keragaman fitoplankton dan sifat fisik-kimia sungai

advertisement
Berkala Perikanan Terubuk, Juli 2006, hlm.75-81
ISSN 0126-4265
Vol. 33 No.2
TOKSISITAS DETERJEN TERHADAP BENIH IKAN
KAKAP PUTIH (Lates calcarifer, Bloch)
Syahril Nedi 1), Thamrin 2) and Huria Marnis 3)
Diterima tanggal : 7 Februari 2006/Disetujui : 28 Februari 2006
ABSTRACT
The research of the toxicity of detergent on Barramundi (Lates calcalifer, Bloch) has been done in at
Laboratory Loka Budidaya Laut Batam on Maret 2005. The aim of this research was to test the toxicity of
detergent on Barramundi based on the result from LC50 and to take the point of safety concentration on
Barramundi life. The pre test was get the result from upper treshold (N) = 8 3 ppm and lower treshold (n) = 81
ppm. Persistant test showed the result that media test must be changed abaut 6 hours at toxicity test. The
result of LC50 24, 48, 72 and 96 hours about 121,35 ppm; 100, 35 ppm; 91,95 ppm; 84,35 ppm. The safety
concentration from detergent was about 8,435 ppm.
Key words : toxicity, detergent, barramundi, LC50
PENDAHULUAN
Polusi perairan oleh polutan organik
merupakan penyebab utama rusaknya
ekosistem laut. Polutan yang masuk ke
perairan mengakibatkan gangguan terhadap
produktifitas perairan. Salah satu polutan
organik yang dapat merusak ekosistem laut
adalah limbah deterjen.
Deterjen merupakan bahan pembersih
sintetis yang penggunaannya saat ini terus
meningkat baik di sektor industri maupun
rumahtangga. Hal ini akan menyebabkan
terganggunya fungsi fisiologis organisme
perairan yang sensitif karena bersifat toksik.
Limbah
deterjen
dapat
mengganggu
keseimbangan ekosistem, karena terjadinya
penurunan kandungan oksigen terlarut yang
dapat mematikan biota perairan termasuk
ikan.
Untuk mendeteksi dan mengevaluasi
toksisitas deterjen terhadap biota perairan
maka perlu dilakukan uji toksisitas. Biota uji
berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur
toksisitas
dari
suatu
zat
pencemar
(Panggabean, 1994). Salah satu biota uji yang
akan digunakan untuk uji toksisitas adalah
ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch).
Pemilihan biota ini didasarkan karena
ikan kakap putih bernilai ekonomis tinggi dan
1) Staf Pengajar Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau
2) Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Lingkungan
Universitas Riau
3) Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau
banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai
sumber
protein,
penyebarannya
luas,
pemeliharaannya mudah pada kondisi
laboratorium, sensitif dan peka terhadap
perubahan kualitas air. Berdasarkan hal itu
penulis tertarik untuk melakukan studi pada
skala laboratorium untuk mengetahui sejauh
mana benih Ikan Kakap Putih sebagai
bioindikator dapat mentolerir deterjen dan
menentukan besar konsentrasi yang aman
(safety concentration) bagi deterjen di
perairan.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui nilai LC50 (Lethal Concentration)
dari deterjen khususnya LAS (Linier Alkil
Sulfonat) terhadap benih ikan kakap putih (L.
calcarifer, Bloch) pada waktu uji 24, 48, 72
dan 96 jam. Hasil dari penelitian ini dapat
digunakan untuk mengetahui konsentrasi
LAS yang aman dan dapat ditolerir (safety
concentration) oleh benih ikan kakap putih,
serta bermanfaat untuk tujuan budidaya.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Maret 2005 di Laboratorium Parasit dan
Penyakit Ikan Loka Budidaya Laut Batam.
