81 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran

advertisement
81
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sumber daya alam
maupun tenaga kerja yang melimpah juga merupakan pelaku dalam perdagangan
global.
Dengan
adanya
perdagangan
internasional,
diharapkan
kinerja
perekonomian negara Indonesia akan meningkat, dan utilitas masyarakat pada
negara tersebut akan menjadi lebih baik. Salah satu kegiatan perdagangana
inetrnasional yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi adalah ekspor.
Ekspor Indonesia selama periode 1975-2001 mengalami pertumbuhan yang
berfluktuasi dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena terjadinya dua kali
peristiwa kenaikan harga minyak (oil boom) yaitu tahun 1973 dan 1979 yang
menyebabkan terjadinya peningkatan harga sebagian besar barang ekspor
Indonesia di pasar internasional terutama harga minyak bumi yang menunjukkan
peningkatan tajam, sehingga penerimaan dari ekspor khususnya sektor migas
meningkat menjadi dua kali lipat dan semakin memantapkan perolehan devisa
Selain itu, fluktuasi yang terjadinya juga yang disebabkan oleh adanya
pergeseran strategi orientasi ekspor Indonesia dari sektor migas ke sektor nonmigas sebagai akibat dari adanya penurunan harga minyak bumi dan gas di
pasaran internasional pada tahun 1986.
Salah satu Negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah Amerika Serikat.
Negara ini adalah sebuah republik federal yang terdiri dari 50 negara bagian.
82
Amerika adalah negara dengan wilayah terbesar keempat didunia, setelah Rusia,
Kanada, dan Tiongkok. Negara ini juga negara ketiga terbesar dalam jumlah
penduduk setelah Tiongkok dan India.
Tetapi jika dilihat dari segi Ekonomi, Amerika adalah nomor satu dunia,
meliputi kira-kira seperempat hingga sepertiga total keluaran ekonomi dunia. Hal
ini dapat dilihat dari PDB Total (Produk Domestik Bruto) $13.049 triliyun (2003)
dan PDB/kapita yaitu $36.010.
Amerika Serikat memiliki keunggulan di bidang perekonmian karena
memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang
terampil. Hal ini mengakibatkan Amerika Serikat menjadi raksasa ekonomi dunia.
Perekonomian Amerika Serikat pada mulanya bersandar pada sektor pertanian,
akan tetapi pada saat ini dukungan sektor industri terhadap perekonmian Amerika
Serikat kian dominan. Bahan-bahan tambang yang penting untuk industri hamper
semua terdapat di Amerika Serikat dan jumlahnyapun cukup besar.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Negara Amerika Serikat menjadi
Negara terbesar ekonominya di dunia. Berdasarkan World Developmnet Indicator
2007, pendapatan perkapita Negara yang merdeka pada tahun 1776 ini di estimasi
sekitar 45.000 dolar AS.
Hingga tahun 1990, AS masih punya saingan sebagai Negara super power
yaitu Uni Soviet. Tetapi sejak reformasi (glastnost dan prestorika) yang membuat
Soviet hancur, praktis AS menjadi satu-satunya Negara terbesar dan terkuat di
83
dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta jiwa, produksi AS di taksir
sekitar 28 persen GDP dunia.
Tahun 2007 lalu karena dipicu jatuhnya harga obligasi kredit perumahan
atau subprime mortgate Negara tersebut memasuki siklus resesi. Ditambah
kenaikan harga minyak mentah yang sempat meniginjak harga 100 dolar AS per
barel dan tindakan spekulan pasar keuangan AS. Resesi AS kemudian membuat
banyak negara berusaha mengatasi dampaknya.
Seperti yang dikutip oleh Bisnis Indonesia (31/1), Departemen Perdagangan
AS melaporkan bahwa kuartal IV/2007 pertumbuhan ekonomi Negara itu turun
pada level terendah selama 26 tahun terakhir, yakni hanya 0,6 persen dari level
4,5 persen pada kuartal sebelumnya. Baru-baru ini IMF (Internasional Monetary
Fund) mengoreksi estimasi pertumbuhan ekonomi AS 2007 menjadi 2,2 persen
dan pada tahun 2008 diproyeksikan turun menjadi 1,5%.
Jika kita lihat dari produksi AS sekitar 28 persen dari total pendapatan
dunia, dapat diprakirakan bahwa AS menguasai lebih dari seperempat daya beli
dunia. Ketika daya beli masyarakat AS yang porsinya 28 persen turun, maka
banyakj Negara lain akan ikut menanggung damapak resesi Negara itu.
Prosesnya terjadi melalui kegiatan ekspor dan impor AS dari negara-negara
mitranya di seluruh dunia. Ekspor AS diperhitungkan mengambil porsi 10 persen
dari total ekspor dunia, dan impornya sekitar 16 persen dari total impor dunia.
Dengan kata lain, jika ekspor impor AS merosot, maka ekspor-impor dunia pun
akan terganggu.
84
Berikut ini merupakan gambar perkembangan ekspor non migas Indonesia
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
19
83
19
85
19
87
19
89
19
91
19
93
19
95
19
97
19
99
20
01
20
03
20
05
Ekspor non migas ke AS
ke Amerika Serikat.
Tahun
Tahun
Nilai Ekspor
Gambar 4.1
Perkembangan Ekspor Non Migas ke Amerika Serikat
Dari grafik diatas dapat terlihat bahwa perkembangan ekspor non migas
Indonesia menagalami perkembangan yang fluktuatif, sejak tahun 1983 hingga
tahun 1985 nilai ekspor non migas Indonesia mengalami penurunan yang cukup
tajam, yaitu dari 4266,7 miliar menjadi 1720,9 miliar. Untuk mengatasi hal
tersebut, pemerintah mulai mengeluarkan berbagai peket deregulasi yang dapat
meningkatkan volume ekspor, diantaranya Paket Kebijakan 6 Mei 1986 yang
isinya berupa pengurangan hambatan dalam kegiatan ekspor dengan memberikan
kemudahan tata niaga ekspor non migas. Dengan adanya kebijakan ini secara
bertahap mulai tahun 1987 hingga awal tahun 1990an, nilai ekspor non migas
85
Indonesia berlahan mengalami peningkatan. Hingga pada tahun 1995 nilai ekspor
non migas mengalami peningkatan sebesar 6321,7 miliar.
Meski megalami penurunan setelah terjadinya krisis ekonomi yahun 1997,
pemerintah mulai meningkatkan kembali kegiatan ekspor non migas, hingga pada
tahun 2000 mencapai kenaikan sebesar 8475,5 miliar. Namun kenaikan ini tidak
bertahan lama, karena pada tahun berikutnya ekspor non migas ini cenderung
mengalami penurunan.
Indonesia tidak termasuk dalam daftar 25 besar tujuan ekspor dan impor AS,
seperti halnya Malaysia, Singapura, dan Filiphina. Tetapi dari posisi Indonesia,
AS merupakan Negara utama tujuan ekspor dan asal impor. Tahun 2007
diperkirakan sekitar 12,3 persen ekspor Indonesia ialah ke AS, dan sekitar 9,0
persen impor Indoneisa dari AS. Porsi AS sebagai Negara pembeli barang ekspor
Indonesia dan sebagai Negara penjual kebutuhan impor Indonesia jelas
merupakan faktor yang dapat mengganggu ekonomi nasional.
4.2 Gambaran Umum Variabel Penelitian
4.2.1 Nilai Tukar Mata Uang Rupiah
Nilai tukar merupakan variabel yang paling banyak di gunakan dalam
pengembangan model perdagangan luar negeri. Suatu kondisi dimana nilai mata
uang asing terhadap satuan mata uang asing terhadap mata uang domestik
meningkat disebut sebagai depresiasi mata uang.
Berikut perkembangan nilai tukar rupiah :
86
Tabel 4.1
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah tahun 1983-2006
Tahun
Nilai Tukar Pertumbuhan
Rupiah
(%)
1983
909
1984
1026
12,87
1985
1111
8,28
1986
1283
15,48
1987
1644
28,13
1988
1686
2,55
1989
1770
4,98
1990
1843
4,12
1991
1950
5,80
1992
2030
4,10
1993
2087
2,80
1994
2171
4,02
1995
2257
3,96
1996
2419
7,17
1997
6431
165,85
1998
7031
60,94
1999
7855
-24,67
2000
8530
8,41
2001
10265
17,04
2002
9260
-7,79
2003
8572
-6,03
2004
9290
8,37
2005
9713
4,55
2006
9020
-7,13
Sumber : Statistik Keuangan Indonesia BI
Secara grafik pergerakanya dapat digambarkan sebagai berikut
18000
16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
19
83
19
85
19
87
19
89
19
91
19
93
19
95
19
97
19
99
20
01
20
03
20
05
Harga Relatif Ekspor
87
Tahun
Tahun
Harga Relatif Ekspor (miliar rupiah)
Gambar 4.2
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah tahun 1983-2006
Sejak tahun 1983 perkembangan nilai tukar rupiah teris mengalami
peningkatan hingga tahun 1987 dengan pertumbuhan yang cukup besar yaitu
28,13% nilai tukar rupiah meningkat dari 909 hingga menjadi 1644. Hal ini
berlangsung hingga pada tahun 1990an, dimana niali tukar rupiah ini terus
merangkak naik. Pada masa krisis ditahun 1997, Indonesia merubah system nilai
tukarnya dari managed floating exchange rate system menjadi pure floating
exchange rate system.
