ARTIKEL ILMIAH IDENTIFIKASI PRILAKU SISWA MEMASUKI

advertisement
ARTIKEL ILMIAH
IDENTIFIKASI PRILAKU SISWA MEMASUKI MASA REMAJA
DI SMP NEGERI 7 MUARO JAMBI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana pada Program Studi
Bimbingan dan Konseling FKIP
Universitas Jambi
Oleh:
WIKE ARDINA
EA1D210010
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014
IDENTIFIKASI PRILAKU SISWA MEMASUKI MASA REMAJA
DI SMP NEGERI 7 MUARO JAMBI
Oleh:
WIKE ARDINA
NIM EA1D210010
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
Perubahan masa remaja adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan
fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual. Masa remaja dimana anak memasuki masa
pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan hingga sepuluh tahun
dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Masa pubertas adalah masa yang
sangat penting dalam pertumbuhan remaja, yang merupakan peralihan dari masa sekolah menuju
masa pubertas dan sering disebut masa pubertas awal, seorang anak telah mulai besar sudah
ingin berprilaku seperti orang dewasa tetapi dirinya belum siap. Perkembangan perilaku siswa
pada masa remaja ditandai dengan perubahan-perubahan akibat pubertas yaitu perubahan pada
perkembangan perilaku kognitif, sosioemosional, dan seksual. Bedasarkan pengalaman peneliti
pada saat melaksanakan praktek lapangan bimbingan konseling pada SMP N 7 Muaro Jambi,
peneliti melihat banyak siswa yang belum memiliki pola pikir sendiri dalam usaha
memecahkan masalah-masalah yang kompleks, kurang mampu dalam mengambil keputusan
sendiri, masih ditemui siswa yang kurang mampu dalam mengendalikan emosi dirinya, masih
ada juga siswa yang enggan terbuka terhadap masalah seputar seksual yang mereka hadapi saat
menghadapi pubertas.
Penelitian ini diarahkan pada identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja di SMP
Negeri 7 Muaro Jambi yang meliputi perkembangan perilaku kongnitif, perkembangan perilaku
sosioemosional, dan perkembangan seksual remaja. Adapun yang menjadi subjek penelitian
adalah siswa kelas IX yang berjumlah 85 siswa yang diambil dengan menggunakan teknik
penarikan simple random sampling. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
kuantitatif deskriptif yaitu memberikan gambaran tentang identifikasi perilaku siswa memasuki
masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa secara umum identifikasi perilaku siswa memasuki
masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi dimana sebagian (60.03%) siswa mengalami
perkembangan perilaku saat memasuki masa pubertas, dan secara khusus identifikasi perilaku
siswa memasuki masa remaja pada indikator perkembangan perilaku kongnitif dimana hampir
seluruhnya (87.32%) siswa mengalami perkembangan perilaku kongnitif, identifikasi perilaku
siswa memasuki masa remaja pada indikator perkembangan perilaku sosioemosional dimana
sebagian (60.09%) siswa mengalami perubahan perilaku sosioemosional, identifikasi perilaku
remaja memasuki masa pubertas pada indikator perkembangan perilaku seksual dimana sebagian
kecil (39.51%) siswa mengalami perilaku seksual.
Hasil penelitian ini memberikan masukan bagi sekolah sebagai masukan bagi sekolah
terutama SMP Negeri 7 Muaro Jambi mengenai prilaku remaja saat menghadapi masa pubertas,
kepada guru pembimbing sebagai pedoman dan bahan dalam rangka merencanakan layanan yg
akan di berikan kepada pelajar, dengan memberikan layanan informasi mengenai tahap
perkembangan remaja dan pemberian layanan lainnya, bagi orang tua siswa sebagai masukan
untuk mengetahui perkembangan remaja memasuki masa puber dan meningkatkan pengawasan
terhadap remaja yang memasuki masa pubertas. Dan bagi siswa Sebagai masukan agar siswa
siap dalam memasuki masa remaja baik kesiapan fisik maupun psikis remaja saat memasuki
masa puber.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa dimana dianggap sebagai masa topan badai dan stress
(Storm and Stress). Karena mereka telah memiliki keinginan bebas untuk menentukan
nasib sendiri, kalau terarah dengan baik maka ia akan menjadi seorang individu yang
memiliki rasa tanggungjawab, tetapi kalau tidak terbimbing maka bisa menjadi seorang
yang tak memiliki masa depan dengan baik. Seperti halnya dengan semua periode yang
penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang
membedakannya dengan periode sebelum dan sesudahnya.
Perilaku remaja terdiri dari perilaku kognitif, sosioemosional, dan seksual. Perilaku
kognitif merupakan suatu perilaku remaja yang ditandai dengan bagaimana pola berpikir
dari remaja itu. Sedangkan perilaku sosioemosianal merupakan suatu perilaku yang erat
kaitannya dengan emosi remaja dan bagaimana remaja berinteraksi dengan kehidupan
sosialnya. Perilaku seksual yakni suatu perilaku yang berkaitan erat dengan bagaimana
remaja tersebut berpacaran. Perilaku-perilaku tersebut tentunya berkaitan erat dengan masa
pubertas. Dimana masa tersebut merupakan masa tumbuh kembang yang dialami oleh semua
remaja.
