BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjaun Teori 1. Kanker Leher

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjaun Teori
1. Kanker Leher Rahim
a. Pengertian Kanker Leher Rahim
Kanker leher rahim atau yang disebut juga sebagai kanker serviks
merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh HPV atau Human Papilloma
Virus onkogenik, mempunyai presentase yang cukup tinggi dalam menyebabkan
kanker leher rahim, yaitu sekitar 99,7%. Kanker leher rahim adalah salah satu
penyakit kanker yang paling banyak terjadi pada kaum wanita (Tilong, 2012).
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada organ reproduksi
wanita. Penyakit ini terjadi pada wanita usia reproduktif antara 20-30 tahun
(Novel, et al, 2010).
Kanker leher rahim atau kanker serviks (Cervical Cancer) adalah
kanker yang dialami wanita dan jumlah penderitanya cukup tinggi (Setiati, 2009).
Kanker leher rahim adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada
leher rahim, sehingga jaringan disekitarnya tidak dapat melaksanakan fungsi
sebagaimana mestinya (Sukaca, 2009).
b. Stadium Kanker Leher Rahim
Dalam hal ini menurut Tilong (2012) terdapat beberapa tingkatan
atau stadium kanker leher rahim. Adapun adapun bebrapa gejala kanker leher
rahim adalah sebagai berikut:
1) Stadium 0
Kanker leher rahim hanya ditemukan pada lapisan atas atau dari
sel-sel pada jaringan yang melapisi leher rahim.Tingkat 0 juga disebut
carcinoma in situ.
2) Stadium 1
Kanker telah menyerang leher rahim di bawah lapisan atas dari
sel-sel. Kanker serviks hanya ditemukan pada leher rahim.
3) Stadium 2
Kanker leher rahim meluas melewati leher rahim ke dalam
jaringan-jaringan yang berdekatan dan ke bagian atas dari vagina.Kanker leher
rahim tidak menyerang ke bagian ketiga yang lebih rendah dari vagina atau
dinding pelvis (lapisan dari bagian tubuh antara pinggul).
4) Stadium 3
Kanker meluas ke bagian bawah vagina.Kemungkinan kanker juga
telah menyebar ke dinding pelvis dan simpul-simpul getah bening yang
berdekatan.
5) Stadium 4
Kanker leher rahim telah menyebar ke kandung kemih, rektum,
atau bagian-bagian lain tubuh.
c. Faktor-faktor Penyebab dan Risiko Kanker Leher Rahim
1) Faktor Penyebab
Kanker leher rahim merupakan suatu penyakit yang disebabkan
oleh HPV atau Human Papilloma Virus onkogenik, mempunyai persentase
yang cukup tinggi dalam menyebabkan kanker leher rahim, yaitu sekitar
99,7%. HPV dapat menyerang seorang wanita dari pasangan seksual yang
mengidap virus tersebutakibat berganti-ganti pasangan.HPV adalah virus yang
sangat umum.Virus ini berbasis DNA, dan stabil secara genetis.Stabilitas
genetik, berarti infeksi akibat virus dapat dicegah melalui vaksinasi dalam
jangka waktu yang panjang, tidak seperti virus influenza berbasis RNA yang
kerap berubah sehingga membutuhkan vaksinasi secara teratur (Tilong, 2012).
Bustan (2007) menyatakan faktor-faktor yang dianggap sebagai
faktor risiko terjadinya kanker leher rahim adalah:
a) Usia perkawanin muda atau hubungan seks dini, yakni sebelum usia 20
tahun. Faktor ini dianggap faktor resiko terpenting dan tertinggi
b) Ganti-ganti mitra seks: wanita pekerja seks ditemukan 4 kali lebih sering
terserang kanker leher rahim, terlepas dari faktor halal dan haramnya dan
lokasi dilakukannya kegiatan seksual itu.
c) Tidak adanya tes pap smear yang teratur
Kanker leher rahim lebih umum terjadi pada perempuan yang
tidak melakukan Tes Pap secara teratur.Tes Pap adalah upaya mencari selsl sebelum bersifat kanker (precancerous cells).Tes ini perlukan karena
perawatan terhadap perubahan-perubahan leher rahim sebelum bersifat
kanker sering dapat mencegah terjadinya kanker leher rahim (Maharani,
2012).
d) Hygiene rendah yang memungkinkan infeksi kuman.
e) Paritas tinggi: lebih banyak ditemukan pada ibu dengan banyak anak.
f) Jumlah perkawinan: ibu dengan suami yang mempunyai lebih dari satu
atau banyak suami lebih beresiko kanker leher rahim.
g) Infeksi virus: terutama HPV
Infeksi HPV adalah faktor risiko utama pencetus kanker leher
rahim. HPV merupakan kelompok virus yang dapat menginfeksi leher
rahim.Infeksi-infeksi HPV sangatlah umum.Virus ini dapat ditularkan dari
orang ke orang melalui kontak seksual.Kebanyakan orang dewasa pernah
terinfeksi HPV dalam kehidupannya (Maharani, 2012).
h) Usia
Kanker leher rahim paling sering terjadi pada perempuan yang
berumur lebih dari 40 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi
pula pada usia reproduktif, yakni pda usia 35-40 tahun (Maharani, 2012).
i) Polusi udara menyebabkan kanker leher rahim
Sukaca (2009), polusi udara ternyata dapat juga memicu
penyakit kanker leher rahim.sumber dari polusi udara ini disebabkan oleh
dioksin.Zat dioksin ini tentu merugikan tubuh kita. Sumber dioksin
berasala dari beberapa faktor anatar lain pembakaran limbah padat dan
cair, pembakaran sampah, asap kendaraan bermotor, asap hasiol industri
kimia, kebakaran hutan dan asap rokok.
j) Sistem imun yang lemah
Perempuan yang terifeksi HIV, virus penyeabab penyakit
AIDS, juga perempuan yang meminum obat-obat penekan sistem imun
memilki risiko yang lebih tinggi dari rata-rata perkembangan kanker leher
rahim. Dalam hal ini, dokter akan menyarankan penyaringan (screening)
secara teratur untuk kanker leher rahim (Maharani, 2012).
k) Rokok, baik yang aktifmaupun yang pasif
Perempuan perokok yang terinfeksi HPV mempunyai risiko
terinfeksi HPV yang lebih tinggi dibandingkan perempuan bukan perokok
yang terinfeksi HPV (Maharani, 2012).
l) Pil KB
Selain para perempuan yang terinfeksi HPV, perempuan yang
juga menggunakan pil KB khususnya pil KB hormonal dalam jangka
waktu yang lama, misalnya lima tahun atau lebih, bisa lebih beresiko
menderita kanker leher rahim(Maharani, 2012). Sebab pil KB adalah
mencegah kehamilan dengan cara menghentikan ovulasi dan menjaga
kekentalan lender leher rahim sehingga tidak dilalui sperma.
d. Pencegahan Kanker Leher Rahim
1) Pencegahan Primer
Pencegahan primer adalah sebuah pencegahan awal kanker yang
utama.Hal ini untuk menghindari faktor resiko yang dapat dikontrol (Sukaca,
2009).Pencegahan primer diperlukan pada semua populasi yang memiliki
risiko terkena kanker mulut rahim.
