penerapan metode demonstrasi disertai lembar kerja untuk

advertisement
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DISERTAI LEMBAR KERJA
UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
SISWA DALAM MATA PELAJARAN DASAR-DASAR BUDIDAYA
TANAMAN TERHADAP SISWA KELAS X ATPH
SMK NEGERI 2 BATU
Neny Rukmiati
SMK Negeri 2 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk (1)
meningkatkan aktivitas belajar siswa, (2) memudahkan siswa memahami tentang
persyaratan tumbuh tanaman, (3) memudahkan pemahaman siswa pada faktor biotik dan
abiotik, (4) memudahkan siswa dalam mengidentifikasi gejala kerusakan tanaman akibat
faktor biotik dan abiotik, (5) meningkatkan hasil belajar siswa, Subjek penelitian ini adalah
siswa SMK Negeri 2 Batu kelas X Kompetensi Keahlian Agribisnis Tanaman Pangan dan
Hortikultura semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 yang dilakukan dengan dua siklus.
Masing-masing siklus memuat tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
Dan objek penelitiannya adalah (1) aktivitas belajar, (2) pemahaman konsep siswa hasil
belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Dasar-dasar Budidaya Tanaman
dengan penerapan Metode Demonstrasi Disertai Lembar Kerja Siswa dapat (1) meningkatkan aktivitas belajar siswa, (2) meningkatkan pemahaman konsep Dasar-dasar Budidaya
Tanaman siswa. dan (3) meningkatkan respon positif siswa terhadap pembelajaran Dasardasar Budidaya Tanaman. Dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa, terjadi peningkatan KKM dari siklus I sebesar 79% menjadi 82% pada siklus II. Masih terdapat siswa
yang belum tuntas maka akan dilakukan remidi.
Kata Kunci: demonstrasi, aktivitas, hasil belajar, pemahaman konsep
Mata pelajaran Dasar-dasar Budidaya Tanaman diajarkan pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) Program Keahlian Agribisnis Produksi Tanaman untuk membekali peserta didik pengetahuan,
pemahaman, dan sejumlah ketrampilan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi dibidang budidaya
tanaman. Mata pelajaran dasar-dasar budidaya merupakan materi pokok yang harus dikuasai peserta
didik karena merupakan dasar dari mata pelajaran produktif lebih lanjut. Karena mata pelajaran ini
belum didapatkan di sekolah sebelumnya maka bagi peserta didik merupakan mata pelajaran yang
masih baru sehingga perlu adanya pembekalan dan pemahaman materi, sehingga diharapkan bisa
meningkatkan hasil belajar. Hal ini berkaitan dengan permendikbud No. 54 tahun 2013 tentang
standar kompetensi lulusan mengenai kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap,
pengetahuan dan ketrampilan peserta didik yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan
masa belajarnya di satuan pendidikan.
Pembelajaran yang aktif dan efektif tidak akan berjalan jika kurangnya sarana dan prasarana
yang menunjang pembelajaran itu sendiri. Metode yang diajarkan guru yang hanya membuat peserta
didiknya berhayal tidak akan mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri. Kondisi ini menghendaki
seorang guru untuk mengubah metode mengajar serta menyediakan media belajar dalam proses
pembelajarannya. Pelajaran dasar-dasar budidaya tanaman menuntut guru untuk memberikan
ketrampilan kepada peserta didik, salah satu ketrampilan tersebut adalah ketrampilan dalam
berbudidaya tanaman. Dalam proses pembelajarannya siswa dituntut untuk aktif dan kreatif belajar
dengan menggunakan media pembelajaran untuk menunjang keberhasilan budidaya tanaman. Dengan
837
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
metode demonstrasi dan pemberian lembar kerja bisa meningkatkan pemahaman siswa dan
meningkatkan ketrampilan proses.
Namun demikian yang terjadi bahwa pembelajaran di kelas X ATPH terkait dengan materi
pelajaran di atas menunjukan beberapa kendala atau masalah sebagai berikut masih ditemukan siswa
yang belum menghasilkan pembelajaran yang efektif. Pada saat pembelajaran masih banyak siswa
yang kurang penuh perhatian demonstrasi guru tentang materi yang disampaikan. Bahkan sedikit
siswa yang masih sempat melakukan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan
pembelajaran, misalnya mengganggu teman yang serius mengikuti pelajaran, memain-mainkan
sesuatu, tidak membantu teman karena alasan tidak tahu kerja, melihat teman yang kerja seperti
duduk termenung, banyak hal yang selalu saja ada di saat guru memberi tugas kelompok. Untuk itu
perlu dilakukan metode demonstrasi yang dilengkapi dengan lembar kerja siswa.
Ada beberapa aspek yang harus dipersiapkan matang oleh guru sebelum melaksanakan
metode demonstrasi terutama yang berkaitan dengan pengelolaan alat peraga/media pembelajaran.
Aspek-aspek tersebut adalah relevansi alat peraga/media yang digunakan dengan konsep/materi yang
diajarkan, kesesuaian jumlah dan kelengkapan alat peraga/media yang digunakan sehingga menarik
bagi siswa, proporsi ukuran alat peraga/media yang digunakan sehingga mudah diamati siswa,
estetika/kerapihan alat peraga/media sehingga menarik bagi siswa, dan keterampilan menggunakan
alat peraga /media.
Pembelajaran dengan metode Demonstrasi telah dikaji oleh beberapa peneliti (Johana 2015;
Agristein Peole, Vanny Maria Agustina, Lestari Alisyahbana 2015; Utin Emma 2015; Agung
Setyawan 2015; Suryo Widu & Elvis Buntaa 2013;). Menurut Johana (2015), pembelajaran dengan
metode Demonstrasi dapat membelajarkan siswa secara efektif dan menyenangkan. Dari studi
pendahuluan pembelajaran yang hanya teori kurang efektif dipahami oleh peserta didik, sehingga
perlu adanya media untuk ketrampilan proses. Djamarah (dalam Johana 2015) mengemukakan
kelebihan dari metode demonstrasi adalah perhatian siswa lebih dapat dipusatkan, proses belajar
siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari, membantu anak didik memahami dengan
sejelas-jelasnya. Menurut Agristein Peole, Vanny Maria Agustina, Lestari Alisyahbana (2015),
dengan metode demonstrasi siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyususn sesuatu.
Menurut Utim Emma (2015), dengan menggunakan metode Demonstrasi dapat meningkatkan belajar
siswa. Menurut Agung Stiyawan (2015), metode Demonstrasi diharapkan dapat memunculkan
berbagai variasi pembelajaran. Dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini
guru berperan sebagai fasilitator, sedangkan siswa berperan sebagai penggerak/pemeran utamanya
dalam pembelajaran. Menurut Suryo Widu & Elvis Buntaa (2013), metode Demonstrasi merupakan
salah satu alternatif dalam pembelajaran, karena dengan metode ini, siswa dapat mengamati sendiri
dan hal ini membuat siswa lebih mudah memahami bahan ajar.
Langkah-langkah diantaranya adalah sebagai berikut (1) Guru menyampaikan Tujuan
Pembelajaran Khusus (TPK), (2) Guru menyajikan gambar sekilas materi yang akan disampaikan, (3)
Menyiapkan bahan atau alat yang diperlukan,
(4) Menunjuk salah seorang siswa untuk
mendemonstrasikan sesuai skenario yang telah disiapkan, (5) Seluruh siswa memperhatikan
demonstrasi dan menganalisa, (6) Tiap siswa atau kelompok mengemukakan hasil analisanya dan juga
pengalaman siswa didemonstrasikan, dan (7) Guru membuat kesimpulan.
Berkaitan dengan permasalahan di atas perlunya dilakukan penelitian dengan judul
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui metode demonstrasi disertai lembar kerja
dalam mata pelajaran dasar-dasar budidaya tanaman terhadap siswa kelas X ATPH SMK Negeri 2
Batu bisa meningkatkan belajar siswa melalui pemahaman dan ketrampilan proses.
838
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan Penelitian Tindakan Kelas metode Demonstrasi yang
mudah dipahami siswa sehingga guru menggunakan media saat mengajar. Materi yang diajarkan
adalah mengidentifikasi persyaratan tumbuh tanaman. Waktu guru membuka dengan salam kemudian
mengecek kehadiran siswa yang berjumlah 20 orang, yang terdiri dari 16 orang siswa laki-laki dan 4
orang perempuan, siswa sangat senang dan memperhatikan alat-alat atau media yang ada di depan
kelas dengan penuh tanda tanya, ada siswa yang kreatif ada yang duduk diam, ada yang mencoba
untuk cepat mengetahui apa yang akan dilakukan, ada satu siswa yang sangat cerdas dan bertanya
kepada guru kegiatan yang akan dilakukan. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok dan memberi
tugas untuk memahami prosedur kerja yang ada LKS. Guru mendemonstrasikan langkah kerja
praktikum yang akan dilakukan, kemudian setiap siswa dalam kelompok melakukan kegiatan
praktikum sesuai prosedur kerja pada LKS. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas
dengan menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas, dengan menggunakan empat langkah, yaitu
sebagai berikut
(1) Perencanaan, pada tahap perencanaan ini dipilih kelas yang akan dijadikan
obyek penelitian berdasarkan hasil pre test yang telah dilakukan. Selanjutnya memilih metode yang
sesuai untuk penyampaian materi mengidentifikasi persyaratan tumbuh tanaman; (2) Pelaksanaan,
pada tahap ini guru mempersiapkan perangkat demi terlaksananya pembelajaran yaitu Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran, skenario pembelajaran, soal tes yang akan diberikan;
(3)
Observasi/Pengamatan, pada tahap ini akan diamati sejauh mana keberhasilan dari metode yang
digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran; (4) Refleksi/Perbaikan Pembelajaran, pada tahap
ini akan diidentifikasi hal-hal yang dapat dilakukan sebagai perbaikan untuk tindakan lanjut pada
siklus. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas X ATPH SMKN 2 Batu dengan jumlah siswa 20
orang. Pengumpulan data dengan teknik observasi/pengamatan oleh guru dan pemberian LKS.
Setelah melaksanakan observasi dan pengumpulan hasil LKS maka penulis mengambil kesimpulan
hasil penelitian telah menunjukkan hasil yang memuaskan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Perencanaan
Terdapat lima kegiatan dilaksanakan dalam tahap perencanaan (1) menyusun rencana
perbaiakan pembelajaran (RPP), (2) menyiapkan media pembelajaran, (3) mengembangkan lembar
kerja (LKS), (4) mengembangkan pedoman observasi, dan (5) mengembangkan alat evaluasi.
Dalam menyususun RPP, peneliti mengembangkan kompetensi dasar ―menganalisis
persyaratan tumbuh tanaman dan melaksanakan persyaratan tumbuh tanaman‖ menjadi tiga indikator,
yakni (1) menjelaskan persyaratan tumbuh tanaman, (2) menerapkan persyaratan tumbuh tanaman, (3)
melaksanakan pengukuran faktor biotik dan abiotik, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran,
pendekatan, model dan metode, Kegiatan Belajar Mengajar, dan penilaian pembelajaran berupa tes
tertulis dan unjuk kerja.
Media pembelajaran yang dipilih berupa tanaman jeruk yang ada di lahan praktik di sekolah,
dilengkapi dengan lembar kerja siswa yang memuat tentang langkah kerja pengamatan. Melalui
lembar kerja siswa dilakukan pengukuran hasil melalui penilaian proses dan unjuk kerja kompetensi.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanakan siklus I yang meliputi kegiatan awal, inti dan penutup dilaksanakan pada
tanggal 19 Oktober 2016 di kelas X-C ATPH SMKN 2 Batu dengan jumlah siswa 20 orang dalam 3
jam pelajaran dengan materi pokok menerapkan persyaratan tumbuh tanaman.
Kegiatan awal, guru membuka pembelajaran dengan memberi salam, meminta siswa untuk
berdoa, melakukan presensi siswa dan menanyakan kondisi siswa. Kemudian
guru
839
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
mengkomunikasikan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran saat ini. Saat memanfaatkan waktu
kegiatan awal pembelajaran guru menyampaikan ruang lingkup materi dan arah pembelajaran yang
bersifat apersepsi. Apersepsi yang diberikan guru dengan memberikan beberapa pertanyaan untuk
membentuk motivasi siswa. Ketika guru mengajukan pertanyaan, ada beberapa siswa yang menjawab
dengan antusias sehingga terbentuk dialog interaksi antara guru dengan siswa sebagai berikut.
Guru
Siswa 1
Guru
Siswa 2
Guru
Siswa 3
: Apa saja yang menjadi persyaratan tumbuh tanaman?
: faktor iklim yaitu suhu, udara, kelembaban, angin, cahaya,
: Bagus. Faktor yang lain?
: Faktor medium (tanah, air),
: Ya..... betul. Ada satu fakto lagi coba sebutkan!
: Faktor biologi/biotik.
Interaksi pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan inti yang dimulai dengan pertanyaan guru
kepada siswa untuk membentuk interaksi yang kondusif yang mengarah kepada pemahaman tentang
persyaratan tumbuh tanaman.
Guru
: Faktor biotik apa saja yang menyebabkan pertumbuhan tanaman?
Siswa 1: unsur hara
Siswa 2: yang merusak tanaman
Siswa 3: penyerbukan
Guru : bagus..... semua yang kalian jawab adalah benar.
Guru memberi penekanan dari hasil jawaban siswa tentang faktor biotik pada persyaratan
tumbuh tanaman, dengan menuliskan di papan tulis. Faktor biotik terbagi menjadi dua yaitu faktor
menguntungkan dan merugikan. Faktor biotik menguntungkan bagi tanaman adalah unsur hara yang
terdiri dari organisme yang membantu dalam menyediakan unsur Nitrogen di dalam tanah dan
organisme yang membantu dalam proses penyerbukan. Kemudian guru menjelaskan faktor biotik
yang merugikan bagi persyaratan tumbuh tanaman yang bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman
meliputi hama, penyakit dan gulma. Guru menjelaskan gejala kerusakan tanaman dengan
menggambarkan gejala tanaman yang terserang penyakit. Gejala serangan penyakit tanaman meliputi
hiperflasia, hipoplasia, perubahan warna, nekrose (lihat Gambar 1). Siswa tetap berkonsentrasi dan
memeperhatikan penjelasan dari guru. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Siswa
menyebutkan macam-macam gejala tanaman yang terserang penyakit dan menjawab secara
bergantian.
Gambar 1. Faktor biotik dalam persyaratan tumbuh tanaman
Untuk mendalami materi Guru menetapkan siswa menjadi 5 kelompok dan setiap kelompok
dibagikan LKS. Guru memberi penjelasan tentang prosedur kerja dalam LKS untuk melakukan
pengamatan di lapang. Guru meminta siswa untuk menuju ke lahan jeruk. Siswa melakukan
840
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
pengamatan pada tanaman jeruk sesuai langkah kerja yang ada pada LKS, dengan menggambar gejala
kerusakan tanaman dan mendiskripsikan ciri-ciri kerusakan tanaman (lihat Gambar 2)
Gambar 2. Pelaksanakan metode demonstrasi saat pengamatan gejala penyakit tanaman jeruk
Guru memberikan pendampingan dan penguatan kepada siswa dalam melakukan pengamatan,
ternyata siswa menjadi aktif dan mandiri. Siswa antusias, konsentrasi, dan megerjakan tugas dengan
mengisi LKS dan terjadi interaksi dialog antara guru dan siswa untuk mendeskripsikan ciri-ciri
penyakit tanaman yang ditemui di tanaman jeruk.
Guru meminta siswa untuk kembali ke ruang kelas untuk menganalisis hasil pengamatan
secara berkelompok. Siswa secara berkelompok mendiskusikan dan menganalisis hasil pengamatan.
Guru membimbing siswa untuk menganalisis hasil pengamatan (lihat Gambar 3).
Gambar 3. Guru mendampingi siswa pada saat melakukan diskusi analisis hasil pengamatan.
Siswa dan guru membahas hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan membandingkan
dengan materi yang ada di literatur. Pada kegiatan ini guru dan siswa melakukan tanya jawab. Guru
mempersilakan perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi dan pengamatan tentang
gejala penyakit tanaman jeruk secara bergantian.
Siswa melakukan kegiatan pengamatan ini diberikan penguatan dengan kegiatan unjuk kerja
dengan menghasilkan produk yang selanjutnya dikumpulkan sebagai hasil kerja individu. Adapun
produk yang dihasilkan berupa lembar kerja siswa dalam bentuk sebagai berikut (Gambar 4).
Gambar 4. Hasil kerja siswa
841
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Kegiatan penutup pembelajaran dilakukan penyimpulan bersama siswa tentang gejala
penyakit tanaman jeruk. Guru memberi penekanan tentang kesimpulan gejala penyakit tanaman jeruk.
Selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mengetahui penguasaan kompetensi siswa.
Penilaian
menggunakan pembobotan terhadap unsur nilai proses 10%, tes tulis 20%, dan unjuk kerja 70%,
dengan penetapan KKM 75. Hasil penilaian dapat digambarkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Nilai
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Nama Siswa
Proses
Tulis
Unjuk
kerja
NA
Keterangan
AP
75
70
75
74
BelumTuntas
ANM
ARNM
BGS
DN
FJ
GB
HNK
ING
IS
NP
NN
RA
RB
RN
RAJN
SU
SG
WF
ER
Rata-rata
80
85
80
75
60
80
85
90
79
80
85
80
85
80
90
85
80
75
70
70
85
75
60
30
75
84
87
70
78
80
78
80
82
80
80
60
65
76
80
90
80
75
50
85
90
95
75
80
85
80
85
85
80
85
80
80
70
78
89
79
72
47
83
88
93
74
80
84
80
84
84
81
84
76
77
71
79
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Belum tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Belum tuntas
Berdasarkan hasil Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa dengan menggunakan metode demonstrasi
memperoleh nilai rata-rata kelas 79, jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas KKM sebanyak 15
siswa, dibawah KKM sebanyak 5 siswa, presentase ketuntasan belajar siswa mencapai 79%.
Penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, karena siswa
langsung memperhatikan pelajaran yang dijelaskan, dengan mengamati secara langsung siswa akan
memiliki kesempatan untuk membandingkan teori dengan kenyataan.
Pengamatan
Berdasarkan pengamatan guru dan observer, pelaksanaan kegiatan awal pembelajaran siswa
sangat antusias, aktif, dan menjadi mandiri setelah diberikan tugas melalui LKS, tetapi ada siswa
yang mengantuk ketika diterangkan oleh guru dan ada yang mengobrol dengan temannya hal ini
dimungkinkan ada siswa yang belum paham dengan apa yang dilakukan dari hasil kegiatan proses.
Pada saat pelaksanaan pengamatan gejala kerusakan pada tanaman jeruk di lahan percobaan ada siswa
842
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
yang hanya diam saja dan tidak mendeskripsikan gejala kerusakan tanaman akibat penyakit tanaman,
dan ketika melakukan diskusi kelompok ada siswa yang tidak aktif.
Refleksi
Selesai pembelajaran, peneliti melakukan refleksi terhadap segala kegiatan yang terkait
dengan pelaksanaan tindakan pembelajaran tersebut. Hasil refleksi diperoleh beberapa kendala dan
penyebab selama proses pembelajaran, yang terinci dalam ringkasan pada Tabel 2.
Tabel 2. Kendala, penyebab, dan alternatif selama proses pembelajaran
Kendala
Masih banyak siswa yang
belum maksimal dalam
membuat kesimpulan dari hasil
pengamatan
Terdapat siswa yang belum bisa
melakukan identifikasi gejala
penyakit tanaman jeruk
Siswa belum dapat membedakan gejala serangan penyakit
dengan gejala serangan yang
ditimbulkan oleh hama tanaman
Penyebab
Buku referensi tentang gejala
penyakit yang diberikan guru
ke siswa masih terbatas (satu
kelompok hanya satu bendel
referensi)
Siswa belum memahami
tentang beberapa penyebab
penyakit tanaman jeruk
Siswa belum memahami
tentang kerusakan tanaman
akibat penyakit
Alternatif perbaikan
Perlu memperbanyak
bendel referensi yang
dibutuhkan dari setiap
kegiatan pengamatan
Meminta siswa untuk
membaca referensi tentang
penyebab dan gejala
penyakit tanaman jeruk
Meminta siswa mencermati gejala serangan penyakit dari referensi
Hasil refleksi menunjukkan bahwa guru perlu melakukan perbaikan pada pembelajaran
berikutnya. Hal-hal yang perlu ditingkatkan untuk siklus berikutnya adalah tentang bagaimana siswa
dapat menyimpulkan dari hasil kegiatan proses, dengan memperbanyak referensi tentang penyakit
tanaman dan siswa perlu mencermati gejala serangan penyakit tanaman yang diamati.
Siklus II
Perencanaan
Terdapat lima kegiatan dilaksanakan dalam tahap perencanaan (1) menyusun rencana
perbaikan pembelajaran (RPP) dengan memperhatikan hasil siklus I, (2) menyiapkan media
pembelajaran, (3) mengembangkan lembar kerja (LKS), (4) mengembangkan pedoman observasi, dan
(5) mengembangkan alat evaluasi.
Dalam menyusun RPP perlu perbaikan kegiatan siswa, peneliti mengembangkan kompetensi
dasar ―menganalisis penyiapan lahan dan melaksanakan penyiapan lahan‖ menjadi beberapa
indikator, yakni (1) Menjelaskan ruang lingkup persiapan lahan, (2) mengidentifikasi pengolahan
tanah, (3) Mengidentifikasi faktor-faktor keberhasilan pengolahan tanah, (4) Melaksanakan teknik
pengukuran pembukaan, sanitasi dan pengolahan lahan, (5) Melaksanakan teknik pemupukan dasar,
(6) Melaksanakan pemulsaan dan pembuatan lubang tanam, (7) Menerapkan prinsip untuk
mengontrol, mengendalikan dan evaluasi pengolahan lahan, tujuan pembelajaran, materi
pembelajaran, pendekatan, model dan metode, Kegiatan Belajar Mengajar, dan penilaian
pembelajaran berupa tes tertulis dan unjuk kerja.
Media pembelajaran yang dipilih berupa peralatan dan lahan praktik di sekolah, dilengkapi
dengan lembar kerja siswa yang memuat tentang langkah kerja pengamatan. Melalui lembar kerja
siswa dilakukan pengukuran hasil melalui penilaian proses dan unjuk kerja kompetensi.
843
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanakan siklus II yang meliputi kegiatan awal, inti dan penutup dilaksanakan pada
tanggal 2 Nopember 2016 di kelas X-C ATPH SMKN 2 Batu dengan jumlah siswa 20 orang dalam 3
jam pelajaran dengan materi pokok Mendeskripsikan Persiapan Lahan.
Kegiatan awal, guru membuka pembelajaran dengan memberi salam, meminta siswa untuk
berdoa, melakukan presensi siswa dan menanyakan kondisi siswa. Kemudian
guru
mengkomunikasikan pelajaran sebelumnya dengan pelajaran saat ini. Saat memanfaatkan waktu
kegiatan awal pembelajaran guru menyampaikan ruang lingkup materi dan arah pembelajaran yang
bersifat apersepsi. Apersepsi yang diberikan guru dengan memberikan beberapa pertanyaan untuk
membentuk motivasi siswa.
Ketika guru mengajukan pertanyaan, ada beberapa siswa yang
menjawab dengan antusias sehingga terbentuk dialog interaksi antara guru dengan siswa sebagai
berikut.
Guru
Siswa 1
Guru
Siswa 2
Guru
: alat apa saja yang digunakan untuk pengolahan lahan secara manual?
: cangkul, sabit?
: Betul sekali. Mungkin ada yang lain?
: tangkil, lempak,
: Ya..... betul.
Interaksi pembelajaran dilanjutkan dengan kegiatan inti yang dimulai dengan pertanyaan guru
kepada siswa untuk membentuk interaksi yang kondusif yang mengarah kepada pemahaman tentang
spesifikasi alat pengolahan lahan secara manual.
Guru memberi penekanan dari hasil jawaban siswa tentang peralatan pengolahan lahan secara
manual dengan menggunakan tayangan LCD. (lihat Gambar 5). Siswa tetap berkonsentrasi dan
memperhatikan penjelasan dari guru. Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya. Siswa
menyebutkan macam-macam alat manual dan spesifikasi alat yang digunakan untuk pengolahan lahan
secara bergantian.
Gambar 5. Macam-macam alat pengolahan lahan
Untuk mendalami materi Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok dan setiap kelompok
dibagikan LKS. Guru memberi penjelasan tentang prosedur kerja dalam LKS untuk melakukan
pengamatan peralatan pengolahan lahan. Guru meminta siswa untuk menuju ke gudang peralatan
untuk mengambil alat yang digunakan pengolahan lahan. Siswa melakukan pengamatan dengan
menyebutkan spesifikasi, fungsi bagian-bagian alat, dan cara perawatan alat pengolahan lahan, serta
pengelompokan alat berdasarkan fungsinya (lihat Gambar 6).
844
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar 6. Identifikasi spesifikasi alat
Guru memberikan pendampingan dan penguatan kepada siswa dalam melakukan pengamatan,
ternyata siswa menjadi aktif dan mandiri. Siswa antusias, konsentrasi, dan megerjakan tugas dengan
mengisi LKS dan terjadi interaksi dialog antara guru dan siswa yang dilakukan di luar kelas untuk
mendeskripsikan spesifikasi alat pengolahan lahan (Gambar 7).
Gambar 7. Pendampingan guru terhadap siswa pada penagamatan spesifikasi alat pengolahan lahan
Siswa dan guru membahas hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan membandingkan
dengan materi yang ada di literatur. Pada kegiatan ini guru dan siswa melakukan tanya jawab. Guru
mempersilakan perwakilan kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi dan pengamatan tentang
spesifikasi alat, fungsi bagian-bagian alat, dan cara perawatan alat pengolahan lahan dengan
menunjukan alat yang telah diidentifikasi.
Kegiatan penutup pembelajaran dilakukan penyimpulan bersama siswa tentang spesifikasi
alat, fungsi bagian-bagian alat, cara perawatan alat pengolahan lahan. Selanjutnya dilakukan evaluasi
untuk mengetahui penguasaan kompetensi siswa.
Dengan menggunakan metode demonstrasi terjadi peningkatan hasil belajar pada siklus II
dengan nilai rata-rata kelas 82, jumlah siswa yang memperoleh nilai di atas KKM sebanyak 18
siswa, dibawah KKM sebanyak 2 siswa, presentase ketuntasan belajar siswa mencapai 82%, adapun
siswa yang belum tuntas akan mendapatkan remidial. Penerapan metode demonstrasi dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, karena siswa langsung memperhatikan pelajaran yang
dijelaskan,
dengan mengamati secara langsung
siswa akan memiliki kesempatan untuk
membandingkan teori dengan kenyataan.
Pengamatan
Berdasarkan pengamatan guru dan observer pada kegiatan siklus II, pelaksanaan kegiatan
awal pembelajaran siswa sangat antusias, aktif, dan menjadi mandiri setelah diberikan tugas melalui
LKS. Pada saat pelaksanaan pengamatan masih ada siswa yang mengobrol, tetapi kembali berdiskusi
setelah diberi pendampingan dan penguatan oleh guru.
845
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Refleksi
Melalui tindakan pelaksanaan Siklus II, telah terjadi peningkatan hasil pemahaman dan
ketrampilan siswa melalui pengamatan spesifikasi alat, fungsi dan cara perawatan alat pengolahan
lahan dan merupakan penyempurnaan dari hasil kegiatan Siklus I. Beberapa kendala pada siklus II
misalnya sebagian kecil siswa yang masih mengombrol di luar kontek pembelajaran, namun ketika
dilakukan penguatan dan pendampingan oleh guru maka siswa kembali aktif untuk melakukan
kegiatan pembelajaran.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan ketrampilan
proses yang disusun dengan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan aktivitas demonstrasi
dan memfasilitasi aktivitas ketrampilan proses siswa. Tindakan pembelajaran dalam rangka
mengoptimalkan kinerja guru menggunakan metode demonstrasi untuk mengembangkan ketrampilan
proses dilakukan dengan pembatasan jenis ketrampilan proses, yaitu mengobservasi meliputi
penggunaan indera dan mencatat hasil pengamatan, berkomunikasi mengajukan dan menjawab
pertanyaan, serta melaporkan hasil pengamatan.
Upaya untuk mengembangkan ketrampilan proses siswa yang dilakukan guru dengan cara
mengoptimalkan kinerja pengelolaan pembelajaran terutama dalam hal tuntutan konsep dan
keterlibatan siswa mendeskripsikan hasil pengamatan untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran,
membimbing siswa agar termotivasi melakukan ketrampilan proses, dan ketepatan serta keefektifan
penggunaan lembar pengamatan oleh siswa.
Dilihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa, terjadi peningkatan KKM dari siklus I sebesar
79% menjadi 82% pada siklus II. Masih terdapat siswa yang belum tuntas maka akan dilakukan
remidi.
DAFTAR RUJUKAN
Agristein P, Agustina V.M, Alisyahbana L. 2015. Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Metode
Demonstrasi Pada Pembelajaran IPA di Kelas V SDN Taopa Kabupaten Perigi Mountong.
Jurnal Kreatif Tadulako Online Vol. 4 No 6 ISSN 2354-614X
Stiyawan, A. 2015. Penerapan Model Inquiry dengan Metode Demonstrasi Materi Dinamika Planet
Bumi sebagai Ruang Kehidupan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Kelas X IIS 5
Semester 1 di SMA Negeri 8 Batam Prosiding Seminar Nasional TEQIP (Teachers Quality
Improvement Program) dengan tema “ Membangun Generasi Kreatif Melalui Pembelajaran
Bermakna” pada 31 Oktober 2015 di Hotel Purnama, Batu. hal (1044-1053)
Fuakubuan, J. 2015. Penerapan Metode Demonstrasi dalam memahamkan pembelajaran kooperatif
berbantuan media tata siswa materi revolusi bulan memahamkan surya dengan ketrampilan
proses untuk memahamkan siswa materi revolusi bulan. Prosiding Seminar Nasional TEQIP
(Teachers Quality Improvement Program) dengan tema “ Membangun Generasi Kreatif
Melalui Pembelajaran Bermakna” pada 31 Oktober 2015 di Hotel Purnama, Batu. Halaman
448 – 454
Permendikbud No. 54 Tahun 2013. Tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidkan Dasar Dan
Menengah Hal 4
Suryo Widu & Elvis Buntaa. 2013. Penggunaan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Matematika Tentang Penyederhanaan Pecahan Bagi Siswa Kelas VI SDK Tabang.
Proseding 2 Teqid 1 Hal (792-794)
Utin Emma Dafiana Erta. 2015 Meningkatkan Hasil Belajar melalui Metode Demontrasi
Menggunakan Media Realita pada Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Bulat di
846
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Kelas VII SMP Negeri 2 Sanggau. Prosiding Seminar Nasional TEQIP (Teachers Quality
Improvement Program) dengan tema “ Membangun Generasi Kreatif Melalui Pembelajaran
Bermakna” pada 31 Oktober 2015 di Hotel Purnama, Batu. Hal (91-95).
847
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
MENGGUNAKAN BIOGRAFI UNTUK SISWA KELAS XI IPS
SMA PGRI BATU PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI
KD MOBILITAS SOSIAL
Nunuk Dwi Mulyanti
SMA PGRI Batu
[email protected]
Abstrak: Tujuan diadakanya penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan praktik pembelajaran Problem Based Learning di kelas XI IPS SMA PGRI Batu. pada pembelajaran sosiologi KD mobilitas sosial dengan bantuan biografi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA PGRI Batu pada siswa kelas XI IPS
dengan jumlah siswa 21 orang yang terdiri dari 4 siswa putra dan 17 orang siswa putri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Problem Based Learning dilaksanakan dalam
langkah-langkah: orientasi - memberi lima biografi; organisasi-membagi kelompok; membimbing penyelidikan - menuntun dan memantau siswa mengerjakan lembar kerja, mengembangkan dan menyajikan hasil karya – tiap kelompok mempersentasikan hasil diskusi,
menganalisa dan evaluasi – feedback dari hasil presentasi.
Kata kunci: Problem Based Learning, mobilitas sosial, biografi
Laju perubahan dan perkembangan jaman yang sedemikian cepat sebagai dampak dari
modernisasi dan arus globalisasi (Trianingsih. 2015). Dampak dari modernisasi dan globalisasi
menuntut masyarakat untuk berfikir secara kritis, kreatif, dan analitis. Tuntutan yang begitu besar dari
arus modernisasi memaksa masyarakat harus bekerja keras menemukan cara – cara terbaik dalam
menyelesaikan segala tuntutan yang dihadapi.
Kemampuan berpikir analitis dari para generasi muda di Indonesia sangatlah rendah (Nenoliu.
2015). Hal ini terlihat dari nilai siswa pada ulangan yang rendah. Apabila diamati, mayoritas
kesalahan siswa terdapat pada jenis soal yang mengukur kemampuan siswa dalam menganalisa dan
menarik kesimpulan terkait dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Karena itu pembelajaran di
sekolah haruslah berkaitan dengan masalah yang terjadi di masyarakat.
Proses pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang
menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. Dalam kelas yang
menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan
masalah dunia nyata (real world).Duch, dkk. (2001) menjelaskan bahwa metode yang digunakan
dalam PBL dapat meningkatkan kemampuan untuk berpikir kritis analisis dalam menyelesaikan
masalah maupun masalah yang terjadi di kehidupan nyata.
Menurut Dion (1996), PBL merupakan pendekatan yang berbasis pada siswa yang mampu
mengembangkan kemampuan siswa dalam melaksanakan penelitian, yang berintegrasi kepada teori
dan praktik, dan penerapan keterampilan untuk mengembang kan solusi terbaik dari sebuah masalah.
Penggunaan PBL dirasa sangat sesuai dalam penelitian ini, sehingga peneliti hendak menerapkan PBL
dalam upaya peningkatan kemampuan analisis siswa.
Dalam menggunakan PBL sebagai metode pembelajaran di kelas, Dion (1996) telah memcoba
membuat struktur pelaksanaan PBL tersebut. Langkah pertama adalah mengenalkan masalah kepada
siswa di awal pelajaran dengan jelas. Kedua, jika masalah tersebut berupa media cetak, setiap
848
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
kelompok haruslah memiliki lembar tersebut. OLeh karena itu, peneliti juga menggunakan masalah
berupa kumpulan biografi dari tokoh-tokoh terkenal di Indonesia.
Biografi adalah kisah atau keterangan tentang kehidupan seseorang. Sebuah biografi lebih
kompleks dari pada sekadar daftar tanggal lahir atau mati dan data-data pekerjaan seseorang, biografi
juga bercerita tentang perasaan yang terlibat dalam mengalami kejadian-kejadian tersebut. Dalam
biografi tersebut dijelaskan secara lengkap kehidupan seorang tokoh sejak kecil sampai tua, bahkan
sampai meninggal dunia. Semua jasa, karya, dan segala hal yang dihasilkan atau dilakukan oleh
seorang tokoh dijelaskan juga. Teks biografi disusun oleh orang lain, bukan oleh diri sendiri. Media
pembelajaran dengan menggunakan tokoh terkenal yang telah mengalami mobilitas sosial diharapkan
dapat mendorong siswa untuk belajar dan memberikan inspirasi didalam kehidupan (Afrida. 2015).
Biografi ini digunakan dalam KD mobilitas sosial. Mobilitas sosial adalah perpindahan strata sosial
suatu masyarakat menuju strata yang berbeda.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitan yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif yang
dilaksanakanselama dua kali pertemuan pada tanggal 12 dan 19 oktober 2016 dengan alokasi waktu
setiap pertemuan 2 X 45 menit. Pada pertemuan pertama, guru melaksanakan tiga tahap dari
Problem Based Learning meliputi tahap orientasi, organisasi, dan membimbing penyelidikan.
Sebelum guru memulai melaksanakan langkah-langkah PBL, guru memberikan pre-test
terlebih dahulu dengan memberikan 4 soal uraian untuk mengukur kemampuan berpikir analisis
siswa. Setiap soal memiliki bobot nilai yang berbeda sebagai berikut; nomor 1 bernilai 25, nomor 2
dan 3 bernilai masing-masing 20, dan nomor 4 bernilai 35.
Pada tahap orientasi, guru memberikan lima biografi dari orang-orang terkenal di Indonesia
dengan latar belakang yang berbeda meliputi; Bob Sadino, Susilo Bambang Yudhoyono, Inul
Daratista, Susi Pujiastuti, dan Abdul Rahman Tukiman (Cak Man bakso kota). Biografi disajikan
dalam bentuk media cetak beserta foto dari tiap tokoh. Tiap kelompok akan mendapatkan biografi dari
kelima tokoh tersebut.
Pada tahap organisasi, guru membagi kelompok menjadi lima dan tiap kelompok berjumlah
empat siswa. Pembagian kelompok dilakukan dengan menggunakan cluster random sampling
berdasarkan tingkat kemampuan siswa. Tiap kelompok terdiri dari empat siswa dengan kemampuan
masing-masing yang berbeda.
Pada tahap membimbing penyelidikan, guru membagikan lembar kerja berisikan tabel yang
terdiri dari; nomor, nama, data pribadi, prestasi yang pernah di raih, pandangan hidup, masalah
terburuk yang pernah dihadapi, kontribusi kepada masyarakat sekitar. Pada tahap ini, guru
mengarahkan siswa agar dapat mengelompokkan biografi dari tiap tokoh tersebut kedalam tiap kolom
dari tabel yang sudah tersedia. Pada tahap ini guru berperan sebagai pengamat dan fasiliator dalam
proses pembelajaran.
Pada pertemuan kedua, guru melaksanakan dua tahap dari Problem Based Learning meliputi
tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi hasil. Pada
tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, tiap kelompok diminta untuk memilih satu tokoh
yang menarik bagi mereka untuk dipresentasikan di depan kelas. Tiap kelompok akan
mempresentasikan tokoh yang berbeda. Guru akan memilih secara acak kelompok mana yang akan
maju terlebih dahulu. Kelompok lain harus memperhatikan dan mengajukan pertanyaan terkait
dengan hasil presentasi dan menghasilkan diskusi yang aktif. Apabila tidak ada kelompok yang
bertanya, guru akan mengajukan pertanyaan yang dapat memancing kelompok lain untuk
mengutarakan pendapatnya.
Pada tahap menganalisis dan evaluasi hasil, tiap kelompok yang telah maju akan
mendapatkan feedback dari guru yang berperan sebagai penilai. Guru memberikan nilai secara
849
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
kuantitatif dan memberikan beberapa saran kepada kelompok yang telah maju. Pada saat pelaksanaan
penilaian terdapat juga guru lain yang berperan sebagai pengamat kedua. Pengamat kedua bertugas
untuk mengamati segala proses belajar mengajar di kelas apakah proses pembelajaran sudah sesuai
dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
HASIL
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi dua bagian. Pada pertemuan pertama,
guru melaksanakan tiga tahap dari Problem Based Learning meliputi tahap orientasi, organisasi, dan
membimbing penyelidiakan.
Sebelum melaksanakan tahap orientasi, guru melaksanakan pre-test dengan nilai rata-rata
siswa sebesar 59,57dengan nilai ketuntasan minimum 70. Sehingga rata-rata siswa belum bisa
mencapai ketuntasan minimal tersebut.
Pada tahap orientasi, guru memberikan lima biografi dari orang-orang terkenal di Indonesia
dengan latar belakang yang berbeda. Pada tahap ini, guru juga membawa biografi dari kelima tokoh
terkenal. Pada saat guru menjelaskan, guru menulisakan nama-nama tokoh tersebut dipapan tulis agar
tiap siswa dapat memperhatikan. Tiap siswa mendengarkan setiap penjelasan yang guru berikan.
Pada tahap organisasi, guru membagi kelompok dan kondisi kelas sedikit ribut karena harus
berpindah tempat dan membentuk kelompok.Waktu yang diperlukan untuk mengorganisasi kelas lagi
kira-kira lima menit.
Pada tahap membimbing penyelidikan, guru memberi instruksi tentang apa yang harus
dikerjakan dan membagikan lembar kerja pada tiap kelompok. Tanpa diarahkan oleh pendamping tiap
kelompok sudah membagi tugas kepada masing-masing anggota kelompok berdasrkan tokoh yang
ada. Satu anak menjabarkan satu tokoh.
Pada pertemuan kedua, guru melaksanakan dua tahap dari Problem Based Learning meliputi
tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi hasil.
Pada tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, tiap kelompok menjelaskan satu
tokoh yang mereka kehendaki. Kelompok lain menyiapkan pertanyaan terkait dengan apa yang
dibahas. Pada presentasi ke dua, tidak ada satu pun kelompok yang bertanya. Sehingga guru
mengajukan pertanyaan kepada presentator. Pertanyaan yang diajukan adalah ―apa yang membuat
Bob Sadino tidak menyerah?‖. Pertanyaan tersebut menghasilkan diskusi atau tanggapan dari baik
presentator maupun kelompok lain.
Pada tahap menganalisis dan evaluasi hasil, guru memberikan tanggapan terhadap hasil
presentasi. Guru juga memberikan poin kepada tiap siswa yang aktif dalam forum diskusi. Setelah
guru memberi tanggapan, guru melaksanakan ujian berisi lima soal uraian untuk mengukur
kemampuan berpikiran alisis siswa. Pada hasil ujian ini didapati rata-rata nilai siswa adalah 69,52.
PEMBAHASAN
Kegiatan observasi dilaksanakan pada saat proses pembelajaran berlangsung oleh guru
pertama dan guru kedua yang telah hadir selama proses pembelajaran dengan tujuan memperoleh
gambaran yang sesungguhnya. Pada saat proses pembelajaran, pada tahap orientasi semua siswa
mendengarkan dengan baik. Hal itu dikarenakan mereka mengerti dengan tokoh-tokoh yang sudah
familiar bagi mereka. Akan tetapi, bagi anak yang bernama Afirmasi asal Papua, anak tersebut tidak
mengenal tokoh yang bernama Abdul Rahman Tukiman (cak man). Sehingga anak-anak yang
bernama Afirmasi diam saja pada saat guru membahas tentang tokoh tersebut.
Pada tahap organisasi, sedikit terjadi keributan di kelas. Hal itu dikarenakan siswa harus pergi
menuju kelompok yang sudah di tetapkan. Selain itu terdapat beberapa anak yang kurang puas dengan
pembagian kelompok karena mereka harus berpisah dengan teman dekat mereka. Namun pada saat
proses diskusi kelompok, tiap siswa mengerjakan dengan baik dan aktif. Dari hasil pengamatan,
850
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
dimana pelaksanaan pembelajaran mencapai kenaikan 4,86 % dan penambahan siswa tuntas dalam
KKM 70 hanya seorang siswa, tentunya masih jauh dari harapan, ada beberapa hal yang mungkin
menjadi permasalahan dalam proses pembelajaran adalah 1) Siswa kurang memahami maksud dari
panduan yang diberikan, sehingga poster belum tersusun sesuai dengan panduan , maka guru perlu
mejelaskan maksud panduan yang diberikan oleh guru, sehingga siswa dapat membuat poster sesuai
yang diharapkan.2) Diskusi dalam kelompok belum terkordinir dengan baik karena belum ada yang
berperan sebagai pemimpin, hal ini menyebabkan kelompok tidak dapat menyelesaikan tugas tepat
waktu, untuk itu perlu ditetapkan ketua kelompok dalam setiap kelompok.3) Presentasi, masih ada
beberapa anak yang sama sekali tidak berani melakukan presentasi di depan kelas, yang disebabkan
malu maupun kurangnya ketrampilan berbicara. 4) Konfirmasi yang dilakukan oleh guru terlaksana
dengan terburu buru, disebabkan keterbatasan waktu, untuk itu perlu penambahan waktu. Sehubungan
dengan hasil refleksi yang menunjukan adanya kelemahan disana sini, maka semuanya itu akan
dilakukan perbaikan tindakan pada waktu pembelajaran berikutnya.
Pada tahap membimbing penyelidikan, ada beberapa murid yang kurang jelas dengan
instruksi yang diberikan. Pada saat guru berkeliling di kelas, beberapa siswa yang kurang jelas
bertanya kepada guru. Aktifitas Tanya jawab antara guru dan siswa seperti pada gambar 1.
Gambar 1. Tanya jawab antar guru dan siswa
Kegiatan penyelidikan berlangsung dengan baik sekalipun beberapa siswa sedikit ramai dan
perlu diingatkan kembali agar kembali mengerjakan tugasnya. Proses pelaksanaan diskusi kelompok
sanggatlah memberi pelajaran bagi siswa. White (1995) berpendapat bahwa memberikan kesempatan
siswa untuk membaca, menyimpulkan, dan membuat pemikiran kritis dapat menjadi pengalaman yang
sangat berharga bagi siswa.
Pada tahap mengembangkan dan menyajikan hasil karya, tiap kelompok mempresentasikan
hasil diskusi kelompoknya. Tiap kelompok memilih satu tokoh saja untuk dipresentasikan. Tokohtokoh yang dipresentasikan berurutan adalah Abdul Rahman Tukiman, Bob Sadino, Susi Pujiastuti,
Inul Daratista, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Kegiatan presentasi salah satu kelompok dapat
digambarkan seperti pada gambar 2
851
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Gambar 2. Presentasi dari salah satu kelompok
Dari urutan yang ada, terlihat bahwa mayoritas siswa sanggat tertarik dengan tokoh yang
merupakan pengusaha. Selain itu mereka juga tertarik pada tokoh yang memiliki gebrakan dan
inovasi. Namun, untuk tokoh politik para siswa tidak melihat hal itu sebagai hal yang cukup menarik
untuk diketahui.Pada waktu presentasi, masih ada kelompok yang belum menyelesaikan poster
kelompok, sehingga ketika salah satu kelompok maju mempresentasikan hasil kerja kelompok, ada 2
kelompok yang masih sibuk menyelesaikan poster kelompoknya sendiri dan tidak memperhatikan
presentasi dari kelompok lain, juga ketika presentasi ternyata ditemukan siswa memiliki pemahaman
yang berbeda pada perintah yang ada pada panduan.
Pada tahap menganalisis dan evaluasi hasil, guru memberikan nilai kepada kelompok secara
tertutup baik nilai kelompok atau poin bagi siswa yang aktif. Setelah disukusi tanya jawab terjadi,
guru menanyakan tentang nilai yang dapat kita ambil serta mengambil kesimpulan dari kisah inspiratif
tokoh tersebut. Setelah itu guru menginstruksikan pada seluruh siswa untuk memberi tepuk tangan
sebagai tanda apresiasi dari apa yang telah mereka kerjakan.
Dalam pelaksaaan diskusi kelompok, secara umum sikap anak cukup antusias, tetapi dalam
pelaksanaan diskusi kelompok ada kelompok yang tidak mampu membagi tugas dengan
baik,sehingga kerjasama kelompok belum terbangun dengan baik. Dalam membuat poster, guru
sudah memberikan panduan tetapi dalam pelaksanaannya siswa dalam kelompok kurang dapat
memahami perintah yang diberikan. Sebagai contoh ada 3 kelompok yang tidak dapat menampilkan
point tentang sumbangan atau peran tokoh pada masyarakat. Juga point, tentang nilai apa yang bisa
kita petik dari tokoh, sehingga guru perlu menjelaskan pada setiap kelompok, maksud panduan yang
diberikan oleh guru. Guru membantu siswa dalam melakukan refleksi dari setiap presentasi. Hal ini
sesuai dengan kesimpulanS avery (2006) yang mengatakan bahwa penerapan PBL oleh siswa yang
baru menggunakannya diperlukan pemberian instruksi yang jelas untuk mendukung pengembangan
kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah. Instruktur juga perlu melakukan banyak latihan dan
praktik agar instruksi yang diberikan dapat jelas bagi setiap siswa.
KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pembelajaran dengan metode Problem Based
Learning yang dilaksanakan dalam langkah-langkah: orientasi, organisasi; membimbing penyelidikan,
mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisa dan evaluasi dapat meningkatkan
peningkatan nilai sebesar 9,95. Meskipun nilai rata-rata siswa belum mencapai ketuntasan minimal
70, namun peningkatan nilai lebih dari 7 adalah peningkatan yang cukup signifikan.Dengan
pengevalusian kinerja dan perbaikan yang disesuaikan dengan karakter kelas yang ada, akan bisa
lebih meningkatkan nilai rata-rata siswa lebih signifikan.
852
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
DAFTAR RUJUKAN
Afrida. 2015. Peningkatan Kemampuan Mengindentifikasi Tokoh, Dan Latar Dalam Cerpen Melalui
Strategi Jigsaw Pada Siswa Kelas V SD. Prosiding Seminar Nasional TEQIP (Teachers
Quality Improvement Program) dengan tema “Membangun Generasi Kreatif melalui
Pembelajaran Bermakna” pada 31 Oktober 2015 di Hotel Purnama, Batu.
Dion, L. (1996). ―But I teach a large class.‖ Available on-line at: http://www.udel.edu/pbl/cte/spr96bisc2.html.
Duch, B. J., Groh, S. E., & Allen, D. E. (2001). Why problem-based learning? A case study of
institutional change in undergraduate education. In B. Duch, S. Groh, & D. Allen (Eds.),
The power of problem-based learning (pp. 3-11). Sterling, VA: Stylus.
Nenoliu, E. T. 2015. Penerapan Metode STAD ( Student Teams Achievemen Division) Pada Materi
Penjumlahan Pecahan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDK Leob.
Prosiding Seminar Nasional TEQIP (Teachers Quality Improvement Program) dengan tema
“Membangun Generasi Kreatif melalui Pembelajaran Bermakna” pada 31 Oktober 2015 di
Hotel Purnama, Batu.
Savery, John R. (2006). ―Overview of Problem-based Learning: Definitions and Distinctions.
Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning.III(1):15.
Trianingsih, D.E. 2015. Problematik Pembelajaran Bahasa Indonesia Berkaitan Dengan Kompetensi
Guru Dalam Evaluasi Pembelajaran Sastra. Prosiding Seminar Nasional TEQIP (Teachers
Quality Improvement Program) dengan tema “Membangun Generasi Kreatif melalui
Pembelajaran Bermakna” pada 31 Oktober 2015 di Hotel Purnama, Batu.
White, H. (1995). ―Creating problems’ for PBL‖.Available on-line at: http://www.udel.
edu/pbl/cte/jan95-chem.html.
853
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PENERAPAN PEMBELAJARAN INQUIRY BERBANTUAN
DEMONTRASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR
TINGKAT TINGGI PADA MATERI DINAMIKA PLANET BUMI
SEBAGAI RUANG KEHIDUPAN SISWA KELAS X
IPS1 DI SMA NEGERI 1 BATU
Amantho
SMA Negeri 1 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran inquiry dalam
meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi bagi siswa. Penelitian menggunakan
rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus
dilakukan dalam dua pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
inquiry dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dari siklus I dengan skor
rata-rata 25.30 Meningkat pada siklus 2 menjadi rata-rata 82.15.
Kata kunci: pembelajaran inquiry, berpikir tingkat tinggi
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sisdiknas).
Agar pendidikan nasional berhasil dengan baik maka sesuai dengan permendikbud nomor 103
tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan menengah maka di dalam kegiatan
pembelajaran memenuhi ketentuan sebagai berikut: (1) penguatan pola pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik. Peserta didik harus memiliki pilihan-pilihan terhadap materi yang dipelajari dan
gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki kompetensi yang sama; (2) penguatan pola
pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/media
lainnya); (3) penguatan pola pembelajaran secara jejaring (peserta didik dapat menimba ilmu dari
siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet); (4) penguatan
pembelajaran aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan pendekatan
pembelajaran saintifik); (5) penguatan pola belajar sendiri dan kelompok (berbasis tim); (6) penguatan
pembelajaran berbasis multimedia; (7) penguatan pola pembelajaran berbasis klasikal-massal dengan
tetap memperhatikan pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik; (8) penguatan
pola pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines); dan (9) penguatan pola pembelajaran
kritis.
Permasalahan yang dihadapi siswa kelas X IPS 1 di SMA Negeri 1 Batu adalah rendahnya
kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini dibuktikan dari hasil nilai ulangan harian yang yang
mengacu pada soal berpikir tingkat tinggi masih banyak yang belum mencapai kreteria ketuntasan
minimal. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan inquiry
dengan bantuan metode demonstrasi. Digunakan model inkuiri karena pembelajaran yang terpusat
pada siswa (student center). Siswa didorong untuk terlibat langsung dalam melakukan inkuiri, yaitu
bertanya, merumuskan permasalahan, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data,
854
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
menarik kesimpulan, berdiskusi dan berkomunikasi. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif dan
guru hanya berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk terampil berfikir (minds-on
activities), karena mereka mengalami keterlibatan secara mental dan terampil secara fisik (hands-on
activities) seperti terampil merangkai alat percobaan dan sebagainya. Pelatihan dan pembiasaan siswa
untuk terampil berfikir dan terampil secara fisik tersebut merupakan syarat mutlak untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang lebih besar yaitu tercapainya keterampilan proses ilmiah, sekaligus sikap
ilmiah disamping penguasaan konsep, prinsip, hukum, dan teori.
Penggunaan metode demonstrasi adalah untuk mengurangi verbalisme dalam penyampaian
materi pelajaran. Metode ini juga memudahkan siswa dalam mengerti dan memahami materi yang
dipelajarinya. Selain itu ditinjau dari sudut tujuan penggunaanya dapat dikatakan bahwa metode
demonstrasi bukan merupakan metode yang dapat diimplementasikan secara independen. Sebab
metode demonstrasi merupakan cara membantu siswa untuk memperjelas apa apa yang diuraikan,
baik secara verbal maupun secara tekstual.
Untuk memperkuat pendekatan saintific disarankan untuk menerapkan belajar berbasis
penyingkapan/penelitian atau discovery/inquiri learning (Permendikbud nomor 22 tahun 2016).
Pembelajaran dengan metode inquiri telah dikaji oleh beberapa peneliti (Aprianie, 2015; Daniaty,
2011; Ahda, 2016). Heni Aprianie (2015) menerapkan pembelajaran dengan metode Inquiry dan
hasilnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Ira Daniaty (2011) menyimpulkan hasil
penelitiannya bahwa penerapan metode Inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salis Ahda
(2016) menerapkan pembelajaran inquiry dengan berbantuan link maps, memperoleh hasil bahwa
pembelajaran inquiry dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari hasil penelitian beberapa peneliti tersebut membuktikan bahwa metode Inquiry Learning
sangat efektif meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu peneliti berusaha menerapkan metode
pembelajaran Inquiry pada materi Dinamika Planet Bumi Sebagai Ruang Kehidupan pada siswa kelas
X IPS 1 SMA Negeri 1 Batu.
METODE
Metode penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas 2
(dua) siklus. Masing-masing siklus meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan
refleksi. Tahap perencanaan dilakukan dengan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
beracuan pada metode demonstrasi, mengembangkan lembar kerja siswa, menyusun alat penilaian.
Tahap pelaksanaan dilakukan praktik pembelajaran sekaligus direkam dengan video dan diobservasi
oleh teman sejawat. Tahap refleksi dilakukan peneliti dengan observer untuk mencermati pelaksanaan
pembelajaran yang sudah dilakukan, mengaji kelemahannya, dan mencari alternative perbaikan.
Langkah langkah penelitian tindakan kelas tergambar dalam proses siklus berikut.
855
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PELAKSANAAN
PERENCANAAN
SIKLUS 1
PENGAMATAN
\
REFLEKSI
PELAKSANAAN
PERENCANAAN
SIKLUS 2
PENGAMATAN
REFLEKSI
Gambar 1. Siklus penelitian tindakan kelas
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Batu, kelas yang diteliti X IPS 1 berjumlah 28
siswa yang terdiri 8 orang laki-laki dan 20 orang perempuan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus 1
Perencanaan
Dalam penelitian ini terdapat empat kegiatan dalam tahap perencanaan: (1) menyususn
rencana perbaikan pembelajaran (RPP), (2) mengembangkan media pembelajaran, (3)
mengembangkan pedoman observasi, dan (4) mengembangkan alat evaluasi. Untuk menyususn RPP,
peneliti mengembangkan kompetensi dasar ‖Menganalisis dinamika planet bumi sebagai ruang
kehidupan. ‖Menjadi dua indikator yaitu, (a) menjelaskan proses pembentukan bumi, (b)
Menganalisis perkembangan muka bumi.
Media pembelajaran yang dipilih adalah sebuah model atau alat peraga yang dikerjakan oleh
siswa secara berkelompok sesuai dengan topiknya yaitu: (a) kelompok satu teori kontraksi, (b)
kelompok dua teori laurasia-gondwana, (c) kelompok tiga teori apungan benua, (d) kelompok empat
teori konveksi, (e) kelompok lima teori pergeseran dasar laut, (f) kelompok enam teori lempeng
Tektonik
Dalam pembagian kelompok peneliti mendasarkan pada nomor urut absen, masing masing
kelompok ditunjuk oleh kelompoknya sebagai ketua yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan
kerja kelompoknya.
Pelaksanaan Tindakan
Terdapat tiga kegiatan utama dalam dalam pelaksanaan tindakan: (1) kegiatan pendahuluan,
(2) kegiatan inti, dan (3) kegiatan penutup. Masing-masing kegiatan tersebut diuraikan sebagaiberikut.
Kegiatan pendahuluan. Kegiatan pendahuluan diawali dengan doa, menyanyikan lagu
Indonesia Raya, mengucapkan salam, mengecek kehadiran siswa. Untuk mencairkan suasana agar
tidak tegang para siswa diajak untuk bermain selama 5 menit. Siswa diminta berdiri membentuk
lingkaran. Guru menginstruksikan jika saya menyebut angka ganjil maka siswa bertepuk tiga kali,
sedangkan jika guru menyebut angka genap siswa mengucapkan yes dua kali. Dalam permainan guru
menyebutkan angka ganjil dan genap secara berselang seling Jika ada siswa yang mengalami
856
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
kesalahan maka secara jujur siswa harus mengakui kesalahannya dengan terlebih dahulu mengangkat
telunjuknya. Guru mengemukakan alasannya bahwa hal ini dilakukan untuk melatih siswa untuk
berperilaku jujur. Pada saat permainan ada tiga siswa yang mengalami kesalahan. Setelah selesai
tepuk tangan bersama dan guru mempersilakan siswa menempati tempat duduknya sesuai
kelompoknya.
Langkah berikutnya guru menyampaikan kompetensi dasar, dilanjutkan dengan penyampaian
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan pendahuluan juga digunakan untuk mengungkap
pengetahuan awal siswa dengan mengadakan Tanya jawab dengan siswa sebagai berikut.
G: Apakah kondisi permukaan bumi kita selalu tetap?
S: Tidak
G: Mengapa? Berikan alasan!
S: Permukaan bumi selalu mengalami perubahan karena adanya pergerakan
lempeng lempeng bumi
G: Apakah akibatnya dengan adanya pergerakan lempeng tersebut?
S: Terbentuknya gunung, pegunungan, lembah, letusan gunung api dan gempa
Jawaban siswa dalam dialog tersebut nampak bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran hari
itu bukanlah siswa tidak tahu apa-apa tentang lempeng dunia dan gerakannya. Namun, mereka
memiliki pengetahuan awal tentang lempeng-lempeng tersebut. Oleh karena itu dalam tindakan
pembelajaran ini siswa harus diberi peran yang lebih aktif untuk mengekspresikan pengetahuan yang
dimiliki.
Kegiatan inti. Guru mempersilakan kelompok satu untuk maju dan mengingatkan kepada
seluruh siswa bahwa agar kegiatan berjalan lancar dan mudah terekam setiap aktifitas harus diawali
dengan menunjukkan nomor absen dan namanya masing-masing, walaupun setiap siswa sudah ada
kartu nama di dadanya, karena observer ada di belakang siswa. Kemudian kelompok satu maju ke
depan dan memperagakan model sejarah terbentuknya permukaan bumi menurut teori kontraksi.
Setelah selesai mendemonstrasikan kelompok yang sedang maju menawarkan kepada kelompok lain
untuk bertanya:
Siswa penyaji :―Apakah ada pertanyaan‖?
Siswa audien : ―Apa faktor yang mempengaruhi bumi mendingin dengan cepat?‖ Siswa
penyaji : karena pengaruh unsur-unsur yang ada di jagad raya maka bumi bisa mendingin.
Siswa audin dari kelompok lain bertanya:‖Apakah ada bukti jika bumi itu mendingan di
bagian luarnya saja?‖
Siswa kelompok penyaji: ―jika gunung yang meletus mengeluarkan magma. Hal itu
membktkan bahwa bumi kita telah mendingin bagian luarnya saja sedangkan bagian dalam masih
berpijar‖.
Gambar 2: Kelompok 3 sedang memperagakan teori
lempeng tektonik
857
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Kelompok tiga yang memperagakan hasil karyanya tentang teori laurasia gondwana sangat
bagus sekali. Bahannya terbuat dari karton, lem, stick dari bambu, dan pensil warna. Dalam peragaan
itu ditampilkan proses pergerakan benua yang semula menyatu terpecah hingga sampai kepada bentuk
atau posisi benua yang sekarang. Suasana pembelajaran dapat digambarkan dalam dialog berikut.
Siswa keompok lain bertanya: ―Faktor faktor apa yang menyebabkan benua tersebut
terpecah‖
Siswa penyaji menjawab: ―terpecahnya benua disebabkan oleh arus konveksi pada lapisam
mantle bumi‖.
Gambar 3. Guru memperhatikan siswa melakukan
demonstrasi
Pengamatan
Secara umum para observer mengatakan bahwa kreatifitas siswa baik sekali terbukti masing
masing kelompok mampu membuat alat peraga yang berbeda. Dari sebuah kalimat yang berupa teori
bisa diterjemahkan kedalam bentuk nyata sebuah alat peraga. Juga dalam pelaksanaan pembelajaran
sudah baik terbukti dengan penampilan masing masing kelompok sudah bisa mendemonstrasikan alat
peraga yang dibuatnya dengan lancar. Juga tiap tiap kelompok sudah bisa menguasai dan
menyampaikan materinya masing masing dan kelompok lain ikut berperan aktif. Pemberian pujian
dari guru, tepuk tangan bersama dan pembenaran dalam setiap jawaban siswa menambah percaya diri
bagi siswa.
Disisi lain masih ada kekurangan antara lain suasana masih kelihatan tegang dan terlalu
serius. Juga waktu yang terlalu pendek sehingga siswa tidak leluasa untuk berekspresi tanya jawab.
Kemudian tentang aktifitas siswa masih ada satu kelompok yaitu kelompok enam yang belum siap
terbukti masih mempersiapkan materinya walaupun ada kelompok lain yang sedang tampil.
Hasil tes menunjukkan siswa setelah mengikuti pembelajaran adalah nilai tertinggi 73 dan
nilai terendah 25. Dengan KKM 70 berarti dalam penilaian ini yang tuntas hanya 25.30%. Hal ini
karena soal test sudah mengacu pada soal HOTS (Higher Order Thingking Skills), sementara dalam
pembelajaran belum HOTS sehingga masih ada kesenjangan, tidak sinkron antara pembelajaran
dengan penilaian. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dilakukan tindakan pada siklus ke
dua. Proses pembelajaran pada siklus 2 dapat digambarkan sebagai berikut.
Kegiatan awal. Dalam kegiatan ini diawali dengan kegiatan pendahuluan. Guru membuka
pelajaran dengan memberikan salam. (2) Guru mengecek kehadiran siswa dengan menanyakan
kepada siswa, ―Apakah pada hari ini ada siswa yang tidak hadir, dijawab oleh siswa tidak ―tidak ada
pak‖. (3) memberikan motivasi dan mengajak siswa untuk bermain sejenak, siswa membentuk
lingkaran, kemudian guru meminta siswa untuk berhitung, jika kelipatan tujuh maka siswa yang
bersangkutan harus berkata dengan keras ―Yes‖ setelah selesai siswa diminta duduk kembali. (4)
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran memalui penayangan power point.
Kegiatan Inti. Kelas yang posisi tempat duduknya sudah diatur berbentuk U dan diminta para
siswa untuk menempati tempat duduknya sesuai dengan kelompoknya yang sebelumya sudah
terbentuk kelompok dengan nama menurut pelangi yaitu Mejikuhibiniu. (2) guru meminta tiap tiap
kelompok untuk maju secara bergantian untuk memperagakan hasil karyanya. (3) Untuk penampilan
pertama kelompok me atau merah maka kelompok merah maju kedepan untuk memperagakan hasil
858
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
karyanya (4) Kelompok lain memperhatikan dengan seksama (5) Setelah selesai membawakan hasil
kerjanya (6) sesi berikutnya tanya jawab, kelompok yang tampil menawarkan ―apakah ada
pertanyaan?‖ kemudian kelompok kuning memberikan pertanyaan dan dijawab oleh kelompok merah
(6) guru meminta kelompok lain untuk maju secara bergantian dan memberikan semangat untuk
kelmpok berikutnya. Setelah selesai semua kelompok maka pembelajaran diakhiri dengan salam.
Siklus dua diakhiri dengan refleksi: (1) Alat peraga yang dibuat siswa sudah ada peningkatan
termasuk cara penyampaian pesan lebih baik. (2) Keaktifan siswa sudah berkembang, kelas lebih
hidup. Dari kegiatan proses kegiatan belajar diatas berikut ini sisajikan hasil siklus satu dan siklus dua
Tabel 1. Perolehan hasil belajar siswa
No
1
2
Kategori ketuntasan
Tuntas
Tidak tuntas
Jumlah
Siklus 1
25.30%
74.7%
100%
Prosentase kegiatan %
Siklus 2
82.15%
17.85%
100%
Berdasarkan tabel hasil belajar siswa di atas menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil
belajar siswa pada kelas X IPS 1 SMA Negeri 1 Batu. Hasil belajar pada siklus satu, angka prosentase
ketuntasan 25.30% dan angka perolehan ketidaktuntasan 74.7%. Setelah dilakukan refleksi dan
perbaikan pada siklus dua maka didapat hasil prosentase ketuntasan 82.15 dan prosentase
ketidaktuntasan 17.85%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa naik secara
signifikan sebesar 56.85.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Inquiri Learning berbantuan demontrasi dapat
meningkatkan kompetensi analisis dalam berpikir tingkat tinggi. Peningkatan kompetensi tersebut
dapat terjadi karena dalam model inkuiri terdapat tahapan-tahapan kegiatan yang dapat meningkatkan
keterampilan berpikir tingkat tinggi. Tahapan tersebut adalah analisis data dan organisasi data.
Analisis dapat dilakukan dengan berbagai metode yang sesuai dengan karakteristik data dan
tujuannya. Keterlibatan siswa dalam kegiatan organisasi dan analisis data tersebut dapat
meningkatkan keterampilannya dalam berpikir tingkat tinggi.
SIMPULAN
Berdasarkan temuan dan pembahasa dapat disimpilkan bahwa pembelajaran inquiry dengan
bantuan demontrasi dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, dari siklus I dengan skor
rata-rata 25.30 meningkat pada siklus 2 menjadi rata-rata 82.15.
DAFTAR RUJUKAN
Aprianie, Heni. 2015 Penerapan Inquiry Learning Dengan Media Visual Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Geografi Kelas X IPS 3 SMAN 10 Batam. Prosiding Seminar Nasional TEQIP
2015 Hal.1071-1077
Etika, Aulia Dwi. 2012. Penerapan metode inquiry untuk meningkatkan kemampuan berpikir ritis dan
Hasil Belajar pada Kelas X F SM Madrasah Aliah Jember. Skripsi. Program Studi
Pendidikan Ekonomi.Jurusan IPS Fakultas Ilmu Pendidkan Universitas Jember.
Daniaty, Ira. 2011; Penerapan Metode Inquiri untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS di
MAN 2 Probolinggo http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel.pdf 13 Nopember 2016
859
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Setyawan, Agung, 2015; Penerapan Model Inquiry dengan Metode Demonstrasi Materi Dinamika
Planet Bumi Sebagai Ruang Kehidupan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geografi Kelas
X IIS 5 di SMA Negeri 1 Batam. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2015 Hal,1044-1053
Sudrajad, Akhmad. Pembelajaran Inkuiri: Pengertian, Ciri-ciri, Prinsip-Prinsip dan Langkah-Lanakah.
(Online)https:/akhmadsudrajad:wordprss.com), diakses tanggal 13 November 2016
Ahda, Salis, 2016. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Hipotetik Untuk Meningkatkan
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Negeri 4 Malang. Jurnal Kajian Pembelajarran
Sekolah JKPS, Vol 1 Nomor 1 2016.
Wahyudi. 2015. Efektifitas Model Pembelajaran Inquiry dalam meningkatkan Keampuan berpikir
kritis, di SMA I PIRI I Yogjakarta. Abstract. (online) (Htttp:eprints Uny
860
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN BANTUAN
MODEL JIGSAW DAN MEDIA VISUAL UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR GEOGRAFI KELAS X – IIS – 1
DI SMA IMMANUEL BATU
Sri Harijati
SMA Immanuel Batu
febri.didin70@gmail
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar geografi melalui
Penerapan pendekatan saintifik pada materi dinamika bumi sebagai ruang kehidupan
dengan bantuan model jigsaw dan media visual, pada peserta didik X – IIS 1 SMA
Immanuel Batu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dua
siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan dan audio visual dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik di kelas X IIS 1 SMA Imanuel Batu pada materi dinamika
bumi sebagai ruang kehidupan. Hal ini terlihat dari kenaikan hasil belajar dari siklus I ke
siklus II sebesar 25%.
Kata kunci: Pendekatan saintifik, Model Jigsaw, Media visual, Hasil belajar
Pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar (central basic) yang dapat membawa perubahan
terhadap manusia. Perubahan tersebut sifatnya bertahap dan memerlukan waktu yang cukup lama.
Telah banyak perkembangan dan kemajuan di segala bidang yang disebabkan oleh adanya
pendidikan. Dengan demikian adanya pendidikan dapat mengubah suatu keadaan (negara, bangsa
bahkan perorangan) menjadi kondisi kehidupan yang lebih baik.
Melalui pendidikan manusia memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan,
sehingga dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat untuk kepentingan masyarakat dan dirinya
sendiri. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka sudah sepatutnya apabila berbagai lembaga
pendidikan dari waktu ke waktu senantiasa meningkatkan peranannya, termasuk dalam peningkatan
mutu pembelajarannya.
Hasil pembelajaran dapat memberikan pengalaman yang berarti bagi peserta didik, sehingga
perubahan prilaku dalam wawasan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dirumuskan dalam
pembelajaran dapat dicapai secara optimal (Winkel, 1987). Pemberian permasalahan yang riil akan
merangsang rasa ingin tahu, keinginan untuk mengamati, serta keinginan untuk terlibat dalam suatu
masalah akan semakin besar.
Pendekatan saintifik, menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran
tidak diberikan secara langsung, tetapi peserta didik diberikan peran untuk mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing peserta didik
untuk belajar (Sudrajat, 2011). Pemberian peran dan tanggung jawab kepada peserta didik akan
memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. Harapannya melalui penemuan masalah dan
pencarian solusi dari suatu masalah, proses memahami suatu konsep, proses menganalisis suatu
permasalahan akan lebih cepat terserap oleh peserta didik.
Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak. Menurut
pandangan konstruktivis, pengetahuan merupakan suatu proses yang berkembang terus menerus.
Mesti-nya dalam pembelajaran, khususnya kelas X, siswa tidak hanya dituntut meng-hafalkan faktafakta dan konsep-konsep, melainkan juga mengerti dan membangun sistem berpikirnya sendiri. Siswa
akan mengonstruksi sendiri pengetahuannya. Mengonstruksi pengetahuan adalah suatu usaha yang
sangat aktif oleh pelajar untuk mengonstruksi atau memahami ide baru diperlukan pemikiran yang
861
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
aktif tentang ide tersebut. Selanjutnya konstruksi pengetahuan memerlukan pemikiran reflektif, yakni
secara aktif memikirkan ide. Berpikir reflektif berarti mengubah melalui ide-ide yang ada untuk mencari ide-ide yang kiranya paling berguna untuk memberi arti terhadap ide baru (Subanji, 2011). Faktor
metode dan media pembelajaran yang belum sesuai dengan materi yang disajikan menjadikan
pembelajaran menjadi kurang bermakna, peserta didik tidak memiliki minat tinggi dalam belajar yang
bisa diukur melalui hasil tes dan hasil observasi.
Keadaan ini memerlukan suatu tindakan untuk memperbaiki hasil belajar peserta didik,
dintaranya melalui pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan indikator dan penggunaan
media visual untuk memperlihatkan. Karena itu tugas guru adalah memfasilitasi siswa untuk belajar.
Salah satu bentuk fasilitasi siswa belajar adalah menggunakan pendekatan saintifik dengan bantuan
model jigsaw dan media visual. Pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan aktifitas dan kreatifitas
siswa.
Menurut Masdalifa (2013), pada pembelajaran model Jigsaw setiap siswa adalah anggota
dari dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok asal dan kelom-pok ahli. Prinsipnya guru membagi
topik besar menjadi sub-sub topik. Siswa me-mulai pelajaran dalam kelompok-kelom-pok asal. Pada
Model Jigsaw, setiap anggota kelompok asal diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan dan memahami salah satu sub topik. Untuk me-mahami sub-sub topik setiap anggota tim harus berkerja sama
dengan anggota kelompok lain untuk berbagi pengetahuan secara efektif. Selanjutnya setiap siswa
menjadi ―ahli‖ dan mengajarkan ke ang-gota kelompok asalnya.
Menurut Viktorino Teddy Loong (2013), pembelajaran model Jigsaw memiliki langkahlangkah: (1) penjelasan dari guru, (2) siswa bekerja di ke-lompok ahli untuk menyelesaikan masa-lah
yang berbeda, (3) siswa kembali ke kelompok asal untuk saling menjelaskan hasil pekerjaan di
kelompok ahli kepada temannya, (4) kuis, dan (5) pemberian penghargaan. Dalam kooperatif Jigsaw
para siswa dimotivasi untuk mempelajari materi pembelajaran yang diberikan se-baik mungkin dan
bekerja keras di dalam kelompok ahli sehingga dapat membantu anggota kelompok lainnya.
Dalam penelitian ini dilakukan pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw pada materi Mengenal
bumi. Hal ini dilandasi oleh adanya masalah dalam penguasaan materi Lithosfer pada siswa kelas XIIS -2 SMA Immanuel Batu. Siswa mengalami kesu-litan dalam memahami materi mengenal bumi.
Dalam hal ini siswa belum bisa memahami proses terbentuknya jagad raya dan pembentukan bumi.
Dampaknya siswa akan mengalami kesulitan ketika mempelajari tentang jagad raya.
Kesulitan-kesulitan siswa dalam mempelajari materi pembentukan bumi karena pembelajaran
kurang menarik minat peserta didik, serta sulitnya menghubungkan pengetahuan dari bentuk abstrak
ke bentuk nyata. Berdasarkan berbagai alasan di atas, maka peneliti mengadakan penelitian tindakan
kelas pada materi bangun ruang sisi datar dengan mengambil judul Penerapan Pendekatan Saintifik
dengan bantuan Model Jig-saw dan media visual untuk meningkatkan hasil belajar Geografi di kelas
X – IIS-1 di SMA Immanuel Batu
METODE
Rancangan ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang mencakup dua siklus,
siklus I dilakukan dalam dua pertemuan, dimulai dengan kegiatan perencanaan, pelaksanaan,
observasi dan refleksi. Prosedur pelaksanaan penelitian diuraikan sebagai berikut:
862
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar 1. Bagan Siklus Penelitian Tindakan Kelas Kemmis
Siklus I
a. Perencanaan.
Pada tahap perencanaan kegiatan pembelajaran berikut (1) guru menyusun rencana pembelajaran,
untuk KD dinamika planet bumi sebagai ruang kehidupan dengan indikator menjelaskan tentang jagad
raya dan tata surya, rencana pembelajaran (RPP) yang disusun mengacu pada sintaks Inquiri
Learning: observasi, merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji
hipotesis, dan membuat kesimpulan (2) menyiapkan lembar kerja peserta didik, (3) menyiapkan
perangkat penilaian, (4) mempersiapkan media (5) mempersiapkan lembar observasi peserta didik.
b. Pelaksanaan tindakan.
Tahap pelaksanaan tindakan siklus satu dilakukan dalam dua kali pertemuan, dengan alokasi waktu
setiap pertemuan 3 X 45 menit. Tahap pelaksanaan dalam penelitian ini adalah penerapan Inquiri
Learning. Penerapan tersebut disusun dalam pembelajaran yang dilakukan dalam pendahuluan,
kegiatan inti dan penutup.
c. Observasi.
Kegiatan observasi dilakukan pada saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Tujuan kegiatan
untuk memperoleh data pelaksanaan tindakan secara mendalam dan menyeluruh. Observasi dilakukan
secara kolaboratif melibatkan satu orang kolaborator teman sejawat yang sudah mendapatkan
pengarahan dan memiliki kemampuan dalam melakukan pembelajaran dengan model Inquiry learning
yaitu Pitri Agriani Marbun. Observasi difokuskan kepada peserta didik, dan guru. Pengamatan
aktifitas peserta didik meliputi: observasi media, berdiskusi, bertanya, menyampaikan pendapat,
pengisian lembar kerja, menyajikan hasil diskusi, dan mengisi evaluasi. Aktivitas guru yang diamati
meliputi: apersepsi, penyampaian tujuan pembelajaran, menyampaikan langkahlangkah pembelajaran,
menyimpulkan materi, memberikan penguatan materi, dan memberikan penugasan.
d. Refleksi
Dalam refleksi hasil-hasil observasi di bahas bersama oleh guru dan observer. Pada akhir siklus I
diperoleh gambaran dampak penerapan Inquiri Learning. Hasil pembahasan yang diperoleh
merupakan hasil refleksi dari apa yang telah terjadi selama penerapan tindakan siklus I. Jika
ditemukan permasalahan pada siklus I digunakan untuk pertimbangan dalam menyusun perencanaan
tindakan pada tahap II.
863
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Siklus II
a. Perencanaan.
Dalam perencanaan siklus II ini kegiatan yang dilakukan adalah: (1) guru dan observer mempelajari
hasil refleksi dari tindakan siklus I yang menjadi masukan dalam melakukan tindakan yang lebih
efektif pada siklus II, (2) pada prinsipnya persiapan pada siklus II sama dengan siklus I perbedaannya
terdapat pada indikator pembelajaran; menjelaskan proses terbentuknya tata surya dan bumi, (3)
menyiapkan media pembelajaran sesuai dengan indikator pembelajaran, (4) menyiapkan perangkat
penilaian sesuai dengan indikator pembelajaran yaitu menganalisis karakteristik lapisan permukaan
bumi, (5) mempersiapkan lembar kerja peserta didik, dan (5) mempersiapkan lembar observasi.
b. Pelaksanaan tindakan.
Pada siklus ke-2 tindakan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah dilakukan pada siklus
I setelah melalui refleksi.
c. Observasi.
Tahapan ini dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, hal-hal yang diamati sesuai
dengan siklus I, disesuaikan dengan kondisi lapangan dan hasil refleksi pada siklus satu.
d. Refleksi.
Hasil pengamatan dibahas bersama guru dengan kolabolator untuk memperoleh gambaran dampak
penerapan pendekatan saintifik dengan bantuan model jigsaw dan media visual.Penelitian ini
dilaksanakan di SMAImmanuel Batu beralamat di Kelurahan Sisir Kecamatan Batu Kota Batu
Provinsi Jawa Timur. Subjek penelitian peserta didik kelas X-IIS - 1 sebanyak 24 peserta didik,
dilakukan pada bulan Oktober 2016.
Instrumen pengumpulan data berupa tes hasil belajar dan dokumentasi. Data tersebut
dikumpulkan dengan prosedur berikut: (1) tes, data yang diperoleh dari tes akhir yang digunakan
untuk mengukur hasil belajar, (2) observasi, yaitu data yang diperoleh dari keterlaksanaan
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dalam penerapan pendekatan saintifik dengan bantuan, (3)
catatan lapangan yaitu data yang diperoleh dari catatan lapangan yang berupa kegiatan yang tidak
tercantum di dalam lembar observasi, seperti jumlah peserta didik yang tidak hadir, situasi saat
kegiatan pembelajaran berlangsung, kerjasama peserta didik dalam pembelajaran, respon peserta didik
terhadap media pembelajaran, dan jumlah peserta didik yang memperoleh nilai di atas KKM.
Dokumentasi, yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen seperti data nilai awal
sebelum pelaksanaan refleksi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah (1) skor tes, yang
diperoleh dari soal, (2) skor tes aktivitas kerja peserta didik yang diperoleh dengan lembar observasi
proses pembelajaran, (3) catatan lapangan yang berkaitan dengan aktivitas peserta didik dalam proses
pembelajaran, (4) pedoman klasifikasi untuk frekuensi prestasi belajar peserta didik, dengan kreteria
sangat baik (85-100), baik (70-84), sedang (55-69), kurang (40-54), dan kurang (0-39).
Analisis data dilakukan setiap kali pemberian tindakan berakhir analisa tersebut dilakukan
untuk data yang berwujud kualitatif. Selain itu analisis dilakukan secara deskriptif untuk data yang
berwujud kuantitatif. Indikator keberhasilan tindakan hasil belajar peserta didik kelas X - IIS SMA
Immanuel Batu di tentukan dengan cara sebagai berikut: (1) dengan melihat perubahan ketercapaian
hasil belajar antara tindakan siklus dua dan tindakan siklus satu. Keberhasilan tindakan pada siklus
dua diketahui dari selisih skor antara tindakan siklus dua dan siklus satu, (2) indikator keberhasilan
tindakan ditentukan oleh peneliti yaitu apabila peserta didik kelas X IIS - 2 SMA Immanuel Batu
menunjukkan peningkatan aktivitas dan hasil belaja
864
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Perencanaan
Hasil penelitian dipaparkan berdasarkan tahapan pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan inquiri dengan metode jiksaw. Dalam hal ini dilakukan dalam dua siklus.
Siklus pertama terdiri dari 2 pertemuan (1 kali pembelajaran dan satu kali tes). Pelaksanaan
pembelajaran dideskripsikan sebagai berikut:
Siklus 1 pertemuan 1
Terdapat lima kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan1) pembuatan rpp 2)
menyiapkan media visual untuk pembelajaran pembelajaran 3) mengembangkan pedoman observasi
4) menyiapkan lembar penilaian. RPP disusun untuk KD 3.3. Menganalisis dinamika planet bumi
sebagai ruang kehidupan.RPP dibuat dengan menggunakan pendekatan saintifik dengan metode
inquiri dengan bantuan model Jiksaw dan media visual diharapkan siswa dalam proses pembelajaran
lebih jelas dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan perolehan nilai yang meningkat.
Pelaksanaan Tindakan
Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi / penguatan kepada siswa untuk
memotivasi siswa dengan menunjukkan beberapa contoh berbagai fenomena dalam kehidupan seharihari yang terkait dengan unsur – unsur geosfer. Anak – anak terlihat antusias tetapi ada beberapa
siswa yang masih belum begitu memperhatikan ada yang masih sibuk dengan temannya sendiri
sehingga terlihat belum begitu fokus.
Saat proses pembelajaran siswa bekerja kelompok (kelompok ahli). Dalam hal ini ada 4
masalah yang diberikan kepada siswa. Kemudian kelompok ahli 1 membahas masalah 1, kelompok
ahli 2 membahas masalah 2, kelompok ahli 3 membahas masalah 3 dan kelompok 4 membahas
masalah 4.
Setelah selesai mengerjakan dalam kelompok ahli masing-masing siswa kembali berdiskusi di
kelompok asal. Siswa saling mengajari satu dengan yang lain terkait dengan masalah yang sudah diselesaikan di kelompok ahli. Dalam hal ini guru melakukan penilaian proses diskusi kelompok.
Komponen yang dinilai guru meliputi: keaktifan siswa dalam diskusi, bagaimana siswa menyatakan
pendapatnya, siswa bertanya atau menjawab pertanyaan dari temannya, cara mempresentasikan hasil
kerja kepada anggota kelompok, menjawab pertanyaan saat presentasi, mengajukan pertanyaan ke
kelompok lain saat presentasi, mengerjakan soal tes dengan baik.
Masing-masing kelompok, salah satu dari anggotanya ada yang mewakili ke depan untuk
melakukan presentasi dengan menggunakan bantuan media visual. Kelompok 3 mewakili presentasi
soal no 1, kelompok 2 mewakili presentasi soal no 2, kelompok 4 mewakili presentasi soal no 3 dan
kelompok 1 mewakili presentasi soal no 4. Kemudian guru memberi penguatan pada jawaban yang
kurang benar. Selanjutnya seluruh siswa diminta untuk merangkum materi.
865
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Kendala yang dihadapi dalam pembagian kelompok adalah lamanya anak – anak masuk
dalam kelompoknya masing – masing sehingga waktu terbuang. Rata – rata siswa memeperhatikan
dengan baik penjelasan dari kelompok ahli, tetapi ada juga yang belum mau memperhatikan.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab disini siswa mulai antusias dalam
memberikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kelompok lain. Karena waktu
tidak mencukupi maka diskusi untuk kelompok yang belum presentasi dilanjutkan pada pertemuan
berikutnya. Kegiatan penutup dilaksanakan dengan baik interaksi antara siswa dan guru dalam umpan
balik sudah berjalan dengan baik. Dan hasil dari penilaian akhir belum begitu memuaskan
kemungkinan anak – anak belum terbiasa dengan metode ini.
