peran guru pai dalam menciptakan komunikasi

advertisement
PERAN GURU PAI DALAM MENCIPTAKAN KOMUNIKASI
YANG EFEKTIF DENGAN SISWA PADA PEMBELAJARAN
PAI DI SMP DUA MEI CIPUTAT
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah
Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I)
Oleh
CYNTHIA ARIYANI
NIM. 109011000188
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
Skripsi berjudul Peran Guru PAI dalam Menciptakan Komunikasi Yang
Efektif Dengan Siswa pada Pembelajaran PAI di SMP Dua Mei Ciputat
disusun oleh Cynthia Ariyani, NIM. 109011000188, Jurusan Pendidikan Agama
Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya
ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang
ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 27 Januari 2014
Yang mengesahkan
Pembimbing
Drs. H. Masan AF, M.Pd
NIP. 195107161981031005
i
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi berjudul Peran Guru PAI Dalam Menciptakan Komunikasi
Yang Efektif dengan Siswa pada Pembelajaran PAI di SMP Dua Mei Ciputat
disusun oleh Cynthia Ariyani, NIM. 109011000188, Jurusan Pendidikan Agama
Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta. Dan telah dinyatakan lulus dalam ujian munaqasyah pada
tanggal 14 April 2014 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak
memperoleh gelar sarjana S1 (S.Pd.I) dalam Bidang Pendidikan Agama Islam.
Jakarta, 14 April 2014
Panitia Ujian Munaqasyah
Tanggal
Tanda Tangan
……...………
…………………..
(Marhamah Saleh, Lc. MA)
NIP. 19720313 200801 2 010
Penguji I
..…………….
…………………..
(Drs. A. Basuni, M.Ag)
NIP. 19491126 197901 1 001
……………...
…………………..
……………...
…………………..
Ketua Panitia (Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam)
(Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag)
NIP. 19580707 198703 1 005
Sekretaris (Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam)
Penguji II
(Dr. Dimyati, M.Ag)
NIP. 19640704 199303 1 003
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Dra. Hj. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D
NIP. 19591020 198603 2 001
ii
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Cynthia Ariyani
Tempat, Tanggal Lahir
: Jakarta, 04- 06- 1991
Nim
: 109011000188
Jurusan
: Pendidikan Agama Islam
Angkatan Tahun
: 2009
Alamat
: Jl. Masjid Darussalam No 24 Rt 004/014
Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi
Banten
MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
Bahwa skripsi yang berjudul: Peran Guru PAI Dalam Menciptakan
Komunikasi Yang Efektif dengan Siswa pada Pembelajaran PAI di SMP Dua
Mei Ciputat adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen:
Dosen Pembimbing
: Drs. H. Masan. AF, M.Pd
NIP
: 195107161981031005
Dosen Jurusan
: Pendidikan Agama Islam
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya sendiri
Jakarta, 27 Januari 2014
Cynthia Ariyani
iii
ABSTRAK
Cynthia Ariyani (109011000188): Peran Guru PAI Dalam Menciptakan
Komunikasi yang Efektif dengan Siswa pada Pembelajaran PAI di SMP Dua
Mei Ciputat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peran guru PAI dalam menciptakan
komunikasi yang efektif dengan siswa pada pembelajaran PAI. Penelitian ini telah
dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember 2013 di SMP Dua Mei Ciputat.
Dalam penelitian ini penulis menjelaskan upaya guru dalam meningkatkan
komunikasi yang efektif terhadap siswa. Berdasarkan hasil penelitian dengan
menggunakan pendekatan kualitatif yakni dengan metode penelitian studi kasus
maka dapat disimpulkan bahwa peran guru PAI di SMP Dua Mei Ciputat
memiliki peranan yang efektif dalam menciptakan komunikasi yang efektif
dengan siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam yakni dalam
penyampaian materi yang disampaikan oleh guru PAI, siswa mampu
memahaminya. Dalam hal strategi pembelajaran yang digunakan dan pemanfaatan
sarana dan prasarana sudah cukup baik. Dari hasil penilaian ditemukan bahwa
hasil belajar siswa kelas VIII pada pembelajaran PAI mendapat hasil rata-rata
yang sangat baik, hal ini dapat dilihat dari nilai raport siswa yang telah memenuhi
standar KKM. Hal tersebut tak lepas dari pengetahuan guru PAI dalam
menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas dan juga dari pemanfaatan guru
PAI terhadap sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah. Pengetahuan guru
merupakan salah satu faktor upaya yang dilakukan seorang guru dalam
menciptakan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa peran guru dalam menciptakan komunikasi yang efektif
dengan siswa dinilai baik.
iv
ABSTRACT
Cynthia Ariyani (109011000188): Teacher’s Role in Creating
Communication of Islamic Education (PAI) Effectively with Student on The
Learning in Dua Mei Junior High School, Ciputat
This study aims to determine the role of PAI teachers in creating
communication effectively on learning PAI with students effectively. This study
was conducted in October-December 2013in Dua Mei Junior High School,
Ciputat.
In this study, the author describes the efforts of teacher in improving
communication to students effectively. Based on the results of this study using a
qualitative approach that is in the case of study method, it can be concluded that
the role of teachers on learning PAI in Dua Mei Junior High School has an
effective role in creating effective communication in delivering the material of
PAI and student are able to understand it.
In terms of learning strategies which is used and the use of facilities and
infrastructure of school is good enough. From the results of assessment found that
the 8th grade of Dua Mei Junior High School got the average results very good in
learning PAI, it can be seen from the report cards of students which already
reached the standard of minimum point (KKM). It cannot be separated by the role
of teacher knowledge in delivering the material in the classroom and also the
utilization of facilities and infrastructure. Knowledge of teacher is the one of
factors that made the teacher attempts to create a good communication among
students and teacher. It can be concluded that teacher’s role in creating
communication effectively with students is considered good.
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, tidak ada ungkapan yang maha dahsyat, yang lebih indah,
untuk diungkapkan selain rasa syukur yang sedalamnya-dalamnya kepada Allah
SWT, sang pemilik takdir. Yang memberikan nikmat dan hidayahNya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad, shalawat beriring salam selalu
tercurah kepada junjungan mulia Nabi Muhammad saw. seorang revolusioner,
sang pemimpin, sang pencerah bagi umat islam.
Banyak tantangan dan hambatan yang penulis hadapi dalam penulisan
skripsi ini, namun berkat kesungguhan hati, kerja keras, dorongan dan juga
bantuan dari berbagai pihak sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.
Hambatan dan kesulitan tersebut tidak ada yang tidak berguna (sia-sia), penulis
akui semua itu menjadi pelajaran yang berharga.
Selanjutnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan
pengetahuan penulis sangat terbatas. Namun, dengan adanya bimbingan dan
arahan serta motivasi dari berbagai pihak sangat membantu penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih
sedalam-dalamnya kepada pihak yang telah berjasa dalam penulisan skripsi ini,
kepada yang terhormat:
1.
Ibu Dr. Hj. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2.
Bapak Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag selaku Kepala Jurusan Pendidikan
Agama Islam.
3.
Ibu Marhamah Saleh, Lc. MA selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan
Agama Islam.
vi
4.
Bapak Drs. H. Masan A.F, M.Pd selaku pembimbing penulisan skripsi
yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran.
5.
Bapak Muhammad Zuhdi S.Ag, M.Ed, Dosen Penasehat Akademik.
6.
Bapak dan Ibu Dosen yang telah membimbing penulis selama kuliah di
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
7.
Kepala Sekolah SMP Dua Mei, guru dan staf SMP Dua Mei Ciputat, yang
telah membantu saya dalam penulisan skripsi ini.
8.
Teristimewa
untuk
ayahanda
Wahyudin
dan
ibunda
tercinta
Purbayaningsri yang selalu memberikan kasih sayang, doa dan motivasi
yang tak terhingga kepada penulis.
9.
Saudara dan saudariku tersayang kepada Widya Febrianti, Silvia
Anggreini, Juli Fajar, Farrel, Chandra Yuda Pamungkas, Bunga Aprilia
Putri dan nenek tercinta Siti Mariah yang telah memberikan doa dan
dukungan kepada penulis.
10.
Teman-temanku tercinta, Yayah, Irma, Kokom, Aidah, Nadia, Ichon,
Sarah, Via, Munzir el-imoenk, Hariri, Nabil, Rizky dan Tya yang telah
bersedia mendampingi dan memotivasi penulis.
11.
Kawan-kawan tercinta Alumni Pon-Pes Al-Amanah Al-Gontory angkatan
2009, Kelas E PAI 2009 dan Kelas PAI Sejarah.
12.
Teman-teman PPKT, Ibu Neng meti Su’aibah, Ibu Sari Nur’aini dan Ibu
Lina Andriyani.
13.
Imran Satria Muchtar yang senantiasa mendoakan, membantu, dan
memberikan dukungan kepada penulis dalam melakukan penelitian.
14.
Serta semua pihak yang tidak sempat disebutkan satu persatu dalam
lembaran ini.
Ciputat, 27 Januari 2014
Penulis
Cynthia Ariyani
vii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ...................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ……........................................................................... ii
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH ...................................................... iii
ABSTRAKSI ......................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR DAN BAGAN ..................................................................
xi
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xii
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................... 7
BAB II
C. Pembatasan Masalah ...................................................................
7
D. Perumusan Masalah ....................................................................
8
E.
8
Tujuan dan Manfaat Penelitian ...................................................
Kajian Teoritis
A. Kajian Teoritis.............................................................................. 9
1. Hakikat Guru...........................................................................
9
a. Pengertian Guru...............................................................
9
b. Peranan Guru.................................................................... 10
c. Tugas Guru....................................................................... 14
d. Tanggung jawab Guru...................................................... 15
2. Hakikat Pendidikan Agama Islam...........................................
16
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam...............................
16
viii
b. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam..................
17
3. Hakikat Komunikasi................................................................
19
a. Pengertian dan Tujuan Komunikasi.................................
19
b. Unsur-unsur Komunikasi.................................................
22
c. Proses Komunikasi........................................................... 23
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi.............. 24
e. Komunikasi Efektif..........................................................
26
f. Komunikasi Efektif dalam Pendidikan............................
28
4. Peran Guru dalam Menciptakan Komunikasi Efektif.............. 29
B. Hasil Penelitian yang Relevan.....................................................
BAB III
BAB IV
31
Metodologi Penelitian
A. Tempat dan Waktu Penelitian .....................................................
33
B. Latar Penelitian (Setting) ............................................................
33
C. Metode Penelitian........................................................................
33
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ............................
35
E. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data .........................
38
F. Analisis Data ...............................................................................
39
Hasil Penelitian
A. Profil Sekolah SMP Dua Mei Ciputat …………………………. 42
1. Sejarah Alamat Lengkap dan Sejarah Singkat SMP Dua Mei
Ciputat ................................................................................... 42
2. Visi, Misi, dan Tujuan.............................................................
43
3. Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan................................ 44
4. Data Siswa SMP Dua Mei Tahun Pelajaran 2010-2013.......... 47
5. Data Sarana dan Prasarana....................................................... 47
ix
6. Struktur Kurikulum SMP Dua Mei Ciputat............................. 49
7. Struktur Organisasi Sekolah....................................................
53
8. Jadwal Kegiatan Belajar Mengajar.......................................... 54
B. Deskripsi Data……….................................................................
56
C. Analisis Data................................................................................
58
D. Temuan Hasil Penelitian..............................................................
66
E.
BAB V
Keterbatasan Penelitian ............................................................... 70
Kesimpulan, Implikasi dan Saran
A. Kesimpulan .................................................................................
72
B. Implikasi ...................................................................................... 72
C. Saran ............................................................................................ 73
Daftar Pustaka ………………………………………………………………….
Lampiran
x
74
DAFTAR TABEL
No Tabel
4.1
Nama Tabel
Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Dua
Halaman
44
Mei Ciputat
4.2
Data Siswa SMP Dua Mei Tahun Ajaran 2013
47
4.3
Data Sarana dan Prasarana Sekolah
47
4.4
Kurikulum Pelajaran di SMP Dua Mei Ciputat
50
4.5
Jadwal Kegiatan Belajar di SMP Dua Mei Ciputat
54
xi
DAFTAR GAMBAR DAN BAGAN
Nomor Gambar
Nomor Gambar
Halaman
Gambar 2.1
Proses Komunikasi
23
Gambar 3.1
Situasi Sosial (Social situation)
34
Gambar 4.1
Menunjukkan Proses Komunikasi
58
Gambar 4.2
Gerbang Masuk dan Pos Keamanan
64
SMP Dua Mei Ciputat
Gambar 4.3
Lapangan dan Mushola SMP Dua
64
Mei Ciputat
Gambar 4.4
Perpustakaan dan Lab Komputer
64
SMP Dua Mei Ciputat
Gambar 4.5
Ruang Kelas SMP Dua Mei Ciputat
65
Gambar 4.6
Proses Pembelajaran Pendidikan
65
Agama Islam (PAI)
Gambar 4.7
Kegiatan Belajar di Ruang
Multimedia SMP Dua mei Ciputat
xii
65
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1:
Kalender Pendidikan SMP Dua Mei Ciputat Tahun
Ajaran 2013-2014
Lampiran 2:
Struktur Organisasi Sekolah SMP Dua Mei Ciputat
Lampiran 3:
Mata Pelajaran Wajib SMP Dua Mei Ciputat
Lampiran 4:
Pengembangan Diri SMP Dua Mei Ciputat
Lampiran 5:
Sistem Evaluasi
Lampiran 6:
Pedoman Wawancara dan Hasil Wawancara
Lampiran 7:
Daftar Kelas VIII Siswa SMP Dua Mei Ciputat
Lampiran 8:
Hasil Belajar Siswa Kelas VIII
Lampiran 9:
Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
Lampiran 10:
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Lampiran 11:
Uji Referensi
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peran penting dalam rangka memelihara eksistensi setiap
bangsa di dunia sepanjang zaman. Pendidikan sangat menentukan bagi terciptanya
peradaban masyarakat yang lebih baik. Untuk itulah perwujudan masyarakat yang
berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan, terutama dalam
mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang semakin berperan menampilkan
keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan berdaya saing dengan bangsabangsa di dunia.
Dalam undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa: “Pendidikan adalah
usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara”.1
Pengertian pendidikan di atas menunjukkan bahwa tugas seorang pendidik
adalah membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi yang dimiliki anak
didik, serta ikut berperan serta di dalam meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta
membentuk kepribadian siswa baik secara lahir maupun batin.
Sedangkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, seperti tercantum dalam
Undang-Undang RI Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 yang
berbunyi: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
1
Undang-undang RI, No 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta:
Visimedia, 2003), cet ke-1, h. 5
1
2
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2
Dari pengertian pendidikan dan fungsi serta tujuan pendidikan di atas, maka
akan tampak jelas target dari pendidikan itu sendiri yaitu diharapkan akan
terwujudnya bangsa Indonesia yang mempunyai potensi dan berkepribadian
seutuhnya, yang mampu bertanggung jawab untuk dirinya dan orang-orang yang di
sekitarnya.
Dalam mengembangkan potensi peserta didik dalam proses belajar mengajar
tentunya seorang guru mempunyai suatu peranan, Peran yang dimaksud adalah pola
tingkah laku. Guru harus bertanggung jawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui
interaksi dalam proses pembelajaran. Peran guru merupakan faktor yang
mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar. Dengan kata lain guru
harus mampu menciptakan suatu situasi kondisi belajar yang sebaik-baiknya.
Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran kepada siswa melalui
interaksi komunikasi dalam proses belajar mengajar yang dilakukannya. Keberhasilan
guru dalam menyampaikan materi pelajaran bergantung pada kelancaran interaksi
komunikasi antara guru dengan siswanya.3 Oleh karena itu, pendidik adalah pihak
yang paling bertanggung jawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif
dalam proses pembelajaran, sehingga sebagai pendidik atau pengajar, guru dituntut
memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses
pembelajaran yang efektif.
Kata komunikasi berasal dari kata latin cum, yaitu kata depan yang berarti
dengan dan bersama dengan, dan unus, yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari
kedua kata itu terbentuk kata benda communion yang dalam bahasa Inggris menjadi
2
Ibid., h. 5-6
Asnawir & Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 1
3
3
communion dan berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan,
hubungan.4
Menurut Hardjana, komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses proses
penyampaian makna dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang kepada
orang lain melalui media tertentu. Pertukaran makna merupakan inti dari yang
terdalam kegiatan komunikasi karena yang disampaikan orang dalam komunikasi
bukan kata-kata melainkan arti atau makna dalam kata-kata. Dalam komunikasi,
orang bukan menanggapi kata-kata, melainkan arti dari kata-kata. Karena interaksi,
komunikasi merupakan kegiatan yang dinamis.5
Onong Uchajana Effendi merumuskan komunikasi sebagai proses pernyataan
antar manusia. Hal yang dinyatakan itu adalah fikiran atau perasaan seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Dalam bahas
komunikasi, pernyataan disebut sebagai message (pesan). Orang yang menyampaikan
pesan disebut communicator (komunikator). Sedangkan orang yang menerima
pernyataan disebut communicate (komunikan).6
Disadari atau tidak dalam kesehariannya manusia selalu berkomunikasi, baik
komunikasi antar individu, individu antar kelompok ataupun antar kelompok. Dengan
kata lain komunikasi sudah seperti halnya manusia membutuhkan oksigen untuk
bernafas, karena komunikasi merupakan hal yang sudah biasa dilakukan. Kebanyakan
kita tidak menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan dalam berkomunikasi
untuk itu diperlukan komunikasi yang mampu membangun kerjasama antara individu
yang satu dengan individu yang lain, individu dengan kelompok ataupun kelompok
yang satu dengan yang lainnya, yakin dengan berkomunikasi yang efektif sehingga
individu yang satu dengan individu yang lainnya akan saling memahami, saling
4
Ngainun Naim, Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2011), h.
17
5
Ibid,. h. 18
Onong Uchajana Effendi, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: CA Publisher,
2003), h. 28
6
4
mengisi, dan saling memberi. Dengan demikian potensi dari masing-masing individu
akan semakin berkembang.
Kegiatan komunikasi dalam diri manusia, akan merupakan bagian hakiki dalam
kehidupannya. Dinamika kehidupan masyarakat akan senantiasa bersumber dari
kegiatan komunikasi dalam hubungannya dengan pihak lain dan kelompok. Bahkan
dapat dikatakan melalui komunikasi akan terjaminlah kelanjutan hidup masyarakat
dan terjamin pula kehidupan manusia.7 Tidak ada persoalan sosial dari waktu ke
waktu yang tidak melibatkan komunikasi. Justru itu dari waktu ke waktu manusia
dihadapkan dengan masalah sosial, yang penyelesaiannya menyangkut komunikasi
yang “lebih banyak” ataupun yang “lebih baik” setidak-tidaknya semua
kesalahpahaman yang menimbulkan konflik antara manusia, baik dalam bidang
politik, sosial, dan ekonomi maupun dalam bidang militer dinyatakan sebagai
“kesalahan komunikasi”. Memang komunikasi sering dimunculkan sebagai “kambing
hitam”, jika terjadi keriwetan dan ketidakharmonisan dalam hubungan antar manusia
dan antara bangsa (seperti konflik dalam rumah tangga, timbulnya perang, dan
sebagainya.8
Komunikasi dipandang sebagai proses untuk mengubah perilaku orang lain, oleh
karena setiap hari manusia melakukan komunikasi maka komunikasi sudah menjadi
bagian dari kehidupan rutin sehari-hari. Komunikasi yang efektif dengan orang lain
sangat diperlukan berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan rumah tangga,
tempat pekerjaan, di pasar atau dalam masyarakat dan lembaga pendidikan. Tanpa
komunikasi manusia tidak akan dapat berinteraksi dengan lingkungan terutama
lingkungan lembaga pendidikan antara guru dan murid.
Pada dasarnya seorang guru adalah seorang komunikator. Proses pembelajaran
yang berlangsung di dalam kelas merupakan proses komunikasi. Dalam konteks
komunikasi pendidikan, guru harus memenuhi segala prasyarat komunikasi yang
7
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2003), cet ke-10, h. 7
8
Anwar Arifin, Ilmu Komunikasi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), h. 20
5
efektif dalam menyampaikan pelajaran. Jika tidak, proses pembelajaran akan sulit
mencapai hasil maksimal.9 Oleh karena itu, komunikasi efektif dalam pembelajaran
merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari
pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud
pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih
baik. Dalam kegiatan pendidikan pada umumnya, dan dalam proses kegiatan belajar
pada khususnya, komunikasi merupakan salah satu faktor utama yang turut serta
dalam penentuan pencapaian tujuan pendidikan. Maka untuk mencapai interaksi
belajar mengajar perlu adanya komunikasi yang jelas antara guru (komunikator) dan
siswa (komunikan). Salah satu bentuk terjalinnya komunikasi yang efektif antara
guru dan murid dalam proses belajar mengajar adalah seorang guru dapat
menyampaikan sebuah materi dengan berbagai metode dan variasi. Dengan adanya
sebuah variasi metode yang digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan
Agama Islam bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa, agar selalu antusias, tekun
dan penuh partisipasi sehingga dapat terjalinnya sebuah komunikasi yang baik dalam
menyampaikan materi di dalam sebuah kelas.
Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, mengurangi
kejenuhan dan kebosanan, meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi
pelajaran dan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sesuai
dengan tingkat perkembangan dan kemampuannya.10 Variasi dalam kegiatan
pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut: (1) variasi dalam penggunaan
metode pembelajaran, (2) variasi dalam penggunaan media dan sumber belajar,
(3) variasi dalam pemberian contoh dan ilustrasi, dan (4) variasi dalam interaksi
dan kegiatan peserta didik.11
9
Ngainun Naim, Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2011), h.
112
10
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), cet ke-7,
h. 78
11
Ibid.,h. 80
6
Jika melihat makna penting dari komunikasi, dapat diketahui bahwa komunikasi
merupakan hal yang besar sekali peranannya dalam kehidupan, terutama dalam
sebuah dunia pendidikan. Di lembaga pendidikan formal, peran komunikasi sangat
berpengaruh terhadap efektifitas atau proses pembelajaran terutama komunikasi
antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa atau komponen yang satu dengan yang
lainnya. Peranan tersebut akan berjalan dengan baik apabila ada komunikasi yang
baik antara komponen-komponen terkait.
Akan tetapi dalam realita pendidikan saat ini terdapat kesalahan pada peran guru
PAI dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Karena dalam proses
belajar mengajar, guru PAI menggunakan metode yang terlalu sederhana, kurang
bervariatif yaitu cenderung menggunakan metode ceramah saja. Hal tersebut
menjadikan siswa merasa bahwa belajar Pendidikan Agama Islam itu membosankan.
Sehingga dapat menjadikan komunikasi yang kurang efektif dalam proses
penyampaian materi yang diajarkan. Dalam hal ini juga materi yang diberikan
mungkin terlalu banyak, sehingga siswa kurang memahami atau mencerna materi
yang diberikan.
Hal lain yang menjadikan komunikasi kurang maksimal yaitu lingkungan kelas
yang tidak kondusif yakni jumlah siswa yang terlalu banyak, sehingga tidak tercipta
proses komunikasi yang efektif, dan siswa menjadi acuh tak acuh terhadap
pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Hal tersebut pula dapat berdampak pada
faktor internal atau eksternal siswa. Faktor internal siswa adalah dorongan dalam diri
siswa, apakah ada minat atau tidak siswa dalam kegiatan belajar mengajar Pendidikan
Agama Islam, tetapi yang lebih berperan adalah eksternal siswa, bagaimana
lingkungan di sekitarnya.
Selain itu, banyak diantara guru yang mempunyai sikap pilih kasih antara siswa
yang pintar dan siswa yang kurang. Hal ini dapat menjadikan kerenggangan
komunikasi yang berdapak negatif terhadap proses belajar mengajar dan berdampak
pula pada hasi belajar mengajar. Karena terdapat guru yang lebih memperhatikan
siswa yang aktif, pintar dan merespon daripada memperhatikan siswa yang kurang
7
pintar, kurang aktif dan nakal. Sehingga berakibat kurangnya rasa hormat siswa
terhadap guru dan dapat menjadikan siswa acuh tak acuh terhadap proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti memandang perlu
untuk
melakukan
penelitian
tentang
“PERAN
GURU
PAI
DALAM
MENCIPTAKAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF DENGAN SISWA PADA
PEMBELAJARAN PAI DI SMP DUA MEI CIPUTAT”.
B. Identifikasi Masalah
Penelitian ini dilakukan pada jenjang tingkat Sekolah Menengah Pertama dengan
fokus penelitian mengenai peran guru PAI dalam menciptakan komunikasi yang
efektif dengan siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan identifikasi
masalah:
1.
Hubungan interaksi antara guru PAI dengan siswa masih kurang maksimal.
2.
Kurangnya rasa hormat siswa terhadap guru.
3.
Siswa acuh tak acuh terhadap proses pembelajaran Pendidikan Agama
Islam.
4.
Metode pembelajaran oleh guru PAI kurang menarik.
5.
Siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama
Islam.
6.
Kurangnya perhatian pandangan sebuah lembaga pendidikan
tentang
istilah ”komunikasi”, sehingga banyak yang mengabaikan.
C. Pembatasan Masalah
Bertolak dari latar belakang di atas, maka tentunya akan meluas jika masalah
tersebut secara keseluruhan dibahas dalam skripsi ini, maka peneliti membatasi
permasalahannya yaitu:
8
1.
Peran guru yaitu peran seorang guru PAI dalam menciptakan komunikasi
yang efektif dengan siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
2.
Komunikasi yang dimaksud adalah interaksi yang dilakukan seorang guru
PAI pada kegiatan belajar mengajar yang ada di dalam kelas.
D. Perumusan Masalah
Adapun rumusan-rumusan masalah yang akan peneliti tuangkan dalam skripsi ini
adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah peran guru PAI dalam menciptakan komunikasi yang
efektif dengan siswa pada pembelajaran PAI?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan yang ingin
dicapai dari hasil penelitian ini yaitu mengetahui Peran guru PAI dalam menciptakan
komunikasi yang efektif dengan siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1.
Bagi para pengelola pendidikan, para stakeholder dapat dijadikan sebagai
bahan masukan akan pentingnya komunikasi yang baik agar selalu
terciptanya hubungan yang harmonis antara komponen-komponen yang
terkait.
2.
Bagi Universitas untuk menambahkan khazanah kepustakaan dan sebagai
acuan atau rujukan untuk penelitian yang selanjutnya.
3.
Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu
pengetahuan dan wawasan baru dalam hal peran guru PAI dalam
menciptakan komunikasi yang efektif dengan siswa pada pembelajaran
PAI.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Kajian Teori
1. Hakikat Guru
a. Pengertian Guru
Pada zaman Era Globalisasi seperti sekarang ini jabatan guru
nampaknya sudah menjadi profesi yang menjadi mata pencaharian. Guru
adalah pendidik professional, karenanya secara implisit ia telah merelakan
dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab dalam
pendidikan yang terpikul dipundak orang tua. Guru juga dapat dikatakan
orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik,
mengajar, dan membimbing peserta didik.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005
pasal 1 tentang guru dan dosen dijelaskan bahwa “ Guru adalah
pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”1.
Seseorang yang disebut guru adalah orang yang memiliki
kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan
mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat
mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses
pendidikan.2 Hal ini dapat dilihat dari pendapat yang dikemukakan oleh
beberapa ahli pendidikan sebagai berikut:
Moh. Uzer Usman mendefinisikan guru sebagai jabatan atau
profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.3
Roestiyah N. K. mengemukakan bahwa guru adalah seorang tenaga
profesional yang dapat menjadikan peserta didik mampu merencanakan,
menganalisa dan menyimpulkan masalah yang dihadapi.
1
Undang-Undang Guru dan Dosen, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), cet ke-2, h. 3
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), cet ke-5, h. 15
3
Moh, Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2005), h. 6
2
9
10
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah guru diartikan
sebagai “orang yang pekerjaannya (mata pencaharian, profesinya)
mengajar.4
Dari pendapat diatas merupakan pengertian guru secara profesional
dan secara umun, dapat disimpulkan bahwa guru adalah pekerjaan
operasional dengan tugas utamanya adalah mendidik,
mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar dan pendidikan menengah.
b. Peranan Guru
Proses pembelajaran di sekolah tidak mungkin dapat mencapai
hasil yang diharapkan tanpa disertai dengan proses belajar mengajar yang
memadai dan seimbang. Semua ini menjadi konsekuensi bagi para guru
agar dapat meningkatkan peranannya dalam proses pembelajaran. Karena
proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan
oleh peranan guru.
Menurut Moh Uzer Usman berpendapat bahwa ada beberapa peran
guru antara lain, yaitu:
a)
Guru sebagai Demonstrator
Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecture atau pengajar,
guru hendaknya senantiasa menguasai bahan materi pelajaran yang
akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkan dalam arti
meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya,
karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai
oleh siswa. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia
sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar terus
menerus. Dengan cara demikian, ia akan memperkaya dirinya
dengan
4
h. 123
berbagai
ilmu
pengetahuan
sebagai
bekal
dalam
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999),
11
melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga
mampu memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis.
Maksudnya, agar apa yang disampaikannya itu betul-betul dimiliki
oleh peserta didik.
b)
Guru sebagai Pengelola Kelas
Dalam perannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru
hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta
merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di
organisasi.Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan
belajar terarah pada tujuan-tujuan pendidikan.Pengawasan terhadap
belajar lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan
tersebut menjadi lingkungan belajar yang baik.Lingkungan yang
baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk
belajar, memberikan jawaban memelihara lingkungan fisik kelasnya
agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau
membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam
kelasnya.Dengan demikian, guru tidak hanya memungkinkan siswa
belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan belajar secara efektif
di kalangan siswa.
c)
Guru sebagai Mediator dan Fasilitator
Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media
pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan
proses belajar mengajar. Guru tidak cukup hanya memiliki
pengetahuan tentang media pendidikan, tetapi juga harus memiliki
keterampilan memilih dan menggunakan serta mengusahakan media
itu dengan baik, sistematis, baik melalui pre-service maupun
inservice training. Memilih dan menggunakan media pendidikan
harus sesuai dengan tujuan, materi, metode, evaluasi, dan
kemampuan guru serta minat dan kemampuan siswa. Sedangkan
guru sebagai fasilitator hendaknya mampu mengusahakan sumber
12
belajar yang berguna serta dapat menunjang dan proses belajar
mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks, majalah,
ataupun surat kabar.
d)
Guru sebagai Evaluator
Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru
hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai
oleh siswa dari waktu ke waktu.Informasi yang diperoleh melalui
evaluasi ini merupakan umpan balik (feed back) terhadap proses
belajar mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk
memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar akan terus
menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.5
Adapun peran guru seperti yang dikemukakan oleh Mulyasa, antara
lain:
a.
Guru sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan bagi para
peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus
memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung
jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.
b.
Guru sebagai Pengajar
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru melaksanakan
pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas dan
tanggung jawabnya yang pertama dan utama. Guru membantu
peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu
yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi, dan memahami
materi standar yang dipelajari.
c.
Guru sebagai Pembimbing
Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas,
menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus
5
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2005), cet ke-7, h.9-12
13
ditempuh,
menggunakan
petunjuk
perjalanan,
serta
menilai
kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta
didik.
d.
Guru sebagai Innovator
Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis
berada jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna
dan diwujudkan dalam pendidikan. Guru harus menjembatani
jurang ini bagi peserta didik, jika tidak, maka hal ini dapat
mengambil bagian dalam proses belajar yang berakibat tidak
menggunakan potensi yang dimilikinya. Tugas guru adalah
bagaimana menjembataninya secara efektif. Jadi yang menjadi dasar
adalah pikiran-pikiran tersebut, dan cara yang dipergunakan untuk
mengekspresikan dibentuk oleh corak waktu ketika cara-cara tadi
dipergunakan.
e.
Guru sebagai Emansipator
Guru telah melaksanakan fungsinya sebagai emansipator, ketika
peserta didik yang telah menilai dirinya sebagai pribadi yang tak
berharga, merasa dicampakkan orang lain atau selalu diuji dengan
berbagai kesulitan sehingga hampir putus asa, dibangkitkan kembali
menjadi pribadi yang percaya diri. Ketika peserta didik hampir
putus asa, diperlukan ketelatenan, keuletan dan seni memotivasi
agar timbul kembali kesadaran, dan bangkit kembali harapannya.6
Adams
dan
Dickey,
mengemukakan
bahwa
peran
guru
sesungguhnya lebih luas, meliputi guru sebagai pengajar, Pembimbing,
Ilmuwan, dan guru sebagai Pribadi (Teladan).7
Dari pendapat diatas, peneliti menyimpulkan bahwa seorang guru
mempunyai peran yang tidak hanya mengajar di dalam kelas saja, akan
tetapi seorang guru harus dapat membimbing peserta didik dalam setiap
6
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya: 2008), cet
ke-7, h. 37-60
7
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), Cet. 4, hal.
123
14
kegiatan yang dilakukan peserta didik tersebut. Di samping itu, peran guru
sebagai seorang ilmuwan yang berarti guru harus menguasai pengetahuan
sebagai proses perkembangan pendidikan.
c. Tugas Guru
Menurut Hamzah B. Uno yang dikutip dari Uzer, berpendapat
bahwa tugas guru yang dilakukan ada tiga jenis:
1. Tugas guru sebagai suatu profesi. Meliputi mendidik, mengajar dan
melatih. Mendidik dalam arti meneruskan dan mengembangkan
nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan
iptek, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan
pada peserta didik.
2. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan. Meliputi bahwa guru di
sekolah harus dapat menjadi orang tua kedua, dapat memahami
peserta didik dengan tugas perkembangannya.
3. Tugas
guru
dalam
bidang
kemasyarakatan.
Masyarakat
menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di
lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat
dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti guru berkewajiban
mencerdaskan bangsa Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila.8
Di antara beberapa hal yang menjadi tugas-tugas guru seperti yang
dikemukakan oleh Slameto, antara lain:
1. Mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motivasi
pencapaian tujuan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar
yang memadai.
3. Membantu perkembangan aspek-aspek pribadi tujuan melalui
pengalaman, nilai-nilai penyesuaian diri. Demikian halnya dalam
proses belajar mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai
ilmu pengetahuan, akan tetapi lebih dari itu ia bertanggung jawab
akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Ia harus
8
Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), cet ke-5, h.20-21
15
mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa,
sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan
dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan.9
Dari kedua tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa pada umumnya
tugas guru sama, yakni tuga guru ialah mengajar, mendidik dan melatih.
Namun tugas pada guru PAI dapat dibedakan dengan guru-guru yang
lainnya, guru PAI yang melakukan tugas pengajaran, disamping itu juga
mengajarkan pengetahuan tentang keagamaan, ia juga melakukan tugas
pendidikan dan pembinaan bagi anak didik, ia membantu pembentukan
kepribadian,
pembinaan
akhlak
disamping
menumbuhkan
dan
mengembangkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik diantaranya
Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menghargai orang lain, bijaksana
dan berhati-hati(tidak sembrono, tidak singkat akal).
d. Tanggung jawab Guru
Setiap guru harus memenuhi persyaratan sebagai manusia yang
bertanggung jawab dalam bidang pendidikan. Tanggung jawab guru dapat
dijabarkan ke dalam sejumlah kompetensi yang lebih khusus, seperti yang
dikemukakan oleh Mulyasa, sebagai berikut:
1. Tanggung jawab moral
Setiap guru harus mampu menghayati perilaku dan etika yang
sesuai dengan moral pancasila dan mengamalkannya dalam
pergaulan hidup sehari-hari.
2. Tanggung jawab dalam bidang pendidikan di sekolah
Setiap guru harus menguasai cara belajar mengajar yang efektif,
mampu
mengembangkan
kurikulum,
silabus,
dan
rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), melaksanakan pembelajaran
yang efektif, menjadi model bagi peserta didik, memberi nasihat,
melaksanakan evaluasi hasil belajar dan mengembangkan peserta
didik.
9
Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta, 2010),
cet ke-5, h. 97
16
3. Tanggung jawab dalam bidang kemasyarakatan
Setiap guru harus turut serta mensukseskan pembangunan, harus
kompeten
dalam
membimbing,
mengabdi
dan
melayani
masyarakat.
4. Tanggung jawab dalam bidang keilmuan
Setiap guru harus turut serta memajukan ilmu, terutama yang
menjadi spesifikasinya, dengan melaksanakan penelitian dan
pengembangan.10
Guru harus bertanggung jawab atas segala sikap, tingkah laku, dan
perbuatannya dalam rangka mengembangkan kepribadian dan jiwa anak
didik. Dengan demikian tanggung jawab seorang guru ialah untuk
membentuk anak didik agar menjadi pribadi yang berasusila yang cakap,
berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
2. Hakikat Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati,
hingga mengimani ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan untuk
menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan
antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Menurut Zakiah Daradjat pengertian Pendidikan Agama Islam
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pendidikan agama Islam ialah usaha berupa bimbingan dan
asuhan
terhadap
anak
didik
agar
kelak
setelah
selesai
pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama
Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.
2. Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang dilaksanakan
berdasarkan ajaran Islam.
10
E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikat Guru,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2009), cet ke-4, h.18
17
Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui
ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap
anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat
memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam
yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama
Islam sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan
kesejahteraan hidup didunia maupun diakhirat kelak.11
Jadi, Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang
dilakukan pendidik atau guru dalam rangka mempersiapkan peserta didik
untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b. Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Kurikulum
Pendidikan
Agama
Islam
berfungsi
untuk
sekolah/madrasah sebagai berikut:
a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan
peserta didik kepada Alllah SWT yang telah ditanamkan dalam
lingkungan keluarga.
b. Penanaman Nilai, sebagai pedoman hidup untuk mencari
kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat.
c. Penyesuaian Mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
yang dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama
Islam.
d. Perbaikan,
yaitu
untuk
memperbaiki
kesalahan-kesalahan,
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik
dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran dalam
kehidupan sehari-hari.
11
Zakiah Daradjat,Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 2006), h. 86.
18
e. Pencegahan,
yaitu
untuk
menangkal
hal-hal
negatif
dari
lingkungannya atau dari budaya lain yang dapat membahayakan
dirinya dan menghambat perkembangannya menuju manusia
seutuhnya.
f. Pengajaran, yaitu tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara
umum, system dan fungsionalnya.
g. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki
bakat khusus dibidang agama Islam agar dapat berkembang secara
optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan
orang lain.12
Dengan demikian fungsi dari Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu
untuk menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, yaitu
dalam lingkungan keluarga, orang tua harus diikut sertakan dalam
membimbing anaknya dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam, lalu
sekolah hanya melanjutkan saja seperti memberikan pengajaran atau
bimbingan kepada siswa tentang Pendidikan Agama Islam.
“Tujuan pendidikan Islam adalah membekali akal, dengan
pemikiaran dan ide-ide yang sehat, baik itu mengenai cabangcabang aqidah, maupun hukum. Islam telah memberikan dorongan
agar manusia menuntut ilmu dan membekalinya dengan
pengetahuan.”13
Jadi, bisa dikatakan bahwa hakikat tujuan pendidikan Islam adalah
mampu mencerdaskan akal dan membentuk jiwa yang Islami, sehinnga
akan terwujud sosok pribadi muslim sejati yang berbekal pengetahuan
dalam segala aspek kehidupan.
Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha
atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha
dan kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan,
tujuannya bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu
12
Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam berbasis kompetensi, h.134-135.
Abdurrahman Al-Bagdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khalifah Islam, (Surabaya: AlIzzah, 1996), cet. 1. h. 25.
13
19
benda yang berbentuk tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu
keseluruhan dari kepribadian seseorang, berkenaan dengan seluruh aspek
kehidupannya.
Sebagian para ahli misalnya mengatakan bahwa tujuan pendidikan
Islam adalah membimbing umat manusia agar menjadi hamba yang
bertakwa kepada Allah yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Rumusan
pendidikan Islam yang diarahkan pada upaya penyempurnaan akhlak atau
membentuk akhlak yang mulia, sebagaimana akhlak yang dimiliki oleh
Rasulullah SAW.
Oleh karena itu berbicara Pendidikan Agama Islam, baik makna
maupun tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam
dan tidak dibenarkan melupakan etika sosial. Penanaman nilai-nilai ini
juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup didunia bagi anak didik dan
kemudian akan membuahkan kebaikan di akhirat kelak. Dengan demikian
tujuan pokok dan terutama pendidikan Islam ialah membentuk budi
pekerti dan pendidikan jiwa yang baik.
