7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoritis. 2.1.1 Laporan

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Tinjauan Teoritis.
2.1.1 Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan laporan pertanggungjawaban
manajemen atas kinerja perusahaan selama suatu peride tertentu.
Laporan keuangan juga merupakan informasi yang sangat penting
baik untuk pihak internal perusahaan maupun bagi para investor.
Ditengah semakin berkembangnya pasar modal di Indonesia
berpengaruh terhadap semakin meningkatnya pihak-pihak yang
butuh akan informasi laporan keuangan.Terutama bagi para
investor yang membutuhkan informasi dari laporan keuangan yang
tepat dan dipercaya agar mereka yakin untuk menanamkan
modalnya di perusahaan tertentu. Disisi lain laporan keuangan juga
penting bagi pemerintah karena berdasarkan laporan keuangan
pemerintah akan menetapkan besar pajak suatu perusahaan.
Menurut IAI dalam PSAK No. 1 ( Revisi 2009) “Tujuan
laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai
posisikeuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporandalam
pembuatan keputusan ekonomi” .
7
Universitas Sumatera Utara
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam PSAK No. 1 (Revisi
2009) mensyaratkan setiap entitas dalam penyajian laporan
keuangannya untuk :
a) Memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi sesuaidengan
PSAK 25. PSAK 25 mengatur hirarki pedoman otoritatif
yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam haltidak
terdapat PSAK yang secara khusus mengatur suatupos
tertentu.
b) Menyajikan informasi, termasuk kebijakan akuntansi,
sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi
yang relevan, andal, dapat diperbandingkan, dan mudah
dipahami.
c) Memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian
dengan persyaratan khusus dalam SAK tidak cukup bagi
pengguna laporan keuangan untuk memahami pengaruhdari
transaksi tertentu, peristiwa dan kondisi lain terhadap posisi
keuangan dan kinerja keuangan entitas.
Dengan demikian dapat kita pahami apabila laporan keuangan
terlambat untuk diterbitkan maka itu akan mengurangi relevansi
informasi laporan keuangan tersebut.
2.1.2. Auditing
a. Defenisi Audit
Menurut Agoes ( 2012 : 2 ),“ Auditing merupakan salah
satu bentuk atestasi. Atestasi, pengertian umumnya, merupakan
suatu komunikasi dari seorang expert mengenai kesimpulan
tentang realibilitas dari pernyataan seseorang”.
b. Tujuan Audit
Tujuan umum audit atas laporan keuangan adalah untuk
memberikan pernyataan pendapat apakah laporan keuangan yang
diperiksa menyajikan secara wajar dan dalam segala hal yang
8
Universitas Sumatera Utara
bersifat materil sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
Selain itu ada beberapa alasan mengapa diperlukan audit
menurut Agoes (2012 : 10) :
Laporan keuangan yang merupakan tanggungjawab
manajemen perlu diaudit oleh KAP yang merupakan pihak ketiga
yang independen, yaitu :
a. Jika tidak diaudit, ada kemungkinan bahwa laporan keuangan
tersebut mengandung kesalahan baik yang disengaja maupun
tidak disengaja. Karena itu laporan keuangan yang belum
diaudit kurang dipercaya kewajarannya oleh pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan tersebut.
b. Jika laporan keuangan sudah diaudit dan mendapatkan opini
wajar tanpa pengecualian (unqualified) dari KAP, berarti
pengguna laporan keuangan bisa yakin bahwa laporan keuang
tersebut bebas dari salah saji yang material dan disajikan
sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia (SAK/ETAP/IFRS)
c. Mulai tahun 2001 perusahaan yang total asetnya Rp. 25 milyar
ke atas harus memasukkan audited financial statements
mereka ke Departemen Perdagangan dan Perindustrian.
d. Perusahaan yang sudah go public harus memasukkan audited
financial statements mereka ke Bapepam-LK paling lambat 90
hari setelah tahun buku.
e. SPT yang didukung audited financial statements lebih
dipercaya oleh pihak pajakdibandingkan dengan yang
didukung laopran keuangan yang belum diaudit.
c. Standar Auditing
Menurut Ikatan Akuntan Publik Indonesia melalui
Pernyataan Standar Auditin (PSA), standar auditing terdiri atas
sepuluh standar yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok,
yaitu :
a. Standar Umum
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang
memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup sebagai
auditor.
9
Universitas Sumatera Utara
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan,
independensi dalam sikap mental harus diperhatikan oleh
auditor.
