ENERGI POTENSIAL GEMPABUMI DI KAWASAN SEGMEN

advertisement
ENERGI POTENSIAL GEMPABUMI
DI KAWASAN SEGMEN MENTAWAI-SUMATERA BARAT
(0.5˚ LS – 4.0˚ LS dan 100˚ BT – 104˚ BT)
Sabar Ardiansyah1,2
Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu
2
Akademi Meteorologi dan Geofisika-Jakarta
E-mail : [email protected]
1
ABSTRAK
Segmen Mentawai-Sumatera Barat merupakan salah satu kawasan seismik aktif. Banyak gempabumi besar yang
mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa terjadi di kawasan ini. Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk
mengetahui nilai energi potensial yang terkandung di kawasan Segmen Mentawai sejak terakhir kali terjadi
gempabumi besar tanggal 25 Oktober 2010 melalui kajian statistik. Data sekunder yang digunakan dalam penulisan
paper ini adalah data katalog gempabumi yang diambil melalui katalog International Seismological Center (ISC).
Metode yang digunakan untuk menghitung periode ulang, energi yang dilepaskan tiap tahun, energi simpan serta
energi potensial dengan menggunakan metode least square. Berdasarkan hasil analisis meunjukkan bahwa,
kawasan Segmen Mentawai-Sumatera Barat menyimpan enegri potensial gempabumi yang belum dilepaskan sejak
terjadi gempabumi 25 Oktober 2010 adalah sebesar 3.8 x 1022 erg. Energi ini setara dengan gempabumi
berkekuatan 7.2 SR.
Kata Kunci : Energi lepas, energi ekspektasi, energi potensial.
PENDAHULUAN
Pantai barat pulau Sumatera merupakan
salah satu kawasan yang memiliki aktivitas
seismisitas yang tinggi. Tidak terkecuali untuk
kawasan Segmen Mentawai-Sumatera Barat,
kawasan ini merupakan kawasan yang menjadi
“langganan’’ terjadinya gempabumi berkekuatan
besar yang dapat mengakibatkan kerusakan.
Sebut saja gempabumi tanggal 30 September
2009 dan 25 Oktober 2010 merupakan
gempabumi signifikan terakhir yang terjadi di
kawasan ini. Setelah terjadi gempabumi tanggal
25 Oktober 2010, kawasan Segmen Mentawai
bisa dibilang dalam keadaan tenang, hanya
gempabumi berkekuatan M < 6,0 yang terjadi.
Segemen Mentawai merupakan kawasan seismic
gap. Artinya kawasan ini menyimpan akumulasi
stress yang tinggi, akumulasi stress yang tinggi
berkorelasi dengan energi gempabumi yang
besar.
Energi gempabumi di suatu wilayah bisa
kita bagi menjadi dua macam, yaitu energi
gempabumi yang dilepaskan setiap tahun dan
energi yang disimpan (energi ekspektasi). Energi
ekspektasi di kawasan Mentawai menarik untuk
dilakukan perhitungan karena energi potensial
ini suatu-waktu bisa dilepaskan dalam bentuk
gempabumi berkekuatan besar. Para peneliti
memperkirakan energi potensial gempabumi
yang tersimpan di kawasan Mentawai cukup
besar. Isu gempabumi megathrust Mentawai
mengemuka pasca gempabumi Aceh 26
Desember 2004. Bermula dari hasil penelitian
geolog Institut Teknologi California, Kerry Sieh
tahun 1994 dan geolog LIPI Danny Hilman
Natawijaya, segmen Mentawai yang berlokasi di
sisi barat sebelah luar pulau Siberut menyimpan
potensi gempa 8,9 SR. Besarnya kekuatan
gempa tersebut akan mengancam 76.173 jiwa
penduduk Mentawai yang tersebar di 43 desa di
10 kecamatan. Ancaman akan makin serius bagi
penduduk yang bermukim di pesisir pantai
(www.puailiggoubat.com).
Perkiraan
para
ilmuan ini bukan tidak berdasar, penjelasannya
adalah setiap kali setelah terjadi gempabumi
besar, biasanya akan diikuti oleh perubahan
permukaan tanah yang dalam bahasa ilmiahnya
sering disebut sebagai ground deformation.