Anda dapat melakukan pencegahan kanker leher rahim dengan
mengikuti kiat-kiat brikut (Setiati, 2009).
a) Jauhi kegiatan merokok
Mejauhi kagiatan meroko sangatlah penting bagi kaum wanita,
terutama bagi mereka yang merokok. Akibat yang ditimbulkan dari
kegiatan merokok bukan saja dapat menyebabkan terjadinya penyakit
paru-paru dan jantung, tetapi kadar nikotin yang terdapat dalam rokok
juga dapat mengakibatkan kanker serviks (kanker leher rahim). Hal itu
terjadi karena nikotin yang masuk kedalam tubuh akan menempel pada
semua selaput lendeir sehingga sel-sel darah dalam tubuh bereaksi atau
terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru, juga serviks.
b) Hindari mencuci vagina dengan antiseptik
Banyak wanita mencuci vagina dengan antiseptik dengan lasan
kesehatan.Padahal, kebiasaan tersebut dapat meninbulkan kanker leher
rahim, baik dengan obat cuci vagina yang berupa antiseptik maupun
deodorant.Mencuci vagina dengan antiseptik justru dapat menyebabkan
iritasi pada leher rahim. Iritasi yang berlebihan dan terlalu sering akan
merangsang terjadinya perubahan sel, yang akhirnya menjadi kanker. Oleh
karena itu, pencucian vagina dengan bahan-bahan kimia sebaiknya tidak
dilakukan secara rutin, kecuali jika ada indikasi, misalnya infeksi yang
memang memerlukan pencucian dengan zat-zat kimia.Penanganan infeksi
itupun harus dilakukan atas saran dokter.
Jadi, jangan membeli obat-obat pencuci vagina dengan
sembaranagan. Selain menimbulkan iritasi, obat pencuci tersebut
umumnya akan membunuh kiman-kuman, termasuk kuman Basillus
Doderlain yang terdapat di vagina, yang berfungsi memproduksi asam
laktat untuk mempertahankan pH vagina. Jika kuman-kuman ini mati,
maka penyakit-penyakit lain justru dapat muncul dengan mudah.
c) Hindari menaburi bedak pada vagina
Sering kali, saat daerah vagina mengalami gatal atau merahmerah, banyak wanita menaburkan bedak di sekitar vagina.Padahal,
perbuatan tersebut berbahaya.Pada wanita berusia subur, menaburkan
bedak pada vagina dapat memicu terjadinya kanker indung telur
(ovarium).
d) Lakukan diet rendah lemak
Penting Anda ketahui, timbulnya kanker berkaitan erat dengan
pola makan.Wanita yang banyak mengkonsumsi lemak memiliki risiko
yang lebih besar terkena kanker endometrium (badan rahim).Lemak
memproduksi hormon estrogen, sementara endometrium yang sering
terpapar horon estrogen mudah berubah sifat menjadi kanker.Oleh karena
itu, untuk mencegah timbulnya kanker endometrium, sebaiknya hindarilah
mengkonsumsi makanan berlemak tinggi. Makanlah makanan yang sehat
dan segar dan jagalah agar berat badan Anda ideal, tidak terlalu gemuk,
karena kanker endometrium banyak diderita oleh wanita yang bertubuh
terlalu gemuk.
e) Penuhi kebutuhan vitamin C (buah dan sayur-sayuran)
Selain pola hidup yang terlalu banyak mengkonsumsi
“Makanan berlemak tinggi”, wanita yang kekuranagan zat-zat gizi lain,
seperti beta karoten, vitamin C, dan asam folat, dapat terserang kanker
leher rahim.Oleh karena itu, jika tubuh kekurangan zat-zat gizi tersebut,
maka rangsangan sel-sel mukosa lebih mudah menimbulkan kanker.Beta
karoten banyak terdapat dalam wortel; vitamin C terdapat dalam buahbuahan berwarna oranye; sedangkan asam folat terdapat dalam makanan
hasil laut.
f) Hindari hubungan seks terlalu dini
Idealnya, hubungan seks dilakukan setelah wanita sudah
memasuki usia yang matang. Ukuran kematanagan seorang wanita bukan
hanya dilihat dari sudah menstruasi atau belum, tetapi juga bergatung pada
kamatangan sel-sel mukosa; yang terdapat pada selaput mukosa baru
matang setelah wanita berusia 20 tahun. Oleh karena itu, wanita yang
sudah melakukan hubungan seks sejak usia remaja cenderung mudah
terkena penyakit kanker rahim.
g) Hindari berganti-ganti pasangan
Penyebab lain dari kanker leher rahim adalah kebiasaan
berganti-ganti pasangan seks. Kebiasaan tersebut dapat menyebabkan
tertularnya penyakit kelamin, salah satunya adalah penyakit karena virus
Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di
permukaan mukosa sehingga membelah menjadi lebih banyak.
h) Terlambat menikah
Kaum wanita yang terlambat menikah juga berisiko terkena
kanker ovarium dan kanker endometrium. Hal tersebut disebabkan wanita
ini akan terus menerus mengalami ovulasi tanpa jeda sehingga rangsangan
terhadap endometrium pun terjadi secara terus-menerus. Akibatnya, sel-sel
pada endometrium berubah sifat menjadi kanker.
Risiko yang sama pun akan dihadapi wanita menikah yang
tidak mau mempunyai anak karena ovulasi terjadi secara terus-menerus.
Bila menstruasi pertama terjadi di bawah usia 12 tahun, maka paparan
ovulasinya semakin panjang. Hal itu mengakibatkan kemungkinan terkena
kanker ovarium akan semakin besar.
Salah satu upaya pencegahan terkena kanker rahim adalah
dengan menikah dan hamil. Mengkonsumsi pil KB juga merupakan salah
satu cara dapat dilakukan. Penggunaan pil KB akan mempersempit
peluang terjadinya ovulasi. Jika seorang wanita sejak usia 15 tahun hingga
45 tahun mengalami ovulasi terus-menerus, kemudian melakukan program
KB selama 10 tahun, maka masa ovulasinya lebih pendek dibandingkan
jika terus-menerus mengalami masa menstruasi. Berdasarkan hasil
penelitian, penggunaan pil KB sebagai alat kontrasepsi dapat menurunkan
timbulnya kanker ovarium sampai 50%.
i) Penggunaan estrogen
Risiko yang sama juga terkadi pada wanita yang terlambat
mengalami proses menopause. Karena rangsangan terhadap endometrium
lebih lama, maka endometrium akan lebih sering terpapar estrogen.
