analisis cemaran daging babi pada sosis sapi

advertisement
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
ANALISIS CEMARAN DAGING BABI PADA SOSIS
SAPI YANG BEREDAR DI PASAR PARUNG
MENGGUNAKAN METODE REAL TIME
POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
SKRIPSI
SAFIZAH UMMU HARISAH
1112102000010
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
JAKARTA
FEBRUARI 2017
i
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
ANALISIS CEMARAN DAGING BABI PADA SOSIS
SAPI YANG BEREDAR DI PASAR PARUNG
MENGGUNAKAN METODE REAL TIME
POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi
SAFIZAH UMMU HARISAH
1112102000010
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
JAKARTA
FEBRUARI 2017
ii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
iii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING
iv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
v
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRAK
Nama
:
Safizah Ummu Harisah
Program Studi
:
Strata-1 Farmasi
Judul
:
Analisis Cemaran Daging Babi pada Sosis Sapi yang
Beredar di Pasar Parung Menggunakan Metode Real Time
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Sosis adalah produk makanan yang diperoleh dari campuran daging halus dengan
tepung atau pati dengan atau tanpa penambahan bumbu-bumbu dan bahan
tambahan makanan lain. saat ini kemajuan teknologi telah mengalami
peningkatan di bidang analisis halal. Teknologi tersebut diaplikasikan untuk
mempermudah pengujian bahan halal yang terkontaminasi bahan haram. Salah
satu alat yang digunakan untuk deteksi kehalalan makanan adalah PCR. Pada
penelitian ini, metode Real Time Polymerase Chain Reaction digunakan untuk
mengidentifikasi cemaran DNA babi pada 6 produk sosis sapi yang beredar di
Pasar Parung. DNA genom daging babi, daging sapi dan sampel sosis sapi
diisolasi dengan reagen KIT (Wizard Genomic DNA Purification Kit Promega).
DNA diamplifikasi pada daerah spesifik DNA mitokondria sitokrom b dengan
menggunakan sepasang primer spesifik DNA babi dan primer spesifik DNA sapi
dengan jumlah siklus sebanyak 30 siklus. Hasil kurva amplifikasi menggunakan
primer spesifik DNA sapi, menunjukkan bahwa semua DNA sampel sosis dan
kontrol positif DNA sapi dapat teramplifikasi, sedangkan kontrol negatif DNA
babi dan kontrol negatif ddH2O tidak teramplifikasi. Hasil primer spesifik DNA
babi menunjukkan bahwa hanya sampel kontrol positif (DNA babi) yang
menghasilkan kurva amplifikasi pada CP 19.97. Dengan demikian, dari 6 sampel
sosis yang diperiksa, tidak ada DNA mitokondria sampel yang teramplifikasi
dengan menggunakan primer spesifik DNA babi.
Kata kunci : halal, babi, sampel sosis, real time PCR, primer spesifik.
vi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
ABSTRACT
Name
: Safizah Ummu Harisah
Program Study
: Strata-1 Pharmacy
Title
: Analysis Contamination of pork in Sausage Beef which
Distributed In Parung Region Using Real Time PCR
The sausage is a food product derived from a mixture of delicate meat with flour
or starch with or without the addition of spices and other food additives. the
current technological advances have improved in the areas of analysis kosher. The
technology is applied to facilitate the testing of materials contaminated halal
haram ingredients. One of the tools used for the detection of halal food is PCR. In
this study, Real Time Polymerase Chain Reaction method was used to identify
the pork contamination in 6 beef sausage products which distributed in the Parung
market. DNA genome of pork, beef, and beef sausage samples was isolated using
KIT reagents (Wizard Genomic DNA Purification Kit Promega). DNA was
amplified in a specific area of mitochondrial cytochrome b DNA by porcine
specific primer and bovine specific primer as much as 30 cycle. The results of
DNA amplification curves by bovine specific primers indicating that all the DNA
samples of sausages and control positive bovine DNA can be amplified, while the
negative control porcine DNA and negative control ddH2O are not amplified.
Results of porcine DNA specific primers showed that only positive control
samples (porcine DNA) which generate amplification curves in CP value 19.97.
Therefore, from 6 samples of sausages which are examined there is no
mitochondrial DNA samples are amplified by porcine specific primers.
Keywords : halal, pork, sausage samples, real time PCR, specific primers.
vii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang Maha pengasih dan
Maha penyayang, yang telah memberi kekuatan kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan
kepada Baginda Rasul, Nabi Muhammad SAW yang merupakan suri tauladan
bagiumatnya.
Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam
melaksanakan penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa penyusunan ini
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan
terimakasih kepada :
1. Ibu Ofa Suzanti Betha, M.Si., Apt sebagai Pembimbing I dan Ibu Dr. Zilhadia,
M.Si., Apt sebagai Pembimbing II yang telah memberikan ilmu, nasehat,
waktu, tenaga dan pikiran selama penelitian dan penulisan skripsi ini.
2. Bapak Chris Adhiyanto, M.Biomed,Ph.D dan Bapak Hendri Aldrat, M.Si.
Ph.D.Apt sebagai Penguji telah memberikan ilmu, saran dan nasehat kepada
penulis.
3. Bapak Dr. Arif Sumantri S.K.M, M. Kes. Selaku Dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Dr. Nurmeilis, M.Si., Apt., selaku Ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Drs. Umar Mansur, M.Sc, Apt selaku pembimbing akademik yang
telah memberikan arahan selama masa perkuliahan.
6. Bapak dan Ibu staf pengajar, serta karyawan yang telah memberikan
bimbingan dan bantuan selama menempuh pendidikan di Program Studi
Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
7. Kedua orang tua, Ayah tercinta Iljam Ebentap lubis, umma tersayang Asmia
Hasibuan S.Pd.I yang selalu ikhlas memberikan kasih sayang,dukungan moral
viii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dan materil, nasehat-nasehat yang membantu penulis bersemangat tersenyum
dan tertawa, serta lantunan do‟a setiap waktu.
8. Kakak tercinta, Ummu Salimah Albajaliah Lubis S.Pd.I, Abang M.Febryansah
Hasibuan S.Pd.I. adek-adek tersayang Irwan Junaidi Lubis, M.Asril Husein
Lubis, Hapipa Aswita Lubis, Rizki Khoirunnisa Lubis, yang memberikan
semangat dan doa tanpa henti2nya, dan memberi tawa yang luar biasa.
9. Sahabat seperjuangan dalam suka maupun duka dalam menjalankan penelitian
ini, semoga kita sama-sama sukses dunia dan akhirat “Vesty Anis Triana”.
10. Sahabat-sahabat terkasih Ayu Nopita, Apriliana Nur, Chalila Deli Gayo, Dwi
Putri Rahmawati, Vesty Anis Triana, Ratnika Sari, Tharlis Diansyah Lubis
serta teman-teman Farmasi 2012 atas semangat dan kebersamaan kita selama
perkuliahan berlangsung. Semoga ukhuwah yang telah terjalin tidak pernah
putus dan akan terus berlanjut.
11. Sahabat dalam mencari ilmu di perantauan yang selalu memberikan semangat
tanpa diminta M. Misbahuddin Mukhlis SE., Nasyidah Hannum.
12. Teman-teman seperjuangan selama di pondok pesantren Al-mukhlishin
Sibuhuan selama merantau mencari ilmu di Jakarta “IKAYAMIN JAKARTA”
13. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Padang Lawas (HIMAPALAS) atas
semangat dan kebersamaan kita selama berperoses diorganisasi berlangsung.
14. Teman-teman
seperjuangan
“DIGOXYN”
Farmasi
UIN
2012
atas
kebersamaan kita selama ini.
15. Semua pihak yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian dan
penulisan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Semoga semua bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari
Allah SWT. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan
ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan demi perbaikan skripsi ini.
Dan semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Ciputat, 28 Februari 2017
Penulis
ix
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
x
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...........................................................................................
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINILITAS ................................................
iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...............................................
iv
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................
v
ABSTRAK ...........................................................................................................
vi
ABSTRACT .........................................................................................................
vii
KATA PENGANTAR .........................................................................................
viii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ....................
x
DAFTAR ISI ........................................................................................................
xi
DAFTAR TABEL ...............................................................................................
xiv
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................
xv
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................
xvi
DAFTAR SINGKATAN .....................................................................................
xvii
DAFTAR ISTILAH ............................................................................................
xviii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................
1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................
2
1.3 Tujuan.................................................................................................
2
1.4 Manfaat ...............................................................................................
2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................
4
2.1 Daging Babi.........................................................................................
4
2.2 Organel Sel ..........................................................................................
4
2.3 Protein dan Asam Nukleat...................................................................
6
2.4 DNA ....................................................................................................
6
2.4.1 Struktur dan Sifat Kimia DNA ..................................................
6
2.4.2 Sifat Fisika DNA .......................................................................
8
2.4.3 Fungsi DNA ..............................................................................
8
2.4.4 Isolasi DNA ...............................................................................
8
2.5 DNA Mitokondria ...............................................................................
11
2.6 Polymerase Chain Reaction (PCR) ....................................................
13
xi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2.6.1 Komponen PCR.........................................................................
14
2.6.2 Tahapan PCR.............................................................................
15
2.6.3 Polymerase Chain Reaction Restriction Fragment Lenght
Polimorfisme (PCR-RFLP) .......................................................
17
2.7 Real Time PCR ...................................................................................
18
2.7.1 Analisis Menggunakan Metode Hydrolysis Probe ....................
20
2.8 Daging Sosis .......................................................................................
23
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................
25
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................
25
3.1.1 Tempat ....................................................................................
25
3.1.2 Waktu .....................................................................................
25
3.2 Alat dan Bahan ...................................................................................
25
3.2.1 Alat..........................................................................................
25
3.2.2 Bahan ......................................................................................
25
3.3 Tahapan Penelitian .............................................................................
26
3.4 Prosedur Kerja ....................................................................................
26
3.4.1 Pengumpulan Sampel .............................................................
26
3.4.2 Isolasi DNA ............................................................................
26
3.4.3 Analisis DNA Hasil Isolasi dengan Spektrofotometri UV ...
27
3.4.4 Amplifikasi DNA dengan Metode Real Time PCR ..............
28
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................
29
4.1 Hasil Analisis DNA dengan Spektrofotometri UV ...........................
29
4.2 Uji Cemaran DNA Babi pada Sampel Sosis Sapi .............................
32
4.2.1 Hasil Amplifikasi DNA Daging Sapi, Daging Babi dan NTC
Menggunakan Primer Sapi .....................................................
34
4.2.2 Hasil Amplifikasi DNA Daging Sapi, Sampel Sosis Sapi
dan NTC Menggunakan Primer Sapi .....................................
36
4.2.3 Hasil Amplifikasi DNA Daging Sapi, Daging Babi dan NTC
Menggunakan Primer Babi .....................................................
38
4.2.4 Hasil Amplifikasi DNA Daging Babi, Sampel Sosis Sapi
dan NTC Menggunakan Primer Babi .....................................
39
xii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................
40
5.1 Kesimpulan.........................................................................................
40
5.2 Saran ...................................................................................................
40
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................
41
LAMPIRAN .........................................................................................................
46
xiii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
Tabel
1
Perbandingan Sel Prokariot dan Sel Eukariotik
5
Tabel
2
Kelebihan dan Kelemahan RFLP
18
Tabel
3
Kelebihan dan Kekurangan Real Time PCR
20
Tabel
4
Tahapan Proses Flurosensi Hydrolysis Probe
22
Tabel
5
Susunan Basa Primer dan probe
26
Tabel
6
Konsentrasi dan Kemurnian Isolat DNA
30
Tabel
7
Program Dual Color Hydrolysis Probe-UPL Probe 96-II
33
xiv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar
1
Sel Prokariot dan Eukariot
5
Gambar
2
Struktur Purin dan Pyrimidin
7
Gambar
3
Struktur Double Heliks DNA
7
Gambar
4
Struktur Mitokondria
12
Gambar
5
Struktur mtDNA
12
Gambar
6
Untai DNA Mengalami Denaturasi
16
Gambar
7
Penempelan Primer dengan Untai DNA
16
Gambar
8
Perpanjangan DNA Secara Semi-Konservatif
17
Gambar
9
Proses Amplifikasi DNA Target
17
Gambar
10
Bentuk Kurva pada Real Time PCR
19
Gambar
11
Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil
Amplifikasi Menggunakan Primer Spesifik Sapi
34
Gambar
12
Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil
Amplifikasi Menggunakan Primer Spesifik Sapi dan
sampel
36
Gambar
13
Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil
Amplifikasi Menggunakan Primer Spesifik Babi
38
Gambar
15
Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil
Amplifikasi Menggunakan Primer Spesifik Babi dan
sampel
39
xv
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
Lampiran 1.
