BAB II TINJAUAN PUSTAKA

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Akrilamida
Akrilamida adalah bahan organik yang memiliki satu ikatan rangkap dengan
rumus kimia C 3 H 5 NO. Akrilamida merupakan salah satu monomer hidrofilik
yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan poliakrilamida, berwarna putih,
tidak berbau, berbentuk kristal padat yang sangat mudah larut dalam air, metanol,
etanol, etil asetat, eter, aseton, sedikit larut dalam kloroform dan mudah bereaksi
pada gugus amida atau ikatan rangkapnya. Polimerisasi mudah terjadi pada titik
leburnya atau di bawah sinar ultraviolet. Akrilamida dalam larutan bersifat stabil
pada suhu kamar dan tidak berpolimerisasi secara spontan. Akrilamida tidak
kompatibel dalam suasana asam, basa, oksidator, dan besi. Pada kondisi normal,
akrilamida terdekomposisi menjadi amonia tanpa pemanasan atau menjadi karbon
dioksida, karbon monoksida, dan oksida nitrogen dengan pemanasan
Struktur kimia :
O
H 2 C = CH
C
NH 2
Gambar 2.1 Struktur Kimia Akrilamida
Poliakrilamida adalah zat penggumpal polimer sintetik yang sering dipakai
dalam pengolahan air limbah karena daya ikatnya yang kuat terhadap partikel
tersuspensi dalam air. Poliakrilamida juga banyak digunakan di laboratorium
untuk penelitian dan analisis. Akrilamida juga digunakan sebagai bahan baku
untuk membuat beberapa jenis zat penjernih, perekat, tinta cetak, zat warna
sintetik, zat penstabil emulsi, kertas, kosmetik, dan beberapa monomer seperti Nbutoksiakrilamida dan N-metoksiakrilamida. Akrilamida juga digunakan sebagai
kopolimer pada pembuatan lensa kontak. Di samping itu, akrilamida juga
digunakan dalam konstruksi fondasi bendungan atau terowongan (Muliani &
Trinovitarini 2008).
Universitas Sumatera Utara
Pada umumnya, akrilamida yang terdapat di alam adalah buatan manusia,
berasal dari residu monomer yang dilepaskan dari poliakrilamida untuk perawatan
air minum karena tidak seluruh akrilamida terkoagulasi dan tetap berada di air
sebagai pencemar. Akrilamida terdistribusi dengan baik dalam air karena
kelarutannya yang tinggi dalam air.
2.2
Bahan Baku Pembuatan Akrilamida
2.2.1 Akrilonitril
Akrilonitril adalah monomer sintesis yang dihasilkan dari propylene dan
ammonia. Akrilonitril (CH 2 CHCN) yang dihasilkan dari propilena, ammonia dan
oksigen dengan mencampurkan katalis oksida.
Reaksi pembentukan akrilonitril :
Bi 2 O 3 /MoO 3
CH 2 = CHCH 3 + NH 3 + O 2
2.2.2
CH 2 CHCN + 3H 2 O
Asam Sulfat
Asam sulfat merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut
dalam air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan
dan merupakan salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam
sulfat pada tahun 2001 adalah 165 juta ton dengan nilai perdagangan seharga
US$8 juta. Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis
kimia, pemrosesan air limbah dan penggilingan minyak.
Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara
alami di bumi karena sifatnya higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat
merupakan komponen utama hujan asam yang terjadi karena oksidasi sulfur
dioksida di atmosfer dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida
adalah produk sampingan utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara
dan minyak yang mengandung sulfur (belerang).
Asam sulfat 98% lebih stabil untuk disimpan dan merupakan bentuk asam
sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98% umumnya disebut sebagai asam sulfat
pekat. Terdapat berbagai jenis konsentrasi asam sulfat yang digunakan untuk
bebbagai keperluan :
Universitas Sumatera Utara
•
10%, asam sulfat encer untuk keperluan laboratorium
•
33,53%, asam baterai
•
62,18%, asam bilik atau asam pupuk
•
73,61%, asam menara atau asam glover
•
97%, asam pekat.
Terdapat juga asam sulfat pekat dalam berbagai kemurnian. Mutu teknis H 2 SO 4
tidaklah murni dan seringkali berwarna, namun cocok digunakan untuk membuat
pupuk. Mutu murni asam sulfat digunakan untuk membuat obat-obatan dan zat
warna.
