bab ii landasan teori

advertisement
 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Solar Cell
2.1.1 Pengertian Solar Cell
Solar cell adalah suatu komponen elektronika yang dapat mengkonversi
energi surya menjadi energi listrik dalam bentuk arus searah (DC). Modul
surya tersusun dari sejumlah sel surya yang dirangkai secara seri dan paralel,
hal ini bertujuan untuk menungkatkan tegangan dan arus yang dihasilkan
sehingga cukup untuk pemakaian sistem catu daya beban. Untuk
mendapatkan keluaran energi listrik yang maksimum maka permukaan modul
solar harus selalu mengarah ke matahari.
2.1.2 Prinsip Kerja Solar Cell
Solar cell, sama dengan sebuah dioda, terdiri dari dua lapisan yang
dinamakan PN juction. PN junction itu diperoleh dengan jalan menganodai
sebatang bahan semikonduktor silikon murni ( valensinya 4 ) dengan impuriti
yang bervalensi 3 pada bagian sebelah kiri, dan yang di sebelah kanan di
anodai dengan impuriti bervalensi 5. Sehingga pada bagian kiri terbentuk
silikon yang tidak murni lagi dan dinamakan silikon jenis P, sedangkan yang
sebelah kanan dinamakan silikon jenis N. Di dalam silikon murni terdapat dua
macam pembawa muatan listrik yang seimbang. Pembawa muatan listrik yang
positip dinamakan hole, sedangkan yang negatip dinamakan elektron. Setelah
dilakukan proses penganodaan itu, di dalam silikon jenis P terbentuk hole (
pembawa muatan listrik positip ) dalam jumlah yang sangat besar
dibandingkan dengan elektronnya. Oleh karena itu di dalam silikon jenis P
hole merupakan pembawa muatan mayoritas, sedangkan elektron merupakan
pembawa muatan minoritas. Sebaliknya, di dalam silikon jenis N terbentuk
elektron dalam jumlah yang sangat besar sehingga disebut pembawa muatan
mayoritas, dan hole disebut pembawa muatan minoritas.
6
7
Di dalam batang silikon itu terjadi pertemuan antara bagian P dan bagian N.
Oleh karena itu dinamakan PN junction. Bila sekarang, bagian P dihubungkan
dengan kutub positip dari sebuah batere, sedangkan kutub negatipnya
dihubungkan dengan bagian N, maka terjadi hubungan yang dinamakan
"forward bias".Dalam keadaan forward bias, di dalam rangkaian itu timbul
arus listrik yang disebabkan oleh kedua macam pembawa muatan. Jadi arus
listrik yang mengalir di dalam PN junction disebabkan , elektron yang
bergerak di dalam bahan konduktor dapat menimbulkan energi listrik. Dan
energi listrik inilah yang disebut sebagai arus listrik yang mengalir
berlawanan arah dengan gerakan elektron.
Tapi, bila bagian P dihubungkan dengan kutup negatip dari batere dan bagian
N dihubungkan dengan kutub positipnya, maka sekarang terbentuk hubungan
yang dinamakan "reverse bias". Dengan keadaan seperti ini, maka hole (
pembawa muatan positip ) dapat tersambung langsung ke kutub positip,
sedangkan elektron juga langsung ke kutub positip. Jadi , jelas di dalam PN
junction tidak ada gerakan pembawa muatan mayoritas baik yang hole
maupun yang elektron. Sedangkan pembawa muatan minoritas (elektron) di
dalam bagian P bergerak berusaha untuk mencapai kutub positip batere.
Demikian pula pembawa muatan minoritas ( hole ) di dalam bagian N juga
bergerak berusaha mencapai kutub negatip. Karena itu, dalam keadaan
reverse bias, di dalam PN junction ada juga arus yang timbul meskipun dalam
jumlah yang sangat kecil ( mikro ampere ). Arus ini sering disebut dengan
reverse saturation current atau leakage current ( arus bocor ).
Dua jenis semikonduktor n dan p ini jika disatukan akan membentuk
sambungan p-n atau dioda p-n (istilah lain menyebutnya dengan sambungan
metalurgi / metallurgical junction) yang dapat digambarkan sebagai berikut.
8
1. Semikonduktor jenis p dan n sebelum disambung.
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.1 Semikonduktor jenis p dan n sebelum disambung
2. Sesaat setelah dua jenis semikonduktor ini disambung, terjadi perpindahan
elektron-elektron
dari
semikonduktor n menuju
semikonduktor p,
dan
perpindahan hole dari semikonduktor pmenuju semikonduktor n. Perpindahan
elektron maupun hole ini hanya sampai pada jarak tertentu dari batas
sambungan awal.
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.2 Semikonduktor jenis p dan n setelah disambung
3. Elektron
dari
semikonduktor p yang
semikonduktor n bersatu
mengakibatkan
dengan
jumlah
hole
hole
pada
pada
semikonduktor p akan berkurang. Daerah ini akhirnya berubah menjadi lebih
bermuatan positif.
