AKULTURASI BUDAYA BETAWI DENGAN TIONGHOA

advertisement
AKULTURASI BUDAYA BETAWI DENGAN TIONGHOA
(Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang
Kromong di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)
Oleh
Ali Abdul Rodzik
NIM: 104051001817
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008
AKULTURASI BUDAYA BETAWI DENGAN TIONGHOA
(Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang
Kromong di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah)
Oleh
Ali Abdul Rodzik
NIM: 104051001817
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008
AKULTURASI BUDAYA BETAWI DENGAN TIONGHOA
(Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang
Kromong di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah)
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam
Oleh
Ali Abdul Rodzik
NIM: 10405101817
Di Bawah Bimbingan,
Prof. Dr. Andi M. Faisal Bakti
NIP. 150 236 319
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008 M
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghoa
(Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang
Kromong di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah)”, telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas
Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 31 Juli
2008 Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar
Sarjana Sosial Islam Program Strata Satu (S-1) pada Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam.
Jakarta, 31 Juli 2008
Panitia Sidang Munaqasyah
Ketua Merangkap Anggota,
Sekretaris Merangkap Anggota
Dr. Murodi, M.A.
NIP. 150 254 102
Umi Musyarofah, M.A.
NIP. 150 281 980
Anggota,
Penguji I
Penguji II
Drs.Wahidin Saputra, M.A.
NIP. 150 276 299
Dr. Arief Subhan, M.A.
NIP. 150 262 442
Pembimbing
Prof. Dr. Andi M. Faisal Bakti
NIP. 150 236 319
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 12 Agustus 2008
Ali Abdul Rodzik
ABSTRAK
ALI ABDUL RODZIK
Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghoa (Studi Komunikasi
Antarbudaya pada Kesenian Gambang Kromong di Perkampungan Budaya
Betawi, Serengseng Sawah.
Akulturasi merupakan perpaduan antarabudaya yang telah terjadi pada
ratusan tahun yang lalu. Akulturasi atau acculturation atau culture contact
diartikan oleh para sarjana antropologi mengenai proses sosial yang timbul bila
suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan
unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga
unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu
sendiri. Akulturasi ini telah terjadi pada budaya Betawi dengan Tionghoa
sehingga menghasilkan kesenian Gambang Kromong.
Alasan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui proses akulturasi
budaya yang terjadi pada Etnis Betawi dengan Tionghoa melalui beberapa
variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi.
Adapun identifikasian dan rumusan masalah ini lebih terfokus pada
variabel komunikasi dalam akulturasi sebagai cara pembuktian perpaduan pada
alat-alat kesenian Gambang Kromong dilihat dari bagaimana komunikasi pribadi
terbentuk antara kedua etnik tersebut? Bagaimana komunikasi sosial terbentuk
antar kedua etnik tersebut dalam kesenian Gambang Kromong? Dan bagaimana
lingkungan komunikasi memengaruhi kedua etnik tersebut dalam kesenian
Gambang Kromong?
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode deskriptif
kualitatif dengan menggunakan variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi
untuk menganalisa studi kesenian Gambang Kromong.
Dalam pendekatan kualitatif, peneliti melakukan pencarian melalui
dokumentasi berupa data-data yang bersifat teoritis berupa buku-buku, data-data
dari dokumen yang berupa catatan formal, jurnal, internet dan sebagainya yang
bersangkutan dengan judul. Peneliti juga melakukan observasi dengan mendatangi
langsung Perkampungan Budaya Betawi sebagi lokasi studi penelitian. Peneliti
juga melakukan wawancara kebeberapa narasumber yang dianggap tepat dalam
memberikan informasi.
Akulturasi terjadi sudah lama dan terbentuk dalam komunitas etnik Betawi
dengan Tionghoa, ini terbukti dari adanya kesenian Gambang Kromong hingga
saat ini dan menjadi budayanya etnik Betawi. Dalam proses akulturasi tersebut
komunikasi persona (pribadi) terjadi pada saat orang-orang Tionghoa mengadu
nasib ke Batavia dalam kurun waktu yang lama. Mereka mempelajari pola-pola
relasi, aturan-aturan, dan sistem komunikasi orang-orang Betawi. Proses
komunikasi sosial orang-orang Tionghoa pun tak terelakan, terbukti dari orangorang Tionghoa telah mampu berpartisipasi dalam kehidupan sosio-budaya
Betawi dan lebih jauh mengetahui unsur dan sistem sosio-budaya Betawi. Dari
semua proses komunikasi tersebut maka lingkungan komunikasi sangat
mendukung ini juga terbukti dari tempat pemukiman orang-orang Tionghoa dan
Betawi yang berdekatan.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbil ‘aalamin, dengan penuh rasa syukur ke hadirat Allah
SWT tiada kalimat yang lebih pantas diucapkan kepada-Nya, karena Dia adalah
Dzat yang telah memberikan taufiq dan hidayah-Nya serta memberikan banyak
nikmat serta rizki kepada penulis, sehingga dengan izin Allah peneliti dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Akulturasi Budaya Betawi dengan
Tionghoa, (Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang
Kromong, Kelurahan Srengseng Sawah”.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada sosok
manusia yang terjaga dari perbuatan buruk Nabi Muhammad Saw beserta
keluarga, sahabat-sahabatnya, dan seluruh umatnya hingga hari akhir nanti.
Terselesaikannya skripsi ini mulai dari penelitian sampai pada
penyusunannya, banyak sekali pihak-pihak yang membantu, sehingga penulis
memberikan penghargaan yang tinggi dengan ucapan terima kasih yang tiada tara
kepada:
1. Bapak Dr. Murodi, M.A., selaku Dekan
Fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Arief Subhan, MA selaku pembantu Dekan I, Bapak Drs. H.
Mahmud Jalal, MA selaku pembantu Dekan II, dan Bapak Drs. Study
Rizal Lk, M.Ag selaku Pembantu Dekan III Fakultas Dakwah dan
Komunikasi.
3. Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA., selaku ketua Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam. Ibu Umi Musyarofah, MA., selaku Sekretarsis Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam yang memberikan banyak informasi dan
pengarahan kepada penulis.
4. Bapak Prof. Dr. Andi M. Faisal Bakti, selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah meluangkan banyak waktu, memberikan banyak ilmu baru dan
memberikan
petunjuk
dalam
membimbing
penulis
sampai
terselesaikannya skripsi ini.
5. Bapak Drs. Suhaimi, M.Si., selaku Penasehat Akademik yang banyak
memberikan masukan kepada penulis.
6. Segenap Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang telah memberikan
banyak ilmu dan pengetahuan baru mulai semester I sampai semester VIII,
semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
7. Seluruh staf Lembaga Kebudayaan Betawi, khususnya Drs. Yahya Andi
Saputra yang telah banyak meluangkan waktu dan kesempatan dalam
memberikan informasi selama Penyusunan Skripsi.
8. Seluruh staf Pengelolah Perkampungan Budaya Betawi, khususnya Bang
Indra Sutisna yang telah banyak meluangkan waktu dan kesempatan dalam
memberikan informasi selama Penyusunan Skripsi.
9. Mpok Nori selaku pelaku seni yang telah bersedia untuk diwawancarai.
10. Kedua orang tua penulis, Ayahanda tercinta Haji Kurnain(alm) dan Ibunda
tercinta Hajah Sanati, yang telah banyak memberikan support baik materil
maupun imateril dan senantiasa mendoakan disetiap sholatnya untuk
penulis. Terima kasih atas keikhlasan dan kasih sayangnya yang tulus
kepada penulis. Semoga ibunda selalu diberikan kesehatan oleh Allah
SWT. Amin
11. My Brother KH. Abdul Muthi, Dr. H. Suryadinata, MA., H. Dani
Ramdani, MA., Wawan Munjiani, MM., M. Sarwani, SE, Chaider S.
Bamualim, MA., Iwan Setiawan, Ibnu Djarir, S.Ag, Iwan Dardiri, Ahmad
Nabawi, Dzul Fikor Ali Akbar, Nuris Setiawan. To My Sister Hj. Marhani,
Hj. Lilik Nurmaliha, Hanimah, Rusmiyati, Ika, Etty Kurniawati, Mila,
Robiatu Adawiyah, Fitri, Icha, Khotimatu Sa’diyah, dan adikku tercinta
Sakinatunnajah. yang telah banyak memberikan suport kepada penulis dan
terutama kakanda Chaider S. Bamualim yang telah banyak memberikan
masukan dan bimbingannya kepada penulis.
12. Seluruh teman-teman jurusan KPI angkatan 2004, terutama kelas KPI-C,
Dzikril, Willy, Kery, Badru, Ade, Bule, Hayus, Ray, Renal, Jaka, Lutfi,
Adnan, Hilmi, Yusuf, Eko, Nia, Ety, Lilis, Intan, Dama, Kartika, Syukriah,
Masyitoh, Emma, Eriz., yang selalu membantu penulis dalam berbagi
pengalaman, bertukar fikiran, dan motivasinya. Semoga persahabatan ini
akan terus berlanjut.
13. Teman terbaik penulis yang menjadi belahan jiwa. Dimana Saya ada, Dia
selalu ada untuk menemani Saya mencari bahan Skripsi serta memberikan
suport dan masukan kepada penulis. Teman terbaikku Fitri Kustianti,
S.Hum. Semoga selalu diberikan kesehatan dan kemudahan. Amin
Akhirnya penulis berdoa kepada Allah Yang Maha Sempurna agar
bantuan, dorongan, dan masukan dari semua pihak dapat dijadikan amal ibadah
dan mereka mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Amin
Dengan demikian penulis menyadari betul masih banyak kekurangan
dalam skripsi ini, oleh karenanya kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan skripsi ini bisa memberikan
ilmu baru yang bermanfaat.
Jakarta, 31 Juli 2008
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN .................................................................................. i
ABSTRAK ............................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... vi
DAFTAR ISI.........................................................................................................vii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... viii
BAB I : PENDAHULUAN ...............................................................................1
A. Latar Belakang Masalah................................................................1
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah .......................4
C. Ruang Lingkup Tujuan dan Manfaat Penelitian ...........................6
D. Metodologi dan Bingkai Penelitian...............................................8
E. Tinjauan Pustaka ...........................................................................13
F. Sistematika Penulisan ................................................................... 14
BAB II : AKULTURASI BUDAYA DALAM ILMU KOMUNIKASI
ANTARBUDAYA ………………………………….…………….… 16
A. Akulturasi dan Asimilasi (Pembauran) .........................................16
1. Akulturasi ............................................................................... 18
2. Asimilasi (Pembauran) ........................................................... 18
B. Komunikasi Antarbudaya ............................................................. 18
1. Komunikasi ............................................................................ 28
2. Kebudayaan ............................................................................ 20
3. Komunikasi Antarbudaya ....................................................... 22
C. Variabel Komunikasi dalam Akulturasi .......................................24
1. Komunikasi Persona ............................................................... 24
a. Kompleksitas Kognitif Imigran ........................................ 25
b. Citra Diri Imigran .......………………………………….. 26
c. Motivasi Akulturasi .......................................................... 26
2. Komunikasi Sosial ................................................................. 27
3. Situasi dan Kondisi Komunikasi ............................................ 28
BAB III : GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SERENGSENG
SAWAH………………………………………………………....... 30
A. Gambaran Umum Masyarakat Serengseng Sawah ......................30
B. Sejarah Singkat Etnis Betawi .......................................................31
C. Sejarah Singkat Etnis Tionghoa ...................................................36
D. Asal-usul Kesenian Gambang Kromong ......................................41
E. Alat-alat (Instrumen) Kesenian Gambang Kromong ................... 45
BAB IV
: BETAWI DAN TIONGHOA DALAM AKULTURASI .............48
A. Komunikasi Pribadi dalam Akulturasi pada Kesenian
Gambang Kromong.......................................................................48
1. Kerumitan Kognitif Imigran .................................................. 49
2. Gambaran Diri …………………………………................... 52
3. Dorongan Akulturasi ............................................................. 54
B. Komunikasi Sosial dalam Akulturasi pada Kesenian Gambang
Kromong ...................................................................................... 56
C. Lingkungan Komunikasi dalam Akulturasi pada Kesenian
GambangKromong ....................................................................... 62
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................67
B. Saran-Saran ..................................................................................68
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
1. ........................................................................................................... Su
rat Keterangan Izin Penelitian di Perkampungan Budaya Betawi.
2. ........................................................................................................... Ga
mbarab Umum Masyarakat Serengseng Sawah
3. ........................................................................................................... Ha
sil Wawancara dengan Budayawan Betawi menjabat Sub. Bidang
Pertunjukan.
4. ........................................................................................................... Ha
sil Wawancara dengan Seorang Pemerhati Budaya Cina Indonesia.
5. ........................................................................................................... Ha
sil Wawancara dengan Pengelola Perkampungan Budaya Betawi
6. ........................................................................................................... Ha
sil Wawancara dengan Pelaku Seni Betawi
7. ........................................................................................................... Su
rat Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
8. ........................................................................................................... Fo
to-foto Kegiatan Penelitian dan Wawancara
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Akulturasi atau acculturation atau culture contact diartikan oleh para
sarjana antropologi mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok
manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari
suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan
sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.1 Hal ini
dapat dilihat dari beberapa seni budaya yang hingga saat ini masih hidup dan
berkembang dalam masyarakat Betawi khususnya. Contohnya pada kesenian
Gambang Kromong.
Untuk dapat menghasilkan sebuah akulturasi yang baik maka perlu adanya
proses sosial. Proses sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia yaitu ditandai
oleh dinamika komunikasi. Hal ini jelas terjadi pada seluruh umat manusia di
dunia, mereka benar-benar menyadari bahwa semua kebutuhan hidupnya hanya
dapat dipenuhi jika berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu jika berhasil
berkomunikasi secara efektif maka seluruh kebutuhannya dapat dia capai. Setiap
hari, kita pasti selalu berkomunikasi. Kita saling bertukar informasi dan
pengalaman. Kita berdiskusi dan berdialog panjang tentang sesuatu hal adalah
untuk mencari sebuah keputusan dan hasil yang diinginkan bersama.
1
248.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta, Aksara Baru, 1980), h. 247-
Semua tidak terlepas dari adanya pertukaran inforamasi baik dari tetangga
dan kenalan. Informasi yang didapat juga bias dari membaca majalah atau surat
kabar dan mendengarkan radio atau menonton TV. Dari pagi hingga petang
manusia berkomunikasi, manusia tidak mungkin tidak berkomunikasi atau
manusia tidak dapat mengelak dari komunikasi. Artinya, tiada hari tanpa
komunikasi. Komunikasi telah ada sejak manusia lahir, dan akan terus ada
sepanjang manusia lahir, dan akan terus ada sepanjang manusia hidup.2
Seseorang tidak dapat lepas dari komunikasi, begitu juga dengan budaya
dan komunikasi yang tidak dapat dipisahkan oleh karena budaya hanya
menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang
menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan.3 Komunikasi adalah alat yang
manusia miliki untuk mengatur, menstabilkan, dan memodifikasi kehidupan
sosial.4
Budaya sebagai cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.5 Manusia belajar, berpikir,
merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya.
Bila melihat Betawi secara umum maka yang terlihat adalah merupakan
hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerahdaerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian,
2
Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta, LKiS,
2003), h. 2-3.
3
Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya, (Bandung, PT.
Remaja Rosdakarya, 2005), h. 19.
4
Ibid, h. 137.
5
Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, Human Communication Konteks-konteks
Komunikasi, (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 237
misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni
musik Cina, tetapi juga ada Rebana atau marawis yang berakar pada tradisi musik
Arab, Musik Keroncong Tugu yang muncul sebagai sebuah hasil kebudayaan
betawi merupakan perpaduan unik dengan latar belakang Portugis-Arab,
sedangkan kesenian Tanjidor lebih berlatar belakang ke-Belanda-an.6
Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah
keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil
kawin-mawin antar etnis dan bangsa di masa lalu.7 Perkampungan Budaya
Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah merupakan tempat tinggal sebagian kecil
masyarakat Betawi dan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan-kegiatan. Salah
satunya adalah kegiatan kesenian Gambang Kromong.
Gambang kromong bila diartikan dalam Kamus Kesar Bahasa Indonesia,
Gambang merupakan alat musik pukul tradisional (bagian dari perangkat
gamelan) yang dibuat dari bilah kayu (16-25 bilah) yang panjang dan besarnya
tidak sama dimainkan dengan alat pukul. Sedangkan kromong diartikan sebagai
gamelan khas betawi untuk mengiringi drama rakyat betawi (lenong dan cokek).8
Gambang Kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur
Pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alatalat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong, sedangkan alat musik
6
Samurai, Musik Tradisional, artikel diakses pada 2 Juni 2008, dari http://Musuk
Tradisional by Samurai On Blogster.htm
7
Sekilas Tentang Masyarakat Betawi, Artikel Bamus Betawi diakses pada 1 Juni 2008
dari http://betawi.blogsome/htm.