Siklus 1 pertemuan 2
Pembelajaran diawali dengan memberikan apersepsi dengan memberikan pertanyaan untuk
materi yang sudah dibahas kemarin. Berdasarkan dialog tersebut siswa sudah menguasai materi
prasyarat untuk pembelajaran pertemuan 1 dan melanjutkan presentasi 1 kelompok yang belum maju.
Setelah selesai semua guru bertanya apakah sudah faham dengan materi tentang proses
terjadinya tata surya dan anggota tata surya. Ada yang sudah mengerti tentang materi tersebut tapi
masih ada juga yang belum mengerti sehingga guru menjelaskan beberapa hal yang belum dimengerti
siswa. Sebagai bahan evaluasi guru memberikan beberapa soal berbentuk essay.
Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan observer terdapat temuan-temuan sebagai berikut: (1) peserta didik
tidak fokus terhadap media karena volume audio visualnya terlalu kecil dan tampilan video cepat, (2)
ada beberapa peserta didik yang tidak mengikuti kegiatan diskusi khususnya peserta didik yang duduk
di kursi belakang, peserta didik dalam kegiatan diskusi ngobrol dengan sebangkunya,(3) peserta didik
kesulitan untuk membuat deskripsi permasalahan dalam kegiatan diskusi, (4) peserta didik kesulitan
dalam menjawab soal analisis, seperti diungkapkan peserta didik ‖Ini, harus dibagaimanakan, Bu?‖.
Refleksi
Saran-saran yang diberikan observer untuk perbaikan dalam kegiatan pembelajaran di
sikulus I: (1) volume audio visual ditambah agar peserta didik bisa mendengar informasi yang
sampaikan, dan ada pemberian penekanan materi (2) ada peran yang diberikan kepada masingmasing
peserta didik agar supaya peserta didik turut berperan dalam kegiatan diskusi, (3) penambahan
pengetahuan dalam data
Siklus II
Perencanaan
Terdapat lima kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan1) pembuatan rpp 2)
menyiapkan media visual untuk pembelajaran pembelajaran 3)mengembangkan pedoman observasi 4)
menyiapkan lembar penilaian. RPP disusun untuk KD 3.3. Menganalisis dinamika planet bumi
sebagai ruang kehidupan.RPP dibuat dengan menggunakan pendekatan saintifik dengan metode
inquiri dengan bantuan model Jiksaw dan media visual diharapkan siswa dalam proses pembelajaran
lebih jelas dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan perolehan nilai yang meningkat.
Pelaksanaan Tindakan
Hasil penelitian pada siklus II, dari sisi proses digambarkan sebagai berikut (1) guru
membuka pembelajaran dimulai stimulus melalui video pembentukan bumi, bertujuan agar peserta
didik fokus terhadap pelajaran yang akan dimulai (2) menunjukkan tujuan pembelajaran yang
ditunjukkan melalui LCD,(3) menyampaikan kegiatan pembelajaran yang dimulai memperkenalkan
866
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
langkah-langkah pembelajaran dalam model jigsaw (4) melakukan observasi terhadap media
pembelajaran yang ditayangkan melalui LCD yang dilengkapi dengan penambahan informasi melalui
penjelasan guru sehingga pemahaman siswa lebih cepat terbangun, peserta didik diberikan lembar
kerja untuk panduan selama kegiatan observasi yang merupakan pengantar materi untuk masuk dalam
kegiatan diskusi, (5) mengelompokkan peserta didik dalam enam kelompok diskusi yang masingmasing membahas permasalahan nyata yang berkaitan dengan roses pembentukan bumi peserta didik
dalam siklus II lebih diperjelas, sehingga masing-masing memiliki kontribusi dalam menyelesaikan
masalah diskusi,(6) peserta didik mengumpulkan data mengenai teori mana yang paling mungkin
kebenarannya sebagai teori asal mula pembentukan bumi, (7) guru memberikan penjelasan tentang
asal mula pembentukan bumi, (8) peserta didik menjawab soal-soal tes, dengan bentuk soal tertulis
sebanyak 5 soal pilihan analisis dan 5 soal pilihan ganda. Sebelum soal dibagikan ada penjelasan
tentang petunjuk soal analisis.
Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan observer terdapat temuan-temuan sebagai berikut: (1) masih terdapat
peserta didik yang tidak mengikuti kegiatan diskusi, masih asik berbicara sendiri karena pembelajaran
dilaksanakan siang hari, (2) peserta didik kesulitan untuk membuat deskripsi dan dangkalnya
pendalaman materi pada pembahasan diskusi masih muncul, ditandai dengan ―Ibu, jadi setelah ini apa
lagi yang harus kami tuliskan‖.
Refleksi
Saran-saran yang diberikan observer untuk perbaikan dalam kegiatan pembelajaran di siklus II: (1)
pemberian peran yang jelas yang diberikan kepada masing-masing peserta didik agar supaya peserta
didik turut berperan dalam kegiatan diskusi, (2) penambahan pengetahuan dalam data.
Untuk mendapatkan data tentang prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran geografi
digunakan instrumen tes yang dilakukan di akhir kegiatan siklus I dan siklus II, sebanyak 13 peserta
didik (46%), sebagian besar peserta didik pada siklus I, masih berada pada kategori sangat kurang.
Sedangkan hasil belajar peserta didik yang dilakukan pada siklus II, menunjukkan, hasil belajar
dengan klasifikasi baik 29% atau terdapat peningkatan sebanyak 25%. Dan terdapat penurunan jumlah
peserta didik dengan klasifikasi sangat kurang dari siklus I ke siklus II sebanyak 8 peserta didik
(75%).
Hasil Belajar Siklus II
Tingkat keberhasilan tindakan pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar peserta didik 40, dengan
persentase ketuntasan belajar 4%. Setelah melalui perbaikan pembelajaran sesuai hasil refleksi pada
siklus I menunjukkan adanya peningkatan 14%, menjadi 54. Persentase ketuntasan belajar pada siklus
II, 29% artinya terjadi peningkatan 25%. Terlihat adanya peningkatan hasil belajar meskipun belum
semua peserta didik bisa tuntas 100% dalam hasil belajar.
Keterangan
Nilai Rata-Rata
Persentase Ketuntasan
Siklus 1
Siklus II
40
54
4%
29%
867
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar melalui pendekatan saintifik
dengan bantuan model jigsaw dan media visual. Hal itu di duga dapat terjadi karena beberapa faktor.
Pertama, pembelajaran yang menyenangkan diawali dengan adanya stimulus berupa media.
Keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengobservasi media pembelajaran, memberikan
pengalaman pembelajaran sebanyak 30% pelajaran yang peserta didik terima akan mudah mereka
ingat. Hal ini sesuai dengan Kerucut Pengalaman (Cone Of Experience) Edgar Dale seperti terlihat
pada gambar 4 berikut:
Gambar 4. Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Media menurut Herminegari (tanpa tahun), memiliki fungsi untuk peningkatan atau
mempertinggi mutu proses kegiatan belajar-mengajar. Sejalan dengan pendapat Herminegari tersebut,
Levie & Lents (1982) juga mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media
visual, yaitu: (1) Fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian peserta didik untuk
berkonsentrasi kepada isi pelajaran, (2) Fungsi afektif, dapat menggugah emosi dan sikap peserta
didik, (3) Fungsi kognitif, mengungkapkan bahwa lambang visual/gambar memperlancar pencapaiaan
tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar, dan (4) Fungsi
kompensatoris terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk
memahami teks membantu peserta didik yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan
informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Kedua, peserta didik diberikan pengalaman belajar
dengan cara mengalami sendiri sehingga peserta didik lebih mudah untuk mengingat hasil
pembelajaran. Hal ini sesuai denganteori yang dikembangkan oleh Edgar Dale (dalam Bagus
2014)mengatakan: ―hasil belajar seseorang diperoleh melalui pengalaman langsung (kongkret),
kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai
kepada lambang verbal (abstrak)‖.
Pengalaman langsung akan memberikan informasi dan gagasan yang terkandung dalam
pengalaman itu, oleh karena adanya melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan,
penciuman, dan peraba. Ketiga, Pemberian pengalaman belajar, membuat peserta didik menjadi lebih
mandiri, mampu berfikir logis dan bisa menggunakan penalaran ilmiah jika dihadapkan pada suatu
868
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
permasalahan. Pembelajaran metode inkuiri dengan bantuan model jigsaw menekankan kepada proses
mencari dan menemukan.
Metode ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri, pembelajaran terpusat pada peserta didik dan guru berfungsi sebagai fasilitator. Piaget (Pristiadi, tidak ada
tahun) menyatakan bahwa tahapan dalam perkembangan Peserta didik tingkat SMA termasuk ke
dalam periode operasional formal, periode dimana terjadi puncak perkembangan struktur kognitif,
anak mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis, masalah verbal, dan ia dapat
menggunakan penalaran ilmiah serta dapat menerima pandangan orang lain. Dalam hasil penelitian
yang dilakukan oleh Dianti (2011), memperlihatkan bahwa dengan model Inquiry learning mampu
meningkatkan keaktifan peserta didik, terlihat saat adanya aktivitas saling bertukar pendapat dengan
anggota kelompoknya apabila salah satu anggota kelompok mengalami kesulitan dari sini juga
menunjukkan peserta didik menjadi terlatih untuk menghargai pendapat orang lain.
Dengan diberikan pengalaman belajar melalui sintaks-sintaks yang terdapat pada model
Inquiri Learning terbangun kesesuaian antara kemampuan perkembangan pengetahuan kognitif
dengan model pembelajarannya sehingga harapan terjadinya peningkatan hasil belajar dapat terwujud.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya disimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik
dengan bantuan model jigsaw dan audio visual di SMA Immanuel Batu menunjukkan adanya
peningkatan dalam hasil belajar. Terjadi peningkatan ketuntansan belajar siswa, dari 4% menjadi
29%.
DAFTAR RUJUKAN
Nur, M. dan Wikandari P.R. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Peserta didik Dan Pendekatan
Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya University
Press.Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Penerbit Media Abadi
Sudrajat, Akhmad. 2011. Pembelajaran Inkuiri: Pengertian, Ciri-Ciri, Prinsip-Prinsip dan LangkahLangkah. (online),(https://akhmadsudrajat.wordpress.com/ 2011/09/12/ pembelajaraninkuiri), diakses tanggal 18 Oktober 2016
Radyan, Bagus. 2014. Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) Edgar Dale. (online), (https://bagus
dwiradyan.
wordpress.com/2014/07/06/kerucut-pengalaman-cone-ofexperience-edgardale). (online). diakses tanggal 18 oktober 2016
Zuhri, Achmad. 2013. Fungsi dan Manfa’at Media Pembelajaran. https://achmadzuhrihs. wordpress.
com/2013/05/11/fungsi-dan-manfaat mediapembelajaran/ (online). Diakses tanggal 18
Oktober 2015
Mamah, Aprilia. Tanpa tahun. Teori Perkembangan Vygotsky.(online), (https://april044. wordpress.
com/teori-perkembangan-vygotsky), diakses tanggal 17 Oktober 2015
Utomo, Pristiadi. Tanpa tahun. Piaget dan Teorinya. (online), (https://ilmuwanmuda. Wordpress
.com/piaget-dan-teorinya), diakses tanggal 17 Oktober 2015
Herminegari. Tanpa tahun. Fungsi dan Manfaat Media Pembelajaran. (online), (https://herminegari.
wordpress.com/perkuliahan/fungsi-dan-manfaat mediapembelajaran/) diakses tanggal 18
Oktober 2016
Daniati, Ira. (2011). Penerapan Metode Inkuiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS
di MAN 2 Probolinggo.(online), (http://jurnalonline. um.ac.id/data/artikel/artikel E254
61F532 A87262667762FA47B35C7.pdf)
869
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Hartini, (2013). Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Pada Materi Ciri Khusus Tumbuhan Di kelas
VIB SDN 002 Tanah Grogot. Kalimantan Timur: Tidak diterbitkan.
Junaidi H. Matsum, (2001). Interaksi Sosial dan Hasil Belajar Siswa di Sekolah, Desertasi Pasca
Sarjana FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
870
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN STUDENT TEAMS
ACHIEVMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN
MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS X IPS 1
MAN BATU
Susi Hernawati
MAN Batu Propinsi Jawa Timur
[email protected]
Abstrak: Siswa kelas X IPS 1 di MAN Kota Batu belum menunjukkan peran aktifnya saat
pembelajaran berlangsung. Selain itu siswa belum dapat memahami materi pada
pembelajaran geografi dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata nilai hasil belajar
ulangan harian siswa yang mampu mencapai KKM adalah 60% dari jumlah siswa yaitu 18
siswa, sedang sisanya 12 siswa masih di bawah KKM. Rendahnya motivasi dan hasil
belajar dipengaruhi oleh penerapan metode pembelajaran yang membosankan. Penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan penerapan model
pembelajaran Student Achievment Division (STAD). Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa pada siklus 1 peserta didik yang memperoleh nilai 75 sebanyak 60%, sedangkan
pada siklus 2 meningkat menjadi 90% dari total keseluruhan peserta didik. Peserta didik
yang memperoleh 75 pada siklus 1 sebanyak 40% dan pada siklus 2 menurun menjadi
10%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran
Student Achievment Division (STAD) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
kelas X IPS 1 di MAN Kota Batu.
Kata Kunci: motivasisiswa, hasilbelajarsiswa, model pembelajaranStudent Achievment
Division (STAD)
Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan untuk mengembangkan atau meningkatkan
kualitas manusia dari aspek kepribadian, kemampuan berpikir, dan bersosialiasi dengan lingkungan
sekitarnya baik di dalam sekolah maupun luar sekolah. Pendidikan juga berperan dalam mewariskan
kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya (Misbahudholam, 2009). Di dalam dunia
pendidikan, guru berperan sebagai fasilitator yang bisa menciptakan kondisi belajar mengajar yang
efektif. Selain itu peran guru adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami
pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pembelajaran.
Ilmu geografi merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan pada siswa SMA.
Pembelajaran geografi tidak hanya untuk menguasai pengetahuan belaka, tetapi juga diharapkan
mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Pengaplikasian pembelajaran yaitu
melalui kegiatan belajar sebagai proses pengembangan kemampuan tingkah laku siswa untuk
membentuk kepribadian siswa. Sehingga guru memiliki peranan penting dalam menentuan kualitas
siswanya. Oleh sebab itu, guru harus bisa meningkatkan kemampuan mengajarnya agar dapat
meningkatkan kualitas siswa.
Berdasarkan observasi awal yang telah dilakukan pada tanggal 3 September 2016, diketahui
bahwa proses pembelajaran Geografi di kelas X IPS 1MAN Batu mengalami beberapa masalah, yaitu
guru geografi di kelas X IPS 1MAN BATU menggunakan metode pembelajaran yang monoton yaitu
metode ceramah, sehingga pada saat guru menjelaskan materi banyak siswa yang belum menunjukan
peran aktifnya, dan juga masih ada siswa yang kurang memperhatikan, misalnya: bercerita dengan
teman sebangku, tidur dikelas, bermain sendiri, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan
rendahnya motivasi belajar siswa dalam matapelajaran geografi.
871
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Penggunaan metode ceramah juga membuat penyerapan materi yang diterima oleh siswa
cenderung lebih lambat sehingga apabila guru mengajukan pertanyaan kepada siswa maka siswa tidak
dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Dari hasil observasi menunjukkan rendahnya
hasil belajar siswa. Rata-rata nilai ulangan harian siswa kelas X IPS 1 yaitu 72, sedangkan nilai KKM
yang ditetapkan oleh guru adalah 75.Siswa yang mendapatkan nilai diatas KKM 60 % dari jumlah
siswa, yaitu 18 siswa. Sedangkan 12 siswa yang lain nilainya berada di bawah KKM.
Hasil ulangan harian siswa menunjukan bahwa ketuntasan belajar siswa belum maksimal,
siswa belum memahami materi yang telah diajarkan oleh guru. Proses pembelajaran yang dilakukan
oleh guru masih menggunakan metode yang berpusat pada guru, dimana guru lebih sering ceramah
sehingga siswa tidak bisa aktif dan proses pembelajaran menjadi pasif, tidak menyenangkan, dan
membosankan bagi siswa karena siswa hanya melihat, mendengarkan, dan mencatat..
Berdasarkan hasil observasi awal tersebut maka perlu dilaksanakan penelitian tindakan kelas
tentang penerapan model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD dalam pembelajaran
Geografi. Penerapan model pembelajaran tersebut sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran
Geografi karena dengan model pembelajaran STAD ini siswa dituntut aktif dan memiliki sikap
terbuka antar satu sama lain. Selain itu siswa juga dilatih berpikir, memecahkan masalah, serta
menggabungkan kemampuan dengan keahlian. Pembelajaran dengan menggunakan model ini juga
dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan konsep pembelajaran dan
mendorong siswa untuk lebih memahami materi yang ada. Model pembelajaran Student Teams
Achievement Division (STAD) menekankan keaktifan interaksi antar siswa. Sehingga dengan interaksi
tersebut diharapkan siswa dapat memahami materi dengan mudah, karena biasanya siswa lebih mudah
paham jika dijelaskan oleh teman sebaya. Ketika siswa memiliki pemahaman materi pelajaran dengan
baik maka akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan
penerapan model pembelajaran Student Achievmet Division (STAD). Melatih siswa membangun
pemahaman secara mandiri, dapat diharapkan mendapatkan hasil pembelajaran yang maksimal. Hal
ini akan memudahkan siswa menyimpan informasi lebih lama dan materi yang dipelajari menjadi
lebih mudah dipahami, dipelajari, dan diaplikasikan langsung pada lingkunganya. Setiap peserta
didik memiliki kemampuan yang berbeda dalam tingkat motivasi da npengetahuan. Rangkaian
kegiatan model pembelajaran STAD dapat membantu peserta didik fokus dalam pembelajaran dan
mengorganisir materi yang diperoleh sebagai sebuah pengetahuan. Hasil pembelajaran dituangkan
dalam bentuk visual dan lebih fleksibel dapat meningkatkan pengetahuan siswa.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dengan siklus. Masing-masing
siklus terdiri tahapan perencanaa, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Tindakan pembelajaran yang
diterapkan adalah penerapan model pembelajaran Student Achievmet Division (STAD). Penelitian ini
dilaksanakan di MAN Kota Batupada semester ganjil tahun ajaran 2016/2017. Pada penelitian ini
yang menjadi subjek penelitian adalah siswa X IPS 1 berjumlah 30 orang yang komposisinya terdiri
dari 15 siswa laki-laki dan 15siswa perempuan. Materi pembelajaran dalam penelitian ini adalah
Dasar Pemetaan, Penginderaan Jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Instrumen penelitian yang akan digunakan adalah lembar observasi, soal tes hasil belajar,
dan catatan lapangan. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan deskriptif
kuantitatif, membandingkan tingkat motivasi dan hasli belajar siswas ebelum diterapkan model
pembelajaran STAD dengan sesudah penerapan tindakan. Pengukuran keberhasilan tindakan
penelitian ini menggunakan kriteria tingkat kualitas pembelajaran yaitu terdapat 70 % peserta didik
tuntas dari segi proses dan segi hasil.
872
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Siklus dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 3.1.
Perencanaan
Siklus 1
Refleksi
Tindakan/
Observasi
Siklus 2
Perbaikan
Perencanaan
Refleksi
Tindakan/
Observasi
Siklus 3
Perbaikan
Perencanaan
Refleksi
Tindakan/
Observasi
Gambar 3.1 Bagan Penelitian Tindakan Kelas (Adaptasi dari model Kemmis dan Taggart
dalam Sumadayo, 2013)
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, sehingga kehadiran peneliti sangat
diperlukan. Kedudukan atau peran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai perencana, pelaksanaan
tindakan, observer, pengumpul data, penganalisis, penafsir data, dan pelapor hasil penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
SIKLUS I
Perencanaan
Perencanan tindakan diawali dengan analisis hasil belajar siswa sebelumnya, berdasarkan
hasil ulangan harian. Hasil analisis menunjukan bahwa ketuntasan belajar siswa belum tercapai. Ini
menunjukan bahwa siswa belum memahami materi yang telah diajarkan oleh guru pada saat proses
pembelajaran sehingga berpengaruh terhadap hasil ulangan. Hal ini disebabkan karema proses
pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih menggunakan metode yang berpusat pada guru, dimana
guru lebih sering ceramah sehingga siswa tidak bisa aktif dan proses pembelajaran menjadi pasif,
tidak menyenangkan, dan membosankan bagi siswa karena siswa hanya melihat, mendengarkan, dan
mencatat.
Dari kenyataan itu, penulis mengambil langkah dengan mengubah strategi pembelajaran dari
konvensional menjadi berpusat pada anak-anak dengan menggunakan model pembelajaran
Cooperative Learning tipe STAD (Student Team Achievement Divisions). Lima langkah yang penulis
lakukan dalam tahap perencanaan adalah (1) menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP), (2)
menyiapkan media pembelajaran, (3) mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS), (4)
mengembangkan pedoman observasi, dan (5) mengembangkan alat evaluasi.Lima kegiatan itu
menyertakan teman sejawat dari guru mata pelajaran geografi di MAN Batu.
Persiapan pertama yang penulis siapkan adalah RPP lengkap dengan Lembar Kegiatan Siswa
dan Media penunjang yang relevan dan bisa menstimulus siswa untuk aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam RPP ini kegiatan bertumpu pada peserta didik yang sudah dikelompokkan
menjadi 6 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 siswa secara heterogen. Masing-masing
873
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
kelompok diberi 1 LKS, 1 mika transparan, 5 spidol warna dan 5 layer ( peta dasar ) untuk kegiatan
analisis hasil overlay.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Oktober 2016 jam ke 6 – 8 di Kls X
IPS 1 MAN Batu dengan materi Memahami Penginderaan Jauh dan Sistim Informasi Geografi.
Terdapat tiga kegiatan utama dalam pelaksanaan tindakan: (1) Kegiatan pendahuluan, (2) Kegiatan
inti, dan (3) Kegiatan penutup. Dalam pendahuluan, pembelajaran diawali dengan mengucapkan
salam dan menanyakan kondisi peserta didik dalam kesiapannya mengikuti kegiatan pembelajaran,
Setelah mempresensi, penulis menayangkan video animasi aplikatif tentang Sistim Informasi Geografi
(SIG).. Tujuan penayangan video untuk menstimulus siswa memahami makna dan manfaat tentang
Sistim Informasi Geografi.
Setelah 10 menit siswa mengikuti tayangan video, terjadi dialog dengan siswa seperti kutipan
berikut:
Guru
: dari tayangan video tadi,,,apa yang anak-anak pahami tentang SIG?
Siswa 1
: SIG adalah informasi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan
Guru
: Bagus…ada pendapat lain?
Siswa 2
: SIG sangat berguna untuk pembangunan kota
Siswa 3
: SIG diperoleh dari pengolahan data-data yang ada
Guru
: Jawaban anak-anak benar semua….tepuk tangan dulu…..
Berdasarkan dialog tersebut menunjukkan bahwa peserta didik sudah paham dan mengerti tentang
Sistim Informasi Geografi dan manfaatnya.
Setelah terjadi interaktif dengan beberapa pertanyaan, jawaban, dan pernyataan baik dari
peserta didik ataupun penulis, guru menguatkan pemahan tentang SIG dengan menampilkan power
point tentang materi dan cara pengolahan data dalam SIG. Setelah dirasa sudah paham, sekali lagi
guru bertanya bila ada yang kurang jelas, silahkan ditanyakan sebelum kita lanjutkan pada kegiatan
berukutnya ? Peserta didik serentak menjawab ―sudah paham Bu‖
Kegiatan inti : diawali dengan membagi kelas menjadi 6 kelompok dengan masing-masing
kelompok beranggotakan 5 siswa secara heterogen, dalam arti satu kelompok terdiri dari siswa yang
berkemampuan kognitif tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan hasil ulangan harian pada materimateri sebelumnya.Setelah terbentuk kelompok, siswa mengambil posisi duduk sesuai
kelompoknya.Penulis membagikan Lembar Kegiatan Siswa pada masing-masing kelompok.
Pengamatan
Untuk lebih mendalami dan memahami materi SIG, siswa secara berkelompok mengamati dan
menganalisis layer-layer yang telah disiapkan sebagai dasar menganalisis gejala geografi, baik gejala
fisik maupun gejala sosial.
Gambar 1: Penyampaianmateri
Gambar 2: Aktivitasbertanya
874
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar 3: Kegiatan overlay
Awal kegiatan, siswa secara serius tampak mengamati layer-layer yang diterima dan segera
mendiskusikan dengan teman sekelompoknya untuk menentukan fenomena yang akan
dirumuskan. Beberapa pertanyaan dan dialog di awal kegiatan:
Siswa 1
: Bu..kalo kami akan mendirikan pabrik tempe di Batu apa bisa dijadikan topik
bahasan?
Guru
: Boleh lah,,itu contoh fenomena sosial
Siswa 2
: Kalo begitu…semua layer yang ada apa harus dipakai semua?
Guru
: Perhatikan semua….sebagai contoh yang ditanyakan temanmu tadi…tidak harus
semua layer di overlay kan untuk fenomena yang kalian tentukan, cukup yang
menurut hasil diskusi kalian dalam kelompok layer yang relevan saja. Sebagai
contoh untuk menentukan lokasi didirikannya pabrik tempe bisa digunakan layer
kemiringan lereng, land use, hidrologi, dan sebaran penduduk. Dan jangan
jangan lupa dijelaskan relevansi masing-masing layer terhadap fenomena yang
ada. Pahamkah?
Siswa 2
: Insya Allah paham buuu….
KegiatanPenutup
Rangkaian kegiatan pembelajaran materi Penginderaan jauh dan sistim informasi geografi
pada siklus 1 telah dilalui, siswa tampak relativ lebih aktif dalam proses pembelajaran dibandingkan
dengan proses pembelajaran sebelumnya. Selanjutnya siswa diajak untuk menyimpulkan tentang
langkah-langkah mengoverlay peta beserta manfaatnya dalam bidang kehidupan sehari-hari.
KegiatanRefleksi
Kegiatan refleksi dilaksanakan sesaat setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Secara
umum observer menilai kegiatan hari ini berhasil, terbukti hampir semua siswa turut aktif dalam
kegiatan pembelajaran.Masing-masing kelompok secara bersama tampak aktif dalam berdiskusi untuk
menentukan topik permasalah yang akan dianalisa dan dilanjukan dengan mendeliniasi masingmasing layer untuk mencari solusi dan jawaban dari topik yang telah disepakati. Disisi lain, ternyata
masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dan fokus pada kegiatan pembelajaran hari itu, hal ini
disebabkan penjelasan yang agak panjang dan Lembar Kerja Siswa yang hanya dibagikan 1 paket
untuk masing-masing kelompok.Dari kegiatan pembelajaran hari itu, diperoleh hasil tes yang masih
belum maksimal. Dari KKM 75 baru 18 siswa ( 60 % ) mencapai nilai tuntas walau secara keaktifan
siswa sudah cukup menggembirakan.Untuk mengatasi kekurangan yang ditemukan, diperlukan
tindakan yang tepat pada siklus ke 2.
875
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
SIKLUS II
Perencanaan
Perencanan tindakan diawali dengan analisis hasil tes siswa pada siklus 1.Hasil tes pada siklus
1 menunjukan bahwa ketuntasan belajar siswabaru 60 %. Ini menunjukan bahwa siswa belum
seluruhnya paham terhadap materi yang diajarkan. Hal ini disebabkanpenjelasan guru terlalu monoton
dan Lembar Kegiatan Siswa yang hanya 1 paket tiap 5 siswa (perkelompok). Dari kenyataan di atas,
dengan tetap menggunakan model pembelajatan Cooperative Learning tipe STAD (Student Team
Achievement Divisions) 5 langkah yang penulis lakukan dalam tahap perencanaan siklus 2 ini adalah
(1) menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP), (2) menyiapkan media pembelajaran, (3)
mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS), (4) mengembangkan pedoman observasi, (5)
mengembangkan alat evaluasi
Persiapan pertama yang penulis siapkan adalah RPP lengkap dengan Lembar Kegiatan Siswa
dan Media penunjang yang relevan dan bisa menstimulus siswa untuk aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam RPP ini kegiatan bertumpu pada peserta didik yang sudah dikelompokkan
menjadi 6 kelompok yang masing-masing terdiri dari 5 siswa secara heterogen. Masing-masing siswa
dalam kelompok dibagikan 1 lembar foto udara untuk di interpretasi bersama kelompok.
Pelaksanaan Tindakandan Observasi
Tahap berikutnya adalah pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan pada hari Jumat, 28
Oktober 2016 jam ke 6 – 8 di Kls X IPS 1 MAN Batu dengan materi Memahami Penginderaan Jauh
dan Sistim Informasi Geografi. Terdapat tiga kegiatan utama dalam pelaksanaan tindakan
yaitukegiatanpendahuluan, inti, dan penutup. Dalam pendahuluan, pembelajaran diawali dengan
mengucapkan salam dan menanyakan kondisi peserta didik dalam kesiapannya mengikuti kegiatan
pembelajaran. Setelah mempresensi, penulis menayangkan video animasi aplikatif tentang
Penginderaan Jauh. Tujuan penayangan video untuk menstimulus siswa memahami makna dan
manfaat tentang Sistim Penginderaan Jauh. Setelah terjadi interaktif dengan beberapa pertanyaan,
jawaban, dan pernyataan baik dari peserta didik ataupun penulis, guru menguatkan pemahanman
tentang Penginderaan Jauh dengan menampilkan power point tentang materi teoritis penginderaan
jauh.
Kegiatan Inti
Kegiatan inti diawali dengan membagi kelas menjadi 6 kelompok dengan masing-masing
kelompok beranggotakan 5 siswa secara heterogen, dalam arti satu kelompok terdiri dari siswa yang
berkemampuan kognitif tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan hasil tes pada materi sebelumnya.
Setelah terbentuk kelompok, siswa mengambil posisi duduk sesuai kelompoknya dan mengerjakan
Lembar Kegiatan Siswa. Untuk lebih mendalami dan memahami materi penginderaan jauh, siswa
secara berkelompok mengamati dan menganalisis layer-layer yang telah disiapkan sebagai dasar
menganalisis gejala geografi, baik gejala fisik maupun gejala sosial. Awal kegiatan, siswa secara
serius tampak mengamati layer-layer yang diterima dan segera mendiskusikan dengan teman
sekelompoknya untuk menentukan fenomena yang akan dirumuskan.
Gambar4:Penyampaian materi
Gambar 5: Kegiatan interpretasi citra
876
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar6:Kegiatan presentasi
KegiatanPenutup
Rangkaian kegiatan pembelajaran materi Penginderaan jauh dan sistim informasi geografi pada siklus
2 telah dilalui, siswa tampak jauh lebih aktif dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan proses
pembelajaran pada siklus 1. Selanjutnya siswa diajak untuk menyimpulkan tentang langkah-langkah
menginterpretasi citra beserta manfaatnya dalam bidang kehidupan sehari-hari.
Refleksi
Kegiatan refleksi siklus 2 dilaksanakan sehari setelah kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Secara
umum observer menilai kegiatan pada siklus 2 jauh lebih baik daripada siklus 1,semua siswa turut
aktif dalam kegiatan pembelajaran.Masing-masing siswa secara bersama tampak aktif dalam
berdiskusi untuk mengidentifikasi obyek yang tergambar pada foto udara. Dari kegiatan pembelajaran
hari itu, diperoleh hasil tes yang cukup maksimal. Dari KKM 75 baru 27 siswa ( 90 % ) mencapai
nilai tuntas dan secara keaktifan siswa sudah cukup menggembirakan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama dua siklus, dan berdasarkan
seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa
sangat dipengaruhi oleh kesiapan dan model pembelajaran yang menstimulus siswa untuk turut aktif
berperan. Hal ini dibuktikan dengan perolehan hasil penilaian siswa yang tuntas mencapai 90 % atau
sebanyak 27 siswa dari 30 peserta didik.
Saran
Dari hasil penelitian dan pembahasan diatas, agar diperoleh proses belajar mengajar Geografi
yang lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran
sebagai berikut: 1) Untuk melaksanakan pembelajaran memerlukanpersiapan yang cukup matang,
sehingga guru harus mempu menentukan atau memilih topikyang benar-benar bisa diterapkan,
misalnya pembelajaran Geografidengan penerapan pembelajaranKoopratif model STAD dan dapat
diperoleh hasil belajar dan aktifitas belajar yang optimal, dan Dalam rangka meningkatkanminat dan
hasil belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagaimetode, walau dalam
taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukanpengetahuan baru, memperoleh
konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampumemecahkan masalah-masalah yang
dihadapinya.
DAFTAR RUJUKAN
Ahsan, Arfiyadi. 2012. Model Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD). Online:
modelpembelajarankooperatif.blogspot.com
Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
877
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Isjoni. 2009. Cooperatif Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfa Beta.
Kayanto, Frengki D. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions
(STAD) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS 1, SMA Negeri 1
Gondang, Tulungagung Pada Mata Pelajaran Geografi. Skripsi tidak diterbitkan.
Malang: Universitas Negeri Malang.
Kurniawan, Tony. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Student Team Achievement
Division (STAD) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPS dalam Materi
Lingkungan Hidup di SMA Negeri 9 Kupang Tahun Pelajaran 2013/2014. Skripsi
Misbahudholam, Muhammad. 2009. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams
Achievement Division (Stad)Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Geografi Siswa
Kelas XI-Ips 2 Semester 2 Man I Sumenep Pada Materi Menganalisis Pemanfaatan Dan
Pelestarian Lingkungan Hidup. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Munawwarah, dkk. 2015. Penerapan Model Pembelajaran Tipe STAD untuk Meningkatkan Motivasi
dan Hasil Belajar Siswa Kelas XIS-3 SMAN 3 Lau Maros (Studi pada Materi Pokok
Stoikiometri).
Jurnal
Online:
portal.fi.itb.ac.id/snips2015/files/snips_2015_proceedings_4379724828.pdf
Nikmah, Erlita Hidaya dkk. 2013. Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions
(STAD), Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Online: jurnalonline.um.ac.id/data/.../artikelE91D7FB9C21685AA36E47BE7A44B0CC7.pdf
Prayogi, Pio. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Student Teams Achievment Division
(STAD) Dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar IPS-Geografi Siswa Kelas VII-A
SMPN 2 Bangorejo Kabupaten Banyuwangi. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang:
Universitas Negeri Malang.
878
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
DENGAN METODE TANYA JAWAB KELAS XI IPS 2
MADRASAH ALIYAH NEGERI BATU
Sucipto
MAN Batu Jawa Timur
[email protected]
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui Metode Tanya Jawab sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa Dalam Kegiatan Belajar
Mengajar pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas XI IPS 2
MAN Batu. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dan dilakukan 2 siklus.
Penelitian ini dilaksanakan dengan jumlah siswa sebanyak 28 siswa. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan dengan langkah: tanya jawab, diskusi
kelompok, dengan materi demokrasi di Indonesia melalui metode tanya jawab, dapat
meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Siklus 1 dengan rata-rata nilai di bawah
KKM yaitu 60 dengan ketuntasan 50%, sedangkan dalam siklus ke dua rata-rata nilai di
atas KKM, yaitu 80. Ketuntasan secara klasikal sebesar 98%.
Kata Kunci: peningkatan, mendeskripsikan demokrasi, metode tanya jawab
Mata Pelajaran PPKN bertujuan untuk mengembangkanpeserta didik menjadi manusia yang memiliki
rasa kebangsaan dan cinta tanah air melalui proses menerima dan menjalankan ajaran agama yang
dianutnya dan memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun dan peduli serta percaya diri
(Kemendikbud, 2016).
Proses PBM ke 8, hari Jumat, 7 Oktober 2016 jam ke 1 dan 2 (06.45 – 08.15) Kompetensi
Dasar 3.3 dan 4.3. Dinamika demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, hasil pembelajaran
menunjukan sebagai berikut. Pertama, ketercapaian kurikulum atau ketuntasan belajar masih belum
terpenuhi. Hal ini terlihat dari 28 siswa yang dapat mencapai KKM 10 artinya siswa yang belum
tuntas 18 siswa. Kedua, keaktifan siswa masih rendah.Banyak faktor yang menyebabkan siswa tidak
semangat dan tidak aktif dalam PBM diantaranya materi, metode, dan sarana prasaran yang di
fasilitasi sekolah. Memperhatikan materi pembelajaran sebagai seorang guru harus pandai
menyesuaikan antara materi dan metode. Metode mana yang lebih cocok dipergunakan
menyampaikan materi pembelajaran tersebut? Tampaknya metode tanya jawab yang perlu
dipergunakan dalam proses belajar tersebut sehingga siswa dari belajar secara pasif menjadi aktif.
Atas dasar kelemahan pembelajaran tersebut diperlukan bagai mana cara memperbaiki hasil
belajar siswa, secara klasikal di kelas XI IPS -2. Dalam hal ini penulis ingin memilih dan
menentukan metode pembelajaran yang bisa membuat siswa lebih aktif dalam PBM sehingga target
kurikulum bisa tercapai. Dari hasil pemikiran yang sangat mendalam dan memperhatikan buku
rujukan terciptalah topik penelitian ‖Metode Tanya Jawab sebagai Upaya Meningkatkan Keaktifan
Siswa dalam Kegiatan Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas XI
IPS 2 Madrasah Aliyah Negeri Batu.
Metode Tanya jawab merupakan metode yang sudah tua sekali umurnya. Socrates (469 – 399
SM) seorang filosof Yunani menggunakan metode tanya jawab untuk berfilsafat. Selain metode tanya
jawab merupakan metode yang tertua, metode tersebut juga banyak digunakan dalam proses
pendidikan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah (Jusuf, 1985:22). Mengingat
kegiatan belajar – mengajar merupakan kegiatan yang sangat kompleks, maka hampir tidak mungkin
879
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
untuk menunjukkan dan menyimpulkan suatu metode belajar – mengajar tertentu lebih unggul
daripada metode belajar-mengajar yang lainnya dalam usaha mencapai semua tujuan oleh semua guru,
untuk semua murid, dan semua mata pelajaran, dalam semua kondisi (Muhaimin dkk., 1996:81–82 ).
Metode Tanya jawab banyak diterapkan dan dipakai pada pendidikan normatif adaptif dalam
hubungannya dengan materi pelajaran tersebut yang meliputi PPKN, sejarah, agama, sosiologi, dan
bahasa oleh karena itu metode Tanya jawab merupakan suatu metode mengajar yang sudah biasa
digunakan mengajar baik di dalam maupun di luar kelas.
Dengan penggunaan metode ini menjadi salah satu tawaran yang diperkenalkan bagaimana
keefektifan berbicara dapat diimplementasikan dalam keberanian bertanya dan menjawab, tidak hanya
ahli atau mahir dalam menjawab pertanyaan dalam bentuk tulisan. Inilah mengapa peneliti
menggunakan metode Tanya jawab dalam meningkatkan keaktifan siswa kelas XI khususnya kelas
IPS 2 MA Negeri Batu.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan metode observasi, dokumentasi, dan
interpretasi. Meliputi pengamatan dan observasi aktivitas siswa di kelas. Selain itu penggunaan
metode dokumentasi diaplikasikan dengan perwujudan beberapa dokumentasi dari bahan–bahan
tertulis dan hal–hal yang mendukung objektivitas penelitian.
Dari analisis data dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode Tanya jawab dapat
meningkatkan keaktifan, sikap keberanian, serta membantu memberikan daya dukung yang kuat bagi
siswa dalam pembelajaran PendidikanPancasila dan kewarganegaraan di kelas XI IPS 2 MAN Batu.
Dari latar belakang masalah seperti di atas, terdapat persoalan – persoalan yang perlu
dipertanyakan yaitu (1) bagaimana meningkatkan keaktifan siswa dengan metode tanya jawab dalam
kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas XI IPS 2 MAN Batu,
(2) bagaimana meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan dengan metode tanya jawab
di kelas XI IPS 2 MAN Batu?
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK), khususnya model Kurt
Lewin. Desain tindakan adalah model Kurt Lewin, yaitu meliputi 4 komponen (i) rencana (planning),
(ii) tindakan (acting), (iii) pengamatan (observing), dan (iv) refleksi berdasarkan hasil pengamatan
dan tindakan. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XI IPS-2 sejumlah 28 siswa (laki-laki 13,
perempuan 15). Datanya berupa skor siswa, catatan lapangan, dan dokumentasi. Data skor diperoleh
melalui tes subjektif (tes esai) dan tes objektif (jawaban singkat). Data catatan lapangan diperoleh
melalui pedoman observasi yang dilakukan oleh para pengamat (Ibu Rohani, S.Pd dan Ibu Dra
Latifah). Data dokumentasi diperoleh melalui teknik analisis dokumen. Analisis data dilakukan secara
kualitatif dan kuantitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus 1
Perencanaan Tindakan
Ada empat kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan: (1) menyusun rencana perbaikan
pembelajaran (RPP), (2) menyiapkan media pembelajaran, (3) mengembangkan alat evaluasi, dan (4)
mengembangkan lembar observasi. Kegiatan pertama yang peneliti lakukan berupa penyusunan RPP
dengan materi perkembangan demokrasi di Indonesia untuk 2 x pertemuan @ 45 menit di hari Jumat,
18 Oktober 2016 dan Jumat, 21 Oktober 2016. Indikator yang penulis jabarkan meliputi (a)
mengidentifikasi hakikat demokrasi, (b) mengidentifikasi makna demokrasi, (c) memerikan prinsip
demokrasi, (d) mengidentifikasi prinsip demokrasi Pancasila, (e) mengidentifikasi pelaksanaan
demokrasi liberal Indonesia, dan (f) mengidentifikasi pelaksanaan demokrasi terpimpin. Tujuan
pembelajaran siswa diharapkan dapat menjelaskan hakikat demokrasi, penerapan demokrasi di
880
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Indonesia dan pembangunan demokrasi untuk Indonesia ini gambaran rencana perbaikan
pembelajaran pertama. Dalam rencana perbaikan pembelajaran kedua memiliki indikator yang
berbeda meskipun kompetensinya sama, indikator yang peneliti maksudkan adalah demokrasi
Pancasila orde baru, demokrasi Pancasila masa reformasi, pentingnya kehidupan yang demokratis dan
perilaku sesuai dengan nilai – nilai demokrasi.
Rencana tindakan berikutnya menyiapkan media pembelajaran. Media pembelajaran meliputi
lembar kerja siswa, sajian materi dengan power point, dan slide lagu Gebyar-gebyar karya Gombloh
dan Hak Asasi Manusia karya Rhoma Irama. Dalam LKS berisi pertanyaan atau soal tentang (a)
hakikat demokrasi, (b) penerapan demokrasi di Indonesia, (c) demokrasi pada era Orde Lama, (d)
demokrasi pada era Orde Reformasi, serta (e) pelaksanaan demokrasi di masa depan.
Mengembangkan alat evaluasi merupakan perencanaan ketiga yang dilakukan peneliti. Alat
evaluasi telah diproyeksikan ke dalam dua pertemuan rencana perbaikan pembelajaran. Pada rencana
perbaikan pembelajaran satu dalam bentuk subjektif tes berjumlah lima pertanyaan masing-masing
memiliki bobot dan kualifikasi tingkat kesulitan yang berbeda. Naskah soal bernomor 1 dan 2
tergolong mudah dengan skor penilaian masing-masing 1, untuk nomor 3, 4 skor nilainya masingmasing 2, dan soal nomor 5 memiliki skor nilai 4. Total skor alat evaluasi rencana perbaikan
pembelajaran 1 sama dengan 10. Alat evaluasi pada rencana perbaikan pembelajaran pertemuan ke
dua dalam bentuk obyektif test berjumlah 10 pertanyaan bobot soal masing-masing mudah, yakni
satu (1).
Langkah keempat dalam persiapan adalah memilih lembar observasi. Lembar observasi berisi
tiga kolom, yakni (a) kejadian, (b) check, dan (c) catatan. Kolom kejadian berupa deskripsi (i)
konsentrasi siswa selama kegiatan dari pendahuluan, inti, dan penutup, (ii) tidak konsentasinya siswa
selama kegiatan dari pendahuluan, inti, dan penutup, (iii) manfaat pembelajaran, dan (iv) aspek yang
dipandang tidak perlu, atau ada dalam pembelajaran. Kolom check berisi pilihan yang harus dilakukan
pengamat dalam menentukan kejadian di dalam kelas. Check itu meliputi pilihan-pilihan berikut:
―semua-sebagian‖, serta ―ya-tidak‖. Dalam kolom catatan, pengamat diminta untuk mendeskripsikan
secara objektif apa yang terjadi di kelas, baik kegiatan siswa maupun kegiatan guru.
Dalam tahap ini peneliti membuat rencana tindakan untuk mempermudah pelaksanaan yang
mencakupi: (1) lokasi kelas XI IPS 2 MA Negeri Batu, (2) kegiatan dilakukan mulai tangga18
Oktober 2016, (3) subjek yang terlibat adalah guru peserta pembuatan artikel ilmiah dan didampingi
pembina pembuatan karya ilimiah dari APPPI di kelas XI IPS2 MAN Batu, (4) objek sekaligus
subjek dalam penelitian ini adalah siswa XI IPS 2 MAN Batu, (5) desain tindakan adalah model Kurt
Lewin.
Alat dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut: Alat yang digunakan: program
tahunan, program semester, silabus, RPP, dan hasil refleksi. Teknik pengumpulan data: observasi dan
dokumentasi Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui upaya penerapan metode tanya jawab
dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PPKN kelas XI
IPS 2 Madrasah Aliyah Negeri Batu, sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka
perlu sekali dirumuskan skenario tindakan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai pada evaluasi.
Himbauan dan motivasi kepada para siswa untuk membaca buku apa saja yang berkaitan dengan
materi pelajaran PPKN kelas XI sebagai persiapan untuk pertemuan minggu depan dalam rangka
penerapan metode tanya jawab dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dengan
memberikan himbauan dan motivasi kepada para siswa untuk membaca buku-buku PPKN kelas XI
maka siswa diharapkan dapat mengemukakan pendapat atau argumen mereka yang berkaitan dengan
mata pelajaran dan materi pembelajaran sehingga suasana kelas lebih hidup karena siswa dan guru
sama-sama aktif yang pada akhirnya terjadi hubungan timbal balik yang positif antara siswa dan guru
maupun siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.
Pelaksanaan Tindakan
881
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Dalam penelitian tindakan ini dilaksanakan selama 2 kali pertemuan tepatnya pada setiap hari
Jumat jam pelajaran ke-1 dan 2, untuk siklus pertama dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2016
dan 21 Oktober 2016. Adapun skenario tindakan yang akan dilakukan yaitu dengan menggunakan
bentuk kegiatan yang dilaksanakan selama dua kali pertemuan @ 2x45 menit adalah sebagai berikut:
Setelah prosedur awal tersebut dilaksanakan, maka peneliti tinggal menerapkannya di dalam kelas
sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Di sini peneliti akan menjabarkan hasil
penelitian selama kegiatan belajar mengajar yang dibagi menjadi dua siklus.Siklus pertama terdiri dari
pertemuan pertama, kedua yang membahas tentang materi perkembngan demokrasi di Indonesia.
Pada pertemuan pertama menggunakan media yakni media lembar kerja siswa (LKS) dan disertai
adanya tanya jawab, tanya jawab sendiri bertujuan untuk memberikan pemahaman awal bagi siswa
dari hal yang tidak dimengerti menjadi paham. Pertemuan pertama menggunakan LKS yang berisi
tentang soal/pertanyaan yang kemudian diberikan siswa untuk dikerjakan. Ketika siswa mengerjakan
soal, guru memonetor sehingga kerja siswa efektif dan efisien. Untuk memperkuat pemahaman siswa
mengenahi makna dan perkembangan demokrasi, siswa secara kelompok, siswa menyajikan dan
mengaktualisasikan hasil kerjanya, dalam bentuk jawaban pertanyaan secara tertulis maka terjadilah
dilogis tiga dimensi yaitu antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, kelompok siswa dengan
kelompok siswa yang lain. Secara faktual proses belajar dan mengajar di kelas hidup dan semarak.
Proses belajar dan mengajar diakhiri oleh guru dan disampaikan simpulan dialogis antara guru
dengan siswa, dan siswa dengan siswa serta ditambah dengan memutar lagu ―Demokrasi Pancasila‖
dari Haji Rhoma Irama. Fakta proses belajar dan mengajar di kelas XI IPS-2 Madrasah Aliyah Negeri
Batu Jalan Pattimura nomor 25 Kota Batu tampak terlihat pada gambar berikut di bawah ini.
Sedangkan untuk pertemuan kedua media yang digunakan adalah
Power point yang berisi tujuh pertanyaan, lagu gebyar-gebyar dari
seniman Gombloh dan lagu HAM dari Bang Haji Rhoma Irama.
pertanyaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai
dalam kompetensi dasar. Siswa bekerja secara kelompok sesuai
Gambar 1: Suasana belajar PKn
dengan yang sudah ditentukan, kemudian mengerjakan pertanyaan
yang berkaitan dengan materi tentang perkembangan demokrasi di Indonesia. Situasi dan kondisi
sesuai yang terlihat pada gambar sebagai berikut:
Pada dokumentasi ini menunjukan ada satu siswa yang sedang
mengaktualisasikan hasil kerja kelompok dengan antusias.
Sementara kelompok yang lain memperhatikan dengan penuh
konsentrasi karena memiliki rasa ingin tahu apa dan bagai
mana yang sedang di sajikan oleh kelompok tersebut. Dalam
situasi dan kondisi proses belajar dan mengajar seperti ini
profesionalisme seorang guru sangat dibutuhkan agar proses
dialogis antarkelompok debattebel dan akuntabel serta
memiliki nilai kebenaran secara teoretis dan akademis. Guru
tidak hanya sekadar memperhatikan jalannya dialogis tetapi harus melakukan pencatatan hal-hal yang
dianggap penting baik yang berkaitan dengan materi akademis maupun sikap siswa, sehingga KKM
dalam pencapaian target kurikulum dapat dipenuhi.
Refleksi
Refleksi dilaksanakan setelah pelaksanaan tindakan berlangsung. Refleksi dilakukan dalam
bentuk diskusi antara peneliti dengan guru pengamat. Yang didiskusikan adalah hasil postes yang
sudah dilaksanakan. Hasil refleksi merekomendasikan bahwa masih perlu ada tahap siklus II untuk
memperbaiki kualitas dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan. Selain itu, dari hasil
pengamatan juga disarankan kepada peneliti untuk memperbaiki kualitas proses belajar mengajar.
882
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Siklus Kedua
Perencanaan Tindakan
Ada empat kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan: (1) menyusun rencana perbaikan
pembelajaran (RPP), (2) menyiapkan media pembelajaran, (3) mengembangkan alat evaluasi, dan (4)
mengembangkan lembar observasi. Kegiatan pertama yang peneliti lakukan berupa penyusunan RPP
dengan materi perkembangan demokrasi di Indonesia untuk 2 x pertemuan @ 45 menit di hari Jumat,
18 Oktober 2016 dan Jumat, 21 Oktober 2016. Indikator yang penulis jabarkan meliputi (a)
mengidentifikasi hakikat demokrasi, (b) mengidentifikasi makna demokrasi, (c) memerikan prinsip
demokrasi, (d) mengidentifikasi prinsip demokrasi Pancasila, (e) mengidentifikasi pelaksanaan
demokrasi liberal Indonesia, dan (f) mengidentifikasi pelaksanaan demokrasi terpimpin. Tujuan
pembelajaran siswa diharapkan dapat menjelaskan hakikat demokrasi, penerapan demokrasi di
Indonesia dan pembangunan demokrasi untuk Indonesia ini gambaran rencana perbaikan
pembelajaran pertama. Dalam rencana perbaikan pembelajaran kedua memiliki indikator yang
berbeda meskipun kompetensinya sama, indikator yang peneliti maksudkan adalah demokrasi
Pancasila orde baru, demokrasi Pancasila masa reformasi, pentingnya kehidupan yang demokratis dan
perilaku sesuai dengan nilai – nilai demokrasi.
Rencana tindakan berikutnya menyiapkan media pembelajaran. Media pembelajaran meliputi
lembar kerja siswa, sajian materi dengan power point, dan slide lagu Gebyar-gebyar karya Gombloh
dan Hak Asasi Manusia karya Rhoma Irama. Dalam LKS berisi pertanyaan atau soal tentang (a)
hakikat demokrasi, (b) penerapan demokrasi di Indonesia, (c) demokrasi pada era Orde Lama, (d)
demokrasi pada era Orde Reformasi, serta (e) pelaksanaan demokrasi di masa depan.
Mengembangkan alat evaluasi merupakan perencanaan ketiga yang dilakukan peneliti. Alat
evaluasi telah diproyeksikan ke dalam dua pertemuan rencana perbaikan pembelajaran. Pada rencana
perbaikan pembelajaran satu dalam bentuk subyektif tes berjumlah lima pertanyaan masing-masing
memiliki bobot dan kualifikasi tingkat kesulitan yang berbeda. Naskah soal bernomor 1 dan 2
tergolong mudah dengan skor penilaian masing-masing 1, untuk nomor 3, 4 skor nilainya masingmasing 2, dan soal nomor 5 memiliki skor nilai 4. Total skor alat evaluasi rencana perbaikan
pembelajaran 1 sama dengan 10. Alat evaluasi pada rencana perbaikan pembelajaran pertemuan ke
dua dalam bentuk obyektif test berjumlah 10 petanyaan bobot soal masing-masing mudah, yakni satu
(1).
Langkah keempat dalam persiapan adalah memilih lembar observasi. Lembar observasi berisi
tiga kolom, yakni (a) kejadian, (b) check, dan (c) catatan. Kolom kejadian berupa deskripsi (i)
konsentrasi siswa selama kegiatan dari pendahuluan, inti, dan penutup, (ii) tidak konsentasinya siswa
selama kegiatan dari pendahuluan, inti, dan penutup, (iii) manfaat pembelajaran, dan (iv) aspek yang
dipandang tidak perlu, atau ada dalam pembelajaran. Kolom check berisi pilihan yang harus dilakukan
pengamat dalam menentukan kejadian di dalam kelas. Check itu meliputi pilihan-pilihan berikut:
―semua-sebagian‖, serta ―ya-tidak‖. Dalam kolom catatan, pengamat diminta untuk mendeskripsikan
secara objektif apa yang terjadi di kelas, baik kegiatan siswa maupun kegiatan guru.
Dalam tahap ini membuat rencana tindakan untuk mempermudah pelaksanaan yang
mencakup: (1) Lokasi kelas XI IPS 2 MA Negeri Batu, (2) Kegiatan dilakukan mulai tangga18
Oktober 2016, (3) Subjek yang terlibat adalah guru peserta pembuatan artikel ilmiah dan didampingi
pembina pembuatan karya ilimiah dari APPPI di kelas XI IPS2 MAN Batu, (4) Objek sekaligus
subjek dalam penelitian ini adalah siswa XI IPS 2 MAN Batu, (5) Desain tindakan adalah model Kurt
Lewin, yaitu meliputi 4 komponen: rencana (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing),
dan refleksi berdasarkan hasil pengamatan.
Alat dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut: Alat yang digunakan: program
tahunan, program semester, silabus, RPP, dan hasil refleksi.Teknik pengumpulan data: observasi dan
dokumentasi Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui upaya penerapan metode tanya jawab
883
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran PPKN kelas XI
IPS 2 Madrasah Aliyah Negeri Batu, sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka
perlu sekali dirumuskan skenario tindakan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai pada evaluasi.
Himbauan dan motivasi kepada para siswa untuk membaca buku apa saja yang berkaitan dengan
materi pelajaran PPKN kelas XI sebagai persiapan untuk pertemuan minggu depan dalam rangka
penerapan metode tanya jawab dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Dengan
memberikan himbauan dan motivasi kepada para siswa untuk membaca buku-buku PPKN kelas XI
maka siswa diharapkan dapat mengemukakan pendapat atau argumen mereka yang berkaitan dengan
mata pelajaran dan materi pembelajaran sehingga suasana kelas lebih hidup karena siswa dan guru
sama-sama aktif yang pada akhirnya terjadi hubungan timbal balik yang positif antara siswa dan guru
maupun siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.
Implementasi Tindakan
Siklus kedua terdiri dari pertemuan pertama, kedua yang membahas tentang materi
perkembangan demokrasi di Indonesia dengan pengembagan Elemen Demokrasi: Lembaga Tinggi
Negara, Partai Politik, Kelompok Kepentingan Pada pertemuan pertama menggunakan media yakni
media lembar kerja siswa( lks ) disamping itu sebelumnya ada tayangan aksi demo buruk selama
empat menit dan setelah tayangan berakhir diadakan aktualisasi tentang aksi demo tersebut dan
disertai adanya tanya jawab, tanya jawab sendiri bertujuan untuk memberikan pemahaman awal bagi
siswa dari hal yang tidak dimengerti menjadi paham. Pertemuan pertama menggunakan LKS yang
berisi tentang soal/pertanyaan yang kemudian diberikan siswa untuk dikerjakan. Ketika siswa
mengerjakan, guru memonitor selama 20 menit dan kemudian sajiakan anatar kelompok (kelompok 1
vs kelompok 2,3 vs 4, dan 5 vs 6) prosesi tanya jawab efektif.Kemudian diakhiri oleh guru dan
disampaikan simpulan dialogis antara guru dengan siswa. Fakta proses belajar dan mengajar di kelas
XI IPS-2 Madrasah Aliyah Negeri Batu Jalan Patimura nomor 25 Kota Batu tampak terlihat pada
gambar berikut di bawah ini.
Sedangkan untuk pertemuan kedua media yang
digunakan adalah Power point yang berisi lima
pertanyaan yang berkaitan perkembangan
demokrasi yang di fokuskan pada elemen
demokrasi yang berupa DPR RI, DPRD
TK.I,DPRD TK.II,serta DPR merupaka elemen
terbaik dalam demokrasi, tetapi sebelumnya
saya putarkan lagu dari Iwan Fals yang
berjudul surat buat wakil rakyat. pertanyaan
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam kompetensi dasar. Siswa bekerja secara
kelompok sesuai dengan yang sudah ditentukan, kemudian mengerjakan pertanyaan yang berkaitan
dengan materi Perkembangan Demokrasi di Indonesia. Situasi dan kondisi sesuai yang terlihat pada
gambar sebagai berikut:
Pada dokumentasi ini menunjukan ada satu siswa yang
sedang mengaktualisasikan hasil kerja kelompok dengan
antusias. Sementara kelompok yang lain memperhatikan
dengan penuh konsentrasi karena memiliki rasa ingin tahu
apa dan bagai mana yang sedang di sajikan oleh kelompok
tersebut.Dalam situasi dan kondisi proses belajar dan
mengajar seperti ini profesionalisme seorang guru sangat
dibutukan agar proses dialogis antar kelompok debattebel dan akuntabel serta memiliki nilai
kebenaran secara teoritis dan akademis. Guru tidak hanya sekedar memperhatikan jalannya dialogis
tetapi harus melakukan pencatatan hal-hal yang dianggap penting baik yang berkaitan dengan materi
884
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
akademis maupun sikap siswa, sehingga kreteria ketuntansan minimal (KKM) dalam pencapaian
target kurikulum dapat dipenuhi.
Refleksi
Sama dengan refleksi pada siklus I, revisi siklus II dilaksanakan dalam bentuk diskusi antara
peneliti dengan guru pengamat setelah pelaksanaan tindakan berjalan. Hasil pengamatan dari para
observer menunjukkan bahwa siswa sudah lebih bersemangat mengikuti pembelajaran dengan metode
tanya jawab. Hasil postes juga menunjukkan bahwa seluruh siswa sudah mencapai KKM sehingga
sudah tidak diperlukan lagi siklus selanjutnya.
PENUTUP
Simpulan
Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa penerapan metode tanya jawab dapat meningkatkan
keaaktifan siswa dalam KBM mata pelajaran PPKN kelas XI IPS 2 di MAN Batu. Hal ini dapat
dilihat dari peningkatan keaktifan siswa dalam KBM di kelas. Selanjutnya dapat diambil dari hasil
penelitian tindakan kelas tersebut suatu kesimpulan berikut. Pertama, dengan penerapan metode tanya
jawab, siswa kelas XI IPS 2 di MAN Batu lebih giat belajar, ini bisa dilihat ketika dalam KBM
mereka banyak bertanya atau mengemukakan pendapat. Kedua, dengan metode tanya jawab siswa
kelas XI IPS 2 MAN Batu dapat ikut aktif dalam KBM dan lebih berpikir kritis dari sebelumnya,
sehingga kelas terasa lebih hidup. Ketiga, dengan penerapan metode tanya jawab siswa kelas XI IPS 2
MAN Batu memberikan respon yang positif dan semangat dalam KBM, ini terlihat dengan tidak
adanya siswa yang mengantuk apalagi tidur seperti biasanya. Keempat, dengan penerapan metode
tanya jawab siswa kelas XI IPS 2 MAN Batu guru dan siswa mendapatkan pengalaman dan masukan,
karena dalam KBM kedunya saling mengungkapkan pendapat yang didapat dengan membaca dari
sumber-sumber yang berbeda. Meskipun demikian masih banyak kekurangan atau dampak negatif
dari metode tanya jawab tersebut).
Saran
Selaku penulis sekaligus peneliti dalam tindakan kelas, ada beberapa saran yang sifatnya
konstruktif yang bisa penulis berikan demi terwujudnya dan berkembangnya KBM di kelas, dalam hal
ini khususnya pelajaran PPKN. Adapun saran-saran yang penulis berikan adalah sebagai berikut.
Pertama, guru sebaiknya tidak monoton hanya menggunakan metode ceramah saja dalam
menyampaikan materi yang ber kena an dengan mata pelajaran PPKN, tetapi lebih baiknya diselingi
penggunaan metode tanya jawab. Kedua, dalam setiap pembelajaran PPKN perlu adanya pendekatan
metode, maupun teknik pembelajaran yang dapat menarik perhatian dan minat siswa yang hendaknya
telah dipersiapkan oleh seorang guru sebelum melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Ketiga,
agar para guru dapat memberikan motivasi kepada siswa agar dapat lebih aktif dalam KBM dengan
salah satu jalan yaitu penerapan metode tanya jawab sehingga di dalam kelas terasa lebih hidup dan
siswa akan lebih bersikap kritis dalam menanggapi suatu masalah).
DAFTAR RUJUKAN
Bahri Djamarah Syaiful Zain Azwan.1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajadisastra.
Jusuf. 1985. Metode-Metode Mengajar. Bandung: Angkasa.
Muhaimin, dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: CV Citra Media. N. K.
Roestiyah. 1986. Didaktik-Metodik. Jakarta: PT Bina Aksara.
Supeno Hadi. 1999. Pendidikan dalam Belenggu Kekuasaan. Magelang: Pustaka Paramedia.
885
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI
INTERPERSONAL DENGAN TEMAN SEBAYA MELALUI LAYANAN
INFORMASI DENGAN MENGGUNAKAN PERMAINAN PADA
SISWA KELAS XII BUSANA BUTIK 1 SMK NEGERI 1 BATU
Umi Sholikhah
SMK Negeri 1 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal dengan teman sebaya melalui layanan informasi dengan menggunakan permainan.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan
menggunakan 2 siklus. Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Batu dengan jumlah siswi
sejumlah 13 siswi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan bimbingan yang dilakukan
dengan langkah: Penjelasan materi dan tujuan serta melakukan kegiatan permainan yang
sesuai dengan materi dapat lebih meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa menjadi
lebih baik. Pada siklus I masih ada sekitar 15,38 % yang berada pada ketegori kurang
faham dan disiklus II sebanyak 100% siswa berada pada kategori faham.
Kata Kunci: Meningkatkan kemampuan, Layanan Informasi, Permainan
Manusia adalah merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan
dengan orang lain. Menurut Triyono (2014) manusia diciptakan dan ditakdirkan hidup didunia ini
tidak dapat menyendiri jauh dari orang lain. Manusia adalah makhluk sosial yang keterbatasan dan
kelemahan. Manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, misalnya: seorang
insinyur tidak dapat mengobati penyakit yang ada pada dirinya, yang dapat mengobati adalah dokter,
seorang pedagang juga perlu makan, padahal dia tidak pernah menanam padi. Petani perlu pakaian,
padahal dia tidak mampu membuat kain sendiri. Manusia dalam hidupnya saling membutuhkan dan
saling ada ketergantungan satu dengan yang lain.
Sebagai makhluk sosial maka manusia memerlukan komunikasi dengan orang-orang
disekitarnya. Komunikasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu
sendiri. Komunikasi itu sendiri menurut Triyono (2014) adalah proses penyampaian pesan dari
komunikator kepada kamunikan untuk mencapai tujuan tertentu.Dalam berkomunikasi kita bisa
menggunakan bahasa lisan atau bahasa isyarat. Komunikas memegang peranan yang sangat penting
dalam kehdupan manusia. Komunikasi itu sendiri tidak hanya berfungsi sebatas pertukaran informasi
atau pesan saja, tetapi lebih luas lagi sebagai kegiatan individu dan kelompok dalam kegiatan tukar
menukar data, fakta dan ide. Agar komunikasi dapat berlangsung efektif dan informasi yang
disampaikan oleh seorang komunikan dapat diterima dan difahami dengan baik, maka akan sangat
penting bagi seseorang untuk memiliki kemampuaan yang baik dalam berkomunikasi.
Siswa sebagai seorang yang berada pada masa remaja. Pada masa ini komunikasi merupakan
salah satu sarana untuk memperluas cakrawala sosial remaja.Dengan memperluas cakrawala sosial,
maka remaja akan menemukan bahwa komunikasi ataupun berbicara merupakan sarana penting
untuk memperoleh tempat dalam kelompok sebaya. Menurut Sugiyo (2005) komunikasi antar pribadi
yaitu merupakan komunikasi dimana orang-orang yang terlibat dalam komunikasi menganggap orang
lain sebagai pribadi dan bukan sebagai obyek disamakan dengan benda, dan komunikasi antar pribadi
merupakan pertemuan diantara pribadi-pribadi. Komunikasi Individu mampu membuat suasana
menjadi terbuka, memberikan dukungan kepada pihak yang sedang diajak berkomunikasi dan merasa
percaya diri untuk berkomunikasi dengan teman sebaya.
886
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Hasil dari penelitian Hartop (dalam Safaria, 2005) menegaskan bahwa anak dengan hubungan
sebaya yang buruk memiliki peluang yang lebih besar untuk mengalami gangguan neurotik dan
psikotik, gangguan tingkah laku, kenakalan, gangguan dalam perilaku seksual serta penyesuaian diri
dimasa dewasa. Sebaliknya anak dengan hubungan sebaya yang positif lebih matang dan mampu
menyesuaikan diri dimasa dewasanya. Hasil penelitian tersebut menegaskan pentingnya kemampuan
interpersonal bagi anak.
Remaja membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang tinggi agar mampu dan terampil
bergaul dengan teman sebayanya. Kecerdasan dalam berkomunikasi tidak dibawa sejak lahir, namun
diperoleh melalui proses belajar yang berkesinambungan. Remaja membutuhkan pelatihan dan
bimbingan untuk dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi sehingga nantinya diharapkan
dengan keterampilan yang dimiliknya akan membantu dalam kehidupan setelah dia keluar dari SMK.
Tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistim Pendidikan nasional, pasal 3 yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepasa
Tuhan YME, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
bertanggung jawab.‖ Sekolah sebagai lembaga formal juga bertanggung jawab untuk
mengembangkan keterampilan berkomunikasi siswa dengan berbagai macam cara, tapi jika dilihat
dari muatan kurikulum yang ada, pendidikan disekolah lebih ditekankan pada segi kognitif dan
ketrampilan produktif sehingga segi afektif kurang mendapatkan perhatian yang mencukupi.
Depdiknas (2003) teman adalah kawan, sahabat yang selalu menemani berbagai keadaan baik
sukar ataupun bahagia. Depdiknas (2003) mengemukakan pengertian sebaya yaitu sama umurnya,
sejajar atau seimbang contohnya bermain dengan teman satu kelasnya. Untuk dapat menyesuaikan diri
dengan teman sebayanya anak harus dapat berkomunikasi dengan baik sehingga dapat diterima
dikelompok sebayanya dan dengan adanya teman sebaya siswa dapat bercerita tentang masalahnya
secara leluasa dan bebas karena memiliki umur yang seusia sehingga pikiran dan pendapat mereka
cenderung sama sehingga membuat mereka merasa nyaman untuk saling berkomunikasi.
Siswa yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi antar teman sebaya akan mengalami
kesulitan untuk dapat menyesuaikan diri dengan teman sebaya dan lingkungannya. Apabila
kemampuan komunikasi dengan teman sebayanya terhambat maka akan dapat menyebabkan
terhambatnya pemenuhan tugas perkembangan selanjutnya.Terhambatnya kemampuan berkomunikasi
juga dapat menghambat prestasi belajar siswa, siswa yang kesulitan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan si SMK Negeri 1 Batu masih ada beberapa
siswa yang kurang memiliki keterampilan berkomunikasi. Dilihat secara umum rata-rata anak
memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Namun jika diperhatikan secara khusus atau secara
individual kemampuan secara individu berbeda-beda. Ada beberapa orang anak yang mengalami
kesulitan dalam berkomunikasi dengan teman sebaya. Kesulitan-kesulitan tersebut membuat
komunikasi antar teman sebaya kurang begitu efektif, hal ini terjadi karena siswa belum dapat
memenuhi faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi antar teman sebaya diantaranya
adalah keterbukaan, empati, dorongan atau dukungan dalam bekerjasama, perasaan positif dan
kesamaan.
Siswa kurang memiliki sikap terbuka terlihat dari siswa yang kurang aktif dalam bergaul
dengan teman sebaya, mereka lebih banyak diam dan menarik diri dari pergaulan, pendiam, malu
bertanya saat dia tidak mengetahui sesuatu. Tingkat empati siswa juga sedikit rendah hal ini juga bisa
dilihat dari sikap acuh tak acuh pada teman yang membutuhkan jika itu bukan kelompoknya,
demikian juga masih ada siswa yang masih mau menang sendiri dan tidak mau mendengarkan apa
yang dibicarakan teman yang lain, mereka masih tetap mempertahankan pendapatnya sendiri
meskipun itu bertentangan dengan pendapatnya. Apabila hal tersebut dibiarkan saja maka akan
menghambat proses perkembangan sosial remaja yang sudah pasti akan menghambat tugas
887
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
perkembangan selanjutnya sehingga anak tidak dapat berkembang secara maksimal baik secara fisik,
mental, intelektual dan sosial.
Untuk mengembangkan keterampilan komunikasi antar teman sebaya maka Sebagai seorang
guru Bimbingan dan konseling perlu kiranya ada upaya yang harus dilakukan untuk membuat para
siswa tersebut memiliki keterampilan komunikasi yang baik dan dengan cara yang menyenangkan.
Salah satu cara untuk membuat siswa memiliki keterampilan komunikasi adalah memberikan layanan
Informasi dengan menggunakan teknik diskusi dan permainan.
Bermain, khususnya permainan dalam komunikasi adalah aktifitas yang menyenangkan bagi
siswa, dan kemampuan komunikasi dengan teman sebaya akan dapat diperoleh melalui proses belajar,
karena tingkah laku tersebut merupakan hasil belajar.
Beberapa peneliti telah melakukan kajian tentang komunikasi, diantaranya Dono (2015),
Sulistinganah (2013), Wicaksono dan Naqiyah (2013), Fithriyana dan Sugiharto (2014). Dono (2015)
mengatakan bahwa bimbingan kelompok teknik permainan dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi interpersonal siswa kelas VII G SMP Negeri 2 Menganti. Sulinganah (2013) mengatakan
bahwa terdapat peningkatan kemampuan komunikasi antar teman sebaya pada siswa kelas V SD
Negeri 1 parakacanggah Banjarnegara, Wicaksono Galih dan Naqiyah Najlatun (2013) dalam
penelitiannya juga mengatakan bahwa dengan teknik bermain peran dalam bimbingan kelompok akan
dapat meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal siswa kelas X Multimedia SMK IKIP.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi dan kajian penelitian yang dilakukan maka penting
untuk melakukan penelitian yang terkait upaya meningkatkan kemampuan komunikasi Interpersonal
dengan teman sebaya melalui layanan Informasi dengan menggunakan permainan pada siswa kelas
XII busana butik SMK Negeri 1 Batu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Batu kelas XII Busana Butik 1 dengan jumlah 13
siswi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Tindakan Kelas. Model
Penelitian yang digunakan dalam Penelitian Tindakan kelas ini adalah model Spiral dari Kemmis dan
Mc.Taggrat. Menurut Akib (2006) menjelaskan tahap-tahap penelitian tindakan kelas yang
dilakukannya yaitu dimulai dengan tahap perencanaan tindakan, Tahap Pelaksanaan Tindakan, Tahap
Observasi serta tahap Refleksi. Adapun langkah-langkah pada tiap tahapan adalah sebagai berikut:
1) Pada tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan Tindakan ini yang dilakukan adalah merancang strategi pelaksanaan
layanan yang dituangkan dalam sebuah Rencana Pelaksanaan Layanan, mempesiapkan
fasilitas/sarana pendukung yang akan digunakan, menyiapkan cara merekam ataupun menganalisis
data serta melakukan simulasi pelaksanaan tindakan jika dipandang perlu.
2) Pada tahap Pelaksanaan Layanan
Pada Tahap Pelaksanaan Tindakan ini yang dilakukan adalah melaksanakan apa yang sudah
direncanakan di Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Konseling yang sudah dibuat pada
tahap perencanaan kedalam situasi kegiatan yang nyata
3) Pada TahapPengamatan
Pada tahap pengamatan ini kegiatan yang dilakukan adalah merekam ataupun mencatat segala
kegiatan yang terjadi selama tindakan kegiatan bimbingan kelompok sehingga akan nampak apa
yang terjadi dalam kelompok.
4) Pada tahap Refleksi
Pada tahap Refleksi ini yang dilakukan adalah menkaji apa yang telah dan atau yang tidak terjadi,
apa yag telah dihasilkan atau belum berhasil dituntaskan melalui tindakan perbaikan yang telah
dilakukan. Hasil dari refleksi ini akan digunakan untuk menetapkan langkah-langkah selanjutnya
dalam upaya mencapai tujuan penelitian tindakan kelas yang ditetapkan. Dengan kata lain refleksi
888
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
merupakan pengkajian terhadap keberhasilan dan kegagalan dalam mencapai tujuan sementara dan
untuk menentukan tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua siklus dengan 4 kali pertemuan untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal siswa dengan teman sebaya melalui Layanan
informasi dengan menggunakan permainan pada siswa kelas XII Busana Butik I SMK Negeri 1 Batu
Siklus I Pertemuan pertama
Perencanaan
Pada tahap perencanaan terdapat empat kegiatan yang dilaksanakan yaitu: (1). Menyusun
rencana Kegiatan Layanan Informasi Bimbingan dan Konseling. (2) menyiapkan media pembelajaran.
(3), mengembangkan lembar refleksi peserta didik. (4) mengembangkan pedoman observasi/
pengamatan proses kegiatan Peserta didik. Keempat kegiatan tersebut melibatkan rekan sejawat yang
sesama guru Bimbingan Konseling.
Dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan Informasi Bimbingan konseling ini guru
mengambil tugas perkembangan siswa yaitu agar siswa mampu mencapai kematangan gambaran dan
sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan tujuan
kompetensi siswa mampu berkomunikasi dan mampu bekerjasama dengan teman sebaya.
Media yang digunakan dalam pelaksanaan Layanan Bimbingan ini menggunakan media
Powerpoint yang digunakan untuk menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pelaksanaan layanan
bimbingan serta petunjuk pelaksanaan permainan, sedangkan Puzzle digunakan sebagai media dalam
mempraktekkan dan membelajarkan siswa dalam melatih kerjasama
Lembar refleksi peserta didik disusun untuk mengetahui seberapa besar daya serap siswa
dalam mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling, sehingga dari proses kegiatan siswa itu dapat
diketahui seberapa besar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pedomaan observasi disusun untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam mengikuti
proses pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Pedoman pengamatan ini disusun untuk
mengetahui (1). Partipasi siswa dalam kegiatan kelompok, (2) Keaktifan siswa dalam kegiatan
kelompok. (3) kemampuan siswa dalam mengeluarkan pendapat.
Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini dibagi dalam tiga tahap yaitu: (1) kegiatan pendahuluan.
(2) kegiatan inti. (3) kegiatan penutup.
Pada kegiatan pendahuluan langkah awal yang dilakukan guru adalah mengajak peserta didik
untuk berdoa bersama dengan tujuan agar peserta didik memiliki karakter bahwa setiap kegiatan harus
selalu diawali dengan berdoa. Setelah kegiatan berdoa guru menunjuk salah satu peserta didik untuk
memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah selesai menyanyikan lagu Kebangsaan
dilanjutkan dengan melakukan apersepsi dengan memberi pertanyaan pada siswa
Guru: manusia adalah makhluk sosial, maka dalam kehidupannya sehari-hari maka manusia selalu
membutuhkan orang lain. Dalam berhubungan dengan orang lain maka manusia melakukan
apa?
siswa: komunikasi bu.
guru:
nah agar komunikasi berjalan dengan efektif maka tentunya ada faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi komunikasi. Pada hari ini kita akan berbicara bagaimana agar komunikasi
dapat dapat berjalan dengan efektik.
889
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Pada kegiatan apersepsi semua peserta didik memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang
dijelaskan oleh guru. Pada kegiatan inti guru menerangkan sekilas tentang komunikasi dan tujuan
dari proses diadakannya bimbingan. Dengan disampaikannya tujuan kegiatan bimbingan diharapkan
peserta didik dapat mengambil pelajaran dari proses kegiatan bermain kemudian dilanjutkan dengan
menyuruh siswa untuk mulai membentuk kelompok menjadi 3 kelompok dengan cara menghitung
1,2,3 diulangi sampai semua siswa memperoleh kelompok. Setelah selesai membagi kelompok
kemudian siswa menata bangku dan berkelompok sesuai dengan nomor yang disebutkan oleh siswa
dan menempati tempat duduk yang sudah diatur oleh siswa, selanjutnya guru menjelaskan langkah
dalam melaksanakan kegiatan permainan dan membagikan puzzle ke masing-masing kelompok dan
memberikan batasan waktu 15 menit untuk menyelesaikan permainan puzzle. Guru mempersilahkan
siswa untuk memulai permainan, ketika siswa melakukan permainan puzzle, guru dengan dibantu
rekan sejawat mengobservasi proses kegiatan bermain yang dilakukan oleh siswa. Kegiatan bermain
yang dilakukan siswa nampak seperti pada gambar 1.
Gambar 1. Suasana siswa sedang melakukan kegiatan bermain
Dari hasil pengamatan seluruh kelompok bersemangat dalam melakukan kegiatan bermain
tersebut sampai selesai. Kelompok satu menyelesaikan menyusun puzzle urutan pertama namun ada
satu siswa yang tidak ikut mendiskusikan hasil refleksi dalam permainan. Urutan kedua dalam
penyelesaian puzzle adalah kelompok dua dan yang terakhir adalah kelompok tiga, langkah
selanjutnya adalah melakukan kegiatan refleksi secara lisan oleh siswa tentang pengalamanpengalaman yang didapat dari kegiatan kelompok tadi dengan memberikan pertanyaan terbuka pada
siswa sebagai berikut
Guru: Pengalaman apa yang anda dapatkan dari permainan kerjasama tersebut?
Siswa: lebih bisa menghargai orang lain,
Guru: Ada yang lain?
Siswa: satu masalah bila diselesaikan bersama akan cepat selesai
Guru : Bagus, ada yang lain lagi
Siswa: bisa lebih kompak bu,
Berdasarkan hasil dialog antara guru dan siswa nampak bahwa siswa mampu mengambil manfaat
dari proses permainan.
Pada kegiatan penutup langkah yang dilakukan adalah mengevalusi proses kegiatan
permainan dan membagikan lembar refleksi untuk diisi oleh siswa. Dalam proses pengisian lembar
refleksi siswa, guru memantau dari satu kelompok kekelompok lain untuk mengetahui apa ada siswa
yang merasa kesulitan dalam menjawab pertanyaan dan ternyata mereka dapat mengerjakan semua
pertanyaan tanpa kesulitan yang berarti dan setelah selesai mereka mengumpulkan lembar refleksi
890
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
yang sudah dikerjakan tadi dan guru menyimpulkan hasil pertemuan selama
mengkomunikasikan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
45 menit dan
Pengamatan
Kegiatan penelitian ini dibantu oleh satu orang teman sejawat untuk membantu melakukan
observasi. Kegiatan observasi yang dilakukan berkaitan dengan observasi keaktifan siswa,
keterlaksanan pembelajaran berdasarkan RPP yang sudah dirancang.
Hasil Observasi yang terkait dengan keaktifan siswa adalah sebagai berikut:karena siswa tidak
menggunakan tanda pengenal sehingga observer merasa kesulitan dalam mengamati keaktifan siswa,
observer belum dilengkapi dengan lembar pengamatan keterlaksanaan pembelajaran sehingga
observer hanya berbekal RPP dalam mengamati kesesuaian pembelajaran dengan RPL yang disusun.
Hasil pengamatan observer adalah sebagai berikut ; guru tidak melakukan presensi terhadap diri
peserta didik,
Refleksi
Hasil refleksi terhadap guru adalah pada langkah persiapan guru tidak melakukan presensi
terhadap diri peserta didik sehingga belum mengetahui secara pasti jumlah siswa yang mengikuti
tetapi dapat diatasi dengan menghitung jumlah hasi refleksi siswa yang lengkap sebanyak 13 orang
siswi, refleksi kedua adalah penyampaian materi bimbingan, guru menyampaikannya terlalu cepat,
sehingga masih ada siswa yang bertanya karena kurang jelas,solusinya adalah dalam menyampaikan
materi iramanya disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan untuk pengamatan yang dilakukan oleh
teman sejawat. Pengamat tidak bisa melakukan pengamatan secara maksimal karena tidak hafal nama
seluruh peserta didik sehingga perlu solusi untuk pertemuan selanjutnya guru membuat penomoran
menurut absen siswa yang nantinya nomor itu dibawa siswa sehingga memudahkan pengamat untuk
melakukan pengamatan.
Hasil refleksi terhadap siswa, pada umumnya siswa dapat mengikuti kegiatan layanan dengan
tertib, hanya saja pada waktu persiapaan guru salah dalam memakai kata-kata sosial dan individual
sehingga siswa ramai. Selain itu pada saat siswa menjawab lembar refleksi hanya ada satu siswa
yang pada saat mengerjakan lembar refleksi bekerja sendiri tapi guru tidak mengingatkan.
Hasil refleksi ini akan dipergunakan untuk perbaikan penyusunan Rencana Pelaksanaan
Pelayanan Bimbingan Konseling pada siklus I pertemuan yang kedua.
Siklus I pertemuan kedua
Persiapan
Pada tahap perencanaan terdapat empat kegiatan yang dilaksanakan yaitu: (1). Menyusun
Rencana Kegiatan Layanan Informasi Bimbingan dan Konseling. (2) menyiapkan media
pembelajaran. (3), mengembangkan lembar refleksi peserta didik. (4) mengembangkan pedoman
observasi atau pengamatan proses kegiatan Peserta didik. (5). Membuat penomoran siswa untuk
mempermudah tugas observer. Dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Layanan Informasi Bimbingan
konseling ini guru menngambil tugas perkembangan siswa yaitu agar siswa mampu mencapai
kematangan gambaran dan sikap tentang kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara dengan tujuan kompetensi siswa mampu berkomunikasi dan mampu bekerjasama dengan
teman sebaya.
Media yang digunakan dalam pelaksanaan Layanan Bimbingan ini menggunakan media
Powerpoint yang digunakan untuk menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pelaksanaan layanan
bimbingan serta petunjuk pelaksanaan permainan. Sedangkan untuk permainan menggunakan kertas
HVS kosong dan balpoint untuk menulis puisi berjalan yang fungsinya adalah untuk berlatih siswa
891
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
mengembangkan imajinasinya serta melatih siswa mengembangkan sikap empatinya terhadap
kelompok.
Lembar refleksi peserta didik disusun untuk mengetahui seberapa besar daya serap siswa
dalam mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling, sehingga dari proses kegiatan siswa itu dapat
diketahui seberapa besar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pedomaan observasi disusun untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam mengikuti
proses pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Pedoman observasi ini disusun untuk
mengetahui keaktifan siswa dalam kelompok.
Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini dibagi dalam tiga tahap yaitu: (1) kegiatan pendahuluan. (2)
kegiatan inti. (3) kegiatan penutup.
