dan di luar perusahaan yang
dapat mempengaruhi kegiatan dan performa suatu perusahaan. Lingkungan yang
bersifat dinamis membuat perlu adanya penyesuaian terhadap strategi pemasaran
dalam menghadapi perubahan lingkungan tersebut. Perusahaan menyadari bahwa
lingkungan pemasaran selalu menimbulkan peluang serta ancaman baru dan
memahami pentingnya memantau dan beradaptasi dengan lingkungan yang terus
berubah (Kotler, 2002).
124
Sebuah perusahaan sangat perlu melakukan analisis terhadap lingkungan
perusahaan, karena dapat memberikan kesempatan bagi para perencana strategis
untuk melihat dan menanggapi pilihan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
perusahaan. Analisis lingkungan perusahaan juga bertujuan agar manajemen
perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat meramalkan perubahan yang
mungkin terjadi, sehingga dapat mengantisipasi perubahan tersebut.
Lingkungan perusahaan dibagi menjadi dua, yaitu lingkungan internal dan
lingkungan eksternal. Lingkungan internal terdiri dari variabel kekuatan dan
kelemahan yang berada dalam kontrol manajemen perusahaan, sedangkan
lingkungan eksternal terdiri dari variabel peluang dan ancaman yang berada di
luar kontrol perusahaan.
a. Analisis Lingkungan Internal
Menurut
Kotler
(2002),
pengidentifikasian
faktor
internal
dapat
memberikan gambaran mengenai kondisi suatu perusahaan. Landasan yang
penting bagi pemahaman kondisi internal adalah pengertian mengenai pemikiran
pencocokan kekuatan dan kelemahan internal perusahaan dengan peluang dan
ancaman yang ada di lingkungan perusahaan.
Secara tradisional, aspek-aspek lingkungan internal perusahaan yang akan
diamati dapat dilihat dari beberapa pendekatan, salah satu di antaranya adalah
pendekatan fungsional. Menurut Pearce dan Robinson (1997), sasaran analisis
internal adalah menentukan secara cermat kekuatan dan kelemahan terhadap
peluang yang ada dalam lingkungan bersaing perusahaan saat ini dan yang akan
datang.
125
Menurut
Pearce
dan
Robinson
(1997),
analisis
internal
adalah
mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan utama perusahaan. Kekuatan adalah
faktor-faktor yang menggambarkan keunggulan bersaing perusahaan di pasarpasar sasaran, sedangkan kelemahan adalah faktor-faktor yang merupakan
kelemahan bersaing potensial. Kekuatan dan kelemahan dibandingkan dengan
peluang dan ancaman eksternal sebagai landasan untuk menghasilkan alternatifalternatif strategi yang akan diterapkan oleh perusahaan.
Menurut David (2004), faktor-faktor internal yang dianalisis pada
perusahaan adalah:
1) Fungsi Manajemen
Fungsi manajemen terdiri dari empat aktivitas dasar yaitu perencanan,
pengorganisasian, pemotivasian, dan penunjukan staff.
2) Fungsi Pemasaran
Pemasaran dapat diuraikan sebagai proses menetapkan, mengantisipasi,
menciptakan, dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan akan produk
dan jasa. Menurut Evans dan Bergman dalam David (2004), terdapat sembilan
dasar fungsi pemasaran, yaitu analisis pelanggan, membeli sediaan, menjual
produk/jasa, merencanakan produk dan jasa, menetapkan harga, distribusi,
riset pemasaran, analisis peluang, dan tanggung jawab sosial.
3) Fungsi Keuangan/Akunting
Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi keuangan perusahaan adalah
likuiditas, solvabilitas, modal kerja, profitabilitas, pemanfaatan harta, arus kas,
dan modal. Faktor-faktor tersebut dapat menghilangkan beberapa strategi
sebagai alternatif yang layak.
126
4) Fungsi Produksi/Operasi
Fungsi produksi/operasi merupakan kegiatan mengubah masukan (input)
menjadi barang/jasa (output). Schroeder dalam David (2004) menyarankan
bahwa manajemen produksi/operasi haruslah terdiri dari lima fungsi atau
bidang keputusan, yaitu proses, kapasitas, sediaan, tenaga kerja, dan mutu.
5) Fungsi Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan sangat perlu dilakukan perusahaan untuk
mendapatkan keunggulan bersaing. Hal ini biasanya diarahkan pada
pengembangan produk baru, perbaikan terhadap mutu produk, dan
memperbaiki proses manufaktur untuk menekan biaya.
6) Fungsi Sistem Informasi Komputer
Sistem informasi komputer ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi
perusahaan dengan memperbaiki mutu keputusan manajerial. Sistem informasi
dikatakan efektif jika sistem tersebut dapat mengumpulkan, memberi kode,
menyimpan, melakukan sintesis, dan menyajikan informasi sedemikian rupa,
sehingga dapat menjawab pertanyaan operasional dan strategis yang pentng.
Sistem informasi komputer ini mengumpulkan data mengenai masalah
pemasaran, keuangan, produksi, personalia internal, dan faktor-faktor sosial,
budaya, demografi, lingkungan, ekonomi, politik, pemerintah, legal, teknologi,
dan persaingan ekstrenal.
b. Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis terhadap lingkungan eksternal diperlukan untuk mengetahui
faktor-faktor yang dapat memberikan peluang dan ancaman bagi perusahaan
dalam produknya. Kotler (2002) mendefinisikan peluang pemasaran bagi
127
perusahaan sebagai suatu gelanggang yang menarik untuk kegiatan perusahaan,
dimana perusahaan perusahaan akan meraih keunggulan dalam bersaing.
Perusahaan yang mampu menunjukkan kemampuan terbaik akan menjadi
perusahaan
yang
akan
mendapatkan
keunggulan
bersaing
yang
dapat
dipertahankan dalam memenuhi tuntutan sukses industri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi arah dan tindakan perusahaan, yang
pada akhirnya akan mempengaruhi struktur dan proses internal perusahaan disebut
sebagai faktor-faktor eksternal atau lingkunagn eksternal (Pearce dan Robinson,
1997). Selain dapat memberikan peluang bagi perusahaan, lingkungan eksternal
juga dapat menimbulkan berbagai macam ancaman. Ancaman lingkungan
merupakan suatu kecenderungan atau perkembangan yang tidak menguntungkan
dalam lingkungan yang akan menyebabkan kemerosotan kedudukan perusahaan
bila tidak ada kegiatan pemasaran produknya dengan tujuan tertentu.
Lingkungan eksternal terdiri dari komponen atau variabel lingkungan
yang berada atau berasal dari luar perusahaan. Komponen tersebut berada di luar
jangkauan organisasi dan kendali perusahaan, sehingga perusahaan tidak dapat
melakukan intervensi serta diperlukan tingkat adaptasi yang tinggi terhadapnya
David, 2004).
Lingkungan eksternal dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu :
1. Lingkungan Makro
Lingkungan makro menggambarkan suatu situasi di luar perusahaan yang
dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Kotler (2002) mengemukakan bahwa
dalam situasi global yang berubah cepat, perusahaan harus memantau enam
kekuatan utama, yaitu demografi, ekonomi, alam, teknologi, politik, dan
128
sosial/budaya. Perusahaan harus memperhatikan interaksi dan perubahan dari
faktor-faktor tersebut, karena faktor-faktor inilah yang membentuk peluang serta
ancaman yan baru.
a) Lingkungan Demografi
Menurut Kotler (2002) lingkungan demografi terdiri atas umur,
pendidikan, pendapatan, pekerjaan, ukuran keluarga, tempat tinggal, dan
ukuran kota. Lingkungan merupakan hal yang sangat menarik bagi
penyusunan strategi pemasaran, karena berhubungan dengan studi statistik
tentang manusia dimana populasi manusia dapat membentuk pasar beserta
karakteristiknya. Perusahaan harus selalu dapat mengidentifikasi perubahan
kondisi demografi yang terjadi agar dapat mengetahui dan merespon
perubahan tersebut dengan menerapkan strategi-strategi yang tepat.
b) Lingkungan Ekonomi
Lingkungan ekonomi merupakan lingkungan dimana terjadi kegiatan
jual beli, dimana seseorang dapat membeli karena didukung oleh kemampuan
atau daya beli yang dimiliki. Daya beli konsumen bergantung pada
pendapatan, harga produk, tabungan, hutang, dan ketersediaan kredit saat ini.
Dalam hal ini pemasar harus cermat memperhatikan tren utama dalam
pendapatan dan pola pembelanjaan konsumen.
c) Lingkungan Alam
Lingkungan alam berhubungan dengan ketersediaan bahan mentah
untuk proses produksi dan kualitas lingkungan hidup manusia. Kondisi
lingkungan alam ini dapat berubah menjadi rusak karena ulah manusia yang
akan
menyebabkan
berkurangnya
ketersediaan
sumber
daya
alam.
129
Berkurangnya ketersediaan sumber daya alam khususnya sumber daya alam
yang tidak dapat diperbaharui dan terbatas akan mengakibatkan peningkatan
biaya produksi yang tinggi. Oleh karena itu perlu tindakan bijaksana untuk
mengantisipasi kekurangan bahan baku, biaya energi yang meningkat,
meningkatnya tingkat populasi, dan perubahan peran pemerintah dalam
perlindungan lingkungan hidup.
d) Lingkungan Teknologi
Lingkungan teknologi dapat menciptakan peluang bagi sebuah
perusahaan untuk berproduksi secara efisien dan mencuiptakan pasar baru.
Perkembangan teknologi memberi dampak terhadap pola konsumsi pasar yang
berimplikasi terhadap pemasaran perusahaan. Perkembangan teknologi juga
dapat menjadi ancaman yang membuat teknologi lama menjadi usang,
sehingga pemasar harus memahami lingkungan teknologi yang berubah dan
bagaimana teknologi dapat memenuhi kebutuhan manusia.
e) Lingkungan Politik dan Hukum
Kotler (2002) menyatakan bahwa keputusan pemasaran dipengaruhi
kuat oleh perkembangan dalam lingkungan politik dan hukum. Lingkungan ini
dibentuk oleh hukum, badan pemerintah, dan kelompok penekan yang
mempengaruhi dan membatasi beragam organisasi dan individu. Selain itu
hukum juga dapat menciptakan peluang baru bagi bisnis. Pergerakan trend
politik dan hukum terhadap manajemen pemasaran terlihat pada undangundang yang mengatur bisnis dan pertumbuhan kelompok dengan kepentingan
khusus.
130
f) Lingkungan Sosial dan Budaya
Lingkungan sosial dan budaya selalu berubah secara dinamis sesuai
dengan perkembangan kebutuhan masyarakat. Menurut Kotler (2002) manusia
menyerap hampir secara tidak sadar pandangan dunia yang merumuskan
hubungan mereka dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dan dengan
alam. Karena itu perusahaan perlu menyusun strategi pemasaran yang dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat yang terbentuk karena faktor sosial budaya
yang terdapat dalam masyarakat tersebut.
2.
Lingkungan Industri
Industri
merupakan
kumpulan
atau
kelompok
perusahaan
yang
menghasilkan barang atau jasa yang sejenis dan dapat saling menggantikan.
Pemahaman mengenai karakteristik industri sangat penting dalam upaya untuk
merumuskan strategi bersaing, yaitu dengan cara perusahaan menyesuaikan diri
dengan kondisi lingkungan yang senantiasa berubah.
Menurut Porter (1997), kekuatan industri bergantung kepada lima faktor
yaitu ancaman terhadap masuknya pendatang baru, ancaman terhadap produk
substitusi, kekuatan tawar menawar pemasok, kekuatan tawar menawar pembeli,
dan intensitas persaingan anggota industri. Untuk lebih jelasnya, lima kekuatan
yang mempengaruhi persaingan industri dapat dilihat pada gambar 2.
131
PENDATANG BARU
POTENSIAL
Kekuatan Tawar
Menawar Pemasok
PEMASOK
Ancaman
Pendatang Baru
Para Pesaing dalam
Industri
PEMBELI
Kekuatan Tawar
Menawar Pembeli
Ancaman
Produk Pengganti
PRODUK
PENGGANTI
Gambar 2. Model Lima Kekuatan Bersaing
Sumber: Porter (1997)
1. Persaingan Antar Perusahaan Sejenis
Persaingan antar perusahaan sejenis menjadi
kekuatan terbesar dalam
kekuatan kompetitif. Keunggulan kompetitif dibanding pesaing merupakan
sarana agar strategi organisasi dapat dijalankan dengan berhasil. Jika jumlah
pesaing sejenis semakin banyak maka intensitas persaingan akan semakin
tinggi.
2. Kemungkinan Masuknya Pesaing Baru
Jika pesaing baru memiliki kemudahan untuk masuk dalam pasar maka
intensitas persaingan akan semakin tinggi. Tugas para penyusun strategi untuk
mengidentifikasi pesaing yang berpeluang masuk pasar, memonitor strategi
pesaing baru tersebut. Untuk dapat mempertahankan posisi maka dapat
dilakukan dengan persaingan harga, iklan, inovasi produk, peningkatan dalam
pelayanan dan jaminan purna jual.
132
3. Potensi Pengembangan Produk Substitusi
Produk substitusi merupakan produk yangn memiliki tujuan dan fungsi yang
sama dalam segmen pasar tertentu. Keberadaan produk substitusi dapat
menurunkan volume permintaan akan produk. Cara untuk mengukur kekuatan
kompetitif produk substitusi adalah dengan memantau pangsa pasar produk
tersebut juga memantau rencana perusahaan untuk meningkatkan kapasitas
dan penetrasi pasar.
4. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok
Kekuatan tawar menawar pemasok ditentukan oleh banyaknya pemasok,
banyak barang substitusi, dan biaya untuk mengganti bahan baku. Jika
pemasok memiliki kekuatan yang besar maka akan mempengaruhi biaya dan
investasi yang akhirnya berdampak pada berkurangnya potensi laba dalam
industri tersebut.
5. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli
Kekuatan
tawar
menawar
berada
pada
konsumen
jika
konsumen
terkonsentrasi atau membeli dalam jumlah besar. Posisi tawar menawar yang
kuat pada pembeli akan menekan harga jual, cara pembayaran, cara
pengiriman dan lainnya yang akan mengurangi kemampuan dalam
menghasilkan laba.
3.1.6 Matriks Evaluasi Faktor Internal dan Eksternal
Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dipergunakan untuk menilai
lingkungan internal perusahaan, maka hal-hal yang harus diidentifikasi adalah
faktor-faktor yang akan menjadi kekuatan maupun kelemahan perusahaan.
Kekuatan dapat didefinisikan sebagai faktor yang dimiliki suatu perusahaan yang
133
dapat mendukung dan meningkatkan performa perusahaan itu sendiri, baik dari
sisi produktivitas, kemampuan memperoleh laba, serta efisiensi dari kegiatan
produksinya. Sedangkan kelemahan merupakan faktor di dalam perusahaan yang
dapat menghambat dan menurunkan performa perusahaan dalam suatu industri.
Data dan informasi mengenai lingkungan internal dapat digali dari beberapa
fungsional perusahaan, misalnya aspek manajemen, keuangan, sumber daya
manusia, pemasaran, sistem informasi, dan produk/operasi.
Untuk matriks External Factor Evaluation (EFE), terdapat indikator
peluang dan ancaman. Peluang didefinisikan sebagai faktor-faktor yang berasal
dari luar perusahaan dan dapat memberikan prospek yang positif bagi kegiatan
perusahaan dalam suatu industri. Sedangkan ancaman adalah hambatan-hambatan
dari luar perusahaan yang dapat memberikan gangguan dan memberikan pengaruh
negatif bagi kelangsungan suatu usaha. Data eksternal dikumpulkan untuk
menganalisis hal-hal yang menyangkut persoalan ekonomi, sosial, budaya,
demografi, politik, pemerintah, hukum, teknologi, dan persaingan di pasar industri
dimana perusahaan berada serta data eksternal lainnya.
Matriks IFE dan EFE merupakan salah satu teknik perumusan strategi
yang penting dan merupakan langkah awal dari kerangka kerja perumusan yang
disebut sebagai tahap input. Tahap input merupakan tahap meringkas informasi
dasar yang diperlukan untuk merumuskan strategi.
3.1.7 Matriks Internal Eksternal (Matriks IE)
Setelah melalui tahap input yaitu penggunaan matriks IFE dan EFE untuk
mengetahui faktor internal dan eksternal, maka tahap selanjutnya adalah
penggunaan matriks IE. Matriks IE merupakan perpaduan antara matriks IFE dan
134
EFE dimana skor kedua matriks tersebut dipadukan dan akan menghasilkan
sembilan sel. Kesembilan sel tersebut berfungsi untuk mengetahui posisi
perusahaan dalam industri dan mengetahui stretegi apa yang tepat untuk
diterapkan pada perusahaan. Menurut David (2004), matriks IE dibagi menjadi
tiga bagian utama yang mempunyai dampak strategi yang berbeda, di antaranya:
a. Divisi yang masuk dalam sel I, II, atau IV
Divisi yang termasuk ke dalam sel ini dapat dikelola dengan menggunakan
strategi tumbuh dan bina (growth and built). Strategi yang termasuk pada growth
and built adalah strategi intensif dan integratif. Strategi intensif terdiri atas
penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk dimana ketiga
strategi ini memerlukan usaha intensif untuk posisi bersaing perusahaan dengan
produk yang sudah ada. Strategi integratif terdiri atas integrasi ke belakang,
integrasi ke depan, dan integrasi horisontal dimana ketiga strategi ini berfungsi
alat bagi perusahaan agar dapat mengendalikan distributor, pemasok, dan pesaing.
b. Divisi yang masuk dalam sel III, V, atau VII
Divisi yang termasuk ke dalam sel ini dapat dikelola dengan strategi
pertahankan dan pelihara (hold and maintain). Strategi pertahankan dan pelihara
terdiri atas strategi penetrasi pasar dan pengembangan produk dimana kedua
strategi ini merupakan strategi terbanyak yang dilakukan untuk tipe-tipe divisi ini.
c. Divisi yang masuk dalam sel VI, VIII, atau IX
Divisi yang termasuk ke dalam sel ini dapat dikelola dengan strategi panen
atau divestasi (harvest or divestiture). Strategi panen atau divestasi terdiri atas
strategi divestasi atau likuidasi. Strategi ini digolongkan ke dalam strategi defensif
yang dilakukan jika perusahaan tidak mampu lagi mempertahankan pangsa pasar.
135
3.1.8 Matriks SWOT
Tahap pencocokan selanjutnya dari faktor-faktor internal dan eksternal
adalah
dengan
menggunakan
matriks
SWOT
(strengths-
weaknesses-
opportunities-threats), gunanya untuk mendapatkan alternatif strategi yang
sifatnya lebih spesifik berdasarkan perpaduan dari variabel-variabel kekuatan,
kelemahan, peluang, serta ancaman yang dimiliki perusahaan. Matriks SWOT
terdiri dari empat tipe strategi yaitu strategi S-O, strategi S-T, strategi W-O, dan
strategi
W-T, dimana matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana
peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan
dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya (David, 2004). Alternatif
strategi SWOT dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Strategi S-O
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan
memanfaatkan seluruh kekuatan internal perusahaan untuk merebut dan
memanfaatkan peluang eksternal sebanyak-banyaknya.
b. Strategi S-T
Strategi ini merupakan strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki
perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal.
c. Strategi W-O
Strategi
ini
bertujuan
untuk
memperbaiki
kelemahan
dengan
memanfaatkan peluang eksternal.
d. Strategi W-T
Strategi ini didasarkan pada kegiatan bersifat defensif yang diarahkan
untuk mengurangi kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.
136
3.1.9 Matriks Perencanaan Strategis Kuantitatif (QSPM)
Setelah membuat matriks IFE, EFE, IE, dan SWOT, maka langkah
terakhir dalam tahap keputusan yaitu membuat matriks QSPM (Quantitative
Strategic Planning Matriks). Matriks QSPM adalah alat yang dipergunakan untuk
menilai strategi secara objektif berdasarkan faktor-faktor kritis eksternal dan
internal yang telah diketahui sebelumnya. Tujuan dari matriks ini adalah untuk
menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah
dipilih dan untuk menentukan strategi mana yang dianggap paling baik untuk
diimplementasikan terlebih dahulu atau menentukan prioritas dari alternatif
strategi yang ada.
Kelebihan dari QSPM adalah bahwa set strategi dapat diperiksa secara
berurutan atau bersamaan, dimana tidak ada batas untuk jumlah strategi yang
dapat dievaluasi atau jumlah set strategi yang dapat diperiksa sekaligus
menggunakan QSPM. Kelebihan lain dari QSPM adalah alat ini mengharuskan
ahli strategi untuk memadukan faktor-faktor eksternal dan internal yang terkait ke
dalam proses keputusan, sedangkan keterbatasan QSPM adalah prosesnya yang
selalu memerlukan penilaian intuitif dan asumsi yang diperhitungkan (David,
2004).
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Esther seafood merupakan perusahaan perseorangan yang bergerak di
bidang pemasaran, dimana ada dua bisnis yang dijalankan yaitu memasok bahan
baku seafood ke pengecer serta sebagai pengecer seafood. Kedua bisnis ini
dijalankan secara bersamaan di dalam satu manajemen. Sampai saat ini Esther
Seafood telah bekerja sama dengan 19 supermarket yang ada di Jakarta dan Jawa
137
Barat. Sebelumnya Esther Seafood bekerja sama dengan 23 supermarket, namun
adanya kebijakan Superindo Pusat (pelanggan Esther Seafood yang paling besar)
yang berhak memilih pemasok dan memutuskan hubungan dengan pemasok
sehingga sejak Bulan Mei 2008 Superindo Pusat mengganti Esther Seafood
dengan pemasok lain dimana empat cabang diberikan kepada pemasok tersebut.
Berkurangnya pelanggan Esther Seafood yaitu cabang Superindo Bandung
telah mengurangi omset perusahaan. Penjualan Esther Seafood mengalami
fluktuasi, seperti akhir tahun dan awal tahun penjualannya meningkat, hal ini
dikarenakan adanya perilaku musiman, misalnya hari raya atau tahun baru. Pada
awal tahun 2008, perusahaan mengalami peningkatan penjualan namun sejak
Bulan Mei 2008 terjadi penurunan penjualan sebesar 18-20 persen. Penurunan
omset yang diakibatkan oleh kebijakan Superindo Pusat tentunya menjadi sebuah
permasalahan bagi perusahaan Esther Seafood sehingga diperlukan strategi untuk
meningkatkan kembali tingkat penjualan. Selain penurunan tingkat penjualan,
masalah lain yang dihadapi adalah meningkatnya persaingan dalam bisnis seafood
serta perusahaan belum memiliki formulasi strategi yang baik.
Menyikapi permasalahan tersebut, Esther seafood harus membuat suatu
formulasi strategi pengembangan usaha untuk menunjang keberhasilan dalam
usaha pemasarannya. Untuk membuat suatu alternatif strategi perlu adanya alat
analisis yang mendukung. Alat analisis yang digunakan adalah analisis faktor
internal perusahaan dan analisis faktor eksternal perusahaan. Analisis faktor
internal perusahaan dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang
dimiliki perusahaan. Analisis ini meliputi sumberdaya manusia, pemasaran,
operasi, keuangan, serta penelitian dan pengembangan. Analisis faktor eksternal
138
dilakukan untuk mengetahui peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan.
Analisis ini terdiri atas lingkungan makro (ekonomi, politik, teknologi, alam/fisik,
dan sosial) dan lingkungan industri (masuknya pendatang baru, ancaman terhadap
produk substitusi, kekuatan tawar menawar pemasok, kekuatan tawar menawar
pembeli, dan intensitas persaingan anggota industri.)
