Dialog dalam Arsitektur Bali Sarana Komunikasi Identitas

advertisement
ISBN: 978-602-294-145-3
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
Editor
Gusti Ayu Made Suartika, ST., MEng.Sc., Ph.D
Ni Ketut Agusintadewi, ST., MT., Ph.D
Ni Made Swanendri, ST., MT.
Desain halaman sampul
I Putu Zenit Arimbhawa
iii
ISBN: 978-602-294-145-3
iv
ISBN: 978-602-294-145-3
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
KATA PENGANTAR
Publikasi ini merupakan salah satu wujud dokumentasi yang dihasilkan dari pelaksanaan
Seminar Nasional yang mengambil tema Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan
Ranganan Lingkungan Terbangun. Proseding ini mendokumentasikan paper-paper yang
dipresentasikan dan dipublikasi di dalam kegiatan ini, yang diselenggarakan oleh Program
Magister Arsitektur: Program Keahlian Perencanaan dan Manajemen Pembangunan Desa/Kota
dan Program Keahlian Manajemen Konservasi, di Aula Pascasarjana, Lt III Gedung
Pascasarjana Universitas Udayana, Kampus Denpasar pada hari Kemis, tanggal 2 November
2016.
Seminar ini dihadiri oleh para akademik; arsitek profesional - anggota Ikatan Arsitek Indonesia
(IAI) dan para arsitek rancang bangun, para perancang kota maupun perencana; pemerintah Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda), Tata Ruang; Team Tata Aturan Bangunan
dan Gedung, Perijinan; serta masyarakat pemakai hasil desain. Sedangan para pemakalah
berasal dari para akademisi, mahasiswa program pascasarjana, para pemerhati keberlanjutan
elemen-elemen arsitektural lokal dan tradisi dalam desain lingkungan terbangun kekinian dan
masa datang. Masing-masing paper telah dipresentasikan, baik dalam sesi presentasi untuk
para pembicara kunci maupun sesi pararel untuk para pemakalah.
Partisipan dan presenter berasal dari para akademisi, mahasiswa program pascasarjana, para
pemerhati keberlanjutan elemen-elemen arsitektural lokal dan tradisi dalam desain
lingkungan terbangun kekinian dan masa yang akan datang. Besar harapan kami, jika Seminar
Nasional ini bisa menjadi ajang diskusi dan berbagi pengetahuan, pengalaman, ide terkait
tradisi, perubahannya, adaptasinya serta akomodasinya dalam rancangan keruangan mikro
maupun makro. Semoga kegiatan ini bisa dijadikan bagian aktivitas rutin di Program Magister
Arsitektur Universitas Udayana, yang secara berkelanjutan bisa dijadwal serta didukung
penyelenggaraannya, tidak hanya oleh kami sebagai civitas akademika, tetapi juga oleh
asosiasi profesi, pemerintah, dan masyarakat tentunya.
Kami sangat bersyukur karena penyelenggaraan Seminar ini merupakan sebuah kolaborasi
antara Program Studi Magister Arsitektur, Universitas Udayana, Ikatan Arsitek Indonesia
Daerah Bali, Program Studi Arsitektur Universitas Udayana, Program Studi Arsitektur
Universitas Warmadewa, Program Studi Universitas Dwijendra, dan Program Studi Arsitektur
Universitas Ngurah Rai. Terima kasih kami ucapkan kepada keempat lembaga untuk kerjasma
serta kordinasinya selama ini.
Kepada Bapak Profesor Gunawan Tjahjono serta Bapak Ir Popo Danes - sebagai pembicara
kunci dalam Seminar ini -, kami ucapkan terima kasih atas waktu serta kesediaannya untuk
berbagi melalui pertemuan akademik ini. Kepada Ibu dan Bapak Pemakalah dan Peserta
Seminar, kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Akhirnya, kepada ibu dan bapak
panitia pelaksana seminar dan juga para moderator, kami sampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya untuk, waktu dan energi yang direfleksikan melalui kerja keras dan
kerjasamanya, sehingga Seminar tahun ini bisa terlaksana dengan baik.
Sebagai penutup, mohon maaf dan permaklumannya jika ada kekurangan dan kekeliruan
dalam penyelenggaraan Seminar ini.
Terima kasih
Gusti Ayu Made Suartika
v
ISBN: 978-602-294-145-3
vi
ISBN: 978-602-294-145-3
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
RINGKASAN
"Forum Arsitektur - Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Desain
Lingkungan Terbangun" diselenggarakan untuk merumuskan ide serta pemikiran kritis terkait
akomodasi elemen-elemen arsitektur tradisional ke dalam desain lingkungan terbangun
kekinian dan yang akan datang. Beberapa pertanyaan mendasar yang akan didiskusikan disini
adalah: (1) Manakah yang disebut sebagai arsitekur tradisional/lokal/vernakular, sebelum
kita berbicara mengenai akomodasinya ke dalam desain?; (2) Haruskah kita memperpanjang
keberadaan arsitektur tradisional, ketika lingkungan dimana kita berada telah mengalami
perubahan, baik dari segi fisik, sosial-budaya, dan politikal-ekonominya?; (3) Apakah ide
pelestarian arsitektur tradisional/lokal hanya dimaksudkan sebagai usaha pembangunan
identitas dan image, dua kualitas yang lambat laun menghilang bersama era globalisasi?; (4)
Apakah usaha untuk mengakomodasi elemen-elemen desain lokal merupakan tindakan yang
melalaikan esensi arsitektur sebagai ranah profesi yang diwarnai kreativitas, tumbuh serta
berkembang mengkuti budaya, peradaban dan pembangunan sosial yang ada; dan (5) Dalam
mekanisme yang bagaimana wujud serta tata nilai budaya lokal bisa direfleksikan ke dalam
rancangan lingkungan terbangun kita?
Pencarian jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini membawa makna penting, khususnya
bagi satuan kedaerahan yang menjadikan pelestarian budaya lokal sebagai jiwa dan arah
pembangunannya, seprti misalnya apa yang terjadi di Pulau Bali. Dengan mengambil konteks
perkembangan dunia rancang bangun yang telah terjadi di Provinsi ini, pelaksanaan Forum
Arsitektur ini diinspirasi oleh munculnya beragam produk rancangan, yang tidak berjalan
beriringan dengan nafas pelestarian budaya lokal. Kondisi ini mengundang perhatian serius,
khususnya bagi para akademisi maupun budayawan, mengingat telah dicanangkannya arah
pembangunan Pulau Dewata sebagai proses yang mengusung kaidah-kaidah tradisi lokal.
