34 BAB II PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK OLEH

advertisement
34
BAB II
PENGELOLAAN PERUSAHAAN YANG BAIK OLEH PIMPINAN BNI
PEMUDA PADA PERILAKU KEWENANGAN
MEMILIH CALON PEGAWAI
A. Pengelolaan Perusahaan BNI
Good Corporate Governance dilaksanakan dengan menjalankan prinsip
dasartata kelola perusahaan yang baik yaitu keterbukaan (transparency), akuntabilitas
(accountabitity), pertanggung-jawaban(responsibillity), professional (proffessional),
dan kewajaran (fairness). Penerapan secara konsisten dan berkelanjutan terhadap
kedua prinsip tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi daya saing BNI,
memaksimalkan nilai perusahaan, mengelola sumber daya dan resiko secara lebih
efisien
dan
efektif
berkesinambungan
yang
dan
pada
gilirannya
memperkokoh
akan
mencapai
bisnis
kepercayaan
pemegang
saham
yang
dan
stakeholders. Untuk mendukung hal tersebut seluruh jajaran DewanKomisaris,
Direksi, Dewan Pengawas bescerta segenap pegawai BNI berkomitmen penuh untuk
melaksanakan Good Corporate Governance di seluruh tingkatan dan jenjang
organisasi sebagaimana telah diwujudkan dalam Pedoman Pelaksanaan Good
Corporate Governance yang telah dituangkan dalam surat keputuan bersama Dewan
Komisaris dan Direksi Nomor KP/DIR/397-KP/10/DK/2010 tanggal 21 Desember
2010, sebagai pedoman operasional Bank BNI.
Good Corporate Governance mensyaratkan tidak adanya dominasi antara satu
pemegang kekuasaan dengan yang lainnya dalam melakukan aktivitasnya, akan tetapi
34
Universitas Sumatera Utara
35
justru menganjurkan agar otonomi masing-masing pemegang kekuasaan saling
independan agar dapat terus terbina dan terjaga, sebagai pengorganisasian tersendiri
(self organization) yang bersifat refleksi dapat terus berlangsung.59
Menjalankan kegiatan perusahaan merupakan kegiatan ekonomi yang
diorganisasikan satu lingkup kegiatan perusahaan yang kemudian menjadi bagian
darisutu perusahaan.Dalam menjalankan perusahaan, ada sejumlah ketentuanketentuan hukum yang harus dipedoman sehingga kegiatan perusahaan itu berjalan
dengan tertib dan dapat menghasilkan laba atau keuntungan. Menjalankan perusahaan
erat kaitannya dengan mencari keuntungan atau laba, karena itu menjalankan
perusahaan adalah tindakan bisnis.60
Dalam menjalankan perusahaan atau tindakan bisnis pihak-pihak yang terkait
di dalamnya mempunyai kepentingan dijamin dan dilindungi haknya. Oleh karena
itu, para pihak yang terkait dengan perusahaan harus kepada peraturan hukum sebagai
aturan mainnya sehingga lebih jauh ada ketentuan tentang hokum tentang bagaimana
tugas, wewenang, dan tanggung-jawab pengelola perusahaan kepada
perusahaan
secara bertimbal-balik, maupun kepada masyarakat dan pemerintah (negara).
Ketentuan hukum yang berkaitan dengan menjalankan perusahaan dan
tindakan bisnis mempunyai ciri khusus yang berbeda dengan ketentuan mengenai
pembangunan ekonomi. Ketentuan hukum dibidang perusahaan dan bisnis yang lebih
59
Bdk.Bob Jessop, “Governance and Metagovernance on Reflexevity, Requisite variety and
requisite Irony” dikutip dari http://www.comp.lancs.ac.uk/sociology/soc108rj.htm oleh Ibrahim
assegaf dan Eryanto Nugroho, Tafsir Sempit Akuntabilitas dan Sisi Bisnis Yayasan, jurnal Hukum
Jentera, Edisi 2 tahun 2003, hal 80
60
Pasal 1 huruf b Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan
Universitas Sumatera Utara
36
bcrcorak privat (keperdataan), meskipun mengandung ciri publik (kepentingan
umum, khususnya ciri administratif). Peraturan-peraturan hukum yang dimaksud
dikategorikan sebagai Hukum Perusahaan.
BNI berupaya meningkatkan struktur maupun kerangka tata kelola perusahaan
sesuai dengan perkembangan terkini seperti rekomendasi BaselAccord IISarbanesOxley Act, cetak-biru Arsitektur Perbankan Indonesia, dan International Financial
Reporting Standards. Dengan komitmen untuk mencapai stabilitas keuangan serta
menciptakan nilai stakeholder yang berkesinambungan dalam jangka panjang, BNI
menyadari pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Penerapan tata
kelola perusahaan yang efektif menjadi hal yang mutlak, serta merupakan wahana
bagi BNI untuk bersikap profesional serta hati-hati dalam pengelolaan usahanya demi
kepentingan pemegang saham dan stakeholder lain, diantaranya nasabah, investor,
bank koresponden, otoritas pembuat kebijakan, pemasok serta masyarakat di
lingkungan kerja Perseroan.
Sebagai perusahaan besar, BNI harus mampu menjadi perusahaan yang
menjadi ikon Good Corporate Governance (GCG). Dengan diterapkannya GCG atau
Tata Kelola perusahaan yang baik di BNI, maka secara umum kondisi GCG di
kalangan BUMN diharapkan akan terdorongbaik. Berbagai upaya untuk mencegah
kasus pelanggaran GCG telah dilakukan perusahaan.Salah satunya dengan
membentuk Satuan Pengawasan Internal (SPI).Sejumlah evaluasi internal maupun
eksternal dilakukan. Dan terakhir kali, BNI sudah mencapai indeks GCG 74. SPI
Universitas Sumatera Utara
37
akan mendorong dan melakukan evaluasiatas apa yang dilakukan oleh seluruh
pekerja, apakah GCG itu benar-benar dijalankan atau tidak.
Manajemen GCG nantinya akan menerima pengaduan dengan whistle
blowersystem yang akan diterapkan, selanjutnya tugas SPI melakukan audit
pendalaman (khusus) untuk membedah permasalahan tersebut secara komprehensif
Selanjutnya, rekomendasi akan diberikan ke SDM untuk bisa diambil eksekusinya.
Sejauh ini, untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme auditor, BNI
telah melakukan pelatihan, seperti IT Audit, Risk Base Audit, dan Sertifikasi
lnternasional. Dengan demikian, SPI ke depannya diharapkan mampu memberikan
kontribusi konkret dalam rangka membangun integritas BNI menjadi perusahaan
publik (non listed). Di samping merekrut lulusan baru, BNI juga berupaya
mengidentifikasi bakat-bakat potensial pada karyawan Bank melalui program Talent
Pool. Melalui program ini, tim manajemen yang dipimpin oleh Kepala Divisi di
kantor pusat maupun Kepala Wilayah disetiap kantor wilayah berkewajiban untuk
mengidentifikasi dan mengembangkan bakat-bakat potensial yang ada pada karyawan
di dalam organisasinya. Bakat-bakat potensial tersebut selanjutnya diusulkan sebagai
kandidat pada rencana suksesi manajemen. Melalui program ini, tim manajemen akan
memantau dan mengevaluasi kinerja tiap-tiap kandidat, sekaligus memberikan
pelatihan dan pengarahaan yang tepat kepada mereka.
