Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rasio Keuangan
Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko dan tingkat imbal
hasil dari berbagai perusahaan untuk membantu investor dan kreditor membuat
keputusan investasi dan kredit yang baik (White et al., 2002). Agar dapat
mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan dan kinerjanya, analisis keuangan
perlu melakukan pemeriksaan atas berbagai aspek kesehatan keuangan
perusahaan.
2.1.1
Pengertian Rasio Keuangan
Rasio keuangan menurut Van Horne et al., (2005) adalah:
“Merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan
diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya”
Menurut Kasmir (2011:104):
“Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan
kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi
kesehatan perusahaan yang bersangkutan”
Menurut Susan Irawati (2006:22):
“Rasio keuangan adalah merupakan suatu teknik analisis dalam bidang
manajemen yang dimanfaatkan sebagai alat ukur kondisi-kondisi
keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu, ataupun hasil-hasil
usaha dari suatu perusahaan pada suatu periode tertentu dengan cara
membandingkan 2 buah variabel yang diambil dari laporan keuangan
perusahaan, baik daftar neraca maupun rugi-laba”
12
13
2.1.2 Manfaat Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan perusahaan merupakan langkah awal dalam
analisis keuangan, karena fungsi rasio keuangan yang dirancang dapat digunakan
untuk memberi gambaran hubungan perkiraan-perkiraan laporan keuangan.
Menurut Susan Irawati (2006:24) bahwa manfaat dari analisis rasio
keuangan dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu :
1. Pihak Intern (Manajemen)
2. Pihak Ekstern (Investor)
Manfaat analisis rasio keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pihak Intern (Manajemen)
Dalam sudut pandang pihak intern perusahaan atau manajemen, analisis
laporan keuangan berguna sebagai cara untuk :
a. Mengantisipasi keadaan di masa mendatang, dan
b. Sebagai titik tolak bagi tindakan perencanaan yang akan mempengaruhi
jalannya kejadian di masa mendatang.
2. Pihak Ekstern (Investor)
Dalam sudut pandang pihak ekstern manfaat dari analisis rasio keuangan
yaitu untuk meramalkan masa depan perusahaan, atau dengan kata lain dari
sudut pandang pihak ekstern manfaat analisis rasio keuangan yaitu untuk
menentukan prediksi apakah perusahaan tersebut bisa berkembang dalam arti
dapat melakukan operasionalnya kembali atau malah perusahaan tersebut
gulung tikar, sehingga akan mempengaruhi keberadaan pihak ekstern di dalam
perusahaan tersebut.
14
Berdasarkan uraian tentang manfaat rasio keuangan, maka pihak-pihak
yang berkepentingan menggunakan rasio keuangan adalah pihak intern
(Manajemen), karena manajemen akan melihat hasil kinerja keuangan
perusahaannya melalui analisis tersebut. Sedangkan pihak ekstern (investor),
karena investor berkepentingan dalam rangka penentuan kebijakan penanaman
modalnya. Selain investor, kreditur juga berkepentingan untuk menggunakan
analisis rasio keuangan yang berkepentingan untuk mengevaluasi kredit yang
diberikan terhadap perusahaan.
2.1.3
Jenis-jenis Rasio Keuangan
1. Rasio Likuiditas (liquidity ratios)
Menurut Kieso et al., (2008:398), rasio likuiditas (liquidity ratio)
adalah untuk mengukur kemampuan jangka pendek perusahaan untuk
membayar kewajibannya yang telah jatuh tempo dan memenuhi
kebutuhan kas yang tak terduga.
2. Rasio Profitabilitas (profitability ratio)
Menurut Kieso et al., (2008:400), rasio profitabilitas adalah
mengukur
pendapatan
atau
keberhasilan
operasi
dari
sebuah
perusahaan untuk periode waktu tertentu.
Menurut Kasmir (2011:114), rasio profitabiltas merupakan rasio
untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau
laba dalam suatu periode tertentu.
15
3. Rasio Solvabilitas (solvency ratio)
Menurut Kasmir (2011:151), rasio solvabilitas merupakan rasio
yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan
dibiayai dengan utang. Artinya, berapa besar beban utang yang
ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Menurut Kieso et al., (2008:406), rasio solvabilitas adalah
mengukur kemampuan perusahaan untuk bertahan selama periode
waktu yang panjang.
