Mekanisme Religio-Politik Pesantren: Mobilisasi

advertisement
Artikel
ISSN
e- ISSN
: 0 852-8 48 9
: 2460 -8 165
Mekanisme Religio-Politik Pesantren: Mobilisasi Jaringan Hamida
dalam Politik Elektoral Tasikmalaya
Penulis: Sansan Hasanudin
Dipublikasikan oleh: LabSosio, Pusat Kajian Sosiologi FISIP-UI
Diterim a: Desem ber 20 16; Disetujui: J uli 20 17
MASYARAKAT, Ju rn al So s io lo gi, diterbitkan oleh LabSosio,
Pusat Kajian Sosiologi, Fakultas Ilm u Sosial dan Ilm u Politik (FISIP)
Universitas Indonesia. J urnal ini m enjadi m edia inform asi dan
kom unikasi dalam rangka pengem bangan sosiologi di Indonesia.
Redaksi MASYARAKAT m engundang para sosiolog, pem inat sosiologi
dan para m ahasiswa untuk berdiskusi dan m enulis secara bebas dan
kreatif dem i pengem bangan sosiologi di Indonesia. Untuk kriteria dan
panduan penulisan artikel m aupun resensi buku, silahkan kunjungi
tautan berikut: www.journal.ui.ac.id/ m js
Untuk m engutip artikel ini (ASA Style):
Hasanudin, Sansan. 20 17. “Mekanism e Religio-Politik Pesantren:
Mobilisasi J aringan Ham ida dalam Politik Elektoral Tasikm alaya.”
MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi 22(1):53-80 .
SK Dirjen Dikti Akreditasi J urnal No. 80 / DIKTI/ Kep/ 20 12
Mekanisme Religio-Politik Pesantren:
Mobilisasi Jaringan Hamida dalam Politik
Elektoral Tasikmalaya1
Sansan Hasanudin
Generasi Madani Tasikmalaya
Email: [email protected]
Abstrak
Untuk menjadi pemenang pada kontestasi politik elektoral, para kandidat kepala daerah harus memiliki kekuatan politik yang kuat. Kekuatan politik ini dapat berasal dari
berbagai mesin politik, salah satunya adalah institusi pesantren yang memiliki jaringan sosial di dalam masyarakat. Artikel ini mempertanyakan mengapa pesantren dapat
menjadi basis massa dalam politik elektoral di suatu daerah dan bagaimana mekanisme
keterlibatannya. Konsep religio-politik digunakan untuk melihat keterlibatan pesantren
pada politik elektoral dan konsep jaringan sosial sebagai kerangka analisis terhadap mekanisme keterlibatannya. Objek penelitian artikel ini adalah kasus Pemilihan Kepala
Daerah (Pilkada) tahun 2011 dan 2016 di Kabupaten Tasikmalaya karena melihat adanya
peran dari jaringan sosial institusi pesantren sebagai kekuatan politik. Penulis berargumen bahwa kemenangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto pada Pilkada tahun 2011 dan
2016 merupakan hasil dari kekuatan politik jaringan sosial pesantren bernama Himpunan
Alumni Miftahul Huda (Hamida). Kebaruan konsep artikel ini ialah kekuatan politik
dapat berasal dari jaringan informal yang berintegrasi dengan jaringan formal. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian untuk artikel ini yaitu metode kualitatif
dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam.
Abstract
To be a winner in the electoral political contestation, the regional head candidates must
have a strong political power. Thispolitical power could become from a variety of political
machines, including boarding institutions (pesantren) which have a social network in the
community. This article question is why boarding institutions or pesantren can be a mass
base of electoral politics in an area and how the mechanism of involvement. The author
used the concept of religio-political to see the involvement of pesantren in electoral politics
and the concept of social networks as an analytical framework involvement mechanisms
throughthe local elections in 2011 and 2016 in Tasikmalaya regency as a case study in
which author sees the role of social networks pesantren as a political force. The author
argues that the victory Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto in the elections of 2011 and
2016 is the result of the political power of social networking pesantren, namelyHimpunan
Alumni Miftahul Huda (Hamida). The novelty of this article is that the political power
could become from informal networks that integrated with formal network. This research
data collection techniques are qualitative snowball-depth interview.
Keywords: religio-political; social networks; electoral politics; pesantren; Tasikmalaya
1
Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Asep Suryana, M.Si. yang telah
memberi masukan dalam penulisan artikel ini.
54 |
SANSAN HASANUDIN
PE N DA H U L UA N
Politik elektoral yang tercermin melalui mekanisme pemilihan
umum di Indonesia pada kenyataannya tidak selalu mengandalkan
partai politik sebagai instrumen, tetapi hal tersebut juga dilakukan
melalui mobilisasi instrumen non politik seperti ketokohan dan jaringan
sosial. Pada era tahun 1950-an, misalnya, dinamika politik di Indonesia
sangat dipengaruhi oleh ketokohan para ulama melalui partai-partai
Islam (Feith dalam Nugroho 2011). Begitu pula pada era tahun 1980-an
ketika Golongan Karya (Golkar) juga menggunakan kekuatan jaringan
sosial dari militer dan birokrasi untuk memenangkan pemilihan umum
(Liddle dalam Nugroho 2011). Singkat kata, dinamika politik elektoral
di Indonesia tidak hanya melibatkan partai politik saja, tetapi juga
instrumen-instrumen nonkepartaian.
Keterlibatan instrumen non-kepartaian ternyata tidak hanya terjadi
pada dinamika politik di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara di
dunia. Sebut saja negara Thailand yang melakukan kampanye nasional
bernama “Thais help Thais” untuk menyelamatkan bangsanya melalui
integrasi negara dengan agama Budha (Taylor 2001). Begitu pun di
India, keberadaan agama Hindu memberikan filosofi terhadap politik
dengan istilah dharma dan moksa (Perrett 1997). Hal serupa terjadi di
Inggris dan Wales yang menunjukkan adanya hubungan antara gereja
dan negara pada dinamika politik (Beckford 1991). Fenomena demikian
memperlihatkan bahwa keterlibatan instrumen nonkepartaian memang
dapat terlibat dalam dinamika politik mulai dari tingkat global,
nasional, bahkan lokal.
Fenomena keterlibatan instrumen-instrumen non-kepartaian
di Indonesia terjadi sampai tingkat lokal. Beberapa contoh kasus di
antaranya keterlibatan Pesantren Al-Munawwir dalam politik elektoral
tingkat lokal di daerah Yogyakarta pada Pemilihan Umum tahun 2009
(Ernas dan Siregar 2010) dan keterlibatan para tokoh agama (kiai) pada
Pemilihan Umum tahun 2004 di Kabupaten Banyumas (Sundari 2005).
Dengan demikian, keterlibatan instumen nonkepartaian pada politik
elektoral di Indonesia tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga
di tingkat daerah.
Kabupaten Tasikmalaya adalah salah satu ilustrasi betapa
instrumen nonkepartaian terlibat dalam dinamika politik elektoral.
Instrumen nonkepartaian itu direpresentasikan melalui institusi
keagamaan (pesantren) di Tasikmalaya bernama Pesantren Miftahul
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 55
Huda Tasikmalaya. Melalui pesantren ini instrumen nonkepartaian
di Tasikmalaya cenderung diwarnai oleh keterlibatan jaringan sosial
Pesantren Miftahul Huda dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
Kabupaten Tasikmalaya, terutama dalam menyukseskan pasangan Uu
Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto pada Pilkada 2011 dan 2016 untuk dua
kali periode (KPUD Tasikmalaya 2016).
Kajian ilmiah tentang politik elektoral di Tasikmalaya ini menjadi
penting karena secara konteks sosial Tasikmalaya dikenal sebagai “Kota
Santri” yang memiliki 701 pesantren, 5.003 kiai/ustaz, dan 83.379
santri di wilayahnya (Pemprov Jabar 2015). Komposisi penduduk ini
dapat berpotensi menjadi kekuatan besar yang dapat mendukung
dinamika politik elektoral dengan mobilisasi jaringan sosial berbasis
pesantren yaitu keterlibatan jaringan alumni Pesantren Miftahul Huda
pada proses politik elektoral tahun 2011 dan 2016. Hal ini menjadi
sangat menarik karena jaringan pesantren yang sejatinya merupakan
kader-kader dakwah atau pengemban nilai-nilai keagamaan, pada
akhirnya dapat pula bertransformasi menjadi modal politik kandidat
kepala daerah di Kabupaten Tasikmalaya.
Dari fenomena politik elektoral tingkat daerah di Kabupaten
Tasikmalaya ini, muncul beberapa pertanyaan yaitu (1) mengapa
jaringan alumni pesantren dapat menjadi basis kekuatan pemenang
politik elektoral, dan (2) bagaimana mekanisme yang digunakan
pesantren untuk masuk ke ranah politik elektoral. Dua pertanyaan
penting diajukan untuk mengetahui bagaimana pesantren sebagai
lembaga nonkepartaian mampu beradaptasi dalam politik elektoral di
Kabupaten Tasikmalaya. Hal tersebut menandakan adanya kekuatan
informal melalui jaringan sosial para kader/santri pesantren yang terlibat
pada politik elektoral tingkat daerah.
