Pembangunan Dan Stratifikasi Sosial

advertisement
PEMBANGUNAN DAN STRATIFIKASI SOSIAL
OLEH
ANDI WARISNO
(Dosen STAI An-Nur Lampung)
ABSTRACT
Developmentaccording tothe termis alsooftendefined as: "The
changes areplanned". The changesareplannedinthissocietyis
certainly
notalways
anaturalprocess,
but
also
deliberatelyplannedby
humansandsociety.
Asthese
changesmusttake placeinall areas, including: changesin
economic,
political,
education,
language,
arts,
entertainmentandso forth. Thedevelopmentmustadjustbetween
thingsrelating to thematerialand mental, materialis meant
hereisthe physicalform ofdevelopmentinthe country, whereasin
this
case
amentalattitude
andbehaviormanusiannyadevelopmentas
a
driver
ofdevelopmentis
notbalancedit
willlead
toconflictdisagreementbetween
the
twoso
thatthe
impact
willcausecongestionin community development.
Key Words: Pembangunan, Stratifikasi Sosial.
A. PENDAHULUAN
Setiap masyarakat pada dasarnya memiliki
sesuatu yang dihargai, sesuatu yang berharga inilah
sesungguhnya merupakan bibit yang dapat
menumbuhkan adanya system bertingkat-tingkat
dalam masyarakat. Biasanya barang-barang yang
dihargai tersebut berupa: Uang, benda-benda yang
memiliki sifat ekonomi, tanah, kekuasaan, ilmu
pengetahuan, kesalehan dalam beragama, jabatan
pekerjaan atau keturunan dari keluarga yang
terhormat.
Jika ada sekelompok kecil masyarakat yang
memiliki barang-barang berharga dalam jumlah
besar, maka masyarakat umumnya menganggap
mereka sebagai kelompok atau golongan yang ada
pada lapisan atas. Sebaliknya mereka yang memiliki
sedikit sekali atau hamper tidak memiliki sesuatu
yang berharga itu dianggap mempunyai kedudukan
yang rendah di mata masyarakat. Mereka yang
berada pada lapisan atas biasanya memiliki sifat
akumulatif yang berkenan dengan kedudukan yang
dimilikinya, artinya bahwa mereka yang memiliki
uang misalnya, dengan leluasa dapat member tanah
lalu mereka menjadi berkuasa dan selanjutnya
mereka menjadi dihormati oleh sekitarnya.
B. PEMBAHASAN
1. Perkembangan Pembangunan
Pembangunan, secara bahasa berasal dari kata
bangun yang kemudian diberi awalan ‘pen’ dan
akhiran ‘an’, yang memiliki arti: “Proses cara atau
perbuatan membangun. Agar tidak ketinggalan
dengan Negara lain”. 1 Dari istilah menurut bahasa
1 Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia
Kontemporer, Modern Eglish Press, Jakarta, 1991, hlm. 140.
ini terlihat jelas bahwa pembangunan dalam hal ini
identik dengan perkembangan suatu Negara yang
tentunya menuju kearah yang lebih baik.
Pembangunan menurut istilah juga kerap
diartikan sebagai: “Perubahan-perubahan yang
direncanakan.” 2
Perubahan-perubahan
yang
direncanakan dalam masyarakat ini tentulah bukan
suatu proses alam saja, akan tetapi sengaja
direncanakan oleh manusia dan masyarakat,
adapun perubahan-perubahan ini tentunya terjadi
dalam semua bidang, diantaranya: Perubahan
dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, bahasa,
kesenian, hiburan dan lain sebagainya.
Adapun arah dalam perubahan ini tentulah
menuju kearah yang lebih baik atau kearah yang
positif. Hal ini sesuai dengan pendapat Saul M.
Katz yang menyatakan bahwa pembangunan itu
adalah: “Major Society change from one state of
national being to another more valued state
(perubahan besaran-besaran satu bangsa dari satu
keadaan menuju keadaan yang lebih baik)”. 3
2. Manusia dan Pembangunan.
Pada dasarnya pembangunan tidak akan
berhasil hanya dengan modal dan konsep saja,
akan
tetapi
pembangunan
juga
harus
mengikutsertakan manusia di dalamnya, hal ini
dikarenakan
agar
manusia
itu
mampu
menyesuaikan pikiran dan tindakanya dengan
dunia yang terus berkembang, sehingga hal ini
diharapkan agar manusia itu mengetahui dengan
2Frans
Wiryanto Jomo, Membangun Masyarakat, Alumni,
Bandung, 1986, hlm. 11.
