BAB II DASAR TEORI

advertisement
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah erat kaitannya dengan pengadaan tanah. Hal tersebut diwujudkan
antara lain melalui dua hal. Yang pertama, sertifikat, sebagai produk pendaftaran tanah,
merupakan suatu tanda bukti kepemilikan yang sah bagi seorang pemilik bidang tanah untuk
ikut memberikan suara dalam menetapkan bentuk dan besar ganti rugi, memperoleh nilai
ganti rugi yang lebih tinggi dibandingkan pemilik bidang tanah dengan tanda bukti lainnya,
serta menentukan pemilik bidang tanah yang sah untuk mendapatkan ganti rugi apabila ada
klaim kepemilikan dari pihak lain. Yang kedua adalah, Melalui pendaftaran tanah, dokumen
data fisik dan data yuridis suatu bidang tanah dapat dihasilkan. Data-data tersebut digunakan
panitia pengadaan tanah dalam melakukan penelitian status legalitas kepemilikan bidang
tanah pada tahapan inventarisasi data dalam pengadaan tanah.
Oleh karena beberapa alasan diatas, maka pada bagian ini akan dibahas teori-teori yang
terkait dengan pendaftaran tanah.
2.1.1 Pengertian Pendaftaran Tanah
Secara garis besar, pendaftaran tanah merupakan suatu tahapan yang berfungsi
sebagai pengadministrasian bidang-bidang tanah di Indonesia, sekaligus untuk memberikan
suatu keabsahan dan tanda bukti suatu pihak memiliki hak yang sah atas tanah tersebut.
Menurut Pasal 1 angka (1) PP Nomor 24/1997, Pendaftaran tanah adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur
yang meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian, serta pemeliharaan data
fisik dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan
satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang
tanah yang sudah ada haknya dan dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak
tertentu yang membebaninya.
2.1.2 Tujuan Pendaftaran Tanah
Tanah memiliki banyak kegunaan. Misalnya, sebagai tempat bermukim, berusaha,
atau bahkan sebagai properti yang dapat dijadikan sebagai pinjaman bank. Faktor
beragamnya fungsi tanah serta faktor kenaikan jumlah penduduk saat ini menyebabkan tanah
menjadi suatu properti yang dicari dan diinginkan yang dapat berujung pada konflik. Hal ini
10
menyebabkan orang atau badan hukum menuntut adanya jaminan kepastian hukum atas tanah
tersebut. Untuk itulah fungsi utama dari pendaftaran tanah.
Menurut Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran
Tanah, tujuan pendaftaran tanah adalah :
•
Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak
atas bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan
mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan
•
untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk
pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam
mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan
rumah susun yang sudah terdafatar.
•
untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.
Hasil dari proses pendaftaran tanah antara lain adalah sertifikat yang merupakan alat
bukti kepemilikan hak atas tanah yang terkuat. Hasil lainnya adalah dokumen-dokumen
pertanahan yang merupakan catatan tertulis mengenai data fisik dan data yuridis tanah yang
bersangkutan. Dokumen pertanahan tersebut dapat digunakan sebagai jaminan dan menjadi
pegangan bagi pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan atas tanah tersebut seperti dalam
kegiatan jual beli, atau dalam kegiatan pertanahan yang dilakukan oleh pemerintah.
2.1.3 Obyek Pendaftaran Tanah
Menurut Pasal 99 No 24/1997 yang mengatur mengenai obyek pendaftaran tanah,
jenis bidang tanah yang dapat didaftarkan adalah:
a. Bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna
bangunan, dan hak pakai
b. Tanah hak pengelolaan
c. Tanah wakaf
d. Hak milik atas satuan rumah susun
e. Hak tanggungan
f. Tanah negara.
2.1.4 Hak Atas Tanah
Bidang tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan bidang yang
memiliki batas tertentu. Diatas tanah tersebut terdapat hak atas tanah baik yang dimiliki
secara perorangan maupun badan hukum. [SP Sangsun, Florianus. 2008]
11
Menurut Pasal 16 Ayat (1) UUPA, hak atas tanah terdiri dari beberapa macam.
