sig = maps + database

advertisement
BAB II
TEORI PENUNJANG
2.1. SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)
2.1.1 Pengenalan SIG
SIG mulai dikenal pada awal 1980-an. Sejalan dengan
berkembangnya perangkat komputer, baik perangkat lunak maupun
perangkat keras, SIG berkembang sangat pesat pada era 1990-an.
SIG = MAPS + DATABASE
Gambar 2.1Gambaran SIG
Definisi SIG selalu berkembang, bertambah dan bervariasi. Hal ini
telihat dari banyaknya definisi SIG yang telah beredar. Selain itu, SIG
juga merupakan suatu kajian ilmu dan teknologi yang relatif baru,
digunakan oleh berbagai bidang disiplin ilmu, dan berkembang dengan
cepat.
Secara harafiah, SIG dapat diartikan sebagai suatu komponen yang
terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan
sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
menangkap, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola,
memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa, dan menampilkan data
dalam suatu informasi berbasis geografis. (Puntadewo A+, 2003)
Dengan kata lain Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sistem
informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial
(bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah
sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun,
menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi bereferensi
geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam
sebuah basis data termasuk juga orang yang membangun dan
mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. (Sembiring,
2007)
Penggunaan SIG sering kali didukung dengan penggunaan
pengindraan jauh seperti citra satelit yang memungkinkan untuk
memetakan keberagaman informasi karakteristik area seperti tumbuh7|Bab II Teori Penun jang
tumbuhan, air, geologi baik dalam ruang dan waktu. Citra satelit dapat
memberikan gambaran dan menyediakan informasi lingkungan yang
sangat berguna dari area dengan skala bervariasi dari keseluruhan benua
sampai area yang sangat kecil. Banyak jenis bencana seperti banjir,
gempa bumi dan bencana lainya mempunyai tanda-tanda yang dapat
dideteksi oleh satelit. Pengindraan jauh juga memungkinkan
pengawasan (monitoring) kejadian bencana ketika bencana tersebut
terjadi. (sembiring, 2007)
Data yang diolah pada SIG ada 2 macam yaitu data geospasial (data
spasial dan data non-spasial). Jika pada gambar 2.2 data non-spasial
tidak digambarkan hal tersebut karena dalam SIG yang dipentingkan
adalah tampilan data secara spasial.
Data spasial adalah data yang berhubungan dengan kondisi geografi
misalnya sungai, wilayah administrasi, gedung, jalan raya dan
sebagainya. Seperti yang telah diterangkan pada gambar diatas, data
spasial didapatkan dari peta, foto udara, citra satelit, data statistik dan
lain-lain. Hingga saat ini secara umum persepsi manusia mengenai
bentuk representasi entity spasial adalah konsep raster dan vector.
Sedangkan data non-spasial adalah selain data spasial yaitu data yang
berupa text atau angka. Biasanya disebut dengan atribut.
Data non-spasial ini akan menerangkan data spasial atau sebagai
dasar untuk menggambarkan data spasial. Dari data non-spasial ini
nantinya dapat dibentuk data spasial. Misalnya jika ingin
menggambarkan peta penyebaran penduduk maka diperlukan data
jumlah penduduk dari masing-masing daerah (data non-spasial), dari
data tersebut nantinya kita dapat menggambarkan pola penyeberan
penduduk untuk masing – masing daerah.
2.1.2 Konsep Model Data Spasial pada SIG
Model data pada SIG sangat penting karena dapat memberikan ide
bagaimana menyimpan data dalam komputer dan bagaimana data
tersebut dapat dianalisa, dan data spasial merupakan data yang paling
penting dalam SIG. Sehingga dapat dibuat skema seperti pada gambar
2.4 dibawah ini.