Hasil dari analisis yang dilakukan terhadap lingkungan internal disajikan
dalam bentuk matriks IFE sedangkan hasil dari analisis lingkungan eksternal
disajikan dalam bentuk matriks EFE. Matriks IFE dan EFE yang dihasilkan
kemudian dicocokkan untuk memperoleh beberapa alternatif strategi pemasaran
dngan matriks IE untuk mengetahu posisi perusahaan saat ini dan strategi yang
tepat dilakukan pada posisi itu. Matriks IE menjadi dasar bagi penetapan strategi
pada matriks SWOT. Setelah itu diakhiri dengan menggunakan matriks QSPM
yang berfungsi untuk menghasilkan skala prioritas strategi yang terbaik. Adapun
kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 3.
139
Perusahaan Esther seafood mengalami penurunan
omset, adanya kebijakan Superindo Pusat dalam
memutuskan hubungan dengan Esther Seafood, serta
meningkatnya persaingan bisnis seafood yang tinggi
Analisis Lingkungan Perusahaan
Analisis Lingkungan Eksternal
Analisis Lingkungan
Internal (David, 2004)
-
Lingkungan
Makro (Kotler,
2002)
- Demografi
- Ekonomi
- Alam
- Teknologi
- Politik
- Sosial
Budaya
Manajemen
Produksi dan
Operasi
Keuangan
Pemasaran
Sumberdaya
Manusia
IFE
Lingkungan
Industri (Lima
Kekuatan Porter)
- Pembeli
- Pemasok
- Pendatang baru
potensial
- Produk pengganti
- Para pesaing
dsalam industri
EFE
IE
Analisis SWOT
QSPM
Alternatif Strategi Pengembangan Usaha yang
sesuai untuk dijalankan oleh Esther seafood
Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Strategi
Pengembangan Usaha Esther Seafood
Umpan
Balik
140
IV. METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PO. Esther Seafood Jl. Tanjung Raya Blok 7
No. 9 Taman Cimanggu, Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian
dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan perusahaan ini masih kecil dan
memiliki manajemen yang sederhana namun skalanya cukup besar dan sudah
menunjukkan prospek yang cukup menjanjikan, sehingga suatu strategi
pengembangan usaha yang tepat sangat dibutuhkan dalam mencapai tujuan
perusahaan. Pengambilan data di lapang dilakukan pada bulan Maret- April 2008.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan mencakup data primer dan data sekunder, baik
kualitatif maupun kuantitatif. Data primer diperoleh dengan melakukan
pengamatan di lapang, wawancara dan kuesioner kepada pihak perusahaan. Data
sekunder diperoleh dari pustaka, literatur, skripsi, dan buku yang relevan dengan
penelitian ini, juga data dari Badan Pusat Statistik (BPS), internet, dan lain-lain.
4.3. Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling (sengaja) yang digunakan untuk memilih responden. Responden yang
dijadikan sebagai sampel adalah pemilik satu orang dan staf administrasi dan
keuangan satu orang. Responden ini dipilih dengan pertimbangan bahwa kedua
responden ini merupakan orang yang sangat mengetahui kondisi perusahaan, baik
lingkungan internal maupun lingkungan eksternal dari perusahaan Esther Seafood.
141
Pemilik perusahaan adalah salah satu lulusan Sarjana Perikanan Institut
Pertanian Bogor pada Tahun 1988, kemudian pemilik juga pernah bekerja selama
lima tahun di Tambak Ikan milik Alm. Bapak Soeharto di Karawang. Berdasarkan
pengalamam dan latar belakang tersebut maka dapat dikatakan pemilik cukup
terampil dalam bisnis perikanan. Sementara responden kedua yaitu staf
administrasi merupakan salah satu orang kepercayaan pemilik, dimana baru
memiliki pengalaman bekerja di Esther Seafood selama dua tahun. Namun karena
latar belakang sebagai mahasiswa Sarjana dan merupakan orang yang sangat
dipercaya oleh pemilik, maka karyawan tersebut dipilih sebagai responden.
4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data disajikan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan
pendekatan manajemen strategi dan manajemen perusahaan. Analisis deskriptif
kualitatif digunakan untuk mengetahui lingkungan perusahaan agar diketahui apa
yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi
perusahaan. Untuk memperoleh faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan)
dan faktor-faktor eksternal perusahaan (ancaman dan peluang) dilakukan dengan
wawancara secara iteratif atau berulang-ulang.
Ada empat tahap wawancara yang dilakukan, pertama wawancara untuk
memperoleh faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan, kedua untuk
menentukan bobot dan rating setiap faktor, ketiga menentukan alternatif strategi
yang akan dijalankan perusahaan (untuk analisis SWOT), dan yang terakhir
menentukan prioritas strategi yang dipilih oleh perusahaan (untuk matriks QSP).
Sedangkan analisis kuantitatif digunakan pada matriks IFE, matriks EFE, matriks
IE, matriks SWOT, dan matriks QSPM (Lampiran 1)
142
4.4.1. Matriks IFE dan Matriks EFE
Matriks IFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan
mengklasifikasikannya
menjadi
kekuatan
dan
kelemahan
perusahaan.
Pengidentifikasian faktor-faktor internal dilakukan secara interaktif kepada pihak
perusahaan yang sangat mengetahui betul kondisi internal perusahaan, sehingga
dapat diperoleh faktor-faktor yang menjadi kekuatan maupun kelemahan dari
perusahaan.
Matriks EFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan
mengklasifikasikannya menjadi peluang dan ancaman. Pengidentifikasian faktorfaktor eksternal juga dilakukan secara interaktif kepada pihak perusahaan yang
sangat mengetahui betul kondisi eksternal perusahaan, sehingga dapat diperoleh
faktor-faktor yang menjadi peluang maupun ancaman dari luar perusahaan.
Adapun tahap-tahap dalam penyusunan matriks EFE dan IFE adalah :
1. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan
Dalam tahap pengidentifikasian faktor eksternal dan internal dilakukan
dengan mendaftarkan seluruh kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan
serta peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan. Dalam penyajian dalam
matriks, faktor yang bersifat positif (kekuatan dan peluang) ditulis sebelum faktor
yang bersifat negatif (kelemahan dan ancaman).
2. Pemberian Bobot Faktor
Pada analisis internal dan eksternal, penentuan bobot dilakukan dengan
mengajukan kuesioner kepada pihak manajemen atau ahli strategi dengan
menggunakan metode pairwise comparison (Kinnear dan Taylor, 2001). Bobot
143
menunjukkan tingkat kepentingan relatif suatu faktor terhadap keberhasilan
perusahaan dalam suatu industri (industry-based).
Penentuan bobot setiap faktor menggunakan skala yang akan digunakan
untuk pengisian kolom pada matriks. Skala yang digunakan adalah :
1 = Jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal
2 = Jika indikator horizontal sama penting dengan indikator vertikal
3 = Jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal
Tabel 7. Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal
Faktor Strategis Internal
A
B
C
D ....
A
B
C
D
....
Total
Total
Bobot
Total
Bobot
Sumber : David, 2000
Tabel 8. Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal
Faktor Strategis Eksternal A
B
C
D ....
A
B
C
D
....
Total
Sumber : David, 2000
Bobot untuk setiap variabel atau faktor strategis didapat dengan menentukan total
nilai setiap faktor strategis terhadap jumlah nilai keseluruhan faktor strategis
dengan menggunakan rumus :
ai =
Xi
n
∑ Xi
i =1
144
dimana :
ai = bobot variabel ke-i
Xi = total nilai variabel ke-i
i = 1, 2, 3,....., n
n = jumlah variabel
Bobot yang akan didapat berkisar anatar 0,0 (tidak penting) hingga 1,0
(sangat penting) untuk setiap faktor strategis. Jumlah seluruh bobot harus sama
dengan 1,0. Bobot yang diberikan mencerminkan tingkat kepentingan relatif dari
suatu faktor strategis terhadap keberhasilan perusahaan dalam industri. Faktor
strategis kekuatan dan kelemahan serta ancaman dan peluang akan mendapat
bobot paling tinggi apabila memilki pengaruh paling besar dalam kenerja
perusahaan.
3. Pemberian Rating (Peringkat)
Menurut David (2006), rating (peringkat) menggambarkan seberapa besar
efektif strategi perusahaan saat ini dalam merespon faktor strategis yang ada
(company-based). Pemberian peringkat dilakukan oleh manajemen dalam
perusahaan terhadap seluruh faktor strategis yang telah diidentifikasi. Pemberian
peringkat faktor eksternal strategis dilakukan dengan menilai seberapa efektif
strategi perusahaan dalam menanggapi kondisi eksternal. Sedangkan pemberian
peringkat faktor internal strategis dilakukan untuk menentukan faktor internal
strategis yang menjadi kekuatan utama, kekuatan minor, kelemahan utama,
maupun kelemahan minor.
Mengukur pengaruh masing-masing faktor eksternal strategis digunakan
nilai peringkat dengan skala 1, 2, 3, dan 4 untuk mengukur keefektifan strategi
145
perusahaan saat ini. Skala nilai peringkat yang digunakan untuk matriks EFE
adalah :
1 = rendah, respon perusahaan jelek
2 = rendah, respon perusahaan rata-rata
3 = tinggi, respon perusahaan diatas rata-rata
4 = sangat tinggi, respon perusahaan superior
Total rata-rata tertimbang tertinggi adalah 4,0 dan rata-rata tertimbang terendah
adalah 1,0.
Nilai bobot yang didapat kemudian dikalikan dengan peringkat sehingga
didapat rata-rata tertimbang untuk setiap faktor internal strategis. Penjumlahan
seluruh rata-rata tertimbang untuk setiap faktor internal strategis akan dihasilkan
total rata-rata tertimbang.
Total rata-rata tertimbang sebesar 4,0 menunjukkan bahwa perusahaan
dapat merespon dengan baik peluang dan ancaman yang terjadi pada lingkungan
eksternalnya. Sedangkan jika total rata-rata tertimbang sebesar 1,0 menunujukkan
bahwa strategi dalam perusahaan tidak dapat memanfaatkan peluang dan
menghindari ancaman. Total rata-rata tertimbang rata-rata adalah 2,5.
Total rata-rata tertimbang EFE dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu
3,0 sampai 4,0 (kuat) berarti respon perusahaan kuat terhadap peluang dan
ancaman. Total rata-rata tertimbang 2,0 sampai 2,99 (rata-rata) berarti respon
perusahaan sedang terhadap peluang dan ancaman. Total rata-rata tertimbang 1,0
sampai 1,99 (lemah) berarti respon perusahaan lemah terhadap peluang dan
ancaman.
146
Skala nilai peringkat yang digunakan untuk matriks IFE adalah sebagai
berikut :
1 = sangat lemah (kelemahan utama)
2 = lemah (kelemahan minor)
3 = kuat (kekuatan minor)
4 = sangat kuat (kekuatan utama)
Nilai bobot yang didapat kemudian dikalikan dengan peringkat sehingga
didapat rata-rata tertimbang untuk setiap faktor eksternal strategis. Penjumlahan
seluruh rata-rata tertimbang untuk setiap faktor eksternal strategis akan dihasilkan
total rata-rata tertimbang.
Total rata-rata tertimbang IFE terkecil 1,0 dan tertinggi 4,0 dengan ratarata 2,5. Total rata-rata tertimbang IFE 3,0 sampai 4,0 mengindikasikan bahwa
kondisi internal perusahaan kuat atau tinggi. Total rata-rata tertimbang IFE 2,0
sampai 2,99 mengindikasikan kondisi internal perusahaan sedang atau menengah.
Jika total rata-rata tertimbang IFE 1,0 sampai 1,99 berarti kondisi internal
perusahaan lemah atau rendah.
4. Perkalian Bobot dan Peringkat
Langkah selanjutnya adalah menentukan nilai tertimbang tiap faktor yang
diperoleh dari perkalian bobot dengan rating (peringkat) setiap faktor. Nilai
tertimbang setiap faktor kemudian dijumlahkan untuk memperoleh total nilai
tertimbang bagi organisasi (David, 2006).
Total nilai tertimbang pada matriks IFE dan EFE akan berada pada kisaran
1,0 (terendah) hingga 4,0 (tertinggi), dengan nilai rata-rata 2,5. Semakin tinggi
total nilai tertimbang perusahaan pada matriks IFE atau EFE mengindikasikan
147
perusahaan merespon kekuatan dan kelemahan (faktor internal) atau peluang dan
ancaman (faktor eksternal) dengan sangat baik pula, begitu pula sebaliknya.
Tabel 9. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)
Faktor-Faktor
Bobot
Rating
Internal Kunci
(a)
(b)
Kekuatan
1 ...........................
.......
.......
2 ...........................
.......
.......
3 ...........................
.......
.......
Kelemahan
1 ...........................
.......
.......
2 ...........................
.......
.......
3 ...........................
.......
.......
Jumlah
1,0
Nilai tertimbang
(c) = (a) x (b)
..............
..............
..............
..............
..............
..............
..............
Sumber : David, 2006
Tabel 10. Matriks Internal Factor Evaluation (EFE)
Faktor-Faktor
Bobot
Rating
Internal Kunci
(a)
(b)
Peluang
1 ...........................
.......
.......
2 ...........................
.......
.......
3 ...........................
.......
.......
Ancaman
1 ...........................
.......
.......
2 ...........................
.......
.......
3 ...........................
.......
.......
Jumlah
1,0
Nilai tertimbang
(c) = (a) x (b)
..............
..............
..............
..............
..............
..............
..............
Sumber : David, 2006
Langkah selanjutnya adalah menggabungkan nilai tertimbang matriks IFE
dan EFE untuk kedua responden. Dalam hal ini digunakan penggabungan dengan
teknik rata-rata tertimbang dimana jawaban responden pertama akan dinilai lebih
tinggi dibandingkan jawaban responden kedua yaitu dengan perbandingan tiga per
empat dari jawaban responden pertama dan seperempat dari jawaban responden
kedua. Hal ini dilakukan karena pertimbangan latar belakang serta pengalaman
yang dimiliki kedua responden.
148
4.4.2. Matriks IE
Sumbu horizontal pada matriks IE menunjukkan skor total IFE sedangkan
pada sumbu vertikal menunjukkan skor total EFE. Pada sumbu horizontal maupun
vertikal, skor antara 1,00 sampai 1,99 menunjukkan pengaruh eksternal dan
internal yang rendah. Skor 2,00 sampai 2,99 menunjukkan pengaruh eksternal dan
internal yang sedang. Skor antara 3,00 sampai 4,00 menunjukkan pengaruh
eksternal dan internal yang tinggi. Pada gambar 4 dapat dilihat model dari matriks
IE.
TOTAL NILAI IFE YANG DIBERI BOBOT
Kuat
Rata-rata
Lemah
3,0
2,0
1,0
4,0
Tinggi
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
3,0
E
F
E
Sedang
2,0
Rendah
1,0
Gambar 4. Model Matriks IE
Sumber: David, 2006
Matriks IE terbagi atas tiga daerah utama dengan implikasi strategi
berbeda, yaitu :
a. Divisi pada sel I, II, IV dapat melaksanakan strategi growth and build
(tumbuh dan bina). Strategi yang umum diterapkan adalah strategi intensif
149
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk) atau strategi
integratif (integrasi ke belakang, ke depan, horizontal).
b. Divisi pada sel III, V, VII dapat melaksanakan strategi hold and maintain
(pertahankan dan pelihara). Strategi yang umum diterapkan adalah penetrasi
pasar dan pengembangan produk.
c. Divisi pada sel VI, VIII, IX dapat melaksanakan strategi harvest or divest
(panen atau divestasi). Strategi yang umum diterapkan adalah strategi
divestasi, diversifikasi konglomerat dan likuidasi.
4.4.3. Analisis Matriks SWOT
Matriks SWOT digunakan untuk merumuskan alternatif strategi
perusahaan. Matriks SWOT akan menghasilkan alternatif strategi dengan
mencocokan faktor eksternal kunci berupa peluang dan ancaman dengan faktor
internal kunci yaitu kekuatan dan kelemahan. Matriks SWOT merupakan alat
untuk
mencocokkan
yang
penting
untuk
membantu
manajer
dalam
mengembangkan strategi. Hal yang paling sulit dalam mengembangkan matriks
SWOT ini adalah mencocokan faktor internal dan eksternal kunci. Tahap
pencocokkan faktor internal dan eksternal dalam matriks SWOT membutuhkan
penilaian yang baik
Matriks SWOT merupakan alat yang sangat penting untuk membantu
manajer dalam mengembangkan empat tipe strategi yaitu (1) strategi SO
(Streghts-Opportunities) yaitu strategi untuk menggunakan kekuatan internal
untuk
memanfaatkan
Opportunities)
yaitu
peluang
eksternal,
strategi
mengurangi
(2)
strategi
kelemahan
WO
(Weakness-
internal
dengan
memanfaatkan peluang eksternal, (3) strategi ST (Streghts-Threats) yaitu strategi
150
menggunakan kekuatan internal untuk mengatasi ancaman eksternal, dan (4)
strategi WT (Weakness-Threats) yaitu strategi mengurangi kelemahan internal dan
menghindari ancaman eksternal. Bentuk Matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel
11.
Adapun langkah-langkah untuk penyusunan matriks SWOT adalah :
1. Menentukan faktor-faktor peluang eksternal perusahaan
2. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal perusahaan
3. Menentukan faktor-faktor kekuatan perusahaan
4. Menentukan faktor-faktor kelemahan perusahaan
5. Menyesuaikan kekuatan internal dengan peluang eksternal (strategi SO)
6. Menyesuaikan kelemahan internal dengan peluang eksternal (strategi WO)
7. Menyesuaikan kekuatan internal dengan ancaman eksternal (strategi ST)
8. Menyesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal (strategi
WT)
Tabel 11. Matriks SWOT
IFE
STRENGTHS (S)
Tentukan 5-10 fakor
kekuatan internal
WEAKNESS (W)
Tentukan 5-10 fakor
kelemahan internal
OPPORTUNITIES (O)
Tentukan 5-10 fakor
peluang eksternal
STRATEGI SO
Ciptakan strategi yang
menggunakan
kekuatan untuk
memanfaatkan
peluang
STRATEGI WO
Ciptakan strategi yang
meminimalkan
kelemahan untuk
memanfaatkan peluang
THREATS (T)
Tentukan 5-10 fakor
ancaman internal
STRATEGI ST
Ciptakan strategi yang
menggunakan
kekuatan untuk
mengatasi ancaman
STRATEGI WT
Ciptakan strategi yang
meminimalkan
kelemahan untuk
menghindari ancaman
EFE
Sumber: David, 2006
151
4.4.4. QSPM
Analisis QSPM menunjukkan alternatif strategi mana yang paling baik
untuk diprioritaskan secara objektif berdasarkan faktor ekternal dan internal dari
tahap awal (David, 2006). Matriks QSPM ini disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12. Matriks QSP
ALTERNATIF-ALTERNATIF STRATEGI
Faktor
Bobot
AS
TAS
AS
kunci
Strategi 1 Strategi 1 Strategi 2
Kekuatan
Kelemahan
Peluang
Ancaman
Total
Sumber: David, 2006
TAS
Strategi 2
Keterangan : AS (Attractive Score) = Nilai Daya Tarik
TAS (Total Attractive Score) = Total Nilai Daya Tarik
Menurut David (2006), langkah-langkah untuk mengembangkan matriks
QSPM adalah sebagai berikut :
1. Mendaftar peluang dan ancaman kunci eksternal serta kekuatan dan
kelemahan internal organisasi dalam kolom kiri QSPM. Informasi ini harus
diambil dari IFE dan EFE.
2. Memberikan bobot untuk setiap faktor kritis eksternal dan internal. Bobot ini
identik dengan yang dipakai dalam matriks IFE dan EFE.
152
3. Memeriksa tahap pencocokan strategi dan mengidentifikasi strategi alternatif
yang harus dipertimbangkan organisasi untuk dipertimbangkan.
4. Menetapkan nilai daya tarik yang menunjukkan daya tarik relatif dari setiap
strategi terhadap strategi lainnya. Alternatif pemberian nilai daya tarik
terhadap faktor-faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi strategi
terpilih, dilakukan sebagai berikut: 1 = tidak menarik, 2 = agak menarik, 3 =
cukup menarik, dan 4 = sangat menarik.
5. Menghitung nilai total daya tarik yaitu merupakan hasil perkalian bobot
dengan nilai daya tarik.
6. Menghitung jumlah total nilai daya tarik. Nilai mengungkapkan strategi mana
yang paling menarik dari alternatif strategi yang ada. Semakin tinggi nilai
totalnya, maka strategi tersebut semakin menarik.
153
V. ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN
Analisis lingkungan perusahaan merupakan suatu cara untuk mendapatkan
suatu kemampuan strategis dengan mengintegrasikan antara peluang-peluang
yang ada dengan kemampuan atau kekuatan yang dimiliki perusahaan, untuk
dapat mengantisipasi adanya ancaman dari luar perusahaan dan mengatasi
kelemahan-kelemahan yang ada (Wheelen dan Hunger, 1992).
Perusahaan Esther seafood dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan
internal yang ada di sekitarnya. Hasil analisis penelitian ini menggambarkan
kondisi eksternal dan internal yang mempengaruhi jalannya operasional
perusahaan dan mempengaruhi perencanaan strategis yang sesuai dengan kondisi
lingkungan tersebut.
5.1. Visi dan Misi Perusahaan
Sebelum menganalisis faktor-faktor lingkungan perusahaan maka terlebih
dahulu akan dijelaskan mengenai visi dan misi perusahaan. Visi Esther seafood
adalah menjadi berkah bagi sesama. Sedangkan misinya adalah memenuhi
kebutuhan protein hewani laut masyarakat Jawa Barat dan Jakarta, meningkatkan
kecerdasan anak-anak Indonesia, serta membantu mengurangi pengangguran.
Esther seafood juga memiliki motto yaitu “get the taste from the freshness” yang
artinya dapatkan cita rasa dari kesegarannya. Bagi Esther seafood kesegaran
merupakan kekuatan yang paling utama dalam seafood, karena jika kesegarannya
berkurang maka cita rasanya juga pasti akan berkurang dan dapat menimbulkan
bau amis.
154
5.2. Analisis Lingkungan Internal
Lingkungan internal perusahaan terdiri dari kekuatan maupun kelemahan
yang dimiliki oleh perusahaan. Kedua faktor internal ini pasti dimiliki oleh tiap
organisasi atau perusahaan. Lingkungan internal mencakup seluruh komponen
yang terdapat dalam perusahaan dan dapat dikendalikan oleh perusahaan.
Pemahaman yang baik akan lingkungan internal perusahaan akan sangat
membantu dalam proses perencanaan strategi yang dibutuhkan.
5.2.1. Fungsi Manajemen dan Sumberdaya Manusia
Manajemen merupakan pihak yang menerapkan fungsi-fungsi yang
meliputi perencanaan, pengorganisasian, penunjukan staf, dan pengendalian.
Perencanaan
Bagi perusahaan, pengembangan usaha dengan jenis usaha yang berbeda
adalah merupakan hal yang penting dilakukan sebuah perusahaan. Tidak sekedar
melakukan usaha yang sama terus-menerus tanpa adanya perkembangan. Karena
jika sebuah perusahaan hanya melakukan kegiatan yang sama tanpa ada sesuatu
yang baru itu sama saja perusahaan yang “mati”. Jadi penting sekali adanya
pengembangan usaha, karena selain meningkatkan omzet, baik juga dalam hal
mengurangi kejenuhan perusahaan.
Rumah tangga adalah sasaran perusahaan Esther seafood yang belum
terlalu dijangkau dengan serius dan masih harus dikejar untuk terus
dikembangkan. Mengingat visi dan misi perusahaan, sasaran yang harus ditekuni
adalah konsumen rumah tangga. Rencana pengembangan untuk konsumen rumah
tangga sudah diperkirakan akhir tahun ini dengan menyediakan fishshop dimana
gedungnya sedang dibangun di daerah sekitar Bogor. Fishshop ini akan
155
menyediakan seafood siap bakar, seafood siap goreng, atau seafood yang siap
dimasak dalam berbagai jenis menu, di sana juga akan dijual berbagai bumbu
masakan yang tidak diawetkan.
