penerapan pendekatan saintifik oleh guru konstruksi bangunan

advertisement
Kegiatan Orasi Ilmiah
PIDATO ORASI ILMIAH
5 Maret 2015
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK OLEH GURU KONSTRUKSI
BANGUNAN UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
(Studi tindakan oleh guru konstruksi bangunan
kelas X di SMKN 6 Bandung)
Disampaikan sebagai prasyarat untuk menduduki jabatan fungsional
widyaiswara utama di PPPPTK Bidang Mesin dan Teknik Industri
Oleh:
Drs Tatang Taslimuharom, MP
NIP. 19600760 198503 1 005
Pembina Utama Muda/IVc
Widyasiwara Madya
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN
TENAGA KEPENDIDIKAN BIDANG MESIN DAN TEKNIK INDUSTRI
2015
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 1
Kegiatan Orasi Ilmiah
ABSTRAK
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK OLEH GURU KONSTRUKSI
BANGUNAN UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA
DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
(Studi tindakan kelas oleh guru konstruksi bangunan kelas X
di SMK Negeri 6 Bandung)
Oleh:
T. Taslimuharom
Pendekatan saintifik merupakan kompetensi pedagogik yang harus dikuasai oleh guru untuk
meningkatkan kompetensi siswa dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan
mendalam. Permasalahan dalam penelitian ini adalah , apakah penerapan pendekatan saintifik
dalam pembelajaran konstruksi bangunan secara signifikan dapat meningkatkan kompetensi
siswa mata pelajaran konstruksi bangunan. Dalam Penelitian ini penulis menerapkan pendekatan
pembelajaran saintifik dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa mata pelajaran
konstruksi bangunan kelas X di SMK Negeri 6 Bandung
Waktu Penelitian dilaksanakan 27 Maret sampai dengan 20 Agustus 2014, sebagai objek
penelitian adalah guru kelas X pada mata pelajaran konstruksi bangunan SMKN 6 Bandung
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dimana data
dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pemberian angket, test, dan catatan lapangan,
setelah diadakan perlakuan selama empat siklus.
Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik secara signifikan dapat meningkatkan
kompetensi siswa pada pelajaran konstruksi bangunan, peningkatan ini ditunjukkan nilai akhir
hasil belajar pada siklus I sebesar 72,39 meningkat menjadi 87,86, serta temuan efektivitas
belajar pada siklus I sebesar 37,86 meningkat menjadi 62,32 pada siklus IV.
Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik akan berhasil bila kegiatan proses
pembelajaran dengan sepenuhnya melibatkan siswa aktif belajar (student centre learning)
melalui aspek-aspek: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan dan
mengkomunikasikan hasil unjuk karya, serta bimbingan guru selalu untuk mengarahkannya dan
menciptakan iklim belajar yang kondusif, guru kreatif melakukan inovasi pembelajaran dan
dapat membangkitkan motivasi dan semangat belajar, guru berperan menjadi fasilitator,
mediator, dan manajer dari proses pembelajaran.
Kata Kunci : Pendekatan saintifik, Kompetensi
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 2
Kegiatan Orasi Ilmiah
ABSTRACT
THE APPLICATION OF SCIENTIFIC APPROACH BY BUILDING CONSTRUCTION
TO IMPROVE TEACHERS COMPETENCE OF STUDENTS
IN VOCATIONAL HIGH SCHOOLS
(Studies class action by teachers construction of class X
The SMK Negeri 6 Bandung)
by:
T. Taslimuharom
Scaintific approach is pedagogical competence that must be controlled by teachers to improve
student competency in their mastery of the material learning widely and deeply.The troubles in
this research is, whether the application of the approach of rendering in learning the construction
of buildings significantly able to increase student competency subjects the construction of
buildings.In this research approach writer applying learning rendering for the purpose of raising
student competency subjects the construction of buildings class x in vocational school 6
bandung.
The study was conducted from March to August 2014, as the object, of the teacher of class X on
the subjects of building construction of SMKN 6 Bandung.
The method used in this study is the class-action research, in which the data were collected
through observation, interviews, questionnaire administration, test, and research notes (field
notes), obtained after treatment for four cycles treatment.
Application of learning with scientific approach can significantly improve the students'
competence in the subject building construction, improvement is indicated ultimate value of
learning outcomes in the first cycle of 72.39 increased to 87.86, as well as the findings of the
effectiveness of learning in the first cycle of 37.86 increased to 62,32 on the fourth cycle.
Application of learning with scientific approach will be successful when learning activities to
engage students fully active learning (student learning center) through the following aspects:
observe, inquire, gather information, to associate and communicate the results of the work
performance, as well as the guidance of the teacher is always to steer and create a climate
conducive learning, creative teachers and learning innovation can generate motivation and
enthusiasm for learning,. Teachers act as facilitators, mediators, and manager of the learning
process.
Keywords: scientific approach, competence.
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 3
PHOTO KEGIATAN ORASI
ILMIAH
T. Taslimuharom MP
Kegiatan
OrasiDrs
Ilmiah
PPPPTK Bidang Mesin dan Teknik Industri , 5 Maret 2015
Bissmillahirahmaanirahim,
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 4
Kegiatan Orasi Ilmiah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua
Yth. Bapak Kepala Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia;
Yth. Ibu Kepala Pusat Kajian Inovasi Pelayanan Publik LAN-RI;
Yth. Bapak Kepala PPPP TK Bidang Mesin dan Teknik Industri ;
Yth. Bapak/Ibu Pejabat Pembina Widyaiswara dari Lembaga Administrasi Negara ;
Yth. Bapak/Ibu para Pejabat Struktural dilingkungan PPPP TK BMTI ;
Yth, Bapak Pembimbing dan Pembahas KTI;
Yth, Bapak/Ibu Widyaiswara dan pejabat fungsional dilingkungan PPPPTK BMTI ;
Yth, Bapak Kepala Sekolah dan Guru-guru SMK;
Serta para undangan dan hadirin yang saya muliakan.
Dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan selamat datang, dan terima kasih yang
sebesar-besarnya atas kehadiran Ibu dan Bapak sekalian. Selanjutnya perkenankanlah saya
menyapa Ibu dan Bapak sekalian: “Hadirin yang saya hormati”.
Hadirin yang saya hormati,
Dalam kesempatan yang berbahagia ini, tak lupa memanjatkan puji syukur kehadirat
Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemurah, dan Maha Pengasih, hari ini dengan limpahan rahmat
dan inayah-Nya kita semua dapat hadir dalam acara orasi ilmiah saya.
Orasi ilmiah dengan menyampaikan pidato ini dimaksudkan sebagai prasyarat dan pengukuhan
menjadi pejabat fungsional Widyaiswara Utama, dalam materi : Penerapan Pendekatan
Saintifik oleh Guru Konstruksi Bangunan untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa di
Sekolah Menengah Kejuruan.
Berbagai upaya dalam pembelajaran telah dilakukan oleh seorang pendidik/guru. Beberapa
metode/model pembelajaran telah diterapkan, tetapi hasil secara menyeluruh pada kegiatan
belajar mengajar masih kurang memuaskan, guru mempunyai tanggungjawab untuk
mencerdaskan peserta didik, guru diberi amanah supaya peserta didik menjadi manusia yang
berkualitas, bermakna bagi pribadinya, bagi masyarakat, bangsa negara dan agama. Untuk
menjawab tantangan tersebut, diperlukan suatu pembaharuan dalam pembelajaran yang praktis
diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Seorang pendidik harus berani merubah gaya
mengajar, sehingga harapan peserta didik dapat dipenuhi.
Pembelajaran seperti apakah yang sudah sajikan oleh guru di mata murid-murid . Tentunya guru
yang menyajikan pembelajaran sebagaimana harapan murid-murid. Yang menyenangkan, yang
kehadirannya selalu dinantikan dan diharapkan, dan ketiadaannya kelak akan selalu dikenang.
Selanjutnya menurut Peraturan Pemerintah Pasal 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional
Pendidikan dikatakan bahwa Proses Pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Hadirin yang saya hormati,
Sajian Orasi Ilmiah ini akan saya sampaikan dalam tata urutan penyajian meliputi deskripsi
mengenai latar belakang, fokus dan lokus, metodologi, landasan konseptual serta analisis, dan
rekomendasi. Substansi yang disajikan dalam Orasi ilmiah ini merupakan saripati dari pemikiran
analitis yang telah dibahas dalam Karya Tulis Ilmiah .
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dari studi pendahuluan, pelaksanaan
pembelajaran yang diterapkan oleh guru konstruksi bangunan menggunakan pendekatan
konvensional maka hasil belajar siswa pelajaran konstruksi bangunan masih belum mencapai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan, ini disebabkan beberapa alasan yang
dilontarkan pengelola pendidikan, guru dan warga sekolah lainnya beranggapan bahwa pelajaran
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 5
Kegiatan Orasi Ilmiah
konstruksi bangunan termasuk sulit, kurangnya alat peraga, faktor guru yang enggan
meningkatkan kemampuan mengajar, guru melakukan kegiatan pembelajaran konstruksi
bangunan masih dominan berperan aktif dalam proses pembelajaran (teacher-centered),
sedangkan siswa diposisikan sebagai obyek, yang hanya cenderung menerima mendengarkan
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Sementara dari guru terungkap keluhan yang menyatakan bahwa siswa yang diajar kurang
mempunyai kemampuan yang memadai, rendahnya motivasi (perhatian dan konsentrasi) siswa
ketika sedang mengikuti kegiatan pembelajaran. Ini terlihat bahwa ada beberapa siswa yang
kurang menunjukkan perhatian penuh, sebagian terlihat mengantuk, mengobrol ketika
pembelajaran sedang berlangsung. Lebih dari itu, beberapa pertanyaan yang diajukan oleh guru
tidak bisa dijawab dengan benar oleh beberapa siswa, kelemahan siswa terutama dalam
menerapkan konsep, hukum yang relevan dalam memecahkan masalah. Kondisi sebagaimana
diungkapkan di atas akan bermuara pada tingkat kompetensi siswa. Kemungkinan lain
menyangkut strategi pembelajaran yang digunakan guru tidak menampakkan struktur kegiatan
pembelajaran. Hal ini tidak menunjukkan tahap-tahap pembelajaran, situasi belajar yang
dikembangkan guru dan siswa tidak memungkinkan siswa untuk aktif dalam mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Permasalahan
secara umum dihadapi dalam pembelajaran konstruksi bangunan selama ini, tampaknya terjadi
pula dalam pembelajaran pada setiap kelas di SMK Negeri 6 Bandung.
Untuk meminimalisasi permasalahan, maka diperlukan suatu pendekatan pembelajaran
yang praktis yaitu pendekatan saintifik (scientific approach) oleh guru dengan harapan mampu
memberikan suasana pembelajaran di kelas lebih kondusif, siswa aktif belajar dan memudahkan
guru dalam menerapkannya di kelas.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran konstruksi bangunan akan memudahkan
siswa dalam memperoleh dan memahami konsep dan hubungan antar konsep yang dikenalkan
guru. Dengan perkataan lain pendekatan saintifik digunakan guru sebagai strategi pembelajaran
agar siswa dengan mudah mendapatkan konsep, pada gilirannya akan memberi kemudahan bagi
peserta didik untuk menjelaskan masalah yang dihadapinya,
Atas dasar permasalahan dan studi pendahuluan, peneliti beranggapan sangatlah penting
untuk meneliti, apakah pendekatan saintifik dapat diterapkan sebagai suatu pendekatan
pembelajaran pada mata pelajaran konstruksi bangunan. Bagaimanakah peran guru dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran? Apakah pendekatan saintifik diterapkan guru, dapat
digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa atas konsep dan hubungan antar konsep
sehingga dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah? Adakah segi pertimbangan
lain yang dapat mempengaruhi efektifitas pelaksanaannya secara berdaya dan berhasil guna?
