Optimalisasi penggunaan tamarin lokal pada pencapan poliester

advertisement
•
Balai Besar Tekstil
OPTIMALISASI PENGGUNAAN TAMARIN LOKAL
PADA PENCAPAN POLIESTER
Oleh:
Theresia Mutia
Balai Besar Tekstil
J1. A. Yani No. 390 Bandung Telp. 022.7206214-5 Fax. 022.7271288
E-mail: [email protected]
INTISARI
Sampai saat ini pencapan kain poliester dengan zat warna dispersi masih menggunakan pengental impor, yaitu
tamarin yang berasal dari biji asam. Di Indonesia biji asam banyak tersedia di beberapa daerah, terutama di Nusa
Tenggara Timur dan Jawa Timur. Dengan memanfaatkan sumber daya alam tersebut diharapkan di masa yang akan
datang terjadi substitusi impor bahan baku. Untuk itu telah dilakukan serangkaian percobaan dan pengujian, dilanjutkan
dengan pencapan kain poliester dengan menggunakan tamarin lokal (hasil percobaan) dan sebagai pembanding
digunakan tamarin komersial pada kondisi yang sama.
Dari hasil pengujian diketahui kandungan air (% MR) biji asam antara 2,81 % - 8,25% dengan rendemen 45 50%. Dari analisa gugus fungsi tamarin hasil percobaan dan pembandingnya mempunyai kandungan senyawa organik
yang relatif sama. Viskositas larutan tamarin hasil percobaan yang mengandung zat anti bakteri dan pembandingnya
terhadap waktu penyimpanan adalah lebih stabil dibanding blangkonya.
Kualitas hasil pencapan tamarin hasil
percobaan dan pembandingnya adalah relatif sama, bahkan penggunaan tamarin lokal sebagai pasta pencapan adalah
lebih rendah 6,7% - 20%, sehingga lebih ekonomis. Kondisi optimal proses diperoleh dari biji yang dikeringkan pada
suhu 1100e se lama 3 jam yang mengandung zat anti bakteri, namun biji yang hanya dijemur di bawah sinar
mataharipun akan menghasilkan hasil pencapan dengan kualitas yang relatif sama. Dari hasil penelitian diketahui bahwa
tamarin lokal memenuhi syarat untuk digunakan sebagai pengental
Kata kunci : biji asam, pengental, pencapan
ABSTRACT
Up to this moment, polyester printing process with disperse dyes still uses import thickener, such as tamarind
powder which derivatesfrom tamarind seed. Actually tamarind seed is available in a great volume, mainly in East Nusa
Tenggara and East Java. So if the tamarind seed is treated to be tamarind powder, it's hoped can substitute and reduce
this import product, press the cost production and develop tamarind powder industry in that area. For that purpose, the
experiment has been done to produce tamarind powder using tamarind seed from East Nusa Tenggara. Following by
printing process to polyester fabric using this tamarind powder and the counter product (import product) with disperse
dyes at the same condition.
From the test results indicated that the Moisture Regain of tamarind seed is about 2,81% - 8,25% andfrom 1
kg seed can produce 0,45 - 0,5 kg tamarind powder. From infrared spectrum analyzing shows that tamarind powder
and the counter products are relatively contain the same organic compounds. Viscosity of tamarind paste contains anti
bacteria agent and the counter product more stable than the blank product.
The quality of printed fabric using
tamarind powder from this experiment and the counter product have the similar quality, but the usage are lower 6,7% 20% than the counter product, so using tamarind local is more economic. The optimal condition process is the
tamarind seed which is dried 3 hour at 110°C and contains anti bacteria agent, but from the sun-dried seed also can
produce printedfabric with the same quality. From the test results known that tamarind local can meet the requirement
as a thickener
Key words: tamarind seed, thickener, printing process
Tulisan diterirna : 16 November 2009
Selesai diperiksa:
PENDAHULUAN
Pada era kompetisi secara global ini, kesuksesan suatu
industri bergantung pada inovasi-inovasi, yang dapat
menekan biaya proses produksi
102
17 Desember 2009
menjadi lebih ekonomis,
terutama untuk negara
berkembang seperti Indonesia. Hal ini disebabkan
karena biaya produksi terbesar adalah untuk pembelian
bahan baku dan upah buruh. Selain itu apabila
teknologi standar yang ada dirasa cukup sulit untuk
Arena Tekstil Volume 24 No. 2 - Desember 2009: 60 - 112
Balai Besar Teksti!
diterapkan oleh industri kecil dan menengah, maka
modifikasi inovasi dengan menggunakan bahan baku
yang lebih murah merupakan suatu langkah penting
guna mengurangi biaya produksi. Sebagai contoh, pada
industri tekstil, salah satu bahan bakunya yaitu bubuk
tamarin yang digunakan sebagai pengental pada proses
pencapan dan kanji pada proses penganjian benang
lusi.
Bahan dasar pasta pencapan tekstil adalah
pengental yang umumnya berbentuk bubuk. Pengental
berfungsi sebagai zat pembantu untuk melekatkan zat
warna
pada : kain,
sehingga
menimbulkan
gambar/corakimotiftertentu.
Pengental yang digunakan
.
.
(I 2)
harus memenuhi persyaratan tertentu, yaitu ' :
• mempunyai viskositas tinggi dan stabil untuk jangka
waktu tertentu
• tidak terjadi perubahan kimia dan fisika
• sedapat mungkin tidak berwarna, dan apabila
berwarna tidak akan mewarnai bahan yang dicap
• tidak akan merusak zat warna
• dapat membawa zat warna dan tidak bereaksi
dengan zat warna
• mudah dihilangkan pada proses pencucian, kecuali
pengental untuk zat warna pigmen
Jenis pengental yang dipilih untuk pencapan
harus disesuaikan dengan macam serat tekstil dan
bahan yang akan dicap, jenis zat warna yang digunakan
dan alatlmesin yang digunakan.
Pengental dapat
berasal dari alam maupun buatan. Pengental alam
antara lain tapioka, tragan, terigu, gom, alginat, tamarin
dan lain-lain. Adapun pengental buatan antara lain
polivinil alkohol (PVA), karboksi rnetil selulosa
(CMC), resin dan lain sebagainya.
Setiap jenis
pengental mempunyai viskositas,
daya rekat dan
keliatan
tertentu.
Khusus
untuk
serat poliester
diperiukan pengental yang lebih pekat dibanding serat
lain dan perlu ditambahkan
zat pembasah pada
pastanya. Pengental yang sesuai untuk serat terse but
antara lain bubuk tamarin. Pengental ini mempunyai
sifat-sifat yang baik yang memenuhi syarat pengental
untuk proses pencapan bahan tekstil dan sangat baik
digunakan pada pencapan yang menggunakan
zat
warna dispersi.
