TRADISI MALAM TUJUH LIKUR - Repositori Tugas Akhir

advertisement
TRADISI MALAM TUJUH LIKUR ( 27 RAMADHAN )
DI KAMPUNG TANDA HULU DAIK LINGGA
NASKAH PUBLIKASI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Starata I
Pada Universitas Maritim Raja Ali Haji
Oleh :
FINA YURIANI
NIM : 100569201150
PROGRAM STUDI ILMU SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2016
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI……………………………………………………….. ……... ii
ABSTRAK…………………………………………………………………. iii
ABSTRACK………………………………………………………………... iv
TRADISI MALAM TUJUH LIKUR (27 RAMADHAN ) DI KAMPUNG
TANDA HULU DAIK LINGGA
Pendahuluan
A.
Latar belakang…………………………………………………...... 1
B.
Rumusan Masalah……………………………………………….... 5
C.
Tujuan dan Manfaat penelitian……….………………………….... 5
1. Tujuan……………………………………………………………… 5
2. Manfaat....…………………………………………………………. 5
D.
Konsep Operasional…………………………..……………………. 6
E.
Metode Penelitian………………………………….………………. 7
1. Jenis penelitian…………………………...………………………… 7
2. Lokasi penelitian…………………………………………...……....8
3. Jenis data…………………………………………………………… 8
4. Populasi dan sampel………………………………………………... 9
5. Teknik dan alat pengumpulan data………………………………... 9
6. Teknik analisa data………………………………………...………. 11
F.
Kerangka Teoritis……………………..………………………...... 12
G.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian……………………………..... 23
H.
Hasil Penelitian dan Pembahasan…………………………………. 24
I.
Penutup……………………...……………………………………... 31
Daftar Pustaka
ii
ABSTRAK
Malam Tujuh Likur merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat islam
di Daik Lingga khususnya masyarakat Desa Tanda Hulu yang dilakukan pada
bulan Ramadhan. Tradisi malam Tujuh Likur sebagai media komunikasi sosial
merupakan cara interaksi antar individu atau warga, dimana interkasi yang terjadi
berupa perekat hubungan sosial. Prilaku tradisi malam tujuh likur berfungsi untuk
mempetahankan solidariatas masyarakat. Permasalahannya yaitu mengapa malam
tujuh likur tetap radisi yang terus menciptakan solidaritas sosial di masyarakat
Tanda Hulu ? Tujuan penelitian untuk mengetahui alasan bahwa rutinitas acara
malam tujuh likur mampu menciptakan solidaritas sosial di masyarakat Tanda
Hulu. Permasalahan ynag terjadi dilihat dengan menggunakan teori
interaksionisme simbolik yang diungkapkan oleh Blumer.
Penelitian ini termasuk penelitian dengan pendekatan kualitatif. Pada
penelitian kualitatif menjelaskan tentang keadaan fakta fakta yang ada
dilapangan yaitu pembahasan tentang budaya yang ada di Daik Lingga.
Pengumpulan data data dilakukan dengan metode observasi adalah pengamatan
langsung dilokasi penelitian, observasi diklafikasikan menadi dua cara yaitu
berperan serta dan tidak berperan serta. Wawancara mendalam merupakan suatu
cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka
dengan informan, dan dukumentasi digunakan sebagai penunjang penelitian
penuls, dimana dalam dukumentasi ini dapat dilihat mengabadikan gambar
dilokasi penelitian.
Adapun hasil temuan menunjukkan bahwa tradisi malam tujuh likur yang
dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tanda Hulu merupakan sebuah media
komunikasi sosila yang mampu mempertahankan solidaritas sosial masyarakat
yang menjalankan tradisi tersebut. Solidaritas yang terbentuk dari kegiatan
membangun gerbang adalah tolong menolong dan gotong royong antar warga,
dalam bentuk prilaku individu dalm melaksanakan tindakan sosial. Tradisi malam
tujuh likur sebagai media komunikasi sosial meruupakan cara interaksi antar
individu atau warga dimana interaksi yang terjadi berupa perekat hubungan
soosial, sebagai media forum silaturrahmi meningkatkan kekeluargaan antar
warga dusun, sebagai media mengirimkan doa kepada Allah SWT dan sebagai
media berbagi rizki makanan.
Kata Kunci : Budaya Tujuh Likur
iii
ABSTRACT
Seven hours Likur is a tradition carried out by the Islamic community in Daik
Lingga village community especially Signs Hulu performed during Ramadan.
Seven nights Likur tradition as a means of social communication is a way of
interaction between individuals or citizens, wherein the adhesive interactions that
occur in the form of social relations. Behaviour tradition and night seven likur
solidariatas serves to defend society. The problem is why the night seven likur
remain a tradition that continues to create social solidarity in society Hulu Signs?
The aim of research to find out the reasons that routine evening shows seven likur
able to create social solidarity in society Hulu Signs. Problems occur ynag seen
using symbolic interactionism theory expressed by Blumer.
This research includes studies with a qualitative approach. In a qualitative
study describes the state of facts that exist in the field, namely discussion of
culture in Daik Lingga. The data collection of data is done by observation method
is direct observation of the location of research, observation diklafikasikan
menadi two ways to participate and do not participate. In-depth interview is a
way to collect data or information by means of direct face to face with the
informant, and used to support research and document penuls, which can be seen
in and document capture images of location research.
The findings indicate that the tradition and night seven likur performed by
villagers in Hulu Signs is a communication medium sosila capable of maintaining
social solidarity that runs the tradition. Solidarity formed of activity is helping to
build gates and mutual cooperation between citizens, in the form of individual
behavior preformance implement social actions. Tradition and night seven likur
as social communication media meruupakan way interaction between individuals
or citizens where the interaction that occurs in the form of adhesive soosial
relationship, as the media forum silaturrahmi increase familiarity among the
villagers, as the media send a prayer to God and as a medium for sharing rizki
food.
Keywords: Culture Seven Likur
iv
TRADISI MALAM TUJUH LIKUR (27 RAMADHAN ) DI KAMPUNG
TANDA HULU DAIK LINGGA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tradisi adalah objek kultural sistem makna atau ide yang diteruskan dari masa
lalu ke generasi berikutnya. Tradisi sebagai makna, dipertahankan oleh setiap
anggota masyarakat dan dikomunikasikan dari satu generasi kepada yang lain
dalam rantai makna yang meliputi kebiasaan-kebiasaan untuk melakukan sesuatu.
Tradisi ini dialami oleh setiap anggota masyarakat secara individual melalui
proses sosialisasi, sebagai sesuatu yang tetap bertahan, tidak pernah berubah,
dalam periode waktu tertentu.
Kebudayaan adalah suatu fenomena universal.Setiap masyarakat bangsa di
dunia memiliki kebudayaan, meskipun bentuk dan coraknya berbeda-beda dari
masyarakat yang satu ke masyarakat lainnya. Kebudayaan secara jelas
menampakkan kesamaan kodrat manusia dari berbagai suku,bangsa, dan ras.
Namun manusia dan kebudayaan pada dasarnya berhubungan secara dialektis.Ada
interaksi kreatif antara manusia dan kebudayaan.
Komunikasi sosial sebagaimana dijelaskan Astrid (dalam Bungin, 2011: 32)
merupakan salahsatu bentuk komunikasi yang lebih intensif, di mana komunikasi
terjadi secara langsung antara komunikator dan komunikan, sehingga situasi
komunikasi berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu
situasi integrasi sosial, melalui kegiatan ini terjadilah aktualisasi dari berbagai
masalah yang dibahas.