Hadirin yang saya hormati,
Pengkajian untuk medapatkan jawaban dari permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai
dalam kajian ini, maka dilakukan pengumpulan data dengan menggunakan metodologi
penelitian deskriptif-kualitatif dan observasi yang menggambarkan peran guru dalam penerapan
pendekatan saintifik pelajaran konstruksi bangunan.
Melakukan penelitian tindakan kelas melalui pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk
mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan pelaksanaan pembelajaran.
Pemahaman tersebut tidak ditentukan terlebih dahulu, tetapi didapat setelah melakukan analisis
terhadap kenyataan pelaksanaan pembelajaran yang menjadi fokus penelitian. (Hadjar, 1996
dalam Basrowi dan Sukidin, 2002: 2). Dipilihnya pendekatan penelitian kualitatif dimana
metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik
fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan,
menurut Strauss dan Corbin (1997:11-13), penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang
menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan
prosedur statistik atau cara lain dari kuantifikasi (pengukuran).
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 6
Kegiatan Orasi Ilmiah
Kajian untuk mendapatkan data dan informasi terkait dengan fokus kajian, dilakukan kajian
lapangan di SMK Negeri 6 Bandung, sebagai lokus kajian dan guru konstruksi bangunan
sebagai subjek/pelaku dalam penerapan pendekatan saintifik di kelas X pada mata pelajaran
konstruksi bangunan. Seluruh jenis data yang dibutuhkan dalam kajian ini, dikumpulkan dengan
empat cara, yakni; pertama, data primer dilakukan dari hasil wawancara, dengan menggunakan
seperangkat instrumen wawancara (interview guide) untuk mendapatkan klarifikasi dan
kejelasan informasi; kedua, pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan; ketiga,
untuk keperluan penyusunan deskripsi yang menyeluruh, terinci, dan aktual, maka dilakukan
studi dokumentasi untuk memperoleh data sekunder yang berkaitan langsung dengan fokus
kajian, sebagai bagian dari pengamatan di lapangan (field review), untuk melengkapi data primer
yang diperoleh; dan keempat, dilakukan studi kepustakaan sebagai bagian dari reference review.
Berdasarkan analisis terhadap hasil pengamatan di lapangan dan study kepustakaan tersebut
akan diperoleh suatu deskripsi atau gambaran atas permasalahan yang dikaji. Untuk analisis ini
dilakukan data kualitatif yang diperoleh dengan pendalaman dari berbagai referensi yang
tersedia.
Hadirin yang saya hormati,
Pembelajaran adalah proses interaksi siswa dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi
proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan pembiasaan, serta
pembentukan sikap dan kepercayaan pada siswa. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses
untuk membantu siswa agar dapat belajar dengan baik.
Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi
sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar
siswa dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang
ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta
keterampilan (aspek psikomotor) seorang siswa, namun proses pengajaran ini memberi kesan
hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran
menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan siswa. Pembelajaran yang berkualitas
sangat tergantung dari motivasi siswa dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki
motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan
membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar, guru sebagai fasilitator sekaligus sebagai
motivator. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui
proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah
dengan kreatifitas guru akan membuat siswa lebih mudah mencapai target belajar. (Paulina
Panen, Dina Mustika, Mestika Sekarwinahyu, 2001:11).
Pendekatan saintifik (scientific appoach) merupakan pembelajaran yang mengadopsi
langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model
pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir
sains, “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa. Model pembelajaran yang
dibutuhkan adalah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar, bukan saja
diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah
bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik. Pembelajaran
dengan pendekatan saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namum
proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik
menekankan pada keterampilan proses. Model pembelajaran berbasis peningkatan keterampilan
proses sains adalah model pembelajaran yang mengintegrasikan keterampilan proses sains ke
dalam sistem penyajian materi secara terpadu. Model ini menekankan pada proses pencarian
pengetahuan dari pada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar
yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator
yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar. Dalam pembelajaran ini peserta
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 7
Kegiatan Orasi Ilmiah
didik diajak untuk melakukan proses pencarian pengetahuan dalam materi pelajaran melalui
berbagai aktivitas proses sains sebagaimana dilakukan oleh para ilmuwan (scientist) dalam
melakukan penyelidikan ilmiah, dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan
sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk
kehidupannya. Fokus proses pembelajaran diarahkan pada pengembangan keterampilan siswa
dalam memproseskan pengetahuan, menemukan dan mengembangkan sendiri fakta, konsep, dan
nilai-nilai yang diperlukan
Model ini juga tercakup penemuan makna (meanings), organisasi, dan struktur dari ide atau
gagasan, sehingga secara bertahap siswa belajar bagaimana mengorganisasikan dan melakukan
penelitian. Pembelajaran berbasis keterampilan proses sains menekankan pada kemampuan
peserta didik dalam menemukan sendiri (discover) pengetahuan yang didasarkan atas
pengalaman belajar, hukum-hukum, prinsip-prinsip dan generalisasi, sehingga lebih memberikan
kesempatan bagi berkembangnya keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dengan demikian peserta
didik lebih diberdayakan sebagai subjek belajar yang harus berperan aktif dalam memburu
informasi dari berbagai sumber belajar, dan guru lebih berperan sebagai organisator dan
fasilitator pembelajaran. Model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains berpotensi
membangun kompetensi dasar hidup siswa, sikap ilmiah, dan proses konstruksi pengetahuan
secara bertahap. Keterampilan proses sains pada hakikatnya adalah kemampuan dasar untuk
belajar (basic learning tools) yaitu kemampuan yang berfungsi untuk membentuk landasan pada
setiap individu dalam mengembangkan diri. (Kemendikbud 2013:7)
Hadirin yang saya hormati,
Pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang mendorong siswa untuk melakukan
keterampilan
ilmiah
yang
meliputi:
mengamati,
menanya,
mengumpulkan
informasi/eksperimen, mengasosiasi/mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Peserta
didiklah yang harus aktif (student centered), melakukan keterampilan ilmiah, bukan gurunya
(teacher-centered). Pendekatan saintifik tampak jelas ketika siswa terlibat dalam model
pembelajaran, yaitu (1) Project Based Learning, (2) Problem Based Learning, dan(3) Discovery
Learning.
