8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TINJAUAN TEORI 1. Menyusui a

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TINJAUAN TEORI
1. Menyusui
a. Pengertian menyusui
Menyusui adalah cara yang optimal dalam memberikan nutrisi
dan mengasuh bayi, dan dengan penambahan makanan pelengkap pada
paruh kedua tahun pertama, kebutuhan nutrisi, imunologi, dan
psikososial dapat terpenuhi hingga tahun kedua dan tahun – tahun
berikutnya (varney, 2004).
b. Keuntungan menyusui
Menyusui pada wanita mempunyai beberapa kebaikan yaitu:
1) Air susu ibu adalah makanan yang paling ideal bagi bayi baru lahir .
2) Air susu ibu normalnya bebas dari ketidakmurnian.
3) Air susu ibu mengandung kalori yang lebih banyak dari susu formula.
4) Kurang terjadi infeksi pada bayi yang menyusu pada ibu karena ada
imunisasi pasif.
5) Menyusui anak mempercepat involusi rahim, dengan demikian alat
reproduksi ibu lebih cepat kembali normal.
6) Menyusui kadangkala lebih menyenangkan bagi ibu.
7) Menyusui lebih ekonomis, baik bagi ibu maupun bagi masyarakat.
8
9
8) IQ bayi prematur yang menyusu dilaporkan lebih tinggi dari pada bayi
serupa yang tidak menyusu (Kristiyanasari, 2008).
c. Cara menyusui
Usahakan memberi minum dalam suasana yang santai bagi ibu
dan bayi. Buatlah kondisi ibu senyaman mungkin. Selama beberapa
minggu pertama, bayi perlu diberi ASI setiap 2,5 – 3 jam sekali.
Menjelang akhir minggu keenam, sebagian besar kebutuhan bayi akan
ASI setiap 4 jam sekali. Jadwal ini baik sampai bayi berumur antara 10 –
12 bulan. Pada usia ini sebagian besar bayi tidur sepanjang malam
sehingga tak perlu lagi member makanan di malam hari (Kristiyanasari,
2008).
d. Langkah – langkah menyusui yang benar
1) Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada
putting dan sekitar kelang payudara. Cara ini mempunyai manfaat
sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban putting susu.
2) Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara.
a) Ibu duduk atau berbaring dengan santai, bila duduk lebih baik
menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu tidak menggantung
dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi.
b) Bayi dipegang pada belakang bahunya dengan satu lengan, kepala
bayi terletak pada lengkung siku ibu (kepala tidak boleh
menengadah,dan bokong bayi ditahan dengan telapak tangan).
10
c) Satu tangan bayi diletakkan dibelakang badan ibu, dan yang satu
didepan.
d) Perut bayi menempel pada badan ibu, kepala bayi menghadap
payudara (tidak hanya membelokkan kepala bayi).
e) Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
f) Ibu menatap bayi dengan kasih sayang.
3) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menipang
dibawah, jangan menekan putting susu.
4) Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting reflek) dengan
cara :
a) Menyentuh pipi dengan putting susu atau,
b) Menyentuh sisi mulut bayi.
5) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke
payudara ibu serta areola payudara dimasukkan ke mulut bayi
a) Usahakan sebagian besar kalang payudra dapat masuk ke mulut
bayi, sehingga putting susu berada di bawah langit – langit dan
lidah bayi akan menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI
yang terletak di bawah kalang payudara. Posisi salah, yaitu apabila
bayi hanya menghisap pada putting susu saja, akan mengakibatkan
masukan ASI yang tidak adekuat dan putting lecet.
b) Setelah bayi mulai menghisap payudara tak perlu dipegang atau
disangga (Kristiyanasari, 2008).
11
6) Melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong,
sebaiknya diganti menyusui pada payudara yang lain.Cara melepas
isapan bayi :
a) Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut
atau
b) Dagu bayi ditekan kebawah.
7) Menyusui
berikutnya
dimulai
pada
payudara
yang
belum
terkosongkan (yang dihisap terakhir).
8) Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan
pada putting susu dan areola sekitarnya. Biarkan kering dengan
sendirinya.
9) Menyendawakan bayi
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari
lambung supaya bayi tidak muntah ( gumoh – jawa) setelah menyusu.
