Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan di Kawasan Pesisir dan

advertisement
1
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
DI KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
(Tinjauan Pasal 16 s/d Pasal 20 Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007)
SKRIPSI
Oleh :
II YULIANTO
E1A004153
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2011
2
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
DI KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
(Tinjauan Pasal 16 s/d Pasal 20 Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007)
SKRIPSI
Oleh :
II YULIANTO
E1A004153
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2011
i
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
DI KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
(Tinjauan Pasal 16 s/d Pasal 20 Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman
Oleh :
II YULIANTO
E1A004153
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
2011
ii
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN DI KAWASAN
PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL
(Tinjauan Pasal 16 s/d Pasal 20 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007)
Disusun Oleh :
II YULIANTO
E1A004153
Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum Pada
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Diterima dan disahkan
Pada tanggal
Maret 2011
Menyetujui,
Pembimbing I/
Penguji I
Pembimbing II/
Penguji II
Penguji III
Djumadi, S.H,.SU
NIP. 19470505 198303 1 001
Rochati, S.H, M.Hum
NIP. 19541009 198403 2 001
Sri Hartini, S.H., M.H.
NIP. 19630926 199002 2 001
Mengetahui,
Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman,
Hj. Rochani Urip Salami, S.H., M.S
NIP. 19520603 198003 2 001
iii
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : II YULIANTO
NIM
: E1A004153
SKS
: 2004
Judul : PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN DI KAWASAN PESISIR
DAN PULAU-PULAU KECIL (Tinjauan Pasal 16 s/d Pasal 20 UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007)
Menyatakan bahwa judul skripsi ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri
dan tidak merupakan plagiat/menjiplak karya orang lain maupun dibuatkan orang
lain.
Dan apabila terbukti saya melakukan pelanggaran sebagaimana tersebut di atas,
maka saya bersedia sanksi apapun dari fakultas.
Purwokerto,
Februari 2011
II YULIANTO
NIM.E1A004153
iv
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT yang senantiasa
mencurahkan rahmat dan hidayahnya sehingga masih diberi kemempuan untuk
dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul: “Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan di Kawaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Tinjauan
Pasal 16 s/d Pasal 20 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007)”. Shalawat serta
salam semoga tetap
tercurah kepada pemimpin besar umat Islam, Nabi
Muhammad SAW serta kepada keluarganya dan para sahabatnya hingga kepada
umatnya sampai akhir zaman.
Skripsi ini ditulis, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Hukum di almamater fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini mengalami kesulitan dan
hambatan, namun berkat bimbingan, petunjuk dan bantuan dari berbagai pihak
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penelitian dan penyusunan
skripsi ini, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Untuk itu dalam kesempatan ini
penyusun penyampaikan terima kasaih dan penghargaan setulus-tulusnya kepada :
1. Ibu Hj. Rochani Urip Salami,S.H., MS. Selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman.
2. Bapak Djumadi,S.H., SU selaku Dosen Pembimbing I Skripsi, Ibu
Rochati,S.H., M.Hum selaku Dosen Pembimbing II Skripsi, Ibu Sri
Hartini,S.H.,MH selaku Dosen Penilai serta Dosen Pembimbing Akademik
yang telah berkenan memberiakn petunjuk, saran serta membimbing penyusun
dalam penyusunan skripsi ini;
vi
3. Segenap Dosen Fakultas Hukuk Universitas Jenderal Soedirman yang telah
memberikan bekal ilmu kepada penyusun, serta tidak lupa kepada seluruh staff
Fakultas Hukum Universitas Negeri Jenderal Soedirman;
4. Erwin Dwi K, SH yang telah membantu memberikan bahan/data-data dan
penjelasan.
5. Nunung beserta keluarga, terima kasih atas kasih sayang, perhatian, dorongan
dan dukungan yang diberikan kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan
skripsi ini;
6. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Yudhistira, dari angkatan
Pioneer, Rimba Pacet, Wana Laga, Pakis Cendana, Tandu Belantara, Akas
Rimba, Banyu Giri, Napak Logawa, Elang Buana, Alas Baruna, Tirta
Bhaskara, Bivak Tunggal, Tebing Putih, Cahaya Senja, Akar Kelana, Bintang
Fajar, Surya Kusuma hingga angkatan Tunas Bumi, khususnya angkatan
Sangga Purnama : Endang “ndangdut” Sri Lestari, SH Bu Jaksa yang selalu
cerewet makasih atas wejangannya, Wawan Nofiyanto, SH., Fuad “buyung”
Naufal, SH., Mugi “anggi” Wijayanti, SH., Siska “michiko” Arisanti, SH., wis
ketemu rung calon bojone????, Rifka Ramadani, SH, Eka Wahyu, SH., terima
kasih atas segala proses pembelajaran dan petualangan yang kita lalui
bersama.
7. Kawan-kawan Wismalas : Tedi Sudrajat, SH.,MH,, Dody Nur A, SH.,MH,
Gernando Damanik,SH., Adlof Gultom, SH., Ardi Firnando, ST., Erik
Pardamean M, SH., Rubby Extrada Y, SH., Hamzah Ahmad, SH., Jekrinius S,
SH., Khrisman,SH., Akbar, Andika “bojire”. Walaopun kita berbeda-beda dan
vii
berasal dari berbagai suku dan daerah tapi kebersamaan tetap terjaga,, pokoke
kosan sing paling yoi lah.
8. Teman-Teman KKN desa Karanganyar, Adipala, Cilacap : Vendes, Tomy,
Adit, Tety, Galuh, Nisa.
9. Teman-teman Fakultas Hukum yang bareng-bareng ngurusin kelulusan
semoga pada jadi orang sukses. Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan
satu persatu.
Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan
kalangan yang berkepentingan. Tiada gading yang tak retak begitu pula skripsi ini,
untuk itu segala saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis
harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Purwokerto,
Februari 2011
Penulis
viii
DAFTAR ISI
Halaman Judul...........................................................................................................i
Halaman Pengesahan...............................................................................................ii
Surat Pernyataan.....................................................................................................iii
Persembahan...........................................................................................................iv
Kata Pengantar........................................................................................................v
Daftar Isi...............................................................................................................viii
Abstraksi.................................................................................................................x
Abstraction..............................................................................................................xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah...............................................................................1
B. Perumusan Masalah.....................................................................................6
C. Tujuan Penelitian.........................................................................................6
D. Kegunaan Penelitian.....................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Lingkungan Hidup
1. Pengertian Lingkungan Hidup...............................................................8
2. Pengertian Hukum Lingkungan...........................................................12
B. Pengelolaan Lingkungan Hidup
1. Pengertian Pengelolaan Lingkungan Hidup ........................................19
2. Azas, tujuan dan ruang lingkup............................................................24
C. Konservasi dan Sumber Daya Alam
ix
1. Pengertian Konservasi dan Sumber Daya Alam............................29
2. Pengertian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.......................32
3. Pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil......................36
BAB III METODE PENELITIAN
A. Metode Pendekatan.................................................................................39
B. Spesifikasi Penelitian..............................................................................39
C. Lokasi Penelitian....................................................................................39
D. Sumber Bahan Hukum............................................................................40
E. Teknik Pengumpulan Data....................................................................40
F. Teknik Penyajian Data............................................................................40
G. Metode Analisis Data.............................................................................41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.......................................42
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan..........................................................................................85
B. Saran....................................................................................................86
DAFTAR PUSTAKA
x
ABSTRAKSI
Objek dari penelitian ini adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan dan penelitian di kawasan
pesisir dan pulau-pulau kecil. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif
dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Sumber bahan hukum yang
digunakan adalah bahan hukuk primer dan bahan hukum sekunder, bahan hukum
ini di kumpulkan melalui studi pustaka. Setelah mendapatkan bahan hukum
kemudian bahan hukum tersebut disusun secara sistematis yang kemudian di
analisis secara kualitatif.
Dalam satu dekade ini terdapat kecenderungan bahwa Wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil yang rentan mengalami kerusakan akibat aktifitas orang dalam
memanfaatkan sumber dayanya atau akibat bencana alam, sementara peraturan
perundang-undangan yang ada lebih berorientasi pada eksploitasi sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil tanpa memperhatikan kelestarian sumber daya alam.
Atas dasar tersebut maka di bentuklah Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Namun lahirnya
UU ini secara mendasar menunjukkan rezim pengelolaan yang sama terhadap
sumberdaya pesisir dan laut Indonesia, yakni mendorong privatisasi perairan
pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia, melalui Hak Pengusahaan Perairan Pesisir
(HP-3).
Hasil penelitian menunjukan bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil terutama mengenai HP-3
tertuang dalam Pasal 16 sd Pasal 20, yaitu: pemanfaatan diberikan dalam bentuk
HP-3 meliputi permukaan laut dan kolam air sampai dengan permukaan dasar
laut, HP-3 diberikan dalam luasan dan waktu tertentu, wajib memperhatikan
kelestarian ekosistem, masyarakat adat, kepentingan nasional, serta hak lintas
damai bagi kapal asing, HP-3 diberikan kepada orang perorangan, badah hukum,
dan masyarakat adat, diberikan untuk jangka waktu 20 tahun dan dapat
diperpanjang sampai dua kali, HP-3 dapat beralih, dialihkan dan dijadikan
jaminan utang.
Hasil analisis mendapatkan bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang berupa HP-3 di
khawatirkan menimbulkan permasalahan dan penyimpangan dalam pelaksanaan
HP-3, maka perlu adany pengaturan lebih lanjut yaitu berupa peraturan
pemerintah, selain itu juga harus dilakukan pengawasan dan pengendalian, dan
apabila pemegang HP-3 melakukan penyimpangan maka harus dikenakan sanksi
baik berupa sanksi administratif maupun sanksi pidana.
Kata kunci : perlindungan, pengelolaan, pesisir, pulau-pulau kecil, HP-3
xi
ABSTRACT
The object of this study is the coastal regions and small islands. This study
aims to determine the protection of and research in coastal regions and small
islands. The method used is the normative specification descriptive analytical
research. Sources of legal materials used are of primary law materials and
secondary legal materials, legal materials are gathered through library. After
obtaining legal materials and legal materials are arranged systematically and then
analyzed qualitatively.
In this decade there is a tendency that the coastal areas and small islands
are vulnerable to damage from the activities of people in utilizing their resources
or due to natural disasters, while the legislation that is more oriented to the
exploitation of coastal resources and small islands without sustainability of natural
resources. On the basis that it is in the form a of Law Number 27 Year 2007 on
the Management of Coastal and Small Islands. But the birth of this law basically
show the same management regime of coastal and marine resources of Indonesia,
which encouraged privatization of coastal waters and small islands of Indonesia,
through the Coastal Concessions (HP-3).
The result showed that the protection and environmental management in
coastal regions and small islands, especially on HP-3 set forth in Article 16 up to
Article 20, namely: the utilization is given in the form of HP-3 covering the
surface of the sea and pool water up to the surface of the sea floor, HP-3 is given
in area and time, must pay attention to the preservation of ecosystems, indigenous
peoples, national interests, as well as the right of innocent passage for foreign
ships, HP-3 is given to individuals, badah law, and indigenous peoples, given for a
period of 20 years and can be extended up to two times, the HP-3 can be switched,
transferred and pledged debt.
Results of analysis found that the protection and environmental
management in coastal regions and small islands in the form of HP-3 in fear cause
problems and irregularities in the implementation of HP-3, it is necessary adany
further arrangements in the form of government regulation, but it also must be
conducted surveillance and control, and if the holder of the HP-3 perform the
deviation should be penalized in the form of administrative sanction or criminal
sactions.
Keyword: protection, management, coastal regions, small islands, HP-3
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, saat ini telah gencargencarnya melakukan pembangunan di segala bidang. Pembangunan yang
dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan
kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan segala sumber daya yang
dimilikinya.
Menurut Moestadji, pembangunan merupakan upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Untuk memenuhi
hal tersebut, maka sumber daya alam itu digali dan di manfaatkan.
Setiap pemanfaatan sumber daya alam akan membawa perubahan
terhadap tatanan lingkungan hidup yang pada akhirnya akan
mempengaruhi seluruh kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.
Perubahan ini dapat bersifat positif, yaitu terpeliharanya fungsi-fungsi
ekosistem, sehingga menjamin keberlanjutan pembangunan. Tetapi
dapat pula bersifat negatif, yaitu terjadinya degradasi fungsi
ekosistem.1
Sasaran
penting
dalam
pembangunan
lingkungan
hidup
adalah
meningkatnya pengenalan jumlah dan mutu sumber alam serta jasa lingkungan
yang tersedia di alam, pengenalan tingkat kerusakan, penggunaan, dan
kemungkinan pengembangannya. Masalah pencemaran lingkungan adalah
masalah yang kompleks, dalam pengertian bahwa lingkungan hidup merupakan
bagian dari kehidupan manusia.
1
Jurnal hukum Lingkungan : Peranan Hukum dalam Mewujudkan Konsep Pembangunan
yang Berkelanjutan oleh Moestadji , ICEL, Jakarta, 1994, hal 26.
2
Indonesia memiliki banyak potensi seperti potensi kelautan, dimana sejak
ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia mengklaim wilayah laut selebar 200 mil, hal ini menambah
daerah yurisdiksi Perairan Indonesia sebanyak 2,7 juta km2, oleh karena itu
tidaklah heran bila negara Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan. Bagian
lain yang seluas ± 35% adalah daratan yang terdiri dari 17.508 pulau yang antara
lain berupa lima pulau besar yakni Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan
Papua, sedangkan 11.808 pulau-pulau kecil belum diberi nama. Luas daratan dari
pulau-pulau tadi ± 2.028.087 km2 dengan panjang pantai ± 81.000 km2.
Topografi daratannya merupakan pegunungan dengan gunung berapi, baik yang
masih aktif maupun yang sudah tidak aktif.2
Untuk melindungi sumber kekayaan alam yang terkandung di Indonesia
adalah kewajiban negara dan tugas negara. Hal ini tercantum dalam konstitusi
Indonesia yaitu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke
empat yang menyebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat. Selanjutnya Penjelasan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945
menyatakan antara lain bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalam
bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat, oleh karena itu harus dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Penggunaan bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat diselenggarakan melalui upaya
2
Edy pramono dkk, Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto, 2003, hal. 56.
3
pembangunan. Hal ini merupakan upaya bangsa Indonesia dalam rangka
meningkatkan taraf hidupnya dengan memanfaatkan segala sumber daya yang
dimiliki. Karena luasnya ruang lingkup pembangunan maka pencapaiannya
dilakukan secara bertahap tetapi konstan. Pembangunan merupakan suatu proses
yang berjalan secara terus menerus yang setiap saat diusahakan memiliki
kemampuan menopang pembangunan.
Dalam satu dekade ini terdapat kecenderungan bahwa Wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil yang rentan mengalami kerusakan akibat aktifitas orang dalam
memanfaatkan sumber dayanya atau akibat bencana alam. Selain itu, akumulasi
dari berbagai kegiatan eksploitasi yang bersifat parsial/sektoral di wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil atau dampak kegiatan lain di hulu wilayah pesisir yang
didukung peraturan perundang-undangan yang ada sering menimbulkan kerusakan
Sumber Daya pesisir dan pulau-pulau kecil. Peraturan perundang-undangan yang
ada lebih berorientasi pada eksploitasi sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
tanpa memperhatikan kelestarian sumber daya alam. Sementara itu, kesadaran
nilai setrategis dari pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara
berkelanjutan, terpadu, dan berbasis masyarakat relatif kurang. Kurang
dihargainya hak masyarakat adat/lokal dalam pengelolaan Sumber daya pesisir
dan pulau-pulau kecil seperti sasi, mane’e, panglima laot, awig-awig, terbatasnya
ruang untuk partisipasi masyarakat alam pengelolaan sumber daya pesisir dan
pulau-pulau kecil menunjukan bahwa prinsip pengelolaan pesisir dan pulau-pulau
kecil terpadu belum terintegrasi dengan kegiatan pembangunan dari berbagai
sektor dan daerah. Sistem pengelolaan pesisir tersebut belum mampu
4
mengeliminasi faktor-faktor penyebab kerusakan dan belum memberi kesempatan
kepada sumber daya hayati untuk dapat pulih kembali secara alami atau sumber
daya hayati di substansi dengan sumber daya lain, oleh sebab itu, keunikan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang rentan berkembangnya konflik dan
terbatasnya akses pemanfaatan bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil,
perlu dikelola secara baik agar dampak aktivitas manusia dapat dikendalikan dan
sebagian wilayah pesisir dipertahankan untuk konservasi. Sesuai dengan hakikat
Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara hukum, pengembangan
sistem Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil sebagai bagian dari
pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus
diberi dasar hukum yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian
hukum bagi upaya pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil maka
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden
dikeluarkanlah
UNDANG-UNDANG
No
27
tahun
2007
Tentang
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. Dasar
hukum itu dilandasi oleh Pancasila dan UUD tahun 1945. Namun dengan
dikeluarkannya UU No. 27 Tahun 2007 ternyata juga tidak terlepas dari berbagai
kekurangan dan bahkan menimbulkan permasalahan baru.