Kegiatan pembelajaran melalui proses mengamati, menanya, mencoba/ mengumpulkan
data/informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.
(1) Kegiatan mengamati, bertujuan agar pembelajaran berkaitan erat dengan konteks situasi nyata
yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Proses mengamati fakta atau fenomena
mencakup mencari informasi, melihat, mendengar, membaca, dan atau menyimak.
(2) Kegiatan menanya, dilakukan sebagai salah satu proses membangun pengetahuan siswa
dalam bentuk konsep, prisnsip, prosedur, hukum dan teori, hingga berpikir metakognitif.
Tujuannnya agar siswa memiliki kemapuan berpikir tingkat tinggi (critical thingking skill)
secara kritis, logis, dan sistematis. Proses menanya dilakukan melalui diksusi dan kerja
kelompok serta diskusi kelas. Diskusi kelompok memberi ruang kebebasan mengemukakan
ide/gagasan dengan bahasa sendiri, termasuk dengan menggunakan bahasa daerah.
(3) Kegiatan mencoba, bermanfaat untuk meningkatkan keingintahuan siswa untuk memperkuat
pemahaman konsep dan prinsip/prosedur dengan mengumpulkan data, mengembangkan
kreatifitas, dan keterampilan kerja ilmiah. Kegiatan ini mencakup merencanakan, merancang,
dan melaksanakan eksperimen, serta memperoleh, menyajikan, dan mengolah data.
Pemanfaatan sumber belajar termasuk mesin komputasi dan otomasi sangat disarankan dalam
kegiatan ini.
(4) Kegiatan mengasosiasi, bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap
ilmiah. Data yang diperoleh diklasifikasi, diolah, dan ditemukan hubungan-hubungan yang
spesifik. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan
tertentu sehingga siswa melakukan aktifitas antara lain menganalisis data, mengelompokan,
membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/mengestimasi dengan memanfaatkan
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 8
Kegiatan Orasi Ilmiah
lembar kerja diskusi atau praktik. Hasil kegiatan mencoba dan mengasosiasi memungkinkan
siswa berpikir kritis tingkat tinggi (higher order thinking skills) hingga berpikir metakognitif.
(5) Kegiatan mengkomunikasikan adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi
dalam bentuk lisan, tulisan, gambar/sketsa, diagram, atau grafik. Kegiatan ini dilakukan agar
siswa mampu mengkomunikasikan pengetahuan, keterampilan, dan penerapannya, serta
kreasi siswa melalui presentasi, membuat laporan, dan/atau unjuk karya.
(Kemendikbud, 2013:8)
Tantangan baru dinamika kehidupan semakin kompleks menuntut aktivitas pembelajaran
bukan sekedar mengulang fakta dan fenomena keseharian yang dapat diduga melainkan mampu
menjangkau pada situasi baru yang tak terduga. Dengan dukungan kemajuan teknologi dan seni,
pembelajaran diharapkan mendorong kemampuan berpikir siswa hingga situasi baru yang tak
terduga.
Agar pembelajaran terus menerus membangkitkan kreativitas dan keingintahuan siswa,
kegiatan pembelajaran kompetensi dilakukan dengan langkah sebagai berikut;
(1) Menyajikan atau mengajak siswa mengamati fakta atau fenomena baik secara langsung
dan/atau rekonstruksi sehingga siswa mencari informasi, membaca, melihat, mendengar,
atau menyimak fakta/fenomena tersebut
(2) Memfasilitasi diskusi dan tanya jawab dalam menemukan konsep, prinsip, hukum,dan teori
(3) Mendorong siswa aktif mencoba melalui kegiatan eksperimen
(4) Memaksimalkan pemanfaatan tekonologi dalam mengolah data, mengembangkan penalaran
dan memprediksi fenomena
(5) Memberi kebebasan dan tantangan kreativitas dalam mengkomunikasikan sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki melalui presentasi dan/atau unjuk karya
dengan aplikasi pada situasi baru yang terduga sampai tak terduga.
Hadirin yang saya hormati,
Pendekatan saintifik pada hakekatnya dilaksanakan untuk menangani berbagai permasalahan
dalam proses pembelajaran dengan mengedepankan inovatif seorang pengajar/guru dalam
meningkatkan peran aktif siswa (student centered).
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan, sasaran pembelajaran mencakup pengembangan
ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan.
Ketiga ranah kompetensi tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologis) yang berbeda.
Sikap diperoleh melalui aktivitas “menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan
mengamalkan”. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas “mengingat, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi, mencipta.
Keterampilan diperoleh melalui aktivitas “mengamati, menanya, mencoba, menalar,
menyaji, dan mencipta”.
Langkah pembelajaran saintifik dengan kegiatan pembelajaran dan maknanya
(1) Kegiatan mengamati dapat dilakukan dengan membaca, dan/atau menyimak teks atau
kegiatan lain untuk menemukan sesuai pokok bahasan.
(2) Kegiatan menanya dilakukan melalui kegiatan diskusi dan kerja kelompok serta diskusi
kelas dalam menemukan pokok bahasannya.
(3) Kegiatan mencoba/mengumpulkan informasi dilakukan dengan membaca teks lainnya
yang bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman dan keingintahuan peserta.
(4) Kegiatan mengasosiasi bertujuan untuk membangun kemampuan berpikir dan bersikap
ilmiah. Kegiatan dapat dirancang oleh guru melalui situasi yang direkayasa dalam kegiatan
tertentu sehingga siswa melakukan aktivitas antara lain menganalisis data,
mengelompokkan, membuat kategori, menyimpulkan, dan memprediksi/ mengestimasi
sesuai pokok bahasan dengan memanfaatkan lembar kerja diskusi atau praktik.