Konsentrasi dan Kemurnian Hasil Isolasi
46
Lampiran 2.
Perhitungan Pembuatan Larutan Primer
47
Lampiran 3.
Perhitungan Tm (Melting Temperature) Primer
48
Lampiran 4.
Komponen Campuran Reaksi Real Time PCR
49
Lampiran 5.
Hasil Kurva Amplifikasi
50
Lampiran 6.
Alat-Alat yang digunakan dalam Penelitian
52
xvi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR SINGKATAN
AFL
: Arbitrary Fluorescence Level
BLAST
: Basic Local Aligment Search Tool
CP
: Crossing Point
cyt b
: Cytochrome b
dATP
: Deoxyadenosine Triphosphate
dCTP
: DeoxyCytidine Triphosphate
dGTP
: Deoxyguanosine Triphosphate
dNTP
: Deoxyribonucleaside Triphosphate
dNTPS
: Deoxyribonucleaside Triphosphates
dTTP
: Deoxythymidine Triphosphate
DNA
: Deoxyribonucleic Acid
EDTA
: Etilen Diamin Tetra Asetat
FAM
: Fluorescein Amidite
MtDNA
: mitochondria DNA
NLS
: Nuclei Lysis Solution
NTC
: No Template Control
pb
: Pasang Basa
PCR
: Polymerase Chain Reaction
PCR-RFLP
: Polymerase Chain Reaction Restriction Fragment Lenght
Polimorfisme
Pfu
: Pyrococcus Furiosus
PPS
: Protein Precipitation Solution
qPCR
: Quantitative Polymerase Chain Reaction
RFLP
: Restriction Fragment Lenght Polimorfisme
RNA
: Ribonucleic Acid
RT-PCR
:Real Time Polymerase Chain Reaction
SDS
: Sodium Dodesil Sulfat
Tag
: Thermus Aquaticus
Tm
: Temperature Melting
USDA
: United State Department of Agriculture
xvii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR ISTILAH
BLAST
:
Basic Local Aligment Search Tool merupakan
program untuk menganalisis kesejajaran sekuen
query (DNA) atau protein dengan sekuen DNA
atau protein pada database NCBI.
CP
:
Crossing
Point
merupakan
siklus
yang
menunjukkan sinyal fluoresensi dari akumulasi
amplikon telah melewati garis threshold.
Garis Treshold
: Garis penanda siklus awal dari reaksi PCR yaitu
saat sinyal fluoresensi berada pada tingkat
terendah (siklus 3-15).
Formasi Hairpin
:
Terbentuknya struktur loop/hairpin pada primer
yang disebabkan oleh interaksi intramolekular
yang dapat memicu terbentuknya amplifikasi yang
nonspesifik.
Melting Curve
:
Analisis data pada Real time PCR digunakan untuk
menguji spesifisitas amplikon yang terbentuk.
Mis-priming
:
Penempelan primer di luar sekuen target sehingga
membentuk produk amplfikasi yang nonspesifik.
NCBI
:
National Center for Biotechnology Information
merupakan suatu institusi milik United States
National Library of Medicine yang berperan
sebagai sumber informasi perkembangan biologi
molekular. Situs NCBI berisi database meliputi
gene bank mengenai sekuens DNA atau protein
serta memuat publikasi ilmiah.
NTC
:
No Template Control merupakan kontrol negatif
karena well tidak dimasukkan DNA.
Primer-Dimer
:
berikatannya suatu primer dengan primer sejenis
atau dengan primer lainnya sehingga membentuk
produk amplifikasi yang nonspesifik
Query
:
Sekuen yang dimasukkan ke dalam program
BLAST untuk diketahui kesejajarannya.
Tm
:
Temperature melting atau suhu melting adalah
suhu saat 50% bagian DNA telah terbuka menjadi
untai tunggal.
xviii
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Islam mengajarkan umat muslim untuk menghindari hal yang dilarang
dalam Al Qur‟an dan Al Hadist. Al Qur‟an sangat tegas menyatakan kehalalan
dan keharaman makanan. Aturan tentang kehalalan makanan termuat dalam
banyak ayat, salah satunya pada Surat Al-Baqarah (2) : 173 :
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah”. Haramnya babi juga dijelaskan dalam firman Allah Surat Al-Ma‟idah (5) :
3, Surat Al-An‟am (6) : 145, dan Surat An-Nahl (16) : 115.
Indonesia merupakan
negara dengan mayoritas penduduknya beragama
Islam. Hal ini seharusnya menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk melindungi
konsumen dari beredarnya makanan haram yang ada dipasaran. Namun
pencampuran makanan halal dengan bahan yang diharamkan masih terjadi di
masyarakat. Pada tahun 2012 ditemukan adanya bakso sapi yang dicampur dengan
daging babi di wilayah Jakarta. September 2015 juga ditemukan kasus
pencampuran daging babi pada bakso di pasar tradisional kota malang (Wardani,
2015). Tujuan pencampuran tersebut untuk menghasilkan produk akhir dengan
harga yang lebih murah dibandingkan menggunakan bahan aslinya, mengingat
harga daging sapi yang semakin mahal (Margawati dan Ridwan, 2010). Oleh
sebab itu, untuk menghindari adanya makanan yang dicampur dengan bahan
haram, dibutuhkan pengembangan uji analisis yang dapat dipercaya dan sensitif
dalam pendeteksian bahan makanan (Rahmawati, 2012).
Pada saat ini kemajuan teknologi telah mengalami peningkatan di bidang
analisis halal. Teknologi tersebut dapat diaplikasikan dan mempermudah
pengujian bahan halal yang terkontaminasi bahan haram. Salah satu alat yang
digunakan untuk deteksi kehalalan makanan adalah PCR. Seperti halnya
1
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2
pengujian cemaran daging babi pada makanan diperoleh dari hipermarket
lokal yang berbeda di Saudi Arabia melalui amplifikasi PCR (Alaraidha, 2008).
Pratami 2011 telah melakukan identifikasi daging babi pada burger sapi melalui
amplifikasi real time PCR. Begitu juga Mulyana (2010) yang melakukan
identifikasi daging babi pada kornet sapi dengan menggunakan metode
polymerase chain reaction (PCR).
Walaupun PCR memberikan hasil yang cukup sensitif dan akurat, metode
ini membutuhkan pemisahan produk pasca PCR dengan menggunakan gel
elektroforesis yang memakai waktu lebih lama dan hanya semi-kuantitatif
(Vivikananda, 2014). Tetapi kelemahan ini dapat di atasi dengan real time PCR
yang menggunakan sistem fluoresensi sehingga hasil amplifikasi dapat dideteksi
secara cepat dan dilihat secara langsung. Keunggulan teknik real time PCR
dibandingkan dengan PCR konvensional antara lain adalah akurasi dan
sensitivitas yang lebih tinggi, menurunkan kemungkinan terjadinya kontaminasi
dan waktu analisa yang lebih singkat karena tidak perlu melakukan elektroforesis
dan identifikasi suatu produk makanan dengan menggunakan pewarna dye SYBR
green dan primer spesifik sapi (Liyana, K. et a.l, 2009).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa cemaran DNA babi pada bahan
makanan olahan dengan menggunakan metode real time PCR. Bahan makanan
yang diuji adalah sosis sapi dengan merek yang berbeda yang diperoleh dari pasar
Parung.
1.2
Rumusan Masalah
Apakah sosis sapi yang beredar di Pasar Parung tercemar daging babi.
1.3
Tujuan Penelitian
Menganalisis cemaran daging babi pada sosis sapi yang beredar di Pasar
Parung menggunakan metode real time PCR
1.4
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi untuk masyarakat
tentang kehalalan sosis sapi yang beredar di pasar Parung. Hal ini dilakukan
3
sebagai dharma UIN terhadap masyarakat sekitar sehingga masyarakat lebih
berhati-hati dan bijaksana dalam mengonsumsi olahan daging seperti sosis sapi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Daging Babi
Babi adalah sejenis hewan ungulata yang bermancung panjang dan
berhidung ceper pemakan daging maupun tumbuh-tumbuhan dan merupakan
hewan yang berasal dari Eurasia. Daging babi merupakan daging yang sangat sulit
dicerna karena banyak mengandung lemak. Meskipun dagingnya empuk dan
terlihat begitu enak dan lezat. Babi juga memiliki lemak punggung yang tebal dan
bersifat oxidative rancidity, sehingga secara struktur kimia sudah tidak layak
dikonsumsi. Penelitian ilmiah modern di dua negara yaitu Cina dan Swedia
menyatakan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan
kolon. Babi banyak mengandung parasit, bakteri, bahkan virus yang berbahaya
sehingga dikatakan sebagai Reservoir penyakit (Hilda, 2013).
2.2
Organel sel
Sel yang menyusun makhluk hidup tingkat tinggi memang sangat kecil
ukurannya sehingga tidak dapat dilihat dengan alat bantu yang sederhana, tetapi
memiliki tugas yang sangat besar layaknya sebuah kota yang memiliki bagianbagian untuk menunjang kehidupan kota. Bagian-bagian yang menunjang
kehidupan sel disebut organel-organel (Yuni et al, 2006).
Organisme yang hidup saat ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu
prokariot dan eukariot.
4
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5
Prokariot
Eukariot
Gambar 2.1. Sel Prokariot dan Eukariot (Widyastuti, 2012).
Tabel 1. Perbandingan Sel Prokariotik dan Sel Eukariotik
Ciri
Sel Prokariotik
Sel Eukariotik
Ukuran
~ 1-10 mm
Tipe inti
Daerah nukleoid;
tanpa inti sejati
Umumnya sirkular
Keduanya
berlangsung di
sitoplasma
50S dan 30S
Sederhana
~10-100 mm (sel sperma, terpisah dari
bagian ekornya, berukuran lebih kecil)
Inti sejati dengan membran ganda
DNA
Sintesis
RNA/Protein
Ribosom
Struktur
sitoplasmatik
Pergerakan sel
Mitokondria
Flagela yang
tersusun atas
protein
flagelin
Tidak ada
Kloroplas
Organisasi
Tidak ada
Umumnya satu sel
Pembelahan sel
Pembelahan biner
Linear (kromosom) dengan protein histon
Sintesis RNA berlangsung di dalam hati.
Sintesis protein berlangsung di sitoplasma
60S dan 40S
Sangat terstruktur dengan adanya membran
intraseluler dan sitoskeleton
Flagela dan silia yang tersusun atas protein
tubulin
Satu sampai beberapa lusin (beberapa tidak
memiliki mitokondria)
Pada alga dan tanaman
Sel-sel tunggal, koloni, organisme tingkat
tinggi dengan sel terspesialisasi
Mitosis (pembelahan inti) dan sitokinesis
(pembelahan sitoplasmatik)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
6
Jenis organisme
2.3
Bakteri dan archaea
Protista, fungi, tanaman, hewan
Protein dan Asam Nukleat
Protein dan asam nukleat merupakan senyawa polimer utama yang terdapat
pada sel. Protein merupakan produk dari aliran informasi genetik. Sel
membutuhkan ribuan protein yang berbeda setiap waktu.
Asam nukleat merupakan polimer dari ratusan, ribuan, bahkan jutaan
nukleotida yang bergabung satu sama lainnya melalui ikatan fosfodiester. Asam
nukleat merupakan suatu polinukleotida, yaitu polimer linier yang tersusun dari
monomer-monomer nukleotida yang berikatan melalui ikatan fosfodiester. Fungsi
utama asam nukleat adalah sebagai tempat penyimpanan dan pemindahan
informasi genetik. Informasi ini tersusun dari sel induk ke sel anak melalui proses
reflikasi. Sel memiliki dua jenis asam nukleat yaitu asam deoksiribonukleat
(deoxyribonucleic acid/DNA) dan asam ribonukleat (ribonucleic acid/RNA)
(Kusuma, 2010).
2.4
DNA
2.4.1 Struktur dan Sifat Kimia DNA
DNA dan RNA merupakan polimer linier (polinukleotida) yang tersusun
dari subunit atau monomer nukleotida. Komponen penyususn nukleotida terdiri
dari tiga jenis molekul, yaitu gula pentosa (deoksiribosa pada DNA atau ribosa
pada RNA), basa nitrogen dan gugus fosfat. Basa yang ditemukan pada nukleotida
adalah basa purin (adenin = A, guanin = G) dan basa pirimidin (cytosin = C,
tymin = T, urasil = U). Monomer nukleotida mempunyai gugus hidroksil pada
posisi karbon 3‟, gugus fosfat pada posisi karbon 5‟ dan basa pada posisi karbon
1‟ molekul gula. Nukleotida satu dengan yang lainnya berikatan melalui ikatan
fosfodiester antara gugus 5‟ fosfat dengan gugus 3‟ hidroksil (Gaffar, 2007).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
7
Gambar 2.2 Struktur Purin dan Pirimidin (Adenin dan Guanin;
Cytosin, Tymin dan Urasil) (Gaffar, 2007)
Struktur molekul DNA terdiri atas dua rangkaian nukleotida yang tersusun
secara linier. Kedua rangkaian yang saling berikatan itu terbentuk seperti tali
berpilin, sehingga molekul DNA dikatakan sebagai double helixs (heliks ganda).