8|Bab II Teori Penunjang
SIG = MAPS + DATABASE
Tabel
Vektor Raster TIN model
Point
Line
Cell
Triangle
Kolom
Baris
Polygon
Gambar 2.2 Data pada SIG
Pada skema di atas yang dimaksud dengan maps adalah data spasial
sedangkan database merupakan data non-spasial. Untuk lebih jelasnya
adalah sebagai berikut:
 Data Raster
Model data raster menampilkan, menempatkan dan menyimpan
spasial dengan menggunakan struktur matriks atau pixel-pixel yang
membentuk grid. Akurasi model data ini sangat bergantung pada
resolusi atau ukuran pixelnya (sel grid) di permukaan bumi. Contoh
data raster, dapat dilihat pada gambar 2.3, adalah citra satelit
misalnya Spot, Landsat, dll. Konsep model data ini adalah dengan
memberikan nilai yang berbeda untuk tiap-tiap pixel atau grid dari
kondisi yang berbeda.
Gambar 2.3 Contoh data raster citra satelit
9|Bab II Teori Penun jang

Data Vektor
Model data vektor yang menampilkan, menempatkan dan
menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis-garis,
atau kurva atau poligon beserta atribut-atributnya. Bentuk dasar
representasi data spasial didalam sistem model data vektor,
didefinisikan oleh sistem koordinat kartesian dua dimensi (x,y).
Gambar 2.6 adalah salah satu contoh konsep data spasial
dihubungkan pula dengan atributnya.
Gambar 2.4 Point pada model data vektor
Gambar 2.5 Contoh data geospasial
10 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g

TIN model
Model data vektor yang menampilkan, menempatkan dan
menyimpan data spasial dengan menggunakan titik-titik, garis-garis,
atau kurva atau poligon beserta atribut-atributnya. Bentuk dasar
representasi data spasial didalam sistem model data vektor,
didefinisikan oleh sistem koordinat kartesian dua dimensi (x,y).
Gambar 2.8 adalah salah satu contoh konsep data spasial
dihubungkan pula dengan atributnya.
Gambar 2.6 TIN (Triangulated Irregular Network) model
2.1.3 Pentingnya SIG dan Kelebihannya
Berikut ini alasan mengapa dibutuhkannya SIG :
a. Penangan data geospatial sangat buruk
b. Peta dan statistik sangat cepat kadaluarsa
c. Data dan informasi sering tidak akurat
d. Tidak ada pelayanan penyediaan data
e. Tidak ada pertukaran data
Dengan begitu SIG diterapkan, didapat keuntungan berikut :
a. Penanganan data geospatial menjadi lebih baik dalam format
baku
b. Revisi dan pemutakhiran data menjadi lebih mudah
c. Data geospatial dan informasi lebih mudah dicari, dianalisis
dan direpresentasikan
d. Menjadi produk bernilai tambah
e. Data geospatial dapat dipertukarkan
f. Produktivitas staf meningkat dan lebih efisien
g. Penghematan waktu dan biaya
h. Keputusan yang akan diambil menjadi lebih baik
11 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
Tabel 2.1 Kelebihan-kelebihan GIS
Peta
GIS
Manual
Penyimpanan
Database Digital Baku Skala dan standar
Dan Terpadu
berbeda
Pemanggilan
Pencatatan
dengan Cek Manual
Kembali
Komputer
Pemutakhiran
Sistematis
Mahal
dan
memakan waktu
Analisis Overlay
Sangat cepat
Memakan waktu
dan tenaga
Penayangan
Murah dan Cepat
Mahal
Kelebihan-kelebihan SIG dapat dilihat pada Table 2.1 dan
perbandingan manajemen informasi spatial dengan GIS dan tanpa SIG
dapat dilihat pada Gambar 2.7.
Gambar 2.7 Perbandingan manajemen informasi spatial dengan GIS
dan tanpa SIG
12 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
2.2. MAPSERVER
2.2.1. Pengenalan MapSever
MapServer merupakan aplikasi freeware dan open source yang
memungkinkan kita menampilkan data spasial (peta) di web. Aplikasi
ini pertama kali dikembangkan di Universitas Minesotta, Amerika
Serikat untuk proyek ForNet (sebuah proyek untuk menajemen sumber
daya alam) yang disponsori NASA (Nasional Aeronautics and Space
Administration). Dukungan NASA dilanjutkan dengan dikembangkan
proyek TerraSIP untuk menajemen data lahan. Saat ini, karena sifatnya
yang terbuka (open source), pengembangan MapServer dilakukan oleh
pengembang dari berbagai negara .
