GAGAL GINJAL KRONIK

advertisement
GAGAL GINJAL KRONIK
A. DEFINISI
Gagal ginjal kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang progresif dan
irreversibel dimana terjadi kegagalan kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan
metabolik, cairan dan elektrolit yang mengakibatkan uremia atau azotemia
(Brunner  Suddarth, 2000)
Kegagalan ginjal menahun (CRF = Chronic Renal Failure) merupakan suatu kegagalan fungsi
ginjal yang berlangsung perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama, sehingga tidak
dapat menutupi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit.
(Purnawan Junadi, 1989)
B. ETIOLOGI
1. Gangguan pembuluh darah ginjal
Berbagai jenis lesi vaskular dapat menyebabkan iskemik ginjal dan kematian jaringan ginjal.
Lesi yang paling sering adalah aterosklerosis pada arteri renalis yang besar, dengan
konstriksi skleratik progresif pada pembuluh darah. Hiperplasia fibromuskular pada satu atau
lebih arteri besar yang juga menimbulkan sumbatan pembuluh darah.
Nefrosklerosis yaitu suatu kondisi yang disebabkan oleh hipertensi lama yang tidak diobati,
dikarakteristikkan oleh penebalan, hilangnya elastisitas sistem, perubahan darah ginjal
mengakibatkan penurunan aliran darah dan akhirnya gagal ginjal.
2. Gangguan imunologis:
Seperti glomerulonefritis & SLE
3. Infeksi :
Dapat disebabkan oleh beberapa jenis bakteri terutama E.Coli yang berasal dari kontaminasi
tinja pada traktus urinarius bakteri. Bakteri ini mencapai ginjal melalui aliran darah atau
yang lebih sering secara ascenden dari traktus urinarius bagi. Bawah lewat ureter ke ginjal
sehingga dapat menimbulkan kerusakan irreversibel ginjal yang disebut plenlonefritis.
4. Gangguan metabolik:
Seperti DM yang menyebabkan mobilisasi lemak meningkat sehingga terjadi penebalan
membran kapiler dan di ginjal dan berlanjut dengan disfungsi endotel sehingga terjadi
nefropati amiloidosis yang disebabkan oleh endapan zat-zat proteinemia abnormal pada
dinding pembuluh darah secara serius merusak membran glomerulus.
5. Gangguan tubulus primer
Terjadinya nefrotoksis akibat analgesik atau logam berat.
6. Obstruksi traktus urinarius
Oleh Batu ginjal, Hipertrofi prostat, dan Konstriksi uretra
7. Kelainan kongenital dan herediter :
1
Penyakit polikistik = kondisi keturunan yang dikarakteristik oleh terjadinya kista/kantong
berisi cairan di dalam ginjal dan organ lain, serta tidak adanya jar. Ginjal yang bersifat
kongenital (hipoplasia renalis) serta adanya asidosis
C. STADIUM GAGAL GINJAL KRONIK
1. Stadium I
Penurunan cadangan ginjal, ditandai dengan kehilangan fungsi nefron 40 – 75%.
Pasien biasanya tidak mempunyai gejala, karena sisa nefron yang ada dapat membawa
fungsi-fungsi normal ginjal.
2. Stadium II = Insufisiensi ginjal
Kehilangan fungsi ginjal 75 – 90%. Pada tingkat ini terjadi kreatinin serum dan nitrogen urea
darah, ginjal kehilangan kemampuannya untuk mengembangkan urin pekat dan azotemia.
Pasien mungkin melaporkan poliuria dan nokturia.
3. Stadium III : Payah Gagal ginjal stadium akhir atau uremia
Tingkat renal dari GGK yaitu sisa nefron yang berfungsi < 10%. Pada keadaan ini kreatinin
serum dan kadar BUN akan meningkat dengan menyolok sekali sebagai respon terhadap
GFR yang mengalami penurunan sehingga terjadi ketidakseimbangan kadar ureum nitrogen
darah dan elektrolit, pasien diindikasikan untuk dialisis.
