PCNA

advertisement
Copyright @ Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi
Hak Cipta Dilindungi Undang Undang
Pengarah:
Dr. Ir. Suprayoga Hadi, MSP.
Penanggungjawab:
Drs. Daryoto, M.Sc
Ir. Rr. Aisyah Gamawati, MM
Koordinator Substansi:
1. Sukandar
2. Teuku Chaerul
3. Sudrajat
4. Agus Wicaksono
5. Diah Ratri Kushermini
Penulis:
1. Dr Pieter George Manoppo M.Psi
2. Dr Syarifah Ema Rahmaniah M.Ed
3. Mohammad Iqbal Ahnaf Ph.D
4. Dwi Rubiyanti Kholifah MA
5. Dr Hasan Almutahar M.Si
Desain Grafis
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Diterbitkan oleh
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Percetakan
Cetakan Pertama, November, 2016
KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI
2016
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
i
EXECUTIVE SUMMARY
Salah satu kendala penting dalam pemulihan wilayah paska
konflik adalah belum tersedianya instrumen yang memadahi untuk
mengukur kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik, terutama yang
terkait dengan modal sosial (kerugian non-material) yang berdampak
pada melemahnya ketahanan sosial dalam masyarakat. Hal ini
berbeda dengan bidang penanggulangan bencana alam yang telah
memiliki instrumen yang cukup mapan dalam pengukuran tingkat
kerugian yang disebabkan oleh terjadinya bencana alam. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengembangkan
apa yang disebut Post Disaster Need Assessment (PDNA) sebagai
sebuah instrumen baku dalam menghitung tingkat kerugian suatu
wilayah akibat terjadinya bencana alam. Dalam kerangka PDNA
ada dua instrumen pengukuran yang tersedia, yaitu Damage and
Lost Assesment (DALA) untuk mengukur tingkat kerusakan dan
kehilangan yang diderita suatu wilayah akibat terjadinya bencana
alam dan Human Recovery Need Assessment (HRNA) yang mengukur
ii
Executive Summary
kebutuhan dasar manusia yang diperlukan untuk memulihkan
kondisi masyarakat paska terjadinya bencana alam.
Dalam konteks konflik sosial, disamping instrumen PDNA
(DALA dan HRNA) tersebut, sangat dibutuhkan pengukuran
terhadap kerugian non-materiil dalam bentuk rusaknya modal sosial
dalam berbagai bentuk misalnya melemahnya relasi sosial antar
masyarakat, terjadinya segregasi sosial dalam masyarakat, rusaknya
budaya yang dimiliki oleh masyarakat, trauma psikologis, luruhnya
solidaritas,polarisasi, integrasi, jaringan. Alat ukur yang cermat dan
detil atas kerusakan modal sosial paska terjadinya konflik akan sangat
membantu masyarakat dan daerah dalam memulihkan kondisi sosial
kemasyarakatan, mengembalikan kondisi damai dengan dengan
demikian mencegah berulangnya konflik .
Dalam konteks terjadinya konflik sosial, disamping instrument
PDNA (DALA dan HRNA) tersebut, pengukuran terhadap kerugian
non-materiil dalam bentuk rusaknya modal sosial dalam berbagai
bentuk misalnya melemahnya relasi sosial antar masyarakat,
terjadinya segregasi sosial dalam masyarakat, rusaknya budaya yang
dimiliki oleh masyarakat, trauma psikologis, luruhnya solidaritas,
polarisasi, integrasi, jaringan dll, menjadi persoalan yang sangat
penting untuk dicermati dan diukur secara detil paska terjadinya
konflik sosial untuk membantu masyarakat dan daerah dalam
memulihkan kondisi sosial kemasyarakatan seperti sediakala.
Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi melalui Direktorat
Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu (PDTU) mengembangkan
instrument pengukuran dampak kerugian akibat terjadinya konflik
sosial dalam bentuk Post Conflict Need Assessment (PCNA) yang
menambahkan instrumen pengukuran dalam bentuk Social Recovery
Need Assessment (SRNA).
Post Conflict Need Assessment (PCNA) adalah suatu rangkaian
kegiatan pengkajian dan penilaian akibat, analisis dampak, dan
perkiraan kebutuhan, yang menjadi dasar bagi penyusunan rencana
aksi pemulihan paska konflik.Pengkajian dan penilaian yang
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
iii
dimaksud dalam PCNA meliputi pengkajian dan penilaian kerusakan
dan kerugian fisik (materiil) dan kerusakan dan kerugian non-fisik
(non-materiil).
PCNA sendiri terdiri dari tiga bagian utama, yakni: a) Damage
and Loss Assessment (DALA) yang memberi tekanan pada aspek
kerusakan yang bersifat material dan dapat dikuantifikasi. b)
Human Recovery Need Assessment (HRNA) memberi tekanan pada
kebutuhan manusia : akses dasar, pendapatan, kesehatan, makanan,
shelter, dan perumahan. c) Social Recovery Need Assesasment (SRNA)
memberi tekanan pada dampak segregasi, kohesi sosial, solidaritas,
polarisasi, dsb.
Pengembangan instrumen SRNA setidaknya didasarkan 5
(lima) variabel yang menggambarkan jenis kerusakan sosial akibat
terjadinya konflik sosial. Kelima variabel tersebut meliputi:
1. Kerusakan kapasitas manusia (komunitas).
2. Kerusakan kapasitas lingkungan sosial Kemasyarakatan
3. Kerusakan kapasitas peradaban/Tata nilai dan budaya masyarakat
4. Kerusakan kapasitas fisik dan tata ruang
5. Gangguan mental individu dan masyarakat (Trauma psikososial).
Kelima variabel kerusakan modal sosial masyarakat tersebut
menjadi sangat penting untuk diukur agar diperoleh data dan
informasi yang akurat tentang bagaimana proses dan tahapan
pemulihan yang perlu dilakukan (jangka pendek, menengah dan
panjang) sebagai bahan pengambilan kebijakan pembangunan di
daerah-daerah paska konflik di Indonesia.
iv
Executive Summary
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
v
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi
Republik Indonesia
KATA PENGANTAR
Indonesia merupakan Negara yang sangat beragam baik dari
aspek geografis maupun social budaya. Dari aspek geografis,
Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau yang tersebar mulai
Provinsi Aceh sampai ke Provinsi Papua. Sedangkan dari aspek
social-budaya, Indonesia kaya akan keragaman suku yang berjumlah
lebih dari 75 kelompok suku yang tersebar hingga ke pelosokpelosok daerah terpencil. Kondisi ini disatu sisi merupakan modal
social yang sangat luar biasa dalam mendukung dan mensukseskan
proses pembangunan nasional. Namun disisi lain, keragaman ini
juga dapat menjadi beban sekaligus ancaman bagi keberlangsungan
pembangunan nasional, jika kekayaan tersebut tidak dapat dikelola
secara optimal demi pencapaian kesejahteraan dan keadilan bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, konflik sosial masih terus terjadi
diberbagai daerah di Indonesia. dampak nyata dari terjadinya konflik
sosial tersebut tidak hanya hancurnya infrastruktur ekonomi dan
vi
Kata Pengantar
hasil pembangunan lainnya, namun juga hancurnya pranata social
dan hilangnya nyawa masyarakat yang tidak berdosa. Konflik sosial
pada umumnya meninggalkan kerusakan tidak hanya dalam aspek
material, seperti hancurnya infrastruktur dan hilangnya sumber
kehidupan ekonomi, tetapi juga yang tidak kalah penting adalah
hancurnya modal sosial bagi perdamaian. Pemulihan kembali modal
sosial perdamaian adalah kebutuhan mendasar yang patut menjadi
prioritas untuk mencegah konflik sosial berulang.
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi, mencoba menginisiasi penyusunan instrumen yang
dapat dijadikan panduan dalam melakukan identifikasi kerusakan
sosial akibat terjadinya konflik. Intrumen Post Conflict Need
Assessment (PCNA) ini diharapkan dapat menjadi alat yang bisa
dipakai oleh semua pihak, baik pemerintah maupun lembagalembaga non-pemerintah untuk melakukan penilaian dan pemetaan
secara komprehensif kerusakan sosial akibat konflik dan menentukan
kebutuhan prioritas yang harus diambil untuk memulihkan kembali
kondisi sosial yang ada di masyarakat.
Buku ini mencoba mengembangkan instrumen yang didorong
oleh kesadaran bahwa sumberdaya dalam penanganan konflik
seharusnya tidak hanya dikerahkan dalam proses penghentian
kekerasan. Proses pemulihan paska konflik membutuhkan
sumberdaya yang tidak kalah besar karena proses kerusakan basis
perdamaian biasanya tidak semerta-merta bisa dipulihkan dengan
berhentinya kekerasan atau perang. Instrumen PCNA ini juga
memberikan gambaran bahwa, pemulihan paska konflik sosial tidak
hanya terkonsentrasi pada pembangunan ekonomi dan infratruktur,
tetapi juga memulihkan kembali modal sosial yang dimiliki oleh
masyarakat merupakan kebijakan yang sangat strategis untuk
dilakukan agar konflik tidak terulang kembali pada masa yang akan
datang.
Akhirnya, atas nama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi, saya menyampaikan ucapan terima
Post Conflict Need Assessment (PCNA) vii
kasih serta apresiasi yang setinggi-tingginya, khususnya kepada
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu beserta seluruh
jajarannya, yang telah menginisiasi buku pedoman penyusunan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) ini. Ucapan terima kasih juga
saya sampaikan kepada Tim Penyusun dan semua pihak yang telah
berkontribusi dalam penyusunan buku pedoman ini.
Besar harapan saya agar Buku Pedoman Penyusunan PCNA ini
dapat dijadikan panduan semua pihak untuk melakukan identifikasi
dan pemetaan kerusakan sosial akibat konflik yang terjadi di berbagai
daerah di Indonesia.
Jakarta, Nopember 2016
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal,
dan Transmigrasi, Republik Indonesia
Eko Putro Sandjojo
viii Kata Pengantar
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
DAFTAR ISI
EXECUTIVE SUMMARY.................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................... v
DAFTAR ISI
.................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR
................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................. xv
Bab. I. PENDAHULUAN.............................................................1
1.1. Latar Belakang ........................................................1
BAB II. KONSEP DASAR DAN INSTRUMEN
PEMETAAN DAMPAK KONFLIK.................................7
2.1. Defisini dan Ruang Lingkup..............................7
2.1.1. Konflik Sosial ...........................................7
2.1.2. Konsep Dampak Sosial ..........................9
2.1.3. Dampak Konflik Sosial ......................... 11
ix
x
Daftar Isi
2.2.
.1.4.Konsep dan Peran Modal Sosial.......... 13
2
2.1.5.Model Pengkajian dan Penilaian:
Akibat, Dampak dan Kebutuhan ........ 16
Pendekatan dan Metodologi PCNA ............. 17
BAB III. KERANGKA PENDEKATAN PCNA
(DALA, HRNA DAN SRNA)......................................... 21
3.1. Damage and Loss Assessment (DALA)............... 22
3.2. Human Recovery Need Assessment (HRNA)...... 23
3.3. Social Recovery Need Assessment (SRNA).......... 24
3.4. Kerangka Konseptual Model Kajian (PCNA)........ 33
BAB IV. KELEMBAGAAN, KOORDINASI
DAN PENDANAAN...................................................... 39
4.1. Kelembagaan .................................................... 39
4.1.1.Pola Kelembagaan Perspektif Legal .. 39
4.1.2.Pola Kelembagaan: Perspektif
Reflektif untuk PCNA/SRNA ........................ 48
4.2. Koordinasi ........................................................ 51
1) Prinsip-prinsip Dasar Koordinasi ............. 51
2) Arah Koordinasi Dalam...................................
Roadmap Penanganan Konflik................... 54
3) Koordinasi Berbasis
Perdamaian dan Ketangguhan Konflik..... 56
4.3. Pendanaan........................................................... 59
1) Pendanaan Pemerintah................................ 59
2) Pendanaan Non Pemerintah....................... 60
3) Tantangan ..................................................... 60
BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI....................... 63
5.1. Kesimpulan........................................................ 63
5.2. Rekomendasi..................................................... 69
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN ................................................................. 73
................................................................. 77
xi
xii Daftar Isi
Post Conflict Need Assessment (PCNA) xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tahapan PCNA ..........................................................5
Gambar 2. Korelasi Destruksi Sumber Daya Komunitas,
Indeks Ketahanan dan Proses Recovery............. 20
Gambar 3. Komponen PCNA ................................................... 22
Gambar 4. Cakupan Dampak Konflik....................................... 28
Gambar 5. Destruksi dan Reproduksi Destruksi
Kapasitas Sumber Daya Komunitas..................... 31
Gambar 6. Kerangka Konseptual Model PCNA..................... 34
Gambar 7. Struktur Tim Koordinasi Pembangunan
Perdamaian................................................................ 48
Gambar 8. Gabungan Pola Kelembagaan
Penanganan Bencana/Konflik............................... 50
Gambar 9. Roadmap Penanganan Konflik dan
Tahapan Membangun Ketangguhan.................... 54
Gambar 10. Model Pengelolaan PCNA Berbasis
Komunitas ................................................................. 58
xiv Pendahuluan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) xv
DAFTAR LAMPIRAN
Tabel 1.a Butir-Butir Pernyataan Kerusakan
Kapasitas SDM......................................................... 77
Tabel 1.b. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan
Kapasitas SDM ........................................................ 95
Tabel 2.a. Butir-Butir Pernyataan Kerusakan
Lingkungan Sosial ................................................. 111
Tabel 2.b. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan
Lingkungan Sosial .................................................. 119
Tabel 3.a. Butir-Butir Pernyataan
Keruskaan Budaya dan Peradaban...................... 128
Tabel 3.b. Butir-Butir Pertanyaan .......................................... 135
Kerusakan Budaya dan Peradaban
Tabel 4.a. Butir-Butir Pernyataan
Kerusakan Fisik dan Tata Ruang.......................... 143
Tabel 4.b. Butir-Butir Pertanyaan
Kerusakan Fisik dan Tata Ruang.......................... 148
Tabel 5.a. Butir-Butir Pernyataan Depresi dan
Trauma Psikososial.................................................. 154
Tabel.5.b. Butir-Butir Pertayaan Depresi dan
Trauma Psikososial ................................................. 166
xvi Daftar Lampiran
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penanganan konflik di Indonesia memberikan penekanan
pada pencegahan konflik. Hal ini ditunjukkan dalam UU 7/2012
dan RPJMN 2015-2019 yang memberikan prioritas pada aspek
pencegahan terhadap konflik. Dalam konteks pencegahan hal yang
tidak bisa dikesampingkan adalah pemulihan paska konflik yang
sangat dibutuhkan untuk mencegah berulangnya kembali konflik.
Konflik sosial pada umumnya meninggalkan kerusakan tidak
hanya dalam aspek material, seperti hancurnya infrastruktur dan
hilangnya sumber kehidupan ekonomi, tetapi juga yang tidak kalah
penting adalah hancurnya modal sosial bagi perdamaian. Karena
itu, pemulihan kembali modal sosial perdamaian adalah kebutuhan
mendasar yang patut menjadi prioritas untuk mencegah konflik
sosial berulang. Karena itu instrumen ini didorong oleh kesadaran
2
Pendahuluan
bahwa sumberdaya dalam penanganan konflik seharusnya tidak
hanya dikerahkan dalam proses penghentian kekerasan. Proses
pemulihan paska konflik membutuhkan sumberdaya yang tidak
kalah besar karena proses kerusakan basis perdamaian biasanya
tidak semerta-merta bisa dipulihkan dengan berhentinya kekerasan
atau perang.
Secara legal formal, pentingnya pemulihan paska konflik ini
telah menjadi tanggungjawab negara sebagaimana amanat UndangUndang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial
di Indonesia yang tidak hanya meliputi tahapan Rekonsiliasi,
tetapi juga tahapan paska konflik, yang disebut Rehabilitasi dan
Rekonstruksi. Dalam kerangka ini Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal dan Transmigrasi melalui Direktorat Penanganan
Daerah Paska Konflik (PDPK) memegang peranan penting karena
agenda Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada umumhya terjadi
di level desa dan karena itu tidak bisa dilepaskan dari mandat
pembangunan desa. Karena itu Kementerian ini mempunyai
Direktorat Penanganan Daerah Paska Konflik (PDPK) -Direktorat
Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu (PDTU) yang memiliki
kewenangan atau tanggungjawab untuk merumuskan kebijakan dan
pelaksanaan kegiatan pembangunan yang secara khusus ditujukan
untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi di daerah yang pernah terjadi
konflik. Untuk menjalankan amanat ini, buku ini disusun sebagai
upaya perumusan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan penanganan
daerah paska konflik. Langkah ini sejalan dengan mandat UU 7/2012
dan RPJMN 2015-2019 untuk mengupayakan sebagai bagian dari
pencegahan konflik dengan memberikan perhatian kepada daerahdaerah yang memiliki tingkat kerawanan konflik yang tinggi.
Salah satu kendala penting dalam pemulihan wilayah paska
konflik adalah belum tersedianya instrumen yang memadai untuk
mengukur kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik, terutama yang
terkait dengan modal sosial (kerugian non-material) yang berdampak
pada melemahnya ketahanan sosial dalam masyarakat. Hal ini
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
3
berbeda dengan bidang penanggulangan bencana alam yang telah
memiliki instrumen yang cukup mapan dalam pengukuran tingkat
kerugian yang disebabkan oleh terjadinya bencana alam. Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengembangkan
apa yang disebut Post Disaster Need Assessment (PDNA) sebagai
sebuah instrumen baku dalam menghitung tingkat kerugian suatu
wilayah akibat terjadinya bencana alam. Dalam kerangka PDNA
ada dua instrumen pengukuran yang tersedia, yaitu Damage and
Lost Assesment (DALA) untuk mengukur tingkat kerusakan dan
kehilangan yang diderita suatu wilayah akibat terjadinya bencana
alam dan Human Recovery Need Assessment (HRNA) yang mengukur
kebutuhan dasar manusia yang diperlukan untuk memulihkan
kondisi masyarakat paska terjadinya bencana alam.
Dalam konteks konflik sosial, disamping instrumen PDNA
(DALA dan HRNA) tersebut, sangat dibutuhkan pengukuran
terhadap kerugian non-materiil dalam bentuk rusaknya modal sosial
dalam berbagai bentuk misalnya melemahnya relasi sosial antar
masyarakat, terjadinya segregasi sosial dalam masyarakat, rusaknya
budaya yang dimiliki oleh masyarakat, trauma psikologis, luruhnya
solidaritas,polarisasi, integrasi, jaringan. Alat ukur yang cermat dan
detil atas kerusakan modal sosial paska terjadinya konflik akan sangat
membantu masyarakat dan daerah dalam memulihkan kondisi sosial
kemasyarakatan, mengembalikan kondisi damai dengan dengan
demikian mencegah berulangnya konflik.
Oleh karenanya, Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi
melalui Direktorat Penanganan Daerah Paska Konflik-Direktorat
Jenderal Pembangunan Daerah Tertentu (PDTU) mengembangkan
instrumen pengukuran dampak kerugian yang ditimbulkan akibat
terjadinya konflik sosial yang disebut Post Conflict Need Assessment
(PCNA) yang melengkapi instrumen serupa lain yang disebut Social
Recovery Need Assessment (SRNA). Instrumen pengukuran SRNA
dikembangkan berdasarkan pengalaman terjadinya konflik sosial
di berbagai daerah yang berakibat hancurnya modal sosial yang
4
Pendahuluan
dimiliki oleh masyarakat suatu daerah. Dokumen ini adalah adaptasi
dari instrument SRNA yang diintegrasikan dengan pemetaan
dampak sosial dari konflik yang kemudian disebut PCNA. Panduan
assessmen ini merupakan konsekuensi dari perlunya dilaksanakan
proses pemetaan dan pengenalan mendasar, faktual, konstekstual
dan sistematis terhadap kondisi terkini yang dihadapi pasca konflik
sosial pada wilayah tertentu. Khususnya kebutuhan social recovery
untuk menemukan kondisi destruksi modal sosial dan psikososial
masyarakat pasca konflik yang menyumbang pada ketahanan sosial
masyarakat.
Dengan demikian manfaat penyusunan Kerangka Kerja Post
Conflict Need Assessment (PCNA) ini adalah untuk:
1) Memberikan panduan baku bagi aparat berwenang tingkat
pusat dan daerah dalam mengukur dampak kerusakan sosial dan
kebutuhan pemulihan akibat terjadinya konflik sosial di suatu
wilayah.
2) Memberikan data dan informasi akurat yang berbasis data-data
lapangan dalam rangka penyusunan rencana aksi pemulihan
pasca konflik.
3) Memberikan dukungan bagi program-program pemulihan pasca
konflik dan pencegahan konflik dalam jangka panjang.
Adapun sasaran utama dirumuskannya post-conflict need
assessment (PCNA) ini adalah kementerian-kementerian dan
badan terkait yang memiliki program Rehabilitasi, Rekonstruksi dan
Rekonsiliasi dalam penanganan konflik sosial baik di tingkat pusat
maupun di daerah.
Adapun langkah-langkah pengkajian kebutuhan pasca konflik/
PCNA dibagi dalam tiga tahap yang meliputi, pertama tahap
pengkajian akibat konflik, kedua tahap pengkajian dampak konflik
dan ketiga tahap kebutuhan pasca konflik. Seluruh tahap ini
bertujuan agar pelaksanaan PCNA menjadi lebih logis, sistematis
dan terstruktur sebagaimana digambarkan dalam Diagram 1 berikut:
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
Diagram 1. Tahapan PCNA
.
Konflik
Pengkajian akibat
(effect) konflik (DALA)
1.kerusakan
2.kerugian
3.kehilangan/gangguan
akses
4. Gangguan Fungsi
5.Naiknya resiko
Penyusunan rencana
aksi Rehabilitasi dan
Rekonstruksi
Pengkajian dampak (impact)
konflik (HRNA)
1. Ekonomi dan fiscal
2. Sosial, budaya dan
politik
3. Pembangunan manusia
4. Lingkungan
Pengkajian kebutuhan
pemulihan (SRNA)
1. Pembangunan
2. Penggantian
3. Penyediaan bantuan
akses
4. Pemulihan fungsi
5. Pengurangan resiko
5
6
Pendahuluan
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
7
BAB II
KONSEP DASAR DAN INSTRUMEN
PEMETAAN DAMPAK KONFLIK
2.1.
Definisi dan Ruang Lingkup
2.1.1. Konflik Sosial
Konflik sosial terjadi ketika dua kelompok atau lebih memandang
bahwa mereka mempunyai tujuan yang tidak bisa dipertemukan
(incompatible goals) dan karena itu satu sama lain berusaha untuk
mengalahkan atau mengeliminasi pihak lain. Puncak dari konflik
sosial terjadi ketika salah satu atau kedua belah pihak memilih
cara kekerasan terhadap pihak lain untuk memenuhi aspirasinya.
Konflik bisa bisa terjadi antar kelompok dalam masyarakat, antara
masyarakat dengan pemerintah dan antara masyarakat dengan
organisasi bisnis di suatu wilayah. Sumber konflik bisa terkait dengan
pertentangan nilai atau keyakinan, dan pertentangan kepentingan
dalam memperebutkan sumberdaya ekonomi dan kekuasaan. Konflik
8
Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
sosial bisa dibedakan dari konflik individu karena pihak-pihak yang
bersengketa terdiri dari kelompok yang bisa dibedakan. Yang patut
dicatat konflik berpotensi menciptakan situasi tegang dan perasaan
tidak aman atau tekanan psikologis, tetapi tidak semua konflik
mewujud dalam bentuk kekerasan. Situasi dan kondisi dimana terjadi
kekerasan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah, merupakan
tahapan lanjut dari pertentangan pendapat yang berbeda-beda
tersebut(Pruitt, and Rubin, 2003). Kekerasan meliputi tindakan,
perkataan, sikap berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan
kerusakan secara fisik, mental, sosial atau lingkungan, dan/atau
menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.
Menurut Robin (P4K Untad, 2006), proses konflik dimulai ketika
suatu pihak merasa ada pihak lain yang memberikan pengaruh
negatif kepadanya atau tatkala suatu pihak merasa kepentinganya
itu memberikan pengaruh negatif kepada pihak lainnya. Menurut
pengertian tersebut, wujud konflik itu mencakup rentang yang
amat luas, mulai dari ketidaksetujuan samar-samar sampai dengan
tindakan kekerasan. Dengan kata lain, setiap perbedaan itu
merupakan potensi konflik, yang jika tidak ditangani secara baik,
potensi konflik itu bisa berubah menjadi konflik terbuka.
Konflik bisa dibedakan dalam 6 tingkatan dari yang paling
ringan ke yang paling berat, yaitu:
1) Memiliki sedikit ketidaksetujuan atau sedikit kesalahpahaman.
Setiap perbedaan itu merupakan sumber konflik. Konflik yang
paling ringan adalah perbedaan persepsi dan pemahaman
terhadap sesuatu perkara. Perbedaan ini masih tersimpan dalam
memori individu atau kelompok yang beriteraksi.
2) Mempertanyakan hal-hal yang berbeda. Pihak-pihak tertentu
sudah mulai mempertanyakan hal-hal yang dianggap berbeda,
tetapi belum ada versi bahwa pihak lain itu keliru.
3) Mengajukan serangan secara lisan. Perbedaan sudah diungkapkan
secara terbuka dan sudah ada tuduhan bahwa pihak lain keliru
atau bertanggungjawab. Pada tahap ini pihak yang bertikai belum
Post Conflict Need Assessment (PCNA)
9
melakukan paksaan secara lisan agar pihak lain itu bersikap
seperti apa yang dinginkannya.
4) Mengajukan ancaman. Ada tahap ini paksaan lisan sudah mulai
muncul, artinya ada suatu upaya agar pihak lain itu bersikap
seperti dirinya.
5) Pihak-pihak yang bertikai melakukan serangan fisik secara agresif.
Bentuk pemaksaan sudah meningkat dalam bentuk paksaan
fisik.
6) Puncak atau ledakan konfik terjadi ketika pihak-pihak yang bertikai
melakukan upaya-upaya untuk merusak atau menghancurkan
pihak lain.
2.1.2. Konsep Dampak Sosial
Latar belakang dilakukannya studi dampak sosial bermula dari
suatu pemikiran bahwa masyarakat merupakan bagian dari tiga
ranah interaksi yang saling terkait, yakni sosial, ekonomi dan fisik.
(Hadi, 1997: 23-24) Apabila terjadi perubahan dari salah satu ranah
maka perubahan ini akan mempengaruhi ranah yang lain. Begitupula
dengan kajian dampak di suatu daerah yang pernah mengalami
konflik yang akan memberikan perubahan terhadap sistem relasi
multidimensi dengan bermacam-macam komponen, variabel dan
indikator terkait. Karena itu, kajian dampak konflik sosial menuntut
pemahaman atas dampak konflik terhadap hubungan saling terkait
antara ketiga ranah interaksi antar –kelompok di atas dalam rentang
waktu mulai dari berlangsungnya konflik hingga masa paska konflik.
Popenoe (1978), Goodman dan Marx (1978) dalam Leistritz
et al. (1981) menjelaskan dampak sosial merupakan dampak yang
memberikan pengaruh terhadap pola interaksi sosial, baik bersifat
formal atau informal, yang lahir dari interaksi sosial, termasuk
bagaimana persepsi anggota satu kelompok atas hubungan mereka
dengan kelompok lain dalam suatu sistem sosial. Sejalan dengan
Popenoe, Burdge dan Vanclay menambahkan (1996:59) dampak
sosial adalah dampak-dampak yang mencakup semua konsekuensi
10 Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
sosial dan budaya atas suatu kelompok manusia sebagai akibat
dari rusaknya pola relasi antar kelompok yang mengubah cara
hidup , bekerja,bermain, dan upaya pemenuhan kebutuhan hidup
mereka yang layak. Analisa dampak konflik sosial menggarisbawahi
pentingnya merespon dampak kultural yang menciptakan perubahan
norma-norma, nilai-nilai dan tradisi yang pada masa sebelumnya
membimbing nalar pribadi dan masyarakat untuk hidup bersama
secara damai dengan kelompok yang berbeda.
Namun demikian, analisa dampak konflik sosial tidak selalu
mudah karena apa yang diklaim sebagai dampak bisa saja
diperbebatkan aktor atau korban konflik. Menurut Homencuk
(1988: 1 & 3) dalam Sudharto P. Hadi (1997: 26-27) dampak konflik
bisa bersifat nyata (real impact) dan dipersepsikan (perceived impact).
Dampak nyata biasanya lebih mudah diidentifikasi karena berkaitan
dengan perubahan-perubahan pada hal yang bersifat fisik seperti
migrasi penduduk, hilangnya tempat tinggal, kematian, hilangnya
harta benda dan komunitas. Adapun dampak yang dipersepsikan
(perceived impact) membutuhkan kajian lebih mendalam karenaterkait
dengan perubahan paska konflik yang berifat non-fisik, seperti
perasaan takut atau tidak aman, trauma, berubahnya sistem nilai
dan kebudayaan, dan lain-lain. Dampak-dampak jenis ini berasal dari
persepsi atau penafsiran (interpretasi) yang bisa jadi tidak tunggal.
Armour (1987:2) dalam Hadi (1997: 24-25), mengidentifikasi
dua ranah dampak konflik sosial sebagai berikut:
• Cara hidup (way of life), termasuk didalamnya bagaimana manusia
dan masyarakat hidup, bekerja, bermain, dan berinteraksi satu
dengan yang lain. Budaya, termasuk di dalamnya sistem nilai,
norma dan kepercayaan.
• Komunitas meliputi struktur penduduk, kohesi sosial, stabilitas
masyarakat, estetika, sarana-prasarana yang diakui sebagai
“public facilities”. Beberapa contoh “public facilities” adalah gedung
sekolah, tempat ibadah seperti masjid dan gereja, balai rukun
warga, balai kelurahan.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 11
Dengan demikian dampak konflik sosial menyebabkan terjadinya
perubahan sosial baik itu perubahan fisik dan psikososial pada
individu dan kelompok atau komunitas. Dampak dalam kategori yang
petama, cara hidup, bisa juga disebut dampak sosial dan kultural
dalam sistem sosial dan kultural. Dampak sosial ini menekankan
pada perubahan pola interaksi sosial dan cara hidup masyarakat
untuk dapat bertahan hidup dan memenuhi kehidupan yang lebih
baik, sementara dampak kultural lebih banyak menekankan pada
perubahan nilai, norma dan keyakinan dalam suatu komunitas.
Adapun cakupan dampak itu sendiri sangat luas tidak hanya dampak
individu atau personal namun juga dampak komunitas baik itu cara
hidup maupun struktur penduduk, baik yang telah melekat maupun
yang baru terbangun pasca konflik.
2.1.3. Dampak Konflik Sosial
Dalam lingkup kedua kategori perubahan sosial paska konflik
sebaga sebagaimana dijelaskan di atas, dampak konflik sosial bisa
mencakup berbagai sektor kehidupan termasuk yang bersifat fisik
seperti infrastruktur dan ekonomi, dan non-fisik seperti politik
pemerintahan dan sosial budaya.
1) Dampak Ekonomi.
Dampak ekonomi ini ditandai dengan menurunnya jumlah uang
yang beredar, berkurangnya lapangan pekerjaan, menurunnya
penerimaan daerah, menurunnya pendapatan masyarakat,
terganggunya kegiatan ekonomi di daerah-daerah yang memiliki
keterkaitan ekonomi dengan daerah-daerah konflik. Meningkatnya
tekanan bagi dunia bisnis untuk bekerja baik secara komersial
maupun sosial. Di hampir setiap sektor bisnis, perusahaanperusahaan berada di bawah tekanan yang semakin besar untuk
memenuhi tuntutan para pemegang saham maupun tuntutan lebih
luas dari stakeholder terhadap inefisiensi penanganan konflik.
12 Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
2) Dampak Infrastruktur.
Dampak infrastruktur ini ditandai dengan terjadinya kerusakankerusakan pada rumah penduduk, tempat ibadah, fasilitas-fasilitas
pendidikan, kesehatan, pemerintahan dan fasilitas-fasilitas
umum lainnya. Kerusakan-kerusakan yang terjadi menandai telah
bergesernya penyebab dasar konflik dari terutama kepentingan
geostrategis ke perbedaan-perbedaan ideologi berdasarkan akses
terhadap sumber daya, isu-isu identitas, dan kegagalan peran
pemerintah dalam penanganan konflik.
3) Politik dan Pemerintahan.
Dampak dibidang politik dan pemerintahan ditandai dengan
melemahnya fungsi kelembagaan pemerintahan, menurunnya
pelayanan kepada masyarakat, membengkaknya pembelanjaan
pemerintah, terganggunya pranata politik yang ada, menguatnya
gejala separatisme dan lain-lain. Proses transisi politik dan
sosial-ekonomi mempengaruhi pula dampak konflik politik dan
pemerintahan, sehingga banyak milisi sipil dan telah terjadi
peningkatan kekerasan secara dramatis. Adanya kekerasan yang
terjadi di masyarakat Indonesia paska konflik, banyak disebabkan
oleh penarikan tentara yang didemobilisasi dan belum berfungsinya
kelembagaan pemerintahan sipil.
4) Sosial Budaya.
Dampak sosial budaya ini ditandai dengan munculnya gelombang
pengungsian, gangguan kesehatan, terganggunya proses pendidikan,
serta trauma psikologis khususnya pada anak-anak dan perempuan,
serta ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Migrasi
penduduk akibat konflik berupa pertentangan pendapat hingga
kekerasan fisik dan psikis membuat perubahan komposisi penduduk
asli dan pendatang. Penduduk yang sudah merasa aman dan tinggal
di daerah pengungsian, namun faktanya banyak menjadi korban
kebijakan penanganan konflik yang mengharuskan mereka kembali
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 13
ke lokasi semula. Kembalinya mereka ke lokasi semula menimbulkan
konflik-konflik sosial budaya baru yang lebih rumit untuk diatasi.
Dalam kajian politik, perubahan sosial budaya biasanya merujuk
pada satu konsep yang disebut modal sosial. Dampak sosial ini
memegang peranan penting dalam pemulihan masyarakat paska
konflik; tetapi sayangnya aspek ini seringkali kurang mendapat
perhatian di tengah dominanya penanganan dampak fisik wilayah
paska konflik. Karena itu di bawah ini dijelaskan secara lebih detil
konsep modal sosial untuk mendapatkan gambaran tentang apa
yang perlu diperhatiakn dalam penilaian kebutuhan paska konflik.
2.1.4. Konsep dan Peran Modal Sosial
Istilah modal sosial digunakan oleh sejumlah ilmuan dengan
pengertian yang tidak seragam.Ada tiga ilmuan penting yang paling
banyak dirujuk dalam kajian tentang modal sosial, yakni Pierre
Bourdie, James Coleman dan Robert Putnam.Bourdieu (1986)
menggunakan istilah modal sosial untuk merujuk pada kekuatankekuatan sosial yang dimiliki oleh individu dalam suatu masyarakat
untuk mendapatan keuntungan atau dominasi.Sebaliknya, istilah yang
sama digunakan oleh Putnam (1993,2000) untuk merujuk pada nilai
dan organisasi sosial seperti kepercyaan, norma dan jaringan sosial
yang memungkinkan partisipasi dalam kehidupan publik kerjasama
dan kolaborasi antar individu atau kelompok untuk mencapai tujuan
bersama. Suharto (2007 dalam Inayah 2012: 44) menambahkan
modal sosial juga dipahami sebagai sumber (resource) yang timbul
dari adanya interaksi individu dalam komunitas. Berdasarkan definisi
modal sosial tersebut maka modal sosial merupakan sumberdaya
yang lahir dari hasil interaksi suatu komunitas yang terikat secara
emosional dari hubungan kekerabatan, kepercayaan, jaringan sosial,
nilai dan norma yang membentuk struktur masyarakat sehingga
memberi ruang terciptanya koordinasi, kolaborasi dan kerjasama
yang sinergi. Untuk mengukur dan mengidentifikasi pola dan peran
modal sosial dapat dilakukan melalui hasil interaksi tersebut seperti
14 Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
terawatnya kepercayaan yang terjalin antar warga masyarakat
Sejumlah ilmuan (Woolcock, 2002; Putnam 1993; Varshney
2003) membagi tiga dimensi dari modal sosial yaitu bonding, bridging,
dan linking.
