67 DEBAT KANDIDAT CAGUB-CAWAGUB DKI - E

advertisement
DEBAT KANDIDAT CAGUB-CAWAGUB DKI JAKARTA
PUTARAN KEDUA DI JAK TV
Faradibba
Program Studi Penyiaran Akom BSI Jakarta
Jl. Kayu Jati V No.2, Pemuda Rawamangun, Jakarta Timur
[email protected]
Abstract
With the development of human beings that makes it easy to get the information through the media .
One of these mass media television. Because television is the most influential in people’s lives in order to obtain actual and factual information . Therefore , any competing television stations in presenting impressions
able to attract the attention of the audience . Candidates Debate in program production , the producer has to
arrange everything in the pre- production phase . This was done aiming to increase the dramatic effect that
this spectacle has appeal for viewers . Related to this, interesting to examine the dramaturgical process in the
production program Candidates Debate Candidates for governor and vice governor of Jakarta in the second
round of Jak tv . The method used is descriptive qualitative . The results showed that the program through preproduction phase , production and post- production . In these phases there are elements such as Like a stage
play that front are all things that appear in front of the stage and back stage is a producer with a creative team
that arranged for the shooting process going well and interesting .
Keywords : process , dramaturgy , television programs ,
Abstraksi
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin pesatnya perkembangan teknologi dan informasi. Dengan perkembangan itulah membuat manusia mudah untuk mendapatkan informasi melalui media. Salah satunya media massa televisi, karena televisi merupakan yang paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat
guna memperoleh informasi secara aktual dan faktual. Karenanya, setiap stasiun televisi saling bersaing dalam
menyajikan tayangan yang mampu menarik perhatian penontonnya. Dalam produksi program Debat Kandidat ini, produser telah mengatur segala sesuatunya pada fase pra produksi. Ini dilakukan bertujuan untuk
menambah kesan dramatis sehingga tontonan ini memiliki daya tarik bagi pemirsanya. Terkait dengan hal ini,
menarik untuk meneliti proses dramaturgi dalam produksi program Debat Kandidat Calon gubernur dan wakil
gubernur DKI Jakarta Putaran kedua di Jak tv. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program acara tersebut dibuat melalui fase yaitu pra produksi, produksi
dan pasca produksi. Pada fase-fase tersebut terdapat unsur seperti laiknya drama yakni panggung depan (front
stage) yaitu semua hal yang ditampilkan didepan panggung dan panggung belakang (back stage) yaitu produser bersama tim kreatif yang mengatur agar proses syuting berjalan dengan baik dan menarik. .
Kata kunci : proses, dramaturgi, program televisi,
I. PENDAHULUAN
Dewasa ini stasiun televisi banyak dijadikan sebagai media dalam mengkampanyekan para
calon pemimpin. Dalam hal ini banyak calon yang
mengambil kesempatan ini sebagai ajang mempromosikan diri guna mudah dilihat oleh masyarakat.
Salah satunya pada pemilihan kepala daerah (pilkada) dalam hal ini gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Pemilihan gubernur Jakarta menjadi menjadi
perhatian banyak pihak, salah satunya media televisi yang berlomba untuk dapat menyiarkan acara
debat calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta.
Terkait dengan media yang menyiarkan acara debat
tersebut, Jak tv menjadi salah satu media yang dipilih
oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah(KPUD) guna
mensukseskan pemilihan. Dengan melihat fenomena
yang begitu dinanti-nantikan oleh para khalayak luas,
maka Jak tv berusaha membuat program acara debat
ini semenarik mungkin.
Program acara Debat Kandidat sebenarnya merupakan program acara yang tidak rutin ditayangkan
oleh Jak tv, karena debat merupakan acara yang menayangkan perdebatan antar calon pemimpin Jakarta
67
guna memberikan kesempatan kepada masing-masing
kandidat atau calon gubernur dan wakil gubernur untuk menyatakan visi dan misi nya sekaligus mempertahan kan visi misi tadi di depan panelis serta calon
lainnya.
Langkah awal dalam pembuatan sebuah program acara televisi biasanya dilakukan sebuah perencanaan. Disini unsur seperti halnya ide, pengisi
acara siaran atau narasumber, peralatan penunjang
acara, kelompok kerja produksi dan juga pemirsa
saling berhubungan satu dengan lainnya dan tidak
dapat dipisahkan. Pada tahap perencanaan ini meliputi penetapan jangka waktu kerja, penyempurnaan
susunan acara (rundown acara), tata panggung debat.
