kepemilikan buku kia dan keteraturan antenatal care

advertisement
JURNAL PENDIDIKAN KESEHATAN, VOLUME 4, NO. 1, APRIL 2015: 40-45
KEPEMILIKAN BUKU KIA DAN KETERATURAN ANTENATAL CARE
Herawati Mansur, Sumiatun
Poltekkes Kemenkes Malang, Jl Besar Ijen No 77 C Malang
email: [email protected]
Abstract: Book of KIA as a tool for the integration of maternal and child health services. If every
pregnant woman has a book and know how to exploit it KIA, every pregnant woman can be tracked his
health. The purpose of research to determine ownership of the picture book the KIA and the regularity
of Antenatal Care. The design used is the type of descriptive study with survey design. The entire
population of pregnant women registered in the III trimester regester BPM “L” and “S” in September
2013 as much as 82 pregnant women, the sampels are 36 pregnant women with taking sample techniques i.e. puposive sampling, the variable research is the ownership of KIA’s book and the regularity of
the ANC, the data were analyzed by descriptive. Results of the study found that of all respondents who
have book KIA 80,6% and who do not have the book KIA amounting to 19.4%. And from all respondents
38,9% do pregnancy examination (ANC) regularly and 61,1% of respondents do not do pregnancy
examination (ANC) regularly, it is likely because most respondents is that second pregnancy. So advised on midwives always give an explanation of the contents of the KIA to pregnant women and culture,
belief, conviction, values belonging to pregnant women regarding pregnancy screening should not be
performed before age 4 months of pregnancy.
Keywords: book of KIA, antenatal care, regulare
Abstrak: Buku KIA sebagai alat integrasi pelayanan kesehatan ibu dan anak. Jika ibu hamil memiliki
buku KIA dan tahu cara memanfaatkannya, ibu hamil dapat terpantau kesehatannya. Tujuan penelitian
untuk mengetahui gambaran kepemilikan buku KIA dan keteraturan Antenatal Care. Desain penelitian
adalah deskriptif dengan desain survey. Diperoleh sampel 36 ibu hamil dengan teknik samplingnya
puposive sampling, data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari seluruh
responden yang memiliki buku KIA 80,6% dan yang tidak memiliki buku KIA sebesar 19,4%. Dari
seluruh responden 38,9% melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara teratur, 61,1% responden
tidak melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara teratur, hal ini kemungkinan disebabkan
karena sebagian besar responden merupakan kehamilan yang ke 2 dan faktor budaya, kepercayaan,
keyakinan, nilai-nilai yang dimiliki ibu hamil mengenai pemeriksaan kehamilan yang tidak boleh
dilakukan sebelum usia kehamilan 4 bulan.
Kata kunci: Buku KIA, antenatal care, teratur
PENDAHULUAN
Salah satu tujuan program Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA) adalah kemandirian keluarga dalam
memelihara kesehatan Ibu dan Anak. Ibu dan Anak
merupakan kelompok yang paling rentan terhadap
berbagai masalah kesehatan seperti kesakitan dan
gangguan gizi yang seringkali berakhir dengan
kecacatan atau kematian. Buku KIA merupakan
instrumen pencatatan sekaligus penyuluhan
(edukasi) bagi ibu dan keluarganya. Buku KIA
berisi informasi dan materi penyuluhan tentang
Angka kematian ibu (AKI) merupakan
barometer pelayanan kesehatan, semakin rendah
angka kematian ibu berarti pelayanan kesehatan
pada ibu hamil dan ibu bersalin semakin baik.
Upaya yang dilakukan pemerintah dengan
menempatkan program KIA sebagai program
prioritas melalui fokus strategi making pregnancy safer (MPS).
40
ISSN 2301–4024
40
Mansur, Buku KIA dan ANC
kesehatan Ibu dan Anak termasuk gizi, yang dapat
membantu keluarga khususnya ibu dalam
memelihara kesehatan dirinya sejak ibu hamil
sampai anaknya berumur 5 tahun (Balita). Semua
Ibu Hamil diharapkan memakai buku KIA dan
buku ini selanjutnya digunakan sejak anak lahir
hingga berusia 5 tahun. Setiap kali anak datang
ke fasilitas kesehatan, baik itu ke Bidan,
Puskesmas, Dokter praktek, klinik atau Rumah
Sakit, untuk penimbangan, berobat, kontrol, atau
imunisasi, buku KIA harus dibawa agar semua
keterangan tentang kesehatan anak tercatat pada
buku KIA.
