BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Asfiksia Bayi Baru Lahir

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Asfiksia Bayi Baru Lahir
Derajat kesehatan masyarakat di suatu Negara dapat dinilai dengan beberapa
indikator Indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi morbiditas,
mortalitas, dan status gizi. Indikator mortalitas digambarkan melalui Angka
Kematian Bayi ( AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu
(AKI). Bila AKI, AKB, dan AKABA disuatu negara rendah maka pelayanan
kesehatan sudah baik di negara tersebut dan sebaliknya bila AKI, AKB, AKABA
tinggi maka pelayanan kesehatan di Negara tersebut belum baik. (Depkes RI, 2011).
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari, dimana
terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar
rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua sistem. Bayi
hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko
gangguan kesehatan paling tinggi. Pada usia yang rentan ini, berbagai masalah
kesehatan bisa muncul. Tanpa penanganan yang tepat, bisa berakibat fatal. Beberapa
upaya kesehatan dilakukan untuk mengendalikan risiko pada kelompok ini
diantaranya dengan mengupayakan agar persalinan dapat dilakukan oleh tenaga
kesehatan di fasilitas kesehatan serta menjamin tersedianya pelayanan kesehatan
sesuai standar pada kunjungan bayi baru lahir. (Depkes RI, 2013).
9
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur. Asfiksia ini dapat terjadi karena kurangnya kemampuan organ
bayi dalam menjalankan fungsinya, seperti pengembangan paru. Bayi dengan riwayat
gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan.
Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali
pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah
persalinan. (Hidayat. Alimul A,A, 2008).
Asfiksia termasuk dalam bayi baru lahir dengan risiko tinggi karena memiliki
kemungkinan lebih besar mengalami kematian bayi atau menjadi sakit berat dalam
masa neonatal. Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur. Asfiksia atau gagal nafas dapat menyebabkan suplai oksigen ke
tubuh menjadi terhambat, jika terlalu lama membuat bayi menjadi koma, walaupun
sadar dari koma bayi akan mengalami cacat otak. Kejadian asfiksia jika berlangsung
terlalu lama dapat menimbulkan perdarahan otak, kerusakan otak dan kemudian
keterlambatan tumbuh kembang. (Depkes, RI, 2013)
Asfiksia juga dapat menimbulkan cacat seumur hidup seperti buta, tuli, cacat
otak dan kematian. Oleh karena itu asfiksia memerlukan intervensi dan tindakan yang
tepat untuk meminimalkan terjadinya kematian bayi, yaitu pelaksanaan manajemen
asfiksia pada bayi baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup bayi dan membatasi gejala sisa berupa kelainan neurology yang mungkin
muncul, dengan kegiatan yang difokuskan pada persiapan resusitasi, keputusan
resusitasi bayi baru lahir, tindakan resusitasi, asuhan pasca resusitasi, asuhan tindak
lanjut pasca resusitasi dan pencegahan infeksi. (Depkes.RI, 2013)
Kematian bayi baru lahir lebih banyak disebabkan secara intrinsik dengan
kesehatan ibu dan perawatan yang diterima sebelum, selama dan setelah persalinan.
Demikian halnya dengan asfiksia bayi baru lahir pada umumnya disebabkan oleh
manajemen persalinan yang tidak sesuai dengan standard dan kurangnya kesadaran
ibu untuk memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan, kurangnya asupan kalori
dan nutrisi pada saat masa kehamilan juga dapat mengakibatkan terjadinya asfiksia.
Hampir tiga per empat dari semua kematian bayi baru lahir dapat dicegah apabila ibu
mendapatkan nutrisi yang cukup, pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan
persalinan normal dan pelayanan kesehatan neonatal oleh tenaga kesehatan yang
professional. Untuk menurunkan kematian bayi baru lahir karena asfiksia, persalinan
harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan ketrampilan
manajemen asfiksia pada bayi baru lahir karena kemampuan dan ketrampilan ini
digunakan setiap kali menolong persalinan. (Leonardo, 2008).
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berperan sebagai sebagai
provider dan lini terdepan pelayan kesehatan yang dituntut memiliki kompetensi
professional dalam menyikapi tuntutan masyarakat di dalam pelayanan kebidanan.
Kompetensi professional bidan terkait dengan asuhan persalinan dan bayi baru lahir.
Karenanya, pengetahuan, keahlian dan kecakapan seorang bidan menjadi bagian yang
menentukan dalam menekan angka kematian saat melahirkan. Bidan diharapkan
mampu mendukung usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat, yakni melalui
peningkatan kualitas pelayanan kebidanan. ( Hidayat, 2010).
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia
pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat dan bayi berikut ini:
1.
Faktor ibu ; Preeklampsia dan eklampsia, pendarahan abnormal (plasenta previa
atau solusio plasenta), partus lama atau partus macet, demam selama persalinan
Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV), kehamilan lewat waktu (sesudah 42
minggu kehamilan).
2.
Faktor Tali Pusat ; lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus
tali pusat
3.