Dunia rancang bangun sebagai elemen penentu kualitas lingkungan binaan, dimana kita
bernaung, memiliki andil penting dalam pencapaian misi tersebut. Peran ini bukanlah posisi
yang mudah untuk dilakoni, baik oleh pihak yang menggeluti profesi perancang, maupun bagi
pemerintah yang mengemban fungsi kontrol dan pengendalian. Ini merupakan sebuah
tantangan yang mana jika dilakoni dengan sesungguhnya akan membutuhkan niat untuk
mengembannya, kemampuan interprestasi serta kreativitas.
Forum Arsitektur - Seminar Nasional ini mencoba menjembatani proses pencarian jawaban
untuk pertanyaan-pertanyaan yang telah dipaparkan di atas. Adapun sub tema yang diangkat
dalam Forum Arsitektur - Seminar ini adalah:



Mempertanyakan arsitektur tradisional, lokal, dan vernakular.
Rancang bangun, karya arsitektur, dan perjalanannya.
Arsitektur tradisional dan rancangan lingkungan terbangun.

Mekanisme serta alternatif metode dalam mengakomodasi arsitektur tradisional ke
dalam desain lingkungan binaan.
Mekanisme pengaturan serta pengendalian - akomodasi arsitektur tradisional dalam
desain kekinian dan masa depan.

vii
ISBN: 978-602-294-145-3
Kegiatan ini tidak hanya merangkum ide-ide yang didokumentasikan ke dalam karya tulis
(seminar), tetapi juga dengan mencoba memperoleh masukan melalui diskusi interkatif.
Keduanya melibatkan para akademisi sebagai pemerhati, perancang profesional, pemerintah
sebagai pengontrol dan pengendali pembangunan, serta masyarakat sebagai pemakai hasil
rancangan. Diharapkan, dengan mensinergikan kedua kegiatan ini ke dalam satu forum, akan
diperoleh masukan yang inklusif, bagaimana kita memahami arsitektur sebagai produk budaya
yang memiliki dinamikanya sendiri, bersanding dengan keinginan untuk melestarikan tradisi
rancang bangun, yang memiliki tatanan wujud fisik serta tatanan tata nilai yang memandu
keberadaannya.
Terima kasih
Gusti Ayu Made Suartika
viii
ISBN: 978-602-294-145-3
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
DAFTAR ISI
Halaman muka ……………………………………………………………………………………………………..………….
Editor ……………………………………………………………………………………………………..……………………….
Kata Pengantar ………………………………………………………………………………………………….…………….
Ringkasan ………………………………………………………………………………………………………………….……..
Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………………………….
Daftar Pemakalah
i
iii
v
vii
ix
Sub Tema 1. Konsepsi: Arsitektur Tradisional, Lokal,
dan Vernakular
Kajian Semiotika Ornamen dan Dekorasi Interior Kelenteng sebagai
Wujud Inkulturasi Budaya di Kota Denpasar …………………………………………..................……………
Ni Made Emmi Nutrisia Dewi, Freddy Hendrawan
Dialog pada Arsitektur Bali: Sarana Komunikasi Identitas Lokal …………………………...…………
I Dewa Gede Agung Diasana Putra
Membongkar Stagnansi Perkembangan Arsitektur Bali ………………..................................................
Syamsul Alam Paturusi
Arsitektur di Bali Antara Norma dengan Fakta ...………………............................…………………………
Putu Rumawan Salain
Reinterpretasi Latar Belakang Filosofis Konsepsi Desa Kala Patra
dan Wujud Penerapannya dalam Seni Arsitektur Bali ...………………............................……………
I Nyoman Widya Paramadhyaksa, I Gusti Agung Bagus Suryada, Ida Ayu Armeli
1
15
25
33
41
Sub Tema 2. Transformasi Rancang Bangun Tradisional
dan Karya Arsitektur
Transformasi Rumah Adat Bali Aga
Kasus: Desa Adat Bayung Gede, Desa Adat Penglipuran, Desa Adat Tenganan ………………..
Nimas Sekarlangit
Transformasi Arsitektur Tradisional dalam Perancangan Bandar Udara ………………………...
Basauli Umar Lubis
Bale: Objek Pembentuk Ruang yang Berkelanjutan pada Arsitektur Bali Aga …………………
Himasari Hanan
Transformasi Bentuk Fasad dan Pola Arsitektur Tradisional Bali ……………………………………
Ni Putu Atik Pradnya Dewi
51
61
67
81
ix
ISBN: 978-602-294-145-3
Penyesuaian Fungsi Ruang pada Bangunan Domestik di Desa Penglipuran, Bangli …………
Sri Indah Retno Kusumawati
91
Struktur Konstruksi Bangunan Tradisional di Desa Pengotan, Bangli:
Pelestarian Arsitektur Bali Aga …………………………………………………………………………………………
Anak Agung Gde Djaja Bharuna S.
105
Transformasi Rancang Bangun Tradisional Bali (Jineng) dalam
Fisik Bangunan Fungsi Pariwisata (Hotel) di Badung ………………………...…………………………….
Dwi Meisa Putri
117
Transformasi Arsitektur Bale Delod Banjar Gamongan, Desa Kaba-Kaba,
Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali ………………………...……..................……………………….
Ni Putu Suda Nurjani
125
Perubahan Wujud dan Fungsi Ruang pada Rumah Tinggal Tradisional Desa Bali Aga
Studi Kasus: Desa Pedawa, Buleleng-Bali ………..………………...…………........................………………….
Tri Anggraini Prajnawrdhi
137
Adaptasi Bentuk dan Pola Bangunan Tradisional terhadap Fungsi Modern
di Desa Tradisional Penglipuran ………………...................………...…………........................………………….
Widiastuti
153
Perubahan Setting Hunian Tradisional di Desa Tengkudak, Tabanan-Bali ……………………….
Ni Luh Putu Eka Pebriyanti
Perubahan Orientasi dan Metode Penamaan Ruang dalam Rumah Tinggal Orang Bali
di Denpasar ………………................................................................………...…………........................………………….
