Membangun Kelembagaan Penataan Ruang

advertisement
edisi II tahun 2013
Membangun Kelembagaan Penataan Ruang:
Upaya Pengembangan Kelembagaan Penataan Ruang yang Telah dan
Akan Dilakukan
BKPRN dan BKPRD: Sudah Sinergikah?
Ir. Muh. Marwan, M.Si
Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri
Menjelang 25 Tahun BKPRN (1989-2013): Konstribusi dan Tantangan
Prof. Dr. Herman Haeruman, Dr. Herry Darwanto, Dr. Abdul Kamarzuki
Pengendalian Pemanfaatan Ruang:
Mencari Kelembagaan Pengendalian Pemanfaatan Ruang yang Efektif
Dr. Ir. Basoeki Hadimoeljono, M.Sc
Direktur Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum
Tantangan Koordinasi Penataan Ruang ke Depan: Berharap pada
Peningkatan Kiprah BKPRN
Dr. Ir. Max H. Pohan, CES
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Kementerian PPN/Bappenas, 2007-2013
buletin tata ruang & pertanahan
5
dari redaksi
Harmonisasi peraturan yang disusun oleh berbagai lembaga
pengguna ruang telah selesai dikupas dalam Buletin Tata Ruang &
Pertanahan Edisi I/2013. Berbagai langkah maju telah dilaksanakan
oleh Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN), salah
satunya dengan menginisiasi berbagai pertemuan koordinasi
antarsektor yang kegiatan maupun aturannya saling terkait. Sampai
dengan saat ini BKPRN sebagai badan yang awalnya dibentuk untuk
menyelesaikan berbagai konflik antarsektor masih berjalan cukup
baik dalam mengkoordinasikan berbagai kepentingan sektoral dan
daerah.
Tidak terasa, sudah hampir 25 tahun BKPRN berkiprah di Indonesia.
Awalnya dibentuk pada Tahun 1989 dengan nama Tim Tata Ruang,
Tim ini kemudian bertransformasi menjadi BKTRN dan kemudian
BKPRN. Sampai dengan saat ini, peran dan tujuan pembentukan
Tim Tata Ruang tetap konsisten. Koordinasi dan resolusi konflik
masih menjadi area utama Tim Tata Ruang di masa lalu dan BKPRN
di masa kini. Namun, bagaimana dengan efektivitasnya? Meningkat
ataukah justru berkurang?
lainnya yang diangkat dalam edisi kali ini adalah Pengendalian
Pemanfaatan Ruang yang menjadi langkah strategis berikutnya
setelah penyusunan rencana tata ruang berhasil ditetapkan. Materi
ini diulas secara komprehensif oleh Dr. Basoeki Hadimoeljono
(Dirjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum).
Seperti halnya pada edisi-edisi sebelumnya, keseimbangan
isi antara Bidang Tata Ruang dan Bidang Pertanahan selalu
dipertahankan. Untuk edisi kali ini, Rubrik Ringkas Buku, Koordinasi
dan Kajian akan diisi oleh Bidang Pertanahan dengan materi Bank
Tanah, Kegiatan Reforma Agraria Nasional, dan Arah Kebijakan
Pengelolaan Pertanahan Nasional 2015-2019. Tidak lupa berbagai
kegiatan penting yang telah dilakukan sejak pertengahan Tahun
2013 sampai dengan akhir Tahun 2013 tetap kami hadirkan,
termasuk juga perkenalan perdana dari Direktur Tata Ruang dan
Pertanahan yang baru. Selamat datang Pak Oswar ke dalam
Keluarga Besar Tata Ruang dan Pertanahan.
Selamat membaca kepada seluruh penerima Buletin ini, saran
untuk perbaikan tetap kami tunggu! [ma].
Selain BKPRN yang berkiprah di Pemerintah Pusat yang
mengkoordinasikan berbagai kementerian dan lembaga, pemerintah
daerah dituntut pula membentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang
Daerah (BKPRD) untuk menjalankan fungsi yang sama di daerah.
Bedanya adalah, BKPRD bertugas mengkoordinasikan Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) untuk menyelesaikan masalah koordinasi
lokal dan juga konflik antarsektor yang menjadi urusan pemerintah
daerah. Baik BKPRN maupun BKPRD adalah badan pemerintah
yang bersifat ad-hoc yang dibentuk berdasarkan keputusan
pimpinan tertinggi pemerintahan. Bentuk yang bersifat ad-hoc serta
jalur komunikasi yang tidak formal dan hirarkis antara BKPRN dan
BKPRD dapat menjadi kekuatan maupun juga kekurangan kedua
lembaga koordinasi ini. Bagaimana tanggapan para pelaku di masa
lalu dan saat ini tentang kondisi tersebut?
Menyambut 25 tahun BKPRN, Buletin Tata Ruang & Pertanahan
mengangkat tema Kelembagaan Penataan Ruang: Upaya
Pengembangan yang Telah dan Perlu Dilakukan. Fokus diskusi
utama adalah koordinasi penataan ruang di Indonesia sejak
Tahun 1989 sampai dengan Tahun 2013 dengan narasumber
Prof. Dr. Herman Haeruman, Dr. Ir. Herry Darwanto dan Dr. Ir.
Abdul Kamarzuki. Diskusi diantara ketiga narasumber tersebut
menarik untuk disimak karena mewakili tiga periode yang berbeda
dalam koordinasi penataan ruang nasional. Selanjutnya, untuk
mewakili perdebatan hangat pembagian peran BKPRN dan BKPRD,
wawancara kali ini menghadirkan Dr. Muh Marwan (Dirjen Bina
Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri) dengan
topik Sinergikah BKPRN dan BKPRD?. Selain itu, topik penting
susunan redaksi
pelindung Deputi Bidang Pengembangan
Regional dan Otonomi Daerah
penanggung jawab Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
pemimpin redaksi Mia Amalia
dewan redaksi Dwi Hariyawan S
Uke M. Hussein
Nana Apriyana
Rinella Tambunan
editor Khairul Rizal
6
buletin tata ruang & pertanahan
redaksi Hernydawati
Santi Yulianti
Aswicaksana
Agung Dorodjatoen
Raffli Noor
Gina Puspitasari
Indra Ade Saputra
Idham Khalik
desain & tata letak Dodi Rahadian
distribusi & administrasi Sylvia Krisnawati
Redha Sofiya
Cindie Ranotra
Riani Nurjanah
Octavia Rahma Mahdi
Chandrawulan Padmasari
Gita Nurrahmi
Hadian Idhar Yasaditama
Dea Chintantya
alamat redaksi
Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan, Kementerian PPN/
Bappenas
Jl. Taman Suropati No. 2
Gedung Madiun Lt. 3
Jakarta 10310
021 - 392 66 01
[email protected]
http://www.trp.or.id
edisi II tahun 2013
daftar isi
2
Membangun Kelembagaan Penataan Ruang: Upaya Pengembangan
Kelembagaan Penataan Ruang yang Telah dan Akan Dilakukan
BKPRN dan BKPRD: Sudah Sinergikah?
Ir. Muh. Marwan, M.Si
Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri
4
Menjelang 25 Tahun BKPRN (1989-2013): Kontribusi dan Tantangan
Prof. Dr. Herman Haeruman, Dr. Herry Darwanto, Dr. Abdul Kamarzuki
12
Pengendalian Pemanfaatan Ruang:
Mencari Kelembagaan Pengendalian Pemanfaatan Ruang yang Efektif
Dr. Ir. Basoeki Hadimoeljono, M.Sc.
Direktur Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum
14
Tantangan Koordinasi Penataan Ruang ke Depan: Berharap pada
Peningkatan Kiprah BKPRN
Dr. Ir. Max H. Pohan, CES
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Kementerian PPN/Bappenas, 2007-2013
25
Sosialisasi Peraturan Pemerintah
Permen PU No.1 Tahun 2013
Pelimpahan Kewenangan Pemberian Persetujuan Substansi dalam Penetapan Raperda tentang RTR Kab/Kota
Inpres No.8 Tahun 2013
Penyelesaian Penyusunan RTRWP & Kab/Kota
1
daftar isi
16
melihat dari dekat
18
dalam berita
20
ringkas buku
22
kajian
27
koordinasi trp
buletin tata ruang & pertanahan
1
wawancara
BKPRN dan BKPRD:
Sudah Sinergikah?
Ir. Muh. Marwan, M.Si
Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri
Saat ini, upaya penguatan kelembagaan penataan ruang, baik di nasional maupun di daerah terus dilakukan
untuk menjamin keberlanjutan implementasi produk-produk penataan ruang. Kelembagaan penataan ruang
yang kuat dipercaya untuk mendukung penyelenggaraan penataan ruang yang baik, dengan didukung
kuantitas dan kualitas aparat yang kompeten. Peningkatan kapasitas kelembagaan penataan ruang perlu
dilakukan secara terus menerus mengingat dinamika perubahan sosial, politik dan ekonomi dalam kehidupan
bernegara dan bermasyarakat yang sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan penyelenggaraan penataan
ruang.
Kelembagaan dalam penataan ruang menjadi elemen penting
dalam penyelenggaraan penataan ruang. Koordinasi menjadi kata
kunci penting untuk mengatasi berbagai kendala kelembagaan.
Sebagai Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Kementerian
Dalam Negeri, Dr. Muh. Marwan, M.Sc. menjelaskan kepada
Redaksi Buletin TRP bagaimana upaya sinergis Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional (BKPRN) dan Badan Koordinasi Penataan
Ruang Daerah (BKPRD) dalam penyelenggaraan penataan ruang,
termasuk tantangan dan kendala yang dihadapi. Berikut hasil
wawancara Redaksi:
Koordinasi antar lembaga menjadi sangat penting dalam
pelaksanaan pembangunan yang bersifat lintas sektor.
Sebenarnya, apa urgensi dibentuknya BKPRN dan BKPRD?
Penataan ruang merupakan kegiatan strategis dan bersifat
multidimensional, multifungsional dan multisektoral sehingga
dalam penyelenggaraannya harus ditangani secara terpadu oleh
berbagai instansi di pusat maupun di daerah yang memiliki tugas
dan fungsi koordinatif. Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah, Pemerintah telah mendesentralisasikan 26
urusan wajib yang salah satu diantaranya adalah Urusan Penataan
Ruang, dan delapan urusan pilihan kepada daerah. Sesuai UU No.
26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pemerintah berwenang
dalam penyelenggaraan penataan ruang nasional, pemerintah
provinsi berwenang dalam penyelenggaraan penataan ruang
provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota berwenang dalam
penyelenggaraan penataan ruang kabupaten/kota.
Dalam implementasi kebijakan penataan ruang, peran antar
BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG
PUSAT
Keputusan Presiden No. 4
Tahun 20009 tentang Badan
Koordinasi Penataan Ruang
Nasional.
BKPRN
DAERAH
Pemendagri Nomor 50
Tahun 2009 tentang Badan
Koordinasi Penataan Ruang
Daerah.
BKPRD
Implikasi dan Pemendagri tersebut adalah penetapan
Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD)
Provinsi dan Kabupaten/Kota di masing-masing daerah
Gambar 1 Dasar Pembentukan BKPRN dan BKPRD
2
buletin tata ruang & pertanahan
pemerintahan yang dilakukan secara bersama dengan prinsip
kongruen diperlukan untuk mewujudkan keterpaduan dan
keserasian penyelenggaraan penataan ruang nasional dan
daerah. Atas dasar tersebut, Pemerintah telah membentuk BKPRN
melalui Keppres No. 4/2009 tentang BKPRN. Di daerah dibentuk
BKPRD sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri
(Permendagri) No. 50/2009 tentang Pedoman Koordinasi Penataan
Ruang Daerah, seperti terlihat pada Gambar1.
Dengan dibentuknya BKPRD, Menteri Dalam Negeri bertugas
untuk melakukan pembinaan dan fasilitasi pelaksanaan penataan
ruang berkaitan dengan peningkatan kapasitas kelembagaan
penataan ruang dan penyelenggaraan penataan ruang di tingkat
provinsi maupun kabupaten/kota. BKPRD ini sangat penting, karena
mempunyai peran strategis untuk mengawal proses penyusunan
hingga penetapan Perda RTRW serta mengawal implementasi
pelaksanaan pemanfaatan dan pengendalian ruang pasca
penetapan Perda RTRW.
Perda RTRW adalah dokumen perencanaan yang menjadi acuan
kegiatan pembangunan di daerah bersangkutan yang harus ditaati
dan dilaksanakan oleh berbagai sektor secara konsisten. Setiap
pelanggaran akan dikenakan sanksi, baik sanksi administrasi
maupun sanksi pidana. BKPRN maupun BKPRD mempunyai tugas
dan peran yang sangat penting dalam mengawal dan memberikan
rekomendasi alternatif penyelesaian apabila ada permasalahan
pemanfaatan ruang yang timbul di lapangan, baik di tingkat
nasional maupun di tingkat daerah.
Dengan perannya yang cukup strategis, sejauh ini bagaimana
efektivitas kinerja BKPRN dan BKPRD?
Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian
Dalam Negeri (Kemendagri) sampai awal November 2013, seluruh
provinsi pada prinsipnya sudah membentuk BKPRD. Dari 33
provinsi, 30 provinsi sudah merevitalisasi BKPRD sesuai dengan
amanat Permendagri No. 50/2009, dan tiga provinsi yang belum
merevitalisasi BKPRD-nya yaitu Sulawesi Barat, NTT, dan Papua
Barat.
Walaupun sudah hampir seluruh provinsi membentuk BKPRD,
BKPRD belum berhasil mendorong penetapan Perda RTRW Provinsi
dan RTRW Kab/Kota tepat pada waktunya. Sampai awal Bulan
November 2013, dari 33 Provinsi di Indonesia, baru 18 Provinsi
yang telah menetapkan perdanya, dan dari 491 kabupaten/kota
di seluruh Indonesia, 322 kabupaten/kota yang telah menetapkan
perdanya. Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi yang telah
dilakukan oleh Ditjen Bina Pembangunan Daerah, keterlambatan
penyusunan dan penetapan Raperda RTRW Provinsi dan
Kabupaten/Kota disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Lamanya proses penetapan usulan perubahan peruntukan dan
fungsi kawasan hutan;
2. Masih terbatasnya sumberdaya manusia pemerintah daerah
yang kompeten dalam penyusunan RTRW Provinsi dan
Kabupaten/Kota;
3. Kurang optimalnya peran BKPRD dalam proses penyusunan
RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota; dan
4. Lamanya pembahasan dengan DPRD yang sering memakan
waktu cukup lama.
BKPRN dan BKPRD, keduanya merupakan badan ad-hoc yang
memiliki fungsi koordinasi, tapi dalam pelaksanaan fungsinya
BKPRN jauh lebih aktif dibandingkan BKPRD. Bagaimana
sebenarnya pola hubungan kelembagaan, baik secara
struktural maupun fungsional antara BKPRN dan BKPRD?
Dalam rangka menggali isu strategis di Bidang Penataan Ruang,
secara hirarkis dijaring melalui pendekatan bottom-up yaitu
dimulai dari forum pertemuan yang diselenggarakan oleh BKPRD
Kabupaten/Kota yang dilaporkan ke BKPRD Provinsi untuk
selanjutnya dibahas dalam forum Rakernas BKPRD.
Beberapa isu strategis yang telah diformulasikan dalam Rakernas
BKPRD kemudian dipertajam dalam Raker Regional yang dibagi
menjadi Raker Regional Barat dan Raker Regional Timur. Hasil
pelaksanaan Raker ini akan menjadi isu strategis yang harus dicari
solusi penyelesaiannya dalam Rakernas BKPRN untuk kemudian
menjadi agenda dan program kerja kementerian terkait BKPRN.
Tindak lanjut dari BKPRN akan menjadi embrio program dan
agenda kerja kegiatan dua tahun kedepan yang akan dilaksanakan
oleh pemerintah daerah baik oleh Pemerintah Provinsi dan/atau
Kabupaten/Kota. Mekanisme konsolidasi isu-isu strategis penataan
ruang dapat dilihat pada Gambar 2.
MEKANISME KONSOLIDASI ISU-ISU STRATEGIS
PENATAAN RUANG
BUPATI /
WALIKOTA
RekomendasiR
12
Agenda
BKPRN
Kab/Kota
GUBERNUR
Input/masukan
ekomendasi
4a
Raker
Regional
BKPRN
3
Agenda
BKPRN
Provinsi
Raker
BKPRN
Input/masukan
6
4b
Raker
Regional
BKPRN
Isu
Strategis
Tindak Lanjut
Kementerian/
Lembaga
Rakernas
BKPRN
Program
Kerja
5
Gambar 2 Mekanisme Konsolidasi Isu-Isu Strategis Penataan Ruang
Dalam perjalanannya, tantangan krusial yang masih dihadapi
BKPRN dan BKPRD, antara lain adalah kurang sinerginya langkah
kerja antar kementerian/lembaga anggota BKPRN dan SKPD
anggota BKPRD. Penyebab utamanya adalah belum ditetapkannya
mekanisme dan tata kerja internal BKPRN serta hubungan kerja
antara BKPRN dengan BKPRD, sehinggapenyelenggaraan penataan
ruang belum dapat terselenggara secara optimal.
Dalam hal penyelenggaraan penataan ruang daerah, hasil
pemantauan dan evaluasi yang dilakukan Ditjen Bina Pembangunan
Daerah menunjukkan bahwa kinerja BKPRD sebagai badan ad-hoc
yang berfungsi membantu pelaksanaan tugas Gubernur dan Bupati/
Walikota dalam koordinasi penataan ruang di daerah belum optimal.
Penyebab utama BKPRD belum optimal adalah:
1. Masih tumpang tindihnya peraturan perundangan dan fungsi
antar institusi;
2. Belum rincinya pedoman dan tata kerja organisasi,
3. Belum ada dukungan pendanaan yang signifikan,
4. Masih banyaknya pihak yang tidak memandang penting BKPRD;
5. Belum adanya mekanisme reward and punishment sehingga
daerah tidak terpacu untuk mengefektifkan peran BKPRD; dan
6. Masih rendahnya kapasitas sumberdaya manusia daerah
khususnya terkait dengan penguasaan materi Bidang Penataan
Ruang.
Bagaimana upaya perbaikan yang perlu dilakukan, khususnya
untuk meningkatkan kapasitas BKPRD?
Dalam konteks hubungan kerja antara BKPRN dan BKPRD, perlu
disusun mekanisme hubungan kerja antara BKPRN dan BKPRD
dalam upaya mensinergikan program kerja kedua lembaga
tersebut agar peran dan fungsinya optimal dalam melakukan
koordinasi penyelenggaraan penataan ruang nasional dan daerah
khususnya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan penataan
ruang lintas sektor, lintas daerah dan lintas wilayah.
Dalam penyelesaian konflik permasalahan pemanfaatan ruang yang
memerlukan rekomendasi dari BKPRD, diperlukan peningkatan
peran BKPRD agar BKPRD dapat melaksanakan tugasnya secara
lebih efektif. Upaya ini dilakukan agar setiap konflik pemanfaatan
ruang yang terjadi di daerah tidak harus dibawa sampai pada
tingkat BKPRN karena penyelesaian permasalahan pemanfaatan
ruang dilaksanakan sesuai dengan kewenangannya.
Dalam rangka mengoptimalkan peran BKPRD untuk percepatan
penyelesaian Perda RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota dan
penyelesaian permasalahan penyelenggaraan penataan ruang, telah
dilakukan langkah-langkah strategis sebagai upaya memantapkan
kelembagaan penataan ruang daerah. Beberapa diantaranya adalah
menyusun mekanisme dan tata kerja (SOP) BKPRD, pengembangan
data dan informasi, peningkatan kualitas aparatur pemerintah
daerah, dan pemberian reward and punishment di Bidang Penataan
Ruang. Saat ini, Kemdagri melalui Ditjen Bina Pembangunan Daerah
sedang menyusun Pedoman Tata Kerja BKPRD tersebut.
Selain itu, dilakukan upaya revitalisasi dan pembentukan
BKPRD sesuai amanat Permendagri No. 50/2009 serta
memberdayakan BKPRD yang diarahkan tidak hanya untuk
keperluan pemecahan berbagai Masalah Penataan Ruang tetapi
juga untuk pengembangan kelembagaan penataan ruang yang
lebih utuh di daerah, dan yang mempunyai agenda kerja yang baik.
Kelembagaan yang telah dibentuk, perlu didukung dengan upaya
peningkatan kapasitas sumberdaya manusia daerah khususnya di
Bidang Penataan Ruang, dan penyediaan sarana, prasarana, serta
data dan informasi penataan ruang secara komprehensif.
Hal krusial untuk menjamin efektivitas BKPRD adalah komitmen
Kepala Daerah untuk mengalokasikan anggaran APBD-nya
masing-masing untuk operasionalisasi pelaksanaan tugas BKPRD.
Dalam hal ini Sekretariat BKPRD mempunyai peran penting untuk
menyusun program kerja BKPRD dan kebutuhan anggarannya
untuk selanjutnya diintegrasikan dengan rencana pembangunan
daerah baik untuk rencana pembangunan jangka pendek (tahunan)
maupun rencana pembangunan jangka menengah.
buletin tata ruang & pertanahan
3
Menjelang 25 tahun BKPRN (1989-2013):
artikel
kontribusi dan tantangan
Prof. Dr. Herman Haeruman, pernah menjabat Deputi Bidang Regional dan Sumberdaya Alam, Kementerian PPN/
Bappenas
Dr. Herry Darwanto, pernah menjabat Staf Ahli Kepala Bappenas Bidang Penataan Ruang, Kementerian PPN/
Bappenas
Dr. Abdul Kamarzuki, Asisten Deputi Bidang Pengembangan Wilayah dan Daerah Tertinggal, Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian
Perjalanan BKPRN selama 25 tahun ini telah menemui berbagai tantangan dan kendala. Banyak permasalahan
yang berhasil ditangani, banyak pula pihak yang tidak dapat menerima penyelesaian masalah yang
direkomendasikan.
Untuk mendapatkan gambaran peran optimal BKPRN, kami melakukan wawancara dengan tiga tokoh
penting yang selama ini berperan aktif di BKPRN, baik di era sentralisasi, dalam peralihan dari sentralisasi
ke desentralisasi dan di masa otonomi daerah sudah berjalan. Ketiga tokoh tersebut adalah Prof Dr Herman
Haeruman (pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Regional dan Sumberdaya Alam, Bappenas/Sekretaris
BKTRN), Dr Ir Herry Darwanto, MSc (pernah menjabat sebagai Staf Ahli Kepala Bappenas Bidang Penataan
Ruang, Direktur Penataan Ruang, Pertanahan dan Lingkungan Hidup, Bappenas) dan Dr Ir Abdul Kamarzuki,
MPM (sekarang menjabat sebagai Asisten Deputi Bidang Pengembangan Wilayah dan Daerah Tertinggal,
Menko Perekonomian/Sekretaris Pokja 4 BKPRN).
Lembaga
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) merupakan
forum koordinasi penataan ruang yang dibentuk melalui Keputusan
Presiden No. 2/2009 sebagai pengembangan dari forum
sebelumnya yang bernama Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang
Nasional yang dikenal dengan sebutan Tim Tata Ruang pada
Tahun 19891 yang kemudian diubah menjadi Badan Koordinasi
Tata Ruang Nasional (BKTRN) pada Tahun 19932 yang kemudian
diubah keanggotaannya pada Tahun 20003. Komposisi keanggotaan
BKPRN ini bertahan sampai dengan Tahun 20094 (Abdul Kamarzuki
(AK)).
Tujuan utama Tim Tata Ruang, BKTRN dan BKPRN adalah untuk
melaksanakan pembangunan nasional secara terkoordinasi
dan menangani masalah pemanfaatan ruang bagi keperluan
pembangunan. Dampak akhir yang diharapkan adalah sinerginya
penggunaan ruang oleh berbagai sektor (Herry Darwanto (HD)).
Pada saat yang sama, di pusat, BKTRN berfungsi untuk koordinasi
lintas sektor dalam penggunaan ruang, di daerah, BKPRD
melaksanakan fungsi yang sama untuk mengkoordinasikan
pemanfaatan ruang lintas SKPD (Herman Haeruman (HH)).
Anggota
Tim Tata Ruang,yang ditetapkan pada Tahun 1989, beranggotakan
Menteri PPN/Ketua Bappenas, Menteri/Sekretaris Negara, Menteri
Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, dan Menteri Dalam
Negeri/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Seluruh anggota Tim
Tata Ruang memiliki akses untuk merencanakan penggunaan
ruang, namun tidak secara langsung menggunakan ruang. Resolusi
konflik diantara pengguna ruang dapat dilakukan dengan mudah
karena independensi Tim Tata Ruang ini sehingga penyelesaiannya
adil dan tidak memihak. Pada saat itu pembangunan wilayah
dilaksanakan antarsektor berdasarkan fungsi ruang (HH).
Pada Tahun 1993, keanggotaan Tim Tata Ruang ditambah oleh
Menteri Pertahanan dan Menteri Pekerjaan Umum. Namanya diubah
1 Keppres 57/1989 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional.
2 Keppres 75/1993 tentang Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional.
3 Keppres 62/2000 tentang Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
4 Keppres 4/2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional.
5 Keppres 4/2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
4
buletin tata ruang & pertanahan
menjadi Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN). Pada
masa 1993-1997, penataan ruang dimulai dengan pembangunan
infrastruktur sampai dengan selesainya PP No. 47/1997 tentang
RTRWN. Setelah itu, penataan ruang kembali menjadi acuan utama
pengembangan wilayah (HH).
Pada Tahun 2000, BKTRN dipimpin oleh Menteri Koordinator
Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri. Anggota BKTRN pada
saat itu adalah Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah,
Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Pertanian,
Menteri Negara Pekerjaan Umum, Menteri Negara Lingkungan
Hidup, Menteri Negara Otonomi Daerah, Kepala Badan Pertanahan
Nasional dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
selaku Sekretaris BKTRN. Pada masa tersebut penataan ruang dan
pembangunan infrastruktur kembali bergabung pelaksanaannya
di Kementerian Permukiman dan Pengembangan Wilayah.
Namun demikian perizinan dan pembangunan di lapangan harus
dikoordinasikan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) karena
hanya BPN yang memiliki hubungan langsung dengan pelaksana
kegiatan. Pada saat itu, dana yang cukup besar untuk penataan
ruang dialokasikan ke BPN untuk penyusunan peta dasar, kemudian
pada Bakosurtanal (saat ini BIG) berperan dalam pembuatan
informasi spasial (peta). Kedua badan ini, BPN dan Bakosurtanal,
yang menjadi motor informasi dalam penyelenggaraan tata ruang
(HH).
Pada Tahun 2007, UU No. 26/2007 ditetapkan untuk mengganti
UU No. 24/1992. Seiring dengan perubahan UUPR, BKTRN berubah
menjadi BKPRN5 dan menambah anggotanya dengan menteri
pengguna ruang: Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral, Menteri
Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Kehutanan, Menteri
Perhubungan, Menteri Kelautan dan Perikanan (AK).
Peran
Peran penting yang dilaksanakan oleh BKPRN adalah menetapkan
strategi nasional pengembangan pola tata ruang secara terpadu
dengan pendekatan kewilayahan. Selain itu, BKPRN berperan
penting untuk untuk koordinasi perumusan kebijakan dan
pelaksanaan strategi nasional pengembangan pola ruang serta
untuk melaksanakan UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang
(HD).
Di awal pembentukannya, Tim Tata Ruang berperan penting untuk
membatasi penggunaan kawasan lindung. Kawasan lindung adalah
kawasan yang memiliki fungsi perlindungan daerah diluarnya, seperti hulu sungai, sempadan sungai, sempadan danau dan pantai.
