BAB II STUDI PUSTAKA

advertisement
BAB II
STUDI PUSTAKA
2.1
Diversified Business
Single bisnis memiliki resiko yang besar dimana bila demand dari perusahaan
tersebut turun maka perusahaan akan mengalami kesulitan, oleh sebab itu banyak
perusahaan mulai mendirikan bermacam-macam bisnis untuk saling menopang bisnis
mereka. Diversified bisnis adalah suatu perusahaan yang memiliki beberapa jenis
usaha yang bergerak dalam unit bisnis yang berbeda atau berhubungan. Ketika suatu
perusahaan mulai melakukan diversified bisnis, hal yang perlu diperhatikan adalah
perusahaan tersebut ingin memasuki usaha yang masih berhubungan (related) atau
tidak berhubungan (unrelated). Penjelasan mengenai jenis usaha related business atau
unrelated business dapat dilihat pada tabel 2.1
Dengan mengetahui jenis usaha yang ingin dikembangkan maka perusahaan
dapat lebih fokus melakukan pengembangan usahanya. Untuk mengatur Diversified
bisnis terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu menciptakan tim management
yang kuat, serta menciptakan bisnis forecast yang akurat. Terdapat beberapa strategi
dalam memasuki suatu usaha baru yaitu:
a. Mengakusisi perusahaan yang telah ada
Pengambilalihan perusahaan yang telah ada dapat mempermudah perusahaan
dalam promosi dan ketersediaan tenaga ahli dari perusahaan lama.
7 8 b. Internal start-up
Mendirikan suatu usaha baru sendiri, membutuhkan biaya yang relatif besar
selain itu perlu adanya pelatihan karyawan untuk mengerti mengenai jenis
usaha baru tersebut. Tetapi bila memulai dari awal, pemilik dapat lebih mudah
mengatur karyawan dan mengerti mengenai perusahaan tersebut.
c. Joint ventures
Melakukan joint venture/kerja sama dapat membantu baik dari segi keuangan
atau operational. Dengan adanya kerja sama maka pengelolaan perusahaan
dapat dijalankan bersama sehingga beban yang ditanggung dapat lebih kecil.
Selain itu, dapat dilakukan penukaran informasi yang berguna untuk
mengembangkan perusahaan.
Diversification
Strategy Options
Tabel 2.1 Diversified Strategy Options
Related Businesses
- Suatu usaha yang saling berhubungan antara usaha satu
dengan lainnya.
- Dapat saling membantu (strategic fits) antar perusahaan
sehingga dapat terjadi transfer ilmu dan kemampuan,
saling berbagi fasilitas, penggabungan karyawan sehingga
menciptakan kelebihan baru.
Unrelated Businesses
- Suatu usaha yang saling tidak berhubungan antara satu
dengan lainnya
- Metode ini dapat mengurangi resiko perusahaan karena
beda bisnis, serta fokus pada pendapatan serta laba
perusahaan dalam pengembangan usahanya.
Both Related and Unrelated businesses
Dalam mendirikan Diversified bisnis terdapat beberapa keuntungan dan kerugian.
Berikut ini adalah keuntungan dan kerugian dari memiliki multiple bisnis:
9 Gambar 2.1 Managing Multiple Businesses
2.2
Fish Bone Strategy
Fish bone strategy atau sering dikenal dengan diagram sebab-akibat adalah
salah satu alat yang digunakan untuk melakukan continues improvement. Diagram ini
menunjukkan hubungan antara penyebab-penyebab utama suatu masalah yang terjadi.
Setelah diagram fish bone dibuat, maka perlu dilakukan analisis untuk mengetahui
penyebab utama yang sangat mempengaruhi masalah yang terjadi dalam suatu
perusahaan.
