naskah publikasi dinamika kesejahteraan psikologis survivor

advertisement
NASKAH PUBLIKASI
DINAMIKA KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SURVIVOR
KEKERASAN SEKSUAL
Oleh:
MAROEL POESPITA RINI
RA. RETNO KUMOLOHADI
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2008
NASKAH PUBLIKASI
DINAMIKA KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SURVIVOR
KEKERASAN SEKSUAL
Telah Disetujui Pada Tanggal
_________________________
Dosen Pembimbing
(RA. RETNO KUMOLOHADI., S.Psi, M.si)
DINAMIKA KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS SURVIVOR
KEKERASAN SEKSUAL
Maroel Poespita Rini
RA. Retno Kumolohadi
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika kesejahteraan psikologis survivor
kekerasan seksual, bagaimana survivor mendapatkan kembali kesejahteraan psikologisnya, serta
factor-faktor yang mempengaruhi tercapainya perkembangan tersebut. Penelitian ini dilakukan
dengan metode kualitatif.
Subjek penelitian adalah konselor yang mendampingi survivor selama proses konseling.
Adapun Alat Ukur yang digunakan adalah wawancara mendalam (In depth Interview) dan
dokumentasi. Kekerasan seksual adalah salah satu peristiwa traumatis yang menimbulkan dampak
yang besar terhadap kondisi kejiwaan survivor. Dari penelitian ini,diperoleh beberapa hal
mengenai dinamika yang dialami survivor setelah mengalami kekerasan seksual, yaitu :
Setelah mengalami kekerasan seksual survivor mengalami PTSD (Post Traumatic Stress
Disorder), beberapa gejala yang muncul adalah keinginan untuk bunuh diri, hilangnya
kepercayaan diri, malu, dan mengalami mimpi buruk. Survivor juga menunjukkan gejala
kecemasan, diantaranya adalah gemetar, gelisah, kekhawatiran terhadap lingkungan, masa depan,
dan masyarakat.
Kekerasan seksual tidak hanya berdampak pada kondisi jiwa, tapi juga kondisi fisik,
seperti tertular penyakit menular seks atau PMS, dan keluhan fisik lainnya yang muncul berkaitan
dengan kekerasan yang dialami.
Bantuan yang diberikan kepada survivor tidak hanya berupa pertolongan secara psikis,
namun juga secara medis dan hukum.
Faktor utama yang mempengaruhi tercapainya perkembangan dalam kondisi kejiwaan
survivor adalah adanya dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat, selain dorongan yang
kuat dari dalam diri survivor sendiri.
Setelah kegiatan konseling berakhir, kondisi psikis survivor belum dapat dikatakan telah
kembali seprti semula. Butuh waktu yang lama untuk memastikan apakah survivor telah benarbenar pulih atau tidak.
Kata kunci : Kesejahteraan Psikologis, Kekerasan Seksual
Pengantar
Latar Belakang Masalah
Kekerasan terhadap wanita akhir-akhir ini menjadi sesuatu fenomena yang
sering terjadi, dimana wanita sering menjadi korban dari kekerasan yang
dilakukan oleh kaum laki-laki. Diberbagai media massa, baik itu televisi, radio,
maupun surat kabar, sering dijumpai kasus-kasus kekerasan yang menimpa kaum
wanita, dan salah satu kasus yang banyak dijumpai adalah kekerasan seksual, baik
itu yang dilakukan oleh pasangan mereka sendiri seperti suami, maupun oleh
orang lain seperti tetangga, teman, dan orang asing lainnya, bahkan ada juga yang
dilakukan oleh keluarga korban sendiri seperti paman, atau bahkan orang tua
kandung atau orang tua angkat.
Isu kekerasan terhadap perempuan bukanlah isu baru bagi masyarakat. Isu
ini telah sering diperbincangkan, didiskusikan dan dicarikan solusinya. Namun
demikian, kekerasan terhadap perempuan tetap saja terjadi bahkan semakin lama
semakin meningkat jumlahnya dan juga mengalami perkembangan bentukbentuknya. Selama tahun 2006 kasus kekerasan yang didampingi oleh LBH APIK
Jakarta pada sebanyak 41,2% adalah kekerasan seksual. Namun hanya 17 % kasus
yang sampai pada putusan di Pengadilan Negeri.
Kekerasan terhadap wanita sendiri dapat diartikan sebagai segala bentuk
kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti
secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ; termasuk
ancaman dari tindakan tsb, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan,
baik yang terjadi dilingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.
(Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983).
Sementara itu kekerasan seksual sendiri terdiri dari dua jenis yaitu
kekerasan seksual ringan dan kekerasan seksual berat. Kekerasan seksual ringan
berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal, gurauan porno,
siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah,
gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang
tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.
Sedangkan kekerasan seksual berat berupa pelecehan seksual dengan kontak fisik,
seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta
perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/jijik, terteror, terhina dan merasa
dikendalikan, pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada
saat korban tidak menghendaki, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak
disukai, merendahkan dan atau menyakitkan, pemaksaan hubungan seksual
dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu, terjadinya
hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban
yang seharusnya dilindungi, dan tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan
atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka,atau cedera (http://www.lbhapik.or.id/kdrt-bentuk.htm)
Kekerasan seksual yang menimpa seseorang hampir dapat dipastikan akan
meninggalkan trauma dalam diri survivor. Seperti yang diungkapkan oleh Briere
dan Scott (2006) dalam bukunya Principles Of Trauma Therapy, bahwa
perkosaan atau kekerasan seksual adalah salah satu peristiwa yang menimbulkan
trauma, untuk itu dibutuhkan suatu terapi paska trauma untuk meminimalkan
dampak dari peristiwa trauma tersebut. Kegiatan konseling adalah salah satu cara
yang umumnya digunakan oleh survivor kekerasan seksual untuk mengurangi
dampak trauma.