1) Bonding social capital (modal sosial yang mengikat) merujuk
kepada hubungan antar individu yang berada dalam kelompok
atau lingkungan komunitas yang sama sehingga mempermudah
tranformasi pengetahuan.
2) Bridging social capital (modal sosial yang menjembatani) hubungan
antar-individu yang menjembatani hubungan antara anggota dari
komunitas, budaya, latar belakang sosial ekonomi yang berbeda
sehingga mempermudah terjadidnya pertukaran informasi dan
antar kelompok.
3) Linking social capital (modal sosial yang mengaitkan) merujuk
pada kaitan antara aktor atau lembaga yang bersifat krusial atau
menentukan dalam terjadinya relasi positif antara pemegang
kuasa (power structure). Berbeda dengan bridging yang lebih
merujuk pada hubungan antara warga bisa, bridging lebih
melibatkan lembaga atau aktor kunci sehingga dampanya dalam
terciptanya situasi damai lebih menentukan.
Dengan demikian berdasarkan definisi diatas maka terdapat
enam unsur pokok dalam konsep modal sosial seperti yang
dipaparkan Hasbullah (2006):
1) Participation in a network. Kemampuan dan upaya sekelompok
orang terlibat dalam suatu jaringan sosial dari berbagai variasi
hubungan yang terjalin berdasarkan prinsip kesukarelaan
(voluntary), Kesamaan (equality), kebebasan (freedom) dan
keadaban (civility).
2) Reciprocity. Saling tukar kebaikan antar individu dalam suatu
kelompik dan antar kelompok
3) Trust. tindakan kolektif berdasarkan saling percaya agar partisipasi
mansyarakat meningkat dalam berbagai bentuk dan dimensi
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 15
4) Social norms. Sekumpulan aturan yang disepakati bersama untuk
dipatuhi oleh masyarakat dalam suatu entitas sosial tertentu
5) Values. Ide yang lahir turun menurun dan diyakini memiliki
kebenaran dan penting untuk diterapkan anggota masyarakat
6) Proactive action. Keinginan, energi dan semangat yang kuat dari
anggota masyarakat untuk senantiasa berpartipasi dalam suatu
kegiatan masyarakat.
Jika enam unsur modal sosial masyarakat tersebut benar-benar
telah terangkum dalam suatu aktvitas dan interaksi sosial masyarakat
maka modal sosial akan dapat memberikan kontribusi konstruktif
dalam pembangunan, baik pembangunan sosial, manusia,ekonomi
maupun politik. Peran modal sosial dalam pembangunan manusia
misalnya,akan berkaitan dengan kemampuan untuk menyelesaikan
permasalahan yang komplek, mendorong perubahan yang
konstruktif dalam masyarakat, menumbuhkan kesadaran kolektif
untuk memperbaiki kualitas hidup dan berupaya mencari peluang
yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan (Inayah 2012:46 ).
Dalam pembangunan sosial, modal sosial di tengah masyarakat
dapat menciptakan situasi masyarakat yang menghargai toleransi,
menumbuhkan empati dan simpati terhadap kelompok masyarakat
di luar kelompoknya. Adapun peran modal sosial seperti semangat
gotong royong, tolong menolong saling mengingatkan antar individu
merupakan refleksi dari semangat saling memberi (reciprocity), saling
percaya (trust) dan adanya jaringan sosial (social networking) sehingga
membangun kebersamaan dan kekompakan dalam aktvitas ekonomi
untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan dan mencari
solusi bersama dalam meningkatkan perekonomian. Selanjutnya,
dengan modal sosial yang tinggi tentu akan mendorong partisipasi
masyarakat sipil dalam mengawal proses politik dan pemerintahan
yang tinggi akuntabilitas dan transparansinya sehingga terjalin relasi
yang seimbang dan baik antara pemerintah dan masyarakat (Inayah
2012: 47 dan Hasbullah 2006).
16 Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
2.1.5. Model Pengkajian dan Penilaian: Akibat, Dampak dan
Kebutuhan Paska Konflik
Jenis-jenis dampak konflik sosial sebagaimana dijelaskan di
atas patut menjadi landasan untuk melakukan pengkajian atas
dampak konflik sosial. Meski demikian perlu diingat bahwa selain
dampak negatif ada dampak-dampak positif yang menjadi sisi lain
dari konflik. Wijono (2012:235) menambahkan bahwa konflik sosial
dapat menimbulkan dua dampak utama, dampak positif dan negatif.
Dampak positif konflik bisa dilihat dalam berbagai bentuk, seperti
(1) membuka masalah-masalah yang diabaikan sebelumnya menjadi
lebih terbuka (2) mendorong orang lain untuk memahami posisi dan
kondisi orang lain (3) menstimulasi lahirnya ide-ide baru dan inovatif
dan memfasilitasi perbaikan dan perubahan (4) meningkatkan kualitas
keputusan dengan cara mendorong orang lain untuk membuat
asumsi melakukan perbuatan. Sementara itu dampak negatif
konflik adalah (1)dapat menimbulkan emosi dan stress negatif, (2)
berkurangnya intensitas dan kualitas komunikasi yang digunakan
sebagai persyaratan untuk koordinasi (3) munculnya pertukaran gaya
partisipasi menjadi gaya yang otoritatif (4) menimbulkan prasangka
negatif (5) menyebabkan adanya tekanan loyalitas terhadap suatu
kelompok. Kerana itu pengkajian atas dampak konflik sosial juga
dituntut untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan positif paska
konflik yang patut diperkuat.
Fokus dari upaya pengkajian dampak paska konflik bertujuan
untuk:
1) mengidentifikasi permasalahan sosial pasca konflik
2) memastikan agar intervensi sosial mempertimbangkan
keseimbangan dan keberlanjutan faktor ekonomi dan sosial
3) menyediakan informasi penilaian resiko bagi keberlanjutan dan
keseimbangan modal komunitas seperti modal sosial, modal
ekonomi,modal politik, modal kultural, dan modal sumber daya
alam.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 17
Pada tahap lebih lanjut proses ini diharapkan bisa menghasilkan
peta kebutuhan untuk merencanakan bentuk-bentuk intervensi
atau pemulihan wilayah paska konflik. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan adalah:
1) menghasilkan suatu desain yang lebih strategis termasuk
rencana pengurangan risiko dan langkah-langkah mitigasi yang
dapat mengurangi kemungkinan gagalnya suatu program akibat
adanya dampak negatif.
2) menghasilkan seperangkat indikator dan sistem monitoring
terpercaya yang dapat menyokong proses pembelajaran dan
manegemen adaptif
3) meningkatkan keterlibatan dan kepemilikan pemangku
kepentingan lokal yang sangat berkontribusi terhadap
keberlanjutan dan kesinambungan sosial suatu program
2.2. Pendekatan dan Metodologi PCNA.
Kajian terhadap dampak sosial pasca konflik, dilakukan dengan
menggunakan pendekatan deskriptif dengan 4 metode sebagai
berikut:
1) metode data sekunder;
2) metode survei (survey sampel dan survey Delphi);
3) metode observasi partisipasi; dan
4) metode penelitian tak kentara (unobtrusive).
Pelaksanaan metode tersebut dilakukan dalam 6 langkah,
yaitu: (1) Pemilihan metode; (2) Penentuan desain sampel; (3)
Penyusunan kuesioner; (4) Pengujian kuesioner; (5) Pengoperasian
kuesioner; dan (6) Analisis data (dalam Leistritz et al. 1981).Pada
kenyataannya,patut diperhatikan bahwa kajian terhadap dampak
sosial pasca konflik memiliki beberapa tantangan kontekstual yang
mesti disikapi dengan bijaksana, seperti:
1) Sulitnya untuk membuktikan fakta-fakta sebab akibat
2) Dampak sosial baru akan terlihat dalam jangka panjang. Karena
18 Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
itu sulit secara faktualdapat diidetifikasi ekspresinya dalam jangka
pendek
3) Dampak sosial bersifat tersembunyi (intangible) sebagai efek
negatif tidak terduga
4) Dampak sosial berkaitan dengan kontestasi atau persaingan nilai
sosial dan politik
5) Sulit membedakan antara dampak jangka panjang dan out come/
jangka menengah
6) Terbatasnya sumber daya yang diandalkan dalam mendeteksi
mengenai dampak sosial pasca konflik sehingga data dasar yang
ada tidak cukup akurat dalam memprediksi proses perubahan
sosial dan hasilnya
7) Tidak ada pendekatan yang bersifat tunggal yang mampu
diaplikasikan sehingga dianggap cocok untuk semua situasi.
Merujuk pada uraian tersebut di atas, maka pengkajian dan
penilaian terhadap dampak sosial ini sebaiknya dipahami sebagai
upaya awal yang serius dan sistematis untuk melakukan mitigasi
dan upaya pemulihan psikososial pasca konflik atau yang dikenal
dengan post conflict need assessment (PCNA). Alasannya, karena
usaha ini bermanfaat untuk:
a. Menyediakan gambaran data dasar berkaitan dengan jenis
kebutuhan daerah pasca konflik, yang karakteristik pendekatan
dan jenis kebutuhannya berbeda dengan daerah yang dilanda
bencana alam;
b. Menjadi peta jalan yang dapat memandu pengalokasian (sejak
dalam perencanaan) dan implementasi bantuan bagi daerah
paska konflik,
c. Memformulasi sinergi yang padu lintas kementerian/lembaga
dan pemerintah daerah.
d. Merupakan Tools yang digunakan untuk menilai tingkat kerusakan
dan kerugian akibat terjadinya konflik sosial.
e. Dokumen yang dapat dijadikan rujukan untuk melakukan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 19
kegiatan-kegiatan Rehabilitasi dan Pemulihan paska konflik di
suatu daerah; (Fisik dan Non Fisik).
Kajian terhadap akibat dan dampak sosial pasca konflik ini
menjadi penting karena dapat mengidentifikasi data yang mamadahi
tentang kebutuhan-kebutuhan untuk pemulihan sosial. Karena
penanganan masyarakat paska konflik terkait dengan penganggaran,
maka data kuantitatif yang bisa memberikan penghitungan nominal
kebutuhan untuk pemulihan sangat dibutuhkan. Meski demikian,
data kuantitatif ini perlu dibuat dan diperlakukan secara hatihati, terutama yang berkaitan dengn dampak sosial, karena upaya
pemulihan yang bersifat non-fisik seperti nilai dan kebudayaan
biasanya tidak bisa bersifat kaku.
Untuk memudahkan identifikasi berbagai bentuk dampak konflik
sosial kami menawarkan 5 kategori kerusakan yang mungkin terjadi
dalam masyarakat paska konflik.kelima kategori ini tidak berlaku
ketat, dan indikator masing-maisng kategori bersifat berulang.
Keberulangan ini bisa dipahami karena dampak konfik dalam
berbagai bidang biasanya bersifat saling terkait.Langkah sistematis
untukmengidentifikasi korelasi kerusakan kapasitas sumber daya
komunitas, indeks ketahanan dan proses pemulihan adalah perlu
menjadi agenda lintas kementerian/lembaga. Prakarsa Kementerian
Desa, PDT dan Transmigrasi merupakan upaya merumuskanstandard
peilaian kebutuhan wilayah paska konflik yang bersifat menyeluruh. .
Kelima variabel atau jenis kerusakan masyarakat konflik digambarkan
dalam diagram berikut :
20 Konsep Dasar dan Instrumen Pemetaan Dampak Konflik
Diagram 2. Korelasi Kerusakan Kapasitas Sumber Daya
Komunitas,Berdasarkan Indeks Ketahanan dan Proses Recovery
KORELASI DESTRUKSI KAPASITAS KOM UNITAS,
INDEKS KETAHANAN & PROSES RECOVERY
•
•
•
•
•
Destruksi Kapasitas
Manusia
Destruksi Kapasitas
Ekologi Sosial
Destruksi Peradaban
Destruksi Fisik & Tata
Ruang
Trauma Psikososial
Berkepanjangan
Early
Response
Early
Recovery
Long Term
Recovery
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 21
BAB III
KERANGKA PENDEKATAN PCNA
(DALA, HRNA DAN SRNA)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) adalah suatu rangkaian
kegiatan pengkajian dan penilaian akibat, analisis dampak, dan
perkiraankebutuhan, yang menjadi dasar bagi penyusunan rencana
aksi pemulihan paska konflik.Pengkajian dan penilaian yang
dimaksud dalam PCNA meliputi pengkajian dan penilaian kerusakan
dan kerugian fisik (materiil) dan kerusakan dan kerugian non-fisik
(non-materiil). Sebagaimana dijelaskan di awal, instrumen PCNA
berupaya menggabungkan berbagai instrumen yang sudah ada
terkait identifikasi dampak konflik.
PCNA sendiri terdiri dari tiga bagian utama, yakni: a) Damage
and Loss Assessment (DALA) yang memberi tekanan pada aspek
kerusakan yang bersifat material dan dapat dikuantifikasi. b)
Human Recovery Need Assessment (HRNA) memberi tekanan pada
kebutuhan manusia : akses dasar, pendapatan, kesehatan, makanan,
22 Kerangka Pendekatan PCNA
shelter, dan perumahan. c) Social Recovery Need Assessment (SRNA)
memberi tekanan pada dampak segregasi, kohesi sosial, solidaritas,
polarisasi, dsb. Tujuan utama PCNA adalah melakukan proses
memulihkan paska konflik secara komprehensif dengan penekanan
pada upaya-upaya pemulihan sosial masyarakat yang hancur akibat
konflik. Adapun komponen PCNA ini terdiri dari 3 komponen yaitu
komponen pengkajian akibat konflik, pengkajian dampak konflik dan
pengkajian kebutuhan pemulihan, sebagaimana dijelaskan dalam
diagram berikut:
Diagram 3. Komponen PCNA
Komponen PCNA
Pengkajian
akibat
konflik
Pengkajian
dampak
konflik
Pengkajian
kebutuhan
pemulihan
3.1. Damage and Loss Assessment (DALA)
Pengkajian Kerusakan dan Kerugian /Damage and Losses
Assessment (DALA) memberi tekanan pada aspek kerusakan yang
bersifat material sehingga dapat dikuantifikasi. DALA menekankan
pada kajian akibat konflik. Berdasarkan kajian itu, maka DALA
memperkirakan kebutuhan untuk melaksanakan upaya-upaya
rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap kerusakan,
kerugian,
kehilangan atau gangguan akses sarana pra sarana, gangguan fungsi
dan naiknya resiko yang diakibatkan oleh konflik.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 23
3.2. Human Recovery Need Assessment (HRNA)
Konsep Dasar Pengkajian Kebutuhan Pemulihan Pembangunan
Manusia (Human Development Recovery Needs Assessment/
HRNA) adalah suatu metodologi berdasarkan kepada perspektif
pembangunan manusia. HRNA memandang rehabilitasi dan
rekonstruksi sebagai wahana menciptakan suatu lingkungan
yang memungkinkan peluasan pilihan-pilihan hidup yang lebih
komprehensif yang tidak hanya dipahami terbatas pada aspek
ekonomi saja. Untuk merumuskan PCNA kami mengacu kepada
model HRNA yang selama ini digunakan oleh Badan Nasional
Penanggulangan Bencana berdasarkan Perka no 15 tahun 2011
tentang pedoman pengkajian kebutuhan pasca bencana.
HRNA meletakan manusia sebagai fokus; asset dan proses
yang terdampak konflik (dalam konteks PCNA) yang diasumsikan
berkaitan dengan kepentingan manusia atau sekelompok manusia.
HRNA menekankan pada kajian dampak konflik terhadap kehidupan
manusia terutama dari aspek mata pencaharian, sosial, budaya,politik
dan kepemerintahan, pembagunan sosial dan lingkungan.
Berdasarkan kajian itu, maka HRNA memperkirakan kebutuhan
untuk melaksanakan upaya-upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.
HRNA dikembangkan secara kolektif oleh lembaga-lembaga
PBB dan organisasi-organisasi kemanusiaan sebagai upaya kearah
suatu transisi yang lebih baik dari respon kemanusiaan menuju pada
pembangunan manusia. Pendekatan yang digunakan dalam HRNA
adalah dengan memilah dan menggolongkan dampak konflik sosial
dengan cara mengikuti konfigurasi sistem respons kemanusiaan
atas konflik sosial yang kemudian disesuaikan dengan sektorsektor dalam neraca anggaran nasional dan regional. Berdasarkan
pendekatan tersebut diatas, metoda HRNA menganalisis beberapa
aspek utama berikut:
1. Pengkajian dampak Konflik Sosial.
2. Dalam HRNA, dampak pasca konflik cenderung dilihat dari
karakteristik manusia setelah terjadi konflik, yaitu orang-
24 Kerangka Pendekatan PCNA
perorangan, dan komunitas yang memiliki karakteristik tertentu
sebagai dampak dari konflik
Dari sudut pandang HRNA dampak konflik diklasifikasikan
menjadi tiga jenis, yaitu :
a. A: Hilangnya (A)kses untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya.
Misalnya rumah yang rusak atau hancur karena
konflik
mengakibatkan orang kehilangan akses terhadap naungan
sebagai kebutuhan dasar. Rusaknya rumah sakit atau layanan
kesehatan mengakibatkan orang kehilangan akses terhadap
pelayanan kesehatan sebagai kebutuhan dasar.
b. P: Gangguan terhadap (P)roses-proses kemasyarakatan dan
fungsi pemerintahan. Konflik dapat mengakibatkan gangguan
terhadap proses-proses kemasyarakatan dasar, seperti proses
musyawarah, pengambilan keputusan masyarakat, proses
perlindungan masyarakat, proses-proses sosial dan budaya.
Demikian juga, misalnya, rusaknya suatu gedung pemerintahan
mengakibatkan terganggu/terhentinya fungsi-fungsi administrasi
umum maupun penyediaan keamanan, hukum dan pelayananpelayanan dasar.
c. R: Meningkatnya (R)isiko dari memburuknya kerentanan
masyarakat yang terdampak konflik. Fakta bahwa suatu keluarga
atau masyarakat terdampak konflik adalah bukti bahwa mereka
telah memiliki kerentanan
3.3. Social Recovery Need Assessment (SRNA)
Social Recovery Need Assessment (SRNA) merupakan bagian
integral dari kerja komprehensif Post Conflict Need Assessment
(PCNA). Pada konstruk ini, pengembangan desain assessment
berfokus pada elemen kedua, yakni: Social Recovery Need Assessment
(SRNA) sebagai upaya memetakan dan mengenal kondisi nyata
(existing condition) dari dampak sosial pasca konfik berupa: segregasi,
kohesi sosial, luruhnya solidaritas, polarisasi, integrasi, jaringan, dsb.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 25
Bila dicermati secara mendalam, indikator-indikator SRNA tersebut
pada hakekatnya sangat berkaitan erat dengan kondisi sosial
pasca konflik berupa ciri-ciri khas dari modal sosial masyarakat
(social capital) yang berpengaruh terhadap ketahanan sosial
komunitas. Artinya, mengapa dan bagaimana kondisi nyata modal
sosial masyarakat pasca konflik: segregasi/keikatan, kohesi sosial,
solidaritas, polarisasi/keterbelahan, jaringan dan sumbangannya
bagi kerja-kerja pemberdayaan serta penguatan kapasitas ketahanan
masyarakatamat sangat mendasar dan strategis. Adapun konsep
dasar SRNA adalah sebagai berikut:
a) Social Recovery Berbasis MODAL SOSIAL.
Para ahli manajemen SDM sepakat bahwa, berbicara tentang
modal sosial, maka kita akan berbicara tentang relasi sosial. Dalam
konteks ini, kita dapat memahami mengapa pentingnya segregasi/
keikatan, kohesi sosial, solidaritas, polarisasi/keterbelahan, jaringan
dsb sebagai indikator SRNA sekaligus adalah ciri utama atau
indikator dari relasi sosial. Menjadikan indikator-indikator relasi
sosial tersebut sebagai perhatian utama dalam konteks penanganan
pasca konflik sama artinya menegakkan dan memajukan hati modal
sosial komunitas lokal atau para pihak berkonflik. Memulihkan,
merekonstruksi dan merehabilitasi pilar-pilar relasi sosial komunitas
lokal pasca konflik sebagai hati modal sosial berbasis pemberdayaan
dengan demikian merupakan kerja strategis.
Kebutuhan terhadap gambaran konkrit
kondisi destruksi
(kerusakan modal sosial) dan reproduksi destruksi (membangun
kembali modal sosial) adalah syarat mutlak bagi penyusunan desain
manajemen pasca konflik.Dalam konteks itu,social recoveryakan
berlangsung secara mendasar, kontekstual dan efektif melalui
fase early response (rekonsiliasi dan konsolidasi), early recovery
(rekonstruksi dan pemandirian) dan long term recovery (rehabilitasi
dan transformasi konflik). Di sanalah SRNA memperoleh tempat
dan fungsinya secara mendasar, kontekstual dan strategis.
26 Kerangka Pendekatan PCNA
b) Tekanan Psikologis Manajemen Konflik: Klinikal (individu) ke
Sosial.
Pertengahan tahun 1970-an, para ahli psikologi (Witkin & Berry,
1975) menunjukkan bahwa membatasi tingkah laku atau perilaku
manusia pada keadaan individu semata (motivasi, perhatian,
ingatan, pikiran, persepsi, stereotip, dsb) tidak memadai lagi.
Keadaan lingkungan, ternyata memegang peranan amat penting
dalam membentuk karakter perilaku manusia lintas individu.
Misalnya, dalam penelitian psikologis, manusia secara dominan
banyak dipelajari terisolasi dari lingkungannya (Klabbers, 1972).
H.A. Simon (1969) melihat “tingkah laku manusia yang tampil
setiap saat secara majemuk, sebagian besar adalah refleksi dari
kemajemukan lingkungan dimana ia berada.” Faktor lingkungan
penting adalah: tata ruang, sosial dan budaya sebagai pola standar
yang secara tradisional dianut lingkungannya (Benedict, 1934).
Pendirian Benedict ini tidak hanya merupakan titik temu psikologi,
antropologi dan filosofi menghadapi realitas mikro, tetapi juga pola
standar kultural makro (globalisasi).
E. A. Ross (1980, ahli sosiologi) dan Mac Dougall (1908, ahli
psikologi) secara bersama melihat obyek khas penelitian psikologi
sosial pada “bagaimana tingkah laku individu dipengaruhi dan
mempengaruhi orang lain, baik orang lain itu hadir di hadapannya
atau tidak, maupun kehadiran orang lain itu diimplikasikan dalam
refleksi tata ruang, tata sosial tata hukum, dan tata kultural yang
dianut.” Sementara O. Klineberg (1954) dengan diilhami Linton
(1936) menyatakan “betapa semakin nyata integrasi antara individu,
masyarakat dan kebudayaan.” Dengan begitu, integrasi antara
filsafat/teologi dengan psikologi, sosiologi, antropologi dsb.”
Artinya, perspektif keilmuan dalam mempelajari tingkah laku
atau perilaku manusia dan sosial dalam konteks konflik dan pasca
konflik, tidak terutama berfokusperilaku indiividu, melalui kajian
yang bersifat eksklusif dan terisoler antara satu disipilin ilmu dengan
lainnya, tetapi lebih berfokus perilaku sosial, melalui kajian inklusif,
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 27
holistik dan integral. Dengan kata lain lebih menekankan perspektif
survival of the symbiotic atau lintas pemangku krprntingan dimana
masa depan penyelesaian produktif akan terwujud ketika seluruh
pihak bekerjasama secara simbiotik. Perspektif ini semestinya
menjadi acuan dalam upaya mengembangkan kerja-kerja social
recoverypasca konflik melalui fase need assessment sebagai entry
point bagi manajemen early response, early recovery dan long term
recovery.
c) Destruksi dan Reproduksi Destruksi Kapasitas Sumber Daya
Komunitas.
Pembentukan dan penguatan kapasitas ketahanan (ketangguhan)
komunitas lokal pasca konflik, pentingmenekankan aspek bencana
sosial sebagai bentuk man made disaster melalui peristiwa-peristiwa
bencana sosial/konflik (social disaster events). Disadari pula bahwa,
konflik sosial sebagai peristiwa bencana sosial juga berdampak
pada terjadinya proses destruksi dan reproduksi destruksi
kapasitas sumber daya komunitas lokal (the whole of community
assets).Destruksi dan reproduksi destruksi kapasitas sumber daya
komunitas berkaitan dengan 5 (lima) variabel utama,yakni: kapasitas
manusia, ekologi sosial, peradaban, fisik dan tata ruang serta trauma
psikososial berkepanjangan.Secara ilustratif nampak pada diagram 5
berikut.
28 Kerangka Pendekatan PCNA
Diagram 4. Cakupan Dampak Konflik
CAKUPAN AKIBAT DAN DAMPAK KONFLIK BAGI
KEHANCURAN SUMBERDAYA KOMUNITAS
(the whole of community assets & capacity destruction)
Destruksi
Kapasitas
Manusia
Disaster/
Conflict
Events
(peristiwa
konflik)
A
Destruksi
Ekologi Sosial
C
Trauma
Psikososial
Destruksi
Kapasitas
Fisik - Tata Ruang
B
Destruksi
Kapasitas
Peradaban
Gambar tersebut menunjukkan bahwa, variabel dan indikator
dari dampak destruksi (kerusakan) kapasitas sumber daya komunitas
itu adalah sebagai berikut:
a. Destruksi (kerusakan) kapasitas manusia (komunitas).
Berbagai peristiwa konflik sosial menyebabkan komunitas lokal
mengalami kehilangan “kapasitasnya selaku manusia dan selaku
rakyat lokal” (human capacity dan capacity of the people). Kapasitas
manusia/komunitas/rakyat lokal tersebut ditunjukan melalui
indikator-indikator terukur sebagai acuan riset dan pemetaan
sebagai berikut:
a) Kondisi sumber daya kesehatan : fisik dan mental/psikologis;
b) Kondisi pengetahuan dan keterampilan komunitas korban
konflik;
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 29
c) Data jumlah dan kualitas keluarga secara real;
d)Pengaruh jumlah dan kualitas keluarga bagi pertumbuhan
keluarga; dsb.
b. Destruksi (kerusakan) kapasitas lingkungan sosial Kemasyarakatan
Konflik juga menimbulkan gangguan terhadap ekologi sosial
komunitas lokal:
a) Hubungan sosial antara keluarga: kohesi, integrasi, solidaritas,
dsb.
b) Hilangnya sumber-sumber dan struktur basis ekonomi serta
perdata.
c) Hilangnya status politik-kewargaan komunitas.
d) Tantangan peran institusi sosial: agama dan budaya.
e) Tantangan peran otoritas sipil, politik dan militer.
c. Destruksi (kerusakan) kapasitas peradaban/tata nilai dan budaya
masyarakat.
Peristiwa konflik mereduksi peradaban lokal secara sistematis
dan berkelanjutan (nilai, norma, dan budaya) komunitas/masyarakat.
a) Orientrasi kemanusiaan berubah menjadi material dan kuasa.
b) Krisis rasa peduli dampak konflik dan kekerasan.
c) Tantangan terhadap keadilan sosial dan hak asasi (ecosoc).
d) Perubahan struktur perilaku budaya, kepercayaan dan praktek
hidup.
d. Destruksi (kerusakan) kapasitas fisik dan tata ruang.
Peristiwa konflik sosial berakibat pada hancurnya kondisi fisik
dan tata ruang wilayah dalam skala luas.
a) Seluruh infrastruktur fisik wilayah hancur dalam skala luas.
b) Hilangnya batas-batas wilayah: desa, tanah keluarga, dsb.
c) Muncul persoalan hukum perdata (hak kepemilikan tanah) dan
kebutuhan untuk relokasi.
30 Kerangka Pendekatan PCNA
d) Krisis manajemen pembangunan kembali tata pemukiman
dan perumahan tidak berbasis karakter kultural, kearifan dan
spiritualitas lokal (orientasi proyek), dsb.
e. Gangguan mental individu dan masyarakat (trauma
psikososial). Kerusakan dari keempat faktor kapasitas sumber daya komunitas
sebelumnya (manusia, ekologi sosial, peradaban, serta fisik-tata
ruang) sangat berpengaruh secara mendasar, holistik, kontekstual
dan obyektif teradap destruksi kapasitas psikososial komunitas,
masyarakat dan pemerintah lokal. Destruksi, atau depresi atau
trauma psikososial akan menjadi lama atau cepat pemulihan serta
penyembuhannya sangat tergantung apakah pendekatan elemenelemen fungsi sosial dalam setting kerja elemen masyarakat
dan negara bekerja secara holistik atau parsial dalam menangani
dampak destruksi kapasitas komunitas. Dalam konteks membangun
ketahanan atau ketangguhan masyarakat korban dan komunitas
lokal, sejauhmana elemen masyarakat dan negara secara konsekuen
pada kekuatan budaya, kearifan dan spiritualitas lokal sebagai
potensi psikososial shock-absorbing process.
Beberapa indikator psikososial dengan mengacu pada Hirarkhi
Kebutuhan Maslow:
a) Aktualisasi diri: pertumbuhan personal/kelompok/komunitas,
pengakuan, dsb.
b) Pengembangan estetika: budaya, kearifan, nilai/norma,
keseimbangan, kesetaraan, dsb.
c) Pengembangan kognitif: pengetahuan, makna hidup, kesadaran
diri, dsb
d) Memiliki dan cinta: keluarga, kasih sayang, relasi, kohesi,
solidaritas, kelompok kerja, jaringan, dsb.
e) Keselamatan diri/kelompok/komunitas: perlindungan, keamanan,
rasa nyaman, ketertiban, hukum, stabilitas, dsb.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 31
f) Biologi dan fisiologi: udara segar, makanan, minuman, tempat
tinggal, kehangatan, seks, tidur, tata ruang, dsb.
Kerangka pemetaan dampak destruksi kapasitas sumber daya
komunitas tersebut mengisyaratkan bahwa, mesti pula disadari sejak
awal pentingnya memetakan pula kondisi destruksi dan reproduksi
destruksi kapasitas sumber daya komunitas dalam konteks sosial
pasca konflik. Konflik sosial tidak hanya mendestruksi kapasitas
sumber daya (modal sosial) komunitas pada tahapan bencana pertama
dan utama konflik (first disaster), tetapi juga terjadi gelombang kedua
(second disaster) melalui proses reproduksi destruksi modal sosial
atau ketahanan atau ketangguhan masyarakat lokal. Bencana kedua
atau kondisi reproduksi destruksi ini yang kadang jauh lebih buruk
dampaknya dan makin bertahan lamai berbanding kondisi disaster
pertama dan utama. Hal itu digambarkan pada diagram berikut.
Diagram 5 Destruksi dan Reproduksi Destruksi
Kapasitas Sumber Daya Komunitas
32 Kerangka Pendekatan PCNA
Diagram 5 menunjukkan bahwa, (1) Kondisi Destruksi
Kapasitas Sumber Daya Komunitas terjadi, ketika konflik sosial
berdampak terhadap: destruksi atau hancurnya kapasitas sumber
daya manusia, kapasitas lingkungan (ekologi) sosial, budaya/
peradaban, fisik – tata ruang, serta trauma psikososial berkelanjutan.
(2) Sementara, Kondisi Reproduksi Destruksi Kapasitas Sumber
Daya Komunitas terjadi ketika dalam manajemen penanganan
pasca konflik, terabaikannya: a) penegakkan dan pemajuan atau
pemulihan hak ecosoc (ekonomi, sosial dan budaya – ekosob) dan
Sipil Politik warga; b) penanganan sistematis kehancuran modal
sosial masyarakat; c) penanganan konflik sosial memasuki tahapan
manajemen peace making (membangun kesadaran kritis terhadap
akar, pelaku dan dampak konflik) dan peace building (menangani
akar struktural dan sistemik konflik); d) penanganan psikososial
traumatik dan healing mendasar, holistik, integral dan tuntas.
Karena itu, sebagaimana digambarkan pada Diagram 3 dan
Diagram 4 sebelumnya, konstruk instrumen PCNA dan/atau SRNA
yang didesain, mengintegrasikan : a) 5 (lima) dimensi destruksi
kapasitas sumber daya komunitas, dengan (b) 3 (tiga) dimensi
tahapan pemulihan sistematis: respon dini, pemulihan dini dan
pemulihan berkelanjutan.
Manfaat dari pendekatan dan metodologi kerja seperti ini ada
dua, yakni:
1)Manfaat dasar. Bahwa dengan tersedianya hasil pendataan
dan pemetaan kebutuhan PCNA dan/atau SRNA secara faktual,
terpola dan teruji melalui instrumen yang dipersiapkan, maka akan
lahir berbagai tindakan pemulihan pasca konflik dalam rangka
mengatasi dan menyelesaikan kondisi destruksi dan reproduksi
kapasitas sumber daya komunitas pasca konflik secara faktual,
terukur dan terkontrol.
2)Manfaat strategis. Pada gilirannya, terwujudnya manfaat
dasariah PCNA dan/atau SRNA, maka disadari atau tidak, akan
menjadi pangkalan, atau iklim kondusif bagi terwujudnya dan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 33
tercapainya KETAHANAN KOMUNITAS MASYARAKAT LOKAL
secara mandiri, terpola dan berkelanjutan di bawah kontrol dan
pengujian masyarakat lokal sendiri.
3) Manfaat dasar dan strategis tersebut, akan menjadi lingkungan
manajemen dayaguna dan hasilguna PCNA dan/atau SRNA yang
diinisiasi oleh Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi untuk
memproteksi dan memberdayakan profil pembangunan desa di
daerah rawan konflik, sementara berkonflik dan pasca konflik
secara lebih berdayaguna dan berhasil guna.
3.4. Kerangka Konseptual Model Kajian PCNA
Merujuk pada uraian konsep dasar serta pendekatan dan
metodologi tersebut di atas, maka dikonstruksikan kerangka
konseptual model pengkajian dan penilaian terhadap akibat, dampak
dan kebutuhan pasca konflik, sebagaimana nampak pada Diagram
6:
34 Kerangka Pendekatan PCNA
Diagram 6. Kerangka Konseptual Model PCNA
MODEL PENGKAJIAN
DAN PENILAIAN
AKIBAT,DAMPAK DAN
KEBUTUHAN PASCA
KONFLIK
Komponen yang diukur dalam PCNA
PCNA
DALA (Damage
and Loss
Assessment)
HRNA
(Human Recovery Need
Assessment)
Jenis kerusakan
bersifat material
yang dapat
dikuantifikasi
SRNA (Social Recovery
Need Assessment)
Dampak sosial paska
konflik; segregasi,
kohesi sosial, luruhnya
solidaritas, polarisasi
dll.
TAHAPAN PCNA
PROGRES HASIL KAJIAN
1. Integrasi Komponen Strategis
DAERAH TANGGUH
KONFLIK
Kebutuhan manusia
terhadap akses dasar;
income, kesehatan,
makanan, shelter,
perumahan dll
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 35
Kerangka konseptual Model Kajian dan Penilaian PCNA
sebagaimana diuraikan pada Diagram 6 menunjukkan bahwa fokus
utamanya berkonsentrasi pada tersusunnya instrumen PCNA, dalam
hal ini SRNA yang mengintegrasikan korelasi (a) dimensi holistik
dan Integral SRNA dengan indikasi : sosial recovery, perdamaian
dan pemberdayaan, dengan (b) tahapan strategis pemulihan : early
response – respons dini (terintegrasi dengan rekonsiliasi, proteksi
dan konsolidasi), early recovery – pemulihan dini (terintegrasi dengan
rehabilitasi dan pemberdayaan sosial sistematis), dan (c) long term
recovery – pemulihan berkelanjutan (terintegrasi dengan rehabilitasi
dan pembangunan perdamaian berkelanjutan). Muara dari kerangka
strategis ini adalah, terwujudnya daerah tangguh konflik berbasis
pada klaster-klaster wilayah konflik sosial di Indonesia.