1
Salah satu tradisi masyarakat Kabupaten Lingga yang dilaksanakan pada
setiap malam 27 Ramadhan adalah Malam Tujuh Likur.Tradisi malam tujuh likur
adalah tradisi yang dilakukan oleh warga secara rutin setahun sekali dalam bulan
Ramadhan yaitu tepatnya pada tanggal 27 Ramadhan. Malam 27 Ramadhan
dianggap masyarakat Daik Lingga sebagai malam yang suci, masyarakat Daik
memasang pelita di sekeliling rumah mereka, pelita tersebut dipasang di tiap tiap
jendela yang menggelilingi rumah, dipasang berderet mengikuti panjang jalan,
serta dipasang ditiap tiap gerbang yang dibuat menyerupai masjid.Masyarakat
mempercayai bahwa malam Tujuh Likur ini malam turunnya Lailatul Qadar. Jadi
setiap rumah harus terang benderang, supaya Lailatul Qadar bisa masuk kedalam
rumah jika rumah kita terang., kegiatan malam tujuh likur dilaksanakan dengan
memasang pelita atau lebih dikenal dengan lampu colok.
Pelita (lampu colok) adalah salah satu alat penerangan yang dipakai nenek
moyang dahulu pada saat listrik belum dikenal, lampu ini menggunakan bahan
bakar minyak tanah yang dibuat sedemikan rupa.sedangkan tradisi yang biasa
dilakukan oleh pemuda - pemuda setempat ialah membuat beberapa pintu gerbang
sebagai kerangka untuk menyusun lampu- lampu tersebut. Susunan tersebut
membentuk berbagai macam formasi seperti memanjang, melingkar dan
membentuk pola masjid yang dibuat dalam bentuk gerbang.pemasangan lampu
colok biasanya dimulai pada 21 hari bulan ramadhan yang disebut malam Satu
Likur hingga pada malam 27 Ramadhan atau sering disebut dengan Tujuh Likur.
Malam Tujuh Likur di Daik dimeriahkan dan dirayakan dengan bermacammacam kegiatan seperti membuat makanan lalu diantarkan di mesjid untuk
2
dibacakan doa. Setelah itu mereka beramai-ramai datang bersilaturahmi dari
gerbang ke gerbang yang lain. Selain membuat makanan untuk diantarkan di
Mesjid, warga juga membuat makanan untuk diletakkan di masing-masing
gerbang. Karena disetiap gerbang juga ada acara doa selamat digerbang tersebut
pada malam Tujuh Likur.
Setiap masyarakat yang datang berkunjung untuk melihat gerbang bisa
mencicipi makanan yang sudah disediakan.Makanan ini di buat disetiap gerbang
guna untuk mempererat silaturahmi, bersyukur dan berbagi rezeki diantara
masyarakat.Setiap orang yang datang untuk melihat gerbang-gerbang disetiap
kampung, selalu disambut dengan baik oleh penjaga gerbang. Membuat makanan
untuk diantarkan di gerbang tersebut awal mulanya tahun 90-an berkembanglah
hingga sekarang.
Setiap manusia senantiasa saling berinteraksiantar individu dengan individu
lainnya dalammasyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosialnya.
digunakan
dalam
berinteraksi
sosialdalam
masyarakat
Media yang
dikenal
sebagai
mediakomunikasi sosial.Konsep media sebagai komunikasisosial dalam penelitian
ini lebih mengacu pada fungsisosial daripada bentuk fisik media itu sendiri.
Media komunikasi sosial yaitu di dalam masyarakat diperlukan hubungan atau
relasi.Untuk itu masyarakat memerlukan landasan material untukmelakukan
kegiatan dengan menggunakan alat transformasi, serta landasan spiritual, untuk
mengadakan komunikasi dengan menggunakan bahasa dan isyarat. Transformasi
dan informasi, merupakan mekanisme yang memungkinkan komunikasi dan relasi
berlangsung lancar.
3
Media komunikasi sosial tradisional merupakan saluran komunikasi yang
secara asli (indegenuous media) telahada dan digunakan dalam kehidupan sosial
masyarakat.Kedua, bahwa titik berat media komunikasi pada kemampuan dan
fungsinya sebagaihiburan, informasi bukan pada bentuk fisik darimedia tersebut.
Dengan kata lain, sebelum media massa hadir ditengah masyarakat sebagai
pranata sosial yangberfungsi informatif, bukan berarti masyarakat tidakmemiliki
saluran komunikasi dalam kehidupansosial. Pada masa itu fungsi-fungsi
informatif masihnumpang pada pranata-pranata sosial lain yangmemungkinkan
adanya interaksi satu sama lainsemisal, pasar, tempat ritual bahkan komunitas.
Di dalam Tujuh Likur terdapat unsur unsur Komunikasi sosial, komunikasi
sosial
yang
terjadi
berupa
segala
bentuk
dari
interaksi
interaksi
masyarakat.Sehingga Tujuh Likur merupakan sebuah tradisi yang selalu
menggunakan komunikasi sosial, komunikasi tersebut yang melahirkan segala
kedekatan masyarakat sehingga mampu menimbulkan sebuah solidaritas sosial
apabila nantinya pada acara Tujuh Likur dilakukan dengan dasar kesadaran dari
individu itu sendiri.
Pada akhirnya menumbuhkan kembali solidaritas sosial. Karena solidaritas
sosial adalah kekuatan persatuan internal dari suatu kelompok danmerupakan
suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok didasarkan pada perasaan
moral dan kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat pengalaman
emosional bersama.Upaya memelihara solidaritas sosial tidaklahsemudah yang
dibayangkan, karena solidaritas sosialakan terus berkembang menuju kehidupan
sosialyang modern.Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan
4
penelitian tentang masalah tersebut dengan mengambil judul :TRADISI MALAM
TUJUH LIKUR( 27 RAMADHAN ) di Kampung Tanda Hulu Daik Lingga.
B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan masalah-masalah yang telah diuraikan di atas maka rumusan
masalah yang akan diteliti yaitu mengapa malam Tujuh Likur tetap menjadi tradisi
yang terus menciptakan solidaritas sosialdi masyarakat Tanda Hulu ?
C. TUJUAN DAN KEGUNAAN
1. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan bahwa rutunitas acara
malam Tujuh Likur yang masih dilaksanakan oleh masyarakat sebagai media
interaksi dan komunikasi sosial mampu menciptakan solidaritas sosialdi
masyarakat Tanda Hulu.
2. Kegunaan
Adapun manfaat yang diharapakan sehubungan dengan penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Kegunaan teoritis
Secara
teoritis
hasil
penelitian
ini
diharapkan
dapat
menambah
pengembangan ilmu bagi mahasiswa khususnya bagi mahasiswa sosiologi
serta acuan informasi dalam penelitian berikutnya dan juga menjadi
referensi pustaka bagi pemenuhan kebutuhan penelitian lanjutan.
2. Kegunaan praktis
5
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pemikiran serta dapat membantu sebagai bahan pengetahuan tentang tradisi
pada malam Tujuh Likur.