Jika melihat berbagai studi kepustakaan, tergambar perbedaan
kekuatan politik formal yang berasal dari partai politik dan kekuatan
politik informal yang terbentuk dari kekuatan instrumen nonkepartaian.
Salah satu studi yang membahas mengenai kekuatan partai politik ialah
Gunawan (2013). Ia menyatakan bahwa banyak pejabat di Tasikmalaya
yang berasal dari kalangan Islam disebabkan adanya eksistensi gerakan
partai-partai Islam yang modern dan terlembaga secara formal, sehingga
unsur partai politik juga menjadi pertimbangan penting dalam
dinamika politik di Tasikmalaya. Sementara itu, kekuatan politik yang
berasal dari instrumen non-kepartaian meliputi peran tokoh agama
(kiai) dan media massa.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
56 |
SANSAN HASANUDIN
Begitu pula studi yang dilakukan oleh Nasir (2015) dan Mursyid
(2014). Keduanya mengonseptualisasikan bahwa dinamika politik di
Kabupaten Tasikmalaya sangat dipengaruhi oleh keberadaan para kiai
sebagai tokoh agama. Penelitian yang dilakukan oleh Nasir (2015)
menemukan data lapangan bahwa beberapa peran Kiaikiai sangat
memengaruhi dinamika politik di Tasikmalaya, mulai dari Pemilihan
Umum (Pemilu) Legislatif hingga Pilkada yang terkadang dinyatakan
dengan dukungan resmi terhadap salah satu kandidat. Salah satu kiai
yang sangat berperan dalam ranah politik di Tasikmalaya 2 yaitu K.
H. Asep M. Affandi yang telah melakukan agenda kampanye politik
untuk kemenangan kandidat kepala daerah Uu Ruzhanul Ulum-Ade
Sugianto di dalam Pilkada tahun 2011 (Mursyid 2014). K. H. Asep M.
Affandi melakukan kampanye dengan mengedepankan metode “direct
selling”(penjualan langsung) yaitu melalui sosialisasi di majelis taklim,
kegiatan kerohanian Islam, serta menggunakan akses media sosial yang
dapat merebut perolehan suara untuk pasangan calon Uu Ruzhanul
Ulum–Ade Sugianto khususnya di wilayah Kecamatan Manonjaya
Tasikmalaya dan sekitarnya (Mursyid 2014).
Selain peran kiai, Gunawan dan Yuliawati (2012) menemukan
fakta bahwa media massa cetak atau koran juga memengaruhi opini
publik dalam menentukan pilihan politik pada Pilkada 2011.Menurut
pandangan penulis, Gunawan dan Yuliawati terlalu tergesa-gesa
menyimpulkan hal tersebut dan gagal memahami bagaimana keterpaan
media massa terhadap peserta pemilu itu terjadi. Sejauh yang penulis
amati sebagai warga Tasikmalaya, koran Harian Kabar Priangan jarang
dibaca masyarakat biasa tetapi oleh para tokoh. Secara alur, penulis
menganalisis Harian Kabar Priangan yang dibaca tokoh sehingga tokoh
dapat menggerakkan massa. Terpaan media massa tidaklah terjadi
secara langsung, melainkan melalui tokoh masyarakat yang berperan
sebagai aktor penggerak massa.
Penulis sepakat dengan Gunawan (2013), Mursyid (2014), Nasir
(2015), dan Gunawan & Yuliawati (2012) bahwa proses politik elektoral
di Tasikmalaya melibatkan partai politik, ketokohan (kiai), dan media
massa. Meski demikian, penulis melihat keempat penelitian tersebut
2
Tasikmalaya terbagi menjadi dua daerah otonom, yaitu Kabupaten Tasikmalaya dan
Kota Tasikmalaya. Selanjutnya saya menyebutkan Kabupaten Tasikmalaya sebagai
“Tasikmalaya”, sedangkan untukmenyebut kota akan disebut “Kota Tasikmalaya”.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 57
tidak membahas keberadaaan jaringan sosial alumni pesantren seperti
Himpunan Alumni Miftahul Huda (Hamida), sehingga terdapat satu
ruang analisis yang belum dipaparkan tentang peran jaringan sosial
pada politik elektoral.
Penulis berpandangan bahwa jaringan sosial pesantren yang bernama
Hamida menjadi sangat penting dalam dinamika politik elektoral
di Tasikmalaya, terutama melalui jejaring yang dibangun oleh para
kiai sehingga menjadi kekuatan politik yang signifikan bagi kandidat
kepala daerah di Tasikmalaya. Selain itu, penulis berpandangan bahwa
jaringan sosial Hamida turut pula menjadi kekuatan basis simpatisan
partai politik. Oleh sebab itu, artikel ini ditulis untuk membahas isu
kajian dinamika politik Tasikmalaya yang berfokus pada mobilisasi
jaringan Hamida dalam Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun 2011
dan 2016.
Terdapat beberapa alasan yang membuat jaringan sosial pesantren
menjadi kekuatan politik yang sangat menentukan politik elektoral
di Tasikmalaya. Pertama, pesantren memiliki legitimasi sosial dari
masyarakat Tasikmalaya sehingga mampu mengarahkan para pemilik
suara untuk memilih pasangan kandidat bupati-wakil bupati yang
“direstui” oleh para tokoh pesantren. Kedua, kepiawaian tokoh
pesantren untuk melakukan afiliasi dengan beberapa partai politik.
Ketiga, keberadaan jaringan sosial pesantren menjadi modal sosial yang
dapat ditransformasikan menjadi modal politik di dalam kontestasi
politik elektoral. Tiga alasan tersebut menjadi argumen penting dalam
menguraikan mekanisme religio-politik Pesantren Miftahul Huda
melalui mobilisasi jaringan sosial alumni pesantren. Secara konseptual,
penulis menguraikan argumentasi tersebut dalam tiga pembabakan
analisis mulai dari tingkat makro untuk penguatan argumentasi
pertama, tingkat mikro untuk argumentasi kedua, dan tingkat meso
untuk argumentasi ketiga.
M E T O DE PE N E L I T I A N
Untuk mengeksplorasi isu dalam artikel ini, penulis menggunakan
pendekatan kualitatif. Teknik wawancara mendalam digunakan untuk
mendapatkan data dari informan yang dapat mewakili aktor-aktor yang
terdapat dalam jaringan Hamida maupun aktor politik lokal serta
melihat fenomena kasus yang terjadi yakni dinamika politik elektoral
Tasikmalaya (Bryman 2012). Kriteria informan yang dimaksud adalah
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
58 |
SANSAN HASANUDIN
anggota dan pengurus jaringan Hamida dan aktor-aktor lainnya yang
berinteraksi dengan jaringan Hamida baik secara langsung maupun
tidak langsung, serta memahami isu dinamika politik Tasikmalaya
pada Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun 2011 dan 2016. Informan
dalam penelitian ini berjumlah 9 orang dengan menggunakan teknik
pengumpulan data snowball yang dibantu oleh satu orang gatekeeper
untuk memudahkan penelitian. Fungsi gatekeeper diperankan kakak
kandung penulis yang sekaligus merupakan bagian dari anggota
jaringan Hamida.
Selain menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian yang penulis
lakukan juga disertai dengan studi kepustakaan terhadap berbagai
sumber seperti buku, jurnal, berita atau publikasi daring, dan publikasi
hasil penelitian yang berkaitan dengan topik politik elektoral di
Tasikmalaya. Hal ini dilakukan untuk menguatkan argumentasi dan
mengontrol validasi data yang diperoleh melalui wawancara mendalam
dengan para informan.
R E L IG I O -P O L I T I K DA N J A R I N G A N S O S I A L
Pembahasan mengenai religio-politik tidak akan terlepas dari dua
aspek utama, yaitu agama dan politik. Agama yang dipandang sebagai
fondasi kehidupan sosial menjadi sangat sakral dan terlepas dari urusan
perpolitikan. Asumsi ini terbantahkan dengan adanya fenomena bahwa
agama telah mampu mempengaruhi persepsi publik mengenai politik,
sehingga muncul konsep religio-politik sebagai wujud keterlibatan agama
dalam ranah politik. Secara sederhana, struktur religio-politik dapat
didefinisikan sebagai suatu stuktur sosial politik yang berada di dalam
suatu masyarakat dan telah terintegrasi ke dalam sistem keagamaan yang
berarti agama telah mengintegrasikan dan melegitimasi berbagai sistem
sosial yang ada di masyarakat (Ali dalam Suryana 1997).
Pemikiran mengenai religio-politik juga dikemukakan oleh Smith
(1985:93-99) yang memaparkan tentang lima ciri religio-politik.
Pertama, komponen ideologi dari sistem sosial dalam kehidupan
sepenuhnya diberikan oleh agama, seperti pandangan bahwa penguasa
merupakan wakil tuhan atau setidaknya memiliki sifat-sifat ketuhanan.