8
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
(Jakarta, Balai Pustaka, 2005), h. 329.
lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong merupakan unsur
Pribumi.9
Dari akulturasi yang telah terjadi, penulis melihat perlu adanya kejelasan
proses akulturasi tersebut untuk dapat mengetahui apa saja yang terjadi? dan
melalui apa saja?. Aklturasi ini jelas sekali telah menghasilkan sebuah kesenian
Gambang Kromong. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengangkat
judul skripsi: "Akulturasi Budaya Betawi dengan Tionghoa (Studi
Komunikasi
Antarbudaya
pada
Kesenian
Gambang
Kromong
di
Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah, Jakarta
Selatan)."
B. Identifikasi, Batasan dan Rumusan Masalah
1. Identifikasi masalah
Dalam pengidentifikasian masalah ini, peneliti ingin membukti dengan
jelas mengenai perpaduan yang serasi antara unsur-unsur Pribumi dengan unsur
Tionghoa. Hal tersebut terlihat dari orang-orang Tionghoa yang sejak lama tinggal
di Indonesia dan melakukan perkawinan dengan orang-orang Pribumi, sehingga
perpaduan itu bukan saja pada alat musik Gambang Kromong, tetapi juga dari sisi
ekomomi, politik, dan lain sebagainya. Pengindetifikasian masalah ini lebih
terfokus variabel komunikasi dalam akulturasi dan sebagai bukti perpaduan pada
alat-alat kesenian Gambang Kromong.
9
Rachmat Syamsudin dan Dahlan, Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik
Gambang Kromong, (Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1996), h. 5.
2. Pembatasan Masalah
Dalam penyusunan skripsi ini, pembatasan masalah pada kesenian
Gambang Kromong di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng
Sawah, Jakarta Selatan yang kegiatan latihanya setiap hari sabtu pada pukul 09.00
– 13.00 WIB, hanya pada bulan Mei sampai dengan Juli 2008.
3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah yang ada maka
peneliti merumuskan masalah utama sebagai berikut :
Bagaimana akulturasi budaya antara etnik Betawi dan Tionghoa terbentuk
melalui Komunikasi Persona dan Sosial dalam kesenian Gambang Kromong
di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah?
Berdasarkan masalah di atas, maka pertanyaan turunannya adalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana komunikasi persona terbentuk antara kedua etnik tersebut
dalam kesenian Gambang Kromong?
2. Bagaimana komunikasi Sosial terbentuk antara kedua etnik tersebut dalam
kesenian Gambang Kromong?
3. Bagaimana lingkungan komunikasi memengaruhi kedua etnik tersebut
dalam kesenian Gambang Kromong?
C. Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini merupakan akulturasi yang terjadi pada kesenian
Gambang Kromong berupa alat-alat musik yang digunakannya. Gambang
kromong adalah sebuah seni tradisi masyarakat betawi. Musik tradisi ini terdiri
dari instrumen :
a. Gambang (silofon) dengan 18 nada yang dilaras/tangga nada pentatonic
dengan panjang tiga setengah oktaf
b. Kromong berbentuk mirip dengan bonang, terdiri dari sepuluh buah gong
kettle kecil (Pencong) yang dilaras pentatonic sepanjang 2 oktaf
c. Kongahyan, tehyan, dan sukong adalah alat musik yang berasal dari
Tionghoa yang cara memainkannya digesek.
d. Sebuah flute/seruling yang berasal dari Tionghoa
e. 2 buah gong gantung (kempul dan gong), gendang, dan kecrek, instrumen
tersebut adalah asli Indonesia.10
Masyarakat pemilik/pendukung kesenian ini adalah masyarakat Tionghoa
keturunan dari perkawinan campur Tionghoa-Pribumi, dan milik masyarakat
Betawi asli.
2. Tujuan
a. Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui proses akulturasi budaya antara etnik Betawi dan
Tionghoa terbentuk melalui variabel-variabel komunikasi dalam
10
Rachmat dan Dahlan, Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik Gambang
Kromong, …, h. 10-16.
akulturasi yang diantaranya: Komunikasi Persona, Komunikasi Sosial,
dan Lingkungan Komunikasi dalam kesenian Gambang Kromong.
2) Untuk dapat memperkirakan realitas akulturasi pada suatu saat tertentu
dan juga meramalkan tahap akulturasi selanjutnya dalam komunikasi
antarbudaya.
b. Tujuan Umum
Penelitian ini dibuat dengan sedikit memberikan usulan yaitu perlu
adanya
penelitian-penelitian
yang
berkaitan
dengan
komunikasi
antarbudaya selanjutnya agar dapat lebih menambah kazanah ilmu
pengetahuan dalam bidang komunikasi.
3. Manfaat Penelitian
a. Manfaat teoritis
Dari penelitian ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam
penelitian selanjutnya dalam studi komunikasi antarbudaya dan memberikan
kontribusi pada aspek kebudayaan itu sendiri.
b. Manfaat praktis
Dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberi masukan positif bagi para
teoritis, praktisi untuk lebih mengoptimalkan nilai-nilai yang terdapat dalam
satu kebudayaan. Betapa pentingnya komunikasi sebagai alternatif yang
positif bagi kelangsungan budaya-budaya yang ada.
D. Metodologi dan Bingkai Penelitian
1. Pendekatan penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menggunakan
metode deskriptif analisis. Di mana data-data yang telah diperoleh dideskripsikan
terlebih dahulu dan kemudian dianalisis. Hanyalah memaparkan situasi atau
peristiwa. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji
hipotesis atau membuat prediksi. Metode deskriptif ialah menitikberatkan pada
observasi dan suasana alamiah (naturalistis setting). Dengan suasana alamiah
dimaksudkan bahwa peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha untuk
memanipulasi variabel.11
Metode di atas dimaksudkan agar penulis lebih leluasa dalam penelitian
studi kesenian Gambang Kromong, sehingga dalam penelitian ini penulis dapat
menggunakan dan mengembangkannya secara alamiah. Metode deskriptif tersebut
dengan menggunakan variabel-variabel komunikasi dalam akulturasi sebagai
berikut :
A. Komunikasi Persona merupakan sebuah proses pengaturan diri yang
dilakukan individu pada dirinya (imigran) dan dengan sosialbudayanya, dimaksudkan orang tersebut dapat mengembangkan caracara melihat, mendengar, dan merespon lingkungannya. Hal di atas
erat kaitanya dengan yang tertera di bawah ini :
11
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi dilengkapi contoh analisis
statistik, (Bandung, Remaja Rosdakarya 2000), h. 24-25.
1) Kompleksitas kognitif imigran lebih menitikberatkan pada
pedoman dan aturan-aturan sistem komunikasi Pribumi. Dengan
demikian persepsi imigran terhadap lingkungannya lambatlaun
akan menjadi lebih baik dan memungkinkannya menemukan
banyak variasi dalam lingkungan Pribumi.
2) Citra Diri (Self Image) artinya gambaran diri seorang imigran yang
berhubungan dengan gambarannya tentang masyarakat Pribumi
dan
budaya
aslinya,
dengan
cara
menceritakan
realitas
akulturasinya sesuai dengan apa yang ia rasakan.
3) Motivasi akulturasi di sini mengarah kepada keinginan imigran
untuk mengetahui, berpartisipasi, dan pastinya lebih diarahkan
pada sistem sosio-budaya Pribumi.
B. Komunikasi Sosial adalah suatu proses berkomunikasi yang lebih
umum, yang dilakukan individu-individu untuk berinteraksi dengan
lingkungan sosio-budayanya, tanpa terlihat dalam hubungan-hubungan
antarpersona dengan individu-individu lainnya. Dan yang terpenting
pada fase awal proses akulturasi seorang imigran mengetahui lebih
jauh lagi tentang berbagai unsur dalam sistem sosio-budaya Pribumi.
C. Situasi dan kondisi komunikasi merupakan hal terpenting dalam
hubungannya dengan komunikasi persona dan komunikasi sosial
seorang imigran, dan fungsi komunikasi-komunikasi tersebut tidak
dapat sepenuhnya dipahami tanpa dihubungkan dengan lingkungan
komunikasi masyarakat Pribumi. Apakah imigran tinggal di desa atau
di kota metropolitan, tinggal di daerah miskin atau kaya, bekerja
sebagai buruh pabrik atau eksekutif. Semua itu merupakan kondisi
lingkungan
yang
mungkin
secara
signifikan
mempengaruhi
perkembangan sosio-budaya yang akan dicapai imigran tanpa
melupakan komunitas etniknya di daerah setempat.
2. Sumber Data
Untuk memperoleh data-data yang lengkap dan akurat, di sini peneliti
menggunakan data primer dan data sekunder.
a) Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden berupa
hasil temuan penelitian observasi serta wawancara dengan pihak instansi
yang bersangkutan dalam hal ini ialah Kelurahan setempat serta warga
masyarakat Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah,
Jakarta Selatan.
b) Data sekunder akan diperoleh dari sumber-sumber tertulis yang terdapat
dalam buku, Jurnal, Kutipan-kutipan, dokumentasi atau arsip-arsip
(kelurahan) dan literatur lain yang berkaitan dengan penelitian mengenai
akulturasi budaya pada kesenian Gambang Kromong.
3. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan
Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti untuk mengetahui
kegiatan Kesenian dalam perspektif komunikasi antarbudaya di Perkampungan
Budaya Betawi adalah :
1. Observasi
Pengamatan langsung mengenai objek yang diteliti yaitu kesenian
Gambang Kromong dengan observasi langsung ke Perkampungan Budaya
Betawi di Srengseng Sawah. Dan sekaligus turut langsung dalam
pelaksanaan kegiatan latihan yang dilakukan setiap hari minggu, dimulai
pada pukul 9.00 WIB, dan acara-acara pagelaran seni Budaya Betawi di
aula serbaguna Perkampungan Budaya Betawi.
Observasi juga dilakukan ke kantor pengelolah Perkampungan
Budaya Betawi dan kantor Lembaga Kebudayaan Betawi di Kuningan
untuk menambah referensi mengenai data yang mendukung dalam
penyelesaian skripsi ini. Guna dapat menambah referensi mengenai data
kesenian Gambang Kromong, juga dilakukan penelusuran melalui dunia
cyber/website yaitu; www.google.com dan www.kampungbetawi.com
serta pengamatan yang bersifat langsung dengan mengikuti kegiatan
Sarasehan Folklor Betawi di Cipayung - Bogor pada tanggal 28-29 Juli
2008 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Permusiuman Provinsi
DKI Jakarta.
2. Interview
Mewawancarai pada pihak-pihak yang memiliki perhatian,
pengetahuan sejarah, serta perannya dalam perkembangan kesenian
Gambang Kromong. Melakukan wawancara seputar awal terjadinya
akulturasi, nilai-nilai, sejarah serta hal-hal yang berkaitan dengan kesenian
Gambang Kromong yaitu kepada Budayawan Betawi dan Sub. Bidang
Pertunjukan di LKB oleh Drs. Yahya Andi Saputra, Pemerhati Budaya
Cina Indonesia oleh David Kwa, Pengelolah Perkampungan Budaya
Betawi oleh Indra Sutisna, serta mewawancarai Mpok Nori selaku Pelaku
Kesenian Budaya Betawi untuk dapat mengetahui perkembangan kesenian
Gambang Kromong.
3. Dokumentasi
Penulis menghimpun data-data yang terkumpul berupa; dokumen,
foto-foto, buku-buku, catatan formal, jurnal, internet dan sebagainya yang
berhubungan dengan masalah peneltian sebagai bahan penunjang
penelitian. Kemudian penulis menggunakan analisa deskriptif, artinya dari
data yang terkumpul penulis menjabarkan dengan memberikan analisaanalisa untuk kemudian diambil kesimpulan akhir.
5. Pengolahan Dan Analisis Data
Dari data-data yang sudah peneliti peroleh, maka peneliti mempelajari
berkas-berkas yang telah terkumpul kemudian peneliti melakukannya dengan
cara: Editing, yaitu mempelajari kembali berkas-berkas data yang telah terkumpul,
sehingga keseluruhan berkas itu dapat diketahui dan dapat dinyatakan baik agar
dapat dipersiapkan proses selanjutnya.
E. Tinjauan Pustaka
Dari pengamatan peneliti di lingkungan UIN Jakarta, peneliti belum
pernah menemukan penelitian tentang "Akulturasi Budaya Betawi Islam Dengan
Tionghoa (Studi Komunikasi Antarbudaya Pada Kesenian Gambang Kromong Di
Setu Babakan, Kelurahan Jagakarsa)". Peneliti hanya menemukan satu penelitian
yang dilakukan oleh Ahmad Syukru, S.Sos.I, Fakultas Dawah dan Komunikasi,
UIN Syarif Hidayatullah, dengan judul penelitian, "Komunikasi Antarbudaya
(Studi Pada Pola Komunikasi Masyarakat Suku Betawi Dengan Madura Di
Kelurahan Condet Batu Ampar)", penelitian ini dilakukan pada tahun 2006, dan
hasil penelitian ini menekankan pola lain dari komunikasi antarbudaya masyarakat
suku betawi dengan madura, mengambil bentuk komunikasi kecil, dimana hal ini
terjadi dalam konteks keagamaan. Sudah menjadi anggapan umum bahwa suku
betawi dan madura adalah dua suku yang dikenal fanatik dalam agama dan secara
umum amaliah keagamaannya mempunyai kesamaan, yakni: amaliah keagamaan
yang tradisional.
Berangkat dari minimnya penelitian tentang komunikasi antarbudaya,
peneliti tertarik untuk meneliti tentang "Akulturasi Budaya Betawi dengan
Tionghoa, Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang Kromong"
sebagai sumbangsih pemikiran terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan masalah dalam skripsi ini, penulis
berusaha membuat sistematika khusus berdasarkan kesamaan dan hubungan yang
ada, skripsi ini terdiri dari lima bab :
Bab I Pendahuluan yang mengemukakan latar belakang masalah,
identifikasi, pembatasan dan perumusan masalah, ruang lingkup tujuan dan
manfaat penelitian, metodologi dan bingkai penelitian, tinjauan pustaka, dan yang
terakhir adalah sistematika penulisan.
Bab II Akulturasi dalam ilmu komunikasi antarbudaya, Akulturasi dan
Asimilasi (pembauran) menjelaskan Pengertian Akulturasi dan Asimilasi
(pembauran). Komunikasi Antarbudaya menjelaskan pengertian Komunikasi,
Kebudayaan, dan Komunikasi Antarbudaya. Akulturasi dan variabel komunikasi
dalam akulturasi yang meliputi : Komunikasi Persona yang terdiri dari
kompeksitas struktur kognitif imigran, citra diri imigran, dan Motivasi akulturasi.
Komunikasi Sosial, dan Situasi dan Kondisi Komunikasi.
Bab III
Gambaran umum Srengseng Sawah dan sejarah Gambang
Kromong; dilihat dari gambaran umum masyarakat Srengseng Sawah, Etnis
Betawi, Etnis Tionghoa, asal-usul terbentuknya kesenian Gambang Kromong,
alat-alat (instrumen) yang digunakan pada kesenian tersebut, yang terakhir
Gambang dan Kromong.
Bab IV Betawi danTionghoa dalam Akulturasi, komunikasi pribadi dalam
akulturasi pada kesenian Gambang Kromong melalui, Kerumitan Kognitif
Imigran, Gambaran Diri, dan Dorongan Akulturasi. Kemudian menganalisis
komunikasi sosial dalam akulturasi pada kesenian Gambang Kromong. Dan yang
terakhir lingkungan komunikasi dalam akulturasi pada kesenian Gambang
Kromong
Bab V Penutup, Kesimpulan, Saran-saran, dan selain itu diakhir skripsi
ini dilengkapi dengan daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
BAB II
AKULTURASI DALAM ILMU KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
A. Akulturasi dan Asimilasi (Pembauran)
1. Pengertian Akulturasi
Akulturasi dalam kamus ilmiah populer diartikan sebagai proses
pencampuran
dua
kebudayaan
atau
lebih,12 dalam
Akulturasi
atau
acculturation atau culture contact diartikan oleh para sarjana antropologi
mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan
suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu
kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan
asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa
menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.13
Pengertian proses akulturasi dalam buku Komunikasi Antarbudaya
merupakan suatu proses yang interaktif dan berkesinambungan yang
berkembang dalam dan melalui komunikasi seorang imigran dengan
lingkungan sosio-budaya yang baru.14 Potensi akulturasi seorang imigran
sebelum berimigrasi dapat mempermudah akulturasi yang dialaminya dalam
12
Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Edisi Lengkap, (Surabaya, Gitamedia Press,
2006), h. 21.
13
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu Antropologi, (Jakarta, Aksara Baru, 1981), h. 247248.
14
Deddy Mulyana dan Jalaludin Rakhmat, Komunikasi Antar Budaya, (Bandung, PT.
Remaja Rosdakarya, 2005), h. 140.
masyarakat Pribumi. Potensi akulturasi ditentukan oleh faktor-faktor berikut15
:
a. Kemiripan antara budaya asli (imigran) dan budaya Pribumi.
b. Usia pada saat berimigrasi.
c. Latar belakang pendidikan.
d. Beberapa karakteristik kepribadian seperti sukan bersahabat dan
toleransi.
e. Pengetahuan tentang budaya Pribumi sebelum berimigrasi.
