Wahsyi Bin Harb

advertisement
ILMUIMAN.NET: Koleksi Cerita, Novel, & Cerpen Terbaik
Cerita Mini Biografi (16+). 2017 (c) ilmuiman.net. All rights reserved.
Berdiri sejak 2007, ilmuiman.net tempat berbagi kebahagiaan & kebaikan lewat novelcerpen percintaan atau romance, dan cerita non fiksi.. Seru. Ergonomis, mudah, & enak
dibaca. Karya kita semua. Peringatan: Bukan untuk anak-remaja di bawah umur 16
tahun. Pembaca yang sensi dengan seloroh ala internet, silakan stop di sini. Segala
akibat menggunakan atau membaca, sepenuhnya tanggung jawab pembaca. Terima
kasih & salam.
***
Wahsyi Bin Harb
Pembunuh Hamzah Paman Rasulullah SAW
Wahsyi bin Harb Al-Habsyi adalah seorang bekas budak kulit hitam dari Ethiopia, milik
Jubair bin Muth'am. Dia dimerdekakan oleh Hindun binti Utbah istri pembesar Quraisy
Abu Sofyan,.. dan menjadi terkenal karena mampu membunuh paman Nabi Muhammad
SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang dijuluki Singa Allah, karena dulunya
merupakan pemburu singa yang jagoan.
Kelak masuk islam dan menjadi pejuang pertempuran Yamamah, di jaman Kalifah Abu
Bakar. Dan dalam pertempuran itu, konon dia berhasil membunuh sang nabi palsu
Musailamah al-Kazzab dengan tombak yang sama, dengan yang dia tikamkan kepada
paman rasul.
***
Jadi Pembunuh Bayaran
Hidup jadi budak, itu siapa yang suka? Merdeka, tapi miskin aja itu udah nggak enak,
apalagi miskin, tapi diperbudak. Di sisi lain, Wahsyi itu dulu di kampungnya dari kecil
suka berburu dan memainkan tombak. Pengalaman bertahun-tahun. Sekaligus ada
bakat sekalian, jadilah dia itu penombak ulung.
Jadi, saat Hindun bikin sayembara, Wahsyi ini tampil. Hindun menjanjikan akan
membebaskan Wahsyi bila ia mampu membunuh salah seorang di antara: Nabi
Muhammad sendiri, Ali bin Abi Thalib, atau Hamzah, yaitu sebagai balas dendam atas
kematian ayahnya, pamannya, dan brothernya pada perang Badar. Wahsyi menurut
salah satu riwayat lalu menyatakan rencananya, "Aku tidak akan mampu mendekati
Muhammad sama sekali. Para sahabatnya selalu berada di sampingnya. Dia lebih rapat
dijagain dari siapapun. Ali, dia sangat waspada dalam medan perang. Paling saya bisa
ngincer Hamzah. Hamzah itu bertempur dengan sangat brutal dan kelewat berani,
sehingga saat sering lengah, tidak memperhatikan sekelilingnya. Ada kemungkinan,
aku bisa menjatuhkannya dengan menggunakan tipuan atau menyerangnya saat ia
lengah."
Hindun puas dengan jawaban ini dan menjajikan kemerdekaannya bila ia berhasil. Dan
hadiah-hadiah. Tuannya saat itu, Jubair bin Muth'am juga menyetujui melepas sang
budak karena kebetulan, paman si tuan itu juga tewas di perang Badar, dibunuh oleh
Hamzah.
Belakangan, berkenaan dengan keberhasilannya membunuh Hamzah pada perang
Uhud, Wahsyi bercerita, "Saat perang Uhud, aku menguntit Hamzah terus untuk
memenuhi sayembara Hindun. Lalu kesempatan itu aku dapatkan. Hamzah sedang
menyerang titik tengah tentara Quraish, bagaikan singa yang marah. Ia menebas dan
membunuh siapapun yang mampu dijangkaunya. Saat itu, aku bersembunyi di belakang
pepohonan dan bebatuan, agar dia tidak melihatku. Ia terlalu sibuk bertarung. Lalu, aku
keluar menyergapnya. Aku, sebagai orang Ethiopia, terbiasa melempar lembing dan
jarang meleset dari sasaran. Aku bergerak dengan jurus terbaikku, dan setelah berada
pada jarak cukupan, aku menikamnya dengan lemapran lembing terarah. Lembing itu
menembus tubuhnya. Ia ingin balas menyerangku namun sakit yang sangat
membuatnya rubuh, hingga ajalnya tiba. Kemudian aku menghampirinya dengan hatihati dan setelah mencabut senjataku dari tubuhnya aku kembali kepada tentara Quraish
dan menunggu kemerdekaanku."