Cara menyendawakan bayi :
a) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu kemudian
punggungnya ditepuk perlahan – lahan.
b) Dengan cara menelengkupkan bayi diatas pangkuan ibu, lalu usap –
usap punggung bayi sampai bayi bersendawa (Kristiyanasari,
2008).
12
e. Lama menyusui
Pada hari pertama, biasanya ASI belum keluar, bayi cukup
disusukan selama 4 – 5 menit, untuk merangsang produksi ASI dan
membiasakan putting susu dihisap oleh bayi. Setelah hari ke 4 – 5,boleh
disusukan selama 10 menit. Setelah produksi ASI cukup, bayi dapat
disusukan selama 15 menit (jangan lebih dari 20 menit). Menyusukan
selama 15 menit ini jika produksi ASI cukup dan ASI lancar keluarnya,
sudah cukup untuk bayi. Dikatakaan bahwa, jumlah ASI yang terisap
bayi pada 5 menit pertama adalah ±112 ml, 5 menit kedua ±64 ml, dan 5
menit terakhir hanya ±16 ml (Soetjiningsih, 1997).
2. Air Susu Ibu (ASI)
a. Pengertian ASI
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa
dan garam – garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar
payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997).
b. Komposisi ASI
ASI mengandung lebih dari 200 unsur – unsur pokok, antara lain
zat putih telur, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, faktor pertumbuhan,
hormon, enzim, zat kekebalan, dan sel darah putih. Semua zat ini terdapat
secara proporsional dan seimbang satu dengan yang lainya. Cairan hidup
yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat ini bagai
13
suatu “simfoni nutrisi bagi pertumbuhan bayi” sehingga tidak mungkin
ditiru oleh buatan manusia (Roesli, U, 2005).
Air susu ibu menurut stadium laktasi :
1) Kolostrum
Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang
paling tinggi dari pada ASI sebenarnya, khususnya kandungan
immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang
masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga
membantu dalam mencegah bayi mengalami alergi makanan.
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi
oleh kelenjar payudara. Kolostrum mengandung jaringan debris dan
material residual yang terdapat dalam alveoli serta duktus dari
kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerperium.
2) Air susu masa peralihan
a) Ciri dari air susu pada masa peralihan adalah sebagai berikut :
Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang
matur.
b) Disekresi dari hari ke – 4 sampai hari ke – 10 dari masa laktasi,
tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ASI matur baru
terjadi pada minggu ke – 3 sampai minggu ke – 5.
c) Kadar protein makin rendah, sedangkan kadar karbohidrat dan
lemak makin tinggi.
d) Volumenya juga akan makin meningkat.
14
3) Air susu matur
Adapun ciri dari susu matur adalah sebagai berikut :
a) Merupakan ASI yang disekresi pada hari ke – 10 dan seterusnya,
komposisi relatif konstan (ada pula yang mengatakan bahwa
komposisi ASI relatif konstan baru dimulai pada minggu ke – 3
sampai minggu ke – 5).
b) Pada ibu yang sehat, maka produksi ASI untuk bayi akan tercukupi,
ASI ini merupakan makanan satu – satunya yang paling baik dan
cukup untuk bayi sampai usia 6 bulan.
c) Merupakan suatu cairan berwarna putih kekuning – kuningan yang
diakibatkan warna dari garam kalsium caseinat, riboflavin, dan
karoten yang terdapat di dalamnya.
d) Tidak menggumpal jika dipanaskan
e) Terdapat antimicrobial faktor, antara lain sebagai berikut :
(1)antibodi terhadap bakteri dan virus
(2)sel (fagosit, granulosit, makrofag, dan limfosit tipe T)
(3)enzim (lizisim, laktoperoksidase, lipase, katalase, fosfatase,
amilase, fosfodiesterase, dan alkalin fosfatase)
(4)protein (laktoferin, B12 binding protein)
(5)Resistance faktor terhadap stapilofilokokus
(6)Komplemen
(7)Interferon producing cell
15
(8)Sifat biokimia yang khas, kapasitas buffer yang rendah dan
adanya faktor bifidus
(9)Hormon – hormon (Saleha, 2009).