Pada saat yang sama. hole dari semikonduktor p bersatu dengan elektron yang
ada pada semikonduktor n yang mengakibatkan jumlah elektron di daerah ini
berkurang. Daerah ini akhirnya lebih bermuatan positif.
9
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.3 Elektron semikonduktor n bersatu dengan hole semikonduktor p
4. Daerah negatif dan positif ini disebut dengan daerah deplesi (depletion
region) ditandai dengan huruf W.
5. Baik elektron maupun hole yang ada pada daerah deplesi disebut dengan
pembawa muatan minoritas (minority charge carriers) karena keberadaannya
di jenis semikonduktor yang berbeda.
6. Dikarenakan adanya perbedaan muatan positif dan negatif di daerah
deplesi, maka timbul dengan sendirinya medan listrik internal E dari sisi
positif ke sisi negatif, yang mencoba menarik kembali hole ke
semikonduktor p dan elektron ke semikonduktor n. Medan listrik ini
cenderung berlawanan dengan perpindahan hole maupun elektron pada awal
terjadinya daerah deplesi (nomor 1 di atas).
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.4 Timbul medan listrik internal
7. Adanya medan listrik mengakibatkan sambungan pn berada pada titik
setimbang, yakni saat di mana jumlah hole yang berpindah dari
semikonduktor p ke n dikompensasi dengan jumlah hole yang tertarik
kembali kearah semikonduktor pakibat medan listrik E. Begitu pula dengan
jumlah elektron yang berpindah dari smikonduktor n ke p, dikompensasi
10
dengan mengalirnya kembali elektron ke semikonduktor n akibat tarikan
medan listrik E. Dengan kata lain, medan listrik E mencegah seluruh elektron
dan hole berpindah dari semikonduktor yang satu ke semiikonduktor yang
lain.Pada sambungan p-n inilah proses konversi cahaya matahari menjadi
listrik terjadi.
Untuk keperluan sel surya, semikonduktor n berada pada lapisan atas
sambungan p yang menghadap kearah datangnya cahaya matahari, dan dibuat
jauh lebih tipis dari semikonduktor p, sehingga cahaya matahari yang jatuh ke
permukaan sel surya dapat terus terserap dan masuk ke daerah deplesi dan
semikonduktor p.
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.5 Matahari menyinari semikonduktor bagian atas / lapisan semikonduktor n
Ketika sambungan semikonduktor ini terkena cahaya matahari, maka elektron
mendapat energi dari cahaya matahari untuk melepaskan dirinya dari
semikonduktor n, daerah deplesi maupun semikonduktor. Terlepasnya
elektron ini meninggalkan hole pada daerah yang ditinggalkan oleh elektron
yang
disebut
dengan
fotogenerasi
elektron-hole
(electron-hole
photogeneration) yakni, terbentuknya pasangan elektron dan hole akibat
cahaya matahari.
11
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.6 Fotogenerasi elektron-hole (electron-hole photogeneration)
Cahaya matahari dengan panjang gelombang (dilambangkan dengan simbol
“lambda” pada di gambar atas ) yang berbeda, membuat fotogenerasi pada
sambungan pn berada pada bagian sambungan pnyang berbeda pula.
Spektrum merah dari cahaya matahari yang memiliki panjang gelombang
lebih panjang, mampu menembus daerah deplesi hingga terserap di
semikonduktor p yang akhirnya menghasilkan proses fotogenerasi di sana.
Spektrum biru dengan panjang gelombang yang jauh lebih pendek hanya
terserap di daerah semikonduktor n.
Selanjutnya, dikarenakan pada sambungan pn terdapat medan listrikE,
elektron hasil fotogenerasi tertarik ke arah semikonduktor n, begitu pula
dengan hole yang tertarik ke arah semikonduktor p.
Apabila rangkaian kabel dihubungkan ke dua bagian semikonduktor, maka
elektron akan mengalir melalui kabel. Jika sebuah lampu kecil dihubungkan
ke kabel, lampu tersebut menyala dikarenakan mendapat arus listrik, dimana
arus listrik ini timbul akibat pergerakan elektron.
12
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.7 Medan listrik yang dihasilkan dialirkan ke beban (lampu)
Pada umumnya, untuk memperkenalkan cara kerja sel surya secara umum,
ilustrasi di bawah ini menjelaskan segalanya tentang proses konversi cahaya
matahari menjadi energi listrik.
Sumber : energisurya.wordpress.com
Gambar 2.8 Prinsip kerja solar cell
2.1.3 Karakteristik Solar Cell
Dalam pengembangan suatu system pengukuran karakteristik I-V sel surya
serta prosedur penentuan parameter-parameter karakteristik sel surya untuk
pengukuran dalam keadaan penyinaran maupun keadaan tanpa penyinaran
dari karakteristik arus dan tegangan. Karakteristik ini selalu disajikan dalam
bentuk kurva arus dan tegangan. Tegangan open circuit diukur tanpa beban
dan tidak dipengaruhi oleh penyinaran. Arus hubung singkat Isc pada saat
pengukuran berbanding lurus dengan kuat penyinaran. Pada titik daya
13
maksimum (maximum power point) pada sel surya didapat dari hasil arus dan
tegangan dari titik tertentu yang mencapai titik maksimum.