Seperti yang dialami oleh Ny.A, ibu rumah tangga berusia 33 tahun yang
mengalami kekerasan seksual oleh suaminya sendiri atau yang biasa disebut
dengan marital rape. Ny. A melakukan konsultasi dengan konselor melalui rubrik
konsultasi yang ada di harian Kompas. Ny.A menceritakan bahwa setelah sekian
tahun menikah dengan suaminya, sang suami tiba-tiba saja berubah dengan sering
melakukan tindakan-tindakan yang buruk, misalnya menjadi lebih pemarah,
pemukul, dan merusak barang-barang rumah tangga bila sedang marah. Karena
sudah merasa tidak tahan dengan perlakuan suaminya Ny.A ingin meminta cerai
namun suaminya menolak bahkan suaminya sering memaksa Ny.A untuk
berhubungan badan dangan cara yang kasar (www.kompas.com).
Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Ny.Ni yang melakukan
konsultasi dengan konselor melalui harian Kompas setelah mengalami kekerasan
seksual oleh suaminya sendiri. Ny.Ni menceritakan bahwa setelah tujuh tahun
menikah,
kondisi
keluarganya
menjadi
semakin
memburuk,
ia
sering
mendapatkan perlakuan yang kasar dari suaminya, dan yang membuatnya
semakin tersiksa adalah sifat suaminya yang sering memaksa untuk melakukan
huubungan badan kapanpun ia mau, bahkan disaat Ny.Ni sedang datang bulan,
sehingga Ny.Ni mengaku sangat tersiksa baik secara fisik maupun psikis. Tidak
ada keberanian dalam diri Ny. Ni untuk melawan suaminya., karena suaminya
sering berkata bahwa sebagai perempuan sudah selayaknya kalau ia selalu patuh
dan siap melayani suami. Setiap kali suaminya mendekatinya, tubuh Ny. Ni
gemetar karena takut dan merasa seolah telah dan akan diperkosa suami
sendiri.(www.kompas.com)
Berbeda dengan yang diceritakan oleh Ibu N, melalui media yang sama
Ibu N bercerita mengenai anak putrinya yang berusia 9 tahun. Setahun yang lalu
putrinya mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh temannya sendiri.
Belakangan Ibu N merasa khawatir dengan perkembangan putrinya yang jadi
berubah drastis, sang anak yang dulunya tomboi dan agak badung berubah
menjadi pendiam dan tidak lagi mau berteman dengan anak lain seumurnya.
Sebelum peristiwa tersebut terjadi, putrinya lebih sering bermain dengan anak
laki-laki, namun sekarang ia lebih suka bermain sendiri. Suatu hari Ibu N pernah
dikejutkan oleh penuturan ibu dari teman perempuan putrinya. Si ibu berkata
bahwa putri Ibu N mewanti-wanti anaknya agar tidak bermain dengan anak lakilaki agar tidak diperkosa. (www.kompas.com).
Beberapa contoh kasus diatas adalah sebagian kecil dari sekian banyak
peristiwa-peristiwa kekerasan seksual yang dialami oleh wanita Indonesia, dan
sebagin besar dari mereka mengalami berbagai tekanan psikis seperti perasaan
takut, trauma, histeris, galau serta perasaan yang tidak menentu, bingung,
paranoid, bahkan perubahan kepribadian secara drastis menjadi pribadi yang
tertutup. Hal itu tentunya sangat mempengaruhi kondisi kesejahteraan psikologis
wanita-wanita tersebut. Kesejahteraan psikologis sendiri secara umum dapat
diartikan sebagai suatu bentuk kepuasan terhadap aspek-aspek hidup sehingga
mendatangkan atau menimbulkan perasaan bahagia dan perasaan damai pada
hidup seseorang, dan tentunya hal ini akan berbeda pada setiap orang, karena
standar kepuasan pada setiap orang berbeda atau bersifat subjektif.
Ryff (1989), menjelaskan bahwa yang termasuk dalam aspek-aspek
kesejahteraan psikologis adalah Self Acceptance atau sikap diri yang positif,
Personal Growth atau mengalami perkembangan dalam hidup, Purpose in Life
yaitu memiliki tujuan hidup yang jelas, Environmental Mastery yaitu kemampuan
dalam mengatur dan menyesuaikan diri dengan lingkungan , Autonomy atau
kemandirian, da Positive Relationship With Other yaitu kemampuan dalam
membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Sementara itu yang
merupakan ciri dari ketidaksejahteraan psikologis adalah antara lain anxiety atau
kecemasan, disabilities atau perasaan tidak mampu, depresi, self esteem yang
rendah, menyendiri, ketidakpuasan terhadap keluarga, dan kekhawatiran yang
besar terhadap hubungan sosial (Heady).
Kekerasan yang berdampak buruk pada kondisi korban baik fisik maupun
psikis tentunya memerlukan pertolongan lebih lanjut, baik dari bidang hukum,
kesehatan, maupun dari bidang konseling untuk membantu korban menghilangkan
dampak-dampak trauma yang ditimbulkan oleh kekerasan yang dialaminya.