Kondisi tersebut sangat memungkinkan terjadinya kanker.Wanita yang
banyak memakai estrogen tanpa terkontrol sangat berisiko terkena
penyakit kanker rahim.
Banyak wanita menopause menggunakan estrogen untuk
mencegah
terjadinya
osteoporosis
dan
serangan
jantung.Padahal,
pemakaian estrogen dapat mengakibatkan semakin menebalnya dinding
endometrium dan merangsang sel-sel endometrium sehingga berubah sifat
menjadi kanker.Oleh karena itu, penggunaan hormone estrogen harus
dilakukan atas pengawasan dokteragar zat antinya pun juga diberikan
sehinggasel-sel endometrium tidak berkembang menjadi kanker.
2) Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekuder ini termasuk pencegahan dengan skrining atau
deteksi dini untuk menemukan kasus-kasus dini kanker leher rahim sehingga
kemungkinan untuk penyembuhan dapat ditingkatkan.Skrinning atau deteksi
dini dilakukan dengan pemeriksaan IVA Test dan Pap Smear Test yaitu
dengan mengenali tanda gejala kanker leher rahim tersebut.
a) Gejala Kanker Leher Rahim
Bagi sebagian orang pada tahap awal penyakit kanker leher
rahim tidak menimbulkan gejala yang mudah diamati.Itulah sebabnya,
Anda yang sudah aktif secara seksual pun amat dianjurkan untuk
melakukan pap smear test setiap dua tahun sekali. Gejala fisik serangan
penyakit kanker leher rahim pada umumnya hanya dirasakan oleh
penderita kanker stadium lanjut, yaitu munculnya rasa sakit dan
pendarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang
berlebihan dan tidak normal, pendarahan di luar siklus menstruasi, serta
penurunan berat badan secara drastis (Tilong, 2012).
Gejala penderita kanker leher rahim menurut Sukaca (2009) di
klasifikasikan menjadi dua, yaitu gejala pra kanker leher rahim dan gejala
kanker leher rahim.
(1) Gejala Pra Kanker Leher Rahim
Pada fase sebelum terjangkitnya kanker leher rahim sering penderita
tidak mengalami gejala atau tanda yang khas. Namun sering
ditemukan gejala-gejala sebagai berikut:
(a) Keluar cairan encer dari vagina (keputihan).
(b) Pendarahan setelah bersenggama yang kemudian dapat berlanjut
menjadi pendarahan yang abnormal.
(c) Timbulnya pendarahan setelah masa menopause.
(d) Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan,
berbau dan dapat bercampur dengan darah.
(e) Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi pendarahan kronis.
(f) Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada
radang panggul.
(g) Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang
gizi, terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal.
(2) Gejala Kanker Leher Rahim
Namun bila sel-sel tidak normal ini berkembang menjadi
kanker leher rahim, maka muncul gejala-gejala sebagai berikut:
(a) Pendarahan pada vagina yang tidak normal. Hal ini dapat dtandai
dengan pendarahan di antara periode menstruasi yang regular,
periode menstruasi yang lebih lama dan lebih banyak dari
biasanya, pendarahan setelah hubungan seksual atau pemeriksaan
panggul.
(b) Rasa sakit saat berhubungan seksual
(c) Jika kanker berkembang makin lanjut maka dapat timbul gejalagejala seperti berkurangnya nafsu makan, penurunan berat badan,
kelelahan, nyeri panggul, punggung dan tungkai, keluar ar kemih
dan tinja dari vagina, patah tulang.
b) IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)
IVA merupakan metode baru deteksi dini kanker serviks
dengan mengoleskan asam asetat (cuka) ke dalam leher rahim (Tilong,
2012).
Menurut Tilong (2012) menyatakan keunggulan metode IVA
dibandingkan Pap Smear adalah sebagai berikut:
(1) Tidak memerlukan alat tes laboratorium yang canggih (alat pengambil
sampel jaringan, preparat, regen, mikroskop, dan lain sebagainya).
(2) Tidak memerlukan teknisi laboratorium khusus untuk pembacaan hasil
tes.
(3) Hasilnya langsung diketahui, tidak memakan waktu bermingguminggu.
(4) Sensitivitas IVA dalam mendeteksi kelainan leher rahim lebih tinggi
daripada Pap Smear Test sekitar 75%, meskipun dari segi kepastian
lebih rendah sekitar 85%.
(5) Biayanya sangat murah (bahkan, gratis bila di puakesmas).
Metode screening IVA mempunyai cirri-ciri sebagai berikut
(Tilong, 2012) :
(1) Mudah, praktis, dan mampu terlaksana.
(2) Dapat dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, bukan dokter ginekologi
sehingga bisa dilakukan oleh bidan di setiap tempat pemeriksaan
kesehatan ibu.
(3) Alat-alat yang dibutuhkan sangat sederhana.
(4) Metode screening IVA sesuai untuk pusat pelayanan sederhana.
Tempat dan alat yang dibutuhkan untuk pelaksanaan screening
metode IVA seperti berikut (Tilong, 2012):
(1) Ruangan
tertutup,
karena
pasien
diperiksa
dengan
posisi
litotomi(posisi telentang dengan mengangkat kedua kaki dan ditarik ke
atas abdomen).
(2) Meja/tempat tidur diperiksa yang memungkinkan pasien berada pada
posisi litotomi.
(3) Terdapat sumber cahaya untuk melihat leher rahim.
(4) Spekulum vagina.
(5) Asam asetat (3-5%).
(6) Swab-lidi berkapas.
(7) Sarung tangan.
Kategori yang dapat dipergunakan pada pemeriksaan dengan
merode IVA yaitu (Tilong, 2012):
(1) IVA negatif yang merupakan serviks normal.
(2) IVA radang, yakni leher rahim dengan radang (servisitis) atau kelainan
jinak lainnya (polip serviks).
(3) IVA positif, yakni apabila ditemukan bercak putih (aceto white
ephithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan kanker leher
rahim dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis
leher rahim prakanker (dysplasia ringan sedang, berat atau, kanker
serviks in situ).
(4) IVA kanker leher rahim. Tahap ini berupaya untuk penurunan temuan
stadium kanker leher rahim sehingga masih akan bermanfaat bagi
penurunan kematian akibat kanker leher rahim, yakni ditemukan pada
stadium invasif dini (stadium IB-IIA).
Metode IVA dilakukan dengan beberapa cara guna mendeteksi
kanker leher rahim. Adapun cara kerja IVA adalah sebagai berikut
(Tilong, 2012):
(1) Sebelum dialakukan pemeriksaan, pasien akan mendapat penjelasan
mengenai prosedur yang akan dijalankan. Privasi dan kenyamanan
sangat penting dalam pemeriksaan ini
(2) Pasien dibaringkan dengan posisi litotomi
(3) Vagina akan dilihat secara visual apakah ada kelainan atau tidak
dengan bantuan pencahayaan yang cukup
(4) Spekulum (alat pelebar) akan dibasuh dengan air hangat dan
dimasukkan ke vagina pasien secara tertutup, kemudian dibuka untuk
melihat leher rahim.