Dalam pembuatan fish bone diagram terdapat empat hal yang perlu
diperhatikan yaitu dari segi manusianya, peralatan atau mesin, material dan metode
yang digunakan dalam perusahaan. Dengan mengamati dari keempat hal tersebut,
10 dapat diketahui penyebab dari masalah yang terjadi di perusahaan. Dengan
diketahuinya masalah tersebut maka penyelesaian dapat dilakukan. Fish bone
diagram merupakan salah satu alat terbaik untuk mnyusun penyelesaian suatu
masalah yang terjadi dalam perusahaan. Berikut ini adalah salah satu contoh dari fish
bone diagram.
Gambar 2.2 Fish Bone Diagram
2.3 Porter Model of Five Competitive Force
Model Five Competitive Force dikembangkan oleh Michael E. Porter dalam
bukunya yang berjudul “Competitive Strategy : Techniques for Analyzing Industries
and Competitors” pada tahun 1980. Model ini kemudian menjadi alat yang penting
dalam menganalisa sebuah struktur organisasi industri secara strategis. Model Porter
11 didasarkan
pada
pemikiran
bahwa
sebuah
strategi
perusahaan
harus
memperhitungkan peluang dan ancaman di lingkungan eksternal organisasi.
Porter telah mengidentifikasi lima competitive forces yang yang membentuk
setiap industri dan market. Kelima forces ini menentukan intensitas dari kompetisi
dan menetukan profitabilitas dan tingkat atraktif dari sebuah industri. Tujuan dari
corporate strategy harus dapat memodifikasi kelima competitive forces ini dalam
yang akan memperbaiki posisi organisasi yang bersangkutan. Berdasarkan informasi
yang diperoleh dari analisa Five Forces ini, management perusahaan dapat
menentukan
bagaimana
cara
untuk
mengembangkan
atau
mengeksploitasi
karakteristik tertentu di industri mereka. Berikut ini adalah kelima competitive forces
yang dikembangkan oleh Michael Porter (Recklles, 2010).
Gambar 2.3 Porter Model of Competitive Forces
12 1. Bargaining Power of Suppliers
Istilah suppliers berhubungan dengan semua sumber yang diperlukan sebagai
input dalam rangka penyediaan barang atau jasa. Supplier bargaining power akan
menjadi tinggi pada saat:
‐
Market didominasi oleh sedikit supplier besar, dibandingkan fragmented
source of supply
‐
Tidak ada produk substitusi untuk input yang diperlukan
‐
Pelanggan dari supplier terfragmentasi, yang menyebabkan bargaining
power menjadi rendah
‐
Biaya untuk berpindah dari satu supplier ke supplier lainnya tinggi
‐
Buying industry memiliki barrier yang rendah untuk dimasuki pemain
baru.
2. Bargaining Power of Customer
Bargaining power of customer menentukan seberapa banyak customer dapat
berpengaruh terhadap margin dan volume. Bargaining power dari customer akan
tinggi ketika:
‐
Customer membeli dalam volume yang besar,dapat memproduksi sendiri.
‐
Supplying industry beroperasi dengan fixed cost yang besar
‐
Supplying industry terdiri atas small operator dalam jumlah yang besar
‐
Perpindahan ke produk alternatif relatif mudah dengan cost yang rendah
‐
Pelanggan memiliki margin yang kecil dan pricesensitive
‐
Pelanggan mengetahui production cost dari produk yang disupply
13 3. Threat of New Entrants
Pendatang baru dapat merubah beberapa hal di dalam lingkungan market
(seperti market share, harga, dan customer loyalty) di setiap saat. Selalu akan
terdapat tekanan terhadap reaksi dan penyesuaian untuk pemaian lama yang ada
di industry ini. Threat of new entry ini tergantung terhadap adanya beberapa
barrier untuk memasuki industry ini, yaitu:
‐
Investasi awal yang tinggi dan fixed cost yang tinggi
‐
Cost advantage dari pemain lama dikarenakan pengalaman yang dimiliki
‐
Brand loyalty dari customer
‐
Kekayaan intelektual yang dilindungi, seperti patent dan lisensi
‐
Ketersediaan sumber daya yang penting, seperti staff ahli yang
berpengalaman
‐
Akses terhadap bahan mentah dan jaringan distrubusi dikuasai oleh
pemain lama
‐
Pemain lama memiliki hubungan yang erat dengan customer
4. Threat of Substitutes
Ancaman dari produk substitusi timbul jika terdapat produk alternatif dengan
harga yang lebih rendah dan memiliki performa yang lebih baik. Produk substitusi
ini memiliki potensi untuk menarik sejumlah proporsi dari market volume dan
mengakibatkan
volume
penjualan
untuk
pemain
mempengaruhi threat of substitutes adalah sebagai berikut :
lama.
