laporan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah

advertisement
LAPORAN AKUNTABILITAS
KINERJA INSTANSI
PEMERINTAH
(LAKIP)
DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2013
DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR
Jl. Ahmad Yani 118 Surabaya 60231
Website : www.dinkes.jatimprov.go.id
Email : [email protected]
Telp./Fax :(031) 8299056
SURABAYA, 2014
PENGANTAR
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun
2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dibuat sekaligus sebagai
perwujudan pertangungjawaban atas kinerja pencapaian visi dan misi
yang diemban Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur pada Tahun
Anggaran 2013.
LAKIP disusun sesuai dengan ketentuan dalam
Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 serta mengacu pada pedoman
yang
ditetapkan
Kepala
Lembaga
Administrasi
Negara
dalam
Keputusan Nomor 239/IX/6/8/2003 tanggal 25 Maret 2003 tentang
Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah dan secara teknis penyusunannya berpedoman
pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010.
Secara eksternal, LAKIP merupakan alat kendali, alat penilai
kinerja secara kuantitatif dan sebagai wujud transparansi pelaksanaan
tugas dan fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dalam rangka
menuju terwujudnya good governance. Sedangkan secara internal,
LAKIP merupakan salah satu alat evaluasi untuk memacu peningkatan
kinerja setiap unit yang ada di Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Kami ucapkan terima kasih kepada Tim SAKIP yang telah
menyelesaikan
penyusunan
LAKIP.
Kami
menyadari
dalam
penyusunan LAKIP ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, untuk
itu saran perbaikan dari berbagai pihak terkait sangat kami harapkan.
Surabaya, 28 Februari 2014
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
i
DAFTAR ISI Halaman PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii IKHTISAR EKSEKUTIF iv BAB I PENDAHULUAN
1
A. LATAR BELAKANG 1 B. MAKSUD DAN TUJUAN 2 C. GAMBARAN UMUM DINAS KESEHATAN PROVINSI
2
D. DASAR HUKUM 5 E. SISTEMATIKA 5 BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
7
A.RENCANA STRATEGIS 2009 ‐2014 : VISI, MISI, TUJUAN, 8 SASARAN, KEBIJAKAN DAN PROGRAM 1. VISI 8
2. MISI 8 3. TUJUAN DAN SASARAN 9 4. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
20
5. PROGRAM B. RENCANA KINERJA TAHUN 2013 22 C. PERJANJIAN KINERJA 2013
27
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 29 A. PENGUKURAN/EVALUASI CAPAIAN KINERJA 29 B. EVALUASI DAN ANALISIS CAPAIAN KINERJA 31 C. AKUNTABILITAS KEUANGAN BAB IV PENUTUP 151 KESIMPULAN 156
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
ii
IKHTISAR EKSEKUTIF
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu Satuan
Kerja
Perangkat
Daerah
(SKPD)
penanggungjawab
teknis
pembangunan kesehatan di Provinsi Jawa Timur, menyelenggarakan
kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan dengan
mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan pada Rencana Strategis
(Renstra) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2009 – 2014.
Untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, Dinas Kesehatan Provinsi
menjabarkan tujuan ini ke dalam 9 (sembilan) sasaran, dimana untuk
mewujudkan sasaran telah ditetapkan program operasional dan
kegiatan pokok.
Untuk mengukur pencapaian sasaran Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur, telah ditetapkan indikator pencapaian keberhasilan sasaran
sejumlah 40 (empat puluh) indikator. Diantara indikator yang ada pada
tahun
2013
dirumuskan
Indikator
Kinerja
Utama
(IKU),
untuk
pengukuran 9 (sembilan) sasaran tersebut.
Hasil pengukuran 9 (sembilan) sasaran tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Peningkatkan kualitas air bersih, sanitasi dasar,
higiene sanitasi
makanan minuman serta kualitas kesehatan lingkungan dan
pengendalian faktor risiko dampak pencemaran lingkungan di
masyarakat mendapat nilai sangat baik.
2. Peningkatkan pengetahuan dan kesadaran untuk berperilaku hidup
bersih dan sehat serta pemberdayaan masyarakat
ke arah
kemandirian mendapat nilai sangat baik.
3. Peningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak,
remaja, lanjut usia, kesehatan reproduksi ; serta pelayanan
kesehatan dasar di Puskesmas dan Jaringannya, balai kesehatan
serta pelayanan kesehatan penunjang mendapat nilai sangat baik
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
iv
4. Peningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan dengan
kemampuan pelayanan kesehatan gawat darurat yang bisa diakses
masyarakat dan prasarana kesehatan di rumah sakit, rumah sakit
khusus, dan balai kesehatan mendapat nilai sangat baik
5. Peningkatkan perbaikan gizi masyarakat mendapat nilai baik
6. Peningkatkan
pengelolaan
obat,
perbekalan
kesehatan
dan
makanan mendapat nilai baik
7. Pengembangkan kebijakan dan regulasi bidang kesehatan, sistem
informasi kesehatan dan hukum kesehatan serta pembiayaan
kesehatan mendapat nilai baik
8. Penurunan angka kesakitan dan kematian penyakit menular, tidak
menular
imunisasi
dan
penyakit-penyakit
serta
pengamatan
yang
dapat
penyakit
dalam
dicegah
rangka
dengan
sistem
kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB/wabah, ancaman
epidemi serta bencana mendapat nilai sangat baik
9. Meningkatkan
jumlah,
jenis,
mutu
dan
penyebaran
tenaga
kesehatan sesuai standar mendapat nilai baik
Laporan Akuntabilitas Kinerja 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur merupakan laporan capaian kinerja (performance result) selama
tahun 2013 yang mengacu pada Rencana Strategis Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur.
Sesuai dengan Rencana Kinerja Tahunan (RKT) 2013, selama
periode tahun tersebut
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
melaksanakan 9 program ditambah program Pelayanan Administrasi
Perkantoran, Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
serta Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah
Daerah. Dari 9 program dijabarkan dalam 56 kegiatan untuk mencapai
10 sasaran strategis dengan sejumlah indikator sasaran sebagaimana
disebutkan di atas.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
v
Capaian kinerja selama tahun 2013 menunjukkan bahwa Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur berhasil memenuhi hampir seluruh
sasaran strategis yang ditargetkan (lihat Tabel Laporan Realisasi
Pelaksanaan penetapan Kinerja tahun 2013 dan uraian pada Bab III
Akuntabilitas Kinerja).
Seluruh rangkaian program dan kegiatan pada tahun 2013 pada
dasarnya dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan di
Provinsi Jawa Timur, yaitu :
1. Untuk
mewujudkan
misi
”Menggerakkan
pembangunan
berwawasan kesehatan“, maka ditetapkan tujuan: Mewujudkan
mutu
lingkungan
kesehatan
yang
lebih
lingkungan
sehat,
pengembangan
kewilayahan,
serta
sistem
menggerakkan
pembangunan berwawasan kesehatan.
2. Untuk mewujudkan
masyarakat
misi ”Mendorong terwujudnya kemandirian
untuk
hidup
sehat”,
maka
ditetapkan
tujuan:
Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu
menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta
mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).
3. Untuk
mewujudkan
misi
”Mewujudkan,
memelihara
dan
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan
terjangkau”, maka ditetapkan tujuan:
a. Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan
kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Puskesmas
dan jaringannya.
b. Meningkatkan
kesadaran
gizi
keluarga
dalam
upaya
meningkatkan status gizi masyarakat.
c. Menjamin
ketersediaan,
keterjangkauan
obat
pemerataan,
dan
pemanfaatan,
mutu,
perbekalan
kesehatan
serta
sistem
pembiayaan
dan
pembinaan mutu makanan.
d. Mengembangkan
kebijakan,
manajemen pembangunan kesehatan.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
vi
4. Untuk mewujudkan misi
penyakit
dan
”Meningkatkan
penanggulangan
masalah
upaya
pengendalian
kesehatan”,
maka
ditetapkan tujuan: Mencegah, menurunkan dan mengendalikan
penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan
lainnya.
5. Untuk mewujudkan misi ”Meningkatkan dan mendayagunakan
sumberdaya kesehatan”, maka ditetapkan tujuan:
Meningkatkan
jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai
standar.
Secara umum kendala dan hambatan yang dihadapi pada tahun
2013 adalah faktor dukungan anggaran dan koordinasi lintas sektor
serta kebijakan dukungan anggaran pada tingkat Kabupaten/Kota.
Untuk itu perlu advokasi ke berbagai pihak dan meningkatkan
koordinasi
lintas
sektor
sehingga
pelaksanaan
pembangunan
kesehatan lebih efektif dan tepat sasaran.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara
yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme merupakan pernyataan
kehendak rakyat untuk mewujudkan perubahan di segala bidang Pembangunan
Nasional sesuai dengan iklim reformasi yang menyentuh seluruh aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai tindak lanjut dari Tap MPR
tersebut
adalah
Undang-Undang
Nomor
28
Tahun
1999
tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme. Dalam pasal 3 Undang-Undang tersebut dinyatakan bahwa azasazas umum penyelenggaraan Negara meliputi asas kepastian hukum, asas tertib
penyelenggaraan Negara, asas kepentingan umum, asas keterbukaan, asas
proporsionalitas, asas profesionalitas dan asas akuntabilitas.
Mengenai asas akuntabilitas, Undang-Undang tersebut menyebutkan
bahwa asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan
dan
hasil
akhir
dari
kegiatan
penyelenggaraan
Negara
harus
dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang
kedaulatan tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
LAKIP atau Laporan Akuntabilitas Kinerja Dinas Kesehatan Tahun 2013
merupakan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi selama tahun 2013 kepada Gubernur melalui Sekretaris
Daerah. Laporan Akuntabilitas ini disusun dalam rangka pelaksanaan Tap MPR
Nomor : XI/MPR/1998 dan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tersebut di
atas.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
1
Penyusunan LAKIP mengacu pada Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Instansi sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan Negara mulai eselon II wajib memberikan laporan Akuntabilitas
Kinerjanya.
Adapun secara teknis penyusunannya berpedoman pada Peraturan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29
tahun 2010.
B. MAKSUD DAN TUJUAN
Penyusunan LAKIP Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur ini
dimaksudkan sebagai wujud pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dan
fungsi selama tahun 2013. Adapun tujuannya adalah :
a. Memberikan informasi mengenai Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi selama
tahun anggaran 2013.
b. Sebagai bahan evaluasi kinerja serta masukan dalam perencanaan program
di Dinas Kesehatan Provinsi untuk kemudian diharapkan adanya perbaikan
kinerja Dinas Kesehatan Provinsi yang lebih baik di masa mendatang.
c. Menjadikan
Dinas Kesehatan Provinsi yang akuntabel sehingga dapat
bekerja secara efisien, efektif dan representative, serta dapat mengakomodir
aspirasi masyarakat dan lingkungan.
d. Terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah khususnya
Dinas Kesehatan Provinsi.
C. GAMBARAN UMUM DINAS KESEHATAN PROVINSI
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dalam Perda Nomor 9
Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa
Timur dipimpin oleh Kepala Dinas yang dibantu oleh 1 (satu) Sekretaris dan
4 (empat ) Kepala Bidang terdiri :
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
2
1. Bidang Bina Pelayanan Kesehatan
2. Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan
3. Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan
4. Bidang
Pengembangan
dan
Pemberdayaan
Kesehatan
Masyarakat
Setiap Kepala Bidang membawahi 3 (tiga) Kepala Seksi sesuai bidangnya.
Sedangkan Sekretaris dibantu 3 (tiga) Kepala Sub Bagian yaitu Sub Bagian
Penyusunan Program, Sub Bagian Keuangan dan Sub Bagian Tata Usaha.
Dinas Kesehatan Provinsi juga mempunyai Unit Pelaksana Teknis (UPT)
yang bertanggungjawab terhadap pelayanan kesehatan untuk penyakit
khusus, pengembangan pengobatan tradisional, pelatihan petugas kesehatan
dan pendidikan tertentu. UPT tersebut yaitu :
1. Rumah Sakit Kusta Kediri
2. Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Mojokerto
3. Rumah Sakit Paru Dungus Madiun
4. Rumah Sakit Paru Jember
5. Rumah Sakit Paru Batu
6. Balai Kesehatan Mata Masyarakat Surabaya
7. Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru Madiun
8. Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru Pamekasan
9. Balai Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Paru Surabaya
10. UPT Materia Medika Batu
11. UPT Akademi Gizi Surabaya
12. UPT Akademi Keperawatan Madiun
13. UPT Pelatihan Kesehatan Masyarakat Murnajati Lawang
Sedangkan Tugas Pokok dan Fungsinya terdiri dari beberapa hal yaitu :
Dalam Perda tersebut Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan urusan
pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di
bidang kesehatan dan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
3
menyelenggarakan fungsi :
(a) perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan;
(b) penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang
kesehatan;
(c) pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya; dan
(d) pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh gubernur.
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi tersebut Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur mempunyai struktur organisasi yang terdiri dari :
 Kepala Dinas
 Sekretaris
 Bidang Pelayanan Kesehatan
 Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan
 Bidang Pengembangan Sumber Daya Kesehatan
 Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
 Kelompok Jabatan Fungsional
 Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).
Penyusunan LAKIP Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
didasarkan pada tugas pokok dan fungsinya yang terdiri dari program-progam
kesehatan seperti tercantum dalam Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA)
tahun 2013 yang meliputi 9 program, 58 kegiatan ditambah dengan kegiatan
rutin penunjang yang dilaksanakan oleh sekretariat dan 4 Bidang, yaitu :
1. Sekretariat
= 36 (30+6) kegiatan
2. Bidang Pelayanan Kesehatan
= 12 kegiatan
3. Bidang PPMK
= 19 kegiatan
4. Bidang PSDK
= 12 kegiatan
5. Bidang PPKM
=
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
9 kegiatan
4
D. DASAR HUKUM
Sebagai Dasar Hukum penyusunan LAKIP adalah :
b. Pasal 4 ayat (i) Undang-Undang Dasar 1945.
c. Ketetapan Majelis Pernusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor
XI/MPR/1998 Tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
d. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
e. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Lembaga Administrasi Negara.
f. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1999 Tentang
Pengangkatan Ketua Lembaga Administrasi Negara.
g. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 Tentang
Penyelenggaraan Pendayagunaan Aparatur Negara.
h. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 Tentang
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
i. Keputusan
Kepala
Lembaga
Administrasi
Negara
Nomor
:
239/IX/6/8/2003 Tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
j. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi No. 29 tahun 2010
E. SISTEMATIKA
Sistematika penulisan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
didasarkan atas ketentuan yang termuat dalam Surat Keputusan Kepala
Lembaga Administrasi Negara Nomor : 239/IX/6/8/2003 tanggal 25 Maret 2003
dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi no. 29 tahun 2010 Tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
5
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dengan susunan sebagai
berikut :
IKHTISAR EKSEKUTIF
BAB I
:
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B. Maksud dan Tujuan
C. Gambaran Umum
D. Dasar Hukum
E. Sistematika
BAB II
:
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
A. Rencana Strategis : Visi, Misi, Tujuan. Sasaran, Kebijakan
dan Program
B. Rencana Kinerja : Rencana Kinerja Tahunan
C. Perjanjian Kinerja : Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja
Utama (IKU)
BAB III
BAB IV
:
:
AKUNTABILITAS KINERJA
A.
Pengukuran Kinerja
B.
Evaluasi dan Analisis Kinerja
C.
Akuntabilitas Keuangan
PENUTUP
LAMPIRAN – LAMPIRAN
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
6
BAB II
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
A. RENCANA STRATEGIS : VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, KEBIJAKAN
DAN PROGRAM
Rencana Strategis atau yang disebut dengan RENSTRA merupakan
suatu proses perencanaan yang berorientasi pada hasil yang ingin dicapai
selama kurun waktu tertentu berisi visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi
yang dilaksanakan melalui kebijakan dan program Kepala Daerah.
Penyusunan RENSTRA Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
tahun 2009-2014 disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur dan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih
dan bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3851) serta Peraturan Pemerintah Nomor 8
Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi pemerintah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614 ).
RENSTRA Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur merupakan
perencanaan jangka panjang dan bersifat global yang perlu dijabarkan
dalam perencanaan yang lebih mikro, operasional, dan berjangka pendek
dalam satu tahunan berupa Rencana Kerja Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
7
A. RENCANA STRATEGIS TAHUN 2009 - 2014
RENSTRA Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur Tahun
2009–2014 dibuat berdasar pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009 – 2014 yang ditetapkan
dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur tanggal 20 Mei 2009 nomor 38
Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014.
1. V i s i
Dinas Kesehatan Provinsi Jatim sebagai salah satu dari
penyelenggara pembangunan kesehatan mempunyai visi: ”Masyarakat
Jawa Timur Mandiri untuk Hidup Sehat”. Masyarakat yang mandiri
untuk hidup sehat adalah suatu kondisi dimana masyarakat Jawa
Timur menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah dan
mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat
bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena
penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun
lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
2. M i s i
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan
yang merupakan penjabaran dari visi yang telah ditetapkan.
Berdasarkan Visi Dinas Kesehatan Provinsi, maka misi
pembangunan kesehatan di Jawa Timur adalah :
1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan
2. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
3. Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan
yang bermutu, merata, dan terjangkau
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
8
4. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan
masalah kesehatan
5. Meningkatkan dan mendayagunakan sumberdaya kesehatan
3. Tujuan
Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam
jangka waktu 1 (satu) sampai dengan 5 (lima) tahun. Tujuan ditetapkan
dengan mengacu kepada pernyataan visi dan misi serta didasarkan
pada isu-isu dan analisis strategis.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dalam mewujudkan misinya
menetapkan tujuan sebagai berikut :
1) Untuk mewujudkan misi ”Menggerakkan pembangunan berwawasan
kesehatan“, maka ditetapkan tujuan: Terwujudnya mutu lingkungan
yang lebih sehat, pengembangan sistem kesehatan lingkungan
kewilayahan, serta menggerakkan pembangunan berwawasan
kesehatan; dengan indikator tujuan yaitu : Jumlah masyarakat yang
dapat mengakses Lingkungan yang sehat dan bermutu sesuai
dengan standar
2) Untuk mewujudkan misi ”Mendorong terwujudnya kemandirian
masyarakat
untuk
hidup
sehat”,
maka
ditetapkan
tujuan:
Keberdayaan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu
menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta
mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM);
dengan indikator tujuannya adalah : Persentase Rumah Tangga ber
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
9
3) Untuk
mewujudkan
misi
”Mewujudkan,
memelihara
dan
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan
terjangkau”, maka ditetapkan tujuan:
a. Meningkatnya akses, pemerataan dan kualitas pelayanan
kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Puskesmas
dan jaringannya. Dengan indikator tujuan :
1. Rasio Puskesmas per 100.000 penduduk
2. Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup
3. Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup
b. Meningkatnya
kesadaran
gizi
keluarga
dalam
upaya
meningkatkan status gizi masyarakat. Dengan indikator :
Persentase penurunan angka Prevalensi Kurang Gizi pada
balita
c. Terjaminnya ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan, mutu,
keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan serta pembinaan
mutu makanan., dengan indikatornya adalah :
Persentase Obat sesuai kebutuhan tersedia
d. Berkembangnya kebijakan, sistem pembiayaan dan manajemen
pembangunan kesehatan, dengan indikatornya yaitu :
Persentase
Penduduk
yang
telah
terjamin
pemeliharaan
kesehatan dengan Sistem Jaminan Kesehatan
4) Untuk
mewujudkan
penyakit
dan
misi
”Meningkatkan
penanggulangan
masalah
upaya
pengendalian
kesehatan”,
maka
ditetapkan tujuan: Terwujudnya Pencegahan, penurunan dan
pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta masalah
kesehatan lainnya;
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
10
dengan indikator tujuannya adalah :
a.Persentase ODHA yang mendapat ART
b. Angka Keberhasilan Pengobatan TB
c.Persentase Capaian UCI Desa
5) Untuk mewujudkan misi ”Meningkatkan dan mendayagunakan
sumberdaya kesehatan”, maka ditetapkan tujuan:
Meningkatnya
jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai
standar. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ditetapkan indikator:
a. Rasio dokter per 100.000 penduduk
b. Rasio Tenaga Medis per 100.000 penduduk
Matriks Hubungan antara Misi dan Tujuan
Tabel : 2.1
MISI
1.
Menggerakkan
pembangunan
berwawasan
kesehatan
TUJUAN
I
Terwujudnya mutu
lingkungan yang lebih
sehat, berkembangnya
sistem kesehatan
lingkungan kewilayahan,
serta menggerakkan
pembangunan
berwawasan kes.
1
Jumlah masyarakat yang
dapat
mengakses
Lingkungan yang sehat dan
bermutu
sesuai
dengan
standar
II
Keberdayaan individu,
keluarga dan masyarakat
agar mampu
menumbuhkan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) serta
berkembangnya Upaya
Kesehatan Berbasis
Masyarakat (UKBM).
Meningkatnya akses,
pemerataan dan kualitas
pelayanan kesehatan
melalui Rumah Sakit, Balai
Kesehatan, Puskesmas
dan jaringannya.
1
Persentase Rumah Tangga
ber Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).
1
Rasio
Puskesmas
per
100.000 penduduk
Angka Kematian Bayi per
1000 Kelahiran Hidup
Angka Kematian Ibu per
100.000 Kelahiran Hidup
2. Mendorong
terwujudnya
kemandirian
masyarakat
untuk
hidup
sehat
3. Mewujudkan,
memelihara dan
meningkatkan
pelayanan
kesehatan yang
bermutu,
merata, dan terjangkau
INDIKATOR
III
IV
Meningkatnya kesadaran
gizi keluarga dalam upaya
meningkatkan status gizi
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
2
3
4
Persentase Penurunan
Angka Prevalensi Kurang
Gizi pada balita
11
masyarakat.
4. Meningkatkan
upaya
pengendalian
penyakit
dan
penanggulangan
masalah Kes.
V
Terjaminnya ketersediaan,
pemerataan, pemanfaatan,
mutu, keterjangkauan obat
dan perbekalan kes serta
pembinaan mutu makanan.
5
Persentase Obat sesuai
kebutuhan yang tersedia
VI
Berkembangnya kebijakan,
sistem pembiayaan dan
manajemen pembangunan
kesehatan.
6
Persentase penduduk yang
telah terjamin pemeliharaan
kesehatan dengan sistem
Jaminan Kesehatan
VII
Terwujudnya pencegahan,
penurunan
dan
pengendalian penyakit menular dan tidak menular
serta masalah kesehatan
lainnya.
1
Persentase ODHA yang
mendapat ART
Angka Keberhasilan Pengobatan TB
Persentase Capaian UCI
Desa
Meningkatnya jumlah, jenis, mutu dan penyebaran
tenaga kesehatan sesuai
standar.
1
VIII
5. Meningkatkan
dan mendayagunakan
sumberdaya
kesehatan
2
3
2
Ratio Dokter per 100.000
penduduk
Ratio Tenaga Medis per
100.000 penduduk
4. S a s a r a n
Sasaran merupakan penjabaran dari tujuan organisasi dan
menggambarkan hal-hal yang ingin dicapai melalui tindakan-tindakan
yang akan dilakukan secara operasional. Rumusan sasaran yang
ditetapkan diharapkan dapat memberikan fokus pada penyusunan
program operasional dan kegiatan pokok organisasi yang bersifat
spesifik, terinci, dapat diukur dan dapat dicapai.
Berdasarkan makna penetapan sasaran tersebut maka
sampai dengan akhir tahun 2014, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur menetapkan sasaran dengan rincian sebagai berikut :
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
12
1. Untuk mewujudkan tujuan ” Terwujudnya mutu lingkungan yang
lebih sehat, berkembangnya sistem kesehatan lingkungan
kewilayahan, serta menggerakkan pembangunan berwawasan
kesehatan” maka ditetapkan sasaran: Meningkatnya kualitas air
bersih, sanitasi dasar, higiene sanitasi makanan minuman serta
kualitas kesehatan lingkungan, dengan indikator keberhasilan
pencapaian sasaran :
a. Persentase Akses Sanitasi Dasar yang memenuhi standar
b. Persentase Akses Terhadap Kualitas Air Bersih yang
memenuhi standar
2. Untuk mewujudkan tujuan ”Keberdayaan individu, keluarga, dan
masyarakat agar mampu menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS) serta berkembangnya Upaya Kesehatan
Berbasis Masyarakat (UKBM)”, maka ditetapkan sasaran:
Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran untuk berperilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pemberdayaan masyarakat
melalui UKBM ke arah kemandirian,
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran :
a. Persentase RT ber Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
b. Persentase Posyandu berstrata PURI (Purnama Mandiri)
c. Persentase Desa Siaga Aktif
3. Untuk mewujudkan tujuan ”Meningkatnya akses, pemerataan
dan kualitas pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai
Kesehatan, Puskesmas dan jaringannya”, maka ditetapkan
sasaran:
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
13
3.1 Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu, bayi,
anak, remaja,lanjut usia, kesehatan reproduksi, kesehatan dasar
di Puskesmas dan jaringannya, balai kesehatan serta pelayanan
kesehatan penunjang dengan indikator keberhasilan pencapaian
sasaran :
a. Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup
b. Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup
c. Persentase cakupan Kunjungan Neonatal (KN) Lengkap
(%)
d. Persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan (Linakes)
e. Persentase Cakupan Kunjungan Bayi (%)
f. Persentase Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4) (%)
g. Persentase capaian peserta KB Aktif
h. Persentase Puskesmas yang ada menjadi Puskesmas
Rawat Inap Standar
i. Persentase Puskesmas Rawat Inap yang ada menjadi
Puskesmas Rawat Inap PLUS
j. Persentase Puskesmas PONED sesuai standar
k. Persentase Pustu yang menjadi Pustu Layani Gawat
Darurat dan observasi
l. Persentase Polindes yang berkembang menjadi Ponkesdes
sesuai standar
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
14
3.2) Meningkatnya jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan
dengan kemampuan pelayanan kesehatan gawat darurat yang
bisa diakses masyarakat dan prasarana kesehatan di rumah
sakit, rumah sakit khusus, dan balai kesehatan dengan
indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
a. Persentase Rumah Sakit Pemerintah menyelenggarakan
Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif
(PONEK) sesuai standar
b. Persentase Rumah Sakit yang Terakreditasi 5 pelayanan
dasar
4. Untuk mewujudkan tujuan “Meningkatnya kesadaran gizi keluarga
dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat”, maka
ditetapkan sasaran: Meningkatnya perbaikan gizi masyarakat,
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
a. Persentase Balita Dipantau pertumbuhannya
b. Persentase Balita dengan Gizi Buruk
c. Persentase Balita dengan Gizi Kurang
5.
Untuk
mewujudkan
tujuan
”Terjaminnya
ketersediaan,
pemerataan, pemanfaatan, mutu, keterjangkauan obat dan
perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan”, maka
ditetapkan sasaran:
Meningkatnya pengelolaan obat, perbekalan kesehatan dan
makanan,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
15
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
a. Persentase Obat sesuai kebutuhan tersedia
b. Persentase Ketersediaan obat dan alat kesehatan untuk
penanggulangan bencana dan KLB
c. Persentase sarana pelayanan kesehatan (sarkes) yang
menerapkan layanan kefarmasian sesuai standar
6. Untuk mewujudkan tujuan “Berkembangnya kebijakan, sistem
pembiayaan dan manajemen pembangunan kesehatan”, maka
ditetapkan sasaran: Dikembangkannya kebijakan dan regulasi
bidang kesehatan, sistem informasi kesehatan dan hukum
kesehatan serta pembiayaan kesehatan, dengan indikator
keberhasilan sasaran:
a. Persentase penduduk miskin Jatim yang berobat gratis
melalui Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah)
b. Persentase penduduk yang telah terjamin pemeliharaan
kesehatan dengan sistem Jaminan Kesehatan
c. Persentase pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan sesuai
dng standar
7. Untuk
mewujudkan
tujuan
”Terwujudnya
Pencegahan,
penurunan dan pengendalian penyakit menular dan tidak
menular serta masalah kesehatan lainnya”, maka ditetapkan
sasaran: Menurunnya angka kesakitan dan kematian penyakit
menular,
tidak menular dan penyakit-penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi serta pengamatan penyakit dalam
rangka
sistem
kewaspadaan
dini
dan
penanggulangan
KLB/wabah, ancaman epidemi serta bencana,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
16
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran:
a. Angka Kesakitan DBD per 100.000 penduduk
b. Persentase korban bencana skala provinsi yang tertangani
sesuai standar
c. Angka keberhasilan Pengobatan Penyakit TB
d. Persentase tata laksana penderita Diare sesuai standar
e. Persentase Capaian UCI desa
f. Persentase penderita Kusta telah menyelesaikan pengobatan
sesuai standar
g. Persentase ODHA yang mendapatkan ART
h. Angka Capaian API ( Annual Parracite Index) Penyakit
Malaria
8. Untuk mewujudkan tujuan meningkatnya jumlah, jenis, mutu dan
penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar, maka ditetapkan
sasaran: Meningkatnya jumlah, jenis, mutu dan penyebaran
tenaga kesehatan sesuai standar, dengan indikator keberhasilan
sasaran:
a. Persentase Bidan PTT mendapatkan Sertifikasi
b. Persentase Ponkesdes memiliki Tenaga Perawat
c. Persentase Desa/Kelurahan mempunyai Bidan di Desa
d. Persentase Tenaga Kesehatan yang Lulus Uji Kompetensi
berizin
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
17
Matriks Hubungan antara Tujuan, dan Sasaran
Tabel : 2.2
TUJUAN
1
II
Uraian
Terwujudnya mutu
lingkungan yang
lebih sehat,
berkembangnya
sistem kesehatan
lingkungan
kewilayahan, serta
menggerakkan
pembangunan
berwawasan kes.
SASARAN
Indikator
1
Jumlah masyarakat
yang dapat mengakses Lingkungan
yang sehat dan
bermutu sesuai dengan standar
Keberdayaan
individu, keluarga
dan masyarakat
agar mampu
menumbuhkan
Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat
(PHBS) serta
berkembangnya
Upaya Kesehatan
Berbasis
Masyarakat
(UKBM).
Persentase Rumah
Tangga ber Perilaku
Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS).
Meningkatnya
akses,
pemerataan dan
kualitas
pelayanan
kesehatan melalui
Rumah
Sakit,
Balai Kesehatan,
Puskesmas dan
jaringannya.
Rasio Puskesmas
per
100.000
penduduk
2
Uraian
Meningkatnya
kualitas air bersih,
sanitasi dasar,
higiene sanitasi
makanan
minuman serta
kualitas kesehatan
lingkungan,
Indikator
Persentase Akses Sanitasi
Dasar yang memenuhi
standar
Persentase
Akses
Terhadap Kualitas Air
Bersih yang memenuhi
standar
Meningkatnya
pengetahuan dan
kesadaran untuk
berperilaku hidup
bersih dan sehat
(PHBS)
serta
keberdayaan
masyarakat
melalui UKBM ke
arah kemandirian,
Persentase
RT
ber
Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS)
Meningkatnya
akses dan mutu
pelayanan
kesehatan ibu,
bayi, anak,
remaja,lanjut usia,
kesehatan
reproduksi,
kesehatan dasar
di Puskesmas dan
jaringannya, balai
kesehatan serta
pelayanan
kesehatan
penunjang
a. Angka Kematian Bayi
per 1000 Kelahiran
Hidup
b. Angka Kematian Ibu
per 100.000
Kelahiran Hidup
c. Persentase cakupan
Kunjungan Neonatal
(KN) Lengkap (%)
d. Persentase cakupan
pertolongan persalinan
oleh tenaga
kesehatan (Linakes)
e. Persentase Cakupan
Kunjungan Bayi (%)
Persentase
Posyandu
berstrata PURI (Purnama
Mandiri)
Persentase
Aktif
Desa
Siaga
III
Angka
Kematian
Bayi
per
1000
Kelahiran Hidup
Angka Kematian
Ibu per 100.000
Kelahiran Hidup
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
3
18
4
IV
Meningkatnya
kesadaran gizi
keluarga dalam
upaya
meningkatkan
status gizi
masyarakat.
Persentase Penurunan
Prevalensi
Kurang Gizi pada
Balita
5
Meningkatnya
jangkauan dan
kualitas pelayanan
kesehatan dengan
kemampuan
pelayanan
kesehatan gawat
darurat yang bisa
diakses
masyarakat dan
prasarana
kesehatan di
rumah sakit,
rumah sakit
khusus, dan balai
kesehatan
Meningkatnya
perbaikan gizi
masyarakat
f. Persentase Cakupan
Kunjungan Ibu Hamil
(K4) (%)
g. Persentase capaian
peserta KB Aktif
h. Persentase
Puskesmas
yang ada menjadi
Puskesmas Rawat
Inap Standar
i. Persentase Puskesmas
Rawat Inap yang ada
Menjadi Puskesmas
Rawat Inap PLUS
j. Persentase
Puskesmas PONED
sesuai standar
k. Persentase Pustu
yang menjadi Pustu
Layani Gawat
Darurat dan observasi
l. Persentase Polindes
yang berkembang
menjadi Ponkesdes
sesuai standar
a. Persentase Rumah
Sakit Pemerintah
menyelenggarakan
Pelayanan Obstetri
Neonatal Emergency
Komprehensif (PONEK)
Sesuai standar
b. Persentase Rumah
Sakit yang
Terakreditasi 5
pelayanan dasar
Persentase
Dipantau
pertumbuhannya
Balita
Persentase Balita dengan
Gizi Buruk
Persentase Balita dengan
Gizi Kurang
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
19
V
Terjaminnya
ketersediaan,
pemerataan,
pemanfaatan,
mutu,
keterjangkauan
obat dan
perbekalan
kesehatan serta
pembinaan mutu
makanan.
Persentase Obat
sesuai kebutuhan
yang tersedia
6 Meningkatnya
pengelolaan obat,
perbekalan
kesehatan dan
makanan,
Berkembangnya
kebijakan, sistem
pembiayaan dan
manajemen
pembangunan
kesehatan.
Persentase Ketersediaan
obat dan alat kesehatan
untuk penanggulangan
bencana dan KLB
Persentase sarana
pelayanan kesehatan
(sarkes) yang
menerapkan layanan kefarmasian
sesuai standar
.
VI
Persentase Obat sesuai
kebutuhan tersedia
Persentase
penduduk yang
telah terjamin
pemeliharaan
kesehatan dengan
sistem Jaminan
Kesehatan
7 Dikembangkannya Persentase penduduk
kebijakan dan
regulasi bidang
kesehatan, sistem
informasi
kesehatan dan
hukum kesehatan
serta pembiayaan
kesehatan
miskin Jatim yang berobat
gratis melalui Jaminan
Kesehatan Daerah
(Jamkesda)
Persentase penduduk
yang telah terjamin
pemeliharaan kesehatan
dengan sistem Jaminan
Kesehatan
Persentase pengelolaan
Sistem Informasi
Kesehatan sesuai dng
standar
VII
Terwujudnya
Pencegahan,
penurunan dan
pengendalian
penyakit menular
dan tidak menular
serta masalah
kesehatan lainnya.
Persentase ODHA
yang mendapat
ART
Angka Keberhasilan
Pengobatan TB
. Persentase
Capaian UCI Desa
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
8 Menurunnya
angka kesakitan
dan kematian
penyakit menular,
tidak menular dan
penyakit-penyakit
yang dapat
dicegah dengan
imunisasi serta
pengamatan
penyakit dalam
rangka sistem
kewaspadaan dini
dan
penanggulangan
KLB/wabah,
ancaman epidemi
serta bencana,
a. Angka Kesakitan DBD
per 100.000 penduduk
b. Persentase korban
bencana skala provinsi
yang tertangani sesuai
standar
c. Angka keberhasilan
Pengobatan Penyakit
TB
d. Persentase tata laksana
penderita Diare sesuai
standar
e. Persentase Capaian
UCI desa
f. Persentase penderita
Kusta telah
Menyelesaikan
pengobatan sesuai
standar
g. Persentase ODHA yang
mendapatkan ARV
h. Angka Capaian API
( Annual Parracite
Index) Penyakit Malaria
20
VIII
Meningkatkan
jumlah,
jenis,
mutu dan penyebaran tenaga
kesehatan sesuai
standar.
Ratio Dokter per
100.000 penduduk
Ratio Tenaga Medis
per 100.000 penduduk
9 Meningkatnya
jumlah, jenis,
mutu dan
penyebaran
tenaga kesehatan
sesuai standar,
Persentase Bidan PTT
mendapatkan Sertifikasi
Persentase
Ponkesdes
memiliki Tenaga Perawat
Persentase
Desa/Kelurahan
mempunyai Bidan di Desa
Persentase
Tenaga
Kesehatan yang Lulus Uji
Kompetensi berizin
5. Strategi dan Arah Kebijakan
Kebijakan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dalam
mewujudkan tujuan dan sasaran yang akan dicapai sampai dengan
akhir tahun 2014 dirumuskan sebagai berikut :
1) Dalam rangka mewujudkan misi “Menggerakkan pembangunan
berwawasan kesehatan”, maka ditetapkan kebijakan :
a. Pemantapan Pembangunan berwawasan kesehatan
b. Peningkatan lingkungan sehat
2) Dalam rangka mewujudkan misi “Mendorong terwujudnya
kemandirian masyarakat untuk hidup sehat”, maka ditetapkan
kebijakan :
Pengembangan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
21
3) Dalam rangka mewujudkan misi ”Mewujudkan, memelihara dan
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan
terjangkau”, maka ditetapkan kebijakan :
a. Percepatan penurunan kematian ibu dan anak.
b. Peningkatan
akses
dan
kualitas
pelayanan
kesehatan
terutama bagi masyarakat miskin, daerah tertinggal, terpencil,
perbatasan dan kepulauan .
c. Penanganan masalah gizi kurang dan gizi buruk pada bayi,
anak balita,ibu hamil dan menyusui
d. Pemenuhan ketersediaan dan pengendalian obat, perbekalan
kesehatan dan makanan.
e. Peningkatan pembiayaan kesehatan dan pengembangan
kebijakan dan manajemen kesehatan.
4) Dalam
rangka
pengendalian
mewujudkan
penyakit
dan
misi
”Meningkatkan
penanggulangan
upaya
masalah
kesehatan”, maka ditetapkan kebijakan :
a. Peningkatan pencegahan, surveilans, deteksi dini penyakit
menular,
penyakit
tidak
menular,
penyakit
potensial
KLB/wabah dan ancaman epidemi yang dikuti dengan
pengobatan sesuai standar
b. Penanggulangan masalah kesehatan lainnya
c. Penanggulangan masalah kesehatan akibat bencana.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
22
5) Dalam
rangka
mewujudkan
misi
”Meningkatkan
dan
mendayagunakan sumberdaya kesehatan”, maka ditetapkan
kebijakan :
a. Penyediaan
tenaga
kesehatan
di
rumah
sakit,
balai
kesehatan, puskesmas dan jaringannya serta
b. Mendayagunakan tenaga kesehatan yang kompeten sesuai
kebutuhan
Sedangkan program yang ditetapkan pada tahun 2013 sebagai
berikut :
1. Program Pengembangan Lingkungan Sehat
2. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
3. Program Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)
4. Program Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
5. Program Perbaikan Gizi Masyarakat
6. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan
7. Program Kebijakan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan
8. Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
9. Program Pemberdayaan Sumberdaya Kesehatan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
23
E. RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT)
Rencana Penetapan Kinerja (PK) Tahun 2013, berdasarkan
Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA)
tahun 2013 mendapatkan
anggaran sebesar Rp 123.613.853.000,- dalam rangka mencapai 9
sasaran strategis, dengan 9 program, 58 kegiatan dan ratusan rincian sub
kegiatan.
Untuk mengetahui indikator kinerja dan rencana tingkat capaian (target)
masing-masing kegiatan di atas dapat dilihat pada lampiran Penetapan
Kinerja 2013.
Adapun Rencana Kinerja Tahun 2013 Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur adalah sebagai berikut :
Tabel : 2.3
Rencana Kinerja Tahun 2013 DINAS KESEHATAN PROVINSI JATIM
TUJUAN
1
II
Uraian
Terwujudnya
mutu lingkungan
yang lebih sehat,
berkembangnya
sistem
kesehatan
lingkungan
kewilayahan,
serta
menggerakkan
pembangunan
berwawasan
kes.
Keberdayaan
individu,
keluarga dan
masyarakat agar
mampu
menumbuhkan
Perilaku Hidup
SASARAN
Indikator
1
Jumlah masyarakat yangdapat
mengakses
Lingkungan
yang sehat dan
bermutu sesuai
dengan standar
Persentase
Rumah Tangga
ber Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS)
2
TARGET
Uraian
Meningkatnya
kualitas air bersih,
sanitasi dasar,
higiene sanitasi
makanan
minuman serta
kualitas kesehatan
lingkungan,
Indikator
Persentase
Akses
Sanitasi Dasar yang
memenuhi standar
Persentase
Akses
Terhadap Kualitas Air
Bersih yang memenuhi
standar
Meningkatnya
pengetahuan dan
kesadaran untuk
berperilaku hidup
bersih dan sehat
(PHBS)
serta
pemberdayaan
Persentase RT ber
Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS)
65
Persentase Posyandu
berstrata
PURI
(Purnama Mandiri)
50
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
70
75
24
Bersih dan Sehat
(PHBS) serta
berkembangnya
Upaya
Kesehatan
Berbasis
Masyarakat
(UKBM).
III
Meningkatnya
akses,
pemerataan dan
kualitas
pelayanan
kesehatan
melalui Rumah
Sakit,
Balai
Kesehatan,
Puskesmas dan
jaringannya.
masyarakat
melalui UKBM ke
arah kemandirian,
Persentase Desa Siaga
Aktif
Rasio
Puskesmas per
100.000 penduduk
Angka
Kematian Bayi
per
1000
Kelahiran Hidup
Angka
Kematian Ibu
per 100.000
Kelahiran Hidup
3
Meningkatnya
akses dan mutu
pelayanan
kesehatan ibu,
bayi, anak,
remaja,lanjut usia,
kesehatan
reproduksi,
kesehatan dasar
di Puskesmas dan
jaringannya, balai
kesehatan serta
yankes penunjang
a. Angka Kematian
Bayi per 1000
Kelahiran Hidup
b. Angka Kematian
Ibu per
100.000
Kelahiran Hidup
c. Persentase
cakupan
Kunjungan Neonatal
(KN) Lengkap (%)
d. Persentase
cakupan
pertolongan
persalinan
oleh tenaga
kesehatan
Linakes)
e. Persentase
Cakupan
Kunjungan Bayi (%)
f. Persentase
Cakupan
Kunjungan Ibu
Hamil (K4) (%)
g. Persentase capaian
peserta KB Aktif
h. Persentase
Puskesmas
yang ada menjadi
Puskesmas
Rawat
Inap
Standar
i. Persentase
Puskesmas
Rawat Inap yang
ada
Menjadi Puskesmas
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
70
30
80,5
95
94
88
93
70
24
24
25
Rawat Inap PLUS
j. Persentase
Puskesmas
PONED
sesuai standar
40
k. Persentase Pustu
yang menjadi Pustu
Layani Gawat
Darurat dan
Observasi
10
l. Persentase
Polindes
yang berkembang
menjadi Ponkesdes
sesuai standar
4
IV
V
Meningkatnya
kesadaran gizi
keluarga dalam
upaya
meningkatkan
status gizi
masyarakat.
Terjaminnya
ketersediaan,
pemerataan,
pemanfaatan,
mutu,
keterjangkauan
obat dan
perbekalan
Persentase
Penurunan
Prevalensi
Kurang Gizi pada Balita
Persentase
Obat sesuai
kebutuhan yang
tersedia
5
Meningkatnya
jangkauan dan
kualitas pelayanan
kesehatan dengan
kemampuan
pelayanan
kesehatan gawat
darurat yang bisa
diakses
masyarakat dan
prasarana
kesehatan di
rumah sakit,
rumah sakit
khusus, dan balai
kesehatan
Meningkatnya
perbaikan gizi
masyarakat
6 Meningkatnya
pengelolaan obat,
perbekalan
kesehatan dan
makanan,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
a. Persentase Rumah
Sakit Pemerintah
menyelenggarakan
Pelayanan Obstetri
Neonatal
Emergency
Komprehensif
(PONEK)
Sesuai standar
b. Persentase Rumah
Sakit yang
Terakreditasi 5
pelayanan dasar
Persentase Balita
Dipantau
pertumbuhannya
78
75
70
80
Persentase Balita
dengan Gizi Buruk
2,5
Persentase Balita
dengan Gizi Kurang
15
Persentase Obat
Sesuai Kebutuhan
tersedia
Persentase
Ketersediaan obat dan
alat kesehatan untuk
penanggulangan
95
90
26
kesehatan serta
pembinaan mutu
makanan.
bencana dan KLB
Persentase sarana
pelayanan kesehatan
(sarkes) yang
menerapkan layanan
kefarmasian sesuai
standar
.
VI
Berkembangnya
kebijakan, sistem
pem-biayaan
dan manajemen
pembangunan
kesehatan.
Persentase
penduduk yang
telah terjamin
pemeliharaan
kesehatan
dengan sistem
Jaminan
Kesehatan
7 Dikembangkannya Persentase
kebijakan dan
regulasi bidang
kesehatan, sistem
informasi
kesehatan dan
hukum kesehatan
serta pembiayaan
kesehatan
penduduk
miskin
Jatim
yang
berobat gratis melalui
Jamkesda (Jaminan
Kesehatan Daerah)
Terwujudnya
Pencegahan,
penurunan dan
pengendalian
penyakit menular
dan
tidak
menular
serta
masalah
kesehatan
lainnya.
a, Persentase
ODHA yang
Mendapat
ART
b, Angka
Keberhasilan
Pengobatan
TB
c. Persentase
Capaian UCI
Desa
8 Menurunnya
angka kesakitan
dan kematian
penyakit menular,
tidak menular dan
penyakit-penyakit
yang dapat
dicegah dengan
imunisasi serta
pengamatan
penyakit dalam
rangka sistem
kewaspadaan dini
dan
penanggulangan
KLB/wabah,
ancaman epidemi
serta bencana,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
27
Persentase penduduk
yang telah terjamin
pemeliharaan kes dng
sistem Jaminan Kes
Persentase
pengelolaan Sistem
Informasi Kesehatan
sesuai dng standar
VII
50
a. Angka Kesakitan
DBD per 100.000
penduduk
b. Persentase korban
bencana skala
provinsi yang
tertangani sesuai
standar
c. Angka keberhasilan
Pengobatan penyakit
TB
d. Persentase tata
laksana penderita
Diare sesuai
Standar
60
100
52
77,5
90
100
e. Persentase Capaian
UCI desa
80
f. Persentase penderita
Kusta telah
Menyelesaikan
pengobatan sesuai
standar
90
g. Persentase ODHA
80
27
yang mendapatkan
ART
h. Angka Capaian API
( Annual Parracite
Index) Penyakit
Malaria
VIII
Meningkatkan
jumlah,
jenis,
mutu dan penyebaran tenaga
kesehatan
sesuai standar.
Ratio
Dokter
per
100.000
penduduk
Rasio Tenaga
Medis per
100.000
penduduk
9 Meningkatnya
jumlah, jenis,
mutu dan
penyebaran
tenaga kesehatan
sesuai standar,
Persentase Bidan PTT
mendapatkan
Sertifikasi
1 permil
100
Persentase Ponkesdes
memiliki Tenaga
Perawat
100
Persentase
Desa/Kelurahan
mempunyai Bidan di
Desa
80
Persentase
TenagaKesehatan
yang Lulus Uji Kompetensi berizin
80
F. PERJANJIAN KINERJA
Setiap sasaran (9 sasaran pada Renstra) telah ditetapkan sejumlah
indikator, dan untuk memudahkannya disusunlah Indikator Kinerja Utama
dan beberapa indikator untuk program prioritas/Icon Gubernur bidang
kesehatan. Rumusan tersebut tertuang dalam perjanjian kinerja tahun
2013 (lihat lampiran).
Rencana Kinerja Tahunan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur Tahun 2013 yang telah dibuat untuk melaksanakan kegiatan,
program dan sasaran di tahun 2013 menjadi tumpuan bagi Pemerintah
Provinsi Jawa Timur untuk mewujudkan kinerja Output ataupun
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
28
Outcome yang ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 berdasarkan pada Instruksi Presiden
Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi
yang ditindaklanjuti dengan surat edaran Menteri Pendayagunaan
Aparatur
Negara
dan
Reformasi
Birokrasi
Nomor
SE/31/M.PAN/12/2004 tentang Penetapan Kinerja.
Pada tanggal 31 Desember 2010 muncul Peraturan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 29 Tahun 2010
tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang menjadikan Penetapan
Kinerja sebagai komitmen kinerja Kepala Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur dinyatakan dalam Perjanjian Kinerja, sebagaimana dapat
dilihat pada lampiran Penetapan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur Tahun 2013.
Penetapan Kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Tahun 2013 dijadikan acuan untuk mengukur Kinerja Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur Tahun 2013 dan melaporkannnya dalam LAKIP.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
29
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Akuntabilitas kinerja dalam format Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (LAKIP) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tidak terlepas dari
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (SAKIP), fungsi perencanaan
(Planning) yang sudah berjalan mulai dari Rencana Strategis (renstra) yang
mengacu pada RPJMD, RKPD maupun Rencana Kinerja Tahunan, Rencana
Kerja
dan
Anggaran
(RKA),
Penetapan
Kinerja
hingga
pelaksanaan
pembangunan kesehatan itu sendiri sebagai fungsi actuating dan kemudian
pertanggungJawaban
atas
pelaksanaan
pembangunan
sebagai
fungsi
controlling.
Pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan pembangunan sifatnya
terukur, terdapat standar pengukuran antara yang diukur dengan piranti
pengukurannya.
Didalam
prosesnya
pengukuran
dilakukan
pada
aspek
kegiatan, program dan sasaran. Pada prinsipnya pengukuran dilakukan untuk
melihat/mengevaluasi
sejauh
mana
kegiatan,
program,
dan
sasaran
dilaksanakan sesuai dengan arah yang diinginkan; dengan berbagai piranti
perencanaan yang telah dibuat. Piranti pengukurannya berupa Pengukuran
Pencapaian Sasaran (PPS) untuk mengukur sasaran.
A. PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA TAHUN 2013.
Adapun
membandingkan
pengukuran
target
setiap
Kinerja
Indokator
dilakukan
Kinerja
dengan
Sasaran
cara
dengan
realisasinya. Setelah dilakukan penghitungan akan diketahui selisih atau
celah Kinerja (performance gap). Selanjutnya berdasarkan selisih Kinerja
tersebut dilakukan evaluasi guna mendapatkan strategi yang tepat untuk
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
30
peningkatan
Kinerja
dimasa
yang
akan
datang
(performance
improvement).
Dalam memberikan penilaian tingkat capaian Kinerja setiap
sasaran, menggunakan skala pengukuran 4 (empat) katagori sebagai
berikut :
TABEL : 3.0.
Skala Pengukuran Capaian Sasaran Kinerja
Tahun 2013
Terdapat dua jenis skala penilaian pengukuran :
a. Bilamana Indikator Sasaran mempunyai makna progres positif, maka
skala yang digunakan sebagai berikut :
Skor
Rentang Capaian
Kategori Capaian
4
Lebih dari 100 %
Sangat baik
3
75 % sampai 100 %
Baik
2
55 % sampai 75 %
Cukup
1
Kurang dari 55 %
Kurang
b. Sebaliknya bilamana Indikator Sasaran mempunyai makna progres
negatif, maka skala yang digunakan sebagai berikut :
Skor
Rentang Capaian
Kategori Capaian
1
Lebih dari 100 %
Kurang
2
75 % sampai 100 %
Cukup
3
55 % sampai 75 %
Baik
4
Kurang dari 55 %
Sangat Baik
Persentase dari hasil bagi antara capaian dengan target yang
dimasukkan ke dalam skala penilaian tersebut menghasilkan besaran Skor
Indikator.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
31
Penjumlahan beberapa besaran Skor Indikator dan dibagi dengan
jumlah Indikator dalam satu Sasaran, menghasilkan besaran Skor Sasaran ;
seterusnya penjumlahan beberapa besaran Skor Sasaran dan dibagi
dengan jumlah Sasaran dalam satu Tujuan, menghasilkan besaran Skor
Tujuan.
B. EVALUASI DAN ANALISIS CAPAIAN KINERJA
Pengukuran kinerja Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun
2013 menggunakan metode yang diatur dalam Peraturan Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor : 29
tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan
pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Hasil pengukuran kinerja beserta evaluasi setiap tujuan dan sasaran
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2013 disajikan sebagai
berikut :
B.1. TUJUAN 1:
Terwujudnya Mutu Lingkungan yang Lebih Sehat, berkembangnya
Sistem Kesehatan Lingkungan Kewilayahan, serta menggerakkan
Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Tujuan : Terwujudnya Mutu Lingkungan yang Lebih Sehat ,dan
berkembangnya Sistem Kesehatan Lingkungan Kewilayahan , serta
menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan dijabarkan ke
dalam Sasaran yaitu : Meningkatnya akses terhadap Kualitas air bersih,
Sanitasi Dasar , Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman, serta Kualitas
Kesehatan Lingkungan
Sasaran: Meningkatnya Akses terhadap Kualitas Air Bersih, serta
Sanitasi Dasar, Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman, serta Kualitas
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
32
Kesehatan Lingkungan, dengan indikator keberhasilan pencapaian
sasaran sebagai berikut :
a. Persentase Akses Sanitasi dasar yang memenuhi standar
b. Persentase Akses terhadap
kualitas Air Bersih yang memenuhi
standar
Tabel 3.1. TUJUAN 1 dan SASARAN 1.1.
TUJUAN 1
Terwujudnya Mutu
Lingkungan yang Lebih Sehat
, berkembangnya Sistem
Kesehatan Lingkungan
Kewilayahan , serta
menggerakkan Pembangunan
Berwawasan Kesehatan
SASARAN 1.1.
Meningkatnya Kualitas Air
Bersih, serta Sanitasi Dasar,
Higiene Sanitasi Makanan
dan Minuman, serta Kualitas
Kesehatan Lingkungan
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.2. sebagai berikut :
TABEL : 3.2.
Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya
Kualitas Air Bersih, serta Sanitasi Dasar,
Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman, serta
Kualitas Kesehatan Lingkungan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
33
NO
1
2
INDIKATOR KINERJA
Persentase akses sanitasi
dasar yang memenuhi
standar
Persentase akses terhadap
kulaitas air bersih yang
memenuhi standar
69 %
REALISA
SI
70,6%
101,4
74 %
80,6 %
108,9
TARGET
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
(%)
105,1
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM LINGKUNGAN SEHAT
a. Program Lingkungan Sehat ini didukung oleh 4 ( empat) kegiatan yaitu:
a.1. Pengembangaan Sarana Sapl Melalui Participatory
a.2. Penyediaan sarana air bersih dan sanitasi dasar
a.3. Penyehatan Lingkungan
a.4. Peningkatan upaya pengamanan limbah cair dan padat
b. Program Lingkungan Sehat dengan pagu sebesar Rp. 2.500.000.000,00
terealisasi sebesar 98.57.%, atau Rp. 2.464.258.092,00 secara rinci masingmasing realisasi anggaran kegiatan serta capaian ukuran keberhasilannya
dapat dilihat pada Lampiran Matrik 16 Kolom (Evaluasi Internal UKGP3)
c. Hasil pelaksanaan program/kegiatan diantaranya adalah sebagai berikut:
c.1.Pengembangan Sarana SAPL melalui Partisipatori
 Tujuan Program
Untuk meningkatkan akses jamban sehat pada masyarakat di
Jawa Timur dan menambah jumlah Desa dan Kec. ODF (open
defecation free/bebas buang tinja disembarang tempat).
 Sasaran Program
b.1. Desa/Kecamatan yg belum ODF
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
34
b.2. Komunitas masyarakat yg masih belum ODF
 Pelaksanaan Kegiatan Pengembangan Sarana SAPL melalui
Partisipatori diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan akses jamban sehat (STBM Pilar -1)
2. Monitoring
dan
evaluasi
peningkatan
akses
jamban
(STBM pilar-1)
3. Pertemuan Pembekalan Calon Fasilitator STBM.
4. Pemicuan di sekolah
 Hasil Kegiatan Pembangunan :
Tabel
Capaian Kinerja Pelaksanaan Program STBM Jawa Timur
Target
Kumulatif
RPJMD
NO
KEGIATAN
Thn
Thn
Thn
Progres
2014
2012
2013
s
%
progres
s
1
Desa/Kel Dipicu
850
2.878
3.576
698
24,25
2
Desa /Kel ODF
560
846
1.186
340
40,2
3
Tambahan akses ke
1.724.8
1.963.1
70
09
238.239
13,8
jamban sehat di
masyarakat (jiwa)
570.070
Sumber : LKPJ Seksi Penyehatan Lingkungan, 2013
c.2. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
 Tujuan Program
a. Umum
Meningkatkan kualitas air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat.
b. Khusus