Pelajaran yang diperoleh bangsa ini dalam rezim pengusahaan
sumberdaya alam pada sektor eksploitatif terdahulu (seperti: kehutanan dan
pertambangan) melalui pemberian hak pengusahaan kepada sektor swasta
nasional maupun asing (seperti: Hak Guna Usaha ataupun Kuasa Pertambangan)
telah menyebabkan dominasi sektor swasta dalam pengusahaan sumberdaya hutan
5
dan tambang Indonesia, bencana ekologis di sekitar konsesi-konsesi hutan dan
tambang Indonesia, serta langkanya sumberdaya tersebut untuk pemenuhan
kebutuhan domestik. Lahirnya UU No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, secara mendasar menunjukkan rezim
pengelolaan yang sama terhadap sumberdaya pesisir dan laut Indonesia, yakni
mendorong privatisasi perairan pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia, melalui
Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3)3
UU No.27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil, telah “lupa” memperhatikan urgensi perlindungan wilayah pesisir
secara ekologis, setelah fakta menunjukkan negeri kepulauan ini memiliki
kawasan yang rentan terhadap bencana ekologis mencapai 84%, dan lebih dari
60% masyarakat kita hidup dan tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Di sisi lain UU ini akan mematikan sumber kehidupan perempuan nelayan, karena
makin langkanya jumlah ikan dan kerang akibat rusaknya ekosistem pantai dan
pesisir, yang sulit dicegah dengan UU ini. Lebih parahnya tidak adanya jaminan
dalam pemenuhan hak-hak masyarakat nelayan dan petambak tradisional,
termasuk di dalamnya masyarakat adat, untuk terus mengembangkan perilaku
budaya baharinya, bahkan jaminan untuk mendapatkan manfaat atas sumberdaya
pesisir dan laut.4
Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3, adalah hak
atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan
3
Artikel Pemantik diskusi, Prediksi ham 2009-2010 tahun dimana konflik pesisir akan
membuncah oleh Erwin Dwi K, LBH Semarang, Semarang, 2009, hal 3.
4
ibid
6
perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolom air sampai
dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu, Pasal 1 angka 18. HP-3
merupakan hak pengusahaan atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan
permukaan dasar laut, Pasal 16. HP-3 dapat diberikan kepada orang perseorangan
warga negara Indonesia, Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum
Indonesia, atau Masyarakat Adat, Pasal 18. Dengan masa waktu pengusahaan
hingga 20 tahun, dan dapat diperpanjang kembali, Pasal 19. Dapat beralih,
dialihkan, dan dijadikan jaminan ke bank, Pasal 20 ayat (1), dan dikeluarkan
dalam bentuk sertifikat, Pasal 20 ayat (2).
B. Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
Bagaimanakah perlindungan dan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau
kecil.
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui perlindungan dan pengelolaan kawasan pesisir dan pulaupulau kecil.
D. Kegunaan Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Dengan
penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan
pengetahuan lebih mendalam serta memberikan sumbangan dalam
7
perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pada khususnya
hukum lingkungan
2. Kegunaan Terapan atau Praktis
Sebagai bahan masukan bagi pemerintah, dan masyarakat pada umumnya
yang terkait dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Lingkungn Hidup
1. Pengertian Lingkungan Hidup
Manusia mulai menaruh perhatian besar terhadap lingkungan hidupnya
terutama pada dasawarsa 1970-an setelah diadakan konferensi PBB tentang
lingkungan hidup di Stockholm pada tahun 1972. Konferensi ini dikenal pula
sebagai konferensi Stockholm dan hari pembukaan konferensi tersebut yaitu
tanggal 5 Juni telah disepakati sebagai hari lingkungan hidup sedunia. Dalam
konferensi Stockholm telah disetujui banyak resolusi tentang lingkungan hidup
yang digunakan sebagai landasan tindak lanjut. Salah satu di antaranya telah
didirikan badan khusus dalam PBB yang ditugasi untuk mengurus permasalahan
lingkungan, yaitu United Nation Environmental Programe (UNEP) yang
bermarkas di Nairobi, Kenya.5
Hal-hal atau segala sesuatu yang berada di sekeliling manusia sebagai
pribadi atau di dalam proses pergaulan hidup, biasanya disebut lingkungan.
Hubungan antara berbagai organisme hidup di dalam lingkungan pada hakekatnya
merupakan kebutuhan primer, yang kadang-kadang terjadi secara sadar atau
kurang sadar. Ada suatu kecenderungan besar untuk mengadakan pembedaan
antara lingkungan fisik, biologis dan sosial.6
5
Valentinus Darsono, Pengantar Ilmu Lingkungan, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Yogyakarta, 1995, halaman 7.
6
Ibid, halaman 12.
9
Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik menempati suatu
ruang tertentu. Kecuali makhluk hidup, dalam ruang itu terdapat juga benda tak
hidup, seperti misalnya udara yang terdiri atas bermacam gas, air dalam bentuk
uap, cair dan padat, tanah dan batu. Ruang yang ditempati suatu makhluk hidup
bersama dengan benda hidup dan tak hidup didalamnya disebut lingkungan hidup
makhluk tersebut, secara khusus kita bicarakan harimau, misalnya.7
Lingkungan hidup menyediakan sumberdaya pada manusia berupa air,
tumbuhan dan hewan untuk bahan pangan, pakaian, obat-obatan, bahan bangunan,
peneduh dan lain-lain kebutuhan hidup. Lingkungan juga menyajikan ancaman
bagi manusia, misalnya hewan karnivora besar seperti harimau, hewan dan
tumbuhan berbisa, pathogen serta banjir dan kekeringan. Antara manusia dan
lingkungan hidup selalu terjadi interaksi timbal-balik. Manusia mempengaruhi
lingkungan hidupnya dan manusia dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya.
Demikian pula manusia membentuk lingkungan hidupnya dan manusia dibentuk
oleh lingkungan hidupnya.
Manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa adanya tumbuhan dan
binatang di sekitarnya. Komponen yang mendampingi harus ada di sekitar
manusia yang sekaligus sebagai sumber mutlak kehidupannya merupakan
lingkungan hidup bagi manusia. Lingkungan hidup boleh dikatakan merupakan
bagian mutlak dari kehidupan manusia.8
7
8
halaman7.
Ibid, halaman 51-52
R.M. Gatot P. Soemartono, Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,1996,
10
Pembagian lingkungan menjadi tiga kelompok dasar tersebut dimaksudkan
untuk memudahkan di dalam menjelaskan tentang lingkungan itu sendiri. Pertama
adalah lingkungan fisik (physical environment), yaitu segala sesuatu di sekitar
manusia yang berbentuk benda mati seperti rumah, kendaraan, gedung serta air
dan lain-lain. Kedua adalah lingkungan biologis (biological environment), yaitu
segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berupa organisme hidup,
seperti : binatang-binatang dari yang kecil sampai yang besar dan tumbuhtumbuhan. Ketiga adalah lingkungan sosial (social environment), yaitu manusiamanusia lain yang ada disekitarnya, seperti, tetangga, teman-teman bahkan orang
yang belum dikenal.9
Konferensi
Stockholm
dijadikan
pedoman
atau
referensi
dalam
penyusunan hukum lingkungan modern, yang selanjutnya diimplementasikan
dalam hukum masing-masing negara peserta konferensi tersebut. Indonesia
sebagai
peserta
yang
menghadiri
konferensi
tersebut
dan
ikut
serta
menandatangani kesepakatan untuk memperhatikan segi-segi lingkungan dalam
pembangunan mulai merancang peraturan-peraturan mengenai lingkungan, maka
lahirlah Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut dengan UULH), yang
kemudian disempurnakan dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) dan terakhir dikeluarkan UndangUndang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (UUPPLH). Baik UULH, UUPLH maupun UUPPLH merupakan ketentuan
9
Fuad Amsyari, prinsip-prinsip Masalah Pencemaran Lingkungan, Ghalia, Jakarta,
1986, halaman 11-12
11
payung bagi penyusunan peraturan perundang-undangan lainnya yang berdimensi
lingkungan hidup.
Istilah lingkungan merupakan terjemahan dari istilah environment dalam
bahasa inggris. Istilah Lingkungan Hidup atau Lingkungan dalam pengertian yang
sama terdapat dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009,
yaitu:
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
N. H. T. Siahaan mengartikan lingkungan hidup sebagai semua benda,
daya dan kondisi yang terdapat dalam suatu tempat atau ruang tempat manusia
atau makhluk hidup berada dan dapat mempengaruhi hidupnya.10 Dari pengertian
tersebut di atas, terdapat tiga unsur yaitu semua benda, dalam suatu tempat dan
ruang serta dapat mempengaruhi hidup.
Menurut Soedjono yang dikutip oleh R. M. Gatot P. Soemartono
mengartikan lingkungan hidup sebagai hidup fisik atau jasmani yang mencakup
dan meliputi semua unsur dan faktor fisik jasmani yang terdapat dalam alam. 11
Ada beberapa perumusan mengenai lingkungan hidup, yaitu:12
1) St. Munadjat Danusaputro
Lingkungan adalah semua benda dan kondisi termasuk di
dalamnya manusia berada dan mempengaruhi kelangsungan hidup
serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya.
10
N. H. T. Siahaan,Hukum Lingkungan Dan Ekologi Pembangunan .Erlangga, Jakarta,
cetakan kedua,2004, hal. 4.
11
R. M. Gatot P. Soemartono, Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta,
1996, hal. 17.
12
Valentinus Darsono, Op. Cit., hal. 14.
12
2) Otto Soemarwoto
Lingkungan adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada
dalam ruang yang kita tempati baik makhluk bersama benda hidup
dan tak hidup yang mempengaruhi kehidupan kita. Secara teoritis
ruang itu tidak terbatas jumlahnya, oleh karenanya misalnya
matahari dan bintang termasuk didalamnya. Sedang benda tak
hidup seperti udara yang terdiri atas bermacam gas, air dalam
bentuk uap, cair dan padat.
3) Emil Salim
Secara umum lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda,
kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang
kita tempati dan mempengaruhi hal yang hidup termasuk
kehidupan manusia. Batas ruang lingkup menurut pengertian ini
bisa sangat luas, namun untuk praktisnya kita batasi ruang
lingkungan dengan faktor-faktor yang dapat dijangkau oleh
manusia seperti faktor alam, politik, ekonomi, sosial dan lain-lain.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, lingkungan hidup dan
lingkungan tidak memiliki perbedaan arti yang besar unsur-unsur yang dimiliki
sama. Lingkungan bagian dari kehidupan. Dari lingkungan manusia, hewan,
tumbuhan bisa memperoleh daya atau tenaga. Manusia memperoleh kebutuhan
pokok atau primer, kebutuhan sekunder atau bahkan kebutuhan sendiri berupa
hasrat atau keinginan. Atas dasar lingkungan pulalah manusia dapat berkreasi dan
mengembangkan bakat atau seni.
2. Pengertian Hukum Lingkungan
Istilah ”hukum lingkungan” merupakan terjemahan dari istilah bahasa
Inggris ”environmental law”. Kalaupun ingin lengkap dapat dinamakan dengan
”hukum lingkungan hidup”. Istilah hukum lingkungan maupun hukum lingkungan
hidup dipakai dalam pengertian yang sama untuk menyebut perangkat norma
13
hukum yang mengatur pengelolaan lingkungan hidup (fisik) dengan tujuan
menjamin kelestarian dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup.13
Hukum lingkungan merupakan konsep yang masih baru dalam dunia
keilmuan pada umumnya, yang baru berkembang dalam dua dasawarsa terakhir
sejalan dengan tumbuhnya kesadaran akan lingkungan. Dengan timbulnya
kesadaran untuk memelihara dan melindungi lingkungan tersebut tumbuh pula
perhatian hukum kepadanya.14
Sebagai konsep yang baru, hukum lingkungan mengalami perkembangan
yang pesat. Hal tersebut didukung dengan kuatnya isu penting perlindungan
lingkungan hidup bagi keberlanjutan kehidupan manusia. Hukum lingkungan
telah berkembang dengan sedemikian luasnya, yang meliputi hukum yang
berhubungan dengan lingkungan alam, dimana ruang lingkupnya meliputi dan
ditentukan oleh ruang lingkup pengelolaan lingkungan. Dengan demikian hukum
lingkungan merupakan instrumen yuridis bagi pengelolaan lingkungan.
Drupsteen menyebutkan bahwa hukum lingkungan, (Milieurecht) adalah
hukum yang berhubungan dengan lingkungan alam (naturlijk milieu) dalam arti
seluas-lusanya. Ruang lingkupnya berkaitan dengan dan ditentukan oleh ruang
lingkup pengelolaan lingkungan. Dengan demikian hukum lingkungan merupakan
instrumentarium yuridis bagi pengelolaan lingkungan. Mengingat pengelolaan
lingkungan sebagian besar terdiri atas hukum pemerintahaan (bestuursrecht). Di
samping hukum lingkungan pemerintah (bestuursrechtelijk melieurecht) yang
13
Rachmadi Usman, Pembaharuan Hukum Lingkungan Nasional, Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2000, hal. 1.
14
Kartono dan Abdul Azis Nasihudin, Diktat Kuliah Hukum Lingkungan, Fakultas
Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 2002, hal 10.
14
dibentuk oleh pemerintah pusat, ada pula hukum lingkungan pemerintah yang
berasal dari pemerintah daerah dan sebagian lagi dibentuk oleh badan-badan lain.
Demikian pula terdapat hukum lingkungan keperdataan (privaatrechtelijk
milieurecht), hukum lingkungan ketatanegaraan (staatsrechtlijk milieurecht),
sepanjang bidang-bidang hukum ini memuat ketentuan-ketentuan yang bertalian
dengan pengelolaan lingkungan hidup.15
Drupsteen membagi hukum lingkungan pemerintahan dalam beberapa
bidang, yaitu hukum kesehatan lingkungan, hukum perlindungan lingkungan, dan
hukum tata ruang. Hukum kesehatan lingkungan adalah hukum yang berhubungan
dengan kebijaksanaan dibidang kesehatan lingkungan, pemeliharaan kondisi air,
tanah, dan udara dan dengan pencegahan kebisingan kesemuanya dengan latar
belakang perbuatan manusia yang diserasikan dengan lingkungan. Hukum
perlindungan lingkungan tidak mengenal satu bidang kebijaksanaan, akan tetapi
merupakan kumpulan dari peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan
lingkungan yang berkaitan dengan lingkunga biotis dan sampai batas tertentu juga
dengan lingkungan antropogen. Hukum tata ruang adalah hukum yang
berhubungan dengan kebijakan tata ruang, diarahkan kepada tercapainya atau
terpeliharanya penyesuaian timbal balik yang terbaik antara ruang dan kehidupan
masyarakat.16
Menurut Hardjasoemantri hukum tata ruang mempunyai jangkauan yang
terbatas tidak atau kurang mencakup segi sosial budaya, seperti tata cara
penumbuhan dan pembangunan sistem nilai dan sikap hidup yang menopang
15
Koesnadi Harjasoemantri, Hukum Tata Lingkungan, Gajah Mada University Press,
Yogyakarta, cetakan ke-8, 1991, halaman 15.
16
R. M. Gatot P. Soemartono, Op Cit, halaman 50
15
pelestarian kemampuan lingkungan yang serasi dan seimbang, dengan
memperhatikan pula adat kebiasaan yang akrab lingkungan. Adalah lebih tepat
digunakan hukum tata lingkungan yang dapat mencakup segi lingkungan fisik
maupun lingkungan sosial budaya. Hukum tata lingkungan ini merupakan
instrumen yuridis bagi penataan lingkungan hidup yang mengatur tatanan
kegunaan dan penggunaan lingkungan secara bijaksana untuk berbagai keperluan,
sehingga dengan peraturan tersebut tujuan hukum lingkungan dapat diwujudkan
melalui tatacara konkrit dalam rangka melestarikan kemampuan lingkungan yang
serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan
bagi peningkatan kesejahteraan manusia.17
Menurut Moenadjat bahwa hukum lingkungan terbagi menjadi dua bagian
yaitu hukum lingkungan modern yang berorientasi pada lingkungan (environtment
oriented law) dan hukum lingkungan klasik yang berorientasi kepada penggunaan
lingkungan (use oriented law).18
Hukum lingkungan modern menetapkan ketentuan dan norma-norma guna
mengatur tindak perbuatan manusia dengan tujuan untuk melindungi lingkungan
dari kerusakan dan kemerosotan mutu untuk menjamin kelestariannya agar dapat
digunakan generasi sekarang dan akan datang. Sifat hukum lingkungan modern
adalah menyeluruh atau komperehensif serta luwes terhadap dinamika. Hukum
lingkungan klasik, sebaliknya menetapkan norma-norma dengan tujuan terutama
sekali untuk menjamin eksploitasi terhadap sumber daya lingkungan guna
17
18
hal. 35.