Selain estimasi biaya, penyediaan biaya dan rencana
lokasi merupakan bagian dari perencanaan yang perlu
dibuat hati-hati dan teliti. Program Debat Kandidat
disiarkan dan diproduksi oleh Jak tv bersama dengan KPUD. Program acara debat ini dibuat dalam
tata panggung dan penonton yang hadir di lokasi telah
diatur oleh seorang program director (PD). Para kandidat gubernur dan wakil gubernur yang akan tampil
tentu telah mempersiapkan segala sesuatunya, mulai
dari komunikasi verbal, komunikasi non verbal sampai busana yang akan dikenakan saat proses debat
berlangsung. Guna mendapat sambutan posisitf serta
apresiasi oleh penontonnya, baik disengaja ataupun
tidak para kandidat menggunakann konsep dramaturgi. Mereka berperan untuk mencapai tujuannya.
Dalam hal ini manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut.
Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama
kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan
pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain memperhitungkan kostum, penggunakan kata saat dialog dan
tindakan non verbal lain. Ini tentunya bertujuan untuk
meninggalkan kesan yang baik pada lawan interaksi
dan memuluskan jalan mencapai tujuan. Mereka sebagaimana aktor dalam sebuah pertunjukan drama.
Dalam konsep dramaturgi manusia adalah aktor yang
berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan
dramanya sendiri”. Dalam konsep itu dijelaskan pula
bahwa identitas manusia adalah labil yang merupakan
bagian dari kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari
interaksi dengan orang lain.
Begitu juga dalam program Debat Kandidat putaran kedua di Jak tv. Program ini sarat akan
pe-nerapan konsep dari dramaturgi, baik itu pengemasan programnya apalagi para kandidat yang
tampil. Jak tv berupaya untuk membuat tayangan ini menarik. Disinilah dramaturgi berperan,
68
bagaimana kita me-nguasai interaksi tersebut dan memainkan berbagai peran juga mengasumsikan identitas yang relevan dengan peran-perannya (Mulyana,
2003 : 110). Dalam kaitannya dengan program acara
debat ini, tentunya ada sebuah proses perencanaan
saat kandidat calon gubernur serta calon wakil gubernur ini berlakon sebagai aktor-aktornya program
tersebut. Semuanya telah diatur oleh pembuat program tersebut yaitu produser. Produser berperan besar
dalam pembuatan produksi sebuah program televisi
dari pra hingga pasca produksi.
Berdasarkan pemaparan diatas menarik untuk
mengetahui bagamiana proses dramaturgi itu berlangsung dalam sebuah program acara. Dalam hal ini
program acara yang kami teliti adalah program Debat
Kandidat calon gubernur dan Wakil gubernur DKI Jakarta putaran kedua” yang tayang di Jak tv khususnya
pada edisi 14 September 2012 lalu. Saat itu pembawa
acaranya Abdul Rasyid dan Rahma Sarita .
II. KAJIAN LITERATUR
2.1 Proses Produksi
Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan tekhnik bagaimana sesungguhnya sumbersumber yang terdiri dari tenaga kerja, mesin, bahan
dan dana yang ada diubah untuk memperoleh suatu
hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan
atau menambah kegunaan barang atau jasa (Assauri:
1995). Proses
Menurut Ahyari produksi adalah
(2002) ialah proses suatu cara, metode ataupun tehnik
menambah kegunaan suatu barang dan jasa dengan
menggunakan faktor produksi yang ada. Melalui kedua definisi diatas, dipahami bahwa proses produksi
merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada, seperti tenaga kerja,
mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat
bagi kebutuhan manusia.
Dalam konteks ini yang berkaitan dengan proses produksi sebuah program televisi terdapat tiga
tahapan, yaitu pra-produksi, produksi dan pasca
produksi. Pra produksi merupakan tahap awal dari
pembuatan sebuah program produksi. Pada tahapan
ini aktivitas dimulai dengan mengumpulkan ide baik
internal maupun eksternal sampai menjadi sebuah
desain program untuk mengisi atau sebagai masukan
pada pola dasar yang memuat judul, kriteria serta format program. Tujuannya yakni untuk mendapatkan
sebuah desain program yang tentu saja yang menarik
serta memenuhi kebutuhan khalayak atau penonton.