D. KONSEP OPERASIONAL
Dalam sebuah penelitian, konsep operasional sangat diperlukan, fungsinya
agar mempermudah, memfokoskan penelitian serta sebagai panduan bagi peneliti
untuk menindaklanjuti kasus tersebut dan menghindari kekacauan akibat
kesalahan penafsiran dalam penelitian.Beberapa konsep yang dioperasionalkan
adalah :
1. Simbol simbol yang ada pada malam Tuuh likur yaitu sebagai berikut:
a. Pelita yang dimaksud yaitu lampu yang di buat dengan menggunakan
kaleng/ botol bekas dengan memakai sumbu dari kain bekas dan bahan
bakar menggunakan minyak tanah, Pemasangan pelita di pasang secara
berurutan mulai 1 biji ( 21 ramadhan) yang dimaksud yaitu mulai dari
malam 21 ramadhan masyarakat secara perlahan lahan akan mengalami
kejayaan yang puncaknya akan dirasakan pada malam 27 ramadhan yaitu
malam 7 likur.
b. Membangun gerbang yang dimaksud yaitu membuat sebuah bangunan
yang berbentuk masjid yang di hias secantik mungkin menggunakan
kertas warna warni, yang pada malam harinya akan diterangi dengan
pelita.
c. Berdoa dan makan bersama sama di bawah gerbang yang dimaksud yaitu,
pada malam tujuh likur masyarakat diundang makan bersama sama yang
6
dilakukan dibawah gerbang dibuka dengan pembacaan doa.Tetanga yang
satu mendatangi rumah tetangga yang lain untuk mencicipi makanan yang
dimaksud yaitu bagi masyarakat yang tidak bisa mengahadiri makan
bersama sama di bawah gerbang bisa mendatangi rumah para tetangga
untuk mencicipi makanan yang dibuat pada malam tersebut.
d. Tradisi yang dimaksud adalah sebuah rutinitas malam Tujuh Likur yang
diperingati setiap malam 27 Ramadhan yang dilakukan oleh masyarakat
Desa Tanda Hulu yang berasal dari budaya nenek moyang terdahulu.
e. Malam Tujuh Likur (27 Ramadhan) merupakan malam yang diyakini
oleh masyarakat desa Tanda Hulu sebagai malam yang sakral yang
dimeriahkan dengan tradisi membuat gerbang, memasang lampu pelita
disetiap gerbang, makan makan d bawah gerbang, membaca doa selamat,
serta bersilahturarahmi ke rumah tetangga.
2. Makna merupakan suatu hal yang terdapat pada malam tujuh likur yang
dianggap oleh masyarakatt desa Tanda Hulu mengandung arti tersendiri
sehingga makna pada symbol symbol yang dipercayai oleh masyarakat desa
Tanda Hulu terhadap acara malam Tujuh Likur menciptakan komunikasi
sosial dan memperkuat solidaritas masyarakat.
E. METODE PENELITIAN
1. Jenis penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah jenis penelitian deskriptif
kualitatif. Dalam penelitian kualitatif seringkali berupa kata kata dan
tindakan tindakan tindakan orang dan karena itu memerlukan metode yang
7
memungkinkan peneliti untuk menagkap bahasa dan prilaku (Ahmadi, 2005:
6).
2. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lingga Kecamatan Lingga
Kelurahan Daik Kampung Tanda Hulu RW 3.Alasan peneliti mengambil
lokasi ini karena di Kelurahan Daik RW 3 kampung Tanda Hulu ini
tradisinya sangat unik.Masyarakat Kelurahan Daik RW 3 Kampung Tanda
Hulu juga membuat gerbang di setiap perbatasan kampung untuk merayakan
tradisi malam Tujuh Likur tersebut. Yang lebih uniknya lagi pada malam
Tujuh Likur ini masyarakat RW 3 ini juga membuat makanan di setiap
gerbang, selesai sholat masyarakat berdatangan untuk makan bersama sama
dibawah gerbang tersebut, warga juga berkunjung di setiap rumah tetangga
untuk bemaaf maafan, adanya baca doa selamat di bawah gerbang, dengan
adanya hal hal unik yang terjadi pada acara malam Tujuh Likur tersebut
membuat lokasi ini dipilih peneliti sebagai lokasi penelitian.
3. Jenis data
Sumber data atau informasi yang dibutuhkan untuk menjawab
permasalahan penelitian ini, dibedakan menurut dua jenis data yaitu:
a. Data Primer, yaitu
sumber data yang diperoleh langsung dari
informan melalui wawancara dan observasi.
b. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan penggunaan bantuan
layanan internet, media massa, dan buku.
8
4. Populasi dan sampel
Sesuai dengan jenis penelitian bahwa penelitian kualitatif tidak
menggunakan pendekatan populasi, tetapi masih mengenal istilah sampel.
Sampel dalam penelitian yang kualitatif lebih kepada pendekatan secara
intensif ke informan yang akan dijadikan sebagai sumber data dalam
penelitian ini. Dalam penelitian ini informan merupakan subjek yang
menjadi sumber peneliti dalam mendapatkan informasi sebagai data yang
diperlukan sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan peneliti.Penentuan
informan dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu dipilih
dengan pertimbangan dan tujuan tertentu (Sugiyono, 2009:216). Informan
dalam penelitian ini yaitu 10 orang masyarakat Tanda Hulu dengan kriteria
sebagai berikut:
1. Masyarakat yang setiap tahunnya selalu mengikuti dalam acara
tersebut.
2. Dari tokoh adat karena di anggap lebih mengetahui tentang kebudayaan
malam Tujuh Likur
3. Dari tokoh agama karena tradisi tersebut bersumber dari ajaran agama
5. Teknik dan alat pengumpulan data
Data dalam penelitian kualitatif hampir dipastikan berbentuk kata-kata,
meskipun data mentahnya bisa berbentuk benda-benda, foto, figur manusia
(Irawan, 2006:67).Pengumpulan data adalah segala kegiatan yang dilakukan
dalam usaha mengumpulkan data-data atau informasi yang menunjang
penelitian diantaranya pengetahuan mengenai permasalahan dan data yang
9
berhubungan dengan latar belakang informan terhadap penelitian.Adapun
teknik dan alat pengumpul data yaitu berupa wawancara mendalam,
observasi dan dokumentasi.
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung di lokasi penelitian, observasi
diklasifikasikan menjadi dua cara yaitu cara berperan serta dan tidak
berperan serta.Dalam penelitian
ini yang
diamati tentunya adalah
masyarakat pada malam tujuh likur serta interaksi antar sesama
masyarakat pada malam tujuh likur tersebut. Selain itu, yang menjadi
pengamatan peneliti adalah mengapa tradisi malam tujuh likur masih
bertahan sampai sekarang.
b. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam merupakan suatu cara mengumpulkan data atau
informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan
maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti.
Wawancara mendalam dilakukan secara langsung dan berulangulang.Wawancara
langsung
dan
mendalam
dengan
menggunakan
instrument penelitian berupa interview guide.Interview guide berisikan
daftar pertanyaan yang sifatnya terbuka yang digunakan untuk menjadikan
wawancara yang dilakukan agar lebih terarah bertujuan menggali
informasi yang akurat dari informan.
10
c. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan sebagai penunjang penelitian penulis, dimana
dalam dokumentasi ini dapat melihat, mengabadikan gambar dilokasi
penelitian.Selain itu dokumentasi juga digunakan untuk mengumpulkan
data-data yang berbentuk catatan berupa hasil-hasil wawancara, serta
dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penelitian.