Faktor Bayi ; bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan), persalinan dengan
tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi
forsep), kelainan bawaan (kongenital), air ketuban bercampur mekonium (warna
kehijauan).
Gejala dan tanda asfiksia adalah : bayi tidak bernapas atau napas megap-
megap atau pernafasan lambat (kurang dan 30 kali per menit), pernapasan tidak
teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada), tangisan lemah atau merintih,
warna kulit pucat atau biru, tonus otot lemas atau ekstremitas terkulai, denyut jantung
tidak ada atau lambat (bradikerdia) (kurang dari 100 kali per menit). Untuk
menentukan derajat asfiksia, digunakan skor APGAR dapat dilihat pada tabel 2.1
dibawah ini :
Tabel 2.1. Skala Pengamatan APGAR Skor
Aspek Pengamatan
Bayi Baru Lahir
Appearance /warna
kulit
Pulse/ nadi
Grimace/respon
reflex
0
Seluruh tubuh bayi
berwarna kebiruan
atau pucat.
Denyut jantung tidak
ada
Tidak ada respon
terhadap stimulasi
Activity/tonus otot
Lemah, tidak ada
gerakan.
Respiratory/pernafas
an.
Tidak bernafas,
pernafasan lambat
dan tidak teratur.
Skor
1
Warna kulit tubuh
normal, tetapi tangan
dan kaki berwarna
kebiruan
Denyut jantung <100
x/menit
Wajah meringis saat
distimulasi
Lengan dan kaki
dalam posisi fleksi
sedikit gerakan.
Menangis lemah,
terdengar seperti
merintih.
2
Warna kulit
seluruh tubuh
normal.
Denyut jantung
>100 x /menit
Meringis, menarik,
batuk, atau bersin
saat stimulasi.
Bergerak aktif dan
spontan.
Menangis kuat,
pernafasan baik
dan teratur.
Sumber : Manuaba, dkk, (2008), Gawat Darurat Obstetri Ginekologi dan Obstetri
Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan
Prosedur penilaian skor APGAR adalah nilai APGAR pada menit pertama
dengan cepat dan simultan, jumlahkan hasilnya. Lakukan tindakan dengan cepat dan
tepat sesuai dengan hasilnya. Ulangi pada menit ke lima dan sepuluh, dokumentasi
hasil dan lakukan tindakan yang sesuai. Setelah skor APGAR diketahui, maka
asfiksia dapat di klasifikasikan sebagai berikut :
1. Vigorous Baby, skor APGAR 7-10 ; bayi segera menangis dalam beberapa detik
setelah lahir. Penanganannya adalah lendir yang ada dimulut dan hidung perlu
segera dibersihkan sehingga tangisnya lebih nyaring
2. Mild Moderate asfiksia (asfiksia sedang), skor APGAR 4-6 ; sianosis, sirkulasi
tidak lancar, tonus otot kurang baik. Penanganannya perlu dilakukan tindakan
resusitasi
3. Asfiksia berat, skor APGAR 0-3 ; tidak ada pernafasan, bayi lemas,tonus otot
buruk, sianosis berat, pucat, reflek tidak ada. Penanganannya sangat memerlukan
tindakan resusitasi intensif serta ditangani oleh dokter ahli anak. (Boyle. M, 2009)
Kejadian asfiksia jika berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan
perdarahan otak, kerusakan otak dan kemudian keterlambatan tumbuh kembang.
Asfiksia juga dapat menimbulkan cacat seumur hidup seperti buta, tuli , cacat otak
dan kematian. Oleh karena itu asfiksia memerlukan intervensi dan tindakan yang
tepat untuk meminimalkan terjadinya kematian bayi, yaitu penatalaksanaan
manajemen asfiksia pada bayi baru lahir yang dilakukan oleh bidan. (Depkes.RI,
2011).
Penatalaksanaan asfiksia pada bayi baru lahir adalah resusitasi neonatus atau
bayi. Resusitasi adalah suatu prosedur yang diterapkan untuk bayi baru lahir
(neonatus) yang gagal bernafas secara spontan. Semua bayi dengan depresi
pernafasan harus mendapat resusitasi yang adekuat. (Maryunani, 2009).
Penatalaksanaan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir bertujuan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa berupa kelainan
neurology yang mungkin muncul, dan langkah – langkah dalam manajemen asfiksia
ini ditujukan kepada bidan yang pada umumnya bekerja secara mandiri dalam
memberikan pelayanan kesehatan. Adapun manajemen asfiksia terdiri dari kegiatan
yang tersebut dibawah ini (Depkes RI, 2011) :
1. Persiapan Resusitasi Bayi Baru Lahir
Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan oksigen ke otak,jantung,
dan organ-organ vital lainnya melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan
jantungdan menjamin ventilasi yang adekuat.