(5) Bila terdapat banyak cairan di leher rahim, dipakai kapas steril basah
untuk menyerapnya.
(6) Dengan menggunakan pipet atau kapas, larutan asam asetat 3-5%
diteteskan ke leher rahim. Dalam waktu kurang lebih 1 menit,
reaksinya pada leher rahim sudah dapat dilihat. Bila warna leher rahim
berubah menjadi keputih-putihan, kemungkinan positif terdapat
kanker. Asam asetat berfungsi menimbulkan dehidrasi sel yang
membuat penggumpalan protein sehingga sel kanker yang kepadatan
berprotein tinggi berubah warna menjadi putih.
c) Pap Smear
Pap Smear merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks)
menggunakan alat yang dinamakan speculum dan dilakukan oleh bidan
ataupun ahli kandungan (Tilong, 2012).
Pap smear adalah suatu metode dimana dilakukan pengambilan
sel dari mulut rahim kemudian di periksa di bawah mikroskop (Bustan,
2007).
Pap smear adalah suatu tes yang aman, murah da telah dipakai
bertahun-tahun lamanya untuk mendteksi kelainan-kelainan yang terjadi
pada sel-sel epitel leher rahim (Novel et al, 2010).
Prosedur Pap smear (Bustan, 2007):
(1) Pemeriksaan akan menjelaskan prosedur yang akan dilakukan.
Tidur telentang dengan kedua kaki berada pada peyangga kaki di kiri
dan kanan tempat tidur.
(2) Pemeriksa akan memeriksa apakah ada pembengkakan, luka,
inflamasi, ata gangguan lain pada alat kelamin bagian luar.
(3) Memasukkan instrument mteal atau plastik yang disebut speculum ke
dalam vagina. Tujuannya agar mulut rahim dapat leluasa terlihat.
(4) Dengan swab atau spatula kayu, atau semacam sikat, operator
mengambil sel pada saluran mulut rahim, pada puncak mulut rahim,
dan pada daerah peralihan mulut rahim dan vagina.
(5) Operator akan meletakkan sel-sel tersebut pada kaca obyek yang
kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.
(6) Spkelum kemudian dilepaskan.
(7) Operator biasanya akan melanjutkan memeriksa ovarium, uterus,
vagina, tuba fallopi, dan rektal (anus) dengan tangannya.
3) Pencegahan Tersier
Menurut Sukaca (2009) Pencegahan tersier yaitu pengobatan untuk
mencegah komplikasi klinik dan kematian awal.
Seperti pada penyakit kanker yang lain, jika perubahan awal dapat
dideteksi sedini mungkin, maka tidakan pengobatan dapat diberikan
secepatnya. Jika perubahan awal telah diketahui, maka pengobatan yang
umum diberikan pada penderita kanker leher rahim adalah sebagai berikut
(Setiati, 2009):
a) Pemanasan, yaitu dengan diathermy atau dengan sinar laser.
b) Cone biopsi, yaitu dengan cara mengambil sedikit sel-sel pada leher
rahim, termasuk sel
yang mengalami
perubahan.
Tindakan ini
memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya
sel-sel yang mengalami perubahan. Pemeriksaan ini dapat dilkaukan oleh
ahli kandungan.
Akan tetapi, apabila pertumbuhan penyakit ini sampai pada tahap
pra-kanker dan kanker leher rahin telah dapat diidentifikasi, maka bebrapa
langkah penyembuhan berikut dapat dilakukan.
a) Dengan Vaksin HPV dan Screening
Kombinasi vaksinasi HPV dan screening dapat memberikan
manfaat
yang
besar
dalam
pencegahan
penyakit
kanker
leher
rahim.Vaksin HPVdapat berguna dalam pengobatan, sedangkan screening
untuk mengurangi kejadian kanker leher rahim.Kedua kombinasi ini juga
bisa mengobati kondisi pra-kanker leher rahim pada kasus yang ringan
(Sukaca, 2009).
b) Pengobatan dengan cara operasi (Opersai sederhana, besar, atau khusus)
Operasi sederhana dilakukan pada tingkat stadium awal
(prakanker) dari nol hingga 1A.Operasi tersebut disebut konisasi
(pemotongan rahim seperti kerucut).Karena berada dalam stadium awal,
kanker masih/berada di sel-sel selaput lendir.Operasi juga dapat dilakukan
bila pasien masih ingin hamil. Bila pasien sudah tidak ingin hamil lagi,
maka histerektomi simple (pengangkatan rahim secara keseluruhan) akan
dilakukan. Tujuannya adalah agar kanker tidak tumbuh lagi.
Jika kanker sudah berada pada stadium 1B sampai 2A/2B,
maka histerektomi radikal akan dilakukan. Seluruh rahim diagkat berikut
sepertiga vagina dan penggantung rahim akan dipotong sedekat mungkin
dengan didnding panggul. Indung telur dapat diangkat ataupun tidak
tergantung usia pasien. Bila pasien masih mengalami menstruasi, indung
telur akan ditinggal. Walaupun vagina dipotong, tidak berarti pasien tidak
bisa berhubungan seks. Awalnya, penderita hanya akan merasa tidak
nyaman karena vagina menjadi lebih pendek.
c) Vaksin menggunakan AS04
Banyak sekali jenis vaksin yang sekarang digunakan untuk pengobatan
kanker serviks.Ada sistem terbaru dari vaksin yang dapat merangsang
tubuh menajdi kuat dan stabil. Sistem ajuva Nomor 4 (AS04) dapat
merespon tubuh dibandingkan dengan sistem vaksin yang lain. Dengan
menggunakan AS04 maka dapat menyebabkan:
(1) Antiboodi yang tinggi terhadap tipe HPV tipe 16 dan 18
(2) Perlindungan 100% seama 5,5 tahun terhadap HPV tipe 16 dan 18
yang berhubungan dengan lesi prakanker yang mengarah pada kanker
leher rahim.
d) Cervarix
Vaksin ini ditujukan baik bagi remaja putri maupun perempuan
dewasa (usia 10 tahun s/d 55 tahun) untuk pencegahan kanker leher rahim.