Kedua, elemen-elemen sosial-politik yang diabsahkan secara keagamaan
memberikan gambaran bahwa masyarakat politik merupakan satu umat,
atau penganut agama yang sama. Ketiga, penguasa mempertahankan
stabilitas dan kekuasaannya melalui sistem sosial yang sah dan terikat
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 59
secara keagamaan, bukan melalui aparat birokrasi yang efisien. Keempat,
agamawan (ulama) merupakan penasihat penguasa dan berperan
mengingatkan masyarakat agar setia kepada penguasa sebagai wakil
tuhan. Kelima, penguasa memiliki kewenangan yang besar dalam wilayah
agama, termasuk berbagai kebijakan kenegaraan yang berhubungan
dengan agama.
Poin pertama dari pemikiran Smith (1985) mengenai penguasa/
pemimpin ini hampir mirip dengan hasil penelitian Horikoshi (1987)
mengenai dua model kepemimpinan sosial yaitu kepemimpinan
“simbolik” dan kepemimpinan “administratif ”. Model simbolik
mengasumsikan bahwa kepemimpinan seseorang didapatkan karena ia
menjadi simbol bagi sesuatu yang metafisika, seperti kepemimpinan kiai
sebagai tokoh agama. Sementara itu, model administratif menegaskan
bahwa kepemimpinan diperoleh karena seseorang memiliki posisi dalam
struktur administrasi pemerintahan. Pemikiran ini dihasilkan oleh
Horikoshi (1987) melalui studinya mengenai peran kiai Yusuf sebagai
pimpinan Pondok Pesantren Cipari, Wanaraja, Garut, Jawa Barat.
Namun, konsep religio-politik tidak bisa secara langsung berjalan di
suatu masyarakat, sehingga dengan demikian membutuhkan mekanisme
tertentu untuk menentukan keterlibatan institusi keagamaan dalam
politik elektoral. Hal inilah yang memunculkan ide bahwa institusi
keagamaan harus memiliki basis jaringan yang kuat baik di tingkat lokal
maupun jaringan yang berskala nasional.
Basis jaringan nasional di Indonesia pada dasarnya didukung oleh
beberapa basis sosial seperti alumni universitas negeri, universitas swasta,
universitas di luar negeri, lembaga tinggi keagamaan (pesantren), dan
lembaga tinggi kedinasan militer, Polri, maupun Kemendagri (Sujatmiko
2014). Keberadaan jaringan nasional ini menjadi kekuatan yang tidak
hanya berperan dalam pemersatu bangsa, tetapi juga dalam dinamika
politik yang salah satunya melalui jaringan nasional yang terbentuk di
beberapa daerah berbasis jaringan pesantren.
Aktor-aktor yang masuk ke jaringan nasional, yang dalam hal ini bisa
disebut juga jaringan sosial, akan mendapatkan modal sosial yang dapat
diubah menjadi modal politik (Birner dan Wittner dalam Sujatmiko
2014). Hal ini dapat terjadi pula pada jaringan sosial pesantren yang pada
awalnya merupakan jaringan keagamaan, tetapi dapat berubah menjadi
modal politik ketika salah satu anggota jaringan maju sebagai kandidat
kepala daerah. Kasus demikian ditemukan di Tasikmalaya dalam Pilkada
Kabupaten Tasikmalaya tahun 2011 dan 2016 ketika jaringan keagamaan
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
60 |
SANSAN HASANUDIN
yang bernama Hamida berubah menjadi jaringan sosial bersifat politik
untuk melakukan berbagai agenda dalam mencapai kesuksesan untuk
kemenangan kandidat Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto pada dua
periode yaitu 2011-2016 dan 2016-2021.
Pembahasan mengenai teori jaringan sendiri dikemukakan oleh
Fukuyama (2002) yang mengatakan bahwa jaringan merupakan
hubungan kerja satu orang dengan orang lain yang diikat dengan nilai
kepercayaan. Selain itu, jaringan memungkinkan orang-orang mencapai
tujuan kelompok jaringan dan mengikat masyarakat secara bersamasama (Fukuyama 2002:12-13). Dari uraian teori yang dikemukakan
oleh Fukuyama (2002), dapat disimpulkan bahwa Hamida dapat
dikategorikan sebagai sebuah jaringan sosial yang memiliki hubungan
kerja antar sesama anggotanya, bersifat saling mengikat dengan nilainilai Islam sebagai bagian dari sistem kepercayaan, dan memiliki tujuan
bersama dalam berbagai agenda kehidupan termasuk politik praktis,
sehingga Hamida dapat disebut sebagai kelompok jaringan sosial dengan
ciri khas basis sosial pesantren yang bersumber dari institusi agama Islam.
Pembahasan mengenai jaringan sosial sangat berkaitan dengan konsep
bonding dan bridging dalam modal sosial. Dua konsep ini memiliki
perbedaaan tipe jaringan yakni internal dan eksternal (Woolcock dan
Narayan 2000:231-232). Dalam buku Handbook of Social Capital
(Castiglione at al. 2008:59-60), Putnam memaparkan perbedaan antara
modal sosial ‘ikatan’ (bonding) dan ‘yang menjembatani’ (bridging), yang
mengacu pada konteks relasi sosial masyarakat. Bonding merupakan modal
sosial eksklusif yang alami, dan berkembang dalam melihat ‘ke dalam’
(internal) dan kelompok eksklusif orang yang sama seperti ditemukan
di gereja-gereja, kelompok pembaca, atau organisasi etnis persaudaraan.
Sedangkan hubungan sosial yang berfungsi sebagai ‘menjembatani’
dari modal sosial yaitu bridging yang berada “di luar kelompok” untuk
mencari dan menjaring orang di seluruh lapisan sosial masyarakat. Modal
sosial tersebut dapat ditemukan, misalnya, di dalam gerakan hak-hak sipil,
kelompok pemuda, dan organisasi keagamaan. Dengan demikian, konsep
bonding dan bridging ini sangat cocok digunakan untuk menganalisis
keberadaan jaringan Hamida sebagai kelompok yang mampu menjalin
relasi dalam internal organisasi maupun eksternal.
Konsep bonding dalam artikel ini digunakan untuk melihat berbagai
cara jaringan Hamida untuk melakukan konsolidasi internal organisasi,
sedangkan bridging lebih menekankan aspek relasi jaringan Hamida
dengan pemangku kepentingan masyarakat non-Hamida, termasuk
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 61
pesantren-pesantren yang bukan merupakan cabang dari Pesantren
Miftahul Huda dalam menghimpun kekuatan politik sebagai modal
berkontestasi dalam Pilkada.
M E K A N I S M E R E L IG I O -P O L I T I K PE S A N T R E N
Mekanisme keterlibatan pesantren di dalam politik elektoral dapat
dianalisis pada tingkat makro, mikro, dan meso. Pada tingkat makro,
modal utama pesantren dapat memengaruhi dinamika politik elektoral
karena institusi agama berbentuk pesantren mendapatkan legitimasi
sosial dari masyarakat sebagai lembaga yang terpercaya, baik dari segi
ketokohan aktor pesantren maupun sistem pendidikan yang berkualitas.
Di tingkat mikro, keterlibatan pesantren dalam politik elektoral ditandai
dengan berafiliasinya tokoh-tokoh pesantren terhadap partai politik
yang bernuansa Islam. Sementara itu, di tingkat meso, mekanisme
keterlibatan pesantren didukung oleh keberadaan basis jaringan sosial
yang dimiliki oleh pesantren sebagai modal massa dalam mempengaruhi
politik elektoral. Secara konseptual, analisis religio-politik pesantren dapat
digambarkan sebagai berikut.
Gambar 1. Mekanisme Religio-Politik Pesantren
Sumber: penulis
M E K A N I S M E T I N G K AT M A K RO
Pesantren dapat memengaruhi politik elektoral karena lembaga
tersebut memiliki legitimasi sosial yang kuat di masyarakat. Legitimasi
ini dapat berupa kepercayaan masyarakat terhadap kepribadian tokohtokoh pesantren yang berkharisma dan sistem pendidikan pesantren
yang berkualitas. Hal inilah yang didapatkan oleh Pesantren Miftahul
Huda Tasikmalaya sehingga menjadi pesantren terbesar di Tasikmalaya
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
62 |
SANSAN HASANUDIN
dan mampu memengaruhi dinamika politik elektoral dalam Pilkada
Kabupaten Tasikmalaya tahun 2011 dan 2016.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryana (2000) terdapat
dua faktor penyebab Pesantren Miftahul Huda menjadi pesantren
terbesar di Tasikmalaya. Faktor pertama, bersifat individual, melalui
posisi pendiri pesantren yaitu K.H. Khoer Afandi yang memiliki
pengaruh besar di tingkat massa dan sangat diakui memiliki ilmu
agama yang tinggi, terutama keahliannya dalam disiplin ilmu tauhid.
Faktor kedua bersifat sistem pendidikan pesantren yang memiliki
kualitas tinggi dengan diberlakukannya sistem kelas berjenjang yaitu
Ibtida (program dasar), Tsanawi (program menengah), dan Ma’hadul
Aly (program tinggi) (Suryana 2000).
