siaran pers bersama

advertisement
SIARAN PERS BERSAMA
Lindungi Konsumen, Lima Kementerian Sinergi Pengawasan Barang
Jakarta, 20 Desember 2016 – Sebanyak lima Kementerian/Lembaga bersinergi meningkatkan koordinasi
dan efektivitas pengawasan pelaksanaan perlindungan terhadap konsumen, serta penegakan hukum.
Sinergi dilakukan melalui perpanjangan nota kesepahaman hari ini, Selasa (20/12) di Kantor
Kementerian Perdagangan, Jakarta.
Kelima Kementerian/Lembaga tersebut yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian,
Kementerian Keuangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM).
"Sinergi dilaksanakan guna meningkatkan koordinasi dan efektivitas pengawasan terhadap barang yang
dilarang, diawasi, dan/atau diatur tata niaganya di tempat pemasukan dan pengeluaran, serta
pengawasan barang beredar dan barang yang diatur tata niaganya di pasar dan sarana perdagangan
lainnya, berdasarkan prinsip kemitraan dan kebersamaan," ungkap Menteri Perdagangan Enggartiasto
Lukita yang menyaksikan penandatanganan tersebut.
Nota kesepahaman ditandatangani 9 Pejabat Eselon I dari 5 Kementerian/Lembaga, yaitu Direktur
Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, serta Direktur Jenderal
Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN), Kementerian Perdagangan; Kepala Badan Ketahanan
Pangan dan Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian; Direktur Jenderal Bea dan Cukai,
Kementerian Keuangan; Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dan Kepala
Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan
Perikanan; serta Sekretaris Utama BPOM.
Ruang lingkup nota kesepahaman ini menyangkut banyak aspek, seperti pengawasan terhadap barang
yang dilarang, diawasi, dan diatur tata niaganya di tempat pemasukan dan pengeluaran. Pengawasan
juga dilakukan terhadap kegiatan perdagangan serta barang beredar di pasar dan sarana perdagangan
lainnya, sinkronisasi dan koordinasi kewenangan dalam melaksanakan pengawasan, dukungan
penyediaan sumber daya manusia, sarana, infrastruktur dan informasi terkait pengawasan dan
pengujian, penyusunan rencana aksi jangka pendek dan jangka menengah, serta monitoring dan
evaluasi.
Nota kesepahaman ini merupakan lanjutan kerja sama yang telah dilaksanakan melalui
penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Desember 2013 di Kementerian Perdagangan. Nota
kesepahaman tersebut berlaku untuk jangka waktu 3 tahun dan berakhir pada 18 Desember 2016.
Mendag berharap, penandatanganan nota kesepahaman lanjutan ini dapat memperkuat jejaring
pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan perdagangan dan pengawasan barang beredar, baik
terhadap pangan segar, pangan olahan, nonpangan maupun obat-obatan, dan kosmetik.
"Dengan demikian, pelaksanaan tugas menjadi lebih terkoordinasi, terpadu, serta saling mendukung
sesuai tugas dan kewenangan masing-masing Kementerian/Lembaga," ungkap Enggar.
Nota kesepahaman ini juga menjadi bukti bahwa Pemerintah sudah seiring, sejalan, dan bahu membahu
memikul dan menyelesaikan tanggung jawab, serta menyingkirkan jauh-jauh rasa ego sektoral.
Mendag Enggar yakin, jika kinerja pengawasan semakin meningkat dan pelaku usaha hanya
memperdagangkan barang yang sesuai ketentuan, maka barang buatan Indonesia akan semakin
berdaya saing dan perlindungan konsumen akan dapat terwujud.
"Peredaran barang dan jasa yang tidak sesuai ketentuan dapat diminimalisasi serta tertib niaga dapat
terwujud. Di sisi lain, kita juga tetap terus melakukan edukasi konsumen sehingga konsumen Indonesia
menjadi berdaya dan cerdas,” ujar Mendag.
Pengawasan Barang
Sementara itu, Dirjen PKTN Syahrul Mamma memaparkan bahwa sampai November 2016, Kemendag
melalui Direktorat Jenderal PKTN telah melaksanakan pengawasan terhadap 612 barang. Pengawasan
meliputi 285 barang berdasarkan parameter SNI, 182 barang berdasarkan parameter label Bahasa
Indonesia, dan 145 barang berdasarkan parameter Manual Kartu Garansi (MKG).
Khusus untuk parameter SNI, pengawasan juga dilakukan di gudang importir. Dari 285 barang,
ditemukan 139 barang sesuai persyaratan SNI, 132 barang tidak memenuhi ketentuan SNI, dan 14
barang masih dilakukan pengujian. Sementara itu dari 182 barang hasil pengawasan label Bahasa
Indonesia, terdapat 68 barang yang telah memenuhi ketentuan dan 114 barang belum memenuhi.
Adapun dari 145 barang hasil pengawasan MKG, terdapat 29 barang yang memenuhi ketentuan dan 116
barang masih belum memenuhi ketentuan.
“Terhadap pelaku usaha yang produknya tidak memenuhi ketentuan telah dilakukan teguran tertulis,
pemanggilan, maupun pencabutan Nomor Pendaftaran Produk (NRP) atau Nomor Pendaftaran Barang
(NPB),” tegas Syahrul.
Pengawasan di Sektor Kelautan dan Perikanan
Adapun Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja, yang juga menjabat
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan sepakat bahwa
nota kesepahaman yang baru saja ditandatangani akan sangat membantu pengawasan di sektor
kelautan dan perikanan.
Selain kegiatan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing), perdagangan dan peredaran produk
kelautan dan perikanan yang dilarang, baik berupa produk olahan maupun perdagangan bagian tubuh
spesies ikan yang dilindungi, juga memerlukan pengawasan yang intensif. Seperti halnya perdagangan
insang pari manta kering, sirip ikan hiu, serta perdagangan telur penyu. Perdagangan spesies ikan yang
dilindungi serta bagian tubuhnya akan berdampak terhadap kelestarian sumber daya kelautan dan
perikanan. Sinergi antarinstansi ini menjadi sangat penting untuk menangani peredaran berbagai produk
yang berasal dari spesies langka dan dilindungi.
--selesai-Informasi lebih lanjut hubungi:
Luther Palimbong
Kepala Biro Hubungan Masyarakat
Kementerian Perdagangan
Telp/Fax: 021-3860371/021-3508711
Email: [email protected]
Frida Adiati
Sekretaris Direktorat Jenderal
Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga
Kementerian Perdagangan
Telp/Fax: 021-3451692/021-3858171
Email: [email protected]
Download