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 9
Kegiatan Orasi Ilmiah
(5) Kegiatan mengkomunikasikan dapat dilakukan dalam bentuk lisan atau tulisan. Hasil
diskusi kelompok tentang pokok bahasan dipresentasikan di depan kelas atau membuat
laporan yang kemudian ditempel dalam majalah dinding sekolah. (Kemendikbud, 2014:7)
Hadirin yang saya hormati,
Analisis dan interpretasi atas data yang dihasilkan baik pada kajian lapangan (field review)
maupun pada kajian kepustakaan (reference review) serta data yang digali dan dikonfirmasi dari
hasil pengamatan dan wawancara, dapat disampaikan hasil kajian atas problematik yang menjadi
fokus dalam penulisan karya ilmiah ini.
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, penerapan pembelajaran oleh guru
menggunakan pembelajaran konvensional, guru melakukan metode ceramah, mencatat di papan
tulis atau mendikte materi pelajaran yang harus dicatat oleh siswa, maka siswa hanya mendengar
, mencatat, menanya dan menjawab, guru yang enggan meningkatkan kemampuan mengajar,
tidak adanya inovasi dalam pembelajaran. Guru melakukan kegiatan pembelajaran masih
dominan berperan aktif dalam proses pembelajaran (teacher-centered), sedangkan siswa
diposisikan sebagai obyek, yang hanya cenderung menerima mendengarkan dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hambatan dan kendala yang dihadapi guru
dalam pembelajaran ialah situasi kelas yang kurang kondusif ada beberapa siswa yang tidak
memperhatikan ketika guru menerangkan mata pelajaran, terutama siswa yang duduk di
belakang; Sementara siswa yang diajar kurang kemampuan dasar, kurang termotivasi dalam
belajar, terdapat siswa belum memiliki buku/modul, minimnya alat peraga; tingkat penguasaan
siswa dalam pelajaran konstruksi bangunan belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang diharapkan, hasil belajar siswa masih terkonsentrasi untuk menilai tingkat
penguasaan dari segi kognitif.
Berdasarakan hasil observasi yang dilakukan dalam implementasi pembelajaran konstruksi
bangunan di kelas maupun analisis terhadap persiapan mengajar yang disusun oleh guru,
tampaknya selama ini pelaksanaan pembelajaran masih mengalami berbagai hambatan dan
permasalahan dengan identifikasi sebagai berikut:
(1) Masih besarnya pola pikir (mindset) masa lalu yang menganggap siswa seperti kertas putih
atau “tabula rasa”, tugas guru hanya memberi informasi, guru menganggap bahwa ia telah
mengajar, tetapi disisi lain siswa tidak belajar.
(2) Proses pembelajaran yang terjadi sebelumnya cenderung dengan pola “ala bank”, yaitu guru
menulis di papan tulis dan murid mencatat di buku serta guru menerangkan, sedangkan
murid mendengarkan.
(3) Penyajian materi pada umumnya masih pada tingkat hafalan, pemahaman, dan aplikasi, serta
kurang memerlukan pemikiran lebih tinggi seperti analisis, sintesis dan evaluasi yang
berperan meningkatkan keterampilan intelektual siswa.
(4) Kemampuan teknis dalam pembelajaran guru belum optimal, kurangnya keterampilan guru
dalam memilih strategi pembelajaran dan model mengajar yang cocok dalam pelajaran
konstruksi bangunan. Karena penyampaian mata pelajaran masih menganut cara
konvensional, sehingga dalam rencana pembelajaran tidak tampak langkah-langkah
pembelajaran, situasi belajar dan sumber belajar yang berkaitan dengan teknologi perlu
dikembangkan. Akibatnya metode mengajar dengan ceramah hampir mewarnai seluruh
kegiatan belajar mengajar.
Pada kondisi awal ini peneliti memberikan masukan/arahan dan pembekalan pembelajaran
kepada guru tentang proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik untuk mata pelajaran
konstruksi bangunan. Hasil penelitian penerapan pendekatan saintifik dilaksanakan dengan
empat siklus dan dimulai dengan studi pendahuluan (kondisi awal), masing-masing siklus
dilakukan satu kali pertemuan pembelajaran (tatap muka), meliputi aspek; mengamati dan
menanya, mengumpulkan informasi/eksperiman, mengasosiasikan/mengolah informasi, dan
mengkomunikasikan hasil unjuk karya
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 10
Kegiatan Orasi Ilmiah
Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru yang melakukan penerapan
pembelajaran pendekatan saintifik serta melaksanakan observasi dan refleksi selama penelitian
berlangsung pada saat proses pembelajaran. Pelaksanaan penerapan pendekatan saintifik melalui
penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus mengikuti tahapan ; (1) perencanaan tindakan, (2)
pelaksanaan tindakan penerapan pembelajaran pendekatan saintifik, (3) pengamatan (observasi)
dilaksanakan bersamaan proses pembelajaran saintifik, dan (4) refleksi dari kegiatan
pembelajaran (hasil observasi) dianalisis dan sekaligus melakukan perbaikan (review) agar tahap
perencanaan pada siklus berikutnya dapat lebih baik.
Berdasarkan hasil kajian dengan analisis hasil pengamatan (observasi) di lapangan dan study
kepustakaan diperoleh suatu deskripsi atau gambaran atas permasalahan yang dikaji, dengan
langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran penerapan pendekatan saintifik sebagai berikut:
Kegiatan Pendahuluan:Guru belum mengkondisikan kelas dan tidak optimalnya dalam
memberikan motivasi pada siswa. Pada kegiatan ini, guru harus kreatif sehingga menciptakan
iklim belajar yang kondusif, dan memberikan motivasi kepada siswa sehingga aktivitas belajar
siswa tercipta dengan penuh rangsangan kepada siswa sehingga siswa aktif belajar.
Kegiatan Inti: Pada penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik, guru harus kreatif
dan inofatif; jelas dan mudah dipahami serta dapat dilaksanakan oleh siswa. Peserta didik
belajar sesuai petunjuk yang diberikan oleh guru dengan langkah-langkah pembelajaran saintifik
yang meliputi: Mengamati; Menanya; Mengumpulkan Informasi/ Mencoba; Mengasosiasikan;
Mengkomunikasikan.