Di bawah kepemimpinan K.H. Khoer Afandi3, Pesantren Miftahul
Huda mengalami perkembangan pesat yang ditunjukkan dengan
jumlah santri yang semakin banyak dan berkualitas. Pesantren Miftahul
Huda yang berada di Kampung Pasir Panjang, Desa Kali Manggis,
Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya memiliki jumlah santri
yang cukup banyak berjumlah kurang lebih 2.085 santri (Brata 2013).
Selain itu, Pesantren Miftahul Huda banyak menghasilkan para kader
penyebaran Islam melalui metode dakwah, sehingga para alumninya
banyak yang menjadi pendakwah terkemuka seperti K. H. Abdullah
Gymnastiar atau Aa Gym (Brata 2013).
Sepeninggal K.H. Khoer Affandi, walaupun pengaruh sosial
politiknya tidak mampu sebesar ketika sang Kiai masih ada (Nasir
2015). Hal itu terjadi ketika muncul perpecahan dalam internal
pesantren terkait afiliasi partai politik, sehingga pengaruh terhadap
santri dan masyarakat sekitar pun menjadi terpecah (Nasir 2015).
Meskipun demikian, nilai-nilai kharismatik tetap terwariskan kepada
para keturunan KH. Khoer Afandi, sehingga masih banyak masyarakat
yang menaruh hormat kepada keluarga Pesantren Miftahul Huda.
3
K.H. Khoer Affandi dilahirkan di Ciamis pada tanggal 12 September 1923 dan wafat
pada tanggal 26 November 1994 di Tasikmalaya. Ia mendirikan Pesantren Miftahul
Huda sejak 7 Agustus 1967 di Manonjaya, Tasikmalaya. Perjalanan dakwahnya diwarnai
dengan afiliasi gerakan Islam yang cenderung bercorak Nahdatul Ulama (NU)– yang
orang sekitar pesantren lebih sering menyebutnya dengan pesantren “salafi” karena
mempelajari kitab-kitab kuning, sedangkan mengenai afiliasi politik diketahui bahwa
Uwa Ajengan – panggilan kultural KH.Khoer Affandi – kerap menjalin kedekatan
dengan Partai Golkar pada masa Orde Baru (Sulasman 2015).
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 63
Berbagai bentuk keteladanan dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan
oleh figur-figur kharismatik dari para tokoh pesantren menjadi suatu
ukuran dan acuan yang bersifat normatif dalam penyelenggaraan
kegiatan pesantren, serta menjadi rujukan utama legitimasi bagi
generasi-generasi penerus selanjutnya (Suryana 2000). Alhasil, kiprah
Pesantren Miftahul Huda sebagai pesantren terbesar dan berpengaruh
di Tasikmalaya masih tetap berkesinambungan hingga saat ini, bahkan
dalam memengaruhi dinamika politik elektoral Tasikmalaya.
Para Kiai memiliki pengaruh sosial politik yang cukup kuat
terhadap santri serta masyarakat Kota dan Kabupaten Tasikmalaya pada
umumnya (Nasir 2015), terjadi pergeseran fungsi kiai yang awalnya
sebagai interpretasi teologi menjadi lebih luas sampai menyentuh
kehidupan masyarakat secara umum, termasuk dalam urusan politik
(Farid 2001). Klaim ini diperkuat melalui studi Zamakhsary (1982)
yang menunjukkan bahwa kebanyakan kiai di Pulau Jawa memang
dijadikan sebagai sumber mutlak kekuasaan (power) dan kewenangan
(authority) di lingkungan pesantrennya yang dianggap sebagai “kerajaan
kecil”, sehingga tidak heran jika kiai memiliki pengaruh pula pada
urusan politik elektoral di kawasan sekitar pesantren.
Beberapa bukti menunjukkan bahwa Pesantren Miftahul Huda
memiliki legitimasi yang kuat dari masyarakat. Salah satunya ialah
terpilihnya KH. Uu Ruzhanul Ulum sebagai Bupati Tasikmalaya
untuk dua kali periode yang secara modal moral karena berasal dari
pesantren (wawancara dengan AM, Dewan Pakar DPC PPP Kabupaten
Tasikmalaya, 5 Desember 2016). Selain itu, adik Uu yang bernama
Shihabuddin juga terpilih menjadi anggota legislatif DPRD Kabupaten
Tasikmalaya, sedangkan pamannya yakni Asep Maosul Affandi terpilih
sebagai anggota DPR RI Nasional (wawancara dengan ASR, Wakil
Bendahara Umum DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya, 14 November
2016).
Hal ini menunjukkan bahwa agama telah mengintegrasikan dan
melegitimasi berbagai sistem sosial yang ada di masyarakat sesuai konsep
religio-politik yang dikemukakan oleh Ali (Suryana 1997). Integrasi
agama dan politik ini direpresentasikan dengan terpilihnya tokoh
pesantren sebagai pejabat publik yang menandakan bahwa pesantren
dapat memengaruhi dinamika politik elektoral karena memiliki modal
legitimasi sosial yang kuat di masyarakat.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
64 |
SANSAN HASANUDIN
M E K A N I S M E T I N G K AT M E S O
Mekanisme keterlibatan pesantren di dalam politik elektoral pada
analisis meso didukung oleh keberadaaan basis jaringan sosial santri
atau alumni pesantren sebagai modal politik. Jumlah santri Pesantren
Miftahul Huda yang mencapai 2000 orang setiap periode pembelajaran
berpotensi menjadi kekuatan jaringan yang kuat berbasis pesantren.
Sebaran jaringan alumni bernama Hamida ini memang sangat
dirasakan di tengah masyarakat, bahkan hampir setiap kelurahan
atau satu kampung pasti terdapat alumni Pesantren Miftahul Huda
(wawancara dengan MTI, Ketua DPC PKS Kadipaten Tasikmalaya,
23 Juli 2016).
Beberapa peran signifikan dari Hamida dalam Pilkada Kabupaten
Tasikmalaya tahun 2011 dan 2016 di antaranya dukungan langsung dan
kampanye informal. Dukungan langsung dengan memilih pasangan
Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto menjadi keputusan para anggota
Hamida sebagai “tanda terima kasih” kepada guru yang berasal dari
institusi pesantren dengan tulus dan ikhlas. Keputusan ini menandakan
adanya relasi guru-murid sesuai dengan isi kitab Ta’lim Muta’alim4
yang diajarkan di pesantren seperti hasil wawancara berikut:
Kalau masalah untuk mendukung, tidak ditekankan kalau dari
pesantren. Tidak ada tekanan, tapi karena kita sebagai alumni, sebagai Hamida merasa kita itu harus berbakti kepada keluarga guru
kita, spontan walaupun kita tidak ditekan, walaupun kita tidak diminta untuk mendukung beliau, spontan saja kita mendukung secara
tulus ikhlas sajalah gitu lah kalo istilahnya dalam santri. (Wawancara dengan SNM, anggota Hamida/alumni Pesantren Miftahul
Huda, 14 Juni 2016)
Fenomena keberadaan jaringan alumni bernama Hamida yang
menjadi kekuatan politik ini menegaskan argumentasi bahwa pesantren
tidak hanya bergerak dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, tapi
juga bergerak dalam ranah politik. Hal inilah yang menjadi isu kajian
4
Ta’lim Muta’alim yakni sebuah kitab yang mengajarkan tatakrama dan aturan untuk
menghormati guru yang memberikan ilmu, salah satu tatakramanya yaitu berterima
kasih. Oleh sebab itu, memilih kandidat kepala daerah yang berstatus guru dan berasal
dari pesantren dianggap sebagai bentuk tindakan “berterima kasih”.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 65
religio-politik, yakni adanya keterlibatan institusi agama yang mampu
mempengaruhi dinamika politik elektoral. Keterlibatan institusi agama
yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Pesantren Miftahul Huda
sebagai pesantren yang memiliki legitimasi lebih kuat daripada partai
politik di lingkungan masyarakat Tasikmalaya sehingga pesantren
dapat mengarahkan masyarakat untuk memilih pasangan kandidat
bupati-wakil bupati yang direstui oleh para tokoh pesantren.
Legitimasi sosial ini menjadi pemicu munculnya keterlibatan
pesantren dalam politik praktis sebagai wujud dari religio-politik.
Secara alur pemikiran, keterlibatan Pesantren Miftahul Huda dalam
ranah politik elektoral didukung oleh legitimasi masyarakat Kabupaten
Tasikmalaya yang memercayai institusi pesantren sebagai pedoman
penyelenggaraan sistem sosial. Melalui legitimasi ini, para aktor atau
tokoh pesantren memiliki kesempatan untuk berkiprah dalam partai
politik yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan politik formal
(formal power), sedangkan para kader pesantren membentuk jaringan
Hamida sebagai kekuatan politik informal (informal power). Berikut
skema alur berpikir mengenai analisa religio-politik Pesantren Miftahul
Huda, Manonjaya, Tasikmalaya.