Sejak tahun 1997, nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi yang menurun
secara tajam dari Rp.2419,- per dollar AS tahun 1996 menjadi Rp.6431,- per
dollar AS pada tahun 1997 atau terdepresiasi sebesar 166 %. Hal tersebut terjadi
karena pengaruh dari krisis nilai tukar yang terjadi di Thailand. Jatuhnya
kepercayaan investor asing yang disebabkan oleh besarnya arus dana keluar
negeri untuk pembayaran utang luar negeri yang telah jatuh tempo dan depresiasi
terjadi karena adanya transaksi spekulasi. Selain itu, buruknya fundamental
88
ekonomi dalam negeri yang disertai oleh krisis kepercayaan masyarkat terhadap
perbankan dan adanya inflasi spiral telah menyebabkan jatuhnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS.
Keadaan tersebut terus berlanjut hingga mencapai Rp. 10350,- per dolar AS
tahun 1998 atau terdepresiasi sebesar 63,94 %. keadaan ini terjadi karena semakin
memburuknya fundamental ekonomi sosial dan politik dan membengkaknya
utang luar negeri swasta akibat krisis yang berkepanjangan.
Memasuki tahun 1998, nilai tukar rupiah melemah menjadi sebesar
Rp10.375/US$, bahkan pada bulan Juni 1998 nilai tukar rupiah sempat menembus
level Rp14.900/US$yang merupakan nilai tukar terlemah sepanjang sejarah nilai
tukar rupiah terhadap US$. Nilai tukar rupiah terhadap US$ tahun 1999
melakukan recovery menjadi sebesar Rp7.810/US$, tahun 2000 kembali melemah
sebesar Rp8.530/US$, tahun 2001 melemah lagi menjadi Rp10.265/US$, tahun
2002 kembali menguat menjadi Rp9.260/US$, tahun 2003 menguat menjadi
Rp8.570/US$ dan pada tahun 2004 sebesar Rp8.985/US$.
Pada tahun 2004, asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN ditetapkan sebesar
Rp8.600 per US$. Dalam realisasinya, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap US$
selama tahun 2004 adalah sebesar Rp8.930, atau mengalami penyimpangan
sebesar 3,5 persen (under-estimated). Demikian pula pada tahun 2005, dalam
APBN-P asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp9.300 per US$, rata-rata
nilai tukar rupiah terhadap US$ sampai dengan Oktober 2005 sebesar Rp9.590 per
US$, atau menyimpang sebesar 3 persen.
89
Secara umum, kecendrungan melemahnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh
menurunnya kepercayaan masayarakat terhadap prospek pemulihan ekonomi
akibat berbagai faktor internal mauapun eksternal. Faktor internal yang
menyebabkan depresiasi rupiah terkait dengan terbatasnya pasokan valas di pasar
sebagai akibat masih rendahnya modal masuk dan tidak kembali sepenuhnya
devisa hasil ekspor keluar negeri. Sementara, tekanan permintaan valas dari sektor
swasta khususnya untuk keperluan pelunasan utang luar negeri yang jatuh tempo
masih tinggi.
Sedangkan faktor eksternal antara lain adalah
akibat peningkatan suku
bunga AS dan penguatan mata uang US$ terhadap berbagai mata uang dunia.
Fluktuasi nilai tukar rupiah yang sangat tajam dan cenderung melemah juga
disebabkan tipisnya volume perdagangan valas. Sehingga, jika terjadi sedikit saja
tekanan akan mengakibatkan gejolak yang cukup besar.
4.2.2 Harga Relatif Ekspor
Harga relatif ekspor yaitu indeks harga ekspor Indonesia dibagi dengan
indeks harga ekspor dunia. Perbandingan antara harga komoditas di dalam negeri
dengan harga komoditas di luar negeri. Jika terjadi perubahan harga relatif karena
harga luar negeri lebih mahal atau lebih murah daripada harga domestik maka
permintaan ekspor dari luar negeri akan terpengaruh.
Untuk mengetahui harga relatif ekspor non migas, maka penulis mencoba
membandingkannya indeks harga Indonesia dengan Amerika Serikat yang dapat
dilihat dari tabel dibawah ini:
90
Tabel 4.2
Perkembangan Harga Relatif Ekspor 1983-2006
Tahun
Indeks Harga Indeks Harga Harga Relatif Pertumbuhan
Indonesia
Amerika
Ekspor
(%)
Serikat
(miliar
rupiah)
1983
13,53
83,29
5590,35
1984
15,3
84,43
5653,26
1,12
1985
15,97
83,78
5821,64
2,97
1986
17,32
84,59
6261,04
7,54
1987
19,92
86,05
7085,64
13,17
1988
21,98
92,11
7064,34
-0,30
1989
23,69
94,52
7044,6
-0,27
1990
25,3
95,39
6948,11
-1,36
1991
27,18
96,25
6903
-0,64
1992
28,83
96,34
6780,2
-1,77
1993
30,91
96,88
6532,31
-3,65
1994
34,13
98,94
6274,19
-3,95
1995
38,88
103,93
6026,19
-3,95
1996
41,3
104,49
6120,07
1,55
1997
44,46
103,08
14855,61
142,73
1998
80,22
99,68
12834
-13,60
1999
94,61
98,42
8169,2
-36,34
2000
100
100
8530
4,41
2001
117,1
99,16
8622,6
1,08
2002
124,21
98,18
7315,4
-15,16
2003
126,19
99,73
6771,88
-7,42
2004
132,36
103,58
7246,2
7,00
2005
82,78
106,88
12529,77
72,91
2006
86,58
110,68
11455,4
-8,5
Sumber : International Finance Statistic (Data di Olah)
Secara grafik pergerakanya dapat digambarkan sebagai be:rikut
18000
16000
14000
12000
10000
8000
6000
4000
2000
0
19
83
19
85
19
87
19
89
19
91
19
93
19
95
19
97
19
99
20
01
20
03
20
05
Harga Relatif Ekspor
91
Tahun
Tahun
Harga Relatif Ekspor (miliar rupiah)
Gambar 4.3
Perkembangan Harga Relatif Ekspor 1983-2006
Pada tahun 1980an, harga relatif ekspor mengalami peningkatan yang cukup
Besar yaitu ditahun 1987 sebesar 13,17%, hal ini dipicu oleh berbagai faktor,
diantaranya karena banyaknya pasar Negara-negara industri yang menutup diri,
sebagai akibat menurunnya kegiatan perdagangan internasional, hal ini ditambah
dengan adanya hambatan-hamabtan dalam ekspor seperti adanya kuota.
Kenaikan harga relatif ekspor yang terjadi cukup tajam terjadi pada tahun
1990an, yaitu pada saat terjadinya krisis moneter, dimana harga-harga komoditas
melonjak naik harganya, pertumbuhannya mencapai 142,73%. Indonesia pada saat
itu tidak terlepas dari krisis, karena nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar.
Memasuki
tahun
1998,
nilai
tukar
rupiah
melemah
menjadi
sebesar
Rp10.375/US$, bahkan pada bulan Juni 1998 nilai tukar rupiah sempat menembus
level Rp14.900/US$yang merupakan nilai tukar terlemah sepanjang sejarah nilai
tukar rupiah terhadap US$.
92
Untuk beberapa industri, bahan baku yang diimpor mengalami kenaikan
yang cukup drastis pada saat terjadinya krisis moneter tahun 1997, hal ini terjadi
karena melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika, sementara harga bahan
baku yang diimpor harus menggunakan mata uang dolar Amerika
Ditahun 2000, pemulihan ekonomi mulai di lakukan oleh pemerintah guna
meyelamatkan negara ini dari ancaman krisis, beberapa kebijakan mulai dilakukan
diantaranya dengan meningkatkan kegiatan promosi ekspor, dan pengurangan
berbagai hambatan perdagangan internasional yang dapat mendukung kegiatan
ekspor. Pertumbuhan harga relatif ekspor ini cukup fluktuatif setiap tahunnya,
namun di tahun 2005 terjadi peningkatan kembali harga relatif ekspor sebesar
72,91 % yang dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia, beberapa komoditi
mengalami kenaikan harga yang cukup besar, karena mahalnya ongkos produksi
yang harus dikeluarkan produsen, terutama untuk komoditi ekspor yang
memerlukan pengolahan dengan menggunakan bahan bakar minyak.