Setelah pertempuran mereda, konon, Wahsyi dan Hindun itu berlaku amat sadis
terhadap jenazah Hamzah. Hindun, bahkan nekat mengunyah jeroan Hamzah yang dia
keluarkan dari jenazah itu. Lalu dia lepeh lagi. Dan sejak itu, Hindun mendapat julukan
ngeri "Si Pemakan Hati".
Wahsyi sendiri, sejak itu jadi orang bebas, terus saja berlindung di kubu Qurasy.
Rasulullah, saat melihat sisa jenazah Hamzah betul-betul syok. Kalau Rasul saya syok,
bisa dibayangkanlah orang lain seperti apa. Konon, ada yang meriwayatkan, saat
melihat jasad paman dan sahabat yang dicintainya tersebut, Rasullullah sempat
memberikan ancaman balasan atas kebiadaban orang-orang kafir Quraisy. Rasul
sempat mau memerintahkan pembalasan terhadap 30 orang musuh dengan
pembunuhan dengan cara yang sama. Tetapi, kemudian Allah melarangnya, dan
menegaskan bahwa Rasullullah saw adalah rahmatan lil 'alami. Dan karena itu, lalu
ancaman itu dibatalkan. Walau begitu, akibat dari kesadisan tak terperi itu, saat Fathu
Makkah, yaitu saat Mekah jatuh ke tangan kaum muslim, Wahsyi dan Hindun itu
termasuk yang divonis mati.
Mohon maklum, saat Fathu Makkah: Kecuali 17-an orang, semua warga Mekkah
diampuni, dan dimaafkan, asalkan tidak bersikap anarki menyerang kaum mukmin.
Nggak terus masuk islam bahkan juga nggak apa-apa. Bayangin, semua dimaafkan,
kecuali 17 orang yang paling dedengkot.. dan Hindun beserta Wahsyi.. itu termasuk
yang 17 itu. Kebayang kan tingkat permusuhannya seperti apa?
***
Jadi Pembunuh Bayaran
Berbeda dengan Hindun si pemberi perintah bunuh yang menyerahkan diri right away,
selepas Fathu Makkah, Wahsyi ini sempat kabur dulu.
Dia menyadari, bahwa kesalahannya itu terlalu sadis, dan mungkin maklum juga kalau
dirinya ditetapkan sebagai terhukum mati. Beberapa lamalah Wahsyi melarikan diri,
menjauh dari Mekah, ke barat terus sampai ke pantai. Mungkin di sekitar Jeddah masa
kini or something. Tapi jelas bukan ke Babakan Ciparay.
Ada yang bilang, sebelum hengkang ke barat, dia sempat hengkang ke dataran tinggi
Thaif. Cuma, kemudian Thaif itu dikepung pasukan muslim, lalu menyerah kalah juga
seperti Mekkah, maka Wahsyi pun kebingungan, lari ke sana kemari, akhirnya dia ke
pantai itu. Dari situ, entah mau ke Yaman atau ke Syria, dia baru mikir. Dalam
kebingungan itu, sebetulnya banyak orang menasehati dia untuk menyerahkan diri, tapi
dia tetap takut.
Sementara dia kabur, istrinya berbondong-bondong ikut trend masa itu, yaitu masuk
islam rame-rame. Lantas, sang istri nekat menemui Rasulullah dan mengajukan
permohonan. “Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia
masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku diampuni?”
Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Allah memaafkan semua yang
terdahulu. Jika orang mau bertaubat, masuk Islam dengan taubat, ya sudah... tidak ada
lagi dosa”.
"Waduh, berita bagus, neh!" Segeralah sang istri menemui suaminya di pantai dan
menyampaikan hal itu. "Beneran, Rasul mengatakan: Allah akan mengampuni semua
yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam.”
Wahsyi belum percaya. "Apakah saat kamu mengatakan itu, dia tahu kalau kamu itu
istri saya?” Maka istrinya garuk kepala. "Tidak kusampaikan", katanya. Nah, lho. Wahsyi
ngeper lagi.