Kawasan ini tidak harus dijadikan milik negara, tapi dibutuhkan
etika membangun. Kawasan lindung yang di dalamnya terdapat
kampung adat seharusnya memiliki perlindungan terhadap lereng
gunung. Masyarakat yang hidup di dalamnya menjadi bagian
penting pengelolaan kawasan lindung. Kebijakan tersebut dipegang
teguh oleh pemerintah pusat dan diacu oleh pemerintah daerah
(HH). Perubahan fungsi kawasan lindung menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
Pendekatan yang berbeda dilakukan untuk pengembangan kawasan
budidaya. Kawasan budidaya adalah kawasan yang menguntungkan
banyak orang secara ekonomi. Namun demikian, pengguaan dan
manfaat langsungnya ‘tidak boleh dipertandingkan dengan kawasan
lindung’. Target penting yang harus dihasilkan dari kawasan ini
adalah output regionalnya. Perubahan fungsi kawasan budidaya
boleh dilakukan, tapi dilakukan pengawasan oleh daerah (HH).
BKTRN dulu begitu kuatnya, seperti contoh kasus di Sumatera
Barat. Gubernur mengajukan pembangunan jalan dari pantai
menuju gunung menembus taman nasional dengan tujuan untuk
membuka akses bagi masyarakat pengunungan. Namun setelah
dikaji, biayanya terlalu besar, kemudian BKTRN dan daerah
berdiskusi, akhirnya diputuskan bahwa jika ingin tetap membangun,
jalan dibuat melingkar dan agar tidak terlihat jauh orang dibuat
berkeliling tempat-tempat yang berkembang disepanjang jalan
tersebut, bisa tempat makan, wisata, dan lainnya sehingga
memunculkan regional outputnya. Hal yang sama terjadi juga untuk
pembangunan Jalan Ladiagalaska yang direncanakan melintas TN
Leuser (HH).
Perbedaan signifikan atas peran BKPRN sangat terasa setelah
perubahan UUPR dari UU No. 24/1992 menjadi UU No. 26/2007.
Beberapa contoh diantaranya seperti menurunnya konsep
perlindungan kawasan lindung dan konsep dana kompensasi
kawasan lindung. Daerah dengan kawasan lindung mendapatkan
dana kompensasi sehingga tidak perlu mencari pendapatan dengan
mengkonversi kawasan hutannya. Seperti kasus di kabupaten
sebelah barat Aceh yang memiliki 60 persen lebih kawasan
lindung, artinya daerah mendapat dana kompensasi untuk perannya
memelihara kawasan hutan tersebut (HH).
Kinerja
Kesepakatan dalam forum BKTRN bermuara pada penetapan
peraturan perundangan. Dengan mengandalkan Tim Pelaksana,
BKPRN telah menyelesaikan PP dan Perpres yang diamanatkan
oleh UU No. 26/2007 kecuali RPP tentang Penataan Ruang
Kawasan Pertahanan dan Keamanan. Selain itu, BKPRN, melalui
Tim Pelaksana, telah mengkoordinasikan berbagai kementerian/
lembaga anggotanya, untuk mempercepat proses pembahasan
Perda RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota berikut mendorong
penetapannya oleh pemerintah daerah.
Kelembagaan
Sampai dengan saat ini, BKPRN adalah lembaga ad-hoc. Seluruh
rekomendasi dan persetujuan teknis yang dihasilkan BKPRN
bersifat saran ataupun arahan bagi pemangku kepentingan dalam
pemanfaatan ruang. Saran atau arahan tersebut akan memiliki
legitimasi jika telah diakomodir dalam bentuk produk hukum (PP,
Perpres, dan Perda) (AK).
Beberapa pendapat menyatakan bahwa, bentuk ad-hoc ini tidak
efektif untuk melaksanakan penataan ruang dan dibutuhkan
kementerian/lembaga khusus yang dapat mengkoordinasikan
seluruh proses penataan ruang yang dilakukan oleh berbagai sektor
dan pemerintahan pada saat yang sama. Pendapat ini menjadi
salah satu pemikiran yang mendorong forum BKPRN menjadi
lembaga yang lebih permanen. Kekurangan yang sangat menonjol
adalah lembaga permanen ini kemungkinan besar tidak dapat
menangani konflik pemanfaatan ruang apabila berdiri sebagai
bagian yang terpisah sama sekali dari kementerian atau lembaga
pengguna ruang lainnya, menjadi sektor tata ruang, menghilangkan
sifat koordinasi. Hal penting lain yang perlu diperhatikan adalah
upaya reformasi birokasi,yang sedang dijalankan saa ini, mengarah
pada perampingan dan efisiensi birokrasi, sehingga pembentukan
badan baru menjadi langkah yang tidak strategis (AK).
Tim Pelaksana BKPRN diketuai oleh Menteri Pekerjaan Umum.
Secara teknis, melalui Tim Pelaksana, forum BKTRN berfungsi untuk
memberikan pendapat (rekomendasi) yang merupakan kesepakatan
serta persetujuan teknis bagi dalam proses penyiapan produkproduk tata ruang baik dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP),
Peraturan Presiden (Perpres), maupun Peraturan Daerah (Perda
Kab/Kota) (AK). Rekomendasi dari forum BKPRN ini merupakan
acuan atau terjemahan lebih detail dari substansi Peraturan
Perundang-undangan yang ada agar dapat mendukung kebijakan
pemanfaatan ruang.
Sejak BKPRN memiliki Tim Pelaksana6, rapat koordinasi tingkat
menteri tidak sepenuhnya efektif digunakan untuk pengambilan
keputusan dan resolusi konflik antarsektor. Padahal, konflikkonflik utama muncul karena kewenangan beberapa kementerian
yang sangat tinggi untuk mengatur penggunaan ruang nasional.
Konflik tersebut hanya dapat diselesaikan melalui Sidang BKPRN,
mekanisme pengambilan keputusan tertinggi yang berada di tangan
para menteri.
Konsep
Konsep penataan ruang yang pertama kali disusun saat Tim
Tata Ruang dibentuk adalah, rencana tata ruang (RTR) secara
makro harus melalui persetujuan BKTRN dan sektoral/daerah
boleh mengajukan usulan, tapi perlu dilengkapi dengan kajian
khusus dampak lingkungannya. Setelah disetujui BKTRN, daerah
hanya melakukan pengawasan. Kewenangan BKTRN sangat kuat,
terlihat dari kemampuan BKTRN menghentikan pembangunan
yang dilakukan oleh pejabat daerah di berbagai kawasan penting.
Kewenangan ini diperkuat karena masa pemerintahan masih
bersifat sentral sehingga Bupati tunduk pada aturan. Kewenangan
ini menjadi penting karena memudahkan pemanfaatan ruang yang
sesuai dengan rencana tata ruang (HH). Peran Pemerintah yang
6 Keppres No 4 Tahun 2009 tentang BKPRN Pasal 6 menyebutkan bahwa: “(1) dalam rangka kelancaran pelaksanaan tugas Tim Pelaksana dapat dibentuk Kelompok Kerja
untuk menangani tugas-tugas yang bersifat khusus; (2) Pembentukan, tugas, susunan keanggotaan, dan tata kerja Kelompok Kerja diatur lebih lanjut oleh Ketua BKPRN.”
buletin tata ruang & pertanahan
5
kuat saat itu, Bupati wajib melaporkan segala bentuk perizinan ke
BKTRN sehingga BKTRN memiliki informasi aktual dari daerah.
Pada saat yang sama, koordinasi bukan masalah besar dalam
penyelenggaraan penataan ruang karena sejak awal, pengalokasian
fungsi ruang sudah tergambar dalam peta dengan menggunakan
Sistem Informasi Geospasial. Namun memang yang menjadi
kendala adalah skala peta yang digunakan masih terlalu kecil.
Untuk mengatasinya, Kementerian Kehutanan dibawah koordinasi
BKTRN memiliki badan planologi kehutanan (UPT) antar kabupaten.
Mereka melakukan koordinasi dengan BPN, BPN berperan
memetakan tata guna tanah. BPN dan kehutanan bekerja sama
ketika sebagian kawasan hutan akan diubah untuk mengakomodasi
pembangunan, hutan dilepas dan BPN mengambil alih proses tata
guna lahan.
Saat itu BKTRN fokus pada menjaga fungsi utama ruang: kawasan
lindung dan kawasan budidaya. Selain itu, secara desain, fokus
antara RTRWN, RTRWP dan RTRWK dibuat berbeda. RTRWN yang
bersifat makro bertujuan untuk mempertahankan fungsi kawasan
agar tidak berubah dalam jangka waktu 25 tahun. Sementara itu,
RTRWK yang bersifat lebih dinamis dengan skala peta yang lebih
besar berfungsi dalam proses pemberian izin penggunaan ruang.
Karena itu, jangka waktu RTRWK didesain lebih pendek, hanya 10
tahun untuk mengatasi dinamika penggunaan ruang di lapangan.
Logika yang sama digunakan dalam penyusunan RPJPN dan
RPJMN. RPJMN menjabarkan RPJPN namun juga harus dapat
mengatasi dinamika tahunan. Dengan menggunakan logika yang
sama, RTRWN pada saat itu berupa visi yang dijabarkan dalam
progam dan kegiatan di dalam RTRWK. Saat ini, perlu didorong
agar RTRW didesain untuk memberikan masukan kebijakan spasial
bagi rencana pembangunan yang bersifat deskriptif. Apabila
dipergunakan, maka RTRW dapat memberikan kepastian lokasi
berjangka panjang bagi para pelaku pembangunan. Kepastian ini
dapat menjamin pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Fungsi RTRW yang tetap harus dipertahankan adalah perlindungan
kepada fungsi ekosistem dan memberikan kesempatan kepada
pertumbuhan ekonomi regional dan nasional yang bersifat jangka
panjang serta melindungi tujuan pembangunan nasional dari
kepentingan jangka pendek sektoral dan daerah. RTRW harus dapat
cukup fleksibel memberi kesempatan pada perkembangan teknologi
modern untuk pemanfaatan fungsi ruang untuk mengakomodasi
pembangunan yang tidak terbatas.
Dalam konsep ini, daerah boleh melakukan perencanaan, tapi
hanya di kawasan budidaya, sedangkan kawasan lindung bersifat
given karena ada di RTRWN. Indonesia harus belajar dari Amerika,
dimana mereka memiliki daerah khusus yang dipertahankan
kawasan lindungnya yang juga memberikan pendapatan daerah
terbesar (HH). Setelah konsep ecoregion diperkenalkan untuk
menghubungan konsep penataan ruang dengan pelestarian fungsi
dan daya dukung lingkungan, Pemda dituntut lebih cakap untuk
mengenali karakter wilayahnya (ekologi & ekonomi). Setelah seluruh
isunya ditemukenali, Pemda menyusun interaksi antara kawasan
dan melakukan KLHS untuk rencana yang sedang disusun (HH).
Hubungan antara berbagai bidang ilmu harus benar-benar terjaga
dalam penataan ruang karena pada dasarnya penataan ruang
adalah bagian dari landscape architecture yang mengkombinasikan
tiga keilmuan, yakni lingkungan (ecogeografi), planologi, dan design
engineering, yang membentuk keterpaduan wilayah. Saat ini,
ketidakpaduan terletak pada masalah pemahaman dan ego sektoral
yang kuat sehingga aturan yang ditetapkan setelah era desentraliasi
6
buletin tata ruang & pertanahan
berbeda-beda. Tata ruang ini seharusnya berperan membangun
sektor-sektor yang lebih luas sehingga peningkatan perekonomian
wilayah dapat terwujud (HH).
Permasalahan
Cukup banyak permasalahan yang dihadapi BKPRN di masa
desentralisasi ini, masalah utama yang diangkat para narasumber
adalah: (1) kurangnya koordinasi yang berakibat pada perbedaan
persepsi antara pemangku kepentingan, banyaknya aturan sektoral
yang tidak serasi, selain itu, SOP koordinasi di dalam BKPRN belum
didefinisikan dengan baik; (2) rendahnya kualitas rencana yang
salah satunya disebabkan oleh belum memadainya sistem informasi
spasial yang memadai; dan (3) pemanfaatan ruang yang belum
optimal (HH, HD, AK).
Koordinasi
Kelemahan koordinasi antar sektor dimulai dengan perbedaan
pemahanan atas sektor lain yang bermuara pada tidak serasinya
peraturan sektoral. Dalam peraturan sektoral, kepentingan setiap
sektor dituangkan ke dalam berbagai peraturan dalam berbagai
bentuk, UU, PP, Perpres dan Keppres (AK). Perbedaan pemahaman
antarpemangku kepentingan semakin memperlemah koordinasi
yang belum tercipta dengan baik. Baik koordinasi antarsektor dan
antarlevel pemerintahan (AK). Selain itu, prosedur harmonisasi
peraturan dan koordinasi pelaksanaan penataan ruang belum
dilakukan dengan baik (AK), BKPRN tidak dapat memaksa instansi
terkait untuk mengimplementasikan tata ruang (HD).Koordinasi
antar sektor menyebabkan beberapa RTRW Provinsi/Kabupaten/
Kota yang telah selesai disusun tidak dapat segera ditetapkan.
Prosedur resolusi konflik yang ada di dalam BKPRN tidak mampu
mengubah keputusan salah satu sektor yang menjadi anggota
BKPRN (HH).
Lemahnya koordinasi ini berakibat cukup besar dalam pemanfaatan
dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kecenderungan yang
muncul adalah terlalu banyak kewenangan di satu daerah atau
tidak ada yang berwenang sama sekali di daerah lainnya. Kondisi
tersebut menimbulkan konflik antarpelaku pembangunan.
Contohnya adalah kurangnya informasi di lapangan bahwa suatu
kawasan ditetapkan sebagai kawasan lindung. Masyarakat yang
seumur hidupnya berada di kawasan tersebut akhirnya membangun
rumah, atau mendirikan bangunan sesuai dengan keperluannya.
Contoh lainnya adalah informasi tersedia yang menunjukkan
bahwa suatu kawasan tidak boleh ada pembangunan karena
statusnya sebagai kawasan lindung, namun tidak ada upaya yang
serius untuk menegakkan peraturan itu. Pengendalian yang tidak
efektif karena tidak ada yang merasa berwenang menyebabkan
tumbuhnya permukiman di sepanjang sempadan sungai di kotakota besar (HD).
Kualitas rencana
Rendahnya kualitas rencana tata ruang sebagian besar disebabkan
oleh informasi geospasial yang tersedia belum memadai untuk
menyusun rencana yang paripurna. Sejak awal, pengalokasian
fungsi ruang sudah tergambar dalam peta dengan menggunakan
GIS. Namun skala peta yang digunakan masih terlalu kecil. Saat itu
teknologi satelit belum ada sehingga untuk peta skala besar sangat
mahal, tapi sekarang sudah ada teknologinya jadi seharusnya
tata ruang dilengkapi peta skala 1:10.000, bukan hanya untuk
implementasi rencana, tapi juga pengendalian. Rencana yang baik
hanya bisa terwujud apabila kita mampu mengejar ketertinggalan
dalam penyediaan informasi geospasial ini (HH).
Belum lagi pengertian ‘rencana hirarkis’ yang belum cukup baik
dimengerti sehingga pemerintah daerah cenderung mencontoh
RTR yang dibuat pemerintah lebih tinggi. Pemerintah daerah
gamang untuk membuat RTR yang berbeda, karena khawatir
tidak mendapatkan persetujuan substansi dari pemerintah pusat.
Permasalahan yang timbul di kemudian hari adalah kemiripan
rencana tata ruang yang disahkan oleh berbagai daerah (HD).
Pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang
Setelah rencana selesai disusun, langkah berikutnya yang perlu
dilakukan adalah pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan
ruang. Masalah yang paling banyak timbul adalah pemanfaatan
kawasan lindung dan budidaya. Pemanfaatan ruang di kawasan
lindung dan terutama daerah resapan air yang akan berpengaruh
pada kawasan di bawahnya perlu dikendalikan dengan baik
karena dampaknya sangat luas. Namun demikian, pengendalian
pemanfaatan ruang tidak dilaksanakan dengan baik. Contohnya
adalah pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan puncak yang
terlihat tidak serius dan tidak berhasil secara signifikan. Perpres
tentang Penataan Ruang Jabodetabekpunjur telah ditetapkan
begitu pula Perda RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota yang berada di
Jabodetabekjur, namun outcome dari peraturan itu tidak terlihat,
dengan kata yang lugas, tidak ada pengaruhnya apa-apa (HD).
Di tingkat nasional dan daerah, sudah cukup banyak kegiatan
yang dilakukan dan telah didukung alokasi dana yang cukup besar
seperti: undang-undang dan peraturan pelaksanaannya; lembaga
BKPRN dan BKPRD yang mengkoordinasikan kebijakan dan
pelaksanaan penataan ruang; rencana tata ruang mulai dari skala
nasional, pulau, provinsi hingga kabupaten/kota. Namun, berbagai
permasalahan muncul justru setelah rencana ditetapkan, semakin
terlihat bahwa pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang
harus dilakukan dengan konsisten (HH).
Alternatif penyelesaian masalah
Koordinasi
Untuk mengatasi ketiga permasalahan di atas, alternatif
penyelesaian masalah yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah kurangnya koordinasi adalah penyamaan persepsi di
dalam forum BKPRN sebelum menyelesaian masalah koordinasi
di daerah (AK). Prakondisi yang dibutuhkan adalah menyepakati
prinsip penataan ruang di dalam BKPRN, caranya adalah dengan
membangun idealisme dari masing-masing bidang keilmuan
yang membentuk BKPRN dan konsensus yang telah dibangun,
dengan tetap memperhatikan kondisi saat ini (HH). Harapan di
masa yang akan datang, keteraturan, kepastian penggunaan ruang
perlu menjadi prioritas utama yang dikoordinasikan oleh BKPRN
dengan pertimbangan bahwa jumlah ruang tetap sementara jumlah
penduduk akan terus bertambah (HH).
Untuk koordinasi di daerah, Bappeda perlu menjadi ujung tombak
penggerak BKPRD. Koordinasi tidak dapat diserahkan kepada
sektor karena pengambilan keputusan terutama untuk penyelesaian
konflik tidak akan berimbang (HH). Catatan penting untuk kondisi
lembaga saat ini adalah bentuk BKTRN/D yang menyatukan
kelompok independen yg tak terikat dengan pembangunan ruang
dengan kelompok pemakai ruang, maka kesepakatan ad-hoc itu
banyak masalah perbedaan kepentingan, maka diperlukan suatu
independen group di luar BKTRN/D untuk membantu mencapai
keseimbangan antara kepentingan negara dengan kepentingan
daerah, antara kepentingan sektoral dengan kepentingan nasional/
regional, dan kepentingan pemeliharaan cadangan ruang yang
harus dipelihara untuk masa depan ketika iptek dan social
perception mampu menanggapi berbagai konflik (HH).
Perencanaan
Untuk mengatasi masalah perencanaan, pemerintah pusat perlu
mengubah paradigma dari menyusun rencana tata ruang dari skala
nasional hingga skala rinci tingkat lokal secara hirarkis, menjadi
mengamankan kawasan strategis untuk kepentingan nasional
saat ini dan untuk pembangunan berkelanjutan, dan mendukung,
persisnya memberikan bantuan dana kepada daerah, untuk
mengerjakan penataan ruang sesuai konsep yang disusun daerah.
Pemerintah daerah perlu mewujudkan tata ruang yang nyaman,
memberi penekanan pada pembuatan taman-taman dan RTH,
pembuangan sampah, perbaikan gorong-gorong, pembenahan
kampung padat, pembuatan paving,penyediaan air bersih.Orientasi
penataan ruang yang semula menekankan konsep atau rencana
dan berskala makro, diubah menjadi bersifat konkrit dan mikro,
tentu dengan perspektif jangka panjang(HD) sesuai dengan yang
telah tercantum secara makro di dalam RTRWN (HH).
Pembagian peran antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
dalam penataan ruang perlu dikaji lebih detail lagi. Contoh kawasan
yang perlu diatur pusat adalah kawasan cagar budaya, hutan
lindung, suaka margasatwa; kemudian kawasan untuk keperluan
pertahanan negara, seperti kawasan peluncuran roket, kawasan
latihan perang. Kawasan-kawasan ini harus ditetapkan batasbatasnya dan kemudian dikelola oleh lembaga pusat tertentu.
Dengan mengingat tragedy of the commons, yaitu kalau suatu
kawasan menjadi milik bersama atau tidak jelas siapa yang
memilikinya, maka setiap orang akan mengeksploitasi kawasan
itu sehabis-habisnya. Pemda menata kawasan di luar kawasankawasan strategis nasional ini. Kemudian beri kepercayaan kepada
daerah untuk mengatur sendiri penggunaan ruang wilayah itu.
Daerah-daerah pada mulanya mungkin kesulitan membuat rencana
tata ruangnya, namun lama kelamaan akan mampu membuat
RTR sendiri. Banyak contoh dari dalam dan luar negeri mengenai
rencana tata ruang yang baik dan dapat dicontoh.Tidak perlu ada
pedoman penyusunan RTR yang harus ditaati secara ketat oleh
daerah (HD).
Perencanaan tetap perlu, tetapi jangan menunggu harus
semua selesai. Misalnya jangan menunggu sampai rencana
rinci ditetapkan DPRD dan disahkan Provinsi, baru kemudian
melakukan implementasinya. Itu akan memakan waktu lama.
Kerjakan saja dulu yang dapat dilakukan dan jelas bermanfaat.
Masyarakat sudah menunggu hasil konkrit, hulu penundaan
biasanya adalah pemikiran birokratis dan penyusunan konsep
rencana yang sulit diimplementasikan. Misalnya, untuk bisa
menghasilkan rencana detil tata ruang diperlukan peta dasar
yang berskala besar. Menghasikan peta ini untuk seluruh wilayah
kota bisa memakan waktu bebeberapa tahun. Jadi gunakan saja
informasi yang ada untuk membuat kebijakan, mana daerah yang
tidak boleh digunakan sebagai kawasan permukiman, dan mana
yang boleh. Jadi rencana penataan ruang tetap perlu ada, namun
jangan terganggu oleh prosedur yang birokratis.Bila masyarakat
melihat hasil yang nyata, pasti akan diapresiasi dan di-bela jika
dimejahijaukan karena menabrak peraturan perundangan. Di
sini diperlukan kebijakan seorang kepala daerah. Juga jangan
kuatir kebijakan itu akan diubah oleh kepala daerah berikutnya.
Masyarakat akan mengawasi dan mencegah kebijakan yang tidak
didasarkan pada pertimbangan yang benar (HD).
Kemudian dari sisi substansi, RTR yang dibutuhkan untuk
pengendalian ruang kabupaten/kota adalah rencana tata ruang
yang rinci, dengan skala peta yang besar.Jika belum ada peta
dasarnya, perlu dibuat ketentuan yang jelas, sehingga tidak
buletin tata ruang & pertanahan
7
disalahtafsirkan. Ingat, bangsa kita punya kemampuan menyusun
rencana tata kota sejak berabad-abad yang lalu dengan bukti
adanya candi Borobudur, kota Trowulan yang menjadi ibukota
kerajaan Majapahit. Kalau saat ini kita belum melihat banyak RTR
yang kualitasnya baik, penyebab utamanya adalah belum ada
kesungguhan untuk mengusahakannya (HD).
Pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang
Untuk pemanfaatan ruang, BKPRN perlu mengubah orientasinya
dari perencanaan menjadi pelaksanaan, dari “merencanakan”
menjadi “mewujudkan”. BKPRN perlu menggunakan kapasitas yang
dimilikinya untuk membantu pemerintah kabupaten/kota untuk
mewujudkan tata ruang yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
Kementerian Kehutanan dapat mencontoh Jarum Foundation
menanam pohon trembesi di sepanjang jalan Pantura, misalnya
dengan melakukan hal sama di jalur Jawa Selatan serta di pulaupulau lain. Kementerian Pekerjaan Umum membantu pemerintah
kota membangun RTH. Kementerian Lingkungan Hidup membantu
pemda mendaur ulang sampah. Kementerian Perumahan Rakyat
membantu pemerintah kabupaten/kota membangun prasarana
lingkungan permukiman. Begitu pula halnya dengan kementerian/
lembaga lainnya terutama anggota BKPRN, melakukan hal yang
sama sesuai kewenangan masing-masing, tetapi dengan tujuan
yang jelas dan sesuai kebutuhan daerah. Daerah jangan lagi
didorong untuk menyelesaikan perda RTRWnya saja, tetapi dibantu
langsung untuk mewujudkan tata ruang seperti yang diharapkan
oleh masyarakat. BKPRN juga perlu melibatkan swasta untuk
mengerjakan hal yang sama secara terkoordinasi. Lembagalembaga internasional pasti akan bersedia jika diajak menata kota
secara konkrit, karena dampak ekonomi dan sosialnya yang besar
(HD).
Apabila kemudian muncul pertanyaan tentang masalah
kewenangan yang dilangkahi karena skema tersebut di atas,
jawabannya adalah bahwa sistem pemerintahan yang ada membuat
pemda tidak mempunyai cukup anggaran untuk melakukan
semua urusan yang menjadi tanggungjawabnya secara memadai.
Jadi pemerintah pusat perlu ikut terjun membantu pemda. Lebih
baik lagi bila kenaikan penerimaan pemerintah pusat setiap
tahun ditransfer kepada pemda melalui mekanisme DAK untuk
mengisi tata ruang yang direncanakan pemda. Namun, langkah ini
memerlukan persetujuan DPR yang mungkin sulit diwujudkan dalam
waktu dekat.Yang dapat dilakukan saat ini adalah kerjasama antara
kementerian/lembaga anggota BKPRN menggunakan anggaran
yang ada untuk membantu kota-kota besar dan kecil mewujudkan
tata ruang yang lebih berkualitas (HD).
Contoh-contoh pelaksanaan dapat diambil dari yang telah
dikerjakan oleh pemerintah daerah yang visioner dan telah
terbukti berhasil dalam penataan ruang. Salah satunya adalah
Pemerintah Kota Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya telah
berhasil menghadirkan tata ruang yang nyaman, indah, bersih,
lancar, teratur dan inklusif, serta atribut lain yang seperti itu, yang
saya yakin juga sama dengan yang diamanatkan oleh UU No
26/2007 tentang Penataan Ruang. Penataan ruang yang efektif di
Kota Surabaya dapat dinikmati oleh masyarakat warga kota dan
diapresiasi oleh pengunjung dari luar. Yang ditata di Kota Surabaya
bukan hanya kawasan di pusat kota seperti umumnya di banyak
kota lain, namun hingga ke kampung-kampung. Terasa ada tangantangan pemerintah kota yang mengatur lingkungan permukiman
penduduk, termasuk sarana MCK, saluran pembuangan, sarana
pedestrian dan taman lingkungan. Hasil akhir yang bisa dinikmati
oleh warga dan pengunjung adalah kebersihan, keindahan dan
kelancaran lalulintas di pusat Kota Surabaya tidak kalah dengan
kota-kota lain di negara maju. Ini adalah wujud penataan ruang
yang kita harapkan ada di kota-kota seluruh Indonesia. Sekali
lagi kinerja upaya penataan ruang tidak dilihat dari peraturan dan
rencana tata ruang yang dihasilkan, namun dari wujud tata ruang
yang dapat dinikmati oleh penduduk (HD) [ma/gp].
Status Penyelesaian Peraturan Daerah RTRW Provinsi
Status Penyelesaian RTRW yang Belum Perda
Provinsi
No.