4. Rasio Aktivitas (activity ratios)
Menurut Kasmir (2011:172), rasio aktivitas merupakan rasio yang
digunakan
untuk
mengukur
efektivitas
perusahaan
dalam
menggunakan aktiva yang dimilikinya. Atau dapat pula dikatakan rasio
ini
digunakan
untuk
mengukur
tingkat
efisiensi
(efektivitas)
pemanfaatan sumber daya perusahaan.
Menurut Sutrisno (2009:219), rasio aktivitas adalah rasio yang
mengukur seberapa besar efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan
sumber dananya.
Menurut Agnes Sawir (2005:14), rasio aktivitas sebagai alat ukur
untuk mengetahui efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan semua
sumber daya yang ada dalam pengendaliannya.
5. Rasio Pertumbuhan (growth ratios)
Menurut Kasmir (2011:114), rasio pertumbuhan merupakan rasio
yang menggambarkan kemampuan perusahaan mempertahankan posisi
16
ekonominya di tengah pertumbuhan perekonomian dan sektor
usahanya.
6. Rasio Penilaian Pasar (valuation ratios)
Menurut Agnes Sawir (2005:20), rasio penilaian pasar adalah
ukuran yang paling komprehensif untuk menilai hasil kerja
perusahaan, karena tersebut mencerminkan kombinasi pengaruh risikorisiko dan rasio hasil pengembalian.
Menurut Kasmir (2011:115), rasio penilaian pasar yaitu rasio yang
memberikan ukuran kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai
pasar usahanya di atas biaya investasi.
2.2
Earning Per Share (EPS)
2.2.1
Pengertian Earning Per Share
Earning Per Share merupakan daya tarik bagi investor untuk menilai suatu
perusahaan. Semakin tinggi EPS, maka kemampuan perusahaan untuk
memberikan pendapatan kepada pemegang sahamnya semakin tinggi. EPS
menggambarkan jumlah laba yang diperoleh setiap lembar selama periode
tertentu.
Menurut Kieso et.al., (2008:378):
“Laba per saham (Earning Per Share) menunjukan laba yang dihasilkan
oleh setiap lembar saham biasa”
17
Menurut Agus Sartono (2001:9):
“Kemakmuran pemegang saham akan meningkat apabila harga saham
yang dimilikinya meningkat, sementara itu harga saham terbentuk dipasar
modal dan diterbitkan oleh beberapa faktor seperti laba per lembar saham”
Menurut Gitman J. Lawrence (2005:15), bahwa :
“Earning Per Share (EPS) is amount earned during the accounting period
on each outstanding share of common, calculated by diving the period’s
total earning available for the firm’s common stockholder’s by the number
of share of common stock outstanding”.
Artinya bahwa Earning Per Share adalah rasio keuangan yang
memperlihatkan jumlah pendapatan atas saham yang beredar, dimana
membandingkan pendapatan yang tersedia bagi para pemegang saham biasa
dengan jumlah saham yang beredar.
Menurut Kasmir (2010:115), bahwa:
“Menyatakan bahwa rasio per lembar saham merupakan rasio untuk
mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi
pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil
untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi,
maka kesejahteraan pemegang saham meningkat”
Menurut Hanafi dan Abdul Halim (2005:194), bahwa :
“Earning Per Share (EPS) adalah rasio keuangan yang digunakan oleh
investor saham untuk menganalisis kemampuan perusahaan mencetak
laba berdasarkan saham yang dimilikinya”
Berdasarkan pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Earning
Per Share merupakan rasio profitabilitas sebagai informasi yang digunakan
untuk menganalisis kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba untuk tiap
lembar saham yang dimiliki pemegang saham.
18
2.2.2 Pengukuran Earning Per Share (EPS)
Earning Per Share adalah perbandingan antara laba yang tersedia bagi
pemegang saham biasa (laba setelah pajak dikurang dividen saham preferen)
dengan rata-rata tertimbang jumlah saham yang beredar selama periode
perhitungan yang dilakukan.
Menurut Irham Fahmi (2012:97) Earning Per Share (EPS) dihitung
dengan rumus berikut:
𝐸𝑃𝑆 =
Penelitian
biasa.
πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π΅π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž π‘†π‘’π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜
π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š π΅π‘’π‘Ÿπ‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿ
yang dilakukan dibatasi hanya membicarakan
saham
Apabila perusahaan menerbitkan saham biasa dan saham preferen,
maka net income dalam penelitian harus merupakan net income bagi
pemegang saham biasa. Net income bagi pemegang saham biasa diperoleh
dengan mengurangi net income dengan dividend dan hak-hak lainnya bagi
pemegang saham preferen. Hasil yang diperoleh merupakan net income atau
keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham.
2.2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Earning Per Share
Berdasarkan rumus dan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa
kenaikan EPS dapat disebabkan karena:
1. Laba bersih setelah pajak naik, dan jumlah lembar saham tetap.
2. Laba bersih setelah pajak tetap, dan jumlah lembar saham turun
3. Laba bersih setelah pajak naik, dan jumlah lembar saham turun.
19
4. Persentase kenaikan laba bersih setelah pajak lebih besar daripada
persentase kenaikan jumlah lembar saham.
5. Persentase penurunan laba bersih setelah pajak lebih kecil daripada
persentase penurunan jumlah lembar saham.
Sedangkan penurunan EPS dapat disebabkan karena:
1. Laba bersih setelah pajak tetap, dan jumlah lembar saham naik.
2. Laba bersih setelah pajak turun, dan jumlah lebar saham tetap.
3. Laba bersih setelah pajak turun, dan jumlah lembar saham naik.
4. Persentase kenaikan laba bersih setelah pajak lebih kecil daripada
persentase kenaikan jumlah lembar saham.
5. Persentase penurunan laba bersih setelah pajak lebih besar daripada
persentase penurunan jumlah lembar saham.
2.3
Net Profit Margin (NPM)
2.3.1 Pengertian Net Profit Margin
Rasio ini menunjukkan kemampuan memperoleh laba dari setiap
penjualan yang diciptakan oleh perusahaan sedangkan perputaran aktiva
menunjukkan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan penjualan dari
aktiva yang dimilikinya. Semakin besar NPM, maka kinerja perusahaan akan
semakin produktif, sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.
Menurut Indra Bastian dan Suhardjono (2006), bahwa:
“Net Profit Margin adalah perbandingan antara laba bersih dengan
penjualan. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena
mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang diterapkan
perusahaan dan kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha”
20
Menurut Weston Fred dan Thomas Copeland. (1999), bahwa:
“Semakin besar Net Profit Margin berarti semakin efisien perusahaan
tersebut dalam mengeluarkan biaya-biaya sehubungan dengan kegiatan
operasinya”
Menurut Agnes Sawir (2005 : 18), bahwa:
“Marjin laba bersih (Net Profit Margin atau Profit Margin On Sales)
dirumuskan dengan laba bersih dibagi dengan penjulan, rasio ini mengukur
laba bersih setelah pajak terhadap penjualan”
Menurut Rusdin (2008:144), bahwa:
“Net profit margin adalah rasio yang menunjukan kontribusi penjualan
terhadap laba bersih yang dihasilkan semakin besar rasio semakin baik”
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa net profit
margin merupakan perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. net profit
margin dapat disebut juga sebagai keuntungan dengan membandingkan antara
laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini
menunjukan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan dan bisa juga
diinterpretasikan sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran
efisiensi) di perusahaan pada periode tertentu.
2.3.2 Pengukuran Net Profit Margin (NPM)
Rasio ini menunjukkan seberapa besar persentase laba bersih yang
diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasio ini, maka dianggap semakin
baik kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba yang tinggi. Hubungan
antara laba bersih dan penjualan bersih menunjukkan kemampuan manajemen
dalam menjalankan perusahaan secara cukup berhasil untuk menyisakan margin
21
tertentu sebagai kompensasi yang wajar bagi pemilik yang telah menyediakan
modalnya untuk suatu risiko. Para investor pasar modal perlu mengetahui
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Dengan mengetahui hal
tersebut investor dapat menilai apakah perusahaan itu profitable atau tidak.