2.2. Media Massa
Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak
penerima dengan menggunakan alat-alat komunikasi
mekanis seperti surat kabar, film, radio dan televisi.
Selanjutnya media massa bisa dipahami sebagai
alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience
yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa
diban-ding dengan jenis komunikasi lainnya ia bisa
mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007).
Berdasarkan penjelasan tentang media massa
diatas, maka penulis memahami bahwa media massa
merupakan alat tercepat dalam menyampaikan pesan
kepada khalayaknya. Pesan-pesan yang disampaikan
mampu menjangkau tempat terpencil sekalipun karena begitu besarnya media massa berpengaruh dalam
kehidupan manusia. Media massa sangat berpengaruh
mengubah perilaku khalayaknya.
Media massa juga memiliki fungsi, menurut
Harold D. Laswell ada tiga fungsi dari media massa
yang tidak berdiri sendiri melainkan saling menunjang, diantaranya : the surveilance of the environment,
ini berarti bahwa media massa bertindak sebagai
pengamat lingkungan dan selalu akan memberikan
berbagai informasi atas hal-hal yang tidak dapat terjangkau khalayak. Fungsi selanjutnya the correlation
of the parts of society in responding to the environment, berarti bahwa media massa itu lebih menekan
kepada pemilihan, penilaian,
penafsiran tentang
apa yang patut di sampaikan kepada khalayak. Fungsi
ketiga yakni the transmission of the social hertage
from generation to the generation. Hal ini menunjukkan bahwa media massa berfungsi sebagai jembatan
tata
nilai dan budaya dari generasi ke generasi,
atau dengan kata lain media massa berfungsi pula sebagai media pendidikan.
bahkan ada yang berpendapat bahwa gambar yang ditayangkan di televisi haruslah merupakan perpaduan
antar gerak, seni dan teknik. Dari pendapat di atas dapat
dipahami bahwa televisi adalah alat atau benda untuk
menyiarkan siaran-siaran yang menawarkan gambar
dan suara sekaligus. Dari siaran televisi ini penonton
dapat mendengarkan dan melihat gambar-gambar
yang disajikan, yang memadukan antara unsur-unsur
film sekaligus. Televisi memang bisa dikatakan “kotak ajaib” dunia. Ia membawa pesan- pesan dengan
sangat menarik ada gambar, suara, warna dan kecepatan yang menjadi favorit sejak awal penemuannya.
Tentunya ada faktor yang menarik dari televisi sehingga pemirsa mempunyai minat yang sangat tinggi
untuk menontonnya, yaitu memiliki karakter audio
visual secara bersamaan dan mampu menerjemahkan
kata-kata yang mengandung gagasan yang menjadi
gambar serta penggambaran (picturization), yakni
kegiatan merangkai gambar-gambar individual sedemikian rupa, sehingga kontinuitasnya mengandung
makna tertentu.
Pada sisi lain, medium televisi memiliki konsekuensi dalam pengoperasian peralatan yang digunakannya untuk menyampaikan pesannya, yakni lebih banyak dan lebih rumit serta harus dilakukan oleh
orang yang terampil dan terlatih. (Elvinaro dkk, 2007:
137-140). Lebih jauh lagi Elvinaro (2007) menyatakan bahwa dalam penayangan acara televisi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Komunikator harus memahami kebiasaan dan
minat
pemirsa, baik yang termasuk kategori
anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang yang
sudah lanjut usia sekalipun.
b. Waktu penayangan harus sesuai dengan kelaziman pemirsa.
c. Durasi, disesuaikan dengan jenis acara dan tuntutan naskah, yang paling penting bahwa dengan
durasi tertentu terlalu singkat atau terlalu lama.
d. Metode penyajiannya, mengemas pesan sedemikian rupa yakni menggunakan metode penyajian tertentu dimana pesan non hiburan dapat mengundang unsur hiburan. Penayangan
televisi harus berimbang di mana media televisi
mencirikan proses interaksi bagi pemirsa dalam
meningkatkan pengetahuannya terhadap informasi yang berkembang. Selain itu, tingkat kepentingan dan kebutuhan pemirsa menjadi terpenuhi.
