Paper Title (use style: paper title)

advertisement
Skrining Bakteri Indigenus Oil Sludge.…
SKRINING BAKTERI INDIGENUS OIL SLUDGE KALIMANTAN TIMUR
PENDEGRADASI POLIETILEN
Muhammad Iqbal Filayani1), Ni’matuzahroh1), dan Ganden Supriyanto2)
1)
Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga
[email protected]
2)
ABSTRAK
Melimpahnya limbah plastik polietilen di lingkungan mendorong penelitian mengenai skrining bakteri yang mampu
mendegradasi polietilen. Isolat bakteri pendegradasi polietilen dapat diperoleh dari oil sludge. Polietilen berasal dari
bahan minyak bumi serupa dengan oil sludge sehingga bakteri indigenus oil sludge yang dapat mendegradasi komponen
oil sludge juga memiliki kemampuan dalam mendegradasi polietilen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat
bakteri indigenus oil sludge Kalimantan Timur yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi plastik jenis polietilen.
Isolasi dilakukan dengan menggunakan media sintetik polietilen. Skrining dilakukan dengan melihat kelimpahan bakteri
dengan metode pour plate dan persentase degradasi polietilen didapat dari selisih berat lembaran polietilen. Hasil
isolasi didapatkan empat isolat dengan kode isolat PES231b, PES142b, PES241b, PES244b. Hasil skrining didapatkan
nilai log TPC (CFU/mL) dan persentase degradasi pada waktu inkubasi hari ke-15 untuk isolat PES231b sebesar 7,29
CFU/mL dan persentase degradasi sebesar 1,25%, nilai log TPC (CFU/mL) isolat PES142b sebesar 7,31 CFU/mL dan
persentase degradasi sebesar 8,85%, nilai log TPC (CFU/mL) isolat PES241b sebesar 7,23 CFU/mL dan persentase
degradasi sebesar 6,06%, nilai log TPC (CFU/mL) isolat PES244b sebesar 7,29 CFU/mL dan persentase degradasi
sebesar 0,60%. Bakteri dengan kode isolat PES142b adalah bakteri yang memiliki nilai log TPC dan persentase
degradasi polietilen tertinggi.
Kata kunci: bakteri indigenus oil sludge, log TPC (CFU/mL), persentase degradasi, polietilen
PENDAHULUAN
Plastik adalah istilah umum untuk berbagai
macam produk polimer sintetik (Sumathi et al., 2014).
Plastik merupakan molekul polimer rantai panjang
(Harshvardhan dan Jha, 2013). Plastik terbuat dari
minyak bumi berbasis bahan yang disebut resin
(misalnya, polietilen, dan polipropilen), merupakan
bahan yang tahan terhadap biodegradasi.
Polietilen adalah salah satu plastik yang paling
sering digunakan, karena daya tahan dan sifat mekanik
yang sangat baik. Hal ini banyak digunakan untuk
berbagai wadah, kemasan, alat tangkap dan film plastik
untuk pertanian. Namun, karena baru-baru ini tekanan
terhadap isu-isu lingkungan semakin meningkat, akhirnya
plastik yang telah digunakan dianggap menjadi masalah
yang lebih penting dan menjadi perhatian (Jeon dan Kim,
2014). Polietilen adalah salah satu polimer sintetik yang
memiliki tingkat hidrofobik tinggi dan berat molekul
tinggi dan dalam bentuk alami, tidak biodegradable
(Shah et al. 2008).
Polietilen dikenal sebagai polimer sangat tahan
degradasi, merupakan bahan kimia dan biologi yang
lembam yang telah diaplikasikan ke berbagai produk dari
kantong plastik dan pipa untuk pembangunan tangki
penyimpanan bahan bakar. Dari sudut pandang ekologi,
akumulasi sampah plastik di lingkungan adalah
memprihatinkan, karena produksi plastik di atas 25 juta
ton per tahun (Orhan dan Buyukgungor, 2000). Polietilen
telah menjadi materi penting dalam pembangunan
infrastruktur untuk beberapa industri (Restrepo-Flórez et
al., 2014).