Pengembangan MapServer menggunakan berbagai aplikasi open
source atau freeware seperti Shapelib untuk baca/tulis format data
Shapefile, FreeType untuk merender karakter, GDAL/OGR untuk
baca/tulis berbagai format data vektor maupun raster, dan Proj.4 untuk
menangani beragam proyeksi peta. Pada bentuk paling dasar, MapServer
berupa sebuah program CGI (Common Gateway Interface). Program
tersebut akan dieksekusi di web server dan berdasarkan beberapa
parameter tertentu (terutama konfigurasi dalam bentuk file *.MAP) akan
menghasilkan data yang kemudian akan dikirim ke web browser, baik
dalam bentuk gambar peta atau bentuk lain.
MapServer mempunyai fitur-fitur berikut :
 Menampilkan data spasial dalam format vektor seperti : Shapefile
(ESRI), ArcSDE (ESRI), PostGIS dan berbagai format data vektor
lain dengan menggunakan library OGR
 Menampilkan data spasial dalam format raster seperti :
TIFF/GeoTIFF, EPPL7 dan berbagai format data raster lain dengan
menggunakan library GDAL
 Menggunakan quadtree dalam indexing data spasial, sehingga
operasi-operasi spasial dapat dilakukan dengan cepat.
 Dapat dikembangkan (customizable), dengan tampilan keluaran
yang dapat diatur menggunakan file-file template
 Dapat melakukan seleksi objek berdasar nilai, berdasar titik, area,
atau berdasar sebuah objek spasial tertentu
 Mendukung rendering karakter berupa font TrueType
 Mendukung penggunaan data raster maupun vektor yang di-tiled
(dibagi-bagi menjadi sub bagian yang lebih kecil sehingga proses
untuk mengambil dan menampilkan gambar dapat dipercepat)
13 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g

Dapat menggambarkan elemen peta secara otomatis : skala grafis,
peta indeks dan legenda peta
 Dapat menggambarkan peta tematik yang dibangun menggunakan
ekspresi logik maupun ekspresi reguler
 Dapat menampilkan label dari objek spasial, dengan label dapat
diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih
 Konfigurasi dapat diatur secara on the fly melalui parameter yang
ditentukan pada URL
 Dapat menangani beragam system proyeksi secara on the fly
Saat ini, selain dapat mengakses MapServer sebagai program CGI,
kita dapat mengakses MspServer sebagai modul MapScript, melalui
berbagai bahasa skrip : PHP, Perl, Phyton atau Java. Akses fungsi-fungsi
MapServer melalui skrip akan lebih memudahkan pengembangan
aplikasi. Pengembang dapat memilih bahasa yang paling familiar.
2.2.2 Arsitektur Umum Aplikasi Pemetaan di Web
Bentuk umum arsitektur aplikasi berbasis peta di web dapat dilihat
pada Gambar 2.10
Gambar 2.8 Arsitektur Umum Aplikasi Pemetaan Berbasis Web
Pada gambar di atas, interaksi antara klien dengan server berdasar
skenario request dan respon. Web browser di sisi kilen mengirim request
ke server web. Karena server web tidak memiliki kemampuan
pemrosesan peta, maka request berkaitan dengan pemrosesan peta akan
diteruskan oleh server web ke server aplikasi dan MapServer. Hasil
14 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
pemrosesan akan dikembalikan lagi melalui server web, terbungkus
dalam bentuk file HTML atau applet.