Jadi, antusiasme istrinya dia redamlah. "Balik dulu, gih, beib. Katakan dulu pada beliau
siapa suamimu ini. Rasanya.. mustahil aku diampuni", begitu kata Wahsyi. Mungkin dia
membayangkan diri sendiri. Andai orang yang dia kasihi dibunuh, mungkin selamanya
dia tidak akan memaafkan dan mengampuni pembunuhnya. Apalagi.. setelah mati,
jenazahnya malah dicincang secara super sadis. Makin nggak akan memaafkan dan
mengampuni lagi. Selamanya.
Dapat pesan seperti itu, istrinya pun balik lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Saat dia balik, mungkin sahabat yang dekat dengan Rasul membatin juga,
"Nih bocah bulak-balik wae?" Tapi Rasul tetap saja menerima dia dengan baik-baik.
"Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan diampuni? Suamiku ketakutan."
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab lagi: "Pan sudah kusampaikan waktu itu.
Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu."
Seolah itu belum terasa tegas, sang istri menambahkan. "Ya Rasulullah, suamiku itu
Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, dengan berlaku licik dan berbuat sadis
setelahnya..."
Sejenak, air muka Rasulullah berubah. Beliau terdiam, tidak menjawab. Lalu, konon
turunlah Az Zumar 53. Eh, mohon maklum belum dikonfirmasi. Ini ayat turun
pertamanya dalam peristiwa ini, atau dalam peristiwa ini 'turun lagi'. Silakan dicek
sendiri kalau penasaran.
“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku: Yang telah melampaui batas dalam berbuat
dosa, janganlah berputus asa dari kasih sayang Allah. Sungguh Allah Maha
Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang”
(QS Azzumar 53)
Dan segeralah, Rasul menyampaikan kepada para sahabat dan sang istri itu. Bahwa
ya, sesuai wahyu Allah. Wahsyi diampuni. Ya sudah. Dengan sumringah lincek-lincek,
sang istri itu lalu menyampaikan kepada Wahsyi lagi. Eh, nggak tahu ding. Apa pake
lincek-lincek apa enggak.
***
Wahsyi Berserah Diri
Setelah istrinya datang lagi membawa berita konfirmasi itu, barulah Wahsyi percaya.
Dia juga mengingat nasehat seseorang, saat dia kabur lebih lanjut dari Thaif ke pantai.
Orang itu bilang, "Bodo lu ye! Ngapain kabur lagi? Rasulullah tidak akan membunuh
seseorang yang memeluk Islam."
Akhirnya, datanglah Wahsyi menghadap rasul untuk masuk islam. Ke Madinah
kemungkinannya. Itu suatu perjalanan yang lumayan.
Rasulullah menerimanya, dan konon beliau bersabada, "Kamu Wahsyi yang telah
membunuh pamanku Hamzah bin Abdul Muthallib?"
"Betul, wahai Rasulullah. Aku telah berbuat ini dan itu". Dia mengakui, bahwa dia telah
berlaku licik, menikam dari belakang di perang itu. Lalu berlaku sadis setelah Hamzah
wafat dengan kesadisan yang di luar batas kemanusiaan.
Setelah dia selesai dengan pengakuannya, Rasul menetapkan keputusannya. "Baiklah.
Kesalahan kamu dimaafkan", dan lalu Wahsyi itu dibaiat untuk masuk islam.
Walau begitu, kita juga tidak bisa naif. Sebagaimana difirmankan juga oleh Allah,
bahwa "Muhammad itu hanyalah seorang rasul..." Istimewa sih beliau. Namanya juga
Rasul Allah. Tapi Rasul Allah itu artinya manusia, bukan Tuhan atau malaikat. Rocker
juga manusia kata lagu sih. Dan manusia, punya rasa, punya hati.
Dalam obrolan dengan para sahabat, Rasul sempat berseloroh, bahwa walaupun
Wahsyi itu sudah beliau maafkan, tapi tetap saja, kalau melihat wajah Wahsyi, beliau
tidak suka. "Kalau saya melihat wajahnya,.. terbayang oleh saya, wajah Hamzah bin
Abdul Muthallib paman saya yang rusak dihancurkan secara sadis oleh dia saat itu.
Jadi, ya.. sebisa-bisa, saya ingin, saya tidaklah perlu melihat wajahnya lagi..."