Sebagian besar studi biodegradasi pada plastik
sedang dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
Mikroorganisme mampu menurunkan sebagian besar
bahan organik dan anorganik, sehingga ada banyak
ketertarikan dalam mikroba pendegradasi plastik dan
bahan limbah plastic (Raaman et al., 2012).
Mikroorganisme dapat dianggap sebagai agen biologis
yang potensial dalam skema upaya degradasi polietilen
(Koutny et al., 2009). Bakteri pengurai polietilen juga
berhasil diisolasi oleh Jeon dan Kim (2014) dari oil
sludge. Skrining bakteri indigenus oil sludge Kalimantan
Timur dilakukan untuk mendapatkan isolat bakteri yang
memiliki kemampuan mendegradasi polietilen.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu
dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga Surabaya pada bulan
Oktober 2014-Desember 2015.
Bahan-bahan pada penelitian ini adalah oil
sludge Kalimantan Timur PT. Vico Indonesia, serbuk
Polyethylen (Sigma), aquades, alkohol 70%,
agar
powder, Nutrient Broth (NB), Nutrient Agar (NA),
Tween 80, NH4NO3, MgSO4, K2HPO4, CaCl2, KCl,
FeSO4, ZnSO4, MnSO4, yeast ekstrak, H2O2 3%, kristal
violet, iodin, etil alkohol 95%, safranin, spiritus.
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini
adalah inkubator shaker, autoklaf, LAF (Laminar Air
Flow), cawan petri, tabung reaksi, mikropipet, tip
mikropipet, Colony counter, mikroskop, ose, bunsen,
kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, rak tabung reaksi,
autoklaf, oven, inkubator, kapas, gelas ukur, Beaker
glass, Erlenmeyer, jarum inokulasi, alumunium foil,
kertas tissue, Spektrofotometer, Timbangan analitik.
183
Skrining Bakteri Indigenus Oil Sludge.…
Pembuatan media sintetik (MS) cair maupun
media sintetik agar untuk isolasi mikroba pendegradasi
polietilen mengikuti prosedur Haddad et al., (2005) dan
Jeon dan Kim (2014) yaitu dengan melarutkan NH4NO3,
1 g; MgSO4, 0,2 g; K2HPO4, 1 g; CaCl2, 0,1 g; KCl, 0,15
g; and yeast ekstrak, 0,1 g; dan mikroelemen sebagai
berikut: 1 mg FeSO4, 1 mg ZnSO4 dan 1 mg MnSO4 pada
1 L aquades steril. Kemudian, pada medium sintetik
tersebut ditambahkan 5 gram serbuk polietilen dan juga
0,1 mL Tween 80. Untuk membuat MS agar hanya
dengan menambahkan 15 g/L agar powder, media-media
tersebut di auotoklaf pada tekanan 1 atm pada suhu 121
0
C selama 15 menit.
Metode isolasi mikroba pendegradasi polietilen
menggunakan metode yang dilakukan oleh Jeon dan Kim
(2014) yaitu: oil sludge Kalimantan diambil sebanyak 10
g dimasukkan ke dalam erlenmeyer (250 mL)
ditambahkan 100 mL aquades steril, diaduk hingga rata,
dan dibiarkan mengendap selama 30 menit. Sebanyak 0,1
mL dari larutan tersebut diambil dan masing-masing
dimasukkan dalam 3 botol yang berisikan 20 mL medium
sintetik (MS) cair yang ditambahkan polietilen.
Kemudian larutan dalam botol (sampel) diinkubasi
menggunakan inkubator shaker pada 120 rpm dengan
suhu 380C selama 1 bulan.
Isolat yang mampu tumbuh dari tahap isolasi
dimurnikan dengan metode streak plate pada cawan Petri
yang mengandung media MS agar yang ditambahkan
polietilen dan juga dimurnikan pada cawan Petri yang
mengandung media Nutrient Agar (NA). Isolat murni
dari cawan Petri yang mengandung media NA diambil
dengan ose steril dan dimasukkan media NB (Nutrient
Broth), dishaker dengan kecepatan 120 rpm dan
diinkubasi selama 24 jam. Selanjutnya optical density
(OD) diatur sebesar 0,5 dengan panjang gelombang 600
nm.