Gambar 2.9 Grafik arus tegangan pada sel surya
Dari gambar diatas dapat disimpulkan ada tiga titik penting yaitu :
1.
Tegangan beban nol Voc diukur tanpa beban dan tidak dipengaruhi
penyinaran.
2.
Arus hubung singkat Isc diukur saat sel hubung singkat dan arus Isc
berbanding lurus dengan kuat penyinaran.
3.
Titik daya maksimum (Maximum Power Point) MPP dari sel surya
didapatkan dari hasil arus dan tegangan yang dibuat pada setiap titik.
a. Open Circuit Voltage (Voc)
Open Circuit Voltage Voc, adalah kapasitas tegangan maksimum yang
dapat dicapai pada saat tidak adanya arus (current). Pada kurva I-V, Voc
adalah 21 volt. Daya pada saat Voc adalah 0 watt. Voc solar cells panel dapat
diukur dilapangan dalam berbagai macam keadaan. Saat membeli modul,
sangat direkomendasikan untuk menguji voltase untuk mengetahui apakah
cocok dengan sepisifikasi pabrik. Saat menguji voltase dengan multimeter
digital dari terminal positif ke terminal negatif. Open Circuit Voltage (Voc)
dapat diukur pada pagi hari dan sore hari.
b. Short Circuit Current (Isc)
Short Circuit Current Isc, adalah maksimum output arus dari solar
14
cells panel yang dapat dikeluarkan (output) di bawah kondisi dengan tidak
ada resistansi atau short circuit. Pada kurva I-V diatas menunjukkan perkiraan
arus 2,65 Ampere. Daya pada Isc adalah 0 watt.
2.2 Motor DC
2.2.1 Pengertian Motor DC
Motor listrik merupakan perangkat elektromagnetis yang mengubah energi
listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk,
misalnya memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor,
mengangkat bahan,dll. Motor listrik digunakan juga di rumah (mixer, bor
listrik, fan angin) dan di industri. Motor listrik kadangkala disebut “kuda
kerja” nya industri sebab diperkirakan bahwa motormotor menggunakan
sekitar 70% beban listrik total di industri.
Motor DC memerlukan suplai tegangan yang searah pada kumparan medan
untuk diubah menjadi energi mekanik.Kumparan medan pada motor dc
disebut stator (bagian yang tidak berputar) dan kumparan jangkar disebut
rotor (bagian yang berputar). Jika terjadi putaran pada kumparan jangkar
dalam pada medan magnet, maka akan timbul tegangan (GGL) yang berubahubah arah pada setiap setengah putaran, sehingga merupakan tegangan bolakbalik. Prinsip kerja dari arus searah adalah membalik phasa tegangan dari
gelombang yang mempunyai nilai positif dengan menggunakan komutator,
dengan demikian arus yang berbalik arah dengan kumparan jangkar yang
berputar dalam medan magnet. Bentuk motor paling sederhana memiliki
kumparan satu lilitan yang bisa berputar bebas di antara kutub-kutub magnet
permanen.
15
Sumber: staff.ui.ac.id
Gambar 2.10 Motor dc sederhana
Catu tegangan dc dari baterai menuju ke lilitan melalui sikat yang menyentuh
komutator, dua segmen yang terhubung dengan dua ujung lilitan. Kumparan
satu lilitan pada gambar di atas disebut angker dinamo. Angker dinamo adalah
sebutan untuk komponen yang berputar di antara medan magnet.
2.2.2 Prinsip Kerja Motor DC
Jika arus lewat pada suatu konduktor, timbul medan magnet di sekitar
konduktor. Arah medan magnet ditentukan oleh arah aliran arus pada
konduktor. Aturan genggaman tangan kanan bisa dipakai untuk menentukan
arah garis fluks di sekitar konduktor. Genggam konduktor dengan tangan
kanan dengan jempol mengarahpada arah aliran arus, maka jari-jari anda akan
menunjukkan arah garis fluks.
Gambar 2.12 menunjukkan medan magnet yang terbentuk di sekitar
konduktor berubah arah karena bentuk U.
16
Sumber: staff.ui.ac.id
Gambar 2.11 Medan magnet yang membawa arus mengelilingi konduktor
Catatan :
Medan magnet hanya terjadi di sekitar sebuah konduktor jika ada arus
mengalir pada konduktor tersebut.
Pada motor listrik konduktor berbentuk U disebut angker dinamo.
Sumber: staff.ui.ac.id
Gambar 2.12Medan magnet mengelilingi konduktor dan diantara kutub
Jika konduktor berbentuk U (angker dinamo) diletakkan di antara kutub
uatara dan selatan yang kuat medan magnet konduktor akan berinteraksi
dengan medan magnet kutub. Lihat gambar 2.14
Sumber: staff.ui.ac.id
Gambar 2.13 Reaksi garis fluks
Lingkaran bertanda A dan B merupakan ujung konduktor yang dilengkungkan
(looped conductor). Arus mengalir masuk melalui ujung A dan keluar melalui
ujung B. Medan konduktor A yang searah jarum jam akan menambah medan
17
pada kutub dan menimbulkan medan yang kuat di bawah konduktor.