Buah asam mengandung
kadar air yang
rendah dan merupakan sumber protein dan karbohidrat.
Selain itu juga mengandung sedikit vitamin, karoten
dan asam
nikotin.
Kandungan
protein
dan
karbohidratnya
merupakan yang tertinggi diantara
buah-buahan lainnya. Buah yang matang terdiri dari
daging buah 55%, biji 33% dan serat 12%. Bijinya
sendiri terdiri dari 30% kulit ari dan 70% biji bagian
dalarn-" 4). Komposisi biji tamarin dan perbandingan
polisakarida biji tamarin dengan biji lainnya disajikan
pada Tabel I dan 2, Dari Tabel 1 diketahui bahwa biji
tamarin
mengandung
sekitar
60%
polisakarida,
sedangkan dari Tabel 2 diketahui perbedaan komposisi
polisakarida biji tamarin dengan biji buah lainnya.
Pada umumnya
polisakarida dapat terhidrolisa oleh
enzim pektinase
menjadi
senyawa
yang lebih
sederhana, seperti arabinosa, galaktosa dan asam
galakturonik,
namun hal ini tidak terjadi pada
polisakarida yang terkandung dalam biji tamarin (5).
Tabell.
No
I.
Komposisi
IJI
•
amarm
Keterangan
(5)
Persentase
Kelembaban
8,1
2.
Protein
17
3.
Lernak
7
4.
Polisakarida
60,1
5.
Crude fiber
6.
Mineral (Na,K,Ca,Mg,P
Tabel2.
Uji
Kandungan
Apel
(%)
5
Si)
2,8
Polisakarida Biji Tamarin
Biii Lainnva (5)
Biji (kering) :
Jeruk Wood-Appl Jeruk
lemon
(%)
(%)
dan
Tamarin
(%)
(%)
Reducing
sugar
12,5
20,72
22,40
26,82
0
Kalsium
pektat
80,35
91,72
91,96
89,60
0
Asam
pektat
70,82
84,94
81,47
80,16
0
Asam
24,20
galakturonik
26,49
22,48
23,21
0
Mucic
acid
24,27
28,81
28,08
29,22
18,84
Uronic
acid
41,80
62,20
58,70
62,90
3,44
Pentosan
12,14
15,47
18,28
16,97
27,54
Dari literatur diketahui bahwa sifat spektrum
C-NMR dari polisakarida yang terkandung dalam biji
tamarin menunjukkan beberapa puncak pada 105,4
ppm; 103,4 ppm
dan 100,0 ppm, puncak-puncak
terse but menunjukkan
adanya senyawa galaktosa,
glukosa dan xilosa. Adapun hasil pola difraksi Sinar-X
dari senyawa tersebut tidak menunjukkan adanya
puncak, sehingga dapat dikatakan bahwa struktur
senyawa tersebut bersifat arnorf ". Diketahui pula
bahwa India merupakan salah satu produsen terbesar
dunia'", dan produk utama yang diekspor antara lain
daging buah kering, biji dan bubuk/tepung tamarin.
Ekspor tamarin dari India pada tahun 200 I - 2002
adalah 37.000 metriks ton. Indonesia juga merupakan
produsen buah asam, tetapi tidak sebesar India (5).
Bubuk tamarin yang digunakan oleh industri
tekstil India adalah 300% lebih efisien dan ekonomis
daripada kanji jagung yang digunakan pada proses
Optimalisasi Penggunaan Tamarin Lokal Pada Pencapan Poliester (Theresia Mutia)
103
Balai Besar Tekstil
penyempurnaan kapas, viskosa dan yute'!: 5). Pada
industri yute di India saja penggunaannya per tahun
adalah sekitar 300 ton. Selain itu digunakan pula
sebagai pengental pada industri peneapan tekstil,
penganjian kertas dan bahan tekstil, industri kulit,
plastik, lem kayu, penstabil batu bata, stabilizer briket
serbuk gergaji dan pengental untuk bahan-bahan
eksplosif (1,4). Bubuk tamarin harus disimpan ditempat
kering dan agar tidak mudah rusak maka ditambahkan
zat anti bakteri, antara lain natrium benzoat, natrium
bisulfit, natrium metabisulfit, dan lain-lain-" 6, 7).
Tamarin yang digunakan sampai saat ini
masih merupakan produk impor, terutama dari India.
Padahal bahan bakunya berasal dari biji asam dan
ban yak tersedia di daerah Indonesia Bagian Timur,
terutama di Nusa Tenggara Timur dan Jawa Timur dan
sampai saat ini penggunaannya hanya sebagai pakan
ternak. Dari data yang diperoleh tahun 2007 diketahui
bahwa produk asam dari Jawa Timur adalah 1.012
toneS), sedangkan dari Kabupaten ITS - NTT sekitar
3000 ton, dengan harga jual sekitar Rp. 1000,- - Rp.
2000,- per kg. Sementara biji asam telah diolah
menjadi tepung dihargai Rp. 7000,-<9). Selain itu luas
area I perkebunan rakyat asam jawa di Indonesia tahun
2002 adalah 5.743 hektar dengan produksi 7.777 ton
(10). Oleh karena
itu apabila biji asam lokal dapat
dimanfaatkan
sebagai bahan baku tamarin, maka
diharapkan
dapat mengurangi
devisa dan dapat
mendorong pertumbuhan industri keeil pengolah biji
asam di Indonesia, terutama di Bagian Timur.
Dari
uraian
di atas,
maka
dilakukan
serangkaian pereobaan dan pengujian yang bertujuan
untuk memanfaatkan biji as am lokal untuk diolah
menjadi bubuk tamarin dan optimasinya pada proses
peneapan bahan poliester dengan zat warna dispersi
menggunakan
tamarin
tersebut
dan
sebagai
pembanding digunakan tamarin komersial. Penelitian
mengenai
pemanfaatan
biji asam telah banyak
dipublikasikan'l'Y" 11,) dan upaya penggunaan biji as am
lokal sebagai pengental pad a proses peneapan telah
dilakukan
pula(8, 12), tetapi pada penelitian
ini
perbedaannya yaitu pada urutan dan lamanya proses,
jenis zat anti mikroba yang digunakan, eara uji
resistensi terhadap bakteri dan eara uji beda warna.
Zat anti mikroba yang digunakan adalah
natrium bisulfit, dan pemilihannya antara lain karena
merupakan zat yang umum digunakan di hampir semua
produk makanan, dengan nomor "Food Additive" E
222. zat tersebut mempunyai titik leleh yang tinggi
(l50°C)dan
selain
dapat
meneegah
terjadinya
kerusakan
oleh mikroba, juga dapat meneegah
terjadinya proses oksidasi yang menr,ebabkan produk
berubah warna menjadi keeoklatan ( ). Adapun untuk
uji resistensi terhadap bakteri, digunakan 2 jenis
bakteri, yaitu E. coli dan S. aureus (Gambar I).