D. PATOFISIOLOGI
Pada penyakit ginjal pada tahap akhir ini, terjadi penurunan fungsi ginjal, produk akhir
metabolisme protein tertimbun dalam darah, terjadi uremia, dan mempengaruhi setiap sistem
tubuh, semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala semakin parah.
o Gangguan klirens ginjal
Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah glomeruli
yang berfungsi yang menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang seharusnya
dibersihkan oleh ginjal
o Retensi cairan dan natrium
Ginjal juga tidak mampu untuk mengkonsentrasikan/ mengencerkan urin secara normal.
Respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit sehari-hari tidak
terjadi. Akibatnya pasien sering menahan natrium dan cairan sehingga meningkatnya resiko
udem, gagal jantung kongestif dan hipertensi
o Asidosis
Sering terjadi asidosis metabolik yang sering dengan ketidakmampuan ginjal mensekresikan
muatan
asam
(H+)
yang
berlebihan.
Penurunan
sekresi
asam
terutama
akibat
ketidakmampuan tubuli ginjal untuk menyekresi amonia (HCO3-). Penurunan sekresi fosfat
dan asam organik juga terjadi.
o Anemia
2
Terjadi sebagai akibat produksi eritropoitin yang tidak adekuat, memendeknya usia sel darah
merah, defisiensi nutrisi, dan kecendrungan mengalami perdarahan akibat status uremia
pasien terutama pada gastrointestinal. Pada gagal ginjal produksi eritropoitin menurun dan
anemia berat dapat terjadi disertai keletihan, angina dan sesak nafas.
o Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat
Kadar serum kalsium dan fosfat dalam di dalam tubuh memiliki hubungan timbal balik. Jika
salah satunya meningkat, maka yang lain akan menurun. Dengan menurunnya filtrasi melalui
glomerulus terdapat peningkatan kadar fosfat serum, dan sebaliknya.
E. MANIFESTASI KLINIK
1. Ketidakseimbangan cairan
-
Anoreksia, nausea, vomitus
Gangguan metabolik protein di dalam usus, terbentuknya zat-zat toksik akibat
metabolisme bakteri usus, seperti amonia dan metil guanidin serta sembabnya mukosa
usus.
-
Faktor uremik
Ureum berlebihan pada air liur diubah oleh bakteri di mulut menjadi amoniak sehingga
terjadi nafas berbau amoniak. Akibat lain timbul stomatitis dan paralisis.
-
Cegukan (Hiccup)
-
Gastritis erosif, ulkus peptik dan kolitis uremik.
2. Kulit
-
Pucat, akibat anemia dan kekuningan akibat penimbunan urokrom.
-
Gatal-gatal dengan psikoriasis akibat toksin uremik dan pengendapan Ca di pori-pori
kulit.
-
Ekimosis, akibat gangguan hematologik.
-
Urea fait, akibat kristalisasi urea yang ada pada keringat
-
Bekas-bekas garukan karena gatal.
3. Sistem Hematologik
-
Anemia normokrom, normositer yang disebabkan oleh :
o Produksi eritropitin <, sehingga ransangan eritropoisis pada sumsum tulang menurun.
o Hemolisis, turun masa hidup eritrosit dalam suasana uremik toksik
o Def, Fe, as. Folat, dll akibat anorexia.
o Fibrosis sumsum tulang akibat hiperparatiroidisme sekunder.
-
Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia
o Masa perdarahan memanjang
o Perdarahan akibat agregasi trombosit yang berkurang serta turun faktor trombosit III
dan adenosin difosfat.
-
Gangguan fungsi lekosit
3
o Hiperpigmentasi lekosit
o Fagositosis dan kemotaxis berkurang, sehingga memudahkan timbulnya infeksi.
o Fungsi limfosit menurun sehingga imunitas menurun.
4. Sistem Saraf dan otot
-
Rest leg sindrom : merasa pegal ditungkai bawah dan selalu menggerakkan kakinya.
-
Burning fast sindrom : rasa kesemutan dan seperti terbakar terutama di telapak kaki.
-
Ensepalopati metabolik : lemah, insomnia, termor, kejang.
-
Miopati
5. Sistem kardiovaskuler
-
Hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung akibat aterosklerosis dini
dan edema.