I Nyoman Widya Paramadhyaksa
Arsitektur Bale Banjar dan Perannya di Desa Pakraman Perasi, Karangasem ……...…………..
I Nyoman Susanta
167
179
189
Sub Tema 3. Strategi dan Metode dalam Mengakomodasi Arsitektur
Tradisional ke dalam Desain Lingkungan Binaan
Koeksistensi Makna Simbolik Rumah Tradisional Buton (Rumah Kaum Walaka)
dan Bangunan Kantor DPRD di Kota Baubau …………………………..........................................................
Muhammad Zakaria Umar
203
Tata Zonasi Permukiman Adat di Desa Nggela, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende ……
Fabiola T A Kerong
213
Karakteristik Permukiman Tradisional Bali: Desa Julah, Buleleng …..............................................
Made Chryselia Dwiantari
241
Karakteristik Permukiman Tradisional Desa Bungaya ….......................................................….............
Ni Luh Jaya Anggreni
Permukiman Tradisional Desa Pengotan Bangli …...................................................................................
Sayu Putu Peny Purnama
Karakteristik Permukiman Tradisional Desa Adat Trunyan, Kintamani, Bangli …...................
A A Gede Trisna Gamana
x
227
249
255
ISBN: 978-602-294-145-3
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
Karakteristik Desa Bali Aga: Desa Tengkudak, Kabupaten Tabanan …...........................................
Ni Putu Helsi Pratiwiningsih
Eksistensi Permukiman Tradisional di Desa Bugbug Karangasem
terhadap Perkembangan Pembangunan Masa Kini …..............................................................................
Putu Pradnya Lestari Ratmayanti
Karakteristik Permukiman Tradisional Desa Tenganan …....................................................................
I Made Raditya Wahyu
Tatanan Spasial Permukiman Tradisional Desa Bali Aga, Timbrah …..............................................
Gordon Ardinata
Kawasan Suci Pura Khayangan Tiga Sebagai Bentuk Pelestarian Arsitektur
Tradisional Bali di Desa Adat Kesiman ….........................................................................................................
Putu Ayu Niasitha Prabandhari
Karakteristik Permukiman Tradisional Penglipuran, Bangli …...........................................................
I Nyoman Jatiguna
Arsitektur Lingkungan Binaan pada Permukiman Tradisional
(Studi Kasus: Desa Tenganan, Bali) …................................................................................................................
Dona Sri Lestari Poskiparta
Karakteristik Desa Adat Tradisional Sidatapa sebagai Desa Bali Aga di Bali Utara ….............
Luh Ketut Yulitrisna Dewi
Pelestarian Bangunan Cagar Budaya sebagai Arsitektur Lokal di
Kawasan Budaya Kotabaru …................................................................................................................................
Vinsensius R. Edo
265
275
283
291
305
317
325
339
345
Eksistensi Permukiman Tradisional (Bali) di Kelurahan Ubud .........................................................
Ni Nyoman Ratna Diantari
355
Arsitektur Umah Bali Aga di Desa Wongaya Gede, Kabupaten Tabanan-Bali ….........................
Anak Agung Ayu Oka Saraswati
365
Implementasi Nilai-Nilai Arsitektur Arsitektur Tradisional Bali
pada Bangunan di Lahan Sempit ……...…………...............................................................................................
I Made Juniastra
Tektonika Arsitektur Bali …....................................................................................................................................
Ni Ketut Ayu Siwalatri
Karakteristik Arsitektur Pertamanan (Lanskap) Bali: Potensi dan Tantangan
dalam Perkembangan Arsitektur …..............................................................................................................
Ni Made Yudantini
375
383
395
xi
ISBN: 978-602-294-145-3
Sub Tema 4. Mekanisme Pengaturan serta Pengendalian Akomodasi
Arsitektur Tradisional dalam Desain Kekinian
dan Masa Depan
Desa Wisata Brayut dalam Konteks Pertemuan Aspek Tradisional dan Mordern ……....……
Amos Setiadi
407
Optimalisasi Fungsi Ruang Terbuka Hijau sebagai Natah dalam Setting Aktivitas
dan Interaksi Sosial Masyarakat Perkotaan di Kota Denpasar …………………...........................……
I Gusti Agung Adi Wiraguna
419
Komodifikasi Arsitektur Lokal pada Perkembangan Akomodasi Wisatawan
di Pulau Bali …………………………............................................................................................................................
Sylvia Agustine Maharani
427
Kajian Dinamika Ekonomi, Politik, dan Sosial Budaya:
Penghilangan Karakteristik Lokal Arsitektur Kota di Bali ……………………………....................……
I Ketut Mudra, I Wayan Yuda Manik
437
Kunci Keberlangsungan Arsitektur Lokal ………………………...........................…......................................
Antonius Karel Muktiwibowo
Implementasi Tata Aturan Tradisional dalam Tata Ruang Publik Pesisir Pantai Sanur ……
Kadek Edi Saputra
Memaknai Kembali Kearifan Lokal dalam Konteks Kekinian ...……...........................……….……….
Ni Ketut Agusintadewi
xii
447
455
461
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
DIALOG PADA ARSITEKTUR BALI:
SARANA KOMUNIKASI IDENTITAS LOKAL
I Dewa Gede Agung Diasana Putra
Jurusan Arsitektur Universitas Udayana
Email: [email protected]
Abstract
Balinese architecture is an identity of the Balinese culture that presents its differences with other
cultures. As other traditions, architectural productions in Bali have undergone gradual
transformation. Using graphic analysis, this paper explores the transformation of the traditional
Balinese architecture as an instrument to dialogue aspects influencing the transformation of the
Balinese architecture. In this context, geography and political agenda of the government, in the field of
architecture, influence the transformation in order to create cultural identity of Bali.
Keywords: architectural dialogue, transformation, identity, local, culture.
Abstrak
Arsitektur Bali merupakan salah satu identitas budaya Bali yang berbeda dengan budaya lainnya,
yang mana seperti halnya tradisi lainnya, arsitektur juga mengalami transformasi secara gradual.
Melalui analisa secara grafis, paper ini mengeksporasi transformasi arsitektur Bali sebagai sarana
mendialogkan aspek-aspek yang berpengaruh terhadap transformasi tersebut. Dalam hal ini
kondisi geografis dan agenda kekuasaan, dalam bidang arsitektur, berpengaruh terhadap
transformasi dalam upaya menciptakan dan membentuk identitas budaya masyarakat Bali.