3.5. Instrumen Pengukuran: Integrasi PCNA dan SRNA
Kerangka Post-Conflict Need Assesment (PCNA) sebagaimana
dijelaskan di bab sebelumnya menetapkan 5 variabel untuk
identifikasi dampak sosial pasca konflik. Identifikasi masalah
ini memberikan peta dampak yang berguna untuk menyusun
langkah peanganan atau respon berdasarkan data hasil identifikasi
menggunakna kerangka PCNA. Sebagai kerangka untuk menyusun
perencanaan bentuk intervensi, Tim Kerja menggunakan model
tahapan respon yang telah tersedia dalam kerangka Social Recoversy
Need Assesment (SRNA). Dengan demikan kerangka pengukuran
dampak sosial paca konflik ini adalah integrasi antara dua kerangka
yang saling melengkapi, yakni PCNA dan SRNA.
Sebagaimana telah dikemukakan juga pada bab sebelumnya,
instrumen SRNA adalah kerangka untuk mengukur dampak sosial
paska konflik yang memberikan fokus pada korelasi di antara dua hal,
yakni: (a) faktor Kerangka Dasar Pemulihan Sosial (Social Recovery)
pasca konflik, dengan (b) faktor Tahapan Pemulihan Sosial.
36 Kerangka Pendekatan PCNA
1) Kerangka Dasar Pemulihan Sosial. Melalui masukan narasumber
dan peserta serial FGD dan lokakarya dalam lokakarya yang
dilaksanakan secara bertahap di Bogor, Bandung dan Yogjakarta
dalam rangka mengkaji faktor-faktor/dimensi utama dalam
konteks SRNA, maka diperoleh kesepakatan bersama bahwa
berbagai faktor/dimensi utama pembentuk Kerangka Dasar
Pemulihan Sosial sangat berkaitan erat dengan kondisi kerusakan
kapasitas sumber daya komunitas paska konflik. Sebagaimana
dijelaskan di Bab II, ada 5 (lima) faktor utama pembentuk
Kerangka Dasar Pemulihan Sosial yang meliputi: (1) destruksi/
penghancuran kapasitas sumber daya manusia, (2) ekologi sosial,
(3) budaya dan peradaban, (4) fisik dan tata ruang, serta (5)
trauma psikososial berkelanjutan.
Mempertimbangkan masukan berbagai pihak dalam
serial FGD dan lokakarya Tim Kerja penyusunan instrumen
ini menetapkan agar 5 variabel kerusakan pasca konflik
dalam framework ini dijadikan acuan dasar dalam rangka
mengkonstruksikan instrumen SRNA.
2) Tahapan Pemulihan Sosial. Pada sisi lain, forum serial lokakarya
juga memberikan arah mendasar dan strategis, bahwa dalam
rangka implementasi pendekatan Post Conflict Need Assessment
(PCNA) diintegrasikan dalam kerangka tahapan respon atau
intervensi kerangka faktor Social Recovery Need Assessment.
Kerangka ini SRNA membagi 3 tahapan strategis dalam
pemulihan mesyarakat pasca konflik, yakni: Early Response
(respon dini), Early Recovery (pemulihan dini) dan Long Term
Recovery (pemulihan berkelanjutan).
Ketiga tahapan ini, secara terintegrasi sangat berkaitan
dengan tahapan dimensi pemberdayaan, yakni: proteksi sosial
(emergensi), pemberdayaan sosial sistematik, dan budaya
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 37
perdamaian mandiri dan berkelanjutan. Bahkan dengan dimensi
manajemen pemulihan bernuansa resolusi konflik, yakni:
rekonsiliasi, rehabilitasi dan rekonstruksi.
Merujuk pada korelasi di antara faktor kerusakan kapasitas
sumber daya manusia dan tahapan pemulihan sebagaimana
diuraikan di atas, kemudian Tim Kerja menyepakatinya sebagai
kerangka dasar Social Recovery Need Assessment secara
sederhana diterjemahkan dalam bentuk instrumen asesmen
sebagai berikut:
Tabel 1. Kerangka Instrumen PCNA
Tahapan Pemulihan Terpola dan Sistematis
Faktor Destruksi
Kapasitas
Sumber Daya
Komunitas
• Kapasitas SDM
• Ekologi Sosial
• Budaya dan
Peradaban
• Fisik dan Tata
Ruang
• Trauma
Psikososial
Early Response
(proteksi sosial
dan rekonsiliasi)
Early Recovery
(pemberdayaan
sosial sistematis
dan rehabilitasi)
Long Term
Recovery (budaya
perdamaian
berkelanjutan dan
rekonstruksi).
Keterangan:
Diisi dengan Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam
waktu cepat, menengah dan jangka panjang untuk
memetakan kerusakan sosial, akibat dan dampak konflik
serta jenis pemulihan yang dibutuhkan.
(pengumpulan data, penyusunan rencana tindakan, dan
Pelaksanaan kegiatan pemulihan)
Hasil perumusan instrumen akan diwujudkan dalam dua
bentuk, yakni a) dalam bentuk butir-butir PERNYATAAN SRNA.
Pada matriks instrumen, rumusannya berupa indikatir-indikator
pernyataan tindakan pemulihan yang mengkorelasikan dimensi
destruksi kapasitan sumber daya komunitas dengan tahapan
pemulihan pasca konflik. b) dalam bentuk butir-butir PERTANYAAN
38 Kerangka Pendekatan PCNA
SRNA. Pada matriks instrumen, rumusannya berupa indikatorindikator pertanyaan yang berfokus pada tindakan pemulihan yang
mengkorelasikan faktor atau dimensi kerusakan kapasitas sumber
daya komunitas dengan tahapan pemulihan.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 39
BAB IV
KELEMBAGAAN, KOORDINASI
DAN PENDANAAN
4.1. Kelembagaan
4.1.1. Pola Kelembagaan: Perspektif Legal.
Dalam rangka memahami peran manajemen kelembagaan yang
relevan dalam konteks kerja Post Conflict Need Assessment (PCNA)
di lingkungan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, maka
sudah semestinya upaya tersebut mengacu pada berbagai kebijakan
nasional berkaitan dengan penanganan konflik sosial. Selain
memberikan justifikasi mendasar, acuan ini juga bisa membantu
seluruh lembaga pemerintah yang mendapatmandat penyelesaian
konflik untuk merefleksikan ulang peranya dalam pengembangan
pola kordinasi dansinergi pengelolaan anggaranyang mendukung
agenda pemulihan masyarakat paska konflik. Lebih jauh,kerangka
PCNA inidiharapkan dapat menjadi rujukankerjasama lintas lembaga
40 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
dalam konteks kerja-kerja pemulihan pasca konflik lintas lembaga
sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
Sehubungan dengan maksud tersebut, tersedia tiga kebijakan
yang dapat dijadikan rujukan dan pertimbangan bagi pengembangan
pola kelembagaan penanganan pasca konflik melalui dokumen PCNA.
Berdasarkan formulasi bencana/konflik sosial dan penangannya
ketiga kebijakan tersebut adalah:
Pertama, UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana.Instrumen regulasi ini memberikan batasan definisi dan
pengertian bencana yang bisa menjadi landasan bagi manajemen
kelembagaan. Sebagaimana dikemukakan dalam Bab I Ketentuan
Umum dari UU ini, batasan definisi bencana meliputi tiga jenis
bencana yaitu:
• Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara
lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
• Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh
peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain
berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah
penyakit.
• Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang
meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas
masyarakat, dan teror.
Berdasarkan batasan definisi di atas, Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana didefinisikan sebagai “serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat,
dan rehabilitasi.”
Kedua,UU No. 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik
Sosial (PKS).Dalam UU “konflik sosial,” yang selanjutnya disebut
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 41
“konflik,” didefinisikan sebagai “perseteruan dan/atau benturan
fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih
yang berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas yang
mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi sosial sehingga
mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan
nasional.” Sementara penanganan konflik adalah “serangkaian
kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam
situasi dan peristiwa baik sebelum, pada saat, maupun sesudah
terjadi Konflik yang mencakup pencegahan konflik, penghentian
konflik, dan pemulihan pascakonflik.”
Ketiga, Peraturan Presiden RI No. 18 tahun 2014 tentang
Perlindungan danPemberdayaan Perempuan dan Anak dalam
Konflik Sosial. PPini didasarkan pada Konvensi Penghapusan Segala
Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) yang telah
diratifikasi dalam bentuk UU No. 7 tahun 1984 dan juga UU No.
7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial. Pada bagian Bab
I Ketentuan Umum, definisi Konflik Sosial sesuai dengan UU PKS.
PP ini mendefinisikan perlindungan dan pemberdayaan perempuan
dan anak sebagai berikut.
• Perlindungan perempuan dan anak yaitu upaya pencegahan
dan penanganan dari segala bentuk tindak kekerasan dan
pelanggaran hak asasi perempuan dan anak, serta memberikan
layanan kebutuhan dasar dan spesifik bagi perempuan dan anak
dalam penanganan konflik sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari kegiatan penangann konflik.
• Pemberdayaan perempuan dan anak adalah upaya penguatan
hak asasi, peningkatan kualitas hidup dan peningkatan partisipasi
perempuandan anak dalam membangun perdamaian
Ruang lingkup makna ketiga kebijakan tersebut membantu
memahami model kelembagaan penanganan konflik sebagaimana
nampak pada tabel berikut.
Bentuk-Bentuk
Kelembagaan
Profil
Lembaga yang
bertanggungjawab
Batasan definisi
dan ruang lingkup
pengertian
Pasal 19 tentang Kordinasi
1) untuk melaksanakan
perlindungan dan
pemberdaayan perempuan
dan anak dalam konflik
ditingkat pusat dibentuk Tim
Kordinasi Pusat,
2) Pasal 22, Tim Kordinasi
pusat dibantu Pokja terdiri
dari unsur pemerintah dan
masyaraakt sipil
3) Pasal 23, ditingkat
propinsi membentuk
PokjaKementerian
Tim Kordinasi Nasional
dan Pokja yang terdiri dari
Kementerian Lembaga dan
masyarakat sipil
Pasal 40 Kelembagaan
1. Pemerintah,
2. Pemerintah Daerah,
3. Pranata Adat dan /atau pranata sosial,
4. Satuan Tugas penyelesaian Konflik Sosial
(Adhoc)
1. Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Sosial
(ADhoc)
2. Tim Kordinasi Pembangunan Perdamaian
(TKPP) - SK No. 38 tahun 2013 oleh Menko
Bidang Kesejahteraan Rakyat ( Sekarang;
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)
Lembaga Pemerintahan:
1. Badan Nasional
Penanggulangan
Bencana (Bab IV)
2. Badan
Penanggulangan
Bencana Daerah
BNPB:
Lembaga non
departemen, setingkat
Menteri
(gabungan unsur
pemerintah dan
masyarakat sipil)
Lembaga Non pemerintah:
1. Lembaga Usaha
2. Lembaga Internasional
Perlindungan dan pemberdayaan
perempuan dan anak dalam
konflik sosial
Perpres No. 18 tahun 2014
Penanganan konflik sosialberupa:
1. Pencegahan konflik
2. Penghentian konflik
3. Pemulihan konflik
UU No. 7 tahun 2012
Penanggulangan bencana
alam, non alam dan sosial
UU No. 24 tahun 2008
Tabel 2. Regulasi Pola Kelembagaan Penanggulangan dan/atau Penangananan Bencana
42 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Struktur Inti
Kelembagaan
Struktur BNPB:
Ketua BNPB
Sekretaris Umum
Inspektorat Utama
UU No. 24 tahun 2008
•Ketua: Kordinator
Pembangunan Manusia dan
Kebudaya (Kemenko PMK)
•Wakil Ketua: Menko Polhukam
•Ketua Harian: Kementerian
Pemberdayan Perempuan dan
Perlindungan Anak (KPPPA)
Saat Konflik (Nas +daerah)
Penyelamatan darurat korban: ..
Bantuan Keamanan : Polri
Pemenuhan kebutuhan dasar korban: ….
Pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi :
Pengaturan mobilitas barang: …
Penyelamatan Harta Pengungsi: …
2. Tim Pelaksana :
Ketua: Asdep urusan konflik - Wakil: Direktur
Bansos (Kemensos)
Tim Kordinasi Pembangunan Perdamaian
1. Tim Pengarah :
Ketua: Deputi Bid. Lingkungan hidup dan
kerawanan sosial Wakil: Direjed kesatuan bangsa dan poltiik
Pencegahan Konflik (dilakukan oleh K/L Terkait)
- deteksi dini
- peringatan dini
- membangun kohesi sosial
- Kerukunan umat beragama dsb
Pemulihan Konflik (Pemda)
Rekonsiliasi
Rehabilitasi
Rekonstruksi
Susunan Tim Kordinasi Nasional
Inti:
Perpres No. 18 tahun 2014
Satuan Tugas Penyelesaian Konflik (Tidak ada
struktur inti)
UU No. 7 tahun 2012
Lanjutan Tabel 2.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 43
Tugas-Tugas
•perumusan dan
penetapan kebijakan
penanggulangan
bencana dan
penanganan pengungsi
dengan bertindakcepat
dan tepat, efektif dan
efisien; serta
•pengkoordinasian
pelaksanaan kegiatan
penanggulangan
bencanasecara
terencana, terpadu, dan
menyeluruh
UU No. 24 tahun 2008
Bertugas:
- melakukan kordinasi antar KL terkait dengan
pencegahan
- Membuat road map pencegahan dan pemulihan
konflik
- menyelenggarakan dan mengkordinaiskan multi
stakeholders
- dsb
TIm Kordinasi Pembangunan Perdamaian
Bertugas:
- pengumpulan fakta-fakta, data dan informasi
terkait konflik
- kordinasi dengan instansi terkait untuk
perlindungan korban
- penghitungan jumlah kerugian
- membuat laporan
Satuan Tugas Penyelesaian Konflik
UU No. 7 tahun 2012
Tugas
- melakukan kordinasi
pelaksanaan program
perlindungan dan
pemberdayanperempuandan
anak dalam konflik
- melakukan advokasi,
pemantauan, evaluasi dan
pelaporan
- melaporkan hasil
pelasanantugas kepada
presiden
Perpres No. 18 tahun 2014
Lanjutan Tabel 2.
44 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 45
Berdasarkan uraian pada Tabel 2, diperoleh catatan kesimpulan
dari ketiga instrumen regulasi tersebut sebagai berikut.
1) Batasan definisi dan ruang lingkup pengertian. Ketiga instrumen
regulasi tersebut pada dasarnya berkaitan erat dengan persoalan
pokok, yakni: (a) bencana: alam, non alam dan sosial, (b) konflik
sosial, serta (c) perlindungan dan pemberdayaan: perempuan
dan anak. Artinya, persoalan utama dalam konteks manajemen
bencana dan koflik sosial adalah kaitannya secara erat dengan
perlindungan dan pemberdayaan sumber daya manusia.
2) Dari perspektif profil Lembaga yang bertanggungjawab, diperoleh
gambaran bahwa, terdapat tiga pola :
a. lembaga pemerintahan (badan nasional dan daerah), dan
non-pemerintah (lembaga usaha dan internasional).
b. termasuk di dalamnya: pranata adat/sosial, satuan tugas
yang bersifat ad-hoc.
c. tim koordinasi pusat, pokja pada tingkat daerah.
Artinya, dari profil kelembagaan, tercatat bahwa lembaga
penanganan bencana, konflik sosial serta perlindungan dan
pemberdayaan bagi sumber daya manusia, menunjukan
keterkaitan beberapa lembaga atau entitas yakniantara lain:
lembaga pemerintahan dan non pemerintah, pranata adat/
sosial, satuan tugas, tim koordinasi dan pokja. Secara struktural
hal ini memberi isyarat bahwa penataan dan pemberdayaan
kelembagaan dalam konteks PCNA setidaknya memperhatikan
ciri-ciri dan struktur kelembagaan sebagaimana ditemukan pada
tiga produk kebijakan nasional tersebut di awal bab ini.
3) Sementara dari bentuk kelembagaan,terdiri dari:
a. lembaga non-departemen(setingkat menteri: gabungan
unsur pemerintah dan masyarakat sipil).
b. satuan tugas
c. tim koordinasi
d. pokja(kementerian, lembaga dan masyarakat sipil).
46 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Gambaran tersebut mengisyaratkan bahwa bentuk dan/
atau kelembagaan penanganan bencana, konflik sosial serta
perlindungan dan pemberdayaan sumber daya manusia pasca
konflik dalam konteks PCNA menuntut integrasi atau kolaborasi
lintas kelembagaan tersebut di atas .
4) Struktur inti kelembagaan, sebagaimana digambarkan dari tiga
kebijakan tersebut mengandung elemen-elemen dasar sebagai
berikut:
a. Penanganan bencana
-Ketua Badan
-Sekretaris Umum dan
-Inspektorat Utama
b. Satuan Tugas Penanganan Konflik:
-Saat konflik(nasional dan daerah)
-Pemulihan konflik (pemda)
-Pencegahan konflik
-Tim koordinasi pembangunan perdamaian
c. Tim koordinasi nasional.
-Ketua : koordinator
-Wakil ketua.
-Ketua harian.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa, struktur inti
kelembagaan setidaknya mengadung elemen unsur: (a) Tim
Inti yang terdiri dari : Ketua/Koordinator, Wakil Ketua, Ketua
Harian, Sekretaris, Inspektorat. (b) Satuan Tugas, yang meliputi
fungsi pencegahan, saat konflik, pemulihan dan pembangunan
perdamaian.
5) Sementara tugas-tugas (dan fungsi utama) sebagaimana nampak
diatur dalam ketiga instrumen regulasi tersebut antara lain:
a. Perumusan dan penetapan kebijakan
b. Koordinasi pelaksanaan kegiatan/penyelesaian konflik
c. Satuan tugas fungsional:
a) penyelesaian konflik
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 47
b) pembangunan perdamaian
c) perlindungan dan pemberdayaan SDM
d)advokasi
e) pemantauan, evaluasi dan pelaporan
Sehubungan temuan profil kelembagaan sebagaimana nampak
pada tabel 8., dan uraian analisisnya di atas, terdapat satu catatan
penting yang mesti menjadi perhatian dalam konteks penataan dan
pemberdayaan fungsional kelembagaan ini adalah, terkait peran
Kemenko PMK sebagai Kementerian Kordinator yang memiliki
Mandat Pencegahan dan Pemulihan Konflik secara mandiri
membuat Tim Kordinasi Pembangunan Perdamaian dengan
melibatkan 8 Kementerian terkait, yaitu:
1) Kementerian Agama;
2) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan;
3) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi;
4) Kementerian Kesehatan;
5) Kementerian Sosial;
6) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan
Transmigrasi;
7) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;
dan
8) Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Jika merujuk pada kebutuhan korban konflik yang tertera pada
UU PKS, maka kedelapan kementerian diatas bekerja pada tiga
tahap penanganan konflik, yaitu:a) Penghentian dan penyelamatan
konflik (Kemensos, Kesehatan, KPPA), b) Pemulihan konflik
(Kemenag, Kemendikbud, kesehatan, Kemendes, Kemenpora), c)
Pencegahan (semua kementerian).
Melalui jaringan strukturalTim Kordinasi Pembangunan
Perdamaian (Menko PMK), nampak dengan jelas bahwa posisi dan
penggunaan tool PCNA yang diinisiasi oleh Kemendesa, PDT dan
48 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Transmigrasi ini memperoleh tempat dan ruang strategis dalam
kontekspemulihan konflik, untuk sosialisasi dan implementasinya
ke lingkungan 8 kementerian terkait. .
4.1.2. Pola Kelembagaan: perspektif reflektif untuk PCNA
Deskripsi dan analisis pola kelembagaan sebagaimana
dijelaskan pada Tabel 8 memberikan gambaran yang cukup jelas
bagaimana bentuk penataan dan pemberdayaan pola kelembagaan
yang memadai dalam rangka implementasi instrumen PCNA
seharusnya dilakukan. Hal ini terutama penting digunakan dengan
memperhatikan pola kelembagaan yang sudah ada, misalnya dengan
menggabungkan kedua struktur yang memiliki rujukan hukum pada
UU No. 7 tahun 2012 tentang Penanganan konflik sosial. Secara
teknis, ada dua pola kolaborasi lintas kelembagaan yang penting
dipertimbangkan.
Pertama, pola Tim Kordinasi Pembangunan Perdamaian yang
dibentuk melalui SK No. 38 tahun 2013, sebagai berikut:
Diagram 7. Struktur Tim Koordinasi Pembangunan Perdamaian
Tim pengarah :
Ketua: Deputi Bid. Lingkungan hidup dan
kerawanan sosial Wakil: Direjed kesatuan bangsa dan poltiik
Anggota:
Sekjed Kemendikbud
Dep bid Polhukam
Depbid Kesatuan Bangsa Polhukam
Depbid PolhukamHan, Bappenas
Dep Bid Pengembangan Regional Otonomi
Daerah , BAppenas
Dirjend Jaminan Sosial, Kemensos
Kepala BAINTELKAM, Polri
Dep Bid Pengambangan DAerah Khusus,
Kemendes
Deputi Perlindungan Perempuan, KPPPA
Sekjed Kemenag
Dep Bid Pemberdayaan Pemuda,
Kemenpora
Tim Pelaksana :
Ketua: Asdep urusan konf lik - Wakil:
Direktur Bansos (Kemensos):
Anggota:
Dir. Kewaspadaan Nas, Kemendagri
Kep. Biro Analisis Baintelkam, Polri
Asdep Penanganan daerah rawan
konf lik/ kontijensi, Menkopolhukam
Dir kawasan khusus / tertinggal,
Bappenas
Dir Pertahanan dan Keamanan,
Bappenas
Dir. pendidikan masy, Kemendikbud
Kep Pusat Kerukuann umat beragama,
Kemenag
Asdep daerah rawan konf lik, Kemendes
Asdep penanganan KtP, KPPPA
Asdep Organisasi kepemudaan,
kemenpora
Kep Pus Penelitian Politik, LIPI
Dir Ex titian Perdamaian
Dir Ex The Habibie Center
KEtua Pusat Krisis Psikologi, UI
PUSAD, PAramadina
Ketua Perhimpunan Organisasi
Perempuan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 49
Kedua,pola Tim Kordinasi Nasional RAN P3AKS yang dibentuk
dengan menggunakan Permenko No. 8 tahun 2014 sesuai dengan
Mandat dari Perpres No. 18 tahun 2014 tentang Perlindungan dan
Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam konflik sosial. Secara
lengkap struktur sebagai berikut;
Tim Kordinasi Nasional
Ketua:
: Menko PMK
Wakil : Menko Polhukam
Anggota/Ketua Harian: Kementerian pemberdayaan perempuan
dan perlindungan anak (KPPPA). Tugas-tugas
pelaksanaan dibantu oleh Pokja
Anggota: 1) Menteri membidangi urusan dalam negeri
2) Menteri yang membidangi urusan pertahanan
3) Menteri yang membidangi urusan agama
4) Menteri yang membidangi urusan hukum dan HAM
5) Menteri yang membidangi pendidikan dan kebudayaan
6) Menteri yang membidangi urusan sosial
7) Menteri yang membidangi urusan ketenagakerjaan dan
ketransmigrasian
8) Menteri yang membidangi urusan perdagangan
9) Menteri yang membidangi urusan komunikasi dan informatika
10) Menteri yang membidangi urusan koperasi, usaha kecil dan
menengah
11) Menteri yang membidangi urusan perumahan rakyat
12) Menteri yang membidangi urusan pembangunan daerah
tertinggal
13) Menteri yang membidangi urusan pekerjaan umum
14) Kepal kepolisian RI
15) Jaksa Agung RI
16) Panglima Tentanga Nasional indonesia
50 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Secara legal kedua unit operasional ini memiliki kedudukan
yang berbeda. Tim Kordinasi Pembangunan Perdamaian dilegalkan
dengan SK Menko, sementara Tim Kordinasi Nasional RAN P3AKS
mengunakan Permenko No. 8 tahun 2014 dimana pimpinan atau
kordinator adalah Menteri sendiri. Tetapi peluang memadukan
kedua struktur ini sangat memungkinkan.
Bila kedua pola tersebut digabungkan, maka terdapat
kemungkinan pola kelembagaandiilustrasikan seperti nampak pada
digram dibawah ini.
Diagram 8. Gabungan Pola Kelembagaan Penanganan Bencana/
Konflik
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 51
4.2.Koordinasi
Dalam rangka memahami posisi dan peran koodinasi berkaitan
dengan penangnan pemulihan pasca konflik dengan stimulasi
instrumen PCNA, maka ada dua hal penting berikut yang perlu
menjadi pertimbangan.
1)Prinsip-prinsip dasar koordinasi.
Secara sederhana kordinasi didefiniskan sebagai sebuah
proses mengorganisir orang atau kelompok atau unit agar bisa
menjalankan pekerjaan secara baik. Dalam kordinasi, dibutuhkan
seperangkatkualifikasi kemampuan untuk mengelolamultidimensi
posisi dan peran para pihak terkait untuk mencapai tujuan bersama.
Agar kordinasi berjalan dengan lancar, maka 9 prinsip dibawah ini
perlu dilakukan oleh Kemendes;
a. Memastikan kualitas kepemimpinan visioner yang ditunjukkan
dalam bentuk pengawasan yang intensif kepada pejabat
dibawahnya yang secara langsung menjalankan tugas-tugas
operational. Pimpinan juga harus memberikan arahan kerja yang
jelas, efektif dan fokus pada outcome, dan memberikan motivasi
yang kuat kepada tim. pada waktu-waktu tertentu Ketua Tim
dituntut hadir untuk memberikan motivasi pada tim dan juga
mengetahui secara detil apa yang terjadi pada pelaksanaan
program secara langsung dari perspektif KL-KL terkait
b. Menyamakan tujuan bersama kepada semua pihak yang
tergabung dalam tim dan dipastikan semua orang memiliki tujuan
bersama. Jika setiap aktor KL memahami tujuan bersama, maka
lebih mudah untuk menentukan kontribusi yang tepat pada
upaya penanganan konflik sosial, khususnya pada pelaksanan
PCNA di lapangan.
c. Memahami tim secara baik dengan memperhatikanbudaya
dan kemampuan kerja setiap KL berbeda, sehingga penting
untuk memahami secara mendalam dinamika di setiap KL
dan memastikan tupoksi setiap anggota tim dapat dipahami.
52 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Memastikan setiap orang yang ada di tim memiliki pengetahuan
dan skill yang sesuai dengan job seseorang. Mendifinisikan peran
d. Menentukan focal point di tiap KL. Hal ini penting karena
pergantian jabatan sangat cepat di Kementerian, maka penting
selalu memastikan ada dua orang focal point di tiap KL, ini agar
jika salah satu diganti masih ada yang lain yang siap melanjutkan.
Focal Point di KL penting ditunjuk agar pola kordinasi mudah dan
lancar karena berfokus pada orang yang pasti. Meski demikian
penting mematikan pihak atasan untuk mengetahui pola kerja
baru dimana disposisi akan jatuh pada orang yang memang
bertanggunjawab pada pengawalan isu bukan atas dasar
“gantian”.
e. Menyusun perencanaan strategis yang partisipatifdengan
memastikan setiap KL membuat rencana strategis yang mengarah
pada goal bersama. Terutama memastikan bahwa PCNA
diintegrasikan ke dalam kerja-kerja mreka. Jika diperlukan untuk
duduk bersama memahamkan bagaimaan rencana strategis KL
perencanaan yang ada memiliki detil
f. Melakukan rapat kordinasi yang efektif pada pertemuan
kordinasi antar KL tetapi. Beberapa hal penting dalam rapat
kordinasi yang perlu diperhatikan adalah; a) Penentuan tanggal
rapat minimal 2 minggu sehingga KL bisa mempersiapkan dengan
baik, b) Agenda rapat disuse secara jelas terutama dengan
menyebutkan target rapat kordinasi, termasuk jika diharapkan
tiap KL akan melakukan presentasi atau sekedar update laporan.
Untuk membantu KL maka formulir laporan update perlu dibuat;
c) perwakilan KL yang diundang adalah pihak yang tepat agar
bisa memberikan gambaran capaian KL secara tepat dan kaya
data-data, d) hasil notulensi rapat dikirimkan ke semua peserta
tidak lebih dari 5 hari kerja, d) sekretariat menindaklanjuti halhal yang direkomendasikan dalam rapat kordinasi. Dengan
menggunakan DocumentOnline Tracking, maka Kemendes akan
memiliki informasi tentang pelaksanan kegiatan sebelum rapat
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 53
dimulai, sehingga bisa menyiapkan presentasi tentang sudah
sejauhmana perencanaan dijalankan dan berapa persen lagi akan
selesai.
g. Melakukan komunikasiyang efektif dengan memastikan bahwa
setiap anggota tim memahami gol bersama dan setiap orang
memahami peran masing-masing untuk mendorong tercapaianya
tujuan bersama. Karena skill komunikasi efektif penting bagi
anggota tim, perlu ada upaya refreshment atau capacity building
bagi tim agar komunikasi diantara anggota tim terbangun dengan
baik dan menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi.
h. Menyediakan alat kordinasi efektif untuk memudahkan
semua pihak bisa memantau capaian pekerjan setiap KL. Salah
satu yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan sistem
DocumentOnline Tracking . Dengan bantuan teknologi Microsoft
online Kemendes bisa menciptakan sebuah tabel kegiatan
secara online, dimaan setiap KL yang terlibat memiliki link yang
sama. Ini adalah dokumen online bersama, dimana setiap KL
yang selesai melakukan aktifitas maka mereka akan mengisi
kolom-kolom yang ada dengan informasi misalnya jenis kegiatan,
tanggal pelaksanaan, jumlah peserta yang hadir, rangkuman isi
kegiatan, rekomendasi, PIC di KL . Begitu KL mengisi dokumen
tersebut, maka Kemendes akan mendapatkan kompilasi tanpa
harus menunggu laporan dari KL pada rapat kordinasi.
i. Memfasilitasi keterlibatan masyarakat sipil.Ada banyak aktor
yang bekerja dalam upaya penanganan konflik sosial dan salah
satu kelompok yang aktif adalah masyarakat sipil. Keberadaan
mereka dalam tim dan rapat-rapat kordinasi akan memberikan
cara pandang yang berbeda dan mendorong terjadinya forum
yang dinamis dalam menyerap aspirasi dan gagasan yang
beragam. Analisis komprehensif dari berbagai latar belakang
akan membantu pemerintah dalam memahami sebuah program
secara lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bukan
sekedar berorientasi menyelesaikan proyek.
54 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
2)Arah Koordinasi dalam Roadmap Penanganan Konflik.
Selain prinsip-prinsip dasar di atas, pelaksanaan Instrumen
PCNA/SRNA oleh Kemendesa, PDT dan Transmigrasi perlu
memperhatikan posisi dan peran koordinasi masing-masing. Hal
ini terutama diperlukan dalam konteks implementasi Raodmap
Penanganan Konflik Sosial dan Tahapan Membangunan
Ketangguhan masyarakat dan daerah pada wilayah konflik di
Indonesia. Selengkapnya digambarkan pada diagram berikut.
Diagram 9. Roadmap Penanganan Konflik dan
Tahapan Membangunan Ketangguhan
Road Map Penanganan Konflik;
Tahapan Membangun Ketangguhan
Membangun jaringan
peace building
Pembagian peran
dalam gerakan
peace building
1.Pemetaan bersama
sumber konflik, trend
,pola, dan
kecenderungan konflik
ke depan
2. Pemetaan akibat
dan dampak konflik
serta jenis kebutuhan
pasca konflik (PCNA)
- Identifikasi dan
revitalisasi pranata
lokal
- Peraturan
daerah atau
hukum adat
- Sistem
peringatan dan
respon dini konflik
- Sinergi Peran dan
kerjasama antar
kementerian/lembaga,
pemda, korporasi
nasional/regional dan
pranata adat
- Tata kelola cegah
konflik, kapasitas
kelembagaan dan
ketahanan masyrakat
terhadap konflik
Regulasi program2
peace building yang
berkelanjutan
-indikator
ketangguhan konflik
- Gender analysis
pathway ( partisipasi,
akses,kontrol, dan
manfaat
- TOOLS DAERAH
TANGGUH KONFLIK
Tahap pertama. Salah satu permasalahan mendasar
pengeloalan konflik dan membangun perdamaian (peace building)
di Indonesia adalah terabaikannya perhatian untuk mempertegas
dan memperjelas peta jalan pengelolaan konfliksecara terpadu
serta komprehensif lintas kementerian dan badan, terutama terkait
dalam konteks kerja rekonsoliasi, rekonstruksi dan rehabilitasi.
Sebagaimana nampak pada Diagram 10., pemerintah pusat - dalam
hal ini kementerian-kementerian terkait –pada umumnya masih
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 55
berada padaindikator-indikator tahap awal, yaitu, fase yang berkaitan
dengan upaya-upaya pemetaan bersama terhadap sumber konflik,
kecenderungan (trend), pola dan arah dinamika konflik ke depan.
Namun Kemendesa, PDT dan Transmigrasi,melalui penyusunan
Instrumen PCNA, berupaya melakukan inisiatif untuk langkah lebih
progresif dengan membuat pemetaan akibat dan dampak konflik serta
jenis kebutuhan pasca konflik. Langkah inisiasidiharapkanmenjadi
starting point dalam rangka realisasi tahap-tahap selanjutnya sesuai
roadmap pengelolaan konflik dan pembangunan perdamaian (peace
building)secara holistik, integral dan berkelanjutan.
Tahap kedua adalah upaya pembagian peran dalam gerakan
pemulihan dan peace buildingpasca konflik sebagai pijakan
dasar kordinasi dan kolaborasi sinergis lintas kementerian, di
tingkatpusat maupun daerah.Dengan demikian, diharapkan
lembaga-lembaga terkiat bisa bersama-sama mengdentifikasi dan
merevitalisasi pranata lokal, peraturan daerah dan hukum adat
yang responsif dalampembangunan perdamaian sertamenyediakan
sistem peringatan dan respon dini yang efektif. Kolaborasi lintas
kelembgaaan yang sudah dimulai sejak tahap pemetaan dan
perencanaan diharapkan bisa medorong kerjasama lebih lanjut pada
tahap realisasi atau implementasi.
Tahap ketiga adalah membangun jaringan pemulihan dan
peace building yang hanya dapat diupayakan jika sinergiperan dan
kerjasama antar kementerian/lembaga, pemda, korporasi nasional/
regional dan pranata adat telah terbangun. Begitupula, pemulihan
jaringan peacebuilding juga akan mudah dilakukan jika tata kelola
cegah konflik, kapasitas kelembagaan dan ketahanan masyarakat
terhadap konflik telah terwujud.
Tahap keempat adalah perumusan regulasi sebagai acuan
pengembangan program pemulihan dan peace building yang
berkelanjutan dengan mengacu kepada indikator yang sudah ada.
Diantara yang bisa menjadi acuan adalah Indikator Ketangguhan
Konflik dan pendekatan Gender Analysis Pathway. Dengan demikian
56 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
tool daerah tangguh konflik dapat dihasilkan setelah PCNA ini
dilaksanakan.