Bidan harus siap melakukan resusitasi bayi baru lahir pada setiap menolong
persalinan. Tanpa persiapan kita akan kehilangan waktu yang sangat berharga, walau
hanya beberapa menit bila bayi baru lahir tidak segera bernafas, bayi dapat menderita
kerusakan otak atau meninggal. Persiapan yang diperlukan adalah :
1) Persiapan keluarga ; membahas dengan keluarga persiapan persalinan dan
kemungkinan resusitasi pada bayi baru lahir
2) Persiapan tempat ; menggunakan ruangan yang hangat dan terang, menyiapkan
tempat resusitasi yang rata, keras, bersih, kering dan hangat.
3) Alat untuk resusitasi ; menyiapkan alat resusitasi dalam keadaan siap pakai.
4) Persiapan diri bidan ; mengenakan alat pelindung diri pada persalinan, mencuci
kedua tangan dengan air mengalir dan sabun atau alkohol dan gliserin,
menggunakan sarung tangan sebelum menolong persalinan.
2. Keputusan Resusitasi Bayi Baru Lahir
Bidan harus mampu melakukan penilaian untuk mengambil keputusan guna
menentukan tindakan resusitasi. Bidan harus mampu melakukan penilaian kondisi
bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan atau menanyakan 5
pertanyaan sebagai berikut: Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium ;
apakah bayi bernapas spontan ; apakah kulit bayi berwarna kemerahan ; apakah
tonus/kekuatan otot bayi cukup ; apakah ini kehamilan cukup bulan.
Bila kelima pertanyaan tersebut jawabannya “ya”, maka bayi dapat diberikan
kepada ibunya untuk segera menciptakan hubungan emosional, kemudian di lakukan
asuhan bayi baru lahir normal. Bila salah satu atau lebih pertanyaan tersebut
jawabannya “tidak”, maka segera lakukan langkah awal resusitasi bayi baru lahir.
Dalam manajemen asfiksia, proses penilaian sebagai dasar pengambilan keputusan
bukanlah suatu proses sesaat yang dilakukan satu kali. Setiap tahapan manajemen
asfiksia senantiasa dilakukan penilaian untuk membuat keputusan, tindakan apa yang
tepat dilakukan.
3. Tindakan Resusitasi
Tindakan resusitasi merupakan tindakan kritis yang dilakukan pada saat
terjadi kegawatdaruratan pada sistem pernafasan dan system kardiovaskuler.
Kegawatdaruratan pada kedua sistem ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu
yang singkat (4-6 menit). Tindakan resusitasi meliputi ;
a.
Langkah awal diselesaikan dalam waktu 30 detik, yaitu jaga bayi tetap hangat,
atur posisi bayi, isap lendir, keringkan dan rangsang bayi, atur posisi kepala dan
selimuti bayi. Bila air ketuban bercampur mekonium maka dilakukan langkah
berikut :
1) Saat kepala bayi lahir, sebelum bahu dilahirkan ; menghisap lendir dari
mulut lalu hidung bayi di perineum ibu.
2) Setelah seluruh badan bayi lahir ; Menilai apa bayi bernafas atau tidak.
3) Bila bayi tidak bernafas ; membuka lebar mulut bayi, usap mulut bayi,
ulangi mengisap lendir, menilai apakah bayi bernafas atau tidak
4) Bila bayi bernafas ; melanjutkah dengan 5 langkah awal.
b.
Ventilasi adalah memasukkan sejumlah volume udara kedalam paru dengan
tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernafas spontan dan
teratur. Langkah-langkahnya :
1) Pemasangan sungkup.
2) Melakukan ventilasi 2 kali ; meniup udara kemulut bayi 2 kali dengan tekanan
30 cm air, melihat apakah dada bayi mengembang setelah ditiup 2 kali, bila
dada bayi berkembang lanjutkan ventilasi.
3) Melakukan ventilasi 20 kali dalam 30 detik dengan tekanan 20 cm air ; bila
bayi mulai bernafas normal hentikan ventilasi bertahap ( lihat dada, frekuensi
nafas permenit) dan lanjutkan asuhan pasca resusitasi. Apabila bayi
megap-megap atau tidak bernafas lanjutkan ventilasi.
4) Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang nafas ; bila
bayi mulai bernafas normal hentikan ventilasi bertahap lanjutkan asuhan pasca
resusitasi. Apabila bayi megap-megap atau tidak bernafas teruskan ventilasi
20 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang nafas setiap 30
detik.
5) Siapkan rujukan jika bayi belum bernafas spontan sesudah 2 menit resusitasi
6) Lanjutkan ventilasi sambil memeriksa denyut jantung bayi selama 10 menit,
hentikan resusitasi jika denyut jantung tetap tidak terdengar dan pulsasi tali
pusat tidak teraba.
4. Asuhan Pasca Resusitasi
Setelah tindakan resusitasi diperlukan asuhan pasca resusitasi yang merupakan
perawatan intensif selama 2 jam pertama. Asuhan pasca resusitasi adalah pelayanan
kesehatan pasca resusitasi yang diberikan baik kepada bayi baru lahir ataupun ibu dan
keluarganya. Pelayanan kebidanan yang diberikan berupa ;
1) Melakukan pemantauan secara intensif bayi pasca resusitasi selama 2 jam ;
memperhatikan tanda-tanda kesulitan bernafas pada bayi
2) Jaga bayi tetap hangat dan kering ; menunda memandikan bayi sampai dengan 624 jam
3) Bila nafas bayi dan warna kulit normal, berikan bayi kepada ibunya.