6. Teknik analisa data
Bugdan dan Biklen (Moleong, 2006 : 248) mengenai analisis data kualitatif
mengungkapkan sebagai berikut : “Analisis data kualitatif adalah upaya yang
dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya menjadi satuan yang dapat di kelola,mencari dan menemukan pola,
menemukan apa yang penting dan apa yang di pelajari, dan memutuskan apa yang
dapat di ceritakan kepada orang lain.
a. Mengorganisasikan data
Yang dimaksud adalah data data yang diperoleh dari hasil observasi,
wawancara , dan dukumentasi yang dicatat dalam cacatan lapangan yang
berisi tentang apa yang dilihat, didengar, disaksikan dan juga temuan
tentang apa saja yang dijumpai selama penelitian.
b. Memilah milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola
Suatu proses dimana peneliti melakukan pemilihan dan penyerderhanaan
data hasil penelitian. Proses ini juga dinamakan proses transformasi data,
yaitu perubahan data yang dari awal bersifat kasar menjadi data bersifat
11
halus dan siap pakai setelah dilakukan penyeleksian dengan membuang
data yang tidak diperlukan.
c. Mensintesikan sekumpulan informasi
Diskripsi dalam bentuk narasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian
dapat dilakukan. Sajian ini merupakan rangkaian kalimat yang disusun
secara logis dan sistematis, sehingga bila dibaca akan mudah dipahami.
d. Memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain
Tahap ini disebut dengan penarikan kesimpulan menyangkut interprestasi
peneliti, yaitu penggambaran makna dari data yang ditampilkan.Penarikan
kesimpulan merupakan usaha untuk mencari atau memahami data yang
diperoleh.
F. KERANGKA TEORITIS
1. TEORI INTERAKSIONISME SIMBOLIK
Untuk mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang
dikenal dengan nama interaksionist prespektive. Di antara berbagai pendekatan
yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang
dikenal dengan nama interaksionosme simbolik (symbolic interactionism).
Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata
interaksionisme sudah nampak bahwa sasaran pendekatan ini ialah interaksi
sosial; kata simbolik mengacu pada penggunaan symbol simbol dalam
interaksi(kamanto, 2004 : 35)
Pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga; yang pertama ialah bahwa
manusia bertindak (act) terhadap sesuatu (thing) atas dasar makna yang dipunyai
12
sesuatu baginya. Dengandemikian tindakan (act) seorang penganut agama Hindu
di India terhadap seekor sapi (thing) akan berbeda dengan tindakan seorang
penganut agama islam di Pakistan, karena bagi masing-masing orang tersebut sapi
tersebut mempunyai makna (meaning) yang berbeda .(kumanto, 2004 : 36)
Bagi Blumer (Wardi Bachtiar 2006: 249) interaksionisme sombolis bertumpu
pada tiga premis yaitu:
4. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna makna yang
ada pada sesuatu itu bagi mereka.
5. Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain
6. Makna tersebut disempurnakan di saat proses proses interaksi sosial
berlangsung.
Inteaksionnisme simbolis yang diketengahkan Blumer mengandung sejumlah
root images atau ide ide dasar, yang dapat diringkas sebagai berikut :
1. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling
bersesuaian melalui tindakan bersama, membentuk apa yang dikenal sebagaia
organisasi atau struktur sosial
2. Interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan
kegiatan manusia lain. Interaksi interaksi non simbolis mencakup stimulus –
respon yang sederhana, seperti hanya untuk membersihkan tenggorokan
seseorang. Interaksi simbolis mencakup penafsiran tindakan. Bila dalam
pembicaraan seseorang pura pura batuk ketika tidak setuju dengana pokok
pokok yang diajukan oleh si pembicara, batuk tersebut menjadi suatu symbol
13
yang berarti, yang dipakai untuk penolakan. Bahasa tentu saja merupakan
symbol berarti paling umum.
3. Objek objek tidak mempunyai makna interinsik makna lebih merupakan
produk interaksi simbolis. Objek objek dapat diklasifikasikan ke dalam tiga
katagori yang luas yaitu :
a. Objek fisik seperti meja, tanaman atau mobil
b. Objek sosial seperti ibu guru, menteri atau teman.
c. Objek obstrak seperti nilai nilai, hak hak, peraturan.
Blumer
membatasi
objek
sebagai
segala
sesuatu
yang
berlainan
dengannya.Dunia objek diciptakan, disetujui, ditransformir dan dikesampingkan,
lewat interaksi simbolis.Ilustrasi peranan makna yang diterapkan kepada objek
fisik dapat dilihat dalam perlakuan yang berbeda terhadap sapi di Amerika dapat
diartikan makanan, sedang diindia sapi dianggap sakral.Bila dilihat dari perspektif
lintas cultural, objek objek fisik yang maknanya kita ambil begitu saja bisa
dianggap terbentuk secara sosial.
4. Manusia tidak hanya mengenal objek ekternal, mereka dapat melihat dirinya
sebagai objek. Jadi seorang pemuda dapat melihat dirinya sebagai
mahasiswa, suami dan seorang yang baru saja menjadi ayah. Pandangan
terhadap diri sendiri ini sebagaimana dengan semua objek lahir di saat proses
interaksi sosial.
5. Tindakan manusia adalah tindakan interpretative yang dibuat oleh manusia
sendiri.
14
6. Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota anggota
kelompok, hal ini disebut sebagai tindakan bersama yang dibatasi sebagai
organisasi sosial dan prilaku tindakan tindakan berbagai manusia ( Wardi
Bactiar, 2006: 250).
a. Interaksi Sosial
Disamping manusia disebut sebagai mahkluk sosial, manusia juga sering
disebut sebagai mahluk individu yang mempunyai keinginan untuk memperbaiki
dirinya sendiri sendiri, sedangkan dalam kategori mahluk sosial, manusia selalu
berkeinginan untuk melakukan interaksi dan hubungan dengan orang lain karena
akan timbul dalam diri manusia itu sendiri rasa untuk mencari orang lain untuk
berinteraksi.Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal balik dan
mempunyai pengaruh terhadap perilaku dan pihak-pihak yang bersangkutan
melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar, ataupun melalui surat
kabar (Fahroni 2009: 11).
Penelitian sosial yang menggunakan metode interaksionisme simbolik adalah
penelitian yang dilakukan dengan tingkat kepedulian yang tinggi atas setiap gerak
interaksi sosial yang terjadi di tingkat mikro. Interaksionisme simbolik memiliki
substansi yaitu kehidupan masyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan
komunikasi antarindividual maupun antar kelompok dengan menggunakan simbol
simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar dan memberikan
tanggapan terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya dan dari luar dirinya
(Agus Salim, 2008 :18& 22).
15
Manusia hanya memiliki kapasitas umum untuk berpikir, kapasitas ini harus
dibentuk dan diperhalus dalam proses interaksi sosial. Pandangan ini
menyebabkan teoritisi interaksionalisme simbolik memusatkan perhatian pada
bentuk bentuk interaksi sosial yakni sosialisasi.Kemanpuan manusia untuk
berpikir dikembangkan sejak dini dalam sosialisasi anak anak dan diperhalus
selama sosialisasi di masa dewasa. Teoritisi interaksionalisme simbolik
mempunyai pandangan mengenai proses sosialisasi yang berbeda dari pandangan
sebagian besar sosiolog lain (Ritzer, 2004 :290)
Makna dari simbol simbol memberi karakteristik yang khas pada tindakan
sosial(yang meliputi suatu akktor tunggal) dan interaksi sosial (yang meliputi dua
atau lebih actor yang terlibat di dalam tindakan sosial bersama) manusia.Tindakan
sosial adalah ketika individu bertindak bersama orang lain yang dipikirkan.