Untuk meningkatkan implementasi Good Corporate Governance (GCG), BNI
bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan sosialisasi
mengenai tindak pidana korupsi di kantor pusat dan seluruh kantor wilayah BNI
Universitas Sumatera Utara
38
seluruh Indonesia. Kegiatan dimulai sejak awal Agustus 2008 lalu di masing-masing
wilayah operasional BNI, yaitu Medan, Batam, Palembang, Bandung, Semarang,
Surabaya, Makasar, Denpasar, Banjarmasin, Manado dan Jakarta. Sosialisasi tindak
pidana korupsi merupakan salah satu bentuk upaya meningkatkan GCG yang
bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme dan kinerja perusahaan sehingga
dapat memberikan nilai tambah bagi stakeholder.Selain itu, implementasi GCG ini
juga sebagai salah satu cara mitigasi risiko operasional bisnis perusahaan. Selama ini,
BNI juga telah menyelenggarakan beberapa program terkait dengan peningkatan
implementasi GCG, diantaranya penandatanganan komitmen penerapan GCG oleh
setiap anggota komisaris,
direksi, pemimpin divisi dan pemimpin wilayah, dan
penandatanganan “Pakta lntegritas” bagi setiap anggota panitia pengadaan
barang/jasa dan unit pengguna barang/jasa,peluncuran. BNI mengadakan sosialisasi
tentang gratifikasi dalam acara Vendor Gathering, serta meluncurkan Media
Pengaduan, sebagai bentuk perlindungan terhadaprekanan/vendor dalam mengikuti
proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan BNI,secara transparan, wajar dan
dapat dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran
mengenai GCG, dalam waktu dekat juga akan diluncurkanaplikasi e-learning tentang
GCG bagi seluruh pegawai BNI.
Secara sederhana, sejumlah pihak menerjemahkan governance sebagai Tata
Pemerintahan.Tata pemerintahan disini bukan hanya dalam pengertian struktur dan
manajemen lembaga yang disebut eksekutif karena pemerintah (government)
hanyalah salah satu dari tiga aktor besar yang membentuk lembaga yang disebut
Universitas Sumatera Utara
39
governance. Dua aktor lain adalah private sektor (sektor swasta) dan civil society
(masyarakat madani). Karenanya memahami governance adalah memahami
bagaimana integrasi peran antara pemerintah (birokrasi), sektor swasta dan civil
society dalam suatu aturan main yang disepakati bersama. Lembaga pemerintah harus
mampu menciptakan lingkungan ekonomi,politik, sosial budaya, hukum dan
keamanan yang kondusif Sektor swasta berperan aktif dalam menumbuhkan kegiatan
perekonomian yang akan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan,
sedangkan civil society harus mampu berinteraksi secara aktif dengan berbagai
macam aktivitas perekonomian, sosial dan politik termasuk bagaimana melakukan
kontrol terhadap jalannya aktivitas-aktivitas tersebut.United National Development
Programme (UNDP1997) mendefinisikan governancesebagai suatu penggunaan
wewenang ekonomi, politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan negara
pada semua tingkat.61
Sebagai institusi yang bergerak di bidang perbankan, BNI pemuda dalam
melaksanakan implementasi GCG dalam menerima pegawai yang juga diketahui oleh
CEO, berpedoman pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang
Pelaksanaan Good Corporate Governance.Bagi Bank Umum yang telah diubah
dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/ 14/PBI/2006 tentang Perubahan Atas
Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate
Governance Bagi Bank Umum.62
61
62
Yadi M.Erlangga. Konsep Dasar Good Governance
Wawancara dengan Bapak Ardi, Manager Legal BNI, selasa, 22 Mei 2012
Universitas Sumatera Utara
40
BNI juga menggunakan konsultan untuk proyck yang bersifat khusus
misalnya SDM dan didasarkan pada kontrak yang jelas meliputi lingkup kerja,
tanggung jawab, jangka waktu pekerjaan, dan biaya.Konsultan tersebut merupakan
Pihak Independen yang memiliki kualifikasi untuk mengerjakan proyek yang bersifat
khusus. Pemilihan konsultan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.63
Perlindungan hukum kepada Pemimpin dan Pegawai SPI Direksi dan Dewan
Komisaris BNI berkomitmen untuk selalu memberikan perlindungan hukum kepada
Pemimpin dan Pegawai SPI rangka menjalankan tugas pokok, kewajiban,
tanggungjawab dan wewenang SPI dengan mengacu kepada ketentuan yang berlaku
di BNI.
B. Rekrutmen dan Pengembangan karir di BNI
1.
Arti dan Tujuan Sumber Daya Manusia
Tujuan pemberdayaan sumber daya manusia yang mempunyai/memiliki
kemampuan yang kondusif, adanya wewenang yang jelas dan dipercaya serta adanya
tangung jawab yang akuntabel dalam rangka pelaksanaan misi organisasi.
Keberhasilan manajemen dalam suatu organisasi, baik organisasi yang
bergerak dalam bidang pemerintahan, maupun organisasi yang bergerak dalam
bidang usaha (bisnis), sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang ada pada
organisasi tersebut. Artinya manusia yang memiliki daya, kemampuan sesuai dengan
tuntutan kebutuhan dalam setiap pelaksanaan kegiatan organisasi sehingga terwujud
kinerja sebagaimana diharapkan.
63
Wawancara dengan Bapak Agus, Legal/HRD BNI, senin, 21 Mei 2012
Universitas Sumatera Utara
41
Aspek atau komponen yang perlu mendapat perhatian dalam rangka
pemberdayaan sumber daya manusia adalah :
Kebijakan BNI yang bersifat strategis belum seluruhnya diungkapkan kepada
pegawai, penggunaan jasa konsultan dan penasehat dilaksanakan sesuai ketentuan.
Direksi telah memberikan kuasa khusus kepada Pemimpin Divisi/unit/ kantor cabang
Tugas dan tanggung jawab Dircksi tclah diatur dalam pcmbagian tugas Direksi,waktu
kerja dan tata tertib kerja telah diatur dalam Board Manual,Direksi tidak pernah
memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan atau mengurangi
aset dan mengurangi kepentingan BNI.64
Kebijakan dan keputusan strategis diputuskan oleh Direksi dalam Rapat
Direksi, setiap rapat Direksi telah didokumentasikan dalam risalah rapat termasuk
jika terdapat disenting opinions, keputuan rapat Direksi disampaikan kepada
Divisi/unit satuan untuk ditindak-lanjuti.
Selanjutnya, BNI memusatkan operasional back- office di tingkat cabang ke
Pusat Operasi Wilayah, sehingga kantor cabang mampu memberikan layanan yang
lebih baik dan dapat meningkatkan pengembangan bisnis dalam cakupan wilayahnya.
Untuk mendukung pengembangan layanan tersebut, BNI membentuk posisi Service
Manager (SM) pada struktur organisasi tingkat kantor wilayah dan cabang dengan
tanggung jawab terhadap penerapan dan peningkatan standar layanan. Standar
layanan tersebut mencakup aspek keramahan, layanan yang profesional dan handal,
64
Wawancara dengan Bapak Achmad Santoso Miad, Kepala BNI Kantor Wilayah Pemuda,
Jumat 20 Juli 2012
Universitas Sumatera Utara
42
serta kondisi kantor cabang yang menyenangkan. Melalui revitalisasi organisasi ini,
BNI akan menambah jangkauan layanannya dan meningkatkan efektivitas
operasionalnya, serta mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis Bank.