3. Hakikat Komunikasi
a. Pengertian dan Tujuan Komunikasi
Komunikasi
secara
etimology
berasal
dari
bahasa
latin
Communicate yang berarti berbicara, menyampaikan pesan, informasi,
fikiran, gagasan, dan pendapat yang dilakukan oleh seseorang kepada
orang lain dengan mengharapkan jawaban, tanggapan atau arus
balik(feedback).14
Menurut
Onong
Uchjana
Effendy,
komunikasi
mempunyai arti pemberitahuan atau pertukaran pikiran.15 Dalam Kamus
14
A.Muis, Komunikasi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), h.35
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Jakarta: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005) cet ke-19, h.4
15
20
Besar Bahasa Indonesia komunikasi memiliki arti sebagai pengiriman atau
penerimaan pesan atau berita.16
Sedangkan
secara
terminology
komunikasi
berarti
proses
penyampaian pesan suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.17
Beberapa ahli mengemukakan definisi “Komunikasi” sebagai berikut:
Himstreet dan Baty dalam Business Communications: Principles and
Methods, yang dikutip dari Djoko Purwanto mengemukakan bahwa
“komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antarindividu
melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan simbol-simbol,
sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan”.18
A.A.
Anwar
mengemukakan
bahwa
“komunikasi
adalah
pemindahan informasi dan pemahaman dari seseorang kepada orang lain”.
Sedangkan Edwin B. Flippo berpendapat bahwa “komunikasi adalah
aktivitas yang menyebabkan orang lain menginterpretasikan suatu ide,
terutama yang dimaksudkan oleh pembicara atau penulis”19.
Menurut James G. Robbins & Barbara S. Janes yang sudah
diterjemahkan oleh R. Turman Sirait, Komunikasi adalah suatu tingkah
laku, perbuatan atau kegiatan penyampaian atau pengoperan lambanglambang, yang mengandung arti atau makna. Atau perbuatan penyampaian
suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada seorang lainnya.Atau
lebih jelasnya, suatu pemindahan atau penyampaian informasi, mengenai
fikiran, dan perasaan-perasaan.20
Bila dilihat lebih lanjut maksud dari model Laswell ini akan
kelihatan bahwa yang dimaksud dengan pertanyaan who tersebut adalah
menunjuk kepada siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai
16
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), cet.
1, h. 454
17
T.A, Latief Rosyidy, Dasar-dasar Rhetorika Komunikasi dan Informasi,(Medan: 1985),
h.48
18
Djoko Purwanto, Komunikasi Bisnis, (Jakarta: Erlangga, 2011), cet ke-2, h.4
19
A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), cet ke-5, h. 145
20
James G. Robbins & Barbara S. Janes, penerjemah R. Turman Sirait, Komunikasi yang
Efektif, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1986), cet ke-3, h.1
21
komunikasi. Yang memulai komunikasi ini dapat berupa seseorang dan
dapat sekelompok orang seperti organisasi.
Pertanyaan kedua adalah says what atau apa yang dikatakan.
Pertanyaan ini adalah berhubungan dengan isi komunikasi atau pesan apa
yang disampaikan. Pertanyaan ketiga adalah to whom.Pertanyaan ini
maksudnya menayakan siapa yang menjadi penerima dari komunikasi.
Pertanyaan keempat adalah through what atau melalui media apa. Yang
dimaksud dengan media adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan
badan, kontak mata, sentuhan, radio, televise, surat dan gambar.
Pertanyaan terakhir dari model Laswell ini adalah what effect atau apa
efeknya dari komunikasi tersebut. Misalnya, sebuah sekolah swasta
membuat iklan untuk mengkomunikasikan bahwa mereka akan menerima
murid baru. Sesudah iklan ini disiarkan beberapa hari, sudah berapa
orangkah yang mendaftar untuk menjadi murid.Jumlah orang yang
mendaftar ini adalah merupakan efek dari komunikasi.
Jadi pada dasarnya Laswell menyatakan bahwa komunikasi adalah
proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui
media yang menimbulkan efek-efek tertentu.21
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang
menyampaikan pesannya, baik dengan lambang bahasa maupun dengan
isyarat, gambar, gaya, yang di antara keduanya sudah terdapat kesamaan
makna
sehingga
keduanya
dapat
mengerti
apa
yang
sedang
dikomunikasikan. Jelaslah bahwa dalam komunikasi melibatkan sejumlah
orang, dimana seseorang menyampaikan pesan berupa lambang-lambang
kepada orang lain melalui saluran yang disebut media.
Carl I. Hovland yang dikutip dari Onong Uchjana Effendy, dalam
definisinya secara khusus mengenai pengertian komunikasinya sendiri
mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang
21
Arni Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), Cet ke-11,
h. 5-7
22
lain (communication is the process to modify the behavior of other
individuals).22
Oleh sebab itu, tujuan dari komunikasi adalah menyampaikan
informasi dari komunikator kepada komunikan dengan sejelas-jelasnya,
agar informasinya dapat dipahami/dimengerti oleh komunikan, sehingga
komunikasi dapat berjalan dengan efektif.
b. Unsur-unsur Komunikasi
Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam komunikasi, seperti
dikemukakan oleh Onong Uchjana, adalah sebagai berikut:
a. Komunikator
Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang
menyampaikan pikirannya atau perasaannya kepada orang lain.
b. Pesan
Pesan sebagai terjemahan dari bahasa asing “message” adalah
lambang bermakna (meaningful symbols), yakni lambang yang
membawakan pikiran atau perasaan komunikator.
c. Komunikan
Komunikan adalah seseorang atau sejumlah orang yang menjadi
sasaran komunikator ketika ia menyampaikan pesannya.
d. Media
Media adalah sarana untuk menyalurkan pesan-pesan yang
disampaikan oleh komunikator kepada komunikan.
e. Efek
Efek adalah tanggapan, reason atau reaksi dari komunikan ketika ia
atau mereka menerima pesan dari komunikator. Jadi efek adalah
akibat dari proses komunikasi.23
22
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Jakarta: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005) cet ke-19, h.10
23
Onong Uchjana Effendy, Human Relations dan Public Relation, (Bandung, Mandar
Madu, 1993), cet-ke 8, h. 14-16
23
c. Proses Komunikasi
Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian
pikiran atau perasaan oleh seseorang atau komunikator kepada orang lain
atau komunikan. Pikiran bisa berupa gagasan, informasi, opini, dan lainlain yang muncul dari benak perasaan yang berupa keyakinan, kepastian,
kekhawatiran, dan sebagainya yang mucul dari lubuk hati. Komunikasi
adalah proses yang dinamis, karena di dalamnya pengirim lambang yang
disebut sender dan penerima lambang yang disebut receiver saling
mempengaruhi, baik secara fisik maupun psikis, turut terlibat. Faktor fisik
misalnya: menunjukkan sikap sopan, baik atau tidak, menerima atau
menolak. Sedangkan faktor psikis diantaranya gembira, sedih, acuh, marah
dan sebagainya.
Komunikasi adalah suatu proses pembentukan, penyampaian,
penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi dalam diri seseorang atau
diantara dua orang atau lebih dengan tujuan yang dimaksud.
Menurut Stephen P. Robbins, proses komunikasi. Model ini terdiri
dari tujuh bagian: (1) Sumber komunikasi, (2) Pengkodean, (3) Pesan, (4)
Saluran, (5) Decoding, (6) Penerima, dan (7) Umpan balik.24
Pesan
Sumber
Pesan
Penyandian
Pesan
Pesan
Saluran
Penginterpretasian Pesan
Pesan
Penerima
Umpan Balik
Gambar : 2.1 Menunjukkan Proses Komunikasi
24
Stephen P. Robbins, Penerjemah Benyamin Molan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT
Indeks Kelompok Gramedia, 2006), cet ke-10, h. 393-394
24
Sumber mengawali pesan dengan mengkodekan pikiran. Pesan
adalah produk fisik aktual dari sumber yang melakukan penyandian pesan.
Bila seseorang berbicara, pembicaraan itu adalah pesan. Bila seseorang
menulis, tulisan itulah pesan. Ketika seseorang melakukan gerakan isyarat,
gerakan tangan dan ekspresi wajah seseorang itu merupakan pesan.
Saluran adalah medium tempat pesan dihantarkan. Saluran itu diseleksi
oleh sumber, yang harus menentukan apakah menggunakan saluran formal
atau informal. Penerima adalah objek yang menjadi tujuan penyampaian
pesan. Tetapi sebelum pesan dapat diterima, simbol-simbol didalamnya
harus diterjemahkan ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh
penerima. Langkah ini adalah penginterpretasian pesan. Kaitan terakhir
dalam proses komunikasi adalah lingkaran umpan balik. Umpan balik
merupakan
pengecekan
mengenai
seberapa
sukses
seseorang
menyampaikan pesan seperti dimaksudkan semula. Umpan balik
menentukan apakah pesan itu telah dipahami atau tidak.
d. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
Menurut A.A Anwar Prabu Mangkunegara dikatakan bahwa “ada
dua faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu faktor dari pihak sender
(pengirim pesan), dan faktor dari pihak receiver atau komunikan”.
a. Faktor dari pihak sender atau komunikator, yaitu keterampilan, sikap,
pengetahuan sender, media saluran yang digunakan.
1. Keterampilan sender
Sender sebagai pengirim informasi, ide, berita, dan pesan perlu
menguasai cara-cara penyampaian pikiran baik secara tertulis
maupun lisan.
2. Sikap sender
Sikap sender sangat berpengaruh pada receiver. Sender yang
bersikap angkuh terhadap receiver dapat mengakibatkan informasi
atau pesan yang diberikan menjadi ditolak oleh receiver. Begitu
pula sikap sender yang ragu-ragu dapat mengakibatkan receiver
menjadi titik percaya terhadap informasi atau pesan yang
25
disampaikan. Maka dari itu, sender harus mampu bersikap
meyakinkan receiver terhadap pesan yang diberikan kepadanya.
3. Pengetahuan sender
Sender mempunyai pengetahuan luas dan menguasai materi yang
disampaikan akan dapat menginformasikannya kepada receiver
sejelas mungkin. Dengan demikian, receiver akan lebih mudah
mengerti pesan yang disampaikan oleh sender.
4. Media saluran yang digunakan oleh sender
Media
atau
saluran
komunikasi
sangat
membantu
dalam
penyampaian ide, informasi atau pesan kepada receiver. Sender
perlu menggunakan media saluran komunikasi yang sesuai dan
menarik perhatian receiver.
b. Faktor dari pihak receiver, yaitu keterampilan receiver, sikap receiver,
pengetahuan receiver, dan media saluran komunikasi.
1. Keterampilan receiver
Keterampilan receiver dalam mendengar dan membaca pesan
sangat penting. Pesan yang diberikan oleh sender akan dapat
dimengerti dengan baik, jika receiver mempunyai keterampilan
mendengar dan membaca.
2. Sikap receiver
Sikap receiver terhadap sender sangat mempengaruhi efektif
tidaknya
komunikasi.
meremehkan,
Misalnya,
berprasangka
buruk
receiver
bersikap
terhadap
sender,
apriori,
maka
komunikasi menjadi tidak efektif, dan pesan menjadi tidak berarti
bagi receiver. Maka dari itu, receiver haruslah bersikap positif
terhadap sender, sekalipun pendidikan sender lebih rendah
dibandingkan dengannya.
3. Pengetahuan receiver
Pengetahuan receiver sangat berpengaruh pula dalam komunikasi.
Receiver yang mempunyai pengetahuan yang luas akan lebih
mudah dalam menginterpretasikan ide atau pesan yang diterimanya
26
dari sender. Jika pengetahuan receiver kurang luas sangat
memungkinkan pesan yang diterimanya menjadi kurang jelas atau
kurang dapat dimengerti oleh receiver.
4. Media saluran komunikasi
Media saluran komunikasi yang digunakan sangat berpengaruh
dalam penerimaan ide atau pesan. Media saluran komunikasi
berupa alat indera yang ada pada receiver sangat menentukan
apakah pesan dapat diterima atau tidak untuknya. Jika alat indera
receiver terganggu maka pesan yang diberikan oleh sender dapat
menjadi kurang jelas bagi receiver.25
e. Komunikasi Efektif
1. Pengertian komunikasi efektif
Komunikasi merupakan bagian terpenting dalam kehidupan
manusia, hal ini dikarenakan manusia sebagai predikat makhluk sosial,
yang secara otomatis tidak dapat hidup tanpa adanya orang lain artinya
manusia sebagai makhluk sosial pasti memerlukan sosialisasi. Dalam
proses sosialisasi inilah komunikasi memegang peranan yang urgen.
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari seorang
komunikator kepada komunikan atau penerima pesan, dalam proses
komunikasi ini tentunya ada tujuan atau maksud yang hendak dicapai oleh
komunikator dan komunikan, tujuan dan maksud dari proses komunikasi
itu melahirkan efek-efek tertentu dalam komunikasi. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia pengertian efektif adalah ada pengaruhnya, ada
akibatnya, ada efeknya, dan dapat membuahkan hasil.26Oleh karena itu
komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang menimbulkan efek
tertentu sesuai dengan tujuan komunikasi.
Efek-efek yang ditimbulkan dalam proses komunikasi dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
25
A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), cet ke-5, h. 148-150
26
Time Prima Pena, Efektif, (Gimamedia Press:2008), dari http: // kbbi, web id/index
27
1. Efek kognitif, adalah yang timbul pada komunikan yang
menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya.
2. Efek afektif, lebih tinggi kadarnya dari pada dampak kognitif.
Tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan tahu,
tetapi bergerak hatinya, menimbulkan pesan tertentu, misalnya
perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.
3. Efek behavioral, yang paling tinggi kadarnya, yakni dampak yang
timbul pada komunikan dalam bentuk prilaku, tindakan atau
kegiatan.27
2. Hambatan-hambatan dalam berkomunikasi
Komunikasi dalam prosesnya, ada beberapa hal yang merintangi
atau menghambat tercapainya tujuan dari proses komunikasi. Hambatan
atau rintangan dalam komunikasi bisa berasal dari pribadi komunikan dan
komunikator, lingkungan dan lain sebagainya.
Menurut James G. Robbins”suatu sebab utama dari kemacetan
komunikasi, adalah kebisingan, bunyi atau suara yang ribut, yang dalam
konteks ini berarti segala sesuatu yang menggangu penyampaian atau
penerima pesan”.28
Menurut Husaini Usman,terdapat 18 hambatan komunikasi dikelas,
yaitu:
(1)
komunikator menggunakan bahasa yang sukar dipahami,
(2) perbedaan persepsi akibat latar belakang yang berbeda, (3)
terjemahan yang salah, (4) kegaduhan, (5) reaksi emosional seperti
terlalu bertahan (defensif) atau terlalu menyerang (agresif), (6)
gangguan fisik (gagap,tuli,buta), (7) semantic yaitu pesan
bermakna ganda, (8) belum berbudaya baca dan tulis, serta
berbudaya diam, (9) teknik bertanya yang buruk, (10) teknik
menjawab yang buruk, (11) tidak jujur, (12) tertutup, (13)
destruktif, (14) kurang dewasa, (15) kurang respect, (16) kurang
27
Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008),
cet ke-7, h. 7
28
James G. Robbins & Barbara S. Janes, penerjemah R. Turman Sirait, Komunikasi yang
Efektif, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1986), cet ke-3, h. 11
28
persiapan, (17) kurang menguasai materi, dan (18) kebiasaan
menjadi pembicara dan pendengar yang buruk.29
Hambatan-hambatan inilah yang nantinya akan menjadikan
komunikasi yang tidak terarah antara guru dengan siswa. Seringkali siswa
sebagai subjek maupun objek belajar dalam kesehariannya di sekolah
mengalami komunikasi terutama dalam proses belajar mengajar.
Oleh sebab itu untuk menghilangkan penghambat proses
komunikasi perlu adanya solusi yang dapat menyingkirkan hambatan atau
kesulitan-kesulitan dalam komunikasi itu.
f. Komunikasi Efektif dalam Pendidikan
Ditinjau dari prosesnya, Onong Uchjana mengemukakan bahwa
pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses
tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar
sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan. Lazimnya, pada
tingkatan bawah dan menengah pengajar itu dinamakan guru, sedangkan
pelajar itu disebut murid, pada tingkatan tinggi pengajar itu dinamakan
dosen, sedangkan pelajar dinamakan mahasiswa. Pada tingkatan apapun,
proses komunikasi antara pengajar dan pelajar itu pada hakekatnya sama
saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta kualitas yang
disampaikan oleh si pengajar kepada si pelajar. 30
Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal bahwa komunikasi
merupakan proses penyampaian pesan dari seorang komunikator kepada
komunikan atau penerima pesan. Dalam hal ini komunikasi dapat
dikatakan efektif apabila penerima menginterpretasikan pesan yang
diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim.MenurutJohnson
yang dikutip oleh A. Supratiknya, menyatakan bahwa ada tiga kiat
pengirim pesan secara efektif yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Kita harus mengusahakan agar pesan-pesan yang kita kirimkan
mudah dipahami
29
Husaini Usman, Manajemen; Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2008), h. 396
30
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. (Jakarta: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005) cet ke-19, h. 101-104
29
2. Sebagai pengirim kita harus memiliki kredibilitas di mata penerima
3. Kita harus berusaha mendapatkan umpan balik secara optimal
tentang pengaruh pesan kita dalam diri penerima31
Menurut asumsi penulis bahwa kaitannya komunikasi efektif
dalam pendidikan paling tidak ada beberapa faktor yang harus dimiliki
oleh seorang guru sebagai komunikator, antara lain:
1) Guru harus mengupayakan agar materi pelajaran yang disampaikan
dapat diterima oleh siswa dengan mudah.
2) Guru sebagai komunikator atau pengirim pesan harus memiliki
kredibilitas di mata siswa sebagai penerima pesan.
3) Guru harus berusaha mendapatkan umpan balik secara optimal
mengenai pengaruh yang telah disampaikan kepada siswa.
4. Peran Guru dalam Menciptakan Komunikasi Efektif
Sebagaimana telah di ketahui bersama bahwa komunikasi antara
manusia merupakan syarat mutlak bagi tercapainya perkembangan jiwa
yang sehat dan sempurna. Pertentangan antara manusia seringkali
disebabkan karena kurangnya komunikasi, yaitu timbulnya kurang
pengertian atau hubungan yang tidak baik atau bahkan salah paham. Hal
ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan antara
manusia.
Demikian pula, komunikasi merupakan hal yang penting dalam
hubungan
antara
guru
dan
murid.
Bagaimana
komunikasi
itu
berlangsung?. Uzer Usman dalam karyanya Menjadi Guru Profesional,
menegaskan bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang
mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan
timbal balik yang berlangsung dalam situasi yang edukatif untuk mencapai
tujuan tertentu. Hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu
merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar.
Komunikasi dalam peristiwa proses belajar mengajar mempunyai arti yang
31
A. Supratiknya, Komunikasi Antar Pribadi, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), cet ke-1, h. 35
30
lebih luas. Tidak sekedar hubungan guru dan siswa, tetapi merupakan
komunikasi edukatif.32
S.Nasution dalam buku Sosiologi Pendidikan33, menjelaskan
bahwa”Peranan guru dalam hubungannya dengan murid bermacammacam menurut situasi komunikasi sosial yang dihadapinya, yakni situasi
formal dalam proses belajar mengajar dalam kelas dan dalam situasi
informal. Dalam situasi formal, yakni dalam usaha guru mendidik dan
mengajar anak dalam kelas guru harus sanggup menunjukkan kewibawaan
atau otoritasnya, artinya ia harus mampu mengendalikan, mengatur, dan
mengontrol kelakuan anak. Kalau perlu ia dapat menggunakan
kekuasaannya untuk memaksa anak belajar, melakukan tugasnya atau
mematuhi peraturan. Dengan kewibawaan ia menegakkan disiplin demi
kelancaran dan ketertiban belajar mengajar.”
Sementara Mudjito dalam bukunya yang disadur dari karyanya
Thomas Gordon, menyatakan bahwa: Hubungan guru dengan murid
dikatakan baik apabila hubungan tersebut memiliki sifat-sifat, sebagai
berikut:
a. Keterbukaan, sehingga baik guru maupun murid saling bersikap
jujur dan membuka diri satu sama lainnya.
b. Tanggap bilamana seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang
lain.
c. Kebebasan, yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan
mengembangkan keunikannya, kreativitasnya dan kepribadiannya.
Dari berbagai pernyataan diatas, jelaslah bahwa guru memiliki
peranan sentral dalam menciptakan komunikasi yang efektif dengan siswa.
