Paradigma Politik Partai Keadilan Sejahtera dalam

advertisement
1
Paradigma Politik Partai Keadilan Sejahtera
dalam Membangun Moral Bangsa
Oleh : Aliyas, M. Fil.I1
Abstrak
Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai politik yang lahir dari kalangan
muda intelektual, religius, berorientasi pada ahlakul karimah dan nilai moral dalam
menjalankan paradigma politiknya dengan berupaya merefleksikan kapasitas
internal, yakni seorang kader yang memahami dinamika global kehidupan saat ini,
serta memiliki kemampuan spesialis dan profesional. Aktivitas kerja dan dakwah
seorang kader senantiasa ditandai oleh kekokohan dan kemandirian diri, gerak yang
dinamis, serta ide yang kreatif dan inovatif dalam kapasitas sosial dan kapasitas
politik. Dalam kapasitas sosialnya, ia mampu mendidik masyarakat dan
menjadikannya kader dakwah, dengan pola kerja amal jama’i sesuai prinsip dakwah
Islam, sehingga ia dikenal di masyarakat sebagai orang shaleh yang mampu
menyebarkan dan menularkan keshalehannya. Dalam kapasitas politik, ia
menjadikan kebaikan diri dan sosialnya sebagai modal untuk menjadi aktor politik
yang shaleh di negerinya. Ia senantiasa memelopori perubahan melalui beragam
program, seperti menghimpun segala potensi masyarakat dan dakwah yang ada
disekitarnya, mengarahkannya sesuai dengan prinsip dan sasaran dakwah, lalu
menggerakkan potensi itu menjadi energi perubahan yang positif. Tidak hanya itu, ia
juga menciptakan masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju yang berbasiskan
pada: nilai-nilai, norma, hukum, moral yang ditopang keimanan; menghormati
pluralitas; bersikap terbuka dan demokratis; dan bergotong royong menjaga
kedaulatan Negara dalam bingkai NKRI.
A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia telah menjalani sebuah sejarah panjang dan
berliku dalam kurun waktu lebih kurang lima dekade,2 dengan perjuangan
yang berat dan kritis. Dalam upaya melepaskan diri dari penjajahan Belanda
yang bercokol selama tiga setengah abad, dan Jepang tiga setengah tahun
sampai Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945 dengan membentuk Negara yang demokratis. Namun upaya untuk
membentuk Negara yang demokratis hanya berjalan hingga tahun 1959,
1
Dosen Fakultas Adab dan Humaniora IAIN STS Jambi
Istilah Dekade Hampir Serupa Dengan Dasawa rsa Yakni Masa Sepuluh Tahun, Lima
Dekade Berarti Lima Puluh Tahun. Widodo, Kamus Ilmiah Di Lengkapi Juga Dengan Ejaan Yang
Disempurnaan Dan Penbentukan Istilah, Absolut, 2001, hlm. 83
2
2
karena upaya untuk membangun bangsa yang demokratis dan sejahtera
mengalami kebuntuan dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959
yang menandai awal diktarorisme di Indonesia. Demikian juga dengan
lahirnya Orde Baru pada tahun 1966 yang ternyata hanya merupakan sebuah
perpanjangan tangan kekuasaan militer yang benih-benihnya sudah mulai
bersemi pada masa Orde Lama.3
Kaum Muslimin di Indonesia, peranannya dalam perjuangan begitu
besar dan menentukan, namun dalam upaya membangun bangsa yang
demokratis menghadapi kenyataan bahwa Islam sering dikesankan sebagai
sebuah momok yang kerap membangkitkan kecurigaan para penguasa di
Indonesia. Hal ini terkesan dalam kebijakan Presiden Soekarno di mana
dalam pidatonya pada awal kemerdekaan telah membuka perjuang
demokratis bagi perjuangan Islam di Indonesia. Namun pada tahun 1959, ia
telah menuntup kembali peluang itu dengan dekritnya yang disusul dengan
diterapkannya Demokrasi Terpimpin yang pada hakikatnya dapat dikatakan
sebuah bentuk diktatorisme. Setahun kemudian Masyumi sebagai partai umat
Islam terbesar pada saat itu secara inkonstitusional dibubarkan.
Jika ditelusuri , peran Islam sebagai kekuatan politik sejak masa
penjajahan Belanda, dan terus bertahan sampai dengan masa penjajahan Orde
Baru meski mengalami pasang surut dan tekanan. Serikat Islam (SI)
merupakan penjelmaan pertama organisasi Islam dalam sebuah partai politik.
Kebesaran Serikat Islam (SI) tampaknya telah memicu golongan masyarakat
yang tidak beraviliasi dengan politik Islam untuk mendirikan kekuatan politik
yang setara. Dalam kaitan ini muncul kelompok nasionalis-sekuler yang
diwakili Partai Nasional Indonesia (PNI) yang merupakan pengungkapan
politik masyarakat yang secara jelas merespon keberadaan Serikat Islam (SI),
khususnya dengan gejolak internal yang menimpanya. Para pengagas
pembentukan PNI adalah mereka yang selama ini dinilai sebagai penganut
pandangan abangan (Islam nominal).
3
www.PKSejahtera.Org, 3 Februari 2005.
3
Sebelum kemerdekaan, negeri ini berhasil ditegakkan dengan dua
kutub politik yang berseberangan, yaitu kelompok abangan dan kelompok
Islam santri yang masing-masing memiliki kecenderungan politik yang
berbeda. Ketegangan ini terutama yang berkenaan dengan bagaimana
meletakkan hubungan antara agama (Islam) dan negara. Kaum abangan
menganggap bahwa agama dan politik harus diletakkan secara terpisah.
Sementara kelompok Islam santri menyakini bahwa agama dan politik
merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Lebih dari itu, kelompok ini
menghendaki dijadikannya Islam sebagai dasar negara atau hukum Islam
dimasukkan dalam konstitusi nasional.
Perdebatan antara dua kubu tersebut mengenai hubungan ideal antara
Islam dan negara telah menyita banyak energi, hubungan yang tidak harmonis
itu terus bertahan sampai pada masa kepemimpinan Soekarno yang kemudian
membubarkan sebagian partai-partai. Terdapat tiga partai Islam yakni PSII,
Perti dan NU yang selamat dari ambisi Soekarno untuk menguburkan partaipartai politik yang ditudingnya telah menyebabkan ketidakstabilan politik dan
mempraktekkan demokrasi yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa
Indonesia.