Yaitu:
a. Hak milik, adalah hak turun temurun, terkuat, dan terpenuh yang dapat dipunyai
orang atau lembaga atas tanah.
b. Hak guna usaha, adalah hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung
oleh negara., dalam jangka waktu tertentu. Bentuk usaha yang memiliki sertifikat
hak guna usaha yang dapat dilakukan di atas tanah dapat berupa perusahaan
pertanian, perikanan, atau peternakan. Sertifikat hak guna usaha dapat dimiliki
oleh warga negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut hukum
Indonesia serta berkedudukan di Indonesia. Menurut Peraturan Menteri
Agraria/Kepala BPN No 3. Tahun 1992, hak guna usaha dapat diberikan selama
tiga puluh lima tahun, dan dapat diperpanjang sampai dengan dua puluh lima
tahun, serta dapat dimohonkan pembaharuannya selama tiga puluh lima tahun
dan dapat diperpanjang lagi sampai dengan dua puluh lima tahun.
c. Hak Guna Bangunan, adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunanbangunan atas tanah yang bukan miliknya dalam jangka waktu paling lama tiga
puluh tahun dan dapat diperpanjang hingga paling lama dua puluh tahun. Orang
atau badan hukum yang memanfaatkan hak guna bangunan harus memiliki
sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) sebagai bukti hukum atas haknya. Hak
Guna Bangunan terjadi pada tanah yang dikuasai oleh negara dan tanah hak
milik. Hak Guna Bangunan dapat dihapus karena beberapa hal, diantaranya
karena jangka waktunya telah berakhir, dilepaskan oleh pemegang haknya
sebelum jangka waktunya berakhir, dicabut untuk kepentingan umum,
ditelantarkan, atau pemanfaat HGB tidak lagi memenuhi syarat sebagai Warga
Negara Indonesia (WNI).
d. Hak Pakai, adalah hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah
yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah milik orang lain, yang
memberikan wewenang dan kewajiban yang ditentukan berdasarkan keputusan
pihak yang berwenang atau melalui perjanjian sewa-menyewa atau pengolahan
tanah. Hak pakai dapat diberikan selama jangka waktu tertentu atau selama
tanahnya dipergunakan untuk suatu keperluan tertentu. Beda halnya dengan Hak
Guna Bangunan dan Hak Guna Usaha, Hak Pakai dapat diberikan kepada Warga
Negara Indonesia maupun Warga Negara Asing serta Badan Hukum yang
berkedudukan di Indonesia maupun Badan Hukum Asing yang berkedudukan di
12
Indonesia. Untuk Hak Pakai yang dikuasai oleh negara, hanya pejabat yang
berwenang yang dapat mengalihkan hak tersebut kepada pihak lain, sedangkan
untuk Hak Pakai atas tanah hak milik, dapat dialikan berdasarkan perjanjian yang
disepakati antara pihak pemilik hak milik dengan pemegang hak pakai. Sebagai
bukti pemanfaatan hak pakai, maka orang tersebut, baik WNI maupun WNA atau
lembaga tersebut, baik badan hukum Indonesia maupun perwakilan badan hukum
asing yang berkedudukan di Indonesia harus memiliki sertifikat hak pakai.
e. Hak Sewa untuk Bangunan, adalah hak untuk mempergunakan tanah milik orang
lain untuk keperluan bangunan dengan membayar kepada pemiliknya sejumlah
uang tertentu sebagai kompensasi sewa. Hak Sewa untuk Bangunan dapat
dimiliki oleh Warga Negara Indonesia atau badan hukum yang didirikan menurut
hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia atau badan hukum asing yang
mempunyai perwakilan di Indonesia.
f. Hak Membuka Tanah dan Memungut Hasil Hutan, adalah hak yang hanya
diperuntukkan bagi Warga Negara Indonesia untuk membuka tanah dan
memungut hasil hutan.
g. Hak-hak Tanah untuk Keperluan Suci dan Sosial, adalah hak milik tanah yang
diperuntukkan dalam bidang usaha keagamaan dan sosial. Untuk keperluan
peribadatan dan keperluan suci lainnya dapat diberikan tanah yang dikuasai
langsung oleh negara melalui hak pakai.