Tahapan-tahapan dalam roadmap tersebut searah dengan
pasal 9 UU 7/2012 yang memuat sejumlah upaya-upaya yang bisa
dilakukan dalam mengatasi potensi konflik. UU ini mengamantkan
sejumlah cara penanganan potensi konflik sebagai berikut:
a. Melakukan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang
memperhatikan aspirasi masyarakat
b. Menerapkan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik
c. Melakukan program perdamaian di daerah potensi konflik
d. Mengintensifkan dialog antarkelompok masyarakat
e. Menegakan hukum tanpa diskriminasi
f. Membangun karakter bangsa
g. Melestarikan nilai pancasila dan kearifan local
h. Menyelenggarakan musyawarah dengan kelompok masyarakat
untuk membangun kemitraan dengan pelaku usaha di daerah
setempat
3)Koordinasi BerbasisPerdamaian dan Ketangguhan Konflik
Esensi dari pentingnya sistem koordinasi efisien dan efektif
lintas para pihak terkait dalam pembangunan perdamaian adalah
mendorong perubahan yang mendasar, sistematis dan berkelanjutan
dalam mengatasi kekerasan (negative peace) menuju terwujudnya
perdamaian yang berjelanjutan (positive peace)., Menurut Johan
Galtung, positive peaceyang merupakan tujuan puncak dari
pemulihan masyarakat pasca-konflik adalah kondisi yang lebih dari
sekadar tidak adanya kekerasan (the absence of violence). Kondisi
ini yang ditandai dengan kehadiran keadilan sosial melalui adanya
kesempatan yang sama bagi setiap warganegara, perlindungan
yang bersifat egaliter, dan aplikasi hukum yang imparsial (Galtung,
1984). Oleh karenanya, pembangunan perdamaian ditujukan
kepada tiga hal yang saling berkait, yaitu keamanan, pembangunan
politik, dan pembangunan sosial ekonomi (Norwegian Minister of
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 57
Foreign Affairs, 2004). Dalam konteks inisiasi Kemendesa, PDT
dan Transmigrasi, konsep positive peace ini perlu menjadi pijakan
untuk menjadikan daereh, wilayah dan desa serta masyarakat yang
berdaiam di sana sebagai basis ketangguhan konflik berkelanjutan.
Untuk menciptakan kondisi positive peace ini diperlukan
pendekatan yang memperhatikan kebutuhan individu masayarakat
dala dimensi yang berbeda.Bagir dan Dwipayana (2011) menyatakan
upaya pemberdayaan perlu dilakukan dengan memperhatikan
keseimbangan tiga aspek strategis, yaitu: politik rekognisi, politik
representasi dan politik redistribusi. Politik rekognisi dalam
hal ini adalah masyarakat begitupula pemerintah daerah dapat
menghormati, menghargai dan mengakui keragaman yang ada.
Keragaman yang dimaksud disini adalah keragaman etnik,agama
dan gender. Pengakuan ini tidak hanya dalam konteks hak-hak
sipil namun juga hak-hak sosial, ekonomi dan kultural. Sementara
itu politik representasi adalah adanya keseimbangan peran dan
partisipasi masyarakat sipil dari berbagai lapisan baik yang berbasis
etnis, agama dan gender. Adapun politik redistribusi adalah adanya
keseimbangan pola hubungan produksi dalam masyarakat.diagramdi
bawah ini menggambarkan hubungan saling terkait antara ketiga
aspak ini dengan agenda pembangunan perdamaian dan kerangka
PCNA:
58 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Diagram 10 .Model Pengelolaan PCNA Berbasis Komunitas
POWER TO
(KESEMPATAN UNTUK
BERUBAH DAN
MEMPEROLEH AKSES)
POWER WITH
(MENINGKATNYA
SOLIDARITAS DAN
TINDAKAN BERSAMA
MENGHADAPI
HALANGAN SUMBER
KEKUASAAN
POWER WITHIN
(KESADARAN DAN
KEINGINAN UNTUK
BERUBAH
PEMBANGUNAN
PERDAMAIAN
Politik Rekonstruksi
Politik Rekognisi
Politik Representasi
Politik Redistribusi
Tata kelola
cegah konflik
Koordinasi
kelembagaan cegah
konflik
Ketahanan
Masyarakat
PCNA dan Revitalisasi
Pranata Adat
Daerah Tangguh Konflik
Penting diperhatikan, pola koordinasi dalam konteks
implementasi dan penggunaan Instrumen PCNA/SRNA itu,
sebaiknya memperhatikan kharakteriktik sosial, kultural, tata ruang,
dan sumber daya manusia di tingkat lokal.Adaptasi konteks lokal
ini sangat dibutuhkan agar implementasi program tidak bersifat
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 59
top-down dan dengan demikian bisa dijalankan secara efisiensi dan
efektifitas dalam pemulihan sosial dan pembangunan perdamaian
pasca konflik berbasis kemandirian dan ketahanan komunitas lokal
dan daerah.
4.3.Pendanaan
Merujuk pada UU No. 7 tahun 2012 (Bab III), sumber pendanaan
yang dapat dipakai untuk kegiatan pemulihan masyarakat pasca
konflik bisa berasal pemerintah dan swasta.Pendanaan dari
negarabisa diambilkan dari APBN atau APBD. Sementara pendanaan
non-pemerintah bisa bersumber dari bantuan dana hibah dari
kerjasama bilateral, multilateral, atau dari program CSR perusahaan..
1)Pendanaan Pemerintah
Ada beberapa kategori dana yang bisa dipakai dari sumber
APBN atau APBD;
a. Dana untuk pencegahan konflik ;
• Pemerintah (pusat) mengalokasikan APBN untuk pencegahan
konflik melalui anggaran Kementerian/ lembaga yang
bertanggunjawab sesuai tugas dan fungsinya.
• Sementara Pemerintah daerah mengalokasikan APBD untuk
pencegahan konflik melalui anggaran satuankerja perangkat
daerah yang bertanggung jawab sesuai tugas dan fungsinya
a) Pendanaan penghentian konflik dan rekonsiliasi pasca
konfoik diambil dari dana siap pakai ada APBN, dana
belanja tidak terduga pada APBD. Dana ini bersumber
pada anggaran bendahara umum negara. Dana pasca
konflik
b) Pemda yang memiliki keterbatasan dana dapat mengajukan
permohonan dana pasca konflik dengan mengajukan Dana
Alokasi Khusus (DAK) kepada Pemda dengan dilengkapi
kerangka acuan kegiatan rehabilitasi dan rekonsturksi
pasca konflik dan anggaran.
60 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
2)Pendanaan non-pemerintah
Sumber-sumber pendanaan dari pihak non-pemerintah tidak
harus berupa dana asing. Di dalam negeri ada banyak potensi
sumber dana non-peerintah, seperti dana CSR, dana publik, zakat,
infaq, shadaqah, atau dana amal lainnya.
Bentuk-bentuk pendanaan dari non-pemerintah bisa bersumber
dari ;
1. Kerjasama Bilateral antara pemerintah Indonesia dengan negara
lain. Dana hibah seperti ini biasanya langsung kerjasama dengan
pihak pemerintah selevel menteri. Sumber-sumber pendanaan
bisa dari World Bank, ADB, IDB yang memberikan pinjaman
lunak untuk pemerintah agar bisa melakukan pembangunan
secara maksimal
a) Pendanaan CSR; ini merupakan danakewajiban sosial
perusahaan yang wajib dikeluarkan oleh para perusahaan
diluar dari hitungan Pajak pendapatan mereka. Programprogram CSR dirupakan
b) Dana publik; Ini adalah trend baru pendanaan yang didukung
oleh individu atau kelompok yang merasa satu tujuan. Biasanya
dana publik dikumpulkan untuk kebutuhan cepat emergensi.
Tetapi sekarang dana publik juga banyak dialokasikan untuk
pendampigna kasus atau menjawab persoalan struktural.
c) Dana amal adakah pendanaan yang diberikan oleh geraja,
masjid atau sebuah perusahaan dengan tanpa mengikat
penerima bantuan.
3)Tantangan
Sebagai negara middle income, pemerintah Indonesia memiliki
kecukupan dana untuk implementasi pembangunan. Akan tetapi
beberapa tantangan yang masih dihadapi dalam hal pendanaan
adalah:
Alokasi anggaran yang berorientasi pada umumnya berorientas
pada pemenuhan kebutuhan praktis bukan strategis. Kecenderungan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 61
memberikan cash fund atau bantuan langsung mendorong aktifitas
amal menjadi satu-satunya cara cepat menghabiskan anggaran.
Sementara kegiatan yang lebih mendorong pada perubahan
struktural sering tidak mendapatkan dukungan pendanaan atau
sangat sedikit.
a. Mekanisme akses pendanaan bagi CSO kurang jelas, sehingga
potensi implementasi yang harusnya bisa didongkrak oleh CSO
sering luput dari perhatian. Mekanisme akses pendanaan bagi
CSO juga sebagai alat kordinasi antara pemerinah dan CSO.
b. Minimnya perspektif para pemimpin di daerah terhadap isu,
membuat prioritas dana bisa bergeser pada hal-hal yang lebih
menunjang kebutuhan praktis daripada strategis. Ini karena
output untuk kebutuhan praktis jauh lebih mudah terukur.
62 Kelembagaan, Koordinasi dan Pendanaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 63
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan
Sebagai sebuah panduan, hasil kajian dan penyusunan instrumen
pemulihan pasca konflik ini dapat digunakan untuk mendukung
penyusunan indeks ketahanan konflik di Indonesia. Maka dapat
diformulasikan beberapa kesimpulan yang sejalan dengan tujuan
penyusunan instrumen PCNA, sebagai berikut.
1) Melalui proses kajian intensif dalam rangka menyusun instrumen
Post Conflict Need Assessment (PCNA) melalui instrumen Social
Recovery Need Assessment (SRNA), dapat diperoleh gambaran
faktual bahwa:
a. Jajaran pemerintahan di pusat dan daerah, lembaga swadaya
masyarakat, perguruan tinggi, lembaga keagamaan dan
berbagai lembaga yang peduli dan bertanggungjawab
terhadap pemulihan sosial pasca konflik di Indonesia, sangat
64 Kesimpulan dan Rekomendasi
membutuhkan hadirnya instrumen seperti ini.
b. Kenyataan ini secara faktual semakin diperkuat dengan
temuan-temuan konstruktif yang terungkap melalui diskusidiskusi kritis reflektif-kontekstual pada serial seminar dan
lokakarya yang melibatkan perwakilan kementerian/lembaga
pada tingkat pusat maupun perwakilan daerah melalui 40
Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) yang terseleksi dari
wilayah konflik yang diselenggarakan dalam konteks kajian,
bahwa selama ini instrumen PCNA/SRNA sangat dibutuhkan
sebagai salah satu upaya memberikan informasi faktual
tentang kebutuhan pemulihan pasca konflik.
c. Sejalan dengan itu, disadari oleh para pihak terkait selama
serial seminar dan lokakarya yang diselenggarakan bahwa
sekalipun pada kenyataannya terbukti inisiatif penyusunan
instrumen PCNA dilakukan oleh pihak Kementerian Desa,
PDT dan Transmigrasi. Hadirnya instrumen ini sangat
bermanfaat bagi pengembangan kinerja jajaran pemerintah
daerah khususnya, dalam pengelolaan kerja-kerja pemulihan
pasca konflik di daerah masing-masing.
d. Hadirnya instrumen PCNA diharapkan dapat memberikan
panduan baku bagi jajaran aparat dan lembaga berwenang di
tingkat pusat dan daerah serta para pihak terkait dalam rangka
mengidentifikasi, memetakan dan mengukur tingkat dampak
kerusakan dan kerugian sosial pasca konflik serta tingkat
kebutuhan dan frekuensi pemulihan di wilayah masing-masing
secara terpola, kontekstual, tepat guna, berdayaguna dan
berhasilguna.
2)Sebagaimana terungkap melalui serial seminar, lokakarya
dan kajian berbagai data sekunder selama pelaksanaan kajian
dan penyusunan instrumen Post Conflict Need Assessment
(PCNA) melalui Social Recovery Need Assessment (SRNA), dapat
disimpulkan bahwa:
a. Seluruh stakeholder terkait yang berkepentingan dengan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 65
penanganan pemulihan pasca konflik, baik di tingkat pusat
maupun di daerah/wilayah konflik di Indonesia, sangat
membutuhkan tersedianya data serta informasi yang terolah
dan terpilah secara akurat, sistematis, ter-update secara
berkala, serta mudah dan cepat diakses dalam mendukung
fase-fase pemulihan: early response, early recovery dan long
term recovery.
b. Seluruh peserta serial seminar dan lokakarya selama
pelaksanaan kajian dan penyusunan instrumen PCNA
menyadari bahwa inisiatif mendasar dan strategis yang
dilakukan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi ini
telah mengisi kekosongan konstekstual dan praksis dalam
manajemen penanganan pasca bencana/konflik sosial yang
selama ini dilakukan para pihak terkait secara sendiri-sendiri
sesuai TUSI, kapasitas dan pengalaman nyata masing-masing
K/L dan daerah.
c. Inisiatif mendasar ini merupakan upaya mewujudkan
dukungan strategis dalam rangka membutuhkan suplai data
dan informasi yang akurat, kontekstual, ter-update secara
berkala, serta terolah dan terpilah secara sistematis dalam
mendukung kerja-kerja pemulihan sosial pasca konflik pada
level: (a) pengambilan keputusan strategis di berbagai segmen
para pihak terkait melalui berbagai produk regulasi dan
kebijakan strategis dan implementatif (power strategy); (b)
pendidikan kesadaran kritis publik dan rakyat serta seluruh
stakeholder terkait melalui berbagai media komunikasi
publik (persuasive strategy); terutama, (c) dukungan terhadap
aktifitas pemberdayaan dan penguatan kapasitas ketahanan,
kemandirian dan kepribadian basis-basis komunitas lokal para
pihak berkonflik (re-educative strategy).
d. Persoalan strategis yang muncul selama fase kajian dan
penyusunan dokumen ini, bukan hanya pada bagaimana profil
instrumen PCNA dibuat secara obyektif, tetapi juga pada
66 Kesimpulan dan Rekomendasi
bagaimana peran para aktor pengguna atau penerima manfaat
secara subyektif. Karena pada kenyataannya, tersedianya
data akurat sebagai basis tindakan pemulihan setidaknya
mesti memenuhi kriteria dayaguna dan kemanfaatan secara
obyektif dan subyektif secara utuh, integral, dan terukur
dayagunanya secara berkelanjutan.
e. Patut disadari bersama bahwa betapa upaya mengungkapkan
berbagai data dan informasi tentang pengalaman destruktif
dan rekam jejak peristiwa konflik kekerasan komunal yang
dialami para pihak terkait, akan berhadapan dengan kondisi:
(a) dimana pengalaman dengan segala suka duka, kepahitan,
dan air mata senantiasa terekam dalam pengalaman sadar
komunitas lokal atau para pihak terkait; (b) data dan informasi
dari rekam jejak pengalaman konflik yang tersimpan dalam
memori kolektif dan pengalaman sadar komunitas para pihak
yang terlibat dalam konflik membutuhkan pengetahuan
dan keterampilan tersendiri dari pihak pengguna instrumen
dalam aplikasinya untuk memfasilitasi para pihak ke tingkat
social trust building yang kondusif; (c) sehingga dengan
penuh percaya diri, terbuka dan lugas tanpa beban sejarah,
komunitas korban atau pelaku dalam konflik dapat menutur
dan mengungkapkan rekam jejak peristiwa dan pengalaman
sadar itu melalui stimulasi instrumen PCNA/SRNA; dan (d)
sebagai produk pengetahuan bersama yang amat berharga
dalam membangun langkah-langkah pemulihan dan
perdamaian dengan masa lalu demi membangun perdamaian
berkelanjutan di masa depan sejarah komunitas dan daerah.
f. Karena itu, hadirnya instrumen PCNA ini diharapkan dapat
mengisi ruang bagi terpenuhinya aspirasi kebutuhan akurat
terhadap kondisi sosial pasca konflik berbasis data dan informasi
lapangan yang teruji dan dapat dipertanggungjawabkan
tingkat kemanfaatannya dalam rangka penyusunan rencana
aksi pemulihan pasca konflik, baik di bawah koordinasi, fasilitasi
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 67
dan mediasi kebijakan serta pemberdayaan Kementerian Desa,
PDT dan Transmigrasi sebagai inisiator, maupun terutama
seluruh K/L terkait dan daerah-daerah konflik di Indonesia
sebagai pengguna.
3) Berdasarkan data dan informasi serta refleksi pengalaman para
pihak sebagai mitra proses kajian dan penyusunan instrumen
Post Conflict Need Assessment (PCNA) melalui Social Recovery
Need Assessment (SRNA), disadari bahwa:
a. Pada tingkat operasional pengelolaan kerja-kerja pemulihan
pasca konflik dibutuhkan langkah yang terpola dalam rangka
merumuskan secara kontekstual, sistematis dan faktual
jawaban atau respon berbagai pihak terkait sesuai tugas
pokok,
fungsi dan/atau tanggungjawab masing-masing
sebagai wujud tindakan proaktif pemulihan di lingkungan
masing-masing lembaga, organisasi, daerah dan komunitas.
b. Dalam konteks itu perlu disadari bahwa tujuan utama kajian
dan penyusunan instrumen ini bukanlah agar tersedinya
suatu dokumen PCNA/SRNA, tetapi terlebih: (a) sebagai
alat strategis dalam rangka mendorong langkah-langkah
berkelanjutan berkaitan dengan upaya menyusun indeks
ketahanan lokal, (b) yang secara integral akan menyumbang
pada fasilitasi penataan dan pemberdayaan kemandian serta
inisiatif masyarat lokal dan daerah, dan (c) membangun sistem
peringatan dan respon dini ketahanan berbasis modal sosial,
budaya dan spirit lokal.
c. Konsekuensi implementatif yang tak terhindarkan adalah
bahwa seluruh stakeholder pada tingkat lokal dan daerah,
melalui stimulasi instrumen PCNA ini: (a) secara mendasar,
terpola, sistematis dan berkelanjutan akan memasuki
fase baru pengembangan kapasitas pengetahuan, sikap
dan keterampilan sumber daya manusia lokal; (b) dalam
manajemen pendataan dan pengolahan informasi terolah dan/
atau terpilah; (c) disumbangkan secara fungsional bagi kerja-
68 Kesimpulan dan Rekomendasi
kerja pemulihan pasca konflik berbasis kapasitas komunitas
dan kelembagaan lokal; dan (d) dalam memulihkan dampak
destruksi dan reproduksi destruksi berbasis ketahanan
masyarakat dan daerah.
d. Hadirnya instrumen PCNA ini pada tingkat operasional
implementatif diharapkan bisa memperkuat dan memudahkan
proses pemulihan sistematis terhadap dampak psikososial
berkelanjutan yang terekam dalam memori kolektif seluruh
komunitas korban/penyintas dan/atau masyarakat lokal
terdampak yang hanya dapat dilakukan dengan berbasis
kemandirian dan inisiatif otoritatif korban terberdayakan
sendiri.
e. Sejalan dengan itu, harus disadari bahwa wilayah dan/
atau daerah konflik yang menjadi sasaran penggunaan dan
pemanfaatan dokumen ini mencakup wilayah pedesaan, PDT
dan transmigrasi yang berada di kawasan beranda negara, baik
pulau besar maupun pulau-pulau kecil yang membutuhkan
perhatian dan manajemen pendampingan terpola dan intensif
melalui mekanisme people to people diplomacy (diplomasi
masyarakat kepada masyarakat) dalam rangka manajemen
ketahanan konflik berbasis masyarakat dan lembaga lokal. Hal
ini dapat menjadi alternatif solusi terhadap pendekatan dan
mekanisme government to government diplomasy (diplomasi
pemerintah ke pemerintah) yang berkonotasi represif selama
ini.
f. Hadirnya instrumen PCNA ini diharapkan akan memberikan
dukungan berupa panduan implementasi, koordinaasi, fasilitasi
dan mediasi bagi para pihak terkait di tingkat implementasi
dalam rangka menyusun rencana aksi dan program-program
konkrit berkaitan dengan pemulihan pasca konflik dan
pencegahan konflik secara mandiri dan berkelanjutan potensi
dan peluang konflik baru di masa depan.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 69
5.2.Rekomendasi
Merujuk rumusan kesimpulan tersebut di atas, butirbutir rekomendasi berikut dapat diformulasikan sebagai acuan
implementasi, yakni:
1)Panduan PCNA ini dapat digunakan oleh para pemangku
kepentingan diantaranya:
a.Pemerintah Pusat : Panduan PCNA ini dapat dijadikan
informasi dan rujukan bagi Kementerian/Lembaga di tingkat
Pusat dalam rangka melakukan pengkajian dan penilaian
(pengukuran) akibat atau dampak negatif dan perkiraan
kebutuhan untuk membangun kembali kerusakan modal
sosial akibat konflik, serta sekaligus dapat dijadikan acuan
dalam rangka penetapan lokasi sasaran pelaksanaan program
pembangunan penanganan konflik sosial oleh Kementerian/
Lembaga Terkait;
b.Pemerintah Daerah : Panduan PCNA ini dapat dijadikan
informasi dan rujukan bagi pemerintah daerah untuk
mengembangkan program/kegiatan pencegahan konflik sosial
berdasarkan tools dan instrumen PCNA pada aspek Tata
Kelola, Koordinasi Kelembagaan dan Ketahanan Masyarakat.
c. LSM, Pegiat Perdamaian dan Lembaga International.
Panduan PCNA ini dapat dijadikan basis model, pendekatan
dan tools bagi organisasi/lembaga non-pemerintah dalam
rangka merumuskan strategi advokasi, prioritas dan focus
pendampingan masyarakat serta pemantapan agendaagenda program pencegahan konflik social di 122 Kabupaten
Tertinggal.
d.Akademisi. Panduan PCNA ini dapat dijadikan bahan referensi
perkuliahan, riset dan program pengabdian pada masyarakat
sebagai model-model analisis dan pendekatan baru yang
sesuai dengan karakteristik sosial masyarakat Indonesia.
2) Insiatif strategis Kemendesa, PDT dan Transmigrasi dalam
mengkaji dan menyusum dokumen PCNA harus dipahami tidak
70 Kesimpulan dan Rekomendasi
hanya sebagai upaya memenuhi tanggungjawab dan kinerja tugas
dan fungsi internal semata, tetapi terutama sebagai sumbangan
berharga dalam rangka mendorong peran strategis antar seluruh
K/L dan daerah konflik melalui langkah-langkah implementatif
seperti:
a. Melengkapi produk dokumen kelembagaan dengan menyusun
lebih lanjut Panduan Implementasi dan Penggunaan
Instrumen PCNA pada tingkat K/L, daerah dan para pihak
terkait. Sehingga para pihak terkait memiliki kerangka dan
batasan persepsi, pemahaman, penafsiran dan implementasi
yang selaras dan applicable.
b. Mempersiapkan aparat pelaksana atau sumber daya manusia
lokal sebagai sasaran dan ujung tombak implementasi
instrumen PCNA melalui rangkaian dan serial pelatihan
dan/atau forum sosialisasi terpola demi tersedianya tenaga
terampil untuk itu.
c. Membekali SDM teralatih dengan Standard Operational
Procedure (SOP) pengelolaan instrumen PCNA (update data
dan informasi), agr dapat menghasilkan produk data dan
informasi terolah, serta menyampaikannya sebagai suplai
kemanfaatan dalam mendukung kerja-kerja pemulihan pasca
konflik di berbagai tingkat kepentingan.
3) Sebagai tindak lanjut inisiatif kajian dan penyusunan dokumen
PCNA, pihak Kemendesa, PDT dan Transmigrasi diharapkan
dapat segera mengambil langkah-langkah tindak lanjut berikut:
a. Membentuk tim koordinasi internal pada tingkat pusat yang
bertanggungjawab dalam melakukan koordinasi, fasilitasi,
implementasi dan kontrol kinerja dayagunanya.
b. Memetakan,
mempersiapkan,
mengkoordinasi
dan
memfasilitasi jaringan sumber daya manusia dan kelembagaan
potensial dan strategis dalam rangka implementasi dan
pendayagunaan dokumen PCNA.
c. Menetapkan beberapa daerah strategis sebagai pilot project
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 71
implementasi dokumen PCNA dalam kurun waktu satu tahun
anggaran, dengan memperhatikan cluster-cluster potensial
dalam rangka pemberdayaan dan monitoring dayaguna
dan hasilguna kinerja kerja-kerja pemulihan pasca konflik di
Indonesia.
4) Dalam konteks penataan dan pemulihan kondisi masyarakat pasca
konflik sosial sebagai basis pembangunan ketahanan masyarakat
dan daerah serta pembangunan perdamaian berkelanjutan,
maka:
a. Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi dapat menegaskan
dan memastikan status dokumen ini dengan produk kebijakan
publik atau regulasi tingkat Kementerian, Kementerian
Koordinator bahkan tingkat keputusan Presiden.
b. Dokumen ini pada gilirannya akan berkelanjutan jika didukung
dengan tersedianya regulasi yang mendukung, baik pada
tingkat K/L terkait maupun pada tingkat daerah berupa Perda,
Keputuan Gubernur/Bupati/Walikota.
c. Regulasi tersebut harus dilihat sebagai upaya Kemendesa,
PDT dan Transmigrasi dalam memetakan tingkat keseriusan
para pihak yang berkepentingan di seluruh aras dan wilayah
terhadap pentingnya manajemen pasca konflik berupa
tindakan pencegahan, pemulihan dan pembangunan
perdamaian berkelanjutan.
d. Peta kebutuhan bagi pemulihan masyarakat pasca konflik
adalah salah satu indikator keberhasilan manajemen
pemerintahan dan pembangunan para pimpinan daerah
pada daerah-daerah/wilayah konflik maupun pasca konflik di
Indonesia.
72 Kesimpulan dan Rekomendasi
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 73
DAFTAR PUSTAKA
Burdge, B &Vanclay, F.1996. Social Impact Assessment : A
Contribution to the State of the Art Series: Impact
Assessment 14: 59-86
Bourdieu, Pierre “ the Forms of Capital dalam John G.
Richardson.1986. Handbook of Theory and Research for
the Sociology of Education.New York: Greenwood Press
Coleman, James. 1990. Foundation of Social Theory. Cambridge:
Harvard University
Press
Cornwell, Richard at all. 2010. Seminar Report: Post-conflict
Reconstruction and Peacebuiling., Lanzerac Hotel,
Stellenboasch, South Africa, 20 and 21 September 2010.
Coser, A. Lewis. 2007. Social Conflict and the Theory of Social
Change., The British Journal of Sociology, Vol.8, No.3. (Sep.,
1957), pp. 197-207.
74 Daftar Pustaka
Dahrendorf, Ralf. 2011. Toward a Theory of Social Conflict. The
Journal of Conflict Resolution, Vol.2. No.2 (Jun.1958), pp.
170-183.
Hadi, Suharto P.1997. AspekSosialAMDAL :Sejarah, TeoridanMetode.
Yogjakarta: GM Press
Hasbullah,Jousari.2006. Social Capital (Menuju Keunggulan Budaya
Manusia Indonesia) Jakarta : MR Unites Press
Inayah.2012. Peranan Modal Sosialdalam Pembangunan.
RagamJurnalPengembanganHumanioraVol 12 no 1 April
2012
Pruitt, and Rubin. 2003. Social Conflict: Escalation, Stalemate and
Settlement, McGraw-Hill Humanities/Social Sciences/
Languages
Leistritz,F.LarrydanSteven,H, Murdock.1981. The Socioeconomic
Impact of Resource Development: Methods for Assesment
(Social Impact Assesment Series no 6) Boulder Colorado :
Westview Press
Manoppo, P.George. 2016. Psikososial Shock Absorbing Dalam
Mengelola Kondisi Destruksi dan Reproduksi Destruksi
Kapasitas Sumber Daya Komunitas Pasca Konflik. Materi
Lokakarya Penyusunan Indeks Post Conflict Need
Assessment, Kemendesa, PDT dan Transmigrasi, Bogor, 1-2
Juni 2016.
Murdock,S.Hdan E.C. Schriner. 1978. Stuctural and Distributional
Factors in Community Development”. Rural Sociology
43 (3): 426-449Popenoe,David.1978.Sociology, Fourth
Edition. Englewood Cliff,N.J: Prentice Hall
Popova, Zora. Ivanova. 2009. The Role of Social Capital for PostEthnic-Conflict Reconstruction., University of Bath,
Departement of European Studies and Modern Language.
Putnam,Robert. 1993. The Prosperous Community Social Capital
and Public Life,American Prospect
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 75
----------------. 2000. Bowling Alone : The Collapse and Revival
of American Community. Journal of Political Science and
Politics.
Setianingsih,Dwi.2012. DampakSosialPembebasan Tanah Proyek
PembangunanInfrastrukturuntukKepentinganUmum. Tesis
Magister Managemen Pembangunan Sosial. Jakarta: FISIP
DepartemenSosiologi UI
Susanto,P.A.S.
1983.
PengantarSosilogidanPerubahanSosial.
Jakarta: Binacipta
Sztompka,P.1993. SosiologiPerubahanSosial. Jakarta: Prenada
Thompson,J.G.,E.L. Blewvindan G.L. watts. 1978. Socioeconomic
Monitoring Report. Washington DD: Old West Regional
Commission
diaksesdarihttp://www/tresearch.fs.fed.us/
pubs/741.
Tittenbrun, Jacek. Tanpa Tahun. Ralph Dahrendorf’s Conflict Theory
of Social Differentiation and Elite Theory., Innovative Issues
and Appraoaches in Social Sciences, Vol 6. No.3.
Tschirgi, Necla. 2004. Post-Conflict Peacebuilding Revisited:
Achievements, Limitations, Challenges., International Peace
Academy, New York.
Wijono, S. 2012. PsikologiIndustridanOrganisasi. Jakarta: Kencana
Woolcock, Michael.2002. Social Scientist, Development and
Research, Social
Capital Participant in the Seminar Held by the Performance and
Innovation Unit
76 Daftar Pustaka
Indikator
Analisis kondisi
umum daerah
terkena konflik
Variabel SRNA
1.Kerusakan
Kapasitas
Manusia
(komunitas)
1.Perkembangan kondisi
keamanan.
Terwujud perkembangan
pemulihan dini berkaitan
dengan:
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· warga sudah kembali di
rumah masing-masing?
· kekerasan masih
berlangsung:
pembunuhan, penculikan,
- kondisifisik dan tata ruang:
teror, dsb.
jumlah dan kualitas.
- fisik fasilitas umum dan
perumahan warga
· Kerusakan:
Tersedia bentuk data dasar
& peta situasi pasca konflik
berkaitan dengan:
Early Response (Respon Dini)
· mekanisme pengambilan
keputusan melibatkan
kelompok-kelompok
berbeda dan perempuan
dan anak-anak muda
dilibatkan
· mempertimbangkan
pendekatan rekonsilitif
dan penguatan kembali
kohesi sosial
1. Regulasi pasca konflik.
Terwujud perkembangan
pemulihan lanjutan
berkaitan dengan:
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
1. KERUSAKAN SUMBERDAYA MANUSIA
1.a. Butir-Butir Pernyataan Kerusakan Sumberdaya Manusia
Perhatian: Detil isian dalam framework ini adalah contoh yang perlu adaptasi berdasarkan temuan yang beragam di setiap wilayah. Banyak
item dalam pengisian framework ini dimaksudkan untuk memberikan kemungkinan temuan seluas mungkin.Pada praktiknya temuan di
lapangan bisa lebih sederhana atau tidak sebanyak isian dalam template ini.
LAMPIRAN: CONTOH ISIAN TEMPLATE PCNA
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 77
Variabel SRNA
Indikator
perubahan yang
terjadi
populasi yang
berpindah
-
-
· supply makanan dan air
bersih;
· jumlah yang meninggal
terpilah berdasarkan
umur, gender;
· Kondisi survivor korban
· level kekerasan : serangan
di camp, penculikan,
pembunuhan etc
· tingkat keamanan
· Keamanan
kehidupan pada
umumnya
· orang tua sudah mulai
kembali bekerja
· tingkat komunikasi antar
keluarga
· warga sudah mulai
aktifitas jual beli di pasar
3.Aktivitas Ekonomi
(pasar), komunikasi dan
kerja..
· pengemuman kebijakan
perbaikan rumah yang
rusak akibat konflik
· pendataan rumah rusak
sudah dilakukan
· warga mulai memperbaiki
rumah-rumah
2.Perkembangan kerugian
material pasca konflik
ditingkat komunitas
· Kondisi pra dan sesudah
konflik:
-
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon Dini)
· mekanisme dialog
berjalan sebagai salah
satu cara resolusi konflik
· yang terbuka terhadap
diversitas kel
2. Perkembangan budaya
masyarakat
· kebijakan ekonomi
pro rakyat yang
berbasis kemandirian
desa dan berorientasi
pada penguatan
kelompoksosial di
masyarakat
· kebijakan dan sistem
deteksi dini berbasis
komunitas dilengkapi
digitalisasi sistem data
base dan laporan rutin
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
78 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
· peran guru dan aktifitas
para guru ;
· masalah krusial dalam
pendidikan yang bisa
menyulut konflik;
· di penampungan, wiayah
terkena konflik;
· Aktivitas pendidikan :
· Keikatan komunitas:
solidaritas, kondisi politik,
etnisitas, ketegangan yang
terjadi, masalah kalangan
anak-anak muda
· pembagian bantuan yang
tidak setara
· jumlah korban tidak
menerima bantuan dan
alasannya.
· jumlah korban penerima
bantuan
· penerima bantuan
langsung cash untuk
korban
5.Perkembangan bantuan
korban.
· para guru-guru sudah
kembali mengajar
· anak-anak sudah kembali
belajar ke sekolah semula
atau sekolah baru.
4.Aktivitas Pendidikan.
· kebijakan kontrol
peredaran senjata
· penegakan hukum
(nasional dan adat) bagi
pelanggaran HAM/
kekerasan
· orang-orang kunci
memiliki kapasitas
analisis sosial,
pengetahuan HAMHAP-HAN, memiiki
perspektif pluralisme,
skill resolusi konflik
3. Perkembangan
kapasitas kemandirian
masyarakat.
· kondisi perjaan baru yang
diambil, karena pekerjaan
lama tidak mungkin
diteruskan
· kebutuhan khusus terkait
tradisi kelompok;
· penampingan dan
kebutuhan pakaian
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 79
Variabel SRNA
a.
Kondisi
sumberdaya
kesehatan
fisik & mental/
psikologis;
Indikator
1. Kebijakan regulasi
Kesehatan Fisik &
Mental berkelanjutan
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
· Mobilisasi dan aktivitas
· Kebijakan nasional dan/
Tim Pemulihan.
atau lokal:
- peran tim bantuan luar
- penempatan dokter
(dalam & asing)
muda pada wilayah
- keterlibatan masyarakat
pasca konflik di daerah
dalam mengelolah bantuan
tertinggal, terpencil dan
- tim kordinasi gabungan
terluar.
pemerintah dan CSO
- pelayanan berkelanjutan
yang dikordinasikan oleh
bagi warga yang
pemerintah setempat
mengalamigangguan
untuk mengatur
kesehatan mental
pemerataan bantuan
dampak konflik di tiap
desa
1. Pemulihan Dini
Kesehatan Fisik
· program income
generating di camp atau
komunitas.
g) kondisi transportasi:
ketersediaan BBM,
komunikasi dan keperluan
logistik di lokal
1. Respon Dini Kesehatan
Fisik
· Data korban.
- data identifikasi lebih detil
korban cacat fisik dan non
fisik
- akses data korban oleh
pihak terkait
- data kerusakan
infrastruktur kesehatan RS,
puskesmas, Pos Kesehatan
dsb
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
80 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
- pencegahan, emergensi
serta respons korban
jiwa dan cacad SDM,
pada konteks konflik
dan intervensi jangka
panjang.
- adanya aturan turunan
kebijakan nasional
tentang kesehatan
mental.