Ibid, halaman 56
Moenadjat Danusaputro, Ekologi Lingkungan dan Pembangunan, Djambatan, jakarta,
16
mencapai hasil maksimal dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sifat hukum
lingkungan klasik adalah sektoral dan kaku.19
Siti Sundari Rangkuti mangemukakan bahwa hukum lingkungan
berhubungan erat dengan kebijaksanaan lingkungan yang ditetapkan oleh
penguasa yang berwenang di bidang pengelolaan lingkungan. Dalam menetapkan
kebijaksanaan lingkungan, penguasa ingin mencapai tujuan tertentu. Untuk itu
dapat dapat dipergunakan berbagai sarana, misalnya penyuluhan, pendidikan,
subsidi dan sebagainya. Segi hukum lingkungan administrasi terutama muncul
apabila keputusan penguasa yang bersifat kebijaksanaan dituangkan dalam bentuk
penetapan penguasa.20
Menurut Mochtar Kusuma Atmaja ada beberapa pengaturan hukum
mengenai masalah lingkungan hidup manusia yang perlu dipikirkan, yaitu :21
a. Peranan hukum adalah untuk menstrukturkan keseluruhan proses sehingga
kepastian dan ketertiban terjamin. Adapun isi materi yang harus diatur
ditentukan oleh ahli-ahli dari masing-masing sektor, di samping perencanaan
ekonomi dan pembangunan yang akan memperhatikan dampak secara
keseluruhan.
b. Cara pengaturan menurut hukum perundang-undangan dapat bersifat preventif
dan represif, sedangkan mekanismenya ada beberapa macam yang antara lain
berupa perizinan, insentif, denda, dan hukuman.
19
Ibid, hal. 36.
Siti Sundari Rangkuti, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional,
Airlangga University Press, Surabaya, 2005, hal 2.
21
R. M. Gatot P. Soemartono, Op Cit, halaman 58-59.
20
17
c. Cara pendekatan dan penanggulangannya dapat bersifat sektoral, misalnya
perencanaan kota, pertambangan, pertanian, industri, pekerjaan umum,
kesehatan, dan lain-lain. Dapat juga dilakukan secara menyeluruh dengan
mengadakan undang-undang pokok mengenai lingkungan hidup (Law on the
Human Environment atau Environment Act) yang merupakan dasar bagi
pengaturan sektoral.
d. Pengaturan masalah ini dengan jalan hukum harus disertai oleh suatu usaha
penerangan dan pendidikan masyarakat dalam soal-soal lingkungan hidup
manusia, hal ini karena pengaturan hukum hanya akan berhasil apabila
ketentuan-ketentuan atau peraturan perundang-undangan itu dipahami oleh
masyarakat dan dirasakan kegunaannya.
e. Efektivitas pengaturan hukum masalah lingkungan hidup manusia tidak dapat
dilepaskan dari keadaan aparat administrasi dan aparat penegak hukum
sebagai prasarana efektivitas pelaksanaan hukum dalam kenyataan hidup
sehari-hari.
Sebagaimana hukum pada umumnya, hukum lingkungan menyangkut
mengenai penetapan nilai-nilai (warden beoordelen), yaitu nilai-nilai yang berlaku
dan diharapkan akan berlaku di masa yang akan datang mengenai pengaturan
tatanan lingkungan hidup. Hukum
lingkungan berkaitan erat dengan dan
ditentukan oleh ruang lingkup pengelolaan lingkungan. Berdasarkan pandangan
ini, Siti Sundari kemudian menyimpulkan bahwa hukum mempunyai kedudukan
dan arti penting dalam memecahkan masalah lingkungan dan merupakan dasar
yuridis bagi pelaksanaan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang telah dirumuskan
18
pemerintah dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan sebagai wadah
dan dasar hukumnya.22
Andi Hamzah menyatakan bahwa hukum lingkungan mempunyai dua
dimensi yaitu:
a. Ketentuan tentang tingkah laku masyarakat, semuanya bertujuan
supaya anggota masyarakat dihimbau bahkan kalau perlu dipaksa
memenuhi hukum lingkungan yang tujuannya memecahkan masalah
lingkungan;
b. Yang kedua yaitu suatu dimensi yang memberi hak, kewajiban dan
wewenang badan-badan pemerintah dalam mengelola lingkungan.
Hukum lingkungan berisi kaidah-kaidah tentang perilaku masyarakat yang
positif terhadap lingkungannya langsung maupun tidak langsung. Secara langsung
kepada masyarakat, hukum lingkungan menyatakan apa yang dilarang dan apa
yang dibolehkan. Secara tidak langsung kepada warga masyarakat, hukum
lingkungan memberikan landasan bagi yang berwenang untuk memberikan kaidah
kepada masyarakat.23
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hukum lingkungan adalah
seperangkat norma hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak, yang mengatur
tingkah laku masyarakat terhadap lingkungan (fisik) dan tatanannya.
22
Soejono, Hukum Lingkungan dan Peranannya dalam Pembangunan, Rineka Cipta,
Jakarta, 1995, hal. 4.
23
Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, CV Sapta Artha Jaya, Jakarta, 1997,
hal. 10.
19
B. Pengelolaan Lingkungan Hidup
1. Pengertian
Hakekat pengelolaan lingkungan bukan hanya mengatur lingkungannya,
tetapi termasuk mengatur dan mengendalikan berbagai kegiatan manusia agar
berlangsung dan berdampak dalam batas kemampuan dan
keterbatasan
lingkungan untuk mendukungnya,24 oleh karena itu manusia perlu secara rutin
mengelola lingkungan hidup, agar dapat memanfaatkan lingkungan secara
optimal.
Pengelolaan lingkungan perlu dilakukan secara dini agar pembangunan
yang semakin gencar dilaksanakan dapat memanfaatkan lingkungan hidup, untuk
itu diperlukan penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan dan
pengembangan lingkungan hidup. Tanpa adanya pengelolaan lingkungan secara
dini akan mudah timbul konflik antara lingkungan dan pembangunan, sehingga
timbul kesan bahwa pengelolaan lingkungan bukan pendukung pembangunan tapi
penghambat pembangunan.25
Lingkungan hidup mempunyai fungsi penyangga perikehidupan yang amat
penting, oleh karena itu pengelolaan dan pengembangannya diarahkan untuk
mempertahankan keberadaannya dalam keseimbangan yang dinamis melalui
berbagai usaha perlindungan dan rehabilitasi serta usaha pemeliharaan
keseimbangan antara unsur-unsur secara terus-menerus. Pembangunan perlu
dilaksanakan dengan mengindahkan keserasian antara pencapaian sasaran
24
25
Valentinus Darsono, Op cit, halaman 41
Ibid, halaman 43
20
pembangunan sektoral, regional dan lingkungan hidup yang bersifat jangka
panjang.26
Pelaksanaan pembangunan yang sekarang ini berjalan, berlangsung seiring
dengan pembangunan lingkungan. Lingkungan yang dapat menopang proses
pembangunan perlu memiliki kemampuan agar berfungsi secara baik. Untuk itu
pemanfaatan lingkungan bagi pembangunan perlu dilakukan secara efisien serta
ditunjang oleh berbagai kebijakan seperti pengelolaan hutan tropis yang secara
khusus melestarikan habitat flora dan fauna dalam taman nasional, suaka alam,
suaka margasatwa, cagar alam, dan sebagainya.
Manusia perlu secara rutin mengelola lingkungan hidup, agar dapat
memanfaatkan lingkungan secara optimal.27 Pengelolaan lingkungan dapatlah kita
artikan sebagai usaha secara sadar untuk memelihara dan atau memperbaiki mutu
lingkungan agar kebutuhan dasar kita dapat terpenuhi dengan sebaik-baiknya.28
Sejak awal dalam perkembangan budayanya manusia telah berusaha untuk
mengelola dampak kegiatannya terhadap lingkungan hidup. Makin berkembang
kegiatan ekonomi dan teknologinya, makin besar dirasakan perlunya untuk
mengelola dampak kegiatan pada lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan
hidup dapat diartikan sebagai usaha dasar dan berencana untuk mengurangi
dampak kegiatan terhadap lingkungan hidup sampai pada tingkat yang minimum
26
Siti Sundari Rangkuti, Hukum lingkungan dan kebijaksanaan lingkungan nasional,
Airlangga University Pers, Surabaya, 2005, hal 50.
27
Valentinus Darsono, Op. Cit., hal. 41
28
Otto soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Djembatan, Jakarta,
Cetakan ke-6, 1994 halaman 76
21
dan untuk mendapatkan manfaat yang optimum dari lingkungan hidup untuk
mencapai kesejahteraan yang berkelanjutan.29
Pasal 1 angka 2 UUPPLH menyebutkan bahwa
“Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis
dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup
dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.”
Berdasarkan bunyi Pasal 1 angka 2 UUPPLH tersebut perlindungan dan
pengelolaan lingkungan merupakan30:
1) Upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan
fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup, yaitu memelihara kelangsungan
lingkungan hidup, sehingga mampu mendukung perikehidupan
manusia dan makhluk hidup lain serta melindungi kemampuan
lingkungan hidup terhadap serangan dari luar.
2) Upaya tersebut dirumuskan dalam pelbagai kegiatan yang meliputi
perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan,
dan penegakan hukum.
3) Perumusan lingkungan hidup di sini diberikan penekanan pada
“melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup” yang dalam
ketentuan sebelumnya tidak kita jumpai, sedangkan 6 (enam) aktifitas
29
Otto soemarwoto, Atur-Diri-Sendiri Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup,
Gajah Mada University Perss, Yogyakarta, cetakan kadua, 2001, halaman 76
30
Rachmadi Usman, op cit, hal 53
22
lainnya yaitu perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan,
pengawasan,
dan
penegakan
hukum
hanya
sebagai
langkah
kebijaksanaan.
Koopans menyatakan bahwa lazimnya dalam pengertian ketatanegaraan,
garis kebijaksanaan yang penting ditarik oleh pembentuk undang-undang,
sedangkan badan eksekutif melaksanakan penjabarannya lebih lanjut. Drupsteen
menjelaskan bahwa undang-undang merupakan landasan hukum yang mendasari
kebijaksanaan pemerintah dan mengenai kedudukan undang-undang, petunjuk
pelaksanaan dan peraturan-peraturan sebagai instrumen kebijaksanaan.31
Pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem
dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. Lingkungan hidup terdiri dari tatanan
kesatuan dari berbagai unsur lingkungan yang saling mempengaruhi, oleh karena
itu pengelolaan lingkungan hidup memerlukan keterpaduan pelaksanaan di tingkat
nasional, koordinasi pelaksanaan secara sektoral dan di daerah, sehingga semua
itu terkait secara mantap dengan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan
hidup, dengan kesatuan gerak dan langkah mencapai tujuan pengelolaan
lingkungan hidup.32
Menurut Mochtar Kusuma Atmadja yang dikutip oleh M. Daud Silalahi
bahwa :
Lingkungan hidup manusia memerlukan peninjauan dan penelaahan dalam
kerja sama antara berbagai disiplin secara terpadu, karena lingkungan
hidup manusia bersifat utuh menyeluruh. Sistem pendekatan terpadu atau
utuh menyeluruh harus ditetapkan juga oleh hukum untuk mengatur
31
Siti Sundari Rangkuti, op cit, hal 7.
Niniek Suparmi, Pelestarian Pengelolaan dan Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar
Grafika, Jakarta,1994, halaman 60.
32
23
lingkungan hidup manusia secara tepat dan baik. Justru sistem pendekatan
ini telah melandasi berkembangnya hukum lingkungan.33
Kebijakan yang merupakan salah satu jalan dalam melaksan akan
pengelolaan lingkungan hidup sangat diperlukan. Kebijakan nasional sebagai
instrument penting untuk mendefinisikan perlindungan lingkungan melalui
pendayagunaan hukum memberikan fokus dan arahan kegiatan pembaruan hukum
untuk menunjang penegakan dan penataan hukum lingkungan, memudahkan
sistematika dalam melaksanakan langkah-langkah penegakan hukum, mangatasi
kendala peraturan perundang-undangan, dan memudahkan masyarakat luas untuk
terlibat dalam proses penataan dan penegakan hukum.34
Menurut Otto Soemarwoto, untuk mengubah sikap dan kelakuan menuju
kepada sikap yang peduli lingkungan ada tiga cara yaitu :
a. Dengan instrument pengaturan dan pengawasan. Tujuannya adalah untuk
mengurangi pilihan pelaku dalam usaha pemanfaatan lingkungan hidup.
Pemerintah
membuat
ketidakpatuhan
peraturan
dikenakan
sanksi
dan
denda
mengawasi
dan/atau
pelaksanaannya,
kurungan.
Sistem
pengelolaan lingkungan hidup ini disebut Atur-Dan-Awas (ADA) atau
Command-And-Control (CAC). Pada dasarnya ADA berusaha menekan
egoisme dan mendorong orang untuk berkelakuan lebih ramah lingkungan
dengan ancaman tindakan hukum.
33
M. Daud Silalahi, “Perangkat Hukum Nasionl Regional dan Internasional Dalam
Pembangunan yang berkelajutan” Jurnal Hukum Lingkungan ICEL, Jakarta, 1994, Halaman 32
34
M. Achmad Santosa, “Penegakaan Hukum Lingkungan : Kajian Praktek dan Gagasan
Pembaruan” Jurnal Hukum lingkungan, ICEL, Jakarta, 1994, Halaman 75.
24
b. Cara kedua ialah dengan instrument ekonomi. Tujuannya adalah untuk
mengubah nilai untung relatif terhadap rugi bagi pelaku dengan memberikan
insentif-disinsentif ekonomi. Contohnya adalah pengurangan pajak untuk
produksi dan penggunaan alat yang hemat energi, pemungutan retribusi
limbah dan pemberian denda untuk pelanggar peraturan.
c. Cara ketiga dengan instrumen persuasif, yaitu mendorong masyarakat secara
persuasif, bukan paksaan. Tujuannya ialah untuk mengubah persepsi
hubungan manusia dengan lingkungan hidup kearah memperbesar relatif
terhadap rugi.
2. Asas, tujuan dan ruang lingkup
Pasal 2 UUPPLH menyebutkan asas dan tujuan pengelolaan lingkungan,
yaitu:
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan
asas:
a. Tanggung jawab Negara.
Yang dimaksud dengan “asas Tanggung jawab Negara adalah:
1) Negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat
yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik
generasi masa kini maupun generasi masa depan.
2) Negara menjamin hak warga negara atas lingkungan yang baik dan sehat.
3) Negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang
menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
25
b. Kelestarian dan keberlanjutan.
Yang dimaksud dengan “asas kelestariaan dan keberlanjutan” adalah: bahwa
setiap orang memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi
mendatang dan terhadap sesamanya dalam satu generasi dengan melakukan
upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan memperbaiki kualitas
lingkungan hidup
c. Keserasian dan keseimbangan.
Yamg dimaksud dengan “asas keserasian dan keseimbangan” adalah bahwa
pemanfaatan lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti
kepentingan ekonomi, social, budaya, dan perlindungan serta pelestarian
ekosistem.
d. Keterpaduan.
Yang dimaksud dengan “asas keterpaduan” adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur
atau menyinergikan berbagai komponen terkait.
e. Manfaat.
Yang dimaksud dengan “asas manfaat” adalah bahwa segala usaha dan/atau
kegiatan pembangunan yang dilaksanakan disesuaikan dengan potensi sumber
daya alam dan lingkungan hidup untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
dan harkat manusia selaras dengan lingkunggannya.
f. Kehati-hatian.
Yang dimaksud dengan “asas kehati-hatian” adalah ketidakpastian mengenai
dampak suatu usaha dan/atau kegiatan karena keterbatasan penguasaan ilmu
26
pengetahuan dan teknologi bukan merupakan alasan untuk menunda langkahlangkah meminimalisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran
dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
g. Keadilan.
Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan
lingkungan hidup harus
mencerminkan keadilan secara
proporsional bagi setiap warga negara, baik lintas daerah, lintas generasi,
maupun lintas gender.
h. Ekoregion.
Yang dimaksud dengan “asas ekoregion” adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan karakteristik sumber daya
alam, ekosistem, kondisi geografis, budaya masyarakatsetempat, dan kearifan
lokal.
i. Keanekaragaman hayati.
Yang dimaksud dengan “asas keanekaragaman hayati” adalah bahwa
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya
terpadu untuk mempertahankan keberadaan, keragaman, dan keberlanjutan
sumber daya alam hayati yang terdiri atas sumber daya alam nabati dan
sumber daya alam hewani yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya
secara keseluruhan membentuk ekosistem.
j. Pencemar membayar.
Yang dimaksud dengan “asas pencemar membayar” adalah bahwa setiap
penanggung
jawab
yang
usaha
dan/atau
kegiatannya
menimbulkan
27
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya
pemulihan lingkungan
k. Partisipatif.
Yang dimaksud dengan “asas partisipatif” adalah bahwa setiap anggota
masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan
keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
l. Kearifan lokal.
Yang dimaksud dengan “asas kearifan lokal” adalah bahwa dalam
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan nilainilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat.
m. Tatakelola pemerintahan yang baik.
Yang dimaksud dengan “asas tata kelola pemerintahan yang baik” adalah
bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dijiwai oleh prinsip
partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efisiensi, dan keadilan.
n. Otonomi daerah.
Yang dimaksud dengan “asas otonomi daerah” adalah bahwa Pemerintah dan
pemerintah daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan di
bidang
perlindungan
dan
pengelolaan
lingkungan
hidup
dengan
memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
28
Berdasarkan Pasal 3 UUPPLH perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup bertujuan:
a. Melindungi
wilyah
Negara
Kesatuan
Republik
Indonesia
dari
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
b. Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia.
c. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian
ekosistem.
d. Menjaga kelestarian dan fungsi lingkungan hidup.
e. Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup.
f. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa
depan.
g. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup
sebagai bagian dari hak asasi manusia.
h. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
i. Mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
j. Mengantisipasi isu lingkungan global.