Dengan kata lain di dalam melaksanakan suatu tindakan, orang berusaha
mengukur sekaligus dampaknya pada actor actor lain yang terlibat. Meskipun
sering terlibat di dalam prilaku kebiasaan yang tidak berpikir panjang, orang
mempunyai kemampuan untuk terlibat didalam tindakan sosial.(Ritzer, 2012 :
631)
Di dalam proses interaksi sosial, orang mengomunikasikan secara simbolis
makna makna kepada kepada orang orang yang terlibat. Orang orang lain
menafsirkan symbol symbol itu mengorentasikan tindakan mereka, merespons
berdasarkan penafsiran mereka. Dengan kata lain, didalam interaksi sosial para
actor terlibat didalam suatu proses saling mempengaruhi. Christoper 2001 (dalam
16
Ritzer, 2012: 632) mengacu kepada interaksi sosial yang dinamis itu sebagai suatu
tarian yang melibatkan para partner tersebut.
Interaksi sosial sebagai berikut: “interaksi sosial merupakan hubunganhubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan orang perorang antara
kelompok manusia.Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau
intersimulasi dan respon antar individu antar kelompok atau antar individu dan
kelompok (Syarifuddin, 2011: 87).Suatu interaksi merupakan hubungan timbal
balik antara seseorang dengan kelompoknya dalam suatu masyarakat.
Suatu interaksi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
bermasyarakat karena tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan kita seharihari sangat membutuhkan bantuan dan pentunjuk dari orang lain, sehingga sangat
penting untuk melakukan suatu interkasi dengan kelompok yang ada dalam
masyarakat tersebut.Dalam suatu masyarakat diperlukan suatu interaksi karena
tanpa interaksi tersebut kita akan dijauhi oleh orang lain karena dianggap tidak
dapat beradaptasi dan berkomunikasi dalam menyampaikan sesuatu.
b. Komunikasi
Komunikasi sosial sebagaimana dijelaskan Astrid (dalam Bungin )merupakan
salah satu bentuk komunikasi yang lebih intensif, di mana komunikasi terjadi
secara langsung antara komunikator dan komunikan, sehingga situasi komunikasi
berlangsung dua arah dan lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi
integrasi sosial, melalui kegiatan ini terjadilah aktualisasi dari berbagai masalah
yang dibahas.
17
Sebagaimana pendapat tersebut menjelaskan bahwa komunikasi sosial sebagai
suatuproses sosialisasi dan untuk pencapaian stabilitas sosial,tertib sosial,
penerusan
nilai-nilai
lama
yang
dilestarikan
oleh
suatu
masyarakat
melaluikomunikasi sosial kesadaran masyarakat dipupuk, dibina, dan diperluas.
Melalui komunikasi sosial masalah-masalah sosial dipecahkan melalui konsensus.
Sehingga dalam proses komunikasi sosial dapat terjadi adanya kontak sosial
(sosial contact).
Komunikasi sosial, dijelaskan oleh pendapat David Sholle (dalam Machmud,
2011: 61) mengatakan bahwa media menciptakan suatu cara untuk memandang,
suatu metode untuk mengatur dan menilai, suatu sarana untuk seleksi dan rujukan
yang merupakan ranah yang dapat didiskusikan, dan sebagai akibatnya media
menghasilkan suatu ranah pengetahuan yang kompleks dari posisi subjek yang
berhubungan dengan ranah tersebut.
Setiap individu atau masyarakat dalam melakukan proses penyampaian pesan,
boleh dilakukan dengan menggunakan komunikasi lisan atau bukanlisan.
Komunikasi lisan sebagai proses penyampaian pesan yang dilakukan dengan
menggunakan kata atau kalimat yang dilakukan dalam bentuk percakapan,
perbincangan ata forum yang melibatkan interaksi dua arah (Machmud, 2011: 38).
Selain itu menurut Mulyana (dalam Machmud, 2011:
memiliki
4
(empat)
68)
komunikasi
fungsi: pertama, sebagai fungsi sosial, fungsi ini
menekankan kepada eksperesi individu, kedua, sebagai fungsi ekspresif,
komunikasi ini dapat dilakukan secara individu atau berkelompok, dan ketiga,
fungsi ritual, fungsi ini biasanya dilakukan secara kolektif, dimana kelompok
18
masyarakat selalu melakukan upacara- upacara, dimana kegiatan upacara
dilakukan selalu meng-gunakan perilaku-perilaku simbolik, dan keempat,
komunikasi sebagai fungsi instrumental yang memiliki beberapa tujuan umum,
seperti memberi informasi, mengajar, mendorong mengubah sikap dan keyakinan.
Media komunikasi sosial pada masyaraka tsangat berperan untuk menjaga
tertib sosial, penerus nilai-nilai lama dan baru yang diagungkan oleh suatu
masyarakat serta melalui media komunikasi sosial kesadaran masyarakat akan
dapat dipupuk dan diperluas. Sangat sedikit literatur yang secara spesifik
menjelaskan konsep media komunikasi sosial.Kebanyakan para sarjana hanya
mengklasifikasikanmedia secara dikotomis, itu pun diukur dariteknologi, luas
lingkup atau dari salurankomunikasinya. Sebelum media berkembang menjadi
interaktif,
Rogers
membedakan
komunikasiatas
saluran
komunikasi
interpersonal dankomunikasi massa. Sedang pembedaan yang umum digunakan
antara lain media tradisional – media modern, media mikro – media makro,
media rakyat – media massa (Yuliarso, 1997: 55).
c. Simbol-simbol
Penjelsan tentang simbol ini juga dipertegas oleh White, makna atau simbol
hanya dapat ditangkap melalui cara nonsensoris; melaui cara simbolik. Sebagai
contoh: makana suatu warna tergantung kepada mereka yang menggunakannya.
Warna merah, misalnya, dapat berarti berani (“merah berarti berani, dan putih
suci”), dapat berarti komunis (“kaum merah”).Warna putih dapat berarti suci,
dapat berarti berkabung (pada orang Tionghoa), dapat pula berarti menyerah.
Makna-makna tersebut tidak dapat ditangkap dengan pancaindera; sebagaimana
19
telah dikemukakan White, makna-makna tersebut tidak ada kaitannya dengan
sifat-sifat yang secara intrinsik terdapat pada warna( kumanto, 2004 : 36).
Dalam hemat penulis, simbol merupakan sesuatu yang sangat penting dalam
kehidupan bermasyarakatutamanya dalam masyarakat multi etnik, terutama dalam
melakukan interaksi antara masyarakat satu dengan masyarakat yang lainnya.
Suatu simbol menjadi penting karena dapat membuat manusia dalam melakukan
sesuatu akan sungguh-sungguh dan berfikir secara manusiawi.
Dalam
melakukan
suatu
tindakan
sosial
seseorang
akan
selalu
mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap orang lain. Dengan kata
lain, dalam melakukan suatu tindakan sosial manusia akan memikirkan dampak
negatif ataupun positif dari tindakan yang iya lakukan terhadap orang yang terlibat
dalam tindakan tersebut.
Di samping kegunaan yang bersifat umum, simbol-simbol pada umumnya dan
bahasa pada khususnya mempunyai sejumlah fungsi, antara lain:
a. Simbol-simbol memungkinkan manusia untuk berhubungan dengan dunia
material dan sosial dengan membolehkan mereka memberi nama, membuat
kategori, dan mengingat obyek-obyek yang mereka temukan di mana saja.
Dalam hal ini bahasa mempunyai peran yang sangat penting.
b. Simbol-simbol menyempurnakan kemampuan manusia untuk memahami
lingkungannya
c. simbol-simbol menyempurnakan kemampuan manusia untuk berfikir. Dalam
arti ini, berfikir dapat dianggap sebagai simbolik dengan diri sendiri.