Faktor
yang
14 ‐
Brand loyalty dari customer
‐
Kedekatan hubungan dengan customer
‐
Switching cost untuk customer
‐
Trend saat ini
5. Competitive Rivalry between Existing Player
Force ini mendeskripsikan intensitas kompetisi di antara pemain lama di
dalam sebuah industry. Tingginya tingkat persaingan berakibat terhadap
timbulnya tekanan terhadap harga, margin, dan profitabilitas untuk setaip
perusahaan di dalam industri. Kompetisi antara pemain lama menjadi tinggi
ketika:
‐
Terdapat banyak pemain dalam ukuran yang sama besar
‐
Pemain memiliki strategi yang sama
‐
Tingkat pertumbuhan market yang rendah
‐
Tingginya barrier untuk keluar
Analisa Five Forces dapat menyediakan informasi berharga terhadap tiga aspek dari
perencanaan perusahaan.
1. Analisa Statistik
Analisa Five Forces berperan dalam menentukan tingkat atraktif dari sebuah
industri, yang selanjutnya akan mempengaruhi keputusan untuk masuk atau
keluar dari sebuah industri. Lebih jauh, model ini dapat digunakan untuk
membandingkan akibat dari competitive forces di dalam organisasi mereka
sendiri dan akibat mereka terhadap kompetitor. Kompetitor dapat memiliki
15 pilihan yang berbeda terhadap reaksi untuk berubah dalam competitive forces
dari sumber daya mereka yang berbeda dan kompetensi.
2. Analisa Dinamis
Kombinasi antara analisa Five Forces dengan analisa PEST akan
mengungkapkan driver untuk perubahan di dalam sebuah industri. Analisa
Five Forces dapat mengungkapkan potential future atractiveness dari sebuah
industri. Perubahan yang diharapkan dari politik, ekonomi, sosiodemografis,
dan teknologi dapat mempengaruhi five competitive forces dan selanjutnya
berdampak pada struktur industri.
3. Analysis of Option
Dengan pengetahuan mengenai intensitas dan kekuatan dari competitive
forces, organisasi dapat mengembangkan pilihan untuk memperbaiki posisi
kompetitif mereka, dimana hasilnya dapat menjadi arahan strategi yang baru.
Sehingga Porter model of five competitive forces melakukan analisis secara
terstruktur dan sistematis terhadap struktur pasar dan kondisi kompetisi.
Five force model didasarkan pada microkonomi, yang memiliki account
dalam supply dan demand, produk complimentary atau substitusi, hubungan
antara volume produksi dan cost produksi, dan struktur market seperti
monopoly, oligopoly, atau kompetisi sempurna.
16 2.4
SWOT Analysis
SWOT analisis merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengevaluasi
kelebihan, (strength), kekurangan (weakness), market opportunity yang dimiliki oleh
perusahaan, dan ancaman (threat) eksternal untuk masa depan perusahaan. First rate
analisa SWOT dapat menyediakan dasar bagi perusahaan untuk menyusun strategi
yang mengkapitalisasikan sumber daya yang dimiliki perusahaan, menangkap
kesempatan terbaik yang dimiliki perusahaan, dan bertahan untuk menghadapi
ancaman terhadap keberlangsungan hidup perusahaan (Thompson et al, 2010).