Untuk membentuk rangkaian molekul DNA heliks ganda, basa nitrogen dari
setiap nukleotida dalam satu rangkaian akan berpasangan dengan basa nitrogen
dari setiap nukleotida pada rangkaian lainnya melalui ikatan hidrogen. Pengikatan
basa nitrogen dari masing-masing nukleotida tersebut sangat spesifik. Basa A dari
satu nukleotida selalu berikatan dengan basa T dari nukleotida lainnya, sedangkan
basa G selalu berikatan dengan basa C. Pasangan A dan T terbentuk dengan dua
ikatan hidrogen, sedangkan pasangan G dan C terbentuk dengan tiga ikatan. Oleh
karena itu, pasangan G dan C lebih stabil dari pada pasangan A dan T (Pratami,
2011).
Gambar 2.3. Struktur Double Helixs DNA
Untai ganda molekul DNA dapat dipisahkan atau terdenaturasi dengan
perlakuan suhu maupun senyawa alkali sehingga konformasinya berubah. Tingkat
denaturasi DNA tergantung pada tingginya suhu. Semakin tinggi suhunya maka
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
8
semakin banyak bagian DNA yang berubah menjadi struktur untai tunggal.
Denaturasi lengkap biasanya terjadi pada suhu 90OC. Selain dapat terdenaturasi,
DNA juga dapat terrenaturasi, yaitu untai tunggal yang terdenaturasi menjadi
untai ganda kembali dengan adanya ikatan hidrogen. Suhu renaturasi biasanya
sekitar 60OC. Faktor lain yang menentukan laju renaturasi adalah konsentrasi
DNA. Semakin tinggi konsentrasinya maka probabilitas tumbukan antara molekul
untai tunggal DNA menjadi semakin besar (Sriati, 2011).
2.4.2 Sifat Fisika DNA
DNA akan terpisah dari rantai komplemennya (denaturasi) pada suhu
mendekati titik didih dan pH ekstrim (pH<3 atau pH>10) dan bisa bergabung
kembali (renaturasi) pada suhu ± 60OC. DNA menyerap sinar UV pada panjang
gelombang 260 nm. (Pratami, 2011).
2.4.3 Fungsi DNA
DNA adalah dasar kimiawi hereditas dan penyususn gen yang menjadi unit
fundamental informasi genetik. Informasi genetik yang disimpan dalam
nukleotida berfungsi untuk memenuhi dua tujuan, yaitu sumber informasi bagi
sintesis semua molekul protein pada sel serta organisme dan memberikan
informasi yang diwariskan kepada anak atau generasi berikutnya (Pratami, 2011).
2.4.4 Isolasi DNA
Semua organisme disusun oleh sel yang mengandung elemen genetik yang
sama yaitu DNA yang terdapat dalam kromosom. Kromosom eukariot berbentuk
linear sedangkan kromosom prokariot berbentuk sirkular. Selain itu prokariot juga
mengandung satu atau lebih plasmid. Plasmid merupakan molekul DNA sirkular
dengan ukuran yang jauh lebih kecil dibanding kromosom (Gaffar, 2007).
Prinsipnya adalah memisahkan DNA kromosom atau DNA genom dari
komponen-komponen sel lain. Sumber DNA bisa dari tanaman, kultur
mikroorganisme, atau sel manusia. Membran sel dilisis dengan menambahkan
buffer yang mengandung satu atau lebih detergen, contohnya SDS, NP-40, atau
Triton X-100 untuk membebaskan isinya. Kotoran sel yang ditimbulkan akibat
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
9
pengrusakan oleh detergen tersebut dibersihkan dengan cara sentrifugasi.
Kemudian pada ekstrak sel tersebut ditambahkan proteinase yang berfungsi untuk
mendegradasi RNA, sehingga tertinggal hanyalah DNA. Selanjutnya ekstrak
tersebut dipanaskan sampai suhu 90OC untuk menginaktifasi enzim yang
mendegradasi DNA (DNase). Larutan DNA kemudian di presipitasi dengan etanol
dan bisa dilarutkan lagi dengan air (Danuz, 2014).
Isolasi DNA saat ini lebih mudah dengan adanya bantuan teknologi canggih
yang disebut purifikasi DNA yang menghasilkan isolasi DNA dengan kemurnian
tinggi, hasil yang cepat, dan penggunaan yang mudah. Purifikasi DNA
menggunakan seperangkat mesin dengan reagen kit pemurnian DNA yang bekerja
secara otomatis, singkat dan efisien. Pemurnian DNA dapat dilakukan dari darah,
sel-sel, dan sampel jaringan. Instrumen ini dapat memproses sampai dengan 16
sampel dalam waktu 30-45 menit. DNA yang telah dimurnikan dapat digunakan
langsung dalam berbagai aplikasi termasuk PCR, restriksi oleh enzim
endonuklease, dan elektroforesis gel agarosa. Instrumen ini dapat memproses
sampel cair dan padat. Dilengkapi dengan cartridge yang berisi lysis buffer,
MagnesiI® PMPs dan wash buffer (Promegaa, 2007). Pada mesin purifikasi DNA,
sampel yang telah dilisis oleh buffer lisis, dicuci dengan wash buffer dan dielusi
dengan elution buffer menggunakan bantuan Magnesil PMPs (Pratami, 2011).
Berikut adalah uraian tahapan isolasi DNA :
1.
Penghancuran Membran Sel (lisis)
Penghancuran membran sel bisa dilakukan secara fisik misalnya
dengan cara sonikasi, maupun dengan cara kimia yaitu dengan
menggunakan enzim lisozim, etilen diamin tetra asetat (EDTA), atau
kombinasi dari keduanya (Radji, 2011). Penggunaan lisozim biasanya
untuk ekstraksi dan isolasi DNA dari sel tumbuhan. EDTA merupakan
zat yang dapat merusak membran sel dengan cara mengikat ion Mg2+
yang berfungsi
untuk
mempertahankan
integritas
sel
maupun
mempertahankan aktivitas enzim nuklease yang merusak asam nukleat
(Izzah, 2014). Pada kondisi tertentu pemecahan dinding sel cukup
dilakukan dengan lisozim dan EDTA, akan tetapi juga sering
ditambahkan bahan lain yang dapat melisiskan dinding sel antara lain
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
10
detergent triton X-100 atau sodium dodesil sulfat (Radji, 2011). SDS
merupakan detergent yang dapat merusak integritas membran sel
dengan cara mengikat lipid yang terdapat pada membran sel (Izzah,
2014). Setelah sel lisis, tahapan selanjutnya adalah memisahkan sel
dibris dengan cara sentrifugasi sehingga meninggalkan ekstrak sel
dalam supernatan yang jernih (Radji, 2011).
2.
Pemisahan DNA dari Protein Sel
Disamping DNA, ekstrak sel juga mengandung protein dan RNA
dalam jumlah yang cukup besar. Umumnya cara pemisahan DNA
dilakukan dengan penambahan larutan fenol atau campuran fenol dan
kloroform dengan perbandingan 1:1. Sedangkan untuk pengendapan
protein dengan cara sentrifugasi dan dihancurkan secara enzimatis
dengan proteinase. DNA yang telah dibersihkan dari protein masih
tercampur dengan RNA sehingga perlu ditambahkan RNAse untuk
membersihkan DNA dari RNA (Radji, 2011).
3.
Pemurnian DNA
Tahap akhir dari isolasi DNA adalah proses pemurnian DNA.
Molekul DNA yang telah diisolasi tersebut kemudian dimurnikan
dengan cara presipitasi etanol. Dengan adanya larutan garam (kation
monovalen seperti Na+), pada suhu -20oC etanol absolut dapat
mengendapkan DNA dengan baik sehingga mudah dipisahkan dengan
cara sentrifugasi (Radji, 2011).
Pada umumnya, isolasi DNA dengan metode konvensional yang dijelaskan
sebelumnya cukup melelahkan karena membutuhkan waktu hingga beberapa jam
bahkan sampai beberapa hari (Izzah, 2014). Seiring berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi, metode isolasi DNA telah banyak dikembangkan dan
digunakan
dalam
sebuah
penelitian.
Salah
satu
metode
yang
mudah
pengerjaannya serta dapat menghasilkan DNA dengan kemurnian tinggi yaitu
dengan menggunakan metode kit komersial (Nishiguchi Michele K et al, 2002).
Metode kit komersial tidak hanya digunakan untuk mengisolasi DNA dari
produk makanan olahan tetapi juga dirancang untuk mengisolasi DNA yang
berasal dari sel darah putih, sel kultur jaringan hewan, jaringan tanaman, dan juga
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
11
dari bakteri gram negatif serta gram positif (Promega, 2014). Keuntungan yang
dihasilkan dari metode isolasi DNA dengan menggunakan kit diantaranya
menghemat waktu selama proses isolasi karena dapat menghasilkan jumlah DNA
hanya beberapa menit saja, meningkatkan sensitifitas dan keunggulan PCR dalam
menganalisis karena pada proses isolasi menghasilkan DNA dengan kemurnian
yang tinggi, mengurangi seminimal mungkin jumlah kontaminan pada DNA yang
dihasilkan, dan dapat digunakan untuk penelitian karena metode kit komersial
dapat memurnikan DNA yang berasal dari berbagai sumber (Roche, 2007).
Pengukuran kemurnian dan jumlah DNA hasil isolasi dapat dilakukan
melalui spektrofotometer yang didasarkan pada prinsip iradiasi sinar ultraviolet
yang diserap oleh nukleotida dan protein dalam larutan. Penyerapan iradiasi sinar
UV secara maksimal oleh DNA dicapai pada panjang gelombang 260 nm,
sedangkan penyerapan oleh protein pada panjang gelombang 280 nm.
Perbandingan absorbansi pada 260 nm dan 280 nm (A260/A280) dapat memberikan
validasi kemurnian DNA. Hasil isolasi DNA dikatakan murni jika nilai rasio
A260/280 antara 1,8-2,0. Nilai rasio yang lebih rendah dari 1,8 menunjukkan adanya
kontaminasi protein sedangkan nilai rasio melebihi 2,0 menunjukkan adanya
kontaminasi RNA (Hidayat, 2015).
2.5
DNA Mitokondria
DNA mitokondria (mtDNA) adalah molekul DNA rantai ganda yang
berbentuk sirkuler yang ditransmisikan secara maternal dan ukurannya relative
sangat kecil dibandingkan dengan ukuran genom intinya. DNA mitokondria
merupakan DNA yang ada di mitokondria yang berperan dalam sintesis protein.
Mitokondria adalah organel yang terletak di dalam sitoplasma eukariota yang
diselaputi oleh dua membran dan dua kompartemen, yaitu membran dalam dan
membran luar; matriks mitokondria (yang diselimuti langsung oleh membran
dalam) dan ruang antar membran (Hidayat, 2015).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
12
Gambar 2.4. Struktur Mitokondria (Aparna, 2015)
Mitokondria memiliki diameter 1-2 µm dan mengandung bermacam-macam
salinan DNA yang berbentuk sirkular. Jumlah dan bentuk setiap mitokondria
berbeda-beda untuk setiap sel dengan tipe yang berbeda dan dapat beruba
(Mulyana, 2010).
Struktur organisasi mtDNA bersifat stabil, sehingga mtDNA hewan
memiliki jumlah gen dan ukuran yang sama, yakni terdiri atas 13 gen yang
menyandikan protein yaitu URF1, URF2, URF3, URF4, URF5, URF6, URFA6L,
URF4L, Cytochrom Oxidase unit I, Cytochrom Oxidase unit II, Cytochrom
Oxidase unit III, Cytochrom b dan ATPase 6 (terlibat dalam respirasi sel), 2 gen
menyandikan rRNA (12S dan 16S), 22 gen menyandikan tRNA dan beberapa
daerah lain yang tidak menyandikan protein D-loop (Control Region) dan daerah
intergenic (Hidayat, 2015).
Gambar 2.5. Struktur mtDNA (Nageswara, 2007)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
13
DNA mitokondria memiliki karakteristik yang mendukung dalam
keperluan analisis biologi dan keragaman genetik, yaitu mtDNA mampu
mengcopy diri dalam jumlah yang tinggi (menjadikannya mudah diisolasi),
ukuran yang relatip kecil sekitar 14 kb sampai 34 kb sehingga dapat dipelajari
sebagai satu kesatuan yang utuh, dan memiliki laju evolusi yang tinggi sekitar 510 kali lebih cepat dari DNA inti (Hidayat, 2015).