Tujuan yang pertama
merupakan hal yang penting
untuk
diperhatikan karena kita cukup rawan dari segi ekologi. Hal demikian
dikarenakan wilayah kita berada pada posisi silang antara Benua Asia dan
Australia dan antara Samudra Hindia da Samudra Pasifik.
Berdasarkan Pasal 4 UUPPLH ruang lingkup perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup meliputi:
a. Perencanaan
29
b. Pemanfaatan
c. Pengendaliaan
d. Pemeliharaan
e. Pengawasan
f. Penegakan hukum.
C. Konservasi Sumberdaya Alam
1. Pengertian
Sumber daya (resources) dapat diartikan sebagai suatu atribut atau unsur
dari lingkungan yang menurut anggapan manusia mempunyai nilai dalam jangka
waktu tertentu yang ditentukan oleh keadaan sosial budaya, ekonomi, teknologi,
dan kelembagaan. Bisa saja suatu sumber daya belum dikategorikan sebagai
sumber daya karena tidak mempunyai nilai ekonomi, tetapi dengan perkembangan
tekonologi sumber daya itu dapat diolah atau dimanfaatkan sehingga bernilai
ekonomis.35
Menurut proses terjadinya, sumber daya dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu :
a. Sumber daya buatan, yaitu sumber daya yang sengaja dibuat manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Contoh: waduk, danau, tempat rekreasi, areal
pertanian, dan lain-lain:
b. Sumber daya alam, yaitu sumber daya yang tersedia di alam secara alami.
Contoh: hutan, air, tanah, satwa, udara, dan lain-lain.
35
46.
Karden E. S. Manik, Pengelolaan Lingkungan Hidup, Djambatan, Jakarta, 2003, hal.
30
Berdasarkan sifatnya, sumberdaya alam dibedakan menjadi
1) Sumberdaya alam fisik. Sumberdaya alam ini merupakan benda-benda
mati (abiotik), tetapi mempunyai peranan penting dalam menentukan
kualitas lingkungan. Contoh sumberdaya ini adalah tanah, air, iklim, dan
mineral-mineral.
2) Sumbardaya alam hayati. Sumbardaya ini terdiri dari makhluk hidup
(biotik) yang berperan sebagai produsen, perombak, dan konsumen.
Contoh : tumbuhan, mikro organisme, satwa, dan ikan.
Sumbardaya alam juga dibedakan menurut kemungkinan pemulihannya,
yaitu:
a. Sumberdaya alam dapat dipulihkan atau diperbaharui. Kerusakan sumberdaya
ini dapat dipulihkan, baik secara alami maupun oleh manusia. Kerusakan
dapat dipulihkan secara alami, apabila daya lenting lingkungan sama dengan
atau lebih besar daripada tingkat kerusakan yang terjadi. Keberhasilan
pemulihan kerusakan sumberdaya alam lebih banyak ditentukan oleh manusia
melalui pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya. Contoh sumberdaya
alam dapat dipulihkan atau diperbaharui adalah tanah, air, hutan, padang
rumput, populasi satwa dan ikan.
b. Sumbardaya alam yang tidak dapat dipulihkan atau diperbaharui. Pemanfaatan
sumberdaya ini hanya sekali, tidak dapat berulang-ulang. Artinya, sekali
digunakan langsung habis, tidak dapat dipulihkan atau diperbaharui lagi.
Dengan kondisi ini, pemanfaatannya harus dilakukan seefisien mungkin
31
karena persediaannya di alam terbatas. Contoh: tambang batubara, minyak
bumi, gas alam, bijih besi, beauksit, dan bahan tambang lainnya.
c. Sumber daya alam yang tidak akan habis. Sumberdaya ini tidak pernah habis,
walaupun digunakan terus menerus. Sumberdaya ini tersedia secara alami dan
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia atau makhluk hidup lainnya
dengan menggunakan teknologi. Contoh: energi matahari, angin, gelombang
laut, dan air terjun.
Menurut Pasal 1 angka 9 UUPPLH sumber daya alam adalah unsur
lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya hayati dan nonhayati yang secara
keseluruhan membentuk suatu ekosistem.
Sumber daya alam juga dibedakan menurut kemungkinan pemulihannya,
yaitu:
a. Sumber daya alam dapat dipulihkan atau diperbaharui. Kerusakan sumber
daya ini dapat dipulihkan baik secara alami maupun oleh manusia. Contoh:
tanah, air, hutan, padang rumput, populasi satwa dan sebagainya.
b. Sumber daya alam tidak dapat dipulihkan atau diperbaharui. Pemanfaatan
sumber daya ini hanya sekali, tidak dapat berulang-ulang. Contoh : minyak
bumi, gas alam, bijih besi dan sebagainya.
c. Sumberdaya alam yang tidak akan habis. Sumber daya ini tidak pernah
habis, walaupun digunakan terus menerus. Contoh : energi matahari,
angin, gelombang laut dan sebagainya.
32
Pasal 1 angka 18 UUPPLH menjelaskan bahwa:
”Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam
untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana serta kesinambungan
ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai
Serta keanekaragamannya”
Pasal 1 angka 4 UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menjelaskan bahwa:
“Sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil adalah sumber daya hayati,
sumberdaya non hayati, sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan;
sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun,
mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati meliputi pasir, air
laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut
yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan
berupa keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air
yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut
yang terdapat di wilayah pesisir.”
2. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
a. Wilayah pesisir
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan
batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air
yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut,
perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh vegetasinya yang khas,
sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar
daripada daerah paparan benua (continental shelf), dimana ciri-ciri perairan ini
masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan
aliran air tawar, maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat
seperti penggundulan hutan dan pencemaran.36
36
Bengen, D.G. Menuju Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Berbasis DAS. Seminar HUT LIPI,
Jakarta, 25-26 September 2002.
33
Berdasarkan batasan tersebut di atas, beberapa ekosistem wilayah pesisir
yang khas seperti estuaria, delta, laguna, terumbu karang (coral reef), padang
lamun (seagrass), hutan mangrove, hutan rawa, dan bukit pasir (sand dune)
tercakup dalam wilayah ini. Luas suatu wilayah pesisir sangat tergantung pada
struktur geologi yang dicirikan oleh topografi dari wilayah yang membentuk tipetipe wilayah pesisir tersebut. Wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi
benua yang meluas (trailing edge) mempunyai konfigurasi yang landai dan luas
ke arah darat dari garis pantai terbentang ekosistem payau yang landai dan ke arah
laut terdapat paparan benua yang luas. Bagi wilayah pesisir yang berhubungan
dengan tepi benua patahan atau tubrukan (collision edge), dataran pesisirnya
sempit, curam dan berbukit-bukit, sementara jangkauan paparan benuanya ke arah
laut juga sempit.
Menurut Pasal 1 angka (2) UU No. 27 tahun 2007 Wilayah Pesisir adalah
daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang di pengaruhi oleh
perubahan di darat dan laut.
Mendasarkan pada batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah
pesisir merupakan wilayah peralihan (interface) antara daratan dan laut, oleh
karena itu, wilayah pesisir merupakan ekosisitem khas yang kaya akan
sumberdaya alam baik sumber daya alam dapat pulih (renewable resources)
seperti ikan, terumbu karang, hutan mangrove, dan sumberdaya tak dapat pulih
(non-renewable resources) seperti minyak dan gas bumi, bahan tambang dan
mineral lainnya. Selain itu, wilayah pesisir juga memiliki potensi energi kelautan
yang cukup potensial seperti gelombang, pasang surut, angin, dan OTEC (Ocean
34
Thermal Energy Conversion), serta memiliki potensi jasa-jasa lingkungan
(environmental services) seperti media transportasi, keindahan alam untuk
kegiatan pariwisata, dan lain-lain.
b. Pulau-pulau kecil
Pulau kecil dapat didefinisikan sebagai pulau dengan luas 10.000 km2
atau kurang dan mempunyai penduduk 500.000 atau kurang. Pulau kecil adalah
suatu wilayah dimana wilayah tersebut memiliki luas tidak lebih dari 2000 Km2
dan lebarnya tidak lebih dari 10 Km, sedangkan definisi untuk pulau sangat kecil
yaitu wilayah yang memiliki luas tidak lebih besar dari 100 Km2 dan lebar tidak
lebih dari 3 Km.37
Pulau kecil selain memiliki luas wilayah juga memiliki kekayaan sumber
daya alam pesisir. Pulau-pulau kecil umumnya memiliki satu atau lebih
ekosistem pesisir seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, pantai
berpasir, pantai berbatu, estuaria yang semuanya bersifat alamiah. Sumber daya
uang paling menonjol di pulau kecil adalah sumber daya ikan dan untuk kawasan
pulau kecil sumber daya ikan ketersediaanya cukup banyak karena hal ini
didukung oleh ekosistem yang beragam dan kompleks.
Menurut Pasal 1 angka 3 UU No.27 tahun 2007 Pulau Kecil adalah pulau
dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer persegi)
beserta kesatuan Ekosistemnya.
37
T Falkland.. Water Resources Assessment, Development and Management for Small
Tropical Island. Didalam: Hehanusa PE dan Haryanti GS, editor. Water Resources Assessment in
Small Island and the Coastal Zone. Jakarta: 1995, LIPI-UNESCO.
35
Pulau kecil lazimnya memiliki ukuran luas kurang dari 10.000 km persegi.
Secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland), memiliki batas
yang pasti, dan terisolasi dari habitat lain. Jumlah penduduknya kurang
dari 500.000 orang. Selain itu, pulau kecil juga mempunyai lingkungan
yang khusus dengan proporsi species endemik yang tinggi bila
dibandingkan dengan pulau kontinen. Mempunyai tangkapan air
(catchment) yang relatif kecil sehingga kebanyakan air dan sedimen hilang
ke dalam air. Dari segi budaya, masyarakat yang mendiami pulau kecil
mempunyai budaya yang berbeda dengan pulau kontinen dan daratan.
Adanya masukan sosial, ekonomi dan teknologi ke pulau ini akan
mengganggu kebudayaan mereka. Meskipun belum ada kesepakatan
tentang definisi pulau kecil baik di tingkat nasional maupun dunia, namun
terdapat kesepakatan umum bahwa yang dimaksud dengan pulau kecil di
sini adalah pulau yang berukuran kecil yang secara ekologis terpisah dari
pulau induknya (mainland), memiliki batas yang pasti, dan terisolasi dari
habitat lain.
Menurut Dahuri, pulau kecil merupakan habitat yang terisolasi dengan
habitat lain, keterisolasian suatu pulau akan menambah keanekaragaman
organisme yang hidup di pulau tersebut. Selain itu, pulau kecil juga mempunyai
lingkungan yang khusus dengan proporsi species endemik yang tinggi bila
dibandingkan dengan pulau kontinen, dan pulau kecil juga mempunyai tangkapan
air (catchment) yang relatif kecil sehingga kebanyakan air dan sedimen hilang ke
dalam air. Dari segi budaya, masyarakat yang mendiami pulau kecil mempunyai
36
budaya yang berbeda dengan pulau kontinen dan daratan. Adanya masukan sosial,
ekonomi dan teknologi ke pulau ini akan mengganggu kebudayaan mereka.38
Dari uraian di atas, terdapat tiga kriteria yang dapat digunakan dalam
membuat batasan suatu pulau kecil: yaitu (1) batasan fisik (luas pulau); (2)
batasan ekologis (proporsi species endemik dan terisolasi), dan (3) keunikan
budaya.
Pulau kecil memiliki karakteristik biofisik yang menonjol, yaitu: (1)
tangkapan air yang terbatas dan sumberdaya/cadangan air tawar yang sangat
rendah dan terbatas; (2) peka dan rentan terhadap berbagai tekanan (stressor) dan
pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia, seperti badai dan
gelombang besar serta pencemaran, (3) mempunyai sejumlah besar jenis-jenis
(organisme) endemik dan keanekaragaman yang bertipikal dan bernilai tinggi.39
3. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
Pesisir adalah wilayah yang unik, karena dalam konteks bentang alam,
wilayah pesisir merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan. Lebih jauh,
wilayah pesisir merupakan wilayah yang penting ditinjau dari berbagai sudut
pandang perencanaan dan pengelolaan. Transisi antara daratan dan lautan di
wilayah pesisir telah membentuk ekosistem yang beragam dan sangat produktif
serta memberikan nilai ekonomi yang luar biasa terhadap manusia..
Sejalan
dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kegiatan pembangunan sosialekonomi, "nilai" wilayah pesisir terus bertambah.
38
Konsekuensi dari tekanan
Rohmin Dahuri.. Kebutuhan Riset Untuk Mendukung Implementasi Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu. Jurnal Pesisir Dan Lautan (Indonesian Journal
Of Coastal And Marine Resources. 1998. Vol. 1 No. 2. Hal: 61 – 77.
39
D. G. Bengen. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Lautan.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. 2002, Bogor.
37
terhadap pesisir ini adalah masalah pengelolaan yang timbul karena konflik
pemanfaatan yang timbul akibat berbagai kepentingan yang ada di wilayah pesisir.
Pengertian pengelolaan mencakup kegiatan usaha pemanfaatan dan
perlindungan. Dua kegiatan yang terkesan saling bertolak belakang ini sebenarnya
merupakan pilar utama dalam melaksanakan kegiatan pembangunan secara
berkelanjutan. Selama identifikasi semua permasalahan yang berkaitan dengan
pengelolaan dilakukan dengan baik dan benar, kekhawatiran tidak seimbangnya
antara pemanfaatan dan perlindungan bukanlah hal yang perlu dirisaukan. Hasil
identifikasi merupakan data dasar bagi penyusunan program kegiatan lanjutan
kedua unsur pengelolaan.
Pasal 1 angka (1) UU No. 27 tahun 2007 menjelaskan bahwa.
”Pengelolaan Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan dan pengendalian Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antar sektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat”.
Proses pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil lebih lanjut
terdapat pada Pasal 5 dan Pasal 6 UU. No.27 tahun 2007.
Menurut Pasal 5 UU No.27 tahun 2007. “Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan
pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta proses alamiah secara berkelanjutan dalam
upaya meningkatkan kesejahteraan Masyarakat dan menjaga keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia”.
Pasal 6 UU No. 27 tahun 2007 menjelaskan :
38
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 wajib dilakukan dengan cara mengintegrasikan kegiatan:
a. antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
b. antar-Pemerintah Daerah;
c. antar sektor;
d. antara Pemerintah, dunia usaha, dan Masyarakat;
e. antara Ekosistem darat dan Ekosistem laut; dan
f. antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip manajemen.
39
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
pendekatan yuridis normatif yaitu metode pendekatan yang menggunakan konsep
legisme yang positivistis. Berdasarkan konsep ini hukum dipandang identik
dengan norma-norma tertulis yang dibuat dan diundangkan oleh lembaga atau
pejabat negara yang berwenang dan melihat hukum sebagai suatu sistem normatif
yang mandiri, bersifat tertutup dan terlepas dari kehidupan masyarakat yang
nyata.40
B. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian yang dipakai adalah deskriptif analisis, deskriptif
maksudnya bahwa penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau
gejala dari suatu objek yang diteliti secara menyeluruh dan sistematis. Analisis
karena kemudian akan dilakukan analisis terhadap berbagai aspek yang diteliti
dengan asas hukum, kaedah hukum dan berbagai aspek yang diteliti dengan asas
hukum, kaedah hukum dan berbagai pengertian hukum yang berkaitan dengan
penelitian ini.
C. Lokasi Penelitian
Perpustakaan Universitas Jenderal Soedirman, dan PII Fakultas Hukum
Universitas Jenderal Soedirman.
40
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta,
1983, hal. 14.
40
D. Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder,
dan bahan hukum tersier:
a. Bahan Hukum Primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat dan
terdiri dari kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundangan, dan
lain sebagainya, khususnya peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan masalah yang diteliti.
b. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberi
penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti Rancangan UndangUndang, Rancangan Peraturan Pemerintah, hasil penelitian (hukum),
hasil karya (ilmiah) dari kalangan hukum, dan sebagainya.41
c. Bahan hukum tersier: kamus-kamus hukum, ensiklopedia, indeks
kumulatif, dan sebagainya.42
E. Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh dengan jalan
menginventarisasikan (studi pustaka)
terhadap Peraturan Perundang-undangan, literatur-literatur dan dokumen resmi
menurut relevansinya dengan pokok masalah yang diteliti dan kemudian dipelajari
sebagai kesatuan yang utuh.
F. Teknik Penyajian Data
Data yang diperoleh akan disajikan secara deskriptif dalam bentuk uraian
yang disusun secara sistematis.
41
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2005, hlm. 114
42
Ibid
41
G. Analisis Data
Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan
metode analisis kualitatif. Metode kualitatif merupakan suatu tata cara penelitian
yang menghasilkan data deskriptif analisis, yaitu apa yang dinyatakan oleh
responden secara tertulis atau lisan yang diteliti dipelajari sebagai suatu langkah
yang utuh.43
43
Ronny Hanitijo Soemitro, Op. Cit., hal 35
42
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITAIAN
Indonesia mempunyai wilayah peralihan (interface) antara ekosistem darat
dan laut, serta memiliki kekayaan alam yang melimpah, maka sektor kelautan dan
pulau-pulau kecil memegang peran strategis bagi kepentingan nasional. Terbukti,
Indonesia secara fisik memiliki 17.500 pulau, dengan total panjang garis pantai
mencapai 81.000 km serta luas laut mencapai 70 persen dari total luas wilayah
Indonesia. Potensi sumberdaya ikan juga melimpah, di mana potensi lestari
mencapai 6,2 juta ton pertahun, belum termasuk keanekaragaman hayati lainnya
seperti rumput laut, terumbu karang, dan lainnya, sadar akan potensi itu, berbagai
lembaga negara maupun swasta sangat berkepentingan atas regulasi tersebut.