104
Gambar 1. Bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus (13,14)
Pada
penelitian
ill!
ditambahkan
pula
pengujian kandungan air (Moisture Regain) biji asam
yang akan dijadikan sebagai bahan baku bubuk tamarin
dan optimalisasi penggunaan pasta induk untuk proses
peneapan. Selain itu, untuk mengetahui kualitas hasil
peneapan, dilakukan pula pengujian ketahanan luntur
warna terhadap peneueian, gosokan, keringat dan sinar.
Dengan demikian diharapkan adanya gambaran yang
lengkap mengenai kemampuan biji asam lokal sebagai
pengental pada proses peneapan kain poliester.
METODA
Bahan dan alat
Biji asam tua dan segar dengan kualitas yang
baik dari SOE-NTT, tamarin komersial dari India
(pembanding), kain poliester,
zat warna dispersi
{kuning (C.1. Disperse Yellow 144), merah (C'!.
Disperse Red 73) dan biru (C.1. Disperse Blue 60)}dan
natrium bisulfit p.a. (zat anti bakteri).
Alat yang digunakan yaitu kompor gas, panei,
penghalus biji,
neraea ana lit is, Oven, peralatan
peneapan,
Mesin
Curing
& HT Steam skala
laboratorium, Lab. Test Sieve No. 140 (0,106 mm),
Viskometer Brookfield, Spektrofotometer
(Minolta)
dan FTIR (Fourier Transform Infra Red).
Cara kerja
Cara kerja untuk pereobaan ini disajikan pada
Gambar2.
•
Resep pembuatan pasta pencapan
Pada pereobaan ini digunakan tamarin dengan
konsentrasi yang sama dan resep pembuatan pasta
induk untuk peneapan terse but disajikan pad a Tabel 3.
Adapun resep pasta peneapan
dengan pengental
tamarin mempunyai kondisi yang sama, yaitu zat
warna 2%, pH 4 - 5, jumlah pasta 1000 gram dan
viskositas 12000 eps.
Arena Tekstil Volume 24 No. 2 - Desember 2009: 60 - 112
Balai Besar Tekstil
Biji asam
(sudah dimasak dan dilepas kulitnya)
Bubuk tamarin komersial
(pembanding)
J.
1.
2.
Pengeringan
Dijemur (sinar matahari)
Dijemur dan dioven 11Doe,
(variasi waktu : 1, 2, 3, 4, dan 5 jam)
•
Dihaluskan dan disaring menjadi bubuk
I
.!
Zat anti b akteri
Proses pembuatan tamarin anti bakteri
+
I
I
Pengujian
I
I
Pencapan kain poliester
~
I
Gambar
Tabel
3. Resep Pasta Induk Pengental
U ntu kP encapan
Percobaan
Keterangan
2
1
Tamarin A (g)
Tamarin B (g)
Tamarin C (g)
Asam sitrat
Zat warna (g)
Air (g)
Viskositas (cps)
Pasta induk (g)
X*
-
-
X*
pH 4 - 5
20
1000 - X*
12000
1000
pH 4 - 5
20
1000 -X*
12000
1000
-
I
Pengujian
2. Diagram Alir Percobaan
spektrofotometer),
tahan
luntur
warna
terhadap
pencucian (SNI. 080285-98),
tahan luntur warna
terhadap gosokan (SNI. 080288-89), tahan luntur
warna terhadap keringat (SNI. 080287-96) dan tahan
luntur warna terhadap sinar matahari (SNI. 08028989), serta uji anti bakteri (AATCC. 147 - 98).
Tamarin
3
X*
pH 4-5
20
1000 - X*
12000
1000
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tamarin
Rendemen
Dari hasil perhitungan diketahui rendemen
rata-rata dari biji asam untuk menghasilkan bubuk
tamarin adalah sekitar 45 - 50%.
Atau
dengan
perkataan
lain dari I kg biji tamarin segar akan
dihasilkan bubuk tamarin sekitar 450 -500 gram.
Keterangan :
X
konsentrasi pengental (sama)
A
dijemur di bawah sinar matahari
B
dijemur & dioven 110°C, I s/d 5 jam
C
pembanding
•
Proses pencapan
Pencapan dilakukan dengan rakel 2 kali,
kemudian dikeringkan pada
suhu 100°C selama 1
menit dan difiksasi pada 200°C selama 30 detik.
Terakhir kain hasil pencapan dicuci reduksi dengan
Teepol 2 mill dan natrium hidrosulfit 2 g/I pada suhu
80°C se lama 10 menit serta dibilas sampai bersih.
Pengujian
Pengujian yang dilakukan meliputi kandungan
air (Moisture Regain), rendemen, analisa gugus fungsi
dengan alat Fourier Transform Infra Red (FTIR),
viskositas
dan kestabilan
pengental
(Viskometer
Brookfield), perbedaan warna (visual dengan dengan
Optimalisasi
Penggunaan
Tamarin
Lokal Pada Pencapan
Poliester
Viskositas
Untuk
mengetahui
viskositas
pengental
tamarin hasil percobaan, maka
bubuk tamarin dan
pembandingnya diuj i viskositas pada konsentrasi yang
sama (10%) dan hasilnya disajikan pada Gambar 3.
Dari hasil uji diketahui viskositas tamarin hasil
percobaan bervariasi dan tamarin yang dijemur dan
dioven pada suhu 110°C sampai 3 jam, adalah lebih
tinggi daripada pembandingnya, namun perpanjangan
waktu
pengeringan
pada
suhu
tersebut
akan
menyebabkan turunnya viskositas larutan. Dari data uji
diketahui pula bahwa bubuk tamarin yang berasal dari
biji asam lokal yang dikeringkan dengan oven pada
(Theresia
Mutia)
105
Balai Besar Tekstil
suhu l100e selama 3 jam, mempunyai viskositas yang
terbesar. Hal ini berarti waktu pengeringan sampai
waktu tertentu (3 jam) adalah baik, selanjutnya
perpanjangan
waktu yang berlebihan justru akan
menyebabkan terjadinya penurunan viskositas yang
sangat tinggi. Penurunan viskositas terse but sangat erat
hubungannya
dengan
derajat
polimerisasi
dari
polisakarida yang terkandung dalam tamarin, sehingga
dapat diasumsikan perpanjangan waktu pengeringan
akan menyebabkan
sebagian polimer alam yang
terdapat dalam biji tamarin terse but mengalami
kerusakan
yang
ditunjukkan
dengan
terjadinya
penurunan viskositas.