c. Manfaat ASI
1) Manfaat pemberian ASI bagi bayi
2) ASI sebagai nutrisi
3) ASI meningkatkan daya tahan tubuh
4) ASI meningkatkan kecerdasan
5) Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang
6) lain pemberian ASI bagi bayi adalah :
a) Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan
pertumbuhan bayi sampai usia 6 bulan.
b) Meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung berbagai zat
anti – kekebalan sehingga akan lebih jarang sakit. ASI juga akan
mengurangi terjadinya mencret, sakit telinga dan infeksi saluran
pernapasan.
c) Melindungi anak dari serangan alergi.
d) Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak
sehingga bayi ASI eksklusif potensial lebih pandai.
e) Meningkatkan daya penglihatan dan kepandaian bicara.
f) Membantu pembentukan rahang yang bagus.
16
g) Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis, kanker pada
anak, dan diduga mengurangi kemungkinan menderita penyakit
jantung.
h) Menunjang perkembangan motorik sehingga bayi ASI eksklusif
akan lebih cepat bisa jalan.
i) Menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan emosional,
kematangan spiritual, dan hubungan sosial yang baik (Roesli, U,
2005).
7) Manfaat pemberian ASI bagi ibu
a) Aspek kontrasepsi
Hisapan mulut bayi pada putting susu merangsang ujung
syaraf sensorik sehingga post anterior hipofise mengeluarkan
prolaktin. Prolaktin masuk ke indung telur, menekan produksi
estrogen akibatnya tidak ada ovulasi. Menjarangkan kehamilan,
pemberian ASI memberikan 98% metode kontrasepsi yang efisien
selama 6 bulan pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI
saja (eksklusif) dan belum terjadi menstruasi kembali.
b) Aspek kesehatan ibu
Isapan bayi pada payudara akan merangsang terbentuknya
oksitosin oleh kelenjar hipofisis.oksitosin membantu involusi
uterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan.
Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan pasca persalinan
mengurangi prevalensi anemia defisiensi besi. Kejadian karsinoma
17
mammae pada ibu yang menyusui lebih rendah disbanding yang
tidak menyusui. Mencegah kanker hanya dapat diperoleh ibu yang
menyusui anaknya secara eksklusif. Penelitian membuktikan ibu
yang memberikan ASI secara eksklusif memiliki resiko terkena
kanker payudara dan kanker ovarium 25 % lebih kecil dibanding
yang tidak menyusui secara eksklusif.
c) Aspek penurunan berat badan
Ibu yang menyusui eksklusif ternyata lebih mudah dan
lebih cepat kembali ke berat badan semula seperti sebelum hamil.
Pada saat hamil, badan bertambah berat, selain karena ada janin,
juga karena penimbunan lemak pada tubuh, cadangan lemak ini
sebetulnya memang disiapkan sebagai sumber tenaga dalam proses
produksi ASI. Dengan menyusui, tubuh akan menghasilkan ASI
lebih banyak lagi sehingga timbunan lemak yang berfungsi sebagai
cadangan tenaga akan terpakai. Logikanya, jika timbunan lemak
menyusut, berat badan ibu akan cepat kembali ke keadaan seperti
sebelum hamil.
d) Aspek psikologis
Keuntungan menyusui bukan hanya bermanfaat untuk
bayi, tetapi juga untuk ibu. Ibu akan merasa bangga dan diperlukan,
rasa
yang
dibutuhkan
danWulandari 2009).
oleh
semua
manusia.
(Ambarwati
18
8) Manfaat pemberian ASI bagi keluarga
a) Aspek ekonomi
ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan
untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan
lain. Kecuali itu, penghematan juga disebabkan karena bayi yang
mendapat ASI lebih jarang sakit sehingga mengurangi biaya
berobat.
b) Aspek psikologi
Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang,
sehingga suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan
hubungan bayi dengan keluarga.
c) Aspek kemudahan
Menyusui sangat praktis, karena dapat diberikan dimana saja dan
kapan saja. Keluarga tidak perlu repot menyiapkan air masak,
botol, dan dot yang harus dibersihkan serta minta pertolongan
orang lain. Ambarwati danWulandari (2009).
9) Manfaat pemberian ASI bagi Negara
a) Menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi
b) Menghemat devisa negara
c) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit
d) Peningkatan kualitas generasi penerus. (Ambarwati danWulandari
2009).