Sebuah tindakan yang tepat bagi pemerintah mejalankan fungsinya untuk
mengatur tatanan khususnya pada isu pesisir dan pulau-pulau kecil ini. Akan
tetapi, pengaturan tersebut haruslah tidak bertentang dengan kepentingan
pengelolaan lingkungan pesisir dan masyarakat, khususnya nelayan tradisional.
Regulasi sebagaimana dimaksud juga seharusnya tidak bertentangan dengan
kearifan lokal nelayan. Sebagai contoh, di sepanjang pesisir pulau Jawa hingga
saat ini masih hidup (terus tumbuh dan berkembang) berbagai budaya serta tradisi
lokal. Konstitusi Indonesia menghargai keberadaan kebudayaan-kebudayaan
tersebut, oleh karenanya Indonesia sebagai negara hukum, di mana konstitusi
merupakan basis filosofis dari hukum nasional, maka sudah semestinya aturan
yang ada tidak boleh bertentangan dengan konstitusi.
43
Pemerintah dengan wewenang yang dimilikinya dalam pengelolaan
lingkungan hidup membentuk undang-undang yang mengatur pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang berfungsi sebagai payung hukum.
Latar belakang pemerintah dalam membentuk undang-undang pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah:
a) Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil merupakan bagian dari sumber
daya alam yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan
merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara, yang perlu dijaga
kelestariannya dan dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,
baik bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
b) Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil memiliki keaneka-ragaman potensi
sumber daya alam yang tinggi, dan sangat penting bagi pembangunan
sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga kedaulatan bangsa,
oleh karena itu perlu dikelola secara berkelanjutan dan berwawasan
global, dengan memperhatikan aspirasi dan partisipasi masyarakat, dan
tata nilai bangsa yang berdasarkan norma hukum nasional.
Berdasarkan latar belakang tersebut dan hasil review terhadap perundangundangan (20 undang-undang nasional) dan konvensi (5 konvensi internasional)
yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan pengelolaan
wilayah pesisir, maka pemerintah bersama dewan perwakilan rakyat membentuk
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil. Pada tanggal 26 Juni 2007, dalam Sidang Paripurnanya, DPR
RI mensahkan Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
44
Kecil (PWP3K). Dalam salah satu bab yaitu pada bab V mengatur tentang
pemanfaatan yang diberikan dalam bentuk Hak Pengusahaan Perairan pesisir yaitu
diatur dalam Pasal 16 s/d Pasal 22, namun peneliti hanya akan membahas Pasal 16
s/d Pasal 20. ketentuan pasal 16 s/d Pasal 20 adalah sebagai berikut:
Pasal 16 ayat (1)
“Pemanfaatan perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3”.
Pasal 16 ayat (2)
“HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas
permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut.”
Pasal 17 ayat (1)
“HP-3 diberikan dalam luasan dan waktu tertentu.
Pasal 17 ayat (2)
“Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
mempertimbangkan kepentingan kelestarian Ekosistem Pesisir dan PulauPulau Kecil, Masyarakat Adat, dan kepentingan nasional serta hak lintas
damai bagi kapal asing.”
Pasal 18
“HP-3 dapat diberikan kepada”
a. Orang perorangan warga negara Indonesia;
b. Badan hukum yang didirikan berdasarkan hokum Indonesia; atau
c. Masyarakat Adat.
Pasal 19 ayat (1)
“HP-3 diberikan dalam jangka waktu 20 (dua puluh) tahun.”
Pasal 19 ayat (2)
“Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang tahap
kesatu paling lama 20 (dua puluh) tahun.”
Pasal 19 ayat (3)
“Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diperpanjang tahap
kesatu paling lama 20 (dua puluh) tahun.”
Pasal 20 ayat (1)
“HP-3 dapat berlih, dialihkan, dan dijadikan jaminan utang dengan
dibebankan hak tanggungan”
Pasal 20 ayat (2)
“HP-3 diberikan dalam bentuk sertifikat HP-3”
Pasal 20 ayat (3) huruf (a)
“HP-3 berahir karena”
a. Jangka waktunya habis dan tidak diperpanjang lagi;
b. Ditelantarkan; atau
c. Dicabut untuk kepentingan umum.
Pasal ayat (3) huruf (b)
45
“Yang dimaksud ditelantarkan merupakan tindakan yang dilakukan oleh
pemegang HP-3 dengan tidak berbuat sesuatu terhadap perairan pesisir selama
tiga tahun berturut-turut.”
Pasal 20 ayat (4)
“Tata cara pemberian, pendaftaran, dan pencabutan HP-3 diatur lebih lanjut
dengan peraturan pemerintah”
Pasal 21 ayat (1)
“Pemberian HP-3 wajib memenuhi persyaratan teknis, administratif, dan
operasional”.
Pasal 21 ayat (2)
“Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. kesesuaian dengan rencana Zona dan/atau rencana Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
b. hasil konsultasi publik sesuai dengan besaran dan volume pemanfaatannya.
c. pertimbangan hasil pengujian dari berbagai alternative usulan atau kegiatan
yang berpotensi merusak Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Pasal 21 ayat (3)
“Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. penyediaan dokumen administratif.
b. penyusunan rencana dan pelaksanaan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan daya dukung ekosistem.
c. pembuatan sistem pengawasan dan pelaporan hasilnya kepada pemberi HP3.
d. dalam hal HP-3 berbatasan langsung dengan garis pantai, pemohon wajib
memiliki hak atas tanah.
Pasal 21 ayat (4)
“Persyaratan operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup
kewajiban pemegang HP-3 untuk:
a. memberdayakan Masyarakat sekitar lokasi kegiatan;
b. mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat
dan/atau Masyarakat lokal.
c. memperhatikan hak Masyarakat untuk mendapatkan akses ke sempadan
pantai dan muara sungai.
d. melakukan rehabilitasi sumber daya yang mengalami kerusakan di lokasi
HP-3.
Pasal 21 ayat (5)
“Penolakan atas permohonan HP-3 wajib disertai dengan salah satu alasan di
bawah ini:
a. terdapat ancaman yang serius terhadap kelestarian Wilayah Pesisir.
b. tidak didukung bukti ilmiah; atau
c. kerusakan yang diperkirakan terjadi tidak dapat dipulihkan.
Pasal 21 ayat (6)
“Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
pengumuman secara terbuka”.
46
Pasal 22
“HP-3 tidak dapat diberikan pada Kawasan Konservasi, suaka perikanan, alur
pelayaran, kawasan pelabuhan, dan pantai umum”.
Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu (Integrated Coastal Zone
Management atau disingkat ICZM). Dalam hal ini yang dimaksud ICZM adalah
pengelolaan
pemanfaatan
sumberdaya
alam
dan
jasa-jasa
lingkungan
(environmental services) yang terdapat di kawasan pesisir, dengan cara
melakukan penilaian menyeluruh tentang kawasan pesisir beserta sumberdaya
alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan
sasaran pemanfaatan, dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap
kegiatan pemanfaatannya. Proses pengelolaan dilaksanakan secara kontinyu dan
dinamis dengan mempertimbangkan segenap aspek sosial ekonomi budaya dan
aspirasi masyarakat pengguna kawasan pesisir serta konflik kepentingan dan
konflik pemanfaatan kawasan pesisir yang mungkin ada.
Lingkup pengaturan dalam Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 terdiri
dai tiga bagian yaitu: Perencanaan, Pemanfaatan, Pangawasan dan Pengandalian
separti yang dijelaskan pada Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No 27 tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berbunyi:
“Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antarsektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat”.
Perencanaan diatur melalui pendekatan Pengelolaan Wilayah Pesisir
Terpadu (Integrated Coastal Management) yang mengintegrasikan berbagai
perencanaan yang disusun oleh sektor dan daerah sehingga terjadi keharmonisan
47
dan saling penguatan (alignment) pemanfaatannya. Pengelolaan wilayah pesisir
terpadu (PPT) merupakan pendekatan yang memberikan arah bagi pemanfaatan
sumber daya pesisir secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan antara
berbagai perencanaan pembangunan dari berbagai tingkat pemerintahan antara
ekosistem darat dan laut serta antara sains dan manajemen. Perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir dilakukan agar dapat mengharmonisasikan antara
kepentingan pembangunan ekonomi dan pelestarian sumber daya pesisir dengan
memperhatikan karateristik dan keunikan wilayah pesisirnya.
Perencanaan terpadu ini merupakan suatu upaya bertahap dan terprogram
untuk memanfaatan sumber daya pesisir secara optimal yang dapat menghasilkan
keuntungan ekonomis secara berkelanjutan untuk kemakmuran masyarakat
dengan mengendalikan dampak pembangunan sektoral yang mungkin timbul dan
mempertahankan kelestarian sumber dayanya. Perencanaan wilayah pesisir yang
harus diatur dibagi atas empat tahapan: (1). Rencana Strategis (Strategic Plan);
(2). Rencana Pemintakatan (Zoning); (3). Rencana Pengelolaan (Management
Plan); dan (4). Rencana Aksi (Action Plan).seperti yang dijelaskan pada Pasal 7
Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 mengatur tentang perencanaan yaitu:
(1) Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5, terdiri atas:
a. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RSWP-3- K;
b. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RZWP-3- K;
c. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RPWP-3-K; dan
d. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RAPWP-3-K.
48
(2) Norma, standar, dan pedoman penyusunan perencanaan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diatur dengan Peraturan Menteri.
(3) Pemerintah Daerah wajib menyusun semua rencana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(4) Pemerintah Daerah menyusun rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil dengan melibatkan masyarakat berdasarkan norma, standar, dan
pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(5) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyusun Rencana Zonasi rinci di setiap
Zona Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu dalam wilayahnya.
Hak pengusahaan perairan pesisir atau biasa disebut HP-3 adalah hak atas
bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan perikanan,
serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulaupulau kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolam air sampai dengan
permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu.
Dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seharusnya
memperhatikan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu
seperti pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam jasa-jasa lingkungan yang
terdapat di kawasan pesisir, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, dan
merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatan, sehingga dalam
pemberian HP-3 nantinya pemegang hak harus tetap memperhatikan hal-hal
tersebut, dan pemerintah selaku pemberi hak pun harus senantiasa mengawasi hak
pengusahaan perairan pesisir agar tidak terjadi pelanggaran oleh pemegang hak
pengusahaan.
Pemberian HP-3 meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan kolam air
sampai dengan permukaan dasar laut. Hal tersebut terkait dengan zonasi wilayah
pesisir dan lautan, dimana ekosistem laut dapat dipandang dari dimensi horizontal
dan vertikal. Secara horizontal, laut dapat dibagi menjadi dua yaitu laut pesisir
49
(zona neritik) yang meliputi daerah paparan benua, dan laut lepas (lautan atau
zona oseanik). Pemintakan atau zonasi perairan laut dapat pula dilakukan atas
dasar faktor-faktor fisik dan penyebaran komunitas biotanya. Seluruh perairan laut
terbuka tersebut sebagai daerah pelagis. Organisme pelagis adalah organisme
yang hidup di laut terbuka dan lepas dari dasar laut. Dalam pada itu, zona dasar
laut beserta organismenya disebut daerah organisme bentik.
Pembagian wilayah laut secara vertikal dilakukan berdasarkan intensitas
cahaya matahari yang memasuki kolam perairan, yaitu zona fotik dan zona afotik.
Zona fotik adalah bagian kolam perairan laut yang masih mendapatkan cahaya
matahari. Pada zona inilah proses fotosintesa serta berbagai macam proses fisik,
kimia, dan biologi berlangsung yang antara lain dapat mempengaruhi proses
distribusi unsur hara dalam peraian laut, penyerapan gas-gas dari atmosfer, dan
pertukaran gas yang dapat menyediakan oksigen bagi organisme nabati laut. Zona
ini disebut juga sebagai zona epipelagis. Pada umumnya zona fotik adalah hingga
kedalaman perairan 50-150m. sementara itu, zona afotik adalah daerah yang
secara terus menerus dalam keadaan gelap, tidak mendapatkan cahaya matahari.
Secara vertikal, zona afotik pada kawasan pelagis juga dapat dibagi ke
dalam beberapa zona, yaitu:
a. Zona mezopelagis, zona ini merupakan bagian teratas dari zona
afotik sampai kedalaman 700-1000m.
b. Zona batipelagis terletak pada daerah yang memiliki kedalaman
antara 700-1000m dan 2000-4000m.
50
c. Zona abisal pelagis, terletak da atas dataran pasang surut laut
sampai kedalaman 6000m.
d. Zona hadal pelagis, zona ini merupakan perairan terbuka dari
palung laut dalam dengan kedalaman 6000m. hingga 10000m.
Melihat hal tersebut seharusnya dalam menentukan luasan pengusahaan
atas permukaan dan kolam air sampai
dengan permukaan dasar laut harus
memperhatikan zonasi wilayah pesisir dan lautan karena dalam zona tersebut
masing-masing mempunyai fungsi yang berkaitan dengan organisme yang ada di
dalamnya dan juga berpengaruh juga dengan keberlangsungan lingkungan hidup.
Pemberian HP-3 seperti disebutkan dalam Pasal 17 ayat (1) UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah pesisir dan PulauPulau Kecil adalah HP-3 diberikan dalam luasan dan waktu tertentu, dalam pasal
ini tidak jelas mengenai berapa luasan yang akan diberikan kepada pemegang hak
pengusahaan, hal ini bisa menimbulkan suatu permasalahan mengenai penafsiran
berapa luasan yang bisa diberikan terhadap pemegang hak pengusahaan.
Sedangkan peberian jangka waktu yang dimaksudkan dalam pasal ini diatur lebih
lanjut dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 Tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dimana waktu yang diberikan
adalah 20 tahun dan dapat diperpanjang lagi dalam tahap kesatu yaitu 20 tahun,
dan perpanjangan tahap kedua sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
pemberian waktu yang begitu panjang terhadap pemegang hak pengusahaan
perairan pesisir dapat mengakibatkan eksploitasi yang berkepanjangan dan terus
51
menerus terhadap ekosistem yang ada didalamnya yang dapat merusak
keseimbangan dan semakin rusaknya lingkungan.
Hak pengusahaan
perairan pesisir dapat diberikan kepada, orang
perseorangan warga Negara Indonesia, badan hukum yang didirikan berdasarkan
hukum Indonesia dan masyarakat adat sesuai dengan ketentuan Pasal 18 UndangUndang Nomor 27 tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau kecil. Pemberian HP3 terhadap pengusaha dengan sendirinya akan
membuka peluang bagi proses pengkaplingan dan eksploitasi wilayah pesisir.
Indikasi ini sebenarnya sudah kelihatan ketika pemerintah melalui DKP beberapa
waktu lalu pernah mencoba mengeluarkan kebijakan untuk melakukan
pengklasteran wilayah perairan Indonesia ke dalam 11 wilayah yang mana
pengelolaannya akan diserahkan kepada pihak swasta untuk jangka waktu
tertentu.
Hak pengusahaan perairan pesisir, kepemilikannya dapat beralih,
dialihkan,
dan dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan,
ketentuan ini sesuai dengan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, pengaturan ini
rawan dengan penyimpangan karena sumberdaya ekonomi wilayah pesisir dapat
diperjualbelikan dan dikuasai, sekaligus dikontrol untuk bidang usaha tertentu,
sehingga hanya segelintir pemilik modal yang mengelola dan memanfaatkannya.
Sangat mustahil hal ini dapat dilakukan oleh nelayan kecil di wilayah pesisir.
Hak Pengusahaan Perairan Pesisir atau disebut HP-3. Pasal 1 angka (18)
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
52
Pulau-Pulau Kecil mengartikan hak pengusahaan perairan pesisir atau HP-3
adalah hak atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan
dan perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolom air
sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu.
Hak pengusahaan perairan pesisir atau HP-3 dalam pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil adalah merupahan hal yang baru dan ide mengenai
hak pengusahaan perairan pesisir muncul pada saat-saat terahir sebelum undangundang ini disahkan oleh DPR. Keberadaan HP-3 dalam undang-undang ini mirip
dengan pemberian izin HPH di sektor kehutanan. Dimana pihak swasta diberi
keleluasaan untuk terlibat dalam proses pengelolaan sumberdaya alam yang ada.
Keterlibatan pengusaha tampaknya menjadi sebuah keharusan dalam setiap
implementasi kebijakan yang akan diberlakukan oleh pemerintah di setiap sektor.
Tujuan penyusunan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 adalah:
1) Menyiapkan
peraturan
setingkat
undang-undang
mengenai
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, khususnya yang
menyangkut perencanaan, pemanfaatan hak dan akses masyarakat,
penanganan konflik, konservasi, mitigasi bencana, reklamasi pantai,
rehabilitasi kerusakan pesisir dan penjabaran konvensi-konvensi
internasional terkait.