Kata kunci: dialog dalam arsitektur, transformasi, identitas, lokal, budaya
PENDAHULUAN
Hasil karya arsitektur merupakan salah satu produk budaya yang dapat mengekspresikan
kesamaan tradisi diantara anggota sebuah budaya dan menunjukkan perbedaan dari budaya
lainnya. Arsitektur juga mengekspresikan sebuah ide keunikan yang menawarkan sebuah
kebanggaan sehingga masing-masing budaya dapat mengaktualisasikan identitasnya masingmasing melalui sebuah karya arsitetur. Dalam hal ini, karya-karya arsitektur Bali dapat
merupakan sebuah perwujudan identitas budaya Bali yang berbeda dengan budaya lainnya.
Seperti halnya bahasa yang merupakan sarana komunikasi verbal, maka arsitektur dapat
dikategorikan sebagai sebuah sarana komunikasi non verbal. Oleh karena itu, sebuah karya
arsitektur harus mampu mendialogkan tujuan dan makna dari bentuk-bentuk yang
diekspresikan (Lawson, 2001). Sebagai sebuah alat komunikasi non-verbal, sebuah karya
arsitektur mampu mendialogkan kondisi dan keberadaan sebuah masyarakat pada jamannya
dalam mengekspresikan identitas sebuah komunitas, termasuk arsitektur tradisional Bali.
Arsitektur tradisional Bali adalah salah satu manifestasi dari budaya dan tradisi-tradisi
masyarakat Bali. Arsitektur merefleksikan pengalaman-pengalaman umum dari masa lalu dan
pewarisan aspek-aspek budaya. Hal ini dapat dilihat sebagai sumber daya untuk menciptakan
identitas budaya (Hall, 1990; Derek & Japha, 1991; Proshansky et al. 1983). Identitas ini
mengekspresikan kesamaan tradisi dan budaya diantara anggota masyarakatnya dan
mengungkapkan perbedaan dengan yang bukan anggotanya (Brubaker & Cooper, 2000).
15
Arsitektur beserta tradisi-tradisi yang diwadahi adalah saling berkaitan dan diwariskan dari
generasi ke generasi.
Dalam hal ini, tradisi tidaklah didefinisikan sebagai sebuah fenomena statis yang tidak berubah
seperti klasifikasinya pada tahun 1950-60an. Melainkan tradisi adalah sebuah fenomena tidak
statis dimana tradisi mengalami proses transformasi secara perlahan (Eisenstadt, 1973).
Interaksi antara anggota suatu komunitas dengan budaya luar dan pertumbuhan sosial dan
budaya masyarakat sangat berpengaruh terhadap karakter dari kehidupan kekeluargaan,
struktur sosial maupun kepercayaan (Gusfield, 1967). Sifat mendasar dari sebuah tradisi
adalah memiliki kemampuan adaptasi yang mungkin bertransformasi dalam proses transmisi
antar generasi. Proses dari transmisi sebuah tradisi mengacu pada response dan ide
masyarakat yang mana interaksi antar generasi seperti sebuah mata rantai chain atau
jembatan bridge komunikasi untuk mentransfer tradisi dalam sebuah struktur masyarakat
(Shils, 1971, p: 125, 134). Dalam hal ini, budaya Bali juga mengalami transformasi yang terus
menerus yang melibatkan kolaborasi dari hubungan sosial dalam masyarakat dan dipengaruhi
oleh interaksi dan respon masyarakat Bali terhadap budaya luar (Geriya, 2007; Mantra, 1993).
Masing-masing wilayah di Bali memberikan respon yang berbeda-beda terhadap budaya yang
datang yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat, potensi dan sumber daya daerah
(Mantra, 1993) termasuk didalamnya pengaruh politik kekuasaan dalam sebuah daerah
(Geertz, 1983). Hal ini memberikan variasi pada budaya di Bali termasuk arsitekturnya.
Transformasi yang disesuaikan dengan sumber daya lokal inilah kemudian yang melahirkan
dialog arsitektur dimana transformasi arsitektur berbeda satu sama lain yang disesuaikan
dengan sumber daya lingkungan dan perbedaan respon dari masyarakat yang bersangkutan.
Oleh karena itu, menarik untuk dieksplorasi lebih mendalam sejauh mana variasi arsitektur
mengkomunikasikan perbedaan respon dan kondisi kekuasaan dari masa ke masa sehingga
mempengaruhi konsepsi arsitektur di Bali. Eksplorasi ini dapat menjadi sebuah upaya
inventarisasi tekstur budaya dan praktek-praktek arsitektur yang spesifik dan unik, sekaligus
mengungkap dan menggali keanekaragaman budaya di Bali.
Untuk mencapai tujuan tersebut, melalui analisis secara grafis, artikel ini mulai dengan
memaparkan aspek kebudayaan yang merupakan perwujudan sebuah identitas sebuah
komunitas. Pembahasan dilanjutkan dengan mengeksplorasi arsitektur yang merupakan
sarana komunikasi identitas lokal. Melalui analisis visual, paper ini memaparkan dialog pada
arsitektur yang merupakan sarana mengkomunikasikan proses transformasi arsitektur di Bali.
BUDAYA SEBAGAI SEBUAH IDENTITAS
Seperti telah diuraikan sebelumnya, sebuah tradisi sebagai sebuah bagian dari budaya
merupakan sebuah proses transformasi yang tanpa henti. Penciptaan sebuah tradisi baru di
dalam sebuah masyarakat melibatkan sebuah institusi untuk merepresentasikan, seperti apa
yang dikatakan oleh Shils (1971, p: 136 sebagai the moral righness atau superiority of an
institusi. (al ini dapat dilihat dari proses transformasi tradisi-tradisi di Bali yang dipengaruhi
oleh kekuatan luar dari Kerajaan Majapahit. Periode pertengahan abad ke 14 ini merupakan
tonggak penting budaya Bali terkait dengan hubungan yang kuat antara Jawa dan Bali
(Covarrubias, 1974; Vickers, 1989; Swellengrebel, 1984; Hanna, 2004). Berdasarkan berbagai
catatan sejarah tradisional yang di sebut babad, pengaruh Majapahit tidak hanya terkait
16
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
dengan politik kekuasaan, tetapi juga struktur sosial dan hirarki masyarakat Bali (Nordholt,
1986).