8
A
Proses Revisi
B
Proses Persetujuan Substansi
B1 : Proses Persetujuan Substansi Teknis PU
B2 : Proses Persetujuan Substansi Kehutanan
C
Memperoleh Persetujuan Substansi
C1 : Memperoleh Persetujuan Substansi Menteri PU
C2 : Memperoleh Persetujuan Substansi Menteri Kehutanan
D
Pembahasan DPRD
E
Evaluasi di Kementerian Dalam Negeri
buletin tata ruang & pertanahan
1
NAD
2
Sumatera Utara
3
Riau
4
Sumatera Selatan
5
Kep. Riau
6
Kep. Bangka Belitung
7
Kalimantan Barat
8
Kalimantan Tengah
9
Kalimantan Selatan
10
Kalimantan Timur
11
Sulawesi Utara
12
Sulawesi Tengah
13
Sulawesi Tenggara
14
Sulawesi Barat
15
Papua
Jumlah
A
AD
15
B
C
B1
B2
C1
C2
15
15
15
13
D
E
13
5
Profil Direktur TRP
profil
Oswar Mungkasa
Senin, 16 September 2013, Bapak Oswar Mungkasa yang sering disapa ‘Pak Os’ dilantik oleh Menteri PPN/
Bappenas, sebagai Direktur Tata Ruang dan Pertanahan-Kementerian PPN/Bappenas menggantikan Bapak
Deddy Koespramoedyo (Alm). Lahir di Makassar, 26 Juli 1963, dengan nama Oswar Muadzin Mungkasa
adalah doktor lulusan ekonomi publik (Universitas Indonesia); master perencanaan wilayah dan kota
(Univesitas Pittsburgh); serta insinyur (Institut Teknologi Bandung. Ayah dari Fachriey Fadhlullah Mungkasa ini,
dikenal sebagai pribadi yang cerdas, energik, dan supel.
Sudah lebih dari 20 tahun beliau berkecimpung di dunia
pemerintahan menjadi pegawai negeri sipil. Karirnya dimulai pada
1992 sebagai staf perencana di Biro Pengembangan Regional I,
Bappenas. Dan sejak 2002, selama delapan tahun, beliau menjadi
Kepala Sub Direktorat di Direktorat Permukiman dan Perumahan,
Bappenas. Pengalaman dan lamanya karir yang digeluti di Bidang
Perumahan dan Permukiman mengantarkan beliau sebagai Kepala
Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat.
Selama menjadi Kepala Sub Direktorat di Direktorat Permukiman
dan Perumahan, beliau juga menjadi pelaksana harian dari
Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja
AMPL) yang merupakan wadah koordinasi instansi pemerintah
yang terkait dengan pembangunan AMPL (Bappenas, Kemenkeu,
KemenPU, Kemenkes, Kemendagri, Kemendiknas, KemenLH), dan
LSM Internasional yaitu Plan Internasional Indonesia. Beberapa
proyek yang juga sukses beliau pimpin, adalah Water Supply and
Sanitation Policy Formulation and Action Planning (WASPOLA)
yang merupakan proyek kerjasama pemerintah dengan Australia
(AusAID) dalam pembenahan kebijakan air minum dan penyehatan
lingkungan berbasis masyarakat di Indonesia, dan Water and
Environmental Sanitation (WES) Unicef yang merupakan kerjasama
pemerintah dan Unicef dalam penyediaan air minum dan sanitasi di
Indonesia Timur pada 31 kabupaten/kota yang dananya berasal dari
hibah Belanda dan Swedia.
Saat ini, selain menjadi Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, beliau
juga aktif sebagai anggota Dewan Pakar Ikatan Ahli Penyehatan
Lingkungan dan Teknik Lingkungan Indonesia (IATPI) periode
2010-2014. Hobi menulis, beliau realisasikan melalui tulisantulisan yang dibuat di berbagai media, seperti majalah, koran, dan
lainnya. Sudah banyak media tulisan yang beliau ciptakan, seperti
Media Informasi Air Minum dan Penyehatan Lingkungan untuk Anak
‘Percik Yunior’ dan Majalah Perumahan dan Kawasan Permukiman
‘Inforum’. Hingga saat ini, beliau masih menjadi Pemimpin Redaksi
Majalah Perumahan, Infrastruktur, dan Perkotaan ‘HUDmagz’- LP
P3I; Anggota Tim Editor Bidang Perumahan dan Permukiman Jurnal
Lingkungan Binaan Indonesia-IPLBI dan Media Informasi Air Minum
dan Penyehatan Lingkungan ‘Percik’; dan Anggota Dewan Redaksi
Majalah Perencanaan Pembangunan-Bappenas [gp].
Gambar 1 Dr. Oswar Mungkasa, MURP (kanan) bersama Dr. Ir. Max Pohan,
CES, MA – Deputi Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah (kiri)
• Salah satu metode peningkatan
produktivitas dalam suatu organisasi
yang bertujuan untuk memanfaatkan
sumber daya manusia yang ada di dalam
organisasi secara optimal serta menggali
potensi yang dimiliki oleh
anggota organisasi agar
mereka dapat meningkatkan
kreativitas dan berinovasi
untuk meningkatkan
produktivitas suatu organisasi
secara keseluruhan.
tahukah anda
• Suatu disiplin ilmu yang mempromosikan
suatu pendekatan terintegrasi untuk
identifikasi, pengelolaan dan distribusi aset
informasi yang dimiliki suatu organisasi.
www.facebook.com/trp.bappenas
Knowledge Management (Pengelolaan
Pengetahuan) adalah:
Sumber: http://mariana46.blogstudent.mb.ipb.
ac.id/2011/10/02/knowledge-management/
buletin tata ruang & pertanahan
9
dalam berita:
Juli-Desember 2013
Menjelang akhir tahun 2013, berita media cetak seputar tata ruang dan pertanahan banyak diwarnai dengan
berita mengenai permasalahan pertanahan di berbagai daerah. Kisruh kebijakan dan administrasi Pertanahan
Nasional dianggap sebagai akar terkendalanya pembangunan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2
(JORR W2) dari Kebon Jeruk-Ulujami dan konflik yang terjadi di Desa Pering Baru, Ujung Padang, Provinsi
Bengkulu. Selain itu juga terdapat berita terkait kewenangan BPN yang terbatas untuk mengatasi berbagai
permasalahan pertanahan. Sedangkan untuk tata ruang, melesetnya pencapaian target Perda RTRW di tahun
2013 mendorong Presiden untuk mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tetang percepatan peraturan daerah
tentang rencana tata ruang wilayah. Selain itu, kejadian tumpang tindih fungsi lahan di lapangan, mewajibkan
Jakarta metropolitan memiliki zonasi laut di teluk Jakarta. Berikut ringkasan beberapa berita tentang tata ruang
dan pertanahan.
September
Penyidik Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan mengungkap fakta baru
dalam kasus dugaan tindak pidana pelanggaran izin pengelolaan
lahan di areal kawasan tambang PT Isco Polman Resources di
Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Menurut Humas Kejati
Sulsel, Nur Alim Rachim, Badan Pertanahan setempat tidak pernah
dilibatkan dalam pengelolaan tambang dikawasan hutang lindung
itu. Mantan Kasipidum Kejari Parepare ini menambahkan, fakta
baru ditemukan penyidik setelah kejaksaan melakukan koordinasi
dengan Badan Pertanahan Polewali Mandar. (Tribun Timur, 20
September 2013)
Masyarakat menaruh harapan besar terhadap institusi Badan
Pertanahan Nasional (BPN RI) dalam carut marut pertanahan
negeri ini. Namun, menurut Kurnia Toha, Kepala Pusat Hukum &
Hubungan Masyarakat/Juru Bicara BPN RI,masih ada perbedaan
persepsi sejauhmana peran BPN RI dalam bidang pertanahan. Jika
melihat Pasal 33 ayat 3 UUD 45 bahwa tanah untuk kesejahteraan
rakyat, berarti kewenangan BPN RI dalam pertanahan sangat luas,
ternyata tidak. Dari sisi peraturan sendiri BPN RI tidak cukup kuat
untuk mendesak Kementerian lain untuk segera menyelesaikan
kasus pertanahan diantara mereka, paling bisa menghimbau
saja. Dalam soal urusan sengketa pertanahan yang melibatkan
masyarakat, kewenangan versi BPN RI sendiri, mendamaikan,
menginventaris data, melihat duduk persoalannya dan ekspose
perkara. BPN RI kewenangannya terbatas dalam menyelesaikan
Peraturan yang berkaitan dengan penataan ruang (kota)
modern di Indonesia mulai disusun ketika kota Jayakarta
(kemudian menjadi Batavia) dikuasai oleh Belanda
pada awal abad ke-7, tetapi peraturan tersebut
baru dikembangkan secara intensif pada awal
abad ke-20. Peraturan pertama tercatat
adalah De Statuen Van 1642 yang
dikeluarkan oleh VOC khusus untuk Kota
Batavia.
Sumber: diolah dari beberapa Ungkapan Sejarah Penataan
Ruang Indonesia 1948 – 2000. Departemen permukiman
dan Prasarana Wilayah Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Permukiman.
Jakarta, Desember 2003.
10
buletin tata ruang & pertanahan
tahukah anda
Sejarah Tata Ruang di Indonesia
sengketa. BPN bukan peradilan yang memutus ini benar ini salah.
Jadi lebih kepada mendamaikan para pihak, bisa diselesaikan
secara musyawarah, dan mengeluarkan rekomendasi buat para
pihak yang bersengketa. Namun, jika para pihak tidak mau
menerima rekomendasi itu, akan dilanjutkan ke pengadilan. Maka
pilihan solusi yang efektif untuk mengatasi berbagai permasalahan
pertanahan adalah seperti mengubah BPN RI yang saat ini hanya
setingkat Kementerian menjadi Kementerian, UU Pertanahan,
atau membentuk peradilan khusus pertanahan. (Suaraagraria, 30
September 2013)
Oktober
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bakal menggratiskan
sertifikasi tanah di wilayah Jawa Barat bagi rakyat tidak mampu.Hal
ini sesuai dengan permintaan Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI.
Penggratisan biaya juga termasuk pengurusan bea perolehan hak
atas tanah dan bangunan (BPHTB). Program gratis sertifikasi tanah
hanya ditujukan bagi rakyat yang tidak mampu. Untuk kategori
mampu dan tidak mampu, Heryawan menyatakan akan memakai
data Badan Pusat Statistik (BPS). Mengenai pelaksanaannya, Aher
tidak mengetahui apakah akan menggunakan subsidi daerah atau
tidak. Namun, ia mengatakan bisa saja menggunakan subsidi
daerah jika diperlukan. (Kompas, 8 Oktober 2013)
Pembangunan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR
W2) dari Kebon Jeruk-Ulujami masih terhambat persoalan ganti
rugi tanah. Keberadaan jalan tol ini diharapkan mampu mengurangi
kemacetan di kawasan Jakarta Selatan dan sekitarnya. Dalam
prosesnya, terlihat adanya upaya yang menghambat pembangunan
tol JORR W2, terlebih untuk menentukan harga tanah.Sugiyanto,
pengamat Ibu Kota, juga menyesalkan sikap warga Petukangan
Selatan yang mengedepankan kepentingan pribadi daripada
kepentingan umum.“Masa mintanya sampai Rp18 juta per
meter persegi, padahal negara sudah menawar hingga Rp6 juta.
Lebih baik kasih pengadilan saja,” ujarnya. Proyek pembangunan
JORR-W2 ruas Kebon Jeruk-Ulujami diperkirakan menelan dana
investasi senilai Rp2,2 triliun. Dengan adanya tol ini diharapkan
dapat mengurangi kemacetan di tol dalam kota, karena warga
pengguna lalu lintas dari arah Bogor ataupun Cibubur menuju
Bandara Soekarno-Hatta tidak perlu lagi melewati tol dalam kota
ruas Cawang-Tomang. Diperkirakan akan ada 90.000 kendaraan
per hari yang melewati JORR-W2. (Metrotvnews, 23 Oktober 2013)
Kurang dari 50 persen pemerintah kabupaten atau kota belum
mengeluarkan peraturan daerah mengenai tata ruang. Akibatnya,
banyak proyek pembangunan seperti perumahan melanggar
tata ruang. Enggannya pemda mengeluarkan aturan soal tata
ruangdikarenakan permasalahan pergantian kepala daerah.Oleh
karena itu, September kemarin Presiden mengeluarkan Instruksi
Presiden (Inpres) percepatan peratuan daerah tentang tata ruang.
Tata ruang ini penting karena bicara grand desain di lapangan
termasuk masalah konversi lahan pertanian. Konversi lahan
dilegalkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah, misalnya,
di utara dan di selatan Karawang. Sedangkan Direktur Perkotaan,
Direktorat Jenderal Tata Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum,
Dadang Rukmana menilai, pengalihan konversi lahan pertanian
itu diperbolehkan asal sesuai dengan aturan, tapi jika konversi
tidak sesuai peruntukannya itu tidak diperbolehkan.Jika ada yang
melanggar tata ruang, semisal konversi bukan peruntukannya,
maka pelanggarnya akan mendapatkan sanksi administratif dari
pemda setempat. Sanksinya berupa teguran, pembatalan izin,
penyegelan dan lainnya. Jika pelanggarannya berat di mana
mengakibatkan kerugian harta benda, maka sanksinya berupa
pidana.(Tempo, 30 Oktober 2013)
November
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY bersama
Teknik Geodesi UGM dan Bank Dunia membuat pemetaan
kolaboratif zona terlarang Merapi. Pemetaan ini merupakan
perpaduan dari berbagai peta rawan bencana yang dibuat sejumlah
pihak sebelumnya. Peta kolaboratif ini menghasilkan peta dengan
skala 1:2.000, yang artinya setiap rumah dan lahan milik warga di
daerah rawan bencana akan terlihat dengan jelas. Nantinya akan
tersusun rencana detil tata ruang (RDTR) guna melengkapi Perda
Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW).
Gambar 1 Zona Terlarang Merapi
Peta ini akan berisi zona-zona kawasan terlarang untuk pemukiman
dan rekomendasi pemanfaatan lahan di dalamnya. Peta ini dibuat
dengan memadukan data citra foto udara pemetaan LIDAR dari
BNPB, data kawasan rawan bencana dan data area terdampak
langsung dari BPPTKG, lokasi sabo dam dari BBWS, dokumen
digital rencana detil tata ruang dari Dinas PU ESDM DIY, data batas
dusun dan batas desa dari Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah
Sleman, data hunian tetap dalam kawasan dari PMT Rekompak dan
batas bidang tanah dari BPN. (Harianjogja, 1 November 2013)
Gambar 2 Teluk Jakarta
Kementerian Kelautan dan Perikanan mendorong pemerintah
daerah untuk segera menyusun perda rencana zonasi kawasan
konservasi perairan. Selain itu, melarang izin reklamasi sebelum
terbit perda rencana zonasi. Penetapan zonasi kawasan bertujuan
mengalokasikan ruang perairan secara berkeadilan sesuai
ekosistem, berkelanjutan ekologi, pemberdayaan masyarakat dan
perlindungan wilayah masyarakat adat dan nelayan tradisional. Dari
319 kabupaten/kota di wilayah pesisir, tercatat baru 9 kabupaten/
kota yang punya perda rencana zonasi. Adapun 60 kabupaten/
kota masih dalam proses penyusunan. Sementera itu, beberapa
kota besar sudah mengeluarkan izin reklamasi, belum memiliki
perda rencana zonasi, yakni Jakarta, Surabaya dan Semarang.
Prioritas penyusunan perda rencana zonasi adalah kawasan
strategis nasional, kabupaten/kota dengan pemanfaatan tinggi
terhadap pesisir, kelautan dan perikanan dan wilayah perbatasan.
Untuk mendukung penyusunan perda zonasi, Kementerian Kelautan
dan Perikanan sedang menyusun revisi peraturan menteri tentang
rencana pengelolaan dan zonasi kawasan konservasi perairan.
(Kompas, 22 November 2013)
Workshop Roadmap Advokasi Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Aceh yang diselenggarakan oleh Koalisi Peduli Hutan Aceh
(KPHA) digelar untuk mengkritisi dan mengadvokasi Rancangan
Qanun RTRW Aceh yang pada akhir tahun ini akan disahkan oleh
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh itu menghasilkan beberapa
Sejarah Tata Ruang di Indonesia
tahukah anda
Layaknya sistem tata ruang didarat, dengan adanya zonasi laut,
maka pemerintah daerah dapat mengetahui mana saja wilayah laut
yang dapat dibangun sebagai wilayah industri atau untuk wilayah
perikanan, sehingga tata ruang di laut akan tertata dengan baik,
tidak ada lagi tumpang tindih. Untuk pengaturan zonasi laut di
teluk Jakarta, menurutnya sangat dibutuhkan karena Jakarta selain
metropolitan, ekonominya tertinggi di antara yang lainnya, sehingga
DKI punya kepentingan besar untuk atur tata ruang kelautan.
Ditargetkan, pengaturan zonasi laut Jakarta akan dilakukan pada
tahun depan, 2014. Sementara itu, Jokowi menambahkan, zonasi
di laut Jakarta akan disesuaikan dengan Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) Jakarta. “Di bawah laut itu kan ada kabel, pipa gas,
semuanya harus menyesuaikan dengan zonasi itu, karena sudah
pembagian yang jelas,” kata Jokowi. (Liputan6, 29 Oktober 2013)
Peraturan tata ruang sejak abad ke-20 sudah mengatur tidak
hanya membangun pengaturan jalan, jembatan dan bangunan
lainnya, tetapi juga merumuskan wewenang dan tanggung
jawab pemerintah kota. Undang-Undang Desentralisasi pada
tahun 1903 yang mengatur pembentukan pemerintah
kota dan daerah memberikan hak kepada kota-kota
untuk mempunyai pemerintahan, administrasi
dan keuangan kota sendiri. Tak lama
kemudian, pada tahun 1905 diterbitkan
Localen-Raden Ordonantie, Stb 1905/191
Tahun 1905 yang antara lain berisi
pemberian wewenang pada pemerintahan
kota untuk menentukan prasyarat persoalan
pembangunan kota.
Sumber: diolah dari beberapa Ungkapan Sejarah Penataan Ruang
Indonesia 1948 – 2000. Departemen permukiman dan Prasarana
Wilayah Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Permukiman
dan Prasarana Wilayah Permukiman. Jakarta, Desember 2003.
buletin tata ruang & pertanahan
11
Para pengembang properti mengeluhkan soal beberapa kendala
pembangunan rumah murah di Indonesia. Sedikitnya ada
3(tiga) masalah utama yang menyulitkan pengembang properti
membangun rumah murah: (1) perizinan, izin lokasi yang berbiaya
tinggi dan waktu perizinan yang tidak jelas. (2) sertipikasi
tanah, pengembang mengeluhkan soal beban biaya perizinan
dan sertifikat tanah masih tinggi yang sangat memberatkan
dunia usaha. (3) Pajak, pengembang meminta agar pemerintah
khususnya Kementerian Keuangan memberikan insentif bagi para
pelaku usaha. Besaran insentif pajak yang diberikan pemerintah
berpengaruh terhadap harga jual rumah terutama bagi MBR.
Pemberian insentif pajak juga bisa diberikan kepada pelaku usaha
agar harga rumah bisa disesuaikan terutama untuk masyarakat
berpenghasilan rendah. (detikfinance, 25 November 2013)
Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Setyo Maharso
mengeluh atas mahalnya pemberian izin lokasi untuk pembangunan
pemukiman dan pembebasan biaya perumahan sederhana tapak
(landed house) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)
oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setyo juga meminta
otoritas pertanahan tersebut menindak aparatnya yang tidak
mendukung proses penerbitan sertifikat untuk perumahan bagi
masyarakat kelas tersebut. Selain itu, dia juga berharap RUU
Pertanahan segera diselesaikan untuk mengatasi ketidakpastian
hukum atas kepemilikan tanah yang telah diterbitkan BPN.
Menurutnya, kepastian hukum dengan RUU Pertanahan tersebut
seharusnya menjadi prioritas utama untuk diatur pada pasal
dalam RUU Pertanahan untuk menjamin kepastian bagi investor
dan masyarakat.”Hal tersebut sesuai pasal 28 ayat 1 UUD 1945,
di mana setiap orang berhak atas perlindungan diri dan harta
bedanya,” pungkas Setyo.( Sindonews, 25 November 2013)
Gambar 3 Aksi unjuk rasa petani
Selama ini sengketa pertanahan, kalau mediasi buntu, diselesaikan
lewat jalur peradilan umum. Sayangnya, seperti yang sudah-sudah,
peradilan umum itu mahal, lama dan selalu mengedepankan bukti
otentik tertulis. Walhasil banyak sekali kasus pertanahan yang
tidak selesai-selesai. Harus ada peradilan khusus pertanahan,
12
buletin tata ruang & pertanahan
ucap Kurnia Toha, Kepala Pusat Hukum & Hubungan Masyarakat/
Juru Bicara BPN RI.“Nantinya dalam peradilan khusus itu hakimhakimnya diisi oleh orang-orang yang harus paham dalam bidang
pertanahan, filosofi teori-teori latar belakang keluarnya suatu
peraturan,” ujar Toha. Sayangnya, wacana pembentukan peradilan
pertanahan masih belum mendapatkan penerimaan yang positif.
Ide lahirnya peradilan pertanahan karena banyak kasus pertanahan
tidak selesai-selesai. Makanya lewat RUU pertanahan yang sedang
dibahas, BPN RI mengusulkan supaya ada peradilan pertanahan
yang merupakan bagian dari peradilan umum, ad-hoc. Kemudian
prosesnya bisa berlangsung dengan cepat, yaitu hanya PN dan MA.
Waktunya pun dibatasi, dan alat-alat bukti yang dipakai tidak hanya
yang tertulis saja, tapi juga yang tidak tertulis. (Suaraagraria, 28
November 2013)
Desember
Tidak kurang dari 20 orang petani warga Desa Pering Baru, Ujung
Padang, Provinsi Bengkulu, berjuang mengambil alih ladang, yang
sejak 1984 “dicaplok” oleh salah satu Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit. Proses
perjuangan berkepanjangan memasuki 38 tahun, mereka tetap
kukuh memperjuangkan haknya. Setidaknya, secara adat, kawasan
tersebut dimiliki oleh 14 kepuyangan (leluhur) yang telah beranak
pinak.“Memang saat itu kami tidak mengerti sertifikat, namun kami
memiliki bukti tanam tumbuh dan beberapa surat dari pasirah,”
tambah Nahadin, salah satu petani.
Mulanya, Bupati menekankan tanah yang boleh digarap BUMN itu
adalah padang ilalang dan hutan yang tidak digarap warga. Saat
itu syarat disanggupi oleh BUMN, namun pada perkembangan
berikutnya, BUMN justru mencaplok semua tanah milik warga
setidaknya ada 518 hektar lahan diambil secara paksa dan
kekerasan yang melibatkan aparat TNI dan Polri. Puncak pertikaian
antara perusahaan dan warga terjadi pada 2010 tidak kurang dari
18 warga dijebloskan ke penjara selama 3 bulan 20 hari hanya
karena menuntut agar tanah mereka dikembalikan. Hingga pada
pertengahan tahun 2013, BUMN yang saat ini menguasai hampir
1.600 hektare tanah masyarakat itu diminta oleh pemerintah
setempat melakukan ukur ulang.Jika perkebunan BUMN itu lebih
dari 518 hektare, maka kelebihannya wajib dikembalikan kepada
petani yang kehilangan tanah. (Kompas, 1 Desember 2013) [ias]
Sejarah Tata Ruang di Indonesia
tahukah anda
rekomendasi. Diantaranya, (1)mendorong lahirnya pasal tentang
penyesuaian aktivitas ekonomi dalam kawasan ekologis yang tidak
mengganggu fungsi lindung; (2) memberikan arahan terhadap
pemanfaatan ruang dengan prinsip kearifan lokal, RTRW Aceh
memerintahkan pengelolaan wilayah DAS diatur kembali dalam
qanun kabupaten/kota dengan prinsip kearifan lokal; (3) melakukan
cross-check data dengan lembaga-lembga yang memiliki data
kebencanaan, baik Peta sensitifitas lahan, peta konflik satwa
dan peta koridor satwa; (4) melakukan kajian akademis terkait
harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah yang berhubungan
dengan RTRW Aceh, baik kajian konsideran maupun kajian
mendalam, dll. Rekomendasi-rekomendasi ini nantinya akan
disampaikan kepada Pemerintah Aceh dan DPR Aceh yang saat
ini sedangmenggodok Qanun RTRW Aceh.(Atjehlink, 22 November
2013)
Pengembangan perencanaan kota di Indonesia dipicu oleh
persoalan pembentukan kota pada masa pemerintahan Hindia
Belanda. Meskipun saat itu belum ada peraturan pemerintah
yang seragam, pemerintah Hindia Belanda menyadari perlunya
perencanaan kota secara menyeluruh.
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Indonesia
menyusun Undang-undang Nomor 24 tahun 1992 tentang
Penataan Ruang, yang akhirnya undang-undang tersebut
disahkan dan berlaku. Namun seiring dengan
adanya perubahan terhadap paradigma otonomi
daerah melalui ketentuan Undang-Undang Nomor
32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
maka ketentuan mengenai penataan ruang
mengalami perubahan yang ditandai dengan
digantikanya Undang-Undang Nomor 24 Tahun
1992 tentang Penataan Ruang, menjadi UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang.
Sumber: diolah dari beberapa Ungkapan Sejarah Penataan Ruang
Indonesia 1948 – 2000. Departemen permukiman dan Prasarana
Wilayah Direktorat Jenderal Penataan Ruang, DepartemenPermukiman
dan Prasarana Wilayah Permukiman. Jakarta, Desember 2003.
Hari Tata Ruang Nasional Tahun 2013
“Harmoni Ruang dan Air untuk Hidup
Lebih Baik”
Peringatan Haritaru dilaksanakan pertama kali pada tahun 2008 oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang
Kementerian Pekerjaan Umum. Penetapan tanggalnya diadopsi dari peringatan World Town Planning
Day (WTPD) yang diperingati di 35 negara di seluruh dunia. Puncak peringatan Hari Tata Ruang (Haritaru)
dilaksanakan pada 8 November 2013. Tahun ini tema yang diusung adalah Harmoni Ruang dan Air untuk Hidup
Lebih Baik. Tema ini diangkat dengan kesadaran bahwa saat ini intensitas bencana yang terus meningkat,
terutama banjir, merupakan salah satu dampak dari penataan ruang dan pengelolaan sumber daya air yang
kurang tepat.
“Pemberdayaan Kota Hijau”, dan tahun lalu, 2012, bertema “Kota
Hijau, Hidup Lebih Baik”. Tema tahun ini, “Harmoni Ruang dan
Air untuk Hidup Lebih Baik” bertujuan untuk menjelaskan urgensi
penyelenggaraan penataan ruang yang holistik dari suatu proses
penataan kawasan hulu dan menjaga kawasan hilir sebagai satu
kesatuan wilayah. Perencanaan secara terpadu ini adalah solusi
untuk mengintegrasikan fungsi sosial, ekonomi, dan ekologi
sumberdaya air untuk mendukung seluruh pemangku kepentingan.
Gambar 1 Pasar Terapung di Banjarmasin
Pemikiran tentang penataan ruang di Indonesia dirintis pada awal
abad XX sejak ditetapkannya Undang-Undang Desentralisasi
(Decentralisatiewet) yang mengakhiri administrasi pusat yang
berkuasa di Batavia. Pemikiran-pemikiran tersebut terus
berkembang, hingga pada 1948 perencanaan tata ruang mulai
diselenggarakan melalui penetapan Ordonansi Pembentukan Kota
(Stadsvormingsordonantie) yang mengatur tentang ketentuan
penataan kembali kota-kota yang mengalami kerusakan akibat
Perang Dunia ke-2. Dan pada awal tahun 1970-an, digagas RUU
Bina Kota yang kemudian ditetapkan menjadi UU No.24/1992
tentang Penataan Ruang. UU ini kemudian diperbarui oleh UU No.
26/2007 tentang Penataan Ruang yang menjadi payung bagi upaya
pengembangan wilayah dan perkotaan yang lebih baik di Indonesia.
Gambar 2 Rencana Pola Ruang Wilayah Nasional
Haritaru telah diselenggarakan lima kali, dengan tema umum
“Planning for All” yang dilengkapi dengan tema khusus setiap
tahunnya. Tema khusus pada tahun 2008 adalah “Perencanaan
untuk Semua”, kemudian di tahun 2009 bertema “Perencanaan
Ruang Hijau”, tahun 2010 “Kotaku Hijau”, tahun 2011
Arti logo Haritaru
• Warna biru menjelaskan dominasi air pada permukaan bumi,
termasuk 2/3 wilayah Negara Indonesia.
