Analisis Proses Pelaksanaan Pembelajaran Matematika

advertisement
6
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
a. Pengertian KTSP
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan
tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian
dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan
dan peserta didik. Kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan
disesuaikan untuk memungkinkan antara penyesuaian program
pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum yang saat ini digunakan di Indonesia adalah
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. KTSP merupakan
penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK
dan KTSP mempunyai kesamaan yakni pembelajaran dan penilaian
menggunakan pembelajaran berbasis kompetensi dan penilaian
berbasis kelas. KBK mempunyai perbedaan dengan KTSP yakni
dikembangkan oleh tim pusat kurikulum departemen pendidikan
nasional, sedangkan KTSP dikembangkan oleh masing-masing
satuan pendidikan sesuai dengan potensi dan kebutuhan sekolah
dengan tetap berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan
Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Pengembangkan KTSP di
sekolah mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). SNP
adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh
Indonesia. SNP dikembangkan oleh BSNP. Terdapat 8 Standar
Nasional Pendidikan yang harus diacu oleh sekolah dalam
penyelenggaraan kegiatannya yaitu: Standar Isi, Standar Proses,
Standar Kompetensi Lulusan, Standar Tenaga Kependidikan,
Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar
Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan. Dua dari
kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi
(SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan
7
utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Standar Isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk
mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu, sedangkan Standar Kompetensi Lulusan merupakan
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup pengetahuan,
sikap, dan keterampilan (BSNP, 2006: 4).
KTSP ditandatangani pada 23 Mei 2006 dan diberlakukan di
Indonesia mulai tahun ajaran 2006/2007. Menurut Mulyasa (2007:
19) KTSP adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang
disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
KTSP merupakan suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang
diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran,
yakni sekolah dan satuan pendidikan.
Susilo (2007: 12) menyatakan bahwa KTSP adalah suatu
konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk
menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu
dan efisien pendidikan agar dapat memodifikasikan keinginan
masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antar
sekolah, masyarakat, industri dan pemerintah dalam membentuk
pribadi peserta didik.
Pengertian KTSP dalam SNP Pasal 1 Ayat 15, KTSP merupakan
kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan di masingmasing satuan pendidikan. KTSP dikembangkan sesuai potensi
sekolah dan karakteristik siswa serta sesuai dengan tuntutan
masyarakat. Sejalan dengan pengertian diatas Sanjaya (2008: 128)
mengemukakan bahwa ada beberapa hal yang berkaitan dengan
KTSP sebagai kurikulum operasional. Pertama, sebagai kurikulum
yang bersifat operasional, dalam pengembangannya KTSP tidaklah
terlepas dari ketetapan yang telah disusun pemerintah secara
nasional; kedua, para pengembang KTSP dituntut harus
memerhatikan ciri khas kedaerahan, sesuai dengan bunyi UndangUndang No. 20 Tahun 2003 Ayat 2, yakni kurikulum pada semua
jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan
peserta didik; ketiga, para pengembang kurikulum di daerah
memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi
unit-unit pelajaran.
8
b. Landasan Pengembangan KTSP
KTSP memiliki Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah
yang melandasinya diantaranya adalah Undang-undang Republik
Indonesia No. 20 Tahun 2003, Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 19 Tahun 2005, Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 22 Tahun 2006, Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 23 Tahun 2006, serta Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 24 Tahun 2006.