Terlaksana pengawasan sarana air minum ( Inspeksi Sanitasi )
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
35

Terlaksana pengawasan kualitas minum (DAM, PDAM dan Non
PP) dengan uji petik pemeriksaan secara laboratorium untuk
parameter mikrobiologi.

Terlaksana
pertemuan
Jejaring
sector
terkait,
Peningkatan
Pengetahuan Pengawasan Kualitas Air Minum dan Pertemuan
Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (PAM RT)
 Sasaran Program (berisi sasaran dari setiap Program berdasarkan
Renstra SKPD)

Akses air minum yang berkualitas

Kualitas air minum memenuhi syarat

Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan air minum tingkat
rumah tangga.
 Hasil Pelaksanaan Kegiatan :
Hasil pelaksanaan program/kegiatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Terlaksana Inspeksi Sanitasi di 3800 buah Sarana Air Minum, di 38
Kab/Kota. Sumber air minum yang mempunyai resiko pencemaran
rendah dan sedang syarat fisik sebanyak 86,6% (katagori pencemaran
rendah dan sedang
2) Terlaksana pengawasan kualitas minum dengan uji petik pemeriksaan
sampel air minum secara laboratorium, sebanyak 570 sampel air
minum
(Perpipaan/PDAM)
diperiksa.
Hasil
pemeriksaan
yang
memenuhi syarat 69,05 %.
3) Terlaksana pengawasan kualitas minum dengan uji petik pemeriksaan
sampel air minum Non perpipaan secara laboratorium, sebanyak 120
sampel diperiksa, hasilnya yang memenuhi syarat air bersih 66,52 %
4) Terlaksana pengawasan kualitas minum dengan uji petik pemeriksaan
sampel air minum DAM secara laboratorium, sebanyak 228 sampel
diperiksa. Hasilnya yang memenuhi syarat 76,32 %
5) Terbentuknya Jejaring di 8 (delapan) Kab./Kota dalam pengawasan
kualitas air minum
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
36
6) Terlatihnya 250 petugas sanitarian Kab./Kota dalam pengawasan
kualitas air minum
7) Sebanyak 150 orang kader mengikuti pertemuan Pengelolaan Air
Minum Rumah Tangga ( PAM RT).
Tabel
Capaian kinerja program Penyehatan Air
NO
KEGIATAN
TAHUN 2012
% Kinerja
TAHUN 2013
% Kinerja
70,50%
86,6%
1
Akses Air Minum Layak
Berkualitas
2
Hasil Pengawasan Kualitas
Air PDAM
45,79
%(Permenkes 492
Th.2010)
69,05
%(Permenkes
492 Th.2010)
3
Hasil Pengawasan Kualitas
Air Produk DAM
73,16 %
76,32 %
Sumber : LKPJ Seksi Penyehatan Lingkungan, 2013
c.3. Penyehatan lingkungan
 Tujuan Program
Untuk meningkatkan jumlah Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat
Pengolahan Makanan (TPM) laik sehat, meningkatnya jumlah rumah sehat
dan meningkatkan jumlah Kab./Kota yang mengadopsi pendekatan
program Kab./Kota Sehat.
 Sasaran Program

TTU Laik Sehat

TPM Laik Sehat

Rumah memenuhi syarat kesehatan

Kab./Kota mengadopsi program Kab./Kota Sehat.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
37
 Hasil Pelaksanaan Pembangunan
Hasil pelaksanaan program/kegiatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Peningkatan hygiene sanitasi TTU pada 5 Kabupaten.
2.
Food security berbasis masyarakat dengan dan Industri Rumah
Tangga Peningkatan sanitasi perumahan dengan pendekatan klinik
sanitasi pada 7 Kabupaten/Kota.
3.
Peningkatan sanitasi perumahan pada keluarga risiko tinggi penyakit
berbasis lingkungan di 10 Kabupaten
4.
Peningkatan Sanitasi Kota Sehat pada 14 Kab./Kota
5.
Penguatan
kelembagaan
program
Kab./Kota
Sehat
pada
10
Kabupaten
6.
Terbentuknya kelembagaan Kab./Kota Sehat yang baru pada 6
Kab./Kota
7.
Terbinanya 18 Kab./Kota yang mengadopsi Kab./Kota Sehat
Tabel
Capaian kinerja program Penyehatan Lingkungan
NO
1
2
3
4
KEGIATAN
TAHUN 2012
ABSOLUT %
TAHUN 2013
ABSOLUT %
KETERANGAN
TPM memenuhi
49.587
79.3
49.837
79.7
Naik
syarat
TTU memenuhi
26.458
78,2
26.661
78,8
Naik
syarat
Rumah Sehat
7.145.910 73.2 7.165.434 73.4
Naik
Kab/Kota Sehat
18
47,4
18
47,4
tetap
(Program)
Sumber : LKPJ Seksi Penyehatan Lingkungan, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
38
Tabel
Capaian kinerja program Kab/Kota Sehat
TAHUN 2012
N
O
KAB/KOTA
TAHUN 2013
JUML
AH
TATA
NAN
PENGHARGAA
N
JUMLAH
TATANA
N
Gub. Prov Jatim
6
1
Kota
Probolinggo
6
2
Kota Pasuruan
4
3
Kab. Lumajang
8
4
Kota Kediri
6
5
Kota Malang
6
6
Kab. Ngawi
6
7
Kab.
Tulungagung
7
8
Kab. Pacitan
6
9
Kab. Lamongan
4
10
Kab. Sampang
2
11
Kab. Magetan
5
12
Kab. Madiun
2
13
Kota Blitar
4
14
Kota Surabaya
8
15
Kab. Malang
2
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub. Prov Jatim
Gub Jatim
4
8
6
6
6
7
6
4
2
5
PENGHARGAA
N DARI
MENKES
SWASTISABA
WISTARA
SWASTISABA
WIWERDA
SWASTISABA
WISTARA
SWASTISABA
WISTARA
SWASTISABA
WISTARA
SWASTISABA
PADAPA
SWASTISABA
WISTARA
SWASTISABA
WIWERDA
SWASTISABA
PADAPA
SWASTISABA
PADAPA
SWASTISABA
WIWERDA
2
4
SWASTISABA
PADAPA
SWASTISABA
PADAPA
SWASTISABA
PADAPA
16
Kab. Sidoarjo
2
Kab.
17
2
Pamekasan
18 Kab. Trenggalek
2
Sumber : LKPJ Seksi Penyehatan Lingkungan, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
39
c.4. Peningkatan Upaya Pengamanan Limbah Cair dan Padat
 Tujuan Program (berisi tujuan dari setiap Program berdasarkan Renstra
SKPD)
Untuk meningkatkan Kab/Kota melakukan pengelolaan limbah cair dan
padat serta melakukan pengawasan terhadap keracunan pestisida.
 Sasaran Program (berisi sasaran dari setiap Program berdasarkan
Renstra SKPD)

Kab/Kota melakukan program pengelolaan limbah cair dan padat

Kab/Kota melakukan pengawasan terhadap keracunan pestisida
 Hasil pelaksanaan program/kegiatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Peningkatan pengelolaan limbah padat (sampah) rumah tangga pada
10 Kabupaten/Kota.
2. Peningkatan Pengetahuan SDM (petugas laboratorium) tentang
Pemantauan pajanan pestisida pada penjamah pestisida.
3. Pemantauan dampak kualitas lingkungan dan kualitas lingkungan
udara pada 10 Kab/Kota
d. Permasalahan dan Upaya Pemecahannya
d.1Permasalahan :
1. Pengembangan Sarana SAPL melalui Partisipatori
- Belum semua Kepala Daerah mengeluarkan Kebijakan tentang STBM.
- Dukungan anggaran dari Pemkab/Pemkot untuk STBM sangat terbatas.
- Efektifitas pemicuan belum maksimal.
- Keterlibatan peran swasta masih rendah khususnya dalam pemasaran
sanitasi.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
40
2. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
 Program Kesehatan Lingkungan, dituntut untuk mendukung pencapain
Goals 7 MDGs. tetapi dukungan dana dari Pemerintah Kabupaten Kota
untuk program Penyehatan Lingkungan sangat kurang , bahkan ada
beberapa Kabupaten dananya tidak ada ( Nol).
 Kualitas air minum perpipaan (PDAM) masih rendah berdasarkan hasil
uji petik pemeriksaaan air PDAM th 2013 dari 570 sampel yang
memenuhi syarat baru 69,05% sesuai dengan Permenkes 492 tahun
2010 yang mensyaratkan bakteri e-coli = 0, air DAM dari 228 sampel
yang memenuhi syarat 76,32 %. Sedangkan target yang harus dicapai
tahun 2015 adalah 90 %
 Komitmen bahwa semua PDAM Kabupaten/Kota menjadi air minum
masih sulit untuk diwujudkan karena membutuhkan biaya yang sangat
besar sedangkan untuk saat ini hampir seluruh PDAM Kab./Kota baru
menghasilkan produk kualitas sebagai air bersih belum air siap minum
3. Penyehatan lingkungan
 Belum semua Kab./Kota mengadopsi program Kab./Kota Sehat
 Kabupaten/Kota yang telah mengadopsi program Kab./Kota Sehat tidak
semua aktif
 Penyakit berbasis Lingkungan masih menjadi masalah utama penyakit
yang ada dimasyarakat, dan belum semua Kab./Kota melakukan
pendekatan klinik sanitasi.
 Belum semua TTU memenuhi syarat kesehatan
 Belum semua TPM memenuhi syarat kesehatan dan masih adanya
keracunan makanan akibat pengelolaan makanan yang tidak hygienis
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
41
4. Peningkatan Upaya Pengamanan Limbah Cair dan Padat
 Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan praktik
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
 Masih terbatasnya sarana pengolahan limbah yang layak terutama di
lokasi industri rumah tangga.
 Masih terbatasnya kapasitas pemerintah Kabupaten/Kota untuk
menangani sektor pengawasan dampak kualitas lingkungan terhadap
kesehatan, padahal pengawasan dampak kualitas lingkungan terhadap
kesehatan menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/Kota.
 Sangat variatifnya kebijakan masing-masing daerah, mengakibatkan
beberapa program Penyehatan Lingkungan seperti Pembinaan dan
Pengawasan Kualitas Limbah Cair dan Padat Sarana Pelayanan
Kesehatan tidak masuk program prioritas sehingga kegiatan ini
terabaikan.
 Pengolahan limbah industri benlum menjadi prioritas program dari
penyelenggara industri.
d.2Upaya Pemecahannya :
1. Pengembangan Sarana SAPL melalui Partisipatori
- Advokasi kebijakan dan anggaran untuk STBM secara berjenjang dan
berkesinambungan.
- Peningkatan kapasitas fasilitator pemicuan melalui workshop, training,
pendampingan,refresh pemicuan.
- Membuat rencana kerja yang terintegrasi secara berjenjang.
- Melibatkan sumber dana lain untuk kegiatan STBM ( CSR, Lembaga
Donor, Project Lainnya).
- Monitoring dan evaluasi secara berkesinambungan yang melibatkan
semua stakeholder
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
42
2. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar

Proporsi rumah tangga akses berkelanjutan terhadap air minum yang
layak upaya upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan :
1. Pembangunan /perbaikan sarana air minum,
2. Pemeriksaan kualitas air minum perpipaan (PDAM) maupun non
perpipaan
3. Mendorong Pemerintah Kab/kota untuk mengaktifkan kembali
Laboratorium kesehatan Daerah,
4. Melatih
SDM
yang
berkualitas
yang
dapat
mendukung
untuk
kemudahan
pelakasanaan pemeriksaan air.
5. Mendorong
penyediaan
Water
test
Kit
pemeriksaan kualitas air di Lapangan
3.Penyehatan lingkungan