Konseling dapat diartikan sebagai hubungan profesional antara konselor
terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individu ke individu.
Konseling didesain untuk menolong klien untuk memahami dan menjelaskan
pandangan mereka terhadap kehidupan, dan untuk membantu mencapai tujuan
penentuan diri (self determination) mereka melalui pilihan yang telah
diinformasikan dengan baik serta bermakna bagi mereka, dan melalui pemecahan
masalah emosional atau karakter interpersonal, Burks dan Stefflre (Latipun,
2001). Tenaga ahli yang menolong klien dalam proses konseling dinamakan
konselor. Konselor adalah pihak yang telah secara khusus studi dibidang yang
sedang ditangani dan telah dilatih untuk menangani bidang itu, khususnya
membantu klien yang mengalami masalah. Dengan demikian konselor adalah
pihak yang menguasai dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang
diperlukan. Latipun (2001)
Persepsi
adalah
suatu
proses
yang
didahului
oleh
proses
penginderaan,yaitu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera.
Stimulus tersbut kemudian oleh individu kemudian diorganisasikan dan
dinterpretasikan sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang
diindera. Walgito (1997)
Dinamika Kesejahteraan Psikologis
Dinamika dikatakan dalam kamus populer adalah suatu kegiatan, kedaan
bergerak. Sesuatu yang memiliki dinamika disebut dinamis, yaitu selalu berubah
yang bersifa minamik atau bergerak maju. Semenara itu, berdasarkan kamu
psikologi yang ditulis oleh J.P Chaplin (2004), dinamika berarti manyinggung
sistem psikologi yang menekankan masalah motif. Menyinggung perubahan, atau
hal-hal yang menimbulakn perubahan. Menyinggung psikologi atau sistem-sistem
yang menekankan penyebab tingkah laku yang tidak disadari. Kesejahteraan
psikologis memiliki arti yang bereda-beda pada setiap individu. Kesejahteraan
psikologis didefinisikan sebagai suatu perasaan, kepuasan dalam atau terhadap
hidup, serta kondisi kesehatan mental yang baik, (Searle dan Wad, 1990 ).
Campbell (1976) mendefinisikan kesejahteraan psikologis sebagai hasil dari
evaluasi yang dilakukan seseorang terhadap hidupnya baik evaluasi secara
kognitif maupun evaluasi secara emosi. Evaluasi secara koginitif, kesejahteraan
adalah sebuah bentuk kepuasan dalam hidup, sementara sebagai hasil dari evaluasi
emosi yaitu berupa affect atau perasaan senang. Lawton (1991), menjabarkan
kesejahteraan psikologis sebagai suatu skema yang terbentuk mengenai hidup
yang berkualitas sebagai hasil dari evaluasi terhadap aspek – aspek yang ada pada
hidupnya yang dianggap baik atau memuaskan. Okun dan Stock (1987),
memperkaya pengertian kesejahteraan psikologis sebagai perasaan bahagia dan
kepuasan yang secara subjektif dialami atau dirasakan oleh seseorang.
Selain itu Kayes dan Waterman (2003), memberikan teori mengenai
kesejahteraan subjektif yang terdiri dari kesejahteraan psikologis, kesejahteraan
emosi, dan kesejahteraan sosial. Kesejahteraa psikologis sendiri teridiri dari self
esteem yaitu kemampuan seseorang untuk menghargai dirinya sendiri, feeling
control
yaitu
kemampuan
seseorang
dalam
mengontrol
perasaannya,
voluntarisme yaitu kesukarelaan.
Jadi secara umum kesejahteraan psikologis dapat diartikan sebagai suatu
bentuk kepuasan terhadap aspek-aspek hidup sehingga mendatangkan atau
menimbulkan perasaan bahagia dan perasaan damai pada hidup seseorang, dan
tentunya hal ini akan berbeda pada setiap orang, karena standar kepuasan pada
setiap orang berbeda atau bersifat subjektif.
Ryff (1989), menjabarkan tentang aspek – aspek kesejahteraan psikologis
menjadi beberapa bagian yaitu Self Acceptance atau sikap diri yang positif, mau
menerima dan mengakui semua yang ada pada diri, dan perasaan yang positif
terhadap masa lalu. Personal Growth, selalu mengalami perkembangan yang
berkesinambungan, serta membuka diri terhadap pengalaman baru yang
bermanfaat. Purpose in Life, memiliki tujuan yang jelas dan meyakini bahwa
pangalaman masa lalu dan masa kini adalah bermakna. Environmental Mastery,
memiliki kemampuan untuk mengatur atau memanage lingkungan, serta mampu
membangun atau membentuk sikap yang sesuai dengan konteks yang ada.
Autonomy, mandiri dan mampu menentukan sikap, dan mampu untuk melakukan
evaluasi terhadap diri sendiri sesuai dengan standarnya sendiri. Positive
Relationship With Other, mampu membangun hubungan yang hangat dan
memuaskan dengan orang lain dan perasaan saling percaya. Mampu untuk
berempaty, afeksi, dan saling mengerti.