2. Manajemen Sumber Daya Manusia yang strategik
Merupakan kenyataan bahwa dewasa ini karyawan adalah sentral untuk
mencapai keunggulan bersaing telah mengarah munculnya bidang yang dikenal
sebagai manajemen sumber daya manusia strategik. Manajemen sumber daya
manusia strategik didefenisikan sebagai “tautan sumber daya manusia dengan tujuan
dan sasaran strategik untuk meningkatkan kinerja bisnis dan mengembangkan kultur
organisasi yang mendorong inovasi dan kelenturan”.
Sumber Daya manusia strategik berarti menerima fungsi sumber daya manusia
sebagai mitra starategik dalam formulasi strategi organisasi, juga dalam implementasi
strategi tersebut melalui kegiatan sumber daya manusia, antara lain perekrutan,
seleksi, pelatihan, pengimbalan personil. Sumber biaya manusia strategik mengakui
kemitraan sumber daya manusia dalam strategi proses. Istilah strategi sumber daya
manusia menunjuk kepada jalan tindakan sumber daya manusia khusus yang
direncanakan organisasi untuk berupaya mencapai sasarannya.
Manajemen sumber daya manusia merupakan mitra sejajar dalam proses
perencanaan strategik. Peran manajamen sumber daya manusia bukan sekedar
menyesuaikan kegiatan pada tuntutan startegi bisnis, dan tidak sekedar menjalankan
tugas operasional sehari-hariseperti memastikan bahwa karyawan sudah dibayar.
Universitas Sumatera Utara
43
Kebutuhan memotivasi angkatan kerja organisasi kedalam keunggulan bersaing
berani manajemen sumber daya manusia harus menjadi mitra sejajar, dalam formulasi
dan implementasi strategi bersaing yang mencakup seluruh organisasi.
Merumuskan
rencana
strategik
keseluruhan
organisasi
menuntut
pengidentificasian lain, penganalisisan, dan pengembangan dua perangkat kekuatan,
yaitu peluang dan ancaman eksternal organisasi di satu pihak, dan kekuatan dan
kelemahan internalnya, dipihak lain. Ini saatnya sumber daya manusia strategik
muncul, karena, manajemen sumber daya manusia dapat memainkan peran dalam
pengamatan lingkungan, dengan kata lain mengidentifikasi dan menganalisis peluang
dan ancaman eksternal yang penting bagikeberhasilan organisasi seperti para
pesaing.65
Dalam melaksanakan tugasnya, Manajemen Sumber Daya Manusia terkait
dengan proses perekrutan tenaga kerja, yang sangat berpengaruh terhadap
kelangsungan kinerja perusahaan. Penempatan tenaga kerja di jalur yang tepat sangat
dibutuhkan dalam rangka pelayanan terbaik yang dapat diberikan oleh tenaga kerja
kepada perusahaan yaitu didahulukan dengan pengrengkrutan tenaga kerja yang baik,
kemudian pengorientasian dan pelatihan pendahuluan yang baik dimana harapan
karyawan pada masa orientasi dan pelatihan.
Pengadaan (procurement) adalah fungsi operasional pertama manajemen
sumber daya manusia. Pengadaan karyawan merupakan masalah penting, sulit, dan
65
Sudarmayanti, Manajemen Sumber Daya Manusia, Refika aditama, Bandung, hal 193
Universitas Sumatera Utara
44
kompleks karena untuk mendapatkan dan menempatkan orang-orang kompeten,
serasi, serta efektif tidaklah semudah membeli dan menempatkan mesin.
Tenaga kerja atau pegawai atau karyawan adalah aset utama perusahaan yang
menjadi perencana dan pelaku aktif dari setiap aktivitas organisasi. Mereka
mempunyai pikiran, perasaan, keinginan, status, dan latar belakang pendidikan, usia,
dan jenis kelamin yang heterogen yang dibawa ke dalam organisasi perusahaan.
Kualitas dan kuantitas karyawan harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan supaya
efektif dan efesien menunjang tercapainya tujuan. Penempatan tenaga kerja juga
harus sesuai dengan keinginan dan ketrampilannya.
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
induksi untuk mendapatkan karyawan yang efektif dan efesien membantu tercapainya
tujuan perusahaan. Pengadaan karyawan harus mendapat perhatian yang serius serta
didasarkan pada analisis pekerjaan, uraian pekerjaan, spesifikasi pekerjaan,
persyaratan pekerjaan, dan evaluasi pekerjaan, pengayaan pekerjaan, perluasan
pekerjaan, dan penyederhanaan pekejaan. Pengadaan calon karyawan hendaknya
dilakukan dengan baik, agar karyawan yang diterima sesuai dengan kebutuhan
pekerjaan yang akan dilakukan.
Proses atau langkah-langkah pengadaan atau perekrutan karyawan meliputi
peramalan kebutuhan tenaga kerja, penarikan (recruitmen), seleksi (selection), dan
penempatan, orientasi serta induksi karyawan. Langkah pertama dalam pengadaan
karyawan berawal dari peramalankebutuhan tenaga kerja, yang dimaksudkan adalah
agar jumah kebutan tenaga kerjamasa kini dan masa depan sesuai dengan beban
Universitas Sumatera Utara
45
pekerjaan, kekosongan-kekosongan dapat dihindarkan dan semua pekerjaan dapat
dikerjakan. Peramalan kebutuhan tenaga kerja ini harus didasarkan kepada informasi
faktor internal dan eksternal perusahaan.Faktor-faktor tersebut dapat meliputi jumlah
produksi, ramalan-ramalan usaha, perluasan perusahaan, perkembangan teknologi,
tingkat permintaan dan penawaran tenaga kerja serta perencanaan karier pegawai.
Langkah kedua dalam pengadaan karyawan adalah penarikan tenaga
kerja,yang dimaksudkan adalah masalah penting dalam pengadaan tenaga kerja. Jika
penarikan tenaga kerja berhasil, maka banyak lamaran-lamaran yang masuk, peluang
untuk mendapatkan karyawan yang baik terbuka lebar, karena perusahaan dapat
memilih terbaik dari yang baik.
Langkah ketiga adalah seleksi penerimaan karyawan. Karyawan adalah
kekayaan atau aset utama dari setiap perusahaan. Peran karyawan sangatmenentukan
berhasil tidaknya perusahaan mencapai sasarannya. Perusahaan harus selalu berusaha
untuk memperoleh dan menempatkan karyawan yang berkualitas pada setiap jabatan
dan pekerjaan supaya pelaksanaan pekerjaan lebih berdaya guna serta berhsil guna.
Pelaksanaan seleksi haruslah dilakukan secara jujur, cermat, dan objektif supaya
karyawan yang diterima benar-benar berkualitas untuk menjabatdan melaksanakan
pekerjaan. Dengan pelaksanaan seleksi yang baik, karyawan yang diterima akan lebih
berkualitas sehingga pembinaan, pengembangan, dan pengaturan karyawan menjadi
lebih mudah.