Bahan dan Alat
Bahan
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah air laut, benih ikan
75
Toksisitas Deterjen Terhadap Benih Ikan Kakap Putih
kakap putih (Lates calcarifer, Bloch) yang
berukuran 3-4 cm (umur 40 hari) sebanyak
370 ekor dari Loka Budidaya Laut Batam dan
deterjen LAS jenis Rinso anti noda bubuk
produk Unilever.
Alat-alat yang digunakan adalah toples
plastik bervolume 10 liter sebanyak 16 buah,
pH meter, DO meter, termometer,
Handrefraktometer, batu aerasi, selang
plastik, neraca analitik ketelitian 0,0001
gram, tabung ukur, pipet ukur, alat tulis dan
kamera.
Berkala Perikanan Terubuk Vol 33, No 2 Juli 2006
tersebut dapat dilihat kecendrungan toksisitas
itu menaik, menurun atau mendatar yang
menunjukkan persistensinya.
3. Uji Toksisitas
Penelitian ini terdiri atas tiga tahap uji
yaitu uji pendahuluan, uji persistensi dan uji
toksisitas. Sebelum uji dilakukan, biota
diaklimasi terlebih dahulu selama empat hari
agar dapat menyesuaikan diri terhadap
lingkungan media uji. Selama aklimasi ikan
diberi makan dua kali sehari dengan pakan
berupa pelet.
Pada uji toksisitas masing-masing
media uji diisi air dan konsentrasi bahan uji
sesuai hasil yang diperoleh dari perhitungan
nilai ambang atas dan ambang bawah
menurut petunjuk
Wardoyo (1977). Ke
dalam setiap wadah uji dimasukkan ikan 10
ekor dalam waktu relative bersamaan.
Pengamatan terhadap ikan uji dilakukan
setelah 24, 48, 72 dan 96 jam. Ikan uji yang
mati segera dibuang untuk mencegah
terjadinya pengotoran media uji.
Pengukuran parameter kualitas air
(suhu, pH, oksigen terlarut dan salinitas)
bertujuan agar selama penelitian kematian
ikan bukan disebabkan oleh faktor kualitas
air dan melihat pengaruh bahan uji terhadap
parameter kualitas air.
1. Uji Pendahuluan
Analisis Data
Bertujuan untuk mengetahui nilai
konsentrasi ambang atas (N) dan konsentrasi
ambang bawah (n) dari deterjen yang akan
digunakan. Kedalam wadah uji dimasukkan
10 liter air laut dengan konsentrasi deterjen
0, 81, 82, 83 dan 84 ppm, kemudian ke dalam
wadah uji dimasukkan 10 ekor ikan uji dan
diaerasi. Pengamatan kematian ikan uji
dilakukan pada 6, 12, 24, dan 48 jam. Ikan uji
yang mati dikeluarkan untuk mencegah
pengotoran media uji. Setiap perlakuan
mempunyai tiga kali ulangan.
Dalam perhitungan nilai LC50 pada 24,
48, 72 dan 96 jam dipakai metode analisis
regresi
dengan
pembobotan
menurut
(Busvine dalam Siagian, 2004). Untuk
menentukan nilai konsentrasi aman (safety
concentration) dipakai faktor aplikasi
menurut (Wibisono, 1989) yakni 10% dari
nilai LC50-96 jam. Sedangkan untuk melihat
pengaruh
pemberian
deterjen
pada
konsentrasi yang berbeda terhadap tingkat
mortalitas benih ikan kakap putih, data
dianalisis secara statistik dengan ANAVA
dan dengan Uji F.
Metode dan Prosedur Penelitian
2.Uji Persistensi
Bertujuan untuk melihat penurunan
daya racun bahan uji terhadap waktu uji.
Pada masing-masing wadah uji diisi air laut
10 liter yang mengandung deterjen. Pada
setiap wadah uji dimasukkan 10 ekor ikan
dan media uji diaerasi selama penelitian.