Pengorganisasian
Pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing jabatan dilakukan
oleh pimpinan perusahaan. Masing-masing karyawan bekerja sesuai dengan tugas
yang ditetapkan, mulai dari karyawan divisi delivery, divisi counter, sampai
kepada staf administrasi dan sekretaris. Perusahaan menerima pesanan dari
pelanggan dan berdasarkan pesanan itulah karyawan melakukan tugas dan
tanggung jawabnya masing-masing. Kecuali untuk divisi counter, mereka
mengecer seafood tidak sesuai pesanan tetapi menentukan sendiri jumlah dan
jenis seafood apa saja yang akan dijual.
Untuk tim pengantaran barang, pembagian tugas ini dilakukan dengan
sistem perputaran jadwal khusus. Pembagian waktu untuk pengantaran barang
dimulai dari pukul 02.00 pagi hari dengan tujuan Bandung, pukul 04.00 pagi hari
dengan tujuan Jakarta, pukul 04.30 dengan tujuan Cianjur dan Sukabumi, dan
terakhir pukul 06.00 dengan tujuan Bogor. Waktu pengantaran tersebut sangat
beragam sehingga perlu pengaturan dan pengawasan yang baik karena mereka
bekerja 24 jam. Di sinilah dilakukan perputaran jadwal, dimana setiap karyawan
mendapat kesempatan yang sama pada setiap jam-jam kerja tersebut.
Pengendalian
Pada organisasi perusahaan, posisi manajemen langsung ditempati oleh
pimpinan. Pimpinan berwenang dalam pengambilan keputusan, baik untuk proses
belanja barang, penimbangan, maupun pengiriman. Proses delivery dikontrol
156
langsung oleh pimpinan dan pimpinan langsung bertanggung jawab jika terjadi
masalah dengan pelanggan. Namun untuk kegiatan belanja barang sudah
dipercaya seorang karyawan untuk melaksanakan tugasnya sebaik mungkin,
karena pimpinan tidak turun langsung untuk mengontrol kegiatan belanja barang
di Pelelangan Muara Angke.
Penunjukan Staf
Dalam perekrutan karyawan, perusahaan tidak melakukan perekrutan
khusus seperti membuka lowongan pekerjaan atau sejenisnya. Perusahaan juga
tidak menetapkan kualifikasi atau spesifikasi tertentu (syarat-syarat seperti
pendidikan terakhir, pengalaman kerja, dan lain-lain) bagi calon karyawan.
Kebanyakan karyawan yang dipekerjakan oleh perusahaan adalah
karyawan yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Bahkan
beberapa di antara mereka ada yang hanya lulus Sekolah Dasar, kemudian ada
juga yang lulus SMP dan SMA. Pengalaman dalam bidang pemasaran dan bisnis
perikanan juga jarang sekali dimiliki oleh karyawan-karyawan tersebut. Mereka
hanya dituntut untuk terampil dalam bidang masing-masing, misalnya sebagai tim
belanja harus terampil dalam menyetir mobil, pintar menawar harga, teliti, dan
mengenal kualitas ikan yang baik. Kemudian karyawan yang bekerja di bagian
counter harus memiliki performance yang baik karena langsung berhadapan
dengan konsumen akhir yaitu rumah tangga.
Kesulitan yang dialami oleh perusahaan dalam perekrutan karyawan ini
bukan karena disengaja tetapi ada hal tertentu yang menjadi penyebabnya yaitu
tidak adanya sekolah khusus bagi karyawan-karyawan yang dibutuhkan dalam
bisnis tersebut. Misalnya karyawan counter ikan di Foodmart, tidak ada sekolah
157
khusus untuk berjualan ikan, cara memotong ikan (cutting), filley ikan, atau dalam
bentuk lain yang sesuai dengan permintaan konsumen. Tetapi perusahaan
(pimpinan) berusaha mengarahkan dan mengajari karyawan tersebut, sehingga
seiring berjalannya waktu ketrampilan itu dapat dikuasai.
Hubungan komunikasi antara karyawan dengan pimpinan agak menjadi
kendala bagi perusahaan. Semua karyawan bekerja pada jam-jam yang ditentukan
dan jarang sekali bahkan tidak ada waktu bagi mereka untuk bertemu atau
berbicara langsung dengan pimpinan. Semuanya disampaikan melalui pesan
tertulis. Sedikitnya waktu bagi mereka untuk berkomunikasi secara langsung
membuat karyawan menjadi merasa kurang dekat dengan pimpinan, misalnya
mereka yang mungkin ada masalah tetapi sulit untuk menyampaikannya secara
langsung. Hal ini menimbulkan pekerjaan yang dilakukan karyawan sering
bermasalah, sering melakukan kesalahan karena sering sekali membawa
permasalahan dari luar atau rumah tangga.
Kualitas kerja karyawan perusahaan ini juga menjadi masalah, karena
banyak karyawan yang kualitasnya masih bernilai D, kecuali untuk sedikit
karyawan sudah ada yang bernilai B. Untuk mengatasinya pimpinan melakukan
monitoring karena karyawan-karyawan tersebut belum bisa dilepas dalam hal
melakukan tugas-tugasnya sampai sekarang. Sering kali kesalahan-kesalahan yang
dilakukan karyawan membuat pihak pelanggan menuntut macam-macam dan itu
semua ditanggung oleh perusahaan baik kerugian, kesalahan teknis (misalnya
keterlambatan pengantaran), dan masih banyak masalah lain. Hal ini membuat
pimpinan perusahaan menanggung beban yang sangat banyak apalagi masih
158
berstatus ibu rumah tangga yang harus mengurusi rumah tangganya. Pimpinan
belum menemukan seorang figur yang tepat untuk menggantikannya.
Kebijakan yang dilakukan perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan
adalah memberikan gaji ke-13 pada saat hari-hari besar keagamaan misalnya
Lebaran atau Natal, kemudian pada saat Lebaran karyawan diliburkan selama satu
minggu penuh. Selain itu juga ada kebijakan dimana seluruh karyawan hanya
bekerja enam hari dalam seminggu, satu hari diliburkan tetapi libur ini tidak
bersamaan waktunya untuk semua karyawan, masing-masing harinya berbedabeda sesuai dengan kebijakan perusahaan. Dalam hal penggajian karyawan,
perusahaan membuat kebijakan memberikan bonus kepada karyawan sesuai
dengan hasil kerja masing-masing.
Pembagian tugas dengan cara memutar jadwal karyawan adalah salah satu
strategi yang dilakukan perusahaan. Hal ini dilakukan dan diatur sedemikian rupa
oleh perusahaan yang bertujuan untuk membuat karyawan (khususnya karyawan
penimbangan dan pengantaran barang) dapat mengerjakan tugas tanpa harus
merasa bosan dengan jenis pekerjaan yang sama setiap hari. Inilah salah satu yang
menjadi kekuatan perusahaan.
Struktur organisasi Esther seafood merupakan stuktur yang sederhana dan
belum ada fungsi-fungsi yang lengkap seperti di perusahaan-perusahaan besar
pada umumnya. Ibu Esther yang memimpin perusahaan sekaligus berfungsi
sebagai manajer, baik dalam bidang keuangan, sumber daya manusia, pemasaran,
pengambil keputusan, bahkan untuk operasi sehari-hari. Pimpinan perusahaan
juga memiliki latar belakang yang sangat mendukung usaha ini yaitu beliau adalah
seorang sarjana Perikanan Institut Pertanian Bogor. Hal ini tentu menjadi
159
kekuatan perusahaan karena pimpinan sudah memiliki pengetahuan yang cukup
baik dalam bidang perikanan. Selain itu juga pimpinan pernah memiliki
pengalaman bekerja di tambak ikan Pak Soeharto di Karawang selama lima
tahun.
Di samping kegiatan utama sebagai pemasok seafood, perusahaan juga
melakukan kegiatan lain yaitu menjadi pengecer seafood di counter berbagai
supermarket dengan sistem konsiniasi (kerja sama dengan pihak supermarket).
Sistem konsiniasi ini juga menjadi fokus perusahaan dalam usahanya, dimana
dalam stuktur organisasinya perusahaan menggunakan lima orang karyawan
khusus untuk bekerja di counter.
Secara keseluruhan, perusahaan memiliki 20 orang karyawan, satu orang
sebagai staf administrasi, satu orang sebagai sekretaris, lima orang sebagai
karyawan di counter Foodmart, Ekalokasari, dua orang sebagai karyawan counter
di Toserba Yogya, dan sebelas orang sebagai supir dan asisten supir. Kesebelas
orang supir dan asisten inilah karyawan yang bekerja di divisi delivery. Untuk tim
belanja dua orang, tim penimbangan tiga orang, dan tim pengiriman barang enam
orang. Untuk lebih jelasnya, pada Gambar 5 dijelaskan struktur organisasi Esther
seafood.
Adapun uraian tugas dari masing-masing jabatan pada struktur organisasi
Esther seafood adalah sebagai berikut :
1. Pimpinan
a. Menetapkan tugas, tanggung jawab dan wewenang setiap karyawan dan
staf yang berada di bawah pimpinannya.
160
b. Memberikan bimbingan dan pengarahan umum, saran-saran dan perintah
kepada bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas masing-masing.
c. Menetapkan permodalan anggaran dan aliran kas keuangan perusahaan.
d. Mengawasi jalannya perusahaan dan mengadakan perubahan-perubahan
yang
diperlukan
sejalan
dengan
kebutuhan
akan
perkembangan
perusahaan.
e. Bertugas untuk bertanggung jawab dalam mengurus kegiatan perekrutan,
penempatan, penilaian prestasi kerja dan pemberhentian karyawan.
f. Menentukan pengambilan keputusan terakhir untuk intern perusahaan dan
untuk mewakili nama perusahaan.
2. Sekretaris
a. Mencatat semua transaksi yang dilakukan perusahaan secara manual.
b. Bertanggung jawab melaporkan setiap kegiatan atau perubahan di dalam
perusahaan maupun dari pihak pelanggan kepada pimpinan.
c. Membagi dan mengatur jadwal setiap karyawan agar dapat berjalan lebih
efisien dan efektif sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya.
3. Staf Administrasi
a
Bertanggung jawab atas kegiatan pencatatan, penggolongan, peringkasan
dan penyajian laporan keuangan perusahaan.
b
Mencatat semua laporan keuangan dan transaksi yang dilakukan
perusahaan ke dalam komputer.
c
Melakukan contrabon (pembayaran yang dilakukan pelanggan atas
transaksi yang dilakukan selama seminggu) ke seluruh pelanggan
perusahaan.
161
4. Karyawan Pembelanjaan
a
Melakukan pembelian seafood segar ke pasar pelelangan ikan di Muara
Angke, Jakarta.
b
Membagi-bagikan ikan-ikan sesuai dengan pesanan pelanggan agar lebih
mudah dalam pengantaran.
c
Membawa semua ikan yang dibelanjakan dengan armada (mobil) yang
disediakan dan berusaha tepat waktutiba di Bogor
d
Menjalin kerja sama dengan pihak-pihak pelelangan ikan di Muara Angke.
5. Karyawan Penimbangan
a
Menimbang dan mengecek ulang ikan-ikan yang sudah sampai di Bogor
untuk diantar ke pelanggan.
6. Karyawan Distribusi
a. Mengantar semua ikan-ikan yang sudah ditimbang dan dibagi-bagi ke
setiap pelanggan yang daerahnya tujuannyatelah ditentukan sebelumnya
oleh perusahaan.
b. Bertanggung jawab mengantar semua barang dengan tepat waktu dan juga
membantu pihak pelanggan (misalnya supermarket) dalam mengeluarkan
semua barang dari mobil.
7. Karyawan Counter
a
Bertanggung jawab atas kegiatan operasional counter dan menjalin kerja
sama yang baik dengan pihak supermarket tersebut.
b
Melaporkan semua kegiatan atau transaksi dilakukan kepada pihak
supermarket dan kepada pimpinan perusahaan.
162
Pimpinan
Staf administrasi
dan keuangan
Divisi Delivery
Karyawan
Pembelanjaan
Karyawan
Penimbangan
Divisi Counter
Karyawan
Distribusi
Counter
Foodmart
Ekalokasari
Counter Toserba
Yogya, Bogor
Gambar 5. Struktur Organisasi Esther seafood
5.2.2. Fungsi Keuangan
Modal merupakan hal terpenting dalam memulai suatu usaha, adanya
modal kerja yang memadai sangat mendukung perusahaan untuk meningkatkan
kualitas pelayanan dan pengembangan usaha. Perusahaan Esther seafood dalam
mendapatkan modal masih menggunakan pinjaman dari Bank Permata sebanyak
40 persen dan 60 persen dari dana yang berasal dari orang lain yang mau
menanamkan uangnya di perusahaan lalu akan dikembalikan bersama bunga yang
ditentukan perusahaan. Pihak bank telah menaruh kepercayaan kepada perusahaan
karena selama ini perusahaan tidak pernah mengalami masalah dalam
pengembalian pinjaman ke bank Permata, perusahaan juga mampu mengatur arus
kas dengan baik sehingga masuk dan keluarnya uang tercatat dengan baik. Hal ini
163
menjadi sebuah peluang bagi perusahaan mengingat modal merupakan unsur yang
sangat penting dalam usaha tersebut.
Aset yang dimiliki perusahaan terdiri atas mobil pick up sebanyak empat
unit senilai total Rp. 240.000.000, dan satu mobil box senilai Rp. 90.000.000. Jadi
total aset yang dimiliki perusahaan adalah senilai Rp. 330.000.000. Sementara
alat-alat lain yang dapat mendukung jalannya usaha dianggap sebagai barang yang
nilainya kecil dan tidak menjadi aset perusahaan. Untuk kelancaran usaha
perusahaan selalu mengganti mobil-mobil tersebut dengan yang terbaru setiap
empat tahun sekali.
Perusahaan melakukan transaksi dalam bentuk nota dan semua nota-nota
dapat disimpan dengan baik sehingga semua transaksi tercatat lengkap. Pencatatan
keuangan tersebut dilakukan dengan sistem komputer dan juga manual, kemudian
akan disamakan dan hasilnya hampir selalu sama, sekalipun berbeda itu
disebabkan perbedaan laporan dari pelanggan pada saat memesan dan pada saat
membayar.
Awal tahun 2008 ini perusahaan mengalami penjualan yang meningkat
yaitu sekirat Rp. 600.000.000 per bulan dimana tahun 2007 rata-rata penjualan
adalah sekitar Rp. 400.000.000 – Rp. 500.000.000 per bulan. Hal ini disebabkan
karena pada awal tahun ada penambahan pelanggan Hypermart di Bandung.
Kemudian ada beberapa supplier Hypermart yang bangkrut di Jakarta, lalu Esther
seafood terpilih menjadi supplier baru untuk Hypermart tersebut karena
perusahaan Esther seafood mau memberikan pelayanan yang terbaik yaitu
bersedia mengantar barang sesuai waktu yang diminta pelanggan, yaitu pukul
02.00 sampai 03.00 dini hari.
164
Ketika ditanya tentang penambahan jumlah penjualan, perusahaan tidak
bersedia menambah kuantitas penjualan dengan jumlah yang besar. Setelah dilihat
pola penjualan seafood ini sepanjang tahun 2005-2007 ternyata ada titik optimal
untuk jumlah seafood yang dipasarkan. 10 Perusahaan pernah mencoba memasok
seafood sebanyak dua ton pada saat Lebaran, dimana biasanya hanya memasok
sekitar satu ton. Ternyata tingginya tingkat kecerobohan karyawan membuat
timbulnya kerugian. Penyusutan yang besar, banyaknya ikan-ikan yang afkir
(tidak layak lagi dipasok), lalu banyak ikan-ikan yang hilang malah menimbulkan
banyak ikan yang tidak terjual dan akhirnya perusahaan mengalami kerugian.
Kecurangan yang dilakukan karyawan misalnya menjual ikan kepada
orang lain (bukan kepada pelanggan yang telah mengorder) dengan harga di
bawah harga beli. Hal ini memang tidak pernah terbukti kebenarannya karena
tidak ada yang mengaku. Namun pimpinan perusahaan bisa mengetahui melalui
hal-hal yang tidak masuk akal karena seringnya karyawan memberi alasan
penyusutan terhadap ikan-ikan yang jumlahnya berkurang setelah dibeli. Misalnya
ikan yang tadinya 100 kg dari pelelangan, sesampai di Bogor menjadi 80 kg. Hal
ini sungguh tidak masuk akal karena penyusutan sebesar itu terlalu banyak.
Namun pimpinan perusahaan menghadapinya dengan mengandalkan modal
percaya dan tidak mau menuduh secara langsung. Pimpinan tersebut berharap para
karyawan tersebut juga bekerja dengan jujur dan menghargai kepercayaan yang
diberikan oleh perusahaan kepada mereka.
10
Berdasarkan wawancara dengan pemilik perusahaan.
165
5.2.3. Fungsi Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan sangat perlu dilakukan perusahaan untuk
mendapatkan
keunggulan
bersaing.
Perusahaan
Esther
seafood
sedang
merencanakan pengembangan usaha yaitu pembukaan fihshop di Jl. Haur Jaya,
Bogor. Untuk pengembangan rencana tersebut perusahaan telah melakukan
pelemparan ide-ide kepada konsumen tentang penyediaan ikan yang sudah siap
dibakar atau dimasak beserta bumbu-bumbunya dan akan dijual di toko khusus.
Ternyata kebanyakan di antara konsumen tertarik dengan ide tersebut dan mereka
ingin agar perusahaan segera membuka toko tersebut. Selain dapat memuaskan
para konsumen, fishshop ini juga dapat menyerap tenaga kerja karena akan
disedikan bumbu-bumbu ikan yang tentunya membutuhkan ibu-ibu untuk
mengolahnya.
Usaha yang dilakukan perusahaan untuk tetap menjaga kualitas seafood
yang mereka pasok adalah dengan tidak pernah menimbun barang artinya tidak
memakai sistem stok barang. Semua ikan-ikan yang dibeli dari pelelangan adalah
sesuai pesanan. Ketika ada barang yang ditolak oleh pelanggan, misalnya karena
keterlambatan pengantaran atau tidak sesuai dengan pesanan (biasanya hanya
sekitar lima persen), maka ikan-ikan tersebut disimpan di dalam box es selama
sehari, kemudian jika dijual lagi dan ternyata masih ditolak juga, perusahaan
menjualnya ke pasar tradisional dengan harga murah atau harga yang berlaku di
pasar.
5.2.4. Fungsi Produksi / Operasi
Esther seafood merupakan perusahaan yang bergerak di dalam dua unit
bisnis yaitu divisi delivery dan divisi counter. Divisi delivery ini menjadi bisnis
166
utama dalam perusahaan dimana omzet terbesar berasal dari delivery ini.
Perusahaan telah memiliki banyak pelanggan untuk delivery seafood, di antaranya
12 cabang Superindo di Jakarta, tiga cabang Superindo di Bandung, dua cabang
Hypermart di Bogor dan Cianjur, dan dua cabang Hypermart di Bandung. Untuk
lebih jelasnya pada Tabel 13 ditunjukkan nama-nama cabang Superindo dan
cabang Hypermart yang menjadi pelanggan Esther seafood.
Sementara untuk divisi counter perusahaan bekerja sama dengan Foodmart
Ekalokasari dan Toserba Yogya. Dalam hal ini perusahaan Esther seafood
mengecer seafood segar di counter yang disediakan oleh pihak supermarket.
Perusahaan Esther seafood bertanggung jawab atas jumlah dan jenis seafood yang
akan dijual, harga, penataan, dan bahkan sumber daya manusia. Pihak
supermarket hanya menyediakan tempat, sementara keuntungan dari setiap
penjualan akan diberikan sebesar 85 persen kepada pihak supermarket dan sisanya
untuk perusahaan Esther seafood.
Delivery untuk restoran semuanya berlokasi di Bogor di antaranya
Restoran Bogor Permai, Restoran Imahejo, Restoran D’Hotplate, Lips’s Bar,
Restoran SLDC (Sentul). Sementara untuk catering, perusahaan memasok ke
berbagai catering di Bogor seperti Tiska, Steamboat, Pasadena, CV. Kenanga,
Carnation, dan Larisa. Pelanggan rumah tangga, seperti dijelaskan sebelumnya,
perusahaan menjual seafood ke rumah tangga di sekitar lingkungan Perumahan
Taman Cimanggu, bahkan ada juga yang memesan seafood dari lokasi di luar
Taman Cimanggu, misalnya Perumahan Bogor Lexite atau rumah tangga lainnya
yang mengenal Esther seafood.
167
Perusahaan ini melakukan aktivitas yang sama setiap hari yaitu menerima
pesanan, membeli ikan di pelelangan ikan, menimbang, lalu mengantarkan ke
berbagai pelanggan yang telah mengorder sebelumnya. Proses ini bukanlah suatu
hal yang mudah dilakukan karena dibutuhkan keuletan, kesabaran, dan yang
terpenting adalah manajemen yang baik. Begitulah yang dialami perusahaan ini,
banyak sekali hal-hal yang mengganggu jalannya usaha ini, namun itu menjadi
sebuah pelajaran untuk lebih berkembang.
Tabel 13. Daftar Perusahaan Pelanggan Esther seafood untuk Divisi Delivery
No Nama Perusahaan
No Nama Perusahaan
Lion Superindo Jakarta (Pusat)
Superindo Bandung
1
Superindo Cibinong
1
Superindo Buah Batu
2
Superindo Cibubur
2
Superindo Cimahi
3
Superindo Cilandak
3
Superindo Dago
4
Superindo Bintaro
5
Superindo Depok DTC
Hypermart Bogor dan Cianjur
6
Superindo Fatmawati
1
Hypermart Cianjur
7
Superindo Jembatan Merah Bogor 2
Hypermart Kedung Badak
8
Superindo Pasar Rebo
9
Superindo Cimone
Hypermart Bandung
10 Superindo Pemulang
1
Hypermart MTC
11 Superindo Pancoran
2
Hypermart BIP
12 Superindo Cinere
Sumber: Pimpinan Esther seafood
Perusahaan Esther seafood adalah perusahaan yang bergerak di bidang
distribusi atau tataniaga seafood segar, bukan produksi. Jadi hal yang perlu
diperhatikan dalam manajemen operasinya adalah proses, kapasitas, tenaga kerja,
dan mutu. Adapun proses operasi yang dilakukan perusahaan setiap harinya
adalah sebagai berikut.
168
Terima order
Mendaftar nama dan
jumlah orderan
Tim belanja berangkat
Transaksi di pelelangan ikan
Penimbangan
Delivery
Gambar 6. Proses Operasi Esther seafood
Perusahaan menerima order atau pesanan dari pelanggan melalui telepon,
biasanya orderan diterima sampai pukul 02.00 siang. Semua orderan dicatat oleh
sekretaris lalu sekretaris memberikannya kepada tim belanja beserta uang yang
harus dibawa. Tim belanja berangkat pukul 03.00 sore dengan membawa mobil
box, kemudian mereka belanja ikan-ikan di pelelangan Muara Angke. Semua
transaksi dilakukan sendiri oleh tim belanja tanpa kontrol dari pimpinan, sehingga
merekalah yang menentukan harga yang akan diterima dari juru lelang. Jika ikan
yang dipesan tidak ada di pelelangan tertentu, tim belanja akan berusaha mencari
ke pelelangan lain karena bagi perusahaan, pelanggan adalah raja, jadi sesulit
apapun itu mereka akan berusaha memberikan yang terbaik kepada pelanggan.