Kreasi tradisi baru di Bali melibatkan seorang cucu dari pendeta karismatik dari Jawa, dimana
sebuah tradisi baru dapat terwujud jika melibatkan seorang apa yang disebut Shils (1971, p:
145) sebagai “strong personalities-charismatic persons.” Dalam hal ini orang yang
karismatik dari Jawa ini diutus untuk membangun sebuah tradisi baru di Bali yang didukung
dan ditemani oleh pangeran-pangeran jawa yang ditugaskan untuk mengontrol berbagai
kawasan di Bali (Geertz, 1980). Bali kemudian dikuasai oleh kerajaan tunggal utama(Gelgel)
sebagai wakil Majapahit di Bali, sementara itu kerajaan lainnya seperti Badung, Bangli,
Tabanan, Karangasem dikatergorikan sebagai kerajaan sekunder yang independen (Geertz,
1980). Gelgel yang kemudian dipindahan ke Klungkung menjadi pusat rujukan kegiatan
budaya, sementara itu puri-puri yang lain tetapi memiliki otonomi untuk menata dan mengatur
daerah kekuasaan masing-masing (Agung, 1991).
Dalam rangka mengekspresikan identitas masing-masing, kerajaan-kerajaan sekunder
melaksanakan berbagai kegiatan upacara dan ritual untuk mengekspresikan perbedaan status
mereka (Geertz, 1980; Nordholt, 1986). Setiap kerajaan menstransformasi secara independen
budaya Bali yang mengarah pada perbedaan implementasi pelaksanaan tradisi termasuk
tradisi membangun dan arsitektur. Masing-masing kerajaan menjadi pusat rujukan dan
pelindung budaya di daerah kekuasaan mereka sehingga budaya dan seni berkembang dengan
pesat di istana kerajaan dan desa-desa sekelilingnya.
Di dalam daerah kekuasaannya, kerajaan-kerajaan sekunder tersebut mencoba untuk
menciptakan identitas mereka sendiri untuk mengkespresikan batasan-batasan dan
superioritas mereka. Mereka mengekspresikan diri mereka dan menciptakan batasan-batasan
budaya dengan yang lainnya. Dalam kontek ini, tradisi dan budaya, yang merefleksikan
pengalaman historis secara komunal dan memberikan kode-kode budaya, dapat dilihat
sebagai sebuah sumber daya untuk menciptakan sebuah batasan dan identitas (Derek & Japha,
1991; Hall, 1990; Proshansky et al. 1983). Identitas mengekspresikan sebuah tradisi dan
budaya komunal antara anggota sebuah komunitas dan perbedaan dengan yang bukan
anggotanya (Brubaker & Cooper, 2000). Sebuah masyarakat mengekspresikan identitas
mereka melalui tradisi, aktivitas budaya dan arsitektur yang berbeda dengan yang lainnya.
ARSITEKTUR SEBAGAI SEBUAH IDENTITAS LOKAL
Arsitektur tradisional Bali adalah salah satu manifestasi dari budaya dan tradisi-tradisi
masyarakat Bali. Arsitektur merefleksikan pengalaman-pengalaman umum dari masa lalu dan
pewarisan aspek-aspek budaya. Hal ini dapat dilihat sebagai sumber daya untuk menciptakan
identitas budaya (Hall 1990, Derek & Japha 1991; Proshansky et al. 1983). Dalam arsitektur
tradisional Bali, sebuah ruang atau komponen yang ada didalamnya merepresentasikan bahwa
dunia dibagi menjadi dua kutub yang berseberangan, alam yang berkaitan dengan Ketuhanan
(divine) dan alam bawah (nether) dimana alam atas adalah arah suci dan dunia bawah adalah
profane (Hobart, Ramseyer & Leeman, 1996; Eiseman, 1989). Selanjutnya, diantara kedua
kutub di atas terdapat ruang antara yang disebut madyapada/ mertyapada sebagai ruang
untuk mahluk hidup tinggal (Swellengrebel, 1984; Hobart, Ramseyer & Leeman, 1996).
Masyarakat Bali percaya bahwa mereka memiliki peran religious untuk menjaga
keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama mahluk hidup dan menjaga lingkungan yang
17
merupakan representasi dari kekuatan Tuhan yang disebut tri hita karana (Hobart, Ramseyer
& Leeman, 1996; Meganada, 1990; Eiseman, 1989; Kagami, 1988; Ashrama, Pitana & Windia,
2007).
Filosofi ini menginspirasi konsep-konsep yang terkait dengan bentang alam Bali dari divisi
fisik alam semesta sampai divisi fisik mahluk hidup seperti konsep tri loka (alam atas untuk
Tuhan /swah loka, dunia tengah untuk mahluk hidup /bwah loka dan dunia bawah /bhur loka);
dan konsep tri angga (utama, madia dan nista atau kepala, badan dan kaki) (Meganada, 1990;
Eiseman, 1989; Gelebet, 1986; Hobart, Ramseyer & Leeman, 1996). Konsep ini tidak hanya di
terapkan dalam tata ruang arsitektur Bali, tetapi juga dalam bentuk, struktur dan proporsinya.
Di dalam bentuk arsitektur Bali, ornamen, proporsi dan juga material yang dipergunakan
merupakan salah satu komponen yang dapat mendialogkan adanya perbedaan dan variasi dari
arsitektur Bali. Ada beberapa style yang terwujud dalam dialog tersebut dimana faktor-faktor
sumber daya alam maupun politik kekuasaan memiliki peranan yang penting. Melimpahnya
keberadaan batu paras di wilayah Gianyar, sebagai sebuah contoh, membuat style gegianyaran
banyak memadukan jenis batu ini dengan batu bata merah dalam arsitekturnya. Sementara itu
gaya bebadungan didominasi oleh penggunan batu bata merah dalam arsitketurnya (Gambar
1). Secara umum, bentuk arsitekturnya adalah mirip, tetapi karena karakter material yang
digunakan, terdapat beberapa perbedaan dalam ornament dan bagian-bagian bentuk
bangunannya. Karakter ini diwariskan dari generasi ke generasi dan dirawat sebagai sebuah
karya agung dari masyarakat pendukungnya (Shils, 1971). Dalam hal ini arsitektur mampu
mendialogkan sebuah identitas kawasan yang mana identitas merupakan sebuah gagasan yang
kuat dari homogenitas sebuah group dan ingin menunjukkan status dari group tertentu
(Brubaker & Cooper, 2000).
b.