Pengamatan terhadap kematian ikan uji
dilakukan pada 6, 12, 24, dan 48 jam. Untuk
melihat kapan media uji diganti dibuat grafik
tingkat kematian dalam persen terhadap
waktu saat pemasukaan ikan uji. Dari grafik
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Pendahuluan
Hasil uji pendahuluan terhadap benih
ikan kakap putih dalam waktu pemaparan
selama 48 jam dengan menggunakan
konsentrasi deterjen sebesar 81, 82, 83 dan 84
ppm dapat dilihat pada Gambar 1.
76
Toksisitas Deterjen Terhadap Benih Ikan Kakap Putih
1
2
Berkala Perikanan Terubuk Vol 33, No 2 Juli 2006
3
4
Gambar 1. Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Terhadap Deterjen Pada Uji Pendahuluan.
Uji Persistensi
Tingkat Mortalitas (%)
Berdasarkan gambar 1, mortalitas ikan
uji 100% pada waktu uji 24 jam terjadi pada
konsentrasi 83 dan 84 ppm, jadi konsentrasi
yang digunakan untuk nilai ambang atas (N)
adalah 83 ppm karena konsentrasi ini
merupakan konsentrasi terkecil dimana ikan
uji telah mati pada waktu uji 24 jam . Pada
konsentrasi deterjen 81 ppm dengan waktu uji
48 jam menunjukkan tidak adanya kematian
biota uji dan ini merupakan nilai ambang
bawah (n). Berdasarkan nilai konsentrasi
ambang atas dan ambang bawah dibuatlah
empat deret konsentrasi deterjen yang
berbeda yang diuraikan secara logaritmik.
Tahap uji persistensi bertujuan untuk
melihat penurunan daya racun deterjen
terhadap benih ikan kakap putih (Lates
calcarifer, Bloch).
Uji
persistensi
dilaksanakan selama 48 jam dengan
konsentrasi perlakuan yang digunakan pada
uji ini adalah nilai konsentrasi ambang (N)
sebesar 83 ppm yang diperoleh dari uji
pendahuluan. Hasil dari uji persistensi ini
berguna untuk mengetahui kapan media uji
harus diganti pada saat uji toksisitas. Hasil
dari uji peristensi ini dapat dilihat pada
Gambar 2 berikut:
102
100
98
96
94
92
90
88
6
12
24
48
Waktu Uji (jam)
Gambar 2. Grafik Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Pada Uji persistensi
Hasil uji persistensi selama 6 jam
tingkat mortalitas benih ikan kakap putih
mencapai 93,33% dan dalam waktu 12 jam
kematian meningkat sampai 100%. Hasil
pengukuran menunjukkan bahwa kadar
deterjen pada 6 jam pertama konsentrasinya
masih stabil dan setelah 6 jam kedua
konsentrasinya menunjukkan penurunan
sehingga pergantian air media uji dilakukan
pada setiap 6 jam sekali, untuk
77
Toksisitas Deterjen Terhadap Benih Ikan Kakap Putih
mempertahankan tingkat daya racun bahan
uji selama uji toksisitas berlangsung.
Wardoyo (1977) menyatakan bahwa bila
grafik
persistensi
mempunyai
kecenderungan mendatar atau hampir
mendatar, maka pergantian media air perlu
dilakukan.
Berkala Perikanan Terubuk Vol 33, No 2 Juli 2006
Uji Toksisitas
Konsentrasi deterjen yang digunakan
pada uji toksisitas ini antara lain: kontrol
(0ppm), 22,52 ppm, 63,39 ppm, 178,43 ppm
dan 502,24 ppm. Persentase tingkat
mortalitas deterjen terhadap benih ikan
kakap putih pada uji toksisitas selama 96
jam disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Histogram Persentase Mortalitas Benih Ikan Kakap Putih Terhadap Deterjen
Toksisitas
Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa
pada konsentrasi 22,52 ppm belum terjadi
kematian hingga waktu 96 jam, sedangkan
tingkat mortalitas ikan kakap putih pada
konsentrasi 63,39 ppm deterjen telah
memberikan pengaruh kematian terhadap
benih ikan kakap putih, kenaikan tingkat
kematian terjadi pada kurun waktu 96 jam
yaitu dari 6,67% menjadi 26,67%. Hal ini
menunjukkan bahwa kemampuan biota uji
untuk mentolerir bahan toksikan juga
dipengaruhi oleh lamanya waktu pemaparan.