Sebanyak 1 mL suspensi isolat tersebut diambil
dan dimasukkan ke dalam media MS cair yang
mengandung polietilen, dishaker dengan kecepatan 120
rpm selama 15 hari. Penghitungan jumlah bakteri
dilakukan dengan menggunakan metode pour plate.
Pertumbuhan dipantau dengan cara penghitungan jumlah
sel viable dengan metode pour plate. Penghitungan
jumlah dilakukan dengan interval 0, 3, 6, 9, 12, 15 hari.
Sebanyak 1 mL kultur bakteri diambil dan dimasukkan
ke dalam seri tabung pengenceran yang berisi 9 mL
larutan garam fisiologis 0,85 %. Seri pengenceran dibuat
dengan seri tertentu sampai jumlah sel memenuhi
persyaratan. Tiga seri pengenceran terakhir dilakukan
pencawanan pada media NA dan isolat bakteri yang
memiliki kemampuan tumbuh paling baik ditinjau dari
nilai TPC dan uji kemampuan biodegradasi.
Morfologi koloni diamati secara makroskopik
pada media sintetik (MS) padat yang mengandung
polietilen dan juga pada media NA. Morfologi koloni
yang diamati adalah bentuk, warna, ukuran, tepian dan
elevasi koloni. Morfologi sel bakteri yang diamati adalah
tipe Gram, bentuk dan susunan sel.
Uji
motilitas
bakteri
dilakukan dengan
menyiapkan media Nutrient Agar (NA) semisolid
(kandungan agar 0,3-0,4%) dalam tabung reaksi dan
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
menandai dengan nomor isolat yang digunakan untuk uji.
Isolat bakteri diambil menggunakan jarum inokulasi dan
menusukkan ke dalam media NA semisolid sampai
kedalaman kurang lebih 3/4 bagian dari permukaan
media. Media diinkubasi pada suhu 32 °C selama 24
sampai 48 jam. Motilitas bakteri dapat dilihat melalui
pertumbuhan bakteri di sekitar tusukan dan juga di
permukaan media, sedangkan bakteri yang non motil
akan tetap berada di sekitar bekas tusukan jarum.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil isolasi bakteri indigenus oil sludge
Kalimantan Timur pada media pertumbuhan yang
mengandung polietilen didapatkan empat jenis isolat
bakteri. Isolat tersebut dibedakan berdasarkan karakter
morfologi makroskopis yaitu karakteristik koloni dan
karakter morfologi sel dengan melakukan pewarnaan
Gram. Empat isolat bakteri tersebut masing-masing diberi
kode PES231b, PES142b, PES241b, PES244b.
Gambar morfologi koloni empat isolat bakteri
indigenus oil sludge yang didapat dari media
pertumbuhan yang mengandung polietilen disajikan pada
Gambar 1.
6mm
a
5mm
c
Gambar 1. Morfologi koloni isolat bakteri indigenus oil
sludge pendegradasi polietilen a) PES231b b)
PES142b c) PES244b d) PES241b
Tabel 1. Karakterisasi koloni bakteri indigenus oil sludge
hasil isolasi menggunakan media sintetik
ditambah polietilen.
Karakter koloni
No
1
2
3
4
Kode
isolat
PES2
31b
PES1
42b
PES2
41b
PES2
44b
Bentuk
Warna
Tepian
Elevasi
Diameter
(mm)
Circular
Kuning
Erose
Raised
6,39
Circular
Putih
krem
Putih
krem
Putih
Entire
Convex
3,38
Entire
Convex
5,22
Entire
Rised
5,74
Circular
Circular
184
Skrining Bakteri Indigenus Oil Sludge.…
Tabel 2. Karakterisasi isolat bakteri indigenus oil sludge
hasil isolasi menggunakan media sintetik
ditambah polietilen.