Selain Ryff, Berit Ingersoll-Dayton (2001) juga menjabarkan aspek-aspek
dari kesejahteraan psikologis dengan spesifikasi masyarakat Asia, yang
menurutnya berbeda dengan masyarakat barat. Adapun aspek-aspeknya yaitu
Harmony, yaitu keharmonisan bersama orang lain, yaitu kemampuan seseorang
dalam membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain seperti keluarga,
teman, atau hubungan tetangga Interdependence, yaitu perasaan saling bergantung
dan saling membutuhkan satu sama lain. Acceptance atau penerimaan diri
terhadap kehidupan, dimana dengan menerima diri dan kehidupan, maka
seseorang akan lebih tenang dan damai. Respect yaitu penghormatan dari orang
lain. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menghormati dirinya, maka hal
tersebut akan memunculkan kesejahteraan secara psikologis. Penghormatan dari
orang lain menunjukkan bahwa keberadaan seseorang sangat dihargai dalam
sebuah komunitas. Enjoyment yaitu kemampuan seseorang dalam menikmati
hidupnya secara keseluruhan.
Kesejahteraan psikiologis juga dipengaruhi oleh beberapa hal. Bhogel &
Prakash (1995) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi kesejahteraan
psikologis yaitu Personal control, kemampuan seseorang dalam mengontrol
segala emosi dan dorongan yang muncul dati dalam diri. Self Esteem atau harga
diri : memiliki harga diri yang seimbang. Positive Affect, perasaan atau emosi
yang positif (kesenangan atau kegembiraan). Manage Tension, kemampuan untuk
mengatur ketegangan yang keluar dari dalam diri, misalnya kemarahan atau
kebahagiaan, sehingga tidak muncul secara berlebihan. Positive thinking, berpikir
positif dalam menghadapi peristiwa, suasana, atau individu baru. Ide & Feeling
yang efisien, mengeluarkan ide dan perasaan yang tepat dan sesuai dengan
konteks serta tidak berlebihan.
Kekerasan Seksual
Kekerasan seksual dapat diartikan sebagai pemaksaan hubungan seksual
tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki, pemaksaan
hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan
(http://www.lbh-apik.or.id/kdrt-bentuk.htm.) Kriminolog Mulyana W. Kusuma
(Wahid dan Irfan, 2001) menjabarkan mengenai macam-macam bentuk perkosaan
yaitu Sadistic Rape atau perkosaan sadis, Angea Rape yaitu penganiyaan seksual
sebagai bentuk pelampiasan perasaan geram dan marah yang tertahan,
Dononation Rape yaitu dimana pelaku mencoba menunjukkan kekuasaan dan
superioritas terhadap korban, Seduktif Rape yaitu suatu perkosaan yang terjadi
pada situasi-situasi yang merangsang yang tecipta oleh kedua belah pihak, Victim
Precipited Rape yaitu perkosaan yang terjadi dengan menempatkan korban
sebagai pencetusnya, dan Exploitation Rape yaitu dimana laki-laki mengambil
keuntungan yang berlawanan dengan posisi wanita yang bergantung padanya
secara ekonomi dan sosial.
Pengertian kekerasan seksual menurut Poerwandari (2000) adalah
melakukan tindakan yang mengarah ke ajakan/desakan seksual seperti menyentuh,
meraba, mencium, dan/atau melakukan tindakan lain yang tidak dikehendaki
korban, memaksa korban menonton produk pornografi, gurauan-gurauan seksual
yang tidak dikehendaki korban, ucapan yang merendahkan dan melecehkan
dengan mengarah pada aspek jenis kelamin/seks korban, memaksa berhubungan
seks tanpa persetujuan korban,dengan kekerasan fisik maupun tidak, memaksa
melakukan aktivitas seksual yang tidak disukai, merendahkan, menyakiti atau
melukai korban.
Selanjutnya Poerwandari (2000) menjelaskan bahwa terjadinya kekerasan
seksual terhadap perempuan dapat dilihat dari dua penjelasan secara konseptual,
yang pertama merupakan penjelasan secara konvensional, yang mengacu pada sisi
internal pelaku dan korban. Penjelasan yang kedua mengenai psikologi feministik
yang melihat kaitan erat antara struktur sosial dan pembagian kekuasaan dalam
masyarakat dengan aspek internal individu.
1. Kondisi internal, karakteristik pribadi atau psikopatologi pelaku kekerasan,
yang menyebabkan kekerasan terhadap perempuan kemudian terjadi.
misalnya, kekerasan dilakukan oleh orang yang terganggu, tertekan, memiliki
banyak konflik dan masalah yang kemudian direspon dengan cara melakukan
kekerasan pada orang-orang di sekitarnya.
2. Karakteristik pribadi korban kekerasan bisa memprovokasi tindak kekerasan.
Misalnya tingkah laku yang mengundang, atau korban memiliki karakteristik
kepribadian tertentu yang menyebabkannya mudah mengalami kekerasan
misalnya penuntut, histerik, masokistik.
3. Menurut psikologi feministik, kekerasan terhadap perempuan merupakan
produk struktur sosial dan sosialisasi dalam masyarakat yang mengutamakan
dan menomor satukan kepentingan dan perspektif laki-laki, sekaligus
menganggap perempuan sebagai jenis kelamin yang lebih rendah dan kurang
bernilai dibandingkan laki-laki. Pandangan ini menyatakan bahwa kekerasan
terhadap perempuan merupakan suatu hal yang cukup umum terjadi sebagai
konsekuensi struktur masyarakat yang mementingkan dan didominasi oleh
laki-laki.
Pertanyaan Penelitian
Secara umum penelitian ini ingin mengetahui dan memahami hal-hal
sebagai berikut : Bagaimana dinamika kesejahteraan psikologis survivor
kekerasan seksual, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tercapainya
kesejahteraan psikologis setelah mengalami kekerasan seksual?