19
d. Pola penyusuan ibu bekerja menurut (Saleha, 2009)
Malam hari susui bayi sesering mungkin dan selama mungkin. Jika
bayi sudah memasuki usia 6 bulan, berikan makanan pendamping
semi padat pada saat ibu bekerja, dan hentikan makanan / minuman
apapun pada pukul 17.00.
Berikut ini adalah jadwal penyusuan pemberian ASI pada ibu yang
bekerja.
1) Pukul 06.00 susui bayi sekenyang – kenyangnya
2) Pukul 07.00 ibu berangkat bekerja
3) Pukul 08.00 – 17.00 bayi diberi ASI perahan di rumah
4) Ibu memerah ASI pada pukul 10.00, 14.00, dan 16.00
5) Tepat pukul17.00 ibu meninggalkan kantor
e. Memerah dan menyiapkan ASI
Setidaknya sebulan sebelum masuk kerja, mulailah memerah ASI
dengan tangan.
Cara memerah ASI adalah sebagai berikut :
1) Perah areola (bagian gelap sekitar puting) dengan ibu jari,
telunjuk dan jari tengah.
2) Selanjutnya tekan areola dengan ritme persis seperti ritme bayi
yang menghisap.
3) Arahkan aliran ASI ke gelas bersih.
20
4) Tuliskan tanggal pemerahan pada kantong plastik gula dengan
spidol permanen.
5) Masukkan ASI ke dalam kantong plastik, ikat, dan simpan dalam
freezer (Saleha, 2009).
f. Masalah dalam menyusui
1) Masalah menyusui masa antenatal
a) Kurang atau salah informasi
b) Puting susu datar atau terbenam
2) Masalah menyusui pada masa nifas dini
a) Puting susu nyeri
b) Puting susu lecet
c) Payudara bengkak
d) Mastitis atau abses payudara
3) Masalah menyusui pada masa nifas lanjut
a) Sindrom ASI kurang
b) Ibu yang bekerja
4) Masalah menyusui pada keadaan khusus
a) Ibu melahirkan dengan bedah sesar
b) Ibu sakit
c) Ibu yang memerlukan pengobatan
d) Ibu hamil
5) Masalah menyusui pada bayi
a) Bayi sering menangis
21
b) Bayi bingung puting
c) Bayi prematur dan bayi kecil (BBLR)
d) Bayi kuning (ikterik)
e) Bayi kembar
f) Bayi sakit
g) Bayi sumbing
h) Bayi dengan lidah pendek
i) Bayi yang memerlukan perawatan
Ambarwati danWulandari (2009).
g. Hal – hal yang mempengaruhi produksi ASI
Pada ibu yang normal dapat menghasilkan ASI kira – kira
550 – 1000 ml setiap hari, jumlah ASI tersebut dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1) Makanan
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh makanan yang
dimakan ibu, apalagi makanan ibu secara teratur dan cukup
mengandung gizi yang diperlukan akan mempengaruhi produksi
ASI, karena kelenjar pembuat ASI tidak dapat bekerja dengan
sempurna tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk
produksi ASI yang baik, makanan ibu harus memenuhi jumlah
kalori, protein, lemak, dan vitamin serta mineral yang cukup
selain itu ibu dianjurkan minum lebih banyak kurang lebih 8 – 12
gelas/hari.
22
Bahan makanan yang dibatasi untuk ibu menyusui :
a) Yang merangsang seperti : cabe, merica, jahe, kopi, alkohol.
b) Yang membuat kembung, seperti : ubi, singkong, kool, sawi
dan daun bawang.
c) Bahan makanan yang banyak mengandung gula dan lemak.
2) Ketenangan jiwa dan fikiran
Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan,
ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya
diri dan berbagai bentuk ketegangan emosional akan menurunkan
volume ASI bahkan tidak akan terjadi prduksi ASI. Untuk
memproduksi ASI yang baik harus dalam keadaan tenang.
3) Penggunaan alat kontrasepsi
Pada ibu yang menyusui bayinya penggunaan alat
kontrasepsi
hendaknya
diperhatikan
karena
pemakaian
kontrasepsi yang tidak tepat dapat mempengaruhi produksi ASI.