Besarnya harga relatif ini sangat bergantung pada berbagai faktor,
diantaranya adalah kondisi harga internasional dan nilai tukar pada saat itu. Pada
komoditas non migas ynag dihasilkan oleh Indoenesia, sebagaian besar bahan
baku tidak diproduksi di dalam negeri, melainkan harus di impor dari luar negeri,
semakin mahal harga komoditas maupun bahan baku yang akan diproduksi, maka
harga dari produk yang dihasilkanpun akan semakin mahal.
93
4.2.3 PDB Negara Amerika Serikat
Jika dilihat dari segi ekonomi, Amerika adalah nomor satu di dunia, meliputi
kira-kira seperempat hingga sepertiga total keluaran ekonomi dunia. Hal ini dapat
dilihat dari PDB total $ 13.049 triliyun (2003) dan PDB/kapita yaitu $ 36.010.
Hasil penelitian John Kendrick (Simanjuntak :1985) menunjukkan bahwa selama
periode 1919-1957 pendapatan nasional Amerika Serikat bertamabah 3,2 persen
setahun, sedangkan modal dan tenaga kerja bertambah hanya 1,1 persen setahun.
Kemudian disimpulkan bahwa sisanya, yaitu pertambahan pendapatan
nasional sebesar 2,1 persen setahun merupakan damapak dari kenaikan
produktivitas penduduk Amerika Serikat sebagai akibat dari peningkatan kualitas
SDM yang dihasilkan oleh sistem pendidikan.
Jika dilihat dari data di bawah ini, PDB Amerika Serikat memang sangat
besar, jauh jika dibandingkan dengan Negara-negara berkembang seperti
Indonesia, namun demikian Amerika Serikat yang merupakan negara
super
power tersebut memiliki pengeluaran yang cukup besar, khususnya dalam bidang
pertahan militer, dimana Amerika melakukan agresi di beberapa negara seperti
Afganistan dan Irak. Berikut ini data mengenai perkembangan PDB AS :
94
Tabel 4.3
Perkembangan PDB Amerika Serikat Tahun 1983-2006
Tahun
PDB
Amerika
Serikat ($)
PDB
Amerika
Serikat (Rp)
1983
3536,66
3214823,9
1984
3933,17
4035432,4
1985
4220,26
4688708,9
1986
4462,82
5725798,1
1987
4739,47
7791688,7
1988
5103,79
8604989,9
1989
5484,35
9707299,5
1990
5803,06
10695040
1991
5995,93
1169206,3
1992
6337,74
12865612
1993
6657,41
13894015
1994
7072,22
15353790
1995
7397,65
16696496
1996
7816,86
18908984
1997
8304,34
53405211
1998
8747
90531450
1999
9268,41
72803361
2000
9816,97
83738754
2001
10128
103963920
2002
10469,6
97262584
2003
10960,8
93955978
2004
11685,9
108562011
2005
12433,9
120770470
2006
13194,7
119016193
Sumber : International Finance Statistic
Pertumbuhan
(%)
25,52
16,18
22,11
36,08
10,43
12,81
10,17
-89,06
10,37
7,99
10,50
8.74
13,25
182,43
69,51
-19,58
15,02
24,15
-6,44
-3,39
15,54
11,24
-1,45
Secara grafik pergerakanya dapat digambarkan sebagai be:rikut :
140000000
120000000
100000000
80000000
60000000
40000000
20000000
0
19
83
19
85
19
87
19
89
19
91
19
93
19
95
19
97
19
99
20
01
20
03
20
05
PDB Amerika Serikat/ RP
95
Tahun
Tahun
PDB Amerika Serikat (Rp)
Gambar 4.4
Perkembangan PDB Amerika Serikat Tahun 1983-2006
Perkembangan PDB Amerika Serikat sejak tahun 1983 mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun, pada tahun 1987 peningkatan terjadi sebesar
36,08%. Meskipun dikenal sebagai Negara maju dan memiliki pendapatan yang
cukup besar dibandingkan dengan Negara-negara lainnya, Amerika Serikat pun
tidak terlepas dari berbagai permasalahan ekonomi seperti inflasi, kemiskinan, dan
pengangguran.
Dilihat dari sejarahnya, Negara besar ini sempat mengalami beberapa kali
resesi yang membuat perekonomian di negara ini tidak dapat berjalan dengan
baik. Sebuah karangan berjudul “ Four Phases of Depression” buah tangan
Raymond T. Dalio dalam Journal of Commerce (24 Mei 1982) menggambarkan
berbagai depresi yang telah melanda suatu perekonomian seperti yang dialami
oleh perekonomian Amerika. Menurut penulis tersebut, sejak tahun 1880 Amerika
lebih kurang empat belas kali masa depresi.
Pada tahun 1990an, ekonomi Negara maju ini mengalami kecendrungan
yang meningkat, terutama pada saat terjadinya krisis moneter tahun 1997, pada
saat itu nilai mata uang dollar begitu meningkat, nilai PDB Amerika Serikat
96
meningkat cukup drastis sebesar 182,43%, dari Rp 18908984 pada tahun 1996
menjadi Rp 53405211 ditahun 1997.
Kenaikan PDB Amerika Serikat ini tentu tidak berlangsung lama, karena
pada tahun 2000an, PDB Amerika mengalami perkembangan yang cukup
fluktuatif. Di tahun 2004 kenaikan mencapai 15,54%, namun hal ini tidak
berlangsung lama karena ditahun 2006 menurun cukup drastis menjadi -1, 45%.
Penurunan PDB Negara ini di pengaruhi oleh banyak faktor diantaranya, karena
terjadinya krisis ekonomi akibat kredit macet perumahan, biaya perang yang
mahal, dan kenaikan harga minyak dunia yang membuat kegiatan industri di
Negara ini mau tidak mau harus menerima imbas kenaikan harga.
4.2.4 Tarif Ekspor
Pada awal 1970-an, kebijakan perdagangan luar negeri bersifat protektif
yang antara lain melalui pengenaan tarif tinggi bagi barang-barang impor sejenis
yang diproduksi oleh perusahaan domestik. Untuk kebijakan perdagangan dalam
negeri, pemerintah mulai memberikan hak monopoli bagi pelaku usaha tertentu.
Pada awal 1980-an regulasi perdagangan luar negeri mulai dikendorkan secara
perlahan dengan menurunkan tarif terutama untuk bahan baku bagi industri yang
berorientasi ekspor.
Serangkaian kebijakan dikeluarkan pemerintah untuk menderegulasi
perdagangan luar negeri secara bertahap, berikut ini beberapa kebijakan yang
pernah dikeluarkan pemerintah :
97
Paket Kebijakan 16 Januari 1982
1. Mengatur ekspor/impor dan lalu lintas devisa untuk memperkuat daya saing
ekspor Indonesia
2. Mengeluarkan kebijakan Imbal Beli ( counter purchase)
Paket Kebijakan 6 Mei 1986 1986
1. Meningkatkan daya saing ekspor Indonesia dan mengurangi hambatan yang
menyebabkan kurangnya
minat investor
2. Kebijakannya meliputi kemudahan tataniaga ekspor non migas, fasilitas
pengembalian bea masuk, fasilitas
pembebasan bea masuk, dan pemberlakuan kawasan berikat
Paket Kebijakan 25 Oktober 1986
Menurunkan biaya produksi dengan menurunkan bea masuk sejumlah komoditi,
perlindungan produksi dalam
negeri melalui sistem tarif, pemberian fasilitas swap yang baru, dan kebijakan
penanaman modal.