6. Sistem Endokrin
-
Gangguan sexual : libido, fertilitas dan ereksi turun pada laki-laki akibat produksi
testosteron dan spermatogenesis turun, juga dihubungkan dengan metabolik (Fe,
paratiroid hormon).
Pada perempuan = gangguan menstruasi, gangguan ovulasi dan amenure.
-
Gangguan toleransi glukosa, metabolik lemak dan vitamin D.
7. Gangguan sistem lain
-
Tulang : Osteodistrofi renal  osteomalasia
-
Asam basa : asidosis metabolik  penimbunan asam organik sebagai hasil metabolisme.
-
Elektrolit : Hipokalsemia, hiperfosfatemia, hiperkalemia.
F. PEMERIKSAAN FISIK
1. Urine
a. Volume : < 400 ml/24 jam (oliguria) atau anuria
b. Warna : urin keruh
c. Berat jenis < 1,015
d. Osmolalitas < 350 m osm /kg
e. Klirens kreatinin : turun
f. Na++ > 40 mEq/lt
g. Protein : proteinuria (3 – 4 +)
2. Darah
a. BUN/kreatinin : 
b. Hitung darah lengkap : Ht, Hb < 7-8 gr%
c. Eritrosit : waktu hidup 
d. GDA, pH  : asidosis metabolik
e. Na++ serum : 
f. K+ : 
4
g. Mg++ / fosfat : 
h. Protein (khusus albumin) : 
3. Osmolalitas serum > 285 m osm/kg
4. KUB foto : ukuran ginjal/ureter/KK dan obstruksi (batas)
5. Pielogram retrograd : identifikasi ekstravaskular, massa
6. Sistouretrogram berkemih : ukuran KK, refluks kedalam ureter, retensi.
7. Ultrasono ginjal : sel. Jaringan untuk diagnosis histologis
8. Endoskopi ginjal, nefroskopi : batu, hematuria, tumor
9. EKG : Ketidak seimbangan elektrolit dan asam basa.
10. Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal dan tangan : demineralisasi
(Doengoes, 2000)
G. PENATALAKSANAAN

Pengaturan minum  pemberian cairan

Pengendalian hipertensi =< intake garam

Pengendalian K+ darah.

Penanggulangan anemia  transfusi

Penanggulangan asidosis

Pengobatan dan pencegahan infeksi

Pengaturan protein dalam makan

Pengobatan neuropati

Dialisis

Transplantasi
5
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Tahap awal dari proses keperawatan dilakukan untuk mendapatkan data subjektif dan
objektif yang dilakukan melalui wawacara, observasi dan pengamatan fisik.
a. Identitas klien
b. Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien mengeluh letih, lemah, nyeri dada, sesak nafas, tidak ada nafsu makan,
mual, muntah, susah tidur dan konsentrasi menurun, nyeri dikepala, pegal di tungkai dan
rasa kesemutan, sembab pada anggota gerak jaringan yang longgar, tidak mampu bekerja
dan merawat diri serta gangguan seksual.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien biasanya sudah pernah menderita penyakit ini sebelimnya, kemungkinan klien
pernah menderita penyakit hipertensi, diabetes melitus, pernah menderita penyakit sistim
perkemihan dan penyakit infeksi pada ginjal.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kemungkinan adanya anggota keluarga yang menderita penyakit herediter seperti
hipertensi dan diabetes melitus.
c. Data fisik dan biologis
- Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sistem renin angotensin
aldosteron). Edema jaringan umum, pitting edema pada kaki dan telapak tangan.
- Gangguan irama jantung (disritmia), gagal jantung kongestif, perikarditis.
- Gejala dermatologi mencakup rasa gatal yang parah (pruritus), bekas garutan pasda kulit.
- Demam
- Kulit pucat, coklat kehijauan, kering dan bersisik.
- Abdomen kembung, distensi abdomen, anoreksia, mual, muntah dan cegukan.
- Penurunan turgor kulit/ kelembaban.
- Penurunan massa otot, penurunan subkutis, penampilan tak bertenaga.
- Takipnoe, dispnea, peningkatan frekuensi/ kedalam pernafasan.