2.3. Televisi
Sebagai salah satu media massa televisi adalah alat penangkap siaran bergambar, yang berupa audio visual dan penyiaran videonya secara broadcasting. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yaitu tele
yang berarti jauh dan vision yang berarti melihat, jadi
secara harfiah berarti “melihat jauh”, karena pemirsa
berada jauh dari studio televisi (Ilham Z, 255)
Sementara itu, J.B. Wahyudi (1982) men- 2.4. Program Televisi
definisikan televisi sebagai medium audioSecara teknis penyiaran televisi, provisual yang hidup, dengan demikian lebih
mengutamakan gerak atau moving / acting, gram televisi (programming television) diartikan
69
sebagai penjadwalan atau perencanaan siaran televisi
dari hari ke hari (horizontal programming) dan dari
jam ke jam (vertical programming) setiap harinya.
Media televisi hanya mengistilahkan programming
atau pemrograman (Soenarto, 2007:1). Secara garis
besar, berbagai jenis program dapat dikelompokkan berdasarkan jenisnya menjadi dua bagian, yaitu
program informasi dan program hiburan. Jika dilihat
dari sifatnya, maka dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu program faktual (meliputi program berita,
talkshow, dokumenter dan reality show) dan program
fiksi (meliputi program komedi dan drama). (Morissan, 2008:207)
2.5. Talk Show
Salah satu format yang sering digunakan televisi dalam menampilkan wacana “serius” adalah talk
show. Jenis program ini merupakan wacana penyiaran yang bisa dilihat sebagai produk media. Sebagai
produk media, talk show dapat menjadi ‘teks’ budaya
yang berinteraksi dengan pemirsanya dalam produksi
dan pertukaran makna. Dalam hal ini talk show akan
memperhatikan masalah efisiensi dan akurasi, pada
aspek kontrol pembawa acara, kondisi partisipan dan
evaluasi penontonnya.
Pengertian talk show menurut Farlex (2005)
adalah sebuah acara televisi atau radio, yang terdapat
orang terkemuka, seperti seorang ahli dalam bidang
tertentu, berpartisipasi dalam diskusi atau diwawancarai dan kadangkala menjawab pertanyaan dari
pemirsa atau pendengar. Program ini mempunyai ciri
penggunaan percakapan sederhana (casual conversation) dengan bahasa yang universal (untuk menghadapi heterogenitas khalayak). Tema yang diangkat
haruslah benar-benar penting (atau dianggap penting) untuk diketahui khalayak atau setidaknya menarik bagi pemirsanya. Wacana yang diketengahkan
merupakan isu (trend) yang sedang berkembang dan
hangat di masyarakat. Sedang menurut R. Faldi, Talk
show berisikan para narasumber yang hadir bersamaan, seperti di studio, kafe, ballroom hotel dan tempat representatif, lantas disiarkan secara live. (2001;
21)
Jak Tv menyelenggarakan program talk show
yang bertemakan “Debat Kandidat Cagub-Cawagub
Putaran Kedua”. Program yang menyajikan konsep
acara debat dan juga saling melontarkan visi-misi
dari program masing-masing kandidat jika terpilih
menjadi gubernur dan wakil gubernur nanti. Sesuai dengan berita yang sedang berkembang tentang
pemilihan cagub-cawagub. Jak tv mengambil kesempatan dalam pemilihan gubernur ini dan dijadikan sebagai sebuah program debat yang dikonsepkan
70
sedemikian rupa agar tayangannya berhasil memikat pemirsa serta mampu memberikan tayangan yang membantu masyarakat dalam memilih
gubernur yang akan memimpin Jakarta nantinya.