• Simbol Bumi menjelaskan tujuan akhir dari program Harmoni
Ruang dan Alam.
• Pohon mewakili fungsi ekologi.
• Manusia mewakili fungsi sosial.
• Bangunan mewakili fungsi ekonomi.
• Siklus air menjelaskan penyelenggaraan penataan ruang
harus mampu mengintegrasikan fungsi sosial, ekologi, dan
ekonomi.
Peringatan Haritaru diselenggarakan setiap tahun untuk
meningkatkan kesadaran setiap pemangku kepentingan akan
pentingnya penataan ruang sebagai elemen penting pembangunan
Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap upaya perwujudan
ruang Nusantara yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan
[gp].
buletin tata ruang & pertanahan
13
Pengendalian Pemanfaatan Ruang:
artikel
Mencari Kelembagaan Pengendalian Pemanfaatan
Ruang yang Efektif
Dr. Ir. Basoeki Hadimoeljono, M.Sc.
Direktur Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum
Penataan Ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang, yang diselenggarakan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang
aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Saat ini, banyak rencana tata ruang yang telah disusun sesuai
dengan amanat UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang (UUPR), baik di tingkat nasional, provinsi, maupun
kabupaten/kota. Sebagai upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang, pemanfaatan ruang yang merupakan
tahap mewujudkan rencana tata ruang tersebut perlu diimbangi dengan pengendalian pemanfaatan ruang.
PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Ps. 36 ayat (1)
upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang
Ps. 1 angka 15
Penetapan
Peraturan Zonasi
Perizinan
Pemberian
Insentif & Disinsentif
Pengenaan Sanksi
Ps. 35
tindakan penertiban yang
dilakukan terhadap
pemanfaatan ruang yang
tidak sesuai dengan
RTR dan peraturan zonasi
Ps. 37 ayat (1)
Izin Pemanfaatan Ruang
Rencana Rinci Tata Ruang
Ps. 36 ayat (2)
batal demi hukum
Ps. 37 ayat (3)
PP untuk arahan peraturan zonasi
sistem nasional
dapat dibatalkan
Perda Provinsi untuk arahan
peraturan zonasi sistem provinsi
Perda kabupaten/kota untuk
peraturan zonasi Ps. 36 ayat (3)
Ps. 37 ayat (4)
Ps. 37 ayat (6)
penggantian/ ganti
kerugian yang layak
Gambar 1 Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Berdasarkan UUPR, pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan
melalui: (1) penetapan peraturan zonasi, (2) perizinan, (3) pemberian
insentif dan disinsentif, serta (4) pengenaan sanksi. Instrumen
pengendalian berupa penetapan peraturan zonasi, perizinan,
pemberian insentif dan disinsentif merupakan instrumen yang
sifatnya untuk pencegahan pelanggaran, sedangkan pengenaan
sanksi merupakan instrumen untuk penindakan pelanggaran.
Permasalahan dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Saat ini, setelah 6 tahun diterbitkannya UUPR, sudah saatnya
mengalihkan fokus utama pelaksanaan penataan ruang, dari
perencanaan tata ruang ke pengendalian pemanfaatan ruang.
Namun implementasi pengendalian pemanfaatan ruang ini
menemui berbagai macam permasalahan.
Persoalan pertama dalam implementasi pengendalian adalah belum
seluruh daerah memiliki perda RTRW dan Rencana Rinci, padahal
dokumen perencanaan tersebut adalah dasar untuk melakukan
pengendalian pemanfaatan ruang; sampai dengan awal bulan
Oktober 2013, tercatat baru 16 provinsi, 247 kabupaten, dan
65 kota yang telah memiliki perda RTRW. Berdasarkan UUPR
pasal 22 ayat 2 huruf e, RTRW Provinsi menjadi pedoman untuk
penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi.Arahan perizinan
pemanfaatan ruang yang terkandung dalam RTRW provinsi
merupakan acuan untuk perizinan pemanfaatan ruang, baik di
wilayah provinsi maupun kawasan strategis provinsi. Sedangkan
RTRW Kab/Kota menjadi pedoman untuk penetapan lokasi dan
fungsi ruang untuk investasi (Pasal 26 ayat 2 huruf e UUPR) dan
menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan
14
buletin tata ruang & pertanahan
dan administrasi pertanahan di Kab/Kota (Pasal 26 ayat 3). RTRW
kabupaten/kota menjadi dasar untuk penerbitan izin prinsip, izin
lokasi, izin penggunaan pemanfaatan tanah, IMB, dan izin lainnya.
Dalam hal kabupaten/kota yang bersangkutan sudah memiliki
rencana detail tata ruang kabupaten/kota maka dasar penerbitan
izin di atas adalah rencana detail tata ruang kabupaten/kota.
Peraturan zonasi, sebagai salah satu instrumen pengendalian
pemanfaatan ruang, merupakan ketentuan yang mengatur tentang
persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendaliannya
dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang penetapan
zonanya dalam rencana rinci tata ruang. Peraturan zonasi
kabupaten/kota disusun sebagai kelengkapan RTRW kabupaten/
kota, dan merupakan dasar dalam pemberian insentif dan
disinsentif, pemberian izin, dan pengenaan sanksi di tingkat
kabupaten/kota. Namun sampai saat ini belum ada pemerintah
daerah yang mengatur dengan rinci mengenai pengendalian
pemanfaatan ruang dalam bentuk peraturan daerah. Instrumen
pengendalian pemanfaatan ruang dalam RTRW (provinsi/kabupaten/
kota) masih bersifat normatif dan perlu dirinci lagi sehingga dapat
lebih implementatif.
Dalam implementasi pengendalian pemanfaatan ruang tersebut,
dan juga di setiap tahapan penataan ruang, perlu dukungan sistem
informasi yang berkaitan dengan dinamika pemanfaatan ruang di
lapangan. Namun kondisi di daerah saat ini adalah tidak tersedianya
sistem informasi tata ruang yang lengkap. Keterbatasan data/
informasi, dokumen, peta RTRWdan kondisi di lapangan seringkali
menyulitkan upaya-upaya pengendalian pemanfaatan ruang.
Dalam hal pengawasan penataan ruang, PP No. 15/2010
menyebutkan bahwa masyarakat dapat melakukan pengawasan
terhadap penyelenggaraan penataan ruang dengan menyampaikan
hasil pengawasan melalui sarana yang disediakan oleh Pemerintah/
pemerintah daerah.Terkait dengan peran masyarakat dalam
penataan ruang, kurangnya partisipasi masyarakat dalam
memanfaatkan dan mengendalikan pemanfaatan ruang sesuai
dengan rencana tata ruangmenjadi permasalahan lain yang
dihadapi dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Masyarakat
dan/atau organisasi sosial kemasyarakatan maupun LSM (Lembaga
Swadaya Masyarakat) yang ada masih belum berpartisipasi
dalam penataan ruang, meskipun bentuk dan tata cara partisipasi
masyarakat dalam penataan ruang ini telah diatur dalam PP No.
68/2010.
Berbagai permasalahan dalam implementasi pengendalian
pemanfaatan ruang sangat erat kaitannya dengan isu efektivitas
kelembagaan dalam pengendalian penataan ruang. Aspek
Agar dapat menciptakan tertib ruang sesuai dengan rencana tata
ruang, maka pengendalian pemanfaatan ruang harus dilakukan
secara terpadu yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang
sesuai dengan otoritasnya. Jika melihat struktur organisasi
terkait penataan ruang di pusat dan daerah, banyak lembaga/
instansi struktural yang berkepentingan dalam penataan ruang,
baik di pusat maupun di daerah, namun perbedaan struktur
organisasi pemerintah daerah menyebabkan terjadinya perbedaan
level (eselonering) unit organisasi yang berwenang melakukan
pengendalian pemanfaatan ruang. Kurangnya koordinasi dalam
pengendalian pemanfaatan ruang yang berakibat pada rendahnya
keterpaduan pemanfaatan ruang, mengingat penataan ruang
merupakan urusan yang bersifat lintas sektor, lintas wilayah, dan
lintas pemangku kepentingan.
Mengingat implementasi pengendalian penataan ruang ini
melibatkan berbagai lembaga/instansi yang ada, maka penguatan
kelembagaan dilakukan dengan meningkatkan kemampuan
lembaga dalam melakukan koordinasi dengan lembaga lain.
Dalam pelaksanaan koordinasi, terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan koordinasi. Faktor
yang berperan penting dalam pelaksanaan koordinasi adalah aktor
yang terlibat dalam koordinasi tersebut. Aktor beserta institusinya
memiliki tujuan dan prioritas yang terkadang menimbulkan konflik
dengan tujuan dan prioritas aktor/institusi lain, atau dengan tujuan
dan prioritas suatu sistem secara keseluruhan. Aktor-aktor yang
memiliki kekuasaan tersebut dapat memanfaatkan diskresi yang
dimilikinya dalam pengambilan keputusan, sehingga diperlukan
suatu lembaga yang dapat mengkoordinasikan berbagai aktor
dalam implementasi pengendalian pemanfaatan ruang.
Untuk pelaksanaan fungsi koordinasi dalam penyelenggaraan
penataan ruang, telah dibentuk BKPRN (melalui Keppres No.
4/2009) dan BKPRD (melalui Permendagri No. 50/2009) yang
merupakan badan bersifat ad-hoc di pusat dan daerah.Sesuai
dengan tugas dan tanggungjawabnya, BKPRD memiliki fungsi
membantu pelaksanaan tugas Gubernur/Bupati/Walikota dalam
koordinasi penataan ruang yang meliputi koordinasi dalam
perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan
ruang. Dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang, peran
BKPRD dirasakan belum optimal meskipun dalam Permendagri
No. 50/2009 sudah disebutkan tugas BKPRD dalam koordinasi
pengendalian pemanfaatan ruang yang meliputi:
a. Mengkoordinasikan penetapan arahan peraturan zonasi sistem
provinsi/penetapan peraturan zonasi sistem kabupaten/kota;
b. Memberikan rekomendasi perizinan pemanfaatan ruang provinsi
dan kabupaten/kota;
c. Melakukan fasilitasi dalam pelaksanaan penetapan insentif dan
disinsentif dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang provinsi dan/
atau lintas provinsi serta lintas kabupaten/kota;
d. Melakukan fasilitasi pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan
pelaporan penyelenggaraan penataan ruang;
e. Melakukan fasilitasi pelaksanaan pengendalian pemanfaatan
ruang untuk menjaga konsistensi pemanfaatan ruang dengan
rencana tata ruang;
f. Mengoptimalkan peran masyarakat dalam pengendalian
pemanfaatan ruang; dan
g. Melakukan evaluasi atas kinerja pelaksanaan penataan ruang
kabupaten/kota.
Dalam melaksanakan tugasnya tersebut, dalam struktur BKPRD
terdapat Kelompok Kerja Pemanfaatan dan Pengendalian yang
mempunyai tugas:
a. Memberikan masukan kepada Ketua BKPRD dalam rangka
perumusan kebijakan pemanfaatan dan pengendalian
pemanfaatan ruang kabupaten/kota;
b. Melakukan fasilitasi pelaksanaan pemantauan terhadap
penegakkan peraturan daerah tentang rencana tata ruang;
c. Melakukan fasilitasi pelaksanaan evaluasi terhadap penegakkan
peraturan daerah tentang rencana tata ruang;
d. Melakukanfasilitasi pelaksanaan pelaporan terhadap
penegakkan peraturan daerah tentang rencana tata ruang;
e. Melakukan fasilitasi pelaksanaan perizinan pemanfaatan ruang;
f. Melakukan fasilitasi pelaksanaan penertiban pemanfaatan
ruang; dan
g. Menginventarisasi dan mengkaji permasalahan dalam pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang serta memberikan
alternatif pemecahannya untuk dibahas dalam sidang pleno
BKPRD.
Dari gambaran mengenai kewenangan yang dimiliki oleh BKPRD
tersebut, dalam dilihat bahwa BKPRD memiliki peran yang sangat
penting dalam implementasi pengendalian pemanfaatan ruang,
baik yang bersifat pencegahan pelanggaran pemanfaatan ruang
maupun yang bersifat penertiban pelanggaran.Jika mengacu pada
efektifnya peran BKPRD dalam proses perencanaan tata ruang,
maka diperlukan pedoman yang lebih teknis terkait mekanisme
pengendalian pemanfaatan ruang.
Upaya Peningkatan Kelembagaan Pengendalian Penataan
Ruang
Keberhasilan suatu kegiatan yang melibatkan peran serta banyak
pihak mensyaratkan suatu bentuk pengaturan yang jelas agar
segala sesuatunya berjalan sesuai dengan aturan yang ditetapkan.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan efektivitas koordinasi
pengendalian penataan ruang ini diperlukan perangkat sebagai
acuan pelaksanaan pengendalian. Sesuai dengan amanat UUPR,
dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang, Pemerintah
berwenang menyusun dan menetapkan pedoman Bidang
Penataan Ruang. Dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang,
Pemerintah c.q Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian
Pekerjaan Umum perlu menyediakan NSPK yang akan menjadi
acuan bagi daerah dalam pembuatan instrumen pengendalian
pemanfaatan ruang.
tahukah anda
kelembagaan merupakan hal yang sangat erat kaitannya dengan
kewenangan dalam penataan ruang. Sejalan penerapan sistem
penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan
UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten/Kota memiliki kewenangan untuk mengatur
dan mengurus urusan pemerintahannya. Berdasarkan PP No.
38/2007, penataan ruang merupakan urusan pemerintahan yang
bersifat kongruen yang dibagi bersama antar pemerintahan.
Knowledge Management (KM) memiliki fungsi
penting dalam hal:
a) Identifikasi aset kunci dari knowledge yang
ada di dalam perusahaan;
b) Merefleksikan apa yang organisasi
diketahui;
c) Saling berbagi (sharing) segala
knowledge kepada siapapun yang
membutuhkannya;
d) Menerapkan penggunaan knowledge
untuk meningkatkan kinerja
organisasi.
Sumber: http://mariana46.blogstudent.mb.ipb.
ac.id/2011/10/02/knowledge-management/
buletin tata ruang & pertanahan
15
NSPK terkait pengendalian pemanfaatan ruang yang telah
ada sampai saat ini adalah Pedoman Penyusunan RDTR dan
Peraturan Zonasi Kabupaten/Kota yang ditetapkan melalui Permen
PU No. 20/2011. Sedangkan NSPK lain yang masih dalam proses
penyusunan atau legalisasi antara lain:
1. Pedoman Kriteria Zona, Sub Zona, dan Blok dalam Peraturan
Zonasi Kabupaten/Kota, dengan muatan mengenai ketentuan
umum klasifikasi zona, sub zona, dan blok serta ketentuan
teknis pengaturan zona, sub zona, dan blok;
2. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan
Perkotaan, dengan muatan mengenai kelembagaan
pengendalian pemanfaatan ruang serta tata cara pengendalian
pemanfaatan ruang;
3. Pedoman tentang Bentuk dan Tata Cara Pemberian Insentif dan
Disinsentif Penataan Ruang, dengan muatan mengenai bentuk
dan perangkat, persyaratan, serta mekanisme pemberian
insentif dan disinsentif;
4. Pedoman Perizinan Pemanfaatan Ruang, dengan muatan
mengenai jenis perizinan pemanfaatan ruang, klasifikasi
kegiatan pemanfaatan ruang, serta proses dan prosedur
(penyelenggara perizinan, prosedur perizinan, dan prosedur
pengaduan);
5. Pedoman Kriteria dan Tata Cara Pemberian Sanksi Administratif,
dengan muatan mengenai kriteria, unsur pelanggaran, dan jenis
sanksi serta tata cara pengenaan sanksi administratif;
6. Pedoman Pengawasan Penataan Ruang Provinsi dan Kabupaten
/Kota, dengan muatan mengenai tata cara pengawasan teknis,
tata cara pengawasan khusus, serta kelembagaan dan peran
masyarakat.
TUGAS DAN FUNGSI PPNS PENATAAN RUANG
TUGAS
PENYIDIK POLRI
Koordinasi
PPNS
Penataan Ruang
PENYIDIKAN TNDAK PIDANA
PENATAAN RUANG
FUNGSI
PENEGAKAN HUKUM
BIDANG PENATAAN RUANG
Gambar 2 Skema Tugas dan Fungsi PPNS Penataan Ruang
Sedangkan dalam implementasi pengendalian pemanfaatan ruang,
Ditjen Penataan Ruang Kementerian PU melakukan peningkatan
peran PPNS Penataan Ruang yang memiliki kewenangan
melakukan penyidikan terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang.
Sesuai dengan UUPR, PPNS Penataan Ruang memiliki kewenangan
untuk:
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan yang berkenaan dengan tindak pidana dalam
bidang penataan ruang;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga
melakukan tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang sehubungan
dengan peristiwa tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
d. Melakukan pemeriksaan atas dokumen-dokumen yang
berkenaan dengan tindak pidana dalam bidang penataan ruang;
e. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga
terdapat bahan bukti dan dokumen lain serta melakukan
penyitaan dan penyegelan terhadap bahan dan barang hasil
pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak
pidana dalam bidang penataan ruang; dan
f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana dalam bidang penataan ruang.
Berdasarkan data dari Sekretariat Direktorat Jenderal Penataan
Ruang Kementerian PU, terdapat 31 provinsi (dari total 33 provinsi),
103 kabupaten (dari total 399 kabupaten), dan 32 kota (dari total
94 kota) yang telah memiliki PPNS Penataan Ruang. Kebutuhan
ideal PPNS sampai dengan tahun 2015 adalah setiap kabupaten/
kota memiliki 3 orang PPNS dan 2 orang atasan PPNS.
Tantangan dalam pembentukan PPNS Penataan Ruang untuk
memenuhi kebutuhan ideal jumlah PPNS antara lain adalah
pengendalian pemanfaatan ruang belum menjadi prioritas dalam
penataan ruang daerah karena Pemerintah Daerah masih fokus
pada penyusunan rencana tata ruang wilayah. Pengendalian yang
belum menjadi prioritas di daerah dan pelanggaran penataan
ruang yang masih dianggap hal yang biasa dan mudah ditolerir
berdampak pada belum dirasakannya kebutuhan terhadap
keberadaan PPNS Penataan Ruang di daerah. Hal lain yang
menjadi tantangan dalam pembentukan PPNS Penataan Ruang
di daerah adalah pemerintah daerah memandang PPNS sebagai
beban dan ancaman terhadap pejabat pemberi izin.
Untuk memenuhi kebutuhan jumlah ideal PPNS Penataan Ruang,
Perekrutan dan pendidikan PPNS Penataan Ruang dilakukan setiap
tahun melalui Diklat 200 JP dan Diklat 400 JP. Dari perekrutan
dan pendidikan PPNS yang rutin diselenggarakan oleh Setditjen
Penataan Ruang Kementerian PU, telah terjadi peningkatan jumlah
PPNS Penataan Ruang, dari semula 26 PPNS pada tahun 2009
menjadi 514 PPNS pada tahun 2013.Selain itu, perlu juga diberikan
pemahaman tentang pentingnya peran PPNS, tidak hanya dalam
proses penertiban pelanggaran penataan ruang, tetapi dalam
menjalankan fungsi pengawasan sebagai upaya pencegahan
(preventif) agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata
ruang.
Salah satu bentuk pelaksanaan tugas PPNS Penataan Ruang dalam
rangka pengendalian penataan ruang adalah menindaklanjuti
pengaduan pelanggaran pemanfaatan ruang yang disampaikan
oleh masyarakat. Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian
PU telah memfasilitasi sarana pengaduan masyarakat sehingga
masyarakat diminta berperan aktif mengadukan pelanggaran
pemanfaatan ruang yang terjadi di sekitarnya melalui berbagai
media yang telah disediakan. Tahapan penanganan terhadap
pengaduan pelanggaran pemanfaatan ruang tersebut adalah:
1. Pencatatan registrasi oleh Sekretariat PPNS;
2. Pemeriksaan Data dan Informasi;
3. Pengajuan Tindak Lanjut Pulbaket;
4. Melakukan Pulbaket;
5. Rekomendasi Pulbaket;
6. Gelar Perkara dan Perintah Penyidikan (Sprindik dan SPDP);
7. Penyidikan;
8. Tindak Lanjut Penyidikan (BAP), penyampaian ke Kejaksaan
melalui Penyidik POLRI.
Sampai dengan bulan Oktober 2013, Sekretariat PPNS Ditjen
Penataan Ruang telah menerima 17 pengaduan yang saat ini
sedang ditindaklanjuti oleh PPNS di Ditjen Penataan Ruang.Salah
satu dari pengaduan tersebut seperti pembangunan industri
pengolahan baja di kawasan situs Majapahit di Kecamatan Trowulan
Kabupaten Mojokerto1.
1Kasus Pembangunan Industri Pengolahan Baja di Kawasan Situs Majapahit, Kecamatan Trowulan dapat dilihat pada Kotak Kasus
16
buletin tata ruang & pertanahan
Penyusunan NSPK terkait pengendalian pemanfaatan ruang dan
peningkatan peran PPNS Penataan Ruang merupakan sebagian
dari skenario pengendalian pemanfaatan ruang yang akan
dilakukan oleh Ditjen Penataan Ruang Kementerian PU mulai
tahun 2014 melalui Program Peningkatan Pengawasan dan
Pengendalian Pemanfaatan Ruang (P5R). Program ini bertujuan
untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengawasan
dan pengendalian pemanfaatan ruang di pusat dan di daerah
dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan penataan ruang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan serta
menciptakan tertib tata ruang. Untuk mencapai tujuan tersebut,
sasaran yang hendak dicapai program ini adalah:
1. Terwujudnya tata kelola dan kelembagaan pengawasan dan
pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif dan efisien;
2. Peningkatan peran serta masyarakat atau komunitas dalam
pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang;
3. Tersedianya mekanisme/tata cara dalam manajemen
pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang;
4. Tersedianya Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK)
pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang;
5. Terciptanya aparatur atau Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas dalam pengawasan dan pengendalian pemanfaatan
ruang.
Program ini dimaksudkan agar pengawasan dan pengendalian
pemanfaatan ruang mempunyai arah dalam meningkatkan kinerja
pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang di pusat
maupun di daerah. Dalam P5R ini, Pemerintah Daerah diharapkan
dapat berpartisipasi aktif guna mewujudkan upaya pengendalian
pemanfaatan ruang yang sinergis, efektif, dan efisien.Dan dengan
dukungan semua pihak serta penegakan hukum yang konsisten,
maka tertib tata ruang guna mencapai tujuan penataan ruang dapat
diwujudkan.
Manajemen
Pengawasan
mecanism
POKMAS
WASDAL
community
P5R
Kelembagaan
organization
NSPK
tools
SDM
Aparatur
subject
Gambar 3 Skema Program Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian
Pemanfaatan Ruang (P5R)
Kasus Pembangunan Industri di Kawasan Situs Majapahit di Kecamatan Trowulan Kabupaten
1
kawasan pemeliharaan cagar budaya. Berikut, kronologi
Rencana Pembangunan Pabrik Pengolahan Baja di Desa
Jatipasar Kecamatan Trowulan.
Gambar 5 Kronologis Rencana Pembangunan Pabrik Pengolahan Baja di
Kecamatan
GambarTrowulan
5 Pro Kontra Pembangunan Pabrik Baja di Trowulan
Gambar 4 Lokasi Pembangunan Industri Baja di Kawasan Situs Majapahit
Di Kabupaten Mojokerto, tepatnya di Kecamatan Trowulan terdapat
area situs yang letaknya cukup strategis karena dilalui jalan arteri
primer nasional yang menghubungkan Surabaya-Yogyakarta.
Berdasarkan Kepmendikbud Nomor 177/M/1998 tentang
Penetapan Situs dan Benda Cagar Budaya di Wilayah Provinsi Jawa
Timur, Kompleks Trowulan ini dinyatakan sebagai situs dan benda
cagar budaya.
Pada November 2012, Bupati Mojokerto memberikan izin pada
PT. Manunggal Sejati Group untuk mendirikan Industri Pengolahan
Baja di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan. Permasalahannya,
wilayah berdirinya industri tersebut masih belum jelas statusnya,
berada di dalam atau di luar Kompleks Trowulan. Oleh karena itu
pada Juli 2013, Kemdikbud melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya
Mojokerto mengajukan surat pada DPRD Kab. Mojokerto yang isinya
menyatakan bahwa IMB atas rencana pendirian pabrik baja tidak
benar karena Balai tidak pernah menerbitkan surat rekomendasi.
Status terakhir, dinyatakan bahwa lokasi pabrik berada di luar
Saat ini, kasus tersebut masih belum selesai diputuskan dan
sedang dalam proses pemeriksaan oleh Tim Penyidik Pegawai
Negeri Sipil (PPNS)-Ditjen Penataan Ruang, Kementerian
Pekerjaan Umum. Berdasarkan hasil laporan sementara,
Tim PPNS mengungkapkan bahwa apabila pembangunan
pabrik tersebutditeruskan, maka akan terbuka sekitar 300400 lapangan pekerjaan baru yang akan meningkatkan
PAD Kab. Mojokerto. Sedangkan dampak negatifnya adalah
kelestarian situs tersebut terancam dan mungkin akan terjadi
gugatan dari masyarakat sipil (Komunitas ‘Save Trowulan’)
kepada Pemerintah. Dalam proses penyelesaiannya, kondisi
dilematis terjadi karena adanya perbedaan substansi antara
RTRW Provinsi Jawa Timur dan RTRW Kab. Mojokerto terkait
penetapan Kec. Trowulan sebagai kawasan cagar budaya.
Sejauh ini, rekomendasi yang diajukan adalah merelokasi
rencana pembangunan pabrik ke Kawasan Industri Ngoro
dan segala konsekuensi dibicarakan lebih lanjut oleh
Pemkab Mojokerto, Pemprov Jawa Timur, dan Pemerintah
Pusat. Kemudian area calon pabrik yang dibatalkan (3,4 Ha)
dimiliki oleh Pemerintah, dan dimanfaatkan untuk kegiatan
pengembangan Trowulan sebagai Kawasan Taman Majapahit.
buletin tata ruang & pertanahan
17
Tantangan Koordinasi Penataan Ruang ke Depan:
artikel
Berharap pada Peningkatan Kiprah BKPRN
Dr. Ir. Max H. Pohan, CES
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Kementerian PPN/Bappenas, 2007-2013
Penataan ruang nasional1 tidak pelak lagi merupakan elemen yang penting dalam pembangunan nasional
kita. Penataan ruang yang baik dan dipatuhi akan menjamin keberlanjutan kehidupan bangsa sambil berupaya
untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Ruang dan sumberdaya alam memiliki nilai sangat strategis bagi
kehidupan setiap individu, masyarakat, dan bangsa dengan berbagai kepentingan masing-masing. Ruang dan
sumberdaya alam juga memiliki keterbatasan (scarcity) sehingga dalam penggunaannya sering menimbulkan
konflik dan segala macam ekses negatifnya. Oleh karena itu diperlukan pengaturan dan pengkoordinasian
penataan ruang dalam perencanaan, pemanfaatan, dan pengendaliannya. Dalam skala nasional, koordinasi
dalam penataan ruang sangat dibutuhkan dalam menciptakan keterpaduan pembangunan antarsektor,
antarwilayah, dan antarpemangku kepentingan. Koordinasi penataan ruang akan mendorong terciptanya
pemanfaatan ruang yang optimal. Dengan demikian, koordinasi menjadi salah satu kunci keberhasilan
penataan ruang, dan pada gilirannya, keberhasilan pembangunan nasional itu sendiri.
Pentingnya koordinasi dalam penataan ruang telah sejak
awal disadari oleh Pemerintah dan para pengambil kebijakan.
Dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) No. 57/1989
tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang Nasional
(selanjutnya disebut “Tim Tata Ruang”) yang mendahului
keberadaan Undang Undang (UU) No. 24/1992 tentang Penataan
Ruang. Pembentukan Tim Tata Ruang ini menunjukkan bahwa
upaya koordinasi sejak awal telah ditetapkan untuk diserahkan
pada sebuah badan khusus yang diberi peran utama melakukan
koordinasi penyelenggaraan tata ruang, yang kemudian menjelma
menjadi BKPRN (Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional) yang
kita kenal sekarang.
Evolusi Menuju BKPRN
Perjalanan menuju bentuk BKPRN dimulai dengan diterbitkannya
Keppres No. 57/1989 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Tata
Ruang Nasional sebagaimana telah disebutkan di atas. Keppres
ini merujuk pada UU No. 4 /1982 tentang Ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pada saat tersebut, nama BKPRN
atau BKTRN belum ada, dan tim koordinasi ini hanya disebut
sebagai Tim Tata Ruang yang (hanya) beranggotakan lima instansi
yaitu Bappenas, Departemen Dalam Negeri (Depdagri), Sekretariat
Negara (Setneg), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Badan
Pertanahan Nasional (BPN), dan diketuai oleh Meneg PPN/Ketua
Bappenas. Walaupun masih baru dibentuk, namun tugas yang
diemban cukup berat, yaitu menyangkut (i) perumusan kebijakan
dan strategi, (ii) koordinasi penanganan masalah termasuk
penelitian masalah, (iii) pengembangan dan penetapan kriteria,
prosedur dan pengendalian pengelolaan tata ruang.
Menyusul terbitnya UU No. 24/1992 tentang Penataan Ruang,
dilakukanlah penyempurnaan terhadap Tim Tata Ruang melalui
penerbitan Keppres No. 75/1993 tentang Koordinasi Pengelolaan
Tata Ruang Nasional. Selanjutnya Tim Tata Ruang berubah
menjadi Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN), diketuai
Meneg PPN/Ketua Bappenas dan anggotanya bertambah dengan
masuknya Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam)
dan Departemen Pekerjaan Umum (Dep. PU). Keberadaan UU No.
24/1992 kemudian menjadikan tugas BKTRN menjadi lebih berat
dari sebelumnya, yaitu melakukan inventarisasi sumber daya,
mengoordinasikan pelaksanaan strategi nasional pengembangan
pola tata ruang secara terpadu, menyelenggarakan pembinaan
pelaksanaan penataan ruang daerah, dan mengoordinasikan
penyusunan peraturan pelaksanaan UU No. 24/1992.
Memasuki era desentralisasi dan otonomi daerah pasca gerakan
reformasi 1998 yang ditandai dengan lahirnya UU No. 22/1999
tentang Pemerintahan Daerah, telah mendorong perubahan
terhadap BKTRN melalui penerbitan Keppres No. 62/2000 tentang
Koordinasi Penataan Ruang Nasional. Perubahan utama yang terjadi
berupa perubahan BKTRN menjadi Badan Koordinasi Penataan
Ruang Nasional (BKPRN), dan diketuai oleh Menteri Negara
Koordinator (Menko) Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri
atau Menko Ekuin. Ini menyusul akibat adanya degradasi status
Kemeneg PPN/Bappenas dari setingkat Menteri Negara menjadi
“hanya” setingkat “Badan” pada Kabinet Gus Dur. Dengan demikian
posisi Ketua BKTRN dipegang oleh Menko Ekuin.
Beberapa anggota baru BKTRN adalah Kementerian Negara
Otonomi Daerah dan Departemen Pertanian (Deptan). Selain itu,
tugas yang diemban menjadi semakin banyak bahkan beberapa
bersifat eksekusi diantaranya mengoordinasikan dan memantau
pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN);
mengoordinasikan penyusunan peraturan perundang-undangan
bidang tata ruang (TR); memaduserasikan UU No. 24/1992 dan
peraturan pelaksanaannya dengan pelaksanaan UU No. 22/1999
serta memaduserasikan penatagunaan tanah dan sumberdaya
alam (SDA) dengan Rencana Tata Ruang (RTR); menyelenggarakan
pembinaan tata ruang di daerah serta pembinaan dan penentuan
prioritas terhadap Kawasan Strategis Nasional (KSN); membina
kelembagaan dan sumberdaya manusia (SDM) penyelenggara
tata ruang (TR); menyelenggarakan pembinaan dan standarisasi
perpetaan TR.
Melihat dan mempertimbangkan bahwa UU No. 24/1992 sudah
tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pengaturan penataan ruang,
maka ditetapkanlah UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang.
Mengimbangi lahirnya UU yang baru ini, kemudian dilahirkan
Keppres No. 4/2009 tentang Badan Koordinasi Penataan Ruang
1 Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang (UU No. 26/2007)
18
buletin tata ruang & pertanahan
Nasional. Dalam Keppres ini tercatat beberapa perubahan
mendasar terkait BKPRN yaitu: (i) bertambahnya anggota BKPRN
dengan masuknya Kementerian Energi Sumber Daya Mineral
(ESDM) , Kementerian Perindustrian, Kementerian Kehutanan,
Kementerian Kelautan dan Perikanan; (ii) secara tegas dinyatakan
tugas BKPRN adalah melakukan koordinasi, sehingga tidak ada
lagi kegiatan yang bersifat eksekusi; (iii) kegiatan tambahan berupa
koordinasi pemasilitasian kerjasama penataan ruang antarprovinsi,
kerjasama penataan ruang antarnegara dan penyebarluasan
informasi penataan ruang.
Tabel 1 Perbandingan Peran dan Fungsi BKPRN (1989-2014)
Keputusan Presiden (Keppres)
No 57/1989 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang
Nasional
No 75/1993 tentang Koordinasi
Pengelolaan Tata Ruang Nasional
No 62/2000 tentang Koordinasi
Penataan Ruang Nasional
No 4/2009 tentang Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional
Rujukan
UU 4/1982 tentang Ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan
Hidup
UU 24/1992 tentang Penataan
Ruang
UU 24/1992 tentang Penataan
UU 26/2007 tentang Penataan Ruang
Ruang
UU 27/2007 tentang Pengelolaan
UU 22/1999 tentang Pemerintahan wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Daerah
Keanggotaan
Tim Tata Ruang berasal dari dari
5(lima) instansi, yaitu Bappenas,
Depdagri, Setneg,KLH, BPN
Badan Koordinasi Tata Ruang
Nasional (BKTRN) terdiri dari 7
(tujuh) instansi, yaitu Bappenas,
Setneg, Depdagri, Dephankam,
Dep PU, Kemeng LH, BPN.
Badan Koordinasi Penataan Ruang
(BKPRN) terdiri dari 10 institusi
yaitu Kemenko Ekuin, Bappenas,
Depkimpraswil, Depdagri, Dephan,
Deptan, MenegPU, MenegLH,
MenegOtda, Kepala BPN
BKPRN terdiri dari 14 institusi KemenkoPerek,
KemenPU,Kemdagri,Bappenas, Ke
menhankam,KemenESDM,Kemenp
erindustrian, Kementan, Kemenhut,
KemenKP,KemengLH,BPN,Setneg
Struktur
Ketua: Meneg PPN/Ketua Bappenas, Waka: Menteri/Sekneg,
Meneg KLH Anggota: 4 eselon 1.
Didukung oleh Pokja dan
sekretariat
Ketua: Meneg PPN/Ketua Bappenas
Waka: Sekneg
Anggota: 5 menteri dan 1 eselon I
Didukung oleh Pokja dan Tim
Teknis
Ketua: Menko Ekuin
Waka: Menkimpraswil
Sekretaris: Kepala Bappenas
Anggota: 7 menteri dan 1 eselon I
Didukung Tim Teknis dan Pokja
Ketua: Menko Perekonomian
Waka: MenPU, Mendagri
Sekretaris: MenPPN/Kepala Bappenas
Anggota: 10 menteri dan 1 wamen
Didukung Pokja dan Sekretariat
Tugas (*)
1. Merumuskan kebijaksanaan
dan mengoordinasikan langkah
penanganan masalah pemanfaatan ruang
2. Menyusun strategi nasional
pengembangan pola tata ruang
secara terpadu serta mengendalikan pemanfaatan ruang
3. Mengembangkan dan
menetapkan kriteria pengelolaan
tata ruang
4. Mengembangkan dan menetapkan prosedur pengelolaan
tata ruang dan mengendalikannya
5. Meneliti masalah pemanfaatan
ruang di daerah dan memberikan pengrahan serta saran
pemecahan.
1. Melakukan inventarisasi sumber
daya dalam rangka penyusunan
dan penyempurnaan strategi
nasional pengembangan pola tata
ruang dan pola pengelolaannya
2. Mengoordinasikan pelaksanaan
strategi nasional pengembangan
pola tata ruang secara terpadu
3. Menyelenggarakan pembinaan
pelaksanaan penataan ruang
daerah
4. Mengembangkan dan menetapkan prosedur pengelolaan
tata ruang
5. Merumuskan kebijaksanaan
dan mengoordinasikan penanganan dan penyelesaian masalah
penataan ruang, baik di nasional
maupun daerah, danmemberikan pengarahan dan saran
pemecahan
6. Mengoordinasikan penyusunan perturan pelaksanaan UU
24/1992.
1. Mengoordinasikan pelaksanaan
RTRWN
secara terpadu yang dijabarkan
dalam programpembangunan
sektor dan program pembangunan
di daerah;
2. Merumuskan kebijakan dan
mengoordinasikan penanganan dan
penyelesaian masalah yang timbul
baik di tingkat nasional maupun
daerah, dan memberikanpengarahan serta saran pemecahannya;
3. Mengoordinasikan penyusunan
peraturan perundang-undangan
bidang TR
4. Memaduserasikan UU 24/1992
dan peraturan pelaksanaannya
dengan pelaksanaan UU 22/1999
5. Memaduserasikan penatagunaan
tanah dan SDA dengan RTR
6. Memantau pelaksanaan RTRWN
dan memanfaatkan hasilnya untuk
penyempurnaan
7. Menyelenggarakan pembinaan
tata ruang di daerah melalui sinkronisasi RTRWN/Prop/kab/kota
8. Mengembangkan dan menetapkan prosedur pengelolaan tata
ruang
9. Menyelenggarakan pembinaan
dan penentuan prioritas terhadap
KSN
10. Membina kelembagaan dan
SDM penyelenggara TR
11. Menyelenggarakan pembinaan
dan standarisasi perpetaan TR
Melakukan koordinasi dalam:
1. Penyiapan kebijakan penataan
ruang nasional
2. Pelaksanaan RTRWN secara terpadu yang dijabarkan dalam program
pembangunan sektor dan di daerah
3. Penanganan dan penyelesaian
masalah yang timbul, baik di tingkat
nasional dan daerah, memberi pengarahan dan pemecahannya
4. Penyusunan peraturan per UU an di
bidang TR, termasuk standar, prosedur
dan kriteria
5. Pemaduserasian berbagai peraturan
terkait penyelenggaraan TR
6. Pemaduserasian penatagunaan
tanah dan SDA lainnya dengan RTR
7. Pemantauan pelaksanaan RTRWN
dan pemanfaatan hasil pemantauan
untuk penyempurnaan
8. Penyelenggaraan , pembinaan
dan penentuan prioritas pelaksanaan
penataan ruang KSN
9. Pelaksanaan penataan ruang
wilayah nasional dan KSN
10. Pemasilitasian kerjasama penataan
ruang antarpropvinsi
11. Kerjasama penataan ruang
antarnegara
12. Penyebarluasan informasi penataan ruang
13. Sinkronisasi rencana umum dan
rencana rinci TR daerah dengan per
UU an, termasuk RTRWN dan rencana
rincinya
14. Upaya peningkatan kapasitas
kelembagaan pemerintah dan pemda
dalam penyelenggaraan TR
Catatan (*): telah diringkas
Sumber: Hasil olahan
buletin tata ruang & pertanahan
19
Kiprah BKPRN Saat Ini
Sebagai sebuah badan koordinasi, BKPRN telah melaksanakan
fungsi dan tugasnya dengan cukup baik walaupun disadari
masih belum optimal mengingat semakin banyak serta semakin
kompleksnya masalah-masalah penataan ruang. Saat ini, fungsi
koordinasi berjalan baik terlihat dari berlangsungnya secara rutin
kegiatan utama yang bersifat koordinatif seperti Rapat Koordinasi
Nasional (Rakornas) Penataan Ruang setiap dua tahun dengan
agenda utama penyiapan rencana kerja tahunan dan penanganan
isu dan masalah tata ruang. Selain itu, rapat berkala mulai dari
Tingkat Menteri, Eselon I, Eselon II, dan Eselon III secara berjenjang
pun berlangsung secara rutin.
Di sisi lain, harus diakui bahwa saat ini belum seluruh tugas dan
fungsi BKPRN dijalankan dengan baik. Kegiatan BKPRN masih
didominasi oleh penyelesaian konflik penggunaan ruang, baik
di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini terlihat dari beberapa
keberhasilan menyelesaikan konflik pemanfaatan ruang. Sebut
saja, keberhasilan BKPRN dalam mengendalikan pemanfaatan
ruang dengan memanfaatkan keberadaan Perpres No. 54/2008
tentang Penataan Ruang Kawasan Jabodetabekpunjur dan Perpres
No. 45/2011 tentang RTR Kawasan Perkotaan Sarbagita (Lihat
Boks: Kisah Sukses BKPRN). Selain itu, penyusunan dan penetapan
beberapa regulasi terkait tata ruang juga telah berhasil diselesaikan
melalui koordinasi BKPRN, termasuk upaya pemaduserasian
berbagai peraturan.
Tantangan dan Agenda BKPRN Ke Depan
kisah sukses BKPRN
Penyelesaian RTRW. Disadari adanya keinginan kita semua untuk
menjadikan Rencana Tata Ruang sebagai “panglima” pelaksanaan
pembangunan di Indonesia. Namun keinginan ini masih terkendala
oleh kenyataan bahwa masih belum seluruh provinsi, kabupaten
dan kota memiliki RTRW. Oleh karena itu, penyelesaian RTRW yang
masih tersisa adalah agenda utama BKPRN ke depan: bagaimana
memasilitasi pemerintah daerah agar paling lambat akhir tahun
2014 seluruh RTRW telah diselesaikan. Hal ini tentu bukan
pekerjaan yang mudah. Penyelesaian RTRW perlu disertai jaminan
kualitas produk RTRW yang memenuhi standar. BKPRN diharapkan
berperan lebih besar dalam mengoordinasikan keseluruhan bantuan
teknis dan bentuk fasilitasi lainnya dari pemerintah agar terjadi
percepatan penyelesaian RTRW. Penggunaan data geospasial
Sinergi dan Harmonisasi Perundang-undangan. Tahun 2015, tahun
awal pelaksanaan RPJMN 2015-2019, harus menjadi momentum
penting bagi penyelenggara tata ruang untuk menciptakan sinergi
dan harmonisasi diantara berbagai peraturan perundangan terkait
penyelenggaraan tata ruang. Untuk itu, dibutuhkan terobosan
BKPRN dalam menyelesaikan belum harmonisnya berbagai regulasi
terkait penataan ruang di Indonesia. Selain itu, masih banyak
regulasi yang merupakan bagian dari amanat Undang-Undang yang
perlu segera dilengkapi.
Kerjasama BKPRN-BKPRD. Sebagai konsekuensi hukum
dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, maka
penyelenggaraan penataan ruang juga menjadi tugas pemerintah
daerah. Terkait dengan itu, fungsi koordinasi juga ditangani
pada tingkat pemerintahan daerah (provinsi, kabupaten, kota).
Keberadaan BKPRD (Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah)
menjadi sesuatu keharusan dalam memastikan terselenggaranya
fungsi koordinasi di tingkat daerah. BKPRN harus mendorong
pemerintah daerah agar membentuk BKPRD, meningkatkan
dan mempertahankan kualitas BKPRD, dan menjaga hubungan
fungsional antara BKPRN dan BKPRD provinsi/kabupaten/kota.
Koordinasi Sektoral-Spasial. Salah satu isu utama yang selama
ini mengemuka adalah belum dijadikannya RTRW sebagai acuan
sehingga terjadi ketidaksinkronan antara RTRW dan rencana
pembangunan sektoral. Keberadaan BKPRN dan BKPRD diharapkan
dapat menjembatani kesenjangan antara RTRW dan rencana
pembangunan sektoral. Keterlibatan aktif BKPRN dan BKPRD
dalam proses perencanaan pembangunan melalui mekanisme
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (musrenbang) dapat
menjadi pintu masuk dimulainya upaya sinkronisasi RTRW dan
rencana pembangunan baik sektoral maupun regional.
Sosialisasi dan diseminasi Penataan Ruang. Pelanggaran terhadap
pemanfaatan ruang diancam oleh sanksi pidana, namun dalam
kenyataannya masyarakat termasuk para pemangku kepentingan
utama masih belum sepenuhnya memahami secara baik tentang
penataan ruang dengan segala atributnya. Upaya meningkatkan
pemahaman masyarakat secara umum dapat menjadi salah satu
agenda BKPRN. Dimulai dengan melakukan advokasi kepada para
pengambil keputusan, dan sosialisasi pada masyarakat secara
BKPRN telah menggunakan Perpres No. 54/2008 tentang Penataan Ruang Kawasan
Jabodetabekpunjur sebagai alat pengendalian pemanfaatan ruang.
Rencana pembangunan Pusat Arsip PPATK di Ciloto, Kab. Cianjur telah memiliki HGB, namun belum
memiliki IMB. Permohonan IMB yang diajukan ditolak karena pemanfaatannya tidak sesuai dengan
Perpres No. 54/2008 dan Perda RTRW Kab. Cianjur No. 7/1997. Rekomendasi BKPRN dikeluarkan
untuk menyelesaikan masalah tersebut melalui Surat Menko Perekonomian (selaku Ketua BKPRN)
No. S-83/M.EKON/05/2011 tanggal 23 Mei 2011 yang menolak keberadaan gedung DRC dan
PPATK karena tidak sesuai dengan arahan Perpres No. 54/2008. Kemudian Menko Perekonomian
menyerahkan penertibannya kepada Pemda Kab Cianjur.
BKPRN telah menggunakan Perpres No. 45/2011 tentang RTR Kawasan Perkotaan Sarbagita
sebagai acuan dalam pemberian rekomendasi pemanfaatan ruang kawasan pariwisata.
Pembangunan Bali International Park (BIP) sebagai Kawasan Pariwisata memiliki perbedaan
penafsiran antara RTRW Kab. Badung dengan Perpres No. 45/2011 (RTR Kaw.Perkotaan Sarbagita).
Surat No. TR.03 03-Mn/658 (Desember 2011) dari Menteri PU kepada Menko Perekonomian: izin
prinsip pembangunan kawasan terpadu BIP dapat diterbitkan sesuai dengan acuan Perpres No.
45/2011 diterbitkan sebagai rekomendasi dari BKPRN yang berisi himbauan kepada Pemda Kab.
Badung untuk mempercepat proses penetapan Perda RTRW Kab. Badung.
Sumber: Buku Kinerja Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I dan II, Bappenas, 2013
20
yang dikeluarkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG, dahulu
Bakosurtanal) dalam hal ini perlu ditingkatkan lebih banyak.
buletin tata ruang & pertanahan
berjenjang dari pusat sampai ke desa. Langkah ini perlu ditunjang
dengan skenario yang jelas dengan melibatkan BKPRD. Kampanye
dan publikasi masif yang terus menerus melalui berbagai media
termasuk media sosial nantinya sewajarnya menjadi bagian dari
rutinitas BKPRN dan BKPRD.
Pemantauan dan evaluasi. Pemantauan dan evaluasi sementara
ini juga belum tersentuh secara berarti oleh BKPRN. Sementara
memasuki era RPJMN tahap III (2015-2019), penyelenggaraan
tata ruang akan mulai memasuki tahapan pemanfaatan dan
pengendalian tata ruang. Sehingga menjadi suatu keniscayaan
ketika kemudian BKPRN berperan dalam mengoordinasikan
upaya pemantauan dan pengendalian dari berbagai institusi mulai
dari pusat sampai daerah. Dengan demikian diharapkan hasil
pemantauan dan pengendalian dapat lebih berdayaguna.
Kerjasama. Kerjasama antarprovinsi harus sudah mulai dirintis
dengan mempertimbangkan semakin banyaknya masalah lintas
wilayah, juga maraknya isu perkembangan kota-kota besar menuju
terbentuknya metropolitan bahkan megapolitan. Tidak kalah penting
perlunya dirintis kerjasama antarnegara baik dengan alasan berbagi
pengalaman maupun dalam konteks perbatasan negara. BKPRN
diharapkan dapat menginisiasi hal ini bersama BKPRD.
Proses Pengambilan Keputusan BKPRN. Salah satu kritik yang
sering mengemuka terhadap BKPRN adalah kelambanan dalam
pengambilan keputusan dikarenakan proses pengambilan
keputusan BKPRN harus melalui sidang BKPRN yang nota bene
terdiri dari sejumlah menteri terkait. Selama ini, di masa reformasi,
mengumpulkan seluruh menteri terkait ternyata tidak mudah.
Diperlukan suatu terobosan agar kendala ini dapat teratasi.
agenda Januari-Juli 2014
Pimpinan BKPRN. Persoalan penataan ruang adalah persoalan
lintas sektoral, lintaswilayah, lintas institusi, dalam pembangunan
nasional. Oleh karena itu fungsi dan keberadaaan BKPRN (dan/atau
BKPRD) sebagai perpanjangan tangan dan sekaligus pembantu
Januari 2014
• Penyusunan rencana kerja tahunan BKPRN berdasarkan
agenda kerja BKPRN 2014-2015
• Penyusunan rencana kerja Sekretariat RAN 2014 – 2015;
• Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2015;
• Pertemuan Tingkat Eselon I, II, dan III BKPRN untuk tema:
a) Monitoring Implementasi mekanisme Holding Zone;
b) Kajian hukum percepatan percepatan penyelesaian
penetapan perda RTRW;
• Pelaksanaan rapat antar pokja BKPRN untuk tema:
a) Penyelarasan Implementasi RZWP-3-K; b) Penyusunan
Pedoman Penyelesaian Konflik Penataan Ruang
• Penyusunan TOR untuk pemetaan kegiatan dan penyusunan
materi teknis masukan pedoman;
• Lokakarya pemetaan kegiatan.
Februari 2014
• Penyusunan jadwal dan rencana kerja kegiatan Sekretariat
BKPRN 2014-2015;
• Laporan Semester I BKPRN Tahun 2014;
• Pertemuan Koordinasi Access Reform Sekretariat RAN 2014.
Maret 2014
• Rapat teknis pelaksanaan Publikasi Tata Batas Kawasan
Hutan, Sekretariat RAN 2014;
• Pengumpulan dan pengolahan bahan, data dan informasi
BKPRN dan pengembangan e-BKPRN;
• Forum Sosialisasi Hasil Kajian Background Study dan Kajian
SCDRR di Kementerian PPN/Bappenas dan IRSA;
Presiden sangatlah penting agar semua rencana pembangunan
dapat tersususn secara terintegrasi, sinergis, dan efisien dalam
penggunaan sumberdaya, serta efektif dalam pelaksanaannya.
Fungsi rencana tata ruang sebagai rencana spasial sangat erat
terkait dengan rencana pembangunan sektoral yang a-spasial.
Oleh karena itu, peranan Ketua BKPRN dan BKPRD sangat penting
sebagai mediator/penengah bagi semua kepentingan sektoral dan
daerah. Ke depan, penulis berpendapat bahwa posisi Ketua BKPRN
harus dikembalikan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas sebagaimana dulu pernah terjadi,
mengingat tugas dan fungsinya yang juga mengoordinasikan
semua rencana pembangunan baik sektoral maupun daerah,
yang harus sejalan dengan rencana penataan ruang. Dengan
demikian tujuan pembangunan yang berkelanjutan, terutama
penekanan pada RPJMN 2015-2019, akan dapat lebih terjamin
pencapaiannya. Namun tentu keputusan mengenai hal ini
sepenuhnya merupakan kewenangan dan diskresi Presiden terpilih
nantinya.
Penutup
Keberadaan BKPRN dan BKPRD sangat penting dan sangat
diperlukan (pivotal) mengingat pekerjaan pembangunan nasional
yang bersifat lintas sektoral, lintas daerah, lintas lembaga, dan
lintas waktu. Diperlukan lembaga yang dapat berfungsi sebagai
perekat (integrator), koordinator, sekaligus sebagai penyelesai
masalah (solver), dan ini hanya bisa dilakukan oleh lembaga yang
lintas sektoral pula.
Di dalam menghadapi pembangunan ke depan, khususnya
pembangunan jangka menengah 2015-2019, siapapun pemimpin
pemerintahan negara ini nanti, diharapkan BKPRN akan tetap
dapat dipertahankan, bahkan diperbaiki kinerjanya sehingga
merupakan tangan Presiden untuk mewujudkan visi dan misinya
secara lebih efektif lagi, dan pembangunan yang berkelanjutan
akan dapat dijamin pewujudannya. Semoga.
• Penggunaan internal secara intensif, Sosialisasi II, penggunaan
lintas K/L dalam penggunaan eBKPRN;
• Pembuatan data yang dapat dianalisis (peta, rencana) dalam
Portal TRP;
• Penyusunan konsep dan pembuatan Web RAN dan eRAN;
• Diskusi internal, diskusi pakar, penyusunan TOR lengkap
Kegiatan Knowledge Management.
April 2014
• Pertemuan (Breakfast meeting) Tingkat Eselon I, II, dan III BKPRN
• Kunjungan lapangan ke Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi
Bangka Belitung dalam rangka Koordinasi Access Reform
Sekretariat RAN
• Penyusunan Laporan Pokja III BKPRN;
• Mengikuti pelaksanaan Musrenbangnas
Mei 2014
• Penyusunan agenda Kerja BKPRN untuk Semester II Tahun 2014
• Rapat Kerja Regional (Rakereg) BKPRN 2014;
• Kunjungan lapangan ke Propinsi Bali dalam rangka Publikasi Tata
Batas Kawasan Hutan, Sekretariat RAN;
• Pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan
pembangunan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan
Juni 2014
• Sidang BKPRN Tahun 2014;
• Laporan Semester I dan II BKPRN Tahun 2014;
• Pembahasan Bank Tanah;
• Penerbitan Buletin TRP Edisi I Tahun 2014.
buletin tata ruang & pertanahan
21
kajian
Kajian Arah Kebijakan Pengelolaan Pertanahan
Nasional 2015-2019
Latar Belakang
Dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria
(UUPA) dinyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia adalah kesatuan tanah-air dari seluruh rakyat Indonesia
yang bersatu sebagai bangsa Indonesia. Selanjutnya dalam ayat (2) dinyatakan seluruh bumi, air dan ruang
angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam wilayah Republik Indonesia, sebagai
karunia Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan kekayaan nasional. Kedua ayat ini mengandung makna bahwa
tanah di seluruh wilayah Indonesiamerupakan tanah bersama Bangsa Indonesia sebagai karunia Tuhan
Yang Maha Esa. Didasarkan kepada Pasal 9 ayat (2) UUPA yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga-negara
Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh sesuatu
hak atas tanah serta untuk mendapat manfaat dari hasilnya, baik bagi diri sendiri maupun keluarganya, diakui
kepemilikan secara individu di dalam konsep tanah bersama.
Falsafah Indonesia dalam konsep hubungan antara manusia
dengan tanah menempatkan individu dan masyarakat sebagai
kesatuan yang tak terpisahkan. Pemenuhan kebutuhan seseorang
terhadap tanah diletakkan dalam kerangka kebutuhan seluruh
masyarakat sehingga hubungannya tidak bersifat individualistis
semata, tetapi lebih bersifat kolektif dengan tetap memberikan
tempat dan penghormatan terhadap hak perseorangan (Maria
Soemardjono, 2009). Dalam prakteknya, falsafah hubungan antara
manusia dengan tanah ini kurang dipahami sehingga muncul
berbagai permasalahan. Peraturan perundang-undangan di bidang
pertanahan yang sudah ada sejak tahun 1960, masih belum
mampu menjadi alat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.