Paket Kebijakan 15 Januari 1987
Meningkatkan kelancaran penyediaan barang keperluan produksi dan
perlindungan industri dalam negeri secara
lebih efisien dengan mengubah kebijakan non-tarif menjadi tarif untuk sejumlah
komoditas tertentu
Paket Kebijakan 24 Desember 1987
Dibukanya mobilisasi dana pada pasar uang, untuk memperlancar perijinan di
bidang produksi, jasa dan investasi
pada umumnya, serta untuk memperlancar arus ekspor dan impor
98
Paket Kebijakan 28 Mei 1990
Penetapan penggantian proteksi melalui tata niaga impor menjadi proteksi melalui
tarif bea masuk yang ditujukan
untuk meningkatkan dan memperkuat daya saing produk industri nasional
Paket Kebijakan 6 Juli 1992
Pemerintah melonggarkan tata niaga impor dan inti kebijakan sehingga setiap
produsen bisa melakukan impor
langsung tanpa memerlukan lagi rekomendasi dari Departemen Perindustrian
Paket Kebijakan 10 Juni 1993 dan Paket Kebijakan dan Debirokratisasi 23
Oktober 1993
Mencakup deregulasi di bidang otomotif, bidang ekspor/impor, bidang
penanaman modal dan perijinan usaha,
dan bidang farmasi
Disamping itu, dengan masuknya Indonesia dalam WTO pada tahun 1995,
pemerintah mengeluarkan kebijakan Mei 1995 yang secara umum berisi jadwal
penurunan tarif. Penurunan tarif yang dilakukan berbeda dari tahun ke tahun
tergantung tingkat tarif yang ada sebelum1995. Sebagai hasil Pakmei 95, tarif
rata-rata Indonesia telah turun dari 20% di 1994 menjadi kurang dari 8% di tahun
2000.
Sementara, Pemerintah juga menyepakati kerjasama perdagangan di
kawasan ASEAN untuk meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN.
Meskipun perkembangan tarif ekspor cenderung mengalami peningkatan setiap
tahunnya, pemerintah tetap berusaha memberikan kemudahan dalam kegiatan
99
perdagangan internasional melalui hambatan-hambatan non tarif. Berikut data
mengenai perkembangan tarif ekspor :
Tabel 4.4
Perkembangan Tarif Ekspor Tahun 1983-2006
Tahun
Tarif Ekspor Pertumbuhan
(miliar
(%)
rupiah )
1983
104
1984
91
-12,5
1985
51
-43,95
1986
79
54,90
1987
184
132,91
1988
256
39,13
1989
172
-32,81
1990
44
-74,41
1991
17
-61,36
1992
9
-88,88
1993
14
55,55
1994
131
835,71
1995
201
53,43
1996
70
-65,17
1997
100
42,85
1998
582
482
1999
835
43,47
2000
331
-60,35
2001
541
63,44
2002
231
-57,30
2003
230
-0,43
2004
298
29,56
2005
318
6,71
2006
1244
291,19
Sumber : Badan Pusat Statistik
Secara grafik pergerakanya dapat digambarkan sebagai be:rikut :
100
1400
Tarif Ekspor
1200
1000
800
600
400
200
19
83
19
85
19
87
19
89
19
91
19
93
19
95
19
97
19
99
20
01
20
03
20
05
0
Tahun
Tarif Ekspor (miliar rupiah )
Gambar 4.5
Perkembangan Tarif Ekspor Tahun 1983-2006
Perkembangan tarif ekspor dari tahun ke tahun mengalami kecendrungan
yang meningkat setiap tahunnya, meskipun pemerintah masih berupaya
mengurangi tarif ekspor dan mengurangi beberapa hambatan non tarif lainnya
untuk mendorong kegiatan ekspor. Ditahun 1980an, kenaikkan harga terjadi
cukup besar pada tahun 1987 tarif ekspor ini meningkat sebesar 132,91%.
Untuk meningkatkan ekspor maka pada tahun berikutnya 1988 hingga tahun
1993 tarif ekspor cenderung mengalami penurunan. Penurunan tariff ekspor ini
berkaitan dengan dikeluarkannya beberapa kebijakan ekspor pemerintah yang
mengatur tentang penurunan tarif dan kemudahan dalam melakukan kegiatan
ekspor. Penurunan tarif juga terjadi pada tahun 1999 setelah terjadinya krisis
moneter hingga tahun 2005.
101
4.2.5 Tarif Impor AS
Tarif merupakan bentuk kebijakan perdagangan yang paling tua dan secara
tradisional telah digunakan sebagai sumber penerimaan pemerintah. Peranan tarif
meluas dalam era modern kini, karena pemerintah-pemerintah modern biasanya
lebih suka melindungi industri-industri domestik mereka dengan mengenakan
berbagai macam bentuk hambatan non-tarif (non tariff barriers).
Misalnya, sebelum diterapkan pajak pendapatan, pemerintah Amerika
Serikat memperoleh sebagian besar pendapatannya dari tarif. Tingkat tarif ratarata di Amerika Serikat atas impor yang dikenakan bea masuk dari tahun 1920
hingga 1984 (setelah meningkat tajam tahun 1930an) menunjukkan penurunan
dari waktu ke waktu. Namun demikian Negara maju ini merupakan salah satu
Negara yang menetapkan tarif cukup besar dibandingkan Negara-negara lainnya.
Bagi negara besar, seperti Amerika Serikat. Penerapan tarif merupakan salah
satu kebijakan yang sangat penting untuk mendukung kegiatan ekspor impor.
Dengan adanya peningkatan tarif, pendapatan negara Amerika juga akan
meningkat, dan akan memberikan keuntungan juga bagi para pengusaha yang
bergerak di bidang ekspor dan impor.
Berikut ini perkembangan tarif impor Amerika Serikat :
102
Tabel 4.5
Perkembangan Tarif Impor AS Tahun 1983-2006
Tahun
Tarif Impor
AS (U$)
Tarif Impor
AS (Rp)
Pertumbuhan
%
1983
278,1
252792,9
1984
293,3
300925,8
19,04
1985
308,5
342743,5
138,94
1986
323,7
415307,1
21,17
1987
347,9
571947,6
37,71
1988
374,9
632081,4
10,51
1989
399,3
706761
11,81
1990
425,5
7484196,5
958,94
1991
457,5
892125
-88,07
1992
483,8
982114
10,08
1993
503,4
1050595,8
6,97
1994
545,6
1184497,6
12,74
1995
558,2
1259857,4
6,36
1996
581,1
1405680,9
11,57
1997
612
3935772
179,99
1998
639,8
6621930
68,24
1999
674
5294270
-20,04
2000
708,9
6046917
14,21
2001
728,6
7479079
23,68
2002
762,8
7063528
-5,55
2003
807,2
6919318,4
-2,04
2004
863,8
8024702
15,97
2005
921,6
8951500,8
11,54
2006
967,3
8725046
-2,52
Sumber : Flow of Funds Account of the US (Federal Reserve)
Secara grafik pergerakanya dapat digambarkan sebagai be:rikut
103
Tarif Impor AS
10000000
8000000
6000000
4000000
2000000
20
05
20
03
20
01
19
99
19
97
19
95
19
93
19
91
19
89
19
87
19
85
19
83
0
Tahun
Tahun
Tarif Impor AS (Rp)
Gambar 4.6
Perkembangan Tarif Impor AS Tahun 1983-2006
Dari data diatas kita dapat melihat bahwa tarif impor Amerika Serikat
cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sejak tahun 1983 hingga awal
tahun 1990, tarif impor Negara ini terus meningkat. Peningkatan terbesar terjadi
pada tahun 1990 yaitu sebesar 958,94%. Peningkatan tarif ini dilakukan untuk
meningkatkan
pendapatan
Amerika
Serikat
dari
kegiatan
perdagangan
internasional dengan Negara lainnya.
Meskipun tarif impor di Negara ini cenderung meningkat, namun tidak
menyurutkan negara-negara lain untuk melakukan kegiatan impor ke negara ini.
Hal ini terjadi karena tingginya daya beli masyarakat Amerika Serikat terhadap
barang-barang yang dihasilkan oleh Negara pengimpor. Meskipun tarif impor ini
sempat mengalami penurunan pada tahun 1991 sampai dengan 1996, di tahun
berikutnya tarif impor ini mengalami peningkatan kembali, terutama setelah
terjadinya krisis moneter di Asia, hingga tahun 2005.