Dalam hal ini, guru sebaiknya memfasilitasi siswa melalui metode
pembelajaran yang bervariatif dan komunikatif, konstruktif dengan
harapan siswa dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan siswa lainnya,
baik individu ataupun kelompok. Untuk menciptakan interaksi dalam
32
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2005), cet ke-7, h.4
33
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), cet ke-5, h. 92
31
kegiatan belajar mengajar yang komunikatif bagi siswa tentu saja tidak
terlepas dari peranan metode dan alat motivasi yang dipilih sebagai
penunjang pencapaian tujuan pengajaran.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penelitian tentang peran guru dalam menciptakan komunikasi yang
efektif seperti ini juga pernah diteliti oleh Shochibul Hujjah dalam
skripsinya yang berjudul “Pola Komunikasi Guru Agama dalam
Pembinaan Akhlak Siswa SMK Negeri 1 Pasuruan”. Berdasarkan hasil
penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara
melalui pengamatan lapangan, wawancara, dan dokumentasi di SMK
Negeri 1 Pasuruan secara langsung. Dapat disimpulkan bahwa pola
komunikasi yang digunakan dalam pembinaan akhlak di SMK Negeri 1
Pasuruan sudah tercipta dengan sangat baik, hal ini terbukti dengan
bagaimana siswa/siswinya yang sudah menerapkan akhlak dalam
lingkungan sekolah tersebut.
Pada hasil penelitian relevan ini, peneliti mendapatkan kesimpulan
bahwa terciptanya komunikasi yang baik. Hasil penelitian tersebut belum
menggambarkan secara khusus bagaimana hubungan yang komplek antara
siswa dan guru dalam proses belajar mengajar. Karena dalam hasil
penelitian penulis menilai bahwa penelitian tersebut hanya meneliti
tentang aspek akhlak. Oleh sebab itu, pada penelitian kali ini, penulis
berupaya untuk menggambarkan komunikasi yang lebih detail di dalam
maupun di luar sekolah antara guru dan siswa.
Kemudian penelitian tentang peran guru dalam menciptakan
komunikasi yang efektif juga diteliti oleh Iin Mutmainah dalam skripsinya
yang berjudul “Peran Guru dalam Menciptakan Komunikasi yang Efektif
dengan Siswa di SMPN 4 Tanggerang”. Berdasarkan hasil penelitian
dengan menggunakan tekhnik angket dan hasil yang ditemukan bahwa
peran guru di SMPN 4 Tanggerang memiliki peranan yang efektif dalam
menciptakan komunikasi dengan siswa.
32
Pada penelitian ini penulis menenmukan hasil penelitian berupa
data prosentase dari kelas interval dengan katagori 33-27. Hal ini membuat
penulis tertarik untuk mencoba penelitian yang berbeda dari penelitian
tersebut, yaitu dengan cara mendeksripsikan data wawancara, Observasi,
sehingga akan mendapatkan kesimpulan atau hasil penelitian tanpa
menggunakan prosentase.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober hingga Desember
2013. Adapun lokasi yang dijadikan tempat untuk melakukan penelitian
yaitu di SMP Dua Mei di Jln. H. Abdul Gani No.135, Desa Cempaka
Putih, Kecamatan Ciputat Timur Kabupaten Tanggerang Provinsi Banten.
B. Latar Penelitian (Setting)
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 25 Oktober 2013 hingga 5
Desember 2013. Tempat penelitian adalah SMP Dua Mei yang berlokasi
di jalan H. Abdul Gani No.135, Ciputat. Yang akan diteliti disini adalah
aktivitas belajar siswa, bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran
Pendidikan Agam Islam. Subjek dalam penelitian ini, meliputi: Kepala
sekolah SMP Dua Mei, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, dan
siswa kelas VIII (delapan).
C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif dengan
metode penelitian studi kasus. “Penelitian kualitatif (Qualitative research)
adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan,
persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok.1
Sedangkan Studi kasus adalah suatu penelitian yang diarahkan untuk
menghimpun data, mengambil makna, memperoleh pemahaman dari kasus
tersebut.2
1
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya: 2011), h. 48
2
Ibid., h. 64
33
34
Alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode
studi kasus adalah karena peneliti ingin mengungkap dan mengetahui lebih
dalam mengenai peran guru PAI dalam menciptakan komunikasi yang
efektif dengan siswa pada pembelajaran PAI, untuk mendapatkan data
penelitian tersebut dibutuhkan pengamatan dan wawancara mendalam.
Pada metode studi kasus ini peneliti benar-benar memahami kasus
yang ada dengan cara mengumpulkan data, melihat langsung keadaan di
lokasi dan mengambil info dari berbagai sumber yang ada di sekitar dan
mempelajari keadaan di sekitar. “Suatu kasus dalam studi kasus digunakan
beberapa teknik pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan studi
dokumentasi, tetapi semuanya difokuskan ke arah mendapatkan kesatuan
data dan kesimpulan”.3
Dalam pendekatan metode kualitatif ini, peneliti mengamati secara
lebih mendalam lagi mengenai hal-hal yang terkait dengan masalah yang
ada. “penelitian kualitatif menggunakan desain penelitian studi kasus
dalam arti penelitian difokuskan pada satu fenomena saja yang dipilih dan
ingin dipahami secara mendalam, dengan mengabaikan fenomenafenomena lainnya”.4 Dalam pendekatan metode kualitatif ini dapat
diketahui dengan cara mendalami situasi sosial yang ada di lapangan
seperti yang terdapat pada gambar berikut ini:
Place/tempat
Social
situation
Actor/orang
Activity/aktivitas
Gambar 3.1 Situasi sosial (Social situation)5
3
Ibid., h. 64
Opcit., h. 99
5
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta:
2012), cet: 15, h. 216
4
35
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
Agar diperoleh data penelitian yang relevan dengan tujuan penelitian
diperlukan prosedur pengumpulan data yang akurat. Prosedur penelitian
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan langkahlangkah di antaranya: observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi
(gabungan untuk memperoleh data yang ada di tempat penelitian).
a. Observasi
Observasi merupakan langkah awal yang dilakukan oleh peneliti.
Dalam observasi ini peneliti akan melihat langsung kegiatan seharihari yang dilakukan oleh pihak yang terkait penelitian. Dalam
penelitian ini ialah semua yang mencakup ruang lingkup sekolah. Hasil
observasi ini akan digunakan untuk sumber data penelitian.
Dalam observasi, ada tiga komponen yang menjadi obyek
penelitian, yaitu: Place (tempat), Actor (pelaku) dan Activity
(aktivitas).6
a. Place (tempat)
Place atau tempat disini adalah lingkungan sekolah SMP Dua
Mei, yaitu ruang belajar, ruang guru, ruang multimedia, perpustakaan,
kantin dsb. Tempat yang menjadi obyek penelitian disini ialah SMP
Dua Mei Ciputat yang beralamat di jalan H. Abdul Gani No.135, Desa
Cempaka Putih Kecamatan Ciputat Timur Kabupaten Tanggerang
Provinsi Banten. Tanah SMP Dua Mei ini sepenuhnya Milik Yayasan
dengan luas tanah 3.000 M2, dan luas seluruh bangunan 1.000 M2.
b. Actor (pelaku)
Adapun Actor atau pelaku yang diamati dalam penelitian ialah
guru mata pelajaran dan siswa kelas VIII SMP Dua Mei Ciputat.
6
Ibid., h. 229
36
Jumlah guru yang mengajar di SMP Dua Mei Ciputat berjumlah
32 orang, termasuk guru Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini
mengambil siswa di kelas VIII (delapan) yang terdapat 2 kelas, VIII
1(satu) berjumlah 39 siswa, VIII 2 (dua) berjumlah 38 siswa, jadi
jumlah siswa kelas VIII ialah sebanyak 77 siswa.
c. Activity (aktivitas)
Activity atau aktivitas yang diamati dalam penelitian ini adalah
kegiatan pembelajaran siswa, mulai dari kehadiran siswa di sekolah
hingga kegiatan pembelajaran berlangsung. Adapun jadwal mengajar
guru PAI di SMP Dua Mei Ciputat dilakukan pada hari senin, rabu
dan jum’at.
Kegiatan siswa pada hari senin sebelum kegiatan pembelajaran
berlangsung, para siswa mengikuti upacara bendera atau upacara
pembinaan. Ketika bel tanda kegiatan pembelajaran akan berlangsung
para siswa masuk ke kelas masing-masing. Mengikuti proses
pembelajaran yang berlangsung sampai bel tanda istirahat. Ketika bel
tanda istirahat berbunyi para siswa mengikuti sholat dhuha berjamaah
di mushola. Kemudian siswa diperbolehkan ke kantin sampai waktu
istirahat selesai. Setelah bel berbunyi siswa masuk kembali ke dalam
kelas dan melanjutkan pembelajaran sampai dengan jam sholat dzuhur
berjamaah tiba. Ketika bel tanda sholat berjamaah akan berlangsung
siswa dipersilahkan keluar kelas untuk mengambil air wudhu dan
melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Usai melaksanakan sholat
dzuhur berjamaah, siswa dipersilahkan untuk masuk ke kelas kembali
untuk melaksanakan pembelajaran selanjutnya. Sampai tanda bel
untuk pulang berbunyi. Namun pada hari jumat, para siswa pulang
lebih awal yaitu pada pukul 11.00 WIB, dikarenakan untuk para siswa
laki-laki melaksanakan sholat jum’at berjamaah kemudian diikuti
dengan keputrian bergilir, sebelum kegiatan sholat jum’at berjamaah
berlangsung para guru dan siswa melakukan tadarusan, dan pada hari
sabtu para siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler masing-masing.
37
b. Wawancara
Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data dalam
pendekatan penelitian kualitatif. Wawancara ini merupakan langkah
kedua
setelah
observasi.
Dalam
wawancara
peneliti
akan
mewawancarai narasumber yang terkait penelitian. Wawancara ini
dilakukan untuk mengetahui hal-hal dari responden dan menilai
keadaan responden terkait hal penelitian.
Wawancara ini dilakukan oleh peneliti melalui 2 tahap yaitu pada
saat observasi awal untuk mendapatkan informasi dasar yang
digunakan peneliti untuk mengetahui masalah komunikasi antara guru
PAI terhadap siswa pada pembelajaran PAI di SMP Dua Mei Ciputat.
Pada wawancara ini peneliti hanya mewawancarai guru mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam.
Kemudian pada wawancara yang kedua, yang akan diwawancarai
oleh peneliti yaitu kepala sekolah, guru mata pelajaran pendidikan
agama Islam dan 5 orang siswa kelas VIII (delapan) SMP Dua Mei.
Dalam wawancara terdapat pedoman wawancara. Dalam wawancara
disini, peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur. Dalam
teknik wawancara tak terstruktur ini, peneliti melakukan wawancara
berbentuk dialog dengan informan, dengan tetap berpatokan kepada
sejumlah pertanyaan yang telah disiapkan.
Pedoman wawancara yang digunakan untuk wawancara adalah
sebagai berikut:
a. Wawancara dengan Kepala Sekolah SMP Dua Mei Ciputat
mengenai:
1. Program rapat evaluasi guru
2. Persiapan guru dalam proses pembelajaran
3. Kinerja guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam
4. Kondisi siswa terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam
5. Sikap perilaku guru PAI terhadap siswa di dalam maupun di luar
pembelajaran Pendidikan Agama Islam
38
6. Kendala dalam proses pembelajaran PAI
b. Wawancara dengan Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam
(PAI) mengenai:
1. Penerapan kontrak pembelajaran Pendidikan Agama Islam
2. Persiapan guru terhadap proses pembelajaran
3. Profesionalisme guru terhadap pembelajaran PAI
4. Penggunaan metode pembelajaran yang interaktif
5. Respon siswa terhadap pembelajaran PAI
6. Evaluasi yang digunakan
7. Strategi yang digunakan agar siswa lebih paham
8. Pemanfaatan sarana dalam menciptakan komunikasi
c. Wawancara dengan siswa SMP Dua Mei, mengenai:
1. Penerapan kontrak pembelajaran Pendidikan Agama Islam
2. Kondisi siswa terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam
3. Hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam
4. Respon mengenai pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran yang interaktif
5. Respon penyampaian materi oleh guru PAI
6. Sikap perilaku siswa terhadap guru PAI
d. Dokumentasi
Adapun dokumentasi yang dimaksud disini ialah dikumpulkan
berupa: Foto-foto kegiatan belajar mengajar di kelas, catatan harian,
dan kebijakan yang ada di sekolah.
E. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data
Dalam pendekatakan metode penelitian kualitatif, “pemeriksaan dan
pengecekkan keabsahan data dapat dilakukan dengan teknik-teknik
sebagai berikut: Credibility dan Trasnferability, Dependability atau
Auditability serta Confirmability”.7 Dalam Credibility dan Transferability
7
Tim Penyusun Revisi Penulisan Skripsi FITK, Pedoman Penulisan Skripsi, (Jakarta:
FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013), h. 61-66
39
(kredibilitas data) atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian disini
dilakukan dengan melakukan pengamatan dan observasi selama 1 bulan,
meningkatkan ketekunan dalam mengumpulkan data yaitu peneliti
beberapa kali kembali ke lapangan untuk mendapatkan sumber data,
berdiskusi dengan dosen pembimbing skripsi serta teman sejawat dan
menganalisis suatu data yang diperoleh dari sumbernya.
Langkah selanjutnya peneliti mengecek data yang diperoleh dari
pemberi sumber data. Peneliti berdiskusi dengan pemberi sumber data
mengenai data yang telah dikumpulkan selama 1 bulan. Setelah berdiskusi
maka hasil yang diperoleh ialah bahwa tidak ada perbedaan antara data
yang diperoleh dari pemberi data dengan data yang ada.
Setelah melakukan uji kredibilitas, peneliti melakukan Dependability
atau Reliabilitas serta Confirmability yaitu data yang ditemukan dianalisis
kembali.
Dalam triangulasi, peneliti menggunakan observasi partisipatif,
wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama
secara serempak.8 Tujuan triangulasi data ini untuk meningkatkan
pemahaman peneliti terhadap masalah yang ada di lapangan. Dalam
triangulasi data ini peneliti kembali ke lapangan untuk mendapatkan
sumber data lebih mendalam dan akurat.
F. Analisis Data
Analisis data dalam kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data
berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu.
Dalam analisis data ini peneliti menganalisis hasil observasi, wawancara
dan dokumentasi yang telah dikumpulkan. Setiap data yang dikumpulkan
peneliti langsung menganalisis data tersebut dan memeriksa keabsahan
data yang ada dengan menyusun data yang telah diperoleh dan
menanyakan langsung kepada pemberi sumber data. Langkah-langkah
8
Ibid., h. 229-242
40
yang dilakukan dalam analisis data yaitu: data reduction, data display, dan
conclusion drawing/verification.9
1) Data Reduction (Reduksi data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak,
untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci. Seperti telah
dikemukakan, semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah
data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu perlu
segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data
berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan
pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan
demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran
yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan
pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2) Data Display (Penyajian data)
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah
mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data
bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar
kategori, flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles dan
Huberman menyatakan “the most frequent form of display data for
qualitative research data in the past has been narrative text”.
Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam
penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
3) Conclusion Drawing/Verification
Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles
dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan
akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang
mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi
apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung
9
Sugiyono, op. cit., h. 246
41
oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke
lapangan
mengumpulkan
data,
maka
kesimpulan
yang
dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif
mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak
awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan
bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif
masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian
berada di lapangan.10
10
Sugiyono, op. cit., h. 252
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Profil SMP Dua Mei Ciputat
1. Alamat Lengkap dan Sejarah Singkat SMP Dua Mei Ciputat
Alamat sekolah menengah pertama (SMP) Dua Mei beralamat di jalan
H.abdul Gani No.135 Desa Cempaka Putih Kecamatan Ciputat Timur
Kabupaten Tangerang Provinsi Banten berdiri pada tahun 1986 dengan Nomor
Statistik Sekolah/NSS 204020417107 dan Nomor Data Sekolah 2002040034.
Sejak berdiri sampai dengan tahun 2007 SMP Dua Mei Telah menamatkan
siswa sebanyak 1888 orang siswa yang sebagian besar melanjutkan ke tingkat
SMA, dan SMK baik negeri maupun Swasta.
Didorong oleh komitmen terhadap kualitas tamatan yang dihasilkan dan
sesuai dengan anjuran Direktorat pendidikan Menengah Umum (Dit.
Dikmenum), kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2004 dan KTSP.
Keberhasilan
pendidikan
merupakan
tanggung
jawab
pemerintah,
masyarakat dan keluarga. Berarti penyelenggaraan pendidikan tidak hanya
dilaksanakan oleh satu pihak, melainkan secara simultan dilaksanakan oleh
tiga unsur tadi, masing-masing berperan sesuai dengan fungsinya.
SMP Dua Mei yang merupakan mitra pemerintah atau partner dalam
menyelenggarakan sistem pendidikan membantu program pemerintah dalam
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Prioritas pembangunan pendidikan
diarahkan untuk perluasan pemerataan kesempatan belajar yang saat ini salah
satu realisasinya adalah pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.
Dalam rangka menyukseskan pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar
9 Tahun. Meningkatkan daya tampung siswa dan meningkatkan kualitas
lulusan perlu didukung oleh saran belajar yang representative untuk
42
43
menunjang kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu SMP Dua Mei
menambah ruang belajar sebanyak 3 (tiga) lokal seluas 216 m2.1
2. Visi, Misi, dan Tujuan
a. Visi
Visi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dua Mei Ciputat yaitu
mewujudkan SMP Dua Mei Ciputat sebagai sekolah “ Bermutu,
Berakhlak dan Berbudi Pekerti Luhur “
b. Misi
Misi SMP Dua Mei Ciputat yaitu :
1. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan pendidikan yang
berdasarkan akhlak mulia
2. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan tenaga pendidik
dan
kependidikan
yang
berbudi
pekerti
luhur,
jujur,
profesional, terampil, tangguh dan berkompeten di bidangnya
3. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan standar proses
pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan
4. Bermutu
dalam
mewujudkan
pengembangan
fasilitas
pendidikan yang lengkap, up to date dan canggih
5. Bermutu dalam mewujudkan peningkatan standar kelulusan
dan prestasi non akademik
6. Bermutu dalam mewujudkan peningkatan kelembagaan serta
manajemen
7. Bermutu
dalam
mewujudkan
pengembangan
standar
pembiayaan
8. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan standar penilaian
pendidikan.
c. Tujuan
Tujuan pendidikan di SMP Dua Mei Ciputat adalah :
1
Wawancara, dengan Kepala Sekolah di ruang kerja Kepala Sekolah, hari Senin, 2
Desember 2013 di SMP Dua Mei Ciputat.
44
1. Mendidik siswa menjadi insan yang berakhlak mulia
2. Mendidik siswa menjadi insan yang berbudi pekerti luhur
3. Mendidik siswa menjadi insan yang jujur
4. Mendidik siswa menjadi insan yang terampil
5. Mendidik siswa menjadi insan yang disiplin
6. Mengembangkan bakat siswa dalam bidang akademik
7. Mengembangkan bakat siswa dalam bidang non akademik
8. Meningkatkaan pembelajaran yang efektif
9. Meningkatkan mutu pendidikan
10. Mengantarkan siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
3. Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP Dua Mei Ciputat
Tabel 4.1
Tenaga Pendidik dan Kependidikan
a)
Kepala Sekolah
Jenis
No
Nama
Jabatan
kelamin
L
P
Usia
Pendidikan
Masa
terakhir
kerja
1
Enjang Supyan, M.Pd.
Kepsek
L
-
44 Th
S.2
12 Th
2
Saptono, S.Pd.
Wakasek
L
-
41 Th
S.1
12 Th
b)
Guru
1) Kualifikasi Pendidikan, Status, Jenis Kelamin, dan
Jumlah
No.
Jumlah dan status guru
Tingkat Pendidikan
GT/PNS
GTT/Guru Bantu
L
P
L
Jumlah
P
1
S3/S2
1
1
2
2
S1
6
6
10
3
D-4
45
4
D3/Sarmud
2
5
D2
6
D1
7
SMA/Sederajat
Jumlah
7
2)
7
Jumlah Guru dengan tugas mengajar sesuai dengan
latar belakang pendidikan (keahlian)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Jumlah guru dengan
latar
belakang
pendidikan
sesuai
dengan
tugas
Guru
mengajar
D1/ D3/ S1/ S2/
D2 Sar D4 S3
mud
IPA
2
Matematika
1
Bahasa Indonesia
2
1
Bahasa Inggris
1
Pendidikan Agama
1
IPS
1
Penjaskes
2
Seni Budaya
1
PKn
1
TIK
1
BK
1
Lainnya
Jumlah
13
2
3)
No.