Ground deformation ini merupakan perubahan
gerakan tanah berupa naik (up-lift) atau turun
(down-lift). Fenomena perubahan ini dapat
diamati dengan menggunakan jaringan stasiun
GPS geodetic yang sudah terpasang. Selain itu,
fenomena perubahan deformasi juga bisa
diamati dengan meneliti terumbu karang
microatol.
Semenjak bulan Juli 1994 dan
Januari serta Februari 1996, Zachariasen
dan Prof. Kerry Sieh bersama kawan-kawannya
sudah mulai melakukan penelitian tentang
perubahan bentuk terumbu karang mikroatoll
untuk mengamati fenomena gempabumi yang
terjadi pada masa lalu di kepulauan Mentawai.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa
adanya potensi bencana alam gempa bumi
Mentawai di masa yang akan datang dengan
indikasi dari 7 buah terumbu karang microatolls
dimana 5 terumbu diambil di lokasi pantai busur
luar kepulauan Mentawai dan 2 terumbu karang
diambil di pantai utama yang mereka analisa.
Mereka
menemukan
bahwa
Kepulauan
Mentawai sedang turun dengan kecepatan 4-10
mm/tahun selama 4 – 5 dekade terakhir.
Tingginya terumbu karang mikroatol pada suatu
kawasan mengindikasi bahwa telah terjadi
penurunan Mentawai sejak beberapa dekade
terakhir (Rosydy, 2012). Melalui paper ini,
penulis mencoba mengkalkulasi berapa besar
energi potensial yang tersimpan di Segmen
Mentawai melalui kajian statistik.
TINJAUAN PUSTAKA
Gempabumi
Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya
bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi
secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya
lapisan batuan pada kerak bumi (BMKG, 2013).
Gempabumi mempunyai sifat berulang, suatu
gempa yang terjadi diwaktu tertentu akan
terulang lagi dimasa yang akan datang dalam
periode kurun waktu tertentu. Istilah perulangan
gempabumi ini dinamakan siklus gempabumi
(earthquake cycle) (Andreas, 2007). Di dalam
satu siklus gempabumi terdapat beberapa
tahapan mekanisme terjadinya gempabumi yang
disertai dengan terjadinya deformasi pada kerak
bumi. Secara garis besar, siklus gempabumi
dibagi dalam tiga fase yaitu : inter-seismic, co-
seismic, dan post-seismic. Ilustrasi mengenai
ketiga fase tersebut dapat dilihat pada Gambar 1
berikut :
Gambar 1. Siklus terjadinya gempabumi pada
stasiun SLBU tahun 2009 sampai
2011. Tanda dengan warna kuning
menunjukkan tahap inter-seismic,
warna merah menunjukkan tahap
co-seismic, dan warna hijau
menunjukkan tahap post-seismic
(Permana et al., 2012).
Tahapan inter-seismic merupakan tahapan
awal dari suatu siklus gempabumi. Pada tahap
ini, arus konveksi di lapisan dalam bumi
menyebabkan pergerakan lempeng sehingga
menimbulkan akumulasi energi di tempat batas
antara dua lempeng, tempat biasanya terjadi
gempabumi. Tahapan co-seismic merupakan
tahapan ketika terjadinya gempabumi dimana
energi yang telah terakumilasi dari tahapan
inter-seismic dilepaskan secara tiba-tiba.
Sedangkan tahapan post-seismic merupakan
tahapan ketika sisa-sisa energi gempabumi
terlepaskan secara perlahan dalam kurun waktu
tertentu sampai kembali ke tahap kesetimbangan
awal yang baru (Permana et al., 2012).