No
1
2
3
4
Kode
isolat
PES2
31b
PES1
42b
PES2
41b
PES2
44b
Bentuk
Susunan
Basil
Monobasil
Monobasil
Monobasil
Monobasil
Basil
Basil
Basil
Karakter sel
Gram
Motil
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Nonmotil
Nonmotil
Nonmotil
Nonmotil
Ukuran
sel
1,5 2,5 µm
1 - 1,5
µm
1µm
1µm
Tahap skrining untuk menguji respon ke empat
isolat bakteri yang didapat kemudian ditumbuhkan pada
medium sintetik cair yang ditambah dengan polietilen.
Hasil dari tahapan ini adalah jumlah sel bakteri log
(CFU/mL) dari ke empat isolat serta perubahan pH media
yang mana pH awal media adalah 7, dan juga hasil
persentase degradasi pada lembaran polietilen. Hasil
skrining isolat bakteri indigenus oil sludge Kalimantan
Timur dan nilai TPC nya ditunjukkan pada Gambar 2 dan
Gambar 3.
(a)
(b)
Gambar 2. (a) dan (b) Nilai TPC isolat bakteri indigenus
oil sludge pada medium sintetik ditambah
polietilen
(a)
(b)
Gambar 3. (a) dan (b) Hubungan log TPC (CFU/mL),
pH, kontrol ke empat isolat bakteri indigenus
oil sludge pendegradasi polietilen.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
Skrining ini tidak hanya melihat pertumbuhan isolat
bakteri dengan nilai log TPC saja akan tetapi juga dilihat
kemampuan degradasi dari ke empat isolat bakteri
(Gambar 4).
10
% degradasi polietilen
Karakteristik koloni ke empat isolat bakteri yang
didapat disajikan pada Tabel 4.1 dan karakteristik sel
bakteri disajikan pada Gambar 1. Karakteristik sel isolat
bakteri indigenus oil sludge pendegradasi polietilen
disajikan pada Tabel 2.
8.85
8
6.06
6
4
2
1.25
0.6
0
0
PES231b PES142b PES241b PES244b Kontrol
Gambar 4. Nilai persentase degradasi polietilen ke
empat isolat bakteri indigenus oil sludge
pendegradasi polietilen.
Polietilen merupakan polimer yang resisiten
terhadap degradasi. Karakteristik polietilen yang
merupakan material inert dan kuat dipakai secara luas
baik dibidang kemasan pangang atau industri. Pemakaian
polietilen secara luas mengakibatkan dampak lingkungan
yang besar yaitu akumulasi polietilen di lingkungan dan
sulitnya terdegradasi menjadikan polietilen sebagai
polutan. Oleh karena itu, studi atau penelitian tentang
degradasi dari polietilen menjadi kajian yang menarik.
Degradasi polietilen dapat terjadi dengan berbagai
cara seperti secara kimia, termal (panas), fotodegradasi
atau biodegradasi (Shah et al., 2008). Secara garis besar
degradasi polietilen dapat diklasifikasikan menjadi dua
yaitu degradasi secara abiotik dan degradasi secara
biotik. Secara abiotik yaitu dengan iridiasi UV atau
dengan panas. Sedangkan, degradasi biotik merupakan
degradasi yang menggunakan makhluk hidup dan pada
umumnya studi degradasi secara biotik dilakukan oleh
mikroorganisme seperti bakteri dan kapang (RestrepoForez et al., 2014).
Tanah yang didalamnya terkubur banyak polietilen
seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan
salah satu sumber didapatkanya mikroorganisme yang
memiliki kemampuan mendegradasi polietilen (Zusfahair
dkk., 2007). Akan tetapi, tidak hanya tanah yang terkubur
polietilen di dalamnya sebagai sumber mikroorganisme
namun tanah yang tercemar minyak atau limbah
hidrokarbon seperti oil sludge juga bisa digunakan
sebagai sumber didapatkannya mikroorganisme (Jeon dan
Kim, 2014).
Bakteri dapat tumbuh jika nutrisi dalam media
pertumbuhan tercukupi seperti sumber karbon, nitrogen,
energi dan faktor-faktor pertumbuhan esensial lainya.
Bakteri yang organotrof menggunakan substrat organik
sebagai sumber energi dan sumber karbon (Moat et al.,
2002).
Komposisi media yang dipakai adalah makro dan
mikro elemen yang ditambah dengan ekstrak yeast.