Menurut Rusdin (2008:144) Net Profit Margin (NPM) dihitung dengan
rumus berikut:
𝑁𝑒𝑑 π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘–π‘› =
2.4
πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π΅π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž π‘†π‘’π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜
π‘₯ 100%
π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘›
Return On Equity (ROE)
2.4.1 Pengertian Return On Equity (ROE)
Merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan total
ekuitas. Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income)
yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun
pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam
perusahaan.
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2008:305), bahwa:
“Return on equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income)
yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa
maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan
di dalam perusahaan”
Menurut Irham Fahmi (2012:99), bahwa:
“Return on equity (ROE) disebut juga dengan laba atas ekuitas atau dalam
beberapa referensi disebut sebagai rasio total asset turnover atau
perputaran total aset. Rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan
mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk memberikan laba atas
ekuitas”
22
Menurut Martono dan Agus Harjito (2003:60), bahwa :
“Return
on
e quity
sering
disebut
rentabilitas
modal
sendiri
dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak keuntungan yang
menjadi hak pemilik modal sendiri”
Menurut Brigham et al., (2004:88), bahwa:
“The ratio of net income to common equity ; measure the rate of
return common stockholders investment”
Artinya bahwa rasio dari pendapatan bersih (EAT) terhadap modal
sendiri; mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa.
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Return on equity
merupakan rasio yang digunakan untuk menilai tingkat keuntungan yang
diperoleh pada periode waktu tertentu dibandingkan dengan modal yang
dimiliki perusahaan.
2.4.2
Pengukuran Return On Equity (ROE)
Rasio ini menunjukan daya untuk menghasilkan laba atau investasi
berdasarkan nilai buku para pemegang saham, dan sering kali digunakan untuk
membandingkan dua atau lebih perusahaan. Dalam perhitungannya, secara umum
ROE dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas selama setahun terakhir. Jika
ROE dihasilkan dari pembagian laba dengan ekuitas selama setahun terakhir. Jika
ROE tinggi dapat diasumsikan bahwa perusahaan akan memberikan peluang
tingkat pengembalian atau pendapatan yang cukup besar bagi investor. Tingkat
pengembalian yang tinggi memiliki kemungkinan pendapatan yang diharapkan
oleh investor akan naik pula dan hal ini akan berdampak pada peningkatan harga
saham.
23
Menurut Gitman J. Lawrence (2000:145) Return On Equity (ROE)
dihitung dengan rumus berikut:
π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› 𝑂𝑛 πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦ =
πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π΅π‘’π‘Ÿπ‘ π‘–β„Ž π‘†π‘’π‘‘π‘’π‘™π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜
π‘₯100%
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ πΈπ‘˜π‘’π‘–π‘‘π‘Žπ‘ 
2.5 Saham
2.5.1 Pengertian Saham
Bentuk sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal adalah saham.
Saham adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan yang berbentuk
Perseroan Terbatas (PT) atau yang disebut emiten. Saham (stock) merupakan
salah satu instrument pasar keuangan yang paling popular. Pada sisi yang lain,
saham merupakan instrument investasi yang paling banyak dipilih oleh para
investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.
Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak
(badan usaha) dalam suatu perusahaan/perseroan terbatas. Dengan menyertakan
modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan,
klaim atas asset perusahaan dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS).
Definisi dari saham adalah tanda penyertaan/kepemilikan seseorang/badan
usaha dalam suatu perusahaan/perseroan terbatas.
Pengertian saham diantaranya sebagai berikut:
1. Menurut Tjiptono Darmadji dan Fakhruddin Hendi M (2001:5)
saham dapat didefinisikan tanda penyertaan atau kepemilikan
seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan
terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan
24
bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang
menerbitkan surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan
oleh
seberapa
besar penyertaan ditanamkan
di
perusahaan
tersebut.
2. Menurut Sutrisno (2001:59) saham adalah surat bukti kepemilikan
perusahaan yang memberikan penghasilan tetap. Penghasilan
tersebut berupa deviden yang akan dibagikan kepada pemilik
saham apabila perusahaan mengalami keuntungan. Selain deviden,
para pemegang saham juga mengharapkan keuntungan dari selisih
harga saham. Bila harga jual saham lebih tinggi dari harga beli
maka akan mendapatkan capital gain tetapi bila harga jual saham
lebih rendah dari harga beli maka akan capital loss.