2.1.5 Dokumen Pertanahan Dalam Proses Pendaftaran Tanah
Proses pendaftaran tanah menghasilkan dua macam dokumen. Yaitu:
• Data fisik, adalah keterangan mengenai letak, batas, luas bidang tanah dan satuan
rumah susun yang didaftarkan, dan keterangan mengenai adanya bangunan atau
bagian bangunan di atasnya.
• Data Yuridis, adalah keterangan mengenai status hukum bidang tanah dan satuan
rumah susun yang didaftarkan, pemegang hak, dan beban-beban lain yang
membebani tanah tersebut.
Dokumen hukum yang berkaitan dengan tanah adalah sebagai berikut:
1. Sertifikat, adalah surat tanda bukti hak untuk hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah
wakaf, hak milik atas satuan rumah susun, dan hak tanggungan yang masing-masing
sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan.
13
2. Buku tanah, adalah dokumen dalam bentuk daftar yang membuat data yuridis dan
data fisik suatu obyek pendaftaran yang sudah ada haknya.
3. Peta dasar pendaftaran, adalah peta yang memuat titik-titik bidang dasar teknik dan
unsur-unsur geografis seperti sungai, jalan, bangunan, dan batas fisik bidang-bidang
tanah.
4. Peta pendaftaran, adalah peta yang menggambarkan bidang atau bidang-bidang
tanah untuk keperluan pembukuan tanah.
5. Daftar tanah, adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat identitas bidang
tanah dengan suatu sistem penomoran.
6. Surat Ukur, adalah dokumen yang memuat data fisik suatu bidang tanah dalam
bentuk peta dan uraian.
7. Daftar nama, adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat keterangan
mengenai penguasaan tanah dengan susuatu hak atas tanah, atau hak pengelolaan
dan mengenai pemilikan hak milik atas satuan rumah susun oleh perseorangan
maupun badan hukum tertentu.
2.1.6 Alat Bukti Terhadap Tanah
Kaitan antara alat bukti tanah dengan pengadaan tanah sangatlah erat, bahkan
secara yuridis kepemilikan suatu benda tanpa disertai dengan alat bukti administratif dan
yuridis maka kepemilikan terhadap suatu benda dianggap tidak ada.
Alat bukti tanah akan banyak pengaruhnya terhadap uang ganti rugi apabila tanah
itu akan dibebaskan. Antara lain:
1. menentukan siapa yang berhak menerima uang ganti rugi
2. menentukan persentase besar uang ganti rugi. Semakin lemah alat bukti kepemilikan
tanah, maka semakin rendah pula uang ganti rugi.
Menurut Mudakir Iskandar Syah, alat bukti terhadap tanah adalah:
1. Sertifikat
Sertifikat merupakan alat bukti yang paling kuat, tetapi tidak mutlak terhadap
kepemilikan tanah. Artinya, sertifikat merupakan alat bukti terkuat dibandingkan
dengan alat bukti lainnya, namun dikatakan tidak mutlak karena alat bukti sertifikat
masih bisa dianggap tidak sah apabila ada pihak lain yang dapat membuktikan
kebalikannya. Jika terjadi demikian, bagi pemegang alat bukti yang paling lengkap
serta cara peralihan hak dan pembuatan alat buktinya melalui prosedur yang
seharusnya yang akan menang dalam kepemilikan, dan sebaliknya.
14
2. Akta
Akta merupakan alat bukti kepemilikan suatu benda. Untuk tanah, akta dapat berupa
akta peralihan hak termasuk akta jual beli, waris, dan hibah. Akta merupakan alat
yang melalui proses Notariat/Pejabat Pembuat Akta Tanah atau pejabat lain yang
yang berwenang. Alat bukti ini merupakan bukti kepemilikan tanah dan menjelaskan
sejarah peralihan hak atas tanah. Secara yuridis, alat bukti ini juga sudah memiliki
kekuatan hukum, akan tetapi tidak sekuat alat bukti sertifikat.
3. Girik, Petok, dsb
Alat bukti semacam ini termasuk alat bukti yang dikategorikan lemah, namun di
Indonesia, terutama di daerah-daerah, alat bukti ini masih banyak ditemukan dan
dimiliki pemilik tanah. Sedangkan surat Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Iuran
Pembangunan Daerah (Ipeda), Iuran Rehabilitasi Daerah (Ireda), dan sejenisnya
bukan merupakan alat bukti kepemilikan tanah, tetapi sebagai bukti pemilik benda
dalam kaitan berkewajiban membayar pajak.