Magnitudo Dan Energi Gempabumi
Bentuk energi yang dilepaskan saat
terjadinya gempabumi antara lain adalah energi
deformasi gelombang. Energi deformasi dapat
dilihat pada perubahan bentuk volume sesudah
terjadinya gempabumi seperti misalnya tanah
naik, tanah turun, pergeseran batuan dan lainlain. Sedangkan energi gelombang akan
menggetarkan medium elastik disekitarnya dan
akan menjalar ke segala arah. Pancaran energi
gempabumi dapat besar ataupun kecil
bergantung dari karekteristik batuan yang ada
dan besarnya stress yang dikandung oleh suatu
batuan pada suatu daerah. Pada daerah yang
memiliki batuan rapuh (heterogen), tekanan
yang dikandung tidak besar karena langsung
dilepaskan melalui gempabumi-gempabumi
kecil yang frekuensinya tinggi. Sedangkan untuk
daerah dengan kondisi batuan yang kuat
(homogen), gempabumi kecil jarang terjadi
sehingga tekanan yang dikandung sangat besar.
Tetapi pada akhirnya akan terjadi gempabumi
dengan magnitudo yang relatif besar. Melalui
hubungan empiris magnitudo-energi, energi
seismik Es yang diradiasikan oleh sumber
gempabumi sebagai gelombang seismik dapat
diestimasi. Hubungan ini diberikan oleh
Gutenberg et al. (1954-1956) dalam Gunawan,
2010 antara E dan magnitudo gelombang
permukaan Ms dan magnitudo gelombang badan
mB yaitu :
log E = 5,8 + 2,4mb.....................(1)
log E = 11,8 + 1,5Ms ………………(2)
Dengan E adalah energi yang dilepaskan
gempabumi dalam satuan erg ( 1 erg = 10-7
joule), Mb magnitudo gelombang badan, dan Ms
adalah magnitudo gelombang permukaan.
METODE PENELITIAN
Data yang digunakan dalam penulisan
paper ini adalah data sekunder yang diambil dari
website International Seismological Center
(ISC) www.isc.ac.uk periode tahun 1970 –
Februari 2014. Wilayah penelitian adalah daerah
Kepulauan Mentawai-Sumatera Barat dengan
batasan wilayah 0.5˚ LS – 4.0˚ LS dan 100˚ BT
– 104˚ BT.
Gambar 2. Peta wilayah penelitian dan
gempabumi signifikan terakhir yang
terjadi pada tanggal 25 Oktober
2010 di Segmen MentawaiSumatera Barat.
Perhitungan indeks seismisitas, periode
ulang, energi gempabumi yang dilepaskan, serta
energi yang disimpan menggunakan metode
least square. Energi lepas pertahun dapat kita
tentukan dengan membuat persamaan linier Y =
A + E1 X, dimana Y adalah energi gempabumi
kumulatif; A adalah konstanta persamaan linier;
E1 adalah jumlah energi lepas gempabumi
pertahun; X adalah selang waktu dalam tahun
dimana tahun ke-1 dimulai dari tahun 1970
(Gunawan, 2010).
=
∑ .
∑ ∑ ∑ ∑ ………(3)
Untuk menghitung energi ekspektasi total,
kita menggunakan gempabumi terbesar yang
terakhir yang pernah terjadi di zona penelitian
yaitu gempabumi pada tanggal 25 Oktober 2010
( OT = 14:42:22 GMT, Lat = 3.48 LS, Long =
100.11 BT, Depth = 20 Km, Mw = 7.7 ).
Dengan cara mengkonversi magnitudo moment
(Mw) menjadi magnitudo gelombang surface
(Ms), selanjutnya dikonversi menjadi energi.
Energi inilah yang kita anggap sebagai energi
ekspektasi total dalam kurun waktu periode
ulang gempa >7.0 SR. Dengan cara membagi
energi ekspektasi total dengan periode ulang,
maka didapat energi ekspektasi pertahun (E2).
Dari energi yang dilepas pertahun dan energi
ekspektasi pertahun yang didapat di atas, maka
energi total pertahun yang dihasilkan pada
segman Mentawai sama dengan penjumlahan
kedua energi tersebut yaiitu Etot = E1 + E2 .