METODE PENELITIAN
Fokus Penelitian
Fokus dari penelitian ini adalah dinamika kesejahteraan psikologis pada
survivor kekerasan seksual dan faktor-faktor yang mempengaruhi tercapainya
kesejahteraan psikologis setelah mengalami kekerasan seksual.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang akan digunkan adalah study kasus (case study).
Studi kasus adalah suatu inkuirisi empiris yang menyelidiki fenomena didalam
konteks kehidupan nyata, bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tidak
tampak dengan jelas, dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan (Yin,1984a:
1981b). Metode penelitian ini merupakan strategi yang cocok digunakan pada
pokok pertanyaan penelitian yang berkenaan dengan how dan why, dimana fokus
penelitian terletak pada fenomena kontemporer didalam konteks kehidupan nyata.
Dengan metode ini, peneliti akan menggali bagaimana perkembangan diri korban,
mengapa hal itu terjadi, perilaku korban dan mengapa perilaku tersebut dilakukan,
serta bagaimana perilaku berubah dan bagaimana terjadinya perubahan perilaku
tersebut, dan penggalian informasi ini dilakukan melalui konselor atau
pendamping korban. Konselor sendiri merupakan tenaga profesional yang
mendampingi korban selama proses konseling, yang mengetahui dengan baik
kondisi korban, baik secara fisik maupun mental.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah wanita yang pernah mengalami
kekerasan seksual, dan melakukan kegiatan konseling di Lembaga Rifka Annisa.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan metode wawancara, dokumen pribadi dan informan.
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh
dua belah pihak yang terdiri dari pewawancara (interviewer) yang mengajukan
pertanyaan, dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan tersebut. ( Moleong, 2002 )
Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (in depth
interview ). Pertanyaan mendalam dilakukan melalui pertanyaan yang bresifat
terbuka, yang mengarah pada kedalaman informasi. Hal ini bertujuan untuk
penggalian informasi secara lebih jauh dan mendalam.
Sebagai pelengkap data, peneliti juga akan memanfaatkan dokumentasi
sebagai sumber data. Yin (2004) mengatakan bahwa penggunaan dokumen yang
paling penting adalah untuk mendukung dan menambah informasi yang telah
didapat dari sumber lain. Adapun dokumen yang akan digunakan adalah dokumen
pribadi. Moleong (2006) mengatakan bahwa dokumen pribadi adalah catatan atau
karangan seseorang secara tertulis mengenai kejadian, pengalaman, tindakan,
atau kepercayaan. Maksud dari mengumpulkan dokumen pribadi adalah untuk
memperoleh kejadian nyata tentang situasi dan arti berbagai faktor disekitar
subjek penelitian, dan yang temasuk dalam dokumen pribadi adalah buku harian,
surat pribadi, dan otobiografi.
Selain itu peneliti juga akan menggunakan informan dalam mengumpulkan
data. Adapun yang dapat menjadi informan adalah orang-orang yang berkompeten
dalam memberikan informasi yang terkait dengan data yang dibutuhkan peneliti.
Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik
analisis kualitatif dengan menggunakan model langkah analisis dari Miles dan
Huberman, Poerwandari (2001) serta Sugiyono (2005). Sugiyono (2005)
menyatakan bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak
sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.
Menurut model dari Miles dan Huberman (Sugiyono, 2005), analisis data selama
di lapangan dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu reduksi data (data reduction),
penyajian data (data display), serta verifikasi (conclusion drawing). Mereduksi
data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal
yang penting, mencari tema dan pola. Penyajian data dapat dilakukan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, dan sejenisnya.
Poerwandari (2001) memberikan tahapan-tahapan dalam menganalisis
data kualitatif sebagai berikut, yaitu: data ? kata kunci ? tema ? kategori ?
hubungan antar kategori-kategori (pola). Hal yang harus dilakukan menurut
Poerwandari (2001) adalah mengorganisasikan data, membuat koding dan
analisis, kemudian menguji dugaan. Selain itu metode lain yang dapat digunakn
adalah proses pengorganisasisn data, yang merupakan langkah awal dalam
analisis dan pengolahan data, dimana dengan cara ini data akan diorganisasikan
dengan rapi, sistematik dan lengkap. Langkah selanjutnya adalah koding, dan
kemudian analisis. Corbin dan Strauss (2003) membagi koding dalam tiga
langkah, Koding sendiri terdiri dari tiga lankah yaitu koding terbuka, koding
aksial, dan koding selektif.
Koding terbuka mengklasifikasikan ekspresi atau jawaban satuan dari
subjek
kemudian
menkategorisasikan
kode
dengan
mengelompokkannya
berdasarkan fenomena yang sesuai dengan pertanyaan peneliti, sedangkan koding
aksial yaitu mengorganisasikan
data dengan dikembangkannya hubungan –
hubungan diantara kategori, dan tahap terakhir adalah koding selektif, yaitu
dengan menjelaskan ketegori utama yang disusun dari beberapa kategori, dalam
hal ini dilakukan penyeleksian ketogori yang paling mendasar kemudian secara
sistematis menghubungkannya dengan kategori – ketegori lain.
Pembahasan
Dari data yang didapatkan dilapangan, peneliti manemukan bahwa ada sebuah
dinamika dalam usaha untuk mencapai kembali sebuah bentuk kesejahteraan
secara psikologis pada para survivor, yang didasarkan pada persepsi konselor.