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003
tentang Sisdiknas mengemukakan bahwa SNP terdiri atas standar
isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan
prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian yang harus
ditingkatkan secara berencana dan berkala. Pasal 35 Ayat 2
mengemukakan bahwa Standar Nasional Pendidikan (SNP)
digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan
pembiayaan. Pasal 36 Ayat 2 menyebutkan kurikulum pada semua
jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip
diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan
peserta didik. Pasal 38 Ayat 1, 2 menyebutkan kerangka dasar dan
struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan
oleh pemerintah, serta kurikulum pendidikan dasar dan menengah
dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok
atau satuan pendidikan dan komite sekolah atau madrasah di
bawah koordinasi dan supervise dinas pendidikan atau kantor
departemen agama kabupaten atau kota untuk pendidikan dasar
dan provinsi untuk pendidikan menengah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005
berisi tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), dalam peraturan
tersebut dikemukakan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional
yang dikembangkan berdasarkan standar kompetensi kelulusan
(SKL) dan standar kompetensi isi.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006
mengatur tentang Standar Isi untuk satuan Pendidikan Dasar dan
Menengah yang selanjutnya disebut Standar Isi mencakup lingkup
materi minimal dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai
9
kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006
tentang Standar Kelulusan. Ayat 1 mengemukakan bahwa Standar
Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan
kelulusan peserta didik, dan ayat 2 berisi tentang Standar
Kompetensi Lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi
standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan
menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata
pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata
pelajaran.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006
tentang Aturan Pelaksanaan SKL dan Standar Isi. Peraturan
tersebut mengemukakan bahwa satuan pendidikan dasar dan
menengah mengembangkan dan menetapkan kurikulum tingkat
satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai kebutuhan satuan
pendidikan yang bersangkutan.
c. Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
Pengembangan KTSP mengacu pada Standar Isi, Standar
Kompetensi Lulusan dan berpedoman pada panduan penyusunan
kurikulum yang disusun BSNP, serta memperhatikan pertimbangan
komite sekolah atau madrasah. KTSP dikembangkan berdasarkan
prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya berpusat pada
potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta
didik dan lingkungannya; Beragam dan terpadu; Tanggap terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; Relevan
dengan kebutuhan hidup; Menyeluruh dan berkesinambungan;
Belajar sepanjang hayat; Seimbang antara kepentingan nasional
dan kepentingan daerah (BSNP, 2006: 5).
Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya, berarti peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya
agar menjadi manusia yang beriman, dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
10
bertanggung jawab. Memiliki posisi sentral berarti proses
pembelajaran yang berlangsung berpusat pada peserta didik.
Beragam dan terpadu berarti pengembangan kurikulum
memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi
daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak
diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial, ekonomi, dan jenis kelamin. Kurikulum
meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan
lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam
keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna.
Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni yakni kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran
bahwa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berkembang secara
dinamis. Semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman
belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Relevan dengan kebutuhan kehidupan yang berarti
pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan
pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menjamin relevansi
pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya
kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja.
Menyeluruh dan berkesinambungan mengandung arti bahwa
substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,
bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang
pendidikan.
Belajar sepanjang hayat berarti kurikulum diarahkan kepada
proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta
didik agar mampu dan mau belajar yang berlangsung sepanjang
hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur
pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan
memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu
berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
Prinsip yang terakhir yakni seimbang antara kepentingan
nasional dan kepentingan daerah berarti kurikulum dikembangkan
dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan
daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
11
dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah
harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan moto
Bhineka Tunggal Ika dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).
d. Karakteristik KTSP
Sanjaya (2008 : 129) mengemukakan bahwa KTSP dilihat dari
desainnya terdiri atas 4 desain, yakni kurikulum sebagai disiplin
ilmu, atau yang dikenal dengan kurikulum subjek akademis;
kurikulum pengembangan individu yang sering kita kenal dengan
kurikulum humanistik; kurikulum berorientasi pada kehidupan
masyarakat atau yang kita kenal dengan rekonstruksi sosial; serta
kurikulum teknologis. Konsep dasar dan desain kurikulum diatas
jika dihubungkan maka, KTSP dapat dikatakan memiliki semua
unsur tersebut yang sekaligus merupakan karakteristik KTSP itu
sendiri.
KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada disiplin
ilmu.Pertama, struktur program KTSP yang memuat sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik. Setiap mata
pelajaran yang harus dipelajari itu selain sesuai dengan namanama disiplin ilmu juga ditentukan jumlah jam pelajaran secara
ketat. Kedua, kriteria keberhasilan KTSP lebih banyak diukur dari
kemampuan siswa menguasai materi pelajaran. Kriteria
keberhasilan tersebut dapat dilihat dari sistem kelulusan yang
ditentukan oleh standar minimal penguasaan isi pelajaran seperti
yang diukur dari hasil Ujian Nasional. Soal-soal dalam UN itu lebih
banyak bahkan seluruhnya menguji kemampuan kognitif siswa
dalam setiap mata pelajaran. KTSP sebenarnya menyarankan
kepada setiap guru menggunakan sistem penilaian proses misalnya
dengan portofolio, namun pada akhirnya kelulusan siswa
ditentukan oleh sejauh mana siswa menguasai materi pelajaran.
KTSP merupakan kurikulum yang berorientasi pada
pengembangan individu yakni menekankan pada aktivitas siswa
untuk mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran melalui
berbagai pendekatan dan strategi pembelajaran yang disarankan
misalnya CTL, inkuiri, pembelajaran portofolio, dan lain
sebagainya. Secara tegas dalam struktur kurikulum terdapat
12
komponen pengembangan diri, yakni komponen kurikulum yang
menekankan kepada aspek pengembangan minat dan bakat siswa.
KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah,
hal ini tampak pada salah satu prinsip KTSP, yakni berpusat pada
potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta
didik dan lingkungannya. Berdasar pada prinsip tersebut, maka
KTSP adalah kurikulum yang dikembangkan oleh daerah, bahkan
dengan program muatan lokalnya, KTSP didasarkan pada
keberagaman kondisis, sosial, budaya yang berbeda masingmasing daerahnya.
KTSP adalah kurikulum teknologis, karena dapat dilihat dari
adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian di
jabarkan pada indikator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang
terukur sebagai bahan penilaian.
Mengacu pada karakteristik-karakteristik diatas, maka KTSP
adalah kurikulum yang memuat semua unsur desain kurikulum.
Semua unsur desain mewarnai KTSP, akan tetapi desain KTSP
sebagai desain kurikulum berorientasi pada pengembangan
disiplin ilmu atau desain kurikulum subjek akademis tampak lebih
dominan, hal ini tampak jelas dari pengaturan secara ketat namanama disiplin ilmu serta kriteria keberhasilan setiap siswa dalam
mempelajari kurikulum.
2. Peran Guru dalam Pelaksanaan KTSP di sekolah
Pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tidak
terlepas dari peran seorang guru. Menurut Martinis Yamin (2008: 49),
guru harus memiliki kepekaan terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi dalam dunia pendidikan, seperti adanya perubahan kurikulum.
Guru diminta untuk dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut,
dengan cara mengikuti penataran, workshop, dan belajar dari teman
lainnya. Seorang guru sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran
di kelas harus memahami kurikulum yang berlaku, jangan sampai
ketika pelaksanaannya di lapangan, guru tidak mengetahui perangkat
yang digunakan. Oemar Hamalik (2008: 53) menyatakan bahwa setiap
guru perlu dan harus memahami kurikulum tempatnya bertugas
dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu, agar pelaksanaan Kurikulum
13
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berjalan efektif, guru perlu
memahami Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Tugas utama guru dalam pelaksanaan KTSP adalah menjabarkan,
menganalisis, mengembangkan indikator dan menyesuaikan standar
kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) dengan karakteristik dan
perkembangan peserta didik, situasi dan kondisi sekolah (Mulyasa,
2006: 109). Selain itu, dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP,
guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai fasilitator yang
memberikan kemudahan belajar kepada seluruh siswa. Guru
merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap proses
dan hasil belajar bahkan sangat menentukan berhasil tidaknya siswa
dalam belajar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bertujuan untuk
memberdayakan para siswa agar memiliki kecakapan hidup sehingga
guru harus mengembangkan kreativitas para siswa melalui kecakapan,
memotivasi dengan iklim belajar yang kondusif (Martinis Yamin, 2008:
104).