2.2
Penilaian Properti
Tahapan terakhir dari mekanisme pengadaan tanah adalah pemberian ganti rugi. Dalam
menyepakati besar ganti rugi, khususnya ganti rugi bidang tanah, terdapat dasar yang
dijadikan referensi. Untuk bidang tanah, besar ganti rugi ditentukan melalui musyawarah
yang mengacu kepada nilai pasar dengan memperhatikan NJOP, sementara untuk besar ganti
rugi bangunan dan tanaman berdasarkan kesepakatan dalam musyawarah dengan
memperhatikan acuan standar nilai yang telah dikeluarkan oleh pihak instansi pemerintah
yang terkait.
Penilaian properti merupakan cara yang dilakukan dalam menetapkan nilai pasar dan
nilai NJOP yang berkaitan dengan besar ganti rugi bidang tanah dalam pengadaan tanah, dan
standar nilai bangunan yang dikeluarkan oleh instansi terkait. Oleh sebab itu, pada bagian ini
akan dibahas teori-teori terkait penilaian properti.
Menurut German, Jerome C., Dennis Robinson and Joan Youngman, tujuan penilaian
properti adalah :
“to establish a relationship between property characteristics and sale prices, thereby
permitting an estimate of the market value of other properties not subject to a recent sale”
Dalam definisi konvensional tersebut penilaian properti ditujukan semata-mata untuk
kepentingan ekonomi pasar dan pajak. Menurut Soemarno, nilai ekonomi mempunyai tiga
komponen, yaitu:
15
1. Bendanya mempunyai manfaat
2. Ketersediannya terbatas
3. Hak kepemilikan
Nilai ekonomi senantiasa diasosiasikan dengan nilai pasar. Oleh sebab itu diperlukan
suatu pendekatan yang dapat merepresentasikan nilai properti sebagai komoditi ekonomi
dalam bentuk nilai pasar. Nilai pasar pada dasarnya merefleksikan harga terbaik atas suatu
properti pada suatu waktu, tempat, dan keadaan pasar tertentu, dan properti tersebut dijual
secara bebas, terbuka, serta terdapat persaingan sempurna.
2.2.1 Berbagai Pendekatan dalam Penilaian Properti
Berbagai pendekatan dalam Penilaian merupakan teknik baku untuk melakukan
pendekatan guna memperoleh dasar perhitungan dalam memberi pendapat tentang nilai.
Menurut Soemarno, Terdapat beberapa metode yang bisa digunakan dalam menilai
properti. Metode-metode tersebut adalah :
a.
Pendekatan Perbandingn Harga Pasar
b.
Pendekatan Biaya
c.
Pendekatan Pendapatan
2.2.2 Pendekatan Perbandingan Harga Pasar
Pendekatan data pasar dilakukan dengan cara membandingkan objek pajak yang
akan dinilai dengan objek pajak lain yang sejenis yang nilai jualnya sudah diketahui dengan
melakukan penyesuaian yang dipandang perlu, Persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam
penerapan pendekatan ini adalah tersedianya data jual beli atau harga sewa yang wajar.
Dalam hal objek serupa tidak diketahui nilai jualnya, maka harga jual dari objek lain yang
sejenis biasanya dapat dipertimbangkan sebagai bukti terbaik dari nilai pasar. Untuk itu
diperlukan data karakteristik kualitatif dan kuantitatif objek yang diketahui nilai pasarnya
degan objek yang akan dinilai.
Menurut Soemarno, Penerapan metode ini mempertimbangkan 3 hal:
1. Aspek-aspek fisik, yaitu: luas, bentuk, jenis tanah, aspek geologis tanah, dan
kemiringan.
2. Aspek-aspek lokasi, yaitu: akses terhadap sarana & prasaran, lingkungan, dan
sosial.
3. Aspek legalitas, yaitu: jenis hak atas tanas, jenis bukti kepemilikan.
16
Pendekatan harga pasar memiliki kelemahan terutama dalam hal menyangkut
sulitnya mendapatkan data transaksi jual beli di pasar dan seringkali objek yang dinilai tidak
identik dengan properti yang diketahui harga jualnya.