Pada kegiatan pendahuluan langkah awal yang dilakukan guru adalah mengajak peserta didik
untuk berdoa bersama dengan tujuan agar peserta didik memiliki karakter bahwa setiap kegiatan harus
selalu diawali dengan berdoa. Setelah kegiatan berdoa guru menunjuk salah satu peserta didik untuk
memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah selesai menyanyikan lagu Kebangsaan
dilanjutkan dengan melakukan apersepsi dengan memberi pertanyaan pada siswa seperti dialog
berikut ;
Guru: Pada pertemuan sebelumnya kita sudah membicarakan faktor kerjasama dalam
komunikasi. Hari ini kita akan membahas tentang empati.
Ada yang tahu apa empati itu?
siswa: ......
guru: Sebelum kita bermain perlu kiranya kita membahas apa itu empati dan mengapa kita
harus memiliki sikap empati terhadap teman.
Pada kegiatan apersepsi ini siswa mengikuti kegiatan dengan antusias terlihat dari sikap mereka
memperhatikan penjelasan guru dengan seksama.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan tentang empati serta contoh-contoh sikap yang
mencerminkan empati, serta tujuan kenapa kita harus memiliki sikap empati terhadap orang lain,
selanjutnya guru menyuruh siswa untuk membentuk 2 kelompok dengan cara berhitung 1, 2 sampai
semua siswa mendapatkan kelompok. Setelah selesai membagi kelompok kemudian siswa menata
bangku dan berkelompok sesuai dengan nomor yang disebutkan oleh siswa dan menempati tempat
duduk yang sudah diatur oleh siswa, selanjutnya guru menjelaskan langkah – langkah dalam
melaksanakan kegiatan permainan dan membagikan kertas HVS kosong ke masing-masing kelompok
dan memberikan batasan waktu 15 menit untuk menyelesaikan permainan membuat puisi berjalan.
Guru mempersilahkan siswa untuk memulai permainan, ketika siswa melakukan permainan menlis
puisi berjalan, guru dengan dibantu rekan sejawat mengobservasi proses kegiatan bermain yang
dilakukan oleh siswa.Kegiatan permainan puisi berjalan tampak pada gambar 2.
Gambar 2. suasana ketika siswa sedang melakukan kegiatan puisi berjalan.
892
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Dari hasil pengamatan kedua kelompok mereka kelihatan sangat antusias untuk segera
menyelesaikan penulisan puisi sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. Pada kelompok yang
Pertama terlihat beberapa orang terlihat tidak sabar melihat temannya yang berpikir agak lama
sehingga cenderung mendikte teman tersebut. sedangkan pada kelompok ke dua mereka lebih
kelihatan tenang menghadapi teman-temannya yang berpikir agak lama, mereka terlihat lebih
memahami kemampuan masing-masing teman, kedua kelompok menyelesaikan permainan ini dengan
waktu yang hampir bersamaan, kemudian dengan dilanjutkan dengan membacakan hasil puisi
masing-masing kelompok untuk mendapatkan masukan dari kelompok yang lain. langkah selanjutnya
adalah melakukan kegiatan refleksi secara lisan oleh siswa tentang pengalaman-pengalaman yang
didapat dari kegiatan kelompok tadi dengan memberikan pertanyaan terbuka pada siswa sebagai
berikut
Guru
: perasaan apa yang ada dalam hati anda tentang permainan ini ?
Siswa 1 : senang bu
Guru
: ada lagi
Siswa2 : Kadang geregetan melihat teman mikirnya lama bu
Guru
: Yang lain
Siswa 3 : kita kadang sulit mengendalikan diri untuk tidak mendikte teman yang berpikirnya
terlalu lama bu.
Guru
:berarti pelajaran apa yang kira-kira bisa kita ambil dari permainan ini.
Siswa 4 :kita harus belajar untuk bisa memahami orang lain bu
Guru
: Bagus, yang lain
Siswa 5 : Belajar sabar bu
Berdasarkan hasil dialog antara guru dan siswa nampak bahwa siswa mampu mengambil manfaat dan
manfaat dari materi permainan ini.
Pada kegiatan penutup ini langkah yang dilakukan adalah adalah mengevalusi proses kegiatan
permainan dan membagikan lembar refleksi untuk diisi oleh siswa. Dalam proses pengisian lembar
refleksi siswa, guru memantau dari satu kelompok kekelompok lain untuk mengetahui apa ada siswa
memperhatikan keterangan yang merasa kesulitan dalam menjawab pertanyaan dan ternyata mereka
dapat mengerjakan semua pertanyaan tanpa kesulitan yang berarti dan setelah selesai mereka
mengumpulkan lembar refleksi yang sudah dikerjakan tadi dan guru menyimpulkan hasil pertemuan
selama 45 menit dan mengkomunikasikan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
Pengamatan
Kegiatan penelitian ini dibantu oleh satu orang teman sejawat untuk membantu melakukan
observasi. Kegiatan observasi yang dilakukan berkaitan dengan observasi keaktifan siswa,
keterlaksanan pembelajaran berdasarkan RPL yang sudah dirancang.
Hasil Observasi yang terkait dengan keaktifan siswa adalah sebagai berikut:Kegiatan
observasi tidak bisa dilaksanakan secara maksimal karena observer juga sedang ada kegiatan lain
sehingga tidak bisa fokus dengan kegiatan penelitian yang sedang dilakukan. Hasil pengamatan
observer terhadap keterlaksanaan kegiatan layanan bimbingan adalah hendaknya posisi tempat duduk
tidak melingkar karena dengan posisi seperti itu kecenderungan siswa yang berpikir agak lama akan
didikte oleh teman-temannya yang mempunyai kemampuan yang lebih.
Refleksi
Hasil refleksi terhadap proses layanan bimbingan adalah pengamat yang melakukan pengamatan lebih
dari satu orang sehingga hasil pengamatan bisa lebih maksimal dan akan lebih obyektif sesuai dengan
893
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
kondisi yang sesungguhnya. Untuk posisi duduk kelompok pada pertemuan selanjutnya akan dibuat
berbaris sejajar sehingga kecil kemungkinan siswa yang satu mendikte siswa yang lain.
Hasil refleksi terhadap siswa pada siklus 1 ini pada umumnya siswa dapat mengikuti kegiatan layanan
dengan tertib dan dari 13 siswa yang mengikuti kegiatan layanan bimbingan ini hanya ada 2 orang
siswa atau sekitar 15 % yang masuk dalam kategori kurang memahami materi sedangkan selebihnya
sebanyak 11 siswa atau sekitar 85 % sudah memahami materi yang diberikan, padahal layanan
bimbingan ini dikatakan berhasil apabila seluruh siswa yang mengikuti ayanan bimbingan dalam
kategori faham. Oleh karena itu penelitian tindakan layanan bimbingan ini perlu dilanjutkan pada
siklus ke 2.
Siklus II Pertemuan pertama
Persiapan
Pada tahap perencanaan terdapat empat kegiatan yang dilaksanakan yaitu:(1). Menyusun
rencana kegiatan Layanan bimbingan konseling. (2) menyiapkan media Layanan. (3) Mengembangkan Instrumen. (4) Menyiapkan pedoman observasi. Keempat kegiatan tersebut melibatkan rekan
sejawat yang sesama guru bimbingan konseling.
Media yang digunakan dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling adalah dengan
menggunakan powerpoint yang digunakan untuk menjelaskan tentang kompetensi dasar dan tujuan
pelaksanaan layanan bimbingan serta petunjuk pelaksanaan permainan, sedangkan untuk
permainannya menggunakan kertas HVS kosong dan balpoint untuk menuliskan hal-hal tentang diri
siswa terutama yang jarang diketahui oleh orang lain, hal ini bertujuan untuk melatih keterbukaan
siswa.
Pedoman observasi disusun untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses
pelayanan bimbingan konseling. Pedoman obsrvasi ini untuk mengetahui keaktifan siswa dalam
kegiatan kelompok.
Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan ini dibagi dalam tiga tahap yaitu: (1) kegiatan pendahuluan.
(2) kegiatan inti. (3). Kegiatan penutup.
Pada kegiatan pendahuluan langkah awal yang dilakukan adalah mengajak peserta didik untuk
berdoa bersama dengan tujuan agar masing-masing peserta didik memiliki karakter bahwa disetiap
kegiatan harus selalu diawali dengan doa. Setelah melakukan kegiatan pentingnya doa bersama
kegiatan dilanjutkan dengan membina hubungan dengan siswa serta melakukan apersepsi dengan
kegiatan tanya jawab dengan siswa. Pada kegiatan apersepsi ini siswa mengikuti kegiatan dengan
antusias terlihat dari sikap mereka yang secara sungguh-sungguh memperhatikan penjelasan guru.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan tentang keterbukaan dalam komunikasi dengan teman
sebaya serta tujuan kenapa kita harus terbuka serta memberi contoh-contoh real yang terjadi
masyarakat. Selanjutnya guru menjelaskan langkah-langkah permainan siapa saya dan selanjutnya
membagikan kertas HVS kosong kepada siswa dan memberikan batasan waktu 15 menit untuk
menuliskan 3 hal yang berkaitan dengan diri individu yang terutama hal-hal/peri stiwa yang kurang
diketahui oleh orang lain. Guru mempersilahkan siswa untuk memulai menulis hal-hal yang
berhubungan dengan dirinya, ketika siswa sedang sibuk mengerjakan tugasnya, guru membantu rekan
sejawat melakukan observasi terhadap siswa dan membantu siswa yang kesulitan dalam mengerjakan
tugasnya.Setelah siswa menyelesaikan tugasnya guru menyuruh siswa untuk melipat
hasilpekerjaannya dan mengumpulkan dalam wadah yang sudah disediakan. Kemudian mengambil
satu untuk dibaca. Guru menanyakan pada siswa satu persatu untuk mengenali siapakah pemilik
tulisan, demikian seterusnya.
894
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Dari hasil pengamatan perindividu diantara 13 siswa telihat 2 orang yang agak kesulitan
dalam mengerjakan tugas yang diberikan, hal ini bisa dilihat dari waktu yang sudah berjalan 5 menit
tapi kertasnya masih kosong belum ada coretan apapun sehingga guru mendekati dan membantu
mengarahkan siswa tersebut. Setelah waktu 15 menit selesai, hampir semua siswa menyelesaikan
tugasnya dan hanya satu orang yang sedikit lambat dalam menyelesaikan tugasnya. Pada pertemuan
kedua ini guru tidak mengadakan refleksi karena waktunya kurang dan tidak semua tulisan siswa yang
dibacakan tapi hanya milik 6 orang siswa.
Pada kegiatan penutup, guru hanya menyimpulkan hasil pertemuan selama 45 menit dan
mengkomunikasi kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan selanjutnya.
Pengamatan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh pengamat diperoleh hasil yang pertama pada
apersepsi terlalu panjang karena banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh siswa sehingga dalam
pembahasan tidak selesai semuanya.
Hasil pengamatan yang berkaitan dengan keaktifan siswa adalah sebagai berikut: ada dua
orang yang agak terlambat mengerjakan karena kedua siswa tersebut duduknya berdekatan sehingga
kedua siswa tersebut berbicara diluar konteks.
Refleksi
Hasil refleksi yang dilakukan adalah pertama pada apersepsi yang terlalu panjang karena
banyaknya siswa yang bertanya sehingga memakan waktu yang agak panjang maka langkah yang
dibisa dilakukan adalah dengan menampung semua pertanyaan siswa terlebih dahulu, untuk
pertanyaan yang sama digabung jadi satu.Hasil pengamatan observer terhadap proses kegiatan
bimbingan konseling juga perlu memperhatikan jarak tempat duduk antar siswa sehingga dengan
begitu siswa tidak ada peluang untuk berbicara diluar konteks.
Siklus II Pertemuan kedua
Persiapan
Pada tahap perencanaan terdapat empat kegiatan yang dilaksanakan yaitu:(1). Menyusun
rencana kegiatan Layanan bimbingan konseling. (2) menyiapkan media Layanan. (3) Menyiapkan
Instrumen. (4) Menyiapkan pedoman observasi. Keempat kegiatan tersebut melibatkan rekan sejawat
yang sesama guru bimbingan konseling.
Media yang digunakan dalam pelaksanaan layanan bimbingan konseling adalah dengan
menggunakan powerpoint yang digunakan untuk menjelaskan tentang kompetensi dasar dan tujuan
pelaksanaan layanan bimbingan serta petunjuk pelaksanaan permainan, sedangkan untuk
permainannya menggunakan beberan simulasi yang bertujuan untuk melatih siswa mengemukakakan
pendapatnya dan membelajarkan siswa yang lain untuk menghargai pendapat teman yang berbeda
dengan dirinya.
Lembar refleksi peserta didik disusun untuk mengetahui seberapa besar daya serap siswa
dalam mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling, sehingga dari proses kegiatan siswa itu dapat
diketahui seberapa besar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pedomaan observasi disusun untuk mengetahui keaktifan peserta didik dalam mengikuti
proses pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. Pedoman observasi ini disusun untuk
mengetahui keaktifan siswa dalam kelompok.
Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan dibagi dalam tiga tahap yaitu: (1) Kegiatan pendahuluan.
(2) Kegiatan inti. (3) kegiatan penutup.
895
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Pada tahap pendahuluan, langkah pertama yang dilakukan oleh guru adalah mengajak siswa
untuk melakukan doa bersama dilanjutkan dengan mengabsensi siswa dengan menyebutkan nama
mereka satu persatu. Langkah selanjutnya adalah melakukan apersepsi dengan menjelaskan kegiatan
hari ini dan tujuan dilakukannya kegiatan ini sehingga dengan begitu siswa memahami tujuan belajar
yang akan dilakukan pada pertemuan ini.
Pada kegiatan inti, guru menjelaskan tentang sikap menghargai orang lain dan tujuan kenapa
kita harus belajar menghargai orang lain .Selanjutnya guru menjelaskan kegiatan ini akan dilakukan
dengan melalui suatu permainan simuasi. Langkah selanjutnya adalah guru menginstruksikan pada
siswa untuk membentuk 2 kelompok dengan cara menghitung 1 dan 2 sampai semua siswa
mendapatkan kelompok. Setelah siswa selesai membagi kelompok kemudian siswa bergabung dengan
kelompoknya masing-masing setelah itu guru menjelaskan langkah-langkah dalam melaksanakan
kegiatan simulasi dan memulai kegiatan dengan meminta perwakilan kelompok untuk melempar
dadu dan membaca perintah yang ada dalam beberan simulasi, dan kelompok yang ke dua
memberikan pendapatnya, hal ii dilakukan secara bergantian antara kelompok 1 dan 2 sampai selesai.
Dari hasil pengamatan, kelompok pertama kelihatan agak lama dalam mengemukakan
pendapatnya, mereka harus mendiskusikan dulu jawabannya dengan anggota kelompok yang lain
sedangkan pada kelompok ke dua mereka begitu kelihatan siap dalam melaksanakan proses pelayanan
bimbingan.
Pada kegiatan penutup, langkah yang dilakukan adalah mengevaluasi proses kegiatan
pelayanan bimbingan konseling dengan teknik permainan dan membagikan lembar refleksi untuk
diisi oleh siswa, setelah pengisian selesai guru mengumpulkan lembar refleksi siswa untuk dianalisa
serta mengakhiri pertemuan dengan merangkum hasil kegiatan yang sudah dilakukan selama 45
menit tadi.
Pengamatan
Kegiatan penelitian ini dibantu oleh satu rekan sejawat yang membantu dalam melakukan
observasi baik terhadap diri siswa ataupun keterlaksanaan pelayanan bimbingan konseling
berdasarkan Rencana pelaksanaan layanan bimbingan konseling yang sudah dirancang sebelumnya.
Hasil observasi yang terkait dengan siswa adalah dalam proses pelaksanaan layanan
bimbingan pada kelompok satu kelihatan agak lama dalam menjawab karena ternyata mereka tidak
memahami pertanyaan yang tertulis dibeberan simulasi.
Refleksi
Hasil refleksi terhadap proses layanan bimbingan adalah adanya satu kelompok yang agak
lama karena mereka kurang memahami pernyataan yang ada dibeberan sehingga untuk selanjutnya
perlu perbaikan dengan menggunakan bahasa yang lebih operasional lagi sehingga dengan begitu
siswa tidak merasa kesulitan dalam memahami pernyataan ataupun pernyataan yang tertera dalam
beberan simulasi
Hasil refleksi terhadap siswa pada siklus 2 ini mengalami kenaikan, kalau pada siklus yang
pertama ada sekitar 2 orang yang masuk kategori kurang faham atau sekitar 15% namun pada siklus
ke 2 ini seluruh siswa sebanyak 13 orang atau sekitar 100% masuk dalam kategori faham.Karena
indikator keberhasilan penelitian sudah tercapai maka penelitian dihentikan pada siklus ke 2
Sehingga bisa dikatakan bahwa dengan melalui layanan informasi menggunakan permainan ini dapat
meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal dengan teman sebaya.
PENUTUP
Simpulan
Tingkaat kemampuan berkomunikasi interpersonal antar teman sebaya pada siswa kelas XII
Busana Butik 1 dapatd ditingkatkan melalui layanan Informasi dengan menggunakan permainaan,,
896
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
hal ini dapat dilihat ada saat siswa berada disekolah baik ketika ada diluar kelas ataupun didalam
kelas pada saat pelaksanaan layanan bimbingan dengan makin baiknya kerjasama antar siswa,
perasaan empati dengan teman yang lain, sikap penghargaan yang semakin baik terhadap teman yang
lain serta sikap keterbukaan dengan teman sebaya dalam kelas.
Terdapat peningkatan pemahaman siswa setelah diberikan tindakan yang pada awal siklus
pertama masih terdapat 15,38 % siswa yang bekategori kurang faham dan meningkat pada siklus ke 2
yaitu 100 % semua siswa berada dalam kategori faham.
Saran
Untuk media yang berupa permainan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan siswa dan
akrab dalam kehidupan siswa sehingga pada saat membaca masalah dipermainan mereka bisa
langsung memahami perintah apa yang dimaksudkan dalam permainan tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Triyono dan Mastur. 2014. Materi Layanan Klassikal Bimbingan Konseling Bidang Bimbingan
Sosial. Penerbit Paramitra Publishing.
Sugiyo. 2015. Komunikasi Antar Pribadi. Semarang: UNNES Press
Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sutinganah. 2013. Meningkatkan kemampuan komunikasi antar teman sebaya menggunakan
Bimbingan Kelompok berbasis permainan pada siswa kelas V di SD Negeri 1 Parakacanggah
Kabupaten Banjarnegara Tahun 2012/2013. Skripsi.Universitas Negeri semarang
Wicaksono, Galih dan Naqiyah, Najlatun. 2013. Penerapan Teknk bermain Peran dalam Bimbingan
Keompok Untuk meningkatkan kemampuan Komunikasi Interpersonal Siswa Kelas X
Multimedia SMK IKIP Surabaya. Jurnal Mahasiswa Bimbingan Konseling. Volume 1 Nomer
1 Tahun 2013, pp 61-78 Januari 2013
Sugiharto, Dwi dan Fithriyana, Arina. 2014. Bimbingan Kelompok Dengan Teknik Permainan
Simulasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Antar Pribadi Siswa. Jurnal
Bimbingan Konseling 3 (2)(2014).
Dono, Oki. 2016. Penerapan bimbingan kelompok teknik permainan untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi interpersonalsiswa SMP Negeri 2 Menganti.Jurnal Bimbingan Konseling
Unesa/Vol. 6 no. 3
Malahayati, Tendi Khrishna Murti. 2012. 50 Permainan Edukatif Untuk mengembangkan Potensi &
Mental Positif. Penerbit P.T Citraaji Permana.
Akib, Z.2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung. Yama Widya
Prayitno & Amti, Erman. (20104). Dasar-Dasar BK. Jakarta: Rineka Cipta
Purwoko, Budi. (2008). Organisasi dan Managemen Bimbingan Konseling. Surabaya: Unesa
University Press.
Tim Pengembang MKDK IKIP Semarang. (1993). Bimbingan Konseling Sekolah. Semarang: IKIP
Semarang Press
Munadi, Yudhi. Media Pembelajaran Sebuah pendekatan Baru.Penerbit. Gaung Persada Press.2010
Safaria, T. 2005. Interpersonal Inteligence: metode pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak.
Yogyakarta: Amara Books
Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Diterjemahkan oleh Maulana Agus. Jakarta:
Profesional Books.
Supratiknya, 2000. Komunikasi Antar Pribadi Pendidikan Psikologis. Jakarta: Kanisius
897
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI
MATERI KETIMPANGAN SOSIAL DENGAN PEMBELAJARAN
KOOPERATIF TEAM GAME TURNAMENT (TGT)
Yayuk Harumiwati
SMA Negeri 1 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar siswa dengan pembelajaran
kooperatif tipe TGT yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus pada kelas XII IPS 5 SMA
NEGERI 1 Batu. Masing-masing siklus terdiri dari tahapan: perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan
dengan langkah-langkah: menjelaskan materi, diskusi kelompok, turnamen, penilaian dapat
meningkatkan hasil belajar siswa materi ketimpangan sosial.
Kata kunci: Team Game Turnamen (TGT), peningkatan hasil belajar
Berdasarkan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1
menyebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta kterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan
menengah atas menyebutkan bahwa melalui mata pelajaran Sosiologi peserta didik diarahkan untuk
dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggungjawab, serta warga dunia yang
cinta damai (Permendiknas No.22 Tahun 2006:162).
Sosiologi merupakan mata pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial masyarakat yang
diseleksi dengan menggunakan konsep-konsep ilmu sosial yang digunakan untuk kepentingan
pembelajaran. (Depdiknas: 2007). Tujuan mata pelajaran Sosiologi yang termuat dalam kurikulum
tingkat satuan pendidikan adalah agar peserta didik mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan
kehidupan masyarakat serta lingkungannya. Tujuan mata pelajaran ini tampak dari dua kompetensi
dasar yang ingin dicapai, yaitu kompeten dalam berpikir logis dan kritis, dan kompeten dalam
berkomunikasi, bekerjasama dan mampu berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk ditingkat
lokal, nasional, maupun global. Ruang lingkup mata pelajaran Sosiologi meliputi aspek-aspek (1)
manusia, tempat, dan lingkungannya, (2) waktu, keberlanjutan, dan perubahan, (3) sistem sosial,
budaya, dan (4) perilaku ekonomi dan kesejahteraan (KTSP:2006). Konsep-konsep yang disajikan
dalam KTSP tersebut dapat merubah kehidupan masyarakat serta lingkungannya sesuai dengan
tujuannya (Sapriya 2012:12). Mengacu pada tujuan pembelajaran Sosiologi, maka diperlukan
pembelajaran yang dapat membuat peserta didik yang aktif berpartisipasi dalam pembelajaran
sosiologi dengan menarik minat dan motivasi dalam diri peserta didik sehingga mampu memiliki
pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai sesuai dengan tujuan pembelajaran sosiologi.
Kenyataannya, pembelajaran Sosiologi di kelas XIIIPS-5 SMA Negeri 1 Batu masih belum
sesuai harapan. Setelah peneliti melakukan refleksi melalui data observasi, catatan lapangan, dan data
dokumen bersama kolaborator didapatkan permasalahan mangenai kualitas pembelajaran Sosiologi
yang masih rendah di kelas XII IPS-5 SMA Negeri 1 Batu. Permasalahan-permasalahan yang muncul
menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran Sosiologi diantaranya adalah guru yang masih kurang
dalam mengembangkan minat dan motivasi peserta didik dengan memberikan model pembelajaran
898
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
inovatif disertakan pemakaian berbagai macam media yang mendukung pada setiap proses
pembelajaran. Pembelajaran juga masih terpusat pada guru sehingga peserta didik belum mampu aktif
dalam pembelajaran Sosiologi di kelas XII IPS -5. Kurangnya penggunaan model-model
pembelajaran yang variatif dan penggunaan media yang menarik pada pembelajaran Sosiologi juga
menyebabkan rasa kerja sama dan tanggung jawab peserta didik belum tercipta pada pembelajaran
Sosiologi. Partisipasi peserta didik yang masih rendah juga merupakan permasalahan yang perlu
dipecahkan untuk menarik peserta didik agar lebih aktif dalam pembelajaran dikelas XII IPS -5 SMA
Negeri 1 Batu.
Permasalahan tersebut didukung hasil belajar Sosiologi kelas XII IPS -5 yang masih kurang
optimal. Terbukti pada hasil tes formatif materi ketimpangan sosial sebagai dampak perubahan sosial
ditengah globalisasi masih rendah. Karena itu upaya perbaikan pembelajaran harus segera dilakukan.
Berdasarkan refleksi awal peneliti dan rendahnya nilai hasil tes formatif perbaikan pembelajaran
difokuskan pada penerapan pembelajarn kooperatif. Kajian pembelajaran kooperatif telah dilakukan
oleh beberapa peneliti (Hikmah, 2013; Masdalifah, 2013). Hikmah (2013) menyatakan pentingnya
pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Masdalifah (2013) menemukan
bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa siswa
pembelajaran kooperatif Team Game Turnamen (TGT).
Penerapan pembelajaran TGT telah dikaji oleh beberapa peneliti (Fajri, 2015; Nurwito, 2013).
Fajri (2015) menemukan bahwa pembelajaran kooperatif TGT dapat meningkatkan hasil belajar
peserta didik. Nurwito (2015) melakukan penelitian menggunakan pembelajaran kooperatif TGT
untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dari beberapa penelitian pembelajaran kooperatif tersebut,
penelitian ini mengangkat penerapan TGT untuk meningkatkan hasil belajar materi ketimpangan
sosial pada siswa kelas XII IPS 5 SMAN 1 Batu.
METODE
Rancangan penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), dengan harapan
dapat memperbaiki pembelajaran. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam dua siklus,masing-masing
siklus memuat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Tahap perencanaan
dilakukan kegiatan penyusunan RPP, lembar kerja siswa, media dan penilaian. Tahap pelaksanaan
pembelajaran dilakukan dengan mempraktikkan pembelajaran TGT di kelas sekaligus diobservasi
oleh teman sejawat. Kegiatan refleksi dilakukan bersama teman sejawat dengan mengevaluasi
keterlaksanaan pembelajaran dan perbaikan yang akan dilakukan untuk siklus 2.
Siklus I dilakukan pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2016. Siklus II dilaksanakan pada tanggal
10 dan 11 November 2016. Penelitian ini dilakukan di kelas XII IPS-5 di SMA Negeri 1 Batu dengan
jumlah siswa 30 orang. Data penelitian dianalisis secara kualitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus 1
Perencanaan
Pada tahap perencanaan kegiatan pembelajaran berikut (1) guru menyusun rencana perbaikan
pembelajaran, (2) menyiapkan perangkat penilaian, (3) mempersiapkan media, dan (4)
mempersiapkan lembar observasi peserta didik. RPP disusun untuk KD 3.1.1 ―menganalisis
ketimpangan sosial akibat dari perubahan sosial di tengah-tengah globalisasi‖. Dari KD tersebut
dikembangkan dua indikator: (a) mengidentifikasi ketimpangan sosial di Indonesia, serta (b)
mendeskripsikan pemecahan dan solusi ketimpangan sosial di Indonesia. Rencana perbaikan
pembelajaran (RPP) yang disusun mengacu pada sintaks yang mengandung team game tournament.
Perangkat penilaian soal penilain berupa subjektif tes sejumlah 5 soal dilengkapi dengan
kunci jawaban dilengkapi berupa paparan, dan pilihan ganda sejumlah 50 soal dilengkapi dengan
899
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
kunci jawaban. Media pembelajaran berupa soal-soal untuk permainan team game tournament, soalsoal ini dikemas dalam bentuk kotak-kotak yang dikerjakan secara kelompok. Lembar observasi berisi
point-point tentang fenomena-fenomena menarik yang disajikan guru beserta penyebab yang
menimbulkan masalah, tampak pada saat kegiatan inti mengamati diskusi konsentrasi peserta didik.
Pelaksanaan Tindakan
Pembelajaran kooperatif TGT dilakukan dalam tiga kegiatan: pendahuluan, inti, dan penutup.
Kegiatan pendahuluan dilakukan dengan menggali pengetahuan awal siswa untuk belajar materi
ketimpangan sosial dengan melakukan dialog seperti berikut.
Guru
: Apa yang anda ketahui tentang ketimpangan sosial anak-anak?
Siswa
: Ketimpangan kesenjangan atau ketidaksamaan akses untuk mendapatkan
atau memanfaatkan sumber daya yang berupa kebutuhan primer seperti
pendidikan, kesehatan perumahan dan peluang kerja.
Guru
: Apa penyebab ketimpangan sosial?
Siswa
: Tidak adanya kemauan/pasrah/patah semangat (fatalisme), rendahnya
tingkat aspirasi, tingkat kompromis yang menyedihkan dan lain-lain.
Dari dialog tersebut, nampak bahwa siswa sudah memiliki pengetahuan awal. Atas dasar itu,
pembelajaran dapat dilanjutkan untuk tahap selanjutnya.
Kegiatan dilanjutkan ke kegiatan inti, di mana guru memberikan tugas kepada siswa untuk
didiskusikan. Adapun cuplikan tugas disajikan seperti berikut. Guru menyiapkan RPP terlebih dahulu,
dilanjutkan menerangkan melalui PPT dan memberikan penjelasan secukupnya, lalu membagi 5
kelompok masing-masing kelompok di sediakan 15 soal dalam amplop dengan soal yang sama lalu
mengambil satu demi satu dan didiskusikan dalam kelompok dan jawabanya di tulis di papan tulis
dengan di iringi yel-yel dari masing-masing kelompok, kemudian pada saat pelaksanaan peserta didik
tidak boleh membuka buku. Hasil siswa melalui jawaban soal yang dituli di depan papan tulis, yang
jumlah jawaban benar paling banyak kelompom di beri penghargaan. Observer belum di beri tahu soal
game tournamentnya, Pembelajaran ini menyenangkan, melibatkan seluruh peserta didik, terjalin
kerja sama dalam masing – masing kelompok diskusi dan kompetitif di antara peserta didik, Dengan
model pembelajaran TGT ini peserta didik menjadi lebih aktif dan seluruhnyaikut berartisipasi dalam
kegiatan pembelajaran suasana kelas menjadi sangat menyenangkan.
Pengamatan
Berdasarkan hasil pengamatan para observer, pembelajaran dengan KD ―ketimpangan sosial
dan solusinya‖ menunjukkan sebagai berikut. Pembelajaran ini berjalan menyenangkan. Siswa
bersemangat mengikuti pembelajaran. Untuk merayakan setiap peristiwa siswa memiliki yel-yel untuk
900
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
memberikan semangat kepada semua peserta. Dengan yel-yel anak-anak semakin terlibat dalam
pembelajaran.
Seluruh peserta didik, setelah dibagi menjadi 5 kelompok dan masuk dalam kelompok
masing-masing. Setiap kelompok memperoleh soal yang sama. Dalam kerja kelompok, nampak
terjalin kerja sama kelompok dan kompetisi diantara peserta didik. Terutama pada saat diskusi
kelompok dalam menjawab soal-soal team games tournament, mereka bersama-sama memecahkan
persoalan fenomena-fenomena dalam soal tersebut.
Setelah selesai menjawab soal satu demi satu masing-masing kelompokmenuliskan jawaban
hasil diskusi di papan tulis. Dari jawaban masing-masing kelompok yang paling banyak benarnya
diberi penghargaan oleh guru. Peserta didik disiapkan materi, pada saat pelaksanaan peserta didik
tidak boleh membuka buku. Aspek pembelajaran ini dapat dipetik manfaatnya bagi pengamat yakni
adanya kerja sama, sportivitas, toleransi, dan suasana kelas menjadi menyenangkan.
Refleksi
Setelah proses pembelajaran selesai dilakukan diskusi antara peneliti dengan observer. Hasil
diskusi menunjukkan sebagai berikut. Pertama, kelas sudah tampak lebih aktif dari sebelumnya.
Peserta didik sudah mulai berani mengemukakan pendapan kaitannya dengan materi ketimpangan
sosial. Hanya saja masih ada beberapa siswa yang pasif, belum terlibat secara sepunuhnya dalam
pembelajaran. Kedua, Hasil pos tes menunjukkan bahwa peserta didik mayoritas (70%) sudah dapat
mengerjakan soal uraian. Soal nomor satu (dampak dari ketimpangan sosial sudah dapat dijawab
dengan baik. Soal nomor dua tentang penyebab kemiskinan juga dapat dijawab dengan baik. Soal
nomor empat tentang tujuan pemerintah mengurangi ketimpangan sosial dapat dijawab dengan
sempurna. Sebaliknya soal nomor tiga tentang tindakan kreatif yangdilakukan untuk mengatasi
kemiskinan dengan benar. Dan soal nomor lima tentang ketimpangan sosial sebagai ketimpangan
sosial belum dijawab dengan baik. Atas dasar kondisi tersebut diputuskan bahwa pembelajaran KD
3.33 tentang ketimpangan sosial dan solusinya, dilanjutkan dalam siklus dua.
Siklus II
Perencanaan
Pada tahap perencanaan siklus II ini, sejumlah kegiatan dilakukan: (a) penyiapan RPP
perbaikan siklus II, (2) pengembangan media, (3) pengembangan alat penilaian. Pada RPP perbaikan
siklus II secara umum tidak ada perbedaan dengan siklus I. yang membedakan adalah pengemasan
materi ke dalam media power point. Dengan power point, diharapkan pemahaman siswa dapat lebih
baik. Alat penilaian juga dikembangkan untuk mengukur tingkat kemampuan siswa terhadap materi
―ketimpangan sosial dan solusinya‖. Alat penilaian berwujud soal-soal dalam bentuk pilihan ganda
dengan alternatif jawaban A, B, C, D, dan E. Alat penilaian ini dilengkapi dengan kunci jawaban.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan terdiri atas tiga kegiatan utama: pembukaan, inti, dan penutup.
Pelaksanaan tindakan pada kegiatan awal guru menerangkan konsep seperlunya dengan menggunakan
power point tentang ketimpangan sosial. Guru juga melakukan tanya jawab untuk memperdalam
penguasaan siswa.
Media pembelajaran menggunakan power point yang memuat poin-poin materi secukupnya,
agar siswa memahami konsep tentang materi sosiologi ketimpangan sosial, dengan demikian
diharapkan proses pembelajaran lebih jelas dan mudah dipahami serta menarik. Apapun pembelajaran
kognitif learning dituntut dapat maksimal dilaksanakan.
Sebagai penutup untuk mengakhiri pelajaran diberi tanya-jawab soal sebagai pos tes untuk
mengukur berapa prosen materi ketimpangan sosial yang sudah disampaikan pada peserta didik yang
bisa terserap secara maksimal.
901
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Pengamatan
Jika melihat metode TGT yang digunakan, maka pendekatan yang digunakan kooperatif
learning yang mengharuskan adanya ketertiban peserta didik. Namun dalam penyajian materi belum
terlihat adanya keterliban peserta didik. Pembelajaran masih teacher centre, perlu melibatkan peserta
didik secara penuh sehingga dalam pembelajaran ini masih nampak peserta didik pasif dan
mengantuk. Media pembelajaran yang digunakan masih belum secara optimal, menarik minat, peserta
didik belum tertarik mengikuti pembelajaran, karena po wer point yang digunakan masih berbentuk
teks bukan point-point pembelajaran. Pembelajaran awal masih dikuasai guru, partisipasi peserta didik
masih terbatas pada mendengarkan dan menjawab secara klasikal bukan individu. Pembelajaran awal
terlalu dikuasai guru, perlu pembagian alokasi waktu pembelajaran agar pembelajaran kognitif
learning dapat meksimal dilaksanakan. Setelah berjalannya waktu nampak terlihat kerja sama aktif
diantara peserta didik. Power point dapat diperbaiki menjadi lebih interaktif, bukan lagi power point
teks sehingga peserta didik lebih semangat dan tertarik terhadap materi yang disajikan.
Refleksi
Pada akhir pelaksanaan tindakan pada siklus II diadakan refleksi. Pesertanya adalah peneliti
dan para observer. Hasilnya menunjukkan sebagai berikut. Pertama, secara umum pelaksanaan
pembelajaran sudah baik. Ada kemajuan jika dibandingkan dengan siklus I. Siswa menjadi lebih
mudah memahami materi setelah guru mengemasnya ke dalam program tayangan power point.
Kedua, secara umum prestasi siswa menjadi lebih baik. Dari 30 siswa, sebanyak 29 siswa
memperoleh penguasaan lebih dari 85%. Masih ada satu siswa yang belum tuntas KKM.. Forum
refleksi memutuskan bahwa pembelajaran sudah dihentikan pada siklus II. Untuk selanjutnya yang
bersangkutan akan dilayani dengan pembelajaran remedial dan dilaksanakan di luar jam pelajaran
reguler.
PENUTUP
Simpulan
Kegiatan penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas XII IPS-5 SMA Negeri 1 Batu
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, melalui siklus 1 dan siklus 2, telah memperbaiki
proses pembelajaran khususnya pada standar kompetensi menganalisis fenomena ketimpangan sosial
pada materi sosiologi Ketimpangan sosial sebagai dampak perubahan sosial ditengah tengah
globalisasi, dipandang berhasil membantu peserta didik dalam hasil belajar konsep sosiologi. Kedua,
melalui siklus I dan II prestasi siswa dapat ditingkatkan, dari semula tidak tuntas KKM menjadi siswa
mampu menguasai KD dengan baik.
Saran-saran
Atas dasar hasil penelitian, disarankan kepada guru Sosiologi agar menggunakan
pembelajaran kooperatif tipe TGT dalam pembelajarannya. Dengan TGT, aktivitas kelas menjadi
lebih dinamis dan prestasi siswa dapat meningkat.
DAFTAR RUJUKAN
Hikmah, H.N, 2013. Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Tipe STAD dengan Media
Manipulative untuk Menentukan Rumus Volume Bangun Ruang Sisi Datar di Kelas VIII
SMP Negeri 2 Tanah Grogot. Jurnal Peningkatan Kualitas Guru J-TEQIP 2013. Tahun IV
Nomor 2, hlm. 255—260.
Masdalifah, 2013. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw untuk Meningkatkan Motivasi
dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VIIIB SMPN 5 Sanggau. Jurnal Peningkatan Kualitas
Guru J-TEQIP 2013. Tahun IV Nomor 2, hlm. 261—269.
902
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Fajri, A.H., 2015. Pengaruh Pemberian Speed Test terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa dengan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Team-Game- Turnament (TGT) pada Pokok Bahasan Gerak Di
Kelas X SMK Negeri 6 Batam. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2015, hlm. 484—488.
Nurwito, 2013. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TGT (Teams Games Tournament)
Meningkatkan Hasil Belajar pada Pembelajaran IPA Kelas IV SDN 030 Long Ikis
Kabupaten Paser. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013, hlm. 1078—1082
903
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR PPKn
TENTANG SISTEM HUKUM DAN PERADILAN NASIONAL DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN STAD BAGI SISWA
KELAS X MM-B SMK NEGERI 3 BATU
Umi Salamah
SMK Negeri 3 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa
tentang sistem hukum dan peradilan nasional dengan menggunakan model pembelajaran
cooperative learning teknik STAD pada mata pelajaran PPKn bagi siswa kelas X MM-b
SMK Negeri 3 Batu semester gasal. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas,
PTK dilaksanakan melalui proses pengkajian bertahap yang terdiri dari 4 tahap yaitu
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada siklus I materi yang diberikan adalah
Sistem Hukum. Pada siklus II materi yang diberikan adalah Peradilan Nasional. Ketercapaian ketuntasan hasil belajar pada siklus I adalah 76,80% siswa, sedangkan pada siklus II
sebesar 92,93%. Pada siklus I siswa memiliki motivasi tinggi sebesar 73, 49%. Dan pada
siklus II sebesar 89, 67%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran STAD (Student teams achievement Devision) dapat meningkatkan motivasi
dan prestasi belajar siswa.
Kata-kata kunci: Pembelajaran Kooperatif teknik STAD, Motivasi, Prestasi Belajar.
Salah satu tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa, mengantarkan siswa pada perubahan tingkah
laku baik moral maupun intelektual yang dapat dijadikan bekal hidup sebagai makhluk individu
maupun makhluk sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, siswa berinteraksidengan lingkungan
belajar yang telah dibimbing oleh guru melalui suatu proses yaitu kegiatan belajar mengajar. Usaha
meningkatkan mutu pendidikan di tanah air sebenarnya sudah cukup banyak diupayakan, antara lain
dengan melakukan perubahan kurikulum, penataan guru, dan sebagainya. Namun demikian, sekalipun
berbagai upaya tersebut dilakukan secara intensif, tetapi pengemasan pendidikan sering tidak sejalan
dengan hakikat belajar, hakikat mengajar, hakikat orang belajar, dan hakikat orang mengajar.
Selama ini proses pembelajaran PPKn di sekolah masih banyak menggunakan paradigma yang
lama dimana guru memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru mengajar dengan metode
konvensional yaitu metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal
(3DCH) sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) menjadi monoton dan kurang menarik perhatian
siswa. Kondisi seperti itu tidak akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami mata
pelajaran PPKn Namun Kenyataan yang terjadi di kelas, pembelajaran PPKn masih menyulitkan
siswa dalam menguasai konsep yang diajarkan guru karena pembelajaran disajikan tidak
menggabungkan metode pembelajaran yang menarik. Pembelajaran seperti ini menjadikan siswa pasif
dalam proses pembelajaran, akhirnya siswa jenuh, mengantuk, kurang bersemangat, ribut, dan tidak
tertarik untuk mempelajari materi yang diajarkan.
Dalam hal ini Depdiknas (2005) mengajarkan sebagai berikut: Sebagai seorang guru sangat
perlu memahami perkembangan siswa. Perkembangan siswa tersebut meliputi: perkembangan fisik,
perkembangan sosio emosional dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik
sosio emosional mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual, mental dan
perkembangan kognitif siswa. Perkembangan tersebut sangat diperlukan untuk merancang
904
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
pembelajaran yang kondusif dan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga mampu
meningkatkan proses dan hasil belajar yang diinginkan
Diharapkan melalui pembelajaran kooperatif dengan teknik STAD dapat meningkatkan
pemahaman siswa pada mata pelajaran PPKn, Serta semangat kebersamaan dan saling membantu
dalam menguasai materi PPKn, Sehingga siswa dapat meningkatkan pemahaman yang Optimal
terhadap mata pelajaran PPKn. Keunggulan dari metode pembelajaran kooperatif teknik STAD
adalah adanya kerjasama dalam kelompok dan dalam menentukan keberhasilan kelompok tergantung
keberhasilan individu, sehingga setiap anggota kelompok tidak bisa menggantungkan pada anggota
yang lain. Pembelajaran kooperatif teknik STAD menekankan pada aktivitas dan interaksi di antara
siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna
mencapai prestasi yang maksimal.dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika
salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah Bagaimana peningkatan
motivasi dan prestasi belajar Siswa pada pembelajaran PPKn dengan menggunakan model
pembelajaran STAD? Untuk lebih terarah, maka rumusan masalah akan dijabarkan kedalam
pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) bagaimana upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
dengan penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning teknik STAD?, dan (2) bagaimana
upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan penggunaan model pembelajaran
Cooperative learning teknik STAD?
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan PTK yang bertujuan untuk memperbaiki proses dan
prestasi belajar siswa tentang ―Sistem Hukum dan Peradilan Nasional‖. Penelitian ini dilaksanakan
dalam dua siklus yang masing-masing mengandung empat kegiatan, yaitu (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Tahap perencanaan meliputi pembuatan RPP,
tahap pelaksanaan tindakan meliputi pelaksanaan tindakan pembelajaran di kelas X MM-B, tindakan
pengamatan meliputi pencatatan hasil pelaksanaan selama pembelajaran dengan menggunakan lembar
observasi, refleksi meliputi tindakan diskusi antara peneliti dengan teman sejawat/pengamat selama
proses pembelajaran.
Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X MM-B, sebanyak 30 siswa,yang terdiri dari 12 siswa
perempuan dan 18 siswa laki-laki. Mayoritas siswa orang tuanya adalah seorang petani. Dalam
penelitian ini menggunakan dua instrument penilaian, yakni lembar observasi dan tes. Lembar
observasi dan tes digunakan untuk menjaring pelaksanaan proses pembalajaran. Instrument digunakan
untuk menjaring kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran mengenai sistem hukum dan
peradilan nasional. Data dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif (menghitung persentase jawaban
yang betul).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus 1
Pada tanggal 23September 2016 peneliti melakukan koordinasi dengan guru PPKn dan Kepala
Sekolah, dan diperoleh kesepakatan pelaksanaan penelitian dilaksanakan mulai tanggal 18 Oktober
2016.
Perencanaan
Perencanaan alokasi waktu untuk materi Sistem Hukum dan Peradilan Nasional adalah 4 kali
pertemuan. Standar ketuntasan belajar minimal siswa pada kelas X MM-B SMK Negeri 3 Batu sudah
ditentukan oleh pihak sekolah, yaitu sebesar 80. Pembelajaran klasikal dikatakan tuntas jika minimal
75% siswa dalam kelas mengalami ketuntasan belajar, jadi 75% siswa harus mendapat skor nilai
905
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
minimal 80. Selain itu peneliti juga berkolaborasi dengan guru kelas untuk membantu melaksanakan
penelitian dan dua teman sejawat sebagai observer, yaitu Enggar Pristianora dan Mimin Yuliati.
Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengambil contoh dari hasil tes ulangan harian
sebelumnya. Berdasarkan hasil tes ulangan harian tanggal 5 Oktober 2016, dari 30 siswa yang
mendapatkan nilai rata-rata di atas 80, yaitu hanya 43, 30% atau 13 siswa saja, sedangkan 17 siswa
atau 64% siswa yang lain mendapat nilai di bawah KKM. Sebagai perancang dan pelaksana
pembelajaran, peneliti mempersiapkan Lembar Kerja Siswa sebagai bahan diskusi siswa. Peneliti juga
mempersiapkan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, instrumen motivasi serta lembar
catatan lapangan untuk mengetahui aktifitas siswa dan aktifitas guru dalam proses pembelajaran.
Terdapat lima kegitan dilaksanakan dalam tahap perencanaan: (1) menyusun rencana perbaikan
pembelajarn (RPP), (2) menyiapkan media pembelajaran, (3) mengembangkan lembar kerja siswa
(LKS), (4) mengembangkan pedoman observasi, dan (5) mengembangkan alat evaluasi.
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Di dalam melaksanakan tindakan kelas, guru melaksanakan dalam 2 tahapan pelaksanaan atau
dalam 2 siklus, yaitu dengan tahapan siklus 1 dan siklus 2. Model pembelajaran yang digunakan
dalam tindakan kelas ini adalah Cooperatif Learning model STAD. Materi yang dipelajari pada siklus
I adalah materi tentang ―sistem hukum dan lembaga peradilan‖ yang dilaksanakan mengikuti tahaptahap sebagai berikut.
Dalam pertemuan pertama Siklus I, kegiatan Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, 19
Oktoberi 2016. Pembelajaran direncanakan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit (2 jam pelajaran).Alokasi waktu ini disesuaikan dengan jumlah jam pelajaran yang berlaku di SMK Negeri 3 Batu.
Dalam kegiatan pembelajaran ini, peneliti bertindak sebagai Perancang dan berkolaborasi dengan
guru kelas sebagai pengajar, beberapa teman sejawat bertindak sebagai observer. Untuk melaksanakan
pembelajaran, peneliti berpedoman pada RPP dan Lembar observasi pembelajaran yang telah dibuat
sebelumnya.
Pelaksanaan tindakan diawali dengan tahap pendahuluan, guru mengucapkan salam,
menanyakan kabar siswa, mengecek kehadiran siswa menyampaikan tujuan pembelajaran, dan
menjelaskan langkah-langkah proses pembelajaran yang tentunya sesuai dengan model pembelajaran
yang akan diterapkan oleh peneliti Cooperatif Learning denga model STAD. Adapun tahap-tahap
pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan 1 siklus I adalah sebagai berikut:
Pada tahap pendahuluan ini, guru melakukan kegiatan pendahuluan. Guru mengawali
pembelajaran dengan mengucapkan salam dan siswa menjawab serentak, kemudian melakukan
presensi siswa dengan memanggil satu persatu nama siswa dan diketahui 30 siswa hadir. Sebelum
guru membagikan siswa ke dalam kelompok kooperatif, guru melakukan test Awal.Tes ini bertujuan
hasilnya untuk mengelompokkan siswa agar menjadi kelompok yang heterogen. Hasil dari tes awal,
dapat dibentuk 5 kelompok dengan 6 siswa pada masing-masing kelompok. Setelah itu guru
membagikan materi pembelajaran kepada siswa dan menyuruh siswa untuk membuka buku pelajaran
PPKn pada Bab 5 yaitu: ―sistem hukum dan peradilan Nasional‖. Guru memberikan motivasi dan
apersepsi dengan memberikan beberapa pertanyaan, agar siswa termotivasi dan mudah memahami
materi yang akan diajarkan. Kemudian, guru meyampaikan tujuan pembela pembelajaran dan
prosedur pembelajaran yang akan dilaksanakan. Beberapa siswa ada yang bertanya tentang prosedur
pembelajaran karena ada siswa yang masih belum memahami.
Kegiatan pembelajaran diawali dengan pemberian pertanyaan oleh guru, yaitu ―masih ingatkah
kalian apa itu hukum?‖ Tujuan pertanyaan ini adalah memancing pengetahuan awal. Siswa yang
menjawab 5 orang siswa. Jawaban siswa 1 ―hukum itu aturan‖, siswa 2 menjawab ―hukum itu
sanksi‖, siswa 3 menjawab ―hukum itu memaksa‖, siswa 4 menjawab ―hukum itu keadilan‖, serta
siswa 5 menjawab ―hukum itu penjara‖. Dari jawaban yang diberikan oleh siswa ini peneliti
906
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
menyimpulkan bahwa masih banyak siswa yang sudah tahu tentang hokum tapi kurang
memahaminya. Dengan demikian maka perlu di ajarkan materi tentang Hukum dan Peradilan
Nasional.
Pada kegiatan inti dibagi menjadi 5 tahap sesuai dengan langkah-langkah pembelajarandengan
pembelajaran Teknik STAD namun pada pertemuan siklus pertama hanya di lakukan 3 tahap yaitu:
Tahap penyajian materi, kerja kelompok, dan Tahap Perhitungan Skor perkembangan Individu. Pada
tahap penyajian materi ini guru membagi kelompok dan membimbingnya untuk berkumpul sesuai
dengan kelompok yang sudah dibentuk oleh guru. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok sehingga
masing-masing kelompok terdiri dari 6 siswa campuran. Setelah siswa berkumpul dengan kelompok
masing-masing, guru membagikan LKS kepada setiap kelompok. Guru menyampaikan materi
pembelajaran dengan menjelaskan materi dan disertai dengan memberikan pertanyaan-pertanyan agar
siswa lebih paham tentang materi yang disampaikan.
Guru
:
Siswa
Guru
Siswa
:
:
:
Guru
Siswa
:
:
Anak- anak apa yang kalian ketahui tentang hukum ? yang bisa menjawab tolong
acungkan tangan
Saya bu, 5 siswa mengacungkan tangan
Iya Ardha. Silahkan dijawab
Ardha, baik Bu. Hukum adalah suatu peraturan yang bersifat mengikat dan
memiliki sanksi yang tegas
Bagus sekali Ardha, kasih aplaus untuk Ardha.
Semua memberi aplaus,
Gambar 1. Guru menyampaikan materi
pembelajaran dengan menjelaskan materi
dan disertai dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
Berdasarkan tanya jawab dan antusias siwa dalam menjawab, menunjukan bahwa sebagaian
besar siswa sudah memahami materi Hukum dan Peradilan Nasional. Pada tahap kerja kelompok ini
setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yag akan dipelajari. Dalam kerja kelompok,
diharapkan siswa saling berbagi tugas, saling membantu memberikan penyelesaian agar semua
anggota kelompok dapat memahami materi yang dibahas, dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil
kerja kelompok.
Dari 5 kelompok, 4 kelompok dapat bekerja denganbaik,sedangkan satu tidak terjadi kerja
sama. Hal inidisebabkan karena salah satu kelompok kurang bekerja sama dan bersenda gurau di
dalam mengerjakan tugasnya.
907
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Gambar 2. Siswa dalam kelompok saling
membantu menyelesaikan tugasnya agar
semua anggota kelompok dapat memahami
materi yang dibahas.
Perkembangan skor individu dihitung berdasarkan skor awal. Perhitungan perkembanagan skor
dimaksud agar siswa terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya. Skor
yang diperoleh siswa, digunakan untuk perhitungan skor kelompok.
Pada kegian penutup, guru memotivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi dan mengulangi
pelajarannya di rumah. Kemudian guru memberitahu kepada siswa bahwa untuk pertemuan
selanjutnya akan membahas tentang ―Lembaga peradilan dan peranan lembaga peradilan‖ dan
menyarankan kepada siswa untuk belajar terlebih dahulu dirumah. Siswa pun menyimak apa yang
disampaikan oleh guru. Kemudian guru menutup pelajaran dengan ucapan salam dan siswa pun
menjawab salam.
Pembelajaran untuk pengulangan tindakan siklus I dilaksanakan pada hari Rabu, 25 Oktober
2016 dan berlangsung pukul 07.00-08.30 WIB. Pelaksanaan tindakan diawali dengan tahap
pendahuluan,kegiatan inti kemudian kegiatan penutup. Guru juga menjelaskan tahap-tahap proses
yang tentunya sesuai dengan pembelajaran kooperatif Teknik STAD yang akan diterapkan oleh
peneliti. Adapun tahap-tahap pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan 2 siklus I sebagai berikut.
Pada tahap pendahuluan ini, guru melakukan kegiatan pendahuluan. Guru mengawali
pembelajaran dengan mengucapkan salam dan siswa menjawab serentak, kemudian melakukan
presensi siswa dengan memanggil satu per satu nama siswa dan diketahui 30 siswa yang hadir, Guru
menyuruh siswa untuk membuka buku pelajaran yaitu pada halaman 165 tentang Lembaga peradilan
dan peranan Lembaga Peradilan. Guru memberikan motivasi dan apersepsi dengan memberikan
beberapa pertanyaan, agar siswa termotivasi dan mudah memahami materi yang akan diajarkan.
Dilanjutkan dengan kegiatan inti dengan 5 tahapan pembelajaran.
Pada tahap penyajian materi ini guru membagi dengan menyuruh siswa langsung duduk dalam
bentuk kelompok kooperatif sesuai dengan pembagian kelompok. Setelah siswa berkumpul dengan
kelompok masing-masing, guru membagikan LKS kepada setiap kelompok. Guru menyampaikan
materi pembelajaran dengan menjelaskan materi dan disertai dengan menunjukkan gambar-gambar
agar siswa lebih paham tentang materi yang disampaikan. Berikut dikemukakan dialog guru-siswa
tentang hukum dan peradilan
Guru
: Coba kalian perhatikan, buka buku paket kalian halaman 148 dan perhatikan
Gambar 5.4. kemudian berikan pendapat kalian tentang gambar tersebut. Apa
yang dilakukan oleh para hakim pada gambar tersebut.?
Siswa : Baik, Bu.
Pada tahap kerja kelompok ini setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yag akan
dipelajari. Dalam kerja kelompok, siswa saling berbagi tugas, saling membantu memberikan
penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang dibahas, dan satu lembar
dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok, kemudian dipresentasikan Dari kerja kelompok akan
908
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
menemukan hasil, yang selanjutnya dari masing-masing kelompok yang diwakili salah satu anggota
kelompoknya maju kedepan untuk mempresentasikannya. Untuk mengetahui sejauh mana
keberhasilan belajar telah dicapai, diadakan tes secara individual, mengenai materi yang telah
dibahas. Skor dihitung berdasarkan skor awal. Perhitungan perkembanagan skor dimaksud agar siswa
terpacu untuk memeperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya.
Pada kegian penutup, guru memotivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi dan mengulangi
pelajarannya di rumah dan guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa.Kemudian guru
memberitahu kepada siswa bahwa untuk pertemuan selanjutnya akan diadakan tes harian I dan
menyarankan kepada siswa untuk belajar terlebih dahulu dirumah. Siswa pun menyimak apa yang
disampaikan oleh guru. Kemudian guru menutup pelajaran dengan ucapan salam dan siswa pun
menjawab salam.
Dalam kegiatan pengamatan, peneliti melibatkan teman sejawat sebagai pengamat, pengamat
bertugas mengamati proses pembelajaran yang sedang berlangsung, aktivitas peneliti selama proses
pembelajaran (lembar keterlaksanaan pembelajaran) dalam pengamatan ini, peneliti juga menyertakan
catatan lapangan pada siklus I. Dari observasi keterlaksanaan pembelajaran diperoleh dari kegiatan
observasi dengan menggunakan pedoman penilaian, bahwa kualitas pelaksanaan kegiatan
pembelajaran pada siklus I rata-ratanya 70, 39% berarti pelaksanaan pembelajarannya memenuhi
kriteria baik. Adapun kualitas aktivitas keterlaksanaan siswa pada siklus I rata ratanya 76, 84% berarti
keterlaksanaan pembelajaran belum memenuhi criteria penilaian. Motivasi belajar siswa pada siklus I
diperoleh dari observasi dengan menggunakan instrumen motivasi belajar siswa yang terdapat dalam
lampiran. Adapun secara garis besar motivasi belajar siswa pada kegiatan pembelajaran siklus I rataratanya 73, 49% ini berarti bahwa motivasi belajar siswa pada Siklus I belum memenuhi kriteria
penilaian.
Refleksi
Dari hasil observasi ditemukan beberapa masalah yang menunjukknan bahwa proses
pelaksanaan pembelajaran kooperatif teknik STAD masih belum memenuhi harapann peneliti
sehingga diperlukan perbaikan silkus II dengan materi pemberantasan korupsi dalam lingkup Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Menampilkan sikap peran serta dalam upaya pemberantasan
korupsi dalam lingkup NKRI, dan menjelaskan Pancasila dan keadilan yang merata dalam lingkup
NKRI.
Kekurangan dari siklus I, pada pembagian kelompok awal, siswa relative ramai, dan ketika
diskusi berlangsung, masih ada siswa yang tidak mengikuti diskusi dengan baik, pada saat presentasi
masihh ada siswa yangtidak memanfaatkan waktu dengan baik sehingga waktu tidak cukup untuk
kelompok lain.
Berdasarkan hasil pengamatan dan lembar bservasi yang ada, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran siklus 1 pertemuan pertama dan kedua, berjalan dengan baik, namun ada beberapa
kekurangan yang terjadi pembelajaran Pada siklus 1, sehingga untuk perbaikannya diadakan berbagai
pemecahan masalah yaitu: pada saat diskusi, guru harus bisa menguasiai kelas sehingga diskusi dapat
berjalan dengan baik, dan pada saat presentasi guru menunjuk salah satu siswa sebagai moderator,
sehingga bisa mengatur jalannya presentasi, agar waktu yang ada bisa digunakan secara optimal.
Perbaikan ini dimaksudkan untuk memperbaiki kekurangan pada siklus I yang akan diperbaiki
pada siklus II, yaitu sebagai berikut: pembagian kelompok dilakukan sebelum proses pembelajaran
berlangsung agar tidak ramai dan waktunya singkat, pada saat diskusi Guru harus selalu mengontrol
siswa sehingga semua siswa terlibat di dalam diskusi tersebut, dan pada saat presentasi, guru
Memberikan waktu kepada setiap kelompok sehingga waktu tidak terbunag begitu saja.
909
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Siklus II
Materi yang dipelajari pada siklus II adalah pemberantasan korupsi dalam lingkup Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Menampilkan sikap peran serta dalam upaya pemberantasan
korupsi dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Menjelaskan pancasila dan
keadilan yang merata dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), adapuntahaptahap yang dlaksanakan pada siklus II sebagai berikut.
Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini kegiatan yang dilakukan oleh peneliti antara lain:menyiapkan
perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), skenario pembelajaran,
Lembar Kerja Siswa (LKS), dan bahan ajar tentang materi yang diajarkan pada siklus II, yaitu
pemberantasan korupsi dalam lingkup NKRI, peran serta dalam upaya pemberantasan korupsi dalam
lingkup NKRI, dan pancasila dan keadilan yang merata dalam lingkup NKRI, menyusun lembar
pedoman penilaian pelaksanaan pembelajaran, menyusun Lembar instrumen motivasi belajar siswa,
menyusun pedoman penilaian keterampilan proses PPKn siswa, dan menyusun tes prestasi belajar.
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Kegiatan Pembelajaran dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Nopember 2016. Pembelajaran
direncanakan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit (2 jam pelajaran). Alokasi waktu ini disesuaikan
dengan jumlah jam pelajaran yang berlaku di SMK Negeri 3 Batu.Dalam kegiatan pembelajaran ini,
peneliti bertindak sebagai Perancang dan berkolaborasi dengan guru kelas sebagai pengajar, beberapa
teman sejawat bertindak sebagai observer. Untuk melaksanakan pembelajaran, peneliti berpedoman
pada RPP dan skenario pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya.
Pada tahap pendahuluan ini, guru melakukan kegiatan pendahuluan. Guru mengawali
pembelajaran dengan mengucapkan salam dan siswa menjawab serentak, kemudian melakukan
presensi siswa dengan memanggil satu persatu nama siswa dan diketahui 30 siswa hadir. Kemudian
guru menyuruh siswa untuk menyiapkan kertas, dan alat tulis karena ada test prestasi belajar siklus I.
Setelah selesai tes, guru menyuruh siswa duduk ke dalam kelompok masing-masing sesuai dengan
pembagian kelompok kooperatif. 1 kelompok terdiri dari 6 siswa yang di ambil secara heterogen
berdasarkan jenis kelamin, suku, maupun kemampuan akademik. kemudan guru membagikan materi
pembelajaran kepada siswa dan menyuruh siswa untuk membuka buku pelajaran yaitu pada Bab 5
yaitu: sistem hukum dan peradilan nasional. Guru memberikan motivasi dan apersepsi dengan
memberikan beberapa pertanyaan, agar siswa termotivasi dan mudah memahami materi yang akan
diajarkan.
Guru
: Anak anak coba acungkan tangan,siapa yang sudah pernah melihat proses
persidangan suatu perkara?
Siswa : Saya Buuu … siswa Agus mengacungkan tangan dan menjawab. Saya pernah
melihat proses persidangan kasus perkara Kopi Mirna buu.. tapi prosesnya
ruwet bu
Guru
: Seruwet apapun suatu kasus perkara, pada akhirnya nanti pasti akan ditemukan
solusinya anak-anakku
Pada kegiatan inti dibagi menjadi 5 tahap sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran dengan
pembelajaran Teknik STAD,Namun pada pertemuan pertama siklus 2 hanya melaksanakan 3 tahap
yaitu tahap penyajian materi, tahap kerja kelompok, tahap perhitungan skor yaitu sebagai berikut.
Pada tahap penyajian materi ini guru membagi kelompok dan membimbingnya untuk
berkumpul sesuai dengan kelompok yang sudah dibentuk oleh guru. Siswa dibagi menjadi 6
kelompok sehingga masing-masing kelompok terdiri dari 6 siswa campuran. Setelah siswa berkumpul
dengan kelompok masing-masing, guru membagikan LKS kepada setiap kelompok.guru
menyampaikan materi pembelajaran dengan menjelaskan materi dan di sertai dengan demonstrasi
agar siswa lebih paham tentang materi yang disampaikan.
910
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Guru menjelaskan materi pembelajaran tentang pemberantasan korupsi di Indonesia
Guru
: coba kalian perhatikan, buka Halaman 165 pada Buku paket yang sudah ibu
bagikan pada setiap kelompok. perhatikan gambar 5.6. sekarang coba kalian
berikan pendapat dan tanggapan kalian tentang gambar tersebut
siswa
: Baik Buuu
Pada tahap kerja kelompok ini, setelah selesai mengamati materi yang dijelaskan oleh guru,
dilanjutkan dengan tahap pengisian dan penyelesaian soal-soal pada LKS diharapkan siswa dapat
bekerja sama dan berdiskusi dengan kelompok masing-masing, kemudian guru memberikan
kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi setiap kelompok. Skor
dihitung berdasarkan skor awal.Perhitungan perkembanagan skor dimaksud agar siswa terpacu untuk
memeperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya.
Pada kegian penutup, Guru memberikan pekerjaan rumah kepada siswa, guru memotivasi siswa
untuk belajar lebih giat lagi dan mengulangi pelajarannya dirumah. Kemudian guru memberitahu
kepada siswa bahwa untuk pertemuan selanjutnya akan membahas tentang ―peran serta dalam upaya
pemberantasan korupsi di Indonesia dan Pancasila dan keadilan merata‖ dan menyarankan kepada
siswa untuk belajar terlebih dahulu dirumah karena setelah penyampaian materi dan presentasi
dilanjutkan dengan test siklus II. Siswa pun menyimak apa yang disampaikan oleh guru. Kemudian
guru menutup pelajaran dengan ucapan salam dan siswapun menjawab salam.
Pembelajaran untuk pengulangan tindakan siklus II dilaksanakan pada hari Rabu, 9 November
2016 dan berlangsung pukul 07.00-08.30 WIB. Pelaksanaan tindakan diawali dengan tahap
pendahuluan,kegiatan inti kemudian kegiatan penutup. Guru juga menjelaskan tahap-tahap proses
yang tentunya sesuai dengan pembelajaran kooperatif Teknik STAD yang akan diterapkan oleh
peneliti. Adapun tahap-tahap pembelajaran yang dilakukan pada pertemuan 2 siklus II sebagai
berikut.
Pada tahap pendahuluan ini, guru mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan
siswa menjawab serentak, kemudian melakukan presensi siswa dengan memanggil satu persatu nama
siswa dan diketahui 29 siswa yang hadir,. Guru menyuruh siswa untuk membuka buku pelajaran yaitu
pada halaman 172 tentang pemberantasan korupsi. Guru memberikan motivasi dan apersepsi dengan
memberikan beberapa pertanyaan, agar siswa termotivasi dan mudah memahami materi yang akan
diajarkan. Kemudian, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan prosedur pembelajaran yang akan
dilaksanakan.
Pada kegiatan inti dibagi menjadi 3 tahap sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran dengan
pembelajaran STAD, yaitu sebagai berikut. Pada tahap penyajian data ini guru membagi menyuruh
siswa langsung duduk dalam bentuk kelompok kooperatif yang sudah dibentuk sebelumnya. Setelah
siswa berkumpul dengan kelompok masing-masing, guru membagikan LKS kepada setiap
kelompok.guru menyampaikan materi pembelajaran dengan menjelaskan materi dan di sertai dengan
menunjukan gmbar-gambar agar siswa lebih paham tentang materi yang disampaikan.
Guru
: coba kalian perhatikan, buka buku paket kalian halaman 172 dan perhatikan
Gambar 5.7. kemudian berikan pendapat kalian tentang gambar tersebut. Apa
yang dilakukan oleh para hakim pada gambar tersebut.?
Siswa : Baik buk....
Pada tahap kerja kelompok ini setiap siswa diberi lembar tugas sebagai bahan yag akan dipelajari.
Dalam kerja kelompok, siswa saling berbagi tugas, saling membantu memberikan penyelesaian agar
semua anggota kelompok dapat memahami materi yang dibahas, dan satu lembar dikumpulkan
sebagai hasil kerja kelompok kemudian dipresentasikan.
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar telah dicapai, diadakan tes secara
individual, mengenai materi yang telah dibahas. Skor dihitung berdasarkan skor awal. Perhitungan
911
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
perkembanagan skor dimaksud agar siswa terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan
kemampuannya. Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok setelah masing-masing kelompok
memperoleh predikat, guru memberikan hadiah/ peghargaan kepada masing-masing kelompk sesuai
dengan predikatnya.
Pada kegian penutup, guru memotivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi dan mengulangi
pelajaran-pelajaran yang sudah diajarkan oleh guru di sekolah, dan mengucapkan terimakasih atas
kerja sama siswa selama 4 kali pertemuan dalam kegiatan pengamatan, peneliti melibatkan teman
sejawat sebagai pengamat, pengamat bertugas mengamati proses pembelajaran yang sedang
berlangsung, aktivitas peneliti selama proses pembelajaran (lembar keterlaksanaan pembelajaran)
dalam pengamatan ini, peneliti juga menyertakan catatan lapangan pada siklus II.
Data observasi keterlaksanaan pembelajaran diperoleh dari kegiatan observasi dengan
menggunakan pedoman penilaian kegiatan pembelajaran pada siklus II rata-ratanya 90, 67% berarti
pelaksanaan pembelajarannya memenuhi kriteria baik dan mengalami peningkatan. Motivasi belajar
siswa pada siklus II diperoleh dari observasi dengan menggunakan instrumen motivasi belajar siswa
yang terdapat dalam lampiran. Adapun secara garis besar motivasi belajar siswa pada siklus II rataratanya 89, 67%, ini berarti bahwa motivasi belajar siswa pada Siklus II memenuhi kriteria baikdan
mengalami peningkatan.
Dari hasil tes prestasi belajar pada siklus II sebagaimana terlampir, diperoleh bahwa nilai ratarata prestasi belajar siswa sebesar 86, 70%. Dilihat dari segi ketuntasan belajar siswa yang memenuhi
(KKM ≥ 80) pada siklus II sebanyak 26 siswa atau 86, 66% dari 30 siswa yang mengikuti ulangan.
Refleksi
Berdasarkan data pengamatan dari observasi yang sudah disediakan menunjukkan
keterlaksanaan pelaksanaan pembelajaran berlangsung baik. Hal ini dilihat dari kegiatan guru dan
siswa selama pembelajaran. Begitu pula berdasarkan catatan lapangan yang ada aktivitas guru dan
aktivitas siswa selama proses pembelajaran berjalan baik, siswa tidak ramai saat pembagian
kelompok, serta waktu yang digunakan untuk berlangsungnya diskusi dan presentasi tidak terbuang,
dikarenakan Siswa dan guru saling bekerja sama dengan baik.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan uraian temuan penelitian di atas, peneliti dapat memberikan kesimpulan bahwa
pembelajaran PPKn diSMK Negeri 3 Batu, pada pokok bahasan Lembaga peradilan dan peranan
Lembaga Peradilan, dengan mengunakan model pembelajaran kooperatif teknik STAD dapat
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
Saran-saran
Dari hasil penelitian disarankan kepada beberapa pihak sebagai berikut. Kepada guru PPKn
disarankan agar dapat memanfaatkan pembelajaran kooperatif model STAD untuk membelajarkan
topik-topik yang memerlukan belajar kelompok. Kedua, kepada kepala sekolah agar membuat
kebijakan kepada guru agar mereka dapat memanfaatkan pembelajaran kooperatif model STAD ini.
DAFTAR RUJUKAN
Puskur, 2016 Silabus Mata Pelajaran Sekolah Menengah Atas /Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah
Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMA/MA/SMK/MAK). Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Depdiknas, 2005 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.19 Th 2005, Standar Nasional
Pendidikan, Jakarta Dep Dik Nas, 2005.
Slavin, Robert 2008 Cooperative Learning (Teori, Riset, Praktik), Bandung: Nusa Media
Suharsimi Arikunto 1990 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT, Rineka Cipta
912
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Sardiman,2011 Interkasi dan Motivasi Belajar, Universitas Pendidikan Indonesia, 2011
Santoso, D.,Waluyanti, S., Suparna, Sugianto, R., & Setiyowulan, E.2007 Pembelajaran Kooperatif
STAD untuk meningkatkan proses dan hasil belajar MPEA siswa SMKN 2 Depok Sleman.
Jogjakarta: Universitas Negeri Jogjakarta, www.staff.uny.ac.id, diunduh tanggal 8 Oktober
2016, pukul 16.30 wib
Munawwarah, Maryono, Ramdani, 2015 Penerapan Model Pembelajaran Tipe STAD untuk
Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas Xis-3 SMAN 3 Lau Maros (Studi pada
Materi Pokok Stikiometri). https:/yuriwsa.files:wordpress.com diunduh tanggal 8 Oktober
2016, pukul 16.45 wib.
913
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING
DENGAN MEDIA AP2K UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
MATERI TRANSFORMASI GEOMETRI SISWA KELAS XII IPA-2
MAN BATU TAHUN PELAJARAN 2016-2017
Rini Waraswati
MAN Kota Batu
[email protected]
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar materi
transformasi geometri dengan media AP2K (Alat Peraga Papan Kartesius) melalui model
pembelajaranDiscovery Learning (DL).Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian
tindakan kelas bersiklus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini diperolehdengan menggunakan (1) tes, (2) observasi, dan (3) wawancara,
serta (4) dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan analisis dalam observasi guru,
observasi siswa dan hasil belajar kognitif siswa pada siklus II lebih baik dari pada siklus I.
Persentase ketuntasan klasikal menunjukan siklus II mengalami peningkatan lebih baik dari
pada siklus I. Dari hasil refleksi aktivitas pembelajaran, baik aktivitas guru maupun
aktivitas siswa, beberapa aspek yang termasuk dalam kategori cukup dan kategori kurang
yang muncul pada siklus I, sudah tidak ada pada siklus II. Hal-hal yang perlu diperbaiki
dapat dilaksanakan dengan baik. Sehingga dapat disimpulkan, pembelajaran materi
transformasi geometri pada siswa XII/IPA-2 di MAN Batu dapat diajarkan dengan
menggunakan media AP2K melalui model Discovery Learning (DL).
Kata Kunci: transformasi geometri, AP2K, Discovery Learning (DL)
Pembelajaran matematika pada penelitian ini memiliki tujuan khusus, yaitu siswa diharapkan dapat
meningkatkan hasil belajar materi transformasi geometri dengan media AP2K melalui model
pembelajaran Discovery Learning (DL). Pengajaran matematika pada siswa kelas XII/IPA-2 madrasah
aliyah memberikan suatu tantangan yang besar bagi pengajarnya. Hal itu disebabkan oleh sejumlah
besar materi matematika terdiri dari konsep-konsep yang abstrak (Kean dan Middlecamp, 1984) yang
harus diajarkan dalam waktu yang relatif singkat. Keterbatasan waktu juga menyebabkan pengajaran
beberapa konsep matematika mengacu pada transfer pengetahuan untuk mengejar target kurikulum.
Bila transfer konsep-konsep matematika berlangsung terus, pemahaman siswa terhadap konsep
matematika akan terbatas pada ranah kognitif saja, akibatnya guru tidak dapat mendorong siswa
berfikir kritis. Bila pembelajaran matematika didominasi dengan metode ceramah, maka pelajaran ini
dapat menjadi mata pelajaran yang membosankan dan menakutkan bagi siswa karena banyak rumus
matematika dan konsep-konsep abstrak yang harus dihafalkan.
Berbagai usaha untuk mengadakan perbaikan pengajaran matematika telah banyakdilakukan
namun hasil belajar matematika yang dicapai siswa masih kurang maksimal.Realita dari tahun ke
tahun menunjukkan bahwa setiap evaluasi belajar pada materi transformasi geometri selalu saja ada
siswa yang mendapatkan nilai dibawah 50 sekitar 30% dari keseluruhan siswa.Demikian juga dari
hasil pretest siswa kelas XII/IPA-2, hasil yang dicapai juga kurang maksimal.Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor, diantaranya situasi belajar di kelas yang tidak kondusif sehingga banyak yang kurang
memperhatikan, karena siswa masih menganggap matematika itu sulit. Dari faktor guru, cara
mengajar guru yang kurang sesuai pendekatan pembelajarannya membuat siswa merasa jenuh. Selain
itu media pembelajaran yang digunakan guru kurang bisa memberikan pengaruh positif terhadap
aktifitas siswa. Di samping ketiga faktor di atas, berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa
914
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
diperoleh info bahwa materi transformasi geometri adalah materi abstrak yang sulit dipahami oleh
siswa.Mereka berharap agar guru menyajikan materi menggunakan media pembelajaran yang tepat.
Model pembelajaran Discovery Learning (disingkat DL) ini dipandang tepat untuk
memecahkan permasalahan di atas karena dapat membantu siswa untuk memperbaiki dan
meningkatkan ketrampilan dan proses kognitif serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk
belajar secara aktif menemukan, menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan,
menganalisis, mengintegrasikan , mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
(Trianto, 2007)
Upaya guru memperbaiki system pembelajaran menggunakan model pembelajaran Discovery
Learning dibantu dengan menggunakan Alat Peraga Papan Kartesius (AP2K). Penggunaan AP2K
tersebut dimaksudkan agar siswa terdorong untuk memecahkan masalah dan berfikir kritis
menemukan ide-ide baru yang pada akhirnya dapat merumuskan dan menjelaskan suatu konsep yang
abstrak, dan untuk mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh siswa yang
berbeda-beda. Harapannya, AP2K tersebut dapat menghasilkan keseragaman pengamatan, yang pada
akhirnya dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa belajar. Oleh sebab itu, penulis akan
melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “ Penerapan Model Pembelajaran Discovery
Learning dengan Media AP2K untuk Meningkatkan Hasil Belajar Materi Transformasi Geometri
Siswa Kelas XII/IPA-2 di MAN Batu Tahun Pelajaran 2016/2017”.
Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing
dengan memberikan kesempatan secara berulang-ulang kepada siswa untuk belajar aktif
meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Kondisi ini ingin merubah
kegiatan belajar mengajar yang “teacher oriented menuju ke student oriented”. Pembelajaran
Discovery Learning menuntut siswa untuk menemukan hal baru, proses untuk menemukan hal baru
diperlukan kreatifitas, sehingga dengan model pembelajaran ini dan sintaks yang ada di dalamnya
dapat meningkatkan berfikir kreatif siswa.Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Schlenker
(dalam Irianto, 2007) yang menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman
sains, produktif dalam berfikir kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan
menganalisis informasi.
Keuntungan menggunakan model pembelajaran Discovery Learningadalah:
a. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan- keterampilan dan proses
kognitif
b. Pengetahuan yang diperoleh menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer pengetahuan.
c. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil serta
membantu siswa memperkuat konsep.
Adapun langkah-langkah model pembelajaran Discovery Learning menurut Syah (2004)
sebagai berikut:
a. Stimulation(stimulasi/ pemberian rangrangan)
Pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungan, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberikan generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki
sendiri.Stimulasi berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan
dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
b. Problem Statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
Langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi
sebanyak mungkin masalah-masalah yang relevan dengan bahan ajar, kemudian salah satunya dipilih
dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)
915
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
c. Data Collection (pengumpulan data)
Pada tahap ini guru juga memberi kesempatan pada para siswa untuk mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis
(Syah, 2004:244).
d. Data Processing (pengolahan data)
Menurut Syah (2004:244), pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi
yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
Semua informasi diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara
tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
e. Verification (pembuktian)
Tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis yang ditetapkan, dihubungkan dengan hasil data processing. Verification menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui
contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan.
f. Generalization (menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil
verifikasi.
Dalam model pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan
menggunakan tes maupun non tes.Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses,
sikap, atau penilaian hasil kerja siswa.Jika bentuk penilaiannya berupa penilaian kognitif, maka
dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau
hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan.
Media Pembelajaran adalah segala sesuatu/ alat bantu yang digunakan untuk menyalurkan
pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat
mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali (Nursyamsi,
2012).Penulis menggunakan media alat peraga AP2K (Alat Peraga Papan Kartesius).
Menurut (Supriyanto, 2014), dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa dengan model
Discovery Learning pembelajaran berjalan dengan baik, siswa terlihat lebih antusias dan tertarik
dalam mengikuti pelajaran. Selain itu, dari data hasil analisanya dapat disimpulkan bahwa Discovery
Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SDN Tanggul Wetan 02 Kecamatan Tanggul
Kabupaten Jember yang diperoleh dari prosentase ketuntasan pada siklus I sebesar 60,60% (tuntas)
dan pada siklus II sebesar 90,90% (tuntas).
(Rudyanto, 2014) menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan model Discovery
Learning dinyatakan efektif, dengan indikator:1) kemampuan berfikir kreatif mencapai ketuntasan
dengan nilai rataan 71,55 dan mencapai ketuntasan klasikal mencapai 90%, (2) rata-rata kemampuan
berfikir kreatif kelas model Discovery Learning dengan pendekatan saintifik lebih baik dari pada
kel;as ekspositori, (3) karakteristik rasa ingin tahu dan keterampilan mengkomunikasikan berpengaruh
positif terhadap kemampuan berfikir kreatif.
Dari hasil kajian teori dan hasil penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa model
pembelajaran Discovery learning adalah cara yang terbaik bagi siswa untuk mempelajari konsepkonsep matematika dengan cara mengkonstruksi/ membangun ide-ide secara mandiri, sehingga siswa
termotivasi untuk mengembangkan rasa ingin tahu dalam memecahkan masalah sampai menemukan
jawabannya. Yang pada akhirnya membuat siswa menjadi aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran
sehingga dalam jangka waktu tertentu siswa mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
Berdasarkan identifikasi masalah dan kajian teori di atas, diperoleh kerangka berfikir bahwa
untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika khususnya materi
916
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
transformasi geometri, diperlukan model pembelajaran Discovery Learning. Melalui penerapan model
pembelajaran Discovery Learningdengan media AP2K siswa didorong untuk aktif bekerja dan belajar
dengan cara mengkonstruksi/ membangun sendiri konsep-konsep matematika.
Hasil observasi tanggal2 September 2016terhadap pelaksanaan pembelajaran transformasi
menunjukkan bahwa kompetensi siswa masih rendah.Nilai pretest siswa masih di bawah rata-rata
ketuntasan minimal (KKM) yaitu 75.Ada 3 catatan yang dapat dikemukakan, yakni (1) siswa kurang
berminat dalam menyelesaikan latihan soal karena banyaknya rumus yang harus dihafal,(2) siswa
merasa kesulitan mengkongkretkan maksud soal, (3) siswa cenderung menghafalkan rumus, sehingga
kurang membantu dalam pemahaman konsep. Saat pembelajaran guru menggunakan metode ceramah
untuk menjelaskan cara penyelesaian transformasi operasi translasi dan refleksi dan hanya
memberikan contoh soal sekaligus pembahasan dipapan tulis.Sementara siswa kurang dilibatkan
dalam kegiatan penyelesaian soal.Selain itu tidak adanya alat peraga yang dibutuhkan siswa dalam
mengkongkretkan masalah semakin mempersulitkan siswa dalam memahami konsep transformasi
operasi translasi dan refleksi.Hal-hal di atas merupakan sebab-sebab ketidakberhasilan pembelajaran.
Supaya siswa mampu menyelesaikan masalah transformasi geometri translasi dan refleksi
dengan baik, maka diperlukan pembelajaran yang mampu membuat siswa mengkonstruksi/
membangun ide-ide secara mandiri, termotivasi untuk kritis dalam memecahkan masalah sampai
menemukan jawabannya. Untuk mengatasi hal tersebut penulis menggunakan media AP2K (Alat
Peraga Papan Kartesius) dengan model pembelajaran Discovery Learning.
Penggunaan AP2K diharapkan memberi kemudahan bagi siswa untuk mendorong bekerja
aktif dengan cara membangun sendiri konsep-konsep matematika.Media AP2K singkatan dari Alat
Peraga Papan Kartesius adalah sejenis alat peraga yang dibuat oleh penulis dalam membantu
pemahaman siswa pada materi transformasi geometri. AP2K merupakan alat peraga yang berupa
papan banner bergambar yang terdiri dari gambar koordinat kartesius, sumbu x dan sumbu y, dan
dilengkapi dengan magnit-magnit untuk meletakkan titik-titik atau gambar bangun pada papan
kartesius, serta gambar bangun yang bisa digunakan berulang-ulang oleh siswa untuk uji kemampuan.
Alat peraga tersebut bertujuan untuk memudahkan guru dalam mengontrol pemahaman konsep
transformasi, sehingga siswa tidak harus menghafal rumus.
Dalam pelaksanaannya siswa diminta mengikuti langkah-langkah yang ada dalam LKS yang
sudah disiapkan oleh penulis. Tahap pertama guru akan memberikan permasalahan pada siswa.
Selanjutnya siswa bekerja dalam kelompok mengidentifikasi masalah dengan memanipulasi AP2K,
mengumpulkan data, mengolah data, membuktikan hasil, dan menarik kesimpulan.
Dari hasil LKS yangtelah dikerjakan secara kelompok, akan didiskusikan dengan kelompok
lain melalui presentasi didepan kelas. Kelebihan penggunaan media AP2K dalam pembelajaran
transformasi khususnya translasi dan refleksi adalah siswa dapat menguji kemampuan pemahaman
konsep matematika tanpa menghafalkan rumus, tapi langsung praktek pada AP2K. Alat peraga ini
bisa dimanipulasi oleh siswa berulang-ulang. Media dalam pembelajaran ini tidak akan berhasil
dengan baik bila dalam kelas tersebut tidak ada diskusi kelompok. Dengan kegiatan diskusi kelompok
tersebut, diharapkan siswa dapat mengeksplorasi media AP2K sehingga meningkatkan keterampilan
aktif menemukan dan menganalisis sebelum menyimpulkan jawaban setiap masalah. Berdasarkan
kegiatan tersebut, maka model pembelajaran discovery learning merupakan alternatif yang tepat
untuk digunakan.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif, jenis penelitian tindakan kelas
(PTK).Penelitian ini melibatkan guru mata pelajaran matematika yang bertindak sebagai peneliti
sekaligus pelaksana. Teman sejawat membantu sebagai pengamat dalam proses pembelajaran.
