5. PENGELOLAAN DAN KONSERVASI SUMBER DAYA IKAN DI

advertisement
37
5. PENGELOLAAN DAN KONSERVASI
SUMBER DAYA IKAN DI SEGARA MENYAN
5.1. Pendahuluan
Perairan Segara Menyan sebagai daerah estuari memiliki keanekaragaman
fauna ikan yang tinggi. Hal ini tergambar dari besaran jumlah spesies yang
ditemukan di perairan tersebut. Ikan-ikan estuari yang datang dari laut dan ikan fase
juwana mendominasi hasil tangkapan di perairan Segara Menyan, khususnya di zona
segara. Zona segara memiliki kekayaan spesies dan diversitas ikan terbesar
dibandingkan dengan dua zona lainnya. Kondisi ini didukung oleh fakta bahwa zona
segara ditumbuhi oleh vegetasi mangrove yang memungkinkan ikan-ikan dari laut
dan ikan stadia tersebut mencari makanan dan berlindung serta melangsungkan
pemijahan. Meskipun demikian, terdapat permasalahan pada sumber daya ikan yaitu
ukuran dan biomassa ikan mengecil akibat penangkapan intensif dan degradasi
habitat.
Penangkapan intensif dengan menggunakan alat tangkap tidak selektif seperti
jaring arad (mini trawl) di zona pantai dan pemasangan jaring insang dan rampus di
sepanjang badan air zona segara menyebabkan ikan-ikan juwana dan dewasa
berukuran kecil ikut tertangkap. Kejadian ini menyebabkan sumber daya ikan tidak
memiliki kesempatan untuk berkembang secara produktif. Sementara degradasi
habitat berupa abrasi pantai dan kerusakan mangrove menyebabkan ikan kehilangan
lumbung makanan, ruang untuk bernaung, bereproduksi, dan berlindung.
Penggunaan jaring arad di wilayah perairan Mayangan dan sekitarnya oleh
nelayan telah dihentikan sejak tahun 2004 dan digantikan oleh jaring rampus (dikenal
dengan jenis milenium). Walaupun demikian, sampai saat ini jaring arad masih tetap
dipergunakan karena nelayan-nelayan dari luar Mayangan masih menggunakan
jaring tersebut untuk menangkap ikan di wilayah perairan Mayangan dan sekitarnya.
Sementara abrasi pantai telah ditanggulangi dengan memasang pilar beton dan
rehabilitasi mangrove. Namun, kondisi tidak menjadi lebih baik karena pilar beton
hancur dan vegetasi mangrove yang ditanam gagal tumbuh.
Berbagai permasalahan yang terjadi di ekosistem ini menyebabkan pengelolaan
sangat dibutuhkan agar sumber daya ikan dapat berkelanjutan. Pendekatan ekosistem
merupakan konsep yang dapat diterima masyarakat perikanan sampai saat ini (FAO
38
2003). Berbagai interpretasi mengenai pendekatan ekosistem, namun secara umum
pendekatan ini menitikberatkan pada upaya konservasi perairan, pengelolaan
perikanan, dan perlindungan sumber daya perikanan (FAO 2003; Morishita 2008).
Selanjutnya Morishita (2008) menyatakan bahwa pendekatan ekosistem memiliki
berbagai bentuk yang berbeda, yaitu mitigasi bycatch, pengelolaan multispesies
(berkaitan dengan mangsa-pemangsa), perlindungan ekosistem yang rentan, dan
pendekatan ekosistem terpadu.
Salah satu bagian penting di dalam pengelolaan perikanan berbasis pada
pendekatan ekosistem adalah pemahaman perihal ekologi trofik dari komunitas ikan
yang mendiami suatu perairan (Link 2002). Berkaitan dengan hal tersebut,
pengelolaan multispesies perlu dipahami dengan jelas. Pada pengelolaan multispesies,
diasumsikan bahwa faktor biologis, lingkungan, dan hubungan mangsa-pemangsa
antar spesies merupakan bagian dari ekosistem yang menentukan tingkat
pemangsaan dari spesies buruan (Link 2002; Díaz-Uribe et al. 2007). Eksploitasi
terhadap spesies tertentu akan memengaruhi spesies lain yang menggantungkan
hidup (sumber makanan) dari spesies tersebut melalui pengurangan persediaan
makanan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai struktur trofik sangat penting
dalam upaya pengelolaan sumber daya perikanan.