Langkah terakhir dalam pengadaan karyawan adalah penempatan, orientasi,
dan induksi karayawan. Penempatan karyawan adalah tindak lanjut dari seleksi, yaitu
Universitas Sumatera Utara
46
menempatkan calon karyawan yang diterima (lulus seleksi) pada jabatan atau
pekerjaan yang membutuhkannya dan sekaligus mendelegasikan wewenang kepada
orang tersebut. Dengan demikian, calon karyawan itu akan dapat mengerjakan tugastugasnya pada jabatan bersangkutan. Setelah karyawan tersebut ditempatkan pada
suatu posisi, maka ada orientsi pekerjaan. Orientasi atau perkenalan bagi setiap
karyawan baru harus dilakukan untuk menyatakan bahwa mereka betul-betul diterima
dengan tangan terbuka menjadi karyawan yang akan bekerja sama dengan karyawan
lainnya pada perusahaan tersebut. Setelah adanya perkenalan akan pekerjaan dan
lingkungannya, maka dilakukan induksi karyawan. Maksudnya adalah kegiatan untuk
mengubah prilaku karyawan baru supaya menyesuaikan diri dengan tata tertib
perusahaan.Induksi pada dasarnya merupakan tugas dari atasan langsung karyawan
yang bersangkutan sehingga karyawan baru menyadari bahwa dia harus mentaati
peraturan-peraturan perusahaan dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.
Perjanjian ketenagakerjaan sesuai dengan paal 1320 KUHPerdata terdiri dari 4
(empat) syarat yaitu :
a.
kesepakatan atara kedua belah pihak;
b.
kecakapan untuk membuat suatu perjanjian;
c.
sesuatu hal tertentu yang dalam hal ini untuk menerima tenaga kerja dan
mengerjakan tenaga kerja;
d.
sesuatu sebab atau hal yang diwenangkan (halal), jadi pekerjaan itu merupakan
yang diwenangkan.
Universitas Sumatera Utara
47
Peran serta perusahaan itu akan dapat dicapai apabila dalam tubuh
perusahaan-perusahaan itu terjalin kerja ama yang erat antara pengusaha dan para
tenaga kerjanya dalam melaksanakan hubungan kerja. Upah yang diberikan dari
perusahaan terhadap tenaga kerjanya haruslah memiliki sifat dan karakteristik yang
agak fundamental yaitu :
a.
upah harus menjamin upah minimum, dengan demikian para tenaga kerja tidak
b.
akan berkurang konsentrainya karena ingatnnya selalu melayang kepada keluarga
yang harus dihidupinya;
c.
upah tersebut dapat dterima atau disetujui oleh para buruh dengan
penuhkesadaran;
d.
upah mencerminkan apresiasi kemampuan dan kemajuan para tenaga kerja;
e.
upah dengan perinciannya haruslah sesederhana mungkin, dengan demikian
mudah dimengerti oleh para tenaga kerja;
f.
upah tidak akan melibatkan secara terlalu besar atas biaya tidak langsung
(overhead);
g.
upah haruslah fleksibel dalam menghadapi perubahan-perubahan yang tidak
diharapkan;
h.
upah hendaknya dapat memotivasi peningkatan kuantitas produk tanpa
menurunkan kualitasnya;
i.
upah-upah lain yang berupa insentif (bonus dan lain sebagainya) harus
diterimakan bersama-sama dengan upah dasarnya, tak perlu dipisah-pisahkanatau
Universitas Sumatera Utara
48
ditunda-tunda, dengan demikian pihak buruh beserta keluarganya akandapat
direncanakan pemakaiannya secara lebih bermanfaat;
j.
sistem pengupahan harus dapat dirasakan berkeadilan dan berperikemanusiaan
baik oleh pihak buruh maupun oleh pihak pengusaha (manajemen); dan
k.
manajemen yang baik berarti pula tidak terlalu mengikuti pasang surut
penawaran tenaga kerja dalam perubahan upah.
Menurut Charles Babbage dan Andrew Uze maka mereka memberikan
pandangan mengenai hubungan antara tenaga kerja dan perusahaan yaitu :66
a.
upah merupakan faktor motivasi utama yang melatarbelakangi kegiatan kerja;
b.
keuntungan pihak pengusaha dan upah para tenaga kerja dapat diputar guna
mengingkatkan produktivitas.
Sehingga jika dilihat lebih lanjut maka upah yang wajar dapat memberikan
motivasi kerja bagi tenaga kerja dimana dengan upah maka tenaga kerja tersebut
dapat memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan psikis, serta adanyakebutuhankebutuhan psikologis dimana adanya keinginan tenaga kerja dalam psikologis,
sekuriti, status, pengakuan dan ambisi, kesemuanya itu membawa kepada gairah kerja
yang berdampak kepada kemajuan perusahaan.
Motivasi kerja menurut Chester Barnar adalah meningkatnya pelaksanaan
kerja/produktivitas kerja para tenaga kerja sehubungan dengan para tenaga merasakan
dan mentaati peraturan kerja yang baik yang diperuntukkan bagi mereka, ialah:67
66
Siswanto Sastrohadiwiryo, Manajemen Tenaga kerja Indonesia, PT Bumi Aksara,
Jakarta,2003, hal. 114-115
Universitas Sumatera Utara
49
a. motivasi karena terangsang oleh materi (uang dan jaminan hidup); motivasi ini
dilatar belakangi oleh adalanya imbalan berupa materi.
b. motivasi karena terangsang oleh adanya kesempatan untuk memperoleh
penghargaan, prestise atas prestasi dan kuasa perorangan;
c. syarat-syarat
pekerjaan
yang
diinginkannya,
keberhasilan
lingkungan,
ketenangan dalam pelaksanaan kerja dan ruangan-ruangan kerja yang terpelihara
dengan baik;
d. kebanggaan atas pekerjaan yang ditanganinya, kecukupan imbalan bagi
penghidupan keluarga, jasa terhadap orang-orang lain, patriotisme dan atau
peranan keagamaan.
Motivasi kerja menurut Flowman dan Peterson dalam buku Siswanto
Sastrohadiwiryo adalah dikarenakan 3 hal yaitu:68
a.
financial incentives yaitu meliputi upah atau gaji yang layak, kemungkinan
memperoleh tambahan bagi kesejahteraan yang berupa pemberian bagian
keuntungan
perusahaan
di
akhir
tahun,
adanya
kesejahteraan
berupa
pemeliharaan kesehatan rekreasi, jaminan sosial dan atau jaminan bagi haritua;
b.
non financial incentives yaitu dalam hal ini misalnya keadaan pekerjan yang
memuaskan, yang meliputi keadaan tempat kerja, jam kerja, tugas kewajiban
yang menggairahkan serta rekan-rekan sekerja yang saling harga menghargai
baik tingkat atas, tingkat menengah, dan tingkat bawahan. Adanya sikap dan
67
Machrany, Motivasi dan Disiplin Kerja (Seri Produktivitas II ), LSIUP, Jakarta, 1985,hal.
91-92
68
Siswanto Sastrohadiwiryo, Loc.cit.
Universitas Sumatera Utara
50
kebijaksanaan pengusaha dalam menghayati keinginan para tenaga kerja pada
umumnya, seperti jaminan kelangsungan kerja, promosi, penanggapan atas
keluhan-keluhan, mengadakan rekreasi-rekreasi dalam rangkapenyegaran demi
menghilangkan berbagai kejenuhan.
c.
Social incentives yaitu yang mendorong perilaku itikad-itikad pihak pimpinan
atau staf pengusaha yang menggembarkan itikad-itikad yang membantu para
buruh dalam wujud sifat-sifatnya yang membimbing atau memberikan tuntutantuntutan kepada para tenaga kerjabawahannya atas dasar rasa persaudaraan demi
turut memajukan parabawahannya itu.