2.2.3 Pendekatan Biaya
Pendekatan biaya dilakukan dengan cara memperkirakan biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk membuat atau mengadakan properti yang dinilai.
Nilai yang dihasilkan disebut nilai reproduksi. Dari biaya reproduksi ini, dilakukan
penyesuaian berupa penyusutan akibat kerusakan fisik, kemunduran fungsional, dan
kemunduran ekonomi.
Menurut Bambang Budianto, jenis Penyusutan yang dimaksud adalah sbb:
1. Kerusakan fisik, yaitu penurunan nilai yang disebabkan oleh kerusakan atau
ketidaklengkapan kondisi sebagai akibat dari pemakaian.
2. Kemunduran fungsional, yaitu efek buruk terhadap nilai yang merupakan akibat
dari kerusakan dalam desain yang mengurangi kegunaannya. Disebabkan oleh
perubahan waktu yang membuat beberapa aspek dari struktur atau desain
menjadi usang.
3. Kemunduran ekonomis merupakan efek buruk pada nilai yang berasal dari
pengaruh luar properti. Efeknya terjadi pada lahan dan apa yang dibangun
diatasnya. Biasanya jenis penyusutan ini tidak dapat diperbaiki.
2.2.4 Pendekatan Pendapatan
Pendekatan pendapatan dapat digunakan dalam penilaian properti yang
menghasilkan, atau yang seringkali disebut sebagai properti komersial seperti hotel,
perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan, dan tempat hiburan.
Dalam penggunaan pendekatan pendapatan dikenal istilah nilai penyisaan, yaitu
untuk properti yang terdiri atas tanah dan bangunan setelah nilai total diketahui berdasarkan
perhitungan pendapatam, maka dalam penentuan nilai masing-masing untuk tanah dan
bangunan dipergunakan dengan sistem penyisaan, yaitu nilai bangunan dihitung dengan
pendekatan biaya dan hasilnya dipakai sebagai faktor pengurang atas nilai properti, sehingga
nilai tanah dapat ditentukan.
Pendekatan pendapatan dilakukan dengan cara menghitung seluruh pendapatan
sewa/penjualan dalam satu tahun dari objek pajak yang dinilai dikurangi dengan kekosongan,
biaya operasi dan atau hak dari pengusaha kemudian dikapitalisasi dengan suatu tingkat
kapitalisasi tertentu.
17
Pendekatan-pendekatan dalam penilaian properti, dalam prakteknya tidak berdiri
sendiri-sendiri, tetapi saling melengkapi. Meskipun demikian, karena penilaian ini lebih
bersifat
penaksiran,
maka
hasil
penilaian
tidak
selamanya
dengan
tepat
dapat
menggambarkan nilai pasar wajar suatu properti. Upaya yang ditempuh untuk mendapatkan
hasil penilaian yang memadai terutama dilakukan dengan menggunakan sistem penilaian
properti yang dapat diterima oleh semua pihak.
2.3 Sistem Informasi Geografis
Pada bagian ini akan dibahas teori-teori yang berkaitan dengan Sistem Informasi
Geografis (SIG) terutama yang berhubungan dengan pokok bahasan dan lingkup studi, yaitu
pembuatan peta pengadaan tanah interaktif normalisasi Sungai Cisaranten-Cinambo ruas
Jalan Cisaranten-Jalan Golf..
2.3.1 Definisi Sistem Informasi Geografis
Sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan objek, ide, berikut saling
keterhubungannya dalam mencapai tujuan atau sasaran bersama. [Prahasta, Eddy. 2001]
Informasi Geografis mengandung pengertian informasi mengenai tempat-tempat
yang terletak di permukaan bumi, dan informasi mengenai keterangan-keterangan (atribut)
yang terdapat di permukaan bumi yang posisinya diberikan atau diketahui. [Prahasta, Eddy.