2.6. Dramaturgi
Tujuan dramatisme adalah memberikan penjelasan logis untuk memahami motif tindakan manusia, atau kenapa manusia melakukan apa yang mereka
lakukan (Fox, 2002). Berdasarkan pandangan Burke
bahwa pemahaman yang layak atas perilaku manusia harus bersandar pada tindakan, dramaturgi menekankan dimensi ekspresif / impresif aktivitas manusia,
yakni bahwa makna kegiatan manusia terdapat dalam
cara mereka mengekspresikan diri dalam interaksi
dengan orang lain yang juga ekspresif. Oleh karena
manusia bersifat ekspresif inilah perilaku manusia
bersifat dramatik. Teori dramaturgi ini menjelaskan
bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut menjadi bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa
saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan
orang lain. Disinilah dramaturgis berperan, bagaimana manusia menguasai interaksi tersebut. Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha
untuk menggabungkan karakteristik personal dan
tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”. Dalam mencapai tujuannya tersebut,
menurut konsep dramaturgis, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya
tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan. Kelengkapan ini antara lain
memperhitungkan latar lokasi, kostum, penggunakan
kata (dialog) dan tindakan non verbal lain, hal ini tentunya bertujuan untuk meninggalkan kesan yang baik
pada lawan interaksi dan memuluskan jalan mencapai
tujuan.
Dalam kaitannya dengan program acara debat
yang penulis teliti ini, aktor yang berperan adalah
para kandidat cagub dan cawagub. Moderator dalam
program ini adalah pembawa acaranya yang juga telah dipersiapkan dengan daftar petanyaan yang dibuat
oleh seorang produser. Goffman dalam Mulyana (
2006:113) menyebut aktivitas untuk mempengaruhi
orang lain ini sebagai “pertunjukan” (performance).
Sebagian pertunjukan itu mungkin diperhitungkan
untuk memperoleh respons tertentu, sebagian lainnya
kurang diperhitungkan dan lebih mudah dilakukan
karena pertunjukan itu tampak alami, namun pada
dasarnya tetap ingin meyakinkan kepada penonton.
Kehidupan sosial itu dapat dibagi menjadi
“wilayah depan” (front region) dan “wilayah belakang” (back region). Wilayah depan merujuk kepada peristiwa sosial yang memungkinkan individu bergaya atau menampilkan
peran formalnya. Sebaiknya, wilayah belakang merujuk kepada tempat dan peristiwa yang memungkinkanya mempersiapkan perannya di wilayah depan.
Terkait dengan penelitian yang dibahas dalam
karya ini yaitu panggung dalam debat tersebut, seorang produser beserta tim telah mempersiapkan
sebelumnya. Produser membuat floor plan jalannya
acara guna menjadikan program tersebut nampak menarik dimata pemirsa baik yang berada di studio maupun di rumah.
2.7. Debat
Arti debat menurut Dipodjojo (1982: 59)
adalah proses komunikasi lisan yang dinyatakan
dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat. Setiap pihak yang berdebat akan menyatakan argumen,
memberikan alasan dengan cara tertentu agar pihak
lawan berdebat atau pihak lain yang mendengarkan
perdebatan itu menjadi yakin dan berpihak padanya.
Debat berasal dari bahasa inggris, yaitu debate.
Istilah tersebut identik dengan istilah sawala yang
berasal dari bahasa Kawi yang berarti berpegang teguh pada argumen tertentu dalam strategi bertengkar
atau beradu pendapat untuk saling mengalahkan atau
memenangkan lidah. Jadi, definisi dari debat sendiri
adalah suatu cara untuk menyampaikan ide secara
logika dalam bentuk argumen disertai bukti-bukti
yang mendukung kasus dari masing-masing pihak
yang berdebat.
Debat di Indonesia sendiri dibagi menjadi dua
aliran, yang pertama adalah aliran konvensional
atau aliran yang jarang dipakai, dan yang kedua adalah aliran yang mengikuti standar internasional atau
aliran yang sekarang sedang digalakkan pemakaiannya di Indonesia.
Berdasarkan penjelasan mengenai debat diatas,
penulis memahami bahwa debat merupakan proses
komunikasi dengan bahasa guna mempertahankan
pendapat dalam bentuk argumen yang logis disertai
bukti-bukti agar pihak lain mendengarkan dan berpihak padanya.
penelitan yang bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lainlain, secara holistic dan dengan cara deskripsi dalam
bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus
yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai
metode alamiah. Sementara tujuan dari riset kualitatif
yaitu untuk menjelaskan fenomena dengan sedalamdalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya. (Kriyantono, 2006:56)
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif yaitu hanya untuk mendeskripsikan atau
mengkonstruksi wawancara-wawancara mendalam
terhadap subjek penelitian sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai proses dramaturgi
yang terjadi dalam produksi program Debat Kandidat putaran kedua calon gubernur dan wakil gubernur di Jak tv. Pada penelitian ini hanya menggambaran mengenai proses terjadinya dramaturgi dalam
produksi programnya saja. Pembahasan hasil penelitian dijabarkan dalam bentuk deskripsi yang didukung
dengan teori yang bersumber dari buku, kemudian
dianalisis untuk mengetahui proses dramaturgi yang
terjadi dalam program debat yang diselenggarakan di
Jak tv. Selanjutnya, ditarik beberapa kesimpulan sebagai hasil dari penelitian.