Pada masa pubertas itulah perkembangan remaja perlu adanya pengontrolan diri dari
orang tua, masyarakat dilingkungan dimana mereka berada. Karena pada masa itu remaja
merasa semakin mampu dalam pengambilan keputusan. Remaja yang lebih tua lebih
kompeten dalam mengambil keputusan disbanding remaja yang lebih muda, dimana mereka
lebih kompeten daripada anak-anak. Kemampuan untuk mengambil keputusan tidak
menjamin kemampuan itu diterapkan, karena dalam kehidupan nyata, luasnya pengalaman
adalah penting. Remaja perlu lebih banyak peluang untuk mempraktekkan dan
mendiskusikan keputusan realistis. Dalam beberapa hal, kesalahan pengambilan keputusan
pada remaja mungkin terjadi ketika dalam realitas yang menjadi masalah adalah prientasi
masyarakat terhadap remaja dan kegagalan untuk memberi mereka pilihan-pilihan yang
memadai. Untuk itu sebagai orang tua, dan masyarakat harus mengenal remaja itu pada
tingkat perkembangan dalam masa pubertasnya.
Bedasarkan pengalaman peneliti pada saat melaksanakan praktek lapangan
bimbingan konseling pada SMP N 7 Muaro Jambi, peneliti melihat banyak siswa yang
belum memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang
kompleks, kurang mampu dalam mengambil keputusan sendiri, masih ditemui siswa yang
kurang mampu dalam mengendalikan emosi dirinya, masih ada juga siswa yang enggan
terbuka terhadap masalah seputar seksual yang mereka hadapi saat menghadapi pubertas.
Saat peneliti mencoba menanyakan kepada 15 siswa seputar tanda-tanda pubertas
yang mereka hadapi baik masalah kongnitif, emosional maupun masalah seksual, 9 siswa
menunjukkan reaksi tidak tahu, malu, sungkan, bahkan enggan bercerita tentang sikap
mereka saat memasuki masa pubertas dan 6 siswa lainnya sedikit mulai memahami
mengenai perkembangan masa puber, mereka terbuka serta mau berbagi pengalaman sikap
mereka saat memasuki masa pubertas.
Sebagian dari siswa menganggap masalah haid, mimpi basah dan tanda-tanda
pubertas lainnya merupakan sesuatu yang tabu dan tidak layak untuk dipublikasikan,dan
mereka beranggapan itu merupakan aib untuk diketahui orang lain, sehingga mereka kurang
mendapatkan informasi maupun pengetahuan tentang pubertas. Dan sebagian lagi diantara
mereka ada yang mau terbuka dan bertukar fikiran serta mencari informasi tentang ciri-ciri
dan larangan-larangan saat mengalami tanda awal pubertas.
Datangnya tanda-tanda kematangan jasmani seperti menstruasi, pinggul membesar,
kelenjar pada dada menjadi berisi pada remaja putri dan kematangan kelenjar kelamin yaitu
testes (buah zakar, klepir) untuk anak laki-laki mendapat tanggapan dan ekspresi yang
beragam dari remaja itu sendiri. Kurangnya pengetahuan dan informasi tentang kematangan
seksual tersebut tentu akan membuat remaja merasa takut, minder, malu, cemas, menangis
dan ekspresi lainnya pada saat mengalami perubahan pada bentuk tubuhnya.. Namun dengan
informasi dan pengetahuan yang benar serta didampingi oleh orang dewasa yang mengerti
dan paham tentu akan dapat mengantarkan remaja yang dalam masa pra pubertas atau
pubertas awal menjadi pribadi yang siap saat menghadapi tahap demi tahap dalam masa
pertumbuhan dan perkembangannya. dan kesiapan itu ditandai dengan prilaku siswi yang
tenang, semangat dan energik sesuai dengan pertumbuhannya sebagai remaja. Karena
perbuatan sikap dan prilaku anak seperti perubahan cara bicara, cara tertawa, jalannya, cara
berpakaian dan lain-lain juga merupakan salah satu wujud dari hasil perkembangan anak
yang berupa tanda-tanda tersier bagi wanita dan perubahan mimik jika berbicara, cara
berpakaian, cara mengatur rambut, bahasa yang diucapkan, aktingnya dan lain-lain
merupakan salah satu wujud perkembangan tersier bagi pria. (Abu Ahmadi, 2005:122).
Dari latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan
judul “ Identifikasi Perilaku Siswa Memasuki Masa Remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi”.