3Talizuhu
Ndraha, Membangun Masyarakat Menuju
Masyarakat Tinggal Landas, Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hlm. 15.
jelas apa saja hak-haknya, tanggung jawab dan
kewajibanya pada Negara. Hal ini dikarenakan
penyebab utama pembangunan adalah manusia
itu sendiri, seperti: “Pengetahuan manusia,
kebiasaan manusia, adat, cara fikir manusia, etika,
sikap manusia; seperti sikap kepada prestasi
terhadap ketepatan dan ketelitian, sikap terhadap
pekerjaan, dan lain sebagainya.” 4
Salah satu contoh yang dapat diambil adalah
Negara Jepang, dimana pada akhir perang dunia
ke II pada tahun 1945 negara ini hamper
mengalami kehancuran total, akan tetapi Negara
ini mampu membangun ekonominya kembali
dalam jangka waktu 10-20 tahun, hal ini
dikarenakan bahwa dunia industri, dunia
produksi yang modern, kemungkinan taraf hidup
yang maju hanya dapat berdiri diatas landasan
suatu masyarakat yang maju pula, yaitu
masyarakat yang berpendidikan, masyarakat yang
berani dan mampu mengubah sikap mental yang
diwariskan oleh nenek kita yang memiliki unsurunsur menghambat pembangun.
Dari uraian-uraian diatas, maka dapatlah
disimpulakan bahwa, pembangun itu harus
menyesuaikan antara hal-hal yang berhubungan
dengan material dan mental manusia, materiil
yang dimaksudkan disini adalah berupa
pembangunan dalam segi fisik Negara, sedangkan
mental dalam hal ini berupa pembangunan sikap
dan perilaku manusianya sebagai penggerak
dalam pembangunan itu sendiri, hal ini
dikarenakan bila antara moriil dan mental
pembangunan tidak seimbang maka akan
mengakibatkan
pertentangan-pertentangan
4Frans
Wiryanto Jomo, hlm. 15.
diantara keduanya sehingga imbasnya akan
menyebabkan kemacetan dalam pembangunan
masyarakat.
3. Pengertian Stratifikasi Sosial
Secara bahasa Stratifikasi Sosial berarti:
lapisan-lapisan atau tingkatan-tingkatan dalam
masyarakat berdasarkan hak-hak istimewa,
kekuasaan dan prestise. 5 Sedangkan menurut
istilah, Stratifikasi sosial merupakan suatu jenis
deferensiasi sosial yang terkait dengan pengertian
akan adanya jenjang secara bertingkat jenjang
secara beringkat tersebut menghasilkan strata
tertentu dan dalam serta tersebut warga-warga
masyarakat dimasukkan. Secara berkelompok
individu-individu tadi dimasukkan kedalam
suatu stratum tertentu, sehingga ada kedudukan
yang lebih tinggi dan lebih rendah. 6
Dengan demikian maka, Stratifikasi Sosial
adalah suatu lapisan-lapisan atau tingkatantingkatan yang ada ditengah masyarakat, lapisanlapisan tersebut pada akhirnya akan menentukan
kedudukan seseorang dalam masyarakat tadi,
apakah ia menduduki lapisan atau tingkatan atas,
atau ia menduduki lapisan atau tingkatan bawah.
Adapun
lapisan-lapisan
tersebut
terjadi
diakibatkan karena adanya ranking-ranking
dalam masyarakat yang kemudian ditentukan
atau diputuskan berdasarkan status atau perananperanan atau barang-barang berharga dan lain
sebagainya, yang kemudian dievaluasi dan
dibandingkan satu sama lainnya, dan kemudian
terjadilah lapisan-lapisan dalam masyarakat
5Peter
Salim Dan Yenny Salim, hlm. 1464.
Soekamto, Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur
Masyarakat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hlm. 243.
6Soerjono
tersebut yang disebutkan dengan Stratifikasi
Sosial.
4. Criteria Stratifikasi Sosial
Adapun kriteria-kriteria terjadinya strata
sosial secara umum dalam penentuan status
stratifikasi sosial, yaitu:
1. Kekayaan dalam bentuk yang diketahui oleh
masyarakat diukur dalam kuantitas atau
dinyatakan
secara
kualitatif.