- Kelemahan otot, kehilangan tonus dan penurunan rentang gerak.
d. Pemeriksaan Diagnostik
1. Urine
- Volume
: biasanya kurang dari 400 cc/ 24 jam
- Warna
: Urine keruh
- Berat jenis
: Kurang dari 1,015
-
Kliren kreatini
Protein
: mungkin menurun
: derajat tinggi proteinuria
2. Darah
- Ureum
: meningkat
- Kreatinin
: meningkat
- Hematokrit
: menurun
- Hb
: menurun
- AGD
: menunjukkan asidosis metabolik
- Natrium serum
: menurun
- Kalium
: meningkat
- Magnesium/ fospat : meningkat
- Kalsium
: menurun
- Protein serum
: menurun
3. Foto polos abdomen BNO : menunjukkan ukuran ginjal/ ureter kandung kemih dan
adanya obstruksi batu.
6
4.
5.
6.
7.
Pielografi retrograd : menunjukkan abnormalitas pelvic, ginjal dan ureter,.
Arteriogram ginjal : mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler massa.
ECG : mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit asam/basa.
Foto kaki, tengkorak, columna spinal dan tangan : menunjukkan disminineralisasi dan
kakifitasi.
1. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kemungkinan adanya DM, nefrosklerosis, hipertensi, GNC/GGA yang tak teratasi,
obstruksi/infeksi tr.urinarius, penyalahgunaan analgetik.
2. Riwayat Kesehatan Keluarga
Riwayat Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik dalam keluarga.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
-
Aktivitas/istirahat
Kelelahan yang ekstrem, kelemahan, malaise
-
Sirkulasi
Riwayat hipertensi lama adalah berat, palpitasi, nyeri dada
-
Integritas Ego
Faktor stress, contoh finansial, hubungan dan sebagainya. Perasaan tak berdaya, tak ada
harapan, tak ada kekuatan.
-
Eliminasi
Penurunan frekuensi urin, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare/konstipasi.
-
Makanan/cairan
BB  (edema), BB  (malnutrisi), anorexia, nyeri ulu hati, mual/ muntah, rasa metalik
tak sedap pada mulut (nafas amoniak), penggunaan diuretik.
-
Neurosensori
Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, sindrom kaki gelisah, kebas rasa
terbakar pada telapak kaki, kebas/kesemutan dan kelemahan, terutama extremitas bawah
(neuropati perifer).
-
Nyeri/kenyamanan
Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot/nyeri kaki (memburuk malam hari).
-
Pernafasan
Nafas pendek, dispnoe nokturnal paroksismal, batuk dengan/tanpa sputum kental dan
banyak.
-
Keamanan
Kulit gatal, ada/berulangnya infeksi.
-
Sexualitas
Penurunan libido, amenore, infertilitas.
(Doengoes, 2000)
7
B.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resti penurunan curah jantung b.d. ketidakseimbangan cairan mempengaruh volume
sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskular sistemik, akumulasi toxin, gangguan
frekuensi, irama, konduksi jantung.
2. Resti kerusakan integritas kulit b.d gangguan status metabolik, sirkulasi dan sensasi,
gangguan turgor kulit, penurunan aktivitas/imobilitas, akumulasi toxin dalam kulit.
3. Resti kekurangan volume cairan b.d fase diuretik, perdarahan, penggunaan dialisis
hipertonik
4. Resti cedera b/d penekanan produksi/sekresi eritropoltin; penurunan produksi SDM,
gangguan faktor pembekuan, peningkatan kerapuhan kapiler.
(Doengoes, 2000)
C.
INTERVENSI
1) Resti penurunan curah jantung b/d ketidak seimbangan cairan, akumulasi toxin, kerja
miokardial dan tahanan vaskular sistemik yang tidak seimbang.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Adanya perubahan pada tekanan darah, mudah lelah,
gelisah, edema, adanya kesukaran dalam bernafas.
Tujuan : penurunan curah jantung tidak terjadi.
Kriteria hasil :

Tanda-tanda vital dalam batas normal

Nadi perifer kuat dan sama waktu pengisian kapiler.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Auskultasi bunyi jantung dan paru.
Evaluasi
adanya
edema
perifer/kongesti vaskular dan keluhan
dispnoe.
2. Kaji adanya/derajat hipertensi awasi
TD, perhatikan perubahan postural,
contoh duduk, baring dan berdiri.