2.6
Polymerase Chain Reaction (PCR)
PCR merupakan suatu teknik amplifikasi DNA secara in vitro yang mampu
mengamplifikasi segmen tertentu dari keseluruhan genom bakteri. Proses
amplifikasi PCR melibatkan variasi suhu yang mendekati suhu didih air, maka
diperlukan enzim polimerase yang tetap stabil dalam temperatur yang tinggi. Pada
proses PCR, enzim polimerase yang digunakan berasal dari bakteri Thermus
aquaticus (Taq) yang hidup di lingkungan bersuhu lebih dari 90OC (Agung,
2010).
Target PCR yaitu asam nukleat (DNA) untai ganda yang diekstraksi dari sel
dan terdenaturasi menjadi asam nukleat beruntai tunggal. Proses yang terjadi
dalam mesin PCR meliputi tiga tahap utama yaitu pemisahan untai ganda DNA
(denaturasi), penempelan primer (annealing) dan pemanjangan primer ekstensi
(ekstensi). Proses yang dimulai dari denaturasi, penempelan dan ekstensi disebut
sebagai satu siklus. Produk PCR dapat berlangsung melalui proses elektroforesis
dan digunakan untuk analisis lebih lanjut. Produk PCR dipisahkan dengan
elektroforesis gel yang diwarnai dengan bromida dan divisualisasikan dengan
sinar ultraviolet (Esti, 2013).
PCR memungkinkan adanya perbanyakan DNA antara dua primer, dalam
tabung reaksi, tanpa perlu memasukkan ke dalam sel (in vivo). Pada proses PCR
dibutuhkan DNA untai ganda yang berfungsi sebagai cetakan yang mengandung
DNA-target (yang akan di amplifikasi) untuk pembentukan molekul DNA baru,
enzim DNA polimerase, deoksinukleosida trifosfat (dNTP), dan sepasang primer
oligonukleotida. Pada kondisi tertentu, kedua primer akan mengenali dan
berikatan dengan untaian DNA komplemennya yang terletak pada awal dan akhir
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
14
fragmen DNA target, sehingga kedua primer tersebut akan menyediakan gugus
hidroksil bebas pada karbon 3‟. Setelah kedua primer menempel pada DNA
templat, DNA polimerase mengkatalisis proses pemanjangan kedua primer
dengan menambahkan nukleotida yang komplemen dengan urutan nukleotida
templat. DNA polimerase mengkatalisis pembentukan ikatan fosfodiester antara
OH pada karbon 3‟ dengan gugus 5‟ fosfat dNTP yang ditambahkan. Proses
penambahan dNTP yang dikatalisis oleh enzim DNA polimerase ini berlangsung
dengan arah 5‟-3‟ dan disebut reaksi polimerisasi. Enzim DNA polimerase hanya
akan menambahkan dNTP yang komplemen dengan nukleotida yang terdapat
pada rantai DNA templat (Gaffar, 2007).
2.6.1 Komponen PCR
Berikut adalah komponen yang diperlukan untuk reaksi PCR, yaitu :
a. DNA cetak / DNA target
Merupakan keseluruhan DNA sampel yang di dalamnya terkandung
fragmen DNA target.
b. Primer
Primer adalah suatu oligonukleotida yang memiliki 10 sampai 40 pb
(pb = pasangan basa) dan merupakan komplementer dari DNA target.
Pemilihan primer yang tidak sesuai dapat menyebabkan tidak terjadinya
reaksi polimerasi antara gen target dengan primer. Berikut adalah kriteria
pemilihan primer, yaitu :
1. Panjang primer : 15-30 pb
2. Kandungan GC sekitar 50%
3. Temperatur penempelan kedua primer tidak jauh berbeda
4. Urutan nukleotida yang sama harus dihindari
5. Tidak boleh terjadi self dimmer, pair dimmer, atau hairpin
c. Enzim Taq DNA Polymerase
Polimerase adalah suatu molekul komplek yang memiliki tiga aktivitas
diantaranya sebagai aktivitas polimerase dari ujung 5‟-3‟, aktivitas
exonuclease (aktivitas pengoreksian) dari ujung 3‟-5‟dan bisa juga dari
5‟-3‟ (Viljoen.Gerrit.J et al, 2005). Enzim DNA polimerase berfungsi
sebagai katalisis untuk reaksi polimerisasi DNA. Pada proses PCR,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
15
enzim ini diperlukan untuk tahap ekstensi DNA. Enzim polimerase DNA
yang digunakan untuk proses PCR diisolasi dari bakteri termofilik atau
hipertermofilik oleh karena itu enzim ini bersifat termostabil sampai
temperatur 95oC. Aktivitas polimerase DNA bergantung dari jenisnya
dan dari mana bakteri tersebut diisolasi. Sebagai contoh adalah enzim Pfu
polimerase (diisolasi dari bakteri Pyrococcus furiosus) mempunyai
aktivitas spesifik 10x lebih kuat dibandingkan aktivitas spesifik enzim
Taq polimerase (diisolasi dari bakteri Thermus aquaticus). Penggunaan
jenis polimerase DNA berkaitan erat dengan buffer PCR yang dipakai
(Handoyo, et al., 2001). Enzim ini tetap stabil mengamplifikasi DNA
walaupun amplifikasi berjalan pada suhu mendekati titik didih air.
d. Buffer / Dapar
Buffer atau Dapar yang digunakan umumnya mengandung MgCl2 yang
mempengaruhi stabilitas dan kerja enzim polimerase.
e. dNTPS
dNTPS atau deoxynukleotide Triphosphates merupakan suatu nukleotida
bebas yang berperan penting
dalam perpanjangan primer melalui
pembentukan pasangan basa dengan nukleotida dari DNA target.
2.6.2 Tahapan PCR
Ada tiga tahap pengulangan yang penting dalam proses PCR yaitu :
1. Denaturasi
Pada tahap ini molekul DNA dipanaskan sampai suhu 94OC yang
menyebabkan terjadinya pemisahan untai ganda menjadi untai DNA
tunggal. Untai DNA tunggal inilah yang menjadi cetakan bagi untai DNA
baru yang akan dibuat.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
16
Gambar 2.6. Untai DNA mengalami denaturasi (Agung, 2010)
2. Penempelan (Annealing)
Enzim Tag polimerase dapat memulai pembentukan suatu untai DNA
baru jika ada seuntai DNA berukuran pendek (DNA yang mempunyai
panjang sekitar 10 sampai 30 pasang basa) yang menempel pada untai
DNA target yang telah terpisah. DNA yang pendek ini disebut primer.
Agar suatu primer dapat menempel dengan tepat pada target, diperlukan
sushu yang rendah sekitar 55OC selama 30-60 detik.
Gambar 2.7. Penempelan primer dengan untai DNA yang telah
terdenaturasi (Agung, 2010)
3. Pemanjangan (Ektension)
Setelah primer menempel pada untai DNA target, enzim DNA
polimerase akan memanjangkan sekaligus membentuk DNA yang baru
dari gabungan antara primer, DNA cetakan dan nukleotida. (Agung,
2010)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
17
Gambar 2.8. Perpanjangan DNA secara Semi-konservatif (Agung, 2010)
Ketika tiga tahap diatas dilakukan pengulangan, maka untai DNA yang
baru dibentuk akan kembali mengalami proses denaturasi, penempelan dan
pemanjangan untai DNA menjadi untai DNA baru. Pengulangan proses
PCR
akan
menghasilkan
amplifikasi
DNA
cetakan
baru
secara
eksponensial. (Agung, 2010).
Amplifikasi secara
eksponensial
Gambar 2.9. Proses Amplifikasi DNA Target (Agung, 2010).
2.6.3 Polymerase Chain Reaction Restriction Fragment Lenght Polimorfisme
(PCR-RFLP)
Banyak metode yang dapat digunakan untuk melakukan analisis DNA, salah
satunya yaitu amplifikasi dengan PCR-RFLP. Teknik ini adalah salah satu teknik
penandaan DNA yang didasarkan pada perbedaan sisi pemotongan (situs
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
18
restriksi). Enzim restriksi endonuklease yang dapat mendigesti DNA akan
memotong DNA pada sisi-sisi restriksi tertentu menjadi fragmen-fragmen yang
kemudian dengan analisis elektroforesis gel dapat ditentukan analisis yang
diinginkan sesuai dengan markernya masing-masing (Uswahdani, 2013).
Metode PCR-RFLP yang memanfaatkan amplifikasi dengan primer spesifik
atau universal yang diikuti dengan pemotongan menggunakan enzim restriksi
endonuklease telah banyak digunakan untuk penentuan filogeni tanaman.
Pemanfaatan PCR-RFLP dalam identifikasi dan penentuan filogeni pada tanaman
telah banyak dilakukan, antara lain pada fungi, Phaseolus dan pisang (Ekasari,
2011).
Tabel 2. Kelebihan dan Kelemahan Restriction Fragment Lenght
Polimorfisme (RFLP)
Kelebihan
Bersifat
2.7
Kelemahan
kodominan
sehingga
Menyita
banyak
tenaga
dan
sangat baik untuk komparatif
waktu, kuantitas dan kualitas
pemetaan genom. Polymorphisme
DNA yang diperlukan sangat
akan
perbedaan
tinggi,
prosedur
hibridisasinya
ukuran fragmen yang terpotong,
rumit,
sehingga
menyulitkan
sehingga setiap siklus restriksi
otomatisasi,
dapat dipetakan, dapat diturunkan
pustaka
probe
dari nuclear genom, kloroplas
spesies
tanaman
genom, dan mitokondria genom
pernah dieksplorasi sebelumnya
(Nurlaily, 2012).
(Nurlaily, 2012).
menghasilkan
dan
memerlukan
untuk
yang
spesiesbelum
Real Time PCR
Real time polymerase chain reaction (RT-PCR) adalah salah satu teknik
yang paling banyak digunakan dalam biologi molekuler. Real time PCR memiliki
berbagai keunggulan. Selain amplifikasi atau perbanyakan DNA fragmen dapat
diamati secara cepat, teknik ini juga dapat menentukan konsentrasi DNA yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
19
terdapat pada sampel. Maka teknik ini disebut quantitative PCR (qPCR) (Sriati,
2011).
Instrumen
real time PCR mendeteksi amplikon dengan mengukur
peningkatan pewarna (dye) fluorescent yang berpendar ketika terikat dengan
double-stranded DNA. Karena sifat inilah maka pertumbuhan fragment DNA
hasil amplifikasi dapat diikuti secara seketika, semakin banyak DNA yang
terbentuk
semakin tinggi pula intensitas
fluorescent
yang
dihasilkan.
Quantitative PCR dimunginkan dapat mendeteksi secara akurat konsentrasi DNA
hingga hitungan pikogram atau setara dengan sel tunggal karena sensitifitas dye
yang sangat tinggi. Hasil peningkatan fluorescent digambarkan melalui kurva
amplifikasi yang menunjukkan tiga fasa yaitu fasa awal, fasa eksponensial atau
puncak dan fasa plateau atau stabil (Pratami, 2011)
Gambar 2.10. Bentuk Kurva pada Real Time PCR (Pratami, 2011)
Gambar 2.10. Bentuk Kurva pada Real Time PCR (Pratami, 2010).
Instrument real time PCR memiliki tiga komponen utama yaitu thermal
block cycler sebagai akurasi data, optical system sebagai deteksi data, dan sofware
sebagai analisa data. Real time PCR juga dapat menganalisa banyak sampel dalam
waktu bersama menggunakan multiwell plates (Pratami, 2011).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
20
Tabel 3. Kelebihan dan kelemahan Real Time PCR
Kelebihan
Kelemahan
pada real time PCR jumlah DNA
Real
yang diamplifikasi bisa langsung
mempunyai kelemahan yaitu
diamati secara real time sehingga
memerlukan peralatan dan
tidak memerlukan analisis dengan
reagen
elektroforesis gel untuk mengetahui
pemahaman
produk PCR. Real time PCR lebih
benar untuk hasil yang akurat
dikenal sebagai quantitative PCR
(Ayu, et al. 2014).
karena
kemampuan
time
PCR
yang mahal
teknik
juga
serta
yang
analisanya
yang akurat, sensitif dan spesifik
sehingga
mengurangi
kesalahan
pada hasil (Pratami, 2012).
2.7.1 Analisis Menggunakan Metode Hydrolysis Probe
Instrumen real time PCR menggunakan pewarna fluoresensi secara
langsung dan real time, baik untuk memonitor hasil dari produk PCR selama
siklus berlangsung maupun setelah siklus pada proses melting hasil produk PCR
untuk menganalisis melting curve.
Ada beberapa analisis pewarnaan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Uji Deteksi Sequence Independent
Mengandalkan
fluorophores yang mengikat semua DNA molekul
untai ganda (dsDNA) terlepas dari urutan basanya : misalnya SYBR
Green I.