Konduktor akan berusaha bergerak ke atas untuk keluar dari medan kuat ini.
Medan konduktor B yang berlawanan arah jarum jam akan menambah medan
pada kutub dan menimbulkan medan yang kuat di atas konduktor. Konduktor
akan berusaha untuk bergerak turun agar keluar dari medan yang kuat
tersebut. Gaya-gaya tersebut akan membuat angker dinamo berputar searah
jarum jam.
Pada motor dc, daerah kumparan medan yang dialiri arus listrik akan
menghasilkan medan magnet yang melingkupi kumparan jangkar dengan arah
tertentu. Konversi dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor) maupun
sebaliknya berlangsung melalui medan magnet, dengan demikian medan
magnet disini selain berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan energi,
sekaligus sebagai tempat berlangsungnya proses perubahan energi, daerah
tersebut dapat dilihat pada gambar 2.15
Sumber: staff.ui.ac.id
Gambar 2.14 Prinsip kerja motor dc
Agar proses perubahan energi mekanik dapat berlangsung secara sempurna,
maka
tegangan sumber harus lebih besar daripada tegangan gerak yang
disebabkan reaksi lawan. Dengan memberi arus pada kumparan jangkar yang
dilindungi oleh medan maka menimbulkan perputaran pada motor.
18
2.2.3 Beban Motor (Torsi)
Dalam memahami sebuah motor, penting untuk mengerti apa yang dimaksud
dengan beban motor. Beban dalam hal ini mengacu kepada keluaran tenaga
putar / torque sesuai dengan kecepatan yang diperlukan. Beban umumnya
dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok :

Beban torque konstan adalah beban dimana permintaan keluaran
energinya bervariasi dengan kecepatan operasinya namun torquenya tidak
bervariasi. Contoh beban dengan torque konstan adalah corveyors, rotary
kilns, dan pompa displacement konstan.

Beban dengan variabel torque adalah beban dengan torque yang
bervariasi dengan kecepatn operasi. Contoh beban dengan variabel torque
adalah pompa sentrifugal dan fan (torque bervariasi sebagai kuadrat
kecepatan). Peralatan Energi Listrik : Motor Listrik.

Beban dengan energi konstan adalah beban dengan permintaan torque
yang berubah dan berbanding terbalik dengan kecepatan. Contoh untuk
beban dengan daya konstan adalah peralatan-peralatan mesin.
2.2.4 Prinsip Arah Putaran Motor
Untuk menentukan arah putaran motor digunakan kaedah Flamming tangan
kiri. Kutub-kutub magnet akan menghasilkan medan magnet dengan arah dari
kutub utara ke kutub selatan. Jika medan magnet memotong sebuah kawat
penghantar yang dialiri arus searah dengan empat jari, maka akan timbul gerak
searah ibu jari. Gaya ini disebut gaya Lorentz, yang besarnya sama dengan F.
Sumber : fisika12.blogspot.com
Gambar 2.15 Kaidah tangan kiri
19
Prinsip motor : aliran arus di dalam penghantar yang berada di dalam
pengaruh medan magnet akan menghasilkan gerakan. Besarnya gaya pada
penghantar akan bertambah besar jika arus yang melalui penghantar
bertambah besar.
2.2.5 Motor DC Magnet Permanen
Motor dc magnet permanen adalah motor yang medan magnet utamanya
berasal dari magnet permanen. Dan kumparan medan elektromagnetik
digunakan untuk medan jangkar. Gambar 1. memperlihatkan operasi motor dc
magnet permanen. Arus mengalir melalui kumparan jangkar dari sumber
tegangan dc, menyebabkan jangkar berfungsi sebagai magnet. Kutub pada
kumparan jangkar akan ditarik oleh kutub medan utama dari polaritas yang
berbeda, sehingga jangkar berputar.
Pada Gambar 2.16a terlihat jangkar berputar searah dengan putaran jarum
jam. Apabila kutub jangkar segaris dengan kutub medan, sikat-sikat ada pada
celah di komutator sehingga tidak ada arus mengalir pada jangkar. Jadi, gaya
tarik atau gaya tolak dari magnet akan berhenti, seperti tampak pada gambar
2.16b.
Kemudian kelembaman membawa jangkar melewati titik netral. Komutator
akan membalik arus jangkar ketika kutub yang tidak sama dari jangkar dan
medan saling berhadapan satu sama lain, sehingga membalik polaritas medan
jangkar. Kutub-kutub yang sama dari jangkar dan medan kemudian menjadi
saling tolak menolak, sehingga jangkar berputar terus menerus seperti
diperlihatkan pada gambar 2.16c.