Gambar 2. Alur Berpikir Analisis Religio-Politik Pesantren Miftahul Huda
Sumber: Kompilasi data wawancara, Juni-Desember 2016
Berdasarkan alur pemikiran tersebut, pencalonan Uu Ruzhanul
Ulum sebagai kandidat bupati Tasikmalaya ditopang oleh dua kekuatan
politik. Pertama, kekuatan politik bersifat formal yang berasal dari
intrumen politik berbentuk koalisi partai pengusung karena kiprah
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
66 |
SANSAN HASANUDIN
tokoh pesantren pada beberapa partai politik seperti Partai Persatuan
Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kedua,
kekuatan politik informal yang berasal dari basis massa jaringan
Hamida sebagai bagian dari alumni Pesantren Miftahul Huda yang
terikat secara kultural. Dari dua kekuatan tersebut, Uu Ruzhanul Ulum
bahkan dikenal memiliki dua partai yaitu PPP sebagai partai yang
“terlihat”, dan Hamida sebagai partai yang “tersembunyi” (wawancara
dengan AM, Dewan Pakar DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya, 5
Desember 2016).
Jaringan Hamida dapat dianggap lebih kuat daripada jaringan
pesantren lain yang mendukung tujuh calon kepala daerah lainnya
pada Pilkada pertama. Hal ini disebabkan Pesantren Miftahul Huda
adalah pesantren terbesar di Tasikmalaya yang jaringan alumninya tetap
eksis bergerak melalui pengajian rutin. Selain itu, Uu juga masuk pada
kepengurusan Hamida yakni sebagai Ketua Departemen Pendidikan
di Hamida Pusat (wawancara dengan KJ, Sekretaris Umum Hamida
Pusat, 2 Oktober 2016). Berikut susunan pengurus Hamida Pusat:
a. Ketua Umum: KH. Jaja Abdul Jabar
b. Ketua Departemen Pendidikan: KH. Uu Ruzhanul Ulum
c. Ketua Departemen Dakwah: KH. Nur Kholis Akhyar
d. Ketua Departemen Ekonomi: KH. Asep Muhammad Tohir
e. Ketua Departemen Habluminannas/Hamas (Hubungan
Masyarakat): KH. Miftah Farid
f. Ketua Departemen Pendayagunaan dan Organisasi: KH.
Aminuddin
Orang-orang yang menduduki jabatan pengurus di Hamida adalah
alumni santri Miftahul Huda yang memang telah dipercaya oleh
pesantren dan para alumni. Para pengurus ini tidak semua berasal dari
keluarga pesantren, tetapi ada pula yang memang alumni biasa. Dalam
kepengurusan ini, keluarga pesantren yang terlibat langsung hanya KH.
Uu Ruzhanul Ulum dan KH. Miftah Farid (wawancara dengan KJ,
Sekretaris Umum Hamida Pusat, 2 Oktober 2016).
M E K A N I S M E T I N G K AT M I K RO
Mekanisme religio-politik pesantren di tingkat mikro dilakukan
melalui afiliasi tokoh pesantren terhadap partai politik. Beberapa
anggota keluarga pesantren secara pribadi masuk menjadi kader partai
politik meskipun tidak mengatasnamakan Pesantren Miftahul Huda.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 67
Secara politis, Pesantren Miftahul Huda menjalin interaksi positif
dengan dua partai Islam, yaitu PKB dan PPP sebagai partai dominan
di Kabupaten Tasikmalaya (wawancara dengan DAH, anggota keluarga
Pesantren Miftahul Huda, 2 Oktober 2016).
Salah satu pertimbangan afiliasi terhadap PPP karena partai ini
dianggap berbasis Islam dan merupakan parpol yang memiliki posisi
dominan di Tasikmalaya. Hal ini dapat dibuktikan melalui statistik
perolehan suara pada Pilkada tahun 2006 yang merupakan pemilu
pertama kali yang dilaksanakan secara langsung di Tasikmalaya
untuk pemilihan bupati dan wakil bupati. Data menunjukkan bahwa
pasangan calon bupati-wakil bupati yang pengusung partai politiknya
oleh PPP mampu memperoleh suara terbanyak dengan komposisi partai
politik seperti pada tabel berikut.
Tabel 2. Komposisi Partai Politik Pengusung dan Persentase Perolehan
Suara Pada Pilkada Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2006
Nomor
Pasangan Calon
Urut
1
2
3
4
Jalur/
Pengusung
Politik
Tatang Farhatul Hakim-Endang PPP
Hidayat
PAN, PKS, PBB
Achmad Saleh K-Tetep Abdulatip
Persentse
Perolehan
Suara
43,74%
22,24%
Partai
Golkar,
18,65%
Harun A l-Rasjid - Acep Adang
PKB
Ruhiat
PDI-P
Ade Hermawan-Kiswaya
13,37%
Sumber: KPUD Tasikmalaya 2011
Dominasi PPP di Tasikmalaya sangat dipengaruhi oleh peran dari
para kiai yang tersebar di berbagai pesantren-pesantren yang berada di
wilayah Tasikmalaya (Nasir 2015). Peran para kiai ini sangat berkaitan
dengan keterlibatan anggota keluarga Pesantren Miftahul Huda dalam
partai politik seperti diwakili K.H. Didi Abdul Hadi, KH. Asep M.
Affandi, dan KH. Uu Ruzhanul Ulum pada PPP, sedangkan KH. Abdul
Aziz di PKB (wawancara dengan DAH, anggota keluarga Pesantren
Miftahul Huda, 2 Oktober 2016).
Tokoh Pesantren Miftahul Huda yang juga merupakan kader
PPP di antaranya Uu Ruzhanul Ulum. Tokoh ini memiliki identitas
ganda yaitu sebagai anggota keluarga pesantren dan tokoh politik
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
68 |
SANSAN HASANUDIN
lokal Tasikmalaya. Dari aspek identitas pesantren, Uu Ruzhanul
Ulum merupakan cucu dari pendiri Pesantren Miftahul Huda yaitu
KH. Khoer Affandi yang lahir dari Hj. Enung Muthmainnah dengan
ayah bernama K. H. Sholeh Nasihin. Sementara itu, dari segi identitas
politik, Uu Ruzhanul Ulum mendapatkan pendidikan politik ketika
menjadi mahasiswa dengan menjadi kader Komite Nasional Pemuda
Indonesia (KNPI) yang kemudian dilanjutkan dengan berkarir di
PPP hingga saat menjadi bupati Tasikmalaya dua periode yaitu 20112016 dan 2016-2021 juga sekaligus sebagai Wakil Ketua DPW PPP
Provinsi Jawa Barat (wawancara dengan AM, Dewan Pakar DPC PPP
Kabupaten Tasikmalaya, 5 Desember 2016).
Kiprah Uu Ruzhanul Ulum pada politik elektoral terlihat saat
mengikuti dalam Pilkada Kabupaten Tasikmalaya yang serentak
diselenggarakan pada 9 Januari 2011 yang berpasangan dengan Ade
Sugianto melalui dukungan dari beberapa partai politik, yaitu PPP,
Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDIP), dan Partai Amanat
Nasional (PAN) (KPUD Tasikmalaya 2011). Pasangan ini kemudan
menjadi pemenang dengan perolehan suara sebesar 263.099 suara
(32,25%) dari total 815.824 suara sah (KPUD Tasikmalaya 2011),
mengalahkan tujuh pasangan kandidat lainnya.
Tabel 3. Komposisi Jalur/Pengusung Politik dalam Pilkada Kabupaten
Tasikmalaya Tahun 2011
Nomor
Urut
Pasangan Calon
Jalur/Pengusung
Politik
1
E. Kusnaeni-Suparman
Perseorangan
2
Subarna-Dede T Widarsih
Partai Golkar
3
Endang Hidayat-Ahmad Juhana
Perseorangan
4
Ahmad Saleh-Ucu Asep Dani
Partai Demokrat
5
Harmaen Muchyi-T. Iding Husein
Perseorangan
6
Uu Ruzhanul Ulum - Ade Sugianto
PDIP, PAN, PPP
7
Ade Sumia-Nanang Mamur
Perseorangan
8
E. Hidayat-Asep A. Djaelani
PKS, PKB
Sumber: KPUD Tasikmalaya 2011.
Kemenangan yang sama diperoleh pada Pilkada Kabupaten
Tasikmalaya tahun 2016. Perolehan suara pasangan Uu Ruzhanul
Ulum-Ade Sugianto dalam Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 69
2016 memperoleh sebanyak 500.908 pemilih atau sekitar 67,35 persen
dari seluruh jumlah hak suara (KPUD Tasikmalaya 2016). Sedangkan
untuk partai pengusung dalam Pilkada 2016, pasangan Uu Ruzhanul
Ulum-Ade Sugianto diusung oleh Partai Golkar, PDIP, PKS, PAN,
dan Partai NasDem dengan total jumlah keseluruhan sebanyak 23
kursi (KUPD Tasikmalaya 2016). Pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade
Sugianto ini tidak diusung oleh PPP untuk maju pada Pilkada serentak
Kabupaten Tasikmalaya (KPUD Tasikmalaya 2016).