169
Pukul 02.00 dini hari tim belanja tiba di Bogor, kemudian mereka
melaporkan semua hasil belanja kepada pempinan dan mereka menyerahkan
seluruhnya kepada tim penimbangan. Proses penimbangan dilakukan di rumah
pemilik yang juga dimanfaatkan sebagai bangunan untuk usahanya. Jika dilihat
dari luas lokasi usaha maka dapat dikatakan bahwa lokasi tersebut terlalu sempit
dan sebenarnya tidak cocok untuk usaha distribusi seafood segar. Luas bangunan
untuk usaha ini sekitar 225 m2 dimana sebagain besar dari bangunan itu adalah
rumah pribadi pemilik sementara yang dipakai untuk usaha hanya sebagain kecil.
Keterbatasan tempat atau area membuat perusahaan juga memiliki keterbatasan
dalam memasok seafood. Hal ini menjadi salah satu kelemahan perusahaan dari
segi lokasi usaha. Lebih jelasnya lokasi usaha dapat dilihat di Lampiran 20.
Proses terakhir adalah delivery atau pengantaran barang yang dilaksanakan
oleh tim pengantaran pada waktu-waktu yang telah ditentukan sebelumnya oleh
perusahaan. Pembagian waktu untuk pengantaran barang dimulai dari pukul 02.00
pagi hari dengan tujuan Bandung, pukul 04.00 pagi hari dengan tujuan Jakarta,
pukul 04.30 dengan tujuan Cianjur dan Sukabumi, dan terakhir pukul 06.00
dengan tujuan Bogor.
Masalah yang sering dihadapi perusahaan adalah masalah sumberdaya
manusia. Kualitas yang masih rendah sering menimbulkan kecerobohan dalam
mengerjakan tugas misalnya penyusutan yang terlalu besar saat belanja dan
pengantaran, seringnya mobil mogok di tengah jalan, kemudian karyawan sering
kali membawa masalah rumah tangga ke dalam pekerjaan mereka sehingga
menjadi tidak fokus. Hal inilah yang sering kali membuat keuntungan yang
diterima perusahaan tidak optimal dan sering ada keluhan dari pelanggan.
170
Dari penjelasan di atas ada dua hal yang dapat disimpulkan yaitu adanya
kekuatan dan kelemahan perusahaan dalam fungsi produksi dan operasi.
Pelayanan yang baik dimana pelanggan adalah raja merupakan kekuatan
perusahaan sementara karyawan yang kinerjanya masih lemah merupakan
kelemahan perusahaan.
5.2.5. Fungsi Pemasaran
Pemasaran dapat diuraikan sebagai proses menetapkan, mengantisipasi,
menciptakan, memenuhi kebutuhan, keinginanan pelanggan akan produk dan jasa.
Bauran pemasaran merupakan alat yang dapat dipergunakan oleh pengusaha untuk
mempengaruhi konsumennya agar menjadi tertarik, senang, kemudian membeli
dan akhirnya puas akan produk dan jasa yang dipasarkannya. Untuk mengenali
kekuatan dan kelemahan pemasaran perusahaan maka diuraikan melalui bauran
pemasaran yaitu:
a
Produk
Produk adalah alat bauran pemasaran yang paling mendasar. Perusahaan
bergerak dalam sistem tataniaga seafood segar dimana tidak dilakukan perubahan
bentuk dari input menjadi output (tidak ada proses produksi), mereka hanya
sebagai distributor. Namun dalam hal distribusi seafood ini mereka juga membuat
perlakuan untuk tetap menjaga kualitas barang yang mereka pasarkan yaitu
pemberian es. Es ini berguna untuk menjaga kesegaran seafood, tetapi bukan
frozen (seafood beku). Pelanggan akan tetap menerima seafood yang masih segar
karena perusahaan akan menjual seafood yang sudah tidak segar lagi ke pasar
tradisional. Untuk itu kesegaran seafood menjadi salah satu kelebihan perusahaan.
171
Kekuatan lain perusahaan dalam hal produk adalah mereka selalu
menyediakan jenis-jenis seafood yang variatif. Bagi pelanggan jenis seafood yang
sangat beragam adalah hal yang sangat penting dan pelanggan akan puas jika
perusahaan dapat memenuhinya. Untuk itulah perusahaan selalu berusaha untuk
mencari seafood yang diminta pelanggan, walaupun terkadang mahal dan susah
ditemukan tetapi jarang sekali mereka gagal. Adapun jenis-jenis seafood yang
dipasarkan oleh perusahaan Esther seafood dapat dilihat pada Lampiran 2.
b Harga
Harga
merupakan
satu-satunya
elemen
bauran
pemasaran
yang
menghasilkan pendapatan, sementara elemen-elemen lainnya menimbulkan biaya.
Perusahaan menetapkan harga dengan memperhatikan faktor-faktor antara lain
harga komoditi seafood yang berlaku di tempat pelelangan, harga yang berlaku di
pasar, serta tingkat kesegaran seafood. Harga yang ditawarkan sangat bervariasi
mulai dari yang murah, mahal, bahkan sangat mahal. Seafood yang dijual paling
murah adalah Kerang Nenek Hidup dan Kerang Tahu Hidup dengan harga
Rp.7000 per kilogram, sedangkan seafood yang paling mahal adalah jenis udang
yaitu Udang Windu Jumbo dengan harga Rp. 120.000 per kilogram. Untuk ikan
laut harganya berkisar Rp.10.000 sampai Rp.60.000 per kilogram. Untuk lebih
lengkapnya, daftar harga yang ditawarkan Esther seafood dapat dilihat pada
Lampiran 2.
Penetapan harga yang dilakukan perusahaan adalah berdasarkan
perbandingan harga komoditi yang sama dengan pemasok lain. Hal ini dilakukan
tidak setiap saat atau setiap hari tetapi pada waktu tertentu misalnya dua kali
dalam sebulan. Mereka melakukan pengecekan harga dengan melihat langsung ke
172
berbagai pasar pesaing misalnya Giant atau Carrefour. Selain itu juga mereka
melihat di berbagai majalah atau koran yang sering memuat harga-harga ikan atau
jenis seafood lainnya (misalnya ada promosi dari supermarket tertentu). Dengan
melihat harga-harga itu perusahaan sudah bisa menentukan harga yang akan
mereka pakai begitu juga untuk jenis-jenis seafood yang lain.
Harga yang bersaing adalah salah satu kekuatan perusahaan. Perusahaan
menetapkan harga yang disesuaikan dengan target yaitu tingkat pendapatan
konsumen. Khususnya di counter, perusahaan sangat memperhatikan faktor harga
yang diberikan kepada konsumen agar konsumen dapat menjangkau harga
tersebut dan harga yang ditetapkan disesuaikan dengan kualitas seafood yang
dijual. Misalnya di counter Foodmart Ekalokasari perusahaan menetapkan harga
yang lebih tinggi dari counter Toserba Yogya karena konsumen di Foodmart
kebanyakan menengah ke atas, demikian juga konsumen menengah ke bawah
lebih banyak berada di Toserba Yogya.
c
Distribusi
Sasaran utama dari perusahaan Esther seafood adalah konsumen dalam
negeri seperti konsumen di Jakarta dan Jawa Barat (Bogor, Sukabumi, Cianjur,
dan Bandung). Perusahaan belum melakukan ekspor karena mereka belum merasa
mampu untuk pasar luar negeri, masih harus membenahi yang di dalam negeri
dulu. Selain itu mereka belum pernah melakukan riset tentang ekspor ikan dan
menurut pemilik perusahaan, kegiatan ekspor masih jauh dari rencana
pengembangan usaha.
Saluran distribusi perusahaan berbeda-beda untuk setiap jenis pelanggan
yang mereka miliki. Untuk pelanggan supermarket atau swalayan, sebut saja
173
pelanggan toko, perusahaan melakukan distribusi dengan menggunakan mobil
pick up dimana satu pick up mengantar ke tiga atau empat toko sekaligus.
Misalnya di Bogor, setiap hari distribusi yang dilakukan melalui rute keekmpat
toko, yaitu Superindo Jembatan Merah – Toserba Yogya – Foodmart Ekalokasari
– Superindo Cibinong. Untuk pelanggan restoran dilakukan pengantaran sesuai
dengan pesanan dan strateginya hampir sama dengan pelanggan toko. Sementara
untuk pelanggan rumah tangga, perusahaan melakukan pegantaran jika sudah
selesai
mendistribusikan
ke
toko
dan
restoran,
karena
mereka
harus
mengutamakan pelanggan yang memesan dalam jumlah besar dan yang lebih
memerlukan ketepatan waktu pengantaran.
Strategi distribusi yang dilakukan perusahaan lebih mengutamakan
penghematan biaya. Hal ini dapat dilihat dari lokasi-lokasi pelanggan yang harus
didatangi perusahaan saat pengantaran barang. Misalnya untuk pelanggan toko
mereka sengaja memilih toko-toko yang paling dekat jaraknya dengan
perusahaan. Sementara untuk pelanggan yang di luar Bogor, perusahaan memilih
toko-toko yang jika dilalui kendaraan hanya membutuhkan sekali perjalanan agar
tidak berputar ke sana ke mari. Tentu strategi seperti ini dapat menghemat biaya
bensin dan penghematan waktu pengantaran.
d Promosi
Salah satu kelemahan perusahaan adalah tidak melakukan promosi secara
khusus misalnya melalui media massa atau media elektronik. Mereka hanya
mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan promosi di antara pelanggan.
Counter juga menjadi ajang promosi bagi perusahaan, dimana para pengunjung
dan pelanggan uang mengunjungi counter dapat melihat secara langsung produk
174
yang dijual perusahaan. Walaupun promosi perusahaan ini masih terbatas namun
bagi mereka hal tersebut sudah cukup mendatangkan pelanggan.
5.3. Identifikasi Lingkungan Internal Perusahaan
Berdasarkan hasil analisis lingkungan internal, maka diperoleh beberapa
faktor yang berupa kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) yang
berpengaruh pada perusahaan Esther seafood dalam menghadapi persaingan yang
semakin kompetitif. Sejumlah kekuatan dan kelemahan yang diperoleh dari hasil
analisis kemudian diajukan kepada pihak perusahaan untuk mengetahui apakah
hasil analisis yang dilakukan tersebut dapat diterima oleh perusahaan.
5.3.1. Kekuatan Perusahaan
Kekuatan perusahaan Esther seafood:
1. Keuletan dan latar belakang pemilik dalam perikanan laut cukup baik.
Pimpinan perusahaan memiliki latar belakang yang cukup baik dalam
bidang perikanan terutama prikanan laut karena beliau adalah lulusan Sarjana
Perikanan Institut Perikanan Bogor yang tentunya selama di perkuliahan banyak
belajar tentang ikan serta hal-hal yang brkaitan dengan prikanan. Selain itu beliau
juga memiliki pengalaman kerja di Tambak Ikan Pak Soeharto di Karawang pada
tahun 1990-an. Pimpinan perusahaan juga seorang pekreja keras dan bijaksana
yang mampu memimpin perusahaan walaupun masih terdapat kelemahakelemahan pada SDM perusahaan. Namun perusahaan tetap dapat berjalan dengan
baik. Selain itu pemilik tersebut juga memiliki tugas yaitu sebagai ibu rumah
tangga dan juga sebagai pemimpin organisasi yang lain.
175
2. Pelayanan yang baik dimana pelanggan adalah raja.
Bagi perusahaan Esther seafood, pelanggan adalah hal yang paling utama
dalam bisnis tersebut. Mengecewakan pelanggan sama saja dengan membuang
peluang di depan mata. Sebagai salah satu contoh pelayanan yang baik tersebut
adalah berusaha menyediakan seafood sesuai dengan pesanan pelanggan.
Terkadang pelanggan memesan jenis seafood yang susah ditemukan di
pelelangan, namun demi menjaga hubungan baik dengan pelanggan, perusahaan
berusaha semaksimal mungkin mencari jenis seafood yang diinginkan pelanggan
walaupun harus berkeliling-keliling. Selain itu juga penyediaan seafood yang
selalu segar adalah salah satu dari usaha memberikan pelayanan yang baik bagi
pelanggan dan konsumen.
3. Kesegaran seafood menjadi ciri utama perusahaan.
Sebagai perusahaan yang memasarkan seafood segar tentunya kesegaran
adalah salah satu hal yang dilihat konsumen. Berbeda dengan frozen seafood
(seafood beku), seafood segar ini tidak mengalami pmbekuan karena hanya
ditangani dengan pemberian es untuk menjaga ksegaran. Pembekuan dapat
membuat seafood tahan berminggu-minggu, sedangkan seafood segar ini hanya
tahan maksimal dua hari dengan penanganan yang optimal. Artinya kelebihan
perusahaan dalam hal ini adalah mereka tidak membuat stok bagi seafood yang
tidak terjual. Bisa saja seafood yang tidak terjual dibekukan agar tidak busuk, lalu
kemudian dicairkan jika sudah ada yang memesan, padahal seafood tersebut sudah
tidak segar lagi. Perusahaan Esther seafood tidak mau melakukan hal demikian
karena akan berakibat fatal di mata pelanggan dan konsumen lainnya. Jika
176
memang ada seafood yang tidak laku terjual maka perusahaan langsung
menjualnya ke pasar ikan tradisional terdekat dengan harga yang berlaku di pasar.
4. Memiliki
visi
meningkatkan
kecerdasan
anak-anak
Indonesia
serta
mengurangi pengangguran.
Meningkatkan kecerdasan anak melalui asupan gizi ikan adalah tujuan
perusahaan dalam berbisnis ini, karena ikan mengandung omega-3 yang dapat
mencerdaskan anak. Kemudian dengan mempekerjakan karyawan yang dilakukan
tanpa perekrutan khusus merupakan salah satu alasan perusahaan untuk secara
tidak langsung membnatu mengurangi pengangguran di Indonesia.
5. Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil oleh perusahaan.
Pembagian tugas yang diatur sedemikian rupa oleh perusahaan bertujuan
untuk membuat karyawan (khususnya karyawan penimbangan dan pengantaran
barang) dapat mengerjakan tugas tanpa harus merasa bosan dengan jenis
pekerjaan yang sama setiap hari.
6. Menyediakan jenis-jenis seafood yang variatif
Jenis seafood yang variatif adalah salah satu hal yang sangat disukai
pelanggan terutama pelanggan supermarket atau swalayan. Untuk itu perusahaan
selalu berusaha menyediakan jenis-jenis seafood yang diminta pelanggan
walaupun harus mengalami kesulitan dalam mencari seafood tersebut.
7. Harga yang kompetitif
Harga yang kompetitif adalah salah satu kekuatan perusahaan. Perusahaan
menetapkan harga yang disesuaikan dengan target yaitu tingkat pendapatan
konsumen. Khususnya di counter, perusahaan sangat memperhatikan faktor harga
yang diberikan kepada konsumen agar konsumen dapat menjangkau harga
177
tersebut dan harga yang ditetapkan disesuaikan dengan kualitas seafood yang
dijual. Misalnya di counter Foodmart Ekalokasari perusahaan mnetapkan harga
yang lebih tinggi dari counter Toserba Yogya karena konsumen di Foodmart
kebanyakan menengah ke atas, demikian juga konsumen menengah ke bawah
lebih banyak berada di Toserba Yogya.
8. Tidak pernah menambahkan zat aditif terhadap seafood.
Penambahan zat aditif pada makanan dapat menimbulkan berbagai macam
penyakit. Penambahan zat aditif tersebut sering dilakukan oleh orang-orang yang
hanya ingin mengambil keuntungan tanpa memikirkan pengaruhnya bagi
konsumen. Perusahaan Esther seafood tidak pernah melakukan penambahan zat
aditif tersebut karena bagi mereka bekerja dengan jujur akan berdampak baik juga
bagi perkembangan usaha.
5.3.2. Kelemahan Perusahaan
Kelemahan perusahaan Esther seafood:
1. Kualitas SDM yang masih lemah (terutama untuk karyawan divisi delivery).
Karyawan divisi delivery masih lemah karena sering melakukan
kecerobohan. Misalnya sering terjadi penyusutan ikan yang diantar ke pelanggan
yang pada akhirnya akan menimbulkan kerugian.
2. Kurangnya hubungan komunikasi atau interaksi antara atasan dengan
bawahan.
Komunikasi yang kurang lancar dapat menyebabkan miscommunication
antara pimpinan dan karyawan. Hal ini menjadi kelemahan perusahaan karena
dengan kurangnya komunikasi ini juga akan mengurangi keeratan dalam
178
perusahaan. Mungkin karena pimpinan perusahaan yang terlalu sibuk dan juga
karena jam kerja di perusahaan yang penuh dan pergantian jam kerja yang
membuat tidak ada waktu khusus bagi mereka untuk berinteraksi.
3. Luas lahan dan bangunan untuk usaha yang masih terbatas.
Jika dilihat dari luas lokasi usaha maka dapat dikatakan bahwa lokasi
tersebut terlalu sempit dan sebenarnya tidak cocok untuk usaha distribusi seafood
segar. Luas bangunan untuk usaha ini sekitar 225 m2 dimana sebagain besar dari
bangunan itu adalah rumah pribadi pemilik sementara yang dipakai untuk usaha
hanya sebagain kecil.keterbatasan tempat atau area membuat perusahaan juga
memiliki keterbatasan dalam memasok seafood.
4. Belum pernah melakukan promosi.
Perusahaan belum melakukan promosi secara khusus misalnya melalui
media massa atau media elektronik. Mereka hanya mengandalkan promosi dari
mulut ke mulut dan promosi di antara pelanggan. Padahal dalam sebuah usaha
sangat diperlukan adanya promosi agar dapat mendatangkan konsumen atau
pelanggan baru sehingga dapat meningkatkan penjualan perusahaan.
5. Belum melakukan riset pasar.
Perusahaan belum pernah melakukan riset pasar padahal dengan
melakukan riset pasar, perusahaan dapat mengetahui keadaan perkembangan
pasar. Untuk itu perusahaan sebaiknya melakukan riset pasar karena kemungkinan
besar akan ada peluang ekspor.
179
5.4. Analisis Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal terdiri dari komponen atau variabel lingkungan
yang berada atau berasal dari luar perusahaan. Komponen tersebut berada di luar
jangkauan organisasi dan kendali perusahaan, sehingga perusahaan tidak dapat
melakukan intervensi serta diperlukan tingkat adaptasi yang tinggi terhadapnya.
5.4.1. Analisis Lingkungan Makro
Lingkungan umum adalah faktor lingkungan eksternal yang merupakan
lingkungan makro operasional perusahaan. Lingkungan umum dipengaruhi oleh
faktor politik dan hukum, ekonomi, teknologi, alam, dan sosial budaya.
5.4.1.1. Lingkungan Politik dan Hukum
Keberhasilan sebuah perusahaan tidak terlepas dari pengaruh kondisi
politik dan hukum suatu wilayah atau negara. Demikian juga Esther seafood yang
berkembang seperti sekarang ini tentunya tidak lepas dari adanya pegaruh campur
tangan pemerintah melalui kebijakan dan program yang walaupun hal itu tidak
secara langsung dirasakan oleh perusahaan.
a. Rencana Strategi Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 20052009
Program pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan untuk mencapai
beberapa sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategi Pembangunan
Kelautan dan Perikanan Tahun 2005-2009, dimana sasaran pembangunan kelautan
dan perikanan adalah sebagai berikut:
1. Produksi perikanan sebesar 8,3 juta ton atau meningkat sebesar 5 persen , yang
terdiir dari produksi perikanan tangkap 5,2 juta ton dan produksi perikanan
budidaya sebesar 3,1 juta ton.
180
2. Ekspor hasil perikanan sebesar 1,3 juta ton untuk volume dan US$ 2,47 miliar
dalam nilai devisa.
3. Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap protein hewani sebesar 29,00
kg/kapita/tahun.
4. Penyediaan kesempatan kerja kumulatif sebanyak 8,4 juta orang yang terdiri
dari perikanan tangkap sebanyak 3,7 juta orang dan perikanan budidaya
sebanyak 4,7 juta orang.
5. Jangkauan program pemberdayaan masyarakat sebesar 14 persen dari populasi
masyarakat pesisir yang miskin di 289 kabupaten/kota.
6. Meningkatkan daya saing, standar mutu, dan nilai tambah produk perikanan
(industri perikanan dalam negeri).
7. Meningkatkan kawasan konservasi laut, pemberdayaan pulau-pulau kecil dan
pulau-pulau terluar, dan meningkatkan perbaikan lingkungan yang berkaitan
dengan terumbu karang dn mangrove, termasuk mitigasi lingkungan.
8. Meningkatnya ketertiban dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan
perikanan, terutama dalam rangka penaggulangan Illegal Fishing.
b. Program-program Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 20052009
Untuk mencapai sasaran sesuai dengan kebijakan yang telah dirumuskan
maka program-program pembangunan kelautan dan perikanan tahun 2005-2009
secara garis besar sebagai berikut:
1. Program Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dna Pelaku Usaha
Kelautan dan Perikanan Lainnya.
181
2. Program Pengelolaan dan Pengembangan Sumberdaya Kelautan dan
Perikanan.
3. Program Konservasi dan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan.
Sasaran pembangunan kelautan dan perikanan serta program pemrintah
tersebut di atas tentunya menjadi sebuah peluang bagi perusahaan Esther seafood.
Seperti sasaran yang ketiga yaitu meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap
protein hewani sebesar 29,00 kg/kapita/tahun, artinya perusahaan secara tidak
langsung telah mendukung usaha pemasaran ikan agar semakin banyak
masyarakat yang gemar mengkonsumsi ikan. Kemudian untuk program yang
pertama yaitu pemberdayaan nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha
kelautan dan perikanan lainnya, perusahaan secara tidak langsung mendapat
dukungan juga dari pemerintah dimana dengan adanya pemberdayaan tersebut
maka akan membantu lancarnya usaha distribusi seafood ini, misalnya nelayan
yang terampil dalam menangkap ikan, kemudian para petugas pelelangan yang
bekerja dengan trampil.
c. GEMARIKAN (Gerakan Memasyrakatkan Makan Ikan)
Pemasaran hasil perikanan menurut para pelakunya adalah mekanisme
yang tumbuh berdasarkan kesukarelaan, kerja sama, dan multisektoral. Karena itu
GEMARIKAN diyakini sejalan dengan perwujudan peningkatan pemasaran hasil
perikanan, kualitas sumber daya manusia, dan kesejahteraan. Sehubungan dengan
hal di atas, Departemen Kelautan dan Perikanan khususnya Direktorat Jenderal
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Direktorat Pemasaran Dalam Negeri
melihat perluasan progran nasional Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan
(GEMARIKAN) dua tahun terakhir yang merupakan program unggulan yang
182
bersifat multisektoral dan berpijak kepada kekuatan senergi antar pelaku pasar dan
antar pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. (Slamet Riyadi, Staf Ditjen
P2HP- DKP, 2007).
GEMARIKAN yang diinisiasi oleh Departemen Kelautan dan Perikanan
merupakan sebuah program yang sangat strategis dalam bidang pemasaran hasil
laut dan ikan di Indonesia. Melalui implementasi program ini secara kontinyu dan
terpadu, diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan potensi dasar dan ekonomi
nasional secara optimal serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia
Indonesia melalui pemenuhan gizi masyarakat.
Adanya program GEMARIKAN ini dapat memberikan sebuah peluang
bagi perusahaan Esther seafood dimana program tersebut dapat menimbulkan
ketertarikan masyarakat akan pentingnya konsumsi ikan, sehingga efeknya bagi
perusahaan adalah tingkat permintaan ikan akan semakin tinggi dan meningkat
pula penjualan perusahaan.
5.4.1.2. Lingkungan Demografi
Ketersediaan ikan (termasuk udang-udangan dan kerang-kerangan) untuk
konsumsi di kalangan masyarakat Indonesia masih sangat rendah hingga saat ini,
hanya sekitar 25,03 kg/kpaita/tahun (DKP 2007d), artinya rata-rata penduduk
Indonesia pada tahun 2006 hanya mengkonsumsi ikan 68,6 gr/hari. Jumlah
konsumsi ikan di Indonesia masih relatif rendah di antara negara-negara Asia
lainnya, seperti data di bawah ini.