Selama
penelitian
berlangsung
didapatkan bahwa persentase kematian benih
ikan kakap putih pada kontrol adalah 0%, ini
sesuai dengan syarat yang dikemukakan oleh
Rand dan Petrocelly (1985), bahwa selama
penelitian toksisitas kematian pada wadah
kontrol harus 0%.
PadaUji
Pengaruh pemberian deterjen dengan
konsentrasi yang berbeda terhadap tingkat
mortalitas benih ikan kakap putih diolah
dengan analisis varian. Hasil analisis varian
menunjukkan bahwa nilai Fhitung (923,039) >
Ftabel (0,01) (7,59). Hal ini berarti daya toksik
deterjen sangat berpengaruh nyata terhadap
mortalitas benih ikan kakap putih (Lates
calcarifer, Bloch).
Perhitungan nilai LC50 dianalisis
dengan
mentrasformasikan
persentase
kematian ke dalam nilai-nilai probit, probit
harapan dari grafik mortality, nilai probit
kerja dan probit harapan dari tabel faktorfaktor
untuk
menghitung
koefisien
pembobotan. Perhitungan nilai LC50 untuk
waktu uji 24, 48, 72 dan 96 jam dapat dilihat
dari lampiran 11, 12, 13, dan 14. Hasil
perhitungan nilai LC50 pada setiap waktu uji
dapat dilihat pada Gambar 4.
78
Toksisitas Deterjen Terhadap Benih Ikan Kakap Putih
Berkala Perikanan Terubuk Vol 33, No 2 Juli 2006
Nilai LC 50 (ppm)
140
120
100
80
60
40
20
0
24
48
72
96
Waktu Uji (jam)
Gambar 4. Grafik Nilai LC50 Deterjen Pada Masing-masing Waktu Uji Terhadap Benih
IkanKakapPutih.
Nilai LC50 deterjen terhadap benih
ikan kakap putih semakin menurun dengan
semakin lama waktu uji. Rendahnya nilai
LC50 menunjukkan terjadinya peningkatan
toksisitas deterjen. Meningkatnya toksisitas
ini ditandai dengan meningkatnya jumlah
kematian ikan uji yang disebabkan oleh
naiknya kadar deterjen yang terakumulasi di
dalam tubuh ikan. Keadaan ini menyebabkan
daya tahan tubuh ikan semakin melemah dan
keseimbangan tubuhnya mulai terganggu.
Nilai LC50 96 jam adalah sebesar
84,35 ppm yang berarti bahwa 50% benih
ikan kakap putih akan mati bila dipaparkan
selama 96 jam pada konsentrasi deterjen
84,35 ppm. Nilai LC50 96 jam dalam
penelitian ini adalah 3,3 kali dari nilai LC50
96 jam penelitian deterjen terhadap benih
ikan mas yaitu sebesar 25,23 ppm (Islamias,
et al, 2000). Perbedaan ini diduga disebabkan
oleh perbedaan salinitas, jenis, umur, ukuran
ikan yang digunakan dan metode yang
digunakan. Perbedaan nilai LC50 pada setiap
spesies menunjukkan bahwa setiap organisme
mempunyai tingkat toleransi yang berbeda
terhadap toksisitas deterjen.
Wibisono (1989) menyatakan bahwa
nilai yang aman (safety concentration) bagi
organisme dari daya racun toksisitas adalah
10% dari nilai LC50 96 jam. Oleh karena itu,
untuk menjamin kelangsungan hidup benih
ikan kakap putih di perairan dari deterjen
maka konsentrasi yang diperbolehkan tidak
lebih dari 8,435 ppm.