Perjalanan Uu memenangkan dua kali Pilkada tidak dapat dikatakan
berjalan mudah karena terdapat ketegangan-ketegangan antar aktor
politik, baik di dalam partai maupun luar partai. Di dalam internal
partai, ketegangan ini dipicu oleh keinginan Ketua DPRD Tasikmalaya
yang merupakan fraksi PPP yakni H. Ruhimat untuk mencalonkan
diri menjadi kepala daerah, tetapi hal ini tidak terjadi karena kekuatan
dukungan kepada Uu lebih besar secara kultural di tubuh partai.
Adapun ketegangan di luar partai yaitu dari lawan politik Uu bernama
H. Edeng Zainal Abidin yang merupakan mantan Kepala Kantor
Agama Kabupaten Tasikmalaya. Hal ini disinyalir menjadi pemicu
adanya “gerakan anti Uu” yang bernama GERATIS (Gerakan Tidak
Setuju) yang mengkampanyekan untuk tidak memilih Uu pada periode
kedua, atau Golput (Golongan Putih). Namun, Hamida kembali
berperan dalam hal penguatan dukungan untuk Uu, yaitu pencerdasan
masyarakat agar tidak masuk dalam Golput dan menolak kampanye
dilakukan oleh kelompok GERATIS (wawancara dengan MTI, Ketua
DPC PKS Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya, 23 Juli 2016).
Pada saat Pilkada kedua (2016), PPP sedang mengalami konflik
partai melalui dualisme kepemimpinan di tingkat pusat (Romy versus
Djan Faridz), sehingga secara administrasi tidak dapat mengajukan calon
kepala daerah. Dalam hal ini, peran Hamida menjadi signifikan karena
menjadi wadah konsolidasi massa ketika PPP tidak bisa melakukan hal
itu dalam Pilkada kedua. Secara sederhana, Hamida mengambil alih
fungsi partai PPP sebagai partai mayoritas warga Tasikmalaya untuk
konsolidasi di Pilkada kedua (wawancara dengan AM, Dewan Pakar
DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya, 5 Desember 2016).
Kepiawaian Uu Ruzhanul Ulum dalam ranah politik tidak terlepas
dari latar belakang pendidikannya sejak kecil yang mengenyam
pendidikan pesantren dan pendidikan umum. Pendidikan pesantren
didapatkan Uu di lingkungan Pesantren Miftahul Huda, sedangkan
pendidikan umum diperolehnya di Universitas Siliwangi (Unsil)
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
70 |
SANSAN HASANUDIN
Tasikmalaya jurusan ekonomi (wawancara dengan HM, Anggota
Jaringan Hamida, 11 Desember 2016). Penulis berpandangan bahwa
Uu mendapatkan sentuhan karakter agama dari lingkungan pesantren,
sedangkan kepiawaian dalam berpolitik ia dapatkan melalui pendidikan
umumnya di Universitas Siliwangi sebagai mahasiswa ekonomi dan
kader KNPI.
Kesuksesan perjalanan karir politik Uu Ruzhanul Ulum yang
cukup gemilang juga tidak terlepas dari identitasnya sebagai bagian
dari keluarga pesantren dan tokoh politik lokal Tasikmalaya yang
memiliki tiga modal utama yakni modal basis massa, modal moral,
dan modal materil/karir. Modal basis massa didapatkan Uu Ruzhanul
Ulum melalui jaringan alumni pesantren Miftahul Huda yang tersebar
di hampir seluruh Kabupaten Tasikmalaya. Kemudian modal moril
didapatkan oleh Uu Ruzhanul Ulum karena memiliki identitas
sebagai cucu pendiri Pesantren Miftahul Huda yang memiliki teladan
dan berakhlak baik. Sedangkan, modal materil/karir diperoleh Uu
Ruzhanul Ulum melalui perjalanan karirnya menjadi kader PPP mulai
dari pengurus tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga Provinsi
Jawa Barat sebagai Wakil Ketua DPW PPP (wawancara dengan AM,
Dewan Pakar DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya, 5 Desember 2016).
Adanya beberapa tokoh pesantren yang berafiliasi dengan partai
politik menandakan bahwa hal tersebut merupakan mekanisme religiopolitik pesantren. Temuan ini sesuai dengan konsep religio-politik
yang dikemukakan oleh Smith (1985) bahwa komponen ideologi dari
sistem sosial dalam kehidupan sepenuhnya diberikan oleh agama,
dalam hal ini tokoh-tokoh agama. Hal ini juga menegaskan bahwa
dua model kepemimpinan yakni “simbolik” dan “administratif” yang
dikemukakan oleh Horikoshi (1987) terdapat pada diri Uu Ruzhanul
Ulum sebagai pemimpin berkharisma dari pesantren dan pemimpin
hasil Pilkada secara administratif.
P O L A B O N D I N G DA N B R I D G I N G
DA L A M J A R I N G A N H A M I DA
Hamida berkembang pesat disebabkan olehkonsolidasi internal yang
rutin dilakukan oleh para kader dalam bentuk pengajian-pengajian,
baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang. Melalui pengajian ini
pula, Hamida hadir ke tengah-tengah masyarakat luas yang mengikuti
pengajian terbuka untuk umum (tidak hanya untuk Hamida), sehingga
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 71
tumbuhlah kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi Hamida.
Mengenai isi jaringan sendiri, Hamida ini memang ditujukan untuk
mengelola para alumni Miftahul Huda melalui berbagai bidang
diantaranya pendidikan, dakwah, ekonomi, dan kemasyarakatan.
Pengelolaan ini dilakukan oleh Hamida yang dibantu oleh dua badan
otonomnya yakni Hawamida (Himpunan Alumni Wanita Miftahul
Huda) dan IMG (Imamal Muttaqin Generation). Selain melibatkan
peran alumni dalam konsolidasi dan institusionalisasi jaringan, Hamida
juga memiliki agen kunci yaitu kiai sebagai ikon dalam jaringan sosial.
Ikatan yang terjalin melalui jaringan Hamida tersebar ke hampir
seluruh wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Dalam sebarannya,
Hamida di Tasikmalaya memiliki 9 (sembilan) koordinator wilayah
meliputi Cikatomas, Karangnunggal, Indihiang, Rajapolah-Jamanis,
Cibeureum-Tamansari, Manonjaya-Gunung Tanjung, Cineam-Karang
Jawa, Cikalong, dan Singaparna-Padi Kembang (wawancara dengan
KJ, Sekretaris Umum Hamida Pusat, 2 Oktober 2016). Sembilan
koordinator Hamida di Tasikmalaya ini terus melakukan koordinasi
dan komunikasi dengan Hamida Pusat di Pesantren Miftahul Huda,
baik melalui rapat kerja bulanan, pengajian, bahkan kegiatan khusus
seperti Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) (wawancara dengan EDF,
Ketua Koordinator 4 Tasikmalaya Utara, 15 November 2016).
Penguatan internal dilakukan oleh pengurus Hamida dengan
menyelenggarakan berbagai aktivitas jaringan seperti pengajian
bulanan, rihlah (rekreasi), dan rapat rutin. Pengajian bulanan dilakukan
setiap satu bulan sekali di sekretariat pusat Hamida yaitu Pesantren
Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Pelaksanaan pengajian
bulanan ini dilakukan pada pekan ke-2 setiap bulan dengan materi
pengajian membahas Kitab Al-Hikam, Bidayatul Mujtahid, dan
Mukhtarul Hadits. Selain itu, pengurus Hamida mengagendakan rihlah
ke berbagai tempat seperti Gunung Galunggung dan Puncak Bogor.
(wawancara dengan KJ, Sekretaris Umum Hamida Pusat, 2 Oktober
2016). Untuk rapat bulanan, Hamida melaksanakannya setiap bulan
atau ketika ada agenda penting untuk menyusun sebuah program kerja
Hamida (wawancara dengan EDF, Ketua Koordinator 4 Tasikmalaya
Utara, 15 November 2016).
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
72 |
SANSAN HASANUDIN
Gambar 3. Peta Wilayah Tasikmalaya
Sumber: Loket Peta 2016.
Hamida memiliki dua badan otonom yang berfungsi sebagai
pendukung kegiatan Hamida, yaitu Hawamida (Himpunan Alumni
Wanita Miftahul Huda) dan IMG (Imamal Muttaqin Generation).
Hawamida lebih berorientasi pada bidang keagamaan, sedangkan IMG
menjalankan fungsi dalam bidang politik, budaya, sosial, dan ekonomi
(wawancara dengan DAH, anggota keluarga Pesantren Miftahul Huda/
Pembina IMG, 2 Oktober 2016).
Hamida juga melakukan bridging dengan institusi lain dalam relasi
eksternal jaringan organisasi. Bridging ini dilakukan oleh badan otonom
Hamida bernama IMG (Imamal Muttaqin Generation). Melalui IMG
jaringan Hamida menjalin kerjasama dengan pesantren-pesantren nonMiftahul Huda di Tasikmalaya dalam ikatan silaturahmi bernama
Persatuan Ajang Silaturahmi (PAS) (wawancara dengan J, Ketua PAS
Kadipaten Tasikmalaya, 3 Oktober 2016).