Penelitian dilakukan di MAN Kota Batu, Jalan Patimura 25, Kelurahan Temas, Kota Batu. Subjek
917
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
penelitian adalah siswa kelas XII IPA-2.Jumlah siswa sebanyak 31, terdiri atas 6 laki-laki dan 25
perempuan.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Akbar
(2010: 28) PTK adalah “proses investigasi terkendali untuk menemukan dan memecahkan masalah
pembelajaran di kelas, proses pemecahan masalah tersebut dilakukan secara bersiklus, dengan tujuan
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil pembelajaran di kelas tertentu”. Penelitian
tindakan kelas adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan
proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Model pelaksanaan
penelitian tindakan kelas ini menggunakan model guru sebagai peneliti dengan acuan model bersiklus
penelitian tindakan kelas yang dikembangkan oleh Kemmis & Taggart (1990). Siklus model Kurt
Lewin ini menjadi acuan pokok ahli sebagai berikut:
Pelaksanaan
Perencanaan
SIKLUS I
Pengamatan
Refleksi
Siklus
berikutnya
Pelaksanaan
Perencanaan
SIKLUS
II
Pengamatan
Refleksi
Gambar 1. Bagan Alur Siklus Model Kurt Lewin
Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa siklus yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan
tindakan, observasi, refleksi, dan selanjutnya diulang kembali dengan perencanaan tindakan
berikutnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dibedakan atas 3proses pembelajaran, dari hasil observasi guru, dari hasil
observasi siswa, dan dari hasil belajar kognitif translasi dan refleksi pada materi transformasi
geometri siswa kelas XII IPA-2 MAN Kota Batu.
Paparan Data Siklus I
Hasil Observasi Guru
Dari analisis hasil observasi guru selama proses pembelajaran dengan penerapan model
pembelajaran discovery learning yang terdiri dari 15 aspek pengamatan yang dilakukan seorang
observer, dapat dikemukakan bahwa kategori baik 2 aspek, kategori cukup 10 aspek, dan kategori
kurang 3 aspek.
918
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Adapun aspek-aspek yang sudah berjalan baik adalah (1) guru memberikan evaluasi sesuai
dengan pembelajaran yang sedang diajarkan, (2) guru memberikan tindak lanjut sesuai dengan materi
dan memotivasi siswa.
Ada 10 aspek yang perlu diperbaiki dan masih dalam kategori cukup, antara lain (1) guru
menggali pengetahuan awal siswa dan menyampaikan apersepsi sesuai dengan materi tetapi tidak
memotivasi siswa, (2) guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara komutatif, jelas tetapi tidak
rinci, (3) guru memberikan permasalahan dengan jelas tetapi kurang sesuai dengan pembelajaran, (4)
guru membimbing sebagian siswa dalam membentuk kelompok, (5) guru memberikan waktu kepada
siswa 1-3 menit untuk memahami permasalahan dan memikirkan jawaban atas pertanyaan yang
diajukan, (6) guru membimbing sebagian siswa dalam mengidentifikasi masalah, (7) guru
membimbing sebagian siswa dalam mengumpulkan semua data yang sesuai dengan masalah yang
dihadapi, (8) guru membimbing dua kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok
didepan kelas, (9) guru memberikan pemantapan materi dengan media dan alat peraga tetapi jumlah
alat peraga terbatas, (10) guru membimbing siswa menyimpulkan materi hanya disebutkan dan kurang
dapat menjawab pertanyaan siswa.
Sedangkan 3 aspek yang termasuk dalam kategori kurang, diantaranya adalah (1) guru tidak
membimbing siswa dalam pengolahan data untuk membuat hiposesis, (2) guru membimbing kurang
dari separuh kelompok untuk pembuktian dan pengecekan terhadap jawaban, (3) guru tidak
membimbing siswa dalam menarik kesimpulan.
Hasil Observasi Siswa
Berdasarkan hasil analisis observasi siswa selama proses pembelajaran model discovery
laearning” yang terdiri dari 15 aspek pengamatan yang dilakukan oleh seorang observer. Hasil
observasi siswa menunjukkan 4 aspek kategori baik, 11 aspek kategori cukup, dan 0 aspek kategori
kurang.
Adapun 4 aspek yang sudah berjalan baik diantaranya, (1) seluruh siswa serius mendengarkan
petunjuk guru dan serius membentuk kelompok, (2) seluruh kelompok antusias mempresentasikan
hasil diskusinya didepan kelas, (3) seluruh siswa mengerjakan evaluasi yang diberikan oleh guru
denngan serius, (4) seluruh siswa menanggapi tindak lanjut yang diberikan guru
Ada 11 aspek yang masih menunjukka kategori cukup, yakni (1) jika sebagian siswa antusias
menganggapi apersepsi yang disampaikan guru, (2) jika sebagian siswa mendengarkan guru
menyampaikan tujuan pembelajaran, (3) jika sebagian siswa yang serius mengidentifikasi masalah
yang diberikan guru, (4) jika sebagian siswa yang serius menyelesaikan masalah, (5) jika sebagian
siswa yang serius dalam membuat hipotesis pada LKS, (6) jika hanya sebagian siswa mengumpulkan
informasi jawaban yang sesuai dengan masalah, (7) jika sebagian siswa yang mau mengecek kembali
jawaban LKS, (8) jika sebagian siswa yang berdiskusi untuk merevisi hipotesis dalam mencari
jawaban yang benar, (9) jika sebagian kelompok siswa menyimpulkan jawaban, (10) jika hanya
sebagian siswa yang menyimak pemantapan materi dari guru, (11) jika sebagian siswa yang
berantusias menyuimpulkan materi.
Hasil Belajar Kognitif
Berdasarkan hasil belajar kognitif , dari jumlah kelompok pada siklus I sebanyak 5 kelompok,
hanya 2 kelompok yang dikatakan tuntas.
Pengamatan keaktifan siswa dilakukan sejak prasiklus, dilanjutkan dengan pengamatan dalam
siklus-siklus yang ditujukan untuk mencapai peningkatan hasil belajar materi transformasi geometri
dengan mediaAP2K melalui model pembelajaran discovery learning.
Siklus I
Pada kegiatan tahap perencanaan ini peneliti mengawali menyusun dan menyiapkan beberapa
kegiatan di antaranya: (1) Merancang strategi pembelajaran, yakni strategi pembelajaran dengan
919
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
menggunakan media AP2K melalui model discoveru learning, (2) Pembuatan desain pembelajaran
yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP, (3) Menyusun instrumen lembar observasi
guru dan siswa, (4) Menyusun instrumen tes hasil dan lembar penilaian hasil belajar siswa.
Siklus I dilaksanakan pada tanggal 7 September 2016 sampai tanggal 14 September 2016.
Pembelajaran diawali dengan salam dan doa. Dilanjutkan dengan penjelasan guru tentang arti
transformasi geometri dengan menggunakan model discovery learning melalui media AP2K.
Pembelajaran transformasi geometritranslasi dengan menggunakan model discovery learning
melalui media AP2K merupakan hal baru bagi siswa kelas XII IPA-2. Hal pertama yang dilakukan
guru (peneliti) adalah memberikan penjelasan menyelesaikan masalah transformasi dengan AP2K.
Penerapan model discovery learning melalui media AP2Kdalam penelitian ini meliputi langkahlangkah berikut.
1. Guru memberikan sedikit pengantar tentang tahap-tahap bagaimana model discovery
learningmenggunakam media AP2K untuk menyelesaikan LKS
2. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen
3. Siswa mencermati pertanyaan yang ada di LKS
4. Bersama kelompoknya, siswa mengidentifikasi pertanyaan pada LKS
5. Bersama kelompoknya, siswa mengumpulkan data dengan memanfaatkan AP2K yang ada
di papan tulis
6. Dengan berdiskusi bersama kelompok siswa memperoleh hasil penyelesaian
7. Setiap kelompok mengecek jawaban penyelesaian , kemudian mempresentasikan hasil
didepan kelas
8. Guru dan siswa menyimpulkan ciri-ciri transformasi geometri translasi
9. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas
10. Guru menyampaikan tindak lanjut untuk rencana kegiatan pertemuan selanjutnya
11. Penutup
Setelah guru menjelaskan langkah-langkah menyelesaikan masalah, guru membagikan LKS
pada masing-masing kelompok. Siswa mulai menggunakan AP2K yang ada didepan kelas secara
bergantian. Awalnya siswa sempat bingung menggunakan media AP2K, karena belum pernah
menggunakan media itu. Masing-masing kelompok bergantian menggunakan AP2K yang ada di
depan kelas. Mereka saling berdiskusi untuk memberi masukan atas masalah yang ada dalam LKS.
Hasil diskusi kelompok dipakai untuk mengecek jawaban, sekaligus menyimpulkan. Mereka aktif
dalam diskusi.Dari hasil diskusi kelompok, siswa disiapkan untuk mempresentasikan hasil didepan
kelas.Pembelajaran transformasi geometri translasi dengan menggunakan model discovery learning
melalui media AP2K berjalan lancar dan menyenangkan.
Gambar 2. Guru sedang menjelaskan cara menggunakan AP2K
920
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar 3. Siswa sedang berdiskusi dalam kelompok masing-masing
Gambar 4. Salah satu kelompok sedang mempresentasikan hasil di depan kelas
Refleksi dilakukan berdasarkan analisis data terhadap observasi guru dan siswa serta hasil
kognitif belajar matematika dengan penerapan model discovery learningmelalui media AP2K.
Penilaian pada siklus I dapat diketahui aspek-aspek yang sudah termasuk dalam kriteria baik dan
aspek-aspek yang masih perlu diperbaiki pada siklus berikutnya. Sedangkan nilai rata-rata dan
prosentase ketuntasan belajar secara klasikal belum tuntas.
Hasil belajar siklus I diperoleh nilai 69,52 dengan ketuntasan belajar klasikal 61,75%. Hasil
ini ditunjukkan bahwa hasil belajar pada siklus I belum bisa dikategorikan tuntas karena berdasarkan
keputusan Depdiknas (2006) bahwa proses pembelajaran di kelas dikatakan tuntas secara klasikal
apabila 75% siswa dikelas mendapatkan nilai
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, juga dilakukan pengamatan proses pelaksanaan
pembelajaran oleh teman sejawatdi sekolah tempat pelaksanaan pembelajaran. Pengamatan ini
dilakukan dengan berpedoman pada lembar observasi yang dibuat oleh penulis yang meliputi
pembuka pembelajaran, inti, dan penutup. Hasil pengamatan ini digunakan sebagai bahan diskusi saat
refleksi pada akhir siklus.
Dari hasil refleksi siklus I diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran transformasi
geometri translasidengan model pembelajaran discovery learning melalui media AP2Kterdapat
beberapa kelebihan, antara lain, (1) siswa lebih aktif belajar dengan menggunakan AP2K, (2) siswa
lebih cepat menyelesaikan masalah dengan menggunakan media ini, dibandingkan dengan cara
menghafalkan rumus ,(3) hasil pekerjaan yang ada di LKS lebih sistematis dan mudah dipahami,
karena siswa mendapat masukan dari kelompoknya dan kelompok lain.
921
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Beberapa kelemahan dalam pelaksanaan siklus I adalah sebagai berikut, (1) waktu yang
digunakan untuk menyelesaikan LKS hingga presentasi kurang.Hal tersebut mengakibatkan beberapa
kelompok terburu dalam mengerjakan latihan, (2) AP2K yang jumlahnya hanya satu memperlambat
kerja siswa, karena mereka harus bekerja bergantian. Dari hasil refleksi ini, hal yang harus diperbaiki
dalam pembelajaran pada siklus 2 adalah sebagai berikut, (1) perlu menambah waktu dalam
mengerjakan LKS hingga presentasi, , dan (2) memberikan AP2K pada masing-masing kelompok,
sehingga kerja mereka lebih fokus.
Dari hasil refleksi ini nampak bahwa tujuan penelitian belun tercapai sepenuhnya sehingga
perlu dilakukan tindakan pada siklus berikutnya.
Siklus II
Berdasarkan refleksi siklus I ditemukan adanya kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran
serta belum tercapainya indikator ketercapaian penelitian. Upaya perbaikan siklus I pada siklus II
diperlukan untuk mengatasi kekurangan pada siklus I, yaitu penambahan waktu dalam mengerjakan
LKS hingga presentasi, dan memberikan AP2K pada setiap kelompok, agak siswa lebih cepat dan
fokus dalam menyelesaikan masalah.
Gambar 5. Penggunaan AP2K pada masing-masing kelompok
Siklus II dilaksanakan pada tanggal 23 September 2016 hingga tanggal 30 September
2016.Berdasarkan refleksi analisis data observasi guru
Pada siklus I masih terdapat beberapa aspek yang termasuk cukup dan kurang, maka harus
melakukan perbaikan-perbaikan pada setiap aspek pengamatan lembar observasi guru sebagai
berikut:(1). membentuk kelompok,(2) membuat hipotesis, (3) menyimpulkan materi. Pada siklus II
sudah menunjukkan adanya sikap positif dari hasil pemantauan. Demikian juga dengan aktivitas
siswa, menunjukkan antusias yang lebih baik dibandingkan pada siklus I.
Pada awal pertemuan siklus II, guru dan siswa mencari kendala-kendala yang menghambat
kegiatan penelitian. Dengan menambah waktu dalam mengerjakan LKS sekaligus presentasi
kelompok, serta memberikan AP2K pada masing-masing kelompok, diharapkan kendala yang ada
pada siklus I dapat teratasi. Disini nampak perubahan terhadap aktivitas siswa dalam menyelesaikan
LKS. Mereka lebih fokus dan cepat dalam mengerjakan karena pada masing-masing kelompok sudah
tersedia AP2K. Keberhasilan aktivitas siswa di setiap tahapan penerapan discovery learning melalui
AP2K dikarenakan sudah dirancang sedemikian rupa oleh penulis sehingga siswa dapat menemukan
konsep-konsep matematika melalui proses mentalnya sendiri, tanpa harus selalu menghafalkan rumus.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang sudah dilaksanakan dalam dua siklus, terjadi
peningkatan hasil belajar (kognitif) pada materi transformasi geometri kelas XII/IPA-2 MAN Batu
922
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
dengan penerapan Discovery Learning melalui media AP2K pada siklus I dan siklus II. Peningkatan
ini berhubungan dengan kualitas proses pembelajaran yang ditinjau dari penilaian observasi guru dan
siswa, serta dari hasil belajar kognitif. Peningkatan hasil belajar ditunjukkan dengan peningkatan nilai
rata-rata dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Pada siklus I diperoleh rata-rata post test 69,52
dengan persentase ketuntasan belajar 61,75% belum tuntas dan meningkat pada siklus II sebesar 79
dengan persentase ketuntasan belajar 88% dan sudah dikatakan tuntas.
Keberhasilan ketuntasan belajar secara klasikal disetiap siklusnya dikarenakan penulis telah
melakukan upaya perbaikan terhadap aspek-aspek yang belum terlaksana dengan baik pada tiap
pertemuan per siklusnya sehingga mempengaruhi kegiatan siswa dalam proses pembelajaran di kelas.
Siswa lebih antusias dan fokus saat diberikan media AP2K, karena siswa semakin faham akan
keefektifan dari media tersebut. Siswa merasa lebih mudah menyelesaikan masalah dengan AP2K dari
pada harus menghafal banyak rumus. Ini artinya penggunaan media belajar dan model pembelajaran
yang tepat akan mampu membangkitkan minat dan keaktifan siswa, sehingga dapat merangsang
kemampuan menanamkan konsep.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, simpulan yang dapat ditarik adalahdalam
penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar materi transformasi geometri dengan
penerapan model pembelajaran discovery learning dengan media AP2K siswa kelas XII IPA-2 MAN
Batu yang meliputi hasil tes siklus I nilai rata-rata 63,5 dan siklus II nilai rata-rata 84,5 . Hasil yang
dicapai tersebut sudah memenuhi target yang telah ditetapkan. Peningkatan nilai rata-rata dan
ketuntasan belajar secara klasikal ini membuktikan keberhasilan pembelajaran materi transformasi
geometri.
Saran
Saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkan simpulan hasil penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Guru sebaiknya menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dalam pembelajaran
materi transformasi geometri, karena dapat membantu siswa untuk memperbaiki dan
meningkatkan ketrampilan dan proses kognitif serta aktif menemukan dan membangun konsep
sendiri.
2. Penulis menyarankan kepada guru agar menggunakan media AP2K (Alat Peraga Papan
Kartesius) dalam proses pembelajaran, khususnya materi transformasi untuk menghindari anakanak menghafal rumus yang selama ini menjadi beban bagi siswa
DAFTAR RUJUKAN
Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher.
Rudyanto, Hendra Erik. 2010. Model Discovery Learning dengan pendekatan Saintifik Bermuatan
Karakter Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif. Madiun. IKIP PGRI
Pardjono,dkk. 2007. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Lembaga
penelitian UNY
Supriyanto, Bambang: Jurnal Unej.ac.id @ Pancaran, Vol.3,No.2, hal 165 -174, Mei 2014:
Penerapan Discovery Learning UntukMeningkatkan Hasil belajar Siswa Kelas Vib Mata
Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Keliling dan Luas Lingkaran di SDN Tanggul Wetan 02
Kecamatan Tanggul Kab. Jember
923
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
PENGGUNAAN PETA KONSEP PADA PEMBELAJARAN
MATERI JARINGAN HEWAN UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MIA I SMA NEGERI 2 BATU
Wartono
SMAN 2 Batu Jawa Timur
[email protected]
Abstraksi: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang jaringan
hewan melalui Peta Konsep (Maind Map) . Tahapan pemberian materi melalui peta konsep
ini adalah, 1) pemberian contoh peta konsep untuk materi sebelumnya, 2) pemberian materi
dengan penugasan pembuatan peta konsep secara mandiri, 3) pemberian materi dengan
penugasan pembuatan peta konsep secara berkelompok, 4). melakukan diskusi kelompok
dan presentasi, 5) pos test . Data yang dikumpulkan bersifat kualitatif dan kuantitatif,
selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Data diambil dari kegiatan Real teaching di SMAN
2 Batu, dan dari hasil pengamatan beberapa observer yang disampaikan melalui kegiatan
lesson study pada tahap refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran tentang
Jaringan Pada Hewan dengan menggunakan Peta Konsep dapat meningkatkan keaktifan
siswa, membentuk suasana belajar yang menyenangkan dan membentuk interaksi yang
kondusif antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru serta hasil belajar siswa
meningkat sebesar 8,4 %
Kata kunci: peta konsep, Jaringan hewan dan hasil belajar
Di dalam Pembukaan Undang–Undang Dasar 1945 tercantum jelas tujuan dari negara dalam bidang
pendidikan yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Peran serta semua pihak dalam upaya
mewujudkan tujuan tersebut, sangat diharapkan. karena pendidikan merupakan inpestasi terbaik untuk
masa depan bangsa dan merupakan kewajiban semua warga Indonesia
Melalui pendidikan diharapkan para peserta didik tidak hanya dituntut untuk memiliki
wawasan, pengetahuan, kecakapan hidup dan keterampilan yang memadai tetapi juga diharapkan
memiliki nilai nilai sikap yang baik. Dengan kemampuan yang dimiliki para siswa tersebut diyakini
masa depan khusunya para siswa dan umumnya tujuan bangsa Indonesia akan tercapai.Guru
memegang peranan yang sangat penting dalam mewujudkan cita cita tersebut. Oleh karena itu guru
pun seharusnya memiliki komitmen yang kuat dan kemampuan yang mumpuni agar di dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya berjalan dengan baik dan hasilnya dapat segera dirasakan oleh
semua pihak.Mengingat kemajuan ilmu dan teknologi makin pesat , maka guru wajib setiap saat
meng-Update pengetahuan dan informasi serta teknologi terbarukan yang berkembang agar tidak
ketinggalan oleh kemajuan zaman khusunya yang berkaitan dengan tugas dan kewajibannya.
Hal yang menggembirakan sekaligus dapat meringankan guru dalam manjalankan tugasnya
adalah berkembangnya teori-teori pembelajarn .srategi pembelajaran, model-model pembelajaran,
media pembelajaran, metode, pendekatan serta sumber belajar dan lain lain. Para guru bisa dengan
mudah mendapatkannya baik melalui media elektronik maupun media cetak dan semua itu dapat
meningkatkan profesionalisme guru dan dapat menjadi alternatif dalam mendesain proses
pembelajaran di kelas. Di sisi lain dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan, penulis banyak
menemukan permasalahan yang mengakibatkan proses belajar mengajar belum mencapai hasil
maksimal. Beberapa masalah yang ditemukan antara lain : 1. rendahnya motivasi siswa dalam belajar
2. minat baca siswa masih rendah 3.media belajar belum mampu meningkatkan minat belajar dan
pemahaman siswa dalam belajar 3. metode yang digunakan guru belum merangsang siswa untuk aktif
924
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
dalam pembelajaran 4. hasil belajar siswa masih rendah 5. interaksi antara siswa dengan siswa dan
siswa dengan guru belum maksimal
Untuk mengatasi beberapa kekurangan tersebut, penerapan peta konsep diyakini mampu
mengatasi masalah yang ditemui guru dalam proses pembelajaran maupun masalah yang ditemui
siswa berupa sulitnya memahami konsep yang diberikan guru, mampu meningkatkan nilai-nilai
positif siswa serta hasil belajar siswa . Concept mapping adalah istilah yang digunakan oleh Novak
dan Gowin (1984) tentang cara yang dapat digunakan dosen untuk membantu mahasiswa
mengorganisasikan materi perkuliahan yang telah dipelajari berdasarkan arti dan hubungan antar
komponennnya. Rose dan Nicholl (2002: 136) menyatakan:
Peta konsep atau peta pembelajaran adalah cara dinamik untuk menangkap butir-butir pokok
informasi yang signifikan. Mereka menggunakan format global atau umum, yang memungkinkan
informasi ditunjukkan dalam cara mirip seperti otak kita berfungsi-dalam pelbagai arah secara
serempak.
Teknik penggunaan peta konsep ini di populerkan kembali oleh Tony Buzan dalam bentuk
peta pikiran hasil risetnya tentang cara kerja otak yang sebenarnya, hingga pada teori-teori quantum.
Peta konsep menurut Buzan Center, Pusat Mind Map yang berada di Kanada menjelaskan
bahwa mind map adalah sebuah teknik grafik ampuh yang menyediakan suatu kunci yang universal
untuk membuka seluruh potensi otak manusia sehingga dapat menggunakan seluruh kemampuan yang
ada di kedua belah otak seperti gambar, kata, angka, logika, ritme dan warna dalam suatu cara yang
unik. (Herdian, 2009)
Penggunakan peta konsep dalam pembelajaran dapat diaplikasikan salah satunya pada
pembelajaran mata pelajaran biologi. Siswa memetakan pengetahuan apa yang mereka peroleh dari
guru maupun buku-buku referensi dengan gambar-gambar, kata-kata, maupun panah-panah, sehingga
keseluruhan materi dapat termuat dalam peta konsep tersebut. Lebih lanjut Tony Buzan (2005: 42)
menjelaskan bahwa fungsi peta konsep antara lain dapat membantu mempermudah dalam
mengingatkan informasi; memperoleh ide; efektif dan efisien . menjadikan hidup lebih kreatif; serta
dapat mengatur kehidupan sehari – hari.
Dilihat dari manfaatnya Herdian (2009) menjelaskan bahawa peta konsep memiliki beberapa
manfaat antara lain: a. Merencana b. Berkomunikasi c. Menjadi kreatif d. Menghemat waktu e.
Menyelesaikan masalah f. Memusatkan perhatian g. Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran h.
Mengingat dengan lebih baik i. Belajar lebih cepat dan efisien j. Melihat gambar keseluruhan.
Sementara menurut Hisyam Zaini, dkk. (2002:21) dilihat dari segi content, peta konsep memberikan
sejumlah keuntungan antara lain: a. Concept map, sesuai dengan tabiatnya, memberikan visualisasi
konsep-konsep utama dan pendukung yang telah terstruktur di dalam otak dosen ke dalam kertas yang
dapat dilihat secara empiris. b. Gambar konsep-konsep menunjukkan bentuk hubungan antara satu
dengan yang lain. c. Concept map memberikan bunyi hubungan yang dinyatakan dengan kata-kata
untuk menjelaskan bentuk-bentuk hubungan antara satu konsep dengan konsep lain, baik utama
maupun pendukung.
Beberapa keuntungan/keunggulan peenerapan peta konsep yang dapat diperoleh antara lain
menangkap seluruh konsep, menyusun bahan dan informasi secara praktis, memperlihatkan hubungan
berbagai konsep dan gagasan, mengingat kembali dengan mudah, melakukannya secara
menyenangkan, dan merangsang kreativitas. Dalam pendidikan peta konsep dapat diterapkan untuk
beberapa tujuan (Dahar, 1988: 156) antara lain: menyelidiki apa yang telah diketahui peserta didik .
Belajar bermakna membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dari pihak mahasiswa untuk
menghubungkan pengetahuan baru dengan konsep-konsep releva n yang telah mereka miliki. Untuk
memperlancar proses ini, baik dosen maupun mahasiswa perlu mengetahui “tempat awal konseptual”.
b. Belajar bagaimana belajar. Belajar bermakna baru terjadi bila pembuatan peta konsep bukan untuk
memenuhi keinginan dosen, melainkan harus timbul dari keinginan mahasiswa untuk memahami isi
925
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
pelajaran bagi diri mahasiswa sendiri. c. Mengungkapkan konsepsi salah. Peta konsep dapat
mengungkapkan konsepsi salah yang terjadi pada mahasiswa. Konsepsi salah biasanya timbul karena
terdapat kaitan antara konsep-konsep yang mengakibatkan proposisi yang salah. d. Alat evaluasi.
Penggunaan peta konsep sebagai alat evaluasi didasarkan pada tiga gagasan dalam teori Ausubel yaitu
: 1) Struktur konitif diatur secara hirarki, dengan konsep dan proposisi yang lebih inklusif, lebih
umum superordinat terhadap konsep-konsep dan propisisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. 2)
Konsep dalam struktur kognitif mengalami differensiasi progresif. 3) Penyesuaian integratif. Dengan
diketahuinya beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan mind map tersebut, metode ini
menjadi pilihan yang tepat untuk diterapkan dalam mengkaji materi tentang Jaringan pada hewan.
METODE
Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus.
Masing-masing siklus terdiri tiga tahapan, yaitu tahapan perencanaan, tahapan tindakan dan tahapan
refleksi, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1). Tahap Perencanaan, pada tahap ini peneliti bekerja sama dengan teman sejawat (observer)
menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran antara lain: a) rencana
pelaksanaan pembelajaran, b) lembar kerja siswa, c) media pembelajaran, d) lembar penilaian
keaktifan siswa, e) lembar respon siswa, f) alat efaluasi dan g) lembar pengamatan untuk
observer.
2.) Tahap Tindakan, dengan bantuan observer peneliti melaksanakan semua rencana yang telah
ditentukan pada tahap perencanaa sekaligus mengambil data hasil pelaksanaan pembelajaran.
Peran Peneliti adalah sebagai guru model sementara Observer bertugas mengamati dan mencatat
data temuan terkait proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, setiap siklus
terdiri dari 2 pertemuan dan masing masing pertemuan berlangsung 2 jam pelajaran (90 menit).
Siklus I dilakukan 2 kali pertemuan, yaitu pertemuan ke-1 dilaksanakan pada hari Senin , tanggal
3 Oktober 2016 dan pertemuan ke-2 pada hari Rabu, tanggal 5 Oktober 2016. Sementara siklus II
pertemuan ke-1 dilaksanakan pada hari Senin tanggal 10 Oktober 2016 selama 2 jam pelajaran
dan pertemuan ke-2 hari Rabu, tanggal 12 Oktober 2016 selama 2 jam pelajaran. Selama
kegiatan pembelajaran berlangsung ,Observer mencatat segala hal penting terkait proses
pembelajaran terutama aktifitas siswa sebagai hasil respon terhadap tindakan guru.
3) Tahaf Refleksi, setiap proses pembelajaran berakhir, guru model dan observer berkumpul untuk
menyampaikan hasil temuan pada proses pembelajaran yang baru berlangsung. Pada kegiatan ini
di tunjuk seorang moderator dan sekertaris yang berasal dari Observer. Kegiatandiawali oleh
moderator dilanjutkan dengan penyampain pendapat dari peneliti sebagai guru model
selanjutnya secara bergantian observer menyampaikan data temuan. Semua data tersebut dicatat
dan diserahkan kepada peneliti untuk dijadikan sebagai bahan acuan dalam melaksanakan proses
pembelajaran berikutnya.
4) Tahap Analisis Data, data yang diambil meliputi data hasil belajar siswa dari hasil tes untuk
aspek Kognitif, karya siswa berupa peta konsep sebagai bahan penilaian Psikomotorik dan
respon serta aktivitas siswa yang menunjukkan nilai-nilai positif siswa sebagai sumber penilaian
aspek apektif.
Pada setiap pertemuan pembelajaran, dilakukan tahapan sebagai berikut :
a) Kegiatan Pembukaan
Kegiatan pembukaan diawali dengan guru mengucapkan salam, menanyakan kabar, melihat
kesiapan siswa, melakukan presensi, setelah itu guru melakukan apersepsi, menjelaskan
indikator dan tujuan pembelajaran, dan terakhir menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
pada pertemuan itu.
926
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
b) Kegiatan Inti
Guru membagi kelompok, memberikan LKS dan membimbing siswa dalam menggali materi
dan mengerjakan Lembar Kerja Siswa serta membuat Peta konsep tentang materi yang
dipelajari.
c.) Kegiatan Penutup
Bersama siswa guuru menarik kesimpulan, memberi kesempatan untuk bertanya dan
memberikan penguatan, menjelaskan materi kajian berikutnya dan teralhir mengucap salam.
Sesuai dengan tujuan pembelajaran ini maka teknik pengambailan data yang dilakukan adalah
dengan cara : (a ) pemberian lembaran kerja siswa (LKS ) , fungsi dari LKS adalah sebagai pengarah
bagi siswa agar bisa secara mudah menentukan poin poin penting yang ada dalam materi serta
memberi kemudahan kepada siswa untuk memahami konsep. Disamping itu LKS dapat berfungsi
sebagai alat untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam belajar. (b) penugasan pembuatan produk
(peta konsep), (c). kuesioner, serangkaian pertanyaan tentang proses pembelajaran untuk memperoleh
informasi dari siswa yang berkaitan dengan metode, media dan proses pembelajaran serta (3)
observasi, menggunakan lembaran pengamatan tentang kejadian di dalam kelas pada proses
pembelajaran yang dilakukan guru sejawat (observer) dan disampaikan pada kegiatan refleksi, dan (d)
Post Test (test akhir) diakhir pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Proses pembelajaran Terdapat lima kegiatan dilaksana-kan dalam tahap perencanaan: (1)
menyusun rencana perbaikan pem-belajaran (RPP), (2) menyiapkan media pembelajaran, (3)
mengem-bangkan lembar kerja siswa (LKS), (4) mengembangkan pedoman obser-vasi, dan (5)
mengembangkan alat evaluasi. Lima kegiatan itu menyertakan teman sejawat dari kelompok
musyawarah guru mata pelajaran sejenis (MGMPS) SMAN 2 Batu.
Fokus utama dari Penelitian Tindakan Kelas yaitu yang pertama adanya perbaikan karakter
siswa seperti ; kerja sama, disiplin menghargai orang lain, bekerja keras , kreatif dan memiliki
kesasdaran bahwa semua mahluk diciptakan oleh Alloh SWT. Sasaran kedua ialah adanya
peningkatan nilai test siswa sebagai bukti adanya peningkatan keberhasilan siswa dalam memahami
konsep. Secara rinci hasil dari penelitian Tindakan Kelas dengan Peta Konsep ini adalah sebagai
berikut :
Siklus I
Perencanaan Siklus I
Pada tahap perencanaan, peneliti bekerja sama dengan teman sejawat (observer) menyiapkan segala
sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran antara lain: a) rencana pelaksanaan pembelajaran,
b) lembar kerja siswa, c) media pembelajaran, d) lembar penilaian keaktifan siswa beserta
pedomannya, e) lembar respon siswa, f) alat efaluasi dan g) lembar pengamatan untuk observer.
Tahap perencanaan pembelajaran siklus I diawali dengan menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) peneliti mengembangkan kompetensi dasar Jaringan pada hewan menjadi empat
indikator yaitu; (1) mendeskripsikan jaringan epitel, (2). mendekripsikan jaringan Ikat, (3).
mendeskripsikan jaringan otot dan (4) mendeskripsikan jaringan saraf dengan sasaran utama adalah
kegiatan yang berpusat pada siswa dengan bentuk kegiatan adalah pembahasan materi dan pembuatan
peta konsepnnya secara mandiri.
Disamping itu penulis membuat Lembar Kerja siswa yang sudah didesain sedemikian rupa
sesuai indikator dan tujuan pembelajaran sehingga siswa bekerja secara terarah, cepat memahami
materi serta mempermudah dalam membuat peta konsepnya. Hasil pekerjaan LKS akan dijadikan
bahan penilaian aspek kognitif, dan psikomotorik sementara sikap siswa ketika melakukan proses
pembelajaran juga akan di jadikan bahan penilaian untuk aspek apektif.
927
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada hari Senin tanggal 3 Oktober 2016 dan hari Rabu
tanggal 5 Oktober 2016 di kela s XI MIA 1 SMAN 2 Batu. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan,
dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan pembukaan, kegiatan inti, kegiatan penutup.
Kegiatan pembukaan diawali dengan guru mengucapkan salam, menanyakan kabar, melihat
kesiapan siswa, melakukan presensi, setelah itu guru melakukan apersepsi, menjelaskan indikator dan
tujuan pembelajaran, dan terakhir menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan itu.
Kegiatan inti penulis membagi LKS yang harus dikerjakan siswa secara mandiri. Lembar
Kerja Siswa pada pertemuan ini berisi materi penting dan singkat tentang jaringan efitel dan jaringan
ikat serta tagihan berupa isian singkat, gambar, soal pilihan ganda serta peta konsep. Pada tahap ini
guru memberikan bimbingan dan memeriksa hasil pekerjaan siswa.
Di akhir pembelajaran/kegiatan penutup, guru bersama siswa dan guru melakukan refleksi
dengan cara tanya jawab, dilanjutkan dengan melakukan post test pada siswa. Sebelum dikhiri guru
mengingatkan siswa untuk mengerjakan LKS secara individu di rumah masing-masing dan
dikumpulkan pertemuan berikutnya, serta memberi tugas siswa untuk mempelajari materi pertemuan
selanjutnya.
Pengamatan Siklus I
Berdasarkan hasil pengamatan observer, selama kegiatan pembelajaran ada beberapa temuan
yang menarik pada aktivitas siswa, antara lain : a) Pada awal sampai akhir permainan semua siswa
antusias mengikuti proses pembelajaran, b) Ada beberapa siswa yang kurang memahami materi,
sehingga salah memasangkan kartunya, c) Pada saat membacakan kartu pasangan suasana masih
ramai karena ada beberapa siswa yang masih bingung, sehingga yang lain juga terpengaruh dan
kurang konsentrasi, d) Pada saat refleksi pembelajaran ada beberapa siswa yang masih salah
menjawab pertanyaan, e) Ada siswa yang masih main HP dan berjalan ke meja temannya, f) Pada saat
post test, masih ada siswa yang bertanya pada temannya.
Refleksi Siklus I
Kegiatan refleksi pembelajaran dilakukan dalam bentuk diskusi bersama dengan observer dan
beberapa guru yang lain, adapun hasil diskusi tersebut antaraa lain adalah sebagai berikut : a) Pada
kegiatan pembukaan belum semua siswa konsentrasi mendengar penjelasan guru, b) Perlu adanya
fenomena yang menarik yang ditampilkan agar siswa lebih terkonsentrasi, c) Pada saat kegiatan inti,
di permainan awal memang semua siswa antusias, tetapi lama kelamaan mereka bosan, mungkin
karena harus berpindah-pindah tempat karena ruangan juga sempit, jadi ada beberapa siswa yang
akhirnya pasip dalam mencari pasangan, d) pada saat pembacaan kartu secara berpasangan kondisi
kelas yang masih ramai sehingga menyebabkan siswa yang lain tidak mendengar apa yang dibacakan
temannya, sehingga saat refleksi dan post test masih kebingungan, e) Saat mendapat kartu pasangan
tidak semua siswa mendapat semua kartu sehingga hanya kartu yang mereka pegang yang dipahami,
dan kartu yang belum mereka pegang jadi tidak tahu, sehingga siswa belum paham dengan baik, f)
Saat post test siswa belum paham dengan baik pada materi yang sudah dipelajari, sehingga masih ada
beberapa siswa yang masih bingung dan bertanya pada temannya. Nilai post tes juga belum
menunjukkan hasil yang signifikan lebih dari 30 % yang masih dibawah KKM.
Dari hasil refleksi siklus I dapat disimpulkan, penelitian belum berhasil secara maksimal,
perlu direvisi sedikit pada RPP yang sudah disusun, khususnya pada kegiatan inti kartu dtidak dibagi
secara klasikal, tetapi dibentuk kelompok – kelompok yang lebih kecil lagi sehingga materi bisa
dipahami dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran.
928
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Siklus II
Perencanaan Siklus II
Siklus II dilakukan untuk memperbaiki kegiatan pada siklus I yang sudah dilakukan dan
belum mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Siklus II dilakukan berdasarkan hasil temuan
masalah pada siklus I dan kemungkinan pemecahannya. Dengan melakukan perbaikan pada siklus II
diharapkan tujuan penelitian bisa dicapai dengan baik. Revisi RPP pada siklus I, dilakukan pada
bagian kegiatan pembukaan, inti dan penutup.
Pada kegiatan pembukaan setelah menyiapkan siswa untuk belajar selanjutnya ditayangkan
sebuah fenomena dari LCD proyektor untuk menarik perhatian siswa dan membantu siswa
berkonsentrasi pada materi yang akan dibahas (pada siklus I belum ada), selain itu siswa juga bisa
mengeksplore pengetahuan yang sudah didapatkan sebelumnya.
Pada kegiatan inti, yang sebelumnya pada siklus I model Make and Match dilakukan secara
klasikal, pada siklus II dilakukan secara berkelompok, sehingga penerapan model make and Match
dilakukan pada lingkup yang lebih kecil lagi (terdiri dari 5 – 6 orang). Hal ini dilakukan agar siswa
lebih memahami materi yang dibahas, sehingga diharapkan saat presentasi siswa benar-benar sudah
menguasai materi, demikian juga pada saat post tes siswa akan dengan mudah mengerjakan soal
dengan harapan nilai siswa memenuhi KKM yang ditentukan (lebih dari 80% jumlah siswa).
Selanjutnya siswa akan diskusi secara berkelompok dan mengerjakan LKS masing-masing.
Pada kegiatan penutup, siswa melakukan refleksi pembelajaran bersama dengan guru untuk
menyimpulkan apa yang sudah dipelajari pada pertemuan tersebut. Selanjutnya guru melakukan pos
tes untuk menguji kemampuan siswa. Dan guru mengakhiri pembelajaran.
Untuk menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran, digunakan media pembelajaran
berupa banner peta konsep tentang jaringan pada hewan lengkap dengan poin-poin pentingnya.
sementara lima banner lainnya berupa aneka skema kosongan yang nanti akan diminta kepada siswa
melalui perwakilannya untuk diisi sesuai hasil diskusi kelompoknya.
Disamping mengembangkan media pembelajaran, pembuatan dan pengembangan lembar
kegiatan siswa (LKS) mutlak dilakukan oleh seorang guru atau peneliti. hal ini ditujukan agar proses
pembelajaran siswa efisien dan efektif. Isi dari LKS adalah tagihan berupa soal isian singkat dan
uraian yang disusun berurut sesuai alur materi dan dikerjakan oleh siswa secara berkelompok.
Berbekal pengetahuan dan pengalaman dalam menjawab soal yang ada pada LKS, setiap kelompok
diminta membuat peta konsep berisi poin poin penting yang ada pada materi yang dipelajari.
Untuk melihat tindakan guru dalam belajar dan menilai tingkat keaktifan siswa dalam belajar,
maka disusun form isian pengamatan bagi observer. tugas obesrver dalam proses pembelajaran ini
adalah mengamati tindakan yang dilakukan guru model atau peneliti dan aktifitas siswa yang
ditemukan pada saat proses pembelajaran. data hasil pengamatan ini disampaikan observer pada saat
refleksi dan hasil dari refleksi inilah yang akan dijadikan bahan kajian dan pengambilan tindakan
lanjutan demi perbaikan proses pembelajaran berikutnya.
Terakhir penulis melakukan perbaikan alat evaluasi ; 1). Sebelum evaluasi, siswa diberi soal
isian singkat secara berurut sesuai materi dan dikerjakan secara berkelompok. 2). Soal untuk evaluasi
berupa soal Pilihan Ganda yang sudah diperbaiki baik struktur seperti gambar yang lebih jelas dan
pemberian stimulus, bahasa yang sesuai EYD dan singkat tapi jelas dan terakhir cakupan materinya
disesuaikan dengan indikator dan tujuan pembelajaran.
Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pelaksanaan tindakan penelitian ini dilaksanakan pada Hari Selasa tanggal l November 2016
pada kelas X ATU-1 di SMK Muhammadiyah 1 Batu. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan, dibagi
menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan pembukaan, kegiatan inti, kegiatan penutup. Pada kegiatan
pembukaan, siswa dikondisikan dengan cara guru memberi salam pada siswa dan menyiapkan siswa
929
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
untuk mengikuti pembelajaran dengan memberikan pertanyaan pada siswa tentang materi pada
pertemuan sebelumnya. Selanjutnya, menanyakan apakah siswa sudah mempelajari materi hari ini di
rumah sebagaimana telah peneliti sampaikan pada pertemuan sebelumnya dan menjelaskan topik dan
tujuan pembelajaran pada hari itu. Peneliti juga menjelaskan model pembelajaran yang akan
dilaksanakan dengan menjelaskan sintak model Make and Match.
Kegiatan inti dilakukan sesuai sintak model Make and Match yaitu : guru membagi kelompok
siswa (menjadi 5 kelompok), selanjutnya wakil tiap kelompok maju untuk mengambil nama
kelompok dan perangkat permainan yang terdiri dari 1 set kartu, aturan permainan, kata kunci,
lembar prestasi. Sebelum permainan dimulai peneliti membacakan dan menjelaskan aturan permainan
dan semua siswa mendengarkan. Selanjutnya guru mempersilahkan masing-masing kelompok untuk
memulai permainan sesuai sintak dan aturan permainan. Peneliti mengamati jalannya permainan dan
memberi bimbingan pada siswa jika ada yang ditanyakan. Setelah semua kelompok melakukan
permainan sampai 3 kali putaran, guru membagikan LKS dan siswa mengerjakannya secara individu
dengan berdiskusi dalam kelompoknya.
Di akhir pembelajaran/kegiatan penutup, siswa dan guru melakukan refleksi dengan cara
tanya jawab, selanjutnya dilanjutkan dengan melakukan post test pada siswa. Sebelum dikhiri guru
meminta siswa mengumpulkan LKS, dan menjelaskan tugas kelompok yang harus dikerjakan di
rumah yaitu membuat poster tentang hewan vertebrata sesuai dengan kelompoknya untuk
dikumpulkan minggu depan, dan mengingatkan siswa menyiapkan diri mengikuti uji kompetensi
materi pertemuan hari ini.
Pengamatan Siklus II
Berdasarkan hasil pengamatan observer, selama kegiatan pembelajaran ada beberapa temuan
yang menarik pada aktivitas siswa, antara lain : a) Pada awal sampai akhir permainan semua siswa
antusias mengikuti proses pembelajaran, b) Ada beberapa siswa yang kurang memahami aturan
permainan dan materi, sehingga salah dalam mencari pasangan kartunya, namun setelah diberi
pengarahan dan bimbingan permainan menjadi lancar c) Semua siswa konsentrasi pada kartunya
masing-masing dan merasa tertantang untuk mencari pasangan, namun siswa yang menang duluan
menjadi kurang aktif dan hanya diam saja menonton temannya d) Pada saat mengerjakan LKS ada
beberapa siswa yang masih melihat dan mencontoh jawaban temannya tanpa diskusi, namun hanya
beberapa saja, d) Pada saat refleksi pembelajaran siswa telah menjawab dengan benar dan tertib e)
Pada saat post test dilaksanakan dengan cara tanta jawab dan masing-masing perwakilan kelompok
menjawab soal yang diberikan guru dengan benar dan tertib.
Refleksi Siklus II
Kegiatan refleksi pembelajaran dilakukan dalam bentuk diskusi bersama dengan observer,
adapun hasil diskusi tersebut antaraa lain adalah sebagai berikut : a) Pada Kegiatan pembukaan semua
siswa konsentrasi mendengar penjelasan guru, b) Dengan ditayangannya fenomena siswa lebih
berkonsentrasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peneliti sehubungan dengan
tayangan tersebut, c) Pada saat kegiatan inti, di permainan awal masih ada beberapa siswa yang belum
memahami dengan baik aturan permainan serta materi sehingga masih ada kesalahan dalam mencari
pasangan kartu, namun setelah putaran kedua dan ketiga permainan berjalan dengan lancar, sebaiknya
penjelasan aturan permainan lebih diperjelas agar siswa lebih paham dan siswa menyiapkan diri
dengan materi yang akan dibahas dengan baik di rumah. Untuk menambah pengetahuan siswa peneliti
bisa membuat hand out tentang materi tersebut untuk dipelajari siswa di rumah. d) Pada saat
mengerjakan LKS masih ada yang menncontoh temannya dan mencatat penjelasan temannya saat
refleksi pembelajaran, sebaiknya LKS dikumpulkan sebelum melakukan refleksi pembelajaran e) Saat
930
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
post test siswa sudah paham dengan baik pada materi yang sudah dipelajari, sehingga beberapa siswa
sudah bisa menjawab dengan baik dan benar.
Nilai post tes yang dilakukan ada pertemuan berikutnya sudah menunjukkan peningkatan dan
semua siswa sudah mendapat nilai diatas KKM (75). Tugas kelompok yang telah diberikan guru juga
sudah dikerjakan dengan baik oleh siswa dan sudah dikumpulkan tepat waktu.
Adapun hasil analisis data yang telah dilakukan baik data pada siklus I maupun II adalah
sebagai berikut :
Tabel. 1. Aktivitas Siswa pada Siklus I dan Siklus II
Siklus
Siswa Aktiv
Siswa tidak aktiv
Siklus I
75 %
25 %
Siklus II
95 %
5%
Tabel. 2. Hasil Belajar Siswa pada Siklus I dan Siklus II
Siklus
Prosentase siswa
yang tuntas
Prosentase siswa
yang tidak tuntas
Nilai Rata-rata
Siklus I
62 %
38 %
68,5
Siklus II
82 %
18 %
83
Perbandingan aktivitas belajar siswa dideskripsikan sebagai beikut : pada siklus I ada 75 %
siswa yang aktiv saat mengikuti proses pembelajaran sedangkan yang 25 % masih kurang aktiv
mengikuti pembelajaran, pada siklus II ada 95 % siswa yang aktiv saat mengikuti proses pembelajaran
sedangkan yang 5 % masih kurang aktiv mengikuti pembelajaran. Hal ini berarti terjadi peningkatan
aktivitas belajar siswa. Sedangkan perbandingan hasil belajar siswa antara siklus I dan siklus II
dideskripsikan sebagai berikut : pada siklus I nilai rata-rata kelas adalah 68,5 dan pada siklus II adalah
83. Hal ini berarti terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas sebesar 14,5. Dengan melihat prosentase
hasil belajar, pada siklus I prosentase siswa yang tuntas 62% dan prosentase siswa yang tidak tuntas
38 % sedangkan pada siklus II prosentase siswa yang tuntas 82% dan prosentase siswa yang tidak
tuntas 18%. Terjadi peningkatan prosentase siswa yang tuntas sebesar 20 %.
Dari hasil analisis data dan refleksi baik pada siklus I dan siklus II dapat disimpulkan, penelitian
sudah berhasil dengan baik, walaupun masih ada beberapa kekurangan untuk penyempurnaan
Dari karakter siswa ditemukan adanya peningkatan sikap positif siswa dalam belajar yaitu 90
% siswa mengikuti pembelajaran dengan baik sehingga proses belajar terlihat aktif, tertib dan
mengikuti dengan seksama seluruh arahan guru. kekompakan dalam belajar dan rasa bersaing diantara
para peserta didik terlihat jelas . ini penting karena dengan itu kita dapat mempersepsikan para peserta
didik memiliki minat dan tanggung jawab yang tinggi.
Sementara dilihat dari hasil belajar siswa melalui serangkaian proses dan diakhiri dengan test
yang dilakukan diakhir proses pembelajaran didapat data Nilai Rata-rata siswa sebelum dilakukan
PTK adalah 76.73 dibulatkan 76 , nilai rarat-rata siswa yang diperoleh siswa pada siklus pertama
adalah 81.44 dibulatkan 81 sedangkan nilai rata-rata siswa setelah siklus 2 yaitu 85.20 dibulatkan 85.
Meski terdapat siswa yang hasil belajarnya masih perlu ditingkatkan, tapi secara keseluruhan
hasil belajar siswa menunjukan grafik yang meningkat. Tindakan yang dilakukan penulis terhadap
siswa yang memperoleh nilai kognitifnya rendah atau belum menunjukan peningkatan yang
931
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
membahagiakan, maka penulis memberikan tugas tambahan yaitu menyuruh siswa tersebut membuat
rangkuman materi dan menjawab soal isian singkat.
Dari penjabaran di atas, penulis memiliki keyakinan bahwa penerapan metode maind map
untuk materi Jaringan pada Hewan adalah tepat karena dapat meningkatkan nilai-nilai positif siswa
baik sikap, keterampilan maupun pengetahuannya.
KESIMPULAN
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan metode MAIND MAP
dapat meningkatkan keterampilan proses siswa pada topik jaringan pada hewan
2. Terjadi peningkatan kemampuan guru model dalam mengajar materi BIOLOGI
3. Guru model lebih percaya diri dalam menerapkan metode maind mapp..
4. Para Siswa kelas xi mia lebih termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran biologi
5. Terjadinya peningkatan hasil belajar BIOLOGI siswa kelas XI MIPA SMAN 2 BATU.
SARAN
Dari kesimpulan diatas :(1) Guru sebaiknya menggunakan metode yang sesuai dengan materi
pembelajaran, (2) Untuk meningkatkan kreatifitas siswa, guru hendaknya menggunakan media, (3)
Agar pembelajaran menyenangkan dan bermakna, sebaiknya guru menggunakan metode maind map.
DAFTAR RUJUKAN
Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. (ed.), (2010). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran,
Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dahar, R.W., (2011). Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.
Ibrohim, (2015). Panduan Pelaksanaan Lesson Study. Malang: Universitas Negeri Malang
Sujana. 2002, Metode Demokrasi Cara Penyajian Materi dengan Penjelasan Lisan dengan Lisan.
932
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA
MATERI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN PECAHAN
DENGAN METODE SILIH TANYA DI KELAS V
SD NEGERI 017 GALANG KOTA BATAM
Khemer Riau Wati
SD Negeri 017 Galang, Kota Batam
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa materi
Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan pada siswa Kelas V SDN 017 Galang Kota Batam
dengan metode silih tanya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Pendekatan
Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan dalam dua Siklus. Masing – masing siklus
menggunakan
tahapan Perencanaan, Pelaksanaan dan Refleksi. Hasil penelitian
menunjukan bahwa pembelajaran yang dilakukan dengan pembelajaran silih tanya dengan
langkah-langkah (1) menyajikan masalah, (2) menyusun masalah dan jawaban, (3)
membentuk kelompok, (4) permainan silih tanya, (5) mengoreksi dan menilai, dan (6)
mendiskusikan masalah yang rumit, dapat meningkatkan hasil belajar. Peningkatan hasil
belajar siswa materi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan metode silih tanya di
kelas V SDN 017 Galang Kota Batam pada siklus I dan II 50% dan peningkatan nilai ratarata dari hasil pembelajaran yaitu 24,3.
Kata Kunci: Hasil Belajar Pembelajaran silih tanya,
Pendidikan merupakan ilmu pengetahuan yang sangat penting untuk dipelajari karena sangat dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Begitu juga dengan pelajaran matematika perlu diberikan kepada
semua siswa mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu bekerja sama. Hal ini sangat diperlukan oleh
siswa agar mereka memiliki kemampuan untuk meperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi
untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah dan kompetetif.
Kompetensi dasar mata pelajaran matematika untuk sekolah dasar dimulai dari yang
sederhana sampai dengan keseluruhan tetap memperhatikan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar.
Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada permasalahan dalam pembelajaran operasi hitung
penjumlahan dan pengurangan pecahan. Siswa yang kurang terampil dalam memahami pembelajaran
penjumlahan dan pengurangan pecahan membuat mereka kesulitan dalam menemukan hasil
penjumlahan dan pengurangan pecahan. Sarna setiap kali melakukan pembelajaran matematika siswa
selalu merasa jenuh dan membosankan, dengan metode yang digunakan guru hanya menjelaskan,
memberikan latihan, dan tes. Sehingga berdampak pada kurangnya motivasi yang di dapatkan oleh
siswa, pada saat pembelajaran siswa terlihat pasif dan guru yang lebih aktif, pada akhirnya hasil yang
didapati oleh anak rendah yang tidak mencapai KKM. Dari permasalahan yang dialami oleh siswa
kelas V SDN 017 Galang Kota Batam maka penulis tertarik untuk melakukukan penelitian dengan
judul upaya meningkatkan hasil belajar siswa materi penjumlahan dan pengurangan pecahan
dengan metode silih tanya di kelas V SD Negeri 017 Galang kota batam
. Di dalam pembelajaran matematika bagaimana cara menanamkan pemahaman tentang
operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pecahan, sangat memerlukan setrategi penyampaian
materi kepada siswa dengan menggunakan media pendekatan yang sesuai dengan tingkat kemampuan
siswa agar dapat memperkuat bekal pengetahuan matematika yang dimiliki guru dan siswa. Untuk
meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika materi operasi hitung penjumlahan dan
933
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
pengurangan pecahan, maka dilaksanakanlah perbaikan melalui pembalajaran dengan metode silih
tanya berbantuan kartu model. (Priyono. S. N, 2015) Pelajaran matematika berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol –
simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan
permasalahan sehari – hari. Dengan harapan mampu meningkakan keberhasilan dalam pembelajaran
tersebut, sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai ketuntasan dalam materi yang di berikan.
Hasil belajar menurut Sudjana (Priyono. N. S, 2006) adalah kemampuan yang di miliki siswa setelah
ia menerima pengalaman belajarnya yang mengalami perubahan kemampuan yang di capai oleh siswa
yaitu perubahan yang mengacu pada aspek kognitif dalam memecahkan atau menyelesaikan soal –
soal tes materi yang di nyatakan dalam bentuk nilai.
Pembelajaran di dalam kelas guru mempunyai tugas untuk menyelesaikan permasalahan di
dalam kelasnya, sehingga peneliti tertarik ingin menggunakan metode silih tanya berbantuan kartu
model. Geminitawijaya. T, (2009) dalam Subanji (2011) mengungkapkan bahwa penggunaan media
(peraga) sangat penting dalam pembelajaran matematika. Hal tersebut bertujuan untuk
mengembangkan pemahaman siswa. Dan menurut Subanji (2013) model pembelajaran silih tanya
memadukan unsur-unsur koopreatif, kreatif, kompetitif, dan suasana menyenangkan dengan
permainan. Metode silih tanya berbantuan kartu model merupakan suatu bentuk pembelajaran yang
memiliki empat (4) unsur pokok : 1. mendorong anak untuk kreatif melalui proses ―Problem posing
(mengajukan masalah). 2. mengkondisikan anak untuk berkompetisi (bisa secara perorang maupun
secara kelompok). 3. membiasakan anak untuk saling membantu mengajari temannya yang mengalami kesulitan. 4. menciptakan situasi pembelajaran sambil bermain, sehingga dalam proses
pembelajaran anak merasakan situasi yang menyenangkan, asik belajar sambil bermain.
Kreatif merupakan kompetensi tertinggi yang harus dimiliki oleh setiap anak. Dimana dengan
kreatif, anak akan lebih mudah untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan dunia yang berkembang
dengan pesat. Dengan adanya kreatifitas siswa akan mampu memberi perubahan dalam kehidupannya. Dan juga mampu menciptakan sesuatu yang lebih berguna untuk khalayak umum sehingga
anak menjadi insan yang produktif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mendiskripsikan pembelajaran metode silih tanya yang dapat meningkatkan
hasil belajar dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalan dua siklus
yang masing-masing siklus dilakukan aktifitas perencanaan, tindakan, dan observasi, dan refleksi.
Aktifitas perencanaan pelaksanaan dilakukan dengan menyusun RPP, LKS, media model kartu, dan
instrumen tes. Tindakan diobservasikan dengan melibatkan teman sejawat. Refleksi dilakukan secara
bersama-sama antara peneliti dan observer (sebanyak 6 orang). Adapun proses penelitian dapat di
gambarkan sebagai berikut. Penelitian tindakan kelas ini di lakukan pada bulan juli-september 2016
dalam dua siklus masing-masing siklus dilakukan 3 tindakan pembelajaran dan 1 kali tes. Di akhir tes
dilakukan hasil belajar, subjek penelitian ini adalah siswa SDN 017 Galang, Kota Batam yang
berjumlah 6 siswa dengan sebaran 6 siswa perempuan.
934
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Alur kegiatan PTK yang akan dilaksanakan sebagai berikut :
ALUR ARTIKEL PENELITIAN
penelitian
Masalah dan
alternatif
Refleksi &
anlisis data
Kukurangan
SIKLUS I
Perencanaan
Tindakan dan
Pengamatan
Alternatif pemecahan
Refleksi dan
anlisis data
SIKLUS II
Perencanaan
Tindakan dan
pengamatan
Kekurangan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Diskrpsi pembelajaran siklus I
Siklus I terdiri atas tiga kali pertemuan yang terdiri atas dua kali pertemuan tatap muka untuk
pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes. Masing-masing pertemuan menggunakan tahapan
pembelajaran: menyajikan masalah, menyusun masalah dan jawaban, membentuk kelompok,
permainan silih tanya satu orang mengajukan soal dan anggota lain menjawab, mengoreksi dan
menilai, mendiskusikan masalah-masalah yang sulit.
Pelaksanaan pembelajaran dideskripsikan sebagai berikut.
Metode yang digunakan untuk pembelajaran adalah dalam bentuk permainan dengan cara
hompimpah dan berbantuan kartu model. Sedangkan media yang digunakan adalah kertas karton dan
anggota tubuh anak yaitu tangan untuk memulai permainan undian dalam kelompok . Untuk semua
keperluan tersebut, guru menyiapkan karton yang dibuat menjadi kartu model. Agar lebih mudah
melaksanakan pembelajaran silih tanya, maka perlu dilengkapi dengan sistem pendukung, Prinsip
pengelolaan dan system social, system pendukung mencakup : Bahan ajar, Lembar kerja Siswa,
Perangkat penilaian, dan Kartu model. Prinsip pengelolaan meliputi : Menyediakan sumber belajar,
Menekankan kompetisi dan Kooperatif,
Menfasilitasi dengan permainan, Menghargai dan
935
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Memotivasi. Sistem social yang dibentuk adalah Kompetisi, Kebebasan menyusun masalah,
Menekankan tanggung jawab, dan Kesamaan derajat. Pada penelitian ini penulis dalam pembelajaran
menggunakan metode Silih Tanya model kompetisi biasa. Pembelajaran matematika dilaksanakan di
kelas V SDN. 017 Galang dan diobservasi oleh 2 orang ( 1 orang guru kelas, 1 orang exspert )
Kegiatan Siklus 1 pertemuan 1
Kegiatan siklus I terdiri dari aktivitas pembelajaran dan hasil belajar siswa selama proses
pembelajaran berlangsung sesuai dengan komponen yang tersedia pada lembar observasi dan hasil tes
belajar siswa yang dilaksanakan pada akhir siklus I. Ada pun proses dan pelaksanaan pembelajaran
terdiri atas kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Pada proses pembelajaran dimulai dengan pendahuluan. guru mencoba mengingatkan
kembali pelajaran yang terdahulu dengan mengadakan dialog sebagai berikut.
Guru : Ayo anak-anak ibu semua masih ingat kembali dengan materi pecahan yang sudah
pernah dipelajari (guru bertanya) apa yang dimaksud dengan pecahan?
Siswa : pecahan adalah biasa bu...
Guru : yang lain....?????
Siswa : pecahan adalah pecahan bilangan yang dibagi bu....
Guru : terus yang lain nak?????
Siswa : pecahan adalah desimal...persen dan campuran bu
Guru : iya...semua yang anak- anak ibu sampaikan itu juga benar, tapi yang lebih tepatnya
pecahan adalah sebuah bilangan yang terdiri dari pembilang dan penyebut
Siswa : oh gitu ya bu....
Guru : iya nak,,, contoh
sampai disini paham nak????
Siswa : iya bu paham...
Dari dialog di atas terlihat bahwa siswa sudah memahami pengetahuan awal tentang
pengertian pecahan. Setelah melakukan kegiatan pendahuluan guru melanjutkan dengan kegiatan inti
dengan berdialog kembali
Guru : Baiklah anak-anak semua, sekarang ibu mempunyai selembar kertas, lalu kertas ini ibu
potong menjadi 4 bagian.jika kita jadikan pecahan, maka menjadi pecahan berapa nak ?
Siswa : menjadi satu perempat buk,,,
Guru : bagus… yang lain berapa nak???
Siswa : iya ...itu satu perempat bu.
Guru : bagus,,,pintar anak-anak ibu ternyata memamg masih ingat semua ya. Baiklah kita
lanjutkan dengan pelajaran kita hari tentang penjumlahan pecahan.
Siswa : ya buk…..
Dari dialog diatas terlihat bahwa siswa sudah mengetahui tentang pecahan, kemudian guru
melanjutkan kegiatan inti dengan menjelaskan materi penjumlahan pecahan, dengan memberi contoh:
+
=
+
=
=1
. Dalam hal ini siswa memperhatikan dengan seksama penjelasan guru.
Untuk melatih siswa menyusun soal sendiri, maka dilakukan kegiatan membuat soal dan dijawab
sendiri. Beberapa soal yang dibuat oleh siswa adalah ( )
936
( )
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Siswa menjawab soalnya sendiri dengan langkah menyamakan penyebut dan menjumlahkan
pembilangnya, sehingga diperoleh hasilnya yang benar.
Setelah melakukan kegiatan inti guru melakukan kegiatan penutup, dalam kegiatan penutup
guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran yang telah disampaikan pada hari ini. pembelajaran
siklus 1 pertemuan pertama telah dilakukan, guru melajutkan dengan siklus 1 pertama dengan
pertemuan kedua.
Kegiatan Siklus 1 pertemuan 2
Kegiatan siklus I pertemuan kedua terdiri dari aktivitas pembelajaran dan hasil belajar siswa
selama proses pembelajaran berlangsung sesuai dengan komponen yang tersedia pada lembaran
observasi dan hasil tes belajar siswa yang dilaksanakan pada akhir siklus I. Ada pun proses dan
pelaksanaan pembelajaran terdiri atas kegiatan pendahuluan pembelajaran,
kegiatan inti
pembelajaran, dan kegiatan penutup.
Adapun proses pembelajaran dimulai dengan pendahuluan. guru mencoba mengingatkan
kembali pelajaran yang terdahulu dengan mengadakan dialog sebagai berikut.
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
: anak ibu semua apa kabar hari ni nak
: sehat bu,,,,
: terus tadi udah sarapan nak
: sudah bu
: alhamdulillah.....kalau begitu kita bisa mulai pembelajaran ya karna anak-anak ibu
sehat semuanya
Siswa : iya bu
Guru : baiklah anak – anak, sebelumnya ibu melanjutkan pembelajaran kita, ibu ingin bertanya
apakah kalian masih ingat cara menjumlahkan pecahan?
Siswa : ingat buk ,,,
Guru : pintar anak ibu … baiklah jika masih ingat bagaimana langkah pertama kita melakukan
penjumlahkan pecahan jika penyebutnya bebeda, apa yang harus kita lakukan terlebih
dahulu.
Siswa : kita harus menyamakan penyebut terdahulu buk, baru kita bisa menjumlahkannya,
Guru : pintar anak ibu, jawabannya benar sekali, ternyata anak – anak ibu sudah mengerti dan
memahami materi penjumlahan, sekarang ibu lanjutkan pembelajaran ini.
Dari dialog diatas terlihat siswa sudah memahami pengetahuan tentang penjumlahan pecahan,
setelah melakukan kegiatan pendahuluan guru melanjutkan dengan kegiatan inti guru menjelaskan
materi penjumlahan pecahan dengan contoh sebagai berikut.
Contoh :
+
=
+
=
=1
dan siswa memperhatikan dengan seksama dan kemudian melakukan tanya jawab bersama – sama,
kemudian guru juga meminta siswa untuk tampil didepan papan tulis dengan membuat soal sendiri
terkait penjumlahan pecahan. Setelah menjelaskan dan di pahami oleh siswa guru meminta siswa
untuk membentuk kelompok, dikarenakan jumlah siswa hanya berjumlah enam orang maka hanya
terbentuk satu kelompok saja. Selanjutnya guru memberikan dua buah karton pada masing masing
siswa.
Dimana dua buah karton tadi digunakan untuk membuat soal penjumlahan pecahan dan jawaban pada
lembaran yang bebeda. Kemudian siswa pun membuat soal penjumlahan pecahan dan jawaban pada
karton yang berbeda, jawaban yang telah dibuat tidak boleh diketahui teman yang lain. Ada pun
bentuk soal yang dibuat oleh siswa adalah :
937
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
(a).
+
=
(c).
+
=
(e).
+
=
+
+
+
=
=1
(b).
+
=
+
=
=1
= =1
(d).
+
=
+
=
=2
=
(f).
+
=
+
=
=1
=1
=2
Setelah selesai pembuatan soal penjumlahan pecahan permainan
pun di mulai dengan cara hompimpah, lalu si pemenang mengeluarkan soalnya dan memberikan soal. Berikut Soal beserta jawaban
siswa sebagai berikut:
pada temannya untuk di jawab, lalu menayakan pada temantemannya berapa lama waktu yang bisa mengerjakan soalnya. Waktu
yang paling sedikit yang akan di pilih untuk mengerjakan soal.
Setelah selesai di jawab si pemberi soal menunjukkan kunci jawaban
di karton tadi.
Siswa yang salah menjawab, bertanya kepada si pemberi soal dan menjelaskan cara mengerjakan soal
yang diberikan bersam-sama. Begitu seterusnya sampai semua siswa memberikan soal kepada teman
dan yang lainnya menjawab sehingga semua terselesaikan dalam kelompok tersebut. Setelah selesai
permainan tersebut, guru meminta melaporkan hasil kerja setiap siswa, dan melaporkannya di depan
kelas dan dipandu oleh guru. Berikut gambar kegiatannya
Dari kegiatan diatas tampak siswa dan guru bisa saling berintraksi untuk mememecahkan
masalah penjumlahan pada pecahan. Setelah selesai bertanya jawab antara siswa dan guru, guru
melanjutkan dengan kegiatan penutup, dalam kegiatan penutup guru bersama siswa menyimpulkan
pembelajaran yang telah disampaikan pada hari ini. Setelah melaksanakan siklus I pertemuan II guru
melanjutkan siklus I pertemuan III
Kegiatan Siklus 1 pertemuan 3
Kegiatan yang dilakukan pada siklus satu pertemuan ketiga anak-anak diberikan tes, dengan soal yang
diberikan dari guru berjumlah 5 berbentuk tes isian. Dari hasil tes yang diberikan dapat dilihat pada
siklus I yang dikerjakan secara individu menunjukkan bahwa nilai siswa yang tuntas dengan capaian
6,5 dari nilai KKM berjumlah 3 siswa (%), sedangkan jumlah siswa yang belum tuntas atau di bawah
KKM sebanyak 3 siswa (%) dengan nilai rata-rata kelas masih rendah yaitu 67,3. Hal ini belum
sesuai dengan harapan penulis, ketuntasan siswa belum mencapai 85% yang sesuai KKM. Oleh
karena itu penulis mencoba menelusuri penyebab masih rendahnya hasil belajar siswa pada siklus
pertama. Pembelajaran belum mencapai keberhasilan sehingga penulis perlu mengadakan perbaikan
938
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
pada langkah-langkah pembelajaran yang meliputi: penjelasan materi dilakukan lebih terperinci, dan
mengadakan pendampingan secara khusus kepada siswa yang hasil belajarnya jauh dibawah KKM.
Refleksi
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan mengkaji hal-hal yang masih menjadi kendala dalam
pembelajaran. Hasil refleksi digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Ringkasan hasil refleksi
disajikan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1. Ringkasan hasil refleksi
Kendala dalam pembelajara
Kegiatan silih tanya masih
didominasi oleh guru
dalam mengatur pertanyaan
Penyebabnya
Keyakinan guru tentang
kemampuan siswa
dalam membuat
pertanyaan
Alternatif perbaikan
Siswa diajak untuk membuat
pertanyaan yang baik dan
menantang
Ada siswa yang kurang
aktif
Pembuatan soal dilakukan
secara kelompok
Pembuatan soal dilakukan
secara
individu
Deskripsi Pembelajaran Pada Siklus II
Pada siklus II pembelajaran dilaksanakan tiga kali tatap muka, dua kali tatap muka untuk
pembelajaran dan satu kali melaksanakan tes. Siklus II dilakukan pada tanggal 25–27 agustus 2016.
Kegiatan Siklus II pertemuan I
Pada awal pembelajaran guru memberi motivasi dan dorongan kepada siswa agar siswa
mempunyai semangat dalam belajar matematika. Kegiatan pembelajaran pada siklus II dilaksanakan
sesuai dengan skenario pembelajaran yang tertulis pada rencana pelaksanaan pembelajaran. Karena
pada siklus I masih ditemukan beberapa anak yang masih belum menguasai materi penjumlahan
pecahan, maka anak-anak diminta untuk memperhatikan penjelasan guru kembali terkait materi
pengurangan pecahan pada papan tulis. Disini guru masih menggunakan metode yang sama, langkah
mengerjakan pecahan juga masih sama, hanya saja operasi hitungnya saja yang bebeda.
Ada pun proses pembelajaran dimulai dengan pendahuluan. guru mencoba mengingatkan
kembali pelajaran yang terdahulu dengan mengadakan dialog sebagai berikut.
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
: apa kabar anak-anak ibu semua
: sehat bu,,,,
: alhamdulillah.....sudah siap untuk memulai pembelajaran hari ini nak
: iya siap bu
: baiklah,,, sebelum ibu melanjutkan pembelajaran kita, ibu ingin bertanya anak-anak ibu
masih ingat langkah penjumlahkan pecahan?
: ingat buk ,,,
: pintar anak ibu … baiklah jika masih ingat kita akan memulai pembelajaran kita pada
hari ini, yaitu pengurangan pecahan. Dimana pembelajaran kita kali ini masih sama
dengan penjumlahan pecaha kemarin, dan langkah-langkahnya juga masih sama hanya
operasi hitungnya yang bebeda.
: oh begitu ya bu.
: iya nak.
939
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Dari dialog di atas siswa mulai memahami materi yag akan dipelajari hari ini masih terkait
materi pecahan tetapi operasi hitungnya yang bebeda yaitu pengurangan. Selanjutnya guru memulai
kegiatan inti dengan memberi penjelasan dan contoh soal pengurangan pecahan yaitu
=
-
=
-
dan siswa pun mendengarkan dengan seksama. Kemudian guru juga meminta siswa untuk
tampil di depan dengan membuat soal yang dibuatnya sendiri sementara guru dan teman-teman yang
lain memngoreksi yang dikerjakan siswa tadi. Setelah selesai pembuatan soal pengurangan pecahan
permainan pun di mulai dengan cara hompimpah, lalu si pemenang mengeluarkan soalnya dan
memberikan soal, adapun soal sebagai berikut:
pada temannya untuk di jawab, lalu menayakan pada teman-temannya berapa lama waktu yang bisa
mengerjakan soalnya. Waktu yang paling sedikit yang akan di pilih untuk mengerjakan soal. Setelah
selesai di jawab si pemberi soal menunjukkan kunci jawaban yang telah ditulis di karton tadi.
Siswa yang salah menjawab, bertanya kepada si pemberi soal dan menjelaskan cara mengerjakan soal
yang diberikan. Begitu seterusnya sampai semua siswa memberikan soal kepada teman dan yang
lainnya menjawab sehingga semua terselesaikan dalam kelompok tersebut. Setelah selesai permainan
tersebut, guru meminta melaporkan hasil kerja setiap siswa, dan melaporkannya di depan kelas dan
dipandu oleh guru.
Kegiatan Siklus II pertemuan II
Pada siklus II pertemuan II pada kegiatan pembelajaran guru memberi motivasi dan dorongan
kepada siswa agar siswa tidak bosan, siap dan semangat dalam belajar matematika. Kegiatan
dilakukan dengan permainan tepuk tangan untuk melatih konsentrasi anak. Kegiatan dimulai dengan
pendahuluan yaitu guru mencoba mengingatkan kembali pelajaran bertanya jawab tentang materi
pengurangan pecahan dan penjumlahan pecahan. yang terdahulu. dengan mengadakan dialog
sebagai berikut.
Guru : assalamualaikum anak-anak ibu semua
Siswa : wa’alaikumsalam bu,,,,
Guru : baiklah,,, sebelum ibu melanjutkan pembelajaran kita, ibu ingin bertanya anak-anak ibu
masih ingat langkah pengurangan pecahan?
Siswa : ingat buk ,,,
Guru : pintar anak ibu…
ibu mau bertanya lagi, apakah langkah mengerjakan operasi hitung penjumlahan pecahan
dan operasi hitung pengurangan pecahan sama nak???
Siswa : sama bu....
Guru : hebat anak ibu semuanya
940
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Dari dialog di atas dapat dilihat siswa sudah memahami materi yang dipelajari terkait materi
operasi penjumlahan pecahan dan operasi pengurangan pecahan. Selanjutnya guru melanjutkan
dengan memberikan tugas latihan sebanyak 5 soal pecahan kepada siswa dari soal yang di buat oleh
guru. Pada saat mengerjakan tugas guru megelilingi serta melihat apa yang dikerjakan siswa. Setelah
selesai mengerjakan tugas guru dan siswa memeriksa hasil kerjanya bersama-sama. Dari hasil yang di
dapat sangat memuaskan.
Berdasarkan pada pengamatan penulis terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa pada siklus II
lebih meningkat dari pada siklus I. Siswa terlihat lebih cepat memahami pembelajaran dengan
menggunakan metode silih tanya. Dan siswa pun sangat bersemangat dalam belajar, semua siswa
sudah lebih berani untuk menunjukkan kemampuannya. Siswa juga lebih berani dalam menjawab
pertanyaan guru. Bahkan untuk pembelajaran lainnya siswa juga meminta untuk diterapkan metode
silih tanya ini, Karena menurut siswa metode ini sangat menyenangkan. Peningkatan pencapaian
kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada siklus I siswa di kelas V berjumlah 6 siswa yang tuntas atau
hasil belajarnya memenuhi KKM sebanyak 3 siswa (50%), sedangkan pada siklus II tuntas memenuhi
KKM sebanyak 6 siswa (100%). Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 57 sedangkan pada siklus II
nilai rata-rata kelas sebesar 81,3. Dari data tersebut terlihat bahwa hasil belajar siswa lebih meningkat.
Hal ini membuktikan bahwa dengan pembelajaran menggunakan metode silih tanya anak lebih aktif
dalam mengerjakan tugas yang di minta guru, lebih bersemangat dan percaya diri, Siswa bisa saling
membantu dalam menyelesaikan tugas dengan saling bertanya karena dengan pembelajaran
menggunakan metode silih tanya dapat menemukan sendiri jawaban atas permasalahnya dan
pembelajaran lebih menyenangkan bersama teman dan dapat meningkatkan aktifitas siswa.
PENUTUP
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode
silih tanya berbantuan kartu model yang dilakukan dengan langkah-langkah: (1) menyajikan masalah,
(2) menyusun masalah dan jawaban, (3) membentuk kelompok, (4) permainan silih tanya, (5)
mengoreksi dan menilai, dan (6) mendiskusikan masalah yang rumit, dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas V SDN 017 Galang dalam belajar matematika pada materi penjumlahan dan
pengurangan pecahan. Peningkatan KKM dari siklus I sebanyak 3 siswa (50%) menjadi siklus II
sebanyak 6 siswa (100%). Peningkatan nilai rata-rata dari 57 (pada siklus I) menjadi 81,3 (pada siklus
II).
DAFTAR RUJUKAN
Geminitawijaya. T, (2015) Penggunaan Metode Garismatika DalamPembelajaran Operasi Perkalian
pada Siswa Sekolah Dasar, Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2015. Hal:176-181
Priyono. SN, (2015) Penerapan Metode Silih Tanya Materi Sifat–sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat
pada Siswa, Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2015. Hal: 171-176
Subanji (2013) Pembelajaran Matematika Kreatif dan Inovatif. Hal: 146
941
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR
DALAM MENGKLASIFIKASIKAN MAKHLUK HIDUP
MENGGUNAKAN MEDIA KARTU KATA PADA PESERTA DIDIK
KELAS VII A SMP NEGERI 1 SANGGAU
Jamingan
SMP Negeri 1 Sanggau,Kalimantan Barat
[email protected]
Abstrak: penelitian ini bertujuan membantu memecahkan kesulitan dalam pembelajaran
baik yang dihdapi siswa maupun guru. Model yang digunakan Discovery Learning dengan
media Kartu Kata. Subyek penelitian tindakan kelas sebanyak 32 peserta didik dari kelas
VIIA SMP Negeri 1 Sanggau tahun Pelajaran 2016/2017. Proses penelitian menggunakan 2
siklus dan tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya
peningkatan motivasi peserta didik dari 16 % sebelum diadakan perlakukan menjadi 66%,
dari data awal peserta didik mencapai KKM 12 peserta didik (38%). Setelah dianalisis dan
dilakukan penelitian pada siklus I hasil belajar meningkat dari 12 peserta didik menjadi 20
peserta didik (meningkat dari 38% menjadi 59%), pada siklus II terjadi peningkatan
menjadi 26 peserta didik (81%).
Kata Kunci: media, kartu kata, motivasi, hasil helajar.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran pada muatan kurikulum 2013.
Mata pelajaran IPA di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII merupakan mata
pelajaran IPA Terpadu Wahono Widodo dan kawan-kawan (2016 : III) Buku Siswa IPA edisi revisi
2014.
Mengklasifikasikan makhluk hidup dan benda berdasarkan karakteristik yang diamati
merupakan salah satu dari Kompetensi Dasar (KD) dalam materi mata pelajaran IPA di SMP kelas
VII pada kurikulum 2013 (Buku Siswa Kemendikbud RI, 2016: 32). Dalam mengklasifikasikan
makhluk hidup sebagian besar peserta didik masih kesulitan membedakan karakteristik dari makhluk
hidup tersebut. Untuk lebih mudah difahami, maka penulis mencoba menggunakan media yang dapat
dipakai dalam membantu memahami permasalahan itu.
Mengklasifikasikan artinya mengelompokkan karakteristik makhluk hidup baik perbedaan
maupun persamaan yang dimiliki oleh makhluk hidup tersebut.pengelompokkan bedasarkan jenis
hewan dan tumbuhan, pengelompokkan tumbuhan berdasarkan habitatnya, pengelompokan tumbuhan
berdasarkan perkembangbiakannya dan pengelompokan tumbuhan berdasarkan kotiledonnya.
Pengelompokkan hewan berdasarkan bangsa, berdasarkan reproduksinya, dan berdasarkan tulang
belakang.
Berdasarkan hasil observasi dalam satu kali proses pembelajaran sebelum dilakukakanya
penelitian tercatat sebagai berikut:
Tabel 1 Observasi motivasi kelas VIIA sebanyak 32 peserta didik
No
Jumlah
Persentasi
Perserta didik aktif bertanya
/ menjawab
Peserta didik pasif
5
16 %
27
84%
942
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Tabel 2 Hasil Nilai Ulangan Hariam Kelas VIIA Sebanyak 32 Peserta Didik dengan KKM 75 sebelum
Dilakukan Tindakan Penelitian.
Jumlah
peserta
Jumlah
Persentasi
Mencapai nilai KKM
Belum mencapai nilai KKM
12
38 %
20
63%
Berdasarkan hasil dari observasi dan nilai ulangan harian pra siklus didapatkan data bahwa: (1)
Motivasi belajar peserta didik masih rendah, hal ini didapat data dari hasil pengamatan. (2) Prestasi
hasil belajar peserta didik masih rendah, karena peserta didik yang mencapai KKM 75 baru 12 orang
atau 38%.Dari data ini maka peneliti ingin mencari permasalahan yang terjadi dan cara mengatasi
permasalahan tersebut agar proses pembelajaran di kelas VIIA dapat lebih menarik dan
menyenangkan serta didapatkan hasil belajar IPA yang meningkat. Dari wawancara pada guru lain
yang mengajar di kelas VIIA mengatakan bahwa peserta didik sebenarnya mampu untuk aktif dan
meningkatkan hasil belajar asalkan dalam proses pembelajaran digunakan alat peraga atau media yang
dapat manarik minat belajar peserta didik. Dari wawancara dengan perwakilan siswa yang pasif
ternyata mendapatkan masukan bahwa cara mengajar guru sulit difahami karena tidak menggunakan
media yang dapat memperjelas tujuan pembelajaran. Menurut Sudirman (2009: 76) dalam Bistari
(2015: 47) Motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong untuk individu melakukan sesuatu
kegiatan dalam mencapai tujuan. Menurut Herdianto Y (2016)motivasi adalah perubahan energi
dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai
tujuan. Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan baik dari faktor luar maupun dari
faktor dalam diri yang akan membantu mempercepat tercapainya suatu tujuan.
Setelah mencari data dari beberapa sumber dan menganalisis, maka peneliti mengambil
kesimpulan bahwa rendahnya motivasi dan prestasi belajar peserta didik disebabkan oleh : (1) Peserta
didik kurang termotivasi karena selama proses pembelajaran belum banyak yang terlibat dalam
pembelajaran, (2) dalam proses pembelajaran belum menggunakan media pembelajaran yang
menyenangkan, dan (3) belum optimal penggunaan media pembelajaran. .
Berdasarkan uraian
di atas perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan motivasi dan perstasi belajar dalam
mengklasifikasikan makhluk hidup menggunakan media kartu kata.
METODE
Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan penilitian tindakan kelas
(classroom based action research) dengan dua siklus model Hopkins (1985) yang terdiri dari siklus –
siklus yang saling berhubungan dimana pada tiap siklus terdiri dari tahap – tahapan :(1)
Plan/Perencanaan; (2) Action/Tindakan Pelaksanaan; (3) Observation/Pengamatan; (4) Reflecive/
Tindak lanjut. Bila siklus I belum mencapai indikator yang ditargetkan maka dilanjutkan dengan
siklus kedua yaitu perbaikan rencana, tindakanpelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Siklus
berikutnya selalu dimulai dengan perbaikan tindakan dari siklus sebelumnya.
Dasna (2013) mengemukakan pada tahap perencanaan sudah menyiapkan hal – hal : 1)
menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan tindakan yang dipilih; 2) bahan
ajar yang diperlukan dalam pembelajaran termasuk lembar kerja peserta didik (LKPD); 3) alat
evaluasi seperti quis dan tes; 4) media pembelajaran yang diperlukan; 5) lembar observasi untuk
mengamati keterlaksanaan RPP dan perubahan yang terjadi pada peserta didik ketika belajar
(keaktifan, pertanyaan, jawaban dll). Pada tahap tindakan (pelaksanaan) guru melakukan kegiatan
pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dirancang yang dimulai dengan kegiatan membuka
943
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
pelajaran, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pada tahap tindakan inilah partisipasi guru dalam
peneliti diterapkan. Guru sebagai pengajar juga melakukan pengumpulan data dengan mencatat
kejadian – kejadian penting yang terjadi selama proses pembelajaran yang terjadi didalam kelas dan
pelaksanaan quiz. Setelah itu di lanjutkan tahapan refleksi untuk melakukan evaluasi atas pelaksanaan
tindakan yang telah dijalankan serta mencari pemecahan atas kendala yang dihadapi selama kegiatan
pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Alur penelitian tindakan kelas yang digunakan adalah yang pertama penemuan masalah yang
terjadi di kelas, setelah itu perencanaan tindakan I untuk siklus I, selanjutnya pelaksanaan tindakan I
dan pengumpulan data tindakan I. Setelah didapat data tindakan I dilanjutkan dengan refleksi tindakan
I. Dari hasil siklus I direncanakan tindakan II pada siklus II, dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan
II dan pengumpulan data II. Hasil dari pelaksanaan tindakan II dan pengumpulan data II di lakukan
refleksi tindakan II.