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi
melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain (misalnya,
melalui media masa). Sebagai contoh, bila sekelompok imigran kemudian
berdiam di Indonesia (kultur tuan rumah), kultur mereka sendiri akan
dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara
berprilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah semakin menjadi bagian
dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, tentu saja, kultur
tuan rumah berubah juga. Tetapi, pada umumnya, kultur imigranlah yang lebih
banyak berubah. 16
Menurut Young Yun Kim, seperti yang dikutip Joseph A. Devito,
penerimaan kultur baru bergantung pada sejumlah faktor. Imigran yang datang
dari kultur yang mirip dengan kultur tuan rumah akan terakulturasi lebih
mudah. Demikian pula, mereka yang lebih muda dan terdidik lebih cepat
15
16
479.
Ibid, h. 146.
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta, Professional Books, !997), h.
terakulturasi ketimbang mereka yang lebih tua dan kurang berpendidikan.
Faktor kepribadian juga berpengaruh. Orang yang senang mengambil resiko
dan berpikiran terbuka, misalnya, lebih mudah terakulturasi. Akhirnya, orang
yang terbiasa dengan kultur tuan rumah sebelum berimigrasi, apakah melalui
kontak antarpribadi ataupun melalui media masa, akan tetapi lebih mudah
terakulturasi.17
2. Pengertian Asimilasi (Pembauran)
Asimilasi atau assimilation adalah proses sosial yang timbul bila ada
golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan berbeda-beda,
saling bergaus langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga
kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah
sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah
wujudnya menjadi unsur-nsur kebudayaan campuran.18 Biasanya golongangolongan yang ada dalam proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas
dan beberapa golongan minoritas.
Dalam hal ini golongan-golongan minoritas itulah yang mengubah sifat
khas dari unsur-unsur kebudayaannya, dan menyesuaikannya dengan
kebudayaan dari golongan mayoritas sedemikian rupa sehingga lambat laun
kehilangan kepribadian kebudayaannya, dan masuk ke dalam kebudayaan
mayoritas.19
B. Komunikasi Antarbudaya
1. Pengertian Komunikasi
17
Ibid, h. 479.
Koentjaraningrat, Pengantar ilmu Antropologi, (Jakarta, Aksara Baru, 1981), h. 255.
19
Ibid, h. 255.
18
Komunikasi antarbudaya memiliki dua kata yang masing-masing
memiliki pengertian, untuk lebih memudahkan penulis memberikan
pengertian komunikasi terlebih dahulu. Komunikasi mengandung makna
bersama-sama (Common). Istilah komunikasi atau Communication berasal
dari bahasa latin, yaitu Communicatio. Yang berarti pemberitahuan atau
pertukaran. Kata sifatnya Communis, yang bermakna umum atau bersamasama.20
Secara umum komunikasi dapat diartikan sebagai hubungan atau
kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masalah hubungan atau diartikan
pula saling tukar-menukar pendapat. Komunikasi dapat juga diartikan
hubungan kontak antar manusia baik individu maupun kelompok.21
Komunikasi membangun kontak-kontak manusia dengan menunjukkan
keberadaan dirinya dan berusaha memahami kehendak, sikap dan perilaku
orang lain. Komunikasi membuat cakrawala seseorang menjadi makin luas.22
Kehidupan manusia ditandai oleh dinamika komunikasi. Seluruh umat
manusia di dunia benar-benar menyadari bahwa semua kebutuhan hidupnya
hanya dapat terpenuhi jika dia berkomunikasi dengan orang lain. Sejak
lahirnya kita di dunia ini kita sudah mulai berkomunikasi dengan orang
disekitar kita terutama dengan ibu dan bapak kita, dari nangis, ngompol, isap-
20
21
Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta, Grasindo, 2005), Cet. Ke-2, h. 5.
H.A.W.Widjaja, Ilmu Komunikasi suatu Pengantar, (Jakarta, Rieneka Cipta, 2000), h.
13.
22
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta, PT. RajaGrafindo Persad,
2005), h. 32.
isap
jari
tangan
dan
lainya
merupakan
cara
awal
seorang
bayi
berkomunikasi.23
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui prilaku verbal dan
nonverbal. Segala prilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang
atau lebih.24 Seperti yang dikutip oleh Dedy Mulyana dari Judy C. Pearson dan
Paul E. Nelson bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama,
untuk kelangsungan hidup diri-sendiri. Kedua, untuk kelangsungan hidup
bermasyarakat,
tepatnya
untuk
memperbaiki
hubungan
sosial
dan
mengembangkan keberadaan suatu masyarakat.25
Berbeda dengan pengertian yang dikutip Alo Liliweri dari Saundra
Hybels dan Richard L. Weafer II, bahwa komunikasi merupakan setiap proses
pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informasi
yang disampaikan tidak hanya lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa
tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di
sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan.26
2. Pengertian Kebudayaan
Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan soal
kebudayaan, juga dalam kehidupan sehari-hari, orang tak mungkin tidak
berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang melihat,
23
Ibid, h. 32.
Dedy Mulyana, Komunikasi Efektif suatu pendekatan Lintas Budaya, (Bandung,
Remaja Rosdakarya, 2005), h. 3.
25
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, (Bandung, Remaja Rosdakarya,
2007), h. 5.
26
Alo Liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta, LkiS,
2003), h. 3.
24
mempergunakan dan bahkan kadang-kadang merusak hasil kebudayaan.
Masalah kebudayaan, sebenarnya secara khusus dan lebih teliti dipelajari oleh
antropologi budaya. Akan tetapi walaupun demikian, seseorang yang
memperdalam perhatiannya terhadap masyarakat, tak dapat menyampingkan
kebudayaan dengan begitu saja, oleh karena itu di dalam kehidupan yang
nyata, keduanya tak dapat dipisahkan dan selamanya merupakan dwi-tunggal.
Masyarakat adalah orang yang menghasilkan kebudayaan.27
Dengan demikian, tak ada masyarakat yang tidak mempunyai
kebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai
wadah dan pendukungnya, walaupun secara teoritis dan untuk kepentingan
analitis, kedua persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara
terpisah. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem
agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan
karya seni.28
Kebudayaan secara sederhana banyak yang mengartikan sebuah seni,
akan tetapi kebudayaan bukan sekedar sebuah seni, kebudayaan melebihi seni
itu sendiri karena kebudayaan meliputi sebuah jaringan kerja dalam kehidupan
antarmanusia. Dengan begitu, manusia merupakan aktor dari kebudayaan itu
sendiri. Kebudayaan merupakan satu unit interpretasi, ingatan, dan makna
yang ada di dalam manusia dan bukan sekedar dalam kata-kata. Ia meliputi
kepercayaan, nilai-nilai, dan norma, semua ini merupakan langkah awal di
27
28
Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, …, h. 10.
Ibid, h. 10.
mana kita merasa berbeda dalam sebuah wacana. Kebudayaan melibatkan
karakteristik suatu kelompok manusia dan bukan sekedar pada individu.29
Para
antropologi
mengatakan
bahwa
kebudayaan
merupakan
keseluruhan kompleks yang di dalamnya meliputi pengetahuan, seni moral,
hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan atau kebiasaan yang dilakukan
oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat. Untuk mempermudah
menjelaskan kebudayaan yaitu dengan mendeskripsikan rincian pengetahuan,
seni, moral, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan atau kebiasaan yang
dilakukan oleh sekelompok masyarakat dari kebudayaan tertentu.30 Setiap
kelompok budaya menerima pesan dari segi pola budayanya, tidak terbatas
pada kebudayaannya. Komunikasi antarbudaya menitikberatkan proses
komunikasi serta efektivitas dan akibat suatu pesan dari segi kontak budaya.31
3. Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Komunikasi dan Kebudayaan merupakan dua konsep yang tidak dapat
dipisahkan. Pusat perhatian komunikasi dan kebudayaan terletak pada variasi
langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau
kelompok sosial.
Komunikasi
antarbudaya
merupakan
interaksi
antarpribadi
dan
komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh beberapa orang yang memiliki
latar belakang kebudayaan yang berbeda. Akibatnya, interaksi dan komunikasi
yang sedang dilakukan itu membutuhkan tingkat keamanan dan sopan santun
29
Ibid, h. 11.
Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, …, h. 10-11.
31
Astrid S. Susanto, Komunikasi dalam Teori dan Praktek, (Binacipta, 1988), h. 9.
30
tertentu, serta peramalan tentang sebuah atau lebih aspek tertentu terhadap
lawan bicara.32 Komunikasi antarbudaya mengacu pada komunikasi antara
orang-orang dari kultur yang berbeda antara orang-orang yang memiliki
kepercayaan, nilai, atau cara berperilaku kultural yang berbeda.
Kultur
Pesan
s/p
Kultur
s/p
Model diatas menjelaskan lebih jauh. Lingkaran lebih besar menggambarkan
kultur dari komunikator. Lingkaran yang lebih kecil menggambarkan
komunikatornya (sumber/penerima). Dalam model ini masing-masing
komunikator adalah anggota dari kultur yang berbeda.33
Semua pesan dikirimkan dari konteks kultural yang unik dan spesifik,
dan konteks itu mempengaruhi isi dan bentuk pesan. Kita berkomunikasi
seperti yang kita lakukan sekarang sebagaian besar sebagai akibat kultur kita.
Kultur mempengaruhi setiap aspek dari pengalaman komunikasi kita.34
Sehingga dalam kehidupan sehari-hari dapat tercipta keselarasan dan
tidak terjadi distorsi. Disinilah pentingnya mengetahui dan memahami
komunikasi antarbudaya. Karena komunikasi antarbudaya adalah komunikasi
32
33
Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, …, h. 13-14.
Joseph A. Devito, Komunikasi Antarmanusia, (Jakarta, Professional Books, 1997), h.
479-480.
34
Ibid, h. 14
yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukkan adanya perbedaan budaya
seperti bahasa, nilai-nilai, adat kebiasaan.
C. Variabel Komunikasi dalam Akulturasi
1. Komunikasi Persona
Komunikasi persona (interpersona) mengacu kepada proses-proses
mental yang dilakukan orang untuk mengatur dirinya sendiri dalam dan
dengan lingkungan sosio-budayanya, mengembangkan cara-cara melihat,
mendengar, memahami, dan merespon lingkungan. Seperti yang dikutip oleh
Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat dari Ruben, "Komunikasi persona
dapat dianggap sebagai merasakan, memahami, dan berprilaku terhadap
objek-objek dan orang-orang dalam suatu lingkungan. Ia adalah proses yang
dilakukan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya."35
Artinya dalam konteks akulturasi, komunikasi persona sebagai cara untuk
dapat memudahkan seorang imigran untuk merespon dan mengidentifikasi
secara konsisten budaya Pribumi yang secara potensial memudahkan aspekaspek akulturasi lainnya.
Mengenai komuniaksi persona, seperti yang telah dikutip oleh Astrid
S. Susanto dari James H. Campbell dan Hall W. Hepler memberikan contoh
dari dua orang yang berkomunikasi, kemudian berinteraksi satu sama lain.
Mereka menekankan tentang gambaran dirinya, apa yang dimiliki oleh
35
Deddy dan Jalaluddin, Komunikasi Antarbudaya, …, h. 141.
masing-masing. Dalam komunikasi dan interaksi, maka faktor diri selalu
menjadi faktor terpenting dan faktor pihak yang diajak berkomunikasi
dihubungkan dan diteropong dalam bentuk sesudah menilai keadaan dan
kepentingan serta milik dirinya.36
Akhirnya setelah terjadi interaksi, hasil interaksi adalah dengan
mengutamakan diri, kepentingan pihak yang lain dihubungkan dengan
kepentingan diri, dan mengutamakan kepentingan yang lain.
Suatu
variabel
komunikasi
persona
dalam
akulturasi
adalah
kompleksitas struktur kognitif imigran, citra diri (self image) imigran, dan
Motivasi akulturasi.
a) Kompleksitas Kognitif Imigran
Kompleksitas kognitif seorang imigran yaitu dengan mengetahui
secara keseluruhan bagaimana mempersepsikan lingkungan Pribumi
sehingga mengetahui budaya Pribumi lebih jauh. Dalam mengawali proses
akulurasi
biasanya
seorang
imigran
mempersepsikan
lingkungan
Pribuminya secara sederhana karena seorang imigran masih belum dapat
beradaptasi secara langsung, masih merasa asing pada lingkungan
Pribumi.37
Seorang imigran diharapkan mengetahui pola-pola dan aturan-aturan
sistem komunikasi Pribumi, fungsinya untuk mempermudah dalam
36
37
Astrid S. Susanto, Komunikasi dalam Teori dan Praktek, …, h. 94.
Ibid, h. 141.
meningkatkan partisipasi seorang imigran dalam jaringan-jaringan
komunikasi antarpersona dan komunikasi massa yang terdapat pada
masyarakat Pribumi.
b) Citra Diri (self image).
Citra diri (self image) imigran yang berkaitan dengan citra-citra
imigran tentang lingkungannya. Artinya citra diri imigran yang
berhubungan dengan citra-citranya tentang masyarakat Pribumi dan
budaya aslinya. Misalnya, memberi informasi berharga tentang realitas
akulturasinya yang subjektif. Perasaan yang diderita oleh seorang imigran
sangat berkaitan dengan jarak perasaan antara dirinya dan anggota-anggota
masyarakat Pribumi mengenai keterasingannya, dan masalah-masalah
psikologis lainnya.38
c) Motivasi Akulturasi
Motivasi akulturasi seorang imigran terbukti sesuai dengan apa yang
menjadi tujuannya sehingga memudahkannya dalam proses akulturasi.
Motivasi akulturasi mengacu kepada kemauan untuk belajar tentang
berpartisipasi dan diarahkan menuju sistem sosio-budaya Pribumi. Apa
yang telah dilakukan imigran terhadap lingkungan yang baru, biasanya
seorang imigran meningkatkan partisipasinya dalam berkomunikasi
dengan masyarakat.39
38
39
Ibid, h. 141.
Ibid, h. 142.
2. Komunikasi Sosial
Komunikasi persona berkaitan dengan komunikasi sosial ketika dua atau
lebih individu berinteraksi, sengaja atau tidak sengaja. Seperti yang dikutip
oleh Dedy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat, "Komunikasi adalah suatu
proses yang mendasari intersubjektivisasi, suatu fenimena yang terjadi sebagai
akibat simbolisasi publik dan penggunaan serta penyebaran simbol."40
Komunikasi massa adalah suatu proses komunikasi sosial yang lebih
umum,
yang
dilakukan
individu-individu untuk berinteraksi dengan
lingkungan sosio-budayanya, tanpa terlihat dalam hubungan-hubungan
antarpersona dengan individu-individu lainnya.41
Menurut kim, seperti yang dikutip oleh Deddy Mulyana dan Jalaluddin
Rakhmat, "Fungsi akulturasi komunikasi massa bersifat terbatas dalam
hubungannya dengan fungsi akulturasi komunikasi antarpersona."42 Melalui
komunikasi massa, seorang imigran mengetahui lebih jauh lagi tentang
berbagai unsur dalam sistem sosio-budaya Pribumi. Fungsi akulturasi
komunikasi massa akan sangat penting pada fase awal proses akulturasi
seorang imigran. Dalam fase ini, imigran baru memulai mengembangkan
suatu kecakapan yang memadai untuk membina hubungan-hubungan
antarpersona yang memuaskan anggota-anggota masyarakat Pribumi.
40
Ibid, h. 142.
Ibid, h. 142.
42
Ibid, h. 143.
41
3. Situasi dan Kondisi Komunikasi
Komunikasi persona dan komunikasi sosial seorang imigran dan fungsi
komunikasi-komunikasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa
dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat Pribumi. Apakah
imigran tinggal di desa atau di kota metropolitan, tinggal di daerah miskin
atau kaya, bekerja sebagai buruh pabrik atau eksekutif. Semua itu merupakan
kondisi
lingkungan
yang
mungkin
secara
signifikan
mempengaruhi
perkembangan sosio-budaya yang akan dicapai imigran.43
Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan
akulturasi imigran adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat.
Seperti yang dikutip oleh Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat dari
Taylor, bahwa derajat pengaruh komunitas etnik atas prilaku imigran sangat
bergantung pada derajat "kelengkapan kelembagaan" komunitas tersebut dan
kekuatannya untuk memelihara budayanya yang khas bagi anggotaanggotanya.44 Artinya dari drajat kelengkapan kelembagaan imigran tersebut
dapat memudahkannya dalam mengatasi tekanan-tekanan dalam komunikasi
antarbudaya dan memudahkan akulturasi. Namun lain halnya apabila seorang
imigran terlalu luas dalam komunitas etniknya dan tanpa komunikasi yang
memadai dengan anggota masyarakat Pribumi mungkin akan memperlambat
kecepatan akulturasi imigran. Hingga sejauh ini, mayarakat Pribumilah yang
43
44
Ibid, h. 144.
Ibid, h. 144.
memberikan
kebebasan
kepada
pihak
imigran
minoritas
untuk
mengembangkan lembaga-lembaga etniknya tanpa harus mengikuti pola-pola
budaya masyarakat Pribumi yang bisa dibilang lebih dominan.