20
d. Simbol-simbol meningkatkan kemampuan manusia untuk memecahkan
persoalan. Binatang coba memecahkan masalah dengan trial and error,
sedangkan manusia biasa berfikir dengan menggunakan simbol-simbol
sebelum melakukan pilihan-pilihan dalam melakukan sesuatu.
e. Penggunaan simbol-simbol memungkinkan manusia bertransendensiari segi
waktu, tempat, dan bahkan diri mereka sendiri. Dengan menggunakan simbolsimbol manusia bisa membayangkan bagaimana hidup di masa lampau atau
akan datang. Mereka juga bisa membayangkan tentang diri mereka sendiri
berdasarkan pandangan orang lain.
f. Simbol-simbol memungkinkan manusia bisa membayangkan kenyataankenyataan metafisis seperti surga atau neraka.
g. Simbol-simbol memungkinkan manusia tidak diperbudak oleh lingkungannya.
Mereka bisa lebih aktif ketimbang pasif dalam mengarahkan dirinya kepada
sesuatu yang mereka perbuat (Raho, 2007 : 110)
Kehidupan masyarakat Sunda dan masyarakat Batak. Masyarakat Sunda
menganggap bahwa orang Batak itu sanagat kasar dalam berbicara, bagi
masyarakat Batak merasa bahwa tindakan yang mereka lakukan merupakan suatu
keberanian dan sifat terang-terangan atau terbuka apa adanya, malahan mereka
menganggap bahwa orang Sunda tertutup dan lemah dalam melakukan suatu
tindakan. Ini adalah fenomena dalam masyarakat yang berbeda kultur karena
masing-masing mempunyai kebiasaan, sehingga perlu kita memahami simbolsimbol budaya maupun bahasa agar kita saling memahami perbedaan.
21
Masih dalam buku Teori Sosiologi Modern yang ditulis oleh Bernard Raho,
dijelaskan bahwa simbol-simbol yang mempunyai arti tersebut bisa berbentuk
gerak-gerik fisik (gesture) tetapi bisa juga dalam bentuk bahasa. Kemampuan
untuk menciptakan dan menggunakan bahasa merupakan hal yang dapat
membedakan manusia dari binatang.
Bahasa memampukan kita untuk
menanggapi bukan hanya simbol-simbol yang berbentuk gerak-gerik tubuh
melainkan juga simbo-simbol yang berbentuk kata-kata. Misalnya, saya melihat
seorangteman menyeberang jalan raya padahal ada bus yang akan lewat dengan
kecepatan tinggi .saya tidak perlu berlari ke jalan raya dan menariknya keluar,
melainkan, saya bisa menggunakan simbol bahasa: “Lari cepat ada mobil yang
akan lewat.” Guna mempertahankankeberlangsungan suatu kehidupan sosial,
maka para aktor harus dapat menghayati simbol-simbol dengan arti yang sama.
Hal itu berarti bahwa mereka harus mengerti bahasa yang sama(Raho, 2007 : 100)
Menurut Karp dan Yoels (1979) dalam Kamanto Sunarto (2004), bahwa studi
sosiologi
terhadap
gerak
tubuh
dan
isyarat
tangan
ini
dinamakan
kenesics.Komunikasi nonverbal (nonverbal communication) atau bahasa tubuh
(bodylanguage), yang menurutnya ada sebelum ada bahasa lisan dan merupakan
bentuk komunikasi pertama yang dipelajari manusia, kita gunakan secara sadar
maupun tidak atau menyampaikan perasaan kepada orang lain.
22
G. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
1. Kondisi Geografis Desa Tanda Hulu
Desa Tanda Hulu merupakan salah satu desa yang berada di Kabupaten
Lingga, Kecamatan Lingga Provinsi Kepulauan Riau yang luas wilayahnya
mencapai 5 hektar. Desa Tanda hulu terdiri atas 4 Rukun Tetangga yaitu RT 01
yang berada di Kampung Darat, RT 02 berada di Tanda Hilir, RT 03 jumlah
berada di Tanda Hulu, serta RT 04 berada di desa Seranggung. Desa Tanda Hulu
merupakan sebuah desa yang terletak di pusat Kabupaten Lingga, dimana desa
tersebut tidak hanya didiami oeh masyarakat lokal saja, namun banyak masyarakat
luar yang merupakan masyarakat yang berasal dari desa atau wilayah lain yang
mempunyai tujuan tertentuseperti bersekolah dan bekerja, sehingga menetap di
desa Tanda Hulu.
Masyarakat yang memilih bersekolah ke Daik Lingga dan tinggal di wilayah
Tanda Hulu dikarenakan tempat mereka tidak ada fasilitas sekolah yang lengkap,
serta mereka yang menetap untuk bekerja, baik itu yang ditugaskan oleh
pemerintah maupun yang bekerja di non pemerintah yang memilih mengontrak
atau mendiami kos kosan, karena bisa dikatakan wilayah Tanda Hulu telah banyak
di bangun rumah sewa yang disediakan untuk masyarakat luar yang mau
mendiami wilayah tersebut.
23
H. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Karakteristik Informan
Untuk menganalisa sebuah penelitian kualitatif informan dipilih oleh
peneliti, karena dianggap mampu memberikan informasi tentang masalah yang
akan diteliti. Adapun nama nama informan dalam penelitian ini yaitu: Bapak
Hamzah, Bapak H. Hasan, Bapak Sulaiman Atan yang merupakan tokoh
agama di desa Tanda Hulu, sedangkan pak Adam Ibrahim, Bapak Said Amit,
Bapak Azhari merupakan yang dianggap masyarakat sebagai tokoh adat, Ibu
Nurmadiah, Ibu Zita, Bapak Zahar, dan Bapak Lazuardi merupakan
masyarakat biasa.Sebelum peneliti membahas hasil dari analisa penelitian
maka terlebih dahulu peneliti akan menguraikan identitas informan, yang
menjadi informan dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Tanda Hulu
yang ditentukan berdasarkan
umur, berdasarkan pendidikan, berdasarkan
jenis kelamin.
B. Pemaknaan Simbol Simbol dalam Mempertahankan Budaya Malam
Tujuh Likur (27 Ramadhan)
Keyakinan masyarakat untuk mempertahankan budaya malam Tujuh Likur
yaitu karena malam Tujuh Likur mempunyai makna yang khusus, apabila
tidak dilaksanakan maka masyarakat akan mendapat malapeta, kesialan
dalam hidup merupakan sebuah alasan budaya tersebut masih dipertahankan,
disamping itu karena masyarakat juga menggangap bahwa acara yang
dilaknakan pada malam tersebut merupakan acara yang penting, dikatakatan
penting karena tidak hanya masyarakat biasa yang harus melestarikan budaya
24
tersebut namun pejabat seperti bupati juga ikut berpatisipasi untuk
memeriahkan dalam pembukaan acara, tidak terlepas jugaperan dari tokoh
agama, tokoh adat serta tokoh masyarakat.