4) Bila kondisi bayi memburuk, rujuk segera ; memperhatikan tanda-tanda bahaya
pada bayi
5) Pencatatan ; membuat catatan resusitasi selengkapnya.
5. Asuhan Pasca Lahir Lebih Lanjut
Sesudah pemantauan 2 jam pasca resusitasi, bayi masih perlu asuhan pasca
lahir lebih lanjut. Tujuan dari asuhan pasca lahir adalah untuk mengetahui kondisi
lebih lanjut dalam 24 jam pertama kesehatan bayi setelah mengalami tindakan
resusitasi.
6. Pencegahan Infeksi
Tindakan pencegahan infeksi (PI) tidak terpisah dari komponen-komponen
lain dalam asuhan bayi baru lahir. Tindakan ini harus diterapkan dalam setiap aspek
asuhan untuk melindungi bayi baru lahir, bidan dan tenaga kesehatan lainnya dengan
mengurangi infeksi dengan bakteri, virus dan jamur. Tujuan tindakan-tindakan PI
adalah meminimalkan infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut dan
menurunkan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa.
Adapun pencegahan infeksi menurut jenis alat resusitasi adalah :
1) Meja resusitasi ; basuh dengan larutan dekontaminasi dan kemudian cuci dengan
sabun dan air, keringkan dengan udara/angin.
2) Tabung resusitasi ; lakukan dekontaminasi, pencucian secara teratur tergantung
frekuensi resusitasi. Lakukan tiga langkah pencegahan infeksi (dekontaminasi,
pencucian dan desinfeksi tingkat tinggi) apabila alat digunakan pada bayi dengan
infeksi.
3) Sungkup silikon dan katup karet ; dapat di rebus
4) Alat penghisap yang dipakai ulang ; lakukan ke tiga langkah pencegahan infeksi
(dekontaminasi, pencucian dan desinfeksi tingkat tinggi)
5) Kain dan selimut ; lakukan dekontaminasi dan pencucian kemudian dikeringkan
dengan angin/udara atau sinar matahari kemudian simpan di tempat yang bersih
dan kering.
Manajemen asfiksia bayi baru lahir merupakan pelayanan kebidanan yang
harus dilakukan oleh bidan yang berkompeten. Bidan harus dapat membuat keputusan
yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan
ketrampilan kebidanan pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk
memenuhi kebutuhan pasien kritis. ( Hudak dan Gallo, 2000).
Bidan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk
menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu
harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya
tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit dikenali atau
(sepengetahuan bidan) tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu,
bidan harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan manajemen asfiksia pada bayi
baru lahir, pengetahuan dan ketrampilan ini digunakan setiap kali menolong
persalinan. (Depkes RI, 2011).
Peningkatan kualitas pelayanan kebidanan hanya dapat dicapai melalui
pelayanan tenaga yang professional dan berkompeten. Bidan dalam memberikan
pelayanan kebidanan kepada masyarakat haruslah memiliki kompetensi, kurangnya
pengetahuan dan ketrampilan bidan dapat menyebabkan hal-hal yang seringkali
menjadi penyebab kematian bayi,seperti bidan tidak memiliki kemampuan dan
ketrampilan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir, terlambat merujuk, terlambat
mengambil keputusan, sehingga penanganan terlambat dilakukan. Maka kompetensi
yang dimiliki seorang bidan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan. (Hidayat, 2010).
Gambar 2.1. Bagan Alur Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir
2.2. Bidan
Bidan adalah seorang yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan
bidan yang telah di akui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang
telah berlaku, dicatat (Registrasi), di beri izin secara sah untuk menjalankan
praktek.(Nazriah, 2009). Menurut Soepardan (2010) Bidan adalah seorang yang telah
menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh negara tempat ia tinggal,
dan telah berhasil menyelesaikan studi terkait kebidanan serta memenuhi persyaratan
untuk terdaftar dan/ atau memiliki izin formal untuk praktik bidan.
Defenisi Bidan menurut Ikatan Bidan Indonesia atau IBI (2010) adalah
seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan yang telah diakui
pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku dan diberi izin
secara sah untukmelaksanakan praktek. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan
dan kebidanan dimasyarakat, bidan wewenang oleh pemerintah sesuai dengan
wilayah pelayanan yang diberikan. Wewenang tersebut berdasarkan peraturan
Menkes RI Nomor 900/Menkes ISK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan.