Memfasilitasi
Kab./Kota
untuk
terbentuknya/mengadopsi
Program
Kab./Kota Sehat

Sosialisasi Prinsip Hygiene Sanitasi Makanan kepada semua masyarakat
pengelola TPM dengan pemanfaatan CTPS dan PHBS
4. Peningkatan Upaya Pengamanan Limbah Cair dan Padat
e.Penghargaan Yang Pernah Diterima
Penghargaan Swasti Saba untuk 15 Kab./Kota yang telah mengadopsi dan
mengikuti verifikasi (tahun 2013) program Kab./Kota Sehat dari Kementrian
Kesehatan RI, dan 15 Kab/Kota mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa
Timur untuk tahun 2012
Secara umum sasaran Meningkatkan kualitas air bersih, sanitasi dasar,
higiene sanitasi makanan minuman serta kualitas kesehatan lingkungan dan
pengendalian faktor resiko dampak pencemaran lingkungan di masyarakat pada
tahun 2013 : SANGAT BAIK.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
43
B.2. TUJUAN 2 :
Keberdayaan Individu, Keluarga dan Masyarakat agar mampu
menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta
Berkembangnya Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
Tujuan: Keberdayaan Individu, Keluarga dan Masyarakat agar mampu
Menumbuhkan
Berkembangnya
Perilaku
Upaya
Hidup
Bersih
Kesehatan
dan
Berbasis
Sehat
(PHBS)
Masyarakat
serta
(UKBM)
dijabarkan ke dalam
Sasaran yaitu : Meningkatnya Pengetahuan dan Kesadaran untuk
Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Pemberdayaan
Masyarakat melalui UKBM ke arah Kemandirian.
Sasaran: Meningkatnya Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran
untuk Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Keberdayaan
Masyarakat melalui UKBM ke arah Kemandirian.,
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran sebagai berikut :
a. . Persentase RT ber- Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
b. Persentase Posyandu dengan Strata Purnama Mandiri (PURI)
b. Persentase Desa Siaga Aktif
.Tabel 3.2. TUJUAN 2 dan SASARAN 2.1.
TUJUAN 2
Keberdayaan Individu,
Keluarga dan Masyarakat
agar mampu Menumbuhkan
Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) serta
Berkembangnya Upaya
Kesehatan Berbasis
Masyarakat (UKBM)
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
SASARAN 2.1.
Meningkatnya Pengetahuan
dan Kesadaran untuk
Berperilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) serta
Keberdayaan Masyarakat
melalui UKBM ke arah
Kemandirian.
44
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini
disajikan dalam Tabel 3.3. sebagai berikut :
TABEL : 3.3.
Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya
Pengetahuan dan Kesadaran untuk Berperilaku
Hidup Bersih dan Sehat serta Keberdayaan
Masyarakat melalui UKBM ke arah
Kemandirian.
3
65 %
REALISA
SI
4
47,48 %
5
73,04
50 %
62,73 %
124,7
70 %
96,4%
137.7
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
1
1
2
2
3
Persentase RT ber PHBS
Persentase Posyandu
dengan Strata Purnama
Mandiri (PURI)
Persentase Desa Siaga Aktif
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
(%)
111,8
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
45
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM
PROMOSI
KESEHATAN
DAN
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
a. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat ini didukung
oleh 3 (tiga) kegiatan yaitu:
a.1.
Pengembangan Media Promosi dan Informasi Sadar Hidup Sehat
a.2.
Pengembangan UKBM (Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat)
a.3.
Pengembangan Posyandu dan Desa Siaga
b. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat dengan pagu
sebesar Rp. 5.684.926.500,00 terealisasi sebesar 91.15%,
atau Rp.
5.181.597.847,00 secara rinci masing-masing realisasi anggaran kegiatan
serta capaian ukuran keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran Matrik
16 Kolom (Evaluasi Internal UKGP3)
c. Hasil / Outcome Pelaksanaan Pembangunan
Promosi Kesehatan merupakan kegiatan promotif dan preventif
disamping sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga
mewujudkan
kemandirian
masyarakat
dengan
memberdayakan
dan
menggerakkan masyarakat melalui pengembangan Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Msyarakat (UKBM) yaitu utamanya Posyandu, Poskestren
dan Saka Bakti Husada. Sebagai bentuk nyata masyarakat yang mandiri
dalam masalah kesehatannya yaitu terbentuknya Desa/Kelurahan Siaga.
Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
dimaksudkan untuk merubah perilaku dan memandirikan masyarakat
dengan berPHBS dan pengembangan UKBM. Sasarannya adalah ;
individu, Keluarga dan masyarakat.
Pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, capaian Posyandu Purnama
Mandiri terus meningkat. Posyandu PURI sebanyak 22.930 (52,68%) pada
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
46
tahun 2011 menjadi 24.040 (56,79%) pada tahun 2012 dan pada tahun
2013 meningkat lagi menjadi 27.680 (60,28%) tahun 2013. Hal ini
menunjukkan bahwa secara kuantitatif jumlah posyandu sudah memenuhi
target, sehingga arah/upaya berikutnya adalah peningkatan kualitas
posyandu dengan cara meningkatkan layanan terhadap sasarannya.
Desa Siaga Aktif dimaksudkan untuk percepatanterwujudnya
masyarakat desa dan kelurahan yang peduli, tanggap, dan mampu
mengenali, mencegah serta mengatasi permasalahan kesehatan yang
dihadapi secara mandiri, sehingga derajat kesehatannya meningkat. Secara
kuantitatif capaian Desa Siaga Aktif mulai tahun 2009 sampai dengan 2013
mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 sebanyak 5.060 desa (59,97%),
tahun 2010 sebanyak 5.103 desa (60,15%), tahun 2011 sebanyak 6.842
desa (80,53%), tahun 2012 sebanyak 7.635 desa (89,77%) dan tahun 2013
sebanyak 8.113 desa (95,4%). Namun Desa Siaga Aktif ini masih
didominasi aktif “Tumbuh” sehingga perlu ditingkatkan kualitasnya.
Untuk mengukur keberhasilan sasaran dari pelaksanaan program
tersebut dapat dilihat dari perkembangan capaian kinerja program sebagai
berikut:
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
47
Tabel 3.1
Hasil Capaian Kinerja Program Promosi Kesehatan 2009 – 2013
Indikator
Kinerja
Tersusunnya
pengembangan
Media Promosi &
Informasi Sadar
Hidup Sehat
sesuai target
Persentase
Kab/Kota
menyusun profil
kegiatan promkes
& pengembangan
UKBM sesuai
pedoman
Persentase
Posyandu
berstrata PURI di
semua Kab/Kota
Persentase Desa
Siaga pada tahap
Tumbuh,
Kembang dan
Paripurna
Persentase
Pondok
pesantren
dengan
Poskestren
sesuai standard
Persentase
Kecamatan yang
membentuk &
membina
Kwarran SBH
Capaian Kinerja Program
Sat
Kab
2009
100
2010
100
2011
100
%
100
100
100
%
43,3
43,3
52,68
56,79
60,28
%
59,97
60,15
80,53
76,33
95,4
%
15,36
17,32
19,12
20,18
19,38
%
41,08
42,30
43,05
44
46,56
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
2012
100
100
2013
100
100
48
100,000 90,000 80,000 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 ‐
2012
2011
2010
2009
Sumber : Data Kegiatan Program Promosi Kesehatan , 2013
d.Permasalahan dan Upaya Pemecahanya
d.1.Permasalahan
d.1.1.Pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat.
1. Inventarisasi program yang akan dipromosikan sudah berjalan
tetapi belum optimal.
2. Prosedur perencanaan dimana semua kegiatan media berada,
didalam satu nomer rekening sehingga kegiatan tidak sesuai
segmentasi sasaran, media dan waktu yang direncanakan.
d.1.2 Pengembangan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM).
1. Pada pelatihan Kader/Santri Husada tidak semua Pondok
Pesantren menindak lanjuti dengan membentuk Poskestren sesuai
standar.
2. Kurangnya Koordinasi Lintas Sektor khususnya dengan
Kementrian Agama dalam pembinaan Poskestren.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
49
3. Masih kurangnya pemahaman materi – materi program oleh
pembina dalam kegiatan Saka Bakti Husada (SBH), sehingga Saka
Bakti Husada belum menjadi kebutuhan program di
Kabupaten/Kota.
d.1.3.Pengembangan Posyandu dan Desa Siaga
1. Peran dan fungsi Tim Pokjanal Posyandu dan Tim Pokjanal Desa
Siaga Aktif belum optimal.
2. Pembinaan dalam bentuk monitoring dan evaluasi terpadu yang
dilaksanakan oleh Tim Pokjanal Posyandu belum terkoordinasi
dengan baik.
3. Kurangnya sosialisasi Desa Siaga Aktif di media massa.
d.2.Upaya Pemecahan Permasalahan
d.2.1.Pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat.
1.
Mengoptimalkan inventarisasi semua substansi program yang
akan dipromosikan.
2.
Membuat alokasi kegiatan yang lebih flexible untuk waktu
pelaksanaan.
3.
Perencanaan untuk media akan melekat dalam kegiatan
d.2.2 Pengembangan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM).
1. Pendataan yang lebih optimal terkait kegiatan Mapping UKBM &
Promosi Kesehatan.
2. Diberikan bantuan transport untuk Kader/Santri Husada dalam
proses pembentukan Poskestren yaitu kegiatan Survey Mawas Diri
(SMD) dengan pendampingan dari Dinkes Kab/Kota & Puskesmas
melalui APBD tahun depan.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
50
3. Meningkatkan koordinasi baik Lintas Program maaupun Lintas
Sektor
dalam
pembinaan
program
Upaya
Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat.
4. Meningkatkan sosialisasi dan advokasi Saka Bakti Husada yang
lebih intensif.
5. Meningkatkan upaya pembinaan terhadap Pangkalan Satuan
Karya Bakti Husada oleh Pimpinan Saka Bakti Husada dengan
memberikan motivasi dan reward melalui penilaian / seleksi
terhadap
pangkalan
Saka
Bakti
Husada
Berprestasi
yang
berkesinambungan.
d.2.3.Pengembangan Posyandu dan Desa Siaga
1. Pelaksanaan monev terpadu Tim Pokjanal Posyandu secara
berkala dibawah Koordinasi Bapemas.
2. Meningkatkan promosi Desa Siaga Aktif di media massa pada
tahun 2014.
Secara umum pencapaian target sasaran Meningkatkan pengetahuan
dan
kesadaran
untuk
berperilaku
hidup
bersih
dan
sehat
serta
pemberdayaan masyarakat kearah kemandirian pada tahun 2013 telah
tercapai dengan : SANGAT BAIK,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
51
B.3. TUJUAN 3 :
Meningkatnya
Akses
,
Pemerataan
dan
Kualitas
Pelayanan
Kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Puskesmas dan
Jaringannya
Untuk mewujudkan tujuan ”Meningkatnya akses, pemerataan dan
kualitas pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai Kesehatan,
Puskesmas dan jaringannya”, maka ditetapkan sasaran:
3.1 Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak,
remaja,lanjut usia, kesehatan reproduksi, serta kesehatan dasar di
Puskesmas dan jaringannya, balai kesehatan serta pelayanan
kesehatan penunjang dengan indikator sasaran :
a. Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup
b. Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup
c. Persentase cakupan Kunjungan Neonatal (KN) Lengkap (%)
d. Persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan (Linakes)
e. Persentase Cakupan Kunjungan Bayi (%)
f. Persentase Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4) (%)
g. Persentase capaian peserta KB Aktif
h. Persentase Puskesmas yang ada menjadi Puskesmas
Rawat Inap Standar
i. Persen Puskesmas Rawat Inap yang ada menjadi Puskesmas
Rawat Inap PLUS
j. Persentase Puskesmas PONED sesuai standar
k. Persentase Pustu yang menjadi Pustu Layani Gawat
Darurat dan observasi
l. Persentase Polindes yang berkembang menjadi Ponkesdes
sesuai standar
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
52
3.2) Meningkatnya jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan dengan
kemampuan pelayanan kesehatan gawat darurat yang bisa diakses
masyarakat dan prasarana kesehatan di rumah sakit, rumah sakit
khusus, dan balai kesehatan dengan indikator keberhasilan
pencapaian sasaran:
c.
Persentase Rumah Sakit Pemerintah menyelenggarakan
Pelayanan
Obstetri
Neonatal
Emergency
Komprehensif
(PONEK) sesuai standar
d.
Persentase Rumah Sakit yang Terakreditasi 5 pelayanan
dasar
Tabel 3.4. TUJUAN 3 dan SASARAN 3.1
TUJUAN 3
Meningkatnys Akses ,
Pemerataan dan Kualitas
Pelayanan Kesehatan melalui
Rumah Sakit, Balai Kesehatan,
Puskesmas dan Jaringannya
SASARAN 3.1
Meningkatnya akses dan
mutu pelayanan kesehatan
ibu, bayi, anak, remaja,lanjut
usia, kesehatan reproduksi,
kesehatan dasar di
Puskesmas dan jaringannya,
balai kesehatan serta
pelayanan kesehatan
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.5. sebagai berikut :
TABEL : 3.5.
Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya akses
dan mutu pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak,
remaja,lanjut usia, kesehatan reproduksi,
kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya,
balai kesehatan serta pelayanan kesehatan.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
53
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALISASI
(%)
1
1
2
3
23
4
25,95
5
88,6
95,5
Angka Kematian Bayi per
1000 Kelahiran Hidup
2
Angka Kematian Ibu per
100.000 Kelahiran Hidup
102
97,43
3
Cakupan Kunjungan
Neonatal (KN) Lengkap
84%
97,06%
4
Cakupan Pertolongan
Persalinan Oleh Tenaga
Kesehatan (Linakes)
90%
92,08%
5
Cakupan Kunjungan Bayi
65%
94,88%
6
Cakupan Kunjungan Ibu
Hamil K4
70%
87,27%
>50%
96,4%
7
Persentase Capaian
Peserta KB Aktif
115,5
102,3
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
145,9
124,6
132,04
114,92
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
54
3
24%
REALISA
SI
4
22,22%
5
92,5
Persentase Puskesmas
Rawat Inap yang menjadi
Puskesmas Rawat Inap
PLUS
24%
12,7%
52,91
10
Persentase Pustu yang
menjadi Pustu Layani
Gawat Darurat dan
Observasi
10%
7,7%
77
11
Persentase Polindes yang
berkembang menjadi
Ponkesdes
78%
55,79%
71,52
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
1
8
2
9
Persentase Puskesmas
yang menjadi Puskesmas
Standar
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
(%)
73,4
KATEGORI PENILAIAN : BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)
(Pada Seksi Pelayanan Kesehatan Keluarga/Kesga)
Capaian kinerja program Upaya Kesehatan Masyarakat pada Seksi Pelayanan
Kesehatan Keluarga adalah sebagai berikut :
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
55
Tabel
Capaian kinerja Program Peningkatan kesehatan anak remaja dan
usila
Capaian Kinerja Program
Indikator Kinerja
Satuan
2009
2010
Kab/Kota dengan minimal 2
Jumlah
33
35
Puskesmas mampu tata
Kab/Kota
laksana penanganan KtP/A
Kab/Kota dengan minimal 8 % Jumlah
30
35
Puskesmas Santun Lansia
Kab/Kota
% Kab/Kota melaksanakan
%
100
100
penjaringan kesehatan
% Kab/Kota melaksanakan
%
100
100
penjaringan kesehatan SD/MI
kelas 1 minimal 95 %
Kab/Kota dengan minimal 4
%
34
36
Puskesmas mampu tata
laksana PKPR
Sumber : Data Kegiatan Program UKM Seksi Yankesga, 2013
2011
37
2012
38
2013
37
38
28
100
100
100
100
100
86.84
37
38
94.74
19
Tabel
Capaian kinerja Program Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
ibu, bayi, balita dan anak pra sekolah
Indikator Kinerja Satuan
2009
2010
2011
2012
2013
% Cakupan
%
92,96
95,04
95,95
Pertolongan
Persalinan oleh
tenaga kesehatan
(PN)
% Cakupan
%
93,80
94,93
95,82
Kunjungan Neonatal
Lengkap (KN
Lengkap )
Sumber : Data Kegiatan Program UKM Seksi Yankesga, 2013
97,13
94.4
95,70
88,9
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan ( PN ) merupakan indikator
terpilih untuk menilai kualitas pelayanan kesehatan ibu. Peningkatan cakupan
PN akan menyebabkan menurunnya Angka Kematian Ibu.
Kunjungan Neonatal lengkap merupakan indikator terpilih untuk menilai
kualitas pelayanan kesehatan anak khususnya bayi. Risiko terbesar terjadinya
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
56
kematian bayi adalah pada masa neonatal. Dengan cakupan neonatal yang
tinggi diharapkan akan diikuti dengan penurunan Angka Kematian Bayi.
Tabel
Capaian kinerja Program Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
reproduksi dan KB
Indikator Kinerja
Satuan
2009
2010
2011
2012
2013.
% Cakupan KB Aktif
%
65
66
68
69,7
71,91
38
38
100
100
Kab/Kota dengan
Jumlah
33
35
37
minimal 2 Puskesmas Kab/Kot
mampu tata laksana
a
penanganan KtP/A
% Kab/Kota
Kabu
100
100
100
melakukan konseling
pate
atau penyuluhan
n/
PMTCT pada ibu
Kota
hamil yang ANC
Sumber : Data Kegiatan Program UKM Seksi Yankesga, 2013
Program Peningkatan mutu pelayanan kesehatan reproduksi dan KB
dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi reproduksi pada pasangan usia
subur. Cakupan KB aktif menunjukkan pengaturan jarak kehamilan sehingga
menjadi kehamilan yang aman dengan tetap memperhatikan fungsi reproduksi,
menunda terjadinya kehamilan pada pasangan dengan usia dibawah 20 tahun
dan mencegah terjadinya kehamilan pada pasangan diatas 35 tahun.
Tata
laksana
penanganan
KtP/A
ditunjukan
untuk
memberikan
perlindungan terhadap perempuan dan mencegah terjadinya kehamilan yang
tidak diinginkan, serta kesetaraan gender. Konseling PMTCT pada ibu hamil
yang ANC bertujuan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani kasus infeksi
menular seksual khususnya HIV/AIDS pada ibu hamil dan pasangan.
Ditinjau dari realisasi keuangan bahwa pogram ini didukung oleh 3 (tiga) kegiatan
dengan anggaran sebesar Rp 2.580.000.000,- dengan kegiatan meliputi ::
Peningkatan kesehatan anak, remaja dan usila ; Peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan ibu, bayi, balita dan anak pra sekolah ; Peningkatan Mutu Pelayanan
Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana. Secara rinci realisasi per
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
57
kegiatan yang terdiri dari realisasi anggaran dan capaian ukuran keberhasilan
dapat diilihat pada Lampiran matriks 16 kolom (Evaluasi Internal UKGP3).
Secara umum pencapaian target sasaran Meningkatkan Akses dan Mutu
Pelayanan Kesehatan Ibu, Bayi , Anak, Remaja dan Lanjut Usia serta
Kesehatan Reproduksi pada tahun 2013 telah tercapai dengan SANGAT
BAIK, seperti terlihat pada lampiran PPS_ Laporan Realisasi pelaksanaan
Penetapan Kinerja Tahun 2013.
PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)
(Pada Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Penunjang/Yankesdaspen)
Capaian kinerja program Upaya Kesehatan Masyarakat pada Seksi Pelayanan
Kesehatan Dasar dan Penunjang adalah sebagai berikut :
Program
Upaya
Kesehatan
Masyarakat
6.363.312.500,00 terealisasi sebesar
dengan
92.39%,
pagu
sebesar
Rp.
atau Rp. 5.879.274.608,00
secara rinci masing-masing realisasi anggaran kegiatan serta capaian ukuran
keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran Matrik 16 Kolom
Hasil Pelaksanaan Program
Program Upaya Kesehatan masyarakat dimaksudkan untuk mengoptimalkan
pelayanan kesehatan sesuai kapabilitas, kompetensi, dan mutu seluruh
Puskesmas dan jaringannya. Dalam rangka menyiapkan dan meningkatkan
kualitas sumberdaya Puskesmas, dan jaringannya baik berupa sarana,
prasarana, ketrampilan Sumberdaya manusia, dan Penyusunan Standar
Puskesmas Rawat Inap Plus, Puskesmas Rawat Inap Standar, Pustu yang
mampu melayani kegawatdaruratan dan observasi di Jawa Timur.
Upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, maka harus
meningkatkan faktor kepuasan, dan Trust (kepercayaan masyarakat) agar
loyalitas pasien terhadap Puskesmas meningkat. Selain daripada itu, kerjasama
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
58
Dinas Kesehatan Kabupaten Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
bersama-sama sharing dalam program Icon Gubernur. Pendekatan layanan
kesehatan berupa Ponkesdes, Puskesmas Plus, Puskesmas Standar, dan
Puskesmas Gadar dan Observasi ditingkatkan dalam kualitas dan kuantitasnya,
agar upaya promotif lebih berkembang. Hal ini menyebabkan meningkatnya
Puskesmas Rawat Inap Plus, Puskesmas Rawat Inap Standar dan Pustu Gadar
dan Observasi diharapkan akan mempermudah dimonitor kegiatannya dalam
memenuhi persyaratan operasional dan pemenuhan SDM yang berkompeten.
Dengan demikian, dapat meminimasi rujukan ke tempat lain, dan mempermudah
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan secara bermutu dan sesuai dengan
masing-masing Standar
Tabel 2.1. Capaian Kinerja Tahun 2009 - 2013
Indikator
Kinerja
2009
target
2009
Capaia
n
2010
targe
t
Prosentase
Puskesmas
yang
ada
menjadi
Puskesmas
Rawat
Inap
Standar
Prosentase
Puskesmas
yang
melaksanaka
n pelayanan
PONED
Prosentase
Puskesmas
mempunyai
UGD 24 jam
10%
0%
15%
Capaian Kinerja Program
2010
2011 2011
201
capaia targe capaia 2
n
t
n
Targ
et
20%
25%
40%
35%
10%
99%
20%
110%
25%
105%
15%
100%
20%
100%
30%
Prosentase
Puskesmas
terlayani
mobil bengkel
servis
alat
kesehatan
Prosentase
Unit transfusi
darah (UTD)
memenuhi
standar mutu
5%
146%
10%
73%
5%
95%
10%
96%
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
2012
capai
an
2013
Targ
et
2013
capaia
n
48%
40%
49%
35%
143
%
40%
125%
100%
40%
100
%
50%
100%
10%
76%
15%
40%
20%
10%
10%
99%
15%
95%
20%
108%
59
Prosentase
Keluhan
masyarakat
miskin
berobat gratis
di puskesmas
tertangani
Prosentase
Puskesmas di
daerah
tertinggal dan
terpencil
melakukan
pembinaan
keluarga
rawan
Posentase
Puskesmas
Kab/Kota
menerapkan
sistem
keuangan di
Puskesmas
berdasarkan
kapitasi
berbasis
kinerja
Prosentase
Kab/Kota
menerapkan
standar
pelayanan
minimal
berdasarkan
Citizens
Charter atau
kontrak
pelayanan
Prosentase
Puskesmas
Rawat
Inap
yang
ada
menjadi
Puskesmas
Plus
Prosentase
Puskesmas
pembantu
yang
ada
menjadi
Puskesmas
pembantu
layani Gawat
Darurat dan
Observasi
%
Polindes
50%
100%
60%
100%
70%
100%
75%
100
%
80%
100%
5%
100%
10%
100%
20%
100%
30%
100
%
40%
100%
0%
0%
5%
0%
10%
0%
15%
0%
20%
0%
10%
0%
15%
0%
20%
0%
25%
0%
30
0%
5%
0%
10%
20%
15%
41%
20%
46%
25%
41%
2%
0%
4%
111%
6%
142%
8%
90%
10%
88%
0%
0%
20%
139%
30%
134%
40%
123
50%
112%
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
60
yang
berkembang
menjadi
Ponkesdes
%
Sumber : Data Program UKM Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar, 2013
Capaian kinerja program Upaya Kesehatan Masyarakat pada Seksi Pelayanan
Kesehatan Dasar selama tahun 2009 – 2013
1. Puskesmas Standar adalah program Icon yang sangat penting, untuk
mendorong lebih meningkatkan pelayanan Puskesmas lebih baik. Jumlah di
tahun 2009 masih 0, tahun 2010 menjadi 10 (20%), tahun 2011 sebanyak 29
(40%), tahun 2012 berjumlah 58 (48%), dan tahun 2013 sejumlah 83 (49%).
Meskipun terjadi peningkatan capaian dari target tiap tahun, tetapi masih
jauh dari harapan dikarenakan APBD yang terbatas. Puskesmas standar
hanya nama (brand) bukan berarti semua Puskesmas tidak memenuhi
standar.
2. Puskesmas PONED berjumlah 49 pada tahun 2009 (100%), 96 pada tahun
2010 (100%), 122 pada tahun 2011 (100%), 248 pada tahun 2012 (143%)
pada tahun 2013 (124%) 247. Puskesmas PONED ini diharapkan bisa
melayani pasien yang melahirkan dengan selamat, sehingga dapat
menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
3. Puskesmas dengan UGD 24 jam mencapai 100% setiap tahun, karena
semua pelayanan puskesmas perawatan dilengkapi UGD 24 jam.
4. Pelayanan bengkel alkes yang melayani ke Puskesmas di Kabupaten dan
Kota, sangat bermanfaat bagi puskesmas, dan efisiensi terhadap pengadaan
alat dalam upaya perbaikan terus menerus. Di tahun 2009 melayani
sebanyak
24 puskesmas (70%), 47 Puskesmas 2010 (70%), 47 tahun
2011(36%), 57 tahun 2012 (40%), dan sebanyak 16 di tahun 2013 (10%).
Anggaran untuk Alat Kesehatan belum optimal, sehingga belum mampu
meningkatkan kinerja program ini.
5. Mutu pelayanan di Unit transfusi darah sangat berperan dalam menurunkan
AKI dan AKB. UTD sesuai standar mutu di Kabupaten Kota sebesar 2 (95%)
pada tahun 2009, 4 (96%) pada tahun 2010, 5 (99%) pada tahun 2011, 6
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
61
(95%) pada tahun 2012,8 (108%) pada tahun 2013. Persoalan banyaknya
angka reaktif pada penyakit HIV, Hepatitis, dan Syphilis pada pedonor,
diharapkan kajian agar organisasi dibawah PMI ini dapat diubah menjadi
milik Pemerintah, sehingga dapat ditingkatkan sarana, SDM, dan teknik
pemeriksaannya.
6. Peningkatan
pelayanan
kesehatan
miskin,
dan
terpencil
melakukan
pembinaan keluarga rawan di Kabupaten Sampang, Pamekasan, Bangkalan,
Bondowosa, Situbondo, Sumenep, Probolinggo, Banyuwangi, Pacitan,
Ponorogo, Gresik. Hal ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan di tahun
2009, 2010,2011,2012, 2013 masing- masing sebesar 100%. Perawatan
Kesehatan Masyarakat yang berbentuk kunjungan pada keluarga, juga dapat
meningkatkan
upaya
promosi
kesehatan,
yang
diharapkan
bisa
mengefisiensikan biaya kesehatan yang akan datang.
7. Keluhan masyarakat miskin berobat di Puskesmas tertangani sebesar 100%
masing-masing di tahun 2009 (946), 2010 (950), 2011 (952), 2012 (957),
2013 (960). Pada seluruh Puskesmas diberlakukan gratis bagi masyarakat
miskin di seluruh Puskesmas.
8.
Pada Tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013 program Puskesmas Kab/Kota
menerapkan sistem keuangan di Puskesmas berdasarkan kapitasi berbasis
kinerja, tidak bisa dilaksanakan. Hal ini terjadi, dikarenakan rata-rata di
Kabupaten Kota mengetrapkan pelayanan gratis di Puskesmas.
9. Kab/Kota menerapkan standar pelayanan minimal berdasarkan Citizens
Charter atau kontrak pelayanan juga tidak dapat dilaksanakan pada tahun
2009, 2010, 2011, 2012, 2013, diakibatkan kebijakan yang sama seperti di
atas.
10. Puskesmas Rawat Inap yang ada menjadi Puskesmas Plus, pada tahun
2009 sebanyak 0%, 2010 sebanyak 10 (20%), 2011 sebanyak 30 (41%) ,
2012 sebanyak 45(46%) , 2013 sebanyak 50 (41%) dalam proses.
11. Prosentase Puskesmas pembantu yang ada menjadi Puskesmas pembantu
layani
Gawat Darurat dan Observasi pada tahun 2009 sebesar 0, 2010
sebesar 50 (111%), 2011 sebesar 130 (142%), 2012 sebesar 165 (90%),
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
62
2013 sebanyak 200 (88%) dalam proses. Puskesmas ini kebanyakan di area
jalan raya, agar bisa memberikan penanganan kegawatdaruratan yang tinggi
angkanya.
12. Rekruitmen perawat pada tahun 2010 sebanyak 1608 yang ditugaskan pada
1608 Ponkesdes ( 139%), 2011 sebanyak 2334 (134%), 2012 sebanyak
2846 ( 123%), 2013 sebanyak 3222 (112%). Ponkesdes ini penting
keberadaannya dalam promosi kesehatan, lingkungan, dan tindakan
prefentif, tetapi belum ada kebijakan bagaimana nasib perawat selanjutnya.
Oleh sebab itu, besar harapan Para perawat yang ada untuk ditingkatkan
kesejahteraannya dengan mengangkatnya sebagai Pegawai Negeri Sipil
(PNS).
13. Pembekalan pada 390 pada perawat yang akan bertugas di Ponkesdes dan
penempatan alkes dan mebeleir di Ponkesdes Sasaran Seluruh Ponkesdes
Kabupaten dan Kotamadya di wilayah Jawa timur
Secara umum pencapaian target sasaran Akses dan Mutu Pelayanan
Kesehatan Dasar di Puskesmas dan Jaringannya serta Pelayanan
Kesehatan Penunjang. pada tahun 2013 telah tercapai dengan BAIK, seperti
terlihat pada lampiran PPS_ Laporan Realisasi pelaksanaan Penetapan Kinerja
Tahun 2013.
c.Sasaran: Meningkatnya Jangkauan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Gawat Darurat yang Bisa Diakses Masyarakat dan Prasarana
Kesehatan di Rumah Sakit, Rumah Sakit Khusus dan Balai Kesehatan
dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran sebagai berikut :
1. Persentase Rumah Sakit yang Menyelenggarakan PONEK
2. Persentase Rumah Sakit yang Terakreditasi 5 Pelayanan Dasar
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
63
Tabel 3.8. TUJUAN 3 dan SASARAN 3
TUJUAN 3
SASARAN 3.3.
Meningkatnya Akses ,
Pemerataan dan Kualitas
Pelayanan Kesehatan melalui
Rumah Sakit, Balai Kesehatan,
Puskesmas dan Jaringannya
Meningkatnya Jangkauan dan
Kualitas Pelayanan Kesehatan
Gawat Darurat yang Bisa
Diakses
Masyarakat
dan
Prasarana
Kesehatan
di
Rumah Sakit, Rumah Sakit
Khusus dan Balai Kesehatan
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.9. sebagai berikut :
TABEL : 3.9.
Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya
Jangkauan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan
Gawat Darurat yang Bisa Diakses Masyarakat
dan Prasarana Kesehatan di Rumah Sakit,
Rumah Sakit Khusus dan Balai Kesehatan
.
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
1
1
2
3
75%
REALISA
SI
4
71%
70%
88%
2
Persentase Rumah Sakit
yang menyelenggarakan
PONEK
Persentase Rumah Sakit
yang Terakreditasi 5
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
(%)
5
96
122
64
Pelayanan Dasar
110,5
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM UPAYA KESEHATAN PERORANGAN (UKP)
Program Upaya Kesehatan Perorangan ini didukung oleh 3 (tiga) kegiatan yaitu:
a.1. Pelayanan bagi penduduk miskin di Rumah Sakit dan atau rumah sakit
Khusus, serta pengembangan kesehatan rujukan
a.2. Peningkatan Kualitas Pelayanan di RS
a.3. Peningkatan pelayanan kesehatan penunjang dan kegawatdaruratan
di
RSU dan RS khusus
Program
Upaya
Kesehatan
Perorangan
dengan
pagu
sebesar
Rp.
2.087.431.800,- terealisasi sebesar 90.73% atau Rp. 1.893.934.930,- secara
rinci
masing-masing
realisasi
anggaran
kegiatan
serta
capaian
ukuran
keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran Matrik 16 Kolom
Hasil Pelaksanaan Pembangunan
1. Pelayanan Bagi Penduduk Miskin di RS dan atau RS Khusus serta
Pengembangan Kesehatan Rujukan.
Bahwa dalam kinerja program didapatkan upaya – upaya yang dilakukan
dalam menghadapi pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)
yaitu Tersusunnya model perencanaan perawatan pasien di RS (Clinical
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
65
Pathway), tersusunnya instrumen pengukuran kepuasan pasien maskin di RS
serta buku pedoman sistem rujukan berdasarkan indikasi medis. Clinical
Pathway yang merupakan konsep perencanaan pelayanan terpadu yang
merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan
standar pelayanan medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti
dengan hasil yang terukur dan dalam jangka waktu tertentu di rumah sakit.
Pada Tahun 2012 semua 55 RS Pemerintah sudah tersosialisasi terkait
clinical pathway tetapi baru 9 RS di Provinsi Jawa Timur yang difasilitasi
untuk menyusun Clinical Pathways. Kemudian pada tahun 2013 dilakukan
juga kegiatan pelatihan di 3 RS Pemerintah dalam rangka penyusunan
Clinical Pathway. Adapun RS Pemerintah tersebut yaitu RS Kab. Kediri, RS
Paru Surabaya, dan RS Kusta Kediri. Sejak tahun 2012 telah tersusun Buku
Pedoman Sistem Rujukan berbasis Indikasi Medis yaitu penyelenggaraan
pelayanaan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung
jawab pelayaan kesehatan secara timbal balik, baik vertikal maupun
horizontal yang didasarkan pada kemampuan medis rumah sakit yang dalam
penyusunannya telah melibatkan Rumah Sakit Umum Daerah, Puskesmas,
Dinas Kesehatan dan IDI dan Organisasi Profesi dari masing-masing
pelayanan. Pedoman ini mengacu pada Sistem Kesehatan Nasional
mengamanatkan tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu dan
berkualitas yang dilaksanakan dengan memperhatikan inovasi dan terobosan
dalam penyelengaraannya yang berkesinambungan, terus menerus, terpadu
dan paripurna melalui penguatan sistem rujukan.
2 Peningkatan Kualitas Pelayanan Rumah Sakit
Berdasarkan ukuran keberhasilan yang sudah ditetapkan yaitu terlaksananya
pembinaan peningkatan mutu pelayanan di Rumah Sakit Pemerintah dengan
melihat pelaksanaan akreditasi di Rumah Sakit Pemerintah. Dalam upaya
peningkatan mutu pelayanan rumah sakit wajib dilakukan akreditasi secara
berkala minimal 3 tahun sekali. Akreditasi RS dilakukan oleh suatu lembaga
independen baik dari dalam maupun luar negeri berdasarkan standar
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
66
akreditasi yang berlaku dan ditetapkan oleh Menteri, sesuai yang diamanatkan
pada UU RS No 44 Tahun 2009 pasal 40. Akreditasi RS saat ini dilakukan
oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) dengan pembagian penilaian
akreditasi RS meliputi Akreditasi RS 5 pelayanan, 12 pelayanan dan 16
pelayanan. Pada pertengahan 2012 adalah batas akhir penilaian akreditasi
versi tahun 2007 yang selanjutnya instrumen akreditasi menggunakan
akreditasi yang baru sesuai Keputusan Dirjen Bina Upaya Kesheatan
Kemenkes RI Nomor : HK.02.04/I/2790/11 tentang Standar Akreditasi RS.
Jumlah RS pemerintah yang terakreditasi pada tahun 2012 sebanyak 58 RS
(95 %) pada tahun 2013 tetap 58 RS (88 %), terjadi penurunan persentase
capaian
rumah
sakit
yang
telah
terakreditasi
dikarenakan
adanya
penambahan rumah sakit pada tahun 2013 dan tidak ada penambahan jumlah
RS yang terakreditasi karena adanya perubahan versi 2007 ke versi baru.
Indikator Renstra pada tahun 2013 adalah 70 %. Sehingga persentase
pencapaian sasaran adalah 127 %. Pencapaian ini telah didukung oleh Dana
APBD Provinsi Jatim dengan Berbagai kegiatan terkait peningkatan
pencapaian indikator renstra untuk akreditasi RS antara lain :
a. Workshop Akreditasi RS 5 Pelayanan bagi RSU dan RSK, dengan tujuan
agar RS dapat membuat dokumen sesuai standart dan parameter
penilaian akreditasi RS, sasaran adalah RS Pemerintah yang belum
terakreditasi
b. Monitoring dan Evaluasi Akreditasi RS
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
67
Akreditasi RS Pemerintah Tahun 2013
sudah
Belum
12%
88%
Sumber : Data Program UKP, 2013
Gambar 5.1. Capaian Akreditasi RS Pemerintah di Jawa Timur Tahun 2013
Berdasarkan gambar 5.1 diatas, menunjukkan tahun 2013 tidak ada perubahan
rumah sakit pemerintah yang terakreditasi 5 pelayanan dasar karena adanya
perubahan versi akreditasi dari versi 2007 ke versi baru karena adanya
perubahan versi akreditasi.
Akreditasi RS dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam
maupun luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku dan ditetapkan
oleh Menteri, sesuai yang diamanatkan pada UU RS No 44 Tahun 2009 pasal
40. Akreditasi RS saat ini dilakukan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit)
dengan pembagian penilaian akreditasi RS meliputi Akreditasi RS 5 pelayanan,
12 pelayanan dan 16 pelayanan. Pada pertengahan 2012 adalah batas akhir
penilaian akreditasi versi tahun 2007 yang selanjutnya instrumen akreditasi
menggunakan akreditasi versi baru.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
68
RS Pemerintah
RSTNI POLRI
RS BUMN
RS Swasta
174
151
141
141
107
98
73
58
55
36
36
89
Sudah
2218
3
Belum
Tahun 2010
21
11
87 1
Sudah
Belum
Tahun 2011
58
24
12
sudah
7 31
Belum
Tahun 2012
24
12
sudah
8 31
Belum
Tahun 2013
Sumber : Data Program UKP, 2013
Gambar 5.2 Capaian Akreditasi Rumah Sakit di Provinsi Jawa Timur
Tahun 2010- 2013
Berdasarkan gambar diatas, menunjukkan capaian akreditasi rumah sakit di
Jawa Timur sebanyak 66,38% dengan menggunakan instrument penilaian
akreditasi versi 2007. Hingga tahun 2013 terdapat 33,61% Rumah Sakit yang
belum terakreditasi dan terbanyak RS Swasta (89,91%). RSU pemerintah yang
belum terakreditasi terdapat 5 RSU Pemerintah (RS Ngimbang RS Besuki
Situbondo, RSUD Lawang, RSUD Ploso, RS Universitas Airlangga)
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2012 tentang Akreditasi
RS dimana disebutkan pada pasal 3 bahwa RS wajib mengikuti akreditasi
nasional, dan pada pasal 4 untuk dalam upaya meningkatkan daya saing, RS
dapat mengikuti akreditasi internasional sesuai kemampuan.
Sampai pada
Oktober 2013 RS di Jawa Timur yang sudah terakreditasi nasional adalah 2
(dua) RS swasta yaitu RS Panti Nirmala dan RS Khusus Mata Undaan dan RS
yang terakreditasi internasional adalah RS Premier Surabaya.
Pencapaian target indikator Rumah Sakit Pemerintah menyelenggarakan
Program Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) 24 jam.
87,03%RS Mampu PONEK 24 jam adalah RS yang mampu menyelenggarakan
pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal secara komprehensif dan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
69
terintegrasi 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, yang dapat terukur
malalui Penilaian Kinerja Manjemen dan Penilaian Kinerja Klinis dan Buku Paket
Pelatihan PONEK Protokol bagi Tenaga Pelaksana .
Masih terdapat 8 RSUD yang masih belum terlatih PONEK yaitu: RSUD Dr R
Soedarsono Pasuruan, RSUD RA Basuni Mojokerto, RSUD Kertosono, RSUD
Ngimbang, RSUD Lawang, RSUD Dolopo, RSUD Ploso Jombang dan RSUD
Besuki Situbondo.
Keterbatasan SDM spesialistik khususnya dokter spesialis obgyn dan dokter
spesialis anak yang full timer masih menjadi permasalahan RS Pemerintah
belum mampu PONEK 24 jam.
3.Peningkatan Pelayanan Kesehatan Penunjang dan Kegawatdaruratan di RS
dan RS Khusus
Jumlah RS yang melaksanakan gawat darurat level 1 sesuai standar :
indikator renstra Tahun 2013 : 90 % Gadar Level I adalah standar minimal
untuk
RS
Kelas
D
(Berdasarkan
Kepmenkes
RI
Nomor
:
856/Menkes/SK/IX/2009 tentang Standar Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS.
Pada Tahun 2013, Dari 64 RSU yang sudah melaksanakan gawat darurat
level 1 sesuai standar sebanyak 60 RS (93,75%) ini berarti target terpenuhi
100%. Yang belum memenuhi standart IGD level I adalah RSUD Ploso
Jombang,RSUD
khususnya
Besuki
terkait
Situbondo,RSUD
standarisasi
SDM
di
Ngimbang,
IGD
yang
RSUD
harus
Lawang
terlatih
kegawatdaruratan. (Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jendral Bina Upaya
Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Nomor : YM.01/II/1936/2011, tanggal
20 Juli 2011
dinyatakan bahwa Standart Kompetensi Minimal bagi dokter
yang bekerja di IGD harus sudah mengkuti pelatihan GELS/PPGD) .
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
70
Permasalahan dan upaya pemecahannya
1.
Adanya UU RS No.44 Tahun 2009 masih diperlukan peraturan teknis
diantaranya dalam bentuk Peraturan Permerintah, Kepres, Permenkes,
Kepmenkes, Perda Kab/Kota dan Perda Provinsi sebagai pendukung
pelaksanaan peraturan perundangan ini. Untuk itu Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur berinisiatif memberi masukan kepada pihak-pihak
terkait agar peraturan teknis yang dibutuhkan dalam rangka pelaksanaan
UU RS bisa segera diterbitkan.
2.
Berdasarkan UU RS No. 44 Tahun 2009 yang dijelaskan dalam Permenkes
RI Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi RS disebutkan
bahwa Peran Dinas Kesehatan Provinsi adalah memberikan Rekomendasi
Penetapan Kelas. Untuk RS Pemerintah sebanyak 58 RS sebelumnya
sudah ditetapkan klasifikasinya oleh Kemenkes RI, dan
terkait RS
TNI/POLRI/BUMN dan Swasta yang belum terklasifikasi sampai saat ini
masih dalam proses klasifikasi karena yang menetapkan kelas RS adalah
Kementerian Kesehatan RI. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur akan
mengadvokasi kepada Kementerian Kesehatan RI untuk memprioritaskan
penetapan kelas Rumah Sakit di Jawa Timur mengingat jumlah RS di Jawa
Timur termasuk terbanyak di Indonesia.
3.
Dengan standar akreditasi baru yang diberlakukan mulai tahun 2012, maka
maka rumah sakit harus menata ulang standarnya karena pada standar
akreditasi baru ada 4 (empat) kelompok standar yaitu : Kelompok standar
berfokus pada pasien, Kelompok standar manajemen rumah sakit,
Kelompok sasaran keselamatan pasien, Kelompok sasaran menuju
Milineum Development Goals.
4.
Sistem Pelaporan RS masih belum berjalan optimal karena terkait
pelaporan RS dari 344 RS Kab/Kota yang mengirimkan laporan tahunan ke
Dinkes Provinsi Jatim sebanyak 257 RS.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
71
Secara umum pencapaian target sasaran Meningkatkan Jangkauan dan
Kualitas Pelayanan Kesehatan Gawat Darurat yang Bisa Diakses
Masyarakat dan Prasarana Kesehatan di Rumah Sakit, Rumah Sakit
Khusus dan Balai Kesehatan pada tahun 2013 telah tercapai dengan
SANGAT BAIK, seperti terlihat
pada lampiran PPS_ Laporan Realisasi
pelaksanaan Penetapan Kinerja Tahun 2013
.
B.4. TUJUAN 4 :
Meningkatnya Kesadaran Gizi Keluarga dalam Upaya Meningkatkan
Status Gizi Masyarakat
Tujuan : Meningkatnya Kesadaran Gizi Keluarga dalam Upaya
Meningkatkan Status Gizi Masyarakat dijabarkan ke dalam Sasaran yaitu
Meningkatnya Perbaikan Gizi Masyarakat
Sasaran: Meningkatnya
Perbaikan Gizi Masyarakat ,dengan indikator
keberhasilan pencapaian sasaran sebagai berikut :
a. Persentase Balita yang dipantau Pertumbuhannya
b. Prevalensi Balita Dengan Gizi Buruk
c. Prevalensi Balita dengan Gizi Kurang
Tabel 3.10. TUJUAN 4 dan SASARAN 4
TUJUAN 4
SASARAN 4.1
Meningkatnya Kesadaran Gizi Meningkatnya Perbaikan Gizi