Kebudayaan malam Tujuh Likur merupakan suatu yang sangat berharga
bagi masyarakat desa Tanda Hulu sehingga masyarakat penuh keyakinan
untuk mempertahan budaya tersebut.Sesuatu yang berharga berarti dapat
dikatakan sesuatu yang mempunyai nilai.Nilai mempunyai fungsi memberi
petunjuk penting agar dapat memuaskan keinginan manusia dan memberi
arah demi tercapainya tujuan sosial kemasyarakatan. Perilaku seseorang
sangat dipengaruhi oleh nilai nilai yang dimilikinya, bila nilai itu baik maka
masyarakat dan individu akan mengulanginya, begitu juga sebaliknya,
apabila buruk maka akan dihindari. Setiap individu dapat mempunyai nilai
yang berbeda, demikian pula antara ras/ suku bangsa atau kelompok
masyarakat (Noorkasiani, 40 : 2009)
Malam Tujuh Likur mempunyai nilai tersendiri bagi masyarakat Tanda
Hulu. Masyarakat mengganggap bahwa nilai yang terkandung di dalam
kebudayaan malam tujuh likur mempunyai nilai yang positif seperti gotong
royong, kebersamaan, kekompakan, kerjasama, bersyukur atas segala rizki
yang didapat dengan doa selamat, berbagi kue sehingga masyarakat
mempunyai keyakinan untuk mempertahankan budaya tersebut. Yang tidak
terlepas dari berbagai alasan yang telah di ungkap oleh informan penelitian
diatas, keyakinan itu tumbuh karena makna yang terkandung dalam
kebudayaan tersebut, walaupun bisa dikatakan tidak semua masyarakat yang
25
mengetahui makna makna yang terkandung dalam simbol simbol Tujuh Likur
tersebut, namun mereka tetap memiliki keyakinan bahwa kebudayaan
tersebut mempunyai arti yang positif bagi mereka sendiri serta bagi
kehidupan mereka yang bermasyarakat, alasan lainnya yaitu keikutsertaan
para pemuka mayarakat, serta tujuan dari kebudayaan itu sendiri.
1. Makna Pelita, Membangun Gerbang, Makan Bersama Di Bawah
Gerbang Pada Malam Tujuh Likur.
Ketika manusia melakukan sebuah proses pemberian arti atau pemaknaan
maka hal tersebut menghasilkan sebuah simbol. Pada kebudayaan malam
tujuh likur yang rutinitas dilaksanakan setiap setahun sekali yaitu pada
malam 27 ramadhan tersebut terdapat simbol simbol yang mengandung
istilah tersendiri bagi masyarakat Daik Lingga khususnya masyarakat di desa
Tanda Hulu.
Makna yang terkandung pada kebudayaan tujuh likur tersebut dilihat dari
sisi agama yaitu untuk memyambut datangnya malam Lailatul Qadar, serta
berbagai simbol simbol yang di ungkapkan seperti :
1) Pelita mengandung makna melambangkan jiwa yang terang kembali
karena kite umat islam telah menjalankan ibadah pausa dan meminta
ampunan dosa, pada malam tujuh likur kita kembali kehati yang terang
benderang lagi.
2) Membangun gerbang, agar kita bisa membuat pondasi yang kuat lagi
dalam iman dan takwa kedepannya.
26
3) Berdoa dan Makan bersama dibawah gerbang, sebagai cara
mengirimkan doa kepada Allah agar dosa dosa kita sebelumnya
diampuni dan kite bersyukur kepada tuhan atas segala rizki yang
diberikan oleh tuhan.
4) Membuat gerbang dengan bentuk kubah masjid melambangkan bahwa
masjid adalah rumah Allah yang patut di agungkan oleh umat islam
Kebudayaan malam tujuh likur yang dilaksanakan oleh masyarakat
Tanda Hulu tidak bisa dilepaskan dari hubungan manusia dengan sang
pencipta yaitu Allah SWT. Dengan kebudayaan yang ada tidak hanya
menciptakan interaksi antara manusia dengan manusia saja, namun
interaksi antara manusia dengan tuhannya juga tidak terputuskan.
Kebudayaan yang dipertahankan oleh masyarakat merupakan unsur
dari adat yang memang telah dipegang teguh oleh masyarakat.Adat
merupakan gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan,
norma, kebiasaan, yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini
tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak
tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku, sebuah tradisi yang
dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun mempunyai makna
tersendiri bagi adat yang mereka pegang teguh.
Masyarakat bertindak untuk melestarikan budaya malam tujuh likur
berdasarkan makna makna pada simbol yang diyakini tersebut, sehingga
budaya malam tujuh likur bisa bertahan sampai sekarang.Manusia
27
menciptakan simbol melalui pemberian nilai atau pemaknaan terhadap
sesuatu(baik berupa bunyi, kata, gerak tubuh, benda atau hal yang
lainnya). Melalui simbol ini manusia saling berkomunikasi. Sebuah
komunikasi akan berjalan lancar, apabila pihak yang terlibat menggunakan
simbol yang dapat dipahami secara bersama (Damsar, 2011 : 60-61).
Seperti tradisi
pada malam tujuh likur tersebut
masyarakat
menciptakan sebuah simbol terhadap sesuatu yang mereka anggap
mempunyai nilai yaitu berupa kata tujuh likur, serta benda yang gunakan
dalam acara tersebut. Pada saat acara tersebut masyarakat saling
berkomunikasi, acara tersebut tidak akan dapat berlangsung apabila tidak
terjalin komunikasi oleh karena itudengan menyakini makna dari simbol
simbol yang ada pada malam tujuh likur masyarakat terus setiap tahunnya
melakukan tindakan untuk melestarikan kebudayaan tersebut.
2. Makna Mampu Menciptakan Komunikasi Sosial Untuk Memperkuat
Solidaritas
Pada dasarnya semua prilaku tradisi lokal merupakan sebuah ajang
berkumpul dan berkomunikasi antar sesama anggota masyarakat yang
mengikuti tradisi tersebut. Dan pada dasarnya adalah pada saat mereka
berkumpul dan berkomunikasi mereka merasa menjadi satu bagian dalam
komunitas tersebut sehingga akan terbentuk suatu komunikasi sosial antar
sesamanya.
Pada tradisi malam tujuh likur yang diselenggarakan oleh masyarakat
Tanda Hulu di Daik Lingga terdapat berbagai simbol simbol dalam acara
28
tersebut yang mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat desa Tanda
Hulu, simbol simbol tersebut tidak terlepas dari pemaknaan yang dulunya
berasal dari masyarakat terdahulu dan di yakini hingga saat ini oleh
masyarakat desa Tanda Hulu.
Tradisi malam Tujuh Likur yang masih dijalankan oleh masyarakat
Muslim di Desa Tanda Hulu, karena saat ini Tujuh Likur adalah sarana
bagi umat muslimuntuk berkumpul dan berdoa, serta dalam Tujuh
Likurada
hal
hal
menghadirinya,diantaranya
yang
membuat
sebagai cara
masyarakat
mau
sosialisasiwarga satu dengan
warga lainnya.
Hasil temuan data penelitian di atas menjelaskanbahwa prilaku tolong
menolong padacara tujuh likur merupakan bentuk solidaritas sosial yang
terjadipada masyarakat desa Tanda Hulu. Walaupun padamasa sekarang
ini masyarakat telah berpikir lebih modern dan saat orang
semakin
disibukkan dengankegiatan masing-masing, sehingga waktubersosialisasi
dengan lingkungan semakin terbatas.
Blumer (Margaret, 2004 :269 ) manusia bukan hanya sebagai
organisme yang memberikan tanggapan, tetapi juga sebagai organisme
yang bertindak, yaitu organisme yang harus membentuk saluran bertindak
atas dasar apa yang dipertimbangkannya, daripada hanya memberikan
tanggapan pada beberapa faktor yang terdapat dalam organisasi.