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIIA SMP Negeri 1 Sanggau Kabupaten
Sanggau. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – September 2016 semester 1pada tahun ajaran
2016/2017. Materi IPA yang digunakan adalah KD 3.3 Mengklasifikasikan Makhluk Hidup
berdasarkan karakteristiknya. Media yang digunakan adalah Media Kartu Kata.
Pengumpulan data penelitian motivasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, dan
lembar tes/kuis untuk masing – masing peserta didik setiap akhir pembelajaran. Data hasil belajar
diambil menggunakan instrument tes tertulis yang dilakukan setelah siklus berakhir. Teknik analisis
data yang digunakan adalah teknik analisa deskriptif tentang proses dan hasil belajar pada setiap
siklus.
Pendahuluan diawali dengan mengecek kehadiran peserta didik, memberi motivasi dan
membuat kelompok kerja siswa antara 4-5 orang. Guru menunjukkan contoh kartu kata sebagai
stimulus/rangsangan agar peserta didik mengamati dan bertanya untuk menumbuhkan rasa ingin
tahhu peserta didik. Guru membagikan LKPD kepada peserta didik untuk dipelajari dan di baca
petunjuk cara kerjanya. Guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran.
Guru membagikan alat / bahan yang diperlukan peserta didik berupa kartu kata pada tiap-tiap
kelompok. Kegiatan inti, Guru memberikan jangka waktu 30 menit untuk menyusun kata-kata nama
makhluk hidup pada kartu kata tersebut untuk di tempelkan pada lembar kerja peserta didik sesuai
petunjuk dan perintah yang ada di LKPD. Guru meminta setiap kelompok membuat kesimpulan dari
hasil kegiatan penyusunan kartu kata tersebut untuk dipresentasikan di depan kelompok lainnya
dengan waktu 30 menit. Sedangkan kegiatan penutup selama 10 menit, guru beserta peserta didik
membuat kesimpulan kesimpulan sebagai hasil dari proses pembelajaran yang telah dicapai pada saat
itu. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik. Guru memberikan tugas remidial pada
kelompok yang masih meraih hasil rendah dan memberikan pengayaan kepada kelompok yang meraih
hasil tinggi.
Selama berlangsung pelaksanaan proses pembelajaran, guru meminta bantuan teman sejawat
untuk mengamati dan mencatat hasil pengamatannya pada lembar pengamatan guru dan peserta didik
yang sudah disiapkan. Hail pengamatan teman selama pelaksanaan pembelajaran dijadikan refleksi
untuk menyusun langkah-langkah perbaikan pada pertemuan/siklus selanjutnya.
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah: (1) Penelitian berhasil jika motivasi belajar peserta
didik meningkat presentasinya dari siklus I ke siklus II, (2) Penelitian berhasil jika hasil belajar
peserta didik dapat meningkat dan mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM) lebih dari 80 %
HASIL
Pada penelitian ini, motivasi belajar peserta didik dikategorikan menjadi 2 yaitu peserta didik
aktif dan peserta didik pasif. Katagori aktif jika peserta didik aktif dalam bertanya, menjawab dan
menyampaikan pendapatnya. Katagori pasif jika peserta didik hanya diam atau hanya mencatat hasil
944
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
yang sudah didiskusikan. Perkembangan motivasi peserta didik dapat dilihat pada tabel. 3 data rekap
perkembangan motivasi peserta didik kelas VIIA, dan grafik 1 berikut ini.
Tabel.3 Perkembangan motivasi peserta didik
SIKLUS I
PESERTA DIDIK
PERT.
PERT.
1
2
PESERTA DIDIK
AKTIF
14
12
PESERTA DIDIK PASIF
18
20
SIKLUS II
PERT.
PERT.
1
2
19
13
21
11
25
20
15
10
PESERTA DIDIK AKTIF
5
PESERTA DIDIK PASIF
0
PERT. 1
PERT. 2
SIKLUS I
PERT. 1
PERT. 2
SIKLUS II
Grafik 1. Perkembangan Motivasi Belajar Peserta Didik Dalam Siklus I dan Siklus II
Dari data dan grafik terlihat adanya peningkatan motivasi belajar dari siklus I ke siklus II, walaupun
pada pertemuan ke 2 siklus I peserta didik yang aktif menurun tetapi pada pertemuan ke 1 dan ke 2
pada siklus II menunjukkan peningkatan motivasi belajar sangat baik.Pada peserta didik aktif terjadi
peningkatan dari siklus I rata-rata 41% ke siklus II menjadi rata-rata 92%.
Perkembangan hasil belajar peserta didik kelas VIIA dapat dilihat pada tabel 4 perkembangan
hasil belajar peserta didik kelas VIIA, grafik 2, dan gafik 3 berikut ini
Tabel 4 perkembangan hasil belajar peserta didik kelas VIIA pada siklus I dan siklus II
PESERTA DIDIK
MENCAPAI KKM
BELUM MENCAPAI KKM
SIKLUS I
SIKLUS II
19
13
26
6
945
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
30
25
MENCAPAI KKM
20
BELUM MENCAPAI KKM
15
10
5
0
SIKLUS I
SIKLUS II
Grafik 2. Perkembangan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Siklus I dan Siklus II
PERSENTASI PENCAPAIAN KKM
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
PROSENTASI PENCAPAIAN
KKM
SIKLUS I
SIKLUS II
Grafik 3. Perkembangan presentasi hasil belajar peserta didik pada siklus I dan siklus II
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data peningkatan motivasi belajar dari sebelum dan sesudah
pertemuan pertama siklus I yaitu dari 16% menjadi 44% atau naik sebesar 28%. Hal ini dikarenakan
keingin tahuan peserta didik sangat tinggi sehingga dalam proses pembelajaran pertemuan I siklus I
sangat semangat dalam mengikuti proses pembelajaran.
Pada pertemuan kedua siklus I terdapat penurunan motivasi sebesar 6% dari 44% menjadi
38%, hal ini dikarenakan pada saat proses pembelajaran disamping kelas VIIA suasana gaduh karena
sedang ada permainan olah raga sehingga mengganggu konsentrasi belajar peserta didik yang
berakibat penurunan motivasi. Menurut Sudirman (2008:83) fungsi motivasi belajar ada tiga yakni
sebagai berikut: (1) Mendorong manusia untuk berbuat sebagai penggerak atau motor yang
melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang
akan dikerjakan.(2) Menentukan cara perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan
946
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
demikian motivasi dapat memberakan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan
rumusan tujuannya. Menyeleksi perbuatan. (3) Menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus
dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan yang tidak bermanfaat
dengan tujuan tersebut. Menurur Sadiman, 2006: 76 dalam skripsi Asti Wahyuni Motivasi belajar
adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang
menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kegiatan belajar sehingga tujuan
yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.
Pada siklus II motivasi belajar siswa masih tetap mengalami peningkatan. Pada pertemuan
pertama tercatat motivasi belajar siswa sebesar 19 peserta didik yang aktif atau 59% menjadi 21
peserta didik yang aktif atau 66%. Berdasarkan analisis data maka motivasi belajar peserta didik
semakin meningkat dari siklus I ke siklus II. Perhitungan kenaikan ini didasarkan pada kenaikan
jumlah peserta didik yang aktif (bertanya,menjawab, dan mengeluarkan pendapatnya) makin
meningkat antara siklus I dan siklus II.
Diakhir siklus untuk mengetahui hasil belajar peserta didik maka diadakan ulangan harian
dengan bentuk pilihan ganda sebanyak 20 soal dengan sebaran sebagai berikut:
Tabel 4 Kriteria Soal Ulangan Pada Siklus I
Tujuan yang ingin dicapai peserta didik
1. Dapat menyebutkan ciri-ciri kesamaan makhluk hidup
2. Dapat menyebutkan ciri-ciri kesamaan makhluk hidup
3. Mengelompokkan tumbuhan yang berdasarkan ciri tertentu
4. menjelaskan tumbuhan monokotil dan dikotil
5. Memberikan contoh tumbuhan monokotil dan dikotil
6. Menyebutkan ciri-ciri yang dimiliki hewan
7. Mengelompokkan hewan yang memiliki ciri yang sama
8. Menjelaskan hewan mamalia dan contohnya
9. Mengelompokkan hewan berdasarkan anatomi
10. Mengelompokkan hewan bersadarkan cara hidup
Tabel 5 Kriteria Soal Ulangan Pada Siklus II
Tujuan yang ingin dicapai peserta didik
1. Kelompok pekembangbiakan dengan spora
2. Kelompok perkembangbiakan dengan bunga
3. Mengelompokkan tumbuhan tegak, menjalar, dan merambat
4. Menyebutkan contohnya
5. Mengelompokkan perkembangbiakan generatif dan fegetatif serta
contoh jenis tumbuhannya
6. Urutan takson dari makhluk hidup
7. Menjelaskan kunci determinan
8. Menentukan contoh dari kuplet
9. Mengelompokkan tumbuhan berbatang jelas dan tidak jelas
10. Mengelompokkan tumbuhan biji terbuka dan tertutup
11. Mengelompokkan tumbuhan berkeping satu dan tumbuhan
berkeping dua
12. Menyebutkan jenis tumbuhan berbunga terompet
947
Nomor soal
1 dan 2
3 dan 4
5 dan 6
7 dan 8
9 dan 10
11 dan 12
13 dan 14
15 dan 16
17 dan 18
19 dan 20
Nomor soal
1
2
3 dan 4
5 dan 6
7 dan 8
9 dan 10
11 dan 12
13
14 dan 15
16 dan 17
18 dan 19
20
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Dari hasil analisis pada siklus I hasil belajar yang mencapai KKM 75 sebanyak 19 orang atau
59% dan pada siklus II hasil belajar sebanyak sebanyak 26 orang atau 81%.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan data hasil yang dicapai pada siklus I dan siklus II, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa Penelitian ini berhasil karena sudah memenuhi indikator pencapaian: (1) Motivasi peserta
didik dari siklus I ke siklus II makin meningkat. (2) Hasil belajar peserta didik pada siklus II sudah
mencapai lebih dari 80%.
Dilihat dari rumusan masalah pada penelitian ini maka: (1) Media kartu kata dapat diterima
peserta didik dalam membantu mempermudah pemahaman konsep dan membuat motivasi belajar
peserta didik meningkat.(2) Kartu kata dapat dipakai dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik
Saran
Sebagai seorang guru hendaknya kita selalu membaca, mengamati, menganalisis serta
melakukan tindak lanjut terhadap peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya untuk dapat
mendidik dan mengembangkan potensi yang ada padanya.
Bagi peneliti lain yang hendak mengadakan penelitian dengan materi yang sama gasil
penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan walaupun masih banyak yang harus
disempurnakan.
Sebagai pendidik dan pengajar guru hendaknya jangan berhenti untuk belajar dan belajar
karena ilmu semakin lama semakin maju dan tidak boleh tertinggal dengan kemajuan jaman dan
teknologi.
DAFTAR RUJUKAN
Bistari 2015. Mewujudkan Penelitian Tindakan Kelas. Pontianak PT. Ekajaya Multi Inovasi.
Dasna, I Wayan. 2013. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Malang : Universitas Negeri Malang (UM
PREES)
Herdianto Y Meningkatkan Motivasi Belajar Materi Penghematan Energi Mata Pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam Dengan Menggunakan Metode Kooperatif Berbantuan Media Pada
Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri Ngaglik 04 Kota Batu. Makalah -4-pp-618-apppi.
Hopkins 1985: 43 Dalam Muslich M. Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas Itu Mudah.Penerbit
BUMI ASSARA.
Sardiman 2006: 76 Dalam Skripsi Wahyuni A. Pengaruh Motivasi belajar dan Metode Pembelajaran
Terhadap Prestasi Belajar Akutansi siswa kelas I jurusan akutaansi SMK Pelita Nusantara
1 Semarang. http://www.slideshare.net/chillamaya/26707467-Pengaruhmotivasibelajar
danmetodepembelajaranterhadapprestasi
Sihkabuden 2005: 5 Dalam Muslich M. Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas Itu Mudah.Penerbit
BUMI ASSARA.
Widodo W, Rachmadiari F, Hidayah S.N, Ilmu Pengetahuan Alam kelas VII semester 1. Penyelia
Penerbitan : Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
948
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN
PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE PADA MATERI
STRUKTUR ORGAN TUBUH MANUSIA DAN FUNGSINYA SISWA
KELAS IV SD NEGERI 004 TANJUNG PIAYU
Kusarman
SDN 004 Sungai Beduk Kota Batam
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar siwa
dan mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar IPA materi konsep struktur organ tubuh
manusia dan fungsinnya melalui model pembelajaran picture and picture bagi siswa kelas IV SD
Negeri 004 Tanjung Piayu. Penelitian ini dilakukan dengan penelitian tindakan kelas yang
meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi,
wawancara dan tes atau penugasan, sedangkan analisis data dilakukan dengan model interaktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ini dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar. Motivasi belajar siswa dari kondisi awal ke siklus II terdapat peningkatan aspek tanggung
jawab dari cukup menjadi baik, aspek tekun dari cukup baik menjadi amat baik, aspek memiliki
sejumlah usaha dari cukup baik menjadi baik, aspek memperhatikan umpa balik dari cukup baik
menjadi baik, aspek waktu penyelesaian tugas dari cukup baik menjadi baik, dan aspek
menetapkan tujuan yang realistis dari cukup baik menjadi amat baik. Sedangkan hasil belajar
tampak dari hasil ulangan harian siklus II mengalami peningkatan dibanding dengan kondisi awal
ketuntasan siswa pada siklus II mencapai 100%. Nilai rata-rata kelas juga meningkat dari 66,67
menjadi 83,00 meningkat 16,33.
Kata kunci: motivasi, hasil belajar, IPA, model Picture And Picture.
Materi pelajaran ilmu Pengetahuan Alam merupakan suatu usaha manusia untuk memahami dan
mengerti alam dan kehidupan. Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam khususnya struktur organ tubuh
manusia merupakan suatu pembelajaran yang masih sulit bagi siswa kelas IV di SD Negeri 004
Tanjung Piayu. Dari hasil ulangan harian tentang konsep Struktur Organ Tubuh Manusia Dan
Fungsinya dari 42 siswa hanya 20 siswa yang mengumpulkan tepat waktu padahal materi sudah
diselesaikan. Siswa kurang bergairah dalam menerima pelajaran, sehingga hasil belajar relatif rendah.
Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya tidak tepatnya guru dalam pembelajaran, dimana
pembelajaran yang diterapkan masih dominan penggunaan metode ceramah dan guru sebagai satusatunya sumber belajar. Ditambahkan pula, bahwa dalam pembelajaran guru hanya menggunakan
metode ceramah terus menerus yang mengakibatkan siswa menjadi bosan, siswa hanya mendengarkan
saja, siswa banyak yang mengantuk.
Belajar merupakan kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam
setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan
kegiatan yang paling pokok dan penting dalam keseluruhan proses pendidikan. Lebih lanjut, belajar
adalah proses atau usaha yang dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku baik dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif sebagai
pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari. Kegiatan belajar
tersebut ada yang dilakukan di sekolah, di rumah, dan di tempat lain seperti di museum, di
laboratorium, di hutan dan dimana saja. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang
kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri dan akan menjadi penentu
terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar
949
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu
perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi berasal dari kata motif yang berarti "dorongan"
atau rangsangan atau "daya penggerak" yang ada dalam diri seseorang .Dari uraian yang tersebut di
atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik
dari dalam diri maupun dari luar siswa (dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan
kondisi-kondisi tertentu) yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegiatan belajar,
sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Model pembelajaran picture and picture membantu membangun tanggung jawab pribadi dan
tanggung jawab kelompok juga untuk mengubah situasi belajar agar siswa tidak bosan, memberi
kesempatan siswa untuk belajar dan bekerja sama dengan kelompoknya.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian terkait peningkatan motivasi dan
hasil belajar ilmu pengetahuan alam materi konsep struktur organ tubuh manusia dan fungsinya
melalui model pembelajaran Picture And Picture Bagi Siswa Kelas IV SD Negeri 004 Tanjung Piayu.
METODE PENELTIAN
Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan yaitu bulan Agustus 2016 sampai dengan bulan
September 2016. Penelitian dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 004 Tanjung Piayu, Kota Batam,
Provinsi Kepri. Subjek penelitian adalah motivasi dan hasil belajar IPA materi konsep organ tubuh
manusia dan fungsinya kelas IV SD Negeri 004 Tanjung Piayu dengan jumlah siswa 42. Sumber data
pada penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu data berasal dari subjek penelitian (primer) dan dari
bukan subjek (skunder). Teknik pengumpulan data: teknik tes, dan teknik non tes. Alat pengumpulan
butir soal dan lembar observasi.
Data kualitatif hasil pengamatan proses pembelajaran dianalisis menggunakan analisis
diskriptis kualitatif. Sedangkan data yang berupa angka (data kualitatif) dari motivasi dan ketrampilan
siswa dianalisis menggunakan diskriptif komparatif yaitu membadingkan nilai tes kondisi awal, nilai
tes setelah siklus I dan nilai tes setelah siklus II, kemudian direfleksi.
Deskripsi Pembelajaran
Motivasi dan hasil belajar situs pada pembelajaran IPA materi konsep struktur organ tubuh
manusia sebelum diadakan penelitian dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1. Motivasi Belajar Siswa Kondisi Awal
No
1
2
3
4
5
6
Aspek
Bertanggung jawab
ketekunan
Memiliki usaha
Memperhatikan umpan balik
Waktu penyelesaian tugas
Menetapkan tujuan yang realistis
Nilai Rata-rata
2,6
2,7
2,5
2,7
2,4
2,6
Kategori
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Cukup baik
Hasil Pre tes atau pra siklus siswa diperoleh hasil sebagai berikut.
Tabel 2. Nilai Ulangan Harian Kondisi Awal
No
1
2
3
Uraian
Nilai Ulangan Harian
55
85
66,67
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Nilai rata – rata
950
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Proses pembelajaran sebelum dilakukan tindakan, materi yang disampaikan adalah organ tubuh dan
fungsinya. Hasil belajar tersebut masih belum mencapai ketuntasan. .Hal ini masih ada siswa yang
hasilnya belum tuntas. Hasil pretes mendapatkan nilai rata-rata 55 dengan persentase 66,67% siswa
yang belum tuntas belajar.
Pembelajaran siklus I :
Pembelajaran dimulai dengan berdoa yang dipimpin oleh ketua kelas dan diikuti oleh semua
siswa berserta lalu memberikan salam pada guru dan guru menjawab salam. Selanjutnya mengabsen
siswa satu persatu. Guru memberikan apersepsi dengan memberi pertanyaan pada siswa“sebutkan
organ – organ tubuh manusia ? “ dan diharapkan siswa menyebutkan organ tubuh manusia. Ternyata
empat siswa mengangkat tangan dan menyebutkan organ tubuh manusia. Selanjutnya guru memberi
pertanyaan lagi pada siswa “ apakah semua manusia memiliki organ tubuh ?” dan diharapkan siswa
menjawab “ya “ ternyata ada lima orang berani mengangkat tangan dan menjawab “ya” .
Dengan menggunakan gambar guru menyebutkan pokok bahasan yang akan disampaikan kepada
siswa yaitu tentang organ tubuh manusia dengan tujuan yang akan dicapai yaitu : (1) Siswa mampu
menyebutkan organ tubuh manusia.(2) Siswa dapat menjelaskan fungsi organ tubuh manusia.
(3)Siswa dapat menyebutkan factor – factor yang mempengaruhi kesehatan organ tubuh manusia
,akan tetapi ada juga siswa yang tidak memperhatikan karena bermain sendiri sehingga guru
menegur dan bertanya kepada siswa .
Selanjutnya siswa diberi tugas untuk mencari gambar dan informasi yang sebanyak – banyaknya
mengenai konsep organ tubuh manusia beserta fungsinya dan dilanjutkan diskusi kelompok. ternyata
dalam diskusi masih ada tiga siswa yang berlama diskusi tiga orang tersebut yang belum memahami
apa yang dimaksud diskusi karena mereka bicara dan bermain sendiri . Selanjutnya guru
membagikan LKS pada siswa dan memberikan pengarahan tentang langkah kerja yang harus
dilakukan siswa nantinya dirumah . Ternyata masih ada siswa yang belum jelas kemudian guru
menjelaskan kembali .
Pada pertemuan berikutnya siswa mejelaskan organ tubuh manusia yang ditugaskan oleh guru
dan yang lainnya memberikan tanggapan serta masukkan ataupun mengajukan pertanyaan yang
berkaitan dengan paparan siswa yang sedang di presentasikan didepan kelas. Semua hasi kerja siswa
dikoreksi, ternyata masih ada anak yang belum mancapai nilai rata – rata. Sebagai akhir dari
pelaksanaan pembelajaran, guru melakukan penilaian hasil belajar IPA siswa siklus I. Penilaian ini
untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan siswa dalam memahami materi konsep struktur organ
tubuh manusia. Hasil dari tes siklus I adalah sebagai berikut.
Tabel 3. Nilai Ulangan Harian Siklus I
No
1
2
3
Uraian
Nilai Ulangan Harian
60
85
72,67
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Nilai rata – rata
Pengamatan dan Evaluasi
Hasil observasi tentang motivasi belajar siswa pada Siklus I dapat dilihat pada tabel motivasi
belajar berikut.
951
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Tabel 4. Motivasi Belajar Siswa Siklus I
No
1
2
3
4
Aspek
Bertanggung jawab
Ketekunan
Memiliki usaha
Waktu penyelesaian tugas
Nilai Rata-rata
3,5
3,7
3,4
3,5
Kategori
Baik
baik
baik
baik
Dari tabel di atas dapat dijelaskan ,bahwa dengan model picture and picture diperoleh nilai
rata – rata 68,66 ketuntasan mencapai 33 persen atau ada 10 orang dari 42 siswa yang sudah tuntas
belajar.Hasil tersebut menunjukkan secara umum siswa belum tuntas belajar karena siswa belum
mencapai nilai lebih dari 75. Hal ini disebabkan oleh: (1) Siswa masih merasa asing apa yang
dimaksud dengn picture and picture, (2). Kurang maksmalnya guru dalam menyampaikan tujuan, (3)
Siwa belum memahami sepenuhnya langkah kerja dalam model picture and picture, dan (4) Siswa
merasa kesulitan dalam membuat kesimpulan model picture and picture.
Refleksi dalam pembelajaran pada siklus 1 adalah: (1) Guru kurang maksimal didalam
memotivasi siswa, (2) Guru kurang maksimal dalam mengelola waktu, dan (3) Selama pembelajaran
berlangsung siswa kurang aktif. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II beberapa tindakan yang
diperbaiki adalah (1) guru lebih terampil dalam memotivasi siswa didalam menyampaikan tujuan
pembelajaran, dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan
dilakukan,sehingga siswa akan lebih semangat dan (2) guru perlu menambah informasi yang
diperlukan siswa sebagai hal yang perlu dicatat.
Deskripsi Siklus II
Hasil nilai siswa pada ulangan harian siklus II dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut.
Tabel 5. Nilai Ulangan Harian Siklus II
No
1
2
3
4
Uraian
Nilai Ulangan Harian
70
100
83
30
Nilai terendah
Nilai tertinggi
Nilai rerata
Rentang Nilai
Pengamatan dan Evaluasi
Hasil observasi tentang motivasi belajar siswa pada Siklus II dapat dilihat pada tabel motivasi
belajar berikut.
Tabel 6. Motivasi Belajar Siswa Siklus I
No
1
2
3
4
Aspek
Bertanggung jawab
Ketekunan
Memiliki usaha
Waktu penyelesaian tugas
Nilai Rata-rata
3,8
4,0
3,7
3,7
Kategori
baik
amat baik
baik
baik
Evaluasi terhadap tindakan kelas siklus II, peneliti bersama teman sejawat mendiskusikan hasil
tindakan kelas da diperoleh beberapa simpulan berikut.
1) Guru secara bertahap telah melaksanakan pembelajaran dengan baik.
2) Motivasi belajar siswa tinggi.
952
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
3) keaktifan, umpan balik antara guru-siswa dan siswa-siswa sudah dilaksanakan dan berjalan baik,
sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif.
4) Guru dapat mengendalikan suasana belajar dengan baik.
5) siswa berdiskusi dengan tim biasa.
6) Suasana pembelajaran menjadi menyenangkan dan terjadi perubahan perilaku siswa kea rah positif.
Pembahasan
Hasil pembahasan dalam penelitian meliputi motivasi belajar, dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPA materi konsep organ tubuh manusia.
Tabel 7. Motivasi Belajar Siswa per Siklus
No
1
Kondisi Awal
Bertanggung Jawab:
Nilai rata-rata: 2,6
Kategori: cukup baik
Ketekunan
Nilai rata-rata: 2,7
Kategori: cukup baik
Usaha:
Nilai rata-rata: 2,5
Kategori: cukup baik
Waktu Penyelesaian
tugas:
Nilai rata-rata: 2,4
Kategori:cukup baik
Siklus I
Bertanggung Jawab:
Nilai rata-rata: 3,5
Kategori: baik
Ketekunan
Nilai rata-rata: 3,7
Kategori: baik
Usaha:
Nilai rata-rata: 3,4
Kategori: baik
Siklus II
Bertanggung
Jawab:
Nilai rata-rata: 3,8
Kategori: baik
Ketekunan
Nilai rata-rata: 4,0
Kategori:
amat
baik
Refleksi
Motivasi
belajar
siswa dari kondisi
awal ke siklus II
terdapat peningkatan;
aspek
tanggung
jawab dari cukup
baik menjadi baik;
aspek tekun cukup
baik menjadi amat
baik;
Usaha:
Nilai rata-rata: 3,7
Kategori: baik
Waktu Penyelesaian
tugas:
Waktu
Nilai rata-rata: 3,6
Penyelesaian
Kategori: baik
tugas:
Nilai rata-rata: 3,7
Kategori: baik
aspek
waktu
penyelesaian tugas
dari cukup baik
menjadi baik; dan
aspek
Tabel di atas menunjukkan bahwa melalui pembelajaran aktif model picture and picture dapat
meningkatkan hasil belajar IPA materi konsep struktur organ tubuh manusia dan fungsinya bagi siswa
kelas IV SD Negeri 004 Tanjung Piayu semester I tahun pelajaran 2016/2017.
Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui pembelajaran aktif model
picture an picture dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA materi konsep organ tubuh
manusia dan fungsinya bagi siswa kelas IV SD Negeri 004 Tanjung Piayu semester I tahun pelajaran
2016/2017.
1. Memberikan pengaruh yang positif baik pada guru dan pada siswa dan merupakan cara praktis
untuk membantu siswa dalam pembelajaran IPA khususnya pada materi konsep struktur organ
tubuh manusia dan fungsinya.
2. Membantu siswa yang kurang/sukar dalam memahami pelajaran IPA khususnya pada konsep
struktur organ tubuh manusia dan fungsinya.
953
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016 di Kota Batu, Jawa Timur
Berdasarkan hasil penelitian, analisis daa dan kesimpulan penelitian ini, ada beberapa hal
yang perlu disarankan, yaitu sebagai berikut.
1. Saran kepada siswa; demi peningkatan motivasi dan hasil belajar yang memadai dalam belajar
IPA, disarankan kepada siswa agar belajar dengan baik jangan segan-segan untuk bertanya kepada
orang lain atau membaca buku sumber.
2. Saran kepada para guru; guru senantiasa menerapkan strategi mengajar yang bervariasi dan sesuai
dengan latar belakang serta kemampuan siswa, serta terus memberi motivasi siswa.
3. Sara kepada sekolah; diharapkan sekolah menambah media alat peraga dan sarana-prasarana lain
yang dibutuhkan dan
4. Saran kepada guru sejawat; penelitian ini diharapkan sebagai motivasi dan penguatan, serta
masukan dalam melakukan penelitian tindakan kelas selanjutnya.
DAFTAR RUJUKAN
Kapustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT ). 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi
baru. Jakarta: PT Media Pustaka Phoenix Jakarta.
Hismam, Bermawy,sekar ( 2008:93)
954
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENERAPAN KOOPERATIF JIGSAW DIPADU KEGIATAN
LABORATORIUM PADA PEMBELAJARAN SENYAWA KARBON
Shinta Amalia
SMAN 1 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk
meningkatkan aktivitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Penelitian ini dilakukan di kelas XII MIPA 4 SMAN 1 Batu dengan melalui dua siklus. Pembelajaran siklus
pertama menggunakan metode Jigsaw dengan materi tatanama senyawa karbon (alkanol,
alkoksi alkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat, alkil alkanoat, dan alkil halida). Pada siklus
kedua, pembelajaran menggunakan metode Jigsaw yang dipadu dengan kegiatan
laboratorium. Materi pembelajaran pada siklus dua berupa identifikasi aldehid keton dengan tollens, identifikasi aldehid keton dengan fehling, dan esterifikasi. Hasil penelitian
memperlihatkan keaktifan peserta didik, kerjasama, dan rasa percaya diri yang meningkat.
Hasil penilaian tes tertulis pada siklus pertama memberikan nilai rata-rata 79,67 sedangkan
hasil penilaian tes formatif dari siklus kedua memberikan nilai rata-rata 84,85. Dapat
disimpulkan bahwa terjadi peningkatan yang signifikan dari siklus satu ke siklus dua.
Kata kunci: metode Jigsaw, kegiatan laboratorium, pembelajaran senyawa karbon.
Peningkatan mutu pendidikan senantiasa diupayakan oleh pemerintah, salah satunya dengan
penggunaan strategi pembelajaran inovatif dalam pembelajaran seperti yang tercantum dalam
Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014. Lebih lanjut dijabarkan bahwa pembelajaran merupakan
salah satu bagian dari proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter peserta didik yang
bersinergi antara pendidikan yang berlangsung di sekolah, keluarga dan masyarakat. Proses tersebut
memungkinkan peserta didik mengembangkan potensinya, semakin lama semakin meningkat.
Potensi tersebut meliputi sikap (spiritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan
untuk kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup
umat manusia. Terkait dengan hal tersebut, maka pembelajaran memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara
yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan masyarakat,
berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Untuk mencapai kualitas yang telah dicanangkan,
dikembangkan sejumlah prinsip kegiatan pembelajaran antara lain: peserta didik difasilitasi untuk
mencari tahu, peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar, proses pembelajaran menggunakan
pendekatan ilmiah, pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif, pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, serta suasana belajar
menyenangkan ( Permendikbud, 2014).
Sesuai dengan silabus mata pelajaran Kimia Tingkat SMA/MA, materi senyawa karbon
diajarkan di kelas XII dan biasanya disampaikan di semester gasal dengan alokasi waktu 4 jam
pelajaran per minggu (@ 45 menit). Ada dua kompetensi dasar pada materi senyawa karbon yaitu
Kompetensi Dasar 3.9 dan Kompetensi Dasar 4.9 dengan cakupan materi sangat luas yang meliputi
struktur, tata nama, sifat, sintesis, dan kegunaan senyawa karbon (haloalkana, amina, alkanol,
alkoksialkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat, dan alkil alkanoat), sedang alokasi waktunya hanya
8 x 45 menit. Mengingat singkatnya waktu yang tersedia, biasanya pembelajaran disampaikan dengan
metode ceramah dengan alasan untuk lebih menyingkat waktu. Dalam kondisi tersebut, peserta didik
umumnya hanya berperan sebagai objek penerima materi, implikasinya tentu tidak ada proses
konstruksi pada proses pembelajaran. Peserta didik menjadi kurang aktif selama proses pembelajaran.
955
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Banyak metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan peserta didik serta mendukung
peserta didik dalam membangun pengetahuannya, salah satunya adalah metode kooperatif Jigsaw.
Menurut Slavin (1982) dalam Reuven, Lazarowitz et.al.(1985) pada metode kooperatif Jigsaw,
peserta didik diatur menjadi beberapa kelompok (kelompok asal). Materi pelajaran dibagi menjadi
beberapa bagian untuk dipelajari peserta anggota kelompok. Masing-masing anggota kelompok
mendapat bagian berbeda untuk dipelajari. Semua anggota dari kelompok yang berbeda dengan
bahan materi yang sama, bergabung menjadi satu kelompok baru yang disebut kelompok ahli. Dalam
kelompok ahli, peserta didik membaca, berdiskusi, memahami materi, dan merencanakan bagaimana
mengajarkan materi tersebut pada teman yang lain. Setelah waktu yang ditentukan, masing-masing
anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal. Di kelompok asal, masing-masing peserta didik
mengajarkan kepada temannya tentang materi yang dipelajari sebelumnya pada kelompok ahli.
Dengan mekanisme ini diharapkan peserta didik akan berusaha memahami seluruh materi pelajaran
melalui diskusi di dalam kelompok asal.
Melalui metode Jigsaw, peserta didik belajar melalui teman sebaya, saling menghargai, belajar dan mengajari, serta membantu satu sama lain. Menurut Aronson et. al. (1978) dalam
Reuven, Lazarowitz et. al.(1985) penerapan metode Jigsaw di sekolah dasar memberi pengaruh yang
positif diantaranya rasa kebersamaan, rasa percaya diri, dan ketuntasan yang lebih baik. Penelitian
dilakukan dengan membandingkan 2 kelas berbeda di dua sekolah yang berbeda. Pembelajaran di
kelas penelitian menggunakan metode Jigsaw, sedangkan pembelajaran di kelas kontrol tidak
menggunakan metode Jigsaw. Sharan (1980) dalam Reuven, Lazarowitz et. al.(1985) melakukan
penelitian untuk membandingkan TGT, STAD, dan Jigsaw di sekolah menengah pertama selama
enam minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Jigsaw meningkatkan rasa percaya diri.
Hartini (2012-2013) menyatakan penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaw dapat meningkatkan
hasil belajar IPA. Penelitian dilakukan di kelas VIB SDN 002 Tanah Grogot pada materi ciri khusus
tumbuhan.
Materi senyawa karbon sangat sesuai jika menggunakan metode kooperatif Jigsaw,
karena pada materi senyawa karbon ada beberapa konsep yang kurang lebih setara yang perlu
dipahami peserta didik. Slavin (1982) dalam Reuven, Lazarowitz et. al.(1985) menyatakan materi
yang dipelajari melalui metode Jigsaw dibagi menjadi beberapa bagian yang kurang lebih materinya
setara. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan hasil pembelajaran materi
senyawa karbon akan meningkat dengan menggunakan metode
kooperatif Jigsaw.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian dilakukan
untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif,
sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang
diinginkan dapat dicapai. Dalam penelitian tindakan ini guru bertindak sebagai peneliti dan teman
sejawat bertindak sebagai observer. Penelitian ini terdiri atas tiga komponen utama, yaitu
perencanaan, pelaksanaan tindakan ( meliputi observasi dan refleksi), penyelesaian. Pelaksanaan
tindakan terdiri dari 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan. Dilakukan tes akhir hasil
belajar pada setiap siklus.
Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah untuk meningkatkan hasil pembelajaran di
kelas, guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan
refleksi. Dalam penelitian ini kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan
dilakukan seperti biasa, sehingga peserta didik tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan
didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan. Langkah-langkah
penelitian terdiri atas;
956
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Siklus 1:
Perencanaan
Pada tahap perencanaan dilaksanakan langkah-langkah pembuatan RPP, pertanyaan untuk
pembelajaran, lembar observasi, soal evaluasi, dan rubrik penilaian. Penyusunan RPP pada siklus
pertama dilakukan melalui penelaahan pada Kompetensi Dasar 3.9 di kelas XII yaitu menganalisis
struktur, tata nama, sifat, sintesis, dan kegunaan senyawa karbon (haloalkana, alkanol, alkoksialkana,
alkanal, alkanon, asam alkanoat, dan alkil alkanoat), dan disusun untuk dua kali pertemuan. Materi
struktur dan tata nama senyawa karbon peneliti bagi menjadi 7 bagian yang terdiri dari alkanol,
alkoksialkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat, alkil alkanoat, dan alkil halida. Sehingga setiap
kelompok ahli mempelajari satu bagian tata nama (ada 7 kelompok ahli). Soal evaluasi yang disusun
juga terdiri dari 7 soal yang setiap soal mewakili 1 bagian tata nama/ struktur.
Lembar observasi yang disusun terdiri dari dua bagian yaitu observasi terhadap aktivitas
peserta didik selama pembelajaran dan observasi terhadap langkah-langkah pembelajaran. Pertanyaan
yang dimuat pada observasi aktivitas peserta didik adalah:
a) Apakah semua peserta didik benar-benar telah belajar tentang topik pembelajaran hari ini?
Bagaimana proses mereka belajar? b) Peserta didik mana yang tidak dapat mengikut kegiatan
pembelajaran pada hari ini? c) Mengapa peserta didik tersebut tidak dapat belajar dengan baik?
Menurut Anda apa penyebabnya dan bagaimana alternatif solusinya menurut Anda?
d) Bagaimana usaha guru dalam mendorong peserta didik yang tidak aktif untuk belajar?
e) Pelajaran berharga apa yang dapat Anda petik dari pengamatan pembelajaran hari ini?
Lembar observasi langkah pembelajaran meliputi pengamatan terhadap kegiatan awal,
kegiatan inti, dan penutup. Pada kegiatan awal hal yang diobservasi mengenai apersepsi dan motivasi.
Materi ajar, pengelolaan sumber belajar/media, strategi pembelajaran diamati pada kegiatan inti. Pada
kegiatan penutup hal yang diamati kegiatan penguatan materi dan evaluasi.
Pelaksanaan dan Observasi
Langkah pelaksanaan meliputi pembentukan kelompok asal yang beranggota masing-masing
7 peserta didik secara heterogen. Anggota disusun dengan jumlah anggota 7 orang karena materi yang
akan dipelajari terdiri dari 7 bahasan. Masing-masing peserta didik pada kelompok asal berhitung
dari 1 sampai 7. Anggota kelompok dengan nomor sama bergabung menjadi kelompok baru yang
disebut kelompok ahli. Peserta didik berdiskusi pada kelompok ahli sampai memahami materi
dilanjutkan berdiskusi pada kelompok asal untuk saling bertukar pengetahuan. Pengamatan selama
pembelajaran dilakukan oleh peneliti maupun oleh observer, dan terakhir dilakukan evaluasi.
Refleksi
Pada tahap ini dilaksanakan diskusi antara peneliti dan observer untuk memperbaiki
kekurangan yang teramati pada pembelajaran yang sudah dilaksanakan pada siklus 1. Sehingga
diharapkan pada siklus dua akan dihasilkan pembelajaran yang lebih baik.
Siklus 2
Perencanaan
Pada tahap perencanaan dilaksanakan langkah-langkah sama dengan siklus satu, hanya pada
siklus dua dilaksanakan metode Jigsaw dipadu dengan praktikum. Sehingga pada siklus dua
dipersiapkan LKS untuk memandu kegiatan praktikum. Materi pada siklus dua masih pada senyawa
karbon, hanya kompetensi dasar yang digunakan adalah Kompetensi Dasar 4.9. Merancang dan
melakukan percobaan untuk sintesis senyawa karbon, identifikasi gugus fungsi. Praktikum pada siklus
dua dirancang dengan tiga judul percobaan yaitu identifikasi aldehid dan keton dengan pereaksi
tollens, identifikasi aldehid dan keton dengan pereaksi fehling, serta reaksi esterifikasi. Pembelajaran
957
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
pada siklus dua pun direncanakan dilaksanakan dengan dua kali pertemuan dan diakhiri dengan
evaluasi.
Pelaksanaan dan Observasi
Langkah pelaksanaan meliputi pembentukan kelompok asal yang masing-masing
kelompok terdiri dari 6 peserta didik secara heterogen. Setiap anggota kelompok asal berhitung dari
1sampai 3, sehingga dalam kelompok asal ada 2 orang yang bernomor sama. Setiap peserta dengan
nomor sama bergabung menjadi satu kelompok ahli yang terdiri dari 6 orang. Dalam satu kelas ada 6
kelompok ahli dan setiap 2 kelompok ahli melakukan percobaan yang sama. Ada 3 percobaan yang
dilakukan, yaitu identifikasi aldehid dan keton dengan tollens, identifikasi aldehid dan keton dengan
fehling, serta esterifikasi.
Setiap percobaan yang dilaksanakan di kelompok ahli direkam melalui hand phone
oleh anggota kelompok sebagai bahan untuk diperlihatkan pada anggota kelompok asal. Seteleh
percobaan dan diskusi selesai dilaksanakan pada kelompok ahli, setiap anggota kelompok kembali ke
kelompok asal untuk berbagi pengetahuan yang diperoleh di kelompok ahli. Pada akhir pembelajaran
sebelum dilaksanakan evaluasi, 3 orang perwakilan peserta didik mempresentasikan cara kerja, hasil
percobaan, dan reaksi yang terjadi selama percobaan.
Refleksi
Pada tahap ini dilaksanakan diskusi antara peneliti dan observer untuk memperbaiki
kekurangan yang teramati pada pembelajaran yang sudah dilaksanakan pada siklus 2 sehingga
pembelajaran yang selanjutnya akan lebih baik lagi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Siklus 1
Perencanaan
Hasil perencanaan berupa RPP, lembar observasi beserta perangkat lainnya, dipergunakan sebagai
bahan untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Peserta didik dibagi menjadi 5 kelompok dengan anggota
7 orang, yang dipilih secara acak. Materi kajian terdiri dari tata nama dan struktur alkanol, tata nama
dan struktur alkoksialkana, tata nama dan struktur alkanal, tata nama dan struktur alkanon, tata nama dan
struktur asam alkanoat, tata nama dan struktur alkil alkanoat, tata nama dan struktur alkil halida.
Masing-masing anggota kelompok ahli bertanggung jawab memahami materi tertentu.
Pelaksanaan dan Observasi
Pembelajaran dilaksanakan hari Rabu tanggal 5 Oktober jam ke 7 dan ke 8. Pembelajaran dimulai
oleh guru dengan mengucapkan salam dan memeriksa kehadiran peserta didik. Dilanjutkan dengan
menginformasikan tujuan pembelajaran yaitu untuk mengetahui aturan pemberian nama senyawa turunan
alkana. Turunan alkana begitu banyaknya dan tidak mungkin dihafalkan semua nama senyawanya. Oleh
karena itu penting untuk mengetahui tata cara pemberian nama. Peneliti mengingatkan kembali tentang
aturan memberi nama senyawa alkana yang pernah dipelajari di kelas XI. Waktu yang diperlukan untuk
langkah ini selama 10 menit.
Berikutnya guru menyampaikan skenario pembelajaran yang dilakukan, yaitu metode Jigsaw
dan meminta mereka membagi menjadi 5 kelompok heterogen beranggotakan 7 orang. Peserta didik
menyimak penjelasan guru dan mulai membagi kelompok sesuai permintaan guru. Karena banyak peserta
didik dalam kelas adalah 36 orang, maka terbentuk 5 kelompok yang salah satunya beranggotakan 8 orang.
Guru menjelaskan tata cara pelaksanaan pembelajaran, pertama setiap kelompok diminta berhitung 1
sampai dengan 7, berikutnya setiap anggota kelompok dengan nomor yang sama bergabung menjadi
kelompok baru yang dinamakan kelompok ahli. Ada 7 kelompok ahli yang masing-masing kelompok ahli
bertanggung jawab untuk mempelajari tata nama dan struktur suatu gugus fungsi. Pengaturan kelompok
menghabiskan waktu 10 menit.
958
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Langkah selanjutnya, guru menugasi setiap kelompok untuk berdiskusi tentang tata nama dari
salah satu jenis turunan alkana, yaitu alkanol, alkoksi alkana, alkanal, alkanon, asam alkanoat, alkil
alkanoat, dan alkil halida. Sebagai bahan diskusi guru memberi beberapa soal tentang nama dan rumus
struktur senyawa karbon yang berbeda sesuai dengan kelompok ahli. Diskusi pada kelompok ahli
berlangsung selama 50 menit.
Banyak hal menarik yang teramati oleh peneliti pada saat diskusi di kelompok ahli. Semua
peserta didik terlihat aktif untuk mempelajari, karena merasa bertanggungjawab untuk menjelaskan
kembali di kelompoknya. Jika mereka kesulitan, mereka akan bertanya pada peneliti dan peneliti berusaha
untuk memancing peserta didik berpikir.
Gambar 1. Peserta didik berdiskusi
Berikut ini beberapa dialog yang terjadi pada saat diskusi di kelompok ahli.
Peserta didik : “ Apakah nomor atom C yang mengikat gugus OH pada alkanal selalu nomor 1?”
Guru
: “ Kira-kira menurut kamu bagaimana?”
Peserta didik : “ Nggak tahu….”
Guru
: “ Coba kamu pindah ke nomor 2!”
Peserta didik : “ Tidak bisa….berarti selalu nomor 1?”
Peserta didik pada kelompok ahli alkanal memahami bahwa atom C yang mengikat gugus OH pada
alkanal selalu sebagai atom C nomor 1. Pada anggota kelompok ahli alkanon, dialog yang terjadi,
Peserta didik: “ Kenapa penamaan propanon dan butanon tidak diberi nomor, sedangkan
pentanon diberi nomor?”
Guru
: “ Coba kamu buat rumus struktur propanon, beri nomor dan tulis namanya!”
Peserta didik: (menuliskan rumus propanon beserta nama yang dilengkapi nomornya)
Guru
: “ Coba kamu buat rumus struktur butanon, beri nomor dan tulis namanya!”
Peserta didik: (menuliskan rumus butanon beserta nama yang dilengkapi nomornya)
Guru
: “ Pindahkan letak gugus fungsi pada butanon, beri nomor dan tulis namanya!”
Peserta didik: (menuliskan rumus butanon beserta nama yang dilengkapi nomornya)
“ Untuk nama butanon…namanya sama saja meskipun letak gugus fungsi
dipindahkan!”
Guru
: “ Coba kamu buat rumus struktur pentanon, beri nomor dan tulis namanya!”
Peserta didik: (menuliskan rumus pentanon beserta nama yang dilengkapi nomornya)
Guru
:“ Pindahkan gugus fungsi pada pentanon, beri nomor dan tulis namanya!”
Peserta didik: (menuliskan rumus pentanon beserta nama yang dilengkapi nomornya)
“ Oh….saya ngerti, untuk pentanon…namanya berbeda!”
“Berarti mulai pentanon…harus diberi nomor letak gugus fungsinya?”
Guru
: “Iya….”
959
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Peserta didik akhirnya memahami bahwa pada senyawa alkanon mulai rantai C berjumlah 5 harus diberi
nomor untuk menunjukkan letak gugus fungsi, sedangkan rantai C kurang dari 5 tidak perlu diberi nomor
karena tidak akan mempunyai nama yang berbeda meskipun letak gugus fungsi dipindahkan. Terlebih lagi
untuk senyawa alkanon dengan rantai C berjumlah 3, gugus fungsinya tidak bisa dipindahkan. Berikutnya
dialog yang terjadi pada kelompok ahli asam karboksilat,
Peserta didik: “ Bagaimana kalau senyawa asam karboksilat ada cabangnya?”
Guru
: “ Coba kamu tulis…bagaimana senyawanya?”
Peserta didik: (menuliskan contoh senyawa asam karboksilat yang memiliki cabang)
Guru
: “ Coba kamu beri nomor rantai utamanya!”
Peserta didik: (menuliskan nomor rantai utamanya)
Guru
: “Sekarang kamu beri nama…yang tidak ada nomornya berarti cabang, dan cara
memberi nama seperti aturan alkana
Peserta didik: “Oh…iya…saya bisa!”
Pada akhirnya peserta didik memahami cara memberi nama senyawa alkana yang memiliki cabang. Pada
kelompok ahli ester pertanyaan yang muncul diantaranya,
Peserta didik: “ Bagaimana membedakan alkil dan alkanoat?”
Guru
: “ Coba kamu tulis contoh rumus struktur yang ada di buku!”
Peserta didik: (menulis rumus struktur metil etanoat)
Guru
: “ Coba kamu perhatikan…yang mana metil (C nya satu), yang mana etanoat (C nya
dua)!”
Peserta didik: “ Oh…ini yang metil, dan ini yang etanoat…!”
Guru
: “ Nah…kamu perhatikan cirinya…metil itu menjadi ciri untuk memilih gugus alkil,
dan etanoat menjadi ciri untuk memilih gugus alkanoat”!
Peserta didik: “ Berarti alkil di ujung dekat atom O, sedangkan alkanoat yang mengikat gugus
COO!”
Guru
: “ Iya…begitu, jangan lupa C yang mengikat dua atom O dihitung sebagai
alkanoat!”
Peserta didik akhirnya dapat menyimpulkan cara menentukan gugus alkil dan gugus alkanoat.
Berikut contoh dialog pada kelompok ahli halo alkana.
Peserta didik: “ Bagaimana memberi nomor pada senyawa halo alkana?”
Guru
: “ Coba kamu tuliskan satu rumus struktur senyawa halo alkana!”
Peserta didik: (menulis satu rumus struktur senyawa halo alkana)
Guru
: “ Coba kamu hitung atom C nya…kira-kira kamu mulai dari mana?”
Peserta didik: “ Dari yang dekat cabang halogennya!”
Guru
: “ Sebagai tambahan…perlu diingat…prioritas penomoran berdasarkan urutan
kereaktifan senyawa halogen. Tetapi penulisan nama cabang halogen berdasarkan
urutan alfabetis, kloro dianggap chloro sehingga ditulis lebih dahulu dibanding
fluoro.
Peserta didik memahami cara penomoran pada senyawa alkil halida.
Ada beberapa temuan yang menarik saat peserta didik berdiskusi di kelompok asal. Jika
salah seorang temannya menjelaskan dan ada peserta didik yang belum memahami, dengan spontan
mengatakan belum paham. Sehingga temannya mengulangi untuk menjelaskan. Sebaliknya jika salah satu
temannya menjelaskan dan semua anggota kelompok memahami, secara spontan mereka mengatakan
paham….sip sambil tepuk tangan bersama. Ada juga kelompok yang menghapal secara bersama tata nama
960
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
alkana yang merupakan dasar penamaan turunan alkana.Temuan lain yang peneliti amati adalah bahwa
rasa percaya diri siswa terlihat meningkat, terutama pada peserta yang biasanya tidak terlalu
memperhatikan pelajaran. Peserta didik merasa berarti karena keberadaanya diperlukan di dalam
kelompok. Semua anggota kelompok menunggu penjelasan dari setiap peserta didik dan tidak bisa
diwakilkan oleh anggota kelompok yang lain.
Setelah selesai diskusi pada kelompok ahli, peserta didik kembali pada kelompok asal untuk saling
berbagi ilmu yang telah dipelajari pada kelompok ahli. Pada pertemuan pertama peserta didik hanya
memiliki waktu 10 menit untuk berbagi ilmu, sehingga harus dilanjutkan pada pertemuan selanjutnya.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 7 Oktober 2016 pada jam pelajaran ke 3
dan ke 4. Pertemuan kedua diawali dengan memberi salam dan mengecek kehadiran peserta didik. Peserta
didik berbagi ilmu di kelompok asal selama 50 menit. Suasana kelas tampak ramai, semua peserta didik
sibuk berdiskusi di dalam kelompok dan tidak ada seorang pun yang berbicara di luar materi. Ada juga
kelompok yang sedikit kebingungan karena ada 1 anggota kelompok yang tidak masuk, sehingga peneliti
harus mengundang ahli dari kelompok lain.
Observasi terhadap aktivitas peserta didik yang dilakukan observer memberikan hasil sebagai
berikut: a) Secara keseluruhan semua peserta didik belajar dan berdiskusi dengan kelompoknya,
peserta didik yang belum memahami langsung bertanya pada temannya, b) Hampir semua peserta
didik mengikuti pembelajaran dengan aktif, hanya beberapa peserta didik yang kelihatan kurang aktif.
Ag terlihat sedikit kurang aktif, namun memperhatikan temannya yang menjelaskan, merespon, dan
mencatat hal-hal yang penting. RA dan Hb terlihat diam sambil memperhatikan temannya yang
sedang menjelaskan, c) Peserta didik yang kurang belajar dengan baik karena masih sibuk mencatat
penjelasan pada materi sebelumnya, sedangkan teman lain sudah menjelaskan materi lain, d) Guru
mendekati dan memperhatikan diskusi yang dilakukan peserta didik dan memberi pertanyaan
pancingan ketika ada peserta didik yang menjelaskan materi kurang jelas, e) Model pembelajaran
Jigsaw dapat meningkatkan keaktifan peserta didik, melatih peserta didik belajar mandiri.
Observasi terhadap langkah pembelajaran, pada awal kegiatan guru kurang menggali
motivasi peserta didik . Peserta didik sudah merespon apersepsi yang diberikan guru tentang tata
nama alkana, guru sudah memberikan penjelasan umum tentang prosedur kegiatan yang harus
dilakukan oleh peserta didik, akan tetapi guru belum menyampaikan manfaat mempelajari materi ini.
Observasi terhadap interaksi peserta didik dengan sumber belajar/ buku sudah terlihat sangat baik.
Proses pembelajaran sudah dilaksanakan dengan strategi yang sesuai dan belangsung secara
lancar, peserta didik aktif berdiskusi berbagai materi, bertanya jika ada materi yang belum dipahami.
Semua peserta didik sudah dapat mengikuti alur kegiatan belajar yang dirancang. Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan untuk menggali dan memperbaiki pemahaman peserta didik.
Pada kegiatan penutup guru tidak memberikan penguatan tapi memberikan tugas untuk
pertemuan selanjutnya. Dilaksanakan juga evaluasi di akhir pembelajaran, tetapi guru tidak
membahasnya sehingga pencapaian tujuan belajar tidak diketahui dengan langsung.
Penilaian terhadap siklus pertama dilakukan setelah selesai diskusi pada kelompok asal.
Penilaian dilakukan dengan memberikan soal uraian mengenai tata nama dan menulis struktur. Soal uraian
terdiri dari 7 butir soal yang setiap soal mewakili tata nama setiap gugus fungsi. Peserta didik mengerjakan
soal uraian selama 20 menit. Hasil penilaian pada siklus pertama menunjukkan hasil rata-rata 79,67 dengan
nilai terendah 36 dan nilai tertinggi 96. Secara rinci hasil evaluasi dapat dilihat pada Tabel 1.
961
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Tabel 1. Hasil Penilaian Siklus 1
Rata-rata nilai
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Persentase peserta didik dengan nilai
di atas KKM (nilai ≥78)
Persentase peserta didik dengan nilai
di bawah KKM (nilai <78)
79,67
96
36
63,89%
36,11%
Banyak temuan menarik dari penilaian Siklus 1, diantaranya pada soal yang menanyakan tentang
nama alkohol beberapa peserta didik masih ada yang tidak teliti untuk menulis nomor letak gugus OH.
Ada juga peserta didik yang belum bisa sama sekali memberi nama senyawa alkohol (RA yang menurut
observer tampak kurang aktif). Pada soal yang menanyakan tentang nama senyawa alkanon sebagian besar
peserta didik sudah memahami dengan baik, hanya beberapa peserta didik yang belum memahami. Pada
soal tentang tata nama eter, sebagian besar peserta didik sudah memahami tetapi banyak yang kurang teliti
pada penomoran letak cabang.
Refleksi
Dari hasil pelaksanaan pada Siklus 1 dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan metode
Jigsaw dapat mengaktifkan proses pembelajaran peserta didik. Akan tetapi mengingat masih ada siswa
yang kurang aktif dan masih cukup banyak siswa yang nilainya belum melampaui nilai KKM, maka
dilakukan Siklus 2 dengan menambahkan kerja laboratorium pada metode Jigsaw.
Siklus 2
Perencanaan
Hasil perencanaan pada Siklus 2 sama dengan perencanaan pada Siklus 1, perbedaannya
pada Siklus 2 menggunakan metode Jigsaw yang dipadu dengan kegiatan laboratorium. Sehingga untuk
Siklus 2 disusun lembar kerja untuk memandu peserta didik melakukan percobaan. Soal yang disusun
untuk bahan evaluasi pun lebih mengarah pada kegiatan praktikum yang telah dilakukan.
Ada 3 percobaan yang dilakukan, yaitu identifikasi aldehid dan keton dengan tollens,
identifikasi aldehid dan keton dengan fehling, serta esterifikasi. Peserta didik dibagi menjadi 6
kelompok yang heterogen dan setiap anggota kelompok diminta berhitung dari 1 sampai 3, sehingga ada 2
orang yang bernomor sama. Setiap peserta didik yang memiliki nomor yang sama bergabung menjadi satu
kelompok. Siklus 2 direncanakan berlangsung 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama peserta
didik melakukan percobaan dilanjutkan diskusi pada kelompok ahli. Pada pertemuan kedua peserta
didik berdiskusi pada kelompok asal, dilanjutkan presentasi dari perwakilan peserta didik. Pertemuan
kedua diakhiri dengan pemberian evaluasi formatif.
Pelaksanaan dan Observasi
Pembelajaran dilaksanakan hari Jumat tanggal 14 Oktober 2016 pada jam pelajaran ke
3 dan ke 4. Pembelajaran dimulai dengan mengucapkan salam dan memeriksa kehadiran peserta
didik. Peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok yang heterogen dan setiap anggota kelompok diminta
berhitung dari 1 sampai 3, sehingga ada 2 orang yang bernomor sama. Setiap peserta didik yang memiliki
nomor yang sama bergabung menjadi satu kelompok. Pembagian kelompok memerlukan waktu 10 menit.
Selama 15 menit berikutnya peserta didik menerima penjelasan bahwa tujuan pembelajaran
adalah untuk mengidentifikasi aldehid dan keton serta membuat ester metil salisilat dan etil asetat.
Dijelaskan pula teknik pembelajaran dan penilaian yang akan dilakukan. Peserta didik diingatkan kembali
962
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
tentang ciri gugus aldehid dan keton. Peserta didik juga diberi penjelasan salah satu manfaat
mengidentifikasi aldehid untuk mengetahui keberadaan formalin. Kemudian peserta didik diberi tugas
dengan rincian kelompok dengan nomor 1 melakukan percobaan identifikasi aldehida dan keton dengan
pereaksi tollens, kelompok nomor 2 melakukan percobaan identifikasi aldehida dan keton dengan pereaksi
fehling, kelompok nomor 3 melakukan percobaan pembentukan ester metil salisilat dan etil asetat.
Selama percobaan peserta didik mengamati, merekam percobaan dengan hand phone,
mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja dan berdiskusi. Peserta didik banyak yang mengalami
kebingungan pada saat melakukan percobaan, karena peserta didik tidak mempelajari sama sekali
percobaan yang akan dilakukan. Akibatnya peserta didik tidak mengerti tentang percobaan yang
dilakukan.
Gambar 2. Guru membimbing dan peserta didik mengamati percobaan
Hampir semua kelompok menanyakan tentang sampai bagaimana tabung reaksi dipanaskan
dalam penangas. Berikut ini dialognya,
Peserta didik: “Sampai terjadi apa…pada tabung reaksi?”
Guru
: “Coba kamu baca teori yang ada pada buku!”
Peserta didik: “Sampai terbentuk endapan CuO yang berwarna merah bata”(pada kelompok
aldehid keton dengan fehling)
Guru
: “Nah…begitu, hanya karena aldehid yang digunakan metanal…maka warna
endapan yang dihasilkan agak pudar…hampir warna jingga.”
Peserta didik: “Sampai terbentuk endapan Ag !”(pada kelompok aldehid keton dengan
tollens)
Guru
: “Bukan endapan Ag…tetapi cermin perak, karena menempel di dinding tabung
reaksi.”
Peserta didik akhirnya memahami bahwa pada percobaan aldehid dengan fehling akan terbentuk
endapan yang berwarna merah bata, sedangkan percobaan aldehid dengan tollens terbentuk cermin
perak. Langkah ini memerlukan waktu yang lama, hingga waktu pembelajaran hampir selesai, peserta
didik masih berdiskusi pada kelompok ahli. Akhirnya pembelajaran ditutup dengan menjelaskan
bahwa pada pertemuan selanjutnya peserta didik berdiskusi di kelompok asal, perwakilan peserta
didik presentasi, dan terakhir evaluasi.
Pertemuan kedua dilaksanakan hari Rabu tanggal 19 Oktober 2016, pembelajaran dimulai
dengan memberikan salam dan mengecek kehadiran peserta didik. Peserta didik menyimak penjelasan
mengenai tujuan pembelajaran, teknik pembelajaran, dan teknik penilaian. Kegiatan ini berlangsung
selama 10 menit. Selanjutnya peserta didik berdiskusi pada kelompok asal.
963
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Gambar 4. Peserta didik berdiskusi dan mempresentasikan hasil percobaan
Pada kegiatan ini peserta didik saling berbagi ilmu mengenai percobaan yang telah dilakukan dan
melengkapi lembar kerja yang diberikan. Kegiatan ini berlangsung selama 40 menit. Kemudian guru
meminta perwakilan peserta didik untuk mempresentasikan hasil percobaan. Presentasi meliputi cara
kerja, pengamatan, reaksi yang terjadi, dan kesimpulan. Ada 3 orang perwakilan peserta didik yang
mempresentasikan, setiap orang mempresentasikan percobaan yang berbeda. Waktu yang digunakan
untuk presentasi peserta didik 15 menit.
Observasi terhadap aktivitas peserta didik yang dilakukan observer memberikan hasil sebagai
berikut: a) Secara keseluruhan semua peserta didik belajar, semua anggota kelompok terlibat
melakukan percobaan, b) Hampir semua peserta didik mengikuti pembelajaran dengan aktif, hanya
ada 2 peserta didik yang terlihat pasif dan ada 1 peserta didik yang terlihat oleh observer membuka
hand phone di luar konteks pembelajaran, c) Peserta didik yang tidak siap mengikuti pembelajaran
disebabkan tidak mengetahui konsep. Di samping itu meja praktikum yang terlalu panjang
menyebabkan pengamatan peserta didik terbatas. Faktor ketersediaan bahan praktikum yang kurang
menyebabkan peserta didik yang melakukan percobaan yang sama harus menunggu peserta lain
selesai mengambil zat, d) Guru berkeliling pada setiap kelompok, memberi bimbingan, e)
Pembentukkan kelompok dengan jumlah anggota 6 orang terlalu banyak, sebaiknya dibentuk
kelompok dengan jumlah anggota 4 orang. Meja praktikum yang panjang mengganggu mobilitas
peserta didik, di samping menyulitkan peserta didik untuk berhadapan dengan anggota kelompoknya.
Observasi terhadap langkah pembelajaran, pada awal kegiatan guru kurang menggali motivasi
peserta didik, tidak ada peserta didik yang bertanya. Pada awal pembelajaran sudah ada penjelasan
umum tentang tugas kelompok ahli, peranan materi pembelajaran yang sangat berkaitan erat dengan
kehidupan sehari-hari. Observasi terhadap interaksi peserta didik dengan sumber belajar/buku sudah
terlihat cukup baik. Proses pembelajaran sudah dilaksanakan dengan strategi yang sesuai dan
belangsung secara lancar, peserta didik aktif melakukan percobaan, namun dibutuhkan waktu yang
lama dalam melakukan percobaan, sehingga ada siswa yang mengobrol saat menunggu reaksi hasil
percobaan.
Pada kegiatan penutup guru tidak memberikan penguatan tapi memberikan tugas untuk
pertemuan selanjutnya. Dilaksanakan juga evaluasi di akhir pembelajaran, tetapi guru tidak
membahasnya sehingga pencapaian tujuan belajar tidak diketahui dengan langsung.
Langkah terakhir dari Siklus 2 adalah melaksanakan penilaian. Penilaian diperoleh melalui 2
cara yaitu dengan memberikan soal tertulis berupa uraian sebanyak 4 nomor dan penilaian dari lembar
kerja. Soal uraian menanyakan hal-hal mengenai percobaan yang telah dilakukan dan reaksi yang
terjadi pada percobaan. Peserta didik diberi waktu selama 25 menit untuk menyelesaikan soal yang
diberikan.
964
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Analisis hasil penilaian dari soal tertulis pada Siklus 2 menunjukkan bahwa jawaban
peserta didik pada soal nomor 1, soal yang menanyakan tentang cara membedakan aldehid dan keton
hampir semua peserta didik dapat menjawab dengan hampir sempurna. Sebagian kecil peserta didik
menjawab secara tidak sempurna, hanya menyebutkan pereaksinya saja tanpa disebutkan hasil yang
teramati. Begitu pula pada soal nomor 3, soal yang menanyakan tentang cara pembuatan ester hanya
sebagian peserta didik yang menjawab tidak sempurna. Sebagian besar peserta didik mendapat skor
rendah pada soal nomor 2 dan 4. Soal nomor 2 menanyakan tentang reaksi formaldehid dengan
pereaksi fehling, sedangkan soal nomor 4 menanyakan tentang reaksi pembentukkan etil asetat.
Banyak peserta didik yang kesulitan untuk menuliskan reaksi dengan tepat disertai wujud masingmasing zat.
Penilaian pada lembar kerja berupa dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu identifikasi
aldehid keton dengan tollens, identifikasi aldehid keton dengan fehling, dan esterifikasi. Pada setiap
bagian ada tujuan percobaan, pengamatan, pertanyaan, dan kesimpulan. Penilaian dilakukan pada
masing-masing bagian. Pada percobaan identifikasi aldehid dan keton dengan pereaksi tollens,
hampir semua peserta didik dapat menuliskan dengan tepat tujuan percobaan dan pengamatan selama
percobaan. Hanya ada peserta didik yang tidak menuliskan pengamatan saat proses reaksi aldehid
dengan tollens, tidak menuliskan perubahan yang teramati saat aseton direaksikan dengan tollens.
Pada percobaan identifikasi aldehid dan keton dengan pereaksi fehling, hampir semua
peserta didik dapat menuliskan dengan tepat tujuan percobaan dan pengamatan selama percobaan.
Pada bagian pengamatan, ada peserta didik yang tidak menuliskan hasil pengamatan percobaan aseton
dengan pereaksi fehling. Ada juga peserta didik yang menuliskan terbentuk larutan tidak berwarna
pada pengamatan pada percobaan aseton dengan fehling (seharusnya terbentuk larutan berwarna biru).
Pada bagian kesimpulan ada yang menuliskan bahwa keton tidak dapat direaksikan dengan fehling,
seharusnya dituliskan keton tidak bereaksi dengan fehling. Pada percobaan pembentukan ester hampir
semua peserta didik menuliskan dengan tepat pada bagian tujuan, pengamatan, pertanyaan, dan
kesimpulan.
Penilaian akhir Siklus 2 diperoleh dengan mengambil rata-rata nilai dari penilaian
lembar kerja dan penilaian test tulis. Hasil penilaian memberikan hasil rata-rata 84,85, dengan nilai
terendah 63 dan nilai tertinggi 99. Jumlah peserta didik yang mencapai nilai ≥ KKM sebanyak 80%.
Perincian hasil penilaian pada Siklus 2 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Penilaian Siklus 2
Rata-rata nilai
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Persentase peserta didik dengan nilai
di atas KKM (nilai ≥78)
Persentase peserta didik dengan nilai
di bawah KKM (nilai <78)
84,85
99
63
80,0%
20,0%
Hasil penilaian Siklus 2 ( rata-rata nilai 84,85) lebih baik dari hasil penilaian Siklus 1
( rata-rata nilai 79,67), demikian pula persentase peserta didik yang melampaui nilai KKM pada siklus 2
lebih banyak (80,0%) dibanding siklus 1(63,89%). Perbandingan nilai yang diperoleh Siklus 1 dan 2 dapat
dilihat pada Tabel 3.
965
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Tabel 3. Perbandingan Hasil Penilaian Siklus 1 dan Siklus 2
Perbandingan nilai
Rata-rata nilai
Nilai tertinggi
Nilai terendah
Persentase peserta didik dengan nilai
di atas KKM (nilai ≥78)
Persentase peserta didik dengan nilai
di bawah KKM (nilai <78)
Siklus 1
79,67
96
36
63,89
Siklus 2
84,85
99
63
80,0
36,11
20,0
Kegiatan peserta didik selama pembelajaran metode Jigsaw terlihat lebih aktif baik pada
Siklus 1 maupun Siklus 2. Secara umum hampir semua peserta didik antusias terlibat dalam proses
pembelajaran karena setiap orang mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan kepada teman.
Selain itu rasa percaya diri peserta didik meningkat, terlihat dari keberanian peserta didik untuk
menjelaskan konsep yang telah dikuasainya kepada teman satu kelompok.
Refleksi
Dari hasil pelaksanaan pada Siklus 2 dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan
metode Jigsaw dipadu dengan kegiatan laboratorium secara umum dapat meningkatkan proses
pembelajaran peserta didik. Untuk mengurangi peserta didik yang kurang aktif, sebaiknya setiap
kelompok dibentuk dengan jumlah anggota 4 orang. Kesiapan peserta didik sangat mempengaruhi
lancarnya proses pembelajaran. Sebaiknya peserta didik diberi tugas mempelajari materi yang akan
dikerjakan di laboratorium dan di awal pembelajaran diadakan tanya jawab untuk menggali kesiapan
peserta didik melakukan percobaan. Dari hasil evaluasi pada kedua siklus menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan signifikan dari siklus satu ke siklus dua.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pembelajaran materi senyawa karbon di kelas XII MIPA 4 SMAN 1 Batu dengan metode
Jigsaw yang dipadu dengan kegiatan laboratorium memperlihatkan bahwa metode ini lebih
meningkatkan aktivitas pembelajaran, menjalin kerja sama antar peserta didik serta meningkatkan
rasa percaya diri peserta didik. Hasil penilaian pada Siklus 1 yaitu pembelajaran dengan metode
Jigsaw menunjukkan nilai rata-rata peserta didik sebesar 79,67. Sedangkan pada Siklus 2 yaitu
pembelajaran kooperatif Jigsaw dipadu dengan kegiatan laboratorium memberikan hasil penilaian
yang lebih tinggi, dengan hasil nilai rata-rata sebesar 84,85.
Pada pembelajaran dengan metode apa pun sebaiknya peserta didik sudah mempelajari
dahulu materi yang akan dipelajari pada proses pembelajaran. Terutama jika materi tersebut
berhubungan dengan kegiatan percobaan yang akan dilakukan. Sehingga diharapkan percobaan yang
dilakukan lebih bermakna bagi peserta didik. Dan sebaiknya bahan-bahan yang akan diidentifikasi
dalam percobaan diambil dari kehidupan sehari-hari sehingga percobaan akan lebih bermakna.
DAFTAR RUJUKAN
Hartini, 2013. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw pada Materi Ciri Khusus Tumbuhan di
Kelas VIB SDN 002 Tanah Grogot: Kalimantan Timur
Mukhlis, Abdul (Ed) 2000. Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Makalah Panitia Pelatihan
Penulisan Karya Ilmiah Untuk Guru-guru se-Kabupaten Tuban.
966
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Reuven, Lazarowitz et. al.,1985. The Effects of Modified Jigsaw on Achievement, Classroom
Social Climate, and Self-Esteem in High-School Science Classes, Library of
Congress Cataloging in Publication Data , Plenum Press: New York
Udin S.Winataputra, dkk, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta:Universitas Terbuka, Tahun 2007
............, 2014. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103
Tahun 2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah.
Lembaran Negara :Jakarta
967
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
PENERAPAN PEMBELAJARAN STAD BERBANTUAN
MEDIA MANIPULATIFUNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
MATERI SISWA KELAS XII-IPS SMA PGRI BATU
Tri Andarini
SMA PGRI Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini mengkaji penerapan pembelajaran kooperatif model Students Team
Achievements Division (STAD) berbantuan media manipulatif pada materi operasi
perkalian matriks yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar. Subjek penelitian ini
adalah siswa kelas XII-IPS SMA PGRI tahun ajaran 2016/2017 sebanyak 17 orang.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dilakukan 2 siklus. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif model Students Team Achievements Division
(STAD) berbantuan media manipulatif dapat meningkatkan hasil belajar. Dari rata-rata nilai
66,4 pada siklus I meningkat menjadi 84,0 pada siklus II . Ketuntasan dari 47,1% pada
siklus I menjadi 88,2 % pada siklus II.
Kata kunci: pembelajaran kooperatif STAD, media manipulatif, operasi perkalian matriks
Disadari atau tidak, matematika selalu memiliki peran dalam setiap sisi kehidupan manusia dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) baik sebagai alat bantu dalam penerapan
bidang ilmu maupun dalam pengembangan Matematika itu sendiri. Crockroft dalam Suharjo (1999)
mengemukakan bahwa matematika sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan,
perdagangan, dan industri, karena matematika dapat memberikan cara-cara berkomunikasi yang tepat,
singkat dan akurat serta memberikan cara-cara menjelaskan dan memprediksi sesuatu. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa penguasaan matematika oleh siswa menjadi suatu keharusan yang tidak bisa
ditawar lagi, terutama di dalam penataan nalar dan pengambilan keputusan dalam era persaingan yang
semakin kompetitif.
Berdasarkan pengalaman mengajar selama ini dengan menggunakan metode konvensional,
yakni seperti ceramah langsung, hasil belajar siswa masih belum memuaskan, terutama berkaitan
dengan materi operasi perkalian matriks. Berdasarkan pengalaman, masih banyak siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar. Hal tersebut ditunjukkan dari 17 siswa yang mengikuti
pembelajaran hanya 30% siswa yang mencapai ketuntasan. Metode pembelajaran konvensional tidak
tepat digunakan karena tugas siswa hanya menerima, mengingat, menghafal dan mengungkapkan
kembali berdasarkan permintaan. Hal tersebut membuat siswa terkondisi sebagai partisipan yang pasif
di dalam kelas, hanya menerima informasi dan pengetahuan, mereka tidak terbiasa merespon dan
berpikir kritis tentang pengetahuan yang mereka dapatkan sehingga tidak terbiasa memecahkan
masalah yang mereka hadapi.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika, guru dituntut dapat
menjadi fasilitator yang mampu memberikan arahan kepada siswa. Guru hendaknya memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencari, bertanya, menemukan sendiri konsep-konsep matematika
serta memberi kesempatan mengonstruksi perolehannya sendiri. Berdasarkan pernyataan di atas,
pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah cooperative learning ( Attle and Bakker ,
2007)
Pembelajaran cooperative learning sudah dikaji oleh banyak peneliti diantaranya Dwiyana
dan As’ari dalam Salmani dan Agus Mujiono (2010). Dinyatakan bahwa dalam pembelajaran
cooperative learning siswa selalu aktif dalam kegiatan belajar mengajarnya, sedangkan pengajar
968
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
bertindak sebagai fasilitator, motivator, evaluator, dan sekaligus sebagai pembimbing belajar. Dalam
pembelajaran kooperatif ini siswa belajar bersama dengan teman, saling menyumbangkan pikiran dan
bertanggung jawab atas pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok. Siswa belajar
dan bekerjasama dalam kelompok kecil-kecil yang terdiri dari 3 atau 4 siswa, sehingga diharapkan
dengan kelompok kecil ini interaksi siswa menjadi maksimal dan efektif. Peneliti memilih model
pembelajaran Students Team Achievements Division (STAD) yang dikemukakan oleh Slavin bahwa
STAD is appropriate to use in a wide variety of subjects including mathematics, language arts and
social studies. It is most appropriate for teaching well-defined objectives, such as mathematical
computations and applications, language usage and mechanics, geography and map skills, and
science facts and concepts.
Pembelajaran kooperatif Students Team Achievements Division (STAD) telah dikaji oleh
beberapa peneliti (Fitriyati, 2013; Salmani dan Agus Mujiono, 2010; Hikmah, 2013; Wasi’ah, 2013;
Izzati, 2015). Fitriyati (2013) menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dapat membuat
siswa lebih berani dalam mengemukakan pendapat, melaksanakan presentasi ke depan kelas dan
menimbulkan sikap saling menghargai sesama teman dalam satu kelompok.Salmani dan Mujiono
(2010) menerapkan pembelajaran STAD pada materi “Pencerminan” dan memperoleh hasil bahwa
pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar. Hikmah (2013) menerapkan model
pembelajaran cooperative tipe STAD dalam kegiatan on-going menunjukkan bahwa adanya interaksi
yang baik antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Selain itu, masih menurut Hikmah
bahwa penggunaaan media manipulative berupa model-model bangun ruang sisi datar cukup menarik
perhatian siswa sehingga siswa dapat mengikuti pelajaran secara aktif. Wasi’ah (2013) dalam
penelitiannya yang membahas mengenai pembelajaran konsep luas layang-layang dengan
menggunakan model kooperatif tipe STAD dipadu dengan media LCD dalam penelitian tindakan
kelas ini telah berhasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Hasil belajar siswa dalam memahami
konsep luas layang-layang meningkat. Peningkatan hasil belajar siswa meliputi peningkatkan nilai
rata-rata kelas dan ketercapaian KKM perorangan . Dengan penggunaan model dan penguasaan serta
kemampuan guru dalam penerapan media LCD seiring dengan kemajuan teknologi informasi tidak
hanya dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari namun juga
pembelajaran. Lebih jauh lagi, Izzati (2015) menemukan bahwa metode permainan sandi dapat
meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa pada materi invers matriks, mengaktifkan siswa,
serta membentuk suasana belajar menyenangkan.
Penerapan pembelajaran kooperatif STAD menjadi lebih efektif dengan dibantu media , Card
Short , LCD, Media Manipulatif . Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut ,penelitian ini mengkaji
penerapan pembelajaran kooperatif STAD di SMA PGRI Batu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Penelitian tindakan kelas ini berupa penggunaan media manipulatif dalam pembelajaran
kooperatif tipe STAD . Penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada siswa kelas XII-IPS SMA PGRI
tahun ajaran 2016/2017 sebanyak 17 orang pada semester I tahun pelajaran 2016-2017. Penelitian
dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Nopember 2016 yang terbagi dalam dua siklus, dan masingmasing siklus terdiri dari 2 pertemuan (@ 2 jam pelajaran x 45 menit). Siklus pertama dilakukan
pada tanggal 18 dan 21 Oktober 2016 dan siklus kedua dilakukan pada tanggal 8 dan 11 Nopember
2016. Setiap akhir siklus dilakukan refleksi, untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dan
memperbaikinya untuk siklus berikutnya. Alur siklus dalam PTK menurut Mariam (2016) dapat
ditunjukkan seperti dalam bagan berikut.
969
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Gambar 1. Alur PTK
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 teknik yaitu
teknik observasi dan teknik tes. Teknik observasi dilakukan saat pembelajaran berlangsung dengan
menggunakan lembar observasi yang digunakan sebagai sumber data yang diperoleh dari pengamatan
guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan untuk teknik tes dilakukan pada akhir kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja siswa dalam bentuk soal dan Lembar Kerja Siswa
(LKS).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dipaparkan berdasarkan tahapan pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe
STAD. Dalam hal ini dilakukan dua siklus.
Siklus I
Perencanaan
Terdapat lima kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan. Siklus pertama terdiri
dari 2 pertemuan (@ 2 jam pelajaran x 45 menit). Pelaksanaan pembelajaran dideskripsikan sebagai
berikut :
Siklus I diawali dengan perencanaan melalui kegiatan sebagai berikut: 1) Membuat Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam dua kali pertemuan, 2) Menyiapkan media yang akan
digunakan pada pembelajaran, 3) Mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS), 4) mengembangkan
pedoman observasi dan 5) mengembangkan alat evaluasi. Lima kegiatan tersebut menyertakan teman
sejawat dari guru bidang studi yang sama yang ada di sekolah.
Dalam kegiatan menyusun RPP peneliti mengembangkan kompetensi dasar ,memilih media
pembelajaran yang akan digunakan,mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyiapkan
lembar obervasi dan lembar penilaian hasil belajar siswa . Berikutnya peneliti menyusun skenario
pembelajaran dengan menentukan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Adapun kegiatan pendahuluan sebagai berikut: a) Guru menyiapkan siswa untuk mengikuti
proses pembelajaran dengan memberi salam, berdoa, dan mengabsen siswa, memberi motivasi
belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari.
Guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan sebelumnya dengan materi
perkalian matriks, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan tersebut di
atas termasuk salah satu tahapan STAD yakni menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Kegiatan selanjutnya yakni kegiatan inti. Tahapan kegiatan inti dijelaskan sebagai berikut: a)
Guru secara singkat menyampaikan materi pelajaran.Tahapan tersebut merupakan tahapan kegiatan
STAD yakni menyampaikan informasi. (b) Guru mengorganisasikan siswa dalam beberapa kelompok
970
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
dengan kemampuan heterogen yang terdiri dari 4-5 orang, c) Guru memotivasi serta memfasilitasi
kerja siswa dengan membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada setiap kelompok dan memberikan pengarahan mengenai petunjuk kegiatan pada LKS, d) Siswa mulai bekerja bersama kelompok.
Kegiatan termasuk tahapan STAD yakni mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok
belajar. e) Guru membimbing siswa selama bekerja dengan anggota kelompoknya, f) Guru mengawasi dan mengingatkan setiap kelompok agar saling membantu dalam memahami dan mengerjakan
tugas. Kegiatan ini termasuk tahapan membimbing kelompok belajar. g) Guru meminta setiap
kelompok mengumpulkan hasil kerja dari Lembar Kerja Siswa (LKS) ,ini masuk tahapan evaluasi.
Tahapan terakhir dalam kegiatan inti yakni, h) guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang
berhasil mengumpulkan LKS paling awal yang merupakan tahapan STAD yakni memberikan
penghargaan.
Kegiatan terakhir yakni kegiatan penutup dengan tahapan aktifitas sebagai berikut: a) Guru
menanyakan kepada siswa kesan dan materi yang telah dipelajari hari ini, b) Guru menugaskan
kepada siswa mempelajari materi operasi matriks dirumah, untuk evaluasi pada pertemuan
berikutnya.
Selama ketiga kegiatan tersebut berjalan observasi akan dilakukan oleh observer, yakni dua
orang guru yang bertugas untuk mengamati keterlaksanaan proses pembelajaran yang sedang berlangsung, baik yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
maupun untuk mengamati perkembangaan aktivitas belajar siswa.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dideskripsikan sebagai berikut.
a. Siklus I, Pertemuan 1
Pembelajaran pada pertemuan 1 dilaksanakan dalam waktu 2x45 menit. Seting pembelajaran
yang dilaksanakan adalah penerapan kooperatif tipe STAD. Siswa dilibatkan secara aktif untuk
melakukan diskusi di kelompok masing-masing. Untuk keperluan tersebut pada fase pendahuluan
guru menyiapkan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran yang diawali dengan salam, berdoa,
dan mengabsen siswa, selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dengan memberi
motivasi tentang masalah pada sanggar Kewirausahaan Sekolah. Guru memberikan ilustrasi proses
transaksi ekonomi yaitu belanja harian sanggar yang dinyatakan sebagai berikut
Tabel 1.1 Belanja barang
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jum’at
Sabtu
Teh Gelas
4
3
3
2
1
5
Kopi Cup
5
3
2
2
1
4
Pop Mi
2
2
3
4
1
6
Tabel 1.2 Harga
Teh Gelas
Kopi Cup
Pop Mi
Toko A
800
900
3000
971
Toko B
900
800
3500
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Guru mengajak siswa menghitung belanja pada hari Senin
Guru : Bagaimana kalian menghitung belanja hari Senin dari Toko A?
Siswa : Maksudnya apa bu?
Guru : Ya, berapa rupiah yang dikeluarkan pengelola sanggar ?
Siswa : 4 teh gelas dikalikan 800, terus 5 kopi dikalikan 900, dan 2 pop mie dikalikan 3000, jadi
3200, 4500, dan 6000.
Guru : Lantas..
Siswa : Apa dijumlahkan bu..
Guru : Lho kalau pengelola mau belanja, harus membawa uang berapa?
Siswa : Ya..3200 ditambah 4500 ditambah 6000 ya bu…jadi 13700 ya bu
Guru : Bagaimana anak-anak benar demikian?..
Siswa : ya bu..
Dari dialog pendahuluan tampak siswa sudah bisa melakukan perkalian baris dan kolom pada
tabel belanja barang dengan harga.
Selanjutnya masuk dalam kegiatan inti, guru memberikan tantangan kepada siswa untuk
menjelaskan konsep perkalian skalar dengan matriks dan perkalian matriks dengan matriks dengan
memberikan contoh beberapa soal kontekstual menghitung jumlah Absensi siswa dalam satu
semester untuk menjelaskan konsep perkalian sklar dengan matriks, sedangkan masalah jual beli di
sanggar sekolah digunakan untuk menjelaskan konsep perkalian matriks dengan matriks.
Tabel 1. Rata-rata Absensi siswa kelas III tiap bulan Tahun 2016
Nama siswa
Sakit
Ijin
Alpha
Bima
2
0
4
Linggar
1
3
5
Adelia
2
4
0
Dari gambar ilustrasi di atas guru mengajak siswa menentukan jumlah absensi setiap siswa
dalam 1 semester melalui dialog berikut :
Guru : Ada berapa bulan dalam 1 semester ?
Siswa : Enam, Bu...