Federation of International Gynaecologist and Obstetritian atau FIGO (1991)
dan World Health Organization atau WHO (1992) menyempurnakan pengertian
bidan yaitu seseorang yang telah menyelesaikan Program Pendidikan Bidan yang
diakui oleh Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan
praktek kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan
memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan
dan masa pasca persalinan (post partum period), memimpin persalinan atas tanggung
jawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Asuhan ini termasuk
tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal pada ibu dan bayi, dan
mengupayakan bantuan media serta melakukan tindakan pertolongan gawat darurat
pada saat tidak hadirnya tenaga medik lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam
konsultasi dan pendidikan kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga
termasuk keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal,
dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas kedaerah tertentu dari ginekologi,
keluarga berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktek di rumah sakit, klinik, unit
kesehatan, rumah perawatan atau tempat – tempat pelayanan lainnya.
Menurut Estiwidani.D, dkk (2010) peran, fungsi bidan dalam pelayanan
kebidanan adalah sebagai : pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti. Sedangkan
tanggung jawab bidan meliputi pelayanan konseling, pelayanan kebidanan normal,
pelayanan kebidanan abnormal, pelayanan kebidanan anak, pelayanan Keluarga
Berencana, dan pelayanan kesehatan masyarakat. Sedemikian kompleksnya peran,
fungsi, dan tanggung jawab seorang bidan dalam melaksanakan tugasnya
memberikan pelayanan kebidanan yang terbaik dan profesional kepada masyarakat
maka untuk keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut diperlukan landasan yang
kuat berupa kompetensi bidan.
2.3. Kompetensi
Kompetensi adalah suatu kemampuan yang dilandasi oleh ketrampilan dan
pengetahuan yang didukung oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan
tugas dan pekerjaan ditempat kerja yang mengacu pada persyaratan kerja yang
ditetapkan. (Sutrisno, 2012).
Menurut Boulter, Dalziel, dan Hill (2003) dalam Sutrisno (2012),
mengemukakan kompetensi adalah suatu karakteristik dasar dari seseorang yang
memungkinkannya memberikan kinerja unggul dalam pekerjaan, peran, atau situasi
tertentu. Ketrampilan adalah hal-hal yang orang bisa dengan baik. Pengetahuan
adalah apa yang diketahui seseorang tentang suatu topik. Peran sosial adalah citra
yang ditunjukkan oleh seseorang dimuka publik. Peran sosial mewakili apa yang
orang itu anggap penting. Peran sosial mencerminkan nilai-nilai orang itu.
Mulyasa (2003) dalam
Sutrisno (2012) mengemukakan
kompetensi
merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, nilai, dan sikap yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi adalah suatu
kemampuan yang dilandasi oleh ketrampilan dan pengetahuan yang didukung oleh
sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan ditempat
kerja yang mengacu pada persyaratan kerja yang ditetapkan (Sutrisno, 2012).
Menurut Peraturan Pemerintah No.101 Tahun 2000, kompetensi adalah
kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri sipil berupa
pengetahuan, sikap perilaku yang diperlukan dalam tugas dan jabatannya (Pasal 3).
Adapun McAshan (1981) dalam sutrisno (2012) mengemukakan, kompetensi
diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh
seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan
perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikmotorik dengan sebaik-baiknya. Apabila
kompetensi diartikan sama dengan kemampuan, maka dapat diartikan pengetahuan
memahami tujuan bekerja, pengetahuan dalam melaksanakan kiat-kiat jitu dalam
melaksanakan pekerjaan yang tepat dan baik, serta memahami betapa pentingnya
disiplin dalam organisasi agar semua dapat berjalan dengan baik.
Gordon (1988) dalam Sutrisno (2012), menjelaskan beberapa aspek yang
terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut :
1.
Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya,
seorang bidan mengetahui cara melakukan identifikasi belajar, dan bagaimana
melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada ditempat
kerja.
2.
Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif, dan afektif yang dimiliki
oleh individu. Misalnya, seorang bidan dalam melaksanakan pembelajaran harus
mempunyai pemahaman yang baik tentang karakteristik dan kondisi kerja secara
efektif dan efisien.
3.
Kemampuan (skill), adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk
melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya
kemampuan seorang bidan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih
efektif dan efesien.
4.
Nilai (value), adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara
psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku bidan
dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaaan, demokratis, dan lain-lain).
5.
Sikap (attitude), yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau
reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, perasaan
terhadap kenaikan gaji dan sebagainya.
6.
Minat (interest), adalah kecendrungan seseorang untuk melakukan suatu
perbuatan. Misalnya, melakukan suatu aktivitas kerja.
Kompetensi pengetahuan (knowledge competencies) dan keahlian (skills
competencie) cenderung lebih nyata dan berada dipermukaan sebagai salah satu
kaakteristik yang dimiliki manusia, kompetensi pengetahuan dan keahlian relatif
mudah untuk dikembangkan sehingga program pelatihan merupakan cara yang baik
menjamin tingkat kemampuan sumber daya manusia. Sedangkan motif, konsep diri
dan ciri diri lebih tersembunyi dan cukup sulit untuk dinilai dan dikembangkan
karena pada titik central kepribadian seseorang. (Hutapea P dan Thoha N, 2010).