Standar
kehidupan yang diperlihatkan, serta sumber
kekayaan, juga sosial bermakna untuk
menentukan status dalam sertifikasi yang ada.
2. Daya guna fungsional orang perorangan
dalam hal pekerjaan sebagai eksekutif, guru,
ilmuan, buruh biasa atau buruh yang trampil,
semua ini menentukan dan mempengaruhi
status.
3. Keturunan menunjuk pada reputasi keluarga,
lamanya berdiam disuatu tempat, latar
belakang rasial atau etnis dan kebangsaan.
4. Agama menunjukkan pada tingkat kesalahan
seseorang
dalam
menjalankan
ajaran
agamanya. Makin saleh dan tidak berpurapura dalam menjalankan ajaran agamanya,
makin dipadang lebih tinggi statusnya di
daerah tertentu.
5. Cirri-ciri biologis termasuk umur dan jenis
kelamin. Umumnya orang tua dan orang
dewasa dipandang lebih tinggi disbanding
bayi dan anak-anak. Dalam beberapa
masyarakat, pria dipandang mempunyai status
yang lebih tinggi dibandingkan wanita. 7
7Wila Huky, Pengantar Sosiologi, Usaha Nasional, Surabaya,
1982, hlm. 133-134.
Kriteria-kriteria tersebut diatas bukanlah bersifat
baku, akan tetapi masih banyak kriteria-kriteria yang
lainnya dalam masyarakat, hal ini dikarenakan dalam
setiap daerah dan desa memiliki kriteria-kriteria yang
berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula.
Stratifikasi sosial antara masyarakat kota dan
masyarakat desa tentulah berbeda, hal ini dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Pada masyarakat kota Aspek kehidupan pekerjaan,
ekonomi, atau sosial politik lebih benyak sistem
pelapisannya dibandingkan dengan didesa.
2. Pada masyarakat desa kesenjangan (gap) antara kelas
ekstern yang kaya dan miskin cukup besar, di daerah
perdesaan tingkatnya hanya kaya dan miskin saja.
3. Pada umumnya masyarakat pedesaan cenderung
berada pada kelas menengah menurut ukuran desa,
sebab orang kaya dan orang miskin sering bergeser
mencari pekerjaan dikota, kepindahan orang miskin
ini disebabkan tidak mempunyai tanah, mencari
pekerjaan dikota, atau ikut transmigrasi, apa yang
dibutuhkan dan diinginkan dari golongan miskin ini
sering desa tidak mampu mengatasinya.
4. Ketentuan kasta dan contoh-contoh prilaku yang
dibutuhkan sistem kasta tidak terlalu banyak
ditemukan, akan tetapi di Indonesia khususnya di
Bali ada ketentuan dalam kelas ini. Dalam kitab suci
orang-orang Bali, masyarakat terbagi ke dalam 4
kasta, yaitu: Brahmana, Satria, Vesia (Biasa disebut
dengan Triwangsa) dan Sudra (Biasa disebut Jaba)
yang hanya bagian terkecil dari seluruh masyarakat
Bali, baik di kota maupun di desa. Lapisan Triwangsa
berhak memakai gelar-gelar didepan namanya,
seperti:
Untuk Brahmana : ida bagus (bagi pria)
Untuk satria
Bagus
Untuk Vesia
Untuk Sudra
: Cokorda, Dewa, Ngakan Dan
: I Gusti dan Gusti. Sedangkan
: Pande, Kbon, Pasek, Pulasari,
Parteka, Sawan, dan lain- lain.
Gelar-gelar tersebut diwariskan secara patrilineal.
Mereka tinggal bersama di desa atau di kota dengan
cara-cara dan gaya hidup yang sama, bergaul erat
satu dengan yang lainnya. Dan pada dasarnya gelar
tiadak ada hubungannya dengan mata pencaharian. 8
Gambar sistem kelas diatas mungkin hanya
berlaku bagi desa-desa yang masih “asli” atau masih
tradisional, akan tetapi pada kenyataan sekarang ini
desa sudah banyak mengalami perubahan, terutama
di Jawa terlihat banyak bermunculan istilah-istilah
atau sebutan yang mulai kabur, seperti kaum atasan,
kaum terpelajar (intlektual), golongan menengah,
orang bertitel, orang kaya, kaum rendahan (wong
cilik), orang kampong, dan sebaginya, tetapi
walaupun demikian istilah-istilah atau sebutansebutan tersebut beraneka ragam akan tetapi tetap
memiliki makna tingkatan dalam fikiran masyarakat.