Cervarix adalah vaksin yang diproduksi oleh GlaxoSmith-Kline’s.Vaksin
ini bermanfaat untuk para penderita kanker, karena vaksin ini dapat
membasmi virus HPV tipe 16 dan 18 (Sukaca, 2009).
e) Gardasilr
Gardasilr dapat mencegah infeksi dua tipe HPV yang
menyebabkan kanker leher rahim, yaitu tipe 16 dan 18. Vaksin ini
diberikan melalui injeksi intramuskular 0,5 mL sebanyak tiga kali selama
enam bulan dan dosis kedua diberikan dua bulan setelah vaksin pertama
dan dosis ketiga diberikan dua bulan setelah dosis kedua (Sukaca, 2009).
f)
Biopsi
Pengobatan dengan biopsi adalah pengobatan dengan cara
operasi.
Dengan
biopsi
dapat
ditemukan
atau
ditentukan
jenis
karsinomanya. Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak
suatu pertumbuhan atau luka pada leher rahim, atau jika Pap Smear
menunjukkan suatu ketidaknormalan atau kanker.
g) Konisasi
Konisasi adalah sebuah cara mengangkat jaringan yang
menfgandung selaput lender leher rahim dan epitel gepeng serta
kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada
leher rahim tidak tampak kelainan-kelainan (Sukaca, 2009).
h) Histerektomi
Histerektomi
merupakan
sebuah
operasi
pengangkatan
kandungan (rahim/ uterus) seorang wanita.Operasi ini sangatlah berbahaya
dan merupakan pilihan berat bagi seorang wanita.Sebab tindakan medis ini
menyebabkan kemandulan. Dengan begitu jika tidak ada pilihan lain maka
histerektomi baru akan dilakukan (Sukaca, 2009).
i) Terapi Biologis
Terapi biologis adalah pengobatan dengan menggunakan zat-zat untuk
memperbaiki kekebalan tubuh dalam melawan penyakit. Pengobatan ini
dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke tubuh lain. Pengobatan ini
bisa dikombinasikan dengan kemoterapi (Sukaca, 2009).
j) Pengobatan dengan cara Radiasi atau penyinaran (Radioterapi dengan
menggunakan sinar X)
Pengobatan ini dilakukan jika kanker leher rahim ini sudah
berada dalam stadium 2B ke atas. Operasi sudah tidak dapat dilakukan lagi
dan cara yang dapat ditempuh adalah dengan radiasi atau penyinaran.
Akan tetapi, penyinaran dapat mengakibatkan komplikasi yang
dapat menimbulkan hal-hal berikut:
(a) Indung telur ikut mati karena terkena radiasi sehingga hormon pun
mati. Hormon diperlukan untuk gairah seksual, menstruasi, mencegah
osteoporosis, dan mencegah penyakit jantung.
(b) Organ tubuh lain ikut trekena radiasi penyinaran, misalnya dubur dan
saluran kencing. Terkadang terjadi luka bakar pada dubur dan terjadi
diare atapunperdarahan yang terus menerus. Kalau terjadi demikian,
maka dubur atau saluran kencing harus diangkat. Sebagai gantinya,
dubur dan saluran kencing baru akan dibuat lewat perut.
(c) Vagina menjadi kaku sehingga penderita tidak bisa berhubungan seks.
Meskipun dilakukan banyak penyinaran, kanker atau tumor masih
tetap ada. Oleh karena itu, radiasi dilakukan bila tidak ada pilihan lain
(Setiati, 2009).
k) Pengobatan dengan cara Kemoterapi
Cara ini biasanya dilakukan oleh dokter jika opersai dan radiasi
tidak memungkinkan lagi. Jika dalam waktu satu tahun pasien sudah
pernah diradiasi, maka proses radiasi tidak mungkin lagi dilakukan karena
dikhawatirkan
akan terjadi
komplikasi.
Akan tetapi,
kemoterapi
memerlukan biaya yang sangat mahal. Pengobatan dengan cara
penyinaran dan kemoterapi berbeda dengan operasi. Meskipun sepertiga
vagina harus diangkat, tetapi penderita masih dapat melakukan hubungan
seks (Setiati, 2009).
2. Wanita Usia Subur
Wanita usia subur atau bisa disebut masa reproduksi adalah wanita yang
berumur antara 15-49 tahun yang ditandai dengan menstruasi untuk pertama kali
(Menarche) dan diakhiri dengan menopause (Wiknjosastro, 2008).
Masa reproduksi tingkat kesuburan seseorsng wanita mencapai puncaknya
dan secara seksualitas sudah siap untuk memiliki keturunan.Masa reproduksi dimulai
ketika sudah terjadinya pengeluaran sel telur.
3. Pasanagan Usia Subur
Pasangan usia subur (PUS) berkisar usia 20-35 tahun dimana pasangan
(laki-laki dan perempuan) sudah cukup matang dalam segala hal, termasuk fungsi
reproduksinya. Pada kondisi yang normal, pasangan usia subur sangat mudah
memperoleh keturunan sehingga memerlukan adanya pengaturan kesuburan
(fertilitas), perawatan kehamilan, dan pengetahuan persalinan yang aman. Pasangan
usia subur di upayakan mampu menekan angka kelahiran dengan metode keluarga
berencana, sehingga jumlah dan interval kehamilan dapat diperhitungkan untuk
meningkatkan kualitas reproduksi dan kualitas generasi mendatang (Mubarak, 2011).
Pasangan Usia Subur (PUS) dan Wanita Usia Subur (WUS), masa ini
merupakan masa terpenting bagi wanita dan berlangsung kira-kira 33 tahun. Haid
pada masa paling teratur dan siklus pada alat genital bermakna untuk memungkinkan
kehamilan. Pada masa ini terjadi ovulasi kurang lebih 450 kali, dan selama masa ini
wanita berdarah selama 1.800 hari dan akan terjadi penurunan fertilitas setelah umur
40 tahun (Hikmawati, 2011).
4. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera
pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2010).
Menurut Notoatmodjo (2003) yang dikutip oleh (Wawan, 2010)
“Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu”dan ini terjadi setelah orang
mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap
objek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
persepsi terhadap obyek.Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga”.
b. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau
tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat
pengetahuan, yakni (Notoatmodjo, 2010):
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya: tahu bahwa buah tomat
banyak mengandung vitamin C, jamban adalah tempat membuang air besar,
penyakit demam berdarah ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes Agepty, dan
sebagainya. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu
dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan misalnya: apa tanda-tanda anak
yang kurang gizi, apa penyebab penyakit TBC, bagimana cara melakukan
PSN (pemberantsan sarang nyamuk), dan sebagainya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi oarng tersebut harus dapat
mengintreprestasikan secara benar tenrang objek yang diketahui tersebut.
Misalnya orang yang memahami cara pemberantasan penyakit demam
berdarah, bukan hanya sekedar menyebutkan 3 M (mengubur, menutup, dan
menguras), tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus menutup,
menguras, dan sebagainya, tempat-tempat penmapungan air tersebut.