Ketika struktur trofik telah dipahami, maka dapat dilakukan prediksi terhadap
eksploitasi sumber daya ikan di perairan estuari Segara Menyan; dalam hal ini gejala
penurunan tingkat trofik pada hasil tangkapan (fishing down the food web).
Penurunan tingkat trofik hasil tangkapan terjadi ketika biomassa hasil tangkapan
pada tingkat trofik atas yang menjadi target penangkapan mulai mengalami
penurunan dan digantikan oleh peningkatan biomassa ikan tangkapan pada trofik
rendah. Fenomena ini merupakan kejadian global di ekosistem perairan laut dan
tawar (Pauly et al. 1998) dan merupakan dampak dari kegiatan penangkapan
(Gascuel 2005; Coll et al. 2006).
5.2. Strategi pengelolaan dan konsevasi sumber daya ikan
Berdasarkan penjelasan di atas, sumber sebab permasalahan yang mendera
sumber daya ikan dapat dibedakan menjadi dua hal yaitu penyebab langsung
(degradasi habitat dan laju penangkapan) dan penyebab tidak langsung (ketiadaan
39
aturan terkait alat tangkap dan menjaga kondisi perairan). Permasalahan yang
dihadapi oleh sumber daya ikan di perairan Segara Menyan memerlukan suatu
strategi dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan.
Berpijak pada hasil penelitian ini, strategi pengelolaan dan konservasi sumber
daya ikan diajukan untuk diterapkan di ekosistem estuari Segara Menyan yaitu
pengembangan perikanan rekreasi, regulasi perikanan tangkap, dan pengelolaan
habitat ikan di perairan Segara Menyan.
Pengembangan perikanan rekreasi
Perikanan
rekreasi
adalah
segala
aktivitas
penangkapan
khususnya
pemancingan yang dilakukan untuk kesenangan. Berdasarkan tujuannya, perikanan
rekreasi dibedakan menjadi pemancingan amatir, pemancingan untuk olahraga, dan
pemancingan untuk wisata (Gaudin & de Young 2007; Pawson et al. 2008).
Pemancingan amatir diarahkan pada sekadar penyaluran kegemaran, tidak
teroganisasi, dan hasil tangkapan dapat dilepaskan kembali atau dikumpulkan untuk
dikonsumsi. Olahraga memancing merupakan kegiatan kompetitif yang terorganisasi
dengan memburu jenis tangkapan dan bobot tertentu; pelaksanaannya di perairan
yang dengan sumber daya ikan karnivora yang berukuran besar. Wisata memancing
merupakan kegiatan yang terorganisasi oleh pihak ketiga dalam menyediakan
fasilitas ke suatu wilayah penangkapan tertentu.
Berlandaskan batasan yang telah diuraikan di atas, pengembangan perikanan
rekreasi yang dapat diterapkan di perairan estuari Segara Menyan diarahkan pada
pemancingan amatir. Kegiatan pemancingan sangat mungkin dilakukan dengan
pertimbangan bahwa perairan ini memiliki kekayaan spesies dan diversitas ikan yang
besar dengan variasi spasio-temporal yang menentukan persebarannya. Keberadaan
ikan-ikan karnivora (krustasivora dan pisivora) yang merupakan target pancingan
ditemukan dalam jumlah banyak di perairan ini. Selain itu, kegiatan pemancingan di
wilayah segara sudah dilakukan oleh segelintir orang yang memanfaatkan hari libur
untuk menyalurkan kesenangannya.
Disamping sebagai perangkat pengelolaan, pengembangan perikanan rekreasi
berperan dalam perlindungan spesies tertentu yang akan melangsungkan kegiatan
reproduksinya. Penggunaan pancing sebagai alat tangkap menyebabkan hasil
40
tangkapan menjadi selektif. Apabila ikan yang tertangkap telah matang gonad maka
ikan tersebut dapat dilepaskan kembali. Kondisi ini berbeda ketika penangkapan
menggunakan jaring (insang, rampus, atau arad), hasil tangkapan tidak selektif
sehingga dapat menangkap ikan juwana dan dewasa berukuran kecil.