Dari penelitian pendahuluan diketahui pula
bahwa viskositas tamarin sangat tergantung
dari
kualitas bahan baku biji asam yang digunakan. Oleh
karena apabila bahan bakunya berkualitas buruk, yaitu
biji asam yang rusak karena kutu dan jamur akan
menghasilkan pengental dengan viskositas yang rendah
(2, 3). Dengan demikian
hasil yang optimal diperoleh
pada
pembuatan
tamarin
yang
pengeringannya
dilakukan dengan oven pada suhu 11o-c se lama 3 jam.
Akan tetapi tamarin yang berasal dari biji asam yang
hanya dijemur (A) dan dijemur serta dioven selama I
dan 2 jam (BI dan B2), ternyata viskositasnya relatif
lebih baik daripada pembandingnya, sehingga produk
tersebut tetap dapat digunakan sebagai pengental.
Namun demikian tamarin yang berasal dari biji asam
yang pengeringannya hanya dijemur saja sudah cukup
memadai, karena lebih ekonomis dari segi energi, biaya
dan waktu.
kemudian dioven se lama 1 sampai 5 jam
- 1,98 %, sedangkan tamarin pembanding
Namun, seperti te1ah dijelaskan
di
perpanjangan
waktu proses
dapat
kerusakan terhadap kua1itas tamarin,
tersebut perlu diperhatikan pula.
adalah 5,55%
adalah 8,1%.
atas bahwa
menyebabkan
sehingga hat
9
% MR
A
C
B1
B2
B3
B4
B5
Sam pel yang digunakan
Gambar
4. Kandungan
Air (% MR) Biji Tamarin
Analisa gugus lungs;
Untuk mengetahui apakah bubuk tamarin hasil
percobaan mempunyai gugus fungsi yang sama dengan
pembandingnya, maka dilakukan analisa gugus fungsi
dengan alat FTIR dan hasilnya disajikan pada Gambar
5. Dari gambar tersebut diketahui bahwa produkproduk terse but memiliki serapan pada panjang
gelombang yang re lat if sama, yaitu mengandung gugus
karbohidrat (sekitar 3000 ern" dan 3700 cm"), amida
(sekitar 1500 cm-I- 1600 ern"), amina sekitar 1000 cmI dan 1400 ern"), ester dan asam karboksilat (sekitar
1300 ern" - 1400 cm-I)(I5), sehingga dapat dikatakan
bahwa produk-produk tersebut memiliki kandungan
senyawa organik yang relatif sama pula.
52500
{I)
C')
:>I!:! -..
{I) III
~ 8-
35000
{I)'-'
:>
17500
o
A
61
62
63
64
65
c
Tamarin yang digunakan
Keterangan :
Tamarin A
Tamarin
BI-5
Tamarin e
Gambar
dijemur di bawah sinar matahari
dijemur dan dioven l100e (1 s/d 5
jam)
tamarin pembanding
3. Viskositas Tamarin
Sama
pada Konsentrasi
Kandungan Air {Moisture Regain (MR)}
Untuk
mengetahui
kandungan
air yang
terdapat dalam biji asam hasil percobaan,
maka
dilakukan pengujian
persentase
MR yang hasilnya
disajikan pada Gambar 4. Dari gambar tersebut,
diketahui
bahwa biji asam yang dijemur
saja
kandungan airnya adalah 8,25%, dan yang dijemur
106
Resistensi terhadap bakteri
Uji resistensi terhadap bakteri adalah suatu
pengujian untuk mengetahui kepekaan bakteri terhadap
antibiotik. Terdapat dua metoda umum yang digunakan
untuk uji seperti ini adalah Metoda Difusi Tabung dan
Metoda Difusi Agar. Pada pengujian ini digunakan
Metoda Difusi Agar (AATee 147 - 98), yaitu "paper
disk" berisi konsentrasi antibiotik yang telah diketahui
diletakkan
di
permukaan
medium
agar
lalu
-a'iinkubasikan. Munculnya zona hambat/zona bening
mengelilingi
disk mengindikasikan
kesensitivitasan
organisme
terhadap
antibiotik
terse but. Dengan
membandingkan diameter dari zona bening dengan
standar, maka dapat ditentukan organisme apa yang
rentan atau yang resisiten. Pada uji resistensi terhadap
bakteri, digunakan 2 jenis bakteri ~ang bersifat patogen
yaitu E. coli
dan S. AlIrellP3, 4) (Gambar 1). Dasar
pemilihan kedua bakteri terse but adalah karena banyak
terdapat di sekeliling kita dan menyebabkan berbagai
penyakit. Selain itu, keduanya mengandung mikroba
yang termasuk ke dalam golongan mikroba endofitik.
Mikroba endofit ini dapat hidup di dalam jaringan
Arena Tekstil Volume 24 No. 2 - Desember 2009 : 60 - 112
Ba/ai Besar Tekstil
2.95
1609.79
2.8
3369.56
~---1046.15
2.6
2.4
2.2
2.0
1.8
1.6
1.4
1.2
1.0
0.8
0.6
0.4-r-_~.
0.21 - .. --
4000.0
2000
3000
cm
-1
1500
1000
450
Keterangan :
Asam 1 : Tamarin B3 (dijernur dan dioven 11 Doe 3 jam)
Asam 2: Tamarin A (dijemur di bawah sinar matahari)
Asam 3 : Tamarin e (pembanding)
Gambar
5. Hasil Analisa Gugus Fungsi
tumbuhan, daun, akar, buah, dan batang. E.coli
merupakan bakteri gram negatif, anaerob fakultatif
yang tidak berspora,
dapat tumbuh pada banyak
substrat dan tumbuh baik pada medium pepton laktosa atau pepton-glukosa dan suhu pertumbuhan
optimalnya adalah sekitar 37°C. E. coli yang patogen
menyebabkan
penyakit pada saluran pencernaan,
seperti diare, muntaber dan masalah pencernaan
lainnya.
Tahun
1892, Shardinger
mengusulkan
penggunaan E. coli sebagai indikator kontaminasi oleh
bakteri fekal, karena mudah dideteksi. Selain itu, lebih
mudah
dalam
mengisolasinya
dibandingkan
mengisolasi bakteri patogen penyebab penyakit saluran
pencernaan lainnya. Adapun S. aureus merupakan
gram positif, tidak bergerak, tidak berspora dan bersifat
anaerob fakultatif. Pada manusia banyak ditemukan
pada hidung (nasal), kulit, dan membran mukosa.
Bakteri ini bersifat patogen, karena menyebabkan
keracunan
makanan,
dan menyebabkan
berbagai
penyakit kulit seperti jerawat, selulit, bisul, dan abses,
serta penyakit yang mengancam kehidupan misalnya
radang paru-paru . Bakteri ini bertahan pada hewan
domestik seperti anjing, kucing, dan kuda serta dapat
bertahan dalam keadaan lingkungan kering se lama
beberapa jam. Selain
itu, seperti halnya E. coli,
bakteri ini mudah diisolasi dibandingkan
bakteri
patogen lainnya(13,14j.