Setelah berakhirnya masa pemerintahan Orde Lama yang dimotori
oleh Soekarno akhirnya tiga partai Islam, yakni NU, PSII, dan Perti masih
tetap eksis sampai Orde Baru berdiri. Namun keberadaannya tidak begitu
panjang, karena watak pemeritahan Orde Baru yang anti demokrasi dan
permusuhan secara budaya dari sebagian besar elit politik negara yang
berpandangan
abangan
terhadap
Islam
mendorong
negara
untuk
menggabungkan ketiganya dalam Parmusi - sebuah partai Islam yang
kelahirannya tidak banyak dipengaruhi campur tangan negara- menjadi Partai
Persatuan Pembangunan (PPP). Orde baru yang menerapkan sistem
kepartaian hegemoni membuat keberadaan PPP semakin lama semakin tidak
berdaya, bahkan lebih parah lagi ia kehilangan identitas ke-Islamannya akibat
4
negara memaksakan penggunaan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi
semua partai politik, dan organisasi massa.4
Tidak hanya itu, tekanan-tekanan terhadap umat Islam khususnya,
kebebasan berpendapat umumnya, telah menghasilkan fenomena tersendiri
dalam strategi perjuangan umat Islam. Apalagi setelah dunia perguruan tinggi
terkena imbas otoritarisme pemerintah dengan diterapkannya konsep
NKK/BKK. Para aktivis intelektual muslim merasakan semakin sempit ruang
gerak kebebasan bagi dakwah, menebar kebenaran, dan kebaikan di
Indonesia.5
Refleksi politik yang demikian berakhir oleh desakan rakyat yang
dimotori oleh Prof. Dr. H. Amin Rais untuk menjatuhkan rezim yang
berkuasa selama 32 tahun. Tidak bisa dipungkiri sebenarnya rakyat sudah jera
dengan penderitaan, hak asasi rakyat diinjak-injak, kebebasan terbelenggu.6
Akhirnya momentum perubahan hadir dengan perlawanan rakyat untuk
menumbangkan rezim Orde Baru. Ada pendapat yang menyatakan bahwa,
bukan kalangan reformer yang mengajar dan mendidik rakyat untuk
menjatuhkan rezim Soeharto. Akan tetapi kekuatan masalah yang melahirkan
reformer supaya berani tampil
memulihkan kehidupan demokrasi di
Indonesia. Terlepas dari itu semua yang jelas kekuasaan Soeharto selama
kurang lebih 32 tahun, akhirnya berakhir secara tragis pada 21 Mei 1998.7
Tindakan Orde Baru membawa dampak luar biasa bagi kalangan
politisi untuk mendirikan partai politik. Hal tersebut dianggap wajar bagi
rezim tersebut. Namun ketidakwajaran kontan dengan mudah terlihat dari
histeria politik pasca Orde Baru. Menjelang detik-detik runtuhnya Orde Baru
ratusan partai politik terbentuk, baik yang terdaftar dan diakui secara hukum
maupun yang dibentuk secara iseng-
hanya untuk melampiaskan luapan
4
Zainal Abidin Amir, Peta Islam Politik Pasca Soeharto, LP3ES, Jakarta, 2003, hlm. 57-
5
Materi Training Orientasi Partai (TOP)-1 Nasional, DPP Partai Keadilan 3 November
6
Materi Training Orientasi Partai (TOP)-1 Nasional, DPP Partai Keadilan 3 November
7
http://www.pemilu.com
58.
2001.
2001.
5
emosi politik-politik yang tidak bisa dibendung. Semuanya berlangsung
sedemikian rupa sehingga berpartai merupakan ekspresi diri dan sekaligus
menjadi pengalaman baru yang disusun di atas puing-puing pengalaman
yang sudah pupus terjelas pemerintahan Orde Baru.8
Mundurnya Soeharto dari kursi kekuasaan pada tahun 1998, setelah
berkuasa selama kurang lebih 32 tahun, secara signifikan telah menimbulkan
perubahan politik yang luar biasa. Berakhirnya Orde Baru yang dibawa oleh
Soeharto berlanjut ke era baru yang disebut “era reformasi”. Era ini ditandai
dengan terbukanya kebebasan berbicara, pers, budaya dan politik.
Terbukanya kebebasan politik, betul-betul dinikmati oleh rakyat yang selama
hampir tiga dasawarsa rezim Soeharto tidak pernah diperoleh. Era ini telah
membuka pintu lebar-lebar bagi lahirnya partai politik dalam jumlah yang
cukup besar, baik yang berkarakter agama, netral agama maupun lintas
agama.9
Loncatan perubahan dari Orde Baru ke era reformasi membuka
peluang kebebasan bagi kehidupan politik bangsa Indonesia, keinginan dan
hasrat para tokoh politik, agamawan, pengusaha dan kalangan intelektual
untuk bangkit menggapai kekuasaan lewat partai politik. Pembatasan yang
selama puluhan tahun mereduksi aspirasi politik mereka ke dalam tiga partai
politik : Golongan Karya (Golkar), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan
Partai Demokrasi Indonesia (PDI) tak mampu lagi dipertahankan. Maka,
kehidupan politik pun memasuki babak baru yang penuh gairah.10
Tak bisa dipungkiri, bahwa era reformasi telah membuka lahan
subur bagi tumbuhnya partai-partai yang bernafaskan Islam. Segala strategi
dan agenda perjuangan segera dirumuskan. Pada saat bersamaan, para
8
TIM Litbang, Partai-partai Politik Indonesia, Ideologi dan Program 2004-2009,
Kompas, Jakarta, 2004, hlm. 3.
9
Bahrul Ulum, Bodohnya NU Apa NU Dibodohi, Ar-Ruzz Press, Djokjakarta, 2003, hlm.
41-42.
10
TIM Litbang, Partai-partai Politik Indonesia, Ideologi dan Program 2004-2009,
Kompas, hlm. vii
6
pemimpin partai mensosialisasikan gagasan dan pemikirannya.11 Partai-partai
yang menjadi saluran aspirasi politik bangsa seakan-akan bangkit dari
kuburnya. Dan berupaya memperoleh dukungan legal masyarakat.12
Anehnya, fenomena ini menimbulkan pro dan kontra dari berbagai pihak.