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui
tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah paham tentang
proses perencanaan, ia harus dapat membuat perencanaan program kesehatan
di tempat ia bekerja atau di mana saja, orang yang telah paham metodologi
penelitian, ia akan mudah mambuat proposal penelitian di mana saja, dan
seterusnya.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materiatau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalamsuatu struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu samalain. Kemampuan
analisis
ini
dapat
menggambarkan
dilihat
dari
(membuat
penggunaan
bagan),
kata-kata
kerja
dapat
membedakan,memisahkan,
mengelompokkan, dan sebagainya.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum
atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
Misalnya dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat
sendiri tentang hal-hal yang telah dibaca atau di dengar, dan dapat membuat
kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi
berkaitan
dengan
kemampuan
seseorang
untuk
melakukanjustifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.Penilaian ini
dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
norma-norma yang berlaku dimasyarakat.Misalnya seorang ibu dapat menilai
atau menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seseorang
dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana bagi keluarga, dan sebagainya.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
1) Faktor Internal
a) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang
terhadap perkembabgan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yag
menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk
mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB Mantra yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2003), pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk
juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk
sikap berperan serta dalam pembangunan (Nursalam, 2003) pada
umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima
informasi.
b) Pekerjaan
Menurut Thomas yang di kutip oleh Nursalam (2003),
pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah
sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah
yang membosankan, berulang dan banyaj tentangan. Sedangkan bekerja
umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu
akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
c) Umur
Menurut, Elisabeth BH yang dikutip oleh Nursalam (2003),
usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai
berulang tahun. Sedangkan menurut Huclok (1998) semakin cukup umur,
tingkat kemantangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam
berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang
lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal
ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa.
2) Faktor eksternal
a) Faktor Lingkungan
Menurut
Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam,
lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada sekitar manusia dan
pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang
atau kelompok.
b) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi (Wawan, 2010).
d. Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara memperoleh pengetahuan yang dikutip dari Notoatmodjo, 2003: 11 adalah
sebagai berikut (Wawan, 2010):
1) Cara kuno untuk memperoleh pengetahuan
a) Cara coba salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan
mungkin sebelum adanya peradaban.Cara coba salah ini dilakukan dengan
menggunakan kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba.Kemungkinan
yang lama sampai msalah tersebut dapat dipecahkan.
b) Cara kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpinpemimpin masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang
pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai
yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji
terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta
empiris maupun penalaran sendiri.
c) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya
memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman
yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi
masa lalu.
2) Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau
disebut metodologi penelitian.Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis
Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven.
Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita
kenal dengan penelitian ilmiah.
e. Proses Perilaku “TAHU”
Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),
perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia baik yang dapat diamati
oleh pihak luar. Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku bari di dalam diri orang
tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni (Wawan, 2010) :
1) Awareness (kesadaran) diamana orang tersebut menyadari dslam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2) Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh perhatian dan
tertarik pada stimulus.
3) Evaluation(menimbang-nimbang) individu akan mempertimbangkan baik
buruknya tindakan terhadap stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti
sikap responden sudah lebih baik lagi.
4) Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru
5) Adaption, dan sikapnya terhadap stimulus
Pada penelitian selanjutnya, rogers (1974) yang dikutip oleh
Notoatmodjo (2003), menyimpulkan bahwa pengadopsian perilaku yang melalui
proses seperti diatas dan didasari oleh pengetahuan, kesadaran yang positif, maka
perilaku tersebut akan bersifat langgeng (ling lasting) namun sebaliknya jika
perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran, maka perilaku
tersebut bersifat sementara atau tidak akan berlangsung lama. Perilaku manusia
dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek fisik, psikis dan sosial yang secara terinci
merupakan refleksi dari berbagai gejolak kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi,
persepsi, sikap dan sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor
pengalaman, keyakinan, sarana fisik dan sosial budaya.
f. Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan
diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu (Wawan, 2010) :
1) Baik : Hasil presentase 76%-100%
2) Cukup : Hasil presentase 56%-75%
3) Kurang : Hasil presentase < 56%
5. Sikap
a. Pengertian
Sikap menurut Allport (1924) yang dikutip oleh (Notoatmodjo, 2010)
merupakan konsep yang sangat penting dalam komponen sosio-psikologis, karena
merupakan kecenderungan bertindak, dan berpersepsi.Sikap merupakan kesiapan
tatanan saraf (neural setting) sebelum memberikan respons konkret.
Sikap adalah evaluasi umum yang dibuat manusia terhadap dirinya
sendiri, orang lain, obyek atau issue (Petty, cocopio, 1986 dalam Azwar S., 2000:
6 yang di kutip oleh Wawan dan Dewi, 2010).
b. Komponen Sikap
Struktur sikap terdiri atas 3 komponen yang saling menunjang yaitu
Azwar S., 2000: 23 yang dikutip oleh (Wawan dan Dewi, 2010):
1) Komponen kognitif
Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai
oleh individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan stereotype
yang dimilki individu mengenai sesuatu dapat disamakan penanganan (opini)
terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang kontroversial.
2) Komponen afektif
Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek
emosional. Aspek emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam
sebagai komponen sikap dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap
pengaruh-pengaruh yang mungkin adalah mengubah sikap seseorang
komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimilki seseorang
terhadap sesuatu.
3) Komponen konatif
Komponen konatif merupakan aspek kecenderungan berperilaku
tertentu sesuai dengan sikap yang dimilikioleh seseorang.Dan berisi tendensi
atau kecenderungan untuk bertindak/ bereaksi terhadap sesuatu dengan caracara tertentu.Dan berkaitan dengan objek yang dihadapinya adalah logis untuk
mengharapkan bahwa sikap seseorang adalah dicerminkan dalam bentuk
tendensi perilaku.
c. Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni (Nototmodjo, 1996) yang
dikutip oleh (Wawan dan Dewi, 2010) :
1) Menerima (receiving)
Menerima
diartikan
bahwa
orang
(subyek)
mau
dan
mengerjakan
dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
2) Merespon (responding)
Memberikan
jawaban
apabila
ditanya,
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap karena
dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang
diberikan.Lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang itu
menerima ide tersebut.
3) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat
tiga, misalnya seorang mengajak ibu yang lain tetangga, saudaranya, dsb)
untuk menimbang anaknya ke posyandu atau mendiakusikan tentang gizi
adalah suatu bukti bahwa si ibu telah mempunyai sikap positif terhadap gizi
anak.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.Misalnya
seorang ibu mau menjadi akseptor KB, meskipun mendapatkan tantangan dari
mertua atau orang tuanya sendiri.
d. Sifat Sikap
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Heri
Purwanto, 1998) yang dikutip oleh (Wawan dan Dewi, 2010) :
1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi,
mengharapkan obyek tertentu.