2) Membangun sinergi dan saling memperkuat antar lembaga
Pemerintah baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan
Pengelolaan Wilayah Pesisir, sehingga tercipta kerjasama antar
53
lembaga yang harmonis dan mencegah serta memperkecil konflik
pemanfaatan dan konflik kewenangan antar kegiatan di wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
3) Memberikan kepastian dan perlindungan hukum serta memperbaiki
tingkat kemakmuran masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil
melalui pembentukan peraturan yang dapat menjamin akses dan hakhak masyarakat pesisir melalui pembentukan peraturan yang dapat
menjamin akses dan hak-hak masyarakat pesisir serta masyarakat
yang berkepentingan lain, termasuk pihak pengusaha.
Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan memberikan definisi-definisi mengenai hal
yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
sebagaimana diatur dalam Pasal 1 mengenai ketentuan umum, kemudian ruang
lingkup wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dalam Pasal 2 Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil yaitu:
“Ruang lingkup pengaturan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
meliputi daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang
dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut, ke arah darat mencakup
wilayah administrasi kecamatan dan ke arah laut sejauh 12 (dua belas) mil
laut diukur dari garis pantai”.
Ruang lingkup pengaturan dalam Undang-Undang ini meliputi Wilayah
Pesisir, yakni ruang lautan yang masih dipengaruhi oleh kegiatan di daratan dan
ruang daratan yang masih terasa pengaruh lautnya, serta Pulau-Pulau Kecil dan
54
perairan sekitarnya yang merupakan satu kesatuan dan mempunyai potensi cukup
besar yang pemanfaatannya berbasis sumber daya, lingkungan, dan masyarakat.
Dalam implemetasinya, ke arah laut ditetapkan sejauh 12 (dua belas) mil
diukur dari garis pantai sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor (4437) sedangkan ke arah daratan ditetapkan sesuai dengan
batas kecamatan untuk kewenangan provinsi.
Kewenangan kabupaten/kota ke arah laut ditetapkan sejauh sepertiga dari
wilayah laut kewenangan provinsi sebagaimana telah ditetapkan dalam UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sedangkan ke arah
daratan ditetapkan sesuai dengan batas kecamatan.
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mengatur mengenai Asas dan Tujuan yaitu:
a. Keberlanjutan.
Asas keberlanjutan diterapkan agar:
1) Pemanfaatan sumber daya tidak melebihi kemampuan regenerasi sumber
daya hayati atau laju inovasi substitusi sumber daya nonhayati pesisir.
2) Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir saat ini tidak boleh mengorbankan
(kualitas dan kuantitas) kebutuhan generasi yang akan datang atas
sumber daya pesisir.
3) Pemanfaatan sumber daya yang belum diketahui dampaknya harus
dilakukan secara hati-hati dan didukung oleh penelitian ilmiah yang
memadai.
b. Asas Konsistensi merupakan konsistensi dari berbagai instansi dan lapisan
pemerintahan, dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan
pengawasan untuk melaksanakan program pengellaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil yang telah diakreditasi.
c. Asas Keterpaduan.
Asas keterpaduan dikembangkan dengan:
55
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
1) Mengintegrasikan kebijakan dengan perencanaan berbagai sektor
pemerintahan secara horizontal dan secara vertical antara pemerintah dan
pemerintah daerah;dan
2) Mengintegrasikan ekosistem darat dengan ekosistem laut berdasarkan
masukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
membantu proses pengambilan putusan dalam Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Asas kepastian hukum diperlukan untuk menjamin kepastian hukum yang
mengatur pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil secara jelas
dan dapat dimengerti dan ditaati oleh semua pemangku kepentingan; serta
keputusan yang dibuat berdasarkan mekanisme atau cara yang dapat
dipertanggungjawabkan dan tidak memarjinalkan masyarakat pesisir dan
pulau-pulau kecil.
Asas kemitraan merupakan kesepakatan kerja sama antar pihak yang
berkepentingan berkaitan dengan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil.
Asas pemerataan ditujukan pada manfaat ekonomi sumber daya pesisir dan
pulau-pulau kecil yang dapat dinikmati oleh sebagian besar anggota
masyarakat.
Asas peran serta masyarakat.
Asas peran serta masyarakat dimaksudkan:
1) Agar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil mempunyai peran dalam
perencanaan, pelaksanaan, sampai tahap pengawasan dan pengendalian.
2) Memiliki informasi yang terbuka untuk mengetahui kebijaksanaan
pemerintah dan mempunyai akses yang cukup untuk memanfaatkan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau keci.
3) Menjamin adanya representasi suara masyarakat dalam keputusan
tersebut.
4) Memanfaatkan sumber daya tersebut secara adil.
Asas keterbukaan dimaksudkan adanya keterbukaan bagi masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dari tahap perencanan,
pemanfaatan, pengendalian, sampai tahap pengawasan dengan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia
negara.
Asas desentralisasi merupakan penyerahan wewenang pemerintahan dari
Pemerintah kepada pemerintah daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan di bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil.
Asas akuntabilitas dimaksudkan bahwa pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan
Asas keadilan merupakan asas yang berpegang pada kebenaran, tidak berat
sebelah, tidak memihak, dan tidak sewenang-wenang dalam pemanfaatan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil.
56
Asas-asas dalam pengelolaan wilayah pesisir merupakan norma yang
harus dijalankan oleh semua pihak yang yang berkaitan dengan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Undang-undang ini tetap menyisakan permasalahan, yang dapat disebut di
sini adalah: Pertama, undang-undang ini selalu mengkaitkan dengan adaptasi
terhadap situasi global. Tidak jelas apa konteks global yang dimaksudkan.
Namun, jika ditelisik lebih dalam, konsep global di sini lebih mengarah pada
globalisasi; Kedua, privatisasi dalam ranah yang harusnya dikuasai negara serta
persoalan tata ruang; Ketiga, perlindungan Kelompok Rentan di Pedesaan Pesisir;
Keempat. persoalan kemiskinan dan kedaulatan negara di pulau kecil; Kelima,
sinkronisasi dengan peraturan-perundangan lainnya yang terkait dengan
pengelolaan wilayah pesisir. Dalam Pasal 16 s/d Pasal 22 undang-undang ini
mengatur mengenai Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, yaitu:
Hak pengusahaan perairan pesisir atau HP-3. Pasal 1 angka 18 UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil mengartikan hak pengusahaan perairan pesisir yang selanjutnya
disebut H-P3 adalah, hak atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk
usaha kelautan dan perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan
Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut
dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu.
Namun, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ini belum mewujudkan pendekatan
Integrated Coastal Management, yang ditandai dengan tidak adanya pembaruan
57
atas penguasaan dan pengusahaan yang timpang dan adanya ketidaksinkronan
dengan undang-undang lainnya. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 juga
lebih menekankan pada aspek investasi dan lebih memihak dunia usaha, sehingga
tidak ada ruang bagi masyarakat, khususnya nelayan kecil tradisional dan
masyarakat adat dalam pengusulan rencana pengelolaan, dan menyerahkan
masalah kedaulatan wilayah teritorial hanya pada setingkat Peraturan Pemerintah.
Munculnya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 ini merupakan
inisiatif pemerintah (dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan) karena
melihat persoalan bahwa pengelolaan wilayah pesisir, memerlukan pengaturan
secara terpadu agar potensi sumberdaya pesisir yang dapat dikembangkan dan
dimanfaatkan bagi pembangunan daerah dan nasional secara berkelanjutan.
Pembangunan tersebut tidak boleh mengorbankan kepentingan generasi yang
akan datang dalam memenuhi kebutuhan sumberdaya pesisir generasi saat ini,
yang diyakini bangsa Indonesia, oleh karena pentingnya pengaturan mengenai
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, maka diperlukan adanya regulasi yang
mengatur tentang hal tersebut.
Pasal 1 angka (1) Undang-Undang No 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berbunyi:
“Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antarsektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat”.
Sedangkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menurut Pasal 1
angka (2) undang-undang No 32 tahun 2009 adalah:
58
“Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis
dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup
dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”.
Mencermati hal tersebut, sudah seharusnya Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 ini mengedepankan prinsip perlindungan dan perlakuan khusus
terhadap wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan berlandaskan pada
pemenuhan hak konstitusional setiap warga negara atas kenyamanan dan
keselamatan, serta menghindari kerugian yang lebih besar pasca terjadinya
bencana. Keberadaan HP-3 dinilai akan kontra produktif dengan semangat
konstitusi dalam menjamin perlindungan dan keselamatan rakyat. Diberikannya
jaminan perlindungan atas penguasaan kawasan rentan bencana kepada pelaku
usaha dalam luasan dan waktu tertentu justru akan membatasi peran pemerintah
dalam memenuhi kewajibannya. Belum lagi, tidak ada jaminan dari pemegang
HP-3 untuk memenuhi tanggung-jawab mutlak (sosial, ekonomi, budaya, dan
lingkungan hidup) atas dampak negatif yang ditimbulkan, seperti yang kerap
terjadi pada sektor ekstraktif lainnya, seperti pertambangan dan kehutanan.
Kebijakan sektor pesisir, ini merupakan kali pertama negara memberikan
landasan hukum atas pengusaha wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Setidaknya ada tiga hal mendasar yang perlu dikaji kembali dalam pemberian hak
tersebut.
Pertama, aspek pemenuhan hak atas perlindungan dan keselamatan warga
negara dari ancaman bencana ekologi. Sudah menjadi pengetahuan setiap orang,
bahwa wilayah Indonesia terletak di sepanjang jajaran gunung api (yang dikenal
59
dengan ring of fire), serta pertemuan tiga lempeng bumi, yang secara alamiah
telah menyebabkan Indonesia rawan bencana. Semua kondisi ini memberikan
isyarat atas rentannya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia terhadap
bencana.
Kedua, menakar untuk siapa sebenarnya sertifikat HP-3 diberikan. Dengan
komposisi kemiskinanan yang masih mendominasi, serta taraf pendidikan yang
juga masih relatif rendah, menjadi tidak relevan bagi masyarakat nelayan dan
pembudidaya tradisional untuk turut mendapatkan sertifikat HP-3 seperti yang
diharapkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. Budaya birokrasi yang rumit
dan cenderung mahal mengisyaratkan penguasaan kegiatan usaha oleh pemilik
modal besar justru akan mendominasi. Hal ini sejalan dengan kemudahan yang
diberikan negara, dan kemampuan pemodal untuk memenuhi kebutuhan
administrasi, serta teknis dan operasional yang diisyaratkan Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 ini sebagai pra-syarat untuk mendapatkan sertifikat HP-3.
Ketiga, menakar intensitas konflik perikanan terkait hak kepemilikan.
Charles dalam bukunya Sustainable Fishery Systems (2001) menyebutkan debat
mengenai hak kepemilikan (property rights) mencakup pertanyaan filosofis yang
telah berlangsung sejak lama mengenai aspek legal, sejarah dan/atau kepemilikan,
akses dan kontrol perikanan. Konflik ini sendiri cenderung di antaranya
disebabkan perbedaan kepentingan terhadap beberapa bentuk kepemilikan
perikanan, di antaranya open-access, manajemen terpusat, hak pengelolaan
kawasan, pengelolaan berbasis masyarakat, kuota individu, dan privatisasi.
Keberadaan HP-3 di sela-sela mekanisme pengelolaan yang masih
60
bernuansa sektoral, upaya desentralisasi, industrialisasi, serta dihadapkan pada
kebutuhan atas pengakuan eksistensi pengelolaan masyarakat, justru akan menjadi
stimulus dalam meningkatnya intensitas konflik terkait hak kepemilikan. Apalagi,
dengan keistimewaan yang dimiliki oleh sertifikat HP-3 yang dapat beralih,
dialihkan, dan dijadikan jaminan ke bank (Pasal 20 Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007).
Pemberian Hak pengusahaan parairan pesisir atau HP-3, dapat
menimbulkan potensi tumpang tindih HP-3 dengan pemberian hak atau perijinan
oleh instansi/sektor lain, Jika obyek HP-3 dicermati, maka terdapat kerancuan
atau tumpang-tindih antara obyek HP-3 tersebut dengan obyek perijinan di bidang
kehutanan, pertambangan, dan pariwisata. Tumpang-tindih obyek tersebut di
antaranya adalah: (1) antara HP-3 dengan perijinan bidang kehutanan yaitu
tentang pemanfaatan hutan mangrove, fauna/flora yang terdapat di kawasan
perairan pantai, dan penggunaan jasa lingkungan di kawasan hutan mangrove
tersebut; (2) antara HP-3 dengan perijinan bidang pertambangan yaitu
pemanfaatan pasir sebagai sumberdaya di kawasan pantai dan mineral dalam laut;
(3) antara HP-3 dengan perijinan bidang pariwisata yaitu pengembangan wisata
pantai.
Di samping itu, karena luas cakupan obyek HP-3 terutama yang terkait
dengan pemanfaatan daratan (permukaan bumi yang disebut tanah) maupun tubuh
bumi, termasuk yang di bawah air, maka terjadi tumpang tindih dengan obyek
pengaturan di bidang pertanahan. Selama ini, dalam praktik telah diberikan hak
atas tanah sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
61
Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) yang dapat berupa Hak Guna Bangunan
(HGB), di wilayah dermaga dan perairan pantai, rumah-rumah nelayan dan
pelatarannya, bangunan-bangunan di perairan pesisir; Hak Guna Usaha (HGU)
diberikan untuk budidaya perikanan pantai, keramba ikan, budidaya rumput laut,
budidaya mutiara.
Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil selain
perencanaan dan pemanfaatan juga harus dilakukan pengawasan dan pengendalian
dimana pengawasan dan pengendalian dilakukan melalui: Pemantauan dilakukan
untuk mengetahui kenyataan apakah terdapat penyimpangan pelaksanaan dari
rencana strategis, rencana mintakat, rencana pengelolaan, serta bagaimana
implikasi penyimpangan tersebut terhadap perubahan kualitas ekosistem pesisir
pengawasan
dilakukan oleh pejabat tertentu yang berwenwng dibidang
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pengendalian dilakukan untuk
mendorong agar pemanfaatan sumber daya di wilayah pesisir yang sesuai dengan
rencana pengelolaan wilayah pesisirnya. Seperti yang dijelaskan dalam Pasal 36
ayat (1) Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 yaitu:
“Untuk menjamin terselenggaranya Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil secara terpadu dan berkelanjutan, dilakukan
pengawasan dan/atau pengendalian terhadap pelaksanaan ketentuan di
bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, oleh pejabat
tertentu yang berwewenang di bidang pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan sifat pekerjaaannya dan diberikan
wewenang kepolisian khusus.”
62
B. PEMBAHASAN
Manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa adanya tumbuhan dan
binatang di sekitarnya. Komponen yang mendampingi harus ada di sekitar
manusia yang sekaligus sebagai sumber mutlak kehidupannya merupakan
lingkungan hidup bagi manusia. Lingkungan hidup boleh dikatakan merupakan
bagian mutlak dari kehidupan manusia.
Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dengan benda mati, khususnya manusia dengan lingkungan
disekitarnya. Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang sangat dominan
peranannya dalam lingkungan hidup. Manusia dengan akal budi yang dimilikinya
dapat mempengaruhi lingkungan disekitarnya dengan melakukan pencemaran,
perusakan maupun pelestarian terhadap lingkungan.
Pencemaran dan perusakan lingkungan menimbulkan masalah bagi
masyarakat yang perlu dicegah dan ditangani, hal ini disebabkan oleh kemiskinan
dan kurangnya pengetahuan serta akibat negatif dari pelaksanaan pembangunan.
Penguasa dalam hal ini pemerintah, perlu turun tangan mengatur dan
mengendalikan perilaku seseorang agar tetap berada dalam batas-batas yang
sesuai dengan daya dukung lingkungan, yaitu kemampuan lingkungan untuk
mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup yang lainnya.44
Hukum lingkungan menetapkan ketentuan-ketentuan dan norma-norma
untuk mengatur tindakan atau perbuatan manusia dengan tujuan untuk melindungi
lingkungan dari pencemaran dan perusakan agar lingkungan terjaga sehingga
44
. Siti Sundari Rangkuti, Op Cit, hal 115.
63
dapat digunakan oleh generasi mendatang. Penegakan hukum lingkungan
dilakukan melalui instrumen hukum pidana, hukum perdata, dan hukum
administrasi.
Hukum lingkungan menyangkut penetapan nilai-nilai, yaitu nilai-nilai
yang berlaku dan nilai-nilai yang diharapkan diberlakukan dimasa mendatang
sehingga dapat disebut hukum yang mengatur tatanan lingkungan hidup. Hukum
lingkungan mempunyai kedudukan dan arti penting dalam menyelesaikan masalah
lingkungan yang menjadi dasar yuridis bagi pelaksanaan kebijakan-kebijakan
sebagaimana telah dirumuskan oleh pemerintah dalam peraturan perundangundangan.
Pemerintah dalam menegakkan hukum lingkungan dengan menetapkan
peraturan di bidang lingkungan hidup yang merupakan sebagai dasar pelaksanaan
kebijakan pemerintah dibidang lingkungan hidup. Undang-Undang nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup merupakan
ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup yang berfungsi sebagai ”payung
hukum” (umbrella provesion) bagi peraturan perundangan yang berkaitan dengan
lingkungan hidup di Indonesia.
