Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam

advertisement
ISSN: 2579-3985
“Peningkatan Profesionalisme Perawat
dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian
Keluarga Sehat”
LPPM STIKes PERINTIS PADANG
TAHUN 2017
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
PROSIDING
SEMINAR KEPERAWATAN BY NERS FOR
NERS
“Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam
Pelaksanaan Home Care untuk Kemandirian
dan Pencapaian Keluarga Sehat”
REVIEWER :
Yendrizal Jafri, S.Kp, M.Biomed
Ns. Yaslina, M.Kep, Sp. Kom
Isna Ovari, S.Kp, M.Kep
Dewi Yudiana Shinta, M.Si, Apt
Editor :
Fitra Wahyuni, M.Si
Diterbitkan Oleh :
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
STIKes Perintis Padang
Alamat Penerbit :
Jl. Adinegoro Simpang Kalumpang Lubuk Buaya Padang, Sumatera Barat – Indonesia
Telp. (+62751) 481992, Fax. (+62751) 481962
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Copyright@2017
ISSN : 2579-3985
LPPM STIKes Perintis Padang
i
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga kita senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat untuk dapat
melaksanakan aktifitas
yang menjadi tanggung jawab kita. Shalawat dan salam kita
sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman
kegelapan kepada zaman yang terang akan penuh ilmu pengetahuan, semoga kita menjadi
pengikutnya yang mendapat syafaat pada akhir zaman, Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Pada kesempatan ini izinkan kami Panitia mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini serta kepercayaan yang diberikan
kepada kami untuk menyajikan materi Seminar Keperawatan by Ners For Ners:
“Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk Kemandirian
dan Pencapaian Keluarga Sehat” yang diselenggarakan di Aula Kampus II STIKes Perintis
Padang yang berada di Kota Bukittinggi pada Tanggal 25 Maret 2017. Prosiding ini berisi
full paper yang disajikan pada acara tersebut.
Akhir kata kami Panitia berharap agar kumpulan paper ini dapat bermanfaat bagi
perkembangan dunia kesehatan dimasa yang akan datang, atas segala kekurangan kami
mohon maaf.
Wassalam,
Bukittinggi, 25 Maret 2017
TTD
PANITIA
LPPM STIKes Perintis Padang
ii
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
DAFTAR ISI
MAKALAH KEPERAWATAN
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pengontrolan Gula Darah Pada Pasien Diabetes
Mellitus
Oleh : Ernalinda Rosya, Feri Randani (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang) ............... 1
Hubungan Derajat Dimensia Dengan Status Personal Hygiene Pada Lansia
Oleh : Yaslina, Isra Aini, Falerisiska Yunere (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang) ..... 12
Komunikasi dalam Keluarga dengan Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia 5-6 Tahun
Oleh : Yendrizal Jafri, Sandria Oktafiana (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang) .......... 19
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Abortus di RSUD Adnaan WD
Payakumbuh
Oleh : Hidayati, Dina Destri Putri (Prodi Profesi Ners STIKes Perintis Padang) ..... 24
Hubungan Stroke Berulang Dengan Kemampuan Fungsional Pada Pasien Stroke Di
Poliklinik Neurologi RSSN
Oleh : Lisa Mustika Sari (Prodi Sarjana Ilmu Keperawatan (PSIK) STIKes Perintis
Padang) ....................................................................................................................... 32
Reaksi Cemas Klien Yang Menjalani Terapi Hemodialisa Berhubungan Dengan
Informasi Dan Motivasi Perawat Ruangan Hemodialisa
Oleh : Isna Ovari (Prodi Profesi Ners STIKes Perintis Padang) .............................. 38
Hubungan Kemampuan Kognitif Dengan Succesful Aging Dalam Pemeliharaan Kesehatan
Pada Lansia DiWilayah Kerja Puskesmas Lasi Kabupaten Agam Tahun 2016
Oleh : Yuli Permata Sari, Rahmi Yusra dan Jendrizal Jafri (STIKes Perintis Padang)
.......................................................................................................................................... 46
Supervisi Kepala Ruang Dengan Kepatuhan Perawat Pelaksana Cuci Tangan Lima Momen
di RSUD Padang Pariaman
Oleh : Endra Amalia, Fauzia Amana Fitra, Hidayati (Prodi Sarjana Ilmu Keperawatan
(PSIK) STIKes Perintis Padang) ................................................................................ 51
Hubungan Stress dan Pemenuhan Kebutuhan Tidur Dengan Keseimbangan Tubuh pada
Pasien Vertigo di Poli Neurologi RSUD Bukittinggi
Oleh : Dia Resti Nanda Demur (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang) ........................... 57
Hubungan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Klien
Gagal Ginjal Kronik Di poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr Achmad Muchtar Bukittinggi
Oleh : Ida Suryati (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang)................................................ 65
LPPM STIKes Perintis Padang
iii
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Hubungan Pelaksanaan Orientasi Pasien Baru Dengan Kepuasan Pasien di Ruang Rawat
Inap Bedah RSUD Dr Achmad Muchtar Bukittinggi Tahun 2016
Oleh : Vera Sesrianty, Diky Leksono Segoro (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang)...... 73
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil
Oleh: Mera Delima, Monika Blezinki, Maidaliza (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang)
.......................................................................................................................................... 79
Hubungan Tipe Keluarga Dengan Perilaku Agresif pada Remaja Di SMAN I Kecamatan
2x11 Kayu Tanam
Oleh : Falerisiska Yunere, Fauzan Azima (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang) .......... 89
Pengaruh Terapi Musik Klasik Terhadap Kualitas Tidur Pasien Pasca Operasi
Oleh : Muhammad Arif, Putri Wulandari (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang) ........... 98
Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri dan Involusio Uterus Pada
Ibu Post Operasi Sectio Caesarea di Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi
Oleh : Lisa Fradisa, Windy Widiya, Mera Delima (Prodi PSIK STIKes Perintis Padang)
.......................................................................................................................................... 108
MAKALAH HEALTH SCIENCE
Efektifitas Metoda Hidrolisis Asam dan Metoda Enzimatik untuk Pembuatan Bioetanol dari
Limbah Kulit Ubi Jalar (Ipomea batatas L.)
Oleh : Betti Rosita (Prodi DIV Teknologi Laboratorium Medik) ..................................... 113
Perbedaan Ekspresi Gen SCUBE2 pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 antara Lama
Menderita <5 Tahun dengan ≥5 Tahun
Oleh : Chairani, Hirowati Ali, Raflis Rustam (Magister Ilmu Biomedik FK Unand) ...... 124
Kesesuaian Uji Widal dengan Tubex (Immunoassay) Pada Penderita Suspek Infeksi Demam
Tifoid
Oleh : Renowati (Prodi DIV Teknologi Laboratorium Medik) ........................................ 129
LPPM STIKes Perintis Padang
iv
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PENGONTROLAN GULA
DARAH PADA PASIEN DM
ErnalindaRosya1, Feri Randani2
Program Studi Profesi Ners STIKes Perintis Padang
[email protected]
²Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang [email protected]
1
Abstract
DM is a degenerative disease that requires serious treatment because the disease can not be cured.
DM causes dangerous complications for patients who eventually lead to death. The increasing
prevalence of DM in Indonesia in 2007 is 1.1% to 2.1% in 2013. Bukittinggi City has the highest
prevalence in West Sumatera (1.5%). Efforts to address the increasing prevalence of DM one of them
by controlling blood sugar regularly. This research is to know the Family Support Relationship With
Controlling Blood Sugar on Diabetes Mellitus Patients, using a descriptive method with correlation
study design, then data is processed by using Chi- Square test. The study also involved 40 people
with DM. The results of statistical tests in this study found no relationship of family support with
blood sugar control in DM patients. Researchers suggest that the results of this study are included
in the SOP of non-communicable disease management program and provide health education to
patients and families about family support for blood sugar control.
Keywords: Family Support, Blood Sugar Control, Diabetes Millitus
1. PENDAHULUAN
Penyakit DM merupakan penyebab
kematian nomor 6 di dunia dan di Indonesia
merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah
penyakit jantung (KEMENKES RI, 2013).
Berdasarkan data dari WHO (2006),
diperkirakan terdapat 171 juta orang didunia
menderita diabetes pada tahun 2000 dan
diprediksi akan meningkat menjadi 366 juta
penderita pada tahun 2030. Sekitar 4,8 juta di
dunia telah meninggal akibat DM. Sepuluh besar
negara dengan prevalensi DM tertinggi di dunia
pada tahun 2000 adalah India, Cina, Amerika,
Indonesia, Jepang, Pakistan, Rusia, Brazil, Italia,
dan Bangladesh. Indonesia menduduki posisi
keempat dunia setelah India, Cina, dan Amerika
dalam prevalensi DM. Pada tahun 2000
masyarakat Indonesia yang menderita DM
adalah sebesar 8,4 juta jiwa dan diprediksi akan
meningkat pada tahun 2030 menjadi 21,3 juta
jiwa.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) pada tahun 2013 dilaporkan
bahwa prevalensi DM sebanyak 2,1% lebih
tinggi dibandingkan pada tahun 2007 sebanyak
1,1%. prevalensi DM pada perempuan lebih
tinggi dari pada laki-laki dan cendrung lebih
banyak pada masyarakat yang tingkat
pendidikannya tinggi dari pada tingkat
pendidikan rendah, hal ini kemungkinan akibat
pola hidup yang tidak sehat (Kemenkes RI,
2013). Prevalensi penyakit DM di Provinsi
Sumatera Barat memiliki prevalensi penyakit
DM Tipe 2 diatas prevalensi Nasional.
RISKESDAS
Provinsi
Sumatra
Barat
menyatakan bahwa prevalensi DM tipe 2 juga
tinggi di kota Bukittinggi yaitu sebesar 1,5 %.
World Health Organization (WHO)
sebelumnya telah merumuskan bahwa DM
merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan
dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tetapi
secara umum dapat dikatakan sebagai suatu
kumpulan problema anatomi dan kimiawi dari
sejumlah faktor dimana didapat defisiensi
insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi
insulin. komplikasi yang sering dilakukan adalah
dengan melakukan diet, obat penurunan kadar
gula darah dan latihan fisik untuk mengontrol
kenormalan kadar gula dalam darah. Namun
penyakit
diabetes
merupakan
penyakit
degeneratif yang terjadi seumur hidup, maka
banyak penderita diabetes yang mengalami
depresi dan kecemasan dengan gejala perubahan
pola hidup yang drastis untuk mengelola
penyakitnya, sehingga di perlukan dukungan
LPPM STIKes Perintis Padang
1
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
moral baik dari profesional keluarga dan sahabat
(Thaylor, 1995 dalam Sayfunurmazah).
Dukungan keluarga sangat penting bagi
penderita DM untuk pengontrolan gula
darahnya. Perhatian dan dukungan dari keluarga
menimbulkan kepercayaan diri bagi penderita,
untuk menghadapi atau mengelola penyakitnya
dengan baik. Penderita mau menuruti saransaran yang diberikan oleh keluarga untuk
menunjang pengelolaan penyakitnya. Keluarga
juga berfungsi sebagai sistem pendukung bagi
anggotanya dan anggota keluarga memandang
bahwa orang yang bersifat mendukung, selalu
siap memberikan pertolongan dengan bantuan
jika diperlukan. Keluarga merupakan bagian
terpenting bagi semua orang, begitu pula bagi
penderita DM. mereka memulai berbenah diri,
mulai mengontrol pola makan dan aktifitas. Hal
tersebut sangat membutuhkan bantuan dari
orang sekitar terutama keluarga, dengan
menceritakan kondisi DM pada orang terdekat,
maka akan membantu dalam kontrol diet dan
program pengobatan. BPOM RI (2006)
menjelaskan bahwa faktor lingkungan dan
keluarga merupakan faktor yang berpengaruh
dalam pengontrolan gula darah pada pasien DM.
Pernyataan diatas didukung oleh penelitian
yang dilakukan Mayberry Lindsay S (2012),
tentang family support, medication adherence
and glycemic control among adults with
diabetes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
dukungan
keluarga
berpengaruhterhadap
pengobatan diabetes yaitunya pengontrolan
glukosa darah pada pasien diabetes.
Keluarga merupakan faktor penting bagi
setiap orang, keluarga tempat kita baerbagi
kebahagiaan dan kesedihan, begitu juga bagi
pasien DM. Mereka yang menderita DM akan
rendah diri, putus asa, dan mudah tersinggung.
Sehingga dalam pengendalian DM dibutuhkan
bantuan keluarga baik dukungan moril maupun
spiritual. Faktor lingkungan dan keluarga
merupakan faktor yang berpengaruh dalam
menumbuhkan kepatuhan pasien. Sehingga dari
pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa
dukungan keluarga sangat berpengaruh bagi
pasien diabetes dalam melakukan pengendalian
kadar gula darah. Sehingga penderita DM dapat
menghindari gejala komplikasi (BPOM RI,
2006).
Uraian diatas menjadi dasar bagi peneliti
melihat hubungan dukungan keluarga dengan
pengontrolan gula darah pada pasien DM dan
mengetahui distribusi frekuensi dukungan
informasional, emosional, penilaian dan
instrumental pada pasien DM. Selain itu untuk
melihat distribusi pengontrolan gula darah pada
pasien DM
2. METODOLOGENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
deskriptif, metode Correlation Study.Penelitian
ini dilakukan di wilayah Puskesmas Rasimah
Ahmad Kota Bukittinggi,karena daerah tersebut
merupakan daerah yang memiliki penyakit DM
yang dari dulu masih bertahan sampai saat
sekarang ini. Penelitian ini mulai pada tanggal
bulan April sampai bulan Agustus 2016.
Populasi penelitian ini adalah penderita DM di
wilayah Puskesmas Rasimah Ahmad Kota
Bukittinggi pada tahun 2016 yang berjumlah 40
orang. pada penelitian ini tidak menggunakan
sampel,semua populasi dijadikan subjek
penelitian. Kriteria inklusi dalam penelitian ini
yaitu: Pasien diabetes yang masih berada di
wilayah kerja Puskesmas Rasimah Ahmad tahun
2016, Pasien diabetes yang bersedia menjadi
responden, Pasien yang ada saat penelitian dan
bisa dikunjungi ke rumah, Pasien yang bersedia
untuk di teliti. Sedangkan kriteria ekslusi dalam
penelitian ini adalah: Pasien yang pakai insulin
dan pasien yang mempunyai komplikasi seperti
jantung.
Proses pengumpulan data di Puskesmas
Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi dilakukan
dengan tahapan pemberian penjelasan tentang
tujuan, manfaat, prosedur penilaian yang akan
dilaksanakan kepada responden. Setelah
responden dimintai persetujuan yang dibuktikan
dengan cara menandatangani informedconcent,
membagikan kuesioner kepada responden dan
memberikan penjelasan tentangcara mengisinya.
Selama pengisian kuesioner, peneliti berada
dekat responden. Waktu yang diberikan kepada
responden untuk mengisi kuesioner selama lebih
kurang 15 menit sampai 20 menit. Setelah
kuesioner diisi oleh responden maka peneliti
mengumpulkan kuesioner dan meneliti
kelengkapannya. Peneliti melakukan observasi
pada responden ditemani oleh petugas
LPPM STIKes Perintis Padang
2
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
laboratorium untuk mencek gula darah
responden. Petugas laboratorium melakukan
pengecekan gula darah dan peneliti mencatat
hasil gula darah responden. Lembaran format
yang sudah dikumpulkan pada penelitian ini
akan dianalisa, kemudian diolah dengan sistem
computerisasi dengan tahapan sebagai berikut:
Editing, Coding, Skoring, Entry data dan
Cleaning
pengumpulan data yang digunakan adalah
dengan
membagikan
kuesioner
kepada
responden yang mengalami DM di Wilayah
Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi
Tahun 2016. Hasil penelitian dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Analisis Univariat
Pada penelitian ini 40 orang dijadikan
sebagai
subjek
penelitian.
Metode
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Dukungan Keluarga Di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota
Bukittinggi Tahun 2016 (n=40)
Dukungan Keluarga
Frekuensi (f)
Persentase (%)
Informasional
Mendukung
32
80
Tidak Mendukung
8
20
Penilaian
Mendukung
35
87,5
Tidak Mendukung
5
12,5
Instrumental
Mendukung
35
87,5
Tidak Mendukung
5
12,5
Emosional
Mendukung
35
87,5
Tidak Mendukung
5
12,5
Total
40
100
Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memberikan dukungan penilaian,
instrumental, emosional serta Informasional
a. Dukungan Informasional
dihadapi,
meliputi
pemberian
nasehat,
Peneliti dapat menjelaskan sebagian besar pengarahan, ide-ide atau informasi lainnya yang
80%
responden
dengan
dukungan dibutuhkan dan informasi ini dapat disampaikan
informasionalnya mendukung. Penelitian ini kepada orang lain yang mungkin menghadapi
sesuai dengan teori Freadmen (2011) Keluarga persoalan yang sama atau hampir sama.
berfungsi sebagai kolektor dan disseminiator
Menurut asumsi peneliti bahwa dukungan
informasi tentang dunia yang dapat digunakan informasional ini sangat lah penting untuk
untuk mengungkap suatu masalah. Manfaat dari pengobatan anggota keluarga yang sakit
dukungan ini adalah dapat menekan munculnya dikarenakan dukungan ini berisi nasehat, usulan,
suatu stresor karena informasi yang diberikan saran, petunjuk dan pemberian informasi.
dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus Maksudnya disini yaitu memberikan informasi
pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini yang baru terhadap penyembuhan penyakit yang
adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan di derita oleh anggota keluarga yang sakit,
pemberian informasi.
memberikan informasi tentang terapi yang
Informasi yaitu bantuan informasi yang dilakukan, memberikan informasi mengenai
disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang segala sesuatu yang menjadi pantangan bagi
dalam menanggulangi persoalan-persoalan yang anggota keluarga yang sakit.
LPPM STIKes Perintis Padang
3
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
b. Dukungan Penilaian
Peneliti dapat menjelaskan bahwa sebagian
besar 87,5% responden dengan dukungan
penilaiannya mendukung. Dukungan penilaian,
yaitu suatu bentuk penghargaan yang diberikan
seseorang kepada pihak lain berdasarkan kondisi
sebenarnya dari penderita. Penilaian ini biasa
positif dan negatif yang mana pengaruhnya
sangat berarti bagi seseorang. Berkaitan dengan
dukungan sosial keluarga maka penilaian yang
sangat membantu adalah penilaian yang positif.
Menurut asumsi peneliti bahwa dukungan
dengan penilaian ini sangat lah penting
dikarenakan berisi perhatian, pengahargaan,
pengakuan, dan support. Maksudnya disini
adalah bahwa keluarga harus memberikan
perhatian yang lebih kepada anggota keluar
keluarga yang sakit meliputi perhatian terhadap
masalah kesehatannya seperti jadwal dalam
pemeriksaan kesehatannya, jadwal dalam
minum obat, jadwal dalam makan sehari-hari.
Memberikan support kepada anggota keluarga
yang sakit bahwa penyakit bisa di sembuhkan
dan dikontrol dengan cara memeriksakan
kesehatan secara teratur ke pelayanan kesehatan.
c. Dukungan Instrumental
Peneliti
dapat
menjelaskan
bahwa
sebahagian besar 87,5 % responden dengan
dukungan
instrumentalnya
mendukung.
Penelitian ini sesuai dengan teori Freadmen
(2011) Keluarga merupakan sebuah sumber
pertolongan praktis dan konkrit diantaranya:
bantuan langsung dari orang yang diandalkan
seperti materi, tenaga dan sarana. Manfaat
dukungan ini adalah mendukung pulihnya energi
atau stamina dan semangat yang menurun selain
itu individu merasa bahwa masih ada perhatian
atau kepedulian dari lingkungan terhadap
seseorang yang sedang mengalami kesusahan
atau penderitaan.
Dukungan instrumental, bantuan bentuk ini
bertujuan untuk mempermudah seseorang dalam
melakukan aktivitasnya berkaitan dengan
persoalan-persoalan yang dihadapinya, misalnya
dengan menyediakan peralatan lengkap dan
memadai bagi penderita, menyediakan obat-obat
yang dibutuhkan dan lain-lain.
Menurut asumsi peneliti bahwa dukungan
instrumental sangat penting untuk dilaksanakan
dikarenakan pada dukungan ini berisi bantuan
langsung dari orang yang diandalkan seperti
materi, tenaga dan sarana. Maksudnya disi yaitu
jika ada anggota keluarga yang sakit maka
anggota keluarga yang lebih mampu bisa
menanggung biaya pengobatan anggota keluarga
yang sakit. dan memberikan tempat yang lebih
nyaman bagi anggota keluarga yang sakit, serta
anggota keluarga yang lain harus siap materi,
maupun tenaga jika seandainya nantik ada
keadaan
yang
mendesak
mengenai
pengobatannya.
d. Dukungan Emosional
Peneliti
dapat
menjelaskan
bahwa
sebahagian besar 87,5% responden dengan
dukungan emosionalnya mendukung. Penelitian
ini sesuai dengan teori Freadmen (2011)
Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan
damai untuk istirahat dan pemulihan serta
membantu penugasan terhadap emosi. Manfaat
dari dukungan ini adalah secara emosional
menjamin nilai-nilai individu (baik pria maupun
wanita) akan selalu terjaga kerahasiannya dari
keingintahuan orang lain. Aspek-aspek yang dari
dukungan emosional meliputi dukungan yang
diwujudkan dalam bentuk efeksi, adanya
kepercayaan, perhatian dan mendengarkan serta
didengarkan.
Perhatian emosional, setiap orang pasti
membutuhkan bantuan afeksi dari orang lain,
dukungan ini berupa dukungan simpatik dan
empati, cinta dan kepercayaan dan penghargaan.
dengan demikian seseorang yang menghadapi
persoalan merasa dirinya tida menanggung
beban sendiri tetapi masih ada orang lain yang
memperhatikan, mau mendengar segala
keluhannya, bersimpai dan empati terhadap
persoalan yang dihadapinya, bahkan mau
membantu
memecahkan
masalah
yang
dihadapinya.
Menurut asumsi peneliti bahwa dukungan
emosional ini sangat penting dalam dukungan
keluarga dikarenakan dukungan emosional
berisi adanya kepercayaan, perhatian dan
mendengarkan serta didengarkan. maksudnya
disini adalah keluarga sebaiknya mendengarkan
apa yang dibicarakan oleh anggota keluarga
yang sakit, dan memberikan perhatian kepada
anggota keluarga yang sakit berupa kasih
LPPM STIKes Perintis Padang
4
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
sayang, perhatian terhadap kesehatannya,
perhatian terhadapsegala yang menjadi
pantangan penderita DM, memberikan perhatian
yang lebih mengenai diit penderita DM,
sehingga penyakit yang di derita oleh anggota
keluarga bisa teratasi dan terkontrol.
Hasil penelitian yang menggambarkan
pengontrolan gula darah pada pasien DM dapat
dilihat ditabel berikut,
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengontrolan Gula Darah Di Puskesmas
Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Tahun 2016
Pengontrolan gula
Jumlah
Persentase (%)
Darah
Terkontrol
17
42,5
Tidak terkontrol
23
57,5
Total
40
100
Tabel 2 menunjukkan bahwa lebih dari separoh 57,5% responden gula darahnya tidak
terkontrol.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori dilakukan pada pasien DM (Dochterman &
Freadmen (2011) Keluarga bertindak sebagai Bulechek, 2004). Diet yang baik untuk para
sebuah bimbingan umpan balik, membimbing diabetes adalah jumlah makanan, jadwal yang
dan menengahi masalah serta sebagai sumber teratur serta jenis makanan yang dimakan
validator identitas anggota keluarga diantaranya: bervariasi yang kaya nutrisi dan rendah
memberikan support, pengakuan, penghargaan karbohidrat. Selain pasien Diabetes Militus
dan perhatian.
patuh dalam melaksanakan perintah, mentaati
Dengan menerapkan aturan ketat dalam hal aturan dan disiplin dalam menjalankan program
asupan makanan dan perilaku hidup, diharapkan diet yang sudah ditentukan, sehingga komplikasi
penderita akan hidup secara normal meskipun dapat dikendalikan. Diet standar untuk diabetes
menyandang diabetes. Secara sederhana, aturan di indonesia menganut diet tinggi karbohidrat,
untuk penderita diabetes adalah menurunkan rendah lemak dan tinggi serat. serat terdapat
berat badan untuk penderita diabetes yang pada tumbuh-tumbuhan, biji-bijian dan buahmengalami obesitas dan mempertahankan berat buahan (Waspadji, 2007).
badannya agar tetap proporsional. Selain itu juga
Menurut Susilo & Wulandari (2011)
perlu
mengatur
pola
makan
dengan penatalaksanaan terapi untuk mengelola diabetes
mengkonsumsi makanan yang berkadar protein militus terdiri dari terapi non farmakologis dan
tinggi seperti telur, ikan, buncis, sayuran terapi farmakologis. Terapi non farmakologis
bewarna hijau gelap, kacang-kacangan, dan lain dilakukan dengan mengubah gaya hidup
sebagainya. Serta menghindari mengkonsumsi diantaranya yaitu diet dan olahraga. mengingat
makanan yang berkadar tepung tinggi (Susanto, mekanisme dasar kelainan diabetes militus
2010).
adalah terdapatnya faktor genetik, resistensi
Penelitian ini di perkuat oleh penelitian insulin dan insufisiensi sel β pankreas, maka
yang dilakukan oleh Khasanah Uswatun (2014), cara-cara untuk memperbaiki kelainan dasar
tentang pengelolaan diet dan olahraga dapat tersebut harus tercermin pada langkah
menstabilkan kadar gula darah pada penderita pengelolaan, dalam pengelolaan diabetes militus
diabetes
militus
tipe
2
diwilayah langkah pertama yang harus dilakukan adalah
Ambarketawang. Jumlah sampel dalam pengelolaan
nonfarmakologis.
terapi
penelitian ini adalah 24 orang. Hasil penelitian farmakologis diberikan apabila perubahan gaya
ini menunjukkan terdapat pengaruh pengelolaan hidup tidak atau kurang efektif untuk
diet dan olahraga terdapat kestabilan kadar gula mengontrol glukosa darah dalam konmdisi
darah pada penderita diabetes militus tipe 2 normal.
dengan p value 0,00.
Menurut
asumsi
peneliti
bahwa
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengontrolan gula darah yang baik dapat
pendekatan non farmakologis diantaranya patuh dilakukan dengan mengubah gaya hidup
terhadap diet merupakan intervensi yang dapat seseorang dari gaya hidup yang salah menjadi
LPPM STIKes Perintis Padang
5
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
gaya hidup sehat seperti memperhatikan
makanan yang dimakan seperti memakan
makanan yang bergizi, makan lauk pauk, sayursayuran dan buah-buahan, membatasi jumlah
makananan yang dimakan, makan dengan waktu
yang tepat. Olahraga teratur dan memeriksakan
kesehatan ke pelayanan kesehatan secara teratur.
3.2 Analisis Bivariat
Analisis untuk melihat hubungan dukungan
keluarga dengan pengontrolan gula darah bisa
dilihat dari tabel berikut:
Tabel 3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Pengontrolan Gula Darah pada Pasien DM di
Wilayah Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Tahun 2016
Dukungan Keluarga
Pengontrolan Gula Darah
F
Total
P value
Tidak
Terkontrol
Terkontrol
f
%
f
%
Informasional
0,936
Tidak Mendukung
4
50%
4
50%
8
100%
Mendukung
13
40,6%
19
59,4%
32
100%
17
45,5%
23
57,5%
40
Instrumental
0,373
Tidak Mendukung
1
20%
4
80%
5
100%
Mendukung
16
45,7%
19
54,3%
35
100%
17
45,5%
23
57,5%
40
Emosional
0,677
Tidak Mendukung
2
28,6%
5
71,4%
7
100%
Mendukung
15
45,5%
18
54,5%
33
100%
17
45,5
23
57,5
40
Penilaian
0,373
Tidak Mendukung
1
20%
4
80%
5
100%
Mendukung
16
45,7%
19
54,3%
35
100%
17
45,5
23
57,5
40
a. Hubungan Dukungan Informasional Dengan Pengontrolan Gula Darah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dirumah, keluarga tidak bisa menjelaskan
hubungan dukungan informasional yang tentang pentingnya berolahraga sekurangmendukung dari 32 responden yang gula darah kurangnya 3 jam per minggu, keluarga tidak bisa
terkontrol adalah 19 (59,4%), sedangkan gula mengingatkan untuk kontrol, minum obat,
darah yang tidak terkontrol 13 (40,6%). Hasil uji latihan (olahraga) dan diet DM, keluarga tidak
statistik diperoleh nilai p value = 0,936 (p>α) dapat menjelaskan tentang pentingnya makan
maka disimpulkan tidak adanya hubungan antara sayur dan buah.
dukungan informasional dengan pengontrolan
Penelitian ini bertolak belakang dengan
gula darah. Dari hasil analisis diperoleh OR= penelitian yang dilakukan oleh Susanti Mei
1,462 artinya responden yang memiliki Linda (2013), tentang dukungan keluarga
dukungan informasional, tidak mendukung tidak meningkatkan kepatuhan diet pasien diabetes
mempunyai peluang 1,462 kali untuk militus di ruangan rawat inap RS Baptis Kediri.
pengontrolan gula darahnya tidak terkontrol Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25
dibandingkan responden yang memiliki orang. Hasil penelitian ini menunjukkan
pengontrolan gula darahnya terkontrol.
dukungan keluarga meningkatkan kepatuhan
Pada penelitian ini tidak adanya dukungan diet pasien diabetes militus dengan p value
keluarga yang bisa memberikan informasi baru 0,000.
tentang
pengobatannya,
keluarga
tidak
Penelitian ini bertolak belakang dengan
bisamenyarankan kepada pasien untuk rutin teori Freadmen (2011) Keluarga berfungsi
mengikuti kegiatan olahraga di puskesmas dan sebagai kolektor dan disseminiator informasi
LPPM STIKes Perintis Padang
6
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
tentang dunia yang dapat digunakan untuk
mengungkap suatu masalah. Manfaat dari
dukungan ini adalah dapat menekan munculnya
suatu stresor karena informasi yang diberikan
dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus
pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan ini
adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan
pemberian informasi.
Menurut Susilo & Wulandari (2011)
penatalaksanaan terapi untuk mengelola diabetes
militus terdiri dari terapi non farmakologis dan
terapi farmakologis. Terapi non farmakologis
dilakukan
dengan
mengubah
gaya
hidupdiantaranya yaitu diet dan olahraga.
mengingat mekanisme dasar kelainan diabetes
militus adalah terdapatnya faktor genetik,
resistensi insulin dan insufisiensi sel β pankreas,
maka cara-cara untuk memperbaiki kelainan
dasar tersebut harus tercermin pada langkah
pengelolaan, dalam pengelolaan diabetes militus
langkah pertama yang harus dilakukan adalah
pengelolaan
non
farmakologis.
terapi
farmakologis diberikan apabila perubahan gaya
hidup tidak atau kurang efektif untuk
mengontrol glukosa darah dalam konmdisi
normal.
Menurut asumsi peneliti dukungan
informasional dalam keluarga sangat lah penting
untuk
pengobatan,
karena
dukungan
informasional tersebut berisi nasehat, usulan,
saran, petunjuk dan pemberian informasi dari
keluarga pada pasien yang menderita DM. Pada
dukungan ini keluarga bisa memberikan
informasi baru tentang pengobatannya, keluarga
bisa menyarankan kepada pasien untuk rutin
mengikuti kegiatan olahraga di puskesmas dan
dirumah, keluarga bisa menjelaskan tentang
pentingnya berolahraga sekurang-kurangnya 3
jam per minggu, keluarga bisa mengingatkan
untuk kontrol, minum obat, latihan (olahraga)
dan diet DM, keluarga dapat menjelaskan
tentang pentingnya makan sayur dan buah.
Disini keluarga mendukung dalam semua hal
yang berkaitan dengan penyakit anggota
keluarga yang sakit tetapi keluarga yang sakit
memiliki gula darah hanya sebagian yang
terkontrol dengan baik, kebanyakan gula
darahnya tidak terkontrol.
b. Hubungan Dukungan Instrumental Dengan Pengontrolan Gula Darah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mampu dalam hal ekonomi sehingga tidak dapat
hubungan dukungan dalam penilaian yang memodifikasi
rumah
dan
memberikan
mendukung dari 35 responden yang gula darah kesempatan pada anggota keluarga yang
terkontrol adalah 19 (54,3%), sedangkan gula menderita penyakit DM untuk memilih fasilitas
darah yang tidak terkontrol 16 (45,7%). Hasil uji yang diinginkan, serta tidak dapat memberikan
statistik diperoleh nilai p value = 0,373 (p>α) dana untuk biaya terapi dan motivasi pada pasien
maka disimpulkan tidak adanya hubungan antara DM dalam menjalankan terapi.
dukungan penilaian dengan pengontrolan gula
Peneliti dapat menjelaskan bahwa sebagian
darah. Dari hasil analisis diperoleh OR= 0,297 besar 87,5% responden dengan dukungan
artinya responden yang memiliki dukungan penilaiannya mendukung. Peneliti juga dapat
instrumental yang tidak mendukung tidak menjelaskan bahwa lebih dari separoh 57,5%
mempunyai peluang 0,297 kali untuk responden gula darahnya tidak terkontrol.
pengontrolan gula darahnya tidak terkontrol
Penelitian ini bertolak belakang dengan
dibandingkan responden yang memiliki penelitian yang dilakukan oleh Susanti Mei
pengontrolan gala darahnya terkontrol.
Linda (2013), tentang dukungan keluarga
Sumber dukungan yang ada, tidak dapat meningkatkan kepatuhan diet pasien diabetes
dilakukan oleh keluarga dengan cara mengenal militus di ruangan rawat inap RS Baptis Kediri.
adanya gangguan kesehatan sedini mungkin Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25
seperti pada saat anggota keluarga yang orang. Hasil penelitian ini menunjukkan
menderita penyakit diabetes militus mengalami dukungan keluarga meningkatkan kepatuhan
keluhan ketika kadar gula darah meningkat atau diet pasien diabetes militus dengan p value
menurun. Keluarga tidak dapat saling membantu 0,000.
untuk memberikan perawatan, pada penelitian
Penelitian ini bertolak belakang dengan
ini juga di dapatkan anggota keluarga yang tidak teori Freadmen (2011) Keluarga merupakan
LPPM STIKes Perintis Padang
7
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit
diantaranya: bantuan langsung dari orang yang
diandalkan seperti materi, tenaga dan sarana.
Manfaat dukungan ini adalah mendukung
pulihnya energi atau stamina dan semangat yang
menurun selain itu individu merasa bahwa masih
ada perhatian atau kepedulian dari lingkungan
terhadap seseorang yang sedang mengalami
kesusahan atau penderitaan.
Menurut Almatsier (2004), tujuan diet DM
adalah
membantu
pasien
memperbaiki
kebiasaan makan dan olahraga untuk
mendapatkan kontrol yang lebih baik, dengan
cara: mempertahankan kadar gula darah supaya
mendekati normal dengan menyeimbangkan
asupan makanan dengan insulin, dengan obat
penurun glukosa oral dan aktivitas fisik,
mencapai dan mempertahankan kadar lipid
serum normal, memberi cukup energi untuk
mempertahankan atau mencapai berat badan
normal, menghindari dan menangani komplikasi
akut pasien yang menggunakan insulin seperti
hipoglikemi, komplikasi jangka pendek dan
jangka lama serta masalah yang berhubungan
dengan latihanjasmani, meningkatkan derajat
kesehatan secara keseluruhan melalui gizi yang
optimal.
Menurut asumsi peneliti Sumber dukungan
yang ada dapat dilakukan oleh keluarga dengan
cara mengenal adanya gangguan kesehatan
sedini mungkin seperti pada saat anggota
keluarga yang menderita penyakit diabetes
militus mengalami keluhan ketika kadar gula
darah meningkat atau menurun. Keluarga dapat
saling membantu untuk memberikan perawatan,
pada penelitian ini juga di dapatkan anggota
keluarga yang mampu dalam hal ekonomi
sehingga dapat memodifikasi rumah dan
memberikan kesempatan pada anggota keluarga
yang menderita penyakit DM untuk memilih
fasilitas yang diinginkan, serta memberikan dana
untuk biaya terapi dan motivasi pada pasien DM
dalam menjalankan terapi. Dukungan keluarga
yang optimal dapat diberikan oleh keluarga yang
telah mampu memahami fungsi keluarga dalam
pemeliharaan kesehatan yaitu mengenal
gangguan perkembangan kesehatan setiap
anggota keluarganya. kesehatan merupakan
kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan
karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan
berarti. Keluarga perlu mengenal keadaan
kesehatan dan perubahan-perubahan yang
dialami anggota keluarganya. perubahan sekecil
apapun yang dialami anggota keluarga secara
tidak langsung menjadi perhatian anggota
keluarga yang lain. pada penelitian ini keluarga
sangat mendukung anggota keluarganya dalam
pengontrolan gula darah, namun sebagian
anggota keluarga yang mempunyai gula darah
terkontrol, kebanyakan gula darahnya tidak
terkontrol.
c. Hubungan Dukungan Emosional Dengan Pengontrolan Gula Darah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang menderita DM. Keluarga tidak
hubungan dukungan instrumental yang mendengarkan keluhan dan segala ke inginan
mendukung dari 35 responden yang gula darah yang dirasakan oleh anggota keluarga yang sakit.
terkontrol adalah 19 (54,3%), sedangkan gula Keluarga tidak dapat mengingatkan makanan
darah yang tidak terkontrol 16 (45,7%). Hasil uji yang dilarang untuk penderita DM, keluarga
statistik diperoleh nilai p value = 0,373 (p>α) tetap mencintai dan memperhatikan keadaan
maka disimpulkan tidak adanya hubungan antara anggota keluarganya yang sakit, keluarga tidak
dukungan instrumental dengan pengontrolan menunjukkan wajah yang menyenangkan saat
gula darah. Dari hasil analisis diperoleh OR= membantu atau melayani anggota keluarga yang
0,297 artinya responden yang memiliki sakit.
dukungan instrumental yang tidak mendukung
Penelitian ini bertolak belakang dengan
tidak mempunyai peluang 0,297 kali untuk penelitian yang dilakukan oleh Susanti Mei
pengontrolan gula darahnya tidak terkontrol Linda (2013), tentang dukungan keluarga
dibandingkan responden yang memiliki meningkatkan kepatuhan diet pasien diabetes
pengontrolan gala darahnya terkontrol.
militus di ruangan rawat inap RS Baptis Kediri.
Pada dukungan ini keluarga tidak Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25
memberikan perhatian yang lebih pada anggota orang. Hasil penelitian ini menunjukkan
LPPM STIKes Perintis Padang
8
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
dukungan keluarga meningkatkan kepatuhan
diet pasien diabetes militus dengan p value
0,000.
Penelitian ini bertolak belakang dengan
teori Freadmen (2011) Keluarga sebagai sebuah
tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan
pemulihan serta membantu penugasan terhadap
emosi. Manfaat dari dukungan ini adalah secara
emosional menjamin nilai-nilai individu (baik
pria maupun wanita) akan selalu terjaga
kerahasiannya dari keingintahuan orang lain.
Aspek-aspek yang dari dukungan emosional
meliputi dukungan yang diwujudkan dalam
bentuk efeksi, adanya kepercayaan, perhatian
dan mendengarkan serta didengarkan.
Menurut Susilo & Wulandari (2011)
penatalaksanaan terapi untuk mengelola diabetes
militus terdiri dari terapi non farmakologis dan
terapi farmakologis. Terapi non farmakologis
dilakukan dengan mengubah gaya hidup
diantaranya yaitu diet dan olahraga. mengingat
mekanisme dasar kelainan diabetes militus
adalah terdapatnya faktor genetik, resistensi
insulin dan insufisiensi sel β pankreas, maka
cara-cara untuk memperbaiki kelainan dasar
tersebut harus tercermin pada langkah
pengelolaan, dalam pengelolaan diabetes militus
langkah pertama yang harus dilakukan adalah
pengelolaan
non
farmakologis.
terapi
farmakologis diberikan apabila perubahan gaya
hidup tidak atau kurang efektif untuk
mengontrol glukosa darah dalam konmdisi
normal.
Menurut asumsi peneliti bahwa dukungan
emosional penting untuk dilakukan pada pasien
yang menderita DM. Dukungan emosional dari
keluarga ini berisi dukungan yang diwujudkan
dalam
bentuk
efeksi,
adanya
kepercayaan,perhatian dan mendengarkan serta
didengarkan. Pada dukungan ini keluarga
memberikan perhatian yang lebih pada anggota
keluarga yang menderita DM. Keluarga selalu
mendengarkan keluhan dan segala ke inginan
yang dirasakan oleh anggota keluarga yang sakit.
Keluarga sebaiknya selalu mengingatkan
makanan yang dilarang untuk penderita DM,
keluarga tetap mencintai dan memperhatikan
keadaan anggota keluarganya yang sakit,
keluarga selalu menunjukkan wajah yang
menyenangkan saat membantu atau melayani
anggota keluarga yang sakit. pada penelitian ini
keluarga
sangat
mendukung
anggota
keluarganya yang sakit namun anggota keluarga
yang sakit hanya sebahagian gula darahnya yang
terkontrol, kebanyakan tidak terkontrol dengan
baik.
d. Hubungan Dukungan Penilaian Dengan Pengontrolan Gula Darah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengambil obat ke puskesmas, keluarga tidak
hubungan
dukungan
emosional
yang mengetahui jadwal pemeriksaan kesehatan
mendukung dari 33 responden yang gula darah anggota keluarga yang sakit, keluarga tidak
terkontrol adalah 18 (54,5%), sedangkan gula pernah menanyakan keluhan-keluhan yang
darah yang tidak terkontrol 15 (45,5%). Hasil uji alami, keluarga tidak dapat memberikan
statistik diperoleh nilai p value = 0,677 (p>α) dorongan kepada anggota keluarga yang sakit
maka disimpulkan tidak adanya hubungan antara untuk mematuhi diet.
dukungan emosional dengan pengontrolan gula
Penelitian bertolak belakang dengan
darah. Dari hasil analisis diperoleh OR= 0,480 penelitia yang dilakukan oleh Susanti Mei Linda
artinya responden yang memiliki dukungan (2013),
tentang
dukungan
keluarga
emosional tidak mendukung, tidak mempunyai meningkatkan kepatuhan diet pasien diabetes
peluang 0,480 kali untuk pengontrolan gula militus di ruangan rawat inap RS Baptis Kediri.
darahnya tidak terkontrol dibandingkan Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25
responden yang memiliki pengontrolan gala orang. Hasil penelitian ini menunjukkan
darahnya terkontrol.
dukungan keluarga meningkatkan kepatuhan
Pada penelitian ini keluarga tidak dapat diet pasien diabetes militus dengan p value
menyuruh anggota keluarga yang sakit untuk 0,000.
mengontrol gula darah minimal 1 kali dalam
Penelitian bertolak belakang dengan
sebulan, keluarga tidakdapat menemani penelitia yang dilakukan oleh Susanti Mei Linda
LPPM STIKes Perintis Padang
9
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
(2013),
tentang
dukungan
keluarga
meningkatkan kepatuhan diet pasien diabetes
militus di ruangan rawat inap RS Baptis Kediri.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25
orang. Hasil penelitian ini menunjukkan
dukungan keluarga meningkatkan kepatuhan
diet pasien diabetes militus dengan p value
0,000.
Penelitian ini bertolak belakang dengan
teori Freadmen (2011) Keluarga bertindak
sebagai sebuah bimbingan umpan balik,
membimbing dan menengahi masalah serta
sebagai sumber validator identitas anggota
keluarga diantaranya: memberikan support,
pengakuan, penghargaan dan perhatian. Menurut
Susanto (2010), dengan menerapkan aturan ketat
dalam hal asupan makanan dan perilaku hidup,
diharapkan penderita akan hidup secara normal
meskipun menyandang diabetes. Secara
sederhana, aturan untuk penderita diabetes
adalah menurunkan berat badan untuk penderita
diabetes yang mengalami obesitas dan
mempertahankan berat badannya agar tetap
proporsional. Selain itu juga perlu mengatur pola
makan dengan mengkonsumsi makanan yang
berkadar protein tinggi seperti telur, ikan,
buncis, sayuran bewarna hijau gelap, kacangkacangan, dan lain sebagainya. Serta
menghindari mengkonsumsi makanan yang
berkadar tepung tinggi.
Menurut asumsi penelitian dukungan dalam
penilaian ini sangat lah penting untuk anggota
keluarga yang menderita DM. Karena dukungan
ini berisi support, pengakuan, penghargaan dan
perhatian. Keluarga dapat menyuruh anggota
keluarga yang sakit untuk mengontrol gula darah
minimal 1 kali dalam sebulan, keluarga dapat
menemani mengambil obat ke puskesmas,
keluarga mengetahui jadwal pemeriksaan
kesehatan anggota keluarga yang sakit, keluarga
menanyakan keluhan-keluhan yang alami,
keluarga memberikan dorongan kepada anggota
keluarga yang sakit untuk mematuhi diet.
Dengan dukungan dalam penilaian ini keluarga
dapat memperhatikan anggota keluarga yang
sakit sehingga gula darah pada pasien DM dapat
terkontrol dengan baik. pada penelitian ini
keluarga memberikan dukungan dengan baik
pada anggota keluarga yang sakit namun
anggota keluarga yang sakit hanya sebagian gula
darahnya yang terkontrol, kebanyakan gula
darahnya tidak terkontrol.
4. KESIMPULAN
Peneliti dapat menjelaskan sebagian besar
responden mendapat dukungan dari keluarga,
baik itu dukungan informasional, dukungan
penilaian,
instrumental
dan
dukungan
emosional. Dijelaskan bahwa lebih dari separoh
57,5% responden gula darahnya tidak terkontrol.
Hasil uji statistik diperoleh p value = 0,936 (p>α)
untuk dukungan informasional, p value =0,373
(p>α) untuk dukungan penilaian, p value = 0,373
(p>α) untuk dukungan instrumental dan p value
=0,677 (p>α) untuk dukungan emosional. Dari
hasil uji statistik tersebut dapat disimpulkan
tidak ada hubungan yang bermakna antara
dukungan keluarga dengan pengontrolan gula
darah pasien DM
5. REFERENSI
Agromedia,
Redaksi. 2009. Solusi Sehat
Mengatasi
Diabetes.Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar
:Keperawatan Medikal Bedah Vol
2,EGC. Jakarta.
Dalimartha, 2012. Makanan dan Herbal
UntukPenderita DM. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Ernaeni,
2013.
Kepatuhan
Diit
DenganPengendalian Kadar Gula
Darah Pada Pasien Diabetes Militus
Usia Lanjut di Puskesmas Padang Sari
Semarang.
Frieedman,
M.
Marilyn.
1998.
KeperawatanKeluarga
Teori
dan
Praktek. EGC:Jakarta.
Hastono, Susanto Priyo. 2006. Basic Data
Analysis
For
Health
Research
Training.Fakultas
Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Khasanah. U. 2014. Pengelolaan Diet dan
Olahraga Dapat Menstabilkan Kadar
Gula Darah Pada Penderita Diabetes
Militus
Tipe
2
Diwilayah
Ambarketawang.
Marjohan.
2013.
Hubungan
Dukungan
KeluargaDengan Motivasi Pasien
Stroke Dalam Melakukan Pengaturan
LPPM STIKes Perintis Padang
10
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Posisi Untuk Mencegah Kerusakan
Integritas di Neurologi di RSSN
Bukittinggi.
Mayberry
Lindsay
S,
2012.
Family
Support,Medication Adherence and
Glycemic Control Among Adults With
Diabetes.
Medical Record. 2015. Data Puskesmas
RasimahAhmad. Kota Bukittinggi.
Purnomo,
R.T.
2014.
Hubungan
DukunganKeluarga Dengan Motivasi
Klien DM Untuk Melakukan Latihan
Fisik di Dinas Kesehatan dan
Kesejahtraan Sosial Kabupaten Klaten.
Saifunurmazah.
2013.
Kepatuhan
PenderitaDiabetes
militus
Dalam
Menjalani Terapi Olahraga dan Diet
pada Penderita DM tipe 2 di RSUD Dr.
Soesselo Sawi.
Smeltzer & Bare. 2003. Buku Ajar
KeperawatanMedikal Bedah. EGC.
Jakarta
Susanti
M.L,
2013.
Dukungan
KeluargaMeningkatkan Kepatuhan Diet
Pasien Diabetes Militus Di Ruangan
Rawat Inap Rs Baptis Kediri
Romadhani
T.P.
2014.
Hubungan
DukunganKeluarga Dengan Motivasi
Klien DM Untuk Melakukan Latihan
Fisik di Dinas Kesehatan dan
Kesejahtraan Sosial Kabupaten Klaten
Taylor, E Shelly. 1995. Healthy Psychology. Mc
Graw Hill Inc. Singapura.
Wardani, 2014. Dukungan Keluarga dan
Pengendalian Kadar Gula Darah
dengan
Gejala
Komplikasi
Mikrovaskuler. Surabaya.
-------. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)
2013
LPPM STIKes Perintis Padang
11
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
HUBUNGAN DERAJAT DEMENSIA DENGAN KONDISI PERSONAL HYGIENE
LANSIA DI PSTW KASIH SAYANG IBU BATUSANGKAR TAHUN 2016
Yaslina1, Isra Aini2, Falerisiska Yunere3
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
Abstract
According to the WHO Welfare mentioned that further Seniors Age 60 Years is age old starters.
Based on the survey world, further Period Age estimated More than 624 million orangutans. In
Indonesia ON Year 2008-2012 elderly has reached 7.56% Of the total population, from West
Sumatra province carrying the elderly population as much as 8.09%. The elderly Term Stay PSTW
Kasih Sayang Ibu Batusanggkar this 70 people elderly, the elderly Yang Of Residential There is
obtained there with 28 people elderly dementia. Purpose Of Research Singer That's review know
Relations degree of personal hygiene condition of dementia with the elderly mother PSTW Kasih
Sayang Ibu Batusanggkar Year 2016. Population Research singer is 28 orangutans. The singer has
performed research on date July 12 until July 15, 2016 in PSTW Kasih Sayang Ibu Batusanggkar.
Singer Research studies using descriptive method with correelation design, are later developed using
Chi Square test. Statistical test results TIN Value p = 0.020 (p <α) so Of Research Conducted by
researchers their relationship degrees of dementia with between the kondisipersonal cleanliness in
PSTW Kasih Sayang Ibu Batusanggkar Year 2016. Suggested shown to the Institution PSTW Kasih
Sayang Ibu order can be improving hygiene conditions personal at elderly is dementia.
Keywords: degree of dementia, personal hygiene conditions
1. PENDAHULUAN
Setiap
manusia
pasti
mengalami
pertumbuhan dan perkembangan. Proses menua
pun adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam
kehidupan manusia. Penuaan adalah perubahan
fisik dan tingkah laku yang dapat terjadi pada
semua orang pada saat mereka mencapai usia
tahap perkembangan kronologis tertentu
(Stanley,2006).
Proses menua merupakan proses sepanjang
hidup yang tidak hanya dimulai dari suatu waktu
tertentu,tetapi dimulai sejak permulaan
kehidupan. Menjadi tua hakekatnya merupakan
proses alamiah,yang berarti seseorang telah
melalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak,
dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda,baik
secara biologis maupun psikologis. Memasuki
usia tua berarti mengalami penurunan kondisi
misalnya kemunduran fisik yang ditandai
dengan
kulit
yang
mengendur,rambut
memutih,pendengaran kurang jelas, penglihatan
semakin memburuk,gerakan lambat, figure
tubuh yang tidak proporsional dan daya ingat
pun menjadi lemah atau pikun ( Nugroho, 2006).
Di Indonesia pada tahun 2008-2012 lansia
telah mencapai 7,56% dari keseluruhan
penduduknya. Dan data dari Provinsi Sumatra
Barat tercatat penduduk lansia sebanyak 8,09%
(BPS RI,2012).
Ada beberapa perubahan-perubahan yang
terjadi pada lansia seperti, mengalami penurunan
kemampuan daya ingat atau biasa disebut
demensia atau pikun, kehilangan memori secara
perlahan, kehilangan keseimbangan dan
propriosepsi, tidak mampu melakukan tugas
dengan baik,kehilangan kepribadian seperti
perasaan
yang
tidak
stabil,rasa
tersinggung,kurang mempercayai orang lain
dan,lupa untuk melakukan hal yang penting
misalnya saja merawat diri seperti kurang
menjaga kebersihan diri dan lingkungan nya
(Rosdhal dkk, 2014).
Menurut Aspiani (2014) demensia (pikun)
dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan
memori yang dapat mempengaruhi aktifitas
sehari-hari atau dimana seseorang mengalami
penurunan kemampuan daya ingat dan daya
pikir, dan penurunan kemampuan tersebut
menimbulkan gangguan terhadap fungsi
LPPM STIKes Perintis Padang
12
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
kehidupan
sehari-hari.
Grayson
(2004)
menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar
penyakit biasa,melaninkan kumpulan gejala
yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi
tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian
dan tingkah laku.
Penderita demensia cendrung dikatakan
pikun atau identik dengan sifat pelupa.Hal ini
sanagt mempengaruhi aktifitas sehari-hari
termasuk merawat dirinya, sehingga lansia
kurang memelihara kebersihan dirinya. Di dalam
kehidupan sehari-hari, kebersihan merupakan
hal yang sangat penting dan harus diperhatikan
karena kebersihan akan mempengaruhi
kesehatan dan psikis seseorang. Personal
hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikisnya ( Wartonah,
2010 ).
Kebutuhan personal hygiene harus menjadi
prioritas utama bagi lansia.Agar lansia tersebut
terhindar dari penyakit.Kebersihan diri meliputi
kebersihan dari kulit kepala dan rambut, mata,
telinga, hidung, kuku kaki dan tangan, mulut,
genitalia, dan tubuh secara keseluruhannya.
Sehingga diperlukan pendekatan kesehatan
keluarga ataupun masyarakat yang luas untuk
meningkatkan perawatan diri dan kualitas
hidupnya. Lansia yang kurang menjaga personal
hygiene dapat menyebabkan penyakit kulit,
penampilan tidak rapi, dan bau badan, serta kuku
yang panjang dan kotor yang mengakibatkan
timbulnya berbagai penyakit. Untuk itu lansia
perlu tahu apa pentingnya menjaga kebersihan
diri serta lingkungannya dan mampu mengurus
dirinya sendiri tanpa bergantung kepada orang
lain (Tarwoto, 2010 ).
Menurut Syailendra (2011) terdapat
demensia pada lansia mencapai 78% di
Indonesia dengan umur 65 tahun, dan akan
meningkat tiap tahunnya. Hasil penelitian
Kartinah (2011),di Panti Wredha Dharma Bakti
terdapat 45% lansia kurang memenuhi personal
hygiene nya, dan 21% lansia yang mampu
memenuhi personal hygienenya.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
deskiptif corelatif yaitu mengetahui hubungan
derajat demensia dengan kondisi personal
hygiene pada lansia di PSTW Kasih Sayang Ibu
Batusangkar tahun 2016.
Rancangan
penelitian
yang
akan
dilaksanakan oleh peneliti yaitu Total Sampling
Penelitian ini dilakukan di PSTW Kasih
Sayang Ibu Batusangkar tahun 2016 dengan
alasan lansia yang tinggal disana banyak yang
mengalami
demensia
dengan
personal
hygienenya yang kurang baik. Penelitian ini
telah dilaksanakan pada tanggal 12-15 Juli
2016.
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah
populasi dalam penelitian ini seluruh lansia
dengan demensia di PSTW Kasih Sayang Ibu
Batusangkar sebanyak 28 orang.
Defenisi
Operasional
adalah
mendefenisikan variabel secara operasional
berdasarkan karakteristik yang diamati,
sehingga memungkinkan peneliti untuk
melakukan observasi atau pengukuran secara
cermat terhadap suatu objek dan fenoma
(Nursalam, 2011). Variabel independent dari
judul ini adalah derajat demensia sedangkan
variabel dependennya adalah kondisi personal
hygiene.
2.1. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data ini dimulai sebelum
mendapatkan surat dari
kampus untuk
melengkapi data lansia yang mengalami
demensia. Kemudian setelah didapatkan data
lansia, ada 28 orang lansia yang mengalami
demensia. Lansia demensia dengan personal
hyginenya yang buruk dan kurang bersih. Lalu
setelah mendapatkan surat izin penelitian dari
kampus, peneliti langsung memberikan surat
izin kepada kepala PSTW Kasih Sayang Ibu di
Batusangkar. Setelah mendapatkan izin peneliti
kemudian melihat keadaan lansia yang demensia
dengan personal hygienenya yang kurang
terjaga.
Peneliti meminta data lansia yang demensia
di PSTW Kasih Sayang Ibu Batusangkar kepada
petugas yang berada disana. Peneliti menemui
dan memperkenalkan diri pada lansia yang
demensia di PSTW di setiap wisma yang
dikunjungi (wisma apel, anggur, jambu, jeruk
dan pepaya).Peneliti menjelskan tujuannya,
setelah dijelaskan lansia setuju untuk diberikan
pertanyaan. Kemudian peneliti menanyakan dan
LPPM STIKes Perintis Padang
13
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
melihat sesuai lembar kuesioner dan lembar
observasi selama 15-20 menit langsung diberi
nilai dan diisi. Sesuai pertanyaan dengan cara
melihat keadaan lansia pada saat itu. Dihari
pertama peneliti hanya mendapatkan 13 orang
lansia untuk didata karena ada beberapa lansia
yang tidak berada di PSTW karena dijemput
keluarganya, kemudian dihari kedua peneliti
hanya mendapatkan 5 orang lansia, lalu dihari
ketiga peneliti mendapatkan 4 orang lansia dan
hari terakhir ada 6 orang lansia. Jadi peneliti
hanya membutuhkan 4 hari untuk meneliti di
PSTW Kasih Sayang Ibu di Batusangkar.
Setelah itu peneliti mengucapkan terimakasih
kepada lansiadan petugas di PSTW Kasih
Sayang Ibu batusangkar. Kemudian setelah data
terkumpul data akan diolah dan dianalisa dengan
menggunakan komputerisasi.
2.2. Cara Pengolahan Data
Setelah data terkumpul diolah dengan
menggunakan langkah-langkah : Editing
(pengecekan data), Coding (Pengkodean data),
Entry (memasukan data kedalam komputer)
Cleansing (pengecekan kembali data yang sudah
dimasukan) Prossesing (Memproses data)
merupakan langkah memproses data agar dapat
dianalisis. Pemprosesan data dilakukan dengan
cara meng-entry data dari lembar observasi
kedalam program komputer, pengolahan data
menggunakan rumus t-test dependen.
2.3. Analisa Data
Analisa ini dilakukan untukmenjelaskan
atau
mendeskripsikankarakteristik
setiap
variable penelitian, yang disajikan dalam bentuk
table distribusi frekuensi dan persentase
(Notoadmodjo, 2010).
Analisa bivariat yang dilakukan untuk
mengetahui hubungan antara dua variable yang
diteliti. Pengujian hipotesa untuk mengambil
keputusan tentang apakah hipotesis yang
diajukan cukup meyakinkan untuk ditolak atau
diterima dengan menggunakan ujistatitik ChiSquare tes.
2.4. Etika Penelitian
Mengingat
penelitian
keperawatan
berhubungan langsung dengan manusia, maka
segi etika yang harus diperhatikan adalah
sebagai berikut :
1)Informed Consent (Pernyataan Persetujuan)
Informed concent merupakan bentuk
persetujuan antara peneliti dan responden
penelitian
dengan
memberikan
lembar
persetujuan.
Informed
consent
tersebut
diberikan sebelum penelitian dilakukan. Peneliti
harus menghormati keputusan calon responden
untuk menyetujui atau tidak menyetujui menjadi
responden dalam penelitian ini.
2)Anonimity (Tanpa Nama)
Tidak mencantumkan nama responden dalam
lembar observasi yang digunakan, tetapi
menukarnya dengan kode atau inisial nama
responden, termasuk dalam penyajian hasil
penelitian.
3)Confidentiality (Kerahasiaan)
Peneliti menjamin bahwa data yang diberikan
oleh responden akan dijaga kerahasiannya, baik
informasi yang diberikan maupun masalahmasalah lainnya. Pertimbangan etik dalam
penelitian ini juga disesuaikan dengan prinsip
dasar Komite Etik Penelitian Kesehatan
Indonesia (KNEP, 2007).
a)Human Right (Martabat Manusia)
Peneliti menghormati harkat martabat
manusia kepada responden dengan memberikan
kebebasan
untuk
memutuskan
sendiri
keterlibatannya dalam penelitian.
b)Beneficence (Berbuat Baik)
Peneliti menerapkan prinsip etik berbuat baik
dengan meminimalkan resiko penelitian agar
sebanding dengan manfaat yang diterima dan
peneliti merancang penelitian disain penelitian
dengan memenuhi persyaratan ilmiah dan
berdasar pada referensi terkait, jika terjadi
ketidaknyamanan pada responden, maka peneliti
akan
menghentikan
wawancara
dan
membebaskan responden untuk melanjutkan
atau tidak.
c)Justice (Keadilan)
Adalah kewajiban untuk memberlakukan
partisipan secara adil dalam setiap tahapan
penelitian, hal ini diterapkan untuk memenuhi
hak partisipan untuk mendapatkan penanganan
yang adil.
LPPM STIKes Perintis Padang
14
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Analisa Univariat
1) Distribusi Frekuensi Derajat Demensia
Tabel 1. Distribusi frekuensi responden
berdasarkan Derajat Demensia Di PSTW Kasih
Sayang Ibu Batusangkar Tahun 2016
Derajat demensia f
Persentase (%)
Ringan
21
75
Sedang
7
25
Berat
0
0
Total
28
100
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa
lebih dari separoh 21 orang responden dengan
persentase 75% memiliki derajat demensia
rendah.
2) Distribusi Frekuensi Kondisi Personal
Hygiene
Tabel 2. Distribusi frekuensi responden
berdasarkan Kondisi Personal HygieneDi
PSTW Kasih Sayang Ibu Batusangkar Tahun
2016
Kondisi
Personal f
Persentase
Hygiene
(%)
Bersih
19 67,9
Tidak bersih
9
32,1
Total
28 100
Berdasarkan table 2 dapat dilihat bahwa
lebih dari separoh 19 orang responden dengan
persentase 67,9 % memiliki kondisi personal
hygiene bersih.
Analisa Bivariat
1) Hubungan Derajat Demensia Dengan
Kondisi Personal Hygiene Pada Lansia Di
Pstw Kasih Sayang Ibu Batusangkar
Tahun 2016
Tabel 3. Hubungan Derajat Demensia Dengan
Kondisi Personal Hygiene Pada Lansia Di
PSTW Kasih Sayang Ibu Batusangkar Tahun
2016
Derajat
Demensia
Kondisi
Hygiene
Bersih
Personal
Total
Ringan
f
17
%
81
Tidak
bersih
f
%
4
19
Sedang
2
28,6
5
71,4
7
100
Berat
0
0
0
0
0
0
Total
19
67,9
9
32,1
28
100
F
21
%
100
P
val
ue
OR
value
0,02
10,62
Berdasarkan penelitian menunjukkan
hubungan antara derajat demensia dengan
kondisi personal hygiene, terdapat sebanyak 17
orang responden dengan persentasi 81% dari 30
orang responden yang mengalami kondisi
personal hygienenya bersih dengan derajat
demensia ringan. Terdapat sebanyak 4 orang
responden dengan persentasi 19% dari 30 orang
responden yang mengalami kondisi personal
hygienenya tidak bersih dengan derajat
demensia ringan. Terdapat sebanyak 2 orang
responden dengan persentasi 28,6% dari 30
orang responden yang mengalami kondisi
personal hygienenya bersih dengan derajat
demensia sedang. Terdapat sebanyak 5 orang
responden dengan persentasi 71,4% dari 30
orang responden yang mengalami kondisi
personal hygienenya tidak bersih dengan derajat
demensia sedang. Hasil uji statistik diperoleh
nilai p = 0,020 (p<α) maka disimpulkan adanya
hubungan antara derajat demensia dengan
kondisi personal hygiene pada lansia di PSTW
Kasih Sayang Ibu Batusangkar Tahun 2016.