S3/S4 dengan tonus Muffled, takikardia, frekuensi
jantung tak teratur, takipnoe, dispnoe, gemerisik dan
edema menunjukkan GGK.
3. Kaji tingkat aktifitas, respon terhadap
aktifitas.
4. Evaluasi bunyi jantung, TD, Nadi,
Perifer, pengisian kapiler, suhu,
kongesti vascular, sensori/mental.
Kelelahan dapat menyertai GJK juga anemia.
Hipertensi bermakna dapat terjadi karena gangguan
pada sistem aldosteron renin angiotensin (disebabkan
disfungsi ginjal).
Hipotensi, nadi paradoksik,  nadi perifer, distensi
jugular, pucat, penyimpanan mental menunjukkan
tamponade, kedaruratan medik.
5. Kolaborasi tentang pemeriksaan labor, Ketidakseimbangan dapat mengganggu konduksi
contoh : elektrolit, BUN.
elektrikal dan fungsi jantung.
8
6. Berikan obat anti hipertensi.
Menurunkan tahanan vaskular sistemik dan/atau
pengeluaran renin
untuk menurunkan kerja
miokardial dan mencegah GJK.
2) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d. gangguan status metabolik akumulasi toxin
dalam kulit.
Kemungkinan dibuktikan oleh : adanya gangguan pada jaringan epidermis dan dermis yang
meliputi adanya kulit yang kering dan bersisik, eritema dan
gatal-gatal.
Tujuan
: Kerusakan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil : Kulit tetap utuh, menunjukkan perilaku untuk mencegah kerusakan/cedera
kulit.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Inspeksi kulit terhadap perubahan Menandakan area sirkulasi buruk yang dapat
warna, turgor, vaskular, kelainan.
menimbulkan pembentukan infeksi.
2. Pantau masukan cairan dan hidrasi Mendeteksi adanya dehidrasi
kulit dan membran mukosa.
3. Inspeksi area tergantung
edema
4. Ubah posisi dengan sering
terhadap Jaringan edema lebih cenderung rusak/robek
Menurunkan tekanan edema, jaringan dengan berfusi
buruk untuk menurunkan iskemia.
5. Anjurkan menggunakan pakaian katun, Mencegah iritasidermal langsung dan meningkatkan
longgar
evaporasi lembab pada kulit.
6. Berikan perawatan kulit, batasi Menurunkan gatal dan mengurangi pengeringan
penggunaan sabun, beri salep atau daripada sabun, lotion dan salep menghilangkan
krim.
kering, robekan kulit.
3) Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d fase diuretik, perdarahan, penggunaan dialisis
hipertonik
Kemungkinan dibuktikan oleh : Adanya keluhan ketidakcukupan masukan oral, penurunan
berat badan yang belum begitu mencolok, pengeluaran
urine sedikit
Tujuan
: Kekurangan volume cairan tidak terjadi minimal 24 jam sebelum pulang
Kriteria hasil : Tanda-tanda vital dalam batas normal, turgor kulit baik, bebas dari tandatanda dehidrasi, hasil labor dalam batas normal
INTERVENSI
RASIONAL
1. Pertahankan
pencatatan
volume
masuk/ keluar dan keseimbangan
cairan komulatif
2. Berikan jadwal untuk pengaliran
dialisa dari abdomen
Memberikan informasi tentang status kehilangan
atau peningkatan cairan
Waktu tinggal lama, khususnya bila menggunakan
cairan glukosa 4,5 dapat menyebabkan kehilangan
9
cairan berlebihan
3. Timbang BB pasien bila abdomen
kosong, setelah 10 kali dialisat,
kemudian sesuai indikasi
4. Perhatikan keluhan pusing, mual,
peningkatan rasa haus
5. Inspeksi membran mukosa bibir,
evaluasi turgor kulit, nadi perifer,
pengisian kapiler
Mendeteksi kecepatan pembuangan cairan dengan
membandingkan terhadap BB dasar
Dapat
menunjukkan
hipovolemia/
sindrom
hiperosmolar
Membran mukosa kering, turgor kulit buruk dan
penurunan nadi pengisian kapiler adalah indikator
dehidrasi dan membutuhkan peningkatan intake
6. Kolaborasi
dalam
mengawasi
pemeriksaan laboratorium
 Kadar kalium serum
Hipokalemia dapat terjadi dan dapat menimbulkan
disritmia jantung
REFERENSI
Doengoes, M.E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2, Jakarta : EGC.