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya,
auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya
dengan cermat dan seksama.
b. Standar Pekerjaan Lapangan
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika
digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus
diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan
sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui
inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan
konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
c. Standar Pelaporan
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan
keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia.
2. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika
ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi
dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut
dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus
dipandang memadai kecuali dinyatakan lain dalam laporan
auditor.
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat
mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu
asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.
Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan,
maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor
dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor
harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat
pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat
tanggungjawab yang dipikul oleh auditor.
2.1.3. Audit Delay
Ketepatan waktu adalah sifat kualitatif yang penting bagi
laporan keuangan dimana informasi dari laporan keuangan tersebut
harus tersedia bagi pihak pengguna secepat mungkin. Oleh karena
10
Universitas Sumatera Utara
itu, apabila laporan keuangan terlambat disampaikan akan
menghilangkan sifat relevansi laporan keuangan tersebut.
Laporan
keuangan
akan
sangat
bermamfaat
apabila
disampaikan dengan tepat waktu serta akurat. Terutama bagi para
pemilik modal untuk mengambil keputusan yang tepat apakah akan
melakukan investasi atau tidak. Tentu yang menjadi landasan
keputusan tersebut adalah laporan keuangan yang harus tepat dan
akuran untuk memproyeksikan suatu perusahaan apakah layak
menjadi tempat investasi yang tepat. Selain itu laporan keuangan
yang hendak disampaikan sudah harus diaudit oleh auditor.
Namun, sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia
perusahaan yang sudah go public tidak bisa menerbitkan laporan
keuangan tanpa melalui proses audit dari pihak auditor independen.
Dengan demikikian diperlukan waktu untuk melakukan audit atas
laporan keuangan yang akan dilakukan oleh pihak auditor. Jarak
waktu antaratanggal penutupan tahun buku dengan tanggal
penerbitan laporan audit atas laporan keuangan atau yang biasa
disebut dengan audit delay.
Menurut Modugu et al (2012 : 46), “audit delay is generally
defined in this study as the legth of time for a company’s financial
year-end to the date of the auditor’s report”. Lamanya waktu
penyelesaian audit terhitung mulai dari tanggal penutupan tahun
11
Universitas Sumatera Utara
buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit atas
laporan keuangan.
2.1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Delay
a. Ukuran Perusahaan
Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diwakilkan
oleh total aktiva perusahaan. Semakin besar ukuran perusahaan
maka waktu penyelesaian audit atas laporan keuangan semakin
cepat.
Menurut itu Carslaw dan Kaplan (1991 : 23),
It is possible to offer reasons why company size
could be either positively or negatively associated
with audit delay. Based upon the result of prior
studies, however, a negative association betweet
audit delay and company size is expected. Several
factors may account for this relationship. Firstly,
larger companies may have stronger internal
controls, which in turn should reduced the
propensity for financial statements errors to occur
and enable auditor(s) to rely on controls more
extensively and to perform more interim work.
Secondly, larger companies have resources to pay
relatively higher audit fees to perform soon after the
year end of the financial year and vice versa.
Thirdly, the larger the firm the more the audiences
who are interested in its affairs argued that
managements of larger companies may have
incentives to reduce both audit delay and reported
delay since larger companies may be monitored
more closely by investors, trade unions and
regulatory agencies, and thus face greater external
pressure to report earlier.
Menurut Al-Ghanem dan Mohamed (2011 :81), ”larger
companies may be under greater external pressure to publish
their report, requiring intensive negotiation with auditors to
12
Universitas Sumatera Utara
complete their job as early as possible”. Semakin besar
perusahaan maka audit delay semakin singkat, artinya ukuran
perusahaan berpengaruh negatif terhadap audit delay.
b. Profitabilitas
Profitabilitas mencerminkan kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba. Selain itu dari tingkat profitabilitas
perusahaann kita bisa melihat tingkat efektifitas operasional
sebuah perusahaan. Artinya semakin besar rasio profitabilitas
perusahaan maka semakin besar kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba.
Beaver (1968 :70) “good news is released promptly
while the release of bad news is systematically delayed using
relative measure of profitability and both absolute and relative
measures of timeliness”. Perusahaan dengan rasio profitabilitas
tinggi cenderung lebih cepat menerbitkan laporan keuangannya
dibandingkan dengan perusahaan yang mempunyai rasio
profitabilitas lebih rendah. Hal ini terjadi karena laba yang
tinggi merupakan berita yang baik bagi perusahaan supaya
mendapat reaksi positif dari pelaku pasar modal. Menurut
Carslaw dan Kaplan (1991 : 23) “A company with a loss may
request the auditors to schedule the start of the audit later than
ususal. Second, an auditor may proceed more cautiously
during the audit process in response to a company loss if the
13
Universitas Sumatera Utara
auditor believes the company’s loss increase the likehood
failure
or
atas,peneliti
management
fraud”.
membuat
hipoteis
Berdasarkan
bahwa
teori
di
profitabilitas
berpengaruh negatif terhadap audit delay. Semakin tinggi
tingkat profitabilitas maka semakin pendek audit delay.