Kekerasan seksual menurut Poerwandari (2000) adalah melakukan
tindakan yang mengarah ke ajakan/desakan seksual seperti menyentuh, meraba,
mencium, dan/atau melakukan tindakan lain yang tidak dikehendaki korban,
memaksa korban menonton produk pornografi, gurauan-gurauan seksual yang
tidak dikehendaki korban, ucapan yang merendahkan dan melecehkan dengan
mengarah pada aspek jenis kelamin/seks korban, memaksa berhubungan seks
tanpa persetujuan korban,dengan kekerasan fisik maupun tidak, memaksa
melakukan aktivitas seksual yang tidak disukai, merendahkan, menyakiti atau
melukai korban
Adapun bentuk kekerasa seksual yang dialami oleh para survivor adalah
pemerkosaan. Bagi survivor pertama, yaitu Ct, desakan untuk melakukan
hubungan seksual dilakukan dengan cara halus (w.s. 748-750) . Pelaku kekerasan
adalah orang yang sudah kenal. Pada survivor pertama, pelaku pemerkosaan
adalah orang yang selama ini bertugas untuk mengantar dan menjemput sekolah.
Meskipun desakan untuk melakukan hubungan seksual dilakukan dengan cara
halus, kasus yang menimpa Ct tetap dikatakan sebagai kekerasan seksual karena
survivor baru berusia 13 tahun, termasuk dalam anak dibawah umur (w.s.781786). Selain itu, dalam usahanya untuk membujuk survivor agar mau melakukan
hubungan seks, pelaku melakukan ancaman dan intimidasi berupa cubitan berkalikali yang membuat survivor merasa takut.
Secara fisik, kekerasan seksual yang dialami Ct secara ekstrim berdampak
pada kehamilan dan mengalami penyakit menular seks (PMS). Semantara itu,
secara psikis dampak yang dialami survivor antara lain ditunjukkan dengan gejala
depresi dan kecemasan. Seperti yang diuraikan dalam buku Diagnosis Gangguan
Jiwa,PPDGJ III, disebutkan beberapa bentuk gejala depresi, diantaranya adalah
kehilangan minat dan kegembiraan, harga diri dan kepercayaan yang berkurang,
gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh diri, dan tidur terganggu. Bentuk-bentuk gejala
depresi dapat dilihat pada diri survivor saat setelah mengalami kekerasan, yaitu
ditunjukkann dengan dengan dorongan untuk bunuh diri, menjadi lebih pendiam
dan murung, perubahan sikap menjadi lebih sering marah-marah, dan perasaan
bersalah karena merasa telah membuat malu keluarga, ketakutan, mimpi buruk
yang berulang-ulang, dan perasaan malu serta minder.
Gejala atau bentuk kecemasan juga terlihat pada survivor setelah
mengalami kekerasan. Kecemasan yang ditunjukkan oleh Ct sedikit lebih
komplek dari pada Pt. Hal ini berkaitan dengan kehamilan dan PMS yang
dideritanya, dimana PMS yang dideritanya membuat ia harus menghadapi
kemungkinan menjalani operasi Caesar saat melahirkan (W.I2. 1242-1244). Jika
tidak dengan cara itu, maka bayi yang dikandungnya terancam akan lahir cacat
(W.I1. 777-778,793-794) .
Selain itu, kecemasan yang muncul adalah adanya kekhawatiran terhadap
lingkungan dan masyarakat, bagaimanan respon masyarakat terhadap dirinya yang
sudah
memmiliki
anak,
bagaimana
lingungan
akan
memperlakukannya,
kekhawatiran terhadap masa depan, dan kekhawatiran dalam menghadapi proses
hukum. Kecemasan juga muncul dalam bentuk paranoid, dimana survivor merasa
sedang dicari-cari oleh pelaku, sehingga menimbulkan kewaspadaan yang tinggi.
(w.s.98-103).
Kecemasan juga muncul dengan adanya kehawatiran terhadap penilaian
masyarakat
dan
lingkungan(W.R1.325-326).
Selain
itu,
muncul
juga
kekhawatriran tehadap masa depan, bagaimana ia akan berhadapan dengan lawan
jenis dan bagaimana lawan jenis akan memandanganya. Kecemasan juga muncul
dalam reaksi fisiologis, seperti gemetar dan nafas yang tidak teratur saat ditanyai
mengenai kasus yang menimpanya (W.R1.168-170). Paranoid yang muncul
berupa kehawatiran akan terjadinya kembali kekerasan terhadap dirinya. ( W.R2.
96-98)
Kekerasan seksual yang menimpa kedua survivor juga berdampak pada
terganggunya hubungan sosial, dimana mereka menjadi lebih tertutup karena
malu, terhentinya aktifitas yang sebelumya dilakukan sepeti sekolah, bekerja,
malu untuk datang ketempat umum, bahkan kegiatan beribadah juga terganggu.
Lebih jauh lagi, kekerasan yang menimpanya membuat survivor kedua menjadi
tidak lagi dapat percaya kepada lawan jenis, dimana ia menjadi lebih berhati-hati
terhadap lawan jenis dan berpandanan serta berfikiran negatif terhadap orang lain.