Keluarga Dalam Upaya
Masyarakat
Meningkatkan Status Gizi
Masyarakat
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
72
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.11. sebagai berikut :
TABEL : 3.11.
Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya
Perbaikan Gizi Masyarakat
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
1
1
2
3
75 %
REALISA
SI
4
74, 7 %
3,6%
2.2%
15%
12,1%
2
3
Partisipasi Balita Dipantau
pertumbuhannya
Prevalensi Balita Dengan
Gizi Buruk
Prevalensi Balita dengan
Kurang Gizi
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
(%)
5
99,6
>100
>100
>100
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
a. Program Perbaikan Gizi Masyarakat oleh 5 (lima) kegiatan yaitu:
a.1. Menyusun peta informasi masyarakat kurang gizi
a.2. Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi,
Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A dan
Kekurangan Zat Gizi Mikro lainnya
a.3. Pemberdayaan masyarakat Untuk pencapaian keluarga sadar gizi
a.4. Penyelidikan surveillans untuk kewaspadaan pangan dan gizi
a.5. Peningkatan pendidikan dan pengetahuan tentang penanganan
masalah gizi
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
73
b.
Program Perbaikan Gizi Masyarakat dengan pagu sebesar Rp.
5.075.000.000,00
terealisasi
sebesar
91.15%
atau
Rp.
5.181.597.847,00secara rinci masing-masing realisasi anggaran kegiatan
serta capaian ukuran keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran
Matrik 16 Kolom.
c. Hasil Pelaksanaan Program Perbaikan Gizi Masyarakat pada Tahun 2013
adalah sebagai berikut :
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya
meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi, dan balita
serta usia produktif, dengan sasaran program tenaga pelaksana gizi Kab/Kota,ibu
hamil, bayi dan balita serta usia produktif
Hasil pelaksanaan program/kegiatan diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Upaya penanggulangan masalah gizi (KEP, anemia gizi, GAKY, KVA) dan
kekurangan zat gizi mikro lainnya di 38 Kabupaten/Kota
2. Pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian kadarzi di 38 Kabupaten/Kota
3. Penyelidikan surveilans untuk kewaspadaan pangan dan gizi
Adapun hasil pencapaian indikator kinerja seksi gizi pada tahun 2010 - 2012,
seperti rincian tabel berikut :
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
74
Tabel. 4.1.Hasil Pencapaian Indikator Kinerja Gizi
Tahun 2013
NO
INDIKATOR
PENCAPAIAN
2012
2013
1 Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan
100 %
100 %
2 Persentase bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif
66,1 % 70,3 %
3 Cakupan RT yg mengonsumsi garam beryodium
-
86,9 %
4 Persentase Balita 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A
90,3 % 89,7 %
5 Persentase ibu hamil mendapat Fe 90 tablet
71,2 % 81,6 %
6 Persentase kabupaten/kota yang melaksanakan
surveilans gizi
7 Persentase balita ditimbang berat badannya
8 Persentase Penyediaan bufferstock MP-ASI untuk
daerah bencana
100%
100 %
73,7% 72,0 %
100%
100 %
Sumber : Data Seksi Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
Pada tabel di atas, untuk 563 Balita gizi buruk sudah mendapat perawatan
100 % dan tertangani semua, penanggulangan kasus balita gizi buruk
dilaksanakan melalui 2 (dua) pendekatan, yaitu bagi balita gizi buruk yang
disertai dengan tanda-tanda komplikasi medis dilakukan penanganan rawat inap
di Puskesmas Perawatan, Theurapeutic Feeding Centre (TFC) maupun Rumah
Sakit. Sedangkan bagi balita gizi buruk tanpa komplikasi dilakukan melalui rawat
jalan dengan pembinaan oleh petugas kesehatan dan kader Posyandu.
Cakupan bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif tahun 2013 sebesar
70,3% dari jumlah bayi diperiksa sebesar 461.440 dan yang mendapat ASI
Eksklusif sebanyak 324.550 bayi, meskipun belum mencapai target nasional
sebesar 75 % tetapi bila dibanding tahun 2012 persentase tahun 2013 meningkat
sebanyak 4,2%, ini di tunjang dengan semakin meningkatnya pemahaman
masyarakat tentang ASI Eksklusif serta semakin tanggapnya tenaga pelaksana
gizi di lapangan.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
75
Upaya terobosan yang dilakukan untuk meningkatkan cakupan ASI
eksklusif antara lain melalui :
-
Pelatihan petugas kesehatan terkait dengan definisi operasional ASI
eksklusif untuk mendukung pelaporan ASI eksklusif yang benar
-
Pelatihan Konselor Menyusui
-
Pelatihan konselor MP-ASI
-
Peringatan Pekan ASI Sedunia
-
Lomba standing banner ASI Eksklusif
-
Peningkatan dukungan keluarga dan masyarakat melalui pembentukan
Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI)
-
Lomba KP-ASI
-
Sosialisasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012
tentang Pemberian ASI eksklusif.
-
Penyediaan ruang laktasi dalam rangka mendukung penjediaan fasilitas
menyusui di tempat kerja maupun di pusat perbelanjaan, dan lain-lain.
Upaya penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
dilakukan melalui pemanfaatan garam beriodium. Cakupan rumah tangga yang
mengkonsumsi garam beriodium di Jawa Timur tahun 2013 adalah sebesar 86,9
% dari sampel 112.701 kepala keluarga dan yang hasil uji garamnya cukup
sebesar 97.965 sampel. Jika dibandingkan dengan target nasional tahun 2013
sebesar 85 % berarti telah mencapai target. Upaya peningkatan cakupan rumah
tangga yang mengkonsumsi garam beriodium dilakukan antara lain melalui :
-
Peningkatan koordinasi dengan petugas lintas program terkait
-
Promosi Garam Beriodium melalui pengadaan sarana media penyuluhan
-
Sosialisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 63 tahun 2010 tentang
Pedoman Penanggulangan GAKI di daerah, dan lain-lain.
Cakupan Balita 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A di Jawa Timur
tahun 2013 adalah sebesar 89,6 % dari sasaran Balita 3.072.582 yang
mendapatkan vitamin A sebanyak 2.753.846. Jika dibandingkan dengan capaian
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
76
tahun 2012 sebesar 90,3% memang ada penurunan 0,7% ini disebabkan sarana
vitamin A pada bulan Pebruari di beberapa Kabupaten /Kota ada kekurangan
karena pengadaan vitamin A dari pusat belum selesai. Akan tetapi bila capaian
tahun 2013 dibandingkan dengan target nasional tahun 2013 sebesar 83 %
berarti telah mencapai target. Beberapa upaya yang dilakukan untuk
meningkatkan cakupan balita yang mendapat kapsul vitamin A, antara lain
melalui :
-
Pelatihan manajemen kapsul vitamin A bagi petugas kesehatan di Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota se Jawa Timur dan Puskesmas
-
Pemenuhan kebutuhan kapsul vitamin A
-
Pertemuan koordinasi penanggulangan Kurang Vitamin A bagi petugas
lintas sektor Kabupaten/Kota se Jawa Timur
-
Promosi pemberian kapsul vitamin A melalui pengadaan media/sarana
penyuluhan, dan lain-lain.
Cakupan ibu hamil yang mendapatkan Fe (feros /tambah darah) 90 tablet
di Jawa Timur tahun 2013 adalah sebesar 81,6 % dari jumlah ibu hamil
sebanyak 679.460 orang yang mendapat Fe3 sebesar 554.139 orang. Jika
dibandingkan dengan target nasional sebesar 93 persen berarti belum mencapai
target. Masalah yang berkaitan dengan rendahnya cakupan ibu hamil yang
mendapatkan 90 tablet tambah darah tersebut antara lain berkaitan dengan
belum optimalnya koordinasi dengan lintas program terkait, serta belum
terlaporkannya dengan baik cakupan pemberian TTD pada ibu hamil. Upaya
peningkatan cakupan ibu hamil yang mendapat 90 tablet tambah darah
dilakukan antara lain melalui :
-
Peningkatan koordinasi dengan petugas lintas program terkait
-
Peningkatan pemahaman petugas kesehatan terkait dengan definisi
operasional pemberian TTD
-
Promosi TTD melalui pengadaan sarana media penyuluhan
-
Penyediaan tablet tambah darah untuk ibu hamil bagi Kabupaten/ Kota se
Jawa Timur, dan lain-lain.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
77
Surveilans gizi yang dimaksud dalam petunjuk pelaksanaan ini adalah suatu
proses pengumpulan, pengolahan dan diseminasi informasi hasil pengolahan
data secara terus menerus dan teratur tentang indicator yang terkait dengan
kinerja
pembinaan
gizi
masyarakat.
Persentase
kabupaten/kota
yang
melaksanakan surveilans gizi dari tahun 2012 sampai dengan 2013 rata-rata
mencapai 100%, karena setiap Kab/Kota di Jawa Timur selalu melaksanakan
surveilans gizi, sehingga pencapaiannya sebesar 100%.
Cakupan balita yang ditimbang berat badannya (D/S) di Jawa Timur pada
tahun 2013 adalah sebesar 72,2 % dari jumlah Balita sebesar 3.072.582 yang
ditimbang sebanyak 2.217.533 Balita. Cakupan tersebut lebih rendah jika
dibandingkan dengan target nasional tahun 2013 sebesar 80 %. Rendahnya
cakupan D/S tersebut antara lain berkaitan dengan ;
-
Banyak berdirinya PAUD (pendidikan anak usia dini) yang mana ada PAUD
yang belum terintegrasi dengan Posyandu
-
Minimnya dana operasional dan kelengkapan sarana dan prasarana untuk
menggerakkan kegiatan Posyandu
-
Tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan
pertumbuhan dan konseling masih kurang karena banyaknya kader baru
(regenerasi)
-
Tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat akan manfaat Posyandu
masih rendah
-
Pembinaan kader yang kurang sehingga perlu diadakan refresing kader /
revitalisasi Posyandu.
Persentase Penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana,
mengingat penyediaan sarana ini yang mempunyai tanggung jawab adalah
Direktorat Bina Gizi – Kemenkes R.I dan pemerintah Daerah Provinsi Jawa
Timur maka dianggap pencapaiannya 100 %, karena tenaga gizi di wilayah
sasaran bencana tinggal melaksnakan apabila ada bencana.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
78
d. Permasalahan dan upaya pemecahan masalah
d.1.Permasalahan :
1.
Validasi data gizi yang sering terlambat dari Kab/Kota ke Provinsi (seksi
gizi).
2.
Masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang perilaku sadar gizi.
3.
Belum adanya anggaran khusus untuk melaksanakan kegiatan pemetaan
Kadarzi di masyarakat.
4.
Peran dan kerjasama petugas lintas program dan lintas sektor yang
tergabung dalam Tim Pangan dan Gizi masih rendah, sehingga
pembahasan tentang situasi pangan dan gizi untuk penanganan masalah
gizi sering terhambat.
d.2. Upaya Pemecahan Masalah
i.
Meningkatkan upaya perbaikan dalam sistem pencatatan dan pelaporan
antara lain dengan ;
- Penggunaan alat bantu computer (software)
- Pembinaan petugas pengelola data
- Pertemuan koordinasi
i.
Sosialisasi KADARZI ke masyarakat (forum pengajian, dasa wisma, PKK
dll) dan pembinaan kader setelah hari H Posyandu terutama dalam hal
yang berkaitan dengan penerapan KADARZI dalam kehidupan sehari-hari.
ii.
Mengajukan dana khusus untuk kegiatan pemetaan Kadarzi di masyarakat
melalui dana APBD.
iii.
Melakukan pendekatan secara khusus terhadap lintas program dan lintas
sector untuk memperlancar jalannya kerjasama serta mendorong agar
masing-masing sector mengadakan kegiatan secara bersama-sama.
Secara umum pencapaian target sasaran Meningkatkan Keluarga Sadar
Gizi dan Perbaikan Gizi Masyarakat pada tahun 2013 telah tercapai
dengan SANGAT BAIK, seperti terlihat
pada lampiran PPS_ Laporan
Realisasi pelaksanaan Penetapan Kinerja Tahun 2013.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
79
B.5. TUJUAN 5 :
Terjaminnya Ketersediaan , Pemerataan, Pemanfaatan, Mutu ,
Keterjangkauan Obat dan Perbekalan Kesehatan serta Pembinaan
Mutu Makanan
Tujuan: Terjaminnya Ketersediaan , Pemerataan, Pemanfaatan, Mutu ,
Keterjangkauan Obat dan Perbekalan Kesehatan serta Pembinaan Mutu
Makanan dijabarkan ke dalam Sasaran yaitu Meningkatnya Pengelolaan
Obat , Perbekalan Kesehatan dan Makanan
Sasaran: Meningkatnya Pengelolaan Obat , Perbekalan Kesehatan dan
Makanan dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran sebagai
berikut :
a. Persentase Obat sesuai kebutuhan yang tersedia di Kabupaten/Kota
b. Persentase Ketersediaan obat dan alat kesehatan untuk penanggulangan
bencana dan KLB
c. Persentase sarana pelayanan kesehatan (sarkes) yang menerapkan
layanan kefarmasian sesuai standar
d. Persentase tanaman obat asli Indonesia di UPT Materia Medica Batu dapat
dimanfaatkan untuk menunjang pemeliharaan kesehatan.
Tabel 3.12. TUJUAN 5 dan SASARAN 5.1.
TUJUAN 5
Terjaminnya ketersediaan,
pemerataan, mutu,
keterjangkauan obat dan
perbekalan kesehatan serta
pembinaan mutu makanan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
SASARAN 5.1
Meningkatnya Pengelolaan
Obat, Perbekalan Kesehatan
dan Makanan
80
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.13. sebagai berikut :
TABEL : 3.13.
NO
Pengukuran Kinerja Sasaran Meningkatnya
Pengelolaan Obat, Perbekalan Kesehatan dan
Makanan
INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALISASI
(%)
1
1
2
Persentase obat sesuai
kebutuhan tersedia di
kabupaten/kota
3
95 %
4
92 %
5
96,8
2
Persentase ketersediaan obat
untuk penanggulangan
bencana dan KLB
90%
80%
88,88
50%
35%
70
3
Persentase sarana pelayanan
kesehatan yang diawasi
menerapkan pelayanan
kefarmasian sesuai standar
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
KATEGORI CAPAIAN
85,2
BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN
a).Program Obat dan Perbekalan Kesehatan ini didukung oleh 9 (sembilan )
kegiatan yaitu:
a.1. Pengadaan obat dan perbekalan kesehatan
a.2. Pengkataan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan
a.3. Peningkatan mutu pelayanaan farmasi komunikasi dan rumah sakit
a.4. Peningkatan mutu Penggunaan obat dan perbekalan Kesehatan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
81
a.5. Pengembangan tanaman obat dan peningkatan promosi pemanfaatan
obat bahan alam Indonesia
a.6 Pengadaan Bahan Kimia dan Laboratorium
a.7. Peningkatan mutu makanan dan minuman
a.8. Peningkatan dan Pengembangan Balai Materia Medika Batu
a.9. Pencegahan Penyalahgunaan Narkotik, Psikotropika Dan Zat Adiktif
Lainnya (Napza)
b) Program Obat dan Perbekalan Kesehatan dengan pagu sebesar Rp.
12.695.000.000,00 terealisasi sebesar 96.47% atau Rp. 12.247.397.158,00
secara rinci masing-masing realisasi anggaran kegiatan serta capaian
ukuran keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran Matrik 16 Kolom.
c) Hasil Pelaksanaan Pembangunan Capaian Kinerja Program Obat dan
Perbekalan Kesehatan
Program Obat dan Perbekalan Kesehatan dimaksudkan untuk Menjamin
ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan, mutu, keterjangkauan obat dan
perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan dengan sasaran
Meningkatkan manajemen pengelolaan obat, pembinaan dan pengendalian,
pengawasan serta peningkatan kualitas perbekalan kesehatan dan makanan.
Untuk mengukur keberhasilan sasaran dari pelaksanaan program tersebut
dapat dilihat dari perkembangan capaian kinerja program sebagai berikut:
Tabel 1.1
Capaian kinerja Program Obat dan Perbekalan Kesehatan
Capaian Kinerja Program
NO
1
Indikator Kinerja
Satuan
Tersedia Obat Buffer Stock
Dan Alat Kesehatan Habis
Pakai Untuk Pelayanan
Kesehatan Di UPT Dinas
Kesehatan Propinsi.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
%
200
9
20
2010
2011
2012
2013
20
30
30
35
82
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Tersedia Obat Dan Alat
Kesehatan Habis Pakai Untuk
Pelayanan Kesehatan Di UPT
Dinas Kesehatan Provinsi.
Tersedia Obat Untuk
Penanggulangan Bencana
Dan KLB
Obat Sesuai Kebutuhan
Tersedia Di Semua
Kabupaten/Kota.
Sarana Pelayanan
Kesehatan Yang Diawasi
Menerapkan Pelayanan
Kefarmasian Sesuai Standar
Kabupaten/Kota
Melaksanakan Monitoring,
Pembinaan Dan Pelaporan
Secara Berkala Penggunaan
Obat Secara Rasional Di
Puskesmas Dengan
Menerapkan Software
Monitoring Penggunaan Obat
Secara Rasional
Sarana Produksi Dan
Distribusi Obat, Alat
Kesehatan (ALKES),
Perbekalan Kesehatan
Rumah Tangga (PKRT) Dan
Kosmetika Menerapkan Cara
Produksi Dan Distribusi
Sesuai Standar.
Permintaan Sertifikasi,
Sarana Produksi Dan
Distribusi Obat, Alat
Kesehatan (ALKES),
Perbekalan Kesehatan
Rumah Tangga (PKRT), Dan
Kosmetika Terlayani Sesuai
Standar
Kabupaten/Kota Menerapkan
Sistem Pelaporan NarkotikaPsikotropika.
Sarana Produksi Dan
Distribusi Obat Tradisional
Dan Kosmetika Menerapkan
Cara Produksi Dan Distribusi
Sesuai Standar.
Permintaan Sertifikasi,
Sarana Produksi Dan
Distribusi Obat Tradisional
Dan Kosmetika Terlayani
Sesuai Standar.
Dari Kebutuhan Tersedia
Buffer Bahan Kimia Dan
Laboratorium.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
%
85
80
80
90
95
%
90
90
87
80
90
%
65
70
87
92
95
%
40
40
15
30
35
%
0
40
65
74
74
%
30
40
30
50
60
%
50
60
90
100
100
%
40
60
52
70
79
%
15
15
70
100
100
%
55
60
100
100
100
%
30
35
40
45
45
83
13
Industri Makanan Rumah
%
55
60
45
Tangga Yang Diawasi Tidak
Menggunakan Bahan
Tambahan Yang Dilarang
Untuk Makanan.
14
Tanaman Obat Asli Indonesia
%
100
100
100
Di UPT Materia Medica Batu
Dapat Dimanfaatkan Untuk
Menunjang Pemeliharaan
Kesehatan.
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
60
80
100
100
 Kondisi yang dicapai pada tahun 2013 bahwa telah :
1. Tersedia obat buffer stock dan alat kesehatan habis pakai untuk
pelayanan kesehatan di UPT Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 35 %.
2. Tersedia obat dan alat kesehatan habis pakai untuk pelayanan kesehatan
di UPT Dinas Kesehatan Provinsi 95 %
3. Tersedia obat untuk penanggulangan bencana dan KLB 90 %
Capaian kinerja dari indikator persentase ketersediaan obat dan vaksin
tersebut berkat upaya yang dilakukan, dicapai melalui pengelolaan obat yang
baik mulai dari perencanaan,
pengadaan,
penyimpanan,
distribusi
dan
penggunaan yang tertuang dalam kegiatan pengadaan obat dan perbekalan
kesehatan yaitu pengadaan obat dan alkes habis pakai yang terdiri dari:
1. Pengadaan obat untuk pengobatan masal dan bakti sosial dan poli sebanyak
39 jenis.
2. Pengadaan obat untuk buffer tingkat Provinsi sebanyak 89 jenis.
3. Pengadaan obat untuk KLB dan penanggulangan bencana 6 jenis.
Mulai tahun 2013 pengadaan obat menggunakan e-katalog yang
merupakan daftar obat elektronik yang memuat informasi nama obat, spesifikasi
teknis, harga satuan terkecil dan penyedia dimana sudah termasuk pajak dan
biaya distribusi. Untuk mekanisme pengadaannya menggunakan e-purchasing
dari LKPP. diharapkan agar proses pengadaan obat di sektor pemerintah dapat
lebih transparan, akuntabel, efektif dan efisien dengan adanya sistem e-katalog
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
84
obat, selain dapat meminimalisasi penyimpangan, juga dapat memudahkan
pihak pemerintah untuk lebih leluasa dalam memilih produk obat (generik) yang
dibutuhkan. Ada beberapa obat yang diadakan menggunakan e-katalog tidak
dapat terpenuhi karena kosong dari pabrikan, sehingga tidak diadakan.Untuk
obat-obat yang tidak tercantum dalam e-katalog menggunakan proses tender
sesuai Perpres No. 54.
Mutu pelayanan kesehatan sangat bergantung kepada ketersediaan obat
dan alat kesehatan sebagai penunjang utama dalam pelayanan pengobatan
kepada masyarakat. Oleh karena itu jaminan ketersediaan obat
baik secara
kualitas maupun kuantitas harus tetap terjaga di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ketersediaan obat
harus dipertahankan agar pelayanan kesehatan tidak
terganggu. Kegiatannya untuk mempertahankan ketersediaan obat meliputi
perencanaan, pengadaan, distribusi, penyimpanan dan penggunaannya yang
didukung dengan sarana pendukung termasuk sistem informasi dan SDM nya.
Obat dan Alkes habis pakai yang diadakan di tingkat provinsi adalah obat-obat
pengobatan masal, bakti sosial, buffer stok tingkat provinsi,
obat untuk
penanggulangan KLB masih konsentrasi pada kasus Diphteri, yaitu pengadaan
ADS, Erythromycin dan vitamin-vitamin.
Hasil Pelaksanaan Program Obat dan Perbekalan Kesehatan:
c.1. Fasilitasi kepada Petugas Pengelola Obat Puskesmas sebanyak 21 orang
dari Kabupaten Sampang dan 20 orang dari Kabupaten Pamekasan
Dalam Rangka Peningkatan Kualitas Manajemen Pengelolaan Obat dan
Ketrampilan Petugas Obat di Sarana Pelayanan Kesehatan Dasar
Kab/Kota yang diselenggarakan di 2 kabupaten di Madura yaitu Kabupaten
Sampang dan Kabupaten Pamekasan. Kegiatan ini berupa pertemuan
untuk Petugas Pengelola Obat Puskesmas dengan memberikan materi
tentang bagaimana mengelola obat sesuai dengan standar yang ditetapkan
untuk menjaga mutu dan menunjang pelayanan. Diharapkan kegiatan ini,
ketrampilan Petugas dalam pengelolaan obat dapat lebih meningkat.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
85
c.2. Monitoring Aplikasi Software Puskesmas dan Kab/Kota dilakukan di 10
kabupaten/kota
Kabupaten
yaitu,
Tuban,
Kabupaten
Kabupaten
Magetan,
Probolinggo,
Kabupaten
Kabupaten
Bojonegoro,
Lumajang,
Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya dan Kota
Probolinggo.
Pelaksanaan pada rentang bulan September dan Oktober. Dalam
pelaksanaan monitoring didapatkan beberapa temuan yang menghambat
terlaksananya aplikasi penggunaan software. Secara umum semua IFK
memiliki perangkat komputer untuk menunjang penggunaan software,
hanya saja software yang telah diinstall terdahulu tidak digunakan karena
beberapa masalah antara lain banyak terdapat entry data pada software
pada saat online sehingga apabila terputus harus mengulang lagi, susah
untuk akses operasional dan jaringan internet tidak stabil. Sehingga
kebanyakan pengelolaan obat di IFK masih manual menggunakan program
excel, jumlah item obat dalam software belum mengcover semua
kebutuhan Kab/Kota sehingga harus kerja ulang pada software lain.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
86
c.3.Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Upaya Penyediaan dan Pengelolaan
Obat untuk Pelayanan Kesehatan Dasar dan Program dengan 76 orang
Penanggungjawab atau Pengelola Obat Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota
(%)
dan Pemegang Program Kefarmasian Kab/Kota se Jawa Timur. Pertemuan
ini dilaksanakan untuk keterpaduan dan efektivitas penyediaan obat.
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.1. Persentase Obat Dengan Tingkat Kecukupan ≥ 12 Bulan
Diagram Tingkat Ketersediaan Obat Menurut Jenis Obat
Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
87
Gambar 1.2. Diagram Tingkat Ketersediaan Obat Tahun 2013
Kondisi yang dicapai pada tahun 2013 bahwa sarana pelayanan
kesehatan yang diawasi menerapkan pelayanan kefarmasian sesuai standar
sebesar 35 % hal ini merupakan permasalahan yang harus ditangani pada
kegiatan Peningkatan Mutu Pelayanan Farmasi Komunikasi Dan Rumah Sakit.
Harapan dari kegiatan tersebut, puskesmas yang menerapkan pelayanan
kefarmasian sesuai standar : 15 puskesmas dan rumah sakit yang menerapkan
pelayanan kefarmasian sesuai standar : 38 rumah sakit. Sarana Pelayanan
Kesehatan yang diawasi menerapkan pelayanan kefarmasian sesuai standar :
50%, sedang target dan realisasi adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2
Target Nasional
% Puskesmas Perawatan dan Instalasi Farmasi
Yang Melakukan Pelayanan Kefarmasian Sesuai Standar
No
Uraian
Target (%)
1
Realisasi (%)
2012
35
Target (%)
% Puskesmas Perawatan
25
30
Yang Melakukan
Pelayanan Kefarmasian
Sesuai Standar
2
% Instalasi Farmasi RS
35
40
40
Yang Melakukan
Pelayanan
KefarmasianSesuai
Standar
Sumber : Data Seksi Farkalkes Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2013
Realisasi
(%) 2013
37
42
Untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan farmasi komunikasi dan
rumah sakit telah terlaksananya
1. Sebanyak empat Kabupaten: Kota Blitar, Kabupaten Jombang, Kabupaten
Ngawi, Kabupaten Pacitan telah dilakukan Fasilitasi dan Joint Training
Pelayanan Kefarmasian untuk Tenaga Kefarmasian dan Nakes di Puskesmas
Perawatan dan Plus dalam Rangka Mendukung Program Pengendalian
Penyakit dan Penurunan AKI dan AKB. Pertimbangan pemilihan kab/kota
adalah yang telah mempunyai tenaga apoteker PNS yang ditempatkan di
Puskesmas dalam satu wilayah Kabupaten/kota lebih dari 5 (lima) orang,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
88
sehingga diharapkan menjadi role model untuk kolaborasi dengan jajaran
tenaga kesehatan lain untuk dapat dikembangkan di seluruh kabupaten/Kota
di Jawa Timur.
2. Advokasi dan Asistensi Sistem Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas pada 6
Kabupaten Kota Terpilih yaitu pada Kab. Probolinggo, Kota Probolingo, Kab
Ngawi, Kab Jember, Kab Ponorogo, Kab Madiun, Kota Madiun. Kegiatan ini
dilakukan oleh Petugas Dinas Kesehatan Provinsi kepada petugas Dinas
Kesehatan Kabupaten Kota terpilih untuk melakukan pemberlakukan sistem
Pelaporan pelayanan kefarmasian berjenjang di Rumah Sakit Pemerintah
dan Puskesmas sampai tingkat nasional.
3. Pertemuan Pelayanan Kefarmasian bagi 58 orang petugas Instalasi Farmasi
RS Pemerintah dalam rangka mendukung Universal Coverage. Pertemuan
tersebut bermaksud untuk memberikan pembekalan petugas farmasi Rumah
Sakit dalam menghadapi SJSN bidang Kesehatan, tata cara audit
kefarmasian sesuai dengan prisip Farmakoekonomi, Pelayanan Kefarmasian
yang berbasis Pengobatan rasional.
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.3.Tenaga Apoteker VS Tenaga Keseahatan Yang Lain Di Provinsi
Jawa TImur, 2013 (apoteker hanya 1%)
Berdasarkan Gambar 3.1 dilaporkan bahwa Capaian target pada tahun
2013 adalah sebesar
35 % dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 30 %
pencapaian ini belum optimal walaupun ada kenaikan prosentase dikarenakan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
89
tenaga kefarmasian khususnya apoteker belum menjadi tenaga kesehatan
strategis dan minim nya jumlah tenaga kefarmasian tidak sesuai dengan standar
yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c.4. Kondisi yang dicapai pada tahun 2013 bahwa Sarana Produksi Dan
Distribusi Obat, Alat Kesehatan (ALKES), Perbekalan Kesehatan Rumah
Tangga (PKRT) dan Kosmetika Menerapkan Cara Produksi Dan Distribusi
Sesuai Standar sebesar 60 % dan Permintaan Sertifikasi, Sarana Produksi
Dan Distribusi Obat, Alat Kesehatan (ALKES), Perbekalan Kesehatan
Rumah Tangga (PKRT), Terlayani Sesuai Standar 100 %
Capaian ini
didukung dalam kegiatan Peningkatan Mutu Penggunaan Obat Dan
Perbekalan Kesehatan dengan upaya yang dilakukan kepada :
1. 50 orang penangungjawab teknis dan pemilik sarana mengikuiti
Pembinaan Sarana Produksi Alkes dan PKRT dalam Rangka Penerapan
GMP di Bidang Alkes dan PKRT
2. 9 (sembilan) kab kota di wilayah Jawa Timur yang berada di Kabupaten /
Kota yaitu kab Jember, kab Kediri, Nganjuk, kab Madiun, kab Bojonegoro,
Malang kab kota, Kota Surabaya dan Kab Sidoarjo pada sarana distribusi
alkes dilakukan Pemetaan Sarana Distribusi Alkes di Jawa Timur Pasca
Penerapan Permenkes No. 1191 Tahun 2010 tentang Penyaluran Alat
Kesehatan bertujuan Untuk memastikan bahwa setiap distributor alat
kesehatan telah melaksanakan dan menerapkan CDAKB.
3. 38 petugas kab/kota ikut kegiatan Sinkronisasi Pelaksanaan Program
Pembinaan dan Pengendalian Alkes dan PKRT di Provinsi dan Kab/Kota
4. 40 orang Petugas Kab/Kota dan Puskesmas mengikuti Fasilitasi
Penyebarluasan Informasi Bahaya Penggunaan Produk Alkes dan PKRT.
Petugas Kabupaten/Kota dan Puskesmas selanjutnya secara berjenjang
meneruskan informasi kepada masyarakat di wilayah kerjanya masingmasing. Pemahaman penggunaan produk Alkes dan PKRT yang
memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan dalam upaya
pencegahan kejadian akibat bahan berbahaya yang terdapat dalam
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
90
produk Alkes dan PKRT untuk selanjutnya menyebarluaskan informasi
kepada masyarakat.
Pada indikator persentase produk alat kesehatan dan PKRT yang
memenuhi
persyaratan
keamanan,
mutu
dan
manfaat
pertahun
dapat
digambarkan sebagai berikut:
Tabel 1.3
Persentase Produk Alkes dan PKRT yang Beredar Memenuhi Persyaratan
Keamanan, Mutu dan Manfaat
Tahun 2011
Target
Realisasi
70%
70%
Tahun 2012
Target
75%
Realisasi
75%
Tahun 2013
Target
78%
Realisasi
Tahun 2014
Target
78%
Realisasi
80%
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Pada indikator persentase sarana produksi Alkes dan PKRT yang
memenuhi Cara Produksi yang Baik sebagai berikut :
Tabel 1.4
Persentase Sarana Produksi Alkes dan PKRT yang Memenuhi
Cara Produksi yang baik
Tahun 2011
Target
Realisasi
65%
63%
Tahun 2012
Target
Realisasi
65%
60%
Tahun 2013
Target
Realisasi
65%
65%
Tahun 2014
Target
Realisasi
70%
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.4. Jumlah Sarana Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Tahun 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
91
Gambar 1.5. Jumlah Sarana Cabang Penyalur Alat Kesehatan (PAK) Tahun
2013
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.6. Jumlah Sarana Industri Alat Kesehatan (PAK) Tahun 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
92
sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.7. Jumlah Sarana Industri Perbekalan Keseahatn Rumah Tangga
(PKRT) Tahun 2013
c.5.
Kondisi yang dicapai pada tahun 2013 bahwa sarana produksi dan
distribusi obat tradisional dan kosmetika menerapkan cara produksi dan
distribusi sesuai standar sebesar 100 % dan Permintaan sertifikasi, sarana
produksi dan distribusi obat tradisional dan kosmetika terlayani sesuai standar
sebesar 100 %.
Hal ini didukung pada kegiatan pengembangan tanaman obat dan
peningkatan promosi pemanfaatan obat bahan alam indonesia.
Kegiatan ini
dilaksanakan sebagai upaya untuk mencapai target sarana produksi dan
distribusi obat tradisional dan kosmetika menerapkan cara produksi yang baik
dan produk yang diedarkan memenuhi syarat mutu dan keamanan, serta
sebagai upaya untuk meningkatkan pemanfaatan obat tradisional
terutama
untuk pengobatan mandiri dan untuk meningkatkan pembinaan pengendalian
dan pengawasan agar obat tradisional yang di produksi dan diedarkan di Jawa
Timur memenuhi persyaratan keamanan mutu dan kemanfaatan dengan upaya :
1. Sebanyak 60 orang penangungjawab teknis dan atau pemilik sarana produksi
kosmetika di Jawa Timur mengikuti Pembinaan dalam Rangka Peningkatan
Penerapan CPKB (Cara Produksi Kosmetika yang Baik) pada Industri
Kosmetika di Jawa Timur. Sebagai upaya memberikan pembekalan teknis
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
93
kepada pemilik sarana produksi kosmetika sesuai dengan Cara Pembuatan
Kosmetika yang Baik (CPKB), dimaksudkan agar sarana produksi kosmetika
mampu dan mau menerapkan CPKB dalam memproduksi kosmetika
sehingga produk yang dihasilkan memenuhi syarat keamanan, mutu dan
kemanfaatan
2. Sampling dan pengujian Produk obat tradisional / jamu di pasaran / sarana
distribusi di 13 kab/kota di Jawa Timur yaitu Kota Malang, Sumenep,
Pamekasan, Kota Kediri, Bojonegoro, Tuban, Kab Blitar, Kab Madiun,
Ponorogo
,
Kota
Batu,
Surabaya
dan
Sidoarjo
untuk
mengetahui
kemungkinan ditambahkannya bahan kimia obat (BKO) dalam produk jamu.
Sasaran Sampling dan Pengujian Produk Obat Tradisiona /Jamu di Pasaran
dalam Rangka Pencegahan Penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) dalam
Produk Obat Tradisional. Terlaksananya sampling dan teridentifikasinya
kandungan sampel obat tradisional dilakukan dengan Metode Stratified
random sampling
3. 38 petugas kab kota yang mengikuti Review Pelaksanaan Program
Pembinaan
dan
Pengendalian
Kosmetika
dan
Obat
Tradisional
di
Kabupaten/Kota agar pelaksanaan bindalwas di kabupaten/kota dan provinsi
tentang obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO) bahkan
juga telah menarik beberapa obat tradisional dari peredaran, karena terbukti
mengandung bahan kimia obat antara lain : Metampiron , Fenilbutason,
Deksametason, Allupirinol , CTM , Sildenafil Sitrat, Parasetamol
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
94
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.8. Jumlah Sarana Industri Kosmetika Tahun 2013
c.6.
Kondisi yang dicapai pada tahun 2013 bahwa Dari kebutuhan tersedia
buffer bahan kimia dan laboratorium sebesar 45 % hal ini didukung pada
kegiatan pengadaan bahan kimia dan laboratorium Berupa Reagen untuk
pemeriksaan HIV dengan metode Rapid Test jenis antigen Re combinnat
test satu paket @ 100 buah test. Reagen tersebut diserahkan ke program
untuk dimanfaatkan dalam menunjang kegiatannya.
c.7. Kondisi yang dicapai pada tahun 2013 bahwa
Peningkatan Mutu
Makanan Dan Minuman sebesar 80 % dilakukan sejumlah kegiatan
dengan sasaran :
1. Sejumlah 38 orang Petugas Kabupaten/Kota mengikuti Pertemuan
tentang Keamanan Makanan Minuman di Jawa Timur, dengan
tujuan meningkatkan pengetahuan, kemampuan serta kerjasama
lintas program dan sektor dalam rangka tersedianya pangan yang
memenuhi
persyaratan
keamanan,
mutu
dan
gizi.
Upaya
menanggulangi permasalahan tersebut diperlukan pengaturan,
pembinaan dan pengawasan pangan dalam suatu sistem yang
membutuhkan kerja sama lintas program dan lintas sektor dari
Provinsi maupun Kabupaten/Kota
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
95
2. Pada 7 Kabupaten/Kota yaitu Kota Batu, Kota Blitar, Kab Malang,
Kab Nganjuk, Kab Pasuruan, Kota Malang dilakukan Operasi Pasar
Peredaran Makanan Minuman menjelang Hari Raya, Natal dan
Tahun Baru. Pelaksanamya
adalah petugas Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur dan Petugas Kabupaten/Kota dengan tujuan
untuk pembinaan kepada Distributor makanan minuman agar
menjual makmin yang sudah terdaftar, tidak rusak/kadaluarsa dan
tidak penyok yang dapat berbahaya
bagi yang mengkonsumsi,
serta melakukan punishment terhadap distributor yang menjual
produk yang tidak memenuhi syarat.
3. Dari jumlah 52 sampel yang diuji terdapat 31 (60,78%) yang
memenuhi syarat dengan rincian yang mengandung Rhodamin B 3
(5,76%) , Borax 16 (30,76%) dan Formalin 2 (3,84%). Sampling dan
Pengujian Produk Makanan Jajanan Anak Sekolah dilakukan
Petugas
Dinkes
Provinsi
dan
Petugas
Dinkes
Kab/Kota.
Dilaksanakan di 4 Kab/Kota. Sampling Jajanan Anak Sekolah dan
Pengujian untuk mengetahui apakah Jajanan Anak Sekolah
mengandung bahan bahan yang dilarang ditambahkan di dalam
makanan. Tahapan pertama dilakukan sampling dan kemudian
dilakukan pengujian terhadap sampel produk guna mengetahui
apakah mengandung bahan yang dilarang atau tidak. Hasil
sampling diinformasikan kepada Kepala Sekolah di wilayah
sampling,
sehingga
Kepala
Sekolah
juga
ikut
melakukan
pengawasan terhadap makanan yang dijual di sekitar lingkungan
sekolah.
4. Dari 39 sampel terdapat 15 sampel tidak memenuhi syarat TMS
terdiri dari Boraks 11 sampel. Rhodamin B 1 sampel, Benzoat 2
sampel dan Siklamat 1 sampel .pada Monitoring Penggunaan
Bahan Tambahan yang Dilarang pada Produk Makanan Industri
Rumah Tangga. Hasil Monitoring
menunjukkan bahwa banyak
produsen PIRT yang pada saat proses perizinan memenuhi syarat,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
96
tetapi setelah itu mulai melakukan pelanggaran terhadap peraturan
yang harus diterapkan terutama untuk Cara Produksi Makanan
yang Baik dan terdapat.
5. 3 (tiga) kabupaten terpilih yaitu Kabupaten Blitar, Kab Madiun dan
Kab Magetan yang terdiri dari Guru Sekolah Dasar dan Pedagang
Jajanan yang berjumlah 30 orang mengikuti Fasilitasi Bahaya
Makanan Minuman yang mengandung bahan yang dilarang dengan
tujuan meningkatkan pengetahuan kepada guru untuk diteruskan
kepada anak sekolah tentang makanan yang aman dan bermutu,
sehingga makanan yang dijual di sekolah adalah makanan yang
aman dan bermutu.
Data dari 3 kabupaten tersebut, 52 produk pangan yang disampling
terdapat 31 yang memnuhi syarat dan sisanya TMS yakni
mengandung Boraks, Rhodamin dan Formalin
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.9.Pemetaan Jumlah Sarana Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP)
Tahun 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
97
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.9.Pemetaan Jumlah Sarana Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP)
Tahun 2013
Terdapat kenaikan capaian indikator dari tahun 2011 PIRT yang tidak
menggunakan bahan berbahaya dalam makanan
65 % sedang tahun 2012
PIRT yang tidak menggunakan bahan berbahaya dalam makanan 68 %
c.7.
Kondisi
yang
dicapai
pada
tahun
2013
bahwa
Kabupaten/kota
menerapkan sistem pelaporan narkotika-psikotropika sebesar 79% hal ini
didukung
pada
kegiatan
pencegahan
penyalahgunaan
narkotika,
psikotropika dan zat adiktif lainnya (napza).
Upaya
pencegahan penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan zat
adiktif lainnya (napza) antara lain berupa :
1. Petugas dari 38 Kab/Kota se Jawa Timur masing-masing 2 orang petugas
diundang pada Pertemuan Review dan Bindalwas Pengelolaan Obat
Narkotika
dan
Psikotropika.
Pertemuan
selain
disosialisasikan
pengembangan SIPNAP terbaru juga dilakukan review kegiatan penerapan
software Obat Narkotika dan Psikotropika SIPNAP di Kabupaten/Kota. Selain
itu juga memberikan pembinaan kepada petugas Kabupaten/Kota melalui
pembekalan materi tentang Software SIPNAP dalam upaya
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
melakukan
98
pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pelaporan Narkotika dan
Psikotropika yang dilaksanakan di tingkat Kabupaten/Kota.
2. Terhadap 15 kabupaten/kota dilakukan monitoring Penerapan Software
SIPNAP Online yaitu Kab Blitar, Kota Blitar, kota Malang, Kab Malang, Kab
sampan, Kab Pamekasan, Kota Kediri, Kab Kediri, Kab pasuruan, Kota
Pasuruan, Kota Madiun, Kab Madiun, Kab Sidoarjo, Kab Gresik, Kota
Surabaya menjadi sasaran Monitoring Penerapan Software SIPNAP Online di
Kabupaten/Kota.
 Pada aplikasi SIPNAP, sebagian Kabupaten/Kota belum mendapatkan
password dan username meski sudah mendaftar
 Bagi yang sudah mendapatkan password dan username ada kendala
dalam upload laporan karena kapasitas server tidak mencukupi dan Binfar
Kemenkes RI sedang menambah kapasitas.
3. 25 Petugas dari RS , Dinas Kesehatan Kabupaten kota dan Apoteker
Puskesmas mendapatkan fasilitasi tentang Pengelolaan Logistik Metadon di
RS dan Puskesmas PTRM dengan tujuan untuk meningkatkan Pengetahuan
petugas dalam pengelolaan Metadon di Puskesmas dan Rumah Sakit.
Pengelolaan Metadon dalam menunjang PTRM (Program /Poli Terapi
Rumatan Metadon) pada prinsipnya sama dengan pengelolaan Narkotika dan
Psikotropika pada umumnya dan merupakan tanggung jawab Apoteker.
Dalam pengelolaan Metadon harus diperhatikan mulai dari perencanaan,
pengadaan, penyimpangan, distribusi/pelayanan, pencatatan dan pelaporan
bahkan pemusnahan apabila ada Metadon yang rusak atau kadaluarsa.
Diharapkan pengelolaan metadon bisa tertib dan benar dalam upaya
mencegah penyalahgunaan.
4. Sebanyak 40 orang Petugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) diundang
pada sosialisasi dan aplikasi Buku Pedoman Pengelolaan Obat Narkotika,
Psikotropika di Rumah Sakit. Diharapkan dengan penyampaian materi dan
buku pedoman tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk pengelolaan
narkotika dan psikotropika di Rumah Sakit.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
99
5. Dalam upaya pencegahan penyalahgunaan napza di instansi Dinas
Kesehatan,
100
orang
kayawan
Dinas
diundang
pada
Pertemuan
Penyebarluasan Informasi Bahaya Penyalahgunaan Napza pada Perigatan
Hari Anti Narkoba Internasional. Diharapkan setelah mendapat informasi,
karyawan dapat memahami dan melakukan upaya untuk membentengi diri,
keluarga dan lingkungannya terhadap bahaya penyalahgunaan napza.
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Gambar 1.10. Jumlah Sarana Apotek Tahun 2013
Sumber : Laporan Program Farmasi dan perbekalan Kesehatan Tahun 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
100
d)
Permasalahan dan Upaya Pemecahan Masalah
d.1 Permasalahan
d.1.1.Belum optimalnya penggunaan sumber daya untuk post market surveilance
terhadap produk alat kesehatan dan PKRT yang tidak memenuhi
persyaratan keamanan, mutu dan manfaat.(alkes PKRT)
d.1.2 Pada waktu operasi pasar makanan minuman menjelang Hari Raya Idul
Fitri, Natal, dan Tahun Baru, masih banyak ditemukan :