· Berfungsinya
mekanisme lokal
penguatan pemulihan
berkelanjutan:
- aktivitas silaturahmi
(pemulihan kesehatan
mental)
- pembinaan rohani
intra dan interreligius
(penguatan modal sosial)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Mekanisme layanan
kesehatan korban
- ketersediaan mekanisme
komplain di masyarakat
- ketersediaan sistem
rujukan pasien ke rumah
sakit propinsi yang lebih
memiliki infra struktur
terbaik
· Adanya pernyataan
bencana pihak Pemda
- berkonsekuensi
pengeluaran dana on call di tingkat daerah.
- tunjangan penyandang
cacat fisik akibat konflik
dari Dinas Sosial
- terselenggara
operasionalisasi peralatan,
obat, dan akses layanan
kesehatan korban
· Data mobilisasi tenaga
kesehatan.
- tim tanggap darurat
DINKES terlatih
- dokter, para medis, dukun
terlatih, dan tenaga
relawan media lintas
sector,TNI, Polri, sipil dan
lain-lain, di luar kecamatan
- tenaga medis dan dokter
konflik di daerah tertinggal
- tim emergensi dari dalam
dan luar daerah
· Data peralaan, obat dan
akses layanan.
- Kelengkapan peralatan
medis kesehatan yang
memadai - kelas B
- Ketersediaan dukungan
akses kesehatan gratis
untuk korban (PMI-Pemda)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 81
Variabel SRNA
Indikator
2. Pemulihan
Lanjutan
Sumber DayaKesehatan
Mental
2. Respon Dini Kesehatan
2. Pemulihan Dini Sumber
Mental dan Sumber Daya
Daya, Kemampuan
Adaptasi dan Penguatan
Proses Recovery
· Ketersediaan data
korban.
·Adanya pola dan
mekanisme pemulihan.
- data terpilah
berdasargender, usia,
- sistem rujukan kerjasama
anggota keluarga yang
antar sektor untuk
· Terwujud model
pemulihan
berkelanjutan dalam
koordinasi Pemda.
- permaianan adat, ibadah
di rumah, Upaca Penti /
di rumah adat) - untuk
berdamai dengan masa
lalu
· Pelembagaan dan
penanganan gangguan
kesehatan mentalkonflik
di tingkat kabupaten.
- implementasi rencana,
sistem koordinasi dan
dana lintas stakeholders.
- Tersedia data dan
terselenggara layanan
intensiif terhadap warga
yang mengalami gangguan
kesehatan mental dampak
konflik di tiap desa
- Ketersediaan obatobatan siap pakai
yang didistribusikan ke
masyarakat langsung
· Rencana, sistem
koordinasi dan dana.
- Tersedia Rencana Layanan
Kesehatan.
- Kordinasi dengan
Puskesmas atau klinik
kesehatan terdekat untuk
respon cepat
- Dana emergensi di Pemda
(Dinas Sosial)
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
82 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
- psikiater dan psikolog
untuk menolong korban
traumatik level kec,
kab&prov.
· Ketersediaan data &
tenaga bantuan:
- korban pelecehan seksual
- korban yang trauma dan
· Ketersediaan
pertolongan pertama:
- jumlah kasus pelecehan
seksual atau kekreasan
seksual yang diproses
secara hukum melalui
tenga pendamping dari
LSM atau pemerintah
- data identifikasi sumbersumber gangguan mental
secara akurat
hilang, meninggal/
terbunuh, pelecehan
seksual, penyiksaan,
penculikan.
- mekanisme adat lokal
yang dalam mengurai
trauma korban kekerasan
atau pelecehan seksual
- permainan adat lokal
yang bisa mengurai &
berdamai dengan masa
lalu melibatkan banyak
orang
·Berfungsinya budaya
lokal:
- kegiatan psikososial
di masyarakat yang
melibatkan anak-anak dan
orang dewasa laki-laki dan
perempuan
- self help group dari
keluarga dan masyarakat
yang berlanjut
mendampingi korban
trauma
pengangan korban
kesehatan mental
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- adanya sistem
pengumpulan data,
diseminasi dan
update terkait dengan
keamanan, pelanggaran
HAM yang berdampak
pada kesehatan mental
Adanya training tentang
kesehatan mental dan
bagiama peran support
group
- adanya pendidikan
di masyarakat terkait
dengan “penguraian
dendam” pada anakanak
- adanya even-even
tahunan yang
diselenggarakan
oleh LSM maupun
pemerintah demi
kontinuitas pemulihan
psikososial
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 83
Variabel SRNA
Indikator
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- peran tokoh adat dan
agama yang mampu
memberikan ketenangan
pada korban traumatik
- mekanisme lokal untuk
merespon korban yang
traumatik
· Data potensi & peran
komunitas adat.
- kelompok volunteer untuk
kesehatan mental
· Kebijakan penanganan
kesehatan mental
berkelanjutan.
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
- asesmen lanjut tentang
kesehatan mental warga
- terlaksana pelatihan
singkat self help group
untuk mendukung korban
trauma
- berkembang model
kolaborasi antar agensi di
tingkat local
- data sumber dukungan
program kesehatan
mental nas &
internasional
- rujukan kesehatan
mental ke propinsi
yang didukung dengan
- berfungsinya kembali
ketersediaan tenaga
rapat-rapat warga
medis kesehatan mental
membahas perbaikan atau
rehabilitasi penduduk dan
kondisi paska konflik
- salary yang layak untuk
tenaga kesehatan
mental
- terbangun sikap
kooperatif dan support
kegiatan dari pihak
- alokasi anggaran
masyarakat
di pemda untuk
mendukung kesehatan
mental
· Kontribusi agensi lokal.
- dukungan self-help
·Berfungsinya kembali
group dari keluarga atau
kegiatan warga
komunitas yang siap
mendampingi korban yang - memperkuat komunikasi
trauma
sosial
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
84 Lampiran
Variabel SRNA
b. Pengetahuan
dan keterampilan
masyarakat
Indikator
- perspektif dan praktik
agama/spiritualitas yang
dimiliki komunitas dlm
mendukung perdamaian
- lembaga atau orang-orang - bentuk-bentuk kerjasama
yang bisa mengelola dapur
antar kelompok agama
umum atau supply makan
untuk merespon masalah
korban konflik
- alat-alat emergensi yang
dibutuhkan warga pada
saat krisis
- korban yang memiliki
kemampuan pengelolaan
bantuan kemanusiaan
- sejarah konflik dan model
relasi antar kelompok dan
individu di komunitas
tersebut
- menggunakan laporan
analisis simptomsimpton konflik
· Berfungsinya kebijakan
Early warning system
& Early Response
Berkelanjutan
- tim independen fasilitasi
merespon kondisi krisis
dipilih dan bekerja
secara partisipatif
- studi serta analsis akar
dan dampaknyadisebar
bagi masyarakat
- kapasitas daya lentur atau
tergantung
- korban yang memiliki
ketrampilan P3K untuk
menolong korban
· Berfungsinya
konsolidasi studi konflik
dan implementasi
model solusi.
· Berfungsinya kapasitas
kohesi sosio-kultural
dalam keterampilan
pemulihan
· Ketersediaan data
kapasitas masyarakat
terkait pengelolaan
pengungsian dan
bantuan.
Institusionalisasi
Pola Pengembangan
Pengetahuan dan
Ketrampilan Korban.
Korban yang Responsif
Budaya, Agama, Politik,dan
Sosiak-ekonomi di
Penampungan
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Pengetahuan dan
Ketrampilan dalam
Menangani Kondisi
Emergensi
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 85
Variabel SRNA
Indikator
Early Response (Respon Dini)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- pola pendidikan,
kesehatan, perumahan,
dll mengintegrasikan
pencegahan & respon
dini konflik
- dokumentasi Kisah
Konflik, rekonsiliasi,
dan perdamaian
diintegrasikan ke dalam
buku sejarah dan
diajarkan di sekolahsekolah
- memorializasi konflik
sebagai pembelajaran
- keberadaan dana respon
kondisi krisis ditingkat
kabupaten/propinsi
- menggunakan SOP
kondisi krisis dimiliki
komunitas ditingkat RT/
RW
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
86 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Berfungsinya mekanisme
lokal merespon kondisi
emergensi dan pemulihan
konflik
- sejarah harmoni antar
kelompok yang berbeda di
komunitas tersebut
· Terorganisir SDM
terampil dalam mendata
warga dengan standard
dasar kebutuhan
- tersedia warga atau
anak-anak muda
yang berketrampilan
mengelolasesi bermain
anak-anak
- mutu produk ekonomi:
tenun, mebel, ahli
bangunan, ayaman kulit
kayu, dsb dikemas bagi
kebutuhan pasar dan
cegah konflik.
- dayaguna lembaga
adat dalam upaya
pencegahan konflik
terjadi lagi
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 87
Variabel SRNA
Indikator
· Berfungsinya basis mata
pencaharian
- kerja-kerja antar kelompok
sosial dalam upaya
mendorong kohesi sosial
- mekanisme penyelesaian
perselisihan yang biasa
dipakai komunitas
- status dan karakteristik
hubungan antar kelompok
berbeda
- sejarah konflik yang
pernah terjadi di
komunitas tersebut
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- yang hilang atau
- tokoh adat dan agama
terdampak konflik
sebagai dukungan spiritual
dan mental pada korban
- mata pencaharian
substitute sementara yang
diambil kepala keluarga
atau anggota keluarga
- struktur sosial di daerah
tersebut
- sistem kekerabatan di
daerah tersebut
- data kelompok-kelompok
sosial di masyarakat yang
bisa dikerahkan untuk
tenaga pendamping
- fasilitas rumah ibadah
yang bisa difungsikan
untuk penampungan
- warga yang memiliki
administrasi korban: data
korban, kapasitas yang
masih ada dll
Early Response (Respon Dini)
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
88 Lampiran
Variabel SRNA
c. Keluarga (jumlah
dan kualitas)
Indikator
- usia, gender,
etniksitas,tingkat
kerentanan dan jumlah
keluarga
·Data jumlah populasi
terpilah berdasar:
Peta Populasi Sumber Daya
Manusia Terdampak Konflik
·Peran faktor sosial,
politik dan budaya
berkelanjutan.
·Berfungsinya Pemulihan
Keluarga Korban.
- jumlah IDPs yang telah
kembali ke keluarga
masing-masing (keluarga
besar dan
Kontribusi Aktor Sosial,
Politik dan Budaya dalam
Pemulihan Keluarga
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Fungsi Keluarga Mandiri
dalam Aktivitas Pemulihan
Korban
- sosialisasi hasil analisis
akar konflik pihak
akademisi ke masyarakat
& solusi bersama.
- keterlibaan perempuan
dalam pengambilan
keputusan dalam masa
recovery
- mengambil keputusan
berlanjut
· Berfungsinya forum
musyawarah
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 89
Variabel SRNA
Indikator
·Kapasitas dan
kemandirian pemulihan
berbasis keluarga
- prosentase korban
- data perkembangan anakpenyiksaan atau kekerasan
anak kembali ke sekolah
seksual
(sekolah lama maupun
sekolah baru )
- anak atau orang dengan
Disabilitas
- akses keluarga terhadap
layanan kesehatan
·Peta penduduk kampung/
terdekat
wil konflik.
- jumlah anak-anak terlibat
perang yang kembali ke
- Jumlah KK dan anggota
keluarga
keluarga tersisa/
tertampung berbading
kondisi sebelum konflik
·Peran perempuan dalam
aktivitas dan akses
pemulihan.
- prosentase perempuan
kepala rumah tangga
- jumlah IDPs yang masih
menetap di pengungsian
- jumlah yatim, anak tanpa
pendamping, anak-anak
jalanan, anak atau remaja
kepala rumah tangga,anak
terlibat perang, mantan
prajurit
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
- Tersedianya hasil
analisis kapasitas
dan kerentanan lokal
dalam mendukung
dan/atau menghalangi
peningkatkan partisipasi
perempuan dan anak.
·Tersedia model
partisipasi
perempuan dan anak
dalam pemulihan
berkelanjutan.
- kontribusi hasil analisis
dalam penanganan
pengungsian keluarga.
- tersediahasil analisis
peranfaktor sosial,
politik dan budaya
yang mempengaruhi
perempuan untuk
mengungsi secara
- individu memiliki kapasitas
berkelanjutan.
untuk recovery
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
90 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
- tersedia tim respon cepat
dan pemulihan kondisi
privasi/kriminal pasca
konflik.
- adanya data kriminal
selama kondisi krisis yang
dilaporkan
- ketersediaan ruang privasi
di penampungan
·Kebutuhan dan
kharakteristik ruang
privasi/kriminal
pemulihan.
- ketersediaan data akses
kontrasepsi untuk
perempuan (contraception
access for women)
- jumlah perempuan kepala
keluarga yang menerima
bantuan langsung untuk
perbaikan ekonomi
- zonasi lokasi terdampak
konflik (desa, daerah
berbahaya, hutan, industri
dll) dan kualifikasi KK
tersisa.
- upaya dukungan
kelompok
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
·Tersedia model peran
perempuan dalam
kemandirian pemulihan
keluarga & replikasinya.
- Perkembangan
memperbaiki
kesejahteraan
perempuan?
- dinamika perkembangan
peran, tanggungjawab
dan relasi antara
perempuan dan anak
dalam partisipasi
pemulihan.
- pengelolaan
potensi partisipasi
perempuan dan anak
dalam pemulihan
berkelanjutan.
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 91
Variabel SRNA
d. Kehidupan lokal,
dst
Indikator
- informasitentang jumlah
warga yang mengalami
dampak konflik
keagamaan berbanding
etnis.
·Tersedianya data dan
informasi dampak konflik
agama dan/atau etnik
bagi kehidupan lokal.
·Peran perempuan dalam
mendorong perencanaan
dan pemulihan sumber
daya manusia pasca
konflik.
- berfungsinya pranata
adat atau hukum adat
dalam merespons dan
menangani proses
pemulihan sumber daya
manusia secara serius.
- masyarakat merespon
kondisi kehilangan,
kematian, anggota
keluarga dan warga
selama konflik
- model dan sistem
kekerabatan antar
dan lintas kelompok/
komunitas.
- jenis atau ciri komunitas/
masyarakat lokal berbasis
patrikal atau matriakal
·Kemandirian pemulihan
masyarakat responsif
korban sumber daya
manusia.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
·Tersedianya data dan
informasi model lokal
yang mendukung
pemulihan SDM.:
Early Response (Respon Dini)
·Perspektif gender,
HAM, dan modal sosial
dalam kemandirian
interkultural pemulihan.
- tersedia model dan
terlaksana mekanisme
coping inter-komunitas
masyarakat dalam
menghadapi kekerasan
berkelanjutan secara
mandiri.
- Tersedia data, fasilitator/
mediatordan terlaksana
tindakan penyelesaian
masalah secara terbuka.
·Model penyelesaian
masalah dan pemulihan
secara terbuka.
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
92 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
model responsif gender
dalam keluarga dan
masyarakat
- bentuk-bentuk resolusi
konflik di keluarga dan
komunitas.
- mekanisme lokal
yang dipakai untuk
recovery keluarga yang
kehilangan anggotanya
karena penculikan dan
pembunuhan selama
konflik
·Tersedia dan berfungsinya
model dan mekanisme
lokal pemulihan sumber
daya manusia.
- tersedia program
pemulihan akses
pendidikan
berkelanjutan bagi
seluruh kelompok yang
terlibat dalam konflik
tanpa diskriminasi.
- prosentase kasus
kekerasan terhadap
perempuan dan anak
yang diselesaiakn
dengan menggunakan
pranata adat dan hukum
posistif
- peran publik perempuan
dalam memperjuangkan
pemulihan sumber daya
manusia di berbagai
lembaga dan jenjang
·Tersedianya data dan
informasi bentuk resolusi
konflik lokal.
- tersedia data tentang
dan berfungsi peran
perempuan dalam adat
sebagai modal sosiokultural pemulihan SDM
berkelanjutan.
- prossentase perempuan
yang terlibat dalam forum
musrenbang sebagai
lembaga pengambilan
keputusan perencanaan
berjenjang.
- data tentang peran-peran
sosial setiap kelompok
dalam komunitas: sosial,
budaya, keagamaan, dsb.
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 93
Variabel SRNA
Indikator
Early Response (Respon Dini)
tersedia program bantuan
pemerintah terkait dengan
pemulihan kehidupan
lokal :yang relevan sebagai
ruang pemulihan sumber
daya manusia.
- tersedia kebijakan
reintegrasi dan
resettlement sebagai
ruang pemulihan sumber
daya manusia tersisa dari
dampak kedua konflik
(second disaster) dan
berkelanjutan.
- prosentase warga yang
mendapatkan kembali
pekerjaan, rumah, dll
selama konflk
- jaminan kebijakan publik
atau regulasi terhadap
prosentase warga yang
kembali ke kampung
halaman
·Akses pemulihan SDM
berkelanjutan
- tersedia akses
pemulihan kesehatan
untuk seluruh kelompok
tanpa diskriminasi
kelompok minoritas:
agama, etnis, ekonomi
dsb.
- kekuatan aktor-aktor
lokal di masyarakat untuk
melakukan recovery
·Tersedia dan berfungsinya
kebijakan resettlement
dan reintegrasi korban
tersisa.
Long Term Recovery
(Pemulihan
Berkelanjtutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
94 Lampiran
2.Destruksi
Kapasitas
Manusia
(komunitas)
Variabel SRNA
Analisis kondisi
umum daerah
terkena konflik
Indikator
· Perkembangan kondisi
keamanan.
Bagaimana perkembangan
pemulihan dini berkaitan
dengan:
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- kehidupan pada umumnya · Perkembangan kerugian
material pasca konflik
- perubahan yang terjadi
ditingkat komunitas
- populasi yang berpindah
- warga mulai memperbaiki
· Keamanan
rumah-rumah
- tingkat keamanan
- pendataan rumah rusak
sudah dilakukan
- level kekerasan : serangan
di camp, penculikan,
- pengemuman kebijakan
pembunuhan etc
perbaikan rumah yang
rusak akibat konflik
- kekerasan masih
berlangsung:
- kondisifisik dan tata ruang:
pembunuhan, penculikan,
jumlah dan kualitas.
teror, dsb.
· Kondisi pra dan sesudah
- warga sudah kembali di
konflik:
rumah masing-masing
- fisik fasilitas umum dan
perumahan warga
· Kerusakan:
Apa bentuk data dasar &
peta situasi pasca konflik
berkaitan dengan:
Early Response (Respon Dini)
- kebijakan dan sistem
deteksi dini berbasis
komunitas dilengkapi
digitalisasi sistem data
base dan laporan rutin
- mekanisme
pengambilan keputusan
melibatkan kelompokkelompok berbeda dan
perempuan dan anakanak muda dilibatkan
- mempertimbangkan
pendekatan rekonsilitif
dan penguatan kembali
kohesi sosial
· Regulasi pasca konflik.
Bagaimana perkembangan
pemulihan lanjutan
berkaitan dengan:
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
1.b. Butir-Butir PertanyaanKerusakan Sumberdaya Manusia
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 95
Variabel SRNA
Indikator
·
Kondisi survivor
korban
-
jumlah yang
meninggal terpilah
berdasarkan umur,
gender;
-
supply makanan
dan air bersih;
-
kebutuhan khusus
terkait tradisi kelompok;
-
penampingan dan
kebutuhan pakaian
-
pembagian bantuan
yang tidak setara
·
Keikatan
komunitas: solidaritas,
kondisi politik, etnisitas,
ketegangan yang terjadi,
masalah kalangan anakanak muda
·
Aktivitas
pendidikan :
-
di penampungan,
wiayah terkena konflik;
-
masalah krusial
dalam pendidikan yang
bisa menyulut konflik;
Early Response (Respon Dini)
·
Aktivitas Ekonomi
(pasar), komunikasi dan
kerja.
-
warga sudah mulai
aktifitas jual beli di pasar
-
tingkat komunikasi
antar keluarga
-
orang tua sudah
mulai kembali bekerja
-
kondisi perjaan
baru yang diambil, karena
pekerjaan lama tidak
mungkin diteruskan
·
Aktivitas
Pendidikan.
-
anak-anak sudah
kembali belajar ke sekolah
semula atau sekolah baru.
-
para guru-guru
sudah kembali mengajar
·
Perkembangan
bantuan korban.
-
penerima bantuan
langsung cash untuk
korban
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
-
kebijakan
ekonomi pro rakyat
yang berbasis
kemandirian desa
dan berorientasi
pada penguatan
kelompoksosial di
masyarakat
·
Perkembangan
budaya masyarakat
-
yang terbuka
terhadap diversitas kel
-
mekanisme
dialog berjalan sebagai
salah satu cara resolusi
konflik
·
Perkembangan
kapasitas kemandirian
masyarakat.
-
orang-orang
kunci memiliki
kapasitas analisis sosial,
pengetahuan HAMHAP-HAN, memiiki
perspektif pluralisme,
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
96 Lampiran
Variabel SRNA
a. Kondisi
sumberdaya
kesehatan
fisik & mental/
psikologis;
Indikator
program income
generating di camp atau
komunitas.
- jumlah korban tidak
menerima bantuan dan
alasannya.
- jumlah korban penerima
bantuan
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
1.Berfungsinya mekanisme
1.Bagaimana kondisi
layanan kesehatan
respon dini pemulihan
korban
kesehatan fisik
· Data korban.
- data identifikasi lebih detil - ketersediaan mekanisme
komplain di masyarakat
korban cacat fisik dan non
- ketersediaan sistem
fisik
rujukan pasien ke rumah
- akses data korban oleh
sakit propinsi yang lebih
pihak terkait
memiliki infra struktur
- data kerusakan
terbaik
infrastruktur kesehatan RS,
puskesmas, Pos Kesehatan
dsb
Kondisi transportasi:
ketersediaan BBM,
komunikasi dan keperluan
logistik di lokal
- peran guru dan aktifitas
para guru ;
Early Response (Respon Dini)
· Berfungsi kebijakan
nasional dan/atau lokal:
- penempatan dokter
muda pada wilayah
pasca konflik di daerah
tertinggal, terpencil dan
terluar.
1.Bagaimana pola
dan pelaksanaan
kebijakan pemulihan
kesehatan fisik &mental
berkelanjutan
- kebijakan kontrol
peredaran senjata
- penegakan hukum
(nasional dan adat) bagi
pelanggaran HAM/
kekerasan
skill resolusi konflik
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 97
Variabel SRNA
Indikator
· Data mobilisasi tenaga
kesehatan.
- tim tanggap darurat
DINKES terlatih
- dokter, para medis, dukun
terlatih, dan tenaga
relawan media lintas
sector,TNI, Polri, sipil dan
lain-lain, di luar kecamatan
- tenaga medis dan dokter
konflik di daerah tertinggal
- tim emergensi dari dalam
dan luar daerah
· Data peralaan, obat dan
akses layanan.
- Kelengkapan peralatan
medis kesehatan yang
memadai - kelas B
- Ketersediaan dukungan
akses kesehatan gratis
untuk korban (PMI-Pemda)
Early Response (Respon Dini)
- pelayanan berkelanjutan
bagi warga yang
mengalamigangguan
kesehatan mental
dampak konflik di tiap
desa
- pencegahan, emergensi
serta respons korban
jiwa dan cacad SDM,
pada konteks konflik
dan intervensi jangka
panjang.
- adanya aturan turunan
kebijakan nasional
tentang kesehatan
mental.
· Berfungsinya
mekanisme lokal
penguatan pemulihan
berkelanjutan:
- aktivitas silaturahmi
(pemulihan kesehatan
mental)
Berfungsinya pernyataan
bencana oleh pihak Pemda
- berkonsekuensi
pengeluaran dana on call di tingkat daerah.
- tunjangan penyandang
cacat fisik akibat konflik
dari Dinas Sosial
- terselenggara
operasionalisasi peralatan,
obat, dan akses layanan
kesehatan korban
- implementasi rencana,
sistem koordinasi dan
dana lintas stakeholders.
- terwujud layanan intensiif
terhadap warga yang
mengalami gangguan
kesehatan mental dampak
konflik di tiap desa
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
98 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
data terpilah
berdasargender, usia,
anggota keluarga yang
hilang,
· Terwujudnya
ketersediaan data
korban.
2.Apa wujud respon Dini
Kesehatan Mental dan
Sumber Daya
Ketersediaan obatobatan siap pakai
yang didistribusikan ke
masyarakat langsung
· Rencana, sistem
koordinasi dan dana.
- Tersedia Rencana Layanan
Kesehatan.
- Kordinasi dengan
Puskesmas atau klinik
kesehatan terdekat untuk
respon cepat
- Dana emergensi di Pemda
(Dinas Sosial)
-
Early Response (Respon Dini)
- pembinaan rohani
intra dan interreligius
(penguatan modal sosial)
- permaianan adat, ibadah
di rumah, Upaca Penti /
di rumah adat) - untuk
berdamai dengan masa
lalu
· Berfungsinya
pelembagaan dan
penanganan gangguan
kesehatan mentalkonflik
di tingkat kabupaten.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
1.Bagaimana
wujud 2.Bagaimana
model
pemulihan Dini Sumber
pemulihan
lanjutan
Daya,
Kemampuan
Sumber
Daya
Adaptasi dan Penguatan
Kesehatan Mental
Proses Recovery
· Terwujudnya
· Berfungsinya pola dan
model pemulihan
mekanisme pemulihan.
berkelanjutan dalam
koordinasi Pemda.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 99
Variabel SRNA
Indikator
- self help group dari
keluarga dan masyarakat
yang berlanjut
mendampingi korban
trauma
- sistem rujukan kerjasama
antar sektor untuk
pengangan korban
kesehatan mental
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- adanya pendidikan
di masyarakat terkait
dengan “penguraian
dendam” pada anakanak
- adanya even-even
tahunan yang
diselenggarakan
oleh LSM maupun
pemerintah demi
kontinuitas pemulihan
psikososial
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
- kegiatan psikososial
di masyarakat yang
melibatkan anak-anak dan
orang dewasa laki-laki dan - adanya sistem
· Terwujudnya
perempuan
pengumpulan data,
ketersediaan pertolongan
diseminasi dan
· Berfungsinya budaya
pertama:
update terkait dengan
lokal:
keamanan, pelanggaran
- korban yang trauma dan
HAM yang berdampak
- permainan adat lokal
- korban pelecehan seksual
pada kesehatan mental
yang bisa mengurai &
Adanya training tentang
berdamai dengan masa
· Terwujudnya
kesehatan mental dan
lalu melibatkan banyak
ketersediaan data &
bagiama peran support
orang
tenaga bantuan:
group
- mekanisme adat lokal
- psikiater dan psikolog
yang dalam mengurai
untuk menolong korban
trauma korban kekerasan
traumatik level kec,
atau pelecehan seksual
kab&prov.
- jumlah kasus pelecehan
seksual atau kekreasan
seksual yang diproses
secara hukum melalui
tenga pendamping dari
LSM atau pemerintah
- data identifikasi sumbersumber gangguan mental
secara akurat
- meninggal/terbunuh,
pelecehan seksual,
penyiksaan, penculikan.
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
100 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
- peran tokoh adat dan
agama yang mampu
memberikan ketenangan
pada korban traumatik
- mekanisme lokal untuk
merespon korban yang
traumatik
· Terwujudnya data
potensi & peran
komunitas adat.
- kelompok volunteer untuk
kesehatan mental
· Terwujudnya kebijakan
penanganan kesehatan
mental berkelanjutan.
- dukungan self-help
· Berfungsinya kembali
kegiatan warga
group dari keluarga atau
komunitas yang siap
mendampingi korban yang - memperkuat komunikasi
trauma
sosial
- asesmen lanjut tentang
kesehatan mental warga
- terlaksana pelatihan
singkat self help group
untuk mendukung korban
trauma
- berkembang model
kolaborasi antar agensi di
tingkat local
- data sumber
dukungan program
kesehatan mental
nas&internasional
- rujukan kesehatan
mental ke propinsi
yang didukung dengan
- berfungsinya kembali
ketersediaan tenaga
rapat-rapat warga
medis kesehatan mental
membahas perbaikan atau
rehabilitasi penduduk dan
kondisi paska konflik
- salary yang layak untuk
tenaga kesehatan
mental
- terbangun sikap
kooperatif dan support
kegiatan dari pihak
- alokasi anggaran
masyarakat
di pemda untuk
mendukung kesehatan
mental
· Kontribusi agensi lokal.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 101
Variabel SRNA
d. Pengetahuan
dan keterampilan
masyarakat
Indikator
- lembaga atau orang-orang
yang bisa mengelolah
dapur umum atau supply
makan korban konflik
- alat-alat emergensi yang
dibutuhkan warga pada
saat krisis
- korban yang memiliki
kemampuan pengelolaan
bantuan kemanusiaan
- korban yang memiliki
ketrampilan P3K untuk
menolong korban
· Terwujudnya
ketersediaan
data kapasitas
masyarakatterkait
pengelolaan pengungsian
dan bantuan.
Apa bentuk pengetahuan
dan keterampilan dalam
menangani kondisi
emergensi
Early Response (Respon Dini)
- bentuk-bentuk kerjasama
antar kelompok agama
untuk merespon masalah
- perspektif dan praktik
agama/spiritualitas yang
dimiliki komunitas dlm
mendukung perdamaian
- sejarah konflik dan model
relasi antar kelompok dan
individu di komunitas
tersebut
- kapasitas daya lentur atau
tergantung
· Berfungsinya kapasitas
kohesi sosio-kultural
dalam keterampilan
pemulihan
Bagaimana berfungsi
korban yang responsif
budaya, agama, politik,dan
sosia-ekonomi di
Penampungan
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Berfungsinya kebijakan
Early warning system
& Early Response
Berkelanjutan
- tim independen fasilitasi
merespon kondisi krisis
dipilih dan bekerja
secara partisipatif
- studi serta analsis akar
dan dampaknyadisebar
bagi masyarakat
· Berfungsinya
konsolidasi
studi konflik dan
implementasi model
solusi.
Bagaimana berfungsi
institusionalisasi
pola pengembangan
pengetahuan
&keterampilan korban.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
102 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
- mekanisme penyelesaian
perselisihan yang biasa
dipakai komunitas
- fasilitasrumah ibadah
yang bisa difungsikan
untuk penampungan
- sistem kekerabatan di
daerah tersebut
- data kelompok-kelompok
sosial di masyarakat yang
bisa dikerahkan untuk
tenaga
- memorializasi konflik
sebagai pembelajaran
- status dan karakteristik
hubungan antar kelompok
berbeda
- warga yang memiliki
administrasi korban:
datakorban, kapasitas
yang masih ada dll
· Berfungsinya basis mata
pencaharian
- dokumentasi Kisah
Konflik, rekonsiliasi,
dan perdamaian
diintegrasikan ke dalam
buku sejarah dan
diajarkan di sekolah- kerja-kerja antar kelompok
sekolah
sosial dalam upaya
mendorong kohesi sosial
- keberadaan dana respon
kondisi krisis di tingkat
kabupaten/propinsi
· Berfungsinya mekanisme - menggunakan laporan
local merespon kondisi
analisis simptomemergensi dan pemulihan
simpton konflik
konflik
- menggunakan SOP
- sejarah harmoni antar
kondisi krisis dimiliki
kelompok yang berbeda di
komunitas ditingkat RT/
komunitas tersebut
RW
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- sejarah konflik yang
pernah terjadi di
komunitas tersebut
- tersedia warga atau
anak-anak muda
yang berketrampilan
mengelolasesi bermain
anak-anak
· Terwujudnya
pengorganisasian SDM
terampil dalam mendata
warga dengan standard
dasar kebutuhan
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 103
Variabel SRNA
Indikator
- struktur sosial di daerah
tersebut
- sosialisasi hasil analisis
akar konflik pihak
akademisi ke masyarakat
& solusi bersama.
- keterlibaan perempuan
dalam pengambilan
keputusan dalam masa
recovery
- mengambil keputusan
berlanjut
- yang hilang atau
terdampak konflik
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
- mutu produk ekonomi:
tenun, mebel, ahli
bangunan, ayamankulit
kayu, dsbdikemas bagi
kebutuhan pasar dan
cegah konflik.
- pola pendidikan,
kesehatan, perumahan,
dll mengintegrasikan
pencegahan & respon
- mata pencaharian
- tokoh adat dan agama
dini konflik
substitute sementara yang
sebagai dukungan spiritual
dan mental pada korban
diambil kepala keluarga
atau anggota keluarga
- dayaguna lembaga
adat dalam upaya
pencegahan konflik
· Berfungsinya forum
terjadi lagi
musyawarah
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
104 Lampiran
Variabel SRNA
c. Keluarga (jumlah
dan kualitas)
Indikator
· Berfungsinya kapasitas
dan kemandirian
pemulihan berbasis
keluarga
- jumlah IDPs yang masih
menetap di pengungsian
- kontribusi hasil analisis
dalam penanganan
pengungsian keluarga.
- tersediahasil analisis
peranfaktor sosial,
politik dan budaya
yang mempengaruhi
perempuan untuk
mengungsi secara
berkelanjutan.
· Berperan faktor sosial,
politik dan budaya
berkelanjutan.
Bagaimana kontribusi
aktor sosial, politik dan
budaya dalam pemulihan
keluarga
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
- individu memiliki kapasitas
· Berperan model
untuk recovery
partisipasi
perempuan dan anak
- prosentase korban
- data perkembangan anakdalam pemulihan
penyiksaan atau kekerasan
anak kembali ke sekolah
berkelanjutan.
seksual
(sekolah lama maupun
sekolah baru )
- prosentase perempuan
kepala rumah tangga
- jumlah yatim, anak tanpa
pendamping, anak-anak
jalanan, anak atau remaja
kepala rumah tangga,anak
terlibat perang, mantan
prajurit
- jumlah IDPs yang telah
kembali ke keluarga
masing-masing (keluarga
besar dan
· Berfungsinya Pemulihan
Keluarga Korban.
· Terwujudnya data jumlah
populasi SDM keluarga
terpilah berdasar:
- usia, gender,
etniksitas,tingkat
kerentanan dan jumlah
keluarga
Bagaimana berfungsi
Keluarga Mandiri dalam
aktivitas Pemulihan Korban
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Apa wujud peta populasi
SDM keluarga yang
terdampak konflik
Early Response (Respon Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 105
Variabel SRNA
Indikator
- ketersediaan ruang privasi
di penampungan
· Terwujudnya kebutuhan
dan kharakteristik
ruang privasi/kriminal
pemulihan.
- upaya dukungan
kelompok
- zonasi lokasi terdampak
konflik (desa, daerah
berbahaya, hutan, industri
dll) dan kualifikasi KK
tersisa.
- jumlahKKdan anggota
keluarga tersisa/
tertampung berbading
kondisi sebelum konflik
· Terwujudnya peta
penduduk kampung/wil
konflik.
- anak atau orang dengan
Disabilitas
Early Response (Respon Dini)
- ketersediaan data akses
kontrasepsi untuk
perempuan (contraception
access for women)
- jumlah perempuan kepala
keluarga yang menerima
bantuan langsung untuk
perbaikan ekonomi
· Berfungsinya kapasitas
perempuan dalam
aktivitas dan akses
pemulihan.
- jumlah anak-anak terlibat
perang yang kembali ke
keluarga
- akses keluarga terhadap
layanan kesehatan
terdekat
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- Perkembangan
memperbaiki
kesejahteraan
perempuan.
- dinamika perkembangan
peran, tanggungjawab
dan relasi antara
perempuan dan anak
dalam partisipasi
pemulihan.
- pengelolaan
potensi partisipasi
perempuan dan anak
dalam pemulihan
berkelanjutan.
- tersedia hasil analisis
kapasitas dan
kerentanan lokal dalam
mendukung dan/
atau menghalangi
peningkatkan partisipasi
perempuan dan anak.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
106 Lampiran
Variabel SRNA
d. Kehidupan lokal,
dst
Indikator
- jenis atau ciri komunitas/
masyarakat lokal berbasis
patrikal atau matriakal
- model dan sistem
kekerabatan antar
dan lintas kelompok/
komunitas.