Price, S.A, (1995). Patofisiologi, Edisi 2, Jakarta :EGC.
Purnawan Junadi. (1985). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
Soeparman. (1996). Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2, Jakarta : FKUI.
10
F. Dampak Masalah
a. Fisik
Dampak fisik terhadap klien dengan GGK adalah timbulnya gangguan pada berbagai
sistem pada klien GGK antara lain pada sistim gastrointestinal, kulit, hematologi, kardiovaskuler,
endokrin serta gangguan sistim lain seperti tulang, asam basa dan elektrolit.
b. Psikologi
Klien akan merasa kehilangan dan tidak berguna karena perubahan yang terjadi pada
dirinya. Perubahan fungsi pada keadaan yang berat dapoat menyebabkan rasa rendah diri dan
putus asa.
c. Sosial
Penderita GGK cendrung menarik diri dan kurang berinteraksi dengan lingkungan
walaupun dengan masyarakat yang saat ini tidak memandang negatif terhadap penderita GGK
tetapi kelemahan dan ketergatungan yang menyebabkan kurangnya rasa percaya diri dalam
berinteraksi.
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Tahap awal dari proses keperawatan dilakukan untuk mendapatkan data subjektif dan
objektif yang dilakukan melalui wawacara, observasi dan pengamatan fisik.
a. Identitas klien
b. Riwayat Kesehatan
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien mengeluh letih, lemah, nyeri dada, sesak nafas, tidak ada nafsu makan,
mual, muntah, susah tidur dan konsentrasi menurun, nyeri dikepala, pegal di tungkai dan
rasa kesemutan, sembab pada anggota gerak jaringan yang longgar, tidak mampu bekerja
dan merawat diri serta gangguan seksual.
5. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien biasanya sudah pernah menderita penyakit ini sebelimnya, kemungkinan klien
pernah menderita penyakit hipertensi, diabetes melitus, pernah menderita penyakit sistim
perkemihan dan penyakit infeksi pada ginjal.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kemungkinan adanya anggota keluarga yang menderita penyakit herediter seperti
hipertensi dan diabetes melitus.
c. Data fisik dan biologis
- Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sistem renin angotensin
aldosteron). Edema jaringan umum, pitting edema pada kaki dan telapak tangan.
- Gangguan irama jantung (disritmia), gagal jantung kongestif, perikarditis.
- Gejala dermatologi mencakup rasa gatal yang parah (pruritus), bekas garutan pasda kulit.
- Demam
- Kulit pucat, coklat kehijauan, kering dan bersisik.
- Abdomen kembung, distensi abdomen, anoreksia, mual, muntah dan cegukan.
- Penurunan turgor kulit/ kelembaban.
- Penurunan massa otot, penurunan subkutis, penampilan tak bertenaga.
- Takipnoe, dispnea, peningkatan frekuensi/ kedalam pernafasan.
- Kelemahan otot, kehilangan tonus dan penurunan rentang gerak.
d. Pemeriksaan Diagnostik
8. Urine
- Volume
: biasanya kurang dari 400 cc/ 24 jam
11
-
Warna
Berat jenis
: Urine keruh
: Kurang dari 1,015
-
Kliren kreatini
Protein
: mungkin menurun
: derajat tinggi proteinuria
9. Darah
- Ureum
: meningkat
- Kreatinin
: meningkat
- Hematokrit
: menurun
- Hb
: menurun
- AGD
: menunjukkan asidosis metabolik
- Natrium serum
: menurun
- Kalium
: meningkat
- Magnesium/ fospat : meningkat
- Kalsium
: menurun
- Protein serum
: menurun
10. Foto polos abdomen BNO : menunjukkan ukuran ginjal/ ureter kandung kemih dan
adanya obstruksi batu.