Penempatan tenaga kerja di jalur yang tepat sangat dibutuhkan dalam rangka
pelayanan terbaik yang dapat diberikan oleh tenaga kerja kepada perusahaan yaitu
didahulukan
dengan
pengrengkrutan
tenaga
kerja
yang
baik,
kemudian
pengorientasian dan pelatihan pendahuluan yang baik dimana harapan karyawan
pada masa orientasi dan pelatihan.
Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
induksi untuk mendapatkan tenaga kerja yang secara efektif dan efisien mampu
mendukung tercapainya tujuan perusahaan. Pengadaan tenaga-kerja merupakan
langkah utama guna mencerminkan berhasil-tidaknya suatu perusahaan dalam
mencapai tujuannya.Jika tenaga-kerja yang diterima berkompeten, maka usaha untuk
mewujudkan tujuan relatif mudah. Sebaliknya bila tenaga-kerja yang diperoleh
kurang memenuhi persyaratan, maka akan sangat sulit bagi perusahaan untuk
mencapai tujuannya.
Universitas Sumatera Utara
51
Kebijakan perusahaan dalam menempatkan karyawan yang tepat pada posisi
yang tepat sangat dibutuhkan dimana kebijakan perusahaan tersebut dibuat dalam
peraturan perusahaan yang ditulis dalam sebuah buku manual personalia yang berisi
berbagai peraturan mengenai segala hal mengenai kebijakan perusahaan misalnya
mengengai tunjangan asuransi, hal mengenai hari libur dan hari raya, prosedur
kedisiplinan dan berbagai hal lainnya yang berkaitan dengan pegawai perusahaan,
sebab buku manual personalia membantu perusahaan dalam hal :69
a.
mengenali bahwa setiap orang adalah individu yang penting; denganadanya buku
manual personalia ini, maka setiap individu secara terkhusus memiliki catatancatatan tersendiri yang dapat menjadi dasar penilaian terhadap seorang karyawan.
b. menetapkan berbagai tujuan dan standar yang tepat untuk setiap posisipekerjaan
dalam organisasi; dengan adanya buku manual personalia ini,maka manajemen
perusahaan dapat dengan jelas dan terperinci menentukan dan membuat
gambaran pekerjaan (job description) untuk masing-masing posisi. Sehingga
antara satu tugas pekerjaan dengan pekerjaan lainnya tidak tumpang tindih.
c.
secara rutin melakukan evaluasi kinerja terhadap semua pegawai dan
memberikan umpan balik kepada mereka berupa hasil penilaian kinerja mereka.
Hasil penilaian ini digunakan sebagai acuan bagi peningkatan karier, seperti
peningkatan posisi atau jabatan dalam struktur perusahaan; dalam buku manual
69
Lin Grensing-Pophal, SPHR, Manajemen Sumber Daya Manusia, PT. Ina Publikatama,
Jakarta,2006, hal 187
Universitas Sumatera Utara
52
personalia juga berfungsi sebagai buku evaluasi setiappegawai, yang berdampak
pada penilaian, pengembangan karier, mutasiserta promosi pegawai.
d.
melakukan rekrutmen dan promosi personal yang bersumber dari internal
perusahaan, sehingga memungkinkan semua personal internal yang memenuhi
persyarakatan, untuk dapat mengisi lowongan pekerjaan atau posisi pekerjaan
baru dalam perusahaan;
e.
mempertahankan skala gaji yang kompetitif dan memuaskan, dibandingkan
dengan skala gaji yang dipertahankan oleh perusahaan lain dan komunitas bisnis
setempat. Termasuk dalam hal ini adalah pengelolaan gaji yang menghargai nilai
relatif dari setiap posisi, serta memberikan penghargaan bagi mereka yang
memiliki kinerja kerja yang baik, dan memberikan kontribusi yang bermanfaat
bagi perusahaan;
f.
menyediakan lingkungan kerja yang efisisen dengan cara mempertahankan
kualitas fisik pekerjaan dan dengan menumbuhkan hubungan yang harmonis di
antara para pegawai;
g.
memberikan kegiatan pelatihan, pendidikan dan pengembangan pegawai yang
terencana
dan
menjadikannya
sebagai
bentuk
investasi
yang
saling
menguntungkan antara para pegawai dan perusahaan;
h.
menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang kondusif yang dapat
mendorong terciptanya suasana keterbukaan antar pegawai di seluruh tingkatan
kepegawaianan dalam berkomunikasi dan di dalamnya semua anggotanya
pegawai terdorong untuk berkomunikasi di semua tingkatan kepegawaian.
Universitas Sumatera Utara
53
Berdasarkan fungsi buku manual manajemen diatas, dapat disimpulkan bahwa
setia manajemen perusahaan haruslah memiliki buku manual manajemen, karena
setiap pegawai akan dilihat potensi, keahlian serta keterampilannya yang dapat
dikembangkan dan didayagunakan oleh perusahaan sesuai dengan kebutuhan
perusahaan, dengan tetap bertujuan memajukan dan mengembangkan perusahaan.
Pengembangan tersebut juga bertujuan untuk mengembangkan perusahaan
secara tidak langsung. Secara tidak langsung disini berarti bahwa bila sumber daya
manusia yang ada dikembangkan maka akan menyumbangkan idekreatif, pekerjaan
yang terbaik serta loyalitas pegawai terhadap perusahaan. Serta dengan adanya
pengembangan sumber daya ini berakibat pada kepuasan konsumen yang dilayani
serta memperoleh kebutuhan yang mereka gunakan dari perusahaan.
Prinsip pegembangan adalah peningkatan kualitas dan kemampuan bekerja
karyawan dimana diadakan juga program pengembangan yaitu suatu jenis rencana
yang konkret karena di dalamnya sudah tercatum sasaran, kebijaksanaan, prosedur,
anggaran dan waktu pelaksanaannya. Sedangkan jenis-jenis dari pengembangan
tersebut memberikan suatu keinginan dari karyawan dalam mengembangkan dirinya
sehingga jenis-jenis pengembangan yaitu :
1.
Pengembangan secara informal yaitu karyawan atas keinginan dan usaha sendiri
melatih dan mengembangkan dirinya dengan mempelajarai buku-buku literatur
yang ada hubungannya dengan pekerjaan atau jabatannya. Pengembangan secara
informal menunjukkan bahwa karyawan tersebut berkeinginan keras untuk maju
Universitas Sumatera Utara
54
dengan cara meningkatkan kemampuan kerjanya. Hal ini bermanfaat bagi
perusahaan karena prestasi kerja karyawan semakin baik.
2.
Pengembangan secara formal yaitu karyawan ditugaskan perusahaan untuk
mengikuti pendidikan atau latihan baik yang dilakukan perusahaan maupun yang
dilaksanakan olrh lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan. Pengembangan
secara formal dilakukan perusahaan karena tuntutan pekerjaan saat ini ataupun
masa datang, yang sifatnya non karier atau meningkatkan karier seseorang
karyawan.
3.
Perbedaan GCG dengan Bussiness Ethics
Menjawab
berbagai
tantangan
yang asalnya dari
pihak-pihak
yang
berkepentingan (stakeholders) bahwa perusahaan sekarang harus memberikan
jawaban yang memuaskan bagi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders) yang
dari waktu ke waktu semakin beragam (diverse) demi mencapai maksimalisasi nilai
dalam jangka panjang (schieving long-run valuemaximization).70
Namun istilah corporate governance itu sendiri secara eksplisit muncul
pertama kali pada tahun 1984 dalam tulisan Robert I. Tricker.The Objective of Good
Corporate Governance (GCG) :
a.