Arsitektur aplikasi pemetaan di web dibagi menjadi dua pendekatan
yaitu Pendekatan Thin Client dan Pendekatan Thick Client. Pendekatan
Thin Client menfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua proses dan
analisis data dilakukan berdasarkan request di sisi server. Data hasil
pemrosesan kemudian dikirimkan ke klien dalam format standard
HTML, yang di dalamnya terdapat file gambar dalam format standard
(misalnya GIF, PNG atau JPG) sehingga dapat dilihat menggunakan
sembarang web browser. Kelemahan utama pendekatan ini menyangkut
keterbatasan opsi interaksi dengan user yan kurang fleksibel.
Untuk Pendekatan Thick Client pemrosesan data dilakuakn di sisi
klien menggunakan beberapa teknologi seperti kontrol ActiveX atau
applet. Kontrol ActiveX atau applet akan dijalankan di klien untuk
memungkinkan web browser dengan format data yang tidak dapat
ditangani oleh web browser dengan kemampuan standard. Dengan
adanya pemrosesan di klien, maka transfer data antara klien dengan web
server akan berkurang.
MapServer menggunakan pendekatan thin client. Semua
pemrosesan dilakukan di sisi sever. Informasi peta dikirinkan ke web
browser di sisi klien dalam bentuk file gambar (JPG, PNG, GIF atau
TIFF). Untungnya, saat ini kelemahan pendekatan thin client dalam hal
interaksi dengan user sudah jauh berkurang dengan adanya framework
aplikasi seperti Chameleon, pmapper, dan gmap.
2.2.3 Komponen Pembentuk MapSever
Pengembangan MapSever sebagai sebuah aplikasi open source,
banyak memanfaatkan aplikasi lain yang juga bersifat open source.
Sedapat mungkin menggunakan aplikasi yang sudah tersedia jika
memang memenuhi kebutuhan untuk menghemat sumber daya dan
waktu pengembangan.
2.2.3.1 Komponen Untuk Akses Data Spasial
Komponen pada kelompok ini bertugas untuk menangani baca/tulis
data spasial, baik yang tersimpan sebagai file maupun tersimpan pada
DBMS
 Shapelib
Shapefile merupakan library yang ditulis dalam bahasa C, untuk
keperluan baca/tulis format data Shapefile (*.SHP) yang
didefinisikan ESRI (Enviromental System Research Institute).
15 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g

Format Shapefile umum digunakan oleh berbagai aplikasi Sistem
Informasi Geografik untuk menyimpan data vector simple (tanpa
topologi) dengan atribut. Pada MapSever, format data Shapefile
merupakan format data default.
GDAL/OGR
GDAL (Geographic Data Abstraction LibraryI) merupakan library
yang berfungsi sebagai penerjemah untuk berbagai format data
raster. Library ini memungkinkan abstraksi untuk semua format
data yang didukung, sehingga beragam format data tadi akan
terlihat sebagai sebuah data model abstrak. Keberadaan data model
abstrak tunggal akan memudahkan pengembang aplikasi karena
dapat menggunkan antarmuka yang seragam untuk semua format
data.. OGR merupakan library dengan fungsionalitas yang identik,
untuk beragam format data vektor. Kode OGR sekarang ini
digabung dalam kode library GDAL.
2.2.3.2 Komponen Untuk Akses Data Peta
MapServer akan mengirimkan tampilan peta berupa gambar. Kita
dapat memilih apa format data gambar yang akan digunakan. Beberapa
komponen di bawah ini berperan dalam membentuk gambar peta yang
dihasilkan oleh MapSever.
 Libpng
Libpng merupakan library yang digunakan untuk baca/tulis gambar
dalam format PNG
 Libjpeg
Libjpeg merupakan library yang digunakan untuk baca/tulis gambar
dalam format JPG/JPEG
 GD
Library GD digunakan MapServer untuk menggambar objek
geografis seperti garis, poligon atau bentuk geometris lain. GD juga
dapat dapat digunakan untuk menghasilkan gambar dalam format
PNG, JPEG, selain menggunakan libpng atau libjpeg secara
langsung.