Ada yang berpandangan positif dan menganggap bahwa mendirikan parpol
Islam itu merupakan bagian dari langkah amar ma’ruf nahi munkar,
sebaliknya ada yang mengganggap bahwa pendirian parpol Islam adalah
sebagai upaya memolitisasi umat bahkan agama untuk meraih kedudukan
tertentu di dalam jajaran elit politik.13
Reaksi pertama yang menolak mendirikan partai Islam sebagai
simbol utama dalam meraih kekuasaan adalah Nurcholish Masjid, lewat
jargonnya “Islam yes, partai Islam no”. Di sini awalnya ia menyorot
pemanfaatan simbol agama untuk kekuasaan. Kondisi memprihatinkan ini
telah berlangsung lama, sementara di sisi lain cita-cita legalisme politik
Islam masih bergulir. Lewat jargonnya itu, Nurcholish Majid memangkas
harapan utopia sejumlah aktivis Islam, seraya mendorong aktualisme Islam
non-politik dengan menampilkan wajah kulturnya.14
Namun yang paling menarik adalah, tentang keberadaan partai Islam
dalam pentas politik di Indonesia, khususnya di Partai Keadilan Sejahtera,
apa yang dikemukakan oleh Nurcholish Majid tantang “ Islam yes, partai
Islam no”, nampaknya mengundang perhatian bagi kalangan Islam politik di
Indonesia, menanggapi hal ini, Partai Keadilan Sejahtera sebagai salah satu
partai Islam harus mampu memberi corak, dan warna tersendiri di tengahtengah masyarakat yang pluralis, dan berani membuktikan “Islam yes, partai
Islam yes”. Jika hal ini dapat dibuktikan oleh Partai Keadilan Sejahtera, maka
11
Kholid Novianto, Era Baru Indonesia Sosialisasi Pemikiran Amin Rais, Hamzah Haz,
Matori Abdul Jalil, Nur Mahmudi Ismail, Yusril Ihza Mahendra, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
1999., hlm. 77
12
Materi Training Orientasi Partai (TOP) I Nasional, DPP Partai Keadilan 3 November
2001
13
Sahar L. Hasan, at al. Memmilih Partai Islam Visi Misi dan Persepsi, Gema Insani
Jakarta, 1998., hlm. 98.
14
Nurcholid Majid, Islam Kemerdekaan dan Keindonesiaan, Bandung:mizan, 1995, hlm.
218
7
pemanfaatan simbol agama sebagai jembatan dalam meraih kekuasaan sudah
waktunya harus didukung dan diberikan perhatian.
Terlepas dari itu semua, yang jelas luapan politik di era reformasi
diekspresikan dalam bentuk partai politik. Sejumlah tokoh dengan pemikiran,
latar belakang dan keahlian tampil dengan semangat memimpin partai. Maka
dengan demikian, lahirnya Partai Keadilan Sejahtera dalam pentas politik di
era reformasi adalah hasil dari pemerintahan Orde Baru yang selama ini anti
demokrasi, dengan melarang mendirikan partai yang beridentitas Islam.
Partai Keadilan Sejahtera harus betul-betul dapat membuktikan
keberadaannya sebagai partai Islam, dengan menampilkan paradigma
politiknya yang dapat membawa perubahan di tengah-tengah masyarakat.
Karena kehadirannya dianggap membawa angin segar bagi kehidupan umat,
juga merupakan kuncup reformasi yang mekar menjadi bunga. Ia lahir di atas
puing-puing sebuah rezim yang baru saja runtuh.15 Kehadirannya bukan
semata-mata untuk memenangkan kursi legislatif atau jabatan eksekutif, tapi
hadir untuk membangun moral bangsa yang telah porak poranda, menjadi
bangsa yang mulia dan sejahtera.16
Perlu juga disadari bahwa, Partai Keadilan Sejahtera mempunyai
keunikan tersendiri diantara partai-partai Islam yang lainnya, keunikan
tersebut bukan terletak pada jumlah perolehan suara yang signifikan pada
pemilu 2004 yang lalu, tetapi keunikannya terletak pada perpaduan antara
kalangan muda, kaum terdidik dan cendikiawan Muslim, serta spirit
kepemudaan (pembaharuan moral) akan tetap dipertahankan. Segmen inilah
tampaknya yang akan terus digarap oleh Partai Keadilan Sejahtera. Upaya
untuk melebarkan segmen dukungan ke kelompok pemilih lain bukan tidak
bermasalah. Sebab sejak kelahirannya merek “generasi muda, kaum terdidik
dan cendikiawan Muslim” inilah yang kental menyertainya. Barangkali Partai
Keadilan Sejahtera pada awalnya adalah berupa “Gerakan Dakwah Kampus
15
Majalah Media Indonesia, Partai Keadilan Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Di
Bidang politik, Sabtu, 3 Februari 1999.
16
Al-Muzammil Yusuf, Isu Besar Dakwah Dalam Pemilu, PT. Syamil Cipta Media dan
dpp pk Sejahtera, Jakarta, 2003 hlm. 123.
8
(GDK)” yang dimotori oleh generasi muda terdidik di kampus-kampus, yang
berbasis
diperkotaan
kemudian
menjadi
gerakan
politik
yang
ditranspormasikan menjadi sebuah partai kemudian dikenal dengan Partai
Keadilan Sejahtera.17
B. Agenda Politik PKS dalam Mewujudkan Masyarakat yang Adil dan
Sejahtera
Partai Keadilan Sejahtera adalah salah satu wadah umat Islam dalam
menyalurkan aspirasi politiknya dengan membawa misi yang sangat berbeda
dengan partai-partai Islam yang lainnya. Hal ini berarti bahwa mereka sangat
percaya pada kebenaran Islam, tidak hanya sebatas teori akan tetapi berusaha
menampilkan wajah Islam yang sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat.
Penampilannya yang dimaksud adalah simpatik, yang mengesankan publik,
kemudian menjadikan dakwah sebagai tujuan utama partai. Memperluas dan
memperdalam aktivitas dakwah Islam lewat partai politik dianggap paling
tepat, mengingat cara ini akan memungkinkan politisi Partai Keadilan
Sejahtera untuk menyampaikan dakwah dari kampus hingga gedung Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) bahkan kantor Presiden serta kantor-kantor para
pejabat pemerintah. Keahlian manajemen, informasi dan teknologi yang
mereka kuasai sebagai alumni kampus-kampus terkemuka, mereka jadikan
sebagai basis untuk membangun masyarakat Islam Indonesia yang adil dan
sejahtera.18
Partai Keadilan Sejahtera sebagai salah satu partai politik yang lahir
di era reformasi, menurut peneliti Akses Research Indonesia setidaknya ada
empat perihal cermin politik yang digagas oleh Partai Keadilan Sejahtera
dalam pilkada di era Reformasi.
Pertama, citra positif Partai Keadilan Sejahtera yang membangun
reputasinya selama ini secara menakjubkan. Tokoh otomotif Amerika Serikat,
17
Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan Transformasi 20 Tahun Gerakan
Tarbiyah Di Indonesia, Teraju Bandung, 2002, hlm. xxx.