Entah serius atau seloroh, konon pesan ini lantas sampai pula kepada Wahsyi. Dan
demi menunjukkan respek dan rasa terima kasihnya telah diberi ampunan, sejak itu,
Wahsyi yang telah masuk islam pun senantiasa sembunyi, berada jauh dari Rasulullah
dan tidak menampakkan wajah di hadapannya. Kalau dia ingin melihat Rasul, dia
melihat dari kejauhan dengan sembunyi-sembunyi. Terus demikian, sampai Rasulullah
wafat.
Versi lain, ada yang menyebutkan bahwa Rasul itu menyampaikan perasaannya itu
langsung kepada Wahsyi, "Aku tidak ingin melihat wajahmu hingga Hari Berbangkit,
karena musibah yang menimpa pamanku disebabkan oleh tanganmu..." Versi mana
yang benar, wallahualam.
Pelajaran dari kejadian ini: memaafkan itu harus. Tidak ada kesalahan yang pantang
untuk dimaafkan. Kebanyakan kesalahan dari orang yang sempat kita benci, tentulah
tidak sesadis kesalahan Wahsyi dan Hindun yang membantai Hamzah paman rasul
sampai segitunya. Tapi.. di pihak lain, memaafkan itu tidak berarti harus melupakan.
Otak manusia, itu bukanlah seperti memory komputer yang bisa di-delete dengan sekali
enter.
Walau statusnya paman, Hamzah itu sebaya dengan Rasulullah. Dari kecil, Hamzah
adalah teman main Nabi, dan mereka tumbuh dewasa bersama sebagai sahabat baik.
Nabi yang fisiknya kuat terus menyalurkan energi untuk menggembala, berdagang, dan
kadang menyepi dari keramaian. Sedang Hamzah, itu banyak menempa fisik,
melakukan perjalanan-perjalanan berat, dan berburu. Dia dikabarkan bahkan mampu
mengalahkan singa segala. Nggak tahu deh, apa di masa itu, di Jazirah Arab ada singa
itu dimana? Atau mungkin di luar jazirah. Yang jelas, yang dimaksud singa itu adalah
singa beneran. Bukan singa plastik, atau singa ompong. Dan dari situlah, kelak setelah
menjadi andalan, oleh Nabi dia dijuluki sebagai Singa Allah.
Hamzah itu termasuk yang masuk islam tidak lama setelah Nabi berdakwah terbuka.
Dan beneran menjadi jagoan islam satu-satunya, pertamanya. Tahun keenam
kenabian, barulah bergabung satu jagoan lagi: Umar bin Khattab. Duet dua orang ini
menjadi pilar awal kekuatan fisik atau militer umat Rasulullah. Sebelum adanya dua
pendekar ini, tidak ada orang islam yang berani terang-terangan beribadah atau
berdakwah di dekat ka'bah masa jahiliyah. Setelah ada mereka, barulah para
pengganggu ngeper kalau mau bersikap hostile. Begitu dekatnya, dan begitu besarnya
jasa Hamzah bagi Rasul, sehingga dapat dimaklumi kalau Rasul amat care kepadanya.
Karena itu, walau telah memaafkan, sebagaimana diperintahkan oleh Allah, Rasul tidak
bisa begitu saja melupakan kelakuan Wahsyi si pembunuhnya.
***
Akhir Riwayat Wahsyi
Setelah Rasulullah saw tidak ada lagi, barulah Wahsyi yang jagoan main tombak bisa
berada di lingkaran dalam kemiliteran kaum mukmin lagi. Sampai suatu ketika, dia ikut
maju perang, saat tentara muslim melawan Musailamah Al Kaddzab di jaman kalifah
Abu Bakar.
Saat berangkat, dia berkata pada teman-temannya. "Hari ini, saya bawa tombak ini
lagi,.. tombak yang dulu saya pakai untuk menikam Hamzah bin Abdul Muthallib.
Sekarang, akan saya gunakan juga ini untuk membunuh Musailamah Al Kaddzab.
Semoga, dengan begitu bisa sedikit menebus kesalahanku yang lalu..."
Allah Maha Lembut dan Berkasih sayang, tiada yang lebih lembut dari-Nya. Kalau
sekedar ingin bebas dari perbudakan dan ingin hadiah-hadiah dari Hindun, mestinya
kan Wahsyi itu di dalam perang membunuh ya membunuh,.. tapi setelahnya nggak
perlu berlaku sadis, kan? Setelah ketelanjuran,.. baru nyesel abis setelah ujungnya
kalah. Tanpa dia nyana, kemudian dia diberi maaf dan ampunan. Bagi dia, ampunan
dan maaf itu terasa mukjizat. Dan setelah itu, sebagai orang yang tahu berterima kasih
dan bersyukur, dia menjadi sahabat yang decent, selayaknya sahabat yang lain.