· Apa wujud data dan
informasi model lokal
yang mendukung
pemulihan SDM.:
- tersedia tim respon cepat
dan pemulihan kondisi
privasi/kriminal pasca
konflik.
- adanya data kriminal
selama kondisi krisis yang
dilaporkan
Early Response (Respon Dini)
- masyarakat merespon
kehilangan, kematian,
anggota keluarga dan
warga selama konflik
· Bagaimana dinamika
kemandirian pemulihan
masyarakat responsif
korban sumber daya
manusia.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
- tersediadata, fasilitator/
mediatordan terlaksana
tindakan penyelesaian
masalah secara terbuka.
· Bahaimana model
penyelesaian masalah
dan pemulihan secara
terbuka.
· Model-model
peran perempuan
dalam kemandirian
pemulihan keluarga &
replikasinya..
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 107
Variabel SRNA
Indikator
- model responsif gender
dalam kelaurga dan
masyarakat
- bentuk-bentuk resolusi
konflik di keluarga dan
komunitas.
· Apa wujud data dan
informasi bentuk resolusi
konflik lokal.
- data tentang peran-peran
sosial setiap kelompok
dalam komunitas: sosial,
budaya, keagamaan, dsb.
- informasitentang jumlah
warga yang mengalami
dampak konflik
keagamaan berbanding
etnis.
· Apa wujud data dan
informasi dampak konflik
agama dan/atau etnik
bagi kehidupan lokal.
Early Response (Respon Dini)
- tersedia data tentang
dan berfungsi peran
perempuan dalam adat
sebagai modal sosiokultural pemulihan SDM
berkelanjutan.
- prossentase perempuan
yang terlibat dalam forum
musrembang sebagai
lembaga pengambilan
keputusan perencanaan
berjenjang.
- peran publik perempuan
dalam memperjuangkan
pemulihan sumber daya
manusia di berbagai
lembaga dan jenjang
· Bagaimana perspektif
gender, HAM, dan
modal sosial dlm
kemandirian pemulihan
berkelanjutan.
- tersedia model dan
terlaksana mekanisme
copinginter-komunitas
masyarakat dalam
menghadapi kekerasan
berkelanjutan secara
mandiri.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana peran
perempuan dalam
mendorong perencanaan
dan pemulihan sumber
daya manusia pasca
konflik.
- berfungsinya pranata
adat atau hukum adat
dalam merespons dan
menangani proses
pemulihan sumber daya
manusia secara serius.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
108 Lampiran
Variabel SRNA
Indikator
Early Response (Respon Dini)
· Apa dan bagaimana
berfungsinya kebijakan
resettlement dan
reintegrasi korban
tersisa.
- kekuatan aktor-aktor
lokal di masyarakat untuk
melakukan recovery
- tersedia akses
pemulihan kesehatan
untuk seluruh kelompok
tanpa diskriminasi
kelompok minoritas:
agama, etnis, ekonomi
dsb.
- tersedia program
pemulihan akses
pendidikan
berkelanjutan bagi
seluruh kelompok yang
terlibat dalam konflik
tanpa diskriminasi.
- prosentase kasus
kekerasan terhadap
perempuan dan anak
yang diselesaiakn
dengan menggunakan
pranata adat danhukum
posistif
· Apa dan bagaimana
berfungsinya model
dan mekanisme lokal
pemulihan sumber daya
manusia.
- mekanisme lokal
yang dipakai untuk
recovery keluarga yang
kehilangan anggotanya
karena penculikan dan
pembunuhan selama
konflik
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 109
Variabel SRNA
Indikator
Early Response (Respon Dini)
prosesntase warga
yang mendapat kembali
pekerjaan, rumah, dll
jaminan kebijakan publik
atau regulasi terhadap
prosentase warga yang
kembali ke kampung
halaman
· Bagaimana akses
pemulihan SDM
berkelanjutan
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
-
- tersedia program bantuan
pemerintah terkait dengan
pemulihan kehidupan
lokal :yang relevan sebagai
ruang pemulihan sumber
daya manusia.
-
- tersedia kebijakan
reintegrasi dan
resettlement sebagai
ruang pemulihan sumber
daya manusia tersisa dari
dampak kedua konflik
(second disaster) dan
berkelanjutan.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
110 Lampiran
.
hubungan sosial dan
kekerabatan penduduk.
2. KERUSAKAN LINGKUNGAN SOSIAL
2.a. Butir-Butir Pernyataan Kerusakan Lingkungan Sosial
Variabel Utama
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
SRNA
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
Destruksi
Hubungan sosial
· Teridentifikasi data dan
· Terwujudnya komunitas
· Terorganisasi
antara keluarga;
komunitas serta klaster
Lingkungan
tersusun peta jumlah
mandiri dan kreatif
integrasi, solidaritas,
hubungan sosial dan
sosial
penduduk berdasarkan
dalam mengembangkan
dst
kekerabatan sebagai
hubungan kekerabatan
model pemberdayaan
basis pemberdayaan
dan komunitas di
berbasis nilai-nilai
interkomunitas korban
wilayah konflik
kekerabatan korban dan
sesuai rencana aksi
· Teridentifikasi data dan
kearifan local sebagai
early recovery
tersusun peta klaster
basis long term recovery
hubungan-hubungan
·
Tumbuh
dan
· Terbentuknya forum
kekerabatan yang
berkembangnya basiskomunikasi aksi sosial
meninggal, lahirdan
basis kekerabatan
interkomunitas para
cacat fisik di wilayah
interkomunitas/
pihak dalam mengelola
penguatan hubungan
pasca konflik.
etnis/religi sebagai
sosial antar keluarga
· Tersusunnya rencana
model modal sosial
dalam menanamkan
aksi early recovery dan
pemberdayaan dan
nilai-nilai integrasi dan
long term recovery
penguatan institusi
solidaritas
menurut peta klaster
keluarga dalam
interkomunitas/
menanamkan nilai-nilai
etnis/religi para pihak
integrasi dan solidaritas
berkonflik berbasis pola
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 111
Variabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Terwujudnya tanggung
· Meningkatnya
kapasitas, kemandirian
jawab sosial pemda dan
dan solidaritas sosial
swasta membina dan
sebagai fungsi proteksi
membiayai kelompok
dan perlindungan warga
masyarakat secara
miskin, rentan dan
terpadu, terpola
marginal
dan integral dalam
memperkuat forum
komunikasi aksi sosial
interkomunitas/etnis/
religi. .
· Bertumbuhunit usaha
· Teridentifikasi dan
· Tertata dan
lokal (UMKM Lokal)
tersusun peta potensi
terberdayakanklaster· Berkembang
pengembangan
klaster sumber bisnis
keanekaragaman
sumber-sumber
dan potensial ekonomi
produksi dan kualitas
dana pemberdayaan
di masing-masing
unit usaha lokal
lokasiearly recovery
pascakonflik berbasis
· Terpenuhinya hakmasyarakat, swasta dan
pasca konflik.
hak masyarakat
negara
· Terwujudkapasitas daya
adat /lokal terkait
· Teridentifikasi data
saing basis dan klaster
bisnis lokal (UMKM
pengelolaan lahan
sumber ekonomi
lokal) dan akses
dan basis ekonomi
bidang pertanian,
· Penetapan regulasi
dayaguna
perkebunan,
yang mengatur dan
melindungi
112 Lampiran
Variabel Utama
SRNA
Hilangnya sumbersumber dan basis
ekonomi serta
perdata
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
keberlanjutan
jaringan pasar sebagai
perikanan,peternakan
pertumbuhan unit
strategi restorasi sosial
dan basis ekonomi
usaha lokal
ekonomi sistematis
lainnya yang hancur
· Tersedianya peta
pasca konflik.
dan yang tersisa pasca
jalan pengurangan
· Termanfaatkan data
konflik.
resiko dampak
dan daftarkepemilikan
· Teridentifikasi data
perubahan iklim
batas lahan (perdata)
batas lahan dan
· Tersedianya proram
dalam penataan dan
kepemilikan responsif
pemberdayaan
pengelolaan tata ruang
konflik perdata pasca
petani, nelayan
dan pengembanganya
konflik sebagai basis
peternak berbasis
yang responsif early
restorasi struktur
life skillsebagai
recovery pasca konflik.
perdata dan ekonomi
implementasi
· Terwujudnya produk
para pihak di wilayah
penyesuian Perda
regulasi penataan
konflik.
Tata Ruang dan
dan pemberdayaan
· Teridentifikasi data
Perdata pasca konflik.
dayaguna kepemilikan
potensi tenaga kerja
· Terwujudnya
lahan dan sumber
pasca konflik (jumlah
perlaksanaan
ekonomi masyarakat di
dan kategorisasi
pemulihan kembali
wilayah konflik.
kualitas dayaguna) yang
lahan dan/atau
· Terwujudnya produk
bekerja pada basis
kawasan desa pasca
kebijakan publik berupa
dan klaster ekonomi
penyesuaian Perda Tata
strategis.
Ruang dan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 113
Variabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
Keperdataan dalam
konflik sosial maupun
· Tersedianya rencana
perbatasan secara
rangka restorasi sektor
penataan kembali
parmanen sebagai
pertanian, peternakan,
dan pemberdayaan
basis identitas dan
perikanan, kehutanan
sumber ekonomi para
pengembangan
pasca konflik.
pihak serta regulasi
ekonomi komunitas.
· Terwujudnya kerangka
(legal draft)advokasi
regulasi
dan
terlaksana
pengelolaan lahan
pemulihan kembali
responsif konflik
lahan dan/atau
perdata.
kawasan desa pasca
· Tersedianya
konflik sosial maupun
petadampak perubahan
perbatasan.
tata ruang dan perdata
terhadap penataan dan
pemberdayaan sektor
pertanian, perikanan,
peternakan dan
kehutanan di wilayah
konflik.
· Tersedia data dan peta
pengambil-alihan lahan
dan/atau kawasan
desa pada wilayah
konflik sosial maupun
perbatasan.
114 Lampiran
Variabel Utama
SRNA
Hilangnya status
politik-kewargaan
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Terwujudnya sistem
· Terwujudnya
· Teridentifikasi dan
pelayanan administasi
pemutakhiran data
tersedia data hilangnya
kependudukan secara
kependudukan yang
identitas penduduk
berkala yang responsif
responsif proteksi
warga menurut
hilangnya status
integrasi sosial
kategori etnik, agama
identitas penduduk
masyarakat secara
dan kelas sosial pasca
pasca konflik.
berkelanjutan.
konflik.
· Terkondisnya
· Terwujudnya
· Teridentifikasi
peningkatan kapasitas
kapasitas manajemen
dan tersedia peta
pemdes dalam
administrasi desa
kebutuhan dan tersedia
pengelolaan data
dalam melaksanakan
kerangka kerja (manual)
kependudukan yang
pelayanan masyarakat
capacity building dan
responsif restorasi dan
yang responsif
SDM penyelenggara
integrasi status politikrestorasi dan integrasi
pemerintahan
kewargaan.
status politikdesa berperspektif
· Terselenggaranya
kewargaan.
restorasi status politik
akuntabilitas,
· Meningkatnya
kewargaan.
kerjasama kemitraan
· Teridentifikasi data
dalam pendataan
dan tersedia peta
dalam memfasilitasi
permasalahan
integrasi politikkelembagaan,
kewargaan.
pelayanan publik dan
pembangunan berbasis
komunitas.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 115
Variabel Utama
SRNA
Tantangan terhadap
peran institusi
agama dan budaya
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Teridentifikasi data
· Terwujudnya dinamika
· Terselenggaranya
dan tersedia peta
kerjasama dan
pemerintahan dan
dukungan kelembagaan
trust building antar
pembangunan desa
dan pendanaan dari
pemerintah desa, warga
yang populis
stakeholder (pemda
dan swasta sebagai
· Terbangunnya
dan swasta)
iklim restorasi status
kerjasama antar
politik-kewargaan.
stakeholder
· Terselenggaranya
yang saling
pelayanan dasar
menguntungkan di
bagi warga:di sektor
bidang pembangunan
pendidikan, kesehatan,
sosial, ekonomi dan
ketahanan pangan dan
politik
pekerjaan (daya serap)
tanpa diskriminasi
status politik warga.
· Teridentifikasi data
· Meningkatnya peran
· Menguatnya
modal budaya dan
forum komunikasi
kapasitas masyarakat
kearifan lokal
institusi berbasis
sipil yang memahami
· Teridentifikasi peta
budaya dan agama
dan menghayati nilaipotensi dan peran
· Meningkatnya apresiasi
nilai keIndonesiaan
institusi lokal
budaya antar etnis,
agama dan golongan
116 Lampiran
Variabel Utama
SRNA
Hubungan dengan
otoritas sipil, politik
dan militer
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Peta dukungan
· Meningkatnya
· Membudayanya
stakeholder bagi
dukungan dan
kembali kearifan
pengembangan forum
kontribusi institusi lokal
lokal yang responsive
multistakeholder
berbasis agama dan
perdamaian
budaya dalam aktivitas
· Terbangunnya sinergi
peace building
dan kolaborasi antar
institusi lokal berbasis
agama dan budaya
dalam aktivitas peace
building
· Terwujud kapastas
· Tersedianya grand
· Terpetakan pola-pola
otoritas sipil,
desain dan instrumen
komunikasi destruktif
politik dan militer
program penegakan
dan/atau konstruktif
di wilayah konflik
dan pemajuan HAM
otoritas sipil, politik dan
dalam pengelolaan
serta pemberdayaan
militer.
konflik yang
masyarakatpasca
· Teridentifikasi dan
resposifterhadap
konflik berbasis
terorganisir potensi
perdamaian dan
komunitas dan kearifan
budaya kearifan
keadilan sosial
lokal
lokal dalam upaya
· Terwujudefektifitas
· Terbentuknya forum
penegakan dan
forum
kerjasama otoritas
pemajuan HAM pasca
multistakeholder
sipil, politik dan militer
konflik
program
sebagai fungsi strategis
· Terpenuhi peta dan
klaster potensi budaya
kearifan lokal sebagai
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 117
Variabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integral Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
pola penegakan HAM
penegakan dan
pembangunan
berbasis modal sosial
pemajuan HAM pasca
perdamaian serta
sebagai basis integrasi
konflik.
pemberdayaan
fungsional otoritas sipil, · Terselenggaranya
masyarakat berbasis
politik dan militer.
pelatihan penegakan
komunitas dan
· Peta potensi kerjasama
dan pemajuan
kearifan lokal
multistakeholder
HAMyang responsive
· Terwujud resolusi
pada penegakan
perdamaian dan
konfik dan
dan pemajuan HAM
keadlan sosial serta
pemberdayaan
serta pemberdayaan
pemberdayaan
masyarakat berbasis
masyarakat berbasis
masyarakat
berbasis
komunitas dan
komunitas dan kearifan
kearifan lokalsebagai
kearifan lokal
lokal
fungsi forum kerjasama · Tersedianya peta
jalan resolusi konflik
otoritas sipil, politik dan
dan pemberdayaan
militer.
masyarakat
· Terselenggaranya
multistakeholder
pelatihan resolusi
berbasis komunitas
konflik,penguatan
dan kearifan lokal
kapasitas dan
pemahaman
masyarakat dalam
pembangunan
perdamaian
118 Lampiran
.
2.b. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan Lingkungan Sosial
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
VariabelDini)
Variabel Utama
Indikator
(Pemulihan
SRNA
Berkelanjutan)
2. Destruksi
a. Hubungan sosial · Apa bentuk data dari
· Bagaimana terorganisasinya · Apa langkah-langkah
antara keluarga;
komunitas serta klaster
ekologi
pemetaan jumlah
terwujudnya komunitas
integrasi,
hubungan sosial dan
sosial
penduduk berdasarkan
mandiri dan kreatif
solidaritas, dst
kekerabatan sebagai
hubungan kekerabatan
dalam mengembangkan
basis pemberdayaan
dan komunitas di
model pemberdayaan
interkomunitas korban sesuai
wilayah konflik
berbasis nilai-nilai
rencana aksi early recovery
· Apa bentuk data dari
kekerabatan korban dan
pemetaan klaster
kearifan local sebagai
· Bagaimana bentuk forum
hubungan-hubungan
basis long term recovery
komunikasi aksi sosial
kekerabatan yang
· Apa langkahinterkomunitas para pihak
meninggal, lahirdan
langkah tumbuh dan
dalam mengelola penguatan
cacat fisik di wilayah
berkembangnya basishubungan sosial antar
keluarga dalam menanamkan
pasca konflik.
basis kekerabatan
nilai-nilai integrasi dan
· Apa bentuk rencana
interkomunitas/
solidaritas
aksi early recovery dan
etnis/religi sebagai
long term recovery
model modal sosial
· Bagaimana terwujudnya
menurut peta klaster
pemberdayaan dan
tanggung jawab sosial
interkomunitas/
penguatan institusi
pemda dan swasta
etnis/religi para pihak
keluarga dalam
berkonflik berbasis
menanamkan nilai-nilai
pola hubungan sosial
integrasi dan solidaritas
dan kekerabatan
penduduk.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 119
VariabelVariabel Utama
SRNA
b. Hilangnya
sumber-sumber
dan basis
ekonomi serta
perdata
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· membina dan membiayai
· Apa langkah-langkah
kelompok masyarakat secara
meningkatnya
terpadu, terpola dan integral
kapasitas, kemandirian
dalam memper-kuat forum
dan solidaritas
komunikasi aksi sosial inter
sosialsebagai
komunitas/etnis/religi.
fungsi proteksi dan
perlindungan warga
miskin, rentan dan
marginal
· Bagaimana langkah menata · Bagaimana
· Apa bentuk
dan memberdayakan
meningkatnya
peta potensi
klaster-klaster sumber
pertumbuhan unit
pengembangan
usaha lokal (UMKM
bisnis dan potensial
sumber-sumber dana
Lokal)
ekonomi di masing-masing
pemberdayaan sosial
· Bagaimana
lokasiearly recovery pasca
pascakonflik berbasis
meningkatnya
konflik.
masyarakat, swasta
keanekaragaman
· Bagaimana langkah
dan negara
produksi dan kualitas
meningkatkan kapasitas
· Apa bentuk data
unit usaha lokal
daya saing basis dan
sumber ekonomi
· Bagaimana
klasterbisnis lokal (UMKM
bidang pertanian,
terpenuhinya haklokal) dan akses dayaguna
perkebunan,
hak masyarakat
perikanan,peternakan
adat /lokal terkait
dan basis ekonomi
pengelolaan lahan
lainnya yang hancur
dan basis ekonomi
dan yang tersisa pasca
konflik.
120 Lampiran
VariabelVariabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
jaringan pasar sebagai
strategi restorasi sosial
ekonomi sistematis pasca
konflik.
· Apa langkah
· Bagaimana
· Apa bentuk data
penetapan dan
langkahpemanfatan data
batas lahan dan
bentuk regulasi
dan daftarkepemilikan
kepemilikan responsif
yang mengatur
batas lahan (perdata)
konflik perdata pasca
dan melindungi
dalam penataan dan
konflik sebagai basis
keberlanjutan
pengelolaan tata ruang dan
restorasi struktur
pertumbuhan unit
pengembanganya yang
perdata dan ekonomi
usaha lokal
responsif early recovery
para pihak di wilayah
· Bagaimana
pasca konflik.
konflik.
model peta jalan
· Bagaimana wujud produk
· Apa bentuk data
pengurangan resiko
regulasi penataan dan
potensi tenaga kerja
pemberdayaan dayaguna
dampak perubahan
pasca konflik (jumlah
kepemilikan lahan dan
iklim
dan kategorisasi
sumber ekonomi masyarakat
Bagaimana
kualitas dayaguna)
di wilayah konflik.
modelproram
yang bekerja pada
pemberdayaan
basis dan klaster
petani, nelayan
ekonomi strategis.
peternak berbasis life
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 121
VariabelVariabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
skillsebagai
implementasi
penyesuian Perda
Tata Ruang dan
Perdata pasca konflik
· Bagaimana wujud
· Bagaimana wujud
· Apa bentuk rencana
produk regulasi berupa
perlaksanaan
penataan kembali dan
penyesuaian Perda Tata
pemulihan kembali
pemberdayaan sumber
Ruang dan Keperdataan
lahan dan/atau
ekonomi para pihak
dalam
kawasan desa pasca
serta regulasi (legal draft)
rangka restorasi sektor
konflik sosial maupun
advokasi kepemilikan
pertanian, peternakan,
perbatasan secara
dan pengelolaan lahan
perikanan, kehutanan pasca
parmanen sebagai
responsif konflik perdata.
konflik.
basis identitas dan
· Apa bentuk petadampak
Bagaimana wujud regulasi
pengembangan
perubahan tata
dan terlaksana pemulihan
ekonomi komunitas
ruang dan perdata
kembali lahan dan/atau
terhadap penataan dan
kawasan desa pasca konflik
pemberdayaan sektor
sosial maupun perbatasan.
pertanian, perikanan,
peternakan dan
kehutanan di wilayah
konflik.
122 Lampiran
VariabelVariabel Utama
SRNA
c.
Hilangnya
status politikkewargaan
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Apa bentuk data
dan peta pengambilalihan lahan dan/atau
kawasan desa pada
wilayah konflik sosial
maupun perbatasan.
· Bagaimana
· Apa dan bagaimana
· Bagaimana terwujud
terwujudnya
bentukdatahilangnya
pemutakhiran data
sistem pelayanan
identitas penduduk
kependudukan secara
administasi
warga menurut
berkala yang responsif
kependudukan yang
kategori etnik, agama
hilangnya status identitas
responsif proteksi
dan kelas sosial pasca
penduduk pasca konflik.
integrasi sosial
konflik.
· Bagaimana proses
masyarakat secara
· Apa dan bagaimana
peningkatan kapasitas
berkelanjutan.
peta kebutuhandan
pemdes dalam pengelolaan
· Bagaimana
data kependudukan yang
responsif restorasi dan
terwujudnya
integrasi status politikkapasitas
kewargaan.
manajemen
administrasi desa
dalam melaksanakan
pelayanan masyarakat
yang responsif
restorasi dan integrasi
status politikkewargaan.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 123
VariabelVariabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Bagaimana
· Apa bentuk data dan
· Bagaimana
meningkatnya
peta permasalahan
terselenggaranya
kerjasama kemitraan
kelembagaan,
akuntabilitas,
dalam pendataan
pelayanan publik
demokratisasi,transparansi
dalam memfasilitasi
dan pembangunan
dan partisipasi tanpa beban
integrasi politikberbasis komunitas.
status politik-kewargaan
kewargaan.
· Apa bentuk data
dalam manajemen
· Bagaimana
dan peta dukungan
pemerintahan dan
terselenggaranya
kelembagaan dan
pembangunan desa
pemerintahan dan
pendanaan dari
· Bagaimana terwujud
pembangunan desa
stakeholder (pemda
dinamika kerjasama
yang mengedepankan
dan swasta) dalam
dan trust building antar
kepentingan warga
pemulihan status
pemerintah desa, warga
tanpa diskriminasi.
politk-kewargaan.
dan swasta sebagai iklim
· Bagaimana
restorasi status politikterbangunnya
kewargaan.
kerjasama antar
· Bagaimana
stakeholder
terselenggaranya
yang saling
pelayanan dasar bagi
menguntungkan di
warga sektor pendidikan,
bidang pembangunan
kesehatan ,
sosial, ekonomi dan
politik
124 Lampiran
VariabelVariabel Utama
SRNA
d. Tantangan
terhadap peran
institusi agama
dan budaya
Indikator
·
·
·
Apa bentuk data
modal budaya dan
kearifan lokal
Apa dan bagaimana
peta potensi dan
peran institusi lokal
Apa bentuk
peta dukungan
stakeholder bagi
pengembangan forum
multistakeholder
·
·
·
Bagaimana wujud peran
forum komunikasi institusi
berbasis budaya dan agama
Bagaimana wujud
meningkatnya apresiasi
budaya antar etnis, agama
dan golongan
Bagaimana wujud
meningkatnya dukungan
dan kontribusi institusi
lokal berbasis agama dan
budaya dalam aktivitas
peace building
·
·
·
Bagaimana
menguatnya
kapasitas
masyarakat sipil
yang memahami dan
menghayati nilai-nilai
keIndonesiaan
Bagaimana
membudayanya
kembali kearifan
lokal yang responsive
perdamaian
Bagaimana
terbangunnya sinergi
dan kolaborasi antar
institusi lokal berbasis
agama dan budaya
dalam aktivitas peace
building
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
ketahanan pangan dan
pekerjaan (daya serap
pekerjaan) meningkat tanpa
beban diskriminasi status
politik-kewargaan.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 125
VariabelVariabel Utama
SRNA
e. Hubungan
dengan otoritas
sipil, politik dan
militer
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
· Bagaimana wujud
· Bagaimanabentuk dan
· Apa bentuk peta
meningkatnya
implementasi grand desain
pola-pola komunikasi
kapastasotoritas sipil,
dan program penegakan
destruktif dan/atau
politik dan militer
dan pemajuan HAM serta
konstruktif otoritas
di wilayah konflik
pemberdayaan masyarakat
sipil, politik dan
dalam pengelolaan
pasca konflik berbasis
militer.
konflik yang
komunitas dan kearifan lokal
· Apa bentuk potensi
resposifterhadap
· Bagaimana bentuk dan
budaya kearifan
perdamaian dan
imolementasi forum
lokal dalam upaya
keadilan sosial
kerjasama otoritas sipil,
penegakan dan
· Bagaimana wujud
politik dan militer sebagai
pemajuan HAM pasca
peningkatan
fungsi strategis penegakan
konflik
efektifitas forum
dan pemajuan HAM pasca
· Apa bentuk peta
multistakeholder
konflik.
dan klaster potensi
program
· Bagaimana wujud
budaya kearifan
pembangunan
pelatihan penegakan dan
lokal sebagai pola
perdamaian serta
pemajuan HAMresponsive
penegakan HAM
pemberdayaan
perdamaian,keadilan
berbasis modal sosial
masyarakat berbasis
social,pemberdayaan
sebagai basis integrasi
komunitas dan
fungsional otoritas
kearifan lokal
sipil, politik dan
· Bagaimana wujud
militer.
peningkatan resolusi
· Apa bentuk peta
konfik dan
potensi kerjasama
multistakeholder
pada penegakan dan
pemajuan HAM serta
126 Lampiran
VariabelVariabel Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long Term Recovery
Dini)
(Pemulihan
Berkelanjutan)
pemberdayaan
masy dan kearifan lokal
pemberdayaan
masyarakat berbasis
sebagai fungsi forum
masyarakat berbasis
komunitas dan
kerjasama otoritas sipil,
komunitas dan
kearifan lokal
politik dan militer.
kearifan lokal
· Bagaimana desain dan hasil · Bagaimana peta jalan
pelatihan resolusi konflik
resolusi konflik dan
dan penguatan kapasitas
pemberdayaan masy
masy dalam pembangunan
multistakeholder
perdamaian.
berbasis komunitas
dan kearifan lokal
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 127
3. KERUSAKAN BUDAYA DAN PERADABAN
3.a. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan Budaya dan Peradaban
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Variabel
Indikator
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
·Terwujud kerangka nilai·Berkembang kesadaran
1. Kerusakan
a. Orientasi
·Tersedianya data dan
nilai lokal tentang jati
humaniora bahwa individu
Peradaban
kemanusian
informasi tentang
diri dan orientasi hidup
atau kelompok adalah bagian
(budaya,
berubah
pemaknaan masyarakat
berbasiskemanusiaan,
dari komunitas lebih luas yang
nilai dan
menjadi
atas jati diri, tujuan
kultural, peradaban dan
hidup berdampingan dan saling
norma).
material dan
hidup dan posisi mereka
perdamaian diintegrasikan
terkait.
kuasa;
dalam struktur sosial
kedalam materi
·Penetapan kerangka kerja dan
pasca konflik.
pembelajaran sekolah dan
terwujudfasilitasi langkah·Tersedia data pola-pola
umum.
langkah pioner (proaksi)
perubahan pemaknaan
korbandalam memperkuat nilai- ·Terselenggara kegiatanatas diri dan tujuan hidup
kegiatan publik rutin yang
nilai kemanusiaan, integrasi dan
dalam relasi sosial konflik.
melembagakan nilai-nilai
peradaban.
·Tersedia data pengaruh
kemanusiaan, integrasi
·Tereduksi dampak perubahan
nyata perubahan
sosial dan kulturalberbasis
sosial konflik terhadap erosi
pemaknaan terhadap
perdamaian.
keyakinan atas nilai-nilai
tujuan hidup dan relasi
kebersamaan dan kemanusiaan ·Terselenggaraproses
sosial selama konflik
re-orientasi peradaban
interkultural.
·Tersedianya peta
tersistem dan berkelanjutan
·Terlaksana rencana kerja
orientasi hidup tentang
dengan dukungan
pemulihan komprehensif dan
apa yang bertahan dan
sumberdaya manusia
penguatanre-orientasi nilaiberubah dalam
(fasilitator) terlatih dalam
nilai kemanusiaan,integrasi dan
peradaban.
128 Lampiran
Variabel
peduli akibat
konflik dan
kekerasan;
b. Krisis rasa
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
pemaknaan masyarakat
memfasilitasi penguatan
nilai-nilai kemanusiaan dan
atas diri, tujuan hidup
kultural berbasis perdamaian
dan relasi sosial mereka
karena konflik.
·Tersediarencana kerja
pemulihan komprehensif
dan penguatan reorientasi nilai-nilai
kemanusiaan,integrasi
dan peradaban pasca
konflik.
· Terwujud pola rehabilitasi
· Model rekonsonstruksi
· Tersedianya informasi
kembali memori korban
memori dan
klaster dan zonasi
tentang model kepedulian
perilaku kepedualian
komunitas korban yang
sosial berbasis
sosial masa lalu sebagai
memiiki bentuk-bentuk
perdamaiandiintegrasikan
kepedulian sosial dan/
basis rehabilitasi sosial
konflik.
ke dalam materi
atau ketidak-pedulian
· Terwujud inisiasi langkah
pembelajaran umum dan
sosial yang menonjol
nyata dalam rangka
sekolah dalam pemulian
dalam kehidupan
berkelanjutan.
memfasilitasi langkahsehari-hari masyarakat
· Terwujud aktivitas
langkah menghidupkan
di wilayah konflik.
monumental dan
kembali bentuk kepedulian
momentualdengan
sosial yang mulai melemah
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 129
Variabel
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
·Terwujud langkah nyata
menjadikan memori
·Terpetakan apa yang
rehabilitasi rasa kepedulian
kepedulian sosial dan
berubah dan/atau
para pihak berkonflik
perdamaian sebagai basis
bertahan dari bentukdalammemulihkan kembali
kesadaran dan perilaku
bentuk kepedulian sosial
relasi,kohesi dan integrasi sosial
seharian komunitas
yang menonjol pada
yang terputus.
berkonflik.
komunitas korban selama
·Terlaksana proses penanganan
·Tercipta ritussosial,
dan pasca konflik.
komprehensif kepedulian dalam
ekonomi dan kultural lintas
·Tersedianya referensi
memperkuat pola-pola relasi,
pihak berkonflik dalam
pengetahuan sosiokohesi dan integrasi sosial
memperkuat solidaritas
kultural tentang
lintas kelompok/komunitas.
sosialdan relasi komunal
pola relasi intra dan
seperti: pasar rakyat, festival
interkelompok atau
tani, pekan seni/olahraga
komunitas di wilayah
dan sejenisnya
konflik pada masa
· Terwujudproses resebelum dan sesudah
orientasi peradaban
konflik.
tersistem dan berkelanjutan
·Tersedianya rencana
penanganan
didukung sumberdaya
komprehensif kepedulian
manusia (fasilitator) terlatih
dalam memperkuat poladalam memfasilitasi
pola relasi, kohesi dan
program-program
penguatankepedulian dan
integrasi sosial lintas
solidarias sosial berbasis
kelompok/komunitas.
perdamaian.
130 Lampiran
Variabel
terhadap
keadilan
sosial dan
hak asasi
(ekonomi,
sosial dan
budaya ekosob);
c. Tantangan
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
· Terwujud model
· Terlaksana langkah nyata
· Tersediainformasi
rekonstruksi distribusi,
untuk memberdayakan
distribusi
penguasaan dan
kelompok-kelompok marjinal
sumberdaya alam,
pengelolaan sumber daya
yang terpetakan dan
ekonomi dan politik
berbasis keadilan dan hak
terdata.
berdasarkelompok
asasi lintas komunitas
sosial terpola di antara · Terbangun kesadaran
para pihak berkonflik.
keadilan dan hak asasi
para pihak berkonflik.
· Terwujud kebijakan
di kalangan aktor-aktor
· Tersediadata peran
responsif affimative action
dominan dalam penguasaan
aktor-aktor penting
(kesetaraan kelompok)
dan pengelolaan sumber
yang menguasai&
bagi kelompok marginal
daya tentang pentingya
mengelola sumberdaya
dalam rangka:
membangun perdamaian.
alam, ekonomi &
- proteksi dan integrasi
· Terwujudmodel respon
politik berdasaririsan
sebagai mata rantai
tepat dalam mencegah
sosial.
kekuatan ekonomi dan
bentuk-bentuk perlawanan
· Tersedia peta
politik dominan
eskalatif (radikal) terhadap
pengelompokan
- memperkuat kapasitas
penegakkan dan pemajuan
sosial yang beririsan
atau daya saing
ketidakadilan pasca konflik.
dengan dengan
dalam pengembangan
· Terlaksanakan langkah nyata
distribusi kendali
ekonomi dan politik
terpola dalam memperkuat
atas sumberdaya
lokal.
faktor connector dan
alam, ekonomi dan
mengatasi faktor divider
kekuasaan utama.
para pihak berkonflik.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 131
Variabel
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
· Terwujudlangkahrespon
· Terwujud basis· Terpetakan titik
dan cegah dini perlawanan
basis penataan dan
singgung (divider) dan
dengan cara kekerasan dari
pemberdayaan perilaku
titik temu (connector),
kelompok yang kehilangan
saling berbagi antar aktor
persaingan dan saling
kendali atas sumber daya
dominan dan kelompok
tergantung antar para
alam, ekonomi dan politik.
marginal di bidang
pihak berkonflik di
· Terwujud langkah nyata
ekonomi, politik dan hak
bidang ekonomi dan
memberdayakan dan
asasi.
politik
memperkuat kapasitas dan
· Terwujud pola
· Tersedianya data
integrasi kelompok marjinal.
&mekanisme internal
tentang sejauh mana
· Terwujud model proteksi
security (otoritas
konflik (semakin)
kesinambungan cadangan
pengamanan dari dalam
melemahkan dan/atau
logistik untuk memperkuat
kelompok) secara mandiri,
memperkuat kelompok
kelompok lemah
kuat dan legitimate dalam
yang berbeda (yang
menyelesaikan sengketa.
· Terlaksana pelembagaan,
kuat semakin kuat,
· ­­­­Tersedia sistem jaminan
pemberdayaan &penguatan
lemah semakin lemah).
sosial yang efektif untuk
kelompok marjinal dalam
· Tersedianya data
menangani situasi darurat
sinergi dengan kelkuat
pergeseran relasi
akibat bencana atau krisis
kuasa dan penguasaan
ekonomi
sumberdaya alam,
ekonomi dan politik
akibat konflik (yang
lemah jadi kuat, &
sebaliknya)
132 Lampiran
Variabel
struktur
budaya,
kepercayaan
dan praktek
hidup
d. Perubahan
Indikator
· Tersedianya data
nilai-nilai kultural
yang diyakini bersama
kelompok-kelompok
sosial utama sebagai
potensi integrasi.