Gaya bebadungan yang didominasi oleh
penggunaan bata merah
a.
Gaya gegianyaran yang menggunakan
kombinasi batu paras dan bata merah
Gambar 1. Material bangunan dapat mendialogkan peprbedaan antara gaya bebadungan dan
gegianyaran di Bali
18
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
Sebagai sebuah fenomena budaya, sebuah identitas juga berubah sepanjang waktu. Identitas di
transformasikan melalui interaksi antara pihak-pihak di dalam dan di luar sebuah komunitas,
dan kemudian di pahami sebagai sebuah proses berlanjut dan melibatkan tidak hanya kondisi
sosial budaya tetapi juga pengaruh luar (Logan, 1994; Liu, 2009). Penggunaan berbagai bentuk
dan model yang diadopsi dari budaya luar seperti patra cina dan bahkan kendaraan modern
(Gambar 2) sebagai ornament pada arsitektur Bali dapat mendialogkan bahwa masyarakat
Bali telah menerima ide-ide baru untuk memperkaya budayanya. Dalam hal ini, ornament yang
dipergunakan telah melalui sebuah proses adopsi dimana para seniman dan undagi, selama
proses pembangunan, secara bebas menciptakan dan berimprovisasi.
Gambar 2. Sebuah kendaraan modern menjadi
sebuah ornament di Pura Jagaraga Buleleng
Meskipun demikian, kreasi baru ini masih di dalam kerangka tradisi masyarakat atau seperti
diutarakan oleh Shils (1971), penyerapan hal-hal baru dari tradisi lama masih mampu
merepresentasikan kualitas yang tinggi dari masa lampau sehingga tradisi baru dapat diterima
oleh komunitasnya dan dilegitimasi oleh system dan institusi tradisional seperti desa
pekraman maupun puri . Sebagai sebuah institusi tradisional, sebuah desa pekraman
memiliki otonomi untuk mengatur aktivitas budaya dan agama di dalam daerah teritorialnya.
Desa juga memiliki peraturan tradisional yang tertuang dalam awig-awig yang mana setiap
keputusan dan kebijakan, termasuk melegitimasi penciptaan tradisi di dalam desa,
didiskusikan dalam sebuah rapat anggota (sangkep). Meskipun demikian, desa yang terletak di
sekitar puri biasanya melibatkan puri yang merupakan pusat panutan maupun pelindung
budaya termasuk arsitektur di dalam teritorialnya. Karena itu ritual dan seni budaya yang
meliputi penciptaan maupun proses transformasi sebuah tradisi baru, biasanya berkembang
dengan pesat dan terjadi di puri dan daerah sekitarnya seperti halnya Ubud.
DIALOG ARSITEKTUR DALAM PROSES TRANSFORMASI ARSITEKTUR
Dalam sebuah proses penciptaan atau transformasi sebuah karya arsitektur, model-model atau
bentuk-bentuk baru yang dilihat maupun aktivitas baru yang dialami oleh masyarakat di
dalam kehidupan mereka merupakan sumber imaginasi dari ide-ide baru tersebut. Hal ini
menjukkan bahwa identitas arsitektur dipengaruhi oleh budaya lainnya, dan masyarakat Bali
menyesuaikan dan menggunakan hal baru tersebut sebagai komponen di dalam bangunan
mereka. Bahan dan teknologi bangunan baru juga diadopsi yang merupakan bagian dari
arsitektur tradisional. Dalam konteks ini, arsitektur tradisional Bali mengalami evolusi secara
kontiyu (Vale 1992) dimana penggunaan ide-ide modern yang ditunjukkan melalui materialmaterial dan bentuk-bentuk baru mengekspresikan identitas baru (Rapoport, 1983) dan
mendialogkan variasi karakter bangunan.
19
Proses transformasi ini disebut sebagai arsitektur hybrid yang terkait dengan penggunaan
aspek-aspek modern arsitektur di dalam arsitektur tradisional Bali atau seBaliknya (Wijaya
2003). Taman Ujung Karangasem (Gambar 3) dan bale bandung/loj/kantor (Gambar 4)
mendialogkan bahwa arsitektur tradisional Bali mengadopsi budaya luar sebagai bagian dari
identitas arsitektur tradisionalnya. Gaya ini merupakan gaya atau model yang prestisius pada
era kolonial di Bali sampai sebelum era kepariwisataan (Putra 2013).
Gambar 3. Taman Ujung Karangasem, tempat rekreasi puri untuk keluarga Puri
Karangsem
Gambar 4. Bale bandung/kantoran di Puri Kerambitan (kiri) dan Sukawati (tengah)
serta angkul-angkul di Puri Sukawati (kanan)
Adopsi dari budaya luar ke dalam arsitektur Bali dipengaruhi oleh politk etik dari
pemerintahan kolonial Belanda dan Indonesia. Seperti dinyatakan oleh Kurno (2000),
Pemerintah Kolonial Belanda mengkombinasikan ambisi untuk memodernisasi Bali dan
aspirasi untuk mempertahankan gaya arsitektur Bali. Agenda dari upaya untuk mempreservasi
dilajutkan oleh Pemerintah Indonesia yang mana Bali dipromosikan dan dikonservasi sebagai
daerah budaya tradisional dari Indonesia. Pendekatan dari Pemerintah Indonesia menuju
20
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
identitas budaya dan hal-hal potensial yang dikandungnya sudah mengarah pada hal-hal
otoriter dimana budaya dianggap sebagai representasi dari variasi arsitektur regional yang
hanya sebagai objek budaya yang berlawanan dengan arsitektur modern (Kusno 2000).
Pemerintah Indonesia mengintepretasikan kemBali arsitektur Bali sebagai etnik yang berbeda
dengan wilayah lainnya, dimana masing-masing kawasan digambarkan sebagai identitas
budaya yang eksotik dan sebagai sebuah simbul budaya (Kusno, 2000).