2. Uji Sequence-Specific Probe Binding
Mengandalkan fluorophores yang berpasangan ke probe oligo
nukleotida dengan Sequence-Specific yang berhibridisasi dengan
urutan komplementernya dalam target produk PCR yaitu Metode
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
21
Simpel Probe, Hybridization
Probe (Hyb Probe) dan Hydrolysis
Probe.
Probe dilabelin oleh dua molekul, yaitu reporter pada ujung 5‟ probe yang
merupakan pewarna fluoresensi dan quencher pada ujung 3‟ probe yang
merupakan molekul penerima sinyal fluoresensi. Hydrolysis probe memiliki
prinsip kerja, yaitu saat probe belum berkomplemen dengan target, molekul
reporter akan mengeksitasikan sinyal fluoresensi ke molekul quencher. Karena
jarak antara kedua molekul berdekatan. Probe akan berkomplemen dengan DNA
target saat mencapai suhu annealing lalu mekanisme eksitasi sinyal fluoresensi
dari reporter ke quencher terhenti karena jarak kedua molekul berjauhan. DNA
polimerase akan mengelongasi DNA target sampai DNA polimerase dan probe
berdekatan maka 5‟ nuklease yang terdapat pada DNA polimerase akan
menghidrolisis molekul reporter sehingga emisi sinyal fluoresensi dapat
tertangkap oleh detektor pada real time PCR (Rasyid, 2015).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
22
Tabel 3. Tahapan Proses Fluoresensi Hydrolysis Probe
No Gambar
Keterangan
1
Hydrolysis
probe
membawa
dua
fluorescent dye berdekatan dengan
quencher
dye
menekan
sinyal
fluorescent reporter. Ujung 3‟ dari
probe terfosforilasi sehingga tidak
dapat memanjang selama PCR.
2
Di tahap annealing, primer dan probe
sama-sama menempel ke urutan basa
pada target spesifik
3
Ketika
DNA
polimerase
memanjangkan primer dan bertemu
dengan probe. Kemudian memecah
probe
pada
ujung
5‟
sehingga
menggantikan posisinya dan terus
memanjang
sampai
membentuk
amplikon baru.
4
Saat probe terpecah, reporter tidak
lagi
berdekatan dengan
quencher
sehingga dapat mengemisikan cahaya
fluorescent yang dibaca oleh detektor.
Semakin
tinggi
fluoresensi
yang
reporter
secara
dipancarkan
dari
langsung
berkolerasi
dengan
akumulasi pelepasan molekul reporter
dye (sekaligus menandakan jumlah
produk PCR yang dihasilkan)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
23
Hydrolysis probe biasa digunakan dalam multipleks quantitative real time
PCR yang menggunakan DNA target dan pasangan lebih dari satu dalam satu
reaksi karena probe akan berikatan secara spesifik dengan beberapa DNA target
yang berbeda. Metode hydrolysis probe memiliki keunggulan dibandingkan
dengan SYBR Green karena dapat mengamplifikasi DNA lebih spesifik (Izzah,
2014).
Pewarna fluorescent yang digunakan dalam hydrolysis probe bermacam
ragamnya yang disesuaikan dengan penggunaannya. Metode hydrolysis probe
dapat digunakan secara terpisah atau dengan kombinasi pewarna. Dalam
penggunaannya dengan format deteksi monocolor biasa digunakan reporter FAM
dengan nilai eksitasi dan emisis berturut-turut 483 dan 533, pewarna lainnya yang
tersedia untuk deteksi multicolor antara lain Cyan 500, Hex, Red 610 dan Cy 5
dengan nilai eksitasi dan emisi dalam keadaan normal berturut turut 450 dan 500,
523 dan 568, dan 558 dan 610 serta 615 dan 670. Sebagai quencher terutama
untuk deteksi multicolor digunakan quencher dye gelap, direkomendasikan
menggunakan BHQ1 atau DABCYL (Rasyid, 2015).
2.8
Daging Sosis
Kata sosis berasal dari bahasa latin “salsus” yang berarti garam. Sosis
merupakan salah satu produk daging olahan atau giling yang diberi bumbu dan
dimasukkan ke dalam selongsongan atau casing menjadi bentuk silindris. Casing
yang digunakan dapat berupa usus hewan atau bahan sintesis. Dalam adonan sosis
biasanya ada tambahan tepung, susu skim, lemak, es atau air dan protein nabati
(Irawati, 2001).
Sosis adalah daging giling yang diberi bumbu dan juga mengalami proses
curing, pemanasan dan pengasapan. Curing adalah proses pengolahan daging
dengan menambahkan garam NaCl, natrium nitrit atau natrium nitrat dan bumbubumbu. Bumbu-bumbu yang biasa digunakana seperti pala, bunga pala, lada,
kapulaga, cengkeh, ketumbar, paprika, jahe dan bawang putih. Penambahan nitrit
pada proses curing berguna sebagai bahan pembangkit warna khas curing (merah
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
24
cerah dan stabil) dan memberi cita rasa yang khas. Fosfat juga sering ditambahkan
untuk menurunkan pH dan memperbaiki warna (Irawati, 2001).
Klasifikasi sosis ada empat jenis yaitu sosis segar, sosis kering, sosis
setengsh kering dan sosis fermentasi kering dan setengah kering, sosis rebus asap
dan tanpa asap. Kategori sosis menurut USDA (United State Department of
Agriculture) dibagi menjadi lima yaitu sosis segar, sosis mentah diasap, sosis
matang, sosis kering dan semi kering serta sosis spesialitas daging masak. Sosis
segar terbuat dari 50% atau lebih daging segar. Daging yang dipakai biasanya
berasal dari daging sapi, unggas dan babi. Pembuatan sosis segar ini tidak melalui
proses curing, pengasapan atau pemanasan, sehingga sosis yang dihasilkan harus
dimasak sebelum dikonsumsi. Sosis kering dan semi kering berbeda pada kadar
air yang terkandung dalam produk akhir. Biasanya kadar air sosis semi kering
sekitar 70-80% dari berat awal, sedangkan kadar air sosis kering antara 60-70%
dari berat awal (Irawati, 2001).
Sosis asap adalah sosis yang mengalami pengasapan dalam rumah asap
(smooked house) untuk menghasilkan citarasa yang khas (Pearson dan Tauber,
1984). Tahap-tahap pembuatan sosis meliputi grinding (penggilingan), mixing
(pencampuran), chopping (penghalusan dan pencampuran semua bahan-bahan),
emulsifying (pengemulsian), stuffing (pengisian), linking dan tying (pengikatan),
smooking dan cooking (pengasapan dan pemasakan) kecuali untuk sosis segar,
chilling (pendinginan) dan pengepakan (Irawati, 2001).
Sosis adalah makanan yang dibuat dari daging yang telah di cincang
kemudian dihaluskan dan diberi bumbu-bumbu, dimasukkan ke dalam
pembungkus yang berupa usus hewan atau pembungkus buatan, dengan atau tidak
dimasak. Menurut SNI 01-3020-1995 sosis adalah produk makanan yang
diperoleh dari campuran daging halus (mengandung daging tidak kurang dari
75%) dengan tepung atau pati dengan atau tanpa penambahan bumbu-bumbu dan
bahan tambahan makanan lain yang diizinkan dan dimasukkan ke dalam
selongsong sosis (Sriati, 2011).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Tempat dan Waktu Penelitian
3.1.1 Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Analisa Obat dan Pangan Halal
dan Laboratorium Penelitian II Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.1.2 Waktu
Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan dari bulan Agustus 2016 hingga
September 2016.
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Real Time PCR (LightCycler® 480-Roche), Wizard® Genomic DNA
Purification Kit (Promega), Multiwell Plate 96 (Roche®), tabung mikrosentrifuge
volume 1,5 (Biogenix), Mikropipet 0,5-10 µl (Biorad), Mikropipet 20-200 µl
(Biorad), Mikropipet 100-1000 µl (Biorad), Mikrotip volume 10 µl, 200 µl, dan
1000 µl (Genfollower), Sentrifugator (5417R-Eppendrof), Vortex, Digital
Waterbath (SB-100 Eyela), Freezer, Autoklaf, Spektrofotometer UV DNA
(DeNovix®), Timbangan Analitik, Spatula, Batang pengaduk, Gelas beaker,
Kertas perkamen, Kaca arloji, Pipet tetes, Lumpang dan Alu.
3.2.2 Bahan
Daging sapi segar, daging babi segar, 6 produk sosis sapi yang beredar di
Pasar Parung, satu set kit komersial Wizard® Genomic DNA Purification Kit,
(meliputi: Nuclei Lysis Solution, Protein Precipitation Solution, DNA
Rehydration Solution, RNase Solution), LC TaqMan Probe Master (terdiri dari:
Fast Start Taq DNA Polymerase, dNTP mix, MgCl2 6,4 mM), Isopropanolol
absolut, NaOH, NaCl, Etanol 70%, Aquabidest, Primer-Probe (Tabel 3.1).
25
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
26
Tabel 3.1. Susunan Basa Primer dan Universal Probe Library untuk DNA
Sapi dan Babi (Roche®) dengan Modifikasi
Spesies
Primer
Sequencing
Babi (Sus scrofa)
Forward
5'- TGGGGTGTTTAGTGGGTTTG -3‟
Reverse
5'- TCCTTGTACTATTCTCACCAGACCT -3„
UPL
5'- (FAM)GACCCAGA -3'
Forward
5'- TGAGGGGGTGTGTTGAGTG -3„
Reverse
5'- TACTATTCGCACCCGACCTC -3„
UPL
5'- (FAM)GACCCAGA -3'
Sapi (Bos taurus)
2.7
Tahapan Penelitian
1. Pengumpulan sampel
2. Isolasi DNA
3. Analisis DNA Hasil Isolasi dengan Spektrofotometri UV
4. Amplifikasi DNA Menggunakan Metode Real Time PCR
2.8
Prosedur Kerja
2.8.3 Pengumpulan sampel
Sampel sosis sapi dikumpulkan dari semua merek yang beredar di Pasar
Parung dengan jumlah sampel sebanyak 6 merek sosis sapi dari produsen yang
berbeda.
3.4.2 Isolasi DNA
Proses isolasi DNA dilakukan dengan menggunakan Wizard® Genomic DNA
Purification Kit (Promega).
1. Preparasi Jaringan Hewan
Sebanyak 20 mg dari masing-masing daging sapi segar, daging babi
segar, dan sampel sosis sapi dihancurkan sampai halus menggunakan
pisau steril, lumpang alu dan blender. Masing-masing daging dan sampel
dimasukkan ke dalam mikrosentrifuge tube 1,5 ml lalu ditambahkan 600
μl
nuclei
lysis
solution.
Masing-masing
campuran
tersebut
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
27
dihomogenkan selama 10 detik kemudian diinkubasi pada suhu 650C
selama 30 menit.
2. Pelisisaan Sel dan Presipitasi Protein
Masing-masing campuran yang sudah diinkubasi ditambahkan 3 μl
larutan RNAse lalu diinkubasi kembali pada suhu 370C selama 30 menit.
Selanjutnya ditambahkan 200 μl protein precipitation solution dan
divortex, kemudian didiamkan dalam ice selam 5 menit lalu disentrifus
dengan kecepatan 16.000 rpm selama 4 menit.
3. Presipitasi dan Rehidrasi DNA
Endapan dan supernatan yang terbentuk dipisahkan lalu ditambahkan 600
μl isopropanol kedalam supernatan tersebut. Campuran dikocok dan
disentrifus dengan kecepatan 16.000 rpm selama 1 menit. Supernatan
yang terbentuk dibuang lalu ditambahkan 600 μl etanol 70%. Campuran
dikocok dan disentrifus kembali dengan kecepatan 16.000 rpm selama 1
menit. Endapan yang terbentuk dipisahkan dengan etanol lalu endapan di
hairdry selama 15 menit. Kemudian ditambahkan 100 μl rehidration
DNA solution dan didiamkan selama 1 jam pada suhu 650C atau selama
semalam pada suhu 40C.