Pengembangan perikanan rekreasi perlu memperhatikan kesesuaian dan daya
dukung perairan sehingga kegiatan ini tidak menimbulkan gangguan terhadap
sumber daya perairan dan masyarakat lokal. Kondisi ini menjadi perhatian Lewin et
al. (2006) yang menyatakan bahwa dampak yang diakibatkan oleh kegiatan wisata
pemancingan sama dengan perikanan niaga dalam hal sediaan sumber daya ikan dan
dampak terhadap ekosistem, dan pada wilayah tertentu menyebabkan proporsi total
tangkapan melalui kegiatan pemancingan dapat lebih besar dibandingkan perikanan
niaga. Oleh karena itu, sangat diperlukan penetapan jenis ikan target, sebaran jumlah
dan ukuran ikan, dan wilayah pemancingan. Sejalan dengan hal tersebut, Cowx
(2002) mengutarakan bahwa pengelolaan perikanan rekreasi diwujudkan dalam tiga
langkah, yaitu manipulasi sediaan, regulasi penangkapan, dan pengelolaan habitat.
Manipulasi sediaan dimaksudkan untuk peningkatan spesies target dan dapat
dilakukan dalam empat cara yaitu pengayaan stok, peningkatan keragaman spesies,
penyingkiran spesies tak diinginkan, pengontrolan predator. Langkah pertama ini
biasanya diterapkan pada perairan daratan. Regulasi penangkapan dimaksudkan
untuk mengatur tata laksana perikanan rekreasi; hal ini berkaitan dengan penutupan
musim dan area tangkapan, pembatasan jumlah, pengaturan alat tangkap, dan ukuran
ikan yang boleh ditangkap. Pengelolaan habitat dimaksudkan untuk menjamin
kualitas lingkungan, merehabilitasi habitat yang rusak, dan meningkatkan produksi
perikanan.
Bersandar pada hasil penelitian ini, target pemancingan diarahkan pada ikan
karnivora yang telah mencapai ukuran dewasa (Cox et al. 2002). Ikan karnivora yang
dimaksudkan adalah krustasivora (pemakan udang-udangan) dan pisivora (juwana
ikan). Jenis-jenis ikan ini sangat melimpah di wilayah Segara Menyan, seperti ikan
tiga waja (J. belangerii), blama (Nibea soldado), dan kakap putih (L. calcarifer).
Wilayah pemancingan harus menjadi perhatian karena berkaitan dengan proses
biologis lainnya seperti reproduksi. Penentuan wilayah harus memperhatikan jenis
ikan buruan yang berada pada fase juwana dan fase dewasa matang gonad. Rahardjo
41
(2006a) dan Rahardjo & Simanjuntak (2007) menyatakan bahwa ikan blama (N.
soldado) dan ikan tetet (J. belangerii) berada di wilayah bermangrove pada saat
matang gonad. Pada penelitian ini mereka ditemukan di wilayah segara.
Fase juwana dan dewasa dominan ditemukan di zona segara karena penghuni
zona ini tidak hanya ikan-ikan penetap estuari, melainkan datang dari perairan tawar
dan laut. Ikan-ikan karnivora yang mendiami area ini umumnya telah berada pada
fase dewasa dan mereka masuk ke segara dalam rangka mencari makanan. Kondisi
demikian menyebabkan zona segara diusulkan sebagai wilayah pemancingan terbatas,
dalam arti zona ini dapat ditutup pada musim-musim pemijahan (seperti blama, N.
soldado; petek, L. equulus; dan tetet, J. belangerii pada musim penghujan); dapat
dilakukan penangkapan pada musim pemijahan dengan syarat pemancing harus
melepaskan kembali ketika memperoleh ikan tangkapan yang matang gonad.
Sementara ikan di zona sungai dan pantai dapat dipancing dengan tetap
memperhatikan kematangan gonad ikan. Jenis ikan yang dapat dipancing dan
wilayah pemancingan disajikan pada Tabel 5-1.