Arah putaran dari motor dc magnet permanen ditentukan oleh arah arus yang
mengalir pada jangkar. Pembalikan ujung-ujung jangkar tidak akan membalik
arah putaran. Salah satu keistimewaan dari motor dc magnet permanen ini
adalah kecepatannya dapat dikontrol dengan mudah. Kecepatan motor magnet
permanen berbanding langsung dengan harga tegangan yang diberikan di
jangkar. Semakin besar tegangan jangkar, semakin tinggi kecepatan motor.
20
Gambar 2.16 Motor dc magnet permanen
2.3 Mikrokontroler
2.3.1 Pengertian Mikrokontroler
Mikrokontroler merupakan sistem mikroprosesor yang lengkap dan dikemas
dalam bentuk sebuah IC. Artinya bahwa didalam sebuah IC mikrokontroler
sebenarnya sudah terdapat seperti mikroprosesor, ROM, RAM, I/O dan clock
seperti halnya yang dimiliki oleh sebuah komputer PC. Namun karena
kemasannya sangat kecil yang hanya berupa sebuah chip, sehingga dari
spesifikasi dan kemampuan yang dimiliki oleh mikrokontroler masih sangat
rendah dibandingkan dengan sistem komputer seperti PC, baik dilihat dari
segi kecepatannya, muatan memorinya, maupun fitur-fitur yang dimilikinya.
Walaupun dari segi kemampuan lebih rendah, mikrokontroler ini mempunyai
kelebihan yaitu mikrokontroler menjadi fleksibel dan praktis karena
bentuknya yang kecil sehingga dapat digunakan pada sistem-sistem yang
relatif tidak terlalu kompleks.
Singkatnya, mikrokontroler adalah mikroprosessor yang dirancang khusus
untuk aplikasi kontrol, dan dilengkapi dengan ROM, RAM dan fasilitas I/O
pada satu chip. Mikrokontroler yang digunakan pada proyek akhir ini adalah
mikrokontroler ATMEGA16.
21
2.3.2 Mikrokontroler ATMega 16
Mikrokontroler ATMega16 adalah salah satu jenis mikrokontroler keluaran
atmel dari keluarga AVR (Alf and Vegard’s Risc Processor) ini menggunakan
RISC (Reduced Instruction Set Computer) yang artinya prosesor tersebut
memiliki set instruksi program yang lebih sedikit dibandingkan dengan MCS51 yang menerapkan arsitektur CISC (Complex Instruction Set Computer).
Hampir semua instruksi prosesor RISC adalah instruksi dasar (belum tentu
sederhana), sehingga instruksi-instruksi ini umumnya hanya memerlukan 1
siklus mesin untuk menjalankannya. Kecuali instruksi percabangan yang
membutuhkan 2 siklus mesin. RISC biasanya dibuat dengan arsitektur
Harvard, karena arsitektur ini yang memungkinkan untuk membuat eksekusi
instruksi selesai dikerjakan dalam satu atau dua siklus mesin, sehingga akan
semakin cepat dan handal. Proses downloading programnya relatif lebih
mudah karena dapat dilakukan langsung pada sistemnya.
ATMega16 mempunyai throughput mendekati 1 Millions Instruction Per
Second (MIPS) per MHz, sehingga membuat konsumsi daya menjadi rendah
terhadap kecepatan proses eksekusi perintah.
Gambar 2.17 Mikrokontroler ATMega 16
22
Gambar 2.18 Konfigurasi pin ATMega16 kemasan 40-Pin
Tabel 2.1 Deskripsi pin ATMEGA16
Nama Pin
Fungsi
VCC
Catu daya digital
GND
Ground untuk catu daya digital
Port A
Port I/O 8-bit dua arah dengan resistor pull-up internal.
(PA7..PA0)
Juga berfungsi sebagai masukan analog ke ADC (ADC0 s.d. ADC7)
Port B
Port I/O 8-bit dua arah dengan resistor pull-up internal.
(PB7..PB0)
Fungsi khusus masing-masing pin :
Port Pin Fungsi lain
PB0
T0 (Timer/Counter0 External Counter Input)
XCK (USART External Clock Input/Output)
PB1
T1 (Timer/Counter1 External Counter Input)
PB2
AIN0 (Analog Comparator Positive Input)
INT2 (External Interupt 2 Input)
PB3
AIN1 (Analog Comparator Negative Input)
OC0 (Timer/Counter0 Output Compare Macth Output)
PB4
SS (SPI Slave Select Input)
PB5
MOSI (SPI Bus Master Output/Slave Input)
PB6
MISO (SPI Bus Master Input/Slave Output)
PB7
SCK (SPI Bus Serialock)
Port C
Port I/O 8-bit dua arah dengan resistor pull-up internal.
(PC7..PC0)
Fungsi khusus masing-masing pin :
23
Lanjutan Tabel 2.1 Deskripi pin ATMEGA 16
Port Pin Fungsi lain
Port D
(PD7..PD0)
PC0
SCL (Two-wire Serial Bus Clock Line)
PC1
SDA (Two-wire Serial BusData Input/Output Line)
PC2
TCK (Joint Test Action Group Test Clock)
PC3
TMS (JTAG Test Mode Select)
PC4
TDO (JTAG Data Out)
PC5
TDI (JTAG Test Data In)
PC6
TOSC1 (Timer Oscillator pin 1)
PC7
TOSC2 (Timer Oscillator pin 2)
Port I/O 8-bit dua arah dengan resistor pull-up internal.