Bubuk tamarin mengandung polisakarida yang
merupakan
senyawa
organik
yang
rnendukung
tumbuhnya mikroorganisme (khamir, jamur, bakteri
atau alga)(5l, terutama apabila sudah dalam bentuk
pengental, yang terdeteksi dengan turunnya viskositas
atau pengental menjadi lebih encer. Oleh karena itu,
agar tamarin bubuk tidak mudah rusak karena serangan
mikroba, maka pada umurnnya ditambahkan zat anti
mikroba antara lain natrium benzoat, natrium bisulfit
dan lain - lain. Pada percobaan ini digunakan natrium
bisulfit yang dicampurkan langsung ke dalam bubuk
tamarin hasil percobaan. Pemilihan zat anti bakteri ini
antara lain karena natrium bisulfit merupakan senyawa
yang umum digunakan di hampir semua produk
makanan, dengan nomor "Food Additive" E222 dan
mempunyai titik leleh yang tinggi (150°C). Senyawa
ini dapat mencegah terjadinya kerusakan oleh mikroba
dan oksidasi udara. Natrium bisulfit akan melepaskan
gas sulfur dioksida ketika dimasukkan ke dalam air
atau sesuatu yang mengandung
air dan dapat
membunuh
ragi, jamur dan bakteri serta dapat
melindungi
warna produk dari oksidasi yang
rnenyebabkan
warn a produk
berubah
menjadi
kecoklatan-".
Oleh karenanya
dengan melakukan
proses anti mikroba dengan senyawa di atas diharapkan
dapat meningkatkan kualitas tamarin, terutama sewaktu
proses penyimpanan, sehingga produk tersebut tidak
mudah rusak dan warnanya tidak berubah.
Untuk mengetahui daya tahannya terhadap serangan
mikroba, maka dilakukan percobaan dengan kedua
jenis bakteri tersebut. Percobaan ini bertujuan untuk
mengetahui apakah zat anti bakteri yang ditambahkan
ke dalam bubuk tamarin
terse but
mendukung
Optimalisasi Penggunaan Tamarin Lokal Pada Pencapan Poliester (Theresia Mutia)
107
Balai Besar Tekslil
tumbuhnya mikroorganisme
atau tidak. Pengujian
dilakukan pada tamarin blangko (tanpa zat anti
bakteri), tamarin yang telah diproses dengan zat anti
bakteri dan tamarin pembanding. Untuk pengujian ini,
tamarin dibuat pasta, kemudian dioleskan pada cawan
petri dan dikeringkan sehingga membentuk membran
tip is, kemudian membran tipis tersebut dipotongpotong menjadi bentuk cakram dan diletakkan pada
permukaan medium padat yang sebelumnya telah
diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Diameter
zona hambatan sekitar cakram yang terbentuk setelah
diinkubasi dipergunakan mengukur kekuatan hambatan
tamarin terhadap organisme uji(16).
Sebelum dilakukan uji resistensi, pertamatama disiapkan biakan murni bakteri 24 jam yang
diencerkan dengan larutan NaCI fisiologis steril sampai
kekeruhan Mc. Farland. Biakan tersebut diambil
sebanyak ] ml dan dimasukkan ke dalam cawan petri
steril. Agar nutrisi cair dengan suhu 40°C sebanyak
20 ml dimasukkan ke dalam cawan petri tersebut dan
diaduk perlahan dengan cara memutar cawan perti
hingga agar dan suspensi bateri menjadi homogen, lalu
didiamkan sampai agar membeku. Lempeng tamarin
yang telah dipotong lingkaran berdiameter
] cm
diletakkan di atas permukaan agar beku dan dieramkan
pada suhu 37°C selama 24 jam dan hasilnya disajikan
pada Tabel 4a dan 4b. Dari hasil pengamatan, diketahui
bahwa pada cawan petri yang berisi tamarin blangko,
bakteri dapat tumbuh baik pada media tamarin maupun
media agar, begitu juga
untuk
tamarin
yang
mengandung zat anti bakteri 0,5%, hanya pertumbuhan
bakteri tidak sebanyak pada tamarin blangko. Adapun
pada cawan
petri yang
berisi
tamarin
yang
mengandung zat anti bakteri 1% dan 2% serta tamarin
pembanding, bakteri tidak tumbuh pada media tamarin,
namun tetap tumbuh pada media agar dan tidak
terdapat
zona bening.
Berarti
tamarin
yang
mengandung zat anti bakteri pada konsentrasi tertentu,
bukan merupakan media pertumbuhan bakteri atau
bukan makananlnutrisi bagi bakteri. Namun demikian
produk tersebut bukanlah merupakan antibiotik, karena
tidak ditemukan daerah zonasi di sekitar cakram
tarnarin. Oleh karena itu berdasarkan studi resistensi
tersebut, dapat disimpulkan
bahwa tamarin hasil
percobaan yang telah diberi zat anti bakteri dan tarnarin
pembanding mempunyai resistensi yang baik terhadap
bakteri, namun tidak bersifat anti biotik karena tidak
terjadi zona bening'l'", Dari hasil pengujian tersebut
diketahui bahwa penggunaan anti bakteri optimal pada
konsentrasi 1%, sedangkan pada pemakaian sampai >
1% hasilnya relatif sama. Dengan adanya zat anti
bakteri ini, maka diharapkan bubuk tamarin tersebut
terlindung dari serangan bakteri, sehingga tidak mudah
rusak sewaktu penyimpanan.
Tabel 4b. Bebera
I (T + AB 2%)
: tidak tumbuh bakteri, tak terlihat zona bening
2 (T + AB 1%)
: tidak tumbuh bakteri, tak terlihat zona bening
3 (T + AB 0,5 %) : agak larut dan diturnbuhi bakteri
4 (T blangko)
: larut dan ditumbuhi bakteri
Keterangan :
T (tamarin), AB (anti bakteri)
108
Tabel 4 a. Hasil Uii Resistensi Terhadap Bakteri
Ket
No Tamarin Jenis mikroba
E. coli
S.
aureus
I
2
Blangko ++++
+
+
Anti
Bakteri
0,5%
++++
+
+
3
Anti
Bakteri
1,0%
-
-
4
Anti
Bakteri
2,0%
-
-
5
Pem
banding
-
-
Membran tamarin larut dan
diturnbuhi bakteri (banyak)
Membran tamarin agak
larut dan ditumbuhi bakteri
(sedikit)
Membran tamarin tidak
diturnbuhi bakteri, narnun
tak terlihat zona bening
Membran tamarin tidak
diturnbuhi bakteri, namun
tak terlihat zona bening
Membran tamarin tidak
ditumbuhi bakteri, namun
tak terlihat zona bening
Bakteri
I dan2(T+AB
1%)
tidak tumbuh bakteri, tak terlihat
zona bening
3 dan 4 ( T pembanding) :
tidak tumbuh bakteri, tak terlihat
zona bening
Arena Tekstil Volume 24 No. 2 - Desember 2009: 60 - ll2
Balai Besar Tekstil
Kestabilan Pasta Pencapan
Untuk mengetahui kestabilan pasta pencapan
dan pengaruh penggunaan zat anti bakteri pada bubuk
tamarin terhadap viskositas larutan, maka dilakukan uji
viskositas terhadap waktu yang hasilnya disajikan pada
Gambar 6.