 FreeType
FreeType merupakan library yang digunakan MapServer untuk
menampilkan tulisan menggunakan font TrueType.
16 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
2.2.3.3 Komponen Untuk Menangani Proyeksi Peta
Library Proj.4 digunakan MapServer untuk menangani sistem
proyeksi peta. Aplikasi ini dikembangkan pertama kali oleh Gerald
Evenden.
2.2.4 Struktur File MAP
MapServer menggunakan file *.MAP (file dengan akhiran
.map, misalnya jawa.map) sebagai file konfigurasi peta. File ini akan
berisi komponen tampilan peta seperti definisi layer, definisi proyeksi
peta, pengaturan legenda, skala dan sebagainya. Secara umum, file
*.map memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut :
 Berupa file teks
 Tidak case sensitif (tidak membedakan antara karakter yang ditulis
dengan huruf besar atau huruf kecil), sebagai contoh : kata
”LAYER”, ”layer” maupun ”Layer” memiliki arti yang sama pada
file *.map. Hal ini tidak berlaku bagi penamaan atribut, misalnya
nama field pada sebuah Shapefile (file *.shp). Nama filed harus
dituliskan persisi seperti yang tertulis pada sumbernya. Meskipun
tidak case sensitif, sebaiknya kita menentukan aturan penggunaan
huruf besar atau kecil untuk menjaga konsistensi. Pada umumnya
digunakan huruf besar untuk menuliskan isi file *.map
 Teks yang mengandung karakter bukan alfanumerik (huruf dan
angka), harus berada di dalam tanda petik, misalnya :
”/opt/webgis/map” (karena karakter ’/’ bukan karakter alfanumerik).
Meskipun keharusan ini hanya berlaku untuk teks yang
mengandung karakter bukan alfanumerik, sebaiknya kita secara
konsisten menggunakan tanda petik untuk setiap variabel teks.
 Path yang menunjuk ke sebuah file, harus dituliskan dalam bentuk
path absolut, misalnya /opt/webgis/data/batimeri.tif, atau relatif
terhadap lokasi file *.map (misalnya ./data/batimeri.tif).
 Pada kondisi normal, jumlah definisi layer pada sebuah file *.map
maksimum sebanyak 50 buah, kecuali kita melakukan kompilasi
program MapServer sendiri dan secara eksplisit mengubah definisi
ini.
 Komentar pada MapServer dimulai dengan karakter ’#’. Teks yang
berada setelah karakter tersebut akan diabaikan, kecuali jika
karakter ’#’ berada di dalam tanda petik dan menjadi bagian dari
variabel teks.
 Terdiri dari definisi objek dengan struktur yang hirarkis (berbentuk
tree), dengan objek MAP pada hirarki tertinggi. Setiap definisi
17 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
objek di dalam file *.map akan diawali oleh nama objek dan
diakhiri dengan kata kunci END. Gambar 2.11 menunjukkan contoh
kerangka sebuah file *.map dalam bentuk hirarki :
MAP
OUTPUTFORMAT
END
LEGEND
END
LAYER
METADATA
END
PROJECTION
END
CLASS
LABEL
END
END
END
END
Gambar 2.9 Hirarki pada File MAP
2.2.5 Pemrograman Dengan PHP/Mapscript
MapScript adalah antarmuka pemrograman MapServer. Saat ini
MapScriptd tersedia dalam beberapa bahasa pemrograman : PHP, Perl,
Phyton dan Ruby. Antarmuka MapScript menggunakan bahasa
pemrograman PHP disebut dengan PHP/MapScript. PHP/MapScript
memungkinkan kita melakukan akses terhadap MapScript API
(Application Programing Interface) dari lingkungan PHP, dengan
menggunakan berbagai kelas PHP.
PHP/MapScript tersedia sebagai sebuah modul PHP, dalam bentuk
file DLL (Dynamic Linked Library) pada platform Windows, atau dalam
bentuk ahared object pada platform Linux.