Fungsi khusus masing-masing pin :
Port Pin Fungsi lain
RESET
PD0
RXD (UART Input Line)
PD1
TXD (UART Output Line)
PD2
INT0 (External Interrupt 0 Input)
PD3
INT1 (External Interrupt 1 Input)
PD4
OC1B (Timer/Counter1 Output CompareB Match Output)
PD5
OC1A (Timer/Counter1 Output CompareA Match Output)
PD6
ICP (Timer/Counter1 Input Capture Pin)
PD7
OC2 (Timer/Counter2 Output Compare Match Output)
Masukan reset. Sebuah reset terjadi jika pin ini diberi logika rendah
melebihi periode minimum yang diperlukan.
XTAL1
Masukan ke inverting oscillator amplifier dan masukan ke rangkaian
clock internal.
XTAL2
Keluaran dari inverting oscillator amplifier.
AVCC
Catu daya untuk port A dan ADC.
AREF
Referensi masukan analog untuk ADC.
AGND
Ground analog.
2.3.3 Peta Memori ATMega 16
ATMega16 memiliki dua jenis memori yaitu Data Memory dan Program
Memory ditambah satu fitur tambahan yaitu EEPROM Memory untuk
penyimpan data.
24
1.
Peta Memory
Arsitektur ATMega16 mempunyai dua memori utama, yaitu memori data dan
memori program. Selain itu, ATMega16 memiliki memori EEPROM untuk
menyimpan data. ATMega16 memiliki 16K byte On-chip In-System
Reprogrammable Flash Memory untuk menyimpan program. Instruksi
ATMega16 semuanya memiliki format 16 atau 32 bit, maka memori flash
diatur dalam 8K x 16 bit. Memori flash dibagi kedalam dua bagian, yaitu
bagian program Boot Flash Section
dan Application Flash Section.
Bootloader adalah program kecil yang bekerja pada saat sistem dimulai yang
dapat memasukkan seluruh program aplikasi ke dalam memori prosesor.
Gambar 2.19 Peta Memory
2.
Peta Data Memory
Memori data AVR ATMega16 terbagi menjadi 3 bagian, yaitu 32 register
umum, 64 buah register I/O dan 1 Kbyte SRAM internal. General purpose
register menempati alamat data terbawah, yaitu $00 sampai $1F. Sedangkan
memori I/O menempati 64 alamat berikutnya mulai dari $20 hingga $5F.
Memori I/O merupakan register yang khusus digunakan untuk mengatur
fungsi terhadap berbagai fitur mikrokontroler seperti kontrol register,
timer/counter, fungsi-fungsi I/O, dan sebagainya. 1024 alamat berikutnya
mulai dari $60 hingga $45F digunakan untuk SRAM internal.
25
Gambar 2.20 Peta Data Memory
3.
EEPROM Data Memory
EEPROM (Electronically Erasable Read Only Memory) adalah memori yang
dapat mempertahankan data yang disimpan, meskipun catu daya dihilangkan
serta cara penulisan dan penghapusannya dengan menggunakan elektrik.
ATMega16 terdiri dari 512 byte memori data EEPROM 8 bit, data dapat
ditulis/dibaca dari memori ini, ketika catu daya dimatikan, data terakhir yang
ditulis pada memori EEPROM masih tersimpan pada memori ini, atau dengan
kata lain memori EEPROM bersifat nonvolatile. Lokasinya terpisah dengan
sistem address register, data register dan control register yang dibuat khusus
untuk EEPROM. Alamat EEPROM mulai dari $000 sampai $1FF.
2.4 Metoda MPPT (Maximum Point Power Tracker)
Maximum Power Point Tracker (MPPT) adalah sebuah metda atau cara untuk
menjejak letak titik maksimum dari kurva I-V pada sebuah fotovoltaik yang
selalu berubah secara dinamis mengikuti perubahan intensitas matahari, dan
temperatur.
Banyak teknik atau metoda MPPT yang telah dilakukan penelitian dan
dipublikasikan, tetapi dari sekian banyak itu ada tiga algoritma utama yaitu:
26
 Pertubation&Observatian (P&O),
 Incremental conductance (Inc) dan
 Constant Voltage (CV).
Dari ketiga algoritma di atas dua diantaranya yaitu P&O dan Inc biasa disebut
sebagai algoritma „Hill climbing‟ yang dimana keduanya itu menggunakan
kenyataan dari karakteristik P-V dari fotovoltaik dan dikarenakan
kesederhanaan dan kemudahannya untuk diterapkan maka kedua algoritma
ini banyak digunakan.