Rendahnya akses pelayanan kesehatan ibu
dan bayi baru lahir yang berkualitas adalah salah
satu faktor yang sangat memengaruhi terjadinya
kematian ibu maupun bayi. Namun dengan buku
KIA dan stiker P4K (Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi) diharapkan akan tercipta
banyak tenaga kesehatan yang terampil dalam
bidang klinis dan komunikasi. Tenaga kesehatan
yang terampil tentu akan dapat membantu ibu dan
suami termasuk keluarganya agar mampu
membuat perencanaan, persalinan dan
pencegahan komplikasi sehingga ibu dan bayi
selamat.
Dalam penanganan pasien gawat darurat
buku KIA memudahkan pasien rujukan
mendapatkan pelayanan. Pertama pasien dibawa
ke IGD, setelah mendapatkan penanganan pasian
bisa langsung dibawa ke ruang bersalin/ ruang
perawatan. Sementara buku KIA digunakan untuk
registrasi, ini karena buku KIA sudah memuat
semua informasi dan identitas ibu dan keluarga,
serta catatan semua hal kesehatan ibu dan anak
yang menjadi pasien. Setelah bayi lahir buku KIA
masih dapat digunakan untuk memantau tumbuh
kembang anak mulai kapan jadwal imunisasi bayi
sampai sejumlah informasi tentang bagaimana
menstimulasi perkembangan anak hingga nanti
bayi berusia 5 tahun.
Departemen Kesehatan menjadikan Buku
KIA sebagai program nasional. Saat ini, seluruh
provinsi di Indonesia berupaya meningkatkan
penggunaan Buku KIA. Pencetakan dan
penerapan Buku KIA berasal dari Pemerintah
Pusat dan Daerah, Organisasi Profesi, Lembaga
ISSN 2301–4024
Donor (Bank Dunia, ADB, EU, GTZ, USAID,
UNICEF, UNFPA, WFP, WVI, PCI, ADRA,
Save the Children, JICA, dll.), serta Lembaga
Swadaya Masyarakat (Depkes RI, 2009).
Pemerintah mempunyai harapan yang sangat
tinggi terhadap Buku KIA. Buku KIA merupakan
gabungan kartu-kartu kesehatan Ibu dan Anak,
dimulai dari KMS ibu hamil, KMS balita, Kartu
Keluarga Berencana, Kartu perkembangan anak,
dll. Buku KIA digunakan juga sebagai alat untuk
melakukan penyuluhan dan komunikasi yang
efektif kepada masyarakat, serta mudah
digunakan. Buku ini digunakan sebagai pelayanan
yang berkesinambungan mulai dari rumah,
posyandu, poskesdes, pustu, puskesmas, serta
rumah sakit. Dengan buku KIA pemeriksaan dapat
dilakukan dimana saja, mulai dari posyandu,
poskesdes, pustu, puskesmas, rumah sakit dan
klinik-klinik swasta sesuai dengan registrasi kohort
ibu hamil. Manfaat buku KIA adalah mengurangi
keterlambatan pengendalian resiko tinggi,
mengurangi dampak infeksi, kepatuhan terhadap
standar pelayanan kebidanan dan mengurangi 3
keterlambatan dalam rujukan ke Rumah Sakit.
Indikator derajat kesehatan masyarakat
diukur dari Umur Harapan Hidup (UHH) yang
terkait erat dengan Angka Kematian Ibu (AKI),
Angka Kematian Bayi (AKB) dan status gizi bayi
dan Balita. Berdasarkan Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI secara
nasional pada tahun 2007 adalah 228 per 100.000
kelahiran hidup dan diharapkan pada tahun 2015
dapat mencapai 102 per 100.000 kelahiran hidup.
Walaupun AKI di Indonesia telah mengalami
penurunan, namun masih menduduki peringkat
tertinggi di Asia Tenggara. Sementara itu AKB
tahun 2007, 34 per 1000 kelahiran hidup, diharapkan
pada tahun 2015 dapat mencapai 23 per 1000
kelahiran hidup. Angka Kematian Balita (AKB),
adalah 44 per 1000 kelahiran hidup, diharapkan
pada tahun 2015 dapat mencapai 32 per 1000
kelahiran hidup. Pencapaian tahun 2015
merupakan target komitmen global Millenium
Development Goals (MDG’s) (Depkes RI,
2009).
