KEWAJIBAN JANGKA PENDEK dan KONTINJENSI

advertisement
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK dan KONTINJENSI
Definisi utang (liabililties) menurut FASB, concepts No. 3 adalah:
“Pengorbanan manfaat ekonomi di masa yang akan datang yang mungkin terjadi
akibat kewajiban suatu badan usaha pada masa kini untuk mentransfer aktiva atau
menyediakan jasa pada badan usaha lain di masa yang akan datang sebagai akibat
transaksi atau kejadian di masa lalu”.
Tiga karakteristik utama dari kewajiban adalah:
1. Merupakan kewajiban saat ini yang memerlukan penyelesaian dengan kemungkinan
transfer masa depan atau penggunaan kas, barang dan jasa.
2. Merupakan kewajiban yang tidak dapat dihindari
3. Transaksi atau kejadian lainnya yang menciptakan kewajiban itu harus telah terjadi.
Berdasarkan karakteristik tersebut, utang di kelompokkan menjadi 2, yakni:
1. Kewajiban/utang lancar
2. Kewajiban/utang jangka panjang
1. KEWAJIBAN/UTANG LANCAR
Yang dimaksud dengan aktiva lancar (current liabilities) adalah kas atau akiva lainnya yang
secara layak dapat diharapkan untuk dikonversi menjadi kas, dijual atau dikonsumsi dalam
operasi selama satu siklus operasi atau dalam suatu tahun (jika lebih dari satu siklus yang
diselesaikan setiap tahun)
Utang lancar (current liabilities) adalah kewajiban yang likuidasinya diperkirakan secara layak
memerlukan penggunaan sumber daya yang ada, yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar,
atau penciptaan kewajiban lancar lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan siklus operasi adalah periode waktu yang diperlukan
antara akuisisi barang dan jasa yang terlibat dalam proses manufaktur serta realisasi kas akhir
yang dihasilkan dari penjualan dan penagihan selanjutnya.
Beberapa Jenis kewajiban lancar adalah:
a. Utang usaha
b. Wesel bayar
c. Utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode berjalan
d. Utang jangka pendek yang diharapkan akan didanai kembali
e. Utang dividen
f. Uang muka pelanggan dan deposito yang dapat dikembalikan
g. Pendapatan yang diterima dimuka
h. Utang pajak penjualan
i. Utang pajak penghasilan
j. Kewajiban yang berhubungan dengan karyawan
Supiningtyas Purwaningrum
1
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
a. UTANG USAHA (accounts payable)
Utang usaha (accounts payable) atau utang dagang (trade accounts payable), merupakan
saldo yang terhutang kepada pihak lain atas barang, perlengkapan atau jasa yang dibeli
dengan akun terbuka atau secara kredit.
Periode perluasan kredit ini biasanya dengan syarat penjualan 2/10, n/30 atau 1/10,
E.O.M) dan biasanya adalah 30 hingga 60 hari.
Ilustrasi:
Pada tanggal 10 Oktober 2012, PT Kirana membeli barang dagangan secara kredit
sebesar Rp 5.000.000, dengan syarat 3/10, n/60.
Tanggal 17 Oktober 2012, PT Kirana membayar utang sebesar Rp 2.500.000, dan sisa
utangnya dilunasi pada tanggal 1 Desember 2012.
Jurnal dar i transaksi tersebut di atas adalah:
10 Oktober 2012
Pembelian
Utang Dagang
17 Oktober 2012
Utang Dagang
Kas
Potongan /Diskon Pembelian
1 Desember 2012 Utang Dagang
Kas
5.000.000
2.500.000
2.500.000
-
5.000.000
2.425.000
75.000
2.500.000
b. WESEL BAYAR (Notes Payable)
Wesel bayar (notes payable) atau wesel bayar dagang (trade notes payable), adalah janji
tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu pada suatu tanggal tertentu di masa
depan dan dapat berasal dari pembelian, pembiayaan atau transaksi lainnya.
Wesel diklasifikasikan sebagai wesel jangka pendek dan jangka panjang, dan juga wesel
berbunga dan wesel tanpa bunga.
Penerbitan Wesel Berbunga
Ilustrasi (Kieso,2007):
Castle National Bank setuju untuk meminjamkan uang sebesar $100.000 kepada
Lanscape Co. pada tanggal 1 Maret 2007, jika Lanscape Co. menandatangani sebuah
wesel 4 bulan senilai $100.000 dengan bunga 6%.
Jurnal penerimaan kas pada tanggal 1 Maret
adalah:
01 Maret 2007
Kas
Wesel Bayar
100.000
-
100.000
(untuk mencatat penerbitan wesel 4 bulan dengan bunga 6% kepada
Castle National Bank)
Supiningtyas Purwaningrum
2
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jika laporan keuangan disusun setengah tahunan, maka jurnal penyesuaian akan
diperlukan untuk mengakui beban bunga dan utang bunga sebesar $2000 ($100.000
x 6% x 4/12) pada tanggal 30 Juni. Jurnal penyesuaiannya:
30 Juni 2007
Beban Bunga
Utang Bunga
2.000
-
2.000
(Untuk mengakrualkan bunga selama 4 bulan weel Castle National Bank)
Pada tanggal jatuh tempo (1 Juli 2007),Lanscape Co.harus membayar nominal wesel
ditambah nilai bunga.
01 Juli 2007
Wesel Bayar
Utang Bunga
Kas
100.000
2.000
-
-
102.000
(untuk mencatat pembayaran wesel berbunga Castle national Bank dan
bunga akrual pada saat jatuh tempo)
Perhitungan:
Nilai Nominal
Bunga ($100.000x6%x4/12)=
Nilai Jatuh Tempo
Penerbitan Wesel Tanpa Berbunga
100.000
2.000 +
102.000
Wesel tanpa bunga tidak secara eksplisit menyatakan suku bunga atas nilai nominal
wesel. Akan tetapi bunga tetap dibebankan. Pada saat jatuh tempo, peminjam
diharuskan untuk membayar kembali suatu jumlah yang lebih besar dari kas yang diterima
pada tanggal penerbitan (nilai sekarang wesel).
Nilai sekarang wesel sama dengan nilai nominal wesel pada saat jatuh tempo dikurangi
bunga atau diskonto yang dibebankan oleh pemberi pinjaman sesuai dengan
persyaratan wesel.
Ilustrasi (Kieso,2007):
Landscape Co menerbitkan wesel tanpa bunga berjangka waktu 4 bulan senilai $ 102.000
kepada Castle National Bank. Nilai sekarang wesel tersebut adalah $ 100.000 (tingkat
diskonto bank yg digunakan dalam contoh ini untuk menemukan nillai sekarang adalah
5,96%).
Jurnalnya:
Kas
Diskonto atas Wesel Bayar
Wesel Bayar
100.000
2.000
-
102.000
(untuk mencatat penerbitan wesel tanpa bunga 4 bulan kepada Castle
National Bank)
Jumlah diskonto sebesar $ 2.000 merupakan biaya pinjaman sebesar $ 100.000 selama 4
bulan.
Supiningtyas Purwaningrum
3
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
c. UTANG JANGKA PANJANG YANG JATUH TEMPO DALAM PERIODE BERJALAN
Seluruh atau bagian dari utang obligasi dan utang-utang jangka panjang lainnya yang
akan dilunasi kurang dari satu tahun dilaporkan sebagai utang jangka pendek.
Utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam periode berjalan tetap diakui sebagai
utang jangka panjang apabila:
 Ditarik atau dilunasi dengan aktiva yang terakumulasi untuk tujuan tersebut yang
secara layak tidak ditunjukkan sebagai aktiva lancar
 Didanai kembali atau dilunasi dari hasil penerbitan utang baru
 Dikonversi menjadi modal saham
Apabila hanya sebagian dari utang jangka panjang yang dibayarkan dalam 12 bulan ke
depan, seperti halnya obligasi berseri, maka perusahaan melaporkan bagian jatuh
tempo dari utang jangka panjang sebagai kewajiban lancar, dan bagian sisanya
dilaporkan sebagai utang jangka panjang.
d. UTANG JANGKA PENDEK YANG DIHARAPKAN AKAN DIDANAI KEMBALI
Kewajiban jangka pendek (short-term obligation) adalah utang yang dijadwalkan akan
jatuh tempo dalam waktu satu tahun setelah tanggal neraca perusahaan atau dalam
siklus operasi perusahaan, mana yang lebih lama.
Beberapa kewajiban jangka pendek diharapkan akan didanai kembali atas dasar
jangka panjang dan karena itu, diperkirakan tidak memerlukan penggunaan modal
kerja selama tahun berikutnya.
Pendanaan kembali kewajiban jangka pendek atas dasar jangka panjang berarti
menggantikannya dengan kewajiban jangka panjang atau dengan sekuritas ekuitas,
atau memperbaharui, memperpanjang atau menggantikannya dengan kewajiban
jangka pendek selama periode yang tidak terputus, yang melebihi satu tahun (siklus
operasi, jika lebih lama) mulai dari tanggal neraca perusahaan.
Kewajiban jangka pendek wajib dikeluarkan dari kelompok kewajiban lancar hanya
jika kedua kondisi berikut dipenuhi:
 Perusahaan memiliki rencana untuk mendanai kembali kewajiban atas dasar
jangka panjang
 Perusahaan menunjukkan kemampuan untuk melaksanakan pendanaan
kembalin tersebut
e. UTANG DIVIDEN
Utang dividen adalah kewajiban perusahaan kepada para pemegang saham karena
mengumumkan pembagian laba berupa kas atau aktiva lain.
Supiningtyas Purwaningrum
4
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Utang dividen yang termasuk dalam utang jangka pendek adalah:
Dividen yang dibagikan dalam bentuk kas atau aktiva (jika belum dibayar) yang segera
akan dilunasi. Biasanya dividen kas akan dibayarkan dalam satu tahun setelah
pengumuman (biasanya 3 bulan).
Utang dividen dalam bentuk saham tambahan tidak diakui sebagai kewajiban.
Dividen yang dibagikan dalam bentuk saham yang belum dibagikan, biasanya
dilaporkan dalam kelompok ekuitas pemegang saham karena merupakan laba ditahan
dalam proses transfer ke modal disetor.
Pencatatan yang harus dibuat berkaitan dengan pembagian dividen adalah sebagai
berikut:
Tanggal pengumuman
pembagian dividen
Tanggal pendaftaran
pemegang saham
Tanggal pembayaran
dividen
Laba Ditahan
Utang Dividen
XXX
-
XXX
Utang Dividen
Kas
XXX
-
XXX
Tidak ada ayat jurnal yang dibuat
f. UANG MUKA PELANGGAN & DEPOSITO YANG DAPAT DIKEMBALIKAN
Perusahaan dapat menerima deposito dari pelanggan untuk menjamin pelaksanaan
kontrak atau jasa atau sebagai jaminan untuk menutup pembayaran kewajiban yang
diharapkan di masa depan.
Jika jaminan itu akan disimpan dalam perusahaan untuk jangka waktu yang lama,
maka termasuk kelompok utang jangka panjang.
Ilustrasi
Pada tanggal 3 Januari 2012, UD Merapi memberikan uang jaminan kepada
Perusahaan air mineral atas 100 galon yang dipinjamnya. Uang jaminan yang
diberikan adalah Rp 1.000 per galon, untuk 4 bulan. Empat bulan kemudian uang
jaminan untuk 50 galon diminta kembali oleh UD Merapi.