Gambar 2.21 Penjejakan dari dP/dV pada posisi yang berbeda
Berdasarkan gambar 2.22 algoritma P&O, tegangan dijejak dengan kenaikan
yang kecil dan perubahan daya P dapat diamati. Bila P positif berarti
mendekati titik daya maksimum dan bila negatif berarti menjauh dari titik
daya maksimum, sehingga penjejakan harus dikembalikan kearah yang
berlawanan. Masalah yang dihadapi P&O adalah terjadinya osilasi disekitar
titik daya maksimumnya. Gambar 2.23 di bawah ini adalah diagram alir
algoritma P&O.
27
START
Inisialisasi
Input
Vbaru, Ibaru
Hitung dPbaru
yes
dP = 0 ?
no
no
yes
dP > 0 ?
Vbaru - Vlama > 0 ?
Vbaru - Vlama > 0 ?
no
yes
Turunkan
Duty
Naikan
Duty
yes
no
Turunkan
Duty
Naikan
Duty
Vbaru = Vlama
Ibaru = Ilama
RETURN
Gambar 2.22 Algoritma MPPT Perturb&Observation(P&O)
Deskripsi Kerja :

Mensensor tegangan dan arus, dianggap tegangan dan arus baru.

Menghitung dP baru yaitu tegangan dikalikan dengan arus baru.

dP baru dibandingkan dengan dP lama, dP lama dianggap samadengan
nol.

Apabila dP baru samadengan dP lama, maka duty cycle tetap.

Apabila dP baru lebih besar dari dP lama, maka duty cycle dinaikan.

Apabila dP baru lebih kecil dari dP lama, maka duty cycle diturunkan.

Algoritma ini akan bekerja terus-menerus.
28
2.5 MOSFET
2.5.1 Pengertian MOSFET
MOSFET
merupakan singkatan dari Metal Oxide Semiconductor Field Effect
Transistor yang mempresentasikan bahan – bahan penyusun yang terdiri dari
logam, oksida, dan semikonduktor. MOSFET adalah piranti elektronik yang
dikendalikan oleh tegangan dan hanya memerlukan arus yang kecil. Terdapat 2
jenis MOSFET yaitu tipe NPN atau N channel dan PNP atau biasa disebut P
channel.
MOSFET dibuat dengan meletakkan lapisan oksida pada semikonduktor
dari tipe NPN maupun PNP dan lapisan logam diletakkan diatasnya. Gambar ….
Memperlihatkan konfigurasi dasar dari MOSFET yang terdiri dari 3 buah kaki
yaitu gate, drain, source.
Sumber:www.scribd.com
Gambar 2.23 Konfigurasi dasar MOSFET
2.5.2. Prinsip Kerja MOSFET
Prinsip kerja dari MOSFET adalah sebagai berikut :
1. Untuk tipe NPN, ketika gate diberi tegangan positif elektron-elektron dari
semikonduktor N dari drain dan source tertarik oleh gate menuju
semikonduktor tipe P yang berada diantaranya. Engan adanya elektronelektron ini pada semikonduktor P, maka akan menjadi suatu jembatan
yang memungkinkan pergerakan electron-elektron dari source ke drain.
29
Sumber:www.scribd.com
Gambar 2.24 Prinsip kerja MOSFET tipe NPN
2. Untuk tipe PNP, prinsip kerjanya sama hanya saja tegangan yang
diberikan pada gate berkebalikan dengan MOSFET tipe NPN. Ketika
tegangan negative diberikan ke gate, hole dari semikonduktor tipe P dari
source dan drain tertarik ke semikonduktor tipe N yang berada
diantaranya. Dengan adanya jembatan hole ini maka arus listrik dapat
mengalir dari source ke drain.
Sumber:www.scribd.com
Gambar 2.25 Prinsip kerja MOSFET tipe PNP
Karena adanya lapisan oksida antara gate dan semikonduktor, maka arus listrik
tidak mengalir menuju gate. Arus listrik mengalir diantara drain dan source yang
dikendalikan oleh tegangan gate.
2.5.3. Karakterisitik MOSFET
Karakteristik keluaran merupakan grafik dimana IDS diplot terhadap VDS untuk
beberapa variasi tegangan VGS. Ada tiga daerah dalam karakteristik keluaran
MOSFET, yaitu :
30
Sumber:www.scribd.com
Gambar 2.26 Bentuk gelombang switching
1. Untuk VGS VT disebut daerah cut-off.
2. Untuk VDS VGS – VT disebut daerah linier, dipakai pada saat transistor
berfungsi sebagai penguat.
3. Untuk VDS VGS – VT disebut daerah saturasi, dipakai pada saat transistor
difungsikan sebagai sakelar.
Gambar 2.26 memperlihatkan bentuk gelombang switching dan perwaktuan dari
MOSFET, waktu tunda-nyala atau td(on) adalah waktu yang dibutuhkan untuk
mengisi muatan kapasitansi masukan sampai pada level tegangan ambang.
Waktu naik atau tr adalah waktu yang dibutuhkan oleh terminal gerbang untuk
mengisi muatannya dari level tegangan ambang sampai tegangan penuh gerbang
(full gate voltage), VGSP, dimana tegangan ini dibutuhkan untuk mengaktifkan
transistor pada daerah linier.