Adapun klasifikasi kompetensi menurut Mustopadidjaja (2009) terbagi
kedalam empat jenis, yaitu :
1.
Kompetensi Tekhnis (Technical Competence), yaitu kompetensi mengenai
bidang yang menjadi tugas pokok organisasi. Kompetensi ini antara lain meliputi
operasional system prosedur kerja, yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan
dan tugas instansi, penerapan sistem dan prinsip-prinsip akuntabilitas.
2.
Kompetensi manajerial (Manajerial Competence), kompetensi yang berkaitan
dengan kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam menangani tugas-tugas
organisasi. Kompetensi ini meliputi kemampuan menerapkan konsep dan tehnik
perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, koordinasi dan evaluasi kinerja
unit organisasi, juga kemampuan dalam melaksanakan prinsip-prinsip good
governance dalam manajemen pemerintahan.
3.
Kompetensi Sosial (Social Competence), kemampuan melakukan komunikasi
yang dibutuhkan oleh organisasi dalam pelaksanaan tugas pokoknya. Kompetensi
ini secara internal memotivasi sumberdaya manusia dalam meningkatkan
produktivitas,
secara
eksternal
melaksanakan
kemahiran,
kolaborasi,
pengembangan jaringan kerja dengan berbagai lembaga dalam rangka
meningkatkan citra dan kinerja organisasi.
4.
Kompetensi Intelektual/Strategik, kemampuan untuk berpikir secara strategik
dengan visi jauh kedepan. Kompetensi ini meliputi kemampuan merumuskan
visi, misi startegi dalam rangka mencapai tujuan organisasi sebagai bagian
integral dari pembangunan nasional, merumuskan dan memberikan masukan
untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan yang logis dan sistematis,
memahami paradigm pembangunan kesehatan yang revelan serta kemampuan
dalam menjelaskan kedudukan, tugas, fungsi organisasi kesehatan dalam
mewujudkan tujuan pembangunan kesehatan Indonesia.
Kompetensi bidan adalah kemampuan dan karakteristik yang dilandasi oleh
pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku yang harus dimiliki seorang bidan
dalam melaksanakan praktek kebidanan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan,
secara aman dan bertanggung jawab sesuai dengan standar sebagai syarat untuk
dianggap mampu oleh masyarakat. (PP IBI, 2012).
Didalam lingkup praktik kebidanan, kompetensi bidan sebagaimana tertuang
dalam buku kompetensi bidan Indonesia meliputi pengetahuan, ketrampilan dan sikap
prilaku yang harus dimiliki oleh seorang bidan dalam melaksanakan praktik
kebidanan secara aman dan bertanggung jawab. Kompetensi tersebut dikelompokkan
dalam dua kategori yaitu : kompetensi dasar yang merupakan kompetensi minimal
yang secara mutlak harus dimiliki oleh bidan dan kompetensi tambahan yang
merupakan pengembangan dari pengetahuan dan ketrampilan dasar untuk mendukung
tugas bidan dalam memenuhi tuntutan/kebutuhan masyarakat yang sangat dinamis
serta perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. (Hidayat, 2010).
Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor :369/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar
Profesi Bidan, maka ditetapkan standar kompetensi bidan yang harus dimiliki yaitu :
1.
Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan ketrampilan dari ilmu-ilmu
sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar dari asuhan yang
bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir dan
keluarganya.
2.
Pra konsepsi, Keluarga Berencana dan Ginekologi; bidan memberikan asuhan
yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan
pelayanan menyeluruh dimasyarakat dalam rangka untuk meningkatkan
kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi
orangtua.
3.
Asuhan dan konseling selama kehamilan; bidan member asuhan antenatal
bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang
meliputi deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
4.
Asuhan selama persalinan dan kelahiran; bidan memberikan asuhan yang
bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan,
memimpin selama persalinan yang bersih dan aman, menangani situasi
kegawatdaruratan tertentu tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan
bayinya yang baru lahir.
5.
Asuhan pada ibu nifas dan menyusui; bidan memberikan asuhan pada ibu nifas
dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.
6.
Asuhan pada bayi baru lahir; bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi,
komprehensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan 1 bulan.
7.
Asuhan pada bayi dan balita; bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi,
komprehensif pada bayi dan balita sehat (1 bulan – 5 tahun).
8.
Kebidanan komunitas; bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan
komprehensif pada keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan budaya
setempat.
9.
Asuhan pada ibu/wanita dengan gangguan reproduksi; melaksanakan asuhan
kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan system reproduksi.
Dengan demikian seorang dimasa sekarang dituntut memiliki kompetensi
dalam memberikan pelayanan kebidanan. Hal ini semua dapat terwujud bila seorang
bidan mampu menguasai konsep dasar ilmu kebidanan, ketrampilan tambahan dan
perkembangannya juga mampu bersikap professional sesuai dengan kode etik yang
telah ditetapkan.