-;n
~
0.
70000
-,--------------..........,
52500
-
U)
12
.;;;
35000
0
~
>
17500
o
+---~-------~-=~~
4
--Blangko
_
Gambar
Anti bakleri 2%
6. Pengaruh Waktu Penyimpanan
Terhadap Viskositas
Dad Gambar 6 diketahui bahwa viskositas
pasta pencapan akan mengalami penurunan dengan
bertambahnya
waktu
penyimpanan
atau dengan
perkataan lain, pasta tersebut akan menjadi lebih encer
karena terjadinya degradasi. Degradasi dapat terjadi
oleh adanya kegiatan mikroorganisme yang merusak
pasta dan oksidasi dengan udara, yang akan semakin
besar dengan bertambahnya
waktu penyimpanan.
Tamarin yang merupakan
polisakarida merupakan media pertumbuhan (nutrisi)
yang baik bagi rnikroba'!". Oleh karenanya, semakin
lama waktu penyimpanan, akan semakin banyak pula
polisakarida yang terdegradasi. Penggunaan zat anti
bakteri sampai konsentrasi tertentu
dapat menahan
pertumbuhan
mikroba,
sehingga
viskositas
pasta
pencapan dari tamarin yang telah diproses dengan zat
anti bakteri lebih stabil dibandingkan
blangkonya
(tanpa zat anti bakteri). Akan tetapi pemakaiannya
yang berlebih ternyata dapat menurunkan viskositas.
Seperti telah diuraikan di atas bahwa natrium bisulfit
akan
melepaskan
gas
sulfur
dioksida
ketika
dimasukkan
ke dalam
air atau sesuatu
yang
mengandung air (7), namun apabila konsentrasinya
terlalu tinggi mungkin akan mendegradasi polisakarida,
sehingga viskositasnya turun atau larutan menjadi lebih
encer
Selain itu diketahui pula bahwa walaupun
pada awalnya viskositas tamarin blangko lebih tinggi
daripada pembandingnya,
namun setelah disimpan 1
hari terjadi penurunan viskositas yang cukup tajam,
sedangkan viskositas pembandingnya
lebih stabil
terhadap waktu penyimpanan. Hal ini dapat dijelaskan
karena pada umumnya tamarin komersial sudah
mengandung zat aditif berupa zat anti bakteri yang
berfungsi
untuk mencegah
terjadinya
kerusakan
tamarin se lama waktu penyimpanan. Oleh karenanya
Optimalisasi
Penggunaan
Tamarin
Lokal Pada Pencapan
dalam upaya mernperbaiki
kualitas produk perlu
ditambahkan zat anti bakteri, terutama yang telah
diketahui efektivitasnya.
Optimalisasi Penggunaan
Tamarin pada Pencapan
Poliester
Kondisi pasta pencapan yang mengandung zat
warna dispersi umumnya bersifat asam (pH 4 - 5).
Oleh karena itu tamarin sangat sesuai digunakan
sebagai pengental untuk proses tersebut, karena
polisakarida yang berasal dari biji asam bersifat stabil
pad a kondisi asam maupun basa serta lebih tahan
terhadap pemanasan
dibanding
polisakarida
yang
berasal dari surnber lain (I). Selanjutnya larutan
polisakarida dalam air akan membentuk hidrokoloid
yang bersifat non Newtonian yang pseudoplastis,
sehingga untuk mendapatkan pasta induk diperlukan
waktu satu hari agar diperoleh kekentalan yang tinggi
dan rata'!' 11).
Untuk mengoptimalkan penggunaan tamarin
lokal pada pencapan
kain poliester dan untuk
mengetahui kualitas hasil pencapan tersebut, maka
dilakukan beberapa percobaan dan pengujian yang
disajikan di bawah ini.
Perhltungan Penggunaan Pengental Tamarin Untuk
Pasta Induk
Dad Gambar 3 diketahui bahwa tamarin hasil
percobaaan
dengan beberapa
variasi proses dan
pembandingnya
pada
konsentrasi
yang
sama,
mempunyai viskositas yang berbeda, sedangkan pasta
pencapan yang diinginkan harus rnernpunyai viskositas
yang sama, yaitu 12000 cps {untuk poliester berkisar
antara 8000 - 12000 cps}, maka setelah dilakukan
perhitungan,
diketahui
adanya
hubungan
antara
viskositas dengan pasta cap, yaitu semakin kental atau
semakin tinggi viskositasnya, maka pengental yang
diperlukan untuk membuat pasta induk akan sernakin
sedikit. Tabel 5 di bawah ini menjelaskan banyaknya
masing-rnasing pengental untuk membuat 1000 gram
pasta induk pencapan (sesuai dengan Tabel 3), yang
mengandung zat warna 2%, viskositas 12000 cps dan
pH sekitar 4 -5, dari larutan tamarin 10%.
Pembuatan
Tabel 5. Optimalisasi Penggunaan Pengental
Tamarin Lokal Untuk Pasta Induk
Tamarin
Pasta yang
diperlukan
(gram)
Ket
A (dijemur di bawah
sinar matahari)
700
Hasil yang paling ekonomis
BJ (dijemur dan
dioven llOoe 3 jam)
600
Hasil yang optimal
B, (dij emur dan
dioven It o-c 5 jam)
825
Hasil yang tidak ekonomis
e (pembanding)
750
Pembanding
Poliester (Theresia Mutia)
109
Balai Besar Tekstil
Dari Tabel
5 diketahui
bahwa untuk
mendapatkan 1000 gram pasta dengan viskositas 12000
cps, maka penggunaan pengental dari Tamarin B3
adalah yang paling sedikit, yaitu 600 gram atau 150
gram (20%) lebih rendah daripada pembanding.
Adapun penggunaan Tamarin A adalah 50 gram (6,7%)
lebih rendah daripada pembanding, sedangkan Tamarin
B, adalah 75 gram
(10%) lebih banyak daripada
pembanding. Hal ini disebabkan karena viskositas
pengental induk dari Tamarin B3 dan A adalah lebih
besar, sedangkan Tamarin B, adalah lebih kecil
daripada pembanding. Dengan demikian penggunaan
pengental hasil percobaan ini, terutama
B3 dan A
relatif lebih kecil daripada pembandingnya, sehingga
untuk pcngujian
selanjutnya
difokuskan
kepada
Tamarin B3 dan A.