4) Perawatan payudara
Dengan merangsang buah dada akan mempengaruhi
hypofise untuk mengeluarkan hormon progesterone dan estrogen
lebih banyak lagi dan hormon oxytocin.
5) Anatomis buah dada
Bila jumlah lobus dalam buah dada berkurang,
lobuluspun berkurang. Dengan demikian produksi ASI juga
23
berkurang karena sel – sel acini yang menghisap zat – zat makan
dari pembuluh darah akan berkurang.
6) Fisiologi
Terbentuknya
ASI
dipengaruhi
hormone terutama
prolaktin ini merupakan hormon laktogenik yang menentukan
dalam hal pengadaan dan mempertahankan sekresi air susu.
7) Faktor istirahat
Bila kurang istirahat akan mengalami kelemahan dalam
menjalankan fungsinya dengan demikian pembentukan dan
pengeluaran ASI berkurang.
8) Faktor isapan bayi
Bila ibu menyusui anak segara jarang dan berlangsung
sebentar maka hisapan anak berkurang dengan demikian
pengeluaran ASI berkurang.
9) Faktor obat – obatan
Diperkirakan obat – obatan yang mengandung hormon
mempengaruhi hormone prolaktin dan oxytocin yang berfungsi
dalam pembentukan dan pengeluaran ASI. Apabila hormon –
hormon ini terganggu dengan sendirinya akan mempengaruhi
pembentukan dan pengeluaran ASI. Ambarwati dan Wulandari
(2009).
24
3. Praktik atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt
behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata
diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara
lain adalah fasilitas. Di samping faktor fasilitas juga diperlukan faktor
dukungan (support) dari pihak lain, misalnya suami atau istri, orang tua atau
mertua sangat penting untuk mendukung.
Tingkatan – tingkatan praktik :
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil merupakan praktik tingkat pertama.
b. Respon Terpimpin (Guided Respons)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar
sesuai dengan contoh adalah indikator praktik tingkat dua.
c. Mekanisme (Mecanism)
Apabila seorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah
mencapai praktik tingkat tiga.
d. Adaptasi (Adaptation)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah
berkembang dengan baik. Artinya, tindakan itu sudah dimodifikasinya
sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut (Notoatmodjo,
2007)
25
4. Pengetahuan
a. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2007).
b. Pentingnya Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Dari pengalaman
penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih
langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2007).
Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut
terjadi proses yang berurutan, yakni :
1) kesadaran (Awareness), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2) merasa tertarik (Interest), terhadap stimulus atau objek tersebut.
Di sini sikap subjek sudah mulai timbul
3) menimbang-nimbang (Evaluation), terhadap baik dan tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah
lebih baik lagi.
4) Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai
dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus
26
5) Adoption, di mana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers
menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati
tahap–tahap tersebut.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku
melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan,
kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan
bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak
didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung
lama (Notoatmodjo, 2007).
c. Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai
6 tingkatan menurut Notoatmodjo (2007), yaitu :
1) Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah di pelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab
itu, ’tahu’ ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mejelaskan
secara
benar
tentang
objek
yang
diketahui,
dan
dapat
27
menginterprestasikan benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap hal yang dipelajari.
3) Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau hukum–hukum, rumus,
metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen–komponen, tetapi masih dalam suatu
struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata–kata kerja,
dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokan, dan sebagainya.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian–bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
dari formulasi–formulasi yang ada.
28
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian–penilaian
itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau
menggunakan kriteria–kriteria yang telah ada.
d. Cara mengukur pengetahuan
Pengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan memberikan
seperangkat alat tes / kuesioner tentang objek pengetahuan yang mau
diukur, selanjutnya dilakukan penilaian dimana setiap jawaban benar dari
masing – masing pertanyaan diberi nilai 1 dan jika salah diberi nilai 0
(Notoatmodjo, 2003).
Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor
jawaban dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan
100% dan hasilnya berupa persentasi dengan rumus yang digunakan
sebagai berikut :
P = persentase
F = frekuensi dari seluruh alternatif jawaban yang menjadi pilihan yang
telah dipilih responden atas pertanyaan yang diajukan
n = jumlah frekuensi seluruh alternatif jawaban yang menjadi pilihan
responden selaku peneliti
100% = bilangan genap (Sabarguna, 2008).