Prinsip-Prinsip GCG
b.
Transparansi (transparency), yakni keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi
materil dan relevan mengenai perusahaan.
70
Cornel dan Shapiro, dalam tulisannya di majalah Financial Management, yang berjudul
“Corporate Stakeholders and Corporate Finance”,
Universitas Sumatera Utara
55
c.
Akuntabilitas (accountability), yaitu yakni adanya kejelasan fungsi pelaksanaan
dan
pertanggungjawaban
dari
organ
perusahaan
sehingga
pengelolaan
perusahaan dapat terlaksana secara efektif.
d.
Kemandirian (independency), yakni pengelolaan perusahaan dilakukan secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dan pihak
manapun yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan prinsip-prinsip
pengelolaan perusahaan yang sehat.
e.
Responsibility (Pertanggungjawaban), yakni kesesuaian dalam pengelolaan
perusahaan terhadap ketentuan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan
perusahaan yang sehat.
f.
Fairness (Kewajaran), yakni keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hakhak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangundanganyang berlaku.
g.
Defenisi Good Corporate Governance (GCG) secara umum merupakan suatu
system yang mengatur, mengarahkan, mengontrol dan mengawasi jalannya suatu
perusahaan yang termasuk didalamnya terdapat peranan shareholder dan
stakeholder berkepentingan, sehingga dapat menjalankan peranannya dengan
baik.
h.
Sedangkan Bussiness Ethics merupakan suatul sistem tentang tata cara ideal
pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas
yang berlaku secara universal dan secara ekonomi/sosial, dan penerapan norma
dan moralitas ini menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis.
Universitas Sumatera Utara
56
GCG bagi suatu perusahaan dimaksudkan sebagai pedoman manajemen dan
pegawai dalam menjalankan praktek bisnis yang memenuhi persyaratan Good
Governance. Sedangkan tujuannya adalah :
a.
Memaksimalkan
value
Perusahaan
dengan
cara
meningkatkan
prinsip
keterbukaan, akuntabilitas, dipercaya dan dapat dipertanggung jawabkan.
b.
Memastikan pengelolaan Perusahaan dilakukan secara profesional, transparan,
dan efisien.
c.
Mewujudkan kemandirian dalam membuat keputusan sesuai dengan peran dan
tanggung jawab masing-masing pimpinan dalam Perusahaan tersebut.
d.
Memastikan setiap pegawai dalam perusahaan berperan sesuai wewenang
dantanggung jawab yang telah ditetapkan.
e.
Mewujudkan praktek bisnis yang sejalan dengan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance secara konsisten.
4.
The main issue of GCG
Implementasi GCG saat ini telah menjadi isu sentral dalam kalangan publik
diIndonesia. Respon pihak Pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN),
perusahaan swasta maupun perusahaan multi nasional sangat positif atas upaya
mewujudkan GCG tersebut. Berbagai program di negara kita selama ini, sering kali
hanya menjadi demam sesaat dan kurang menyentuh pada tataran implementasi
dalam pengelolaan bisnis di Indonesia. Konsep menenai GCG tidak hanya penting
untuk diketahui oleh Chief Executive Officer (CEO) semata, namun perlu juga
Universitas Sumatera Utara
57
diketahui oleh karyawan, pemegang saham, Pemerintah termasuk pihak masyarakat
(publik). Oleh karena itu adanya upaya untuk menyebarluaskan konsep dan
implementasi GCG perlu kita dukung bersama. Lembaga-lembaga internasional,
seperti Bank Dunia (World Bank), Bank Pembangunan Asia (AsianDevelopment
Bank) dan Organization for Economic Countries Development(OECD) bekerjasama
dengan Pemerintah berbagai Negara turut menyebarluaskan pengetahuan mengenai
GCG. Beberapa lembaga di Indonesia yang turut serta aktif mensosialisaikan dan
mengembangkan konsep GCG yaitu Forum forCorporate Governancein Indonesia
(FCGI), The Indonesian Institute forCorporate Governance (IICG), Transparency
International Indonesia (TII) dan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI).Example
of good and bad corporate Bad Corporate.
Beberapa Tipikal Penyimpangan Korporasi :
a.
Penggunaan perusahaan sebagai vehicle untuk mendapatkan dana murah dari
masyarakat.
b.
Ketidakterbukaan atas informasi bisnis yang berisiko.
c.
Penggunaan nama perusahaan untuk pinjaman pribadi.
d.
Keputusan bisnis yang diambil karenamoral hazard.
e.
Intervensi pemegang saham atau pihak lain dalam kegiatan perusahaan.
f.
Adanya praktik perusahaan dalam perusahaan.
g.
Perusahaan “highly leveraged” tidak mempertimbangkan service capacity.
h.
Diversifikasi dan ekspansi usaha yang tidak prudensial.
i.
Risiko tidak dikelola secara hati-hati.
Universitas Sumatera Utara
58
j.
Diabaikannya hak-hak pemegang saham minoritas.
5.
Tuntutan Kepada Pegawai BNI dalam Bersikap.
Pegawai BNI dalam proses rekrutmen, training dan development workshop,
BNI adalah sebagai bentuk tampak pada scoring untuk lulus sangat tinggi, BNI
menseleksi dari ribuan orang, artinya untuk menjadi pegavvai BNI, tentunya harus
memiiiki well brain (Otake yang cemerlang). Setelah itu BNI melakukan training
selama 1 bulan, 3 bulan atau 1 tahun dan selalu ada training-training yang
berkelanjutan, artinya pegawai BNI itu well training (dilatih dengan sangat bagus),
dalam training diberi fasilitas yang sangat canggih berupa computer, internet, tools
marketing, system perbankan yang canggih, artinya BNI melakukan training dengan
well-equqyment (peralatan canggih). Dari segi SDM, BNI
optimis
tidak hanya
survive dalam era reformasi.
C. Sistem Pengendalian Internal .
Sistem Pengendalian Internal Keuangan diberlakukan untuk memberikan
jaminan kebenaran informasi keuangan, efektivitas dan efisiensi proses pengelolaan
Perseroan serta kepatuhan kepada perundang-undangan yang terkait. BNI senantiasa
memeliharasistem pengendalian internal yang efektif untuk mengamankan investasi
dan aset Perseroan. Sistem pengendalian internal yang dimaksud mencakup hal-hal
antara lain sebagai berikut : .
1.
Lingkungan pengendalian internal dalam Perseroan yang disiplin dan terstruktur,
yang terdiri dari :
Universitas Sumatera Utara
59
a. Integritas, nilai etika dan kompetensi pegawai
b. Cara yang ditempuh manajemen dalam melaksanakan kewenangan dan
tanggung jawabnya;
c. Pengorganisasian dan pengembangan sumber daya manusia;
d. Perhatian dan arahan yang dilakukan oleh Direksi
2.
Pengkajian
dan
pengelolaan
risiko
usaha
yaitu
suatu
proses
untuk
mengidentifikasi, menganalisis, menilai dan mengelola risiko usaha relevan;
3.