Berikut diagram alir pengolahan data :
START
•
•
Menghitung Indeks
Seismisitas
Konversi Magnitudo Menjadi
Energi
STOP
Diagram 1. Alur pengolahan data untuk
mendapatkan nilai energi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil analisis gempabumi tahun
1970-Februari 2014 didapat nilai a = 7.867 dan
nilai b = -1.095. Dari nilai a-value dan b-value
tersebut, daerah Segmen Mentawai memiliki
indeks seismisitas sebesar 0.046 serta
mempunyai periode ulang gempabumi dengan
magnitudo diatas 7.0 SR rata-rata setiap 21
tahun sekali. Sedangkan dari hasil analisis
gempabumi tahun 1970-2009 (sebelum terjadi
gempabumi 30 September 2009 Mag =7,6 Mw)
daerah Segmen Mentawai melepaskan energi
gempabumi sebesar 7,52 x 1020 erg pertahun
atau setara dengan gempabumi berkekuatan MS
= 6,05 SR. Berdasarkan gempabumi besar
tanggal 25 Oktober 2010 dengan Mw = 7,7 dan
periode ulang setiap 21 tahun sekali
menunjukkan bahwa setiap tahun daerah
Segmen
Mentawai
menyimpan
energi
21
gempabumi sebesar 9,50 x 10 erg atau setara
dengan gempabumi berkekuatan MS = 6,7 SR.
Dari hasil energi lepas dan energi simpan
tersebut, diketahui bahwa daerah Segmen
Mentawai, setiap tahun menghasilkan energi
gempabumi total sebesar 1,025 x1022 erg atau
setara dengan gempabumi berkekuatan MS = 6,8
SR.
Nilai a yang relatif besar berkorelasi
dengan aktivitas seismik yang tinggi terutama
gempabumi-gempabumi ringan hingga sedang.
Sedangkan nilai b-value yang relatif rendah
mengindikasikan bahwa kondisi batuan daerah
Segmen Mentawai secara umum solid
(homogen) dan tidak mudah pecah namun
menyimpan energi gempabumi yang besar.
Kondisi ini dapat dijelaskan lebih lanjut dengan
dihasilkannya energi simpan (energi ekspektasi)
pertahun yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan energi yang dilepaskan.
Energi ekspektasi pertahun yang mencapai
kurang lebih 12 kali lebih besar dari energi lepas
ini jauh lebih berbahaya daripada energi lepas
pertahun.
Walaupun
energi
ekspektasi
diakumulasi dan dilepas dalam jangka waktu
yang relatif lama, namun jika dilepaskan akan
menghasilkan efek yang bisa mengakibatkan
kerusakan
karena
akan
menghasilkan
gempabumi yang bermagnitudo besar. Berbeda
dengan energi lepas yang dilepas sepanjang
tahun, walaupun frekuensi gempabumi yang
dihasilkan tinggi, namun tidak terlalu
mengakibatkan kerusakan karena gempabumi
yang dihasilkan adalah gempabumi dengan
magnitudo ringan hingga sedang.
Setelah terjadi gempabumi tanggal 25
Oktober 2010 (7,7 Mw), sampai saat ini belum
ada gempabumi berkekuatan M > 7,0 yang
terjadi di kawasan Segmen Mentawai. Ini berarti
kurang lebih hampir 4 (empat) tahun terdapat
penyimpanan energi ekspektasi yang belum
dilepaskan. Dari hasil analisis perhitungan
energi yang telah dilepaskan mulai tanggal 26
Oktober 2010 s/d 28 Februari 2014, daerah
Segmen Mentawai melepaskan energi sebesar
2,021 x 1021 erg. Padahal seharusnya energi total
yang telah dilepaskan sebesar 4 x 1,025 x 1022
erg = 3,80 x 1022 erg. Artinya ada energi yang
belum dilepaskan sebesar 3,80 x 1022 erg – 2,021
x 1021 erg = 3,59 x 1022 erg. Energi inilah yang
kita sebut sebagai energi potensial gempabumi.
Jika energi ini kita konversi menjadi magnitudo,
maka besarnya setara dengan gempabumi
berkekuatan M = 7,2 Ms.
Energi potensial sebesar 3,59 x 1022 erg
(7,2 Ms) ini dengan catatan atau asumsi bahwa
gempabumi tanggal 30 September 2009 adalah
gempabumi yang mampu merobek zona
subduksi pada Segmen Mentawai sehingga
mengakibatkan relaksasi akumulasi stress.
Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Madrinovella et al. (2011) menunjukkan
bahwa gempabumi Padang 30 September 2009
(koordinat 0.71 LS, 99.85 BT dengan magnitudo
7,6 Mw pada kedalaman 81 km berada pada
lempeng Indo-Australia atau di bawah zona
Benioff, Sehingga gempabumi ini bukanlah
gempabumi yang merobek jalur subduksi (lihat
Gambar 3). Mekanisme fokus gempabumi
tersebut juga menunjukkan arah sesar yang
berbeda dengan arah sesar yang terjadi akibat
gempabumi yang terjadi pada jalur subduksi ini
pada umumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa
masih ada potensi gempabumi besar di wilayah
Subduksi Segmen Mentawai-Sumatera Barat,
karena gempabumi tanggal 30 September 2009
diperkirakan tidak memberikan relaksasi energi
yang besar pada segmen Megathrust.
McCloskey, et al. (2010) juga berpendapat
bahwa gempabumi tanggal 30 September 2009
tersebut bukanlah termasuk salah satu
gempabumi yang merobek jalur subduksi
Sumatera yang dikwatirkan selama ini, karena
tidak berada pada batas lempeng Indo-Australia
dengan lempeng Eurasia. Walaupun ukuran
magnitudonya cukup besar, namun gempabumi
tersebut belum cukup meringankan akumulasi
energi (relaksasi) pada megathrust segmen
Mentawai. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya
gempabumi besar berikutnya pada tanggal 25
Oktober 2010 dengan kekuatan 7,7 Mw yang
disertai dengan tsunami. Jika asumsi kedua yang
dipakai bahwa gempabumi 30 September 2009
tidak mampu memberikan dampak signifikan
terhadap akumulasi energi yang tersimpan pada
Segmen ini, maka energi potensial yang
diperkirakan di kawasan ini lebih besar dari
perhitungan statistik di atas.
Gambar 3. Lokasi gempabumi Padang tanggal
30 September 2009. Terlihat
episenter gempabumi utama terletak
pada wilayah luar zona kontak dua
lempeng Indo-Australia dan Eurasia,
(Madrinovella et al., 2011).
Hasil penelitian Natawidjaja (2007)
menunjukkan bahwa pada zona segmen
Mentawai masih menyimpan energi gempabumi
yang jauh lebih besar dari perhitungan statistik
di
atas.
Berdasarkan
hasil
penelitian
Natawidjaja, energi potensial gempabumi pada
segmen ini bisa mencapai di atas 8,9 SR.
Gempabumi raksasa yang ‘‘bertapa’’ sejak
terakhir bangun pada tahun 1979 dan 1833
ternyata belum sepenuhnya terusik. Hal ini
terlihat dari hasil plotting gempabumi yang
sudah terjadi dan tampaknya baru melepaskan
akumulasi energi yang terkumpul di bagian
pinggirnya saja. Gempabumi yang bermula dari
kakinya di ujung selatan, sekarang ini terlihat
menyebar dan mengepung bagian badan dan
kepala “sang raksasa’, yakni di bawah Pulau
Siberut, Sipora dan Pagai (lihat Gambar 4)
(Natawidjaja, 2007). Daerah kuning pada peta
(Gambar 4) menunjukkan wilayah batas
tumbukan dua lempeng yang terkunci lebih dari
50%. Sedangkan wilayah
kuning tua
menunjukkan kuncian lebih dari 70% yang
merupakn daerah di bawah Pulau Siberut dan
Pagai. Pada Gambar 4 memperlihatkan
gempabumi menyebar dari arah selatan ke arah
utara mengitari daerah kuning ini. Hal ini terjadi
karena makin rendah tingkat kunciannya, artinya
batas lempeng tersebut makin mudah pecah
sehingga wajar saja kalau melepaskan energi
terlebih dahulu.
Gambar 4. Peta potensi akumulasi energi
gempabumi di Mentawai dari
analisis data GPS dan koral
mikroatol. Wilayah yang dibatasi
segi-empat putih adalah perkiraan
bidang patahan dari gempabumi
utama Bengkulu 2007 (8,4 Mw)
berdasarkan
data
teleseismik.