( W.R2. 177-181)
Dalam kondisi ini, dapat dikatakan bahwa survivor, berada dalam fase
yang tidak sejahtera secara psikis. Mengacu pada uraian Heady yang mengatakan
bahwa yang mencirikan ketidaksejahteraan psikologis adalah antara lain anxiety
atau kecemasan, disabilities atau perasaan tidak mampu, depresi, self esteem yang
rendah, menyendiri, ketidakpuasan terhadap keluarga, dan kekhawatiran yang
besar terhadap hubungan sosial. Dikatakan juga oleh Ryff (1989) yang menjadi
ciri ketidaksejahteraan psikologis adalah adanya perasaan-perasaan yang negative,
seperti perasaan tertekan, kebingungan, perasaan bersalah, ketakutan, sikap
bermusuhan, mudah tersinggung, malu, dan gugup.
Bantuan yang diberikan kepada survivor adalah berupa bantuan medis,
psikis, dan hukum. Selain bantuan profesional, peneliti juga menemukan bahwa
faktor yang ikut mempengaruhi tercapainya kesejahteraan psikologis adalah
adanya dorongan dari dalam diri untuk segera bangkit, dukungan orang terdekat
seperti keluarga dan teman, lingkungan yang kondusif, serta putusan sidang.
Dalam usaha untuk memulihkan kembali kondisi psikis survivor, terdapat
juga beberapa hambatan diantaranya sikap dari survivor yang tertutup dan moody.
Diantara keluarga yang memeberikan dukungan terhadap survivor, ada juga
beberapa perlakuan keluarga yang membuat survivor merasa kurang didukung.
Selain keluarga, perlakuan masyarakat terhadap survivor juga menjadi hambatan,
dimana ada segelintir masyarakat yang justru menteror survivor, diantaranya
dengan cara mengajak survivor untuk “kencan”. Khusus bagi survivor pertama
yang selama masa pendampingan tinggal di shelter atau rumah aman, lingkungan
tempatnya tinggal juga menjadi salah satu faktor hambatan dalam proses
pemulihan, hal ini dikarenakan tertutupnya akses bagi survivor untuk beraktifitas
sosial (W.I1. 1059-1060),( W.I2. 1233-1235).
Proses hukum terhadap kasus bisa dikatakan menghambat proses
pemulihan, hal ini dikarenakan selama proses hukum mulai dari pengusutan
hingga pemberian tuntuta terhadap pelaku cukup memberikan kecemasan
tersendiri bagi survivor, selain kecemasan, proses hukum juga membuat survivor
merasa lelah untuk menjalaninya. Hasil putusan sidang yang terlalu rendah
memunculkan kekecawan pada diri survivor. Selain memunculkan rasa kecewa,
hasil putusan sidang yang rendah juga menimbulkana kecemasan baru pada diri
survivor, dimana survivor menjadi khawatir bahwa pelaku akan dapat segera
membalas dendam.
Teror juga merupakan salah satu masalah yang muncul salama proses
pemulihan. Teror yang didapatkan survivor juga menimbulkan kecemasan.
(w.s.397-398)
Selama dalam proses pendampingan, survivor mampu untuk membuat
beberapa perencaan yang realistis terhadap masa depannya, yaitu dengan
merencanakan kepindahan ketempat yang baru. Selain merencakan kepindahan,
survivor juga merencanakan aktifitas yang akan mereka lakukan ditempat yang
baru. ( W.I2. 962-967), (W.R1.756-759).
Melihat para survivor yang sudah mampu membuat perencanaan terhadap
masa depan mereka, konselor berpendapat bahwa survivor telah menunjukkan
perkembangan yang baik, dengan kata lain kesejahteraan mereka sedikit demi
sedikit telah kembali. Hal ini juga didukung dengan perkembangan dari aspek
lainnya, misalnya hubungan dengan orang lain yang sudah membaik, dimana
survivor sudah mulai membuka diri terhadap orang lain, kepercayaan diri yang
sudah mulai kembali, kepedulian terhadap diri sendiri juga sudah kembali,
keberanian yang mulai muncul untuk mendatangi tempat umum seperti tempat
ibadah, dan sudah tidak terdapat lagi gejala depresi yang cukup ekstrim seperti
keinginan untuk bunuh diri.
Namun demikian konselor juga mengatakan bahwa kesejahteraan
psikologis pada survivor belum kembali sepenuhnya, hal ini dilihat dari kondisi
survivor sekarang , dimana meskipun dalam beberapa hal kondisi survivor sudah
membaik seperti penjabaran diatas. Namun ada beberapa hal dimana survivor
menunjukkan masih adanya trauma atau rasa takut serta beberapa gejala depresi
seperti mimpi buruk ( W.I2. 603-605). Selain itu survivor juga mengatakan masih
takut untuk bepergian sendiri, selain itu juga survivor masih belum bisa
mempercayai laki-laki ( W.R2. 186-187). Beberapa bentuk kecemasan juga masih
nampak, seperti misalnya masih adanya kekhawatiran terhadap masyarakat dan
lingkungan, serta kekhawatiran bahwa pelaku akan membalas dendam. ( W.R2.
85-87,90-92).
Selain yang ada dalam teori, peneliti menemukan beberapa hal sebagai
temuan lapangan yaitu kontribusi Rifka Annisa dalam membantu proses recovery
survivor dan adanya kondisi predisposisi survivor yang mempengaruhi kondisi
kesejahteraan psikologis survivor kekerasan seksual.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti dapat menarik kesimpulan dalam
beberapa hal sebagai berikut. Sebelum mengalami kekerasan seksual, survivor
adalah anak yang aktif dan pandai bergaul. Namun demikian, jika melihat latar
belakangnya, kita akan menemukan bahwa survivor telah sering mengalami
kekerasan oleh anggota keluarga, hal ini ditunjukkan oleh survivor Ct, selain itu
ada juga image negatif yang melekat pada diri survivor yang dianggap sebagai
“anak nakal”, hal ini ditunjukkan oleh survivor Pt.