B. Batasan Masalah
Mengingat luasnya cakupan masalah, maka penelitian ini dibatasi pada masalah
sebagai berikut:
1. Identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku kongnitif
2. Identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
sosioemosional
3. Identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku seksual
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah yang dikemukakan diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1. Bagaimanakah proporsi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
kongnitif
2. Bagaimanakah proporsi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
sosioemosional
3. Bagaimanakah proporsi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
seksual
D. Tujuan
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan prilaku
pelajar memasuki masa pubertas di SMP Negeri 7 Muaro Jambi
Dan secara lebih khusus tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi proporsi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek
perilaku kongnitif
2. Mengidentifikasi proporsi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek
perilaku sosioemosional
3. Mengidentifikasi proporsi perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek
perilaku seksual
E. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat digunakan sebagai :
1. Sebagai masukan bagi sekolah terutama SMP Negeri 7 Muaro Jambi mengenai prilaku
remaja saat menghadapi masa pubertas
2. Guru pembimbing sebagai pedoman dan bahan dalam rangka merencanakan layanan yg
akan di berikan kepada pelajar, dengan memberikan layanan informasi mengenai tahap
perkembangan remaja dan pemberian layanan lainnya
3. Bagi orang tua sebagai masukan untuk mengetahui perkembangan remaja memasuki
masa puber dan meningkatkan pengawasan terhadap siswa yang memasuki masa remaja.
4. Bagi siswa sebagai masukan agar siswa siap dalam memasuki masa remaja baik
kesiapan fisik maupun psikis siswa saat memasuki masa remaja.
F. Anggapan Dasar dan Asumsi
Penelitian ini di kembangkan dengan anggapan dasar dan asumsi sebagai berikut
1. Datangnya masa remaja pada anak ada kalanya di tanggapi dengan santai oleh siswa
apabila dia telah siap dan mendapat bimbinggan dari orang dewasa
2. Masa remaja awal akan menjadi momok yang menakutkan bagi siswa apabila pada masa
itu dia tidak di damping dan mendapatkan pengetahuan tentang masa remaja
G. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan yang timbul dari penelitian ini adalah:
1. Pada proporsi manakah perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
kongnitif.
2. Pada proporsi manakah perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
sosioemosional.
3. Pada proporsi manakah perilaku siswa memasuki masa remaja dilihat dari aspek perilaku
seksual.
H. Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu upaya untuk mengetahui
atau menemukan adanya perubahan perilaku remaja memasuki masa pubertas di SMP
Negeri 07 Muaro Jambi
2. Perilaku Masa Remaja adalah tindakan atau perbuatan seorang anak ketika mengalami
perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual
3. Perkembangan perilaku masa remaja yang dimaksud dalam penelitian ini adalah perilaku
siswa pada masa remaja ditandai dengan perubahan-perubahan akibat pubertas yang
meliputi perubahan perilaku kongnitif remaja, perubahan perilaku sosioemosional remaja
dan perubahan perilaku seksual remaja.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Identifikasi
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2008) identifikasi adalah penetapan atau
penentuan orang atau sesuatu. Adapun tujuan dari identifikasi adalah memperoleh informasi
yang dapat digunakan sebagai landasan dalam menyusun program intervensi yang
diharapkan dapat mencegah masalah di sekolah. Adapun identifikasi yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah upaya untuk menemukan dan menentukan perilaku siswa memasuki
masa remaja.
B. Prilaku Siswa memasuki Masa Remaja
1. Pengertian prilaku Remaja
Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan
(Depdiknas, 2005). Dan Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh
manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi,
dan/atau genetika (Handoko dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku remaja)
2. Wujud prilaku
Menurut Skinner (2004), dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus maka
perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a). Perilaku tertutup
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup.
Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi,
pengetahuan, kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus
tersebut dan belum dapat diamati secara jelas.
b). Perilaku terbuka
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek
yang dengan mudah dapat diamati.
Menurut Notoatmodjo (2009) bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokkan
menjadi 3(tiga) jenis yaitu:
1. Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi atau
rangsangan dari luar.
2. Perilaku dalam bentuk sikap yaitu tanggapan batin terhadap keadaan atau
rangsangan dari luar. Dalam hal ini lingkungan berperan dalam membentuk
perilaku manusia yang ada di dalamnya. Sementara itu lingkungan terdiri dari,
lingkungan pertama adalah lingkungan alam yang bersifat fisik dan akan
mencetak perilaku manusia sesuai dengan sifat dan keadaaan alam tersebut.
Sedangkan lingkungan yang kedua adalah lingkungan sosial budaya yang bersifat
non fisik tetapi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pembentukan perilaku
manusia.
3. Perilaku dalam bentuk tindakan yang sudah konkrit, yakni berupa perbuatan atau
action terhadap situasi atau rangsangan dari luar.
C. Perkembangan Perilaku Siswa pada masa Remaja
Meneurut Ahmadi (2005;105) perkembangan perilaku siswa pada masa remaja
ditandai dengan perubahan-perubahan akibat pubertas yaitu sebagai berikut :
1. Perkembangan Perilaku Kognitif Remaja
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli
perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap
pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).
Pada periode ini,
idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan
masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja
berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan
banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.
Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka
mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan.
Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan
memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka
sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang
untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan.
Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan
diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Masa remaja ialah masa semakin meningkatnya pengambilan keputusan. Remaja
yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan disbanding remaja yang lebih
muda, dimana mereka lebih kompeten daripada anak-anak. Kemampuan untuk
mengambil keputusan tidak menjamin kemampuan itu diterapkan, karena dalam
kehidupan nyata, luasnya pengalaman adalah penting. Remaja perlu lebih banyak peluang
untuk mempraktekkan dan mendiskusikan keputusan realistis. Dalam beberapa hal,
kesalahan pengambilan keputusan pada remaja mungkin terjadi ketika dalam realitas
yang menjadi masalah adalah prientasi masyarakat terhadap remaja dan kegagalan untu
member mereka pilihan-pilihan yang memadai .
2. Perkembangan Perilaku Sosioemosional Remaja
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood
(suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood (swing) yang drastis
pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah,
atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah
dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Dalam hal kesadaran diri, pada
masa remaja para remaja mengalami
perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat
rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain
sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau
mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan
diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image).
Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan
percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja
putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan
melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan
dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”.
Akibat perubahan masa puber pada sikap dan perilaku remaja adalah sebagai
berikut :
a. Ingin Menyendiri
b. Bosan
c. Inkoordinasi
d. Antagonisme social
e. Emosi yang meninggi
f. Hilangnya kepercayaan diri
g. Terlalu sederhana
3. Perkembangan Perilaku Seksual Remaja
1) Berpacaran
Berpacaran dikalangan remaja bukanlah merupakan hal yang biasa, dibuktikan dari
hampir sebagian responden menyatakan bahwa mereka pernah atau sedang
berpacaran. Sebagian remaja berpendapat bahwa pacaran juga memberikan dampak
yang positif, misalnya terpacu untuk belajar lebih giat atau memberikan dampak
negatif terhadap perilaku remaja mengarah keseksualitas. Usia pertama berpacaran
berkisar 14-17 tahun. Hal ini di dukung juga dari kegiatan yang biasa dilakukan
remaja ketika berpacaran adalah ngobrol, namun tak jarang juga berpacaran
diselingi dengan berciuman. Mengapa remaja memilih berpacaran ? banyak faktor
pendorong yang menyebabkan remaja memilih berpacaran. Dikalangan remaja
muncul trend yang menyatakan bahwa jika seseorang remaja berpacaran berarti
remaja tersebut modern dan tidak “kampungan”. Perkembangan terhadap informasi
juga menjadi salah satu pendorong (14)
2) Mengenal Media pornografi
Sebagian besar remaja pernah menggunakan/melihat media pornografi pada saat
berusia 14-17 tahun. Pada masa tersebut merupakan masa remaja dengan rasa ingin
tahu yang tinggi. Dan sepatutnya pada masa ini, remaja memperoleh informasi seks
yang benar sehingga remaja tidak salah dalam bertingkah laku. Informasi tersebut
memang sangat diperlukan oleh remaja. Informasi mengenai kesehatan reproduksi
merupakan hal yang perlu diketahui bagi remaja. Lembaga pendidikan hendaknya
memikirkan bagaimana agar informasi tersebut dapat diberikan melalui sekolah
oleh seorang guru tau dijadikan suatu mata pelajaran penunjang byang memiliki
kurikulum pelajaran.
Media yang biasa/ sering digunakan remaja yaitu foto/gambar (semakin maraknya
internet sehingga remaja memanfaatkannya untuk hal yang negatif dengan
mengunjungi situs-situs X yang memberikan informasi seks yang tidak terbatas),
majalah dan VCD/ film (semakin banyak dan mudahnya diperoleh remaja didukung
dengan harga yang relatif terjangkau).
Kebanyakan remaja menggunakanmedia pornografiu di rumah, sekolah, bioskop
atau rumah teman. Remaja cenderung memilih di rumah teman, karena merasa
lebih leluasa dan dapat berdiskusi bersama jika ada yang tidak dipahami. Sumber
media pornografi sebagian besar diperoleh melalui teman, menyewa atau
membelinya sendiri akibat dorongan rasa ingintahu yang tinggi. Keinginan tahu
remaja adalah hal yang wajar, namun bagaimana mengemasnya dan cara
penyampaian informasi yang tepat, gar remaja tidak salah menafsirkannya.
3) Mengalami Masalah Masturbasi dan Hubungan seksual
Pemahaman remaja mengenai masturbasi atau onani masih sangatlah rendah. Dan
dikalangan remaja berpendapat bahwa jika melakukan masturbasi atau onani berarti
melakukan perbuatan yang melanggar norma. Hubungan seksual merupakan
perilaku seksual yang tertinggi, karena jika remaja berani melakukan hal tersebut
berarti remaja telah dan harus siap menerima segala resiko yang akan dihadapi.
Pada umumnya usia pertama kali melakukan hal tersebut berkisar 15-19 tahun.