2) Sikap negatif terhadap kecenderungan untuk menjauhi, menghindari,
membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
e. Ciri-ciri Sikap
Ciri-ciri sikap adalah (Heri Purwanto, 1998) yang dikutip oleh (Wawan dan dewi,
2010) :
1) Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang
perkembangan
itu
dalam
hubungan
dengan
obyeknya.
Sifat
ini
membedakannya dengan sifat motif-motif biogenis seperti lapar, haus,
kebutuhan akan istirahat.
2) Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan sikap dapat
berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat.
3) Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu
terhadap suatu objek dengan kata lain, sikap itu terbentuk, dipelajari atau
berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat
dirumuskan dengan jelas.
4) Objek sikap itu merupakan suatu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan
kumpulan dari hal-hal tersebut.
5) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah
yang membedakan sikap dan kecakapan-kecakapan atau pengetahuanpengetahuan yang dimilki orang.
f. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap
Faktor-fakor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap
antara lain (Azwar, 2005) yang dikutip oleh (Wawan dan Dewi, 2010):
1) Pengalaman pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah
meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk
apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan
faktor emosional.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis
atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan ini
antara lain di motivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk
menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
3) Pengaruh kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita
terhadap berbagai masalah.Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota
masyarakatnya, karena kebudayaanlah yang memberi corak pengalaman
individu-individu masyarakat asuhannya.
4) Media massa
Dalam pemberitaan surat kabar mauoun radio atau media komunikasi lainnya,
berita yang seharusnya faktual disampaikan
secara obyekstif
cenderungdipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap
sikap konsumennya.
5) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama sangat
menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan jika kalau pada
gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
6) Faktor emosional
Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pertanyaan yang didasari emosi
yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego.
g. Cara Pengukuran Sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau tidak
langsung.Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat/pertanyaan
responden terhadap suatu obyek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden
melalui kuesioner (Notoatmodjo, 2003 yang dikutip oleh Wawan dan Dewi,
2010).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran sikap
(Hadi, 1971) yang dikutip oleh (Wawan dan Dewi, 2010) yaitu :
1) Keadaan objek yang diukur
2) Situasi pengukuran
3) Alat ukur yang digunakan
4) Penyelenggaraan pengukuran
5) Pembacaan atau penilaian hasil pengukuran
h. Pengukuran Sikap
Beberapa teknik pengukuran sikap (Wawan dan Dewi, 2010) :
1) Skala Thurstone (Method of Equel-Appearing Intervals)
Metode ini mencoba menempatkan sikap seseorang pada rentangan
kontinum dari yang sangat unfavourable hingga sangat favourable terhadap
suatu obyek sikap caranya dengan memberikan orang tersebut sejumlah aitem
sikap yang telah ditentukan derajat favorabilitasnya.Tahap yang paling kritis
dalam menyusun alat ini seleksi awal terhdap pernyataan sikap dan
perhitungan ukuran yang mencerminkan derajat favorabilitas dalam masingmasing pernyataan.Derajat (ukuran) favorabilitas ini disebut nilai skala.
Untuk menghitung nilai skala dan memilih pernyataan sikap,
pembuat skala perlu membuat sampel pernyataan sikap sekitar lebih 100 buah
atau lebih.Pernyataan-pernyataan itu kemudian diberikan kepada beberapa
orang penilai (judges).Penilai ini bertugas untuk menentukan derajat
favorabilitas masing-masing pernyataan.Favorabilitas penilai itu diekspresikan
melalui titik skala rating yang memiliki rentang 1-11.Sangat tidak setuju 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10 11 Sangat setuju tugas penilai ini bukan untuk menyampaikan
setuju tidaknya mereka terhadap pernyataan itu.Median atau rereta perbedaan
penilain anatar penilai terhadap aitem ini kemudian dijadikan sebagai nilai
skala masing-masing aitem.Pembuat skala kemudian menyusun aitem muali
dari aitem yang memiliki nilai skala terendah hingga tertinggi.Dari aitemaitem tersebut, pembuat skala kemudian memilih aitem untuk kuesioner skala
sikap yang sesungghunya.Dalam penelitian, skala yang telah dibuat ini
kemudian diberikan pada responden.Responden diminta untuk menunjukkan
seberapa besar kesetujuan atau ketidaksetujuannya pada masing-masing aitem
sikap tersebut.
Teknik ini disusun oleh Thrustone didasrkan pada asumsi-asumsi
ukuran sikap seseorang itu dapat digambarkan dengan interval skala sama.
Perbedaan yang sama pada suatu skala mencerminkan perbedaan yang sama
pula dalam sikapnya. Asumsi kedua adalah nilai skala yang berasal dari rating
para penilai tidak dipengaruhi oleh sikap penilai terhadap issue. Penilai
melakukan rating terhadap aitem dalam tataran yang sama terhadap issue
tersebut.
2) Skala Likert (Method of Summateds Ratings)
Likert (1932) mengajukan metodenya sebagai alternative yang
lebih sederhana dibandingkana dengan skala Thurstone.Skala Thurstone yang
tediri dari 11 point disederhanakan menjadi dua kelompok, yaitu yang
favourable dan yang unfavourable.Sedangkan aitem yang netral tidak
disertakana. Untuk mengatasi hilangnya netral tersebut, Likert menggunakan
teknik konstruksi test yang lain. Masing-masing responden diminta
melakukan egreement atau disagreement-nya untuk masing-masing aitem
dalam skala yang terdiri dari 5 point (Sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak
setuju, sangat tidak setuju).Semua aitem yang favorable kemudian diubah
nilainya dalam angka, yaitu untuk sangat setuju nilainya 5 sedangkan untuk
yang Sangat Tidak Setuju nilainya 1.Sebaliknya, untuk aitem yang
unfavorable nilai skala Sangat Setuju adalah 1 sedangkan untuk yang sangat
tidak setuju nilainya 5. Seperti halnya skala Thurstone, skala Likert disusun
dan diberi skor sesuai dengan skala interval sama (equal-interval scale).
3) Unobstrusive Measures
Metode ini berkar dari suatu situasi dimana seseorang dapat
mencatat aspek-aspek perilakunya sendiri atau yang berhubungan sikapnya
dalam pertanyaan.
4) Multidimensional Scaling
Teknik ini memberikan deskripsi sesorang lebih kaya bila
dibandingkan dengan pengukuran sikap yang bersifat unidimensional. Namun
demikian, pengukuran ini kadangkala menyebabkan asumsi-asumsi mengenai
stabilitas struktur dimensional kurang valid terutama apabila diterapkan pada
lain orang, lain isu, dan lain skala aitem.
5) Pengukuran Involuntary Behavior (Pengukuran terselubung)
a) Pengukuran dapat dilakukan jika memang diingatkan atau dapat dilakukan
oleh responden
b) Dalam banyak situasi, akurasi pengukuran sikap dipengaruhi oleh kerelaan
responden
c) Pendekatan ini merupakan pendekatan observasi terhadap reaksi-reaksi
fisiologis yang terjadi tanpa disadari dilakukan oleh individu yang
bersangkutan
d) Observer dapat menginterprestasikan sikap individu mulai dari fasial
reaction, voice tones, body gesture, keringat, dilatasi pupil mata, detak
jantung, dan beberapa aspek fisiologis lainnya.