Pelaku kekerasan seksual bisa jadi adalah orang yang dekat dengan
survivor, entah itu tetangga, teman atau bahkan keluarga sendiri, dan bujuk rayu
merupakan salah satu cara yang digunakan pelaku dalam melakukan kekerasan
seksual, terutama terhadap anak-anak yang belum mengerti apa itu kekerasan
seksual.
Kekerasan seksual dapat berdampak pada fisik maupun psikis. Secara
fisik, salah satu dampak yang cukup fatal adalah kehamilan dan penyakit menular
seks. Secara psikis kekerasan seksual dapat bernimbulkan stress paska trauma atau
PTSD (post traumatic stress disorder) Faktor yang mempengaruhi cepat atau
lambatnya recovery yang terpenting adalah dorongan dari dalam diri, selanjutnya
adalah dukungan dari orang-orang terdekat, lingkungan yang kondusif serta
kontribusi dari Yayasan Rifka Annisa yang terjun langsung dalam membantu
survivor.
Berat
tidaknya
hukuman
yang
dijatuhkan
kepada
pelaku
juga
mempengaruhi afeksi survivor. Jika hukuman yang dijatuhkan dirasa cukup
memuaskan, maka muncul perasaan lega dan puas. Namun jika hukuman yang
dijatuhka peda pelaku dirasa terlalu ringan, maka menimbulka kekecewaan dalam
diri survivor, merasa usaha yang jalaninya menajdi sia-sia, disamping
menimbulkan kecemasan aru bahwa pelaku sewaktu-waktu akan membalas
dendam.
Kekerasan seksual juga berdampak terhadap perilaku seksual, yaitu
menjadi seksual aktif atau justru menjadi frigid. Namun hal ini belum dapat
dipastikan apakah terjadi kepada kedua survivor.
Kecemasan dan kekhawatiran yang cukup kuat dirasakan oleh survivor
kekerasan seksual adalah kecemasan terhadap tanggapan masyarakat dan
lingkungan sekitarnya. Seperti yang dikatakan oleh subjek bahwa perlakuan
masyarakat yang tidak berpihak dapat menjadi ancaman tersendiri bagi suvivor
kekerasan seksual. Selain itu, kecemasan terhadap masa depan juga merupakan
kecemasan yang cukup kuat dirasakan oleh survivor, bagaimana masa depannya,
bagaimana ia harus berhadapan dengan seorang laki-laki yang mungkin akan
menjadi pasangannya, apakah mereka akan menerima atau tidak.
Dari kedua survivor,dapat dikatakan bahwa kesejahteraan psikologis
belum kembali sepenuhnya. Hal ini dilihat dari masih adanya kecemasan dan
ketakutan yang dirasakan oleh kedua survivor. Proses pemulihan kondisi psikis
survivor kekerasan seksual secara umum memerlukan waktu yang panjang dan
dengan kontrol yang berkesinambungan.
Saran
1. Bagi Yayasan
a). Diharapkan dapat lebih memperluas jaringan kerja, tidak hanya pihak
kepolisian, namun juga aparat-aparat desa lainnya, seperti misalnya kepala
desa, karena belum tentu semua kasus kekerasan seksual dapat terlacak
oleh kepolisian
b). Diharapkan membuat program untuk mengurangi jumlahkekerasan
seksual, seperti misalnya penyuluhan mengenai apa yang umumnya
membuat seseorang melakukan kekerasan seksual, sehingga para remaja
putri dapat mengambil sikap positif agar tidak menjadi korban pelecehan
atau kekerasan seksual.
c). Terapkan program peningkatan religiusitas dalam kegiatan konseling
kepada para survivor. Hal ini akan sangat bermanfaat, selain membantu
proses recovery, juga bertujuan memperkuat tingkat religiusitas survivor.
d). Meningkatkan kegiatan sosial survivor yang tinggal di shelter, agar
survivor tidak merasa jenuh, karena menjalin hubungan yang positif
dengan orang lain juga mempengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang.
2.
Bagi Survivor
Kekerasan seksual adalah salah satu peristiwa traumatis yang dapat
dicegah, jadi agar hal ini tidak terjadi lagi, sebaiknya proteksi diri dengan
sikap yang positif, dan bersikap tegas dalam bergaul jika ada perlakuan
teman atau orang lain yang dirasa menyinggung kehormatan dan harga
diri. Selain itu, tetaplah untuk berfikir positif dalam menjalani kehidupan,
dan dengan menerima diri apa adanya, diharapkan akan dapat mengurangi
beban yang dirasakan.
3. Bagi Peneliti Berikutnya
Dalam penelitian ini terdapat banyak kekurangan, diantaranya adalah
kurangnya pendekatan terhadap keluarga survivor sehingga tidak dapat
menggali informasi dari pihak keluarga. Bagi peneliti berikutnya yang
ingin meniliti tentang survivor kekerasan seksual, galilah informasi dari
survivor langsung dan orang terdekat survivor untuk memperkaya hasil
yang didapatkan. Sebelum melaksanakan wawancara mendalam, ada
baiknya peneliti paham betul tentang tehnik-tehnik wawancara, dan
mendalami topik yang akan diungkap sehingga wawancara benar-benar
terarah dan mendalam.
Download