Makanan yang sudah berjamur

Makanan yang kemasan kaleng sudah penyok bahkan ada yang
berkarat

Makanan yang kemasannya sobek

Label makanan yang tidak sesuai ketentuan label

Makanan olahan yang dikemas tapi belum terdaftar dan tanpa label

Mencantumkan kata ” Halal” tanpa ada Persetujuan/Sertifikat Halal
dari MUI dan Badan POM
Pada waktu monitoring ke sarana Industri Rumah Tangga ditemukan:

Masih rendahnya higiene-sanitasi dalam pengolahan makanan

Sebagian besar lingkungan IRT-P tidak memperhatikan kebersihan

Hasil pengujian produk IRT-P terdapat yang positif mengandung
bahan yang dilarang dalam makanan, yaitu Rhodamin B pada terasi
dan Borax .
d.1.3 Permasalahan terkait kegiatan Pencegahan Penyalahgunaan Napza yang
dikumpulkan dari tahun 2009-2013 adalah sebagai berikut :

Petugas yang sudah dilatih mengalami mutasi/promosi/alih tugas.

Kelemahan pada system informasi yang dibangun oleh Pusat
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
101
d.2. Upaya Pemecahan :
d.2.1 Meningkatkan pembinaan secara rutin, sehingga dapat meningkatkan
kesadaran akan bahaya yang diakibatkan makanan yang tidak aman dan
berbahaya bagi kesehatan
d.2.2 Peningkatan frekuensi pembinaan cara pembuatan makanan yang baik,
pembinaan tata cara pendaftaran makanan,dan pelabelan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan kepada produsen
d.2.3 Menyusun Peraturan Gubernur untuk Keamanan Produk Makanan
Minuman yang Beredar di Masyarakat
d.2.4 Bersama Lintas Sekrtor terkait memperan aktifkan siswa sekolah dalam
ikut melaksanakan program keamanan pangan dengan membentuk ”tim
inspektor makanan kecil siswa sekolah dasar dan menengah”
d.2.4 Pendanaan untuk pembinaan makanan minuman di tingkat provinsi
ditingkatkan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 38
Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
terkait dengan pembagian kewenangan tugas pokok dan fungsi antara
pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
d.2.5 Pendampingan dan pembinaan yang lebih intensif pada petugas kab/kota
dalam operasional software SIPNAP serta meningkatkan komitmen untuk
memasukkan data dari semua sarana pelayanan yang ada di wilayahnya.
Untuk petugas pengganti harus dilakukan pelatihan secara khusus.
d.2.6 Dilakukan pembinaan untuk memperbaiki administrasi penyimpanan
narkotika dan psikotrika serta diusulkan untuk pertemuan/pelatihan
pengelolaan logistik narkotika dan psikotropika bagi petugas.
d.2.7Konsultasi tehnis ke Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian
beberapa permasalahan teknis software untuk mendapatkan solusi.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
102
Secara umum pencapaian target sasaran Meningkatkan pengelolaan obat,
perbekalan kesehatan dan makanan pada tahun 2013 telah tercapai dengan
BAIK, seperti terlihat
pada lampiran PPS_ Laporan Realisasi pelaksanaan
Penetapan Kinerja Tahun 2013
B.6. TUJUAN 6 :
Berkembangnya Kebijakan, Sistem Pembiayaan dan Manajemen
Pembangunan Kesehatan
Tujuan: Berkembangnya Kebijakan, Sistem Pembiayaan dan Manajemen
Pembangunan
Kesehatan
dijabarkan
ke
dalam
Sasaran
yaitu
Berkembangnya Kebijakan dan regulasi bidang Kesehatan, Sistem
Informasi
Kesehatan
dan
Hukum
Kesehatan
serta
Pembiayaan
Kesehatan
Sasaran: Berkembangnya Kebijakan dan regulasi bidang Kesehatan,
Sistem Informasi Kesehatan dan Hukum Kesehatan serta Pembiayaan
Kesehatan ,dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran sbb :
a. Persentase penduduk miskin jatim yang berobat gratis melalui
Jamkesmas
b. . Persentase Penduduk yang memiliki Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan (tercover)
c. Persentase pengelolaan SIK sesuai standar
Tabel 3.14. TUJUAN 6 dan SASARAN 6.1.
TUJUAN 6
Berkembangnya Kebijakan,
Sistem Pembiayaan dan
Manajemen Pembangunan
Kesehatan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
SASARAN 6.1
Berkembangnya kebijakan
dan regulasi bidang
kesehatan, Sistem Informasi
Kesehatan dan Hukum
Kesehatan serta Pembiayaan
Kesehatan
103
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.15. sebagai berikut :
TABEL : 3.15.
Pengukuran Kinerja Sasaran Berkembangnya
kebijakan dan regulasi bidang kesehatan,
Sistem Informasi Kesehatan dan Hukum
Kesehatan serta Pembiayaan Kesehatan
3
60 %
REALISA
SI
4
52,51 %
5
87,5
100%
100%
100
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
1
2
2
3
Persentase Penduduk yang
memiliki Jaminan
Pemeliharaan Kesehatan
Persentase Sistem
Informasi Kesehatan yg
sesuai dengan standar
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
(%)
93,75
KATEGORI CAPAIAN : BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN
a. Program Manajemen dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan ini
didukung oleh 6 (enam) kegiatan yaitu:
a.1. Pengembangan sistem informasi kesehatan
a.2. Pengembangan dan Fasilitasi Program Kesehatan
a.3. Pengembangan manajemen perencanaan dalam bidang kesehatan
a.4. Kerjasama program, lintas sektor dan antar daerah dalam bidang
kesehatan
a.5. Peningkatan manajemen dan fungsi kelembagaan UPT
a.6. Pengembangan pembiayaan kesehatan secara pra upaya
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
104
b. Program Manajemen dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan
dengan pagu sebesar Rp. 61.572.622.500,00 terealisasi sebesar
62.89 .%, atau Rp. 38.724.820.990,00 secara rinci masing-masing
realisasi anggaran kegiatan serta capaian ukuran keberhasilannya
dapat dilihat pada Lampiran Matrik 16 Kolom
c. Hasil Pelaksanaan Pembangunan
Program Manajemen dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan bertujuan
mengembangkan kebijakan, sistem pembiayaan dan manajemen pembangunan
kesehatan; dengan sasaran program adalah mengembangkan kebijakan dan
regulasi bidang kesehatan, sistem informasi kesehatan, pelayanan informasi,
penyusunan standar operasional prosedur dan hukum kesehatan serta
pembiayaan kesehatan
c.1.
Program Manajemen dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan yang
dilaksanakan oleh Sub Bagian Penyusunan Program dengan capaian
kegiatan sbb :
Tabel 6.1
Indikator dan Tolok Ukur Kinerja
Program Manajemen Dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan
Pada Seksi Penyusunan Program Tahun 2013
Indikator
Tolok Ukur Kinerja
1 Dokumen usulan rencana kerja Dinkes Prov. Jatim tahun
2014
2 Kebijakan
perencanaan
bidang
kesehatan
berupa
tersusunnya konsep dan rekomendasi tindak lanjut penataan
tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Timur serta konsep
Hasil
pelaksanaan
Universal
Coverage
Jaminan
Kesehatan
Semesta di Provinsi Jawa Timur
3 Dokumen Kesepakatan Perencanaan tahun 2014 antara
Dinas Kesehatan Provinsi dan UPT
4 Dokumen kesepakatan pembangunan kesehatan dalam
rangka peningkatan pengetahuan dan wawasan dalam
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
105
persiapan SJSN 2014 dan AFTA 2015
5 Informasi tentang program – program kesehatan pada
tingkat Provinsi serta permasalahan yang ada di Kabupaten
/ Kota seperti Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
6 Laporan monitoring dan evaluasi berupa penyampaian
informasi perencanaan ke Kabupaten / Kota
7 Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Tahun 2013,
Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA)Tahun
2013
8 Kesepakatan
pengalokasian
dana
Bantuan
Keuangan
masing-masing kabupaten / kota tahun 2014
9 Adanya alat pengolah data (Laptop) di subag penyusunan
program
10 Dokumen draft rencana strategis Dinkes Prov. Jatim tahun
2015 s/d 2019
Sumber : LKPJ Sungram tahun 2013
Bahwa koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan sinergi perencanaan dalam
bidang kesehatan telah dilaksanakan dalam bentuk pertemuan pada
tanggal 27 s/d 28 Pebruari 2013 dengan sasaran tim perencana kab / kota
dan sebagai narasumber dari Biro Perencanaan & Anggaran Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia. Hasil dari pertemuan tersebut adalah
tersinergisnya usulan anggaran tahun 2014 antara provinsi dan kabupaten
/ kota.
Untuk koordinasi dan sinkronisasi perencanaan dalam bidang kesehatan
telah dilaksanakan dalam bentuk pertemuan pada tanggal 14 s/d 16 Mei
2013 dengan sasaran Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota se-Jawa Timur,
Direktur RSU baik Provinsi maupun Kabupaten / Kota se-Jawa Timur,
seluruh UPT Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan seluruh struktural
dilingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dengan narasumber
dari Dirjen BUK Kemenkes RI, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
106
Kepala BKD Provinsi Jawa Timur, dan DR. Dr. Jack Roebijoso, MSc dari
Universitas Brawijaya. Rakorkesda Provinsi Jawa Timur ini bertujuan
untuk mengoptimalisasi pelayanan kesehatan dengan penataan tenaga
kesehatan untuk percepatan pencapaian MDGs dan kesiapan SJSN di
Provinsi Jawa Timur. Hasil Rakorkesda tersebut :
1.
Tersusunnya konsep dan rekomendasi tindak lanjut penataan
tenaga kesehatan di Provinsi Jawa Timur
2.
Tersusunnya konsep pelaksanaan Universal Coverage Jaminan
Kesehatan Semesta di Provinsi Jawa Timur
Untuk koordinasi dan sinkronisasi perencanaan lintas program dan UPT
telah dilaksanakan berupa rapat dengan peserta lintas program dan UPT
lingkup Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Hasil rapat tersebut
terkoordinirnya perencanaan Lintas Program dan UPT lingkup Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
Koordinasi kebijakan pembangunan kesehatan telah dilaksanakan di
Malang pada tanggal 09 – 11 September 2013. Tujuan dari pertemuan
tersebut
adalah
untuk
meningkatkan
koordinasi
dan
sinergisme
pelaksanaan pembangunan kesehatan antara Provinsi dan Kabupaten /
Kota dalam rangka persiapan SJSN 2014 dan AFTA 2015 di Jawa Timur.
Keluaran yang diharapkan pada pertemuan ini adalah peningkatan
pengetahuan dan wawasan dalam persiapan SJSN 2014 dan AFTA 2015
yang dapat ditindaklanjuti oleh provinsi dan Kabupaten / Kota.
Kegiatan monitoring dan evaluasi terpadu dilaksanakan dengan beberapa
bidang untuk melihat berbagai program / kegiatan serta memecahkan
masalah yang ada di Kabupaten / Kota sehingga terselesaikan masalah masalah yang ada di kabupaten / kota.
Untuk
kegiatan
monitoring
dan
evaluasi
serta
konsultasi
teknis
perencanaan dalam bidang kesehatan telah dilaksanakan oleh subag
penyusunan program ke Biro Perencanaan Kementrian Kesehatan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
107
Republik Indonesia. Hasil kegiatan ini terselesainya berbagai masalah
perencanaan untuk kab/kota dan provinsi jawa timur.
Finalisasi dokumen anggaran berupa terdokumentasinya dokumen
anggaran
berupa
Dokumen
Pelaksanaan
Anggaran
(DPA)
Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun anggaran 2013 dan Dokumen
Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA) Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur Tahun Anggaran 2013.
Telah dilaksanakan koordinasi teknis perencanaan dan penganggaran
bantuan keuangan bidang kesehatan dengan berbagai lintas program
untuk membahas segala permasalahan Bantuan Keuangan baik yang ada
di Provinsi maupun di Kabupaten / Kota serta pengalokasian dana
bantuan keuangan masing-masing Kabupaten / Kota tahun 2014.
Telah dilaksanakan pengadaan alat pengolah data berupa laptop untuk
memperlancar pengolahan data perencanaan dan anggaran di subag
penyusunan program.
Pada kegiatan penyusunan Rencana Strategis Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur tahun 2015 – 2019 telah dilaksanakan pertemuan pada
tanggal 25 Juni 2013 dengan peserta seluruh struktural Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur dan UPT dilingkungan Dinas Kesehatan Provinsi.
Sebagai narasumber Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan
Dr. Budi Rahaju, MPH (Mantan Kadinkes Provinsi Jawa Timur). Hasil dari
pertemuan ini tersusunnya draft Renstra Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur tahun 2015 – 2019 sebagai masukan RPJMD baru. Selain itu juga
dilaksanakan beberapa kali sidang guna menyusun Rencana Strategis
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
108
Tabel 6.2
Indikator dan Tolok Ukur Kinerja
Program Manajemen Dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan
Pada Seksi Penyusunan Program Tahun 2013
Indikator
Hasil
Tolok Ukur Kinerja
1. Informasi kegiatan sektor lain yang
berkaitan dengan kesehatan seperti PKH,
PNPM generasi sehat dan cerdas
2. Kesepakatan kerjasama MPU Bidang
Kesehatan tentang Sistem Regulasi
Penanggulangan HIV – AIDS dan Program
Pengendalian dan Pencegahan Penyakit
Menular Lainnya
Sumber : LKPJ Sungram tahun 2013
Koordinasi pelaksanaan kerjasama lintas sektor dan antar daerah dalam
bidang kesehatan telah dilaksanakan berupa pertemuan pada tanggal 28 – 29
Oktober 2013 di Surabaya. Tujuan dari pertemuan ini adalah memberikan
informasi kepada peserta tentang program – program pemerintah Provinsi Jawa
Timur, kerjasama bidang kesehatan baik lintas sektor maupun dunia usaha
(Corporate
Social
Responsibility)
sebagai
peluang
pembiayaan
bidang
kesehatan di Provinsi Jawa Timur. Keluaran yang diharapkan adalah dapat
memahami program-program kerjasama dan dapat memanfaatkan peluang
kerjasama tersebut untuk meningkatkan program / kegiatan bidang kesehatan di
Provinsi maupun di Kabupaten / Kota.
Untuk kegiatan kerjasama program, lintas sektor dan antar daerah dalam
bidang kesehatan telah dilaksanakan pertemuan Mitra Praja Utama (MPU)
PraRaker Gubernur pada tanggal 25-27 April 2013 di Lampung. Pada pertemuan
tersebut telah disusun kesepakatan Bidang Kesehatan antara 10 Provinsi
anggota MPU
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
109
Tabel 6.3
Indikator dan Tolok Ukur Kinerja
Program Manajemen Dan Kebijakan Pembangunan Kesehatan
Pada Seksi Penyusunan Program Tahun 2013
Indikator
Hasil
Tolok Ukur Kinerja
1.
Laporan Kinerja masing-masing Dewan
Pengawas PPK-BLUD Provinsi Jawa Timur
Sumber : LKPJ Sungram tahun 2013
Pada kegiatan peningkatan pelayanan administrasi perkantoran telah
dilaksanakan sidang dan pertemuan koordinasi antar Tim Pembina dan
Ketua Dewan Pengawas PPK BLUD RS Provinsi. Tujuan dari pertemuan
ini adalah adanya pemahaman tentang konsepsi Badan Layanan Umum
Daerah (BLUD) dan evaluasi pelaksanaannya. Dipahaminya pengelolaan
BLUD meliputi tata kelola, SPM, RSB, Pengelolaan Keuangan. Selain itu,
dipahami bagaimana cara pelaporan kinerja BLUD dan bagaimana
mengukur kinerja BLUD.
c.2
Capaian Jamkesda (Program Manajemen dan Kebijakan Pembangunan
Kesehatan) yang dilaksanakan oleh Seksi Beakes :
Program Jamkesda dimaksudkan untuk meningkatkan akses dan mutu
pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu di luar
kuota program Jamkesmas. Jumlah masyarakat miskin dan tidak mampu
yang tercover dalam program Jamkesda sebanyak 1.411.742 jiwa
termasuk masyarakat miskin dan tidak
mampu pengguna Surat
Pernyataan Miskin (SPM). Pemberlakuan SPM hanya berlangsung
sampai dengan 31 Agustus 2012 karena per 1 September 2012 dengan
dikeluarkannya
Surat
Edaran
Gubernur
Jawa
Timur
Nomor
:
440/14771/031/2012 tanggal 29 Agustus 2012 pembiayaan pelayanan
kesehatan bagi pasien pengguna SKTM/SKM/SPM menjadi tanggung
jawab Pemerintah Kabupaten/Kota.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
110
Tabel 6.4
Jumlah Kunjungan Program Jamkesda Tahun 2009 – 2013
Uraian
Satuan
Capaian Kinerja Program
2009
Rawat Jalan
Tingkat
Kunjungan
Lanjutan
Rawat Inap
Tingkat
Kasus
Lanjutan
Sumber : LKPJ Seksi Beakes , 2013
2010
2011
2012
2013
122.966
131.928
130.056
90.779
20.981
23.729
20.486
8.029
Capaian kinerja program Jamkesda dapat dilihat dari pemanfaatan dana
pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin dan tidak mampu yang tercover
dalam program Jamkesda baik pelayanan kesehatan untuk rawat jalan maupun
rawat inap. Kunjungan peserta Jamkesda dari tahun 2010 – 2011 menunjukkan
peningkatan. Sedang untuk tahun 2009 tidak ada karena pada tahun tersebut
Jawa Timur baru pada persiapan pelaksanaan Jamkesda, program Jamkesda
baru dilaksanakan oleh seluruh Kabupaten/Kota dan Provinsi Jawa Timur pada
tahun 2010. Terdapat penurunan pemanfaatan pelayanan rawat jalan dan rawat
inap pada tahun 2012 dan 2013 dikarenakan per 1 September 2012 dengan
dikeluarkannya
Surat
440/14771/031/2012
Edaran
tanggal
29
Gubernur
Agustus
Jawa
2012
Timur
pembiayaan
Nomor
:
pelayanan
kesehatan bagi pasien pengguna SKTM/SKM/SPM menjadi tanggung jawab
Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga yang tercover dalam pembiayaan program
Jamkesda hanyalah pasien yang memiliki kartu Jamkesda. Pemberlakuan SE
Gubernur tersebut berdampak pada penurunan jumlah masyarakat yang
memanfaatkan pelayanan kesehatan program Jamkesda
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
111
Persentase penduduk yang memiliki Jaminan Kesehatan
Masyarakat Jawa Timur yang sudah memiliki Jaminan Kesehatan dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :
1.
No
JUMLAH
KEPESERTAAN
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
JIWA 2010
JIWA 2011 JIWA 2012 JIWA 2013
10.710.051
10.710.051 12.586.401 14.001.871
1.257.572
1.257.572
1.257.572
3 Askes PNS
2.950.395
3.042.829
2.176.478 2.163.139
5 Jamsostek
539.047
698.482
822.121
922.369
6 TNI/POLRI
60.207
60.427
62.333
243.389
1.635.763
1.572.112
1 Jamkesmas ( Maskin
Kuota )
2 Dijamin Prov, Kab/Kota
707.305
(Maskin Non
Kuota/Jamkesda )
7 Asuransi Komersial
Jumlah penduduk
2.083.939 2.083.939
17.098.163 17.281.046
yang tercover
(45%)
20.122.012
(46,1%) 18.988.844
(52,51%)
(49,94%)
Belum tercover
Jaminan Kesehatan
20.194.965
18.196.779
20.333.857
(53,89%) 19.037.706
(55%)
(50,06%)
(47,48%)
JUMLAH TOTAL
PENDUDUK
37.432.020 37.476.011 38.026.550 38.318.791
Dari data diatas bisa kita lihat bahwa dari tahun 2010 hingga 2013 terjadi
peningkatan penduduk yang tercover jaminan kesehatan. Pencapaian tersebut
untuk tahun 2011 dan 2013 masih dibawah angka dari Rencana Strategis tahun
2009 s/d 2014, yaitu tahun 2011 50%, 2012 55% dan 2013 60%. Hal tersebut
disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya
asuransi kesehatan dan
perusahaan asuransi komersial belum mau terbuka
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
112
dengan keanggotaannya, sehingga masih sedikit sekali Perusahaan Asuransi
kesehatan swasta yang mau memberikan datanya. Kondisi tersebut masih terjadi
di Tahun 2013. Meskipun terjadi peningkatan penduduk yang mempunyai
jaminan kesehatan sebesar 9%, dengan bertambahnya sasaran Jamkesmas,
Jamsostek, TNI/POLRI dan Asuransi komersial, tetapi kondisi tersebut masih
belum bisa memenuhi target Renstra.
Dengan adanya program JKN oleh BPJS mulai 1 Januari 2014 target renstra
sebesar 70% diharapkan bisa terpenuhi. Oleh karena adanya kebijakan JKN
oleh Pemerintah Pusat yang bersifat wajib bagi semua masyarakat untuk
mempunyai jaminan kesehatan. Sosialisasi program JKN akan lebih banyak
diberikan kepada masyarakat baik melaluli media – media maupun pertemuan –
pertemuan.
c.3
Capaian Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan yang dilaksanakan
oleh Seksi Infolitbangkes
Pada kegiatan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan (SIK)
capaiannya adalah Terlaksananya e reporting di kab/kota dari 38 Kab/Kota,
sekitar
15 kab/Kota atau 39.47% sudah melaksanakan pelaporan berbasis
electronic ( E-Reporting); Terpeliharanya PC, Jaringan dan Server pendukung
Pengembangan
Tersusunnya
Sistem
Profil
informasi
Kesehatan
Kesehatan
dengan
capaian
Kab/Kota,
Terintegrasinya
100%,
SIKDA;
Terinformasikannya Data Dengan Cepat; Tersusunnya Buku Saku Kesehatan;
Tersusunnya Buku Data SPM
Kab/Kota; Tersusunnya Evaluasi Program
Infolitbangkes dan Laporan dengan capaian 100%
d.Permasalahan dan Upaya Pemecahannya :
d.1
Permasalahan
1. Kegiatan yang direncanakan telah terlaksana namun beberapa hambatan
yang ditemui adalah sebagai berikut : Monitoring dan evaluasi terpadu
lintas program ke kabupaten / kota mengalami kesulitan. Bahkan
seringkali ditunda karena ada kegiatan lain yang lebih mendesak
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
113
2
Masih terdapat masyarakat miskin yang tidak memiliki jaminan kesehatan
baik Jamkesmas maupun Jamkesda.
3
Mudahnya
masyarakat
mengurus
SPM/SKTM/SKM
menjadikan
kepesertaan dalam Jamkesda tidak terkendali
4
Sistem rujukan terstruktur dan berjenjang belum berjalan secara optimal.
5
Sistem pengelolaan keuangan daerah sering menjadi kendala dalam
pelaksanaan program, seperti pelaksanaan sharing dana program
Jamkesda dimana dana Jamkesda tidak dapat dipooling tetapi masih ada
di Provinsi atau Kabupaten/Kota masing-masing.
6
Masih banyak Kabupaten/Kota yang tidak mengirim laporan pelaksanaan
program Jamkesda secara rutin, lengkap dan tepat waktu ke Provinsi.
7
Laporan pelaksanaan verifikasi klaim Jamkesda oleh BPJKD belum rutin
diperoleh Dinas Kesehatan Provinsi tetapi tergantung pada permintaan
dan lambat.
d.2.
Upaya Pemecahannya
1. Telah berkoordinasi dengan lintas program untuk menentukan jadwal
monitoring dan evaluasi.
2 Merencanakan kebutuhan berdasarkan program berkaitan dengan
monitoring dan evaluasi program icon yang saat ini belum seluruhnya
dapat dievaluasi
3 Update data kepesertaan secara berkala oleh instansi yang berwenang.
4 Pelaksanaan
Jamkesda
Jamkesda
Jamkesda
dengan
dengan
Provinsi
perbaikan
berlaku
dan
kepesertaan
untuk
sinkronisasi
Jamkesmas
pemegang
kartu
data
kepesertaan
baru
selanjutnya
mengintegrasikan Jamkesda ke dalam Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) yang dikelola oleh Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS)
paling lambat tahun 2015.
5 Menerapkan regionalisasi sistem rujukan dengan meningkatkan sarana
prasarana dan sumber daya manusia secara merata di seluruh wilayah
provinsi Jawa Timur.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
114
6 Regulasi sistem pengelolaan keuangan program jaminan kesehatan.
7 Meningkatkan kesadaran puskesmas, rumah sakit PPK Jamkesda dan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk mengirim laporan pelaksanaan
program Jamkesda secara rutin, lengkap dan tepat waktu ke Provinsi.
8 Meminta laporan pelaksanaan verifikasi klaim Jamkesda oleh BPJKD
secara
rutin, lengkap dan tepat waktu meliputi data kepesertaan,
pelayanan kesehatan dan pendanaan
Secara umum pencapaian target sasaran Mengembangkan kebijakan dan
regulasi bidang kesehatan, sistem informasi kesehatan dan hukum
kesehatan serta pembiayaan kesehatan pada tahun 2013 telah tercapai
dengan BAIK, seperti terlihat
pada lampiran PPS_ Laporan Realisasi
pelaksanaan Penetapan Kinerja Tahun 2013
B.7. TUJUAN 7 :
Terwujudnya pencegahan , penurunan dan pengendalian Penyakit
Menular dan Tidak Menular serta masalah Kesehatan lainnya
Tujuan : Terwujudnya pencegahan, penurunan dan pengendalian
Penyakit Menular dan Tidak menular serta Masalah Kesehatan Lainnya;
maka ditetapkan Sasaran sebagai berikut : Menurunnya Angka Kesakitan
dan Kematian Penyakit Menular dan Tidak Menular dan PenyakitPenyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi
serta Pengamatan
penyakit dalam rangka Sistem Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan
KLB/Wabah, ancaman epidemi serta Bencana.
Sasaran: Menurunnya Angka Kesakitan dan Kematian Penyakit Menular
dan Tidak Menular dan Penyakit-Penyakit yang dapat dicegah dengan
Imunisasi
serta
Pengamatan
penyakit
dalam
rangka
Sistem
Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan KLB/Wabah, ancaman epidemi
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
115
serta Bencana.,dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran
sebagai berikut :
a. Angka Kesakitan DBD per 100.000 penduduk
b. Persentase korban bencana skala provinsi yang tertangani sesuai standar
c. Angka keberhasilan Pengobatan Penyakit TB
d. Persentase pelaksanaan program pemberantasan Diare sesuai standar
e. Persentase Capaian UCI desa
f. Persentase penderita Kusta telah menyelesaikan pengobatan sesuai standar
g. Persentase ODHA yang mendapatkan ARV
h. Angka Capaian API ( Annual Parracite Index) Penyakit Malaria 1 permill (1
‰)
Tabel 3.16 TUJUAN 7 dan SASARAN 7.1.
.TUJUAN 7
SASARAN 7.1
Terwujudnya pencegahan,
penurunan dan pengendalian
penyakit menular dan tidak
menular serta masalah
kesehatan lainnya
Menurunnya angka kesakitan
dan kematian penyakit
menular, tidak menular dan
penyakit2 yg dapat dicegah
dengan Imunisasi serta
pengamatan penyakit dalam
rangka Sistem Kewaspadaan
Dini dan Penanggulangan
KLB/Wabah, ancaman
epidemi serta bencana
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.17. sebagai berikut :
TABEL : 3.17.
Menurunnya angka kesakitan dan kematian
penyakit menular, tidak menular dan penyakit2
yg dapat dicegah dengan Imunisasi serta
pengamatan penyakit dalam rangka Sistem
Kewaspadaan Dini dan Penanggulangan
KLB/Wabah, ancaman epidemi serta bencana
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
116
NO
INDIKATOR KINERJA
TARGET
REALIS
ASI
3
<51
4
39,07
1
1
2
Angka Kesakitan DBD (Incidence
Rate) per 100.000 penduduk
2
100%
100%
3
Persen Korban Bencana Skala
Provinsi Tertangani Sesuai Standar
Angka Keberhasilan Pengobatan TB
90%
90%
4
Persen Cakupan Pelayanan Diare
100%
95%
5
Persen capaian UCI Desa
80%
86,06%
6
Persen Penderita Kusta Telah
90%
Menyelesaikan Pengobatan Sesuai
Standar
Presentase ODHA yang mendapat
75%
ARV
Angka API ( Annual Parasite Index )
<1%0
Malaria
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
7
8
(%)
5
76,6
100
100
95
108
88%
98,8
72%
0,02%0
95
50
>100
CAPAIAN KINERJA : SANGAT BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
PROGRAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT
a. Program Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit ini didukung oleh 13
( tiga belas) kegiatan yaitu:
a.1. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit serta Tata Laksana
Penderita
a.2. Peningkatan Surveillance Epidemologi dan Pengamatan Penyakit
serta Penanggulangan KLB
a.3. Pengendalian Penyakit Kusta
a.4. Pengendalian Hiv/Aids
a.5. Pengendalian Penyakit Malaria
a.6. Pengendalian Penyakit PES
a.7. Pencegahan DBD (Demam Berdarah)
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
117
a.8. Penyelenggaraan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah
a.9. Peningkatan Imunisasi
a.10 Pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML)
a.11 Pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2)
a.12 Peningkatan pelayanan dan penanggulangan masalah bencana
a.13 Pendampingan Pengendalian penyakit TBC (Tubercullosis)
b. Program
Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit dengan pagu
sebesar Rp. 13.688.786.700,- terealisasi sebesar 89.73 %,
atau Rp.
12.283.410.992,- secara rinci masing-masing realisasi anggaran kegiatan
serta capaian ukuran keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran Matrik
16 Kolom
c.
Hasil pelaksanaan program adalah sebagai berikut:
c.1 Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit serta Tata laksana Penderita
Kegiatan bertujuan untuk mencegah dan menurunkan kejadian
penyakit tidak menular serta masalah kesehatan lainnya yang berkaitan dengan
Penyakit Tidak Menular dengan cara mendeteksi secara dini munculnya Penyakit
Tidak Menular .
Sasaran dari kegiatan ini adalah menurunkan angka kesakitan dan
kematian Penyakit Tidak Menular dengan penemuan secara dini dan surveilans
faktor risiko Penyakit Tidak Menular
pada kelompok penduduk risiko tinggi
terhadap Penyakit Tidak Menular termasuk penyakit Hipertensi, Diabetes Melitus
(DM) dan Kanker Leher Rahim mapun payudara.
Hasil Pelaksanaan adalah sebagai berikut :
a) Pencegahan dan pemberantasan Penyakit serta tata laksana penderita
ditekankan pada penemuan penderita baru penyakit tidak menular serta
beberapa hal yang berkaitan faktor risiko PTM dan kewaspadaan terjadinya
masalah kesehatan sehingga didirikan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu)
di Puskesmas terpilih dalam rangka membantu masyarakat memeriksa
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
118
kesehatannya secara rutin untuk dapat mendeteksi secara dini Penyakit
Tidak Menular yang muncul pada dirinya seperti Hipertensi, Diabetes maupun
Kanker. Hasil kegiatan ini sangat bermanfaat dalam keberhasilan pengobatan
karena gejala awal penyakit tersebut tidak dirasakan.
b) Saat ini PTM sudah dilaksanakan di 19 kabupaten/Kota di Jawa Timur yang
sesuai dengan petunjuk Teknis PTM
c) Untuk mendukung kegiatan Penyakit Tidak Menular juga mengadakan
pemeriksaan pada supir bis saat kegiatan mudik bersama diperiksa tekanan
darah, gula darah, dan kandungan alkohol sehingga diharapkan pelaksanaan
mudik dapat berjalan lancar dengan pengemudi yang sehat
c.2 Peningkatan Surveilans Epidemiologi dan Pengamatan Penyakit Serta
Penanggulangan KLB
Bertujuan
untuk
mendorong
dan
mendukung
terselenggaranya
Surveilans Epidemiologi yang berkesinambungan di Jawa Timur untuk
mewujudkan SKD KLB di seluruh Kabupaten Kota dan penanggulangan KLB
sesegera mungkin yaitu < 24 jam sudah ditanggulangi oleh Kabupaten Kota dan
KLB skala provinsi dapat ditanggulangi oleh provinsi dalam waktu , 48 jam sejak
laporan diterima. Respon cepat ini diharapkan dapat mencegah terjadinya KLB
yang lebih besar atau wabah dan ditindak lanjuti dengan penanggulangan oleh
Provinsi dalam rangka memutus rantai penularan dan mencegah jumlah kasus
maupun lokasi kasus yang meluas
Sedangkan sasarannya adalah menurunkan angka kesakitan dan
kematian penyakit menular dengan penemuan secara dini dan surveilans faktor
risiko penyakit tidak menular pada kelompok penduduk risiko tinggi terhadap
penyakit tidak menular termasuk cedera karena kecelakaan dan kewaspadaan
terjadinya masalah kesehatan pada saat mudik Lebaran Idul Fitri, Natal dan
Tahun Baru.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
119
Hasil Pelaksanaan adalah sebagai berikut :
Provinsi memberikan dukungan terhadap terselenggaranya Surveilans
Epidemiologi
di
seluruh
Kabupaten/Kota
Jawa
Timur
untuk
membantu
terselenggarakan SKD KLB (Sistem Kewaspadaan Dini terhadap Kejadian Luar
Biasa) adanya penyakit yang berpotensi KLB maupun wabah yang terjadi
maupun kemungkinan adanya penyakit baru yang mungkin muncul dan aktif
memberikan petunjuk pelaksanaan sesuai pedoman teknis serta prosedur dalam
penanggulangan KLB sehingga KLB
dapat segera ditanggulangi dan tidak
menjadi masalah kesehatan masyarakat lebih berkepanjangan.
Kejadian KLB terutama KLB Difteri di Jawa Timur tahun 2013 sejumlah
648 kasus meninggal 27 orang , hal ini menurun dibanding kejadian pada tahun
2012 yaitu 955 kasus meninggal 37 orang.
Kejadian KLB lainnya seperti AFP diare, campak, Hepatitis dan keracunan
makanan maka jumlah KLB yang harus diintervensi sejumlah 1500 kejadian,
akan tetapi dana APBD yang tersedia untuk penanggulangan KLB tersebut
hanya 200 kejadian. Dengan dasar tersebut intervensi yang dilakukan Dinas
Kesehatan Provinsi diprioritaskan pada KLB yang potensi bisa mengarah pada
KLB skala Provinsi.
Kejadian penyakit Difteri di Jawa Timur
tahun 2013 sejumlah 369
kasus,hal ini menurun dibanding kejadian pada tahun 2012 yaitu 955 kasus
meninggal 37 orang.
Termasuk kegiatan pengamatan Flu Burung yang saat ini muncul type
baru yaitu H7N9 yang muncul di China mulai februari 2013, akan tetapi di Jawa
Timur masih belum muncul type virus tersebut dan belum adanya kasus
tersangka Flu Burung pada manusia. Disamping munculnya Mediterania Corona
Virus yang muncul di negara mediteranian termasuk Arab Saudi yang
merupakan kunjungan jamaah Haji maupun Umrah sehingga hal ini perlu
diwaspadai penularannya pada jamaah.
Dari laporan yang suspect MedCov jamaah Haji yang pulang dari ibadah
haji sejumlah 3 orang ( Bojonegoro, Gresik dan Surabaya)dan hasilnya negatif
semua.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
120
c.3. Pengendalian Penyakit Kusta
Penyakit kusta masih ditakuti oleh sebagian besar masyarakat dan
petugas kesehatan pada umumnya, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan
serta
pengertian yang salah, dan kepercayaan yang keliru tentang penyakit
kusta yang disebabkan kecacatan yang ditimbulkan. Sehingga masalah penyakit
kusta sangat kompleks, bukan hanya dari segi medis tetapi meluas pada
masalah sosial dan ekonomi. Untuk mengurangi hal itu diperlukan kemitraan
lintas program dan lintas sektor dalam pemberantasan, rehabilitasi medis,
rehabilitasi sosial dan ekonomi serta mendorong penderita kusta yang sudah
sembuh menjalani kehidupannya yang berkualitas dan berkeadilan di dalam
masyarakat secara luas.
Penderita kusta merupakan penyakit kulit biasa yang sulit dideteksi secara
dini karena pada tahap awal penyakit ini sangat mirip dengan penyakit kulit
sehingga cenderung diabaikan atau berusaha diobati sendiri. Faktor penyulit lain
adalah adanya stigma dari masyarakat sehingga penderita atau keluarganya
cenderung tertutup. Semakin lama penyakit ini tidak diobati maka resiko
terjadinya kecacatan akan semakin tinggi.
Penyakit kusta yang diobati di Jawa Timur tersebar di semua
Kabupaten/Kota yang terutama di Pulau Madura dan Pantai Utara Pulau Jawa.
Jumlah penderita terdaftar yang ada di Pulau Madura adalah 32% dari total
penderita yang ada di Jawa Timur. Sedangkan di tingkat Nasional 1/3 dari jumlah
penderita kusta di Indonesia berasal dari Jawa Timur. Sedangkan di tingkat
Dunia, Indonesia merupakan ranking ke 3 setelah India dan Brazil.
Rata-rata penemuan penderita baru kusta dalam kurun waktu 6 tahun
terakhir berkisar 5.000 s/d 6.000, penemuan penderita baru kusta tertinggi
adalah dari tahun 2009 yaitu 6.040 orang karena pada tahun tersebut ada
kegiatan Intensified Case Finding dana dari WHO sebesar 750 juta di Kab.
Jember dan Kab. Lamongan dengan penemuan penderita baru sebanyak 788
kasus dalam waktu 4 bulan. Pada tahun 2010 dilaksanakan kegiatan Rapid
Village Survey (RVS) di 8 Kabupaten dengan total penemuan penderita baru
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
121
sebanyak 851 orang. Sedangkan pada tahun 2012, kegiatan RVS hanya
dilakukan di 6 Kabupaten dengan total penemuan penderita baru banyak 632
orang.
Untuk tahun 2013 laporan penemuan kasus baru (s/d September 2013)
sejumlah 2.745 orang dengan perincian untuk tipe PB : 341 orang dan MB :
2.404 orang. Dari total penderita baru tersebut, 225 penderita baru merupakan
usia anak (8%), 341 penderita baru yang ditemukan dalam kondisi cacat II (12%)
dan ada 408 orang (15%) mengalami cacat tingkat I (cacat yang tidak kelihatan)
yang potensial untuk menjadi cacat tingkat II. Untuk cakupan pelayanan
pengobatan kusta sesuai dengan regimen WHO (MDT) adalah 100% di Unit
Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit yang sudah ada kerjasama dan
Puskesmas). Dari 989 Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) yang ada di di Jawa
Timur, yang sampai dengan saat ini melayani penderita kusta sebanyak 678
UPK.
tabel 11.1
Pencapaian Program P2 Kusta Tahun 2009 s/d 2013
No
Indikator
Target 2009
1 Penderita Terdaftar
6.392
2 Prev. Rate per 10.000
<1
1,69
3 a. Penderita Baru
6.040
b. C D R per 10.000
<5
16,00
Proporsi Cacat II
c.
5%
11%
(%)
e. Proporsi anak (%)
5%
12%
4 RFT Rate
PB
90%
91%
MB
% Kab/Kota
5 mencapai RFT rate
90%
PB
MB
*) : s/d Sept 2013
2010
5.496
1,48
4.653
12,50
2011
6.157
1,63
5.284
13,99
2012 2013*
5.570 7.406
1,46
1,93
4.807 3.391
12,63
-
13%
13%
14%
12%
11%
11%
9%
8%
93%
97%
94%
90%
94%
90%
90%
89%
Target