3.4.3 Analisis DNA Hasil Isolasi dengan Spektrofotometri UV
DNA yang sudah diisolasi dianalisis menggunakan Spektrofotometri UV
DNA (DeNovix®). Proses analisis dilakukan dengan cara pada layar
Spektrofotometri UV DNA (DeNovix®) dipilih Nucleic Acid. Kemudian Sample
port dibersikan menggunkan tisu steril. Siapkan DNA Rehidration Solution yang
digunakan sebagai blanko sebanyak 1 μl lalu ditaruh di atas Sample port dan
dianalisis. Sample port dibersihkan kembali menggunakan tisu steril. Identitas
sampel dimasukkan pada kolom Sampel ID dan sebanyak 1 μl DNA sampel
tersebut ditaruh di atas Sample port. Analisis dilakukan untuk mengukur
kemurnian dan kuantitas DNA dengan menekan tombol “Measure”. DNA
dianalisis pada panjang gelombang 260 nm dan 280 nm. Tunggu beberapa detik
akan muncul data kemurnian dan kuantitas DNA.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
28
3.4.4 Amplifikasi DNA dengan metode Real Time PCR
a. Pembuatan Primer 50 μM Dari Larutan Induk 100 μM
Sebanyak 50 μl larutan induk primer 100 μM dimasukkan kedalam
mikrosentrifuge tube volume 1,5 ml. Kemudian ditambahkan 50 μl
aquadest kedalam masing-masing tube tersebut. Larutan tersebut
dihomogenkan dengan menaik turunkan pegas pada mikroppipet.
b. Pembuatan Primer 5 μM Dari Seri Larutan Induk 50 μM
Sebanyak 3 μl larutan induk primer 50 μM dimasukkan kedalam
mikrosentrifuge tube volume 1,5 ml. Kemudian ditambahkan 27 μl
aquadest kedalam masing-masing tube tersebut. Larutan tersebut
dihomogenkan dengan menaik turunkan pegas pada mikroppipet.
c. Pembuatan Mastermix Real Time PCR
Master mix dibuat dengan volume total 20 μl yang terdiri dari 5 μl DNA
template; 3,8 μl Aquabidest; 0,4 μl primer forward 5 μM; 0,4 μl primer
reverse 5 μM; 0,4 μl UPL 10 μM; dan 10 μl LightCycler® 480 probe
master (enzim Taq DNA Polymerase, dNTP mix, dan 6,4 mM MgCl2).
d. Loading Sampel dan Taqman Probe Mastermix kedalam Multiwell Plate
(Roched, 2008)
Campuran reaksi dimasukkan ke dalam multiwell plate pada well yang
diinginkan. Kemudian dihomogenkan dengan menaik turunkan pegas
secara perlahan dan ditutup dengan sealing foil. Dilakukan proses
pengaturan program LightCycler® 480 real time PCR yang akan
digunakan untuk proses amplifikasi. Setelah campuran reaksi total PCR
dan program amplifikasi telah siap, campuran reaksi total PCR
diletakkan pada multiwell plate yang ditutup menggunakan sealing foil,
kemudian diletakkan pada mesin real time PCR. Instrumen real time
PCR akan mengamplifikasi DNA secara otomatis dan langsung
memberikan hasil amplifikasi melalui monitor dalam bentuk kurva.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini dilakukan analisis cemaran daging babi pada produk
sosis sapi yang beredar di Pasar Parung menggunakan metode Real Time
Polymerase Chain Reaction. Pemilihan alat real time dikarenakan pada real time
PCR jumlah DNA yang diamplifikasi bisa langsung diamati secara real time
sehingga tidak memerlukan analisis dengan elektroforesis gel untuk mengetahui
produk PCR. Real time PCR lebih dikenal sebagai quantitative PCR karena
kemampuan analisanya yang akurat, sensitif dan spesifik sehingga mengurangi
kesalahan pada hasil. Selain amplifikasi atau perbanyakan DNA fragmen dapat
diamati secara cepat, teknik ini juga dapat menentukan konsentrasi DNA yang
terdapat pada sampel. Cytochrome b adalah salah satu bagian dari sitokrom yang
terlibat dalam transportasi elektron dalam mitokondria. Cyt b berisi delapan
transmembran heliks yang dihubungkan oleh intramembran atau domain
ekstramembran. Gen cyt b dikodekan oleh DNA mitokondria. Adanya variasi
urutan pada cyt b menyebabkan gen ini banyak digunakan untuk membandingkan
spesies dalam genus atau famili yang sama. Keunikan sekuen cyt b yaitu terdapat
bagian yang bersifat kekal (conserve sequence) di dalam tingkat spesies, sehingga
dapat digunakan untuk pengelompokan berdasarkan jenis hewan atau untuk
penentuan hubungan kekerabatan antar jenis hewan. Sekuen gen cyt b yang
berasal dari sapi (Bos taurus) dan babi (Sus scrofa) mempunyai panjang sekuen
1140 pb (Primasari, 2011). Analisis dilakukan melalui beberapa tahap yaitu isolasi
DNA, pengukuran kemurnian dan kuantifikasi DNA hasil isolasi, amplifikasi
DNA dan analisis DNA hasil amplifikasi.
29
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
30
4.1. Hasil Analisis DNA dengan Spektrofotometri UV
Tabel 4.1 Konsentrasi dan Kemurnian Isolat DNA
No Sampel
Konsentrasi (ng/µl)
Kemurnian (A260/A280)
1.
Daging Babi
127.419
1.84
2.
Daging Sapi
84.086
1.89
3.
Sampel 1
146.477
1.87
4.
Sampel 2
164.050
1.69
5.
Sampel 3
145.785
1.90
6.
Sampel 4
48.115
1.87
7.
Sampel 5
73.760
1.82
8.
Sampel 6
90.532
1.90
Isolasi DNA dilakukan terhadap daging sapi, daging babi, dan 6 sampel
sosis sapi yang beredar di Pasar Parung. Metode isolasi DNA dilakukan dengan
menggunakan Wizard Genomic DNA Purification Kit Promega. Prinsip kerja
isolasi DNA menggunakan Wizard Genomic DNA Purification Kit yaitu lisis,
ekstraksi, homogenisasi, presipitasi protein, dan rehidrasi DNA. Bahan-bahan
yang digunakan pada proses isolasi DNA pada daging sampel adalah nuclei lysis
solution, RNAse, protein precipitation solution, isopropanol, etanol 70%, dan
DNA rehydration solution (Promega, 2012). nuclei lysis solution untuk
penghancur dinding sel maupun membran sel. Reagen yang digunakan pada
proses lisis adalah NLS. Penambahan NLS merupakan cara kimia yang berfungsi
untuk menghancurkan membran sel dan nukleus. NLS menghancurkan membran
sel dengan cara mengganggu ikatan kimia pada membran tersebut. Ekstraksi
bertujuan untuk menghancurkan sel sehingga materi yang ada didalam sel dapat
keluar. Homogenisasi bertujuan untuk mencampurkan zat. Homogenisasi biasanya
dilakukan pada setiap penambahan suatu zat. Presipitasi atau pengendapan
bertujuan untuk memisahkan supernatan dengan endapan. Reagen yang digunakan
pada proses presipitasi adalah protein precipitation solution. PPS tersusun atas
garam penyangga (salt buffer) sehingga reagen ini dapat menurunkan kelarutan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
31
protein sehingga protein dapat mengendap. DNA yang telah dibersihkan dari
protein masih tercampur dengan RNA sehingga perlu ditambahkan RNAse untuk
membersihkan DNA dari RNA. RNAse merupakan enzim yang berfungsi untuk
mendegradasi RNA. Hal tersebut dapat memudahkan proses isolasi karena RNAse
akan merusak RNA sedangkan DNA tidak. Molekul DNA yang telah diisolasi
kemudian dimurnikan dengan cara presipitasi etanol. Dengan adanya larutan
garam (kation monovalen seperti Na+ pada suhu -200C etanol absolut dapat
mengendapkan DNA dengan baik sehingga mudah dipisahkan dengan cara
sentrifugasi. Rehidrasi DNA merupakan tekhnik pemurnian DNA dengan cara
mengeringkan atau menguapkan (Radji, 2011).
Isolat DNA yang dihasilkan dari tahapan kerja di atas, didapatkan
konsentrasi dan kemurniannya dengan menggunakan spektrofotometri DNA
(DeNovix).
Hasil
isolasi
diukur
konsentrasinya
dengan
menggunakan
spektrofotometer Denovix pada panjang gelombang 260 nm dan 280 nm.
Pengukuran kuantitas (konsentrasi) dan kualitas (kemurnian) didasarkan pada
prinsip penyinaran sinar ultra violet yang diserap oleh nukleotida dan protein
dalam larutan (Muladno, 2010). Konsentrasi yang dihasilkan dari masing-masing
sampel bervariasi antara 48,115 ng/µl-164,050 ng/µl (Lampiran 1). Berdasarkan
hasil isolasi dan konsentrasi DNA (Lampiran 1), sampel nomer 2 memiliki
konsentrasi paling besar yaitu 164,050 ng/µl. Sampel nomer 4 dengan konsentrasi
terendah yaitu 48.115 ng/µl. Dengan demikian, konsentrasi DNA yang didapatkan
dari tiap sampel masih dapat dilanjutkan ke tahap amplifikasi DNA menggunakan
real time PCR karena batas konsentrasi minimal untuk melanjutkan real time PCR
adalah 0,03-0,80 pg (Andreo et al, 2005).
Perbandingan antara panjang gelombang 260 nm dan 280 nm merupakan
nilai kemurnian DNA. Pita ganda DNA dapat menyerap cahaya UV pada panjang
gelombang 260 nm, sedang protein akan menyerap cahaya UV pada panjang
gelombang 280 nm. Sehingga kemurnian DNA dapat diukur dengan menghitung
nilai absorbansi 260 nm dibagi dengan nilai absorbansi 280 nm (A260/A280), dan
nilai kemurnian DNA berkisar antara 1,8-2,0 (Stephenso, 2003; Muladno, 2010;
Sambrook, et al, 1989; Fatchiyah, 2010). Nilai kemurnian yang dihasilkan dari
genom yang diperoleh memiliki nilai antara 1,69-1,90 (Lampiran 1). Sampel yang
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
32
memiliki nilai kemurnian dibawah 1,8 sebanyak satu sampel yang menunjukkan
adanya kontaminasi protein. Sedangkan sampel yang memiliki nilai kemurnian
diatas 2,0 tidak menunjukkan adanya kontaminasi RNA.
Setelah proses isolasi DNA, sampel di amplifikasi menggunakan real time
PCR primer dan UPL yang spesifik (Roche, 2008) dianalisis secara in silico
dengan BLAST berdasarkan informasi database NCBI melalui internet. Selain
BLAST, primer dan UPL diuji spesifikasinya dengan cara kedua primer dan UPL
digunakan untuk mengamplifikasi daging sapi segar dan daging babi segar
(gambar 4.1 dan gambar 4.3).
Campuran reaksi total PCR (Lampiran 4) dibuat dalam volume 20 µL
dengan konsentrasi tiap primer forward dan reverse 20 µM dan untuk konsentrasi
UPL/probe. Konsentrasi primer dibuat dari larutan induk 100 µM. Konsentrasi
primer untuk PCR sebaiknya berkisar antara 0,3-1 μM dan untuk konsentrasi
hydrolysis probe berkisar antara 0,05-0,2 μM (Roche, 2008). Konsentrasi primer
yang optimal adalah konsentrasi terendah yang dapat menghasilkan nilai CP awal
dan kurva fluoresen yang baik, begitu juga dengan probe (Roche, 2008).
4.2
Uji Cemaran DNA Babi pada Sampel Sosis Sapi
Amplifikasi DNA daging sapi, daging babi dan 6 sampel sosis sapi yang
beredar di Pasar Parung dilakukan dengan menggunakan dua primer yaitu primer
sapi dan primer babi. Penggunaan primer sapi bertujuan untuk memastikan bahwa
sampel sosis yang berlogo sapi mengandung daging sapi. Sedangkan primer babi
digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan babi didalam sampel
sosis sapi.
Konsentrasi primer pada PCR yang dianjurkan berkisar antara 0,1-0,5 µM.
Konsentrasi primer yang tinggi (≥0,5 µM) dapat meningkatkan kesalah
penempelan primer pada DNA cetakan, sehingga menyebabkan penumpukan
primer yang tidak spesifik. Namun, penggunaan konsentrasi primer yang terlalu
rendah akan memberikan hasil amplifikasi yang tidak jelas (Bintang, 2010).
Proses amplifikasi pada PCR biasanya 35-40 siklus (Muladno, 2010),
namun pada penelitian ini hanya menggunakan 30 siklus. Hal ini dikarenakan
sebelum mencapai siklus ke 30 sudah terjadi amplifikasi pada sekuen DNA.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
33
Program amplifikasi yang digunakan pada real time PCR dipilih berdasarkan
penanda yang digunakan. Penelitian ini menggunakan UPL sebagai penanda pada
reaksi real time PCR sehingga program yang digunakan dapat dilihat pada tabel
4.2 dibawah ini:
Tabel 4.2 Program Dual Color Hydrolysis Probe – UPL Probe 96-II
Analisis kurva amplifikasi dilihat dari kenaikan kurva dan nilai CP
(Crossing Point) pada kurva amplifikasi. Spesifisitas hasil amplifikasi dapat
dilihat melalui nilai TM (Melting Temperature) pada melting curve. CP adalah
jumlah siklus dimana sampel mulai terbaca diatas Arbitrary Fluorescence Level
(AFL) yang menunjukkan awal mulainya fase pertumbuhan eksponensial (Roche,
2008). Semakin rendah nilai CP maka semakin tinggi konsentrasi DNA target. Tm
adalah suhu dimana 50% bagian dari DNA telah terbuka menjadi untai tunggal.