Bila pengembangan perikanan rekreasi ingin diterapkan dan terus berlanjut
maka perlu memperhatikan tiga hal, yaitu kegiatan pemancingan, pengayaan sediaan
ikan, interaksi lintas sektoral (Cowx 2002). Pengembangan perikanan rekreasi di
Segara Menyan hanya perlu memperhatikan dua hal yaitu kegiatan pemancingan dan
interaksi lintas sektoral. Pengayaan sediaan tidak menjadi perhatian karena estuari ini
kaya fauna ikan dengan berbagai stadia dalam siklus hidupnya.
Kegiatan pemancingan tidak saja memberikan pengaruh positif bagi kehidupan
biota akuatik, tetapi juga memberikan pengaruh negatif pada habitat dan biota
akuatik dan teresterial. Pengaruh negatif tersebut berupa gangguan pada satwa liar
lain dan kerusakan terhadap habitat atau tempat bersarang beberapa spesies ikan.
Gangguan dan kerusakan ini disebabkan oleh aktivitas pemancing yang secara tidak
langsung merusak ketika mengakses lokasi pemancingan. Selain itu, penggunaan
perahu untuk mengakses daerah pemancingan juga turut memengaruhi kualitas
perairan ketika terjadi tumpahan bahan bakar perahu. Ancaman ini bisa diatasi
melalui pembatasan daerah pemancingan dan musim pemancingan. Pengaruh negatif
lainnya adalah keberadaan sampah dan penggunaan umpan.
42
Tabel 5-1. Jenis dan sebaran ikan yang dapat dipancing di perairan Segara Menyan
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
Spesies
A. ciliaris
A. grunniens
C. aureus
C. dorab
C. talabon
D. punctata
D. russelli
E. melanosoma
E. tetradactylum
G. achlamys
G. minuta
G. scaber
H. nehereus
I. japonica
J. belangerii
J. carouna
L. calcarifer
L. cornuta
L. lactarius
L. lunaris
L. savala
M. cordyla
N. soldado
O. microlepis
O. ruber
P. anea
P. bilineata
P. canius
P. indicus
P. microdon
P. quadrilineatus
S. commerson
S. jello
S. tumbil
T. hamiltonii
T. mystax
T. nieuhofi
T. puta
Z. zebra
Ukuran
204±10
118±20
174±19
361±89
379±84
184±48
160±12
134±15
261±51
148±11
158±9
163±34
171±64
161±33
168±23
163±26
310±79
143
152±12
144±27
441±87
244±37
187±38
137±+20
178±20
150±35
169±18
593±94
273±30
171±30
161±31
220±26
159±50
269±43
129±42
98±30
189±24
171±21
154±18
Fase
J, D
J
J, D
J, D
J
J, D
J, D
D
J, D
J, D
J, D
J, D
J
J, D
J, D
J, D
J, D
J
J, D
J, D
D
J, D
J, D
D
J, D
J, D
J, D
J, D
J, D
J, D
J
J, D
J
J, D
J, D
J, D
J, D
J, D
J, D
Jenis makanan utama
Portunus
Metapenaeus
Sardinella
Thryssa
Amblygaster
Ambassis
Thryssa
Brachyura
Metapenaeus
Metapenaeus
Metapenaeus
Portunus
Metapenaeus
Secutor
Portunus
Portunus
Valamugil
Metapenaeus
Squilla
Thryssa
Secutor
Sardinella
Portunus
Ambassis
Saurida
Portunus
Scylla
Ambassis
Leiognathus
Sardinella
Penaeus
Sardinella
Ambassis
Thryssa
Metapenaeus
Metapenaeus
Squilla
Metapenaeus
Scylla
Sebaran (zona pemancingan)
Pantai
Segara
Pantai
Pantai
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Segara
Pantai, Segara
Pantai
Pantai
Pantai
Pantai
Pantai
Pantai
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Pantai
Pantai, Segara
Pantai
Pantai
Pantai, Segara
Segara
Pantai
Pantai
Pantai, Segara
Sungai, Segara
Pantai
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Pantai
Pantai, Segara
Pantai
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Segara
Pantai, Segara
Pantai, Segara
Hal yang perlu mendapat perhatian pada pelaksanaan perikanan rekreasi adalah
kesejahteraan hidup fauna ikan. Pada dasarnya tujuan perikanan rekreasi adalah
untuk kesenangan. Ikan yang tertangkap dapat dilepas kembali ke perairan atau
diambil untuk dikonsumsi. Ketika ikan tersebut akan dilepaskan kembali, maka perlu
dipastikan mata kail tidak tersangkut dalam mulut atau tidak menyebabkan mulut
ikan rusak sehingga tidak berfungsi optimal. Hal tersebut penting dilakukan karena
43
tingkat kematian ikan yang tinggi terjadi pasca penglepasan kembali ikan yang
tertangkap (Bartholomew & Bohnsack 2005; Cerdá et al. 2010).