Ada
perbedaan
hasil
penelitian pada
beberapa
penelitian sebelumnya. Dari hasil penelitian Hussain dan
Taylor (1998), Simbolon (2009) dan Jetira (2011), bahwa
tingkat profitabilitas tidak berpengaruh terhadap audit delay,
sedangkan Lestari (2010) menyatakan bahwa profitabilitas
berpengaruh terhadap audit delay.
Dalam penelitian ini, rasio yang digunakan untuk
mengukur tingkat profitabilitas perusahaan adalah Return on
Asses (ROA). ROA merupakan perbandingan antara laba
sebelum pajak dengan total aktiva.
c. Solvabilitas
Menurut
Subramanyam dan John (2008 : 46),
“solvabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban panjangnya”. Dalam penelitian ini,rasio
yang digunakan untuk menghitung solvabilitas adalah debt to
equity ratio. Debt to equity ratio (DER) membandingkan total
kewajiban perusahaan dengan total ekuitas.
Rasio
ini
14
Universitas Sumatera Utara
menunjukkan seberapa besar kewajiban yang digunakan untuk
pendanaan perusahaan.
Dengan demikian tingginya debt to equity ratio
mengindikasikan resiko keuangan yang dialami perusahaan.
Hal ini juga sejalan dengan tingginya kemungkinan perusahaan
tidak bisa membayar segala kewajibannya. Menurut Hossain
dan Taylor (1998 :11),“there is a possibility that the
companies with higher debt-equity ratios may want to disguise
the levelof risk and may delay to publish their corporate
annual reports and may have an incentive to defer audit work
as longer as possible”.
Sedangkan menurut Carslaw dan Kaplan (1991 : 25)
The proportion of debt to total assets is expected to
positively related to audit delay. There are two
reasons. First, the relative proportion of debt to total
assets may be indicate of the financial health of
company, increase a company’s likelihood of failure
and may raise in the auditor’s mind additional
concern that the financial statements may be less
raliable than normal. Second, the audit of debt may
be more time comsuming than the audit of equity.
Dari hasil penelitian Lestari (2010), solvabilitas yang
dihitung dengan debt to equity ratio mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap audit delay. Maka dari teori diatas peneliti
membuat hipotesis bahwa DER berpengaruh positif terhadap
audit delay.
15
Universitas Sumatera Utara
d. Ukuran KAP
Ukuran KAP merupakan variabel bebas eksternal dalam
penelitian ini. Dalam hasil penelitian Simbolon (2010), reputasi
KAP tidak berpengaruh terhadap audit delay. Menurut Modugu
et al (2012 : 50) :
It is more likely that the larger audit firms (hence,
international audit firms) have a stronger incentive
to finish their audit work more quickly in order to
maintain their reputation. Otherwise, they might
loose the re-appointment asthe auditor of their
client companies in the subsequent year(s). As the
larger and well known audit firms have more
human resources than smaller firms and it has
been argued that these audit firms may be able to
perform their audit work more quickly than smaller
audit firms.
Sedangkan menurut Carslaw dan Kaplan (1991 : 24),
Audit delay for companies with an international
audit firm was expected to be less than for audits
from other firms. International firms, because they
are larger firms, might be able to audit more
effisienly, and have greater flexibility in scheduling
to complete audits on timely basis.
Semakin besar ukuran KAP, maka semakin cepat proses
audit dilakukan. Berdasarkan teori diatas, peneliti membuat
hipotesis bahwa ukuran KAP berpengaruh negatif terhadap
audit delay.