Ketuaan Warna dan
Perbedaan
Tabel
6. Hasil KlS (konsentrasi relatif zat warna
dalam bahan)
KlS dari:
Pengental
Kuning
Biru
Merah
(1.440 nm)
(I. 520 nm)
(I. 680 nm)
Warna
Untuk mengetahui apakah variasi penggunaan
tamarin terhadap hasil pencapan kain poliester dengan
zat warm dispersi berpengaruh terhadap kualitas warna
yang dihasilkan, maka telah dilakukan proses pencapan
dengan menggunakan tiga warna dasar yaitu kuning,
merah dan biru. Pengujian ketuaan warna dan beda
warna dilakukan secara visual (Skala Abu-Abu)
dan
dengan alat spektrofotometer {dinyatakan dengan KlS
(konsentrasi relatif zat warna dalam bahan) dan beda
warna (LlE)}.
Sebagai pembanding
adalah hasil
pencapan yang menggunakan pengental komersial, dan
hasil ujinya disajikan pada Tabel 6 - 7 dan Gambar 7.
Dari hasil penguj ian diketahui
panjang
gelornbang optimal untuk warna kuning, merah dan
biru, masing-masing adalah 440 nm, 520 nm dan 680
nm, sehingga pengujian KlS dihitung pada panjang
gelornbang tersebut. Dari Tabel 6 - 7 dan Gambar 7
diketahui bahwa ternyata variasi penggunaan tamarin
secara visual rciatif tidak menyebabkan perubahan
warns atau dibandingkan dengan tamarin komersial
mcmberikan nilai antara 4 - 5 sampai 5 menurut Skala
Abu-Abu clan beda warm (Ll E) antara 0,43 - 2,53,
t;:.:hiag,;:! hasil pencapan dapat dianggap mempunyai
warna ycng relatif sarrra, kecuali warna kuning, hasil
pencapan dengan tamarin hasil percobaan mempunyai
W:''';~? yang relatif !ebih tua. Jadi pencapan dengan
vari.is] ·•.•.
arna dari zat warna dispersi dan dengan
Tamarin A
12,423
23,763
13,427
Tamarin B3
12.459
24,l16
14,032
Tamarin C
10,898
24,262
14,448
25
• Kuning T C
DKuning T A
DKuning TB3
K/S
• Merah T C
o Merah TA
o Merah T B3
12.5
.Siru
I Penrca.al
i
TC
DBiru T A
DBiruTB3
o 400
./~~-;~~~~~~~~
440
480
520
560
600
640
680
Panjang geiumbang (nm)
Gambar
7. Kurva Konsentrasi Relatif Zat Warna
dalam Bahan (K/S)
Tahan Luntur Warna
Untuk mengetahui apakah variasi penggunaan
tamarin terhadap hasil pencapan kain poliester dengan
zat warna dispersi berpengaruh terhadap tahan luntur
warna yang dihasilkan, maka tclah dilakukan pengujian
tahan luntur warna terhadap pencuciaa,
gosokan,
keringat dan sinar, yang hasilnya disajikan pada Tabel
8 - 10.
--.
'Tube! 7. Hasil Uii Red a Warna (Skala Abu-Abu
Warna
I
Kuning
dan A E)
Biru
Merah
U
Skala
Abu-Abu
TarnarinA
,
..Tamarin
13,;
.Tamarin C
..
110
menggunakan
pengental
tamarin hasil percobaan
cenderung menghasilkan warna yang relatif lebih baik,
namun secara visual adalah relatif sama. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa pengental tamarin
hasil percobaan ini yang merupakan produk lokal
mempunyai kualitas yang relatif sama dengan tamarin
pembanding yang merupakan produk impor.
,
Skala
(Ll E)
4 - 5
2,53
(lebihtua)
(lebih tua)
4'- 5
1,96
(Iebih tua)
(Iebih tua)
Standar oembandinz
Abu-Abu
(~ E)
4 -5
1,52
(lebih tua)
(lebih tua)
1,14
5
(sama)
(sama)
Standar oembandinz
Skala
Abu-Abu
(Ll E)
4 -5
0,81
(lebih tua)
(lebih tun)
0,43
5
(sarna)
(sama)
Standar pernbandinz
Arena Tekstil Volume 24 No. 2 - Desember 2009 : 60 - 112
Balai Besar Tekstil
Tabcl
8. Hasil Uji Tahan Luntur Warna Terhadap
Pencucian dan Sinar
Terhadap
Pengental
N0
pencucian
Terhadap
sinar
Penodaan warna
pada kain :
Perubahan
warna
Poliester
Kapas
Tamarin A
I.
I
Kuning
4-5
4 -5
4-5
4-5
Merah
4-5
4 -5
4-5
lJiru
4 -5
4-5
4 -5
4 -5
4 -5
Tarnarin B
2.
Kuning
_"i" 4 -5
4-5
4 -5
4-5
Merah
4 -5
4-5
4 -5
4 -5
Biru
4-5
4 -5
4 -5
4 -5
Tamarin C
3.
Kuning
4-5
4-5
4-5
4-5
Merah
4 -5
4 -5
4 -5
4-5
Biru
4-5
4 -5
4-5
4-5
Tabel
9. Hasil Uji Tahan Luntur
Ter ha dap Goso kan
Gosokan
Pengental
N"
..
(penodaan
Warna
warna)
Kering
Basah
Kuning
4-5
4-5
Merah
4-5
4-5
Biru
4 -5
4-5
Kuning
4 -5
4-5
Merah
4-5
4-5
Biru
4-5
4-5
Kuning
4 -5
4-5
Mcrah
4 -5
4-5
Biru
4-5
4-5
Dari Tabel 8 - la diketahui bahwa variasi
penggunaan tamarin relatif tidak berpengaruh terhadap
nilai tahan luntur warna hasil peneapan kain poliester
tersebut dan semuanya mempunyai nilai sekitar 4 - 5
Skala Abu-Abu atau mempunyai nilai tahan luntur
yang relatif baik. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa tamarin hasil pereobaan ini mempunyai kualitas
yang relatif sama dengan pembandingnya
Dari hasil pembahasan
di atas diketahui
bahwa pengental tamarin hasil pereobaan yang yang
merupakan produk Iokal, terutama tamarin 83 dan A
ternyata mempunyai kualitas yang relatif sama dengan
pembandingnya
yang merupakan produk
impor,
bahkan penggunaannya 6,7% - 20% lebih rendah atau
lebih ekonomis. Dari penelitian ini diketahui bahwa
guna menekan biaya agar lebih ekonomis lagi dan
dapat digunakan oleh industri keeil, maka pengeringan
biji asam dapat dilakukan dengan menggunakan
bantuan sinar matahari dan setelah menjadi bubuk
tamarin dapat ditambahkan zat anti bakteri agar tidak
mudah rusak dalam penyimpanan. SeJain itu apabiJa
bubuk tamarin digunakan sebagai pengental, sebaiknya
waktu penyimpanan tidak lebih dari 3 (tiga) hari, agar
masih dapat digunakan sebagai bahan baku pasta cap.