1
2
3
4
Jumlah dengan latar
belakang
pendidikan
yang
Tidak
sesuai
dengan tugas mengajar
D1/
D2
D3/
Sar
mud
S1/
D4
1
1
Jumla
h
S2/
S3
2
1
3
1
1
1
2
1
1
1
1
1
16
Pengembangan kompetensi/profesionalisme guru
Jenis Pengembangan
Kompetensi
Penataran KBK/KTSP
Penataran Metode Pembelajaran
(Termasuk CTL)
Penataran PTK
Penataran Karya Tulis Ilmiah
Jumlah Guru yang telah mengikuti kegiatan
pengembangan kompetensi/profesionalisme
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
7
7
14
7
7
14
-
-
-
46
5
6
7
Sertifikasi Profesi/Komptetensi
Penataran PTBK
Penataran Pemahaman Guru
Terhadap Penilaian Berbasis Kelas
Sebagai Acuan Pendidikan di
Sekolah
4)
Jenis Lomba
1
Lomba PTK
2
Lomba Karya Tulis Inovasi
Pembelajaran
3
Lomba Guru Berprestasi
4
Lomba Lainnya…
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Tenaga
Pendukung
Tata Usaha
Perpustakaan
Laboran Lab.IPA
Teknisi
lab.Komputer
Laboran
Lab.Bahasa
PTD
Kantin
Penjaga Sekolah
Tukang Kebun
5
-
10
1
7
7
14
Prestasi guru
No.
5)
5
1
Perolehan Kejuaraan 1 Sampai 3
dalam 3 tahun terakhir
Tingkat
Jumlah Guru
Nasional
Provinsi
Kab/Kota
Nasional
Provinsi
Kab/Kota
Nasional
Provinsi
Kab/Kota
Nasional
Provinsi
Kab/Kota
-
Tenaga Kependidikan : Tenaga Pendukung
Jumlah tenaga pendukung dan
kualifikasi pendidikannya
Jumlah tenaga
pendukung
berdasarkan
status dan jenis
kelamin
PNS
Honorer
L P L
P
- 2
- 1
-
Jml
SMP
SMA
D1
D2
D3
S1
-
1
-
-
-
1
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
3
1
-
-
-
-
-
-
-
3
1
-
3
1
2
1
-
47
10
11
Keamanan
Lainnya …
Jumlah
3
3
4
-
-
2
-
-
-
3
9
-
3
9
4. Data Siswa SMP Dua Mei Tahun Pelajaran 2010-2013
Tabel 4.2 Data Siswa SMP Dua Mei Ciputat
Tahun Ajaran 2010-2013
Jumlah
Kelas VII
Tahun
Pendaftar
Pelajaran
(Cln siswa Jml
baru)
Jml
Kelas VIII
Kelas IX
Jml
Jml
Jml
Jumlah
(Kls
VII + VIII + IX)
Jml
Jml
Jml
Siswa Rombel
Siswa Rombel
Siswa Rombel
Siswa Rombel
2010/2011 121
68
2
79
2
71
2
218
6
2011/2012 129
69
2
64
2
80
2
212
6
2012/2013 108
75
2
66
2
56
2
197
6
5. Data Sarana dan Prasarana
Tabel 4.3 Data Sarana dan Prasarana Sekolah
a) Data Ruang Belajar (Kelas)
Jumlah dan Ukuran
Kondisi
Baik
Rsk
Ringan
Rsk
Sedang
Rsk
Berat
Rsk
Total
Keterangan :
Ukuran
7x9m
Ukuran
>63 m
Ukuran
<63 m
Jumlah
(d)=(a+b+c)
Jml.ruang
lainnya
yang
digunakan
untuk ruang
kelas (e)
4
Jumlah ruang
yang digunakan
untuk ruang
kelas (f)=(d + e)
2
2
6
2
2
2
2
2
2
10
48
Baik
Rusak Ringan
Rusak Sedang
Rusak Berat
Rusak Total
Kerusakan
15% - < 30%
30%- <45%
45% - 65%
>65%
b) Data Ruang Belajar Lainnya
Jenis Ruangan
1. Perpustakaan
Jumlah
(buah)
1
Ukuran
(p x l)
7x9
2. Lab. IPA
1
10 x 12
3. Keterampilan
4. Multimedia
1
1
9x9
7x9
5. Kesenian
-
-
Kondisi *)
Jenis
Jumlah
Ruangan
(buah)
Baik
6. Lab.
Bahasa
Baik
7.Lab.
1
Komputer
Baik
1.PTD
Rsk
2. Serbaguna
Ringan
/Aula
6.
-
Ukuran
(p x l)
-
Kondisi
7x9
Baik
-
-
-
-
-
c) Data Ruang Kantor
Jenis Ruangan
1. Kepala Sekolah
2. Wakil Kepala
Sekolah
3. Guru
4. Tata Usaha
5. Tamu
Lainnya
Jumlah
(buah)
1
Ukuran (p x l)
Kondisi *)
4x9
Baik
1
1
1
7x9
4x4
2x3
-
Baik
Baik
Baik
d) Data Ruang Penunjang
Jenis Ruangan
1.Gudang
2.Dapur
3.Reproduksi
4.KM/WC Guru
5.KM/WC Murid
6.BK
7.UKS
Jml
(buah)
1
1
1
4
1
Ukuran
(p x l )
1x4
2x2
2x2
2x2
3x3
1
3x3
Kondisi *) Jenis Ruangan
B
B
B
B
B
B
10.R.Ibadah
11.R.Ganti
12.R.Koperasi
13.Hall/Lobi
14.R.Kantin
15. R poma
air
16.Bansal
kend
Jml
(buah)
1
Ukuran
(p x l)
10 x 8
Kondisi *)
1
5x5
B
5
2
2x2
1x1
B
B
1
10 x 20
B
B
49
8.PMR/Pramuka
1
4x4
B
9.OSIS
1
3x3
B
17. Rmh
Penjaga
18. Pos Jaga
1
3x3
B
2
3x3
B
e) Lapangan Olahraga dan Upacara
Lapangan
1. Lapangan
Olahraga
a. Lapangan
Basket
b. Lapangan
Futsal
2. Lapangan
Upacara
Jumlah
(buah)
Ukuran (p x l)
Kondisi *)
1
1
15 x 26
30 x 26
B
B
B
1
20 x 20
Keterangan
6. Struktur Kurikulum SMP Dua Mei Ciputat
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan pasal 6 ayat (1) menyatakan bahwa kurikulum untuk jenis
pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah terdiri atas 5 kelompok mata pelajaran, antara lain :
1)
Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak mulia, yang terdiri dari
mata pelajaran Agama Islam, Agama Kristen, Agama Hindu, dan
Agama Budha.
2)
Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian, yang
terdiri dari mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Budi
Pekerti.
3)
Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yang
terdiri dari mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan
Teknologi Informasi dan Komunikasi.
4)
Kelompok mata pelajaran Estetika yang terdiri dari mata pelajaran
Kesenian dan atau Seni Budaya.
5)
Kelompok mata pelajaran Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan.
50
Cakupan setiap kelompok mata pelajaran disajikan dalam tabel sebagai
berikut :
Tabel 4.4 Kurikulum Pelajaran di SMP Dua Mei Ciputat
No
1.
Kelompok Mata
Pelajaran
Agama dan
Kelompok mata pelajaran agama dan
Akhlak Mulia
akhlak
Cakupan
mulia
dimaksudkan
untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Akhlak
mulia
mencakup
etika,
budi
pekerti, atau moral sebagai perwujudan
dari pendidikan agama.
2.
Kewarganegaraan Kelompok
dan Kepribadian
mata
kewarganegaraan
dan
pelajaran
kepribadian
dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran
dan wawasan peserta didik akan status,
hak, dan kewajibannya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,
serta peningkatan kualitas dirinya sebagai
manusia.
Kesadaran
dan
wawasan
termasuk
wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme
bela negara, penghargaan terhadap hak-hak
asasi
manusia,
kemajemukan
bangsa,
pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan
gender, demokrasi, tanggung jawab sosial,
ketaatan pada hukum, ketaatan membayar
pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi,
51
kolusi, dan nepotisme.
3.
Ilmu
Kelompok
Pengetahuan dan pengetahuan
Teknologi
mata
pelajaran
ilmu
dan
teknologi
pada
SD/MI/SDLB
dimaksudkan
untuk
mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
menanamkan
kebiasaan
berpikir
dan
berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan
mandiri.
Kelompok
pengetahuan
mata
pelajaran
ilmu
dan
teknologi
pada
dimaksudkan
untuk
SMP/MTs/SMPLB
memperoleh
kompetensi
pengetahuan
dasar
dan
ilmu
teknologi
sertamembudayakan berpikir ilmiah secara
kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok
pengetahuan
mata
pelajaran
ilmu
dan
teknologi
pada
dimaksudkan
untuk
SMP/Mts/SMPLB
memperoleh
pengetahuan
kompetensi
dan
lanjut
ilmu
teknologi
serta
membudayakan berpikir ilmiah secara
kritis, kreatif dan mandiri.
Kelompok
mata
pelajaran
ilmu
pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs
dimaksudkan
untuk
menerapkan
ilmu
pengetahuan dan teknologi, membentuk
kompetensi, kecakapan, dan kemandirian
kerja.
4.
Estetika
Kelompok
mata
pelajaran
estetika
52
dimaksudkan
untuk
meningkatkan
sensitivitas, kemampuan mengekspresikan
dan kemampuan mengapresiasi keindahan
dan harmoni. Kemampuan mengapresiasi
dan
mengekspresikan
keindahan
serta
harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi,
baik dalam kehidupan individual sehingga
mampu menikmati dan mensyukuri hidup,
maupun dalam kehidupan kemasyarakatan
sehingga
mampu
menciptakan
kebersamaan yang harmonis.
5.
Jasmani,
Kelompok
mata
pelajaran
jasmani,
Olahraga dan
olahraga dan kesehatan pada SD/MI/SDLB
Kesehatan
dimaksudkan untuk meningkatkan potensi
fisik serta menanamkan sportivitas dan
kesadaran hidup sehat.
Kelompok
mata
olahraga
dan
SMP/MTs/SMPLB
meningkatkan
pelajaran
jasmani,
kesehatan
pada
dimaksudkan
untuk
potensi
fisik
serta
membudayakan sportivitas dan kesadaran
hidup sehat.
Kelompok
mata
olahraga
dan
pelajaran
kesehatan
jasmani,
pada
SMP/MTs/SMPLB// dimaksudkan untuk
meningkatkan
potensi
fisik
serta
membudayakan sikap sportif, disiplin,
kerja sama, dan hidup sehat.
Budaya hidup sehat termasuk kesadaran,
53
sikap, dan perilaku hidup sehat yang
bersifat individual ataupun yang bersifat
kolektif
kemasyarakatan
seperti
keterbebasan dari perilaku seksual bebas,
kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam
berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang
potensial untuk mewabah.
7. Struktur Organisasi Sekolah
STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH
SMP DUA MEI
YAYASAN
Kepala Sekolah
Enjang Supyan, M.Pd
Waka Kurikulum
Kordinator Kesiswaan
Saptono, S.Pd
Siti Aisyah, S.Pd
Guru Bid.
Studi
Wali
Kelas
Kordinator BP
Pembina OSIS
Susi. H, S.Pd
Galih. PS,
S.Pd
Tata Usaha
Siswa
54
Bagan 4.1 Struktur SMP Dua Mei Ciputat
8. Jadwal Kegiatan Belajar Mengajar
Adapun pengaturan beban belajar di SMP Dua Mei Ciputat diatur sebagai
berikut:
1) Beban belajar yang digunakan dengan menggunakan sistem paket
dengan alokasi jam tatap muka 40 menit.
2) Pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang
terdapat pada semester ganjil dan genap dilakukan secara fleksibel
dengan jumlah beban belajar yang tetap.
3) Dalam waktu satu minggu terdapat 41 jam tatap muka dengan
distribusi sbb :
a) hari Senin 8 jam tatap muka,
b) hari Selasa, Rabu, dan Kamis 9 jam tatap muka, serta
c) hari Jum’at 6 jam tatap muka.
Gambaran lengkap mengenai penggunaan waktu belajar adalah sebagai
berikut :
Tabel 4.5 Jadwal Kegiatan Belajar di SMP Dua Mei Ciputat
Jam
ke
Senin
Jam
ke
Selasa
Jam
ke
Rabu
Jam
ke
Kamis
Jum’at
Sabtu
0
07.00 08.00
1
07.15 07.55
1
07.15 07.55
1
07.15 07.55
07.15 07.55
EKSKUL
1
08.00 08.40
2
07.55 08.35
2
07.55 08.35
2
07.55 08.35
07.55 08.35
EKSKUL
2
08.40 09.20
3
08.35 09.15
3
08.35 09.15
3
08.35 09.15
08.35 09.15
EKSKUL
3
09.20 10.00
4
09.15 09.55
4
09.15 09.55
4
09.15 09.55
09.15 09.55
EKSKUL
09.55 10.15
09.55 10.15
10.00 10.20
(ISTIRAHA
09.55 10.15
09.55 10.15
(ISTIRAH
55
T)
(ISTIRAHAT)
AT)
(ISTIRAHAT)
(ISTIRAHAT)
4
10.20 11.00
5
10.15 10.55
5
10.15 10.55
5
10.15 10.55
10.15 10.55
5
11.00 11.40
6
10.55 11.35
6
10.55 11.35
6
10.55 11.35
10.55 11.35
6
11.40 12.20
7
11.35 12.15
11.35 12.30
(ISTIRAH
AT)
7
11.35 12.15
11.35 - 12.45
SHOLAT
JUM’AT
12.20 13.00
(ISTIRAHA
T)
12.15 - 12.55
(ISTIRAHAT)
7
12.30 13.10
12.15 - 12.45
(ISTIRAHAT)
7
13.00 13.40
8
12.55 13.35
8
13.10 13.50
8
12.45 13.25
8
13.40 14.20
9
13.35 14.15
9
13.35 14.15
9
13.25 14.05
4) Alokasi waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri
tidak terstruktur sebesar 50 % dari waktu kegiatan tatap muka
setiap mata pelajaran.
5) Waktu belajar dalam satu minggu adalah lima (5) hari dari hari
Senin sampai Jum’at.
6) Setiap hari Senin secara kontinyu diadakan upacara bendera dalam
rangka menanamkan rasa cinta tanah air dan memupuk
kedisiplinan.
7) Khusus hari Jum’at diadakan program pembiasaan dalam bentuk
kegiatan Shalat Jum’at bagi siswa laki-laki, dan Keputrian khusus
untuk siswa putri.
8) Khusus hari Sabtu digunakan untuk kegiatan pengembangan diri
dalam bentuk ekstrakurikuler.
56
B. Deskripsi Data
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan, diperoleh data melalui
observasi, wawancara dan dokumentasi dapat dilihat sebagai berikut:
Tentang sarana dan prasarana yang ada
1. Data dari Hasil
di SMP Dua Mei Ciputat ini sudah
Observasi
cukup lengkap, hampir semuanya ada
dan sudah terpenuhi oleh pihak sekolah.
Dilihat dari personalia yang ada di SMP
Dua
Mei
Ciputat,
bahwa
kepala
sekolah, guru-guru dan karyawan yang
ada
termasuk
orang-orang
yang
berkompeten, karena latar belakang
pendidikan guru atau pengajar sesuai
dengan yang diajarkan.
Diketahui pula bahwa proses kegiatan
belajar mengajar yang dilakukan di
SMP Dua Mei sudah cukup efektif.
Dilihat pada pengajaran yang dilakukan
oleh guru PAI yang menggunakan
metode bervariatif, sehingga membuat
proses
belajar
mengajar
menjadi
menyenangkan.
Dari hasil wawancara terhadap kepala
sekolah diketahui bahwa guru-guru di
SMP Dua Mei mengadakan rapat
mingguan
2. Data dari Hasil
Wawancara
dan
bulanan.
Kemudian
pelaksanaan sholat dzuhur berjamaah
yang dilakukan secara rutin dan sholat
Jum’at berjamaah bagi siswa laki-laki
serta kegiatan seperti keputrian bagi
siswa perempuan.
57
Adapun pengajaran yang dilakukan oleh
guru Pendidikan Agama Islam telah
menggunakan metode yang bervariatif
serta
melakukan
kegiatan
evaluasi
pembelajaran seperti pemberian tugas
kepada siswa, merespon tanggapan
siswa, dan menjelaskan kembali materi
yang dirasa belum dimengerti oleh
siswa.
Dari hasil wawancara terhadap 5 orang
siswa kelas VIII SMP Dua Mei dapat
diketahui bahwa rata-rata mereka cukup
antusias dan senang dalam proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Hasil
belajar
mereka
ada
yang
menjawab baik dan lumayan baik.
Adapun kesulitan bagi mereka pada
pembelajaran PAI ialah kemampuan
dalam
membaca
Al’Qur’an
dan
mengenal sejarah-sejarah tentang Nabi.
Data yang dikumpulkan adalah data
yang berkaitan dengan masalah seperti
gambar-gambar yang berkaitan dengan
3. Data dari Hasil
Dokumentasi
fasilitas yang tersedia di SMP Dua Mei
Ciputat,
proses
kegiatan
belajar
mengajar serta pemanfaatan sarana dan
prasarana dalam proses kegiatan belajar
mengajar.
58
C. Analisis Data
1. Hasil Observasi
Sarana dan prasarana yang ada di SMP Dua Mei Ciputat ini sudah
cukup lengkap, hampir semuanya sudah terpenuhi oleh pihak sekolah.
Sarana dan prasarana tersebut adalah bentuk awal dalam upaya guru untuk
menciptakan komunikasi yang efektif terhadap siswa.
Sarana dan prasarana merupakan media penting seorang guru dalam
menyampaikan materi pelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat menurut
Stephen P. Robbins, proses komunikasi. Model ini terdiri dari tujuh
bagian: (1) Sumber komunikasi, (2) Pengkodean, (3) Pesan, (4) Saluran,
(5) Decoding, (6) Penerima, dan (7) Umpan balik.2
Pesan
Sumber
Pesan
Penyandian
Pesan
Pesan
Saluran
Penginterpretasian Pesan
Pesan
Penerima
Umpan Balik
Gambar : 4.1 Menunjukkan Proses Komunikasi
Saluran yang dimaksud merupakan media dalam menyampaikan
pesan yang akan disampaikan guru kepada peserta didik. Oleh karena itu
sarana dan prasarana merupakan hal penting dalam proses komunikasi
yang diciptakan oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar.
Dilihat dari personalia SMP Dua Mei Ciputat, bahwa Kepala Sekolah,
guru-guru dan karyawan yang ada sudah termasuk orang-orang yang
berkompeten, sebab untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pendidikan
di dalam sekolah guru atau pengajar yang memegang tanggung jawab
mengajar harus menguasai mata pelajaran tersebut, sesuai dengan latar
belakang pendidikan yang mereka ajarkan. Hal ini perlu diperhatikan
karena guru bukan hanya mengajarkan materi yang terdapat dalam buku2
Stephen P. Robbins, op. cit., h. 393-394
59
buku pelajaran, akan tetapi guru juga dituntut untuk mempunyai kriteria
sebagai seorang guru.
Hal ini juga sesuai dengan pendapat Adams dan Dickey yang
mengemukakan bahwa “peran guru sesungguhnya lebih luas, meliputi
guru sebagai Pengajar, Pembimbing, Ilmuwan, dan guru sebagai Pribadi
(Teladan)”.3
Kemudian, diketahui pula bahwa proses kegiatan belajar mengajar
yang dilakukan di SMP Dua Mei sudah cukup efektif. Dilihat pada saat
pengajaran guru membuat kesepakatan belajar atau kontrak belajar dengan
siswa dalam proses pembelajaran sehingga memudahkan komunikasi
dengan siswa dan penggunaan metode yang cukup bervariatif sehingga
membuat proses kegiatan belajar mengajar menjadi menyenangkan.
Adapun variasi metode yang digunakan tercantum di dalam RPP sesuai
dengan tingkat kesulitan pada materi yang akan diajarkan.
2. Hasil Wawancara
Dari hasil wawancara terhadap kepala sekolah SMP Dua Mei diketahui
bahwa kegiatan guru-guru pada rapat mingguan dan rapat evaluasi bulanan
dilakukan sebagai bentuk upaya menanggulangi masalah yang terjadi
dengan siswa setiap harinya. Kemudian pada pelaksanaan sholat dzuhur
berjamaah dan sholat jum’at berjamaah bertujuan untuk mempererat
komunikasi yang baik antar guru dengan siswa dan mengajarkan secara
praktek
pendidikan
agama
menyangkut
ibadah.
Sehingga
dapat
disimpulkan bahwa guru SMP Dua Mei telah berusaha menciptakan
komunikasi yang baik terhadap siswa dengan berupaya mengadakan rapat
setiap minggu dan setiap bulan, untuk mengetahui keadaan siswa yang
memungkinkan terjadinya masalah dalam proses belajar mengajar.