3. Menurut Weston Fred dan Thomas Copeland (1999: 166) Saham
merupakan tanda penyertaaan atau kepemilikan seseorang atau
badan dalam suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar
kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah
pemiliknya (berapapun porsinya atau jumlahnya) dari suatu
perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut. Selembar
saham mempunyai nilai atau harga.
25
2.5.2 Kepemilikan dan Karakteristik Saham Biasa
Kepemilikan saham biasa pada suatu perusahaan menurut Ridwan
Sundjaja dan Inge Barlian (2002:348) dapat berbentuk :
1) Kepemilikan saham pribadi, yaitu saham biasa dari perusahaan yang
dimiliki secara pribadi atau individual.
2) Kepemilikan saham tertutup, yaitu semua saham biasa dari perusahaan
yang
dimiliki oleh sebuah kelompok investor kecil seperti keluarga.
3) Kepemilikan saham publik, yaitu saham biasa perusahaan yang telah
dimiliki oleh sebuah kelompok besar yang tidak ada hubungan antar
individu dan atau suatu lembaga investasi.
Pada umumnya, tiap lembar saham dari saham biasa memberi hak atas
pemiliknya sebesar satu suara dalam pemilihan direktur dan pemilihan khusus
lainnya. Hak suara tersebut dimanfaatkan pada pertemuan tahunan pemegang
saham.
2.5.3 Jenis-jenis Saham
Menurut Tjiptono Darmadji dan Fakhruddin Hendi M (2001:6) ada
beberapa sudut pandang untuk membedakan saham:
1. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim.
a. Saham Biasa (common stock)
Mewakili klaim kepemilikan pada penghasilan dan aktiva yang
dimiliki perusahaan. Pemegang saham biasa memiliki kewajiban yang
terbatas. Artinya, jika perusahaan bangkrut, kerugian maksimum yang
26
ditanggung oleh pemegang saham adalah sebesar investasi pada
saham tersebut.
b. Saham Preferen (Preferred Stock)
Saham yang memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan
saham biasa, karena bisa menghasilkan pendapatan tetap (seperti
bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil, seperti
yang dikehendaki investor.
Serupa saham biasa karena mewakili kepemilikan ekuitas dan
diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas
lembaran saham tersebut dan membayar deviden.
Persamaannya dengan obligasi adalah adanya klaim atas laba dan
aktiva sebelumnya, devidennya tetap selama masa berlaku dari
saham, dan memiliki hak tebus dan dapat dipertukarkan
(convertible) dengan saham biasa.
2. Ditinjau dari cara peralihannya
a. Saham Atas Unjuk (Bearer Stocks)
Pada saham tersebut tidak
tertulis nama pemiliknya, agar mudah
dipindahtangankan dari suatu investor ke investor lainnya. Secara
hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui
sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.
b. Saham Atas Nama (Registered Stocks)
Merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di
mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.
27
3. Ditinjau dari kinerja perdagangan
a. Blue – Chip Stocks
Saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi,
sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil
dan konsisten dalam membayar deviden.
b. Income Stocks
Saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar
deviden lebih tinggi dari rata–rata dividen yang dibayarkan
pada
tahun Sebelumnya Emiten seperti biasanya mampu
menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur
membagikan dividen tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba
dan tidak mementingkan potensi.
c. Growth Stocks
ii. (Well – Known)
Saham–saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan
pendapatan yang tinggi, sebagai
leader di industri
sejenis yang mempunyai reputasi tinggi.
ii. (Lesser – Known)
Saham dari emiten yang tidak sebagai leader dalam
industri, namun memiliki ciri growth stock Umumnya
saham ini berasal dari daerah dan kurang populer di
kalangan emiten.
28
d.
Speculative Stock
Saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten
memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan
mempunyai
tetapi
kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa
mendatang, meskipun belum pasti.
e. Counter Cyclical Stockss
Saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro
maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi,
harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu
memberikan deviden yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan
emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa
resesi.