BAB III
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SRENGSENG SAWAH DAN
SEJARAH GAMBANG KROMONG
A. Gambaran Umum Masyarakat Srengseng Sawah
Kelurahan Srengseng Sawah merupakan salah satu dari 6 (enam)
Kelurahan di Wilayah Kecamatan Jagakarsa Kota Administrasi Jakarta Selatan
yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta Nomor 1251
Tahun 1986, dengan luas wilayah 674,70 Ha yang berbatasan dengan :
- Sebelah Utara
: Kel. Lenteng Agung dan Kel. Jagakarsa
- Sebelah Timur
: Kali Ciliwung
- Sebelah Selatan
: Kotamadya Depok
- Sebelah Barat
: Kelurahan Ciganjur dan Kelurahan Cipedak.45
Pola pembangunan Kelurahan Srengseng Sawah senantiasa mengacu kepada
Rencana Umum Tata Ruang Tahun (RUTR) 2005 dan Rencana Bagian Wilayah
Kota (RBWK) wilayah selatan yang ditetapkan sebagai Daerah Resapan Air. Hal
ini didukung dengan keberadaan potensi air tanah yang ada antara lain Setu
Babakan, Setu Mangga Bolong, Setu Salam UI dan Setu ISTN. Disamping itu
potensi Daerah Hijau yang sarat dilindungi oleh Pemerintah Propinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta berupa Hutan Kota yang berada di kawasan Wales Barat
Universitas Indonesia.46
Perkembangan penduduk di Kelurahan Srengseng Sawah cukup pesat. Hal
ini selain suasana yang cukup menyenangkan karena kelestarian alam masih
terjaga dengan baik, juga disebabkan oleh tersedianya fasilitas sarana umum yang
45
Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Laporan Bulan April 2008,
(Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan), h 1-2.
46
Ibid, h. 1-2.
memadai, baik fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan dan lain-lain. Pada
umumnya penduduk Kelurahan Srengseng Sawah adalah masyarakat Betawi,
sehingga adat istiadat yang berlaku adalah Budaya Betawi.47
Mayoritas penduduk Kelurahan Srengseng Sawah adalah beragama Islam.
Namun demikian kerukunan antar umat beragama sudah berjalan dengan baik
sehingga kehidupan bermasyarakat antar pemeluk agama satu dengan yang lain
saling menghormati. Sarana peeribadatan yang ada selain Masjid dan Musholla, di
Kelurahan ini pun telah terdapat 3 buah gereja dan 1 buah Pura.48
Mayoritas penduduk memiliki mata pencarian buruh dan pedagang.
Sisanya adalah petani ladang dan pensiunan. Program yang sedang dilaksanakan
dalam pengembangan pembangunan wilayah kelurahan adalah pembangunan
cagar Budaya Betawi yang disebut Perkampungan Budaya Betawi di Setu
Babakan RW. 08 Kelurahan Srengseng Sawah.49 Adapun Surat Keputusannya
melalui Peraturan Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomer 3
Tahun 2005, tentang Penetapan Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan
Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan. Untuk
melengkapi gambaran umum kelurahan Srengseng Sawah dan SK Gubernur
Provinsi Khusus Ibukota Jakarta diatas (lihat Lampiran)
B. Sejarah Singkat Etnis Betawi
Sebelum melihat gambaran umum masyarakat Betawi lebih jauh,
seyogyanya melihat terlebih dahulu awal terbentuknya masyarakat Betawi.
Dikutip dari Parsudi Suparlan dalam bukunya “Masyarakat dan Kebudayaan
47
Ibid, h 1-2.
Ibid, h 1-2.
49
Ibid, h 1-2.
48
Perkotaan”, dikatakan bahwa dari hasil analisis sejarah yang telah dibuat oleh
Lance Castel, disimpulkan bahwa identitas orang Betawi sebagai sebuah
kelompok etnik mulai dikenal sejak abad ke-19. Dikatakannya bahwa mereka
merupakan hasil dari suatu melting pol atau percampuran dari berbagai kelompok
etnik yang berasal dari berbagai wilayah di kepulauan Indonesia dan luar
Indonesia. Orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnik dibedakan dari
kelompok-kelompok etnik lainnya sejak akhir abad ke-19.50 Berikut adalah tabel
yang menunjukkan proses perubahan klasifikasi penduduk Batavia pada abad ke16, 18, dan 19 :
Tabel 1.1
Penduduk Batavia dan Sekitarnya
TAHUN
GOLONGAN
Orang Belanda dan Indo
1673
2750
1815
2028
1893
9017
Orang Cina (termasuk peranakan)
2747
11854
26569
Orang Marjikers
5362
-
-
-
318
-
6339 (a)
119
2842
Orang Jawa (termasuk Orang Sunda)
-
3331
-
Orang-orang Sulawesi Selatan
-
4139 (b)
-
981
7720
72241 (c)
Orang Sumbawa
-
232
-
Orang Ambon dan Banda
-
82
-
611
3155
-
13278
14249
-
32068 (d)
47211
10669
Orang Arab
Orang “Moors”
Orang Bali
Orang Melayu
Budak
JUMLAH
Sumber : L. Castles, Indonesia, no.3, 1967:157 dalam Kleden, Teater Lenong Betawi. Hal 105.
50
Parsudi Suparlan, Masyarakat dan Kebudayaan Perkotaan: Perspektif antropologi
perkotaan, (Jakarta, Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian, 2004), h. 145.
Keterangan :
(a)termasuk 5.000 orang “Jawa” di luar kota
(b)termasuk orang Timor
(c)termasuk senia penduduk asli
(d)tidak termasuk 1260 tentara Belanda dan 359 orang Belanda51
Dari tabel diatas tersebut terlihat bahwa dalam pencatatan penduduk tahun
1893 terdapat penyederhanaan golongan sosial dari penduduk di Batavia. Terdiri
dari empat golongan, yaitu :
1) Orang Eropa dan Indo
2) Orang Cina (termasuk peranakan)
3) Orang Arab dan “Moors” dan
4) Orang pribumi (Orang Betawi)
Dalam pencatatan tahun 1983 tersebut golongan budak hilang, karena menurut
Werthem dalam bukunya Ninuk Kleden, pada tahun 1860 perbudakan mulai
dilarang, begitu juga golonan asal dari penduduk pribumi kota Batavia.52
Jumlah budak menurut catatan angka tahun 1673 lebih dari setengah
seluruh penduduk Batavia. Menurut Ninuk Kleden, hal itu bisa dimaklumi karena
saat itu sedang ramai-ramainya perdagangan budak. Begitu juga dengan bangsa
Portugis dan Belanda mendatangkan budak-budak dari daerah Malabar, Bengkal
dan Arakan di Burma.53
Selain itu di dalam keterangan tabel juga ditulis “termasuk semua
penduduk asli”, menurut Castles dalam Ninuk, siapa yang tersebut penduduk asli
tidak dijelaskan lebih lanjut. Menurut Ninuk, mungkin mereka adalah orang-orang
dari Kerajaan Pajajaran atau keturunan orang-orang Demak yang mengadakan
51
Ninuk Kleden-Probonegoro, Teater Lenong Betawi, (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia,
1996), h. 105.
52
Ibid, h. 106.
53
Ibid, h. 105.
ekspansi ke daerah ini. Seperti yang dikutip oleh Saidi dari Siswantari tentang
asal-usul masyarakat Betawi lebih ditekankan pada teori Bern Nothofer tentang
bahasa Melayu dialek Jakarta. Bahasa tersebut berasal dari rumpun Melayu
Polinesia yang titik persebarannya berasal dari Kalimantan Barat.54
Menurut Van der Aa yang dikutup dari bukunya Ninuk Kleden, ia adalah
seorang sarjana yang pada abad ke-18 tertarik pada Betawi, ia melihat munculnya
orang Betawi dari segi bahasa. Dari penelitiannya, tampak bahwa dahasa
pergaulan pada abad ke-18 adalah dialek Portugis. Dialek ini tidak lagi dikenal
pada abad ke-19, dan sebagai gantinya timbul jenis bahasa semacam bahasa
Melayu Betawi. Dari pengguanaan bahasa inilah yang kemudian disebut sebagai
orang Betawi. Berikut adalah perkiraan komposisi sukubangsa di Batavia pada
tahun 1930.
Tabel 1.1
Penduduk Batavia dan Sekitarnya
PENDUDUK
1930
%
Orang Betawi (termasuk Orang Depok)
419.800
64,3
Sunda
150.300
24,5
Jawa
60.000
9,2
Aceh
-
Batak
1.300
0,2
Minangkabau
3.200
0,5
800
0,1
Sukubangsa dari Sumatra Selatan
0
Banjar
-
0
Orang Sulawesi Selatan
-
0
Orang Sulawesi Utara
3.800
0,6
Orang Maluku dan Irian
2.000
0,3
54
Ridwan Saidi, Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, (Jakarta: LSIP, 1994), h. 25.
Nusatenggara Timur
-
0
Nusatenggara Barat
-
0
Bali
-
0
Malaya dan Pulau-pulau sekitarnya
5.300
0,8
Lain-lain dan sukubangsa yang tidak diketahui
6.900
1,1
Sumber : L. Castles, The Ethnic Profil of Djakarta, Indonesia, no.3, 1967:181 dalam Kleden,
Teater Lenong Betawi. hal 109.
Tabel di atas memprediksikan bahwa pada tahun 1930, sebagian besar penduduk
kota yaitu 64% adalah Orang Batavia (orang Betawi). Dari tabel ini orang Betawi
ditunjukkan pada suatu kelompok etnik tersendiri dari kelompok-kelompok etnik
yang lain, yang tidak terlihat dari tabel sebelumnya.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnik
maupun sebagai sebuah satuan sosial dan politik dalam ruang lingkup yang lebih
luas (yaitu Nederland India pada waktu itu, nampaknya baru muncul setelah
didirikannya Perkoempoelan Kaoem Betawi oleh tokoh masyarakat orang Betawi
Moh. Hoesni Thamrin, pada tahun 1923. dengan didirikannya perkumpulan
tersebut, maka kesadaran bahwa mereka itu tergolong sebagai orang Betawi juga
di bangunkan.55
Menurut Ridwan Saidi dalam bukunya Yasmine Zaki Shahab, wilayah
budaya Betawi dapat dibagi dalam relokasi empat subwilayah yaitu :
1) Betawi Pesisir, yang meliputi dari ujung sebelah Barat sampai ke
Timur yaitu Teluk Naga, Kampung Mauk, Japad, Tanjung Priuk,
Marunda, Sarang Bango, Marunda Bekasi, dan Kepulauan Seribu.
55
Parsudi Suparlan, Masyarakat dan Kebudayaan Perkotaan, …, h. 145.
2) Betawi Tengah yang meliputi Grogol, Jelambar, daerah Kota, Mangga
Dua, Sawah Besar, Taman Sari, Gambir, Kemayoran, Senen,
Jatinegara (Mester), Tanah Abang, Cikini, dan Petamburan.
3) Betawi Pinggir disebelah Timur meliputi Pulo Gadung sampai
Tambun, sebelah Barat meliputi Pesing sampai Tangerang, sebelah
Selatan meliputi Kebayoran, Cilandak, Pangkalan Jati, Cinere, Ciputat,
Pasar Minggu, Selatan Timur meliputi Pasar Rebo, Selatan Barat
meliputi Meruya, Sukabumi, Ilir?Udik, Joglo, Pengumben dan
sekitarnya.
4) Betawi Udik meliputi daerah sebelah Timur yaitu, dari daerah
Tambun, ke timur sampai dengan Cikarang yaitu batas akhir pemakai
bahasa Betawi, sebelah Barat mulai dari perbatasan Tangerang sampai
menjelang Balaraja, sebelah selatan – Barat adalah daerah-daerah
perbatasan Ciputat sampai dengan Parung dan perbatesan Limo,
sebelah Selatan meliputi Lenteng Agung, Depok, dan Bojong Gede.
Jika dilihat dari relokasinya seperti di atas, maka Betawi di Setu
Babakan atau Perkampungan Budaya Betawi termasuk dalam Betawi
Pinggir sebelah Selatan.56
C. Sejarah Singkat Etnis Tionghoa
Suku Bangsa Tionghoa di Indonesia adalah satu etnis penting dalam
percaturan sejarah Indonesia jauh sebelum Republik Indonesia dideklarasikan dan
terbentuk. Setelah negara Indonesia terbentuk, maka otomatis orang Tionghoa
56
Yasmine Zaki Shahab, Betawi dalam Perspektif Kontenprer : Perkembangan, Potensi
dan Tantangannya, (Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi, 1997), h. 95.
yang berkewarganegaraan Indonesia haruslah digolongkan menjadi salah satu
suku dalam lingkup nasional Indonesia setingkat dan sederajat dengan suku-suku
bangsa lainnya yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.57
Tionghoa di Indonesia merupakan keturunan dari leluhur mereka yang
berimigrasi secara periodik dan bergelombang sejak ribuan tahun lalu. Catatancatatan literatur Tiongkok menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan kuna di
Nusantara telah berhubungan erat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa di
Tiongkok. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas
barang maupun manusia dari Tiongkok ke Nusantara dan sebaliknya.58
Tentang riwayat nenek moyang tersebut, Leo Suryadinata (1999)
mengatakan bahwa: “Sebelum terjadi imigrasi massal etnik Tionghoa ke Asia
Tenggara. khususnya ke Indonesia dan Malaysia, masyarakat Tionghoa di kedua
kawasan itu sangat kecil. Pada umumnya, anggotanya telah berbaur ke dalam
masyarakat setempat. Pada masa itu, transportasi sulit. Orang Tionghoa, dilarang
oleh kerajaan Tiongkok untuk meninggalkan negaranya. Mereka yang
meninggalkan tanah leluhurnya juga tidak membawa keluarganya”. Jadi, wajar
jika mereka akhirnya mengawini wanita setempat. Umumnya wanita Islam
nominal dan tinggal menetap di tempat itu. Karena jumlahnya yang kecil, orang
Tionghoa ini bertendensi yang berintegrasi dengan masyarakat lokal. Keturunan
mereka akhirnya tidak lagi menguasai bahasa Tionghoa dan menggunakan bahasa
57
Asal Usul China Benteng, China Benteng, Kampung Teluk Naga, Tragedi China
Benteng, Artikel diakses pada 23 Mei 2008 dari http://asal usul china benteng, china benteng,
kampung teluk naga, tragedi china benteng/htm.
58
Ibid.
Melayu-lingua franca dalam Nusantara untuk berkomunikasi (setelah 1928,
bahasa Melayu dinamakan bahasa Indonesia).59
Orang China mulai menyebar ke Asia Tenggara pada masa Dinasti Tang
(618-907). Ketika itu, mereka mengirim ekspedisi militernya ke daerah China
Selatan. Sejak itu, banyak sekali orang-orang Hoakiau/Hokkian yang berasal dari
daerah-daerah yang terletak di sekitar Amoy di Provinsi Fukien (Fujian) dan
orang-orang Kwang Fu (Kanton) yang berasal dari Kanton dan Makao di Provinsi
Kwangtung (Guangdong) terus menetap di perantauan dan tak kembali lagi ke
kampung halamannya.60
Pada masa Dinasti Sung (907-1127) mulai banyak pedagang-pedagang
China yang datang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka
berdagang dengan orang Indonesia dengan membawa barang dagangan berupa
teh, barang porselin China yang indah, kain sutra yang halus serta obat-obatan.
Sedangkan mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi Indonesia. 61
Dalam sejarah China Kuno, dikatakan orang-orang China mulai merantau
ke Indonesia pada masa akhir pemerintahan Dinasti Tang. Daerah pertama yang
didatangi adalah Palembang, yang pada waktu itu merupakan pusat perdagangan
kerajaan Sriwijaya. Kemudian mereka datang ke Pulau Jawa untuk mencari
rempah-rempah.Banyak dari mereka yang kemudian menetap di daerah pelabuhan
pantai utara Jawa seperti daerah Tuban, Surabaya, Gresik, Banten (Tangerang)
dan Jakarta. Orang China datang ke Indonesia dengan membawa serta
59
Ibid.
Ibid.
61
Ibid.
60
kebudayaannya, termasuk unsur agamanya. Dengan demikian, kebudayaan China
menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.62
Asal kata Tionghoa
Tionghoa adalah istilah yang dibuat sendiri oleh orang keturunan Cina di
Indonesia berasal dari kata zhonghua dalam bahasa mandarin. Zhonghua dalam
dialek Hokkian dilafalkan sebagai Tionghoa.Wacana Cung Hwa setidaknya sudah
dimulai sejak tahun 1880, yaitu adanya keinginan dari orang-orang di Tiongkok
untuk terbebas dari kekuasaan dinasti dan membentuk suatu negara yang lebih
demokratis dan kuat. Wacana ini sampai terdengar oleh orang asal Tiongkok yang
bermukim di Hindia Belanda yang ketika itu dinamakan Orang Cina, diduga
panggilan ini berasal dari kosa kata "Ching" yaitu nama dari Dinasti Ching yang
berkuasa. Orang asal Tiongkok ini yang anak-anaknya lahir di Hindia Belanda
merasa perlu mempelajari kebudayaannya termasuk bahasanya, maka oleh
sekelompok orang Tionghoa di Hindia Belanda pada 1900 mendirikan sekolah
dibawah naungan suatu badan yang dinamakan "Tjung Hwa Hwei Kwan", yang
kalau di lafal Indonesiakan menjadi "Tiong Hoa Hwe Kwan" (THHK). THHK
dalam perjalanannya bukan saja memberikan pendidikan bahasa dan kebudayaan
Tiongkok tapi juga menumbuhkan rasa persatuan orang-orang Tionghoa di Hindia
Belanda, seiring dengan perubahan istilah Cina menjadi Tionghoa di Hindia
Belanda. 63
62
63
Ibid.