Ekstrak yeast digunakan untuk tahap inisiasi bakteri
untuk tumbuh dan beradaptasi sampai bakteri bisa
185
Skrining Bakteri Indigenus Oil Sludge.…
mengkonsumsi sumber karbon (Moat et al., 2002).
Penambahan ekstrak yeast hanya mampu menyuplai
kebutuhan bakteri sampai waktu inkubasi hari ke 5.
Setelah hari ke 5, estrak yeast dalam media kontrol
dimungkinkan habis, karena tidak adanya penambahan
polietilen maka nilai TPC menurun tajam (Gambar 3) dan
hal ini merupakan respon yang diberikan bakteri jika
kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhanya tidak tersedia.
Penambahan polietilen pada media sangat
berpengaruh pada pertumbuhan bakteri dilihat dari kurva
nilai TPC (Gambar 3). Setelah waktu inkubasi hari ke 5,
empat isolat mengalami kenaikan nilai TPC. Penambahan
polietilen sebagai substrat yang oleh bakteri digunakan
sebagai
sumber
karbon
untuk
kelangsungan
pertumbuhanya. Berbeda dengan kontrol tanpa
penambahan polietilen setelah waktu inkubasi hari ke 5
nilai TPC mengalami penurunan. Penurunan nilai TPC
pada kontrol menunjukkan bahwa tidak adanya substrat
sebagai sumber karbon.
Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan
mikroorganisme khususnya bakteri adalah derajat
keasaaman atau pH. Mikroorganisme memiliki suatu pH
optimum yaitu pH dimana mereka tumbuh paling baik.
pH optimum mikroorganisme biasanya mendekati netral
(pH 7). Sebagian besar mikroba tidak tumbuh pada pH
lebih dari 1 pH unit di atas atau di bawah pH
optimumnya (Ibrahim, 2007). Gambar 4.4 menunjukkan
bahwa selama waktu inkubasi semua isolat bakteri
menunjukkan tidak adanya perubahan pH pada media,
pH media berkisar pH 7 atau netral. Hal ini membuktikan
bahwa dalam proses ini pH netral bagus utuk
pertumbuhan bakteri.
Faktor yang juga berperan dalam pertumbuhan
bakteri adalah suhu. Sebagian besar spesies bakteri dapat
tumbuh di atas rentang suhu 30 0C, tetapi temperatur
minimum dan maksimum untuk spesies berbeda
(Ibrahim, 2007). Pada tahapan skrining dan tahapan uji
biodegradasi suhu inkubasi dibuat sama yaitu sehu kamar
30 0C, sehingga suhu pada penelitian ini bukan faktor
utama yang menyebabkan penurunan atau bertambahnya
nili TPC dan hasil degradasi. Turunnya kurva
pertumbuhan (Gambar 3) pada waktu inkubasi setelah
hari ke 9 lebih disebabkan karena ketersediaan oksigen
menurun. Bakteri khususnya organotrof dan heterotrof
yang aerob untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan
sel-sel sangat membutuhkan oksigen,jadi kurva
mengalami penurunan karena oksigen dalam media
berkurang atau habis (Moat et al., 2002).
Skrining isolat bakteri indigenus oil sludge juga
dilakukan dengan tahapan degradasi yaitu melakukan
pengukuran berat polietilen sebelum perlakuan dan
sesudah perlakuan. Selisih berat merupakan residu dari
proses degradasi dan dinyatakan dengan persentase
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
degradasi. Suhu dan pH awal media dibuat sama yaitu
pada suhu 30 0C dan pH 7. Hasil persentase degradasi
terbaik didapat oleh isolat bakteri PES142b (Gambar 4).
Biodegradasi dari polietilen merupakan proses
yang komplek dan belum sepenuhnya dipahami. Untuk
menjelaskan mekanisme dalam biodegradasi polietilen
ada dua strategi yang selama ini ada di literatur. Pertama
degradasi yang melibatkan strain murni yang mampu
mendegradasi polietilen (Yamada-Onodera et al., 2001).