Pada masa ini memang secara fisik telah siap, namun banyak hal lain perlu diingat
bahwa resikonya pun akan besar. Pacar merupakan pasangan utama melakukan
hubungan seks tersebut. Hal ini berarti kondisi pacaran dapat mendorong dan
merangsang untuk melakukannya. Didukung dengan pacaran yang dilakukan di
rumah tanpa adanya pengawasan dari orang tua atau saudara. Alasan utama remaja
melakukan hubungan seksual adalah karena cinta atau sama-sama mau, terangsang
dan rasa ingin tau. Jika dilihat dari umur remaja pertama kali melakukan hubungan
seksual, telah dapat tercermin bahwa memang ketiga alasan di atas lah yang
mendorong seorang remaja menyerahkan kehormatannya (15 )
4) Mengalami berbagai Permasalahan Remaja
Apabila remaja dihadapkan dalam suatu kondisi yang tidak diinginkan maka jika
terjadi kehamilan, remaja kebanyakan akan memilih akan meneruskannya dan
menikah, karena menurut kalangan remaja bahwa pengguguran kandungan
merupakan perbuatan yang tercela. Dan jika pun pengguguran kandungan yang
dipilih maka hal tersebut akan dilakukan dengan seorang dokter kandungan.
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Sesuai dengan tujuannya, penelitian ini disebut juga penelitian deskriptif, yaitu
penelitian yang bertujuan menggambarkan tentang objek sebagaimana adanya. Hal ini sesuai
dengan pendapat (Sutja A dkk.2014:78).
Jenis penelitian deskriptif, seperti yang dikemukakan oleh Sudjana (2006:64) adalah
penelitian yang berupaya mendiskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian, yang terjadi.
Dengan perkataan lain penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan perhatian
kepada masalah-masalah yang terjadi, sebagaimana adanya pada saat penelitian dilakukan.
Berdasarkan pendapat diatas, maka penelitian ini secara umum bertujuan memperoleh
gambaran secara jelas tentang perkembangan perilaku siswa pada masa remaja di SMP
Negeri 7 Muaro Jambi
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi Populasi adalah merupakan lingkup, wilayah atau tempat keberadaan dari
karakteristik subjek yang diteliti dan yang akan disimpulkan nantinya (Sutja, 2014; 87).
Populasi adalah seluruh subjek penelitian yang memiliki kuantitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Arikunto,
2006).
Sedangkan Sutja, dkk (2010,80) menyatakan bahwa populasi adalah aspek atau
karakteristik tertentu dari subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah perilaku
remaja memasuki masa puber. Adapun yang menjadi anggota populasi adalah siswa kelas
43
IX SMPN 7 Muaro Jambi tahun ajaran 2013/2014 yang berjumlah 161 orang yang
tersebar dalam 5 kelas yaitu kelas IXa, kelas IXb, kelas IXc, IXd dan kelas IXe.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari
karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Arikunto, 2004).
Dengan demikian jumlah sampel dalam penelitian ini yang diambil sebanyak 52 %
yaitu (161 x 52%) = 84,7 atau 85 orang.
C. Jenis dan sumber data
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder.
Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari responden yang menjadi objek
penelitian yakni perkembangan perilaku remaja memasuki masa puber pada siswa SMP
Negeri 07 Muaro Jambi. Sedangkan data skunder adalah data yang diperoleh dari sekolah
berupa data jumlah murid siswa kelas IX SMP Negeri 07 Muaro Jambi.
D. Alat pengumpul data
1. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik angket merupakan instrumen pokok yang dipergunakan
untuk mengetahui perkembangan perilaku remaja mmemasuki masa puber di SMP
Negeri 07 Muaro Jambi. Angket yang digunakan merupakan angket tertutup dengan
alternatif, responden tinggal memilih salah satu jawaban yang di anggap paling sesuai
dengan diri responden.
Angket diberikan pada siswa yang telah ditetapkan menjadi sampel Responden
hanya diberikan kesempatan untuk memilih jawaban (Ya atau Tidak) yang sesuai
menurutnya. Skor jawaban tersebut akan diolah dalam bentuk angka-angka dengan
rentang 0-1 untuk melihat perkembangan perilaku remaja memasuki masa puber. Untuk
item angket yang positif pilihan jawaban “Ya” diberi skor 1, Sedangkan untuk item
angket yang negatif sebaliknya diberi skor 0.
E. Teknik Analisa Data
No
1
2
3
4
Untuk menganalisis data yang telah diperoleh digunakan teknik analisis persentase.
Tabel 3.6 Penentuan Kelas Interval
Rentang
Batas Titik Interval
Kelas
Proporsi
Nt – (pi-1)
interval
Seluruhnya
19
100 - (19-1) = 82
82 - 100
Sebagian Besar
19
81 - (19-1) = 63
63 – 81
Sebagian
19
62 – (19-1) = 44
44 – 62
Sebagian Kecil
19
43 - (19-1) = 25
43 – 25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Uraian dibawah ini berisi tentang gambaran hasil penelitian yang disebar melalui
angket. Data diperoleh berdasarkan hasil jawaban responden mengenai identifikasi perilaku
siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket yang disebarkan kepada
responden yang berjumlah 85 orang siswa kelas IX SMP negeri 7 Muaro Jambi tahun ajaran
2013 s/d 2014 yang terdiri dari kelas IX A sebanyak 16 siswa, IXB sebanyak 16 siswa, IXC
sebanyak 17 siswa, IXD sebanyak 17 siswa, dan kelas IXE sebanyak 19 siswa dengan total
sampel keseluruhan adalah berjumlah 85 siswa.