Angka kematian yang tinggi menurut
Wiknjosastro (2006) disebabkan dua hal pokok
41
JURNAL PENDIDIKAN KESEHATAN, VOLUME 4, NO. 1, APRIL 2015: 40-45
yaitu masih kurangnya pengetahuan mengenai
sebab akibat dan penanggulangan komplikasikomplikasi penting dalam kehamilan, persalinan,
nifas serta kurang meratanya pelayanan kebidanan
yang baik untuk semua ibu hamil, salah satunya
yaitu pelayanan antenatal care. Pelayanan ANC
penting untuk memastikan kesehatan ibu selama
kehamilan dan menjamin ibu untuk melakukan
persalinan di fasilitas kesehatan. Kualitas
pelayanan antenatal dapat diukur antara lain dari
jenis pemeriksaan yang dilakukan pada saat
kunjungan, serta intervensi gizi bagi ibu hamil.
Ruang lingkup dalam pembahasan kualitas
pelayanan antenatal yang perlu mendapat
perhatian antara lain adalah persiapan persalinan
yaitu mengenai tempat melakukan persalinan,
transportasi, penolong persalinan, biaya serta
donor darah. Kualitas pelayanan antenatal
selanjutnya adalah mengenai informasi tentang
perilaku sehat, termasuk kepemilikan buku KIA.
Hasil penelitian Riskesdas 2010 secara
nasional, ibu yang memiliki buku KIA dan dapat
menunjukkan 29,1%. Sedangkan untuk propinsi
Jawa Timur ibu hamil yang memiliki buku KIA
dan dapat menunjukkan sebanyak 42,1%, disimpan
ditempat lain 47,3% dan tidak memiliki 10,7%
(Kemenkes RI, 2010).
Diharapkan apabila setiap ibu hamil memiliki
buku KIA dan tahu cara memanfaatkannya, setiap
ibu hamil dapat terpantau kesehatannya.
Mengingat penggunaan Buku KIA merupakan
salah satu strategi pemberdayaan masyarakat
terutama keluarga untuk memelihara kesehatannya dan mendapatkan pelayanan kesehatan ibu
dan anak yang berkualitas, maka Pemerintah
Kabupaten/Kota harus melaksanakan dan
menerapkan penggunaan Buku KIA (Depkes RI,
2009).
Buku KIA berisi informasi dan materi
penyuluhan tentang gizi dan kesehatan ibu dan
anak, kartu ibu hamil, KMS balita dan catatan
pelayanan kesehatan ibu dan anak, Buku KIA
disimpan di rumah dan dibawa setiap kali ibu dan
anak datang ke tempat-tampat pelayanan
kesehatan dimana saja untuk mendapatkan
pelayanan KIA. Pemeriksaan rutin saat hamil atau
42
antenatal care salah satu cara mencegah
terjadinya komplikasi terhadap kehamilan.
Kunjungan antenatal minimal dilakukan 4 kali
selama kehamilan. Satu kali dalam trimester
pertama (sebelum 14 minggu), satu kali dalam
trimester kedua (antara minggu 14–28 minggu),
dan dua kali dalam trimester ketiga (antara minggu
28–36 dan setelah minggu ke 36), dan
pemeriksaan khusus bila terdapat keluhan tertentu.
Antenatal care adalah salah satu cara untuk
menyiapkan baik fisik maupun mental ibu di dalam
masa kehamilan dan kelahiran serta menemukan
kelainan dalam kehamilan dalam waktu dini
sehingga dapat ditangani secepatnya. Pemeriksaan
kehamilan yang dilakukan secara teratur dapat
menurunkan kecacatan dan kematian baik ibu
maupun janin. Berbagai permasalahan selama
kehamilan, imunisasi dan status gizi ibu hamil dapat
terekam dengan baik dan digunakan sebagai alat
pemantauan menuju persalinan adalah dengan
menggunakan buku KIA.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran kepemilikan buku KIA dan
keteraturan antenatal care di BPM “L” dan “W”.
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah 1)
mengidentifikasi kepemilikan buku KIA pada ibu
hamil, 2) mengidentifikasi keteraturan antenatal
care pada ibu hamil.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian
deskriptif dengan desain survey yaitu suatu
penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan
gambaran yang akurat Kepemilikan Buku KIA dan
keteraturan antenatal care pada ibu hamil di Bidan
Praktik Mandiri (BPM).