2.4.1
Identifikasi Terhadap Resource Strength Perusahaan (Strength)
Resource strength merupakan sesuatu kelebihan yang dimiliki
perusahaan atau suatu atribut yang dapat meningkatkan tingkat kompetitif
perusahaan di pasar. Resource strength dapat berupa beberapa bentuk :
•
Sebuah skill atau competitively important capability
•
Valuable physical, human, organizational, dan intagible assets
•
Atribut yang dapat menyebabkan perusahaan berada di posisi
yang menguntungkan
•
Competitively valuable alliances
2.4.2 Identifikasi Terhadap Resource Weakness Perusahaan (Weakness)
Resource weakness merupakan suatu kelemahan yang dimiliki suatu
perusahaan atau kondisi yang dapat menyebabkan perusahaan memiliki
disadvantage untuk mencapai objektifnya. Resource weakness yang dimiliki
oleh perusahaan dapat dihubungkan dengan:
17 • Skill yang inferior
• Defisiensi dalam hal physical, organizational, atau intangible
assets
• Competitively inferior capabilities in key area
2.4.3 Identifikasi Terhadap Market Opportunity (Opportunity)
Market opportunity merupakan sebuah faktor penting dalam
menentukan
strategi
perusahaan.
Semakin
volatil
dan
tidak
dapat
terprediksinya kondisi pasar, maka semakin semakin terbatas pula
kemampuan perusahaan untuk dapat menemukan kesempatan penting
tersebut. Baik di dalam pasar yang stabil maupun volatil, timbulnya
kesempatan selalu tidak pernah dapat dikendalikan oleh satu perusahaan,
sebaliknya kesempatan itu timbul dari simultaneously alignment dari beberapa
faktor eksternal.
Dalam mengevaluasi market opportunity dari perusahaan, manager
harus selalu awas dalam melihat setiap industry opportunity sebagai sebuah
company opportunity. Tidak semua perusahaan dipersiapkan dengan sumber
daya untuk secara sukses mendapatkan setiap kesempatan yang ada di
industri. Market opportunity yang paling relevan terhadap sebuah perusahaan
adalah yang sesuai dengan keadaan finansial dan organisasi perusahaan,
menawarkan pertumbuhan dan profitabilitas yang terbaik, dan menghadirkan
potensi sebagai competitive advantage.
18 2.4.4 Identifikasi Terhadap External Threat (Threat)
Threat dapat timbul dari adanya teknologi yang lebih baik dan lebih
murah, perusahaan saingan yang memperkenalkan produk baru yang lebih
unggul, peraturan baru yang lebih berdampak buruk terhadap suatu
perusahaan dibandingkan saingan mereka, dan perubahan dalam interest rate
dan foreign exchange rate.
Gambar 2.4 Contoh Analisa SWOT
19 2.5
Manajemen Sumber Daya Manusia
Sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai manajemen sumber daya
manusia, pertama-tama, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai manajemen.
Konsep manajemen tidaklah mudah untuk didefinisikan, sampai sekarang belum
ditemukan definisi manajemen benar-benar dapat diterima secara universal. Untuk
mempermudah pengenalan mengenai manajemen, berikut ini adalah bagan proses
manajemen yaitu
Gambar 2.5 Proses Managemen
Dari bagan tersebut, manajemen dapat didefinisikan adalah upaya mengatur
segala sesuatu (sumber daya) untuk mencapai tujuan organisasi. Karena sifat
pengaturan melekat pada manajemen, maka banyak orang yang mengartikan
manajemen sebagai tata laksana atau ketatalaksanaan, yaitu suatu kegiatan mengatur,
membimbing, dan memimpin orang-orang yang menjadi bawahan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Dari uraian tersebut, tampak bahwa manajemen terdapat
dua hal penting yaitu
1. Jabatan, yaitu kedudukan-kedudukan yang disediakan bagi orang-orang
yang memenuhi syarat dan keahlian dalam jabatan tersebut.