2.5.4
Harga Saham
Dalam pasar modal yang efisien semua sekuritas diperjual belikan
pada harga pasar. Harga pasar saham adalah harga yang ditentukan oleh
investor melalui pertemuan permintaan dan penawaran. Pertemuan ini dapat
terjadi karena investor sepakat terhadap harga suatu saham.
Menurut Agus Sartono (2001:70) tentang terbentuknya harga pasar saham
sebagai berikut:
“Harga pasar saham terbentuk melalui mekanisme penerimaan dan
penawaran di pasar modal”
29
Menurut Pandji Anoraga dan Piji Pakarti (2001 : 60):
“Harga saham di bursa efek akan ditentukan oleh kekuatan permintaan
dan penawaran. Pada saat permintaan saham meningkat, maka harga
saham tersebut akan cenderung meningkatkan. Sebaliknya, pada saat
banyak orang menjual saham, maka harga saham tersebut cenderung
akan mengalami penurunan”
Harga saham dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:
a.
Harga Nominal
Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh
emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan.
Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena
deviden minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
b.
Harga Perdana
Harga ini merupakan harga pada waktu harga saham tersebut
dicatat di bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya
ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan
demikian akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual
kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
c.
Harga Pasar
Jika harga perdana merupakan harga jual dari perjanjian emisi
kepada investor, maka harga pasar adalah harga jual dari investor
yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah
saham tersebut dicatatkan di bursa. Transaksi di sini tidak lagi
melibatkan emiten dari penjamin emisi harga ini yang disebut
sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar–benar
mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di
30
pasar sekunder, kecil sekali terjadi negosiasi harga investor
dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan
di surat kabar atau media lain adalah harga pasar.
Harga saham juga mencerminkan nilai dari suatu perusahaan. Jika
perusahaan mencapai prestasi yang baik, maka saham tersebut akan banyak
diminati oleh para investor. Prestasi baik yang dicapai perusahaan dapat dilihat
dalam laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan (emiten). Emiten
berkewajiban untuk mempublikasikan laporan keuangan pada periode tertentu.
Laporan keuangan ini sangat berguna
mengambil
keputusan
investasi,
bagi
investor
membantu
dalam
seperti, menjual, membeli atau menanam
saham.
2.5.4.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham
Menurut Tjiptono Darmadji dan Fakhruddin Hendi M (2001: 10) harga
saham dibentuk karena adanya permintaan dan penawaran atas saham.
Permintaan dan penawaran tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik
yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri
dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti
kondisi ekonomi negara, kondisi sosial dan politik, maupun informasi-informasi
yang berkembang, selanjutnya Suad Husnan (2001:317) kalau kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, harga saham akan meningkat.
Dengan kata lain profitabilitas akan meningkatkan harga saham.
31
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga saham dapat dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu:
1. Faktor yang bersifat fundamental
Merupakan faktor yang memberikan informasi tentang kinerja
perusahaan dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhinya. Faktorfaktor ini meliputi:
a. Kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan operasional
perusahaan.
b. Prospek bisnis perusahaan di masa datang.
c. Prospek pemasaran dari bisnis yang dilakukan
d. Perkembangan teknologi yang digunakan dalam kegiatan operasi
perusahaan.
e. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
2. Faktor yang bersifat teknis
Faktor teknis menyajikan informasi yang menggambarkan pasaran
suatu efek, baik secara individu maupun secara kelompok. Para analis
teknis dalam menilai harga saham banyak memperlihatkan hal-hal
sebagai berikut:
a. Perkembangan kurs
b. Keadaan pasar modal
c. Volume dan frekuensi transaksi suku bunga
d. Kekuatan pasar modal dalam mempengaruhi harga saham perusahaan.
32
3. Faktor sosial politik
a. Tingkat inflasi yang terjadi
b. Kebijaksanaan moneter yang dilakukan oleh pemerintah
c. Kondisi perekonomian
d. Keadaan politik suatu negara
2.5.4.2 Analisis Harga Saham
Terdapat dua tipe dasar analisis pasar untuk pedoman para pelaku di
pasar modal. Kedua tipe tersebut adalah analisis fundamental dan analisis
teknikal. Di dalam prakteknya, para investor menggunakan kedua tipe analisis
tersebut untuk transaksi saham mereka.