Seperti juga bahasa pemrograman PHP itu sendiri, modul
PHP/MapScript disusun menggunakan pendekatan pemrograman
berorientasi objek (Object Oriented Programing, atau biasa disingkat
OOP). Jadi ketika kita bekerja dengan PHP/MapScript, kita akan bekerja
dengan berbagai kelas, disamping beberapa fungsi dan variable khusus.
Berikut deskripsi singkat kelas-kelas pada PHP/Mapscript :
 ClassObj
Mengatur kelas-kelas pada sebuah layer.
 ColorObj
Mengatur tampilan warna.
 ErrorObj
18 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g


















Manajemen kesalahan (error). MapSever akan secara otomatis
menginisiasi ErrorObj ketika terjadi kesalahan.
ImageObj
Mengatur penggambaran peta pada file.
LabelCacheObj
Digunakan untuk keperluan membersihkan memori yang
dialokasikan untuk cache label.
LabelObj
Mengatur kenampakan label.
LayerObj
Mengatur operasi-operasi yang berhubungan dengan layer:
pembuatan, penggambaran, query.
LegendObj
Mengatur tampilan legenda.
LineObj
Mengatur objek peta berupa garis.
MapObj
Mengatur karakteristik peta yang akan ditampilkan.
OutputFormatObj
Mengatur format gambar hasil keluaran MapServer.
PointObj
Mengatur objek berupa titik.
ProjectionObj
Mengatur penggunaan system proyeksi peta.
RectObj
Mengatur objek peta berupa persegi panjang (rectangle).
ReferenceMapObj
Mengatur karakteristik peta indeks.
ResultCacheMemberObj
Mengatur objek-objek hasil query.
ScalebarObj
Mengatur karakteristik skala grafis.
ShapefileObj
Kelas untuk bekerja dengan data dalam format Shapefile.
ShapeObj
Kelas untuk bekerja dengan objek peta, baik berupa titik, garis
maupun polygon.
StyleObj
Mengatur karakteristik tampilan symbol.
SymbolObj
19 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g

Mengatur karakteristik symbol.
WebObj
Mengatur opsi-opsi berhubungan dengan web, misalnya logging
aktivitas.
2.2.6 Modul-modul MS4W yang lain
Banyak sekali modul-modul yang disediakan oleh MS4W guna
menunjang aplikasi yang dibuat. Beberapa diantaranya adalah:
 chameleon_ms4w-2.4.1.zip
 fusion_1.0.3_ms4w.zip
 gmap_ms4w_ms5.zip
 ka-map-ms4w-1.0.zip
 ms_ogc_workshop-1.0.6.zip
 openlayers-2.5_ms4w.zip
 pmapper-3.2.0-ms4w.zip
 phpPgAdmin-4.1_ms4w.zip
Modul-modul tersebut tas dapat didownload ketika download
MS4W di www.maptools.org. Beberapa modul-modul tersebut
merupakan framwork yang disediakan oleh MS4W seperti Chameleon,
Fusion, Gmap, Ka-Map, dan Pmapper.
Berikut ini adalah tampilan dari beberapa framework yang
disediakan oleh MS4W
Gambar 2.10 Tampilan awal dari framework Chameleon
20 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
Gambar 2.11 Tampilan awal dari framework Gmap
Gambar 2.12 Tampilan awal dari framework Pmapper
2.3 Database PostgreSQL
2.3.1Pengenalan PostgreSQL
21 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
PostgreSQL atau sering disebut Postgres merupakan salah satu dari
sejumlah database open source yang menawarkan skalabilitas,
keluwesan, dan kinerja yang tinggi. SQL di PostgreSQL tidaklah seperti
yang kita temui pada RDBMS umumnya. Perbedaan penting antara
PostgreSQL dengan sistem relasional standar adalah arsitektur
PostgreSQL yang memungkinkan user untuk mendefinisikan sendiri
SQL-nya, terutama pada pembuatan function atau biasa disebut sebagai
stored procedure. Hal ini dimungkinkan karena informasi yang
disimpan oleh PostgreSQL bukan hanya tabel dan kolom, melainkan
tipe, fungsi, metode akses, dan banyak lagi yang terkait dengan tabel dan
kolom tersebut. Semuanya terhimpun dalam bentuk class yang bisa
diubah user. Arsitektur yang menggunakan class ini lazim disebut
sebagai object oriented.