Wilayah kuning adalah zona batas
tumbukan dua lempeng yang
terkunci lebih dari 50% dan yang
kuning tua terkunci >70% dari
analisa data GPS SuGar (sebelum
gempa). Makin besar kunciannya
maka makin besar akumulasi strain
energinya (Natawidjaja, 2007).
Energi potensial yang cukup besar yang
tersimpan di Segmen Mentawai ini juga
bersesuaian dengan hasil penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh Rohadi et al. (2008),
mereka mengkalkulasi variasi b-value di wilayah
Sumatera. Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa wilayah Segmen Mentawai termasuk
daerah yang memiliki nilai b yang rendah. Hal
ini dapat ditafsirkan bahwa daerah ini masih
berpeluang terjadi gempabumi besar diwaktu
yang akan datang (lihat Gambar 5). Pada
Gambar 5 memperlihatkan daerah Segmen
Mentawai memiliki b-value yang rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa akumulasi energi yang
terkandung pada Segmen Mentawai cukup
tinggi. Nilai b yang rendah ini juga berkorelasi
dengan kondisi batuan daerah Segmen Mentawai
yang homogen. Batuan yang homogen akan sulit
mengalami pecah, dan mampu menahan
akumulasi stress yang tinggi. Namun, patut kita
waspadai bahwa akumulasi stress yang tinggi ini
berkorelasi dengan energi potensial yang besar.
Akumulasi stress yang masih cukup
tinggi ini juga didukung dengan data coulomb
statis stress change gempabumi tanggal 25
Oktober 2010 dengan kekuatan 7,7 Mw terletak
pada koordinat 3.48 LS 100.11 BT pada
kedalam 20 Km (lihat Gambar 6). Pada Gambar
6 menunjukkan bahwa akumulasi stress masih
cukup tinggi di sekitar pusat gempabumi tanggal
25 Oktober 2010 hingga pada kedalaman 100
km dan menyebar ke arah timur hingga pada
jarak 160 km yang ditandai dengan warna
merah. Daerah stress tinggi ini memiliki nilai
berkisar 0.2 bar hingga 2.0 bar. Sedangkan
daerah yang berwarna biru merupaka wilayah
yang sudah mengalami pelepasan energi
(relaksasi) atau dengan kata lain wilayah yang
memiliki akumulasi stress rendah.
Untuk keperluan mitigasi, semua pihak
perlu waspada menghadapi kemungkinan
dilepaskannya energi potensial ini dalam bentuk
gempabumi berkekuatan besar yang tidak
menutup kemungkinan dapat mengakibatkan
kerusakan dan korban jiwa. Jika semua pihak
menyadari serta menyiapkan diri dengan sebaik
mungkin, maka jumlah korban dan kerusakan
dapat diminimalisir.
Gambar 5. Variasi b-value wilayah Sumatera,
pada gambar
terlihat bahwa
wilayah
kawasan
segmen
Mentawai-Sumatera Barat memiliki
nilai b-value yang rendah ditandai
dengan lingkaran merah, (Rohadi et
al., 2008).
Data dukung lainnya adalah perubahan
bentuk trumbu karang mikroatol di kawasan
Mentawai hasil penelitian Zachariasen dan Prof.
Kerry Sieh tahun 1994 hingga 1996. Hasil
penelitian mereka menunjukkan bahwa telah
terjadi perubahan deformasi kerak bumi
(penurunan) di kawasan Mentawai sejak
beberapa dekade terakhir (Zachariasen et al.,
2000). Penurunan yang hanya terjadi di sekitar
pulau Mentawai ini bisa jadi mengindikasikan
bahwa telah terjadi akumulasi energi sekian
lama dan belum lepas di sekitar pulau
Mentawai. Lock yang terjadi sekitar zona
tunjaman (subduksi) telah menyebabkan
kepulauan Mentawai yang berada digugusan
depan zona subduksi tertarik ke bawah karena
proses pergerakan lempeng Indo-Australia yang
menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Proses
kuncian ini sampai saat ini masih terjadi dan
belum terjadi pelepasan energi.