IV. PEMBAHASAN
Debat Kandidat Cagub-Cawagub putaran kedua adalah sebuah tayangan tematik, tidak selalu ada
setiap saat secara reguler. Program hanya diadakan
pada saat pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Jadi sifat dari program ini adalah
temporer. Program ini diselenggarakan atas dasar
kerjasama antara Komisi Pemilihan Umum Daerah
(KPUD) dan Komisi Pemilihan Umum Provinsi. Kedua lembaga tersebut melakukan tender dalam meyukseskan pemilihan gubernur dan wakil gubernur DKI
Jakarta. Dalam proyek ini ternyata dimenangkan oleh
sebuah perusahaan agensi AHA Communica. Dalam
tender disepakati bahwa yang berhak memilih stasiun
televisi sebagai pihak resmi yang boleh siarkan ptogram Debat Kandidat adalah pemenang tender, yaitu
pihak AHA Communica. Namun pada saat penyelenggaraannya pihak KPUD menyatakan bahwa jika
terjadi dua putaran pemilihan gubernur DKI Jakarta
ini, pada putaran pertama dilaksanakan hanya di satu
stasiun tv swasta nasional, sedangkan di putaran kedIII. METODE PENELITIAN
ua akan dilaksanakan program acara debat di stasiun
Dalam penelitian ini pendekatan yang digu- tv lokal Jakarta dan juga stasiun tv swasta nasional.
Jak tv menjadi salah satu stasiun tv yang
nakan adalah metode pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2005:6) yakni, aktif berkomunikasi dengan KPUD dan dalam
71
mensosialisasikan program kampanye pemilihan gubernur ini KPUD mempercayakan kepada Jak tv sebagai televisi yang menyiarkan secara resmi program
debat kandidat. Sehingga pada saat pelaksanaan debat
kandidat putaran kedua Jak tv memiliki kesempatan
menjadi penyelenggara acara debat cagub-cawagub
DKI Jakarta bekerjasama dengan agensi yang memenangkan proyek. Program debat ini diselenggarakan
atas kerjasama KPUD, agency AHA Communica dan
juga Jak tv sebagai media siarannya.
Program Debat Kandidat Calon Gubernur dan
Wakil Gubernur DKI diselenggarakan pada 14 September 2012. Proses pembuatan program ini melalui serangkaian diskusi dan juga rapat antara KPUD,
pihak agensi dan juga Jak tv. Setiap detail pembuatan
produksinya harus melalui persetujuan dari KPUD,
karena yang memilki kendali atas penyelenggaraan
ini merupakan bagian dari tugas KPUD DKI Jakarta.
Setelah semua rencana dan juga kesepakatan, akhirnya terlaksana sebuah program acara ini. Program
bertujuan agar masyarakat bisa melihat dan menilai
langsung bagaimana kandidat cagub-cawagub yang
dipilihnya memaparkan visi-misinya. Acara debat ini
diharapkan dapat memudahkan warga dalam memilih
calon gubernur dan wakil gubernur yang kelak akan
memimpin Jakarta.
Menurut penjelasan Irfan yang menjabat sebagai produser Program Debat bahwa, sejak setahun
yang lalu, sebelum pemilukada digelar sudah terjadi
komunikasi yang intens antara pihak Jak tv dengan
KPUD. Sebagai stasiun televisi lokal Jakarta yang
saat itu sedang mengembangkan program berita, sejak
bulan November 2011 lalu, Jak tv sudah menyelenggarakan program-program yang terkait dengan isu-isu
pemilukada DKI. Sebelumnya staiun TV ini memiliki
program Menuju Jakarta Satu, pada saat itulah Jak tv
secara reguler sampai dua minggu sebelum pemungutan suara kita intens menggelar program Menuju
Jakarta Satu. Se-telah itu barulah mengarap program
Debat Kandidat calon gubernur dan wakil gubernur
putaran kedua.