Populasi yang digunakan adalah seluruh ibu
hamil trimester III yang datang untuk periksa di
BPM “ L” dan “W” pada bulan Desember 2013
s/d Januari minggu pertama 2014 sejumlah 82 ibu
hamil, besar sampel 36 yang memenuhi kriteria
inklusi dengan teknik purposive sampling dengan
kriteria sampel 1) ibu yang bersedia menjadi
responden, 2) ibu yang memeriksa kehamilannya
di BPM “L” dan “W” pada bulan Desember 2013
ISSN 2301–4024
Mansur, Buku KIA dan ANC
s/d Januari minggu pertama 2014, 3) ibu hamil
trimester III (sesudah minggu ke 38).
Penelitian ini dilakukan di BPM “L” dan “W”
serta pengambilan data penelitian dilaksanakan
pada Bulan Desember 2013 sampai dengan
minggu pertama Januari 2014.
HASIL PENELITIAN
Data umum menampilkan usia, pendidikan,
pekerjaan, gravida, informasi yang diperoleh
tentang buku KIA, sumber informasi. Sedangkan
data khusus akan menggambarkan data tentang
kepemilikan buku KIA dan keteraturan ANC.
Berdasarkan hasil penelitian umur responden
menunjukkan sebagian besar (32,89%) umur
responden 20-35 tahun dan sebagian kecil (2,5%)
umur responden <20 tahun. Karakteristik
responden berdasarkan hasil penelitian didapatkan
55% pendidikan responden adalah pada tingkat
menengah yaitu SMA, dan sebagian kecil
berpendidikan SD yaitu sebesar 3%, 25% nya
adalah SMP dan 17% PT. Sebagian besar
responden bekerja sebagai ibu rumah tangga biasa
(67%), 25% responden pekerja swasta dan sisanya
(8%) sebagai wiraswasta. Dilihat dari frekuensi
gravida responden didapatkan sebagian besar
(44%) merupakan kehamilan ke 2, 36% adalah
kehamilan 1. Berdasarkan hasil penelitian
didapatkan bahwa sebagian besar responden
(80,6%) memiliki buku KIA dan (19,4%) tidak
mempunyai buku KIA. Dan dari hasil yang telah
didapatkan diketahui bahwa (61,1%) responden
tidak teratur melakukan antenatal care dan
(38,9%) yang teratur melakukan antenatal care.
PEMBAHASAN
Program pemberian buku KIA adalah
pemberian buku KIA pada saat ibu melakukan
pelayanan antenatal, kemudian buku tersebut diisi
oleh tenaga kesehatan. Setelah melakukan
pengisian, buku KIA tersebut dibawa pulang oleh
ibu dan dan dianjurkan untuk dibawa setiap periksa
hamil. Dari hasil penelitian didapatkan seluruh
responden yang memiliki buku KIA 80,6% dan
yang tidak memiliki buku KIA sebesar 19,4%.
ISSN 2301–4024
Buku KIA dapat menjadi sarana yang efektif
untuk memberikan pengetahuan yang baik bagi
ibu. Fungsi buku KIA yang lain adalah sebagai
pencatatan medis, sehingga berbagai permasalahan selama kehamilan, imunisasi dan status
gizi dapat terekam dengan baik dan dapat
digunakan sebagai alat pemantau menuju
persalinan. Menurut Sulani (2009) dengan adanya
buku KIA, diharapkan dapat meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam mengontrol
kesehatan ibu.
Penggunaan buku KIA merupakan salah satu
strategi pemberdayaan masyarakat terutama
keluarga untuk memelihara kesehatan dan
mendapatkan pelayanan kesehatan yang
berkualitas. Dalam keluarga, ibu dan anak
merupakan kelompok yang paling rentan terhadap
berbagai masalah kesehatan seperti, kesakitan dan
gangguan gizi yang sering kali berakhir dengan
kecacatan atau kematian. Untuk mewujudkan
kemandirian keluarga dalam memelihara
kesehatan ibu dan anak maka salah satu upaya
program adalah meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan keluarga melalui penggunaan buku
KIA.
Manfaat buku KIA secara umum adalah ibu
dan anak mempunyai catatan kesehatan yang
lengkap, sejak ibu hamil sampai anaknya berumur
lima tahun, sedangkan manfaat buku KIA secara
khusus adalah 1) untuk mencatat dan memantau
kesehatan ibu dan anak, 2) alat komunikasi dan
penyuluhan yang dilengkapi dengan informasi
penting bagi ibu, keluarga dan masyarakat tentang
kesehatan, gizi dan paket (standar) pelayanan
KIA, 3) alat untuk mendeteksi secara dini adanya
gangguan atau masalah kesehatan ibu dan anak,
4) catatan pelayanan gizi dan kesehatan ibu dan
anak termasuk rujukannya (Depkes, 2003).