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan juga perlu mendapat perhatian
karena wilayah penangkapan nelayan akan berkurang saat zona segara ditetapkan
sebagai wilayah penangkapan terbatas. Hal ini tentu akan menimbulkan pengaruh
buruk, walaupun juga mendatangkan keuntungan dari penyewaan perahu untuk
kegiatan pemancingan rekreasi ini. Aspek ini tidak menjadi bahasan pada penelitian
ini, karena penelitian ini dititikberatkan pada aspek ekologi dan biologi ikan.
Regulasi perikanan tangkap
Pengaturan penangkapan tidak saja difokuskan pada kegiatan pemancingan
rekreasi sebagaimana dipaparkan di atas. Namun menjadi hal penting untuk
diperhatikan adalah kegiatan perikanan tangkap. Sejauh ini kegiatan perikanan yang
berlangsung di Segara Menyan adalah kegiatan perikanan artisanal. Nelayan
melakukan penangkapan sehari (one day fishing) dengan alat tangkap berupa jaring
insang, jaring rampus, jaring arad, dogol, dan pukat pantai. Kegiatan penangkapan
ikan tidak saja dilakukan oleh masyarakat setempat, melainkan dilakukan juga oleh
nelayan lain yang datang dari berbagai wilayah. Tumpang tindih kegiatan yang besar
antara perikanan rekreasi dan perikanan tangkap terkait wilayah penangkapan
dikhawatirkan menimbulkan konflik antar-masyarakat terhadap pemanfaatan sumber
daya ikan. Oleh sebab itu, kegiatan perikanan tangkap perlu dilakukan pengaturan.
Pengaturan perikanan tangkap yang dimaksud adalah penggunaan alat tangkap,
musim dan wilayah penangkapan, serta ukuran ikan tangkapan. Pada dasarnya
pengaturan ini sama dengan pengaturan pada perikanan rekreasi terkait musim,
wilayah, ukuran ikan target penangkapan; sedikit yang membedakan adalah pada
wilayah penangkapan dan penggunaan alat tangkap. Pada bagian ini, alat tangkap
yang dimaksud adalah jaring (insang, rampus, arad, dogol, dan pukat pantai).
Penggunaan jaring tidak diperkenankan untuk digunakan di zona segara sepanjang
tahun, karena zona ini diproyeksikan sebagai wilayah pemulihan sumber daya ikan.
Penangkapan dengan jaring hanya boleh dilakukan pada zona pantai dan sungai
dengan tetap memperhatikan musim pemijahan, seperti ikan blama (N. soldado), ikan
tetet (J. belangerii), ikan baji-baji (G. scaber, I. japonica), ikan petek (L. equulus)
44
yang memijah pada musim penghujan (Novitriana et al. 2004; Yuniarti et al. 2005;
Rahardjo 2006a ; Rahardjo & Simanjuntak 2007).
Ukuran ikan yang boleh ditangkap adalah ukuran ikan yang telah mencapai
dewasa, setidaknya telah melangsungkan pemijahan satu kali. Namun, penggunaan
jaring yang merupakan alat tangkap non selektif, tidak dapat memisahkan ukuranukuran tersebut. Oleh karena itu, pengaturan musim dan wilayah penangkapan
adalah langkah efektif di wilayah perairan Segara Menyan.
Pengelolaan habitat fauna ikan
Estuari dengan segala variasi habitat yang terbentuk di dalamnya merupakan
area yang nyaman bagi kehidupan ikan, yang tidak hanya spesies penetap estuari
melainkan spesies peruaya atau spesies yang hanya sekadar singgah untuk keperluan
hidupnya termasuk persembunyian. Wilayah estuari bervegetasi mangrove seperti di
Segara Menyan merupakan satu habitat penting bagi ikan. Namun, kondisi vegetasi
mangrove di perairan ini telah mengalami kerusakan akibat perambahan untuk lahan
tambak dan abrasi pantai. Dua hal ini tentunya berdampak pada kehidupan ikan
karena mereka kehilangan habitat sebagai tempat hidup. Oleh sebab itu, perlu upaya
pengelolaan habitat, setidaknya kerusakan ekosistem mangrove tidak semakin parah
dan masih memiliki kemampuan dalam penyediaan habitat bagi ikan.