18
Ali Said Damanik, Fenomena Partai Keadilan Transformasi 20 Tahun Gerakan
Tarbiyah Di Indonesia, hlm. 63
9
Henry Ford, pernah mengatakan, “ You can’t build a reputation on what you
are going to do”. Artinya, reputasi tidak bias dibentuk hanya melalui janji
belaka seperti yang dihamburkan para juru kampanye atau lewat iklan pada
masa kampanye. Publik, secara tegas bisa dibaca dari hasil pemili 2004,
mulai kritis dengan melihat “keseharian politik” dari partai politik. Bagi
Partai Keadilan Sejahtera apa yang disebut dengan “keseharian politik” itu
ditujukan lewat kiprah pos keluarga keadilan, kiprah anggota parlemennya,
santunan terhadap korban musibah, dan lain sebagainya.19
Citra positif yang demikian tidak hanya beredar pada tingkat daerah
tertentu saja, tetapi mampu menembus sekat-sekat geografis. Survey A
Research Indonesia di kota Bontang (Kalimantan Timur), untuk mengambil
sebuah contoh kasus, menegaskan bahwa kinerja positif aktivitas Partai
Keadilan Sejahtera di luar kota Bontang ternyata mempengaruhi pilihan
politik masyarakat di kota Bontang untuk memilih Partai Keadilan Sejahtera.
Mengikuti alur ini, di sisi lain kiprah aktivis Partai Keadilan Sejatera di
Nangroe Aceh Darussalam pada pasca Tsunami, akan menjadi nilai tambah
bagi kandidat yang dimajukan dalam pilkada dimana pun.
Kedua, karakter kader Partai Keadilan Sejahtera yang militan, amat
sulit mendayagunakan masa partai politik dalam jumlah besar, jika tidak ada
pertimbangan pragmatis, sebagaimana yang dilakukan oleh partai politik di
tanah air. Namun tidak seperti halnya dengan Partai Keadilan Sejahtera yang
berlogo “padi emas yang diapit bulan sabit kembar”. Partai ini menjalankan
aktivitasnya dengan pertimbangan ideologis20. Bisa dikatakan bahwa partai
19
Majalah Saksi, No 14 Tahun VII, 13 Aprl 2005, hlm. 92
Ideologi, boleh jadi merupakan salah satu istilah yang paling kontroversial dalam
perkembangan pemikiran “politik” di Negara kita. Betapa tidak! Masyarakat luas pada umumnya
enggan untuk berbicara masalah ideologi. Mereka umumnya menghindari diri untuk berdebat soal
ideologi. Tetapi bersamaan dengan itu kehidupan mereka sehari-hari tidak terlepas dari pengaruh
ideologi. Seringkali istilah ideologi memperoleh konotasi negatif, dan tidak jarang istilah ideologi
dipersamakan dengan berbagai cara, gaya atau buah pikir paham totaliter yang tidak disukai oleh
banyak kalangan. Sementara itu tidak sedikit pula yang mengkarakterisir ideologi sebagai suatu
bentuk kata, tidak sedikit yang memberi arti negatif terhadap ideologi. Perlu dipahami bahwa
ideologi adalah sistem pemikiran yang berkaitan dengan perilaku manusia, atau serangkaian
pemikiran yang mampu mempersatukan partai-partai atau kelompok-kelompok lain agar dapat
berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan politik. Cheppy Hari Cahyono. Ideologi Politik, PT.
Hanindita, Yogyakarta, 1988, hlm. Vii-10
20
10
adalah sarana untuk meraup sebanyak mungkin ridho Ilahi. Itulah mengapa
kita menyaksikan para aktivis Partai Keadilan Sejahtera mampu bertahan
menghadapi tantangan, bahkan dapat melakukan ekspansi keberbagai
wilayah, dan strata kehidupan masyarakat.
Ketiga, kredibilitas moral para pejabat dari Partai Keadilan
Sejahtera. Di usianya terhitung baru melewati masa balita, pejabat publik dari
Partai Keadilan Sejahtera mampu memberikan secercah harapan di tengahtengah keringnya moralitas para pemimpin Negara ini. Partai ini mampu
meruntuhkan budaya rangkap jabatan. Sebuah sikap yang terbilang belum ada
Presidennya dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini.
Keempat, jaringan organisasi yang solid dan rapi. Ini adalah
konsekuensi dari ketersediaan stok Sumber Daya Manusia (SDM) yang
unggul, manajemen Sumber Daya Manusia yang terhitung apik dalam partai
yang memiliki slogan “Bersih dan Lebih Peduli”. Partai ini digerakkan oleh
sekitar 600.000 kader yang mayoritas datang dari kelas menengah, yang
ditandai dengan tingkat pendidikan berkisar pada strata sarjana dan
pascasarjana. Kerapihan jaringan organisasi Partai Keadialan Sejahtera bisa
dengan mudah di baca dari kemampuan konsistensi anak-anak partai dakwah
ini dalam mempraktekkan bagaimana hidup harmonis di dalam alam
demokrasi.21
Itulah empat pemikiran politik Partai Keadilan Sejahtera dalam era
Reformasi, yang mestinya dapat menambah daya tawar Partai Keadilan
Sejahtera dalam menghadapi pilkada di masa yang akan datang. Karena
modal politik itulah yang membuat banyak pelamar antri untuk menjadi
Partai Keadilan Sejahtera sebagai kendaraan politik mereka.
C. Kontribusi PKS di Parlemen
Kontribusi Partai Keadilan Sejahtera erat kaitannya dengan hakekat
politik Partai Keadilan Sejahtera yaitu politik Islam yang asasnya Islam dan
visinya dakwah. Sebab itu, kalau ada tokoh yang mempunyai massa besar tapi
21
Cheppy Hari Cahyono. Ideologi Politik, hal. 93
11
moralitas Islamnya bermasalah, maka Partai Keadilan Sejahtera tidak bisa
menerima, sebab bertentangan dengan ide dasar dari dakwah itu sendiri.