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 73
Gambar 4. Pola Bonding dan Bridging Jaringan Hamida
Sumber: Kompilasi data wawancara, Juni-Desember 2016.
IMG merupakan badan otonom di bawah Hamida yang berfungsi
sebagai sarana komunikasi antar para alumni Miftahul Huda yang
tidak menjadi tokoh pesantren atau kiai. Elemen alumni pesantren
yang tergabung dalam IMG didominasi oleh alumni yang berprofesi
petani, pengajar, pedagang, pegawai negeri, bahkan politisi (wawancara
dengan DAH, anggota keluarga Pesantren Miftahul Huda/Pembina
IMG, 2 Oktober 2016). Hal ini dilakukan untuk merangkul setiap
elemen alumni Miftahul Huda agar tetap terikat dalam jalinan
silaturahmi terhadap pesantren. IMG diharapkan mampu menjadi
sarana komunikasi sesama alumni agar aspirasi mereka semakin
terakomodasi, tidak hanya para alumni saja yang dipercaya menjadi
tokoh pesantren atau kiai, tetapi seluruh santri yang pada perjalanannya
menuntut ilmu pernah nyantri di Miftahul Huda. Oleh sebab itu, IMG
merupakan bagian penting dari alumni Miftahul Huda (Huda 2014).
Keberadan IMG juga memang tidak hanya dalam rangka membangun
komunikasi antar alumni dan pesantren, tetapi juga berguna untuk
sumber daya yang dapat bergerak pada bidang politik, budaya, ekonomi
(Huda 2014).
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
74 |
SANSAN HASANUDIN
H A M I DA DA N PI L K A DA TA S I K M A L AY A
Dari berbagai data studi kepustakaan dan hasil penelitian kualitatif
didapatkan kesimpulan bahwa calon kandidat Uu Ruzhanul UlumAde Sugianto dalam Pilkada Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2011
didukung oleh PPP sebagai partai dominan di Tasikmalaya, tetapi tidak
didukung saat maju kembali di Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun
2016. Meskipun demikian, pasangan ini tetap bisa menang dalam ajang
Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun 2016, sehingga didapatkan
tesis bahwa PPP sebagai partai dominan tidak terlalu menjadi penentu
kemenangan pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto, tetapi ada
faktor lain selain partai politik yaitu basis sosial pesantren terutama
dengan adanya jaringan sosial Hamida sebagai bagian dari kekuatan
politik Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto. Artinya, kurang tepat jika
kemenangan pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto hanya dilihat
karena adanya faktor peran kiai, karena pada kenyataannya kiai “sepuh”
yang menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda sudah
wafat tetapi pasangan tetap menang. Terdapat faktor lain yang bersifat
sosiologis pada isu ini, yaitu adanya jaringan sosial diantara para santri
yang bernama Hamida. Keberadaan jaringan alumni Miftahul Huda
yang berasal dari para santri lulusan Pesantren Miftahul Huda menjadi
kekuatan politik yang bersifat informal bagi kemenangan kandidat
pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto dalam Pilkada Kabupaten
Tasikmalaya.
Dan saya tahu persis itu, bahwa yang mendukungnya itu Hamida, dan saya tahu persis yang bergeraknya itu Hamida... Hamida.
Sebetulnya partai itu hanya, eh...sebagai kendaraannya saja, justru yang bergeraknya itu Hamida. Biasanya kalau di pesantren itu
sami’na wa’ato’na (taat), bukan sami’na wa fikir fikir heula (kritis).
(Wawancara dengan MTI, Ketua DPC PKS Kadipaten Tasikmalaya,
23 Juli 2016).
Metode yang dilakukan oleh alumni yang tergabung dalam
Hamida diantaranya yaitu direct selling (penjualan langsung) kandidat.
Metode kampanye ini dilakukan pada majelis ta’lim dan pengajian
yang dipimpin oleh para anggota Hamida yang tersebar di seluruh
pesantren-pesantren Kabupaten Tasikmalaya. Adapun kampanye
informal dilakukan dengan cara membagikan stiker atau kalender yang
berlabel Hamida sebagai bagian dari “tanda” agar masyarakat memilih
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 75
pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto dalam Pilkada Kabupaten
Tasikmalaya tahun 2011 dan 2016.
Ya kalau dari Hamida buat stiker, buat spanduk ada lah yang seperti
itu. Tapi tidak gembar-gembor (terang-terangan) gitu, ya sekedarnya
lah. Kan setiap Hamida itu pasti mempunyai majelis di tempatnya masing-masing, otomatis mempunyai majelis kan mempunyai
massa, mempunyai massa. Setiap Hamida itu kan mempunyai massa
masing-masing. Sedikitnya kita akan mendukung beliau itu, minimal kalau kita sebagai Hamida membuat kalender, atau membuat
stiker dan kita bagikan kepada anggota majelis yang ada di tempat Hamida masing-masing. (Wawancara dengan SNM, anggota
Hamida/alumni Miftahul Huda, 14 Juni 2016)
Hal ini menegaskan bahwa pesantren memiliki modal massa yang
dapat ditransformasikan menjadi modal politik di dalam kontestasi
politik elektoral. Kondisi ini karena kandidat Bupati atas nama Uu
Ruzhanul Ulum merupakan bagian dari lingkungan pesantren
yang memiliki basis massa dan jaringan di hampir seluruh wilayah
Tasikmalaya melalui jaringan Hamida.
Adanya jaringan sosial berbasis pesantren bernama Hamida di
Kabupaten Tasikmalaya menjadi kekuatan jaringan informal bagi
pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto. Namun demikian,
kekuatan jaringan Hamida tidak hanya berhenti pada Pilkada saja,
tetapi juga dapat dioptimalkan dalam menyukseskan program
pemerintah diantaranya program Gerbang Desa (Gerakan Bangun
Desa), Ajengan Masuk Sekolah (AMS), dan Maghrib Mengaji (Pemkab
Tasikmalaya 2014). Tentu saran ini pun diperkuat argumentasi
sebagian kecil anggota jaringan Hamida memilih Uu-Ade di Pilkada
kedua karena memang memiliki motivasi agar mendapatkan prioritas
pembangunan (wawancara dengan SNM, anggota Hamida/alumni
Pesantren Miftahul Huda, 14 Juni 2016).
Jaringan Hamida dapat menjadi aktor pelaksana program Gerbang
Desa dari sisi civil society. Anggota jaringan informal Hamida dapat
berpartisipasi mulai dari penyampaian aspirasi sampai dengan
pelaksanaan program. Salah satu cara penyampaian aspirasi dan
saran yaitu melalui kanal daring (online) pada www.gerbangdesa.com
(Pemkab Tasikmalaya 2014). Pada tahap pelaksanaan, anggota jaringan
Hamida dapat terjun langsung dalam berbagai proyek pemberdayaan
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
76 |
SANSAN HASANUDIN
dan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten
Tasikmalaya untuk mewujudkan kemajuan dan kesejahteraan di
Tasikmalaya. Selain itu, jaringan Hamida juga dapat menjadi aktor
utama dalam penerapkan Program Tasikmalaya Kota Al-Quran sebagai
refresentasi kultur Tasikmalaya sebagai Kota Santri yang sesuai dengan
visi Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang religius Islami (Pemkab
Tasikmalaya 2014).
K E S I M PU L A N
Pasangan Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto menjadi pemenang
Pilkada Kabupaten Tasikmalaya tahun 2011 dan 2016 bukan hanya
karena faktor kekuatan partai politik pengusung saja tetapi juga karena
memiliki basis sosial jaringan Hamida. Fenomena ini menandakan
bahwa keberadaan Hamida sangat signifikan dalam mempengaruhi
dinamika politik di Tasikmalaya. Hamida menjadi kekuatan politik
pasangan calon yang akan maju pada Pilkada, termasuk pasangan Uu
Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto. Sedangkan partai politik pengusung
hanya menjadi “kendaraan politik” calon kandidat Uu Ruzhanul
Ulum-Ade Sugianto untuk menjadi bupati-wakil Bupati Kabupaten
Tasikmalaya dalam dua periode yaitu periode 2011-2016 dan 20162021.
Fenomena keberadaan jaringan alumni bernama Hamida yang
menjadi kekuatan politik ini menegaskan argumen bahwa pesantren
tidak hanya bergerak dalam hal-hal yang berkaitan dengan agama, tapi
juga bergerak dalam ranah politik ketika telah memiliki legitimasi dari
masyarakat. Selain itu, pesantren yang masuk ke ranah politik elektoral
memiliki mekanisme keterlibatan berupa afiliasi terhadap partai politik
dan harus memiliki modal massa yang dapat ditransformasikan menjadi
modal politik di dalam kontestasi politik elektoral.