Strata dalam sistem ini bersifat terbuka dalam artian
siapa saja bisa merubah stratanyaa dalam
masyarakat, misalnya orang yang bekerja giat
kemudian memperoleh hasil yang tinggi, bias
berubah dalam statusnya dari bawahan atau
menengah menjadi strata atas dan sebagainya
(tergantung kepada usaha-usahany saja).
Sedangkan stratifikasi dalam kasta ini bersifat
tertutup dan absolut, dalam arti bahwa tidak ada
sesuatupun yang dapat menggantikan tingkatantingkatan yang sudah ditentukan dalam kasta
8Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial dasar, Eresco, Bandung,
1993, hlm. 77
tersebut dan dapat dikatakan bersifat statis atau
bergerak ditempat, umpamanya uang atau barangbarang yang berharga
lainnya tidak bisa
menentukan status seseorang dalam kastanya, hal ini
juga berlaku pada masyarakat lain yang masih
menggunakan sistem kasta ini pada umumnya.
Adapun salah satu contoh stratifikasi sosial
masyarakat berdasarkan kepemilikan tanah, yaitu:
1. Lapisan pertama adalah golongan elit desa, yaitu
pengusaha yang menguasai hamper keseluruhan
tanah didesa.
2. Lapisan kedua adalah ‘Kuli Kenceng’, yaitu
mereka yang mempunyai rumah sendiri,
pekarangan sendiri dan menguasai sebagai sawah
desa.
3. Lapisan ketiga ini adalah ‘kuli kedo’, yaitu mereka
yang mempunyai ruhah dan pekarangan sendiri
tetapi belum mempunyai bagian sawah.
4. Lapisan berikutnya adalah mereka yang memiliki
tanah pertanian, tetapi tidak memiliki rumah dan
pekarangan yang dengan istilah setempat disebut
‘gandul’.
5. Lapisan dibawahnya lagi adalah mereka yang
tidak mempunyai tanah pertanian, tidak
mempunyai pekarangan, tetapi mempunyai
rumah sendiri yang didirikan diatas pekarangan
orang lain, disebut ‘Margersari’, mereka yang
dalam strata ini iasanya bekerja sebagai buruh
tani.
6. Lapisan terbawah adalah mereka yang sama sekali
tidak mempunyai apapun kecuali tenaganya,
mereka hidup bersama majikannya, mereka dalam
strata ini biasanya disebut ‘Mondok-empok,
bujang, tlosor dan sebagainya. 9
9Munandar
Soelaeman, hlm. 78.
Bila kita melihat stratifikasi diatas, maka akan
terlihat pelapisan bertingkat yang membedakan
kedudukan seseorang yang berdasarkan kepada
kepemilikan tanah, dimana pada lapisan atas adalah
orang yang menguasai hampir keseluruhan tanah,
sedangkan lapisan kedua atau pertengahan adalah
orang-orang yang menguasai sebagai tanah, dan
lapisan ketiga dan dibawahnya yaitu orang-orang
yang tidak memili tanah, buruh dan yang tidak
memiliki tanah sama sekali. Pelapisan seperti ini
tentu saja, atau stratifikasi berdasarkan kepemilikan
tanah setiap daerah memiliki criteria dan istilahistilah yang berbeda. Dalam hal ini dapat kita amati
bahwa ini adalah salah satu contoh stratifikasi
berdasarkan kepemilikan tanah, mungkin akan lain
lagi bila berdasarkan kekayaan, pekerjaan, kesalehan
dalam beragam dan lain sebagainya.
5. Fungsi Stratifikasi Sosial Dalam Pembangunan.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat tentulah
akan memiliki fungsi yang signifikan, baik bersifat
positif maupun bersikap negatif. Oleh karena itu
disini penulis akan membahas fungsi stratifikasi
sosial dalam pembangunan.
Pada pembahasan awal terselip kalimat bahwa
stratifikasi sosial bila dibedakan akan menjadi dua
bagian, yaitu stratifikasi sosial yang bersifat terbuka
dan stratifikasi sosial yang bersifat tertutup (kasta).