2001]
2.3.2 Manfaat Sistem Informasi Geografis
Menurut Eddy Prahasta, Ada beberapa alasan yang menyebabkan aplikasi-aplikasi
SIG menjadi menarik untuk digunakan di berbagai disiplin ilmu, diantaranya adalah:
• SIG menggunakan baik data spasial maupun atribut secara terintegrasi sehingga
sistemnya dapat menjawab baik pertanyaan spasial (baik pemodelannya) maupun non
spasial. Atau dengan kata lain, SIG memiliki kemampuan analisis spasial dan non
spasial.
•
SIG memiliki kemampuan untuk menguraikan unsur-unsur yang terdapat di
permukaan bumi kedalam bentuk beberapa layer atau coverage data spasial. Dengan
layer ini, permukaan bumi dapat “direkonstruksi” kembali atau dimodelkan dalam
bentuk nyata (real world tiga dimensi) dengan menggunakan data ketinggian berikut
layer tematik yang diperlukan.
•
SIG dapat menurunkan data-data secara otomatis tanpa keharusan untuk melakukan
interpretasi secara manual (terutama interpretasi secara visual). Dengan demikian,
18
SIG dengan mudah dapat menghasilkan peta-peta tematik yang merupakan turunan
dari peta-peta yang lain dengan hanya memanipulasi atributnya.
2.3.3 Jenis Data SIG
Data spasial yang menjadi proses masukan dalam GIS terbagi dalam 2 tipe data
yakni data grafis dan data atribut. Data grafis merepresentasikan geometrik dari objek bumi
yang menjadi kajian dalam GIS, sedangkan data atribut merupakan data yang memberikan
informasi deskriptif dari data grafis. Informasi grafis suatu objek dapat dimasukan ke dalam
bentuk titik, garis dan poligon.
1. Data grafis, yang terdiri dari:
•
Titik
Titik adalah bentuk representatif grafis yang paling sederhana dari suatu objek. Skala
tampilan peta akan menentukan suatu objek apakah akan ditampilkan sebagai titik
atau poligon. Pada skala besar, suatu bangunan akan ditampilkan sebagai poligon,
namun pada skala kecil, akan ditampilkan sebagai titik.
•
Garis
Garis adalah bentuk linier yang menghubungkan paling sedikit dua titik dan
digunakan untuk merepresentasikan objek-objek satu dimensi.
•
Poligon
Poligon di gunakan untuk merepresentasikan objek dua dimensi. Suatu poligon paling
sedikit dibatasi oleh tiga garis yang saling terhubung.
2. Data atribut, yaitu deskripsi dari suatu entitas geografis. Pada umumnya data atribut
memiliki bentuk dalam tabel.
2.3.4 Mengubah format *dwg menjadi format *shp
Untuk memudahkan dalam penyusunan data atribut pada software ArcGIS 9.2,
maka, data spasial hasil editing pada Autodesk Map 2004 berformat *.dwg diubah terlebih
dahulu menjadi format *.shp.
Proses pengubahan ini dilakukan pada software Autodesk Map 2004 dengan terlebih
dahulu membuat topologi dengan memanfaatkan tool Map  topology  create.
Topologi adalah pendefinisian secara matematis yang menerangkan hubungan relatif
antara objek yang satu dengan objek yang lain. Dalam GIS topologi didefinisikan oleh user
sesuai dengan karakteristik data seperti garis, poligon maupun titik. [Ostip, Soedomo. 2007]
Syarat pembuatan topologi ini adalah :
19
•
Untuk Poligon :
a. Antar poligon tidak boleh saling bertampalan.
b.
Antar poligon tidak boleh ada celah.
Gambar 3.9 Syarat Pembuatan Topologi Poligon (sumber: Ostip,Soedomo.2007)
•
Untuk garis :
a. Antar garis tidak boleh saling bertampalan.
b. Antar garis tidak boleh saling berpotongan.
c. Antar garis tidak boleh teruntai.
Gambar 2.1 Syarat Pembuatan Topologi Garis (sumber: Ostip,Soedomo.2007)
•
Untuk titik :
Pada jenis kesalahan titik hanya ada dua koreksi yang bisa dilakukan yaitu membiarkannya
atau menghapus feature titik yang dianggap salah
Setelah seluruh topologi terbentuk, maka langkah selanjutnya adalah memformat
masing-masing topologi ke bentuk *.shp dengan memanfaatkan tool map  tools export.
20
Download