Tionghoa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia.
Tidak ada data resmi mengenai jumlah populasi Tionghoa di Indonesia
dikeluarkan pemerintah sejak Indonesia merdeka. Namun perkiraan kasar yang
dipercaya sampai sekarang ini adalah bahwa jumlah suku Tionghoa berada di
antara 4% - 5% dari seluruh jumlah populasi Indonesia. Dalam sensus penduduk
pada tahun 2000, ketika responden sensus ditanyakan mengenai asal suku mereka,
hanya 1% dari jumlah keseluruhan populasi Indonesia mengaku sebagai
Tionghoa. Orang-orang Tionghoa di Indonesia berasal dari tenggara Tiongkok.
Mereka termasuk suku-suku: 64
1. Hakka
2. Hainan
3. Hokkien
4. Kantonis
5. Hokchia
6. Tiochiu
Daerah asal yang terkonsentrasi di pesisir Tenggara Tiongkok dapat dimengerti
karena dari sejak zaman Dinasti Tang, kota-kota pelabuhan di pesisir Tenggara
Tiongkok memang telah menjadi bandar perdagangan yang ramai. Quanzhou
malah tercatat sebagai bandar pelabuhan terbesar dan tersibuk di dunia pada
zaman tersebut.65
Ramainya interaksi perdagangan di daerah pesisir tenggara ini kemudian
menyebabkan banyak sekali orang-orang Tionghoa juga merasa perlu keluar
64
65
Ibid.
Ibid.
berlayar untuk berdagang. Tujuan utama saat itu adalah Asia Tenggara dan oleh
karena pelayaran sangat tergantung pada angin musim, maka setiap tahunnya,
para pedagang Tionghoa akan bermukim di wilayah-wilayah Asia Tenggara yang
disinggahi mereka. Demikian seterusnya ada pedagang yang memutuskan untuk
menetap dan menikahi wanita setempat, ada pula pedagang yang pulang ke
Tiongkok untuk terus berdagang. Sebagian besar dari orang-orang Tionghoa di
Indonesia menetap di pulau Jawa. Daerah-daerah lain di mana mereka juga
menetap dalam jumlah besar selain di daerah perkotaan adalah: Sumatra Utara,
Bangka-Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Lombok, Kalimantan Barat.66
D. Asal-usul Kesenian Gambang Kromong
Sebutan gambang kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu
gambang dan kromong. Bilahan gambangnya yang biasa berjumlah 18 buah,
terbuat dari kayu suangking, huru kayu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya
bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah
sepuluh buah. Satuan kromong disebut pencon. Alas untuk bilahan gambang dan
kromong disebut ancak, biasanya berkaki cukup tinggi sehingga alat musik itu
dapat dimainkan sambil berdiri atau duduk dikursi.67
Kesenian gambang kromong merupakan perpaduan yang cukup harmonis
antara unsur-unsur Pribumi dan unsur Cina atau Tionghoa. Secara fisik unsur
Cinanya tampak pada alat musik geseknya, yaitu tehyan, kongahyan, dan sukong,
sedangkan alat musik lainnya yaitu gambang, kromong, gendang, kecrek dan gong
66
Ibid.
Rachmat dan Dahlan, Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik Gambang
Kromong, …, 1996), h. 5.
67
merupakan unsur Pribumi. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak
pula pada perbendaharaan lagu-lagunya. Lagu-lagu yang menunjukkan unsur
Pribumi, Jali-jali, seperti Lenggang-lenggang Kangkung dan sebagainya, terdapat
pula lagu-lagu yang jelas bercorak Cina, baik nama, melodi, maupun liriknya
seperti Sipatmo, Kong Jilok, dan lain sebagainya. Seperti yang dikutip oleh
Rachmat Syamsudin dan Dahlan dari tulisan Phoa Kian Sioe, "Orkes gambang,
hasil kesenian Tionghoa peranakan di Djakarta", orkes gambang kromong
merupakan perkembangan dari orkes yang-khimyang terdiri atas yang-khim,
sukong, hosian, thehian, kongahian, sambian, suling, pan (kecrek) dan ningnong.68
Oleh karena yang-khim sulit diperoleh, maka digantilah dengan gambang
yang larasnya disesuaikan dengan notasi yamh diciptakan oleh orang-orang
Hokian. Sukong, tehian dan kongahian tidak begitu sulit untuk dibuat di sini.
Sebangkan sambian dan hosiang ditiadakan tanpa terlalu banyak mengurangi nilai
penyajian musik.69
Orkes gambang yang semula hanya disenangi oleh kaum peranakan Cina
saja lama kelamaan disenangi juga oleh golongan Pribumi karena berlangsung
proses perbauran. Proses perbauran itu paling banyak terjadi setelah
pemberontakan orang-orang Cina melawan Belanda pada tahun 1740, yang timbul
karena mereka terlalu ditekan oleh pejabat-pejabat VOC. Pada waktu terjadi
pemberontakan itu banyak orang-orang Cina yang meloloskan diri menyingkir
keluar kota Batavia. Diantaranya banyak yang terus menetap di berbagai daerah
sekitar Batavia, seperti Babelan, Tambun, Bekasi, Lemahabang, Jonggol dan
Tangerang. Mereka hidup berbaur dalam lingkungan penduduk Pribumi. Kecuali
68
69
Ibid. h. 5-6.
Ibid. h. 6.
yang kemudian memeluk Agama Islam, pada umumnya mereka tetap menganut
adat istiadat serta kepercayaan leluhurnya. Musik yang mereka gemari adalah
gambang, baik sebagai pengiring rancak atau cerita, maupun wayang cokek.70
Menurut Pelaku Seni kebudayaan Betawi, Pok Nori, persebaran Gambang
Kromong hingga saat ini sudah meluas keluar daerah Jakarta, di antara
persebaranya itu di daerah Bogor, Tangerang, hingga ke Bekasi.71 Pernyataan Pok
Nori diperjelas lagi oleh David Kwa, dalam artikelnya, Mengenal Gambang
Kromong. Jadi awalnya memang dari pusat kota Batavia ketika itu, musik
gambang kromong kemudian tersebar ke seluruh penjuru kota, hingga ia tidak
hanya dikenal di Jakarta, tetapi juga sampai ke bagian utara Bogor, Tangerang dan
Bekasi (Jabotabek) sekarang ini. Kawasan-kawasan tersebut memang merupakan
area budaya Betawi.72
Pada awal perkembangannya lagu-lagu yang biasa dibawakan dengan
iringan Gambang Kromong adalah lagu-lagu Cina. Menurut istilah setempat lagu
semacam itu biasa disebut Gambang Cina. Gambang Cina itu berupa lagu-lagu
instrumentalia dan lagu-lagu bersyair. Lagu-lagu instrumentalia sering disebut
dengan nama Pobian atau Phobian. Lagu bersyair antara lain adalah Sipatmo dan
Silitan. Lagu Gambang Cina dewasa ini sudah jarang dinyayikan orang.73
Nada dan Laras
70
Ibid. h. 6.
Wawancara dengan Pok Nori, Seorang Pelaku Kesenian Budaya Betawi, Kantor
Perkampungan Budaya Betawi, pada 6 Juni 2008.
72
David Kwa, Mengenal Gambang Kromong, artikel diakses pada 15 Juli 2008 dari
http://kampungbetawi.Com/htm.
73
Rachmat dan Dahlan, Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik Gambang
Kromong, ………………, 1996), h. 10.
71
Seperti halnya musik Tionghoa dan kebanyakan musik Timur lainnya,
gambang kromong hanya memakai lima nada (pentatonis) yang semuanya
mempunyai nama dalam bahasa Tionghoa: sol (liuh), la (u), do (siang), re (che)
dan mi (kong). Tidak ada nada fa dan si seperti dalam musik diatonis, yakni musik
Barat utamanya.
Larasnya adalah salèndro yang khas Tionghoa sehingga disebut Salèndro
Cina atau ada pula yang menyebutnya Salèndro Mandalungan. Dengan demikian
semua instrumen dalam orkestra gambang kromong dilaras sesuai dengan laras
musik Tionghoa, mengikuti laras Salèndro Cina tadi.
Untuk memainkan lagu-lagu pobin utamanya, para pemusik (panjak)
gambang kromong pada awalnya harus mampu membaca noot-noot yang ditulis
dalam aksara Tionghoa tersebut, namun akhirnya banyak panjak yang mahir
memainkan lagu-lagu tersebut tanpa melihat noot-nya lagi karena sudah hafal.74
Lagu Pobin
Lagu-lagu yang dibawakan oleh orkestra gambang kromong pada awalnya
hanya lagu-lagu instrumentalia yang disebut lagu-lagu pobin. Lagu-lagu pobin
dapat ditelusuri kepada lagu-lagu tradisional Tionghoa di bagian barat propinsi
Hokkian (Fujian) di Cina selatan. Lagu-lagu pobin inilah yang kini merupakan
lagu tertua dalam repertoar gambang kromong. Di antara lagu-lagu pobin yang
kini masih ada yang mampu memainkannya, meskipun sudah sangat langka,
adalah pobin Khong Ji Liok, Peh Pan Thau, Cu Te Pan, Cai Cu Siu, Cai Cu Teng,
Seng Kiok, serta beberapa pobin lain yang khusus dimainkan untuk mengiringi
berbagai upacara dalam pernikahan dan kematian Tionghoa tradisional.75
Lagu Dalem
Setelah lagu-lagu pobin, mulai diciptakan lagu-lagu yang dinyanyikan.
Lagu-lagu ini disebut lagu dalem. Lagu-lagu dalem ini dinyanyikan dalam bentuk
pantun-pantun dalam bahasa Melayu Betawi. Di antara lagu-lagu dalem yang kini
tinggal Masnah dan Ating (sebagian) yang masih mampu menyanyikannya antara
lain: Poa Si Li Tan, Peca Piring, Semar Gunem, Mawar Tumpa, Mas Nona, Gula
Ganting, Tanjung Burung, Nori Kocok (Burung Nori), dan Centé Manis Berdiri.
Lagu dalem berirama tenang dan jernih. Lagu dalem diciptakan bukan
untuk ngibing (Sunda, menari), tetapi untuk mengetahui kualitas vokal seorang
penyanyi. Dinyanyikan dalam suatu perhelatan untuk menghibur tamu-tamu yang
tengah menikmati hidangan yang disuguhkan.76
Wayang Cokèk
Penyanyi lagu-lagu dalem yang pada umumnya perempuan dikenal dengan
istilah wayang cokèk. Menurut etimologinya istilah wayang singkatan dari istilah
Melayu anak wayang, artinya ‘aktris,’ sedangkan cokèk berasal dari istilah
74
David Kwa, Mengenal Gambang Kromong, artikel diakses pada 15 Juli 2008 dari
http://kampungbetawi.Com/htm.
75
Ibid.
76
Ibid.
Tionghoa dialek Hokkian chioun-khek yang artinya ‘menyanyi’ (to sing a song).
Jadi, wayang cokèk mulanya hanya berprofesi sebagai penyanyi lagu-lagu dalem,
bukan penari. Istilah wayang cokèk ini hingga kini masih digunakan di kalangan
masyarakat pendukung kesenian gambang kromong di kawasan Teluk Naga,
Tangerang, dan sekitarnya. Tidak dikenal istilah penari cokèk, sebab cokèk bukan
tarian (nomina), tetapi menyanyi (verba).
Kostum yang dikenakan wayang cokèk aslinya adalah baju kurung yang
panjangnya melampaui lutut, dengan bawahan celana panjang, terbuat dari dari
bahan satin berwarna-warni ceria: merah, hijau dan lain-lain. Rambut mereka
yang dikepang diikat dengan tali merah, lalu dilibatkan di kepala. Baru kemudian
(sekitar tahun 1960-an) mereka memakai kebaya dan kain batik. Rambut mereka
mulai dipotong pendek dan dikeriting.77
Lagu Sayur
Setelah generasi lagu dalem yang kini telah menjadi lagu klasik gambang
kromong, generasi selanjutnya adalah lagu-lagu yang disebut lagu sayur. Berbeda
dengan lagu dalem, lagu sayur memang diciptakan untuk ngibing. Saat itu wayang
cokèk bukan lagi hanya menyanyi menghibur para tamu, namun juga ngibing
bersama tamu. Fungsi wayang cokèk telah meluas dari sekadar penyanyi menjadi
penyanyi plus penari. Oleh sebab itu lagu sayur terdengar lebih riuh ditingkah
oleh hentakan-hentakan kendang.
Kata kerja menari yang dilakukan baik oleh wayang cokèk maupun
pasangannya disebut ngibing, dengan sejenis selendang yang disebut cukin (Hok.)
atau sodèr (Sunda). Ngibing bersama wayang cokèk disebut ngibing cokèk. Gejala
mulai maraknya ngibing ini mengindikasikan semakin kuatnya pengaruh budaya
setempat (dalam hal ini Melayu dan Sunda/Jawa) di kalangan etnik Tionghoa
peranakan, sebab jogèt dan nayuban bersama ronggèng juga dikenal dalam budaya
Melayu dan Sunda/Jawa Lagu-lagu sayur sampai sekarang masih banyak yang
mampu memainkannya, terutama di daerah Tangerang. Di antaranya adalah:
Kramat Karem (Pantun dan Biasa), Ondé-ondé, Glatik Ngunguk, Surilang, Jalijali (dalam berbagai versi: Ujung Mèntèng, Kembang Siantan, Pasar Malem,
Kacang Buncis, Cengkarèng, dan Jago), Stambul (Satu, Dua, Serè Wangi, Rusak,
dan Jalan), Pèrsi (Rusak, Jalan, dan Kocok), Centè Manis, Kodèhèl, Balo-balo,
Rènggong Manis, Kakang Haji, Rènggong Buyut, Jeprèt Payung, Lènggang
Kangkung, Kicir-kicir, dan Siri Kuning.78
E. Alat-alat (Instrumen) Kesenian Gambang Kromong
Jenis musik betawi Gambang kromong terdapat pembauran yang harmonis
antara unsur-unsur pribumi dengan unsur-unsur Cina. Pembauran itu tampak pada
alat musiknya. Seperti yang dikutip oleh Nirwanto Ki S Hendrowinoto, dkk dari
77
78
Ibid.
Ibid.
laporan Seminar Lenong yang diselenggarakan surat kabar kampus Warta
Universitas Indonesia kerja sama dengan Lembaga Kebudayaan Betawi dan
Lenong Rumpi Jakarta di Balairung Kampus Universitas Indonesia, Depok (sabtu,
16 November 1991) disimpulkan bahwa musik yang mengiringi Lenong adalah
Gambang Kromong.79 Instrumen musik tradisi ini terdiri dari :
a. Gambang (silofon) dengan 18 nada yang dilaras/tangga nada pentatonik
dengan panjang tiga setengah oktaf (terbuat dari kayu, berasal dari Jawa
dan Sunda.
b. Kromong berbentuk mirip dengan bonang, terdiri dari sepuluh buah gong
kettle kecil (Pencong) yang dilaras pentatonik sepanjang 2 oktaf, alat dari
gamelan Jawa atau Sunda, sumber suara yang berbentuk seperti
mangkuk.80
c. tehyan, semacam rebab berukuran kecil, alat musik yang berasal dari
Tionghoa yang cara memainkannya digesek.
d. Kongahyan, semacam rebab berukuran sedang, alat musik yang berasal
dari Tionghoa yang cara memainkannya digesek.
e. Sukong, semacam rebab berukuran besar, alat musik yang berasal dari
Tionghoa yang cara memainkannya digesek.
f. Kemong, semacam gong keci yang terdiri dari 2 buah gong gantung
(kempul dan gong) berasal dari gamelan Jawa dan Sunda.
g. Kendang, semacam tambur dengan dua permukaan, juga merupakan
perangkat gamelan Jawa, Sunda, dan Bali. Gunanya untuk memberi irama.
79
Nirwanto Ki S Hendrowinoto. dkk, Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman, (Jakarta,
Dinas Kebudayaan DKI, !998), h. 45
80
Rachmat dan Dahlan, Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik Gambang
Kromong, …, 1996), h. 10-16.
h. Kecrek, beberapa bilah perunggu yang diberi landasan kayu untuk
dipukul-pukul sehingga berbunyi crek-crek. Gunanya untuk memberi
tanda akan dimulai atau diakhiri oleh seorang pemimpin musik.
i. Ning-nong, alat musik berasal dari gamelan Jawa dan Sunda yang terbuat
dari perunggu berbentuk bulat seperti kue mangkok.81
81
Nirwanto, dkk. Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman, …, h. 45.