70%
75%
75%
82%
58%
82%
68%
97%
76%
84%
58%
80%
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
122
c.4.Pengendalian Hiv/Aids
Program P2 IMS dan HIV/AIDS dimaksudkan untuk mengendalikan
penyebaran Infeksi HIV dan IMS dan meningkatkan Kualitas Hidup Orang
Dengan HIV/AIDS (ODHA). Program Pengendalian penyebaran infeksi HIV, PMS
dan dampak HIV & AIDS dilakukan melalui upaya pencegahan, meningkatkan
kualitas pelayanan serta jangkauan ODHA dan masyarakat.
Untuk mengukur keberhasilan sasaran dari pelaksanaan program tersebut
dapat dilihat dari perkembangan capaian kinerja program baik sebagai berikut:
Tabel 11.2
Capaian kinerja Program P2 IMS dan HIV/AIDS
2009
No
Uraian
2010
2011
2012
Des 2013
Jml Target Capaian Target Capaian Target Capaian Target Capaian Target Capaian
(%) Jml % (%) Jml % (%) Jml % (%) Jml % (%) Jml %
1 % Kab/Kota yang memiliki layanan komprehensif
2 % RS Pemerintah yang menyelenggarakan rujukan ODHA
38
45 17 45
50 19 50
55 27 71
65 32 84
75 34 89
48
0 21 44
0 24 50
30 27 56
40 30 63
70 35 80
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
c.5.Pengendalian Penyakit Malaria
Malaria disebabkan oleh plasmodium yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk anopheles betina, malaria dapat menyerang semua umur, dan masih
menjadi beban di Jawa Timur. Mobilitas penduduk Jawa Timur yang tinggi dari
dan ke daerah endemis mempunyai risiko untuk tertular malaria, bila mereka
yang tertular tidak ditemukan akan berakibat turunnya kualitas hidup dan
selanjutnya bisa menimbulkan kematian.
Hasil
surveilans
rutin
malaria
tahun
2013
menginformasikan
ada
29
kabupaten/kota dengan kasus malaria. Kasus malaria terbanyak adalah malaria
import sebesar 99,9%. Tingginya malaria import yang tidak ditemukan dan
diobati sangat berisiko untuk menularkan malaria di daerah reseptif. Adapun
daerah reseptif malaria di Jawa Timur tersebar di pantai selatan Jawa Timur dan
sekitar Pegunungan Wilis serta di daerah Kepulauan Sumenep
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
123
Kegiatan pada pengendalian malaria bersumber anggaran APBD I tahun
2013 adalah sebagai berikut :
1) Pos Malaria Desa
2) Pemantauan mutu lab. Malaria
3) Pengendalian malaria di daerah kepulauan
4) Monitoring program & persiapan eliminasi malaria
5) Pertemuan evaluasi validasi data
6) Surveilans migrasi penguatan sistem surveilans malaria
7) Pelacakan penderita malaria import dan indigenous
8) Koordinasi lintas sektor penemuan penderita malaria\
9) Penguatan malaria centre
Kegiatan – kegiatan tersebut diharapkan dapat menunjang pencapaian
indikator malaria dan pencapaian traget Rencana Strategi Malaria 2013 yang
tertuang dlam Rencana Strategi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun
2009 s/d 2014.
Tabel 11.3
Capaian Kegiatan Program Malaria Tahun 2009 - 2013
No
INDIKATOR
2009 2010 2011 2012 2013 (Data
sementara)
1 Jumlah Sediaan
50,4 56,1 23,6 33,02
30,72
Darah diperiksa
(ribuan)
2 ABER
1,1
1.06 0,46
1,8
0,1
3 SPR
3,3
3,4
4 Penderita Malaria
1489 947 1222 1074
1033
5 API (‰)
0,33 0,18 0,24 0,034
0,024
6 Proporsi
35,1 46,5 50,7 35,7
34,1
Plasmodium
falsiparum (%)
7
8
9
Proporsi Kasus
Indigenous (%)
Proporsi Malaria
Import (%)
Desa HCI
28,3
8,2
10,8
0,7
0,1
71,7
91,8
89,2
99,3
99,9
12
2
2
2
0
Sumber : LKPJ Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
124
c.6.Pengendalian Penyakit PES
Kegiatan pengendalian penyakit Pes ini bertujuan untuk meningkatkan
kegiatan kewaspadaan dini, menemukan, mengobati penderita, mencegah
terjadinya KLB, mempertahankan angka kematian kasus
pes pada manusia
tetap nol ( CFR = 0 % ), dan dusun fokus dan terancam tidak bertambah atau
menyebar.
Tujuan pengendalian penyakit PES berdasarkan Renstra Jawa Timur
adalah
100
%
kabupaten/Kota
yang
ditemukan
penderita
pes
telah
melaksanakan program pemberantasan pes mencapai indikator utama. Sasaran
Program Daerah rawan penyakit pes di Jawa Timur ada di Kabupaten Pasuruan
Hasil Pelaksanaan
1) Pemasangan trap tikus pada 42 dusun wilayah pengamatan pes sebanyak
160.000 trap. Pemeriksaan spesimen serologi sebanyak 1.535 specimen
dan mikrobiologi sebanyak 1 specimen. Hasil pemeriksaan semua negatif.
2) Pencarian penderita secara aktip pencarian ini dilakukan oleh petugas
Human Surveillance dengan cara berkeliling dari rumah kerumah setiap hari
pada 42 dusun Fokus dan terancam di wilayah pengamatan pes. Semua
penderita klinis yang ditemukan telah memperoleh pengobatan (100 %)
Tabel 11.4
Hasil Pengamatan penyakit Pes di Provinsi Jawa Timur 2009-2013
No Indikator
1
2
3
4
Trap Sukses %
Indek Pinjal (IP):
1. IP Umum:
2009
3.7%
0.90
0.60
2. IP.Khusus
Penderita Klinis
5
Penderita Positip
0
Laboratorium
Standar Nasional
1. Indek Pinjal Umum: ≤ 2 %
2. Indek Pinjal khusus ≤1 %
3. Trap sukses ≥ 3 %
Hasil Kegiatan
2010
2011
2012
2.96 %
2.68 %
2.58%
2013
2.60%
1.24
0.66
0.88
0.59
0.97
0.69
1.12%
0.75
2
0
3
0
3
0
1
0
Sumber : LKPJ Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
125
Dari data tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa hasil kegiatan
penyakit pes tahun tahun 2009 sampai dengan 2013 menunjukkan tidak adanya
kejadian luar biasa. Pada tahun 2013 hanya ada 1 suspek yang diketemukan
dan hasil pemeriksaan serum (serologi) dan mikrobilogi didapatkan hasil negatif.
Trap sukses masih dibawah standart hal ini harus ditingkatkan untuk mencapai
batas diatas 3. Indek pinjal umum dan khusus masih dibawah standart
.
c.7. Pencegahan DBD (Demam Berdarah)
Penyakit DBD mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1968 di Surabaya
dan Jakarta, dan setelah itu jumlah kasus DBD terus bertambah seiring dengan
semakin meluasnya daerah endemis DBD. Penyakit ini tidak hanya sering
menimbulkan KLB tetapi juga menimbulkan dampak buruk sosial dan ekonomi.
Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan
keluarga, kematian anggota keluarga, dan berkurangnya usia harapan
penduduk.
Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah
kesehatan masyarakat dan endemis di hampir seluruh Kab/ Kota di Jawa Timur.
Demam Berdarah Dengue juga sudah menjadi masalah yang rutin dihadapi pada
setiap musim hujan. Angka kesakitan di Jawa Timur cukup tinggi, meskipun
jumlah kematian yang terjadi dapat ditekan.
Tujuan Program DBD:
Menurunkan angka kesakitan DBD
1) Menurunkan angka kematian DBD
2) Mencegah KLB DBD
Sasaran Program DBD:
1) Minimal 20% Kabupaten/ Kota dengan angka kesakitan DBD maksimal
53/100.000 penduduk
2) Minimal 20% Kabupaten/ Kota dengan angka kematian DBD maksimal 1%
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
126
Tabel 11.5
Capaian Program DBD di Jatim
NO TAHUN
1
2008
2
2009
3
2010
4
2011
5
2012
6
2013
PENDERITA
16.929
18.631
25.762
5.374
8.266
14.414
KEMATIAN
166
185
230
65
119
139
INSIDEN
45,28
50,03
69,14
14,19
21,72
37,87
CFR
0,98 %
0,99 %
0,89 %
1,21 %
1,44 %
0,96 %
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
c.8. Penyelenggaraan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah
Program Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang di Provinsi Jawa Timur
dengan hasil capaian sebagai berikut :
Pemberantasan Penyakit Leptospirosis.

Hasil Pengamatan penyakit Leptospirosis di Prov. Jawa Timur Tahun 2009 2013 sampai dengan bulan Desember 2013 adalah :
Tabel 11.6
Capaian Program DBD di Jatim
Indikator
Kasus Klinis
Meninggal
CFR %
2009
32
10
31,25%
2010
29
16
55,17
%
Hasil Kegiatan
2011
2012
55
79
12
7
21,81% 8,86 %
2013
229
25
10,91 %
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
Tingginya angka kematian pada penderita Leptosiprosis pada tahun 20092013 disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1. Kasus Leptospirosis sering tidak terdiagnosis karena gejala klinis tidak spesifik
dan sulit dilakukan konfirmasi diagnose tanpa uji laboratorium.
2. Belum semua petugas kesehatan mengetahui tatalakasana kasus
Leptospirosis.
3. Kuman yang menyerang penderita termasuk serovar ganas.
4. Diagnose sebab kematiannya karena gagal ginjal akut.
Adapun untuk penyakit rabies sampai dengan bulan Juni 2013 tidak
ditemukan kasus Rabies dari kasus- kasus gigitan hewan penular rabies.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
127
c.9. Peningkatan Imunisasi
Tujuannya adalah mendukung dan membantu pelaksanaan imunisasi di
Jawa Timur, sehingga membantu Kabupaten/Kota mencapai target minimal
Universal Child Immunization (UCI) Desa/Kelurahan.
Mulai tahun 2013 indikator keberhasilan program imunisasi tidak dihitung
berdasarkan cakupan imunisasi secara agregat (polulasi) tetapi berdasarkan
individu (bayi) yang telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Yang
dimaksud imunisasi dasar lengkap adalah bayi yang telah menerima imunisasi
BCG 1 kali, Polio 4 kali, DPT-Hb 3 kali dan campak 1 kali.
Diharapkan pada tahun 2013 ini cakupan UCI Desa sebesar minimal 95%.
Desa dikategorikan UCI apabila minimal 80%
bayinya telah mendapatkan
imunisasi dasar lengkap sebelum usia 1 tahun. Sasaran imunisasi rutin adalah
bayi, anak sekolah dasar/ibtidaiyah kelas 1, 2 dan 3, serta wanita usia subur (1539 tahun). Tujuan imunisasi adalah agar seluruh masyarakat kebal terhadap
penyakit berbahaya yaitu penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I).
Jumlah sasaran bayi tahun 2013 sebanyak 591.597 bayi, anak SD/MI
kelas 1, 2 dan 3 sebanyak 1.804.353 anak dan WUS (hamil dan tidak hamil)
14.960.016 jiwa serta WUS Hamil sebanyak 679.460 orang.
Sejak tanggal 10 Oktober 2011 di Jawa Timur telah dinyatakan
mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri. Untuk penanggulangannya Jawa
Timur sejak 2012 – 2013 telah melaksanakan berbagai upaya penanggulangan,
yaitu :
a) Terhadap kasus difteri, diberikan tata-laksana sesuai standat di RSU
1.
Terhadap kontak erat, dilakukan sweb tenggorokan dan hidung,diberikan
profilaksis dan di imunisasi
2.
Terhadap kontak yang berdomisili atau berhubungan dengan kasus
diberikan suntikan imunisasi komponen difteri.
3.
Pemberian imunisasi tambahan (Sub PIN Difteri) bagi anak usia 2 bulan s/d
15 tahun di 19 kabupaten/kota di Jawa Timur sebanyak 3 kali putaran.
Putaran pertama dilaksanakan pada bulan Oktober – Nopember 2012 dan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
128
putaran kedua pada bulan Mei- Juni 2013, serta putaran ketiga akan
dilaksanakan pada bulan Nopember –Desember 2013.
Hasil Pelaksanaan Program Imunisasi 2013
a. Imunisasi Rutin Bayi
1.
Pencapaian UCI Desa
Tabel 11.7
Target dan Capaian UCI Desa/Kel (%)
Tahun 2009 - 2013
UCI DESA/KEL (%)
NO TAHUN
1
2
3
4
5
TARGET
≥80
≥80
≥85
≥90
≥95
2009
2010
2011
2012
2013
PENCAPAIAN
79,9
81,2
87,4
91,5
95,8
Sumber : LKPJ P3PMK, 2013
2.
Pencapaian Imunisasi Dasar Lengkap
Tabel 11.7
Target dan Capaian Imunisasi Dasar Lengak (%)
Tahun 2012 - 2013
IMUNISASI DASAR LENGKAP (IDL)
NO
TAHUN
TARGET (%)
PENCAPAIAN
JATIM
NASIONAL
1
2012
≥85
84,5
86,8
2
2013
≥88
94,43
79,4
Sumber : LKPJ P3PMK, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
129
b. Cakupan Imunisasi Anak Sekolah SD/MI
Tabel 11.8
Jumlah Sasaran, Target Minimal dan Cakupan
Imunisasi Anak Sekolah SD/MI
Tahun 2008 - 2013
JUMLAH SASARAN
N
O
THN
KELAS
1
KELAS
2
KELAS
3
TARGE
T
MINIMA
L
CAKUPAN (%)
KELAS I
CAMP
AK
DT
KELAS II
KELAS III
TT / Td *
TT / Td *
1
2008
697.677
685.464
666.355
≥95
97,44
94,56
95,18
96,33
3
2009
682.412
660.596
667.094
≥95
95,40
97,45
97,82
97,75
4
2010
676.896
662.714
658.368
≥95
92,57
92,77
93,26
92,39
5
2011
631.825
635.615
632.451
≥95
96,10
96,35
97,15
96,65
6
2012
639.166
630.568
658.312
≥95
97,61
97,63
97,47
97,31
7
2013
640.124
631.532
659.357
≥95
96,52
97,22
96,25
96,49
Sumber : LKPJ P3PMK, 2013
c. Cakupan Imunisasi Wanita Usia Subur (WUS) Hamil
Tabel 11.9
Target dan Pencapaian Cakupan Imunisasi
Wanita Usia Subur (WUS) Hamil
Tahun 2009 - 2013
NO
1
2
3
4
5
TAHUN
2009
2010
2011
2012
2013
TT2 Plus BUMIL
TARGET
PENCAPAIAN
≥75
≥75
≥80
≥80
≥85
75,9
83,2
85,4
83,7
85,04
Sumber : LKPJ P3PMK, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
130
d. Imunisasi Tambahan (Sub PIN Difteri)
Tujuannya menghentikan transmisi difteri di Jawa Timur, direncanakan
tiga (3) kali putaran di 19 Kabupaten/Kota Prioritas. Target pencapaian Sub PIN
Difteri minimal 95%, cakupan Putaran 1 s/d 3 sebagai berikut :
Tabel 11.10
Pencapaian Imunisasi Tahun 2012 - 2013
Umur dan Antigen
No
Putaran
1.
Pertama Nop –
Des 2012
Kedua
Mei – Juni
2013
Ketiga
Nop –
Des 2013
2.
3.
Pelaksaan
≥2 s/d 36
bulan
(DPT-HB)
>3 s/d 7
tahun
(DT)
>7 s/d 15
tahun
(Td)
98,26%
98,64%
96,96%
100%
97,31%
97,62%
100%
96,38%
97,98%
Sumber : LKPJ P3PMK, 2013
c.10.Pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML)
Program P2ML terdiri dari P2 Diare, Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) dan Frambusia, tetapi pada tahun 2013 P2ML hanya terdiri dari P2 Diare
dan ISPA karena P2 Frambusia sudah masuk ke dalam Program P2 Kusta

P2 DIARE
Program pengendalian diare bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan
dan kematian karena diare bersama lintas program dan lintas sektor terkait.
Sedangkan tujuan dari tatalaksana diare adalah mencegah dehidrasi, mengobati
dehidrasi, mencegah gangguan nutrisi dengan memberikan makan selama dan
sesudah diare, memperpendek lamanya diare dan mencegah diare menjadi
berat.
Prinsip tatalaksana diare adalah Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan
Diare) yang terdiri dari oralit osmolaritas rendah, zinc, pemberian ASI/makanan,
pemberian antibioka hanya atas indikasi dan pemberian nasihat,
Untuk mengukur keberhasilan sasaran dari pelaksanaan program tersebut
dapat dilihat dari perkembangan capaian kinerja program sebagai berikut:
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
131
Tabel 11.11
Capaian Kinerja Program Diare
Indikator
Kinerja
Cakupan
pelayanan
diare
Capaian Kinerja Program Diare
Satuan
2009
2010
2011
2012
2013
%
43,48
66,7
70,09
72,43
97,59
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013