Aktivitas pengendalian yaitu tindakan-tindakan yang dilakukan dalam suatu
proses pengendalian terhadap kegiatan Perseroan pada setiap tingkat dan unit
dalam struktur organisasi Perseroan, antara lain mengenaikewenangan, otorisasi,
verifikasi,
rekonsiliasi, penilaian atas prestasi kerja, pembagian tugas dan
keamanan terhadap asset Perseroan;
4.
Sistem informasi dan komunikasi yaitu suatu proses.
D. Penciptaan Situasi Kondusif Untuk Melaksanakan Good Corporate
Governance
Prinsip Dasar GCG diperkan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien,
transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan.Oleh karena itu
penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara
dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan
masyarakat sebagai pengguna produkdan jasa dunia usaha. Prinsip-prinsip dasar yang
harus dilaksanakan oleh masing- masing pilar adalah:
Universitas Sumatera Utara
60
1.
Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan
peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten
(consistent law enforcement)
2.
Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar
pelaksanaan usaha.
3.
Masyarakat sebagai pengguna produk danjasadunia usaha serta pihak yang
terkena dampak dari
keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan
melakukan kontrol social (social control) secara obyektif dan bertanggung
jawab.71
Good Corporate Governance Contoh nyata yang tampak dari penerapan/
implementasi GCG pada BNI, salah satunya BNI telah menyelenggarakan beberapa
program
terkait
dengan
peningkatan
implementasi
GCG,
di
antaranya
penandatanganan komitmen penerapan GCG oleh setiap anggota komisaris, direksi,
pemimpin divisi dan pemimpin wilayah, dan penandatanganan “Pakta Integritas” bagi
setiap anggota panitia pengadaan barang/jasadan unit pengguna barang/jasa,
peluncuran. Awal tahun lalu, BNI mengadakan sosialisasi tentang gratifikasi dalam
acara Vendor Gathering,
serta meluncurkan Media Pengaduan, sebagai bentuk
perlindungan terhadap rekanan/vendor dalam mengikuti proses pengadaan barang
dan
jasa
di
lingkungan
BNI,
secara
transparan,
wajar
dan
dapat
dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran mengenai
71
Sambutan Ketua Komite Nasional Kebijakan Govemance
Universitas Sumatera Utara
61
GCG, dalam waktu dekat juga akan diluncurkan aplikasi e-learning tentang GCG
bagi seluruh pegawai BNI.
BNI dapat melakukan kegiatan pengawasan dan pengendalian. Pengawasan
adalah proses, evaluasi pelaksanaan pengelolaan Perusahaan untuk memastikan
proses berjalan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan untuk mendukung
pencapaian tujuan Perusahaan. Dalam melaksanakan fungsi pengawasan ini perlu
disusun ketentuan yang dapat dijadikan pedoman presedur audit internal dalam
pelaksanaan tata kelola perusahaan yang meliputi:
a.
Mekanisme audit internal.
b.
Tugas, wewenang dan tanggung jawab.
c.
Pelaksanaan audit internal.
d.
Mekanisme monitor dan evaluasi efektifitas upaya perbaikan.
Secara berkala Internal Auditor diwajibkan untuk mengidentitikasi resiko
resiko yang ada di Perusahaan untuk dijadikan bagian dari program pengendalian
internal yang akan dilaksanakan. Pengendalian adalah proses pencegahan terjadinya
penyimpangan - penyimpangan kebijakan strategis maupun operasional Perusahaan
terhadap peraturan yangberlaku maupun ketentuan-ketentuan pengelolaan perusahaan
Publik.
Dalam melaksanakan pengendalian ini, maka manajemen Perusahaan perlu
untuk:
a.
Memeriksa seluruh kebijakan Perusahaan yang telah ataupun akanditetapkan
scsuai peraturan yang berlaku.
Universitas Sumatera Utara
62
b.
Mcngusulkan perubahan dan perbaikan keputusan bila tidak sejalan dengan
peraturan yangbcrlaku.
c.
Memberikan masukan dan saran, terhadap Pegawai dan Pimpinan Perusahaan.
E. Komite Pengawasan Penerapan GCG
Dalam pelaksanaan pengawasan dan pengendalian GCG perlu dibentuk
Komite Pengawas Penerapan GCG yang membantu manajemen dalam menjalankan
fungsi pengawasan pelaksanaan GCG. Tugas Komite ini adalah mengawasi dan
memastikanjalannya proses tindakan administrasi maupun tindakan hukum lainnya
yang harusdilaksanakan Perusahaan telah sejalan dengan peraturan perusahaan
maupun ketentuanperaturan perundangan yang berlaku. Komite Pengawasan GCG
melaksanakan tugasnya sesuai dengan uraian tugas, wewenang dan tanggung jawab
dan mekanisme kerja komite serta bertugas menetapkan bisnis proses pengaduan dan
penanganan penyimpangan penerapan GCG. Seluruh manajemen dan pegawas
perusahaan diwajibkan untukmelaksanakan pedoman dan ketentuan yang telah
disusun dalam rangka pelaksanaan GCGsejalan dengan peran dan tanggung
jawabnya. Adapun kewajiban Komite Pengawasan meliputi:
1.
Mensosialisasikan disiplin perusahaan dan lingkungan yang terkendali guna
menghindari terjadinya kecurangan keuangan dan penyimpangan;
2.
Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan keterbukaan;
3.
Menelaah ruang lingkup, akurasi, dan efektivitas biaya eksternal audit;
Universitas Sumatera Utara
63
4.
Menelaah
independensi
dan
objektivitas
eksternal auditor dan
Tahap
persiapan/Performance.
Tahap Persiapan terdiri atas 3 langkah utama:
1.
Awareness building,
2.
GCG Assessment, dan
3.
GCG manual-building.
Performance atau kinerja merupakan suatu pola tindakan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan yang diukur dengan mendasarkan pada suatu perbandingan dengan
berbagai standar. Kinerja adalah pencapaian suatu tujuan dari suatu kegiatan atau
pekerjaan tertentu untuk mencapai tujuan perusahaan yang diukur dengan standar.
Penilaian kinerja perusahaan bertujuan untuk mengetahui efektivitas operasional
perusahaan. Pengukuran kinerja perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan
suatu metode atau pendekatan.Pengukuran kinerja perusahaan dikelompokkan
menjadi dua jenis, yaitu pengukuran kinerja non keuangan (non financial
performance measurement) dan pengukuran kinerja keuangan(financial performance
measurement).72
1) Awareness building
Awareness building merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran
mengenai arti penting GCG dan komitmen bersama dalam penerapannya. Upaya ini
dapat dilakukan dengan meminta bantuan tenaga ahli independen dan luar
72
Morse dan Davis, 1996 dalam Hiro Tugiman, 2000:96; Hirsch:1994:594-607
Universitas Sumatera Utara
64
perusahaan. Bentuk kegiatan dapat dilakukan melalui seminar, lokakarya, dan diskusi
kelompok.
2) GCG Assessment
GCG Assessment merupakan upaya untuk mengukur atau lebih tepatnya
memetakan kondisi perusahaan dalam penetapan GCG saat ini. Langkah ini perlu
guna memastikan titik awal level penerapan GCG dan untuk mengidentifikasi
langkah-langkah yang tepat guna mempersiapkan infrastruktur dan struktur
perusahaan yang kondusif bagi penerapan GCG secara efektif. Dengan kata lain,
GCG assessment dibutuhkan untuk mengidentifikasiaspek-aspek apa yang perlu
mendapatkan perhatian terlebih dahulu, dan langkah-langkah apa yang dapat diambil
untuk mewujudkannya.