B. Hasil penelitian dan pembahasan
1. Identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi
pada indikator perkembanagan perilaku kongnitif
Berdasarkan analisis hasil data penelitian diketahui bahwa Identifikasi perilaku
siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi pada indikator
perkembangan perilaku kongnitif dimana hampir seluruh siswa (87.32%) siswa
mengalami perkembangan perilaku kongnitif dimana remaja sudah mampu bersifat
objektif dalam menafsirkan sesuatu, mampu menyelesaikan masalah-masalah, mampu
dalam mengambil keputusan.
Menurut pandangan Jean Piaget dalam Yusuf (2011) menginjak masa puber,
seorang remaja akan mengalami perkembangan kognitif atau kemampuan berpikir.
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli
perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap
pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Idealnya, seorang remaja
sudah mempunyai pola pikir sendiri.
Pada saat remaja mengalami perkembangan perilaku kongnitif, remaja tidak lagi
menerima informasi apa adanya, tapi juga akan mengadaptasi informasi tersebut dengan
pemikirannya sendiri. Namun pada kenyataannya, di negara-negara berkembang
(termasuk Indonesia), masih banyak sekali remaja (bahkan orang dewasa) yang belum
mampu berpikir dewasa. Sebagian masih memiliki pola pikir yang sangat sederhana. Hal
ini terjadi karena sistem pendidikan di Indonesia banyak menggunakan metode belajar
mengajar satu arah atau ceramah, sehingga daya kritis belajar seorang anak kurang
terasah. Bisa juga pola asuh orang tua yang cenderung masih memperlakukan remaja
seperti anak-anak sehingga mereka tidak punya keleluasan dalam memenuhi tugas
perkembangan sesuai dengan usianya.
Menurut Desmita (2009:79) pada masa pubertas itulah perkembangan remaja
perlu adanya pengontrolan diri dari orang tua, masyarakat dilingkungan dimana mereka
berada. Karena pada masa itu remaja merasa semakin mampu dalam pengambilan
keputusan. Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan dibanding
remaja yang lebih muda, dimana mereka lebih kompeten daripada anak-anak.
Kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin kemampuan itu diterapkan,
karena dalam kehidupan nyata, luasnya pengalaman adalah penting. Remaja perlu lebih
banyak peluang untuk mempraktekkan dan mendiskusikan keputusan realistis. Dalam
beberapa hal, kesalahan pengambilan keputusan pada remaja mungkin terjadi ketika
dalam realitas yang menjadi masalah adalah prientasi masyarakat terhadap remaja dan
kegagalan untuk memberi mereka pilihan-pilihan yang memadai. Untuk itu sebagai
orang tua, dan masyarakat harus mengenal remaja itu pada tingkat perkembangan dalam
masa pubertasnya.
2. Identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi
pada indikator perkembanagan perilaku sosioemosional
Berdasarkan analisis hasil data penelitian diketahui bahwa Identifikasi perilaku
siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi pada indikator
perkembangan perilaku sosioemosional dimana sebagian (60.09%) siswa mengalami
perkembangan perilaku sosioemosional dimana remaja selalu ingin menyendiri, sering
merasa bosan, antagonisme social, emosi yang meninggi dan hilang kepercayaan dirinya.
Menururt Gunarsa (2003;64) masa remaja merupakan masa peralihan dari masa
anak ke masa dewasa, dan pada masa ini individu mengalami perubahan-perubahan
jasmani, kepribadian, intelektual, dan peranan di dalam keluarga maupun di lingkungan.
Sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan sebagai konsekuensi dari masa
peralihan atau masa transisi ini. Perubahan-perubahan selama masa awal masa remaja
terjadi dengan pesat, salah satunya adalah meningginya emosi.
Hurlock (2002) menyatakan bahwa keadaan emosi remaja berada pada periode
badai dan tekanan (storm and stress) yaitu suatu masa di mana ketegangan emosi
meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Adapun meningginya emosi
terutama karena para remaja berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi dan
harapan baru. Keadaan ini menyebabkan remaja mengalami kegagalan dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapinya, sehingga masa remaja sering dikatakan
sebagai usia bermasalah.
Perkembangan emosi pada remaja awal menunjukkan sifat yang sensitive dan
reaktif yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa ataupun situasi sosial, emosinya
bersifat negatif dan temperamental (Yusuf, 2011;112).