P2 ISPA
Program pengendalian ISPA bertujuan untuk menurunkan angka
kesakitan dan kematian karena pneumonia. Sasaran dari program P2 ISPA
adalah pengendalian pneumonia balita, kesiapsiagaan dan respon terhadap
pandemi influenza serta penyakit saluran pernafasan lain yang berpotensi
wabah, pengendalian ISPA umur > 5 tahun, dan faktor risiko ISPA. Untuk
mengukur keberhasilan sasaran dari pelaksanaan program tersebut dapat dilihat
dari perkembangan capaian kinerja program yaitu cakupan penemuan
pneumonia balita sebagai berikut :
Tabel 11.12.
Capaian Kinerja Program ISPA
Capaian Kinerja Program ISPA
Indikator
Kinerja
Cakupan
penemuan
pneumonia
balita
Satua
n
2009
2010
2011
2012
2013
%
23,60
21,70
25,69
22,80
18,95
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
c.11. Pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2)
Pogram Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis)
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
132
Di Jawa Timur kasus kaki gajah 100 % penderita ditemukan dalam kondisi
kronis/menahun dan cacat permanen. Tercatat sampai dengan 31 Desember
2013 kasus klinis kaki gajah yang telah ditemukan dan diobati sejumlah 358
penderita yang
tersebar di 33 Kabupaten/Kota pada 190 kecamatan di 270
desa/kelurahan. Adapun perkembangan penemuan kasus Kaki Gajah dari tahun
ke tahun sebagai berikut :
Tabel 11.13.
Capaian Hasil Kegiatan Tahun 2009 sd Juni 2013
No
Capaian hasil kegiatan
Kab/Kota melaksanakan program
P2 Filariasis (dg kasus
%
Kab/Kota
melaksanakan
program P2 Filariasis
Rekapitulasi
kasus
Klinis
Limfadema kronis
Kasus Klinis Limfadema kronis
yang baru ditemukan
Mikrofilaria Rate
2009
30
2010
32
2011
32
2012
32
2013
33
80
84
84
84
94
263
293
319
341
358
20
30
26
22
17
0%
0%
0%
0%
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
Penderita terbanyak ditemukan di Kabupaten Lamongan dengan 56
kasus, Kabupaten Malang dengan 39 kasus kemudian Kabupaten Ponorogo
dengan 30 Kasus dan Kabupaten Trenggalek 24 kasus). Namun sampai dengan
saat ini belum ada penderita yang ditemukan secara laboratoris positif
mikrofilaria (ditemukan anak cacing dalam darah penderita).
Untuk memberantas penyakit ini sampai tidak menjadi masalah kesehatan
masyarakat lagi, pada tahun 2000 WHO telah menetapkan kesepakatan global
untuk melakukan Eliminasi Filariasis pada tahun 2020. Indonesia sepakat untuk
melaksanakan Eliminasi Filariasis (Pemberantasan Penyakit Kaki Gajah) secara
bertahap dimulai pada tahun 2002 dan Program Eliminasi Filariasis ini
dinyatakan sebagai salah satu program prioritas di Kementerian Kesehatan RI.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
133
c.12. Peningkatan pelayanan dan penanggulangan masalah bencana
Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana secara komprehensif
bersama Pusat (Kemenkes RI) dan Kabupaten Kota, yang kegiatannya meliputi
tahapan pra bencana (kesiapsiagaan), tahap saat bencana (tanggap darurat)
dan tahap pasca bencana (pemulihan) serta mengupayakan setiap terjadi
kejadian bencana tidak diikuti oleh Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.
Sasaran dari kegiatan ini adalah seluruh Kabupaten Kota di Jawa Timur
serta setiap kejadian bencana yang terjadi di seluruh Kabupaten Kota di Jawa
Timur.
Hasil Pelaksanaan Program/Kegiatan
Pada tahun 2013 di Jawa Timur sesuai dengan laporan yang dikirimkan
oleh Kabupaten Kota yang mengalami kejadian bencana terakumulasi sebanyak
86 kejadian bencana dari berbagai jenis bencana yang terjadi. Bencana
terbanyak adalah banjir (28%) kemudian disusul dengan angin puting beliung
(23%). Semua bencana dapat ditanggulangi dengan baik pada saat bencana
(tanggap darurat) hanya ada Kejadian Luar Biasa (KLB) pasca banjir yaitu
penyakit Leptospirosis di Kabupaten Sampang yang merupakan kejadian ikutan
pasca banjir.
c.13.Pendampingan Pengendalian penyakit TBC (Tuber Culoses)
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan dunia. Indonesia
merupakan salah satu negara dengan beban TB yang cukup besar (selalu dalam
kelompok 5 besar). Penderita tersebut menyebar di semua provinsi, namun dengan
prevalensi yang berbeda di beberapa wilayah. Indonesia bagian timur memiliki
prevalensi yang terbesar. Angka insidens TB nasional pada tahun 2012
berdasarkan survei prevalensi pada tahun 2004, adalah 107/100.000 penduduk
(untuk TB paru BTA positif baru) dan menurut WHO (2011), angka insiden seluruh
kasus adalah 185/100.000 penduduk.
Provinsi Jawa Timur adalah salah satu provinsi dengan jumlah kasus TB
yang besar. Provinsi ini telah menjalankan strategi Directly Observed treatment
Short course (DOTS) sudah sejak tahun 1995. Sejak tahun 2004, setelah semua
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
134
Puskesmas terlatih, program ini dikembangkan ke rumah sakit dan unit pelayanan
kesehatan lainnya. Jumlah kasu TB di Jawa Timur menempati urutan kedua setelah
Jawa Barat. Jumlah kasus baru pada tahun 2012 tidak kurang dari 42 ribu. Kasus
anak sekitar 5% dari toal kasus TB yang diobati.
Program pengendalian TB dengan strategi DOTS dimulai pada tahun
2005 dan sampai sekarang telah melibatkan 100% Puskesmas dan 100% RS
pemerintah. Diupayakan untuk melibatkan sektor swasta melalui kegiatan
kemitraan yang disebut dengan Public Private Mix DOTS :
Tabel 11.14
Pencapaian Program P2 TB
No
Indikator Program
1
2
CDR
CNR
3
Succes Rate
Target
Nasio 2009
nal
70
54
Naik
102
5%
85
90
Pencapaian
2010 2011 2012
2013
58
100
65
111
64
113
57
109
90
91
90,1
NA
Sumber : Laporan Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, 2013
d. Permasalahan dan Upaya Pemecahan Masalah
d.1 Permasalahan :
d.1.1.Pengendalian Penyakit Kusta
1) Penderita baru kusta masih terus ditemukan.
2) Prosentase Kab/Kota yang mencapai RFT (Release from Treatment) Rate
/ angka kesembuhan untuk tipe MB (Multi Basiler) rendah
3) Perhatian dari pemerintah kab/kota masih kurang.
4) Masih adanya stigma di masyarakat dan petugas kesehatan.
5) Belum semua Kabupaten/Kota memasukkan penderita kusta dalam
Jamkesmas.
6) Belum semua penderita yang diobati dilakukan pemeriksaan POD
(Prevention of Disability) secara rutin
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
135
d.1.2. Pengendalian Hiv/Aids
1) Tinggal 4 kabupaten/kota (Ngawi, Bangkalan, Sumenep, Kota Blitar) yang
belum memiliki layanan komprehensif HIV karena pengambil kebijakan di
kab/kota tersebut belum memiliki komitmen.
2) RS Rujukan ODHA dan Layanan terkait HIV sudah meningkat namun
masih terbatas, sehingga akses layanan masih terbatas.
3) Besarnya populasi berisiko tinggi yang susah dijangkau.
4) Masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA
d.1.3 Pengendalian Penyakit Malaria
1) Surveilans migrasi malaria belum maksimal.
2) Masih ditemukan kasus indigenous malaria
3) Banyaknya Breeding place vektor malaria yang tidak tertangani (vektor 
host definitife)
4) Kelambunisasi desa endemis masih dibawah 80%
5) Minimnya tenaga entomologi di daerah reseptif dan endemis.
6) Kurangnya penguatan pada sumber daya manusia yaitu tidak ada
pelatihan pengelola program malaria, petugas laboratorium, petugas
entomologi malaria dan petugas dokter untuk tatalaksana malaria.
7) Keterlambatan diagnosis dan kurangnya pengetahuan tatalaksana
pengobatan malaria pada petugas
8) Koordinasi lintas sektor masih rendah pada penangan malaria tenaga
kerja musiman
d.1.4.Pengendalian Penyakit PES
1) Penyakit Pes mempunyai kekhasan pengendalian karena hulu penyakit
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
136
ini berada di hewan, dan kalau terlambat menangani akan berakibat fatal
pada manusia, pertanian dan pariwisata.
2) Terbatasnya tenaga dalam pengendalian penyakit Pes
3) Mobilitas penduduk dari daerah/wilayah yang berisiko penyakit ke daerah
bebas.
4) Merupakan penyakit yang sangat rentan dengan adanya perubahan
lingkungan/ekologi.
5) Kurangnya sosialisasi tatalaksana dan pengendalian penyakit Pes
d.1.5.Pencegahan DBD (Demam Berdarah)
1) Belum ada obat anti virus dan vaksin untuk mencegah DBD, maka untuk
memutus rantai penularan, pengendalian vektor dianggap yang paling
memadai saat ini.
2) Partisipasi masyarakat dalam PSN DBD masih rendah, meskipun pada
umumnya pengetahuan tentang DBD dan cara-cara pencegahannya
sudah cukup tinggi.
3) Banyak faktor yang berhubungan dengan peningkatan kejadian DBD dan
KLB yang sulit atau tidak dapat dikendalikan seperti kepadatan penduduk,
mobilitas, lancarnya transportasi (darat, laut dan udara), pergantian
musim dan perubahan iklim dunia, kebersihan lingkungan dan perilaku
hidup sehat, serta jenis dan keganasan virusnya.
4) Keterlambatan respon untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
karena keterlambatan info dari RS/ Klinik.
5) Sebagian masyarakat masih minat dengan foging.
6) Tim Pokjanal DBD Kab/ Kota kurang aktif
d.1.6.Penyelenggaraan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah
1) Terbatasnya tenaga dalam pengendalian penyakit Rabies
2) Mobilitas HPR dari daerah/wilayah yang berisiko penyakit ke daerah
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
137
bebas.
3) Merupakan penyakit yang sangat rentan dengan adanya lalulintas hewan
yang tidak terkontrol
4) Kurangnya sosialisasi tatalaksana dan pengendalian penyakit Rabies.
5) Terbatasnya tenaga dalam pengendalian penyakit Leptospirosis.
6) Ketersediaan Rapid Diagnosa Test untuk diagnosa cepat kasus
Leptospirosis.
7) Banyaknya daerah rawan banjir
8) Merupakan penyakit yang sangat rentan dengan adanya musim hujan dan
daeran banjir
d.1.7 Pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML)
 Diare
1)
Ketepatan dan kelengkapan laporan dari Kabupaten/Kota sangat
rendah;
2)
P2 Diare bukan merupakan program prioritas di daerah, sehingga
pendanaan minim bahkan nihil;
3)
Petugas Kabupaten/Kota mempunyai tugas rangkap lebih dari dua,
sehingga kesulitan dalam memprioritaskan penanganan program
 ISPA
1) Ketepatan dan kelengkapan laporan dari Kabupaten/Kota sangat
rendah;
2) P2 ISPA bukan merupakan program prioritas di daerah, sehingga
pendanaan minim bahkan nihil;
3) Petugas Kabupaten/Kota mempunyai tugas rangkap lebih dari dua,
sehingga kesulitan dalam memprioritaskan penanganan program;
4) Masih
banyak
petugas
puskesmas
yang
belum
memahami
tatalaksana pneumonia dan deteksi dini dalam penemuan penderita
pneumonia balita
d.1.8.Pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2)
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
138
1) Kasus
Filariasis
permanen
sebagian
besar
ditemukan terlambat /cacat
(80%). Hal ini disebabkan karena kurangnya Informasi
tentang penyakit Filariasis bagi petugas kesehatan dan masyarakat .
2) Bukan merupakan program prioritas sehingga program ini tidak
terdanai di Kabupaten/Kota .
3) Penanganan
Rehabilitasi Medis bagi penderita Filariasis
baik di
tingkat provinsi maupun di Kabupaten/kota belum dapat dilaksanakan
secara optimal karena tidak tersedianya dana
d.1.9. Pendampingan Pengendalian penyakit TBC (Tuber Culoses)
1) Penemuan kasus TB yang masih di bawah target nasional, yaitu masih
mencapai 109 per 100.000 penduduk pada tahun 2013 dengan Case
notification rate turun jika dibandingkan tahun 2012 (4 kabupaten masih
belum melaporkan).
2) Hanya 29 kabupaten kota yang mencapai target keberhasilan pengobatan
minimal 90%
3) Masalah TB HIV masih belum tertangani dengan optimal, khususnya dari
sisi surveilans dan akses layanan untuk tes HIV
4) Masih
banyak
layanan
swasta
yang
belum
mau
melaksanakan
pengobatan TB dengan strategi DOTS, sehingga pasien yang ditangani
oleh sektor swasta tidak tercatat dalam sistem surveilans program
nasional
5) Kasus kebal obat yang semakin meluas dan sudah 34 kab/ko yang
melaporkan
d.2. Upaya Pemecahan Masalah
d.2.1..
Pengendalian Penyakit Kusta
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
139
1) Mengintensifkan penemuan penderita baru melalui kegiatan pencarian
secara aktif (RVS, pemeriksaan kontak serumah dan tetangga) dengan
melibatkan peran dari lintas sektor dan lintas program.
2) Menekankan pentingnya penyuluhan saat sebelum pemberian MDT untuk
menghindari terjadinya kasus DO (Drop out) / Default, defaulter tracing
jika ada kasus DO / default,
3) Jika ada kasus dari luar wilayah, maka cross notification kepada petugas
kusta setempat sangat penting untuk pelacakan kasus DO / default.
4) Penyuluhan secara aktif untuk mengurangi stigma kusta di masyarakat
maupun petugas kesehatan. dengan memanfaatkan sumber daya yang
ada (BOK, DAU, APBD I maupun BLN).
5) On
the
job
training
bagi
petugas
yang
sudah
dilatih
untuk
mempertahankan ketrampilan yang sudah ada.
6) Meningkatkan kepedulian para pemegang kebijakan (Bupati/Walikota,
anggota DPRD, Kepala Dinas maupun Kepala Puskesmas) di tingkat
Kabupaten/Kota melalui advokasi yang berkesinambungan.
7) Meningkatkan mutu pelayanan pada penderita kusta dengan melakukan
POD setiap bulan dan case holding
8) Mengembangkan research operasional
d.2.1.Pengendalian Hiv/Aids
1) Koordinasi dalam wadah Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa
Timur untuk :

meningkatkan komitmen pengambilan kebijakan tingkat Provinsi
Kab dan Kota

meningkatkan peran lintas sektor dalam upaya pengendalian HIV

meningkatkan upaya edukasi kepada masayarakat

sosialisasi dan penjangkauan kepada populasi risiko tinggi
2) Dinas
Kesehatan
Provinsi
Jatim
memfasilitasi
layanan
melalui
pendampingan program, pelatihan SDM, pemenuhan buffer logistik
reagen IMS dan HIV serta obat Anti-retroviral (ARV).
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
140
3) Upaya peningkatan capaian kinerja melalui :

komunikasi massa terkait dengan layanan HIV yang tersedia.