Tujuan kajian ini adalah menyusun draf rancang bangun kebijakan
bidang pertanahan Tahun 2015-2019, meliputi:
1. Rumusan arah kebijakan Bidang Pertanahan dalam RPJMN
2015-2019;
2. Rumusan program dan kegiatan Bidang Pertanahan 20152019; dan
3. Rumusan indikator input, ouput, dan outcome Bidang
Pertanahan 2015-2019.
Permasalahan dan Isu Strategis Bidang Pertanahan
Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengklasifikasi kasus
pertanahan menjadi konflik, sengketa dan perkara.Konflik
merupakan permasalahan pertanahan yang memiliki nuansa/
aspek sosial dan politik yang luas, sedangkan sengketa adalah
permasalahan pertanahan yang tidak memiliki nuansa sosial politik
yang begitu luas, umumnya antar individu.Kemudian perkara
merupakan konflik dan sengketa yang sudah masuk ke pengadilan
baik itu pengadilan negeri, tinggi, maupun PTUN. Terjadinya
sengketa dan konflik pertanahan karena adanya perbedaan
persepsi, pendapat, kepentingan, nilai antara dua pihak atau lebih
mengenai status tanah, status penguasaan, status kepemilikan,
status surat keputusan mengenai kepemilikan atas tanah tertentu,
yang berkepanjangan dan dianggap merugikan salah satu pihak
dan muncul kepermukaan.
Munculnya kasus pertanahan tersebut berpengaruh pada kondisi
ekonomi, sosial, politik, pertahanan dan keamanan. Data BPN
pada tahun 2012 mencatat 7.196 kasus pertanahan yang terdiri
atas sengketa, konflik dan perkara. Dari jumlah tersebut, baru
22
buletin tata ruang & pertanahan
4.291 kasus yang telah diselesaikan. Munculnya kasus-kasus
pertanahan yang diliput oleh berbagai media massa pada awal
tahun 2012 merupakan akumulasi dari kasus pertanahan yang
telah berlangsung lama dan tidak terselesaikan. Berikut gambaran
proporsi kasus pertanahan berdasarkan subjek.
1,95
Masyarakat-Instansi Pemerintahan
Individu-Instansi Pemerintahan
Badan Hukum-Instansi Pemerintah
26,6
71,45
18,4
50,8
Antar Instansi Pemerintahan
Antara Masyarakat-Pemerintahan
Antar Masyarakat
3,4
2,8
16,9
25,3
Sumber: BPN, 2012
30,8
51,6
Masyarakat-Masyarakat
Individu-Individu
Individu-Badan Hukum
Badan Hukum-Badan Hukum
Badan Hukum-Masyarakat
Gambar 1 Proporsi Kasus Pertanahan Berdasarkan Subjek
Indonesia memiliki hukum pertanahan yang mengatur secara
jelas mengenai tata cara baik kepemilikan maupun proses jual
beli. Namun penggunaan hukum pertanahan nasional tidak
dapat dilakukan khususnya pada wilayah ulayat/adat terutama
wilayah timur Indonesia. Adanya perbedaan penggunaan hukum
tanah di berbagai wilayah di Indonesia seringkali menimbulkan
konflik pertanahan. Sehingga sistem tenurial dan pola kerjasama
pemanfaatan berdasarkan hukum pertanahan nasional tidak dapat
dilakukan dengan serta merta tanpa upaya matrikulasi penyamaan
pemahaman konsep terlebih dahulu. Model-model pengenalan
konsep atau modifikasi tenurial pada sistem pertanahan nasional
perlu dikembangkan lebih lanjut untuk mengakomodasi model
permasalahan kasus pertanahan ini. Tanah dengan kepemilikan
ulayat/adat memerlukan adanya sistem pengelolaan yang jelas agar
pihak-pihak terkait dapat mengetahui dengan jelas batas wilayah,
tata cara pengelolaan (identifikasi dan penetapan) termasuk
kewenangan para pihak dalam pengelolannya.
Salah satu arah kebijakan Reforma Agraria sebagaimana dimuat
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf b Ketetapan Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR/2001tentang Pembaruan
Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam adalah melaksanakan
penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah (landreform) yang berkeadilan dengan
memperhatikan kepemilikan tanah untuk rakyat, baik tanah
pertanian maupun tanah perkotaan. Ini berarti kegiatan Reforma
Agraria melalui Program Pembaruan Agraria Nasional (PPAN) telah
menjadi komitmen Pemerintah Republik Indonesia dalam upaya
memperbaiki permasalahan utama pada ketimpangan Penguasaan,
Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (P4T). Secara
umum, tujuan Reforma Agraria antara lain:
a. Menata kembali ketimpangan struktur penguasaan, pemilikan,
penggunaan dan pemanfaatan tanah ke arah yang lebih adil;
b. Mengurangi sengketa dan konflik pertanahan;
c. Memperbaiki akses rakyat kepada sumber-sumber ekonomi,
terutama tanah;
d. Mengurangi kemiskinan;
e. Menciptakan lapangan kerja;
f. Memperbaiki dan menjaga kualitas lingkungan hidup; dan
g. Menguatkan ketahanan pangan dan energi.
Salah satu permasalahan mendasar pertanahan adalah
kecenderungan sebagian kecil penduduk Indonesia menguasai
tanah yang amat luas sedangkan di sisi lain sebagian besar
penduduk harus hidup di tanah yang sempit sehingga tidak
efisien apabila diusahakan. Sehingga program landreform
melalui redistribusi tanah melakukan koreksi agar sebagian besar
penduduk dapat hidup di tanah yang luasannya layak secara
ekonomi, sosial, dan budaya. Untuk menjamin keadilan semua
pihak, tentunya perlu batas waktu dan parameter kinerja dimana
pada satu waktu kegiatan redistribusi tanah dinyatakan selesai dan
proporsi inventarisasi penguasaan, pemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah (IP4T) telah dikoreksi ke tingkat yang layak baik
secara ekonomi, sosial, maupun budaya.
Berdasarkan data dari BPN (2013), saat ini masih terdapat berbagai
permasalahan terkait dengan landreform, yaitu kelangkaan
tanah yang dapat dijadikan sumber tanah objek reforma agraria
(TORA), dan terjadinya pengalihan hak atas tanah yang telah
diredistribusikan. Sebagian besar sumber tanah yang dapat
dijadikan TORA hanya tinggal berasal dari tanah negara yang
meliputi kawasan hutan yang dapat dikonversi dan tanah terlantar.
Namun pada pelaksanaannya perubahan fungsi kawasan hutan
menjadi non hutan memerlukan beberapa persyaratan khusus
sehingga proses perubahannya memerlukan waktu yang lama.
Selain itu, BPN juga mengalami kesulitan dalam menetapkan
sebidang tanah sebagai tanah terlantar karena beberapa hal yaitu
(i) pemegang hak dapat melakukan upaya teknis untuk menghindari
status tanah terlantar; (ii) Data subjek untuk penerima reforma
agraria belum tersedia dengan baik; (iii) Ketentuan tentang tata cara
pengaturan (delivery mechanism) pelaksanaan redistribusi tanah
belum jelas secara operasional; (iv) Pengukuran kadastral dan
identifikasi P4T belum mencakup seluruh wilayah nasional.
Sementara itu permasalahan lainnya terkait dengan implementasi
redistribusi tanah yang telah dilakukan adalah terjadinya pengalihan
hak atas tanah yang telah diredistribusikan oleh pemerintahan
kepada masyarakat miskin kepada pihak lain dikarenakan
masyarakat miskin penerima tidak memiliki akses sumberdaya
yang cukup untuk mengolah dan memanfaatkan tanah tersebut.
Sehingga pada akhirnya program redistribusi tanah sebagai
bagian dari reforma agraria yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan dan keadilan, belum dapat menunjukan hasil yang
signifikan dalam memperbaiki kesejahteraan masyarakat miskin.
Berikut gambar diagram fenomena penyediaan tanah objek reforma
agraria.
WILAYAH REPUBLIK INDONESIA
Tanah Negara
Tanah Hak
Kriteria Terlantar
Hutan
Pelepasan
Hak
BMN Tanah
Tidak Terlantar
Terlantar
Tanah Objek Reforma Agraria (TORA)
Redistribusi &
Akses Sumberdaya
Gambar 2 Diagram Fenomena Penyediaan Tanah Objek Reforma Agraria
Pada tahun 2012 telah diterbitkan UU No. 2/2012 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum
(selanjutnya disebut UU Pengadaan Tanah). UU ini kemudian
dilengkapi dengan Perpres No. 71/2012 tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Diterbitkannya UU Pengadaan Tanah dirasakan perlu karena
peraturan perundang-undangan di bidang pengadaan tanah bagi
pembangunan untuk kepentingan umum sebelumnya belum dapat
menjamin perolehan tanah untuk pelaksanaan pembangunan.
Selain itu pengaturannya hanya berbentuk Keputusan Presiden
dan Keputusan Menteri. Meskipun maksud dan tujuan
penerbitan semua ketentuan tersebut untuk lebih memberikan
jaminan kepastian hukum bagi pelaksanaan pengadaan tanah
bagi pembangunan untuk kepentingan umum, namun pada
kenyataannya kegiatan pengadaan tanah untuk pembangunan
bagi kepentingan umum dalam pelaksanaannya tetap mengalami
kesulitan. Keberadaan UU yang baru diharapkan dalam pengadaan
tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum dapat lebih
terukur karena adanya kerangka waktu pengadaan tanah. Proses
pengadaan tanah dapat dilakukan dalam kurun waktu terhitung
sejak dokumen perencanaan resmi diterima oleh gubernur paling
cepat (tanpa adanya gugatan) selama 319 hari kerja dan paling
lama (dengan adanya gugatan) selama 583 hari kerja.
BPN memiliki tugas dan fungsi pokok sebagai instansi Pemerintah
yang melakukan penataan dan pengelolaan bidang pertanahan
di seluruh wilayah Republik Indonesia (Perpres No. 10/2006 dan
Perpres No. 85/2012). Dalam melaksanakan tupoksi di atas, dari
hasil evaluasi sementara, BPN secara ideal diharapkan memiliki
kekuatan pegawai negeri sipil sebanyak 26.000 orang, dengan
proporsi kompetensi ideal untuk juru ukur sekitar 10.000 orang.
Dengan demikian terlihat bahwa kekuatan SDM BPN masih jauh
dari memadai untuk dapat memberikan pelayanan pertanah-an
nasional yang baik. Selain itu dari sisi pola penyebaran SDM,
tercatat sebagian besar hanya terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali
serta kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti Makasar, Medan,
dll. Di sisi lain, saat ini BPN sedang memiliki prioritas utama dalam
kegiatan percepatan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia.
Dari aspek proporsi kompetensi, saat ini jumlah sumberdaya
manusia juru ukur/surveyor masih sangat kurang yaitu baru
mencapai sekitar 1.689 orang dari total kebutuhan ideal sekitar
10.000 orang. Pada Tahun 2012, proporsi pegawai BPN untuk juru
ukur bila dibandingkan dengan keseluruhan 20.184 orang, baru
buletin tata ruang & pertanahan
23
mencapai 8 persen. Kebijakan penerimaan pegawai yang berjalan
belum mengarah pada upaya mencapai kekuatan ideal, termasuk
proporsi juru ukur sebagai ujung tombak pelayanan pertanahan
nasional.
Kerangka Kebijakan Bidang Pertanahan 2015-2019
Perubahan Sistem Pendaftaran Tanah Stelsel Negatif Menjadi
Stelsel Positif. Sistem pendaftaran tanah di Indonesia yang
menggunakan sistem stelsel negatif telah teridentifikasi tidak dapat
memberikan kepastian hukum bagi pemilik sertipikat atau pemilik
hak atas tanah tersebut. Penggunaan sistem ini memicu timbulnya
berbagai permasalahan dalam bidang pertanahan yang kemudian
memicu terjadinya konflik dan sengketa tanah. Di lain sisi, kepastian
hukum atas kepemilikan tanah akan mengurangi kasus klaim
kepemilikan oleh pihak lain yang tidak berhak pada sebidang tanah
sehingga mendorong pembentukan iklim investasi ekonomi yang
kondusif yang pada akhirnya berpengaruh kepada menguatnya
daya saing perekonomian nasional di dunia internasional.
Pada dasarnya walaupun secara hukum formal sistem pendaftaran
tanah di Indonesia menggunakan sistem pendaftaran tanah
publikasi negatif, namun beberapa karakter publikasi positif telah
mulai diaplikasikan sebagai pelengkap dalam kebijakan pendaftaran
tanah nasional. Hal ini terlihat dalam proses pendaftaran tanah
yang melibatkan panitia ajudikasi atau panitia penilai sebagaimana
diterangkan dalam PP No. 24/1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Terdapatnya panitia penilai atau panitia ajudikasi terhadap bidang
tanah yang akan didaftarkan merupakan salah satu ciri penggunaan
karakter pendaftaran tanah secara positif.
Namun demikian, untuk melakukan penjaminan atas kepastian
hak kepemilikan tanah masih diperlukan persiapan panjang yang
matang terutama dari kemampuan keuangan negara dalam
melakukan ganti rugi pada kasus dimana sertipikat yang telah
diterbitkan terbukti oleh Pengadilan dinyatakan tidak sah. Saat ini,
masih besar potensi terjadinya sertipikat ganda mengingat dua
faktor yang amat terkait, yaitu (i) cakupan peta dasar pertanahan
yang baru mencapai 11 persen dari wilayah nasional daratan bukan
hutan; serta (ii) cakupan wilayah bidang tanah yang bersertipikat
baru mencapai 47 persen dari wilayah nasional daratan bukan
hutan.
Untuk itu sebelum dilakukan perubahan sistem pendaftaran tanah
menjadi publikasi positif, perlu dilakukan beberapa langkah teknis
meliputi: (i) Percepatan Sertipikasi Tanah; dan (ii) Percepatan
Penyediaan Peta Dasar Pertanahan. Terkait dengan potensi
terjadinya kesalahan negara dalam menerbitkan sertipikat,
diasumsikan bahwa tingkat kesalahan yang mengakibatkan beban
keuangan negara dalam menyediakan ganti rugi, akan mencapai
tingkat yang dapat dikelola bila cakupan peta dasar pertanahan
dan cakupan wilayah nasional yang telah bersertipikat, keduanya
mencapai 80 (atau 90) persen dari wilayah nasional daratan bukan
hutan. Pada kondisi ini, diyakini bahwa secara teknis kemungkinan
terjadi sertipikat sah ganda menjadi amat kecil sehingga bila
memang masih terjadi, resiko beban keuangan negara dalam
memberikan ganti rugi masih dapat dikelola dengan baik.
Percepatan Penyelesaian Kasus-Kasus Pertanahan. Hasil
keputusan beberapa pengadilan yang berbeda pada beberapa acara
peradilan yang juga berbeda untuk kasus yang sama, selain akan
menimbulkan potensi konflik yang berkepanjangan antara pihakpihak yang bersengketa, juga akan merusak kepastian hukum hak
atas tanah yang pada akhirnya juga mempengaruhi iklim investasi
suatu negara. Salah satu faktor utama penyebab perbedaan
keputusan di atas adalah minimnya pengetahuan pertanahan dari
24
buletin tata ruang & pertanahan
para hakim penyelenggara acara peradilan tersebut. Selain itu juga
dibukanya opsi banding yang sama dengan kasus peradilan lainnya,
baik perdata, pidana, maupun tata usaha negara, menyebabkan
rentang waktu penyelesaian kasus pertanahan di pengadilan
menjadi hampir tidak terbatas.
Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya mendasar di sektor
kebijakan penyelesaian permasalahan pertanahan pada acara
peradilan yang dengan memperhatikan praktek selama ini,
secara logis seharusnya paling tidak meliputi: (i) pelibatan hakim
khusus yang menguasai permasalahan teknis pertanahan; (ii)
pembatasan jenis pengadilan bagi penyelesaian kasus pertanahan;
(iii) pembatasan banding yang boleh dilakukan. Dengan demikian
terlihat bahwa Indonesia, sebagaimana pengalaman negara lain
pada hal yang sama, membutuhkan sebuah pengadilan khusus
di bidang pertanahan untuk menyelesaikan sengketa pertanahan,
karena selain adil dan lebih berkepastian hukum serta dilakukan
dengan cepat, juga meniadakan kemungkinan keputusan berbagai
pengadilan yang berbeda-beda untuk kasus pertanahan yang sama.
Kebijakan Reforma Agraria (Pemberian Asset dan Access
Reform). Sepanjang sejarah Indonesia, para petani yang menjadi
tulang punggung sektor agraris, sejak jaman penjajahan,
kemerdekaan, hingga sekarang, sebagian besar belum menikmati
apa arti kemerdekaan yang sesungguhnya, yaitu bebas dari
ketertindasan, kemiskinan dan menjadi bangsa yang bermartabat
di dunia internasional. Oleh sebab itu dapat dipahami mengapa
para founding fathers bangsa ini menempatkan mereka pada
prioritas utama untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Itulah
sebabnya, Indonesia melalui UUPA, yang mengandung jiwa
landreform, menghendaki adanya perubahan struktur pemilikan dan
penguasaan tanah yang mencerminkan rasa keadilan bagi bagian
terbesar rakyat Indonesia yaitu petani (Ahmad Sodiki. 2013 Hal
130).
Telah teridentifikasi sebelumnya beberapa hal terkait pelaksanaan
redistribusi tanah di Indonesia selama ini, yaitu (i) Bahwa
pelaksanaan redistribusi tanah tidak memiliki kerangka waktu;
sedangkan di sisi lain; (ii) Tanah sumber TORA semakin langka, dan
saat ini sebagian besar TORA bersumber dari perlepasan kawasan
hutan dan tanah terlantar; dan (iii) Terjadi pengalihan hak atas tanah
segera setelah bidang tanah diserahkan kepada penduduk miskin,
walaupun tidak melalui transaksi jual beli formal (di bawah tangan),
karena penduduk miskin bersangkutan tidak memiliki sumber daya
untuk mengolah dan memanfaatkan bidang tanah tersebut.
Mengingat keadaan nyata pada masih terdapatnya ketimpangan
tajam terhadap proporsi pemilikan dan penguasaan tanah terutama
masyarakat miskin yang tidak memiliki akses ke sumber daya
tanah, dengan memperhatikan amanat UUPA dan telah diperkuat
dengan TAP MPR IX/2001 Indonesia perlu melanjutkan kebijakan
pelaksanaan redistribusi tanah yang merupakan bagian dari sebuah
Reforma Agraria.Namun demikian dengan memperhatikan beberapa
masalah yang teridentifikasi, tentunya kebijakan redistribusi tanah
saat ini perlu disempurnakan dan dilengkapi sehingga dapat lebih
berkontribusi secara nasional dalam mengentaskan kemiskinan dan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Redistribusi tanah sebagai bagian Program Pembaruan
Agraria Nasional (PPAN) harus dilengkapi dengan kerangka
waktu pelaksanaan. Mengingat pengalaman Filipina, Brasil,
Thailand, Brasil, Indonesia juga memiliki masalah sengketa tanah
skala besar yang perlu diselesaikan terlebih dahulu. Selain itu
Indonesia juga berambisi mengembangkan teknologi pangan
untuk mewujudkan kebijakan swasembada pangan nasional
seperti yang telah dilaksanakan oleh Thailand. Pada kasus Filipina,
dibutuhkan 14 tahun upaya redistribusi tanpa pengembangan
teknologi dan tanpa penyelesaian konflik skala besar. Sebagai
upaya untuk menyelesaikan konflik skala besar dan kebutuhan
untuk mengakomodasi pengembangan teknologi pertanian dan
pangandiusulkan agar pelaksanaan redistribusi tanah di Indonesia
dapat dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun secara bertahap,
yaitu:
Tahap I, dalam waktu 5 tahun. Selain melakukan identifikasi
potensi rinci, berapa luas dan lokasi sumber TORA, dan melakukan
pelaksanaan redistribusi itu sendiri, penyelesaian sengketa dan
konflik pertanahan skala nasional (besar) menjadi prioritas utama
pada tahap ini. Pengembangan teknologi pertanian dan pangan
juga harus sudah dimulai dengan bekerjasama dengan instansi
Pemerintah terkait dan juga dunia usaha swasta. Sebagai
gambaran pengalaman negara-negara lain, Filipina berhasil
melakukan redistribusi seluas 5,96 juta Ha; Thailand telah
melakukan redistribusi tanah seluas 6,22 Juta Ha, dan Brasil
setelah menyelesaikan sengketa dan konflik pertanahan skala besar
berhasil melakukan redistribusi tanah seluas 85,8 juta Ha;
Tahap II, dalam waktu 5 Tahun. Pelaksanaan redistribusi sejalan
dengan pengembangan teknologi pertanian dan pangan.
Pengembangan interkoneksi antara usaha petani kecil dengan
Usaha Kecil Menengah (UKM) serta badan usaha besar dengan
fokus kepada orientasi ekspor.
Penyediaan input sumberdaya pendamping bagi penerima
program redistribusi tanah–Access Reform. Upaya
mengeluarkan penduduk miskin dari “jebakan kemiskinan” (poverty
trap), di mana dalam pelaksanaan redistribusi tanah telah terjadi
pengalihan hak atas tanah yang telah diserahkan, Pemerintah perlu
melengkapi pemberian bidang tanah dengan sumber daya lain
yang dibutuhkan penduduk miskin penerima untuk dapat mengolah
dan memanfaatkan tanah yang telah redistribusi. Bila bidang tanah
redistribusi dianggap sebagai asset, maka sumberdaya pelengkap
yang diperlukan dapat dianggap sebagai access menuju tingkat
kesejahteraan yang lebih layak. Dengan demikian diusulkan
kebijakan penyediaan sumberdaya pelengkap disebut sebagai
kebijakan Access Reform.
Penerimaan
(Orang)
Juru
Ukur
Non Juru
Ukur
Eksisting
292
323
1
1.500
0
2
1.500
0
3
1.350
4
Jumlah
Penerimaan
(Orang)
Tujuan utama dari pembangunan interkoneksi ini adalah
membangun apa yang dikenal sebagai Innovation System atau
di beberapa negara juga dikenal sebagai Technology Policy
dalam skala kecil yang dikhususkan bagi petani miskin penerima
redistribusi tanah. Dalam innovation system, selain hubungan
timbal balik antara pasar-produksi-lembaga litbang, feedback dari
pasar atas permintaan spesifikasi tertentu atas barang produk dan/
atau inovasi produk juga amat penting dan strategis.
Peningkatan Kualitas dan Proporsi SDM Bidang Pertanahan.
Memperhatikan kebutuhan pelayanan pertanahan dan jumlah
pegawai BPN saat ini, perlu disusun kebijakan penerimaan PNS
baru yang dapat merubah jumlah dan komposisi PNS menjadi lebih
ideal. Dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara
yang terbatas dan kebijakan organisasi birokrasi yang efektif dan
efisien, kemudian beberapa pokok kebijakan yang diusulkan dapat
dilihat pada Tabel 1.
Kesimpulan
Kebijakan bidang Pertanahan tahun 2015 – 2019, perlu mendasarkan
pada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, bahwa tanah yang ada di seluruh
wilayah Indonesia dipergunakan sebesar-besar bagi kemakmuran rakyat.
Guna melaksanakan kebijakan pertanahan tersebut, ditetapkan prioritas
pembangunan berupa reforma agraria, dengan strategi dan arah kebijakantercapainya kepastian dan perlindungan hukum serta keadilan dan
kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.Kerangka kebijakan dan fokus
prioritas bidang pertanahan yang diusulkan untuk 2015-2019, dapat
dilihat pada Tabel 2 [ik].
Isu Strategis
Rancangan Kebijakan
Kepastian hukum hak masyarakat atas tanah
Sumber daya pelengkap dimaksud dapat meliputi: (i) pinjaman uang
sebagai modal usaha kecil/menengah; (ii) penyediaan bibit unggul
(termasuk bibit ternak) dan/atau pupuk; (iii) penyediaan teknologi
dan/atau alat produksi; (iii) pelatihan-pelatihan; (iv) bantuan
pemasaran termasuk pengembangan pasar baru; (v) pemberian
sumber daya lainnya bagi keperluan peningkatan kesejahteraan
terkait pengelolaan dan pemanfaatan bidang tanah redistribusi.
Jangka
Waktu
(Tahun)
Pembangunan interkoneksi usaha. Secara akademis sebenarnya
pembangunan interkoneksi usaha merupakan bagian dari bantuan
pemasaran dan pengembangan pasar baru, namun dalam
pelaksanaannya seringkali tidak mendapat cukup perhatian dan
dilakukan dengan seadanya. Untuk itu diusulkan pembangunan
interkoneksi menjadi sub kebijakan tersendiri. Upaya pembangunan
interkoneksi membutuhkan koordinasi yang kuat, yang dapat
diterima oleh seluruh stakeholder terkait, meliputi berbagai Instansi
Pemerintah terkait, badan usaha swasta, dan petani miskin atau
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
Percepatan Penyelesaian Kasus-Kasus Pertanahan
- Pembentukan pengadilan khusus pertanahan
Kepastian Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat
- Pemetaan Tanah Adat Ulayat
Ketimpangan Pemilikan, Penguasaan, Penggunaan, dan
Pemanfaatan Tanah (P4T) & Kesejahteraan Masyarakat
Redistribusi Tanah dan Access Reform
Meningkatkan Pelayanan Pertanahan
Peningkatan Kualitas & Proporsi SDM Bidang Pertanahan
Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan
Bagi Kepentingan Umum
Pencadangan Tanah Untuk Pembangunan Kepentingan Umum
- Pembentukan Bank Tanah
Tabel 2 Isu strategis dan Rancangan Kebijakan Bidang Pertanahan
Pensiun/Purnajabatan
(Orang)
Juru
Ukur
Non Juru
Ukur
615
4424
88
1.500
4424
88
1.500
4424
150
1.500
1.350
150
5
1.350
6
Jumlah
Penerimaan
(Orang)
Jumlah Sumber
Daya Manusia (Orang)
Juru
Ukur
Non Juru
Ukur
930
1.689
930
2.747
88
930
4424
88
1.500
4424
150
1.500
1.200
300
7
1.200
8
Persentase
Jumlah SDM
Juru
Ukur
Non Juru
Ukur
18.495
8%
92%
18.007
13%
87%
3.805
17.519
18%
82%
930
4.713
17.181
22%
78%
88
930
5.621
16.843
25%
75%
4424
88
930
6.529
16.505
28%
72%
1.500
4424
88
930
7.287
16.317
31%
69%
300
1.500
4424
88
930
8.045
16.129
33%
67%
1.200
300
1.500
4424
88
930
8.803
15.941
36%
64%
9
1.200
300
1.500
4424
88
930
9.561
15.753
38%
62%
10
1.200
300
1.500
4424
88
930
10.319
15.565
40%
60%
Tabel 1 Usulan Peningkatan Jumlah dan Komposisi Pegawai BPN
buletin tata ruang & pertanahan
25
melihat dari dekat
Kepulauan Bangka Belitung
Rencana Pilot Project Program Reforma Agraria
Pada edisi kali ini, Redaksi Buletin TRP memilih Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk rubrik melihat dari
dekat. Provinsi Bangka Belitung diangkat menjadi objek tulisan ini karena provinsi ini akan menjadi salah satu
lokasi pilot project Program Reforma Agraria dan publikasi tata batas kawasan hutan pada Tahun 2014. Berikut
cerita kami mengenai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau yang disingkat Babel
adalah provinsi kepulauan yang terdiri dari Pulau Bangka dan
Pulau Belitung, serta pulau-pulau kecil seperti P. Lepar, P. Pongok,
dengan total pulau ± 470 buah. Di antaranya hanya 50 pulau yang
berpenghuni. Secara geografis, Bangka-Belitung terletak di bagian
Timur Pulau Sumatera dekat dengan Provinsi Sumatera Selatan,
dengan luas wilayah 16.424,06 km2. Pulau ini dikenal sebagai
pulau penghasil timah.