Penggunaan strain murni ini bertujuan untuk
mengungkap jalur metabolisme (metabolic pathways) dan
mengevaluasi efek dari kondisi lingkungan yang berbeda
dari proses degradasi polietilen (Chiellini et al., 2003).
Kedua, degradasi menggunakan kompleksitas lingkungan
serta komunitas mikroba. Stuktur komunitas atau biofilm
dari isolat yang berada di permukaan polietilen selama
proses biodegradasi juga dapat dipengaruhi dari jenisjenis polietilen (Albertson, 1987; Orhan Buyukgungor,
2000).
SIMPULAN
Skrining bakteri indigenus oil sludge Kalimantan
Timur didapatkan empat isolat yang memiliki
kemampuan mendegradasi polietilen, dengan kode isolat
PES231b, PES142b, PES241b, PES244b. Bakteri dengan
kode isolat PES142b memiliki nilai TPC dan persentase
degradasi tertinggi. Bakteri pendegradasi polietilen
memanfaatkan polietilen sebagai sumber karbon.
DAFTAR PUSTAKA
Albertsson AC, Andersson SO, Karlsson S, 1987. The
mechanism of biodegradation of polyethylene.
Polym. Degrad. Stab. 18: 73-87.
Chiellini E, Corti A, Swift G. 2003. Biodegradation of
Thermally-oxidized Fragmented Low-density
Polyethylene. Polymer Degrdation and Stability.
81: 341-351.
Harshvardhan K, and Jha B. 2013. Biodegradation of
Low-density Polyethylene by Marine Bacteria
from Pelagic Waters, Arabian Sea, India. Marine
Pollution Bulletin. 77: 100-106.
Ibrahim M, 2007. Mikrobiologi Prinsip dan Aplikasi.
UNESA University Press: Surabaya
Jeon HJ, and Kim MN. 2014. Degradation of Linear Low
Density Polyethylene (LLDPE) Exposed to UVirradiation. Europian polymer Journal. 52: 146153.
Koutny M, Amato P, Muchova M, Ruzieka J, Delort A
M. 2009. Soil Bacterial Strains Able to Grow on
The Surface of Oxidized Polyethylene Film
Containing Prooxidant Additives. International
Biodeterioration & Biodegradation. 63: 354-357.
186
Skrining Bakteri Indigenus Oil Sludge.…
Orhan Y, and Buyukgungor H. 2000. Enhancement of
Biodegradability of Disposable Polyethylene in
Controlled
Biological
Soil.
International
Biodeterioration & Biodegradation. 45: 49-55.
Raaman N, Rajitha N, Jayshree A, Jagadeesh R. 2012.
Biodegradation of Plastic by Aspergiluus spp.
Isolated from Polythene Polluted Sites Around
Chennai. J. Accad. Indus. Res 1(6): 313-316.
Restrepo-Florez JM, Bassi A, Thompson MR. 2014.
Microbial Degradation and Deterioration-A
Review. International Biodeterioration &
Biodegradation. 88: 83-90.
Shah AA, Hasan F, Hameed A, Ahmed S. 2008.
Biological
Degradation
of
Plastic:
A
Comprehensive Review. Biotechnology Advances.
26: 246-65.
Sumathi T, Srilakshmi A, Kotakadi VS,Saigopal DVR.
2014. Role of Fungal Enzymes in Polymer
Degradation: A Mini Review. Research Journal of
Pharmaceutical, Biological and chemical
Sciences. 5(2): 1694.
Moat AG, Foster JW, Spector MP. 2002. Microbial
Physiology. Fourth Edition. United States of
America.
Yamada-Onodera K, Mukumoto H, Katsuyaya Y,
Saiganji A, Tani Y. 2001. Degradation of
Polyethylene by A Fungus, Penicillium
simplicissimum YK. Polymer Degradation and
Stability. 72: 323-327.
Zusfahair, Lestari P, Ningsih DR, Widyaningsih S. 2007.
Biodegradasi Polietilen Menggunakan Bakteri dari
TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Gunung Tugel
Kabupaten Banyumas. Molekul. 2(2): 98-106.
Prosiding Seminar Nasional Biologi 2016_ ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9
187
Download