Cakupan kunjungan layanan pencegahan penularan melalui harm
reduction, Pemeriksaan dan Pengobatan IMS Terpadu Berkala di
Lokalisasi, Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak,
Kewaspadaan Standar.
4) Pengembangan klinik IMS, Klinik Konseling dan Testing HIV
rujukan ODHA di kab/kota di Jawa Timur
dan RS
untuk memudahkan akses
layanan kesehatan yang merata di Jawa Timur melalui layanan tanpa
stigma dan diskriminasi.
d.2.3.Pengendalian Penyakit Malaria
1) Revitalisasi Pos Malaria Desa
2) Pemantauan mutu laboratorium Malaria
3) Monitoring program & persiapan eliminasi malaria
4) Pertemuan evaluasi validasi data
5) Surveilans migrasi penguatan sistem surveilans malaria
6) Penunjang kegiatan Eliminasi Malaria
7) Koordinasi lintas sektor penemuan penderita malaria
8) Penguatan Malaria Center
9) Kelambunisasi desa dengan malaria indogenous sebesar 80%
d.2.4.Pengendalian Penyakit PES
1) Memberikan pembinaan dan advokasi ke semua level administrasi
pemerintahan
2) Kab/Kota mengusulkan anggaran untuk sosialisasi dan pelaksanaan
kegiatan program zoonosis
3) Penggandaan pedoman
4) Meningkatkan peransera masyarakat dan PHBS
5) Mengusulkan pertemuan review petugas pengendalian dan tatalaksanan
kasus penyakit zoonosis
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
141
d.2.5. Pencegahan DBD (Demam Berdarah)
1) Memberikan edaran Gubernur Jatim kepada seluruh Bupati/ Walikota
untuk melakukan upaya pencegahan dengan meningkatkan sosialisasi
DBD
ke
masyarakat
melalui
media
massa
dan
media
cetak,
mengintensifkan gerakan PSN dan larvasidasi yang dimotori oleh kader
jumantik (juru pemantau jentik) dan melakukan antisipasi terjadinya
Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.
2) Memfasilitasi kegiatan pengasapan yang difokuskan pada tempat-tempat
terjadinya penularan.
3) Mempedomani Pergub Jatim No. 20 tahun 2011 tentang Pengendalian
DBD di Jawa Timur.
4) Menyiapkan buffer stock insektisida maupun larvasida yang siap
didistribusikan bila ada Kab/ Kota yang memerlukan.
5) Melakukan sosialisasi program DBD melalui media massa dan media
elektronik.
6) Bimbingan Tekhnis Program DBD ke 38 Kab/ Kota di Jawa Timur.
7) Advokasi kepada para stakeholder
d.2.6.Penyelenggaraan dan pemberantasan penyakit menular dan wabah
1) Memberikan pembinaan dan advokasi ke semua level administrasi
pemerintahan
2) Meningkatkan Koordinasi dengan Dinas yang membidangi peternakan
dan Kesehatan Hewan, serta meningkatkan pengawasan lalulintas hewan
di tempat check point
3) Kab/Kota mengusulkan anggaran untuk sosialisasi dan pelaksanaan
kegiatan program zoonosis dan aggaran untuk pembelian Rapid Diagnosa
Test untuk Penyakit Leptospirosis, untuk diagnosa dini
d.2.7. Pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML)
 Diare
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
142
1) Memberikan umpan balik laporan secara rutin ke Kabupaten/Kota,
dan Kabupaten/Kota ke Puskesmas;
2) Advokasi ke stake holder (pemegang kebijakan) tentang usulan
anggaran kegiatan;
3) Memberikan saran dalam membagi beban tugas pada staf
 ISPA
1) Memberikan umpan balik laporan secara rutin ke Kabupaten/Kota,
dan Kabupaten/Kota ke Puskesmas;
2) Advokasi ke stake holder (pemegang kebijakan) tentang usulan
anggaran kegiatan;
3) Memberikan saran dalam membagi beban tugas pada staf;
4) Mengusulkan peningkatan kapasitas petugas dalam tatalaksana
pneumonia di puskesmas
d.2.8.Pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2)
4) Sosialisasi kepada masyarakat dan peningkatan kapabilitas petugas
kesehatan tentang tanda-tanda dini dan Penataalaksanaan kasus
Filariasis secara standar.
5) Mengunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) dalam menunjang kegiatan
diagnostik dan surveilans aktif dalam upaya penemuan kasus Filariasis
secara dini untuk mencegah kecacatan.
6) Integritas program Filariasis
dengan program lain misalnya dengan
program Kusta dalam penemuan kasus dan pengobatanpenderita,
dengan program Malaria dalam penatalaksanaan laboratorium dan
program Kecacingan untuk upaya pencegahan.
7) Pengembangan program bekerjasama dengan Departemen Parasitologi
Universitas Airlangga untuk
kegiatan crosscheck
specimen dan
penelituan tentang Filariasis
d.2.9. Pendampingan Pengendalian penyakit TBC (Tuber Culoses)
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
143
1) Meningkatkan AKMS (Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial) untuk
meningkatkan peran serta masyarakat dan pengambil kebijakan dalam
pengendalian TB
2) Memperkuat jejaring eksternal di 5 regional dan kabupaten kota untuk
menurunkan angka drop out yang pada akhirnya akan meningkatkan
angka keberhasilan pengobatan
3) Penguatan kolaborasi TB-HIV melalui Tim Kolaborasi TB HIV yang
melibatkan KPA.
4) Memperkuat Public Private Mix sebagai pendekatan untuk memperkuat
jaringan pelayanan TB (pengembangan di Kab. Pasuruan dan Kota
Malang)
Penguatan jejaring layanan untuk TB kebal obat melalui kegiatan pengendalian
terpadu TB kebal obat dengan menambah layanan sub rujukan di 5 wilayah
regional dengan didukung layanan laboratorium yang bermutu
Secara umum untuk sasaran
A.9 dalam kegiatan pemberantasan penyakit
menular sudah memenuhi target indikator dan menurut skala Likert mendapat
nilai BAIK - SANGAT BAIK.
B.8. TUJUAN 8 :
Meningkatnya Jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan
sesuai standar
Tujuan : Meningkatnya Jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga
kesehatan sesuai standar maka ditetapkan Sasaran sebagai berikut :
Meningkatnya Jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan
sesuai standar.
Sasaran: Meningkatnya Jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga
kesehatan sesuai standar.
,dengan indikator keberhasilan pencapaian sasaran sebagai berikut :
a. Persentase Bidan PTT mendapatkan Sertifikasi
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
144
b. Persentase Posnkesdes memiliki Perawat
c. Persentase Desa/Kelurahan mempunyai Bidan di desa
d. Persentase Tenaga Kesehatan yang Lulus Uji Kompetensi ber-izin
Tabel 3.1. TUJUAN 8 dan SASARAN 8.1.
TUJUAN 7
SASARAN 7.1
Meningkatnya Jumlah, jenis,
Meningkatnya Jumlah, jenis,
mutu dan penyebaran tenaga
mutu dan penyebaran tenaga
kesehatan sesuai standar.
kesehatan sesuai standar.
Indikator kinerja, target dan reaslisasi dari sasaran ini disajikan
dalam Tabel 3.2. sebagai berikut :
TABEL : 3.2.
NO
1
1
2
3
4
Meningkatnya Jumlah, jenis, mutu dan
penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar
INDIKATOR KINERJA
2
Persentase Bidan PTT
mendapatkan sertifikasi
Persentase Ponkesdes memiliki
Perawat
Persentase Desa/Kelurahan
mempunyai Bidan di Desa
Persentase Tenaga Kesehatan
yang Lulus Uji Kompetensi berizin
3
REALISA
SI
4
100 %
100%
>10%
15%
80%
100%
80%
100%
TARGET
Rata-Rata Persentase Capaian Sasaran
(%)
5
100
150
125
125
125
KATEGORI CAPAIAN : SANGAT BAIK
Untuk mencapai Sasaran yang diinginkan, maka dilakukan,
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
145
PROGRAM PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA KESEHATAN
a. Program Sumber Daya Kesehatan ini didukung oleh 3 (tiga) kegiatan yaitu:
a.1. Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di puskesmas dan
jaringannya serta Rumah Sakit
a.2. Peningkatan profesionalisme dan pengembangan karir tenaga
kesehatan
a.3. Penempatan,
Pengembangan
dan
Pemenuhan
Tenaga
Kesehatan di Tempat Pelayanan (Puskesmas, Rumah Sakit dan
Jaringnya)
b. Program
Rp.
Sumber
Daya
2.554.372.500,00
Kesehatan
terealisasi
dengan
sebesar
pagu
75.58.%,
sebesar
atau
Rp.
1.930.485.081,00 secara rinci masing-masing realisasi anggaran kegiatan
serta capaian ukuran keberhasilannya dapat dilihat pada Lampiran Matrik
19 Kolom
c. Hasil pelaksanaan program sebagai berikut:
c.1 Perencanaan kebutuhan Nakes di Puskesmas dan jaringannya serta
RS Telah terlaksana dengan dibuatnya pemetaan kebutuhan Nakes di
Kab Dan Kota yaitu antara lain :
Tabel 7.1
Hasil Dari Kegiatan Pemetaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan di
Kab/Kota Tahun 2013
Uraian
Target
Capaian
Pertemuan
penyusunan 30 orang
100 %
dokumen
dan
review
perencanaan kebutuhan
Pelatihan
perencanaan - 6 Kab/Kota
100 %
kebutuhan Nakes
Banyuwangi,Pamekasan,
Ngawi, Trenggalek, Gresik,
Sidoarjo
- 30 orang
Monitoring dan evaluasi
30 orang
100 %
kebutuhan Nakes di Dinkes
dan RS
Perencanaan kebutuhan Nakes di Puskesmas dan jaringannya serta RS
telah terlaksana dengan dibuatnya pemetaan kebutuhan Nakes di Kab Dan
Kota
Pertemuan
penyusunan
64 orang
87,38 %
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
146
dokumen
dan
review
perencanaan kebutuhan
Pelatihan
perencanaan
kebutuhan Nakes
target 6 Kab/Kota dengan 32
orang
Kab
Bojonegoro,Pacitan,Lumajan
g, Jember , Sumenep dan
lamongan
Monitoring dan evaluasi
kebutuhan Nakes di Dinkes
dan RS
target 58 orang
97,30 %
99,91 %
Sumber : Data Program Pengembangan SDM Kesehatan, 2013
c.2.
Peningkatan Profesionalisme dan Pengembangan karier tenaga
kesehatan
Tabel 7.2
Hasil Dari Kegiatan Peningkatan Profesionalisme dan
Pengembangan Karir Tenaga Kesehatan
Tahun 2013
Tujuan Program
Peningkatan
Profesionalisme
pengembangan
Nakes
Upaya Pencapaian
1. Melaksanakan kegiatan
dan
persiapan
Pemilihan
karier
Nakes Teladan
2. Melakukan
Seleksi
pemilihan Nakes teladan
Tingkat Propinsi
3. Melakukan
Nominasi
nakes teladan dari 38
Kab/Kota
4. Menentukan juara I, II
dan III dari 4 kategori
Nakes Teladan
5. Melaksanakan
pembentukan
Forum
Komunikasi
Tenaga
Kesehatan Teladan
6. Rapat
keputusan
Penilaian angka kredit
bagi Tim Penilai Provinsi
7. Koordinasi
dengan
institusi Diknakes dalam
rangka
perencanaan
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
Sasaran Program
Tenaga Kesehatan
Kabupaten / Kota
yang
bekerja
di
sarana Pemerintah
di
Propinsi
Jawa
timur
147
pelaksanaan
uju
kompetensi
8. Melakukan
pelatihan
Jafung Nutrisionis
9. Melakukan
koordinasi
perijinan
Tenaga
Kesehatan
Sumber : Data Program Pengembangan SDM Kesehatan, 2013
Tabel 7.3
Hasil Penilaian Tenaga Kesehatan Tahun 2013
No
I
Uraian
Katagori
Tenaga Medis
Nominaasi
1. dr. Rahmat Suudi
Puskesmas Gundih ,
Kota.Surabaya
2. drg. Wulan Sri Wahyuni
Puskesmas Panji Kota
Situbondo
Puskesmas
Sukomulyo
Kab. Gresik
3. dr. Diyan Eka
Puspitasari
II
Instansi
4.dr. Nurhayati Triasih
Puskesmas Ngawi
5.drg. Erwan Budi Santoso
Puskesmas Gucialit Kab.
Lumajang
Katagori
1.Sri Ningsih
tenaga Perawat
/ Bidan
2.Hafsatun , SST
Puskesmas Kalirungkut
Kota Surabaya
Puskesmas Omben, Kab.
Sampang
3.Enny Ruslikawati, SST
Puskesmas
Sukomulyo,.Kab.Gresik
4.Deddy Ilham Nurdiana , Puskesmas Pare Kab.
Amd.Kep
Kediri
5.Uswatun Kasanah
Puskesmas Maron Kab
Probolinggo
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
148
III
Katagori
Nutrisionis
1.Cahyani Setiya Rahayu, PKM Sukorejo,Kota Blitar
Amd
2.Fitria Eko Cahyani ,
Amd.Gz
3. Me ‘
Amd.Gizi
IV
Katagori
Kesehatan
Masyarakat
in
PKM Besuki Kab
Situbondo
Yulianai, Puskemas
Pulorejo,Kab.Jombang
4.Sri Handayani ,Amd Gizi
Puskesmas
Lembeyan,
Kab Magetan
5.Sylvia Agustin
Puskesmas Pasrujambe ,
Kab Lumajang
1.Tri
Wahyuning
Novitasari , SKM
PKM
Mangunharjo
,Kota.Madiun
2. Hendri Suhono, ST
PKM Wonosari Kab.
Bondowoso
Puskesmas Jelakombo
Kab. Jombang
3.Meihindra Cahyo Suci
Wardoyo, SKM
4.Siti Ambarwati
5.Esti Mumpuni , Amd AK
Puskesmas Donorejo
Kab. Pacitan)
Puskesmas
Kejayan
Kab.Pasuruan
Penerbitan PAK untuk kenaikan pangkat /
kenaikan
jabatan fungsional sebanyak
: 1281 orang
pelatihan
jabatan fungsional
Nutrsionis
Tenaga Kesehatan kabupaten / Kota
: 30
orang
Sumber : Data Program Pengembangan SDM Kesehatan, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
149
c.3.Penempatan, Pengembangan dan Pemenuhan Tenaga Kesehatan di tempat
Pelayanan ( Puskesmas, Rumah sakit dan jaringannya )
Tabel 7.4
Hasil dari Kegiatan Penempatan, Pengembangan dan Pemenuhan Tenaga
Kesehatan di tempat Pelayanan Tahun 2013
Tujuan Program
Memenuhi
kebutuhan ternaga
kesehatan
di
Rumah
Sakit,
Puskesmas
dan
jaringannya
Upaya Pencapaian
Sasaran Program
1.
Rekruitmen peserta PPDS /
- Calon
Peserta
DGS-BK
PPDS/DGS- BK
2.
kunjungan dr Spesialis di
- Dokter Spesialis
Puskesmas
- Dokter Umum
3.
Penempatan dan
- Dokter Interenship
perpanjangan dokter umum
- Bidan PTT Ponkesdes
di puskesmas plus dan Di
- Perawat Ponkesdes
Puskesmas rawat inap
standart
4.
Puskesmas memiliki jadwal
kunjungan dokter spesialis
tertentu dari RS Kab / Kota
5.
Pengangkatan &
Perpanjangan bidan PTT
Bidan di ponkesdes
6.
Penempatan Perawat dan
Perpanjangan Perawat
Ponkesdes
7.
evaluasi pelaksanaan
penempatan dokter
interenship
Sumber : Data Program Pengembangan SDM Kesehatan, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
150
Tabel 7.5
Hasil dari Kegiatan Penempatan, Pengembangan dan Pemenuhan Tenaga
Kesehatan di tempat Pelayanan Tahun 2013
Uraian
Peserta PDSBK / PPDS-BK yang di recruit sampai tahun
2013
yang diterima sampai tahun 2012 sebanyak :
Target kunjungan dr spesialis di Puskesmas Rawat Inap
Plus sampai Tahun 2013 di 50 Puskesmas Rawat
Inap Plus,
Puskesmas Rawat Inap Plus dan Puskesmas Rawat Inap
Standar sampai tahun 2013 sebanyak 83 Puskesmas
Rawat Inap standar, Realisasi
Puskesmas Rawat Inap
standar sebanyak 78
Keterangan
126 orang dokter dan 29
orang dokter Gigi
271 orang
terealisasi44
Puskesmas
Rawat Inap Plus ( 88 % )
Pengangkatan bidan baru tidak ada & Perpanjangan
Bidan PTT Sebanyak
realisasi jumlah Perawat ponkesdes
Dokter lulusan dengan Program KBK tahun 2013 yang
sedang melaksanakan interenship di RS dan Puskesmas
kabupaten /Kota
793 orang
PK Mahasiwa selama Tahun 2013 untuk
5198 orang
601 peserta ( FK Unair,
UHT, UNEJ, UM Malang
Unibraw,UII Jogyakarta ,
UNS, UGM , UMJ dan Univ.
Tri Sakti
F. Kedokteran 6 Angkatan
Dan Fakultas Kedoteran
sebanyak 8 Angkatan
(
Unair, UHT, Widya Mandala
dan Ubaya )
Sumber : Data Program Pengembangan SDM Kesehatan, 2013
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
151
Tabel 7.6
Tabel Analisa Hasil Capaian Program Sumber Daya Keseahatan Tahun 2013
Uraian
Kabupaten yang mengelola Dokumen Perencanaan sampai
dengan tahun 2013 , 15 % (dari target 20 %)
Pelatihan di Bidang Kesehatan di Propinsi dan Kabupaten Kota
sampai tahun 2013 adalah 20 % target
Realisasi 18,42 % ( Propinsi Jawa Timur, Kab Jember, Sidoarjo,
Situbondo, Kota Blitar dan Kota Kediri )
Keterangan
Memenuhi
target
Renstra
Memenuhi
target
Renstra
Jumlah Pelatihan di bidan kesehatan tahun 2013 sebanyak : 97
Pelatihan terakreditasi dengan jumlah sertifikat 2856 buah
target RS klas C tahun 2013 sebanyak 25 % yang mempunyai
Spesialis : Obgyn, anak, Interna, Bedah, anesthesia, Radiologi
dan Patologi Klinik
100% tenaga kesehatan yang telah lulus uji kompetensi berijin
Realisasi tahun 2013 yang mengajukan STR sebanyak 8.675
orang dan yang mendapatkan STR menunggu dari MTKI Pusat
Sesuai renstra semua desa dan kelurahan mempunyai bidan
desaasi : jumlah desa / kelurahan 8507 desa, jumlah bidan 8922
orang realisasi = 102 %
Memenuhi
Renstra
target
Memenuhi
Renstra
target
Memenuhi
Renstra
target
Sesuai renstra target Nakes Teladan terpilih tahun 2013 : 100 % Memenuhi
, Realisasi : 100 %
Renstra
target
Sumber : Data Program Pengembangan SDM Kesehatan, 2013
a. Permasalahan dan Upaya Pemecahannya
d.1.Permasalahan
i.
Kunjungan dokter spesialis
ke Puskesmas di Kabupaten Situbondo,
Bondowoso hanya spesialis obgyn sedangkan dokter spesialis anak masih
kurang , sehingga kunjungan ke Puskesmas tidak ada
ii.
Penandatangan
PKS
oleh
bupati
/
walikota
terlambat
sehingga
pelaksanaannya pembayaran perawat pelaksanaannya mundur dan lamanya
spesialis ditempatkan di Dinkes
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
152
iii.
Pengangkatan Perawat Ponkesdes masih di pertanyakan dasar Hukumnya (
Honor relatif kecil hanya Rp 500.000,- )
iv.
Sampai sekarang Rumah sakit klas C yang belum mempunyai standart 4
Spesialis dasar dan 3 spesialis penunjang 16 Rumah Sakit
v.
Sesuai pedoman penempatan dokter Interenship di Puskesmas masih
mengelompok di satu Puskesmas , belum bisa disebut sesuai dengan
Puskesmas yg membutuhkan dokter
d.2.Upaya Pemecahan Permasalahan
1. Segera menempatkan Dokter Spesialis anak , kunjungan Kab Sampang dan
Situbondo ,melalui pengangkatan residen senior
2. Penandatangan PKS / MOU untuk program ICON tahun 2013 dilakukan
bulan lebih awal
3. Pengiriman peserta PPDS BK yang dari Rumah Sakit klas C yang belum
mempunyai Spesialis 4 dasar dan 3 penunjang
4. Pedoman yang digunakan dalam penilaian Nakes teladan disatukan dengan
pemilihan Puskesmas yang berprestasi
5. penempatan dokter Interenship disebar ke beberapa Puskesmas
yang
membutuhkan
6. Honor Perawat Ponkesdes diharapkan sama dengan UMR
Secara umum untuk sasaran
B.8 dalam kegiatan pemberantasan penyakit
menular sudah memenuhi target indikator dan menurut skala Likert mendapat
nilai 4 (SANGAT BAIK).
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
153
Pembangunan serta berbagai upaya di bidang kesehatan yang telah
disebutkan diatas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan
nasional Indonesia. Pembangunan ini ditujukan untuk menciptakan bangsa yang
maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin sesuai yang diamanatkan dalam
uraian Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (UUD 1945) demi
memajukan kesejahteraan umum serta mewujudkan suatu keadilan sosial bagi
rakyat Indonesia.1 Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.36
Tahun 2009 tentang Kesehatan dijelaskan bahwa upaya kesehatan merupakan
serangkaian kegiatan yang terpadu, terintregasi dan berkesinambungan untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat oleh pemerintah
dan atau masyarakat. Upaya kesehatan ini diwujudkan dalam bentuk kegiatan
pencegahan penyakit (preventif), peningkatan kesehatan (promotif), pengobatan
penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif).2 Upaya-upaya
kesehatan bagi masyarakat ini merupakan perwujudan penyelenggaraan
pembangunan di bidang kesehatan.
Dalam aspek global, pembangunan nasional berkomitmen untuk mencapai
tujuan-tujuan pembangunan milenium di tahun 2015 yang tersusun dalam MDGs
di berbagai bidang pembangunan nasional termasuk bidang kesehatan.4
Untuk melihat gambaran secara riil dari capaian MDGs bidang Kesehatan di
Provinsi Jawa Timur , maka angka-angka capaian program yang telah dicapai
sebaiknya dibandingkan dengan angka Nasional dan juga dengan Provinsi
terbesar lain di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar Provinsi Jawa Timur dapat
mempertahankan atau meningkatkan capaian yang telah dicapai sebagai dasar
untuk perencanaan program berikutnya. Capaian program sangat berpengaruh
terhadap capaian kinerja yang ingin dicapai. Tabel berikut merupakan gambaran
dari capaian MDGs di Jawa Timur dibandingkan dengan angka Nasional,
Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Barat.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
154
GO
INDIKATOR
TARGET 2015
AL
PROV
PROV
JATENG
JATIM
1
2
3
4
1
Prevalensi
< 15 %
12,6 %
< 23/1000 KH
25,95
PROV
JABAR
5
6
12,9 %
13,5%
Gizi Kurang
4
AKB
/
1000 KH
5
AKI
< 102 / 100.000
97,43
KH
100.000
/
10,41/1000
KH
41,08 /
1000 KH
118,62/
100.000 KH
KH
6
< 0,5 %
Prevalensi
0,24 %
< 0,5 %
< 0,5 %
pengidap
HIV
6
< 1 per
API
1000
penduduk
0,2
per
1000
0,06/ 1000
Penddk
0,57/ 1000
penddk
penduduk
7
Jangkauan
akses
> 68,87 %
80,60%
78,55%
83,70%
> 62,51 %
70,6 %
76,11 %
74,10%
air
bersih
(berkualitas)
7
Jangkauan
akses
sanitasi
dasar
(jamban
sehat)*
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
155
Dari tabel diatas dapat terlihat bahwa secara umum capaian MDGs
(Millenium Development Globals) di bidang Kesehatan di ke 3 (tiga )
Provinsi dibandingkan angka Nasional mengalami kemajuan yang cukup
significan (bermakna). Jika dibandingkan antar Provinsi , maka Capaian
Program MDGs di ke tiga Provinsi terbesar di Indonesia ini hampir sama.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
156
BAB IV
PENUTUP
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Dinas Kesehatan (LAKIP)
disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan pada tahun
2013 sebagai bahan pengambilan keputusan dalam perencanaan tahun
berikutnya. Dari hasil evaluasi terhadap kinerja Dinas Kesehatan Provinsi
Jawa Timur dapat disimpulkan bahwa sasaran-sasaran pada tiap-tiap
tujuan yang ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) dikategorikan Sangat Baik ,karena nilai capaiannya
diatas standar penilaian skala ordinal sebagai komitmen kinerja.
Berdasarkan uraian capaian Kinerja sasaran yang merupakan
capaian kinerja dari pengukuran Indikator Kinerja Utama atau Indikator
Kinerja Sasaran dan RENSTRA Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
tahun 2009-2014, yang merupakan capaian sasaran pada setiap tujuan
dalam mencapai Misi dan Visi , dapat diuraikan sebagai berikut :
TUJUAN 1
: Terwujudnya
mutu
berkembangnya
kewilayahan,
lingkungan
sistem
serta
yang
kesehatan
menggerakkan
lebih
sehat,
lingkungan
pembangunan
berwawasan kesehatan mendapat predikat nilai Sangat
Baik (rata-rata capaian sebesar 105,1%). Hal ini terbukti
dari hasil pengukuran Sasaran yang diukur melalui 2
(dua) Indikator, capaiannya diatas target .
TUJUAN 2
: Keberdayaan Individu, Keluarga dan Masyarakat agar
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
157
mampu Menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS)
serta
Berkembangnya
Upaya
Kesehatan
Berbasis Masyarakat (UKBM) mendapat predikat nilai
Sangat Baik (rata-rata capaian sebesar 111,8%). Hal ini
terbukti
dari hasil pengukuran 1 (satu) sasaran yang
diukur melalui 3 (tiga) Indikator, capaiannya 3 (tiga)
indikator diatas target
TUJUAN 3
: Meningkatnya
akses,
pemerataan
dan
kualitas
pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Balai
Kesehatan, Puskesmas dan jaringannya mendapatkan
nilai Baik ; dengan capaian 114,92 dan 73,4, sehingga
rata-rata capaian sebesar 94,16 %. Hal ini terbukti dari
hasil pengukuran 2 (dua) Sasaran yang diukur melalui
14 (empatbelas) Indikator,capaiannya 10 (sepuluh)
indikator diatas target dan terdapat 4 (empat) indikator
yang dibawah target.
TUJUAN 4
:
Meningkatnya Kesadaran Gizi Keluarga dalam Upaya
Meningkatkan Status Gizi Masyarakat dijabarkan ke
dalam Sasaran yaitu Meningkatnya
Perbaikan Gizi
Masyarakat, mendapat nilai rata-rata >100% dengan
capaian kinerja adalah Sangat Baik. Hal ini terbukti
dari hasil pengukuran 1 (satu) Sasaran yang diukur
melalui 3 (tiga) Indikator, capaiannya adalah >100
sehingga memenuhi target
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
158
TUJUAN 5
Terjaminnya Ketersediaan , Pemerataan, Pemanfaatan,
Mutu , Keterjangkauan Obat dan Perbekalan Kesehatan
serta Pembinaan Mutu Makanan yang dijabarkan ke
dalam Sasaran yaitu Meningkatnya Pengelolaan Obat ,
Perbekalan
Kesehatan
dan
Makanan
mendapat
predikat nilai Baik (rata-rata capaian sebesar 85,2%).
Hal ini terbukti dari hasil pengukuran 1 (satu) Sasaran
yang
diukur melalui 4 (empat) Indikator. Walaupun
hasil capaian adalah baik, tetapi output capaian dari 4
(empat) indikator tersebut, masih belum mencapai
target yang diharapkan. Hal ini terutama disebabkan
karena : ketersediaan obat (buffer stock) yang belum
optimal dan
kekosongan nasional
thd obat yang
dibutuhkan; disamping jumlah dan kapasitas SDM
pengelola pelayanan kefarmasian yang belum sesuai
dng kebutuhan atau belum optimal.
TUJUAN 6
Berkembangnya Kebijakan, Sistem Pembiayaan dan
Manajemen Pembangunan Kesehatan dijabarkan ke
dalam Sasaran yaitu Berkembangnya Kebijakan dan
regulasi
bidang
Kesehatan,
Sistem
Informasi
Kesehatan dan Hukum Kesehatan serta Pembiayaan
Kesehatan predikat nilai Baik (rata-rata capaian
sebesar 95,8%. Hal ini terbukti dari hasil pengukuran
1 (satu) Sasaran yang diukur melalui 3 (tiga) Indikator.
Pada tujuan ini, capaian dari 3 (tiga) indikator diatas
belum seluruhnya mencapai target yang diharapakan,
terutama terkait dengan jumlah masyarakat miskin
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
159
yang bisa tercover oleh Jamkesda. Hal ini terutama
disebabkan karena :
1. Masih terdapat masyarakat miskin yang tidak
memiliki jaminan kesehatan baik Jamkesmas
maupun
Jamkesda;
disebabkan
pendataan
jumlah maskin yang belum optimal.
2. Mudahnya masyarakat mengurus SPM/SKTM/SKM
menjadikan kepesertaan dalam Jamkesda tidak
terkendali
3. Sistem rujukan terstruktur dan berjenjang belum
berjalan secara optimal
TUJUAN 7
Terwujudnya
pencegahan,
penurunan
dan
pengendalian Penyakit Menular dan Tidak menular
serta Masalah Kesehatan Lainnya; maka ditetapkan
Sasaran
sebagai
berikut
:
Menurunnya
Angka
Kesakitan dan Kematian Penyakit Menular dan Tidak
Menular dan Penyakit-Penyakit yang dapat dicegah
dengan Imunisasi serta Pengamatan penyakit dalam
rangka
Sistem
Kewaspadaan
Dini
dan
Penanggulangan KLB/Wabah, ancaman epidemi serta
Bencana. Untuk Tujuan ini
adalah
Sangat
Baik
predikat nilai capaian
(rata-rata
capaian
sebesar
> 100%). Hal ini terbukti dari hasil pengukuran 1 (satu)
Sasaran yang
diukur melalui 8 (delapan) Indikator,
secara keseluruhan atau 6 (enam) dari 8 (delapan)
indikator tsb, hanya 2 (dua) diantaranya adalah
dibawah target yg diharapkan.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
160
Hal ini disebabkan karena :
1) Belum semua penderita yang diobati dilakukan
pemeriksaan
POD
(Prevention
of
Disability)
secara rutin
2). RS Rujukan ODHA dan Layanan terkait HIV sudah
meningkat namun masih terbatas, sehingga akses
layanan masih terbatas.
TUJUAN 8
Meningkatnya Jumlah, jenis, mutu dan penyebaran
tenaga kesehatan sesuai standar maka ditetapkan
Sasaran sebagai berikut : Meningkatnya Jumlah, jenis,
mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai
standar. Mendapat predikat nilai capaian Sangat Baik
(rata-rata capaian sebesar 125%). Hal ini terbukti dari
hasil pengukuran 1 (satu) Sasaran yang diukur melaluI
4 (empat) Indikator, capaiannya diatas
Di antara capaian 8 (delapan) Tujuan pembangunan kesehatan
pada Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Timur sebanyak 3 (tiga) Tujuan
masih memperoleh nilai Baik sehingga perlu ditingkatkan pada tahuntahun mendatang agar memperoleh nilai Sangat Baik yaitu :
1. Meningkatnya akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan
melalui Rumah Sakit, Balai Kesehatan, Puskesmas dan jaringannya
2. Terjaminnya Ketersediaan , Pemerataan, Pemanfaatan, Mutu ,
Keterjangkauan Obat dan Perbekalan Kesehatan serta Pembinaan Mutu
Makanan
3. Berkembangnya Kebijakan, Sistem Pembiayaan dan Manajemen
Pembangunan Kesehatan , terutama yang menyangkut indikator
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
161
Persentase
Penduduk
yang
memiliki
Jaminan
Pemeliharaan
Kesehatan (tercover)
Masalah yang menjadi perhatian bagi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Timur pada tahun 2014 adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan
melalui upaya promotif dan preventif , terutama dalam rangka
menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi; serta
meningkatkan Umur Harapan Hidup (AHH) melalui beberapa Program
prioritas Gubernur antara lain :
1. Peningkatan kualitas Puskesmas dan Jaringannya di 960 Puskesmas di
Jawa Timur
2. Perluasan fungsi Polindes menjadi Ponkesdes di seluruh Jawa Timur
3. Peningkatan Coverage kepesertaan BPJS melalui Program JKN
4. Peningkatan kualitas rujukan dalam rangka memberikan pelayanan
kesehatan yang optimal di seluruh sarana kesehatan yang ada di Jawa
Timur
5. Pembentukan Taman Posyandu , sebagai bagian dari upaya promosi
kesehatan dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
Lakip 2013 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
162
DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR
RENCANA STRATEGIS
TAHUN 2009 S/D 2014
MASYARAKAT JAWA TIMUR MANDIRI UNTUK HIDUP SEHAT
MISI 1
Tujuan
: Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan
: Terwujudnya Mutu Lingkungan Yang Lebih Sehat , Pengembangan Sistem Kesehatan Lingkungan Kewilayahan serta Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan
No
Indikator Tujuan
1 Persentase penduduk yang
dapat mengakses lingkungan
yang sehat dan bermutu sesuai
dengan standar
Rumus
Jumlah penduduk yg telah memiliki akses
sanitasi dasar (jamban) dan air bersih yg
memenuhi standar dalam satu
wilayah/Jumlah penddk seluruhnya di
wilayah tertentu x 100 %
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
52
71
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
1
Meningkatnya Kualitas Air
Bersih, Sanitasi Dasar,
Higienen Sanitasi Makanan
Minuman serta Kualitas
Kesehatan Lingkungan
Indikator
Rumus
2
1 Persentase Akses Sanitasi
Dasar yang memenuhi standar
3
Jumlah penduduk yg telah memiliki akses
sanitasi dasar (jamban) yg memenuhi
standar dalam satu wilayah/Jumlah penddk
seluruhnya di wilayah tertentu x 100 %
2. Persentase Akses terhadap
kualitas Air Bersih yang
memenuhi standar
Jumlah penduduk di wilayah tertentu yang
memiliki akses thd sarana air minum yg
layak/jumlah seluruh penddk di wilayah
tertentu x 100 %
Kondisi Awal
2009
4
51,9
2010
5
62
65
67
Target Tahun
2011
2012
6
7
65
68
70
72
2013
8
69
2014
9
70
74
75
Strategi Kebijakan
10
Pemantapan
Pembangunan
Berwawasan
Kesehatan dan
Peningkatan
Lingkungan Sehat
Ket
Program
11
Program
Pengembangan
Lingkungan Sehat
12
MISI 2
Tujuan 2.1.
: Mendorong Terwujudnya Kemandirian Masyarakat Untuk Hidup Sehat
: Keberdayaan Individu, Keluarga dan Masyarakat agar mampu Menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
No
Indikator Tujuan
Rumus
1 Persentase Rumah Tangga ber Jumlah RT Sehat/Jumlah Rumah Tangga
PHBS
yang dikaji x 100%
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
32,9
70
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Kondisi Awal
2009
4
32.9
2010
5
50
Jumlah Posyandu dengan Strata Purnama
Mandiri/Jumlah seluruh Posyandu x100 %
40
43
46
Jumlah Desa Siaga Aktif di suatu wilayah
kerja dlm kurun waktu tertentu/Jumlah
Seluruh Desa di suatu wilayah kerja dlm
kurun waktu yang sama x 100 %
50
55
60
Uraian
Indikator
Rumus
1
Meningkatnya pengetahuan
dan kesadaran untuk
berperilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) serta
keberdayaan masyarakat
melalui Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) ke arah kemandirian
2
1 Persentase Rumah Tangga berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS)
2 Persentase Posyandu Ber-Strata
PURI ( Purnama Mandiri)
3
Jumlah Rumah Tangga Sehat /Jumlah
Rumah Tangga yang Dikaji x 100 %
3 Persentase Desa Siaga Aktif
Target Tahun
2011
2012
6
7
55
60
2013
8
65
2014
9
70
48
50
52
65
70
75
Strategi Kebijakan
10
Pengembangan
Upaya Kesehatan
Berbasis Masyarakat
(UKBM)
Ket
Program
11
Program Promosi
Kesehatan dan
Pemberdayaan
Masyarakat
12
Misi 3
Tujuan 3.1.
: Mewujudkan, Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata dan Terjangkau
: Meningkatnya Akses, Pemerataan dan Kualitas Pelayanan Kesehatan melalui Rumah Sakit , Balai Kesehatan, Puskesmas dan Jaringannya
No
Indikator Tujuan
Rumus
1 Ratio Puskesmas per 100,000
penduduk
Jumlah seluruh Puskesmas pada kurun
waktu tertentu /100.000 penduduk pada
kurun waktu yang yang sama
2 Angka Kematian Bayi Per 1000 Jumlah seluruh kematian bayi (0-11 bln) di
Kelahiran Hidup (KH)
satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu/Jumlah kelahiran hidup di wilayah
kerja pada kurun waktu yang sama x 1.000
kelahiran hidup
3 Angka Kematian Ibu per 100.000 Jumlah seluruh kematian ibu pada masa
Kelahiran Hidup (KH)
hamil hingga nifas yang berkaitan dgn
kehamilan & persalinan di satu wilayah
kerja pada kurun waktu tertentu/Jumlah
kelahiran hidup di satu wilayah kerja pada
kurun waktu yang sama x 100.000
kelahiran hidup
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
2,51
2
31,41
29,5
90,7
80
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
Indikator
1
2
1. Meningkatnya akses dan
1 Angka Kematian Bayi Per 1000
mutu pelayanan kesehatan
Kelahiran Hidup (KH)
ibu, bayi, anak, remaja, lanjut
usia, kesehatan reproduksi,
serta pelayanan kesehatan
2 Angka Kematian Ibu per 100.000
dasar di Puskesmas dan
Kelahiran Hidup (KH)
Jaringannya, Balai Kesehatan
dan Pelayanan Kesehatan
Penunjang
Rumus
3
Jumlah seluruh kematian bayi (0-11 bln) di
satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu/Jumlah kelahiran hidup di wilayah
kerja pada kurun waktu yang sama x 1.000
kelahiran hidup
Jumlah seluruh kematian ibu pada masa
hamil hingga nifas yang berkaitan dgn
kehamilan & persalinan di satu wilayah
kerja pada kurun waktu tertentu/Jumlah
kelahiran hidup di satu wilayah kerja pada
kurun waktu yang sama x 100.000
kelahiran hidup
3 Persentase Kunjungan Neonatal Jumlah neonatus yang mendapat
(KN) Lengkap
pelayanan 6-28 jam setelah lahir/ jumlah
bayi dalam 1 tahun x 100%
4 Persentase
Pertolongan Jumlah pertolongan persalinan oleh
Persalinan
oleh
tenaga nakes/jumlah sasaran ibu bersalin dalam 1
kesehatan (Linakes)
tahun x 100 %
Kondisi Awal
2009
Target Tahun
Strategi Kebijakan
4
31.41
2010
5
31.5
2011
6
31
2012
7
30.5
2013
8
30
2014
9
29.5
90,7
82
81.5
81
80.5
80
93.85
94
95
95
95
95
92.96
92
93
94
94
95
10
Percepatan
penurunan kematian
ibu dan anak.
Ket
Program
11
Program Upaya
Kesehatan
Masyarakat (UKM)
12
5 Persentase Kunjungan Bayi
Jumlah bayi memperoleh pelayanan
kesehatan sesuai standar/ jumlah bayi
dalam 1 tahun x 100%
6 Persentase Kunjungan Ibu Hamil jumlah kunjungan ibu hamil ke-4/ jumlah
(K4)
sasaran ibu hamil dalam setahun x 100%
80.52
85
86
87
88
90
85.9
90
91
92
93
94
7 Persentase capaian Peserta KB Jumlah peserta KB aktif/juml PUS di
Aktif
wilayah kerja yg sama x 100 %
8 Persentase Puskesmas yg ada Jumlah Puskesmas yg menjadi rawat inap
menjadi Puskesmas Rawat Inap standar/jumlah seluruh puskesmas rawat
Standar
inap x 100 %
9 Persentase Puskesmas Rawat Jumlah Puskesmas Ranap menjadi
Inap yg ada menjadi Puskesmas Puskesmas Ranap PLUS/Jml seluruh
Rawat Inap PLUS
Puskesmas rawat inap x 100 %
62.05
68
69
69
70
70
0
3
8
16
24
24
0
3
8
16
24
24
10
20
25
35
40
50
0
3
6
8
10
10
0
31
41
64
78
78
55
60
65
70
75
80
50
55
60
65
70
70
10 Persentase Puskesmas PONED Jumlah Puskesmas PONED yg sesuai
sesuai Standar
dengan standar/Jumlah seluruh Puskesmas
PONED x 100 %
11 Persentase Pustu yang menjadi Jumlah Pustu yg layani gadar/jml seluruh
Pustu layani Gawat Darurat dan Pustu x 100 %
Observasi
12 Persentase
Polindes yang Jumlah Ponkesdes sesuai standar/Jumlah
berkembang menjadi Ponkesdes seluruh Polindes x 100 %
sesuai Standar
2. Meningkatkatnya
1 Persentase
Rumah
Sakit Jumlah RS PONEK sesuai standar/Jumlah
jangkauan dan kualitas
Pemerintah menyelenggarakan seluruh RS x 100 %
pelayanan kesehatan dengan
Pelayanan Obstetri Neonatal
kemampuan pelayanan
Emergency
Komprehensif
kesehatan gawat darurat
(PONEK) sesuai standar
yang bisa diakses
masyarakat dan prasarana
2 Persentase Rumah Sakit yang Jumlah RS yang terakreditasi 5 pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit,
terakreditasi 5 pelayanan dasar dasar/Jumlah seluruh RS x 100 %
Rumah Sakit Khusus dan
Balai Kesehatan
Peningkatan akses
dan kualitas
pelayanan
kesehatan terutama
bagi masyarakat
miskin, daerah
tertinggal, terpencil,
perbatasan dan
kepulauan
Program Upaya
Kesehatan
Perorangan (UKP)
MISI 3
Tujuan 3.2.
: Mewujudkan, Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata dan Terjangkau
: Meningkatnya Kesadaran Gizi Keluarga Dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Masyarakat
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
1 Persentase
penurunan Jumlah Balita Kurang Gizi /Jumlah Balita di
17,03
16,8
Prevalensi Kurang Gizi pada wilayah kerja tertentu x 100 %
Balita
No
Indikator Tujuan
Rumus
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
1
Meningkatnya Keluarga
Sadar Gizi dan Perbaikan
Gizi Masyarakat
Indikator
2
Rumus
3
1 Persentase Balita Dipantau Jumlah balita yang ditimbang berat
Pertumbuhannya
badannya di wilker ttt/jumlah seluruh balita
yg ada di wilayah kerja ttt x100 %
2 Persentase Balita dengan Gizi Jumlah Balita Gizi Buruk/Jumlah Balita x
Buruk
100 %
3 Persentase Balita dengan Gizi Jumlah Balita Kurang Gizi /Jumlah Balita di
Kurang
wilayah kerja ttt x 100 %
Kondisi Awal
2009
4
64,6
Target Tahun
2011
2012
6
7
70
75
2010
5
5
4,33
4
3,5
12,7
15,50
15,30
2013
8
80
2014
9
85
3
2,5
2
15,10
15
14,80
Strategi Kebijakan
Ket
Program
10
11
Penanganan masalah Program Perbaikan
gizi kurang dan gizi
Gizi Masyarakat
buruk pada bayi,
anak balita,ibu hamil
dan menyusui
12
MISI 3
Tujuan 3.3.
: Mewujudkan, Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata dan Terjangkau
: Terjaminnya Ketersediaan, Pemerataan ,Pemanfaatan, Mutu, Keterjangkauan Obat dan Perbekalan Kesehatan serta Pembinaan Mutu Makanan
No
Indikator Tujuan
1 Persentase obat sesuai
kebutuhan tersedia
Rumus
Jumlah obat yang Tersedia/Jumlah Obat
yang Dibutuhkan x100 %
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
65
95
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
1
Meningkatnya pengelolaan
obat, perbekalan kesehatan
dan makanan
Indikator
Rumus
2
1 Persentase obat sesuai
kebutuhan tersedia di
Kabupaten/Kota
3
Jumlah obat yang Tersedia/Jumlah Obat
yang Dibutuhkan x100 %
2 Persentase Ketersediaan Obat
dan Alat Kesehatan untuk
Penanggulangan Bencana dan
KLB
3 Persentase Sarana Pelayanan
Kesehatan yang menerapkan
Pelayanan Kefarmasian Sesuai
Standar
Jumlah Obat dan Alkes Pakai Habis yang
Tersedia untuk Bencana/Jumlah Obat dan
Alkesyang Dibutuhkan untuk Bencana x
100 %
Jumlah Sarana Pelayanan yang Diawasi
yang Memenuhi Standar/Jumlah Sarana
Pelayanan yang Diawasi x 100 %
Kondisi Awal
2009
4
65
Target Tahun
2011
2012
6
7
85
90
2010
5
70
85
85
87
30
30
30
2013
8
95
2014
9
95
87
90
90
40
50
60
Strategi Kebijakan
10
Pemenuhan
Ketersediaan dan
Pengendalian Obat,
Perbekalan
Kesehatan dan
Makanan
Ket
Program
11
Program Obat dan
Perbekalan
Kesehatan
12
MISI 3
Tujuan 3.4.
: Mewujudkan, Memelihara dan Meningkatkan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu, Merata dan Terjangkau
: Berkembangnya Kebijakan, Sistem Pembiayaan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan
No
Indikator Tujuan
1 Persentase Penduduk yang
Telah Terjamin pemeliharaan
Kesehatan dengan Sistem
Jaminan Kesehatan
Rumus
Jumlah Penduduk yang memiliki Jaminan
Kesehatan/Jumlah Penduduk x 100 %
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
30
70
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
1
Mengembangkan kebijakan
dan regulasi bidang
kesehatan, sistem informasi
kesehatan dan hukum
kesehatan serta pembiayaan
kesehatan
Indikator
2
1 Persentase Penduduk yang
Telah Terjamin pemeliharaan
Kesehatan dengan Sisitem
Jaminan Kesehatan
Rumus
3
Jumlah Penduduk yang memilili Jaminan
Kesehatan/Jumlah Penduduk x 100 %
2. Persentase pengelolaan Sistem Jumlah Terlaksananya Pengelolaaan SIK di
Informasi Kesehatan (SIK)
Kabupaten/Kota/Jumlah Kabupaten/Kota
sesuai dengan standar
yang ada x 100 %
Kondisi Awal
2009
4
30
100
2010
5
40
Target Tahun
2011
2012
6
7
50
55
2013
8
60
2014
9
70
100
100
100
100
100
Strategi Kebijakan
10
Peningkatan
Pembiayaan
Kesehatan dan
Pengembangan
Kebijakan dan
Manajemen
Kesehatan
Ket
Program
11
Program Kebijakan
dan Manajemen
Pembangunan
Kesehatan
12
MISI 4
Tujuan
: Meningkatkan Upaya Pengendalian Penyakit dan Penanggulangan Masalah Kesehatan
: Terwujudnya pencegahan, penurunan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan lainnya
No
Indikator Tujuan
Rumus
1 Persentase ODHA yang
mendapatkan ART
Jumlah ODHA yang telah mendapatkan
ART dibagi Jumlah ODHA yang seharusnya
mendapatkan ART x 100 %
3 Angka Keberhasilan Pengobatan Jumlah penderita baru BTA positif yang
TB
hasil pengobatannya sembuh dan
Pengobatan lengkap dibagi Jumlah
penderita baru BTA positif yang diobati x
100 %
5 Persentase capaian UCI Desa Jumlah desa yang ≥80% bayinya telah
mendapatkan imunisasi dasar lengkap
/Jumlah desa seluruhnya x 100 %
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
80
80
90
90
70
80
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
Indikator
1
Menurunnya angka kesakitan
dan kematian penyakit
menular, tidak menular dan
penyakit-penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi
serta pengamatan penyakit
dalam rangka sistem
kewaspadaan dini dan
penanggulangan KLB/wabah,
ancaman epidemi serta
bencana
2
1 Angka Kesakitan DBD per
100.000 penduduk
2 Persentase Korban Bencana
Skala Provinsi Tertangani
Sesuai Standar
3 Angka Keberhasilan Pengobatan
TB
4 Persentase Pelaksanaan
Program Pemberantasan Diare
sesuai standar
5 Persentase Capaian UCI Desa
6 Persentase Penderita Kusta
Telah Menyelesaikan
Pengobatan Sesuai Standar
Rumus
3
Jumlah Kasus DBD dan DSS/Jumlah
penduduk x 100.000
Jumlah seluruh korban bencana /Jumlah
korban yang ditangani x 100 %
Jumlah penderita baru BTA positif yang
hasil pengobatannya sembuh dan
Pengobatan lengkap/Jumlah penderita
baru BTA positif yang diobati x 100 %
Jumlah penderita Diare yang ditemukan
dan diobati/10 % perkiraan penderita diare
(Angka Kesakitan per 1.000 X Jumlah
penduduk )
Jumlah desa yang ≥80% bayinya telah
mendapatkan imunisasi dasar lengkap
/Jumlah desa seluruhnya x 100 %
Jumlah Penderita Kusta baru yang RFT dlm
periode waktu tertentu/Jumlah Penderita
Kusta baru yang ditemukan di tahun yang
sama x 100 %
Kondisi Awal
2009
4
55
2010
5
55
Target Tahun
2011
2012
6
7
54
53
2013
8
52
2014
9
51
100
100
100
100
100
100
90
90
90
90
90
90
90
100
100
100
100
100
70
70
75
75
80
80
90
90
90
90
90
90
Strategi Kebijakan
10
Peningkatan
pencegahan,
surveilans, deteksi dini
penyakit menular,
penyakit tidak
menular,peny
potensial KLB/wabah
dan ancaman epidemi
yg diikuti dengan
pengobatan sesuai
standar serta
penanggulangan
masalah kesehatan
lainnya dan bencana
Ket
Program
11
Program
Pencegahan dan
Pemberantasan
Penyakit
12
penanggulangan
masalah kesehatan
lainnya dan bencana
7 Persentase ODHA yang
mendapatkan ART
8 Angka Capaian API (Annual
Parasite Index) Malaria permil
Jumlah ODHA yang telah mendapatkan
ART/Jumlah ODHA yang seharusnya
mendapatkan ART x 100 %
Jumlah Kasus malaria/Jumlah penduduk
yang beresiko x 100 %
80
80
80
80
80
80
<1‰
<1‰
<1‰
<1‰
<1‰
<1‰
MISI 5
: Meningkatkan dan Mendayagunakan Sumber Daya Kesehatan
Tujuan
: Meningkatnya Jumlah, Jenis , Mutu dan Penyebaran Tenaga Kesehatan Sesuai Standar
No
Indikator Tujuan
Rumus
1 Ratio Dokter per 100.000
Jumlah Dokter : 100.000 penduduk
penduduk
2 Ratio Tenaga Medis per 100.000 Jumlah Tenaga Medis : 100.000 penduduk
penduduk
Kondisi Awal Target Tahun
2009
2014
10,61
40
20
57
Cara Mencapai
Tujuan dan
sasaran
Sasaran
Uraian
Indikator
Rumus
1
Meningkatnya Jumlah, Jenis,
Mutu dan Penyebaran
Tenaga Kesehatan Sesuai
Standar
2
1 Persentase Bidan PTT
mendapatkan Sertifikat
2 Persentase Ponkesdes memiliki
Tenaga Perawat
3 Persentase Desa/Kelurahan
mempunyai Bidan di Desa
3
Jumlah Bidan yang telah memiliki
sertifikat/jumlah seluruh bidan x 100 %
Jumlah Ponkesdes yang telah memiliki
Perawat/Jumlah Ponkesdes x 100 %
Jumlah desa/kelurahan yang mempunyai
Bidan Desa/jumlah seluruh desa x 100 %
4 Persentase Tenaga Kesehatan
yang Lulus Uji Kompetensi Berizin
5 Ratio Dokter per 100.000
penduduk
Jumlah Tenaga Kesehatan yang lulus uji
kompetensi ber_izin/Jumlah seluruh tenaga
kesehatan x 100 %
Jumlah Dokter/100.000 penduduk
Kondisi Awal
2009
4
100
2010
5
100
Target Tahun
2011
2012
6
7
100
100
2013
8
100
2014
9
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
10
20
40
60
80
100
10,61
40
40
40
40
40
Strategi Kebijakan
Program
10
Penyediaan Tenaga
Kesehatan di Rumah
Sakit, Balai
Kesehatan,
Puskesmas dan
Jaringannya serta
Mendayagunakan
Tenaga Kesehatan
yang Kompeten
sesuai Kebutuhan
11
Program
Pemberdayaan
Sumber Daya
Kesehatan
Ket
12
PENGUKURAN PENETAPAN KINERJA DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013
TARGET
2013
2009
2010
2011
2012
2013
4
1 Persentase Akses Sanitasi
Dasar yang Memenuhi
Standar
2 Persentase Akses terhadap
kualitas Air Bersih yang
memenuhi standar
5
58
6
51.07
7
53.43
8
56.76
9
68.8
10
71.12
CAPAIAN
2013
(%)
11
123%
62
53.92
54.6
62.75
70.5
80.6
130%
2 Keberberdayaan
1 Meningkatnya
1 Persentase Rumah Tangga
individu, keluarga
pengetahuan dan
ber-Perilaku Hidup Bersih
dan masyarakat agar
kesadaran untuk
dan Sehat (PHBS)
mampu
berperilaku hidup bersih
menumbuhkan
dan sehat (PHBS) serta
2 Persentase Posyandu BerPerilaku Hidup
keberdayaan masyarakat
Strata PURI (Purnama
Bersih dan Sehat
melalui Upaya Kesehatan
Mandiri)
(PHBS) serta
Bersumberdaya
3 Persentase Desa Siaga
mengembangkan
Masyarakat (UKBM) ke
Aktif
Upaya Kesehatan
arah kemandirian
Berbasis Masyarakat
(UKBM)
65
32.87
38.24
36.72
46.11
47.48
73%
50
43.3
50.29
52.68
60.28
62.37
125%
70
59.97
76.34
80.53
89.4
95.5
136%
30
31.41
29.99
29.24
25.95
28.31
94%
2 Angka kematian ibu
melahirkan per 100.000
kelahiran hidup
3 Persentase
Kunjungan
Neonatal (KN) Lengkap
4 Persentase Pertolongan
Persalinan oleh tenaga
kesehatan (Linakes)
80.5
90.7
101.4
104.3
97.43
97.39
121%
95
93.8
94.93
95.82
95.71
97.06
102%
94
92.96
95.04
95.95
97.14
92.04
98%
5 Persentase
Kunjungan
Bayi
6 Persentase Kunjungan Ibu
Hamil (K4)
7 Persentase
capaian
Peserta KB Aktif
8 Persentase
Puskesmas
yang
ada
menjadi
Puskesmas Rawat Inap
Standar
9 Persentase
Puskesmas
Rawat Inap yg ada menjadi
Puskesmas Rawat Inap
PLUS
10 Persentase
Puskesmas
PONED sesuai Standar
11 Persentase Pustu yang
menjadi Pustu layani
Gawat
Darurat
dan
Observasi
12 Persentase Polindes yang
berkembang
menjadi
Ponkesdes sesuai Standar
88
97.4
89.55
93.06
94.1
94.83
108%
93
85.9
88.07
88.25
84.38
87.35
94%
70
70.9
69.25
71.15
71.02
66.02
94%
24
0
3
15.61
22.22
93%
24
0
2.12
7.41
11.38
12.7
53%
40
100
100
100
51
50
125%
10
0
1.1
4.63
6.17
7.7
77%
78
0
27.88
40.1
48.97
55.79
72%
NO
TUJUAN
1
2
1 Terwujudnya mutu
lingkungan yang
lebih sehat,
pengembangan
sistem kesehatan
lingkungan
kewilayahan, serta
menggerakkan
pembangunan
berwawasan
kesehatan
SASARAN STRATEGIS
3
1 Meningkatnya kualitas air
bersih, sanitasi dasar,
higiene sanitasi makanan
minuman serta kualitas
kesehatan lingkungan
3 Meningkatnya akses, 1 Meningkatnya akses dan
pemerataan dan
mutu pelayanan
kualitas pelayanan
kesehatan ibu, bayi,
kesehatan melalui
anak, remaja, lanjut usia,
Rumah Sakit, Balai
kesehatan reproduksi,
Kesehatan,
serta pelayanan
Puskesmas dan
kesehatan dasar di
jaringannya
Puskesmas dan
Jaringannya, Balai
Kesehatan dan
Pelayanan Kesehatan
Penunjang
INDIKATOR KINERJA UTAMA
1 Angka Kematian Bayi per
1.000 kelahiran hidup
REALISASI
7.67
NO
TUJUAN
SASARAN STRATEGIS
1
2
3
2 Meningkatkatnya
jangkauan dan kualitas
pelayanan kesehatan
dengan kemampuan
pelayanan kesehatan
gawat darurat yang bisa
diakses masyarakat dan
prasarana kesehatan di
Rumah Sakit, Rumah
Sakit Khusus dan Balai
Kesehatan
4 Meningkatnya
kesadaran gizi
keluarga dalam
upaya meningkatkan
status gizi
masyarakat
1 Meningkatnya Perbaikan
Gizi Masyarakat
5 Terjaminnya
ketersediaan,
pemerataan,
pemanfaatan, mutu,
keterjangkauan obat
dan perbekalan
kesehatan serta
pembinaan mutu
makanan
1 Meningkatnya
Pengelolaan Obat
Perbekalan Kesehatan
dan Makanan
6 Berkembangnya
kebijakan, sistem
pembiayaan dan
manajemen
pembangunan
kesehatan
1 Berkembangnya
kebijakan dan regulasi
bidang kesehatan, sistem
informasi kesehatan dan
hukum kesehatan serta
pembiayaan kesehatan
TARGET
2013
2009
2010
2011
2012
2013
4
1 Persentase Rumah Sakit
Pemerintah
menyelenggarakan
Pelayanan Obstetri
Neonatal Emergency
Komprehensif (PONEK)
sesuai standar
2 Persentase Rumah Sakit
yang
terakreditasi
5
pelayanan dasar
5
75
6
36
7
60
8
75
9
80
10
85
CAPAIAN
2013
(%)
11
113%
70
62
62
90
95
95
136%
1 Persentase Balita Dipantau
Pertumbuhannya
80
71.9
75.3
75.9
73.4
74.7
93%
2 Persentase Balita dengan
Gizi Buruk
3 Prevalensi balita dengan
gizi kurang
2.5
2.7
2.5
2.4
2.3
2.2
88%
15
12.7
11.8
12.2
12.6
12.1
81%
1 Persentase obat sesuai
kebutuhan tersedia di
Kabupaten/Kota
95
65
70
87
92
94
99%
2
90
90
90
87
80
90
100%
3 Persentase Sarana
Pelayanan Kesehatan yang
menerapkan Pelayanan
Kefarmasian Sesuai
Standar
50
40
40
15
30
35
70%
1 Persentase Penduduk yang
Telah Terjamin
Pemeliharaan Kesehatan
dengan Sisitem Jaminan
Kesehatan
2 Persentase pengelolaan
Sistem Informasi
Kesehatan (SIK) sesuai
dengan standar
60
45.92
45.68
46.11
49.94
52.51
88%
100
100
100
100
100
100
100%
INDIKATOR KINERJA UTAMA
Persentase Ketersediaan
Obat dan Alat Kesehatan
untuk Penanggulangan
Bencana dan KLB
REALISASI
NO
TUJUAN
TARGET
2013
2009
2010
2011
2012
2013
5
52
6
50.8
7
68.53
8
15.1
9
21.72
10
39.5
CAPAIAN
2013
(%)
11
76%
100
100
100
100
100
100
100%
90
90
90
91
91
90
100%
100
56
65
60
63
94.71
95%
5 Cakupan Desa/Kelurahan
Universal Child
Immunization (UCI)
95
80.01
81.2
54.62
73.06
86.31
91%
6 Persentase Penderita
Kusta Telah Menyelesaikan
Pengobatan Sesuai
Standar
90
90.1
90.6
87.4
88.9
88.6
98%
7 Persentase ODHA
mendapat ART
8 Angka Capaian API
(Annual Parasite Index)
Malaria permil
80
69.7
65.9
67.8
70.7
73.7
92%
<1‰
0.33
0.18
0.24
0.12
0,03
100%
1 Persentase Bidan PTT
mendapatkan Sertifikat
100
100
100
100
100
100
100%
2 Persentase Ponkesdes
memiliki Tenaga Perawat
100
100
100
100
100
100
100%
3 Persentase
Desa/Kelurahan
mempunyai Bidan di Desa
100
100
100
100
100
100
100%
4 Persentase Tenaga
Kesehatan yang Lulus Uji
Kompetensi Ber-izin
5 Ratio Dokter per 100.000
Penduduk
80
80
85.85
100
100
68.97
86%
40
10
11
14
15
16
40%
SASARAN STRATEGIS
INDIKATOR KINERJA UTAMA
1
2
3
7 Terwujudnya
1 Menurunnya angka
pencegahan,
kesakitan dan kematian
penurunan dan
penyakit menular, tidak
pengendalian
menular dan penyakitpenyakit menular dan
penyakit yang dapat
tidak menular serta
dicegah dengan
masalah kesehatan
imunisasi serta
lainnya
pengamatan penyakit
dalam rangka sistem
kewaspadaan dini dan
penanggulangan
KLB/wabah, ancaman
epidemi serta bencana
4
1 Angka Kesakitan DBD per
100.000 penduduk
2 Persentase Korban
Bencana Skala Provinsi
Tertangani Sesuai Standar
8 Meningkatnya
jumlah, jenis, mutu
dan penyebaran
tenaga kesehatan
sesuai standar
1 Meningkatnya Jumlah,
Jenis, Mutu dan
Penyebaran Tenaga
Kesehatan Sesuai
Standar
3 Angka Keberhasilan
Pengobatan TB
4 Persentase Pelaksanaan
Program Pemberantasan
Diare sesuai standar
REALISASI
Download