Diketahui pula gambaran umum tentang penerapan komunikasi pada
pembelajaran PAI bahwa seorang guru PAI mempunyai peran yang
penting dalam proses pembelajaran, karena peran guru PAI sebagai
pendidik dalam perkembangan akhlak, budi pekerti, dan terutama berperan
3
Oemar Hamalik, op. cit., h. 123
60
untuk membekali siswa pada ajaran syariat Islam (ketauhidan). Seorang
guru juga harus mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan
siswa, sebab komunikasi yang efektif dalam proses kegiatan belajar
mengajar membawa pengaruh yang besar untuk memberikan perubahan
yang baik terhadap siswa.
Komunikasi sebagai suatu dasar dalam mencapai tujuan pendidikan,
karena tanpa adanya komunikasi maka tidak adanya umpan balik yang
dilakukan seorang guru terhadap siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam guru PAI sudah
cukup efektif dalam berinteraksi dengan siswa, akan tetapi dalam
penggunaan multimedia belum begitu memanfaatkannya dengan baik,
dikarenakan dalam penggunaan multimedia guru PAI masih belum begitu
mahir, sehingga dalam kegiatan belajar mengajar cenderung menggunakan
metode ceramah, metode diskusi, tanya jawab, penugasan dan lain
sebagainya.
Dari hasil wawancara terhadap guru mata pelajaran PAI di SMP Dua
Mei yang dapat diketahui ialah salah satu penerapan komunikasi yang
dilakukan di lingkungan kelas ialah pada kegiatan pendahuluan, guru
memberi salam dan menanyakan kabar siswa sebelum pelajaran akan
dimulai dan guru melakukan evaluasi setelah selesai menjelaskan materi
yang diajarkan seperti menanyakan hal-hal yang belum dimengerti,
merespon tanggapan siswa dan pemberian tugas kepada siswa. Jika
melihat apa yang telah dilakukan guru PAI dalam upaya menciptakan
komunikasi yang efektif kepada siswa, maka dapat peneliti ketahui guru
sudah mempunyai keterampilan dan sikap dalam memahami situasi dalam
proses belajar mengajar. Hal ini tentunya menjadi faktor dalam
menciptakan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa. Hal ini
sesuai dengan pendapat A.A Anwar Prabu Mangkunegara dikatakan
bahwa “ada dua faktor yang mempengaruhi komunikasi, yaitu faktor dari
pihak sender (pengirim pesan), dan faktor dari pihak receiver atau
komunikan”.
61
a. Faktor dari pihak sender atau komunikator, yaitu keterampilan, sikap,
pengetahuan sender, media saluran yang digunakan.
1. Keterampilan sender
Sender sebagai pengirim informasi, ide, berita, dan pesan perlu
menguasai cara-cara penyampaian pikiran baik secara tertulis
maupun lisan.
2. Sikap sender
Sikap sender sangat berpengaruh pada receiver. Sender yang
bersikap angkuh terhadap receiver dapat mengakibatkan informasi
atau pesan yang diberikan menjadi ditolak oleh receiver. Begitu
pula sikap sender yang ragu-ragu dapat mengakibatkan receiver
menjadi titik percaya terhadap informasi atau pesan yang
disampaikan. Maka dari itu, sender harus mampu bersikap
meyakinkan receiver terhadap pesan yang diberikan kepadanya.
3. Pengetahuan sender
Sender mempunyai pengetahuan luas dan menguasai materi yang
disampaikan akan dapat menginformasikannya kepada receiver
sejelas mungkin. Dengan demikian, receiver akan lebih mudah
mengerti pesan yang disampaikan oleh sender.
4. Media saluran yang digunakan oleh sender
Media
atau
saluran
komunikasi
sangat
membantu
dalam
penyampaian ide, informasi atau pesan kepada receiver. Sender
perlu menggunakan media saluran komunikasi yang sesuai dan
menarik perhatian receiver.4
Evaluasi berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana pemahaman
siswa dalam materi yang telah diajarkan. Strategi yang digunakan guru
sebagaimana telah dicantumi di dalam RPP terdapat metode yang
bervariasi untuk membantu dalam hal mengajar dan berkomunikasi
dengan siswa agar pembelajaran dapat menjadi efektif, diyakini pada
4
A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, op. cit., h. 148-150
62
metode diskusi lebih membuat siswa menjadi interaktif. Kesulitan pada
pembelajaran PAI tidak ada, tetapi dalam hal masih rendahnya
kemampuan siswa membaca Al-Qu’ran masih banyak yang belum bisa.
Sehingga kendala guru PAI itu sendiri jika harus mengajari siswa
membaca Al-Qur’an satu persatu tidak dapat dilakukan cenderung waktu
yang terdapat di sekolah relatif tidak banyak, sedangkan pelajaran
Pendidikan Agama Islam cenderung dengan ayat Al-Qur’an dan bahasa
Arab.
Dari hasil wawancara terhadap 5 orang siswa dari kelas VIII SMP Dua
Mei dapat diketahui bahwa rata-rata mereka cukup antusias dan senang
dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Hasil belajar mereka
ada yang menjawab baik dan lumayan baik. Adapun kesulitan bagi mereka
dalam mempelajari PAI ialah mengenal sejarah-sejarah tentang Nabi dan
kemampuan dalam membaca Al-Qur’an. Materi yang disampaikan oleh
guru PAI menurut salah satu dari mereka terlalu cepat dalam menjelaskan
dan kurang tegas sehingga materi menjadi sulit dipahami, namun beberapa
diantara mereka menyatakan materi yang disampaikan sudah baik dan
mudah dimengerti. Bagi mereka, mempelajari Pendidikan Agama Islam itu
penting karena dapat mengetahui sejarah-sejarah tentang Nabi dan ajaranajaran syariat Islam.
Menurut peneliti dari hasil wawancara terhadap Kepala Sekolah SMP
Dua Mei, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan 5 orang siswa
kelas VIII SMP Dua Mei dapat disimpulkan bahwa guru PAI sudah
menciptakan komunikasi yang efekif dengan siswa. Salah satunya ialah
menanyakan kesulitan dalam pelajaran yang belum dipahami oleh siswa.
Komunikasi yang digunakan pada peraturan ataupun kontrak pembelajaran
oleh guru PAI untuk mengajar menggunakan interaksi yang tidak terlalu
tegas namun siswa tetap menghormati dan taat. Bagi siswa menyatakan
menyukai pengajaran yang dilakukan oleh guru PAI. Dengan adanya
tanggapan-tanggapan seperti itulah yang dapat dinilai bahwa komunikasi
63
antara guru PAI dan siswa kelas VIII mempunyai komunikasi yang efektif.
Ini terlihat dari respon siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Adapun pendapat ini sejalan dengan Mudjito dalam bukunya yang
disadur dari karyanya Thomas Gordon, menyatakan bahwa: Hubungan
guru dengan siswa dikatakan baik apabila hubungan tersebut memiliki
sifat-sifat, sebagai berikut:
a. Keterbukaan, sehingga baik guru maupun siswa saling bersikap
jujur dan membuka diri satu sama lainnya.
b. Tanggap, bilamana seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang
lain.
c. Kebebasan, yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan
mengembangkan keunikannya, kreativitasnya dan kepribadiannya.
Uzer Usman dalam karyanya Menjadi Guru Profesional, menegaskan
bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik
yang berlangsung dalam situasi yang edukatif untuk mencapai tujuan
tertentu. Hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan
syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Komunikasi
dalam peristiwa proses belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas.
Tidak sekedar hubungan guru dan siswa, tetapi merupakan komunikasi
edukatif.5
3. Hasil Dokumentasi
Langkah dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti disini ialah mengambil
dan mengumpulkan gambar-gambar yang berkaitan dengan fasilitas yang
tersedia di SMP Dua Mei Ciputat. Dengan adanya dokumen ini peneliti dapat
menunjukkan beberapa fasilitas yang tersedia di lingkungan SMP Dua Mei
Ciputat. Dapat dilihat sebagai berikut:
5
Moh. Uzer Usman, op. cit., h.4
64
Gambar 4.2 Gerbang masuk dan Pos Keamanan SMP Dua
Mei Ciputat
Gambar 4.3 Lapangan dan Mushola SMP Dua Mei Ciputat
Gambar 4.4 Perpustakaan dan LAB Komputer SMP Dua Mei
Ciputat
65
Gambar 4.5 Ruang Kelas SMP Dua Mei Ciputat
Gambar 4.6 Proses Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI)
Gambar 4.7 Pemanfaatan Sarana Multimedia Dalam Menciptakan
Komunikasi Yang Efektif
Dari hasil dokumentasi di atas, peneliti menyimpulkan bahwa fasilitas
yang tersedia di SMP Dua Mei Ciputat sudah cukup lengkap, hampir
semuanya sudah terpenuhi. Dengan diterapkannya media pembelajaran di
tiap kelas maka tentunya hal ini memberikan kemudahan dalam proses
66
kegiatan belajar mengajar. Juga dengan tersedianya perpustakaan, LAB
Multimedia dan LAB Komputer di sekolah ini.
D. Temuan Hasil Penelitian
1. Penentuan melalui Sarana dan Prasarana
Dalam temuan penelitian, diketahui bahwa fasilitas yang digunakan
guru ialah Media dan fasilitas yang diberikan sekolah guna memudahkan
guru dalam proses kegiatan belajar mengajar adalah beberapa ruang seperti
ruang kelas yang berkapasitas 40 siswa, kemudian ruang guru, ruang
OSIS, ruang Perpustakaan, LAB Multimedia, LAB komputer dan
beberapa lapangan olahraga. Sarana dan prasarana yang ada di SMP Dua
Mei ini digunakan sebagai upaya menciptakan hubungan yang harmonis
antara guru dan siswa agar terhindar dari kegiatan yang berbau negatif dan
siswa lebih sering berperilaku baik, khususnya pada perilaku akhlak
terpuji yang sesuai dengan materi-materi pada pendidikan agama Islam di
sekolah. Kemudian fasilitas masjid yang digunakan dalam kegiatan
keagamaan sebagai upaya menciptakan komunikasi yang baik di luar jam
pelajaran sekolah terutama dalam hal ibadah.
Akan tetapi pada fasilitas laboratorium multimedia yang ada di dalam
sekolah, guru masih kurang memanfaatkan penggunaan multimedia di
dalam proses kegiatan belajar mengajar tersebut karena penjadwalan
laboratorium sering menemukan kendala seperti tidak teraturnya jadwal
pemakaian laboratorium sehingga sering terjadi bentrok jadwal antara guru
yang lain, disamping itu guru Pendidikan Agama Islam masih belum
begitu mahir dalam penggunaan multimedia karena keahlian yang masih
terbatas.
Dari penjelasan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa fasilitas
sarana dan prasarana di SMP Dua Mei sudah cukup memadai, hampir
semuanya sudah terpenuhi. Dengan diterapkannya fasilitas yang cukup
lengkap maka tentunya hal ini memudahkan proses pembelajaran dalam
menciptakan komunikasi yang baik antara guru dengan siswa.
67
2. Penentuan melalui RPP dan Kegiatan Belajar Mengajar
Diketahui bahwa proses kegiatan belajar mengajar di SMP Dua Mei
sudah cukup efektif. Dilihat pada saat guru memulai proses kegiatan
belajar mengajar, guru melakukan kontrak belajar atau kesepakatan belajar
dengan siswa dalam proses pembelajaran guna memudahkan komunikasi
terhadap siswa. Kemudian penggunaan pada metode yang bervariasi
tercantum di dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah
dibuat sebelum melakukan proses pengajaran, guru menggunakan metode
yang bervariatif sebagai suatu tujuan dalam menciptakan proses
pembelajaran yang menyenangkan dan untuk menciptakan komunikasi
yang efektif dengan siswa serta membuat siswa menjadi interaktif dalam
proses pembelajaran. Demikian bahwa proses pembelajaran PAI sudah
cukup efektif, karena komunikasi dalam bentuk diskusi pada proses belajar
mengajar berlangsung cukup efektif, baik antara pengajar dengan pelajar
maupun diantara para pelajar sendiri, karena prosesnya memungkinkan
siswa mengemukakan pendapatnya (argumen) serta dapat menelaah
kembali, apakah yang telah diketahuinya itu benar atau tidak.
Strategi yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama islam dalam hal
menjelaskan materi pelajaran, guru PAI lebih menggunakan bahasa verbal
dan gerakan-gerakan tangan agar lebih dapat menarik perhatian siswa,
sehingga proses pembelajaran dapat berjalan sesuai yang diinginkan,
kemudian menghubungkan kembali materi pelajaran dengan kejadiankejadian yang ada di lingkungan atau peristiwa yang sedang terjadi pada
saat ini sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi
pembelajaran dan memberikan daya tarik siswa terhadap materi yang
diajarkan oleh guru.
Disamping itu penggunaan metode Active Learning yang digunakan
oleh guru PAI pada bab yang dirasa sulit untuk menggunakan metode
ceramah. Namun dalam hal ini masih ada sebagian siswa yang mengalami
kesulitan dalam memahami penjelasan materi yang diberikan oleh guru,
68
maka hal yang dilakukan oleh seorang guru yaitu menjelaskan kembali
materi pembelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh siswa.
Dari penentuan melalui RPP dan kegiatan belajar mengajar di atas,
peneliti menyimpulkan bahwa guru dalam menyampaikan materi pelajaran
di dalam kelas berupaya untuk menciptakan komunikasi yang efektif untuk
membuat siswa menjadi interaktif dengan metode pembelajaran yang
digunakan seperti metode diskusi, strategi yang digunakan pun sudah baik,
berupa gerakan-gerakan tangan yang membantu guru lebih dapat menarik
perhatian para siswa, dan proses penyesuaian guru terhadap keadaan kelas,
sehingga upaya tersebut dilakukan dalam menciptakan komunikasi yang
efektif di dalam kelas.
3. Penentuan Jenis Penilaian (evaluasi)
Dalam penelitian ini, evaluasi yang digunakan ialah tertulis dan lisan.
Adapun tertulis diperoleh dari hasil belajar siswa yaitu nilai ujian semester
ganjil dan genap siswa SMP Dua Mei Ciputat yang asli. Kemudian lisan
yang dilakukan oleh guru PAI ketika menguji tes lisan mengenai pelajaran
Pendidikan Agama Islam yang telah diajarkan di kelas. Dengan adanya
penilaian tertulis dan lisan ini peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa
penilaian hasil belajar siswa dengan menggunakan komunikasi yang
interaktif.
Hasil penilaian ini diperoleh dari nilai leger yang didapatkan peneliti
dari sekolah. Dari hasil penilaian ini ditemukan bahwa hasil belajar siswa
pada pembelajaran PAI mendapat hasil rata-rata yang sangat baik (hasil
belajar dapat dilihat pada lampiran). Hal ini dapat disimpulkan bahwa
komunikasi guru PAI dalam menyampaikan materi pembelajaran dinilai
efektif sehingga dalam penyampaian materi yang disampaikan oleh guru,
siswa mampu memahaminya. Hasil belajar siswa tersebut tak lepas dari
pengetahuan guru PAI dalam menyampaikan materi pelajaran di dalam
kelas. Pengetahuan guru PAI merupakan salah satu faktor upaya yang
dilakukan seorang guru dalam menciptakan komunikasi yang efektif.
69
Namun masih ada sebagian siswa kelas VIII yang hasil belajarnya
masih rendah, hal ini dilihat dari hasil ujian semester siswa menunjukkan
bahwa masih ada beberapa siswa yang harus mengikuti remedial. Hal ini
juga disebabkan bahwa siswa masih tergantung pada guru dalam proses
pembelajaran PAI. Jika guru dapat menyampaikan materi dengan baik dan
menggunakan metode yang menyenangkan bagi siswa, maka mereka
semangat untuk belajar dan memperhatikan materi yang dijelaskan guru,
tetapi jika guru kurang jelas dalam menyampaikan materi dan hanya
menggunakan metode ceramah saja, maka semangat mereka pun untuk
belajar menjadi menurun. Hal ini juga disebabkan kemampuan siswa
dalam memahami suatu materi. Kurangnya pengetahuan siswa terhadap
mata pelajaran PAI dan malasnya siswa untuk membaca buku pelajaran
membuat pengetahuan mereka rendah. Mereka hanya mengandalkan
penjelasan guru di dalam kelas.
Berbeda halnya dengan siswa yang mayoritas memiliki nilai yang
cukup tinggi, mereka memiliki kemampuan yang baik dalam memahami
suatu materi serta rajin untuk membaca buku pelajaran dan rajin belajar di
rumah. Sehingga tidak hanya mengandalkan penjelasan guru di sekolah.
Hal ini tentunya menambah wawasan mereka terhadap suatu materi
pelajaran.
4. Keterkaitan dengan temuan penelitian yang Relevan
Karena salah satu indikator berhasil atau tidaknya sebuah prestasi
belajar siswa di sekolah adalah upaya guru dalam meningkatkan
komunikasi yang efektif dengan siswa sebagai sebuah proses dalam
penyampaian materi yang baik dengan siswa. Dengan demikian jika guru
tidak memiliki sikap dan prilaku yang professional dalam berkomunikasi
serta kurang rasa tanggung jawab guru terhadap siswa dalam proses
belajar mengajar, maka yang akan terjadi adalah kurangnya pemahaman
siswa dalam menerima materi yang diberikan guru sehingga akan
70
berdampak pada hasil belajar dan juga perilaku siswa yang kurang sopan
terhadap guru, teman dan staf lingkungan sekolah.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian relevan yang telah dijelaskan
peneliti pada bab sebelumnya bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh
Rus’an dalam skripsinya yang berjudul “Peran Komunikasi Guru dan
Siswa dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMP Islam Baidhaul
Ahkam Tanggerang”. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan skala
Likert diketahui bahwa terdapat hubungan antara komunikasi guru dan
siswa dalam meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP Islam Baidhaul
Ahkam dengan nilai r hitung sebesar 0,168 dan termasuk kategori sangat
lemah (nilai r hitung pada rentang 0,00-0,20). Hal ini terjadi karena guru
tidak memiliki sikap dan perilaku yang professional dalam berkomunikasi
serta kurang rasa tanggung jawab guru terhadap siswa dalam proses
belajar mengajar.
Adapun penelitian yang disusun oleh peneliti sendiri yaitu mengenai
“Peran Guru PAI Dalam Menciptakan Komunikasi Yang Efektif dengan
Siswa Pada Pembelajaran PAI di SMP Dua Mei Ciputat. Berdasarkan hasil
penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif yaitu dengan metode
penelitian studi kasus dapat dilihat bahwa Komunikasi yang diciptakan
oleh peran guru PAI pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam sudah
efektif dengan menggunakan metode yang variatif dan interaktif,
kemudian dalam pemanfaatan fasilitas, dan dalam menggunakan strategi
pembelajaran guru sudah memanfaatkan dengan cukup baik, ini dapat di
lihat pada penerapan guru di Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
sehingga timbal balik terhadap hasil belajar siswa SMP Dua Mei pun baik.
E. Keterbatasan Penelitian
Dari penelitian ini, peneliti merasakan bahwa penelitian ini masih kurang dari
hasil yang lebih baik. Hal tersebut karena keterbatasan penelitian yang peneliti
rasakan selama penelitian ini berlangsung. Keterbatasan penelitian itu antara lain:
71
1.
Kurangnya kemampuan peneliti dalam menilai keadaan di sekolah SMP
Dua Mei Ciputat sehingga peneliti menyadari banyak kekurangan dalam
penelitian ini.
2.
Masih banyaknya penilaian-penilaian yang mendukung dalam penelitian
ini yang masih kurang dikaji secara mendalam oleh peneliti.
3.
Peneliti menyadari masih terdapat beberapa point yang perlu dikaji lebih
mendalam untuk mengetahui hal-hal dalam menciptakan komunikasi
yang efektif terhadap siswa yang belum dapat peneliti lakukan karena
keterbatasan peneliti.
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif
yakni dengan metode penelitian studi kasus maka dapat disimpulkan bahwa peran
guru PAI di SMP Dua Mei Ciputat memiliki peranan yang efektif dalam
menciptakan komunikasi yang efektif dengan siswa pada pembelajaran
Pendidikan Agama Islam yakni dalam penyampaian materi yang disampaikan
oleh guru PAI, siswa mampu memahaminya. Dalam hal strategi pembelajaran
yang digunakan dan pemanfaatan sarana dan prasarana sudah cukup baik.
Dari hasil penilaian ditemukan bahwa hasil belajar siswa kelas VIII pada
pembelajaran Pendidikan Agama Islam mendapat hasil rata-rata yang sangat baik,
hal ini dapat dilihat dari nilai raport siswa yang telah memenuhi standar KKM.
