mengobati takabur

advertisement
MENGOBATI TAKABUR
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk, tubuhmu, kemudian
Kami katakan kepada para malaikat : "Bersujudlah kamu kepada Adam ", maka merekapun
bersujud kecuali Iblis. Dia tidak , temasuk golongan yang bersujud. Allah berfirman : "Apakah
yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab
Iblis : Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan
dari tanah". Allah berfirman : "Turunlah kamu dari durga ini; karena kamu tidak sepatutnya
menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk mahluk
yang hina".
alah satu penyakit hati yang dapat menutup jalannya hidayah Allah kepada kita adalah takabur.
Penyakit ini bisa melanda seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin,
orang alim dan bodoh, yang muslim maupun non muslim, dll.
Sombong adalah watak utama dari Iblis, seperti yang bergambar pada ayat di atas. Sifat
sombong memang bisa hinggap pada siapapun, namun yang lebih dominan adalah mereka
yang mempunyai banyak potensi. Manusia yang hanya diberi ilmu sedikit saja oleh Allah, sudah
dianggap dirinya paling pandai. Sehingga segalanya dikaitkan dengan otaknya. Filsafat mulai
berperan serta dalam memecahkan masalah-masalah agama. Padahal Allah swt berfirman :
"Dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan hanya sedikit saja" (QS. Al-Isra : 85)
Manusia yang hanya diberi sedikit harta, sudah merasa dialah pemilik segalanya. Setelah itu
timbullah keinginan untuk berkuasa karena hartanya, akhirnya lahirlah manusia tipe Qarun.
Kemanapun ia pergi sandarannya adalah harta. Dalam hal ini Allah swt berfirman : "Dan dia
mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya, ketika mereka
berbincang-bincang : "Hartaku lebih banyak dan pengikutku lebih kuat". (QS. Al-Kahfi :34)
Semakin banyak potensi pada diri seseorang, maka harus semakin waspadalah dia terhadap
sifat sombong.
Inti penyakit sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Untuk
penyembuhan penyakit takabur tidak ada obatnya kecuali yang datang Pemilik Yang Maha
Segalanya. Allah swt telah memberi resep obat untuk mengobati penyakit ini kepada Nabi Musa
as. Nabi Musa nyaris terhinggap penyakit ini pada saat ditanya oleh pengikutnya : "Ya guru,
siapakah orang yang paling pandai di muka bumi ini ? Beliau menjawab : "Akulah orangnya".
1/3
MENGOBATI TAKABUR
Pada saat itu Allah langsung menegurnya dan diperintahnya untuk mencari seorang hamba
Allah yang shaleh dipertemuan dua lautan. Kisah inilah yang oleh sebagian musafir disebut
sebagai proses pendidikan (tarbiyah), kisah Nabi Musa yang bertemu dengan Nabi Khaidir dan
menyandarkan kembali hakekat dirinya. Dari kisah yang terangkum dalam QS. Al-Kahfi ayat 60
s/d 82 itu tergambar ibrah (pelajaran) bagi kita, bahwa tarbiyah adalah suatu proses pendidikan
yang tidak terbatas pada ilmu, melainkan juga mencakup masalah kerja. Ia merupakan proses
yang menyeluruh, meliputi aliyah ruhiyah dan jasadiyah.
Ada beberapa ibrah dari kisah ini, yaitu :
1. Proses tarbiyah yang dilakukan nabi Musa berguru kepada Nbi Khaidir. Ia berguru
kepadanya walaupun tempat dan orangnya belum diketahui. Artinya, cara yang paling efektif
mentarbiyah diri adalah dengan mencari guru yang dapat membentuk seluruh kepribadian kita.
Di sinilah terjadi interaktif antara guru dan murid dan amal.
2. Pencarian yang kontinyu. Sebagaimana firman-Nya : "Dan ingatlah ketika Musa berkata
kepada muridnya : "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai aku akan berjalan
bertahun-tahun" ( QS. Al-Kahfi : 60)
Dalam proses ini harus ditanamkan sikap kesungguhan dalam pencarian. Artinya
niatnya tak luntur oleh kesulitan yang menghadang. Seperti halnya kesungguhan Salman
Al-Farisi dalam mencari kebenaran adalah ibrah bagi kita. Berkali-kali mencari guru yang dapat
membawanya kepada yang hak, sampai nabi Muhammad saw di padang pasir.
Semakin tinggi tingkat pencarian, insya Allah akan semakin nyata pula hasilnya. Sedang
tahapan dalam proses pencarian adalah sebagaimana Allah nyatakan dalam Al-Quran "Dan
adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk dapat pelajaran) sedang ia
takut kepada Allah…" (QS.’Abasa: 8-9)
Ada 3 bahasan dalam ayat di atas :
1. Datang
Orang yang akan melaksanakantarbiyah harus mau datang ke tempat di mana proses tarbiyah
2/3
MENGOBATI TAKABUR
itu berlangsung. Dalam pepatah dikatakan : "Barang siapa bersungguh-sungguh, ia pasti
dapat". Dengan datangnya ke tempat tarbiyah menunjukkan perhatian yang penuh kepada
tarbiyah. Lain halnya dengan orang yang mencari ilmu dengan hanya menunggu dirumah,
maka hasilnyapun akan menuntut kita menunggu dan menunggu.
2. Bersegera
Tingkat kesungguhan seseorang terhadap tarbiyah dapat dilihat dari upayanya atau setidaknya
dalam proses mencari. Untuk mencapai tujuan, ada orang yang berjalan cepat, tapi tak sedikit
orang yang berjalan dengan santai. Orang yang mempercepat langkahnya tentu akan lebih
cepat pula sampai ke tujuan. Di samping menunjukkan kesungguhan.
3. Takut
Dorongan atau motivasi seseorang untuk datang dengan segera kepada tarbiyah dapat
bermacam-macam. Akan tetapi Allah menegaskan hanya ada satu alasan yang pantas, yaitu
rasa takut kepada Allah. Dengan motivasi inilah ikatannya dengan tarbiyah adalah ikatan
ukhrawi yang kekal, ia bukan terikat dengan hal-hal duniawi. Pada hakekatnya, proses
pencarian tarbiyah adalah amanah Allah. Manusia dengan segala kelebihan dan
kekurangannya, diwajibkan untuk melakukan ibadah kepada Allah.
Seluruh pancaindranya, penghayatan hatinya, kemampuan berpikirnya tidak untuk digunakan
dalam hal yang lain kecuali untuk di jalan-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak
demikian. Dalam hal ini Allah swt berfirman : "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi
neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tabda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai" (QS. AlAraf : 179)
3/3
Download