3. Pembelajaran Matematika Berbasis KTSP
Implementasi KTSP akan bermuara pada pelaksanaan
pembelajaran, yakni bagaimana agar isi atau pesan-pesan kurikulum
(SK-KD) dapat dicerna oleh peserta didik secara tepat dan optimal.
Guru harus berupaya agar peserta didik dapat membentuk kompetensi
dirinya sesuai dengan apa yang digariskan dalam kurikulum (SK-KD),
sebagaimana dijabarkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP). Tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan
lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku tersebut.
Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga kegiatan, yakni
pembukaan, pembentukan kompetensi, dan penutup (Mulyasa, 2008:
180).
Pembukaan adalah kegiatan awal yang harus dilaksanakan guru
untuk memulai atau membuka pembelajaran. Membuka pembelajaran
merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan kesiapan mental dan
menarik perhatian peserta didik secara optimal, agar mereka
memusatkan diri sepenuhnya untuk belajar. Banyak cara yang dapat
dilakukan guru untuk memulai atau membuka pembelajaran, antara
lain melalui pembinaan keakraban, dan pretest. Pembinaan keakraban
merupakan upaya yang harus dilakukan guru untuk menciptakan iklim
14
pembelajaran yang kondusif dan mempersiapkan peserta didik
memasuki proses pembelajaran. Pembinaan keakraban sebaiknya
dilakukan guru untuk memperhatikan perbedaan individual dan
karakteristik peserta didik. Terbinanya suasana yang akrab amat
penting untuk mengembangkan sikap terbuka dalam kegiatan belajar
dan pembentukan kompetensi peserta didik; Pretest (tes awal) adalah
kegiatan yang dilakukan setelah pembinaan keakraban. Pretest
memegang peranan yang cukup penting dalam pelaksanaan
pembelajaran. Pretest adalah tes yang dilaksanakan sebelum kegiatan
inti pembelajaran dan pembentukan kompetensi dimulai, sebagai
penjajagan terhadap kemampuan peserta didik pada pembelajaran
yang akan dilaksanakan.
Pembentukan kompetensi mencakup berbagai langkah yang perlu
ditempuh oleh peserta didik dan guru sebagai fasilitator untuk
mewujudkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
ditempuh melalui berbagai cara, bergantung kepada situasi, kondisi,
kebutuhan serta kemampuan peserta didik.
Penutup merupakan kegiatan akhir yang dilakukan guru untuk
mengakhiri pembelajaran. dalam implementasi KTSP, kegiatan
menutup pelajaran (penutup) perlu dilakukan secara professional, agar
mendapatkan hasil yang memuaskan dan menimbulkan kesan yang
menyenangkan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan guru untuk
menutup pelajaran antara lain, pertama, meninjau kembali yakni
dapat dilakukan dengan cara merangkum materi pokok atau menarik
suatu kesimpulan yang mengacu pada kompetensi dasar dan tujuan
yang telah dirumuskan. Kegiatan merangkum dan menarik kesimpulan
dapat dilakukan peserta didik di bawah bimbingan guru, oleh guru,
atau oleh peserta didik bersama guru. Kedua, mengevaluasi yakni
untuk mengetahui keefektifan pembelajaran dan pembentukan
kompetensi yang dilakukan, serta untuk mengetahui apakah
kompetensi dasar dan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan dapat
dicapai oleh peserta didik melalui pembelajaran. hasil evaluasi dapat
digunakan untuk berbagai kepentingan, memberikan penilaian
terhadap peserta didik dan juga sebagai balikan untuk memperbaiki
program pembelajaran. Ketiga, Tindak lanjut yakni kegiatan yang harus
dilakukan peserta didik setelah pembelajaran dan pembentukan
kompetensi, kegiatan ini perlu diberikan agar terjadi pemantapan pada
15
diri peserta didik terhadap pembentukan kompetensi dasar dan
pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
B. Penelitian yang Relevan
Berikut ini akan dipaparkan mengenai penelitian-penelitian yang
mendukung, diantaranya adalah Penelitian yang dilakukan Anita (2009)
tentang Pelaksanaan Pembelajaran berbasis KTSP di SMP N 24 Surakarta.