Hal tersebut tak lepas dari pengetahuan guru PAI dalam menyampaikan materi
pelajaran di dalam kelas dan juga dari pemanfaatan guru PAI terhadap sarana dan
prasarana yang terdapat di sekolah. Pengetahuan guru merupakan salah satu faktor
upaya yang dilakukan seorang guru dalam menciptakan komunikasi yang baik
antara guru dengan siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peran guru dalam
menciptakan komunikasi yang efektif dengan siswa dinilai baik.
B. Impikasi
Berdasarkan kesimpulan di atas yang menyatakan bahwa peran guru PAI
memiliki peranan yang efektif dalam menciptakan komunikasi yang efektif
dengan siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam maka implikasinya.
Pertama, bahwa keterampilan seorang guru dalam proses pengajaran perlu
dikembangkan di sekolah-sekolah tidak hanya pada mata pelajaran umum tetapi
juga mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Kedua, sarana dan prasarana yang
telah disediakan oleh pihak sekolah seharusnya dimanfaatkan secara optimal
sehingga peran guru dalam menciptakan komunikasi menjadi lebih efektif.
72
73
C. Saran
Adapun saran yang dapat diambil dari penelitian ini ialah:
1. Guru
PAI
hendaknya
lebih
meningkatkan
kemampuan
berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal dan berusaha
menciptakan suasana pembelajaran yang efektif yakni dengan
menggunakan komunikasi yang bersifat dua arah sehingga siswa
ikut terlibat aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, serta
memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap perkembangan
akhlak para anak didikannya, dan senantiasa selalu memberikan
suri tauladan yang baik kepada siswa sehingga bisa ditiru dan
diteladani oleh mereka.
2. Bagi siswa hendaknya lebih aktif lagi dalam mengikuti proses
pembelajaran, yakni dengan berkonsentrasi ketika mendengarkan
penjelasan yang disampaikan oleh guru, mencatat hal-hal yang
penting dan melakukan review pada kesempatan lain.
3. Dengan adanya peran guru dalam proses pembelajaran di kelas,
bukan berarti sepenuhnya dapat mengoptimalkan hasil belajar
siswa, karena dalam pembelajaran terdapat banyak unsur yang
terkait. Untuk itu perlu diingat bahwa dalam menyampaikan materi
pelajaran yang terpenting ialah agar siswa dapat memahami materi
pelajaran yang disampaikan dan siswa merasa senang ketika
mengikuti proses pembelajaran.
74
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar. Ilmu Komunikasi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006.
A.M, Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2003.
Effendy, Onong Uchjana. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Jakarta: PT.
Remaja Rosdakarya, 2009.
Effendy, Onong Uchjana. Human Relations dan Public Relation, Bandung:
Mandar Madu, 1993.
Effendy, Onong Uchjana. Dinamika Komunikasi, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2004.
Handoko, T. Hani. Pengantar Manajemen,Yogyakarta: BPFE Yogya, 2003.
Mangkunegara, A.A. Anwar Prabu. Manajemen Sumber Daya Manusia
Perusahaan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
Muis, A. Komunikasi Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.
Muhammad, Arni. Komunikasi Organisasi, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009.
Mulyasa, E. Standar Kompetensi dan Sertifikat Guru, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.
Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008.
Nasution, S. Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Naim, Ngainun. Dasar-Dasar Komunikasi Pendidikan, Jogjakarta: Ar-ruzz
Media, 2011.
Purwanto, Djoko. Komunikasi Bisnis, Jakarta: Erlangga, 2011.
Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
2002.
Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,
1999.
75
Robbins & Barbara S. Janes, James G. penerjemah R. Turman Sirait, Komunikasi
yang Efektif, Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1986.
Robbins, Stephen P. Penerjemah Benyamin Molan Perilaku Organisasi, Jakarta:
PT. Indeks Kelompok Gramedia, 2006.
Rosyidi, T.A, Latief. Dasar-dasar Rhetorika Komunikasi dan Informasi, Medan:
1985.
Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta: Rineka
Cipta, 2010.
Supratiknya, A. Komunikasi Antar Pribadi, Yogyakarta: Kanisius, 1995.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta,
2012.
Syaodih, Nana. Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 2011.
Tim Penyusun Revisi Penulisan Skripsi FITK. Pedoman Penulisan Skripsi.
Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013.
Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Gita Media Press, 2006.
Undang-Undang Guru dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Undang-undang RI, No 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Jakarta: Visimedia, 2003.
Uno, Hamzah B. Profesi Kependidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Usman, Husaini. Manajemen; Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi
Aksara, 2008.
Usman, Basyiruddin & Asnawir. Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers,
2002.
Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosda
karya, 2010.
Wursanto, Ig. Dasar-dasar Ilmu Komunikasi, Yogyakarta: Andi, 2003.
Lampiran 1
KALENDER PENDIDIKAN
SMP DUA MEI CIPUTAT
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
NO.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
KEGIATAN
WAKTU PELAKSANAAN
KETERANGAN
SEMSETER 1
(15 Juli – 21 Desember 2013)
Awal masuk sekolah
Masa Orientasi Siswa (MOS)
KBM selama Ramadhan 1434 H
Kegiatan Ramadhan 1434 H
Libur Idul Fitri 1434 H
Masuk setelah Idul Fitri 1434 H
Pekan Ulangan harian ke-1
Ulangan Tengah Semester Ganjil
Idul Adha 1434 H
Pembagian Nilai Tengah Semester
ganjil
Pekan Ulangan harian ke-2
Review materi semester ganjil
Ulangan Umum Semester Ganjil
Remedial Test
Lomba tingkat gugus 03
Pembagian Raport Semester Ganjil
Karyawisata
Libur semester ganjil
15 Juli 2013
15-17 Juli 2013
15-26 Juli 2013
29-31 Juli 2013
1 – 16 Agustus 2013
19 Agustus 2013
2 – 6 September 2013
7 – 11 Oktober 2013
15 Oktober 2013
25 Oktober 2013
18 – 22 November 2013
2 – 6 Desember 2013
9 – 13 Desember 2013
16 – 18 Desember 2013
16 – 18 Desember 2013
21 Desember 2013
23 – 26 Desember 2013
23 Desember 2013 – 4 Januari
2014
Hari efektif semester
ganjil untuk kelas 7, 8
dan 9 sbb:
Juli
=5
Agustus
= 10
September = 21
Oktober
= 16
November = 20
Desember = 5 +
Jumlah
= 77
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
(6 Januari – 21 Juni 2014)
Hari efektif semester
genap untuk kelas 7 dan
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
6 Januari – 25 April 2014 (Kls: 8 sbb :
9)
Januari
= 18
4 Januari – 6 Juni 2014
Februari = 20
Bimbingan Belajar (Bimbel)
Maret
= 16
Try Out Ujian Nasional :
November 2013 – April 2014
April
= 12
Pertama
Mei
= 21
Kedua
Januari 2014
Juni
=0 +
Ketiga
Februari 2014
Jumlah
= 87
Keempat
Maret 2014
April 2014
Hari efektif semester
Pekan Ulangan harian ke-1
genap untuk kelas 9 sbb
Ujian Praktik
3 – 7 Februari 2014
Lomba MIPA Tk. Kabupaten
:
24 – 28 Februari 2014
Pekan Olahraga Pelajar TK. Kota Maret 2014
Januari
= 18
Tangsel
Maret – April 2014
Februari
= 15
Maret
= 11
Ulangan Tengah Semester (UTS)
3 – 7 Maret 2014
April
=9
Pembagian nilai tengah semester
22 Maret 2014
Mei
=0
Ujian Sekolah
24 – 28 Maret 2014
SEMESTER 2
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Olimpiade Sains SMP
Ujian Nasional
Pekan Ulangan harian ke-2
Pengumuman kelulusan
Review materi
Ulangan Umum Semester Genap
Remedial Test
Pembagian Raport Semester Genap
Libur Semester Genap
Penerimaan Siswa Baru T.P 2014/2015
April – Mei 2014
28 April – 1 Mei 2014
12 – 16 Mei 2014
Minggu ke-1 bulan Juni 2014
26 – 30 Mei 2014
2 – 9 Juni 2014
10 – 13 Juni 2014
21 Juni 2014
23 Juni – 12 Juli 2014
23 Juni – 12 Juli 2014
Juni
Jumlah
=0 +
= 43
Ciputat, 2 Desember 2013
Kepala Sekolah
Enjang Supyan, M.Pd.
Lampiran 2
STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH
SMP DUA MEI
YAYASAN
Kepala Sekolah
Enjang Supyan, M.Pd
Kordinator Kesiswaan
Siti Aisyah, S.Pd
Waka Kurikulum
Saptono, S.Pd
Guru Bid.
Studi
Wali
Kelas
Kordinator BP
Susi. H, S.Pd
Tata Usaha
Siswa
Pembina OSIS
Galih. PS,
S.Pd
Lampiran 3
Struktur Kurikulum SMP Dua Mei Tahun Pelajaran 2013/2014
disusun sebagai berikut :
Semester 1 :
KELAS DAN ALOKASI
WAKTU
VII
VIII
IX
KOMPONEN
A.
Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
2. Pendidikan Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Bahasa Inggris
5. Matematika
6. Ilmu Pengetahuan Alam
7. Ilmu Pengetahuan Sosial
8. Seni Budaya
9. Penjas, Olah Raga dan Kesehatan
10. Teknologi
Informasi
Komunikasi (TIK)
B. Muatan Lokal :
1. Tata Boga
2. Tata Busana
3. Bimibingan Konseling
4. Baca Tulis Qur’an (BTQ)
5. Budi Pekerti
C. Pengembangan Diri
JUMLAH
dan
2
2
5
5
5
5
5
2
2
3
2
2
5
5
5
5
5
2
2
3
2
2
5
5
5
5
5
2
2
3
2
1
1
1
2*)
41
2
1
1
1
2*)
41
2
1
1
1
2*)
41
Semester 2 :
KOMPONEN
A. Mata Pelajaran
1. Pendidikan Agama
2. Pendidikan Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Bahasa Inggris
5. Matematika
6. Ilmu Pengetahuan Alam
7. Ilmu Pengetahuan Sosial
8. Seni Budaya
9. Penjas, Olah Raga dan Kesehatan
KELAS DAN ALOKASI
WAKTU
VII
VIII
IX
3
3
5
4
5
5
5
2
2
3
3
5
4
5
5
5
2
2
3
3
5
4
5
5
5
2
2
10. Teknologi
Informasi
Komunikasi (TIK)
B. Muatan Lokal :
1. Tata Boga
2. Tata Busana
3. Bimibingan Konseling
4. Teknologi Informasi
5. English Conversation (EC)
C. Pengembangan Diri
JUMLAH
dan
2
2
2
2
1
1
1
2*)
41
2
1
1
1
2*)
41
2
1
1
1
2*)
41
Lampiran 4
Pengembangan diri dalam hal ini, meliputi kegiatan ekstra kurikuler yang
menekankan pada ranah afektif dan psikomotor dan kegiatan lain baik
yang terjadwal, seperti Upacara Bendera setiap hari Senin dan Hari
Besar Nasional, maupun kegiatan yang insidental, seperti peringantan
hari keagamaan, kebersihan kelas, dll
Kegiatan Pengembangan Diri yang dikembangkan di SMP Dua Mei
Kota Tangerang Selatan antara lain :
a. Bidang Akademik, khusus untuk kelas IX yang dikembangkan dan
dilaksanakan Pendalaman Materi
di semester Genap menjelang
Ujian Nasional, yang meliputi :
1). Bahasa Indonesia
2). Bahasa Inggris
3). Matematika
4). Ilmu Pengetahuan Alam
b. Kegiatan Non Akademik, kegiatan pendidikan di luar mata
pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan
peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat dan minat
mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan
berkewenangan di sekolah.
Jenis kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan di SMP Dua Mei
Kota Tangerang Selatan tahun Pelajaran 2012/2013adalah sebagai
berikut :
a.
Jenis KRIDA, yang meliputi kegiatan :
1). Pramuka
2). Paskibra
b. Jenis Latihan/lomba keberbakatan/prestasi, yang meliputi :
1). Pencak Silat
2). Bola basket
3). Futsal
4). Mading
5). Bola Voli
c. Kegiatan Pelayanan Konseling, yang berkenaan dengan masalah
diri pribadi dan masalah sosial, belajar, dan pengembangan karier
peserta didik.
Semua kegiatan pengembangan diri dinilai dalam bentuk kualitatif
melalui berbagai pendekatan; pengamatan, pemantauan, dan kegiatankegiatan dalam bentuk lomba dan pertandingan. Kualifikasi penilaian
kualitatif terdiri dari Sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang, dan Sangat
Kurang.
Jadwal Kegiatan:
1) Pengembangan Diri Terprogram :
a. Theater
: Selasa
pukul 14.30 – 16.00
b. Futsal
: Sabtu
pukul 07.30 – 09.30
Rabu
pukul 15.00 – 17.00
: Sabtu
pukul 07.30 – 09.30
c. Paskibra
d. Volly ball
pukul 15.00 – 17.00
: Kamis
e. Basket
: Sabtu
pukul 09.30 – 11.30
f. Pencak Silat
: Selasa
pukul 15.00 – 17.00
Jumat
pukul 15.00 – 17.00
Sabtu
pukul 07.30 – 09.30
2) Pengembangan Diri Rutin :
a. Upacara Bendera setiap Senin pagi
b. Jumat bersih setiap hari Jumat pagi
c. Amal setiap hari Jumat
3) Pengembangan Diri Spontan
Memberikan bantuan moril maupun materiil kepada siswa yang
terkena musibah dengan berkoordinasi dengan pengurus masjid dan
pengurus OSIS.
Lampiran 5
Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk :
a.
Ujian Blok, kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk
mengukur
pencapaian
kompetensi
peserta
didik
setelah
menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
b.
Ulangan Tengah Semester (UTS), kegiatan yang dilakukan
oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta
didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran.
Cakupan
ulangan
meliputi
seluruh
indikator
yang
merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
c.
Ulangan Akhir Semester (UAS), kegiatan yang dilakukan oleh
pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik
di akhir semester ganjil. Cakupan ulangan meliputi seluruh
indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester
tersebut.
d.
Ulangan Kenaikan Kelas (UKK), kegiatan yang dilakukan oleh
pendidik di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian
kompetensi peserta didik di akhir semester genap pada satuan
pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan
meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada
semester tersebut.
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk
menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata
pelajaran. Penilaian tersebut meliputi kegiatan sebagai berikut:
1)
menentukan KKM setiap mata pelajaran dengan memperhatikan
karakteristik peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan
kondisi satuan pendidikan melalui rapat dewan pendidik.
2)
mengkoordinasikan ulangan tengah semester, ulangan akhir
semester, dan ulangan kenaikan kelas.
3)
menentukan kriteria kenaikan kelas bagi satuan pendidikan yang
menggunakan sistem paket melalui rapat dewan pendidik.
4)
menentukan
kriteria
program
pembelajaran
bagi
satuan
pendidikan yang menggunakan sistem kredit semester melalui
rapat dewan pendidik.
5)
menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran estetika dan
kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan
kesehatan
melalui
rapat
dewan
pendidik
dengan
mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik.
6)
menentukan nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan
akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan
kepribadian dilakukan melalui
rapat dewan pendidik dengan
mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik dan nilai hasil
ujian sekolah/madrasah.
7)
menyelenggarakan ujian sekolah/madrasah dan menentukan
kelulusan peserta didik dari ujian sekolah/madrasah sesuai
dengan POS Ujian Sekolah/Madrasah bagi satuan pendidikan
penyelenggara UN.
8)
melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua
kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada
orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan
pendidikan.
9)
melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan
kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.
10) menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan
melalui rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria:
a)
menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
b)
memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk
seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama
dan
akhlak
mulia;
kewarganegaraan
kelompok
dan
kepribadian;
mata
pelajaran
kelompok
mata
pelajaran estetika; dan kelompok mata pelajaran jasmani,
olahraga, dan kesehatan.
c)
lulus ujian sekolah
d)
lulus Ujian Nasional.
11) menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN)
setiap peserta didik yang mengikuti Ujian Nasional bagi satuan
pendidikan penyelenggara Ujian Nasional.
12) menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan
pendidikan
bagi
satuan
pendidikan
penyelenggara
Ujian
Nasional.
Penilaian hasil belajar oleh pemerintah dilakukan melalui
kegiatan Ujian Nasional untuk kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam).
Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 Ayat (1), peserta
didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar
dan menengah setelah:
1).
Menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
2).
Memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk
seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan
akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian,
kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran
jasmani, olahraga, dan kesehatan;
3).
Lulus ujian sekolah untuk kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi, dengan ketentuan sebagai berikut :
Seorang siswa dinyatakan lulus Ujian sekolah apabila memiliki
nilai rata-rata minimal 6,00 untuk semua mata pelajaran yang
diujikan dengan nilai minimal 6,00.
4).
Lulus Ujian Nasional
Lampiran 6
PEDOMAN WAWANCARA
A. Identitas Intervewee
1.
Nama
: Cynthia Ariyani
2.
Fak/Jur
: FITK/Pendidikan Agama Islam (PAI)
3.
Semester/ Kelas
: IX/E
4.
NIM
: 109011000188
B. Identitas Interviewer
1.
Nama
: Enjang Supyan, M.Pd
2.
Jabatan
: Kepala Sekolah
3.
Jenis Kelamin
: Laki-laki
4.
Tempat dan Waktu
: SMP Dua Mei Ciputat, Senin 2 Des 2013
C. Butir Pertanyaan
Apakah selama ini dewan guru selalu mengadakan rapat mingguan
atau bulanan untuk membahas persoalan yang terjadi pada peserta
didik?
2. Apakah Ibu/Bapak mengevaluasi proses pembelajaran?
3. Apakah Ibu/Bapak melakukan monitoring kepada guru dalam proses
pembelajaran khususnya terhadap guru mata pelajaran PAI?
4. Apakah guru-guru di SMP Dua Mei membuat RPP sebelum
melakukan kegiatan belajar mengajar?
5. Apakah guru PAI mengelola kelas menggunakan metode yang
bervariatif?
6. Kegiatan seperti apa yang diadakan sekolah untuk menambah
interaksi antara guru PAI dengan siswa?
7. Apakah siswa mengalami kesulitan terhadap pembelajaran PAI?
8. Apakah siswa mudah memahami konsep yang diberikan oleh guru
PAI dalam proses pembelajaran?
9. Bagaimana sikap guru PAI dalam menghadapi siswa pada saat proses
pembelajaran berlangsung?
10. Apakah sikap perilaku guru PAI sudah menjadi teladan bagi para
siswa?
11. Apa saja permasalahan yang ditemui guru dalam proses pembelajaran
1.
PAI?
HASIL WAWANCARA DENGAN KEPALA SEKOLAH
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Kepala Sekolah
: Enjang Supyan, M.Pd.
Tempat Wawancara
: SMP Dua Mei Ciputat
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1) Apakah selama ini dewan guru selalu mengadakan rapat mingguan atau
bulanan untuk membahas persoalan yang terjadi pada peserta didik?
2) Apakah Ibu/Bapak mengevaluasi proses pembelajaran?
3) Apakah Ibu/Bapak melakukan monitoring kepada guru dalam proses
pembelajaran khususnya terhadap guru PAI?
4) Apakah guru-guru di SMP Dua Mei membuat RPP sebelum melakukan
kegiatan belajar mengajar?
5) Apakah guru PAI mengelola kelas menggunakan metode yang bervariatif?
6) Kegiatan seperti apa yang di adakan sekolah untuk menambah interaksi antara
guru PAI dengan siswa?
7) Apa siswa mengalami kesulitan terhadap pembelajaran PAI?
8) Apakah siswa mudah memahami konsep yang di berikan oleh guru PAI dalam
proses pembelajaran?
9) Bagaimana sikap guru PAI dalam menghadapi siswa pada saat proses
pembelajaran berlangsung?
10) Apakah sikap perilaku guru PAI sudah menjadi teladan bagi para siswa?
11) Apa saja permasalahan yang di temui guru dalam proses pembelajaran PAI?
Jawaban
1. Ya, kami tiap minggu mengadakan briefing, mengevaluasi temuan-temuan
yang terjadi di sekolah, tetapi jika ada kejadian khusus (masalah) seperti ada
informasi akan tawuran maka hari itu juga langsung di proses. Biasanya kita
berkomunikasi dengan pihak sekolah yang rencana anak itu akan tawuran, lalu
ketika razia di temukan rokok dan segera di adakan pertemuan untuk
menindak lanjuti siswa tersebut. Kalau tiap bulan, kita selalu briefing untuk
mengevaluasi baik kegiatan belajar mengajar maupun kejadian-kejadian yang
terjadi di sekolah.