29
Menurut Arikunto (2006) dalam buku wawan & dewi (2010)
pengetahuan seseorang dapat di ketahui dan diinterpresentasikan dalam
skala yang bersifat kualitatif yaitu :
1) Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76 – 100%
2) Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56 – 75%
3) Tingkat pengetahuan kurang bila skor atau nilai ≤ 55%
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tenteng isi materi yang akan diukur dari subjek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita
ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan – tingkatan
diatas (Notoatmodjo, 2007).
e. Faktor – faktor yang mempengaruhi pengetahuan
1) Umur
Umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam
penelitian – penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal
yang mempengaruhi pengetahuan. Umur adalah lamanya hidup
seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi
umur seseorang, maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan
yang
dimiliki
karena
pengetahuan
seseorang
diperoleh
dari
pengalaman sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari orang
lain (Notoadmojo, 2003).
Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman
untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 – 30 tahun. Kematian
30
maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia dibawah 20
tahun ternyata 2 – 5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang
terjadi pada usia 20 – 29 tahun. Kematian maternal meningkat
kembali sesudah usia 30 – 35 tahun (Winkjosastro, 2007).
2) Pendidikan
Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan
seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengetahuan
sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses
perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat
pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
persepsi seseorang untuk lebih mudah menerima ide – ide dan
teknologi. Pendidikan meliputi peranan penting dalam menentukan
kualitas manusia. Dengan pendidikan manusia dianggap akan
memperoleh pengetahuan implikasinya (Notoadmojo, 2003).
Semakin tinggi tingkat pendidikan, hidup manusia akan
semakin
berkualitas
karena
pendidikan
yang
tinggi
akan
menambahkan pengetahuan yang baik yang menjadikan hidup yang
berkualitas. Pendidikan adalah
ilmu
yang
mempelajari serta
memproses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok
orang. Usahakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan
proses dan cara (http//:www.pendidikan.net).
Pada penelitian ini pengukuran variabel tingkat pendidikan
dapat digolongkan berdasarkan undang – undang : Republik Indonesia
31
sistem pendidikan nasional tahun 2003, yaitu : pendidikan dasar terdiri
dari SD dan SMP, pendidikan menengah terdiri dari diploma, dan
perguruan tinggi yang terdiri dari sarjana, magister spesialis (UU.
Sisdiknas, 2003).
Tingkat
pendidikan
ibu
yang
masih
mengakibatkan
kurangnya pengetahuan ibu dalam menghadapi masalah. Pengetahuan
ini diperoleh baik secara formal maupun non formal. Sedangkan ibu –
ibu yang mempunyai tingkat pendidikan yang lebih tinggi, umumnya
terbuka dalam menerima perubahan/hal – hal baru, guna pemeliharaan
kesehatan (Depkes RI,1999).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan,
dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain
ini diukur dari :
(1)
Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang
diberikan (knowlege).
(2)
Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi pendidikan
yang diberikan (attitude).
(3)
Praktik atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik
sehubungan
dengan
materi
(practice). (Notoatmodjo, 2007).
pendidikan
yang
diberikan
32
3) Paparan media massa
Melalui berbagai media massa baik cetak maupun elektronik
maka berbagai informasi dapat di terima oleh masyarakat, sehingga
seseorang yang lebih sering terpapar media massa akan memperoleh
informasi yang lebih banyak dan dapat mempengaruhi tingkat
pengetahuan yang dimiliki (Notoadmojo, 2003).
4) Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan primer, maupun sekunder
keluarga, status ekonomi yang baik akan lebih mudah tercukupi
dibanding orang dengan status ekonomi rendah.Bila ditinjau dari
faktor sosial ekonomi, maka pendapatan merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi tingkat wawasan masyarakat mengenai sanitasi,
lingkungan dan perumahan (Notoadmojo, 2003).
a) Pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan tertentu,
terutama
untuk
menunjang
kehidupanya
dan
keluarganya
(Nursalam, 2001).