Adapun tekadnya untuk sekali lagi menggunakan tombak itu untuk membunuh
Musailamah Al Kaddzab, konon dikabulkan juga oleh Allah. Walaupun ada yang bilang
juga.. saat tombaknya menancap, di waktu bersamaan ada lagi seorang pejuang
Anshor yang menebaskan pedang ke arah Musailamah Al Kaddzab. Jadi, bisa saja,
sang nabi palsu itu tewasnya oleh pejuang Anshor, atau oleh Wahsyi, atau oleh duaduanya.
Salah satu riwayat menyebutkan, Wahsyi dalam peristiwa itu mengatakan, "Sungguh
dengan tombak ini saya telah membunuh sebaik-baiknya manusia, yaitu Hamzah. Saya
berharap semoga Allah mengampuniku. Dengan tombak ini pula, saya telah membunuh
sejahat-jahatnya manusia, yaitu Musailamah!" Setelah itu, dikabarkan Wahsyi rajin
mendakwah sampai ke tempat-tempat yang jauh, sampai meninggalnya di luar jazirah
Arab. Konon demikian. Wallahualam.
Apakah orang yang seperti Wahsyi ini bisa dianggap syuhada husnul khotimah yang
bisa masuk islam tanpa hisab? Kita juga tidak perlu berspekulasi, dan nggak perlu sok
tahu. Biarlah itu menjadi rahasia Allah. Allah Yang Maha Tahu.
***
Intermezzo: Nabi Palsu
Tidak lama, setelah rasul meninggal, nabi palsu itu bermunculan walau Allah telah
menetapkan bahwa Muhammad itu Rasulullah terakhir. Selain Musailamah Al Kaddzab,
terus saja dari waktu ke waktu, itu ada yang ngaku-ngaku nabi. Bahkan di Indonesia.
Alkisah, di rumah sakit jiwa Grogol dulu sempat ada gegeran karena orang-orang yang
terserang sakit jiwa di sana rame-rame mengaku nabi palsu. Satu demi satu bisa
diredam oleh dokter dan perawat, tapi satu orang.. berhasil melabrak semua orang dan
bahkan terus menghunus golok di leher salah seorang dokter senior.
"Saya bener nabi, kan Dok? Bener kan saya nabi?" begitu dia mencecar.
Golok sudah di leher, ya sudah, pragmatis saja, dokter itu lalu mengiyakan. "Iya, bener.
Iya. Kamu nabi", begitu katanya.
"Nah, kalo gitu, Dokter mesti percaya dan mengimani saya. Jumat kemarin, beneran
saya mendapat wahyu dari Allah. Dokter percaya, kan?"
"Iya, saya percaya..." Dzig! Habis itu terus dia tangkis tangan si gila itu, dan rame-rame
dibantu oleh perawat, orang sakit jiwa yang dogol itu pun lalu berhasil diamankan.
Eh, baru mau kembali ke ruang kerjanya, tahu-tahu ada orang sakit jiwa lain mendekati
dokter senior itu. "Dok, dok, tenang Dok! Yang tadi itu, bukan nabi! Dia bukan nabi!
Jangan percaya, ya Dok."
"Iya. Kamu benar. Dia bukan nabi. Saya nggak percaya."
"Bagus itu, Dok. Gila tuh orang tadi, masak dia bilang dia nabi? Hari gini..."
"Iya. Kamu benar. Dia itu bukan nabi."
"Itulah, Dok. Masak dia bilang jumat kemarin dia menerima wahyu! Ngarang banget!
Jumat kemarin kan saya sibuk.. mana mungkin saya menurunkan wahyu sama dia?"
"Hah?" Gubrak! Dokter itu pun jatuh kejengkang. Ngaku nabi itu aja udah parah, orang
gila yang kedua itu malah merasa dia itulah Allah, yang menurunkan wahyu. Segera
saja sang dokter istigfar dan istigfar....
Lebih kurangnya mohon maaf. Bilahi taufik wal hidayah.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
(ilmuiman.net / Selesai)
Download