Waktu tunda-mati atau td(off) adalah waktu yang dibutuhkan oleh kapasitansi
masukan utuk mengosongkan muatan apabila terjadi overdrive atau pemicuan
berlebih pada tegangan gerbang. V GS harus turun nilainya sebelum VDS mulai
naik.
Waktu jatuh atau tf adalah waktu yang dibutuhkan oleh kapasitansi masukan
untuk mengosongkan muatan dari daerh saturasi ke tegangan ambang. Apabila
VGS VT transistor akan menyumbat (off).
31
2.6. Optocoupler
Optocoupler adalah suatu IC yang meskipun secara fisik menjadi satu, tetapi
sebenarnya di dalamnya terdiri dari dua bagian yang terpisah antara bagian cahaya
dengan bagian deteksi sumber cahaya. Pada optocoupler terdapat isolasi elektris,
kondisi yang terisolasi antara masukan dan keluarannya
yaitu
(electrical
isolation). Penggunaannya memungkinkan untuk memisahkan dua bagian.
+ 15
N.C
R
Dari PWM
Ke Gate MOSFET
0.1 uF
Ke Source MOSFET
N.C
Gambar 2.27 Rangkaian Optocoupler
2.7. Buck Converter
Buck converter adalah salah satu DC – DC converter yang digunakan untuk
menurunkan tegangan DC. Prinsip kerja rangkaian ini adalah dengan kendali
pensaklaran. Komponen utama pada buck adalah penyaklaran, diode freewheel,
inductor, dan kapasitor. Pada gambar 2.28 ditujukkan buck converter yang masih
dasar dengan nilai komponen yang belum diketahui.
Gambar 2.28 Buck converter
32
Penyaklaran dapat berupa transistor, mosfet, atau IGBT. Kondisi saklar terbuka
dan tertutup ditentukan oleh isyarat PWM. Pada saat saklar terhubung, maka
induktor, kapasitor, dan beban akan terhubung dengan sumber tegangan. Kondsi
semacam
ini disebut dengan keadaan ON (ON state). Saat kondisi ON maka diode
akan reverse bias. Sedangkan saat saklar terbuka maka seluruh komponen tadi
akan terisolasi dari sumber tegangan. Keadaan ini disebut dengan kondisi OFF
(OFF state). Saat kondisi OFF ini diode menyediakan jalur untuk arus induktor.
Buck converter disebut juga down converter karena nilai tegangan keluaran lebih
dari inputnya.
kecil
2.8. Battery
Pada sistem energy matahari , battery atau biasa kita sebut sebagai aki, digunakan
sebagai back-up power pada system Off-Grid dan Grid-Tie dengan back-up
battery. Battery akan digunakan sebagai sumber energy manakala tidak
tersedianya atau terputusnya sumber listrik dari PLNUmumnya untuk penggunaan
battery dengan kapasitas besar> 5 AH, biasanya orang menggunakan tipe battery
Lead Acid.
Gambar 2.29 Battery
Apabila dilihat berdasarkan penggunaannya, battery memiliki beberapa tipe,
diantaranya ;

Starting Battery : Digunakan apabila dibutuhkan tenaga yg sangat besar
dalam waktu singkat. Contoh-nya penggunakan dalam automative dan mesinmesin
33

Deep Cycle Battery : Digunakan apabila dibutuhkan sumber energy yang
terus menerus dalam jangka waktu lama. Deep Cycle Battery mempunyai
karakteristik untuk discharge (pengeluaran tenaga battery) dan recharge
(pengisian tenaga battery) terus menerus.
Dari kedua jenis tersebut Deep Cycle adalah tipe yang sangat cocok digunakan
untuk sistem energi matahari.
Jangan menggunakan battery biasa untuk sistem energi matahari, karena battery
tidak akan bertahan lama dan membutuh perawatan serta penggantian battery
yang sering. Tipe VRLA Deep Cycle adalah tipe yang paling cocok digunakan
untuk sisyem yang menggunakan solar panel sebagai sumber energi.
Tipe VRLA Deep Cycle umumya mempunyai harga yang jauh lebih mahal dari
battery biasa, namun VRLA Deep Cycle yang dibuat khusus untuk Solar Power
System dapat bertahan antara 5 - 10 tahun dengan rancang disain life time 10 - 20
tahun.
Satu hal yang juga patut diperhatikan dalam memilih battery adalah kapasitas
battery. Apabila sebuah battery mempunyai kapasitas 100 AH, maka secara teori
battery tersebut akan sanggup menyuplai 100 A dalam waktu 1 jam, dapat
menyuplai 25 ampere dalam waktu 4 jam. Namun dalam merancang solar power
system. Usahakan penggunakan kapasitas jangan melebihi dari 50 % dari
kapasitas total. Sehingga battery dapat mempunyai life time yang sangat lama.
Pembebanan maksimal kapasitas battery akan membuat battery cepat rusak.
Download