Ditambah lagi, Partai Keadilan Sejahtera tidak dapat menerima atau
memasukkan hal-hal yang syubhat apalagi yang haram, walaupun itu bisa
mendatangkan kepuasan. Sebab menurut Hidayat, kalau itu dilakukan, maka
umur dakwah akan sangat pendek, dan akan memunculkan berbagai konflik
yang luar biasa, yang pada akhirnya akan mematikan dakwah.22
Contoh dari konstribusi pemikiran politik Partai Keadilan Sejahtera
terlihat ketika Nur Mahmudi Ismail, mantan Presiden Partai Keadilan
Sejahtera, mencetuskan keinginannya untuk membawa isu moral dalam
pentas politik, khususnya di parlemen dan umumnya di tengah-tengah
masyarakat. Ia meletakkan gagasan ini pada posisi sentral. Menurut Nur
Mahmudi, krisis Indonesia belakangan ini, bersumber dari masalah tak
terkendalikannya akhlak manusia sebagai pemangku kepemimpinan bangsa.
Segala bentuk krisis yang melanda umat manusia merupakan akibat logis dari
arogansi, kesombongan dan ketamakan manusia itu sendiri. Segala bentuk
ketimpangan dan ketidakseimbangan hidup merupakan buah dari kezaliman,
dan kekufuran yang dilakukan oleh manusia.23
D. Landasan Politik PKS dalam Membangun Moral Bangsa
Partai Keadilan Sejahtera mengacu pada pemikiran politik Hasan
Al-Banna dalam menjalankan agenda politik dan tugas pemerintahan di
antaranya adalah:
1. Pemimpin dapat membangkitkan revolusi pemikiran dalam tubuh umat.
Revolusi pemikiran
tersebut, kemudian mendorong seluruh manusia
menuju masa depan yang gemilang.
22
Abd Rohim Ghazali, Mencari Pemimpin di antara Para Pemimpin, Djambatan, Jakarta,
2004, hal. 48-49.
23
Kholid Novoanto. et al, Era Baru Indonesia Sosialisasi Pemikiran Amin Rais, Hamzah
Haz, Matori Abdul Jalil, Nur Mahmudi, Yusril Ihza Mahendra, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
1999, hal. 115-117.
12
2. Menciptakan persatuan yang dapat menghapus semua faktor perselisihan
dan perpecahan. Menurut Hasan Al-Banna wujud persatuan umat
tercermin dalam tiga realitas sosial, yaitu tegaknya sistem soiial Islam di
negera-negera Muslim, terbebasnya umat Islam dari kekuasaan asing,
adanya kerjasama antara bangsa-bangsa Islam.
3. Membebaskan umat Islam dari penjajahan dalam berbagai bentuk dan
manifestasinya.
4. Mendukung tegaknya pemerintahan Islam, yang memiliki otoritas dalam
menegakkan syari’at Allah.
Lebih lanjut Hasan Al-Banna mengatakan bahwa Islam adalah tata
kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, di dalamnya
mengandung nilai-nilai sosial kemasyarakatan, yang dapat dijadikan pedoman
dalam kehidupan bernegara.24 Sementara Sayyid Quthub menilai bahwa
masyarakat Islami adalah masyarakat yang di dalamnya diterapkan Islam
secara utuh, baik yang menyangkut aqidah, ibadah, sistem pemerintahan,
moralitas, maupun perilaku. Sementara, masyarakat jahiliyyah ialah
masyarakat yang tidak menerapkan Islam, konsepsi, nilai-nilai dan neraca
kehidupan masyarakat tidak dikendalikan oleh Islam.25
E. Dakwah dan Politik dalam Pandangan PKS
Dakwah dan politik Partai Keadilan Sejahtera merupakan sebuah
landasan berpikir dalam mengambil kebijakan politik, bersikap dalam
menentukan pilihan dan bergerak dalam mengembangkan misi dakwah.
Misalnya berjuang dalam mewujudkan mansyarakat madani Indonesia,
menegakkan eksistensi politik umat Islam Indonesia, serta berjuang untuk
mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Semua itu harus diperhatikan oleh setiap jajaran pengurus dan kader partai.
24
Abu Ridho, Islam dan Politik Memungkinkan Bersatu, Syamil Cipta Media, Bandung,
2004, hal. 13
25
Abu Ridho, Islam dan Politik Memungkinkan Bersatu..,hal. 14
13
Paradigma tersebut dibangun dari nilai-nilai dakwah yang terkandung dalam
sumber ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan as-Sunnah.
Paradigma dakwah Partai Keadilan Sejahtera ditunjukkan oleh
karakteristiknya, yaitu profesionalismenya yang dibangun di atas moralitas
yang bersih dan jiwa patriotisme yang tinggi. Selain itu Partai Keadilan
Sejahtera memiliki karakteristik demokratis, reformis, moderat dan
independen. Adapun langkah-langkah politik Partai Keadilan Sejahtera,
memiliki paradigma yang tercermin dalam prinsip dasar gerakan yaitu :
keadilan, persamaan, keseimbangan, kesatuan nasional, kemajuan, khidmatul
ummah, dan kerjasama internasional.26
Dalam konteks sebagai partai dakwah, ada beberapa alasan penting
mengapa perlu mendapatkan dukungan basis sosial yang sangat luas.
Pertama,
perluasan
qa’idah
jamahiriyah
(basis
dukungan)
akan
mengokohkan eksistensi dan daya tarik dakwah. Kedua, memperlus rizki
dakwah dengan tersalurkannya para tangan-tangan donator untuk menopang
dakwah.
Ketiga,
pembesaran
dan
perluasan
basis
dukungan
akan
mempercepat pembentukan mujtami’ Islami. Luasnya iklim penerimaan
Islam, akan melahirkan tuntutan spontanitas dari warga masyarakat untuk
menetapkan nilai dan ajaran Islam di berbagai bidang kehidupan. Keempat,
memperbesar dukungan suara politik bagi dakwah. Dalam konteks partisipasi
politik dukungan suara menjadi ukuran eksistensi, kredibilitas dan legitimasi
politik suatu partai. Semakin besar dukungan suara, semakin kuat posisi tawar
dan semakin efektif peran perubahan yang dijalankan. Kelima, perluasan
basis dukungan pada saatnya akan menghasilkan basis perlindungan bagi
eksistensi dakwah.
Untuk
mendapatkan
dukungan
sosial
masyarakat
dan
mengaktualisasikan Partai Keadilan Sejahtera di tengah masyarakat, maka
Partai Keadilan Sejahtera mencanangkan aksi kerja sosial di tengah
masyarakat. Adapun prinsip kegiatan yang akan dilakukan di masyarakat
tetap mengacu kepada syumuliyyah (universalitas) dan takamuliyyah
26
Abu Ridho, Islam dan Politik Memungkinkan Bersatu.., hal. 22
14
(integralitas) Islam. Dengan kata lain, harus menyentuh semua aspek
kehidupan dakwah dan masyarakat, serta ada saling keterkaitan antara
program-program tersebut.