20 2. Job,
yaitu
pekerjaan
merencanakan,
mangatur,
mengarahkan,
melaksanakan, dan mengawasi jalannya kegiatan dalam pencapaian tujuan
tertentu.
Manajemen juga dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan
organisasi dengan perencanaan matang, pelaksanaan konsisten, dan pengendalian
yang kontinu agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan efisien dan efektif.
Dimana efisien yang dimaksud adalah suatu keadaan ketika penyelesaian suatu
pekerjaan dilaksanakan secara tepat dan akurat tanpa membuang waktu, tenaga dan
biaya. Sedangkan efektif adalah suatu keadaan dimana dalam memilih cara dan
peralatan yang digunakan dengan tepat sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai
dengan hasil yang memuaskan. Alasan diperlukan manajemen adalah sebagai berikut:
‐
Mencapai tujuan pribadi, kelompok, organisasi, atau perusahaan.
‐
Menciptakan keseimbangan diantara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran, dan
kegiatan-kegiatan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi atau
perusahaan
‐
Mencapai efisiensi dan produktivitas kerja organisasi atau perusahaan.
Maka manajemen sumber daya manusia adalah suatu kegiatan pengelolaan
meliputi pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa bagi
manusia sebagai individu anggota organisasi atau perusahaan. Hal-hal yang esensial
dari manajemen sumber daya manusia adalah pengelolaan dan pendayagunaan secara
penuh dan berkesinambungan terhadap sumber daya manusia yang ada sehingga
mereka dapat bekerja sama secara optimal, efektif dan produktif dalam mencapai
21 tujuan organisasi atau perusahaan. Empat hal penting berkenaan dengan manajemen
sumber daya manusia adalah sebagai berikut:
a) Penekanan yang lebih dari biasanya terhadap pengintegrasian berbagai
kebijakan sumber daya manusia dengan perencanaan
b) Tanggung jawab pengelolaan sumber daya manusia tidak lagi menjadi
tanggung jawab manajer khusus, tetapi manajemen secara keseluruhan.
c) Adanya perubahan dari hubungan serikat pekerja manajemen menjadi
hubungan manajemen karyawan
d) Terdapat aksentuasi pada komitmen untuk melatih para manajer agar
dapat berperan optimal sebagai penggerak dan fasilitator.
Pengelolaan sumber daya manusia menjadi unsur yang sangat penting dari
fungsi manajemen. Jika sumber daya manusia tidak dikelola secara baik,
efektivitasnya akan merosot lebih cepat daripada sumber daya yang lainnya. Teknik
pengelolaan sumber daya manusia juga akan semakin sederhana berkat kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berlangsung.
2.6
Struktur Organisasi
Pada mulanya suatu bisnis dimulai oleh satu orang yang melakukan berbagai
pekerjaan, tetapi dengan berkembangnya dan suksesnya bisnis tersebut, makin
banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan membutuhkan banyak orang untuk
melakukan berbagai macam pekerjaan. Dalam fungsi pengorganisasian, manajer
mengalokasikan keseluruhan sumber daya organisasi sesuai dengan rencana yang
22 telah dibuat berdasarkan suatu kerangka kerja organisasi tertentu yang dinamakan
sebagai desain organisasi.
Bentuk spesifik dari kerangka kerja organisasi dinamakan dengan Struktur
Organisasi. Struktur organisasi adalah suatu penyempitan tugas atau fungsi,
hubungan, tanggung jawab, wewenang, dan komunikasi antar individu dengan
departemen lainnya (Sexton, 1970, p. 23). Dalam struktur organisasi ini manager
melakukan alokasi sumber daya organisasi, terutama yang terkait dengan pembagian
kerja dan sumber daya yang dimiliki organisasi, serta bagaimana keseluruhan kerja
tersebut dapat dikordinasikan dan dikomunikasikan.