Dari hasil analisis diperoleh OR=10,625 artinya
responden yang memiliki derajat demensia
rendah mempunyai peluang 10,625 kali untuk
kondisi personal hygiene bersih dibandingkan
dengan responden demensia yang sedang.
LPPM STIKes Perintis Padang
15
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3.2. Pembahasan
Analisa Univariat
1) Distribusi Frekuensi Derajat Demensia
Berdasarkan distribusi frekuensi derajat
demensia dapat dilihat bahwa lebih dari separoh
21 orang responden dengan persentase 75%
memiliki derajat demensia ringan.
Penelitian ini sesuai dengan teori dalam
Kozier (2002) demensia merupakan proses yang
membahayakan dan berlangsung lambat, yang
mengakibatkan hilangnya fungsi kognitif secara
progresif.
Kondisi ini dikarakteristikan dengann
perubahan memori, penilaian, bahasa, penalaran
abstrak dan kemampuan menyelesaikan masalah
serta perilaku impulsive, dan disorientasi. Tipe
demensia yang paling ditemui sering adalah
penyakit Alzheimer.
Penyakit demensia yang reversible sangat
penting diketahui karena pengobatan yang baik
pada penderita dapat kembali menjalankan
kehidupan sehari-hari yang normal.
Menurut John
(1994) bahwa lansia
yang mengalami demensia juga akan mengalami
keadaan yang sama seperti orang deprewi yaitu
akan mengalami deficit aktifitas kehidupan
sehari-hari(AKS).
Menurut
asumsi
peneliti
dimensia
merupakan suatu permasalahan kesehatan pada
lansia yang sangat umum, karena pada lansia
sudah mengalami penurunan fungsi-fungsi
sistem tubuh, seperti menurunn daya ingat pada
lansia. Lansia sering lupa akan sesuatu yang
dibutuhkannya dikarenakan oleh faktor usia
sehingga menurunnya daya ingat. permasalahan
kesehatan
demensia
itu
sendiri
bisa
mempengaruhi kehidupan lansia tersebut,
bahkan lansia lupa dengan keluarga dia sendiri
jika mengalami demensia berat.
2) Distribusi Frekuensi Kondisi Personal
Hygiene
Berdasarkan kondisi personal hygiene
dapat dilihat bahwa lebih dari separoh 19 orang
responden dengan persentase 67,9 % memiliki
kondisi personal hygiene bersih.
Penelitian ini di perkuat oleh penelitian
Kolompok(2004), tentang prilaku sehat usia
lanjut di Panti Wredha Senja Cerah, Kota
Manado menunjukkan bahwa potensipsikososial
dengan prilaku hidup sehat terdapat hubungan.
semakin baik potensi psikososial lansia
menjadikan perilaku hidup sehat semakin baik.
Penelitian ini seesuai dengan teori menurut
Wartonah (2013) personal hygiene berasal dari
bahasa yunani yaitu personal yang artinya
perorangan
dan
hygiene
berarti
sehat.Kebersihan perorangan adalah suatu
tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik
dan psikis.
Perawatan diri merupakan salah satu
kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya
guna
mempertahankan
kehidupannya, kesejahteraan, dan kesehatan
sesuai denagn kondisi kesehatannya, seseorang
dinyataka terganggu keperawatan dirinya jika
tidak dapat melakukan perawatan diri
(DEPKES,2000).
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan
merupakan hal yang sangat penting dan harus
diperhatikan
karena
kebersihan
akan
mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang.
Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh
nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang
sangat berpengaruh itu diantaranya kebudayaan,
social, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang
terhadap kesehatan serta tingkat perkembanagan
(Astutiningsing,2006).
Menurut asumsi peneliti bahwa personal
hygiene sangat lah penting bagi kehidupan
sehari-hari karena merupakan suatu kebutuhan.
kebersihan diri dipengaruhi oleh kebiasaan
seseorang dan ingatan seseorang dalam
melaksanakan proses kebersihan diri. Perawatan
diri merupakan salah satu kemampuan dasar
manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna
mempertahankan kehidupannya, kesejahteraan,
dan kesehatan sesuai dengan kondisi
kesehatannya, seseorang dinyataka terganggu
keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan
perawatan diri.
Analisis Bivariat
1) Hubungan Derajat Demensia Dengan
Kondisi Personal Hygiene Pada Lansia Di
Pstw Kasih Sayang Ibu Batusangkar
Tahun 2016
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
bahwa hubungan antara derajat demensia dengan
LPPM STIKes Perintis Padang
16
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
kondisi personal hygiene, terdapat sebanyak 17
orang responden dengan persentasi 81% dari 28
orang responden yang mengalami kondisi
personal hygienenya bersih dengan derajat
demensia ringan. Terdapat sebanyak 4 orang
responden dengan persentasi 19% dari 28 orang
responden yang mengalami kondisi personal
hygienenya tidak bersih dengan derajat
demensia ringan. Terdapat sebanyak 2 orang
responden dengan persentasi 28,6% dari 28
orang responden yang mengalami kondisi
personal hygienenya bersih dengan derajat
demensia sedang. Terdapat sebanyak 5 orang
responden dengan persentasi 71,4% dari 28
orang responden yang mengalami kondisi
personal hygienenya tidak bersih dengan derajat
demensia sedang.
Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,020
(p<α) maka disimpulkan adanya hubungan
antara derajat demensia dengan kondisi personal
hygiene pada lansia di PSTW Kasih Sayang Ibu
Batusangkar Tahun 2016. Dari hasil analisis
diperoleh OR=10,625 artinya responden yang
memiliki derajat demensia sedang mempunyai
peluang 10,625 kali untuk kondisi personal
hygiene tidak bersih.
Penelitian ini diperkuat oleh penelitian
Erdhayanti (2014), tentang hubungan tingkat
pengetahuan lansia dengan perilaku lansia dalam
pemenuhan personal hygiene di panti Wreda
Darma Baktipanjang Surakarta. Hasil statistik
didapatkan nilai p value 0,014 sehingga
kesimpulannya
ada
hubungan
tingkat
pengetahuan lansia dengan perilaku lansia dalam
pemenuhan personal hygiene.
Penelitian ini sesuai dengan teori Dalam
Kozier (2002) demensia merupakan proses yang
membahayakan dan berlangsung lambat, yang
mengakibatkan hilangnya fungsi kognitif secara
progresif. Kondisi ini dikarakteristikan dengann
perubahan memori, penilaian, bahasa, penalaran
abstrak dan kemampuan menyelesaikan masalah
serta perilaku impulsive, dan disorientasi. Tipe
demensia yang paling ditemui sering adalah
penyakit Alzheimer.
Jadi, demensia (pikun) adalah kemunduran
kognitif yang sedemikian beratnya sehingga
mengganggu aktifitas sehari-hari dan aktifitas
social.Kemunduran kognitif pada demensia
biasanya
diawali
dengan
kemunduran
memori/daya ingat (pelupa). Demensia terutama
disebabkan oleh penyakit Alzheimer berkaitan
erat dengan lanjut usia (Nugroho,2008).
Penyakit demensia yang reversible sangat
penting diketahui karena pengobatan yang baik
pada penderita dapat kembali menjalankan
kehidupan sehari-hari yang normal.
Menurut John(1994) bahwa lansia yang
mengalami demensia juga akan mengalami
keadaan yang sama seperti orang deprewi yaitu
akan mengalami deficit aktifitas kehidupan
sehari-hari(AKS).
Menurut Perry (2005) personal hygiene
adalah suatu tindakan untuk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan
diri adalah kondisi dimana seseorang tidak
mampu melalukukan perawatan kebersihan
untuk dirinya.
Menurut asumsi peneliti kebersihan diri
pada lansia sangatlah penting dikerenakan
merupakan kebutuhan yang mendasar pada diri.
Semakin rendah derajat demensia lansia maka
semakin baik kebersihan dirinya. Demensia
ringan bisa mengingat dan mampu melakukan
kebutuhan dasarnya seperti mandi dan kegiatan
lainnya. Bertolak belakang dengan demensia
berat tidak bisa mengingat dan tidak mampu
melakukan kebutuhan dasarnya, dan tidak
mampu mengingat orang-orang yang biasa
bersamanya.
Demensia
ringan
sangat
berhubungan dengan personal hygiene yang baik
dan bersih.
4. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian pada bulan 21
Juni sampai 20 Juli 2016, tentang hubungan
derajat demensia dengan kondisi personal
hygiene pada lansia Di Pstw Kasih Sayang Ibu
Batusangkar
Tahun 2016, dengan jumlah
responden 28 orang sehingga dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
1. Lebih dari separoh 21 orang responden
dengan persentase 75% memiliki derajat
demensia rendah.
2. Lebih dari separoh 19 orang responden
dengan persentase 67,9 % memiliki kondisi
personal hygiene bersih.
3. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,020
(p<α) maka disimpulkan adanya hubungan
LPPM STIKes Perintis Padang
17
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
antara derajat demensia dengan kondisi
personal hygiene pada lansia di PSTW Kasih
Sayang Ibu Batusangkar Tahun 2016.
5. REFERENSI
Alimul
Hidayat,
Aziz.
(2008).
Risetkeperawatandanteknikpenelitiani
lmiah.Salembamedika : Jakarta.
Anonim , (1998). Undang-undang Nomor.13
tentangkesejahteraanlanjutusia.Penerb
it WHO.
Aspiani , R. Y. (2014). Buku ajar
asuhankeperawatangerontik.Aplikasi
NANDA, NIC dan NOC. Edisi1 :
Jakarta.
Boedhi, Darmajo . (2014). Buku ajar
ilmukesehatanusialanjut.Penerbit
FKUI Jakarta : EGC
Bulletin,
lansia.
(2012).
Gambarankesehatanlanjutusia
di
Indonesiadan
bulletin
jendelainformasikesehatan .EGC :
Jakarta .
Depkes, RI. (2013). Risetkesehatandasar
.Jakarta :badan penelitian dan
pengembangan
kesehatan
kementrian kesehatan RI. EGC :
Jakarta
Depkes, RI. (2001). Profilkesehatan Indonesia
menuju Indonesia sehat 2010. Jakarta
:DepartemenKesehatan RI
Erdhayanti,
S.
danKartinah.(2011).
Hubungandantingkatpengetahuanlansi
adenganperilakudalam
personal
hygiene
dip
anti
werdadarmabaktipanjang.PenerbitFak
ultasIlmuKesehatanUM : Surakarta.
Grayson. D. J. (2014). Concept subtitation a
teaching strategy for helping student
disentangle related physics concept
.EGC : America Journal .
Kozier, Barbara dkk.(2008). Buku ajar
fundamental keperawatan.Edisi :
1.penerbit: Bukukedokteran: Jakarta.
Maryam
,
R.
Sitidkk.
(2008).
Mengenalusialanjutdancaracaraperawatannya. Salembamedika:
Jakarta .
Nugroho
,
W.
(2006).
Keperawatangerontikdangetriatri
.Edisi : 3. Penerbitbukukedokteran :
Jakarta .
Nursalam,
(2011).Konsepdanpenerapanmetodolo
gipenelitianilmukeperawatan.
PT
GramdiaPustakaUtama : Jakarta
Notoatmodjo
S.
(2005).
Metodologipenelitiankesehatan. PT
RinekaCipta : Jakarta
Padila
.(2013).
Buku
ajar
keperawatangerontik.Penerbit
:Nuhamedika . Yogyakarta.
Potter, P. A. & Perry, A.G. (2005).Bukuajar
fundamental
keperawatankonsep
proses danpraktek.Edisi : 4. Jakarta.
Rosdahl, C. B & Kowalski, M. T. (2014).Buku
ajar keerawatandasar .Edisi: 1.
Penerbit
:bukukedokteran.
EGC : Jakarta.
Sheila L. Videbeck, PhD, RN. (2008). Buku ajar
keperawatanjiwa.Penerbit
:bukukedokteran.EGC : Jakarta.
Stanley, M &Beare, P.G. (2006).Buku ajar
keperawatangerontik.EGC : Jakarta.
Sugiyono.
(2007).
Metodepenelitianpendidikanpendekat
ankuantitatif, kualitatifdanR&D.EGC :
Bandung
Tarwoto,
Wartonah.
(2010).
Kebutuhandasarmanusiadan
proses
keperawatan. Edisi:4Salembamedika :
Jakarta.
LPPM STIKes Perintis Padang
18
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
KOMUNIKASI DALAM KELUARGA DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA
PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
Yendrizal Jafri1, Sandria Oktafianti2,
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]; [email protected]
1,2
Abstract
Communication in the family is an important factor in language development children. Factors
affecting the development of children's language is a psychosocial environmental factors that
stimulation done by parents in the form of verbal communication, non-verbal children. The purpose
of this study was to determine the relationship Communication Language Development In Families
With Children Aged 5-6 Year. The research method is quantitative non-experimental, design
"descriptive correlation", with a statistical test "Chi-Square Test". The population studied was
children aged 5-6 year with sample of 30 children in kindergarten Aisyiyah Suliki. Sampling by using
the technique of "total sampling". The results of research can be conclude that the value of an verago
of communication good in the family is 60% and communication is not good in the family 40%. While
the experience the development of the good at the is 43,3% and the development of the language not
good at the child is 56,7%. Statistical test results obtained p value = 0.002 (p <α), then statistically
Ha accepted that there is relationship between Communication Family With Language Development
in Children Ages 5-6 years. This study is increase communication in stimulating development of child
and for next research to the more develop the knowledge of factors of variable, with the longer
research and more samples.
Keywords: family communication, language development of children
1. PENDAHULUAN
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sisitem Pendidikan pasal 1 ayat 1
menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
sosial. Pendidikan dapat diselenggarakan di
dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah mulai
dari PAUD, SD, SMP, SMA, sampai Perguruan
Tinggi. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
menjadi sangat penting mengingat potensi
kecerdasan dan dasar-dasar perilaku seseorang
terbentuk pada rentang usia dini. PAUD dapat
diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal
berbentuk TK, RA atau bentuk lain yang
sederajat (Noorlaila, 2010). Periode usia
perkembangan dapat dimulai dari usia prenatal
(konsepsi-lahir), masa bayi (lahir-1 tahun),
kanak-kanak awal (toddler dan prasekolah),
kanak-kanak pertengahan (6-12 tahun) dan masa
kanak-kanak akhir (11-19 tahun) (Wong, 2009).
Anak merupakan individu yang berada
dalam satu rentang perubahan perkembangan
yang dimulai dari bayi sampai remaja yang
mempunyai
pola
pertumbuhan
dan
perkembangan menuju proses kematangan.
Salah satu perkembangan yang dapat diukur
dalam
perkembangan
anak
adalah
perkembangan
bahasa
(Depkes,
2006).
Perkembangan bahasa anak usia 5 – 6 tahun
sudah dapat mengungkapkan lebih dari 2500
kosakata, lingkup kosakata yang dapat
diungkapkan anak menyangkut warna, ukuran,
bentuk, rasa, bau, keindahan, kecepatan, suhu,
perbedaan, perbandingan jarak dan permukaan
(kasar-halus), anak usia 5 – 6 tahun dapat
melakukan peran pendengar yang baik, dapat
berpatisipasi dalam satu percakapan. Percakapan
yang dilakukan oleh anak usia 5 – 6 tahun telah
menyangkut berbagai komentarnya terhadap apa
yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan orang
lain, serta apa yang dilihatnya. Anak usia 5 – 6
tahun sudah dapat melakukan ekspresi diri,
LPPM STIKes Perintis Padang
19
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
menulis, membaca bahkan berpuisi (Susanto,
2011).
Perkembangan
merupakan
proses
bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh
bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat
diukur. Pertumbuhan dan perkembangan pada
anak terjadi secara fisik, intelektual, maupun
emosional. Pada semua dimensi tumbuh
kembang terdapat urutan yang jelas dan dapat
diperkirakan tetapi laju perkembangan setiap
anak tidak sama. Terdapat variasi yang besar
dalam
hal
usia
pencapaian
tahap
perkembangannya. Sebagian tumbuh dan
berkembang cepat sedangkan yang lainnya
lambat dalam mencapai maturitas (Wong, 2009).
Beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan bahasa anak, salah satunya
adalah faktor lingkungan psikososial yaitu,
stimulasi yang dilakukan oleh orang tua dalam
bentuk komunikasi (komunikasi verbal, non
verbal maupun pola komunikasi laissez-faire,
protektif, pluralistik dan konsensual) kepada
anak. Cara dan komunikasi orang tua pada anak
yang salah sering menyebabkan keterlambatan,
karena perkembangan terjadi akibat proses
meniru dan pembelajaran dari lingkungan dan
bahasa tidak dipelajari dalam kevakuman sosial
(Santrock, 2007). Anak berkembang dalam
keluarga, sehingga dalam keluarga banyak
didominasi oleh hubungan antara orang tua dan
anak. Komunikasi dalam keluarga menjadi
faktor penting dalam perkembangan bahasa pada
anak. Komunikasi keluarga yang adekuat
memungkinkan keluarga mensosialisasikan
anak dengan baik (Wong, 2006).
Menurut National Center For Health
Statistics (NCHS), berdasarkan laporan orang
tua (diluar gangguan pendengaran serta celah
pada palatum), angka kejadian gangguan bicara
0,9% pada anak dibawah usia 5 tahun, dan
1,94% pada usia 5 – 12 tahun. Berdasarkan hasil
ini, diperkirakan gangguan bicara dan bahasa
pada anak adalah sekitar 4-5% (Soetjiningsih,
1995). Di kota Blitar dengan metode kuesioner
praskrining perkembangan (KPSP) sebanyak
6.005 anak, dengan hasil perkembangan anak
83,4% normal, 3,9% meragukan, 1,5% diduga
mengalami penyimpangan atau delay (Rina &
Umu). Sedangkan prevalensi di Indonesia
sebesar 13-18% (Sitaresmi dkk, 2008).
Berdasarkan hasil survai dan observasi di TK
Aisyiyah Suliki diketahui terdapat 30 anak, hasil
observasi menunjukkan 3 dari 10 anak atau
sekitar 3% anak mengalami gangguan
perkembangan bahasa. Dan dari hasil
wawancara dengan kepala sekolah pada tanggal
21 Maret 2016 banyak anak yang mengalami
gangguan perkembangan bahasa di TK Aisyiyah
Suliki.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
Hubungan Komunikasi dalam Keluarga dengan
Perkembangan Bahasa pada Anak Usia 5 – 6
tahun.
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
deskriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua
anak TK Aisyiyah Suliki sebanyak 30 orang
anak. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30
orang anak dengan teknik sampling Total
Sampling.
Tempat dan Waktu Penelitian, Penelitian
ini dilakukan di TK Aisyiyah Suliki. TK
Aisyiyah Suliki secara geografis terletak dipusat
Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Waktu penelitian peneliti dilaksanakan pada
Februari - Juli 2016.
Pengumpulan Data, peneliti mengunjungi
rumah anak untuk menjelaskan maksud tujuan
kepada orang tua anak serta menjalin hubungan
kepercayaan dengan keluarga, lalu membagikan
kuesioner kepada orang tua anak serta
menjelaskan cara pengisian kuesioner dan
didampingi oleh peneliti.
Alat
Pengumpulan
Data,
Alat
pengumpulan data berupa kuesioner. Kuesioner
tersebut
dibagikan
kepada
responden
berdasarkan jumlah sampel yang telah
ditentukan. Di dalamnya terdapat 12 buah
pertanyaan untuk komunikasi dalam keluarga
dan 15 pertanyaan untuk perkembangan bahasa
pada anak usia 5 – 6 tahun.
Pengolahan Dan Analisis Data, Editing
(Penyuntingan), Coding (Pengodean), Entry
(Memasukkan Data), Cleaning (Pengecekan),
Scoring (Penilaian) dan Processing (Pengolahan
Data)
LPPM STIKes Perintis Padang
20
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Analisa Data, Analisa univariat untuk
mendeskripsikan karakteristik masing-masing
variabel yang diteliti. Statistik bivariat untuk
mengetahui apakah ada hubungan komunikasi
dalam keluarga dengan perkembangan bahasa
pada anak usia 5-6 tahun, digunakan uji statistic
dengan cara chi-square.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Komunikasi
Dalam Keluarga Anak
Komunikasi
Dalam
f
%
Keluarga
Baik
18
60 %
Tidak Baik
12
40 %
Jumlah
30
100 %
Dari tabel 1 di atas diketahui bahwa dari 30
orang responden lebih dari separoh responden
(60%) komunikasi baik dalam keluarga.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Deasy dkk
(2011), tentang komunikasi dalam keluarga
diperoleh data sebagian besar responden
komunikasi dalam keluarganya baik yaitu
sebanyak 72,9%.
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rina & Umu
(2013), tentang pola komunikasi orang tua
didapatkan bahwa hampir setengahnya orang tua
menggunakan pola komunikasi pluralistik yaitu
sebanyak 41,7%.
Dipertegas dengan teori yang dimunculkan
oleh Muwarni (2009), Komunikasi keluarga
adalah komunikasi yang terjadi dalam sebuah
keluarga, yang merupakan cara seorang anggota
keluarga untuk berinteraksi dengan anggota
keluarga lainnya, sekaligus sebagai wadah
dalam membentuk dan mengembangkan nilainilai yang dibutuhkan sebagai pegangan
hidupnya ketika berada dalam lingkungan
masyarakat. Jika sebuah pola komunikasi
keluarga tidak terjadi secara harmonis tentu akan
mempengaruhi perkembangan anak.
Tanpa komunikasi, sepilah kehidupan
keluarga dari kegiatan berbicara, berdialog,
bertukar pikiran akan hilang. Akibatnya
kerawanan hubungan antara anggota keluarga
sukar dihindari, oleh karena itu komunikasi
antara suami istri, komunikasi antara orang tua
dengan anak perlu dibangun secara harmonis
dalam rangka membangun hubungan yang baik
dalam keluarga. Beberapa faktor yang
mempengaruhi komunikasi dalam keluarga yaitu
citra diri dan citra orang lain, suasana psikologis,
lingkungan fisik, kepemimpinan, bahasa,
perbedaan usia (Djamarah, 2004).
Hasil penelitian yang peneliti lakukan,
peneliti beramsumsi bahwa komunikasi yang
baik dalam keluarga akan mempengaruhi
perkembangan bahasa pada anak
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perkembangan
Bahasa Pada Anak Usia 5 – 6 Tahun.
Perkembangan
f
%
Bahasa Pada Anak
Baik
13
43,3 %
Tidak Baik
17
56,7 %
Jumlah
30
100 %
Dari tabel 2 di atas diketahui bahwa dari 30
orang responden lebih dari separoh responden
(56,7%) mengalami perkembangan bahasa tidak
baik pada anak.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Deasy dkk
(2011), tentang perkembangan bahasa pada anak
diperoleh data sebagian besar responden
perkembangan bahasanya baik yaitu sebanyak
59 anak (84,3 %).
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rina & Umu
(2013), tentang perkembangan bahasa anak
didapatkan bahwa sebagian besar perkembangan
bahasa anak sesuai yaitu sebanyak 66,7%.
Perkembangan bahasa adalah kemampuan
berbahasa lisan pada anak yang berkembang
karena terjadi kematangan dari organ-organ
bicara juga karena lingkungan ikut membantu
mengembangkannya (Gunarsa, 2008).
Permasalahan yang terjadi pada anak
prasekolah adalah keterlambatan perkembangan
bahasa, terutama dalam penguasaan kosa kata
(Taningsih, 2006). Perkembangan kemampuan
berbahasa bertujuan agar anak didik mampu
berkomunikasi
secara
lisan
dengan
lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud
LPPM STIKes Perintis Padang
21
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
adalah lingkungan di sekitar anak antara lain
lingkungan teman sebaya, teman bermain, orang
dewasa, baik yang ada di rumah, di sekolah,
maupun dengan tetangga di sekitar tempat
tinggalnya (Depdikas, 2005).
Hasil penelitian yang peneliti lakukan,
peneliti berasumsi bahwa perkembangan bahasa
anak dipengaruhi oleh komunikasi dalam
keluarga.
Tabel 3. Hubungan Komunikasi Dalam Keluarga Dengan Perkembangan Bahasa Pada Anak
Usia 5–6 Tahun
Perkembangan Bahasa Pada Anak
Komunikasi
Dalam
Keluarga
Baik
Tidak Baik
Total
f
%
f
%
f
%
Baik
12
66,7
6
33,3
18
100
Tidak Baik
1
8,3
11
91,7
12
100
Jumlah
13
43,3
17
56,7
30
100
P
value
OR
0,002
22,000
Dari Tabel 3 di atas dilihat bahwa 18 responden yang melakukan komunikasi baik dalam
keluarga yang mengalami perkembangan bahasa baik pada anak yaitu 66,7 % dan perkembangan
bahasa tidak baik pada anak yaitu 33,3%. Dan 12 responden yang mengalami perkembangan bahasa
tidak baik pada anak yang melakukan komunikasi yang tidak baik dalam keluarga yaitu 91,7% dan
komunikasi tidak baik dalam keluarga yaitu 8,3%.
Dari hasil tersebut dilakukan uji Chi-Square responden yang karakteristik perkembangan
dengan komputerisasi maka di dapat hasil p bahasa yang baik dengan komunikasi baik
Value = 0,002 < 0,05 sehingga p Value < α, sebanyak 49 orang (70,0 %), yang sedang
maka secara statistik Ha diterima sehingga ada sebanyak 9 orang (12,9 %), yang kurang 1 orang
Hubungan antara Komunikasi Dalam Keluarga (1,4%).
Dengan Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia
Hasil penelitian ini sejalan dengan
5 – 6 Tahun. Oods Ratio = 22,000 yang artinya penelitian yang dilakukan oleh Deasy dkk
komunikasi dalam keluarga yang baik akan (2011), tentang hubungan antara komunikasi
berpeluang sebesar 22,000 kali lebih baik dalam keluarga dengan perkembangan bahasa
perkembangan bahasanya dibandingkan dengan anak usia prasekolah di TK Tunas Rimba
anak yang tidak berkomunikasi baik dalam Mranggen Demak Tahun 2011 didapat bahwa
keluarganya.
responden yang karakteristik perkembangan
Hasil penelitian ini sejalan dengan bahasa yang baik dengan komunikasi baik
penelitian yang dilakukan oleh Deasy dkk sebanyak 49 orang (70,0 %), yang sedang
(2011), tentang hubungan antara komunikasi sebanyak 9 orang (12,9 %), yang kurang 1 orang
dalam keluarga dengan perkembangan bahasa (1,4%).
anak usia prasekolah di TK Tunas Rimba
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan
Mranggen Demak Tahun 2011 didapat bahwa penelitian yang dilakukan oleh Rina & Umu
LPPM STIKes Perintis Padang
22
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
(2013), tentang Hubungan Pola Komunikasi
Orang Tua Dengan Perkembangan Bahasa Anak
Prasekolah (Usia 2-5 Tahun) di PAUD
Hidayatul Ilmi Tambak Agung Kabupaten
Mojokerto tahun 2013 dapat diketahui bahwa 15
orang dari 36 responden yang menerapkan pola
komunikasi
pluralistik
didapat
hampir
seluruhnya perkembangan bahasa anak sesuai
yaitu sebanyak 80 %. Dan dapat diketahui bahwa
9 orang dari total responden yang menerapkan
pola komunikasi konsesual didapat hampir
seluruhnya perkembangan bahasa sesuai yaitu
sebanyak 88,9 %.
Komunikasi keluarga adalah komunikasi
yang terjadi dalam sebuah keluarga, yang
merupakan cara seorang anggota keluarga untuk
berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya,
sekaligus sebagai wadah dalam membentuk dan
mengembangkan nilai-nilai yang dibutuhkan
sebagai pegangan hidupnya ketika berada dalam
lingkungan masyarakat. Jika sebuah pola
komunikasi keluarga tidak terjadi secara
harmonis
tentu
akan
mempengaruhi
perkembangan anak (Muwarni, 2009).
Perkembangan bahasa adalah kemampuan
berbahasa lisan pada anak yang berkembang
karena terjadi kematangan dari organ-organ
bicara juga karena lingkungan ikut membantu
mengembangkannya (Gunarsa, 2008).
Dari hasil penelitian yang peneliti lakukan,
peneliti berasumsi bahwa komunikasi keluarga
yang baik mempengaruhi perkembangan bahasa
pada anak, tapi sebaliknya jika komunikasi tidak
baik maka perkembangan bahasa anak pun tidak
baik. Dibuktikan dengan hasil penelitian dari 30
responden didapatkan 12 responden (66,7%)
yang berkomunikasi baik dalam keluarga dan
perkembangan bahasanya juga baik. Dan masih
terdapat
6
responden
(33,3%)
yang
berkomunikasi baik dalam keluarga dan
perkembangan bahasanya tidak baik. Hal ini di
pengaruhi oleh faktor seperti pendidikan orang
tua, pekerjaan orang tua, lingkungan.
Lebih dari separoh (56,7%) responden
mengalami perkembangan bahasa yang tidak
baik pada anak.
Terdapat hubungan yang bermakna antara
komunikasi
dalam
keluarga
dengan
perkembangan bahasa pada anak usia 5 - 6 tahun
(p=0,002).
5. DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas.
2006.
Kurikulum
Berbasis
Kompetensi TK. Jakarta : Dorektorat
Jendral Pendidikan Dasar Menengah
Deasy dkk. 2011. Hubungan Antara Komunikasi
Dalam Keluarga Dengan Perkembangan
Bahasa Pada Anak Usia Prasekolah.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2004. Pola
Komunikasi Orang Tua & Anak Dalam
Keluarga. Jakarta : Rineka Cipta
Gunarsa, S. D. 2008. Psikologi Perkembangan
Anak Dan Remaja. Jakarta : PT BPK
Gunung Mulia
IDAI. 2010. Tumbuh Kembang Anak Dan
Remaja Buku Ajar 1. Jakarta : Sagung
Seto
Muwarni, Anita. 2009. Komunikasi Terapeutik
Panduan Bagi Keperawatan. Fitramaya :
Yogyakarta
Rina & Umu. 2013. Hubungan Pola Komunikasi
Orang Tua Dengan Perkembangan Bahasa
Anak Prasekolah (Usia 2-5 tahun).
Santrock J. W. 2007. Perkembangan Anak. Edisi
11. Jilid 1. Jakarta : Erlangga
Wong. dkk. dkk. 2008. Buku Ajar Keperawatan
Pediatrik. Alih Bahasa Neti. Jakarta :
EGC
--------------------. 2009. Buku Ajar Keperawatan
Pediatrik. Alih Bahasa Neti. Jakarta :
EGC
Yusuf. S. 2011. Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja. Bandung : PT Remaja
Rosdakarya
4. KESIMPULAN
Lebih dari separoh (60%) responden
berkomunikasi baik dalam keluarga.
LPPM STIKes Perintis Padang
23
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ABORTUS
DI RSUD DR. ADNAAN WD PAYAKUMBUH
Hidayati ¹, Dina Destri Putri ²
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
E-mail : [email protected]
1,2
Abstract
Abortion is the interruption or release of 20-week old fetus or fetal weight of less than 500 grams
or panjag fetus is less than 25 cm. Abortion is influenced by several factors: age, parity, spacing
pregnancies and abortion history. In the Adnaan WD Hospital Payakumbuh obtained from a
medical recordof 50 patient sex perienced a miscarriage in the last 4 months. The purpose of this
study was to determine the factors associated with the incidence of abortion in Hospital Dr. Adnaan
WD Payakumbuh. This study used a descriptive analytic methods Retrospective Study design
approach, then the data is processed by using ChiSquare test. The population in this study were
200 people with a sample of 50respondents. Research results of univariate obtained more than half
of the 56% of the age of the patient is not a trisk, moret han half the 58% factor of parity is not
atrisk, while the spacing pregnancies at 50% of risk with no riskand a history of abortion more than
half 54% never happened and abortion more than half 66% not occurabortion. The testre sult
sobtained forage statustik p value of 0.016, p value 0.001 parity ,pregnancy spacing p value of 0.000
and a history of abortion p value 0,047,the four factors of abortion above its p value <0.05. In
conclusion there is are lationsip between age ,parity , spacing pregnancies, history of abortion by
abortion. It is advisable toinstitutional Hospital Midwifery or polyparticular space tobe able to
provide educationor heal the ducation about abortion.
Keywords : Abortion, Pregnancy
1. PENDAHULUAN
Kejadian abortus di Indonesia berkisar
antara 750.000 sampai 1,5 juta kasus. Abortus di
Indonesia terjadi baik didaerah perkotaan
maupun pedesaan. Data yang di rilis oleh
Departemen Kesehatan RI pada tahun 2003
menyatakan tingkat abortus di Indonesia masih
cukup tinggi dibandingkan dengan negaranegara maju didunia, yakni mencapai 2,3 juta
abortus pertahun (Depkes RI, 2003).
Riwayat abortus pada penderita abortus
merupakan predisposisi terjadinya abortus
berulang. Kejadiannya sekitar 3-5% data dari
beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1
kali abortus pasangan punya resiko 15% untuk
mengalami keguguran lagi, sedangkan bila
pernah 2 kali, resikonya akan meningkat 25%.
Beberapa studi meramalkan bahwa resiko
abortus setelah 3 kali abortus berurutan adalah
30-45%. Menurut Suryadi (1994) penderita
dengan riwayat abortus 1 kali dan 2 kali
menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang
terlambat
pada
kehamilan
berikutnya
melahirkan bayi prematur. Sedangkan dengan
riwayat abortus 3 kali atau lebih, ternyata terjadi
pertumbuhan janin yang terlambat, prematuritas
(Suryadi, 1994).
Di Sumatera Barat angka kematian ibu
tahun 2016 sebesar 230 per 100.000 kelahiran
hidup dan menurun tahun 2007 sebesar 229 per
kelahiran hidup dengan angka kematian bayi
(AKB) sebesar 2,7 per 1000 kelahiran hidup dan
meningkat menjadi 16,5 per 1000 kelahiran
hidup (DINKES Sumatera Barat, 2007).
Berdasarkan survey RSUD Dr.AdnaanWD
Payakumbuh di dapatkan dari catatan Rekam
Medik 50 orang pasien mengalami abortus
dalam 4 bulan terakhir. Ini merupakan angka
kejadian abortus yang tinggi yang tercatat di
RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh.
Berdasarkan wawancara denga kepala ruangan
kebidanan RSUD. Dr. Adnan WD Payakumbuh
mengatakan bahwa banyak pasien yang dirawat
diruang kebidanan karena mengalami abortus 42
% terjadi pada kelompok usia diatas 35 tahun,
kemudian di ikuti kelompok usia 30-34 tahun
LPPM STIKes Perintis Padang
24
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
dan antara 25-29 tahun. Hal ini disebabkan usia
diatas 35 tahun secara medik merupakan usia
yang rawan untuk kehamilan. Selain itu ibu
cendrung memberi perhatian yang kurang
terhadap kehamilannya dikarenakan sudah
mengalami kehamilan lebih dari sekali dan tidak
bermasalah pada kehamilan sebelumnya (RSUD
Dr. Adnaan WD Payakumbuh). Berdasarkan
uraian di atas penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian abortus di RSUD Dr. Adnaan
WD Payakumbuh.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilakukan untuk
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian abortus di Ruang Kebidanan di
RSUD Dr. Adnaan WD Payakumbuh. Faktor-
faktor tersebut adalah faktor resiko usia,paritas,
jarak kehamilan,riwayat abortus.Pengumpulan
data dilakukan dengan pendekatan secara
Retrospektif Study,yaitu pengumpulan data di
mulai dari efek atau akibat yang telah terjadi,
kemudian dari efek tersebut ditelusuri
penyebabnya atau variabel-variabel yang
mempengaruhi
akibat
tersebut
(Notoatmodjo,2005).
Penelitian ini dilaksanakan di Ruang
Kebidanan RSUD Dr.Adnaan WD Payakumbuh.
Populasi pada penelitian ini semua pasien yang
mengalami kejadian abortus di rawat di Ruang
Kebidanan RSUD Dr.Adnaan WD Payakumbuh
sebanyak 50 orang dijadikan sampel.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Analisis Bivariat
Tabel 1. Hubungan Faktor Usia Dengan Kejadian Abortus di RSUD Dr.Adnaan WD Payakumbuh
Kejadian abortus
Total
Faktor usia
Terjadi
Tidak Terjadi
P value OR value
f
%
f
%
F
%
Beresiko
12
54,5 10
45,5
22
100
0,016
5,520
Tidak Beresiko 5
17,9 23
82,1
28
100
Total
17
34
33
66
50
100
Berdasarkan Tabel 1 didapatkan bahwa faktor usia yang beresiko terjadi abortus sebanyak 12
orang (54,5%), faktor usia yang beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 10 orang (45,5%), faktor
usia yang tidak beresiko terjadi abortus sebanyak 5 orang (17,9%), faktor usia yang tidak beresiko
tidak terjadi abortus sebanyak 23 orang (82,1%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,016
dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara faktor usia dengan kejadian abortus. Hasil
analisis didapatkan nilai OR = 5,520 artinya faktor usia yang beresiko berpeluang 5,520 kali
terjadinya kejadian abortus dibandingkan dengan yang tidak beresiko
Tabel 2. Hubungan Faktor Paritas Dengan Kejadian Abortus di RSUD Dr. Adnaan WD
Payakumbuh
Kejadian abortus
Total
Faktor paritas
Terjadi
Tidak Terjadi
P value
OR value
F
%
F
%
F
%
Beresiko
16
55,2 13
44,8
29
100
0,001
24,615
Tidak Beresiko 1
4,8
20
95,2
21
100
Total
17
34
23
66
50
100
Berdasarkan Tabel 2 didapatkan bahwa faktor paritas yang beresiko terjadi abortus sebanyak
16 orang (55,2%), faktor paritas yang beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 13 orang (44,8%),
faktor paritas yang tidak beresiko terjadi abortus sebanyak 1 orang (4,8%), faktor paritas tidak
beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 20 orang (95,2%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p value
LPPM STIKes Perintis Padang
25
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
0,001 dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara faktor paritas dengan kejadian abortus.
Hasil analisis didapatkan nilai OR = 24,615 artinya faktor paritas yang beresiko berpeluang 24,615
kali terjadinya kejadian abortus dibandingkan dengan yang tidak beresiko.
Tabel 3. Hubungan Faktor Jarak Kehamilan Dengan Kejadian Abortus di RSUD Dr. Adnaan WD
Payakumbuh
Kejadian abortus
Total
Faktor jarak
Terjadi
Tidak Terjadi
P value
OR value
kehamilan
F
%
f
%
F
%
Beresiko
15
60
10
40
25
100
0,000
17,250
Tidak Beresiko 2
8
23
92
25
100
Total
17
34
33
66
50
100
Berdasarkan Tabel 3 didapatkan bahwa faktor jarak kehamilan yang beresiko terjadi abortus
sebanyak 15 orang (60%), faktor jarak kehamilan yang beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 10
orang (40%), faktor jarak kehamilan yang tidak beresiko terjadi abortus sebanyak 2orang (8%),
faktor jarak kehamilan tidak beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 23 orang (92%). Hasil uji
statistik didapatkan nilai p value 0,000 dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara faktor
jarak kehamilan dengan kejadian abortus. Hasil analisis didapatkan nilai OR = 17,250 artinya faktor
jarak kehamilan yang beresiko berpeluang 17,250 kali terjadinya kejadian abortus dibandingkan
dengan yang tidak beresiko.
Tabel 4. Hubungan Faktor Riwayat Abortus dengan Kejadian Abortus di RSUD Dr. Adnaan WD
Kejadian abortus
Total
Faktor riwayat
Terjadi
Tidak Terjadi
P value OR value
abortus
f
%
F
%
F
%
Pernah terjadi
13
48,1
14
51,9
27
100
0,047
4,411
Tidak pernah terjadi
4
17,4
19
82,1
23
100
Total
17
34
33
66
50
100
Berdasarkan Tabel 4 didapatkan bahwa pernah terjadi faktor riwayat abortus terjadi abortus
sebanyak 13 orang (48,1%), pernah terjadi faktor riwayat abortus tidak terjadi abortus sebanyak 14
orang (51,9%), tidak pernah terjadi faktor riwayat abortus terjadi abortus sebanyak 4 orang (17,4%),
tidak pernah terjadi faktor riwayat abortus tidak terjadi abortus sebanyak 19 orang (82,1%). Hasil uji
statistik didapatkan nilai p value 0,047 dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara faktor
riwayat abortus dengan kejadian abortus. Hasil analisis didapatkan nilai OR = 4,411 artinya pernah
terjadinya faktor riwayat abortus berpeluang 4,411 kali terjadinya kejadian abortus dibandingkan
dengan yang tidak beresiko.
3.2. Pembahasan
Analisis Univariat
a. Faktor Usia
Hasil penelitian dapat dilihat bahwa lebih
dari separuh faktor usia yang tidak beresiko
sebanyak 28 orang responden (56%).
Berdasarkan penelitian Putri, di Rumah Sakit
Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
bahwa usia <20 tahun >35 tahun mengalami
abortus didapatkan hasil distribusi frekuensi
umur ibu 26% yang beresiko abortus. Sedangkan
menurut penelitian Ricika (2014), tentang
hubungan umur dengan kejadian abortus di RSU
PKU Muhammadiyah Bantul, didapatkan hasil
distribusi frekuensi umur ibu dari 30 orang
responden yang mengalami abortus didapatkan
18 responden (60%) dengan umur tidak
beresiko, dan 12 responden (40%) dengan umur
beresiko. Pada kehamilan usia muda keadaan ibu
masih labil dan belum siap mental untuk
menerima kehamilannya. Akibatnya, selain
tidak ada persiapan, kehamilannya tidak
dipelihara
dengan
baik.
Kondisi
ini
menyebabkan ibu jadi stres dan akan
LPPM STIKes Perintis Padang
26
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
meningkatkan resiko terjadinya abortus
(Prawihardjo, 2002).
Pada usia 35 tahun atau lebih kesehatan ibu
sudah menurun. Akibatnya, ibu hamil pada usia
tersebut mempunyai kemungkinan lebih besar
untuk mempunyai anak premature, persalinan
lama, perdarahan dan abortus (Leveno, 2009).
Resiko abortus meningkat seiring dengan usia
ibu. Frekuensi abortus yang secara klinis
terdeteksi meningkat 12% pada wanita berusia
<20 tahun, menjadi 26% pada usia >40 tahun.
Ibu yang telah mengalami abortus pada trimester
I banyak terdapat pada ibu yang hamil muda
yaitu umur 18 tahun, lebih rendah kejadiannya
pada wanita 20-35 tahun dan berkembang
meningkat tajam pada usia >35 tahun
(Cuninghams, 2005).
Kehamilan pada usia ibu <20 tahun
merupakan resiko pada ibu dan janin karena
organ-organ reproduksi belum matang dan
berfungsi
secara
optimal
termasuk
endrometrium tempat implementasi dan
berkembangnya
usia
kehamilan
untuk
pemberian
nutrisi,
oksigenasi
janin
menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
perkembangan (Depkes, RI, 2004). Menurut
analisis peneliti bahwa kejadian abortus
biasanya terjadi pada usia yang lebih muda
karena organ-organ reproduksi masih belum
matang atau berfungsi secara optimal, atau usia
yang lebih tua karena kesehatan ibu sudah
menurun, yang mempunyai faktor risiko, atau
penyakit penyerta, semakin produktif usia
seseorang semakin terhindar orang tersebut dari
kejadian abortus.
b. Faktor Paritas
Hasil penelitian dapat dilihat bahwa lebih
dari separuh faktor paritas yang tidak beresiko
sebanyak 29 orang responden (58%).
Berdasarkan hasil penelitian Putri pada tahun
2013 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji
Tirtonegoro Klaten bahwa >3 yang banyak
mengalami abortus yaitu sebanyak 140
responden (48,2%) dari 194 responden yang
mengalami abortus. Sedangkann menurut
penelitian Ernawaty (2011), dengan bahwa
hubungan paritas dengan kejadian abortus di
instalasi rawat inap kebidanan RSU DRM
Soewandhie Surabaya. Didapatkan hasil
univariat bahwa >3 yang banyak mengalami
abortusyaitu sebanyak 197 responden (67,03%)
yang mengalami abortus. Sedangkan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ernawati dan
Putri karena penelitian ini lebih dari separoh
yang tidak beresiko. Paritas adalah jumlah anak
yang dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup
maupun mati. Paritas 2-3 merupakan paritas
paling aman di tinjau dari sudut kematian
maternal. Paritas 1 dan paritas lebih dari 3
mempunyai angka kematian maternal lebih
tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian
maternal, sedangkan resiko pada paritas tinggi
dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga
berencana. Sebagai kehamilan pada paritas
tinggi adalah tidak direncanakan (Wikjosastro,
2002). Seorang wanita memerlukan waktu
selama 2-3 tahun agar dapat pulih secara
fisiologis dari satu kehamilan atau persalinan
dan mempersiapkan diri untuk kehamilan
berikutnya (Prawirohardjo, 2009). Menurut
analisis peneliti jarak kehamilan harus
diperhatikan untuk kesehatan kehamilan yang
akan datang, karena semakin singkat jarak
kehamilan seseorang maka akan berisiko
terhadap kehamilan selanjutnya. Pada saat
melahirkan dinding- dinding rahim akan menjadi
tegang, dan belum pulih setelah melahirkan
sebaiknya jarak kehamilan perlu diatur. Selain
untuk kesehatan janin, dan juga untuk kesehatan
ibu.
c. Faktor Jarak Kehamilan
Hasil penelitian dapat dilihat bahwa
separuh mempunyai faktor jarak kehamilan tidak
beresiko sebanyak 25 orang responden (50%),
sama dengan yang beresiko sebanyak 25 orang
(50%). Berdasarkan hasil penelitian Putri
pada tahun 2013 di Rumah Sakit Umum Pusat
Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten bahwa
mayoritas ibu dan jarak kehamilan < 2 tahun
yang banyak mengalami abortus yaitu sebanyak
138 responden (37,2%) dari 194 responden yang
mengalami abortus. Sedangkan jarak kehamilan
> 2 tahunyang mengalami abortus sebanyak 56
responden (15,1%) dari 194 responden yang
mengalami abortus. Sedangkan menurut
penelitian Qodariyah (2013), tentang hubungan
antara jarak kehamilan dengan kejadian abortus
di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun
LPPM STIKes Perintis Padang
27
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
2013. Didapatkan hasil univariat jarak
kehamilan jauh (>4tahun) sebanyak 23 orang
responden (57,5%) dan minoritas ibu yang
mengalami abortus spontan termasuk dalam
sebelumnya. Sedangkan pada kelompok yang
tidak mengalami abortus, ada 28 (14,0%) pasien
yang pernah mengalami abortus sebelumnya dan
sebanyak 172 (86%) pasien yang tidak memiliki
riwayat sebelumnya. Penelitian ini berbeda
dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmani
karena penelitian ini lebih dari separuh pernah
terjadi abortus. Riwayat abortus pada penderita
abortus merupakan predisposisier jadinya
abortus berulang. Kejadiannya sekitar 3-5%.
Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa
setelah 1 kali abortus pasangan punya resiko15%
untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan
bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat
25%. Beberapa studi meramalkan bahwa resiko
abortus setelah 3 kali abortus berurutan adalah
30-45% (Prawirohardjo,2009).
d. Faktor RiwayatAbortus
Hasil penelitian dapat dilihat bahwa lebih
dari separoh pernah terjadi abortus 27 orang
54%. Berdasarkan hasil penelitian Rahmani
tahun 2014 menunjukkan bahwa pada pasien
yang mengalami abortus, ada sebanyak 26
(26,3%) pasien yang pernah mengalami abortus
sebelumnya dan terdapat 73 (73,7%) pasien yang
tidak memiliki riwayat abortus. Menurut analisis
peneliti bahwa semakin banyak jumlah anak
yang dilahirkan maka semakin beresiko untuk
anak selanjutnya kerena pada dinding-dinding
rahim akan mengalami perubahan, kerusakan
pada pembuluh-pembuluh darah. Seorang ibu
yang
melahirkan
mempunyai
resiko
kesehatannya dan juga bagi kesehatan anaknya.
Hal ini beresiko karena pada ibu dapat timbul
kerusakan-kerusakan pada pembuluh darah
dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi
nutrisi ke janin. Jumlah anak yang dilahirkan
akan mempengaruhi kehamilanyang akan datang
karena semakin banyak jumlah anak yang
dilahirkan maka semakin beresiko terhadap
kejadian abortus dikarenakan sistem reproduksi
sudah mengalami penurunan fungsi.
e. KejadianAbortus
Hasil penelitian dapat dilihat bahwa lebih
dari separoh kejadian abortus
tidak terjadi
sebanyak 33 orang responden (66%). Keguguran
atau abortus adalah berakhirnya kehamilan
sebelum janin dapat hidup didunia luar, tanpa
mempersoalkan sebabnya. Menurut WHO,
aborsi berarti keluarnya janin dengan berat
badan janin <500gram atau usia kehamilan <22
minggu. Mengingat kondisi penanganan bayi
baru lahir berbeda-beda diberbagai negara, usia
kehamilan seperti pada defenisi abartus dapat
berbeda-beda pula. Di negara maju oleh karena
teknologi ilmu kedokteran yang canggih,
keguguran saat ini artinya sebagai keluarnya
hasil konsepsi ketika usia kehamilan <20
minggu atau berat janin <500 gram
(Martaadisoebrata, 2013).
Menurut New Shorter Oxford Dictionari
(2002), abortus adalah persalinan kurang bulan
sebelum usia janin yang memungkinkan untuk
hidup, dalam hal ini kata ini bersinonim dengan
keguguran. Abortus spontan dengan kromosom
normal lebih sering dialami wanita usia lanjut
14-19% (Wahyuningsih, 2009). Menurut
analisis peneliti kejadian abortus merupakan
kejadian yang sangat mengancam keselamatan
janin dan ibu. Semakin sering ibu mengalami
abortus maka semakin membahayakan pada
kehamilan yang akan datang karena abortus
yang berulang bisa merusak dinding-dinding
rahim, pembuluh darah pada rahim.
Analisis Bivariat
a. Hubungan Faktor Usia dengan Kejadian
Abortus Di RSUD. Adnaan WD
Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor
usia yang beresiko terjadi abortus sebanyak 12
orang (54,5), faktor usia yang beresiko tidak
terjadi abortus sebanyak 10 orang (45,5%),
faktor usia yang tidak beresiko terjadi abortus
sebanyak 5 orang (17,9), faktor usia yang tidak
beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 23 orang
(82,1). Hasil uji statistik di dapatkan nilai p value
0,016 dapat disimpulkan bahwa adanya
hubungan antara faktor usia dengan kejadian
abortus. Hasil analisis didapatkan nilai OR =
5,520 artinya faktor usia yang beresiko
berpeluang 5,520 kali terjadinya kejadian
abortus dibandingkan dengan yang tidak
LPPM STIKes Perintis Padang
28
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
beresiko. Menurut
penelitian
diatas
dihubungkan dengan penelitian Rahmani tahun
2014 didapatkan hasil penelitian hubungan
antara usia ibu dengan kejadian abortus
diperoleh hasil uji statistik dengan p value 0,000
artinya ada hubungan antara usia ibu dengan
kejadian abortus. Menurut analisis peneliti
semakin
muda
usia
seseorang maka
akanberesiko terjadinya abortus dan semakin tua
umur seseorang akan beresiko terhadap
terjadinya abortus. Maka merencanakan
kehamilan sebaiknya pada usia produktif karena
pada usia produktif sistem organ reproduksi
secara anatomi sangat sempurna atau baik
sehingga dapat meminimalkan kejadian abortus.
b. Hubungan Faktor Paritas Dengan
Kejadian Abortus di RSUD Dr.Adnaan
WD Payakumbuh
Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor
paritas yang beresiko terjadi abortus sebanyak
16 orang (55,2%), faktor paritas yang beresiko
tidak terjadi abortus sebanyak 13 orang (44,8%),
faktor paritas yang tidak beresiko terjadi abortus
sebanyak 1 orang (4,8%), faktor paritas tidak
beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 20 orang
(95,2%). Hasil uji statistik didapatkan nilai
pvalue 0,001 dapat disimpulkan bahwa adanya
hubungan antara faktor paritas dengan kejadian
abortus. Hasil analisis di dapatkan nilai OR =
24,615 artinya faktor paritas yang beresiko
berpeluang 24,615 kali terjadinya kejadian
abortus dibandingkan dengan yang tidak
beresiko.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Rahmani tahun (2012), hasil analisis
hubungan antara paritas dengan kejadian abortus
diperoleh bahwa hasil uji statistik diperoleh nilai
p= 0.001 maka dapat disimpulkan ada hubungan
kejadian abortus antara pasien yang memiliki
paritas <1 dan >5 dengan pasien yang paritasnya
1-5 (ada hubungan yang signifikan antara paritas
dengan kejadian abortus). Sedangkan penelitian
yang dilakukan oleh Ernawaty (2011), tentang
hubungan paritas dengan kejadian abortus di
instalasi rawat inap kebidanan RSU DR M
Soewandhie Surabaya tahun 2011. Hasil uji
statistik didapatkan pvalue 0,027 artinya adanya
hubungan antara paritas dengan kejadian
abortus. Penelitian ini sama dengan penelitian
yang dilakukan oleh Rahmani dan Ernawati
karena sama-sama berhubungan antara paritas
dengan kejadian abortus. Menurut analisis
peneliti jumlah anak yang dilahirkan akan
berpengaruh dengan kejadian abortus, semakin
banyak jumlah anak yang dilahirkan maka
semakin
beresiko
terhadap
kehamilan
selanjutnya karena area sekitar rahim sudah
mengalami penurunan fungsi, dinding rahim
sudah berangsur rusak, pembuluh darah juga
mulai rusak di sekitar rahim, oleh sebab itu
jumlah anak yang dilahirkan sebaiknya diatur
supaya bisa meminimalkan kejadian abortus.
c. Hubungan Faktor Jarak Kehamilan
Dengan Kejadian Abortus di RSUD dr.
AdnaanWD Payakumbuh
Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor
jarak kehamilan yang beresiko terjadi abortus
sebanyak 15 orang (60%), faktor jarak
kehamilan yang beresiko tidak terjadi abortus
sebanyak 10 orang (40%), faktor jarak
kehamilan yang tidak beresiko terjadi abortus
sebanyak 2 orang (8%), faktor jarak kehamilan
tidak beresiko tidak terjadi abortus sebanyak 23
orang (92%). Hasil uji statistik didapatkan nilai
p value 0,000 dapat disimpulkan bahwa ada
hubungan antara faktor jarak kehamilan dengan
kejadian abortus. Hasil analisis didapatkan nilai
OR= 17,250 artinya faktor jarak kehamilan yang
beresiko berpeluang 17,250 kali terjadinya
kejadian abortus dibandingkan dengan yang
tidak beresiko. Penelitian ini sama dengan
penelitian yang dilakukan oleh Rahmani dan
Qodariyah karena sama-sama berhubungan
antara jarak kehamilan dengan kejadian abortus.
Jarak kehamilan sangat mempengaruhi
kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya.
Seorang wanita memerlukan waktu selama 23tahun agar dapat pulih secara fisiologis dari
satu
kehamilan
atau
persalinan
dan
mempersiapkan diri untuk kehamilan berikutnya
(Prawirohardjo, 2009).
Menurut analisis peneliti didapatkan
semakin dekat jarak kehamilan seseorang maka
semakin beresiko terhadap kejadian abortus,
karena jarak kehamilan yang dekat akan
membuat dinding rahim belum stabil dan akan
menjadi rusak karena belum lama siap
LPPM STIKes Perintis Padang
29
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
melahirkan keadaan pada dinding rahim belum
stabil atau belum bekerja dengan sempurna.
3.
d. Hubungan Faktor Riwayat Abortus
Dengan Kejadian Abortus di RSUD Dr.
Adnaan WD Payakumbuh
Hasil penelitian didapatkan bahwa pernah
terjadi faktor riwayat abortus terjadi abortus
sebanyak 13 orang (48,1%), pernah terjadi faktor
riwayat abortus tidak terjadi abortus sebanyak 14
orang (51,9%), tidak pernah terjadi faktor
riwayat abortus terjadi abortus sebanyak 4 orang
(17,4%), tidak pernah terjadi faktor riwayat
abortus tidak terjadi abortus sebanyak 19 orang
(82,1%). Hasil ujistatistik didapatkan nilai p
value 0,047 dapat disimpulkan bahwa adanya
hubungan antara faktor riwayat abortus dengan
kejadian abortus. Hasil analisis di dapatkan nilai
OR = 4,411 artinya pernah terjadinya faktor
riwayat abortus berpeluang 4,411kali terjadinya
kejadian abortus dibandingkan dengan yang
tidak beresiko. Riwayat abortus pada penderita
abortus merupakan predisposisi terjadinya
abortus berulang. Kejadiannya sekitar 3-5% data
dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah
1 kali abortus pasangan punya resiko 15% untuk
mengalami keguguran lagi, sedangkan bila
pernah 2 kali, resikonya akan meningkat 25%.
Beberapa studi meramalkan bahwa resiko
abortus setelah 3 kali
abortus
berurutan
adalah
30-45%. Menurut analisis peneliti
semakin banyak riwayat abortus seseorang maka
semakin besar orang tersebut akan mengalami
kejadian abortus karena, kejadian abortus
berulang akan membuat keadaan rahim akan
rusak dan penurunan fungsi karena dikurek.
Pada kehamilan selanjutnya akan membuat anak
akan sulit berkembang di dalam rahim.
4. KESIMPULAN
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 50
responden dengan kejadian abortus di RSUD
Dr. Adnaan WD Payakumbuh tahun 2016, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Lebih dari separoh faktor usia yang tidak
beresiko sebanyak 28 orang responden
dengan persentasi 56 %.
2. Lebih dari separoh yang faktor paritas yang
tidak besiko sebanyak29 orang responden
dengan persentasi 58% danseparoh lagi yang
4.
5.
6.
7.
8.
9.
faktor paritas yang beresiko sebanyak 21
responden dengan persentasi 42%.
Separoh mempunyai faktor jarak kehamilan
tidak beresiko sebanyak 25 orang responden
dengan persentasi 50%, dan yang beresiko
sebanyak 25 orang dengan persentase 50%.
Lebih dari separoh pernah terjadi abortus 27
orang dengan persentase54%.
Lebih dari separoh kejadian abortus tidak
terjadi sebanyak 33 orang responden
dengan persentasi 66%.
Ada hubungan antara faktor usia dengan
kejadian abortus di RSUD Adnaan WD
dengan p value 0,016.
Ada hubungan antara paritas dengan kejadian
abortus di RSUD Dr. Adnaan WD
Payakumbuh dengan p value 0,001.
Ada hubungan antara jarak kehamilan
dengan kejadian abortus diRSUD Dr. Adnaan
WD Payakumbuh dengan p value 0,000.
Ada hubungan antara riwayat kehamilan
dengan kejadian abortus diRSUD Dr. Adnaan
WD Payakumbuh dengan p value 0,047.
5. REFERENSI
Arikunto S, 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan
Prektik,edrevisi
VI,
penerbit PT RinekaCipta, Jakarta
Cuningham, F.G. (2005). Obstetri Williams.
Jakarta : EGC Edisi: 21 Prawirihardjo,
Sarwono,2009.ImuKebidanan,
PenerbitYayasanBina
Pustaka
Sarwono, Prawirohadjo, Jakarta.
Dinas Kesehatan Sumatera Barat. 2007.Angka
Kematian Ibu danBayi.
Enimeiliya,EstiWahyuningsih.BukuSakuKebida
nan.Jakarta: EGC, 2009.
Erniwati. 2011.Hubungan antara Paritas
DenganKejadianAbortusdiRSU
DR
MSoewandhie Surabaya.
Hidayat.
2009.
Metode
Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Bineka Cipta.
Kenneth J.Leveno Obstetri Williams : Panduan
Ringkas, ed.21 Jakarta : EGC, 2009.
Manuaba,IBG, 2007,Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan
dan
Keluarga
BerencanauntukPendidikan
Bidan,
Jakarta.
ManuabaIBG, 2010.Ilmu Kebidanan, Penyakit
Kandungan
dan
KB
untuk
LPPM STIKes Perintis Padang
30
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
PendidikanBidanEdisi2.Jakarta
:
ECG.
Notoatmodjo,
Soekidjo.
2005.Metodologi
penelitian kesehatan,P.T. Rineka
Cipta. Jakarta.
Nursalam 2003. Konsep dan Penerapan
Metodologi Penelitian Kesehatan,
jakarta : RinekaCipta, Jakarta.
Prawirohardjo,
Sarwono.2009.Pelayanan
Kesehatan
Maternal
dan
Neonatal.Jakarta:PT Bina
Pustaka
Rukiyah,dkk.2009.asuhankebidanan1
(kehamilan). Jakarta : Trans Info
Media
LPPM STIKes Perintis Padang
31
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
STROKE BERULANG DENGAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA PASIEN
STROKE DI POLIKLINIK NEUROLOGI RSSN BUKITTINGGI
Lisa Mustika Sari
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Stroke is the third largest cause of death after heart disease and cancer, with a mortality rate of 18%
to 37% for the first stroke and 62% for recurrent stroke, and also a major cause of disability.
Disability and mortality rising in the case of recurrent stroke are much higher than the rate of
disability and death from stroke earlier cases, it will result in the fulfillment of functional ability in
activities of daily life. The purpose of the research is to determine the relationship of recurrent stroke
incidence with the functional capabilities on stroke patients. The research at the Neurology Clinic
National Stroke Hospital Bukittinggi by the method of descriptive correlation with cross-sectional
approach and accidental sampling of sampling to 40 people, and data processing used the
chi - square. The instrument used a questionnaire. The research has suggested relationship of
recurrent stroke with functional ability on stroke patients with P Value = 0,010 and OR = 9,750
which means that Ha is accepted. The conclusion is there is relationship of recurrent stroke
incidence with the functional capabilities on stroke patients in Neurology Clinic National Stroke
Hospital Bukittinggi. It is expected the extension to Nationel Stroke Hospital
Bukittinggiofsecondaryprevention measures like healthy lifestyle, treatment, and stroke
riskfactorcontrolcan bedone directlythroughcounselingor indirectlythroughmediasuch asposters
and brochure.
Keywords: Stroke, Functional Capabilities, Stroke Recurrent Stroke
1. PENDAHULUAN
Stroke yang juga dikenal dengan istilah
cerebrovascular accident atau brain attack,
merupakan kerusakan mendadak pada peredaran
darah dalam otak dalam satu pembuluh darah
atau lebih. Serangan stroke akan mengganggu
atau mengurangi pasokan oksigen dan umumnya
menyebabkan kerusakan yang serius atau
nekrosis pada jaringan otak (Kowalak, et al.
2011).
Gangguan syaraf tersebut menimbulkan
gejala antara lain: kelumpuhan wajah atau
anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak
jelas (pelo), mungkin perubahan kesadaran,
gangguan penglihatan, dan lain-lain (Rskesdas,
2013)
Berat atau ringannya dampak serangan
stroke tersebut sangat bervariasi, tergantung
pada lokasi dan luas daerah otak yang rusak. Bila
aliran darah terputus hanya pada area yang kecil
atau terjadi pada daerah otak yang tidak rawan,
efeknya ringan dan berlangsung sementara.
Sebaliknya, bila aliran darah terputus pada
daerah yang luas atau pada bagian otak yang
vital, terjadi kelumpuhan yang parah sampai
pada kematian. (Vitahealth. et al. 2004).
Stroke mengenai 1 dari 600 pasien per
tahun, dan sekitar 5% populasi berusia di atas 65
tahun akan mengalami stroke. Pada sekitar 85%
kasus penyebabnya iskemik (trombosis atau
emboli), 10% disebabkan oleh perdarahan intra
serebral,
dan
5%
akibat
perdarahan
subarakhnoid. Stroke merupakan penyebab dari
12% kematian negara industri. Pada unit stroke,
5-13% kasus memiliki lesi nonvaskular (tumor,
perdarahan subdural, paresis pasca kejang,
migren, infeksi intakranial, gangguan metabolik,
histeria). (Rubenstein. et al, 2005).
Stroke adalah masalah neurologik primer di
AS dan di dunia. Meskipun upaya pencegahan
telah menimbulkan penurunan pada insiden
dalam beberapa tahun terakhir, stroke adalah
peringkat ketiga penyebab kematian setelah
jantung dan kanker, dengan laju mortalitas 18%
sampai 37% untuk stroke pertama dan sebesar
62% untuk stroke berulang, dan stroke juga
LPPM STIKes Perintis Padang
32
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
menjadi penyebab kecacatan utama (Smeltzer &
Bare, 2002).
Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun
terjadi 500.000 penduduk terkena serangan
stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang
meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun
berat. Secara umum, dapat dikatakan angka
kejadian stroke adalah 200 per 100.000
penduduk. Dalam satu tahun, di antara 100.000
penduduk, maka 200 orang akan menderita
stroke. (Yayasan Stroke Indonesia, 2012).
Stroke berulang merupakan stroke yang
terjadi lebih dari satu kali dan hal yang
mengkhawatirkan pasien stroke karena dapat
memperburuk keadaan dan meningkatnya biaya
perawatan. Bahaya yang ditimbulkan oleh stroke
berulang
adalah
kecacatan
dan
bisa
mengakibatkan
kematian.
Faktor
yang
mempengaruhi terjadinya stroke berulang
diantaranya faktor yang tidak dapat diubah
seperti usia, jenis kelamin, ras, keturunan dan
faktor yang dapat diubah seperti hipertensi,
diabetes mellitus, kelainan jantung, merokok,
aktivitas fisik/olahraga, kepatuhan kontrol,
obesitas, konsumsi alkohol, diit. Resiko tertinggi
bagi stroke berulang adalah dalam 6-12 bulan
setelah stroke sebelumnya. Secara rata-rata 1
dari 10 orang mengalami stroke kedua dalam
setahun, dan 3 dari 10 mengalami stroke
berulang dalam lima tahun pertama setelah
stroke awal (Feigin, 2007).
Menurut penelitian siswanto, 2010 fakor
faktor yang mempengaruhi terjadinya stroke
berulang dengn hasil ada hubungan kebiasaan
merokok, komsumsi alkohol, kepatuhan diit dan
kepatuhan kontrol ke dokter, dan kebiasan
berolahraga terhadapa kejadian stroke berulang
dengan Pvalue 0,008.
Kecacatan dan angka kematian yang timbul
pada kasus stroke berulang jauh lebih tinggi dari
angka kecacatan dan kematian dari kasus stroke
sebelumnya, sehingga sudah jelas bagi kita
bahwa
melakukan
penatalaksanaan stroke sangatlah dibutuhkan
(Makmur T , 2007 ).
Permasalahan yang ditimbulkan oleh stroke
bagi kehidupan manusia sangat kompleks.
Adanya gangguan-gangguan fungsi vital otak
seperti gangguan koordinasi, gangguan
keseimbangan, gangguan kontrol postur,
gangguan sensasi, gangguan refleks gerak akan
menurunkan kemampuan fungsional individu
sehari-hari. Pasien dengan kondisi stroke akan
mengalami banyak gangguan-gangguan yang
bersifat fungsional. Kelemahan ekstremitas
sesisi, kontrol tubuh yang buruk serta
ketidakstabilan pola berjalan (Irfan, 2010).
Kemampuan fungsional berfokus pada
perawatan diri : makan, mandi / higiene,
berpakaian/berdandan, toileting dan mobilisasi.
Kemampuan fungsional bergantung pada
pergerakan persendian yang baik, kekuatan otot
dan
keutuhan
sistem
neurologis.
Ketidakmampuan hampir selalu menyebabkan
kehilangan fungsi yang melibatkan sistem
muskoloskeletal, neurologis dan kardiovaskuler
(Smeltzer & Bare, 2001). Penilaian pemeriksaan
fungsional dilakukan dengan parameter indeks
barthel (Mardiman. et al, 2007).
Terdapat 80% penderita stroke mempunyai
defisit neuromotor sehingga memberikan gejala
kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat
kelemahan bervariasi dari yang lemah hingga
berat, kehilangan sensibilitas, kegagalan sistem
koordinasi, perubahan pola jalan, hingga
terganggunya keseimbangan. Hal ini akan
mempengaruhi
kemampuannya
untuk
melakukan
aktifitas
hidup
seharihari/kemampuan fungsionalnya
(Widianto,
2009).
Aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS)
adalah aktivitas perawatan diri yang harus
dilakukan setiap hari untuk memenuhi
kebutuhandan tuntutan hidup sehari hari. AKS
meliputi higiene/mandi, berpakaian/berdandan,
makan dan toileting. Banyak pasien tidak
mampu melaksanakan aktivitas ini dengan
mudah. Kemampuan untuk melakukan AKS
sering merupakan kunci untuk kemandirian,
kembali ke rumah, dan aktif kembali ke
komunitas (Smeltzer & Bare, 2001).
Tingkat keberhasilan pada penderita stroke
dalam melakukan AKS dapat dinilai dengan
kemampuan merawat dirinya sendiri (AKS
personal). Jika AKS personal ini dilakukan
secara rutin akan membuat penderita lebih
percaya diri dengan kemampuannya untuk
menghadapi hari depan. AKS yang rutin
dilakukan merupakan keterampilan dasar yang
harus dimiliki seseorang untuk dapat merawat
LPPM STIKes Perintis Padang
33
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
dirinya secara mandiri, yang meliputi perawatan
diri sendiri (makan, mandi, berpakaian, toileting,
dll). (Smeltzer & Bare, 2002).
Angka kejadian stroke 2 tahun belakang ini
yaitu tahun 2012 adalah 1816 kasus dan tahun
2013 adalah 1937 kasus. Hal ini menunjukkan
adanya peningkatan jumlah kasus kejadian
stroke setiap tahunnya (RSSN Bukittinggi).
Tujuan Umum Penelitian adalah apakah ada
hubungan stroke berulang dengan kemampuan
fungsional pada pasien stroke di poliklinik
RSSN Bukittinggi
Tujuan Khusus Penelitian adalah untuk
mengetahui distribusi frekuensi kejadian stroke
berulang, untuk mengetahui distribusi frekuensi
kemampuan fungsional pasien stroke, dan untuk
mengetahui hubungan stroke berulang dengan
kemampuan fungsional pasien stroke.
Analisa univariat yang dilakukan dengan
menggunakan analisis distribusi frekuensi dan
statistik deskriptif untuk melihat dari variabel
independen yaitu stroke berulang dan variabel
dependen yaitu kemampuan fungsional.
Analisa bivariat yang dilakukan untuk
mengetahui hubungan antara dua variabel yang
diteliti. Pengujian hipotesa untuk mengambil
keputusan tentang apakah hipotesa yang
diajukan cukup meyakinkan untuk di tolak atau
diterima dengan menggunakan uji statistik chisquare test.
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
deskriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah
pasien stroke di poliklinik neurologi RSSN
Bukittinggi yang berjumlah 40 orang.Instrument
untuk pengumpulan data pada penelitian ini
menggunakan kuisioner yang menggunakan
indeks barthel dengan mengacu pada kerangka
konsep.Pengambilan Data dilakukan dengan
Setelah melakukan uji coba, maka peneliti
memilih responden yang memenuhi kriteria
untuk dijadikan responden yang telah terpilih
untuk bersedia menjadi responden, maka
pengumpulan data dilakukan dengan tahapan
pemberian penjelasan tentang tujuan, manfaat,
dan prosedur penelitian yang akan dilaksanakan
kepada
responden.
Setelah
responden
memahami
penjelasan
yang
diberikan,
responden diminta persetujuannya yang
dibuktikan dengan menandatangani informant
consent dan untuk pengisian kuisioner diisi
langsung oleh responden atau dibantu oleh
keluarga responden.Setelah data terkumpul
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok
menurut sub variabel yang ada didalam
pertanyaan. Data yang terkumpul kemudian
diolah dan dilakukan analisa univariat dan
analisa bivariat.
LPPM STIKes Perintis Padang
34
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Stroke Berulang
Pada Pasien Stroke Di Poliklinik Neurologi
Kejadian
n
%
Stroke berulang
17
42,5
Stroke tidak berulang
23
57,5
Total
40
100,0
Berdasarkan dari tabel 1 dapat dilihat bahwa dari 40 orang responden diperoleh sebagian besar
responden (57,5%) mengalami stroke tidak berulang.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kemampuan Fungsional
Pada Pasien StrokeDi Poliklinik Neurologi
Kemampuan Fungsional
N
%
Ketergantungan Berat
25
62,5
Ketergantungan Ringan
15
37,5
Total
40
100,0
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa dari 40 orang responden didapatkan lebih dari separoh
responden (62,5%) berada pada tingkat ketergantungan berat.
Tabel 3. Hubungan Stroke Berulang Dengan Kemampuan Fungsional
Pada Pasien StrokeDi Poliklinik Neurologi
Kemampuan Fungsional
No
Stroke
Berulang
Ketergantungan
Berat
Total
Ketergantungan
Ringan
n
%
n
%
n
%
1
Iya
15
88,2
2
11,8
17
100
2
Tidak
10
43,5
13
56,5
23
100
25
131,7
15
68,3
40
200
Total
P Value
OR
0,010
9,750
Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa dari 40 orang responden, 17 responden yang
mengalami stroke berulang, 15 responden (88,2%) diantaranya mengalami ketergantungan berat 2
responden (11,8%) mengalami ketergantungan ringan, dan 23 orang responden yang tidak
mengalami stroke berulang 10 responden (43,5%) diantaranya mengalami ketergantungan berat 13
responden (56,5%) mengalami ketergantungan ringan.
mengalami stroke berulang. Sedangkan data
3.2. Pembahasan
yang diperoleh dari hasil penelitian tentang
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kemampuan fungsional responden didapatkan,
penelitian tentang stroke berulang didapatkan, bahwa dari 40 orang responden diperoleh
bahwa dari 40 orang responden terdapat 42,5% sebagian besar responden (62,5%) mengalami
LPPM STIKes Perintis Padang
35
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
ketergantungan berat. Sehingga dapat dilihat
bahwa dari 40 orang responden, 17 responden
yang mengalami stroke berulang, 15 responden
(88,2%) diantaranya mengalami ketergantungan
berat 2 responden (11,8%) mengalami
ketergantungan ringan, dan 23 orang responden
yang tidak mengalami stroke berulang 10
responden (43,5%) diantaranya mengalami
ketergantungan berat 13 responden (56,5%)
mengalami ketergantungan ringan.
Dari hasil uji statistik Chi-Square didapat p
value = 0,010 dengan nilai α = 0,05 maka p value
< 0,05 sehingga Ha diterima yaitu ada hubungan
bermakna antara stroke berulang dengan
kemampuan fungsional pada pasien stroke Di
Poliklinik Neurologi Rumah Sakit Stroke
Nasional
Bukittinggi
Nilai
kemaknaan
hubungan antara dua variabel di atas memiliki
OR sebanyak 9,750 artinya stroke berulang
beresiko 9 kali mengalami ketergantungan pada
pasien stroke dibanding pasien yang tidak stroke
berulang.
Menurut
teori,
stroke
berulang
didefenisikan sebagai kejadian serebrovaskuler
baru yang mempunyai satu di antara kriteria
berikut yaitu: defisit neurologi yang berbeda
dengan kejadian stroke pertama, kejadian yang
meliputi daerah anatomi atau daerah pembuluh
darah yang berbeda dengan stroke pertama,
kejadian mempunyai sub tipe stroke yang
berbeda dengan tipe kejadian stroke pertama
(Moroney, 1998, dalam Siswanto 2010).
Stroke berulang merupakan stroke yang
terjadi lebih dari satu kali dan hal yang
mengkhawatirkan pasien stroke karena dapat
memperburuk keadaan dan meningkatnya biaya
perawatan. Faktor yang mempengaruhi
terjadinya stroke berulang diantaranya faktor
yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis
kelamin, ras, keturunan dan faktor yang dapat
diubah seperti hipertensi, diabetes mellitus,
kelainan
jantung,
merokok,
aktivitas
fisik/olahraga, kepatuhan kontrol, obesitas,
konsumsi alkohol, diit.
Perjalanan penyakit stroke sangat beragam,
penderita tersebut dapat sembuh sempurna, ada
pula sembuh dengan cacat ringan, sedang sampai
berat. Pada kasus berat dapat menyebabkan
kematian, pada kasus yang dapat bertahan hidup
beberapa kemungkinan terjadi stroke berulang,
dimensia dan depresi. Stroke merupakan
penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan
pada usia diatas 45 tahun (Simon FP , 2006 ).
Resiko tertinggi bagi stroke berulang adalah
dalam 6-12 bulan setelah stroke sebelumnya.
Secara rata-rata 1 dari 10 orang mengalami
stroke kedua dalam setahun, dan 3 dari 10
mengalami stroke berulang dalam lima tahun
pertama setelah stroke awal (Feigin, 2007).
Menurut penelitian siswanto, 2010 fakor
faktor yang mempengaruhi terjadinya stroke
berulang dengn hasil ada hubungan kebiasaan
merokok, komsumsi alkohol, kepatuhan diit dan
kepatuhan kontrol ke dokter, dan kebiasan
berolahraga terhadapa kejadian stroke berulang
dengan Pvalue 0,008
Kemampuan fungsional adalah suatu
bentuk pengukuran kemampuan seseorang untuk
melakukan aktivitas kehidupan sehari – hari
secara mandiri. Penentuan kemampuan
fungsional dapat mengidentifikasi kemampuan
dan keterbatasan klien sehingga memudahkan
pemilihan intervensi yang tepat (Maryam, 2008).
Menurut penelitian Makmur T (2007),
tingkat kecacatan dan angka kematian yang
timbul pada kasus stroke berulang jauh lebih
tinggi dari angka kecacatan dan kematian dari
kasus stroke sebelumnya, sehingga sudah jelas
bagi kita bahwa melakukan penatalaksanaan
stroke sangatlah dibutuhkan (Makmur T , 2007).
Adapun kecacatan yang dimiliki penderita stroke
meliputi ketidakmampuan berkomunikasi, dan
kehilangan motorik, seperti keterbatasan dalam
melakukan aktivitas dan perawatan diri
(Smeltzer & Bare, 2002).
Menurut penelitian A, Rochester, MN,
dimana stroke dapat menyebabkan kelumpuhan
pada anggota badan, hilangnya sebagian ingatan
atau kemampuan bicara, 27% tidak mempunyai
sisa kecacatan fisik, 24% mengalami cacat
ringan, 23% mengalami kecacatan sedang, 11%
mempunyai cacat mencolok, dan 6% yang
mengalami cacat berat (Gordon, 2008).
Analisis peneliti bahwa, hal ini disebabkan
karena ketidaktahuan responden dan keluarga
mengenai cara pencegahan terhadap stroke
berulang. Seseorang yang pernah terserang
stroke berulang mempunyai ketergantungan
yang lebih besar dari stroke pertama kali,
terutama bila tidak segera mendapatkan
LPPM STIKes Perintis Padang
36
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
perawatan. Dan jika seseorang telah menderita
stroke maka terdapat gangguan-gangguan fungsi
vital otak seperti gangguan koordinasi,
gangguan keseimbangan, gangguan kontrol
postur, gangguan sensasi, gangguan refleks
gerak yang akan menurunkan kemampuan
fungsional individu sehari-hari, dimana
kemampuan fungsional bergantung pada
pergerakan persendian yang baik, kekuatan otot
dan keutuhan sistem neurologis. Karena itu
perlu dilakukan penatalaksanaan stroke sedini
mungkin untuk meningkatkan kemandirian
pasien stroke berulang maupun yang tidak.
4. KESIMPULAN
Dari hasil penelitian diketahui bahwa stroke
berulang pada pasien stroke memiliki hubungan
yang bermakna dengan kemampuan fungsional
pada pasien stroke. Semakin sering seseorang
terkena serangan stroke, maka semakin besar
tingkat kecacatan dan ketergantungan pasien
stroke tersebut. Maka dari itu jika seseorang
telah terkena serangan stroke untuk yang
pertama
sekali
agar
bisa
dilakukan
penatalaksanaan stroke secepatnya, dan
pemberian informasi kesehatan seputar faktor
resiko terjadinya stroke berulang sangatlah
dibutuhkan baik kepada pasien maupun
keluarga.
(DP3FT).
Surakarta:
Akademi fisioterapi Depkes RI
Mahendra, et al. 2007. Atasi Stroke Dengan
Tanaman Obat. Jakarta: Penebar
Swadaya
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan. Konsep, Proses dan
Praktek. Edisi 4 Volume 1.
Jakarta: EGC
Rubenstein, et al. 2005. Kedokteran Klinis.
Jakarta: Erlangga Medical Series
Smeltzer & Barre. 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8
Volume 1. Jakarta: EGC
Siti Maryam, et al. 2008. MengenalUsia Lanjut
dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika
Vitahealth. 2004. Stroke. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka
Yuliaji siswanto . 2010 . Faktor faktor risiko
yang mempengaruhi kejadia stroke
Berulang di RS Dr. Kariadi
5. DAFTAR PUSTAKA
BPPK. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
Feigin, Valery. 2007. Stroke : Panduan
Bergambar Tentang Pencegahan dan
Pemulihan Stroke. Jakarta: PT Bhuana
Ilmu Populer
Gordon F. Neil. 2007. Stroke Panduan latihan
Lengkap. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Ginsberg, Lionel. 2007. Lecture Notes
Neurologi. Jakarta: Erlangga
Kowalak, et al. 2011. Buku Ajar Patofisiologi.
Jakarta: EGC
Makmur T., Anwar Y., Nasution D., 2002 .
Gambaran Stroke Berulang di RS H.
Adam Malik Medan. Nusantara
Mardiman, dkk. 2007. Dokumentasi Persiapan
Praktek
Profesional
Fisioterapi
LPPM STIKes Perintis Padang
37
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
REAKSI CEMAS KLIEN YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA
BERHUBUNGAN DENGAN INFORMASI DAN MOTIVASI PERAWAT
RUANGAN HEMODIALISA
Isna Ovari
Dosen Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Clients who will undergo hemodialysis fear and anxiety. This anxiety arises because of the threat
from within the patient, causing the patient's psychological and behavioral responses that can be
observed. Results of interviews with some of the patients, they say, despite being repeatedly come
Hemodialysis therapy, still anxious to undergo hemodialysis therapy. This study aimed to determine
the relationship of information and Motivating nurse in the room with the level of anxiety in patients
undergoing hemodialysis Hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Descriptive analytic method
with cross sectional design. The population is all terminal renal failure patients undergoing
hemodialysis in Space Hemodialysis Hospital Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi, with an average of
80 patients per month, the sampling technique is total sampling, as many as 60 people. Processing
and analysis of data is computerized. Results of univariate analysis are known 75.0% of respondents
did not experience anxiety (adaptive), (76.7%) stating clearly the information nurses, and 66.7%
earn high motivation of nurses. The results of the bivariate analysis is known to have a relationship
information of Nurses in the room with the patient's anxiety level (p = 0.003 and OR = 7,429), and
there is a relationship between motivation of the nurse in the room with the patient's anxiety level (p
= 0.027 and OR = 4,636). Expected in hospital management in order to make the SOP information
and motivation for patients undergoing hemodialysis therapy is right and proper, which is useful for
reducing anxiety clients.
Keywords: Information, Motivation, Anxiety Hemodialysis Patients
1. PENDAHULUAN
Hemodialisa merupakan salah satu
alternatif terapi pengganti pasien gagal ginjal
terminal. Cara ini terbukti sangat efektif
mengeluarkan cairan, elektrolit, dan sisa-sisa
metabolisme tubuh. Sesuai dengan cara
kerjanya, hemodialisa hanya dilakukan 1 - 3 kali
setiap minggu dan 4 – 5 jam setiap dialysis,
sehingga cairan, elektrolit dan sisa-sisa
metabolisme yang selalu terbentuk dari waktu ke
waktu akan tetap berada dalam peredaran darah
di luar waktu dialisa (Baradero dkk, 2008). Di
Amerika pada tahun 2009 di perkirakan terdapat
116.395 orang penderita gagal ginjal yang baru.
Lebih dari 380.000 penderita gagal ginjal
menjalani hemodialisis reguler. Pada tahun 2011
di Indonesia terdapat 15.353 pasien yang baru
menjalani hemodialisa dan pada tahun 2012
terjadi peningkatan pasien yang menjalani
hemodialisa sebanyak 4.268 orang sehingga
secara keseluruhan terdapat 19.621 pasien yang
baru menjalani hemodialisa. Sampai akhir tahun
2012 terdapat 244 unit hemodialisis di Indonesia
(Rahman, 2014).
Di RS. Dr. M. Djamil Padang, pasien Gagal
Ginjal Terminal yang menjalani hemodialisis
regular dalam tiga tahun terakhir mengalami
peningkatan, yaitu tahun 2012 sebanyak 64
pasien, tahun 2013 sebanyak 85 pasien, dan
tahun 2014 sebanyak 158 pasien (Rekam Medis
RSUP Dr. M. Djamil Padang, 2014).
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
merupakan salah satu RS rujukan di Provinsi
Sumatra Barat dan juga sebagai RS pendidikan
yang mempunyai teknologi medis lengkap, di
Rumah Sakit ini terdapat 6 unit alat
hemodialisis. Berdasarkan hasil dari survey awal
dari Medical Record RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi didapatkan jumlah pasien
yang menjalani hemodialisa meningkat setiap
tahunnya dimana selama tahun 2012 terdapat 62
orang pasien yang menjalani hemodialisis, tahun
LPPM STIKes Perintis Padang
38
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
2013 sebanyak 71 orang, dan tahun 2014
terdapat 80 orang pasien (Rekam Medis RSUD
Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi, 2014).
Menurut Irmawati (2008), pasien gagal
ginjal, cendrung mengalami kecemasan. Hal ini
disebabkan karena pasien harus melaksanakan
hemodialisa seumur hidup dan berdampak pada
finansial yang cukup besar. Pendapat tersebut
didukung oleh Iskandarsyah (2006) yang
mengatakan bahwa pasien gagal ginjal dapat
mengalami gangguan dalam fungsi kognitif,
sosialisasi dan dan psikologis yang sebenarnya
sudah ditunjukkan sejak pertama kali pasien
mengalami gagal ginjal (Slametiningsih, 2012).
Tekanan mental atau kecemasan pada
pasien yang menjalani hemodialisa diakibatkan
oleh kepedulian yang berlebihan akan masalah
yang sedang dihadapi (nyata) ataupun yang
dibayangkan mungkin terjadi. Terlebih karena
penyakit gagal ginjal yang merupakan masalah
serius karena dapat menyebabkan kematian, dan
biaya yang dikeluarkan sangat besar. Pasien
yang menjalani hemodialisa
mengalami
berbagai masalah yang timbul akibat tidak
berfungsinya ginjal. Hal tersebut muncul setiap
waktu
sampai
akhir
kehidupan.
Ketidakberdayaan serta kurangnya penerimaan
diri pasien menjadi faktor psikologis yang
mampu mengarahkan pasien pada tingkat stres,
cemas bahkan depresi (Ratnawati, 2011).
Klien yang akan menjalani hemodialisis
mengalami depresi, ketakutan dan kecemasan.
Tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, baik faktor biologis maupun fisiologis,
baik dari dalam pasien maupun dari luar pasien,
penerimaan terhadap pelaksanaan hemodialisis,
sosial ekonomi, usia pasien, kondisi pasien lama
dan
frekuensi
menjalani
hemodialisis.
Kecemasan ini timbul karena ancaman dari
dalam diri pasien sehingga menimbulkan respon
psikologis dan perilaku pasien yang dapat
diamati, sedangkan ancaman dari luar diri pasien
hemodialisis dapat bersumber dari respon
manusia (perawat), interaksi manusia dan
lingkungan yang terpapar oleh alat- alat yang
digunakan. Pasien yang mengalami dialisis
jangka panjang maka akan merasa khawatir atas
kondisi sakitnya yang tidak dapat di ramalkan
dan berefek terhadap gaya hidup (Brunner &
Suddart, 2002).
Penelitian yang dilakukan oleh Rahman
(2014) dengan judul Hubungan Tindakan
Hemodialisais dengan Tingkat Kecemasan
Pasien di Ruangan Hemodialisa RSUD Labuang
Baji Pemprov Sulawesi Selatan, diketahui
bahwa 59,9 % responden yang menjalani terapi
hemodialisa, mengalami kecemasan sedang.
Pasien yang melakukan tindakan hemodialisis
satu kali tingkat kecemasannya sedang,
sedangkan pasien yang melakukan tindakan
hemodialisis dua kali tingkat kecemasannya
ringan atau semakin lama pasien menjalani
tindakan
hemodialisis
maka
tingkat
kecemasannya berkurang oleh karena pasien
sudah mencapai tahap accepted (menerima)
terhadap pelaksanaan hemodialisa.
Menghadapi permasalahan psikologis yang
timbul pada pasien hemodialisis tersebut, maka
motivasi sangat berperan penting, dimana
dorongan untuk memperpanjang usia adalah
faktor yang utama. Motivasi merupakan
kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan
individu yang menunjukkan suatu kondisi dalam
diri
individu
yang
mendorong
atau
menggerakkan individu tersebut melakukan
kegiatan untuk mencapai tujuan (Irwanto, 2002
dalam Wahyuni, 2010).
Berdasarkan pengamatan dan hasil diskusi
peneliti di ruang Hemodialisa RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi, ditemukan
banyak pasien yang baru terapi hemodialisis
cemas dan takut untuk datang menjalani
tindakan Hemodialisa karena penusukan pada
daerah femoral yang membuat mereka
kesakitan. Pasien baru tersebut juga cemas
dengan biaya yang mesti dikeluarkan untuk
dialisis, dimana biaya untuk satu kali
hemodialisa mereka harus mengeluarkan uang
sebesar Rp. 1.080.000,-. Sementara pasien yang
sudah sering melakukan hemodialisa, merasa
cemas dengan biaya yang harus dikeluarkan
untuk transportasi dan akomodasi setiap
menjalani terapi hemodialisa, karena dalam I
minggu harus rutin 2 kali dilakukan terapi
Hemodialisa.
Untuk mengatasi kecemasan tersebut,
perawat di ruangan memberikan informasi dan
menganjurkan pemasangan cimino (AV Fistula)
ke Padang, agar pasien tidak perlu cemas lagi
dengan penusukan di daerah paha dalam
LPPM STIKes Perintis Padang
39
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
menjalani terapi hemodialisa. Perawat juga
memberikan
informasi
tentang
biaya
hemodialisa gratis bagi pasien yang memiliki
kartu BPJS atau Askes. Sementara untuk
mengurangi biaya transportasi dan akomodasi
pasien, perawat memberikan motivasi agar
pasien selalu patuh menjalani diet dan terapi
hemodialisa, sehingga dapat meningkatkan
status kesehatanya dan mereka tidak perlu
merepotkan banyak orang untuk mengantarkan
ke Rumah Sakit.
Namun demikian, hasil wawancara dengan
beberapa orang pasien, mereka mengatakan
walaupun sudah berulang kali datang menjalani
terapi Hemodialisa, tetap saja cemas dalam
menjalani terapi hemodialisa. Kecemasan itu
membuat tekanan darahnya naik, rasa sesak
nafas, sulit tidur gelisah, kehilangan nafsu
makan dan takut akan kematian. Mereka merasa
cemas akan ketergantungan dengan alat-alat
dialisis, perubahan-perubahan yang dialami
setelah mejalani terapi Hemodialisa seperti
perubahan gaya hidup dan banyaknya pantangan
yang harus dihindari. Tetapi dengan adanya
informasi dan motivasi yang diberikan perawat
yang menanganinya, maka kecemasan tersebut
sudah berkurang. Oleh sebab itu maka peneliti
terarik untuk meneliti Hubungan Informasi dan
Movitasi Perawat di Ruangan dengan Reaksi
Cemas Pasien yang Menjalani Terapi
Hemodialisa di RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi
Tujuan penelitian untuk mengetahui
hubungan informasi dan movitasi Perawat di
Ruangan dengan reaksi cemas pasien yang
menjalani terapi hemodialisa di RSUD Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi
2.2. Sampel
Sampel pada penelitian ini diambil secara
total sampling, yaitu seluruh anggota populasi
dijadikan sebagai sampel, berjumlah 60 orang.
2.3. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan
menyebarkan kuesioner dan wawancara
terpimpin
dengan
terlebih
dahulu
memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan
penelitian, memberikan surat persetujuan
menjadi responden, dan memberi kuesioner
yang berbentuk multiple choise dan daftar
ceklist yang akan dikumpul kembali oleh
peneliti untuk diperiksa kelengkapannya
2.4. Pengolahan Data
Data yang terkumpul pada penelitian ini
telah diolah melalui tahap Editing (pemeriksaan
kelengkapan data), Coding (pengkodean),
Procesing (Pengolahan data dengan program
komputer), Cleaning (pembersihan/cek data).
2.5. Analisis Data
Analisis
univariat bertujuan untuk
menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik
setiap variabel penelitian, yang disajikan dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase,
yang terdiri dari distribusi frekuensi informasi,
motivasi perawat dan tingkat kecemasan pasien
yang menjalani hemodialisa.
Analisis bivariat dilakukan terhadap dua
variabel yang diduga berhubungan. Analisis
hasil uji statistic dengan menggunakan ChiSquare test, untuk menyimpulkan adanya
hubungan 2 variabel,
2. METODE PENELITIAN
2.1. Desain
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitik dengan desain cross sectional
yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk
mempelajari dinamika korelasi antara faktorfaktor risiko dengan efek, dengan cara
pendekatan, observasi atau pengumpulan data
sekaligus pada suatu saat.
LPPM STIKes Perintis Padang
40
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
No
1.
Tabel 1. Karakteristik Responden
Karakteristik
F
%
Umur
- Produktif (15 – 54 tahun)
30
50,0
- Tidak produktif (> 54 tahun)
30
50,0
2.
Jenis kelamin
- Laki-laki
32
53,3
- Perempuan
28
46,7
3.
Pendidikan
- Rendah (SD & SMP)
29
48,3
- Tinggi (SMA & PT)
31
51,7
4.
Pekerjaan
- Bekerja
30
50,0
- Tidak bekerja
30
50,0
5.
Status Perkawinan
- Belum kawin
7
11,7
- Kawin
43
71,7
- Janda/duda
10
16,7
6.
Status Rawatan
- Askes
18
30,0
- BPJS
37
61,7
- Umum
5
8,3
Tabel 1 menunjukkan bahwa dari 60 responden, proporsi responden (50,0 %) responden
merupakan usia produktif (15 – 54 tahun) dan 50% usia tidak produktif, (53,3 %) berjenis kelamin
laki-laki, pendidikan tinggi (51,7%), bekerja (50,0 %), kawin (71,7 %) dan status rawatan BPJS
(61,7%).
Analisis Univariat
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden menurut Reaksi Cemas Pasien, Informasi dan
Motivasi Perawat di Ruang Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi
Reaksi Cemas
Frekuensi
%
Adaptif
- Tidak cemas
34
56,7
- Kecemasan ringan
11
18,3
Mal adaptif
- Kecemasan sedang
8
13,3
- Kecemasan berat
7
11,7
Informasi Perawat
- Jelas
46
76,7
- Kurang jelas
14
23,3
Motivasi dari Perawat
- Tinggi
40
66,7
- Rendah
20
33,3
Tabel 2 menunjukkan dari 60 responden, lebih dari sebagian tidak mengalami kecemasan
(adaptif) yaitu sebanyak 45 orang (75,0 %). Dapat diartikan bahwa pada umumnya responden tidak
lagi merasa khawatir dengan pelaksanaan terapi hemodialisa dan telah bisa menerima keadaannya.
Berdasarkan tabel diketahui bahwa dari 60 responden, lebih dari sebagian menyatakan informasi
perawat jelas, yaitu sebanyak 46 orang (76,7 %). Dapat diartikan bahwa informasi yang diberikan
perawat di ruangan hemodialisa sudah cukup jelas menurut responden.
LPPM STIKes Perintis Padang
41
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Berdasarkan tabel dapat diketahui bahwa dari 60 responden, lebih dari sebagian memperoleh
motivasi tinggi dari perawat, yaitu sebanyak 40 orang (66,7 %). Dapat diartikan bahwa perawat
mampu memberikan motivasi yang tinggi pada lebih dari sebagian responden untuk menjalani terapi
hemodialisa.
Analisis Bivariat
Tabel 3. Hubungan Informasi dari Perawat Dengan Reaksi Cemas Pasien
OR
Reaksi Cemas
Jumlah
Informasi
(CI
95 %)
Adaptif
Maladaptif
pvalue
Perawat
N
%
N
%
N
%
Jelas
39
84,8
7
15,2
46
100
7,429
Kurang jelas
6
42,9
8
57,1
14
100
Total
45
75,0
15
25,0
60
100
0,003
(1,96628,075)
Tabel 3. menunjukkan dari 46 responden yang menyatakan informasi perawat jelas, terdapat 39
orang (84,8 %) yang kecemasannya adaptif. Sedangkan dari 14 responden yang menyatakan
informasi perawat kurang jelas, hanya terdapat 6 orang (42,9%) yang kecemasannya adaptif. Dengan
demikian, proporsi responden yang adaptif (tidak mengalami kecemasan) lebih banyak pada
responden yang menyatakan bahwa informasi perawat jelas. Sementara proporsi responden yang
maladaptif lebih banyak pada responden yang menyatakan informasi perawat kurang jelas.
Hasil uji statistik chi-square didapatkan nilai p = 0,003 (p < 0,05) artinya ada hubungan
informasi dari Perawat di Ruangan dengan tingkat kecemasan pasien yang menjalani terapi
hemodialisa di Ruang Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2015. Nilai Odds
Ratio diperoleh 7,429 dapat diartikan bahwa responden yang menyatakan informasi perawat jelas
berpeluang 7,429 kali untuk adaptif, dibandingkan dengan responden yang menyatakan informasi
perawat kurang jelas.
Tabel 4. Hubungan Motivasi dari Perawat dengan Reaksi Cemas Pasien
Reaksi Cemas
OR
Jumlah
Motivasi
(CI
95 %)
Adaptif
Maladaptif
pvalue
Perawat
N
%
N
%
n
%
Tinggi
34
85,0
6
15,0
40
100
4,636
Rendah
11
55,0
9
45,0
20
100
Total
45
75,0
15
25,0
60
100
0,027
(1,34615,968)
Pada table 4. dapat diketahui bahwa dari 40 responden yang menyatakan motivasi dari perawat
tinggi, terdapat 34 orang (85,0 %) kecemasannya adaptif. Sedangkan dari 20 responden yang
menyatakan motivasi dari perawat rendah, hanya 11 orang (55,0%) yang kecemasannya adaptif.
Dengan demikian, proporsi responden yang adaptif (tidak mengalami kecemasan) lebih banyak pada
responden yang menyatakan bahwa motivasi perawat tinggi. Sementara proporsi responden yang
maladaptif lebih banyak pada responden yang menyatakan motivasi dari perawat rendah.
Hasil uji statistik chi-square didapatkan nilai p = 0,027 (p < 0,05) artinya ada hubungan motivasi
dari Perawat di Ruangan dengan tingkat kecemasan pasien yang menjalani terapi hemodialisa di
Ruang Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2015. Nilai Odds Ratio
diperoleh 4,636 dapat diartikan bahwa responden yang menyatakan motivasi dari perawat tinggi
berpeluang 4,636 kali untuk adaptif, dibandingkan dengan responden yang menyatakan motivasi dari
perawat rendah.
3.2. Pembahasan
Hubungan Informasi Perawat
Tingkat Kecemasan Pasien
dengan
Dari 46 responden yang menyatakan
informasi perawat jelas, terdapat 39 orang (84,8
%) yang adaptif. Sedangkan dari 14 responden
yang menyatakan informasi perawat kurang
LPPM STIKes Perintis Padang
42
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
jelas, hanya terdapat 6 orang (42,9%) yang
adaptif. Hasil uji statistik chi-square didapatkan
nilai p = 0,003 (p < 0,05) dan OR = 7,429 artinya
ada hubungan informasi dari Perawat di
Ruangan dengan tingkat kecemasan pasien yang
menjalani terapi hemodialisa di Ruang
Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2015. Responden yang
menyatakan informasi perawat jelas berpeluang
7,429 kali untuk adaptif, dibandingkan dengan
responden yang menyatakan informasi perawat
kurang jelas
Untuk mengatasi rasa cemas ada beberapa
langkah yang dapat anda lakukan. Langkahlangkah tersebut bukanlah suatu hal rumit
sebaliknya langkah tersebut sederhana sekali.
Setiap orang dapat mempraktekkannya.
Langkah-langkah tersebut terdiri dari 3 (tiga)
langkah sebagai berikut: Langkah I,
Menganalisis (menilai) keadaan yang terjadi
dengan berani dan jujur. Perhitungkanlah apakah
akibat terburuk yang mungkin terjadi karena
kegagalan
itu.
Langkah
II;
Setelah
memperhitungkan akibat - akibat terburuk yang
mungkin terjadi, selanjutnya bermufakat
(sepakat) dengan diri sendiri untuk menerima
akibat-akibat paling terburuk itu jika memang
perlu. Langkah III ; Pusatkanlah waktu dan
tenaga untuk memperbaiki segala keburukankeburukan yang telah di perhitungkan tadi,
lakukan semua itu dengan senang pasrah dan
tawakal. Ketiga langkah di atas tadi telah sukses
menghantarkan orang-orang dimana pun untuk
melaksanakan pekerjaannya pada kehidupan
nyata (Pratsetyono, 2005).
Penelitian yang dilakukan oleh Vivi (2012)
dengan judul Pendekatan Kognitif-Perilaku
untuk Mengurangi Kecemasan pada Pasien
Gagal Ginjal Terminal memperoleh kesimpulan
bahwa pendekatan kognitif perilaku dapat
menurunkan kecemasan pada pasien gagal ginjal
terminal. Pendekatan kognitif yang dilakukan
adalah dengan memberikan edukasi mengenai
penyakit sehingga pasien dapat mengubah
asumsi-asumsi yang salah tentang penyakit yang
dirasakan.
Menurut asumsi peneliti, adanya hubungan
informasi dari petugas dengan tingkat
kecemasan pasien yang menjalani terapi
hemodialisa karena melalui informasi yang
diberikan petugas tentang efek samping
hemodialisa, diet hemodialisa, dan akibat jika
melakukan hemodialisa tidak sesuai jadwal,
maka pasien dapat memperhitungkan akibat
tidak menjalani terapi hemodialisa. Sehingga
pada akhirnya pasien mampu mengatasi rasa
cemas terhadap penyakit dan terapi yang
dijalani. Pada akhirnya, setelah beberapa kali
menjalani terapi hemodialisa maka pasien bisa
menerima kondisi tersebut dan tidak merasa
cemas lagi (adaptif). Sebaliknya pasien yang
merasa informasi yang diberikan perawat kurang
jelas, maka mereka akan merasa cemas terhadap
biaya yang harus dikeluarkan dalam setiap kali
terapi.
Namun demikian,
juga
ditemukan
responden yang menyatakan informasi petugas
jelas tetapi mengalami kecemasan sedang dan
berat. Hal ini dapat terjadi karena mereka masih
memiliki tanggung jawab terhadap keluarga,
sehingga cemas dengan aktifitas (pekerjaan)
yang terganggu jika harus mengikuti
hemodialisa setiap minggu. Sebaliknya
responden yang menyatakan informasi dari
petugas kurang jelas, tetapi mereka tidak
mengalami kecemasan disebabkan adanya
dukungan dari keluarga yang membuat mereka
tidak berasa terbebani dan dapat menjalani terapi
hemodialisa dengan rileks dan santai.
Hubungan Motivasi dari Perawat dengan
Tingkat Kecemasan Pasien
Dari 40 responden yang menyatakan
motivasi dari perawat tinggi, terdapat 34 orang
(85,0 %) yang adaptif. Sedangkan dari 20
responden yang menyatakan motivasi dari
perawat rendah, hanya terdapat 11 orang
(55,0%) yang adaptif. Hasil uji statistik chisquare didapatkan nilai p = 0,027 (p < 0,05) dan
OR = 4,636 artinya ada hubungan motivasi dari
Perawat di Ruangan dengan tingkat kecemasan
pasien yang menjalani terapi hemodialisa di
Ruang Hemodialisa RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2015. Responden
yang menyatakan motivasi dari perawat tinggi
berpeluang 4,636 kali untuk adaptif,
dibandingkan
dengan
responden
yang
menyatakan motivasi dari perawat rendah
Menghadapi permasalahan psikologis yang
timbul pada pasien hemodialisis berupa
LPPM STIKes Perintis Padang
43
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
kecemasan, maka motivasi sangat berperan
penting,
dimana
dorongan
untuk
memperpanjang usia adalah faktor yang utama.
Motivasi merupakan kekuatan yang menjadi
pendorong kegiatan individu yang menunjukkan
suatu kondisi dalam diri individu yang
mendorong atau menggerakkan individu
tersebut melakukan kegiatan untuk mencapai
tujuan (Irwanto, 2002 dalam Wahyuni, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Sudarya
(2013) mengemukakan bahwa dukungan
perawat yang dapat diberikan perawat kepada
pasien yang menjalani terapi hemodialisa adalah
dalam bentuk penghargaan seperti memotivasi
pasien untuk sabar, memberikan semangat pada
pasien
selama
menjalani
hemodialisis,
memotivasi untuk berdoa, mendengarkan
keluhan pasien. Dukungan perawat dalam
bentuk penghargaan dapat bermanfaat untuk
memberikan motivasi kepada pasien agar
bersedia menjalani hemodialisis secara teratur.
Menurut asumsi peneliti, adanya hubungan
motivasi dari petugas dengan kecemasan pasien
yang menjalani terapi hemodialisa karena
melalui motivasi yang diberikan petugas maka
pasien akan termotivasi dan bersemangat dalam
menjalani terapi hemodialisa, sehingga rasa
cemas terhadap tindakan hemodialisa dapat
berkurang dan tidak mengganggu psikis dan
fisiologis pasien. Sebaliknya responden yang
mendapatkan motivasi rendah dari petugas, akan
kehilangan minat dan sedih, rasa gelisah dan
tidak tenang karena aktiftasnya tidak berjalan
normal seperti biasanya semenjak menjalani
terapi hemodialisa.
Namun
demikian,
juga
ditemukan
responden yang memperoleh motivasi tinggi dari
petugas tetapi mengalami kecemasan. Hal ini
dapat terjadi karena mereka merasa cemas
dengan biaya transportasi dan akomodasi yang
harus dikeluarkan setiap kali menjalani
hemodialisa. Sebaliknya responden yang
menyatakan motivasi dari perawat rendah dan
tidak mengalami kecemasan disebabkan
keluarga selalu memberikan dukungan agar
mereka patuh menjalani terapi hemodialisa.
Dengan adanya dukungan dari keluarga tersebut
maka kecemasan pasien berkurang dan merasa
tidak menjadi beban keluarga lagi. Hal ini
dibuktikan dengan tidak adanya rasa ketakutan
ditinggal sendiri, tidak mudah tersinggung dan
kurangnya gejala fisiologis yang dialami.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
maka dapat diperoleh kesimpulan:
1. Lebih dari sebagian responden tidak
mengalami kecemasan (adaptif), yaitu
sebanyak 34 orang (56,7 %)
2. Lebih dari sebagian responden menyatakan
informasi perawat jelas, yaitu sebanyak 46
orang (76,7 %)
3. Lebih dari sebagian responden memperoleh
motivasi tinggi dari perawat, yaitu
sebanyak 40 orang (66,7 %)
4. Ada hubungan informasi dari Perawat di
Ruangan dengan tingkat kecemasan pasien
yang menjalani hemodialisa di Ruang
Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2015 (p = 0,003 dan OR
= 7,429)
5. Ada hubungan motivasi dari Perawat di
Ruangan dengan tingkat kecemasan pasien
yang menjalani hemodialisa di Ruang
Hemodialisa RSUD Dr. Achmad Mochtar
Bukittinggi Tahun 2015 (p = 0,027 dan OR
= 4,636)
5. REFERENSI
Az-Zahrani, Musfir. 2005. Konseling Terapi.
Jakarta. Gema Insani
Baradero,
Mary
dkk.
2008.
Asuhan
Keperawatan Klien Gangguan Gagal
Ginjal, EGC. Jakarta
Brunner & Suddarth, 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medical Bedah, Vol II.
EGC. Jakarta
Ester, Monica. 2005. Pedoman Perawatan
Pasien. EGC. Jakarta
Rahman, Abdul. 2014. Hubungan Tindakan
Hemodialisais
dengan
Tingkat
Kecemasan Pasien di Ruangan
Hemodialisa RSUD. Labuang Baji
Pemprov Sulawesi Selatan. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Diagnosisi Volume 4
Nomor 5 Tahun 2014 . ISSN : 23021721
LPPM STIKes Perintis Padang
44
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Ratnawati. 2011. Tingkat Kecemasan Pasien
Dengan Tindakan Hemodialisa Di
BLUD RSU Dr.M.M Dunda Kabupaten
GorontaloJurnal Health & Sport, Vol.
3, Nomor 2, Agustus 2Afi :285 – 362
RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. 2014.
Rekam Medis RSUD Dr. Achmad
Mochtar Bukittinggi
RSUP Dr. M. Djamil Padang. 2014. Rekam
Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang
Slametiningsih. 2012. Pengaruh Logoterapi
Individu Paradoxical Intention terhadap
Penurunan Kecemasan pada Pasien
Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani
Terapi Hemodialisa di RS Islam
Cempaka Putih Jakarta Pusat. Tesis.
FIK-UI
Smeltzer. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Stuart
and Sundden .2007. Buku Saku
keperawatan Jiwa, edisi 3 (alih Bahasa),
Jakarta : EGC
Wahyuni. 2010. Analisis Motivasi Terapi
Hemodialisis Pada Penderita Gagal
Ginjal (Studi Kasus di Rumah Sakit
Islam Klaten Tahun 2010). Skripsi.
FMIPA-Undip
LPPM STIKes Perintis Padang
45
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
HUBUNGAN KEMAMPUAN KOGNITIF DENGAN SUCCESFUL AGING DALAM
PEMELIHARAAN KESEHATAN PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS LASI KABUPATEN AGAM TAHUN 2016
Yuli Permata Sari1, Rahmi Yusra2, Yendrizal Jafri3
1
Prodi D III Keperawatan, Stikes Perintis Sumbar
Email : [email protected]
2
Prodi Ilmu Keperawatan, Stikes Perintis Sumbar
Email : [email protected]
Abstract
The study of the elderly in Puskesmas Lasi Agam motivated because based on an initial survey
conducted by researchers, showed that more than 65% of healthy elderly, did not suffer from
dementia and has the ability to think good and more than 50% of the elderly are able to do health
care independently. The purpose of this study was to determine the relationship Cognitive Ability to
Successful Aging in Health Care for the Elderly in Puskesmas Lasi Agam Year 2016. The study
design used is descriptive analytic with cross sectional approach. The number of samples in this
study were 348 elderly people aged 60-69 years. Data collection tools used were questionnaires,
sampling techniques are Multistgage Random Sampling with chi-square statistical test. The result
showed elderly people who have mild cognitive abilities as much as 62.6% and the elderly who have
successful aging are well within health care as much as 69.5%. Statistical test result p value = 0.001
(p <0.05) means that there is a relationship of cognitive ability with successful aging in the health
care of the elderly. Expected to families who have elderly people to pay more attention to the health
of the elderly so that in old age the elderly can get a good successful aging in health maintenance
and recommended to further researchers to further develop this research with other methods such
experiment.
Keywords: Cognitive Ability, Elderly, Successful Aging
1. PENDAHULUAN
Menurut undang undang nomor 13 tahun
1998 tentang kesejahteraan lansia pada bab 1
pasal 2 menyatakan bahwa lanjut usia adalah
seseorang yang telah mencapai umur 60 keatas.
Berdasarkan defenisi secara umum,
seseorang dikatakan lanjut usia (lansia) apabila
usianya 65 tahun keatas (Effendi dan Makhfudli,
2009). Menurut organisasi kesehatan dunia,
WHO seseorang disebut lanjut usia (elderly) jika
berumur 60-69 tahun. Menurut Menurut Depkes
(2011), lansia meliputi : pra lansia kelompok
usia 45-59 tahun, lansia antara 60-69 tahun,
lansia berresiko kelompok usia > 70 tahun.
Kesimpulan dari pembagiaan umur menurut
beberapa ahli, bahwa yang disebut lanjut usia
adalah orang yang telah berumur 65 tahun keatas
(Nugroho, 2008).
Menurut WHO pada tahun 2000-2005
populasi lansia 7,74% dengan batas umur 66
tahun. Tahun 2011 jumlah penduduk dunia telah
mencapai angka 7 milyar jiwa dan I milyar
diantaranya adalah penduduk lanjut usia, dan
pada tahun 2015 penduduk lansia mencapai 36
juta jiwa atau 11,35% dengan populasi
penduduk. WHO memperkirakan tahun 2025
jumlah lansia diseluruh dunia akan mencapai 1,2
milyar orang yang akan terus bertambah hingga
2 milyar orang pada tahun 2050 (WHO, 2015).
Indonesia seperti Negara-negara lain
dikawasan asia pasifik akan mengalami penuaan
penduduk dengan amat cepat. Pada tahun 2012
Indonesia termasuk Negara asia ke-3 dengan
jumlah absolut populasi diatas 60 tahun terbesar
yakni setelah Cina (200 juta), India (100 juta)
dan menyusul Indonesia (25 juta). Bahkan
diperkirakan Indonesia akan mencapai 100 juta
lanjut usia dalam tahun 2050. (KemenKes RI,
2013)
Menurut BPS Sumbar jumlah penduduk di
Sumatera Barat tahun 2012 tercatat sebesar
4.904.460 jiwa dan 5,6 % diantaranya adalah
LPPM STIKes Perintis Padang
46
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
penduduk berusia tua (>65 tahun). Jumlah
tersebut diperkirakan akan bertambah sesuai
dengan peningkatan usia harapan hidup.
Sedangkan untuk jumlah Lansia yang ada di
Kabupaten Agam 41.518 jiwa per 433.874 orang
yang tersebar di 16 Kecamatan. Kecamatan IV
Angkek termasuk memiliki jumlah penduduk
Lansia terbanyak di Kabupaten Agam yaitu
3.333 jiwa per 43.191 jiwa (7,7%) (Dinkes
Kabupaten Agam, 2013).
Berdasarkan data yang didapatkan dari
puskesmas Lasi bahwa jumlah Lansia yang
terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Lasi pada
bulan Maret 2016 adalah sebanyak 6.682 jiwa,
yang terdiri dari 2.961 jiwa Lansia laki-laki dan
3.721 jiwa Lansia perempuan. Jumlah Lansia
diatas dibagi kedalam Pra Lansia (45-59 tahun)
sebanyak 2.822 jiwa, yang terdiri dari 1.351 jiwa
laki-laki dan 1.471 jiwa perempuan, Lansia (6069 tahun) sebanyak 2.709 jiwa, yang terdiri dari
1.167 jiwa laki-laki dan 1.542 jiwa perempuan,
Lansia resiko tinggi ≥ 70 tahun sebanyak 1.151
jiwa, yang terdiri dari 443 jiwa laki-laki dan 708
jiwa perempuan.
Semakin bertambahnya umur manusia,
terjadi proses penuaan secara generatif yang
berdampak pada perubahan-perubahan pada
manusia, tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga
perasaan, kognitif, sosial dan seksual. Menurut
Azizah (2010) perubahan kognitif terjadi pada
perubahan daya ingat (Memory), IQ (Intelegent
quocient), kemampuan belajar, kemampuan
pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan
keputusan, kebijaksanaan dan kinerja.
Namun tidak semua lansia mengalami
perubahan atau penurunan akibat penuaan,
menurut model normatif, lansia akan meraih
masa tua yang berhasil (successful aging) jika
mampu memenuhi tugas psikologis pada tiap
tahapan rentang hidup. Dalam mencapai masa
tua yang berhasil (successful aging), lansia harus
dapat beradaptasi dengan perubahan yang
terjadi. Keadaan fisik dapat memengaruhi
perkembangan aspek lainnya seperti pekerjaan,
masa pensiun, hubungan intim, dan kesehatan
mental. Demikian pula dengan kondisi kognitif
ataupun interaksi lansia dengan lingkungan akan
saling memengaruhi satu sama lain.
Berdasarkan wawancara peneliti dengan 7
orang lansia di Puskesmas Lasi Kabupaten
Agam pada hari Sabtu tanggal 16 April 2016, 5
orang lansia mengatakan pergi ke Puskesmas
untuk mengikuti program inovativ lansia yang
ada di Puskesmas yaitu senam lansia. Sedangkan
3 orang lansia lainnya mengatakan mereka
sedang memeriksakan kesehatan mereka di
Puskesmas. Serta diperoleh informasi dari
petugas puskesmas bahwa dari kegiatan
posyandu lansia yang dilakukan terdapat lebih
dari 65 % Lansia sehat, tidak menderita dimensia
dan memiliki kemampuan berfikir yang baik.
Serta lebih dari 50 % lansia mampu melakukan
pemeliharaan kesehatan mereka secaramandiri.
Hanya sekitar 25% Lansia yang menderita sakit
seperti Hipertensi, ISPA dan Gastritis. Oleh
sebab itu maka peneliti tertarik untuk meneliti
hubungan kemampuan kognitif dengan
succesful aging dalam pemeliharaan kesehatan
pada Lansia di Wilayah Kerja Puskesma Lasi
Kabupaten Agam Tahun 2016.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui hubungan kemampuan kognitif
dengan successful aging dalam pemeliharaan
kesehatan pada lansia di wilayah kerja
puskesmas lasi tahun 2016.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif analitik dengan desain crosss
sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah lansia
usia 60-69 tahun di wilayah kerja puskesmas lasi
kabupaten agam tahun 2016 dengan jumlah
sampel sebanyak 348 orang responden.
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
Multistage random sampling. Pengambilan data
dilakukan dengan cara wawancara dengan
panduan kuisioner. Cara pengolahan data dalam
penelitian ini adalah pemeriksaan data (editing),
pemberian tanda (coding), pemberian skor
(skoring), memasukan data (entri), pembersihan
data ( cleaning), memproses data ( processing).
Teknik analisa data yang digunakan adalah
analisa
univariat
untuk
menjelaskan
karakteristik setiap variabel penelitian dan
analisa bivariat untuk mengetahui hubungan
antara variabel penelitian. dimana hasil analisa
chi-square pada bivariat dibandingkan dengan
nilai p , apabila p ≤ 0,05 artinya secara statistik
LPPM STIKes Perintis Padang
47
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
bermakna dan apabila nilai p > 0,05 artinya
secara statistik tidak bermakna.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kemampuan
Kognitif pada Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas Lasi Kabupaten Agam Tahun 2016
Kemampuan Kognitif
f
%
Ringan
218
62,6 %
Sedang
130
37,4 %
Jumlah
348
100%
Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukan
bahwa lebih dari separoh responden memiliki
kemampuan kognitif ringan yaitu sebanyak 62,6
%.
Kemam
puan
Kognitif
Ringan
Sedang
Jumlah
aging yang baik dalam pemeliharaan kesehatan
76,1 % sedangkan sebanyak 23,9 % memiliki
successful aging yang kurang baik dalam
pemeliharaan kesehatan.
Berdasarkan uji statistik didapatkan nilai p
= 0,001 (p< 0,05) yang menunjukan adanya
hubungan yang signifikan antara kemampuan
kognitif dengan successful aging dalam
pemeliharaan kesehatan pada lansia dengan OR
= 2,268 yang berarti bahwa lansia yang
mempunyai kemampuan kognitif ringan
berpeluang memiliki successful aging yang baik
dalam pemeliharaan kesehatan dibandingkan
dengan lansia yang memiliki kemampuan
kognitif sedang.
3.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisa univariat diatas
menunjukan bahwa lebih dari separoh responden
memiliki kemampuan kognitif ringan yaitu
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Succesful Aging
sebanyak 62,6 %. Hal ini sejalan dengan
dalam Pemeliharaan Kesehatan pada Lansia di
penelitian yang dilakukan oleh Marlina Dwi
Wilayah Kerja Puskesmas Lasi Kabupaten
Rosita (2012), yang melakukan penelitian pada
Agam Tahun 2016
lansia dengan hasil sebagian besar lansia
Succesful
Aging
dalam
mempunyai fungsi kognitif baik yaitu sejumlah
Pemeliharaan Kesehatan
f
%
53,8 %. Penelitian yang sama juga dilakukan
69,5
oleh Rachel Mongisidi (2012) berdasarkan hasil
Baik
242 %
pemeriksaan fungsi kognitif pada seluruh sampel
dengan menggunakan MMSE menunjukkan
30,5
bahwa hampir sebagian besar yaitu 72.1% dari
Kurang Baik
106 %
sampel yang berusia di atas 60 tahun ini masih
Jumlah
348 100%
memiliki kemampuan yang normal.
Berdasarkan tabel 2 diatas menunjukan
Alat ukur yang biasa digunakan untuk
bahwa lebih dari separoh responden memiliki
mengukur
kemampuan
kognitif
adalah
successful aging yang baik dalam pemeliharaan
menggunakan MMSE (Mini Mental Status
kesehatan yaitu sebanyak 69,5
Examination) yang mempunyai interpretasi nilai
normal, ringan, sedang dan berat. Namun pada
Table 3. Hubungan Kemampuan Kognitif
penelitian ini peneliti hanya menggunakan 2
dengan Successful Aging dalam Pemeliharaan
buah nilai interpretasi yaitu ringan dan sedang.
Kesehatan pada Lansia di Wilayah Kerja
Menurut analisis peneliti, berdasarkan hasil
Puskesmas Lasi Kabupaten Agam Tahun 2016
penelitian
yang dilakukan peneliti didapatkan
Succesful Aging
bahwa seorang lansia yang memiliki
Jumlah
P
OR
Kurang
Baik
kemampuan kognitif ringan pada umumnya
Baik
adalah seorang lansia yang masih aktif baik
f
%
f
%
f
%
166 76,1 52
23,9
218
100
0,001
2.268 dalam bekerja ataupun aktivitas fisik lainnya
76
58,5 54
41,5
130
100
seperti olahraga dan kegiatan sosial dalam
10
masyarakat serta lansia yang tinggal bersama
242 69,5
30,5
348
100
6
keluarga memiliki kemampuan kognitif ringan
Berdasarkan tabel .3 diatas didapatkan
dibandingkan dengan lansia yang tinggal sendiri.
bahwa dari 218 responden mempunyai
kemampuan kognitif ringan memiliki successful
LPPM STIKes Perintis Padang
48
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Berdasarkan hasil analisa univariat diatas
menunjukan bahwa lebih dari separoh responden
memiliki successful aging yang baik dalam
pemeliharaan kesehatan yaitu sebanyak 69,5 %.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Yenny Marlina Nathalia Napitupulu ( 2012)
yang melakukan penelitian pada 100 orang
lansia dengan hasil sebanyak 97 % lansia
mempunyai successful aging yang baik dalam
pemeliharaan kesehatan. Penelitian yang sama
dilakukan oleh Hamidah, Aryani Tri Wrastari
(2012) dengan hasil diketahui bahwa lansia di
Selangor, Malaysia, lebih banyak mempunyai
successful
aging
yang
tinggi
dalam
pemeliharaan kesehatan sebanyak 89 %.
Menurut analisis peneliti, berdasarkankan
hasil penelitian yang dilakukan didapatkan
bahwa lansia yang mempunyai successful aging
yang baik dalam pemeliharaan kesehatan adalah
lansia yang mampu melakukan pemeliharaan
kesehatan secara mandiri, seperti melakukan
pengobatan atau memeriksakan kesehatan
ketempat pelayanan kesehatan, mempunyai
kebiasaan makan yang baik, dan aktif dalam
kegiatan agama maupun sosial di masyarakat.
Berdasarkan
hasil
analisa
bivariat
didapatkan bahwa dari 218 responden
mempunyai kemampuan kognitif ringan
memiliki successful aging yang baik dalam
pemeliharaan kesehatan 76,1 % sedangkan
sebanyak 23,9 % memiliki successful aging yang
kurang baik dalam pemeliharaan kesehatan.
Berdasarkan uji statistik didapatkan nilai p
= 0,001 (p< 0,05) yang menunjukan adanya
hubungan yang signifikan antara kemampuan
kognitif dengan successful aging dalam
pemeliharaan kesehatan pada lansia dengan OR
= 2,268 yang berarti bahwa lansia yang
mempunyai kemampuan kognitif ringan
berpeluang memiliki successful aging yang baik
dalam pemeliharaan kesehatan dibandingkan
dengan lansia yang memiliki kemampuan
kognitif sedang.
Nehlig (2010) mengatakan bahwa kognisi
adalah suatu konsep yang kompleks yang
melibatkan aspek memori, perhatian, fungsi
eksekutif, persepsi, bahasa dan fungsi
psikomotor. Nehlig juga mengatakan bahwa
konsep kognitif (dari bahasa Latin cognosere,
(“untuk mengetahui” atau “untuk mengenali”)
merujuk kepada kemampuan untuk memproses
informasi, menerapkan ilmu,dan mengubah
kecenderungan.
Suadirman (2011) menjelaskan bahwa
kegiatan adalah esensi hidup sepanjang hidup
dan sepanjang umur. Dimana seseorang yang
tetap aktif, baik secara fisik, mampu membina
hubungan sosial dengan lingkungan secara baik,
individu mampu menjaga kesehatan fisiknya
dihari tua, mendapatkan dukungan untuk dirinya
baik dari keluarga maupun dari lingkungan, serta
dapat memposisikan dirinya dengan baik dalam
menghadapi fase lanjut usianya dan terlibat aktif
dalam berbagai macam aktivitas sehingga
memberikan kontribusi dan kepuasaan bagi
dirinya, akan membawa individu tersebut
menuju usia lanjut berhasil (successful aging).
Dorris (2003)
berpendapat bahwa
Successful Aging adalah kondisi yang tidak ada
penyakit, artinya sehat secara fisik, aman secara
finansial, hidupnya masih produktif dan
mempunyai pekerjaan, mandiri dalam hidupnya,
mampu berpikir optimis dan positif, dan masih
mampu terlibat aktif dengan orang lain yang
dapat memberikan makna dan dukungan secara
social dan psikologis.
Menurut analisis peneliti, berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan peneliti didapatkan
bahwa seorang lansia yang memiliki
kemampuan kognitif ringan pada umumnya
adalah seorang lansia yang masih aktif baik
dalam bekerja ataupun aktivitas fisik lainnya
seperti olahraga dan kegiatan sosial dalam
masyarakat serta lansia yang tinggal bersama
keluarga memiliki kemampuan kognitif ringan
dibandingkan dengan lansia yang tinggal sendiri
dan lansia yang mempunyai successful aging
yang baik dalam pemeliharaan kesehatan adalah
lansia yang mampu melakukan pemeliharaan
kesehatan secara mandiri, seperti melakukan
pengobatan atau memeriksakan kesehatan
ketempat pelayanan kesehatan, mempunyai
kebiasaan makan yang baik, dan aktif dalam
kegiatan agama maupun sosial di masyarakat
4. KESIMPULAN
Berdasarkan
penelitian yang telah
dilakukan tentang hubungan kemampuan
kognitif dengan successful aging dalam
pemeliharaan kesehatan pada lansia di Wilayah
LPPM STIKes Perintis Padang
49
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Kerja Puskesmas Lasi Tahun 2016 dengan 348
responden didapatkan kesimpulan lebih dari
separoh responden memiliki kemampuan
kognitif ringan yaitu sebanyak 62,6 % dan lebih
dari separoh responden memiliki successful
aging yang baik dalam pemeliharaan kesehatan
yaitu sebanyak 69,5 % serta berdasarkan uji
statistik didapatkan nilai p = 0,001 (p< 0,05)
yang menunjukan adanya hubungan yang
signifikan antara kemampuan kognitif dengan
successful aging dalam pemeliharaan kesehatan
pada lansia dengan OR = 2,268 yang berarti
bahwa lansia yang mempunyai kemampuan
kognitif ringan berpeluang memiliki successful
aging yang baik dalam pemeliharaan kesehatan
dibandingkan dengan lansia yang memiliki
kemampuan kognitif sedang.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Nugroho, Wahjudi. 2008. Keperawatan
Gerontik dan Geriatrik (edisi 3). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Nursalam. 2008. Konsep
dan
Penerapan
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan
Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen
Penelitian Keperawatan (edisi 2). Jakarta:
Salemba Medika.
5. REFERENSI
Dinas Kesehatan Kabupaten Agam. 2016 :Profil
Dinas Kesehatan Kabupaten Agam.
Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran
Dorland Edisi 29. Jakarta : EGC, 2002
Dorris, 2003.Successful and active aging.The
Journal on Active Aging.2 (6), November
Desember.