Parameter kualitas air yang diukur
selama penelitian, adalah suhu, pH, salinitas
dan oksigen terlarut. Kualitas air bagi
perikanan didefinisikan sebagai kualitas air
yang sesuai untuk mendukung kehidupan dan
pertumbuhan ikan yang dipengaruhi oleh
parameter suhu, oksigen terlarut, pH, dan
salinitas (Boyd, 1982). Parameter kualitas air
hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Kualitas Air Pada Uji Toksisitas
Konsentrasi (ppm)
Parameter Kualitas Air
PH
Salinitas (‰)
7,8-7,9
29-30
Kontrol
Suhu (0C)
28-30
22,52
28-30
7,8-7,9
29-30
5,4-5,6
63,39
28-30
7,8-7,9
29-30
5,3-5,6
178,43
28-30
7,8-7,9
29-30
5,2-5,5
502,24
28-30
7,8-7,9
29-30
5,2-5,5
Berdasarkan Tabel 1, kualitas air
selama penelitian masih mendukung
DO (ppm)
5,4-5,6
kehidupan benih ikan Kakap Putih. Selama
waktu uji benih ikan memperlihatkan tingkah
79
Toksisitas Deterjen Terhadap Benih Ikan Kakap Putih
laku yang berbeda bila dibandingkan dengan
kontrol. Secara jelas perbandingan tingkah
Berkala Perikanan Terubuk Vol 33, No 2 Juli 2006
laku benih ikan Kakap Putih dapat dilihat
pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkah Laku Benih Ikan Kakap Putih Selama Penelitian
Kriteria
Normal
Sublethal
Lethal
Respon Tingkah Laku Benih Ikan Kakap Putih
- Benih selalu bergerak di dekat dasar perairan
- Bergerak aktif dan lincah
- Kontraksi gerakan operculum normal
- Posisi tubuh dalam keadaan tetap tidak oleng
- Responsif terhadap rangsangan dari luar
- Mata normal dan tajam
- Benih sering turun naik, bergerak dekat permukaan
- Bergerak gelisah dan lincah tidak menentu
- Posisi tubuh sering oleng
- Kurang responsif terhadap rangsangan dari luar
- Gerakan mulut dan operculum cepat
- Selera makan benih hilang
- Benih sering membenturkan tubuhnya ke dinding wadah
- Benih tergeletak didasar media uji dan tidak bergerak
- Di permukaan sisik banyak terdapat lendir
- Insang bewarna pucat
- Kondisi Mulut Terbuka Lebar
Respon tingkah laku benih ikan kakap
putih beraneka ragam, karena pengaruh
deterjen yang diberikan. Menurut Pulla Rao
U. D. U. P. dan K. D. Misha (1998), ikan
major carp (Labeo rohita) yang diberi
perlakuan deterjen memberikan respon
perubahan tingkah laku sebelum kematian
dengan memperlihatkan ciri-ciri hilangnya
keseimbangan, berenang tidak teratur dan
pernafasan terganggu.
Menurut Jones dalam Connel D. W.
dan G. J. Miller (1995), oksigen terlarut dari
air
akan
digunakan
biota
dengan
menggunakan
insang
sebagai
alat
pernafasannya kemudian diserap oleh cairan
pembuluh darahnya. Oksigen menempel pada
haemoglobin yang kemudian dialirkan oleh
jantung ke otot dimana oksigen digunakan
bersama-sama
dengan
glukosa
untuk
menghasilkan karbondioksida di dalam
proses respirasi aerob. Pengambilan oksigen
yang
rendah
oleh
makhluk
hidup
meyebabkan otot-otot kekurangan oksigen
sehingga sulit untuk melanjutkan respirasi
optimal.