Dalam penelitian ini,ukuran KAP akan diklasifikasikan
kedalam 2 kategori, yaitu : KAP yang tergabung dalam The Big
Fourdan KAP Non The Big Four. Pengukuran variable reputasi
KAP menggunakan variable dummy dengan nilai 1 (satu) bagi
16
Universitas Sumatera Utara
perusahaan yang menggunakan jasa auditor dari KAP The Big
Four dan nilai 0 (nol) untuk perusahaan menggunakan jasa
auditor dari KAP non The Big Four.
e. Opini Auditor
Dari hasil penelitian sebelumnya terdapat perbedaan,
Suardi
(2011)
mengungkapkan
bahwa
opini
auditor
berpengaruh terhadap audit delay sedangkan Stephani (2010)
mengungkapkan hal yang berbeda dimana opini auditor tidak
berpengaruh terhadap audit delay. Perbedaan hasil penelitian
ini menjadi landasan peneliti untuk meneliti lebih lanjut apakah
opini auditor berpengaruh terhadap audit delay. Menurut
Carslaw dan Kaplan (1991 : 24)
Companies not receiving a standart (e.g. unqualified)
audit opinion were expected to have a longer audit
delay. That is,companies receiveing a qualification may
view this as bad news and slow down the audit process.
The receipt of a non-standart audit report might be
symptomatic of auditor-company conflict which would
also tend to increase audit delay.
Artinya jika perusahaan memperoleh pendapat wajar tanpa
pengecualian akan mempercepat proses audit begitu juga
sebaliknya. Dari teori diatas maka peneliti membuat hipotesis
bahwa opini auditor berpengaruh negatif terhadap audit delay.
Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (PSAK 29 SA
Seksi 508) ada 5 jenis pendapat (opini) akuntan, yaitu :
17
Universitas Sumatera Utara
1. Pendapat
Wajar tanpa Pengecualian (Unqualified
Opinion)
2. Pendapat Wajat tanpa Pengecualian dengan Bahasa
penjelas (Unqualified Opinion with Expalanatory
Language)
3. Pendapat
Wajar
dengan
Pengecualian
(Qualified
Opinion)
4. Pendapat tidak Wajar (Adverse Opinion)
5. Pendapat
Tidak
Memberi
Pendapat
(Disclaimer
Opinion).
Opini auditor akan diukur dengan dummy variable,
dimana opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion)
diberi nilai 1 (satu) dan opini di luar wajar tanpa pengecualian
diberi nilai 0 (nol).
18
Universitas Sumatera Utara
2.2.
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Table 2.1
Tinjauan penelitian terdahulu.
Nama
Peneliti
Monirul
Alam
Hossain
and Peter J.
taylor
(1998)
Kartika
Perina
Simbolon
(2009)
Dewi
Lestari
(2010)
Judul
Metode
Analisis
Data
Variabel
Regresi
An
independen:
Linier
Examination of
Ukuran
perusahaan,
Berganda
audit delay :
Evidence from solvabilitas,
profitabilitas, anak
Pakistan
perusahaan
multinasional dan
ukuran KAP .
Variabel dependen:
Audit Delay
Variabel
Regresi linier
Analisis
independen:
berganda
Faktor faktor
yang
ROA, DER, total
mempengar
asset, serta kualitas
uhi audit
auditor.
delay pada
Variabel dependen:
perusahaan
Audit Delay
yang
terdaftar di
BEI
Analisis
faktorfaktor
Yang
mempengar uhi
audit delay:
pada perusahaan
Consumer
goods Yang
terdaftar di
bursa efek
Variable
Penelitian
Variabel
independen: ukuran
perusahaan (TA),
profitabilitas,
solvabilitas,
kualitas auditor dan
opini auditor
Variabel dependen:
Audit delay
Regresi
Linier
berganda
Hasil Penelitian
Anak perusahaan
multinasional lebih
cepat melaksanakan
audit. Kelima
variabel lainnya
tidak berpengaruh
signifikan
Secara simultan
semua variable
bebas yang dipilih
berpengaruh
terhadap audit
delay, tetapi secara
parsial ROA
berpengaruh negatif
signifikan terhadap
audit delay,
sedangkan DER,
total asset dan
kualitas auditor
tidak berpegaruh
terhadap audit
delay
Pengujian secara
parsial
memperlihatkan
profitabilitas,
solvabilitas dan
kualitas auditor
berpengaruh
terhadap audit
delay sementara
ukuran perusahaan
19
Universitas Sumatera Utara
Indonesia
Widya Sani
Stephani
(2010)
Pengaruh
faktor internal
dan eksternal
perusahaan
terhadap audit
delay pada
perusahaan
property dan
real estate
yang terdaftar
di bursa efek
Indonesia
Variabel
independen :
Afiliasi KAP,
Total Assets
Turnover Ratio
(TATO), Debt to
Equity Ratio, dan
opini audit.
Variabel
dependen :audit
delay.