Jurnal yang dibuat oleh Perusahaan air mineral tersebut adalah:
03 Januari 2012
02 Mei 2012
Kas
Utang Jaminan Galon
(100 x 1.000)
Utang Jaminan Galon
Kas
(50 x 1.000)
Supiningtyas Purwaningrum
100.000
-
100.000
50.000
-
50.000
5
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
g. PENDAPATAN DITERIMA DIMUKA
Merupakan jumlah yang diterima dari pembeli untuk barang dan jasa yang akan
diserahkan dalam periode yang akan datang.
Ketika uang muka diterima, kas didebit dan akun pendapatan diterima dimuka
dikredit.
Ketika pendapatan diterima, akun pendapatan diterima dimuka didebit, dan akun
pendapatan dikredit.
Ilustrasi
Pada tanggal 06 Agustus 2010, PSSI menjual 10.000 tiket bola musiman dengan
harga @ Rp 50.000, untuk 5 kali jadwal pertandingan kandang. Pertandingan mulai di
gelar setiap 2 hari sesudah penjualan tiket tersebut.
Jurnal yang dibuat PSSI atas ilustrasi di atas adalah sebagai berikut:
06 Agustus 2010
Kas
500.000.000
-
500.000.000
Setiap kali usai digelar pertandingan, jurnal yang dibuat adalah:
08 Agustus 2010
Pendapatan tiket diterima dimuka
100.000.000
Pendapatan tiket
(2.000 x 50.000)
100.000.000
Pendapatan tiket diterima dimuka
(10.000 x 50.000)
Jurnal tersebut akan selalu dibuat sampai 5 babak tersebut usai.
h. UTANG PAJAK PENJUALAN
Terkadang perusahaan menjadi pihak yang mengumpulkan uang dari
langganan/pegawai yang nantinya diserahkan kepada pihak lain. Pengumpulan dana
ini dapat dilakukan dengan cara pemotongan upah pegawai atau membebani pembeli
dengan jumlah tertentu.
Contoh
Pada tanggal 15 Nopember 2012, PT Prasetya
menjual barang seharga
Rp100.000.000. Atas penjualan tersebut PT Prasetya memungut PPN 10% dari nilai
penjualan, yang nantinya akan disetor ke kas negara.
Jurnal untuk mencatat penjualan dan utang PPN adalah:
Kas / Piutang Usaha
Penjualan
Utang PPN
110.000.000
-
100.000.000
10.000.000
Jurnal pada saat menyetorkan uang tersebut ke kas Negara adalah:
Utang PPN
Kas
Supiningtyas Purwaningrum
10.000.000
-
10.000.000
6
Universitas Gunadarma
i.
UTANG PAJAK PENGHASILAN
Setelah laba diketahui pada akhir periode, diperlukan taksiran besarnya PPh yang
akan menjadi beban tahun yang bersangkutan (tarif pajak berlaku x laba) dan
mencatat jurnal:
Pajak Penghasilan
Utang Pajak Penghasilan
j.
Akuntansi Keuangan Menengah 2
xxx
-
xxx
KEWAJIBAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KARYAWAN
Jumlah yang terhutang kepada karyawan untuk gaji atau upah pada akhir periode
akuntansi dilaporkan sebagai kewajiban lancar.
Selain itu, pos-pos berikut yang berhubungan dengan kompensari karyawan juga
sering dilaporkan sebagai kewajiban lancar:
 Pemotongan Gaji
 Absensi yang dikompensasi
 Bonus
Pemotongan Gaji
Jenis paling umum dari pemotongan gaji adalah pajak premi asuransi, tabungan
karyawan, iuran serikat kerja, dll.
Jika jumlah tersebut belum diserahkan kepada yang berwenang pada akhir periode
akuntansi, maka jumlah itu harus diakui sebagai utang lancar.
Pemotongan Pajak Penghasilan
Pemotongan PPh Pasal 21 dilakukan oleh pihak pemberi penghasilan kepada WP
orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau kegiatan yang
dilakukan. Misalnya pembayaran gaji yang diterima oleh pegawai dipotong oleh
perusahaan pemberi kerja. WP berbentuk badan ditunjuk oleh UU Perpajakan sebagai
pemotong PPh Pasal 21 atas penghasilan yang dibayarkan kepada karyawannya
maupun yang bukan karyawannya. WP orang pribadi dapat juga ditunjuk sebagai
pemotong PPh Pasal 21 sepanjang ada penunjukannya dari KPP tempat WP orang
pribadi terdaftar.
Pemberi kerja wajib untuk menyetorkan kepada pemerintah atas pajak yang dipotong
dari penghasilan para karyawannya. Semua potongan pajak yang belum disetorkan,
harus dicatat sebagai beban pajak gaji dan utang pajak gaji.
Contoh
Beban Pajak Gaji/Upah
Utang Pajak Gaji/Upah
Supiningtyas Purwaningrum
xxx
-
xxx
7
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Absensi yang dikompensasi
Absensi yang dikompensasi (compensated absences) adalah absensi dari pekerjaan
seperti cuti, sakit dan hari libur.
Suatu kewajiban harus diakrualkan untuk biaya kompensasi atas absensi di masa
depan jika semua kondisi berikut dipenuhi, yakni:
 Kewajiban pemberi kerja yang berhubungan dengan hak karyawan untuk
menerima kompensasi atas absensi di masa depan, berasal dari jasa/prestasi
karyawan
 Kewajiban yang berhubungan dengan hak yang bersifat terjamin penuh atau
berakumulasi
 Memungkinkan adanya pembayaran kompensasi tersebut
 Jumlahnya dapat diestimasi dengan layak.
Beban dan kewajiban yang berhubungan dengan absensi yang dikompensasi harus
diakui perusahaan dalam tahun saat hal tersebut dihasilkan oleh karyawan.
Ilustrasi (kieso, 20017)
Amutron Inc. mulai beroperasi pada tanggal 1 Januari 2006. Perusahaan ini
mempekerjakan 10 orang yang dibayar $ 480 per minggu. Minggu cuti yang dihasilkan
oleh semua karyawan pada tahun 2006 adalah 20 minggu, tetapi tidak ada yang
digunakan dalam periode ini.
Pada tahun 2007, minggu cuti digunakan ketika tariff pembayaran saat ini adalah $
540 per minggu untuk setiap karyawan.
Per 31 Desember 2006 Amutron mengakrualkan akumulasi pembayaran cuti sebagai
berikut:
Beban Gaji/Upah
9.600
Utang Gaji/Upah Cuti
9.600
($480 x 20)
Pada tanggal 31 Desember 2006, perusahaan akan melaporkan dalam neracanya
suatu kewajiban sebesar $9.600.
Pada tahun 2007, pembayaran cuti akan dicatat sebagai berikut:
Utang Gaji/Upah
9.600
Beban Upah
1.200
Kas ($540 x 20)
10.800
k. UTANG BONUS
Kewajiban, yaitu utang bonus pembagian laba, biasanya akan dibayar dalam periode
waktu yang singkat dan harus dicatat sebagai kewajiban lancar dalam neraca.
Bonus yang diberikan kepada karyawan dapat dihitung berdasarkan:
1. Penjualan atau laba, dapat dengan cara:
a. bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan PPh
b. bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi PPh sebelum dikurangi bonus
c. bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi bonus dan PPh.
2. Perjanjian, misalnya kelebihan penjualan di atas jumlah tertentu.
Supiningtyas Purwaningrum
8
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jurnal untuk mencatat utang bonus adalah:
Beban Bonus
Utang Bonus
xxx
-
xxx
Jika bonus dibayar, maka jurnal yang dibuat:
Utang Bonus
Kas
xxx
-
xxx
Contoh 1  bonus dihitung dari laba sebelum dikurangi bonus dan PPh
PT Laju Bahtera memberikan insentif berupa bonus kepada para anggota direksi
sebesar 10% dari jumlah laba sebelum dikurangi bonus dan pajak penghasilan.
Dalam tahun buku 2011, jumlah laba perusahaan, sebelum dikurangi bonus dan pajak
penghasilan badan adalah Rp 165 jt. Bonus pada para anggota direksi dibayarkan pd
setiap tgl 1 April tahun buku berikutnya.
Jawab
B =
B =
B =
0,1 x 165.000.000
Rp 16.500.000
Rp 16.500.000
Contoh 2  bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi PPh sebelum dikurangi
bonus
PT Laju Bahtera memberikan insentif berupa bonus kepada para anggota direksi
sebesar 10% dari jumlah laba setelah dikurangi PPh, tetapi sebelum dikurangi bonus.
Dalam tahun buku 2011, jumlah laba perusahaan, sebelum dikurangi bonus dan pajak
penghasilan badan adalah Rp 165 jt. Bonus pada para anggota direksi dibayarkan pd
setiap tgl 1 April tahun buku berikutnya.
Tarif PPH badan yg berlaku dlm tahun 2011 adalah 40% berlaku efektif.
Berapakah hutang bonus kepada para anggota direksi 31/12/2011?
Jawab
P
B
=
=
B
=
B
=
B
=
B
=
0,96B =
B
=
0,4 (165.000.000 - B)
0,1 (165.000.000 - P)
0,1 (165.000.000 – 0,4 (165.000.000 – B)
0,1 ( 165.000.000 – 66.000.000 + 0,4B)
0,1 (99.000.000 + 0,4B)
9.900.000 + 0,04B
9.900.000
10.312.500
Contoh 3  bonus dihitung dari laba sesudah dikurangi bonus dan PPh.
PT Teratai Putih memberikan insentif berupa bonus kepada semua karyawan, sebesar
seluruhnya 10% dari jumlah laba sesudah dikurangi bonus dan pajak penghasilan
badan.
Dalam tahun buku 2011, perusahaan memperoleh laba sebelum bonus dan pajak
penghasilan badan sebesar Rp 200 juta. Pajak 40%
Supiningtyas Purwaningrum
9
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Dalam tahun 2011, perusahaan dikenakan pajak penghasilan dengan tarif efektif
sebesar 40%. Berapakah bonus yg harus dibayarkan kepada karyawan tahun buku
2011?
Jawab
Jika P adalah Pajak Penghasilan dan B adalah Bonus, maka untuk tahun buku 2011
saling hubungan antara kedua variabel dapat dinyatakan sebagai berikut:
P
B
B
B
B
B
1,06B
B
= 0,4 (200.000.000 – B)
= 0,1 (200.000.000 – B - P)
= 0,1 (200.000.000 – B - 0,4 (200.000.000 – B)
= 0,1 (200.000.000 – B - 80.000.000 + 0,4B)
= 0,1 (120.000.000 – 0,6B)
= 12.000.000 – 0,06B
= 12.000.000
= 11.320.755
Catatan: perhitungan ini diselesaikan dengan cara substitusi.
2. UTANG BERSYARAT/CONTINGENT LIABILITIES
Kontinjensi (contingencies) adalah suatu kondisi, situasi dan serangkaian situasi yang ada
yang melibatkan ketidakpastian mengenai keuntungan (keuntungan kontinjensi) atau kerugian
(korugian kontinjensi) untuk perusahaan yang pada akhirnya akan diketahui ketika satu atau
lebih kejadian di masa depan terjadi atau tidak terjadi.
a. Keuntungan Kontinjensi (gain contingencies)
Adalah klaim atau hak untuk menerima aktiva (atau memiliki kewajiban yang menurun)
yang keberadaannya tidak pasti tetapi pada akhirnya mungkin akan menjadi sah.