11. Pielografi retrograd : menunjukkan abnormalitas pelvic, ginjal dan ureter,.
12. Arteriogram ginjal : mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravaskuler massa.
13. ECG : mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit asam/basa.
14. Foto kaki, tengkorak, columna spinal dan tangan : menunjukkan disminineralisasi dan
kakifitasi.
1. Patofisiologi
Gagal ginjal kronis selalu berkaitan dengan penurunan progresif GFR. Stadium gagal
ginjal kronis didasarkan pada tingkat GFR(Glomerular Filtration Rate) yang tersisa dan
mencakup :
a. Penurunan cadangan ginjal;
Yang terjadi bila GFR turun 50% dari normal (penurunan fungsi ginjal), tetapi tidak
ada akumulasi sisa metabolic. Nefron yang sehat mengkompensasi nefron yang sudah
rusak, dan penurunan kemampuan mengkonsentrasi urin. Pemeriksaan CCT 24 jam
diperlukan untuk mendeteksi penurunan fungsi. Selama stadium ini kreatinin serum
dan kadar BUN normal dan penderita asimtomatik. Gangguan fungsi ginjal mungkin
hanya dapat diketahui dengan memberi beban kerja yang berat pada ginjal tersebut
seperti tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti.
b. Insufisiensi ginjal;
Terjadi apabila GFR turun menjadi 20 – 35% dari normal. Nefron-nefron yang tersisa
sangat rentan mengalami kerusakan sendiri karena beratnya beban yang diterima.
Mulai terjadi akumulai sisa metabolic dalam darah karena nefron yang sehat tidak
mampu lagi mengkompensasi. Penurunan respon terhadap diuretic, menyebabkan
oliguri, edema. Derajat insufisiensi dibagi menjadi ringan, sedang dan berat,
tergantung dari GFR, sehingga perlu pengobatan medis. Pada tahap ini kadar BUN
baru mulai meningkat diatas batas normal. Peningkatan konsentrasi BUN ini
berbeda-beda tergantung dari kadar kadar protein dalam diet( bandingkan grafik
BUN dalam diet rendah protein dengan diet yang normal kadar proteinnya ). Kadar
12
kreatinin serum juga mulai meningkat melebihi kadar normal. Azotemia biasanya
ringan kecuali bila penderita misalnya mengalami stress akibat infeksi , gagal jantung
atau dehidrasi. Pada stadium ini mulai terdapat gejala nokturia dan poliuri.
c. Gagal ginjal; yang terjadi apabila GFR kurang dari 20% normal. Semakin banyak
nefron yang mati.
d. Penyakit gagal ginjal stadium akhir;
Terjadi bila GFR menjadi kurang dari 5% dari normal. Hanya sedikit nefron
fungsional yang tersisa. Di seluruh ginjal ditemukan jaringan parut dan atrofi tubulus.
Akumulasi sisa metabolic dalam jumlah banyak seperti ureum dan kreatinin dalam
darah. Ginjal sudah tidak mampu mempertahankan homeostatis dan pengobatannya
dengan dialisa atau penggantian ginjal.
(Price & Wilson,1994 ;Corwin, 1994)
DAFTAR PUSTAKA
1.
Long, B.C. Essential of medical – surgical nursing : A nursing process approach. Alih bahasa
: Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun 1989)
2.
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s textbook of medical–surgical nursing. 8th
Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
3.
Reeves, C.J., Roux, G., Lockhart, R. Medical – surgical nursing. Alih bahasa : Setyono, J.
Jakarta: Salemba Medika; 2001 (Buku asli diterbitkan tahun 1999)
4.
Corwin, E.J. Handbook of pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001
(Buku asli diterbitkan tahun 1996)
5.
Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept of disease processes. 4th
Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
6.
Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for
planning and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa,I.M. Jakarta: EGC; 2000 (Buku
asli diterbitkan tahun 1993)
7.
Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2001
8.
Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih
Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC
9.
Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume I. Jakarta : EGC : 1998
10.
Arief Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Jakarta : Medddia Aesculapius ; 2000
11.