Dalam sistim yang terbuka setiap anggota
masyarakat mempunyai kesempatan yang sama buat
berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk
lapisan, atau bila ia malas atau kurang beruntung ia
bisa turun dari lapisan atas kepada lapisan bawah.
Pada umumnya sistim yang terbuka ini member
perangsang lebih kepada setiap anggota masyarakat
untuk memperkembangkan kecakapannya, sehingga
dengan demikian sistim ini lebih sesuai untuk
dijadikan landasan dalam pembangunan. 10
Padab stratifikasi sosial akan terdapat prestise
yang diberikan kepada mereka, baik berupa
penghargaan yang bersifat ekonomis, seni, simbolsimbol, maupun penghargaan langsung dari
masyarakat, hal ini tentulah akan menjadi sebuah
rangsangan
kepada
mereka
yang
belum
mendapatkannya untuk giat berusaha atau
mengembangkan kecakapan yang dimilikinya agar
dapat memiliki kesempatan yang sama yaitu
mendapatkan prestise-prestise tersebut.
Hal senada pula diungkapkan oleh Davis
(1948), yang mengemukkan, bahwa: Stratifikasi sosial
atau tingkatan-tingkatan sosial dalam masyarakat
menghendaki kemahiran-kemahiran, ketrampilanketrampilan atau tanggung jawab yang berbeda-beda
dari orang yang mendudukinya. Kemahirankemahiran tertentu mungkin jarang dijumpai dan
latihan-latihan tersebut akan memakan waktu yang
lama dan uang yang banyak. Oleh karena itu
kedudukan sosial demikian mesti diberi ganjaranganjaran yang tinggi dan salah satu caranya adalah
dengan memberinya nilai yang tinggi; prestise yang
diberi dengan jalan ini timbul dari penilaian
umum. 11
Dalam pendapat ini dikemukakan bahwa
dalam suatu stratifikasi berdasarkan kegairahan
10Selo
Soemardjan Dan Soelaeman Soemardi, Setangkai Bunga
Sosiologi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta, 1964, hlm.
255.
11Duncam Mitchell, Sosiologi Suatu Analisa Sistem Sosial, Bina
Aksara, Jakarta, 1984, hlm. 167.
untuk berusaha dengan mengasah kemampuan,
ketrampilan dan kemahiran yang baik, dengan
latihan-latihan dan sebagainya pastinya akan diberi
ganjaran-ganjaran yang baik pula, yaitu dengan
mendapatkan prestise-prestise seperti yang tersebut
sebelumnya.
Bila sudah demikian maka, setiap manusia atau
individu dalam suatu masyarakat akan memiliki
semangat yang besar untuk berusaha memperoleh
hal-hal yang lebih baik lagi yang tentunya dengan
jalan yang baik pula. Sehingga dengan demikian
maka dapat dinyatakan dengan fungsi stratifikasi ini
akan ikut memajukan pembangunan suatu
masyarakat, karena bukanlah dalam pembahasan
‘pembangunan’ sebelumnya dinyatakan bahwa
pembangunan itu tidak akan berhasil hanya
berdasarkan modal dan konsep saja, akan tetapi juga
harus mengikutsertakan manusia didalamnya,
karena indicator keberhasilan atau penyebab utama
suatu pembangunan itu adalah manusia, manusia
sendirilah yang dapat membawa negaranya kearah
yang lebih baik atau kepada kemajuan Negara.
Sedangkan
dalam
sistim
kasta
tidak
memungkinkan pindahnya seseorang dari satu
lapisan ke lapisan yang lain atau lapisan yang lebih
atas atau mungkin juga kepada lapisan yang lebih
bawah, ia tidak tersentuk dengan kepemilikan yang
ia miliki baik kekayaan, tanah, kesalehan dan
sebagainya. Adapun jalan satu-satunya untuk masuk
menjadi anggota dari satu lapisan adalah karena
kelahiran.
6.
Disfungsi Strstifikasi Sosial.
Adapun beberapa akibat yang timbul dari Stratifikasi
Sosial antara lain:
1. Dalam masyarakat yang berstaratifikasi, status
dan peranan mengandung kewajiban, hak dan
harapan-harapan dari masyarakat terhadap orangorang yang memiliki status dan peranan dalam
strstifikasi sosial itu kurang memiliki kemampuan
dan kompetensi yang perlu untuk dapat berperan
secara efektif, sehingga tak mampu memenuhi
harapan masyarakat.