104
4.3
Analisa Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisisi kuntitatif
dengan statistik parametrik. Untuk melakukan analisis terhadap permasalahan
yang diteliti, penulis menggunakan model ekonometrika dengan teknik korelasi
dan regresi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan EViews
(Econometric Views) 5.1, data yang diperoleh dari hasil pengujian EViews adalah
sebagai berikut:
Tabel 4.6
Pengujian Model Penelitian
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 08/17/08 Time: 08:23
Sample: 1983 2006
Included observations: 24
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
X1
X2
X3
X4
X5
C
-0.499504
0.229545
0.327062
0.120092
0.241111
0.954405
0.097252
0.117419
0.049753
0.024976
0.047864
0.935278
-5.136162
1.954923
6.573754
4.808358
5.037452
1.020450
0.0001
0.0663
0.0000
0.0001
0.0001
0.3210
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.963090
0.952838
0.105525
0.200438
23.36913
1.114028
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
8.559489
0.485910
-1.447428
-1.152914
93.93526
0.000000
Sumber: Pengujian model estimasi EViews
Dari hasil perhitungan diatas maka diperoleh persamaan model sebagai
berikut:
105
Y
= 0,954405 - 0,499504 X1 + 0,229545 X2 + 0,327062 X3 + 0,120092 X4 +
0,241111 X5
t
= (1,020450) (-5,136162)
(1,954923)
(6,573754) (4,808358)
(5,037452)
R2
= 0,963090
Berdasarkan hasil pengujian di atas, nilai koefisien determinasi (R2)
mendekati sempurna sebesar 0,963090 atau 96,3090%, artinya dalam model
tersebut variabel bebas nilai tukar rupiah (X1), harga relative ekspor (X2), PDB
Amerika Serikat (X3), tarif ekspor (X4), dan tarif impor (X5) dapat menjelaskan
variabel dependen ekspor non migas (Y) sebesar 96,3090% dan sisanya 1,6729 %
dipengaruhi oleh faktor lain. Koefisien determinasi dapat digunakan untuk melihat
kualitas
model,
selain
itu
dapat
digunakan
untuk
melihat
masalah
multikolinearitas. Untuk mendapatkan nilai parameter yang BLUE (Best Linear
Unbiased Estimator) maka dilakukan uji asumsi klasik.
Dari hasil pengujian regresi di atas di peroleh informasi mengenai panjang
kelambanan dari model regresi berdasarkan kriteria yang di kemukakan oleh
Akaike (Akaike Information Criterion) sebesar -1,447428 dan menurut kriteria
Schwarz (Schwarz Creterion) sebesar -1.152914.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah variabel pengganggu
terdistribusi normal atau tidak. Untuk mendeteksi normal tidaknya faktor
pengganggu
dapat dipergunakan metode Jarque-Bera Test (JB-Test).
106
Selanjutnya nilai JBhitung = χ2hitung dibandingkan dengan χ2tabel. Jika JBhitung > χ2tabel
maka H0 yang menyatakan residual berdistribusi normal ditolak, begitupun
sebaliknya, Jika JBhitung < χ2tabel maka H1 diterima berarti residual berdistribusi
normal diterima.
12
Series: Residuals
Sample 1983 2006
Observations 24
10
8
6
4
2
Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis
-1.82E-15
-0.018170
0.265695
-0.142296
0.093353
1.147341
4.434970
Jarque-Bera
Probability
7.324704
0.025672
0
-0.1
0.0
0.1
0.2
0.3
Gambar 4.7 Uji Normalitas Jarque-Bera
(Sumber: Pengujian normalitas Jarque-Bera EViews)
Berdasarkan Gambar 4.6 di atas, nilai J-Bhitung diperoleh 7,324704 kemudian
dibandingkan dengan χ2tabel dengan probabilitas 5% dan df= 24-6=18, diperoleh
nilai χ2tabel sebesar 9,39. Karena nilai JBhitun < χ2tabel maka H1 diterima yang berarti
residual berdistribusi normal.
2. Uji Linearitas
Uji linieritas digunakan untuk mengetahui apakah fungsi yang digunakan
dalam penelitian berbentuk linier, kuadrat, atau kubik. Untuk menguji linieritas
107
Penulis menggunakan uji Ramsey RESET Test, uji ini dikembangkan oleh
Ramsey tahun 1969 yang menyarankan suatu uji yang disebut general test of
spesification atau RESET. Ramsey RESET Test bertujuan untuk menghasilkan
nilai Fhitung. Fhitung yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan Ftabel, apabila
Fhitung > Ftabel maka H0 yang menyatakan bahwa spesifikasi model yang digunakan
dalam bentuk fungsi linier ditolak, dan sebaliknya bila Fhitung < Ftabel maka H1
yang menyatakan bahwa spesifikasi dalam fungsi linier diterima. Dengan
menggunakan perhitungan Eviews 3.1 maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.7
Uji Linearitas Data Ramsey
Ramsey RESET Test:
F-statistic
Log likelihood ratio
0.792259
1.093204
Probability
Probability
0.385841
0.295762
Test Equation:
Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 08/17/08 Time: 08:28
Sample: 1983 2006
Included observations: 24
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
X1
X2
X3
X4
X5
C
FITTED^2
-1.556195
0.769431
1.014624
0.397597
0.796796
-6.438741
-0.134495
1.191197
0.617944
0.774083
0.312782
0.626156
8.359172
0.151103
-1.306413
1.245147
1.310743
1.271164
1.272520
-0.770261
-0.890090
0.2088
0.2300
0.2074
0.2208
0.2203
0.4517
0.3858
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.964734
0.952287
0.106139
0.191513
23.91573
1.227544
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
8.559489
0.485910
-1.409645
-1.066045
77.50799
0.000000
Sumber: Pengujian Linieritas Data Ramsey Eviews
Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai Ftest sebesar 0,792259 dan Ftabel
(2,77). Karena Ftest (0,792259) lebih kecil dari Ftabel (2,77), maka hipotesis yang
108
menyatakan bahwa spesifikasi model yang digunakan dalam bentuk fungsi linier
adalah tidak dapat ditolak. Ini menandakan bahwa model yang digunakan
berbentuk linier.
3. Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah situasi dimana terdapat korelasi antara variabel
bebas. Dalam hal ini variabel tersebut dapat disebut variabel yang tidak ortogonal.
Variabel yang bersifat ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antarsesamanya sama dengan nol.
Untuk
menguji
multikolinearitas
di
dalam
model
maka
penulis
menggunakan Deteksi Klien dengan membandingkan koefisien determinasi
auxillary dengan koefisien determinasi (R 2 ) model regresi aslinya yaitu Y dengan
variabel independen X. Sebagai rule of thumb uji klien ini, jika R 2
X 1 X 2 X 3... X 4
lebih besar dari R 2 maka model mengandung unsur multikolinieritas antara
variabel independennya dan jika sebaliknya maka tidak ada korelasi antar variabel
independen. Maka model yang digunakan yaitu:
X1= f(X2, X3, X4,X5); X2 =
f(X1, X3, X4, X5); X3= f(X1, X2, X4, X5); X4= f(X1, X2, X3, X5); dan X5 =
f(X1, X2, X3, X4).
Tabel 4.8
Pengujian Regresi Parsial
Variabel
X1
X2
X3
X4
X5
R2 regresi
parsial
0,933941
0,522030
0,898430
0,500657
0,867216
Kriteria
R2 estimasi
Multikolinearitas
<
<
<
<
<
0,963090
0,963090
0,963090
0,963090
0,963090
Tidak terdapat
Tidak terdapat
Tidak terdapat
Tidak terdapat
Tidak terdapat
Sumber: Pengujian regresi parsial EViews
109
Berdasarkan hasil pengujian regresi parsial seperti pada Tabel 4.8 di atas,
dalam model estimasi secara umum tidak terdapat multikolinearitas karena nilai
R2 regresi parsial < R2 estimasi, namun diketahui bahwa nilai R2 Tarif Ekspor (X4)
merupakan nilai R2 yang paling rendah yaitu sebesar 0.500657. Namun nilai
tersebut tidak terlalu terganggu pada kualitas model karena pengaruhnya biasabiasa saja. Oleh karena itu, masalah tersebut bisa diabaikan. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa dalam model ini tidak terdapat atau terbebas dari
multikolinearitas
4. Uji Heteroskedastisitas
Asumsi lain yang penting pada suatu fungsi regresi adalah apabila variasi
dari faktor pengganggu selalu sama pada data pengamatan yang satu ke data
pengamatan yang lain. Jika ciri ini sudah dipenuhi, berarti variasi faktor
pengganggu pada kelompok data tersebut bersifat homoskedastik atau var (µi2) =
σ2. Jika asumsi itu tidak dapat dipenuhi maka dapat dikatakan terjadi
penyimpangan. Penyimpangan terhadap faktor pengganggu sedemikian itu disebut
heteroskedastisitas (Muhamad Firdaus, 2004:106). Pengujian heteroskedastisitas
dengan
menggunakan
White
Heteroscedasticity Test.
Berdasarkan
perhitungan melalui Eviews didapat hasil perhitungan sebagai berikut :
hasil
110
Tabel 4.9
Pengujian White Heteroskedastis
White Heteroskedasticity Test:
F-statistic
Obs*R-squared
1.404296
21.68384
Probability
Probability
0.443830
0.357910
Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 08/17/08 Time: 08:28
Sample: 1983 2006
Included observations: 24
Variable
Coefficient
Std. Error
t-Statistic
Prob.