Pekerjaan ibu yang diperkirakan dapat mempengaruhi
pengetahuan dan kesempatan ibu dalam memberikan pengetahuan
responden yang bekerja lebih baik bila dibandingkan dengan
pengetahuan responden yang tidak bekerja, semua ini disebabkan
karena ibu yang bekerja diluar rumah (Sektor Formal) memiliki
33
akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi (DepKes RI,
1999).
b) Pendapatan
Bila
ditinjau
dari
faktor
sosial
ekonomi,
maka
pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
tingkat wawasan masyarakat mengenai sanitasi, lingkungan dan
perumahan.
Kemampuan anggaran rumah tangga juga mempengaruhi
kecepatan untuk meminta pertolongan apabila anggota keluarganya
sakit (Widoyono,2008).Pendapatan berdasarkan UMR menurut
(Dinas Pendapatan Kota Blora,2011) adalah Rp.816.200,00.
5) Hubungan sosial
Faktor hubungan sosial mempengaruhi kemampuan individu
sebagai komunikan untuk menerima pesan menurut model komunikasi
media (Notoadmojo, 2003).
6) Pengalaman
Pengalaman adalah suatu sumber pengetahuan atau suatu cara
untuk mamperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan
cara
mengulang
kembali pengalaman
yang
diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu.
Pengalaman seseorang individu tentang berbagai hal biasanya
diperoleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembanganya,
misalnya sering mengikuti organisasi (Notoadmojo, 2003).
34
f. Sumber – sumber pengetahuan
Menurut Nursalam (2001) sumber pengetahuan manusia dipengaruhi
beberapa hal, diantaranya :
1) Tradisi
Tradisi adalah suatu dasar pengetahuan dimana setiap orang tidak
dianjurkan untuk memulai mencoba memecahkan masalah.
2) Autoritas
Ketergantungan
terhadap
suatu
autoritas
tidak
dapat
dihindarkan/karena kita tidak dapat secara otomatis menjadi
seorang ahli dalam
mengetahui setiap permasalahan yang sedang dihadapi.
3) Pengalaman seseorang
Setiap pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk membuat
kesimpulan yang valid tentang situasi dan pengalaman seseorang
diwarnai dengan penelitian yang bersifat subjektif.
4) Trial dan Error
Dalam menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita dalam
menggunakan alternatif pemecahan melalui ”coba dan salah”.
5) Alasan yang logis
Pemikiran
ini merupakan komponen
yang
pendekatan ilmiah, akan tetapi alasan yang rasional
penting
dalam
35
6) Cara memperoleh pengetahuan
Adapun cara memperoleh pengetahuan menurut (Notoadmojo,
2002) adalah :
a) Cara tradisional atau non alamiah Ada 4 cara tradisional yang
digunakan yaitu :
(1)Cara coba – salah (trial and error)
Cara
ini
dilakukan
dengan
menggunakan
kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila
kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan
yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, mak
dicoba kembali dengan kemungkinan ketiga, dan apabila
kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan
seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
(2)Cara kekuasaan atau otoritas
Pada cara ini, pengetahuan didapatkan dari orang
yang berpengaruh dalam masyarakat kemudian diikuti tanpa
rasionalisasi. Misalnya sumber pengetahuan dapat berupa
pemimpin – pemimpin masyarakat formal, ahli agama,
pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain,
pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan otoritas atau
kekuasaan,
baik
tradisi,
otoritas
pemerintah,
pemimpin agama maupun ahli ilmu pengetahuan.
otoritas
36
(3)Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi
pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman
itu merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman ini
merupakan
suatu
cara
untuk
memperoleh
kebenaran
pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat
digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.
(4)Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat
manusia, cara berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari
sini manusia telah mampu menggunakan penalaranya dalam
memperoleh
pengetahuan.
memperoleh
kebenaran
Dengan
kata
pengetahuan
lain,
dalam
manusia
telah
menggunakan jalan pikiranya, baik melalui induksi maupun
deduksi.
b) Cara modern atau ilmiah
Pada dewasa ini lebih sistemis, logis dan ilmiah yang
disebut
dengan
metode
penelitian
ilmiah
(Research
Methodology). Metode penelitian sebagai suatu cara untuk
memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan dan pemecahan suatu
masalah. Lewrence green menjelaskan bahwa perilaku itu
dilatarbelakangi atau dipengaruhi oleh tiga faktor pokok, yaitu :
(1) Faktor Predisposisi (predisposing factor)
37
Dalam hal ini pendidikan kesehatan ditujukan untuk
menggugah kesadaran, memberikan atau meningkatkan
pengetahuan
masyarakat
tentang
pemeliharaan
dan
peningkatan kesehatan.