Ada empat agenda besar yang dilakukan oleh para pengurus dan
kader partai dalam mencapai tujuan dakwah. Pertama, siyaghah al-bina alijtima’i (merekonstruksi tatanan kemasyarakatan). Pada tahapan ini, istruksi
keluarga sebagai langkah lanjutan pembentukan pribadi Muslim dan langkah
antara menuju pembangunan masyarakat Islam. Dari sini, peran dakwah
keluarga menjadi sangat jelas. Keluarga menjadi sarana hidup untuk
mengokohkan kepribadian kader dan mencetak generasi baru dakwah. Juga
menjadi sarana dakwah yang membangun mujtami’ Islimi. Oleh karena itu
meneruskan kembali orientasi masyarakat tentang berkeluarga. Mengarahkan
cara pengelolaan kehidupan keluarga sesuai dengan tuntunan Islam.
Kemudian yang tak kalah pentingnya yang harus diperhatikan di
masyarakat adalah soal pendidikan. Dalam konteks ini, agenda dakwah
diarahkan untuk menyiapkan aktor-aktor pendidik agar dapat mewarnai
berbagai institusi pendidikan yang ada. Mengembangkan wacana konsep
pendidikan yang Islami dan gagasan solutif bagi benang kusut pendidikan di
negeri ini.
Agenda kedua, ri’ayah al-mashalih al-ijtima’iyah (memelihara aset
kebaikan masyarakat) pada masyarakat yang memiliki transisi, seringkali
tidak mampu memelihara nilai-nilai kebaikan yang ada secara efektif.
Sehingga tatanan budayanya nyaris berganti dengan budaya yang baru.
Ketiga, hallu al-qadhaya al-ijtima’iyah (memecahkan problema
masyarakat). Peran serta para aktifis dalam menyelesaikan problem
masyarakat adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu.
Karena itu, tafa’ul
maydani (pengenalan lengkap lapangan) atas peta persoalan masyarakat
dengan mendeskripsikan kondisi wilayah geografisnya dalam lingkup
sekelurahan/desa, akan menjadi sebuah keharusan. Jika hal itu mampu
dilakukan, maka seorang kader akan memiliki peluang sebagai unsur problem
15
solver. Lebih dari itu, agenda dan program dakwah bisa disesuaikan dengan
kebutuhan masyarakat.27
Adapun metode yang digunakan oleh para pengurus dan kader partai
dalam dakwah adalah :
Pertama, metode ‘amal khairy yaitu membantu pengentasan masalah
masyarakat dengan menggunakan metode pendekatan pelayanan kebajikan
secara cuma-cuma, misalnya: bantuan pangan, pelayanan kesehatan, dan bakti
sosial.
Kedua, metode community development yang berpijak pada prinsip
pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan mandiri dalam skala
komunitas. Dalam hal ini, partai memberikan bimbingan dan fasilitas kepada
suatu komunitas untuk memberdayakan dan mengembangkan kehidupan
sosial dan ekonominya, sampai akhirnya mereka bisa berjalan sendiri.
Misalnya, memberikan penyuluhan, fasilitas, bimbingan dan superfisi tentang
usaha peternakan di suatu komunitas. Setelah berjalan baik, maka mereka
bisa melepas dengan superfisi yang bersifat periodik.
Ketiga, metode advokasi yang berangkat dari asumsi bahwa banyak
masalah sosial akibat dari ketidakadilan struktural, khususnya di bidang
ekonomi, hukum dan politik. Agar masyarakat mampu mengembangkan
dirinya, maka dibutuhkan iklim keadilan dari pihak penguasa atau kekuatankekuatan struktural lainnya. Misalnya masalah upah buruh, hak-hak pekerja
wanita dan anak-anak. Di sini partai berperan melakukan advokasi atas nama
warga masyarakat untuk mendapatkan hak-haknya secara layak.
Keempat, metode agregasi politik yaitu upaya untuk mendorong
lahirnya kebajikan perundang-undangan dalam peraturan-peraturan yang
memihak kepada kepentingan rakyat. Ini umumnya fungsi yang dilakukan
oleh partai politik melalui aksesnya di lembaga legislatif, eksekutif dan juga
yudikatif.28
27
Aay Muhammad Furkon, Partai Keadilan Sejahtera Indeologi dan Praksis Politik
Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, Teraju, Jakarta, 2004, h. 104-105 hal. 198-201
28
Aay Muhammad Furkon, Partai Keadilan Sejahtera Indeologi dan Praksis Politik
Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, hal. 202-203
16
F. Konsep Tarbiyah dalam Politik PKS
Konsep Partai Keadilan Sejahtera, tentang tarbiyah adalah inti dari
segala aktivitas dan semua kegiatan. Adapun yang dilakukan memiliki nilai
pembinaan dan pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas
keislaman dan gerakan. Karena itu, Partai Keadilan Sejahtera memandang
persoalan pembinaan atau tarbiyah menjadi sesuatu yang sangat penting,
bahkan kehadiran para kader Partai Keadilan Sejahtera di parlemen tidak bisa
dilepaskan dari konsep pembinaan dalam arti yang luas. Maka nyaris mustahil
Partai Keadilan Sejahtera meningkatkan aspek tarbiyah sebagai sesuatu yang
harus ditekankan.
Tarbiyah dalam konsep PKS berarti proses penumbuhan pembinaan
yang sifatnya menyeluruh, artinya seluruh sisi kemanusiaan, baik dari segi
intelektualitas maupun kemampuan serta kualitasnya. Tarbiyah sendiri
mempunyai dua kategori. Pertama, tarbiyah bashariyah yaitu proses
pendidikan yang melibatkan manusia secara langsung, ada tempat, alat,
sarana dan arti yang formal. Kedua, tarbiyah rabbaniyah yaitu perekayasaan
Allah swt. Sebagai contoh, dalam melakukan setiap aksi, bisa saja banyak
yang kita temukan sifat nilai-nilai tarbiyah yang sesungguhnya merupakan
karunia dari Allah swt. Kedua, tarbiyah tersebut menjadi dasar serta landasan
Partai Keadilan Sejahtera dalam gerakan politiknya. Lebih khusus lagi
masalah tarbiyah bashariyah, karena para kader akan dituntut untuk membuat
kurikulum tentang pembinaan keislaman, kemampuan berdakwah dan
sebagainya.29
Untuk mencapai tarbiyah yang maksimal, maka ada beberapa tujuan
tarbiyah yang harus dicapai. Pertama, tarbiyah harus memberikan gambaran
yang utuh tentang syumuliyatul Islam (universalan Islam). Bahwa Islam yang
diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril
adalah agama yang sempurna. Dengan kata lain, Islam adalah Negara dan
29
Aay Muhammad Furkon, Partai Keadilan Sejahtera Indeologi dan Praksis Politik
Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, hlm. 220-221
17
tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan
keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan materi dan
kekayaan alam, jihad dan dakwah. Singkatnya Islam adalah akidah yang
lurus dan ibadah yang benar.30
Kedua, membentuk kepribadian Muslim yang mempunyai kekuatan
jiwa yang besar yang tercermin dalam keteguhan aqidahnya, keluruhan
akhlaknya, kebersihan hatinya, kebaikan tingkah lakunya baik dalam ibadah,
maupun masyarakat.31 Tarbiyah juga mampu memotivasi seseorang untuk
siap berkorban demi kepentingan Islam serta dapat membawa seseorang
kepada kesadaran prinsip Islam dan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam
ajaran Islam.32
Ketiga, menghantarkan seseorang kepada penghambaan diri manusia
kepada Allah Swt semata, yang diaplikasikannya dalam seluruh hidupnya.