Penelitian tersebut mengemukakan proses pelaksanaan pembelajaran
yang dilakukan guru jarang mengkaitkan materi pembelajaran dengan
lingkungan sekitarnya, selain itu dalam menerapkan berbagai pendekatan
dan strategi pembelajaran juga jarang dilakukan oleh guru. Pelaksanaan
pembelajaran metematika di kelas juga menunjukkan bahwa pembelajaran
matematika masih terpusat pada guru yang cenderung menstransfer
pengetahuan matematika yang di miliki dalam pikiran siswa. Guru masih
memandang bahwa matematika merupakan produk bukan proses, hal ini
akan membuat pelajaran matematika menjadi tidak menarik, sehingga
kebermaknaan terhadap matematika relatif rendah.
Penelitian Ilmiah lainnya juga dilakukan oleh Rahayu (2008) di SMK
Negeri 6 Surakarta. Penelitian yang dilakukan Rahayu memaparkan
pelaksanaan KTSP yang sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum yakni berpusat pada potensi peserta didik dan lingkungannya.
Proses Kegiatan Belajar Mengajar yang merupakan inti kegiatan dalam
satuan pendidikan dilaksanakan dengan memperhatikan strategi
pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media
pembelajaran, serta evaluasi pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran
matematika juga tidak terlepas dari dukungan institusi sekolah sebagai
lembaga yang menaungi proses pembelajaran tersebut. Kesiapan
perangkat pembelajaran baik dari segi administrasi, fisik, sosial dan lainnya
akan memberikan pengaruh bagi pencapaian tujuan pembelajaran
matematika berbasis KTSP.
C. Kerangka Berpikir
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan
kualitas pendidikan nasional. Salah satu di antaranya adalah pembaharuan
kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah. KTSP merupakan kurikulum
terbaru saat ini. KTSP memberikan kebebasan satuan pendidikan dalam
mengembangkan kurikulum sesuai dengan kompetensi sekolah yang tetap
16
mengacu pada BSNP. Diharapkan melalui KTSP, guru dapat
mengembangkan profesionalitasnya agar terjadi pembelajaran yang
kreatif, inovatif serta kualitas pendidikan dapat lebih baik.
Pelaksanaan pembelajaran KTSP di sekolah tidaklah mudah untuk
dilaksanakan, di samping kompetensi guru, yang dapat menentukan
keberhasilan suatu pembelajaran. yaitu siswa, sumber belajar, dan strategi
mengajar. Faktor-faktor tersebut tidak selalu berjalan dengan baik, ada
kalanya terjadi hambatan-hambatan, baik intern maupun ekstern.
Misalnya hambatan dari dalam diri siswa, lingkungan sekitar, kendala
sumber belajar dan beberapa faktor lain. Berbagai usaha diperlukan untuk
mengatasi hambatan-hambatan tersebut, sehingga tujuan pembelajaran
dapat tercapai dan siswa mempunyai kompetensi yang diharapkan oleh
lingkungan.
Pengembangan KTSP didasarkan pada satuan pendidikan, berarti
komponen sekolah, baik kepala sekolah, guru, komite sekolah dan dewan
pendidikan, harus memahami hakikat KTSP. Sekolah adalah pelaksana
kurikulum, baik kurikulum nasional maupun kurikulum yang ditentukan
berdasarkan kompetensi sekolah (muatan lokal). Pelaksanaan tersebut
dilaksanakan melalui proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan
pendidikan. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah memerlukan
manajemen pengajaran untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan
efisien sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.
Download