Secara teoritis didapatkan kesimpulan bahwa sebuah jaringan sosial
akan berpotensi menjadi modal politik ketika salah seorang anggota
jaringan masuk pada ranah politik praktis. Fenomena ini dicontohkan
oleh Uu Ruzhanul Ulum sebagai bagian dari jaringan Hamida yang
menjadi kandidat kepala daerah di Tasikmalaya dengan masuk
sebagai kader PPP. Modal politik yang berasal dari adanya jaringan
ini dapat disebut dengan istilah “kekuatan informal” (informal power).
Sedangkan, konsep kekuatan politik yang berasal dari partai politik
dapat disebut dengan istilah “kekuatan formal” (formal power). Analisis
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 77
terhadap realitas seperti itu menghasilkan konsep mengenai kekuatan
politik yang terbagi menjadi dua jenis yaitu kekuatan informal dan
kekuatan formal yang pada dasarnya berasal dari jaringan informal
berupa basis massa dan jaringan formal berbentuk partai politik.
Tabel 4. Pola Tipologi Kekuatan Politik
Kekuatan Politik
Tipe Jaringan
Basis Sosial
Kekuatan Formal
(formal power)
Jaringan Formal
Partai Politik/institusi
politik pemerintahan
Kekuatan Informal
(Informal Power)
Jaringan Informal
Organisasi Masyarakat/
non kepartaian
Sumber: Penulis
Jika mengacu pada tipologi kekuatan politik di atas, jaringan
Hamida dapat dikategorikan sebagai jaringan informal organisasi
masyarakat yang memiliki basis sosial keagamaan yaitu pesantren.
Jaringan informal Hamida dalam Pilkada baik tahun 2011 maupun
2016 di Kabupaten Tasikmalaya ini menjadi kekuatan politik yang
sangat berpengaruh melebihi kekuatan partai-partai politik pengusung.
Jaringan informal memiliki pengaruh yang lebih besar daripada
jaringan formal pada Pilkada Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun
demikian, jaringan informal tetap melakukan relasi dengan jaringan
formal dalam membangun kekuatan politik yang kuat. Relasi tersebut
dapat digambarkan seperti ilustrasi berikut.
Gambar 5. Pola Relasi Jaringan Formal dan Informal Pada Politik
Sumber: penulis
Ilustrasi di atas menjadi kebaruan konsep dari artikel ini mengenai
adanya relasi antara jaringan formal dan informal dalam membangun
kekuatan politik. Relasi yang terbentuk diantara kedua jaringan
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
78 |
SANSAN HASANUDIN
ini dilakukan dengan mekanisme afiliasi aktor-aktor jaringan dan
mobilisasi massa. Aktor jaringan memiliki peran mekanisme pada
tingkat mikro, sedangkan mobilisasi massa bergerak di tingkat meso.
Analisis mikro dan meso ini menjadi pelengkap bagi konsep religiopolitik Smith (1985) yang hanya melihat fenomena pada tingkat makro.
DA F TA R PU S TA K A
Beckford, James A. 1991. “Politics and Religion in England and Wales.”
Jurnal Daedalus: Religion and Politics 120(3):179-201.
Brata, Yat Rospia. 2013. “Sejarah Berdirinya Pesantren Miftahul Huda
Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya.” Jurnal Artepak
1(1):50-68.
Bryman, A. 2012. Social Research Methods. Edisi IV. New York:
Oxford University Press.
Castiglione, Van Deth, dan Wolleb. 2008. Handbook of Social Capital.
Oxford University Press.
Dhotfier, Zamakhsary. 1982. Tradisi Pesantren: Studi Tentang
Pandangan Hidup Kiai. Jakarta: LP3ES.
Ernas, S. & Siregar, Ferry, M. 2010. “Dampak Keterlibatan Pesantren
Dalam Politik: Studi Kasus Pesantren di Yogyakarta.” Jurnal
Kontekstualita 25(2):195-224.
Farid, Miftah. 2001. ”Kiai Diantara Peran Agama dan Partisipasi
Politik: Dilema Sejarah dan Pencarian Identitas.” Jurnal Mimbar
Pendidikan 20(4):21-26.
Fukuyama, F. 2002. Trust: Kebajikan Sosial dan Penciptaan
Kemakmuran. Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Gunawan, Hendra. 2013. “Habitus Politik Gerakan Islam Modern di
Tasikmalaya.” Jurnal Ilmu Politik dan Pemerintahan 1(2):217-226.
Gunawan, H, & Yuliawati, F. 2012. “Pers dan Politik: Studi Terhadap
Peran Harian Priangan Kota Tasikmalaya Dalam Komunikasi
Politik.” Jurnal Aliansi: Jurnal Politik dan Pemerintahan 4(1):594607.
Horikoshi, Hiroko. 1987. Kiai dan Perubahan Sosial. Jakarta: PSM.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
MEK ANISME RELIGIO-POLITIK PESANTREN
| 79
Huda, Miftahul. 2014. Generasi Imamal Muttaqin (Imamal Muttaqin
Generation/IMG). Tasikmalaya. Diakses dari http://www.miftahulhuda.com/alumni/mh-img/item/139-asal-usul-img
KPUD Tasikmalaya. 2011. Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati
Tasikmalaya. Tasikmalaya: Komisi Pemilihan Umum Daerah
(KPUD) Kabupaten Tasikmalaya. Diakses dari http://kpudtasikmalayakab.go.id/pemilihan-bupati-dan-wakil-bupatikabupaten-tasikmalaya/.
KPUD Tasikmalaya. 2016. Penetapan Calon Bupati dan Wakil Bupati
Terpilih Periode 2016-2021. Tasikmalaya: Komisi Pemilihan Umum
Daerah (KPUD) Kabupaten Tasikmalaya. Diakses dari http://kpudtasikmalayakab.go.id/2016/01/19/penetapan-calon-bupati-danwakil-bupati-terpilih-periode-2016-2021/.
Loket Peta. 2016. Peta Kabupaten Tasikmalaya. Jakarta: Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia.
Dia k ses da ri http://loketpeta.pu.go.id/peta-k abupatentasikmalaya-50000.
Mursyid, Faisal. 2014. Peran Kiai Dalam Pemasaran Politik: Studi
Kasus Peran Kiai Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Dalam
Pemenangan Calon Bupati Pada Pemilukada Kabupaten Tasikmalaya
Tahun 2011. Skripsi. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Nasir, Nurlatipah. 2015. ”Kiai dan Islam Dalam Mempengaruhi
Perilaku Memilih Masyarkat Kota Tasikmalaya.” Jurnal Politik
Profetik 6(2):26-49.
Nugroho, Kris. 2011. “Ikhtiar Teoritik Mengkaji Peran Partai dalam
Mobilisasi Politik Elektoral.” Jurnal Universitas Airlangga 24(3):202214.
Pemkab Tasikmalaya. 2014. Gerbang Desa. Tasikmalaya: Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya. Diakses dari http://www.
tasikmalayakab.go.id/index.php/2014-06-13-06-21-23/2014-0613-06-22-48/gerbang-desa.
Pemkab Tasikmalaya. 2014. Profil Daerah: Visi dan Misi. Tasikmalaya:
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya. Diakses dari http://
www.tasikmalayakab.go.id/index.php/selayang-pandang/profildaerah/visi-dan-misi.
Pemprov Jawa Barat. 2015. Jawa Barat Dalam Angka 2015. Bandung:
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat.
Perrett, Roy W. 1997. “Religion and Politics in India: Some Philosophical
Perspectives.” Religious Studies 33(1):1-14.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
80 |
SANSAN HASANUDIN
Smith, Donald Eugene. 1985. Agama dan Modernisasi Politik: Suatu
Kajian Analitis. Terj. Machnun Husein. Jakarta: Rajawali Press.
Sujatmiko, Iwan Gardono. 2014. “Keterwakilan Etnis di Politik Nasional:
Kasus Etnis Sunda di Republik Indonesia.” MASYARAKAT: Jurnal
Sosiologi 19(1):1-26.
Sulasman. 2015. “Peaceful Jihad dan Pendidikan Deradikalisasi
Agama.” Jurnal Walisongo 23(1):151-176.
Sundari, Tri. 2005. Peran Politik Kiai di Pedesaan (Studi Kasus di
Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Skripsi. Semarang:
Universitas Negeri Semarang.
Suryana, Asep. 1997. Pola Adaptasi Sosio-Politik Pesantren: Studi
Kasus Pesantren Miftah Tasikmalaya. Skripsi. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Suryana, Asep. 2000. “Alih Generasi dan Rutinisasi Kharisma: Kasus
Pesantren Miftah, Tasikmalaya.” MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi
7:51-63.
Taylor, J. L. 2001. “Embodiment, Nation, and Religiopolitics in
Thailand.” South East Asia Research 9(2):129-147.
Woolcock, M. dan Narayan, D. 2000. “Social Capital: Implications for
Development Theory, Research and Policy.” World Bank Research
Observer 15(2):225-250.
M A S YA R A K AT: Ju rna l Sosiolog i, Vol. 22 , No. 1, Ja nu a ri 2017: 53 - 80
Download