Keistimewaan Provinsi Babel ini adalah Program Satam Emas, yaitu
program pemerataan pembangunan melalui pemberian bantuan
senilai 1 Milyar Rupiah untuk setiap kecamatan. Program yang
secara resmi di luncurkan pada 2 Oktober 2013 lalu itu merupakan
salah satu prioritas pembangunan provinsi Babel yang telah
ditetapkan dalam RPJMD 2012-2017.
Bentuk Program Satam Emas sendiri secara umum meliputi
beberapa kegiatan seperti bedah rumah; pemberdayaan UMKM;
revitalisasi komoditas lada, perikanan tangkap; serta revitalisasi
komoditas rumput laut . Pada pelaksanaannya, pemerintah
kecamatan-lah yang nantinya akan melakukan assessment
(penilaian) terhadap bentuk kebutuhan bantuan warganya serta
penentuan jumlah calon penerima yang telah memenuhi kriteria,
sehingga selanjutnya pemerintah provinsi dapat dengan segera
menyalurkan bantuan senilai 1 Milyar tersebut.
Terkait dengan Program Reforma Agraria, Program Satam Emas
dalam hal ini dapat dijadikan pelengkap bagi kegiatan asset reform
(redistribusi tanah) yang telah dilakukan oleh BPN. Di masa depan,
masyarakat dapat memanfaatkan tanah-tanah tersebut secara
maksimal bagi peningkatan kesejahteraannya.
Salah satu kasus pertanahan yang seringkali muncul dan tidak
terselesaikan adalah kasus yang berlokasi di wilayah-wilayah yang
berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Salah satu penyebab
utama yang teridentifikasi adalah karena perbedaan skala peta
kawasan hutan (1:100.000) dengan non hutan (1:5.000), serta
tidak terpublikasinya batas-batas kawasan hutan tersebut. Uji coba
publikasi tata batas kawasan hutan sebagaimana diusulkan oleh
Kementerian PPN/Bappenas, akan dilakukan pula di Provinsi Babel.
Dua lokasi yang direkomendasikan adalah Hutan Lindung Pantai
Rebo dan Hutan Konservasi Gunung Mangkol. Lokasi tersebut
dipilih berdasarkan kriteria yang telah disepakati oleh Kementerian
PPN/Bappenas dan Kanwil BPN Provinsi Bangka Belitung. Kedua
lokasi tersebut memiliki kondisi yang serupa, yakni keberagaman
corak penggunaan lahan di sekitarnya dengan beberapa potensi
intrusi yang mungkin terjadi.
Pada lokasi hutan lindung Pantai Rebo terdapat sebuah kuil yang
tergolong berukuran besar. Adapun di sekitarnya telah terdapat
beberapa penggunaan lahan berupa perkebunan, pertambangan,
kawasan pariwisata maupun permukiman masyarakat setempat.
Adapun pada lokasi hutan konservasi Gunung Mangkol telah
terdapat perumahan, dengan dominasi sekitarnya berupa
penggunaan lahan perkebunan (termasuk sawit), bahkan
pertambangan di lokasi yang lebih mengarah ke dalam kawasan
hutan [hi].
Kawasan Hutan Lindung Pantai Rebo
Kawasan Hutan Konservasi Gunung Mangkol
Kawasan Hutan
Hutan Lindung
Hutan Produksi
Hutan Produksi yg dapat di Konversi
KSA/KPA
Gambar 1 Pembahasan Pilot Project Program Reforma Agraria
26
buletin tata ruang & pertanahan
Gambar 2 Kawasan Hutan
Penyusunan Background Study RPJMN 2015-2019
Bidang Tata Ruang dan Pertanahan
Kegiatan yang mendukung agenda penting Tahun 2014 sebagai tahun penyusunan rencana pembangunan
jangka menengah, pada Tahun 2013, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (TRP) sedang menyusun Kajian
Background Study penyiapan RPJMN tersebut. Berbagai kegiatan telah dilakukan antara lain adalah review
RPJPN, RPJMN 2010-2014 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan serta berbagai peraturan yang mendasari
penyelenggaraan penataan ruang dan pengelolaan pertanahan nasional.
Kajian berbagai kebijakan ini ditujukan untuk mengidentifikasi
Indikator Pencapaian Minimal 2015-2019, backlog selama 5 tahun,
dan kebutuhan penyelenggaraan penataan ruang dan pengelolaan
pertanahan. Dalam proses kajian, telah dilaksanakan ekspose Hasil
Review RTRWN dan FGD dan survei di pusat dan daerah untuk
menjaring persepsi direktorat sektoral di Bappenas dan aspirasi
daerah.
Dari berbagai rangkaian kegiatan tersebut, telah berhasil
diidentifikasi permasalahan dan isu strategis untuk Bidang Tata
Ruang dan Bidang Pertanahan. Beberapa permasalahan Bidang
Tata Ruang:
a. Banyaknya peraturan perundangan terkait ruang yang perlu
disinkronkan;
b. Kompetensi SDM penyelenggara penataan ruang yang belum
memadai;
c. Kurangnya kapasitas dan koordinasi kelembagaan di bidang
penataan ruang;
d. Belum terintegrasinya indikasi program dalam RTR dengan
rencana pembangunan dan program sektoral;
e. Tingginya variasi kualitas RTR;
f. Masih lemahnya penegakan hukum dalam implementasi RTR;
g. Belum operasionalnya perangkat pengendalian yang jelas dan
lengkap; dan
h. Masih terbatasnya sistem informasi penataan ruang dalam
rangka monitoring dan evaluasi.
Isu strategis Bidang Pertanahan:
a. Belum jelasnya kepastian hukum hak atas tanah;
b. Masih timpangnya pemilikan, penguasaan, penggunaan, dan
pemanfaatan tanah (P4T);
c. Rendahnya pelayanan pertanahan; serta
d. Semakin mendesaknya penyediaan lahan untuk pembangunan
bagi kepentingan umum [as/rn/ad].
Gambar 1 Focus Group Discussion (FGD) Background Studi RPJMN 20152019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan
Isu strategis yang diangkat untuk Bidang Tata Ruang:
a. Belum efektifnya kelembagaan penyelenggaraan penataan
ruang;
b. Belum efektifnya pemanfaatan dan pengendalian penataan
ruang; dan
c. RTRW belum dijadikan acuan pembangunan berbagai sektor.
Untuk Bidang Pertanahan, permasalahan yang berhasil diidentifikasi
adalah:
a. Tingginya konflik pertanahan;
b. Lambatnya penyelesaian kasus pertanahan;
c. Rendahnya cakupan peta dasar pertanahan;
d. Rendahnya cakupan bidang tanah bersertipikat;
e. Kurangnya SDM Bidang Pertanahan khususnya juru ukur;
f. Belum semua kantor pertanahan memiliki fasilitas memadai;
g. Sulitnya pengadaan tanah bagi pembangunan untuk
kepentingan umum;
h. Sebagian besar masyarakat (petani) hanya menguasai tanah
dengan luasan yang kecil (<0,5 ha) sehingga tidak efisien
untuk sebagai lahan usaha; dan
i. Masalah tanah adat dan ulayat.
Gambar 2 Lokakarya Kajian Background Study RPJMN 2015-2019 Bidang
Tata Ruang dan Pertanahan
buletin tata ruang & pertanahan
27
ringkas buku
Bank Tanah
Penulis Buku: Dr. Bernhard Limbong, S.Sos, SH, MH.
Salah satu permasalahan rumit di Bidang Pertanahan di Indonesia adalah penyediaan tanah untuk kebutuhan
pembangunan, terutama di perkotaan. Kelangkaan ini menyebabkan harga tanah di perkotaan terus naik dan
taksiran harga tanah berdasarkan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) tidak berlaku. Yang berlaku adalah harga
pasar yang dihasilkan dari persaingan tidak sempurna, sehingga pembebasan tanah untuk pembangunan
memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk pembayaran ganti rugi. Kendala besar bagi pembangunan fasilitas
publik perkotaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran nilai tanah.
Makna filosofis dan sosiologis tanah semakin dikerdilkan, dimana
saat ini masyarakat cenderung melihat tanah sebagai komoditas.
Apabila telah dilihat sebagai sebuah komoditas, maka selanjutnya
praktik-praktik spekulasi tanah menjadi tidak dapat dibendung.
Pemerintah dalam hal ini perlu mengupayakan untuk
menyeimbangkan kebutuhan dan ketersediaan tanah. Fungsi
dan tugas ini adalah perwujudan dari hak menguasai Negara
yaitu mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan
kekayaan alam, termasuk tanah untuk berbagai kepentingan. Untuk
mewujudkan hak penggunaan kekayaan alam ini, perlu mekanisme
yang menetapkan proses penyediaan tanah yang bersifat jangka
panjang. Salah satu solusinya adalah pembentukan bank tanah.
Landasan hukum pembentukan bank tanah adalah UUD 1945
(Pasal 33) dan UUPA Tahun 1960 (Pasal 2 ayat 2) yang menjamin
terwujudnya kemakmuran rakyat dari sumber-sumber kekayaan
alam, termasuk di dalamnya adalah tanah.
Konsep dan Urgensi Bank Tanah
Bank tanah adalah salah satu sarana manajemen sumber daya
yang penting untuk meningkatkan produktivitas pemanfaatan tanah.
Konsep bank tanah telah diterapkan berpuluh-puluh tahun silam
di beberapa Negara khususnya di daratan Eropa dan Amerika.
Metode yang diusung dalam bank tanah ini adalah control pasar
dan stabilisasi pasar tanah lokal. Sebagai sarana manajemen
tanah, bank tanah memiliki tujuan: (1) membentuk pertumbuhan
regional dan masyarakat; (2) menata perkembangan kota; (3)
menangkap peningkatan nilai tanah; (4) meningkatkan pengelolaan
dan pengendalian pasar tanah, utamanya untuk mengurangi
spekulasi tanah; (5) menyediakan tanah untuk keperluan publik; (6)
memastikan pasokan tanah yang cukup untuk kebutuhan investasi
swasta; (7) melindungi kualitas tanah dan menjaga kualitas
lingkungan; (8) menurunkan biaya perbaikan yang harus ditanggung
oleh masyarakat; (9) menurunkan biaya pelayanan publik; dan (10)
mengatur hubungan antar pemilik tanah.
Dampak pembentukan bank tanah adalah: (1)tersedianya tanah
untuk berbagai keperluan pembangunan di masa depan; (2)
efisiensi APBN/APBD; (3) mengurangi konflik dalam proses
pembebasan tanah, dan(4) mengurangi dampak buruk liberalisasi
tanah, termasuk membatasi ruang gerak para spekulan dan mafia
tanah.
Tersedianya tanah untuk berbagai keperluan pembangunan. Bank
tanah dapat menyediakan tanah yang dapat digunakan pemerintah
sewaktu-waktu. Pemerintah harus memiliki stok tanah yang banyak
28
buletin tata ruang & pertanahan
untuk kemudahan pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang
pada masa mendatang.
Efisiensi APBN. Setiaptahundanadari APBN/APBD selalu
dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur maupun fasilitas
umum dengan jumlah alokasi yang cenderung naik setiap
tahunnya. Penyebab utama kenaikan adalah harga tanah
yang terus meningkat, sehingga ganti rugi dan biaya relokasi
penduduk semakin tinggi. Bank Tanah memungkinkan pemerintah
mendapatkan tanah dengan yang mendekati NJOP setelah
identifikasi jumlah dan lokasi tanah ditetapkan dalam RTRW.
Mengurangi konflik dalam proses pembebasan lahan. Konflik
pembebasan tanah sering terjadi karena pemegang hak atas
tanah umumnya menolak menyerahkan tanah untuk kegiatan
pembangunan, terutama terkait tarik ulur dalam penentuan
nilai ganti rugi. Keberadaan bank tanah dapat mengintervensi
permasalahan tersebut, karena lahan dibebaskan sebelum adanya
kebutuhan pembangunan, sehingga diperkirakan masyarakat tidak
akan berpolemik mengenai tarik ulur harga.
Dalam pelaksanaannya, bank tanah dapat dijalankan oleh lembaga
publik dan organisasi swasta atau kombinasi dari keduanya.
Bank Tanah Publik adalah bank tanah yang penyelenggaraannya
melibatkan lembaga-lembaga publik yang independen dengan
tugas yang murni bersifat layanan publik. Bank tanah publik
kemudian dapat dibedakan menjadi bank tanah umum dan bank
tanah khusus . Bank tanah umum melayani perolehan tanah
yang belum dikembangkan dan terlantar, memegang tanah dan
membagi tanah untuk semua jenis penggunaan lahan. Bank
tanah ini bertujuan untuk mengontrol pola pertumbuhan kota dan
mengatur harga tanah. Bank tanah khusus lebih focus dengan area
fungsional tertentu, misalnya untuk kegiatan pembaruan perkotaan,
penyediaan perumahan kelas berpendapatan rendah, maupun
penyediaan fasilitas umum.
Bank Tanah Swasta adalah bank tanah yang dimiliki dan dilakukan
oleh individu, kelompok, koperasi, perusahaan dan atau kelompok
usaha milik swasta untuk berbagai kegiatan investasi yang
berorientasi profit. Berbeda dengan bank tanah publik, mekanisme
perolehan tanah bank tanah swasta dilakukan dengan sistem
jual beli atau tukar guling di pasar tanah umum. Dalam tataran
implementasi, sudah relatif banyak perusahaan swasta yang
menjalankan bank tanah di Indonesia. Beberapa perusahaan
tersebut terutama bergerak di bidang properti, pengembang
kawasan bisnis, pusat perdagangan, kawasan industri, dan
investasi perkebunan. Secara umum, jenis bank tanah swasta
dibagi menjadi bank tanah untuk: (1) investasi; (2) pengembang;
dan (3) kawasan industri. Bank tanah untuk investasi diproyeksikan
untuk meraih keuntungan dari kenaikan nilai tanah. Usaha membeli
atau menghimpun tanah bertujuan untuk pemasaran kembali tanpa
pengolahan untuk meningkatkan nilai tanah. Bank tanah untuk
pengembang digunakan untuk mengubah fungsi suatu daerah atau
kawasan. Fungsi baru tersebut meliputi real estate, ruang terbuka
hijau, dan kawasan rekreasi.
Kategori bank tanah semacam ini paling banyak dilakukan oleh
investor swasta serta pada pelaksanaannya menyangkut praktik
spekulasi. Bank tanah untuk kawasan industri naiknya kebutuhan
lahan kawasan industri tersebut mendorong pembentukan bank
tanah kawasan industri di Indonesia. Untuk bank tanah swasta
ini, pemerintah tetap menjalankan peran menyediakan kebijakan
yang menunjang, menjamin kepastian hukum dan administrasi
pertanahan, menciptakan iklim usaha, menetapkan RTRW serta
menyediakan infrastruktur .
Bank tanah campuran dijalankan bersama-sama oleh pemerintah
dan swasta. Kombinasi kelembagaan ini dilakukan terutama
untuk menyiasati keterbatasan pembiayaan karena akuisisi
lahan biasanya membutuhkan dana besar dan berkelanjutan.
Pada implementasinya, kepemilikan bank tanah campuran harus
didominasi oleh pihak pemerintah sehingga dapat tetap berorientasi
pada layanan publik.
Secara umum dalam mengelola tanah, bank tanah melakukan tiga
tahapan kegiatan, meliputi: (1) penyediaan; (2) pematangan; dan
(3) pendistribusian. Untuk penyediaan tanah, pemerintah dapat
menerapkan mekanisme pengadaan tanah, memanfaatkan tanah
terlantar , tanah aset pemerintah, mengambil tanah kelebihan
berdasarkan ketentuan pembatasan luas maksimum kepemilikan,
memanfaatkan tanah hasil sitaan, tanah dengan kepemilikan secara
absentee , tanah yang sudah habis masa pakai/sewa , tanah hibah
masyarakat, serta program konsolidasi tanah.Untuk pematangan
tanah, bank tanah dapat menyiapkan sarana prasarana atau
fasilitas pendukung dengan mengacu pada RTRW yang telah
ditetapkan. Pendistribusian tanah dilaksana-kan untuk mewujudkan
RTRW, termasuk di dalamnya untuk pembangunan fasilitas sosial
dan fasilitas umum, pengembangan kota dan permukiman murah.
Manajemen yang dibutuhkan dalam pengelolaan bank tanah
adalah: (1) hukum, termasuk di dalamnya aspek keperdataan tanah;
(2) tata ruang yang menetapkan alokasi ruang jangka panjang; dan
(3) pajak, terutama yang mengelola pajak bumi dan bangunan.
Fungsi manajamen ini akan mengatur pula sumber-sumber
pembiayaan bank tanah seperti: (1) APBN/APBD; (2) lembaga non
pemerintah (BUMN/BUMD, swasta, LSM/yayasan); (3) lembaga
keuangan nasional (bank, koperasi); (4) lembaga keuangan
internasional; (5) lembaga donor internasional; (6) lembaga
kerjasama bilateral. Pada implementasinya di negara lain, bank
tanah juga dapat mengambil keuntungan untuk mencapai
keseimbangan fiscal operasionalnya. Hanya saja keuntungan
tersebut harus sangat dibatasi jangan sampai mengutamakan
profit mengingat bank tanah pada dasarnya lebih berorientasi pada
kepentingan umum.
Untuk mensukseskan pelaksanaan bank tanah, pemerintah
dituntut untuk dapat memperkuat peran tata ruang sebagai ujung
tombak pembangunan wilayah sesuai amanat. Seiring dengan
itu, pemerintah juga harus memperkuat lembaga pertanahan dan
membenahi mutu administrasi pertanahan nasional, khususnya
terkait dengan pendaftaran tanah dan sertipikas itanah. Selain tata
ruang yang jelas, bank tanah tentu membutuhkan kepastian bukti
kepemlikan atau penguasaan atas tanah. Lembaga pertanahan
yang kuat dan berwibawa didukung penegakan hukum yang tegas
dan konsisten pada akhirnya akan mencegah tumpang tindih
kepemilikan/penguasaan tanah. [rn/ih/hi/gn/dc]
Matriks sumber-sumber tanah untuk Bank Tanah
No. Sumber Tanah
Jenis Hak
Mekanisme Perobahan
1 Tanah Terlantar
HGU, HGB, Tanah Ulayat
Akuisisi/jual beli
2 Tanah Aset Pemerintah
HGB
Akuisisi/jual beli, tukar guling
3 Tanah Erfacht
HGU
Akuisisi/jual beli, tukar guling
4 Tanah Absentee
Hak Milik
Akuisisi/jual beli, hibah
5 Tanah Fasos/Fasum
HPL Pengembang
Hibah
6 Tanah Aset BUMN/BUMD HGU, HGB
7 Tanah Sitaan
Akuisisi/ tukar guling
Aset BPPN, Sitaan Bank, Putusan Pengadilan Pencabutan Hak, Pembelian pd KPKNL
1 Flechner, L.H. Land Banking in the Control of Urban Development of Urban Development.
Gambar 1 Pencadangan Tanah oleh Pihak Swasta di Kawasan Setiabudi, Jakarta
berbanding 94 persen yang disediakan oleh swasta.
4 Tanah absentee adalah tanah pertanian yang dimiliki oleh perorangan atau keluarga
yang berdomisili di luar kecamatan tanah tersebut berada. UUPA tidak mengizinkan
pemilikan tanah secara absentee. Dalam waktu enam bulan tanah tersebut harus
dikembalikan kepada orang yang berdomisili di kecamatan tanah tersebut berada.
3 Tanah terlantar adalah tanah yang sudah diberikan hak oleh negara berupa Hak
5 Tanah bekas erfacht verponding (tanah bekas perkebunan) dapat saja dialihkan untuk
Praeger Publishers, New York, 1974, hal 7.
2 Penyediaan tanah untuk kawasan industri oleh pemerintah saat ini sekitar enam persen
Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai, dan Hak Pengelolaan, atau
dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak
dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar
penguasaannya. Peruntukan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah
negara bekas tanah terlantar didayagunakan untuk kepentingan masyarakat dan negara
melalui reforma agraria dan program strategis negara serta untuk cadangan negara
lainnya.
kepemilikan pribadi tergantung kebijakan pemerintah daerah. Tanah bekas erfacht secara
hukum menjadi tanah negara sejak tahun 1980 atau 20 tahun setelah UUPA diterbitkan
tahun 1960. Dengan telah menjadi tanah negara, kebijakan peruntukan berikutnya
tergantung dari kebijakan pemerintah sebagai pihak yang mengurus negara.
buletin tata ruang & pertanahan
29
sosialisasi peraturan
Inpres No. 8 Tahun 2013
Penyelesaian Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) dan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kab/Kota)
Permen PU No. 1 Tahun 2013
Pelimpahan Kewenangan Pemberian Persetujuan Substansi dalam Penetapan Raperda tentang RTRW
Kab/Kota
Inpres No. 8 Tahun 2013
Penyelesaian Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kab/Kota)
Penetapan Perda tentang RTRW Provinsi atau Kab/Kota sangat penting bagi daerah sebagai landasan
pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang. Selain itu, perda ini adalah salah satu instrumen
penyerasian pembangunan antarsektor dan antarwilayah untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Saat ini masih terdapat beberapa provinsi dan kab/kota yang belum
menetapkan Perda RTRWnya. Status penyelesaian Perda RTRW
Provinsi dan RTRW Kab/Kota dapat dilihat pada Gambar 1.
Salah satu kendala dalam proses penyelesaian RTRW adalah belum
selesainya penetapan kawasan hutan untuk beberapa provinsi.
Kawasan hutan yang masih dalam proses pembahasan tersebut
biasanya berupa sebagian kecil area dari seluruh area rencana pola
pemanfaatan ruang yang akan ditetapkan. Untuk mengatasi kendala
tersebut, penetapan RTRW tetap dapat dilakukan, sedangkan
kawasan hutan dan non-hutan yang diusulkan untuk diubah
peruntukan dan fungsinya ditetapkan sebagai holding zone.
Inpres ini menjadi salah satu instrumen dalam upaya percepatan
yang dilakukan. Presiden menginstruksikan seluruh kementerian
dan/lembaga terkait untuk mengambil langkah sesuai tupoksi
masing-masing melakukan percepatan penyelesaian penyusunan
perda. Dan juga memberikan instruksi khusus yang ditujukan pada
kementerian/lembaga tertentu (lihat Gambar 2) [gp].
16 Provinsi
146 Kabupaten 252 Kabupaten
23 Ko ta
Gambar 2 Skema Percepatan Penyelesaian Penyusunan Perda RTRW Provinsi dan RTRW Kab/Kota
buletin tata ruang & pertanahan
73 Ko ta
Ket: Status Perda per 6 Desember 2013
Gambar 1 Status Penyelesaian Perda RTRW Provinsi dan RTRW Kab/Kota
Instruksi Presiden
30
18 Provinsi
Permen PU No. 1 Tahun 2013
Pelimpahan Kewenangan Pemberian Persetujuan Substansi dalam Penetapan Raperda tentang RTRW Kab/Kota
Permen ini dimaksudkan sebagai dasar pelaksanaan pelimpahan kewenangan Pemerintah kepada gubernur
untuk melaksanakan pemberian persetujuan substansi dalam penetapan rancangan Perda tentang RRTR kab/
kota. Persetujuan substansi adalah persetujuan Menteri PU bahwa materi muatan teknis rancangan Perda
tentang RTRW mengacu pada UU No.26/2007 telah mengacu pada rencana umum tata ruang.
Prosedur
Pelimpahan kewenangan persetujuan substansi dari Menteri
kepada Gubernur berlaku jika provinsi memenuhi kriteria: (a) telah
menetapkan Perda RTRWP; (b) paling sedikit 50 persen dari jumlah
kab/kota di provinsi tersebut telah memiliki Perda RTRW Kab/Kota;
(c) memiliki unit eselon III teknis yang menyelenggarakan urusan
pemerintah bidang penataan ruang; (d) memiliki Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah provinsi yang operasional dan aktif; dan
(e) memiliki sumberdaya manusia yang kompeten dan responsif.
KemudianDirjen Penataan Ruang melakukan penilaianterhadap
kriteria tersebut.
Tahapan dalam pelimpahan kewenangan ini, meliputi: (a)
pemberitahuan rencana pelimpahan kewenangan yang disampaikan
Menteri kepada gubernur mengenai rencana pelaksanaan kegiatan
dekonsentrasi untuk tahun anggaran berikutnya; (b) kesediaan dan
permohonan pelimpahan kewenangan yang diajukan oleh gubernur
melalui jawaban tertulis kepada Menteri melalui Dirjen; (c) penilaian
pemenuhan kriteria pelimpahan kewenangan; dan (d) pelaksanaan
pelimpahan kewenangandiberikan kepada gubernur melalui
Keputusan Menteri jika provinsi telah memenuhi kriteria, sedangkan
provinsi yang belum memenuhi kriteria diberi surat pemberitahuan
disertai arahan penyempurnaan dari Menteri (seperti terlihat pada
Gambar 3).
Gambar 4 Kegiatan Dekonsentrasi
Gambar 5 Kondisi Penarikan Wewenang oleh Menteri
Pembinaan & Pengawasan
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi, Dirjen
(Penataan Ruang) melakukan pembinaan dan pengawasan
kepada gubernur, dan selanjutnya gubernur juga melakukan
pembinaan dan pengawasan terhadap perangkat daerah kab/
kota yang melaksanakan penyusunan RRTR kab/kota. Kegiatan ini
bertujuan untuk meningkatkan kinerja serta menjamin pelaksanaan
dekonsentrasi sesuai dengan tujuan pemberian kegiatan.
Pembinaan oleh Dirjen dan gubernur dilakukan melalui sosialisasi,
bimbingan, supervisi, konsultasi, dan pendidikan serta pelatihan
penyusunan dan evaluasi rancangan Perda RRTR Kab/Kota.
Gambar 3 Tahapan Pelimpahan Kewenangan Pemberian Persetujuan Substansi
dalam Penetapan Raperda RTRW Kab/Kota
Selanjutnya, setelah ditetapkannya Keputusan Menteri Pekerjaan
Umum, kegiatan dekonsentrasi dapat dilaksanakan. Kegiatan
dekonsentrasi meliputi: perencanaan, pelaksanaan, dan
pemeriksaan, yang urusannya terbagi atas pemerintah pusat dan
daerah, seperti yang terlihat pada Gambar 4.
Melalui ketetapan Menteri,penarikan kembali pelimpahan
wewenang dapat dilakukan dalam kondisi: (a) dekonsentrasi
yang dilimpahkan tidak ditindaklanjuti karena adanya perubahan
kebijakan; (b) pelaksanaan dekonsentrasi tidak sesuai peraturan
perundang-undangan; (c) gubernur mengusulkan kewenangan yang
telah dilimpahkan ditarik kembali; dan (d) gubernur tidak dapat
melaksanakan kewenangan yang dilimpahkan. Untuk ringkasnya,
kondisi penarikan wewenang dapat dilihat pada Gambar 5.
Sedangkan pengawasan dilakukan melalui pemantauan dan
evaluasi sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan oleh Dirjen
(Gambar 6) [gp].
Gambar 6 Pembinaan dan Pengawasan Kegiatan Dekonsentrasi
buletin tata ruang & pertanahan
31
koordinasi trp
Rakernas BKPRN 2013
Road Map Knowledge Management
Pemantauan dan Evaluasi Bidang Tata Ruang dan Pertanahan Melalui
Forum Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) 2013
Bidang Tata Ruang dan Pertanahan
Rakernas BKPRN 2013
Pada Kamis (7/11) telah dilaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BKPRN 2013. Rakernas BKPRN ini
adalah forum penataan ruang tingkat nasional yang melibatkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang
diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Penyelenggaraan Rakernas BKPRN ini bertujuan untuk menyusun
dan menyepakati agenda kerja BKPRN untuk tahun 2014 – 2015. Raker ini terdiri atas dua kegiatan utama:
Sidang Pleno dan Sidang Komisi, serta dihadiri oleh seluruh Anggota BKPRN terkait.
undangan bidang pentaan ruang; (2) koordinasi peningkatan
kapasitas kelembagaan; (3) koordinasi perencanaan dan program
penataan ruang; dan (4) koordinasi penyelesaian sengketa dan
konflik penataan ruang. Dalam masing-masing sidang komisi ini
dihasilkan isu strategis serta rumusan penyelesaiannya.