Jenis keuntungan kontinjensi adalah:
 Penerimaan yang mungkin atas uang dari hadiah, sumbangan, bonus dan lain-lain
 Kemungkinan pengembalian dana dari pemerintah atas kelebihan pajak
 Penundaan kasus pengadilan yang hasilnya mungkin menguntungkan
 Kerugian pajak yang dikompensasi ke depan
Dengan mempertimbangkan prinsip konservatif, maka keuntungan kontinjensi ini tidak
akan dicatat dalam laporan keuangan. Hal tersebut akan diungkapkan dalam catatan
hanya jika probabilitasnya tinggi bahwa suatu keuntungan kontinjensi akan menjadi
kenyataan.
b. Kerugian Kontinjensi (loss contingencies)
Kerugian kontinjensi melibatkan kemungkinan terjadinya kerugian. Kewajiban yang terjadi
sebagai akibat dari kerugian kontinjensi menurut definisinya disebut sebagai kewajiban
kontinjen.
Supiningtyas Purwaningrum
10
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Kewajiban kontinjen (contingent liabilities) bergantung pada terjadinya satu atau lebih
kejadian di masa depan untuk mengkonfirmasikan jumlah utang, pihak yang dibayar,
tanggal pembayaran atau keberadaannya.
FASB menggunakan istilah kemungkinan besar (probabale), cukup mungkin
(reasonable possible), dan kemungkinan kecil (remote) untuk mengidentifikasikan tiga
daerah dalam kisaran tersebut.
Suatu estimasi kerugian dari kerugian kontinjensi harus diakrualkan dengan
membebankannya ke beban dan kewajiban dicatat hanya jika kedua kondisi berikut
dipenuhi:
 Informasi yang tersedia sebelum penerbitan laporan keuangan menunjukkan bahwa
kemungkina besar suatu kewajiban telah terjadi pada tanggal laporan keuangan
 Jumlah kerugian dapat diestimasi secara layak
Berdasarkan survei (accounting trends and techniques-2004) menyebutkan beberapa
kerugian kontijensi yang sering terjadi adalah:
 Perkara pengadilan, klaim dan pengenaan
 Biaya jaminan dan garansi
 Premi dan kupon
 Kewajiban lingkungan
Perkara pengadilan, klaim dan pengenaan
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan berkenaan dengan perkara pengadilan
(litigation) yang ditunda dan yang mengancam serta klaim (claim) dan pengenaan
(assessment) aktual adalah:
- Periode waktu dimana penyebab tindakan yang mendasari terjadi
- Probabilitas hasil yang tidak menguntungkan
- Kemampuan untuk membuat estimasi yang layak mengenai jumlah kerugian
Untuk melaporkan kerugian dan kewajiban dalam laporan keuangan, penyebab perkara
pengadilan harus terjadi pada atau sebelum tanggal laporan keuangan.
Biaya jaminan dan garansi
Jaminan (garansi produk) adalah janji yang dibuat oleh penjual kepada pembeli untuk
memperbaiki defisiensi kuantitas, kualitas atau kinerja suatu produk.
Jaminan dan garansi memerlukan biaya masa depan, yang seringkali merupakan biaya
tambahan yang signifikan yang terkadang disebut “biaya sesudah” atau “purna jual”.
Walaupun biaya masa depan bersifat tidak pasti dalam hal jumlah, tanggal terjadinya dan
bahkan pelanggannya, namun kewajiban adalah mungkin dalam banyak hal dan harus
diakui dalam akun jika dapat diestimasi secara layak.
Terdapat 2 metode dasar akuntansi untuk mencatat biaya jaminan:
 Dasar Kas
Biaya jaminan dicatat sebagai beban pada saat dikeluarkan
 Dasar Akrual
Biaya jaminan dibebankan ke beban operasi pada tahun penjualan.
Supiningtyas Purwaningrum
11
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Premi dan kupon
Untuk menstimulasi penjualan, beberapa perusahaan sering menawarkan premi baik
terbatas maupun berkelanjutan kepada pelanggan sebagai ganti tutup kotak, sertifikat,
kupon, label atau pembungkus.
Biaya yang dikeluarkan untuk premi tersebut harus dicatat sebagai beban pada periode
penjualan yang memperoleh manfaat dari rencana premi tersebut.
Apabila diperkirakan masih ada premi yang akan ditebus lewat dari periode penjualan,
maka jumlah tersebut harus diestimasi untuk merefleksikan kewajiban lancer yang ada dan
untuk menandingkan biaya dan pendapatan.
Biaya premi yang ditawarkan harus dibebankan ke beban premi, dan kewajiban yang
beredar harus dikredit kea kun estimasi kewajiban untuk premi.
Kewajiban lingkungan
Ketika suatu perusahaan memutuskan untuk berdiri, dampak lingkungan yang mungkin
timbul akibat berdirinya perusahaan tersebut harus diperhitungkan.
Perusahaan tambang misalnya, secara hukum, apabila perusahaan tersebut telah selesai
kegiatan penambangannya, wajib merestorasi tanah tersebut.
Demikian juga untuk penambang minyak, perusahaan ini juga berkewajiban untuk
membongkar dan memindahkan platformnya pada akhir umur manfaatnya.
Supiningtyas Purwaningrum
12
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
KEWAJIBAN JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang (long-term obligation) merupakan pengorbanan manfaat ekonomi yang
sangat mungkin di masa depan akibat kewajiban sekarang yang tidak dibayarkan dalam satu
tahun atau satu siklus operasi perusahaan, mana yang lebih lama.
Jenis-Jenis Kewajiban jangka panjang
a. Hutang Obligasi
b. Wesel bayar jangka panjang
c. Hutang Hipotik
d. Kewajiban Pensiun
e. Kewajiban Lease
Pada umumnya, utang jangka panjang memiliki berbagai ketentuan dan pembatasan. Itemitem yang sering dinyatakan dalam perjanjian (indenture) meliputi jumlah yang diotorisasi utnk
diterbitkan, suku bunga, tanggal jatuh tempo, provisi penarikan, properti yang digadaikan
sebagai jaminan, persyaratan dana pelunasan, modal kerja dan pembatasan dividen, serta
pembatasan yang berhubungan dengan asumsi utang tambahan.
1. UTANG OBLIGASI
A. PENERBITAN OBLIGASI
Tujuan utama penerbitan obligasi adalah untuk meminjam dalam jangka panjang, apabila
jumlah modal yang diperlukan terlalu besar untuk disediakan oleh satu pemberi pinjaman.
Seluruh obligasi yang diterbitkan perusahaan, dapat dijual kepada bank investasi yang
bertindak sebagai agen penjualan dalam proses pemasaran obligasi.
Selain itu, perusahaan penerbit juga dapat secara langsung menjual obligasinya kepada
instansi lain.
Obligasi yang timbul dari suatu kontrak dikenal sebagai indenture obligasi (bond indenture) dan
merupakan janji untuk membayar :
 Sejumlah uang yang sudah ditetapkan pada tanggal jatuh tempo, ditambah
 Bunga periodik pada tingkat tertentu atas jumlah yang jatuh tempo (nilai nominal)
- Setiap obligasi dinyatakan dengan sertifikat dan mempunyai nilai nominal
- Pembayaran bunga obligasi biasanya dilakukan setengah tahunan
Jenis-Jenis Obligasi:
a. Obligasi berjamin dan tanpa jaminan
Obligasi berjamin (secured bond) didukung oleh janji beberapa orang penjamin.
Contoh: - obligasi hipotik dijamin oleh klaim atas real estat
- obligasi perwalian kolateral dijamin oleh saham dan obligasi korporasi lain
Obligasi tanpa jaminan tidak didukung dengan jaminan.
Contoh: Debenture Bond, Junk Bond (jenis ini biasanya berrisiko tinggi)
Supiningtyas Purwaningrum
13
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
b. Obligasi Berjangka, Obligasi berseri, Obligasi yang dapat ditebus
Obligasi berjangka adalah obligasi yang diterbitkan dengan satu tanggal jatuh tempo
Obligasi berseri adalah obligasi yang diterbitkan dengan memiliki beberapa tanggal jatuh
tempo (serangkaian pembayaran angsuran).
Obligasi yang dapat ditebus adalah obligasi yang diterbitkan dengan memiliki hak untuk
menebus dan menarik obligasi tersebut sebelum jatuh tempo.
c. Obligasi Konvertibel, Obligasi yang didukung komoditas, dan dengan diskonto
besar
Obligasi konvertibel (convertible bonds) adalah obligasi yang dapat dikonversi menjadi
sekuritas lain milik korporasi dalam jangka waktu tertentu setelah penerbitannya.
Obligasi yang didukung dengan komoditas dapat ditebus dengan ukuran komoditas
seperti minyak dalam barel, batubara dalam ton, dll
Obligasi dengan diskonto besar obligasi yang dijual pada diskonto yang memberikan
total pembayaran bunga pada saat jatuh tempo kepada pembelinya.
d. Obligasi terdaftar dan Obligasi atas unjuk (kupon)
Obligasi terdaftar adalah obligasi yang diterbitkan atas nama pemilik dan mensyaratkan
penyerahan sertifikat serta penerbitan sertifikat baru untuk menyelesaikan penjualan.
Obligasi atas unjuk adalah obligasi yang diterbitkan tanpa nama pemilik dan dapat
ditransfer dari satu pemilik ke pemilik lain cukup dengan penyerahan.
e. Obligasi laba dan Obigasi Pendapatan
Obligasi laba adalah obligasi tanpa pembayaran bunga kecuali perusahaan penerbit
mendapatkan laba.
Obligasi Pendapatan adalah obligasi yang memberikan bunga bersumber dari
pendapatan tertentu, missal Bandar udara, otoritas jalan tol, dll.
B. PENILAIAN UTANG OBLIGASI – DISKONTO dan PREMI
Tahapan penerbitan obligasi dan pemsarannya adalah sebagai berikut:
a. Perusahaan penerbit harus mendapatkan para penanggung (underwriter) yang akan
membantu memasarkan dan menjual obligasinya.
b. Persetujuan Securities Exchange Comission
c. Audit
d. Penerbitan prospektus (dokumen yang menjelaskan tentang fitur obligasi dan informasi
keuangan)
e. Pencetakan sertifikat obligasi
Harga Jual obligasi ditetapkan berdasarkan penawaran dan permintaan dari pembeli serta
penjual, risiko relatif, kondisi pasar dan keadaan perekonomian.
Para investor menilai obligasi pada nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan,
yang terdiri dari : Bunga dan Pokok.
Suku bunga yang digunakan adalah suku bunga yang memberikan nilai pengembalian atas
investasi yang dapat diterima yang sebanding dengan risiko penerbitnya.
Supiningtyas Purwaningrum
14
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Suku bunga yang tertulis dalam indenture obligasi dikenal sebagai suku bunga ditetapkan,
kupon atau nominal. Suku bunga ini ditetapkan oleh penerbit obligasi dinyatakan sebagai
persentasi nilai nominal yang disebut nilai pari.
Jika suku bunga yang digunakan oleh pembeli berbeda dengan suku bunga ditetapkan, maka
nilai sekarang obligasi yang dihitung oleh pembeli akan berbeda dengan nilai nominal obligasi.
Selisih antara nilai nominal dan nilai sekarang obligasi disebut diskonto atau premi.


Apabila obligasi dijual dengan harga < nilai nominal, selisihnya disebut Diskonto
Apabila obligasi dijual dengan harga > nilai nominal, selisihnya disebut Premi
Suku bunga yang dihasilkan oleh pemegang obligasi (pembeli) disebut hasil efektif (effective
yield), atau suku bunga pasar.