1. Analisis Fundamental
Analisis fundamental mengidentifikasi dan mengukur faktor-faktor
yang menentukan nilai intrinsik suatu instrument financial. Menurut Suad
Husnan (2005:307), bahwa :
“Analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham di
masa yang akan datang dengan mengestimasi faktor-faktor
fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang akan
datang dan menerapkan hubungan variable-variabel tersebut
sehingga diperoleh taksiran harga saham”
Sedangkan menurut Kamaruddin Ahmad (2004:81)
“Analisis
fundamental
adalah
suatu
pendekatan
untuk
menghitung nilai intrinsik saham biasa (common stock) dengan
menggunakan data keuangan perusahaan”
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa analisis
fundamental digunakan untuk mengevaluasi prospek masa mendatang,
pertumbuhan
dan
profit
perusahaan
dalam
kaitannya
dengan
33
perekonomian secara makro ekonomi nasional, pertimbangan perusahaan
dan kondisi perusahaan
itu sendiri.
Analisis fundamental
akan
membandingkan nilai intrinsik suatu saham dengan harga pasarnya guna
menentukan apakah harga pasar saham sudah benar-benar mencerminkan
nilai seharusnya.
2. Analisis Teknikal
Analisis teknikal merupakan suatu analisis yang lebih memperhatikan
pada apa yang telah terjadi di pasar, dari pada apa yang seharusnya
terjadi. Para analis teknikal tidak begitu peduli terhadap faktor-faktor
yang mempengaruhi pasar, sebagaimana para analis fundamental, tetapi
lebih
berkonsentrasi
pada
instrumennya
pasar.
Definisi
analisis
teknikal menurut Suad Husnan (2005:341), bahwa:
“Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga
saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham
(kondisi pasar) di waktu yang lalu”
Sedangkan menurut Kamaruddin Ahmad (2004:81) :
“Analisis teknikal menganggap bahwa saham adalah komoditas
perdagangan yang pada gilirannya, permintaan dan penawarannya
merupakan manifestasi kondisi psikologis dari pemodal”
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa analisis teknikal
merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati
perubahan harga tersebut di waktu yang lalu. Pemikiran yang mendasari analisis
teknikal adalah (1) harga saham mencerminkan informasi yang relevan (2)
34
informasi tersebut ditunjukan oleh perubahan harga di waktu yang lalu (3)
perubahan harga saham akan mempunyai pola tertentu dan berulang. Para analis
teknikal tidak seperti analis fundamental, mereka merasa sia-sia apabila harus
mempelajari laporan keuangan perusahaan dan data lainnya dalam menentukan
nilai suatu saham atau instrumen pasar lainnya.
Kedua analisis, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal
mempunyai perbedaan masing-masing. Menurut Kamarudin Ahmad (2002:83),
perbedaanya adalah:
Tabel 2.1
Perbedaan Analisis Fundamental dan Analisis Teknikal
No
Variabel
Fundamental
Teknikal
1
Fokus Perhatian Harga
Overvalue/undervalue
Timing
2
Horison Waktu
Jangka menengah
jangka panjang
3
Informasi Utama
Perusahaan/emiten
Psikologis Investor
4
Motif Utama
Dividen/pertumbuhan
Capital Gain
5
Strategi Utama
Beli dan simpan
Berpindah
6
Karakter Investor
Penabung dan investasi
Perdagangan dan
dan
Jangka pendek
Institusional
2.6
Kerangka Pemikiran
2.6.1. Pengaruh Earning Per Share Terhadap Harga Saham
Earning Per Share (EPS) merupakan indikator yang paling umum
digunakan oleh para investor, karena rasio ini mengungkap kemungkinan
EPS yang dapat diperoleh oleh para pemegang saham.
35
Menurut Agus Sartono (2001:9):
“Kemakmuran pemegang saham akan meningkat apabila harga
saham yang dimilikinya meningkat. Sementara itu harga saham
terbentuk di pasar modal ditentukan oleh beberapa faktor seperti
laba per lembar saham”
Menurut Munawir (2002:96) menyatakan bahwa:
“Keuntungan per lembar saham biasanya merupakan indikator
laba yang diperlihatkan oleh para investor (penanam modal) yang
merupakan angka dasar yang diperlukan dalam menentukan harga
saham”
Menurut Irham Fahmi (2011:77), bahwa:
“Earning per share atau pendapatan perlembar saham adalah
bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para
pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki”
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat
EPS suatu perusahaan, maka minat investor untuk berinvestasi dalam perusahaan
pun akan semakin tinggi, dan dengan tingginya jumlah permintaan saham
tersebut maka harga jualnya akan naik. Karena itu, EPS mempunyai pengaruh
terhadap perubahan harga saham.