Nilai Tm tergantung dari jumlah basa A, G, T dan C. Primer yang spesifik akan
menghasilkan satu puncak Tm pada DNA target (Izzah, 2014).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
34
4.2.1 Hasil Amplifikasi DNA Daging Sapi, Daging Babi dan NTC
Menggunakan Primer Sapi
Gambar 4.1. Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil Amplifikasi
Menggunakan Primer Spesifik Sapi.
*Keterangan: NTC (No Template Control)
Gambar 4.1. Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil Amplifikasi
Menggunakan Primer Spesifik Sapi.
*Keterangan: NTC (No Template Control
Analisa menggunakan real time PCR memungkinkan untuk dilakukan
pengamatan pada saat reaksi berlangsung, keberadaan DNA hasil amplifikasi
dapat diamati pada grafik yang muncul sebagai hasil akumulasi fluoresensi dari
probe (penanda). Saat probe terpecah, reporter tidak lagi berdekatan dengan
quencher sehingga dapat mengemisikan cahaya fluorescent yang dibaca oleh
detektor. Semakin tinggi fluorescent yang dipancarkan dari reporter secara
langsung berkolerasi dengan akumulasi pelepasan molekul reporter (sekaligus
menandakan jumlah produk PCR yang dihasilkan). Apabila dilihat pada grafik
amplifikasi positif kontrol (kurva standar) ditandai dengan adanya akumulasi pada
signal fluorescent dan melintasi base line threshold. Sedangkan kontrol negatif
dan NTC tidak melintasi base line threshold sehingga menunjukkan hasil negatif.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
35
Amplifikasi yang pertama dilakukan menggunakan primer sapi. daging sapi
sebagai kontrol positif, daging babi sebagai kontrol negatif dan NTC sebagai
blanko. Amplifikasi terhadap kontrol dilakukan untuk mengetahui primer sapi
yang digunakan spesifik atau tidak terhadap daging sapi. Kurva amplifikasi
terhadap kontrol menggunakan primer sapi dapat dilihat pada gambar 4.1.
Hasil
uji
terlihat
pada gambar
4.1
dimana primer sapi
hanya
mengamplifikasi daging sapi segar pada CP 11,31 sedangkan pada daging babi
dan NTC tidak menghasilkan nilai CP. Nilai CP yang dihasilkan oleh daging sapi
menunjukkan telah terjadinya proses amplifikasi, sedangkan pada daging babi dan
NTC tidak terjadi proses amplifikasi. Hal ini menunjukan bahwa primer sapi
dapat mengamplifikasi DNA daging sapi secara spesifik. Hasil amplifikasi yang
spesifik dikarenakan tidak terjadi mis-priming ataupun primer dimer. Primer
dimer adalah terbentuknya struktur sekunder karena menempelnya sesama primer
sejenis ataupun primer yang tidak sejenis yaitu antara primer forward dengan
komplemen primer reverse (Widowati, 2013). Sedangkan mis-priming adalah
penempelan primer diluar sekuen DNA target (Izzah, 2014). Berdasarkan hasil
amplifikasi diatas, maka primer sapi dapat digunakan untuk tahap selanjutnya
yaitu untuk menganalisa kandungan sosis sapi yang digunakan sebagai sampel.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
36
4.2.2 Hasil Amplifikasi DNA Daging Sapi, Sampel Sosis Sapi, dan NTC
Menggunakan Primer Sapi
Gambar 4.2. Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil Amplifikasi
Sampel Menggunakan Primer Spesifik Sapi.
*Keterangan: 1 (Sampel 1), 2 (Sampel 2),3 (Sampel 3),4 (Sampel 4), 5 (Sampel 5), 6
(Sampel 6), NTC (No Template Control).
Amplifikasi kedua yang dilakukan menggunakan primer sapi sebagai
kontrol positif, sosis sapi sebagai sampel, dan NTC sebagai blanko. Amplifikasi
terhadap sampel menggunakan primer sapi dilakukan untuk memastikan bahwa
sosis sapi yang digunakan sebagai sampel mengandung daging sapi. Kurva
amplifikasi terhadap kontrol positif, sampel dan NTC menggunakan primer sapi
dapat dilihat pada gambar 4.2.
Seluruh sampel diuji menggunakan primer sapi dan UPL sebagai penanda
pada reaksi real time PCR. Hasil amplifikasi menggunakan primer sapi dapat
dilihat pada gambar 4.2 terlihat adanya perbedaan kenaikan kurva dan CP pada
tiap sampel. Kontrol positif memberikan CP lebih awal yaitu pada 11,15
meskipun dalam data konsentrasi DNA daging sapi segar hanya 84,086 ng/µL.
Dan sampel nomor 1 memiliki konsentrasi paling besar kedua yaitu 146.477
ng/µL memberikan CP lebih awal pada 16,78 sedangkan sampel nomor 3
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
37
memiliki konsentrasi paling tinggi kedua yaitu 145.785 ng/µL tetapi memberikan
CP paling lama yaitu pada 27,12. Perbedaan kenaikan kurva pada tiap sampel
dipengaruhi oleh konsentrasi DNA dalam sampel (Roche, 2008). Sampel dengan
konsentrasi DNA paling tinggi membutuhkan siklus amplifikasi lebih sedikit
untuk mencapai CP. Begitu juga dengan konsentrasi DNA yang rendah
membutuhkan siklus amplifikasi lebih panjang untuk mencapai CP. Namun
kenyataannya, konsentrasi DNA sampel yang besar membutuhkan siklus
amplifikasi lebih panjang dengan memberikan nilai CP yang besar. Hal ini
disebabkan hasil isolasi DNA sampel yang didapat bukan hanya pada DNA yang
spesifik terhadap desain primer dan probe.
DNA organisme eukariotik terdapat di dalam inti sel yang terbentuk sebagai
kromosom (Stansfield et al, 2006) dan di dalam mitokondria atau yang biasa
disebut mtDNA. Desain primer dan UPL yang digunakan dalam penelitian ini
hanya spesifik pada daerah mitokondria sitokrom b (Tanabe et al, 2007).
Meskipun dengan konsentrasi DNA yang besar namun jika tidak mengandung
sekuen DNA mitokondia sitokrom b, maka tidak akan terjadi amplifikasi.
Pemilihan DNA mitokondria sebagai desain primer karena DNA mitokondria
terdapat dalam jumlah kopi yang tinggi. Jumlah kopi yang tinggi ini
menjadikannya mudah diisolasi dan dipurifikasi untuk berbagai keperluan analisis
genom. Kemudian ukuran DNA mitokondria yang relatif kecil (14-39 kb)
sehingga dapat dipelajari sebagai satu kesatuan yang utuh (Sholihin, 1994).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
38
4.2.3 Hasil Amplifikasi DNA Daging Sapi, Daging Babi, dan NTC
Menggunakan Primer Babi
Gambar 4.3 Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil
Amplifikasi Menggunakan Primer Spesifik Babi.
*Keterangan: NTC (No Template Control
Amplifikasi yang pertama dilakukan menggunakan primer babi. Daging
babi sebagai kontrol positif, daging sapi sebagai kontrol negatif dan NTC sebagai
blanko. Amplifikasi terhadap kontrol dilakukan untuk mengetahui primer babi
yang digunakan spesifik atau tidak terhadap daging babi. Kurva amplifikasi
terhadap kontrol menggunakan primer babi dapat dilihat pada gambar 4.3.
Hasil uji terlihat pada gambar 4.3 dimana primer babi hanya
mengamplifikasi daging babi segar pada CP 16,31 sedangkan pada daging babi
dan NTC tidak menghasilkan nilai CP. Nilai CP yang dihasilkan oleh daging
babi menunjukkan telah terjadinya proses amplifikasi sedangkan pada daging sapi
dan NTC tidak terjadi proses amplifikasi. Hal ini menunjukan bahwa primer babi
dapat mengamplifikasi DNA daging babi secara spesifik.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
39
4.2.4 Hasil
Amplifikasi
DNA Daging Babi,
Sosis
Sapi,
dan
NTC
Menggunakan Primer Babi
Gambar 4.4. Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil Amplifikasi
Sampel Menggunakan Primer Spesifik Babi
*Keterangan: NTC (No Template Control).
Amplifikasi yang kedua dilakukan menggunakan primer babi sebagai
kontrol positif, sosis sapi sebagai sampel, dan NTC sebagai blanko. Amplifikasi
terhadap sampel sosis sapi menggunakan primer babi dilakukan untuk mengetahui
ada atau tidaknya kandungan daging babi di dalam sampel sosis. Kurva
amplifikasi terhadap kontrol positif, sampel dan NTC menggunakan primer babi
dapat dilihat pada gambar 4.4.
Seluruh sampel diuji menggunakan primer babi dan UPL sebagai penanda
pada reaksi real time PCR. Amplifikasi menggunakan primer babi pada sampel
sosis sapi yaitu 15,29 dengan konsentrasi DNA daging babi sebesar 127.419
ng/µL. Sedangkan NTC dan seluruh sampel hanya memberikan garis lurus. Hal
tersebut menandakan tidak terjadinya amplifikasi primer babi pada DNA sampel.
Terbukti bahwa produk sosis sapi yang diuji masih sesuai dengan bahan asal yang
digunakan tanpa kontaminasi daging babi.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Amplifikasi DNA menggunakan primer spesifik babi dan sapi dapat
dilakukan dengan real time PCR sebanyak 30 siklus dengan kondisi suhu
denaturasi 950C selama 10 detik dan annealing pada suhu 600C selama
30 detik.
2. Kurva amplifikasi real time PCR menggunakan primer spesifik babi
menunjukkan bahwa kontrol positif teramplifikasi dengan nilai CP 19,97
sedangkan kontrol negatif dan enam sampel sosis sapi tidak
teramplifikasi.
3. Kurva amplifikasi DNA menggunakan real time PCR, menunjukkan
bahwa produk sosis sapi yang diuji tidak mengandung daging babi.
5.2
Saran
Perlu dilakukan optimasi dan evaluasi terhadap alat real time PCR dan
mesin isolasi DNA.
40
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
DAFTAR PUSTAKA
Alaraidha, Ibrahim Abdullah. 2008. Improved DNA Extraction Method for
Porcine Contaminants, Detection in Imported Meat to The Saudi Market.
Saudi Arabia : Saudi Journal of Biologic Sciences 15 (2) 225-229 December
2008. htt:www.saudibiosoc.com. diakses pada 23 Maret 2016 pukul 18.17
Ali, M.E., U. Hashim., S.Mustafa., Y.B. Che Man., Th.S.Dhahi., M.Kashif., Md.
Kamal Uddin., S.B.Abd Hamid. 2012. Analysis of pork adulteration in
commercial meatballs targeting porcine-specific mitochondrial cytochrome
b gene by TaqMan probe real-time polymerase chain reaction. Malaysia.
Andreo, Mario Lopez., Laura Lugo., A Garrido-Pertierra., M. Isabel Prieto and A
Puyet. 2005. Identification and quantitation of species in complex DNA
mixtures by real-time polymerase chain reaction. Analytical Biochemistry.
339(1), 73-82Bio-Rad. 2006.
Ayu, D.H., Dharmayanti NLPI. 2014. Perkembangan Teknologi Reverse
Transcriptase-Polymerase Chain Reaction dalam Mengidentifikasi Genom
Avian Influenza dan Newcastle Diseases. Balai Besar Penelitian Veteriner,
Jl. RE Martadinata No. 30, Bogor 16114.
Bio-Rad. 2006. Real Time PCR Application Guide. http://www.bio-rad.com,
diakses pada 22 Februari 2016 pukul 10.11
Bintang, Maria. 2010. Biokimia Tekni Penelitian. Jakarta. Erlangga
Burns, Malcolm J., Gavin J Nixon., Carole A Foy., Neil Harris. 2005.
Standardisation of data from real-time quantitative PCR methodsevaluation of outliers and comparison of calibration curves. BMC
Biotecnology doi.10.1189/1472-6750-5-31
Danuz, Sonia Zulfa Deshi. 2014. Amplifikasi DNA Leptospira dengan
Menggunakan Metode Insulated Isothermal Polymerase Chain Reaction (iiPCR). Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Dono, Nanung Danar S.Pt.,M.P. Skema Manfaat dan Penggunaan Babi. Dosen
Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta dan Sekretaris Eksekutif/Auditor
Halal LPPOM MUI Propinsi DIY. diakses pada 29 Februari 2016 pukul
09.19
41
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
42
Fatchiyah. 2010. Uji Kualitatif dan Kuantitatif DNA dan RNA.
http://www.scribd.com/doc/31385295/Uji-Kuantitatif-Dan-KuantitatifDNA-Dan-RNA-2010, diakses pada 25 Desember 2016 pukul 10.00 WIB.