BAB IV
BETAWI DAN TIONGHOA DALAM AKULTURASI
A. Komunikasi Pribadi Dalam Akulturasi Pada Kesenian Gambang
Kromong
Dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan di cagar Budaya Betawi yang disebut Perkampungan Budaya
Betawi di Setu Babakan RW. 08 Kelurahan Srengseng Sawah, sangat jarang ditemukan adanya komunikasi persona yang
dilakukan peranakan Tionghoa yang masih muda. Hal tersebut dikarenakan lambatnya regenerasi pada pelaku kesenian
Gambang Kromong yang menyebabkan perkembangan kesenian Gambang Kromong menjadi lambat. Sebaliknya generasi
tua dari pranakan Tionghoa yang masih ada saat ini, secara intensif merespon, membentuk, dan mengatur sejumlah
pengetahuannya dan perasaan cintanya terhadap kebudayaan Betawi melalui pengalaman-pengalamannya dalam akulturasi.
Dalam proses komunikasi pribadi dengan etnis Betawi, etnis Tionghoa terbukti dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya dengan secara perlahan-lahan melihat, mendengar, dan merasakan keadaan lingkungannya. Hal ini terlihat
dari orang-orang Tionghoa yang sudah sejak lama bermukim di kota ini. Ketika orang Belanda untuk pertama kalinya
menginjakkan kaki mereka di Jayakarta, telah ada pemukiman Tionghoa di sebelah timur muara Ciliwung. Proses
komunikasi dan interaksi telah lama berlangsung hingga awal abad ke-20. Kebanyakan orang Tionghoa yang datang ke
Batavia hanya kaum laki-lakinya saja. Dalam komunikasi pribadi yang dilakukan orang-orang Tionghoa melalui
pendekatan-pendekatan terhadap orang-orang Betawi, mereka mulai mempelajari adat dan kebiasaan orang-orang Betawi
serta mempelajari bahasanya. Ini terbukti dari orang-orang Tionghoa yang tidak lagi berbahasa Tionghoa, melainkan
Melayu, seperti kebanyakan penduduk kota Batavia.
Selama proses interaksi itu berjalan, banyak laki-laki Tionghoa totok yang
kemudian menikahi perempuan Betawi dan membentuk keluarga. Hasil
perkawinan campur inilah yang kemudian membentuk komunitas Tionghoa
pranakan (baba-nona).82 Komunikasi pribadi yang dilakukan orang-orang
Tionghoa terus dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama, dan telah
menghasilkan beberapa akulturasi budaya. Pembauran yang dilakukan budaya
Tionghoa dengan kebudayaan penduduk asli (Betawi) hingga kini dapat dilihat
82
Mengenal Gambang Kromong, artikel diakses pada 15 Juli 2008 dari
http://kampungbetawi.Com/htm.
dalam kesenian cokek, lenong, gambang kromong, dan lain-lain. Hasil akulturasi
budaya Tionghoa dan Betawi ini kemudian diklaim sebagai kesenian Betawi.83
Dalam perkembangannya, orang-orang Tionghoa sangat merespon sekali
keadaan sosio-budaya Indonesia. Mereka layaknya orang pribumi, telah
bercampurbaur dengan masyarakat pribumi. Mereka saling bergotong royong
dalam hubungan kemasyarakatan. Proses komunikasi ini secara potensial
memudahkan aspek-aspek akulturasi.
1. Kerumitan Kognitif Imigran
Kerumitan
kognitif
seorang
imigran
dapat
dimudahkan
dengan
kemampuan mempersepsikan lingkungan Pribumi sehingga mengetahui budaya
Pribumi lebih jauh.84 Pada fase-fase awal akulturasi, orang-orang Tionghoa
mengamati lingkungan sekitarnya secara sederhana, sehingga mereka masih
belum dapat beradaptasi dengan lingkungan asing tersebut dengan baik. Pada awal
mula datang ke Batavia, mereka masih menutup diri terhadap lingkungan di
sekitar mereka. Para migran Tionghoa ini hanya melihat, mendengar, tanpa
merespon secara mendalam lingkungan sekitarnya dikarenakan persepsi mereka
saat itu masih awam dan belum banyak mengetahui pola-pola maupun aturan
sistem komunikasi pribumi.85
Pada mulanya orang-orang Tionghoa hanya mengadu nasib di Batavia
dengan mencoba mencari untung melalui perdagangan dengan orang-orang
Belanda. Setelah berimigrasi dan menetap di Batavia, mereka kemudian mulai
83
Jejak-jejak Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa, artikel diakses pada 4 Juni 2008
dari http://kompas.com/kompas-cetak/0008/31/dikbud/akul09.htm
84
Deddy dan Jalaluddin, Komunikasi Antarbudaya, …, h. 141.
85
Ibid, h. 141.
terlibat dalam sistem komunikasi masyarakat setempat. Pengetahuan yang telah
didapat orang-orang Tionghoa kemudian sangat membantu mereka dalam
meningkatkan partisipasinya dalam jaringan-jaringan komunikasi pribadi dan
komunikasi massa yang terdapat pada masyarakat pribumi.86 Artinya, partisipasi
yang dimaksud tidak terbatas pada masyarakat Betawi saja, melainkan juga pada
berbagai etnis.
Banyaknya pengetahuan yang didapat oleh orang-orang Tionghoa tentang
berbagai hal yang berkaitan dengan orang-orang Pribumi, membuat persepsi
mereka menjadi lebih halus dan kompleks. Ini memungkinkan mereka
menemukan banyak variasi dalam lingkungan Pribumi. Bukti nyata yang sangat
berpengaruh dalam proses akulturasi ini adalah pengetahuan tentang bahasa
Pribumi. Bahasa merupakan hal yang sangat mendasar, dan harus dimiliki oleh
setiap orang atau kelompok yang ingin berkomunikasi dengan komunitas lain.
Seperti disinyalir oleh Lusiana Andriani Lubis dari Edward Sapiur dan Benyamin
Whorf, bahwa bahasa tidak saja berperan sebagai suatu mekanisme untuk
berlangsungnya komunikasi, tetapi juga sebagai pedoman ke arah kenyataan
sosial.87 Dengan kata lain, bahasa tidak saja menggambarkan persepsi, pemikiran
dan pengalaman, tetapi juga dapat menentukan dan membentuknya. Hubungan itu
dapat dilihat sebagai berikut:
1) Bahasa dan cara berujar (speech) merupakan indikator atau petunjuk atau
pencerminan ciri-ciri struktur sosial. Misalnya status sosial atau posisi
kelas sosial dapat ditunjukkan dari penggunaan kata-kata dalam bahasa.
86
Clockener Brousson, Batavia Awal Abab 20, Gedenkschriften van een oud-kolonial,
(Jakarta, Komunitas Bambu, 2004), h. 75.
87
Lusiana Andriani Lubis, Penerapan Komunikasi Lintas Budaya di antara Perbedaan
Kebudayaan, (Sumatra Utara, FISIP), h. 11.
Dengan cara analisis demikian kita dapat menentukan kedudukan individu
dalam struktur sosial.
2) Struktur sosial yang menentukan cara berujar atau perilaku bahasa. Dalam
hal ini terjadi perubahan-perubahan pada standar bahasa baku dan dialek
dengan
berubahnya
konteks
dan
topik
pembicaraan
(Grimshaw,
1973:49).88
Jadi dengan kemampuan menggunakan bahasa kaum pribimi, secara perlahanlahan orang-orang Tionghoa mulai terintegrasi dalam struktur sosial komunitas
lokal. Ini memudahkan mereka dalam mengatasi berbgai kerumitan dan hambatan
akibat berbedaan-berbedaan sosial-budaya antara mereka dan orang Betawi.
2. Gambaran Diri
Gambaran diri di sini merupakan cara pandang orang Tionghoa tentang
masyarakat Pribumi dan budaya aslinya.89 Dilihat dari gambaran orang-orang
Tionghoa saat ini, mereka sangat dekat sekali dengan orang-orang Betawi. Hal ini
dapat dirasakan oleh orang-orang Tionghoa yang salah satunya adalah pemerhati
budaya Cina Indonesia, David Kwa. Dalam wawancara penulis dengannya,
tepatnya di kediamannya di Baranang Siang, Bogor, ia mengatakan bahwa orangorang Tionghoa dewasa ini telah banyak yang berbaur dan bercampur dengan
orang-orang pribumi khususnya orang Betawi. Kondisi ini secara perlahan-lahan
berhasil merubah
88
89
gambaran diri orang Tionghoa yang semulanya eksklusif
Ibid, h. 11.
Deddy dan Jalaluddin, Komunikasi Antarbudaya, …, h. 141.
menjadi lebih inklusif.
Artinya, pada akhirnya mereka melihat diri mereka
sebagai bagian dari orang-orang Betawi. Hal ini terlihat dari cara mereka bersikap
dan berinteraksi dengan orang-orang Betawi. Orang-orang Tionghoa dan Betawi
juga suka bekerja sama dalam perdagangan dan pertukangan.90
Menurut Raden Aryo Sastrodarmo, seorang pelancong Surakarta di
Batavia pada tahun 1865, dalam Kawontenan ing Nagari Betawi, seperti yang
dikutib Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan dan
Adat Istiadatnya, adat-istiadat Betawi mirip adat-istiadat Tionghoa. Cara orang
Betawi memperkenalkan diri sama seperti orang Tionghoa. Cara mereka duduk
dan bercakap-cakap juga relatif sama dengan orang Tionghoa. Dan jika makan
mereka memakai meja, tidak bersila di atas tikar yang terhampar di tanah. Orang
Betawi juga belajar silat dari orang Tionghoa. Sifat orang Betawi yang pemberani
(alias pede?) sangat mungkin dipengaruhi kaum peranakan Tionghoa.91 Mereka
juga mampu menjaga kerukunan di anatara mereka dan dengan komunitas
lainnya. Fakta bahwa masyarakat Tionghoa hampir tidak pernah mengalami friksi
dengan etnis lainnya merupakan bukti bahwa mereka dapat hidup rukun dengan
keluarga dari etnis lain.
Berdasarkan pengamatan peneliti, di Jakarta ini interaksi budaya dalam
arti saling mempengaruhi antara kedua belah pihak sangat kuat. Di satu pihak
etnik Tionghoa, khususnya peranakan, sangat dipengaruhi budaya Betawi, di lain
pihak etnik Betawi juga sangat dipengaruhi budaya Tionghoa. Begitu dekatnya
90
Wawancara dengan David Kwa, Seorang Pemerhati Budaya Cina Indonesia, Bogor,
pada 17 Juni 2008.
91
Ridwan Saidi, Profil Orang Betawi, Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadat,
(Jakarta, PT. Gunara Kata, 2004), h. 115.
hubungan budaya antara kedua etnik ini, sehingga sering kali orang-orang
Tionghoa dianggap sama seperti orang-orang Betawi.
Dalam kunjungan peneliti di Perkampungan Budaya Betawi. tepatnya di
saat berlangsungnya kegiatan latihan rutin anak-anak kesenian Gambang
Kromong, peneliti mendapat kesempatan untuk mewawancarai tokoh Betawi
sekaligus pengelola Perkampungan Budaya Betawi, Indra Sutisna. Menurutnya,
yang namanya budaya tidak ada polisi budaya. Ketika terjadi perpaduan suatu
budaya dengan budaya yang lainnya, proses ini akan sulit dihambat bila terdapat
sifat akomodatif di antara budaya-budaya tersebut. Dalam konteks perpaduan
budaya Tionghoa dengan Betawi, selama budaya itu bisa diterima oleh
masyarakat Betawi, tidak merugikan dan secara terus-menerus digunakan oleh
masyarakat, maka pada akhirnya budaya tersebut akan diakui oleh masyarakat
Betawi.92 Masyarakat Betawi cederung menerima perpaduan itu karena sifatnya
yang terbuka dengan budaya-budaya luar. Hal ini membantu pembentukan
gambaran diri peranakan Tionghoa terhadap orang Betawi yang pada gilirannya
memudahkan keduanya dalam proses-proses akulturasi.
3. Dorongan Akulturasi
Dorongan akulturasi merupakan kemauan atau motif orang Tionghoa
untuk belajar tentang pola-pola, aturan-aturan, serta sistem komunikasi Pribumi
serta keinginan untuk berpartisipasi dalam sistem sosio-budaya Betawi. Adanya
orientasi positif orang-orang Tionghoa untuk dapat tinggal di Indonesia,
khususnya di Batavia, membuat mereka terdorong untuk berhubungan langsung
92
Wawancara dengan Indra Sutisna, Seorang Tokoh Betawi dan Pengelola
Perkampungan Budaya Betawi, Serengseng Sawah, Jakarta Selatan, pada 18 Mei 2008.
dengan masyarakat Betawi. Untuk membangun hubungan ini, mereka dituntut
agar lebih dapat melebur, dalam arti ikut berpartisipasi dalam jaringan-jaringan
komunikasi masyarakat Pribumi.
Jaringan komunikasi terbentuk dari proses yang saling membutuhkan di
mana satu sama lainnya saling mengerti dan bergantung. Ini kemudian
memungkinkan terjadinya komunikasi. Dalam kesenianpun demikian halnya,
yaitu adanya rasa saling membutuhkan. Misalnya, Tehyan kurang enak kalau
tidak diiringi alat musik lainnya. Gambang juga kurang asyik kalau tidak diiringi
dengan alat lainnya. Di sini ada kondisi/situasi saling melengkapi sehingga
menjadi kesatuan yang utuh. Dari proses saling membutuhkan tersebut, mereka
berkumpul bersama, berimprovisasi dan membentuk kesenian yang sama
meskipun dengan memainkan alat musik yang berbeda-beda.93
Motivasi akulturasi orang Tionghoa terlihat dari perpaduan kesenian
Gambang Kromong. Di waktu senggang mereka memainkan lagu-lagu Tionghoa
dari kampung halaman moyang mereka di Cina dengan instrumen gesek Tionghoa
su-kong, the-hian, dan kong-a-hian, bangsing (suling), kecrèk, dan ningning,
dipadukan dengan gambang. Gambang diambil dari khazanah instrumen
Indonesia yang digunakan untuk menggantikan fungsi iang-khim, yakni semacam
kecapi Tionghoa, tetapi dimainkan dengan semacam alat pengetuk yang dibuat
dari bambu pipih.
Ini jelas memperlihatkan dorongan dan keinginan orang-orang Tionghoa
untuk mempelajari pola-pola, aturan-aturan, dan sistem komunikasi orang-orang
Betawi. Mereka terus berinteraksi dan saling bertukar pengalaman. Pembauranpun
93
Wawancara dengan Yahya Andi Saputra, Seorang Budayawan Betawi, juga Menjabat
sebagai Sub. Bidang Pertunjukan di LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi), Kuningan, 24 Juni
2008.
terus berlanjut hingga pada akhirnya orang-orang Tionghoa yang sering
memainkan lagu-lagu Tionghoa termotivasi untuk menggabungkan beberapa alat
musiknya dengan alat-alat musik khas Pribumi. Dalam perkembangannya, sekitar
tahun 1880-an barulah orkestra gambang ditambah dengan kromong, kendang,
kempul, goong, dan kecrèk. Dengan demikian terciptalah gambang kromong yang
akulturatif.94
Lewat musik yang awalnya mungkin sebatas main-main, kemudian setelah
adanya orientasi positif orang Tionghoa terhadap Pribumi, musik itu diterima oleh
masyarakat Betawi. Ketika berkembang sedemikian rupa menjadi satu kelompok
baru dengan hasil perpaduan tadi, masyarakat kemudian melihatnya sebagai satu
kesenian yang utuh yang telah maju karena tuntutan zaman yang setiap waktu
berubah.
Dari penjelasan di ats jelas terlihat bagaimana dorongan akulturasi itu
terjadi dan kemudian diaktualkan dalam kesenian Gambang Kromong. Ini
sekaligus memperlihatkan realitas orang Tionghoa yang ingin hidup dan berjalan
bersama-sama dengan masyarakat Pribumi dan memiliki keinginan untuk terus
meningkatkan partisipasinya dalam hubungan sosio-budaya. Berubahnya cara
pandang peranakan Tionghoa tentang komunitas lokal Betawi membantu mereka
berbaur bersama orang-orang Betawi. Gambang Kromong merupakan hasil
penting dari proses pembauran tersebut.
B. Komunikasi Sosial dalam Akulturasi pada Kesenian Gambang Kromong
94
Mengenal Gambang Kromong, …, 2008.
Proses komunikasi sosial yang lebih umum dilakukan orang-orang
Tionghoa dengan berinteraksi kepada masyarakat Betawi dalam lingkungan sosiobudayanya, tidak hanya dalam hubungan-hubungan antarpersona.95 Melalui
komunikasi sosial, orang Tionghoa mengetahui lebih jauh lagi tentang berbagai
unsur dalam sistem sosio-budaya Betawi. Fungsi komunikasi sosial dalam
akulturasi sangat penting pada fase awal proses akulturasi kaum imigran, yaitu
pada saat orang-orang Tionghoa baru memulai mengembangkan suatu kecakapan
yang
memadai
untuk
membina
hubungan-hubungan
antarpersona
yang
memuaskan anggota-anggota masyarakat Betawi.96
Pada mulanya orang-orang Betawi hanya mengenal cokek sebagai
kesenian Tionghoa secara umumnya saja. Itupun disertai banyak penolakanpenolakan karena pertunjukannya identik dengan barang haram semisal alkohol,
judi, dan wanita. Hal ini serupa dengan Gambang Kromong. Dari sinilah orangorang Tionghoa memperkenalkan alat-alat musik lainnya kepada masyarakat
Betawi, seperti kongahyan, tehyan, dan sukong yang dapat dimainkan dengan cara
digesek.