3) GCG Manual-building
GCG manual-building, adalah langkah berikut setelah GCG assessment
dilakukan.Berdasarkan hasil pemetaan tingkat kesiapan perusahaan dan upaya
identifikasi prioritas penerapannya, penyusunan manual atau pedoman implementasi
GCG dapat disusun. Penyusunan manual dapat dilakukan denganbantuan tenaga ahli
independen dan luar perusahaan. Manual ini dapat dibedakan antara manual untuk
organ-organ perusahaan dan manual untuk keseluruhan anggota perusahaan,
mencakup berbagai aspek seperti:
a.
Kebijakan GCG perusahaan
b.
Pedoman GCG bagi organ-organ perusahaan
Universitas Sumatera Utara
65
c.
Pedoman perilaku
d.
Audit commitee charter
e.
Kebijakan disclosure dan transparansi
f.
Kebijakan dan kerangka manajemen resiko
g.
Road-map implementasi
Pihak-pihak yang berperan dalam menjalankan praktek GCG, adalah :
a.
Pemegang Saham, yakni pemegang saham/pemilik modal yang harus dilindungi
hak-haknya berdasarkan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
b.
Dewan Komisaris (BOC), yakni Dewan Pengawas yang mempunyai tanggung
jawab dalam mengawasi kebijakan pengelolaan perusahaan yang dilakukan para
pimpinan Perusahaan.
c.
Pimpinan Perusahaan/Direksi (BOD), yakni pejabat yang ditunjuk pemegang
saham untuk mengelola perusahaan serta wajib mempertanggung jawabkan
pelaksanaan tugasnya kepada pemegang saham/pemilik modal.
d.
Pimpinan Unit yakni pejabat yang ditunjuk Pimpinan Perusahaan Sebagai
penanggung jawab pelaksanaan operasional.
e.
Pejabat Struktural yakni pegawai yang ditunjuk Pimpinan Perusahaan ; untuk
menjalankan fungsi didalam unitnya dan bertanggung jawab kepada pimpinan
unit.
Universitas Sumatera Utara
66
f.
Pegawai, yakni orang yang bekerja pada Perusahaan dan menerima gaji
berdasarkan hubungan kerja.
Parameter Implementasi GCG sebagai berikut:
a.
Compliance (kepatuhan) yaitu sejauh mana perusahaan telah mematuhi aturanaturan yang ada dalam memenuhi prinsip-prinsip GCG.
b.
Conformance (kesesuaian dan kelengkapan) yaitu sejauh mana perusahaan telah
berperilaku sesuai dengan berbagai aspek yang menjadi prinsip GCG dan
kelengkapan perangkat dalam memenuhi kebutuhan implementasi GCG.
c.
Performance (unjuk kerja) yaitu sejauh mana perusahaan telah menampilkan
bukti (evidence) yang menunjukkan bahwa perusahaan telah mendapatkanmanfaat yang nyata dari perapan prinsip GCG di dalam perusahaan.
Manfaat dan Faktor Penerapan GCG, Esensi corporate governance adalah
peningkatan kinerja perusahaan melalui sepervisi atau pemantauan kinerja
manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap shareholders dan
pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang
berlaku. Untuk meningkatkan akuntabilitas, antara lain diperlukan auditor, komite
audit, seita remunerasi eksekutif. GCG memberikan kerangka acuan yang
memungkinkan pengawasan berjalan efektif sehingga tercipta mekanisme checks and
balances di perusahaan. Seberapa jauh perusahaan memperhatikan prinsip-prinsip
dasar GCG telah semakin menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan
investasi. Terutama sekali hubungan antara praktik corporate governance dengan
karakter investasi internasional saat ini. Karakter investasi ini ditandai dengan
Universitas Sumatera Utara
67
terbukanya peluang bagi perusahaan mengakses danamelalui pool of investors di
seluruh dunia. Suatu perusahaan dan atau negara yang ingin menuai manfaat dari
pasar modal global, dan jika kita ingin menarik modal jangka panjang yang mana
penerapan GCG secara konsistcn dan efektif akan mendukung kearah itu. Bahkan
Apabila perusahaan tidak bergantung pada sumber daya dan modal asing, penerapan
prinsip dan praktik GCG akan dapat meningkatkan keyakinan investor domestik
terhadap perusahaan. Di samping hal-hal tersebut di atas, GCG juga dapat:
a.
Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung
pemegang
saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen. Biayabiaya ini dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai akibat
penyalah-gunaan wewenang (wrong-doing), ataupun berupa biaya pengawasan
yang timbul untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
b.
Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari
pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana
atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring dengan
turunnya tingkat resiko perusahaan.
c.
Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra
perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.
d.
Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan)dalam
lingkungan perusahaan tersebut terhadap keberadaan dan berbagai strategi
dankebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya mereka mendapat
jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal dan segala tindakan
Universitas Sumatera Utara
68
dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.
Manfaat GCG ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga dalam jangka panjang
dapat menjadi pilar utama pendukung tumbuh kembangnya perusahaan sekaligus
pilar pemenang era persaingan global.
Akan tetapi, keberhasilan penerapan GCG juga memiliki prasyarat tersendiri
ada dua faktor yang memegang peranan, faktor eksternal dan internal.
1.
Faktor Eksternal
Yang dimakud faktor eksternal adalah beberapa faktor yang berasal dari luar
perusahaan yang sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan GCG. Di antaranya:
a.
Terdapatnya system yang baik sehingga mampu menjamin berlakunya supremasi
hukum yang konsisten dan efektif .
b.
Dukungan pelaksanaan GCG dari sektor publik/ lembaga pemerintahaan yang
diharapkan dapat pula melaksanakan Good Governance dan Clean Government
menujuGood Government Governance yang sebenarnya.
c.
Terdapatnya contoh pelaksanaan GCG yang tepat (best practices) yang dapat
menjadi standard pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. Dengan kata
lain; semacam benchmark (acuan).
d.
Terbangunnya sistem tata nilai sosial yang mendukung penerapan GCG di
masyarakat. Ini panting karena lewat sistem ini diharapkan timbul partisipasi
aktif berbagai kalangan masyarakat untuk mendukung aplikasi serta sosialisasi
GCGsecara sukarela.
Universitas Sumatera Utara
69
e.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya sebagai prasyarat keberhasilan
implementasi GCG terutama di Indonesia adalah adanya semangat anti korupsi
yang berkembang di lingkungan publik di mana perusahaan beroperasi disertai
perbaikan masalah kualitas pendidikan dan perluasan peluang kerja. Bahkan
dapat dikatakan bahwa perbaikan lingkungan publik sangat mempengaruhi
kualitas dan skor perusahaan dalam implementasi GCG.
2.
Faktor Internal
Maksud faktor internal adalah pendorong keberhasilan pelaksanaan praktek
GCG yang berasal dari dalam perusahaan. Beberapa factor dimaksudantara lain:
a.
Terdapatnya budaya peusahaan (corporate-culture) yang mendukung penerapan
GCG dalam mekanisme serta sistem kerja manajemen di perusahaan.
b.
Berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan perusahaan mengacu pada
penerapan nilai·nilai GCG.
c.
Manajemen pengendalian risiko perusahaan juga didasarkan pada kaidahkaidah standar GCG.
Universitas Sumatera Utara
Download