Guru : Benar... Kalau begitu bagaimana jumlah absensi siswa-siswa tersebut dalam 1 semester?
Siswa : Bima…6 bulan dikalikan 2 sakit,6bulan dikalikan 0 ijin,6 bulan dikalikan 4 alpha;
Linggar…6 bulan dikalikan 1,6 bulan dikalikan 3, 6 bulan dikalikan5;Adelia…6 bulan
dikalikan 2,6 bulan dikalikan4, 6 bulan dikalikan 0,jadi Bima…12,0,24;
Linggar…6,18,30; dan Adelia…12, 24,0.
972
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Dialog di atas menggambarkan iswa dapat mengalikan unsur-unsur matriks dengan skalar.
Guru :lalu cara menulisnya bagaimana…
Siswa :ya diisikan ke tabel bu…
Guru : benar begitu anak-anak…silahkan salah satu dari kalian maju
Guru : Sekarang coba pikirkan … jika banyaknya bulan dalam satu semester menyatakan skalar
(k) judul baris (nama siswa) dan judul kolom ( S,I,A ) dihapus ,apa yang terjadi …
Siswa : Jadi ya… k sama dengan 6 ,susunan angka-angkanya menjadi matriks.
Guru : benar…itu yang dimaksud perkalian skalar dengan matriks
Guru :kalian ingat bagaimana menghitung belanja harian sanggar di awal pembelajaran?
Siswa : ya…bu.
Guru :bagaimana jika judul kolom dan judul baris dihilangkan…bagaimana tadi cara
mengalikannya apa kalian juga bisa?
Siswa :saya coba ya bu…
Guru : Ya betul, berarti kalian sudah memahami konsep perkalian skalar dengan matriks. Baik,
kalau begitu sekarang kita akan membahas tentang perkalian matriks dengan matriks
yakni dengan melanjutkan menghitung belanja Toko B.
Dari dialog ini siswa dapat melakukan operasi perkalian mariks dengan skalar.
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Siswa
Guru
Siswa
Guru
Siswa
: Tentu kalian sudah menyelesaikan belanja hari senin sampai dengan sabtu dari toko
A bukan,gunakan cara yang sama untuk menghitung belanja hari senin sampai dengan
sabtu dari toko B.
: ya…dikalikan terus dijumlah seperti tadi bu…?
: lho…pengelola belanja lagi kan,berarti harus tahu berapa yang harus dibayar?
: 4 teh gelas dikalikan 900, terus 5 kopi dikalikan 800, dan 2 pop mie dikalikan 3500,
jadi 3600, 4000, dan 7000..
: jadi..belanja hari senin dari toko B 3600 ditambah 4000 ditambah 7000 ya bu…jadi
14600 ya bu
: bagaimana anak-anak ..benar demikian?
: ya bu…
: baik selesaikan juga balanja sanggar sampai hari sabtu
: ya bu..
Dari dialog siswa dapat mengalikan unsur-unsur dua buah matriks
Guru : lalu bagaimana kalian menuliskan hasil belanja dari kedua toko tersebut jika judul baris
dan kolom dihapus seperti pada saat belanja di satu toko?
Siswa : ditaruh di sebelah hasil toko A bu…
Guru : maksudnya…
Siswa : ( 13700 14600 )
973
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
Siswa
: baik…sekarang coba pikirkan jika pengelola sanggar belanja di tiga toko.
Bagaimana…apa ada kesulitan setelah mengerjakan dua masalah belanja sebelumnya?
:tidak bu…
:Syukurlah…kalau begitu selesaikan, selanjutnya pikirkan nanti dengan anggota kelompok
masing-masing jika pada tabel harga ditambah satu jenis barang.
:lho …bu kok tidak ada pasangannya?
: maksudnya…
: lha tidak belanja barang itu bu…tapi ada harganya,jadi tidak ada pasangannya
:jadi… bagaimana supaya ada pasangannya…?
: judul kolom tabel belanja barang (Teh Gelas, Kopi Cup, Pop Mi) dan judul baris tabel
harga (Teh Gelas, Kopi Cup, Pop Mi) juga dihapus, dan bagaimana juga bila judul kolom
dan baris di setiap tabel dihapus,apa yang terjadi … baik kita akan mempelajarinya pada
pertemuan ini juga.
Dialog pada bagian ini, siswa dapat menentukan sifat perkalian dua buah matriks. Untuk
menjawab semua permasalahan siswa, guru mengorganisasikan siswa dalam beberapa kelompok
dengan kemampuan heterogen yang terdiri dari 4-5 orang dengan bertanya:
:Bagaimana anak-anak …apa kalian bisa memahami tentang perkalian matriks dengan
masalah nyata yang kita bahas?
Siswa :Ya bu… mudheng saya sekarang
Guru :Karena jumlah siswa ganjil, ada satu kelompok yang beranggotakan 5 orang.
Guru
Setelah terbentuk kelompok-kelompok, guru memotivasi dan memfasilitasi kerja siswa
dengan membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada setiap kelompok serta memberikan
pengarahan mengenai petunjuk kegiatan pada LKS. Selama siswa mulai bekerja bersama kelompok,
guru melakukan pembimbingan individu maupun kelompok agar saling membantu dalam memahami
dan mengerjakan tugas. Setiap siswa terlihat antusias berdiskusi, tetapi ada dua siswi, yakni “P” dan
“A” yang tampak bingung, untuk itu peneliti sebagai guru mendekati siswa tersebut untuk melakukan
bimbingan. Setelah semua siswa tidak mengalami kesulitan, guru meminta setiap kelompok
mengumpulkan hasil kerja dari Lembar Kerja Siswa. Guru memberikan penghargaan kepada
kelompok yang berhasil mengumpulkan LKS paling awal. Untuk mengakhiri pertemuan pertama: a)
Guru menanyakan kepada siswa kesan dan materi yang telah dipelajari hari ini, b) Guru menugaskan
kepada siswa mempelajari materi operasi matriks dirumah c) Guru mengakhiri kegiatan belajar
dengan pesan untuk tetap semangat belajar dan salam. Dari kegiatan pembelajaran pertemuan
pertama, siswa sudah mulai antusias, aktif dan senang dalam mengikuti proses pembelajaran.
974
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Meskipun demikian, masih belum bisa diketahui dampak dari pembelajaran dengan model STAD
terhadap hasil belajar. Untuk itu penilaian hasil belajar (evaluasi) akan dilaksanakan pada siklus
pertama, pertemuan ke dua.
b.
Siklus 1, Pertemuan 2
Pembelajaran diawali dengan tanya jawab antara guru dan siswa untuk menggali pengetahuan
awal dan menelusuri kesiapan siswa dalam belajar.
Guru : Anak-anak kemarin kita sudah belajar perkalian skalar dengan matriks dan perkalian
matriks dengan matriks menggunakan bantuan media dan masalah kontekstual.
Bagaimana perasaan kalian?
Siswa : Senang bu ...
Guru : Pada pertemuan ini, kita akan melaksanakan evaluasi tentang operasi perkalian
matriks.Bagaimana …sudah siap?
Siswa : Belum, Bu…Sudah, Bu…
Dari dialog tersebut menunjukkan bahwa kesiapan siswa belajar masih beragam yang
ditunjukkan dengan adanya siswa yang sudah paham dan belum paham mengenai materi
pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran masuk pada kegiatan inti, yakni evaluasi seperti yang telah disepakati
dalam pertemuan pertama, kemudian guru membagikan lembar soal yang harus dikerjakan secara
individu. Beberapa siswa tampak tenang mengerjakan beberapa yang lain tampak gelisah dan
mencoba mencari bantuan kepada temannya.Guru mengingatkan siswa untuk fokus dan tetap tenang.
Pertemuan ke dua siklus satu diakhiri dengan mengumpulkan hasil kerja siswa dan salam. Dari hasil
evaluasi pada sikus satu, pertemuan kedua diperoleh hasil belajar siswa pada siklus 1 sebagai berikut:
yang memperoleh nilai kurang dari KKM ada 9 siswa (52,9%), memperoleh nilai lebih dari KKM ada
8 siswa (47,1%) dengan nilai rata-rata kelas 66,4 .
Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh guru sebagai peneliti dibantu oleh dua teman sejawat sebagai
observer. Tugas observer yaitu mengamati guru dalam melaksanakan proses pembelajaran terkait
dengan persiapan dalam menyampaikan materi pembelajaran yang dilakukan dengan mengamati,
memberikan catatan, memberikan komentar pada lembar pengamatan yang telah disediakan,
diantaranya mengenai kejadian kapan siswa mulai berkonsentrasi?, kapan siswa tidak berkonsentrasi?,
kesiapan media dan alat pembelajaran, melakukan penilaian/evaluasi pada akhir pembelajaran. Selain
itu juga guru dan observer mengamati keaktifan, antusiasme dan kerjasama yang dilakukan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan kooperatif STAD. Pengamatan dilakukan oleh teman sejawat menggunakan lembar observasi yang telah disepakati oleh peneliti dan pengamat.
Refleksi
Hasil dari siklus satu, diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan dalam melakukan operasi
perkalian matriks yang banyak kolom matriks pertama sama dengan banyak kolom matriks ke dua.
Hal ini mungkin disebabkan guru terlalu terburu-buru dalam menjelaskan konsep perkalian matriks
dengan matriks. Guru langsung menjelaskan tanpa mengikuti tahapan-tahapan perkalian matriks
dengan matriks. Selain itu, guru lupa informasikan bahwa pada petemuan selanjutnya akan diadakan
evaluasi mengenai perkalian matriks dengan matriks. Guru hanya meminta siswa mempelajari kembali
materi yang telah diajarkan, yang menyebabkan siswa tidak belajar secara maksimal.Akibatnya hasil
tes tidak sesuai dengan yang diharapkan karena hanya 47,1% yang mencapai KKM.Sehingga perlu
diadakan perbaikan pada siklus 2.
975
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Siklus II
Berdasarkan refleksi siklus I ditemukan beberapa kekurangan dalam pelaksanaan
pembelajaran serta target yang diharapkan dalam penelitian belum tercapai. Upaya perbaikan siklus I
pada siklus II diperlukan untuk mengatasi kekurangan pada siklus I, yaitu dengan memperbaiki RPP
dengan memperjelas langkah langkah penyampaian materi dan mempertegas informasi pelaksanaan
evaluasi kepada siswa di akhir pembelajaran.
Perencanaan
Terdapat lima kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap perencanaan. Siklus II terdiri dari 2
pertemuan (@ 2 x 45 menit). Pelaksanaan pembelajaran dideskripsikan sebagai berikut : Siklus II
diawali dengan perencanaan melalui kegiatan sebagai berikut : 1) Membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran ( RPP ) dalam dua kali pertemuan, 2) Menyiapkan media yang akan digunakan pada
pembelajaran, 3) Mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS), 4) mengembangkan pedoman
observasi dan 5) mengembangkan alat evaluasi. Lima kegiatan tersebut menyertakan teman sejawat
dari guru bidang studi yang sama yang ada di sekolah.
Dalam kegiatan menyusun RPP peneliti mengembangkan kompetensi dasar, memilih media
pembelajaran yang akan digunakan,mengembangkan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan menyiapkan
lembar obervasi dan lembar penilaian hasil belajar siswa . Berikutnya peneliti menyusun skenario
pembelajaran dengan menentukan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Adapun kegiatan pendahuluan sebagai berikut: a) Guru menyiapkan siswa untuk mengikuti
proses pembelajaran dengan memberi salam, berdoa, dan mengabsen siswa, memberi motivasi
belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari.
Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi
menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dengan matriks dengan media pembelajaran
yang dipilih adalah media manipulatif tayangan LCD dan spidol, dan menyampaikan tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai. Kegiatan tersebut di atas termasuk salah satu tahapan STAD yakni
menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Kegiatan selanjutnya yakni kegiatan inti. Tahapan kegiatan inti dijelaskan sebagai berikut: a)
Guru secara singkat menyampaikan materi pelajaran melalui tayangan dengan LCD. Tahapan tersebut
merupakan salah satu tahapan kegiatan STAD yakni menyampaikan informasi. (b) Guru
mengorganisasikan siswa dalam beberapa kelompok dengan kemampuan heterogen yang terdiri dari
4orang, c) Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok dengan membagikan
Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada setiap siswa dan memberikan pengarahan mengenai petunjuk
kegiatan pada LKS, d) Siswa mulai bekerja bersama kelompok. Tahapan tersebut termasuk tahapan
STAD yakni mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. e) Guru membimbing
siswa selama bekerja dengan anggota kelompoknya, f) Guru mengawasi dan mengingatkan setiap
kelompok agar saling membantu dalam memahami dan mengerjakan tugas. Tahapan tersebut
termasuk tahapan STAD yakni membimbing kelompok belajar. g) Guru meminta setiap kelompok
mengumpulkan satu hasil kerja dari Lembar Kerja Siswa (LKS) yang telah dibagikan, dan termasuk
tahapan STAD yakni evaluasi. Tahapan terakhir dalam kegiatan inti yakni, h) guru memberikan
penghargaan kepada kelompok yang berhasil mengumpulkan LKS paling awal yang merupakan
tahapan STAD yakni memberikan penghargaan.
Kegiatan terakhir yakni kegiatan penutup dengan tahapan aktifitas sebagai berikut: a) Guru
menanyakan kepada siswa kesan dan materi yang telah dipelajari hari ini, b) Guru menugaskan
kepada siswa mempelajari materi menyelesaikan sistem persamaan linear dua variabel dengan
matriks dirumah, untuk persiapan review dan evaluasi pada pertemuan berikutnya, c) Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan pesan untuk tetap semangat belajar dan salam.
Selama ketiga kegiatan tersebut berjalan, observer, yakni dua orang guru yang bertugas untuk
mengamati keterlaksanaan proses pembelajaran yang sedang berlangsung, baik yang dilakukan oleh
976
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
guru sebagai peneliti dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD maupun untuk
mengamati perkembangaan aktivitas belajar siswa.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dideskripsikan sebagai berikut.
a.Siklus II, Pertemuan 1
Pembelajaran pada pertemuan 1 dilaksanakan dalam waktu 2x45 menit. Seting pembelajaran
yang dilaksanakan adalah penerapan model kooperatif tipe STAD. Siswa dilibatkan secara aktif untuk
melakukan diskusi di kelompok masing-masing. Untuk keperluan tersebut pada fase pendahuluan
guru menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Diawali dengan
salam, berdoa, dan mengabsen siswa,yang pada saat pertemuan 1 ada satu siswa yang tidak masuk
“L” selanjutnya menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dengan memberi motivasi tentang
masalah pada toko alat tulis. Guru memberikan ilustrasi proses transaksi ekonomi yaitu penjualan di
tokotersebut yang ditayangkan di LCD sebagai berikut:
Rizka sangat membutuhkan buku tulis dan pensil, tapi ia khawatir uangnya tidak
cukup.Toko itu tidak mencantumkan harga barang-barang tersebut, sementara itu
Rizka merasa segan untuk bertanya langsung pada pelayan toko. Lalu ia mulai
mengamati orang-orang yang belanja.Ia melihat seorang anak membeli 4 buku tulis
dan 3 pensil. lalu anak itu membayar Rp 19.500,00. Dan anak lain membeli 2 buku
tuis dan 4 pensil kemudian membayar Rp 16.000,00. Coba carilah cara untuk
menentukan harga sebuah buku tulis dan harga sebuah pensil.
Guru mengajak siswa memecahkan masalah ,semua siswa tampak serius dan antusias.
Guru : Kisah tentang apa yang kalian baca ?
Siswa : Rizka bu?
Guru : Ya, Rizka kenapa..?
Siswa :Rizka mau beli buku dan pensil tapi takut uangnya tidak cukup.
Guru :Betul… terus apa yang dia lakukan ?
Siswa :Anu Bu…dia tidak mau tanya ke pelayan toko…tapi mengamati beberapa anak yang
belanja.
Guru :Ada berapa anak yang diamati?
Siswa :Dua anak Bu…Anak pertama membeli 4 buku tulis sama 3 pensil.
Guru :Lalu…
Siswa :Anak itu membayar Rp 19.500,00.Anak kedua membeli 2 buku tulis sama 4 pensil, terus
dia membayar Rp 16.000,00.
Guru :Benar…kalau ada soal seperti ini disuruh menyelesaikan berapa harga sebuah buku dan
harga sebuah pensil .Apa yang biasanya kalian lakukan?
Siswa :Mengelompokkan…
Guru :Artinya mengelompokkan itu bagaimana..?
Siswa :Dua pensil…kemudian …apa Bu…empat buku tiga pensil sama dengan 19500.
Guru :Biasanya diapakan dulu…apa yang kamu lakukan… diberi lambang dulu… ya tho Apa?
Dialog pada bagian ini menunjukkan siswa dapat mengelompokkan permasalahan
kalimat-kalimat matematika.
977
ke dalam
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Siswa :x…y…
Guru :Dengan x sama y…ya betul sekali.Kalau begitu bisakah kalian nanti menuliskan soal
cerita itu dalam bentuk seperti ini {
... itu mewakili apa?
Siswa
Guru
Siswa
Guru
Siswa
Guru
:Jumlah..
:Jumlahnya apa…nah kita sepakati dulu yang pertama kamu baca apa?
:Buku…
:Kalau begitu buku kalian beri nama apa…?
:x…terus pensil ..y.
:Kalau begitu kalimat yang pertama tadi…anak nya membeli…4 buku dan 3 pensil dan
harus membayar 19500.Berarti.. diganti dengan 4 terus yang 3 pensilnya menjadi .
Terus ini kira-kira mewakili apa?
Siswa :Harga…
Guru :Kalau begitu ..ini
menjadi ….
Siswa :19500…
Dialog ini menunjukkan siswa dapat menentukan koefisien, variabel dan konstanta dari masalah
kontekstual yang disajikan.
Guru :Ini untuk kalimat yang pertama sudah jadi seperti ini… 4x + 3y = 19500, berarti
…kalimat yang kedua juga bisa tho dibuat seperti ini..ya?
Siswa :Ya…
Guru :Kalimat yang kedua jadi bagaimana…?
Siswa :
….
Guru : Jadi kalimat yang kedua menjadi 2x + 4y = 16000, jika kedua kalimat kita tulis
{
ini yang namanya sistem persamaan linier dua variabel yang kita
singkat SPLDV.
Paham ini… dari soal cerita menjadi SPLDV dulu…(Fd)?
Siswa :ya..
Guru :Yakin..?Nah ini sengaja ibu beri warna yang berbeda…Merah tadi mewakili apa?
Siswa :Jumlah barang.
Guru :Terus x dan y mewakili apa ?
Siswa :Nama barang…
Guru :Kemudian yang hijau..
Siswa :Harga..
Dialog menjelaskan siswa dapat menyatakan masalah kontekstual kedalam sistem persamaan
linier dua variabel (SPLDV)
Guru dan siswa :Yang merah-merah menyatakan koefisien, sehingga A sebagai matriks
koefisien.Yang hitam X sebagai matriks variabel dan yang terakhir harga diwakili matriks
B sebagai matriks konstanta.Sehingga SPLDV tadi kalau dinyatakan dalam bentuk
persamaan matriks menjadi?
Siswa : A kali X samadengan B(AX=B)
Guru :Kemarin sudah kita pelajari tho ya..bagaimana mencari matriksX?Ikuti langkah-langkah
berikut.
Dialog akhir pendahuluan siswa dapat menyatakan SPLDV dalam bentuk persamaan matriks.
978
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Untuk menjawab semua permasalahan siswa, guru mengorganisasikan siswa dalam beberapa
kelompok dengan kemampuan heterogen yang terdiri dari 4 orang dengan bertanya:
Guru :Baiklah anak-anak …apa kalian bisa memahami langkah-langkah tadi ?
Siswa : Ya Bu…jadi lebih paham kalau langkah-langkahnya dirinci seperti ini.
Guru :Alhamdulillah…Kalau begitu…karena hari ini satu orang tidak hadir maka setiap
kelompok tediri dari 4 orang .
Setelah terbentuk kelompok-kelompok , guru memotivasi dan memfasilitasi kerja siswa
dengan membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada setiap siswa tidak seperti pada siklus
1,setiap kelompok hanya mendapat 1 LKS.Serta memberikan pengarahan mengenai petunjuk kegiatan
pada LKS. Siswa memperhatikan dengan seksama pengarahan dari guru.Selama siswa mulai bekerja
bersama kelompok, guru melakukan pembimbingan individu maupun kelompok agar saling
membantu dalam memahami dan mengerjakan tugas.
Siswa : Bu…yang ini dari mana ?
Guru : Lha ini merah ya dari merah , hitam….
Siswa : O..Ya bu ya bu …terimakasih.
Setelah setiap siswa dalam kelompok menerima LKS, guru memberikan pengarahan
mengenai petunjuk kegiatan untuk didiskusikan. Setiap siswa terlihat antusias berdiskusi, tetapi ada
seorang siswi, yakni “P” yang tampak bingung, untuk itu peneliti sebagai guru mendekati
siswa”R”yang ada dalam kelompok yang sama untuk membantu melakukan bimbingan kepada “P”.
Ada juga siswa yang masih kesulitan melakukan perkalian matriks dengan matriks.
Berdasarkan pengalaman pada siklus 1, peneliti menggunakan media manipulative lain yaitu spidol
warna, ternyata hasilnya jauh lebih baik.Setelah semua siswa tidak mengalami kesulitan, kelompok
demi kelompok berhasil menyelesaikan LKSnya. Setelah itu guru meminta setiap kelompok
mengumpulkan hasil kerja dari Lembar Kerja Siswa. Guru memberikan penghargaan kepada setiap
kelompok pada saat berhasil mengumpulkan LKS.Kali ini kelompok”S,Sy,A,I” yang berhasil
menyelesaikan lebih dahulu. Untuk mengakhiri pertemuan pertama: a) Guru menanyakan kepada
siswa kesan dan materi yang telah dipelajari hari ini, b) Guru menugaskan kepada siswa mempelajari
kembali hasil kerja pada LKS di rumah c) Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan pesan untuk
tetap semangat belajar dan salam dan memberitahu jika pada pertemuan kedua akan dikalsanakan
evaluasi yang didahului dengan review. Dari kegiatan pembelajaran pertemuan pertama siklus 2,
siswa terlihat semakin antusias, aktif dan senang dalam mengikuti proses pembelajaran dibanding
pada siklus 1 . Meskipun demikian, masih belum bisa diketahui dampak dari pembelajaran dengan
model STAD terhadap hasil belajar. Untuk itu penilaian hasil belajar (evaluasi) akan dilaksanakan
pada siklus kedua, pertemuan ke dua.
979
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
b.
Siklus II, Pertemuan 2
Pembelajaran diawali dengan tanya jawab antara guru dan siswa (Review) untuk menggali
pengetahuan awal dan menelusuri kesiapan siswa dalam pelaksanaan evaluasi.
Guru : Anak-anak kemarin kita sudah belajar tentang determinan, invers dan persamaan
matriks menggunakan bantuan media LCD dan masalah kontekstual. Bagaimana
bagaimana menurut kalian?
Siswa : Enak bu..
Guru : Enak bagaimana…bisa memahami materinya apa tidak?
Siswa : Ya…begitu bu…langkah-langkahnya lebih rinci dan petunjuknya jelas tiap langkah.
Guru : Sudah siap melaksanakan tes untuk evaluasi kalau begitu.
Siswa :Insyaallah…
Guru :Baiklah…duduk yang rapi.
Dari dialog tersebut menunjukkan bahwa siswa sudah siap untuk mengikuti tes sebagai
evaluasi belajar. Untuk kegiatan tersebut , guru mambagikan lembar soal untuk penilaian hasil belajar
kepada setiap siswa.
Dari hasil evaluasi pada sikus II, pertemuan kedua diperoleh hasil belajar siswa sebagai
berikut: yang memperoleh nilai kurang dari KKM ada 2 siswa (11,8%), memperoleh nilai lebih dari
KKM ada 15 siswa (88,2%) dengan nilai rata-rata kelas 84,0 .
Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh guru sebagai peneliti dibantu oleh teman sejawat sebagai
observer. Tugas observer yaitu mengamati guru dalam melaksanakan proses pembelajaran terkait
dengan persiapan dalam menyampaikan materi pembelajaran yang dilakukan dengan mengamati,
memberikan catatan, memberikan komentar pada lembar pengamatan yang telah disediakan,
diantaranya mengenai kejadian kapan siswa mulai berkonsentrasi?, kapan siswa tidak berkonsentrasi?,
kesiapan media dan alat pembelajaran, melakukan penilaian/evaluasi pada akhir pembelajaran. Selain
itu juga guru dan observer mengamati keaktifan, antusiasme dan kerjasama yang dilakukan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran STAD. Pengamatan
dilakukan oleh teman sejawat menggunakan lembar observasi yang telah disepakati oleh peneliti dan
pengamat.
Refleksi
Pada siklus dua, diketahui bahwa siswa merasa proses pembelajaran lebih pas dengan pola pikir
mereka. Hal ini ternyata disebabkan guru lebih rinci dan lebih menarik dalam menjelaskan proses
penyelesaian SPLDV dengan matriks. Pada tahapan perencanaan guru sudah merencanakan
memberikan informasi bahwa pada petemuan selanjutnya akan diadakan evaluasi mengenai
penyelesaian SPLDV dengan matriks, pada pelaksanaan guru tidak lupa lagi memberitahukannya .
980
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Guru meminta siswa mempelajari kembali materi yang telah diajarkan, dan akan dilakukan review
sebelum pelaksanaa.Pada awal pertemuan 2 guru melakukan review tentang materi pada pertemuan
pertama. Hasil tes sesuai dengan yang diharapkan yaitu ada 88,2% siswa yang berhasil mencapai
KKM, sehingga target minimal 75% siswa berhasil mencapai KKM bisa tercapai bahkan melampaui.
Sehingga tidak diperlukan diadakan siklus selanjutnya.
Terjadi perbedaan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II .Pada siklus I, siswa yang
berhasil memnuhi KKM sebanyak 8 siswa (47,1%) dengan nilai rata-rata kelas 66,4. Sedangkan pada
siklus II sebanyak 15 siswa (88,2%) yang memenuhi KKM dengan nilai rata-rata kelas 84,0.
Dari data tersebut terlihat bahwa hasil belajar siswa lebih meningkat. Hal ini membuktikan
bahwa dengan pembelajaran kooperative motivasi siswa lebih meningkat dan siswa lebih aktif , karena
dengan pembelajaran kooperative siswa dapat bekerjasama untuk menyelesaikan masalah mereka
dengan berdiskusi dan pembelajaran lebih bermakna. Hal ini diperjelas oleh
Salmanidan Mujiono
(2010) menerapkan pembelajaran STAD pada materi “Pencerminan” dan memperoleh hasil bahwa
pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar. Wasi’ah (2013) dalam penelitiannya yang
membahas mengenai pembelajaran konsep luas layang-layang dengan menggunakan model kooperatif
tipe STAD dipadu dengan media LCD dalam penelitian tindakan kelas ini telah berhasil sesuai dengan
tujuan yang ditetapkan. Hasil belajar siswa dalam memahami materi matriks meningkat.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian ini pembelajaran dengan menggunakan kooperatif model STAD
dapat digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya pemahaman
pembelajaran matriks. Kualitas pembelajaran yang dimaksudkan adalah adanya motivasi yang tinggi
dari siswa selama pembelajaran, kemampuan dalam melaksanakan diskusi kelompok berjalan dengan
baik dan hasil belajar juga bisa meningkat. Hal ini terlihat selama dalam pembelajaran berlangsung,
peneliti selalu mengamati, memperhatikan, mencatat jalannya diskusi semua kelompok selama
pembelajaran berlangsung. Peningkatan kualitas juga terlihat dari hasil belajar siswa yaitu, Dari ratarata nilai 66,4 pada siklus I meningkat menjadi 84,0 pada siklus II . Ketuntasan dari 47,1% pada siklus
I menjadi 88,2 % pada siklus II. Sehingga terjadi peningkatan hasil belajar sebesar 17,6%
DAFTAR RUJUKAN
Attle,Simon & Baker, Bob.2007. Cooperative Learning in a Competitive Environment:
Classroom Applications.International Journal of Teaching and Learning in Higher Education.
Volume 19, Number 1, 77-83 http://www.isetl.org/ijtlhe/ ISSN 1812-9129
Fitriyati, Ida, 2013. Penggunaan model Kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan hasil belajar IPA
siswa di SMP.981, J-TEQIP, Tahun IV, Nomor 2, November 2013
Hikmah, Helmi Nurul , 2013. Penerapan model pembelajaran Cooperative tipe STAD dengan media
manipulative untuk menentukan rumus volume bangun ruang sisi datar di kelas VIII SMP
Negeri 2 Tanah Grogot. 981, J-TEQIP, Tahun IV, Nomor 2, November 2013
Izzati, Naila, 2015. Penerapan Pembelajaran Cooperative Learning STAD Berbantuan Card Short
dalam Permainan Sandi pada Materi Matriks Kelas XI MIPA SMA Negeri 11 Batam.
Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2015. Hal: 126-136.
Li, M. P. & Lam, B. H. 2005-2013.Cooperative Learning: The Hong Kong Institute of Education .
www.ied.edu.hk/aclass/
Mariam,Siti, 2016. Upaya meningkatkan hasil belajar materi volume bangun ruang melalaui
pembelajaran inquiri berbantuan media LCD pada kelas V SDN Junrejo 02 Kota Batu. JKPS,Jurnal Kajian Pembelajaran Sekolah,Tahun I.No 1,Mei 2016.Hal : 44-55.
981
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Salmani & Mujiono, A., 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD
Untuk
Meningkatkan Pemahaman Materi Pemcerminan Siswa Kelas V SDN 017 Penajam. Jurnal
Peningkatan Kualitas Guru J-TEQIP, Tahun 1, Nomor 1. Hal 86-89.
Wasi”ah, Aah , 2013. Penggunaan Media LCD dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
untuk meningkatkan hasil belajar matematika mengenai Konsep Luas Layang- laying pada
siswa Kelas V SD Negeri 007 Ranai. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2013. Hal: 41 - 47.
982
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENERAPAN METODE OBSERVASI BERBANTUKAN
MEDIA REALITA PADA MATERI BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN
UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS V
SDN 006 BELAKANG PADANG
Sinta Dewi
SDN 006 Belakang Padang, Batam
Email: [email protected]
Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan guru bertujuan untuk meningkatkan
hasil belajar dan aktivitas siswa dalam belajar. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN
006 Belakang Padang kota Batam, sebelum dilakukan PTK siswa tersebut kurang aktif dan
tidak kosentrasi dalam belajar karena rendahnya motivasi, penggunaan media yang kurang
efektif serta metode pembelajaran yang monoton. Setelah diadakan PTK dengan
menerapkan metode observasi berbantukan media realita, materi bagian-bagian tumbuhan
dan fungsinya telah dikuasai siswa, dan nilai siswa meningkat menjadi lebih baik.
Kata kunci: metode observasi, media Realita
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau sains merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan
pada satuan pendidikan sekolah dasar melalui proses pembelajaran tematik. Menurut Abdullah
(1998:2), IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas
atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori,
eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait mengait antara cara yang satu dengan cara
yang lain. Dengan demikian, suatu pembelajaran harus mampu membuat siswa lebih aktif, yaitu
melalui metode dan media pembelajaran yang tepat.
Pada kegiatan belajar mengajar di kelas dapat dilakukan dengan berbagai metode. Ada
beberapa macam metode menurut Tri Mulyani (2003:53), metode di gunakan dalam pembelajaran
dikelas meliputi: (a) Metode ceramah (b) Metode tanya jawab (c)Metode diskusi (d) Metode
demonstrasi (e) Metode kerja kelompok (f) Metode pemberian tugas (g) Metode eksperimen (h)
Metode penemuan (i) Metode simulasi (j) Metode pengajaran unit.
Metode pembelajaran yang monoton dan penggunaan media yang terbatas, menimbulkan
kejenuhan dan kebosanan bagi siswa. Selama ini guru lebih banyak menyajikan pembelajaran dengan
metode ceramah dan kurang efektif menggunakan media yang ada, dampaknya siswa lebih banyak
melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak berhubungan dengan mata pelajaran yang disajikan oleh
guru. kurangnya penguatan dari guru juga membuat siswa tidak termotivasi dalam belajar.
Pembelajaran menjadi tidak efektif sehingga hasil belajar siswa menjadi rendah dan jauh di bawah
KKM. Cara menarik perhatian dan kosentrasi siswa, disajikan metode observasi pada materi Bagianbagian Tumbuhan dengan bantuan media realita (media nyata) yang ada di sekitar. Menurut Nana
Sujana (1990:207) penggunaan benda nyata di dalam proses belajar mengajar terutama bertujuan
untuk memperkenalkan suatu unit pelajaran tertentu, proses kerja suatu objek studi tertentu,atau
bagian-bagian serta aspek-aspek lain yang diperlukan. Benda-benda nyata dapat memegang peranan
penting dalam upaya memperbaiki proses belajar mengajar. Nana Sujana juga menambahkan hal-hal
yang harus diperhatikan dalam memilih media pembelajaran yaitu: (1) Benda-benda atau makhluk
hidup apakah mungkin dimanfaatkan dikelas secara efisien, (2) Bagaimana caranya agar semua benda
itu berkesesuaian terhadap pola belajar siswa, (3) Darimana sumbernya untuk memperoleh benda-
983
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
benda tersebut. Dengan demikian guru dapat memotivasi siswa untuk mengalami sendiri berbagai
proses keterampilan dan pengetahuan serta melakukan kerja ilmiah sejak dini dengan memanfaatkan
benda-benda nyata dalam bentuk utuh.sebagaimana yang ingin di terapkan oleh kurikulum misalnya
mengamati, menggolongkan, memprediksikan, dan melakukan percobaan. Diharapkan dengan
diadakan penelitian, hasil belajar IPA kelas V SDN 006 Belakang Padang tentang bagian-bagian
tumbuhan, akan semakin baik dan mencapai KKM .
Berdasarkan pemikiran di atas maka dilakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa dalam materi bagian-bagian tumbuhan dan fungsinya, kelas V SDN 006
Belakang Padang.
METODE PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SDN 006 Belakang Padang.Jumlah siswa sebanyak
53 siswa yaitu 32 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 006
Belakang Padang tahun pelajaran 2016/2017 yang terletak di pulau Kasu, kecamatan belakang
padang kota Batam Propinsi Kepulauan Riau. Metode yang digunakan dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah metode observasi berbantukan media realita yang terdiri 2 siklus terdiri dari (a)
perencanaan (b) pelaksanaan pembelajaran dan observasi, (c) refleksi. Waktu penelitian ini
dilaksanakan pada tanggal 06 sampai dengan tanggal 27 Agustus 2016. Adapun Siklus pertama
dilaksanakan pada tanggal 06 sampai 12 Agustus 2016 dan siklus kedua dilaksanakan pada tanggal 13
sampai 27 Agustus 2016.
Rincian rancangan PTK pada siklus I
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Adapun Kegiatan yang dilakukan dalam perencaan adalah: a) Menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mengacu pada silabus yang dibuat guru b) Menyiapkan bahan
ajar c) Menyiapkan model pembelajaran (metode Observasi berbantu media realita)
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan, peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut: a) Melakukan appersepsi dan
motivasi sebagai kegiatan awal dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan
dengan materi yang akan diajarkan b) Menyampaikan informasi materi pelajaran dan tujuan
pembelajaran c) Melakukan kegiatan inti dengan menggunakan metode observasi berbantu media
realita (nyata) d) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengamati bagian-bagian tumbuhan yang
ada dilingkungan sekolah e) Membahas materi pelajaran dengan memberikan contoh dan penugasan
f) Memberikan latihan g) Memberikan bimbingan kepada siswa dalam melakukan diskusi kelompok
dan membuat kesimpulan h) Mengadakan evaluasi i) Observasi (pengamatan)
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan kolaborator, didapat data bahwa pada siklus
pertama berlangsung, muncul diskriptor dengan nilai rata-rata masih belum baik.
3. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama siklus I ada beberapa hal penting yang perlu
diperhatikan dan diperbaiki untuk rencana tindakan pada siklus berikutnya. Adapun yang perlu
diperbaiki sebagai bahan peningkatan hasil pembelajaran yaitu guru kurang mengarahkan dan
memotivasi siswa dalam belajar serta kurang membimbing seluruh kelompok sehingga masih ada
siswa yang belum terlibat dalam kegiatan kelompok. Diharapkan untuk siklus II lebih ditingkatkan
lagi perhatian dan motivasi dari guru.
Rincian rancangan PTK pada siklus II
1. Perencanaan
Adapun perencanaan yang akan dilakukan pada PTK siklus II adalah: a) Menyusun RPP b)
Menyiapkan alat bantu mengajar c) Menyiapkan model pembelajaran (metode observasi berbantu
984
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
media realita) d) Menyiapkan lembar observasi dan pedoman wawancara untuk teman sejawat dan
superpisor.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang dilakukan guru pada tahap ini adalah: a) Mengkondisikan siswa dalam situasi belajar
b) Mengadakan appersepsi dan motivasi dengan mengajukan pertanyaan tentang materi yang
berhubungan dengan materi yang akan diajarkan c) Menyampaikan tujuan pembelajaran d) Membagi
siswa kedalam beberapa kelompok e) Melaksanakan kegiatan inti dengan menimbang sesuai dengan
kesetaraannya f) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menggali informasi dengan cara berdiskusi
dengan temannya f) Memberikan bimbingan kepada siswa dalam melakukan diskusi dan membuat
kesimpulan g) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi pelajaran h)
Menugasi siswa maju kedepan kelas untuk mempersentasikan hasil pengamatan kelompoknya
masing-masing, i) Membuat kesimpulan, j) Mengadakan evaluasi, k) Observasi (pengamatan).
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dan kolaborator, didapat data bahwa pada siklus II
berlangsung, muncul diskriptor dengan nilai rata-rata lebih baik dari pada siklus pertama.
3. Refleksi
Selama siklus kedua berlangsung, diskriptor yang belum muncul pada siklus I sudah mulai muncul
antara lain; siswa tidak takut bertanya, siswa yang bertanya lebih banyak, siswa mengerjakan tugas
lebih cepat dan tepat waktu, siswa sudah berani berkomunikasi dengan gurunya, siswa semakin
bergairah dalam belajar, guru semakin hapal dengan identitas siswa, guru sudah menggunakan metode
dan alat bantu pembelajaran yang variatif dan efektif.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran Siklus I
Pada saat pembelajaran siklus I dilaksanakan 3 kegiatan yaitu pendahuluan, kegiatan inti dan
penutup. Di mana kegiatan awal dimulai dengan berdoa bersama dan guru menginformasikan tema
yang akan dibelajarkan yaitu “Cara Hidup Manusia, Hewan, dan Tumbuhan”. Serta guru
menyampaikan tahapan kegiatan yang meliputi : kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi,
mengomunikasi dan menyimpulkan.
Kemudian dilanjutkan dengan memberikan stimulus dengan mengajukan pertanyaan
“Tahukah anak-anak bagian-bagian dari tumbuhan?” dari pertanyaan yang di ajukan oleh guru
ternyata hanya sebagian saja yang menjawab bagian-bagian tumbuhan terdiri dari akar, batang, daun,
bunga dan buah. Selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk mengamati gambar tanaman tomat yang
ada di buku teks masing-masing serta menyimpulkan apa yang di peroleh dari bacaan tadi yang
sebelumnya siswa berdiskusi dengan teman sebangkunya , mereka saling bertukar pendapat dengan
cara yang santun. Siswa dibimbing untuk menyimpulkan bagian-bagian tumbuhan. Rasa ingin tahu
siswa dipancing dengan menunjukkan salah satu pohon besar yang ada dihalaman sekolah, siswa
menggali informasi dengan cara berdiskusi mengenai fungsi pohon bagi kehidupan.
Pada pertemuan selanjutnya masing-masing siswa maju kedepan untuk menyampaikan hasil
kesimpulan nya, teman lain diberi kesempatan untuk bertanya kepada teman yang didepan dan jika
teman yang didepan kurang tepat menjawab, teman yang lain boleh membantu menjawabnya. Begitu
seterusnya secara bergantian. Namun begitu ada 3 siswa yang belum bisa mempersentasikan hasilnya
karena belum selesai menyimpulkan tugas yang diberikan. Kemudian siswa diberi tes tertulis untuk
dikerjakan setelah selesai semua siswa mengumpulkan hasilnya untuk dinilai oleh guru.
Berdasarkan penilaian yang telah dilakukan oleh guru, ternyata masih ada beberapa siswa
yang belum bisa mendiskripsikan fungsi bagian-bagian tumbuhan sehingga alokasi waktu yang ada
tidak dapat termanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Begitu
juga hasil tes tertulis nilai rata-rata yang diperoleh hanya 63,77. Rendahnya penguasaan materi
tentang bagian-bagian tumbuhan dan fungsinya dapat dilihat pada tabel berikut.
985
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Tabel 1. Hasil Analisis Nilai Tes pada siklus I
Uraian
Jumlah seluruh siswa
Jumlah siswa yang mengikuti tes
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Jumlah siswa yang belum tuntas belajar
Nilai rata-rata kelas
Ketuntasan belajar klasikal
Jumlah Siswa
53 siswa
53 siswa
26 siswa
27 siswa
75
66,60
Tuntas/Tidak Tuntas
Tuntas
Belum Tuntas
Berdasarkan refleksi serta pengamatan pada siklus I ada beberapa hal yang perlu dilakukan
guru sebelum memulai proses pembelajaran pada siklus II. Hal yang harus diperhatikan antara lain
adalah: (1) Memotivasi siswa agar mau mengemukakan pendapat dengan meyakini bahwa salah
dalam belajar merupakan hal yang wajar. (2) Memberikan perhatian yang lebih pada peserta didik
yang sebelumnya kurang aktif, (3) Menciptakan suasana yang menyenangkan, dengan lebih banyak
bersabar dan rileks dalam belajar. (4) Lebih intensif membimbing kelompok dan individu yang
mengalami kesulitan dalam belajar, (5) Menekankan pencapaian indikator dan menjelaskan materi
yang kurang dipahami siswa. Diharapkan untuk siklus ke II perhatian dan motivasi dari guru membuat
siswa menjadi semangat untu belajar dan memperoleh nilai yang semakin baik.
Gambar 1. Kegiatan Plan (Perencanaan)
Pembelajaran Siklus II
Pembelajaran pada siklus II ini sama dengan pembelajaran pada siklus I yaitu juga dilengkapi
dengan perangkat pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut memuat unsur-unsur lengkap
sebagaimana rencana pelaksanaan pembelajaran umum, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator, tujuan pembelajaran, materi pokok, media dan sumber pembelajaran.
Kegiatan diawali dengan mengecek kehadiran siswa, kemudian menginformasikan tema yang
akan dibelajarkan yaitu tentang “Cara Hidup Manusia dan tumbuhan” dan menyampaikan tahapan
kegiatan yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengomunikasi dan
menyampaikan. Kegiatan inti dilanjutkan dengan mengamati gambar tanaman tomat yang ada di
gambar, kemudian siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang gambar yang dilihatnya setelah itu
guru membagikan siswa kedalam kelompok, tujuan agar mempermudahkan siswa dalam memahami
materi dan bisa saling bertukar pikiran antar teman. Guru membagi siswa kedalam tujuh kelompok
yang masing-masing kelompok beranggotakan delapan orang siswa dan ada tiga kelompok yang
beranggotakan tujuh orang. Sebelum bergabung kedalam kelompoknya, masing-masing siswa
986
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
mempersiapkan alat tulis mereka, sehingga apa yang didapatkan dari hasil penelitiannya tentang
bagian-bagian tumbuhan dan fungsinya dapat didiskusikan bersama teman kelompoknya masingmasing. Guru mengajak siswa keluar kelas untuk mengamati tanaman yang ada dilingkungan sekolah,
masing-masing anak mengamati bagian-bagian tumbuhan dan mencatat kesimpulan tentang hasil
penelitiannya. Siswa menggali informasi dengan berdiskusi dengan cara yang santun, guru
membimbing dan memberikan perhatian kepada siswa dalam berdiskusi dan menyimpulkan tentang
fungsi pohon bagi kehidupan manusia. Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya tentang apa
yang mereka amati tentang bagian-bagian tumbuhan secara bergantian didepan kelas, tidak lupa
disetiap proses pembelajaran guru memberikan penguatan berupa pujian dan ucapan terima kasih,
Karena dengan demikian membuat siswa merasa dihargai. Selanjutnya guru memberikan tes tertulis
kepada siswa dan mengumpulkan hasilnya dengan tepat waktu. Kegiatan penutup diakhiri dengan
dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa, dan memberikan kesempatan kepada siswa yang lain
untuk membantu menjawab pertanyaan temannya tentang materi yang telah dipelajari, Kemudian
bersama-sama menyimpulkan nya hasil pembelajaran . Berikut disajikan daftar nilai hasil siklus I dan
siklus II.
Tabel 2. Daftar nilai siklus I dan siklus II
SIKLUS I
NO
NILAI
Banyak
Jumlah
Siswa
1
100
2
90
3
80
4
70
5
60
6
50
7
40
8
30
9
20
10
10
Jumlah
Rata-Rata
2
13
11
19
8
-
180
1040
770
1140
400
3530
66.60
SIKLUS II
Banyak Siswa
1
9
18
25
-
Jumlah
100
810
1440
1750
4100
77,35
30
25
20
Siklus I
15
Siklus II
10
5
0
50
60
70
80
90
100
Gambar 2. Diagram kemampuan hasil belajar tentang bagian-bagian tumbuhan pada siklus I dan II.
987
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Gambar 3. Kegiatan Do (mengamati bagian-bagian tumbuhan) pada siklus II
Gambar 4. Kegiatan Do (Persentasi) pada siklus II
Berdasarkan hasil observasi terhadap siswa dalam tes hasil belajar siswa tentang bagianbagian tumbuhan dari siklus I sampai siklus II dapat dilihat adanya peningkatan nilai rata-rata maupun
jumlah siswa yang mendapatkan nilai Tuntas (75) keatas. Pada siklus I nilai rata-rata berjumlah 66,60
dan pada siklus II terjadi peningkatan jumlah nilai rata-rata menjadi 77,35.
KESIMPULAN
Siswa sudah mulai mampu berkomunikasi antar kelompoknya pada siklus II, sudah mulai
berani bertanya hal yang kurang mengerti kepada guru, terjadi peningkatan aktivitas siswa yang
sebelumnya kurang aktif menjadi lebih aktif, Perhatian mereka lebih terfokus pada kegiatan
pembelajaran yang diberikan, serta lebih fokus mengerjakan tugas dan mengumpulkan hasil tugasnya
dengan tepat waktu. Penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat
membangkitkan minat siswa dan keinginan yang baru, motivasi dan rangsangan kegiatan belajar juga
akan membawa pengaruh psikologis pada anak. Pada pembelajaran ini penggunaan metode observasi
berbantukan media realita(nyata) sudah mampu meningkatkan pengetahuan siswa tentang bagianbagian tumbuhan dan fungsinya secara maksimal.
DAFTAR RUJUKAN
Abdullah (1998:18). Http:// googlewebleight.com/2014/04/29/Pengertian pendidikan ipa dan
perkembangannya.
Tri
Mulyani
(2003:53).googleweblight.com/pengertian
pengertian
info
blogspot.com/
2015/05/pengertian dan komponen-komponen.html.
Sudjana Nana, 2009, Media Pengajaran Bandung: Sinar Baru Algersindo.
988
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENERAPAN PEMBELAJARAN STRATEGI MAM BERBANTUAN
KARTU PELANGI DAN TABEL BOX DI KELAS VI
SD 010 SEKUPANG UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN
FAKTOR DAN KELIPATAN BILANGAN
Herawana
SD 010 Sekupang Kota Batam
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam materi
faktor bilangan dan kelipatan bilangan melalui pembelajaran strategi MAM dengan
menggunakan media kartu pelangi dan tabel box pada siswa kelas VI SD Negeri 010
Sekupang .Metode Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang
diterapkan pada 37 siswa kelas VI SD Negeri 010 Sekupang di Kota Batam dan dilakukan
dalam dua siklus.Dari hasil penelitian mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan
menggunakan media kartu pelangi dan tabel box dapat meningkatkan pemahaman siswa
terhadap materi faktor bilangan dan kelipatan bilangan ketuntasan siswa pada siklus I
meningkat 10,8 % pada siklus II.
Kata Kunci: Pemahaman Faktor dan Kelipatan Bilangan, Strategi pembelajaran cooperative permainan MAM, Kartu Pelangi dan Magic Box
Matematika merupakan mata pelajaran yang tidak pernah lepas pengaruhnya dalam kehidupan sehari
– hari mulai dari yang paling sulit maupun yang paling mudah. Matematika merupakan salah satu
mata pelajaran referensi untuk mata pelajaran lain sehingga berpengaruh banyak pada mata pelajaran
lainnya. Russefendi (1997 : 73-74) menyatakan bahwa matematika adalah ilmu deduktif, bahasa seni,
ratunya ilmu, ilmu tentang struktur yang terorganisasikan dan ilmu tentang pola dan hubungannya.
Maka dari itu, mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua anak didik mulai dari tingkat
sekolah dasar sehingga tingkat universitas, karena membekali siswa dengan kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Matematika juga
merupakan salah satu mata pelajaran yang di ujikan secara nasional maka secara logis mata pelajaran
matematika menjadi perhatian yang sangat penting di sekolah. Matematika adalah ilmu murni yang
mendasari berbagai macam ilmu lainnya, dan berperan penting dalam kehidupan sehari –hari.
Sebagai seorang guru kelas di SD 010 SEKUPANG, penulis mengajar berbagai materi yang
ada, salah satunya materi FPB dan KPK. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa siswa kurang
optimal dalam pencapaian kompetensi untuk Kompetensi Inti/ Kompetensi Dasar yang berkenaan
dengan materi Faktor dan Kelipatan Bilangan. Capaian skor mereka seringkali di bawah KKM yang
ditetapkan. Dampaknya untuk materi yang berkenaan dengan penggunaan Faktor dan Kelipatan
Bilangan, seperti operasi bentuk pecahan, siswa mengalami kesulitan. Siswa menunjukkan
kebingungan manakala disajikan persoalan yang melibatkan Faktor dan Kelipatan Bilangan, mereka
tidak bisa membedakan mana yang Faktor Bilangan atau Kelipatan Bilangan.
Pembelajaran yang dilakukan penulis selama ini memang kurang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk aktif terlibat. Guru kurang melibatkan mereka untuk mendiskusikan materi
dengan temannya, guru tidak menggunakan media yang sesuai dengan materi yang disajikan. Selain
itu, dominasi penggunaan metode ceramah, sehingga siswa cenderung pasif menerima pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu upaya memperbaiki pembelajaran yang lebih banyak
melibatkan siswa dan perlunya alat peraga dalam pelaksanaaannya.
989
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Berdasarkan metode pembelajaran kooferatif dengan model Make – A – Match (MAM) atau
mencari pasangan yang dikembangkan oleh Lorn Curran, 1994 merupakan salah satu tehnik untuk
meningkatkan keaktifan siswa di dalam kelas yang dapat digunakan oleh guru dalam suasana
pembelajaran yang menyenangkan, Suyatno (2009: 72) mengungkapkan bahwa model MAM adalah
model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi soal atau permasalahan dan
menyiapkan satu kartu jawaban kemudian siswa mencari pasangan kartunya.selain melatih keaktifan
siswa pembelajaran model MAM ini dapat melatih sikap social siswa dengan baik dan melatih
kemampuan siswa dalam bekerja sama disamping itu melatih kecepatan berfikir siswa. Karena
metode pembelajaran MAM siswa dapat belajar berinteraksi dengan pasangan sambil belajar
mengenai suatu konsep atau materi dalam suasana yang menyenangkan dan terlihat secara nyata
keaktifan siswa dalam proses belajar.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar siswa dibiasakan untuk memperoleh
pemahaman secara abstrak sesuai dengan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan dan objek yang
di lihat. Dengan pengalaman dari pengamatan tersebut maka disesuaikanlah proses pembelajaran
matematika disekolah dengan pola pemikiran siswa secara induktif maupun deduktif. Namun
kesemuanya itu di sesuaikan dengan perkembangan kemampuan siswa sehingga pada akhirnya akan
sangat membantu kelacaran dalam proses pembelajaran di kelas. Sehingga di upayakan dari semua
tenaga pendidik dan kependidikan untuk meningkatkan prestasi siswa, salah satu upaya yang
dilakukan guru untuk meningkatkan prestasi siswa dengan memilih model atau strategi yang akan
disajikan di dalam kelas yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik siswa yang ada di kelas. Salah
satu model pembelajaran yang dianjurkan dan dipakai oleh guru untuk meningkatkan prestasi siswa
adalah Model pembelajaran Kooperatif MAM.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) Eksperimental
sesuai dengan yang disampaikan oleh Tatang Senendar, 2008 di dalam Blog Akhmad Sudrajat,
karena PTK eksperimental merupakan penelitian yang menerapkan berbagai teknik atau strategi
secara efektif dan efesien dalam suatu kegiatan belajar – mengajar,di dalam kaitannya dengan
kegiatan belajar mengajar memungkinkan terdapat lebih dari satu strategis atau tehnik yang
ditetapkan untuk mencapai suatu tujuan instruksional ,dengan diterapkannya PTK ini diharapkan
peneliti dapat menentukan cara mana yang paling efektif dalam rangka untuk mencapai tujuan
pengajaran.
Penulis melaksanakan penelitian ini di SDN 010 Sekupang, Tiban lama Kota Batam
Kepulauan Riau pada hari senin tanggal 15 Agustus 2016 untuk siklus pertama dan siklus kedua
dilaksanakan pada hari senin tanggal 22 agustus 2016. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI C
sebanyak 37 orang yang terdiri dari 16 orang siswa perempuan dan 21 orang siswa laki- laki . Latar
belakang subjek dari berbagai suku daerah, karena Batam merupakan kota yang heterogen dalam
arti banyak perantau dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini mempengaruhi guru dalam
pembelajaran, karena adanya perbedaan suku dan karakter pribadi masing – masing siswa.
Bahan ajar yang dipilih untuk menjadi bahan penelitian adalah muatan MATEMATIKA
dengan Kompetensi dasar: Menggunakan sifat- sifat pembelajaran materi Faktor dan Kelipatan
Bilangan. Pada materi ini siswa kelas VI di SDN 010 sekupang masih kesulitan dalam memahami
tentang pemaktoran bilangan dan kelipatan suatu bilangan. Peneliti meggunakan alat peraga berupa
kartu bilangan pelangi dan tabel box sebagai alat bantu untuk digunakan dalam pembelajaran dengan
materi faktor bilangan dan kelipatan bilangan.
Dalam pembelajaran ini penulis juga menggunakan metode pembelajaran cooverative MAM
yang dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut : (1) guru menyiapkan tabel box dan kartu
pelangi atau kartu soal berwarna; (2) Siswa dibuat beberapa kelompok untuk saling bekerja sama
990
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
mencari faktor atau kelipatan bilangan yang diambil oleh siswa dari kelompok lain; (3) setiap kartu
soal yang telah diambil, diacak kembali oleh guru untuk kelompok yang lain; (4) siswa mencocokkan
jawaban dengan diberi tanda kartu pelangi yang dimasukkan ke dalam tabel box di papan tulis.
Penelitian ini dilaksanakan atas dua siklus, masing- masing siklus melalui tahapan – tahapan
perencanaan tindakan (planning), pelaksanaan tindakan (implementing), Penilaian ( evaluating)
seperti yang digambarkan oleh Ernest (1996). Dalam mengumpulkan dan perekaman data ini, penulis
mempersiapkan yang berupa instumen bantu untuk bahan penunjang dalam penelitian yang meliputi
catatan lapangan dan lembar kerja siswa untuk penentuan tingkat kemampuan siswa dalam menguasai
materi yang disampaikan dalam pembelajaran. Penulis juga melibatkan obsever, seorang guru senior
yang ada di SDN 010 sekupang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk penelitian ini pembelajaran dilaksanakan terdiri dari dua siklus, pada setiap siklus akan
diadakan pelaksanaan dan akan ada evaluasi untuk mengukur kemampuan kognitif pemahaman siswa
pada materi yang disajikan guru dikelas.
Siklus I
Perencanaan Tindakan (Planning)
Pada tahap perencanaan tindakan penulis menyiapkan beberapa bahan yang digunakan dalam
penelitian, seperti menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang “pemaktoran
bilangan, Kelipatan bilangan,Faktor persekutuan dan Kelipatan Persekutuan” , alat peraga berupa
tabel box dan kartu pelangi. Penulis sebagai guru juga menyiapkan lembar kerja siswa untuk
mengukur kemampuan kognitif siswa. Selain menyiapkan perangkat pembelajaran penulis juga
menyiapkan lembar observasi guru untuk menilai proses pembelajaran yang akan disampaikan oleh
guru, dan juga lembar observasi aktivitas siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
Pelaksanaan Tindakan (Implementing)
Pada tahapan pelaksanaan siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan
pembelajaran permainan MAM siswa kelas VI.C berjumlah 37 orang yang dibagi menjadi 6
kelompok yang terdiri dari 6 sampai 7 orang. Guru menetapkan salah satu siswa untuk menjadi
pemimpin yang bertujuan untuk mengkoordinasi mewakili tiap kelompok untuk mengambil kartu soal
yang ada di depan kelas.Kegiatan pada siklus I berlangsung selama 2 X 35 menit (2 jam pelajaran).
Setiap wakil anggota yang mengambil kartu soal menunjuk anggota kelompok yang lain
untuk memasukkan kartu pelangi kedalam tabel box yang telah disediakan oleh guru di papan tulis.
Guru mengajak siswa untuk berekplorasi tentang Faktor Bilangan dengan menjelaskan dan
mengambil kesimpulan dari setiap bilangan yang menjadi permainan siswa. Pada akhir pembelajaran
siswa diberi soal untuk dikerjakan sesuai dengan materi yang telah dipelajari. Evaluasi dilakukan
selama 15-20 menit secara mandiri untuk menunjukkan apa yang telah siswa pelajari selama
pembelajaran berlangsung sudah siswa kuasai. Untuk mengetahui keaktifan siswa pada waktu
pembelajaran berlangsung penulis meminta guru senior mengobservasi kegiatan siswa dan memberi
penilaian untuk mengukur keaktifan siswa.
Kegiatan Awal
Pada awal kegiatan pembelajaran siswa memberi salam pada guru secara serentak dan guru
menjawab salam siswa, kemudian siswa menyiapkan diri untuk berdoa sebelum memulai
pembelajaran, selanjutnya guru mengecek kehadiran siswa. Berikutnya guru menanyakan kabar siswa
pada hari itu dan menanyakan kesehatan mereka dan untuk mengetahui kesiapan siswa untuk belajar
pada hari ini. Untuk mengetahui kesiapan siswa guru mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
991
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Guru
: “anak – anak pernah mendengar kata faktor bilangan?”.
Siswa
: “ pernah , bu”
Guru
:” Apa itu Faktor bilangan?”.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh guru Sebagian siswa ada yang diam dan sambil berbisikbisik mengingat arti dari kata faktor bilangan. Guru memancing dengan memberikan salah satu
contoh faktor bilangan, dan siswa mulai merespon setelah guru menanyakan kembali dari arti faktor
bilangan.
Guru
“ Siapa yang Tahu?”
Salah satu siswa menjawab.
Siswa
:” faktor bilangan adalah bilangan yang bisa membagi suatu bilangan”.
Berdasarkan dialog di atas, penulis menyimpulkan bahwa siswa memiliki pengetahuan awal yang
cukup dan siap menerima pembelajaran. Berikutnya guru melanjutkan dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai dalam materi pembelajaran.
Kegiatan inti
Setelah guru menekankan dengan menanyakan kembali pertanyaan dari pengertian faktor
bilangan, guru mengkondisikan siswa dengan membagi kelompok siswa dari mulai kelompok 1
sampai kelompok V1.
Sebelum memulai pembelajaran permainan guru menjelaskan cara permainan tabel box dan
kartu pelangi dengan metode pembelajaran cooperative MAM untuk mencari suatu faktor bilangan
dan kelipatan bilangan. Ilustrasi table box berserta kartu pelangi disajikan pada gambar berikut.
Gambar 1. Tabel box dan Kartu Pelangi
Untuk memulai pembelajaran, guru menunjuk kelompok I menjadi kelompok yang pertama
untuk mengambil kartu soal yang diacak oleh guru. Kartu yang didapat adalah 32. Kartu ini diberikan
kepada kelompok IV untuk dikerjakan di table box.Kelompok IV yang ditunjuk berkewajiban mencari
faktor dari bilangan 32 dan memasukan kartu pelangi ke dalam table box. Salah satu anggota
kelompok IV memasukkan kartu pelangi pada kolom factor 32 di table box. Akan tetapi hasil ini
belum lengkap sebagai factor dari 32. Guru mengarahkan anggota kelompok IV untuk melengkapi
hasil tersebut. Setelah anggota kelompok IV yang lain melengkapi, diperoleh hasil factor 32 oleh
mereka yaitu : 1,2,4,8,16,32.
992
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar.2 Kelompok I memberikan kartu soal pada kelompok IV.
Dalam proses kelompok IV mengisi kartu pelangi ke dalam table box, siswa
belum
menunjukan keaktifan karena masih bingung dengan jalan permainan, hal ini terungkap dari
pertanyaan siswa.
Siswa 1: “Maksudnya kartu warna itu mau diapakan ya?”.
Siswa 2:” Dimasukin ke dalam kotak kecil – kecil itu.( sambil menunjuk kearah papan tulis).”
Siswa 1:” oh, jadi ngambil kartunya suka – suka kita ,dong?”.
Guru mendekati kedua siswa di kelompok IV .
Siswa 1 : “ Bu, nanti kartu pelanginya masukin semuanya ,ya?”.
Guru
: “ tidak,nanti kamu ambil satu warna saja untuk satu bilangan,boleh kamu ambil warna
merah ,biru atau hijau.Coba kamu lihat Riski kan mengambil satu warna saja dan kartu
pelanginya dimasukan kedalam tabel box yang ada angka sesuai dengan faktor bilangan
yang kamu dapat.”
Dari kebingungan siswa tersebut guru memberikan pengarahan kembali penggunaan table box dan
kartu pelangi, perlahan siswa mulai memahaminya.
Proses dilanjutkan dengan kelompok IV mengambil kartu bilangan yang lain, diperoleh kartu
62. Kartu ini diserahkan ke kelompok VI. Kelompok ini selanjutnya mencari factor bilangan yang
diberikan dan mengisikan kartu pelangi pada table box.
Gambar.3 Kegiatan siswa mengisikan kartu pelangi ke dalam tabel box.
993
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Setelah kedua kelompok mendapatkan faktornya, guru memandu pemahaman siswa tentang
factor persekutuan terbesar dengan melakukan dialog sebagai berikut:
Guru :”Coba perhatikan kedepan semua, kelompok IV tadi mendapat kan bilangan 32, kita
perhatikan ketabel box , berapa faktornya?.”
Siswa :( Secara serentak menjawab)” 1,2,4,8,16 dan 32”.
Guru : “ nah, untuk kelompok VI tadi dapat kartu soal ,berapa?.”
Siswa :” 62,bu.”
Guru :” berapa yang didapatkan oleh kelompok VI dari bilangan 62?”.
Siswa : ( secara serentak menjawab )”1,2,31,dan 62.”
Guru :”nah, sekarang kita lihat angka yang sama itu yang di sebut dengan faktor persekutuan.
Berapa ?
Siswa :” 1 sama 2,bu.”
Guru :” jadi Faktor Persekutuan Terbesarnya adalah 2”.
Dan guru menuliskannya kembali kepapan tulis.
Faktor dari 32 : 1,2,4,8,16,32.
Faktor dari 62 : 1,2,31,62.
Faktor Persekutuan 32 dan 62 adalah 1,2.
Maka FPB dari 32 dan 62 adalah 2.
Setelah kelompok VI mendapat giliran memasukan kartu pelangi ketabel box kemudian kelompok VI
mengambil kartu soal untuk diserahkan kekelompok II dengan bilangan 18,dan kelompok II
mendapat giliran mencari faktor dengan mengisikan kartu pelangi kedalam tabel box yang tersedia
dan berlanjut kekelompok II untuk mengambil kartu soal yang diserahkan kepada kelompok III
untuk mencari faktor dengan bilangan 9.
Setelah kelompok II dan kelompok III mengerjakan faktor dari bilangan 18 dan 9, Kemudian guru
menjelaskan kesimpulan dari kedua bilangan tersebut.
Guru :”Coba kita lihat yang di kerjakan oleh kelompok I1 tadi mereka mendapat kan bilangan
18, kita perhatikan ketabel box dan kelompok 11 menggunakan warna hijau , berapa
faktornya?.”
Siswa :( Secara serentak menjawab)” 1,2,3,6,9,dan 18”.
Guru
: “ nah, untuk kelompok 111 tadi dapat kartu soal ,berapa?.”
Siswa :” 9,bu.”
Guru
:” Kartu warna apa yang digunakan oleh kelompok 111?”.
Siswa : ( secara serentak menjawab )”biru.”
Guru
:”nah, sekarang kita lihat kartu warna biru ada di dalam kotak angka berapa saja.”
Siswa :” 1,3,dan 9 ,bu.”
Guru
:” Kemudian kotak angka yang mana yang terisi dengan dua kartu pelangi?”.
Siswa :” Kotak angka 1,3, sama 9.”
Guru :” nah, angka tersebut yang di sebut dengan Faktor Persekutuan dari bilangan 18 dan 9.”
Untuk kesimpulan dari faktor yang di kerjakan oleh kelompok II dan kelompok III ,guru memperjelas
dengan menuliskannya kembali ke papan tulis adalah:
Faktor 18 : 1,2,3,6,9,dan 18.
Faktor 9 : 1,3,9
Faktor Persekutuan dari 18 dan 9 adalah : 1,3,9.
Maka FPB dari 18 dan 9 adalah : 9
994
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Dan kembali kelompok III mengambil kartu soal dengan mendapatkan bilangan 12, dan dan
diserahkan pada kelompok I untuk mencari faktor bilangan 12 dengan menggunakan kartu pelangi
yang dimasukkan ke dalam tabel box,setelah kelompok satu mendapatkan jawaban bilangan dan
memasukkan kartu pelangi kedalam tabel box maka kelompok I mengambil kartu soal dengan
bilangan 7 yang akan diserahkan pada kelompok V sebagai kelompok terakhir yang mendapatkan
giliran untuk memasukan kartu pelangi kedalam tabel box. Dan guru menyimpulkan dari kedua
bilangan tersebut yaitu:
Faktor 12 adalah : 1,2,3,4,6,12.
Faktor 7 adalah : 1,7.
Faktor Persekutuan dari 12 dan 7 adalah : 1
Maka FPB dari 12 dan 7 adalah 1
Kegiatan Akhir.
Setelah semua kelompok mendapatkan giliran untuk mengerjakan pemfaktoran bilangan
dengan kartu pelangi yang dilengkapi dengan table box, guru mengajak siswa untuk membuat
kesimpulan pembelajaran dan penguatan tentang faktor bilangan.
Guru
:”Untuk kartu soal bilangan 32 dan 62 yang di kerjakan oleh kelompok IV dan
kelompok VI siapa yang bisa menyimpulkan?”
Siswa :”Saya bu,(Auliyah).Setiap faktor bilangan yang kedua bilangannya habis dibagi oleh
salah satu bilangan maka FPB nya adalah Faktor Persekutuan pada bilangan yang
paling besar.”
Guru
:” ya, bagus. Dan untuk kartu soal yang dikerjakan oleh kelompok II dan III dengan
bilangan 18 dan 9 sipa yang bisa menyimpulkan ?”
Siswa :” Saya bu, (Milli agustina).Kalau bilangannya berkelipatan pada salah satu bilangan
yang lain , maka FPB nya adalah bilangan yang terkecil.”
Guru
:” ya benar,Sekarang untuk kartu soal yang di kerjakan oleh kelompok I dan V yaitu
bilangan 12 dan 7 , siapa yang dapat menyimpulkan?”.
Siswa :”Saya bu (M.Idris).Kalau bilangan salah satu merupakan bilangan prima atau
mendekati prima maka FPB bilangan – bilangan tersebut adalah 1.
Setelah penyimpulan hasil dari permainan kartu pelangi dan tabel box faktor bilangan dari setiap
kelompok ,guru meminta siswa untuk mengerjakan lembar tes yang diberikan oleh guru,dan
dikerjakan secara individual dengan waktu 20 menit sebanyak 5 soal.Hasil dari tes tertulis tersebut
akan dijadikan sebagai tolak ukur kemampuan kognitif siswa dalam pemahaman materi faktor
bilangan,dan menjadi ukuran refleksi menuju siklus berikutnya.
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dengan penerapan pembelajaran cooverative Make –
A- Match hasil belajar siswa dapat digambarkan bahwa dari siswa yang berjumlah 37 orang
diantaranya 31 siswa memenuhi target KKM 70, sedangkan 6 siswa dibawah KKM, walaupun masih
ada siswa yang pasif dalam pembelajaran prensentase tingkat pencapaian hasil belajar siswa dapat di
lihat pada tabel 1 berikut.
995
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Tabel 1.
No
Rentang Nilai
Jlm Siswa
%
Ketuntasan
1
0 – 49
-
-
-
2
50 – 59
2
5,4%
Tidak Tuntas
3
60 – 69
4
10,8%
Tidak Tuntas
4
70 – 79
5
13,5%
Tuntas
5
80 - 100
26
70,3%
Tuntas
37
100%
Jumlah
Jumlah Nilai
Rata – rata Nilai
: 3097
: 83,7
Dari tabel di atas bisa diketahui bahwa dari 37 siswa, yang mendapatkan nilai 50 – 59 hanya 2 orang,
atau 5,4%, yang mendapatkan nilai 60 – 69 = 4 siswa atau 10,8%, yang mendapatkan nilai 70 -79 =
5 siswa atau 13,5%,dan yang mendapatkan nilai 80 -100 = 26 siswa atau 70,3%.
Dari hasil pengamatan pembelajaran pada siklus I ini, pemahaman siswa pada faktor bilangan
menunjukan kategori yang baik dilihat dari persentase keberhasilan 83,8%, dan siswa yang belum
tuntas terlihat dalam persentase 16,2 %. Sebahagian besar siswa menunjukan pemahaman yang baik
pada materi faktor bilangan dengan menggunakan permainan MAM.
Dan dapat disimpulkan bahwa pada pertemuan di siklus I siswa sudah memahami tentang faktor
bilangan, faktor persekutuan, dan hasil akhir FPB dengan bilangan yang kecil,dan akan berlanjut pada
pertemuan siklus kedua.
Refleksi (See)
Setelah melakukan pembelajaran pada siklus I penulis mengkaji hal – hal yang masih menjadi
kendala dalam pembelajaran.Hasil refleksi ini akan digunakan untuk melakukan pembelajaran pada
siklus berikutnya.
Kelebihan dalam pembelajaran pada siklus pertama adalah guru menggunakan media yang
menarik dan menggunakan metode pembelajaran yang membuat siswa belajar dalam situasi
menyenangkan.
Adapun kekurangan pada pembelajaran di siklus pertama adalah dalam permainan masih ada
siswa yang belum terlibat langsung dalam permainan karena permainan yang dilakukan merupakan
perwakilan saja sehingga siswa yang berkemampuan tinggi dan hapal dalam perkalian mendominasi
permainan.
Dari kekurangan dalam pembelajaran disiklus pertama itu, maka guru melakukan perbaikan
tindakan misalnya guru akan lebih memfokuskan pada siswa yang belum aktif dalam pembelajaran
dengan memberikan kesempatan untuk mencoba kedepan kelas,pada siklus kedua guru akan
merencanakan untuk materi Faktor dan Kelipatan Bilangan ,dengan mencari kelipatan suatu bilangan
dan kelipatan persekutuan suatu bilangan serta hasil akhir dari Kelipatan Persekutuan Terkecil.
SIKLUS II
Dengan memperhatikan hasil siklus I , maka penulis akan menindak lanjuti pada siklus II
dengan berbagai tahapan yang dimulai pada tahapan perencanaan untuk pelaksanaan,dengan
menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran,Media pembelajaran dengan alat peraga kartu
pelangi dan tabel box,membuat lembar tes untuk pengukuran kemampuan kognitif siswa,menyiapkan
bahan observasi yang berupa format Pengamatan siswa dan Format Pengamatan Kegiatan Belajar
Mengajar.
996
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Pada siklus II ini pembentukan kelompok masih sama dengan siklus I dan materi berlanjut
dengan menggunakan media yang sama, dilaksanakan pada hari senin tanggal 22 agustus 2016,
dengan alokasi waktu 2 X 35 menit dengan subjek kelas VI.C, kegiatan pembelajaran hampir sama
dengan pertemuan pada siklus pertama,tetapi untuk pertemuan pada siklus kedua materinya
membahas tentang hasil akhir dari Kelipatan Persekutuan Terkecil, Kelipatan suatu bilangan ,dan
Kelipatan Persekutuan suatu bilangan.
1.Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal pembelajaran seperti biasa siswa menyiapkan diri dan berdoa menurut
agama dan kepercayaan masing – masing,dan guru membiasakan untuk menanyakan kabar kesehatan
pada siswa, pembelajaran juga diawali oleh guru dengan memotivasi siswa dengan mengajukan
beberapa pertanyaan tentang faktor bilangan yang telah dipelajari pada pertemuan siklus pertama.
Guru :”Apakah kalian masih ingat yang kita pelajari pada pertemuan senin yang lalu , nak?.
Siswa:”Masih ,bu.”
Guru “Nah, kalau kalian masih ingat tentang faktor bilangan, siapa yang bisa menyebutkan
faktor dari bilangan 36?.”
Siswa: “saya ,bu”.
Guru:”Ya, Auliyah berapa?”.
Siswa:”1,2,3,6,12,18 dan 36.”
Guru:’ Masih ada bilangan yang lain?”.
Siswa : ( Serentak)” tidak ada ,bu dah habis”.
Setelah terjadi tanya jawab dan guru sudah yakin siswa masih mengingat dan memahami
tentang faktor bilangan maka guru melanjutkan penyampaian materi yang akan dipelajari yaitu
kelipatan bilangan, kelipatan persekutuan dan KPK.Dan guru juga menyampaikan tujuan yang akan
dicapai pada pembelajaran yang akan berlangsung.
2. Kegiatan Inti
Setelah menyampaikan tujuan dan materi yang akan dipelajari, guru melanjutkan dengan
membentuk kelompok siswa menjadi beberapa kelompok seperti pada pertemuan disiklus pertama ,
dilanjutkan dengan penyampaian aturan permainan.Karena permainannya hampir sama dengan
pertemuan siklus pertama, siswa tidak terlalu mengalami kesulitan dalam memahami aturan
permainan,guru dengan mudah mengarahkan dan menjelaskan aturan jalan permainan kepada siswa.
Gambar 5. Guru mengkondisikan siswa menjadi beberapa kelompok .
997
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Guru memulai dengan mengacak kartu soal diatas meja dan meminta pada perwakilan
kelompok II untuk mengambil satu kartu dan menyerahkan kartu soal tersebut pada kelompok IV
untuk mencari kelipatan dari bilangan 10, dan siswa yang mewakili kelompok IV adalah Fitri
Yanisyah,dan siswa yang menjadi perwakilan maju kedepan kelas untuk memasukan kartu pelangi
kedalam tabel box.
Kelipatan 10 adalah : 10,20,30,40,50,60,70,80,90,100.
Gambar 6. Siswa dari kelompok II mencari kelipatan 10
Setelah kelompok IV mengisikan kelipatan 10 dengan menggunakan kartu pelangi ke tabel
box maka ,siswa dari kelompok IV mengambil kartu soal untuk di serahkan pada kelompok III, giliran
siswa perwakilan kelompok III maju kedepan kelas untuk mencari kelipatan dari bilangan 20 :
Kelipatan 20 adalah : 20,40,60,80, 100.
Setelah kedua kelompok mengisikan kelipatan bilangan dengan menggunakan kartu pelangi kedalam
tabel box , maka guru menuliskan di papan tulis:
Kelipatan 10 adalah : 10,20,30,40,50,60,70,80,90,100.
Kelipatan 20 adalah : 20,40,60,80,100.
Kelipatan Persekutuan dari 10 dan 20 adalah : 20,40,60,80,100.
Kelipatan Persekutuan Terkecil dari 10 dan 20 adalah : 20.
Suasana kelas semakin riuh dengan suara siswa yang aktif ingin mencoba untuk menjadi
perwakilan dalam kelompok mereka dalam permainan karena pada pertemuan disiklus kedua ini
mulai dimengerti oleh siswa, dan ada beberapa siswa yang diam dan hanya memperhatikan temannya
yang riuh menunjuk jari untuk dipilih oleh temannya dan menjadi perwakilan dari kelompoknya untuk
mencari kelipatan bilangan,karena kelompok III sudah memilih kartu soal dan bilangan yang didapat
adalah 4, kemudian kelompok III menyerahkan kartu soal tersebut kelompok VI untuk mengerjakan
kelipatan bilangan dengan menggunakan kartu pelangi tersebut kedepan kelas.
Kelipatan 4 adalah : 4,8,12,16,20,24,28,32,36,40.
998
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Setelah mengisi dan mencari kelipatan dari bilangan 4, kemudian kelompok VI mendapat
giliran memilih kartu soal ,dan diserahkan kepada kelompok V untuk mngisi tabel box dengan kartu
pelangi yang sesuai kelipatan pada bilangan 9.
Kelipatan 9 adalah : 9,18,27,36,45,54,63,72,81,90.
Kemudian hasil dari kedua kelompok tersebut ditulis kembali oleh guru dipapan tulis.
Kelipatan 4
: 4,8,12,16,20,24,28,32,36,40.
Kelipatan 9 adalah
: 9,18,27,36,45,54,63,72,81,90.
Kelipatan persekutuan dari 4 dan 9 adalah : 36
KPK dari 4 dan 9 adalah : 36
Setelah setiap kelompok mendapat kan gilirin dalam permainan tersebut guru mengajak siswa untuk
menyimpulkan dari hasil yang permainan siswa.
Guru :”Sekarang kita lihat dari hasil yang dikerjakan oleh kelompok IV dan kelompok III.”
Guru mulai mengalihkan perhatian siswa untuk dapat menyimpulkan hasil permainan.
Guru :” Kelompok IV mencari kelipatan bilangan,berapa?”
Siswa :” 10 .”
Guru :”lihat tabel box nya kartu yang dipakai oleh kelompok IV berwarna merah, diisikan
dalam box angka berapa ?”.
Siswa :”10,20,30,40,50,60,70,80,90,100.
Siswa 1 :”bu, kan masih banyak lagi kelipatan 10 itu, ada 110,120,130 dan seterusnya.”
Guru :” ya, masih banyak tapi kita kan pakai tabel box yang ada saja karena tabel boxnya
hanya sampai angka 100 saja.”
Guru :”Berapa kelipatan 20 yang dikerjakan oleh kelompok III?”
Siswa :”20,40,60,80,100
Guru :”Siapa yang bisa menyimpulkan?”
Siswa :” Saya bu.”(M. dava)”.
Guru :” ya.”
Siswa :”Setiap bilangan yang berkelipatan maka KPK nya dari bilangan yang paling besar.”
Kemudian guru dan siswa juga menyimpulkan kartu soal yang dikerjakan oleh kelompok VI dan
kelompok V adalah:
Kelipatan 4
: 4,8,12,16,20,24,28,32,36,40.
Kelipatan 9 adalah
: 9,18,27,36,45,54,63,72,81,90.
Kelipatan persekutuan dari 4 dan 9 adalah : 36
KPK dari 4 dan 9 adalah : 36
 Guru menyimpulkan bahwa KPK untuk suatu bilangan prima dan bilangan lain,yang
faktor primanya bukan bilangan prima itu, maka KPK nya adalah hasil dari perkalian
kedua bilangan tersebut.
3. Kegiatan akhir
Diakhir kegiatan permainan guru memberikan tugas tertulis untuk mengukur pemahaman siswa
tentang Kelipatan suatu bilangan , kelipatan persekutuan bilangan dan hasil akhir KPK bilangan.
Siswa menyelesaikan 5 soal dalam 20 menit untuk dikerjakan secara individu,hasil evaluasi individu
diperoleh hasil 17 siswa mendapat skor 100,1 siswa mendapat skor 98,1 siswa mendapatkan skor 95,1
siswa mendapatkan skor 93, 7 siswa mendapatkan skor 90, 1 siswa mendapatka skor 88,3siswa
mendapatkan skor 85,2 siswa mendapatka skor 80,1 siswa mendapatkan skor 78,1 siswa mendapatka
skor 70, 1 siswa mendapatkan skor 65 dan 1 siswa mendapatkan skor 58.
999
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Gambar 7. Siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa materi KPK
Pada tes tertulis pada siklus kedua secara klasikal hasil pembelajaran dari tes tertulis dengan KKM
70,siswa yang belum tuntas terlihat 2 siswa.
Tabel.2
No
1
2
3
4
Rentang Nilai
50 -59
60 – 69
70 – 79
80 - 100
Jumlah
Jumlah Siswa
1
1
2
33
%
2,7%
2,7%
5,4%
89,2%
37
100%
Ketuntasan
Tidak tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Jumlah Nilai : 3390
Rata-rata Nilai : 91,6
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa 37 siswa ,yang mendapatkan nilai 50-59 =1 siswa
atau 2,7%,yang mendapatkan nilai 60 - 69 = 1 atau 2,7 %,yang mendapatkan nilai 70 - 79 = 2 siswa
atau 5,4%, dan yang mendapatkan nilai 80 – 100 = 33 siswa atau 89,2 %
Dari hasil pengamatan pembelajaran pada siklus II ini, pemahaman siswa pada kelipatan bilangan
menunjukan kategori yang baik dilihat dari persentase keberhasilan 94,6%, dan siswa yang belum
tuntas terlihat dalam persentase 5,4 %. Sebahagian besar siswa menunjukan pemahaman yang baik
pada materi kelipatan bilangan dengan menggunakan permainan MAM.
Perbandingan hasil belajar siswa antara siklus I dan siklus II di deskripsikan sebagai berikut
pada siklus I jumlah nilai 3097 dengan nilai rata – rata kelas adalah 83,7 dan pada siklus II dengan
jumlah nilai 3390 dan rata- rata nilai 91,6,dilihat dari peningkatan rata –rata nilai berarti terjadi
peningkatan dari siklus I ke siklus II dengan nilai rata –rata 10,8%.Pada siklus ke II ini aktivitas
siswa lebih terlihat aktif dan semakin membaik dengan adanya peningkatan pemahaman materi
1000
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan dari penelitian pembelajaran dengan mengunakan pendekatan pembelajaran
cooverative MAM, dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang materi FAKTOR , KELIPATAN,
FPB dan KPK suatu bilangan, di SD Negeri 010 sekupang Batam,yang dapat dilihat dari hasil tes
tertulis mulai dari siklus pertama dan siklus kedua , pada hasil dari tes tertulis sudah mencapai KKM
yang ditetapkan oleh guru, hanya beberapa siswa yang dibawah KKM dan guru mengajukan
wawacara/ pendekatan secara personal dengan siswa tersebut ternyata dapat disimpulkan bahwa siswa
yang bersangkutan kurang menguasai perkalian,dari temuan tersebut guru mulai melakukan
pendekatan dengan siswa tersebut di luar jam pembelajaran untuk melakukan pembelajaran tambahan
diluar kelas. Dari hasil tes tertulis hasil yang didapat pada tes siklus pertama dengan materi FAKTOR
BILANGAN siswa menunjukan pemahaman yang baik dengan mencapai rata –rata nilai 83.7, dan
pada pertemuan siklus kedua untuk materi KELIPATAN BILANGAN siswa menunjukan
peningkatan pemahaman dengan mencapai nilai rata-rata kelas 91,6.
Dari hasil penelitian ini,pengunaan pembelajaran dengan tehnik pembelajaran kooverative
Make- A-Match dapat dijadikan sebagai salah satu alternative untuk peningkatan pemahaman siswa
dalam pembelajaran dikelas.Dan guru dapat mengembangkan model pembelajaran MAM dengan
materi pembelajaran yang lain, dengan mengembangkan alat peraga yang lebih sempurna karena alat
atau media yang digunakan guru pada penelitian ini masih menggunakan angka – angka kecil
sehingga untuk materi kelipatan masih terbatas bilangannya,dan pada dasarnya siswa juga sangat
menyukai pembelajaran dalam permainan walau sedikit menimbulkan kegaduhan didalam kelas tetapi
dengan keahlian seorang guru dalam pengelolaan kelas metode permainan dalam penerapan tehnik
MAM sangat menarik siswa untuk belajar secara aktif.
DAFTAR RUJUKAN
Eni Lambang Sari,2016. Penerapan Model Pembelajaran Make-A-Macth untuk meningkatkan hasil
belajar siswa 11 pada materi satuan berat.J-TEQIP,21 Mei 2016:462-471.
Russeffendi.1997.Dasar-dasar Matematika modern untuk guru.Bandung:Tarsito.