Lynda Juall Carpenito. Handbook Of Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta: EGC ; 2001
13
Gagal ginjal kronis adalah suatu sindrom klinis yang disebabkan penurunan fungsi ginjal
yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut, hal ini terjadi bila laju
filtrasi glomerular kurang dari 50 mL/menit. (Suyono, et al, 2001)
Gagal ginjal kronis aatu penyakit renal tahap akhir merupakan gangguan fungsi renal
yang progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia (retensi urea
dan sampah nitrogen lain lain dalam darah). (Smeltzer & Bare, 2001)
e. Data psikologi
Klien biasanya akan menunjukkan ansietas, takut, tidak berdaya, duka, menyangkal,
depresi, gangguan berhubungan dengan orang lain.
f. Data Sosial ekonomi
Gagal Ginjal Kronik dapat terjadi pada semua tingkat sosial ekonomi. Klien gagal ginjal
kronik cendrung menarik diri karena meningkatnya ketergantungan dan terjadinya perubahan
peradaban keluarga. Lebbih jauh dapat menyebabkan perubahan perekonomian apabila klien
tersebut adalah tulang punggung keluarga dalam menopang perekonomian.
g. Data Spritual
Mungkin klien mengalami kesulitan atau merasa terganggu dalam melaksanakan ibadah
karena kelemahan dan keterbatsan anggota fisik.
F. PENCEGAHAN
Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah dan sering kali tidak
menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang
sangat mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan kesehatan. Pemeriksaan
tahunan termasuk tekanan darah dan pemeriksaan urinalisis.
Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi sampai
menjadi kegagalan ginjal. Perawatan ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna
dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress (infeksi, kehamilan). (Barbara
C Long, 2001)
G. PENATALAKSANAAN
1. Dialisis (cuci darah)
2. Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen pengikat fosfat, suplemen kalsium, furosemid
(membantu berkemih)
3. Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat
4. Transfusi darah
5. Transplantasi ginjal
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):
a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan berkurang, mudah
tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal atau sesak nafas baik
waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin
juga sangat parah.
2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan
dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin – aldosteron), gagal jantung kongestif dan
udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial
oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat
kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Sistem kardiovaskuler
• Hipertensi
14
• Pitting edema
• Edema periorbital
• Pembesaran vena leher
• Friction sub pericardial
b. Sistem Pulmoner
• Krekel
• Nafas dangkal
• Kusmaull
• Sputum kental dan liat
c. Sistem gastrointestinal
• Anoreksia, mual dan muntah
• Perdarahan saluran GI
• Ulserasi dan pardarahan mulut
• Nafas berbau amonia
d. Sistem muskuloskeletal
• Kram otot
• Kehilangan kekuatan otot
• Fraktur tulang
e. Sistem Integumen
• Warna kulit abu-abu mengkilat
• Pruritis
• Kulit kering bersisik
• Ekimosis
• Kuku tipis dan rapuh
• Rambut tipis dan kasar
f. Sistem Reproduksi
• Amenore
• Atrofi testis
J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien
CKD adalah:
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat.
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan udem sekunder: volume
cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O.
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah.
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder, kompensasi melalui alkalosis
respiratorik.
5. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai O2 ke jaringan menurun.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan.
J. INTERVENSI
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat
Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas
normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler
Intervensi:
a. Auskultasi bunyi jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur
b. Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan
oleh disfungsi ginjal)
c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10)
R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri
d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
15
R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume
cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)
Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada
edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
a. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor
kulit tanda-tanda vital
b. Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan
d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan
haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output
3.Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB
stabil
Intervensi:
a. Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
b. Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan
pemasukan dan memerlukan intervensi
c. Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
e. Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat
mempengaruhi masukan makanan
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis
respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret
b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
c. Atur posisi senyaman mungkin
R: Mencegah terjadinya sesak nafas
d. Batasi untuk beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :
- Mempertahankan kulit utuh
- Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya kemerahan
R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan
dekubitus / infeksi.
b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas
16
jaringan
c. Inspeksi area tergantung terhadap udem
R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek
d. Ubah posisi sesering mungkin
R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia
e. Berikan perawatan kulit
R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit
f. Pertahankan linen kering
R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit
g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk memberikan tekanan pada area
pruritis
R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera
h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar
R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
a. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas
b. Kaji fektor yang menyebabkan keletihan
c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
d. Pertahankan status nutrisi yang adekuat
17
18
Download