Perumus undang-undang menyadari betapa vitalnya lingkungan hidup
dengan segala komponennya bagi eksistensi sebuah negara, bahkan harus disadari
bahwa vitalitas lingkungan hidup memberikan dampak positif dan berganda bagi
kelangsungan dan keberhasilan pembangunan.45 Wewenang yang dimiliki
pemerintah berdasarkan peraturan perundangan merupakan bentuk tanggung
45
N.H.T. Siahaan, Op Cit, hal 230.
64
jawab negara terhadap hak warga negaranya untuk mendapatkan lingkungan
hidup yang baik dan sehat.
Amandemen kedua Undang-Undang Dasar 1945 pada bab XA yang
mengatur mengenai hak asasi manusia Pasal 28H ayat (1) menyatakan bahwa:
”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan”.
Berdasarkan
amanat
Undang-Undang
Dasar
tersebut
memberikan
konsekwensi bahwa pemerintah berkewajiban memberikan pelayanan publik
dalam pengelolaan lingkungan hidup termasuk didalamnya pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil karena permasalahan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil salah satunya adalah masalah lingkungan. Konsekwensi hukum
muncul karena dengan adanya pasal tersebut paka pemerintah merupakan pihak
yang berwenang dan bertanggung jawab agar masyarakat memperoleh lingkungan
hidup yang baik dan sehat sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.
Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat perlu dimengerti secara yuridis
dan diwujudkan melalui sarana hukum sebagai upaya perlindungan hukum bagi
warga masyarakat dibidang lingkungan hidup.46
Pengaturan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat ke dalam
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara indonesia, hal ini
merupakan kemajuan dalam penegakan hukum lingkungan karena sebelumnya
hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat hanya diatur pada tingkat undang-
46
Siti Sundari Rangkuti, op. cit, hal 175
65
undang yaitu diatur dalam Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997
Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyatakan bahwa:
”Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik
dan sehat”
Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
sebagai payung hukum penegakan hak asasi manusia di Indonesia dalam Pasal 9
Ayat (3) bab ketiga bagian kesatu yang mengatur tentang hak hidup menjelaskan
bahwa.
”Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”.
Pasal 65 Ayat (1) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) menyebutkan
bahwa.
”Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai
bagian dari hak asasi manusia”
Setiap warga negara berdasarkan peraturan tersebut maka berhak
memperoleh hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat maka konsekwensi
hukum bagi pemerintah baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif berkewajiban
menjaga lingkungan hidup agar berfungsi sebagaimana mestinya sesuai dengan
kewenangan dan tugas masing-masing.
Pemerintah selaku pihak eksekutif memiliki wewenang dalam menjaga
fungsi lingkungan hidup, dalam ketatanegaraan Indonesia Presiden berkedudukan
sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara. Presiden dalam menjalankan
66
tugasnya dibantu oleh menteri-menteri sesuai dengan ketentuan Pasal 17 bab V
Undang-Undang Dasar 1945 yaitu:
1)
2)
3)
4)
Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara.
Menteri-menteri itu daingkat dan diberhentikan oleh presiden.
Setiap menteri membidangi urusan tertentu dalam pemerintahan.
Pembentukan, pengubahan, dan pembubaran kementrian negara diatur
dalam undang-undang.
Dalam pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia Presiden dibantu oleh
menteri negara lingkungan hidup, mengenai pengertian kementrian negara diatur
dalam Pasal 16 Keptsan Presiden Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kedudukan,
Tugas, Fungsi, Wewenang, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara
menerangkan bahwa menteri negara lingkungan hidup mempunyai tugas
membantu presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang
pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 dalam Pasal
18 menteri negara lingkungan hidup mempunyai kewenangan:
a. Menetapkan kebijakan lingkungan hidup untuk mendukung pembangunan
secara makro.
b. Penetapan pedoman untuk menentukan standar pelayanan minimal yang
wajib dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota di bidang lingkungan
hidup.
c. Penyusunan rencana nasional secara makro dibidang lingkungan hidup.
d. Pembinaan dan pengawasaan atas penyelenggaraan otonomi daerah yang
meliputi pemberian pedoman, bimbingan, arahan, supervisi di bidang
lingkungan hidup.
Dengan demikian kewenangan yang dimiliki memteri negara lingkungan hidup
memiliki luas ruang lingkup tugas koordinatif, sehingga diperlukan kerjasama
yang serasi dan terpadu antar departemen dan lembaga pemerintah non
departemen yang berkaitan dengan lingkungan hidup.
67
Pengelolaan lingkungan hidup perlu dilakukan secara dini agar
pembangunan yang semakin gencar dilaksanakan dapat memanfaatkan lingkungan
hidup, untuk itu perlu dilakukan penataan, pemeliharaan, pengawasan,
pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup. Tanpa adanya
pengelolaan lingkungan secara dini akan mudah terjadi konflik antara lingkungan
dan pembangunan, sehingga timbul kesan bahwa pengelolaan lingkungan bukan
pendukung pembangunan tapi penghambat pembangunan.
Demikian juga dengan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
perlu dilakukan secara dini agar tidak mudah terjadi konflik baik konflik yang
timbul antara pembangunan dan lingkungan ataupun konflik antar sektor dan
supaya tidak terjadi tumpang tindih peraturan hukum.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagai payung hukum yang mengatur mengenai
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dengan undang-undang
tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian dan perlindungan hukum serta
memperbaiki tingkat kemakmuran masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil
melalui pembentukan peraturan yang dapat menjamin akses dan hak-hak
masyarakat pesisir serta masyarakat yang berkepentingan lain, termasuk pihak
pengusaha. Sesuai dengan tujuan undang-undang tersebut. Merumuskan
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil ke dalam undang-undang
merupakan hal yang penting agar permasalahan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil dapat dikurangi dan teratasi dampak negatifnya.
68
Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan upaya
pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 1 angka 2 UndangUndang
Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan hidup,
menerangkan bahwa:
“Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam melestarikan
fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan, penataan,
pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan
pengendalian lingkungan hidup”
Yang kemudian digantikan dengan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, menerangkan bahwa:
“Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis
dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup
dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.”
Hakekat pengelolaan lingkungan bukan hanya mengatur lingkungannya,
tetapi termasuk mengatur dan mengendalikan berbagai kegiatan manusia agar
berlangsung dan berdampak dalam batas kemampuan dan
keterbatasan
lingkungan untuk mendukungnya,47 oleh karena itu manusia perlu secara rutin
mengelola lingkungan hidup, agar dapat memanfaatkan lingkungan secara
optimal.
Pengelolaan lingkungan perlu dilakukan secara dini agar pembangunan
yang semakin gencar dilaksanakan dapat memanfaatkan lingkungan hidup, untuk
itu diperlukan penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan dan
pengembangan lingkungan hidup. Tanpa adanya pengelolaan lingkungan secara
47
Valentinus Darsono, Op cit, halaman 41
69
dini akan mudah timbul konflik antara lingkungan dan pembangunan, sehingga
timbul kesan bahwa pengelolaan lingkungan bukan pendukung pembangunan tapi
penghambat pembangunan.48
Pengertian pesisir dan pulau-pulau kecil secara yuridis terdapat dalam
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
pulau-Pulau Kecil Pasal 1 Angka 2 dan 3:
“Wilayah Pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut
yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut.”
“Pulau Kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000
km2 (dua ribu kilometer persegi) beserta kesatuan Ekosistemnya.”
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan
batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air
yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut,
perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh vegetasinya yang khas,
sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar
daripada daerah paparan benua (continental shelf), dimana ciri-ciri perairan ini
masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan
aliran air tawar, maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat
seperti penggundulan hutan dan pencemaran.49
Berdasarkan batasan tersebut di atas, beberapa ekosistem wilayah pesisir
yang khas seperti estuaria, delta, laguna, terumbu karang (coral reef), padang
lamun (seagrass), hutan mangrove, hutan rawa, dan bukit pasir (sand dune)
48
49
Ibid, halaman 43
Bengen, D.G. Menuju Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Berbasis DAS. Seminar HUT LIPI,
Jakarta, 25-26 September 2002.
70
tercakup dalam wilayah ini. Luas suatu wilayah pesisir sangat tergantung pada
struktur geologi yang dicirikan oleh topografi dari wilayah yang membentuk tipetipe wilayah pesisir tersebut. Wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi
benua yang meluas (trailing edge) mempunyai konfigurasi yang landai dan luas.
Ke arah darat dari garis pantai terbentang ekosistem payau yang landai dan ke
arah laut terdapat paparan benua yang luas. Bagi wilayah pesisir yang
berhubungan dengan tepi benua patahan atau tubrukan (collision edge), dataran
pesisirnya sempit, curam dan berbukit-bukit, sementara jangkauan paparan
benuanya ke arah laut juga sempit.
Mendasarkan pada batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah
pesisir merupakan wilayah peralihan (interface) antara daratan dan laut, oleh
karena itu, wilayah pesisir merupakan ekosisitem khas yang kaya akan
sumberdaya alam baik sumber daya alam dapat pulih (renewable resources)
seperti ikan, terumbu karang, hutan mangrove, dan sumberdaya tak dapat pulih
(non-renewable resources) seperti minyak dan gas bumi, bahan tambang dan
mineral lainnya. Selain itu, wilayah pesisir juga memiliki potensi energi kelautan
yang cukup potensial seperti gelombang, pasang surut, angin, dan OTEC (Ocean
Thermal Energy Conversion), serta memiliki potensi jasa-jasa lingkungan
(environmental services) seperti media transportasi, keindahan alam untuk
kegiatan pariwisata, dan lain-lain
Pulau kecil dapat didefinisikan sebagai pulau dengan luas 10.000 km2
atau kurang dan mempunyai penduduk 500.000 atau kurang. Pulau kecil adalah
suatu wilayah dimana wilayah tersebut memiliki luas tidak lebih dari 2000 Km2
71
dan lebarnya tidak lebih dari 10 Km, sedangkan definisi untuk pulau sangat kecil
yaitu wilayah yang memiliki luas tidak lebih besar dari 100 Km2 dan lebar tidak
lebih dari 3 Km.50
Pulau kecil selain memiliki luas wilayah juga memiliki kekayaan sumber
daya alam pesisir. Pulau-pulau kecil umumnya memiliki satu atau lebih
ekosistem pesisir seperti terumbu karang, mangrove, padang lamun, pantai
berpasir, pantai berbatu, estuaria yang semuanya bersifat alamiah. Sumber daya
uang paling menonjol di pulau kecil adalah sumber daya ikan dan untuk kawasan
pulau kecil sumber daya ikan ketersediaanya cukup banyak karena hal ini
didukung oleh ekosistem yang beragam dan kompleks.
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 Tentang
Pengelolaan Wilayah pesisir Dan Pulau-Pulau kecil memberikan pengertian
mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil:
“Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antar sektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat”.
Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tersebut merupakan
wewenang pemerintah yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 27 tahun
2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil untuk
melakukan proses perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian
sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil.
50
T Falkland.. Water Resources Assessment, Development and Management for Small
Tropical Island. Didalam: Hehanusa PE dan Haryanti GS, editor. Water Resources Assessment in
Small Island and the Coastal Zone. Jakarta: 1995, LIPI-UNESCO.
72
Perencanaan diatur melalui pendekatan Pengelolaan Wilayah Pesisir
Terpadu (Integrated Coastal Management) yang mengintegrasikan berbagai
perencanaan yang disusun oleh sektor dan daerah sehingga terjadi keharmonisan
dan saling penguatan (alignment) pemanfaatannya. Pengelolaan wilayah pesisir
terpadu (PPT) merupakan pendekatan yang memberikan arah bagi pemanfaatan
sumber daya pesisir secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan antara
berbagai perencanaan pembangunan dari berbagai tingkat pemerintahan; antara
ekosistem darat dan laut serta antara sains dan manajemen. Perencanaan
pengelolaan wilayah pesisir dilakukan agar dapat mengharmonisasikan antara
kepentingan pembangunan ekonomi dan pelestarian sumber daya pesisir dengan
memperhatikan karateristik dan keunikan wilayah pesisirnya.
Perencanaan terpadu ini merupakan suatu upaya bertahap dan terprogram
untuk memanfaatan sumber daya pesisir secara optimal yang dapat menghasilkan
keuntungan ekonomis secara berkelanjutan untuk kemakmuran masyarakat
dengan mengendalikan dampak pembangunan sektoral yang mungkin timbul dan
mempertahankan kelestarian sumber dayanya. Perencanaan wilayah pesisir yang
harus diatur dibagi atas empat tahapan: (1). Rencana Strategis (Strategic Plan);
(2). Rencana Pemintakatan (Zoning); (3). Rencana Pengelolaan (Management
Plan); dan (4). Rencana Aksi (Action Plan).seperti yang dijelaskan pada Pasal 7
Undang-Undang nomor 27 tahun 2007 mengatur tentang perencanaan yaitu:
(1) Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5, terdiri atas:
a. Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RSWP-3- K;
b. Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RZWP-3- K;
73
c. Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RPWP-3-K; dan
d. Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
selanjutnya disebut RAPWP-3-K.
(2) Norma, standar, dan pedoman penyusunan perencanaan Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil diatur dengan Peraturan Menteri.
(3) Pemerintah Daerah wajib menyusun semua rencana sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sesuai dengan kewenangan masing-masing.
(4) Pemerintah Daerah menyusun rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil dengan melibatkan masyarakat berdasarkan norma, standar, dan
pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(5) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menyusun Rencana Zonasi rinci di setiap
Zona Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu dalam wilayahnya.
Dalam hal pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dalam
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil diberikan dalam bentuk hak pengusahaan perairan pesisir atau
bisa disebut HP-3 yaitu dalam Pasal 16 yang mengatur bahwa pemanfaatan
perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3.
Penyebutan HP-3 sebagai “Hak” tidak tepat. Lebih tepat digunakan istilah
“ijin” untuk memanfaatkan (dalam hal ini mengusahakan) perairan pesisir.Contoh:
Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, “hak” dalam
undang-undang yang lama (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967) telah
dikoreksi dengan penyebutan “Ijin”, misalnya Ijin Usaha Pemanfaatan Kawasan,
Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu, Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu, Ijin Pemungutan Hasil
Hutan Kayu, Ijin Pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu.
Sebagai ijin pemanfaatan atau pengusahaan perairan pesisir, HP-3
selayaknya tidak dilekati dengan sifat-sifat sebagai berikut: dapat dialihkan,
dihibahkan, ditukarkan, disertakan sebagai modal perusahaan, dijadikan obyek
74
Hak
Tanggungan
maupun
diwariskan.
Sebab,
jika
pemanfaatan
HP-3
menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis, HP-3 dapat dijadikan jaminan
utang dengan dibebani Fidusia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun
1999.
Hak pengusahaan perairan pesisir atau HP-3 seperti dijelaskan pada Pasal
16 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil memberikan kesempatan pada masyarakat dalam rangka
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yaitu dalam hal pemanfaatan,
namun peran serta masyarakat di sini lebih terbatas terhadap mereka yang
mempunyai kemampuan keuangan, sedangkan masyarakat yang tidak mempunyai
kemampuan keuangan tidak bisa berperan dalam pengelolaan pesisir dan pulaupulau kecil tersebut.
Mengenai fungsi peran serta masyarakat di bidang lingkungan hidup,
Koesnadi Hardjosoemantri mengemukakan:
Peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup mempunyai
jangkauan luas. Peran serta tersebut tidak hanya meliputi peranserta individu yang
terkena berbagai peraturan atau keputusan administratif, akan tetapi meliputi pula
peranserta kelompok dan organisasi dalam masyarakat. Peranserta efektif dapat
melampaui kemampuan orang-seorang, baik dari sudut kemampuan keuangan
maupun dari sudut kemampuan pengetahuannya, sehingga peranserta kelompok
dan organisasi sangat diperlukan, terutama yang bergerak di bidang lingkungan
hidup51.
Pasal 12 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang UUPPLH
menjelaskan mengenai pemanfaatan yaitu:
“Pemanfaatan sumberdaya alam
dilakukan berdasarkan RPPLH”. RPPLH sendiri adalah perencanaan perlindungan
51
Koesnadi Hardjasoemantri, aspek hokum peranserta masyarakat dalam
pengelolaan lingkungan hidup, universitas gajah mada,1985 hal 2
75
dan pengelolaan lingkungan hidup yang dilakukan melalui tahapan sebagai
berikut, inventarisasi lingkungan hidup, penetapan wilayah ekoregion, dan
penyusunan RPPLH, hal ini sesuan dengan ketentuan Pasal 5 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tenteng UUPPL.
Dalam
pemberian
hak
pengusahaan
perairan
pesisir
seharusnya
memperhatikan perencanaan perlindungan, dan pengelolaan lingkungan hidup
yaitu melakukan inventarisasi lingkungan hidup, penetapan ekoregion, dan
penyusunan RPPLH, karena dalam suatu wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
terdapat satu atau lebih system lingkungan (ekosistem) dan sumberdaya pesisir.
Ekosistem pesisir dapat bersifat alami atau buatan, dan sumberdaya pesisir terdiri
dari sumberdaya alam yang dapat pulih dan sumberdaya alam yang tidak dapat
pulih.52
Berdasarkan Pasal 12 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
Tentang UUPPLH menjelaskan bahwa:
“Dalam hal RPPLH sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum tersusun,
pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung
dan daya tampung lingkungan hidup dengan memperhatikan:”
a. keberlanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup;
b. keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup; dan
c. keselamatan, mutu hidup, dan kesejahteraan masyarakat.