183
Tabel 14. Jumlah Konsumsi Ikan di beberapa Negara di Asia Tahun 2002
Negara
Kg/Kapita/Tahun
Philipina
24
Thailand
35
Malaysia
45
Hongkong
85
Singapura
80
Jepang
110
Indonesia
22,79
Sumber: FAO, 2002
Rendahnya tingkat konsumsi ikan di kalangan masyarakat Indonesia ini
diduga ada kaitannya dengan rendahnya tingkat kesehatan dan kualitas sumber
daya manusia, antara lain sebagaimana dicerminkan dengan rendahnya peringkat
Indeks Pengembangan Manusia (HDI, Human Developement Index). Hal
sebaliknya terjadi pada bangsa Jepang, dimana dengan tingkat konsumsi ikan
mencapai 110 kg/kapita/tahun, produk perikanan telah menjadi makanan utama
dalam kehidupan sehari-hari bangsa Jepang dan mempengaruhi tingginya kualitas
kesehatan, panjangnya tingkat harapan hidup, dan tingkat kecerdasan bangsa
Jepang.
Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (HDI), pada tahun 2000
peringkat SDM Indonesia berada di urutan 109 dari 174 negara, terendah di antara
negara-negara Asia. Tahun 2003 peringkat HDI Indonesia makin melorot lagi,
yaitu peringkat ke 112 dari 174 negara peringkat kedua terendah setelah Vietnam.
Disadari atau tidak, hilangnya suatu generasi (lost generation) telah terjadi di
negeri ini. Maka apabila kondisi ini tidak segera diatasi, generasi mendatang akan
menjadi generasi yang berkualitas inferior dibandingkan negara-negara lain.
Di sinilah diperlukan peranan para pelaku pemasaran hasil perikanan
untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mensukseskan program-program
peningkatan konsumsi ikan nasional seperti GEMARIKAN. Apalagi didukung
184
oleh pendapatan per kapita masyarakat Indonesia tahun 2007 naik 17% menjadi
US$ 1.946 atau sekitar Rp 17,9 juta per tahun (kurs 9.200). Angka PDB per kapita
tahun 2007 ini lebih tinggi dari PDB per kapita tahun sebelumnya sebesar Rp 15
juta atau US$ 1.662. PDB pada tahun 2007 mencapai Rp 3.957 triliun yang
sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga sebesar Rp 2.511,3
triliun. 11 Selain itu juga di Indonesia terjadi penurunan tingkat kemiskinan yaitu
jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di
Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58 persen). Dibandingkan
dengan penduduk miskin pada bulan aret 2006 yang berjumlah 39,30 juta (17,75
persen), berarti jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,13 juta. 12
Perusahaan pemasaran hasil perikanan, termasuk di dalamnya Esther
seafood tentunya harus memiliki strategi khusus untuk memasarkan hasil
perikanan tersubut kepada konsumen mereka. Perusahaan Esther seafood
memiliki pelanggan yang tersebar di Jawa Barat (Bogor, Cianjur, Sukabumi, dan
Bandung) dan Jakarta sehingga perusahaan akan menghadapi berbagai
karakteristik masyarakat di kota-kota tersebut.
Faktor demografi yang menjadi peluang bagi perusahaan adalah
pertumbuhan jumlah penduduk. Proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia dapat
dilihat pada Tabel 15.
11
www.detik.com “Orang RI Tambah Kaya, Pendapatan per Kapita 2007 US$ 1.946 ”
Dadan Kuswaraharja – detikFinance (diakses Minggu, 20 Juli 2008)
12
www.indonesia.go.id ” Tingkat Kemiskinan di Indonesia Tahun 2007”, Tim Koordinasi Penanggulangan
Kemiskinan. (Diakses Minggu, 20 Juli 2008)
185
Tabel 15. Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 2001-2010
No.
Tahun
Jumlah Penduduk (orang)
1.
2000
205.132.000
2.
2001
207.927.500
3.
2002
210.736.300
4.
2003
213.550.500
5.
2004
216.381.600
6.
2005
219.204.700
7.
2006
222.051.300
8.
2007
224.904.900
9.
2008
227.779.100
10.
2009
230.632.700
11.
2010
233.477.400
Sumber : BPS, 2008
Tabel 15 menunjukkan setiap tahun jumlah penduduk Indonesia terus
mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan yang cukup tinggi. Jumlah
penduduk yang terus meningkat merupakan konsumen yang potensial bagi
perusahaan Esther seafood dimana jika peluang tersebut dimanfaatkan dengan
baik, maka akan menjadi keuntungan yang besar.
Berdasarkan penjelasan tentang lingkungan demografi di atas maka dapat
disimpulkan bahwa peningkatan jumlah penduduk baik di Indonesia maupun di
Kota Bogor merupakan sebuah peluang bagi perusahaan Esther seafood untuk
lebih meningkatkan jumlah penjualannya.
5.4.1.3. Lingkungan Ekonomi
Keadaan ekonomi Indonesia sangat berpengaruh terhadap kinerja sebuah
perusahaan. Kenaikan harga minyak mentah dunia mengharuskan pemerintah
untuk mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan harga BBM (Bahan Bakar
Minyak) dalam negeri pada bulan Desember 2007. Kenaikan harga BBM
mengakibatkan terjadi peningkatan pada tingkat inflasi dalam negeri. Fluktuasi
tingkat inflasi dapat dilihat pada Tabel 16.
186
Tabel 16. Laporan Inflasi per Bulan di Indonesia Tahun 2008
No.
Bulan
1
Juni
2
Juli
3
Agustus
4
September
5
Oktober
6
November
7
Desember
8
Januari
9
Februari
10
Maret
Sumber : Bank Indonesia, 2008
Tahun
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2008
2008
2008
Tingkat Inflasi
(%)
5.77
6.06
6.51
6.95
6.88
6.71
6.59
7.36
7.40
8.17
Berdasarkan Tabel 16 diatas dapat dilihat bahwa tingkat inflasi yang
terjadi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada bulan Maret
2008 tingkat inflasi meningkat sebesar 0.77 persen dibandingkan bulan
sebelumnya. Kenaikan tingkat inflasi akan berdampak pada meningkatnya hargaharga barang kebutuhan dalam negeri. Sementara sejak 26 Mei 2008 ini
pemerintah juga telah menaikkan harga BBM, dimana sekarang sudah mulai
terasa kenaikan harga-harga bahan-bahan makanan.
Perusahaan Esther seafood juga merasakan dampak dari kenaikan harga
BBM ini. Pertama dari segi biaya, perusahaan menggunakan armada berupa mobil
pengangkut ikan-ikan segar ke pelanggan yang tentunya membutuhkan biaya
untuk bensin. Dengan meningkatnya harga BBM, pengeluaran perusahaan untuk
biaya operasional juga meningkat. Kedua, kenaikan harga BBM berpengaruh
terhadap daya beli masyarakat karena secara tidak langsung harga ikan juga
meningkat. Dampak dari kenaikan BBM ini adalah menurunnya omzet
perusahaan yang mengakibatkan perusahaan harus tetap bertahan dengan keadaan
187
perekonomian Indonesia. Peningkatan harga BBM menjadi ancaman yang cukup
besar bagi perusahaan Esther seafood.
5.4.1.4. Lingkungan Alam
Lingkungan alam berhubungan dengan ketersediaan bahan mentah untuk
proses produksi dan kualitas lingkungan hidup manusia. Kondisi lingkungan alam
ini dapat berubah menjadi rusak karena ulah manusia yang akan menyebabkan
berkurangnya ketersediaan sumber daya alam.
Perusahaan memperoleh seafood dari hasil perikanan tangkap di laut Jawa,
sehingga kondisi laut akan sangat berpengaruh terhadap ada tidaknya serta banyak
sedikitnya jenis dan jumlah seafood yang mereka pasarkan. Setiap tahun
perusahaan harus menjalani masa-masa dimana seafood langka. Hal ini memang
sudah ada siklusnya setiap tahun, dimana ikan-ikan maupun hewan laut yang lain
bermigrasi dari laut Indonesia bagian tengah ke laut Indonesia bagian Timur
(Misalnya Kupang). Biasanya pada masa- masa inilah perusahaan memperoleh
omzet paling rendah di sepanjang tahun, akibatnya service level menjadi rendah
dan berdampak kepada menurunnya penjualan seafood pelanggan. Hal ini menjadi
ancaman bagi perusahaan karena mereka tidak bisa mengendalikannya.
Kondisi banjir Jakarta menjadi ancaman bagi perusahaan Esther seafood,
dimana perusahaan mengalami beberapa kendala dalam mengahadapi banjir
tersebut. Yang pertama, perusahaan mengalami penurunan omset khususnya di
counter seafood karena sebagian konsumen atau pelanggan memilih untuk tidak
berbelanja di supermarket karena keadaan banjir tersebut. Kedua, keadaan banjir
membuat jalan tergenang sehingga mobil yang dipakai untuk pengantaran ikan
188
mengalami kesulitan di perjalanan sehingga ahrus menyewa truk yang tentunya
memerlukan biaya yang tidak sedikit.
5.4.1.5. Lingkungan Teknologi
Perubahan teknologi dapat mempengaruhi sebuah industri. Perkembangan
teknologi dalam sistem pemasaran, seperti adanya media internet atau media
elektronik lainnya, dapat menjadi sarana bagi perusahaan untuk memasarkan
produk mereka dengan lebih menarik dan cepat.
Perusahaan Esther seafood sendiri belum menerapkan perkembangan
teknologi tersebut seperti internet atau radio. Mereka hanya mengandalkan
promosi dari “mulut ke mulut” atau adanya kebijakan dari pusat (seperti pada
Superindo Pusat). Bagi perusahaan Esther seafood promosi melalui media
elektronik maupun media massa tidak merupakan sesuatu yang sangat penting,
bagi mereka promosi dari mulut ke mulut saja sudah cukup mendatangkan
pelanggan. Sementara untuk sistem komputer, perusahaan sudah menggunakan
komputer sebagai sarana penyimpanan, pengolahan, dan sumber informasi data
bagi kepentingan teknis perusahaan.
Untuk proses operasi setiap harinya belum ada teknologi modern yang
digunakan oleh perusahaan. Misalnya untuk penyimpanan seafood yang akan
dipasarkan hanya menggunakan box atau kotak es, sementara untuk pengantaran
juga hanya menggunakan mobil pick up dan mobil box es. Teknologi seperti
container es atau coldstorage (dapat menyimpan es selama berminggu-minggu
bahkan berbulan-bulan) dapat menjadi sebuah peluang bagi perusahaan Esther
seafood. Coldstorage tersebut dapat mengurangi ancaman yang dihadapi
189
perusahaan dengan menyimpan ikan-ikan yang langka pada musim-musim
tertentu sehingga dapat dijual pada saat dibituhkan.
5.4.1.5. Lingkungan Sosial Budaya
Faktor sosial dan budaya dapat mempengaruhi perusahaan, dimana faktor
ini bersifat dinamik dan selalu berubah sebagai akibat dari upaya manusia untuk
memenuhi keinginan dan kebutuhan melalui pengendalian dan penyesuaian diri
terhadap faktor-faktor lingkungan.
Preferensi konsumen terhadap makanan juga merupakan dampak dari
faktor sosial dan budaya (faktor-faktor lingkungan). Bila dilihat dari tiap-tiap
pulai besar di Indonesia, terlihat bahwa daerah-daerah di pulau Jawa mempunyai
konsumsi ikan paling rendah dibandingkan tempat-tempat lainnya (Tabel 17)
Tabel 17 Jumlah Konsumsi Ikan Menurut Propinsi di Indonesia Tahun 2005
No.
Propinsi
Ikan Segar
(kg/kap/thn)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Sumatra Utara
Sumatra Barat
Riau
Jakarta
Jawa Barat
DI Yogyakarta
Bali
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Selatan
21.68
18.29
23.62
18.35
9.2
4.14
10.87
27.88
33.24
28.01
43.86
36.15
33.86
Ikan asin setara
ikan segar
(kg/kap/thn)
10.57
6.24
9.11
3.08
7.34
2.51
6.84
8.01
5.93
4.39
4.42
2.74
6.43
Ikan dari
makanan jadi
(kg/kap/thn)
0.57
1.31
0.42
2.15
0.96
1.65
0.97
0.40
1.87
1.25
4.68
0.73
1.20
Total konsumsi
ikan
(kg/kap/thn)
32.82
26.02
33.15
23.58
17.50
8.30
18.68
36.29
41.04
33.65
52.96
39.62
41.49
Sumber: Direktorat Pemasaran Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan
Perikanan, 2007
Hal tersebut terkait dengan kondisi sosial budaya, tingkat ketersediaan
ikan segar, luas diversifikasi produk olahan pangan. Secara regional untuk
wilayah desa maupun kota, tingkat konsumsi ikan segar di propinsi-propinsi di
pulau Jawa lebih rendah dibandingkan di luar Jawa. Di Jawa tingkat konsumsi
190
tertinggi terdapat di propinsi DKI Jakarta (2005, 18.35 kg/kap/thn), dan terendah
di DI Yogyakarta (2005, 4.14 kg/kap/thn).
Fakta ini sebenarnya sangat ironis mengingat kecepatan penerimaan
informasi dan kemampuan daya beli serta kualitas SDM di pulau Jawa lebih tinggi
sehingga informasi tentang keterkaitan antara aspek kesehatan dengan konsumsi
ikan lebih banyak tersedia namun belum mampu mengubah pola pikir masyarakat
Jawa tentang pentingnya mengkonsumsi ikan. Tampak adanya keterkaitan antara
preferensi konsumsi ikan dengan pola pembentukan budaya makan ikan dalam
suatu kelompok masyarakat. Kenyataan tersebut mendorong pemerintah untuk
lebih meningkatkan kampanye dan promosi tentang kebijakan yang dilakukan
dalam meningkatkan konsumsi ikan terutama di pulau Jawa.
Keadaan sosial budaya tersebut tidak begitu berpengaruh bagi perusahaan
dalam hal peluang atau ancaman, karena sampai saat ini perusahaan belum
menemukan kendala dalam perilaku konsumsi masyarakat juga belum adanya
peluang yang dilihat dari keadaan sosial budaya tersebut.
5.4.2. Analisis Lingkungan Industri
Menurut Porter (1997), kekuatan industri bergantung kepada lima faktor
yaitu ancaman terhadap kekuatan tawar menawar pemasok, kekuatan tawar
menawar pembeli, ancaman terhadap produk substitusi, masuknya pendatang
baru, dan intensitas persaingan anggota industri.
5.4.2.1. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok
Perusahaan tidak mempunyai pemasok yang tetap, mereka membeli
seafood segar secara bebas di Pelelangan Muara Angke. Namun sebelumnya
perusahaan pernah memiliki pemasok seafood yang lokasinya di Indramayu.
191
Dalam pemesanan barang, pemasok menentukan harga terlebih dahulu sebelum
diantar ke perusahaan. Jika harga telah disepakati, pemasok mengantar seafood-
seafood tersebut sesuai dengan pesanan, namun belum tentu semua seafood akan
dibeli perusahaan, seafood-seafood tersebut akan dipilih dan dicek ulang.
Hanya berjalan dua bulan, perusahaan tidak lagi bekerja sama dengan
pemasok tersebut karena harga dari pemasok tidak bersaing di pasar (terlalu mahal
dibandingkan harga di Muara Angke), selain itu pemasok sering kali tidak
memenuhi semua jenis item yang diinginkan perusahaan. Perusahaan akhirnya
memilih untuk belanja secara bebas di Pelelangan Muara Angke, selain harga
kompetitif dan item yang komplit, perusahaan juga dapat mempekerjakan
karyawan untuk tim belanja, sesuai dengan misi perusahaan untuk mengurangi
pengangguran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh pemasok
dalam usaha ini.
5.4.2.2. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli
Pembeli adalah raja bagi perusahaan Esther seafood, sehingga pelayanan
yang terbaik selalu mereka berikan. Seperti pelanggan supermarket yang
merupakan pelanggan utama perusahaan, service level yang baik selalu
diusahakan agar tidak mengecewakan pelanggan.
Seafood yang dipasok oleh perusahaan Esther seafood selama ini
berdasarkan pesanan, sehingga barangnya langsung diantar kepada pelanggan
sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kekhawatiran terhadap kekuatan pembeli
tidak terlalu mengancam keberadaan perusahaan karena pembeli mengikuti harga
yang ditetapkan oleh perusahaan.
192
5.4.2.3. Produk Substitusi
Keberadaan produk substitusi ini akan membatasi potensi suatu
perusahaan. Jika perusahaan tidak mampu meningkatkan daya saing maka laba
dan pertumbuhan perusahaan dapat terancam. Produk substitusi ditentukan oleh
banyaknya jumlah produk yang memiliki fungsi yang sama dengan produk
perusahaan yang dapat mempengaruhi eksistensinya di pasar.
Daging dan ayam adalah produk substitusi dari ikan secara umum yang
ada di pasar, karena memiliki fungsi yang sama dengan ikan yaitu sebagai sumber
protein dan zat gizi lainnya bagi tubuh manusia. Seperti halnya ikan, ayam dan
daging adalah lauk yang disantap saat makan nasi, khususnya bagi orang
Indonesia, sehingga sudah menjadi makanan pokok. Produk substitusi ini
harganya tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan produk perusahaan.
Perusahaan tidak menganggap daging dan ayam sebagai produk yang
dapat mengancam keberadaan ikan laut di pasar, karena sudah menjadi konsumsi
umum bahwa gizi yang dikandung ikan lebih baik dari pada gizi yang dikandung
daging dan ayam. Apalagi dengan beredarnya isu tentang penyakit-penyakit
hewan seperti flu burung, anthraks, dan sapi gila. Hal inilah yang menyebabkan
perusahaan tetap yakin bahwa seafood adalah komoditi yang akan diminati
banyak orang dengan semakin berjalannya waktu. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa seafood tidak memiliki ancaman dari produk substitusinya.
5.4.2.4. Ancaman Pendatang Baru
Masuknya perusahaan pendatang baru dalam suatu industri akan
menimbulkan sejumlah implikasi bagi perusahaan yang ada, antara lain perebutan
pangsa pasar, perebutan sumber daya produksi, dan peningkatan kapasitas.
193
Ancaman pendatang baru sangat bergantung pada hambatan yang mungkin ada
untuk memasuki industri. Beberapa hambatan dalam memasuki industri ini antara
lain skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, keunggulan biaya,
akses saluran distribusi, dan peraturan pemerintah.
Jika dilihat dari skala ekonomis, menurut perusahaan Esther seafood
termasuk besar, nilainya bisa mencapai puluhan juta bahkan lebih. Berbeda
dengan bisnis sayur misalnya, mungkin pengusaha sayur hanya membutuhkan
kurang dari satu juta rupiah untuk mendapatkan sayur yang bisa memuat dua pick
up (mobil pengangkut sayur). Untuk skala ekonomis yang besar tentunya juga
membutuhkan modal yang relatif besar, bisa puluhan juta bahkan lebih karena
harga ikan yang relatif mahal dan memmbutuhkan penanganan yang
mengeluarkan biaya yang tidak sedikit misalnya mobil box es, kulkas besar, dan
pemberian es yang kontinyu. Esther seafood sendiri mengeluarkan biaya sekitar
Rp. 1.000.000 per harinya untuk es dan bensin atau sekitar 30 jutaan per bulan
(biaya operasional), sementara untuk biaya tetap, perusahaan mengeluarkan biaya
sekitar Rp. 35.000.000 per bulan untuk gaji karyawan.
Bagi pendatang baru tidak mudah dalam mengakses saluran distribusi atau
saluran pemasaran dalam bisnis ini. Saat ini sudah banyak sekali bisnis yang sama
dengan Esther seafood, artinya jika pendatang baru ingin mudah dalam memasuki
pasar maka sebaiknya komoditi yang akan diusahakan berbeda dengan yang lain.
Mungkin komoditi yang belum ada di pasar yang ingin dimasuki dengan cara
mengimpor atau mencari komoditi yang langka. Misalnya untuk bisnis ikan,
mungkin sebaiknya pendatang baru tersebut mencari ikan-ikan dari luar Indonesia
194
karena ikan-ikan lokal sudah penuh di pasar. Berdasarkan penjelasan di atas jelas
bahwa pendatang baru tidak menjadi ancaman bagi perusahaan Esther seafood.
5.4.2.5. Para Pesaing dalam Industri
Persaingan yang terjadi dalam industri pemasaran seafood segar ini sangat
kompetitif. Sebagai perusahaan pemasar seafood, perusahaan Esther seafood juga
memiliki banyak perusahaan yang bergerak di bidang yang sama di Jakarta dan
Jawa Barat. Sebenarnya di Kota Bogor tidak begitu banyak pesaing perusahaan ini
namun di wilayah lain se-Jabodetabek terdapat banyak pesaing Esther seafood
dan hal ini tentunya menjadi sebuah ancaman bagi usaha yang dijalankan.
Seperti dijelaskan pada Bab 1 bahwa perusahaan Esther Seafood memiliki
beberapa pesaing usaha sejenis di Jakarta dan Jawa Barat seperti Banyuasin
Seafood Chain, CV. PMP Indonesia, PT. Era Mandiri Cemerlang, Vanda Seafood,
Indah Seafood, Mutiara Seafood, AMJ, dan UD Jamaluddin.
5.5. Identifikasi Lingkungan Eksternal Perusahaan
Berdasarkan hasil analisis lingkungan eksternal, maka diperoleh beberapa
faktor yang berupa peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang
berpengaruh pada perusahaan Esther seafood dalam menghadapi persaingan yang
semakin kompetitif.
5.5.1. Peluang Perusahaan
1. Memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan catering)
Perusahaan memiliki pelanggan yang loyal seperti supermarket dan
catering, walaupun ada sebagian kecil di antaranya yang kurang loyal. Dengan
195
demikian perusahaan tidak perlu takut kehilangan pelanggan selama pelayanan
yang diberikan memuaskan dan mereka memberi kepercayaan kepada pelanggan.
2. Sulitnya bagi pendatang baru untuk masuk
Biaya yang besar dalam memulai usaha ini merupakan sebuah kendala
bagi pengusaha baru, selain itu juga pengusaha baru tidak mudah untuk memasuki
jalur distribusi usaha serta tidak mudah dalam mendapatkan bahan baku karena
sudah diambil oleh para pesaing yang ada.
3. Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya
Penduduk Indonesia yang semakin bertambah dan bahkan bertambah
sangat banyak menjadi sebuah peluang bagi perusahaan untuk lebih giat lagi
dalam memasarkan seafood ini karena hal itu juga dapat membantu program
pemerintah dalam mencerdaskan bangsa.
4. Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap ikan
Seperti dijelaskan sebelumnya, setiap tahun belakangan ini tingkat
konsumsi nasional selalu mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan dan
masih jauh di bawah negara-negara maju lainnya. Hal ini tentunya menjadi
peluang bagi perusahaan karena itu berarti akan semakin meningkat juga
konsumen ikan, terutama ikan laut.
5. Posisi Bogor yang strategis
Posisi Bogor yang memiliki jangkauan yang mudah ke berbagai kota di
Pulau Jawa bahkan ke Sumatra menjadi sebuah peluang bagi perusahaan.
Misalnya pelanggan di Bandung lebih memilih perushaan Esther seafood sebagai
pemasok seafood daripada harus mengambil pasokan dari Jakarta. Kepercayaan
pihak bank kepada perusahaan.
196
6. Kepercayaan pihak bank kepada perusahaan dalam pengembalian pinjaman.
Perusahaan Esther Seafood sampai saat ini masih mengandalakan
pinjaman dana dari Bank Bukopin sebesar 40 persen. Mereka merupaka nasabah
yang tidak pernah mengecewakan pihak bank terutama dalam pengembalian
pinjaman sehingga pihak bank menaruh kepercayaan kepada perusahaan.