 Apabila obligasi dijual dengan diskonto, maka hasil efektifnya lebih tinggi dari suku
bunga ditetapkan.
 Apabila obligasi dijual dengan premi, maka hasil efektifnya lebih rendah dari suku
bunga ditetapkan.
Obligasi yang diterbitkan dengan Nilai Pari pada tanggal bunga
Apabila obligasi diterbitkan dengan nilai pari pada tanggal bunga, maka tidak ada premi
maupun diskonto yang diperhitungkan.
Contoh:
Obligasi berjangka 10 tahun dengan nilai pari $800,000, tertanggal 1 januari 2009, suku bunga
10% dibayarkan setengah tahunan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli.
Jurnal saat penerbitan:
01 Januari 2009
Kas
Utang Obligasi
Saat Pembayaran Bunga tahun 2009:
01 Juli 2009
Beban bunga obligasi
Kas
(bunga = 10% x 800.000 x 6/12)
$800.000
-
$800.000
$40.000
-
$40.000
Jurnal penyesuaian untuk mencatat Beban bunga 31 Des 2001 (Akhir tahun) :
31 Desember 2009 Beban bunga obligasi
$40.000
Utang bunga Obligasi
$40.000
Saat Pembayaran Bunga :
01 Januari 2010
Utang bunga obligasi
Kas
(bunga = 10% x 800.000 x 6/12)
Supiningtyas Purwaningrum
$40.000
-
$40.000
15
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Obligasi Diterbitkan dengan Diskonto atau Premi pada tanggal bunga
Jika Obligasi $ 800,000 diterbitkan tanggal 01 januari 2009, pada 97 (maksudnya adalah 97%
dari nilai pari).
Jurnal yang dibuat saat penerbitan:
01 Januari 2009
Kas
Diskonto atas utang obligasi
Utang obligasi
$776.000
24.000
-
-
$800.000
Diskonto akan diamortisasi dan dibebankan ke beban bunga selama periode waktu obligasi
tersebut beredar.
Apabila Diskonto obligasi sebesar $24,000 diamortisasi menggunakan metode garis lurus,
maka amortisasi setiap tahun : $ 24,000 / 10 th = $ 2,400
Jurnal yang dibuat akhir periode adalah:
31 Desember 2009
Beban bunga obligasi
Diskonto atas utang obligasi
$2.400
-
-
2.400
Pada akhir tahun pertama 2001 saldo diskonto hutang obligasi yang belum diamortisasi adalah
($24,000 - $2,400 =. $ 21,600)
Premi Hutang Obligasi diperhitungkan dengan cara yang sama seperti pada Diskonto Hutang
Obligasi.
Jika Obligasi berjangka 10 tahun dengan nilai pari $ 800,000 bertanggal dan dijual 1 Januari
2010 seharga 103, maka :
Jurnal saat Penerbitan :
01 Januari 2010
Kas (800.000 x 103%)
Utang Obligasi
Premi atas utang obligasi
$824.000
-
$800.000
$24.000
Pada akhir 2010 dan selama tahun obligasi beredar, ayat jurnal untuk mengamortisasi premi
menurut metode garis lurus adalah:
31 Desember 20XX Premi atas utang obligasi
Beban bunga obligasi
$2.400
-
$2.400
Beban bunga obligasi naik dengan amortisasi diskonto dan menurun dengan amortisasi
premi
Supiningtyas Purwaningrum
16
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Obligasi diterbitkan di antara Tanggal Bunga
Apabila obligasi diterbitkan pada tanggal selain tanggal pembayaran bunga, maka pembeli
obligasi itu akan membayar bunga obligasi yang terutang dari tanggal pembayaran bunga
terakhir sampai dengan tanggal penerbitan.
Sebenarnya pembeli obligasi membayar dimuka kepada penerbit obligasi untuk bagian dari
pembayaran bunga 6 bulan penuh yang bukan haknya, yaitu karena belum memiliki obligasi itu
selama periode berjalan.
Pembeli akan menerima pembayaran bunga 6 bulan penuh pada tanggal pembayaran bunga
setengah tahun berikutnya
Contoh 1
Tanggal 1 Maret 2009 diterbitkan Obligasi 10 tahun dengan nilai pari $ 800,000 suku bunga
6% yang dibayar tengah tahunan pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli
Saat diterbitkan obligasi:
01 Maret 2009
Kas
Utang Obligasi
Beban bunga obligasi
(800.000 x 2/12 x 6%)
$808.000
-
$800.000
8.000
Pembeli membayar dimuka bunga 2 bulan pada tanggal 1 Juli 2009.
Pada saat pembayaran bunga tanggal 1 Juli, jurnal yang dibuat adalah:
01 Juli 2009
Beban bunga obligasi
$24.000
Kas
(bunga = 6% x 800.000 x 6/12)
$24.000
Sesudah tanggal 1 Juli 2009, beban bunga sekarang bersaldo $16.000 = ($24.000 - $8.000),
yang merupakan beban bunga selama 4 bulan.
Contoh 2
Obligasi tertanggal 1 Januari 2009 dengan nilai pari $ 800,000 diterbitkan pada tanggal 1 Maret
2009 dengan kurs 102, tingkat suku bunga 6% yang dibayar tengah tahunan pada tanggal 1
Januari dan 1 Juli
Pencatatan Pembukuan Perusahaan:
01 Maret 2009
Kas
Utang Obligasi
Premi atas utang obligasi
Beban bunga obligasi
Supiningtyas Purwaningrum
824.000
-
800.000
16.000
8.000
17
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
METODE BUNGA EFEKTIF
Salah satu metode amortisasi diskonto atau premi yang lebih disukai adalah metode bunga
efektif atau disebut juga sebagai metode amortisasi nilai sekarang.
Dalam metode ini:
a. Beban bunga obligasi dihitung pertama kali dengan mengalikan nilai tercatat (nilai
buku) obligasi pada awal periode dengan suku bunga efektif.
b. Amortisasi diskonto dan premi obligasi kemudian ditentukan dengan membandingkan
beban bunga obligasi terhadap bunga yang dibayarkan.
Metode bunga efektif menghasilkan beban bunga periode yang sama dengan persentase
konstan dari nilai tercatat obligasi tersebut. Karena persentasenya adalah suku bunga efektif
yang dikeluarkan peminjam pada waktu penerbitan, maka metode bunga efektif menghasilkan
penandingan yang lebih baik terhadap pendapatan daripada metode garis lurus.
Contoh amortisasi untuk obligasi diterbitkan pada diskonto
PT Bumi Indah Bersinar menerbitkan obligasi 7% senilai $ 100.000 pada tanggal 01 Januari
2012, jatuh tempo 1 Januari 2017. Bunga dibayarkan tiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli.
Karena investor menuntut suku bunga efektif sebesar 10%, maka mereka membayar diskonto
sebesar $ 11.582,95, dengan perhitungan sebagai berikut:
Nilai jatuh tempo
PV dari $100.000, jatuh tempo 5 tahun pada 10%,
bunga dibayar setengah tahunan
Pokok =
Bunga =
PVF 10,5%,
PVF-OA 10,5%,
Diskonto atas utang obligasi
: ($100.000 x 0,61391)=
: ($3.500 x 7,72173)
Ket. 3.500 = 7% x 6/12 x 100.000
Supiningtyas Purwaningrum
100.000
=
61.391
27.026,06
88.417,06
11.582,94
18
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
SKEDUL AMORTISASI DISKONTO OBLIGASI
Metode Bunga Efektif-Pembayaran bunga setengah tahunan
Obligasi 5 tahun, 7%, dijual untuk hasil 10%
Kas yg
Beban
Amortisasi
Nilai buku
Tanggal
dibayarkan
bunga
diskonto
obligasi
1 Jan'12
88,417.06
a)
b)
c)
1 Jul' 12
3,500
4,420.85
920.85
89,337.91 d)
1 Jan'13
3,500
4,466.90
966.90
90,304.80
1 Jul' 13
3,500
4,515.24
1,015.24
91,320.04
1 Jan'14
3,500
4,566.00
1,066.00
92,386.05
1 Jul' 14
3,500
4,619.30
1,119.30
93,505.35
1 Jan'15
3,500
4,675.27
1,175.27
94,680.62
1 Jul' 15
3,500
4,734.03
1,234.03
95,914.65
1 Jan'16
3,500
4,795.73
1,295.73
97,210.38
1 Jul' 16
3,500
4,860.52
1,360.52
98,570.90
1 Jan'17
3,500
4,928.54
1,428.54
100,000.00 (pembulatan)
Jumlah
$35,000
$46,582
$11,582
a = $100.000 x 7% x 6/12 = $3.500
b = $88,417.06 x 10% x 6/12 = $4,420.85
c = $4,420.85 - $3,500 = $920.85
d = $88,417.06 + $920.85 = $89,337.91
Supiningtyas Purwaningrum
19
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jurnal terkait transaksi penerbitan obligasi tersebut adalah sebagai berikut:
88,417.06
1 Jan’ 12
Kas
11,582.94
Diskonto atas utang obligasi
100,000
Utang Obligasi
1 Juli’12
31 Des’ 12
(Mencatat penerbitan utang obligasi)
Beban bunga obligasi
Diskonto atas utang obligasi
Kas
4,466.90
-
Beban bunga obligasi
Utang bunga Obligasi
Diskonto atas utang obligas
4,420.85
-
-
920.85
3,500.00
(Mencatat pembayaran bunga obligasi dan amortisasi diskonto)
-
3,500.00
966.90
(Mencatat penyesuaian beban bunga obligasi dan amortisasi
diskonto per 1juli – 31 des’ 12)
BIAYA PENERBITAN
Penerbitan obligasi meliputi biaya mendesain dan mencetak dan biaya hukum dan akuntansi,
komisi biaya promosi serta beban serupa lainnya.
Terdapat perbedaan yang nyata antara pandangan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima
umum (GAAP) dengan Concepts Statements No. 6 mengenai biaya penerbitan utang. Namun,
hingga suatu standar baru dikeluarkan untuk menggantikan GAAP yang ada, maka biaya
penerbitan obligasi harus diamortisasi selama umur obligasi tersebut sama seperti
halnya amortisasi premi atau diskonto, serta beban penerbitan yang belum diamortisasi
diperlakukan sebagai beban yang ditangguhkan.
C. PELUNASAN UTANG OBLIGASI
Apabila utang obligasi dilunasi pada saat jatuh tempo, maka tidak perlu dilakukan perhitungan
untung atau rugi. Setiap premi atau diskonto atau setiap biaya penerbitan akan diamortisasi
sepenuhnya pada tanggal obligasi jatuh tempo. Akibatnya, jumlah tercatat/nilai buku akan
sama dengan nilai jatuh tempo obligasi tersebut.
Tetapi, apabila obligasi dilunasi sebelum tanggal jatuh tempo, maka ada beberapa hal yang
harus diperhitungkan.
Jumlah yang dibayarkan untuk pelunasan obligasi tersebut, mencakup:
a. Harga reakuisisi (reacquisition price)
b. Premi atau diskonto yang belum diamortisasi
c. Biaya reakuisisi
Pada saat reakuisisi, premi/diskonto/biaya penerbitan obligasi, harus diamortisasi sampai
tanggal reakuisisi.
Apabila jumlah bersih yang dicatat/nilai buku lebih besar dari harga reakuisisi, maka
selisihnya merupakan keuntungan pelunasan.