2.3 Kegunaan Akrilamida
Akrilamida digunakan pada proses pengolahan plastik, pengemasan
makanan, produksi karet sintesis, dan sebagai pemurni air. Gel akrilamida
berperan pada proses elektroforesis sedangkan polimer akrilamida berfungsi juga
sebagai bahan flokulasi dan pengental (Ötles, 2004).
2.4 Sifat-Sifat Bahan Baku dan Produk
2.4.1 Akrilonitril
1. Sifat Fisis :
- Rumus kimia : C 3 H 3 N
- Berat molekul : 53,015 g/gmol
- Kenampakan : jernih, cairan berbau menyengat
- Titik didih 1 atm : 77,3 oC
- Titik beku : -83,5 oC
- Kelarutan dalam air (20 oC) : 7,3 wt %
- pH (5% larutan air) : 6,0 – 7,5
- Densitas (20 oC) : 0,806 g/cm3
- Densitas uap (air = 1) : 1,8
- Volatilitas (78 oC) : . 99%
-Tekanan uap (20 oC) : 11,5 kPa
- Viskositas (25 oC) : 0,34 cp
- Temperatur kritis (Tc) : 246 oC
Universitas Sumatera Utara
- Tekanan kritis (Pc) : 3,54 mPa
- Volume kritis : 3,798 cm3/g
(Othmer, 1978)
2. Data Termodinamika
- Entropi (uap, 225 oC, 1 atm) : 65,47 cal/ oC. Mol
- Flash point : 0 oC
- Energi bebas pembentukan (∆G o g , 25 oC) : 195 kJ/mol
- Entalpy pembentukan (25 oC)
•
∆Hg o : 185 kJ/mol
•
∆Hl o : 150 kJ/mol
- Panas pembakaran (25 oC) : 1761,5 kJ/mol
- Panas penguapan (25 oC) : 32,65 kJ/mol
- Kapasitas Panas Molar
•
Cair : 2,09 kJ/(kg.K)
•
Gas (50 oC) : 1,204 kJ/(kg.K)
- Panas Peleburan Molar : 6,61 kJ/mol
- Entropi (gas, 25 oC) : 274 kJ/mol
- Panas Pelarutan : -232,12 kkal/gmol
- Kelarutan (dalam 100 bagian)
•
Air (22 oC) : 0,07
•
Alkohol : soluble
(Perry, 1867)
3. Sifat - Sifat Kimia
- Akrilonitril (C3H3N) merupakan molekul tak jenuh yang memiliki
karbon karbon dengan ikatan rangkap konjugasi dengan golongan
nitril.
- Akrilonitril merupakan molekul polar karena adanya nitrogen
heteroatom.
- Polomerisasi
akrilonitril
dapat
berlangsung
tanpa
inhibitor
hydroquinone.
- Akrilonitril dapat bereaksi dengan asam sulfat encer untuk
membentuk akrilamid sulfat.
Universitas Sumatera Utara
CH2=CHCN + H2SO4 .H2O
CH2=CHCONH3.H2SO4
- Data kelarutan akrilonitril dalam air
Tabel 2.1 Data Kelarutan Akrilonitril dalam Air
Temperatur
Akrilonitril di
Air di dalam
(oC)
dalam air (% berat)
akrilonitril (% berat)
-50
0,4
-30
1,0
0
7,1
2,1
10
7,2
2,6
20
7,3
3,1
30
7,5
3,9
40
7,9
4,8
50
8,4
6,3
60
9,1
7,7
70
9,9
9,2
80
11,1
10,9
(Kirk & Othmer, 1983)
2.4.2 Asam Sulfat
1.
Sifat – Sifat Fisis :
- Rumus kimia : H 2 SO 4
- Berat molekul : 98,94 g/gmol
- Kenampakan : cairan tak berwarna
- Kemurnian : 98% H 2 SO 4 , 2% H 2 O
- Densitas : 1,7513 g/cm3
- Titik didih : 249 oC
- spesifik grafity : 1,84
2.
Sifat – Sifat Kimia :
- Asam sulfat adalah zat pengoksida yang kuat.
Reaksi yang terjadi adalah :
Universitas Sumatera Utara
Cu + 2H2SO4
CuSO4 + SO2 + 2H2O
- Asam sulfat pekat dapat digunakan untuk menghilangkan air dari
suatu zat.