2.4. Pengetahuan
Menurut Mustopadidjaja (2009), pengetahuan adalah informasi yang dimiliki
oleh seseorang dalam suatu bidang tertentu dan keterampilan adalah kemampuan
untuk melaksanakan tugas tertentu baik mental ataupun fisik. Pengetahuan dan
keterampilan sesungguhnya yang mendasari pencapaian produktivitas, pengetahuan
dan ketrampilan termasuk faktor pembentuk kemampuan. Apabila seseorang
mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang tinggi akan memiliki kemampuan
(ability) yang tinggi pula sehingga akan membentuk kompetensi seorang pegawai/
pekerja (Sulistiyani & Rosidah, 2009).
Pengetahuan merupakan informasi yang dimiliki oleh seseorang. Pengetahuan
adalah
komponen
utama kompetensi
yang
mudah
diperoleh
dan
mudah
diidentifikasikan (Hutapea P dan Thoha N, 2008). Notoatmodjo (2009) berpendapat
bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu.
Sulistiyani dan Rosidah (2009) mengemukakan konsep pengetahuan lebih
berorientasi pada intelejensi, daya pikir dan penguasaan ilmu serta luas sempitnya
wawasan yang dimiliki seseorang. Dengan demikian pengetahuan adalah merupakan
akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh secara formal maupun
nonformal yang memberikan kontribusi pada seseorang di dalam pemecahan
masalah, daya cipta, termasuk dalam melakukan atau menyelesaikan pekerjaan.
Dengan pengetahuan yang luas dan pendidikan tinggi, seorang pegawai diharapkan
mampu melakukan pekerjaan dengan baik dan produktif.
Menurut Roger (1974) dalam Notoatmodjo (2009) Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt
behaviour) yang memiliki 6 tingkatan yaitu :
1.
Tahu (know), mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
tehadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2.
Memahami (comprehension), suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau mengerti harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
3.
Aplikasi (application), kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat
diartikan sebagai penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip dan
sebagainya dalam konteks atau situai yang lain. Misalnya : dapat menggunakan
prinsip – prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cyclel) di dalam
pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4.
Analisis (analysis), kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi,
dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemapuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata – kata kerja; dapat menggambarkan (membuat sebagian),
membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5.
Sintesis (synthesis), kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain
sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi – formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, merencanakan,
meringkaskan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau
rumusan – rumusan yang telah ada.
6.
Evaluasi (evaluation), kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu didasarkan pada suatu
kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang ada.
Merujuk pada beberapa teori dan pendapat yang mendefenisikan tentang
pengetahuan yang dijabarkan di atas maka Pengetahuan Bidan adalah kemampuan
bidan terhadap semua tingkatan pengetahuan, mulai dari tahu, memahami hingga
dapat dalam mengevaluasi materi – materi yang telah ditetapkan sebagai pengetahuan
penatalaksanaan manajemen asfiksia bayi baru lahir , dengan standar yang telah
ditentukan. Dengan pengetahuan yang luas tentang ilmu kebidanannya diharapkan
seorang bidan mampu melaksanankan pekerjaannya dengan baik dan produktif.
2.5. Sikap
Menurut Notoatmodjo (2009), sikap secara nyata menunjukkan konotasi
adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan seharihari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb
dalam Notoatmodjo (2009), menyatakan sikap merupakan kesiapan atau kesediaan
untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan
atau perilaku. Sikap dapat bersifat positif dan dapat bersifat negatif.
Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul
apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi
individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai
sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi
kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk, positif-negatif,
menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi
reaksi terhadap objek-sikap. (Azwar,S. 2013).
Teori Rosenberg dikenal dengan teori affective cognitive consistency dalam
hal sikap dan teori ini juga teori dua faktor yang memusatkan perhatian pada
hubungan komponen kognitif dan komponen afektif. Menurut Rosenberg pengertian
kognitif dalam sikap tidak hanya mencakup tentang pengetahuan-pengetahuan yang
berhubungan dengan objek sikap, melainkan juga mencakup kepercayaan atau belifes
tentang hubungan antara objek sikap itu dengan system nilai yang ada dalam diri
individu. Komponen afektif berhubungan dengan bagaiman perasaan yang timbul
pada seseorang yang menyertai sikapnya, dapat positif serta dapat juga negative
terhadap objek sikap. Bila seseorang yang mempunyai sikap positif terhadap objek
sikap, maka ini berarti adanya hubungan pula dengan nilai-nilai positif yang lain yang
berhubungan dengan objek sikap tersebut, demikian juga dengan sikap yang negatif.
(Dewi,2010).
Teori yang dikemukakan oleh Notoatmojo (2003), yang menyatakan sikap
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan motif
tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan suatu prilaku yang merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap
objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. (Dewi, 2010).
Notoatmodjo (2009) menjelaskan bahwa sikap positif kecenderungan tindakan
adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu, sedangkan pada sikap
negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindar, membenci, tidak
menyukai objek tertentu. Sikap terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu:
1. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus
yang diberikan (objek). Misalnya sikap seseorang terhadap kejadian aspiksia pada
bayi baru lahir yaitu terlihat dari kesediaan dan perhatiannya terhadap kejadian
tersebut.