Didukung pula oleh pinjaman perusahaan dengan jumlah yang tidak sedikit
sehingga pihak bank justru sering menawarkan promo-promo kredit tanpa agunan
yang akhir-akhir ini sedang dipromosikan kepada perusahaan. Hal ini menjadi
sebuah peluang bagi perusahaan karena dari segi pinjaman dana, mereka tidak
menemukan kendala justru mereka dipercayai oleh pihak bank.
7. Adanya program Gemarikan yang dilakukan pemerintah Indonesia
Kebijakan pemerintah melalui Program GEMARIKAN sudah dicanangkan
sejak tahun 2006 lalu, dan terbukti ada dampaknya melalui jumlah konsumsi ikan
nasional yang meningkat. Hal ini juga menjadi sebuah peluang bagi perusahaan
karena dengan program ini akan banyak masyarakat yang semakin mencari ikan
sebagai konsumsi pokoknya.
8. Adanya teknologi coldstorage (container es untuk menyimpan es berbulanbulan)
Teknologi seperti container es atau coldstorage (dapat menyimpan es
selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan) dapat menjadi sebuah peluang
bagi perusahaan Esther seafood. Coldstorage tersebut dapat mengurangi ancaman
yang dihadapi perusahaan dengan menyimpan ikan-ikan yang langka pada musimmusim tertentu sehingga dapat dijual pada saat dibituhkan.
197
5.5.2. Ancaman Perusahaan
1. Kebijakan Superindo pusat dalam memilih pemasok
Khusus untuk pelanggan Swalayan Superindo, perusahaan tidak berhak
menentukan sendiri swalayan cabang mana yang akan dimasuki, namun hal itu
merupakan kebijakan pusat. Dalam hal ini Superindo Pusat akan melihat pesaing
atau pemasok lain yang lebih baik dari perusahaan Esther seafood dan akan
menggantikan Esther Saefood dengan pemasok tersebut. Ini menjadi sebuah
ancaman bagi perusahaan Esther seafood karena mereka hanya sebagai pemasok
yang pasif.
2. Jam kerja kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang dibuka serentak
sehingga menjadi kendala bagi perusahaan
Suprmarket maupun swalayan yang membuka jam kerja kantor serentak
pukul tujuh pagi, dimana mereka mulai menerima pasokan-pasokan berupa bahanbahan segar dari berbagai pemasok. Hal ini menjadi kendala bagi perusahaan
karena mereka sering kali mnjadi tidak tepat waktu tiba di tempat pelanggan yang
lain karena harus mengantri.
3. Kesalahan order oleh pelanggan
Pelanggan yang salah mengorder trkadang bukan kesalahan yang
disengaja karena sistem pencatatan pelanggan yang tidak hanya satu sumber,
sehingga sering terjadi kesalahan persepsi dan itulah yang menyebabkan salah
order. Namun perusahaan tidak bisa menuntut begitu saja karna bagi mereka itu
adalah resiko yang harus ditanggung.
198
4. Tingkat persaingan yang tinggi dalam merebut pelanggan
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa sudah banyak pesaing lain yang
bergerak di bidang yang sama, mungkin karena dengan semakin maraknya isu
tentang penyakit yang ditimbulkan konsumsi daging atau ayam, sehingga banyak
pengusaha yang mulai menggeluti usaha ini.
5. Kondisi banjir Jakarta
Banjir merupakan bencana yang terjadi di luar jangkauan manusia,
demikian juga dengan perusahaan Esther seafood hanya bisa menerima
kenyataan. Hal ini tentu menjadi kendala bagi perusahaan karena pada saat banjir,
omzet mereka menjadi berkurang karena pelanggan menjadi jarang mengorder
ikan dan juga untuk pengantaran ikan harus mengeluarkan biaya untuk penyewaan
truk.
6. Kelangkaan ikan pada musim-musim tertentu
Setiap tahun pada bulan-bulan tertentu pasti akan terjadi kelangkaan ikanikan di laut. Ini menjadi ancaman bagi perusahaan karena tentunya omzet mereka
akan berkurang dan akan terjadi komplain dari pelanggan.
7. Kenaikan harga BBM
Sejak tahun 2005 pmerintah telah menaikkan hara BBM dan itu saja sudah
memberatkan masyarakat dalam membeli bahan makanan maupun BBM. Apalagi
tahun ini dimana sejak 26 Mei pemerintah menaikkan BBM sebanyak 27,8 persen.
Hal ini menjadi kendala bagi perusahaan karena pengeluaran perusahaan untuk
BBM adalah termasuk biaya yang cukup besar.
199
VI. PERUMUSAN STRATEGI PERUSAHAAN
6.1. Analisis Matriks IFE dan EFE
Matriks IFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan
mengklasifikasikannya
menjadi
kekuatan
dan
kelemahan
perusahaan.
Pengidentifikasian faktor-faktor internal dilakukan interaktif kepada pihak
perusahaan yang sangat mengetahui betul kondisi internal perusahaan, sehingga
dapat diperoleh faktor-faktor yang menjadi kekuatan maupun kelemahan dari
perusahaan. Matriks EFE digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor
eksternal
dan
mengklasifikasikannya
menjadi
peluang
dan
ancaman.
Pengidentifikasian faktor-faktor eksternal juga dilakukan interaktif kepada pihak
perusahaan yang sangat mengetahui betul kondisi internal perusahaan, sehingga
dapat diperoleh faktor-faktor yang menjadi peluang maupun ancaman dari luar
perusahaan. Setelah mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal tersebut maka
dilakukan pembobotan. Pembobotan dilakukan untuk menentukan prioritas dari
identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal.
6.1.1. Analisis Lingkungan Internal dengan Menggunakan Matriks IFE
Berdasarkan
penilaian
responden
terhadap
faktor
kunci
internal
perusahaan, didapatkan total skor rata-rata IFE adalah sebesar 2.7340 (Lampiran
15). Hal ini berarti bahwa posisi strategi perusahaan Esther seafood memiliki
faktor internal yang tergolong rata-rata, kemampuan perusahaan memanfaatkan
kekuatan dan mengurangi kelemahan adalah sedang (rata-rata). Melalui
identifikasi faktor internal perusahaan beserta bobot dan rating serta dihasilkan
skor terboboti, maka diperoleh kekuatan utama yang paling menentukan adalah
200
harga yang kompetitif (skor 0.3428), karena dengan harga yang kompetitif maka
konsumen akan dapat menjangkau harga tersebut dan perusahaan juga dapat
bersaing dengan pesaing.
Kekuatan perusahaan yang kedua terletak pada penyediaan jenis-jenis
seafood yang variatif (skor 0.3332), karena dengan penyediaan seafood yang
variatif maka perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan dengan baik,
artinya pelayanan yang diberikan perusahaan adalah yang utama. Dengan ini
pelanggan akan tetap loyal karena perusahaan selalu berusaha memberikan apa
yang diminta pelanggan. Kekuatan perusahaan yang memiliki skor yang sama
dengan yang kedua terletak pada tidak pernahnya menambahkan zat aditif
terhadap seafood (skor 0.3332), karena bagi perusahaan, dengan menambahkan
zat aditif akan membuat nama mereka jelek di mata pelanggan, sehingga
perusahaan ingin menanamkan image yang baik di mata pelanggan.
Berdasarkan identifikasi faktor internal perusahaan beserta bobot dan
rating serta dihasilkan skor terboboti, maka diperoleh kelemahan utama yang
perlu diperhatikan adalah luas lahan dan bangunan yang masih terbatas (skor
0.0866), karena perusahaaan belum pernah mendirikan bangunan khusus untuk
usaha ini, saat ini mereka hanya menggunakan sebagian bangunan rumah pemilik,
apalagi lokasi tersebut adalah di perumahan. Kelemahan kedua adalah belum
melakukan riset pasar (skor 0.0889), karena perusahaan belum pernah melakukan
riset secara khusus misalnya meneliti tentang perilaku pasar atau perilaku
konsumen seafood. Kelemahan-kelemahan lain yang masih harus diperhatikan
adalah kualitas SDM uang masih lemah (skor 0.0993), dan belum pernah
melakukan promosi khusus (skor 0.1028).
201
Tabel 18. Matriks IFE (Gabungan Responden 1 Responden 2)
Faktor-faktor Internal
Rata-rata
Bobot x Rating
Kekuatan
A. Keuletan dan latar belakang pemilik dalam perikanan laut
cukup baik
B. Pelayanan yang baik di mana pelanggan adalah raja
C. Kesegaran seafood menjadi ciri utama perusahaan
D. Memiliki visi meningkatkan kecerdasan anak-anak
Indonesia dan mengurangi pengangguran
E. Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil oleh
perusahaan
F. Menyediakan jenis-jenis seafood yang variatif
G. Harga yang kompetitif
H. Tidak pernah menambahkan zat aditif terhadap seafood
0.1603
0.3108
0.2724
0.2547
0.2427
0.3332
0.3428
0.3332
Kelemahan
A. Kualitas SDM yang masih lemah (terutama untuk karyawan
divisi delivery)
B. Kurangnya hubungan komunikasi atau interaksi antara
atasan dengan bawahan
C. Luas lahan dan bangunan masih terbatas
D. Belum melakukan promosi khusus
E. Belum melakukan riset pasar
Total Skor Terboboti
0.0993
0.1073
0.0866
0.1018
0.0889
2.7340
6.1.2. Analisis Lingkungan Eksternal dengan Menggunakan Matriks EFE
Berdasarkan penilaian responden terhadap faktor kunci eksternal
perusahaan, didapatkan total skor rata-rata EFE adalah sebesar 3.2902 (Lampiran
16). Hal ini berarti bahwa kondisi lingkungan eksternal perusahaan Esther seafood
dalam merespon peluang dan ancaman berada dalam posisi tinggi. Melalui
identifikasi faktor eksternal perusahaan beserta bobot dan rating serta dihasilkan
skor terboboti, maka diperoleh peluang utama yang dimiliki perusahaan adalah
memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan catering) (skor 0.2768),
kemudian peluang berikutnya adalah kepercayaan pihak bank kepada perusahaan
(skor 0.2585). Sedangkan ancaman terbesar bagi perusahaan adalah jam kerja
202
kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang dibuka serentak sehingga
menjadi kendala bagi perusahaan (skor 0.3644), dan kebijakan Superindo pusat
dalam memilih pemasok (0.2745).
Tabel 19. Matriks EFE (Gabungan Responden 1 Responden 2)
Faktor-faktor Eksternal
Rata-rata
Bobot x Rating
Peluang
•
•
•
•
•
•
•
•
Memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan catering)
Sulitnya bagi pendatang baru untuk masuk
Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya
Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap ikan laut
Posisi Bogor yang strategis
Kepercayaan pihak bank kepada perusahaan dalam
pengembalian pinjaman
Adanya program Gemarikan yang dilakukan pemerintah
Indonesia
Adanya teknologi coldstored (container es untuk
menyimpan es berbulan-bulan)
0.2768
0.2382
0.2072
0.1285
0.1858
0.2585
0.1803
0.0846
Ancaman
•
•
Kebijakan Superindo pusat dalam memilih pemasok
Jam kerja kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang
dibuka serentak sehingga menjadi kendala bagi perusahaan
• Kesalahan order oleh pelanggan
• Tingkat persaingan yang tinggi dalam merebut pelanggan
• Kondisi banjir Jakarta
• Kelangkaan ikan pada musim-musim tertentu
• Kenaikan harga BBM
Total Skor Terboboti
0.2745
0.3644
0.1649
0.2072
0.2411
0.1590
0.2689
3.2396
6.2. Matriks IE
Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci yaitu total skor IE yag
diberi bobot pada sumbu X dan total skor EFE yang diberi bobot pada sumbu Y,
matriks ini berfungsi untuk mengetahui posisi perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis matriks IFE diperoleh total skor sebesar 2.7340
dan total skor matriks EFE sebesar 3.2902. Jika masing-masing total skor IFE dan
203
EFE dipetakan dalam matriks IE maka posisi perushaaan saat ini berada pada sel
II yaitu berada pada posisi growth and build (tumbuh dan bina). Dimana pada sel
ini strategi yang harus dijalankan oleh perusahaan adalah strategi intensif
(penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk) atau strategi
integratif (integrasi ke belakang, ke depan, horizontal).
TOTAL NILAI IFE YANG DIBERI BOBOT
(2.7340)
Kuat
Rata-rata
Lemah
3,0
2,0
1,0
4,0
Tinggi
I
II
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
3,0
E
F (3.2396)
E
Sedang
2,0
Rendah
1,0
Gambar 7. Matriks Internal-Eksternal Perusahaan Esther seafood
Strategi pengembangan pasar dan penetrasi pasar dilakukan dengan
memasuki pasar baik yang baru maupun pasar yang sudah ada, karena kondisi
perusahaan saat ini sedang buruk karena kehilangan pasar dan pelanggan. Strategi
ini dapat dijalankan dengan mencari jenis-jenis produk sebanyak-banyaknya lalu
memasarkannya. Untuk strategi pengembangan produk adalah mecari kenaikan
penjualan dengan memperkenalkan produk-produk baru yang dikembangkan dari
produk lama, atau memperbaiki pelayanan produk yang sudah ada.
204
Strategi yang dihasilkan pada matriks IE hanya menghasilkan strategi
alternatif secara umum tanpa adanya implementasi yag lebih teknis pad
perusahaan. Oleh karena itu matriks IE dilengkapi juga oleh matriks SWOT yang
berupa langkah-langkah konkret yang sebaiknya dilakukan perusahaan.
6.3. Matriks SWOT
Hasil analisis lingkungan internal dan eksternal yang telah dilakukan di
perusahaan Esther seafood yang berupa kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman bertujuan untuk membentuk matriks SWOT. Matriks ini bertujuan untuk
mengembangkan empat strategi alternatif antara lain strategi S-O (Strengthts-
Opportunities), strategi S-T (Strengthts-Threats), strategi W-O (WeaknessesOpportunities), dan strategi W-T (Weaknesses-Threats). Matriks SWOT dibuat
berdasarkan strategi pada matriks IE. Matriks ini dapat dilihat pada Tabel 20
1. Strategi S-O
Strategi S-O adalah strategi yang memanfaatkan kekuatan pada
lingkungan usaha untuk meraih peluang yang ada pada lingkungan luar
perusahaan guna memperoleh keuntungan bagi perusahaan. Ada beberapa strategi
alternatif yang dapat dilakukan oleh perusahaan pasa strategi S-O, yaitu pertama
Memperluas skala usaha dengan meningkatkan penawaran dan pangsa pasar.
Strategi ini memanfaatkan beberapa kekuatan perusahaan yaitu latar belakang
pemilik dalam perikanan laut cukup baik, pelayanan yang baik dimana pelanggan
adalah raja, kesegaran seafood menjadi ciri utama perusahaan, dan menyediakan
jenis-jenis seafood yang variatif.
205
Tabel 20. Matriks SWOT
IFE
Kekuatan (S)
1.
2.
EFE
3.
4.
5.
6.
7.
Keuletan dan latar belakang
pemilik dalam perikanan laut
cukup baik.
Pelayanan yang baik dimana
pelanggan adalah raja
Kesegaran seafood menjadi
ciri utama perusahaan
Memiliki visi meningkatkan
kecerdasan anak-anak
Indonesia serta mengurangi
penganguran
Pembagian tugas dan tanggung
jawab yang adil oleh
perusahaan
Menyediakan jenis-jenis
seafood yang variatif
Harga yang kompetitif
Kelemahan (W)
1.
2.
3.
Kualitas SDM yang masih
lemah (terutama untuk
karyawan divisi delivery)
Kurangnya hubungan
komunikasi atau interaksi
antara atasan dengan bawahan
Luas lahan dan bangunan
maH..Tj/TT2 4mah (terutama untuk
karyawan divisi
206
dan restoran sangat senang dengan jenis-jenis seafood yang sangat bervariatif.
Selain itu hubungan yang baik dengan pelanggan dan pelanggan yang loyal dapat
menjadi sebuah peluang dimana pelanggan akan selalu mempercayai pelayanan
yang duberikan perusahaan.
Sementara untuk mengembangkan produk menjadi produk siap masak,
perusahaan dapat melakukan pendekatan kepada pelanggan dimana akan ada
produk baru yang akan mereka tawarkan, sehingga pelanggan mulai tertarik,
selain itu juga pelanggan akan bersedia mengkonsumsi produk baru tersebut
kaena mereka sudah percaya dengan pelayanan yang diberikan perushaan.
Strategi ketiga adalah melakukan pembelian coldstorage. Strategi ini dapat
digunakan perusahaan untuk mengurangi pembusukan seafood. Selain itu
coldstorage juga dapat digunakan untuk mengatasi ancaman yaitu kelangkaan
ikan pada musim-musim tertentu, dimana dengan menggunakan alat ini
perusahaan dapat menyimpan ikan langka tersebut untuk dijual pada saat
dibutuhkan.
2. Strategi W-O
Strategi W-O adalah strategi yang menggunakan peluang yang ada untuk
mengatasi kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan. Beberapa strategi alternatif
yang dapat dilakukan pada strategi W-O yaitu pertama memperbaikai sistem
manajemen perusahaan. Strategi ini bertujuan untuk membenahi struktur
perusahaan secara lebih baik. Dalam perusahaan ini kegiatan manajemen masih
banyak yang diambil alih oleh pempinan sehingga hal ini dapat menyebabkan
tidak terselesaikannya tugas dengan baik. Walaupun di satu sisi pimpinan
perusahaan adalah seorang yang ulet namun beliau juga adalah sebagai ibu rumah
207
tangga jadi tentunya perlu membagi waktu untuk keluarga. Selain itu SDM yang
masih lemah terutama untuk bidang delivery juga perlu sekali untuk diperbaiki,
mungkin dengan merekrut karyawan yang ahli di bidangnya atau mengadakan
pelatihan bagi karyawan.
Strateggi
W-O
yang
kedua
adalah
mengadakan
bidang
yang
berkonsentrasi dalam pemasaran. Hal ini sangat penting untuk diakukan karena
perusahaan bergerak dalam bidang tataniaga jadi tentu sangat memerlukan adanya
bidang yang khusus dalam pemasaran untuk dapat melihat keadaan pasar secara
umum dan apa pengaruhnya bagi perusahaan.
3. Strategi S-T
Strategi S-T adalah strategi yang meminimalkan kelemahan yang dimiliki
serta dapat menghindari ancaman dari luar. Beberapa strategi alternatif yang dapat
dilakukan pada strategi S-T yaitu pertama meningkatkan pelayanan kepada
konsumen. Pelanggan atau konsumen adalah raja bagi perusahaan, sehingga
tingkat pelayanan yang diberikan perusahaan akan menjadi nilai penting bagi
pelanggan dan dengan pelanggan akan tetap loyal terhadap perusahaan.
Strategi S-T yang kedua adalah meningkatkan penanganan dengan es agar
tetap menjaga kesegaran seafood. Kesegaran adalah ciri utama perusahaan
sehingga harus mengeluarkan biaya untuk penanganan yang baik. Apalagi dengan
kondisi lingkungan misalnya banjir Jakarta atau kenaikan BBM, perusahaan harus
tetap mempertahankan kesegaran seafood terutama saat pengantaran, walaupun
harus mengeluarkan biaya yang banyak tetapi itu adalah resiko sehingga harus
dapat dihadapi.
208
Strategi S-T yang ketiga adalah mengefisienkan peralatan untuk menghemat
penggunaan BBM. Hal ini terutama untuk para karyawan yang bertugas
mengantar barang ke pelanggan. Menjaga kondisi peralatan misalnya mobil pick
up beserta mesin-mesinnya dapat mempertahankan umur peralatan. Selain itu juga
diperlukan pemakaian bensin yang hemat dan berusaha jujur dalam melaporkan
pemakaianbensin pada laporan yang disampaikan kepada pimpinan.
4. Strategi W-T
Strategi W-T adalah strategi yang berusahan untuk meminimalkan
kelemahan yang dimiliki serta dapat menghindari ancaman dari luar. Strategi
alternatif yang dapat dilakukan pada strategi W-O yaitu melakukan survey pasar
tentang bisnis perikanan. Perusahaan dapat memasuki pasar perikanan dengan
melihat dan mempelajari perilaku pasar dan konsumen sehingga perusahaan dapat
mengetahui bagaimana perilaku konsumen terhadap produk perikanan dan pasar
mana yang akan dimasuki oleh perusahaan.
Berdasarkan hasil analisis Matriks SWOT maka ada sembilan strategi
yang diperoleh, yaitu:
1. Memperluas skala usaha dengan meningkatkan penawaran dan pangsa pasar
2. Mengembangkan produk menjadi produk “ready to cook”
3. Melakukan pembelian coldstorage
4. Memperbaiki sistem manajemen perusahaan
5. Mengadakan bidang yang berkonsentrasi dalam pemasaran
6. Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan / konsumen
7. Meningkatkan penanganan dengan es agar tetap menjaga kesegaran seafood
8. Mengefisienkan penggunaan peralatan untuk menghemat BBM
209
9. Melakukan survey pasar tentang bisnis perikanan.
6.4. Matriks QSPM
Pada tahap selanjutnya untuk pengambilan keputusan dalam menentukan
prioritas strategi yang paling tepat untuk dilaksanaka terlebih dahulu, maka
dilakukan analisis QSPM. Pembobotan pada masing-masing faktor internal dan
eksternal yang digunakan sama sengan bobot yang digunakan pada matriks IFE
dan EFE. Sedangkan untuk penilaian AS didapat dari dari hasil pengisian
kuesioner oleh pimpinan perusahaan Esther seafood sebagai penentu daya tarik
relatif dari berbagai strategi alternaitf yang dihasilkan dari analisis SWOT. Sejauh
mana faktor-faktor penentu eksternal dan internal dimanfaatkan atau diperbaiki.
Dipilihnya pimpinan perusahaan sebagai penentu daya tarik relatif dari berbagai
strategi alternatif, karena segala pengambilan keputusan strategis perusahaan yang
berhubungan dengan kelangsungan hidup perusahaan diputuskan oleh pimpinan
perusahaan Esther seafood. Berdasarkan hasil analisis QSPM maka urutan
peringkat untuk ke-sembilan strategi tersebut adalah:
1. Memperluas skala usaha dengan meningkatkan penawaran dan pangsa pasar
(TAS = 5.3734 )
2. Mengadakan bidang yang berkonsentrasi dalam pemasaran (TAS = 5.3269)
3. Mengefisienkan penggunaan peralatan untuk menghemat BBM (TAS =
5.2174)
4. Melakukan survey pasar tentang bisnis perikanan (TAS = 5.1799)
5. Mengembangkan produk menjadi produk “ready to cook” (TAS = 5.1125)
6. Meningkatkan penanganan dengan es agar tetap menjaga kesegaran seafood
(TAS = 5.0119)
210
7. Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan (TAS = 5.0476)
8. Memperbaiki sistem manajemen perusahaan (TAS = 4.8332)
9. Melakukan pembelian coldstorage (TAS = 3.8984)
211
LAMPIRAN
212
Lampiran 1. Contoh Kuesioner Pemberian Rating dan Pembobotan Faktor
Internal dan Eksternal Perusahaan Esther Seafood
1. Penilaian Bobot Faktor Strategis Internal (Kekuatan dan Kelemahan)
Nama Responden
Jabatan
:
:
Petunjuk Pengisian
Penilaian bobot setiap variabel menggunakan skala 1, 2, dan 3
Nilai 1 = jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal
Nilai 2 = jika indikator horizontal sama penting dengan indikator vertikal
Nilai 3 = jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal
Catatan : Cara membaca perbandingan dimulai dari variabel pada baris 1
terhadap kolom 1 harus konsisten.
Faktor
Strategis
Internal
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
Kekuatan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
Latar belakang pemilik dalam perikanan laut cukup baik
Pelayanan yang baik di mana pelanggan adalah raja
Kesegaran seafood menjadi ciri utama perusahaan
Memiliki visi meningkatkan kecerdasan anak-anak Indonesia serta mengurangi
penganguran
Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil oleh perusahaan
Menyediakan jenis-jenis seafood yang variatif
Keuletan pemilik dalam memimpin perusahaan
Tidak pernah menambahkan zat aditif terhadap seafood
Kelemahan
A.