Pada tahapan produksi program acara debat kandidat cagub-cawagub ini dipersiapkan waktu
yang cukup lama. Didahului oleh sebuah rapat agensi
dengan pihak Jak tv dan juga KPUD selaku penyelenggara. Semua keputusan hasil rapat dan konsep
acara debatnya harus melalui persetujuan KPUD.
Bukan hanya Jak tv yang memegang kendali, karena Jak tv hanya bertugas sebagai penanggung jawab
penyelenggara acara. Dalam produksi tersebut, pembagian tanggung jawabnya 50 : 50, yaitu semua peralatan secara teknis dari pihak Agensy yang menyediakan sampai pada tim teknis mereka yang atur.
72
Sedangkan pihak Jak tv sebagai team yang bertanggunga jawab dalam isi acara debat, yaitu rundown,
tayangan rekaman, grafis serta animasi. Pada tahapan
produksi ini gambar diambil sesuai dengan rundown
yang dibuat oleh Jak tv dan disetujui pihak KPUD,
karena dalam hal ini KPUD yang memegang wewenang penuh untuk menyetujui atau tidak disetujuinya susunan acara juga konsepnya. Dalam tiap
segmennya sudah ditentukan durasinya. Pada saat
sebelum pelaksanaan, semua tim produksi mengadakan briefing. Ini dilakukan guna memastikan segala
sesuatunya sudah sesuai dengan apa yang dirapatkan
sebelumnya. Rundown disiapkan persegmen dan dipegang oleh floor director (FD). Program Director
yang yang bertugas dalam acara debat ini adalah seorang yang sudah profesional dibidangnya khususnya
dalam program-program debat.
Pada tahap ini produser bertanggung jawab
penuh selama proses syuting berlangsung dan mengawasi dari dalam ruang kontrol. Sedangkan, untuk
mengurusi proses acara di lokasi seorang FD mengawasi jalannya proses produksi. Jika terjadi kelebihan durasi, FD yang mengingatkan kepada pembawa
acara. FD bertanggung jawab penuh di lokasi, seperti yang dikatakan oleh Abner sebagai FD bertugas
memberitahukan kepada pembawa acra dan semua
tim agar kembali kepada susunan rundown yang disusun sebelumnya. Pada saat proses produksi rundown
menjadi acuan.
Jika dikaitkan dengan rumusan masalah, maka
proses dramaturgi sudah berlangsung pada pengaturan
yang dilakukan oleh produser serta semua hal yang
dipersiapkan dari ide awal hingga proses produksi.
Ia juga menggunakan konsep dramaturgi saat dalam mendesain tata panggung, pencahayaan, posisi
kamera dan penempatan kandidat Cagub-Cawagub
serta para panelis. Jumlah pendukung masing-masing
calon yang menjadi penonton dan hadir di ruangan
menjadi salah satu unsur drama yang dibuat oleh produser. Sebab tingkah polah penonton akan meraimaikan tampilan debat tersebut.
Front stage atau panggung depan dalam program acara debat terdiri dari pembawa acara, sofa dan
podium untuk para masing-masing calon gubernur dan
calon wakil gubernur serta para panelis. Dalam panggung depan ini pelakon yaitu para kandidat, pembawa
acara dan panelis melakukan perannya. Agar acara
debat berlangsung menarik dibuatlah pertanyaan –
pertanyaan yang diajukan oleh panelis kepada para
kandidat. Pembawa acara berperan sebagai moderator, yang akan membatasi waktu dan juga mengatur
siapa saja yang berhak berbicara atau menyampaikan
argumennya. Sedangkan back stage atau panggung
belakang dalam program ini merupakan suatu yang
perilaku dan tindakan yang tidak diperlihatkan oleh
semua pihak yang nampak di kamera dan cenderung
sikap asli mereka baik itu pembawa acara, para kandidat, panelis bahkan penonton yang hadir di ruangan
tersebut. Namun dalam penelitian ini ruang lingkupnya dibatasi hanya pada para kandidat saja.