Reaksi yang terjadi adalah :
C12H22O11 + 11H2SO4
12C + 11H2SO4.H2O
- Asam sulfat dapat bereaksi dengan Natrium klorida.
Reaksi yang terjadi adalah :
2NaCl + H2SO4
-
Na2SO4 + 2HCl
Asam sulfat merupakan asam kuat bervalensi 2 dan bersifat
higroskopis.
2.4.3 Air
1. Sifat – Sifat Fisis :
- Rumus kimia : H 2 O
- Berat molekul : 18,015 g/gmol
- Kenampakan : cairan jernih (tak berwarna)
- Titik didih : 100 oC
- Titik beku : 0 oC
- Berat jenis : 0,999 kg/liter
- Spesific gravity : 1,004* (liq), 0,09150* (ice)
- Titik lebur 1 atm : 0 oC
- Titik didih 1 atm : 100 oC
- Densitas 25 °C : 0,998 g/ml
- Viscositas 25 °C : 894,9 cp
- Tekanan kritis : 281,4 atm
- Temperatur kritis : 374,15°C
- Tekanan uap:
•
20 °C : 17,54 mmHg
•
30 °C : 31,82 mmHg
•
50 °C : 92,51 mmHg
•
90 °C : 525,80 mmHg
Universitas Sumatera Utara
2. Data Termodinamika :
- Panas Ionisasi : 55,71 kJ/mol
- Panas Pembentukan 18 °C : 285,89 kJ/mol
- Panas Penguapan 100 °C : 40,85 kJ/mol
- Panas pengembunan 0 °C : 6,01 kJ/mol
3. Sifat –Sifat Kimia :
- Merupakan cairan jernih yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak
berasa.
- Merupakan pelarut yang polar.
2.4.4 Ammonia
1. Sifat – Sifat Fisis :
- Rumus kimia : NH 3
- Berat molekul : 17,03 kg/kmol
- Kenampakan : gas, tidak berwarna, mudah menguap, berbau
vinnegar
- Titik cair normal : -77,7 oC
- Titik didih normal (fase gas) :
•
Fase gas : -33,35 oC
•
Fase cair (30% NH3, 70% H2O) : 36 oC
- Temperatur kritis : 207,5 oC
- Tekanan kritis : 111,3 atm
- Volume kritis : 72,5 cm3/gmol
- Spesifik gravity pada (-79 oC) : 0,817 dan pada (15 oC) : 0,617
- Densitas : 0,682 g/cc
- Kelarutan dalam 100 gr air, 1 atm pada
•
0 oC : 42,8%
•
20 oC : 33,1%
•
40 oC : 23,4%
Universitas Sumatera Utara
2. Sifat – Sifat Kimia :
- Ammonia anhydrous dalam bentuk cair maupun gas merupakan
bahan kimia yang menyebabkan iritasi yang kuat pada kulit, mata
dan saluran pernapasan.
- Dalam keadaan normal ( tekanan 1 atm ) berupa gas, tidak berwarna,
berbau tajam dan lebih ringan dari udara.
- NH3 dapat membentuk campuran mudah terbakar dengan udara pada
nilai ambang batas (16 – 25% volume).
- Bahaya ledakan NH3 akan semakin meluas apabila kontak langsung
dengan oksigen pada temperatur serta tekanan yang tinggi di
atmosfer.
NO + H2O
- Reaksi oksida reduksi NH3 + O2
Jika tanpa katalis :
NH3 + O2
N2 + H2O
CuO + NH3
Cu + H2O + N2
- Reaksi substitusi
Masuknya ion H+ dalam ammonia, sering disebut dengan amonisasi.
Misalnya :
+
NH3 + H2O
+
NH3 + Hx
-
NH4OH NH4 + OH
-
NH4 + X
2.4.5 Akrilamida
1. Sifat – Sifat Fisis :
- Rumus Kimia : C H NO
3
5
- Berat Molekul : 71,8 g/gmol
- Kenampakan : kristal putih
- Titik didih (25 mmHg); 125 oC
- Titik lebur : 84,5 oC
- Densitas (30 oC) : 1,122 g/gmol
- Tekanan uap (25 oC) : 0,007 mmHg
- Sistem kristal : monoklinik atau triklinik
Universitas Sumatera Utara
2. Data Termodinamika :
- Panas Pelarutan : 1,099 kcal/mol
- Panas Polimerisasi : 19,8 kcal/mol
- Panas Peleburan : 59,21 kcal/mol
3. Sifat - Sifat Kimia:
- Larut dalam air, methanol, etanol dimetil eter dan acetone.