· Tersedianya informasi
tentang sejauh mana
pranata dan otoritas adat
terpengaruh oleh konflik
atau kekerasan
· Terpetakan sumber
pergeseran otoritas dan
manifestasinya dalam
kehidupan sehari-hari;
kemunculan tokohatau
·
·
·
Terwujud kembali peran
konsolidasi nilai-nilai dan
kultur bersama memperkuat
masyarakat lintas kelompok
Terwujud inisiatif dan
kemandirian memperkuat
pranata adat sebagai fungsi
pemberdayaan mekanisme
resolusi konflik
Terlaksana secara
dialog terpola dan
intensif tokoh, fasilitator
dan komunitas(lama
dan baru) lintas
kelompokdalampemulihan
harmoni social
· Terwujudkerangka model
ritus-ritus sosial/publik
sebagai acuan menata
danmemberdayakan
lestari peran nilai bersama
dalam rangka kohesi dan
integrasi lintas komunitas (
individu dan sosial).
· Terwujud konstruk nilainilai bersama berorientasi
perubahan struktur
budaya, kepercayaan
& praktek hidup,
terintegrasisebagai materi
pembelajaran sekolah,
publik dan regulasi daerah.
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
· Tersedia rencana dan
terwujud aksi cepat
tanggap terhadap
kelompok korban atau
yang terlemahkan
dalam kondisi darurat
bencana konflik.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 133
Variabel
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Long term Recovery
Dini)
· Terwujud peran
· Terwujudkemandirian dan
sumber otoritas baru;
pranata adat terintgrasi
inisiatif para aktor dan
serta sejauh mana hal
dalam proses-proses
fasilitator memperkuat posisi
itu memperkuat atau
dan kapasias kelompok
penyelesaian sengketa
melemahkan harmoni
moderat atau aktor
dan sektor-sektor
sosial.
damai dalam mengakses
kehidupan publik lain
· Tersedianya informasi
pengelolaan sumberdaya
· Terwujud peran kekuatan
tentang keterkaitan atau
moderat dan pembawa
alam, ekonomi & kekuasaan.
perwujudan nilai dan
· Terlaksana rencana
damai sebagai fasilitator
pranata adat dengan
memperkuat dan
sektor ekonomi dan politik
kehidupan sosial,
mereproduksi dayaguna
· Terwujudmodel saling
ekonomi dan politik
modal sosial sesuai tuntutan
berbagi dan berkontribusi
pasca konflik.
pemulihan pada konteks
antar kelompok sosial
· Terpetakan pola
perubahan sosial pasca
melaluiaktivitas sosial,
& praktik hidup
konflik.
seni, budaya, ekonomi
menguatkan atau
dan politik berbasis modal
melemahkan modal
sosial dan perdamaian.
sosial melalui bidang:
- seni-agama: ritual, tari,
dll.
- Ekonomi: bertani,
melaut, bisnis
- Social: makan, warung,
nikahan, kematian,
paguyuban, kelompok
- Politik: asosiasi&partai,
sikap terhadap
pemerintah, asosiasi
buruh, nelayan, dll.
134 Lampiran
3.b. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan Budaya dan Peradaban
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Variabel
Indikator
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana wujud kerangka
1. Kerusakan a. Orientasi
· Apa bentuk data dan
· Bagaimana wujud
nilai-nilai lokal tentang jati
Peradaban
kemanusian
informasi tentang
perkembangan kesadaran
diri dan orientasi hidup
(budaya,
berubah
pemaknaan masyarakat
humaniora bahwa individu
berbasiskemanusiaan,
nilai dan
menjadi
atas jati diri, tujuan
atau kelompok adalah
kultural, peradaban dan
norma).
material dan
hidup dan posisi
bagian dari komunitas
perdamaian diintegrasikan
kuasa;
mereka dalam struktur
lebih luas yang hidup
kedalam materi
sosial pasca konflik.
berdampingan dan saling
pembelajaran sekolah dan
· Apa bentuk data
terkait.
umum.
pola-pola perubahan
· Bagaimana wujud
· Bagaimana wujud
pemaknaan atas diri
penetapan kerangka kerja
pelaksanaan kegiatandan tujuan hidup dalam
dan terwujudfasilitasi
kegiatan publik rutin yang
relasi sosial konflik.
langkah-langkah pioner
melembagakan nilai-nilai
· Apa bentuk data
(proaksi) korbandalam
kemanusiaan, integrasi
pengaruh nyata
memperkuat nilai-nilai
kemanusiaan, integrasi dan
sosial dan kulturalberbasis
perubahan pemaknaan
peradaban.
perdamaian.
terhadap tujuan hidup
dan relasi sosial selama
konflik
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 135
Variabel
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa bentuk peta
· Bagaimana bentuk reduksi
· Bagaimanapola
orientasi hidup tentang
dampak perubahan sosial
proses re-orientasi
apa yang bertahan
konflik terhadap erosi
peradaban tersistem dan
dan berubah dalam
keyakinan atas nilaiberkelanjutan dengan
pemaknaan masyarakat
nilai kebersamaan dan
dukungan sumberdaya
atas diri, tujuan hidup
kemanusiaan interkultural.
manusia (fasilitator) terlatih
dan relasi sosial mereka · Bagimana terlaksana
dalam memfasilitasi
karena konflik.
rencana kerja pemulihan
penguatan nilai-nilai
· Apa bentuk rencana
komprehensif dan
kemanusiaandan kultural
kerja pemulihan
penguatanre-orientasi nilaiberbasis perdamaian
komprehensif dan
nilai kemanusiaan,integrasi
penguatan redan peradaban.
orientasi nilai-nilai
kemanusiaan,integrasi
dan peradaban pasca
konflik.
136 Lampiran
Variabel
b. Krisis rasa
peduli akibat
konflik dan
kekerasan;
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa dan bagaimana
· Bagaimana wujud pola
· Apa bentuk informasi
model rekonsonstruksi
rehabilitasi kembali memori
klaster dan zonasi
memori dan perilaku
korban tentang model
komunitas korban yang
kepedualian sosial berbasis
kepedulian sosial masa lalu
memiiki bentuk-bentuk
perdamaiandiintegrasikan
sebagai basis rehabilitasi
kepedulian sosial dan/
ke dalam materi
sosial konflik.
atau ketidak-pedulian
pembelajaran umum dan
· Bagaimana wujud inisiasi
sosial yang menonjol
sekolah dalam pemulian
langkah nyata dalam rangka
dalam kehidupan
berkelanjutan.
memfasilitasi langkahsehari-hari masyarakat
· Apa dan bagaimana wujud
langkah menghidupkan
di wilayah konflik.
kembali bentuk kepedulian
aktivitas monumental
· Apa wujud peta tentang
sosial yang mulai melemah
dan momentualdengan
apa yang berubah
· Bagaimana wujud
menjadikan memori
dan/atau bertahan
langkah nyata rehabilitasi
kepedulian sosial dan
dari bentuk-bentuk
perdamaian sebagai basis
rasa kepedulian para
kepedulian sosial
kesadaran dan perilaku
pihak berkonflik
yang menonjol pada
seharian komunitas
komunitas korban
dalammemulihkan kembali
berkonflik.
selama dan pasca
relasi,kohesi dan integrasi
konflik.
sosial yang terputus.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 137
Variabel
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa sajareferensi
· Bagaimana proses
· Bagaimana wujud
pengetahuan sosiopenanganan komprehensif
ritussosial, ekonomi
kepedulian dalam
dan kultural lintas
kultural tentang
pola relasi intra dan
memperkuat pola-pola
pihak berkonflik dalam
interkelompok atau
relasi, kohesi dan integrasi
memperkuat solidaritas
komunitas di wilayah
sosial lintas kelompok/
sosialdan relasi komunal
konflik pada masa
komunitas.
seperti: pasar rakyat,
festival tani, pekan seni/
sebelum dan sesudah
konflik.
olahraga dan sejenisnya
· Apa saja bentuk
· Bagaimana wujudproses
rencana penanganan
re-orientasi peradaban
komprehensif
tersistem dan
berkelanjutan dengan
kepedulian dalam
memperkuat poladukungan sumberdaya
pola relasi, kohesi dan
manusia (fasilitator) terlatih
integrasi sosial lintas
dalam memfasilitasi
kelompok/komunitas.
program-program
penguatankepedulian dan
solidarias sosial berbasis
perdamaian.
138 Lampiran
Variabel
c. Tantangan
terhadap
keadilan
sosial dan
hak asasi
(ekonomi,
sosial dan
budaya ekosob);
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana wujud model
· Bagaimana langkah nyata
· Apa bentuk
rekonstruksi distribusi,
untuk memberdayakan
informasi distribusi
penguasaan dan
kelompok-kelompok
sumberdaya alam,
pengelolaan sumber daya
marjinal yang terpetakan
ekonomi dan politik
berbasis keadilan dan hak
dan terdata.
berdasarkelompok
asasi lintas komunitas para
· Bagaimanatingkat
sosial terpola di antara
pihak berkonflik.
kesadaran keadilan dan
para pihak berkonflik.
· Bagaimana wujud kebijakan
hak asasi di kalangan
· Apa bentuk data peran
responsif affimative action
aktor-aktor dominan
aktor-aktor penting
(kesetaraan kelompok) bagi
dalam penguasaan dan
yang menguasai&
kelompok marginal dalam
pengelolaan sumber
mengelola sumberdaya
rangka:
daya tentang pentingya
alam, ekonomi & politik
- proteksi dan integrasi
membangun perdamaian.
berdasaririsan sosial.
sebagai mata rantai
· Bagaimana wujudmodel
· Apa bentuk peta
kekuatan ekonomi dan
respon tepat
pengelompokan
politik dominan
dalammencegah bentuksosialyang beririsan
- memperkuat kapasitas
bentuk perlawanan
dengan dengan
atau daya saing
eskalatif (radikal) terhadap
distribusi kendali atas
dalam pengembangan
penegakkan dan pemajuan
sumberdaya alam,
ekonomi dan politik
ketidakadilan pasca konflik.
ekonomi dan kekuasaan
lokal.
utama.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 139
Variabel
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana wujud basis· Bagaimana langkah nyata
· Apa saja titik singgung
basis penataan dan
terpoladalam memperkuat
(divider) dan titik temu
pemberdayaan perilaku
faktor connector dan
(connector), persaingan
saling berbagi antar aktor
mengatasi faktor divider
dan saling bergantung
dominan dan kelompok
para pihak berkonflik.
antar para pihak di
marginal di bidang
· Bagaimanalangkahrespon
bidang ekonomi dan
ekonomi, politik dan hak
dan cegah dini perlawanan
politik
asasi.
dengan cara kekerasan dari
· Apa wujuddata tentang
· Bagaimana wujud pola
kelompok yang kehilangan
sejauh mana konflik
&mekanisme internal
kendali atas sumber daya
(semakin) melemahkan
security (otoritas
alam, ekonomi dan politik.
dan/atau memperkuat
pengamanan dari dalam
· Bagaimana langkah
kelompok yang
kelompok) secara mandiri,
nyata pemberdayaan
berbeda (yang kuat
kuat dan legitimate dalam
dan penguatan kapasitas
semakin kuat, lemah
menyelesaikan sengketa.
dan integrasi kelompok
semakin lemah).
· Bagaimana model sistem
marjinal.
· Apa bentuk data
jaminan sosial yang efektif
· Bagaimana model proteksi
pergeseran relasi
untuk menangani situasi
kesinambungan cadangan
kuasa dan penguasaan
darurat akibat bencana
logistik untuk memperkuat
sumberdaya alam,
atau krisis ekonomi
kelompok lemah
ekonomi dan politik
akibat konflik (yang
lemah jadi kuat, &
sebaliknya)
140 Lampiran
Variabel
d.Perubahan
struktur
budaya,
kepercayaan
dan praktek
hidup
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa pola rencana dan
· Bagaimana pola
terwujud aksi cepat
pelembagaan,
tanggap terhadap
pemberdayaan &penguatan
kelompok korban atau
kelompok marjinal dalam
yang terlemahkan
sinergi dengan kelompok
dalam kondisi darurat
kuat
bencana konflik.
· Bagaimana wujudkerangka
· Bagaimana wujud kembali
· Apa wujud data nilai-nilai
model ritus-ritus
peran konsolidasi nilaikultural yang diyakini
sosial/publik sebagai
nilai dan kultur bersama
bersama kelompokacuan menata
memperkuat masyarakat
kelompok sosial utama
danmemberdayakan lestari
lintas kelompok
sebagai potensi integrasi.
peran nilai bersama dalam
· Bagaimana wujud
· Apa wujud informasi
rangka kohesi dan integrasi
inisiatif dan kemandirian
tentang sejauh mana
lintas komunitas ( individu
memperkuat pranata
pranata dan otoritas adat
dan sosial).
adat sebagai fungsi
terpengaruh oleh konflik
· Bagaimana wujud
pemberdayaan mekanisme
atau kekerasan
konstruk nilai-nilai
resolusi konflik
· Apa wujud peta sumber
bersama berorientasi
· Bagaimana model
pergeseran otoritas dan
perubahan struktur budaya,
dialog terpola dan
manifestasinya dalam
kepercayaan & praktek
intensif tokoh, fasilitator
kehidupan sehari-hari;
hidup, terintegrasisebagai
dan komunitas(lama
kemunculan tokohatau
materi pembelajaran
dan baru) lintas
sumber otoritas baru;
sekolah, publik dan regulasi
kelompokdalampemulihan
serta memperkuat atau
daerah.
harmoni sosial
melemahkan harmoni
sosial.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 141
Variabel
Indikator
· Apa bentuk informasi
tentang keterkaitan atau
perwujudan nilai dan
pranata adat dengan
kehidupan sosial, ekonomi
dan politik pasca konflik.
· Apa wujud peta pola &
praktik hidup menguatkan
atau melemahkan modal
sosial melalui bidang:
- seni-agama: ritual, tari, dll.
- Ekonomi: bertani, melaut,
bisnis
- Social: makan, warung,
nikahan, kematian,
paguyuban, kelompok
- Politik: asosiasi&partai,
sikap terhadap
pemerintah, asosiasi
buruh, nelayan, dll.
·
·
Bagaimana
wujudkemandirian dan
inisiatif para aktor dan
fasilitator memperkuat
posisi dan kapasias
kelompok moderat
atau aktor damai dalam
mengakses pengelolaan
sumberdaya alam, ekonomi
& kekuasaan.
Bagaimana proses
pelaksanaan rencana
memperkuat dan
mereproduksi dayaguna
modal sosial sesuai
tuntutan pemulihan pada
konteks perubahan sosial
pasca konflik.
· Bagaimana wujud peran
pranata adat terintgrasi
dalam proses-proses
penyelesaian sengketa dan
sektor-sektor kehidupan
publik lain
· Bagaimana wujud peran
kekuatan moderat dan
pembawa damai sebagai
fasilitator sektor ekonomi
dan politik
· Bagaimana wujudmodel
saling berbagi dan
berkontribusi antar
kelompok sosial
melaluiaktivitas sosial, seni,
budaya, ekonomi dan politik
berbasis modal sosial dan
perdamaian.
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Long term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
142 Lampiran
4. KERUSAKAN FISIK DAN TATA RUANG
4.a. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan Fisik dan Tata Ruang
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Variabel
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Indikator
Utama
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
SRNA
· Terlaksana rekonstruksi
· Terpenuhi akses data dan
Destruksi
a.
Destruksi
· Teridentfikasi
Fisik dan Tata
infrastuktur
wilayah kehancuran
informasi kehancuran
dan tersedia
Ruang
wilayah dalam
infrastrukturpada tahap
infrastruktur: kawasan
data kehancuran
skala luas
Long Term Recovery:
(zona) perumahan dan
infrastruktur: kawasan
- secara integral
pemukiman, fasos
(zona) perumahan dan
dan terkoordinasi
dan fasum, ekonomi,
pemukiman, fasos
lintas pemangku
komersial, kantoran, dsb
dan fasum, ekonomi
kepentingan.
secara integral, terpola
dan komersial,
- sesuai zonasi dan
dan terintegrasi lintas
perkantoran, dsb secara
klaster kehancuran
pemangku kepentingan.
integral, terpola dan
insfrastruktur berdasar
· Terlenggara pengelolaan
terkoordinasi lintas
tingkat kehancuran
peta zonasi dan klaster
stakeholder.
- terpenuhi akses
kehancuran insfrastruktur
· Tersedia peta zonasi
sumber daya dan
berdasarkan kategorisasi
dan klaster kehancuran
tingkat kehancuran pada
dana/anggaran
insfrastruktur
tahapanEarly Recovery
(pusat, daerah, swasta
berdasarkan kategorisasi
· Terpenuhi akses sumber
dan masyarakat)
tingkat kehancuran
daya dan dana/anggaran
dalamproses
sebagai acuan
(pusat, daerah, swasta
rekonstruksi
mendesain strategis
dan masyarakat)dalam
infasruktur
pengelolaanpada tahap
penanganan rehabilitasi
Early RecoverydanLong
infasruktur wilayah
Term Recovery.
hancur.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 143
Variabel
Utama
SRNA
b. Perubahan
dan/atau
hilangnya
batas-batas
wilayah:desa,
tanah
keluarga, dsb
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Tersedia data sumber
daya dan dana/
anggaran (pusat,
daerah, swasta dan
masyarakat)serta akses
pengelolannya demi
efektifitas rehabilitasi
dan rekonstruksi
infasruktur.
· Terselenggara
· Terpenuhi akses data
· Terpenuhi data batas
pemberdayaan
dan peta klaster tingkat
wilayahdesa dan/atau
pengelolaan batas
perubahan batas
warga yang mengalami
wilayah desa, keluarga,
wilayah/desa dalam
perubahan dan/atau
individuyang telah
pelaksanaan penataan
hilang karena kondisi
terpulihkan secara mandiri
dan pengelolaan lintas
konflik.
dan responsif perdamaian.
sektor dan bidang.
· Terpenuhi peta klaster
· Pengelolaan batas wildesa,
tingkat perubahan dan/ · Terlaksanapenataan
kel dan individu yang
kembali batasatau hilangnya batas
responsif perdamaian
batas: desa, keluarga
wilayah desa, keluarga
berkelanjutan berbasis
atau individu yang
dan individu.
pada budaya dan kearifan
responsifsistem
· Tersediarencana
lokal.
peringatan dan respon
penataan dan
dini konflik berbasis
pengelolaan kembali
budaya dan kearifan
batas-batas wilayah
lokal.
desa dan/atau warga
pasca konflik.
144 Lampiran
Variabel
Utama
SRNA
c.Persoalan hukum
perdata: hak
kepemilikan
tanah,
kebutuhan
pemulihan dan
relokasi pasca
konflik.
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Data, peta dan
· Tersedia model penataan
rencana penataan dan
dan pemulihan bataspengembalian batasbatas wildesa, kel dan
batas wilayah/desa dsb,
individuserta produk
menjadi referensi bagi
kebijakan proteksinya
Pemda setempat dalam
sebagai acuan replikasi dan
menerbitkan berbagai
pelajaran bagi wil konflik
produk kebijakan
yang lain.
(rejulasi) rehabilitasidan
rekonstruksi.
· Terselesaikan
· Tersedia model lokal
· Terpenuhi data
penanganan
advokasi perdata pasca
persoalan-persoalan
persoalanperdata pasca
konfik berbasis pengungsi:
perdata berkaitan
konfik: pengungsian
sementra danparmanen
dengan pengungsian
sementra, parmanen,
secara efektif.
pasca konfik. Baik
dsb.
· Tersedia best practice dan
pengungsian sementra,
· Terselesaikanpersoalan
polaadvokasi perdata pasca
maupun parmanen.
konflik berdasarkan tingkat
perdata pasca konflik
· Tersedia peta
kesulitan hukum dan
berdasarkan tingkat
kategorisasi persoalan
penyelesaiannya
kesulitan hukum dan
perdata pasca
penanganannya.
konflik berdasarkan
tingkat kesulitan
persoalan hukum dan
penyelesaiannya.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 145
Variabel
Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Terwujud sistem advokasi
· Tersedia sistem
· Tersedia sistem
perdata pasca konflik
penanganan perdata
penanganan perdata
secara terpola dan
pasca konflik yg terpola
pasca konflik secara
kontekstual berbasis
dan kontekstual
terpola dan kontekstual
budaya dan kearifan lokal
berbasis budaya dan
berbasis budaya dan
dan rujukan berkelanjutan.
kearifan lokal.
kearifan lokal.
· Terwujud fasilitasi
· Terwujud produk
· Tersedia produk
advokasi kasus perdata
kebijakan publik
kebijakan publik lokal
melalui produk kebijakan
(perda, pergub dsb)
(perda, pergub dsb)
publik lokal (perda, pergub
sebagai fasilitasi solusi
dalam memfasilitasi solusi
dsb).
struktural kasus perdata
struktural berbasis
Terwujud kerjaTerwujud kerjabudaya/kearifan lokal.
kerja advokasi dan
Tersedia pusat
kerja advokasi dan
pemberdayaan penyelesian
konsultansi,
pemberdayaan
masalah perdata pasca
pemberdayaanserta
penyelesian masalah
perdata pasca konflik
konflik berbasis sistem
jaringan advokasi
dengan sistem
konsultansi dan jaringan
penyelesian masalahkonsultansi dan jaringan
support terpola.
masalah perdata pasca
support terpola.
konflik.
146 Lampiran
Variabel
Utama
SRNA
Penataan dan
pemberdayaan
kembali tata
pemukiman serta
perumahan,
komersial,
perkantoran
yangt idak
responsif
terhadap
kharakter
kultural, kearifan
dan
spiritualitas
lokal.
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Terwujud penataan dan
· Terselenggara penataan
· Tersedia data
pembangunan kembali
dan pembangunan
kebutuhan penataan
tata perumahan dan
kembali tata perumahan
dan pembangunan
pemukiman, kawasan
dan pemukiman, kawasan
kembali tata
komersial, fasos-fasum,
komersial, fasos-fasum,
perumahan dan
perkantoran dsb yg
perkantoran dsb pasca
pemukiman, kawasan
parmanen & berkelanjutan
konflik.
komersial, fasos-fasum,
pasca konflik
· Terwujud penataan
perkantoran dsb pasca
· Terwujudkultur penataan
dan pemberdayaan
konflik.
dan pemberdayaan tata
tata perumahan,
· Tersedia rencana
perumahan, pemukiman
pemukiman, komersial,
penataan dan
dsb yang responsif
dan perkantoran yang
pemberdayaan
budaya dan kearifan lokal,
responsif budaya dan
tata perumahan,
gender, integrasi sosial
kearifan lokal, gender,
pemukiman dsb yang
dan multukultural, akses
integrasi sosial dan
responsif terhadap:
pendidikan dan trauma
multukultural, akses
budaya dan kearifan
healing.
pendidikan dan layanan
lokal, gender,
· Terwujud penataan dan
kesehatan, trauma
integrasi sosial dan
pemberdayaan tata
healing, dsb.
multukultural, akses
pemukiman kembali
pendidikan dan layanan · Terwujud penataan
dsb terintegrasi dengan
dan pemberdayaan
kesehatan, trauma
rencana detail tata ruang
pola pemukiman dsb
healing, dsb.
daerah sebagai model
terintegrasi dengan
· Tersedia rencana
Sistem Peringatan dan
rencana detail tata
penataan dan
Respons Dini Konflik
ruang daerah dan tidak
pemberdayaan tata
Kekerasaan.
menimbulkan gelombang
pemukiman kembali
baru konflik tata ruang.
dsb terintegrasi dengan
rencana detail tata
ruang daerah.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 147
4.b. Butir-Butir Pertanyaan Kerusakan Fisik dan Tata Ruang
Variabel
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Utama
Indikator
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
SRNA
· Apa saja lesson
· Bagaimana cara
· Seberapa luas
Destruksi
a. Hancurnya
Fisik dan Tata
infrastuktur
learned dan best
akses data dan
gambaran kehancuran
Ruang
wilayah
practice(model-model)
informasi kehancuran
infrastruktur: kawasan
dalam skala
capaian rekonstruksi
infrastruktur: kawasan
(zona) perumahan dan
luas
wilayah kehancuran
(zona) perumahan dan
pemukiman, fasos
infrastrukturpada tahap
pemukiman, fasos
dan fasum, ekonomi
Long Term Recovery,
dan fasum, ekonomi,
dan komersial,
berkaitan dengan:
komersial, kantoran, dsb
perkantoran, dsb secara
1. integrasi dan
secara integral, terpola
integral, terpola dan
koordinasi lintas
dan terintegrasi lintas
terkoordinasi lintas
pemangku kepentingan.
pemangku kepentingan.
stakeholder.
2. long term recovery
· Bagaimana pola
· Bagaimana wujud
sesuaizonasi dan
pengelolaan peta zonasi
peta zonasi dan
klaster kehancuran
dan klaster kehancuran
klaster kehancuran
insfrastruktur berdasar
insfrastruktur berdasarkan
insfrastruktur
tingkat kehancuran
kategorisasi tingkat
berdasarkan kategorisasi
3. terpenuhi akses
kehancuran pada
tingkat kehancuran
sumber daya dan
tahapanEarly Recovery
sebagai acuan
dana/anggaran
(rehabilitasi)
mendesain strategis
(pusat, daerah, swasta
pengelolaanpada tahap
dan masyarakat)
Early RecoverydanLong
dalamproses
Term Recovery.
rekonstruksi infasruktur
148 Lampiran
Variabel
Utama
SRNA
- Perubahan dan/
atau hilangnya
batas-batas
wilayah:desa,
tanah keluarga,
dsb
Indikator
·
·
Apa saja konten data
bataswilayah desa
dan/atau warga yang
mengalami perubahan
dan/atau hilang karena
kondisi konflik.
Bagaimanabentukpeta
klaster tingkat
perubahan dan/atau
hilangnya batas wilayah
desa, keluarga dan
individu.
·
Apa saja kepentingan
akses data dan peta
klaster tingkat perubahan
batas wilayah/desa dalam
pelaksanaan penataan
dan pengelolaan
rehabilitasi lintas sektor
dan bidang.
Bagaimana wujud
perlaksanaanpenataan
kembali batas-batas:
desa, keluarga atau
individu
Bagaimana wujud
hasilpemberdayaan
pengelolaan batas wilayah
desa, keluarga, individuyang
telah terpulihkan secara mandiri
dan responsif perdamaian
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana gambaran
Apa saja langkahdata sumber daya dan
langkah terpola
dana/anggaran (pusat,
demiterpenuhi akses
daerah, swasta dan
sumber daya dan dana/
masyarakat)serta akses
anggaran (pusat, daerah,
pengelolannya demi
swasta dan masyarakat)
efektifitas rehabilitasi
dalam penanganan
dan rekonstruksi
rehabilitasi infasruktur
infasruktur.
wilayah hancur.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 149
Variabel
Utama
SRNA
- Persoalan
hukum
perdata: hak
kepemilikan
tanah,
kebutuhan
Vpemulihan
dan relokasi
pasca konflik.
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa wujud rencana
yang responsifterhadap
penataan dan
sistem peringatan dan
· Bagaimana local
pengelolaan kembali
respon dini konflik
best practice (model
batas-batas wilayah
berbasis budaya dan
keberhasilan) pengelolaan
desa dan/atau warga
kearifan lokal.
batas wil desa, kel dan
pasca konflik.
· Bagaimana data, peta
individu yang responsif
dan rencana penataan
perdamaian berkelanjutan
dan pengembalian batasberbasis pada budaya dan
batas wilayah/desa dsb,
kearifan lokal.
dijadikan referensi bagi
· Apa saja model penataan
Pemda setempat dalam
dan pemulihan batasmenerbitkan berbagai
batas wildesa, kel dan
produk kebijakan
individuserta produk
(rejulasi) rehabilitasi
kebijakan (rejulasi)
berkelanjutan.
proteksinya sebagai acuan
replikasi dan pelajaran
bagi wil konflik yang lain.
· Apa bentuk konstruk
· Bagaimana proses
· Apa saja model lokal
data persoalanpenyelesaian
advokasi perdata pasca
persoalan perdata
persoalanperdata pasca
konfik berbasis pengungsi:
berkaitan dengan
konfikberkaitan dengan:
sementra danparmanen
pengungsian
pengungsian sementra,
secara efektif.
pasca konfik. Baik
parmanen, dsb.
pengungsian sementra,
maupun parmanen.
150 Lampiran
Variabel
Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana bentukbest
· Bagaimana proses
· Apa pola peta
practice dan polaadvokasi
penyelesaikanpersoalan
kategorisasi persoalan
perdata pasca konflik
perdata pasca konflik
perdata pasca
berdasarkan tingkat
berdasarkan tingkat
konflik berdasarkan
kesulitan hukum dan
kesulitan hukum dan
tingkat kesulitan
penyelesaiannya
penanganannya.
persoalan hukum dan
· Apa wujud model sistem
· Bagaimanasistem
penyelesaiannya.
advokasi perdata pasca
penanganan perdata
· Bagaimana pola
konflik secara terpola
pasca konflik secara
system penanganan
dan kontekstual berbasis
terpola dan kontekstual
perdata pasca konflik
budaya dan kearifan lokal
berbasis budaya dan
yg terpola dan
dan rujukan berkelanjutan.
kearifan lokal.
kontekstual berbasis
· Apa saja wujud fasilitasi
· Apa saja produk
budaya dan kearifan
advokasi kasus perdata
kebijakan publik lokal
lokal.
melalui produk kebijakan
(perda, pergub dsb)
· Apa saja produk
publik lokal (perda, pergub
dalam memfasilitasi solusi
kebijakan publik
dsb).
struktural kasus perdata
(perda, pergub dsb)
· Apa saja wujud kerja· Bagaimana wujud
sebagai fasilitasi solusi
kerja advokasi dan
kerja-kerja advokasi
struktural berbasis
pemberdayaan penyelesian
dan pemberdayaan
budaya/kearifan lokal.
masalah perdata pasca
penyelesian masalah
· Bagaimana
konflik berbasis sistem
perdata pasca konflik
bentukpusat
konsultansi dan jaringan
dengan sistem
konsultansi,
support terpola.
konsultansi dan jaringan
pemberdayaanserta
support terpola.
jaringan advokasi
penyelesian masalahmasalah perdata pasca
konflik.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 151
Variabel
Utama
SRNA
- Penataan dan
pemberdayaan
kembali tata
pemukiman
serta
perumahan,
komersial,
perkantoran
yang tidak
responsif
terhadap
kharakter
kultural,
kearifan dan
spiritualitas
lokal.
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa produk
· Apa bentuk
· Bagaimana proses
modelpenataan dan
penyediaan
penataan dan
pembangunan kembali
datakebutuhan
pembangunan kembali
tata perumahan dan
penataan dan
tata perumahan dan
pemukiman, kawasan
pembangunan kembali
pemukiman, kawasan
komersial, fasos-fasum,
tata perumahan dan
komersial, fasos-fasum,
perkantoran dsb yg
pemukiman, kawasan
perkantoran dsb pasca
parmanen & berkelanjutan
komersial, fasos-fasum,
konflik.
pasca konflik
perkantoran dsb pasca
· Bagaimana proses
· Apa produk model
konflik.
penataan dan
· Apa bentuk
sebagai rujukan penataan
pemberdayaan
rencana penataan
dan pemberdayaan tata
tata perumahan,
dan pemberdayaan
perumahan, pemukiman
pemukiman, komersial,
tata perumahan,
dsb yang responsif
dan perkantoran yang
pemukiman dsb yang
budaya dan kearifan lokal,
responsif budaya dan
responsif terhadap:
kearifan lokal, gender,
gender, integrasi sosial
budaya dan kearifan
integrasi
sosial
dan
dan multukultural, akses
lokal, gender,
multukultural, akses
pendidikan dan trauma
integrasi sosial dan
healing.
pendidikan dan layanan
multukultural, akses
kesehatan, trauma
pendidikan dan layanan
healing, dsb.
kesehatan, trauma
healing, dsb.
152 Lampiran
Variabel
Utama
SRNA
Indikator
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respons
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Apa pola rencana
· Bagaimana proses
· Apa produk
penataan dan
penataan dan
modelpenataan dan
pemberdayaan tata
pemberdayaan pola
pemberdayaan tata
pemukiman kembali
pemukiman dsb
pemukiman kembali
dsb yang terintegrasi
terintegrasi dengan
dsb terintegrasidengan
dengan rencana detail
rencana detail tata
rencana detail tata ruang
tata ruang (RTDR)
ruang daerah dan tidak
(RDTR)daerah sebagai
daerah.
menimbulkan gelombang
model Sistem Peringatan
baru konflik tata ruang.
dan Respons Dini Konflik
Kekerasaan.
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 153
DEPRESI DAN TRAUMA PSIKOSOSIAL
5.a. Butir-Butir Pernyataan Depresi dan Trauma Psikososial
VariabelTahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Variabel
Long Term Recovery
Early Response (Respon
Early Recovery (Pemulihan
Indikator
Utama
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
SRNA
· Tersedia model/pola
· Tersedia manual (tata
Dampak
a.Aktualisasi diri: · Tersedia data, informasi
Depresi
aktualisasi diri, simpul basis
cara) penataan dan
pertumbuhan
dan peta kondisi
dan Trauma
dan regulasi rekonstruksi:
pemberdayaan potensi
personal/
eksisteing potensi
Psikososial
- responsif sistem peringatan
modal sosial aktualisasi
kelompok/
pertumbuhan aktualisasi
dan respon dini konflik
diri berbasis budaya dan
komunitas,
diri korban: individu,
- berbasis budaya dan
kearifan lokal.
pengakuan,
kelompok dan komunal
kearifan lokal
· Terwujud zonasi
dsb.
· Tersedia data dan
· Terwujud kemandirian
penataan dan aktualisasi
informasi tentang klasterpemulihan (long term
pembangunan perdamaian
klaster sosial potensi dan
recovery) berbasis komunitas
berbasis budaya dan
kapasitas saling mengakui
korban dengan mempromosi
kearifan lokal.
dan menerima antar
kapasitas:
· Terwujud klaster-klaster
individu, kelompok dan
- self-help (membantu diri
interaksi saling mengakui
komunitas berkonflik
sendiri/mandiri),
dan menerima interreligus
· Tersedia informasi potensi
- well-being (kesejahteraan)
& interkultural.
modal sosial serta ikatan
- resilience(ketahanan)
· Terorgaiser dan
kelembagaan berbasis
intra dan interkomunitas
bertumbuh simpul basis
budaya dan kearifan lokal
berkonflik.
dialog dan interaksi
sebagai basis penataan
· Peningkatkan kemandirian,
lintas pihak berkonflik
dan pemberdayaan
insiatif dan peran sumber
berperspektif: psikoedukasi,
aktualisasi resolusi konflik
daya komunitas dalam
pemberdayaan dan
dan pembangunan
mengelola:
pemulihan psikososial
perdamaian.
terpola.
4.
154 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
estetika:
budaya,
kearifan,
nilai/norma,
keseimbangan,
kesetaraan, dsb
b.Pengembangan
Indikator
· Berkembang klaster-klaster
modal sosial dan kultural
mandiri sebagai pangkalan
penguatan relasi, kohesi,
dan integrasi sosial korban.
· Tersedia regulasi lokal
sebagai instrumen proteksi,
pemberdayaan dan
pengembangan aktualisasi
diri interkomunitas.
· Tersedia media publikasi
dan sosialisasi informasi
kondisi eksisting
aktualisasi diri dan klaster
kapasitas saling mengakui
dan menerima.
· Tersedia relevansi
pola psikoedukasi dan
recovery komunitas yang
ditawarkan berdasar
hasil kajian strategis dan
kebutuhan mendasar.
· Tersedia peta, data dan
informasi elemenelemen estetika: budaya,
kearifan, nilai/ norma dsb
sebagai:
- media pengembangan
kapasitas komunitas
korban.
- potensimengelola
fase-fase recovery
sistematis.
· Terselenggara
pengorganisasian,
pemberdayaan, dan
penguatan:
- kapasitas basis-basis
modal sosial korban dan
komunitas lokalsebagai
pilar strategis interrelasi dan intra-relasi
individu, kelompok dan
komunitas.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon
Dini)
· Tersedia fasilitator serta
basis-basis recovery mandiri
dan kreatif berkapasitas
estetika sebagai acuan
pemulihan dan mereduksi
dampak psikososial
berkelanjutan.