Sunendar,Tatang.2008.Penelitian Tindakan Kelas.
URL.https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/( Diakses
Tanggal 16 Agustus 2016).
Suyatno,2009.Menjelajah Pembelajaran Inovatif.(Sidoarjo:Masmedia Buana Pustaka).
Surya,Yohanes.2015.Pintar Berhitung GASING.BSD CITY Serpong.PT Kandel Tangerang 15322.
Kusmawati,heny.Sumanto.Aksin,Nur.2008 Gemar Matematika 6:untuk SD/MI Kelas VI/YD.
Jakarta:Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
1001
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISION (STAD)
UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PKN
SISWA KELAS XI IPA SMA ISLAM HASYIM ASY’ARI BATU
Kumaidi
SMA Islam Hasyim Asy’ari Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengaji penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD
yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Islam
Hasyim Asy’ari. Penelitian dilakukan dengan desain penelitian tindakan kelas (PTK).
Subjek penelitian ini adalah 24 siswa dengan sebaran 4 laki-laki dan 20 perempuan.
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus dengan tahapan: perencanaan,
pelaksanaan observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan
pembelajaran kooperatif STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dari siklus I
dengan rata-rata 77,0 menjadi meningkat pada siklus II dengan rata-rata 81,3.
Kata Kunci: kooperatif tipe STAD, keaktifan siswa, hasil belajar siswa
Keberhasilan dalam proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh kreatifitas guru. Guru dituntut
melakukan inovasi melalui proses pembelajarannya, dalam hal ini pemilihan metode dan strategi
pembelajaran menjadi hal penting dalam proses belajar. Pembelajaran PKn yang dipaksakan tanpa
melalui proses yang menyenangkan akan menyebabkan siswa merasa jenuh untuk mengikuti
pembelajaran, sehingga membawa dampak pada hasil belajar siswa. PKn yang masuk katagori bidang
studi normatif dan karakter materinya yang dianggap sebagian besar siswa adalah pelajaran yang
membosankan, dan tingkat kesukaran dalam memahami materi sedikit banyak berpengaruh pada
semangat belajar dan hasil belajar. Disamping dikarenakan metode pembelajaran yang kurang tepat
atau pembelajaran yang masih bersifat tradisional sehingga siswa kesulitan memahami materi yang
diajarkan.
Metode dan pendekatan pembelajaran yang masih banyak digunakan adalash metode
konvensional (metode ceramah), guru menggunakan metode ceramah. Peserta didik hanya
mendapatkan materi secara teoritis, peserta didik tidak dapat kesempatan untuk menemukan konsep.
Hal ini yang dapat menyebabkan siswa cenderung bersikap pasif, siswa malas belajar dan siswa
menjadi ketergantungan kepada guru.
Salah satu pembelajaran yang dapat membuat siswa senang adalah pembelajaran aktif.
Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif.
Ketika peserta didik belajar secara aktif, berarti mereka yang mendominasi proses pembelajaran, dan
terjadi proses pembelajaran yang tidak lagi guru menjadi satu-satunya sumber belajar, tidak lagi
pembelajaran berlangsung berpusat pada guru, disini mengedepankan student centere, peran guru
dalam hal ini adalah sebagai motivator dan fasilitator sehingga pembelajaran berlangsung secara
efektif dan efesien.
Dalam perannya sebagai fasilitator, guru perlu memfasilitasi siswa sedemikian hingga siswa
memiliki rasa ingin tahu terhadap materi pelajaran. Dalam pembelajaran hendaknya guru dapat
menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik, yang mana materi perlu disesuaikan dengan tingkat
berpikir peserta didik dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari yang akan menimbulkan sikap
positif terhadap pembelajaran PKn. pada hakikatnya belajar PKn, merupakan belajar tentang tatanan
kehidupan.
1002
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Belajar adalah salah satu cara untuk mendapatkan pengalaman tatanan kehidupan. Ketika siswa pasif,
atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan.
Oleh sebab itu, diperlukan strategi pembelajaran tertentu untuk mengikat informasi yang baru saja
diterima dari guru. Kondisi tersebut sering ditemui pada proses pembelajaran di SMA Islam Hasyim
Asy’ari Batu. Kondisi ini juga terjadi di kelas XI IPA. Pembelajaran berlangsung pasif, dimana siswa
hanya menerima yang diberikan oleh guru, siswa menunggu jawaban yang benar dari guru atau siswa
lain yang lebih pintar. Sebagian besar siswa tidak berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
Siswa yang berkemampuan lebih mendominasi proses pembelajaran dan cenderung mengambil posisi
tempat duduk di depan. Sehingga siswa yang mempunyai kemampuan kurang berkecenderungan
semakin tertinggal. Hal ini menunujkkan ada masalah dalam pembelajaran PKn di Kelas XI IPA SMA
Islam Hasyim Asy’ari Batu yang harus segara dicarikan solusi.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah penerapan
pembelajaran cooperative tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Menurut Slavin (dalam
Subanji, 2013) langkah-langkah STAD adalah sebagai berikut: (1) membentuk kelompok yang
beranggotakan 4 sampai 5 siswa secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku,
dan sebagainya), (2) Guru menyajikan materi, (3) guru memberikan tugas kepada kelompok. Selain
itu, guru harus memiliki kemampuan untuk mengemas materi pelajaran lebih menarik dan lebih
bermakna bagi siswa, mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi
siswa. Guru juga harus memfasilitasi terciptanya interaksi yang baik antara guru dengan siswa dan
antar siswa itu sendiri. Siswa yang pintar dapat membantu siswa yang kurang pintar, dan diharapkan
dengan diskusi kelompok, siswa yang mempunyai kemampuan kurang dapat lebih percaya diri karena
dimotivasi teman kelompoknya. Hal demikian akan mendorong dan meningkatkan keaktifan siswa
yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Penerapan kooperatif tipe STAD telah dikaji oleh beberapa peneliti (Izzati, 2015; Herniwati,
2015; Wahyudansyah, 2015; Rosdinar, 2015; Hudaya, 2015 ). Izzati (2015), pembelajaran kooperatif
STAD mampu menumbuhkan motivasi, mengaktifkan siswa, meningkatkan pemahaman dan nilai
siswa, serta dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Herniwati (2015)
menemukan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Wahyudansyah (2015) menyatakan bahwa kooperatif tipe STAD dapat mengaktifkan siswa untuk
belajar dan ada peningkatan hasil belajar siswa. Hudaya (2015) menunjukkan pentingnya kooperatif
STAD untuk meningkatkan interaksi siswa dalam proses pembelajaran. Dari berbagai temuan
tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktifitas
belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Karena itu dalam penelitian ini,
mengkaji penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD, pada materi pentingnya keterbukaan dan
keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pada siswa kelas XI IPA SMA Islam Hasyim
Asy’ari Batu semester 1 tahun pelajaran 2016/2017.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengaji penerapan pembelajaran kooperatif
tipe STAD yang dapat
meningkatkan keaktifan pemelajaran dan hasil belajar. Subjek penelitian ini adalah 24 siswa kelas XI
IPA SMA Islam Hasyim Asy’ari Batu yang tersebar laki-laki 4 dan 20 perempuan. Penelitian ini
merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus
memuat tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan
dikembangkan perangkat pembelajaran PKn di SMA Islam Hasyim Asy’ari Batu yang berorientasi
pendekatan keterampilan proses dalam setting pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tahap
pelaksanaan siklus I dan siklus II dilakukan bulan Oktober – November 2016. Pada saat pelaksanaan
pembelajaran juga dilakukan observasi oleh teman sejawat. Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti
1003
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
bersama teman sejawat sebagai observator, dimaksudkan untuk mengaji kendala-kendala yang ada
dalam pembelajaran sekaligus arlternatif pemecahannya.
Prosedur Penelitian
Rancangan Penelitian Tindakan Kelas ini akan dilakukan selama 2 siklus. Dengan masingmasing siklus 2 pertemuan. Siklus I : 1) Perencanaan ( Planning ) dengan kegiatan sebagai berikut: a)
Mengumpulkan dan analisis data berupa nilai ulangan harian PKn materi
Keterbukaan
dan
keadilan. b) Identifikasi dan klarifikasi semua masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam ,
kegiatan belajar mengajar. c) Menyiapkan materi yang akan disampaikan. d) Menyusun RPP, materi
bahan diskusi, Alat evaluasi akhir siklus, lembar pengamatan. 2) Tindakan, dalam pelaksanaan
penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru dan observator untuk aktifitas belajar Adapun
pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut: Dalam pertemuan pertama dilakukan langkah-langkah
yang dilakukan adalah sebagai berikut: Guru memberi rangsangan tentang materi pentingnya
keterbukaan dan keadilan, Guru membimbing siswa melakuakan dengan mengidentifikasi masalah
materi pentingnya keterbukaan dan keadilan, Guru mengarahkan siswa melakukan Penggumpulan
data, masalah materi pentingnya keterbukaan dan keadilan, Guru pendapingan siswa menjeneralisasi,
menarik kesimpulan materi pentingnya keterbukaan dan keadilan Guru memerintahkan kelompok
mempresetasikan hasil diskusi, Guru memberi penguatan perihal konsep pentingnya keterbukaan dan
keadilan. Setelah siswa belajar dengan menggunakan kooperatif tipe STAD, maka dalam Pertemuan
ke 3 di lakukan tes tertulis. Soal yang digunakan pada test individu berupa soal uraian sebanyak 5
soal. Pelaksanaan dilaksanakan pada pertemuan ketiga masih dalam siklus ini. setelah test tulis
bentuk uraian ini selesai sisa waktu kurang lebih 25 menit digunakan membahas dengan tujuan
memperdalam kemampuan siswa, 3) Pengamatan, Kegiatan observasi dilakukan guru untuk
mengumpulkan data aktifitas pembelajaran siswa. 4) Refleksi, Data dikumpulkan kemudian dianalisis
oleh peneliti. Analisis dilakukan dengan cara mengukur baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian disimpulkan bagaimana hasil belajar siswa dan
bagaimana hasil pembelajaran guru. Kemudian direfleksikan hasil analisis yang telah dikerjakan.
Siklus II dilakukan setelah mengidentifikasi temuan kekurangan pada siklus I dengan
melakuan perbaikan dengan urutan kegiatan sebagai berikut : Perencanaan, Mengumpulkan dan
analisis data berupa nilai ulangan harian PKn tetang materi pentingnya keterukaan dan keadilan.
Identifikasi dan klarifikasi semua masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru dalam kegiatan belajar
mengajar pada kegiatan siklus 1. Menyiapkan materi yang akan disampaikan yaitu pentingnya
keterukaan dan keadilan. Menyusun RPP,materi bahan diskusi, Alat evaluasi akhir siklus, lembar
pengamatan. Tindakan Peneliti akan melaksanakan kegiatan pembelajaran sebagai guru dan
observator untuk aktifitas belajar. Adapun pembelajaran yang dilakukan sebagai berikut:Dalam
pertemuan kedua materi pembelajaran adalah menentukan pentingnya keterukaan dan keadilan. .
Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Langkah-langkah yang dilakukan
adalah sebagai berikut: 1) Guru memberi stimulan (memberi rangsangan) tentang materi pentingnya
keterukaan dan keadilan. 2) peserta didik melakuakan Identifikasi masalah pentingnya keterukaan
dan keadilan. . 3) peserta didik melakukan penggumpulan data masalah materi pentingnya keterukaan
dan keadilan. 4) peserta didik menemukan menjeneralisasi (menarik kesimpulan) materi pentingnya
keterukaan dan keadilan. 5) Guru memberikan kesempatan kelompok mempresetasikan hasil
diskusi, 6) Guru memberi penguatan atau perihal konsep pentingnya keterukaan dan keadilan.
Setelah siswa belajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD, maka dalam
Pertemuan ke tiga di lakukan tes tertulis. Soal yang digunakan pada tes individu berupa soal raian
sebanyak 5 soal. Pelaksanaan dilaksanakan pada pertemuan kedua masih dalam siklus ini. setelah test
tulis bentuk uraian ini selesai sisa waktu kurang lebih 25 menit digunakan membahas dengan tujuan
memperdalam kemampuan siswa. Pengamatan Peneliti mengadakan refleksi hasil siklus kedua yang
1004
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Bahan penilaian observasi dapat dilihat pada lampiran
Refleksi, Peneliti menganalisis semua tindakan pada siklus I,dan II, kemudian melakukan Refleksi
terhadap strategi yang dilakukan dalam tindakan kelas. Apakah dengan menggunakan media
pembelajaran tersebut dapat berhasil meningkatkan hasil belajar PKn materi pentingnya keterbukaan
dan keadilan kelas XI IPA Di SMA Islam Hasyim Asy’ari Batu semester ganjil tahun pelajaran
2016-2017.
Adapun rancangan penelitian ini disajikan sebagai berikut.
Siklus 1
Rencana
awal
Refleksi
Tindakan/
Observasi
Siklus 2
Rencana
yang direvisi
Refleksi
Tindakan/
Observasi
Siklus 3
Rencana
yang direvisi
Refleksi
Tindakan/
Observasi
Gambar 1. Siklus PTK
Data yang diperoleh berupa rekaman pembelajaran dan catatan lapangan. Analisis data dilakukan
dengan mendeskripsikan praktik pembelajaran kooperatif tipe STAD dan membandingkan hasil
belajar dari siklus 1 ke siklus 2.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Perencanaan
Pembelajaran kooperatif tipe STAD siklus 1 dilaksanakan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan,
observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan dikembangkan RPP, materi keterbukaan dan keadilan
melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD, memuat bahan ajar (bahan diskusi) membuat soal tes
tulis uraian lembar kerja siswa, membuat lembar observasi keaktifan siswa mengerjakan diskusi
kelompok dan penilaian.
Pelaksanaan
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan tiga tahapan yaitu pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan
penutup. Kegiatan pendahuluan dilakukan dengan mengkondisikan suasana kelas termasuk
1005
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
membentuk kelompok, masing-masing kelompok terdiri 4 – 5 siswa dilanjutkan dengan berdo’a,
menyanyikan lagu wajib nasional, memotivasi siswa, kemudian menyampaikan materi yang akan
dibahas pada pertemuan ini yaitu keterbukaan dan keadilan dan sekaligus menyampaikan tujuan
pembejaran yang ingin dicapai melalui pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pada kegiatan awal juga
peneliti menghimbau masing-masing kelompok melakukan kegiatan untuk memahami materi
pelajaran melalui buku pegangan siswa dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, menganalisa,
mengkomunikasikan, membuat kesimpulan–kesimpulan dari hasil diskusi, dan mempresentasikannya,
lalu dilanjutkan peneliti dengan menggali pengetahuan awal siswa melalui tanya jawab.
G : siapa yang bisa membantu, apa itu keterbukaan?
S (Abim): keterbukaan adalah sesuatu yang terlihat
G : Siapa lagi?
S (Ina): keterbukaan adalah transparansi.
G : Sekarang, apa yang maksud dengan keadilan?
S (Nava): Keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, siswa yang lain, saya Pak. Oh
ya kamu Iqbal.
S (Iqbal): Keadilan itu, membagi sesuatu dengan pembagian yang sama, tidak ada pilih kasih.
G : jawaban dari kalian semua anak-anak benar sekali.
Berdasarkan dialog diatas Nampak bahwa siswa sudah memiliki pengetahuan awal tentang
pengertian keterbukaan dan keadilan. Keterbukaan diartikan siswa, sesuatu yang terlihat, transparansi.
Sedangkan keadilan siswa mengartikan menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan ada yang
mengartikan membagi sesuatu dengan pembagian yang sama tidak ada pilih kasih.
Pada kegiatan inti, guru sebagai peneliti memerintahkan siswa mengamati kasus yang tetera pada
bahan diskusi. Supaya berjalannya diskusi terarah guru memberi pengarahan, pendampingan dan
bantuan pemikiran yang ditemui oleh siswa dalam proses diskusi. Arahan juga diberikan pada
pesoalan alur kerja pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Peneliti melalui LCD ditayangkan berita penggusuran PKL. Mohon anak-anak cermati kasus
dibawah!
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Setelah dilakukan sosialisasi tentang peringatan larangan berjualan di area
terlarang untuk Pedagang Kaki Lima (PKL), Pemkot Malang merencanakan wacana. Hal ini disampaikan oleh Kepala
Dinas Pasar Kota Malang, Wahyu Setianto. Ia mengatakan, besok, Rabu (13/7/2016), PKL di Pasar Besar akan segera
digusur. "Kami mulai penggusuran besok. Titik yang paling banyak itu di Pasar Besar. Area ini harus bersih dari PKL,"
tuturnya, Selasa (12/7/2016). Menurutnya, sosialisasi yang sudah dilakukan oleh Dinas Pasar, cukup jelas, sehingga
Dinas Pasar harus segera menindaklanjuti PKL agar tidak semakin menjamur. Wahyu menambahkan, operasi PKL dan
penggusuran akan dimulai pada pukul 06.00 WIB. Operasi ini mengerahkan 80 pasukan dari bidang Pengawasan dan
Penertiban (Wastib) Dinas Pasar, yang mengutamakan kawasan tapal kuda Pasar Besar. Wahyu menjelaskan, PKL itu
ialah mereka yang selama ini berjualan di lorong-lorong Pasar Besar baik di lantai satu maupun lantai dua. Hal ini yang
diimbaukan kepada PKL agar mereka tidak menempati kembali lorong di dalam pasar untuk berjualan. Selain itu, PKL
Selanjutnya
guru memberikan pancingan pertanyaan: bagaimana tindakan Satpol PP, yang melakukan
yang ada di Pasar Besar, akan ditampung di Pasar Comboran. Namun, untuk sementara relokasi PKL dari Pasar Besar ke
penggusuran
PKL,
tidak mempertimbangkan
perasaan
kemanusiaan,
Pasar Comboran
masihdengan
dalam wacana.
"Lahannya sudah ada tinggal
menata
dan akan masihsudahkah
dikaji lagi," memenuhi
imbuhnya.
Terpisah,
Wakil
Wali
Kota
Malang,
Sutiaji
menambahkan
untuk
relokasi
PKL
itu
sebenarnya
harus
melihat
cantolan
rasa keadilan? jika kalian terposisi a). Sebagai Pamong Praja. b). Sebagai PKL.
regulasi terlebih dahulu. "Kalau dicarikan tempat untuk relokasi, maka itu berdasarkan asas kemanusiaan. Tapi kami
Siswa
dalam
kelompok
berdiskusi
menuliskan
hasil diskusinya
lembar kerja
Hasil
juga harus
menata,
jangan sampai
relokasidan
ini hanya
sekedar percobaan,"
kata dia. di
Menurutnya,
apabilasiswa
perlu untuk
tempat dari
relokasi,
maka perlu kajian
yang lebih
dalam.sebagai
Seperti, melibatkan
diskusi
masing-masing
kelompok
adalah
berikut: masyaraka setempat, lalu diperhitungkan lalu
lintasnya."Jangan sampai kalau dibuatkan tempat khusus PKL, malah sepi karena tidak terlewati oleh kendaraan. Itu
yang harus kami buat set plannya," imbuh dia. Sebelumnya, Dinas Pasar Kota Malang, melakukan sosialisasi oleh PKL
di area terlarang, yakni di Jl Ade Irma, Jl Pasar Besar, Jl Kebalen, Jl Danau Jonge, serta Alun-Alun Merdeka.
Kelompok A mendasarkan pendapatnya pada definisi keadilan yang disampaikan oleh Thomas
Hobbes bahwa keadilan adalah suatu perbuatan yang didasarkan pada perjanjian yang telah
disepakati. Dengan definis tersebut, satpol PP sudah benar. Posisi PKL juga bisa dibenarkan karena
mempertahankan hidup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
1006
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Kelompok A.
(a). Sebagai Satpol PP. keadilan menurut “Thomas Hobbes”, mengatakan “keadilan adalah suatu perbuatan yang
didasarkan pada perjanjian yang telah disepakati”.
Berdasarkan pengertian tersebut Satpol PP telah melaksanakan amanat peraturan, ada kesepakatan banyak pihak,
pemerintah selaku pemangku wewenang, justru kalau tidak melaksanakan tugas dianggap melanggar aturan.Dan itu
telah memenuhi rasa keadilan bagi banyak pihak, pihak – pihak yang berkepentingan.
(b). Jika kami terposisi sebagai PKL, secara emosional pasti kami ingin terus mempertahankan jualan agar bisa
berjualan supaya bisa menghidupi kompor dapur keluarga yang harus makan, mempertahankan hidup, terpenuhi
kebutuhan dasar hajat hidup kami, Satpol PP tidak main gusur, kami berharap ada jalan keluar.
Kelompok B mengungkapkan bahwa keadilan perlu dikembalikan pada defininya dan kelompk B
menggunakan definisi dari Notonagoro bahwa “keadilan hukum “legalitas” adalah suatu keadaan
yang didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku”. Kelompok B sudah menganggap legal yang
dilakukan oleh satpol PP. Di sisi lain sebagai PKL kelompok B hanya bisa mengeluh, sebagai warga
yang terpinggirkan.
Kelompok B.
(a), Sebagai Satpol PP. Seagaimana keadilan yang dikemukakan oleh Notonagoro, “keadilan hukum “legalitas” adalah
suatu keadaan yang didasarkan pada ketentuan hukum yang berlaku”. Satpol PP telah, mensosialisasikan terlebih dulu,
tidak main gusur, itu artinya ada perasaan kemanusiaan diperhatikan tidak diabaikan, bahkan membuat rencana untuk
relokasi, itu artinya ada solusi tidak main gusur.dan secara hukum dapat dibenarkan, tidak menyalahi aturan.
(b). Pedagang Kaki Lima yang sering diperlakukan tidak adil, dipandang sebelah mata dimata aparat pemerintah,
membuat ruas atau bahu jalan lalulintas macet, kondisi jalan jadi rusuh, pokoknya dianggap tidak ada positipnya, PKL
dari semua sisi dianggap tidak berarti.
Kelompok C memandang masalah yang dilakukan oleh satpol PP dan PKL harus dilihat dari keadilan
individu dan sosial. Yang dilakukan oleh satpol PP untuk memenuhi keadilan sosial, bahwa
masyarakat perlu mendapatkan akses jalan yang mudah, masyarakat akan lebih nyaman kalau melihat
kondisi lingkungan yang tertata rapi, dan sebagainya. Sementara kondisi PKL juga perlu mendapat
keadilan individu terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena itu kalau digusur, pemerintah
perlu memikirkan lapangan kerja yang lain.
Kelompok C.
(a).Sebagai Pamong Praja harus taat pada aturan yang ada, pemerintah menggusur pasti ada kepentingan untuk tujuan
mengatur dan menertibkan, bagian dari adanya perkembangan populasi penduduk, pertumbuhan ekonomi yang
meningkat, mobilitas masyarakat yang meningkat. itu sesuai dengan pengertian keadilan menurut keputusan Panitia Adhoc MPRS 1966, (Keadilan dibagi menjadi 2 (dua) bagian ; 1) Keadilan idividual, dan 2) Keadilan sosial). Masingmasing punya kepentingan, kepentingan Satpol PP selaku aparatur pemerintahan adalah mengamankan dan menertibkan
situasi dan kondisi, sedangkan kepentingan PKL adalah bagaimana dagangannya bisa terjual, dan kebutuhan hidup
keluarganya bisa diatasi.
(b). sebagaimana keadilan ada dua menurut keputusan Panitia Ad-hoc MPRS 1966, (Keadilan dibagi menjadi 2 (dua)
bagian ; 1) Keadilan idividual, dan 2) Keadilan sosial). Tuntutan keadilan sosial sebagai warga negara yang didalam
Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945, Negara ini menjamin yaitu memajukan kesejahteraan umum, itu kelompok
kami memahaminya, pemerintah dalam hal ini Negara, harus menjamin kelangsungan hidup bangsanya tidak malah
digusur-gusur dan tidak memberikan jalan keluarnya, mestinya harus pemerintah membuka lapangan kerja dan memberi
kesempatan seluas-luasnya pada warganya untuk mendapatkan pekerjaan..
Kelompok D cenderung memebenarkan satpol PP, namun juga merasakan terlukai hatinya oleh
perilaku satpol PP. Karena pedagang PKL sebagai masyarakat kecil yang perlu dikasihani terutama
untuk melangsungkan hidup bersama keluarganya.
1007
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Kelompok D.
(a), kami dari kelompok D, berkesimpulan dari beberapa sumber yang telah kami diskusikan di kelompok kami, sebagai
aparat Satpoil PP, berkewajiban untuk mengambil tindakan yang cepat dan tepat demi ketertiban masyarakat luas yaitu
sekitar PKL, mobilitas sosial harus terkendali, berjalan lancar dan itu dibenarkan oleh undang – undang. jadi kalau
sebagai aparat diam tidak bertindak itu salah besar.
(b). sebagai PKL, jika kami sebagai PKL, tidakan aparatur pemerintah itu melukai hati masyarakat kecil, mengapa
karena sepertinya tidak tahu kepentingan rakyat kecil yang harus banting tulang untuk keluarga, kelangsungan keluarga,
kelangsungan pendidikan keluarga dan lain sebagainya.
Observasi
Tahap observasi dilakukan sendiri oleh peneliti dan teman sejawat, disela-sela kegiatan
pembelajaran dan mendampingan peserta didik diskusi , peneliti mengamati kegiatan belajar peserta
didik tentang aktifitas, partisipasi, komunikasi dan kreatif. Selama peserta didik belajar peneliti
mengamati akatifitas peserta didik dengan memberi tanda (v) pada skor dilembar pengamatan dengan
skala 1,2,3,4. Sedangkan perihal proses kegiatan belajar tentang aktifitas guru yang bertindak sebagai
peneliti dan keefektifan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dari hasil pengamatan keaktifan
belajar peserta didik sudah baikdan masih perlu ditingkatkan, sedangkan respon dalam menanggapi
kasus dan persolan materi ada merespon dengan baik dan cukup positif, peserta didik komunikatif
baik saat diskusi saat presentasi hasil diskusi kelompoknya, bahasanya tertata, logis dan praktis,
sistematis. Juga hasil pekerjaan dan saat presetasi daya kreatifitasnya baik. Sedangkan hasil
pengamatan peserta didik mengenai pembelajaran kooperatif tipe STAD, guru masih dianggap banyak
berkomentar, rancangan bahan diskusi kurang tertata. Oservasi dilakukan untuk mendapatkan data
yang terkait dengan kegiatan pemelajaran yang berlangsung di kelas: meliputi keaktifan siswa,
kemampuan menyampaikan pendapat siswa, kemampuan bertanya, kemampuan menjawab
pertanyaan, dan sikap saling menghargai pendapat orang lain. Observasi dilakukan peneliti sekaligus
sebagai guru pemina pelajaran, sebagai umpan balik pelaksanaan kegiatan pembelajaran, dan waktu
menjelang akhir guru memberikan informasi materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya
dan memberi tugas pekerjaan rumah berupa soal latihan.
Gambar 2: Foto kegiatan pembelajaran pada siklus
Refleksi
Hasil pengamatan dan test tulis yang dilaksanakan pada siklus I, masih ada beberapa hal yang
perlu ada perbaikan karena aktifitas peserta didik masih perlu ditingkatkan agar diperoleh hasil
prestasi belajar meningkat. Ada eberapa hal yang perlu diperbaiki pada siklus I sebagai bahan
menyusun perencanaan pada siklus II adalah RPP, rencana pelaksanaan pembelajaran mengenai
kegiatan inti peran guru dikurangi sehingga tercipta pembelajaran terpusat pasa peserta didik. Pola
1008
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
belajar aktif juga menjadi kajian khusus untuk memperbaiki RPP. Bahan materi disusun lebih
mengarah sesuai sintak pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
Hasil pembelajaran kooperatif tipe STAD learning ada peningkatan prestasi hasil belajar
siswa dibanding pembelajaran menggunakan metode konvensional yaitu metode ceramah dengan
menerangkan pemberi contoh dan latihan soal hasilnya tidak begitu baik rata rata kelas 70 dan siswa
yang mendapat nilai lebih dari 75 yaitu 7 siswa dari 24 siswa. 15 siswa mendapat nilai 75 dan yang
mendapat nilai terendah 60 dua orang, sedangkan dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD didapatkan peserta didik yang mendapat nilai lebih dari 75 ada 15 siswa berarti
mengalami peningkatan sebesar 14,2 % dengan rata – rata kelas 82, 2. Pada siklus I mengalami
peningkatan prestasi hasil belajar peserta didik cukup segnifikan. Untuk keaktifan juga terlihat model
pembelajaran kooperatif tipe STAD cukup memberi masukan yang sangat berarti sehingga peserta
didik lebih aktif dari komponen keaktifan terdapat 11 siswa yang mendapatkan skor 2 sedangan
pembelajaran awal 13 siswa mendapat skor 1, komponen partisipasi kooperatif skor 3 ada 12,
komponen komunikasi yang mendapat skor 2 ada 10 siswa dan komponen kreatif skor 2 ada 14 siswa
dari data ini jika di bandingkan dengan pembelajaran awal yaitu metode tradisional komponen
keaktifan, partisipasi, komunikasi,dan kreatif terbanyak pada posisi skor 1 dengan perolehan berturut
- turut 12 siswa, 10 siswa, 14 siswa. Melihat data di atas dapat disimpulkan sementara bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik,
namaun kali ini masih perlu diperbaiki lagi karena hasinya masih kurang, sehingga pada penelitian ini
perlu dilakaukan siklus II.
SIKLUS II
Perencanaan
Pada kegiatan siklus II ada dua pertemuan tatap muka dan satu pertemuan untuk ulangan dan
pembahasan, dan dikegiatan perencanaan adalah mempersiapkan RPP pembelajaran matematika
dengan materi Dampak Penyelenggaraan Pemerintahan Yang Tidak Transparan dengan pembelajaran
kooperatif tipe STAD. Dikegiatan siklus dua ini agak berbeda dengan kegiatan pada siklus I, pada
siklus I sekalipun pembelajaran berpusat pada siswa kenyataannya guru terlihat mendominasi. Untuk
disiklus II pembelajaran dirancang belajar siswa aktif, Materi diskusi disiapkan yang memacu siswa
aktif berpikir yaitu dengan memaparkan materi rasangan mengenai dampak penyelenggaraan
pemerintahan yang tidak transparan.
Contoh dampak penyelenggaraan pemerintahan yang tidak transparan..
Karakteristik atau prinsip-prinsip dalam praktik penyelenggaraan kepemerintahan yang baik (UNDP)
: Partisipasi (Participation), Aturan Hukum (Rule of Law), Transparan (Transparency), Daya
Tanggap (Responsiveness), Berorientasi Konsensus (Consensus Orientation), Berkeadilan (Equity),
Efektivitas dan Efisiensi (Effectiveness and Efficiency), Akuntabilitas (Accountability), Bervisi
Strategis (Strategic Vision), Saling Keterkaitan (Interrelated).
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang baik sesuai UU Nomor 28 Tahun 1999: Asas
Kepastian Hukum, Asas Tertib Penyelenggaraan Negara, Asas Kepentingan Umum, Asas
Proporsionalitas, Asas Profesionalitas, dan Asas Akuntabillitas.
Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan belajar mengajar dibagi menjadi tiga kegiatan yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti dan kegiatan penutup.Pada kegiatan pendahuluan guru cukup memberi pengarahan berkaitan
dengan kerja kelompok dan menjelaskan aturan diskusi yang benar agar diperoleh hasil yang
maksimum. Selama diskusi siswa dimohon untuk mengidentifikasi masalah dan mendiskusikan
dengan anggota kelompok, disini proses penemuan konsep bias digali dan dirumuskan oleh anggota
kelompok, sampai kelompok dapat membuat kesimpulan atau menyusun formula dengan pengetahuan
1009
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
yang baik. Pada pertemua kedua tindakan yang dilakkukan guru dan siswa tidak mengalami
perubahan hanya materi di tekan pada implementasi penyelenggaraan pemerintahan yang transparan.
Pengamatan
Pengamatan pada siklus II untuk kegiatan siswa dilakukan oleh guru sendiri yaitu peneliti
dengan bantuan intrukmen pengamatan, setiap prilaku siswa dilakukan pengamatan khususnya
tentang aktifitas yang meliputi keaktifan, partisipasi, komunikasi dan kreatifitas. Pada kegiatan
didskusi siswa tampak aktif bekerja dan berpikir Waupun kelas terkesan ramai. Dalam setiap
kelompok kelihatan sekali saling mengajukan pertanyaan dan terkadang kelihatan tegang karena
berbeda pendapat teman kelompok yang lain. Dari sini dapat dikatakan pembelajaran benar benar
aktif yang sering diwarnai berbagai pendapat bahkan beberapa kelompok saling adu argumentasi.
Pada saat presetasi hasil diskusi masing –masing kelompok masih ditemukan perdebatan. Sehingga
dapat katakana bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menumbuhkan rasa percaya diri
siswa, saling menghormati dan kerja sama serta tanggung jawab. Kerangka berpikir, pengendalian
emosi, penalaran dalam memecahkan masalah tergambar dengan baik.
Refleksi
Hasil pengamatan dan test tulis yang dilaksanakan pada siklus II, hasilnya sangat memuaskan
keaktifan siswa dalam belajar mengalami peningkatan, rencana pelaksanaan pembelajaran mengenai
kegiatan inti peran guru sudah tidak dominan lagi, sebaliknya kegiatan belajar, aktifitas siswa
mengalami peningkatan sehingga tercipta pembelajaran yang terpusat pasa peserta didik. Penerapan
pembelajaran kooperatif tipe STAD sudah berjalan sesuai dengan inginkan yaitu terwujudnya belajar
siswa akatif , menemukan konsep dengan pola belajar kelompok dan menemukan konsep bersama
dalam diskusi kelompok.
Peningkatan prestasi hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan yang
seqnifikan dibanding ketika pada kegiatan belajar disiklus I . Pada siklus II siswa yang mendapat nilai
lebih dari 75 yaitu ada 21 siswa dari 24 siswa dan 3 siswa kurang dari 75. 21 siswa yang mendapat
nilai lebih dari 75 dengan sebaran nilai yaitu 5 orang mendapat nilai 94 orang mendapat nilai 88, 6
orang menfdapat nilai 85 dan 2 orang mendapat 80 dan 2 orang mendapat 75.Artinya siswa yang tutas
mencapai 80,3% . Sedangkan untuk keaktifan siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD memberi masukan yang positif sehingga peserta didik lebih aktif, dari komponen keaktifan
terdapat 4 siswa yang mendapar skor 2, 4 siswa mendapat skor 3 dan 13 siswa menndapat skor 4,
komponen partisipasi mengalami peningkatan yang sangat siqnifikan yaitu 19 siswa dengan skor 4, 2
siswa skor 2 dan 2 siswa skor 2, untuk komponen komunikasi , 2 siswa mendapat skor 2 , 4 siswa
mendapat skor 3 dan 17 siswa mendapat skor 4 dan teakhir pada komponen kreatif 3 siswa mendapat
skor 2, 2 siswa mendapat skor 3 dan 18 siswa mendaoat skor 4. Dengan mempeerhhatikan data diatas
baik pada siklus I maupunn siklus II dibandingkan hasil prestasi dari prestasi hasil belajar dengan
pembelajaran konvensional, pembelajaran kooperatif tipe STAD prestasi belajar dan keaktifan belajar
siswa lebih tinggi dan dapat dijadikan pembelajaran yang baik direkomendasikan bahwa pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik. karena pada
kegiatan siklus II siswa yang tuntas baik prestasi belajar maupun keaktifan siswa sudah mencapai 82
%. Maka penelitaian tindakan kelas dengan pembelajaran pembelajaran kooperatif tipe STAD
dianggap selesai.
SIMPULAN
Sesudah melaksanakan penelitian sebanyak dua siklus yang dilakukan peneliti dapat diambil
kesimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan keaktifan dan hasil
1010
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
belajar PKn bagi peserta didik kelas XI IPA SMA Islam Hasyim Asy’Batu tahun pelajaran 20162017. Dari siklus I dengan rata-rata 77,0 menjadi meningkat pada siklus II dengan rata-rata 81,3.
DAFTAR RUJUKAN
Izzati, N., 2015. Penerapan Pembelajaran Cooperative Learning STAD Berbantuan Card Short dalam
Permainan Sandi pada Materi Matriks Kelas XI MIPA SMA Negeri 11 Batam. Prosiding
Seminar Nasional TEQIP 2015. Hal. 126-136.
Herniwati., 2015. Peningkatan Hasil Belajar Siswa SD Kelas V Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD Berbantuan Media Kreatif. Prosiding Seminar Nasional TEQIP 2015. Hal. 425-431.
Wahyudansyah.,2015. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Materi Ciri – Ciri Khusus
Tumbuhan melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Prosiding Seminar Nasional TEQIP
2015. Hal. 432-437.
Rosnidar., 2015. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Materi Ciri-Ciri Khusus Tumbuhan
pada Siswa Kelas VI SDN 16 Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman. Prosiding Seminar
Nasional TEQIP 2015. Hal. 460-465.
Hudaya., 2015. Penggunaan Media Gambar Gerak dalam Pembelajaran Menyampaikan Kembali Isi
Pesan Melalui Model STAD Siswa Kelas VI SDN 17 Baruga Kendari. Hal. 670-675.
Nenoliu, E. T,, 2015. Penerapan Metode STAD ( Student Teams Achievemen Division) pada Materi
Penjumlahan Pecahan untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas V SDK LEOB, Hal.
271-278
Khairani ,. 2013. Penerapan Kooperatif STAD dalam Menemukan Rumus Luas Trapesium Siswa
Kelas V SD 071 Tanjung Mompang Hal. 719-721
Elsionora,M., dan Suharika,S,. 2013. Penerapan Model STAD pada Materi Bangun Ruang dalam
Meningkatkan Motivasi Siswa Belajar Menggunakan Media Pembelajaran (Kajian
Pelaksanaan Lesson Study) Hal.911-915
Bumiselan,. 2013.Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX.6 pada Materi Kesebangunan Dan
Kekongruensi dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan
Bantuan Media Powerpoint Hal.916-924
Marlina ,. 2013. Penerapan Cooperative Learning Tipe STAD untuk Meningkatkan Motivasi dan
Hasil Belajar pada Materi Pecahan Senilai melalui Penggunaan Pita Bilangan Hal. 929-937
Haryadi,D,A,N., & Simori,B. 2013 Penerapan Model Pembelajaran STAD untuk Memotivasi Belajar
Siswa dalam Menemukan Jaring-Jaring Kubus Kelas V SD Inpres 55 Klamono ( Pengalaman
pada Kegiatan On Going 1 di Kabupaten Sorong) Hal.938-944
Fitriani ,. 2013 Pembelajaran Menulis Iklan Baris Berbasis STAD Hal.1312-1316
1011
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI DONGENG
DENGAN METODE PEMODELAN
DI KELAS III SDN 002 BULANG, KOTA BATAM
Dedi Suwanto
SDN 002 Bulang, Kota Batam Batam
[email protected]
Absrak: Penelitian tindakan kelas (PTK) ini bertujuan untuk peningkatkan kemampuan
memahami dongeng dengan metode pemodelan siswa-siswi kelas III SDN 002 Bulang,
Kota Batam. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa langkah–langkah meningkatan
prestasi siswa pembelajaran metode pemodelan. Pemodelan yang dalam (1) dilakukan
dengan guru memberikan motivasi dengan kegiatan pendahuluan yang dilakukan guru di
dalam penelitian tindakan kelas. Profesionalisme yang dikembangkan guru kelas harus
sharing, didkusikan antar sekolah yang ada di Bulang kota batam untuk meningkatakan
kemampuan profisionalime sebagai pendidikan sekolah dasar di lingkungan secara
akademik Pendagogik untuk memudahkan meliputi: (1) kompetensi akademik, (2)
kompetensi pedagogik, dan (3) kinerja unjuk pemodel produktivitas. Rata-rata peningkatan
kompetensi pencapaian pemodelan akademik pada bahasa indonesi poin; 26.55 dan Bahasa
Indonesia mencapai pemodelan 20.57 poin. Rata-rata peningkatan kompetensi akademik
pada Disebarkan agar memudah Bahasa indonesia mencapai mencapai 41. 45 poin, dan
Bahasa Indonesia mencapai 21.99 poin. Diseminasi 2 rata-rata peningkatan kompetensi
akademik: bahasa Peningkatan kompetensi pedagogik meliputi: (a) merancang kegiatan
pembelajaran secara kolaboratif, (b) melaksanakan praktik pembelajaran dengan pemodel
open class, (c) melaksanakan penilaian, dan (d) melakukan refleksi setelah kegiatan
meningkat, yang ditunjukkan dengan keberhasilan guru dalam memahami, menyimak yang
melibatkan 12 orang guru KKG kecamatan bulang kota batam yang.
Kata kunci: peningkatan, memahami dongeng, metode pemodelan, diskusi
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional
Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman (UU Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 ayat
2). Hal ini berarti bahwa pendidikan nasional tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai agama dan
kebudayaan nasional. Selain itu, pendidikan juga harus bersifat dinamis dalam rangka menyesuaikan
perkembangan zaman. Pembelajaran bahasa Indonesia juga harus turut menyukseskan semangat
pendidikan nasional tersebut
Dalam Kurikulum bahasa Indonesia 2006, salah satu kompetensi yang harus dipahami oleh
siswa adalah memahami dongeng. Sebagai salah satu kekayaan bangsa Indonesia, dongeng sudah
sepantasnya dikuasai oleh siswa-siswa sekolah dasar. Setiap daerah di Indonesia selalu identik dengan
pelbagai dongeng, baik yang berupa dongeng dengan tokoh binatang (fabel), dongeng terjadinya suatu
tempat (legenda), dongeng tentang tokoh manusia yang memiliki kekuatan lebih (sage), dongeng
tentang kepercayaan masyarakat terkait dengan dewa-dewa dan makhluk halus (mite), dan dongeng
yang mengandung nilai-nilai pendidikan atau juga cerita pendek dan sederhana yang mengandung
hikmah atau pedoman hidup (parabel).
Salah satu dongeng yang sangat terkenal di Kota Batam adalah dongeng Hangtuah. Batam yang
merupakan tempat tumbuhnya kebudayaan Melayu sangat akrab dengan dongeng Hangtuah, yakni
dongeng tentang kepahlawanan dari tokoh yang dihormati di Tanah Melayu yang bernama Hangtuah.
Tokoh Hangtuah sering menjadi acuan orang-orang Melayu dalam mengorbankan jiwanya untuk
membela sebuah kebenaran.
1012
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Hasil pelaksanaan pembelajaran memahami teks dongeng di kelas III SDN 002 Bulang, Batam
menunjukkan berikut. Pertama, lebih dari 50% siswa belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal
(KKM). Dengan KKM 60, dari 12 siswa yang mencapai KKM hanyalah 4 orang (20%), sebaliknya 8
orang (80%) berada di bawah skor 60. Kedua, dalam mengikuti pelajaran siswa masih tampak tidak
semangat. Mereka kelihatan pasif dan tidak ada yang memberikan tanggapan terhadap stimulus dari
guru. Atas dasar ketuntasan belajar, maka pembelajaran memahami teks dongeng harus diulang secara
klasikal melalui pembelajaran perbaikan dengan memberikan tindakan tertentu.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan dilaksanakan
dalam dua siklus, setiap siklus mengandung empat kegiatan, yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan
tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Yang menjadi subjek penelitian itu dalam tindakan ini adalah
siswa kelas III SDN 002 Bulang tahun pelajaran 2016/2017 jumlah siswa keseluruhan 12 orang,
jumlah siswa laki-laki 5 orang dan jumlah siswa perempuan 7. Instrumen yang digunakan dua buah:
(1) instrumen berupa tes untuk menjaring kemampuan siswa dalam memahami dongeng, dan (2)
pedoman observasi untuk mengetahui kejadian guru dan siswa selama pembelajaran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I.
Siklus I dilaksanakan sebanyak dua pertemuan yang masing-masingnya dilaksanakan 2 x 35
menit.
Perencanaan
Guru menyiapkan langkah–langkah (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat guru
supaya mudah untuk membantu guru menerangkan kepada siswa secara runtut (2) mengembangkan
media bermakna ini untuk memudahkan siswa menyimak apa saja yang dia dengarkan melalui
pemodelan oleh guru. simak secara kelasikal (pemodelan) pembelajaran (3) mengembangkan
indikator untuk dicapai dalam kegiata-kegiatan ke dalam pembelajaran (4) observasi di kelas guru
menyiapkan alat kertas kerja untuk teman sejawat untuk mempermudah peneliti dengan observer
dalam menerapkan pengamatan secara visual dengan siswa. (4) menyiapkan waktu untuk Refleksi
Guru menyiapkan waktu untuk siswa unjuk kerja di dalam kelas, setelah melakukan penelitian.
Pelaksanaan dan Pengamatan
Pembelajaran dibagi menjadi tiga bagian, yakni pembukaan, inti, dan penutup. Pada bagian
pembukaan, guru mengajak siswa untuk merefleksi cerita tentang Hangtuah. Siswa merasa senang
karena tokoh yang dibicarakan sangat akrab dengan kehidupan siswa, yakni Tanah Melayu. Pada
tahap selanjutnya, guru memberikan pemodelan tentang tokoh Hangtuah. Misalnya, guru memberi
pemodelan tentang bagaimana Laksamana Hangtuah memberi hormat kepada Yang Dipertuan Agong
Malaysia, seperti Gambar 1 berikut.
Gambar 1: Laksamana Hangtuah sedang memberi hormat ke Yang Dipertuan Agong Sultan Mahmud
1013
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Dengan pemodelan ini, siswa memperoleh contoh yang benar tentang tokoh Hangtuah. Dengan
pemodelan ini pula, siswa-siswa dapat memahami karakter tokoh Hangtuah, memahami kelebihan
Hangtuah, memahami kelemahan Hang-tuah, memahami bagaimana kehidupan Hangtuah, serta
bagaimana Hangtuah memperoleh gelar kepangkatan tertinggi dalam angkatan laut, yakni Laksamana.
Pada kegiatan inti guru membacakan dongeng Hangtuah dan sebaliknya siswa melaku-kan
menyimak dengan mencatat hal-hal penting. Selama lebih kurang 9 menit siswa menyimak
pembacaan dongeng oleh guru. Setelah itu guru membimbing untuk membentuk kelompok–
kelompok, dan guru membagi dua kelompok satu kelompok terdiri dari 6 orang, dan kelompok dua
terdiri dari 6 orang siswa berdiskusi untuk memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor).
Bahan untuk diskusi sudah ada di dalam lembar kerja siswa (LKS). Siswa berdiskusi pada
kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok yang satu ke kelompok yang
lain, agar mudah memodelkannya. Untuk memperkaya kegiatan siswa, guru juga mengajak siswa
dapat membaca diluar kelas, seperti Gambar 2 berikut.
Dengan kegiatan di luar kelas seperti ini, suasana menjadi
lebih dinamis, siswa tampak lebih senang. Belajar di luar
kelas pada umumnya mengurangi beban siswa dalam
belajar. Dengan perasaan yang senang seperti ini
pemahaman siswa terhadap dongeng menjadi lebih baik.
Gambar 2: Siswa sedang membaca
dongeng di bawah pohon
Hasil pengamatan dari observer menunjukkan sebagai berikut. Pertama, siswa tampak senang
mengikuti pelajaran. Banyak siswa yang dengan senang hati memperagakan tokoh Hangtuah dalam
mempertahankan kebenaran dan prinsipnya dari musuh-musuhnya. Kedua, guru sudah tidak lagi
mendominasi pembelajaran, sebaliknya siswa-siswa mulai berani mengemukakan pikirannya terkait
dengan Hangtuah. Hal ini membuat arah pembelajaran menjadi multiarah, tidak hanya dari guru ke
siswa, tetapi juga dari siswa ke guru serta dari siswa ke siswa lainnya. Ketiga, pembelajaran yang
dilaksanakan di luar kelas amat menarik bagi siswa. Mereka tampak begitu menikmati pembelajaran
dengan tanpa beban.
Refleksi
Refleksi dilakukan dengan berdiskusi antara peneliti dengan teman-teman guru observer. Yang
dibicarakan adalah pencapaian nilai dari setiap siswa secara klasikal. Hasil penilaian dapat
diperhatikan pada Tabel 1 berikut.
1014
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Tabel 1: Nilai Siswa dalam Memahami Dongeng pada Siklus I
N0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
N0 IND.
316
317
310
321
323
324
325
326
327
328
329
331
NAMA SISWA
Sela Safitri
M. Mansyar P.
M. Rivaldi
Kirana Sapitra
Kurnia Mustika Lesteri
Firman
Salina
Naila
Nur Asikin
Kelvin
Nurhayati Oktavia
M. Radit Ikhram
NILAI
65
70
55
55
70
55
55
70
80
70
55
55
KKM
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
KETUNTASAN
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Dari data dalam Tabel 1 dapat diketahui bahwa 6 orang (50%) tuntas dan 6 orang (50%) tidak tuntas.
Hasil diskusi menyarankan bahwa perbaikan pembelajaran dilanjutkan ke Siklus II.
Siklus II
Siklus II dilaksanakan dalam dua pertemuan masing-masing selama 70 menit (2x35 menit).
Perencanaan
Secara umum tahap perencanaan siklus II sama dengan siklus I. Hanya saja, yang membedakan
adalah persiapan bahan simakan yang berbeda dengan yang pertama meskipun sama-sama bertopik
tentang Hangtuah.
Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan
Secara umum tahap pelaksanaan tindakan pada siklus II masih mirip dengan pelaksanaan
tindakan pada siklus I. Hanya saja, pada tahap inti pembelajaran, yang dibacakan guru adalah
dongeng tentang Hangtuah yang berbeda dengan yang digunakan pada siklus I. Pada bagian akhir,
guru mengadakan postes untuk mengetehui kompetensi siswa dalam memahami dongeng dari
kegiatan menyimak dengan tes.
Refleksi
Pada akhir pelaksanaan tindakan, peneliti bersama guru observer mengadakan diskusi untuk
membicarakan data kompetensi siswa seperti pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2: Hasil Belajar Siswa pada Siklus Kedua
N0
N0 IND.
NAMA SISWA
1
316
Sela Safitri
2
317
M. Mansyar, p
3
310
M. Rivaldi
4
321
Kirana Sapitra
5
323
Kurnia Mustik Lesteri
6
324
Firman
7
325
Salina
8
326
Naila
9
327
Nur Asikin
1015
NILAI
65
70
60
65
70
60
65
70
80
KKM
60
60
60
60
60
60
60
60
60
KETUNTASAN
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
10
11
12
328
329
331
Kelvin
Nurhayati Oktavia
M. Radit Ikhram
70
65
65
60
60
60
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Hasil diskusi menyimpulkan bahwa perbaikan pembelajaran dihentikan karena semua siswa sudah
tuntas. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas sudah selesai.
SIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran metode
pemodelan yang dapat meningkatkan prestasi siswa adalah (1) kegiatan pendahuluan dilakukan
dengan guru memberi motivasi dengan menunjukkan manfaat belajar materi pecahan; (2) kegiatan inti
dilakukan dengan memberikan lembar kerja yang menantang bagi siswa; dan (3) Kegiatan penutup
dilakukan dengan mengajakaktif dalam pembelajaran. siswa untuk mereview materi yang sedang
dipelajari. Adapun peningkatan prestasi secara akademik dengan penerapan pembelajaran metode
diskusi adalah 29,4 point (dari rata-rata 65,7 dalam siklus 1 menjadi 95,1 siklus 2). Begitupula
ketuntasan meningkat dari 77% dalam siklus 1 menjadi 100% dalam siklus 2. Dari hasil penelitian ini
disarankan bahwa guru hendaknya dapat memilih metode yang sesuai dengan karakteristik siswa,
materi, dan bidang studi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat, peran
serta, dan aktifitas siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar adalah metode pemodelan.
DAFTAR RUJUKAN
Yonny, Acep 2004, Mahir Menulis Naskah Drama Yogyakarta : Suaka Media
Nurjanah, 2005. Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru MIPA di SLTP melalui Program Onservice Lesson Study. Jurnal Matematika, Agustus.
Wahyudi & Subanji, 2010. Model-model Pembelajaran. Malang: UM Press
1016
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PEMBELAJARAN KEMAMPUAN PASSING BOLA
MENGGUNAKAN KAKI BAGIAN DALAM
DENGAN METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS V
SEKOLAH DASAR NEGERI 001 GALANG
Rio
SDN 001 Galang, Kota Batam
[email protected]
Abstrak: Pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan passing bola
menggunakan sisi kaki bagian dalam dengan metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN
001 Galang Pembelajaran ini dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran yang
ada.adapun media yang di gunakan adalah video tentang permainan sepak bola yang di
putar melalui laptop,kemudian menggunakan bola.pembelajaran ini dilakukan dengan
berbagai tahap adapun tahapan yang dilakukan adalah: 1.perencanaan pembelajaran
2.pelaksanaan pembelajaran 3.penutup.Hasil pembelajaran yang dilakukan akan di
tunjukkan melalui observasi dan tes hasil belajar passing menggunakan kaki bagian dalam
dengan metode demonstrasi pada siswa kelas V SDN 001 Galang Kota Batam
Kata Kunci: Meningkatkan kemampuan passing bola menggunakan kaki bagian dalam
Pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan di sekolah dasar sangatlah penting sebagai
dasar pendidikan anak ke tingkat yang lebih tinggi. Keberhasilan pendidikan jasmani di sekolah dasar
tergantung pada kreatifitas guru dan penerapan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan materi
yang diajarkan. Penerapan pendekatan pembelajaran yang kurang tepat sangat berpengaruh pada hasil
pembelajaran.Kondisi nyata di lapangan menunjukkan bahwa pemberian contoh atau demonstrasi
sangat jarang dilakukan oleh guru ketika melaksanakan pembelajaran. Hal ini disebabkan oleh
beberapa hal, diantaranya adalah guru hanya menguasai materi secara teori tetapi sulit
mendemonstrasikan. Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar oleh guru
hendaknya dilakukan dengan memilih pendekatan pembelajaran yang tepat, sehingga akan
mendukung keberhasilan pembelajaran itu sendiri. Dengan penggunaan pendekatan pembelajaran
yang tepat akan berpengaruh pada keaktifan dan ketertarikan siswa terhadap pembelajaran, sehingga
hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.Siswa SD pada umumnya sangat menyenangi mata pelajaran
Penjaskes terutama materi permainan sepak bola, akan tetapi masih ada sebagian siswa yang kurang
antusias pada pembelajaran tersebut, terutama siswa perempuan. Siswa perempuan kurang tertarik
dengan sepak bola karena takut merasa sakit ketika menendang bola.Fakta di lapangan menyebutkan
bahwa, masih banyak siswa yang salah dalam gerakan menendang bola pada permainan sepak bola.
Sebagian siswa masih menggunakan ujung kaki untuk menendang bola, sehingga akan menimbulkan
rasa sakit pada kaki, sehingga mereka enggan untuk berlatih gerakan menendang bola, sehingga hasil
belajar siswa kurang maksimal.Hasil belajar siswa SD masih rendah, terbukti, hasil evaluasi
menunjukkan bahwa dari 22 siswa yang terdiri dari 10 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan, baru
10 siswa yang telah dapat melakukan gerakan menendang sepak bola dengan baik dan benar dan
sisanya 12 siswa masih belum menguasai gerakan tersebut dengan baik dan benar. Kondisi demikian
apabila dibiarkan akan mempengaruhi pencapaian prestasi belajar siswa. Hal tersebut menunjukkan
adanya suatu permasalahan yang harus dicari jalan keluarnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan
semacam tindakan yang dilaksanakan secara kolaboratif, yaitu tindakan untuk meningkatkan
keterampilan gerak menendang sepak bola pada siswa kelas V SDN 001 Galang.
1017
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Tindakan tersebut adalah upaya meningkatkan kemampuan menendang bola menggunakan
sisi kaki bagian dalam pada siswa kelas V SD.Menendang bola menggunakan sisi kaki bagian dalam
diharapkan dapat meningkatkan keterampilan gerak menendang bola padasiswa kelas V SDN 001
Galang.Alasan menendang bola menggunakan kaki bagian dalam adalah untuk mengatasi masalah
yang terjadi karena sebagian siswa menendang bola menggunakan ujung kaki, sehingga menimbulkan
rasa sakit. Dengan menendang menggunakan sisi kaki bagian dalam siswa akan lebih senang karena
mereka tidak merasakan sakit pada bagian kaki mereka. Karena keaktifan siswa akan dikembangkan
sehingga pembelajaran akan menjadi lebih menarik.Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan
yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah meningkatkan kemampuan menendang
bola menggunakan kaki bagian dalam pada siswa kelas V SDN 001 Galang?” Penelitian Tindakan
Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menendang bola pada permainan sepak bola
dengan menggunakan sisi kaki bagian dalam pada siswa SDN 001 Galang, Kota Batam. Manfaat hasil
Penelitian ini adalah dapat diuraikan sebagai berikut:Bagi Guru: melalui PTK ini guru dapat
meningkatkan kemampuan menendang bola siwa SDN 001 Galang, Kota Batam. Bagi Siswa: hasil
penelitian ini bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan kemampuan menendang bola menggunakan
sisi kaki bagian dalam. Bagi Sekolah: hasil penelitian ini membantu memperbaiki pembelajaran
pendidikan jasmani di sekolah. Rangkaian gerakan permainan sepak bola meliputi gerakan passing,
shooting,controlling, dan heading. Passing dengan kaki bagian dalam adalah salah satu gerak yang
termasuk ke dalam gerak menendang.
Gerak menendang menurut fungsinya terbagi menjadi 4, yaitu memberikan (passing),
menembakkan (shooting), menahan (controlling), dan menyundul (heading).Passing adalah salah satu
gerak dalam sepak bola yang mudah untuk dilakukan, namun dalam pelaksanaannya gerakan ini harus
benar dari gerakan awal hingga akhir, karena akan berpengaruh pada hasil passing tersebut.
Keterampilan Menendang Sepak bola mengharuskan siswa untuk belajar keterampilan dasar sepak
bola. Keterampilan dasar tersebut seperti, keterampilan menendang yang meliputi menendang dengan
kaki bagian dalam, menendang dengan punggung kaki, dan mengontrol bola atau menghentikan bola.
Menendang dengan kaki bagian dalam Sikap awalan diawali dengan sikap berdiri menghadap
ke arah gerakan. Pandangan ke arah bola, badan condong ke belakang. Kaki tumpu berada di samping
bola berjarak satu kepal dan arah jari ke depan dengan lutut agak tertekuk. Pergelangan kaki yang
akan di gunakan menendang diputar keluar. Kaki ayun ditarik ke belakang membentuk sudut 30° ke
arah bola. Sikap perkenaan merupakan lanjutan dari sikap awalan, yaitu dengan sikap berdiri
menghadap ke arah gerakan. Pandangan lurus ke arah bola. Badan agak condong ke depan.Perkenaan
kaki bagian dalam pada permukaan tengah bola. Kaki tumpu dan kaki ayun membentuk sudut 90°.
Gerakan lengan berlawanan dengan ayunan kaki. Sikap Gerakan Akhir Pandangan ke arah tujuan
passing. Badan agak condong ke belakang. Tarik kaki yang akan di gunakan menendang ke belakang
lalu ayunkan ke depan ke arah bola. Gerakan lengan berlawanan dengan gerakan kaki ayun.
Penelitian ini berangkat dari tiga rumusan masalah: (a)bagaimanakah merencanakan pembelajaran passing dan menggiring bola dengan kaki bagian dalam (b) bagaimanakah melaksanakan
pembelajaran passing dan menggiring bola dengan kaki bagian dalam dan (c) ,bagaimanakah menilai
kompetensi siswa dalam pembelajaran passing dan menggiring bola dengan kaki bagian dalam di
SDN 001 Galang kecamatan Galang –Kota Batam.
Pada bagian penutup guru mengajak siswa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang
sudah dilaksanakan. Guru meminta siswa untuk menemukan nilai-nilai apa yang dapat dipetik dari
pembelajaran tersebut. Salah seorang siswa mengemukakan bahwa pembelajaran sangat bermanfaat
bagi kehidupan masyarakat sebagai makhluk sosial. Siswa lainnya berpendapat bahwa pembelajaran
.....memuat siswa yang bersangkutan bertambah rasa percaya dirinya. Pada intinya siswa merasa
senang dengan mengikuti pembelajaran yang baru saja dilaksanakan. Guru juga memberikan
penegasan bahwa kemampuan menendang bola bagian dalam sangat bermanfaat bagi siswa dalam
1018
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
mengarungi kehidupan yang nyata di masa mendatang. Tanpa memiliki kemampuan kemampuan
menendang bola bagian dalam siswa akan mengalami kesulitan dalam menghadapi hidup yang penuh
dengan persaingan.
Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda
sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh
peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210). Metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan,
baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok
bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000:22).
Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah
metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang
berkenaan dengan bahan pelajaran. Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai
untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses
maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan
mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat
mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Tujuan Metode Demonstrasi
Tujuan pengajaran menggunakan metode demonstrasi adalah untuk memperlihatkan proses
terjadinya suatu peristiwa sesuai materi ajar, cara pencapaiannya dan kemudahan untuk dipahami oleh
siswa dalam pengajarn kelas. Metode demonstrasi mempunyai beberapa kelebihan dan kelekurangan.
Manfaat Metode Demonstrasi
Manfaat psikologis dari metode demonstrasi adalah : Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan.
Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari. Pengalaman dan kesan sebagai
hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:211)
kelebihan dan kekurangan metode demonstrasi adalah sebagai berikut :
Kelebihan metode demonstrasi
Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingg hal
yang penting itu dapat diamati secara teliti. Di samping itu, perhatian siswa pun lebih mudah
dipusatkan kepada proses belajar mengajar dan tidak kepada yang lainya. Dapat membimbing siswa
ke arahberpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama. Ekonmis dalam jam pelajaran di
sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan
waktu yang pendek. Dapat mengurangi kesalahan-kesalahn bila dibandingkan dengan hanya membaca
atau mendengarkan,karena murid mendapatkan gambaan yang jelas dari hasil pengamatannya.Karena
gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak
Beberapa persoalan yang menimbulkan petanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses
demonstrasi.
Kekurangan metode demonstrasi
Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati keseluruhan
benda atau peristiwa yang didemonstrasikan kadang-kadang terjadiperubahan yang tidak terkontrol.
Untuk mengadakan demonstrasi digunakan ala-alat yang khusus, kadang-kadang alat itu susah
didapat. Demonstrasi merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang di demonstrasikan tidak
dapat diamati secara seksama. Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan leh peserta didik.Tidak semua
hal dapat didemonstrasikan di kelas. Memerlukan banyak waku sedangkan hasilnya kadang-kadang
1019
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
sangat minimum. Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan di kelas akan berbeda jika proses itu
didemonstrasikan dalam situasi nyata atau sebenarnya.Agar demonstrasi mendapaptkan hasil yang
baik diperlukan ketekitian dan kesabaran.
Dengan metode demonstrasi, proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan
secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna. Juga siswa dapat
mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung.Metode
demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang
berhubungan dengan proes mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu
proses mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu,
membandingkan suatu cara engan cara lain dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.
Hasil pelaksanaan pembelajaran meningkatkan kemampuan menendang bola menggunakan sisi kaki
bagian dalam dengan metode demonstrasi pada siswa SDN 001 Galang, Kota Batam.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) dan di laksanakan
dalam dua siklus .siklus kedua dilakukan jika pada siklus pertama belum berhasil dan setiap siklus
mengandung empat kegiatan, yakni (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan (3) observasi (4)
refleksi. Pada tahap, perencanaan penelitian melakukan (a) pelaksanaan menyusun RPP, (b)
mengembangkan media pembelajaran, (c) mengembangkan lembar observasi.pada tahap pelaksanaan,
peneliti melakukan pembelajaran sesuai dengan RPP. Pada tahap observasi peneliti menggunakan
rubric penilaian. Pada tahap refleksi peneliti melakukan diskusi untuk mengambil keputusanapakah
PTK masih berlanjut atau tidak. Untuk meningkatkan kemampuan menendang bola menggunakan sisi
kaki bagian dalam pada siswa kelas V SDN 001 Galang, Kota Batam.
PAPARAN HASIL DAN BAHASAN
Berikut dipaparkan tahap persiapan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran passing
menggunakan kaki bagian dalam. Perencanaan pembelajaran Sejumlah kegiatan persiapan dilakukan
agar pelaksanaan pembelajaran sepak bola berlangsung sukses. Pertama , menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran. Pada tahap ini peneliti mengembangkan KD menjadi tiga indikator : 1.
Menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam 2. Passing menggunakan kaki bagian dalam
3.mengontrol atau menahan bola. Selain itu, peneliti juga memilih media pembelajaran, yakni video
permainan sepak bola. Peneliti juga mengembangkan pedoman observasi yang akan menjadi
instrumen untuk memberikan seluruh proses yang ada dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam pedoman observasi berisi empat hal penting : (1). Bagai mana guru membuka
pelajaran, 2. Bagai mana guru mengola kelas, 3 bagai mana guru memanfaatkan media, dan 4,
bagaimana guru menutup pembelajaran. Pedoman observasi secara lengkap dicantumkan dalam
lampiran.1 Berikut dipaparkan tahap persiapan,pelaksanaan,dan penilaian pembelajaran kemampuan
bermain sepak bola.
Perencanaan Pembelajaran
Sejumlah kegiatan persiapan agar pelaksanaan pembelajaran passing menggunakan kaki bagian
dalam pada permainan sepak bola berlangsung sukses.Pertama,menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran.Pada tahap ini peneliti mengembangkan KD menjadi tiga indikator; (1).Menggiring
bola menggunakan kaki bagian dalam (2).passing menggunakan kaki bagian dalam (3).mengontrol
atau menahan bola selain itu,peneliti juga memilih media pembelajaran,yakni video bermain sepak
bola.
Pelaksanaan pembelajaran
Terdapat tiga langkah dalam pelaksanaan pembelajaran: kegiatan pendahuluan,guru
memberikan apersepsi dengan memutar video permainan sepak bola ,secara bersama-sama siswa–
1020
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
siswa memperhatikan permainan sepak bola tersebut dengan sungguh-sungguh. Setelah itu,guru
bersama-sama siwa melakukan apresiasi terhadap video permainan sepak bola yang sudah di
tampilkan dan di tonton secara bersama-sama .Dari apresiasi itu dapat diketahui bahwa sebuah
permainan sepak bola yang dilakukan dengan teknik sangat indah .Bagian pendahuluan diakhiri
dengan penyampaian kompetensi dasar yang akan dicapai. Dan ada beberapa bagian kegiatan yaitu:
Kegiatan Awal
Guru masuk kelas dengan mengucapkan salam,siswa menjawab salam yang di berikan guru.
Guru mengabsen siswa,kemudian berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Guru
menyuruh siswa berbaris di lapangan kemudian melakukan peregangan atau pemanasan.
Kegiatan Inti
Guru menjelaskan dan memperagakan materi yang akan di pelajari:
1. Guru mendemonstrasikan teknik menggiring bola menggunakan kaki bagian dalam yang benar
2. Guru mendemonstrasikan teknik passing menggunakan kaki bagian dalam
3. Guru mendemonstrasikan teknik mengontrol atau menahan bola yang benar
Kegiatan Akhir
Siwa di bariskan kembali,guru membimbing siswa untuk melakukan peregangan kembali dan
melakukan pendinginan. Guru memberikan kesimpulan tentang materi pembelajaran yang baru
laksanakan. Siswa di bubarkan
PENUTUP
Pada bagian penutup guru mengajak siwa melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang
sudah di laksanakan .Guru meminta siswa untuk menemukan nilai-nilai apa yang dapat di petik dari
pembelajaran tersebut.Salah satu siswa mengemukakan bahwa pembelajaran sangat bermanfaat bagi
kehidupan masyarakat sebagai makhluk sosial. Siswa lainnya berpendapat bahwa pembelajaran
membuat siswa yang bersangkutan bertambah percaya diri.pada intinya siswa merasa senang dengan
mengikuti pembelajaran yang baru saja dilaksanakan.
DAFTAR RUJUKAN
Purba, Hartono (2007). Pengaruh Metode Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar Siswa. Skripsi.
Medan : FT. UNIMED.
Bahri, Syaiful & Zain, Aswan (2005). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Sagala, Syaiful (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran. Jakarta : Alfabeta.
Syah, Muhibbin (2003). Psikologi Belajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
1021
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
PENINGKATAN PEMAHAMAN TEKS DESKRIPTIF
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
TANYA JAWAB KONSTRUKTIF TEMAN SEJAWAT
BAGI SISWA KELAS XII SMA NEGERI 2 BATU
Inna Nivanti
SMA Negeri 2 Batu
[email protected]
Abstrak: Berdasarkan pengamatan awal diketahui bahwa kemampuan pemahaman isi
bacaan teks deskriptif pada mata pelajaran Bahasa Inggris siswa Kelas XII-MIA-2 SMA
Negeri 2 Batu tergolong rendah. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan
pemahaman isi bacaan teks deskriptif menggunakan model pembelajaran Tanya-jawab
konstruktif antar teman sejawat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian
tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa KelasXII-MIA-2 SMA Negeri 2 Batu. Setelah melakukan penelitian dalam dua siklus, diperoleh
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa model pembelajaran Tanya-jawab konstruktif
antar teman sejawat dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam
pembelajaran pemahaman isi bacaan teks deskriptif.
Kata kunci: pemahaman bacaan, teks deskriptif, tanya-jawab konstruktif
Pemahaman bacaan merupakan keterampilan yang harus dikuasai siswa untuk mengetahui isi dari
suatu bacaan. Keterampilan ini diajarkan sejak siswa belajar di jenjang SMP. Guru SMP secara berkesinambungan mengajarkan keterampilan pemahaman bacaan kepada siswa, sehingga siswa
diharapkan memiliki kemampuan pemahaman bacaan dengan baik. Keterampilan ini dilanjutkan pada
jenjang SMA dengan materi dan kesulitan yang lebih tinggi.
Salah satu materi pemahaman bacaan yang diajarkan di jenjang SMA adalah pemahaman
bacaan teks deskriptif (Deppennas, 2006). Dalam bahasa Inggris, pemahaman bacaan dikenal dengan
istilah reading comprehension, yaitu merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diarahkan
pada pemahaman bacaan untuk mengetahui makna dari isi bacaan. Untuk memahami isi suatu buku
secara cepat dapat dilakukan melalui teknik skimming dan scanning. Untuk memahami isi artikel
ilmiah dapat dilakukan dengan cara memahami abstraknya. Pemahaman bacaan bisa dilakukan untuk
mencermati deatails dari suatu teks. Keterampilan pemahaman bacaan diajarkan pada siswa SMA
sampai di Kelas XII. Berdasarkan pengamatan peneliti terhadap pembelajaran Bahasa Inggris di SMA
Negeri 2 Batu, khususnya pemahaman bacaan siswa tergolong rendah. Diketahui bahwa nilai rata-rata
yang dicapai siswa sebelum dilaksanakan penelitian ini adalah 61,71. Padahal rata-rata standar
minimal yang seharusnya dicapai adalah 75.
Menurut pengamatan, diketahui bahwa hal ini dikarenakan kurangnya variasi pendekatan dan
metode pada penyampaian materi membaca, sehingga terkesan monoton. Siswa hanya diberi bacaan,
kemudian diminta membaca, diikuti dengan sederetan pertanyaan terkait isi bacaan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pun mempunyai kesulitan yang cukup tinggi. Akibatnya,
tingkat kemampuan pemahaman bacaan siswa tidak optimal. Oleh sebab itu, perlu ada tindak-lanjut
untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan sesuai dengan kondisi kelas untuk
meningkatkan kemampuan pemahaman bacaan.
Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan, model pembelajaran „tanya-jawab konstruktif
teman sejawat‟ dipandang tepat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di atas. Tanya-jawab
konstruktif antar teman sejawat, termasuk salah satu model pembelajara cooperative learning yang
1022
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis, yaitu suatu program
komprehensif untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah menengah
atas. Seperti halnya tipe „team-assisted individualized learning‟, tipe ini didesain untuk
mengakomodasi rentang tingkat kemampuan siswa yang luas dalam suatu kelas dengan menggunakan
teknik berpasangan dalam kelas secara heterogen dan homogen.
Lebih lanjut, Slavin (2010:210) mengemukakan bahwa model pembelajaran cooperative
learning adalah salah satu model pembelajaran yang paling efektif dalam pembelajaran membaca,
menulis, dan seni berbahasa. Pengembangan model pembelajaran tanya-jawab antar teman sejawat
dihasilkan dari sebuah analisis masalah-masalah tradisional dalam pengajaran membaca, menulis, dan
seni berbahasa. Berdasarkan hasil analisis masalah-masalah tradisional dalam pengajaran membaca
maka digunakanlah model pembelajaran tanya jawab konstruktif antar teman sejawat sebagai model
untuk penyelesaian masalah membaca. Model pembelajaran tanya-jawab antar teman sejawat dikembangkan dari Dansereus (dalam Syaifurahman & Ujiati, 2013:77) dengan langkah-langkah
sebagai berikut: a) siswa membentuk tim dengan anggota 2 orang secara heterogen atau homogen, b)
guru memberikan bacaan, c) siswa bekerja sama membuat pertanyaan dari bacaan, d) siswa menukar
pertanyaan bacaan dengan kelompok siswa yang lain untuk di jawab, e) setelah pertanyaan selesai
dijawab, lalu dikembalikan pada kelompok pembuat pertanyaan untuk dikoreksi, didiskusikan dan
diberikan nilai, f) guru memastikan pemahaman siswa dengan memberikan beberapa pertanyaan
bacaan secara tertulis dan memberi penguatan, dan g) penutup.
Kelebihan model pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat dipaparkan
sebagai berikut. (1) Siswa dapat memberikan pertanyaan secara bebas. (2) Siswa dilatih untuk dapat
bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain sehingga model pembelajaran tanya-jawab antar
teman sejawat amat tepat untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan siswa dalam memahami
isi bacaan. (3) Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang. (4) Siswa termotivasi pada hasil secara
teliti, karena bekerja dalam tim. (5) Siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek
pekerjaannya. (6) Model pembelajaran tanya-jawab antar teman dapat membantu siswa yang lemah.
(7) Model pembelajaran tanya-jawab antar teman sejawat meningkatkan hasil belajar yang berbentuk
pemahaman bacaan. (8) Siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam
perbedaan suku, agama, kemampuan akademik, dan tingkat sosial. (9) Siswa dapat mengembangkan
keterampilan sosial, seperti: berbagi tugas, aktif bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat orang
lain, memancing teman untuk bertanya dan menjawab, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja
dalam tim, dan sebagainya.
Sebagai sebuah model, tanya-jawab konstruktif antar teman ini juga memiliki kelemahan,
antara lain: (1) pada saat penyusunan soal siswa akan mengalami kesulitan dalam menentukan soal
dan tatabahasa pada soal yang akan dibuat, (2) siswa akan mengalami kesulitan dalam menjawab
pertanyaan teman yang tidak jelas, (3) siswa tidak objektif dalam memberikan nilai pada jawaban
teman.
Berdasarkan latar belakang di atas, dilakukan penelitian yang dimaksudkan untuk
meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa untuk pemahaman bacaan. Karenanya, penelitian
ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mendeskripsikan peningkatan ketrampilan siswa dalam
membuat pertanyaan dan jawaban terhadap isi bacaan teks deskriptif dengan model pembelajaran
tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat, dan (2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan pemahaman siswa Kelas XII SMA Negeri 2 Batu melalui model pembelajaran tanya-jawab konstruktif
antar teman sejawat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas. Tahap-tahap penelitian tindakan berupa
siklus, meliputi: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi (Arikunto dkk., 2009).
1023
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Perencanaan
Refleksi
Siklus I
Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi
Siklus II
Pelaksanaan
Pengamatan
?
Gambar 1. Tahapan siklus penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas XII-MIA-2 SMA Negeri 2 Batu yang
berjumlah 28 siswa, dengan rincian 8 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan, beralamat di Jl.
Hasanudin, Junrejo Batu. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen penelitian berupa
panduan observasi, soal tes, serta panduan studi dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap proses
pembelajaran dan proses penilaian. Tes dilakukan untuk mengumpulkan skor guna mengetahui
tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang sudah disampaikan. Dokumentasi dilakukan terhadap
dokumen perangkat pembelajaran yang disiapkan guru.
Data yang dianalisis berupa informasi tentang isi perangkat pembelajaran, aktivitas guru saat
mengelola pembelajaran, aktivitas siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran, serta informasi
hasil belajar siswa. Selain itu dianalisis pula data berupa informasi hasil diskusi refleksi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dibedakan atas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran pemahaman isi
bacaan teks deskriptif melalui metode tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat pada mata
pelajaran Bahasa Inggris siswa Kelas XII-MIA-2 SMA Negeri 2 Batu.
Proses Pembelajaran
Kegiatan siswa dapat diamati pada saat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Pengamatan
kegiatan siswa yang dilakukan sejak pra-siklus, dan dilanjutkan dengan pengamatan dalam siklussiklus yang ditujukan untuk mencapai peningkatan kemampuan pemahaman bacaan melalui model
pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat, dipaparkan sebagai berikut.
Siklus 1
Pada Siklus 1 ini, tahap perencanaan diisi dengan: (1) pengembangan RPP, perangkat
pembelajaran, beserta skenario tindakan yang digunakan dalam proses pembelajaran menggunakan
model tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat; (2) penyiapan panduan dan lembar observasi
pengelolaan kelas menggunakan model pembelajaran yang akan diterapkan, dan lembar observasi
keaktifan siswa; (3) penyiapan media pembelajaran, meliputi buku ajar Bahasa Inggris dan LKS; (4)
penyiapan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas; (6) penyiapan instrumen tes hasil
belajar berupa tes essay yang diambil dari bacaan teks deskriptif yang diberikan kepada siswa; serta
(7) pengembangan alat evaluasi pada setiap siklus yang meliputi penilaian proses dan penilaian hasil
belajar siswa, baik secara individu maupun kelompok.
1024
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Tahap pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai skenario yang telah direncanakan
menggunakan model pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat. Pembelajaran
dengan model tanya-jawab konstruktif ini merupakan hal baru bagi siswa Kelas XII-MIA-2 SMA
Negeri 2 Batu. Hal pertama yang dilakukan guru (peneliti) adalah memberikan penjelasan dan
langkah-langkah model pembelajaran yang digunakan kepada siswa, dan memberikan pengertian
bahwa siswa harus dapat bekerja sama dengan baik dalam mengerjakan tugas tim.
Setelah guru menjelaskan garis besar skenario pembelajaran, siswa membentuk kelompok
beranggotakan 2 orang. Lalu secara berpasangan siswa membaca teks bacaan yang diberikan oleh
guru. Tiap kelompok memperoleh 1 eksemplar teks bacaan yang sama sehingga aktivitas membaca
dapat dilakukan secara berpasangan dalam satu kelompoknya. Kemudian siswa berdiskusi untuk
membuat pertanyaan dari teks deskriptif tersebut. Setelah semua siswa dalam kelompok selesai
membuat pertanyaan bacaan dan menukar pertanyaan bacaan tersebut dengan kelompok yang lain,
selanjutnya secara bekelompok pula siswa menjawab pertanyaan bacaan teman, setelah masingmasing kelompok selesai menjawab pertanyaan bacaan dari kelompok yang lainnya, maka hasilnya
diserahkan kembali pada kelompok asal pembuat soal untuk dikoreksi, didiskusikan dan diberikan
nilai. Nilai tersebut yang kemudian diserahkan kepada guru. Setelah itu guru memberikan test untuk
mengetahui tingkat pemahaman siswa secara individu.
Suasana sempat gaduh saat siswa mendapatkan teks bacaan karena mereka tidak mengetahui
untuk apa membaca teks tersebut. Beberapa siswa dalam kelompok yang belum atau sudah selesai
membaca pun bergurau. Namun siswa segera diam setelah guru menghampiri kelompok. Kemudian
siswa kembali membaca teks dengan serius secara berpasangan.
Ketika membuat pertanyaan, ada siswa yang tampak antusias berdiskusi untuk membuat
pertanyaan, tapi ada juga siswa yang tampak bingung tentang cara membuat pertanyaan. Beberapa
siswa berdebat dengan pasangannya masing-masing. Melihat adanya keributan kecil dalam setiap
kelompok, guru pun mengajukan tawaran bagi siswa yang ingin bertanya.
Guru
Siswa A
Guru
Siswa B
Guru
Siswa B
Guru
: Do you have any difficulties?
: Yes, ma’am. I have difficulties to make good questions.
: Okay, who wants to help your friend to make good questions?
: May I try, mom?
: Oh yes, of course, you can try to explain for your friend.
: To make good questions, we can use ‘to be’ for answer yes or no.
: That’s a good girl. It’s right. Who wants to give another explanation?
Dari percakapan tersebut terlihat bahwa siswa antusias untuk mengetahui cara membuat pertanyaan
bacaan yang benar.
Pasangan siswa yang lainnya mulai mencoba membuat pertanyaan bacaan, sedangkan yang
lainnya masih ingin mendengarkan keterangan temannya untuk membuat pertanyaan yang bagus,
seperti:
Siswa C : Ma’am, may I try?
Guru
: Yes, okay, please try to give your explanation.
Siswa C : To make good questions, we can use 5 Wh-word questions plus how in the beginning of
questions.
Guru
: Yes, you’re right. What are 5 Wh- word questions plus how?
Siswa C : 5 Wh- word questions plus how are what, where, when, who, why, and how.
Percakapan di atas menunjukkan bahwa beberapa siswa mengetahui cara membuat pertanyaan dengan
benar. Selanjutnya guru memberi penguatan terhadap keterangan yang diberikan siswa tentang
1025
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
penulisan dan pembuatan pertanyaan yang benar dengan lebih detail. Siswa tampak puas dengan
penjelasan guru. Siswa pun melanjutkan kerjasamanya dalam membuat pertanyaan dari teks yang
diberikan.
Gambar 2. Siswa Bekerjasama Membuat Pertanyaan Bacaan
Selanjutnya, setelah proses pembuatan pertanyaan, siswa menukar hasil kerjanya dengan
kelompok yang lain untuk dijawab oleh kelompok lain, demikian juga sebaliknya. Setelah kelompok
yang lain memberikan jawaban maka hasilnya diserahkan kembali kepada kelompok pembuat
pertanyaan untuk diperiksa dan diberikan penilaian, kemudian nilai yang telah diberikan diserahkan
pada guru.
Pengamatan dilakukan bersamaan dengan tahap pelaksanaan. Pengamatan dilakukan oleh
teman sejawat dengan berpedoman pada lembar observasi. Pada tahap pengamatan, siswa tampak
serius ketika membuat pertanyaan berdasarkan bacaan yang telah dibacanya. Salah seorang siswa
dalam tiap kelompok tampak serius menulis pertanyaan yang didiktekan temannya. Beberapa siswa
tampak santai, ada yang masih berjalan jalan mencari informasi pada kelompok lain, atau mengobrol
dengan teman sebangku. Namun, sebagian besar siswa masih konsisten serius dengan proses
membuat pertanyaan.
Dari hasil refleksi Siklus 1 diperoleh temuan bahwa siswa mendapat kesulitan memahami
bahasa Inggris yang digunakan guru, banyak siswa yang belum memahami metode pembelajaran yang
diterapkan, banyak juga siswa yang belum memahami tentang cara menentukan pertanyaan bacaan
karena penjelasan lisan dari guru sulit dipahami. Siswa baru merasa jelas dan paham setelah
penjelasan lisan itu ditambah dengan dialog serta tanya-jawab antara guru dengan siswa, dan antara
siswa dengan siswa. Dari hasil refleksi ini, hal yang harus diperbaiki adalah penggunaan bahasa
Inggris yang perlu disesuaikan dengan tingkat penguasaan bahasa Inggris siswa. Masukan lainnya,
karena pembelajaran terkesan berlangsung buru-buru, maka perlu dilakukan tambahan alokasi waktu
pelaksanaan pembelajaran. Penambahan itu perlu direncanakan dalam RPP. Terkait aktivitas
kelompok, tampaknya diperlukan penghargaan untuk kelompok (tim) agar dapat meningkatkan
semangat belajar dan kualitas kerja siswa. Untuk ini semua, diperlukan siklus berikutnya, yaitu Siklus
2.
Siklus 2
Pelaksanaan Siklus 2 dilakukan berdasarkan hasil refleksi Siklus 1. Sejumlah revisi dilakukan
pada RPP, yaitu penambahan alokasi waktu bekerjasama dalam menentukan pertanyaan bacaan dari
semula 20 menit menjadi 30 menit, menjawab pertanyaan dari kelompok lain dari semula 20 menit
menjadi 30 menit, dan pengurangan alokasi waktu pembukaan dan penutup dari 10 menit menjadi 5
1026
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
menit. Selain itu, pada langkah penegasan kembali materi oleh guru ditambahkan aktivitas pemberian
penghargaan untuk tim terbaik.