- Tidak larut dalam benzene dan heptane.
- Mudah berpolimerisasi pada titik leburnya atau di bawah sinar ultra
violet.
- Akrilamida padat stabil pada suhu kamar, tetapi mudah
berpolimerisasi dengan cepat jika kontak dengan bahan oksid
seperti chlorine dioxide dan bromine.
- Jika dipanaskan susunannya berubah, memancarkan gas beracun,
bau menyengat dan nitrogen oxide.
- Jika dipanaskan pada suhu tinggi dapat meledak.
2.4.6 Ammonium sulfat
1.
Sifat – Sifat Fisis :
- Rumus kimia : (NH 4 ) 2 SO 4
- Berat molekul : 132,14 g/gmol
- Titik lebur : 512,2 oC
- Fase : padat
- Warna : putih
- Densitas : 1,769 kg/l
2.
Sifat – Sifat Kimia:
- Sebagai pupuk yang mengandung 2 unsur hara yang dibutuhkan
tanaman yaitu Nitrogen dan Belerang.
- Medicine.
- Katalis untuk membuat makanan menjadi berwarna gelap coklat
kemerah-merahan.
Universitas Sumatera Utara
- Digunakan untuk menghilangkan debu dari kulit
- Build Chemical Industry.
- Electroplating.
2.5 Proses Pembuatan Akrilamida
Proses pembuatan akrilamida ada dua macam, yaitu :
1. Metode Asam sulfat Reaksi yang terjadi :
- Di Reaktor :
CH 2 = CHCN + H 2 SO 4 + H 2 O
CH 2 = CHCONH 2 . H 2 SO 4
- Di Netralizer :
CH 2 = CHCONH 2 .H 2 SO 4 + 2NH 3
(NH 4 ) 2 SO 4 + CH 2 =
CHCONH 2
H 2 SO 4 + 2NH 3
(NH 4 ) 2 SO 4
Pada proses ini mula-mula antara H 2 O dengan asam sulfat pekat dicampur
menjadi larutan asam sulfat encer. Kemudian direaksikan dengan akrilonitril
menjadi akrilamida sulfat pada suhu 90 oC dan tekanan 1 atm. Setelah itu,
dinetralkan dengan NH 3 untuk mengikat sulfat sehingga akan dihasilkan
akrilamida dan ammonium sulfat. Larutan akrilamida dipekatkan dan
dikristalkan. Kristal akrilamida kemudian dikeringkan. Metode ini relatif
mudah dan memberikan hasil akrilamida sulfat yang tinggi. Proses netralisasi
dilakukan dengan menggunakan NH 3 di reaktor netralisasi (R-03). Proses ini
merupakan tahap yang penting karena dalam proses ini terjadi pemisahan
antara akrilamida yang masih mengandung asam sulfat menjadi akrilamida,
ammonium sulfat, dan air. Digunakan NH 3 karena antara NH 3 yang terbentuk
dalam akrilamida merupakan senyawa yang tidak saling melarutkan sehingga
memudahkan proses pemisahannya.
Universitas Sumatera Utara
2. Metode Hidrasi Katalitik
Reaksi yang terjadi :
CH2 = CHCN + H2O
CH2 = CHCONH2
Pada proses ini menggunakan katalis padat berupa logam tembaga. Reaksi
berlangsung selama 1 jam, akrilonitril yang bereaksi diuapkan dan akan
terbentuk akrilamida murni. Proses hidrasi berlangsung pada suhu 50 °C atau
lebih tinggi. Kecepatan akan lebih tinggi dengan meningkatnya suhu. Pada
suhu 150 °C atau lebih, proses poliomerisasi dari akrilonitril maupun
akrilamida murni mulai berlangsung, oleh karena itu temperatur optimal adalah
70 sampai 150 °C. Katalis yang digunakan jika sudah tidak aktif perlu
diaktifkan dengan proses regenerasi yang merupakan reaksi yang sangat
eksotermis. Oleh karena itu dalam proses ini, hal tersebut merupakan masalah
yang harus dihadapi.