2. Peranan-peranan utama dalam masyarakat
kadang-kadang diabaikan dan orang-orang yang
potensial hanya memiliki status yang lebih kecil,
yang tidak berkaitan dengan peranan-peranan
yang
menjerumus
kepada
kepentingan
masyarakat. Dengan demikian, status dalam
startifikasi dapat mengakibatkan pengangguran
kapasitas atau kemampuan perorangan yang
sebenarnya dapat digunakan untuk kepentingan
masyarakat.
3. Hubungan antara stratum yang lebih tinggi
dengan stratum yang lebih rendah diwarnai oleh
prasangka, yang dapat merupakan bibit konflik
secara terus menerus. Pertemuan pendapat dan
dialog sulit dijalankan karena prasangka tersebut.
4. Konsentrasi kekuasaan dimiliki oleh orang-orang
pada stratum dapat disalah gunakan, misalnya
hak monopoli yang mendatangkan keuntungan
pribadi atau grup tertentu. Bahwa bisa saja
mengakibatkan anggota masyarakat dari stratum
yang lebih tinggi menindas atau memeras stratum
yang lebih rendah, baik langsung maupun tidak.
5. Anggota dari kelas yang lebih terendah dapat
mempunyai kemampuan potensial yang tinggi,
tetapi ia dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan
posisinya sehingga dapat mempengaruhi dan
mengganggu perkembangan pribadinya. Ini
disebabkan karena ia akan mengembangkan
persepsi tentang dirinya sendiri sebagai “nobody”
atau yang tidak masuk hitungan. Dengan
demikian dapat merintangi perkembangan
kepribadian secara normal para anggota kelas
yang lebih rendah, sehingga realisasi potensial
dalam dirinya tidak akan tercapai secara
maksimal. 12
C. KESIMPULAN
Dari uraian diatas mengenai pembanguna dan
Stratifikasi Sosial, maka dapat diambil suatu
simpulan sebagai berikut:
1. Pembangunan adalah suatu perubahan-perubahan
besar dalam masyarakat yang direncanakan oleh
individu dan masyarakat dalam bernegara, yang
bersal dari satu keadaan menuju kepada keadaan
yang lebih baik.
2 Pembangunan masyarakat dalam hal ini harus
melibatkan masyarakat didalamnya, hal ini
dikarenakan penyebab dari perubahan itu adalah
masyarakat.
3 Dalam pembangunanbukan hanya bermodalkan
materiil
saja
akan
tetapi
juga
harus
menseimbangan antara materiil dan mental
manusia,
sehingga
membangunan
dapat
dilaksanakan dengan lancer dan aman.
4 Stratifikasi sosial adalah tingkatan-tingkatan atau
lapisan-lapisan
dalam
masyarakat
yang
berdasarkan
kepada
kekayaan,
pekerjaan,
keturunan, kesalehan seseorang dalam beragama
dan sebagainya, kemudian dirankingkan dan
dibandingkat dengan yang lain, sehingga akan
12Wila
Huky, hlm. 131-132.
5
terciptalah kedudukannya atau tingkatannya
dalam masyarakat.
Stratifikasi sosial, selain memberikan kontribusi
uyung cukup besar dalam pembangunan, iapun
memiliki disfungsi atau kelemahan, yaitu
diantaranya: kurang berfungsinya yang memiliki
strata atas, penyimpangan tingkah laku,
kekuasaan akan terkonsentrasi pada starta
tertentu saja, dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Duncam Mitchell, Sosiologi Suatu Analisa Sistem Sosial,
Bina Aksara, Jakarta, 1984.
Frans Wiryanto Jomo, Membangun Masyarakat, Alumni,
Bandung, 1986.
Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia
Kontemporer, Modern Eglish Press, Jakarta, 1991.
Selo Soemardjan Dan Soelaeman Soemardi, Setangkai
Bunga Sosiologi, Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi UI, Jakarta, 1964.
Soerjono Soekamto, Beberapa Teori Sosiologi Tentang
Struktur Masyarakat, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1993.
Talizuhu Ndraha, Membangun Masyarakat Menuju
Masyarakat Tinggal Landas, Rineka Cipta, Jakarta,
1990.
Wila Huky, Pengantar Sosiologi, Usaha Nasional,
Surabaya, 1982.
Download