6. Perilaku
a. Pengertian
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang
mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis,
tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau
aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati
oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Menurut Lawrence Green (1980) dalan Notoatmodjo (2007), faktorfaktor yang mempengaruhi perilaku, antar lain:
a. Faktor Predisposisi (predisposing factor)
1) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang
melakukan
penginderaan
terhadap
suatu
objek
tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, ykni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.Semakin luas
pengetahuan seseorang semakin mudah orang melakukan perubahan
dalam tindakannya sebagian besar manusia memperoleh pengetahuan
melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012).
2) Pendidikan
Pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk
mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat
sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.
Tingkat pendidikan remaja sangat menentukan kemudahan dalam
menerima setiap pembaharuan. Makin tinggi pendidikan seseorang maka
akan semakin cepat tanggap dengan perubahan kondisi lingkungan,
dengan demikian lebih cepat menyesuaikan diri dan selanjutnya akan
mengikuti perubahan itu. Di samping itu semakin tinggi tingkat
pendidikan akan semakin luas pengetahuan sehingga akan termotivasi
menerima (Depkes RI, 2011).
3) Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan respon
evaluatif, dimana respon akan timbul apabila individu dihadapkan pada
suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individual. Menurut
Azwar (2010) respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang
dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi
dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam
bentuk
nilai
baik-buruk,
positif-negatif,
menyenangkan-tidak
menyenangkan, yang kemudian akan diaplikasikan dalam bentuk perilaku.
4) Kepercayaan
Kepercayaan merupakan suatu norma yang diyakini oleh
masyarakat sekitar tentang suatu hal ataupun perilaku yang boleh dan
tidak boleh dilakukan dalam suatu wilayah. Berdasarkan hal tersebut maka
kepercayaan sangat berpengaruh oleh wanita yang sudah menikah tentang
pencegahan penyakit kanker leher rahim.
5) Nilai-nilai
Mengenal dan memilih berbgai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan di ambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.
b. Faktor Pendukung (enabling factor)
1) Tersedianya fasilitas kesehatan
Adanya fasilitas kesehatan disuatu wilayah memberikan
kontribusidalam memberikan pelayanan maupun konseling tentang
masalah kesehatan.Tersedianya fasilitas kesehatan membuat orang dapat
mengakses informasi tentang kesehatan, sehingga seseorang dapat
meningkatkan pengetahuan dan derajat kesehatan.Fasilitas kesehatan
dalam hal ini diantaranya adalah petugas puskesmas, bidan atau perawat
komunitas.
2) Lingkungan fisik
Lingkungan fisik tempat pelayanan kesehatan berperan dalam
tempat dalam memberikan pelayanan kesehatan sehingga setiap masalah
kesehatan yang dialami oleh seseorang dapat teratasi.Lingkungan fisik
atau tempat pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat
adalah puskesmas, Rumah sakit atau Balai pengobtan terdekat.
3) Jarak dan Keterjangkauan Tempat Pelayanan
Tempat pelayanan yang jaraknya jaug bisa jadi membuat orang
enggan untuk mendatanginya.Jauhnya tempat pelaynan bisa menyebabkan
membengkaknya akomodasi pelayanan, karena selain biaya pelayanan
kesehatan ada biaya tambahan yaitu biaya transportasi. Bagi orang-orang
yang hanya berfikir sederhana mungkin akan memutuskan untuk tidak
dating ke sarana pelayanan kesehatan. Hal ini yang mungkin terjadi adalah
ketidakterjangkauan sarana pelayanan kesehatan oleh masyarakat.
c. Faktor Pendorong (reinforcing factor)
1) Dukungan petugas kesehatan
Persyaratan utama seseorang untuk berpartisipasi ialah
motivasi.Tanpa motivasi seseorang sulit untuk berpartisipasi disegala
program.Timbulnya motivasi harus dari seseorang itu sendiri dan pihak
luar hanya merangsang saja. Untuk itu motivasi petugas kesehatan kepada
masyarakat dalam bentuk pendidikan kesehatan sangat diperlukan
masyarakat awam sehingga akan percaya pada orang yang dianggapnya
mempunyai pengetahuan luas. Petugas kesehatan yang ada di desa oleh
masyarakat biasanya dianggap sebagai orang yang tahu segalanya tentang
masalah kesehatan. Sehingga masyarakat akan percaya terhadap apa yang
dikatakan petugas.
2) Dukungan tokoh masyarakat
Perilaku seseorang berasal dari dorongan yang ada dalam diri
maupun luar individu tersebut, sedangakan dorongan merupakan usaha
untuk memnuhi kebutuhan yang ada dalam diri seseorang atau dengan
kata lain bahwa perilaku dipengaruhi oleh dorongan baik berasal daru luar
maupun dari dalam individu dalam hal ini adalah tokoh masyarakat yang
dianggap sebagai panutan sehingga individu apat percaya dan melakukan
apa yang sudah diajrkan.
3) Tokoh agama
Tokoh agama dalam suatu masyarakat dianggao sebagai orang
yang dituakan sehingga seringkali apa yang dilakukan atau disarankan
oleh tokoh agama diikuti oleh masyarakat sekitarnya. Hal ini turut
membetuk perilaku seseorang dalam meningkatkan derajat kesehatan,
dalam hal ini adalah perilaku masyarakat dalam melakukan pencegahan
peyakit kanker leher rahim.
4) Guru
Guru merupakan penggantu orang tua dalm lingkungan
sekolah, sehingga guru berperan dalam memberikan bimbingan maupun
solusi terhadap nmasalah yang dialami muridnya. Selain itu, guru juga
dianggap memiliki pengetahuan yang lebih baik sehingga motivasi yang
diberikan dapat diterima oleh murid untuk dapat dilaksanakan.
B. Kerangka Teori
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Predisposing Factor
(Faktor Predisposisi):
a. Pengetahuan
b. Keyakinan
c. Nilai
d. Sikap
Enabling Factor
(Faktor Pendukung):
a. Ketersediaan sumber
daya kesehatan
b. Keterjangkauan
sumber daya
kesehatan
c. Prioritas dan
komitmen
masyarakat/
pemerintah
d. Keterampilan yang
berkaitan dengan
kesehatan
Perilaku
Pencegahan
Kanker Leher
Rahim
Reinforcing Factor
(Faktor Pendorong):
a. Keluarga
b. Teman sebaya
c. Guru
d. Petugas Kesehatan
Keterangan : Huruf tebal yang diteliti
Sumber :Lawrence W. Green (1980)
Download