2.6 Seleksi Proses
Setelah memperhatikan kedua proses tersebut di atas dipilih proses yang
pertama, yaitu proses asam sulfat dengan pertimbangan
Tabel 2.2 Dasar Pertimbangan Pemilihan Proses
No.
Proses
1.
Metode Asam Sulfat
Kelebihan
- Prosesnya
komersil
Kekurangan
dan
lebih sederhana
- Reaksi harus
dikontrol pada suhu
- Proses pemurnian produk
lebih mudah
yang konstan dengan
reaksi eksotermis
- Harga produk relatif lebih
tinggi
2.
Metode Hidrasi Katalitik
- Reaksi
dapat
dipercepat - Perlu adanya
dengan meningkatkan suhu
regenerasi katalis
dengan reaksi yang
sangat eksotermis
- Konversi reaksi relatif
rendah (30-50 wt %)
akrilamida)
Universitas Sumatera Utara
2.7 Deskripsi Proses
Bahan baku berupa akrilonitril 99% dari tangki penyimpanan (T-01) dan
asam sulfat 98% dari tangki penyimpanan (T-02) yang telah diencerkan terlebih
dahulu di dalam mixture tank (MT-01) diumpankan menuju reaktor alir tangki
berpengaduk (R-01) dimana reaktor difungsikan untuk mereaksikan akrilonitril
dan asam sulfat yang telah diencerkan sehingga terbentuk akrilamida sulfat,
dengan sifat reaksi irreversible, eksotermis pada suhu 90°C dan tekanan 1 atm,
kondisi operasi isotermal non adiabatis. Reaksi berlangsung di dalam reaktor
yang disusun secara seri dengan waktu tinggal keseluruhan di dalam kedua reaktor
selama 4,5 jam.
Pada reaktor alir tangki berpengaduk konsentrasi menurun cepat sampai ke
suatu harga yang rendah. Akibatnya untuk reaksi-reaksi berorde positif volume
reaktor yang diperlukan menjadi besar. Untuk itu reaktor disusun seri sehingga
konsentrasi reaktan tidak turun secara drastis, tetapi bertahap dari satu tangki ke
tangki berikutnya. Dengan cara ini maka kecepatan reaksi di masing-masing
tangki akan turun menurun secara bertahap pula, sehingga volume total seluruh
reaktor untuk mendapatkan besarnya konversi tertentu akan lebih kecil
dibandingkan dengan sistem reaktor tunggal.
Akrilamida sulfat yang terbentuk dari R-01 kemudian diumpankan menuju
R-02 untuk meningkatkan konversi reaksi sehingga diperoleh konversi reaksi
yang optimum.
Reaksi :
C 3 H 3 N + H2SO4 + H2O
CH2 = CHCONH2 . H2SO4
Hasil yang keluar dari Reaktor dipurifikasikan dalam netralizer (R-03)
menggunakan penetral ammonia untuk memisahkan akrilamida sulfat menjadi
akrilamida dan ammonium sulfat yang selanjutnya dipompakan oleh P-07 menuju
Centrifuge (CF-01).
Reaksi:
C3H5NO.H2SO4 + 2NH3
H2SO4 + 2NH3
(NH4)2SO4 + C3H5NO
(NH4)2SO4
Pada centrifuge (CF-01) terjadi pemisahan yang diakibatkan oleh gaya
sentrifugal. Gaya ini dihasilkan dari putaran motor yang akan mengakibatkan
Universitas Sumatera Utara
bahan yang berbeda berat jenisnya terpisah. Hasil pemisahan berupa (NH 4 ) 2 SO 4
dan akrilamida (C 3 H 5 NO). Ammonium sulfat (NH 4 ) 2 SO 4 yang terbentuk
kemudian diangkut menggunakan belt conveyer (BLC-01) menuju elevator (E-01)
untuk diangkut ke dalam washer (W-01) untuk menghilangkan impuritis yang
terikut bersama ammonium sulfat (NH 4 ) 2 SO 4 .