Vegetasi mangrove yang tumbuh di estuari memegang peranan penting dalam
penyediaan
nutrisi
bagi
biota
yang
menempati
ekosistem
ini.
Sumber
materi/makanan di ekosistem estuari berasal dari dalam ekosistem (otoktonus) dan
dari luar ekosistem (aloktonus). Materi otoktonus diperoleh dari bahan organik yang
bersumber dari mangrove, mikrofitobentos, lamun, fitoplankton, dan makroalga;
sedangkan materi aloktonus didapatkan dari masukan bahan organik dari sungai
ataupun yang berasal dari laut (Elliot et al. 2002). Persediaan nutrien yang cukup
mendukung kehidupan fitoplankton, yang diikuti oleh kehadiran zooplankton
(sebagai peramban tingkat I) hingga biota pada level trofik di atasnya (ikan dan
avertebrata air).
Kondisi yang terjadi di Segara Menyan, ikan-ikan zooplanktivora banyak
ditemukan. Kelimpahan zooplanktivora tentunya didukung oleh kelimpahan
zooplankton. Pada beberapa kasus menyebutkan bahwa zooplankton merupakan
45
komponen penting dalam rantai makanan di perairan dan menjadi penyokong bagi
tingkat trofik di atasnya (Hajisamae & Ibrahim 2008; Etilé et al. 2009). Selain peran
mangrove sebagai penyedia nutrisi, melalui sistem perakarannya yang rumit dapat
melindungi berbagai spesies terutama ikan-ikan berukuran kecil dari pemangsa dan
menjadi padang penggembalaan bagi larva dan juwana ikan (Laegdsgaard & Johnson,
2001; Valiela et al. 2001; FAO 2007).
Berangkat dari fakta yang menunjukkan peran penting vegetasi mangrove,
maka langkah yang perlu diambil dalam rangka pengelolaan habitat fauna ikan
adalah melakukan rehabilitasi dengan penanaman vegetasi mangrove bila
dimungkinkan sampai pada tingkat restorasi ekosistem mangrove. Cara ini sangat
efektif dalam meningkatan jumlah spesies, densitas, dan biomassa sumber daya ikan
sebagaimana dilaporkan oleh Rönnbäck et al. (1999) dan Crona & Rönnbäck (2007).
Densitas dan biomassa ikan di lokasi pemulihan mangrove di Filipina terutama
dipengaruhi oleh tinggi pasang surut dan jenis mangrove (Rönnbäck et al. 1999).
Sementara di Kenya, pemulihan mangrove Sonneratia alba berdampak pada
peningkatan stok ikan, khususnya pada spesies ekonomis (Crona & Rönnbäck 2007).
Dalam hal kegiatan pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan, zona segara
dapat diusulkan sebagai kawasan lindung daerah atau kawasan konservasi perairan.
Hal ini dinilai sesuai karena wilayah ini memiliki tekanan degradasi yang cukup kuat,
padahal wilayah ini memiliki fauna ikan yang melimpah dengan ragam yang tinggi.
Disamping itu, ekosistem mangrove mampu mendukung kehidupan fauna ikan
dengan peran fungsional yang ditampilkan.
5.3. Penutup
Pengelolaan dan konservasi sumber daya ikan diperlukan untuk mengatasi
permasalahan yang terjadi di estuari Segara Menyan. Kedua tindakan ini perlu
memegang prinsip kehati-hatian dalam penerapannya, karena boleh jadi strategi yang
ingin diterapkan mendapat pertentangan dari masyarakat lokal, yang pada disertasi
ini aspek sosial ekonimi tidak menjadi bahasan. Strategi pengelolaan dan konservasi
yang ditawarkan lahir dari kajian ilmiah dan menjadi tugas pembuat kebijakan untuk
menerapkan strategi tersebut.
Download