· Berkembang kemandirian dan
kreativitas estetika komunitas
basis merujuk pada:
- kemandirian psikoedukasi
(edukasi psikologi)
- pemulihan psikososial
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 155
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
- regulasi yang representatif
(tepat dan fungsional atau
kontekstual).
- instrumen pemberdayaan
estetika berkelanjutan:
perencanaan, manual
capacity building dsb
- sistem peringatan dan
respon dini konflik
berkapasitas estetika
komunitas.
Terwujud fungsi pelayanan
publik di daerah pasca koflik
berkapasitas estetika intra
dan inter-individu, kelompok
dan komunitas korban koflik
basis-basis intra
dan interkomunitas
recovery berbasis
kapasitas estetika:
budaya, kearifan, nilai/
norma, keseimbangan,
kesetaraan, dsb.
Penguatan relasi
adil dan setara
untuk mendorong
kesejahteraan sosial.
- komunikasi serta
dialog adildan setara
untuk mendorong
terwujudnya
kesejahteraan sosial
komunitas.
· Tersedia produk regulasi
representatif dalam
mendorong pengembangan
zona-zona perdamaian yang
responsif kekhasan estetika
lokal.
-
potensi
pengembangan simpul
komunitas korban
secara berimbang dan
setara pasca konflik.
· Teridentifikasi kebutuhan
produk regulasi tentang
pengembangan zonazona damai dan modal
sosial responsif kapasitas
estetika sebagai acuan
recocery terpola dan
berkelanjutan.
Tersedia rencana penataan
dan pemberdayaan
kapasitas estetika komunitas
korban sebagai acuan
pengembangan proses
recovery sistematis dan
berkelanjutan.
-
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon
Dini)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
156 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Early Response (Respon
Dini)
· Tersedia informasi
terolah dan pengetahuan
mendasar tentang:
- peta kehilangan
generasi (lostgeneration) akibat
konflik - kekerasan
yang terjadi.
- pola destruksi hakekat
kemanusian, hak asasi,
harga diri, makna
hidup dsb dalam
situasi konflik.
Indikator
Pengembangan
kognitif:
informasi,
pengetahuan,
makna
hidup,logika
berpikir,
kesadaran diri,
dsb
· Tersedia berbagai
instrumen pemberdayaan:
perencanaan, manual
pelatihan dsb sebagai acuan
kerja fasilitator terlatih
dalam proses psikoedukasi
dan recovery komunitas.
Tersedia sistem peringatan
dan respon dini konflik
berkapasitas estetika
komunitas.
· Terorganiser klasterklaster pemberdayaan
dan recovery sistematis
terhadap:
- pola berpikir progresif
dan berkesadaran
kritis komunitas dalam
konteks resolusi konflik
dan pembangunan
perdamaian
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Penguatan logika berpikir dan
kesadaran kritis komunitas
dalam mendukung perawatan
berkelanjutan terhadap:
kesehatan mental, pemulihan
traumatik, perlawanan stigma,
segregasi sosial, destruksi
modal sosial dsb.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 157
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
· Terpenuhi perawatan logika
berpikir dan kesadaran kritis
diri/kelompok/komunal
terhadap akar konflik sosial
serta dampak destruksi dan
reproduksi destruksi modal
sosial sebagai kekuatan
transformasi konflik.
· Tersedia model komunitas
mandiri berbasis logika
progresif dan kesadaran
kritis dalam mengelola isuisu krusial: konflik, trauma
psikososial, psikoedukasi,
kemajemukan, humaniroa,
interkultural, dsb.
· Tersedia komunitas mandiri
sebagai model replikasi
proses psikoedukasi
dan recovery psikososial
berkelanjutan.
- aplikasi berpikir progresif
dan berkesadaran
kritis berbagai isu
krusial: konflik, trauma
psikososial, mengelola
kemajemukan,
humaniora, komunikasi
intra dan interkultural,
dsb.
· Terpenuhi akses informasi
dan pengetahuan tentang
jaringan resolusi konflik dan
pembangunan perdamaian
melalui berbagai media
persuasi (public campaign –
kampanye publik)
Terwujud aplikasi logika
berpikir progresif dan
kesadaran kritis komunitas
sebagai dasar analisis akar
konflik serta dampaknya
terhadap destruksi modal
sosial korban.
perkembangan
logika berpikir dan
kesadaran diri para
pihak berkonflik dalam
mengelola proses
recovery sistematis.
· Tersedia data base kondisi
destruksi serta dampak
traumatis konflik sebagai
wadah pengembangan
kognitif (wawasan) bagi
individu, kelompok dan
komunal.
· Teridentifikasi kebutuhan
produk regulasi tentang
pengembangan kapasitas
kognitif sebagai acuan
recocery terpola dan
berkelanjutan.
-
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon
Dini)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
158 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
dan relasi
(modal sosial):
keluarga,
kasih sayang,
relasi, kohesi,
solidaritas,
kelompok kerja,
jaringan, dsb.
c.Memiliki cinta
Indikator
· Tersedia manual, SDM
terlatih dan lembaga
pemberdaya sistematis
dalam mewujudkan
pengembangan kapasitas
kognintif komunitas.
· Terselenggara
pemberdayaan sistematis
dalam menghasilkan
komunitas terlatih dan
mandiri dalam identifikasi
dan pemetaan masalah,
peningkatan kapasitas,
percaya diri.
·Terpenuhi seperangkat
nilai-nilai sosial dan kultural
yang disepakati bersama
sebagai :
- rujukan bersama
para pihak berkonflik
menata dan merawat
kembali relasi dan
modal sosial.
- memayungi penerbitan
aturan-aturan yang
disepakati bersama
· Tersedia rencana
serta berbagai manual
pemberdayaan kapasitas
kognitif komunitas korban
sebagai acuan proses
recovery sistematis dan
berkelanjutan.
·Tersedia data base faktorfaktor destruksi cinta dan
relasi sosial pasca konflik:
- Keluarga dan
kelompok
- Relasi
- Kohesi
- Solidaritas dan
integrasi
- Jaringan dsb
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon
Dini)
· Terwujud komunitas mandiri,
kreatif dan inisiatif dalam:
- support psikososial
berbasis budaya dan
kearifan lokal
- pemberdayaan sistematis
berbasis korban
- mengembangkan modelmodel pemberdayaan
psikoedukasi komunitas
· Tersedia replikasi model dan
manual pengembangan
komunitas mandiri berbasis
logika progresif dan
kesadaran kritis intra dan
interkomunitas.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 159
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Tumbuh dan berkembang
basis-basis modal sosial
sebagai model pemberdayaan
dan penguatan:
- cinta dan relasi intra dan
interkeluarga, kelompok
dan komunitas.
· Makin fungsional dan
berdayaguna produk
kebijakan publik, aturan dan
norma sosial:
- memperkuat perilaku
cinta dan modal sosial.
· Terwujud kapasitas dan
model proaksi koimunitas
dalam:
- penguatan kemandirian
dan inisiatif komunitas
korban
- mendorong peran para
pihak memperkuat cinta
kasih dan modal sosial.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
·Terpenuhinya sekumpulan
aturan (norma sosial) yang
disepakati bersama dalam
rangka:
A. memperkuat perilaku
cinta dan modal sosial.
·Terpenuhinya kapasitas
proaksi (rspon dan tindakan
dini) inter para pihak
berkonflik berupa:
- keinginan kuat untuk
tidak saja berpartisipasi,
tetapi terutama mencari
jalan bagi keterlibatan
bersama dalam
memperkuat cinta
kasih dan modal sosial
berpartisipasi dalam
jaringan
- saling tukar (berbagi)
tindakan kebaikan antar
individu, kelompok dan
komunitas korban
·Tersedia peta dan klaster
pola-pola destruksi
korban dan komunitas
lokal berbasis modal
sosial (negatif).
·Terpetakan potensi dan
kapasitas modal sosial
berbasis budaya dan
kearifan lokal (positif):
- trust, cinta, kohesif
- altruisme (dahulukan
kepentingan orang
lain), tidak egois,
- gotong royong,
jaringan, dsb.
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Respon
Dini)
160 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
diri/kelompok/
komunitas:
perlindungan,
keamanan,
rasa nyaman,
ketertiban,
hukum,
stabilitas, dsb
d.Keselamatan
Indikator
· Tersedia peta pola dan/
atau bentuk proteksi
langsung korban dan
komunitas lokal (aspek:
keamanan, rasa nyaman
dsb) berbasis budaya dan
kearifan lokal.
· Tersedia database faktorfaktor pengaruh faktual
dan signifikan terhadap
keselamatan diri/
kelompok/ komunitas
lokal berperspektif:
- State security
(keamanan negara)
- Human security
(keamanan manusia)
- Secutiry of the
people (keamanan
masyaraat)
Early Response (Respon
Dini)
Terpenuhinya kebutuhan
saling percaya dan tidak saling
merugikan
· Terselenggara perundingan
damai para pihak
(rekonsiliasi) dan rehabilitasi
sosial untuk:
- penciptaan iklim
ketertiban, penegakkan
hukum, stabilitas dsb
secara mandiri berbasis
korban dan komunitas
lokal.
- pemulihan dan
peningkatan pelayanan
pemerintahan
· Tersedia akses masyarakat
dan para pihak terkait
dalam memperoleh
informasi faktor-faktor
pengaruh keselamatan
diri/kelompok/ komunitas
korban dalam:
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Terciptapolastruktur kerja
yang responsif terhadap
kesetaraan dan kedakadilan
sosial dan ekonomi.
· Tersedia akses
pengembangan kapasitas
sosial komunitas korban
secara parmanen dan
berkelanjutan: pendidikan,
kesehatan, dan mata
pencaharian
· Bertumbuh model-model
pemberdayaan sosial,
ekonomi, budaya,keamanan
dan ketertiban mandiri dan
berkelanjutan.
Terbentuk model rekonsiliasi
dan pemberdayaan damai
berkelanjutan dalam rangka:
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 161
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
mengelolakeamanan,
rasa nyaman,
ketertiban, hukum,
stabilitas, dsb
secara efektif dan
berdayaguna.
- pemulihan kondisi
sosial, ekonomi,
budaya, keamanan
dan ketertiban secara
terintegrasi dan
komprehensif.
· Terpenuhi kebutuhan
dan pelayanan kesehatan
berupa:
- layanan kesehatan
reproduksi bagi
kelompok perempuan
korban
- peningkatan layanan
kesehatan anak-anak
dan kelompok rentan
· Tersedia data base
restitusi, ganti kerugian,
pengobatan dsb atas
korban konflik berdasar
kategori:
- Personal/individual
- Kelompok
Komunitas
-
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Respon
Dini)
- terciptaiklim ketertiban,
penegakkan hukum,
stabilitas dsb secara
mandiri berbasis
komunitas korban
- bertumbuh kemandirian
dan budaya pemulihan
- peningkatan kualitas
layanan publik pemerintah
· Berkembang model
pelayanan kesehatan secara
terpola:
- reproduksi perempuan
korban
- anakdan kelompok
rentan
Terwujud pola kemandirian
pemulihan hak perdata
korban sebagai model
recover hukum dan
keamanan berkelanjutan.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
162 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
fisiologi: udara
segar, makanan,
minuman,
tempat tinggal,
kehangatan,
seks, tidur, tata
ruang, dsb.
e.Biologi dan
Indikator
· Tersedia peta dan data
kebutuhan kondisi biologi
dan fisiologi korban dan
komunitas lokal dalam
jumlah dan kualitas:
- tata ruang
pengungsian
representatif (udara
segar dsb)
- kebutuhan konsumsi
- jaminan kesehatan
- fasilitas tempat tidur
seks keluarga dsb.
Early Response (Respon
Dini)
· Terpenuhi pemulihan hakhak keperdataan korban/
para phak berkonflik:
- tercipta iklim
perlindungan, rasa
nyaman, ketertiban
hukum dsb.
- tumbuh rasa percaya
sosial.
· Tersedia pola pemulihan
biologi dan fisiologi
komunitas korban konflik
- responsif kondisi modal
sosial dan budaya
lokal/setempat.
- tidak memicu konflik
baru
- diawasi dan dikontrol
bersama secara
mandiri
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Terwujud model penyediaan
layanan pemenuhan
kebutuhan dasar spesifik
perempuan, anak-anak, lanjut
usia, dan kelompok orang
yang berkebutuhan khusus
· Terpenuhi kebutuhan
sarana dan prasarana
pemukiman, fasos dan
fasum responsifprasayarat
pemulihan biologi dan
fisiologi berkelanjutan.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 163
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Terwujud model kemandirian
dan inisiatif pemulihan
kapasitas biologi dan fisiologi
berkelanjutan berupa:
- layanan pemenuhan
kebutuhan dasar spesifik
perempuan, anakanak, lanjut usia, dan
kelompok orang yang
berkebutuhan khusus
yang dapat direplikasi.
- pemulihan sumbersumber basis aktivitas
ekonomi
- pemulihan sarana dan
prasana pemukiman,
fasilitas sosial dan
fasilitas umum dalam
rangka recovery
berkelanjutan.
fasilitasi dan memediasi
pengembalian serta
pemulihan aset korban
konflik
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Tersedia fasilitas dan akses
perlindungan kelompok
rentan dan berkebutuhan
khusus secara biologi dan
fisiologi.
· Tersedia fasilitas dan akses
pemulihan kebutuhan
dasar sebagai pangkalan
pemulihan aktivitas
ekonomi interkomunitas.
· Peningkatan penyediaan
pelayanan pemenuhan
kebutuhan dasar spesifik
perempuan, anak-anak,
lanjut usia, dan kelompok
orang yang berkebutuhan
khusus
· Terfasilitasi dan termediasi
pemulihan aset biologi
dan fisiologi (kebutuhan
dasar) korban konflik secara
parmanent:
- tempat tinggal dan
pemukiman
- keutuhan keluarga
Early Response (Respon
Dini)
· Tersedia kondisi
biologi dan fisiologi
memperhatikan prasyarat
kategori kebutuhan dasar:
- usia, kelamin, gender,
- kelompok
berkebutuhan
khusus, dsb.
· Tersedia peta dan data
base akses layanan
peningkatan pemenuhan
kebutuhan biologi dan
fisiologi korban:
- peluang dan
ancaman
frekuensi pemenuhan
kebutuhan dsb.
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
164 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Early Response (Respon
Dini)
-
tata ruang yang
kondusif (tidak memicu
bencana kedua)
· Terwujud perbaikan dan
pemulihan sarana dan
prasana pemukiman,
fasilitas sosial dan fasilitas
umum secara terpola.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
TahapanPemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 165
5.b.Butir-Butir Pertanyaan Depresi dan Trauma Psikososial
VariabelTahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Variabel
Early Recovery (Pemulihan
Long Term Recovery
Early Response (Responn
Indikator
Utama
Dini)
Dini)
(Pemulihan Berkelanjutan)
SRNA
· Apa dan bagaimana pola
· Apa dan bagaimana
Dampak
a.Aktualisasi diri:
· Bagaimana konstruk
Depresi
atau model aktualisasi diri,
penggunaan manual
pertumbuhan
data, informasi dan peta
dan Trauma
simpul basis dan regulasi
(tata cara) penataan dan
personal/
kondisi eksisteing potensi
Psikososial
rekonstruksi:
pemberdayaan potensi
kelompok/
pertumbuhan aktualisasi
- responsif sistem
modal sosial aktualisasi
komunitas,
diri korban: individu,
peringatan dan respon
diri berbasis budaya dan
pengakuan, dsb.
kelompok dan komunal
dini konflik
kearifan lokal.
· Bagaimana konstruk data
- berbasis budaya dan
· Bagaimana pola zonasi
dan informasi tentang
kearifan lokal
penataan dan aktualisasi
klaster-klaster sosial
· Bagaimana pola kemandirian
pembangunan perdamaian
potensi dan kapasitas
pemulihan (long term
berbasis budaya dan
saling mengakui dan
recovery) berbasis komunitas
kearifan lokal.
menerima antar individu,
korban dengan mempromosi
· Bagaimana pola klaster
kelompok dan komunitas
kapasitas:
interaksi saling mengakui
berkonflik
- self-help (membantu diri
dan menerima interreligus
· Apa saja potensi
sendiri/mandiri),
& interkultural.
modal sosial serta
- well-being (kesejahteraan)
· Bagaimana bentuk
ikatan kelembagaan
- resilience(ketahanan)
penataan dan
berbasis budaya dan
intra dan interkomunitas
pertumbuhan simpul
kearifan lokal sebagai
berkonflik.
basis dialog dan interaksi
basis pemberdayaan
lintas pihak berkonflik
aktualisasi resolusi konflik
secara: psikoedukasi,
dan pembangunan
pemberdayaan dan
perdamaian.
pemulihan psikososial
terpola.
166 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
b.Pengembangan
estetika: budaya,
kearifan,
nilai/ norma,
keseimbangan,
kesetaraan, dsb
Indikator
· Bagaimana proses
perkembangan klasterklaster modal sosial dan
kultural mandiri sebagai
pangkalan penguatan
relasi, kohesi, dan integrasi
sosial korban.
· Bagimana kersediaan
regulasi lokal sebagai
instrumen proteksi,
pemberdayaan dan
pengembangan aktualisasi
diri interkomunitas.
· Bagimana proses
pengorganisasian,
pemberdayaan, dan
penguatan:
- kapasitas basis-basis
modal sosial korban
dan komunitas
lokalsebagai pilar
strategis inter-relasi
dan intra-relasi
individu, kelompok dan
komunitas.
· Apa saja media publikasi
dan sosialisasi informasi
kondisi eksisting
aktualisasi diri dan klaster
kapasitas saling mengakui
dan menerima.
· Apa saja relevansi
pola psikoedukasi dan
recovery komunitas yang
ditawarkan berdasar
hasil kajian strategis dan
kebutuhan mendasar.
· Apa bentuk penyediaan
peta, data dan informasi
elemen-elemen estetika:
budaya, kearifan, nilai/
norma dsb sebagai:
- media
pengembangan
kapasitas komunitas
korban.
- potensimengelola
fase-fase recovery
sistematis.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana kemandirian dan
dayaguna fasilitator serta
simpul basis recovery mandiri
dan kreatif berkapasitas
estetika sebagai acuan
pemulihan dan mereduksi
dampak psikososial
berkelanjutan.
· Bagaimana
tingkatkemandirian
dan kreativitas estetika
komunitas basis merujuk
pada:
· Sejauhmana tingkat
kemandirian, insiatif
dan peran sumber daya
komunitas dalam mengelola:
- psikoedukasi (edukasi
psikologi)
pemulihan psikososial
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 167
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
basis-basis intra
dan interkomunitas
recovery berbasis
kapasitas estetika:
budaya, kearifan, nilai/
norma, keseimbangan,
kesetaraan, dsb.
Penguatan relasi
adil dan setara
untuk mendorong
kesejahteraan sosial.
komunikasi serta
dialog adildan setara
untuk mendorong
terwujudnya
kesejahteraan sosial
komunitas.
-
-
potensi
pengembangan
simpul komunitas
korban secara
berimbang dan
setara pasca konflik.
· Apa kebutuhan produk
regulasi tentang
pengembangan zonazona damai dan modal
sosial responsif kapasitas
estetika sebagai acuan
recocery terpola dan
berkelanjutan.
· Apa bentuk rencana
penataan dan
pemberdayaan kapasitas
estetika komunitas
korban sebagai acuan
pengembangan proses
recovery sistematis dan
berkelanjutan
-
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Early Response (Responn
Dini)
-
-
-
-
regulasi yang
representatif (tepat
dan fungsional atau
kontekstual).
instrumen
pemberdayaan
estetika berkelanjutan:
perencanaan, manual
capacity building dsb
sistem peringatan dan
respon dini konflik
berkapasitas estetika
komunitas.
Bagaimana terwujud
fungsi pelayanan publik
di daerah pasca koflik
berkapasitas estetika
intra dan inter-individu,
kelompok dan komunitas
korban koflik
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
168 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
· Bagaimana proses dan apa
bentukproduk regulasi
representatif dalam
mendorong pengembangan
zona-zona perdamaian yang
responsif kekhasan estetika
lokal.
· Apasaja instrumen
dan bagaimana
proses pemberdayaan:
perencanaan, manual
pelatihan, monev dsb
sebagai acuan kerja
fasilitator terlatih dalam
proses psikoedukasi dan
recovery komunitas.
· Apa dan bagaimana
implementasi sistem
peringatan dan respon dini
konflik berkapasitas estetika
komunitas: budaya, kearifan
dsb.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 169
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana
pengorganisasian klasterklaster pemberdayaan
dan recovery sistematis
terhadap aspek:
- pola berpikir progresif
dan berkesadaran
kritis komunitas dalam
konteks resolusi konflik
dan pembangunan
perdamaian
- aplikasi berpikir progresif
dan berkesadaran
kritis berbagai isu
krusial: konflik, trauma
psikososial, mengelola
kemajemukan,
humaniora, komunikasi
intra dan interkultural,
dsb.
Early Response (Responn
Dini)
· Apa bentuksajian
informasi terolah dan
pengetahuan mendasar
tentang:
- peta kehilangan
generasi (lostgeneration) akibat
konflik - kekerasan
yang terjadi.
- pola destruksi
hakekat kemanusian,
hak asasi, harga diri,
makna hidup dsb
dalam situasi konflik.
perkembangan logika
berpikir dan kesadaran diri
para pihak berkonflik dalam
mengelola proses recovery
sistematis.
Indikator
c.Pengembangan
kognitif:
informasi,
pengetahuan,
makna
hidup,logika
berpikir,
kesadaran diri,
dsb
· Bagaimana wujud
penguatanlogika berpikir
dan kesadarankritis
komunitas dalam mendukung
perawatan berkelanjutan
terhadap: kesehatan mental,
pemulihan traumatik,
perlawanan stigma, segregasi
sosial, destruksi modal sosial
dsb.
· Bagaimana terpenuhi
perawatan logika berpikir
dan kesadaran kritis diri/
kelompok/komunal terhadap
akar konflik sosial serta
dampak destruksi dan
reproduksi destruksi modal
sosial sebagai kekuatan
transformasi konflik.
· Bagaimana tersedia
model komunitas mandiri
berbasis logika progresif
dan kesadaran kritis dalam
mengelola isu-isu krusial:
konflik, trauma psikososial,
psikoedukasi, kemajemukan,
dsb.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
170 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana tersedia
komunitas mandiri sebagai
model replikasi proses
psikoedukasi dan recovery
psikososial berkelanjutan.
· Bagaimana tersedia
replikasi model dan manual
pengembangan komunitas
mandiri berbasis logika
progresif dan kesadaran kritis
intra dan interkomunitas.
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana terpenuhi
akses informasi dan
pengetahuan tentang
jaringan resolusi konflik dan
pembangunan perdamaian
melalui berbagai media
persuasi (public campaign –
kampanye publik)
· Bagaimana terwujud
aplikasi logika berpikir
progresif dan kesadaran
kritis komunitas sebagai
dasar analisis akar konflik
serta dampaknya terhadap
destruksi modal sosial
korban.
· Bagaimana tersedia
manual, SDM
terlatih dan lembaga
pemberdaya sistematis
dalam mewujudkan
pengembangan kapasitas
kognintif komunitas.
· Apa bentuk sajian data
basekondisi destruksi
serta dampak traumatis
konflik sebagai wadah
pengembangan kognitif
(wawasan) bagi individu,
kelompok dan komunal.
· Bagaimana
bentukkebutuhan
produk regulasi tentang
pengembangan kapasitas
kognitif sebagai acuan
recocery terpola dan
berkelanjutan.
· Bagaimana bentuk
rencana serta berbagai
manual pemberdayaan
kapasitas kognitif
komunitas korban
sebagai acuan proses
recovery sistematis dan
berkelanjutan
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 171
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Early Response (Responn
Dini)
·Apa konstruk data base
faktor-faktor destruksi
cinta dan relasi sosial
pasca konflik:
- Keluarga dan
kelompok
- Relasi
- Kohesi
- Solidaritas dan
integrasi
- Jaringan dsb
·Apa bentuk peta
dan klaster pola-pola
destruksi korban dan
komunitas lokal berbasis
modal sosial (negatif).
Indikator
d.Memiliki cinta
dan relasi (modal
sosial): keluarga,
kasih sayang,
relasi, kohesi,
solidaritas,
kelompok kerja,
jaringan, dsb
·
Bagaimana
terselenggara
pemberdayaan
sistematis dalam
menghasilkan komunitas
terlatih dan mandiri
dalam identifikasi dan
pemetaan masalah,
peningkatan kapasitas,
percaya diri.
·Apa langkah-langkah demi
pemenuhan perangkat
nilai-nilai sosial dan kultural
yang disepakati bersama
sebagai :
- rujukan bersama
para pihak berkonflik
menata dan merawat
kembali relasi dan
modal sosial.
- memayungi penerbitan
aturan-aturan yang
disepakati bersama
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana terwujud
komunitas mandiri, kreatif
dan berinisiatifdalam:
- support psikososial
berbasis budaya dan
kearifan lokal
- pemberdayaan sistematis
berbasis korban
- mengembangkan modelmodel pemberdayaan
psikoedukasi komunitas
· bagaimana tumbuh dan
berkembang basis-basis
modal sosialsebagai
model pemberdayaan dan
penguatan:
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
172 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
·Apa langkah-langkah demi
pemenuhankumpulan
aturan (norma sosial)
yang disepakati bersama
dalam rangka memperkuat
perilaku cinta dan modal
sosial
·Apa langkah-langkah demi
pemenuhankapasitas
proaksi (rspon dan tindakan
dini) inter para pihak
berkonflik berupa:
- keinginan kuat untuk tidak
saja berpartisipasi, tetapi
terutama mencari jalan
bagi keterlibatan bersama
dalam memperkuat cinta
kasih dan modal sosial.
- berpartisipasi dalam
jaringan
- saling tukar (berbagi)
tindakan kebaikan antar
individu, kelompok dan
komunitas korban
·Apa bentuk peta potensi
dan kapasitas modal
sosial berbasis budaya
dan kearifan lokal (positif):
- trust, cinta, kohesif
- altruisme (dahulukan
kepentingan orang
lain), tidak egois,
- gotong royong,
jaringan, dsb.
cinta dan relasi intra dan
interkeluarga, kelompok
dan komunitas.
· Apa langkah-langkah
demi makin fungsional
dan berdayagunaproduk
kebijakan publik, aturan dan
norma sosial:
- dalam memperkuat
perilaku cinta dan modal
sosial.
· Apa langkah-langkah demi
terwujud kapasitas dan
model proaksi koimunitas
dalam:
- penguatan kemandirian
dan inisiatif komunitas
korban
· mendorong peran para pihak
memperkuat cinta kasih dan
modal sosial.
-
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 173
VariabelVariabel
Utama
SRNA
· Apa bentuk
ketersediaanpeta pola
dan/atau bentuk proteksi
langsung korban dan
komunitas lokal (aspek:
keamanan, rasa nyaman
dsb) berbasis budaya dan
kearifan lokal.
· Apa bentuk ketersediaan
database faktor-faktor
pengaruh faktual dan
signifikan terhadap
keselamatan diri/
kelompok/ komunitas
lokal berperspektif:
- State security
(keamanan negara)
- Human security
(keamanan manusia)
- Secutiry of the
people (keamanan
masyaraat)
e.Keselamatan
diri/kelompok/
komunitas:
perlindungan,
keamanan,
rasa nyaman,
ketertiban,
hukum,
stabilitas, dsb
Apa langkah-langkah demi
pemenuhan kebutuhan saling
percaya dan tidak saling
merugikan
Bagaimana langkahlangkah perundingan
damai para pihak
(rekonsiliasi) dan
rehabilitasi sosial untuk:
- penciptaan iklim
ketertiban, penegakkan
hukum, stabilitas dsb
secara mandiri berbasis
korban dan komunitas
lokal.
- pemulihan dan
peningkatan pelayanan
pemerintahan
· Bagaimana bentuk
aksesmasyarakat dan
para pihak terkaitdalam
memperoleh informasi
faktor-faktor pengaruh
keselamatan diri/kelompok/
komunitas korban dalam:
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana
terciptapolastruktur kerja
responsif kesetaraan dan
kedakadilan sosial dan
ekonomi.
· Bagaimana tersedia
aksespengembangan
kapasitas sosial komunitas
parmanen dan berkelanjutan:
pendidikan, kesehatan, mata
pencaharian
· Bagaimana berkembang
model-model pemberdayaan
sosial, ekonomi, budaya,
keamanan dan ketertiban
mandiri dan berkelanjutan.
· Apa sajamodel
rekonsiliasidan
pemberdayaan damai
berkelanjutan dalam rangka:
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Indikator
174 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
· Apa bentuk
ketersediaanpeta pola
dan/atau bentuk proteksi
langsung korban dan
komunitas lokal (aspek:
keamanan, rasa nyaman
dsb) berbasis budaya dan
kearifan lokal.
· Apa bentuk ketersediaan
database faktor-faktor
pengaruh faktual dan
signifikan terhadap
keselamatan diri/
kelompok/ komunitas
lokal berperspektif:
- State security
(keamanan negara)
- Human security
(keamanan manusia)
- Secutiry of the
people (keamanan
masyaraat)
Indikator
a.Keselamatan
diri/kelompok/
komunitas:
perlindungan,
keamanan,
rasa nyaman,
ketertiban,
hukum,
stabilitas, dsb
Apa langkah-langkah demi
pemenuhan kebutuhan saling
percaya dan tidak saling
merugikan
Bagaimana langkahlangkah perundingan
damai para pihak
(rekonsiliasi) dan
rehabilitasi sosial untuk:
- penciptaan iklim
ketertiban, penegakkan
hukum, stabilitas dsb
secara mandiri berbasis
korban dan komunitas
lokal.
- pemulihan dan
peningkatan pelayanan
pemerintahan
· Bagaimana bentuk
aksesmasyarakat dan
para pihak terkaitdalam
memperoleh informasi
faktor-faktor pengaruh
keselamatan diri/kelompok/
komunitas korban dalam:
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana
terciptapolastruktur kerja
responsif kesetaraan dan
kedakadilan sosial dan
ekonomi.
· Bagaimana tersedia
aksespengembangan
kapasitas sosial komunitas
parmanen dan berkelanjutan:
pendidikan, kesehatan, mata
pencaharian
· Bagaimana berkembang
model-model pemberdayaan
sosial, ekonomi, budaya,
keamanan dan ketertiban
mandiri dan berkelanjutan.
· Apa sajamodel
rekonsiliasidan
pemberdayaan damai
berkelanjutan dalam rangka:
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 175
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
` mengelolakeamanan, rasa
nyaman, ketertiban, hukum,
stabilitas, dsb secara efektif
dan berdayaguna.
- pemulihan kondisi
sosial, ekonomi,
budaya, keamanan dan
ketertiban terintegrasi
dan komprehensif.
· Apa langkah-langkah
demi terpenuhikebutuhan
dan pelayanan kesehatan
berupa:
- layanan kesehatan
reproduksi bagi
kelompok perempuan
korban
peningkatan layanan
kesehatan anak-anak dan
kelompok rentan
Early Response (Responn
Dini)
· Apa bentuk ketersediaan
data base restitusi, ganti
kerugian, pengobatan
dsb atas korban konflik
berdasar kategori:
- Personal/individual
- Kelompok
- Komunitas
- terciptaiklim ketertiban,
penegakkan hukum,
stabilitas mandiri
komunitas
- bertumbuh kemandirian
dan budaya pemulihan
- peningkatan kualitas
layanan publik pemerintah
· Bagaimana berkembang
model pelayanan kesehatan
secara terpola:
- reproduksi perempuan
korban
- anakdan kelompok rentan
Bagaimana terwujud pola
kemandirian pemulihan hak
perdata korban sebagai model
recover hukum dan keamanan
berkelanjutan.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
176 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
· Apa bentuk ketersediaan
peta dan data kebutuhan
kondisi biologi dan
fisiologi korban dan
komunitas lokal dalam
jumlah dan kualitas:
- tata ruang
pengungsian
representatif (udara
segar dsb)
- kebutuhan konsumsi
- jaminan kesehatan
- fasilitas tempat tidur
seks keluarga dsb.
a.Biologi dan
fisiologi: udara
segar, makanan,
minuman,
tempat tinggal,
kehangatan,
seks, tidur, tata
ruang, dsb.
· Apa langkah-langkah
terpenuhi pemulihan hakhak keperdataan korban/
para phak berkonflik:
- tercipta iklim
perlindungan, rasa
nyaman, ketertiban
hukum dsb.
- tumbuh rasa percaya
sosial.
· Bagaimana penyediaan
pola pemulihan biologi dan
fisiologi komunitas korban
konflik
 responsif kondisi modal
sosial dan budaya
lokal/setempat.
 tidak memicu konflik
baru
 diawasi dan dikontrol
bersama secara
mandiri
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana terwujudmodel
penyediaan layanan
pemenuhan kebutuhan
dasar spesifik perempuan,
anak-anak, lanjut usia,
dan kelompok orang yang
berkebutuhan khusus
· Bagaimana terpenuhi
kebutuhan sarana dan
prasarana pemukiman,
fasos dan fasum
responsifprasayarat
pemulihan biologi dan
fisiologi berkelanjutan.
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Indikator
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 177
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
· Bagaimana terwujud model
kemandirian dan inisiatif
pemulihan kapasitas biologi
dan fisiologi berkelanjutan
berupa:
- layanan pemenuhan
kebutuhan dasar spesifik
perempuan, anak-anak,
lanjut usia, dan kelompok
orang yang berkebutuhan
khusus yang dapat
direplikasi.
- pemulihan sumber-sumber
basis aktivitas ekonomi
- pemulihan sarana dan
prasana pemukiman, fasos
dan fasum dalam rangka
recovery berkelanjutan.
- fasilitasi dan memediasi
pengembalian serta
pemulihan aset korban
konflik
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
· Bagaimana
penyediaanfasilitas dan
akses perlindungan
kelompok rentan dan
berkebutuhan khusus
secara biologi dan fisiologi.
· Bagaimana
penyediaanfasilitas
dan akses pemulihan
kebutuhan dasar sebagai
pangkalan pemulihan
aktivitas ekonomi
interkomunitas.
· Bagaimana peningkatan
penyediaan pelayanan
pemenuhan kebutuhan
dasar spesifik perempuan,
anak-anak, lanjut usia,
dan kelompok orang yang
berkebutuhan khusus
· Bagaimana terfasilitasi
dan termediasi pemulihan
aset biologi dan fisiologi
(kebutuhan dasar) korban
konflik secara parmanent:
Early Response (Responn
Dini)
· Bagaimana
ketersediaankondisi
biologi dan fisiologi
memperhatikan
prasyarat kategori
kebutuhan dasar:
- usia, kelamin, gender,
- kelompok
berkebutuhan
khusus, dsb.
· Bagaimana tersedia
peta dan database akses
layanan peningkatan
pemenuhan kebutuhan
biologi dan fisiologi
korban:
- peluang dan
ancaman
- frekuensi
pemenuhan
kebutuhan dsb.
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
178 Lampiran
VariabelVariabel
Utama
SRNA
Indikator
-
tempat tinggal dan
pemukiman
- keutuhan keluarga
- tata ruang yang
kondusif (tidak memicu
bencana kedua)
· Bagaimana terwujud
perbaikan dan pemulihan
sarana dan prasana
pemukiman, fasilitas sosial
dan fasilitas umum secara
terpola.
·
Early Recovery (Pemulihan
Dini)
Long Term Recovery
(Pemulihan Berkelanjutan)
Tahapan Pemulihan Holistik dan Integratif Berbasis Pemberdayaan
Early Response (Responn
Dini)
Post Conflict Need Assessment (PCNA) 179
Download