B.
C.
D.
E.
Kualitas SDM yang masih lemah (terutama untuk karyawan divisi delivery)
Kurangnya hubungan komunikasi atau interaksi antara atasan dengan bawahan
Luas lahan dan bangunan yang masih terbatas
Belum pernah melakukan promosi khusus
Belum melakukan riset pasar
TOTAL
213
2. Penilaian Bobot Faktor Strategis Eksternal (Peluang dan Ancaman)
Petunjuk Pengisian
Penilaian bobot setiap variabel menggunakan skala 1, 2, dan 3
Nilai 1 = jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal
Nilai 2 = jika indikator horizontal sama penting dengan indikator vertikal
Nilai 3 = jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal
Catatan : Cara membaca perbandingan dimulai dari variabel pada baris 1
terhadap kolom 1 harus konsisten.
Faktor
Strategis
Eksternal
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
TOTAL
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
TOTAL
Keterangan :
Peluang
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
Memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan catering)
Sulitnya bagi pendatang baru untuk masuk
Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya
Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap ikan laut
Posisi Bogor yang strategis
Kepercayaan pihak bank kepada perusahaan dalam pengembalian pinjaman
Adanya program Gemarikan yang dilakukan pemerintah Indonesia
Adanya teknologi coldstorage (container es) untuk menyimpan ikan berbulan-bulan
Ancaman
A. Kebijakan Superindo pusat dalam memilih pemasok
B. Jam kerja kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang dibuka serentak
sehingga menjadi kendala bagi perusahaan
C. Kesalahan order oleh pelanggan
D. Tingkat persaingan yang tinggi dalam merebut pelanggan
E. Kondisi banjir Jakarta
F. Kelangkaan ikan pada musim-musim tertentu
G. Kenaikan harga BBM
214
3. Pemberian Nilai Peringkat Terhadap Faktor-Faktor Internal Perusahaan
Esther Seafood (Kekuatan dan Kelemahan)
3.1 Pemberian Nilai Peringkat Terhadap Kekuatan
Petunjuk Pengisian
• Tentukan nilai peringkat atau rating terhadap faktor-faktor kekuatan usaha
dibandingkan dengan pesaing (usaha sejenis) berikut ini dengan cara
memberikan tanda (√ ) pada pilihan Bapak/Ibu.
• Pemberian peringkat didasarkan pada keterangan berikut ini :
Skala 3 = Jika faktor tersebut merupakan kekuatan minor
Skala 4 = Jika faktor tersebut merupakan kekuatan utama
Menurut Bapak/Ibu bagaimana kondisi perusahaan bila dibandingkan dengan
perusahaan pesaing dalam hal faktor-faktor kekuatan yang dimiliki perusahaan
sebagai berikut :
No
1
2
3
4
5
Kekuatan
1
2
3
4
3.2 Pemberian Nilai Peringkat Terhadap Kelemahan
Petunjuk Pengisian
• Tentuikan nilai peringkat atau rating terhadap faktor-faktor kelemahan
usaha dibandingkan dengan pesaing (usaha sejenis) berikut ini dengan cara
memberikan tanda (√ ) pada pilihan Bapak/Ibu.
• Pemberian peringkat didasarkan pada keterangan berikut ini :
Skala 1 = Jika faktor tersebut merupakan kelemahan utama
Skala 2 = Jika faktor tersebut merupakan kelemahan minor
Menurut Bapak/Ibu bagaimana kondisi perusahaan bila dibandingkan dengan
perusahaan pesaing dalam hal faktor-faktor kelemahan yang dimiliki perusahaan
sebagai berikut :
No
1
2
3
4
5
Kelemahan
1
2
3
4
215
4. Pemberian Nilai Peringkat Terhadap Faktor Eksternal Perusahaan Esther
Seafood (Peluang dan Ancaman)
4.1 Pemberian Nilai Peringkat Terhadap Peluang
Petunjuk Pengisian
• Tentukan nilai peringkat atau rating didasarkan pada kemampuan usaha
dalam meraih peluang yang ada berikut ini dengan memberikan tanda (√ )
pada pilihan Bapak/Ibu.
• Pemberian peringkat didasarkan pada keterangan berikut ini :
Skala 1 = Sangat rendah, respon perusahaan dalam meraih peluang
tersebut kurang
Skala 2 = Rendah, respon perusahaan dalam meraih peluang tersebut ratarata
Skala 3 = Tinggi, respon perusahaan dalam meraih peluang tersebut diatas
rata-rata
Skala 4 = Sangat tinggi, respon perusahaan dalam meraih peluang tersebut
superior
No
Peluang
1
2
3
4
1
2
3
4
5
4.2 Pemberian Nilai Peringkat Terhadap Ancaman
Petunjuk Pengisian
• Tentukan nilai peringkat atau rating didasarkan pada besarnya ancaman
usaha dalam mempengaruhi usaha dimasa yang akan datang dengan
memberikan tanda (√ ) pada pilihan Bapak/Ibu.
• Pemberian peringkat didasarkan pada keterangan berikut ini :
Skala 1 = Sangat rendah, respon perusahaan dalam meraih peluang
tersebut kurang
Skala 2 = Rendah, respon perusahaan dalam meraih peluang tersebut ratarata
Skala 3 = Tinggi, respon perusahaan dalam meraih peluang tersebut diatas
rata-rata
Skala 4 = Sangat tinggi, respon perusahaan dalam meraih peluang tersebut
superior
No
1
2
3
4
5
Ancaman
1
2
3
4
216
5. Penentuan Alternatif Strategi dengan Matriks QSP
Tujuan
Untuk menetapkan kemenarikan relatif dan alternatif-alterantif yang dihasilkan
dari matriks SWOT, guna menetapkan strategi mana yang paling tepat untuk
dilaksanakan terlebih dahulu oleh Perusahaan Esther Seafood.
Alternatif Strategi yang Dihasilkan dari Analisis SWOT
10. Memperluas skala usaha dengan meningkatkan penawaran dan pangsa pasar
11. Mengembangkan produk menjadi produk “ready to cook”
12. Melakukan pembelian coldstorage
13. Memperbaiki sistem manajemen perusahaan
14. Mengadakan bidang yang berkonsentrasi dalam pemasaran
15. Meningkatkan pelayanan kepada pelanggan / konsumen
16. Meningkatkan penanganan dengan es agar tetap menjaga kesegaran seafood
17. Mengefisienkan penggunaan peralatan untuk menghemat BBM
18. Melakukan survey pasar tentang bisnis perikanan.
Petunjuk Pengisian
Mengajukan pertanyaan, apakah faktor sukses kritis berpengaruh pada alternatif
strategi yang ada. Jika jawabannya “tidak”, maka kolom AS tidak perlu diisi. Jika
jawabannya “ya”, maka kolom AS diisi dengan :
4 = jika alternatif strategi sangat menarik dibandingkan relatif terhadap alternatif
lain.
3 = jika alternatif strategi cukup menarik dibandingkan relatif terhadap alternatif
lain.
217
2 = jika alternatif strategi agak menarik dibandingkan relatif terhadap alternatif
lain.
1 = jika alternatif strategi tidak menarik dibandingkan relatif terhadap alternatif
lain.
Matriks QSP
Faktor
Bobot
Kunci
Kekuatan
1
2
3
Kelemahan
1
2
3
Peluang
1
2
3
Ancaman
1
2
3
Strategi 1
AS
TAS
Strategi 2
AS
TAS
Strategi 3
AS
TAS
Strategi 4
AS
TAS
218
Lampiran 2. Daftar Harga Esther Seafood Berlaku per tanggal 21 April 2008
No
Ikan Laut
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
Ayam-ayam
Bandeng Super
Bandeng Biasa
Baronang Besar
Baronang Kecil
Bawal Hitam
Bawal Putih
Belanak
Belut Mati
Ekor Kuning
Gindara
Gurame Mati
Hiu
Kacang Piring
Kacang-kacang
Kakap merah Besar
Kakap merah Kecil
Kakap Putih
Kakap Fillet
Kakap Tua
Kepala Kakap
Kembung Banjar
Kembung Como
Kembung Puket
Kerapu Kecil
Kerapu besar
Kue Gepeng
Kue Lilin
Layur
Mujaer
Marlin
Pari
Patin Mati
Pisang-pisang
Samge
Salem
Sebelah
Selar Kecil
Selar Besar
Tenggiri
Sedang/Kecil
Harga
(Rp/kg)
10.500
18.500
15.000
35.000
35.000
33.000
57.000
18.000
16.000
24.000
19.500
22.000
17.000
14.500
13.500
37.000
37.000
32.000
32.000
13.500
26.000
22.000
22.000
17.500
13.500
16.000
23.000
26.000
12.000
12.000
21.500
11.000
11.000
17.000
12.000
17.000
12.000
14.000
16.000
37.000
No
Tengkek
Telur Ikan
Tenggiri Besar
Teri galer
Teri Nasi
Terisi
Tongkol Besar
Tongkol Sedang
Tuna
Harga
(Rp/kg)
11.000
19.000
37.000
14.000
24.000
11.000
16.000
16.000
18.000
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
Kerang, Kepiting, & Cumi
Cumi Sero
Cumi Kupas
Daging Kerang Darah
Daging Kera Hijau
Daging Kepiting
Daging Rajungan
Daging Tiram
Kepiting Jantan
Kepiting Telur
Kerang Bulu Hidup
Kerang Dara Hidup
Kerang Hijau Hidup
Kerang Nenek Hidup
Kerang Tahu Hidup
Rajungan Bulat
Sontong
30.000
55.000
19.000
18.000
53.000
53.000
32.000
38.000
45.000
7.000
9.000
6.000
6.000
6.000
32.000
19.000
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
Udang
Udang Api-api Kecil
Udang Jerbung (AK 55-60)
Udang Kupas Kecil
Udang Kupas Besar
Udang Pancet (AK 30-35)
Udang Pancet (AK 40-50)
Udang Peci (AK 75-100)
Udang Vanamae (AK 50-60)
Udang Galah (AK 30)
Udang Windu Jumbo (AK 10)
Udang Pancet (AK 25)
27.000
53.000
27.000
67.500
75.000
55.000
38.000
40.000
77.500
115.000
90.000
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
Ikan Laut
Catatan: Harga sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan kondisi pasar
219
Lampiran 3. Pembobotan Faktor Strategis Internal (Responden 1)
Faktor
Strategis
Internal
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
Total
A
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
2
2
32
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
Total
Bobot
1
1
2
1
2
1
1
3
2
2
1
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
1
2
1
3
2
2
2
1
2
1
1
3
3
3
2
1
1
1
2
1
2
2
2
3
3
3
3
2
3
3
2
3
3
2
2
2
2
2
2
2
3
2
3
1
1
2
2
2
2
2
1
1
2
3
2
1
1
16
26
21
26
25
26
27
26
28
26
15
23
27
312
0.0513
0.0833
0.0673
0.0833
0.0801
0.0833
0.0865
0.0833
0.0897
0.0833
0.0481
0.0737
0.0865
1.0000
2
2
1
2
2
2
2
3
1
2
2
22
3
2
2
3
3
3
3
1
2
2
27
2
2
2
1
3
2
2
2
2
22
2
2
2
1
3
1
2
2
23
2
2
1
2
1
2
3
22
2
1
2
2
1
3
21
2
2
1
2
2
22
1
1
1
1
20
2
3
2
22
3
3
33
3
25
21
Lampiran 4. Pembobotan Faktor Strategis Eksternal (Responden 1)
Faktor
Strategis
Eksternal
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
Total
A
3
1
3
1
1
3
1
1
3
1
1
2
3
1
25
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
Total
Bobot
1
3
3
1
3
2
3
3
2
1
3
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
3
3
3
3
2
3
3
3
2
2
2
3
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
3
3
3
2
3
3
3
2
3
2
3
2
2
2
2
3
3
1
3
3
3
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
3
1
2
3
3
3
2
3
3
2
2
3
3
2
1
1
1
3
3
1
3
3
2
2
2
1
31
32
23
24
26
34
35
17
29
39
21
22
37
22
28
420
0,0738
0.0762
0.0548
0.0571
0.0619
0.0810
0.0833
0.0405
0.0691
0.0929
0.0500
0.0524
0.0881
0.0524
0.0670
1.000
1
1
1
3
3
1
2
3
1
2
2
1
2
24
2
2
3
3
1
2
3
1
2
2
3
3
33
3
3
3
1
2
3
2
2
2
2
3
32
3
2
2
1
3
1
2
3
1
3
30
3
1
1
3
1
1
3
1
1
22
1
3
3
1
1
3
1
1
21
3
3
2
3
3
2
3
39
3
1
1
3
1
1
27
2
1
3
1
1
17
1
3
2
2
35
3
2
2
34
1
2
19
3
34
28
220
Lampiran 5. Perkalian Bobot dan Rating untuk Faktor Internal
(Responden 1)
Faktor-faktor Internal
Bobot
Rating
Bobot x Rating
Kekuatan
A. Keuletan dan latar belakang pemilik
dalam perikanan laut cukup baik
B. Pelayanan yang baik di mana pelanggan
adalah raja
C. Kesegaran seafood menjadi ciri utama
perusahaan
D. Memiliki visi meningkatkan kecerdasan
anak-anak Indonesia serta mengurangi
penganguran
E. Pembagian tugas dan tanggung jawab
yang adil oleh perusahaan
F. Menyediakan jenis-jenis seafood yang
variatif
G. Harga yang komptitif
H. Tidak pernah menambahkan zat aditif
terhadap seafood
0.0513
3
0.1539
0.0833
4
0.3332
0.0673
4
0.2692
0.0833
3
0.2499
0.0801
3
0.2403
0.0833
4
0.3332
0.0865
4
0.346
0.0833
4
0.3332
0.0897
1
0.0897
0.0833
1
0.0833
0.0481
2
0.0962
0.0737
0.0865
1
1
0.0737
0.0865
Kelemahan
A. Kualitas SDM yang masih lemah
(terutama untuk karyawan divisi delivery)
B. Kurangnya hubungan komunikasi atau
interaksi antara atasan dengan bawahan
C. Jumlah armada (mobil) yang masih belum
lengkap untuk kelancaran delivery
D. Belum pernah melakukan promosi ksusus
E. Belum melakukan riset pasar
221
Lampiran 6. Perkalian Bobot dan Rating untuk Faktor Eksternal
(Responden 1)
Faktor-faktor Eksternal
Bobot
Rating
Bobot x Rating
Peluang
A. Memiliki pelanggan yang loyal
(supermarket dan catering)
B. Sulitnya bagi pendatang baru untuk masuk
C. Pertumbuhan penduduk yang meningkat
setiap tahunnya
D. Peningkatan konsumsi masyarakat
terhadap ikan laut
E. Posisi Bogor yang strategis
F. Kepercayaan pihak bank kepada
perusahaan dalam pengembalian pinjaman
G. Adanya program Gemarikan yang
dilakukan pemerintah Indonesia
H. Adanya teknologi coldstored
(container es untuk menyimpan es
berbulan-bulan)
0.0738
4
0.2952
0.0762
3
0.2286
0.0548
4
0.2192
0.0571
2
0.1142
0.0619
3
0.1857
0.0810
3
0.2430
0.0833
2
0.1666
0.0405
2
0.081
0.0691
4
0.2764
0.0929
4
0.3716
0.0500
3
0.15
0.0524
4
0.2096
0.0881
3
0.2643
0.0524
3
0.1572
0.0670
4
0.2680
Ancaman
A. Kebijakan Superindo pusat dalam memilih
pemasok
B. Jam kerja kantor dari pelanggan
supermarket/swalayan yang dibuka
serentak sehingga menjadi kendala bagi
perusahaan
C. Kesalahan order oleh pelanggan
D. Tingkat persaingan yang tinggi dalam
merebut pelanggan
E. Kondisi banjir Jakarta
F. Kelangkaan ikan pada musim-musim
tertentu
G. Kenaikan harga BBM
222
Lampiran 7. Pemberian Rating untuk Faktor Internal (Responden 1)
Faktor Internal Strategis
4
Rating
3 2 1
Kekuatan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
Keuletan dan latar belakang pemilik dalam perikanan laut cukup baik
Pelayanan yang baik di mana pelanggan adalah raja
Kesegaran seafood menjadi ciri utama perusahaan
Memiliki visi meningkatkan kecerdasan anak-anak Indonesia serta
mengurangi penganguran
Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil oleh perusahaan
Menyediakan jenis-jenis seafood yang variatif
Harga yang komptitif
Tidak pernah menambahkan zat aditif terhadap seafood
√
√
√
√
√
√
√
√
Kelemahan
√
F. Kualitas SDM yang masih lemah (terutama untuk karyawan divisi
delivery)
G. Kurangnya hubungan komunikasi atau interaksi antara atasan dengan
bawahan
H. Luas lahan dan bangunan yang masih terbatas
I. Belum pernah melakuka promosi khusus
J. Belum melakukan riset pasar
√
√
√
√
Lampiran 8. Pemberian Rating untuk Faktor Eksternal (Responden 1)
Faktor Eksternal Strategis
Rating
4 3 2 1
Peluang
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan catering)
Sulitnya bagi pendatang baru untuk masuk
Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya
Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap ikan laut
Posisi Bogor yang strategis
Kepercayaan pihak bank kepada perusahaan dalam pengembalian
pinjaman
G. Adanya program Gemarikan yang dilakukan pemerintah Indonesia
√
√
√
√
√
√
√
H. Adanya teknologi coldstored (container es untuk menyimpan
es berbulan-bulan)
Ancaman
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
Kebijakan Superindo pusat dalam memilih pemasok
Jam kerja kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang dibuka
serentak sehingga menjadi kendala bagi perusahaan
Kesalahan order oleh pelanggan
Tingkat persaingan yang tinggi dalam merebut pelanggan
Kondisi banjir Jakarta
Kelangkaan ikan pada musim-musim tertentu
Kenaikan harga BBM
√
√
√
√
√
√
√
223
Lampiran 9.Pembobotan Faktor Strategis Internal (Responden 2)
Faktor
Strategis
Internal
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
Total
A
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
34
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
Total
Bobot
1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
1
1
1
2
2
2
2
1
2
1
3
3
3
3
3
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
3
3
3
3
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
2
1
1
1
1
2
1
2
2
2
1
1
1
2
2
1
1
14
19
22
28
26
26
26
26
20
28
18
29
30
312
0.0449
0.0609
0.0705
0.0897
0.0833
0.0833
0.0833
0.0833
0.0641
0.0897
0.0577
0.0930
0.0962
1.0000
3
3
2
2
2
3
2
3
2
3
3
29
3
2
2
3
3
3
3
1
2
2
26
2
2
2
2
1
3
1
2
2
20
2
2
2
1
3
1
2
2
22
2
2
1
2
1
2
3
22
2
1
2
2
2
3
22
1
2
2
3
3
22
2
2
3
2
28
2
3
2
20
3
3
30
3
19
18
Lampiran 10. Pembobotan Faktor Strategis Eksternal (Responden 2)
Faktor
Strategis
Eksternal
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
Total
A
3
1
3
1
1
3
1
1
3
1
1
2
3
1
25
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
1
3
3
1
3
2
3
3
2
2
3
1
1
1
1
1
1
2
1
2
1
3
2
3
2
3
3
2
3
1
2
2
3
3
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
3
3
3
2
3
3
3
2
3
2
3
3
2
2
2
3
3
1
3
3
3
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
3
3
3
1
3
3
3
3
3
1
1
1
3
3
2
3
3
1
1
2
3
3
28
2
2
3
2
1
2
3
1
2
2
3
3
32
2
3
3
2
2
3
2
2
2
2
3
32
3
2
1
1
3
1
2
3
1
3
30
3
1
1
3
1
1
3
1
3
24
2
3
3
1
1
3
1
3
25
3
2
2
3
3
3
2
36
3
1
1
3
1
3
28
2
1
3
1
3
20
1
3
1
2
34
3
1
3
35
1
3
20
3
33
3
1
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1
1
1
18
Total
Bobot
31
28
24
24
26
32
31
20
28
36
22
21
36
23
38
420
0.0738
0.0667
0.0571
0.0571
0.0620
0.0762
0.0738
0.0476
O.O667
0.0857
0.0524
0.0500
0.0857
0.0548
0.0905
1.000
224
Lampiran 11. Pemberian Rating untuk Faktor Internal (Responden 2)
Faktor Internal Strategis
4
Rating
3 2 1
Kekuatan
A. Keuletan dan latar belakang pemilik dalam perikanan laut cukup
baik
B. Pelayanan yang baik di mana pelanggan adalah raja
C. Kesegaran seafood menjadi ciri utama perusahaan
D. Memiliki visi meningkatkan kecerdasan anak-anak Indonesia serta
mengurangi penganguran
E. Pembagian tugas dan tanggung jawab yang adil oleh perusahaan
F. Menyediakan jenis-jenis seafood yang variatif
G. Harga yang kompetitif
H. Tidak pernah menambahkan zat aditif terhadap seafood
√
√
√
√
√
√
√
√
Kelemahan
√
A. Kualitas SDM yang masih lemah (terutama untuk karyawan divisi
delivery)
B. Kurangnya hubungan komunikasi atau interaksi antara atasan
dengan bawahan
C. Luas lahan dan bangunan yang masih terbatas
D. Belum pernah melakukan promosi secara khusus
E. Belum melakukan riset pasar
√
√
√
√
Lampiran 12. Pemberian Rating untuk Faktor Eksternal (Responden 2)
Faktor Eksternal Strategis
Rating
4 3 2 1
Peluang
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Memiliki pelanggan yang loyal (supermarket dan catering)
Sulitnya bagi pendatang baru untuk masuk
Pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya
Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap ikan laut
Posisi Bogor yang strategis
Kepercayaan pihak bank kepada perusahaan dalam pengembalian
pinjaman
G. Adanya program Gemarikan yang dilakukan pemerintah Indonesia
√
√
√
√
√
√
√
H. Adanya teknologi coldstored (container es untuk menyimpan
es berbulan-bulan)
Ancaman
A. Kebijakan Superindo pusat dalam memilih pemasok
B. Jam kerja kantor dari pelanggan supermarket/swalayan yang dibuka
serentak sehingga menjadi kendala bagi perusahaan
C. Kesalahan order oleh pelanggan
D. Tingkat persaingan yang tinggi dalam merebut pelanggan
E. Kondisi banjir Jakarta
F. Kelangkaan ikan pada musim-musim tertentu
G. Kenaikan harga BBM
√
√
√
√
√
√
√
225
Lampiran 13. Perkalian Bobot dan Rating untuk Faktor Internal
(Responden 2)
Faktor-faktor Internal
Bobot
Rating
Bobot x Rating
Kekuatan
A. Keuletan dan latar belakang pemilik
dalam perikanan laut cukup baik
B. Pelayanan yang baik di mana pelanggan
adalah raja
C. Kesegaran seafood menjadi ciri utama
perusahaan
D. Memiliki visi meningkatkan kecerdasan
anak-anak Indonesia serta mengurangi
penganguran
E. Pembagian tugas dan tanggung jawab
yang adil oleh perusahaan
F. Menyediakan jenis-jenis seafood yang
variatif
G. Harga yang kompetitif
H. Tidak pernah menambahkan zat aditif
terhadap seafood
0.0449
4
0.1796
0.0609
4
0.2436
0.0705
4
0.2820
0.0897
3
0.2691
0.0833
3
0.2499
0.0833
4
0.3332
0.0833
4
0.3332
0.0833
4
0.3332
0.0641
2
0.1282
0.0897
2
0.1794
0.0577
1
0.0577
0.093
0.0962
2
1
0.1860
0.0962
Kelemahan
A. Kualitas SDM yang masih lemah
(terutama untuk karyawan divisi delivery)
B. Kurangnya hubungan komunikasi atau
interaksi antara atasan dengan bawahan
C. Luas lahan dan bangunan yang nasih
terbatas
D. Belum pernah melakukan promosi khusus
E. Belum melakukan riset pasar
226
Lampiran 14. Perkalian Bobot dan Rating untuk Faktor Eksternal
(Responden 2)
Faktor-faktor Eksternal
Bobot
Rating
Bobot x Rating
Peluang
A. Memiliki pelanggan yang loyal
(supermarket dan catering)
B. Sulitnya bagi pendatang baru untuk
masuk
C. Pertumbuhan penduduk yang meningkat
setiap tahunnya
D. Peningkatan konsumsi masyarakat
terhadap ikan laut
E. Posisi Bogor yang strategis
F. Kepercayaan pihak bank kepada
perusahaan dalam pengembalian
pinjaman
G. Adanya program Gemarikan yang
dilakukan pemerintah Indonesia
H. Adanya
teknologi
coldstored
(container es untuk menyimpan es
berbulan-bulan)
0.0738
3
0.2214
0.0667
4
0.2668
0.0571
3
0.1713
0.0571
3
0.1713
0.0620
3
0.186
0.0762
4
0.3048
0.0738
3
0.2214
0.0476
2
0.0952
0.0667
4
0.2668
0.0857
4
0.3428
0.0524
4
0.2096
0.0500
4
0.2
0.0857
2
0.1714
0.0548
3
0.1644
0.0905
3
0.2715
Ancaman
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.