Nampak jelas, bagaimana dramaturgi yang
terdapat dalam program ini. Para kandidat memiliki
ciri khas masing-masing. Pasangan pertama yaitu
Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli dengan pakaian
yang khas mengenakan Baju muslim pria, sedangkan pasangan lainnya yaitu Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama memakai kemeja kotak-kotak
yang khas yang mereka kenakan disetiap kampanye. Dalam pakaian yang mereka kenakan sudah
ada unsur dramaturgisnya. Karena untuk mengambil perhatian masyarakat, mereka mengenakan
pakaian yang berupaya menciptakan citra positif.
Pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi ingin dilihat sebagai sosok Betawi dengan pakaian yang mereka gunakan. Mereka berusaha untuk menjadi orang Betawi
dan akan membangun Jakarta dengan memperhatikan
kearifan lokal Betawi. Sedangkan pakaian yang dikenakan pasangan Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama
dengan pakaian bermotif kotak-kotaknya ingin terlihat
sebagai sosok pekerja keras yang ingin membangun
Jakarta. Pakaian tersebut merupakan salah satu panggung depan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Tiap lontaran kata yang disampaikan mereka
pun merupakan drama juga, karena mereka telah menyiapkan melalui visi dan misi yang telah dikonsep
sebelumnya. Begitu juga dengan sikap dan bahasa
non verbal yang terjadi dalam program tersebut.
Goffman mengemukakan bahwa kehidupan sosial ini
ibarat teater, interaksi antar manusia yang menampilkan peran-peran dan dimainkan oleh aktor. Pada konteks ini aktor dalam pertunjukkannya adalah para
kandidat calon gubernur dan wakil gubernur. Drama
mereka meliputi penggunakan kostum tertentu, arah
berjalan, bahasa verbal yang diungkapkannya, menjaga nada suara, melakukan gestur tubuh dan juga
mengekspresikan wajah yang sesuai dengan situasi.
Hal-hal itu juga tidak lepas dari arahan produser. Diatas panggung atau didepan penonton mereka berdebat
soal kebijakan masing-masing dalam menyelesaikan
masalah Jakarta, bahkan nampak cukup sengit didepan para pemirsa. Namun, di belakang panggung
mereka bersalaman saling menegur sapa seperti biasa
tanpa ada dendam. Karena memang di depan panggung itu hanya sebagai peran.
V. PENUTUP
Program acara Debat Kandidat calon gubernur
dan wakil gubernur DKI Jakarta yang di tayangkan di
Jak tv tidak terlepas dari unsur drama. Terdapat pengelolaan kesan dan pesan sedemikian rupa agar penonton bersimpati dan memilih kandidat yang tampil
untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI.
Pakaian yang dikenakan oleh kandidat, gaya bicara,
isi pembicaraan, semua gerak tubuh non verbal para
kandidat merupakan panggung depan yang nampak
di televisi dan bisa dilihat oleh penonton. Sementara
panggung belakang mereka bisa jadi sangat berbeda
dengan apa yang ditampilkan di panggung depan. Saat
program berlangsung terdapat debat yang cukup sengit antara pasangan Fauzi Bowo- Nachrowi dengan
Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama. Tapi di balik layar
mereka saling menegur seolah tidak terjadi apa-apa
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, dkk. 2007. Komunikasi Massa Suatu Pengantar. Bandung. Simbiosa Rekatama Media.
Ahyari, Agus. 2002. Manajamen Produksi. Yogyakarta. BPFE.
Cangara, Hafied. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi.
Jakarta. Raja Grafindo.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua. Jakarta : Balai Pustaka
Effendy, Onong Uchjana. 2000. Ilmu Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
----------, 2003. Teori dan Praktek Ilmu Komunikasi.
Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
----------, 2006. Teori dan Praktek Ilmu Komunikasi.
Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua. Jakarta : Balai Pustaka
Fisher, Aubrey. 1978. Teori-Teori Komunikasi. Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Hamidi, 2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi, Malang, UMM Press.
Mulyana, Deddy. 2002. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.
----------, 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung, PT. Remaja Rosdakarya.
Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset komunikasi. Jakarta, Kencana
Narbuko, Cholid. 2009. Metodologi Penelitian.
73
Jakarta, Bumi Aksara.
Nasution. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung. Tarsito.
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Nurudin. 2009. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta. Rajawali Pers.
Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT.Remaja Rosdakarya
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif.
Yoyakarta. Lkis
Wibowo, Fred. 2009. Tehnik Produksi Program Televisi. Yogyakarta. Pinus Book Publisher.
74
Download