Hamidah. Successful aging melalui dukungan
sosial. Jurnal Psikologi Unair. Volume 14
no.02 Hal108-118
Hamida
&
Aryani
2012.
Studi
Eksplorasi Successful
Aging melalui
Dukungan Sosial bagi Lansia di
Indonesia dan Malaysia. Jurnal INSAN
14 (2).
Kusumoputro S, Sidiarto LD, Samino, Munir R,
Nugroho W. Kiat panjang umur dengan
gerak dan latih otak. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia; 2008.
Makhfundi, Effend, Ferry. Keperawatan
Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik
dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika. 2009.
Nehlig, A. Journal of Alzheimer Disease 20 :
S58-S94. 2010
Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta
LPPM STIKes Perintis Padang
50
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
SUPERVISI KEPALA RUANG DENGAN KEPATUHAN PERAWAT
MELAKSANAKAN CUCI TANGAN LIMA MOMEN
DI RSUD PADANG PARIAMAN
Endra Amalia1*, Fauzia Amama Fitra2, Hidayati3.
Program Studi D III Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Each patient have the right to safety and her during during treatment at the hospital namely avoid
any risk nosocomial infections, and prevent the occurrence loss to patients who caused by faulty of
the medical officers, paramedics or non-medis ( indonesian dept of health, 2013 ). One of the
obligations of health workers to wash their hands, which is the most important technique in the
prevention and control nosocomial infections. The purpose of this research is look at the relationship
supervision head space by compliance nurse in implementing washing the hands of five moment in
inpatient rooms surgery and interne rsud the pariaman. Design research used is dekriptif the
correlation with approach cross sectional. Research showed that more than half of the nurse said
supervision done by the head of space is good, with 21 people ( 52.5 % ). Most nurse disobedient in
implementing washing the hands of five moment, with 31 people ( 77.5 % ). The results of the analysis
statistics showing that the p = much as 0.021. In conclusion is no link between supervision head
space by compliance nurse in implementing washing the hands of five moment with or = 11,077 it
means nurse who said supervision head space good had a chance 11,077 times to obey in
implementing washing the hands of five moment than nurse who said supervision head less space
good
Keywords: supervision, head of space, nurses implementing, washing hands five moment
1. PENDAHULUAN
Pelayanan
keperawatan
merupakan
pelayanan 24 jam dan terus menerus, dengan
jumlah tenaga keperawatan yang begitu banyak
dan berada di berbagai unit kerja rumah sakit.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan
kepada pasien, perawat melakukan prosedur atau
tindakan keperawatan yang dapat menimbulkan
resiko salah begitu besar (Maria dkk, 2013).
Undang Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang
rumah sakit, menyatakan bahwa “Setiap pasien
mempunyai hak memperoleh keamanan dan
keselamatan dirinya selama dalam perawatan di
rumah sakit”. Salah satu poinnya yaitu
menghindari adanya resiko infeksi nosokomial
di rumah sakit, dan mencegah terjadinya
kerugian pada pasien yang diakibatkan
kesalahan dari petugas medis, paramedis atau
non-medis (Depkes RI, 2013). Menurut
pendapat Perry & Potter (2005), salah satu
kewajiban dari tenaga kesehatan yaitu dengan
mencuci tangan merupakan teknik dasar yang
paling penting dalam pencegahan dan
pengontrolan infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial merupakan infeksi
yang terjadi di Rumah Sakit diakibatkan karena
ada transmisi organisme patogen yang didapat
pasien dalam waktu 3 x 24 jam pertama masa
hospitalisasi. Dengan menjalankan universal
precaution yang salah satunya adalah dengan
mencuci tangan pada setiap penanganan pasien
di rumah sakit merupakan cara paling ampuh
untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial
(Perry & Potter, 2005). Kegagalan untuk
melakukan kebersihan tangan dan kesehatan
tangan yang tepat dianggap sebagai sebab utama
terjadinya infeksi nosokomial dan penyebaran
multiresistensi di fasilitas pelayanan kesehatan
dan telah diakui sebagai kontributor yang
LPPM STIKes Perintis Padang
51
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
penting terhadap timbulnya wabah (Maryunani,
2011)
Resiko infeksi nosokomial merupakan
masalah penting di seluruh dunia. Infeksi ini
terus meningkat dari 1% di beberapa Negara
Eropa dan Amerika sampai lebih dari 40% di
Asia, Amerika latin dan Afrika (Depkes RI,
2011). Di Indonesia sendiri menurut studi yang
dilakukan di sebelas rumah sakit di DKI Jakarta
pada tahun 2004 menunjukkan bahwa 9,8%
pasien rawat inap mendapatkan infeksi yang
baru selama dirawat sedangkan di RSUP
Dr.Sardjito,
Surabaya
kejadian
infeksi
nosokomial mencapai 73% dan infeksi
nosokomial mencapai 5,9% berasal dari kamar
operasi RSUP Dr. Sardjito, Surabaya
(Napitupulu, 2009).
Teknik paling mendasar dalam mencegah,
mengendalikan, dan mengurangi tingkat infeksi
yang terjadi adalah dengan cara mencuci tangan.
Namun, pelaksanaan cuci tangan itu sendiri
belum mendapat respon yang maksimal.
Kepatuhan perawat tidak terlepas dari perilaku
seorang perawat yang sesuai dengan ketentuan
yang telah diberikan pimpinan perawat ataupun
pihak rumah sakit sebagai supervisi (Niven,
2002). Supervisi merupakan bagian dari fungsi
directing (penggerakkan atau pengarahan) dalam
fungsi manajemen yang berperan untuk
mempertahankan agar segala kegiatan yang telah
diprogramkan dapat dilaksanakan dengan benar
dan lancar. Supervisi secara langsung
memungkinkan kepala ruang menemukan
berbagai hambatan atau permasalahan dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan di ruangan
dengan mengkaji secara menyeluruh faktorfaktor yang mempengaruhinya dan bersama
dengan staf keperawatan untuk mencari jalan
pemecahannya (Suarli dkk, 2010). Biasanya
kepatuhan (cuci tangan) bersifat sementara,
artinya bahwa tindakan (cuci tangan) itu
dilakukan selama masih ada pengawasan
petugas. Tetapi begitu pengawasan itu
mengendur atau hilang, kepatuhan itupun
ditinggalkan (Niven, 2002).
Di Indonesia penelitian tentang penerapan
cuci tangan yang dilakukan oleh Elies, Asih, dan
Sastra pada tahun 2014 dengan judul “Penerapan
Hand Hygiene Perawat Ruang Rawat Inap
Rumah Sakit di Malang” menunjukkan bahwa
pada 58 perawat didapat 135 kesempatan, yaitu
angka kepatuhan cuci tangan sebelum kontak
dengan pasien (4%), sebelum tindakan aseptik
atau invasif (27%), setelah kontak dengan cairan
tubuh pasien (67%), sesudah kontak dengan
pasien (27%), setelah kontak dengan benda
lingkungan sekitar pasien (56%).
Dari hasil studi tersebut yang paling rendah
yaitu dimana angka kepatuhan cuci tangan
sebelum kontak dengan pasien masih dilaporkan
hasilnya kurang memuaskan. Pelaksanaan cuci
tangan tinggi saat perawat atau tenaga kesehatan
khawatir tertular penyakit karena kontak dengan
mikro organisme, misal darah dan urin.
WHO telah mengembangkan Moments
untuk Kebersihan Tangan yaitu Cuci Tangan
lima momen (Five Moments for Hand Hygiene),
yang telah diidentifikasi sebagai waktu kritis
ketika kebersihan tangan harus dilakukan yaitu:
1. Sebelum menyentuh pasien.
2. Sebelum prosedur aseptik atau invasif.
3. Setelah terpajan resiko cairan tubuh.
4. Setelah menyentuh pasien.
5. Setelah menyentuh benda-benda yang
melingkupi pasien.
Dua dari lima momen untuk kebersihan
tangan terjadi sebelum kontak. Indikasi
"sebelum" momen ditujukan untuk mencegah
risiko penularan mikroba untuk pasien. Tiga
lainya terjadi setelah kontak, hal ini ditujukan
untuk mencegah risiko transmisi mikroba ke
petugas kesehatan perawatan dan lingkungan
pasien. Suarli & Bahtiar (2010), menjelaskan
bahwa pengertian supervisi secara umum adalah
melakukan pengamatan secara langsung dan
berkala oleh “atasan” sebagai kepala ruang
terhadap pekerjaan yang dilakukan “bawahan”
sebagai perawat pelaksana untuk kemudian bila
ditemukan masalah, segera diberikan bantuan
yang bersifat langsung guna mengatasinya.
Unsur-unsur pokok dalam supervisi
dijelaskan oleh Suarli dan Bahtiar (2010),
sebagai berikut : pelaksana, sasaran, frekuensi,
tujuan, teknik. Teknik ada 2 yaitu tidak langsung
dan langsung. Teknik langsung adalah teknik
supervisi dapat dilakukan langsung pada
kegiatan yang sedang berlangsung. Sedangkan
teknik tidak langsung adalah Supervisi
dilakukan melalui laporan tertulis seperti laporan
klien dan catatan asuhan keperawatan pada
LPPM STIKes Perintis Padang
52
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
setiap shift pagi, sore dan malam, dapat juga
dilakukan dengan menggunakan laporan lisan
seperti pada saat timbang terima shift, ronde
keperawatan
maupun
rapat
dan
jika
memungkinkan memanggil secara khusus para
ketua tim dan perawat pelaksana.
Anwar Kurniadi (2010), menjelaskan peran
supervisor adalah sebagai berikut :
a. Melakukan koordinasi tugas dengan unit
terkait dan atasan.
b. Membuat keputusan tentang kegiatan
perencanaan dan pengorganisasian serta
evaluasi yang akan dipakai.
c. Memberikan pengarahan langsung dan
tidak langsung, dan melakukan penilaian
kinerja staf.
d. Mempelajari dokumen laporan, catatan
perkembangan
organisasi
dan
penggunaan sumber daya.
e. Melakukan
pemantauan
kegiatan
keperawatan dan non keperawatan
bawahan.
f. Melakukan evaluasi dan koreksi terhadap
penyimpangan.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan
di RSUD Padang Pariaman pada tanggal 15
April 2016 pada pukul 08.00-10.00 WIB
menunjukkan hasil observasi 6 dari 10 perawat
tidak melakukan cuci tangan terlebih dahulu
sebelum tindakan keperawatan kepada pasien.
Didapatkan dua perawat tidak melakukan cuci
tangan terlebih dahulu sebelum tindakan
perawatan dekubitus dan luka pasca operasi.
Perawat
yang
melakukan
tindakan
keperawatan seperti memberikan injeksi obat
melalui IV dan SC ada dua perawat tidak
melakukan cuci tangan sebelum tindakan.
Hasil
wawancara
dengan
perawat
didapatkan
bahwa
perawat langsung
menggunakan sarung tangan tanpa terlebih
dahulu melakukan cuci tangan dengan alasan
banyak pasien. Perawat sebenarnya dalam segi
pengetahuan dalam cuci tangan sudah baik,
namun kepatuhan dalam pelaksanaan cuci
tangan belum dilakukan pada cuci tangan lima
momen. Supervisi oleh kepala ruang yang
fokus dalam pelaksanaan hand hygiene perawat
belum maksimal dilaksanakan. Tindakan
supervisi
biasanya
hanya
mengenai
managemen keperawatan dan administrasi
keperawatan.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas
dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu
“apakah ada hubungan supervisi kepala ruang
dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakan
cuci tangan lima momen di ruang rawat inap
bedah dan interne RSUD Padang Pariaman?”
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
dekriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectionaL. Populasi dalam penelitan ini adalah
semua perawat yang ada di ruang rawat inap
bedah dan interne RSUD Padang Pariaman
sebanyak 40 orang. Sampel dalam penelitian ini
berjumlah 40 orang dengan teknik pengambilan
sampel adalah total Sampling.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Supervisi Kepala Ruang di Ruang Rawat
Inap Bedah dan Interne RSUD Padang Pariaman Tahun 2016
Supervisi
f
%
Baik
21
52.5
Kurang Baik
19
47.5
Total
40
100.0
Berdasarkan tabel diatas diatas terlihat bahwa dari 40 orang perawat pelaksana, supervisi kepala
ruang lebih dari separuh perawat menyatakan supervisi yang dilakukan oleh kepala ruang adalah
baik, yaitu sebanyak 21 orang (52,5%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan Perawat dalam Pelaksanaan Dokumentasi
penelitian yang telah dilakukan oleh Vienty Asuhan Keperawatan Di Ruang Rawat Inap
(2015) dengan judul, Hubungan Fungsi RSUD Kepulauan Mentawai Tahun 2015,
Pengarahan Kepala Ruangan Dengan Kepatuhan didapatkan hasil bahwa 55% responden
LPPM STIKes Perintis Padang
53
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
menyatakan bahwa fungsi pengarahan kepala
ruang kurang baik.
Supervisi kepala ruangan merupakan
pengawasan dan pembinaan yang dilakukan
secara berkesinambungan oleh kepala ruangan
sebagai
supervisor
mencakup
masalah
pelayanan keperawatan, masalah ketenagaan,
dan perawatan agar pasien mendapat pelayanan
yang bermutu setiap saat (Depkes 2000).
Menurut asumsi peneliti bahwa supervisi
yang dilakukan secara konsisten oleh kepala
ruang akan berpeluang untuk meningkatkan
kepatuhan perawat. Kepala ruang sebagai
supervisor hendaknya selalu memberikan
dukungan kepada perawat dalam melaksanakan
tugasnya. Kepala ruang bertanggung jawab
untuk melakukan supervisi kepada perawat
dalam memberikan pelayanan keperawatan pada
pasien di ruang perawatan yang dipimpinnya dan
juga mengawasi perawat pelaksana dalam
memberikan asuhan keperawatan baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kepatuhan Perawat dalam Melaksanakan
Cuci Tangan lima momen di Ruang Rawat Inap Bedah dan Interne RSUD Padang Pariaman Tahun
2016
Kepatuhan
f
%
Patuh
9
22.5
Tidak Patuh
31
77.5
Total
40
100.0
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 40 orang perawat pelaksana, sebahagian besar
perawat tidak patuh dalam melaksanakan cuci tangan lima momen, yaitu sebanyak 31 orang (77.5%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang telah dilakukan oleh Hanifah
(2015), dengan judul Hubungan Pengawasan
Kepala Ruang Dengan Tingkat Kepatuhan
Perawat Dalam Penggunaan Glove Pada
Tindakan Injeksi Di RSUD Wonosari
didapatkan hasil bahwa sebagian besar (90%)
kepatuhan perawat adalah cukup.
Patuh adalah suka menuruti perintah, taat
pada perintah, sedangkan kepatuhan adalah
perilaku sesuai aturan dan berdisiplin, dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pranoto,
2007). Pendapat lain Niven (2002), menyatakan
kepatuhan perawat adalah sejauh mana perilaku
seorang perawat sesuai dengan ketentuan yang
telah diberikan pimpinan perawat ataupun pihak
rumah sakit sebagai supervisi. Menurut Teori
Kelman (2010), perubahan sikap dan perilaku
individu dimulai dengan tahap kepatuhan.
Mula-mula individu mematuhi anjuran atau
instruksi tanpa kerelaan untuk melakukan
tindakan tersebut dan seringkali karena ingin
menghindari hukuman atau sanksi jika tidak
patuh, atau untuk memperoleh imbalan yang
dijanjikan jika mematuhi anjuran tersebut,
tahap ini disebut tahap kesediaan. Hal ini
menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi
dalam tahap kesedian atau kepatuhan bersifat
sementara, artinya bahwa tindakan itu
dilakukan selama masih ada supervisi petugas.
Tetapi begitu supervisi itu mengendur atau
hilang, perilaku itupun ditinggalkan.
Menurut asumsi peneliti di Ruang Rawat
Inap Bedah dan Interne RSUD Padang
Pariaman, sebagian besar perawat tidak patuh
dalam melaksanakan tindakan cuci tangan lima
momen, dimana berdasarkan observasi yang
peneliti lakukan pada umumnya perawat tidak
melakukan tindakan cuci tangan sebelum
menyentuh pasien serta sebelum melakukan
tindakan infasiv dan mencuci tangan hanya
dilakukan setelah perawat selesai melakukan
tindakan terhadap pasien. Hal ini membuktikan
bahwa masih kurangnya kesadaran dan
kepatuhan perawat dalam melaksanakan cuci
tangan lima momen dimana perawat harus
mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
tindakan, sebelum dan sesudah menyentuh
pasien dan menyentuh area sekitar pasien, serta
perawat harus mencuci tangan setelah terkena
cairan tubuh pasien. Berdasarkan temuan
tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa
LPPM STIKes Perintis Padang
54
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
sebagian besar perawat di ruang rawat inap
Bedah dan Interne tidak patuh dalam melakukan
cuci tangan lima momen.
Tabel 3. Hubungan Supervisi Kepala Ruang dengan Kepatuhan Perawat dalam Melaksanakan Cuci
Tangan lima momen di Ruang Rawat Inap Bedahdan Interne RSUD Padang Pariaman Tahun 2016
Kepatuhan Cuci
Total
Tangan lima momen
Supervisi
p
OR
Tidak
Patuh
Kepala Ruang
value
(95%CI)
Patuh
f
%
f
%
f %
BBaik
8
38,1 13 61,9
21 100
11,077
0,021
Kurang Baik
1
5,3
18 94,7
19 100
(1,230-99,755)
Jumlah
9
22,5
31
77,5
40
100
Berdasarkan tabel diatas. diketahui bahwa dari 21 orang responden yang menyatakan supervisi
kepala ruang baik, yang patuh dalam melaksanakan cuci tangan lima momen ditemukan 8 orang
(38,1%) perawat. Sedangkan dari 19 orang responden yang menyatakan supervisi kepala ruang
kurang baik, yang patuh dalam melaksanakan cuci tangan lima momen ditemukan 1 orang (5,3%)
perawat. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ada hubungan antara supervisi kepala ruang
dengan kepatuhan perawat dalam melaksanakan cuci tangan lima momen dengan nilai p = 0,021 dan
OR = 11,077 artinya perawat yang menyatakan supervisi kepala ruang baik berpeluang 11,077 kali
untuk patuh dalam melaksanakan cuci tangan lima momen dibandingkan perawat yang menyatakan
supervisi kepala ruang kurang baik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan dengan baik karena perawat tidak lagi merasa
penelitian yang telah dilakukan oleh Sudrajat diawasi dan dinilai oleh kepala ruangan.
(2015) dengan judul Faktor-Faktor Yang
Tindakan yang paling sering ditinggalkan
Berhubungan Dengan Kepatuhan Perawat oleh perawat adalah mencuci tangan sebelum
Dalam Pelaksanaan Hand Hygiene Sebelum menyentuh atau memberikan tindakan kepada
Tindakan Keperawatan
Di RSUD Dr. pasien, karena tindakan ini dianggap tidak terlalu
Soedirman Kebumen didapatkan hasil bahwa penting karena perawat telah mencuci tangan
ada hubungan supervisi kepala ruang dengan setelah melakukan tindakan sebelumnya,
kepatuhan perawat dalam pelaksanaan hand sehingga sebagian besar perawat di Ruang
hygiene dengan nilai p = 0,001 dan OR = 18,500. Rawat Inap Bedah dan Interne tidak patuh dalam
Supervisi secara langsung memungkinkan pelaksanaan cuci tangan lima momen. Pada
kepala ruang menemukan berbagai hambatan penelitian ini juga ditemukan sebahagian
atau permasalahan dalam pelaksanaan asuhan perawat yang menyatakan bahwa supervisi
keperawatan di ruangan dengan mengkaji secara kepala ruang kurang baik, tetapi patuh dalam
menyeluruh
faktor-faktor
yang melaksanakan cuci tangan lima momen dan
mempengaruhinya dan bersama dengan staf sebagian perawat yang menyatakan bahwa
keperawatan untuk mencari jalan pemecahannya supervisi kepala ruang baik tapi tidak patuh
(Suarli dkk, 2010).
dalam melaksanakan cuci tangan lima momen.
Biasanya kepatuhan (cuci tangan) bersifat Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lain,
sementara, artinya bahwa tindakan di RSUD diantaranya adalah faktor sikap dan pengalaman
Padang Pariaman khususnya di ruang rawat inap kerja perawat. Dimana perawat dengan sikap
Bedah dan Interne diketahui bahwa pelaksanaan kerja yang positif serta dengan pengalaman kerja
supervisi kepala ruang tidak dilakukan secara yang baik cenderung memahami dan
terus menerus sehingga pada saat kepala ruang mengutamakan keselamatan pasien dengan
tidak melakukan supervisi, maka tindakan cuci melaksanakan setiap indikator yang ada dalam
tangan lima momen sering tidak dilaksanakan standar operasional prosedur kerja, termasuk
LPPM STIKes Perintis Padang
55
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
dalam pelaksanaan cuci tangan lima momen.
Faktor lain diantaranya, yaitu tindakan supervisi
kepala ruangan tidak dilakukan secara teratur
dalam kurun waktu tertentu sehingga informasi
tentang tindakan supervisi tidak sampai.
Menurut asumsi peneliti ada hubungan
antara supervisi kepala ruang dengan kepatuhan
perawat dalam melaksanakan cuci tangan lima
momen, dimana supervisi perawat sangat
dibutuhkan dalam mengontrol, mengawasi dan
mendorong perawat untuk melaksanakan
seluruh prosedur keperawatan sesuai standar
operasional prosedur (SOP) karena tanpa
supervisi yang baik, tingkat kepatuhan perawat
dalam melaksanakan SOP cenderung menurun
dan sering melalaikan beberapa indikator yang
dianggap tidak terlalu kritikal sehingga banyak
pelaksanaan tindakan keperawatan yang tidak
dilakukan sesuai standar operasional prosedur
kerja. Begitu juga dengan kepatuhan perawat
dalam melaksanakan cuci tangan lima momen di
Ruang Rawat Inap Bedah dan Interne RSUD
Padang Pariaman, dimana ditemukan bahwa
kepatuhan perawat terlihat pada saat dilakukan
supervisi dan saat supervisi tidak dilakukan
dengan baik, kepatuhan perawat cenderung
menurun dan tindakan cuci tangan tidak
dilakukan sesuai tahap indikator lima momen.
4. KESIMPULAN
Lebih dari separuh, yaitu sebesar 52,5%
perawat menyatakan bahwa supervisi kepala
ruang baik. Sebahagian besar, yaitu sebesar
77,5% perawat tidak patuh dalam melaksanakan
cuci tangan lima momen.
Setelah dilakukan
uji Chi-Square
didapatkan nilai p = 0.021 (p ≤ 0.05 = Ho
ditolak), yang berarti
adanya hubungan
supervisi kepala ruang dengan kepatuhan
perawat dalam melaksanakan cuci tangan lima
momen, dengan nilai OR = 11,077, yang artinya
perawat yang menyatakan supervisi kepala
ruang baik berpeluang 11,077 kali untuk patuh
dalam melaksanakan cuci tangan lima momen
dibandingkan perawat yang menyatakan
supervisi kepala ruang kurang baik.
5. REFERENSI
Alimul Hidayat, Aziz. (2009). Metodologi
Penelitian Keperawatan dan Teknik
Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.
Trihendradi. (2009). Step by Step SPSS 16
Analisa
Data
Statistik.
Yogyakarta:Andi.
Alimul Hidayat, Aziz. (2005). Metode
Penelitian Keperawatan dan Teknik
AnalisaData. Jakarta:
Salemba
Medika.
Kozier, Barbara, dkk. (2010). Buku Ajar
Fundamental keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik, Edisi 7, Volume 1.
Jakarta: EGC
Potter, Patricia A. (2005). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan, Volume 2,
Edisi 4 Jakarta: EGC
Notoadmojo. (2002). Metodologi Penelitian
Kesehatan Cetakan Kedua.Edisi
Revisi. Jakarta: Rineka Cipta
Suarli, dkk. (2010). Manajemen Keperawatan
dengan Pendekatan Praktis. Jakarta:
Erlangga
Gillies, D. A. (1994). Manajemen Keperawatan
Suatu Pendekatan Sistem. Terjemahan
Illiois W. B. Saunders Company
Kron, T. (1987). Management of Patient Care:
Putting Leadership Skill To Work.
Philadelphia : W. B . Saunders
Company
Muninjaya, A. A. G. (2004). Manajemen
Kesehatan. Jakarta : EGC
Swansburg, R. C. (1999). Pengantar
Kepemimpinan
dan
Manajemen
Keperawatan. Jakarta : EGC
Notoatmodjo, S. (2003). Ilmu Kesehatan
Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar.
Jakarta: Rineka Cipta
Kelman,
Herbert.
(1958).
Compliance,
Identification and Internalization;
Threes processes of attitude change.
Journal of Conflict Resolution.
Milgram, Stanley. (1974). "Behavioral Study of
Obedience".Journal of Abnormal and
Social Psychology67. p.371-378.Yale
University.
(Online).
Tersedia:
http://www.wordnik.
com/words/
obedience/ definitions).[28 April
2016].
LPPM STIKes Perintis Padang
56
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
HUBUNGAN STRESS DAN PEMENUHAN KEBUTUHAN TIDUR DENGAN
KESEIMBANGAN TUBUH PADA PASIEN VERTIGO DI POLI
NEUROLOGI RSSN BUKITTINGGI
Dia Resti Dewi Nanda Demur 1
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Sumatra Barat
Email : [email protected]
Abstract
Vertigo is a sensation of movement disorder that is the sensations of motion of the body or
surrounding environment, especially of autonomic tissue irritation caused by the body's balance
resulting indisruption of the vestibular system. After the observation of nine, more than a half
respondents experiencied vertigo caused by stress and sleep disorders fulfillment with the balance
of the body in patients with vertigo.Thus, the very important role of nurses performed balance checks
body of Romberg Test, test steping and Past-pointing. This study aims to determine the relationship
of stress and sleep with a balance of meeting the needs of the patient's body Poly Neurology National
Stroke Haspital vertigo in Bukittinggi 2014, which was conducted in Agust 2014, witha total sample
of 30 respondents. The design of this study used the descriptive analytical method with crosssectional approach. Techniques used in the sampling Accidental sampling. Based on the results of
the univariate test in the know that the incidence of stress in vertigo patients 14(46.7%) experienced
moderate stress, 12(40%) mild stress, 4(13.3%) severe stress. Meeting the needs of sleep in patients
with vertigo 18(60%) meeting the needs of disturbed sleep and 12(40%) are not disturbed. Body
balance vertigo patients, 14 Respondents (46.7%) balanced and 16(53.3%) out of balance.
According to the bivariate analysis, there is a link between stress and sleep with the balance to meet
the needs of patients pda's body Poly Neurology National Stroke Hospital vertigo in New Bukittinggi
with a value of P value = 0.03. It can be concluded that there is a relationship between stress and
sleep with the balance of meeting the needs of thepatient's body Poly Neurology National Stroke
Hospital vertigo in Bukittinggi in 2014, hopping in this research that can it be useful for National
Stroke Hospital in Bukittinggi avoid the things that can cause disruption of the balance of the body
in patients to with vertigo.
Keywords: Body balance, Sleeping needs, Stress, and Vertigo
1. PENDAHULUAN
Vertigo merupakan kasus yang sering
ditemui. Secara tidak langsung, kata vertigo
berasal dari bahasa Yunani “vertere” yang
artinya memutar. Vertigo merupakan salah satu
gejala sakit kepala yang sering disertai pusing
yang berputar atau pusing tujuh keliling. Vertigo
termasuk
kedalam
gangguan
keseimba
ngan tubuh yang dinyatakan sebagai pusing,
pening, sempoyongan, rasa seperti melayang
atau
dunia
seperti
terjungkir
balik
(Lumbantobing, 2007 ).
Di Indonesia dari 119 penyakit puyeng oleh
kelainan tubuh yang disebut dengan kelainan
otologik. Menurut Hain (2000) mendapatkan
bahwa 49% menderita Vertigo Perifer
Paroksismal Benigna, 18,5% penyakit miniere,
13,5% parese vestibular unilateral , 8% parese
vestibular bilateral, 6% disfungsi telinga tengah
dan 5% fistula. Dari 74 penderita dengan
keluhan puyeng yang disebabkan oleh kelainan
neurologik.(Hain, 2000).
Penyakit vertigo ini berhubungan sistem
keseimbangan tubuh. Dalam otak terdapat alat
keseimbangan tubuh sentral berupa alat
keseimbangan perifer (tepi) dan Otak kecil
(cerebellum) yang letaknya di bagian belakang
kepala yang merupakan pusat keseimbangan
tubuh. Gejala yang timbul yang dikarenakan
terganggunya sistem keseimbangan tubuh yaitu
seperti stres dan gangguan pemenuhan
kebutuhan tidur yang dialami oleh seseorng.
Meskipun tidak mungkin untuk mendiagnosa
secara pasti penyebab gangguan keseimbangan
LPPM STIKes Perintis Padang
57
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
pada seseorang, suatu gejala sering dapat
digolongkan
kedalam
suatu
gangguan
keseimbangan adalah penyakit yang mengenai
sistem persyrafan yaitu terutama penyakit
vertigo
yang
berhubungan
dengan
keseimbangan tubuh. (Wartonah & Tarwoto.
2006).
Demikian juga di RSSN Bukittinggi, dari
studi pendahuluan di RSSN Bukittingi jumlah
pasien yang mengalami vertigo satu bulan
terakhir ini, yaitu pada bulan Desember 2013
sebanyak 32 orang yang berobat di Poli
Neurologi dengan berbagai kondisi seperti
pasien
yang
mengalami
gangguan
keseimbangan, yaitu seperti pusing, sakit kepala,
mual dan muntah, penglihatan berkunangkunang dan gangguan sakit kepala lainnya. (Data
Medikal Record,nRSSN Bukittinggi, 2013)
Maka dari itu, sangat pentingnya peran
perawat dalam melakukan pemeriksaan
keseimbangan tubuh pada pasien yang
mengalami gangguan stress dan pemenuhan
kebutuhan tidur dengan keseimbangan tubuh
pada pasien vertigo yang mampu melakukan
pengkajian dan pemeriksaan tes keseimbangan
tubuh, dan mampu menganalisis dan
menentukan pasien yang mengalami gangguan
keseimbangan tubuh pada pasien vertigo.
2. METODE PENELITIAN
a. Desain penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah
deskriptif
analitik
dengan
pendekatan
crossectional.
b. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien
vertigo yang berobat di poli neurologi RSSN
Bukittinggi pada saat melakukan penelitian yang
berjumlah 30 orang.
c. Instrument
Instrument untuk pengumpulan data pada
penelitian ini dengan menggunakan lembar
kuesioner yang berupa instumen stres yang
menggunakan modifikasi Depresion Anxiety
Stres Scale (DASS) ,instrumen pemenuhan
kebutuhan tidur yang menggunakan modifikasi
gangguan
ritme
sikardian
(pemenuhan
kebutuhan tidur) dan lembar observasi yang
berisikan hasil pemeriksaan tes keseimbangan
yang terdiri dari test Romberg, stepping test dan
past pointing yang dilakukan oleh responden.
d. Prosedur pengumpulan data
Peneliti
memilih
responden
yang
memenuhi kriteria untuk dijadikan responden.
Kemudian peneliti meminta persetujuan menjadi
responden sambil memperkenal kan diri kepada
calon responden. Pengumpulan data dilakukan
dengan tahap pemberian penjelasan tentang
tujuan, manfaat dan prosedur cara pemeriksaan
tes keseimbangan yang akan dilaksanakan
kepada
responden.
Setelah
responden
memahami penjelasan yang telah diberikan oleh
peneliti, responden diminta persetujuannya yang
dibuktikan dengan menandatangani informed
consent dan untuk pengisian lembar kuesioner
diisi oleh peneliti dengan cara menanyakan
langsung kepada responden.
Setelah pengisian kuesioner, maka peneliti
meminta kepada responden untuk melakukan
pemeriksaan tes keseimbangan. Setelah selesai
melakukan tes pemeriksaan keseimbangan,
setelah itu peneliti menuliskan hasil tes
pemeriksaan keseimbangan responden pada
lembar observasi yang telah disediakan oleh
peneliti. Setelah lembar kuesioner dan observasi
diisi oleh peneliti dengan cara menanyakan
langsung kepada responden, setelah itu peneliti
mengkoreksi, apakah lembar kuesioner dan
observasi tersebut telah diisi semua. Setelah itu
peneliti mengucapkan terima kasih kepada
responden.
e. Pengolahan data
Setelah data terkumpul diklassifikasikan
dalam beberapa kelompok menurut sub variabel
yang ada didalam pernyataan. Data yang
terkumpul diolah dengan menggunakan
langkah-langkah seperti pemeriksaan data
(editing),
pemberian
tanda
(coding),
pengelompokkan (tabulating), entry data ,
memproses data (proccessing), pembersihan
data (cleaning).
LPPM STIKes Perintis Padang
58
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Analisa univariat
1) Stres
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Kejadian Stress Pasien Vertigo Di Poli Neurologi RSSN Bukittinggi
Tahun 2014
No
Stress
f
%
1.
Ringan
12
40
2.
Sedang
14
46,7
3.
Berat
4
13,3
Jumlah
30
100
Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa 14 (46,7%) hampir sebagian pasien vertigo mengalami
kejadian stres sedang.
2) Pemenuhan Kebutuhan Tidur
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pemenuhan Kebutuhan Tidur Pasien Vertigo Di Poli Neurologi
RSSN Bukittinggi Tahun 2014
No
Kebutuhan Tidur
F
%
1.
Tidak terganggu
12
40
2.
Terganggu
18
60
Jumlah
30
100
Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa 18 (60%) lebih dari separoh pasien vertigo dengan
kategori pemenuhan kebutuhan tidur terganggu.
3) Keseimbangan Tubuh
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Keseimbangan Tubuh Pasien Vertigo Di Poli Neurologi RSSN
Bukittinggi Tahun 2014
No
Keseimbangan
F
%
Tubuh
1.
Seimbang
14
46,7
2.
Tidak Seimbang
16
53,3
Jumlah
30
100
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa 16 (53,3%) lebih dari sebagian pasien vertigo dengan
kategori keseimbangan tubuh tidak seimbang.
Analisa Bivariat
1) Hubungan Stress dengan Keseimbangan Tubuh
Tabel 4. Hubungan Stress dengan Keseimbangan Tubuh Pasien Vertigo Di Poli Neurologi RSSN
Bukittinggi Tahun 2014
Keseimbangan Tubuh
Total
Tidak
No
Stress
Seimbang
P
Seimbang f
%
F
%
f
%
1.
Ringan
9
75
3
25
12
100 0,039
2.
Sedang
4
28,6 10
71,4 14
100
3.
Berat
1
25
3
75
4
100
Jumlah
14
46,7 16
53,3 30
100
Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa dari 14 pasien vertigo yang mengalami kejadian stress
sedang, 10 (71,4%) dengan kategori keseimbangan tubuh tidak seimbang. Sedangkan dari 12 pasien
vertigo yang mengalami kejadian stress ringan, 3 (25%) pasien dengan kategori keseimbangan tubuh
LPPM STIKes Perintis Padang
59
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
tidak seimbang dan dari 4 pasien yang mengalami kejadian stress berat, 3 (75%) pasien dengan
kategori keseimbangan tubuh tidak seimbang. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara kejadian stress dengan keseimbangan tubuh pasien vertigo (p Value = 0,039).
2) Hubungan Pemenuhan Kebutuhan Tidur dengan Keseimbangan Tubuh
Tabel 5. Hubungan Pemenuhan Kebutuhan Tidur dengan Keseimbangan Tubuh Pasien Vertigo Di
Poli Neurologi RSSN Bukittinggi Tahun 2014
Keseimbangan Tubuh
Total
OR
Tidak
No
Kebutuhan Tidur
Seimbang
p
(95%
Seimbang f
%
CI)
f
%
f
%
1.
Tidak terganggu
10
83,3 2
16,7 12
100 0,004 17,500
2.
Terganggu
4
22,2 14
77,8 18
100
(2,667114,846
Jumlah
14
46,7 16
53,3 30
100
Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa dari 18 responden dengan gangguan pemenuhan tidur,
tercatat 14 (77,8%) responden dengan kategori keseimbangan tubuh tidak seimbang. Sedangkan dari
12 pasien yang tidak mengalami gangguan kebutuhan tidur, tercatat 2 (16,7%) dengan kategori
keseimbangan tubuh tidak seimbang. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan
antara pemenuhan kebutuhan tidur dengan keseimbangan tubuh pasien vertigo (p value = 0,004) dan
pasien dengan gangguan kebutuhan tidur berpeluang dengan nilai 17,5 dengan kategori
keseimbangan tubuh tidak seimbang dibandingkan pasien yang tidak mengalami gangguan
kebutuhan tidur.
3.2. Pembahasan
Analisa Univariat
1) Stres
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 1
diketahui bahwa 14 (46,7%) dari 30 orang pasien
vertigo mengalami kejadian stress ringan, 12
(40%) stress ringan dan 4 (13,3%) pasien
mengalami kejadian stress berat.
Penyakit vertigo merupakan salah satu
kelainan yang dirasakan akibat manifestasi dari
kejadian atau gangguan lain. Misalnya adanya
stress seperti stres ringan, sedang maupun tinggi
yang mengakibatkan terganggunya kenyamanan
pada seseorang. Salah satu akibat dari kejadian
atau gangguan tersebut sehingga seseorang akan
mengalami vertigo. (Joesoef AA, 2006)
Stress adalah suatu kondisi dinamik dalam
mana seseorang individu mengalami masalah
yang tidak dapat dihindari yang terjadi dalam
suatu peluang. Stress adalah reaksi atau respons
tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan
mental atau beban kehidupan). Kendala atau
tuntunan yang dikaitkan dengan apa yang
diinginkannya dan hasilnya dipersepsikan
sebagai tidak pasti dan tidak penting. (Susilawati
dkk, 2005).
Hasil penelitian Jasmen Manarung 2008,
diperoleh bahwa terdapat hubungan antara stres
dengan keseimbangan tubuh pada pasien
vertigo, dengan hasil frekuensi tertinggi 58,5 %
stres sedang, 32,5 % stres ringan dan 21,5% stres
berat. Maka dari itu ada nya hubungan antara
stres dengan penyakit vertigo.
Menurut asumsi peneliti sebagian besar
pasien vertigo mengalami kejadian stress baik
itu stress ringan, sedang, atau berat. Pada
umumnya pasien dengan kejadian stress
diakibatkan oleh penyakit vertigo yang sering
kambuh yang mengakibatkan kegelisahan,
berdebar-debar dan bahkan menjadi masalah
bagi seseorang yang mengakibatkan sakit
kepala.
2) Pemenuhan Kebutuhan Tidur
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2
diketahui bahwa 18 (60%) dari 30 pasien vertigo
mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
tidur dan 12 (40%) tidak mengalami gangguan
pemenuhan kebutuhan tidur.
Setiap seseorang memiliki kebutuhan tidur
yang berbeda. Setalah beberapa hari mengalami
pengurangan tidur seseorang akan mengalami,
pusing, pening, kepala terasa enteng (berat), dan
LPPM STIKes Perintis Padang
60
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
terganggunya keseimbangan tubuh. Apabila
pengurangan tidur dilanjutkan seseorang akan
mengalami penurunan aktivitas dan sistem
imunitas tidak dapat berfungsi secara normal
sehingga kehilangan kekebalan terhadap tubuh
yang akan menyebabkan penyakit vertigo.
(Siswanto. 2007)
Tidur adalah keadaan istirahat normal dan
kebutuhan tidur yang dibutuhkan seseorang
selama 24 jam yang perubahan kesadarannya
terjadi secara periodik. Tidur merupakan efek
restoratif dan sangat penting bagi kesehatan dan
kelangsungan hidup yang tergantung pada usia
dan kondisi fisik. Seseorang perlu tidur antara
empat sampai sembilan jam dalam setiap 24 jam
untuk dapat berfungsi secara normal. Gangguan
tidur dapat terjadi jika seseorang mempunyai
kesulitan untuk tidur, tetap tidur atau merasa
sangat lelah ketika bangun dari tidur yang lama
(Linda Carman,2000).
Hasil penelitian dari Dedi Suhendar 2010,
menyatakan bahwa frekuensi hasil penelitian
yang berhubuhan dengan pemenuhan kebutuhan
tidur dengan keseimbangan tubuh pada pasien
vertigo, dari 161 pasien vertigo di RS Sukanto
Jakarta terlihat bahwa 95 orang (59%)
kebutuhan tidurnya terganggu dan 66 orang
(41%) kebutuhan tidur nya tidak terganggu.
Menurut asumsi peneliti mayoritas
penderita vertigo mengalami pemenuhan
kebutuhan tidur, karena salah satu faktor
penyebab kejadian vertigo adalah kurangnya
frekuensi tidur yang dapat menurunkan daya
tahan tubuh, sehingga seseorang yang kurang
tidur sering mengalami pusing, sakit kepala
sukar berkonsentrasi serta berbagai kendala
lainnya.
3) Keseimbangan Tubuh
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3
diketahui bahwa terdapat 16 (53,3%) dari 30
orang pasien dengan kategori keseimbangan
tubuh tidak seimbang dan 14 (46,7%) dengan
kategori keseimbangan tubuh seimbang.
Keseimbangan tubuh adalah kemampuan
untuk mempertahankan keseimbangan tubuh
ketika di tempatkan di berbagai posisi dan
kemampuan untuk mempertahankan postur dan
pusat gravitasi yang dapat dicapai pada bidang
tumpu terutama ketika saat posisi tegak dan
jongkok. Semakin sejajar dengan postur tubuh
dan semakin besar keseimbangan nya.(Potter,
Patricia A, 2005).
Keseimbangan tubuh juga bisa diartikan
sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol
pusat massa tubuh (center of mass) atau pusat
gravitasi (center of gravity) terhadap bidang
tumpu (base of support). Keseimbangan
melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen
tubuh dengan di dukung oleh sistem
muskuloskleletal
dan
bidang
tumpu.
Kemampuan untuk menyeimbangkan massa
tubuh dengan bidang tumpu akan membuat
manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif
dan efisien.(Asmadi. 2008).
Menurut hasil penelitian Mirazal Diza
2009, dengan judul Pengaruh Senam Vertigo
Terhadap Keseimbangan Tubuh Pada Pasien
Vertigo Di RS Siti Khodijah Sepanjang, dari 30
pasien pada bulan Desember 2009, 17 responden
(56,6 %) yang mengalami gangguan
keseimbangan tubuh dan 13 responden (43,3%)
tidak mengalami gangguan keseimbangan
tubuh.
Menurut
asumsi
peneliti
dengan
keseimbangan tubuh ini merupakan suatu
penyakit
yang
berhubungan
dengan
terganggunya psikologis seseorang seperti
pusing, mual , muntah dan gangguan
keseimbangan tubuh lainnya. Keseimbangan
tubuh ini sangat berhubungan dengan penyakit
vertigo karena penyakit vertigo merupakan suatu
penyakit kepala yang disertai pusing, pening dan
sempoyongan yang disebabkan oleh gangguan
alat keseimbangan tubuh.
Analisa Bivariat
1) Hubungan Stress dengan Keseimbangan
Tubuh Pasien Vertigo
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4
diketahui bahwa dari 14 pasien vertigo yang
mengalami kejadian stres sedang, 10 (71,4%)
dengan kategori keseimbangan tubuh tidak
seimbang. Sedangkan dari 12 pasien vertigo
yang mengalami kejadian stress ringan, 3 (25%)
pasien dengan kategori keseimbangan tubuh
tidak seimbang dan dari 4 pasien yang
mengalami kejadian stres berat, 3 (75%) pasien
dengan kategori keseimbangan tubuh tidak
seimbang. Berdasarkan hasil uji statistik
menunjukkan bahwa (P value = 0,039) terdapat
LPPM STIKes Perintis Padang
61
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
hubungan antara kejadian stress dengan
keseimbangan tubuh pasien vertigo.
Berbeda jenis penyakit vertigo, berbeda
pula penyebabnya. Walaupun kesemuanya pada
dasarnya berhubungan dengan saraf di kepala,
penyakit vertigo ini pun penyebabnya berbeda
dari berbagai jenis sakit kepala. Pada
kebanyakan kasus, sakit kepala ini disebabkan
oleh faktor psikologis, yaitu stress (Siswanto,
2007).
Pada setiap penyakit stres merupakan
alasan utama yang mendasari orang mudah
sekali terkena penyakit vertigo. Stres bisa
disebabkan oleh banyak hal, misalnaya karena,
bobot pekerjaan yang berlebihan, alergi pada
sesuatu ,karena masalah lain, merasa cemas
berlebih dan stres akan sesuatu yang nantinya
memaksa otak kita bekerja lebih dari
porsinya.Orang yang dalam kondisi stres
berpeluang terkena penyakit di bagian kepala
dan perut yang disertai mual, muntah yang juga
disertai sakit kepala. Otak merupakan inti yang
sangat pentingbagi anggota tubuh yang lain
untuk bergerak, jika otak tidak seimbang karena
stress, kemungkinan karena kurangnya suplai
O2(oksigen) masuk ke otak yang akan
menyebabkan peyakit vertigo. (Alimul, Azis.
2007)
Vertigo merupakan gejala suatu penyakit.
Sederet penyebab vertigo ini dapat disebutkan
antara lain adanya benturan akibat kecelakaan,
stres, gangguan pada telinga bagian dalam, obatobatan sehingga menyebabkan terlalu sedikit
atau terlalu banyaknya aliran darah ke otak.
Adakalanya vertigo disebabkan oleh stres meski
penderita mengalami kepala berputar tujuh
keling sampai mutah-muntah namun jika stres
dapat ditanggulangi, penyakit vertigo pun juga
dapat teratasi (hilang). (Patricia A,Potter 2005)
Menurut penelitian Agung Widodo (2009)
RSU islam Kustati Surakarta yang menyatakan
bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
stres dengan keseimbangan tubuh (P value =
0,003). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara stres
dengan keseimbangan tubuh pada pasien vertigo
Di RSU Islam Kustati Surakarta.
Menurut asumsi peneliti terdapat hubungan
antara kejadian stress dengan keseimbangan
tubuh pada pasien vertigo. Seseorang yang
dalam kondisi stress yang berkepanjangan,
berpeluang menderita penyakit di bagian kepala
dan perut yang disertai mual, muntah yang juga
disertai sakit kepala. Otak merupakan inti yang
sangat penting bagi anggota tubuh yang lain
untuk bergerak, jika otak tidak seimbang karena
stres, kemungkinan karena suplay O2 masuk ke
otak akan menyebabkan penyakit vertigo serta
gangguan keseimbangan tubuh.
Pada penelitian ini juga ditemukan
responden dengan kejadian stress berat tetapi
tidak mengalami gangguan keseimbangan tubuh
serta responden dengan kejadian stress yang
lebih ringan tetapi mengalami gangguan
keseimbangan tubuh. Kondisi ini dipengaruhi
oleh faktor lain, yaitu faktor lama menderita
vertigo stadium vertigo yang diderita oleh
pasien.
2) Hubungan Pemenuhan Kebutuhan Tidur
dengan Keseimbangan Tubuh Pasien
Vertigo
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4
diketahui bahwa dari 18 responden dengan
gangguan pemenuhan tidur, tercatat 14 (77,8%)
responden dengan kategori keseimbangan tubuh
tidak seimbang. Sedangkan dari 12 pasien yang
tidak mengalami gangguan kebutuhan tidur,
tercatat
2
(16,7%)
dengan
kategori
keseimbangan tubuh tidak seimbang.
Berdasarkan hasil uji statistik menunjukkan
bahwa terdapat hubungan antara pemenuhan
kebutuhan tidur dengan keseimbangan tubuh
pasien vertigo (P value = 0,004) dan pasien
dengan gangguan kebutuhan tidur berpeluang
dengan hasil (17,5) dengan kategori
keseimbangan
tubuh
tidak
seimbang
dibandingkan pasien yang tidak mengalami
gangguan kebutuhan tidur.
Fungsi tidur adalah suatu kebutuhan
istirahat bagi seseorang setelah melakukan
aktivitas seharian. Fungsi tidur dipercaya untuk
mengembalikan, waktu untuk istirahat dan
perbaikan untuk tubuh. Apabila kurang tidur
atau istirahat bisa mengakibatkan
pusing,
gangguan konsentrasi, dan gangguan pada
keseimbangan tubuh. Bahkan Satu malam
tampa tidur dapat meningkatkan aktivitas sistem
imun secara sementara dan tubuh akan beraksi
terhadap pangurangan tidur seolah-olah merasa
LPPM STIKes Perintis Padang
62
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
sakit pada kepala yang diakibatkan oleh
terganggunya sistem vestibular yang terbagi
menjadi vertigo perifer (akibat gangguan pada
end organ) dan vertigo sentral (akibat gangguan
pada saraf vestibular atau hubungan sentral
menuju batang otak atau cerebellum).
(Mansjoer, 2000).
Setiap seseorang memiliki kebutuhan tidur
yang berbeda. Setalah beberapa hari mengalami
pengurangan tidur seseorang akan mengalami,
pusing, pening, kepala terasa enteng (berat), dan
terganggunya keseimbangan tubuh . Apabila
pengurangan tidur dilanjutkan seseorang akan
mengalami penurunan aktivitas dan sistem
imunitas tidak dapat berfungsi secara normal
sehingga kehilangan kekebalan terhadap tubuh
yang
akan
menyebabkan
penyakit
vertigo.(Siswanto. 2007)
Menurut hasil penelitian Dedi Suhendar
(2010), Di Ruang Inap RS Sukanto jakarta Pusat
dari hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara
pemenuhan
kebutuhan
tidur
dengan
keseimbangan tubuh (P value = 0,019). Dari
hasil penelian ditunjukkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara pemenuhan kebutuhan
tidur dengan keseimbangan tubuh pasien vertigo
Di Ruang Inap RS Sukanto Jakarta Pusat.
Menurut asumsi peneliti terdapat hubungan
antara pemenuhan kebutuhan tidur dengan
keseimbangan tubuh pasien vertigo. Pasien
dengan kategori gangguan
pemenuhan
kebutuhan tidur cenderung mengalami gangguan
keseimbangan tubuh, seseorang yang tidak
mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
tidur dan kondisi sistem kekebalan tubuh yang
baik, tidak mengalami gangguan pada
keseimbangan tubuh seseorang tersebut. Tidur
merupakan salah satu sarana untuk memperbaiki
kondisi tubuh serta mengembalikan kesegaran
tubuh. Apabila setelah beberapa hari kekurangan
tidur, seseorang akan mengalami pusing, kepala
terasa berat dan terganggunya sistem
keseimbangan tubuh.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
dan
pembahasan tentang Hubungan Stress dan
Pemenuhan
Kebutuhan
Tidur
dengan
Keseimbangan Tubuh pada Pasien Vertigo di
Poli Neurologi RSSN Bukittinggi Tahun 2014,
dapat disimpulkan bahwa :
1. Hampir dari separoh pasien vertigo
mengalami kejadian stress sedang, 40%
mengalami stress ringan dan 13,3%
mengalami stress berat
2. Lebih dari sebagian (60%) responden
mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
tidur.
3. Lebih dari sebagian (53,3%) pasien vertigo
mengalami gangguan keseimbangan tubuh
4. Terdapat hubungan antara kejadian stress
dengan keseimbangan tubuh pada pasien
vertigo ( p value = 0,039)
5. Terdapat hubungan antara gangguan
pemenuhan kebutuhan tidur dengan
keseimbangan tubuh pasien vertigo (p value
= 0,004)
5. REFERENSI
Alimul, Azis. 2007. Pengantar Konsep Dasar
Keperawatan. Jakarta:
Salemba
Medika
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan.
Jakarta: EGC
http://www.aadan.co.cc/konsep cemas, dan
adaptasi.htm
Coates Thomas J, 2001. Mengatasi Gangguan
Tidur Tampa Obat. Bandung: CV
Pionis Jaya
Kalat, James W. 2010. Biological Psychology.
Ed 9. Jakarta: EGC
Kusuma Wati, Farida dkk. 2010 Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba
Medika
Linda Carman, 2007. Kesehatan Jiwa Psikiatri.
Jakarta: EGC
Lumbatobing, 2007 Penyakit Vertigo Tujuh
Keliling. Jakarta
Lumban Tobing. S.M, 2003, Vertigo, Jakarta :
FK UI
Mansjoer, Arif M, 2000. Kapita Selekta
Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: EGC
Nursalam, 2002 . Konsep Dan Penerapan
Metodelogi Riset Keperawatan. Ed: 2
Jakarta : Salemba Medika
Potter, Patricia A, 2005. Fundamentals Of
Nursing. Ed 4. Jakarta: EGC
Rahayu, Nira.2011. Neuronitis Vestibular.
LPPM STIKes Perintis Padang
63
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Robert, Priharjo, 2000. Pemenuhan Aktivitas
Istirahat Pasien. Jakarta: EGC
Siswanto. 2007. Kesehatan Mental; Konsep,
Cakupan, dan Perkembangannya.
Yogyakarta: Andi
Suliswati
dkk.
2005.
Konsep
Dasar
Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta:
EGC
Weiner L. Howard, 2002 Buku Saku Neurologi
. Ed 5. Jakarta: EGC
Wartonah, Tarwoto. 2006. KDM dan Proses
Keperawatan.
Jakarta:
Salemba
Medika
Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa.
Bandung: PT Resika Aditama
LPPM STIKes Perintis Padang
64
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DAN SPIRITUAL TERHADAP
TINGKAT KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (GGK) DI
POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUD Dr. AHMAD MOCHTAR
BUKITTINGGI
Ida Suryati
STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
Abstract
Based on (WHO) globally more than 500 million people have chronic kidney disease. Based Chronic
Kidney disturbance in Indonesia as many as 2,345 people obtained the data experienced by the age
group between 25-60 years of age. Based on the data that researchers get from MR Hospital Dr
Ahmad Mochtar Bukittinggi 2015 visit to the Poli Disease In as many as 996 people, from January
to December 2015, the average monthly cost as many as 83 people. Objective This study to determine
the relationship Emotional and Spiritual Intelligence Against Anxiety Levels of CRF patients in
Polyclinic Hospital Dr.Ahmad Mochtar Bukittinggi Year 2016. In 2016 from January to April as
many as 320 people, the average monthly cost as many as 80 people. The population in this study
were 80 people. This research has been conducted on July 16 until July 21, 2016 at the Polyclinic
Hospital Medicine. DR. Achmad Mochtar Bukittinggi. This research uses descriptive method with
correlation study design, and data processed using Chi Square test. Statistical test results obtained
by value p = 0.002 (p <α), we conclude the relationship between emotional intelligence levels of
anxiety. Statistical test results obtained by value p = 0.008 (p <α) then concluded their spiritual
relationship between the level of anxiety.
Keywords : Emotional Intelligence, Spiritual, Level Anxiety, GGK
1. PENDAHULUAN
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah suatu
sindrom klinis disebabkan penurunan fungsi
ginjal yang bersifat menahun, berlangsung
progresif dan cukup berlanjut, serta bersifat
persisten dan irreversible (Mansjoer, 2000).
Cronik Kidney Desease (CKD) yaitu suatu
gangguan fungsi renal yang progresif
irreversible yang disebabkan oleh adanya
penimbunan limbah metabolic didalam darah,
sehingga kemampuan tubuh tidak mampu
mengeksresikan sisa-sisa sampah metabolisme
dan mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit dalam tubuh. Penyebab GGK termasuk
glomerulonefritis, infeksi kronis, penyakit
vaskuler (nefrosklerosis), proses obstruksi
(kalkuli), penyakit kolagen (luris sutemik), agen
nefrotik (amino glikosida), penyakit endokrin
(diabetes). ( Doenges, 1999).
Berdasarkan estimasi badan kesehatan
dunia (WHO) secara global lebih dari 500 juta
orang mengalami penyakit gagal ginjal kronik.
Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup
bergantung pada cuci darah atau hemodalisa
(Lewis, Heitkamper & Dirksen, 2004).
Di Indonesia gagal ginjal kronis merupakan
salah satu masalah kesehatan yang memiliki
angka kejadian yang cukup tinggi. Berdasarkan
data dari Indinesian Renal Registry (IRR), pada
tahun 2007 terdapat sekitar 6.862 norang yang
menderita gagal ginjal kronis dan mengalami
peningkatan pada tahun 2011 menjadi 15.353
orang (IRR, 2011). Kenaikan jumlah penderita
gagal hinjal cukup banyak, karena dalam satu
tahun kenaikan jumlah penderita sebanyak 112
pasien. Salah satu faktor penyebab peningkatan
angka penderita gagal ginjal dari tahun ke tahun
didunia ini, salah satunya disebabkan oleh
kurangnya kesadaran masyarakat terhadap
deteksi dini penyakit tersebut ( Antara Sumut,
2009).
Ganguan Ginjal Kronik di Indonesia
didapatkan data sebanyak 2.345 orang yang
dialami oleh golongan umur usia antara 25-60
tahun, yang akan beresiko gangguan ginjal
adalah mereka yang masa pengaturan cairan atau
LPPM STIKes Perintis Padang
65
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
mereka yang selalu mengkosumsi makanan yang
banyak mengandung potassium dan ureum yang
tinggi sehingga akan menutup saluran cenalis
pada ginjal. Penyakit ini banyak ini banyak
terjadi pada daerah-daerah yang suhunya tidak
terlalu dingin atau tidak terlalu panas dimana
pengaturan sekresi akan mudah terganggu. Dari
data tersebut penyakit gangguan ginjal banyak
yang dialami oleh masyarakat ekonomi
menengah keatas (Humalik.2014).
Berdasarkan hasil penelitian Michellia
Dasril (2014) Bahwa dari hasil penelitian
awalnya pada poliklinik khusus perkemihan
(Visica Urinaria) RSUP.DR.M.Djamil Padang,
di peroleh data dari Rekam Medis selama
beberapa tahun terakhir pasien gagal ginjal
kronik mengalami peningkatan, yaitu tahun
2012 melayani 95 orang dan sekitar 45%
diantaranya komplikasi dan melakukan konsul
rutin ke poliklinik.
Kecemasan adalah perasaan yang tidak
menyenangkan atau kekuatan yang tidak jelas
dan hebat. Hal ini terjadi sebagai reaksi terhadap
sesuatu yang di alami oleh seseorang
(Nugroho,Wahyudi,2000). Kecemasan adalah
kebingungan, khawatiran pada sesuatu yang
akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas
dan dihubungkan dengan perasaan tidak
menentu dan tidak berdaya (Suliswati et al,
2005).
Penyebab dari kecemasan Terdiri dari
ancaman terhadap integritas fisik meliputi
sumber internal meliputi kegagalan mekanisme
fisiologi sistem imun, regulasi suhu tubuh,
perubahan biologis normal salah satunya
penyakit GGK. Sumber eksternal meliputi
paparan terhadap infeksi virus dan bakteri,
polusi lingkungan, kecelakaan, kekurangan
nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal. Rasa
cemas dan takut terhadap penyakit gagal ginjal
kronik juga sangat berpengaruh kepada
Kecerdasan emosional dan spritual (Suliswati et
al, 2005).
Spiritual adalah suatu usaha dalam mencari
arti kehidupan, tujuan dan panduan dalam
menjalani kehidupan bahkan pada orang-orang
yang tidak memercayai adanya Tuhan. (Ellison,
2002). Spiritual merupakan kebutuhan dasar
yang dibutuhkan oleh setiap manusia. setiap
faktor diperlukan untuk membangun dan
mempertahankan hubungan dinamis pribadi
seseorang dengan tuhan atau sebagainya
didefebisikan oleh individu itu dan keluar dari
hubungan itu untuk mengalami pengampunan,
cinta, harapan, kepercayaan, makna dan tujuan
dalam hidup (Stallwood & Stool dalam Mc
Sherry, 2006).
Berdasarkan data yang peneliti dapatkan
dari MR RSUD Dr. Ahmad Mochtar Bukittinggi
dari bulan Januari sampai Desember tahun 2015
di Poliklinik Penyakit Dalam sebanyak 996
orang, dengan rata-rata perbulannya sebanyak
83 orang. Sedangkan data pada tahun 2016 dari
bulan Januari sampai April sebanyak 320 orang,
dengan rata-rata perbulannya sebanyak 80
orang.
Dari hasil wawancara singkat yang
dilakukan oleh peneliti dengan 5 orang pasien di
Poli Penyakit Dalam RSUD Dr. Ahmad Mochtar
Bukittinggi pada tanggal 1 april 2016 didapatkan
bahwa 3 orang diantara pasien GGK tersebut
mengatakan bagaimana cara penyakitnya bisa
sembuh, dan pasien tersebut sudah mulai bosan
berkunjung untuk berobat ke Poli Penyakit
Dalam setiap bulannya, pasien tersebut mulai
menyerah dan mengatakan serahkan saja pada
Allah SWT, pasien tersebut juga mengatakan
bahwa dia juga merasa tegang, tidak bisa
istirahat, mudah menangis, tidur tidak nyenyak.
Sedangkan 2 orang penderita GGK mengatakan
bahwa dia akan sabar menjalani pengobatan dan
menyebutkan serahkan saja kepada Allah,
karena penyakit kita semua datang dari Nya, dan
dialah yang mengetahui semua (Medical Record
RSUD.Dr.Ahcmad Mochtar Bukittinggi, April
2016).
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
deskriptif yang artinya penelitian ini bertujuan
untuk
memecahkan
dan
menjawab
permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi
sekarang didalam penelitian deskriptif jenis
penelitian yang digunakan adalah metode
Correelation Study. “Correelation Study” yaitu
merupakan penelitian atau penelaahan hubungan
antara dua variabel pada suatu sisi atau
sekelompok objek (Notoatmodjo, 2005).
Penelitian dilakukan di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD Ahmad Mochtar Bukittinggi,
LPPM STIKes Perintis Padang
66
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
dengan banyaknya penyakit Gagal Ginjal Kroni
(GGK) di Poliklinik Penyakit Dalam
RSUD.DR.Ahmad Mochtar Bukittinggi Tahun
2016. Penelitian ini telah dilaksanakan pada
tanggal 16 Juli sampai 21 Juli 2016.
Populasi dalam penelitian ini adalah 80
orang pasien yang mengalami GGK. Teknik
yang digunakan dalam penentuan sampel untuk
penelitian ini secara purposive sampling dengan
jumlah sampel 66 orang responden yang sesuai
dengan criteria sampel. Alat yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan : kuesioner.
Analisis untuk menguji normalitas data
dalam penelitian ini menggunakan uji
kolmogorov smirnov. Selanjutnya peneliti
melakukan analisis data untuk menguji hipotesis
dengan menggunakan uji chi-squart.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kecerdasan Emosional di Poliklinik
penyakit dalam RSUD. Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Kecerdasan emosional
Frekuensi
Persentase (%)
Rendah
20
30,3
Tinggi
46
69,7
Total
66
100
Hasil analisis dari table 1 dapat dilihat distribusi frekuensi kecerdasan emosional bahwa lebih
dari separoh 46 (69,7% ) responden mempunyai kecerdasan emosional tinggi.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Spiritual di Poliklinik penyakit dalam
RSUD. Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016
Spiritual
Frekuensi
Persentase (%)
Tidak baik
24
36,4
Baik
42
63,6
Total
66
100
Hasil analisis dari table 2 dapat dilihat distribusi frekuensi spiritual bahwa lebih dari separoh
42 (63,6% ) responden dengan persentasi mempunyai spiritual baik.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan tingkat kecemasan di Poliklinik penyakit
dalam RSUD. Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2016
Tingkat Kecemasan
Ringan
Sedang
Total
Frekuensi
59
7
66
Persentase (%)
89,4
10,6
100
Hasil analisis dari table 3 dapat dilihat distribusi frekuensi tingkat kecemasan bahwa lebih dari
separoh 59 (89,4%) responden dengan kategori tingkat kecemasan ringan.
LPPM STIKes Perintis Padang
67
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 4. Hubungan kecerdasan emosional dengan tingkat kecemasan pasien gagal ginjal kronik di
Poliklinik penyakit dalam RSUD.