Agenda budaya oleh Kolonial Belanda dan kemudian dilanjutkan oleh Pemerintah Indonesia
telah mendorong transformasi arsitektur Bali. Variasi gaya-gaya arsitektur Bali seperti
buleleng, bebadungan dan gegianyaran secara perlahan berubah menjadi gaya tunggal yang
mana gegiayaran menjadi acuan identitas arsitektur di Bali. Transformasi arsitektur telah
mendialogkan visi preservasi kolonial Belanda di Bali dalam bidang arsitektur. Di dalam visi
tersebut terdialogkan dalam disain arsitektur dari stand pameran Hindia Belanda pada
Colonial Exposition di Paris tahun 1931. Dalam pameran tersebut, stand pameran Hindia
Belanda, yang didisain oleh P.A.J. Moojen dan W.J.G. Zweedijk, diinspirasi oleh beberapa
arsitektur tradisional pura dan puri di Gianyar (Morton, 2000; Savarese, 2001). Pemilihan gaya
gegianyaran ini, sebagai representasi dari arsitektur Bali dalam kegiatan ini, dipengaruhi oleh
ekspedisi arsitektur dari Moojen di Bali yang dipandu oleh Walter Spies dan Rudolph Bonnet
yang tinggal di Ubud. Karena stand Hindia Belanda di pameran tersebut menjadi titik awal
memperkenalkan Bali kepada para atropolog, seniman, arsitek maupun wisatawan tahun
1930an (Picard, 1996), maka gaya arsitekturnya menjadi panduan arsitektur dan
menginspirasi pemerintah baik kolonial maupun pasca kolonial di Bali. Dalam hal ini gaya
bangunan pada stand Hindia Belanda menjadi acuan dalam mewujudkan identitas arsitektur
Bali pada awal abad ke 20 (Achmadi 2007). Lebih lanjut, masyarakat juga mencontoh gaya
tersebut, yang dianggap menunjukkan sebagai bentuk terbaik dan dipergunakan dalam
berbagai bangunan baik di rumah tinggal maupun fasilitas wisata (Putra 2012). Kegiatan
kepariwisataan banyak mempengaruhi penggunaan gaya ini dimana pariwisata telah
mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk mempreservasi dan menggunakan kemBali
identitas arsitektur Bali khususnya gaya gegianyaran pada karya arsitektur yang bangun
(Putra, Lozanovska & Fuller, 2013). Seperti diungkapkan oleh Achmadi (2007), implikasi
utama dari aktivitas kepariwisataan, yang didialogkan dari hasil karya arsitektur, adalah
bahwa identitas lokal telah memudar dan gaya gegianyaran, yang direputasikan sebagai
contoh arsitektur terpilih untuk arsitektur Bali, menyebar keseluruh Bali.
Dalam dialognya, karya-karya arsitektur mampu mengkomunikasikan agenda kebijakan di
Bali, dimana pariwisata telah membentuk konsep baru dalam arsitektur Bali yang secara
perlahan merubah keanekaragaman gaya arsitektur local menjadi gaya tunggal (Achmadi
2007). Dalam hal ini, dialog arsitektur dari masa ke masa yang menunjukan terjadinya
transformasi budaya di Bali, perlu dilihat berdasarkan kondisi kekinian dan hubungan
kekuasaan. Sebagai sebuah karya budaya, transformasi arsitektur Bali dapat dilihat sebagai
proses adaptasi dalam rangka mengakomodasi kondisi kekinian masyarakat. Konsep identitas
arsitektur Bali dapat dibaca sebagai upaya mengolah atau mengupayakan kemungkinan
arsitektur kekinian dan pandangan baru tentang formasi arsitektur (Achmadi 2007). Proses
transformasi ini merupakan sebuah respon untuk menghadapi tantangan baru di dalam
masyarakat dengan mengintepretasi konsep baru dalam identitas arsitektur. Hal ini dapat
dilihat saat ini dimana masyarakat mulai kemBali memandang keanekaragaman gaya
arsitektur Bali sebagai upaya mengintepretasikan atau menemukan kemBali identitas lokal
mereka. Penggunaan bata merah pada bangunan yang baru di bangun atau direnovasi di Kota
21
Denpasar (Gambar 5), adalah salah satu upaya masyarakat, yang didukung oleh legalitas dari
pemerintah setempat, untuk kemBali membangkitkan lokalitas dan kebanggaan terhadap
identitas lokal arsitektur di Bali dan mendialogkan kepada masyarakatnya maupun komunitas
lainnya akan keberadaan identitasnya.
Gambar 5. Penggunaan gaya arsitektur bebadungan pada bangunan yang baru
direnovasi di Denpasar
KESIMPULAN
Arsitektur mampu mengekspresikan sebuah keunikan sehingga masing-masing budaya dapat
mengaktualisasikan identitasnya termasuk arsitektur tradisional Bali. Seperti halnya sebuah
tradisi, arsitektur Bali juga mengalami proses transformasi secara gradual yang mana proses
ini mampu mendialogkan kondisi alam dan agenda politik dalam bidang budaya dan arsitektur
dari masa ke masa. Dalam proses ini, tejadi proses legitimasi oleh institusi tradisional seperti
desa pekraman maupun puri. Akan tetapi seiring dengan kemajuan jalan, proses legitimasi
dalam transformasi arsitektur di Bali bergeser dari institusi tradisional menuju institusi
kenegaraan baik itu pemerintah kolonial maupun Indonesia. Dalam hal ini pemerintah colonial
belanda dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia mengkombinasikan ambisi untuk
memodernisasi dan mempreservasi gaya arsitektur Bali. Dalam hal ini muncul bentuk-bentuk
hybrid maupun penyamarataan gaya arsitektur Bali menjadi style tunggal dari sebelumnya
yang bervariasi. Penunggalan gaya arsitektur semakin meningkat seiring dengan kemajuan
transportasi dan aktivitas kepariwisataan dimana masyarakat menggunakan gaya gegianyaran
sebagai model gaya arsitektur Bali. Dalam hal ini konsep gaya arsitektur Bali dapat dibaca
sebagai sebuah respon untuk menghadapi tantangan baru dengan mengintepretasi kemBali
konsep baru dalam identitas arsitektur. Proses transformasi arsitektur Bali ini mampu
mendialogkan telah terjadinya interaksi masyarakat dengan budaya luar, pemanfaatan
potensi-potensi geografis maupun adanya pengaruh kekuasaan dalam menciptakan identitas
arsitektur di Bali yang mana saat ini masyarakat mulai menghidupkan kemBali gaya arsitektur
lokal yang dipertegas dengan beberapa ketentuan perundangan yang dihasilakan instansi
kepemerintahan sebagai pihak yang memiliki legalitas.