Struktur organisasi yang formal telah digunakan sejak tahun 1854 ketika
Daniel McCallum menjadi general superintendent of the New York and Erie
Railroad. Pada awalnya struktur organisasi dibuat seperti pohon dengan akarnya
adalah President dan the board of directors sedangkan cabangnya menyimbolkan
berbagai department dan sebagai daunnya adalah para pekerja. Hasil yang didapatkan
dari sebuah bagan struktur organisasi adalah sebuah batas kewenangan yang jelas,
dimana digambarkan bawahan merupakan bagian dari atasan (supervisor) mereka
(Chandler, 1988, p. 156).
23 Gambar 2.6 Struktur Organisasi
Terdapat empat pilar pengorganisasian (four building blocks of organizing) yang
biasa digunakan yaitu:
1. Pembagian Kerja (division of work)
Pembagian kerja adalah upaya untuk menyederhanakan dari keseluruhan
kegiatan dan pekerjaan, yang mungkin saja bersifat kompleks menjadi lebih
sederhana dan spesifik dimana setiap orang akan ditempatkan dan ditugaskan
untuk setiap kegiatan yang sederhana dan spesifik tersebut. Contoh dari
pembagian kerja misalnya pembagian kerja dalam bisnis restoran, dimana
pembagian kerja dapat berupa pembagian kerja untuk bagian dapur, pelayanan
pelanggan di meja makan, kasir, dan lain sebagainya
2. Pengelompokan Pekerjaan (departmentalisasi)
Pengelompokan Pekerjaan atau departementalisasi pada dasarnya adalah
Proses pengelompokkan dan penamaan bagian atau kelompok pekerjaan
berdasarkan kriteria tertentu. Sebagai contoh, untuk bisnis restoran :
pencatatan menu, pemberitahuan menu kepada bagian dapur, hingga
pengiriman makanan dari bagian dapur kepada pelanggan di meja makan
dapat dikelompokkan menjadi satu departemen tertentu (bagian pelayan).
24 Gambar 2.7 Pengelompokkan Kerja
3. Penentuan Relasi Antar Bagian dalam Organisasi (hirarki)
Hirarki adalah proses penentuan relasi antar bagian dalam organisasi, baik
secara vertikal (Tall Hierarchy) maupun secara horizontal (Flat Hierarchy).
Gambar 2.8 Relasi Antar Bagian Dalam Organisasi
25 Dalam hirarki struktur organisasi terdapat 2 konsep penting, yaitu :
•
Span of management control atau span of control
Span of management control terkait dengan jumlah orang atau
bagian di bawah suatu departemen yang akan bertanggung jawab
kepada departemen atau bagian tertentu.
Gambar 2.9 Hirarki dalam bisnis restoran
•
Chain of Command
Chain of command menunjukkan garis perintah dalam sebuah
organisasi dari hirarki yang paling tinggi misalnya hingga hirarki
yang paling rendah. chain of command juga menjelaskan
bagaimana batasan kewenangan dibuat dan siapa dan bagian mana
akan melapor ke bagian mana.