Total
Tingkat Kecemasan
Kecerdasan
emosional
Kecemasan
ringan
Rendah
Tinggi
Total
F
14
45
59
%
70
97,8
89,4
Kecemas
an
sedang
F
%
6
30
1
2,2
7
10,6
Kecem
asan
berat
F
%
0
0
0
0
0
0
P
value
OR
value
0,002
0,052
Panik
F
0
0
0
%
0
0
0
f
20
46
66
%
100
100
100
Hasil analisis dari tabel 4 dapat dijelaskan bahwa kecerdasan emosional tinggi dengan tingkat
kecemasan ringan sebanyak 45 orang (97,8%), sedangkan untuk kecemasan sedang sebanyak 1
orang (2,2 %), untuk kecerdasan emosional rendah dengan tingkat kecemasan ringan sebanyak 14
orang (70 %), sedangkan untuk kecemasan rsedang sebanyak 6 orang (30 %).
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square dengan menggunakan komputerisasi maka
didapatkan nilai P value = 0,002 (p<0,05) maka disimpulkan adanya hubungan antara kecerdasan
emosional dengan tingkat kecemasan. Dari hasil analisis diperoleh OR= 0,052 artinya responden
yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mempunyai peluang 0,052 kali untuk mengalami
kecemasan ringan dibandingkan responden yang memiliki kecerdasan emosional rendah.
Tabel 5. Hubungan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien gagal ginjal kronik di Poliklinik
penyakit dalam RSUD DR. Ahmad Mochtar pada tahun 2016
Spiritual
Tingkat Kecemasan
Kecemasan
Kecema
ringan
san
sedang
F
%
f
%
Kecema
san
berat
F %
0
0
Tidak
Baik
18
75
6
25
Baik
41
97,6
1
2,4
0
Total
59
89,4
7
10,
6
0
Total
P
value
Panik
f
0
%
0
F
%
24
100
0
0
0
42
100
0
0
0
66
100
0,008
O
R
val
ue
0,0
73
Hasil analisis dari tabel 5 dapat dijelaskan bahwa spiritual dengan tingkat kecemasan, terdapat
18 (75%) dari 24 orang responden mengalami kecemasan ringan yang mempunyai spiritual tidak
baik. Terdapat sebanyak 6 (25 %) dari 24 orang responden mengalami kecemasan sedang yang
mempunyai spiritual tidak baik. Terdapat sebanyak 41 (97,6 %) dari 42 orang responden yang
mengalami kecemasan ringan yang mempunyai spiritual baik. Terdapat sebanyak 1 (2,4%) dari 42
orang responden yang mengalami kecemasan sedang yang mempunyai spiritual baik.
Dari hasil tersebut dilakukan uji chi square dengan menggunakan komputerisasi maka
didapatkan nilai P value = 0,008 (p< 0,05) maka disimpulkan adanya hubungan antara spiritual
dengan tingkat kecemasan. Dari hasil analisis diperoleh OR= 0,073 artinya responden yang memiliki
spiritual baik mempunyai peluang 0,073 kali untuk mengalami kecemasan ringan dibandingkan
responden yang memiliki spiritual tidak baik.
responden dengan persentasi 69,7% mempunyai
3.2. Pembahasan
kecerdasan emosional tinggi. Sementara untuk
a. Kecerdasan Emosional
kecerdasan emosional rendah sebanyak 20 orang
Hasil penelitian ini didapatkan kecerdasan dengan persentase 30,3%.
emosional bahwa hampir semuanya 46 orang
LPPM STIKes Perintis Padang
68
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Kecerdasan emosional adalah kemampuan
seseorang untuk memahami serta mengatur
suasana hati agar tidak melumpuhkan kejernihan
berfikir otak rasional, tetapi mampu
menampilkan beberapa kecakapan, baik
kecakapan pribadi maupun kecakapan antar
pribadi (Goleman, 2002).
Menurut asumsi peneliti, semakin tinggi
kecerdasan emosional seseorang maka akan
semakin baik seseorang tersebut untuk
menciptakan, mengenal, mengekspresikan,
mamahami, dan mengevalusi emosi diri dan
orang lain, untuk tujuan membimbing pemikiran
dan tindakan yang secara sukses selaras dengan
permintaan dan tekanan lingkungan.
b. Frekuensi Spiritual
Hasil penelitian ini didapatkan spiritual
bahwa hampir semuanya 42 orang responden
dengan persentasi 63,6% mempunyai spiritual
baik. Sementara untuk spiritual tidak baik
sebanyak 24 orang responden dengan persentase
36,4%. Hal ini menggambarkan bahwa sebagian
besar responden lebih tahu akan hikmah
kejadian yang ia alami dan menjadikan
perjalanan dan tenungan, sebagian besar
responden juga memiliki sikap, perilaku serta
pola pikir yang sesuai dengan apa yang telah
diperintahkan oleh tuhan nya sehingga dapat
memaknai kehidupan ini secara positif.
Stallwood dan Stool dalam McSherry
(2006) menyatakan bahwa spiritual merupakan
kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh setiap
manusia. Setiap faktor diperlukan untuk
membangun dan mempertahankan hubungan
dinamis pribadi seseorang dengan Tuhan atau
sebagaimana didefenisikan oleh individu itu dan
keluar dari hubungan itu untuk mengalami
pengampunan, cinta, harapan, kepercayaan,
makna dan tujuan dalam hidup. Kebutuhan
spiritual tidak murni terkait dengan agama atau
kepercayan terhadap Tuhan tetapi filosofi
semantik terhadap kehidupan atau mencari
makna dan tujuan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Alfiannur (2015), tentang hubungan antara
kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan
pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Hasil
penelitian didapatkan ada hubungan antara
kecerdasan spiritual dengan tingkat kecemasan
pasien GGK yang menjalani hemodialisa.
Penelitian terkait yang dilakukan oleh
Purwaningrum
(2013), tentang hubungan
aktivitas spiritual dengan tingkat stres pada
pasien GGK yang menjalani HD di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2013. Hasil
penelitian didapatkan ada hubungan antara
aktivitas spiritual dengan tingkat stres pada
pasien GGK yang mengalami HD.
Menurut asumsi peneliti bahwa semakin
baik spiritual, akan mendewasakan seseorang
tersebut sehingga ia menjadi lebih matang, kuat,
dan lebih siap menjalani kehidupan, seseorang
yang memiliki spiritual yang baik mampu
memaknai hidup dengan memberi makna positif
pada setiap peristiwa, masalah, bahkan
penderitaan yang dialaminya. Makna positif
akan mampu membangkitkan jiwa, melakukan
perbuatan dan tindakan yang positif, maka
kecemasan yang di alami akan semakin rendah
dan sebaliknya semakin buruk spiritual
seseorang maka kecemasan yang dialami akan
semakin berat.
c. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan
Hasil penelitian ini didapatkan tingkat
kecemasan bahwa hampir semuanya 59 orang
responden dengan persentasi 89,4% mempunyai
tingkat kecemasan ringan. Sementara untuk
tingkat kecemasan sedang sebanyak 7 orang
responden dengan persentase 10,6%.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Musa (2015) tentang hubungan
tindakan hemodialisa dengan tingkat kecemasan
klien gagal ginjal kronik di ruangan Dahlia
RSUP Prof Dr.R. Kondou Manado didapatkan
bahwa 110 orang (85,2%) pasien HD mengalami
kecemasan ringan, 79 orang (41,8%) mengalami
kecemasan berat.
Kecemasan adalah perasaan yang tidak
menyenangkan atau ketakutan yang tidak jelas
dan hebat. Hal ini terjadi sebagai reaksi terhadap
sesuatu yang dialami oleh seseorang (Nugroho
Wahyudi, 2000).
Menurut asumsi peneliti pada pasien gagal
ginjal kronik tentunya memiliki tingkat
kecemasan yang berbeda-beda hal ini
dipengaruhi karena adanya faktor usia, jenis
kelamin, tingkat pengetahuan, tipe kepribadian,
lingkungan dan situasi. Penyebab kecemasan
yang dialami biasanya dikarenakan proses
pengobatan, cemas karena ketidak pastian akan
LPPM STIKes Perintis Padang
69
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
kesembuhan. Semakin berat penyakit yang
dialami seseorang maka kecemasan yang
dihadapi juga akan berat.
d. Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan
Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal
Kronik
Berdasarkan hasil analisa hubungan antara
kecerdasan
emosional
dengan
tingkat
kecemasan, terdapat 14 (70%) dari 20 orang
responden mengalami kecemasan ringan yang
mempunyai kecerdasan emosional rendah.
Terdapat sebanyak 6 (30 %) dari 20 orang
responden mengalami kecemasan sedang yang
mempunyai kecerdasan emosional rendah.
Terdapat sebanyak 45 (97,8 %) dari 46 orang
responden yang mengalami kecemasan ringan
yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi.
Terdapat sebanyak 1 (2,2%) dari 46 orang
responden yang mengalami kecemasan sedang
yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi.
Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,002 (p<α)
maka disimpulkan adanya hubungan antara
kecerdasan
emosional
dengan
tingkat
kecemasan. Dari hasil analisis diperoleh OR=
0,052 artinya responden yang memiliki
kecerdasan emosional tinggi mempunyai
peluang 0,052 kali untuk mengalami kecemasan
ringan dibandingkan responden yang memiliki
kecerdasan emosional rendah.
Supriatno (2006) mengartikan kecerdasan
emosional sebagai serangkaian kemampuan
(verbal dan nonverbal) yang memungkinkan
seseorang untuk menciptakan, mengenal,
mengekspresikan, mamahami, dan mengevalusi
emosi diri dan orang lain, untuk tujuan
membimbing pemikiran dan tindakan yang
secara sukses selaras dengan permintaan dan
tekanan lingkungan, Kecemasan merupakan
sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada
waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan
bisa muncul sendiri atau bergabung dengan
gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi.
Menurut asumsi peneliti semakin tinggi
kecerdasan emosional seseorang maka semakin
baik
kemampuan,
memahami
dan
mengimplementasikan suatu permasalahan yang
dihadapi seperti penyakit GGK yang di alami
sekarang akan menimbul kan kecemasan
tertentu. semakin tinggi kecerdasan emosional
seseorang maka kecemasan yang dialami akan
semakin ringan. jika sebaliknya semakin rendah
kecerdasan emosional yang dialami seseorang
maka akan semakin berat tingkat kecemasan
yang dialami sesuai keadaan penyakit pasien.
e. Hubungan Spiritual Dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik
Berdasarkan hasil analisa hubungan antara
spiritual dengan tingkat kecemasan, terdapat 18
(75%) dari 24 orang responden mengalami
kecemasan ringan yang mempunyai spiritual
tidak baik. Terdapat sebanyak 6 (25 %) dari 24
orang responden mengalami kecemasan sedang
yang mempunyai spiritual tidak baik. Terdapat
sebanyak 41 (97,6 %) dari 42 orang responden
yang mengalami kecemasan ringan yang
mempunyai spiritual baik. Terdapat sebanyak 1
(2,4%) dari 42 orang responden yang mengalami
kecemasan sedang yang mempunyai spiritual
baik. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,008
(p<α) maka disimpulkan adanya hubungan
antara spiritual dengan tingkat kecemasan. Dari
hasil analisis diperoleh OR= 0,073 artinya
responden yang memiliki spiritual baik
mempunyai peluang 0,073 kali untuk mengalami
kecemasan ringan dibandingkan responden yang
memiliki spiritual tidak baik.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Avita (2012) yang menunjukkan
ada pengaruh kecerdasan spiritual terhadap
kecemasan menghadapi kematian. Hal ini
disebabkan karena lansia (71-80 tahun) yang
kecerdasan spiritualnya tinggi menganggap
kematian bukanlah akhir dari kehidupan dan
bukanlah suatu ancaman baginya, akan tetapi
kematian adalah suatu pendorong bagi dirinya
untuk menjalani hidup lebih baik.
Penelitian ini juga di perkuat oleh penelitian
yang dilakukan oleh Alfiannur (2015), tentang
hubungan antara kecerdasan spiritual dengan
tingkat kecemasan pasien GGK yang menjalani
hemodialisa. Hasil penelitian didapatkan ada
hubungan antara kecerdasan spiritual dengan
tingkat kecemasan pasien GGK yang menjalani
hemodialisa.
Menurut Santrock (2005) faktor yang
mempengaruhi seberapa baik seseorang
mengatasi perasaan adalah filosofi atau
kepercayaan religious dan kemampuannya
dalam mengatasi masalah, yang mana hal ini
merupakan salah satu indikator seseorang yang
LPPM STIKes Perintis Padang
70
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
memiliki kecerdasan spiritual. Seseorang yang
mempunyai spiritual yang baik dapat bersikap
pasrah dan berserah diri terhadap keadaan yang
dialaminya dan juga dapat menerima dengan
ikhlas keadaan tersebut dengan takdir yang harus
dijalani agar bisa menjadi pribadi yang lebih
baik lagi dan mendapatkan derajat yang lebih
tinggi disisi Tuhan (Anggaraini, 2012).
Menurut asumsi peneliti, seseorang yang
memiliki spiritual yang tinggi mampu
menghadapi kenyataan akan permasalahan yang
dialami dengan baik dan tetap berperan aktif
dalam menjalankan tangguang jawabnya di
kehidupan ini. Penerimaan seseorang terhadap
permasalahan yang dialami dapat mengurangi
kecemasan menghadapi penyakitnya dalam
tingkatan tertentu, tetapi jika sebaliknya
seseorang tidak dapat berfikir secara positif
terhadap permasalahan yang dialami maka akan
menyebabkan kecemasan bertamabah besar.
4. KESIMPULAN
Distribusi frekuensi kecerdasan emosional
bahwa hampir semuanya 46 orang responden
dengan
persentasi
69,7%
mempunyai
kecerdasan emosional tinggi. Sementara untuk
kecerdasan emosional rendah sebanyak 20 orang
dengan persentase 30,3%.
Distribusi frekuensi spiritual bahwa hampir
semuanya
42 orang responden dengan
persentasi 63,6% mempunyai spiritual baik.
Sementara untuk spiritual tidak baik sebanyak
24 orang responden dengan persentase 36,4%.
Distribusi frekuensi tingkat kecemasan
bahwa hampir semuanya 59 orang responden
dengan persentasi 89,4% mempunyai tingkat
kecemasan ringan. Sementara untuk tingkat
kecemasan sedang sebanyak 7 orang responden
dengan persentase 10,6%.
Adanya hubungan antara kecerdasan
emosional dengan tingkat kecemasan, dengan
hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,002 (p<α).
Adanya hubungan antara spiritual dengan
tingkat kecemasan, dengan hasil uji statistik
diperoleh nilai p = 0,008 (p<α).
5. REFERENSI
Alfianur, Fajri. 2015. Hubungan Antara
Kecerdasan Spiritual Dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Gagal Ginjal
Kronik Yang Menjalani Hemodialisa.
Skipsi Universitas Riau. Pekan Baru.
Andri, 2013.Gangguan Psikiatrik Pada Pasien
Penyakit Ginjal Kronik. Jakarta.
Aroem, Hari Ratna, 2015. Gambaran
Kecemasan Dan Kualitas Hidup Pada
Pasien Yang Menjalani Hemodialisa.
Skripsi Surakarta.
Aziz, Alimul. 2008. Metode Penelitian dan
Teknik Analisa Data. Jakarta :
Salemba Medika
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta.
Rineka Cipta
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar :
Keperawatan Medikal Bedah Vol 2,
Jakarta. EGC.
Doenges, Marilynn. 2000. Rencana Asuhan
Keperawatan. Jakarta. EGC
Efendy Nazrul. 2007. Pengantar Kesehatan
Masyarakat. Jakarta. EGC
Guyton, Arthur c. 2008. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran Edisi 11. Jakarta. EGC
Hamid. 2008.Kecerdasan Spritual. Zikrul
Hakim.Jakarta.
Hastono, Susanto Priyo. 2006. Basic Data
Analysis For Health Research
Training.
Fakultas
Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Hidayat, Alimul, A. 2007. Riset Keperawatan
dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta
Salemba Medika
Medical Record. 2015. Data RSUD Achmad
Mochtar. Bukittinggi.
Mulyanna, Saputri. 2011. Hubungan Tingkat
Kecemasan
Dengan
Mekanisme
Koping Pada Pasien Gagal Jantung
Kongestif di RS. DR Wahidin Su
Dirohusodo, Skripsi Makasar.
Muttaqin, Arif & Kumala Sari. 2011. Gangguan
Gastrointestinal Applikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta.
Salemba Medika.
Notoadmojo, Soekijo, 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka
Cipta.
Notoadmojo, Soekijo, 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka
Cipta
LPPM STIKes Perintis Padang
71
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Nursalam, 2011. Konsep Dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan.
Jakarta.
Salemba
Medika.
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan. Jakarta. EGC
Price, A Sylvia. 2005. Patofisiologi Konsep
Klinis
Proses-Proses
Penyakit.
Jakarta. EGC
Purwaningrum, Febrianita, 2013. Hubungan
Aktivitas Spiritual Dengan Tingkat
Stres Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik
Yang
Menjalani
Hemodialisa.Skripsi Yogyakarta.
Saryono. 2010. Kumpulan Instrumen Penelitian.
Bantul. Mulya Medika.
Smeltzer & Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta. EGC
Stuart, Gail & Sundeen, Sandra. 2005. Buku Ajar
Keperawatan Jiwa. Jakarta. EGC
Supriatno S.E. 2006. Hubungan Antara
Kecerdasan Emosional. Jakarta. FISIP
UI.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Taylor, E Shelly. 1995. Healthy Psychology. Mc
Graw Hill Inc. Singapura.
LPPM STIKes Perintis Padang
72
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
HUBUNGAN PELAKSAAN ORIENTASI PASIEN BARU DENGAN KEPUASAN
PASIEN DI RUANG RAWAT INAP BEDAH RUMAH SAKIT ACHMAD
MOCHTAR BUKITTINGGI
Vera Sesrianty1 Diky Leksono Segoro
Program Studi D III Keperawatan STIKes Perintis Padang
PSIK STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
Abstract
Psychologically problem of new patient is an urgent thing to be attention. Explanation of the
treatment is a starting point relationship between nurses and the patient. A good relationship of them
can be influencing the patient satisfaction. This study aimed to examine the relationship
implementation of new patient orientation with patient satisfaction in surgical ward Achmad
Mochtar hospital Bukittinggi in 2016. The study design used descriptive correlation with crosssectional approach. Collecting data using a questionnaire containing the implementation of new
patient orientation and patient satisfaction. The research sample numbering 85 people admitted to
the surgical ward Ahmad Mochtar hospital Bukittinggi. In this study showed that there is a
connection with the implementation of new patient orientation patient satisfaction in inpatient
surgical Ahmad Mochtar Hospital Bukittinggi in 2016 with p-value of 0.01. It is concluded that there
is a connection with the implementation of new patient orientation patient satisfaction in inpatient
surgical Ahmad Mochtar Hospital Bukittinggi in 2016. It is expected that this study can be used as
a benchmark to make nursing services for the better.
Keywords : new patient orientation, patient satisfaction
1. PENDAHULUAN
Perkembangan
masyarakat
dalam
menyikapi masalah kesehatan saat ini semakin
kritis, maka standar pelayanan mutu kesehatan
akan menjadi hal yang sangat penting. Pelayanan
yang menjadi sorotan masyarakat tidak hanya
pada masalah pelayanan medis semata, tetapi
pelayanan penunjang dan pelayanan non medis
yang ada di institusi pelayanan kesehatan akan
menjadi hal yang penting. Mutu merupakan
faktor sentral dari setiap upaya untuk
memberikan upaya pelayanan kesehatan
(Wijono, 2006).
Konsumen pelayanan kesehatan semakin
lama semakin mempunyai pengetahuan tentang
berbagai isu dalam pelayanan kesehatan dan
memberi perhatian besar kepada apa yang
mereka dengar tentang rumah sakit, pasien,
sebelum tindakan aseptik ataudokter dan kualitas
keperawatan yang dirasakan. Betapapun
majunya teknologi yang digunakan oleh sebuah
rumah sakit, pengalaman pasien dengan
penyakit dan pelayanan medis yang dialaminya
merupakan ukuran kualitas yang sejati (Perry &
Potter, 2007).
Vestal (1995, dalam Windy 2007)
mengatakan bahwa jika pasien dan keluarga
mempunyai penilaian yang negatif terhadap
pelayanan kesehatan yang diterimanya, maka
keluhan dan protes terhadap rumah sakit akan
meningkat. Hal tersebut tidak akan terjadi jika
perawat menginformasikan tentang segala
sesuatu yang akan dilakukan terhadap pasien,
salah satunya adalah melalui program orientasi
pasien yang baru masuk untuk dirawat di rumah
sakit.
Keperawatan memegang peranan kunci
kepuasan pasien karena keperawatan merupakan
salah satu profesi yang paling mempengaruhi
setiap dimensi kualitas jasa. Memberikan
pelayanan yang memuaskan pasien merupakan
suatu prioritas dan membantu perawat untuk
dapat mengembangkan terapi dan pendekatan
yang tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan
status kesehatan tetapi juga membuat mereka
tertarik dan mau berpartisipasi dalam perawatan.
Selain itu perawat memegang peranan kunci
LPPM STIKes Perintis Padang
73
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
untuk melakukan koordinasi perawatan mulai
dari pasien masuk sampai pulang dengan cara
mempertahankan pendekatan holistik yang
dibutuhkan untuk mengenal dan mengantisipasi
kebutuhan pelayanan pasien.
Pelayanan keperawatan yang bermutu
adalah pelayanan yang dapat memuaskan setiap
pemakai jasa, serta penyelenggaraannya sesuai
dengan standar dan kode etik profesi yang telah
ditetapkan.
Upaya
untuk
memberikan
keperawatan bermutu ini dapat dimulai perawat
dari adanya rasa tanggung jawab perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan secara
profesional. Pada saat pasien masuk ke rumah
sakit semua petugas harus memperlakukan
pasien dengan sopan dan profesional karena
pada proses inilah pelayanan kepada konsumen
telah dimulai. Pada masa awal masuk ini, apabila
pasien menerima perlakuan yang kurang baik,
maka pasien akan mengganggap semua petugas
kesehatan tidak profesional. Sebaliknya jika
pasien dan keluarga merasa diterima maka
perawat dan petugas lain dapat mulai
membentuk hubungan yang terapeutik dengan
pasien (Perry & Potter 2007).
Menurut Sitorus (2006), Orientasi pasien
baru merupakan kegiatan yang penting
dilakukan agar hubungan saling percaya (trust)
antara perawat dan pasien dapat terbina dengan
baik. Orientasi pasien baru juga merupakan
kontrak antara perawat dan pasien/keluarga
dimana terdapat kesepakatan dalam memberikan
asuhan keperawatan. Setiap rumah sakit
mempunyai kontrak antara perawat dan
pasien/keluarga dimana terdapat kesepakatan
dalam memberikan asuhan keperawatan. Setiap
rumah sakit mempunyai kebijakan dan prosedur
yang harus diinformasikan kepada pasien dan
keluarga terkait dengan hak-hak pasien,
peraturan rumah sakit dan kegiatankegiatan
perawatan yang akan diterima oleh pasien
selama menjalani perawatan di rumah sakit,
semua informasi tersebut dapat disampaikan
pada saat pertama kali pasien masuk melalui
kegiatan orientasi pasien baru.
Orientasi pasien baru ini dimulai dari tahap
pra interaksi, orientasi sampai tahap evaluasi.
Hal ini dimaksudkan bahwa dengan bentuk
keperawatan yang komprehensip maka dapat
melihat manusia sebagai makhluk holistik yang
utuh dan unik. Berkaitan dengan hal tersebut,
maka kewajiban perawat adalah menghormati
hak pasien diantaranya adalah memperoleh
informasi mengenai tata tertib dan peraturan
yang berlaku di rumah sakit, memperoleh
pelayanan keperawatan dan asuhan yang
bermutu sesuai dengan standar profesi
keperawatan tanpa diskriminasi.
Hak-hak pasien ini dapat dilakukan oleh
perawat melalui orientasi yang dilakukan oleh
perawat terhadap pasien baru. Orientasi pasien
baru merupakan kontrak antara perawat dan
pasien/keluarga dimana terdapat kesepakatan
antara perawat dengan pasien/keluarganya
dalam memberikan Asuhan keperawatan.
Kontrak ini diperlukan agar hubungan saling
percaya antara perawat dan pasien/ keluarga
dapat terbina (Nining, 2008). Praktik orientasi
dilakukan saat pertama kali pasien datang (24
jam pertama) dan kondisi pasien sudah tenang.
Orientasi diberikan pada pasien dan didampingi
anggota keluarga yang dilakukan di kamar
pasien dengan menggunakan format orientasi.
Selanjutnya pasien
Berdasarkan penilaian pelayanan mutu
RSUD Dr.Achmad Mochtar terhadap nilai
indeks kepuasan masyarakat pada tahun 2013
sebesar 75%, tahun 2014 naik sebesar 75,15%,
tahun 2015 81,56%. Realisasi Indikator kinerja
Indek Kepuasan Masyarakat (IKM) Tahun 2015
81,56% dibandingkan dengan standar nasional
>90% menunjukkan capaian TOI Tahun 2015
masih di bawah target nasional (Laporan Kinerja
RSAM 2015). Jumlah pasien yang dirawat di
ruang bedah pada tahun 2013 sebanyak 1230
orang dan pada tahun 2015 terjadi peningkatan
sebanyak 1320 orang. Berdasarkan wawancara
bahwa praktik orientasi pasien baru ada
dilaksanakan di ruangan bedah. Peneliti juga
mewawancarai 3 orang pasien mengenai
kepuasan terhadap pelayanan perawat saat
pasien baru masuk ke ruangan dan mereka
mengatakan cukup puas dengan pelayanan di
ruangan Ruangan Bedah. Pasien mengatakan
ada diperkenalkan mengenai prosedur dan aturan
di rumah sakit, namun penjelasannya diberikan
dengan singkat dan jelas. Pada pasien yang
pertama masuk rumah sakit mereka mengatakan
masih bingung dan takut terhadap kondisi yang
LPPM STIKes Perintis Padang
74
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
di alami dan perawat hanya menjelaskan
keadaan pasien apabila ditanyakan.
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
dekriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam penelitan ini adalah
semua pasien yang di rawat inap bedah RSUD
Ahmad Mochtar Bukittinggi sebanyak 110
orang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 85
orang dengan teknik Accidental Sampling.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pelaksanaan Orientasi Pasien Baru di Ruang
Rawat Inap Bedah RSUD Ahmad Mochtar Bukittinggi
No
Pelaksanaan Orientasi
Frekuensi
Persentase (%)
1.
Buruk
30
35,3
2.
Baik
55
64,7
Total
85
100
Berdasarkan table 1 diatas diatas dapat diketahui dari 85 responden, lebih dari separoh
menyatakan pelaksanaan orientasi pasien baru di ruang rawat inap bedah RSUD Ahmad Mochtar
sudak baik sebanyak 55 orang (64,7%).
Tabel 2. Distribusi frekuensi responden menurut kepuasan pasien di Ruang Rawat Inap Bedah
RSUD Ahmad Mochtar Bukittinggi
No
Kepuasan Pasien
Frekuensi
Persentase (%)
1.
2.
Tidak Puas
42
49,4
Puas
43
50,6
Total
85
100
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui dari 85 responden, lebih dari separoh menyatakan
kepuasan pasien di ruang rawat inap bedah RSUD Ahmad Mochtar sudah puas sebanyak 43 orang
(50.6%).
Tabel 3. Hubungan Pelaksanaan Orientasi Pasien Baru Dengan Kepuasan Pasien di Ruang Rawat
Inap Bedah RSUD Ahmad Mochtar Bukittinggi
Orientasi
Kepuasan Pasien
Pasien
Jumlah
p
Odds
Tidak Puas
Puas
Value Ratio
Baik
Buruk
Total
N
%
N
%
n
%
21
21
42
70
38,2
49,4
9
34
43
30
61,8
50,6
30
55
85
100
100
100
0,010
3,778
Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa dari 55 responden yang mengatakan orientasi pasien baru
baik sebesar 34 (61,8%) responden yang merasa puas. Sedangkan dari 30 responden yang
menyatakan orientasi pasien baru kurang baik hanya 9 (30%) responden yang merasa puas. Hasil uji
statistik chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,010 (p ≤ 0,05) artinya ada hubungan
pelaksanaan orientasi pasien baru dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap bedah RSUD Ahmad
Mochtar Bukittinggi tahun 2016. Nilai Oods Ratio 3,778 artinya responden yang menyatakan praktek
orientasi pasien baru baik, berpeluang 3 kali untuk puas dengan pelayanan keperawatan,
dibandingkan dengan responden yang menyatakan pelaksanaan orientasi pasien baru kurang baik.
LPPM STIKes Perintis Padang
75
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3.2. Pembahasan
Orientasi terhadap pasien baru adalah suatu
cara untuk menerima pasien baru di suatu
ruangan dengan mengenalkan mengenai
ruangan, perawatan, medis dan tata tertib
ruangan (Nursalam, 2002). Hal ini juga sejalan
dengan penelitian Indrayana (2015) dengan
judul hubungan keaktifan petugas penerimaan
pasien baru rawat jalan dengan kelengkapan
pengisian identitas pasien dengan hasil pengisian
identitas pasien pada lembar ringkasan riwayat
klinik yang lengkap adalah 32 lembar (42,1%)
dan yang tidak lengkap adalah 44 lembar
(57,9%). Pasien yang menilai petugas
penerimaan pasien memiliki keaktifan tinggi
adalah 35 pasien (46,1%) dan memiliki keaktifan
rendah adalah 41 pasien (53,9%). Nilai P value
= 0,000 (0,000 < 0,05) dan nilai OR = 37
sehingga ada hubungan antara keaktifan petugas
penerimaan pasien baru rawat jalan dengan
kelengkapan pengisian identitas pasien.
Berdasarkan teori dan penelitian diatas,
maka peneliti berpendapat bahwa banyaknya
responden yang menyatakan pelaksanaan
orientasi pasien baru di ruang rawat inap bedah
sudah baik karena adanya kesadaran dari
perawat untuk memberikan pelayanan prima
kepada pasien seperti menjaga kebersihan
ruangan yang ditempati pasien (99%),
memberikan informasi yang memadai kepada
pasien/keluarga mengenai perawatan pasien
(88%), perawat yang mudah dihubungi saat
dibutuhkan serta memberikan perawatan yang
maksimal saat pasien baru masuk ke ruangan
(100%) Hal ini menjadi faktor-faktor yang
memepengaruhi terhadap baiknya orientasi
pasien baru di ruang rawat inap bedah RSUD
Ahmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016.
Menurut Tjiptono (2008), setiap orang yang
membeli produk baik dalam rupa barang atau
jasa tentu mempunyai harapan terhadap produk
yang dibelinya, termasuk juga dalam membeli
jasa pelayanan keperawatan/kesehatan di rumah
sakit. Lebih lanjut disampaikan oleh Supranto
(2006) bahwa harapan yang tinggi apabila tidak
terpenuhi atau kenyataan pelayanan (persepsi)
tidak sesuai dengan harapannya (kurang) dapat
mengakibatkan seseorang merasa tidak puas dan
kecewa terhadap produk yang dibelinya.
Hal ini ditunjang oleh teori oleh Huber
(1996, dalam Hamid, 2000) yang menyatakan
kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan
sangat ditunjang oleh kualitas pelayanan yang
diberikan oleh profesi keperawatan, seperti juga
disampaikan oleh Huber (1996, dalam Hamid,
2000) bahwa pelayanan kesehatan di rumah
sakit, 90 % adalah pelayanan keperawatan. Oleh
karena itu tidaklah mengherankan apabila citra
suatu RS dinilai dari aktivitas dan kinerja
pelayanan keperawatan. Seperti disampaikan
oleh Aditama (2003) bahwa tujuan pelayanan
kesehatan di rumah sakit adalah memberikan
pelayanan kesehatan secara profesional dan
bermutu kepada masyarakat, yaitu memberikan
pelayanan yang sesuai dengan harapan dan
keinginan
pelanggan
sehingga
dapat
memberikan kepuasan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Dewi (2015) dengan judul Hubungan Peran
Mandiri Perawat dengan Kepuasan Pasien di
Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Ahmad
Mochtar Bukittinggi dengan hasil sebesar 65%
responden menyatakan peran mandiri perawat
kurang baik dan 62,5% responden menyatkan
kurang puas dengan peran mandiri perawat.
Dengan hasil statistik p-value 0,026 dengan
OR=6, ada hubungan yang signifikan antara
peran mandiri perawat dengan kepuasan pasien.
Berdasarkan teori dan penelitian diatas
peneliti berasumsi, banyak responden yang
mengatakan puas terhadap pelayanan di ruang
inap bedah karena baiknya sikap perawat dalam
memberikan
pelayanan,cara
perawat
berkomunikasi
menyampaikan
informasi
sebesar (84%) serta perhatian perawat terhadap
kondisi pasien saat pasien pertama kali masuk
ruangan (79%) . Kepuasan pasien sangat
dipengaruhi oleh pelayanan keperawatan yang
optimal terutama sejak pasien pertama masuk ke
ruangan. Dimana tindakan yang dilakukan
perawat
sangat
berhubungan
dengan
keberhasilan proses keperawatan yang nantinya
akan mempengaruhi kkepuasan pasien secara
keseluruhan.
Menurut Ragusti (2008) Program orientasi
dimaksudkan untuk menyamakan persepsi
mengenai halhal yang akan diterima/dilakukan
terhadap pasien selama menjalani perawatan
disesuaikan dengan standar pelayanan yang ada
LPPM STIKes Perintis Padang
76
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
di rumah sakit. Dengan demikian sangat
difahami bahwa seseorang yang masuk ke rumah
sakit sebelum dilakukan orientasi pada saat awal
masuk, mempunyai harapan untuk mendapatkan
hak-haknya seperti yang seharusnya diterima
tetapi setelah mendapatkan program orientasi
dapat memberikan pemahaman secara lebih
proporsional terhadap harapannya terkait dengan
pelayanan keperawatan yang diterima.
Pelanggan rumah sakit bersifat majemuk,
yaitu pasien, keluarganya dan handai taulan yang
menjenguknya yang secara langsung atau tidak
langsung turut merasakan bagaimana jasa
disampaikan.
Oliver
(Supranto,
2006)
mendefinisikan bahwa kepuasan sebagai tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan
hasil yang dirasakan dengan harapannya.
Sementara menurut Parasuraman, Zeithmal &
sebagai tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan hasil yang dirasakan dengan
harapannya. Sementara menurut Parasuraman,
Zeithmal & Berry (1990, dalam Tjiptono, 2008)
menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan sebagai
kesenjangan antara harapan dan persepsi
(kenyataan) pelanggan tentang pelayanan yang
diterimanya.
Pasien akan merasa puas apabila
kinerja/layanan kesehatan yang diperoleh
sama/melebihi harapan atau sebaliknya. Jika
kinerja belum sesuai dengan harapan pasien,
maka akan menjadi masukan bagi organisasi
pelayanan kesehatan agar berusaha untuk
memperbaiki atau memenuhinya. Namun jika
pelayanan kesehatan sudah sesuai dengan
harapannya, maka pasien akan selalu datang
berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan tersebut
(Pohan,2007).
Penelitian yang dilakukan oleh Susilowati
Tri (2008) meneliti tentang hubungan
pengetahuan perawat tentang standar pelayanan
keperawatan dengan pelaksanaan standar
operasional prosedur pasien baru di ruang rawat
inap Rumah Sakit Dr. OEN Surakarta
mendapatkan bahwa ada hubungan antara
pengetahuan perawat tentang standar pelayanan
keperawatan dengan pelaksanaan SOP pasien
baru, dalam penelitian ini juga diketahui bahwa
pengetahuan perawat tentang pelaksanaan SOP
yang rendah cukup besar yaitu sebanyak 38,1%.
Sejalan dengan penelitian diatas,hasil penelitian
Sudaryani (2008) menyatakan bahwa kepuasan
pasien terhadap pelayanan keperawatan setelah
diberikan pendidikan kesehatan pada persiapan
pulang lebih meningkat secara bermakna dari
pada yang tidak diberikan pendidikan kesehatan,
yaitu 83,38 % pada kelompok intervensi dan
67,17 % pada kelompok kontrol. Merujuk pada
beberapa penemuan tersebut dapat disimpulkan
bahwa pasien akan mendapatkan kepuasan yang
lebih baik dalam menerima pelayanan
keperawatan jika perawat telah menerapkan
praktik keperawatan yang sesuai dengan
indikator pelayanan rumah sakit dimana salah
satunya yaitu penerapan orientasi pada pasien
baru.
Menurut asumsi peneliti, pelaksanaan
orientasi pasien baru dalam memberikan
pelayanan kepada pasien sangat penting
ditunjang dengan sikap peduli atau empati dan
keramahan serta komunikasi yang baik antara
pasien/ keluarga dengan petugas kesehatan akan
menimbulkan ras puas karena pasien merasa
diperhatikan dan terpenuhinya harapan terhadap
pelayanan keperawatan di rumah sakit. Ulasanulasan diatas mendukung pernyataan Azwar
(2006)
bahwa
kualitas
pelayanan
kesehatanditunjukkan oleh tingkat kesempurnan
pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa
puas pada diri setiap pasien, makin sempurna
kepuasan tersebut makin baik pula kualitas
pelayanan kesehatan tersebut.
4. KESIMPULAN
Lebih dari separo menyatakan pelaksanaan
orientasi pasien baru baik sebesar 55 (64,7%)
responden.Lebih dari separo menyatakan sudah
puas sebanyak 43 orang (50.6%) responden.
Ada hubungan pelaksanaan orientasi pasien
baru dengan kepuasan pasien yang dirawat di
Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Ahmad
Mochtar Bukittinggi Tahun 2016 dengan nilai pvalue = 0,010 dan Oods Ratio sebesar 3,778.
5. REFERENSI
Barata, A.A. (2006). Dasar-dasar pelayanan
prima, persiapan membangun budaya
pelayanan prima untuk meningkatkan
kepuasan dan loyalitas pelanggan.
Cetakan III. Jakarta: PT Gramedia.
LPPM STIKes Perintis Padang
77
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Dewi, Rizka (2015) Hubungan Peran Mandiri
Perawat dengan Kepuasan Pasien di
Ruang Rawat Inap Bedah RSUD Ahmad
Mochtar
Handoko.H.T. (2001). Management Personalia
& Sumberdaya Manusia. Yogyakarta:
BPFE.
Hastono, S.P (2007). Basic data analysis for
health research. Depok : FKM-UI.
Helmitra, (2014). Hubungan Pelaksanaan
Orientasi Pasien dengan Kepatuhan
Menjalnkan Aturan di Ruangan MAKP
di Rumah sakit Gorontalo.Skripsi.
Universitas Negeri Gorontalo.
Huber, D.L. (2000). Leadership And Nursing
Care Management. Philadelphia,
Pennsylvania.
Indrayana (2014) Hubungan Keaktifan Petugas
Penerimaan Pasien Baru Rawat Jalan
dengan Kelengkapan Pengisian Identitas
Pasien. Skripsi. Universitas Esa Unggul
Kottler, et, al, (2000). Manjemen Pemasaran
Edisi Millenium. Jakarta : Bumi Aksara
Kottler, et, al, (2004). Dasar-Dasar pemasaran.
Jakarta : Bumi Aksara
Kozier, B, et, al. (1997). Fundamental of nursing
concepts, process and practice (fifth
edition). California : Eddison Wasley
Publishing Company.
Laporan Kinerja Rumah Sakit Umum Achmad
Mochtar Bukittinggi 2015.
Moenir, H.A.S. (2004). Manajemen Pelayanan
Umum Di Indonesia. Jakarta : PT Bumi
Aksara.
Nooria, Widoningsing, (2008). Pengaruh
Persepsi Kualitas Jasa Pelayanan
terhadap Kepuasan Pasien dan Loyalitas
Pelanggan di RSU Saras Husada.
Skripsi. Universitas Muhamadiyah
Surakarta.
Nursalam. (2011). Manajemen keperawatan
aplikasi dalam praktek keperawatan
profesional. Jakarta : Salemba Medika.
Pohan, Imbolo ( 2007 ). Jaminan Mutu
Pelayanan Kesehatan : Dasar - Dasar
Pengertian dan Penerapan. Jakarta :
EGC
Potter, A.P. & Perry, G.A. (2007). Fundamental
of Nursing : conceps, procces &
practice. St Louis : MOsby Year Book.
Parasuraman, A., Zeithhaml, V.A., Berry, L.L.
(1997). Delivery Quality Service :
balancing customer perception and
axpectation, New York : The Press.
Prasetyo, R. & Ihalauw, J. (2005). Perilaku
Konsumen. Yogyakarta : Andi Press.
Putri (2012) Hubungan Pemberian Penkes
Dengan Kepuasan Pasien Di Rsam
Bukittinggi. Skripsi. Stikes Perintis
Padang
Ragusti. (2008). Orientasi pasien baru : pemberi
informasi.
http://www.scribd.com/Standar2/d/9884307. Diunduh pada tanggal 23
Maret 2016.
LPPM STIKes Perintis Padang
78
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
PELAKSANAAN SENAM HAMIL
1,2,3
Mera Delima 1*, Monika Blesinki 2, Maidaliza 3
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis Sumbar
*email: [email protected]
email: [email protected]
email: [email protected]
Abstract
Pregnant gymnastic is the part of antenatal care which is useful for optimizing of mother health,
eliminate complaints of pregnancy and simplify the delivery process. Some maternal factors such as
knowledge, age, education, parity and work allegedly associated to taking part in of pregnant
gymnastic. Target of research is knowing relation/link of some factor of the implementation of a
pregnant gymnastic. Average of pregnant women’s visit at health centers Payakumbuh Ibuh is 83
people where 39 people in gestational age more than 22 weeks, but many of them are not doing
pregnancy exercise.The study design is Descriptive Analytical by using approach of cross sectional.
Population of research are pregnant mother who third trimester of visit in Ibuh Health Center as
many as 39 pregnant women. This study uses the technique of "total sampling" as a sampling
technique. The data obtained are then processed with a computerized statistical Chi-Square test for
bivariate analysis which if p ≤ 0.05 then the result count is "meaningful" and if p> 0.05 then the
statistic is called "not significant "and test for multivariate regression. From result of research
known by mother pregnant 53,8% owning high knowledge about a pregnant gymnastic, 89,7% in 2030 years old, 79,5% owning good education, 51,3% owning more than 2 children, 64,1% working,
and 71,8% not expressing of pregnant gymnastic. With chi-square test (α=0,05) indicate that having
relation with the implementation of pregnant gymnastic is knowledge, education, parity and work.
From the multivariate analysis it can be concluded that work factor is dominant factors related to
the implementation of pregnant gymnastics in Ibuh Health Center Payakumbuh with p value = 0,006.
Based on these results suggested to health workers to increase the mother’s motivation to do
pregnancy exercise at the health center or independently at home.
Keywords : Knowledge, Age, Education, Parity, Work and Implementation of Pregnancy Exercise.
1. PENDAHULUAN
Angka Kematian Ibu (AKI) disebabkan
oleh banyak faktor, salah satunya adalah fisik
ibu selama kehamilan. Dalam rangka
mempercepat penurunan angka kematian ibu
(AKI) dan memfokuskan percepatan pencapaian
target MDGS, yaitu meningkatkan kesehatan
ibu. Kesehatan ibu dapat ditingkatkan salah
satunya sengan mengoptimalkan kondisi fisik
ibu hamil misalnya dengan latihan fisik atau
olahraga (Muhimah, 2010).
Menurut Reeder (2011), olahraga selama
kehamilan bermanfaat bergantung pada status
kesehatan, kondisi dan tahap kehamilan wanita.
Menurut Aulia (2014), ada beragam jenis
olahraga yang dapat diikuti oleh ibu hamil. Salah
satu jenis senam yang ditujukan bagi ibu hamil
dalam menjaga kondisi kesehatannya dan
mempersiapkan proses persalinannya adalah
senam hamil.
Senam hamil adalah bagian dari perawatan
antenatal pada beberapa pusat pelayanan
kesehatan. Senam hamil dilakukan oleh ibu sejak
usia kehamilan 22 minggu sampai masa
kelahiran. Senam sebelum melahirkan juga
mengoptimalkan fisik ibu, memelihara serta
menghilangkan keluhan-keluhan yang terjadi
akibat proses kehamilan. Senam hamil dapat
dilakukan sendiri di rumah, tetapi cara dan
tahapan harus disesuaikan dengan kondisi tubuh,
umur kandungan, serta aturan yang dianjurkan
oleh instruktur guna menghindari adanya
kesalahan gerakan yang menimbulkan efek yang
berbahaya. Ibu juga perlu berkonsultasi terlebih
dahulu dengan dokter guna mengantisipasi
LPPM STIKes Perintis Padang
79
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
gangguan kehamilan, seperti letak plasenta di
bawah (Muhimah, 2010).
Senam hamil memberikan suatu hasil
produk kehamilan atau outcome persalinan yang
lebih baik dibandingkan dengan ibu yang tidak
melakukan senam hamil. Secara keseluruhan
senam hamil berdampak pada peningkatan
kesehatan ibu hamil. Latihan rileksasi sangat
membantu menghilangkan ketegangan mental
dan fisik ibu sekaligus bagi janin. Dengan
demikian ibu hamil lebih mudah menghadapi
persalinan tanpa adanya kecemasan. Selain itu,
senam hamil juga merupakan suatu bentuk
latihan yang memperkuat dan mempertahankan
elastisitas dinding perut, ligament-ligamen, otototot dasar panggul yang berhubungan dengan
proses persalinan (Aulia, 2014).
Berdasarkan jurnal Br J Sports Med (2013),
penelitian yang melibatkan 3.482 wanita hamil
didapatkan bahwa hanya 14,6% responden yang
mengikuti latihan selama kehamilan. Menurut
Gaffar (2009) dalam Ratnawati (2010), faktor
yang mempengaruhi partisipasi ibu mengikuti
senam hamil adalah kurangnya pengetahuan,
kesibukan bekerja, dan banyaknya anak yang
membuat ibu sibuk merawat anaknya.
Studi pendahuluan dilakukan dengan
peneliti didapatkan ibu hamil trimester III yang
bisa mengikuti senam hamil sebanyak 39 ibu
hamil yang mana 67% yaitu 26 orang tidak
melakukan senam hamil dengan alasan bekerja
atau mengurus anak di rumah. Berdasarkan
fenomena
tersebut,
peneliti
melakukan
penelitian yang bertujuan untuk menganalisa
faktor - faktor yang berhubungan dengan
pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil di
Puskesmas Ibuh Payakumbuh Sumatera Barat
Tahun 2015.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian analitik
deskriptif dengan menggunakan pendekatan
cross sectional, dilakukan di puskesmas Ibuh
Payakumbuh. Populasi dalam penelitian ini ibu
hamil trimester III di Puskesmas Ibuah
Payakumbuh Sumatera Barat tahun 2015 yang
bisa mengikuti senam hamil sebanyak 39 orang
dimana teknik pengambilan sampel yang
digunakan ialah total sample.
Data yang dikumpulkan meliputi :
pengetahuan tentang senam hamil, umur,
pendidikan, paritas dan pekerjaan. Pengumpulan
data menggunakan kuesioner, penelitian
dilakukan pada bulan Juni tahun 2015.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisa Univariat
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan, Umur, Pendidikan, Pekerjaan Ibu Hamil dan
Pelaksanaan Senam Hamil Di Puskesmas Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
No. Variabel
Jumlah Persentasi (%)
1. Tingkat Pengetahuan
1) Rendah
21
53,8
2) Tinggi
18
46,2
2. Umur
1) Beresiko
4
10,3
2) Tidak Beresiko
35
89,7
3. Tingkat Pendidikan
1) Rendah
8
20,5
2) Tinggi
31
79,5
4. Pariras
1) Anak ≤ 2
19
48,7
2) Anak > 2
20
51,3
5. Pekerjaan
LPPM STIKes Perintis Padang
80
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
1) Tidak bekerja
2) Bekerja
6. Pelaksanaan Senam Hamil
1) Tidak Melakukan
2) Melakuakan
Total
Berdasarkan analisa univariat dari 39 ibu
hamil trimester III di Puskesmas Ibuh
Payakumbuh didapatkan analisa sebagai berikut:
1) Pengetahuan
Didapatkan 21 orang (53,8%) memiliki
pengetahuan rendah mengenai senam hamil, hal
ini dikarenakan karena kurangnya pengetahuan
responden dan kurangnya informasi yang
diperoleh. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Notoatmodjo (2007), bahwa
pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman
langsung atau melaui pengalaman orang lain dan
sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui
mata dan telinga. Untuk meningkatkan
pengetahuan kesehatan diperlukan penyuluhan
kesehatan yang bertujuan untuk tercapainya
perubahan kesehatan, membina dan memelihara
hidup sehat serta berperan aktif dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan optimal.
Menurut asumsi peneliti, pengetahuan ibu
hamil yang rendah tentang senam hamil
dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu
dari bidan dan masih banyak ibu yang tidak
mengetahui informasi mengenai senam hamil.
tapi masih ada dari sebagian ibu yang
berpengetahuan
tinggi
tentang
senam
dikarenakan mendapatkan informasi baik dari
tenaga kesehatan, orang lain, atau media lainnya.
2) Umur
Hasil penelitian didapatkan 35 orang
(89,7%) berada pada usia tidak beresiko ( 20 - 30
tahun ). Menurut Wiknjosastro (2006) dalam
karya tulis Metrisya pada tahun 2013, umur ibu
pada saat hamil merupakan salah satu faktor
yang menentukan tingkat resiko kehamilan
persalinan.
Menurut Manuaba (2011), usia aman untuk
kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun
sedangkan usia yang kurang dari 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun dimana pada usia tersebut
mempunyai risiko untuk sering mengalami
anemia, gangguan tumbuh kembang janin,
14
25
35,9
64,1
28
11
39
71,8
28,2
100
keguguran, prematuritas atau BBLR, gangguan
persalinan, dan preeklampsi dan pendarahan
antepartum.
Risiko
tersebut
beberapa
diantaranya merupakan kontraindikasi dari
pelaksanaan senam hamil dan akan menjadi
salah satu faktor ibu hamil tidak melakukan
senam hamil.
Menurut asumsi peneliti lebih dari separuh
ibu hamil berada pada usia reproduksi (tidak
beresiko) disebabkan karena penyuluhan
kesehatan yang gencar dilakukan oleh tenaga
kesehatan, agar ibu sebaiknya hamil maupun
bersalin pada usia reproduksi sehat yaitu rentang
usia 20-35 tahun, melalui penyuluhan akan
meningkatkan pengetahuan ibu dan hal tersebut
dapat mengubah sikap dan perilaku ibu untuk
hamil dan bersalin pada usia reproduksi sehat.
3) Pendidikan
Hasil penelitian didapatkan 31 responden
(79,5%) memiliki tingkat pendidikan tinggi.
Menurut Sumarwan (2002), tingkat pendidikan
seseorang akan mempengaruhi nilai-nilai yang
dianut, cara berfikir, cara pandang bahkan
presepsi seseorang terhadap masalah. Ibu hamil
yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih
baik akan responsive terhadap informasi
Dari hasil penelitian ini didapatkan
sebagian besar ibu hamil berada pada usia 20-30
tahun. Menurut peneliti ini disebabkan karena
sebagian besar masyarakat sudah memiliki
kesadaran dan pengetahuan yang tinggi yang
sudah mengetahui tentang usia reproduksi yang
aman untuk hamil dan melahirkan.
4) Paritas
Hasil penelitian didapatkan 20 responden
(51,3%) memiliki anak >2 orang. Menurut
Purhito (2006) di dalam karya tulis Metrisya
pada tahun 2014, paritas adalah jumlah
kehamilan yang menghasilkan janin hidup bukan
jumlah janin yang di lahirkan. Banyaknya paritas
berpengaruh terhadap resiko kesehatan
LPPM STIKes Perintis Padang
81
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
reproduksi wanita saat kehamilan maupun
melahirkan.
Menurut asumsi peneliti dari hasil
penelitian yang menunjukkan sebagian
responden memiliki anak > 2 dikarenakan masih
banyak ibu hamil yang kurang memperhatikan
kesehatan reproduksi. Diharapkan kepada
tenaga kesehatan untuk dapat memberikan
penyuluhan kepada ibu dan keluarga agar lebih
memperhatikan kesehatan ibu dan janin,
sehingga muncul kesadaran ibu dan keluarga
untuk selalu mempertahankan kesehatan ibu
selama hamil dan mengurangi terjadinya
komplikasi terhadap kehamilan
5) Pekerjaan
Hasil penelitian didapatkan 25 responden
(64,1%) bekerja. Menurut Anoraga (2001) di
dalam karya tulis Metrisya pada tahun 2013,
pekerjaan adalah kegiatan yang direncanakan
dan dilakukan oleh ibu hamil dengan
meniggalkan rumah serta keluarga minimal 6
jam perhari, yang mana membutuhkan tenaga
dan pikiran dan juga dapat mencapai hasilnya.
Menurut asumsi peneliti dari hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa sebagian
besar dari ibu hamil bekerja, akan menghasilkan
income sehingga keadaan ekonomi akan baik,
dan kebutuhan nutrisi terpenuhi tetapi kutang
memiliki waktu untuk memeriksakan kehamilan
atau berpartisipasi dalam program atau kelas ibu
hamil.
6) Pelaksanaan Senam Hamil
Hasil penelitian didapatkan 28 responden
(71,8%) tidak melakukan senam hamil. Menurut
Yuliasari (2010), senam hamil merupakan suatu
terapi latihan gerak untuk mempersiapkan ibu
hamil baik fisik maupun mental pada persalinan
yang cepat, aman dan spontan.
Menurut asumsi peneliti banyak ibu tidak
melakukan senam hamil dikarenakan banyak
faktor penghalang ibu untuk mengikuti atau
melakukan senam hamil ini, seperti faktor yang
disebutkan di dalam penelitin terdahulu bahwa
pelaksanaan senam juga dipengaruhi oleh faktor
eksternal dari ibu hamil seperti dukungan
keluarga.
Analisa Bivariat
Hasil analisa bivariat didapatkan hasil bahwa :
1) Hubungan Faktor Pengetahuan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Puskesmas
Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Tabel 2. Hubungan Faktor Pengetahuan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di
Puskesmas Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Pelaksanaan Senam Hamil
Jumlah
Tidak
Pengetahuan
P Value
Melakukan
Melakukan
Rendah
Tinggi
Total
n
20
8
28
%
71,4
28,6
100
Dari table 2 dapat dilihat dari 39 responden
terdapat 28 responden tidak melakukan senam
hamil yang memeliki tingkat pengetahuan
rendah 20 responden (71,4%) dan tingkat
pendidikan tinggi 8 responden (28,6%).
Kemudian terdapat 11 responden yang
melakukan senam hamil dengan tingkat
pengetahuan tinggi 10 responden (90,9%) dan
tingkat pengetahuan rendah 1 responden (9,1%).
n
1
10
11
%
9,1
90,9
100
n
21
18
39
%
53,8
46,2
100
0,002
Dapat disimpulkan bahwa ibu hamil yang tidak
melakukan senam hamil sebagian besar
memiliki pengetahuan yang rendah mengenai
senam hamil dan hamper semua ibu yang
melakukan senam hamil memiliki pengetahuan
yang tinggi mengenai senam hamil.
Dari hasil uji statistik Chi-Square di dapat
p= 0,002 jika dibandingkan dengan nilai α = 0.05
maka p < 0.05 sehingga Ho ditolak dengan
LPPM STIKes Perintis Padang
82
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
kesimpulan bahwa ada hubungan faktor
pengetahuan dengan pelaksanaan senam hamil
pada ibu hamil di puskesmas Ibuh Payakumbuh
tahun 2015.
Sama halnya dengan penelitian yang
dilakukan Yuliasari (2010), didapatkan hasil uji
statistic menunjukkan nilai p value < 0,05 yang
dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna
antara pengetahuan dengan pelaksanaan senam
hamil.
Menurut asumsi peneliti ibu hamil yang
memiliki pengetahuan yang tinggi mengenai
senam hamil akan lebih cenderung untuk
melakukan senam hamil. sebaliknya ibu hamil
yang memiliki pengetahuan rendah mengenai
senam hamil akan cenderung untuk tidak
melakukan senam hamil, hal ini di karenakan
kurangnya pengetahuan ibu mengenai langkahlangkah, tujun ataupun manfaat dari senam
hamil. Dengan demikian hendaknya petugas
kesehatan lebih meningkatkan lagi pengetahuan
ibu hamil agar dapat memberimotivasi dan
informasi kepada masyarakat.
2) Hubungan Faktor Umur Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Puskesmas Ibuh
Payakumbuh Tahun 2015
Tabel 3. Hubungan Faktor Umur Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Puskesmas
Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Variables in the Equation
B
S.E.
Wald
Df
Sig.
Exp(B)
Step 1a Umur
20,423
2,010E4 0,000
1
0,999
7,404E8
Constant -41,626 4,019E4 0,000
1
0,999
0,000
a. Variable(s) entered on step 1:umur.
Dari hasil pengolahan data dapat dilihat dari
hasil uji statistik di dapat p= 0,093 jika
dibandingkan dengan nilai α = 0.05 maka p >
0.05 sehingga Ho diterima dengan kesimpulan
bahwa tidak ada hubungan faktor umur dengan
pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil di
puskesmas Ibuh Payakumbuh tahun 2015.
Usia 20–35 tahun merupakan interval usia
aman bagi seorang wanita untuk bereproduksi
yaitu hamil dan melahirkan, terlebih untuk
kelahiran dan persalinan anak pertama. Pada usia
ini wanita berada dalam puncak masa
kesuburannya, wanita yang berusia ≥ 35 tahun
kesuburannya mulai menurun sehingga dapat
mempengaruhi kondisi pertumbuhan dan
perkembangan janin (Widyawati, 2010).
Komplikasi selama kehamilan lebih sering
terjadi ketika wanita mencapai umur ≥ 35 tahun.
Hal ini juga sejalan dengan teori yang
dikemukakan oleh Maulany (2004) di dalam
tulisan Yuliasari pada tahun 2010, makin tua
atau makin muda usia wanita dari interval usia
reproduksi sehat tersebut, akan meningkatkan
pula risiko ancaman kesakitan dan kematian
yang dihadapi akibat kehamilan dan persalinan.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Purnomo
dalam Aulia (2011) tentang hubungan tingkat
kepatuhan ibu hamil trimester III yang
menjalankan program senam hamil dengan lama
persalinan di RS Panti Wilasa Citarum
Semarang dengan hasil penelitian dari 30
responden yang mengikuti program tersebut
LPPM STIKes Perintis Padang
83
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
keseluruhan responden berada pada usia 20–35
tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa
tidak ada hubungan umur dengan pelaksanaan
senam hamil. Menurut asumsi peneliti umur ibu
beresiko memiliki pengaruh dalam pelaksanaan
senam hamil dikarenakan seperti yang
diungkapkan dalam teori bahwa ibu hamil yang
berada pada usia beresiko akan menyebabkan
komplikasi sehingga tidak dianjurkan untuk
melakukan senam hamil. Peneliti juga
berpendapat bahwa tidak dilaksanaan senam
hamil ini juga dikarenakan faktor penghambat
yang lain serpti minat. Hal ini di perkuat oleh
hasil penelitian yang dilakuakan oleh Aini pada
tahun 2013 didapatkan dari 30 responden yang
mayoritas berumur 25-30 tahun memiliki minat
yang rendah dalam melakukan senam hamil.
3) Hubungan Faktor Pendidikan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Puskesmas
Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Tabel 4. Hubungan Faktor Pendidikan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di
Puskesmas Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Variables in the Equation
B
S.E.
Wald
Df
Sig.
Exp(B)
a
Step 1 Pendidikan 20,605
1,421E4 0,000
1
0,999
8,885E8
Constant
-41,808 2,842E4 0,000
1
0,999
0,000
a. Variable(s) entered on step 1: pendidikan.
Dari tabel 4 di atas dapat dilihat dari hasil
uji statistik di dapat p= 0.014 jika dibandingkan
dengan nilai α = 0.05 maka p < 0.05 sehingga Ha
diterima dengan kesimpulan bahwa ada
hubungan faktor tingkat pendidikan dengan
pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil di
Puskesmas Ibuh Payakumbuh tahun 2015.
Tingkat pendidikan seseorang akan
mempengaruhi nilai-nilai yang dianut, cara
berfikir, cara pandang bahkan presepsi
seseorang terhadap masalah. Ibu hamil yang
memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik
akan responsive terhadap informasi (Sumarwan,
2002).
Penelitian ini sesuai dengan pendapat
Kuncoroninggrat yang dikutip oleh Mubarak
(2006) bahwa semakin tinggi pendidikan maka
makin mudah pula bagi individu untuk
menerima informasi untuk memperkaya
pengetahuannya. ibu hamil dapat memperoleh
penegtahuan dan pemahaman yang baik tentang
senam
hamil
meningkatkan
kesehatan
kehamilannya.
Menurut asumsi peneliti tingkat pendidikan
seseorang mempengaruhi pelaksanaan senam
hamil, dikarenakan semakin tinggi pendidikan
yang dimiliki responden maka semakin tinggi
dan berwawasan luas mengetahui tentang senam
hamil, maka minat untuk melakukan senam
hamilpun akan semakin tinggi, namun meskipun
demikian masih ada faktor penghambat seperti
kurangnya motivasi atau tidak ada waktu
dikarenakan pekerjaan yang dikuatkan oleh
pernyataan dari Ratnawati pada penelitiannya
pada tahuan 2010 bahwa semakin sibuk ibu
hamil maka semakin enggan pula untuk
mengikuti senam hamil karena waktu yang
mereka miliki semakin sedikit.
LPPM STIKes Perintis Padang
84
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
4) Hubungan Faktor Paritas Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Puskesmas Ibuh
Payakumbuh Tahun 2015
Tabel 5. Hubungan Faktor Paritas Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di
Puskesmas Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Variables in the Equation
B
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
a
Step 1 Paritas
-21,521 8,987E3 0,000
1
0,998
0,000
Constant 21,840
8,987E3 0,000
1
0,998
3,054E9
a. Variable(s) entered on step 1: paritas.
Dari table 5 di atas dapat dilihat dari hasil
uji statistik di dapat p= 0,000 jika dibandingkan
dengan nilai α = 0.05 maka p < 0.05 sehingga Ho
ditolak dengan kesimpulan bahwa ada hubungan
faktor paritas dengan pelaksanaan senam hamil
pada ibu hamil di puskesmas Ibuh Payakumbuh
tahun 2015.
Menurut Puruhito (2006) di dalam tulisan
Metrisya, paritas merupakan jumlah kehamilan
yang menghasilkan janin hidup bukan jumlah
janin yang dilahirkan. Banyaknya paritas
berpengaruh terhadap resiko kesehatan
reproduksi wanita saat kehamilan maupun
melahirkan.
Menurut asumsi peneliti bahwa paritas
(jumlah
anak)
berpengaruh
terhadap
pelaksanaan, semakin banyak jumlah anak yang
dimiliki maka semakin sibuk ibu dalam
mengasuh anak sehingga tidak ada waktu serta
enggan melakukan senam hamil. Sebaliknya jika
jumlah anak sedikit maka akan cenderung untuk
ibu hamil melakukan senam hamil.
Sesuai dengan penyataan Gaffar (2009)
dalam jurnal
Ratnawati
(2010)
juga
mengemukakan bahwa jumlah anak juga
mempengaruhi pelaksanaan senam hamil oleh
ibu hamil karena banyaknya anak akan membuat
ibu sibuk merawat anaknya.
Dari penjelasan diatas peneliti berasumsi
bahwa jumlah anak akan mempengaruhi
pelasanaan senam hamil dikarenakan waktu
mengurusi anak dan rumah tangga menghambat
ibu untuk melakukan senam hamil di puskesmas,
namun untuk menyiasati masalah pelaksanaan
senam hamil yang sangat bermanfaat ini, ibu
hamil bisa melakukan senam hamil secara
mandiri di rumah dengan panduan buku atau
informasi dari tenaga kesehatan sehingga akan
memudahkan ibu hamil untuk melakukan senam
hamil.
5) Hubungan Faktor Pekerjaan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di Puskesmas
Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Tabel 6. Hubungan Faktor Pekerjaan Dengan Pelaksanaan Senam Hamil Pada Ibu Hamil di
Puskesmas Ibuh Payakumbuh Tahun 2015
Pelaksanaan Senam Hamil
Jumlah
Tidak
Pekerjaan
P Value
Melakukan
Melakukan
n
%
n
%
n
%
Tidak Bekerja
5
17,9
9
81,8
14
35,9
0,0005
Bekerja
23
82,1
2
18,2
25
64,1
Total
28
100
11
100
39
100
Dari table.6 di atas dapat dilihat dari 39
responden terdapat 28 responden tidak
melakukan senam hamil dimana yang bekerja
sebanyak 23 responden (82,1%) dan yang tidak
bekerja sebanyak 5 responden (17,9%).