Gambar 1 Pembukaan Rakernas BKPRN Tahun 2013
Acara Rakernas BKPRN 2013 dibuka oleh Menko Perekonomian
selaku ketua BKPRN dan juga dihadiri oleh Menteri Pekerjaan
Umum selaku wakil ketua dan Menteri PPN/Kepala Bappenas
selaku sekretaris BKPRN. Selain itu acara ini juga dihadiri sejumlah
kepala daerah dan pejabat Eselon I perwakilan kementerian angota
BKPRN. Dalam rapat pleno ini dibahasmengenai pelaksanaan
agenda kerja BKPRN Tahun 2012-2013, rencana tata ruang
sebagai mantra spasial pengembangan wilayah dan isu-isu
strategis penataan ruang, serta penguatan kelembagaan penataan
ruang dan penerapan prinsip tata pemerintahan yang baik dalam
penataan ruang.
Sidang komisi I dipimpin oleh Dirjen Penataan Ruang, Kementerian
Pekerjaan Umum, Dr. Ir. M. Basoeki Hadimoeljono, M.Sc. Dalam
siding ini disepakati empat isu strategis, yaitu: (1) belum selesainya
peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang; (2)
konsistensi implementasi rencana tata ruang yang telah ditetapkan
dalam peraturan perundang-undangan; (3) percepatan penyusunan
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR); dan (4) keberadaan tanah
ulayat. Sedangkan dalam Sidang komisi II yang dipimpin oleh
Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan LH, Ditjen Bina Bangda,
Kemendagri, Edi Sugiharto, SH., M.Si, disepakati 5 (lima) isu
strategis yaitu (1) masih terbatasnya kapasitas SDM; (2) masih
lemahnya penegakan hukum; (3) masih terbatasnya ketersediaan
data dan informasi yang diperlukan dalam penyusunan rencana tata
ruang, khususnya dalam penyusunan Rencana Rinci Tata Ruang; (4)
belum optimalnya kinerja BKPRD dalam koordinasi penataan ruang
di daerah, baik dalam proses penyusunan dan penetapan rencana
tata ruang maupun dalam pemanfaatan dan pengendaliannya;
dan (5) masih belum efektifnya peran BKPRD dalam pengendalian
pemanfaatan ruang. Berdasarkan isu-isu tersebut dihasilkan
rumusan untuk masing-masing isu, untuk isu ke-4 misalnya,
rumusan yang dihasilkan adalah (1) perlu disusun SOP BKPRD; (2)
penguatan peran BKPRD provinsi untuk memfasilitasi penyelesaian
permasalahan penataan ruang Kab/Kota; (3) perlu komitmen Pemda
untuk mengalokasikan anggaran guna membiayai pelaksanaan
tugas dan fungsi BKPRD; dan (4) perlu reward and punishment
terhadap pelaksanaan BKPRD dalam mendukung penyelenggaraan
penataaan ruang daerah.
Gambar 2 Sidang Pleno dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian, Ir. M. Hatta Rajasa
Setelah rapat pleno yang dipimpin oleh Menko Perekonomian
selaku Ketua BKPRN, acara Rakernas BKPRN dilanjutkan dengan
sidang komisi yang dibagi menjadi empat komisi. Keempat komisi
tersebut mengusung tema masing-masing yang mencerminkan
empat Pokja yang ada didalam struktur BKPRN, meliputi (1)
koordinasi penyiapan kebijakan dan pengaturan perundang-
32
buletin tata ruang & pertanahan
Gambar 3 Sidang Komisi III dipimpin oleh Deputi Pengembangan Regional dan
Otonomi Daerah-Bappenas, Dr Ir Max Pohan, CES
Dalam pembagian sidang komisi, Direktur Tata Ruang dan
Pertanahan, Bappenas mendapat tugas sebagai fasilitator pada
komisi III yang dipimpin oleh Deputi Bidang Pengembangan
Regional dan Otonomi Daerah, Bappenas. Adapun tema Sidang
Komisi III adalah “Sinergi Kebijakan, Rencana, dan Program
Pembangunan Nasional dan Daerah”. Bertempat di Ruang Banda A,
Hotel Borobudur. Peserta Sidang memilih Kepala Bappeda Provinsi
Maluku Utara selaku Sekretaris Komisi III.
Di akhir sidang disepakati tiga isu strategis yang dihasilkan
yaitu isu pertama adalah kurang sinergisnya berbagai peraturan
perundangan sektoral yang mengatur pemanfaatan ruang.
Berdasarkan isu tersebut dihasilkan empat rumusan yaitu: (1)
penyesuaian kembali UU 41/1999 tentang Kehutanan dengan UU
26/2007 tentang Penataan Ruang; (2) RTRW Provinsi dan Kab/
Kota yang mengakomodir materi teknis rencana zonasi wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil (RZWP3K) sehingga dapat ditetapkan
menjadi satu Perda, termasuk di dalamnya rencana pengelolaan
pesisir, pulau-pulau kecil dan laut sampai dengan 12 mil laut; (3)
seluruh peraturan perundangan sektoral yang mengindikasikan
penggunaan ruang perlu mewajibkan pencantuman peta pada
peraturan perundangan turunannya; dan (4) BKPRN perlu
memfasilitasi pemerintah daerah dalam proses penyusunan Perda
yang mengakomodasi hak ulayat.
(5) perlu dikaitkan antara proses penganggaran dengan
penyusunan rencana tata ruang; (6) untuk pembangunan Kawasan
Strategis Nasional dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu, harus
ada penganggaran di dalam RPJM Nasional. Demikian juga untuk
pembangunan Kawasan Strategis Provinsi di dalam RPJM Provinsi;
dan (7) Perlu ada percepatan penetapan Perda RTRW Provinsi
dan Kabupaten/Kota dan Perda RZWP3K. Dan pada sidang komisi
tersebut juga diusulkan batas waktu holding zone paling lama lima
tahun sejak rencana tata ruang ditetapkan dengan Perda yang
dimasukkan dalam isu strategis lainnya.
Berbeda dengan ketiga sidang komisi sebelumnya, dalam sidang
komisi IV yang dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur
dan Pengembangan Wilayah, Kemenko Bidang Perekonomian,
dibahas mengenai penyelesaian konflik penataan ruang di dalam
kawasan KSN dan bersifat strategis nasional. Beberapa konflik
tersebut diantaranya terkait dengan: (1) perlindungan lahan
pertanian pangan berkelanjutan (LP2B); (2) perubahan peruntukan
dan fungsi kawasan hutan di Provinsi; (3) penyusunan Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K); (4)
rencana reklamasi di Teluk Benoa; dan (5) pemanfaatan ruang
di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Dari masing-masing konflik
tersebut telah disepakati tindak lanjut yang harus dilakukan,
misalnya untuk konflik LP2B disepakati tiga rumusan, yaitu: (1) pada
akhir 2013 Kementerian Pertanian akan menerbitkan peta LP2B
tingkat nasional (skala 1:50.000) yang nantinya peta tersebut akan
dibahas dalam forum BKPRN; (2) BKPRN perlu mempertahankan
keberadaan sawah eksisting dan memfasilitasi proses integrasi
LP2B ke dalam RTRW (yang sudah dan belum perda); dan (3)
integrasi LP2B ke dalam RTRW perlu mempertimbangkan potensi
minerba dan migas bawah tanah.
Gambar 4 Suasana Rakernas BKPRN Tahun 2013
Kemudian yang menjadi isu strategis kedua adalah belum
terintegrasinya rencana pembangunan dengan rencana tata ruang
yang diikuti dengan 7 rumusan, yaitu: (1) indikasi program dalam
RTR seringkali tidak diacu di dalam RPJP dan RPJM. Usulan
solusinya adalah penyusunan pedoman penyerasian antara kedua
rencana, sesuai amanat PP 15/2010 pasal 102, misalnya RPI2JM.
Program pembangunan yang sesuai dengan indikasi program
akan memudahkan evaluasi, pengendalian dan pengawasan;
(2) penyusunan RPJMD Provinsi dan Kab/Kota harus mengacu
kepada RTRW Provinsi dan Kab/Kota; (3) perlu penguatan kapasitas
kelembagaan BKPRD, terutama dalam rangka proses persetujuan
substansi RDTR yang didekonsentrasikan dari Pemerintah Pusat
ke Pemerintah Provinsi; (4) mekanisme penyerasian RTRW dengan
RPJMN, misalnya melalui forum BKPRD atau melalui Musrenbang;
Gambar 5 Rapat koordinasi persiapan Rakernas BKPRN 2013
Kesuksesan Rakernas ini tidak lepas dari matangnya persiapan
yang dilakukan oleh panitia [ma/na/rt/gp/cp/cr/or/ri].
Road Map Knowledge Management
Dalam suatu organisasi kita dapat belajar bersama dengan cara saling tukar pendapat, berdiskusi dengan
harapan akan terjadi transfer pengetahuan diantara anggota organisasi. Melalui transfer pengetahuan dapat
memunculkan kreatifitas dalam kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Adanya keragaman pemikiran dari
anggota organisasi ini harus dihargai dan perlu dikelola dengan baik yang dikenal dengan sebutan pengelolaan
pengetahuan (knowledge management).
Knowledge Management (KM) merupakan salah satu metode
peningkatan produktifitas dalam suatu organisasi, perusahaan
maupun instansi pemerintah. KM dilaksanakan untuk memanfaatan
sumber daya manusia secara optimal dengan menggali potensi
yang dimiliki. Kepemilikan anggota organisasi yang kreatif dan
mampu berinovasi dapat meningkatkan produktivitas suatu
organisasi dengan strategi yang tepat.
Salah satu strategi yang digunakan dalam KM adalah peran aktif
untuk mengelola pengetahuan (push strategy). Dalam strategi
ini, individu yang berada di dalam satu organisasi untuk secara
langsung membagi serta mengambil pengetahuan yang mereka
miliki ke dan dari dalam satu sistem penyimpanan bersama,
misalnya dalam bentuk database. Strategi lain adalah mencari
pengetahuan baru dengan melibatkan berbagai ahli di bidang yang
buletin tata ruang & pertanahan
33
digelutinya (pull strategy). Dalam strategi ini, ahli memberikan
wawasan baru kepada individu yang memerlukan.
Kedua strategi di atas dikenal dengan strategi codification dan
personalization. Codification fokus pada pengumpulan dan
penyimpanan pengetahuan yang telah melalui proses coding ke
dalam database elektronik. Database ini akan mempermudah
suatu organisasi untuk mengakses sumber pengetahuan tersebut.
Sedangkan strategi personalization bertujuan untuk mendorong
satu individu untuk membagi pengetahuan secara langsung. Dalam
KM, teknologi informasi berperan penting untuk memfasilitasi
komunikasi dan knowledge sharing di antara anggota organisasi.
Instrumen KM lain yang dapat digunakan dalam satu organisasi
adalah cross-project learning, after action reviews, knowledge
mapping, expert directories serta best practices transfer.
Sebagai sebuah institusi pemerintah, Kementerian PPN/Bappenas
telah banyak melakukan berbagai kegiatan keilmuan/birokratis
dalam penyusunan berbagai kebijakannya, terutama dalam
penyelenggaraan penataan ruang dan pengelolaan pertanahan.
Dalam rangka melakukan pengintegrasian berbagai pengalaman,
wawasan, dan berbagai data yang dimiliki, maka dituangkan dalam
bentuk KM. KM menjadi sangat penting untuk Bidang Tata Ruang
dan Pertanahan (TRP) yang bersifat lintas sektor dalam membangun
ruang nasional.
Banyak kegiatan yang dilakukan antara lain diskusi, lokakarya,
seminar, dan kajian yang selalu diadakan setiap tahunnya telah
menghasilkan berbagai pengetahuan baik dalam bentuk peraturan
maupun kebijakan lainnya. Di Bidang Tata Ruang, telah dilakukan
Kajian Kebijakan Insentif dan Disinsentif Tata Ruang dalam
Penataan Ruang, dan Kajian Penyeimbangan Penataan Ruang,
Produksi Biomassa yang Berkelanjutan dan Konservasi. Di Bidang
Pertanahan, telah dilakukan Kajian Sertifikasi Tanah. Hal ini menjadi
sangat penting untuk pengembangan kebijakan yang tepat di
Bidang Tata Ruang dan Pertanahan yang diacu oleh berbagai sektor.
Belum tersosialisasikannya kebijakan TRP kepada seluruh
pemangku kepentingan juga menjadi kondisi yang melatarbelakangi
pentingnya dikembangkan KM. Tujuan dari KM Bidang TRP ini
adalah untuk mempermudah proses penciptaan, pengumpulan,
penyimpanan, dan berbagi-tukar pengetahuan, menutup
kesenjangan pengetahuan, baik didalam internal organisasi,
maupun dengan masyarakat, serta menyusun pendekatan
sistematis untuk pengelolaan informasi dan aliran pengetahuan
untuk meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan. Sasaran
yang ingin dicapai adalah dengan terkumpulnya data dan informasi
Bidang TRP untuk kemudian dapat dianalisa, disusun dan diolah
menjadi sebuah pengetahuan sesuai dengan target, serta
tersebarnya pengetahuan kepada stakeholders melalui berbagai
media yang sesuai.
Kegiatan KM Bidang TRP ini mencakup: (1) pengelolaan sistem
informasi di bidang tata ruang dan pertanahan, seperti Portal TRP;
(2) pelaksanaan kegiatan kehumasan yang aktual dan dokumentasi
melalui pengembangan website, seperti landspatial.bappenas.go.id,
bkprn.org, ran.org; (3) pengelolaan sistem koordinasi, seperti eTRP
dan eBKPRN; Portal TRP, Buletin TRP, Leaflet, dan eNewsletter; (4)
pengolahan data dan informasi melalui kajian dan eNewsletter; (5)
pelaksanaan kegiatan sosialisasi melalui lokakarya dan seminar
serta publikasi cetak dan digital yang meliputi CD, Leaflet, dan
Buletin TRP.Berikut merupakan Road Map Knowledge Management
Bidang TRP Tahun 2014 (Gambar2).
Gambar 2 Road Map Knowledge Management Bidang TRP Tahun 2014
Untuk mendukung pelaksanaan KM ini di Tahun 2015– 2019,
Direktorat TRP akan melakukan (i) pengumpulan data dan informasi
secara terstruktur melalui eTRP, (ii) pengolahan dan analisis
data dan informasi menjadj pengetahuan, dan (iii) penyebaran
pengetahuan melalui media yang disesuaikan dengan pemangku
kepentingan. Pemetaan database website juga dilakukan dengan
mitra kerja terkait, seperti Menko Perekonomian, Dirjen Penataan
Ruang- Kementerian PU, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Ditjen
Bangda-Kementerian Dalam Negeri, Sekretariat Kabinet dan
Kementerian Kehutanan. Berikut merupakan gambaran analisis
Pemangku Kepentingan (PK) dalam KM Bidang TRP (Gambar 3)
[ma].
INPUT
PENGETAHUAN UNTUK PK
MASYARAKAT
PERGURUAN
TINGGI
TRP
PEERENCANAAN
PEMANTAUAN
EKSEKUTIF &
LEGISLATIF
EVALUASI
SWASTA
KAJIAN
Kord. strategis
Data dan
Informasi dari
Anggota RAN
Data dan
Informasi dari
Anggota BKPRN
OUTPUT
Secara sederhana proses KM untuk Bidang TRP dapat
digambarkan dalam Gambar 1 di bawah ini.
Gambar 1 Tahapan Knowledge Management Bidang TRP
34
buletin tata ruang & pertanahan
Gambar 3 Analisis Pemangku Kepentingan (PK) Bidang TRP
Pemantauan dan Evaluasi Bidang TRP melalui Forum
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) 2013
Kementerian PPN/Bappenas melalui Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan melaksanakan kegiatan
Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) 2013 di 33 Provinsi. Dalam kegiatan ini, Kementerian PPN/
Bappenas bekerja sama dengan 33 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk mengevaluasi pelaksanaan RPJMN
2010 – 2014 di 33 Provinsi. Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan mendapatkan materi yang cukup lengkap
dari forum ini untuk melengkapi data Pemantauan dan Evaluasi Bidang TRP Tahun 2013.
EKPD bertujuan untuk mengevaluasi capaian indikator-indikator
terpilih dari 11 prioritas nasional dan 3 prioritas lainnya dalam
RPJMN 2010 – 2014 dengan fokus utama pada:
1. Analisis capaian kinerja pada tahun 2010, 2011, 2012 dan
kemajuan pelaksanaan 2013;
2. Penentuan isu strategis prioritas nasional;
3. Penentuan isu strategis provinsi; dan
4. Proyeksi target capaian kinerja daerah.
Berdasarkan hasil evaluasi dan identifikasi isu strategis yang
dilakukan, Tim Evaluasi Provinsi menyampaikan rekomendasi
sampai pada level kegiatan yang akan bermanfaat sebagai
masukan untuk perencanaan berikutnya.
Secara umum, permasalahan yang muncul ketika melakukan
evaluasi di daerah adalah:
1. Data yang dibutuhkan tidak tersedia atau berbeda satu
sama lain, hal ini salah satunya disebabkan oleh perbedaan
indikator yang dibuat oleh Kementerian PPN/Bappenas dan
Kementerian Dalam Negeri, juga perbedaan ren-tang RPJMD
yang digunakan; dan
2. Tidak adanya definisi operasional dari Kementerian PPN/
Bappenas terhadap indikator yang ditentukan sehingga dapat
menimbulkan perbedaan interpretasi dan hasil evaluasi antar
wilayah.
Terkait dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH), RTH Kota Denpasar
mencapai luasan 38.5 persen dari luasan total kota yang artinya
melebihi dari ketentuan minimal proporsi RTH pada wilayah kota
yaitu 30 persen (UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang).
Provinsi Bali bekomitmen untuk mempertahankan RTH minimal
30 persen dengan menertibkan pembangunan yang kurang
memperhatikan fungsi ekologis, sosial, ekonomi, arsitektural, dan
nilai estetika serta kelangsungan kehidupan terutama di kawasan
perkotaan.
Provinsi Jawa Tengah. Prioritas lingkungan hidup dan
penanggulangan bencana di Jawa tengah terus dilakukan
mengingat:
a. Masih tingginya lahan kritis pada DAS dan kawasan lindung;
b. Masih rendahnya produktivitas sumberdaya hutan;
c. Masih tingginya potensi gangguan terhadap hutan, dan
d. Belum optimalnya pemberdayaan dan distribusi manfaat bagi
masyarakat sekitar hutan.
Selain itu juga peningkatan dan perbaikan infrastruktur jalan masih
perlu diperhatikan untuk infrasktruktur perhubungan lainnya seperti
pelabuhan, bandara, terminal [sy].
w w w. t r p . o r. i d
Untuk melengkapi kegiatan pemantauan dan evaluasi TRP telah
diamati pencapaian untuk beberapa provinsi yang permasalahan
terkait dengan Bidang TRP:
Provinsi Aceh. Pertumbuhan ekonomi Aceh masih cenderung
rendah. Masalah yang terkait dengan Bidang TRP di Aceh adalah
belum adanya kepastian ruang untuk lahan peternakan sehingga
pengembangannya masih terbatas. Sampai dengan sekarang RTRW
Aceh belum diperdakan sehingga dikhawatirkan akan menghambat
masuknya investasi ke daerah dengan status otonomi khusus
tersebut.Dalam hal infrastruktur terutama jalan dalam kondisi baik
karena selalu diperbaiki dan saat ini terdapat banyak pelabuhan
bebas yang dibuka untuk impor.
Provinsi Bangka Belitung. Kebutuhan Babel yang bergantung pada
impor (wilayah lain) berakibat pada tingginya inflasi. Sampai dengan
saat ini RTRWP dan RTRWK belum diperdakan. Rencana akan
segera terealisasi dalam waktu deka adalah pembangunan bandara
dan pelabuhan baru dengan kapasitas yang 5 kali lebih besar dari
kapasitas pelabuhan yang ada saat ini. Banyaknya timah di provinsi
ini menjadi lahan pekerjaan temporer bagi penduduknya.
Provinsi Provinsi Bali. Produksi pertanian Bali termasuk di
dalamnya padi, kedelai, dan jagung) dari Tahun 2009 ke Tahun
2012 cenderung menurun. Penyebab utamanya adalah alih fungsi
lahan pertanian, terutama sawah, yang umumnya disebabkan
karena cuaca tidak mendukung, hama penyakit, serangan tikus.
Diharapkan pemerintah menegakkan RTRW untuk menjaga
kelestarian fungsi lingkungan dan menjaga kemampuan produksi
daerah dalam rangka ketersediaan bahan pangan secara lokal.
buletin tata ruang & pertanahan
35
Rapat Koordinasi Kegiatan Reforma Agraria
Tingkat Eselon II
Dalam rangka pelaksanaan Koordinasi Reforma Agraria Nasional (RAN), Tim Koordinasi RAN mengadakan
rapat pembahasan kegiatan Reforma Agraria pada 30 Oktober 2013. Kegiatan Reforma Agraria dilaksanakan
dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan tanah. Rapat ini dihadiri oleh
perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Perumahan
Rakyat, Badan Pertanahan Nasional, Kementerian PPN/Bappenas serta Bappeda Provinsi Jawa Tengah.
Rapat Koordinasi ini dilaksanakan untuk mendapatkan kesepakatan:
(1) koordinasi lintas sektor dalam bentuk grand design reforma
agraria; dan (2) skema dan lokasi pilot project yang dilakukan untuk
penyusunan grand design.
Dalam rapat tersebut disepakati pelaksanaan reforma agrarian
dengan Skema I sebagai skema utama: access reform oleh K/L
mengikuti kegiatan asset reform yang dilaksanakan oleh BPN.
Gambar 1 Dr. Ir. Oswar Mungkasa, MURP. Direktur TRP-Bappenas memaparkan
hasil Background Study RPJMN Bidang Pertanahan
Namun demikian tidak tertutup kemungkinan pelaksanaan Skema II
yaitu redistribusi asset oleh BPN mengikuti kegiatan access reform
yang dilakukan oleh K/L. Khusus untuk pelaksanaan Skema II, tanah
yang akan dilegalkan telah berstatus clean and clear sesuai dengan
definisi yang telah ditetapkan oleh BPN. Tindak lanjut rapat adalah
verifikasi data dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dan Provinsi Jawa Tengah
sebagai upaya koordinasi lebih lanjut dengan daerah [gn].
Gambar 2 Rapat Koordinasi dihadiri oleh Bappenas, BPN, dan Kementerian/
Lembaga terkait.
Rapat Kerja Kedeputian Bidang Pengembangan Regional dan
Otonomi Daerah
Setiap tahunnya, Kedeputian Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah-Bappenas
menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) untuk mengevaluasi kinerja pembangunan dan menyusun kebijakan
pembangunan ke depan.
Tahun ini, Raker dilaksanakan dua kali pada 17 September
dan 18 November 2013 yang membahas hasil evaluasi kinerja
pembangunan 2010-2014 dan background study RPJMN 20152019. Pembahasan background study RPJMN 2015-2019 yang
disusun oleh setiap direktorat menjadi agenda utama dalam
kedua raker di atas mengingat tahun 2014 nanti akan menjadi
tahun penyusunan rencana pembangunan 5 tahun ke depan.
Dalam raker ini, seluruh direktorat memaparkan isu strategis
serta kerangka kebijakan untuk tahun 2015-2019. Raker ini
menjadi momen saling memahami, saling memperbaiki, dan
mengintegrasikan kebijakan satu sama lain sehingga dihasilkan
kebijakan pengembangan wilayah dan otonomi daerah yang
terpadu dan lebih komprehensif. Selain itu, kegiatan ini menjadi
36
buletin tata ruang & pertanahan
momen untuk meningkatkan keeratan hubungan antar direktorat
dibawah kedeputian regional dan otonomi daerah.
Gambar Raker dipimpin oleh Deputi Pengembangan Regional dan Otonomi
Daerah, Dr Ir Max Pohan, CES
Hari Habitat Dunia
Tahun 2013
Setiap Senin pertama Oktober ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Hari Habitat Dunia
(World Habitat Day). Hari Habitat ini sudah diperingati sejak 1989 sebagai momen untuk membahas kondisi
permukiman dunia dan hak atas hunian yang layak terhadap warganya, serta untuk mengingatkan para
stakeholder akan tanggung jawab bersama untuk masa depan permukiman yang lebih baik. Tahun ini PBB
menetapkan tema Urban Mobility atau Mobilitas Perkotaan sebagai tema peringatan Hari Habitat Dunia karena
disadari bahwa mobilitas (pergerakan) dan akses manusia terhadap jasa dan pelayanan sangat penting untuk
menunjang fungsi kota yang efektif.
Kota yang mudah diakses akan mendorong pergeseran ke jenis
transportasi yang berkelanjutan dan menarik lebih banyak orang
untuk menggunakan transportasi publik. Disini, perencanaan kota
dan desain perkotaan berperan pentingd alam mensinergikan
manusia dan ruangkota, bukan hanya infrastruktur transportasi
perkotaan. Dengan perlu menyadari bahwa kota sebagai engine of
growth terus berkembang dan membuka peluang untuk menarik
penduduk tinggal di perkotaandengan harapan dapat meningkatkan
kesejahteraan hidup mereka.
Pada Konferensi PBB tentang Permukiman di Vancouver dan
Turki dimulai pemikiran kritis terhadap kondisi permukiman
dunia. Saat itu, sebanyak 171 pimpinan di dunia menyepakati
Deklarasi Istanbul dan Agenda Habitat II yang bertujuan mencapai
hunianlayak bagi semua dan urbanisasi berkelanjutan. Memasuki
millennium kedua, kondisi permukiman sangat menjadi perhatian
karena diketahui hampir separuh penduduk dunia (termasuk
Indonesia) tinggal di perkotaan, dan diperkirakan pada 2030 dua
pertiga penduduk dunia akan tinggal di perkotaan. Karena itu,
ketidakmampuan pengelolaan sumberdaya secara efisien terutama
dalam menghadapi perkembangan perkotaan menjadi salah satu
isu global saat ini.
Gambar 2 Kemacetan di Jakarta
Gambar 3 Hari Habitat Dunia ‘Urban Mobility’
Gambar 1 Kondisi Perkotaan Jakarta
Tahun ini, Hari Habitat diperingati pada 7 Oktober 2013, dan di
Indonesia, Hari Habitat dirayakan melalui serangkaian kegiatan
seperti seminar, pameran, funbike, dan hiburan rakyat. Sejalan
dengan tema Urban Mobility, Kementerian Pekerjaan Umum
sebagai penyelenggara Hari Habitat di Indonesia mengangkat tema
‘Kota untuk Semua’.
Melalui tema ini semua pihak diingatkan terhadap perwujudan
hak atas kota, kemudahan aksesibilitas masyarakat terhadap
berbagai sarana, prasarana, dan jasa pelayanan kota, serta tata
kelola pemerintahan yang baik. Untuk itu, dalam perwujudannya
diperlukan dukungan pemerintah bersama masyarakat dan
dunia usaha sehingga dipahami bahwa kota adalah milik semua,
pembangunan untuk semua, dan keberlanjutan masa depan
menjadi tanggung jawab bersama [gp].
buletin tata ruang & pertanahan
37
Membangun Kelembagaan
Penataan Ruang:
Upaya Pengembangan Kelembagaan
Penataan Ruang yang Telah dan Akan
4
buletin tata ruang & pertanahan
Download