Untuk platform Windows, PostgreSQL hanya bisa berjalan jika
tipe format harddisk yang digunakan adalah NTFS, jika tipe format
FAT/FAT32 PostgreSQL tidak bisa diinstall. Sedangkan untuk platform
yang lain, PostgreSQL bisa berjalan tanpa syarat khusus.
2.3.2 PostGIS
PostGIS adalah extension dari PostgreSQL yang bersifat objectrelational database server yang mempunyai kemampuan untuk
menyimpan fitur SIG dalam database server. PostGIS adalah software
Open Source yang tidak perlu membeli lisensi untuk menggunakannya.
PostGIS dikembangkan oleh Refractions Research of Victoria sebagai
proyek penelitian teknologi database spasial.
PostGIS mempunyai karakteristik unik tersendiri yang
membedakannya dengan database yang lain, seperti :
 PostGIS mendukung semua fitur OGC (OpenGIS Consortium)
seperti : titik, garis, polygon, multipoint, multiline,
multipoligon, dan GeometryCollection.
 PostGIS menggunakan teks format OGC dalam perintah SQL
untuk merepresentasikan fitur SIG.
 PostGIS menyediakan proses indexing secara cepat dengan
menggunakan GiST (Generalized Search Tree) atau R-Tree
indexes
2.3.3 Menyimpan Data SHP Ke PostgreSQL
PostgreSQL mempunyai fasilitas untuk melakukan convert data
ESRI Shapefile ke dalam database PostGIS / PostgreSQL. Fungsi yang
22 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
digunakan adalah “shp2pgsql” dengan beberapa opsi, seperti contoh
berikut :
 -d
Menghapus tabel database sebelum membuat tabel baru dengan
data Shapefile tersebut.
 -a
Memasukkan data dari Shapefile ke dalam tabel database.
 -c
Buat tabel baru. Ini adalah opsi default.
 -p
Hanya menghasilkan kode SQL hasil pembuatan tabel tanpa
menambahkan datu aktualnya.
 -D
Menggunakan PostgreSQL "dump" format untuk data keluaran.
 -s <SRID>
Membuat dan mempopulasikan tabel geometry dengan SRID
tertentu.
 -I
Membuat GiST index dalam kolom geometry.
Contoh :
# shp2pgsql shaperoads myschema.roadstable > roads.sql
# psql -d roadsdb -f roads.sql
atau # shp2pgsql shaperoads myschema.roadstable | psql -d roadsdb
2.3.4 Membuat Data SHP dari PostgreSQL
PostgreSQL juga mempunyai fasilitas untuk melakukan convert
data database PostGIS / PostgreSQL ke dalam ESRI Shapefile. Fungsi
yang digunakan adalah “pgsql2 shp” dengan beberapa opsi, seperti
contoh berikut :
pgsql2shp [<options>] <database> [<schema>.]<table>
pgsql2shp [<options>] <database> <query>
Perintah – perintah opsinya antara lain :
 -f <filename>
Memasukkan keluaran ke dalam filename.
 -h <host>
Host database untuk melakukan koneksi.
 -p <port>
Port untuk melakukan koneksi ke database host.
 -P <password>
23 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g


Password user untuk berkoneksi dengan database.
-u <user>
Username yang digunakan untuk berkoneksi dengan database.
-g <geometry column>
Kolom geometry yang digunakan untuk saat memasukkan
Shapefile.
Contoh :
#
pgsql2shp –f jalan.shp –h localhost –p 5432 –u user –P
password database tabel.
24 | B a b I I T e o r i P e n u n j a n g
Download