Kemudian terdapat 11 responden yang
LPPM STIKes Perintis Padang
85
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
melakukan senam hamil dimana 9 responden
(82,8%) tidak bekerja dan 2 responden (18,2%)
yang bekerja. Dapat disimpulakan bahwa
sebagian besar dari ibu yang tidak melakukan
senam hamil dan sebagian kecil ibu yang
melakukan senam hamil yang bekerja,
sedangkan hanya sebagian kecil ibu yang tidak
melakukan senam hamil dan sebagian besar ibu
yang melakukan senam hamil tidak memiliki
pekerjaan.
Dari hasil uji statistik Chi-Square di dapat
p= 0,0005 jika dibandingkan dengan nilai α =
0.05 maka p < 0.05 sehingga Ho ditolak dengan
kesimpulan bahwa ada hubungan faktor
pekerjaandengan pelaksanaan senam hamil pada
ibu hamil di puskesmas Ibuh Payakumbuh tahun
2015.
Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan ibu hamil tidak berpartisipasi
mengikuti senam hamil. Tuntutan ekonomi
membuat ibu hamil giat bekerja agar mampu
memenuhi kebutuhan hidup, mencari makan dan
memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Berbagai macam pekerjaan dilakukan, seperti
berjualan di pasar, menjadi pembantu rumah
tangga, dan ada pula sebagai buruh pabrik.
Selain itu, tuntutan karir juga mendorong ibu
hamil untuk giat bekerja, karena dengan bekerja
dapat menuangkan apresiasi seni dan bakatnya
sehingga dapat meningkatkan prestasi kerja.
Selanjutnya meningkatnya prestasi kerja akan
meningkatkan pula jabatan dan gaji seseorang.
Ibu hamil yang berkarir dapat mengembangkan
dirinya, hal tersebut membuat ibu hamil semakin
tidak memiliki banyak waktu luang untuk
mengikuti senam hamil.
Penelitian ini sesuai dengan pernyataan
Brayshaw (2006) di dalam tulisan Yuliasari pada
tahun 2013, bahwa kesibukan bekerja, mengasuh
anak, dan kemajuan teknologi membuat ibu
hamil lebih memilih di rumah untuk menonton
TV daripada mengikuti senam hamil. Seseorang
yang sibuk tidak akan dengan mudahnya
mengikuti suatu kegiatan tertentu jika banyak
hal yang harus dikerjakan. Salah satu kesibukan
tersebut adalah pekerjaan. Seorang wanita yang
bekerja pasti akan sibuk dengan pekerjaannya.
Sebagian besar waktu digunakan untuk bekerja
sehingga tidak sempat untuk melakukan
kegiatan lain.
Menurut asumsi peneliti pekerjaan
mempengaruhi ibu hamil dalam pelaksanaan
senam hamil, disebabkan karena ibu hamil yang
bekerja akan menghabiskan waktunya untuk
bekerja, mengurus rumah tangga sehingga akan
cenderung tidak dapat meluangkan waktu untuk
melakukan senam hamil. sebaliknya bagi ibu
hamil yang tidak bekerja akan memiliki banyak
waktu untuk melakukan senam hamil.
Analisa Multivariat
Pada penelitian dapat diketahui terdapat 4
faktor yang memenuhi kriteria sebagai kandidat
model setelah dilakukan penyaringan p≤0.25
yaitu pengetahuan, pendidikan, paritas dan
pekerjaan. Selanjutnya disaring kembali menjadi
p ≤ 0.05, dari variabel tersebut nilai p > 0.05
dikeluarkan satu persatu maka dilakukan
pemodelan multivariate kedua maka didapat
pengetahuan, paritas dan pekerjaan. Kemudian
dilakukan lagi pemodelan ketiga didapatkan
variabel pengetahuan dan pekerjaan yang
memiliki nilai p ≤ 0,05. Pekerjaan ditetapkan
menjadi faktor dominan yang berhubungan
dengan pelaksanaan senam hamil dikarenakan
pada hasil analisa multivariat memiliki p value
yang kecil yaitu 0,06.
Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Gafar (2010) dalam jurnal Ratnawati bahwa
pekerjaan merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan ibu hamil tidak berpartisipasi
mengikuti senam hamil dan faktor yang
mempengaruhi partisipasi ibu mengikuti senam
hamil adalah kurangnya pengetahuan, kesibukan
bekerja, rasa malas, tidak percaya diri dan
banyaknya anak. Diperkuat oleh pendapat
Ratnawati bahwa seorang wanita yang bekerja
pasti akan sibuk dengan pekerjaannya. Sebagian
besar waktu digunakan untuk bekerja sehingga
tidak sempat untuk melakukan kegiatan lain.
Teori ini diperkuat oleh pendapat Aini di
dalam Jurnal UMM yang berpendapat bahwa
kemungkinan minat senam hamil disebabkan
karena kurangnya waktu, kelelahan, fasilitas
yang sulit dijangkau, dan tidak adanya dukungan
dari orang sekitar. Hal ini sesuai dengan teori
WHO bahwa sikap seseorang akan terwujud
didalam suatu tindakan tergantung situasi saat
itu.
LPPM STIKes Perintis Padang
86
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Menurut asumsi peneliti dari hasil
penelitian didapatkan faktor pekerjaan paling
berpengaruh pada pelaksanaan senam hamil
karena dari hasil yang didapatkan bahwa lebih
banyak ibu yang tidak melakukan senam hamil
dikarenakan bekerja. Bagi ibu hamil yang
bekerja akan menyita waktu, tenaga dan
membuat kelelahan pada ibu sehingga akan
mengurungkan niat serta minat ibu untuk
melakukan senam hamil, sebaliknya bagi ibu
hamil yang tidak memiliki perkerjaan akan
memiliki waktu untuk melakukan senam hamil.
Namun ibu hamil juga dapat melakukan senam
hamil tersebut di rumah setelah pekerjaan selesai
seperti pada sore atau malam hari, untuk itu
diharapkan kepada perawat atau teneaga
kesehatan agar memberikan pengetahuan bisa
melalui penyuluhan serta memberikan tuntunan
gerakan senam hamil agar ibu hamil bisa
melakukan senam hamil secara mandiri di
rumah.
4. KESIMPULAN
Ada hubungan faktor pengetahuan dengan
pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil di
puskesmas Ibuh Payakumbuh tahun 2015.
1) Lebih dari separuh ibu hamil memiliki
pengetahuan rendah mengenai senam
hamil.
2) Sebagian besar dari ibu hamil berada pada
usia tidak beresiko.
3) Sebagian besar dari ibu hamil memiliki
tingkat pendidikan tinggi.
4) Lebih separuh dari ibu hamil memiliki anak
>2 orang.
5) Lebih separuh dari ibu hamil bekerja.
6) Sebagian besar dari ibu hamil tidak
melakukan senam hamil.
7) ada hubungan pengetahuan dengan
pelaksanaan senam hamil
8) Tidak ada hubungan umur dengan
pelaksanaan senam hamil
9) Tidak ada hubungan tingkat pendidikan
dengan pelaksanaan senam hamil
10) Ada hubungan faktor paritas dengan
pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil
11) Ada hubungan faktor pekerjaan dengan
pelaksanaan senam hamil.
12) Pekerjaan
merupakan faktor paling
dominan yang berhubungan dengan
pelaksanaan senam hamil.
5. REFERENSI
Aini, Nur Nailis Sa’adah, dkk. 2013. Hubungan
Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Senam
Hamil Dengan Minat Melakukan Senam
Hamil Di Bps Ar-Rahman Kecamatan
Bandungan. http://perpusnwu.web.id.
Diakses 5 Juli 2015.
Aulia. 2014. Hamil Sehat Dengan Beragam
Olahraga Ibu Hamil. Jogjakarta: Buku
Biru
Br J Sports Med. 2013. May ; 47(8):515-20. Do
pregnant women follow exercise
guidelines? Prevalence data among
3482 women, and prediction of low-back
pain, pelvic girdle pain and depression.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2
2904295 . Diakses 19 Maret 2015.
Kusmiyati, Yuni, Heni Puji Wahyuningsih,
Sujiyatini. 2009. Perawatan Ibu Hamil
(Asuhan Ibu Hamil). Yogyakarta:
Fitramay
Manuaba, IBG. 2011. Memahami Kesehatan
Reproduksi. Jakarta: Arcan
Metrisya, Dhea Gianti. 2013. Faktor-faktor yang
berhubungan
dengan
Kejadian
Hiperemisis Gravidarum di RSUD Dr.
Achamd Mochtar Bukittinggi Tahun
2013.
Muhimah, Nanik dan Abdullah Safe’i. 2010.
Panduan Lengkap Senam Sehat Hkusus
Ibu Hamil. Jogjakarta : Power Book.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Ilmu Perilaku
Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta.
Ratnawati , Sri dan Sri Utami. 2010. Hubungan
Antara Pekerjaan Dengan Partisipasi
Ibu Mengikuti Senam Hamil di Urj Poli
Hamil Ii Rsud Dr. Soetomo Surabaya.
Jurnal Penelitian Kesehatan Suara
Forike. Vol. I No.3 Juli 2010 : 243-248.
Reeder, Sharon J. 2011. Keperawatan
Martenitas : Kesehatan Wanita, Bayi &
Keluarga, Ed 18, Vol.1. Jakarta : EGC
Widyawati. Fariani Syahrul. 2012. Pengaruh
Senam Hamil Terhadap Proses
Persalinan Dan Status Kesehatan
Neonatus di Rumah Bersalin Gratis –
LPPM STIKes Perintis Padang
87
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Rumah Zakat Surabaya. Jurnal Berkala
Epidemiologi, Vol. 1, No. 2 September
2013: 316–324.
Yuliasari, dkk. 2010. Skirpsi Hubungan
pengetahuan dan Sikap dengan
Pelaksanaan Senam Hamil di Puskesmas
Ciputat Tanggerang Selatan Tahun
2010.
LPPM STIKes Perintis Padang
88
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU NPD
(NARSISTIC PERSONALITY DISORDER) PADA AGREGAT REMAJA
Falerisiska Yunere 1, Fauzan Azima 2
Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Perintis SumBar
Email: [email protected]
Abstract
Adolescence is a transition period which is marked by changes puberty is marked by physical and
psychological changes. Narcissism or narcissistic behavior is becoming a phenomenon quite warm
in the community. The tendency of behavior often associated with teenagers, this seems to have
become so easily be encountered in this keseharian.Penelitian aims to determine the factors
associated with the behavior of the NPD (narsistic personality disorder) in adolescent aggregate.
Thus, the design of this study usingapproach. cross sectionalSamples were taken from SMA Negeri
1 Situjuah as many as 80 people taken by stratified randomsampling.Techniques of collecting data
by questionnaire. Based on analysis using computerized withtest chi-square for relations
appreciation of older people with NPD obtained p = p = 0.813 OR = 1.155, the relationship between
lack of empathy with the incidence of NPD, p = 0.814 OR = 0.857, the relationship between the lack
of understanding the feelings of others with NPD events, p = 0,316 OR = 0.574, the relationship
between self-Importance with NPD events, p = 0.015 OR = 0.259, the relationship between
grandiouse manner with NPD events, p = 0.008 OR = 2,465.Dapat concluded that there was a
significant relationship between self importance to the NPD and grandiose manner with
NPD.Diharapkan this study can be a reference material for future research on NPD as well as
reading materials for educators to know about the psychological development of students ..
Keywords: Appreciation of the parents, Grandiose manner, dependence on others, lack of empathy,
self importance, NPD
1. PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan masa peralihan
yang salah satunya ditandai oleh perubahan
pubertas yang ditandai oleh perubahan fisik dan
psikis. Permasalahan akibat perubahan fisik
banyak dirasakan oleh remaja sehingga
berpengaruh terhadap kepercayaan diri mereka.
Selain permasalahan fisik, faktor lingkungan
sangat
mempengaruhi
seorang
remaja.
Penerimaan dan penghargaan dari teman sebaya
sangat mempengaruhi penghargaan diri remaja.
Kesalahan dalam mengembangkan kepercayaan
diri dan penghargaan diri ini dapat
mengakibatkan gangguan perilaku narsistik
(Erickson, 2001).
Perilaku narsistik atau narsis kini tengah
menjadi fenomena yang cukup hangat di
masyarakat. Kecenderungan perilaku yang
sering diidentikkan dengan kaum remaja ini,
agaknya telah menjadi hal yang begitu mudah
kita jumpai dalam keseharian. Bahkan bukan
tidak mungkin kita menjadi salah seorang
diantaranya. Perasaan seperti itu harus
dibedakan dengan rasa percaya diri. Orang yang
memiliki percaya diri, mengetahui kualitas diri
sendiri, tapi tidak tergantung pada pujian orang
lain untuk merasa nyaman, serta lebih terbuka
terhadap kritik dan saran. Narsis sebaliknya,
mereka butuh dukungan dan perhatian serta
pengakuan dari orang lain untuk menjaga
kepercayaan dirinya (Soetardjo, 2010).
Narsisisme adalah perasaan cinta terhadap
diri sendiri yang berlebihan. Orang yang
mengalami gejala ini disebut narsisis Istilah ini
pertama kali digunakan dalam psikologi oleh
Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh
dalam mitos Yunani, Narkissos dia dikutuk
sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di
kolam. Tanpa sengaja ia menjulurkan tangannya,
sehingga tenggelam (Freud, 1914 )
Di Indonesia narsisme berkembang
semenjak social media di dunia maya semakin
marak,hal ini di buktikan dengan data yang
dimiliki
Kementerian
Komunikasi
dan
LPPM STIKes Perintis Padang
89
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Informatika, total ada 43,06 juta orang yang
menggunakan situs jejaring sosial Facebook dan
tweeter di Indonesia. untuk pengguna
Twitter,Indonesia berada di urutan tertinggi
kelima di dunia, dengan 19,5 juta pengguna.
Sedangkan untuk total pengguna jasa internet di
Indonesia
sebanyak
60
juta
orang
(Kemenkominfo,2013).
Kata Narsis identik dengan seorang yang
bergaya di depan kamera.Entah karena apa,
khususnya di kalangan ABG, aktifitas memotret
diri sendiri begitu merata pada remaja di
Indonesia. Fenomena ini menumbuhkan dan
mempopulerkan kata narsis untuk merujuk pada
seseorang yang begitu senang memotret dirinya
sendiri, perkembangan memotret ini dari waktu
kewaktu mengalami perkembangan dari foto
dari depan (Front Style Camera) marak tahun
2000 – 2002 selanjutnya Foto "Piss" ( Give me
V for / Peace ) marak tahun 20022003 selanjutnya foto dari atas (Over Head Cute
Style) marak tahun 2003 -2006 berkembang lagi
tahun 2010 foto dengan mengunakan gadget dan
foto di dalam mobil.(Jurnal penyimpangan
psikologi remaja, 2013)
Sejatinya narsisme bukan hanya identik
dengan memotret diri(berfoto) akan tetapi
banyak perilaku yang tanpa di sadari remaja itu
sudah
mencerminkan
perilaku
narsis
tersebut.Menurut
American
Pshycologist
Assotiation(APA),2012
dengan
kemajuan
teknologi informasi dan komunikasi dalam
social media ternyata memiliki dampak secara
psikologis baik positif maupun negatif. Dampak
psikologis positif yang dapat diperoleh antara
lain adanya keterbukaan diri yang tidak terbatas
yang berguna untuk memenuhi kebutuhan
afiliasi seseorang,memperoleh validasi sosial,
meningkatkan
kontrol
sosial,
meraih
pengklarifikasian
diri,
dan
melatih
pengekspresian diri. Selain itu, proses
komunikasi juga menjadi lebih mudah dan cepat
untuk dilakukan, karena sudah tidak terbatas
jarak, ruang, dan waktu. Tetapi, keterbukaan diri
dalam sosal media juga memiliki dampak negatif
yaitu berkurangnya aspek privasi dalam diri
seseorang. padahal privasi memiliki fungsi
untuk mengembangkan identitas pribadi,
melakukan evaluasi diri, dan membantunya
mengembangkan dan mengelola perasaan
otonomi diri (personal autonomy) pengaruh
dunia maya saat ini memiliki andil besar dalam
pelampiasan penyimpangan penyimpangan
kejiwaan.khususnya prilaku narsisme yang
dimana penderita dapat dengan mudahnya
menunjukkan
pencitraan
dirinya
pada
lingkungan social (Halgin, 2011).
Narsissistic personality disorder secara
umum di pengaruhi oleh bagaimana apresiasi
dan penerimaaan dari lingkungan social individu
tersebut, obsesi terhadap pikiran pikiran pikiran
pentingnya diri mereka sendiri, serta keinginan
menjadi pusat perhatian dari orang lain, mereka
juga cendrung menekankan potensi positif dan
penampilan fisik mereka, dan cendrung
berbicara dengan istilah global yang
memperlihatkan sebagai orang yang mampu
mengejar sesuatu hal dengan kemampuan
mereka sendiri, perilaku seperti ini sering
menimbulkan perilaku lack of emphaty terhadap
kemampuan orang lain(Halgin, 2011).
Orang orang yang mengalami narsis secara
aktual menderita self-esteem rendah,dan
merasakan kekosongan dan nyeri sebagai hasil
dari rejection (penolakan)dari orang tua,setiap
anak membutuhkan orang tua memberikan
ketenangan hati dan respon positif dalam
menghargai,tanpa hal tersebut anak menjadi
tidak nyaman,perasaan tidak nyaman di
ungkapkan secara berlawanan dalam arti
mementingkan kepentingan sendiri (Halgin,
2011).
Berdasarkan laporan dari US Surgeon
General, 1 dari 10 anak menderita gangguan
mental yang cukup parah yang akan
mengganggu perkembangan mereka (A
Children’s Mental illness Crisis, 2001). Lebih
banyak anak anak Amerika yang mengalami
gangguan mental daripada gabungan penderita
Diabetes, AIDS, dan leukimia (Chamberlin,
2001) namun 60% - 80% anak anak dengan
gangguan mental tidak memperoleh penanganan
yang mereka butuhkan (Goldberg, 2001 dalam
Nevid, 2003).
Beck et,al (2004) berpendapat bahwa orang
dengan gangguan kepribadian narsistik
mempunyai pandangan bahwa mereka adalah
orang yang luar biasa yang pantas di perlakukan
lebih baik daripada manusia biasa, mereka
kurang pengertian terhadap perasaan orang lain
LPPM STIKes Perintis Padang
90
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
karena mereka menganggap diri mereka lebih
baik daripada orang lain.
Secara garis besar Narsisme adalah
kecenderungan untuk memandang dirinya
dengan cara yang berlebihan, senang sekali
menyombongkan dirinya dan berharap orang
lain memberikan pujian selain itu juga tumbuh
perasaan paling mampu, paling unik. Kristanto
dalam penelitiannya mengenai Kecenderungan
Kejadian Narsistik Pada Remaja didapatkan
hasil 64% remaja pengguna media sosial seperti
facebook, twitter dan lain-lain tergolong narsis.
Hal ini ditandai dengan 24% remaja terobsesi
dengan penampilan fisiknya, 24% remaja
menyukai menjadi pusat perhatian, 40% senang
memfoto dan melukis dirinya di Hp, 12%
sisanya terfokus kepada kecantikan diri, prestasi,
dan keinginan menjadi pusat perhatian.
Berdasarkan survey awal yang peneliti
lakukan di SMA Negeri 1 Situjuah Kabupaten
Lima Puluh Kota ditemukan fakta lapangan
bahwasanya dari beberapa orang siswa/siswi
yang di tanyai tentang prilaku narsis, lebih dari
65%
mereka
melakukan,
diantaranya
penggunaan media sosial. Dari gambaran data
mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh
siswa di SMA Negeri 1 Situjuah yang peneliti
dapatkan dari Data Record BP SMA Negeri 1
Situjuah diperoleh hasil, dari 93% pelanggaran
ringan yang dilakukan oleh siswa-siswi SMA
Negeri 1 Situjuah 70% pelanggaran yang
dilakukan adalah memodifikasi seragam sekolah
(memendekkan baju seragam untuk perempuan
dan mengganti pola celana seragam sekolah bagi
laki-laki). Berdasarkan survey tersebut penulis
tertarik untuk mengetahui “Faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku NPD (Narsistic
Personality Disorder) pada agregat remaja SMA
Negeri 1 Situjuah Kabupaten Lima Puluh Kota
tahun 2015”.
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan
penelitian metode deskriptif analitikyang
bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan
dengan
prilaku
Narsistic
Personality Disorder di SMA Negeri 1 Situjuah
Kabupaten Lima Puluh Kota tahun 2015.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Apresiasi Dari Orang Tua Pada Agregat
Remaja Di Sma Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
Apresiasi dari orang tua
f
%
Tidak
45
56.3
Ya
35
43.7
Total
80
100
Pada tabel 1 dapat terlihat bahwa lebih dari setengah responden mendapatkan apresiasi positif
dari orang tua yaitu 43,7%.
Penelitian ini serupa dengan penelitian ini bukan berarti orang tua harus selalu
Ashani (2012), orang tua berperan penting dalam memberikan pujian tanpa memberikan hukuman
pembentukan kepribadian anak. Pengharaan atas atas kesalahannya. Memberikan hukuman ynag
prestasi yang diraih dan hukuman atas kesalahan bersifat mendidik menurut penulis juga
yang dilakukan anak menjadi salah satu hal yang merupakan salah satu bentuk apresiasi positif.
hanya bisa dan efektif apabila dilakukan oleh
orang tua. Hal ini semacam take and give atau
reward and punishment.
Menurut asumsi peneliti, anak memerlukan
apresiasi positif dari orang tuanya untuk
keberhasilannya sebagai salah satu bentuk
penghargaan orang tua atas usahanya. Tapi hal
LPPM STIKes Perintis Padang
91
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lack of Empathy Pada Agregat Remaja Di
SMA Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
Lack of empathy
f
%
Tidak
41
51.2
Ya
39
48.8
Total
80
100
Pada tabel 2 terlihat bahwa 48,8% responden kurang memahami dan merasakan perasaan orang
lain (lack of empathy).
Menurut Loema (2007), individu tidak pandang orang lain dan pemahaman terhadap
mampu membedakan antara apa yang dikatakan perasaan orang lain tidak lengkap dan akurat
atau dilakukan orang lain dengan reaksi dan sehingga ia tidak
mampu memberikan
penilaian individu itu sendiri. Dengan perlakuan dengan cara yang tepat.
perkembangan aspek kognitif seseorang,
Menurut asumsi peneliti, hampir dari
kemampuan untuk menerima sudut pandang setengah responden tidak mampu merasakan apa
orang lain dan pemahaman terhadap perasaan yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini
orang lain tidak lengkap dan akurat sehingga ia umumnya terjadi pada remaja. Disebabkan oleh
tidak mampu memberikan perlakuan dengan ketidakmatangan emosional mereka sehingga
cara yang tepat.
mereka masih memikirkan apa yang mereka
Individu tidak mampu membedakan antara rasakan dan kadang-kadang atau bahkan sering
apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain tanpa memikirkan perasaan orang lain. Seiring
dengan reaksi dan penilaian individu itu sendiri. berjalannya usia dan kematangan emosional
Dengan
perkembangan
aspek
kognitif keadaan ini dengan sendirinya akan berkurang.
seseorang, kemampuan untuk menerima sudut
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Ketergantungan Kepada Orang Lain Pada
Agregat Remaja Di Sma Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota
Tahun 2015
Ketergantungan kepada orang lain
F
%
Tidak
27
33.7
Ya
53
66.3
Total
80
100
Lebih dari setengah atau 66,3% responden menganggap bahwa ketergantungan kepada orang
lain menunjukkan kelemahan dan berbahaya.
Merupakan sebuah prilaku yang dimana
Individu dengan gangguan ini biasanya
penderita narsistic merasa dirinya akan mencurigai, hypersensitive, rigid, anxios
kehilangan perhatian perhatian dari lingkungan (pencemburu) dan argumentative. Mereka
social jika mereka bergantung kepada orang lain, melihat diri mereka sendiri sebagai pribadi yang
dan membahayakan eksistensi mereka. Oleh baik dan tidak memiliki cacat (Sutardjo, 2010)
karena itu penderita narsistic personality
disorder selalu menyembunyikan kelemahan
mereka dan lebih sering memprioritaskan serta
memperlihatkan potensi positif pada diri
mereka. Hal ini seringkali membuat penderita
narsistik personality disorder menutup diri untuk
menerima bantuan dari orang lain.
LPPM STIKes Perintis Padang
92
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Self Importance Pada Agregat Remaja Di
SMA Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
Self importance
F
%
tidak
45
56.2
ya
35
43.8
Total
80
100
Dari tabel 4 dapat terlihat bahwa 43,8% responden masih menganggap dirinya paling penting.
Karakteristik narsistik personality disorder orang.dalam menjalin hubungan interpersonal
mirip dengan karakteristik histrionic personality ,mereka membuat permintaan yang tidak dapat
disorder,orang orang narsistik personality di terima secara rasional atau tidak beralasan
disorder bersandar pada evaluasi diri (self- (unreasonable) kepada orang lain untuk
evaluation) mereka terokupasi (terpaku)pada mengikuti
keinginan
keinginan
pikiran pikiran mengenai pentingnya diri mereka mereka,mengabaikan kebutuhan dan keinginan
sendiri (self-importance) dan fantasi mengenai orang lain untuk mendapatkan kekuatan,dan
kekuatan (power) dan keberhasilan (succees) merupakan orang orang yang arogan (arrogant)
dan memandang diri mereka sendiri sebagai dan merendahkan (demeaning) (Sutardjo, 2010).
orang yang superior (berkuasa) atas banyak
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Grandiouse Manner Pada Agregat Remaja
Di SMA Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
Grandiose manner
F
%
tidak
40
50
ya
40
50
Total
80
100
Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa setengah responden kerap bertindak dramatis dan berlebihan
terhadap sesuatu (grandiose manner).
Grandiosity adalah sikap memandang dirinya sebagai sosok atau figure yang memiliki derajat
lebih tinggi dari pada orang lain yang berada di sekitarnya, Kebesaran mengacu pada rasa realistis
superioritas - pandangan berkelanjutan diri sendiri sebagai lebih baik daripada yang lain yang
menyebabkan narsisis untuk melihat orang lain dengan perasaan jijik atau rendah - serta rasa
keunikan: keyakinan bahwa beberapa orang lain tidak memiliki kesamaan apa pun dengan diri sendiri
nya sendiri dan hanya dapat dipahami oleh beberapa orang atau orang khusus saja(Sutardjo, 2010).
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Narsistic Personality Disorder Pada
Agregat Remaja Di Sma Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota
Tahun 2015
Narsistic personality disorder
F
%
tidak
54
67.5
narsis
26
32.5
Total
80
100
Pada tabel 6 terlihat bahwa 67,5% responden tidak tergolong narsistic personality disorder.
Sisanya 32,5% responden tergolong narsistic personality disorder.
LPPM STIKes Perintis Padang
93
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 7. Hubungan Apresiasi Dari Orang Tua Dengan Kejadian NPD Pada Agregat Remaja Di
SMA Negeri 1 Situuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
kejadian NPD
apresiasi
jumlah
dari orang terjadi
tidak terjadi
P
tua
f
%
F
%
f
%
tidak baik
31
38,75
14
17,5
45
56,25
0,813
Baik
23
28,75
12
15
35
43,75
54
67,5
26
32,5
80
100
Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa dari 45 orang responden yang tidak mendapatkan apresiasi
positif dari orang tua 31 orang diantanya terjadi narsistic personality disorder (NPD). Berdasarkan
uji statitik didapatkan p value = 0,813 (p≥0,05) maka Ha ditolak, dapat disimpulakan bahwa tidak
ada hubungan antara apresiasi dari orang tua dengan kejadian NPD.
Penelitian serupa yang dilakuan Ashani (2012), mengatakan orang tua berperan penting dalam
pembentukan kepribadian anak. Pengharaan atas prestasi yang diraih dan hukuman atas kesalahan
yang dilakukan anak menjadi salah satu hal yang hanya bisa dan efektif apabila dilakukan oleh orang
tua. Hal ini semacam take and give atau reward and punishment.
Menurut asumsi peneliti, anak memerlukan apresiasi positif dari orang tuanya untuk
keberhasilannya sebagai salah satu bentuk penghargaan orang tua atas usahanya. Tapi hal ini bukan
berarti orang tua harus selalu memberikan pujian tanpa memberikan hukuman atas kesalahannya.
Memberikan hukuman ynag bersifat mendidik menurut penulis juga merupakan salah satu bentuk
apresiasi positif. Namun, jika dikaitkan dengan kejadian narsistik yang terjadi pada remaja
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara
kurangnya apresiasi positif dari orang tua dengan kejadian NPD.
Tabel 8. Hubungan Lack of Empathy Denga Kejadian NPD Pada Agregat Remaja Di Sma Negeri 1
Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
kejadian NPD
Jumlah
lack of
Terjadi
tidak terjadi
P
empathy
f
%
F
%
f
%
Tidak
27
33,75
14
17,5
45
51,25
Ya
27
33,75
12
15
35
48,75
0,814
54
67,5
26
32,5 80
100
Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa dari 45 orang responden yang kurang mampu memahami
perasaan orang lain 27 diantaranya mengalami narsistic personality disorder (NPD). Berdasarkan
uji statitik didapatkan p value = 0,814 (p≥0,05) maka Ha ditolak, dapat disimpulakan bahwa tidak
ada hubungan antara Lack of Empathy dengan kejadian NPD.
Menurut Loema (2007), individu tidak
Individu tidak mampu membedakan antara
mampu membedakan antara apa yang dikatakan apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain
atau dilakukan orang lain dengan reaksi dan dengan reaksi dan penilaian individu itu sendiri.
penilaian individu itu sendiri. Dengan Dengan
perkembangan
aspek
kognitif
perkembangan aspek kognitif seseorang, seseorang, kemampuan untuk menerima sudut
kemampuan untuk menerima sudut pandang pandang orang lain dan pemahaman terhadap
orang lain dan pemahaman terhadap perasaan perasaan orang lain tidak lengkap dan akurat
orang lain tidak lengkap dan akurat sehingga ia sehingga ia tidak
mampu memberikan
tidak mampu memberikan perlakuan dengan perlakuan dengan cara yang tepat.
cara yang tepat.
LPPM STIKes Perintis Padang
94
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Menurut asumsi peneliti, hampir dari
setengah responden tidak mampu merasakan apa
yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini
umumnya terjadi pada remaja. Disebabkan oleh
ketidakmatangan emosional mereka sehingga
mereka masih memikirkan apa yang mereka
rasakan dan kadang-kadang atau bahkan sering
tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sigmund
freud(1914) memandang narsisme sebagai fase
yang di lalui semua anak sebelum menyalurkan
(transfering)cinta mereka kepada diri mereka
sendiri dan orang orang yang berarti (significant
person).anak anak dapat terfiksasi pada fase
narsistic ini,bagaimanapun jika mereka
mengalami bahwa orang orang yang
mengasuhnya tidak dapatdi percaya dan
memutuskan bahwa mereka hanya bersandar
pada diri mereka sendiri atau jika mereka
memiliki orang tua yang selalu menuruti mereka
dan menanamkan pada diri mereka suatu
perasaan bangga atas kemampuan dan harga diri
mereka (lihat juga Homey,1939) kemudia ahli
psikodinamika (kernberg,1989 & Kohut 1971)
berpendapat bahwa orang orang narsistik secara
aktual menderita self-esteem rendah,dan
merasakan kekosongan dan nyeri sebagai hasil
dari rejection (penolakan)dari orang tua,dan
bahwa perilaku perilaku narsistik merupakan
reaksi formasi untuk menghadapi masalah
masalah
tersebut
melalu
self-worth
(penghargaan terhadap diri sendiri) (Sutardjo,
2010). Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan peneliti bahwa tidak ada hubungan
antara Lack of Empathy dengan kejadian NPD.
Tabel 9. Hubungan Ketergantungan Kepada Orang Lain Dengan Kejadian NPD Pada Agregat
Remaja Di Sma Negeri 1 Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
kejadian NPD
Jumlah
Terjadi
tidak terjadi
ketergantungan berbahaya
P
f
%
f
%
f
%
tidak
16
20
11
13,75 27
33,75
ya
38
47,5
15
18,75 53
66,25 0,316
54
67,5
26
32,5
80
100
Dari tabel 9 terlihat bahwa dari 66,25% responden yang menganggap ketergantungan kepada
orang lain adalah sesuatu yang membahayakan 47,5% terjadi NPD. Berdasarkan uji statitik
didapatkan p value = 0,316 (p≥0,05) maka Ha ditolak, dapat disimpulakan bahwa tidak ada hubungan
menganggap ketergantungan kepada orang lain adalah sesuatu yang membahayakan dengan
kejadian NPD.
Nischal (2008) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa ketergantungan kepada orang lain
merupakan suatu bentuk kebutuhan manusia dalam menjalani hubungan social. Ketergantungan
kepada orang lain tidak selalu dinilai positif. Ketergantungan kepada orang lain yang berlebihan
dapat menimbulkan sifat-sifat posesif dan takut kehilangan. Hal seperti ini bila berlangsung dalam
waktu yang lama dan ditambah koping individu yang tidak konstruktif dapat menyebabkan gangguan
kejiwaan seperti psikopat.
Menurut asumsi peneliti ketergantungan kepada orang lain tidak menyebabkan seseorang
melakukan NPD atau narsistic personality disorder akan tetapi menjadi salah satu factor penyebab
gangguan kepribadian lainnya. Seseorang yang memiliki ketergantungan kepada orang lain dalam
tingkat tinggi menyebabkannnya takut kehilangan.
Tabel 10. Hubungan Self Importance Denga Kejadian NPD Pada Agregat Remaja Di Sma Negeri 1
Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
kejadian NPD
Jumlah
self importance
terjadi
tidak terjadi
P
OR
Tidak
f
%
f
%
f
%
25
31,25
20
25
45
56,25
LPPM STIKes Perintis Padang
0.015
95
0,259
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Ya
29
36,25
6
7,5
35
43,75
54
67,5
26
27,5
80
80
Dari tabel 10 terlihat 36,25% responden yang lebih mementingkan dirinya sendiri menagalami
narsistic personality disorder (NPD). Berdasarkan uji statitik didapatkan p value = 0,015 (p<0,05)
maka Ha diterima, dapat disimpulakan bahwa ada hubungan self importance dengan kejadian NPD.
OR didapatkan 0,259 artinya seseorang yang lebih mementingkan dirinya sendiri beresiko sebesar
0,259 kali melakukan narsistic personality disorder.
Menurut asumsi peneliti seseorang yang memepunyai orientasi dan harapan berlebih terhadap
dirinya cenderung memiliki kepribadian yang hiperaktif dan keinginan berlebih untuk diekspos dan
terkenal. Keinginan ini biasa diikuti dengan action atau sikap. Kecenderungan remaja melakukan
ekspose terhadap dirinya di dunia maya. Hal ini lah disebut dengan Narsistic Personality Disorder.
Tabel 11. Hubungan Grandiouse Manner Dengan Kejadian NPD Pada Agregat Remaja Di Sma
Negeri 1 Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Tahun 2015
kejadian NPD
Jumlah
Grandiouse
Terjadi
tidak terjadi
p
OR
manner
f
%
f
%
f
%
tidak
33
41,25
7
8,75
40
50
ya
21
26,25
19
23,75
40
50
0,008
4,265
54
67,5
26
32,5
80
100
Dari tabel 11 terlihat 40% responden yang bersikap dramatis dan berlebihan 26,25%
menagalami narsistic personality disorder (NPD). Berdasarkan uji statitik didapatkan p value =
0,008 (p<0,05) maka Ha diterima, dapat disimpulakan bahwa ada hubungan self importance dengan
kejadian NPD. OR didapatkan 4,265 artinya seseorang yang cenderung bersikap dramatis dan
berlebihan beresiko sebesar 4,625 kali melakukan narsistic personality disorder.
Menurut asumsi peneliti, sikap seseorang Disorder (NPD) terdapat dua faktor yang
yang mendramatisir keadaan memungkinkan berhubungan secara signifikan yaitu self
mengekspresikan
keinginannya
secara importance dan grandiose manner.
berlebihan. Berbeda dengan Self importance,
seseorang dengan grandiose manner biasanya 5. REFERENSI
akan melakukan narsistik personality disorder Alimul, Aziz. 2003. Riset Keperawatan &
kearah yang negative. Keinginan mereka untuk
Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta :
diekspose menyebabkannya kadang melanggar
Salemba Medika.
atura. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan Boeree, C. George.2005. Personality Theories.
terdapat beberapa pelajar yang melakukan
Yogyakarta: Primashopie.
grandiose manner. Diantaranya mereka Davidson, Gerald C., John M. Neale, & Ann M.
melakukan modivikasi seragam sekolah agar
Kring. 2004. Abnormal Psychology (9th
terlihat lebih menarik. Mereka biasanya lebih
Edition). US: john wiley & sons, inc.
sensitive terhadap hal-hal yang berbau Halgin, P Richard & Sussan Krauss. 2011.
penghargaan dan aktualisasi terhadap dirinya.
Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis
pada Gangguan Psikologis Buku 2
4. KESIMPULAN
(Edisi 6). Salemba Humanika: Jakarta.
Berdasarkan hasil penelitian faktor-faktor Keliat, Budi Anna. 2002. Gangguan Konsep
yang berhubungan dengan kejadian narsistic
Diri. Jakarta : EGC.
personality disorder pada agrega remaja dapat _______.2010.Psikologi Abnormal Jilid 2,
disimpulkan bahwa dari lima faktor yang
Penerbit Salemba Humanika
berhubungan dengan Narsistic Personality
LPPM STIKes Perintis Padang
96
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Kartini, Kartono .2009, Psikologi Abnormal dan
Abnormalitas Seksual,Penerbit Mandar
Maju
Millon, Theodore, Seth G., Carrie M., Sarah M.,
& Rowena R. 2004. Personality
Disorder In Modern Life. US: john wiley
& sons, inc.
Monk, F.J. , 2002. Psikologi Perkembangan
.Gadjah
Mada
University
Press:Yogyakarta.
Nursalam. 2003. Konsep Penerapan Metodologi
Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.
Nevid, J., Rahtus S., & Beverly G. 2003.
Psikologi Abnormal. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Pervin, L.A dan Jhon, O.P. 2001. Personality
Theory and Research. New York.
Papalia, Diane E. Old, Sally Wendkos. Feldman,
Ruth
Duskin.
2009.
Human
Development / Perkembangan Manusia.
Buku 1. Edisi 10. Jakarta : Salemba
Humanika.
Soetardjo. 2010. PengantarPsikologi Abnormal.
Jakarta : Refika Aditama
Sarwono, Sarlito. 2005. Psikologi Remaja.
Jakarta : Balai Pustaka
_______.2010. Psikologi Remaja (Edisi Revisi)
.Jakarta: Rajawali Pers
Suliswati, Payapo. 2000, dkk. Konsep Dasar
Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Sutrisno Hadi. 2004. Metodologi Research II,
Yogyakarta: PP UGM.
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset
Keperawatan. Yogyakarta:Graha Ilmu
Stuart, Gail. 2007. Buku Saku Keperawatan
Jiwa. Jakarta: EGC
Tri Dayakisni. 2003. Psikologi Sosial, Buku I.
Malang: UMM Press
Videbeck,Sheila.2001. Buku Ajar Keperawatan
Jiwa. Jakarta: EGC
Wiramihardja, Sutardjo A. 2007. Pengantar
Psikologi Abnormal. Bandung: PT
Refika Aditama
Yusuf, Syamsu.2000. Psikologi Perkembangan
Anak dan Remaja. Bandung:ROSDA
LPPM STIKes Perintis Padang
97
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP KUALITAS TIDUR PASIEN
PASCA OPERASI DI RUANGAN BEDAH RSUD LUBUK SIKAPING
TAHUN 2016
Muhammad Arif1,Putri Wulandari2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Postoperative patients need more sleep than healthy people in increasing cure process. Sleeping
need which enough beside determined by sleep quantity and also sleep quality. The results of
interviews with 6 postoperative patient, 4 of 5 patients said have sleep disturbance less than 8 hours
and often wake up at night. Complementary therapy in solving patients’ sleeping need to minimalize
the use of medicine is classical music therapy. The purpose of the research is to know Influence
Classical Music Therapy of Sleep Qualit of postoperative patients in Surgical Ward RSUD Lubuk
Sikaping in 2016. Pre-Experimental study design with one-group pre-posttest design approach. The
research was conducted in June 28th – July 13th 2016 to postoperative patients in Surgical Ward
RSUD Lubuk Sikaping with sample of 16 patients. The result of more than half (93.8%) of
postoperative patients have poor sleep quality before been giving classical music therapy. More than
half (68.8%) postoperative patients have good sleep quality after been giving classical music
therapy. So there is influence classical music therapy of sleep quality of postoperative patients in
Surgical Ward RSUD Lubuk Sikaping in 2016 with p- value=0.000 (α = 0.05). Perhaps the result of
this research can support the others study and theory about classical music therapy in improving
sleep quality of postoperative patients.
Keywords: postoperative, sleep quality, music therapy
1. PENDAHULUAN
Pembedahan
baik
elektif
maupun
kedaruratan adalah peristiwa komplek yang
menegangkan (Smeltzer & Bare, 2001).
Tindakan pembedahan secara global mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. World Health
Organization dalam suatu studi memperkirakan
266,2 juta hingga 359,5 juta operasi dilakukan
pada tahun 2012. Estimasi ini mengalami
peningkatan 38% selama delapan tahun
sebelumnya. Dimana diperkirakan 234.2 juta
operasi yang dilakukan di seluruh dunia pada
tahun 2004. Di Indonesia rata-rata angka operasi
adalah sebesar 1.839 per 100.000 populasi per
tahun nya. (WHO, 2015).
Pascaoperatif adalah masa yang dimulai
ketika masuknya pasien keruang pemulihan dan
berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada
tatanan klinik atau dirumah (Smeltzer & Bare,
2002).
Pada saat klien kembali ke area
penerimaan rawat jalan atau unit keperawatan,
klien biasanya terjaga dan menyadari sejumlah
ketidaknyamanan seperti nyeri, haus, distensi
abdomen, mual, retensi urin, konstipasi, gelisah
dan sulit tidur (Rosdach, 2012).
Disamping keluhan ketidaknyamanan
seperti nyeri pasca operasi, pembedahan juga
mempengaruhi pasien secara psikologi.
Gangguan psikologi setelah operasi seperti
depresi pascaoperatif dapat menimbulkan gejala
seperti anoreksia, menangis hebat, kehilangan
ambisi, menolak orang lain, perasaan kesal, dan
gangguan tidur (insomnia) (Kozier et al., 2010).
Kesulitan tidur / insomnia merupakan keadaan
yang kerap dikeluhkan dengan kendala-kendala
seperti kesulitan tidur, tidur tidak tenang,
kesulitan menahan tidur, sering terbangun
dipertengahan malam, dan seringnya terbangun
diawal (Rafknowledge, 2004).
Tidur merupakan suatu status istirahat yang
terjadi selama periode tertentu yang ditandai
dengan penurunan kesadaran dan penyediaan
waktu untuk perbaikan dan kesembuhan sistem
tubuh dengan mengurangi interaksi dengan
lingkungan dan akan mengakibatkan segarnya
LPPM STIKes Perintis Padang
98
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
seseorang dan merasakan kesejahteraan (Potter
& Perry, 2006).
Saat tidur otak memperbaiki dirinya sendiri
dan
merangsang pembentukan sistem
kekebalan, tidur juga merupakan sebuah reflek
yang rumit yang mensyaratkan relaksasi dan
sejumlah kondisi lain. Fasilitas untuk proses ini
dikenal sebagai tidur higinis (hygiene)
(Rafknowledge, 2004).
Menurut Lanywati (2001), kebutuhan tidur
yang cukup, ditentukan selain oleh jumlah faktor
jam tidur (kuantitas tidur), juga oleh kedalaman
tidur (kualitas tidur). Kualitas tidur adalah
kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga
seseorang tersebut tidak merasa lelah, mudah
terangsang dan gelisah, lesu dan apatis,
kehitaman disekitar mata, kelopak mata
bengkak, konjungtiva merah, mata perih,
perhatian terpecah, sakit kepala dan sering
menguap atau mengantuk (Hidayat, 2008).
Kualitas tidur meliputi aspek kuantitatif dan
kualitatif tidur seperti lamanya tidur, waktu yang
diperlukan untuk bisa tertidur, frekuensi
terbangun, dan aspek subjektif seperti
kedalaman dan kepuasan tidur. Kualitas tidur
dapat diukur menggunakan Pittsburgh Sleep
Quality Index (PSQI). Alat ini merupakan alat
untuk menilai kualitas tidur yang terdiri dari 19
poin pertanyaan yang berada di dalam 7
komponen nilai, 19 pertanyaan tersebut
mengkaji secara luas faktor yang berhubungan
dengan tidur seperti durasi tidur, latensi tidur,
dan masalah tidur (Buysse et al, 1989).
Mubarak (2008) mengemukakan bahwa
banyak faktor yang mempengaruhi kualitas tidur
diantaranya penyakit, lingkungan, kelelahan,
gaya hidup, stres emosional, stimulan dan
alcohol, diet, merokok, medikasi, dan motivasi.
Sementara menurut Nurlela (2009) dalam
penelitiannya pada pasien post operasi
laparatomi RS PKU Muhamadiyah Gombong
menemukan bahwa faktor yang mempengaruhi
kualitas tidur pasien post operasi laparatomi
adalah fisiologis, psikologis, dan lingkungan.
Faktor
yang
paling
dominan
dalam
mempengaruhi kualitas tidur pasien post operasi
laparatomi adalah faktor fisiologis.
Dampak bagi pasien post operasi yang
mengalami gangguan kebutuhan tidur antara lain
proses penyembuhan luka yang lama, dimana
fungsi dari tidur adalah untuk regenerasi sel-sel
tubuh yang rusak menjadi baru (Kozier, 2010).
Gangguan pada kualitas tidur pasien dapat
diatasi dengan terapi farmakologi berupa obatobatan dan terapi komplementer. Perawat dapat
memberikan intervensi kolaborasi pemberian
pengobatan seperti analgesik dan sedatif maupun
obat penenang serta plasebo sebelum tidur
(Heriana, 2014). Namun penanganan berupa
obat-obatan dapat menimbulkan efek samping
seperti yang dijelaskan oleh Kee & Hayes (1996)
bahwa efek samping yang sering ditimbulkan
pada sedatif-hipnotik diantaranya hangover
(rasa
mengantuk
yang
tersisa
yang
mengakibatkan kerusakan waktu reaksi),
toleransi
terhadap
dosis
obat,
dan
ketergantungan.
Efek samping yang ditimbulkan dari terapi
farmakologis dapat diminimalkan dengan
mempertimbangkan
penggunaan
terapi
komplementer sebagai pilihan, seperti yang
dikemukakan oleh Widyatuti (2008) bahwa
terapi komplementer merupakan alternatif
perawatan yang optimal karena terapi
komplementer merupakan pengembangan terapi
tradisional dan ada yang diintegrasikan dengan
terapi
modern
yang
mempengaruhi
keharmonisan individu dari aspek biologis,
psikologis, dan spiritual.
Menurut Kate and Richard Mucci dalam
bukunya The Healing Sound of Music,
memaparkan bahwa tubuh manusia mempunyai
ritme tersendiri. Kemampuan seseorang
mencapai ritme dan suara-suara dalam diri
mereka membuat penyembuhan musikal
menjadi semakin efektif (Hastomi & Sumaryati,
2012). Maka terapi musik merupakan salah satu
terapi komplementer non invasif yang dapat
digunakan dalam meningkatkan kualitas
tidur.Dalam kedokteran, terapi musik ini disebut
sebagai terapi pelengkap (complementary
medicine). Potter juga mendefinisikan terapi
musik sebagai teknik yang digunakan dalam
penyembuhan
suatu
penyakit
dengan
menggunakan bunyi dan irama tertentu
(Suryana, 2012).
Menurut para pakar terapi musik, tubuh
manusia memiliki pola getar dasar. Kemudian
vibrasi musik terkait erat dengan frekuensi dasar
tubuh atau pola getar dasar dapat memiliki efek
LPPM STIKes Perintis Padang
99
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
penyembuhan yang sangat hebat bagi tubuh,
pikiran, dan jiwa manusia yang menimbulkan
perubahan emosi, organ, hormone, enzim, sel-sel
dan atom (Kozier et al, 2010).
Melalui musik Hipothalamus dimanipulasi
agar tidak bereaksi terlalu kuat terhadap stresor
yang diterimanya. Hal ini disebabkan karena
musik merangsang hipofisis untuk melepaskan
endorphin (optat alami) yang akan menghasilkan
euforia dan sedasi, sehingga pada akhirnya akan
mampu menurunkan nyeri, stres, dan kecemasan
dengan mengalihkan perhatian seseorang dari
nyeri yang dirasakannya (Campbell, 2002).
Respon ini dapat dipengaruhi oleh jenis musik,
melodi, harmoni, ritme, dan tempo serta
kandungan verbal di dalamnya (Bernadi et al,
2005).
Penelitian yang dilakukan Wang (2013) di
China dengan menggunakan desain systematic
review and meta-analysis dengan menganalisis
studi dengan randomized controlled design dan
orang dewasa sebagai respondennya. Dari hasil
review 10 studi yang melibatkan 557 responden
tersebut didapatkan P value< 0,001 dengan
kesimpulan musik dapat membantu dalam
meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan
gangguan tidur akut dan kronis. Terapi musik
juga digunakan oleh Sahamantya (2014) dalam
penelitiannya pada pasien stroke. Penelitian
quasi experiment dengan desain one group pre
test-post test ini memberikan perlakuan terapi
musik klasik Mozart. Melalui uji statistik hasil
penelitian ini menunjukkan ada pengaruh terapi
musik klasik Mozart terhadap kualitas tidur pada
pasien stroke yang menjalani rawat inap.
Terapi musik sudah terbukti efektif dalam
mengatasi gangguan tidur untuk pasien rawat
inap dalam berbagai penelitian. Namun dalam
penelitian ini peneliti memberikan perlakuan
terapi musik pasif dengan menggunakan jenis
musik klasik pada pasien rawat inap untuk
mempengaruhi
kualitas
tidurnya
pasca
pembedahan.
Berdasarkan data bulanan pada Bulan
Maret 2016 pasien pasca operasi yang dirawat
inap di Ruangan Bedah RSUD Lubuk Sikaping
adalah sebanyak 47 orang dengan diagnosa
appendicitis, Fibro Adenomma Mammae
(FAM), fraktur, dan benigna neoplasma.
Perawatan yang dilakukan perawat pada pasien
pasca operasi di ruangan ini adalah melakukan
perawatan luka pada pagi hari, pengaturan
posisi, pemenuhan nutrisi dan manajemen nyeri
secara farmakologis dan nonfarmakologis
seperti teknik relaksasi.
Pada survey awal tanggal 13 April 2016
ditemukan pasien rawat inap pasca operasi
adalah sebanyak 5 orang dengan diagnosa
appendicitis dan hernia. Dari hasil wawancara
yang dilakukan pada pasien, 4 dari 5 orang
pasien menyatakan mengalami gangguan tidur
dengan waktu tidur kurang dari 8 jam dan sering
terbangun di malam hari. 2 dari 4 orang pasien
yang mengalami gangguan tidur mengatakan
mengalami kesulitan tidur karena nyeri dan
gelisah, dan 2 orang pasien memaparkan tentang
lingkungan rumah sakit yang tidak nyaman
seperti cahaya ruangan yang terlalu terang,
pengunjung atau keluarga yang ada di ruangan,
dan perubahan suasana lingkungan yang berbeda
dengan keseharian di rumah. Berdasarkan
informasi dari perawat diketahui bahwa sebagian
besar pasien pasca operasi mengalami gangguan
tidur pada hari-hari pertama setelah operasi
terutama hari ke-1. Gangguan tidur dialami
pasien terkait dengan nyeri yang dirasakan
setelah pembedahan. Pasien dengan masalah
istirahat tidur tidak diberikan obat tidur oleh
perawat, tetapi diberikan penghilang nyeri.
Namun, walaupun diberikan obat nyeri pasien
tetap mengalami gangguan tidur pada hari-hari
pertama setelah pembedahan.
Dari hasil wawancara dengan perawat
didapatkan informasi bahwa terapi alternatif
seperti musik klasik belum pernah digunakan
sebagai intervensi keperawatan . Perawat
mengemukakan bahwa belum adanya informasi
mengenai terapi musik dan sarana yang
menunjang untuk pelaksanaan terapi musik
seperti perangkat audio di ruangan. Dari hasil
observasi di Ruangan Bedah RSUD Lubuk
Sikaping peneliti juga tidak menemukan sarana
yang menunjang untuk melakukan intervensi
terapi musik. Tujuan penelitian adalah untuk
mengetahui pengaruh terapi musik klasik
terhadap kualitas tidur Pasien pasca operasi di
ruangan bedah
LPPM STIKes Perintis Padang
100
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
2. METODE PENELITIAN
a. Desain Penelitian
Menggunakan metode pra eksperimental
dengan pendekatan one-group pre-posttest
design.
b. Populasi Dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien
pasca operasi di ruangan bedah RSUD Lubuk
Sikaping. Pada penelitian yang dilakukan pada
tanggal 28 Juni – 13 Juli 2016 menggunakan
Sampel yang berjumlah 16 orang.
c. Instrument
Instrument dalam pengumpulan data
penelitian ini menggunakan kuesioner, lembar
observasi, mp3 player, dan earphone.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan umur
Standar
95% CI
Mean
Minimum
Maximum
Deviasi
Lower
Upper
36,31
12,726
15
55
29,53
43,09
Pada tabel diatas didapatkan rerata umur responden adalah 36,31 tahun (CI: 29,53 – 43,09) dengan
standar deviasi sebesar 12,726. Responden yang termuda berusia 15 tahun dan yang paling tua
adalah 55 tahun. Hasil estimasi interval dapat disimpulkan 95% diyakini bahwa rerata umur pasien
pasca operasi di Ruangan Bedah RSUD Lubuk Sikaping berkisar antara 29,53 tahun sampai dengan
43,09 tahun
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Jumlah Responden
Persentase (%)
(orang)
Laki – laki
8
50.0
Perempuan
8
50.0
Total
16
100.0
Pada tabel diatas didapatkan data bahwa responden dengan jenis kelamin laki-laki sama banyak
dengan perempuan dengan persentase 50%.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengalaman Operasi
Pengalaman Operasi
Jumlah Responden
Persentase (%)
(orang)
Tidak Pernah
15
93.8
Pernah
1
6.2
Total
16
100.0
Pada tabel 3 tentang distribusi frekuensi responden berdasarkan pengalaman operasi, lebih dari
separuh responden tidak pernah mengalami operasi sebelumnya sebanyak 93,8%.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan
Status Pekerjaan
Jumlah Responden
Persentase (%)
(orang)
Tidak Bekerja
8
50.0
Bekerja
8
50.0
Total
16
100.0
Pada tabel diatas berdasarkan status pekerjaan, responden yang bekerja sama banyak dengan
responden yang tidak bekerja dengan persentase 50%.
LPPM STIKes Perintis Padang
101
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur Pasien Pasca Operasi Sebelum Diberikan Terapi
Musik Klasik
Kualitas Tidur
Frekuensi
Persentase (%)
(pretest)
Baik
1
6.2
Buruk
15
93.8
Total
16
100.0
Pada tabel 5 tentang distribusi frekuensi responden berdasarkan kualitas tidur pasien pasca
operasi sebelum diberikan terapi musik klasik, lebih dari separuh (93.8%) memiliki kualitas tidur
yang buruk.
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur.
dilakukan terhadap 16 orang pasien pasca Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur
operasi di Ruangan Bedah RSUD Lubuk yang lebih banyak daripada biasanya. Di
Sikaping tahun 2016 diperoleh data bahwa samping itu, siklus bangun – tidur selama sakit
sebagian besar pasien berada pada kategori juga dapat mengalami gangguan.
kualitas tidur buruk sebelum dilakukan terapi
Responden dalam penelitian ini sebagian
musik klasik. Hal ini disebabkan oleh nyeri, besar atau sebanyak 93,8% tidak pernah
ketidaknyamanan terhadap peralatan medis yang mengalami operasi sebelumnya, hal ini dapat
terpasang di tubuh pasien, dan suasana ruangan mempengaruhi kualitas tidur terkait dengan stres
yang mempengaruhi istirahat tidur pasien. pembedahan. Yang mana dikemukakan oleh
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Mubarak (2008) mengenai stres emosional
Sahanantya (2014), dengan data sebelum terapi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
musik sebagian besar (57,7%) responden kualitas tidur. Ansietas dan depresi sering kali
mempunyai kualitas tidur yang buruk.
mengganggu tidur seseorang. Kondisi ansietas
Dari hasil penelitian juga diperoleh bahwa dapat meningkatkan kadar norepinefrin dalam
sebagian kecil responden memiliki kualitas tidur darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis.
baik, hal ini terlihat dari hasil pengukuran pada Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus
responden tersebut menunjukkan berada pada tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta
kategori baik. Sahanantya (2014) dalam sering terjaganya saat tidur.
penelitiannya juga menemukan sebagian kecil
Menurut asumsi peneliti pasien pasca
(42,3%) responden mempunyai kualitas tidur operasi mengalami tidur dengan kualitas yang
baik sebelum terapi dilakukan.
buruk disebabkan oleh rasa nyeri setelah
Pada saat klien kembali ke area penerimaan pembedahan, ketidaknyamanan dengan suasana
rawat jalan atau unit keperawatan pasca operasi di rumah sakit, dan stres akibat penyakit dan
menurut Rosdalch (2012) klien biasanya terjaga tindakan operasi. Sementara istirahat tidur
dan menyadari ketidaknyamanan seperti nyeri, dibutuhkan untuk perbaikan tubuh dalam proses
haus, distensi abdomen, mual, retensi urin, pemulihan pasca operasi.
konstipasi, gelisah, dan sulit tidur.
Kualitas tidur merupakan kemampuan
individu untuk tetap tertidur dan untuk
mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM
yang tepat (Kozier et al, 2004). Pasien pasca
operasi membutuhkan tidur yang cukup selama
perawatan setelah pembedahan terutama untuk
penyembuhan luka, seperti yang dikemukakan
Kozier et al (2010) bahwa tidur juga penting
untuk sintesis protein, yang memungkinkan
terjadinya proses perbaikan.
Mubarak (2008) mengemukakan bahwa
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distres
LPPM STIKes Perintis Padang
102
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Kualitas Tidur Pasien Pasca Operasi Sesudah Diberikan Terapi
Musik Klasik
Kualitas Tidur
Frekuensi
Persentase (%)
(posttest)
Baik
11
68.8
Buruk
5
31.2
Total
16
100.0
Pada tabel 6 tentang distribusi frekuensi responden berdasarkan kualitas tidur pasien pasca
operasi sesudah diberikan terapi musik klasik, lebih dari separuh (68.8%) responden dengan kualitas
tidur baik. Responden yang memiliki kualitas tidur buruk menurun menjadi 31.2%.
Setelah dilakukan terapi musik klasik pada pengunjung yang ramai pada malam hari
pasien pasca operasi dan dilakukan pengukuran menyebabkan pasien tidak konsentrasi dan
kembali (posttest) kualitas tidur terdapat menikmati musik pada saat mendengarkan
penurunan skor yang menunjukkan kualitas tidur musik.
baik pada 11 orang responden (68,8%) dan 5
Penelitian Nurlela (2009) pada pasien post
orang responden (31,2%) berada pada kategori operasi lapparatomi menemukan bahwa faktor
buruk. Penelitian ini sejalan dengan data yang mempengaruhi kualitas tidur pasien post
penelitian Sahanantya (2013) mengenai kualitas operasi adalah fisiologis, psikologis, dan
tidur sesudah dilakukan terapi musik pada pasien lingkungan. Faktor yang paling dominan dalam
stroke yang dirawat inap ditemukan pada mempengaruhi kualitas tidur pasien post operasi
sebagian besar responden (69,2%) mempunyai adalah faktor fisiologis.
kualitas tidur yang baik. Sedangkan dalam
Responden dalam penelitian ini adalah
studinya mengenai pengaruh terapi musik dewasa berusia rerata 36,31 tahun dengan
terhadap tingkat gangguan tidur pada pasien standar deviasi=12,726. Menurut Potter & Perry
paska operasi lapparatomi, Fahmi (2012) (2006) durasi dan kualitas tidur beragam di
memperoleh data sebagian besar pasien (81,8%) antara orang-orang dari semua kelompok usia.
tingkat gangguan tidurnya berada pada tingkat Pada dewasa muda rerata tidur di malam hari 6
ringan setelah diberikan terapi musik.
sampai 81/2 jam, tetapi hal ini bervariasi. Adalah
Sebagian besar responden mengalami hal yang umum untuk tuntutan gaya hidup yang
perubahan kualitas tidur setelah dilakukan terapi mengganggu pola tidur yang umum. Stres
musik klasik. Hal ini terlihat dari skor yang pekerjaan, hubungan keluarga, dan aktivitas
diperoleh saat pengukuran kembali setelah terapi sosial dapat mengarah pada insomnia (misalnya
musik dilakukan selama 3 hari, dimana terjadi kesulitan memulai dan/atau mempertahankan
penurunan rerata skor sebanyak 2,25 sehingga tidur. Sementara pada dewasa tengah total waktu
responden mengalami perubahan menjadi yang digunakan untuk tidur malam hari muali
kategori yang lebih baik dari sebelum dilakukan menurun. Jumlah tidur tahap 4 mulai menurun,
terapi.
suatu penurunan yang berlanjut dengan
Namun masih terdapat sebagian pasien bertambahnya usia.
yang berada pada kategori buruk dalam kualitas
Menurut analisis peneliti, pasien pasca
tidur. Berdasarkan observasi dan wawancara operasi perlu melakukan terapi musik, karena
yang peneliti lakukan ini disebabkan oleh rasa selain mudah dilakukan, juga tidak memiliki
nyeri yang hebat. Hal ini sesuai dengan Kozier dampak buruk pada kesehatan pasien. Hasil
et al (2010) bahwa kondisi penyakit yang wawancara langsung dengan responden yang
membutuhkan tindakan pembedahan mungkin melakukan terapi musik klasik sesuai arahan
akan menimbulkan rasa nyeri yang hebat peneliti selama 3 hari dan tidak mengkonsumsi
sehingga mengganggu istirahat. Penyebab lain obat tidur, mengalami perubahan diantaranya
diantaranya adalah rasa jenuh dalam bisa tidur dalam waktu kurang dari 30 menit dan
mendengarkan musik, waktu pendengaran yang menjadi lebih tenang.
tidak sesuai dengan arahan yang diberikan yaitu
15-30 menit, adanya keluarga pasien lain dan
LPPM STIKes Perintis Padang
103
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 7. Perbedaan Kualitas Tidur Uji T-test Rerata pada Pasien Pasca Operasi Sebelum dan
Sesudah Diberikan Terapi Musik Klasik di Ruangan Bedah RSUD Lubuk Sikaping
95% CI
Std.
pKualitas Tidur
Mean
T
Deviation
value
Lower
Upper
Sebelum
Terapi
6,25
1.342
5,54
6,96
Musik Klasik
5,730
0,000
Sesudah
Terapi
4,00
1.211
3,35
4,65
Musik Klasik
Selisih
2,25
Berdasarkan tabel 8 tentang Analisa perbedaan hasil Uji T-test rerata pada pasien pasca operasi
sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik di Ruangan Bedah RSUD Lubuk Sikaping
terdapat perbedaan yang bermakna. Rerata kualitas tidur pasien pasca operasi sebelum diberikan
terapi musik klasik adalah sebesar 6,25 dengan standar deviasi 1,342. Dari hasil estimasi interval
95% diyakini bahwa rerata kualitas tidur pasien pasca operasi sebelum terapi musik klasik berkisar
antara 5,54 – 6,96. Sedangkan sesudah diberikan terapi musik klasik rerata kualitas tidur pasien pasca
operasi menjadi 4.00 dengan standar deviasi 1,211. Dari hasil estimasi interval 95% diyakini bahwa
rerata kualitas tidur pasien pasca operasi sesudah terapi musik klasik berkisar antara 3,35 – 4,65 Hal
ini menunjukkan adanya penurunan nilai kualitas tidur setelah dilakukan terapi musik klasik yaitu
sebesar 2,25 dengan standar deviasi 1,571.