(2) Faktor Pemungkin (enabling factor)
Faktor pemungkin ini berupa fasilitas atau sarana dan
prasarana kesehatan, maka bentuk pendidikan kesehatanya
adalah
memberdayakan
masyarakat
agar
mampu
mengadakan sarana dan prasarana kesehatan. Fasilitas ini
pada
hakikatnya
mendukung
atau
memungkinkan
terwujudnya perilaku kesehatan.
(a) Ketersediaan fasilitas
Salah satu wujud kepedulian pemerintah
indonesia
dibangunya
terhadap
kesehatan
sejumlah
masyarakat
puskesmas
dan
adalah
posyandu.
Pembangunan puskesmas dimaksudkan sebagai salah
satu lembaga pelayanan kesehatan yang terdepan.
Artinya, sebagai lembaga yang diharapkan menjadi
ujung tombak kesehatan masyarakat akan dapat
meningkatkan perananya untuk melayani masyarakat
terbawah di berbagai daerah di indonesia. Sementara
itu, terdapat berbagai pilihan fasilitas kesehatan yang
38
dimanfaatkan masyarakat untuk mencari kesembuhan
ketika mengalami sakit.
Fasilitas dimaksud adalah pengobatan keluarga
yang dilakukan sendiri misalnya minum jamu, fasilitas
pengobatan Non Medis misalnya dengan pertolongan
dukun atau alternatif lain serta fasilitas pertolongan
Medis misalnya dengan pertolongan dokter atau bidan
berdasarkan ilmu kedokteran. Konsep sakit dan
penyakit dibentuk atas dasar nilai budaya setempat
dengan demikian, akan terjadi berbagai variasi perilaku
pemanfaatan fasilitas kesehatan yang dipengaruhi oleh
stuktur sosial setempat.
(b) Keterjangkauan fasilitas
Perilaku masyarakat dalam memanfaatkan
fasilitas kesehatan ditujukan dengan perilaku berganti
atau meneruskan mengunakan lebih dari satu fasilitas.
Fasilitas kesehatan yang di manfaatkan pertama kali
pada umumnya dilakukan secara sendiri lebih dahulu.
Untuk mewujudkan peningkatan derajat dan
status
kesehatan
keterjangkauan
penduduk,
fasilitas
dan
ketersediaan
sarana
merupakan salah satu faktor penentu utama.
dan
kesehatan
39
(3)Faktor penguat (reinforcing factor)
Faktor ini menyangkut sikap dan perilaku tokoh
masyarakat (toma) dan tokoh agama (toga), serta petugas
termasuk oetugas kesehatan . untuk berperilaku sehat,
masyarakat bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap
positif, dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan
perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh
agama, para petugas dan para petugas kesehatan.
40
B. Kerangka Teori
Faktor predisposisi :
1. Pengetahuan
2. Sikap
3. pendidikan
4. ekonomi
(pekerjaan,
pendapatan)
5. umur
Faktor pendukung :
1. Tersedianya
fasilitas
kesehatan
2. Ketersediaan
waktu
Faktor pendorong :
1. Dukungan suami
dan keluarga
2. Dukungan tenaga
kesehatan
3. Dukungan
masyarakat
(sumber : Lawrence Green dalam Notoatmodjo,2007)
Praktik
menyusui
41
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi
hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainya,
atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah
yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2010). Konsep penelitian ini terdiri dari
karakteristik, tingkat pengetahuan, meliputi praktik menyusui.
Variable independent
variable dependent
Pengetahuan
umur
pendidikan
Praktik menyusui
Pekerjaan
pendapatan
D. Hipotesis Penelitian
Ha1 : Ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan praktik menyusui
Ha2 : Ada hubungan antara umur ibu dengan praktik menyusui
Ha3 : Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan praktik menyusui
Ha4 : Ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan praktik menyusui
Ha5 : Ada hubungan antara pendapatan ibu dengan praktik menyusui
Download