Buku KIA disimpan di rumah dan dibawa
selama pemeriksaan antenatal dipelayanan
kesehatan. Ibu hamil yang memiliki buku KIA
menaruh kepercayaan yang besar kepada tenaga
kesehatan, mereka selalu menceritakan apa yang
dirasakan selama hamil dan menyerahkan
sepenuhnya kepada tenaga kesehatan untuk
membantu menanggulangi permasalahan tersebut.
43
JURNAL PENDIDIKAN KESEHATAN, VOLUME 4, NO. 1, APRIL 2015: 40-45
Pemanfaatan buku KIA merupakan perwujudan
dari perilaku individu, faktor manusia memegang
peranan penting dalam memengaruhi pemanfaatan
buku KIA. Dari seluruh responden yang memiliki
buku KIA seluruhnya pernah membaca isi buku
KIA, yang diketahui oleh responden tentang isi
buku KIA antara lain: tentang kebutuhan nutrisi
ibu hamil, senam hamil, perawatan diri selama
hamil, persiapan persalinan, tanda persalinan,
tanda bahaya pada ibu hamil.
Berdasarkan hasil penelitian dari 36 responden
38,9% responden melakukan pemeriksaan
kehamilan (ANC) secara teratur dan 61,1%
responden melakukan pemeriksaan kehamilan
(ANC) tidak teratur. Menurut Saifudin (2002),
kunjungan antenatal minimal dilakukan 4 kali
selama kehamilan. Satu kali dalam trimester
pertama (sebelum 14 minggu), satu kali dalam
trimester kedua (antara minggu 14–28 minggu),
dan dua kali dalam trimester ketiga (antara minggu
28–36 dan setelah minggu ke 36), dan
pemeriksaan khusus bila terdapat keluhan tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan dari 36 responden,
sebanyak 58,3% tidak melakukan pemeriksaan
kehamilan pada trimester pertama, responden baru
memeriksakan kehamilannya pada bulan ke empat
(trimester kedua). Hal ini dapat memengaruhi
kehamilan karena pertama kali ibu mendapatkan
pelayanan antenatal merupakan saat yang paling
penting karena berbagai faktor resiko dan
komplikasi bisa dapat segera diketahui seawal
mungkin sehingga komplikasi dapat segera
dikurangi atau dihilangkan.
Antenatal care merupakan cara penting untuk
memonitoring dan mendukung kesehatan ibu hamil
normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan
normal, ibu hamil sebaiknya dianjurkan
mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin
semenjak ia merasa dirinya hamil untuk
mendapatkan pelayanan dan asuhan antenatal.
Antenatal care merupakan perawatan atau
asuhan yang diberikan kepada ibu hamil sebelum
kelahiran, yang berguna untuk memfasilitasi hasil
yang sehat dan positif bagi ibu hamil maupun
bayinya dengan jalan menegakkan hubungan
kepercayaan dengan ibu, mendeteksi komplikasi
44
yang dapat mengancam jiwa, mempersiapkan
kelahiran dan memberikan pendidikan kesehatan.
Asuhan Antenatal penting unuk menjamin proses
alamiah kelahiran berjalan normal dan sehat, baik
kepada ibu maupun bayi yang akan dilahirkan
Tujuan dari asuhan antenatal care adalah
untuk memantau kemajuan kehamilan dan
memastikan kesehatan ibu serta tumbuh kembang
bayi, selain itu untuk meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan fisik, mental dan
sosial ibu. Disamping tujuan di atas, antenatal care
juga bertujuan untuk mengenali secara dini adanya
ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin
terjadi selama hamil termasuk riwayat penyakit
secara umum, kebidanan dan pembedahan,
mempersiapkan persalinan yang cukup bulan,
melahirkan dengan selamat baik ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin,
mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif, mempersiapkan
peran ibu dan keluarga dalam menerima kesehatan
bayi agar dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal.
Banyak faktor yang mempengaruhi individu
untuk melakukan kunjungan antenatal care,
diantaranya adalah paritas, paritas adalah keadaan
seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari satu
orang. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan
hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam
memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan.
Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih
dari satu orang mempunyai anggapan bahwa ia
sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi
untuk memeriksakan kehamilannya (Wiknjosastro,
2006).
Berdasarkan data gravida/kehamilan dari
responden merupakan salah satu faktor responden
tidak melakukan antenatal care secara teratur.
Hasil penelitian menunjukkan 16 responden (44%)
merupakan kehamilan yang ke dua. Hal ini
disebabkan karena ibu sudah mempunyai
pengalaman tentang kehamilan sehingga
kemungkinan tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya yang kedua ini.
Menurut Nursalam (2001) semakin cukup
umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
ISSN 2301–4024
Mansur, Buku KIA dan ANC
akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
Namun hasil penelitian ini meskipun sebagian
besar responden (89%) berumur 20–30 tahun
dimana umur tersebut merupakan masa seseorang
sudah memasuki fase usia dewasa muda, dimana
pada fase ini seseorang sudah mempunyai
kebiasaan berfikir rasional, cenderung takut akan
suatu akibat dari tindakan dan akan berperilaku
sesuai dengan informasi yang dia terima, namun
hasil penelitian ini menunjukkan lebih banyak
responden yang tidak melakukan ANC secara
teratur.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi seseorang untuk melakukan
antenatal care. Hasil penelitian menunjukan dari
36 responden (55%) berpendidikan SMA, dimana
pendidikan SMA berada pada jenjang pendidikan
tingkat menengah. Menurut Budiono (2002),
proses perubahan perilaku menuju kedewasaan
dan penyempurnaan hidup dengan demikian
pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap
tingkah laku, yang berpendidikan tinggi akan
berbeda tingkah lakunya dengan orang yang hanya
berpendidikan dasar. Wanita yang berpendidikan
akan lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan
perubahan untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang proporsional karena manfaat
pelayanan kesehatan akan mereka sadari
sepenuhnya (Maulani, 1999). Meskipun sebagian
besar responden berpendidikan pada jenjang
menengah akan tetapi tidak melakukan antenatal care secara teratur.
PENUTUP
Simpulan dari penelitian ini antara lain: 1)
sebagian besar responden (80,6%) memiliki buku
KIA, dan 2) keteraturan responden melakukan
antenatal care secara tidak teratur (61,1%) hal
ini kemungkinan disebabkan karena sebagian besar
responden merupakan kehamilan yang ke 2 dan
faktor budaya, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai
ISSN 2301–4024
yang dimiliki ibu hamil mengenai pemeriksaan
kehamilan yang tidak boleh dilakukan sebelum usia
kehamilan 4 bulan.
Bidan yang merupakan ujung tombak dalam
memberikan pelayanan kebidanan secara
langsung, sebaiknya selalu memberi informasi
tentang fungsi dan manfaat buku KIA sehingga
ibu termotivasi untuk membaca isi buku KIA
sehingga meningkatkan pengetahuannya dan akan
melakukan antenatal care secara teratur. Karena
berdasarkan hasil penelitian persentase ibu yang
memiliki buku KIA lebih besar akan tetapi sebagian
besar belum melakukan antenatal care secara
teratur. BPM atau tempat pelayanan KIA
sebaiknya mempunyai program rutin misalnya satu
kali setiap bulan untuk memberikan promosi
kesehatan khususnya tentang Buku KIA dan antenatal care, sehingga ibu akan memahami
tentang isi dari Buku KIA.
DAFTAR PUSTAKA
Budiono. 2002. Pengantar Pendidikan (Penyuluhan)
Kesehatan Masyarakat.Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro
Depkes RI. 2009.Pedoman Umum Manajemen Penerapan Buku KIA. Jakarta: Depkes RI
Depkes RI. 2003. Buku Kesehatan Ibu dan Anak.
Jakarta: Depkes RI dan JICA
Depkes RI. 2003. Petunjuk Teknis Penggunaan Buku
KIA. Jakarta: Depkes RI dan JICA
Kemenkes RI. 2010. Laporan Riset Kesehatan Dasar.
Jakarta: Balitbangkes
Maulani RF. 1999. Pencegahan Kematian Ibu. Jakarta:
Binarupa Aksara
Nursalam. 2001. Metodologi Riset keperawatan.
Jakarta: Sagung Seto
Saifuddin. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Sulani F. 2009. Buku KIA sebagai alat integrasi
kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta
Wiknjosastro. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Prawirohardjo
45
Download