Hasil uji statistik untuk melihat ada pengaruh terapi musik klasik terhadap kualitas tidur pasien
pasca operasi dilihat pada Paired t-test, terdapat nilai p = 0,000. Jika dibandingkan dengan nilai α
maka p ≤ α (0,05), maka H0 ditolak. Hal ini dibuktikan dengan nilai t = 5,730 sedangkan
perbandingan dengan t-tabel = 2,131 yaitu nilai t hitung > t- tabel (5,730 > 2,131). Maka hasil tersebut
dapat diinterpretasikan bahwa ada pengaruh terapi musik klasik terhadap kualitas tidur pada pasien
pasca operasi.
Pada penelitian ini dilakukan pretest signifikan pada kualitas tidur pasien pasca
sebelum diberikan perlakuan dan posttest operasi setelah melakukan terapi musik klasik.
sesudahnya untuk mengetahui perbedaan
Tidur merupakan status perubahan
kualitas tidur sebelum dan sesudah terapi musik kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu
klasik. Berdasarkan hasil penelitian yang terhadap lingkungan menurun (Mubarak, 2008).
dilakukan, dapat dilihat distribusi responden dari Kualitas tidur adalah kemampuan individu untuk
hasil pengukuran terhadap nilai pretest dan tetap tertidur dan untuk mendapatkan jumlah
postest kualitas tidur menunjukkan dari 16 orang tidur REM dan NREM yang tepat (Kozier et al,
responden setelah dilakukan terapi musik klasik, 2010). Mubarak (2008) mengemukakan bahwa
mengalami perubahan kualitas tidur, dimana banyak faktor yang mempengaruhi kualitas tidur
sebelum dilakukan terapi musik (pretest) diantaranya penyakit, lingkungan, kelelahan,
responden dominan berada pada kategori buruk gaya hidup, stres emosional, stimulan dan
yaitu sebanyak 93,8% responden. Sedangkan alkohol, diet, merokok, medikasi, dan motivasi.
setelah dilakukan terapi musik (posttest)
Bouhairi et al (2006) mengemukakan
menurun menjadi 31,2% pada kategori buruk bahwa musik merupakan metode yang paling
sementara 68,8%
responden berada pada diterima yang digunakan oleh perawat dalam
kategori kualitas tidur baik.
memperbaiki kualitas tidur pasien (Wang, 2014).
Perbedaan Kualitas tidur pasien pasca Melalui terapi musik, individu juga dapat
operasi di Ruangan Bedah RSUD Lubuk mengalihkan persepsi waktu mereka dari jam,
Sikaping sebelum dan sesudah dilakukan terapi menit, dan detik sebenarnya (yang dipersepsikan
musik klasik di ukur dengan menggunakan di hemisfer kiri otak). Menjadi waktu yang
paired t-test dengan tingkat kemaknaan p= 0,000 dialami – yang dipersepsikan lewat ingatan.
( ≤ 0,05) dan didapatkan nilai t = 5,730 Pendengar dapat benar-benar kehilangan urutan
sedangkan t tabel adalah t=2,131, maka dapat waktu selama masa yang panjang, yang
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang memungkinkan mereka mengurangi rasa cemas,
LPPM STIKes Perintis Padang
104
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
takut, dan nyeri (Kozier et al, 2010). Terapi
musik khususnya secara pasif akan menekankan
pada physical, emotional intellectual aesthetic
or spiritual dari musik itu sendiri sehingga klien
akan merasakan ketenangan atau relaksasi
(Natalina, 2013). Rasa tenang dan relaks dapat
membantu seseorang untuk tertidur, seperti yang
dikemukakan oleh Potter & Perry (2006) ketika
seseorang mencoba tertidur, mereka akan
menutup mata dan berada dalam posisi relaks.
Stimulus ke RAS (Reticular Activating System)
menurun. Pada beberapa bagian, BSR (Bulbar
Synchronizing Region) mengambil alih, yang
menyebabkan tertidur.
Penelitian Sahanantya (2014) tentang
pengaruh pemberian terapi musik Mozart
terhadap kualitas tidur dengan p= 0,000. Hal ini
diperkuat oleh studi analisis yang dilakukan
Wang (2014) pada 10 penelitian dimana musik
dapat membantu dalam perbaikan kualitas tidur
pada pasien dengan gangguan tidur (p< 0,001).
Namun pada penelitian ini ada sebagian
responden yang tidak mengalami perubahan
setelah dilakukan terapi musik, yaitu 6,2% orang
responden yang sebelumnya mempunyai
kualitas tidur baik tetap berada pada kategori
baik, sedangkan 31,2% orang responden tetap
berada pada kategori buruk, hal ini bisa
disebabkan karena pada saat melakukan terapi
musik responden tidak mengikuti arahan dan
petunjuk melakukan terapi musik dari peneliti.
Hal ini berkaitan dengan karakteristik
responden yang lebih dari separuh tidak pernah
mengalami operasi sebelumnya, pengalaman
operasi berkaitan dengan nyeri yang dirasakan
dan
stres
pembedahan
yang
dapat
mempengaruhi istirahat-tidur pasien. Yang
mana dikemukakan oleh Mubarak (2008)
mengenai faktor yang mempengaruhi kualitas
tidur diantaranya penyakit dan stres emosional.
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distres
fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur.
Sedangkan kondisi ansietas dapat meningkatkan
kadar norepinefrin dalam darah melalui
stimulasi sistem saraf simpatis. Kondisi ini
menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM
tahap IV dan tidur REM serta sering terjaganya
saat tidur.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi
kualitas tidur pasien pasca operasi yang dirawat
inap di rumah sakit adalah faktor lingkungan.
Hasil penelitian Bukit (2005) menunjukkan
bahwa dari 100 pasien yang dirawat di rumah
sakit 77% memiliki kualitas tidur yang buruk
disebabkan oleh faktor fisiologis seperti nyeri,
faktor tindakan perawat, faktor psikologi seperti
cemas, dan faktor lingkungan. Keadaan
lingkungan yang mengganggu tidur klien adalah
suara bising, suhu ruangan panas, tempat tidur
tidak nyaman, dan lampu terlalu terang. Keadaan
lingkungan yang kurang kondusif ini dapat
mempengaruhi pelaksanaan terapi musik pada
responden.
Berdasarkan hasil penelitian dan teori di
atas maka peneliti berasumsi bahwa ketika
melakukan terapi musik klasik dalam keadaan
tenang selama 15-30 menit selama tiga hari,
pasien dapat memiliki kualitas tidur yang baik
pasca operasi. Hal ini disebabkan oleh
ketenangan dan rasa relaks yang diperoleh
pasien saat mendengarkan musik yang
diperlukan dalam pengaturan tidur. Sedangkan
pada pasien yang masih memiliki kualitas tidur
buruk sesudah dilakukan terapi disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya rasa nyeri, stres,
lingkungan yang tidak nyaman, dan tidak
melakukan terapi musik sesuai prosedur dan
arahan.
Penelitian tentang terapi musik klasik dapat
memperbaiki kualitas tidur yang mana terlihat
setelah dilakukan selama tiga hari dengan
mendengarkan musik selama 15-30 menit secara
teratur dan sesuai dengan prosedur terapi musik.
Dengan demikian didapatkan hasil penelitian
bahwa terapi musik klasik mempengaruhi
kualitas tidur pasien pasca operasi di Ruangan
Bedah RSUD Lubuk Sikaping Tahun 2016.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
pada tanggal 28 Juni sampai 13 Juli 2016 kepada
16 responden tentang Pengaruh Terapi Musik
Klasik terhadap Kualitas Tidur Pasien Pasca
Operasi di Ruangan Bedah RSUD Lubuk
Sikaping Tahun 2016, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Responden rerata berusia 36,31 tahun,
dengan jumlah laki-laki dan perempuan sama
banyak, terdapat jumlah yang sama antara
responden yang bekerja dengan tidak bekerja,
LPPM STIKes Perintis Padang
105
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
dan lebih dari separuh tidak pernah
mengalami operasi sebelumnya.
2. Rerata kualitas tidur responden sebelum
dilakukan terapi musik klasik lebih dari
separuh adalah buruk.
3. Rerata kualitas tidur responden sesudah
dilakukan terapi musik klasik lebih dari
separuh adalah baik.
4. Ada pengaruh terapi musik klasik terhadap
kualitas tidur pasien pasca operasi di
Ruangan Bedah RSUD Lubuk Sikaping
tahun 2016 dengan p- value=0,000 (α = 0,05).
5. REFERENSI
Bernadi, I. et al (2009). Dynamic Interactions
between musical, cardiovascular, and
Cerebral
Rythm
in
Humans.
Circulation.
Buysse, D. et al (1989). The pittsburh sleep
quality indeks: A new instrument for
psychiatric practice and research.
Psyciatric research. Ireland: Elsevier
Scientific Publishers.
Bukit (2005). Kualitas Tidur dan Faktor-Faktor
Gangguan Tidur Klien Lanjut Usia
yang Dirawat Inap di Ruang Penyakit
Dalam Rumah Sakit, Medan. Jurnal
Keperawatan Indonesia Volume 9.
Campbell, D. (2002). Efek Mozart Bagi Anak.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Cronin et al., (2001). Postoperative Sleep
Disturbance: Influences of Opioids
and Pain in Humans. SLEEP. Vol 21
Djohan. (2006). Terapi Musik Teori dan
Aplikasi. Yogyakarta: Galangpress.
Hastomi, I. & Sumaryati, E., (2012). Terapi
Musik. Jogjakarta: Javalitera.
Heriana, Pelapiana. (2014). Buku Ajar
Kebutuhan
Dasar
Manusia.
Tanggerang: Binarupa Aksara.
Hidayat, A.Aziz Alimul. (2008). Keterampilan
Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan.
Jakarta: Salemba Medika.
Kee, Joyce. L. & Hayes, Evelyn. R., (1996).
Farmakologi Pendekatan Proses
Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kozier et al. (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan: Konsep, Proses dan
Praktik, Edisi 7, Volume 1. Jakarta:
EGC
Lanywati, E., (2001). Insomnia dan Gangguan
Sulit Tidur. Jakarta: Kanisius.
Mubarak, Wahit (2008). Buku Ajar Kebutuhan
Dasar Manusia Teori & Aplikasi
dalam praktik. Jakarta: EGC
Mulier, J. & Baerdemaeker L. D. (2013).
Postoperative sleep disturbances: a
review and an observational study.
Mies CRIVITS. Universiteit Gent
Natalina, (2013). Terapi Musik Bidang
Keperawatan. Jakarta: Mitra Wacana.
Nurlela, S., Saryono, Yuniar, L., (2009). Faktorfaktor yang Mempengaruhi Kualitas
Tidur Pasien Post Operasi Laparatomi.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan,
volume 5
Potter, P.A., Perry, A.G., (2006). Buku Ajar
Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses dan Praktik, Edisi 4 Volume 2.
Jakarta: EGC
Rafknowledge (2004). Insomnia dan Gangguan
Tidur Lainnya. Jakarta: PT Alex
Media Komputindo.
Rosdalch, Caroline. B., (2012). Buku Ajar
Keperawatan Dasar Edisi 10 Vol. 3.
Jakarta: EGC.
Sahanantya, A. R. (2014). Pengaruh Terapi
Musik Klasik Mozart Terhadap
Kualitas Tidur Pada Pasien Stroke di
Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum
Semarang.
Naskah
Publikasi.
Semarang.
Smeltzer & Bare. (2002). Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth Edisi 8 Volume 1. Jakarta:
EGC.
Suryana, Dayat. (2012) Terapi Musik.
https://books.google.co.id/books
Diakses pada tanggal 14 Maret 2016.
Wang, Chun-Fang et al (2014). Music Therapy
Improves Sleep Quality in Acute and
Chronic Sleep Disorder. International
Journal of Nursing Studies. Diakses
pada tanggal 31 Maret 2016.
WHO (2015). Size and Distribution of Global
Volume of Surgery in 2012. Diakses
Pada Tanggal 30 Maret 2016.
Widyatuti. (2008). Terapi Komplementer dalam
Keperawatan. Jurnal Keperawatan
LPPM STIKes Perintis Padang
106
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Indonesia Volume 12, No. 1. Diakses
pada tanggal 11 April 2016.
LPPM STIKes Perintis Padang
107
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS
NYERI DAN INVOLUSIO UTERUS PADA IBU POST OPERASI SECTIO
CAESAREA DI RUMAH SAKIT ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI
1
Lisa Fradisa1 , Windy Widiya 2 , Mera Delima 3
Program Studi Diploma III Keperawatan STIKes Perintis Padang
Email : [email protected]
2
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
3
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Perintis Padang
Abstract
Mothers with sectio caesarea who directly perform early mobilization starting from bed rest to sit
and stand-alone allows the mother to recover condition. Based on the preliminary sutdi get 60% of
patients post sectio caesarea on the second day was still lying in bed. While doing an interview to
the 10 respondents, researchers used a measuring device that pain Numerical Rating Scale obtained
patients are still afraid to mobilize such as moving the body or legs. This study was aimed to discover
the effect of Early Mobilization Against Decrease Pain Intensity And Involusio Uterus On Mother
Post Surgery Sectio Caesarea Moechtar Achmad Hospital in 2016. The research method that is preexperimental design, this study uses one group pretest-posttest design. Samples were taken by
accidental sampling, as many as 20 people. The research result showed that there is the effect of
early mobilization of the reduction in pain intensity and involusio uterus, expected nurses and
midwives in midwifery Space can apply early mobilization in overcoming pain and involusio uterus
in patients post sectio caesarea.
Keywords: early mobilization , pain intensity , involusio uterus
1. PENDAHULUAN
Sectio caesarea adalah persalinan buatan
dimana janin dilahirkan melalui insisi pada
dinding depan perut dan dinding rahim dengan
syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat
janin diatas 500gr (Sarwono, 2009). Seperti yang
diketahui bahwa sectio caesarea adalah satu cara
melahirkan janin dengan sayatan pada dinding
uterus melalui dinding depan perut (Mochatar,
1992). Indikasi medis ada dua faktor yang
mempengaruhi yaitu faktor janin dan faktor ibu.
Faktor janin terdiri dari bayi terlalu besar,
kelainan letak, ancaman gawat janin, janin
abnormal, faktor plasenta, kelainan tali pusat,
dan bayi kembar, sedangkan pada faktor ibu
terdiri dari usia, jumlah anak yang dilahirkan
(paritas), tulang panggul, riwayat persalinan
yang lalu dengan sectio caesarea.
Survei data awal pada tanggal 5 Januari dari
RSUD. dr. Achmad Moechtar Bukittinggi
jumlah pasien dengan sectio caesarea dalam 1
tahun terakhir adalah sebanyak 370 persalinan.
Berdasarkan sutdi pendahuluan di RSUD. dr.
Achmd Moechtar Bukittinggi di dapatkan 60%
pasien post sectio caesarea pada hari kedua
masih berbaring di tempat tidur. Rasa nyeri
bagian operasi sangat di rasakan. Saat
melakukan wawancara kepada 10 pasien sectio
caesarea, peneliti menggunakan alat pengukur
nyeri yaitu Numerik Rating Scale (NRS) dimana
diperoleh pasien masih takut untuk melakukan
mobilisasi seperti menggerakkan badan atau
kaki. Tingkat nyeri yang di ukur dengan NRS
pada ibu post sectio caesarea berada pada nilai 6
sampai 7.
Berdasarkan fenomena tersebut dan
pentingnya mobilisasi dini untuk penyembuhan
luka post sectio caesarea dan pemulihan
kesehatan ibu. Alasan peneliti memilih judul
tentang “pengaruh mobilisasi dini terhadap
penurunan intensitas nyeri dan involusio uterus
pada ibu post operasi caesarea di ruang
kebidanan Rumah Sakit Achmad Moechtar
Bukittinggi”. karena peneliti ingin mengetahui
apakah ada pengaruh mobilisasi dini terhadap
penurunan intensitas nyeri dan involusio uters
LPPM STIKes Perintis Padang
108
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
pada ibu post operasi caesarea dan ingin
mengetahui efek dari tidak melakukan
mobilisasi dini.terhadap penurunan intensitas
nyeri dan involusio uteri pada ibu Sectio
Caesarea (SC) di ruang kebidanan Rumah Sakit
Achmad Moechtar tahun 2016
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif, metode penelitian yaitu pre
eksperimental design, karena design ini belum
merupakan eksperimen sungguh-sungguh.
Penelitian ini menggunakan one group pre test–
post test design, yaitu mengungkapkan
hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan
satu kelompok subjek.digunakan uji statistik
Paired test. Penelitian ini membahas tentang
Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan
Intensitas Nyeri Dan Involusio Uters Pada Ibu
Post Operasi Caesarea di Rumah Sakit Achmad
Moechtar Tahun 2016. Variabel independen
dalam penelitian ini adalah pelaksanaan
mobilisasi pada pasien post operasi sectio
caesarea dan yang menjadi variabel dependen
dalam penelitian ini adalah penurunan nyeri post
operasi sectio caesarea dan penurunan involusio
uterus. Penelitian ini menggunakan lembar
observasi
Mobilisasi, lembar
observasi
penurunan involusio Uterus, dan lembar
observasi intensias nyeri sebagai alat ukur
penelitian. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah accidental sampling dengan
jumlah sampel sebanyak 20 orang dengan
pembagian 10 orang kelompok control dan 10
orang kelompok kasus. Penelitian ini akan
dilaksanakan pada bulan Febuari 2016.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22
Febuari – 10 Maret 2016 dengan mengambil dan
mengolah data dari lembar Observasi yang telah
diisi oleh peneliti di Ruang Kebidanan RS
Achmad
Mochtar
Bukittinggi.
Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah
accidental sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 20 orang. Desain penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif, metode penelitian yaitu
pre eksperimental design, karena design ini
belum merupakan eksperimen sungguh-
sungguh. Penelitian ini menggunakan one group
pre test–post test design, yaitu mengungkapkan
hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan
satu kelompok subjek. Setelah seluruh data
terkumpul selanjutnya dilakukan pengelolaan
data, pemberian kode, memasukkan data ke
komputer serta melakukan data untuk
mengetahui distribusi frekuensi penurunan
intensitas nyeri pada ibu post partum Sectio
Caesarea (SC), distribusi frekuensi penurunan
involusio uterus pada ibu post partum Sectio
Caesarea (SC), pelaksanaan mobilisasi pada ibu
post Sectio Caesarea (SC) dan pengaruh
mobilisasi dini terhadap penurunan intensitas
nyeri dan involusio uteri pada ibu Sectio
Caesarea (SC).Analisa data dilakukan secara
komputerisasi dengan perangkat statistik
menggunakan uji Paired test pada derajat
kemaknaan 95 %.
3.2. Pembahasan
Analisa Univariat
a. Hasil Nyeri
Hasil univariat nyeri dapat dilihat dari 10
responden pasien observasi yang tidak dilakukan
mobilisasi didapatkan hasil bahwa lebih dari
separoh responden mengalami tingkat nyeri
berat yaitu (90%). Sedangkan berdasarkan tabel
5.3 dapat dilihat dari 10 responden Kasus yang
dilakukan mobilisasi diketahui bahwa lebih dari
separoh responden mengalami tingkat nyeri
sedang (60%) dan nyeri ringan (40%).
Hasil penelitian Sumara, dkk (2013) dengan
judul pengaruh mobilisasi dini terhadap
penyembuhan luka post sectio caesarea dapat
disimpulkan bahwa jumlah persalinan dengan
tindakan sectio caesarea di RSUD sleman
sebesar 51,3 % , penyembuhan luka post sectio
caesarea pada ibu yang melakukan mobilisasi
dini dengan pendampingan intensif sebesar
100%, penyebuhan luka post sectio caesarea
pada ibu dengan melakukan mobilisasi dini rutin
sebesar 88%.
Potter dan Perry (2005) menyatakan nyeri
di definisikan sebagai suatu keadaan yang
mempengaruhi seseorang dan ekstensinya
diketahui bila seseorang pernah mengalaminya,
sedangkan menurut Wartonah (2005), nyeri
merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak
menyenangkan bersifat sangat subyektif karena
LPPM STIKes Perintis Padang
109
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam
hal skala atau tingkatannya dan hanya orang
tersebutlah yang dapat menjelaskan atau
mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.
Menurut analisis Hasil uji statistik pengaruh
mobilisasi dini terhadap intensitas nyeri pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol
menggunakan paired test, diperoleh nilai Sig. (2tailed) sebesar 0,001 yang lebih kecil dari α
penelitian (0,05), yang berarti ada pengaruh
mobilisasi dini terhadap penurunan intensitas
nyeri luka post section caesarea di Ruang
Kebidanan di RS. Achmad Mochtar Bukittinggi
Pada penelitian ini ditemukan bukti bahwa
terdapat pengaruh mobilisasi dini terhadap
penurunan intensitas nyeri luka post section
caesarea, sehingga diharapkan perawat dan
bidan di Ruang Kebidanan dapat menerapkan
mobilisasi
dini
dalam
pengembangan
managemen non farmakologis dalam mengatasi
nyeri pasien post sectio caesarea sehingga dapat
meningkatkan kenyamanan terhadap nyeri bagi
pasien.
b. Hasil Involusio Uterus
Hasil univariat involusio uterus dapat
dilihat dari 10 responden observasi didapatkan
hasil bahwa lebih separoh responden mengalami
penurunan involusio uterus yg kurang baik yaitu
sebanyak (60%). Sedangkan berdasarkan tabel
5.7 dapat dilihat dari 10 responden kasus yang
dilakukan mobilisasi diketahui bahwa semua
responden mengalami penurunan involusio
uterus yg baik sebanyak (100%).
Involusio uterus adalah kembalinya uterus
ke keadaan sebelum hamil baik dalam bentuk
maupun posisi. Selain uterus, vagina, ligamen
uterus dan otot dasar panggul juga kembali kek
keadaan sebelum hamil. Apabila ligamen uterus
dan otot dasar panggul tidak kembali kekeadaan
sebelum hamil kemungkinan terjadinya prolaps
semakin besar. Selama proses involusi, uterus
menipis dan mengeluarkan lochea yang
digantikan dengan endometrium baru. Setelah
kelahiran bayi dan plasenta terlepas, otot uterus
berkontraksi sehingga sirkulasi darah yang
menuju uterus berhenti dan kejadian ini disebut
dengan iskemia.
Menurut analisis Hasil uji statistik pengaruh
mobilisasi dini terhadap penurunan involusio
uterus pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol menggunakan paired test, diperoleh nilai
Sig. (2-tailed) sebesar 0,005 yang lebih kecil dari
α penelitian (0,05), yang berarti ada pengaruh
mobilisasi dini terhadap penurunan involusio
uterus post section caesarea di Ruang Kebidanan
di RS. Achmad Mochtar Bukittinggi
Berdasarkan hasil penelitian di BLUD RS
dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin sebagian
besar responden adalah melakukan mobilisasi
dini yaitu sebanyak 34 responden (70.8%) dan
yang paling sedikit adalah tidak melakukan
mobilisasi dini yaitu sebanyak 14 responden
(29.2%). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa
responden yang melakukan mobilisasi lebih
banyak jumlahnya dari pada responden yang
tidak melakukan mobilisasi. Hal ini menunjukan
banyak responden yang telah melakukan
mobilisasi setelah melahirkan baik dengan
persalinan SC 6 jam maupun persalinan normal
2 jam. Sedangkan pada penelitian ini peneliti
melakukan observasi dengan menggunakan
lembar observasi dan mengukur turun atau
tidaknya
tinggi
fundus
uteridengan
membandingkan teori yang telah ada.
Berdasarkan hasil penelitian di BLUD RS dr. H.
Moch Ansari Saleh Banjarmasin diketahui
sebagian besar adalah terjadinya penurunan
tinggi fundus uteri pada responden yaitu
sebanyak 34 responden (70.8%) dan yang paling
sedikit adalah tidak Mobilisasi Dini Dengan
Penurunan Tinggi Fundus Uteri 21 terjadinya
penurunan yaitu sebanyak 14 responden
(29.2%). Menurut (Manuaba, 2008) mobilisasi
dini/aktivitas segera, dilakukan segera setelah
beristirahat beberapa jam setelah beranjak dari
tempat tidur ibu postpartum, sedangkan involusi
atau pengerutan uterus merupakan suatu proses
dimana uterus berangsur – angsur akan mengecil
sehingga pada akhir kala nifas besarnya seperti
semula dengan berat 30 gram (Ambarwati dan
Retna, 2009).
Pada penelitian ini ditemukan bukti bahwa
terdapat pengaruh mobilisasi dini terhadap
penurunan involusio uterus post section
caesarea, sehingga diharapkan perawat dan
bidan di Ruang Kebidanan dapat menerapkan
mobilisasi
dini
dalam
pengembangan
managemen non farmakologis dalam mengatasi
masalah penurunan involsio uterus pasien post
LPPM STIKes Perintis Padang
110
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
sectio caesarea sehingga dapat meningkatkan
kenyamanan terhadap pasien.
Analisa Bivariat
Pengaruh Mobilisasi Terhadap Intensitas
Nyeri Dan Penuruna Involusio Uterus
Hasil analisa bivariat pengaruh mobilisasi
dini terhadap intensitas nyeri dan penurunan
involusio uterus dapat dilihat dari 10 responden
observasi tanpa dilakukan mobilisasi di dapatkan
7 responden diketahui mengalami nyeri berat
dan 6 responden diketahui mengalami involusio
uterus yang kurang baik, sedangkan dari 10
responden kasus yang dilakukan mobilisasi di
dapatkan 6 responden diketahui mengalami
nyeri sedang dan 4 responden mengalami nyeri
ringan, dan dari 10 responden yang dilakukan
mobilisasi di dapatkan hasil bahwa semua
responden mengalami involusio uterus yang
baik. Hasil uji statistik Paired Test dengan
diperoleh nilai p = 0,001 (p < 0,05).
Dari nilai p tersebut dapat dijelaskan bahwa
Ha di terima artinya ada pengaruh mobilisasi
dini terhadap penurunan intenstias nyeri dan
involusio uterus post section caesarea di RSUD.
Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2016.
Ibu bersalin dengan operasi sectio caesarea
memiliki resiko tinggi karena dilakukan
pembedahan dengan membuka dinding perut
dan dinding uterus atau insisi transabdominal
uterus, pasien dengan post operasi sectio
caesarea akan merasakan nyeri. Rasa nyeri
merupakan stressor yang dapat menimbulkan
stress dan ketegangan dimana individu dapat
berespon secara biologis dan prilaku yang
menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon
fisik meliputi perubahan keadaan umum, wajah,
denyut nadi, pernafasan, suhu badan, sikap
badan, dan apabila nafas semakin berat dapat
menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan syok,
sedangkan respon psikis akibat nyeri dapat
merangsang respon stress yang dapat
mengurangi sisitem imun dalam peradangan,
serta menghambat penyembuhan respon yang
lebih parah akan mengarah pada ancaman
merusak diri sendiri (Orwin,2006)
Nyeri merupakan kejadian yang tidak
menyenangkan, mengubah gaya hidup dan
kesejahteraan individu. Potter dan Perry (2005)
menyatakan nyeri di definisikan sebagai suatu
keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
ekstensinya diketahui bila seseorang pernah
mengalaminya, sedangkan menurut Wartonah
(2005), nyeri merupakan kondisi berupa
perasaan yang tidak menyenangkan bersifat
sangat subyektif karena perasaan nyeri berbeda
pada setiap orang dalam hal skala atau
tingkatannya dan hanya orang tersebutlah yang
dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri
yang dialaminya.
Ibu dengan indikasi sectio caesarea yang
langsung melakukan mobilisasi dini yang
dimulai dengan tirah baring hingga duduk dan
berdiri sendiri memungkinkan ibu memulihkan
kondisinya dan ibu bisa segera merawat
anaknya. Selain itu perubahan yang terjadi pada
ibu pasca sectio caesarea akan cepat
memulihkan kontraksi uterus (invousio terus)
dengan terjadinya penurunan tinggi fundus
uterus, mencegah terjadinya trombosis dan
tromboemboli, dengan mobilisasi sirkulasi darah
normal atau lancar sehingga resiko terjadinya
trombosis dan tromboemboli dapat di
hindarkan(Fefendi,2008).
Analisis peneliti responden yang tidak
melakukan mobilisasi dini mengalami nyeri
berat dan jugan involusio uterus yang kurang
baik dikarenakan Mobilisasi dini pada ibu yang
mengalami sectio caesarea berguna untuk
mencegah tromboemboli, kekakuan otot,
pembedahan, melancarkan siklus peredaran
darah dan mencegah terjadinya perdarahan
(Manuaba, 2004). Bila tidak melakukan
mobilisasi dengan segera maka akan terjadi
peningkatan suhu tubuh karena adanya involusio
uterus yang tidak baik sehingga sisa darah tidak
dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi,
kontraksi uterus tidak baik meyebabkan
terjadinya
perdarahan karena kontraksi
membentuk penyempitan pembuluh darah
terbuka.
Selain itu pada responden yang dilakukan
mobilisasi dini mengalami nyeri sedang dan juga
ringan. Ibu dengan indikasi sectio caesarea yang
langsung melakukan mobilisasi dini yang
dimulai dengan tirah baring hingga duduk dan
berdiri sendiri memungkinkan ibu memulihkan
kondisinya dan ibu bisa segera merawat
anaknya. Selain itu perubahan yang terjadi pada
ibu pasca sectio caesarea akan cepat
LPPM STIKes Perintis Padang
111
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
memulihkan kontraksi uterus (invousio terus)
dengan terjadinya penurunan tinggi fundus
uterus.
4. KESIMPULAN
Pada penelitian disimpulkan bahwa
terdapat pengaruh mobilisasi dini dari penurunan
intensitas nyeri dan involusio uterus pada ibu
post operasi sectio caesarea.
5. REFERENSI
Andarmoyo, S.(2013). Konsep dan Proses
Keperawatan Nyeri, Yogyakarta: ArRuzz
Anonymous.(2007). Angka kejadian sectio
caesarea di indonesia menurut data
survey nasional. jakarta
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian : suatu
pendekatan praktek edisi revisi VI
jakarta : rineka cipta.
Aritonang, I . (2000). Pemantauan pertumbuhan
balita. Jakarta : PT. Kanisius.
Arum, R(2011). Hubungan mobilisasi dini
dengan intensitas nyeri ibu post sectio
caesarea di RSUD Dr. Haryoto
lumajang. Jurnal kesehatan, Universitas
Brawijaya Malang.
Astutik,
P. (2014). Mobilisasi terhadap
penurunan tingkat nyeri ibu post operasi
Sectio Caesarea di care unit ruang post
anastesi
RSUD
dr.
Harjono
Ponorogo.jurnal kesehatan STIKes
Satria Bakti Nganjuk, vol.1 No. 1, juni
2014
Carpenito, L, J.(2009). Diagosis keperawaatan,
aplikasi pada praktek klinis : edisi 9.
Jakarta : EGC
Corwin, E.J. (2006). Patofisiologi. Jakarta : EGC
Cunningham, F.G.caark, S.L, hankins, G. D. V,
gillstrap, L.C. Mc. Donald, P.C, norman.
Et. Al. (2006). Obstertri william, Edisi :
21, Vol : 1. Jakarta : EGC
Kasdu,D(2005) operasi casarea masalah dan
solusinya, Puspa Swara, jakarta
Manuaba, I.B.G (2004) Kapita Selecta
Pelaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi
Dan KB. Jakarta : EGC
Nursalam. (2011). Konsep Dan Penerapan
Metodelogi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Novita, S. (2010). Gambaran Kasus Persalinan
Seksio Sesarea Ruang Bakung Timur
RSUP: Sanglah Denpasar
Potter dan perry. (2005). Fundamental
Keperawatan : konsep proses dan
praktek jakarta : EGC
Sari. N. D (2010 )dengan judul Gambaran
Faktor-Faktor Yang Mempengerahui
Mobilisasi Dini Pada Ibu Postpartum
Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum
Daerah Sigli. Jurnal kesehatan,
Universitas Kesehatan
Smeltzer dan bare (2005). Buku Ajaran
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC
Sumara, DKK (2014). Pengaruh mobilisasi dini
terhadap penyembuhan Luka Post
Operasi
Sectio
Caesarea
di
RSUD.Sleman. jurnal ilmiah kesehatan
diagnosis volume 4 nomor 5 tahun 2014
Wartonah dan Tarwoto (2006). Kebutuhan
Dasar Manusia Dan Proses. UI
LPPM STIKes Perintis Padang
112
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
EFEKTIFITAS METODA HIDROLISIS ASAM DAN METODA ENZIMATIK
UNTUK PEMBUATAN BIOETANOL DARI LIMBAH KULIT UBI JALAR
(Ipomoea batatas L)
Betti Rosita
Prodi DIV Teknologi Laboratorium Medik
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Bioethanol is an alternative energy source and a renewable fuel that is more secure and
environmentally friendly. One example is the raw material for making bietanol residual waste
processing foodstuffs such as sweet potato skin. This sweet potato peel waste can be used as raw
material for bioethanol production because it contains starch, cellulose, hemicellulose, lignin and
sugar. The formation process of bioethanol from starch through two stages by the hydrolysis and
fermentation. The method for determining levels of ethanol produced in this study to determine
differences in levels of ethanol produced by the method hodrolisis acid and enzymatic hydrolysis. In
this study testing the effectiveness of the two methods with the parameters of the fermentation time,
variations in the volume of the enzyme is added as well as variations in the concentration of this
experimental asam. This research was experimental study to determine levels of bioethanol produced
from sweet potato skin waste treatment. The results showed for the method of acid (HCL) ethanol
content 4.1% glucose produced by 8.9% and the concentration of 0,6M HCL optimum fermentation
time on the 6th day, while for the enzymatic method ethanol content of 5.6%, glucose 15.5% and a
volume of 2 ml enzyme optimum fermentation time on the 2nd day. It can be concluded that the
method is more effective enzymatic hydrolysis to produce ethanol than the acid hydrolysis method
(HCL) from sweet potato skin waste
Keywords: Kulitubi sweet, acid hydrolysis, enzymatic hydrolysis, fermentation, bio-ethanol.
1. PENDAHULUAN
Bioetanol merupakan sumber energi
alternatif dan suatu bahan bakar terbarukan yang
lebih aman dan ramah lingkungan. Pembuatan
bioetanol umumnya menggunakan bahan yang
mengandung karbohidrat tinggi seperti umbi–
umbian contohnya ubi jalar. Sementara limbah
dari ubi jalar sendiri dibiarkan terbuang dan
membusuk. Untuk itu pembuatan bioetanol dari
kulit ubi jalar ini menjadi alternatif selain
menangani permasalahan dilingkungan dapat
pula menangani kelangkaan bahan bakar di
Indonesia karena semakin menipisnya bahan
bakar fosil yang merupakan bahan utama
pembuat bahan bakar selama ini Salah satu
contoh bahan baku pembuatan bietanol adalah
limbah sisa pengolahan bahan makanan seperti
kulit ubi jalar. Limbah kulit ubi jalar ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan
bioetanol karena mengandung pati, selulosa,
hemiselulosa, lignin dan gula. Proses
pembentukan bioetanol dari pati melalui dua
tahap yaitu dengan proses hidrolisis dan
fermentasi. Fermentasi adalah proses produksi
energi dalam sel pada keadaan anaerobik (tanpa
oksigen). Fermentasi merupakan suatu kegiatan
peng-uraian bahan-bahan karbohidrat yang tidak
menimbulkan bau busuk dan menghasilkan gas
karbondioksida. Hidrolisis merupakan proses
dimana pati dikonversi menjadi glukosa dengan
katalisis enzim α-amilase. Hal ini bertujuan
untuk memecah selulosa dan hemiselulosa
menjadi monosakarida (glukosa dan xylosa)
yang kemudian difermentasi menjadi etanol.
Hidrolisis asam adalah hidrolisis yang
menggunakan asam yang dapat mengubah
polisakarida (pati) menjadi glukosa, asam yang
dipakai biasanya adalah asam klorida, asam
sulfat, asam nitrat dan asam perklorat. Hidrolisa
selulosa merupakan suatu proses yang dilakukan
untuk menghasilkan glukosa.
LPPM STIKes Perintis Padang
113
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Metoda penentuan kadar etanol yang
dihasilkan pada penelitian ini untuk mengetahui
perbedaan kadar etanol yang dihasilkan dengan
menggunakan metoda hodrolisis asam dan
hidrolisis enzimatis. Pada penelitian ini
dilakukan pengujian efektifitas kedua metoda
tersebut dengan parameter waktu fermentasi,
variasi volume enzim yang ditambahkan serta
variasi konsentrasi asam.
Bioetanol
Bioetanol adalah cairan biokimia dari
proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat
menggunakan bantuan mikroorganisme. Rumus
molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus
empiris C2H6O atau rumus bangunnya CH3-CH2OH. Bioetanol tidak berwarna dan tidak berasa
tetapi memiliki bau yang khas. Bahan ini dapat
memabukkan jika diminum. Karena sifatnya
yang tidak beracun bahan ini banyak dipakai
sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri
makanan dan minuman (Khairani dalam
Setiawati et al., 2013).Bioetanol dapat juga
diartikan juga sebagai bahan kimia yang
diproduksi dari bahan pangan yang mengandung
pati, seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, dan sagu.
Bioetanol merupakan bahan bakar dari minyak
nabati yang memiliki sifat menyerupai minyak
premium (Khairani dalam Setiawati et al., 2013).
Menurut Khairani, 2007 bahan baku pembuatan
bioetanol ini dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu:
a. Bahan sukrosa
Bahan-bahan yang termasuk dalam
kelompok ini antara lain nira, tebu, nira nipati,
nira sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan
sari buah mete.
b. Bahan berpati
Bahan-bahan yang termasuk kelompok ini
adalah bahan-bahan yang mengandung pati atau
karbohidrat. Bahan-bahan tersebut antara lain
tepung-tepung ubi ganyong, sorgum biji, jagung,
cantel, sagu, ubi kayu, ubi jalar, dan lain-lain.
c. Bahan berselulosa (lignoselulosa )
Bahan berselulosa (lignoselulosa) artinya
adalah bahan tanaman yang mengandung
selulosa (serat), antara lain kayu, jerami, batang
pisang, dan lain- lain.
Berdasarkan ketiga jenis bahan baku
tersebut, bahan berselulosa merupakan bahan
yang jarang digunakan dan cukup sulit untuk
dilakukan. Hal ini karena adanya lignin yang
sulit dicerna sehingga proses pembentukan
glukosa menjadi lebih sulit (Khairani, 2007).
Bioetanol merupakan proses fermentasi
gula
dari
sumber
karbohidrat
(pati)
menggunakan
bantuan
Sacharomyces
serevisiae. Produksi bioetanol dari tanaman
yang mengandung pati atau karbohidrat
dilakukan melalui proses konversi karbohidrat
menjadi gula (glukosa) dengan beberapa metode
diantaranya dengan hidrolisis asam atau enzim.
Metode hidrolisis secara enzimatis lebih sering
digunakan karena lebih ramah lingkungan
dibandingkan dengan katalis asam. Glukosa
yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses
fermentasi dengan menambahkan ragi sehingga
diperoleh bioetanol sebagai sumber energi
(Pudjaatmaka dan Qodratillah, 1999).
Mikroorganisme yang digunakan adalah
Saccharomycess
ceriviceae.
Manusia
memanfaatkan Saccharomyces cereviceae untuk
melangsungkan fermentasi, baik dalam makanan
maupun dalam minuman yang mengandung
alkohol. Jenis mikroba ini mampu mengubah
cairan yang mengandung gula menjadi alkohol
dan gas CO2 secara cepat dan efisien
(Sudarmadji et al., 1989).
Fermentasi
Fermentasi merupakan kegiatan mikrobia
pada bahan pangan sehingga dihasilkan produk
yang dikehendaki. Mikrobia yang umumnya
terlibat dalam fermentasi adalah bakteri, khamir
dan kapang. Contoh bakteri yang digunakan
dalam
fermentasi
adalah Acetobacter
xylinum pada
pembuatan
nata
decoco,
Acetobacter
aceti pada
pembuatan asam
asetat(Winarno dalam Nababan, 2013).
Secara umum proses fermentasi alkohol
terjadi dari pemecahan karbohidrat melalui suatu
degradasi dari monosakarida yaitu glukosa
menjadi asam piruvat. Asam piruvat ini
selanjutnya akan dirombak menjadi etanol dan
juga CO2 yang biasanya berlangsung melalui
proses oksidasi reduksi dengan menggunakan
DNPH+H+ sebagai donor elektron (Winarno
dalam Nababan, 2013).
Konsentrasi alkohol dari hasil fermentasi
dipengaruhi beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kerja dari mikroorganisme. pH
optimum pada proses fermentasi berkisar antara
LPPM STIKes Perintis Padang
114
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
4.5–5 dimana ketika pH di bawah atau di atasnya
maka akan mempengaruhi efektivitas enzim
yang dihasilkan mikroorganisme dalam
membentuk kompleks enzim substrat. Selain itu
dapat menyebabkan terjadinya denaturasi
sehingga menurunkan aktivitas enzim (Poedjiadi
et al., 2006).
Enzim Selulosa
Selulase dapat diproduksi oleh fungi,
bakteri, dan ruminansia. Produksi enzim secara
komersial biasanya menggunakan fungi atau
bakteri. Fungi yang bisa menghasilkan selulase
antara lain genus Tricoderma, Aspergillus, dan
Penicillium. Jenis fungi yang biasa digunakan
dalam produksi selulase adalah Aspergillus
niger (Ikram et al., 2005).
Selulase merupakan salah satu enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme. Enzim selulase
memegang peranan penting dalam proses
biokonversi limbah-limbah organik berselulosa
menjadi glukosa, protein sel tunggal, makanan
ternak, etanol dan lain-lain (Chalal dalam
Saropah et al., 2012).
Selulosa dapat dihidrolisis menjadi glukosa
dengan menggunakan asam atau enzim.
Hidrolisis menggunakan asam biasanya
dilakukan pada temperatur tinggi. Proses ini
relatif mahal karena membutuhkan energi yang
cukup tinggi. Baru pada tahun 1980-an mulai
dikembangkan
hidrolisisselulosa
dengan
menggunakan enzim selulase (Coraldalam
Sa’adah et al.,2010).
Saccharomyces cereviseae
Saccharomyces adalah genus dalam
kerajaan jamur yang mencakup banyak jenis
ragi. Saccharomyces adalah dari berasal dari
bahasa Latin yang berarti gula jamur.
Saccharomyces merupakan mikroorganisme
bersel satu tidak berklorofil, termasuk termasuk
kelompok Eumycetes. Tumbuh baik pada suhu
30oC dan pH 4.8 (Diplanga, 2012).
Beberapa kelebihan Saccharomyces dalam
proses fermentasi yaitu mikroorganisme ini
cepat berkembang biak, tahan terhadap kadar
alkohol yang tinggi, tahan terhadap suhu yang
tinggi, mempunyai sifat stabil dan cepat
mengadakan
adaptasi.
Pertumbuhan
Saccharomyces dipengaruhi oleh adanya
penambahan nutrisi yaitu unsur C sebagai
sumber karbon, unsur N yang diperoleh dari
penambahan urea, amonium dan pepton, mineral
dan vitamin. Suhu optimum untuk fermentasi
antara 28–30oC (Diplanga, 2012).
Hidrolisis Enzimatik
Hidrolisis adalah reaksi kimia antara air
dengan suatu zat lain yang menghasilkan satu zat
baru atau lebih dan juga dekomposisi suatu
larutan dengan menggunakan air. Proses ini
melibatkan pengionan molekul air ataupun
peruraian senyawa yang lain (Pudjaatmaka dan
Qodratillah 1999).
Hidrolisis merupakan
tahapan selanjutnya dalam pembuatan etanol
berbahan baku lignosellulosa. Hal ini bertujuan
untuk memecah selulosa dan hemiselulosa
menjadi monosakarida (glukosa dan xylosa)
yang kemudian akan difermentasi menjadi
etanol (Nababan, 2013).
Reaksi Hidrolisis:
(C6H10O5)n + n H2O
nC6H12O6
Polisakarida/selulosaAir Glukosa
Reaksi antara air dan pati berlangsung
sangat lambat sehingga diperlukanbantuan
katalisator untuk memperbesar kereaktifan air.
Katalisator
bisa
berupaasam
maupun
enzim(Groggins dalam Retno et al., 2011).
Hidrolisis Asam
Hidrolisis asam adalah hidrolisis yang
menggunakan asam yang dapat mengubah
polisakarida (pati) menjadi glukosa, asam yang
dipakai biasanya adalah asam klorida, asam
sulfat, asam nitrat dan asam perklorat. Hidrolisa
selulosa merupakan suatu proses yang dilakukan
untuk menghasilkan glukosa. Reaksi hidrolisa
menurut Fachry et al. (2013) yaitu:
Didalam metode hidrolisis asam, biomassa
lignoselulosa dipapar-kan dengan asam pada
suhu dan tekanan tertentu selama waktu tertentu,
dan menghasilkan monomer gula dari polimer
selulosa dan hemiselulosa. Hidrolisis asam dapat
dikelompokkan menjadi hidrolisis asam pekat
dan hidrolisis asam encer (Taherzadeh & Karimi
dalam Shofiyanto, 2008).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat eksperimen untuk
mengetahui efektifitas metoda hidrolisis asam
dan metoda enzimatik untuk pembuatan
bioetanol dari limbah kulit ubi jalar. Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
Autoclave, Waterbath Shaker,jarum ose, neraca
LPPM STIKes Perintis Padang
115
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
analitik, lampu spritus, buret 50 mL, corong,
blender, erlenmeyer 250 mL, erlenmeyer 500
mL, erlenmeyer tutup asah 100 mL, beaker glass
250 mL, neraca analitik, autoclave, buret 50
mL, standard dan klem, corong , hot plate, labu
ukur 50 mL, labu ukur 100 mL, labu ukur 200
mL, labu ukur 250 mL, labu ukur 500 mL, labu
ukur 1 L, kondenser volume, pipet gondok 10
mL, pipet gondok 25 mL, gelas ukur 50 mL,
pipet takar 10 mL, pipet tetes, stopwatch, labu
destilasi, density hydrometer, thermometer,
slang, vakum, pH meter.
2.1. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah limbah kulit ubi jalar, Roti berjamur,
Yeast Saccaromyces cerevisiae, Aquadest, NaCl
Fisiologis steril, kertas saring, kapas, etanol 96
%, nutrisi urea 0.03 gr, MgSO4.7H2O 0.005 mL,
KH2PO4 0.0023 gr, reagen NaOH 0.1 M, Larutan
Luff-Schoorl(Na2CO3 anhidrat, Asam sitrat,
CuSO4.5H2O), batu didih, Natrium thio sulfat
(Na2S2O3) 0.1 N, H2SO4 25 % , amilum 0.5 %,
larutan KI 20 %, (NH4)2HPO4 10 %, Pb Asetat,
KIO3 0.1 N, kertas pH universal, Alumunium
foil, batu didih, karet gelang.HCl pa, air suling
(aquades)
2.2. Prosedur Kerja metoda hidrolisis
enzimatik
1) Penanaman Aspergillus niger
Panaskan ujung kawat ose pada api bunsen
sampai berwarna merah, setelah itu tanam jamur
roti ke media PDA (Potato Dextrose Agar)
dengan teknik empat sektor. Inkubasi pada suhu
30 0C selama 3 x 24 jam.
2) Penyimpanan Inokulum
Celupkan ujung ose ke dalam etanol 96 %
lalu dipanaskan pada api bunsen sampai
berwarna merah. Setelah itu, biakan Aspergillus
niger dari media PDA diambil dengan
menggunakan kawat ose tersebut dan dicelupkan
beberapa saat pada media cair hingga tampak
keruh. Selanjutnya media cair ditutup dengan
kapas dan diinkubasi pada suhu ± 300C selama
24 jam.
3) Produksi Enzim Selulase Dalam Media
Cair Padat
Kulit Ubi Jalar dicacah dan dikeringkan
kemudian dihaluskan dengan menggunakan
blender. Setelah itu, timbang 20 gram kulit ubi
jalar dan masukkan kedalam beacker glass 250
mL dan tambahkan nutrisi urea 0.03 gr,
MgSO4.7H2O 0.005 gr, KH2PO4 0.0023
gr.Tambahkan 80 ml aquadest kemudian media
disterilkan didalam autoclave pada suhu 1200C
selama 15 menit. Media yang telah disterilkan
kemudian didinginkan.Setelah media dingin,
suspensi spora Aspergillus niger ditambahkan
sebanyak 10 ml pada media tersebut.
Selanjutnya, media diinkubasi pada suhu ± 300C
dengan waktu fermentasi selama 96 jam.
4) Pengambilan Enzim
Hasil fermentasi diestrak dengan aquadest
sebanyak 100 ml lalu diletakkan pada waterbath
shaker 150 rpm selama 1 jam. Selanjutnya cairan
hasil
fermentasi
dipisahkan
dengan
menggunakan kertas saring hingga didapatkan
enzim selulosa.Enzim yang diperoleh kemudian
disimpan di lemari pendingin dan siap
digunakan.
5) Pembuatan Bioetanol
Menurut Fachry et al. (2013) prosedur kerja
untuk penentuan waktu fermentasi optimum
terhadap persentase etanol dan penentuan
persentase etanol optimum terhadap variasi
volume enzim adalah sebagai berikut :
6) Pretreatment Kulit Ubi Jalar
Limbah kulit ubi jalar dibersihkan dan
dikeringkan dengan suhu ruangan. Kemudian
limbah kulit ubi jalar yang sudah kering
dihaluskan menggunakan blander dalam bentuk
bubuk.
7) Proses Delignifikasi
Bubuk kulit ubi jalar ditimbang dengan
neraca analitik masing-masing 20 gram, lalu
masukan kedalam 5 buah erlenmeyer 500
mL.Tambahkan 200 mL NaOH 0.1 M kedalam
masing-masing erlenmeyer tersebut, tutup
erlenmeyer dengan kapas dan aluminium foil
serta ikat menggunakan karet. Kemudian
dipanaskan dalamautoclave pada suhu 121oC
dengan tekanan 1 atm selama 15 menit.Bubur
hasil delignifikasi dicuci menggunakan aquadest
beberapa kali dengan cara disaring hingga pHnya netral.
8) Proses Hidrolisis Enzimatik
Untuk penentuan waktu fermentasi
optimum terhadap persentase etanol, bubur hasil
delignifikasi ditambah enzim selulosa sebanyak
LPPM STIKes Perintis Padang
116
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
6 mL. Sedangkan untuk penentuan persentase
etanol optimum terhadap variasi volume enzim,
bubur hasil delignifikasi ditambah enzim dengan
variasi volume 2 mL, 4 mL, 6 mL, 8 mL, 10 mL.
Erlenmeyer tersebut ditutup dengan kapas dan
alumunium foil lalu diikat dengan karet
kemudian diletakkan di waterbath shacker
kecepatan 160 rpm selama 24 jam.
9) Proses Fermentasi
Bubur hasil hidrolisis diatur pH-nya
menjadi
4-5.
Ditambahkan
2
gram
Saccaromyces cereviciae dan 0.2 gram nutrient
(urea) dan dihomogenkan. Setelah itu ditutup
erlemeyer dengan kapas dan alumunium foil lalu
diikat dengan karetyang berisi bubur kulit ubi
jalar. Selanjutnya larutan difermentasi selama 2
hari, 4 hari, 6 hari, 8 hari dan 10 hari (sesuai
dengan perlakuan) untuk penentuan waktu
fermentasi optimum terhadap persentase etanol.
Sedangkan penentuan persentase etanol
optimum terhadap variasi volume enzimlarutan
difermentasi selama waktu optimum fermentasi
yang telah didapatkan (sesuai dengan
perlakuan). Selanjutnya memisahkan larutan
dengan bubur kulit ubi jalar sehingga diperoleh
cairan alkohol dan air.
2.3. Prosedur kerja metoda asam
1) Pembuatan Bioetanol
Menurut Fachry et al. (2013) penentuan
waktu fermentasi optimum terhadap persentase
etanol dan penentuan persentase etanol optimum
terhadap variasi konsentrasi asam (HCl) adalah
sebagai berikut :
2) Proses Hidrolisis dengan Asam HCl
Untuk penentuan waktu fermentasi
optimum terhadap persentase etanol, bubur hasil
delignifikasi ditambah 200 mL HCl dengan
konsentrasi 0.6 M. Sedangkan untuk penentuan
persentase etanol optimum terhadap variasi
konsentrasi asam (HCl), bubur hasil
delignifikasi ditambah 200 mL HCl dengan
variasi konsentrasi 0.2, 0.4, 0.6, 0.8 dan 1 M.
Erlenmeyer tersebut ditutup dengan kapas dan
alumunium foil lalu diikat dengan karet
kemudian dipanaskan dalam autoclave pada
suhu 121 0C dengan tekanan 1 atm selama 60
menit dan bubur kulit ubi jalar didinginkan.
3) Proses Fermentasi
Bubur hasil hidrolisis diatur pH-nya
menjadi
4-5.
Ditambahkan
2
gram
Saccaromyces cereviciae dan 0.2 gram nutrient
(urea) dan dihomogenkan. Setelah itu ditutup
erlemeyer dengan kapas dan alumunium foil lalu
diikat dengan karetyang berisi bubur kulit ubi
jalar. Selanjutnya larutan difermentasi selama 2
hari, 4 hari, 6 hari, 8 hari dan 10 hari (sesuai
dengan perlakuan) untuk penentuan waktu
fermentasi optimum terhadap persentase etanol.
Sedangkan penentuan persentase etanol
optimum terhadap variasi konsentrasi asam
(HCl) larutan difermentasi selama waktu
optimum fermentasi yang telah didapatkan
(sesuai dengan perlakuan). Selanjutnya
memisahkan larutan dengan bubur kulit ubi jalar
sehingga diperoleh cairan alkohol dan air.
4) Proses Destilasi
Merangkai dan menyalakan peralatan
destilasi dengan benar. Cairan hasil fermentasi
lalu
dimasukkan
kedalam
labu
destilasi.Temperatur pemanas dijaga pada suhu
68 oC. Proses destilasi dilakukan selama 1.5–2
jam sampai etanol tidak menetes lagi. Mengukur
destilat (etanol) yang dihasilkan.
5) Penentuan Kadar Etanol
Etanol hasil fermentasi diukur kadar
etanolnya menggunakan density hydro-meter.
6) Penentuan Kadar Glukosa (SNI 01-28921992)
Penentuan kadar glukosa berdasarkan SNI
01-2892-1992 adalah sebagai berikut :
Timbang seksama 2 gram sampel kulit ubi
jalar kemudian langsung keproses delignifikasi
dan hidrolisis. Setelah itu langsung ke perlakuan
pemeriksaan kadar glukosa. Masukan bubur
hasil hidrolisis kedalam labu ukur 250 mL
tambahkan sedikit aquadest dan homogenkan.
Tambahkan 5 mL Pb Asetat setengah basa (10
%) dan goyangkan. Teteskan 1 tetes larutan
(NH4)2HPO4 10 % (bila timbul endapan putih
maka penambahan Pb Asetat setengah basa (10
%) sudah cukup). Tambahkan 15 mL larutan
(NH4)2HPO4 10 % untuk menguji apakah Pb
Asetat setengah basa (10 %) sudah diendapkan
seluruhnya dan teteskan 1-2 tetes (NH4)2HPO4
10 %, apabila tidak timbul endapan berarti
penambahan (NH4)2HPO4 10 % sudah cukup.
Goyangkan dan tepatkan isi labu ukur sampai
LPPM STIKes Perintis Padang
117
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Metoda Enzimatik
Penentuan Waktu Fermentasi Optimal
Terhadap Persentase Etanol
Pada Gambar 1. menggambarkan hasil dari
pengukuran kadar Etanol dengan menggunakan
alat Density Hydrometer dalam variasi waktu.
6
5.6
Etanol (%)
tanda garis dengan aquadest, homogenkan 12
kali biarkan dan saring.
Pipet 10 mL larutan hasil penyaringan dan
masukan ke dalam erlenmeyer 500 mL.
Tambahkan 15 mL aquadest dan 25 mL larutan
luff schoorl (dengan pipet gondok) serta
beberapa butir batu didih. Pasang kondensor
volume pada mulut erlenmeyer dan lakukan
refluk, waktu 3 menit sudah mendidih. Panaskan
terus menerus 10 menit (pakai stopwatch)
kemudian angkat dan segera dinginkan dalam
bak berisi air (jangan digoyang). Setelah dingin
tambahkan 10 mL larutan KI 20 % dan 25 mL
larutan H2SO4 25 % (hati-hati terbentuk gas
CO2). Titrasi dengan larutan natrium thio sulfat
0.1 N (hingga kuning gading) tambahkan larutan
amilum 0.5 % sebagai indikator dan titrasi
kembali dengan natrium thio sulfat 0.1 N
(hingga Titik Akhir Titrasi ditandai dengan
hilangnya warna biru) dicatat sebagai V1.
Kerjakan penetapan blanko dengan 25 mL air
dan 25 mL larutan luff schoorl dicatat sebagai
V2.
5
4.8
4.8
4.1
4
4.1
3
0
2
4
6
8
10
Waktu Fermentasi (Hari)
12
Gambar 1. Waktu Fermentasi Optimal
Terhadap Persentase Etanol
Dari gambar diatas didapatkan hasil yaitu
waktu optimum untuk mendapatkan kadar etanol
sebanyak-banyaknya dalam waktu yang lebih
cepat (optimum) yaitu pada waktu 2 hari karena
Rumus Persentase Gula berdasarkan SNI 01- dalam waktu 2 hari saja sudah didapatkan kadar
2892-1992 yaitu :
etanol sebesar 5.6 % sedangkan pada 4 hari dan
W1 x fp
6 hari didapatkan kadar etanol yang sama yaitu
Persentase Gula sebelum inversi=
x 100 %4.8 % dan pada 8 hari dan 10 hari didapatkan
W
Keterangan :
kadar etanol yang sama yaitu 4.1 %. Terlihat
W1 = glukosa, mg (tabel luff school)
bahwa semakin lama waktu fermentasi maka
(V2-V1) x N Thio
semakin berkurang kadar etanolnya karena
mg glukosa=
setelah kondisi optimum tercapai, kadar
0.1N
bioetanol yang diperoleh menurun dan apabila
Fp = faktor pengenceran
proses fermentasi tetap dilanjutkan maka
W = Bobot sampel (mg)
bioetanol yang dihasilkan cenderung mengalami
penurunan. Hal ini disebabkan karena substrat
yang dikonversi menjadi produk oleh
mikroorganisme telah habis (Pramita et al.,
2014). Pada gambar diatas nampak bahwa pada
hari keempat terjadi penurunan kadar etanolnya.
Penentuan Volume Optimal Enzim Terhadap
Persentase Etanol
Setelah diketahui waktu optimum dari
pembuatan bioetanol dengan metoda hidrolisis
enzimatik dan fermentasi ini maka dilakukan
variasi volume enzim untuk mengetahui berapa
volume enzim yang paling optimum untuk
mendapatkan kadar etanol. Pada gambar 2.
menggambarkan hasil dari pengukuran kadar
LPPM STIKes Perintis Padang
118
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
6
5.6 5.6
Etanol (%)
5.5
5
4.8 4.8 4.8
4.5
4
0
5
10
Volume Enzim (mL)
15
Glukosa (%)
Gambar 2. Volume Optimal Enzim Terhadap
Persentase Etanol
Dari gambar diatas didapatkan hasil yaitu
volume enzim maksimal pada waktu fermentasi
2 hari yaitu 4 mL dan 2 mL. Pada hasil diatas
didapatkan persentase yang kebanyakan sama
persentasenya karena alat Density Hydrometer
hanya membaca berat jenis cairan tiga angka
dibelakang koma sehingga persentasenya pun
hanya satu angka dibelakang koma dan hasilnya
bisa dikatakan sama.
Penentuan Kadar Glukosa
Hal lain yang mempengaruhi kadar etanol
yaitu glukosa, maka pada penelitian ini setelah
didapatkan variasi waktunya maka dilakukan
pengerjaan penentuan kadar glukosanya.
Penentuan kadar glukosa dilakukan setelah
tahapan
hidrolisis
enzimatik
dengan
menggunakan metode Luff-schoorl. Pada
gambar menunjukkan kadar glukosa dalam
waktu 2 hari (waktu optimum).
18
16
14
12
10
8
15.59
14.00
12.1311.69
10.95
0
5
10
Volume Enzim (mL)
15
Gambar 3. Pengaruh kadar Glukosa terhadap
Volume Enzim
Dari Gambar 3. dapat terlihat bahwa
persentase kadar glukosa yang tertinggi pada
waktu fermentasi 2 hari dengan volume enzim 2
mL yaitu 15.59. Sedangkan persentase terendah
pada volume enzim 10 ml yaitu 10.95. Ini
menunjukkan bahwa semakin besar volume
enzim yang ditambahkan maka kadar
glukosanya semakin berkurang. Hal ini
disebabkan oleh proses hidrolisis yang
dilakukan oleh mikroorganisme untuk memecah
selulosa menjadi glukosa mulai berkurang
(Seftian et al., 2012).
Hubungan Persentase Etanol dengan
Persentase Glukosa pada Limbah Kulit Ubi
Jalar
% Kadar (Etanol dan Volume Enzim)
Etanol dengan menggunakan alat Density
Hydrometer dalam variasi Volume Enzim.
18
16
15.59
14
14.00
12.13
11.69
10.95
12
10
% Etanol
8
5.65.6
4.84.84.1
6
4
%
Glukosa
2
0
10
20
Volume Enzim (ml)
Gambar 4. Hubungan Persentase Etanol
dengan Persentase Glukosa pada Variasi
Volume Enzim dalam Waktu Optimum
Fermentasi yaitu 2 Hari
Dari Gambar 4. diatas dapat dilihat bahwa
kadar glukosa mempengaruhi banyaknya
persentase etanol yang dihasilkan karena
semakin tinggi kadar glukosa yang dihasilkan
maka etanol yang terbentuk semakin banyak,
karena bahan yang akan difermentasi menjadi
etanol adalah glukosa (Dilaplanga, S, et al.,
2012), begitupun sebaliknya apabila glukosa
sedikit akan mengakibatkan sedikit pula yang
diubah menjadi etanol. Pada Gambar 4.4 diatas
kadar glukosa terbanyak pada volume enzim 2
ml pada waktu fermentasi 2 hari yaitu sebanyak
15.59 % dengan kadar etanolnya 5.6 % dan
kadar glukosa paling sedikit pada volume enzim
10 ml didapatkan kadar glukosa 10.95 % dengan
kadar etanolnya 4.1 %.
LPPM STIKes Perintis Padang
119
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
5
Kadar Etanol (%)
3.2. Metoda Asam
Penentuan Waktu Fermentasi Optimum
terhadap Persentase Etanol
Pada Gambar 5 menggambarkan hasil dari
pengukuran kadar etanol menggunakan alat
Density Hydrometer dengan variasi waktu
fermentasi pada konsentrasi asam (HCl) 0.6 M
terhadap 20 g sampel kulit ubi jalar.
4.1
4
3.4
3.4
3.4
2.7
3
2
0.2
0.4
0.6
0.8
Konsentrasi HCl (M)
1
Kadar Etanol (%)
5
4.1
4
3
3.4
2.7
3.4
2.7
2
2
4
6
8
10
Waktu Fermentasi (Hari)
Gambar 5. Waktu fermentasi optimum
terhadap persentase etanol
Berdasarkan gambar di atas didapatkan
waktu fermentasi optimum terhadap persentase
etanol yaitu pada hari ke-6 menghasilkan
persentase etanol 4.1%. Dapat dijelaskan bahwa
semakin lama waktu fermentasi maka, semakin
tinggi persentase etanol yang dihasilkan.
Disebabkan karena semakin lama waktu
fermentasi maka, semakin banyak glukosa yang
tereduksi menjadi alkohol terutama etanol tetapi
terdapat batas maksimum aktivitas mikroba.
Pada penelitian ini terdapat penurunan kadar
etanol, sehingga penelitian ini sudah mencapai
kondisi optimum dan jika fermentasi sudah
mencapai waktu optimum maka, persentase
etanol yang dihasilkan semakin berkurang
(Fachry et al., 2013).