Regresi
Linier
Berganda
Rahayu
Mumpuni
SA (2011)
Analisis
Faktor-Faktor
Yang
Mempengaruhi
Audit Delay
Pada
Perusahaan
NonKeuangan
Yang Terdaftar
Di Bursa Efek
Indonesia
Tahun 20062008
Analisis
Faktor-Faktor
Yang
Mempengaruhi
Audit Delay
Variabel
independen
:ukuran
perusahaan,
komite audit, laba
atau rugi
perusahaan, opini
auditor,ukuran
auditor.
Variabel
dependen :audit
delay.
Analisis
Regresi
Berganda
Reisa
Jetira
Suardi
(2011)
Variabel
independen
: Regresi
ROA, DER, Total Linier
asset,
Kualitas berganda
KAP, dan Jenis
dan opini auditor
tidak berpengaruh.
Namun secara
simultas seluruh
variable bebas
berpengaruh
terhadap audit
delay
Secara parsial
Afiliasi KAP
berpengaruh
positif terhadap
audit delay,
sedangkan Total
Assets Turnover
Ratio (TATO),
Debt to Equity
Ratio, dan opini
audit tidak
berpengaruh
terhadap audit
delay. Tetapi
secara simultan,
TATO, DER, opini
audit dan afiliasi
KAP berpengaruh
positif terhadap
audit delay.
Laba atau rugi
perusahaan dan
pini auditor
berpengaruh secara
parsial, sedangkan
ukuran perusahaan
dan ukuran auditor
tidak.
Kelima variabel
independen
berpengaruh
signifikan terhadap
audit delay secara
bersama-sama.
20
Universitas Sumatera Utara
industri.
Pada
Variabel dependen
Perusahaan
Pertambangan : Audit Delay
Dan Perbankan
Yang Terdaftar
Di Bursa Efek
Indonesia
Tahun 20072009
Prince
Kennedy
Modugu,
Emmanuel
Eragbhe
dan
Ohiorenua
n Jude
Ikhatua
(2012)
Shinta
Altia
Widosari
(2012)
Determinants
of Audit Delay
in Nigerian
Companies:
Empirical
Evidence”.
Analiisi
Faktor-Faktor
Yang
Berpengaruh
Terhadap
Audit Delay
Pada
Perusahaan
Manufaktur
Di Bursa Efek
Indonesia
Tahun 20082010
Variabel
independen:
Ukuran
Perusahaan,Debt to
Equity Ratio,
profitabilitas,Anak
perusahaan
multinasional,Ukur
an KAP,Audit Fees,
Jenis Industri.
Variabel dependen:
Audit Delay
Variabel
independen:
kualitas auditor,
opini auditor,
ukuran
perusahaan,
komite audit, dan
kompleksitas
operasi
perusahaan.
Variabel
dependen:audit
delay
Ordinary
Least
Square
reggression
Regresi
Linier
berganda
Secara parsial
Kualitas KAP dan
jenis industri
berpengaruh
negatif terhadap
audit delay,
sementara tiga
variabel
independen
lainnya ROA,
DER dan total
assettidak
berpengaruh
terhadap audit
delay.
Ukuran
Perusahaan,Anak
perusahaan
multinasiona,danAu
dit Fees
berpengaruh
terhadapaudit
delay. Sedangkan
variabel lainnya
tidak.
kualitas auditor
dan opini auditor
berpengaruh
terhadap audit
delay. Sedangkan
ukuran
perusahaan,
jumlah komite
audit dan
kompleksitas
operasi perusahaan
tidak berpengaruh
terhadap audit
delay.
Sumber : diolah oleh peneliti, 2014.
21
Universitas Sumatera Utara
2.3. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian
2.3.1. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual yaitu menjelaskan hubungan antara total
aktiva, DER, ROA, ukuran KAP serta Opini Auditor dengan audit
delay. Kerangka konseptual dari penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut :
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
Total aktiva (X1)
Return on Assets (X2)
Debt to Equity
(X2) Ratio (X3)
Ukuran KAP (X4)
Opini Auditor (X5)
H1
H2
Audit Delay (Y)
H3
H4
H5
H6
Sumber : diolah oleh peneliti, 2014.
2.3.2. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah :
H1: Ukuran Perusahaan berpengaruh negatif terhadap Audit Delay
H2: Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap Audit Delay
H3: Solvabilitas berpengaruh positif terhadap Audit Delay
H4: Ukuran KAP berpengaruh negatif terhadap Audit Delay
H5: Opini Auditor berpengaruh negatif terhadap Audit Delay
H6: Ukuran perusahaan, profitabilitas, solvabilitas, ukuran KAP dan
Opini Auditor secara bersama-sama berpengaruh terhadap Audit
Delay.
22
Universitas Sumatera Utara
Download