Menurut hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dini Ayu
Arsyanti (2010) yang menguji pengaruh earning per share, return on equity dan
dividend payout ratio terhadap harga saham pada industri otomotif dan
komponen pada tahun 2004-2008, dengan hasil pengujian menyatakan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial maupun simultan antara variable
earning per share (X) terhadap harga saham (Y) pada sektor otomotif periode
2004-2008.
36
Menurut hasil penelitian Putu Ryan Damayanti (2013) diketahui bahwa
variabel EPS mempunyai pengaruh signifikan, baik secara parsial maupun
simultan terhadap harga saham pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi di
Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012.
2.6.2
Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Harga Saham
Net Profit Margin menunjukkan kemampuan memperoleh laba dari
setiap penjualan yang diciptakan oleh perusahaan sedangkan perputaran aktiva
menunjukkan seberapa jauh perusahaan mampu menciptakan penjualan dari
aktiva yang dimilikinya. Semakin besar NPM, maka kinerja perusahaan akan
semakin produktif, sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut yang akan meningkatkan harga
saham perusahaan.
Menurut Hasil Penelitian Terdahulu yang dilakukan oleh Murtiningsih
Dwi (2011) yang menguji pengaruh ROA, ROE, NPM, EPS dan DER terhadap
tingkat Harga Saham pada perusahaan Food and Beverages tahun 2008-2010.
Hasil menunjukan net profit margin secara parsial berpengaruh dengan arah
hubungan yang positif dan signifikan terhadap harga saham.
Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan Putu Laksmi (2013)
yang menguji pengaruh ROE, NPM, leverage dan nilai pasar terhadap harga
saham pada perusahaan properti dan real estate. menunjukan bahwa net profit
margin berpengaruh tidak signifikan terhadap harga saham.
37
2.6.3
Pengaruh Return On Equity Terhadap Harga Saham
Jika suatu perusahaan mempunyai masa depan yang baik dan dapat
memberikan profitabilitas bagi para investor maka transaksi saham perusahaan
akan mengikuti laju perkembangan dan kondisi perusahaan tersebut. Menutur
Suad Husnan (2001:317) mengatakan bahwa :
“Kalau kemamapuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat,
harga saham akan meningkat. Dengan kata lain profitabilitas akan
meningkatkan harga saham”
Menurut Brigham et al., (2010:133) return on equity (ROE) adalah rasio
yang paling penting bagi pemegang saham. Pemegang saham pastinya ingin
mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi atas modal yang mereka
investasikan dan ROE menunjukan tingkat pengembalian yang mereka peroleh.
Jika ROE tinggi, maka harga saham juga cenderung akan tinggi dan tindakan
meningkatkan ROE kemungkinan juga akan meningkatkan harga saham.
Menurut hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Astri Wulan Dini
(2011) yang menguji pengaruh NPM, ROA, dan ROE terhadap harga saham
indeks LQ45 tahun 2008-2010. Hasil menunjukan bahwa return on equity
berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Putu Laksmi (2013) yang
menguji pengaruh ROE, NPM, leverage dan nilai pasar terhadap harga saham
pada perusahaan properti dan real estate. menunjukan bahwa return on equity
berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
38
Gambar 2.1
Bagan Kerangka Pemikiran
2.7. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan model kerangka penelitian di atas, maka dirumuskan
hipotesis sebagai berikut:
Hipotesis 1: Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh terhadap Harga
Saham.
Hipotesis 2: Net Profit Margin (NPM) mempunyai pengaruh terhadap Harga
Saham.
Hipotesis 3: Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh terhadap Harga
Saham.
Hipotesis 4: Earning Per Share, Return On Equity, Net Profit Margin
berpengaruh terhadap Harga Saham secara simultan.
Download