Penentuan Persentase Etanol Optimum
terhadap Variasi Konsentrasi Asam (HCl)
Pada Gambar 6menggambarkan hasil dari
pengukuran kadar etanol dengan variasi
konsentrasi asam (HCl)terhadap 20 g sampel
kulit ubi jalar yang difermentasi selama 6 hari.
Gambar 6. Konsentrasi optimum asam (HCl)
terhadap persentase etanol
Berdasarkan gambar di atas bahwa
konsentrasi optimum asam (HCl) terhadap
persentase etanol pada waktu fermentasi 6 hari
yaitu konsentrasi asam (HCl) 0.6 M
menghasilkan kadar etanol paling tinggi yaitu
4.1%. Dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi
molaritas asam (HCl) maka persentase etanol
yang dihasilkan juga semakin tinggi dan jika
konsentrasi asam (HCl) sudah mencapai batas
optimum maka, persentase etanol semakin
berkurang (Fachry et al., 2013).
Pada proses hidrolisa, proton H+ dari
senyawa HCl akan mengubah gugus serat dari
kulit ubi jalar menjadi gugus radikal bebas.
Gugus radikal bebas tersebut kemudian akan
berikatan dengan gugus OH- dari H2O dan
bereaksi pada suhu 121 0C sehingga
menghasilkan glukosa. Pada saat kebutuhan H+
dari HCl telah mencukupi pembentukan gugus
radikal bebas dari kulit ubi jalar maka glukosa
yang dihasilkan maksimal (Fachry et al., 2013;
Indral et al., 2012) dimana kondisi optimum dari
variasi konsentrasi asam (HCl) tersebut berada
di konsentrasi HCl 0.6 M, hal ini dilihat dari
kadar glukosa yang dihasilkan yang terdapat
pada gambar 7.
Penentuan Kadar Glukosa
Penentuan kadar glukosa pada kulit ubi
jalar metode iodometri dengan larutan luff
schoorl yang dilakukan setelah proses hidrolisis
asam.
Pada gambar 7 menunjukkan kadar glukosa
dengan variasi konsentrasi asam (HCl).
LPPM STIKes Perintis Padang
120
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
Kadar Glukosa (%)
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
9
8
7
6
5
4
3
2
8.88
6.06
6.62
6.55
3.93
0.2
0.4
0.6
0.8
Konsentrasi HCl (M)
1
Gambar 7. Hubungan persentase glukosa
terhadap konsentrasi asam (HCl)
Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa
persentase kadar glukosa yang tertinggi terdapat
pada konsentrasi asam (HCl) 0.6 M sebesar 8.88
%. Hal itu menunjukkan bahwa hubungan
konsentrasi asam (HCl) berbanding lurus dengan
persentase glukosa. Semakin tinggi konsentrasi
asam (HCl), maka kadar glukosa yang dihasilkan
akan
semakinmeningkat.
Namun
jika
konsentrasi asam (HCl) sudah mencapai batas
optimum maka, terjadi penurunan persentase
glukosa (Minarni et al., 2013).
Hubungan antara Persentase Etanol dengan
Persentase Glukosa pada Limbah Kulit Ubi
Jalar
8.88
9
Kadar Etanol dan Glukosa (%)
8
6.62
7
6.55
6.06
6
Kadar
Etanol
5
4
4.1
3.4
3.4
3.93
Kadar
Gluko
sa
3.4
2.7
3
2
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
Konsentrasi HCl (M)
Gambar 8. Hubungan antara persentase etanol
dengan persentase glukosa pada limbah kulit
ubi jalar
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa
kenaikan persentase glukosa berbanding lurus
dengan kenaikan persentase etanol. Persentase
glukosa mempengaruhi banyaknya persentase
etanol yang dihasilkan karena semakin tinggi
persentase glukosa yang dihasilkan maka etanol
yang terbentuk semakin banyak, karena bahan
yang akan difermentasi menjadi etanol adalah
glukosa (Dilaplanga, S, et al., 2012). Sebaliknya
apabila glukosa sedikit akan mengakibatkan
sedikit pula etanol yang terbentuk. Pada gambar
8 konsentrasi HCl 0.2 M menghasilkan glukosa
6.06 % dan etanol 3.4 %, konsentrasi HCl 0.4 M
menghasilkan glukosa 6.62 % dan etanol 3.4 %,
kondisi optimum terdapat pada konsentrasi HCl
0.6 M dengan glukosa 8.88 % dan etanol 4.1 %,
kemudian persentase glukosa mengalami
penurunan mulai dari konsentrasi HCl 0.8 M
dengan glukosa 6.55 % dan etanol 3.4 %,
konsentrasi HCl 1 M dengan glukosa 3.93 % dan
etanol 2.7 %.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian efektifitas
metoda hidrolisis asam dan metoda enzimatik
untuk pembuatan bioetanol dari limbah kulit ubi
jalar (ipomoea batatas l) dapat disimpulkan:
bahwa untuk metoda asam (HCL) kadar etanol
4,1% kadar glukosa yang dihasilkan 8,9 % dan
konsentrasi HCL 0,6M waktu optimum
fermentasi pada hari ke-6 sedangkan untuk
metoda enzimatis kadar etanol 5,6% , kadar
glukosa 15,5% dan volume enzim 2 ml waktu
optimum fermentasi pada hari ke-2. Dapat
disimpulkan bahwa metoda hidrolisis enzimatis
lebih efektif menghasilkan etanol dibandingkan
metoda hidrolisis asam (HCL) dari limbah kulit
ubi jalar
5. REFERENSI
Banati, F. S. Zulaika, E. Hidayati, T.N. 2009.
Pengaruh Penambahan Enzim αAmilase Pada Fermentasi Karbohidrat
Ekstrak
Ulva
fasciata
Dari
Balekambang, Malang Menggunakan
Ragi Roti Fermipan. Jurnal jurusan
Biologi FMIPA ITS : Surabaya.
Diplanga. S., Isa. I., Alio. L. 2012. Pemanfaatan
Limbah Kulit Pisang Menjadi Etanol
Dengan Cara Hidrolisis Dan Fermentasi
LPPM STIKes Perintis Padang
121
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Menggunakan
Saccharomyces
Cerevisiae.Jurusan Pendidikan Kimia
Fakultas
Matematika
dan
IPA.
Universitas Negeri Gorontalo :
Gorontalo.
Hadi, P.U., A. Djulin, A.K. Zakaria, V. Darwis
& J. Situmorang. 2006. Prospek
pengembangan sumber energi alternatif
(biofuel) : fokus pada jarak pagar.
Seminar Hasil Penelitian Tugas Akhir :
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian Badan penelitian
dan
Pengembangan
Pertanian
Departemen Pertanian Bogor
Hasyim, A dan Yusuf, M. 2008. Diversifikasi
Produk Ubi Jalar Sebagai Bahan Pangan
Substitusi Beras. Tabloid Sinar Tani :
Malang
Jayanti, R.T, 2011. Pengaruh pH, Suhu
Hidrolisis Enzim α-Amilase dan
Konsentrasi Ragi Roti Untuk Produksi
Etanol Menggunakan Pati Bekatul.
Jurnal
Jurusan
Biologi
FMIPA
Universitas Sebelas Maret : Surakarta.
Nababan, D. A. 2013. Hidrolisis Enzimatik
untuk Meningkatkan Produksi Bioetanol
Dari Makroalga (Eucheuma Cottoni).
Fakultas Teknologi Pertanian. IPB :
Bogor.
Nasrulloh. 2009. Hidrolisis Asam dan Enzimatis
Pati Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)
Menjadi Glukosa sebagai Substrat
Fermentasi Etanol. Program Studi
Biologi Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah. Jakarta
N. Azizah, A. N. Al-‐Baarri, S. Mulyani. 2012.
Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap
Kadar Alkohol, Ph, Dan Produksi Gas
Pada Proses Fermentasi Bioetanol Dari
Whey Dengan Substitusi Kulit Nanas.
Fakultas Peternakan dan Pertanian
Universitas Diponegoro. Semarang.
Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyanti.
2006. Dasar – dasar Biokimia. Jakarta :
UI.Press
Pramita. D.L., Yenie. E., Muria. S. R.2014.
Pembuatan Bioetanol dari Kulit Nenas
Menggunakan Enzim Selulase dan
Yeast
Saccharomyces
Cerevisiae
dengan
Proses
Simultaneous
Sacharificatian and Fermentation (SSF)
terhadap Variasi Konsentrasi Inokulum
dan Waktu Fermentasi.Laboratorium
Rekayasa Bioproses Jurusan Teknik
KimiaUniversitas Riau : Riau
Pudjaatmaka, A.H. dan Qodratillah, M.T. 1999.
Kamus Kimia. Balai Pustaka : Jakarta.
Retno. D.T., Nuri. W. 2011.Pembuatan
Bioetanol dari Kulit Pisang. Jurusan
Teknik Kimia FTI UPN Veteran :
Yogyakarta.
Rizani, K. Z. 2000. Pengaruh Konsentrasi Gula
Reduksi dan Inokulum (Saccharomyces
cerevisiae) pada proses Fermentasi Sari
Kulit Nanas (Ananas comocus L. Merr)
untuk produksi etanol. Skripsi. Jurusan
Biologi. FMIPA. Universitas Brawijaya,
Malang.
Sa’adah. Z., Ika. N., Abdullah. Produksi Enzim
Selulosa oleh Aspergillus niger
Menggunakan Substrat Jerami dengan
Sistem Fermentasi Padat. Jurusan
Teknik Kimia Universitas Dipenogoro :
Semarang.
Saropah. D. A., Jannah. A., Maunatin. A,
Kinetasi Reaksi Enzimatis Ekstrak
Kasar
Enzim
Selulase
Bakteri
Selulolitik Hasil Isolasi Dari Bekatul.
UIN Maulana Malik Ibrahim : Malang.
Setiawati. D., Sinaga. A., Dewi. T. 2013. Proses
Pembuatan Bioetanol Dari kulit Pisang
Kepok.
Universitas
Sriwijaya
:
Palembang.
SH, Siregar. 2010. Pemanfaatan Ubi Jalar.USU :
Medan
Skadrongautama, 2009. Bahan Bakar Nabati
(Bioetanol). Yogyakarta: KhalifahNiaga
antabura.
Sudarmadji. S., Haryono. B., dan Suhardi, 1989,
Mikrobiologi Pangan, PAU Pangan dan
Gizi
Universitas
Gaja
Mada,
Yogyakarta.
Sukmawati, R. F., Milati. S. 2009. Pembuatan
Bioetanol dari Kulit Singkong. Fakultas
Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret
: Surakarta.
Wuryanti. 2008. Pengaruh Penambahan Biotin
Pada Media Pertumbuhan Terhadap
LPPM STIKes Perintis Padang
122
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Produksi Sel Aspergillus niger. Jurusan
Kimia : UNDIP.
LPPM STIKes Perintis Padang
123
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
PERBEDAAN EKSPRESI GEN SCUBE2 PADA PENDERITA DIABETES
MELITUS TIPE 2 ANTARA LAMA MENDERITA < 5 TAHUN DENGAN ≥ 5
TAHUN
Chairani1, Hirowati Ali2, Raflis Rustam3
Magister Ilmu Biomedik FK-Unand
Email: [email protected]
Abstract
Diabetes mellitus (DM) is one of the main causes of early death in worldwide. DM reported
as cause of death by 41% of patients who are known as cardiovascular disease as a complication of
diabetes. SCUBE2 the indicated genes involved in inflammation, expressed as endothelial
dysfunction in patients with diabetes mellitus type 2. The purpose of this study was to determine
differences in gene expression SCUBE2 in patients with type 2 diabetes among the long-suffering <5
years with ≥ 5 years. The study design was cross-sectional comparative observation on 18 patients
with DM type 2 which suffering < 5 years, 18 patients with diabetes DM type 2 which suffering ≥ 5
years in dr. Rasidin hospital in Padang and 18 non-DM as a control. Samples were selected by
consecutive sampling. The gene expression of SCUBE2 was examined in Biomedical Laboratory
Faculty of Medicine, University of Andalas with real-time PCR method. Data were analyzed by chisquare test and independent T test to analyze the characteristics of the respondent, and the analysis
of differences in gene expression of SCUBE2 in DM type 2 and the control group. The result showed
the average gene expression SCUBE2 on the group's long-suffering type 2 diabetes mellitus < 5
years (1.01 SD± 0.84) and (0.71 SD± 0.50) in patients with type 2 diabetes suffer ≥ 5 years old,
higher than controls (0.30 SD± 0.31). There are significant differences in gene expression SCUBE2
among patients with type 2 diabetes with controls (p <0.05) for both long-suffering <5 years and ≥
5 years, but there are no significant differences between SCUBE2 gene expression in patients with
type 2 diabetes long-suffering < 5 years with ≥ 5 years.
Key words: Gene expression SCUBE2, long suffering from diabetes mellitus type 2
1. PENDAHULUAN
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit
kronik yang paling sering di dunia, sekitar 180
juta penduduk pada tahun 2008, dan
diperkirakan mencapai 360 juta penduduk pada
tahun 2030. Lima hingga 10 persen merupakan
tipe 1 (tergantung insulin) dan 90 hingga 95 %
merupakan tipe 2 (tidak tergantung insulin).
Prevalensi DM untuk semua kelompok umur
diperkirakan 2,8 % di tahun 2008 menjadi 4,4 %
di tahun 2030.1,2
Diabetes berhubungan dengan resiko
perkembangan penyakit arteri koroner 2 sampai
4 kali lipat. Laporan dari Adult treatment Panel
of The National Cholesterol Education Program,
bahwa DM Tipe 2 sebanding dengan resiko
penyakit arteri koroner. Pada pasien yang
diketahui dengan arteri koroner dan diabetes,
rerata kematian mencapai 45 % di atas 7 tahun
dan 75 % diatas 10 tahun. Diperkirakan 50 %
dari pasien diabetes meninggal 5 tahun setelah
infark miokard.16 Penelitian yang dilakukan
oleh Srinivasan et al (2015) menyatakan bahwa
pada penderita DM tipe 2 dengan lama
menderita kurang 5 tahun berkemungkinan
mengalami penyempitan pembuluh darah
jantung (angioplasti) dan pada penderita DM
tipe 2 yang menderita 5- 10 tahun dan lebih dari
10 tahun berkemungkinan menderita coronary
artery bypass graft (CABG).17
Gangguan metabolik yang terjadi pada
penderita DM tipe 2 seperti hiperglikemia, asam
lemak
bebas,
dan
resistensi
insulin
menyebabkan abnormalitas fungsi sel endotel,
yang merupakan lesi awal arterosklerosis.14
Pada permukaan sel endotel pembuluh darah
LPPM STIKes Perintis Padang
124
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
ditemukan suatu gen baru yaitu SCUBE (Signal
peptide-CUB_EGF domain containing protein)
yang terdapat pada vaskuler endothelial dan
organ- organ yang kaya akan sirkulasi.3
SCUBE 1 pertama kali diidentifikasi pada
sel endotel manusia dan diekspresikan dalam
platelet dan lesi pembuluh darah aterosklerosis.
Hanya saja, fungsi biologis SCUBE 1 pada
aterosklerosis atau pembentukan trombus masih
belum jelas.18 melaporkan bahwa konsentrasi
Plasma SCUBE1 meningkat pada pasien Arteri
Coronari Syndrome (ACS) dan Acute Ischemic
Stroke (AIS) tetapi tidak pada pasien Coronary
Arteri Disease (CAD).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas dan Balai Laboratorium Kesehatan
Sumatera Barat bekerjasama dengan RSUD dr.
Rasidin Kota Padang. 18 orang pasien DM tipe
2 lama menderita < 5 tahun dan 18 orang
penderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun berusia 35-74
tahun di RSUD dr. Rasidin Kota Padang
diikutsertakan dalam penelitian ini. Pasien DM
tipe 2 dipilih dan didiagnosis berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium,
kriteria DM dari WHO 2011, yang memiliki satu
dari kriteria berikut ini:
1) Gejala klasik DM dan kadar glukosa darah
sewaktu ≥200 mg/dl, 2) Glukosa darah puasa
≥126 mg/dl, 3) HbA1c >6,5%, dan 4) Glukosa
darah 2 jam sesudah makan ≥200 mg/dl.
Kelompok kontrol dipilih sebanyak 18 orang
dengan umur 35-74 tahun, glukosa darah puasa
≤99 mg/dl, dan glukosa darah 2 jam sesudah
makan ≤139 mg/dl, tanpa ada riwayat keluarga
DM, riwayat hipertensi, penyakit ginjal, dan
penyakit metabolik kronis, serta tidak sedang
menderita tuberkulosis.
Pasien DM tipe 2 dengan komplikasi akut
berupa hipoglikemia, ketoasidosis, infeksi,
penyakit
tiroid,
hipertensi
esensial,
imunosupresi, diabetes gestasional, riwayat
konsumsi obat-obat terlarang, antikonvulsan,
steroid, obat tiroksin, suplemen vitamin, dan
diabetes gestasional dikeluarkan dari penelitian.
Semua hasil anamnesis dicatat dan
dikumpulkan. Informed consent diminta dari
setiap subjek penelitian. Penelitian ini telah
disetujui oleh komite etik penelitian. Terhadap
sampel yang memenuhi kriteria penelitian, darah
diambil sebanyak 3 ml dari vena cubiti untuk
diperiksa ekspresi gen SCUBE2. Ekspresi gen
SCUBE2 secara real-time PCR.
Hasil penelitian diolah secara statistik, dan
disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Analisis
rasio ekspresi gen SCUBE2 memakai metode
Livak. Data ekspresi gen SCUBE2 pada ketiga
kelompok terdistribusi normal. Uji T
Independen digunakan untuk menganalisa
perbedaan ekspresi gen SCUBE2.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Pada penelitian ini, sebagian besar sampel
pada penelitian ini adalah perempuan (Tabel 1)
dan rerata umur pada kelompok DM tipe 2 lebih
tinggi daripada kelompok kontrol, yaitu
59,83±7,8 dengan p<0,05 (Tabel 2).
Rerata ekspresi gen SCUBE2 pada
kelompok DM tipe 2 lama menderita < 5 tahun
dan ≥ 5 tahun lebih tinggi (Gambar 1).
Hasil analisis uji T independen ekspresi gen
SCUBE2 pada kelompok DM tipe 2 < 5 tahun
dan ≥ 5 tahun dengan kontrol memperlihatkan
terdapat perbedaan yang bermakna secara
statistic (p < 0,05), sedangkan pada penderita
DM tipe 2 lama menderita < 5 tahun dengan ≥ 5
tahun tidak terdapat perbedaan yang bermakna
secara statistic (p ≥ 0,05).
Tabel 1. Distribusi responden menurut jenis
kelamin
Jenis
Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
DMT2
lama
menderita
< 5tahun
f
%
6
33
12
67
10
19
0
DMT2
lama
menderita
< 5tahun
f
%
6
33
12
67
LPPM STIKes Perintis Padang
125
Kontrol
f
8
10
%
44
56
20
100
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Tabel 2. Rerata umur responden
Kelompok
DMT2 lama <
5 tahun
DMT2 lama ≥
5 tahun
Konrol
Umur
Rerata
SD
51,61
5,425
59,83
7,80
42,89
6,45
P
value
0,001
Gambar 1. Perbedaan ekspresi Gen SCUBE2
3.2 Pembahasan
Pada kedua kelompok sampel, baik
kelompok DM Pada penelitian ini ditemukan
bahwa pada penderita DM tipe 2 lebih banyak
berjenis kelamin perempuan dan rerata umur
kelompok DM tipe 2 lama menderita < 5 tahun
adalah 51,61 tahun dengan standar deviasi 5,425,
sedangkan pada kelompok DM tipe 2 lama
menderita ≥ 5 tahun adalah 59,83 dengan standar
deviasi 7,801.
Hasil riset kesehatan dasar juga
menyebutkan bahwa berdasarkan diagnosis dan
gejala tertinggi berada di rentang usia 55- 64
tahun sebanyak 5,5 %. Penderita DM sebagian
besar ditemukan pada perempuan (2,3 %)
dibandingkan dengan laki- laki (2,0 %).5
Penelitian Jelantik & Haryati (2014) diwilayah
kerja puskesmas Mataram yakni dari bulan
Januari sampai dengan Juni 2013, dilaporkan
sebanyak 620 kasus DM yang terdiri dari 359
kasus yang terjadi pada perempuan dan 261
kasus terdapat pada laki - laki.
Pada penelitian ini umur terendah pada
kelompok penderita DM tipe 2 yaitu 42 tahun,
hal ini membuktikan bahwa prevalensi DM pada
orang muda juga meningkat, Penelitian Gu et al
(2003) menyatakan bahwa di negara Cina
menunjukkan 88 % peningkatan penderita DM
pada umur 35-44 tahun. Di India Selatan,
prevalensi DM pada umur < 44 tahun telah
meningkat dari 25 % pada tahun 2000 menjadi
36 % pada tahun 2006.2,13
Umur tertinggi pada kelompok penderita
DM tipe 2 pada penelitian ini yaitu 72 tahun, hal
ini membuktikan bahwa pada usia lanjut sekitar
50% lansia mengalami intoleransi glukosa
dengan kadar gula darah puasa normal. Studi
epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi
DM maupun Gangguan Toleransi Glukosa
(GTG) meningkat seiring dengan pertambahan
usia, menetap sebelum akhirnya menurun.
Penelitian Trisnawati & Setyono (2013) yang
menyatakan bahwa kelompok umur ≥ 45 tahun
memiliki resiko menderita DM tipe 2.11
Pada penelitian ini, data ekspresi gen
SCUBE2 terdistribusi normal dengan rerata
ekspresi sebesar 0,30 SD±0,31 pada kontrol;
sedangkan pada kelompok DM tipe 2 lama
menderita < 5 tahun didapatkan rerata ekspresi
sebesar 1,00 SD±0,84 dan pada kelompok DM
tipe 2 lama menderita ≥ 5 tahun didapatkan
rerata ekspresi sebesar 0,70 SD±0,50.
Kelompok DM tipe 2 dan kontrol samasama mengekspresikan gen SCUBE2 tetapi
dalam jumlah yang berbeda. Ekspresi gen
SCUBE2 ditemukan lebih tinggi pada penderita
DM tipe 2 dibandingkan kontrol karena ekspresi
gen SCUBE2 kemungkinan dipengaruhi oleh
sitokin pro inflamasi seperti TNF- α dan IL-1 ß
yang diketahui sebagai respon inflamasi ketika
terjadi disfungsi endotel pada penderita DM tipe
2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Yang et al (2002) yang membuktikan adanya
ekspresi gen SCUBE2 pada human umbilical
vein endothelial cells (HUVEC) setelah
distimulasi dengan TNF-α dan IL-1ß. Penelitian
yang dilakukan oleh Spranger et al (2002) pada
penderita DM tipe 2 dan non DM,
menyimpulkan bahwa pada penderita DM tipe 2
terjadi reaksi inflamasi yang ditandai dengan
meningkatnya produksi sitokin pro inflamasi
seperti TNF-α, IL-1ß dan IL-6.6,7,8,9
Ekspresi gen SCUBE2 pada penderita DM
tipe 2 lama menderita < 5 tahun tidak berbeda
secara statistik dengan penderita DM tipe 2 lama
menderita ≥ 5 tahun, hal ini membuktikan bahwa
LPPM STIKes Perintis Padang
126
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
ekspresi gen SCUBE2 tidak saja ditemukan pada
awal DM tipe 2, tetapi berlanjut setelah
menderita DM tipe 2 selama ≥ 5 tahun, tetapi
dalam jumlah yang lebih rendah dibandingkan
pada penderita DM tipe 2 lama menderita < 5
tahun. Hal ini berkemungkinan dikarenakan
pada penderita DM tipe 2 lama menderita ≥ 5
tahun telah mendapatkan terapi pengobatan yang
berpengaruh pada kadar sitokin pro inflamasi
pada penderita DM tipe 2.
Peningkatan produksi sitokin pro inflamasi
menandakan progresivitas penyakit DM tipe 2
yang mengarah pada gangguan vaskuler
sehingga
menyebabkan
aterosklerosis.10
Observasi lebih lanjut dengan imunohistokimia
dan imunofluoresens, terlihat ekspresi gen
SCUBE2 pada serial section arteri koroner
manusia mulai dari penebalan tunika intima
hingga pembentukan plak aterosklerosis lanjut
dimana ditemukan adanya sel busa (foam cell)
dan necrotic core. Pada tahap penebalan tunika
intima, gen SCUBE2 terekspresi bersama
dengan sel-sel otot polos pembuluh darah dan
makrofag, serta sel.8
Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu
tidak mengelompokkan penderita DM tipe 2
berdasarkan terkontrol dan tidak terkontrol. Pada
penelitian ini tidak melakukan pemeriksaan
kadar sitokin pro inflamasi pada penderita DM
tipe 2, yang merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap ekspresi gen SCUBE2.
4. KESIMPULAN
Pada penelitian ini dapat disimpulkan
terdapat perbedaan ekspresi gen SCUBE2
yang bermakna antara penderita DM tipe 2
dengan kontrol,akan tetapi tidak terdapat
perbedaan yang bermakna antara penderita
DM tipe 2 lama menderita < 5 tahun dengan
≥ 5 tahun.
5. REFERENSI
Ali, H, Emoto, N, Yagi, K et al. Localization and
characterization of a novel secreted
protein, SCUBE 2, in the development
and progression of atherosclerosis. Kobe J
Med Sci 2013; 59: E122-31.
Boden, G, Shulman, GI 2002,’Free fatty acids in
obesity and type 2 diabetes defining their
role in the development of insulin
resistance and beta cell dysfunction’, Eur
J Invest, Vol. 32, hh.14-23.
Creager, MA& Luscher, TF 2003,‘Diabetes and
vascular disease: patophysiology, clinical
consequences, and medical therapy: part
I’,Circulation, vol. 108, hh 1527-1532
Dai, DF, Thajeb, P, Tu, CF, Chen, CH, Yang,
RB, Chen, JJ et al. 2008, ‘Plasma
concentration of SCUBE1 : a Novel
Platetet Protein is elevated in Patients with
acute coronary syndrome and Ischemic
stroke’, Journal of American College of
Cardiology, Vol.51, hh.2174-2180.
Gu, D, Reynolds, K, Duan, X, Xin, X, Chen, J,
Wu, X et al 2003,’Prevalence of diabetes
and impaired fasting glucose in the
Chinese adult population: international
collaborative study of cardiovascular
disease in Asia (interAsia)’,Diabetalogia,
Vol.46, hh. 1190-1198.
Jelantik , Haryati 2014,’Hubungan faktor risiko
umur, jenis kelamin, kegemukan dan
hipertensi dengan kejadian diabetes
mellitus tipe 2 di wilayah kerja puskesmas
mataram, Media bina ilmiah, Vol.8, hh.
39- 44.
Kementerian Kesehatan RI. Diabetes melitus
penyebab kematian nomor 6 di dunia:
Kemenkes tawarkan solusi cerdik melalui
posbind, Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI; 2013.
Node, K, Inoue, T 2009,’Postprandial
hyperglycemia as an etiological factor in
vascular failure’, Biomed Central, hh.110.
Ramachandran, A, Mary, S, Yamuna, A,
Muguresan, N, Snehalata, C 2008,’High
prevalence of diabetes and cardiovascular
risk factors associated with urbanization
in India’, Diabetes Care,Vol.15, hh.838898.
Spranger, J, Kroke, A, Hoffman, K, Bergman,
MB, Ristow, M et al 2003,’ Inflammatory
cytokines and the risk to develop type 2
diabetes, result of the prospective
population- based european prospective
investigation into cancer and nutrition
(EPIC)- postdam study’, Diabetes,
Vol.52, hh. 812-817.
LPPM STIKes Perintis Padang
127
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Srinivasan, MP, Kamath, PK, Mahabala, C
2016,’Severity of coronary artery disease
in type 2 diabetes mellitus : does the
timing matter?’, IHJ , Vol.68, hh.158-163.
Trisnawati, SK, Setyorogo, S 2013,’ Faktor
resiko diabetes melitus tipe 2 di puskesma
Cengkareng Jakarta Barat Tahun 2012’,
Jurnal ilmiah kedokteran, Vol.5, hh. 6-11.
Tsai, MT, Cheng, CJ, Lin, YC et al. Isolation and
characterization of a secreted, cell-surface
glycoprotein SCUBE2 from humans. J
Biochem 2009; 422: 119-28.
Waspadji, S. Buku ajar penyakit dalam:
Komplikasi kronik diabetes, mekanisme
terjadinya, diagnosis dan strategi
pengelolaan’. Jilid III. Edisi 4, Jakarta:
FK UI; 2009. h. 1923-4.
Wild, S, Roglic, G, Green, A, Sicree, R, King, H
2004. ‘Global prevalence of diabetes.
Estimates for the year 2000 and
projections for 2030’. Diabetes Care,
Vol.27, hh. 1047-1053.
Wu, BT, Su, YH, Tsai, MT, Wasserman, SM,
Topper, JN, Yang, RB 2004, ‘A novel
secreted,
cell-surface
glycoprotein
containing multiple epidermal growth
factor-like repeats and one CUB domain
is highly expressed in primary osteoblasts
and bones’, The Journal of Biological
Chemistry, vol. 279, hh. 37486- 37490.
Yang, RB, Domingos Ng, CK, Wasserman, SM
et al. Identification of a novel family of
cell-surface proteins expressed in human
vascular endothelium. The Journal of
Biological Chemistry 2002; 277: 4636473.
LPPM STIKes Perintis Padang
128
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
KESESUAIAN UJI WIDAL DENGAN TUBEX (IMMUNOASSAY) PADA
PENDERITA SUSPEK INFEKSI DEMAM TIFOID
Renowati
Prodi DIV Teknologi Laboratorium Medik
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang
Email: [email protected]
Abstract
Typhoid fever is still a health problem especially in developing countries. Serologic tests are used to
help diagnose typhoid fever. Widal examination is still widely used although less specific. Tubex TF
which is a serodiagnostic test that has better sensitivity and specificity than Widal. This study aims
to determine the suitability between Widal examination with Tubex TF in patients suspected of
typhoid fever. Design The study was a cross sectional study with cross sectional design of suspected
typhoid fever patients who had been diagnosed by clinicians based on clinical symptoms as suspected
of typhoid fever. This research using Kappa examination of Widal using the method of latex
agglutination and Immunoasay (Tubex TF) is the method of inhibition magnetic binding
immunoassay. Statistical analysis for this study using Kappa test. There is good agreement between
Widal and Tubex TF test with kappa value = 0.63.
Keywords: typhoid fever, Widal, Tubex TF.
1. PENDAHULUAN
Demam tifoid adalah penyakit infeksi
sistemik akut dari sistem retikuloendotelial,
usus, jaringan limfoid dan kandung empedu
yang disebabkan oleh bakteri Salmonella
enterica serovar typhi atau Salmonella typhi
yang ditandai dengan demam, sakit kepala, nyeri
otot, nafsu makan menurun, konstipasi atau
diare, mual, muntah, malaise, menggigil,
splenomegali, hepatomegali, rose spots (bintikbintik merah) pada dada dan perut. Komplikasi
utama demam enterik adalah perdarahan
danperforasi usus. Penyakit ini ditularkan
melalui makanan dan air minum yang
terkontaminasi (WHO, 2013).
Salmonella merupakan bakteri patogen
yang menyebabkan infeksi pada manusia dan
hewan serta dapat menyerang jaringan ekstra
intestinal, menyebabkan demam enterik keadaan
ini yang paling parah berupa demam tifoid.
Salmonella
typhi
termasuk
famili
Enterobacteriaceae.
Salmonella
typhi
merupakan bakteri gram negatif berbentuk
batang, bersifat fakultatif anaerob, berflagel
peritrika, tidak berspora, Bakteri ini tidak
memfermentasi laktosa dan menghasilkan
sedikit hidrogen sulfida (Misnadiarly, 2014;
Winn et al., 2006).
Gambar 1. Salmonella typhi (water health
educator.com)
Salmonella typhi memiliki 4 komponen
antigenik penting yaitu Vi, O, H dan OMP
(Outer Membrane Protein). Antigen Vi terletak
pada lapisan terluar mengandung dua kelompok
determinan antigen yaitu O-acetyl yang
imunodominan dan N-acetyl&carboxyl (Jain,
2007). Antigen Vi merupakan faktor virulensi
dengan mencegah antibodi anti O berikatan
dengan antigen O dan juga menghambat
komponen
C3
komplemenmelekat
ke
Salmonella typhi. Antigen Vi merupakan antigen
independenlimfosit T dan respons imunnya di
mediasi oleh sel B (Marshall et al., 2012; WHO,
2013).
Antigen O merupakan lipopolisakarida
(LPS), yang dikenal sebagai endotoksin atau
antigen somatik. Lipopolisakarida merupakan
komponen utama membran luar dari bakteri
Gram negatif yaitu 75% dari seluruh permukaan.
LPPM STIKes Perintis Padang
129
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Struktur dasar LPS terdiri dari 3 bagian yaitu
acetylated glukosamine disaccharide (lipid A),
core oligosakarida, dan antigen O yang
merupakan rantai heteropolisakarida. Unit
oligosakarida terjalin ke inti melalui asam
heteroligosakarida yang kovalen dalam
rangkaian lipiodal (Winn et al., 2006); Rezania
et al., 2011).
Antigen H dikenal juga sebagai antigen
flagella, mengandung protein polimerase yaitu
flagelin yang merupakan bagian yang penting
dalam respon imun dengan BM 51-57 kDa.
Salmonella mempunyai dua antigen H yaitu fase
1 (produk gen fli C) dan fase 2 (produk gen fli
B), fase 1 antigennya lebih spesifik untuk
Salmonella typhi (Aykala & Alsam, 2015).
Outer membrane protein merupakan
struktur yang terdapat pada permukaan bakteri
Gram
negatif
dan
berperan
penting
mempertahankan integritas serta permeabilitas
selektif membran bakteri (Nasronudin, 2007)
Gambar 2. Struktur Antigen Salmonella typhi
(digilib.unila.ac.id)
Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh
manusia terjadi melalui makanan dan minuman
yang
terkontaminasi.
Sebagian
kuman
dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos
masuk kedalam usus dan selanjutnya
berkembang biak. Bila respon imunitas humoral
mukosa (IgA) usus kurang baik, maka kuman
akan menembus sel-sel epitel(terutama sel-M)
dan selanjutnya masuk ke lamina propia. Di
lamina propia kuman berkembangdan difagosit
olehsel-sel fagosit terutama oleh makrofag dan
selanjutnya dibawa ke plak peyeri ileum distal
dan kemudian ke kelenjar getah bening
mesenterika. Selanjutnya melalui duktus
torasikus kuman yang terdapat di dalam
makrofag masuk ke dalam sirkulasi darah
mengakibatkan bakteremia pertama yang
asimtomatik dan menyebar ke seluruh organ
retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa.
Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel
fagosit dan kemudian berkembang biak di luar
sel atauruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke
dalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan
bakteremia kedua kalinya dengan disertai tandatanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.
Kuman dapat masuk ke dalam kandung
empedu, berkembang biak, dan bersama cairan
empedu diekskresikan secara intermitan ke
dalam lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan
melalui feses dan sebagian lagi masuk ke dalam
sirkulasi darah setelah menembus usus. Proses
yang sama terulang kembali, karena makrofag
yang telah teraktivasi, hiperaktif; maka saat
fagositosis kuman Salmonella terjadi pelepasan
beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya
akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi
sistemik (Setia S dkk, 2014).
Beberapa uji serologi dikembangkan untuk
mendeteksi adanya antigen atau antibodi
terhadap Salmonella typhi. Bakteri ini
mengeksperesikan
sejumlah
struktur
imunogenik
pada
permukaannya,
yang
digunakan sebagai dasar identifikasi serologi
antara lain O dan H. Uji Widal merupakan uji
serologi tertua yang memiliki banyak
keterbatasan.
Akhir-akhir
ini
telah
dikembangkan berbagai uji serologi untuk
menyempurnakan uji Widal. Pemeriksaan
komersial yang tersedia adalah Tubex TF (Baker
et al., 2010; Thriemer et al., 2013)
Secara klinis sulit untuk membedakan
demam tifoid dengan demam akut lainnya
sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium
untuk mendukung diagnosis penyakit ini. Biakan
kuman merupakan pemeriksaan baku emas
tetapi sering memberikan hasil negatif,
membutuhkan waktu lama, dan fasilitas
laboratorium mikrobiologi. Uji serologi
merupakan alternatif pilihan walaupun belum
cukup digunakan sebagai sarana pendukung
diagnostik demam tifoid (Widodo, 2009; Parry
et al., 2011).
Uji widal merupakan uji serologi tertua
yang digunakan untuk mendeteksi antibodi
Salmonella typhi. Pemeriksaan ini merupakan
metode standar yang mendeteksi adanya
aglutinasi pada serum penderita tifoid terhadap
antigen O dan H Salmonella typhi (Parry et al,
2011). Uji Widal sampai saat ini masih banyak
digunakan secara luas di negara berkembang
LPPM STIKes Perintis Padang
130
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
termasuk Indonesia karena mudah, murah dan
cepat. Menurut WHO (2003) Uji Widal memiliki
tingkat sensitifitas dan spesifisitas sedang
(moderate). Uji Widal ini dapat memberikan
negatif palsu hingga 30% dari sampel kultur
positif demam tifoid (Nasronudin, 2007).
Tubex TF merupakan uji serodiagnostik
secara khusus mendeteksi IgM LPS O9
Salmonella typhi. Antigen O9 digunakan pada
uji Tubex TF ini karena epitop imunodominan
dideoxyhexose
hanya
ditemukan
pada
Salmonella typhi (PBI, 2011; Mehta, 2012).
Tubex TF merupakan tes aglutinasi kompetitif
semikuantitatif yang sederhana dan cepat
menggunakan partikel yang berwarna untuk
meningkatkan
resolusi
dan
sensitifitas.
Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan
antigen O9 yang spesifik ditemukan pada
Salmonella serogroup D dan tidak ditemukan
pada organisme lain. Tes ini sangat akurat dalam
diagnosis infeksi akut karena hanya mendeteksi
adanya antibodi IgM (PBI, 2011; WHO, 2011).
Metoda Tubex TF ini adalah mendeteksi
antibodi melalui kemampuannya untuk memblok
ikatan antara reagent monoclonal anti-O9Salmonella
typhi
(antibody-coated
indicator particlage)
dengan reagent O9 Salmonella typhi(antigencoated magnetic particle) sehingga terjadi
pengendapan dan pada akhirnya tidak terjadi
perubahan warna. Tes Tubex ini menggunakan
sistem pemeriksaan yang unik dimana tes ini
mendeteksi serum antibodi immunoglobulin M (Ig M)
terhadap antigen O9 (LPS) yang sangat spesifik
terhadap bakteri Salmonella typhi. Pada orang
yang sehat normalnya tidak memiliki IgM antiO9 LPS (Lim et al., PBI,2011).
Antigen O9 imunodominan sehingga dapat
merangsang respons imun secara independen
terhadap timus dan merangsang sel limfosit B
tanpa bantuan sel limfosit T. Sifat inilah yang
menyebabkan respon terhadap antigen O9
berlangsung cepat sehingga deteksi terhadap anti
O9 dapat dilakukan lebih dini yaitu pada hari ke
4-5 untuk infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk
infeksi sekunder. Uji Tubex TF hanya dapat
mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi IgG
sehingga tidak digunakan sebagai modalitas
untuk mendeteksi infeksi lampau (PBI, 2011;
Mehta, 2012).
Pada penelitian Haryanto et al., (2007) di
Jakarta mendapatkan sensitifitas dan spesifisitas
Tubex TF masing-masing sebesar 100% dan
90%. Meta analisis oleh Thiemer et al., (2013)
mendapatkan
rata-rata
sensitifitas
dan
spesifisitas Tubex TF berturut-turut adalah 69 %
dan 88%. Beberapa penelitian menyatakan
kesulitan dalam interpretasi hasil Tubex TF yang
bervariasi antar pembaca dan sampel yang
digunakan tidak boleh ikterik dan hemolisis
(Baker et al., 2010; Ley et al., 2011).
Berdasarkan paparan di atas, peneliti ingin
mengetahui kesesuaian pemeriksaan Widal
dengan immunoassay tubex TF Salmonella pada
pasien tersangka demam tifoid
2. METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang akan digunakan oleh
peneliti adalah cross sectional dengan rancangan
potong lintang. Pada penelitian ini yang menjadi
variabel dependen adalah demam tifoid dan
variabel independennya yaitu uji Widal dan
Tubex TF.
Pemilihan sampel dilakukan dengan cara
consecutivesampling. Besar Sampel dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan
rumus sampel tunggal estimasi proporsi dengan
ketepatan relatif (Dahlan, 2009).
n = Za2P
d2
Keterangan :
Za : 1,96
P : 0,5 (proporsi sebelumnya
tidak diketahui)
Q : 1-P
D : 0,2
(judment
peneliti,
ketepatan reletif secara klinis
yang masih dapat diterima
adalah ≤ 0,25)
n = Za2PQ
d2
= (1,96)2x (0,5 x 0,5)
0,22
= 0,96 = 24 orang
0,04
Dari perhitungan rumus besar sampel di
atas diperoleh sampel minimal sebanyak 24
orang selanjutnya ditambah 20 % sehingga total
sampel sebanyak 30 orang.
LPPM STIKes Perintis Padang
131
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Variabel dalam penelitian ini adalah
variabel dependen (terikat) atau adalah demam
tifoid, dan variabel independen (bebas) yaitu uji
Widal dan Tubex TF.
Kriteria Inklusi dan Eksklusi dalam
penelitian ini adalah Kriteria Inklusi : Pasien
bersedia ikut penelitian (informed consent),
pasien tersangka demam tifoid yang telah
didiagnosis oleh klinisi, pasien dengan gejala
klinis demam > 37,5 0C, sakit kepala, mual,
muntah, nyeri perut, myalgia, malaise,
menggigil, splenomegali, hepatomegali, cotage
tongue, rose spots (bintik-bintik merah) pada
dada dan perut, nyeri otot,konstipasi atau diare.
Sedangnkan Kriteria Eksklusi adalah pasien
tersangka demam tifoid dengan leukopenia berat
(leukosit < 1.000/µL) dan ibu hamil.
Alat dan bahan yang digunakan pada
penelitian ini yaitu Spuit 3 cc, torniquet dan
vacuutainer clot activator. Bahan yang dipakai
pada penelitian ini adalah Kapas dengan alkohol
70 % dan sampel yang digunakan yaitu darah
pasien tersangka deman tifoid yang diambil
serumnya, kit widal, tubex TF
Cara pengambilan sampel dalam peneitian
ini adalah diambil darah pasien tersangka
demam tifoid sebanyak 2 mL ditampung dalam
vacuutainerclot activator setelah itu diamkan
selama 15-30 menit dan dilakukan sentrifugasi
untuk mendapatkan serum selama 15 menit 3000
RPM, serum disimpan pada suhu -200C sampai
waktu pemerikasaan dan sampel siap digunakan
untuk pemeriksaan.
Pengumpulan Data
Data Primer adalah data yang diperoleh dari
hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap
sampel darah pasien tersangka demam tifoid.
Data Sekunder adalah data yang meliputi
gambaran dari catatan rekam medis pasien
tersangka demam tifoid berdasarkan nama,
umur, jenis kelamin dan keterangan klinis
sementara.
Cara Pengumpulan Data dikumpulkan
melalui eksperimen di laboratorium Rumah
Sakit Tingkat IV 01.07.05 Bukittinggi.
Pengolahan Data dan Analisa Data
Data diolah dengan menggunakan program
spss dan analisa data adalah Analisa univariat
dilakukan untuk mengetahui distribusi dari
masing-masing variabel yaitu pemeriksaan
Widal dan Tubex TF pada variabel indepenen
dan demam tifoid sebagai variabel dependen.
Data
yang
diperoleh
dari
hasil
penelitiandianalisis dengan Kappa Statistik.
Berdasarkan nilai Kappa akan mengukur sejauh
mana reabilitas diantara 2 uji yang digunakan
dan menunjukkan kekuatan kesesuaian dari uji
tersebut. Hasil analisis dari 2 uji yang dilakukan
akan dimasukkan ke dalam tabel 2x2. Uji
kesesuaian menggunakan nilai Kappa dengan
interpretasi (Cunningham, 2009) menggunakan
Microsoft excel SPSS 17.0.
Tabel 2 x 2
Rater B
Rater A
Totals
Sensitifitas
Spesifisitas
Kappa
Yes
No
Total
s
Yes
a
b
(a+b)
No
c
d
a+c
b+d
(c+d)
N
: (a/a+c) x 100 %
: (d/b+d) x 100 %
: (Po - Pe) / (1 – Pe)
Po = (a+d) / N
Pe= ((a+c)(a+b) +
(b+d)(c+d)) / N2
Ket :
Po = Proporsi yang
diamati
dari
uji
kesesuaian
Pe= Proporsi yang
diharapkan
dari
kesesuaian
Uji kesesuaian menggunakan nilai Kappa
dengan interpretasi (Cunningham, 2009)
< 0 : Sangat lemah ( Less than chance
agreement)
0,0 – 0,2 : lemah (slight agreement)
0,21 – 0,4 : kurang (fair agreement)
0,41 – 0,6 : sedang (moderate agreement)
0,61 - 0,8 : baik (subtantial agreement)
0,81–1,0 :baik sekali (almost perfect agreement)
Range nilai Kappa = - 1 sampai +1
-1= Menunjukkan ketidaksesuaian sempurna
+1 = Menunjukkan kesesuaian sempurna
LPPM STIKes Perintis Padang
132
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik dasar subjek penelitian dapat
3.1. Hasil
dilihat pada tabel dibawah ini Tabel (4.1).
Karakteristik Dasar Subjek Penelitian
Tabel 1. Karakteristik Dasar Subjek Penelitian
Variabel
n (%)
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
9 (30)
21(70)
Mean ± SD
Minimal
Maximal
Umur (tahun)
Hemoglobin (g/dL)
Laki-laki
Perempuan
29 ± 18
3
79
13,5±3,1
13,4±1,86
6,6
9,0
15,8
16,6
Leukosit (per µL)
10533 ± 12117
212.400 ±
148.810
1.600
67.000
28.000
669.000
Trombosit (per µL)
Pada tabel 1 menunjukkan bahwa lebih dari
separoh subjek penelitian (70%) berjenis
kelamin
perempuan.
Umur
subjek
penelitianbervariasi mulai dari anak-anak
sampai usia lanjut (3-79 tahun) dengan rerata
29±SD. Pemeriksaan kadar hemoglobin subjek
penelitian laki-laki 13,5 g/dL ± SD dan subjek
penelitian perempuan 13,4 g/dL± SD.Kadar
hemoglobin terendah dari subjek penelitian lakilaki 6,6 g/dl dan tertinggi 15,8 g/dL sedangkan
pada subjek penelitian perempuan hemoglobin
terendah 9,0 g/dL dan tertinggi 16,6 g/dL.
Median hitung jumlah leukosit dari subjek
penelitian adalah 10533 µL± SD, dengan jumlah
leukosit terendah 1.600 µL dan tertinggi 67.000
µL. Rerata hitung jumlah trombosit subjek
penelitian adalah 212.400 µL± SD, dengan
jumlah trombosit terendah 28.000 µL dan
tertinggi 669.000 µL.
Uji Sensitifitas dan Spesifisitas Tubex TF dan
Widal
Parameter yang diperiksa pada subjek
penelitian adalah Tubex TF dan Widal. Tabel di
bawah ini (tabel 4.2)menampilkan hasil
pemeriksaan Tubex TF dan Widal.
Tabel 4.2 Uji Sensitifitas dan Spesifisitas Hasil
TubexTF dan Uji Widal
Tubex TF
Jumlah
Uji
Widal
Positif
Negatif
Positif
21
0
21
Negatif
5
4
9
26
4
30
Jumlah
Sensitifitas
Spesifisitas
Kappa
:
:
:
(a/a+c)x 100% = 80,7 %
(d/b+d) x 100 % = 100 %
0,63
LPPM STIKes Perintis Padang
133
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Dari nilai sensitifitas 80,7 % pada
pemeriksaan dengan uji Widal dapat diartikan
bahwa uji Widal ini akan mampu mendeteksi
80,7% dengan benar subjek penelitianyang
dinyatakan positif demam tifoid berdasarkan
titer anti-O atau anti-H ≥ 1/160. Nilai
Spesifisitas 100% berarti dengan menggunakan
uji Widal dapat mengidentifikasi dengan benar
persentase yang tidak positif menderita demam
tifoid dan terbukti tidak positif tifoid sebanyak
100%.
Uji kesesuaian dihitung dengan Kappa
cohen yaitu 0,63 yang berarti antarapemeriksaan
Widal denganTubex TFpada subjek penelitian
tersangka demam tifoid memiliki tingkat
kesesuain yang baik (substantial agreement)
berdasarkan nilai Kappa dengan interpretasi
(Cunningham, 2009).
3.2. Pembahasan
Karakteristik Dasar Subjek Penelitian
Subjek penelitian berjumlah 30 orang, lebih
banyak dijumpai perempuan (70%) dibanding
laki-laki (30%). Hasil ini sama dengan yang
dilakukan oleh setiono et al., (2010) di Bandung
yang mendapatkan perempuan (60%) lebih
banyak dari laki-laki(40%). Penelitian yang
dilakukan Amery & Saif (2014) di Yaman juga
mendapatkan persentase perempuan lebih
banyak dari laki-laki yaitu 62%. Secara
epidemiologi tidak ada perbedaan yang
bermakna antara laki-laki dan perempuan.
Umur subjek penelitian bervariasi mulai
dari yang terkecil 3 tahun sampai usia lanjut 79
tahun dengan mean ± SDyaitu 29 ±18.WHO
(2011)menyatakan bahwa sebagian besar kasus
demam tifoid di daerah endemis terjadi pada
umur yang luas, mulai dari 3-19 tahun. Menurut
kepustakaan demam tifoid memang banyak
ditemukan pada anak usia sekolah dan dewasa
muda. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan makan
di pinggir jalan, mencuci tangan dan sistem imun
yang rendah (Parry et al., 2011).
Penelitian ini menemukan rerata kadar
hemoglobin pada subjek penelitian perempuan
berkisar antara 9,0 – 16,0 g/dL dengan mean ±
SD yaitu 13,4 ± 1,86. Menurut kepustakaan
infeksi sistemik Salmonella typhi ke sumsum
tulang menyebabkan penurunan produksi
erittrosit sehingga pada penderita demam tifoid
dapat ditemukan anemia (Widodo, 2009;
Gordon & Feasley, 2014).
Mean ± SD jumlah leukosit 10.533±12.117
dengan jumlah terendah 1.600/µL dan tertinggi
67.000/µL. Menurut kepustakaan, leukopenia
dapat terjadi pada penderita demam tifoid karena
infeksi
Salmonella
typhimenyebabkan
marginalisasi atau perpindahanleukosit dari
sirkulasi ke dinding pembuluh darah sehingga
leukosit dalam sirkulasi berkurang (Widodo,
2009; Abro et al., 2009).
Rerata
jumlah
trombosit
didapat
212.400±/148.810 dengan jumlah berkisar
antara 28.000/µL sampai 669.000/µL. Menurut
kepustakaan, trombositopenia dapat terjadi pada
penderita demam tifoid akibat infeksi sistemik
Salmonella typhike sumsum tulang yang
menyebabkan penurunan produksi trombosit.
Trombositopenia juga terjadi karena destruksi
yang meningkat di sistem retikuloendotelial
(Widodo, 2009; Feasley & Gordon, 2014).
Hasil Pemeriksaan Tubex TF dan Widal
Pemeriksaan Widal titer anti-O ≥ 1/160 atau
anti-H ≥ 1/160didapat 21 (80,7%) orang positif
demam tifoid. Berdasarkan WHO (2011),
interpretasi uji Widal menggunakan sepasang
sampel yang diambil pada fase akut dan
konvalesen. Uji Widal yang dikatakan positif
jika terdapat kenaikan 4 kali lipat, tetapi hal ini
sulit dilakukan. Serum tunggal dapat digunakan
untuk mendiagnosis demam tifoid jika cut off
populasi lokal dan pasien dengan klinis demam
tifoid.Sampai saat ini di Indonesia belum ada
kesepakatan titer cut offWidal untuk diagnostik.
Pada penelitian Loho et al., (2000)
menyatakan titer Widal 1/160 untuk aglutinin O
atau H mendukung diagnosis demam tifoid. Titer
anti-O 1/160 sebagai kriteria tunggal yang
didapat tingkat sensitifitas 70% dan spesifisitas
90%, dan jika digunakan titer anti-H sebagai
kriteria tunggaldidapatkan tingkat sensitifitas
50% dan spesifisitas 90%. Penelitian yang
dilakukan Aftab dan khursid (2009) di Pakistan
menyatakan bahwa titer 1/320 untuk anti-O atau
anti-H mempunyai nilai diagnostik untuk
demam tifoid. Nilai cut offWidal berbeda-beda
karena dipengaruhi oleh derajat endemisitas
masing-masing daerah.
Sebanyak 26 orang (86,7%) dinyatakan
positif demam tifoid dengan pemeriksaan Tubex
LPPM STIKes Perintis Padang
134
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
TF. Berbagai penelitian melaporkan sensitifitas
dan spesifisitas Tubex TF berbeda-beda.
Penelitian Keddy et al., (2011) di
Afrikamendapatkan hasil yang sedikit agak
berbeda, yang mana sensitivitas dan spesifisitas
Tubex TF terhadap kultur kuman masing-masing
sebesar 73% dan 69%. Penelitian Fadeelet al.,
(2011) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas
Tubex TF sebesar 75%dan 87%. Baker et al.,
(2010) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas
Tubex TF tidak lebih baik di bandingkan uji
Widal.Sensitifitas dan spesifisitas yang berbedabeda ini disebabkan oleh geografi, populasi dan
metoda yang digunakan berbeda.
Uji Kesesuaian antara Widal dengan Tubex
TF
Pada penelitian ini mendapatkan uji
kesesuaian antara Widal dengan Tubex TF
dengan interpretasi baik (Substantial agreement)
pada pasien tersangka demam tifoid dengan
gejala demam klinis > 37,50C, Coated tongue,
sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut,
konstipasi atau diare.
Uji Widal mendeteksi agglutinin O dan
Hdengan menggunakan antigen somatik O dan
antigen H. Antibodi terhadap antigen O muncul
hari ke 6-8 dan antibodi terhadap antigen H hari
ke 10-12 setelah terpapar penyakit(WHO, 2003).
Pada penelitian ini pemeriksaan Widal
memakainilai cut off anti-O ≥ 1/160 atau anti-H
≥ 1/160 didapatkan 21 (80,7%) orang positif
demam tifoid. Berdasarkan WHO (2011),
interpretasi uji Widal menggunakan sepasang
sampel yang diambil pada fase akut dan
konvalesen. Uji Widal dikatakan positif jika
terdapat kenaikan titer 4 kali lipat, tetapi hal ini
sulit. Serum tunggal dapat digunakan untuk
diagnosis demam tifoid jika memakai cut off
populasi lokal dan pada pasien dengan klinis
demam tifoid. Sampai saat ini di Indonesia
belum ada kesepakatan mengenai titer cut off
Widal untuk diagnostik.
Pemeriksaan Tubex TF merupakan
pemeriksaan semi kuantitatif in vitro dengan
prinsip mendeteksi
adanya antibod IgM
menggunakan antigen spesifik O9 LPS
Salmonella typhi. Antibodi terhadap antigen O
Sensitivitas Tubex TF setara dengan 15-20
µg/mL antibodi IgM Salmonella typhi yang
analog dengan panas hari ke 5 (PBI, 2011).
Kriteria pengambilan sampel pada penelitian ini
adalah pasien demam ≥ seminggu sehingga
dapat meningkatkan sensitivitas pemeriksaan
Keddy et al., (2011) menyatakan waktu antara
timbulnya gejala dengan pengumpulan sampel
dapat mempengaruhi performance pemeriksaan
berbasis antibodi. Pengerjaan Tubex TF
memerlukan
beberapa
langkah
yang
memerlukan ketelitian dan pengalaman. Baker et
al., (2010) menyatakan bahwa kekurangan
Tubex TF terletak pada sistem skor berdasarkan
warna, dimana perbedaan warna yang jelas
hanya pada angka 10 (positif kuat) dan 0
(negatif). Selain itu pembacaan antar operator
bervariasi dan ada warna yang tidak dapat
diinterpretasikan. Ley et al., (2011) diAfrika
menyatakan bahwa kelemahan Tubex TF adalah
kesulitan pada interpretasi hasil yang bervariasi
antar pembaca. Perubahan warna yang
disesuaikan dengan skala warna membutuhkan
pengalaman dan kondisi penerangan yang baik.
Selain itu Tubex TF tidak dapat digunakan untuk
sampel yang hemolisis dan ikterik walaupun hal
ini telah diatasi dengan pencucian tetapi akan
memperbanyak penggunaan reagen yang tentu
saja menambah biasa pemeriksaan. Dari
penelitian 30 orang pasien pada tersangka
demam tifoid didapat 86,7%dinyatakan positif
demam tifoid ini dengan pemeriksaan Tubex TF.
4. KESIMPULAN
1. Terdapatnya tingkat sensitifitas antara
pemeriksaan Widal dengan Tubex TFpada
pasien tersangka demam tifoid adalah 80,7%.
2. Terdapatnya tingkat spesifisitas antara
pemeriksaan Widal dengan Tubex TFpada
pasien tersangka demam tifoid adalah 100%.
3. Terdapatnyatingkat kesesuaian yang baik
(substantial agreement) antara pemeriksaan
Widal dengan Tubex TF pada pasien
tersangka demam tifoid.
5. REFERENSI
Aykala AI, Alsam, 2015,Extended Spectrum
Beta Lactamase Producing Strain of
Salmonella Species, J Microbiology vol.
2 no. 5, p: 57-70.
Ameri GA, Saif N, 2014, A Prevalence Study of
Typhoid Fever in Yemen, in Brit
J Microbiol Res vol. 4 no. 2, p: 214-223.
LPPM STIKes Perintis Padang
135
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Baker S, Favorov M, Dougan G, 2010,
Searching for The Elusive Typhoid
Diagnostic in BMC Infectious Disease
vol. 10 no 45, p: 1-8.
Bio Ventures for Global Health, 2015, Rapid
Diagnostic Test, BVGH, USA
Cunningham M, 2009, More Than Just A Kappa
Efficient: A Program To. Fully
Characterized Inter Rater Reliability
Between Two Raters, SAS Global
Forum 2009, p: 1-7.
Dahlan S, 2009, Besar Sampel Penelitian,
Salemba Medika, p: 32-33.
Fadeel MA, House BL, Wasfy MM, Klena JD,
Habashy EE, Said MM, et al.,2011,
Evaluation of a newly developed ELISA
gaints Widal, Tubex-TF and Typhidot
for typhoid fever surveilance, in J Infec
Dev Ctries volume volume 3 no. 5, p:
169-175.
Feasley NA, Gordon MA, 2014, Salmonella
Infection, in Mansons Tropical
Disease,23rd edition, p: 337-343.
http://digilib.unila.ac.id/2422/BAB%2011.pdf
http://idlbiotech.com/product
http://www.waterhealtheducator.com/DiseaseFocus-Salmonellatyphi.html
Kaur K, Jain SK, 2012, Role of Antigen and
virulence Factors of Salmonella enterica
serovar typhi in its Pathogenesis, in
Microbiol Res 167, p: 199-210.
Keddy KH, Sooka A, Letsoalo ME, Hoyland G,
Chaignat CL 7 et al., 2011, Sensitivity
and Spesifisity of typhoid Fever Rapid
Antibody test for Laboratory Diagnosis
at two subsaharan Africa site, in Bull
Health World Organ no: 89, p: 640-47S.
Ley B, Thriemer K, Ame SM, Mtove JM,
Seidlein LV, Amos B, et al., 2011,
Assessment and Comparative Analysis
of A Rapid Dignostic test (Tubex) for
Diagnosis of Typhoid Fever Among
Hospitalized Children in Rural Tanzania
in BMC Infectious Disease vol. 11 no.
147, p: 2-6.
Lim PL,Tam FC, Cheong YM,Jegathesan, 1998,
One Step 2 Minute Test to Detect
Typhoid SpecificAntibodiesBased on
ParticleSeparation inTubes, in Clin
Microbiol 36, 1998, p: 2271-2278.
Loho T, Sutanto H, Silman E, Evaluasi Nilai
Diagnostik
Pemeriksaan
Enzym
Immunoassay
(EIA)
Dot
Blot
Menggunakan Outer Membrane Protein
(OMP) Berat Molekul (BM) 50kDa
Kuman Salmonella typhi dan Uji Widal
Pada Penderita Demam tifoid di RS
Persahabatan Jakarta. In: Demam Tifoid
Peran Mediator, Diagnosis dan Terapi.
Pusat Informasi dan Penerbitan FKUI,
Jakarta: 2000:22-24.
Marshall JL, Langarica AF, Kingslet RA,
Hithcock JR, Ross RA, Macias CL, et
al., 2012, The capsular vi polysaccharide
from Salmonella typhi is a B1b antigen,
in immunol vol. 189, 5527-32.
Mehta K, 2012, Newer Diagnostic Metods and
Drugs in the Treatment of Enteric Fever,
in J Incect Dis. 2, p: 660-61.
Misnadiarly,Husjain
Djajaningrat,
2014,
Mikrobiologi untuk Klinik dan
Laboratorium, Rineka Cipta, Jakarta.
Nasronudin, 2007, Demam tifoid in Penyakit
Infeksi di Indonesia, Airlangga
University Press, p: 121-125.
Parry CM, Wijedoru, L, Arjyal A, Baker S,
2011, The Utility of Diagnostic Test for
Enteric Fever in Endemic Location, in
Rev Anti Infect There vol. 9 no. 6, p:
711-25.
PT Pasific Biotekindo Intralab, 2011, Informasi
Produk TUBEX TF Diagnosisi Tifoid
Definitif Semi Kuantitatif dengan
Metode IMBI, Jakarta.
Rezania S, Amirmozzafari M, Tabarrael B,
Tehrani MJ, Zarei A, Alizadeh R, et al.,
2011, Extraction, purification and
Characterization of Lipopolysaccharide
from Eschericia coli and Salmonella
typhi, in Med Microbiol, vol. 3 no. 1, p:
1-7.
Setia S, Idrus A, Aru WS, Marcellus SK,
Bambang S, Ari FS dkk., 2014, Demam
Tifoid in Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Edisi keenam Jilid I, p: 549557,Interna Publishing, Jakarta Pusat.
Setiono AB, Qiantori A, Suwa H, Ohta T,
Characteristic and risk factor for typhoid
fever after Tsunami, earth quake and
LPPM STIKes Perintis Padang
136
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
under normal conditions in Indonesia, in
BMC research. 2010:( 106): 2-9.
Thriemer K, Ley B, Menten J, Jacobs J, Ende J,
2013, A systematic review and meta
analysis of the performance of two point
of care of typhoid fever test Tubex TF
and Typhidot, in endemic countries, in
Pos one vol. 8, 1-9.
Widodo J, 2009, Demam Tifoid in Buku Ajar
Ilmu
Penyakit
Dalam,
Interna
Publishing,p: 2797-2806.
Winn W, Allen S, Janda W, Koneman E,
Schreckenberger P et al., 2006, The
Enterobacteriaceae, In: Koneman’s
Color Atlas and Texbook of Diagnostic
Microbiology, Lippincott Williams and
Wikins, p: 211-194.
Word
Health
Organization,2010,
The
Immunological Basis for Immunization
Series, Departement of Immunization,
vaccines and Bilogicals, p: 7-9.
Word Health Organization, 2011, Guidelines
Management of Typhoid Fever, pp: 612.
Word Health Organization, 2013, Guidelines on
the Quality, Safety, and Efficacy of
Typhoid Conjugate vaccine,pp: 5-12
LPPM STIKes Perintis Padang
137
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan by Ners for Ners
ISSN: 2579-3985
‘Peningkatan Profesionalisme Perawat dalam Pelaksanaan Home Care untuk
Kemandirian dan Pencapaian Keluarga Sehat’
Copyright @ 2016 Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
STIKes Perintis Padang
Alamat Penerbit :
Jl. Adinegoro Simpang Kalumpang Lubuk Buaya Padang, Sumatera Barat – Indonesia
Telp. (+62751) 481992, Fax. (+62751) 481962
LPPM STIKes Perintis Padang
Download