C
X1
X1^2
X1*X2
X1*X3
X1*X4
X1*X5
X2
X2^2
X2*X3
X2*X4
X2*X5
X3
X3^2
X3*X4
X3*X5
X4
X4^2
X4*X5
X5
X5^2
115.4948
28.03527
3.212957
-0.736636
-4.126461
-0.108902
-0.192164
-11.64346
-0.329913
5.636131
-0.123794
-4.981208
-44.82233
1.207159
-1.286599
-0.483338
4.386212
0.023697
1.335723
26.85308
0.728614
222.0069
25.29015
2.188342
1.379920
3.289913
0.104109
1.504939
30.06227
0.237689
10.05102
0.072367
9.284723
76.87691
1.071909
0.984821
1.469510
3.082702
0.014338
0.950006
66.94630
0.730424
0.520231
1.108545
1.468215
-0.533825
-1.254277
-1.046034
-0.127689
-0.387312
-1.388004
0.560752
-1.710639
-0.536495
-0.583040
1.126177
-1.306429
-0.328911
1.422847
1.652796
1.406016
0.401114
0.997523
0.6389
0.3485
0.2384
0.6305
0.2986
0.3724
0.9065
0.7244
0.2593
0.6141
0.1857
0.6288
0.6008
0.3420
0.2825
0.7638
0.2499
0.1969
0.2544
0.7152
0.3920
R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat
0.903493
0.260115
0.013600
0.000555
94.04241
3.545450
Mean dependent var
S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)
Sumber: Pengujian White Heteroskedastis EViews
0.008352
0.015811
-6.086867
-5.056070
1.404296
0.443830
111
Hasil penghitungan melalui White Heteroscedasticity Test menghasilkan
nilai R2 yang telah disesuaikan (Adjusted R-Squared) sebesar 0,260115. Jika nilai
R2Adjusted dikalikan dengan jumlah data (n) lebih kecil dari nilai χ2tabel, maka
hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat masalah heteroskedastisitas dalam
model empiris yang sedang diestimasi adalah ditolak. Nilai R2Adjusted =
0,260115 x 24 = 6,24276 ; sedangkan nilai χ2tabel dengan df= 24-6= 18 sebesar
9,39 maka dapat disimpulkan bahwa R2Adjusted < χ2tabel berarti hipotesis yang
menyatakan terdapat persoalan heteroskedastisitas dalam model empiris yang
sedang diestimasi adalah ditolak. .
Ini berarti dalam model estimasi tidak terdapat heteroskedastisitas, atau
dengan kata lain gangguan (disturbance)
yang muncul dalam fungsi regresi
populasi adalah homoskedastis. Ini berarti dalam model estimasi tidak terdapat
heteroskedastisitas, atau dengan kata lain gangguan (disturbance)
yang muncul
dalam fungsi regresi populasi adalah homoskedastis.
5. Uji Autokorelasi
Autokorelasi merupakan gangguan pada fungsi regresi yang berupa korelasi
antar faktor gangguan antaranggota sampel atau data pengamatan yang diurutkan
berdasarkan waktu (time series), sehingga muncul suatu data dipengaruhi oleh
data sebelumnya. Model regresi linier mengandung asumsi tidak terdapat
autokorelasi atau korelasi serial diantara disturbance term-nya. Autokorelasi dapat
mengakibatkan:
112
a. Varians sampel tidak dapat menggambarkan varians populasi,
b. Model regresi yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan untuk menduga
nilai variabel terikat dari nilai variabel bebas tertentu,
c. Varians dari koefisiennya menjadi tidak minim lagi (tidak efisien lagi),
sehingga koefisien estimasi yang diperoleh kurang akurat lagi,
d. Uji t tidak berlaku lagi, jika uji t
tersebut tetap digunakan maka
kesimpulan yang diperoleh salah.
Dalam penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi, maka
peneliti menggunakan metode Durbin-Watson dua sisi dengan kriteria dU < d < 4
– dU. Berdasarkan hasil perhitungan (lihat tabel 4.9) diperoleh hasil dhitung sebesar
1,114028. Dari tabel diperoleh nilai d tabel dl = 0,93 dan du = 1,90 pada n = 24
dan k = 5 dan taraf signifikansi 5 %. Sehingga 1,90 < 1,114028 < 2,1 sehingga
dalam model yang diujikan tidak terdapat autokorelasi.
4.4
Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini yaitu dengan pengujian dua sisi
(two tail), hal ini dilakukan karena pengaruh variabel bebas terhadap variabel
terikat sudah ditetapkan. Tingkat keyakinan yang digunakan sebesar 95% atau
residu sebesar 5% (α = 5%). Pengujian hipotesis dialakukan dengan kriteria t hitung
> t tabel H0 ditolak dan H1 diterima.
1.
Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)
Pengujian hipotesis secara parsial (uji t) dilakukan untuk mengetahui
pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat.
113
Berdasarkan hasil pengujian diperoleh nilai t
hitng
untuk masing-masing variabel
bebas adalah sebagai berikut:
Tabel 4.10
Uji t
Variabel
t hitung
t tabel
Keputusan
Pengaruh
Nilai tukar rupiah
-5,136162
<
-2,101
Menolak H0
Signifikan
Harga relatif ekspor
1,954923
<
2,101
Menerima H0
Tidak Signifikan
PDB Amerika Serikat
6,573754
>
2,101
Menolak H0
Signifikan
Tarif ekspor
4,808358
>
2,101
Menolak H0
Signifikan
Tarif Impor
5,037452
>
2,101
Menolak H0
Signifikan
Sumber : Pengujian Eviews
Variabel Nilai tukar rupiah (X1) memiliki nilai thitung sebesar -5,136162
sedangkan t tabel dengan df (degree of freedom) sebanyak df= n-6 = 24-6 = 18 buah
adalah -2,101 maka thitung < ttabel. Hipotesis ini menolak H0 dan menerima H1 yang
berarti Nilai tukar rupiah (X1) berpengaruh secara signifikan dan mempunyai
hubungan negatif terhadap Ekspor non migas (Y), hal ini dapat juga diketahui
dengan melihat nilai probabilitasnya pada Tabel 4.9 sebelumnya yaitu sebesar
0.0001 atau ketidak yakinan sebesar 0,01 %.
Untuk thitung variabel Harga Relatif ekspor (X2) sebesar1,954923 dan ttabel =
2,101, maka thitung < ttabel. Hipotesis ini menerima H0 dan menolak H1 yang berarti
Harga Relatif ekspor (X2) memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap
Ekspor non migas (Y), terbukti dengan nilai probabilitasnya (pada Tabel 4.9)
sebesar 0,0663 atau tingkat ketidakyakinan sebesar 66 %.
Untuk nilai thitung PDB Amerika Serikat (X3) sebesar 6,573754 dan nilai t
tabel
= 2,101 , maka thitung > ttabel. Hipotesis ini menolak H0 dan menerima H1 ,
berarti PDB Amerika Serikat (X3) berpengaruh positif secara signifikan terhadap
114
Ekspor non migas (Y), hal ini terbukti dengan tingkat probabilitasnya sebesar
0,0000 atau tingkat ketidakyakinan sebesar 0%.
Untuk nilai thitung Variabel Tarif ekspor (X4) sebesar 4,808358 dan nilai t tabel
= 2,101 , maka thitung > ttabel. Hipotesis ini menolak H0 dan menerima H1 , berarti
Tarif ekspor (X4) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Ekspor non
migas (Y), hal ini terbukti dengan tingkat probabilitasnya sebesar 0,0001 atau
tingkat ketidakyakinan sebesar 0,01%.
Untuk nilai thitung Variabel Tarif impor (X5) sebesar 5,037452 dan nilai t tabel
= 2,101 , maka thitung > ttabel. Hipotesis ini menolak H0 dan menerima H1 , berarti
Tarif impor (X5) berpengaruh positif secara signifikan terhadap Ekspor non migas
(Y), hal ini terbukti dengan tingkat probabilitasnya sebesar 0,0001 atau tingkat
ketidakyakinan sebesar 0,01%.
2.
Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)
Uji F ini digunakan untuk menguji variabel independen secara keseluruhan
dan bersama-sama; untuk melihat apakah variabel independen secara keseluruhan
mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
Tabel 4.11
Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)
F hitung
93,93526
>
F tabel
Keputusan
Pengaruh
2,77
Menolak H0
Berpengaruh secara simultan
Sumber: Hasil pengujian model Evie
Kriteria pengujian nilai F adalah jika nilai Fhitung > Ftabel dengan taraf
keyakinan 95%, maka H0 ditolak yang berarti ada pengaruh secara serempak atau
secara bersama-sama dari keseluruhan variabel independen terhadap variabel
115
dependen, begitupun sebaliknya. Hasil perhitungan menunjukan bahwa Fhitung
sebesar 93,93526 dan Ftabel sebesar 2,77 sehingga dapat disimpulkan bahwa Fhitung
> Ftabel, artinya bahwa secara simultan atau bersama-sama variabel independen
nilai tukar rupiah, harga relatife ekspor, tarif ekspor dan tarif impor berpengaruh
terhadap ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat.