Washer (W-01) ini terdiri dari sebuah drum yang ditutupi dengan suatu
medium filter. Drum tersebut berputar dan sebuah katup otomatis yang terdapat di
tengah-tengah drum itu beroperasi untuk mengaktifkan proses penyaringan,
pengeringan, pencucian, dan melepaskan cake yang ada di dalam siklus itu. Filtrat
dikeluarkan melalui poros sumbu filter (saringan) tersebut. Katup otomatis yang
ada di dalam washer menyediakan saluran terpisah untuk filtrat dan mencuci
cairan. Washer (W-01) ini dilengkapi dengan nozzle sebagai tempat mengalirnya
air untuk proses pencucian.
(NH 4 ) 2 SO 4 yang telah dicuci kemudian diangkut menggunakan screw
conveyer (SC-01) menuju rotary dryer (RD-01) untuk dikeringkan. Proses
pengeringan terjadi ketika bahan dimasukkan ke dalam silinder yang berputar,
kemudian bersamaan dengan itu udara panas dialirkan dan kontak dengan bahan.
Di dalam drum yang berputar terjadi gerakan pengangkatan bahan oleh flights dan
menjatuhkannya dari atas ke bawah, terhamburkan melalui udara sehingga
kumpulan bahan basah yang menempel tersebut terpisah dan proses pengeringan
bisa berjalan efektif. Bahan bergerak dari bagian ujung dryer keluar menuju
bagian ujung lainnya akibat kemiringan drum. Bahan yang telah kering kemudian
keluar melalui suatu lubang yang berada di bagian belakang pengering drum.
Produk ammonium sulfat dengan kemurnian 99% disimpan sementara di dalam
silo (S-01) sebelum proses pengepakan
Pada rotary dryer (RD-01) dilengkapi dengan cyclone (CL-01) agar udara
yang dikeluarkan dari rotary dryer (RD-01) benar-benar bersih. Aliran fluida
(udara) akan diinjeksikan melalui pipa input. Bentuk kerucut cyclone
menginduksikan aliran gas atau fluida untuk berputar menciptakan vortex.
Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih besar didorong ke arah luar
vortex. Gaya gravitasi menyebabkan partikel-partikel tersebut jatuh ke sisi kerucut
menuju tempat pengeluaran. Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih
Universitas Sumatera Utara
kecil keluar memalui bagian atas dari cyclone melalui pusat yang bertekanan
rendah. Cyclone membuat suatu gaya sentrifugal yang berfungsi untuk
memisahkan partikulat dari udara kotor. Gaya sentrifugal timbul saat partikulat di
dalam udara masuk ke puncak kolektor silindris pada suatu sudut dan diputar
dengan cepat mengarah ke bawah seperti pusaran air. Aliran udara mengalir
secara melingkar dan partikulat yang lebih berat mengarah ke bawah setelah
menabrak ke arah dinding cyclone dan meluncur ke bawah.
Sementara akrilamida yang telah dipisahkan di centrifuge (CF-01)
dipompakan oleh P-08 menuju heat exchanger (HE-01). Di sini terjadi
perpindahan panas dengan melewatkan 2 fluida dengan panas yang berbeda.
Proses
ini
bertujuan
untuk
mendinginkan
larutan
akrilamida
sebelum
dikristalisasi.
Setelah didinginkan di HE-01, larutan akrilamida kemudian dialirkan ke
crystallizer (CR-01). Crystallizer (CR-01) ini berupa saluran pipa yang dilapisi
dengan jaket pendingin. Proses kristalisasi ini dilakukan dengan cara
mendinginkan larutan. Pada saat suhu larutan turun, komponen zat yang memiliki
titik beku lebih tinggi akan membeku terlebih dahulu, sementara zat lain masih
larut sehingga keduanya dapat dipisahkan dengan cara penyaringan. Zat lain akan
turun bersama pelarut sebagai filtrat, sedangkan zat padat tetap tinggal di atas
saringan sebagai residu. Kristal yang terbentuk akan menempel di dinding pipa
tersebut dan akan diambil dengan scraper blades yang digerakkan oleh katrol.
Kemudian kristal akan dikeluarkan pada salah satu ujungnya. Mother liquor akan
direcycle ke netralizer (R-03). Kristal yang terbentuk diangkut oleh screw
konveyer (SC-01) menuju rotary dryer (RD-02) untuk dikeringkan. Setelah
kering, kristal akrilamida akan diangkut menggunakan belt conveyor (BLC-02)
menuju silo (S-02) dan disimpan sementara di dalam silo sebelum proses
pengepakan.
Universitas Sumatera Utara
Download