26 Gambar 2.10 Chain of command dari bisnis restoran
4. Penentuan Mekanisme Untuk Mengintegrasikan Aktifitas Antar Bagian dalam
Oganisasi (Koordinasi)
Koordinasi adalah proses dalam mengintegrasikan seluruh aktifitas dari
berbagai departemen atau bagian dalam organisasi agar tujuan organisasi
dapat tercapai secara efektif (Stoner, Freeman & Gilbert, 1995)
Sebuah struktur organisasi yang efektif adalah yang dapat memfasilitasi
hubungan pekerjaan dengan beberapa bagian organisasi dan dapat meningkatkan
keefisienan kinerja organisasi. Beberapa kriteria struktur organisasi yang sukses
adalah proses pelaporan yang bersifat desentralisasi, struktur organisasi yang ringkas
(flat), kecepatan arus informasi yang tinggi, transparansi yang tinggi, hanya
menghasilkan sejumlah kecil residu, proses pengawasan yang terus-menerus, reaksi
yang cepat, shared reliability, dan tingkatan matrix. Dalam pengambilan keputusan
suatu organisasi terdapat dua cara pengambilan keputusan yang biasa digunakan
yaitu:
27 1. Centralization
Perusahaan dengan tipe struktur organisasi terpusat (centralized) hanya
memiliki beberapa divisi management yang memiliki wewenang melakukan
pengambilan keputusan dalam perusahaan untuk mengatur jalannya
perusahaan. Pada tipe struktur ini, line-staff employee memiliki keterbatasan
dalam pengambilan keputusan tanpa adanya keputusan dari orang yang
berwenang. Sistem ini fokus pada top-down management dimana ada manager
yang akan memberitahukan staff apa yang harus mereka kerjakan dan
bagaimana melakukannya. Sehingga staff hanya memiliki sedikit kebebasan
dalam bertindak. Sistem ini digunakan oleh perusahaan yang memiliki
decreased span of control, selain itu system ini juga menyebabkan lamanya
tindakan yang dilakukan perusahaan karena membutuhkan persetujuan dari
pemilik perusahaan.
2. Decentralization
Karena kreativitas individual dapat terhenti dan management cost dapat
menjadi lebih besar dalam organisasi sentralisasi, banyak organisasi berubah
menjadi struktur desentralisasi. Desentralisasi akan mengeliminasi tingkat
yang tidak diperlukan dalam management dan untuk menempatkan
kewenangan dalam tangan manager dan staff tingkat pertama, sehingga akan
meningkatkan pengawasan, dengan lebih banyak pekerja yang melapor
kepada satu manager. Peringkasan ukuran juga membantu dalam merubah
arus komunikasi, sehingga top management mendengarkan keluhan dan
28 pemikiran staff secara lebih langsung dan management menggunakan
pendekatan yang lebih bersifat hands-on. Pendekatan hands-on melibatkan
lebih sedikit birokrasi, yang berarti lebih cepatnya respon terhadap situasi
yang membutuhkan perhatian secara cepat sehingga keputusan dapat cepat
diambil.
2.7
Analisa jabatan atau Pekerjaan
Analisa jabatan atau pekerjaan adalah
a. Suatu proses menghimpun informasi setiap jabatan atau pekerjaan yang
berguna mewujudkan tujuan bisnis sebuah perusahaan.
b. Proses
menghimpun
dan
mampelajari
berbagai
informasi
yang
berhubungan dengan pekerjaan secara operational beserta tanggung
jawabnya
c. Kegiatan menghimpun dan menyusun informasi berkenaan dengan tugas,
jenis pekerjaan, dan tanggung jawab yang bersifat khusus.
Tujuan akhir dari analisa jabatan ini adalah deskripsi tertulis dari persyaratan
actual suatu jabatan atau pekerjaan. Ada dua tujuan dari kegiatan analisis jabatan atau
pekerjaan, yaitu
‐
Menyusun uraian jabatan (job description) dan persyaratan jabatan (job
specification). Dari uraian jabatan dapat diketahui jenis tugas dan tanggung
jawab, prosedure mengerjakannya, dan alasan si pejabat melakukan pekerjaan
29 tersebut. Sedangkan persyaratan jabatan adalah persyaratan minimal yang
harus dipenuhi seseorang agar mampu mengerjakan pekerjaan dengan baik.
‐
Sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan manajemen SDM seperti
penilaian kinerja pejabat yang bersangkutan, dan prestasi kerja dengan uraian
jabatan.
Dengan dilakukan analisa jabatan maka karyawan dapat mengetahui
pekerjaan dan tanggung jawab yang mereka miliki sehingga dapat bekerja secara
lebih efektif dan efisien. Selain itu dengan adanya analisa jabatan maka kinerja
karyawan dapat terukur dengan jelas mulai dari kemampuan, usaha, tanggung jawab
dan kondisi kerjanya.
Download