Apabila jumlah bersih yang dicatat/nilai buku lebih kecil dari harga reakuisisi, maka selisihnya
merupakan kerugian pelunasan.
Supiningtyas Purwaningrum
20
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jurnal yang dibuat pada saat pelunasan meliputi:
 Menghapus utang obligasi
 Mencatat jumlah kas yg dibayar
 Mencatat amortisasi pada periode berjalan
 Mencatat beban bunga
 Mengakui kerugian/keuntungan penarikan
Contoh (Kieso, 2007)
Pada tanggal 1 Januari 2000, General Bell Corp. menerbitkan obligasi dengan nilai pari
sebesar $800.000 yang akan jatuh tempo dalam 20 tahun pada 97%. Biaya penerbitan obligasi
yang berjumlah $16.000 telah dikeluarkan.
Delapan tahun setelah tanggal penerbitan, keseluruhan obligasi tersebut ditebus pada 101%
dan dibatalkan. Asumsikan amortisasi menggunakan metode garis lurus.
Nilai Nominal
Harga Jual 97% x 800.000
Diskonto atas utang obligasi
800.000
776.000
24.000
01 Januari 2000
Kas
Diskonto atas utang obligasi
Utang Obligasi
776.000
24.000
-
800.000
01 Januari 2000
Beban penerbitan obligasi
Kas
16.000
-
16.000
Perhitungan:
Nilai Nominal Obligasi
Amortisasi diskonto per tahun = 24.000/20 = 1.200
Diskonto atas utang obligasi
Diskonto sdh diamortisasi slm 8 tahun (8 x 1.200)
Diskonto blm diamortisasi
Beban penerbitan obligasi
Amortisasi beban penerbitan per tahun = 16.000/20 = 800
Beban penerbitan obligasi sdh diamortisasi slm 8 tahun (8 x 800)
Beban penerbitan obligasi blm diamortisasi
Nilai buku
Nilai Pelunasan = 101% x 800.000
Rugi Pelunasan
Jurnal Pelunasan Obligasi:
01 Januari 2008
Utang Obligasi
Rugi pelunasan obligasi
Kas
Diskonto atas utang obligasi
Biaya penerbitan obligasi
Supiningtyas Purwaningrum
-
800.000
24.000
9.600 +
16.000
6.400 -
14.400 -
9.600 776.000
808.000
32.000
800.000
32.000
-
-
808.000
14.400
9.600
21
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
2. WESEL BAYAR JANGKA PANJANG
Akuntansi untuk wesel bayar dan obligasi sangat mirip. Seperti halnya obligasi, wesel bayar
juga dinilai pada nilai sekarang dari arus kas bunga dan pokok masa depan, dimana setiap
premi dan diskonto diamortisasi dengan cara yang sama selama umur wesel tersebut.
A. WESEL DITERBITKAN PADA NILAI NOMINAL
Akuntansi untuk wesel yang diterbitkan pada nilai nominal, akan dicatat pada nilai nominal,
tanpa nilai premi ataupun diskonto. Karena, wesel yang diterbitkan pada nilai nominal, nilai
sekarang wesel akan sama dengan nilai nominalnya.
Contoh
Tanggal 1 Maret 2010 PT Puri Persada menerbitkan wesel senilai $ 200.000, jangka waktu 4
tahun. Suku bunga ditetapkan dan suku bunga efektif adalah 9%, dibayarkan tiap tanggal 31
Desember.
Jurnal:
01 Maret 2010
31 Des’ 2010
Kas
Wesel Bayar
(mencatat penerbitan wesel)
Beban bunga
Kas
(mencatat pembayaran bunga wesel)
Bunga =10% x 200.000 x 10/12
200.000
-
16.666,67
-
200.000
16.666,67
B. WESEL DITERBITKAN BUKAN PADA NILAI NOMINAL
a) Wesel dengan bunga Nol
Apabila wesel bayar berbunga nol atau tanpa bunga, maka nilai sekarang diukur
dengan kas yang diterima. Suku bunga implisit adalah suku bunga yang menyamakan
kas yang dibayarkan dengan jumlah yang diterima di masa yang akan datang.
Sedangkan selisih antara nilai nominal dengan nilai sekarang (kas yang diterima)
dicatat sebagai diskonto dan diamortisasi ke beban bunga selama umur wesel
tersebut.
Contoh
McNabb Corporation menerbitkan wesel tanpa bunga jangka waktu 4 tahun, senilai
$50,000, pada tanggal 1 Januari 2008. Suku bunga implisit yang sama dengan total
kas yang dibayarkan untuk nilai sekarang dari arus kas masa depan adalah 12%.
Nilai jatuh tempo
PV dari $50.000, jatuh tempo 4 tahun pada 12%
Pokok =
FV (PVF 4,12%) : ($50.000 x 0,63552)=
Diskonto atas wesel bayar
Supiningtyas Purwaningrum
50.000
31.776
18.224
22
Universitas Gunadarma
Jurnal:
1 Januari
2008
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Kas
Diskonto atas wesel bayar
Wesel Bayar
31.776
18.224
-
(mencatat penerbitan wesel)
50.000
Diskonto yang diamortisasi dan beban bunga, diakui oleh McNabb Corporation setiap
tahun dengan menggunakan bunga efektif.
Amortisasi diskonto selama 4 tahun dan skedul beban bunga ditunjukkan pada tabel
berikut.
Tanggal
1/1/08
12/31/08
12/31/09
12/31/10
12/31/11
SKEDUL AMORTISASI DISKONTO WESEL
Metode Bunga Efektif
Wesel 0%, didiskontokan pada 12%
Kas yang
dibayarkan
Beban
bunga
0
0
0
0
$ 3,813
4,271
4,783
5,357
Ket:
Amortisasi
Diskonto
a)
$ 18,224
$ 3,813
4,271
4,783
5,357
b)
$ 18,224
Nilai Buku
$ 31,776
35,589 c)
39,860
44,643
50,000
a) = 31,776 x 12% = 3,813
b) = 3,813 – 0
= 3,813
c) = 31,776 + 3,813 = 35,589
Jurnal:
31 Des’ 2008
Beban bunga
Diskonto atas wesel bayar
(mencatat beban bunga pada akhir
tahun pertama)
3,813
-
3,813
b) Wesel berbunga
Contoh
McNabb Corporation menerbitkan wesel berbunga 10% jangka waktu 3 tahun, senilai
$10,000, pada tanggal 1 Januari 2008. Suku bunga pasar untuk wesel dengan risiko
sejenis adalah 12%. Bunga dibayarkan setiap akhir tahun kalender.
Nilai jatuh tempo
PV dari $10.000, jatuh tempo3 tahun pada 12%
Pokok = FV (PVF 3,12%)
Bunga = R(PVF-OA 3,12%)
Diskonto atas wesel bayar
Supiningtyas Purwaningrum
: ($10.000 x 0,71178)=
: ($1.000 x 2,40183)
10.000
7.118
= 2.402
9.520
480
23
Universitas Gunadarma
Jurnal:
01 Jan’ 08
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Kas
Diskonto atas wesel bayar
Wesel Bayar
(mencatat penerbitan wesel)
-
9.520
480
10.000
Diskonto tersebut kemudian akan diamortisasi dan beban bunga diakui setiap tahun
dengan menggunakan metode bunga efektif.
Tanggal
1/1/08
12/31/08
12/31/09
12/31/10
Ket:
a)
b)
c)
d)
SKEDUL AMORTISASI DISKONTO WESEL
Metode Bunga Efektif
Wesel 10%, didiskontokan pada 12%
Kas yang
dibayarkan
1.000
1.000
1.000
$ 3.000
a)
Beban
bunga
$ 1.142
1.159
1.179
$ 3.480
Amortisasi
Diskonto
b)
$ 142
159
179
$ 480
c)
Nilai Buku
$ 9.520
9.662 d)
9.821
10.000
= 10.000 x 10% = 1.000
= 9.520 x 12%
= 1.142
= 1.142 – 1.000 = 142
= 9.520 + 142
= 9.662
C. WESEL BAYAR DALAM SITUASI KHUSUS
Wesel diterbitkan untuk Properti, Barang dan Jasa
Apabila instrumen utang dipertukarkan dengan properti, barang atau jasa dalam suatu
transaksi pertukaran istimewa, maka suku bunga ditetapkan dianggap layak, kecuali jika:
1. Tidak ada suku bunga yang ditetapkan, atau
2. Suku bunga yang ditetapkan tidak layak, atau
3. Jumlah nominal yang ditetapkan dari instrumen utang itu secara material berbeda
dengan harga jual tunai berjalan atas barang yang sama atau serupa atau dari nilai
pasar berjalan instrumen utang itu.
Dalam situasi tersebut, nilai sekarang dari instrumen utang diukur menurut nilai wajar properti,
barang, atau jasa atau menurut jumlah yang secara layak mendekati nilai wajar wesel itu.
Jika tidak ada suku bunga yang ditetapkan, maka suku bunga adalah selisih antara nilai
nominal wesel dan nilai wajar properti.
Contoh
PT Teratai menjual tanah dengan harga jual tunai Rp 550.000.000 kepada PT Merapi untuk
ditukarkan dengan wesel tanpa bunga berjangka 5 tahun senilai Rp 803.131.500. (Harga jual
tunai Rp 550.000.000 merupakan nilai sekarang wesel yang didiskontokan pada 8% selama 5
tahun).
Supiningtyas Purwaningrum
24
Universitas Gunadarma
Jurnal:
Jurnal PT Merapi (Penjual wesel)
Tanah
550.000.000
Diskonto atas wesel bayar 253.131.500
Wesel Bayar
803.131.500
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jurnal PT Teratai (Pembeli)
Wesel Tagih
803.131.500
Diskonto atas wesel
253.131.500
tagih
Penjualan
550.000.000
Selama 5 tahun umur wesel tersebut, PT Merapi akan mengamortisasi secara tahunan bagian
dari diskonto sebesar Rp 253.131.500 sebagai pembebanan ke beban bunga.
3. AKUNTANSI UNTUK UTANG BERMASALAH
Risiko bagi pihak yang memberikan pinjaman (kreditur) adalah tidak terbayarnya dana
pinjaman yang telah diberikan kepada peminjam (debitur), dikarenakan oleh beberapa hal
seperti memburuknya ekonomi debitur.
Apabila kreditur menghadapi situasi seperti ini, beberapa hal yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan utang yang bermasalah ini adalah sebagai berikut:
A. Pengurangan
B. Restrukturisasi
- Penyelesaian
- Modifikasi Penyelesaian
A. PENGURANGAN
Jika pinjaman dianggap harus dikurangi, maka kerugian akibat pengurangan (impairment)
tersebut adalah selisih antara investasi dalam pinjaman (umumnya pokok ditambah
bunga akrual) dan arus kas masa depan yang diharapkan yang didiskontokan pada suku
bunga efektif historis atas pinjaman tersebut.
Contoh
Tanggal 31 Desember 2010, PT Romuna menerbitkan wesel tanpa bunga senilai
$350.000, jangka waktu 5 tahun kepada PT Nayotama. Wesel tersebut diterbitkan dengan
hasil bunga tahunan sebesar 10%. Amortisasi menggunakan metode bunga efektif.
Selama tahun 2012 usaha bisnis PT Romuna mulai memburuk, yang mengakibatkan
adanya indikasi ketidakmampuan dalam hal mengembalikan pinjamannya kepada PT
Nayotama.