(Yusuf 2011;116) menyatakan bahwa remaja puber bosan dengan permainan yang
sebelumnya amat digemari, tugas-tugas sekolah, kegiatan-kegiatan sosial, dan kehidupan
pada umumnya. Akibatnya, remaja sedikit sekali bekerja sehingga prestasinya diberbagai
bidang menurun. Remaja menjadi terbiasa untuk tidak mau berprestasi khususnya karena
sering timbul perasaan akan keadaan fisik yang tidak normal.
Remaja puber seringkali tidak mau bekerja sama, sering membantah, dan
menentang. Permusuhan terbuka anatara dua seks yang berlainan diungkapkan dalam
kritik, dan komentar-komentar yang merendahkan. Dengan berlanjutnya masa puber,
remaja kemudian menjadi lebih ramah, lebih dapat bekerja sama dan lebih sabar kepada
orang lain (Erikson. 2004)
Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis
karena hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri bagian awal masa puber. Pada masa
ini remaja merasa khawatir, gelisah, dan cepat marah. Sedih, mudah marah, dan suasana
hati yang negative sangat sering terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid.
Dengan semakin matangnya keadaan fisik remaja, ketegangan lambat laun berkurang dan
remaja sudah mulai mampu mengendalikan emosinya.
Remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri sekaran menjadi kurang
percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dank arena kritik
yang bertubi-tubi datang dari orang tua dan teman-temannya. Banyak remaja laki-laki
dan perempuan setelah masa puber mempunyai h4perasaan rendah diri.
3. Identifikasi perilaku siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi
pada indikator perkembanagan perilaku seksual.
Berdasarkan analisis hasil data penelitian diketahui bahwa Identifikasi perilaku
siswa memasuki masa remaja di SMP Negeri 7 Muaro Jambi pada indikator
perkembangan perilaku seksual dimana sebagian kecil (39,51%) siswa mengalami
perkembangan perilaku seksual dimana remaja sudah mulai berpacaran, mengenal media
porno, mengalami masalah mesturbasi dan mengalami permasalahan remaja lainnya.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Baharuddin (2010:89) yang menyatakan
bahwa pada masa remaja terjadi perubahan pada seksual remaja yang ditandai dengan
berkembangnya kemantangan seksual sesungguhnya, yang bersamaan dengan terjadi
perkembangan sikologis dalam diri anak yang berhubungan dengan kematangan kelenjar
endokrin atau kelenjar yang bermuara langsung di dalam saluran darah. Yang dapat
membuat anak merasakan adanya rangsangan tertentu yang menyebabkan rasa tidak tenang
pada diri anak.
Peristiwa kemantangan tersebut menurut Kartini Kartono (2012: 168) pada wanita
terjadi 1,5 sampai 2 tahun lebih awal pada pria. Dan terjadinya kematangan jasmani bagi
wanita biasa di tandai dengan adanya menstruasi pertama sedangkan pada pria ditandai
dengan sperma yang pertama dan biasanya terjadi lewat mimpi yang disebut mimpi basah.
Dan dengan adanya kematangan jasmani itu umumnya di gunakan dan di anggap sebagai
tanda-tanda primer akan datangnya masa remaja.
Menurut Mu’tadin (2002;68) perubahan pada masa puber mulai terjadi, remaja
biasanya menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga dan sering
bertengkar pada teman-teman dan pada anggota keluarga. Remaja puber kerap melamun,
sering tidak dimengerti dan diperlakukan dengan kurang baik, dan ia juga mengadakan
eksperimen seks melalui masturbasi. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan
berkomunikasi dengan orang-orang lain. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk
melepaskan diri dari milik orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Erikson
menyebutnya untuk menemukan identitas diri.
Menurut Sarlito (2008;79) berpacaran dikalangan remaja bukanlah merupakan hal
yang biasa, dibuktikan dari hampir sebagian responden menyatakan bahwa mereka
pernah atau sedang berpacaran. Sebagian remaja berpendapat bahwa pacaran juga
memberikan dampak yang positif, misalnya terpacu untuk belajar lebih giat atau
memberikan dampak negatif terhadap perilaku remaja mengarah keseksualitas. Usia
pertama berpacaran berkisar 14-17 tahun. Hal ini di dukung juga dari kegiatan yang biasa
dilakukan remaja ketika berpacaran adalah ngobrol, namun tak jarang juga berpacaran
diselingi dengan berciuman. Mengapa remaja memilih berpacaran ? banyak faktor
pendorong yang menyebabkan remaja memilih berpacaran. Dikalangan remaja muncul
trend yang menyatakan bahwa jika seseorang remaja berpacaran berarti remaja tersebut
modern dan tidak “kampungan”.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini, maka secara umum dapat ditarik
kesimpulan bahwa berdasarkan hasil identifikasi perilaku remaja memasuki masa pubertas di
SMP Negeri 7 Kota Jambi dimana sebagian (60.03%) siswa mengalami perkembangan
perilaku kongnitif, perilaku sosioemosional dan perkembangan perilaku seksual. Dan secara
khusus hasil analisis identifikasi perilaku remaja memasuki masa pubertas di SMP Negeri 7
Muaro Jambi adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil identifikasi perilaku remaja memasuki masa pubertas pada indikator
perkembangan perilaku kongnitif dimana hampir seluruhnya (87.32%) siswa mengalami
perubahan perilaku kongnitif diantaranya siswa sudah mampu bersifat objektif dalam
menafsirkan sesuatu, mampu menyelesaikan masalah-masalah, dan siswa mampu dalam
mengambil keputusan.