Kegiatan Penutup: Pembelajaran dengan pendekatan saintifik, guru melakukan; umpan balik
antar siswa, antara siswa dan guru sesuai materi pembelajaran. Memberikan tugas mencari
contoh karya lain. Melaksanakan tes, penilaian; lisan, kerja kelompok, pengamatan, sikap
dilakukan selama proses kegiatan
Hadirin yang saya hormati,
Untuk menganalisis hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menguraikan deskripsi hasil
penelitian dari siklus I sampai dengan siklus IV dan menguraikan hasil pembahasan dari siklus I
sampai dengan siklus IV. Berdasarkan hasil analisis dan kajian diperoleh peningkatan
kompetensi siswa dengan nilai rata-rata dari siklus I sebesar 72,39 meningkat pada siklus IV
menjadi 87,86. Hasil pengamatan tindakan penerapan pendekatan saintifik dianalisis
perkembangan aspek pengamatan seperti pada ganbar 1.
100
90
Nilai Aspek Pengamatan
80
70
90
86 85.3
84
82
80
73.3
72.5
70 70
67.5
77.5
60
94
88
86.6
87.5
Mengamati &
Menanya
Mengumpulkan
Informasi
Mengasosiasikan
50
40
Mengkomunikasik
an
30
20
10
0
SIKLUS :
I
II
III
IV
Gambar 1. Grafik Hasil Pengamatan Tindakan Penerapan Saintifik
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 11
Kegiatan Orasi Ilmiah
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan pengelola pendidikan, penerapan
pembelajaran pendekatan saintifik, guru lebih mudah menyampaikan ilmu, karena siswa lebih
aktif, mandiri dan pelaksanaan pembelajaran sangat efektif, siswa memperoleh pembelajaran
secara ilmiah, merasa yakin ilmu yang diperolehnya adalah konsep dasar dan dapat
mengembangkannya untuk dunia pendidikan sehingga kompetensi yang harus dikuasai oleh
siswa akan tercapai sesuai tujuan pembelajaran. Makna penerapan pendekatan saintifik dapat
dikembangkan kompetensi siswa antara lain melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi,
rasa ingin tahu, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, berpikir sistematis,
mengemukakan pendapat, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Hadirin yang saya hormati,
Pengakuan siswa dari hasil wawancara, bahwa kegiatan pembelajaran dengan pendekatan
saintifik memberikan motivasi, tantangan dan semangat dalam belajar mata pelajaran konstruksi
bangunan. Pelaksanaan pembelajaran tidak monoton, interaksi pembelajaran bersifat multi arah
dan pembelajaran yang tadinya berpusat kepada guru (teacher centered) menjadi peserta belajar
aktif (student centered), adanya diskusi kelompok maupun diskusi kelas membuat suasana
belajar lebih menarik dan menambah semangat belajar dan tantangan untuk memperoleh ilmu
konstruksi bangunan. Diskusi kelompok memberikan kesempatan kepada siswa untuk memupuk
kerja sama dalam memecahkan masalah, menumbuhkan sifat demokrasi dan toleran, siswa lebih
percaya diri karena dapat membantu sesamanya dalam memecahkan masalah dalam kelompok,
lebih aktif dan belajar bersosialisasi. Proses pembelajaran pada satuan pendidkan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif. Siswa merasakan dampak positif dalam mengikuti proses
pembelajaran konstruksi bangunan, dengan belajar secara mandiri dapat dikuasi dan kelak
bermanfaat bagi dunia kerja. (PP. SNP;2005)
Hadirin yang saya hormati,
Setelah dilakukan tindakan pembelajaran pendekatan saintifik oleh guru (siklus I sampai
dengan siklus IV) pada mata pelajaran konstruksi bangunan kelas X di SMKN 6 Bandung,
mengalami peningkatan kualitas pembelajaran, dibandingkan dengan pembelajaran sebelum
pendekatan saintifik diterapkan. Jadi setelah dilakukan tindakan dengan menggunkan
pembelajaran pendekatan saintifik telah terjadi perubahan dan perbaikan pembelajaran. Pola
interaksi pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran pendekatan saintifik, tidak hanya
monoton dari guru ke siswa, ini tampak dari keterlibatan, aktivitas, dan kreatifitas siswa dan
guru dalam proses pembelajaran.
Selama proses penerapan pembelajaran pendekatan saintifik pola interaksi belajar mengajar
dapat berlangsung secara multi arah.
Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar,
bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu,diperoleh peserta
didik. (Permendikbud,2013)
Berdasarkan hasil penelitian dengan penerapan pendekatan saintifik, diperoleh aktivitas
belajar setiap aspek pada siklus I, II, III dan siklus IV, dapat ditapsirkan bahwa tingkat keaktifan
siswa dalam mengikuti pembelajaran konstruksi bangunan sangat meningkat, hal ini berdasarkan
temuan pada aspek ”mengamati dan menanya” pada siklus I sebesar 80% meningkat menjadi
94% pada siklus IV. Demikian juga pada penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
pada aspek ”mengumpulkan informasi” pada siklus I sebesar 70% meningkat menjadi 88%
pada siklus IV. Selanjutnya pada kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik pada aspek
”mengolah informasi” pada siklus I sebesar 70% meningkat menjadi 86,67% pada siklus IV,
dan pembelajaran dengan penerapan pendekatan saintifik pada aspek kegiatan
”mengkomunikasikan” diperoleh 67,5% pada siklus I, meningkat menjadi 87,5% pada siklus
IV.
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 12
Kegiatan Orasi Ilmiah
Hadirin yang saya hormati,
Dari hasil kajian dan pembahasan penelitian, akhirnya dapat disimpulkan bahwa penerapan
pembelajaran pendekatan saintifik oleh guru konstruksi bangunan di SMKN 6 Bandung sebagai
berikut:
(1) Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik oleh guru secara signifikan dapat
meningkatkan kompetensi siswa pelajaran konstruksi bangunan, peningkatan ini ditunjukkan
nilai akhir hasil belajar pada siklus I sebesar 72,39 meningkat menjadi 87,86, serta temuan
efektivitas belajar siklus I sebesar 37,86 meningkat menjadi 62,32 pada siklus IV.