Cokek sendiri merupakan tradisi lokal masyarakat Betawi dan Cina
Benteng yaitu kelompok etnis Cina yang nyaris terpinggirkan, dan saat ini banyak
bermukim di daerah Tangerang. Seperti yang dikutip Choesnoel Yakin tentang
awal kelahiran seni rakyat dari Ninuk Kleden Probonegoro, seorang peneliti LIPI.
Menurutnya, banyak versi tentang awal kelahiran seni rakyat ini.97
95
Deddy dan Jalaluddin, Komunikasi Antarbudaya, …, h. 142.
Ibid, h. 143.
97
Choesnoel Yakin, Lagu Cokek 'Jali-jali' dan 'Sirih Kuning' Hiasi Hut ke-474 Kota
Jakarta, Artikel diakses pada 23 Mei 2008, dari http://www.jakarta.go.id/Ctralba/th2/Cit10h/htm.
96
Versi pertama, cerita dimulai pada masa tuan-tuan tanah menguasai
Betawi sekitar abad ke-19, khususnya di daerah yang saat ini dikenal dengan
nama Kota atau Beos. Di sana banyak tinggal tuan tanah kaya. Setiap malam
Minggu, mereka biasa mengadakan pesta. Para tuan tanah ini biasanya juga
banyak memiliki pembantu yang mahir bermain musik dan menari. Umumnya
pesta para tuan tanah ini dimeriahkan oleh musik dari rombongan Gambang
Kromong. Saat itulah para pembantu tuan tanah yang terdiri dari gadis-gadis
muda itu, melayani tamu-tamu lelaki untuk menari. Mereka itulah yang kemudian
disebut sebagai penari Cokek.
Versi kedua, Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menurut versi
ini, pada saat itu daerah Tanjungkait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio
Kek. Seperti tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah
kelompok musik. Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu dengan
rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan Cina. Ketiga orang ini
membawa tiga buah alat musik yaitu, Te`yang , Su Khong dan Khong ayan,
ternyata ketiga orang itu juga mahir memainkan musik.
Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat
musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersamasama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan
Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para
pemusik terebut, lahirlah musik Gambang Kromong.
Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu,
kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Dalam
perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan
pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari
perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yagn
mengajak mereka menari atau ngibing.98
Seiring dengan perkembangannya, setelah orang-orang peranakan
Tionghoa dan Betawi menyatu dan bercampur baur dalam hubungan dan pola
kehidupan bermasyarakat, kesenian Betawi menjadi kesenian rakyat. Kegiatan
kesenian
tradisi
Betawi
terus
berkembang.
Tetapi
dalam
proses
perkembangannya, kesenian Betawi ini terpojokkan setelah keluarnya keputusan
Walikota Jakarta, Sudiro, sekitar tahun 1950-an yang melarang karnaval rakyat
berdasarkan
tradisi
Cina.
Alasanya
adalah
untuk
meningkatkan
rasa
nasionalisme.99 Dalam buku Yasmine Zaki Shahab yang berjudul Betawi dalam
Perspektif Kontenporer: Perkembangan, Potensi dan Tantangannya, mengatakan
bahwa pada 1954 Walikota (Gubernur) Jakarta ketika itu Sudiro juga melarang
seniman pribumi "ngamen" pada saat perayaan "taon baru Belande" maupun
"lebaran Cine". Alasannya adalah untuk menjaga martabat bangsa yang baru
merdeka.100 Akibatnya, tidak ada lagi pengamen pada waktu Imlek, Cap Go Meh,
dan Tahun Baru Blande. Meskipun ada larangan tersebut dan punahnya sebagian
kesenian itu karena tidak ada generasi penerusnya, kesenian Betawi masih tetap
exis. Pasalnya, ada keunikan pada tradisi kesenian tersebut, yaitu para pelakunya
bersifat turun temurun dan bertalian darah. Namun, dengan adanya pengaruh
globalisasi, seni budaya tradisional ini semakin kurang diminati oleh generasi
penerus dan penontonnya. Akibatnya tradisi ini sedikit tergeser.
98
Ibid.
Nirwanto, dkk. Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman, …, h. 41.
100
Yamine Zaki Shahab, Betawi dalam Perspektif Kontenporer, Perkembangan, Potensi,
dan Tantangannya, (Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi, 1997), h. 169.
99
Akhir-akhir ini dengan adanya wadah-wadah seni budaya Betawi, seperti
Lembaga Kebudayaan Betawi (LBK) dan peran pemerintah DKI sendiri melalui
perangkatnya Dinas Kebudayaan yang melakukan berbagai upaya pelestarian dan
pengembangan, seni budaya Betawi bisa tetap bertahan. Pada beberapa tahun
terakhir ini seni Betawi kembali mencuat ke permukaan melalui berbagai festival,
lomba, sarasehan, dan sebagai menu utama mewarnai acara keprotokolan,
penerimaan tamu negara, festival dan event-event lainnya di Ibukota.
Uniknya, kesenian Betawi ini bersifat universal dalam arti kata bukan lagi
jadi milik orang Betawi asli, tetapi sudah merasuk kepada warga Jakarta yang
non-Betawi. Bahkan, pelaku seni budaya ini yang paling banyak di bidang seni
tari. Penari dan koreografernya didominasi oleh etnik non-Betawi. Seni budaya
Betawi digandrungi oleh masyarakat pendatang yang sudah menjadi warga
Jakarta.101
Hasil dari interaksi orang-orang Tionghoa dengan masyarakat Betawi yang
cukup lama, tidak saja mempengaruhi budaya keduanya tapi juga melahirkan
kebudayaan baru yang menambah khasanah kebudayaan Indonesia. Bahkan,
perpaduan dan pembauran yang terjadi pada kedua etnis tersebut bukan hanya
pada kesenian saja, tapi juga dalah hal-hal lain di antaranya dalam arsitektur,
sastra, bahasa, kesenian, olah raga dan adat istiadat lainnya.
1. Arsitektur
Pengaruh arsitektur Tionghoa terlihat pada bentuk mesjid-masjid di Jawa
terutama di daerah-daerah pesisir bagian Utara. Agama Islam yang pertama masuk
101
Nirwanto. dkk, Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman, …, h. 41.
di Sumatera Selatan dan di Jawa mazhab (sekte) Hanafi. Datangnya melalui
Yunnan Tiongkok pada waktu dynasti Yuan dan permulaan dynasti Ming.102
2. Sastra
Banyak hasil sastra yang dihasilkan bangsa Tionghoa di P. Jawa.
Sebaliknya terjemahan yang diterbitkan di Tiongkok berasal dari Indonesia ke
bahasa Mandarin. Misalnya, cerita roman paling populer adalah cerita Saan Pek
Ing Tai, di Jawa Barat Populer karya Lo Fen Koi. Cerita-cerita silat misalnya,
Pemanah Rajawali, Golok Pembunuh Naga, Putri Cheung Ping, Kera Sakti, dan
Sepuluh pintu Neraka. Puisi yang diciptakan penyair Tiongkok kuno pernah
diterjemahkan sastrawan Indonesia, HB Jasin. Sedangkan di dunia novel kita
sudah cukup akrab dengan karya Marga T, yang banyak mengambil latar belakang
negeri Tiongkok.103
3. Bahasa
Menurut Profesor Kong Yuaanzhi, terdapat 1046 kata pinjaman bahasa
Tionghoa yang memperkaya bahasa Melayu / Indonesia dan 233 kata pinjaman
Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Tiong Hoa. Misalnya jenis alas kaki dari kayu
Bakiak, kodok(jawa) asal dari nama Kauw Tok, Kap Toa menjadi Ketua.104
4. Kesenian
Pertukaran musik dan tari telah dilangsungkan sejak zaman Dinasti Tang
(618-907). Alat musik seperti Gong dan caanang, Erhu (rebab Tiongkok senar
dua), suling, kecapi telah masuk dan menjadi alat musik daerah di Indonesia.
102
Jejak-jejak Akulturasi, …, 2008.
Ibid.
104
Ibid.
103.
Gambang Kromong merupakan perpaduan antara musik Jawa dan Tiongkok, pada
mulanya adalah musik tradisional dari Betawi dan digunakan untuk mengiringi
upacara sembahyang orang keturunan Tionghoa, kemudian menjadi musik
hiburan rakyat. Wayang Ti-Ti atau Po The Hie, adalah wayang yang memakai
boneka kayu dimakain dengan keterampilan jari tangan,dimainkan saat
menyambut hari besar di upacara keagamaan orang Tiong Hoa.105
5. Olahraga
Misalnya olahraga pernapasan Wei Tan Kung kini menjadi Persatuan
Olahraga Pernapasan Indonesia, Olahaga pernapasan Tai Chi menjadi Senam Tera
Indonesia, olahraga bela diri Kung Fu yang populer di Indonesia.
6. Adat Istiadat
Upacara minum teh yang disuguhkan kepada tamu sudah cukup populer di
Jawa dengan mengganti teh dengan kopi. Kemudian tradisi saling berkunjung
dengan memberikan jajanan atau masakan pada hari-hari raya, dan tradisi
membakar petasan saat lebaran.
Dengan bukti-bukti kekayaan kebudayaan Indonesia hasil akulturasi
dengan bangsa Tiongkok serta besarnya kontribusi Bangsa Tiongkok terhadap
perjalanan sejarah Indonesia cukup menjadi alasan, mengapa kita harus
menyambut baik pencabutan peraturan-peraturan yang diskriminatif terhadap
bangsa Tionghoa. Sebab kini, tidak perlu lagi memperdebatkan dikotomi warga
105
Ibid.
keturunan Tionghoa dengan masyarakat pribumi, karena mereka adalah satu
kesatuan NKRI.106
C. Lingkungan Komunikasi dalam Akulturasi pada Kesenian Gambang
Kromong
Komunikasi persona dan komunikasi sosial imigran dan fungsi
komunikasi-komunikasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipahami tanpa
dihubungkan dengan lingkungan komunikasi masyarakat Pribumi; apakah imigran
tinggal di desa atau di kota metropolitan, tinggal di daerah miskin atau kaya,
bekerja sebagai buruh pabrik atau eksekutif.107 Semua itu merupakan kondisi
lingkungan yang diduga mempengaruhi secara signifikan perkembangan sosiobudaya yang akan dicapai imigran.
Suatu kondisi lingkungan yang sangat berpengaruh pada komunikasi dan
akulturasi etnis Tionghoa adalah adanya komunitas etniknya di daerah setempat.
Artinya dari derajat kelengkapan kelembagaan etsis Tionghoa tersebut dapat
memudahkannya
dalam
mengatasi
tekanan-tekanan
dalam
komunikasi
antarbudaya. Ini memudahkan akulturasi. Namun lain halnya apabila orang-orang
Tionghoa terlalu luas dalam komunitas etniknya dan tanpa komunikasi yang
memadai dengan anggota masyarakat Betawi. Faktor ini dapat memperlambat
akulturasi komunitas Tionghoa ke dalam sisitem sosial orang Betawi.
106
107
Ibid.
Deddy dan Jalaluddin, Komunikasi Antarbudaya, …, h. 144.
Lingkungan komunikasi pada saat terjadinya akulturasi adalah ketika
orang-orang Tionghoa mulai berinteraksi melalui perdagangan di Batavia. Pada
masa Dinasti Sung (907-1127) dilaporkan banyak pedagang-pedagang Cina yang
datang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka berdagang
dengan orang Indonesia dengan membawa barang dagangan berupa teh, barang
porselin Cina yang indah, kain sutra yang halus serta obat-obatan. Sedangkan
mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi Indonesia.108
Dalam sejarah Cina Kuno, dikatakan bahwa orang-orang Cina mulai
merantau ke Indonesia pada masa akhir pemerintahan Dinasti Tang.109 Daerah
pertama yang didatangi adalah Palembang, yang pada waktu itu merupakan pusat
perdagangan kerajaan Sriwijaya. Kemudian mereka datang ke Pulau Jawa untuk
mencari rempah-rempah. Banyak di antara mereka yang kemudian menetap di
daerah pelabuhan pantai utara Jawa seperti daerah Tuban, Surabaya, Gresik,
Banten (Tangerang) dan Jakarta. Orang Cina datang ke Indonesia dengan
membawa serta kebudayaannya, termasuk unsur agamanya. Dengan demikian,
perpaduan kebudayaan Cina ke dalam kebudayaan Indonesia tak terelakkan.
Menurut budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, orang-orang Tionghoa
selain sebagai pendatang, ada orang kaya, ada juga orang-orang yang dibawa oleh
penjajah awal abad ke-15, ketika kraton Jayakarta dibumi hanguskan. Akibatnya,
sebagian masyarakat yang menguasai keraton Jayakarta tersebut pindah ke
Jatinegara Kaum. Kampung tersebut kemudian dibangun menjadi kota baru dan
diberi nama kota Batavia oleh Jan Piterszoon Coen Dia lah yang mendatangkan
108
Asal Usul China Benteng, China Benteng, Kampung Teluk Naga, Tragedi China
Benteng, …, dari http://asal usul china benteng, china benteng, kampung teluk naga, tragedi china
benteng/htm.
109
Ibid.
unsur-unsur etnik dari luar terutama dari Cina, karena etnik Cina cakap
membangun serta ahli dalam hal furnitur. Nasib orang Tionghoa dengan orang
Pribumi sama saja, diperlakukan sama sehingga mereka dapat hidup saling
bergandengan.110
Hal di atas diperjelas lagi dengan tulisan Clockener Brousson yang
menyatakan bahwa tempat di mana dahulu Jacarta dihancurkan sekarang telah
berdiri sebuah kota yang berkembang dengan pesat sebagai kota dagang yang oleh
Jan Piterszoon Coen diberi nama Batavia. Dari semua daerah di Asia orang-orang
berdatangan ke Batavia mengadu nasib, terutama orang Tionghoa, pedagang dari
Asia Timur. Mereka mencoba mencari untung di tempat ini dengan cara
berdagang dengan orang-orang Belanda.
Di samping bagian kota bergaya Belanda lama dengan jalan-jalan sempit
dan kecil berliku-liku tanpa ujung yang ditanami pepohonan serta ophaalbruggen
(Jembatan yang bisa diangkat), mulai muncul juga kampung Tionghoa dan
kampung Pribumi.111
Batavia memang tak mungkin dapat dihindari dari orang-orang berkulit
kuning yang berambut thaucang. Ada gula ada semut, demikianlah pribahasa
Melayu dan itu terutama cocok untuk menggambarkan Batavia dan orang
Tionghoa. Orang Tionghoa merupakan penduduk yang rajin, hemat, pekerja keras,
sabar, dan supel dalam bergaul.112
Di sekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan
Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini
110
Wawancara dengan Yahya, Seorang Budayawan Betawi, …, 24 Juni 2008.
Clockener Brousson, Batavia Awal Abad 20, Gedenkschriften van een oud-koloniaal,
(Jakarta, Komunitas Bambu, 2004), edisi terjemahan, h. 75-76.
112
Ibid, h. 77-79.
111
kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari
Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah Timur Sungai Cisadane, daerah
Pasar Lama sekarang.113
Seperti yang telah dikutip oleh Choesnoel Yakin dari Ninuk Kleden
Probonegoro, bahwa percampuran unsur Tionghoa dengan orang Betawi itu
terlihat dari alat-alat musik yang dipergunakan. Percampuran ini diceritakan
bermula pada masa tuan-tuan tanah menguasai Batavia sekitar abad ke-19,
khususnya di daerah yang saat ini dikenal dengan nama Kota atau Beos.
Proses komunikasi dalam akulturasi pada Kesenian Gambang Kromong,
hanya dimungkinkan oleh proses interaktif yang saling melengkapi antara orang
Tionghoa dengan orang Betawi. Komunikasi pribadi, komunikasi sosial, dan
lingkungan komunikasi sangat menunjang sekali keberhasilan proses akulturasi
tersebut. Seperti dikutip oleh Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat dari
Mendelson, "komunikasi dapat menggambungkan kelompok-kelompok minoritas
ke dalam suatu organisasi sosial yang memiliki gagasan-gagasan dan nilai-nilai
bersama."114 Kesamaan-kesamaan itulah yang menjembatani perbauran dua
komunitas tadi dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya, sebagaimana
tercermin dalam kesenian Gambang Kromong.
113
Asal Usul China Benteng, China Benteng, Kampung Teluk Naga, Tragedi China
Benteng, …, dari http://asal usul china benteng, china benteng, kampung teluk naga, tragedi china
benteng/htm.