2. Ya pasti, ada evaluasi dalam proses pembelajaran. dengan adanya Ulangan
Harian, kemudian Ujian Tengah Semester sebagai evaluasi kendala-kendala
yang dihadapi oleh guru maupun oleh siswa. Apalagi sekarang mengahadapi
Kurikulum 2013 meskipun belum mulai tetapi sudah mulai ke arah sana, kita
bersosialisasi kepada guru terutama, berbicara perbedaan KTSP dengan
Kurikulum 2013. Secara umum juga seperti upacara setiap hari senin secara
keseluruhan baik dari TK, SD, SMP, SMA, SMK kita mengevaluasi baik
pelaksanaan upacara maupun KBM selama satu minggu itu, yang berjenjang
juga paling tidak sebulan sekali itu kita mengevaluasi pelaksanaan KBM.
3. Ya, memonitoring tentunya melaksanakan supervisi
4. Ya, guru-guru membuat RPP untuk setahun, lalu dikoreksi kemudian sebagai
pedoman untuk mengajar mereka.
5. Memang dalam penggunaan metode belum begitu banyak variasinya, lebih
dominan ke metode ceramah, karena dengan berbagai permasalahan terutama
di penguasaan ICT yang belum begitu mahir, karena dalam penggunaan
peluang multimedia itu dengan sendirinya harus bisa dulu mengoperasional
kannya. Kendalanya dalam penggunaan multimedia memang masih kurang,
sehingga saat ini yang saya perhatikan masih cenderung ke metode ceramah
belum bervariasi tetapi metode diskusi dan untuk metode lainnya
dilaksanakan, mungkin dalam penggunaan multimedia belum begitu mahir
akan tetapi untuk pelatihan-pelatihan sudah beberapa kali di lakukan dalam
rangka untuk penggunaan ICT untuk proses pembelajaran.
6. Interaksi untuk pelajaran agama itu kita jadwalkan ada Jum’at bergilir,
mengapa bergilir, karena masjid disekolah agak kecil, sehingga daya tampung
masjid kurang memadai, sementara yang memakainya itu dari 3 jenjang yaitu
SMP, SMA dan SMK sehingga jika semua ikut disini memang tidak cukup.
Kemudian yang selama ini di laksanakan seperti keputrian yaitu mengkaji
tentang masalah-masalah keislaman apabila laki-laki ketika salat Jum’at dan
perempuannya oleh guru agama, kemudian ada BTQ tambahan bagi mereka
yang mungkin belum begitu lancar dalam membaca Al-Qur’an, dan begitu
juga hari-hari besar keislaman selalu kami laksanakan seperti pelaksanaan
ibadah salat Idul Adha selalu salat disini, penyembelihan hewan qurban yang
melibatkan anak OSIS dan ROHIS. Kemudian hari besar Isra Mi’raj dan
Maulid Nabi yang melibatkan semua, siswalah sebagai panitianya dan guru
PAI bertugas membimbing anak didik.
7. Kesulitan yang saya amati terutama masih rendahnya anak didik dalam
membaca Al-Qu’ran. jadi untuk ukuran anak SMP masih ada yang baru Iqro 2
atau 3, memang untuk mengandalkan di sekolah agak sulit karena waktu yang
relatif singkat. Setidaknya anak SMP itu sudah lancar untuk membaca AlQur’an, memang disini yang salah ialah pola asuh di rumah yaitu tidak
dibiasakan membaca Al-Qur’an sehingga kendala kepada guru agama itu
sendiri jika harus mengajari baca Al-Qur’an satu-satu dari 36 anak yang
lancar hanya 6 orang anak. Bahkan ada yang masih baru huruf hijaiyah saja
belum hafal ada yang seperti itu. Memang berat tantangan guru di sekolah itu
apalagi guru PAI, banyak sekali siswa yang mungkin belum mampu membaca
Al-Qur’an, jangankan baik lancar saja belum bisa. Memang dikhawatirkan
sekarang seperti itu, kemampuan membaca Al-Qur’an itu sangat rendah sekali
tidak sampai 30% kondisinya seperti ini, mungkin saya rasa di semua sekolah
pun tidak jauh beda dengan kondisi seperti itu karena terutama pendidikan
yang utama kan di keluarga terlebih dahulu, apabila pembiasaan di rumah
sudah bagus dan terbiasa maka di sekolah pun anak didik akan lebih mudah di
atur. Kendalanya memang seperti itu karena kesadaran akan keagamaan masih
rendah, karena kita mendapatkan bibit yang seperti itu, untuk merubah
kebiasaan yang jarang sekali kemudian untuk kita paksakan memang perlu
pengorbanan dan bantuan atau usaha semua pihak. Dan kita pun tidak bosenbosen untuk mengajak.
8. Tergantung kepada temannya, tapi secara umum karena terbiasa jadi materi
bisa mudah di pahami, karena agama bukan hanya di sekolah saja tetapi di
lingkungan keluarga juga atau mungkin siswa sering mendengarkan ceramah
di televisi, di mushola di lingkungan masing-masing itu juga membantu
pemahaman mereka terhadap agama.
9. Sikap guru PAI agak lembut dalam menyampaikan materi, berupa sanksisanksi di laksanakan oleh beliau seperti penugasan.
10. Ya, kalau secara ini saya rasa sudah bisa dikatakan seperti itu, dalam segi
ibadahnya memberikan contoh shalat berjamaah, kemudian menegur anak itu
sudah menunjukkan guru PAI sudah menjadi teladan.
11. Seperti yang sudah di jelaskan tadi masalahnya yaitu BTQ, membaca AlQur’an, untuk yang lainnya saya rasa itu biasa saja, tapi yang paling utama itu
ialah masalah kemampuan membaca Al-Qu’ran, karena jika membacanya
tidak bisa otomatis kan nanti ada hubungan dengan ibadah shalatnya juga
malas karena tidak mengerti apa yang dibaca, kemudian kembali ke akhlak
juga jika kita jarang membaca Al-Qur’an apalagi tidak tau maknanya otomatis
prilaku itu menjadi selalu di luar kontrol.
Interview
Ciputat Timur, Desember 2013
Kepala Sekolah
Cynthia Ariyani
Enjang Supyan, M.Pd.
PEDOMAN WAWANCARA DENGAN GURU PAI
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Responden
: Drs. Jumaroh Ibnu
Tempat Wawancara
: SMP Dua Mei Ciputat
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1) Apakah bapak selalu membuat kontrak belajar atau perjanjian belajar pada
saat pertama kali memulai proses belajar mengajar guna memudahkan
komunikasi terhadap peserta didik?
2) Apakah bapak membuat RPP sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar?
3) Kegiatan apa yang bapak lakukan agar terjalin komunikasi yang efektif
terhadap siswa dalam pembelajaran PAI?
4) Metode apa saja yang bapak gunakan pada proses pembelajaran PAI?
5) Menurut bapak metode apa yang lebih membuat siswa menjadi interaktif?
6) Bagaimana bapak menyikapi siswa-siswa yang tidak bisa mengikuti
pembelajaran di dalam kelas dengan baik?
7) Bagaimana bapak menyikapi pendapat siswa atau siswa yang memberi saran
kepada anda?
8) Bagaimana bapak dalam menyikapi siswa yang mengalami kesulitan dalam
proses pembelajaran PAI?
9) Bagaimana sikap bapak dalam memberi hukuman kepada siswa yang
melanggar peraturan?
10) Bagaimana tindakan bapak terhadap siswa yang tertinggal materi pelajaran
dikarenakan sedang izin tidak masuk kelas?
11) Apakah setiap pertanyaan yang bapak berikan mendapat tanggapan dari
siswa?
12) Apakah siswa selalu mencatat apa yang bapak jelaskan ketika proses
pembelajaran berlangsung?
13) Apakah siswa aktif dalam proses pembelajaran?
14) Apakah
komunikasi yang bapak terapkan berdampak pada perubahan
perilaku siswa?
15) Bagaimana anda memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan
pendapatnya?
16) Prestasi apa yang telah di dapat oleh pihak sekolah dalam bidang keagamaan?
17) Strategi apakah yang anda gunakan dalam berkomunikasi dengan siswa pada
setiap pembelajaran pendidikan agama islam?
18) Apa yang diperlukan untuk berinteraksi yang baik dengan siswa?
19) Bagaimana guru PAI menanamkan sikap moral terhadap siswa dalam proses
pembelajaran?
20) Apakah yang anda lakukan untuk mengetahui pemahaman pada siswa?
21) Apakah anda selalu menggunakan fasilitas yang ada disekolah dalam
pembelajaran PAI?
22) Apa saja sarana yang anda pergunakan dalam upaya berkomunikasi dengan
siswaa?
Jawaban
1. Ya, kesepakatan dengan siswa sangat diperlukan pada saat pertama kali
memulai proses belajar mengajar. Seperti, jika kondisi kelas sudah rapi baru
dimulai proses pembelajaran dan jika masih ada yang berbicara dikeluarkan
dari kelas atau di hukum.
2. Ya tentu, pembuatan RPP untuk satu semester tiap setahun sekali
3. Menggunakan verbal dan gerakan tangan, seperti menghubungkan kasuskasus yang ada di lingkungan yang sedang terjadi
4. Semua metode, yang paling sering digunakan metode ceramah, demonstrasi,
diskusi, tanya jawab, jigsaw, CTL dsb
5. Metode Diskusi
6. Diberikan berupa tugas tambahan
7. Sudah dibicarakan di kesepakatan dengan siswa atau perjanjian belajar bahwa
bagi siswa yang memberikan berupa pendapat, tanggapan dan sanggahan akan
diberi tambahan nilai.
8. Dengan cara mengulangi penjelasan materi, kemudian menanyakan yang
mana yang belum di mengerti kemudian di jelaskan dan memberi penjelasan
dengan bahasa yang mudah di pahami.
9. Di beri tugas tambahan
10. Sama, dengan di berikan tugas tambahan
11. Terkadang siswa memberikan tanggapan terhadap materi yang sedang di
ajarkan
12. Ada yang mencatat, ada yang mendengarkan, tetapi siswa lebih jarang
mencatat karena materi yang di ajarkan sudah terdapat di buku pelajaran siswa
masing-masing
13. Tergantung pada metode yang di gunakan, misalnya diskusi, anak-anak dapat
aktif dalam proses pembelajaran
14. Ya, sesuai dengan siswa yang memahami pembelajaran yang telah di pelajari
dan belum signifikan seperti yang di harapkan oleh guru
15. Dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan sebagai umpan balik bagi siswa
dan di berikan kesediaan untuk mengemukakan pendapat pada sesi yang telah
di tentukan
16. Belum ada prestasi dalam bidang keagamaan yang di dapat pada tingkat Kota
maupun Nasional
17. Menjelaskan materi dari tingkat yang paling mudah ke tingkat yang paling
sulit
18. Lingkungan, fasilitas yang memadai, sarana dan sumber belajar yang baik
19. Menjadi teladan bagi siswa baik di dalam maupun di luar sekolah
20. Memberikan evaluasi dengan di adakannya test soal, pertanyaan-pertanyaan
untuk mengetahui/mengukur pemahaman pada siswa
21. Ya, saya memanfaatkan fasilitas yang ada, guna menciptakan komunikasi
dengan siswa
22. Lab multimedia, masjid, sumber pelajaran,
Interview
Ciputat Timur, Desember 2013
Guru Mapel PAI
Cynthia Ariyani
Drs. Jumaroh Ibnu
PEDOMAN WAWANCARA DENGAN SISWA
SMP DUA MEI CIPUTAT
1) Apakah terdapat kesulitan dalam memahami pembelajaran Pendidikan Agama
Islam?
2) Bagaimana kamu menyikapi peraturan pada pembelajaran PAI?
3) Bagaimana penjelasan materi yang disampaikan oleh guru mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam?
4) Bagaimana penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran Pendidikan
Agama Islam?
5) Apakah guru PAI berinteraksi terhadap siswa dalam menjelaskan materi yang
di ajarkan?
6) Disamping metode ceramah, apakah guru PAI juga menggunakan metode
lain, seperti tanya jawab, diskusi, dan pemberian tugas, dll?
7) Apakah guru PAI memberikan apresiasi kepada siswa yang berprestasi?
Seperti apa contohnya!
8) Apakah guru PAI memberi arahan atau bimbingan kepada siswa yang
mengalami kesulitan atau belum menyelesaikan tugasnya?
9) Apakah guru PAI memberi kesempatan kepada siswa untuk bebas
memberikan pendapatnya?
10) Apakah guru PAI memberi kesempatan untuk siswa brtanya?
11) Apakah guru PAI merespon pembicaraan atau merespon setiap tanggapan
siswa?
12) Dalam menjelaskan materi, apakah guru menggunakan bahasa yang mudah di
mengerti (di pahami)?
13) Apakah guru memberikan tugas setelah pembelajaran Pendidikan Agama
Islam?
14) Bagaimana kamu menyikapi terhadap guru yang suka marah2 dalam mengajar
dan terkadang memberi hukuman kepada siswa?
15) Apakah guru PAI menjadi penengah yang bijaksana dalam menghadapi siswa
yang ribut di kelas (konflik antar siswa)?
16) Bagaimana pemahaman kamu terhadap pembelajaran Pendidikan Agama
Islam?
17) Apakah kamu memperhatikan guru yang sedang menjelaskan mengenai
pelajaran yang sedang diajarkan?
18) Bagaimana nilai kamu pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam?
19) Apakah terdapat siswa yang mengikuti remedial pada pembelajaran PAI?
20) Apa saja lomba keagamaan yang pernah di ikuti?
21) Apa saja prestasi yang telah di dapat dalam bidang keagamaan?
22) Bagaimana tanggapan kamu mengenai proses pembelajaran Pendidikan
Agama Islam?
23) Apa saja kritik dan saran pada pembelajaran yang diberikan oleh guru PAI?
HASIL WAWANCARA DENGAN SISWA
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Kepala Sekolah
: Andri Ranggalis
Kelas
: VIII.1
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1. Tidak ada kesulitan
2. Biasa saja
3. Sangat jelas dan bahasanya mudah dipahami
4. Menurut saya sangat baik
5. Ya, menanyakan beberapa pertanyaan kepada siswa
6. Jarang mempergunakan metode
7. Ya, memberikan hadiah kepada siswa yang mendapat nilai yang tinggi
8. Ya, tentu saja
9. Ya, setelah menerangkan materi pelajaran
10. Ya, setelah di akhir pembelajaran
11. Ya, tentu saja
12. Ya, bahasa yang digunakan mudah dimengerti
13. Tidak terlalu sering
14. Menurut saya menyikapi hal itu dengan sangat kurang baik
15. Ya, guru menjadi menengah ketika terjadi konflik antar siswa di dalam kelas
16. Terhadap pembelajaran PAI saya sangat mengerti
17. Ya, saya selalu memperhatikan
18. Baik
19. Ya, siswa yang mendapat nilai kurang baik biasanya mengikuti remedial
20. Belum pernah
21. Belum ada
22. Proses pada pembelajaran PAI cukup baik
23. Pada pembelajaran pendidikan agama Islam agar lebih diterapkan di
kehidupan sehari-hari
HASIL WAWANCARA DENGAN SISWA
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Kepala Sekolah
: Mohammad Elfaza Rivaldy
Kelas
: VIII.1
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1. Tidak, karena guru yang mengajarkan PAI menjelaskan dengan jelas dan
mudah dimengerti
2. Mentaati segala peraturan yang ada
3. Jelas dan mudah dimengerti
4. Cukup baik
5. Ya
6. Ya, pada pembelajaran PAI guru selalu melakukan hal tersebut
7. Ya, memberikan hadiah bagi yang memiliki nilai bagus dan berprestasi
8. Ya, apabila anak murid ada yang kurang mengerti guru menjelaskannya
kembali
9. Ya, apabila guru sudah selesai menjelaskan
10. Ya, setelah guru menjelaskan da nada siswa yang kurang mengerti
11. Ya, tentu saja
12. Ya, bahasa yang dipakai mudah dimengerti
13. Ya
14. Tindakan yang kurang baik
15. Ya
16. Baik dan tidak ada kesulitan
17. Ya, tetapi tidak selalu
18. Sangat baik
19. Ya, untuk yang mendapat nilai kurang baik atau tidak masuk sekolah karena
sakit
20. Tidak ada
21. Pada pembelajaran PAI saya mendapat nilai tertinggi di dalam kelas
22. Cukup baik
23. Lebih memanfaatkan dalam penggunaan media
HASIL WAWANCARA DENGAN SISWA
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Kepala Sekolah
: Reni Kumalasari
Kelas
: VIII.1
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1. Tidak, karena saya belajar dengan santai
2. Menyikapinya dengan baik dan taat
3. Penjelasannya sangat mudah dimengerti dan dipahami
4. Penggunaan media baik tapi hanya kurang lengkap
5. Ya, gurunya sangat berinteraksi
6. Ya, dilakukan setiap guru selesai menjelaskan
7. Memberikan hadiah berupa alat tulis dan makanan
8. Ya, dengan menasehatinya agar segera menyelesaikan tugasnya
9. Ya, apa yang dikatakan boleh untuk menjadi pendapat
10. Ya, itu diberikan saat guru selesai menerangkan materi pelajaran
11. Ya, apabila tidak jelas akan dijelaskan kembali
12. Ya, dengan bahasa yang dapat mudah dimengerti
13. Ya, hal itu dilakukan setelah bab yang sudah dipelajari sudah cukup banyak
dan dilakukan ulangan
14. Menyikapinya dengan baik, karena apabila guru marah-marah tentunya karena
kesalah kita yang berbuat ribut dan susah dibilangin
15. Ya
16. Pemahaman saya baik
17. Ya, saya memperhatikannya dengan baik
18. Alhamdulillah sangat baik
19. Ya, ada beberapa siswa yang mengikuti remedial
20. Saya pernah mengikuti lomba kaligrafi dan lomba MTQ
21. MTQ
22. Menurut saya sangat baik
23. Agar lebih banyak lagi melatih murid mengenal sejarah-sejarah Nabi dan agar
diperbanyak melatih siswa dalam hal membaca bacaan Al-Qur’an
HASIL WAWANCARA DENGAN SISWA
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Kepala Sekolah
: Agelsa Deramadhana
Kelas
: VIII.2
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1. Ya, sedikit
2. Mentaatinya
3. Menyenangkan, terkadang susah dimengerti
4. Baik
5. Ya, selalu
6. Ya, selalu
7. Ya, jika murid bisa menjawab makan diberi tepuk tangan
8. Tidak terlalu sering
9. Ya, selalu
10. Ya, selalu
11. Ya, selalu
12. Terkadang bahasa yang digunakan mudah dipahami dan terkadang sulit untuk
dimengerti
13. Ya, tetapi tidak terlalu sering
14. Diam saja dan tidak terlalu menghiraukan
15. Tidak terlalu sering
16. Lumayan dimengerti
17. Ya, tetapi pada materi yang sulit dipahami tidak mendengarkan
18. Cukup baik
19. Ya, ada beberapa siswa
20. Menjadi Da’i atau penceramah
21. Waktu SD mengikuti lomba Da’i atau penceramah
22. Proses pembelajaran PAI baik
23. Mengajarnya harus lebih tegas lagi, agar murid-murid diam dan tidak ribut di
dalam kelas
HASIL WAWANCARA DENGAN SISWA
SMP DUA MEI CIPUTAT
Nama Kepala Sekolah
: Anisa Aitul Latifa
Kelas
: VIII.2
Hari/Tanggal
: Senin, 2 Desember 2013
1. Tidak ada, cukup dimengerti
2. Menyikapinya dengan taat dan santai
3. Baik dan mudah dimengerti
4. Penggunaan media cukup baik
5. Ya, gurunya sangat berinteraksi
6. Ya, dilakukan setiap guru selesai menjelaskan
7. Ya, memberikan pujian dan tambahan nilai
8. Ya, dengan cara menasehati
9. Ya, memperbolehkan mengeluarkan pendapat
10. Ya, saat guru selesai menerangkan materi pelajaran
11. Ya, apabila tidak jelas akan dijelaskan kembali
12. Ya, guru menggunakan bahasa yang dapat mudah dimengerti
13. Ya, hal itu dilakukan setelah bab materi yang dipelajari sudah selesai
14. Menyikapinya dengan diam
15. Ya, tentu
16. Pemahaman saya cukup baik dan mengerti
17. Ya, saya memperhatikan dengan baik
18. Saya mendapat nilai yang cukup baik
19. Ya, ada beberapa siswa yang mengikuti remedial
20. Tidak pernah
21. Tidak ada
22. Menurut saya sangat baik
23. Agar lebih tegas dan apabila menjelaskan materi suaranya lebih lantang lagi
Download