Setelah menelaah bukti yang ada pada tanggal 31 Desember 2012, PT Nayotama
menentukan bahwa PT Romuna mungkin hanya dapat melunasi $150.000 dari pokok pada
saat jatuh tempo.
Jawab:
Nilai jatuh tempo
PV dari $350.000, jatuh tempo 5 tahun pada 10%
Pokok =
FV (PVF 5,10%) : ($350.000 x 0,62092)=
Diskonto atas wesel bayar
Supiningtyas Purwaningrum
350.000
217.322
132.678
25
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jurnal 31 Desember 2010
Jurnal PT Nayotama (Kreditur)
Wesel Tagih
350.000
Diskonto atas wesel tagih
132.678
Kas
217.322
Tanggal
31 Des’ 10
31 Des’ 11
31 Des’ 12
31 Des’ 13
31 Des’ 14
31 Des’ 15
Jurnal PT Romuna (Debitur)
Kas
217.322
Diskonto atas wesel bayar
132.678
Wesel Bayar
350.000
SKEDUL AMORTISASI DISKONTO WESEL
Metode Bunga Efektif
Wesel 0%, didiskontokan pada 10%
Kas yang
dibayarkan
Beban
bunga
Amortisasi
Diskonto
0
0
0
0
0
$ 21.732,2
23.905,42
26.295,96
28.925.56
31.818,11
132.678
$ 21.732,2
23.905,42
26.295,96
28.925.56
31.818,11
132.678
$0
Nilai Buku
$ 217.322,00
239.054,20
262.959,62
289.255,58
318.181,14
350.000,00
Cara penentuan kerugian yang dilakukan PT Nayotama akibat utang yang tidak terbayar:
- Menghitung nilai sekarang dari diskonto arus kas yang diharapkan pada suku bunga
efektif historis.
- Menentukan kerugian akibat pengurangan utang (perbedaan antara nilai sekarang
arus kas masa depan yang diharapkan dan jumlah tercatat investasi dalam pinjaman
yang dicatat/nilai buku)
Jumlah tercatat/nilai buku per 31 Des’12
262.959,62
Kerugian karena pengurangan
150.261,62
Dikurangi: PV dari $150.000, jatuh tempo 3 tahun pada 10%
FV(PVF 3,10%, (150.000 x 0, 75132)
112.698,00
Kerugian akibat pengurangan adalah sebesar $150.261,62, bukan $200.000 ($350.000 $150.000), karena kerugian tersebut diukur pada jumlah nilai sekarang, bukan jumlah yang
belum didiskontokan pada waktu kerugian tersebut dicatat.
Jurnal untuk mencatat kerugian, 31 Des’ 2012:
Jurnal PT Nayotama (Kreditur)
Beban piutang tak tertagih
150.261,62
Penyisihan piutang tak tertagih
150.261,62
Jurnal PT Romuna (Debitur)
Tidak ada jurnal (karena besar
pinjaman tidak berubah)
B. RESTRUKTURISASI UTANG (troubled debt restructuring)
Restrukturisasi utang bermasalah terjadi apabila kreditur memberikan konsesi kepada debitur
karena alasan ekonomi dan hukum yang berhubungan dengan kesulitan keuangan debitur
yang tidak akan diberikan dalam kondisi normal.
Supiningtyas Purwaningrum
26
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Restrukturisasi utang bermasalah melibatkan satu dari dua jenis transaksi dasar:
a) Penyelesaian utang pada jumlah yang lebih kecil dan jumlah tercatatnya
b) Kelanjutan utang dengan modifikasi persyaratan
a) Penyelesaian Utang
Penyelesaian utang ini dapat dilakukan dengan cara transfer aktiva non kas seperti real
estat, piutang atau aktiva lainnya, dan pemberian hak ekuitas. Dalam kondisi seperti ini,
aktiva non kas atau hak ekuitas yang diterima harus diperhitungkan pada nilai wajar.
Contoh Transfer Aktiva
Bank Persada telah meminjamkan sejumlah uang kepada PT Tri Tunggal sebesar $
20.000.000. PT Tri Tunggal menginvestasikan uang pinjaman tersebut pada sebuah
gedung perkantoran untuk disewakan, tetapi karena kondisi perekonomian yang sedang
bergejolak, usaha tersebut tidak berjalan lancar, sehingga PT Tri Tunggal tidak dapat
memenuhi kewajiban utangnya.
Bank Persada setuju menerima sebuah real estat dengan nilai pasar wajar sebesar
$16.000.000 untuk melunasi seluruh kewajiban PT Tri Tunggal sebesar $20.000.000. Real
estat tersebut memiliki nilai tercatat (nilai buku) sebesar $21.000.000.
Jurnal untuk mencatat pelunasan utang dengan transfer real estat:
Jurnal Bank Persada (Kreditur)
Real Estat
Penyisihan piutang tak tertagih
Wesel tagih
16.000.000
4.000.000
20.000.000
Jurnal PT Tri Tunggal (Debitur)
Wesel Bayar
20.000.000
Kerugian atas disposisi real estat
5.000.000
Real Estat
21.000.000
Keuntungan atas restrukturisasi utang
4.000.000
Perhitungan:
Nilai Buku real estat
Nilai pasar wajar real estat
Kerugian atas disposisi real estat
21.000.000
16.000.000
5.000.000
Nilai buku wesel bayar
Nilai pasar wajar real estat
Keuntungan atas restrukturisasi utang
20.000.000
16.000.000
4.000.000
Contoh Pemberian Hak Ekuitas
Bank Persada setuju menerima 320.000 lembar saham biasa PT Tri Tunggal (nilai pari
$10), yang mempunyai nilai pasar wajar sebesar $16.000.000, dalam penyelesaian penuh
atas kewajiban utang senilai $20.000.000.
Jurnal untuk mencatat pemberian hak ekuitas:
Jurnal Bank Persada (Kreditur)
Investasi
16.000.000
Penyisihan piutang tak tertagih
4.000.000
Wesel tagih
20.000.000
Supiningtyas Purwaningrum
27
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Jurnal PT Tri Tunggal (Debitur)
Wesel Bayar
20.000.000
Saham Biasa
3.200.000
Tambahan modal disetor
12.800.000
Keuntungan atas restrukturisasi utang
4.000.000
Perhitungan:
Nilai pari saham biasa
Nilai pasar wajar saham biasa
Tambahan modal disetor
3.200.000
16.000.000
12.800.000
b) Modifikasi (perubahan) persyaratan
Beberapa modifikasi perubahan persyaratan atas utang yang tidak dapat dipenuhi oleh
debitur dalam kondisi normal adalah sebagai berikut:
- Pengurangan suku bunga yang ditetapkan
- Perpanjangan tanggal jatuh tempo dari jumlah nominal utang
- Pengurangan nilai nominal utang
- Pengurangan atau penangguhan setiap bunga akrual
Contoh, tidak ada keuntungan bagi debitur
Tanggal 31 Desember 2010, Bank Persada terlibat dapat perjanjian restrukturisasi utang
dengan PT Daya Lestari, yang sedang mengalami kesulitan keuangan.
Bank Persada merestrukturisasi piutang pinjaman sebesar $10.500.000 yang diterbitkan
pada nilai pari (bunga dibayar pada tanggal tersebut) dengan kondisi:
- Mengurangi kewajiban pokok dari $10.500.000 menjadi $9.000.000
- Memperpanjang tanggal jatuh tempo, dari 31 Desember 2010 menjadi 31 Desember
2014.
- Mengurangi suku bunga dari 12% menjadi 8%
Supiningtyas Purwaningrum
28
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
EKUITAS PEMEGANG SAHAM
A. BENTUK PERSEROAN
Terdapat tiga jenis bentuk perusahaan, yakni
1. Perusahaan perorangan
2. Perusahaan persekutuan
3. Perusahaan perseroan
Karakteristik dari perusahaan perseroan adalah:
1. Pengaruh hokum perseroan Negara tertentu
2. Penggunaan modal saham atau system saham
3. Pengembangan berbagai kepentingan kepemilikan
Ekuitas pemegang saham dalam satu perusahaan umumnya terdiri dari sejumlah besar unit
atau lembar saham. Dalam satu kelompok saham, setiap lembar saham sama dengan lembar
saham lainnya.
Setiap kepentingan pemilik perusahaan diwakili oleh jumlah lembar saham yang dimiliki, yang
memiliki hak dan keistimewaan.
Jika tidak ada ketentuan yang membatasi, maka setiap saham memiliki hak-hak berikut:
1. Untuk membagi rugi dan laba secara proporsional
2. Untuk ikut serta dalam manajemen (hak untuk memilih direktur) secara proporsional
3. Untuk membagi aktiva perusahaan bila terjadi likuidasi secara proporsional
4. Untuk ikut serta secara proporsional dalam setiap penerbitan saham baru dari
kelompok yang sama disebut hak istimewa (preemptive right)
Jenis-jenis saham:
1. Saham biasa/Common Stock
- Saham yang tidak memiliki kelebihan apapun
- Menanggung risiko dan menerima manfaat paling besar
- Pelunasan paling akhir
- Memiliki hak suara pada manajemen perusahaan
2. Saham Preferen/Preferred Stock
- Pembagian dividen diprioritaskan
- Dividen dinyatakan dengan prosentase dari nilai nominal saham
- Dalam hal saham preferen tidak memiliki nilai nominal, maka dividen dinyatakan
dalam bentuk rupiah (bukan prosentase)
- Tidak memeiliki hak suara pada manajemen perusahaan
3. Saham Treasuri/Treasury Stock
Pembelian kembali saham yang telah dijual/penarikan saham yang beredar
Prosedur penerbitan saham:
Saham harus diotorisasi  saham ditawarkan untuk dijual  saham diterbitkan
Supiningtyas Purwaningrum
29
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
B. MODAL PERSEROAN
Ekuitas pemilikan dalam perseroan didefinisikan sebagai ekuitas pemegang saham
(shareholders equity)/modal perseroan, terdiri dari:
1. Modal Saham
2. Tambahan modal disetor  Nilai Nominal saham + Agio saham atau Nilai Nominal Saham
- Disagio
3. Laba ditahan  merupakan modal yang diperoleh perusahaan.
Modal saham dan Tambahan modal disetor disebut juga dengan Modal Kontribusi.
C. PENERBITAN SAHAM
1. Saham dengan nilai pari
 Saham Preferen/Saham Biasa akan di “kredit” ketika pertama kali diterbitkan.
 Modal disetor yang melebihi nilai pari/Tambahan modal disetor/Agio saham menjadi
bagian dari “Tambahan modal disetor” perusahaan.
2. Saham tanpa nilai pari
Diterbitkan tanpa jumlah per saham yg tercetak pada sertifikat saham.
Alasan saham tanpa nilai pari :
1. Menghindari kewajiban kontinjen yg mungkin timbul bila saham dg nilai pari diterbitkan
pada disagio.
2. Menghindari kerancuan dalam hubungan antara nilai pari dg nilai pasar wajar.
Saham tanpa nilai pari tidak mengenal agio/disagio saham.
Contoh
Video electronic corp. didirikan dengan 10.000 lembar saham biasa yang diotorisasi tanpa
nilai pari.
Dalam otorisasi ini tidak ada jurnal yang dibuat, hanya dicatat pada memo.