REFERENSI
22
Seminar Nasional Tradisi dalam Perubahan: Arsitektur Lokal dan Rancangan Lingkungan Terbangun - Bali, 3 November 2016
Achmadi, A (2007) The architecture of Balinisation: writings on architecture, the villages, and
the construction of Balinese cultural identity in the 20th century. PhD thesis, the
University of Melbourne, Australia.
Agung, I.A.A.G (1991) Bali in the 19th century. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Ashrama, B, Pitana, IG, & Windia, W (2007) Bali is Bali forever, ajeg dalam bingkai tri hita
karana. Bali Travel News and Pemerintah Provinsi Bali, Denpasar.
Brubaker, R & Cooper, F (2000) Beyond identity. Theory and Society, vol. 29, no. 1, pp. 1-47.
Covarrubias, M (1974) Island of Bali. Oxford University Press, Kuala Lumpur.
Derek & Japha, V (1991) Identity through detail: an architecture and cultural aspiration in
Montagu, South Africa, 1850-1915. TDSR, Vol. II, p: 17-33.
Eiseman Jr, FB (1989) Sekala and niskala: essays on religious, ritual and art, vol. I. Periplus
Editions, Singapore.
Eisenstadt, SN (1973) Post-traditional societies and the continuity and reconstruction of
tradition. Daedalus, Vol. 102, No. 1, Post-Traditional Societies (Winter, 1973), p: 1-27,
the MIT Press on behalf of American Academy of Arts & Sciences.
Geertz, C (1980) Negara: the theatre state in nineteenth-century Bali. Pricenton University
Press, New Jersey.
Geertz, C (1973) The interpretation of cultures. Basic Books Inc, New York.
Gelebet, IN (1986) Arsitektur tradisional daerah Bali. Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Denpasar.
Geriya, IW (1976) Sikap terhadap pariwisata, Pengkajian Budaya, 2, Universitas Udayana,
Denpasar.
Gusfield, J.R (1967) Tradition and modernity: misplaced polarities in the study of social
change. American Journal of Sociology, Vol. 72, No. 4, p: 351-362.
Hall, S (1990) Cultural identity and diaspora, in J Rutherford (ed), Identity, community, culture
difference. Lawrence and Wishart, London, p: 222-237.
Hanna W.A (2004) Bali chronicles, Periplus Editions, Singapore.
Hobart, A, Ramseyer, U & Leemann, A (2001) The people of Bali. Blackwell Publishers Ltd,
Massachusetts.
Kagami, H (1988) Balinese traditional architecture in process. The Little World Museum of Man,
Inuyama.
Kusno, A (2000) Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in
Indonesia. Routledge, London.
Lawson, B (2001). The Language of Space. Oxford: Architectural Press.
Liu, Y (2009) Construction ethnic identity: making and remaking Korea-Chinese Rural Houses
in Yanbian, 1881-2008. TDSR, Vol. XXI, No. 1, p: 67-82.
Logan, W.S (1994) Hanoi townscape: symbolic imagery in Vietnam’s capital’, in Askew & WS
Logan (eds), Cultural identity and urban change in Southeast Asia: interpretative
essays. Deakin University Press, Geelong, p: 43-69.
Mantra, IB (1993) Bali masalah sosial budaya dan modernisasi. Upada Sastra, Denpasar.
Meganada, IW (1990) Pola tata ruang arsitektur tradisional dalam perumahan KPR-BTN di
Bali. Magister thesis of architecture, Institut Teknologi Bandung.
Morton, P.A (2000) Hybrid Modernities: Architecture and Representation at the 1931 Colonial
Exposition. The MIT Press, Cambridge.
Nordholt, H.S (1986) Bali: colonial conceptions and political change 1700-1940 from shifting
hierarchies to fixed order. Erasmus, Rotterdam.
23
Picard, M (1996) Bali: cultural tourism and touristic culture. Archipelago Press, Singapore.
Proshansky, HM et al. (1983) Place identity: physical world socialization of the self’. Journal of
Environmental Psychology, Vol. 3, p: 57-83.
Putra, I D.G.A.D (2012) Tourism Facilities on Balinese Traditional Housing Extensions in Ubud
Village Bali (in Term on Environmental Sustainability). Ruas, Vol. 10, No. 1, p: 44-51.
Putra, I D.G.A.D (2013) Transformasi Rumah Tradisional Bali di Kawasan Wisata: Sebuah
proses perjalanan arsitektur traditional Bali. Seminar Nasional Reintepretasi Identitas
Arsitektur Nusantara. Denpasar: Universitas Udayana Bali, ISBN No. 1234-5678, p:
2.149-2.158.
Putra, ID.G.A.D, Lozanovska, M & Fuller, R (2013) The transformation of the traditional
Balinese house for tourist facilities: managing a home-based enterprise and
maintaining an architectural identity. International Conference on Management and
Business Science Malang Indonesia, p: 53-67.
Rapoport, A (1983) Development, culture change and supportive design. Habitat International,
Vol. 7, No. 5/6, p: 249-268.
Savarese, N (2001) 1931: Antonin Artaud Sees Balinese Theatre at the Paris Colonial
Exposition. The Drama Review, Vol. 45, No. 3, New York University and the
Massachusetts Institute of Technology.
Shils, E (1971) Tradition, Comparative Studies in Society and History, vol. 13, no. 2, Special Issue
on Tradition and Modernity, p: 122-159.
Swellengrebel, J.L (1984) Introduction, in JL Swellengrebel (ed), Bali: studies in life, thought,
and ritual. Foris Publication Holland, Nethelands, p: 1-76.
Vale, L.J (1992) Architecture, power, and national identity. Yale University, New Haven &
London.
Vickers, A (1989) Bali: a paradise created. Penguin Books Australia Ltd, Ringwood Victoria.
Wijaya, M (Michael White) (2003) Architecture of Bali: a sourcebook of traditional and modern
forms. Thames and Hudson, London.
24
Download