Pada pelaksanaan pembelajaran dalam Siklus 2, guru tampak telah berupaya memperbaiki
bahasa Inggris yang digunakan untuk penyampaian materi pembelajaran. Pilihan-pilihan kata telah
dicesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa. Cara menyapa dan berdialog pun tampak dapat
dinikmati oleh siswa. Dampaknya, tidak banyak pertanyaan siswa terkait prosedur pembelajaran
dalam tanya-jawab maupun cara membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan bacaan. Kelas berlangsung lebih tertib dan lancar. Beberapa anak yang pada Siklus 1 tampak sering bergurau atau
berjalan-jalan, telah ditegur sendiri oleh teman sebangkunya. Artinya, mereka telah semangat
mengikuti pembelajaran, sehingga tidak merelakan ada teman yang tidak serius mengikuti pembelajaran.
Penyampaian materi pembelajaran sudah sesuai dengan perkembangan pola pikir siswa dan
tak terlalu terburu-buru, cara menerapkan model pembelajarannya mulai bisa dimengerti, dan
komitmen awal dalam hal menjawab pertanyaan sudah ditetapkan. Pada saat guru memberikan
pertanyaan, siswa merespon satu persatu, tidak bersama-sama sehingga dalam menjawab pertanyaan
terkesan sungguh-sungguh. Langkah-langkah dalam RPP yang sudah diperbaiki, telah membantu guru
saat melaksanakan proses pembelajaran. Guru kembali memberikan penjelasan kepada siswa tentang
peran dan tugasnya dalam kelompoknya. Guru memberi penguatan agar siswa termotivasi untuk
membuat kelompoknya untuk menjadi kelompok yang terbaik dengan mendapatkan nilai kelompok
yang maksimal. Akhirnya, kelompok Power Ranger berhasil pertama kali mengumpulkan penilaian.
Karena keterbatasan waktu siswa diperintahkan untuk mengumpulkan hasil penilaian dari tim saja.
Pada saat itu guru menjelaskan bagaimana cara mendapatkan skor penilaian agar siswa lebih aktif lagi
agar memperoleh nilai yang maksimal, yaitu individu harus aktif dan berusaha mendapat nilai terbaik
pada tes individu. Hasil tes individu yang diperoleh akan mempengaruhi nilai tim dalam memperoleh
penghargaan.
Pengamatan pada Siklus 2 dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pembelajaran. Para
siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran yang demikian, walaupun masih perlu penjelasan.
Guru memberi penguatan agar semua kelompok dapat menyelesaikan hasil kerja mereka dengan baik.
Namun, seperti siklus sebelumnya masih ada beberapa siswa yang tidak serius melakukan tugasnya.
Guru memberikan penjelasan bahwa mengerjakan tugas dengan sungguh adalah awal yang baik.
Gurupun mulai aktif mendekati para siswa yang kesulitan dalam membuat pertanyaan, dan menegur
siswa yang terlihat tidak ikut membantu temannya mengerjakan tugas, banyak bermain, dan melamun,
bahkan mengantuk. Secara umum, hasil nilai siswa pada Siklus 2 meningkat.
Hasil refleksi pada Siklus 2 menunjukkan adanya dampak bagi guru dan siswa. Hal ini dapat
dilihat dari peningkatan keaktifan siswa secara klasikal, dibandingkan dengan pada Siklus I. Pada
Siklus 2 sebagian besar siswa cukup aktif dalam pembelajaran, malah sebagian besar siswa memiliki
keaktifan yang baik dalam pembelajaran. Hasil belajar atau ketuntasan siswa dari prasiklus yang
tergolong rendah menjadi meningkat pada Siklus 1, dan pada Siklus 2 lebih meningkat lagi melebihi
nilai rata rata ketuntasan minimal. Karena pada Siklus 2 nilai ketuntasan siswa telah meningkat dan
melebihi nilai rata-rata ketuntasan minimal, maka diputuskan bahwa penelitian dihentikan sampai
pada Siklus 2 saja.
Nilai rata-rata keaktifan siswa pada Siklus 1 adalah 34, dengan prosentase 19% yang termasuk dalam
katergori kurang. Pada Siklus 2 nilai rata-rata keaktifan siswa menjadi 64, dengan prosentase 36%
yang termasuk dalam kategori cukup.
1027
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Rata-rata Peningkatan36%
Keaktifan Siswa
Persentase
40%
19%
20%
0%
Siklus I
Siklus II
Rata-rata Keaktifan
Grafik 1. Rata-rata peningkatan keaktifan siswa
Pada grafik 1 terlihat bahwa pada Sikus 2 telah terjadi peningkatan 17% dari Siklus 1.
Hasil Belajar Siswa
Data hasil belajar (Nilai Akhir) siswa diambil dari hasil tes individu, skor individual dan skor tim.
Kemajuan siswa dilihat dari poin yang didapat dengan menjawab pertanyaan dari dua bacaan teks
deskriptif. Data hasil belajar siswa diperoleh dari nilai siswa dan nilai tes akhir siklus. Adapun analisis
data hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Analisis Hasil Belajar Siswa
PRASIKLUS
SIKLUS I
PRESTASI
JUM.
JUM.
SISWA
%
%
SISWA
SISWA
SIKLUS II
JUM.
%
SISWA
KET.
JUM.
Nilai <75
21
75
8
29
2
7
Belum Tuntas Belajar
Nilai ≥ 75
7
25
20
71
26
93
Tuntas Belajar
Jumlah
28
100
28
100
28
100
Nilai Rata-rata
61,71
Ketuntasan
BELUM TUNTAS
Klasikal
76,14
83,07
TUNTAS
TUNTAS
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pada prasiklus 7 (25%) siswa yang
mengalami ketuntasan belajar dengan perolehan nilai 75 atau lebih, sesuai dengan KKM kelas. Nilai
rata-rata kelas pada prasiklus adalah 61,71. Pada Siklus 1 terjadi peningkatan, yaitu terdapat 20 (71%)
siswa yang mengalami ketuntasan belajar, dengan nilai rata-rata kelas 76,14. Selanjutnya, pada Siklus
2 terdapat 26 (93%) siswa yang mengalami ketuntasan belajar, dengan nilai rata-rata kelas 83,07.
Pada Siklus 2 sudah terjadi ketuntasan belajar secara klasikal.
Data skor kemajuan siswa secara individual diperoleh dari nilai dasar (nilai prasiklus) dan
nilai akhir. Adapun analisis data hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel berikut.
1028
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Tabel 2. Analisis hasil skor kemajuan individu
Poin
Kemajuan
5
10
20
30
Jumlah
Siklus I
Jumlah Siswa
3
5
4
16
28
%
10,71
17,86
14,29
57,14
100
Siklus II
Jumlah Siswa
%
2
7,14
2
7,14
5
17,86
19
67,86
28
100
Berdasarkan Tabel 2 di atas, diketahui pada Siklus 1 terdapat 3 (10,71%) siswa yang mendapat poin
kemajuan 5, terdapat 5 (17,86%) siswa yang mendapat poin kemajuan 10, terdapat 4 (14,29%) siswa
yang mendapat poin kemajuan 20, terdapat 16 (57,14%) siswa yang mendapat poin kemajuan 30. Pada
Siklus 2 terdapat 2 (7,14%) siswa yang mendapat poin kemajuan 5, terdapat 2 (7,14%) siswa yang
mendapat poin kemajuan 10, terdapat 5 (17,86%) siswa yang mendapat poin kemajuan 20, terdapat 7
(26,92%) siswa yang mendapat poin kemajuan 30. Hal ini berarti pada Siklus 1 terdapat 8 (28,57%)
siswa yang mengalami penurunan nilai, dan 20 (71,43%) siswa mengalami peningkatan nilai.
Sedangkan pada Siklus 2 terdapat 4 (14,29%) siswa yang mendapat penurunan nilai, dan 24 (85,71%)
siswa mendapat peningkatan nilai.
Data skor kemajuan kelompok diperoleh dari skor individu. Adapun analisis data skor kemajuan
kelompok dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3. Analisis hasil skor kemajuan kelompok
No.
1.
2.
3.
Penghargaan
Kelompok
Tim Baik
Tim Sangat Baik
Tim Super
Jumlah
Siklus I
Jumlah Tim
7
5
2
14
%
50
36
14
100
Siklus II
Jumlah Tim
%
2
14
11
79
1
7
14
100
Berdasarkan tabel di atas, diketahui pada Siklus 1 terdapat 5 tim yang mendapat penghargaan
sebagai tim sangat baik (36%), yaitu tim Snoopy, Ultramen, Doraemon, Shincan dan tim Tom-andJerry, dan 2 tim yang mendapat penghargaan sebagai tim super (14%), yaitu tim Scooby-do dan tim
Mr. Bean. Pada Siklus 2 terdapat 2 tim, yaitu tim Upin-Ipin dan Shincan yang mendapat penghargaan
sebagai tim baik (14%) dan 11 tim yang mendapat penghargaan sebagai tim sangat baik (79%), yaitu
tim Naruto, Sailor Moon, Sponge Bob, Scooby-do, Snoopy, Power Ranger, Mr. Bean, Ultramen,
Doraemon, Shincan, dan Tom-and-Jerry, serta 1 tim yang mendapat penghargaan sebagai tim Super
(7%), yaitu tim Barbie.
Model pembelajaran tanya-Jawab konstruktif antar teman sejawat memungkinkan terjadinya
kerjasama yang baik antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa. Hal ini sejalan dengan
pendapat Anna (dalam Asmani, 2016) yang mengatakan bahwa guru hanyalah berperan sebagai
mediator, fasilitator, dan teman yang membuat situasi menjadi kondusif bagi terjadinya konstruksi
pengetahuan pada diri siswa. Hal ini dapat dilihat bahwa siswa dapat mengembangkan ketrampilan
sosial seperti berbagi tugas, aktif bertanya, mau menjelaskan ide atau pendapat orang lain, memancing
teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide, atau bekerja dalam kelompok, dan sebagainya. Hal yang
demikian terjadi di kelas yang menjadi subjek penelitian ini, dimana siswa tampak antusias dalam
berinteraksi dengan teman sejawat.
1029
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Keaktifan siswa seperti tersebut di atas sejalan dengan pendapat Suyatno (2009) tentang
kelebihan model pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat. Dengan model
pembelajaran ini, siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. Siswa juga dilatih bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain. Model pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman
sejawat amat tepat untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan siswa dalam pemahaman
bacaan. Dengan model pembelajaran ini pula, dominasi guru dalam pembelajaran jadi berkurang.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut. 1)
Kemampuan guru dalam merencanakan dan mengelola pembelajaran melalui model pembelajaran
tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat pada materi teks deskriptif dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. 2) Keaktifan siswa dengan model pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman
sejawat pada materi teks deskriptif dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini, peneliti menuliskan beberápa saran sebagai berikut: 1)
supaya dapat mencapai kualitas proses belajar mengajar dan kualitas hasil belajar yang baik dalam
pembelajaran dengan model pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat pada materi
membaca, maka diperlukan persiapan perangkat pembelajaran yang cukup memadai, misalnya RPP,
buku siswa dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus dimiliki oleh setiap siswa, dan instrumen
penilaian baik untuk penilaian formatif maupun sumatif; 2) agar dapat melaksanakan model
pembelajaran tanya-jawab konstruktif antar teman sejawat, maka terlebih dahulu harus menyamakan
persepsi antara semua pihak khususmya antara guru dan siswa, bahwa model pembelajaran tanyajawab konstruktif antar teman sejawat bukan suatu tujuan belajar melainkan salah satu cara untuk
mencapai tujuan belajar; 3) dalam pelaksanaan pembelajaran, diperlukan persiapan terutama
pengetahuan dan keahlian guru, penyiapan siswa, serta fasilitas pendukung PBM.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Asmani, J.M. 2016. Tips Efektif Cooperative Learning. Yogyakarta: DIVA.
Deppennas. 2006. Standar Isi 2006: Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Jakarta: BSNP.
Slavin, R.E. 2010. Cooperative Learning Teori Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.
Syaifurahman dan Ujiati, T. 2013. Manajemen dalam Pembelajaran. Jakarta: Permata Puri Media.
1030
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENEMUKAN NILAI-NILAI DALAM
HIKAYAT MELALUI METODE KOOPERATIF JIGSAW
PADA SISWA KELAS X TEKNIK KIMIA
SMK NEGERI 2 BATU
Fatimah
SMK Negeri 2 Batu
[email protected]
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan kemampuan menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat melalui metode kooperatif jigsaw pada
siswa kelas X Teknik Kimia SMK Negeri 2 Batu. Penelitian ini dilakukan dengan desain
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus. Pembelajaran kooperatif jigsaw
dilakukan dengan langkah-langkah: (1) penjelasan materi, (2) pembagian siswa dalam
beberapa kelompok kecil, (3) pemberian masalah yang berbeda pada setiap anggota, (4)
diskusi tim ahli (setiap anggota dari kelompok yang berbeda akan bergabung dalam tim
ahli yang bertugas memecahkan satu masalah yang sama), (5) penjelasan tim ahli dalam
kelompok asal, (6) presentasikan hasil diskusi dalam diskusi kelas, dan (7) pemberian
evaluasi kepada siswa secara individu. Pembelajaran tersebut dapat meningkatkan hasil
belajar siswa dari 71,20 pada siklus I menjadi 79,40 pada siklus II.
Kata kunci: kooperatif, jigsaw, hasil belajar, teks hikayat.
Dalam silabus Kemendibud (2016) disebutkan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia dimaksudkan
untuk membina dan mengembangkan kepercayaan diri siswa sebagai komunikator, pemikir (termasuk
pemikir imajinatif), dan menjadi warga negara Indonesia yang melek literasi dan informasi.
Pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan membina dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap berkomunikasi yang diperlukan siswa dalam menempuh pendidikan, hidup di lingkungan
sosial, dan berkecakapan di dunia kerja.
Lebih lanjut dalam silabus (Kemendikbud, 2016) juga disebutkan bahwa Kurikulum 2013
mata pelajaran Bahasa Indonesia secara umum bertujuan agar siswa mampu mendengarkan,
membaca, memirsa (viewing), berbicara, dan menulis. Kompetensi dasar dikembangkan berdasarkan
tiga hal lingkup materi yang saling berhubungan dan saling mendukung pengembangan kompetensi
pengetahuan kebahasaan dan kompetensi keterampilan berbahasa (mendengarkan, membaca, memirsa, berbicara, dan menulis) siswa. Kompetensi sikap secara terpadu dikembangkan melalui
kompetensi pengetahuan kebahasaan dan kompetensi keterampilan berbahasa. Ketiga hal lingkup
materi tersebut adalah bahasa (pengetahuan tentang Bahasa Indonesia); sastra (pemahaman, apresiasi,
tanggapan, analisis, dan penciptaan karya sastra); dan literasi (perluasan kompetensi berbahasa
Indonesia dalam berbagai tujuan khususnya yang berkaitan dengan membaca dan menulis).
Dalam lingkup sastra, siswa diharapkan dapat memahami, mengapresiasi, memberikan
tanggapan, menganalisis, dan menciptakan teks sastra baik puisi, prosa, maupun drama. Ketika
mengapresiasi, siswa harus dapat menemukan dan memahami nilai-nilai yang terkandung dalam
berbagai bentuk karya sastra baik yang tersurat maupun yang tersirat. Kurikulum 2013 menuntut
siswa aktif menemukan informasi terkait dengan materi yang sedang disampaikan. Selain itu, siswan
juga dituntut mampu berperan aktif dalam memperkaya dirinya dengan ilmu yang disampaikan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 berbasis pada teks. Salah satunya
adalah teks hikayat yang diajarkan pada semester I kelas X. Hikayat adalah karya sastra yang
berkembang di masyarakat dengan tujuan mengajarkan nilai-nilai yang baik. Dalam KBBI (2008)
hikayat (cerita rakyat) diartikan sebagai cerita dari zaman dahulu yang hidup di kalangan rakyat dan
diwariskan secara lisan. Sedangkan hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang
1031
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis atau
gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk
meramaikan pesta. Contohnya Hikayat Bunga Kemuning, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Indra
Bangsawan, Hikayat Hang Tuah dan lain-lain. Dalam konteks pembelajaran Kurikulum 2013, cerita
rakyat yang digunakan lebih mengacu pada hikayat.
Sebagai bentuk karya sastra, hikayat mengandung beberapa nilai baik tersurat maupun
tersirat. Nilai-nilai tersebut di antaranya nilai religius, nilai sosial, nilai moral, nilai pendidikan, nilai
estetika, nilai politis, nilai etika, nilai kemanusiaan, dan nilai budaya.
Nilai religius adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan ketuhanan. Religius juga dapat
bermakna nilai keagamaan karena dihubungkan dengan agama yang dianut oleh para tokoh. Nilai
sosial adalah nilai yang berhubungan dengan kehidupan bermasyarakat, hubungan timbal-balik
antarmanusia. Dalam KBBI (2008) nilai sosial diartikan sebagai nilai-nilai yang berkenaan dengan
tata pergaulan antara individu dan masyarakat. Secara umum sosial berkenaan dengan masyarakat;
suka memperhatikan kepentingan umum (suka menolong, menderma, dan sebagainya). Nilai moral
adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan akhlak/ perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi
nilai moral yang baik, bisa juga nilai moral yang buruk/jelek. Secara umum, moral menyaran pada
pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,
dan sebagainya; aklak; budi pekerti; susila (KBBI, 2008). Nilai pendidikan/ edukasi yaitu nilai yang
berhubungan dengan perubahan tingkah laku dari buruk/jelek menjadi baik. Nilai estetika adalah nilai
yang berhubungan dengan keindahan atau hal-hal yang menarik/menyenangkan. Nilai etika yaitu nilai
yang berkaitan dengan sopan santun dalam kehidupan. Nilai politis adalah nilai yang berhubungan
dengan pemerintahan. Sedangkan nilai budaya berhubungan dengan kebiasaan masyarakat atau adat
istiadat yang berlaku dalam masyarakat tertentu.
Pencapaian skor setara KKM oleh siswa dalam pembelajaran materi mengindentifikasi nilainilai dalam teks hikayat yang penulis lakukan sering tidak optimal. Teridentifikasi bahwa siswa
mengalami kesulitan untuk menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Siswa belum
mampu mengidentifikasi perbedaan antara nilai satu dengan nilai yang lainnya; misalkan antara nilai
sosial dengan nilai moral. Berdasarkan proses pembelajaran yang dilakukan, guru menggunakan
media berupa wacana yang dibagikan kepada siswa untuk dibaca dan diidentifikasi nilai yang
terkandung di dalamnya secara individu. Ternyata, dari 29 siswa hanya 55% yang memenuhi KKM.
Selain kemampuan mengidentifikasi nilai-nilai dalam hikayat yang masih kurang, metode
yang dilakukan guru juga menjadi sebab tidak maksimalnya pembelajaran. Sehingga diperlukan
sebuah metode agar siswa mampu menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat. Metode
pembelajaran ini harus dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat dan memberikan ruang bagi
siswa untuk menyampaikan ide/gagasan yang dimiliki dalam diskusi, baik diskusi kelompok maupun
diskusi kelas.
Kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa dalam materi ini adalah mengidentifikasi nilainilai dan isi yang terkandung dalam hikayat (KD 3.7) dan menceritakan kembali isi hikayat yang
didengar atau dibaca (KD 4.7). Agar dapat mencapai kompetensi tersebut, dilakukan dengan metode
kooperatif model jigsaw.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok
kecil siswa dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran (Ismawati,
2011: 126). Salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif adalah jigsaw. Jigsaw pertama kali
dikembangkan oleh Elliot Arronson di Universitas Texas dan merupakan salah satu metode
pembelajaran yang berhasil dikembangkan oleh Robert E. Slavin. Menurut Arends seperti yang
dikutip oleh Novi Emildadiany (2008) mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw
adalah suatu model pembelajaran yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang
bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut
kepada anggota kelompok yang lain. Metode kooperatif jigsaw adalah sebuah metode pembelajaran
1032
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
yang dapat mengaktifkan siswa secara keseluruhan karena dalam metode ini siswa memiliki tanggung
jawab yang sama besar untuk mempelajari materi yang menjadi bagiannya.
Iran (dalam Mistiah, 2016) mengemukakan bahwa pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan
aktivitas dan kreativitas siswa. Langkah-langkah penerapan pembelajaran Kooperatif model Jigsaw
dijelaskan berikut. Setiap siswa adalah anggota dari dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok asal
dan kelompok ahli. Prinsipnya guru membagi topik besar menjadi sub-sub topik. Siswa memulai
pelajaran dalam kelompok-kelompok asal. Pada Kooperatif model Jigsaw, setiap anggota kelompok
asal diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan dan memahami salah satu sub topik. Untuk
memahami sub-sub topik setiap anggota tim harus berkerja sama dengan anggota kelompok lain untuk
berbagi pengetahuan secara efektif. Selanjutnya setiap siswa menjadi “ahli” dan mengajarkan ke
anggota kelompok asalnya.
Menurut Loong (dalam Mistiah, 2016), pembelajaran Kooperatif model Jigsaw memiliki
langkah-langkah: (1) penjelasan dari guru, (2) siswa bekerja di kelompok ahli untuk menyelesaikan
masalah yang berbeda, (3) siswa kembali ke kelompok asal untuk saling menjelaskan hasil pekerjaan
di kelompok ahli kepada temannya, (4) kuis, dan (5) pemberian penghargaan. Dalam kooperatif
Jigsaw para siswa dimotivasi untuk mempelajari materi pembelajaran yang diberikan sebaik mungkin
dan bekerja keras di dalam kelompok ahli sehingga dapat membantu anggota kelompok lainnya.
Dalam penelitian ini dilakukan pembelajaran Kooperatif model Jigsaw pada materi
menemukan nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat dan menceritakan kembali hikayat yang telah
dibaca. Hal ini dilandasi oleh adanya masalah dalam pembelajaran di kelas X Teknik Kimia SMK
Negeri 2 Batu. Siswa mengalami kesulitan dalam menemukan nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat.
Kesulitan-kesulitan siswa dalam menemukan nilai-nilai dalam hikayat juga dipengaruhi
model pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Selama ini pembelajaran yang dilakukan dengan
langkah guru memberikan penjelasan materi, memberikan contoh soal dan memberikan jawaban
kemudian memberikan tes. Pembelajaran semacam ini membuat siswa menjadi bosan, jenuh, dan
tidak mandiri.
Berdasarkan berbagai alasan di atas, maka peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas
pada materi bangun ruang sisi datar dengan mengambil judul Peningkatan Kemampuan Menemukan
Nilai-Nilai dalam Hikayat Melalui Metode Kooperatif Jigsaw pada Siswa Kelas X Teknik Kimia
SMK Negeri 2 Batu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mendiskripsikan tentang penerapan pembelajaran Kooperatif model Jigsaw
dikelas X Teknik Kimia. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilakukan dengan 2
siklus, masing-masing siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus 1
dilakukan 2 kali pertemuan yang membahas materi nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat. Nilai-nilai
yang dimaksud adalah nilai religius, nilai sosial, nilai moral, nilai budaya, nilai edukatif, dan nilai
estetika. Siklus kedua dilakukan 2 kali pertemuan yang membahas materi tentang nilai-nilai dalam
teks hikayat yang berbeda dengan siklus I sehingga diperoleh hasil praktik pembelajaran yang
dianalisis secara kualitatif. Alur penelitian yang dilakukan dalam penelitian bersiklus seperti terlihat
pada gambar 1 berikut.
1033
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Perencanaan
Refleksi
Siklus I
Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi
Siklus II
Pelaksanaan
Pengamatan
?
Gambar 1. Diagram Alir Metode Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I
Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan tindakan, penulis mempersiapkan dokumen pembelajaran di
antaranya menyusun RPP, membuat lembar kerja siswa (LKS), dan menyusun perangkat evaluasi.
Dalam penyusunan RPP, penulis mengacu pada kompetensi inti (KI) 3 dan 4 yang sesuai
dengan Kurikulum 13 revisi 2016. KI 3 berisi kompetensi pengetahuan yang harus dikuasai siswa dan
KI 4 berisi keterampilan yang harus dimiliki siswa. Pada KI 3, penulis merencanakan KD 3.7 yaitu
menidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat baik lisan maupun tulis. Sedangkan pada
KI 4, penulis merencanakan KD 4.7 yaitu menceritakan kembali isi hikayat yang didengar atau
dibaca. Seperti petunjuk kurikulum KI 3 dan KI 4 selalu disajikan secara berangkai.
Ada 6 indikator yang dikembangkan penulis dalam RPP 3.7 dan 4.7, yaitu (1) memahami
karakteristik hikayat, (2) menentukan karakteristik dalam hikayat, (3) memahami nilai-nilai yang
terdapat dalam hikayat, (4) menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat, (5)
menafsirkan teks cerita rakya (hikayat) berdasarkan isi teks cerita rakyat, dan (6) mempresentasikan
dan menanggapi hasil penafsiran teks hikayat.
Dalam penelitian ini, ada dua indikator yang ingin dicapai oleh penulis yaitu: (3) memahami
nilai-nilai yang terkandung dalam teks cerita rakyat dan indikator (4) menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Dua indikator ini saling terkait karena sebelum dapat menentukan nilainilai yang terkandung dalam hikayat, siswa harus memahami makna dan contoh nilai-nilai yang
terkandung dalam hikayat.
Metode yang digunakan dalam pembelajaran oleh penulis adalah diskusi dengan model
jigsaw. Model ini dipilih karena lebih sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.
Model jigsaw memberikan tanggung jawab yang sama kepada seluruh siswa. Siswa akan menjadi
ahli dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Selain itu siswa akan memiliki
keterampilan berbicara karena harus menyampaikan hasil diskusi tim ahli kepada anggota
kelompoknya masing-masing.
1034
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Selain itu, peneliti juga menyiapkan lembar kerja yang harus dikerjakan siswa. Lembar kerja
berisi satu teks hikayat dengan beberapa soal. Lembar kerja dicetak dengan kertas yang berwarnawarni untuk menarik perhatian siswa. Lembar kerja ini juga menjadi media pembelajaran.
Bentuk penilaian yang digunakan adalah tes tertulis dan penilaian proses. Tes tertulis yang
diberikan berupa postes. Sedangkan penilaian proses menggunakan lembar observasi (pengamatan)
ketika pembelajaran berlangsung. Postes digunakan untuk mengidentifikasi peningkatan kemampuan
siswa secara kuantitatif. Sedangkan penilaian proses digunakan untuk mengidentifikasi peningkatan
kemampuan siswa secara kualitatif.
Pelaksanaan Tindakan
Terdapat tiga kegiatan dalam pelaksanaan tindakan: (1) kegiatan pendahuluan, (2) kegiatan inti, dan
(3) kegiatan penutup. Dalam pendahuluan, pembelajaran diawali dengan salam pembuka, presensi,
penyampaian tujuan pembelajaran, dan apersepsi. Pada kegiatan apersepsi siswa diajak untuk
mengingat kembali materi pada pertemuan sebelumnya.
Gambar 2: Siswa Antusias dalam Kegiatan Apersepsi
Dalam kegiatan inti, guru membagi siswa dalam 6 kelompok heterogen. Setiap kelompok
diberikan lembar kerja berupa teks hikayat dan soal yang harus dikerjakan. Sebagai pembeda, lembar
kerja dicetak pada kertas yang berbeda warna sehingga lebih menarik. Kemudian siswa membagi
tugas untuk masing-masing anggota berdasarkan jumlah soal. Setelah itu, masing-masing siswa akan
bergabung dalam kelompok ahli untuk memecahkan soal yang sama. Kegiatan ini berlangsung selama
5 menit.
Kegiatan selanjutnya adalah diskusi kelompok ahli. Dalam diskusi ini masing-masing
kelompok yang terdiri atas utusan-utusan kelompok inti membahas satu masalah yang menjadi
tanggung jawabnya. Kegiatan diawali dengan membaca teks cerita rakyat berjudul “Hiakayat Bayan
Budiman” yang diambil dari buku teks siswa. Setelah itu siswa mendiskusikan nilai-nilai yang
terkandung dalam teks hikayat. Siswa memberikan tanda pada kutipan-kutipan dalam teks sesuai
dengan tugas. Dalam kegiatan itu guru memberikan bimbingan pada tiap-tiap kelompok ahli.
Bimbingan yang diberikan berupa cara menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat.
Selain itu bimbingan juga berupa klarifikasi terhadap hal-hal yang sudah ditemukan oleh siswa serta
jawaban terhadap pertanyaan siswa terkait bahasa yang digunakan dalam teks hikayat. Kegiatan ini
berlangsung selama 25 menit.
1035
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Gambar 3. Siswa Berdiskusi dalam Kelompok Ahli
Setelah diskusi dengan kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok inti untuk menyelesaikan
tugas kelompok. Siswa berdiskusi kembali untuk menentukan dan mengisi lembar tugas yang telah
disediakan. Dalam kegiatan ini, siswa menyampaikan hasil diskusi dengan kelompok ahli, meminta
saran/pendapat dari anggota kelompok inti dan menuliskan jawaban yang sudah disepakati di lembar
kerja. Kegiatan ini membutuhkan waktu 20 menit.
Gambar 3. Guru Memberikan Bimbingan kepada Tiap-Tiap Kelompok
Kegiatan selanjutnya adalah diskusi kelas. Masing-masing kelompok inti mendapatkan tugas
untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok inti. Kelompok 1 bertugas menyampaikan nilai-nilai
moral yang terdapat dalam teks “Hikayat Bayan Budiman” . Diskusi kelas dipimpin oleh guru sebagai
moderator dan fasilitator.
Dalam kegiatan ini siswa menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Dimulai dari kelompok
1 yang menyampaikan nilai-nilai moral, konsep nilai, dan kutipan teks hikayat. Setelah penyampaian
hasil kelompok 1, guru meminta kelompok lain untuk menanggapi namun tidak ada satu pun siswa
yang menanggapi. Guru memberikan pancingan dengan pertanyaan klarifikasi.
1036
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Gambar 5: Siswa Menyampaikan Hasil Diskusi Kelompok dalam Diskusi Kelas
Kegiatan berlanjut hingga seluruh kelompok menyajikan hasil kelompoknya. Siswa menjadi
antusias. Siswa banyak memberikan tanggapan yang terkadang menghubungkan dengan konteks
masyarakat yang ada di sekitar mereka. Kegiatan ini berlangsung selama 30 menit.
Kegiatan penutup diakhiri dengan refleksi. Siswa merasa senang dengan kegiatan
pembelajaran karena semua memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan soal. Siswa tidak lagi
bergantung pada teman yang lain dalam kelompok karena tanggung jawab berbeda. Kegiatan penutup
juga diisi dengan kegiatan menyimpulkan materi secara bersama-sama (guru dan siswa). Kegiatan ini
berlangsung selama 10 menit.
Pengamatan
Pengamat yang yang terlibat dalam penelitian ini terdiri atas 4 orang guru. Mereka
memberikan catatan-catatan pengamatan terhadap kegiatan yang dilakukan guru dan siswa selama
pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil pengamatan, pembelajaran yang dilakukan peneliti sudah efektif. Meskipun
masih ada beberapa siswa yang tidak konsentrasi terhadap kegiatan. Beberapa siswa tersebut belum
memiliki inisiatif untuk mengerjakan tugas. Mereka menunggu hasil pekerjaan siswa lain ketika
diskusi ahli berlangsung untuk dicontoh.
Pemberian kertas berwarna yang berbeda untuk setiap kelompok juga dianggap sebagai
pemberian motivasi untuk siswa. Siswa terlihat lebih tertarik dengan hal itu.
Refleksi
Refleksi pembelajaran dilakukan dengan mengaji hal-hal yang masih menjadi kendala dalam
pembelajaran. Hasil refleksi digunakan untuk memperbaiki pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi,
terdapat masukan bahwa teks yang diberikan kurang dipahami siswa, sehingga waktu membaca dan
memahami teks memerlukan waktu lebih lama. Siswa juga belum dapat membedakan perbedaan nilai
moral dengan nilai religius secara tepat. Demikian juga nilai moral dan nilai etika. Sehingga masih
diperlukan penjelasan yang lebih mendalam tentang perbedaan nilai-nilai tersebut.
Selain mengkaji kendala pembelajaran juga dilakukan evaluasi keberhasilan pembelajaran
melalui tes. Dari hasil tes diperoleh rata-rata nilai siswa 71,20 dan persentase ketuntasan 68,07 (20
siswa). Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran belum tercapai secara maksimal.
1037
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Siklus II
Perencanaan Tindakan
Setelah melaksanakan refleksi siklus I, terindikasi bahwa penggunaan teks hikayat dengan
bahasa Melayu sulit dikuasai siswa, maka pada pelaksanaan siklus II penulis menyediakan teks
hikayat yang berkembang di Pulau Jawa dengan harapan teks tersebut akan mudah dipahami siswa.
Sebelum melakukan tindakan pada siklus II, penulis mempersiapkan dokumen pembelajaran
di antaranya menyusun RPP perbaikan dari siklus I, membuat lembar kerja siswa (LKS) dengan teks
hikayat yang berbeda, dan menyusun perangkat evaluasi dengan memanfaatkan teks hikayat dari
Pulau Jawa.
Dalam penyusunan RPP, penulis mengacu pada hasil siklus I kompetensi inti (KI) 3 dan 4
yang sesuai dengan Kurikulum 13 revisi 2016. KI 3 berisi kompetensi pengetahuan yang harus
dikuasai siswa dan KI 4 berisi keterampilan yang harus dimiliki siswa. Pada KI 3, penulis merencanakan KD 3.7 yaitu menidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat baik lisan maupun
tulis. Sedangkan pada KI 4, penulis merencanakan KD 4.7 yaitu menceritakan kembali isi hikayat
yang didengar atau dibaca. Seperti petunjuk kurikulum KI 3 dan KI 4 selalu disajikan secara
berangkai.
Masih sama dengan pelaksanaan siklus I, ada dua indikator yang ingin dicapai oleh penulis
yaitu: (1) memahami nilai-nilai yang terkandung dalam teks cerita rakyat dan indikator (2)
menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat. Dua indikator ini saling terkait karena
sebelum dapat menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat, siswa harus memahami makna
dan contoh nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat.
Selain itu, peneliti juga menyiapkan lembar kerja yang harus dikerjakan siswa. Lembar kerja
berisi satu teks hikayat dengan beberapa soal. Lembar kerja masih tetap dicetak dengan kertas yang
berwarna-warni untuk menarik perhatian siswa. Lembar kerja ini juga menjadi media pembelajaran.
Bentuk penilaian yang digunakan adalah tes tertulis dan penilaian proses. Tes tertulis yang
diberikan berupa pre tes dan post tes. Sedangkan penilaian proses menggunakan lembar observasi
(pengamatan) ketika pembelajaran berlangsung. Pos tes digunakan untuk mengidentifikasi
peningkatan kemampuan siswa secara kuantitatif. Sedangkan penilaian proses digunakan untuk
mengidentifikasi peningkatan kemampuan siswa secara kualitatif.
Pelaksanaan Tindakan
Terdapat tiga kegiatan dalam pelaksanaan tindakan: (1) kegiatan pendahuluan, (2) kegiatan
inti, dan (3) kegiatan penutup. Dalam pendahuluan, pembelajaran diawali dengan salam pembuka,
presensi, penyampaian tujuan pembelajaran, dan apersepsi. Pada kegiatan apersepsi siswa diajak
untuk mengingat kembali materi pada pertemuan sebelumnya.
Jika dalam siklus I guru membagi siswa dalam 6 kelompok, dalam siklus II siswa hanya
dibagi menjadi 5 kelompok heterogen. Setiap siswa hanya diberi tanggung jawab untuk memecahkan
1 masalah saja. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mengefisienkan penggunaan waktu. Sebagai
pembeda, lembar kerja dicetak pada kertas yang berbeda warna sesuai dengan kelompok asal
sehingga lebih menarik. Kemudian siswa membagi tugas untuk masing-masing anggota berdasarkan
jumlah soal. Setelah itu, masing-masing siswa akan bergabung dalam kelompok ahli untuk
memecahkan soal yang sama. Kegiatan ini berlangsung selama 5 menit.
Kegiatan selanjutnya adalah diskusi kelompok ahli. Dalam diskusi ini masing-masing
kelompok yang terdiri atas utusan-utusan kelompok inti membahas satu masalah yang menjadi
tanggung jawabnya. Kegiatan diawali dengan membaca teks cerita rakyat berjudul “Hiakayat Bunga
Kemuning” yang diambil dari buku teks siswa. Setelah itu siswa mendiskusikan nilai-nilai yang
terkandung dalam teks hikayat. Siswa memberikan tanda pada kutipan-kutipan dalam teks sesuai
dengan tugas. Dalam kegiatan itu guru memberikan bimbingan pada tiap-tiap kelompok ahli.
Bimbingan yang diberikan berupa cara menentukan nilai-nilai yang terkandung dalam teks hikayat.
Selain itu bimbingan juga berupa klarifikasi terhadap hal-hal yang sudah ditemukan oleh siswa serta
1038
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
jawaban terhadap pertanyaan siswa terkait bahasa yang digunakan dalam teks hikayat. Kegiatan ini
berlangsung selama 25 menit.
Setelah diskusi dengan kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok inti untuk menyelesaikan
tugas kelompok. Siswa berdiskusi kembali untuk menentukan dan mengisi lembar tugas yang telah
disediakan. Dalam kegiatan ini, siswa menyampaikan hasil diskusi dengan kelompok ahli, meminta
saran/ pendapat dari anggota kelompok inti dan menuliskan jawaban yang sudah disepakati di lembar
kerja. Kegiatan ini membutuhkan waktu 20 menit.
Kegiatan selanjutnya adalah diskusi kelas. Masing-masing kelompok inti mendapatkan tugas
untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok inti. Kelompok 1 bertugas menyampaikan nilai-nilai
moral yang terdapat dalam teks “Hikayat Bunga Kemuning” . Diskusi kelas dipimpin oleh guru
sebagai moderator dan fasilitator.
Dalam kegiatan ini siswa menyampaikan hasil diskusi kelompoknya. Dimulai dari kelompok
1 yang menyampaikan nilai-nilai moral, konsep nilai, dan kutipan teks hikayat. Setelah penyampaian
hasil kelompok 1, guru meminta kelompok lain untuk menanggapi namun tidak ada satu pun siswa
yang menanggapi. Guru memberikan pancingan dengan pertanyaan klarifikasi.
Kegiatan berlanjut hingga seluruh kelompok menyajikan hasil kelompoknya. Siswa menjadi
antusias. Siswa banyak memberikan tanggapan yang terkadang menghubungkan dengan konteks
masyarakat yang ada di sekitar mereka. Kegiatan ini berlangsung selama 30 menit.
Kegiatan penutup diakhiri dengan refleksi. Siswa merasa senang dengan kegiatan
pembelajaran karena semua memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan soal. Siswa tidak lagi
bergantung pada teman yang lain dalam kelompok karena tanggung jawab berbeda. Kegiatan penutup
juga diisi dengan kegiatan menyimpulkan materi secara bersama-sama (guru dan siswa). Kegiatan ini
berlangsung selama 10 menit.
Pengamatan
Pengamat yang yang terlibat dalam penelitian ini terdiri atas 8 orang guru. Guru-guru tersebut
berasal dari sekolah yang berbeda sehingga tidak mengetahui karakter dan kemampuan siswa. Mereka
memberikan catatan- catatan pengamatan terhadap kegiatan yang dilakukan guru dan siswa selama
pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil pengamatan, metode pembelajaran yang dilakukan peneliti sudah efektif.
Namun, pada saat kelompok ahli kembali pada kelompok asal, diskusi kurang lancar. Siswa cenderung bekerja sendiri-sendiri. Sehingga kooperatif-nya belum terlihat. Siswa belajar secara kolaboratif.
Mereka hanya menyatukan hasil dari kelompok ahli tanpa memberikan uraian/penjelasan kepada
anggota kelompok yang lain. Selain itu, beberapa siswa tersebut belum memiliki inisiatif untuk
mengerjakan tugas. Mereka menunggu hasil pekerjaan siswa lain ketika diskusi ahli berlangsung
untuk dicontoh.
Pemberian kertas berwarna yang berbeda untuk setiap kelompok juga dianggap sebagai
pemberian motivasi untuk siswa. Siswa terlihat lebih tertarik dengan hal itu.
Refleksi
Berdasarkan hasil refleksi, terdapat masukan bahwa pembelajaran sudah berlangsung efektif
sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Penggantian teks yang diberikan memudahkan siswa
sehingga waktu membaca dan memahami teks memerlukan waktu tidak begitu lama. Dalam siklus II
ini, siswa juga sudah mampu membedakan nilai moral dengan nilai religius secara tepat. Demikian
juga nilai moral dan nilai estetika. Sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Sebagai penutup pelaksanaan siklus II, diadakan evaluasi dengan bentuk postest. Tes
dikerjakan secara individu dengan tujuan mengukur kemampuan setiap siswa dalam menguasai materi
nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat. Setelah diadakan evaluasi, diperoleh hasil rata-rata nilai
1039
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
siswa mencapai 79,40 dengan ketuntasan klasikal mencapai 82,76%. Dengan demikian tujuan
pembelajaran telah tercapai secara maksimal.
PENUTUP
Berdasarkan paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun langkah-langkah yang yang harus dilakukan dalam
pembelajaran tipe ini adalah: (1) menjelaskan materi, (2) membagi siswa dalam beberapa kelompok
sesuai dengan masalah/ soal yang harus dipecahkan/ diselesaikan, (3) setiap anggota kelompok
diberikan masalah yang berbeda sehingga memiliki tanggung jawab yang sama besar, (4) setiap
anggota dari kelompok yang berbeda akan bergabung dalam tim ahli yang bertugas memecahkan satu
masalah yang sama, (5) setelah selesai, tim ahli akan kembali ke dalam kelompok asal dan
menjelaskan hasil diskusinya kepada teman-teman satu kelompok, (6) setiap kelompok
mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dalam diskusi kelas. Selanjutnya guru memberikan
evaluasi kepada siswa secara individu.
Peningkatan hasil belajar telihat dari rata-rata hasil tes siklus I sebesar 71,20 menjadi 79,40
pada siklus II. Sedangkan ketuntasan meningkat dari 68,07% pada siklus I menjadi 82,76% pada
siklus II.
DAFTAR RUJUKAN
Emildadiany, N. 2008. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Teknik Jigsaw.
(online). Diakses tanggal 29 Oktober 2016.
Ismawati, E. 2011. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Surakarta: Yuma Pustaka.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Silabus Mata Pelajaran SMA/MA/ SMK/ MAK.
Jakarta: Kemendikbud.
Mistiah. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bangun
Ruang Sisi Datar Pada Siswa Kelas VIII-A SMP Maarif Batu. Jurnal Kajian Pembelajaran
Sekolah, Tahun 1, Nomor 1, Mei 2016.
Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi IV. Jakarta: Balai
Pustaka.
1040
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PEMBELAJARAN MENULIS LAPORAN HASIL PERCOBAAN
MELALUI PENDEKATAN KOOPERATIF DENGAN METODE
EKSPERIMEN PADA SISWA KELAS IV SDN 010
BULANG KOTA BATAM
Khairul Apriadi
SDN 010 Bulang, Batam
[email protected]
Abstrak: Penelitan ini bertujuan mendeskripsikan pembelajaran menulis teks laporan hasil
pengamatan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk mengoptimalkan
pembelajaran, pendekatan kooperatif divariasikan dengan metode eksperimen dipilih untuk
pembelajaran. Data dalam penelitian berupa dua hal: (1) data prestasi siswa yang
dikumpulkan melalui instrument tes, (2) data proses yang dikumpulkan melalui catatan
lapangan. Data prestasi diolah dengan melihat persentase dari berbagai aspek yang dinilai.
Data proses diolah secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kegiatan
perencanaan pembelajaran yang terdiri atas kegiatan menyusun RPP, mengembangkan
model pembelajaran, dan mengembangkan lembar observasi sudah dilaksanakan secara
optimal, (2) kegiatan pelaksanaan yang terdiri atas kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup
sudah berjalan seperti yang dirncanakan, dan (3) kegiatan penutup yang berisi kegiatan
refleksi dan penarikan simpulan sudah berjalan dengn baik. Pendekatan kooperatif dengan
metode eksperimen amat cocok digunakan dalam pmbelajaran menulis teks laporan hasil
pengamatan.
Kata Kunci: menulis teks hasil percobaan, pembelajaran, pendekatan kooperatif, metode
eksperimen.
Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan
potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Melalui pendidikan,
manusia dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan kreatifitas terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Dalam dunia pendidikan, Bahasa Indonesia merupakan salah satu materi
pembelajaran yang wajib dibelajarakan di jenjang sekolah dasar (SD). Peningkatan hasil belajar
Bahasa Indonesia mau tidak mau harus ditingkatkan karena sangat berpengaruh pada proses
pembelajaran materi lainnya. Karena setiap materi pasti menggunakan bahasa Indonesia sebagai
bahasa pengantar.
Bahasa Indonesia terdiri atas empat aspek atau disebut standar kompetensi, yaitu
mendengarkan atau menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut saling
mempengaruhi satu sama lainnya. Misalnya kompetensi menulis, jika seseorang ingin menulis tentu
saja orang tersebut memerlukan kompetensi lainnya untuk mendapatkan bahan tulisannya, sepeti
dengan membaca koran, mendengarkan radio, atau berbicara dengan orang narasumber. Begitu juga
dengan aspek lain, tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan standar yang lain.
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya
melahirkan generasi muda yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan menulis.
Menurut Nurgiantoro (dalam Kusmana, 2012:99) menulis adalah aktivitas mengemukakan gagasan
melalui media bahasa tulis. Keterampilan menulis merupakan keterampilan bahasa yang menuntut
seseorang menghasilkan suatu tulisan sebagai ungkapan, perasaan, dan pemikirannya. Dengan adanya
pembelajaran menulis di sekolah siswa dapat terampil dalam menulis, seperti menulis pengalaman
pribadi, menulis laporan, menulis pantun, puisi, cerpen atau menuliskan apa yang dirasakannya.
1041
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan bahwa dalam kegiatan pembelajaran
keterampilan menulis, siswa masih banyak mengalamai kesulitan. Selama ini siswa sulit untuk
menuangkan kata-kata ke dalam tulisannya. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, kenyataan
yang terjadi di lapangan ternyata memperlihatkan bahwa keterampilan menulis siswa masih belum
sesuai dengan yang diharapkan. Khususnya keterampilan menulis siswa kelas IV SND 010 Bulang
masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Yaitu pada materi menulis laporan percobaan. Dari 16
siswa hanya 4 siswa yang mencapai KKM, tingkat kelulusan baru 25%.
Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya, sebagian siswa ragu untuk menulis
karena penguasaan kosa kata bahasa Indonesia yang kurang memadai, siswa tidak menguasai materi
pelajaran, siswa sulit mengurutkan atau kronologis sebuah kejadian. Hal tersebut dapat dimaklumi
mengingat kurangnya kesempatan siswa melakukan aktivitas menulis, apalagi dengan menggunakan
bahasa Indonesia untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya siswa masih
menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai alat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi kemampuan berbahasa Indonesia mereka.
Bertolak dari masalah di atas, guru perlu melakukan sebuah tindakan untuk menurunkan
tingkat kesulitan yang dialami siswa dalam menulis. Guru perlu mengembangkan model pembelajaran
yang sesuai untuk memperbaiki kemampuan menulis siswa. Siswa dikondisikan untuk saling bekerja
sama dalam memberikan pemahaman materi belajar yang dieksperimenkan. Dengan demikian siswa
akan lebih mudah menulis laporan percobaan. Model belajar kooperatif divariasikan dengan metode
eksperimen di harapkan mampu meningkatkan keterampian menulis siswa.
Menulis adalah salah satu keterampilan komunikasi secara tertulis. Menurut Nurgiantoro
(dalam Kusmana 2012:99) menulis adalah aktivitas mengemukakan gagasan melalui media bahasa
tulis. Menulis dapat diartikan sebagai salah satu keterampilan berbahasa yang menuntut seseorang
menghasilkan sesuatu (tulisan) sebagai ungkapan, perasaan, dan pemikirannya (Kusmana 2012:99).
Dengan demikian menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dituangkan dalam bentuk hasil
tulisan baik itu sebagai ungkapan, perasaan maupun pemikiran seseorang.
Kemampuan seseorang dalam menulis bukan merupakan bawaan dari lahir, melainkan
dilakukan melalui serangkaian kegiatan menulis dan dilakukan setiap saat sehingga seseorang bisa
menulis dengan baik. Untuk dapat menghasilkan tulisan yang baik, Kusmana (2012:101)
mengungkapan beberapa tahapan-tahapan menulis, yakni (a) pra penulisan, (b) proses penulisan, dan
(c) penyuntingan. Pra penulisan terdiri atas memilih topik, membatasi topik, merumuskan tujuan,
mengumpulkan bahan, dan menyusun kerangka karangan. Proses penulisan terdiri atas menggunakan
penalaran dalam menulis, menggunakan ejaan, memilih kata, menggunakan kalimat efektif,
menyusun paragraf kohesif dan koheren, dan menerapkan ketentuan menulis. Adapun penyuntingan
terdiri atas membaca kembali tulisan, menandai kesalahan dan membetulkan, dan merevisi tulisan.
Model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dengan sistem belajar secara kelompok
yang terdiri dari 4-5 orang siswa yang dikelompokkan secara heterogen mulai dari jenis kelamin, latar
belakang sosial ekonomi, dan kemampuan secara akademis dengan diberikan tugas-tugas terstruktur
dan saling ketergantungan secara positif, saling bekerjasama, dan memiliki tanggung jawab yang
penuh dan rasa senasib sepenanggungan dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif
merupakan pembelajaran yang didasarkan pada paham konstruktivisme. Pada dasarnya pendekatan
teori konstruktivisme dalam belajar adalah suatu pendekatan dimana siswa harus secara individual
menemukan dan menstranformasikan informasi yang kompleks, sehingga membangun pengetahuan
yang sudah ada pada siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Abdulhak (dalam Rusman, 2010:203)
bahwa pembelajaran kooperatif dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga
dapat mewujudkan pemahaman bersama diantara peserta belajar itu sendiri.
Menurut Slavin (dalam Rusman, 2010:201) pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa
berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Hal ini berarti model pembelajaran kooperatif
1042
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran (Student
Oriented). Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan, dan memberi peluang
lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal.
Sedangkan menurut Johnson (dalam Rusman, 2010:204) pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang menggunakan teknik pengelompokkan yang di dalamnya siswa bekerja terarah
pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 orang dan
memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota
lainnya dalam kelompok tersebut.
Dari pendapat-pendapat di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah pembelajaran dengan sistem belajar kelompok yang terdiri dari 4-5 orang siswa yang
dikelompokkan secara heterogen mulai dari jenis kelamin, latar belakang sosial ekonomi, dan
kemampuan secara akademis dengan diberikan tugas-tugas terstruktur dan saling ketergantungan
secara positif, saling bekerjasama, dan memiliki tanggung jawab yang penuh dan rasa senasib dan
sepenanggungan dalam kelompoknya.
Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus digunakan dalam kegiatan
pembelajaran karena untuk mencapai tujuan pembelajaran maupun dalam upaya membentuk
kemampuan siswa diperlukan adanya suatu metode atau cara yang efektif. Penggunaan metode
mengajar harus dapat menciptakan terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru
sehingga proses pembelajaran dapat dilakukan secara maksimal (Anitah, 2009:5.4).
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada siswa, baik perorangan
atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini, siswa
diharapkan dapat sepenuhnya terlibat dalam perencanaan eksperimen, melakukan fakta,
mengumpulkan data dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata (Asmani, 2011:34).
Menurut Rostiyah (2008:80) dalam bukunya “Strategi Belajar Mengajar” menjelaskan
bahwa, metode eksperimen adalah salah satu cara mengajar, dimana siswa melakukan suatu
percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaanya, kemudian
hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru. Menurut Anitah (2009:5.27)
metode eksperimen merupakan metode mengajar yang dalam penyajian atau pembahasan materinya
melalui percobaan atau mencobakan sesuatu serta mengamati secara proses. Sedangkan menurut
Mulyasa (2005:110) metode eksperimen merupakan suatu bentuk pembelajaran yang melibatkan
siswa bekerja dengan benda-benda, bahan-bahan dan peralatan laboratorium, baik secara perorangan
maupun kelompok.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen adalah metode
pembelajaran dimana siswa diberi kesempatan untuk melakukan percobaan, mengamati prosesnya
serta menuliskan hasil percobaan yang dilakukan di laboratorium, baik secara perorangan maupun
kelompok. Dengan demikian siswa dapat menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan yang
dihadapinya dan terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah.
Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen ini siswa diberi kesempatan untuk
mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti proses, mengamati suatu obyek, menganalisis,
membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu.
Peran guru dalam metode eksperimen ini sangat penting, khususnya berkaitan dengan ketelitian dan
kecermatan sehingga tidak terjadi kekeliruan dan kesalahan dalam memaknai kegiatan belajar dan
mengajar. Jadi, peran guru untuk membuat kegiatan belajar ini menjadi faktor penentu berhasil atau
gagalnya metode eksperimen ini (Sagala 2007:220).
Eksperimen dapat dilakukan secara kelompok maupun sendiri di dalam laboratorium atau di
kelas atau di luar kelas. Perlu diperhatikan bahwa setiap kegiatan eksperimen harus dilakukan secara
sistemik dan sistematis, yaitu harus dimulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan kajian
hasil. Lebih mendalamnya siswa harus membuat laporan, kemudian disajikan di depan teman-teman
1043
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
yang lain. Laporan tersebut dijadikan dasar untuk melihat seberapa jauh penerapan kemampuan
berpikir siswa, kemampuan memberikan penjelasan, kemampuan berargumentasi dan kemampuan
menyimpulkan hasil eksperimen.
Menurut Anitah (2009:5.28) prosedur metode eksperimen dapat dilakukan sebagai
berikut. (a) Mempersiapkan alat bantu (alat eksperimen). (b) Petunjuk dan informasi tentang tugastugas yang harus dilaksanakan dalam eksperimen. (c) Pelaksanaan eksperimen dengan menggunakan
lembaran kerja/pedoman eksperimen yang disusun secara sistematis sehingga siswa dalam
pelaksanaannya tidak banyak mendapat kesulitan dan membuat laporan. (d) Penguatan perolehan
temuan-temuan eksperimen dilakukan dengan diskusi, tanya jawab, dan/atau tugas. (e) Kesimpulan.
Penelitian sejenis pernah dilakukan oleh Abdul Kadir Harun Dali (2013); Nelly Hagasihita, I
Nengah Martha, dan Ni Made Rai Wisudariani (2015), serta Nani Suharni (2013). Dalam
penelitiannya yang berjudul Peningkatan Kemampuan Siswa Menulis Laporan Pengamatan
Lingkungan di Kelas V SDN 19 Telaga Biru Kabupaten Gorontalo, Abdul Kadir Harun Dali
menunjukkan bahwa pada pelaksanaan tindakan siklus I menulis laporan pengamatan lingkungan
diketahui dari 17 orang siswa yang memperoleh kriteria mampu berjumlah 7 orang atau 41%, dan
tidak mampu 10 orang atau 59 %. Sehingga dilaksanakan siklus II sebagai refleksi dari siklus I, pada
siklus II terjadi peningkatan yakni dari 17 orang siswa yang memperoleh kriteria mampu berjumlah15
orang atau 88 %, tidak mampu 2 orang atau 15 %.
Penelitian kedua dilakukan oleh Hagasihita, Nengah Martha, dan Wisudariani (2015) dalam
artikel yang berjudul Peningkatan Keterampilan Menulis Teks Laporan Hasil Observasi melalui
Model Jurisprudensial Berbasis Wisata Lapangan pada Siswa Kelas X IPA 2 SMA Negeri 3
Singaraja. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa secara klasikal pada prasiklus 65,00 (cukup), pada
siklus I meningkat sebesar 76,84 (baik), dan siklus II meningkat sebesar 79,96 (baik), dan (3) respons
siswa terhadap model jurisprudensial berbasis wisata lapangan tergolong positif dengan rata-rata skor
pada siklus I sebesar 42,53 (positif) dan meningkat pada siklus II sebesar 43,72 (positif).
Sementara itu, Nuryeni (2015) dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan Keterampilan
Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi Bermuatan Budaya Melalui Discovery Learning
Berbantuan Puzzle Pada Siswa Kelas VII H SMP Negeri 18 Semarang menemukan bahwa hasil
penelitian ini menunjukkan (1) proses pembelajaran keterampilan menyusun teks laporan hasil
observasi bermuatan budaya melalui discovery learning berbantuan puzzle pada siswa kelas VII H
SMP Negeri 18 Semarang dari siklus I ke siklus II semakin baik, (2) keterampilan menyusun teks
laporan hasil observasi bermuatan budaya dari siklus I ke siklus II yaitu 73,56 atau 43,75% menjadi
83,06 atau 87,5% dan terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebesar 9,5 atau 43,75%, (3) sikap
religius dan sikap sosial dari siklus I ke siklus II mengalami perubahan ke arah positif, persentase
ketuntasan dari 78,12% menjadi 87,5% dan terjadi peningkatan sikap religius dari siklus I ke siklus II
sebesar 9,38%, sedangkan persentase sikap sosial dari siklus I ke siklus II sebesar 69,82% menjadi
97,91% sehingga terjadi peningkatan sebesar 28,09%, dan (4) tanggapan siswa terhadap pembelajaran
keterampilan menyusun teks laporan hasil observasi bermuatan budaya melalui discovery learning
berbantuan puzzle pada siklus I dan siklus II mengalami perubahan yang positif, pada siklus I siswa
merasa senang namun masih mengalami banyak kesulitan dalam proses pembelajaran, sedangkan
pada siklus II siswa menyatakan senang dan hanya mengalami sedikit kesulitan selama proses
pembelajaran berlangsung.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Bagaimana
merencanakan pembelajaran menulis laporan hasil percobaan melalui pendekatan kooperatif dengan
metode eksperimen? (2) Bagaimana melaksanakan pembelajaran menulis laporan hasil percobaan
melalui pendekatan kooperatif dengan metode eksperimen? (3) Bagaimana mengevaluasi
pembelajaran menulis laporan hasil percobaan melalui pendekatan kooperatif dengan metode
eksperimen?
1044
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
METODE
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Melalui metode ini penulis berusaha
mendeskripsikan sesuatu atau menggambarkan secara sistematis tentang fakta dan karakteristik objek
dan subjek yang diteliti secara tepat, yakni pelaksanaan pembelajaran menulis laporan hasil
pengamatan dengan model kooperatif divariasikan dengan metode eksperimen pada siswa kelas IV
SDN 010 Bulang, dari persiapan sampai penilaian. Melalui metode ini penulis mendapatkan informasi
apa adanya tentang keadaan serta praktik-praktik yang dilakukan di dalam pembelajaran.
Untuk memperoleh data, penulis menggunakan instrumen yaitu rubrik penilaian hasil menulis
laporan observasi. Rubrik penilaian hasil digunakan untuk mengatahui kemampuan siswa menulis
laporan. Selain itu digunakan pula panduan observasi yang digunakan sebagai panduan yang
membantu peneliti dalam mengamati
PAPARAN HASIL PENELITIAN
Tiga kegiatan yang akan dilaporkan, yakni (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan
pembelajaran, (3) penilian pembelajaran.
Perencanaan
Dalam mempersiapkan pembelajaran menulis teks hasil laporan percobaan dengan
pembelajaran kooperatif melalui meode eksperimen pada siswa kelas IV SDN 010 Bulang. Pertama
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Langkah penting dalam menyusun RPP meliputi
(a) menentukan SK dan KD, (b) menjabarkan KD menjadi indikator-indikator keberhasilan, (c)
mengembangkan materi pokok, (d) memilih metode dan model pembelajaran yang cocok, dan (e)
mengembangkan alat penilaian. Kedua, mengembangkan lembar observasi terhadap persiapan dan
pelaksanaan. Lembar observasi yang pertama digunakan untuk mengamati apakah RPP yang sudah
disiapkan sudah baik atau belum. Lembar observasi yang kedua digunakan untuk mengamati
pelaksanaan pembelajaran. Kedua lembar observasi tersebut digunakan oleh kolaborator di dalam
mengamati perencanaan dan pelaksanaan perbaikan pembelajaran. Hasil pengamatan dari lembar
observasi digunakan sebagai bahan refleksi demi memperbaiki RPP dan pelaksanaan pembelajaran.
Agar model pembelajaran yang dibuat dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajara
yang telah dirumuskan. Maka, diperlukan pengembangan model pembelajaran kooperatif dengan
eksperimen. Menurut Siahaan (dalam Rusman 2012:205) hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pendekatan kooperatif adalah: (1) saling keterganrungan positif, (2) interaksi berhadapan, (3)
tanggung jawab individu, (4) keterampilan sosial, (5) terjadinya proses dalam kelompok. Sedangkan
untuk metode eksperimen hal yang perlu diperhatikan adalah kemudahan mencari alat dan bahan dan
kemudahan mengerjakan eksperimen tersebut.
Pelaksanaan Pembelajaran
Pembelajaran menulis teks laporan hasil percobaan menggunakan konsep belajar secara
berkelompok dan hasil menulisnya dilakukan secara individu. Pelaksanaan Pembelajaran
dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
Dalam kegiatan pembelajaran waktu dibagi sebagai berikut.
Kegiatan awal (10 menit)
Pada kegiatan ini hal-hal yang di lakukan adalah guru mengucapkan salam
(assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh) siswa menjawab salam guru (wa‟alaikumsalam
warahmatullahi wabarakatuh), kemudian guru menanyakan kehadiran siswa kabar siswa, keadaan
siswa, serta menanyakan sudah sarapan atau belum, lalu mempersiapkan siswa untuk belajar.
1045
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember 2016
Kegiatan inti (80 menit)
Pada menit (11-25) guru membagikan siswa secara berkelompok (pembagian kelompok
sudah dipersiapkan sebelumnya). Kemudian guru menjelaskan tentang teks laporan hasil
pengamatan. Hal-hal yang dijelaskan adalah: pengertian, unsur-unsur yang terdapat di dalam
laporan hasil percobaan.
Pada menit (25-60) guru memulai meminta siswa mempersiapkan alat dan bahan yang
sudah dibawa siswa untuk melakukan eksperimen. Guru membagikan lembar langkah-langkah yang
harus dilakukan oleh siswa. Kemudian siswa mengerjakan kegiatan eksperimen yang telah
dibagikan mulai dari awal sampai akhir. Pada kegiatan ini guru berkeliling dari satu kelompok ke
kelompok yang lain untuk mengecek apakah ada kegiatan yang tidak dimengerti oleh siswa, serta
mengecek apakah setiap kelompok sudah mengerjakan sesuai dengan langkah-langkah yang telah
dibagikan tadi. Dalam kegiatan ini banyak hal menarik yang terjadi. Salah satunya ada satu
kelompok yang lupa membawa salah satu alat, jadi kelompok tersebut harus meminta ke kelompok
lain. Setelah percobaan selesai masing-masing kelompok membuat laporan sesuai dengan contoh
yang telah dijelaskan diawal pelajaran. Siswa bersama-sama membuat laporan kemudian
dikumpulkan.
Pada menit (60-80) siswa diminta menulis kembali langkah-langkah yang telah dituliskan
tadi. Namun, pada kesempatan ini masing-asing siswa diminta menulis sendiri langkah-langkah
yang telah dibuat tadi. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah siswa bisa membuat laporan hasil
percobaannya masing-masing. Setelah selesai siswa diminta mengumpulkan hasil pekerjaannya.
Kegiatan penutup (10 menit)
Pada kegiatan ini guru bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari, hal ini bertujuan
untuk memperdalam pengetahuan siswa tentang menulis laporan hasil percobaan. Kemudian guru
bersama-sama siswa membuat kesimpulan materi. Di akhir pelajaran guru mengajak siswa berdoa
agar pelajaran yang telah dilaksanakan bisa bermanfaat bagi siswa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran menulis teks laporan hasil percobaan dengan pendekatan kooperatif
menggunakan metode eksperimen di kelas IV SDN 010 Bulang. Dibutuhkan pendekatan dan
metode yang tepat agar siswa bisa termotivasi untuk menulis laporan hasil percobaan. Penggunaan
pendekatan dan metode ini bertujuan untuk mempermudah siswa menulis teks hasil percobaan.
Pembelajaran menulis laporan hasil percobaan dikatakan berhasil apabila indikatornya tercapai.
Adapun indikatornya yaitu menyajikan langkah-langkah percobaan dalam bentuk laporan. Pada
akhirnya siswa dapat menulis teks laporan hasil percobaan sesuai dengan eksperimen yang telah
dilaksanakan.
Penggunaan pendekatan kooperatif dengan metode eksperimen pada pembelajaran menulis
teks laporan hasil percobaan di kelas IV SDN 010 bulang membuat siswa lebih aktif dan lebih
bersemangat dibandingkan apabila guru masuk kelas tanpa menggunakan pendekatan dan metode
apapun. Pada awalnya siswa kesulitan untuk dapat menulis teks laporan hasil percobaan kalau siswa
hanya diminta untuk menulis tanpa rangsangan. Dengan demikian, pendekatan kooperatif dengan
metode eksperimen dapat (1) membantu siswa belajar dan juga memudahkan pengajaran bagi guru,
(2) memberikan pengalaman yang lebih konkret, (3) membuat siswa lebih aktif dan kreatif, (4) lebih
menarik perhatian dan minat siswa dalam belajar, dan (5) dapat membangkitkan dunia teori dengan
realitanya.
1046
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
PENUTUP
Dari penilitian yang dilakukan melalui pendekatan kooperatif melalui metode eksperimen
dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama kegiatan perencanaan pembelajaran yang terdiri atas
kegiatan menyusun RPP, mengembangkan metode, dan mengembangkan lembar observasi sudah
dilaksanakan secara optimal. Beberapa pihak memberikan bantuan dalam proses perencanaan ini.
Kedua kegiatan pelaksanaan yang terdiri atas kegiatan pendahauluan, inti, dan penutup sudah berjalan
seperti yang direncanakan. Ketiga, kegiatan penutup yang berisi kegiatan refleksi dan penarikan
simpulan sudah berjalan dengan baik. Guru dan siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan ini.
Dari hasil penilitian ini disarankan kepada guru, khususnya guru sekolah dasar, agar dapat
memilih pendekatan dan metode yang tepat agar pembelajaran yang dilaksanakan dapat berlangsung
sukses. Salah satu pendekatan dan metode yang dapat dipilih adalah pendekatan kooperatif dengan
metode eksperimen.
DAFTAR RUJUKAN
Anitah, Sri, 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Dali, Abdul Kadir Harun. 2013. Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Laporan Pengamatan
Lingkungan di Kelas V SDN 19 Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. Skripsi tidak diterbitkan.
Gorontalo: UNG.
Hagasihita, Nelly. I Nengah Martha Ni Md, Rai Wisudariani. 2015. Peningkatan Keterampilan
Menulis Teks Laporan Hasil Observasi melalui Model Jurisprudensial Berbasis Wisata
Lapangan pada Siswa Kelas X IPA 2 SMA Negeri 3 Singaraja. Jurnal Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Vol 3. No 1:2015. 1-11
Kusmana, Suherli. 2012. Guru Bahasa Indonesia Profesional. Cetakan ketiga. Jakarta: Multi Kreasi
Satu Delapan.
Mulyasa. 2005. KBK Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nuryeni. 2015. Peningkatan Keterampilan Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi Bermuatan
Budaya Melalui Discovery Learning Berbantuan Puzzle Pada Siswa Kelas VII H SMP Negeri
18 Semarang. Laporan Penelitian. tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Negeri Semarang
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta:
Rajawali Pers.
Rostiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sagala, Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
1047
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGGALI INFORMASI
DARI TEKS ULASAN BUKU MENGGUNAKAN METODE SQ3R
BAGI SISWA KELAS IV SD NEGERI 005 NONGSA BATAM
Maryani Olga
SD Negeri 005 Nongsa Batam
[email protected]
Abstrak: Berdasarkan pengamatan awal diketahui kemampuan membaca pada mata
pelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN 005 Nongsa Batam masih rendah. Tujuan
penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam menggali informasi dari teks
ulasan buku menggunakan metode SQ3R. Metode penelitian yang digunakan adalah
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah
siswa kelas IVA SD Negeri 005 Nongsa. Setelah melakukan penelitian dalam dua siklus,
diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan model pembelajaran SQ3R dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan siswa dalam menggali informasi.
Kata kunci: kemampuan menggali informasi, ulasan buku, media pembelajaran, SQ3R
Membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dikuasai siswa. Keterampilan ini diajarkan sejak
siswa belajar di jenjang SD. Guru SD harus berkesinambungan dalam mengajarkan keterampilan
membaca kepada siswa sehingga siswa memiliki kemampuan membaca yang baik.
Salah satu materi membaca yang diajarkan di jenjang SD adalah menggali informasi. Menurut
Santosa (2008) membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.
Suatu proses yang menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat dalam
pandangan sekilas, dan agar makna kata-kata secara individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini
tidak terpenuhi, maka pesan tersurat dan tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses
membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Aktivitas membaca akan membukakan jendela pengetahuan yang luas, gerbang kearifan yang
dalam, dan lorong keahlian yang lebar di masa depan. Ada beberapa alternatif dalam melakukan
aktivitas membaca untuk studi yang lain dari kebiasaan yang mungkin dilakukan. Alternatif itu
dimaksudkan untuk meningkatkan kecepatan membaca yang sesuai dengan tujuan membaca, tingkat
kesukaran bahan, serta tingkat pemahaman yang hendak dicapai. Selain itu dimaksudkan untuk
menghasilkan pemahaman yang tertanam kuat-kuat dalam ingatan, tepat seperti yang dimaksudkan
oleh penulis/pengarang, berpotensi memperkaya diri pembaca, dan dapat membantu pembaca untuk
membangun ilmunya. Selain itu dimaksudkan untuk memberikan hasil pemahaman yang dapat
membantu pembaca untuk mahir membingkis gagasan pengarang.
Membaca adalah kegiatan yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh
pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis dengan tujuan untuk mendapatkan
informasi. Kegiatan membaca dapat dilakukan untuk memahami isi, ide atau gagasan baik yang
tersirat maupun yang tersurat. Salah satu keterampilan membaca teks yang diajarkan kepada siswa
kelas IV SD adalah membaca teks ulasan.
Berdasarkan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran membaca teks ulasan pada siswa
kelas IV SD Negeri 005 Nongsa Batam dapat diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut.
(1) Kemampuan siswa dalam menggali informasi dari teks ulasan masih rendah. (2) Kemampuan
siswa dalam mengidentifikasi teks ulasan masih rendah. (3) Guru banyak menggunakan metode
1048
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
ceramah, dan ternyata metode yang digunakan tersebut belum dapat meningkatkan minat siswa. (4)
Media pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang menarik.
Berdasarkan permasalahan tersebut perlu kiranya dilakukan perbaikan guna meningkatkan
kemampuan siswa dalam membaca teks ulasan. Pelaksanaan menggali informasi dilaksanakan dengan
memberikan tugas kepada siswa untuk membaca teks ulasan. Sebelum membaca teks ulasan, guru
menjelaskan langkah-langkah belajar yang dianggap penting untuk dilakukan siswa. Metode yang
digunakan untuk memperbaiki keadaan tersebut yaitu metode SQ3R.
Menurut Robinson (dalam Hanafiah, 2010:59) SQ3R adalah suatu metode yang mencakup
lima tahap membaca yakni survey, question, read, recite, dan review. Tahap-tahap dalam SQ3R
meliputi mensurvey, mengajukan pertanyaan, membaca dengan teliti, serta meninjau ulang dengan
cara membaca kembali. Survey yaitu menyelidiki terlebih dahulu untuk mendapatkan gambaran
selintas mengenai isi pokok yang akan dipelajari. Question yaitu mengajukan pertanyaan dari isi
pokok atau isi buku yang dibaca secara selintas. Read yaitu membaca secara aktif untuk memberikan
jawaban terhadap pertanyaan yang dibuat. Recite yaitu mengucapkan kembali atas jawaban yang
diberikan terhadap pertanyaan tersebut. Review yaitu mengajukan apa yang dibacakan dengan
memeriksakan kata cacatannya.
Tujuan metode SQ3R adalah untuk membekali siswa dengan suatu pendekatan yang
sistematis terhadap jenis-jenis kenyataan membaca. Selain itu, Metode SQ3R bertujuan untuk
meningkatkan proses belajar mengajar secara lebih mantap dan efisien untuk sebagai meteri bacaan.
Manfaat metode SQ3R menurut Mintowati (2003: 23) dijelaskan sebagai berikut. Survey
terhadap bacaan untuk memberi kemungkinan pada pembaca untuk menentukan apakah bacaan
tersebut sesuai. Metode SQ3R memberi kesempatan kepada para pembaca untuk berlaku fleksibel
artinya pengaturan kesempatan membaca untuk setiap bagian bahan bacaan tidaklah harus sama.
Metode SQ3R membekali pembaca untuk belajar secara sistematis. Penerapan metode SQ3R dalam
pembelajaran akan menghasilkan pemahaman yang komprehensif. Pemahaman komprehensif
bertahan lebih lama tersimpan dalam otak dalam sekedar mengingat fakta. Metode SQ3R dapat
meningkatkan pencapaian hasil belajar dengan efektif dan efisien.Kaitan metode SQ3R dengan hasil
belajar.
Kelebihan metode SQ3R menurut Fitria (2011) antara lain: (1) alokasi waktu yang digunakan
untuk memahami sebuah teks dengan model pembelajaran SQ3R mungkin tidak banyak berbeda
dengan mempelajari teks biasa; (2) siswa sulit dikondisikan (ramai) saat berdiskusi dengan teman
sebangkunya dalam mempelajari teks materi pelajaran; serta (3) tidak efektif dilaksanakan pada kelas
dengan jumlah siswa yang terlalu besar bimbingan guru tidak maksimal terutama dalam merumuskan
pertanyaan.
Sejalan dengan latar belakang di atas dilakukan penelitian yang dimaksudkan untuk
meningkatkan kualitas proses hasil belajar siswa untuk pembelajaran membaca pemahaman
karenanya tujuan dilakukan siswa dalam pembelajaran membaca pemahaman dengan metode SQ3R.
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah untuk siswa dapat menumbuhkan
aktivitas dan kreatifitas siswa dalam pelaksanaan proses belajar Bahasa Indonesia kelas IV SD 005
Nongsa sehingga lebih bermakna. Selain itu, untuk guru sebagai referensi dalam proses belajar
mengajar terhadap ketepatan dan keefektifan penggunaan strategi pengajaran dengan menggunakan
media album teks. Bagi sekolah dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam rangka
meningkatkan kualitas proses belajar mengajar sehingga dapat menjadikan lembaga pendidikan yang
dinamis dan inisiatif. Penelitian ini juga dapat memberi gambaran tentang pengalaman langsung
pelaksanaan pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sekaligus sebagai metode yang
dapat dilaksanakan dan dikembangkan kelak.
1049
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan. Langkah-langkah penelitian berupa siklus
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
PERENCANAAN
Pelaksanaan
Refleksi
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi
?
Pelaksanaan
SIKLUS II
Pengamatan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Prasiklus
Hasil analisis terhadap nilai tes formatif peserta didik kelas IV materi mengali informasi teks
ulasan pada pembelajaran prasiklus disajikan pada tabel 4.1 sebagai berikut.
Tabel 4.1 Nilai Tes Formatif Prasiklus
No
Nilai
1
2
3
4
5
6
100
90
80
70
60
<50
Jumlah
Jumlah
Siswa
0
1
2
1
4
21
29
KKM
70
Keterangan
Tuntas
Tdk Tuntas
√
√
√
√
√
Berdasarkan data pada tabel 4.1 di atas dapat dijelaskan bahwa jumlah peserta didik yang
memperoleh nilai di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah 4 peserta didik yaitu 20% dan
yang memperoleh nilai di bawah KKM adalah 21 peserta didik yaitu 80%. Hal ini dapat ditarik
kesimpulan bahwa perlu perbaikan pembelajaran supaya dapat meningkatkan ketuntasan belajar
peserta didik.
1050
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
Siklus I
Skenario pembelajaran pada siklus 1 dalam penelitian ini dipaparkan sebagai berikut.
1. Siswa membentuk kelompok heterogen, masing-masing beranggotakan 4 siswa.
2. Setiap kelompok siswa mendapatkan 1 album teks ulasan tentang peninggalan Kerajaan Hindu
Budha.
3. Secara berkelompok siswa membaca memindai teks ulasan tersebut (survey).
4. Secara berkelompok siswa menyusun pertanyaan untuk menggali informasi Dalam teks ulasan
[question]
5. Secara berkelompok siswa membaca intensif teks ulasan (read), kemudian berdiskusi untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan yang disusun.
6. Perwakilan siswa dalam tiap kelompok menyampaikan hasil diskusi di hadapan kelompokkelompok yang lain (recite). Kemudian kelompok yang lain memberi tanggapan.
7. Secara berkelompok siswa mengulang membaca untuk memastikan informasi-informasi yang
dapat diperoleh dari teks ulasan tersebut (review) dan merevisi jawabannya. Revisi juga
mempertimbangkan masukan/ tanggapan dari kelompok lain. Selanjutnya siswa menuliskan
hasilnya dan diserahkan kepada guru.
8. Guru memberi penguatan kepada siswa terkait materi menggali informasi dalam teks ulasan buku
cerita sejarah.
Pada siklus pertama, peneliti sebagai guru mencoba memperbaiki proses pembelajaran yang
telah dilaksanakan pada prasiklus. Untuk itu disusun kembali rencana pelaksanaan perbaikan
pembelajaran yang difokuskan pada komponen yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran atau
kelemahan pada proses pembelajaran yang telah dilakukan. Hasil tes formatif pada pelaksanaan
proses perbaikan pada siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Nilai Tes Formatif Siklus I
No
Nilai
Jumlah Siswa
1
2
3
4
5
6
100
90
80
70
60
<50
Jumlah
0
2
2
4
18
3
29
KKM
70
Keterangan
Tuntas
Tdk Tuntas
√
√
√
√
√
Berdasarkan data pada tabel 4.2 di atas dapat dijelaskan bahwa jumlah peserta didik yang
memperoleh nilai di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) adalah 21 peserta didik yaitu 40% dan
yang memperoleh nilai di bawah KKM adalah 8 peserta didik yaitu 60%.
Jumlah peserta didik yang tuntas belajar untuk materi mengali informasi teks ulasan mata
pelajaran Bahasa Indonesia sudah ada perbaikan. Jumlah peserta didik yang memperoleh nilai di atas
KKM pada siklus pertama menjadi 40%. Dengan kata lain, jumlah peserta didik yang belum tuntas
belajar pada materi membaca kritis adalah 60%. Hasil tersebut masih dirasakan belum optimal
mencapai apa yang diharapkan. Perbaikan pembelajaran pada materi tersebut masih perlu di lakukan.
Pada perbaikan pembelajaran siklus pertama ini ditemukan kelemahan secara kualitatif antara
lain guru menggunakan proses pembelajaran satu arah dan tidak adanya media pembelajaran yang
1051
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
tepat. Berdasarkan hasil refleksi diri diperoleh kesimpulan bahwa proses pembelajaran pada siklus I
masih terdapat kelemahan yang harus diperbaiki. Untuk itu perlu diadakan pembelajaran perbaikan
pada siklus berikutnya.
Siklus II
Pada perbaikan pembelajaran siklus II, penulis mencoba memperbaiki proses pembelajaran
yang telah dilaksanakan pada siklus I. Hasil refleksi diri tentang kelemahan perbaikan pembelajaran
siklus pertama terdapat pada peserta didik yang belum tuntas pada materi mengali informasi dari teks
ulasan buku.
Untuk itu disusun kembali rencana pelaksanaan pembelajaran yang difokuskan pada
komponen kelemahan proses pembelajaran siklus pertama. Hasil penilaian pada pelaksanaan proses
perbaikan pembelajaran siklus II dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Nilai Tes Formatif Siklus II
No
Nilai
Jumlah Siswa
1
2
3
4
5
6
100
90
80
70
60
<50
Jumlah
3
7
12
6
1
0
29
KKM
70
Keterangan
Tuntas
Tdk Tuntas
√
√
√
√
√
Berdasarkan data pada tabel 4.3 di atas dapat dijelaskan bahwa jumlah peserta didik yang memperoleh
nilai di atas KKM untuk materi mengali informasi dari teks ulasan pada siklus II sudah mencapai
95%. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan
dari perbaikan pembelajaran siklus I ke perbaikan pembelajaran siklus II.
Hasil tes pada dua siklus pelaksanaan proses perbaikan pembelajaran dapat dilihat pada rekapitulasi
nilai pada tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4 Rekapitulasi Nilai Bahasa Indonesia
No
1
2
3
4
5
6
Nilai
100
90
80
70
60
<50
Jumlah
Rata – rata
Perolehan Nilai Peserta Didik
Prasiklus
Siklus I
Siklus II
0
0
3
1
2
7
2
2
12
1
4
6
4
18
1
21
3
0
29
29
29
47,50
65,50
84,00
Ket
Untuk lebih jelasnya, maka peningkatan perolehan nilai masing - masing siklus di atas dapat
ditunjukkan pada gambar grafik 4.1 berikut.
1052
ISBN: 978 – 602 – 1150 – 21 – 4
12
10
8
Prasiklus
6
Siklus I
4
Siklus II
2
Jumlah
Siswa
0
20
30
40
50
60
70
80
90
100
Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Perolehan Nilai Bahasa Indonesia.
Berdasarkan rekapitulasi nilai, maka pembelajaran yang dilaksanakan sudah menunjukkan
peningkatan yang berarti pada putaran siklus dua. Perbaikan yang terjadi dalam perbaikan
pembalajaran adalah semua peserta didik secara aktif menunjukkan keterlibatan mereka, hasil belajar
mereka berdasarkan tes formatif sudah ada perbaikan bahkan sudah banyak yang mendapat nilai yang
memuaskan, mampu mengerjakan latihan secara tertulis maupun lisan yag diberikan secara
individual.
Pembahasan Hasil Penelitian
Siklus I
Pada perbaikan pembelajaran siklus pertama, hasil belajar peserta didik menunjukkan bahwa
dari 29 peserta didik, baru 8 orang (40%) yang mencapai hasil belajar di atas KKM 70, dan sebagian
peserta didik masih berada di bawah nilai KKM 70 (60%).
Dari analisa dan hasil belajar yang dicapai dapat diidentifikasi faktor keberhasilan dan
kelemahan proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Keberhasilan pelaksanaan proses perbaikan
pembelajaran siklus pertama adalah guru telah mengaitkan materi pelajaran dengan penjelasan pada
pertemuan yang lalu, dominasi guru dalam proses pembelajaran telah berkurang, sebagian peserta
didik menunjukkan keaktifan. Kelemahannya pendekatan mengajar masih secara klasikal,
pembelajaran masih sangat menekankan aspek pengetahuan sementara pada aspek keterampilan
kurang diperhatikan, kurang mengembangkan pembelajaran kerjasama peserta didik, tidak adanya
media pembelajaran membuat siswa kesulitan dalam memahami pembelajaran.
Pada pertemuan di siklus pertama ini tindakan pada proses perbaikan pembelajaran dengan
melibatkan kerjasama kelompok belum dapat dilaksanakan secara optimal, sehingga peserta didik
masih sangat tergantung pada instruksi guru (peneliti). Dilihat dari hasil tes formatif belum berhasil
secara memuaskan dengan rata-rata 65,5. Ketuntasan belajar sejumlah peserta didik belum mencapai
85% sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan pembelajaran di siklus 2.
Siklus 2
Pada perbaikan pembelajaran siklus dua, hasil belajar peserta didik sudah memuaskan. Bila
dibandingkan nilai hasil belajar tes formatif prasiklus dan siklus satu tampak ada perbedaan, terjadi
kenaikan hasil ulangan formatif rata-rata = 27,19 dimana rata-rata pada siklus 2 dan 1 = 84,00 – 65,50
= 18,50. Pada siklus 1 (satu) peserta didik yang mendapatkan nilai di atas KKM adalah 40%
sementara pada siklus 2 (dua) yang mendapat nilai di atas KKM adalah 95% maka terjadi kenaikan
55% peserta didik yang mendapatkan nilai di atas KKM.
1053
Prosiding Seminar Nasional Pendidik dan Pengembang Pendidikan Indonesia yang Diselenggarakan oleh APPPI dan
Dinas Pendidikan Kota Batu pada 4 Desember2016
Dengan hasil-hasil yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran
materi ajar menggali informasi dari teks ulasan dengan media kotak album dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai penerapan model SQ3R untuk
meningkatkan kemampuan membaca cepat, secara umum dapat disimpulkan bahwa metode SQ3R
dapat meningkatkan kemampuan membaca teks ulasan sesuai kelas IV SDN OO5 Nongsa Batam.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Crow, Lester. D. & Crow Alice. 2000. Perkembangan Dan Minat Peserta Didik. Jakarta : Rineka
Cipta
Depdiknas. 2006. Permendiknas RI Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas
Hanafiah, 2010. Media Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka
Santosa, Puji, dkk. 2008. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Jakarta: Universitas
Terbuka.
1054
Download