2. Merespon (Responding)
Merespon adalah memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap, karena suatu
usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas
pekerjaan itu benar atau salah, berarti orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valuing)
Menghargai dapat dilihat dari sikap mengajak orang lain mengerjakan sesuatu
atau berdiskusi mengenai suatu masalah. Misalnya seorang bidan yang mengajak
petugas lainnya untuk menilai resiko terjadinya hal-hal lain dari asfiksia jika keadaan
tersebut tidak segera ditanggani..
4. Bertanggungjawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala
resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Pengukuran sikap dilakukan dengan
secara langsung atau tidak langsung.
Menurut Allport dalam Notoatmodjo (2009), sikap biasanya memberikan
penilaian (menerima atau menolak) terhadap objek yang dihadapi, oleh karena itu
sikap merupakan predisposisi untuk berespon yang akan membentuk tingkah laku.
Terdapat 3 (tiga) komponen pokok sikap yaitu:
1.
Komponen kognisi yang berhubungan dengan kepercayaan atau keyakinan, serta
ide dan konsep terhadap objek, artinya keyakinan dan pendapat atau pemikiran
seseorang terhadap objek.
2.
Komponen afeksi yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang
atau evaluasi orang terhadap objek, artinya penilaian (terkandung dalam faktor
emosi) orang tersebut terhadap objek.
3.
Komponen konasi yang berhubungan dengan kecenderungan untuk bertingkah
laku atau bertindak (tend to behave), sikap merupakan komponen yang
mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk
bertindak atau berperilaku terbuka.
Ketiga komponen ini secara bersama – sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan , dan emosi memegang peranan penting. Newcomb dalam Notoatmodjo
(2009), salah seorang ahli psikologis sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan
kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif
tertentu.
2.6. Landasan Teori
Manajemen asfiksia bayi baru lahir merupakan pelayanan kebidanan yang
harus dilakukan oleh bidan yang berkompeten. Bidan harus dapat membuat keputusan
yang tepat pada saat kritis. Kemampuan ini memerlukan penguasaan pengetahuan dan
ketrampilan kebidanan pada situasi kritis dan mampu menerapkannya untuk
memenuhi kebutuhan pasien kritis. ( Hudak dan Gallo, 2000) .
Kompetensi adalah suatu kemampuan yang dilandasi oleh ketrampilan dan
pengetahuan yang didukung oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan
tugas dan pekerjaan ditempat kerja yang mengacu pada persyaratan kerja yang
ditetapkan (Sutrisno, 2012).
Kompetensi bidan adalah kemampuan dan karakteristik yang dilandasi oleh
pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku yang harus dimiliki seorang bidan
dalam melaksanakan praktek kebidanan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan,
secara aman dan bertanggung jawab sesuai dengan standar sebagai syarat untuk
dianggap mampu oleh masyarakat. (PP IBI, 2012).
Menurut Mustopadidjaja (2009), pengetahuan adalah informasi yang dimiliki
oleh seseorang dalam suatu bidang tertentu dan keterampilan adalah kemampuan
untuk melaksanakan tugas tertentu baik mental ataupun fisik. Pengetahuan dan
keterampilan sesungguhnya yang mendasari pencapaian produktivitas, pengetahuan
dan ketrampilan termasuk faktor pembentuk kemampuan. Apabila seseorang
mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang tinggi akan memiliki kemampuan
(ability) yang tinggi pula sehingga akan membentuk kompetensi seorang pegawai/
pekerja (Sulistiyani & Rosidah, 2009).
Sulistiyani dan Rosidah (2009) mengemukakan konsep pengetahuan lebih
berorientasi pada intelejensi, daya pikir dan penguasaan ilmu serta luas sempitnya
wawasan yang dimiliki seseorang. Dengan demikian pengetahuan adalah merupakan
akumulasi hasil proses pendidikan baik yang diperoleh secara formal maupun
nonformal yang memberikan kontribusi pada seseorang di dalam pemecahan
masalah, daya cipta, termasuk dalam melakukan atau menyelesaikan pekerjaan.
Dengan pengetahuan yang luas dan pendidikan tinggi, seorang pegawai diharapkan
mampu melakukan pekerjaan dengan baik dan produktif.
Sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul
apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi
individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai
sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi
kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk, positif-negatif,
menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi
reaksi terhadap objek-sikap. (Azwar,S. 2013).
2.7. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori diatas maka dapat disusun kerangka konsep
penelitian adalah sebagai berikut :
Variabel Independen
Pengetahuan Bidan
dengan
Penatalaksanaan
Manajemen Asfiksia
Bayi Baru Lahir
Sikap Bidan
dengan
Penatalaksanaan
Manajemen Asfiksia
Bayi Baru Lahir
Variabel Dependent
Penatalaksanaan
Manajemen Asfiksia
Bayi Baru Lahir
Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian
Download