114
Deddy dan Jalaluddin, Komunikasi Antarbudaya, …, h. 148.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan observasi, menganalisis data dan dalam rangka menjawab
rumusan pertanyaan dalam skripsi ini, maka penulis membuat beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Komunikasi persona dalam akulturasi pada kesenian Gambang Kromong
terjadi pada saat orang-orang Tionghoa mengadu nasib ke Batavia untuk
berdagang pada orang-orang Belanda. Karena menetap dalam kurun waktu
yang lama, pada akhirnya mereka mempelajari pola-pola relasi, aturan-aturan,
dan sistem komunikasi orang-orang Betawi. Proses ini kemudian tumbuh
kembang melalui perkawinan antara kedua etnis tersebut. Dalam hal ini
biasanya para pendatang yang kebanyakan laki-laki itu mempersunting
perempuan lokal etnis Betawi. Hubungan sosial ini menjadi semakin kental
setelah
orang-orang Tionghoa lambat laun dapat berbahasa Melayu dan
membentuk Tionghoa peranakan.
2. Dalam proses komunikasi sosial orang-orang Tionghoa terbukti mampu
berpartisipasi dalam keidupan sosio-budaya Betawi dan mulai mengetahui
lebih jauh lagi tentang berbagai unsur dalam sistem sosio-budaya Betawi.
Hasil pembauran kedua etnis tersebut tercermin dari kehadiran kesenian
Gambang Kromong.
3. Pada saat terjadinya akulturasi, lingkungan komunukasi sangat mendukung.
Ini terlihat dari tempat pemukiman orang-orang Tionghoa dan Betawi yang
berdekatan.
B. Saran-saran
1. Kesenian Gambang Kromong ini diharapkan dapat lebih dikembangkan dan
dilestarikan keberadaannya sebagai bukti historis akulturasi budaya Betawi
dan Tionghoa. Ini juga tentu dapat menjadi aset kultural yang tak ternilai
harganya terutama bagi masyarakat ibukota yang multikultural. Pemerintah
hendaknya
terus
melestarikan
kesenian
ini
dan
bahkan
dapat
memperkenalkannya pada tingkat nasional sebagai salah satu contoh model
akulturasi antar dua kelompok entis yang
sebenarnya memiliki banyak
perbedaan.
2. Penulis menyarankan agar studi Komunikasi Lintas Budaya atau disebut juga
Komunikasi Antar Budaya dikembangkan pada Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam.
3. Hendaknya pemahaman tentang penerapan Komunikasi Lintas Budaya ini
tidak hanya di lingkungan Sivitas Akademika saja, namun perlu diperluas
kepada masyarakat untuk menghindari konflik-konflik atas nama SARA yang
dapat mengancam integrasi sosial, keamanan, ketenangan dan kenyamanan
dalam hidup bermasyarakat.
DAFTAR PUASTAKA
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatam Praktek, Jakarta:
Rieneka Cipta, Edisi IV, 1998.
Brousson, Clockener. Batavia Awal Abad 20, Gedenkschriften van een oudkoloniaal, Jakarta, Komunitas Bambu, edisi terjemahan. 2004.
Cangara, Hafied. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
2005.
Devito, Joseph A. Komunikasi Antarmanusia, Jakarta: Professional Books. 1997.
Hendrowinoto. Nirwanto Ki S, dkk. Seni Budaya Betawi Menggiring Zaman,
Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI. 1998.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
Jakarta, Balai Pustaka. 2005.
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru. 1980.
Liliweri, Alo. Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, Yogyakarta: LkiS.
2003.
Lubis, Andriani Lusiana, Penerapan Komunikasi Lintas Budaya di antara
Perbedaan Kebudayaan, Sumatra Utara, FISIP.
Ninuk, Kleden-Probonegoro, Teater Lenong Betawi, Jakarta, Yayasan Obor
Indonesia. 1996.
Multamia RMT, Rachmat Ali, Rachmat Ruchiat. Muhadjir, Peta Seni Budaya
Betawi, Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI. 1986.
Mulyana, Deddy. Komunikasi Antar Budaya, Bandung: Remaja Rosdakarya, Cet.
Ke-XII. 2005.
, Komunikasi Efektif suatu pendekatan Lintas Budaya,
Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005.
, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2005.
Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Laporan Bulan April.
Kelurahan Serengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta
Selatan. 2008.
Rakhmat, Jalaluddin. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya. 2007.
Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
2005.
Shahab, Yasmine Zaki. Betawi dalam Perspektif Kontenporer, Perkembangan,
Potensi, dan Tantangannya, Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi.
1997.
, Idebtitas dan Otoritas: Rekontruksi Tradisi Betawi.
Laboratorium, Antropologi, FISIP UI. 2004.
Saidi, Ridwan. Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta. Jakarta: LSIP. 1994.
, Profil Orang Betawi, Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat
Istiadat, Jakarta, PT. Gunara Kata. 2004.
Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss. Human Communication "Kontek-kontek
Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2005.
Suparlan,
Parsudi, Masyarakat dan Kebudayaan Perkotaan: Perspektif
antropologi perkotaan, Jakarta, Yayasan Pengembangan Kajian
Ilmu Kepolisian. 2004.
Susanto, Astrid S., Komunikasi dalam Teori dan Praktek, Binacipta. 1988
Syamsudin, Rachmat dan Dahlan. Petunjuk Praktis Latihan Dasar Bermain Musik
Gambang Kromong, Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
1996.
Tim Prima Pena. Kamus Ilmiah Populer, edisi lengkap, Surabaya: Gitamedia
Press. 2006.
Effendi, Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja
Rosdakarya, Cet. Ke-XII. 2002.
Widjaja, H. A. W. Ilmu Komunikasi suatu Pengantar, Jakarta: Rieneka Cipta, Cet.
Ke-2. 2000.
Wiryanto. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo, Cet. Ke-2. 2002.
Shahab, Yasmine Zaki. Betawi dalam Perspektif Kontenporer, Perkembangan,
Potensi, dan Tantangannya, Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi.
1997.
, Idebtitas dan Otoritas: Rekontruksi Tradisi Betawi.
Laboratorium, Antropologi, FISIP UI. 2004.
WEBSITE
http://www.jakarta.go.id/Ctralba/th2/Cit10h/htm.
http://kompas.com/kompas-cetak/0008/31/dikbud/akul09.htm
http://kampungbetawi.Com/htm.
http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia
http://asal usul china benteng,china benteng,kampung teluk naga,tragedi china
benteng/htm
http://Musuk Tradisional by Samurai On Blogster.htm
WAWANCARA
Wawancara dengan David Kwa, Seorang Pemerhati Budaya Cina Indonesia,
Bogor.
Wawancara dengan Indra Sutisna, Seorang Tokoh Betawi dan Pengelola
Perkampungan Budaya Betawi, Serengseng Sawah, Jakarta
Selatan.
Wawancara dengan Pok Nori, Seorang Pelaku Kesenian Budaya Betawi, Kantor
Perkampungan Budaya Betawi.
Wawancara dengan Yahya Andi Saputra, Seorang Budayawan Betawi, LKB
(Lembaga Kebudayaan Betawi), Kuningan.
Gambaran Umum Kelurahan Srengseng Sawah
1. RT dan RW
Lembaga RT dan RW sebagai organisasi Masyarakat yang diakui secara
resmi dan dibina oleh Pemerintah, dibentuk berdasarkan Surat Keputusan
Gubernur DKI Jakarta Nomor 36 Tahun 2001 tentang Peraturan RT/RW di
Propinsi DKI Jakarta.
Adapun Jumlah RT/RW di Kelurahan Srengseng Sawah Sebagai berikut :
TABEL I
JUMLAH RT/RW KELURAHAN SRENGSENG SAWAH
NO
RUKUN WARGA ( RW)
RUKUN TETANGGA (RT)
1
01
9
2
02
13
3
03
15
4
04
7
5
05
13
6
06
11
7
07
12
8
08
13
9
09
14
10
010
4
11
011
4
12
012
5
13
013
7
14
014
3
15
015
7
16
016
9
17
017
3
18
018
3
19
019
4
JUMLAH
156
KETERANGAN
Pembinaan RT/RW di Kelurahan Srengseng Sawah diarahkan pada
pembinaan ketertiban Administrasi dan merangsang tumbuhnya pembangunan
dari Swadaya Masyarakat.
2. Kependudukan dan Catatan Sipil
Wilayah Kelurahan Srengseng Sawah Kecamatan Jakarsa Kotamadya
Jakarta Selatan, terbagi ke dalam 19 RW dan 156 RT . Dengan Jumlah Penduduk
pada Akhir bulan ini sebanyak 51.085 yang terdiri atas :
Jumlah Penduduk laki-laki
: 26.590
Jiwa
Jumlah Penduduk Perempuan
: 24.495
Jiwa
Jumlah KK. Laki-laki
: 9.886
KK
Jumlah KK. Perempuan
: 1.402
KK
Jumlah KK. Asing
:
Jiwa
Kepadatan Penduduk
: 7.571
-
Jiwa/KM2.
Komposisi Penduduk menurut umur dan jenis kelamin adalah Sebagai
berikut;
TABEL II
JUMLAH PENDUDUK MENURUT UMUR DAN JENIS KELAMIN
WNI
NO
UMUR
1
LK
PR
0- 4
2280
2234
2
5–9
1862
3
10-14
4
WNA
JML
JUMLAH
LK
PR
JML
4514
-
-
-
4514
1725
3587
-
-
-
3587
1878
1781
3659
-
-
-
3659
15-19
3028
2602
5630
-
-
-
5630
5
20-24
2415
2057
4471
-
-
-
4471
6
25-29
2504
2396
4900
-
-
-
4900
7
30-34
2265
1895
4160
-
-
-
4160
8
35-39
2257
1821
4078
-
-
-
4078
9
40-44
1596
1502
3098
-
-
-
3098
10
45-49
1421
1235
2656
-
-
-
2656
11
50-54
1259
1242
2501
-
-
-
2501
12
55-59
1096
1003
2099
-
-
-
2099
13
60-64
858
884
1742
-
-
-
1742
14
65-69
799
978
1777
-
-
-
1777
15
70-74
569
525
1094
-
-
-
1094
16
75 ke
504
615
1119
-
-
-
1119
26.590
24.495
51.085
-
-
-
atas
Jumlah
51.085
TABEL III
JUMLAH PENDUDUK DI TIAP RW
WNI
NO
RW
1
01
1.679
1687
2
02
2.135
2.071
3
4
5
03
04
05
LK
2.037
805
2.053
PR
1.836
668
1.770
WNA
JML
JML
LK
PR
JML
3.366
-
-
-
3.366
4.206
-
-
-
4.206
3.873
-
-
-
3.873
1.473
-
-
-
1.473
3.823
-
-
-
3.823
-
-
4.211
6
06
2.213
1.998
4.211
-
7
07
2.575
2.443
5.018
-
-
-
5.018
8
08
2.703
2.601
5.304
-
-
-
5.304
9
09
3.272
2.931
6.203
-
-
-
6.203
10
010
471
448
919
-
-
-
919
11
011
547
554
1.101
-
-
-
1.101
12
012
589
616
1.205
-
-
-
1.205
13
013
927
738
1.665
-
-
-
1.665
14
014
807
755
1.562
-
-
-
1.562
15
015
895
946
1.841
-
-
-
1.841
2.673
-
-
-
2.673
-
-
-
928
-
-
944
-
-
-
769
-
-
-
51.085
16
17
18
19
016
1.386
017
1.287
492
018
436
498
019
446
506
Jumlah
26.590
263
24.495
928
944
769
51.085
TABEL IV
ANGKA MOBILITAS PENDUDUK
LAHIR
NO
MATI
PINDAH
DATANG
RW
KK
BARU
LK
PR
LK
PR
LK
PR
LK
PR
LK
PR
1
01
2
2
-
-
1
-
3
4
1
1
2
02
2
1
-
1
1
-
9
3
3
-
3
03
3
1
1
-
2
2
-
4
-
-
4
04
3
1
1
-
-
-
-
-
-
-
5
05
3
2
2
1
-
2
6
4
2
-
6
06
3
2
-
-
2
-
7
1
1
-
7
07
4
3
3
1
6
5
4
4
1
-
8
08
3
4
4
1
4
6
6
5
1
-
9
09
1
1
5
2
1
2
-
-
010
5
-
-
10
5
1
-
1
-
2
2
-
-
11
011
-
1
-
1
-
-
-
012
-
-
12
1
-
-
-
-
1
-
-
-
13
013
1
1
-
-
1
-
1
-
-
-
14
014
1
-
-
-
1
-
-
-
-
-
15
015
1
-
-
-
1
-
-
1
-
-
16
016
2
-
-
-
1
3
2
5
-
-
17
017
1
2
-
-
1
-
-
-
-
-
18
018
-
-
-
1
-
-
-
-
-
-
19
019
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
36
24
13
5
28
20
43
35
9
1
JUMLAH
Angka pertambahan penduduk pada bulan ini adalah : 72 jiwa yang terdiri dari :
- Laki-laki
: 38
Jiwa
- Perempuan
: 34
Jiwa
Jumlah Penduduk menurut pencaharian :
1.
Karyawan
a). Pegawai Negeri
:
1.557 Jiwa
b).TNI
:
2.817 Jiwa
c).Swasta
:
7.726 Jiwa
2.
Pensiunan
:
841 Jiwa
3.
Pedagang
:
3.265 Jiwa
4.
Tani
:
1.995 Jiwa
5.
Pertukangan
:
446 Jiwa
6.
Nelayan
:
7.
Pemulung
:
169 Jiwa
8.
Buruh
:
1.562 Jiwa
9.
Jasa
:
418 Jiwa
10.
Pengangguran
:
238 Jiwa
11.
Ibu Rumah Tangga
:
13.053 Jiwa
-
Jiwa
12.
Usia Sekolah/Pelajar :
14.417 Jiwa
13.
Balita
:
2.576 Jiwa
JUMLAH
:
51.085 Jiwa
Penduduk Kelurahan Srengseng Sawah yang telah memiliki Kartu Tanda
Penduduk (KTP) sebanyak 32.754 umum dalam pelayanan Administrasi
Kependudukan sebagai berikut :
TABEL V
PELAYANAN KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL
NO
JENIS BLANKO/FORMULIR PENERIMAAN PENGELUARAN KET
1
Kartu Keluarga (KK) WNI.
1.300
1.137
2
Kartu Keluarga (KK) WNA.
-
-
3
KTP ( FS. 03 )/ KTP BIRU
4.396
4.171
4
KTP FS. 03 A )
-
-
5
KTP FS. 03 B )
402
320
6
SK. Kelahiran WNI
214
190
7
SK. Kelahiran WNA
1
-
8
SK. Kematian WNI
85
72
9
SK. Kematian WNA
-
-
10
SK. Lahir/Mati (WNI/WNA)
-
-
11
SK. Pindah WNI
158
123
12
SK. Pindah WNA
-
-
13
SK. Tempat Tinggal WNI
170
142
14
SK. Tempat Tinggal WNA
6
2
15
SKCP
250
200
16
SK. Tamu WNI
-
-
17
SK. Tamu WNA
-
-
6.984
6.357
JUMLAH
KEL.
JAGAKARSA
RW
11
RW
17
KEL.
CIGANJUR
RW
RW
05
05
RW
10
RW
08
RW
Perkampungan 06
KEL
.
CIP
EDA
K
R
W
14
RW
07
RW
09
RW
18
RW
19
RW
13
RW
03
R
W
12
Budaya Betawi
KEL.
LENTENG
AGUNG
R
W
04
RW
02
KALI
CI
LIWUNG
RW
15
UI
RW
01
RW
16
KODYA DEPOK
Keterangan :
Luas Wilayah : 674,70 Ha
Jumlah RW
: 19
Jumlah RT
: 156
FOTO-FOTO SEPUTAR OBSERVASI DAN ALAT-ALAT MUSIK
GAMBANG KROMONG.
Foto seorang pria Tionghoa ber-toucang di jalanan Batavia pertengahan dasawarsa
1910-an
Daerah konsentrasi di Indonesia
Alat-alat Musik Gambang Kromong, diantaranya :
1. Alat Musik Tehyan, Kongahyan, dan Sukong (gambar dari kiri ke kanan,
tepatnya depan Gambang)
2. Alat Musik Gambang
3. Alat Musik Kromong
4. Alat Musik Kendang
5. Alat Musik Gong dan Kempul
6. Alat Musik Kecrek
7. Alat Musik Kemong
Foto diambil setelah wawancara dengan Indra Sutisnadi selaku pengelolah
Perkampungan Budaya Betawi di Kantor Perkampungan Budaya Betawi,
Serengseng Sawah, Jakarta Selatan
Berpose dengan pelaku kesenian Gambang Kromong di Perkampungan Budaya
Betawi, Serengseng Sawah, Jakarta Selatan.
Foto bersama Pok Nori setelah melakukan Wawancara, beliau selaku pelaku dan
pemerhati Budaya Betawi, di Perkampungan Budaya Betawi, Jakarta Selatan
Suasana pementasan kesenian Gambang Kromong
Foto diambil disaat peneliti melalkukan Observasi di Perkampungan Budaya
Betawi
Foto ini merupakan panggung pentas kesenian Betawi di Perkampungan Budaya
Betawi, Serengseng Sawah, Jakarta Selatan.
Rumah Betawi dari depan
Rumah Betawi dari samping
Suasana latihan Gambang Kromong
Download