Penghambaan
yang
didasarkan
pada
kesaksian
la
ilaha
illallah
Muhammadurrasulullah (tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad
adalah utusan Allah) penghambaan yang dicapai melalui tarbiyah terwujud
dalam bentuk kepercayaan, peribadatan dan pelaksanaan syari’at. Dasar
kepribadian da’I inilah yang bergerak maju dan mengembangkan Islam
dengan cara membina kader dan melakukan kegiatan keislaman di tengah
masyarakat sehingga dapat menguasai permasalahan dakwah.33
Dari tujuan-tujuan tarbiyah di atas dapat disimpulkan bahwa
tarbiyah merupakan sebuah proses pembelajaran, baik formal maupun
informal, untuk melahirkan seorang yang responsif dan peduli atas situasi dan
kondisi yang terjadi dengan perspektif yang Islami serta turut menyelesaikan
persoalan kemasyarakatan secara akhlakul karimah, elegan dan rasional.
G. Spiritualitas PKS dalam Membangun Masyarakat
30
Irwan Prayitno, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Harakiyah¸Tarbiyatuna, Jakarta, 2002,
hlm 4
31
Irwan Prayitno, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Harakiyah¸ hlm. 10
Irwan Prayitno, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Harakiyah¸ hlm 29
33
Irwan Prayitno, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Harakiyah¸ hlm. 31
32
18
Kehadiran gerakan tarbiyah Islam maupun Partai Keadilan Sejahtera
tidak terlepas dari kecenderungan Islamic Global Social Movement sejak
akhir dasawarsa 1970-an. Pada tatanan diskursif kemunculan kekuatan
dakwah tarbiyah – sebagai emrio dari Partai Keadilan Sejahtera, memiliki
keunikan tersendiri karena mereka melakukan historical detachment dengan
komunitas mainstream nasional seperti NU, Muhammadiyah, DDII maupun
PERSIS, walaupun banyak anggota mereka berlatar belakang dari komunitas
keagamaan tersebut. Sementara gerakan dakwah tarbiyah justru mempunyai
hubungan secara erat dengan gerakan dakwah Islam global Al-Ikhwan AlMuslimin. Seperti yang diutarakan oleh Aay Muhammad Furkon dalam
tesisnya yang berjudul “Partai Keadilan Sejahtera Ideologis dan Praksis
Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer”, KAMMI (Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) sebagai jaringan kekuatan organik dari
Partai Keadilan Sejahtera, terpengaruh secara hegemonik dari sisi wacana
oleh ideologi Al-Ikhwan Al-Muslimin. Kecenderungan juga serupa dengan
kajian-kajian komunitas Partai Keadilan Sejahtera yang memiliki basis
referensi serupa dengan KAMMI.
Ditempa dalam suasana politik otoritarian masa orde baru, bergerak
dalam jaringan underground di kampus-kampus dan memiliki keterkaitan
dengan gerakan Islam global, semua itu menempa karakter dari gerakan
tarbiyah maupun mesin politik Partai Keadilan Sejahtera dalam arena politik
di era Reformasi. Berawal dari jaringan dakwah kampus, Partai Keadilan
Sejahtera membangun konsistensi yang solid terutama dari kalangan kelas
menengah Islam perkotaan. Melalui perencanaan yang modern, disiplin
organisasi yang kuat, dan tingkat militansi kader yang tinggi, saat ini Partai
Keadilan Sejahtera
mampu memperluas basis konstituennya dari kelas
menengah bergerak menuju kelas bawah, melalui program-program praksis di
tingkat masyarakat bawah.
Walaupun terlibat aktif dalam gemuruh atmosfer politik identitas
Islam pasca kepemimpinan Soeharto, hal tidak membuat Partai Keadilan
Sejahtera terjebak dengan politik simbolik yang bersifat eksklusif dan
19
komunalistik. Pengalaman berdialektika dengan kekuasaan represif dan kultur
politik yang cenderung menolak sentiment religion-politic membuat Partai
Keadilan Sejahtera beraksi dengan menciptakan strategi yang cerdas untuk
membangun langkah politik yang bereadab. Dengan mengkampanyekan
politik simbolik memperjuangkan piagaman Jakarta, Partai Keadilan
Sejahtera peduli terhadap grassroot dan komitmen untuk membangun kultur
alternatif politik baru yang bersih dan anti korupsi baik ditingkat parlemen
maupun di dalam tubuh partai sendiri sebagai garis perjuangan mereka.34
H. Islam Yes, Partai Islam Yes
Jargon Islam yes partai Islam no yang didengungkan oleh
Nurcholish Madjid tidaklah serta-merta membendung kehadiran partai-partai
Islam di kancah perpolitikkan di Indonesia. Salah satunya adalah PKS yang
hadir membawa misi Islam sebagai kendaraan politik dalam alam demokrasi.
Perlu diakui bahwa PKS sebagai partai Islam hadir di tengah-tengah
modernisasi, yang sarat dengan radikalisme dan modernisme. Dua paham
tersebut sering berbenturan dalam menegakkan kebenaran. PKS lahir untuk
menengahi kedua paham tersebut agar tidak terjadi benturan kelompok
radikal dan modernis, atau Islam dan non-Islam. Dalam hal ini mantan
presiden PKS, Hidayat Nurwahid, dengan tegas mengatakan bahwa: pertama,
paradigma awal Partai Keadilan Sejahtera harus kokoh, yaitu bekerjasama
dalam kebaikan dan taqwa, serta tidak bekerjasama dalam dosa dan
permusuhan. Jika kita bisa menginternalisasikan dan mengkomunikasikan
dengan baik pada setiap kelompok yang ada, mereka akan tahu diri dan
menghormati sikap kita.