Tamarin A
,
KESIMPULAN
Tamarin BJ
2.
Tarnarin C
3.
Tabel 10. Hasil Uji Tahan Luntur Warna
T erla
I d ar K·ermga tA sam d an B asa
No
Pengental
Perubahan
warna
Penodaan warna
pada kain:
I
Policster
Kapas
Tamarin A
I.
Kuning
4 -5
4 -5
4-5
Merah
4 -5
4-5
4-5
Biru
4-5
4-5
4-5
!
Tamarin B.,
2.
Kuning
4-5
4 -5
4-5
Merah
4 -5
4 -5
4-5
I3iru
4 -5
4 -5
4 -5
Kuning
4-5
4 -5
4-5
Merah
4 -5
4-5
4-5
Bin!
4-5
4 -5
4 -5
Tamarin C
3.
Optimalisasi
Penggunaan
Tamarin
Lokal Pada Pencapan
Dari
hasil
penelitian
im maka
dapat
disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
I. Kandungan air biji asam hasil pereobaan adalah
2,81 % - 8,25%, dengan rendemen 45% - 50%.
2. Viskositas tamarin hasil pereobaan adalah lebih
tinggi pada saat awal daripada pembandingnya, dan
hasil yang terbaik
adalah
biji asam yang
dikeringkan
di bawah sinar matahari serta
dilanjutkan dengan pengeringan dalam oven pada
suhu IIOoe sampai 3 jam, dengan % MR 2,81.
Namun setelah satu hari viskositasnya turun, atau
dengan kata lain kestabilan viskositasnya kurang
dibanding pembanding.
3. Dari analisa gugus fungsi diketahui bahwa contoh
uji hasil pereobaan
dengan
pembandingnya
mempunyai
kandungan
senyawa organik yang
relatif sama.
4. Hasil uji resitensi terhadap bakteri pada media
tamarin hasil pereobaan memperlihatkan
bahwa
bakteri dapat tumbuh pada tamarin blangko, tetapi
tidak pada tamarin yang telah diproses dengan zat
anti bakteri dan pembandingnya, serta viskositasnya
lebih stabil terhadap waktu penyimpanan.
5. Semua hasil peneapan dengan variasi warna dan
pengental akan menghasilkan warna yang relatif
sama, yaitu setara dengan nilai 4 - 5 sampai 5
Skala Abu-Abu atau (t-. E) sekitar 0,43 - 2,53.
6. Variasi
penggunaan
tamarin
relatif
tidak
berpengaruh terhadap tahan luntur warna
hasil
peneapan dan semuanya mempunyai nilai yang
Poliester (Theresia Mutia)
III
Balai Besar Tekstil
setara dengan
4 - 5
Skala Abu-Abu atau
mempunyai nilai tahan luntur yang relatifbaik.
7. Kondisi optimal proses diperoleh dari biji asam
yang dikeringkan pada suhu 110°C se lama 3 jam
dan diproses dengan zat anti mikroba
8. Tamarin lokal terse but di atas dapat memenuhi
syarat untuk digunakan sebagai pengental pada
pencapan kain poliester dan penggunaannya adalah
6,7% - 20% lebih rendah dibanding standar, atau
lebih ekonomis.
Ucapan terimakasih :
Penulis mengucapkan
terimakasih
kepada
Bapak Sujana dan Cipta G.K. yang telah membantu
melakukan percobaan untuk mendukung tulisan ini.
DAFTAR PUST AKA
1. Mathur, Atul & Paras Mal Sand, "Textile Print
Paste Thickener from Polysacharida", Scince Tech.
Entrepreneur, Rajasthan, June, 2006, e-mail :
[email protected].
2. Arifin Lubis, dkk., Teknologi Pencapan Tekstil,
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung, 1998
3. -----------, Tamarindus indica L, Informasi Singkat
Benih, Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan
IFSP, e-mail:
[email protected].
'
4. "Tamarin (sampalok) Fruit Processing", Dec. 28,
2006,·
Tamarind\tamarin-sampalok-fruitprocessing.html
5. Gursharan, Kaul, et. aI., "Tamarin Date of India",
Science Tech. Entrepreneur, Punjab, Dec., 2006.
6. Gunasena, HP & Hughes, A, , "Tamarind, Fruit for
the Future", International Center for Underutilized
Crops, Southampton, UK, 2000
112
7.
Burdock, G.A, Encyclopedia of Food and Color
Additives, Volume Ill, CRC Press, New York,
1997
8. Puri Prettyanti, dkk, "Pemanfaatan
Biji Asam
sebagai Bahan Pengental untuk Proses Pencapan
Tekstil", Arena Teksti/, Vol. 23, NO. 2, Desember
2008.
9. Muchlis al Alawi, "Asam Timor, Potensi yang
Terlupakan", Pos Kupang, Minggu 19 Oktober
2008
10
Luas areal Perkebunan Rakyat di
Indonesia., www.deptan.go.id
11. Prabhanyan, Studies on Modified Tamarind Kernel
Powder Part I, Preparation and Psychochemical
Properties of Sodium Salt of Carboxymethyl
Derivates, New Delhi, 2006.
12. Theresia Mutia, Pemanfaatan Biji Asam Sebagai
Pengental, Laporan Penelitian Rutin, Balai Besar
Tekstil, Bandung, 2005
coli.
13. Anonymous.
Escherichia
(diakses
http://en.wikipedia.org/wikilE.coli
27/08/09)
14. Todar,
K.," Staphylococcus
aureus ".Online
Textbook
of
Bacteriology.
http://
www.textbookotbacteriology.net/staph.html.
2008.
15. Silverstein,
R.M.,
et.
aI.,
Spectrometric
Identification of Organic Compound, Third Ed.,
John Willey & Sons, New York, 1975.
16. Ryan KJ, Ray CG (editor),
Manual of Clinical
Microbiology, 4th Ed., McGraw Hill, N.Y., 2004.
17. Rizki, Masagus, "Potensi Antibakteri Ekstrak dan
Bakteri Endofit Tumbuhan
Pandan (Pandanus
tectorius Soland. Ex Park.) Terhadap Bakteri
Escherichia
Coli dan Staphylococcus',
Thesis,
UNPAD FMIPA Biologi, Jatinangor, 2009.
18. Basu, S. N., Biological Degradation of Tamarin
Kernel Paste Used in Yute Warp Sizing, New
Delhi, 1970.u
Arena Tekstil Volume 24 No. 2 - Desember 2009 : 60 - 112
Download