(2) Perencanaan dan penerapan pembelajaran pendekatan saintifik mata pelajaran konstruksi
bangunan dengan langkah-langkah seperti pada gambar 2
Identifikasi Tujuan/
Rumusan Tujuan
Menetapkan Isi (Topik) Belajar
Perencanaan Pembelajaran Pendekatan Saintifik mata
pelajaran Konstruksi Bangunan
Penerapan Pembelajaran Pendekatan Saintifik untuk mata
pelajaran Konstruksi Bangunan
Kegiatan Pendahuluan
Tes awal (Pre Test)
Kegiatan Inti
Mengamati
Menanya
Mengumpulkan informasi/
Mencoba
Mengasosiasikan
Mengkomunikasikan
Kegiatan Penutup
Tes Akhir (PostTest)
Hasil Belajar
(Kompetensi Siswa)
Gambar 2: Penerapan Pembelajaran Pendekatan Saintifik untuk mata pelajaran Konstruksi Bangunan
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 13
Kegiatan Orasi Ilmiah
Hadirin yang saya hormati,
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan serta simpulan di atas dapat diajukan beberapa
rekomendasi penerapan pembelajaran pendekatan saintifik oleh guru mata pelajaran konstruksi
bangunan kelas X di SMKN 6 Bandung sebagai berikut:
(1) Setiap selesai pembelajaran, guru diharapkan melakukan refleksi terhadap apa yang telah
dilakukan dalam proses pembelajaran, sehingga dapat melakukan perbaikan terhadap
kekurangan melalui pengalaman yang diperoleh selama menerapkan pembelajaran dengan
pendekatan saintifik.
(2) Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat dioptimalkan di SMKN 6 Bandung, jika
didukung oleh sarana prasarana, fasilitas, kesiapan dan kemauan serta kemampuan untuk
melakukan inovasi pembelajaran ke arah pembelajaran dengan memperhatikan latar
belakang/kondisi siswa, dilakukan secara utuh dan berkesinambungan, menggunakan
metode mengajar yang bervariasi, menekankan pada pemecahan masalah, dan pola evaluasi
yang berkelanjutan
(3) Penelitian tindakan kelas agar dilaksanakan berkelanjutan karena sangat bermanfaat sebagai
upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (meningkatkan kompetensi profesional
guru).
Hadirin yang saya hormati,
Demikian materi orasi ilmiah ini disampaikan, dengan harapan semoga manfaat bagi kita
yang sangat peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan.
Sebagaimana manusia biasa, sangat menyadari bahwa saya tidak luput dari berbagai kekurangan
dan kekhilafan, oleh sebab itu pada kesempatan ini dimohon maaf, dan terima kasih atas segala
perhatian, saran perbaikan terhadap materi yang disampaikan ini.
Untuk mewujudkan Orasi ilmiah ini, diperoleh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh
karena itu patut kiranya pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :
 Bapak Kepala Lembaga Administrasi Negara RI;
 Bapak Kepala PPPPTK BMTI;
 Bapa Prof. J Purba M.Pd, sebagai pembimbing dalam penulisan KTI ini;
 Bapak Kepala SMK Negeri 6 Bandung;
 Rekan-rekan Widyaiswara di PPPPTK BMTI;
 Bapak–Ibu pegawai di lingkungan PPPPTK BMTI;
 Bapak–Ibu Guru dan pegawai SMK Negeri 6 Bandung ;
 Istri dan anak-anak tercinta.
 Juga kepada teman-teman sejawat dan para hadirin yang terhormat yang telah berkenan hadir
pada acara orasi ilmiah hari ini.
Sangat disadari bahwa dalam meniti karir pada jabatan fungsional widyaiswara madya menuju
widyaiswara utama ini adalah bimbingan widyaiswara utama di PPPPTK BMTI, serta temanteman widyaiswara yang banyak melakukan kerjasama pada setiap kegiatan.
Sekian, dan semoga Allah SWT selalu memberi petunjuk dan membimbing kita dalam menapaki
jalan yang masih panjang didepan kita. Amien !!!
Billahittaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 14
Kegiatan Orasi Ilmiah
DAFTAR PUSTAKA
1) Buku:
Anderson, Le.W. dan Kreathwohl, D.R. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching, and
Assesssing: A Revision of Bloom,s Taxonomy of Educational Objectives. New York.
Longman.
Bruner, J. (1996). The Culture of Education. Cambridge, MA: Harvard University Press.
Calabrese Barton, A. (1998). Reframing “science for all” through the politics of poverty.
Educational Policy, 12, 525-541
Battencourt,A. What is Constructivism and Why are They all, talking about it? Michigan
State University
Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A.Benyamin Surasega, Model
Pembelajaran, 1990)
Hadjar 1996, dalam Basrowi dan Sudikin, 2002,
Kuantitatif
Penelitian Kualitatif dan Penelitian
Strauss, A, & Corbin, J. (1990). Dasar-dasar penelitian kualitatif: teori Beralas prosedur dan
teknik. Newbury Park, CA:Sage Publications, Inc.
Harding, S. (1998). Is Science Multicultural Postcolonialisms, Feminisms, and
Epistemologies. Bloomington: Indiana University Press.
Hlynka, DH, Six Postmodemism in search of an Author. In Anglin, G.J. Instructional
Technology: Past, present and Future.2nd Ed.Englewood, Libraries Unlimited, 1995
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Konsep Pendekatan Saintifik, Buku Guru Diklat
Implemetasi Kurikulum 2013, Jakarta 2013
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Panduan Teknis Pembelajaran Tematik
Terpadu dengan Pendekatan Saintifik, Jakarta 2013
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pembelajaran Berbasis Kompetensi Mata
Pelajaran Matematika (melalui Pendekatan Saintifik), Jakarta 2013
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Petunjuk Teknis Penilaian Hasil Belajar,
Jakarta 2013
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Pendekatan Saintifik dan Model-model
Pembelajaran, Jakarta 2014.