3.
Koefisien Determinasi
Uji R2 atau disebut juga koefisien regresi adalah angka yang menunjukkan
besarnya derajat kemampuan atau distribusi variabel bebas dalam menjelaskan
atau menerangkan variabel terikatnya dalam fungsi yang bersangkutan. Besarnya
nilai R2 diantara nol dan satu (0 < R2 <1). Jika nilainya semakin mendekati satu,
maka model tersebut baik dan tingkat kedekatan antara variabel bebas dan
variabel terikat pun semakin dekat pula.
Dalam penelitian ini R2 sebesar 0,963090 atau 96,3090%, Artinya sebesar
96,3090% ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat (Y) dipengaruhi oleh
nilai tukar rupiah (X1), harga relative ekspor (X2), PDB Amerika Serikat (X3),
Tarif ekspor (X4), dan Tarif impor sedangkan sisanya sebesar 3,691 %
dipengaruhi oleh faktor lain.
116
4.5
Pembahasan
Kegiatan ekspor mempunyai nilai ekonomi yang sangat penting, baik bagi
perkembangan industri itu sendiri maupun bagi pemerintah. Manfaat yang bisa
diperoleh dengan adanya perdagangan internasional bagi suatu negara akan
mendorong negara tersebut untuk memacu transaksi ekspor keluar negeri sehingga
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan nasional negara.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai
ekspor maka pada penelitian ini membahas variabel-variabel ekonomi yang
mempengaruhi ekspor non migas diantaranya adalah nilai tukar rupiah, herga
relative ekspor, PDB Amerika Serikat, tarif ekspor, dan tarif impor AS.
Pada bagian ini akan dibahas mengenai hasil analisis data yang telah
dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda dengan bantuan
software Eviews 5.1 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa
variabel-variabel
bebas yaitu nilai tukar rupiah, herga relatif ekspor, PDB
Amerika Serikat, tarif ekspor, dan tarif impor AS secara bersama-sama atau
simultan berpengaruh signifikan terhadap ekspor non migas Indonesia ke AS.
Begitu pula berdasarkan pengujian hipotesis secara parsial menyatakan bahwa
semua variabel bebas (independent) berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependent (terikat), kecuali variabel harga relatif ekspor yang tidak berpengaruh
signifikan terhadap ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat. Hal tersebut
dapat dilihat dari hasil pengolahan data bahwa variabel nilai tukar, PDB Amerika
117
Serikat, tarif ekspor, dan tariff impor AS berpengaruh signifikan terhadap variabel
ekspor non migas.
4.5.1 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Ekspor Non Migas
Berdasarkan hasil pengujian secara empiris menunjukan nilai tukar rupiah
berpengaruh signifikan, dengan signifikansi sebesar 0,0001. Dari hasil penelitian
ternyata thitung lebih besar daripada ttabel atau -5,136162 > -2,101 berada dari hasil
pada daerah penerimaan H1 yang berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini H1
diterima dan Ho ditolak. Nilai tukar rupiah berpengaruh secara signifikan terhadap
ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat diterima.
Hasil estimasi regresi menunjukkan nilai koefisien variabel nilai tukar
sebesar -0,499504, hal ini memberikan gambaran bila terjadi penurunan nilai
tukar rupiah terhadap dollar Amerika sebesar satu satuan akan berakibat
menurunnya ekspor non migas Indonesia sebesar 0,499504 satuan.
Koefisien yang diharapkan adalah positif ternyata negatif, keadaan ini
menunjukkan adanya pengaruh harga rata-rata luar negeri terhadap ekspor non
migas Indonesia melalui nilai tukar riil. Depresiasi secara nominal yang terjadi
berakibat pula kenaikan harga-harga produk ekspor dan impor Indonesia di luar
negeri khususnya adanya penetrasi impor atau permintaan akan impor Indonesia
yang tidak elastis dalam ekonomi Indonesia dan selanjutnya akan berakibat pada
turunnya kemampuan ekspor Indonesia (Arif dalam Sumarjono, 1993 :199-201).
Nilai tukar merupakan variabel yang paling banyak di gunakan dalam
pengembangan model perdagangan luar negeri. Suatu kondisi dimana nilai mata
uang asing terhadap satuan mata uang asing terhadap mata uang domestik
118
meningkat disebut sebagai depresiasi mata uang. Sebaliknya, jika nilai mata uang
asing terhadap mata uang domestik mengalami penurunan disebut sebagai
apresiasi mata uang. Terjadinya Apresiasi ataupun depresiasi nilai tukar mata
uang akan berpengaruh terhadap penawaran ekspor.
4.5.2 Pengaruh Harga Relatif Ekspor Terhadap Ekspor Non Migas
Beberapa teori mengemukakan bahwa harga mempengaruhi kinerja ekspor
suatu komoditi. Seperti yang diungkapkan oleh Dorn Busch Rudriger (1997:80)
bahwa : “Ekspor sangat tergantung dengan harga relatif ekspor. Apabila terjadi
kenaikan harga barang ekspor maka akan memacu volume ekspor suatu
komoditas”. Selain itu Darmansyah
mengungkapkan tentang pengaruh harga
terhadap ekspor“ Banyak faktor yang mempengaruhi ekspor suatu negara yaitu
antara lain harga internasional, nilai tukar uang, kuota ekspor-impor, kebijakan
tarif serta non-tarif”. (M. Fauzi 1996:27)
Harga relatif ekspor merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
ekspor non migas, namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata thitung
lebih kecil daripada ttabel atau 1,954923 < 2,101 berada pada daerah penerimaan
H1 yang berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini H1 ditolak dan Ho diterima..
Hal ini menunjukan bahwa Harga relatif ekspor tidak berpengaruh secara
signifikan, meskipun dalam persamaan regresi harga relatif ekspor memiliki
pengaruh yang positif terhadap ekspor non migas.
Hasil estimasi regresi menunjukkan nilai koefisien variabel harga relatif
ekspor sebesar 0,229545 , hal ini memberikan gambaran bila terjadi peningkatan
119
harga relatif ekspor sebesar satu satuan akan berakibat meningkatnya ekspor non
migas Indonesia sebesar 0,229545 satuan.
Apabila di tinjau dari sudut pandang teoritis, seperti halnya yang di
ungkapkan oleh Dornbush Rudriger (1997 :86), bahwa ekspor sangat
bergantung dengan harga relatif ekspor, apabila terjadi kenaikan harga barang
ekspor hal ini akan memacu produksi domestik sehingga volume ekspor akan
mengalami peningkatan yang dampaknya kemudian dapat memperbaiki neraca
perdagangan karena keuntungan yang diperoleh eksportir akan lebih besar. Tetapi,
apabila penurunan harga ekspor lebih rendah dari harga domestik maka akan
berakibat sebaliknya.
4.5.3 Pengaruh PDB Terhadap Ekspor Non Migas
Untuk variabel PDB Amerika Serikat menunjukkan bahwa ternyata thitung
lebih besar daripada ttabel atau 6,573754 > 2,101 berada pada daerah penerimaan
H1 yang berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini H1 diterima dan Ho ditolak.
Hal ini menunjukan bahwa PDB Amerika Serikat berpengaruh signifikan terhadap
ekspor non migas Indonesia Ke AS.
Hasil estimasi regresi menunjukkan nilai koefisien variabel PDB sebesar
0,327062 hal ini memberikan gambaran bila terjadi peningkatan PDB sebesar satu
satuan akan berakibat meningkatnya ekspor non migas Indonesia sebesar
0,327062 satuan.
Besar kecilnya PDB negera Amerika Serikat ternyata dapat menjadi
indikator kondisi ekonomi Negara tersebut, karena Amerika Serikat merupakan
salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.
120
Menurut Dumairy (1996: 180) “Kinerja ekspor dapat dipengaruhi oleh 2
faktor utama. Faktor yang pertama yaitu faktor yang bersifat komoditikal dan
sekaligus internal yaitu bahwa penerimaan ekspor sangat ditentukan oleh
komoditas. Sedangkan faktor kedua yang bersifat eksternal yaitu lingkungan
internasional. Dan ekspor suatu negara tentu saja tidak luput dari dinamika atau
gejolak perekonomian dunia pada umumnya”.
Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa gejolak perekonomian internasional
sangat berpengaruh terhadap ekspor misalnya kenaikan harga minyak
akibat
situasi geopolitik atau keamanan di AS dan Jepang yang bergejolak sehingga ikut
memepengaruhi kinerja ekspor. Hal ini dikarenakan apabila kenaikan harga
komoditi yang berlaku dipasaran internasional naik akan menyebabkan pengusaha
dan pemerintah akan terus meningkatkan produksinya untuk memenuhi lonjakan
permintaan dipasaran internasional.
4.5.4 Pengaruh Tarif Ekspor terhadap Ekspor Non Migas
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat pengaruh yang signifikan antara tarif
ekspor dengan ekspor non migas Indonesia ke Amerika Serikat.. Hal ini dapat
dilihat dari hasil uji t yang telah dilakukan sebelumnya dimana thitung lebih besar
daripada ttabel atau 4,808358 > 2,101 berada pada daerah penerimaan H1 yang
berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini H1 diterima dan Ho ditolak. Hal ini
menunjukan Tarif ekspor berpengaruh signifikan terhadap ekspor non migas
Indonesia Ke AS dan secara positif mempengaruhi ekspor non migas.
121
Hasil estimasi regresi menunjukkan nilai koefisien variabel Tarif ekspor
sebesar 0,120092 hal ini memberikan gambaran bila terjadi peningkatan tarif
ekspor sebesar satu satuan akan berakibat meningkatnya ekspor non migas
Indonesia sebesar 0,120092 satuan.
Dengan adanya Tarif ekspor akan mempengaruhi harga tetapi pengaruh
harga akibat tarif ekspor disini bukan hanya harga barang dipasaran internasional
tetapi berpengaruh terhadap harga di pasaran domestik. Sehingga dengan adanya
tarif ekspor akan berpengaruh terhadap impor komoditi dan terhadap ekspor
komoditi. Untuk itu dapat diketahui bahwa besar kecilnya tarif ekspor akan
mempengaruhi kinerja ekspor.
Seperti yang dikemukakan oleh Paul A. Samuelson (Mikroekonomi:488)
bahwa “Tarif cenderung menaikan harga, menurunkan jumlah komoditi yang
dikonsumsi dan diimpor, serta menaikan produksi dalam negeri”.
Menurut Deperindag, latar belakang pengenaan pajak ekspor untuk
barang-barang tertentu adalah dalam rangka :
a. Menjaga kesinambungan persediaan bahan baku sehingga terjaminnya
pemenuhan kebutuhan dalam negeri;
b. Terlindunginya kelestarian sumber daya alam;
c. Terjaminnya stabilitas harga barang tertentu di dalam negeri;
d. Meningkatkan daya saing ekspor tertentu; dan
e. Mengantisipasi pengaruh kenaikan harga yang cukup drastis dari barang
ekspor tertentu di pasar internasional
122
4.5.5 Pengaruh Tarif Impor Terhadap Ekspor Non Migas
Faktor lain yang mempengaruhi ekspor adalah tarif impor, penelitian
ternyata thitung lebih besar daripada ttabel atau 5,037452 > 2,101 berada dari hasil
pada daerah penerimaan H1 yang berarti bahwa hipotesis dalam penelitian ini H1
diterima dan Ho ditolak. Hal ini menunjukan bahwa tarif impor AS berpengaruh
signifikan terhadap ekspor non migas Indonesia Ke AS dan secara positif
mempengaruhi ekspor non migas..
Hasil estimasi regresi menunjukkan nilai koefisien variabel tarif impor
sebesar 0,241111 hal ini memberikan gambaran bila terjadi peningkatan tarif
impor sebesar satu satuan akan berakibat meningkatnya ekspor non migas
Indonesia sebesar 0,241111 satuan.
Menurut Kindleberger dalam pengaruh persaingan, penetapan tarif
memberikan beberapa pengaruh, seperti dalam model H-O yang mengasumsikan
bahwa pesaingan sempurna memasukan tarif atau tanpa tarif. Dalam kenyataanya,
persaingan secara bebas tanpa pengenaan tarif sangat baik, terutama untuk pasar
barang. Tarif akan menguntungkan negara yang mempunyai faktor produksi yang
jarang. Sebaliknya, tarif akan merugikan negara yang mempunyai faktor produksi
yang melimpah. Selanjutnya, ekspor akan meningkatkan permintaan untuk faktorfaktor produksi yang melimpah. Pengenaan pajak akan menghambat aktivitas
perdagangan. (Hendra, 2005:89)
123
4.6 Implikasi Pendidikan
Sektor ekspor merupakan sektor penting bagi suatu negara dalam usaha
menciptakan lapangan kerja untuk jutaan petani di bidang pertanian dan berbagai
tenaga kerja lainnya yang bergerak di bidang industri serta usaha kecil
menegah..Hasil-hasil industri tersebut selain untuk konsumsi pasar dalam negeri
juga untuk diekspor karena kita masih belum mampu mengolah seluruhnya di
dalam negeri.
Peranan ekspor, khususnya ekspor non migas sangat besar bagi
pembangunan serta pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Karena ekspor non migas
ini dihasilkan oleh banyak industri baik industri besar, kecil, dan menengah yang
banyak meyerap tenaga kerja. Hal ini perlu menjadi perhatian karena dengan
keunggulan absolut yang dimiliki Indonesia, baik dari sumber daya alam, maupun
dari sumber daya manusianya, Indonesia harusnya memiliki keunggulan
komparatif yang lebih baik, dibandingkan dengan Negara-negara pengekspor
lainnya, seperti Singapura dan Malaysia.
Namun demikian keunggulan absolut yang dimiliki oleh Indonesia itu,
belum dapat sepenuhnya medukung kegiatan ekspor, khsusnya ekspor non migas.
Beberapa komoditi yang menjadi andalan ekspor Indonesia ternyata masih kalah
bersaing di pasar internasional kerena kurang memiliki daya saing, serta kualitas
yang masih di bawah standar dibandingkan dengan Negara-negara lainnya.
Berdasarkan data Global Competitiveness Report, World Economic Forum 2006,
daya saing Indonesia berada pada posisi paling rendah di Asia Pasifik, yaitu
urutan ke-50 dari 125 negara.
124
Hal inilah yang menjadi hambatan bagi peningkatan ekspor non migas,
produk-produk Indonesia yang diekspor keluar negeri kurang memiliki daya
saing, karena penguasaan teknologi yang masih sederhana, khususnya bagi produk
industri makanan, maupun produk industri setengah jadi yang memerlukan
penguasaan teknologi yang cukup tinggi. Sumber daya manusia di Negara kita
yang jumlahnya cukup banyak, belum mampu mengolah dan mengelola sumber
daya alam yang ada secara optimal, hal ini tentu tidak terlepas dari rendahnya
tingkat pendidikan di negara kita.
Rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja di Indonesia juga telah
mengakibatkan rendahnya partisipasi penduduk dalam kegiatan pembangunan.
Hal ini mengingat banyak diantara mereka yang tidak dapat memasuki pasaran
kerja terutama yang memerlukan keterampilan khusus. Oleh karena itu banyak
sektor pasar kerja tertentu diisi oleh pendatang (migran) dari luar Indonesia.
Adanya kompetisi dalam memasuki pasar kerja tersebut merupakan salah satu
pemicu munculnya konflik antara pendatang (migran) dengan bukan pendatang
(non migran).
Untuk menciptakan SDM yang baik dapat dilakukan melalui pendidikan.
Pendidikan di sini diartikan yaitu sebagai pembentukan modal manusia yaitu
proses memperoleh dan meningkatkan jumlah orang yang mempunyai keahlian,
pendidikan dan pengalaman yang menentukan pembangunan ekonomi dan politik.
Dari gambaran diatas terlihat bahwa kondisi pendidikan di Indonesia perlu
mendapat perhatian khusus. Salah satu strategi yang dapat dikembangkan dalam
125
rangka peningkatan bidang pendidikan di Indonesia adalah dengan peningkatan
partisipasi sekolah terutama sekolah dasar, sekolah menengah dan pendidikan
sejenis yang setara,pendirian sekolah-sekolah kejuruan yang sesuai dengan
potensi sumberdaya setempat, peningkatan mutu perguruan tinggi dan
peningkatan akses untuk mengikuti Pendidikan Tinggi (di dalam negeri dan di
luar negeri).
Dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan yang baik di Indonesia,
diharapkan Indonesia akan mampu menghadapi tantangan dalam perdagangan
internasional, penguasaan teknologi ditambah kualitas Sumber daya manusia yang
baik akan mampu memberikan solusi bagi permasalahan ekonomi di negara ini.
Sehingga Ekspor non migas yang menjadi salah satu andalan pemerintah dalam
mendukung kegiatan ekonomi di negara kita dapat terus ditingkatkan.
Download