Gambar 6. Coulomb static stress change hasil
crossection gempabumi Mentawai
25 Oktober 2010 (titik A merupakan
episenter gempabumi 3.48 LS,
100.11 BT). Pada gambar dapat
dilihat bahwa wilayah sekitar
sumber gempabumi utama masih
memiliki akumulasi strsess tinggi
yang ditandai dengan warna merah.
nilai stress ini berkisar antara 0-2
bar menyebar pada kedalaman 100
km dank e arah timur hingga pada
jarak 160 km dari episenter.
KESIMPULAN
Dari analisis secara statistik di atas, dapat
disimpulkan bahwa daerah Segmen Mentawai
melepaskan energi gempabumi sebesar 7,52 x
1020 erg pertahun atau setara dengan gempabumi
berkekuatan MS = 6,05 SR. Sedangkan energi
simpan gempabumi pertahun sebesar 9,50 x 1021
erg atau setara dengan gempabumi berkekuatan
MS = 6,7 SR. Dari hasil energi lepas dan energi
simpan tersebut, diketahui bahwa daerah
Segmen Mentawai, setiap tahun menghasilkan
energi gempabumi total sebesar 1,025 x1022 erg
atau setara dengan gempabumi berkekuatan MS
= 6,8 SR. Sejak terakhir terjadi gempabumi
besar tanggal 25 Oktober 2010 sampai sekarang,
segmen mentawai menyimpan energi potensial
gempabumi sebesar 3,59 x 1022 erg atau setara
dengan gempabumi berkekuatan 7,2 Ms.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Tomy. 2010. Analisis Energi
Gempabumi Daerah Tasikmalaya dan
Sekitarnya. Laporan Kerja. Akademi
Meteorologi dan Geofisika Jakarta.
Katalog Gempabumi. http://www.isc.ac.uk/
iscbulletin/search/catalogue/. Diakses
tanggal : 26 Februari 2014 pukul :
17:48:00 WIB.
Madrinovella, Iktri., Sri Widiyantoro., Irwan
Meilano. 2011. Relokasi Hiposenter
Gempa Padang 30 September 2009
Menggunakan Metode Double Difference.
JTM Vol.XVIII No.1/2011.
McCloskey, J., Lange, D., Tilmann, F., Nalbant,
S.S., Bell, A.F., Natawidjaja, D.H. and
Rietbrock, A. 2010. The September 2009
Padang Earthquake. Nature Geoscience, 3
(2), 70-71.
Natawidjaja, Danny Hilman. 2007. Gempabumi
dan Tsunami di Sumatera dan Upaya
Untuk Mengembangkan Lingkungan
Hidup Yang Aman Dari Bencana Alam.
Laporan Survey.
Permana, Ikhwan., Meilano, Irwan., Sarsito,
Dina Anggraini. 2012. Analisa Deformasi
Gempa Padang Tahun 2009 Berdasarkan
Data Pengamatan GPS Kontinu Tahun
2009-2010. J. Geofisika Vol. 13 No.
2/2012.
Rohadi, Supriyanto.,Hendra Grandis.,Mezak A
Ratag. 2008. Studi Potensi Seismotektonik
Sebagai Precursor Tingkat
Kegempabumian Di Wilayah Sumatera.
Jurnal Meteorologi dan Geofisika, Vol.9.
No.2 November. 65-77.
Rusydy, Ibnu. 2012. Menunggu Gempabumi di
Barat Sumatera.
ahttp://www.ibnurusydy.com/ menunggugempabumi- di-barat-sumatra/. Diakses
tanggal : 4 MAret 2014 pukul : 06:47:00
WIB.
Yuafriza, Patrisius Sanene. 2013. Megathrust
Mentawai, Sudah Siapkah Kita?.
http://www.puailiggoubat.com/index.php?
mod=berita&id=2336. Diakses tanggal : 2
Maret 2014 Pukul : 08:51:00 WIB.
Zachariasen, Judith., Kerry Sieh., Frederick W.
Hantoro.
2000.
Modern
Vertical
Deformation Above The Sumatera
Subduction Zone : Paleogeodetic Insight
From Coral Microatolls. Bulletin Of The
Seismological Society of America. August,
2000,
90
:897-913.
Download