Demikian juga dalam hal pemberian hak pengusahaan wilayah perairan
pesisir seperti yang diatur dalam Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 Tentang Pengelolan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau kecil harus
tetap memperhatikan hal-hal diatas Pasal 17 ayat (2) menjelaskan bahwa:
52
Rokmin dahuri, pengelolaan wilayah pesisir dan lautan terpadu,, pradnya
paramita hal 11
76
“Pemberian HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan
kepentingan kelestarian Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Masyarakat
Adat, dan kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi kapal asing.”
Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil secara terpadu adalah
suatu pendekatan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang
melibatkan dua eosistem atau lebih ekosistem, sumberdaya, dan kegiatan
pemanfaatan secara terpadu (integrated) guna mencapai pemanfaatan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Dalam konteks ini,
keterpaduan (integration) mengandung tiga dimensi, sektoral, bidang ilmu, dan
keterkaitan ekologis.
Menurut Rokhmin Dahuri definisi dan pengertian Pengelolaan wilayah
pesisir terpadu dengan menggunakan beberapa pemahaman:
a. “Proses Pengelolaan yang mempertimbangkan hubungan timbal balik
antara kegiatan pembangunan (manusia) yang terdapat diwilayah pesisir
dan lingkungan alam (ekosistem) yang secara potensial terkena dampak
kegiatan-kegiatan tersebut.
b. “adalah suatu proses penyusunan dan pengambilan keputusan secara
rasional tentang pemanfaatan wilayah pesisir beserta segenap sumberdaya
alam yang terkandung didalamnya secara berkelanjutan”.
c.
“Suatu proses kontinu dan dinamis dalam penyusunan dan pengambilan
keputusan tentang pemanfaatan berkelanjutan dari wilayah pesisir beserta
segenap sumberdaya alam yang terdapat didalamnya”.
77
d. “Suatu
proses
kontinu
dan
dinamis
yang
mempersatukan/
mengharmoniskan kepentingan antara berbagai stakeholders (pemerintah,
swasta, masyarakat lokal dan LSM); dan kepentingan ilmiah dengan
pengelolaan pembangunan dalam menyusun dan mengimplementasikan
suatu rencana terpadu untuk membangun (memanfaatkan) dan melindungi
ekosistem pesisir beserta segenap sumberdaya alam yang terdapat
didalamnya, bagi kemakmuran/kesejahteraan umat manusia secara adil
dan berkelanjutan.
Dalam pemberian hak pengusahaan perairan pesisir atau HP-3 diberikan
kepada: orang perseorangan warga Negara Indonesia, badan hukum yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia, dan masyarakat adat, sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
Tentang Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dalam pasal ini
mesyarakat diberikan peranserta dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil melalui HP-3.
Dalam pandangan ekologi politik, menempatkan masyarakat adat,
individu, dan sektor swasta untuk berkompetisi mendapatkan hak pengusahaan,
seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, adalah sebuah
kekeliruan mendasar negara dalam memahami dan menafsirkan kehendak
penghormatan dan pemenuhan hak adat. Belum lagi, jika terbukti objek yang
dikompetisikan dalam pemberian hak tersebut adalah ruang hidup dan
penghidupan masyarakat adat yang telah berlangsung dalam waktu yang panjang.
78
Dalam kondisi demikian, dapat-lah dipastikan, pemenuhan hak akses dan kontrol
masyarakat adat terhadap sumberdaya alam semakin sulit untuk terpenuhi.
Hak atas sumberdaya kelautan dan perikanan sebagai bagian dari hak
ekonomi, sosial dan budaya (Ekosob) masyarakat, membebankan kewajiban
kepada pemerintah untuk memastikan hak tersebut terpenuhi dengan cara
melakukan berbagai upaya sehingga secara bertahap (progressive realization
approach) hak-hak Ekosob terpenuhi, termasuk dengan melakukan affirmative
action. Sementara, ketentuan di Pasal 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007,
sama sekali tidak sesuai dengan prinsip affirmative action ini, oleh karena prinsip
yang seharusnya adalah equal treatment of equals and unequal treatment of
unequals in proportion to the inequality. Menempatkan masyarakat hukum adat
untuk berkompetisi dengan swasta, bila merujuk pada prinsip tersebut di atas,
dapat digolongkan sebagai pelanggaran HAM. Seharusnyalah masyarakat hukum
adat (yang notabene lebih lemah atau lebih rentan) diperlakukan berdasarkan
prinsip affirmative action.
Hak pengusahaan perairan pesisir diberikan dalam jangka waktu 20 tahun,
selanjutnya dapat diperpanjang kembali untuk yang pertama selama 20 tahun, dan
dapat diperpanjang kembali untuk yang kedua kalinya sesuai dengan peraturan
yang berlaku. Hal tersbut diatur dalam Pasal 19 Udang-Undang Nomor 27 tahun
2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Dengan
kondisi ini, sesungguhnya masyarakat adat tidak-lah berdaulat atas sumberdaya
alam dan relasi sosio-ekologisya. Namun justru, telah ditunggangi oleh otoritas
kekuasaan yang jauh lebih besar dari kemampuan masyarakat adat untuk
79
meninjaunya, dari sinilah etnosida kultural berawal. Di saat terjadinya tindakan
sistemik negara untuk menghilangkan integritas masyarakat adat dari nilai-nilai
kultural yang dijalankannya, tindakan yang berupaya mencerabut masyarakat adat
dari ruang hidup dan sumberdayanya, serta pemaksaan menggunakan cara-cara
hukum, administratif, dan cara-cara lainnya guna mengilfiltrasi kebudayaan, cara
hidup, dan model pengelolaan yang diyakini oleh suatu komunitas masyarakat
adat.
Dengan pemberian waktu yang begitu panjang kepada pemegang hak
pengasuhan perairan pesisir juga dapat mengakibatkan eksploitasi yang terusmenerus dan pemanfaatan sumberdaya yang berlebihan yang berdampak pada
rusaknya ekosistem yang ada. Dengan adanya kerusakan terhadap fungsi-fungsi
ekosistem, kerusakan struktur dasar ekosistem seperti itu merupakan gangguan
terhadap keberlangsungan dan kenyamanan hidup manusia53.
Selanjutnya Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau kecil mengatur bahwa, HP3 dapat beralih, dialihkan, dan dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak
tanggungan, mekanisme seperti ini mendorong terjadinya komersialisasi wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil, karena sertifikan HP-3 dapat diperjual-belikan dan
dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan, hal tersebut justru
semakin membuktikan bahwa undang-undang ini hanya berpihak pada pengusaha
saja.
53
Valentinus darsona, pengantar ilmu lingkungan, universitas atmajaya,
yogyakarta, hal 47
80
Jika obyek HP-3 dicermati, maka terdapat kerancuan atau tumpang-tindih
antara obyek HP-3 tersebut dengan obyek perijinan di bidang kehutanan,
pertambangan, dan pariwisata. Tumpang-tindih obyek tersebut di antaranya
adalah: (1) antara HP-3 dengan perijinan bidang kehutanan yaitu tentang
pemanfaatan hutan mangrove, fauna/flora yang terdapat di kawasan perairan
pantai, dan penggunaan jasa lingkungan di kawasan hutan mangrove tersebut; (2)
antara HP-3 dengan perijinan bidang pertambangan yaitu pemanfaatan pasir
sebagai sumberdaya di kawasan pantai dan mineral dalam laut; (3) antara HP-3
dengan perijinan bidang pariwisata yaitu pengembangan wisata pantai.
Di samping itu, karena luas cakupan obyek HP-3 terutama yang terkait
dengan pemanfaatan daratan (permukaan bumi yang disebut tanah) maupun tubuh
bumi, termasuk yang di bawah air, maka terjadi tumpang tindih dengan obyek
pengaturan di bidang pertanahan. Selama ini, dalam praktik telah diberikan hak
atas tanah sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) yang dapat berupa Hak Guna Bangunan
(HGB), di wilayah dermaga dan perairan pantai, rumah-rumah nelayan dan
pelatarannya, bangunan-bangunan di perairan pesisir; Hak Guna Usaha (HGU)
diberikan untuk budidaya perikanan pantai, keramba ikan, budidaya rumput laut,
budidaya mutiara.
Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil selain
perencanaan dan pemanfaatan juga harus dilakukan pengawasan dan pengendalian
dimana pengawasan dan pengendalian dilakukan melalui: Pemantauan dan
pengawasan
dilakukan
untuk
mengetahui
kenyataan
apakah
terdapat
81
penyimpangan pelaksanaan dari rencana strategis, rencana mintakat, rencana
pengelolaan, serta bagaimana implikasi penyimpangan tersebut terhadap
perubahan kualitas ekosistem pesisir pengawasan dilakukan oleh pejabat tertentu
yang berwenwng dibidang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Pengendalian dilakukan untuk mendorong agar pemanfaatan sumber daya di
wilayah pesisir yang sesuai dengan rencana pengelolaan wilayah pesisirnya.
Seperti yang dijelaskan dalam Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang nomor 27 tahun
2007 yaitu:
“Untuk menjamin terselenggaranya Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil secara terpadu dan berkelanjutan, dilakukan
pengawasan dan/atau pengendalian terhadap pelaksanaan ketentuan di
bidang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, oleh pejabat
tertentu yang berwewenang di bidang pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil sesuai dengan sifat pekerjaaannya dan diberikan
wewenang kepolisian khusus.”
Apabila terjadi sengketa dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil maka penyelesaian sengketa dilakukan melalui pengadilan atau di luar
pengadilan. Terhadap penyelesaian sengketa di luar pengadilan tidak berlaku
untuk tindak pidana pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dimana
dalam hal penyelesaiannya dapat mengunakan pihak ketiga untuk membantu
penyelesaian sengketa. Hasil kesepakatan penyelesaian harus dibuat secara tertulis
dan mengikat para pihak. Terhadap penyelesaian sengketa melalui pengadilan,
apabila sudah ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, pengadilan
membebankan kewajiban kepada setiap orang dan/atau penanggung jawab
kegiatan yang telah merusak WP3K untuk melakukan dan membayar biaya untuk
rehabilitasi dan pemulihan kondisi WP3K. Selain itu, hakim dapat menetapkan
82
sita jaminan dan uang paksa apabila keterlambatan pembayaran rehabilitasi dan
pemulihan kondisi WP3K.
Masyarakat atau organisasi kemasyarakatan (“Ormas”) dapat mengajukan
gugatan perwakilan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan. Ormas yang
dapat mengajukan gugatan apabila sudah memenuhi ketentuan organisasi
kemasyarkatan sesuai UU WP3K. Tuntutan oleh Ormas hanya sebatas tuntutan
untuk melakukan tindakan rehabilitasi dan pemulihan kondisi WP3K tanpa ada
tuntutan ganti rugi.
UU WP3K mengatur sanksi administratif berupa peringatan, pembekuan
sementara, denda administratif, dan/atau pencabutan HP-3 apabila telah
melanggar mengenai persyaratan HP-3. Pengelolaan WP3K yang tidak sesuai
dengan dokumen perencanaan, maka pemerintah dapat melakukan pembekuan
sementara bantuan melalui akreditasi dan/atau pencabutan tetap akreditasi
program. Selain sanksi administratif, UU WP3K mempunyai ketentuan pidana
berupa pidana penjara dan denda. Ancaman pidana penjara paling lambat 2 (dua)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp
2.000.0000.000,00 (dua miliar rupiah) dan paling banyak Rp 10.000.0000.000,00
(sepuluh miliar rupiah) bagi setiap orang perorangan dan/atau badan hukum
(“Orang”) yang dengan sengaja melakukan:
1. Kegiatan menambang terumbu karang, mengambil terumbu karang di
kawasan konservasi, menggunakan bahan peledak dan bahan beracun
dan/atau cara lain yang dapat merusak ekosistem terumbu karang.
83
2. Menggunakan cara dan metode yang merusak ekosistem mangrove,
konversi ekosistem mangrove, menebang pohon mangrove untuk kegiatan
perindustrian dan pemukiman dan/atau kegiatan lain yang dilarang dalam
UU WP3K.
3. Mengunakan cara dan metode yang merusak padang lamun.
4. Penambangan minyak dan gas yang dilarang dalam UU WP3K.
5. Penambangan mineral yang dilarang dalam UU WP3K.
6. Pembangunan fisik yang menimbulkan kerusakan dan/atau merugikan
masyarakat.
7. Tidak melaksanakan mitigasi bencana WP3K yang diakibatkan oleh alam
dan/atau Orang sehingga mengakibatkan bencana, atau dengan sengaja
melakukan kegiatan yang mengakibatkan kerentanan bencana.
Apabila kelalaian dari kegiatan tersebut sehingga mengakibatkan
kerusakan, dapat dikenakan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta), untuk setiap Orang yang karena kelalaiannya
tidak melaksanakan kewajiban rehabilitasi dan/atau reklamasi, dan melakukan
kegiatan usaha di wilayah pesisir tanpa hak dan/atau tidak melaksanakan
kewajiban dari persyaratan operasional, sesuai dengan ketentuan dalam UU
WP3K.
84
Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seharusnya dilakukan
dengan sungguh dan senantiasa untuk menjaga keberlangsungan ekosistem dan
sumberdaya yang ada dan semata-mata demi kesejahteraan masyarakat, bukan
untuk sekedar memakmurkan segelintir orang saja. Sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai dalam pembentukan Undang-Undang nomor 27 Tahun 2007
Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
85
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh simpulan, bahwa
perlindungan dan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diatur dalam
Pasal 16 s/d Pasal 20 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yaitu: : pemanfaatan
diberikan dalam bentuk HP-3 meliputi permukaan laut dan kolam air sampai
dengan permukaan dasar laut, HP-3 diberikan dalam luasan dan waktu tertentu,
wajib memperhatikan kelestarian ekosistem, masyarakat adat, kepentingan
nasional, serta hak lintas damai bagi kapal asing, HP-3 diberikan kepada orang
perorangan, badah hukum, dan masyarakat adat, diberikan untuk jangka waktu 20
tahun dan dapat diperpanjang sampai dua kali, HP-3 dapat beralih, dialihkan dan
dijadikan jaminan utang. Namun pemberian HP-3 menimbulan banyak
permasalahan dan cenderung lebih berpihak kepada pengusaha dan dikawatirkan
terjadi penyimpang dalam pelaksaannya sehingga berdampak pada kelestarian
ekosisitem yang ada dan berdampak pada pencabutan hak-hak masyarakat pesisir
dalam mengakses sumberdaya baik di permukaan laut, badan air maupun di
bawah dasar laut. Maka perlu adanya pengawasan dan pengendalian oleh
pemerintah.
86
B. Saran
1. Segera dibentuk peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Hak
Pengusahaan pesisir dan pulau-pulau kecil
2. Dalam hal pemberian izin HP-3 harus mempertimbangkan hak hidup yang sehat dan
kepentingan masyarakat pada umumnya, dan memperhatikan kelestarian pada
khususnya. Apabila terjadi penyimpangan dalam pelaksananny maka pemegang HP-3
harus dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang ada.
87
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Danusaputro, Moenadjat, 1994, Ekologi Lingkungan dan Pembangunan,
Djambatan, Jakarta.
Darsono, Valentinus, 1995, Pengantar Ilmu Lingkungan, Universitas Atma Jaya
Yogyakarta, Yogyakarta.
Hamzah, Andi, 1997, Penegakan Hukum Lingkungan, CV Sapta Artha Jaya,
Jakarta.
Hardjasoemantri, Koesnadi, 1997, Hukum Tata Lingkungan, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Kartono, Abdul Azis Nasihuddin, 2002, Diktat Kuliah Hukum Lingkungan,
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Manik, Karden E. S., 2003,. Pengelolaan Lingkungan Hidup, Djambatan, Jakarta.
Moestadji, 1994, Jurnal Hukum Lingkungan : Peranan Hukum dalam
Mewujudkan Konsep Pembangunan yang berkelanjutan, ICEL, Jakarta.
Pramono, Edy dkk, 2003, Pendidikan Kewarganegaraan, Universitas Jenderal
Soedirman, Purwokerto.
Rangkuti, Siti Sundari, 2005, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan
Nasional, Airlangga University Press, Surabaya.
Siahaan, N.H.T., 2004, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, Erlangga,
Jakarta.
Soejono, 1995, Hukum Lingkungan dan Peranannya dalam Pembangunan,
Rineka Cipta, Jakarta.
Soemartono, R. M. Gatot P. 1996, Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika,
Jakarta.
Soemarwoto, Otto, 1994 Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan,
Djembatan, Jakarta.
88
Soemarwoto, Otto, 2001 Atur-Diri-Sendiri Paradigma Baru Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Gajah Mada University Perss, Yogyakarta, cetakan
kadua
Soemitro, Ronny Hanitijo, 1983,
Indonesia, Jakarta.
Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia
Sunggono, Bambang, 2005, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Suparni, Niniek, 1994, Pelestarian Pengelolaan dan penegakan Hukum
Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta.
Usman, Rachmadi, 2000, Pembaharuan Hukum Lingkungan Nasional, Citra
Aditya Bakti, Bandung.
Artikel:
Kristianto, Erwin Dwi, Perdiksi HAM 2009-2010 Tahun dimana Konflik Pesisir
akan Membuncah, Semarang, LBH Semarang, 2009.
Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Kawasan Pesisir
Dan Pulau-Pulau Kecil
Download