Jika 500 lembar saham kemudian diterbitkan dengan harga $10 per lembar
Kas
Saham Biasa
5.000
5.000
Jika 500 lembar saham kemudian diterbitkan dengan harga $11 per lembar


Kas
Saham Biasa
5.500
5.500
Saham tanpa nilai pari dapat saja memiliki nilai ditetapkan (stated value) yakni nilai
minimum saham dimana saham tanpa nilai pari tidak boleh diterbitkan dibawah nilai
ditetapkan.
Apabila saham tanpa nilai pari dijual “diatas” nilai ditetapkan, maka selisihnya dicatat
sebagai “Tambahan modal disetor”.
Supiningtyas Purwaningrum
30
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Contoh
1000 lembar saham biasa dengan nilai ditetapkan $5 per lembar diterbitkan pada $15 per
lembar saham secara tunai.
Kas
Saham Biasa
Modal disetor yg melebihi nilai ditetapkan
15.000
5.000
10.000
3. Saham diterbitkan dengan sekuritas lainnya (penjualan lump sum)
Terdapat 2 metode yang dapat digunakan untuk pengalokasian hasil penjualan.
a. Metode Proporsional
Apabila harga pasar atau dasar lainnya diketahui, maka nilai lump sum yang diterima
dialokasikan di antara kelompok-kelompok sekuritas atas dasar proporsional.
Contoh
1.000 lembar Saham Biasa diterbitkan dengan nilai ditetapkan $10 per lembar yang
memiliki harga pasar $20/lembar dan 1.000 lembar Saham Preferen dengan nilai pari
$10/lembar yang memiliki harga pasar $12/lembar dan diterbikan dengan nilai lump
sum sebesar $30.000.
Perhitungan:
Nilai Pasar Saham Biasa
Nilai Pasar Saham Preferen
= 1.000 x $20
= 1.000 x $12
Saham Biasa
=
20.000
x 30.000  18.750
32.000
Saham Preferen
=
12.000
x 30.000  11.250
32.000
Pengalokasian:
Kas
Saham Biasa
Saham Preferen
= 20.000
= 12.000 +
32.000
30.000
-
18.750
11.250
b. Metode Inkremental
Metode ini dapat diterapkan apabila harga pasar tiap-tiap kelompok tidak diketahui.
Apabila salah satu harga pasar saham tidak diketahui, maka sisa dari nilai lump sum
dialokasikan untuk saham yang tidak diketahui harga pasarnya.
Contoh
1.000 lembar Saham Biasa diterbitkan dengan nilai ditetapkan $10 per lembar yang
memiliki harga pasar $20/lembar dan 1.000 lembar Saham Preferen dengan nilai pari
$10/lembar yang tidak memiliki harga pasar. Ditetapkan dan diterbikan dengan nilai
lump sum sebesar $30.000.
Supiningtyas Purwaningrum
31
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Alokasi nilai lump sum sebagai berikut:
Nilai Lump sum
= 30.000
Harga Pasar Saham Biasa
= 1.000 x $ 20 = 20.000 –
Sisa saldo dialokasian untuk Saham Preferen
10.000
Kas
Saham Biasa
Saham Preferen
30.000
-
20.000
10.000
Apabila kedua kelompok sekuritas tidak diketahui harga pasarnya, maka
pendekatan/penilaian lain dapat digunakan.
4. Saham diterbitkan dalam transaksi non kas/Pertukaran
 Apabila saham yang diterbitkan untuk jasa atau properti selain kas harus dicatat, baik
pada nilai pasar wajar saham yang diterbitkan maupun pada nilai pasar wajar
pertimbangan non kas yang diterima, tergantung mana yang dapat ditentukan secara
lebih jelas.
 Jika harga pasar saham yang diterbitkan dan jasa/properti yang diterima belum
diketahui, maka harus digunakan penilaian lain yang lebih tepat. Tidak dianjurkan
untuk menggunakan nilai pari, nilai buku maupun nilai ditetapkan.
Contoh
10.000 lembar Saham Biasa diterbitkan dengan nilai ditetapkan $10 per lembar ditukar
dengan hak paten pada Bali Corporation. Jurnal yang dibuat dalam berbagai kondisi:
a. Apabila Nilai Pasar hak paten belum diketahui, Nilai Pasar
Saham Biasa $140.000.
Hak Paten
140.000
Saham Biasa
100.000
Agio Saham Biasa
40.000
b. Apabila Nilai Pasar hak paten $150.000, Nilai Pasar
Saham Biasa tidak diketahui
Hak Paten
150.000
Saham Biasa
100.000
Agio Saham Biasa
50.000
c. Apabila Nilai Pasar hak paten dan Saham Biasa tidak
diketahui. Konsultan independen menetapkan nilai hak
paten adalah $125.000.
Hak Paten
125.000
Saham Biasa
100.000
Agio Saham Biasa
25.000
Supiningtyas Purwaningrum
32
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
D. BIAYA PENERBITAN
Ketika perusahaan menerbitkan saham, maka seharusnya melaporkan biaya yang dikeluarkan
untuk menjual saham, seperti biaya penjaminan, biaya akuntansi dan hokum, biaya
pencetakan, dll sebagai pengurang jumlah yang disetor.
E. REAKUISISI SAHAM
Reakuisisi saham adalah membeli kembali saham-saham yang beredar.
Alasan pembelian kembali saham tersebut adalah:
a. Untuk memenuhi distribusi pajak yang efisien dari kelebihan kas kepada pemegang
saham.
Tingkat keuntungan modal atas penjualan saham kepada perusahaan oleh pemegang
saham diperkirakan setengah dari tarif pajak biasa.
b. Untuk meningkatkan laba per saham dan pengembalian atas ekuitas (ROE).
Dengan mengurangi jumlah saham yang beredar dan mengurangi ekuitas pemegang
saham, rasio kinerja tertentu sering kali meningkat.
c. Untuk memenuhi saham dalam kontrak kompensasi saham karyawan atau memenuhi
kebutuhan merger yang potensial.
d. Untuk menghindari upaya pengambilalihan atau mengurangi jumlah pemegang saham.
e. Membentuk pasar bagi saham.
Dengan membeli saham di pasar modal, diciptakan suatu permintaan yang dapat
menstabilkan harga saham, atau dalam kenyataannya, meningkatkan harga saham itu.
 Saham yang sudah ditarik dari pasar dapat dihapuskan atau disimpan untuk diterbitkan
kembali. Jika tidak dihapuskan, maka saham-saham tersebut disebut sebagai “Saham
Treasuri” (Treasury Stock).
 Saham treasuri bukan merupakan aktiva. Ketika saham dibeli kembali maka terjadi
pengurangan, baik pada aktiva maupun ekuitas pemegang saham.
 Saham treasuri dapat dijual untuk memperoleh dana, tetapi kemungkinan itu tidak
membuat saham treasuri menjadi aktiva di neraca. Pada saat perusahaan membeli
kembali beberapa sahamnya yang beredar, maka perusahaan telah mengurangi aktiva
bersih, tetapi tidak mengakuisisi aktiva.
 Saham treasuri tidak berhak atas apapun seperti hak suara, hak istimewa pemegang
saham, hak menerima dividen tunai atau menerima aktiva saat dilikuidasi.
 Pada dasarnya saham treasuri sama dengan “modal saham yang belum diterbitkan”.
Pembelian Saham Treasuri
Terdapat 2 metode untuk pencatatan saham treasuri.
a. Metode Biaya (Cost Method)
Menghasilkan pendebitan akun “Saham Treasuri” untuk biaya reakuisisi, serta dalam
pelaporan akun ini sebagai suatu pengurangan dari “Total Modal disetor” dan “Laba
ditahan” di Neraca.
Supiningtyas Purwaningrum
33
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
b. Metode Nilai Pari/Nilai Ditetapkan
Mencatat semua transaksi saham treasuri pada nilai parinya dan melaporkan saham
treasuri hanya sebagai pengurang atas modal saham.
Apapun metode apapun yang digunakan, biaya saham treasuri yang diakuisisi tidak boleh
dimasukkan dalam laba ditahan.
Contoh
Pacific Company telah menerbitkan 100.000 lembar Saham Biasa diterbitkan dengan nilai
ditetapkan $1 per lembar pd harga $10 per lembar. Laba ditahan sebesar $300.000.
Sebelum pembelian saham treasuri, struktur ekuitas per 31 Desember 2014 adalah sebagai
berikut:
Ekuitas Pemegang Saham
Modal Disetor
Saham Biasa, nilai pari $1; 100.000 lembar diterbitkan &
100.000
beredar
Tambahan Modal Disetor
900.000
Total Modal Disetor
1.000.000
Laba Ditahan
300.000
Total Ekuitas Pemegang Saham
1.300.000
Pada tanggal 20 Januari 2015, Pacific Company mendapatkan kembali sahamnya yang
beredar sebanyak 10.000 lembar pada $11 per lembar.
20
Jan’15
10.000 lembar saham ditarik kembali pada $11
Saham Treasuri
110.000
Kas
110.000
Struktur ekuitas sesudah penarikan saham/saham treasuri 20 Januari 2015 adalah sebagai
berikut:
Ekuitas Pemegang Saham
Modal Disetor
Saham Biasa, nilai pari $1; 90.000 lembar diterbitkan &
100.000
beredar
Tambahan Modal Disetor
900.000
Total Modal Disetor
1.000.000
Laba Ditahan
300.000
Total Modal disetor + Laba ditahan
1.300.000
Biaya Saham Treasuri (10.000 lembar)
110.000
Total Ekuitas Pemegang Saham
1.190.000
Supiningtyas Purwaningrum
34
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Penjualan Saham Treasuri
Pada saat saham treasuri dijual, akuntansi untuk penjualan ini tergantung pada harganya.
Kas
Jika harga jual saham treasuri = harga pokoknya, jurnalnya
Saham Treasuri
Sebesar harga jual/pokok
Jika harga jual saham treasuri > harga pokoknya, jurnalnya
Kas
Sebesar Harga Jual
Saham Treasuri
Sebesar harga Pokok
Modal disetor dari saham treasuri
Selisih harga jual dan harga pokok
Jika harga jual saham treasuri < harga pokoknya, jurnalnya
Kas
Sebesar Harga Jual
Modal disetor dari saham treasuri
Selisih harga jual dan harga pokok
Saham Treasuri
Sebesar harga Pokok
Penjualan Saham Treasuri baik di atas maupun di bawah harga pokok, akan meningkatkan
total asktiva dan ekuitas pemegang saham.
Contoh
Pacific Company telah menerbitkan 100.000 lembar Saham Biasa diterbitkan dengan nilai
ditetapkan $1 per lembar pada harga $10 per lembar. Laba ditahan sebesar $300.000.
Tanggal 20 Januari 2015, Pacific Company mendapatkan kembali sahamnya yang beredar
sebanyak 10.000 lembar pada $11 per lembar.
Tanggal 10 Maret 2015, 1.000 lembar saham treasuri dijual kembali pada $15 per lembar.
10
Mar’15
1.000 lembar saham treasuri dijual kembali pada $15
Kas
15.000
Saham Treasuri
11.000
Modal disetor dari saham treasuri
4.000
Alasan kenapa selisih harga jual saham tresuri diatas harga pokoknya tidak dicatat sebagai
Keuntungan adalah:
1. Keuntungan atas penjualan itu terjadi ketika “Aktiva” dijual; saham treasuri bukan
merupakan Aktiva.
2. Perusahaan tidak merealisasikan keuntungan atau menanggung kerugian dari
transaksi saham dengan para pemegang sahamnya.