Lorsbach, A. & Tobin K. Constructivism as a Referent for Science Teaching. NARST
Research Matters The Science Teacher,1992.
Matthews, M. Science Teaching, New York, Routledge, 1994
Paulina Panen, Dina Mustafa, Mestika Sekarwinahyu, Konstruktivisme
Pembelajaran, Proyek Pengembangan Universitas Terbuka, Jakarta 2001
dalam
Piaget. J. Psychology and Epistemology. New York, The Viking Press, 1971
Sulipan, Menyusun Karya Tulis Ilmiah, Eksismedia, Tantiarama, Bandung 2010
Young, Jolee. And Elaine Chapman (2010). Generic Competency Frameworks: a Brief
Historical Overview. Education Research and Perspectives, Vol.37. No.1. The
University of Western Australia.
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 15
Kegiatan Orasi Ilmiah
von G’lasersfeld, E. Cognition, Construction of knowledge, and teaching. Synthese, 80,
121-140, 1989
2) Artikel:
Anwar Fuad, Penerapan Strategi Pembelajaran Model PAKEM Guna Meningkatkan
Motivasi Peserta Diklat Mekanik Otomotif pada Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan – Bidang Mesin dan Teknik
Industri , Bandung, 2008
Sinaga, Holong R. Penerapan Pembelajaran Kooperatif pada Diklat Kualitas Bahan
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Diklat Depertemen Teknik Bangnan
PPPPTK BMTI, Bandung 2010
http://www.ase.org.uk/documents/principles-and-big-ideas-of-science-education
3) Peraturan Pemerintah:
Permendikbud Nomor 81A tentang Implementasi Kurikulum, Jakarta Juni 2013
Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013,tentang Standar Proses, Jakarta Juni 2013
Permendikbud No.54 Tahun 2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan
Dasar dan Menengah, Jakarta Juni 2013
Permendikbud No.64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah,
Jakarta Juni 2013
Permendikbud No.66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan Dasar dan
Menengah, Jakarta Juni 2013
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah. Model
Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik, Jakarta 2013
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Panduan Teknis kurikulum Jakarta 2013.
Permendikbud No.69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, Jakarta Juni 2013
Peraturan Pemerintah No.32 Tahun 2013 tentang perubahan atas PP No. 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional pendidikan (Lembar Negara RI Th. 2013 No.71), Jakarta
Juni 2013
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 16
Kegiatan Orasi Ilmiah
RIWAYAT HIDUP
Nama Peneliti, Drs Tatang Taslimuharom, MP, dilahirkan di Bandung tanggal
6 Juli 1960, tempat bekerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri
(PPPPTK BMTI), Jabatan fungsional Widyaiswara Madya, Pangkat dan
Golongan/Ruang adalah Pembina Utama Muda, IV/c, Pendidikan S-1 lulus
tahun 1984 jurusan Pendidikan Teknik Bangunan FKT IKIP Yogyakarta, dan
S-2 lulus tahun 2001 jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pengalaman kerja selama menjabat sebagai widyaiswara di PPPPTK BMTI, diangkat pertama
menjadi widyaiswara pada tahun 1992, menjabat wakil kepala Instalasi Bangunan tahun 1997–
2000, Wakil Kepala Instalasi Bangunan Bidang Pengembangan tahun 2003-2006, menjabat
sebagi Ketua Jurusan Plambing tahun 2006–2009, menjabat Koordinator Jabatan Fungsional
tahun 2012 sampai dengan sekarang.
Pengalaman kerja di Industri, sebagai konsultan/ tenaga ahli di Satui Mine BHP Mineral
Indonesia tahun 1997, Perencanaan fasilitas Plambing SMKK, SMEA dan SMIK bersama CV.
Gamma Insulo Jakarta tahun 1994–1995, Penulisan Modul Plambing untuk PT.Nusa Halmahera
Mineral tahun 1997.
Pengalaman akademis, menjadi narasumber/ fasilitator pada diklat kompetensi untuk guru-guru
SD/SMP/SMA/SMK di provinsi Jawa Barat, Jakarta, Papua, Nangroe Aceh Drussalam, Riau,
Padang. Sebagai narasumber/fasilitator pada diklat penguatan kepala sekolah/pengawas sekolah.
Sebagai narasumber/fasilitator diklat Kurikulum.
Penulisan Buku: Hidrolika untuk D3GK Kejuruan P3GT Bandung tahun 1986, Teknik
Penjernihan Air untuk Diklat Kompetensi Guru Kejuruan P3GT Bandung tahun 1990, Instalasi
Air Limbah dan Drainase Industri untuk SMK,Direktorat PSMK tahun 2008,Sistem Penyediaan
Air Bersih Direktorat PSMK tahun 2013, Teknik Saniter dan Drainase Direktorat PSMK tahun
2013, Sistem Pemipaan untuk SMK Direktorat PSMK tahun 2013.
Keanggotaan profesi ilmiah di PPPPTK BMTI, sebagai penulis dan editor pada majalah
SWARA dan DesainTek. Dan sebagai anggota Ikatan Widyaiswara Indonesia.
Karya Tulis Ilmiah yang pernah dimuat dalam majalah antara lain, Penulisan Makalah
pengembangan Kurikulum D3GK Plambing, Penulisan Artikel pada Majalah Swara
(judul:Pembelajaran MATOA, Pendekatan PAKEM, Hypnoteaching I & II, Revolusi
Pembelajaran, Revolusi Hati), Penulisan artikel pada majalah DesainTek judul Alat Bantu
Belajar Teknik Saniter,
Karya tulis ilmiah yang dibuat dalam bentuk penelitian, yaitu dengan judul : Penerapan Model
Pembelajaran Kreatif untuk peningkatan kompetensi peserta diklat pengujian beton di PPPPTK
BMTI tahun 2011, Alat bantu belajar teknik saniter untuk menentukan macam-macam aliran air
tekanan air dan debit air tahun 2012.
T. Taslimuharom/PPPPTK BMTI/2015
Page 17
Download