Kedua, kejujuran dan komitmen. Komitmen itu adalah sesuatu yang
terbangun terus menerus dan diketahui oleh publik. Karena orang berinteraksi
dengan kita sesuai dengan apa yang dilihatnya.35
34
35
Irwan Prayitno, Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Harakiyah¸ hlm. 70
Majalah Saksi, Partai Keadilan Sejahtera Menjawab Tudingan dan Fitnah..,
20
Kerangka pemikiran di atas, menurut hemat penulis simbolisme
Islam dipandang perlu. Meskipun tidak mirip dengan simbolisme yang
berkembang pada tahun 1940-an dan 1960-an, hal seperti ini diperlukan untuk
kebutuhan akan identitas politik. Ajakan untuk tidak menggunakan idiom
atau simbol Islam merupakan tindakan yang penampikan identitas partai
Islam itu sendiri. Sebab, makna dari sumber daya politik Islam mencakup dua
elemen dasar yakni nilai-nilai yang bersifat substansialistik di satu pihak; dan
simbol-simbol keislaman itu sendiri di pihak lain. Maka sekarang saatnya kita
memperjuangkan “Islam Yes Partai Islam Yes”.
Secara teori dan praktek perlu diakui bahwa keberadaan Partai
Keadilan Sejahtera dalam pentas politik di
Indonesia benar-benar
menampilkan wajah Islam yang sebenarnnya. Secara teori mereka adalah
orang-orang
terpelajar dari kalangan akademis, sedangkan
prakteknya
mereka selalu tampil dalam kesederhanaan dengan wajah-wajah ceria yang
menyenangkan.
Berbagai aksi damai yang dilakukan selalui tampil dengan barisan
yang tertib dan aman, tidak pernah berlaku anarkis bahkan tidak mengganggu
lalu lintas jalan raya. Aksinya selalu memperjuangkan hak-hak umat Islam,
terutama sekali umat Islam di Palestina yang selama ini selalu diperlakukan
yang tidak wajar oleh Israel.
Kesimpulan
Paradigma politik PKS mempunyai target tertentu yang akan dicapai,
namun yang membedakan terletak pada kondisi riil suatu daerah yang dihadapi.
Visi umum yang akan dicapai oleh PKS ke depan adalah berupaya merefleksikan
kapasitas internal, seorang kader yang mamahami dinamika global kehidupan saat
ini, serta memiliki kemampuan spesialis dan professional. Aktivitas kerja dan
dakwah seorang kader senantiasa ditandai oleh kekokohan dan kemandirian diri,
gerak yang dinamis serta ide-ide yang kreatif dan inovatif dalam kapasitas sosial,
dan kapasitas politik.
21
Dalam kapasitas sosialnya, ia mampu mendidik masyarakat dan
menjadikannya kader dakwah, dengan pola kerja amal jama’i sesuai prinsipprinsip dakwah Islam, sehingga ia dikenal di masyarakat sebagai orang yang
sholeh yang mampu menyebarkan dalam menularkan ke-sholehan-nya. Dalam
kapasitas politik, ia menjadikan kebaikan diri dan sosialnya sebagai modal untuk
menjadi aktor politik yang sholeh di negerinya. Ia senantiasa memolopori
perubahan dengan beragam program, dengan menghimpun segala potensi
masyarakat dan dakwah yang ada di sekitarnya. Mengarahkannya sesuai dengan
prinsip dan sasaran dakwah, lalu menggerakkan potensi itu menjadi energi
perubahan yang positif.
Selain ketiga visi umum dalam menjalankan paradigma politiknya, lebih spesifik
visi ke depan yang akan dicapai adalah (1) mempunyai kader yang kokoh dan
mandiri, (2) bersikap dinamis, kreatif dan inovatif, (3) mempunyai wawasan yang
luas, (4) mempunyai murobbi (pendidik) yang produktif, (5) mampu beramal
jama’i, (6) pelopor perubahan, dan (7) menjadi teladan dalam memimpin
masyarakat.
Daftar Pustaka
Amir, Zainal Abidin. Peta Islam Politik Pasca Soeharto. LP3ES: Jakarta. 2003.
Cahyono, Cheppy Hari. Ideologi Politik. PT. Hanindita: Yogyakarta. 1988.
Damanik,Ali Said. Fenomena Partai Keadilan Transformasi 20 Tahun Gerakan
Tarbiyah Di Indonesia. Teraju: Bandung. 2002.
Furkon, Aay Muhammad. Partai Keadilan Sejahtera Indeologi dan Praksis
Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer. Teraju: Jakarta.
2004.
Ghazali, Abd Rohim. Mencari Pemimpin di antara Para Pemimpin. Djambatan:
Jakarta. 2004.
L. Hasan, Sahar et al. Memilih Partai Islam Visi Misi dan Persepsi. Gema Insani
Jakarta: 1998.
Majid, Nurcholid. Islam Kemerdekaan dan Keindonesiaan. Mizan: Bandung.
1995.
22
Novianto, Kholid. Era Baru Indonesia Sosialisasi Pemikiran Amin Rais, Hamzah
Haz, Matori Abdul Jalil, Nur Mahmudi Ismail, Yusril Ihza Mahendra. Raja
Grafindo Persada: Jakarta. 1999.
Prayitno, Irwan. Al-Tarbiyah Al-Islamiyah Al-Harakiyah. Tarbiyatuna: Jakarta,
2002.
Ridho, Abu. Islam dan Politik Memungkinkan Bersatu. Syamil Cipta Media:
Bandung.
Ulum, Bahrul. Bodohnya NU Apa NU Dibodohi. Ar-Ruzz Press: Djokjakarta.
2003.
Yusuf, Al-Muzammil. Isu Besar Dakwah Dalam Pemilu. PT. Syamil Cipta Media
dan DPP PK. Sejahtera: Jakarta. 2003.
Widodo. Kamus Ilmiah Di Lengkapi Juga Dengan Ejaan Yang Disempurnaan Dan
Penbentukan Istilah. Absolut: 2001.
Artikel/majalah
Materi Training Orientasi Partai (TOP)-1 Nasional, DPP Partai Keadilan. 3
November 2001.
Majalah Media Indonesia. Partai Keadilan Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi
Munkar di bidang Politik. Sabtu, 3 Februari 1999.
TIM Litbang. Partai-partai Politik Indonesia, Ideologi dan Program 2004-2009.
Kompas. Jakarta. 2004.
Download