Tanggal 21 Maret 2015, 1.000 lembar saham treasuri dijual kembali pada $8 per lembar.
21
Mar’15
1.000 lembar saham treasuri dijual kembali pada $8
Kas
8.000
Modal disetor dari saham treasuri
3.000
Saham Treasuri
11.000
Supiningtyas Purwaningrum
35
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Baik penjualan saham treasuri di atas atau dibawah harga pokok, dapat disimpulkan bahwa:
1. Saham Treasuri dikredit sebesar harga pokok.
2. Modal disetor dari saham treasuri digunakan untuk mencatat selisih harga antara harga
pokok dan harga jual saham treasuri.
3. Akun Modal disetor awal dan Saham Biasa tidak terpengaruh.
Apabila saldo kredit modal disetor dari saham treasuri dieliminasi, maka setiap kelebihan
tambahan harga pokok atas harga jual didebit ke “Laba ditahan”.
Tanggal 10 April 2015, 1.000 lembar saham treasuri dijual kembali pada $8 per lembar.
21 Mar
Buku Besar: Modal disetor dari saham treasuri
3.000 10 Mar
Saldo
4.000
1.000
Dalam kasus tanggal 10 April 20015, $1.000 kelebihan tersebut di debit ke Modal disetor dari
Saham Treasuri dan sisanya didebit ke Laba Ditahan. Sehingga ayat jurnal yang dibuat:
10
Apr’15
1.000 lembar saham treasuri dijual kembali pada $8
Kas
8.000
Modal disetor dari saham treasuri
1.000
Laba Ditahan
2.000
Saham Treasuri
11.000
Penarikan/Penghentian Saham Treasuri
Penarikan Saham Treasuri mempunyai status sebagai saham yang diotorisasikan dan saham
yang belum diterbitkan.
Pengaruh akuntansinya adalah sama dengan penjualan saham treasuri kecuali bahwa debit
dilakukan ke akun modal disetor yang dapat diaplikasikan ke penarikan saham, bukan Kas.
Tanggal 1 Mei 2015, sisa Saham Treasuri dihentikan/dihapuskan. (Soal masih menggunakan
data Pasific Company)
1 Mei
2015
Penjelasan:
20 Jan
Saldo
Saham Biasa
Agio Saham
Saham Treasuri
Buku Besar: Saham Treasuri
110.000 10 Mar
21 Mar
10 Apr
77.000
Supiningtyas Purwaningrum
70.000
7.000
-
-
77.000
11.000
11.000
11.000
36
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
F. SAHAM PREFEREN
Saham Preferen adalah saham dengan kelas khusus yang memiliki beberapa preferensi atau
kelebihan yang tidak dimiliki oleh Saham Biasa.
Karakteristik yang sering berkaitan dengan penerbitan Saham Preferen adalah:
 Preferensi atas dividen
 Preferensi aktiva pada saat dilikuidasi
 Dapat dikonversi menjadi saham biasa
 Dapat ditebus pada opsi perseroan
 Tidak mempunyai hak suara
Karakteristik yang paling umum melekat pada Saham Preferen:
1. Saham Preferen Kumulatif
 Dividen setiap tahunnya harus dibayarkan kepada pemegang saham
 Apabila pada tahun tertentu dividen tidak dibagikan, maka pada tahun berikutnya jika
ada pembagian dividen, dividen tahun sebelumnya harus dibayarkan terlebih dahulu,
baru sisanya dibagikan kepada pemegang saham biasa. (KUMULATIF)
Saham Preferen non-Kumulatif
 Apabila pada tahun tertentu dividen tidak dibagikan, maka pada tahun berikutnya jika
ada pembagian dividen, dividen tahun sebelumnya tidak perlu dibayarkan.
2. Saham Preferen Partisipasi
Partisipasi penuh
Saham prioritas berhak atas dividen dengan jumlah yang sama besar dengan saham
biasa sesudah saham biasa mendapat dividen sebesar prosentase dividen saham prioritas
Partisipasi sebagian
Saham prioritas akan mendapat dividen sampai jumlah tertentu (prosentase) yang
ditetapkan sesudah saham biasa mendapat dividen dengan tarif yang sama dengan
saham prioritas.
Contoh 1
PT ROSELA mempunyai saham yang beredar sbb:
Saham prioritas, nominal Rp 10.000.000, 10% berpartisipasi penuh.
Saham biasa, nominal Rp 20.000.000.
Pada akhir tahun 2014, dibagi dividen sebesar Rp 5.400.000.
Berapa dividen yang diterima masing2 pemegang saham tersebut?
Prioritas
Biasa
Total
Saham Prioritas = 10% X 10.000.000
1.000.000 2.000.000 3.000.000
Saham Biasa = 10% X 20.000.000
Sisa Dividen
= 5.400.000 – 3.000.000 = 240.000
800.000 1.600.000 2.400.000
2.400.000
% pembagian =
x 100%  8%
30.000.000
Saham Prioritas = 8% X 10.000.000
Saham Biasa = 8% X 20.000.000
Total Dividen
1.800.000 3.600.000 5.400.000
Atau dapat juga dihitung dengan cara: 540.000/3.000.000 = 8%
Supiningtyas Purwaningrum
37
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
Contoh 2
PT ROSELA mempunyai saham yang beredar sbb:
Saham prioritas, nominal Rp 10.000.000, 10% berpartisipasi penuh, tetapi hanya sampai
15%.
Saham biasa, nominal Rp 20.000.000.
Pada akhir tahun 2014, dibagi dividen sebesar Rp 5.400.000.
Berapa dividen yang diterima masing2 pemegang saham tersebut?
Prioritas
Biasa
Total
1.000.000 2.000.000 3.000.000
Saham Prioritas = 10% X 10.000.000
Saham Biasa = 10% X 20.000.000
Saham Prioritas = 5% X 10.000.000
Sisa Dividen
= 5.400.000 – 3.500.000 = 1.900.000
Total Dividen
500.000
3.000.000
3.500.000
1.900.000 5.400.000
1.500.000 3.900.000 5.400.000
3. Saham Preferen Konvertibel
Keistimewaan jenis saham ini adalah mengijinkan emegang saham, menurut opsinya
menukan saham preferen menjadi saham biasa pada rasio yang telah ditentukan
sebelumnya.
4. Saham Preferen yang dapat ditebus
FASB dalam salah satu instrumennya mengharuskan sekuritas yang bersifat seperti utang,
misalnya saham preferen yang dapat ditebus, harus dikelompokkan sebagai kewajiban
dan diukur dan diperlakukan seperti kewajiban.
5. Saham Preferen atas aktiva dan dividen yang dapat dilikuidasi
 Pada saat dilikuidasi tetap menerima dividen yg blm dibayar.
 Apabila saldo laba tidak mencukupi, maka pelunasannya diambil dari modal yang
disetor dari saham biasa.
 Apabila dari modal disetor tersebut masih ada sisa, baru dibayarkan kepada saham
biasa.
CONTOH KASUS
Pada tahun 2014 sejumlah $80.000 akan dibagikan oleh PT Kurnia Persada sebagai dividen
tunai. Saham Biasa yang beredar memiliki nilai pari $500.000 dan Saham Preferen 7%
memiliki nilai pari $150.000.
Dividen yang akan dibagikan kepada setiap jenis saham diperlihatkan pada Tabel berikut.
1. Apabila Saham Preferen bersifat non-kumulatif dan non-partisipasi.
SP: Dividen tahun berjalan= 7% x 150.000
Sisa untuk Saham Biasa (80.000 – 10.500)
Total Dividen
Supiningtyas Purwaningrum
Prioritas
10.500
10.500
Biasa
69.500
69.500
Total
10.500
69.500
80.000
38
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
2. Apabila Saham Preferen bersifat kumulatif dan non partisipasi dan dividen tidak
dibayarkan atas saham preferen selama 2 tahun.
SP = Dividen tertunggak: (7% x 150.000) x 2
SP = Dividen tahun berjalan: 7% x 150.000
Sisa untuk Saham Biasa (80.000 – 31.500)
Total Dividen
Prioritas
21.000
10.500
33.500
Biasa
48.500
48.500
3. Apabila Saham Preferen bersifat non kumulatif dan berpartisipasi penuh.
SP: Dividen tahun berjalan = 7% x 150.000
SB: Dividen tahun berjalan = 7% x 500.000
Jumlah tersedia untuk partisipasi:
80.000 – 45.500 = 34.500
34.500
x 100%  0,053%
650.000
SP: 0,053% x 150.000
SB: 0,053% x 500.000
Total Dividen
Prioritas
10.500
7.961
Biasa
35.000
26.539
Total
21.000
10.500
31.500
48.500
80.000
Total
45.500
34.500
(pembulatan)
(pembulatan)
(pembulatan)
18.461
61.539
80.000
Tingkat partisipasi:
4. Apabila Saham Preferen bersifat kumulatif dan berpartisipasi penuh, dan jika dividen
tidak dibayarkan atas saham preferen dalam 2 tahun berturut-turut.
SP = Dividen tertunggak: (7% x 150.000) x 2
SP = Dividen tahun berjalan: 7% x 150.000
SB: Dividen tahun berjalan = 7% x 500.000
Prioritas
21.000
10.500
Biasa
35.000
Jumlah tersedia untuk partisipasi:
80.000 – 67.500 = 13.500
Tingkat partisipasi:
13.500
x 100%  0,0208%
650.000
SP: 0,0208% x 150.000
SB: 0,0208% x 500.000
Total Dividen
Supiningtyas Purwaningrum
3.120
34.620
10.400
45.400
Total
21.000
10.500
35.000
66.500
3.120
10.400
80.000
(pembulatan)
39
Universitas Gunadarma
Akuntansi Keuangan Menengah 2
SOAL LATIHAN
1. Pada tanggal 30 Maret 2000, General Bell Corp. menerbitkan dan menjual obligasi dengan
nilai pari sebesar $800.000 yang akan jatuh tempo dalam 10 tahun pada 97%. Biaya
penerbitan obligasi yang berjumlah $12.000 telah dikeluarkan. Bunga 7% dibayarkan
setiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember. Amortisasi menggunakan metode garis lurus.
Tanggal 1 November 2007, utang obligasi dg nilai pari $300.000 ditebus pada 99%.
Diminta:
a. Buat jurnal yang diperlukan di tahun 2000
b. Buat jurnal yang diperlukan saat pelunasan obligasi.
2. PT Bumi Indah Bersinar menerbitkan obligasi 9% senilai $ 100.000 pada tanggal 01
Januari 2010, jatuh tempo 1 Januari 2017. Bunga dibayarkan tiap tanggal 1 Januari dan 1
Juli. Apabila investor menuntut suku bunga efektif sebesar 7%, maka:
a. Buatlah Jurnal terkait transaksi tersebut di atas pada tahun 2012!
b. Buatlah Tabel amortisasi diskonto/premi obligasi menggunakan metode bunga efektif!
3. Pada tanggal 30 April 2002, PT Parisha menerbitkan obligasi dengan nilai nominal
$750.000, dengan kurs 106%. Bunga 6% dibayarkan tiap tanggal 1 Maret dan 1
September. Obligasi jatuh tempo 15 tahun.
Pada Akhir Februari 2009, setengah dari obligasi tersebut dilunasi dengan kurs 100%.
Diminta:
a. Buat jurnal yang diperlukan sampai 31 Desember 2002
b. Buat jurnal yang diperlukan selama tahun 2009 (1 Januari s/d 31 Desember 2009)
Supiningtyas Purwaningrum
40
Download