Gaffar, Shabrani, M.Si. 2007. Buku Ajar Bioteknologi Molekul. Bandung :
Universitas Padjajaran.
Handoyo, Darmo., & Rudiretna, Ari. 2001. General Principles
Implementation of Polymerase Chain Reaction. Unitas, 9(1) : 17-29
and
Hidayat, Rian. 2015. Perbandingan Beberapa Metode Isolasi DNA Babi dan DNA
Sapi untuk Deteksi Kehalalan Cangkang Kapsul Keras dari Gelatin
dengan Real Time PCR. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hildaa, Dr. Lelya, M.Si. 2013. Pandangan Sains Terhadap Haramnya Lemak
Babi. TSAIN Padangsidimpuan. diakses pada 20 Januari 2016 pukul 03.28
Hildab, Dr. Lelya, M.Si. 2014. Analisis Kandungan Lemak Babi dalam Produk
Pangan di Padang Sidimpuan secara Kualitatif dengan Menggunakan Gas
Kromatografi (GC). IAIN Padangsidimpuan. diakses pada 20 Januari 2016
pukul 03.30
Irawati, Yiyin. 2001. Pemanfaatan Primer Pengapit Pre-1 (Porcine Repetitive
Element) untuk Mendeteksi Daging Babi pada Beberapa Produk Sosis.
Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Izzah, Nurul Afifah.2014. Perbandingan antara Metode SYBR Green dan Metode
Hydrolysis Probe dalam Analisis DNA Gelatin Sapi dan DNA Gelatin Babi
dengan Menggunakan Real Time PCR. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Kusuma, Sri Agung Fitri,M.Si.Apt. Polymerase Chain Reaction
(PCR).2010.Universitas Padjadjaran Fakultas Farmasi. diakses pada 30
Januari 2016 pukul 13.24
Liyana, Farihah K., Shuhaimi, M., Che Man, Y.B., Sazili A.Q., Aida A.A., Raha
A.R. 2009. Porcine Specific Real time Polymerase Chain Reaction (PCR)
for Halal Verification. Proceedings of the 3rd IMT-GT International
Symposium on Halal Science and Management 2009. Malaysia : UPM
Serdang, Selangor.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
43
Margawati, Endang Tri., Muhamad Ridwan. 2010. Pengujian Pencemarann
Daging Babi Pada Beberapa Produk Bakso Dengan Teknologi PCR:
Pencarian Sistem Pengujian Efektif. Bogor : Pusat Penelitian Bioteknologi,
LIPI.
Muladno, 2010. Teknologi Rekayasa Genetik Edisi Kedua. Bogor : IPB press
Mulyana,Yopi. 2010. Analisis Cemaran Daging Babi pada Kornet Sapi di
Wilayah Ciputat dengan Menggunakan Metode Polymerase Chain Reaction
(PCR). Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nurlaily, Enik Afifah. 2012. Penggunaan Penanda Molekuler untuk Mempercepat
dan Mempermudah Perbaikan Kualitas Tanaman Teh (Camellia Sinensis
(L.) O. Kuntze). Skripsi. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Oebaidillah, Syarief. 2011. 60 % Produk yang Beredar tidak Dijamin Halal
http://bataviase.co.id/node/522354, diakses tanggal 22 Februari 05.54
Pasaribu, Dian Tantri Y. 2009. Pengaruh Taraf Penambahan Tepung Terigu
sebagai Bahan Pengikat Terhadap Kualitas Sosis Daging Ayam. Medan :
Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
Medan 2009. diakses pada 29 Februari 2016 pukul 08.36
Pratami, D.F. 2011. Analisis Cemaran Daging Babi pada Produk Burger Sapi
yang Beredar di Wilayah Ciputat Melalui Amplifikasi DNA Menggunakan
Real Time PCR. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Primasari, Almira. 2011. Sensitivitas Gen Sitokrom B (Cyt b) Sebagai Marka
Spesifik pada Genus Rattus dan Mus untuk Menjamin Keamanan Pangan
Produk Asal Daging. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Promega. 2007. Technical Manual Maxwell® 16 DNA Purification Kits.
http://www.promega.com. diakses pada 26 Maret 2016 pukul 23.58
Radji, Maksum. 2011. Rekayasa Genetika. Jakarta: ISBN : 978-602-8674-40-9
Rahmawati, Putri. 2012. Analisis Cemaran Daging Babi pada Produk Dendeng
Sapi yang Beredar di Wilayah Ciputat dengan Metode Amplifikasi DNA
Menggunakan Real Time PCR. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
44
Rahmawati., Sismindari., Raharjo., T.J., Sudjadi and Rohman,A. 2016.
Analysis of pork contamination in Abon using mitochondrial D-Loop22
primers using real time polymerase chain reaction method. Indonesia.
International Food Research Journal 23(1): 370-374 (2016). diakses pada
23 Maret 2016 pukul 18.08
Rasyid, Sulaiman. 2015. Analisis Cemaran Daging Babi Pada Produk Bakso Sapi
yang Beredar di Wilayah Ciputat Menggunakan Real Time Polymerase
Chain Reaction dengan Metode Hydrolysis Probe. Skripsi. UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Rochea. 2008. The LightCycler® 480 Instrument Operator’s Manual.
http://www.roche-applied-science.com. diakses pada 20 Januari
pukul 20.54
2016
Rocheb. 2008. The LightCycler® 480 System, Unleash the Potential of Real Time
PCR. http://www.roche-applied-science.com. diakses pada 20 Januari 2016
pukul 20.54
Rochec. 2008. LightCycler® 480 Probes Master. Version February 2008.
http://www.roche-applied-science.com. diakses pada 20 Januari
pukul 20.54
2016
Sambrook, J., E.F. Fritsch and T. Maniatis. 1989. Molecular Cloning, A
Labolatory Manual. 2nd edition. New York : Cold Spring Harbour
Laboratory Press. Book 1.6.1-6.17
Solihin, Dedy Duryadi. 1994. Ulas balik Peran DNA Mitokondria (mtDNA)
dalam Studi Keragaman Genetik dan Biologi Populasi pada Hewan. Bogor
: FMIPA IPB. ISSN 0854-8587
Stansfield, William D., Jaime S.Colome., Raul J.Cano. 2006. Shaum’s Easy
Ountlines Biologi Molekuler dan Sel; alih bahasa, Varian Fahmi ; editor,
Amalia Safitri. Jakarta : Erlangga
Stephenson, Frank, H., 2003. Calculations in Molecular Biology and
Biotechnology, A Guide to Mathematics in The Laboratory, Academic
Press, California, USA.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
45
Sriati, Nur. 2011. Analisis Cemaran DNA Mitokondria Babi pada Produk Sosis
Sapi yang Beredar di Wilayah Ciputat Menggunakan Metode Real Time
PCR. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Tanabe, Soichi., Makiko Hase., Takeo Yano., Masahiko Sato., Tasuya Fujimura.,
and Hiroshi Akiyama. 2007. A Real Time Quantitative PCR Detection
Method for Pork, Chicken, Beef, Mutton, and Horseflesh in Foods. Japan :
Setagaya-ku, Tokyo. 71 (12). 3131-3135.2007
Uswahdani, Rohati Hikmah. 2013. Keanekaragaman Molekuler Durian
Berdasarkan Fragmen Internal Transcribed Spacers (ITS) DNA Ribosomal
Melalui Analisis PCR-RFLP. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Vivikananda, Evira.2014.Deteksi DNA Babi dan DNA Sapi dengan Menggunakan
Metode Insulated Isothermal Polymerase Chain Reaction (ii-PCR). Skripsi.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Wardani, Agustin Krisna., Elok Puji Kurnia Sari. 2015. Deteksi Molekuler
Cemaran Daging Babi pada Bakso Sapi di Pasar Tradisional Kota Malang
Menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction). Malang : Jurnal Pangan
dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p. 1294-1301. diakses pada 15 Januari 2016
pukul 16.59.
Widyastuti, Endrika. 2012. Sel Struktur dan Fungsi. Fakultas Teknologi Pertanian
UB. diakses pada 22 Januari 2016 pukul 21.51
Wijaya, Yoga Permana. 2009. Fakta Ilmiah Tentang Keharaman Babi.
http://yogapw.wordpress.com. diakses pada 29 Februari 2016 pukul 09.17
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
46
Lampiran 1
Tabel 4. Konsentrasi dan kemurnian hasil isolasi
No Sampel
Konsentrasi (ng/µl)
Kemurnian
(A260/A280)
1.
Daging Babi
127.419
1.84
2.
Daging Sapi
84,086
1.89
3.
Sampel 1
146.477
1.87
4.
Sampel 2
164.050
1.69
5.
Sampel 3
145.785
1.90
6.
Sampel 4
48.115
1.87
7.
Sampel 5
73.760
1.82
8.
Sampel 6
90.532
1.90
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
47
Lampiran 2.
Perhitungan Pembuatan Larutan Primer
a. Membuat larutan primer 50 µM dari larutan induk 100 µM
V1 x N1
= V2 x
N2
V1 x 100
= 100 x 50
V1
= 50 µL
Maka, 50 µl diambil dari larutan induk primer konsentrasi 100 µM, kemudian
ditambahkan aquabidest sampai volume 100 µl.
b. Membuat larutan primer 5 µM dari seri konsentrasi primer 50 µM.
V1 x N1
= V2 x
V1 x 50
= 30 x 5
V1
= 3 µL
N2
Maka, diambil 3 µl dari larutan primer konsentrasi 50 µM, kemudian
ditambahkan aquabidest sampai volume 30 µl.
c. Membuat larutan primer 0,1 µM dari konsentrasi 5 µM.
V1 x N1
= V2 x
N2
V1 x 5
= 20 x 0,1
V1
= 0,4 µL
Maka, diambil 0,4 µL dari larutan primer konsentrasi 50 µM.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
48
Lampiran 3. Perhitungan Tm (Melting Temperature) Primer
Rumus  Tm = 2oC (A + T) + 4oC (G + C)
PRIMER SAPI
PRIMER BABI
Primer Sapi Forward
Primer Babi Forward
Tm = 2oC (2 + 6) + 4oC (11 + 0)
= 60oC
Primer Sapi Reverse
Tm = 2oC (4 + 5) + 4oC (2 + 9)
= 62oC
Tm rata-rata primer sapi:
Tm = (60 + 62) / 2
= 6oC
Tm = 2oC (1 + 9) + 4oC (10 + 0)
= 60 oC
Primer Babi Reverse
Tm = 2oC (5 + 9) + 4oC (2 + 9)
= 72oC
Tm rata-rata primer babi:
Tm = (60 + 72) / 2
= 66oC
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
49
Lampiran 4.
Tabel 5. Komponen Campuran Reaksi Real Time PCR
Komposisi
Jumlah
Primer Forward 20µM
0,4 µl
Primer Reverse 20µM
0,4 µl
UPL
0,4 µl
Buffer PCR
10 µl
ddH2O
3,8 µl
Template
5 µl
Total
20 µl
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
50
Lampiran 5. Hasil Kurva Amplifikasi
Gamabar 5.1 Kurva Amplifikasi Uji Spesifitas Primer dan UPL
Gambar 5.2 Kurva Amplifikasi Uji Spesifitas Primer Babi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
51
Gambar 5.3. Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil Amplifikasi
Sampel Menggunakan Primer Spesifik Sapi.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
52
Gambar 5.4 . Kurva Real Time PCR yang Menunjukkan Hasil Amplifikasi
Sampel Menggunakan Primer Spesifik Babi.
Lampiran 6
Gambar. Alat – alat yang digunakan dalam Penelitian
Gambar 5.3
Spektrofotometri DNA
Gambar 5.5
Masker, Glove
Gambar 5.4
Kit Ekstraksi (Promega)
Gambar 5.6
Mikrotips, Microsentrifuge, tube
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
53
Gambar 5.7
Microsentrifugasi
Gambar 5.9
Mikropipet (1) Vol 1000 µl;
(2) Vol 200 µl; (3) Vol 20 µl
Gambar 5.11
Real Time PCR
Gambar 5.8
vortex
Gambar 5.10
Multiwell Plates, Sealing Foil
Gambar 5.12
Timbangan Analitik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
54
Gambar 5.13
Microsentrifugase 5417R
Gambar 5.15
Oven
Gambar 5.17
Sosis
Gambar 5.14
Lemari pendingin suhu -21
Gambar 5.16
Autoklav
Gambar 5.18
Daging Babi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Download