Kebijakan Superindo pusat dalam
memilih pemasok
Jam kerja kantor dari pelanggan
supermarket/swalayan yang dibuka
serentak sehingga menjadi kendala bagi
perusahaan
Kesalahan order oleh pelanggan
Tingkat persaingan yang tinggi dalam
merebut pelanggan
Kondisi banjir Jakarta
Kelangkaan ikan pada musim-musim
tertentu
Kenaikan harga BBM
227
Lampiran 15. Rata-Rata Nilai Bobot dan Rating Faktor Strategis Internal
(Gabungan Responden 1 Responden 2)
Faktor-faktor Internal
Bobot x Rating
Responden I
Bobot x Rating
Respomden II
Rata-rata
Bobot x Rating
0.1539x 0.75
= 0.115425
0.1796x 0.25
= 0.0449
0.3332x 0.75
= 0.2499
0.2692x 0.75
= 0.2019
0.2436x 0.25
=0.0609
0.282x 0.25
= 0.0705
0.2499x 0.75
= 0.187425
0.2691x 0.25
=0.067275
0.2403x 0.75
= 0.180225
0.3332x 0.75
= 0.2499
0.346x 0.75
= 0.2595
0.3332x 0.75
= 0.2499
0.2499x 0.25
= 0.062475
0.3332x 0.25
= 0.0833
0.3332x 0.25
= 0.0833
0.3332x 0.25
= 0.0833
0.0897x 0.75
= 0.067275
0.1282x 0.25
= 0.03205
0.0993
0.0833x 0.75
= 0.062475
0.1794x 0.25
= 0.04485
0.1073
0.0962x 0.75
= 0.07215
0.0737x 0.75
= 0.055275
0.0865x 0.75
= 0.064875
0.0577x 0.25
= 0.014425
0.186x 0.25
= 0.0465
0.0962x 0.25
= 0.02405
Kekuatan
A. Keuletan dan latar belakang
pemilik dalam perikanan laut
cukup baik
B. Pelayanan yang baik di mana
pelanggan adalah raja
C. Kesegaran seafood menjadi ciri
utama perusahaan
D. Memiliki visi meningkatkan
kecerdasan anak-anak Indonesia
serta mengurangi penganguran
E. Pembagian tugas dan tanggung
jawab yang adil oleh perusahaan
F. Menyediakan jenis-jenis seafood
yang variatif
G. Harga yang kompetitif
H. Tidak pernah menambahkan zat
aditif terhadap seafood
0.160325
0.3108
0.2724
0.2547
0.2427
0.3332
0.3428
0.3332
Kelemahan
I.
Kualitas SDM yang masih lemah
(terutama untuk karyawan divisi
delivery)
J. Kurangnya hubungan
komunikasi atau interaksi antara
atasan dengan bawahan
K. Luas lahan dan bangunan masih
terbatas
L. Belum pernah melakukan
promosi secara khusus
M. Belum melakukan riset pasar
Total Skor Terboboti
0.0866
0.1018
0.0889
2.7340
228
Lampiran 16. Rata-Rata Nilai Bobot dan Rating Faktor Strategis Eksternal
(Gabungan Responden 1 Responden 2)
Faktor-faktor Eksternal
Bobot x Rating
Responden I
Bobot x Rating
Respomden II
Rata-rata
Bobot x Rating
0.2952x 0.75
= 0.2214
0.2286x 0.75
= 0.17145
0.2192x 0.75
= 0.1644
0.1142x 0.75
= 0.08565
0.1857x 0.75
= 0.139275
0.2430x 0.75
= 0.18225
0.2214x 0.25
= 0.05535
0.2668x 0.25
= 0.0667
0.1713x 0.25
= 0.042825
0.1713x 0.25
= 0.042825
0.186x 0.25
= 0.0465
0.3048x 0.25
= 0.0762
0.1666x 0.75
= 0.12495
0.2214x 0.25
= 0.05535
0.1803
0.081x 0.75
= 0.06075
0.0952x 0.25
= 0.0238
0.0846
0.2764x 0.75
= 0.2073
0.2668x 0.25
= 0.0672
0.2745
0.3716x 0.75
= 0.2787
0.3428x 0.25
= 0.0857
0.3644
0.15x 0.75
= 0.1125
0.2096x 0.75
= 0.1572
0.2643x 0.75
= 0.198225
0.1572x 0.75
= 0.1179
0.2680x 0.75
= 0.201
0.2096x 0.25
= 0.0524
0.2x 0.25
= 0.05
0.1714x 0.25
= 0.04285
0.1644x 0.25
= 0.0411
0.2715x 0.25
= 0.067875
Peluang
A. Memiliki pelanggan yang loyal
(supermarket dan catering)
B. Sulitnya bagi pendatang baru
untuk masuk
C. Pertumbuhan penduduk yang
meningkat setiap tahunnya
D. Peningkatan konsumsi
masyarakat terhadap ikan laut
E. Posisi Bogor yang strategis
F. Kekuatan tawar-menawar
pembeli relatif rendah
G. Adanya program Gemarikan
yang dilakukan pemerintah
Indonesia
H. Adanya teknologi coldstored
(container es untuk
menyimpan es berbulanbulan)
0.2768
0.2381
0.2072
0.1285
0.1858
0.2585
Ancaman
A. Kebijakan Superindo pusat
dalam memilih pemasok
B. Jam kerja kantor dari pelanggan
supermarket/swalayan yang
dibuka serentak sehingga
menjadi kendala bagi
perusahaan
C. Kesalahan order oleh pelanggan
D. Tingkat persaingan yang tinggi
dalam merebut pelanggan
E. Kondisi banjir Jakarta
F. Kelangkaan ikan pada musimmusim tertentu
G. Kenaikan harga BBM
Total Skor Terboboti
0.1649
0.2072
0.2411
0.1590
0.2689
3.2396
133
Lampiran 17. Matriks QSP Perusahaan Esther Seafood Responden 1
Bobot
Kekuatan
A. Latar belakang pemilik
dalam perikanan laut cukup
baik
Strategi 1
AS TAS
Strategi 2
AS TAS
0.0513
3
0.1539
3
0.1539
B. Pelayanan yang baik di
mana pelanggan adalah raja
0.0833
3
0.2499
2
0.1666
C. Kesegaran seafood menjadi
ciri utama perusahaan
0.0673
3
0.2019
4
0.2692
0.0833
4
0.3332
3
0.2499
0.0801
2
0.1602
3
0.2403
F. Menyediakan jenis-jenis
seafood yang variatif
0.0833
3
0.2499
2
0.1666
G. Keuletan pemilik dalam
memimpin perusahaan
0.0865
3
0.2595
4
0.346
0.0833
3
0.2499
2
0.1666
D.Memiliki visi meningkatkan
kecerdasan anak-anak
Indonesia serta mengurangi
penganguran
E. Pembagian tugas dan
tanggung jawab yang adil
oleh perusahaan
H.Tidak pernah menambahkan
zat aditif terhadap seafood
Strategi 3
AS TAS
2
0.1026
1
0.0833
3
0.2019
2
0.1666
3
0.2403
1
0.0833
2
0.173
3
0.2499
Strategi 4
AS TAS
Strategi 5
AS TAS
Strategi 6
AS TAS
Strategi 7
AS TAS
Strategi 8
AS TAS
Stategi 9
AS TAS
2
0.1026
2
0.1026
2
0.1026
2
0.1026
3
0.1539
2
0.1026
3
0.2499
3
0.2499
3
0.2499
3
0.2499
3
0.2499
3
0.2499
2
0.1346
4
0.2692
2
0.1346
2
0.1346
2
0.1346
4
0.2692
4
0.3332
4
0.3332
1
0.0833
4
0.3332
4
0.3332
2
0.1666
2
0.1602
4
0.3204
2
0.1602
3
0.2403
4
0.3204
3
0.2403
3
0.2499
2
0.1666
3
0.2499
4
0.3332
4
0.3332
1
0.0833
2
0.173
3
0.2595
2
0.173
2
0.173
1
0.0865
2
0.173
4
0.3332
2
0.1666
1
0.0833
3
0.2499
2
0.1666
3
0.2499
134
Bobot
Kelemahan
A. Kualitas SDM
yang masih
lemah (terutama
untuk karyawan
divisi delivery)
B. Kurangnya
hubungan
komunikasi
atau interaksi
antara atasan
dengan
bawahan
C. Luas lahan dan
bangunan yang
masih terbatas
D. Produk yang
tidak ahan lama
(fresh product)
E. Belum
melakukan riset
pasar
Strategi 1
AS TAS
Strategi 2
AS TAS
0.0897
2
0.1794
3
0.2691
0.0833
2
0.1666
3
0.2499
0.0481
3
0.1443
4
0.1924
0.0737
2
0.1474
3
0.2211
0.0865
1
0.0865
3
0.2595
Strategi 3
AS TAS
2
0.1794
1
0.0833
2
0.0962
3
0.2211
2
0.173
Strategi 4
AS TAS
Strategi 5
AS TAS
Strategi 6
AS TAS
Strategi 7
AS TAS
Strategi 8
AS TAS
Stategi 9
AS TAS
2
0.1794
2
0.1794
3
0.2691
2
0.1794
2
0.1794
4
0.3588
3
0.2499
4
0.3332
2
0.1666
1
0.0833
3
0.2499
1
0.0833
2
0.0962
4
0.1924
2
0.0962
1
0.0481
4
0.1924
2
0.0962
1
0.0737
2
0.1474
3
0.2211
3
0.2211
2
0.1474
3
0.2211
2
0.173
3
0.2595
4
0.346
3
0.2595
3
0.2595
2
0.173
135
Bobot
Peluang
A. Memiliki pelanggan yang
loyal (supermarket dan
catering)
B. Sulitnya bagi pendatang
baru untuk masuk
Strategi 1
AS TAS
Strategi 2
AS TAS
Strategi 3
AS TAS
Strategi 4
AS TAS
Strategi 5
AS TAS
Strategi 6
AS TAS
Strategi 7
AS TAS
Strategi 8
AS TAS
Stategi 9
AS TAS
0.0769
1 0.0769
2
0.1538
4
0.3076
2
0.1538
2
0.1538
2
0.1538
4
0.3076
3
0.2307
1
0.0769
0.0797
2 0.1594
3
0.2391
2
0.1594
2
0.1594
3
0.2391
3
0.2391
2
0.1594
2
0.1594
2
0.1594
0.055
3
0.165
4
0.22
3
0.165
1
0.055
2
0.11
3
0.165
3
0.165
4
0.22
3
0.165
0.0577
2 0.1154
2
0.1154
2
0.1154
1
0.0577
2
0.1154
1
0.0577
2
0.1154
2
0.1154
2
0.1154
0.0659
4 0.2636
3
0.1977
1
0.0659
2
0.1318
2
0.1318
1
0.0659
2
0.1318
3
0.1977
1
0.0659
F. Kekuatan tawar-menawar
pembeli relatif rendah
0.0852
3 0.2556
2
0.1704
4
0.3408
2
0.1704
3
0.2556
2
0.1704
4
0.3408
3
0.2556
2
0.1704
G. Adanya program Gemarikan
yang dilakukan pemerintah
Indonesia
0.0879
2 0.1758
2
0.1758
4
0.3516
3
0.2637
3
0.2637
3
0.2637
4
0.3516
2
0.1758
2
0.1758
0.0405
2 0.1794
3
0.2691
3
0.2691
4
0.3588
2
0.1794
2
0.1794
2
0.1794
3
0.2691
1
0.0405
C. Pertumbuhan penduduk
yang meningkat setiap
tahunnya
D. Peningkatan konsumsi
masyarakat terhadap ikan
laut
E. Posisi Bogor yang strategis
H. Adanya teknologi
coldstored (container es
untuk menyimpan es
berbulan-bulan)
136
Bobot
Ancaman
A. Kebijakan Superindo pusat
dalam memilih pemasok
B. Jam kerja kantor dari
pelanggan
supermarket/swalayan
yang dibuka serentak
sehingga menjadi kendala
bagi perusahaan
C. Kesalahan order oleh
pelanggan
D. Tingkat persaingan yang
tinggi dalam merebut
pelanggan
Strategi 1
AS TAS
Strategi 2
AS TAS
Strategi 3
AS TAS
Strategi 4
AS TAS
Strategi 5
AS TAS
Strategi 6
AS TAS
Strategi 7
AS TAS
Strategi 8
AS TAS
Stategi 9
AS TAS
0.0451
3
0.135
4
0.18
2
0.09
3
0.135
2
0.0902
3
0.1353
4
0.1804
3
0.135
2
0.09
3
0.212
3
0.212
2
0.142
2
0.142
2
0.1416
3
0.2124
4
0.2832
2
0.142
2
0.142
2
0.105
2
0.105
1
0.157
2
0.105
3
0.1572
3
0.1572
3
0.1572
3
0.157
3
0.157
2
0.162
3
0.243
2
0.162
3
0.243
4
0.3236
3
0.2427
3
0.2427
2
0.162
2
0.162
3
0.141
1
0.047
1
0.0469
3
0.141
4
0.1876
2
0.0938
3
0.1407
4
0.188
4
0.188
4
0.158
3
0.119
2
0.158
3
0.119
2
0.079
4
0.158
2
0.079
4
0.158
4
0.158
1
0.076
2
0.153
1
0.076
3
0.229
3
0.2289
4
0.3052
1
0.0763
1
0.076
1
0.076
0.0708
0.0524
0.0809
E. Kondisi banjir Jakarta
0.0469
F. Kelangkaan ikan pada
musim-musim tertentu
0.0395
G. Kenaikan harga BBM
0.0763
TOTAL
4.783
5.2823
3.8553
4.6146
5.4574
4.756
5.3392
5.1795
4.9459
137
Lampiran 18. Matriks QSP Perusahaan Esther Seafood Responden 2
Bobot
Kekuatan
A. Keuletan dan latar belakang
pemilik dalam perikanan
laut cukup baik
B. Pelayanan yang baik di
mana pelanggan adalah raja
C. Kesegaran seafood menjadi
ciri utama perusahaan
D. Memiliki visi meningkatkan
kecerdasan anak-anak
Indonesia serta mengurangi
penganguran
E. Pembagian tugas dan
tanggung jawab yang adil
oleh perusahaan
F. Menyediakan jenis-jenis
seafood yang variatif
G. Harga yang komptitif
H. Tidak pernah menambahkan
zat aditif terhadap seafood
Strategi 1
AS TAS
Strategi 2
Strategi 3
Strategi 4
Strategi 5
AS
AS TAS
AS TAS
AS TAS
TAS
Strategi 6
AS
TAS
Strategi 7
AS
TAS
Strategi 8
Strategi 9
AS TAS
AS
TAS
0.0449
2
0.0898
3
0.1347
3
0.1347
3
0.1347
4
0.1796
3
0.1347
3
0.1347
2
0.0898
3
0.1347
0.0609
4
0.2436
4
0.2436
2
0.1218
2
0.1218
4
0.2436
4
0.2436
2
0.1218
4
0.2436
2
0.1218
0.0705
3
0.2115
2
0.141
1
0.0705
3
0.2115
3
0.2115
3
0.2115
3
0.2115
2
0.141
3
0.2115
0.0897
2
0.1794
3
0.2691
3
0.2691
4
0.3588
2
0.1794
2
0.1794
2
0.1794
3
0.2691
3
0.2691
0.0833
2
0.1666
2
0.1666
2
0.1666
3
0.2499
2
0.1666
3
0.2499
4
0.3332
2
0.1666
3
0.2499
0.0833
3
0.2499
2
0.1666
2
0.1666
2
0.1666
1
0.0833
4
0.3332
4
0.3332
3
0.2499
4
0.3332
0.0833
2
0.1666
3
0.2499
1
0.0833
2
0.1666
2
0.1666
3
0.2499
4
0.3332
2
0.1666
4
0.3332
0.0833
4
0.3332
1
0.0833
1
0.0833
1
0.0833
2
0.1666
2
0.1666
3
0.2499
3
0.2499
4
0.3332
138
Bobot
AS TAS
Kelemahan
A. Kualitas SDM yang masih lemah
(terutama untuk karyawan divisi
delivery)
B. Kurangnya hubungan komunikasi
atau interaksi antara atasan
dengan b4awahan
C. Jumlah armada (mobil) yang
masih belum lengkap untuk
kelancaran delivery
D. Produk yang tidak tahan lama
(fresh product)
Strategi 1
Strategi 2
Strategi 3
Strategi 4
Strategi 5
AS
AS TAS
AS TAS
AS TAS
TAS
Strategi 6
AS
TAS
Strategi
7
AS TAS
Strategi 8
Strategi 9
AS TAS
AS
TAS
0.0641
1
0.0641
3
0.1923
2
0.1282
3
0.1923
3
0.1923
4
0.2564
4
0.2564
2
0.1282
2
0.1282
0.0897
3
0.2691
2
0.1794
2
0.1794
4
0.3588
3
0.2691
3
0.2691
4
0.3588
2
0.1794
2
0.1794
0.0577
2
0.1154
2
0.1154
1
0.0577
4
0.2308
3
0.1731
2
0.1154
2
0.1154
3
0.1731
1
0.0577
0.093
3
0.279
3
0.279
2
0.186
3
0.279
2
0.186
4
0.372
2
0.186
3
0.279
3
0.279
0.0962
4
0.3848
4
0.3848
1
0.0962
3
0.2886
2
0.1924
2
0.1924
1
0.0962
2
0.1924
4
0.3848
E. Belum melakukan riset pasar
139
Bobot
Strategi 1
AS TAS
Peluang
Strategi 2
Strategi 3
Strategi 4
Strategi 5
AS
AS TAS
AS TAS
AS TAS
TAS
Strategi 6
AS
TAS
Strategi
7
AS TAS
Strategi 8
Strategi 9
AS TAS
AS
TAS
A. Memiliki pelanggan yang loyal
(supermarket dan catering)
0.0769
3
0.2307
3
0.2307
2
0.1538
2
0.1538
2
0.1538
2
0.1538
2
0.1538
4
0.3076
2
0.1538
B. Sulitnya bagi pendatang baru
untuk masuk
0.0714
2
0.1428
2
0.1428
2
0.1428
2
0.1428
3
0.2142
3
0.2142
3
0.2142
3
0.2142
2
0.1428
C. Pertumbuhan penduduk yang
meningkat setiap tahunnya
0.0577
2
0.1154
1
0.0577
2
0.1154
3
0.1731
1
0.0577
3
0.1731
4
0.2308
4
0.2308
2
0.1154
0.0604
3
0.1812
2
0.1208
3
0.1812
3
0.1812
2
0.1208
4
0.2416
3
0.1812
3
0.1812
3
0.1812
0.0632
3
0.1896
2
0.1264
2
0.1264
3
0.1896
2
0.1264
3
0.1896
2
0.1264
3
0.1896
3
0.1896
0.0797
4
0.3188
1
0.0797
2
0.1594
4
0.3188
3
0.2391
4
0.3188
3
0.2391
2
0.1594
4
0.3188
0.0797
3
0.2391
2
0.1594
2
0.1594
4
0.3188
3
0.2391
3
0.2391
3
0.2391
2
0.1594
2
0.1594
0.0476
2
0.1794
3
0.2691
3
0.1428
4
0.3588
2
0.1794
2
0.1794
2
0.1794
3
0.2691
3
0.2691
D. Peningkatan konsumsi
masyarakat terhadap ikan laut
E. Posisi Bogor yang strategis
F. Kekuatan tawar-menawar
pembeli relatif rendah
G. Adanya program Gemarikan
yang dilakukan pemerintah
Indonesia
H. Adanya teknologi coldstored
(container es untuk
menyimpan es berbulanbulan)
140
Bobot
AS TAS
Ancaman
A. Kebijakan Superindo pusat
dalam memilih pemasok
B. Jam kerja kantor dari
pelanggan
supermarket/swalayan yang
dibuka serentak sehingga
menjadi endala agi
perusahaan
C. Kesalahan order oleh
pelanggan
D. Tingkat persaingan yang
tinggi dalam merebut
pelanggan
Strategi 1
0.0687
3
0.0934
2
0.055
0.2061
Strategi 2
Strategi 3
Strategi 4
Strategi 5
AS
AS TAS
AS TAS
AS TAS
TAS
Strategi 6
AS
TAS
Strategi
7
AS TAS
Strategi 8
AS TAS
Strategi 9
AS
TAS
3
0.2061
2
0.1374
2
0.1374
4
0.2748
2
0.1374
3
0.2061
2
0.1374
2
0.1374
0.1868
3
0.2802
3
0.2802
1
0.0934
2
0.1868
3
0.2802
4
0.3736
2
0.1868
3
0.2802
1
0.055
2
0.11
1
0.055
2
0.11
4
0.22
2
0.11
2
0.11
1
0.055
3
0.165
0.0495
2
0.099
1
0.0495
2
0.099
3
0.1485
3
0.1485
3
0.1485
3
0.1485
3
0.1485
4
0.198
0.0907
3
0.2721
2
0.1814
2
0.1814
3
0.2721
2
0.1814
2
0.1814
3
0.2721
3
0.2721
4
0.3628
0.055
3
0.165
1
0.055
3
0.165
2
0.11
3
0.165
3
0.165
4
0.22
3
0.165
3
0.165
0.0989
2
0.1978
2
0.1978
1
0.0989
3
0.2967
2
0.1978
4
0.3956
2
0.1978
4
0.3956
3
0.2967
E. Kondisi banjir Jakarta
F. Kelangkaan ikan pada
musim-musim tertentu
G. Kenaikan harga BBM
TOTAL
5.4761
4.6032
3.9415
5.4889
4.9355
5.9224
5.6987
5.3312
5.8818
141
Lampiran 19.Matriks QSP Gabungan Responden 1 dan Responden 2
Responden
Responden 1
Responden 2
Rataan
TAS 1
5.3392
5.4761
5.3734
TAS 2
5.2823
4.6032
5.1125
TAS 3
3.8553
3.9415
3.8984
TAS 4
4.6146
5.4889
4.8332
TAS 5
5.4574
4.9355
5.3269
TAS 6
4.756
5.9224
5.0476
TAS 7
4.783
5.6987
5.0119
TAS 8
5.1795
5.3312
5.2174
TAS 9
4.9459
5.8818
5.1799
142
Lampiran 20. Denah Perusahaan Esther Seafood
Gudang
Rumah
± 15 m
Garasi 1 Mobil
Garasi 2 Mobil Pribadi
Parkir 3 Mobil
Jalan
± 15 m
Download