2. Berdasarkan hasil identifikasi perilaku remaja memasuki masa pubertas pada indikator
perkembangan perilaku sosioemosional dimana sebagian (60.09%) siswa mengalami
perubahan perilaku sosioemosional diantaranya siswa selalu ingin menyendiri, sering
merasa bosan, antagonisme social, emosi yang meninggi dan hilang kepercayaan diri.
3. Berdasarkan hasil identifikasi perilaku remaja memasuki masa pubertas pada indikator
perkembangan perilaku seksual sebagian kecil (39.51%) siswa mengalami perubahan
perilaku seksual diantaranya siswa sudah mulai berpacaran, siswa sudah mulai mengenal
media porno, siswa mengalami masalah mestrubasi dan mengalami berbagai
permasalahan remaja.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis memberikan saran-saran kepada pihakpihak tertentu sebagai berikut:
1. Bagi SMP Negeri 05 kota Jambi
Sebagai masukan bagi sekolah terutama SMP Negeri 7 Muaro Jambi mengenai
prilaku remaja saat menghadapi masa pubertas
2. Bagi Guru Pembimbing
Sebagai pedoman dan bahan dalam rangka merencanakan layanan yg akan di
berikan kepada pelajar, dengan memberikan layanan informasi mengenai tahap
perkembangan remaja dan pemberian layanan lainnya Bagi.
3. Bagi Orang Tua Siswa
Sebagai masukan untuk mengetahui perkembangan remaja memasuki masa puber
dan meningkatkan pengawasan terhadap remaja yang memasuki masa pubertas.
4. Bagi Siswa
Sebagai masukan agar remaja siap dalam memasuki masa pubertas baik kesiapan
fisik maupun psikis remaja saat memasuki masa puber..
C. Implikasi hasil penelitian terhadap bimbingan dan konseling
Bimbingan konseling yang diartikan sebagai upaya mengoptimalkan potensi yang
dimiliki individu, sehingga individu dapat berkembang sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya.
Dengan adanya hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perubahan atau
perkembangan perilaku remaja memasuki masa pubertas di SMP Negeri 7 Muaro Jambi baik
perubahan perilaku kongnitif siswa, perubahan sosioemosional siswa maupun perubahan
seksual siswa. Untuk itu disinilah peran guru pembimbing untuk memberikan layanan
informasi bidang bimbingan pribadi kepada siswa-siswinya mengenai pubertas, apa itu
pubertas, ciri-ciri remaja memasuki pubertas, perubahan-perubahan yang tejadi dalam diri
saat memasuki masa pubertas baik perubahan fisik maupun perubahan psikologis dan
masalah-masalah yang akan dihadapi saat menghadapi pubertas. Dengan adanya layanan
informasi mengenai pubertas yang diberikan oleh guru pembimbing diharapkan mampu
memberikan pemahaman tentang pubertas kepada siswa-siswanya dan diharapkan kepada
siswa untuk terhindar dari berbagai permasalahan yang ditimbulkan akibat permasalahanpermasalahan yang akan ditimbulkan saat siswa mengalami masa pubertas.
DAFTAR PUSTAKA
Akmal Sutja, dkk. 2014. Panduan Penulisan Skripsi. Diterbitkan dan diedarkan
Oleh Program Ekstensi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Jambi
Ahmadi & Sholeh, 2005. Psikologi Perkembangan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Arikunto, ( 2003 ). Prosedur Penelitian Edisi Revisi II, Jakarta : PT Rineka Cipta
Baharuddin, 2010.Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Bruno (2008), Teori Kepribadian, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Desmita, 2009. Psikologi Perkembangan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Freud. S http://Budayamersam.Blogsport.com/. Diakses tanggal 23 Juli 2003
Gunarsa, 2003. Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta: Rineka Cipta.
Hurlock (2002) Child Development, Mc Graw Hill Book Company. Inc, New York
Handoko, 2008. Perilaku Remaja. http://id..wikipedia.org/wiki/Perilaku remaja diakses pada 26
Nopember 2013
Kartono, k, ( 2012 ), Psikologi Perkembangan, Bandung : Cv Mandar Maju
Mu’tadin (2002) Psikologi Perkembangan, Jakarta. Bina Aksara.
Myers D, (2012), Psikologi Sosial, Jakarta selatan : Salemba Humanika
Notoatmodjo. 2010 , Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Poerwadarminta W. J. S (2008), Kamus umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Gramedia
Sarwono, W. S, (2012), Psikologi Remaja, Jakarta: Raja Wali Pers
Sarlito. 2008. Psikologi Remaja, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Yusuf, S, (2007), Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Yusuf, 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Download