Kematian ikan akibat deterjen
disebabkan karena rusaknya dinding sel-sel
darah putih, ikan yang kekurangan darah
terutama darah putih akan menurunkan daya
tahan ikan terhadap racun. Sehingga ikan
yang keracunan deterjen akan cepat
mengalami kematian. Di samping itu deterjen
juga dapat mengganggu pertumbuhan ikan
dan
menyebabkan
kerusakan
organ
reproduksinya (Mitrovic, 1973). Deterjen
yang mengandung surfaktan LAS (Linier
Alkil Sulfonat) sangat beracun bagi biota
perairan, hal ini terlihat melalui gangguan
pada insang yang mengalami luka dan
mengalami perubahan warna menjadi pucat
(Islamias et al, 2002).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Nilai LC50 96 deterjen terhadap benih
ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch)
pada waktu 96 jam adalah 84,35 ppm.
Konsentrasi aman (Safety concentration)
terhadap benih ikan kakap putih diperoleh
dari nilai LC50 96 jam yaitu 10% dari 84,35
ppm = 8,435 ppm. Kualitas air selama
penelitian berlangsung masih mendukung
kehidupan ikan kakap putih.
Saran
Perlu dilakukan penelitian toksisitas
lanjutan untuk uji histologi dari beberapa
organ tubuh ikan kakap putih seperti hati,
jantung, otak dan insang. Selain itu perlu
dipelajari perubahan struktur jaringan dari
80
Toksisitas Deterjen Terhadap Benih Ikan Kakap Putih
beberapa organ tersebut akibat terkena bahan
toksikan deterjen.
DAFTAR PUSTAKA
Boyd,
C. E. 1982. Water Quality
Management For Pond Fish Culture.
Eisevier
Scientific
Publising
Company. Amsterdam. Oxford. New
York. 318 p.
Connel, D. W. dan G. J. Miller. 1995.
Chemistry and Ecotoxycology of
Pollution.
Willey-Inter
Science
Publication. 83 p.
Islamias, I. Arnentis dan Sumaini. 2000.
Pengujian
Toksisitas
Deterjen
Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio
L). Jurnal Natur Indonesia III (1), 4753.
Mitrovic, V. V. 1979. Sublethal Effects of
Pollutants on Fish. FAO Technical
Conference on Marine Pollution and
It’s Effects on Living Resources and
Fisging. Rome. Italy, 9-16 Dec. !978.
Panggabean, I. M. G. 1994. Peranan Uji
Toksisitas Dalam Penentuan Baku
Mutu Air Laut. Proseding Seminar
Pemantauan Pencemaran Laut. Pusat
Penelitian
dan
Pengembangan
Oseanologi-LIPI, Jakarta, Hal. 92-98.
Berkala Perikanan Terubuk Vol 33, No 2 Juli 2006
Pulla Rao, U. D. U. P. and K. D. Misha.
1998. Acute Toxicity of LABS
Containing Deterjent “Shudi” to
Juvenile (Fingerling) Stage of Indian
Major Carp. Labio Rohita. Indian
Journal of Environment Sciences 2(2),
119-124.
Rand, G. M. and Petrocelli. 1985.
Fundamental of Aquatic Toxicology :
Methods and Aplcation. MC Graw
Hill. London. 666 p.
Siagian, M., 2004. Toksikologi Lingkungan
dan Uji Biologis. Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.
26 hal (tidak diterbitkan).
Wardoyo, S. T. H. 1977. Panduan Uji
Biologis Untuk Evaluasi Minyak dan
Dispersant. Proyek Lingkungan Hidup
Studi Grup Pencemaran. Fakultas
Perikanan IPB. Bogor. 23 hal.
Wibisono, M. S. 1989. Tingkat Toksisitas
Minyak Bumi Napthenik Intermediat
Terhadap
Fingerling
Bandeng.
Majalah
Lembaran
Publikasi.
LEMIGAS. 23 (2) : 162-172 hal.
81
Download