Banyak orang tidak terbiasa
lagi dengan
royong, kerja bakti, ronda dan semacam itu.Dan
hal-halseperti gotong
orang
pun
lebih
29
memilih hal yang bersifatpraktis. Akan tetapi pada masyarakat Desa
Tanda Hulu sebagai masyarakat desa transisi perilaku gotong royong
sebagai bentuk solidaritas mekanik ini masihtetap dipertahan, tolong
menolong ini dikarenakansecara rutinnya warga bertemu pada media
sebagaisarana komunikasi yakni pada bulan ramadhan banyak masyarakat
yang memenuhi masjid sehingga menjadi salah satu saranaberinteraksi,
bersosialisasi dengan tetangga dankerabat.
Masyarakat Desa Tanda Hulu tidak hanya memberikan tanggapan atas
apa yang akan dipersiapkan dalam acara tersebut, namun masyarakat
melakukan sebuah tindakan untuk membantu walaupun kesan
seperti
repot
positif.
dan ribet tentunya ada, tetapi
hal
ini
punya
nilai
Yaitukekerabatan akan terasa lebih kental dan dekat.Solidaritas sosial
yang dibangun danberkembang pada warga dusun merupakansolidaritas
yang masih mempertahankan padaikatan keyakinan dan kekerabatan.
Tradisi terhadapkeyakinan yang masih terus dilestarikan oleh
wargadesa sampai sekarang ini, berupa tolong menolong dalam
keberlangsungan sebuah acara.Fenomena
yang
terjadi
padakegiatan
malam tujuh likur sebagai mediakomunikasi sosial atau sarana interaksi
sosial antarwarga desa agar dapat mempertahankan solidaritas yang ada
30
I. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan peneliti, dapat dikemukakan
kesimpulan bahwa tradisi malam tujuh likur di desa Tanda Hulu merupakan
bentuk dari intraksi simbolik yang dipandang berdasarkan makna makna yang
terkandung pada acara tersebut sehingga masyarakat melakukan sebuah tindakan
diantaranya manusia bertindak terhadap susuatu berdasarkan makna pada acara
tersebut, makna
tersebut
berasal
dari
intraksi
sosial,
makna
tersebut
disempurnakan saat proses interaksi berlangsung, adapun kesimpulan dalam
penelitian ini adalah :
1. Faktor yang mempengaruhi tradisi malam tujuh likur masih dilakukan dan
dilestarikan oleh masyarakat Daik Lingga khususnya masyarakat desa Tanda
Hulu karena keyakinan masyarakat atas makna yang terkandung dalam
kebudayaan tersebut, keikutsertaan para pemuka mayarakat, serta tujuan dari
kebudayaan itu sendiri. Lebih khususnya yaitu sebagai sarana mengumpulkan
warga dan menumbuhkan keakraban, kepedulian, dan saling berinteraksi dan
tradisi leluhur yang menumbuhkan hubungan antar individu melalui simbolsimbol komunikasi dalam interpretasi dan perbuatan.
2. Tradisi malam tujuh likur sebagai media komunikasi sosial merupakan cara
interaksi antar individu atau warga, dimana interaksi yang terjadi berupa
perekat hubungan sosial, sebagai media
forum silaturahmi meningkatkan
kekeluargaan antar warga dusun, sebagai media mengirimkan doa kepada
31
Allah SWT dan sebagai media berbagi rizki makanan.
3. Perilaku tradisi malam tujuh likur dapat berfungsi untuk mempertahankan
solidaritas sosial pada masyarakat. Solidaritas yang terbentuk dari kegiatan
membangun gerbang adalah tolong menolong dan gotong royong antar warga,
dalam bentuk perilaku individu dalam melaksanakan tindakan sosial, serta
bentuk solidaritas lainnya yaitu melakukan acara berdoa secara bersama sama
di bawah gerbang, gotong royong membuat lampu colok (pelita), Memberi
bantuan sumbangan berupa biaya dan minyak tanah untuk acara tersebut,
mendatangi rumah tetangga atau warga pada acara tersebut, masyrakat yang
tidak kenal saling berinteraksi dan berbaur untuk menghadiri acara tersebut
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian,dapat disampaikan beberapa
saran kepada parapihak tertentu sebagai berikut:
1. Tradisi malam tujuh likur yang sudah menjadi budaya hingga saat ini bagi
masyarakat Daik Lingga khususnya Desa Tanda Hulu merupakan
pelestarian budaya yang di dukung oleh nilai nilai agama, maka dari itu
masyarakat harus tetap mempertahan serta melestrikan budaya tersebut.
2. Perilaku tradisi lokal sebagai media komunikasi sosial diharapkan dapat
dijaga dan dilestarikan oleh pemerintah desa atau aparat desa, dan
khususnya kepala dusun, tokoh masyarakat, agama, dan pemuda
agar
dapat mempertahankan perilaku solidaritas sosial tradisi lokal yang
positif seperti mempertahankan tradisi tradisi, lama gotong royong agar
dapat dilestarikan dan diajarkan kepada generasi muda.
32
Daftar Pustaka
Ahmadi Rulam, 2005, Memahami Metode Penelitian Kualitatif. Malang :
Universitas Negeri Malang
Bungin, Burhan, 2011, Penelitian Kualitatif, Jakarta : Pranada Media Group
Drs. H. Ahmadi Abu, 2004. Sosiologi Pendidikan, Jakarta : Pt Rineka Cipta
Fahrono, 2009, Skripsi, Interaksi Sosial Mahasiswa Asing (Studi Tentang
Mahasiswa Pwtani Dalam Berinteraksi Dengan Warga Sekitarnya Di
Dusun Karang Bendo Banguntapan) Bantul
Irawan, Prasetya. 2006. Penelitian Kualitatif & Kuantitatif Untuk Ilmu-Ilmu
Sosial. Departemen Ilmu Adminstrasi Fisip Ui.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi (Edisi Ketiga). Jakarta : Lembaga.
Penerbit Fakultas Ekonomi Ui
Machmud, M. 2011. Komunikasi Tradisional : Pesan Kearifan Local Masyarakat
Silawesi Selatan Melalui Berbagai Media Warisan . Yogyakarta : Litera
Moleong, Lexi J. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Pt Remaja Rosda
Karya
Poloma M. Maergaret, 2004, Sosiologi Kontemporer, Jakarta : Pt Raja Grafindo
Persada
Prof. Dr Bactiar Wardi , M.S. 2006 Sosiologi Klasik (Dari Comte Hingga
Parsons) Bandung : Pt Remaja Rosdakarya
Prof. Damsar, 2011, Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Prenadamedia
Grup
Prof. Dr Salim Agus, 2008, Pengantar Sosiologi Mikro. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Raho, Bernard, 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Prestasi Pustaka
Ritzer George, 2012, Teori Sosiologi (Dari Sosiologi Klasik Sampai
Perkembangan Terakhir Postmodern) Yogyakarta: Pustaka Pelajar
------------------------Dougles . Goodman, 2004, Teori Sosiologi Modern, Jakarta :
Prebada Media Grup
Salim Agus, 2008. Pengantar Sosiologi Mikro, Yogyakarta Pustaka Pelajar
Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Pendiidkan, Pendekatan Kuantitatif Dan
Kualitatif Dan Rnd. Bandung : Alfabeta
Syafruddin, 2011. Pola Komunikasi Antar Budaya Dalam Interaksosial Etnis
Karo Dan Etnis Minang Di Kecamatan Kabanjahe Kabupaten Karo.
Dalam Judul Ilmu Sosial Fakultas Isipol Sosial Fakultas Isipol Uma
Tamher, S. Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut Dengan Pendekatan
Asuhan Keperawatan, Jakarta : Salemba Medika
Yuliarso, Kk. 1997. Komunikasi Sosial Dan Integrasi Sosial. Laporan Penelitian.
Yogyakarta: Ugm
Download