7 bab ii teori penunjang

advertisement
BAB II
TEORI PENUNJANG
2.1 TEORI TENTANG RADIO DAN TELEVISI
Radio dapat di definisikan sebagai teknologi yang digunakan untuk
pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan radiasi elektromagnetik
(gelombang elektromagnetik). Gelombang ini melintas dan merambat
lewat udara dan bisa juga merambat lewat ruang angkasa yang hampa
udara, karena gelombang ini tidak memerlukan medium pengangkut
(seperti molekul udara).
Sedangkan Televisi dapat didefinisikan sebuah alat penangkap siaran
bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang
mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi
televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan
televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini
mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia 'televisi' secara tidak
formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
Berdasarkan Badan Kepemilikannya , Radio dan Televisi dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Radio dan Televisi milik badan pemerintahan adalah pelayanan
telekomunikasi yang di miliki oleh badan pemerintah , contohnya
TVRI (Televisi) dan RRI (Radio).
2. Radio dan Televisi milik swasta adalah pelayanan telekomunikasi
yang di miliki oleh badan swasta , contohnya Indosiar , TransTV ,
GlobalTv dll (Televisi) , DJFM , IstaraFM , HardrockFM , dll (Radio)
2.2 FREQUENCY RADIO
Radio dibagi dalam beberapa daerah band frekuensi yang berbeda,
sesuai dengan karakteristik propagasi mereka, seperti dapat dilihat pada
Tabel 2.1.
7
NAMA
Very
Low
Frekuensi
Low
Frekuensi
Medium
Frekuensi
High
Frekuensi
Very
High
Frekuensi
Ultra
High
Frekuensi
Super
High
Frekensi
Extremly
High
Freq
FREKUENSI
VLF
Kurang dari
30 KHz
PANJANG
GELOMBANG
Lebih dari 10
km
LF
30 -300 KHz
1 – 10 km
MF
300 - 3000
KHz
3 – 30 Mhz
100 – 1000 m
HF
300
10 – 100 m
Gelombang
Myriametrik
Gelombang
kilometer
Gelombang
Hektometer
Gelombang
Dekameter
Gelombang
meter
VHF
30 –
MHz
UHF
300 - 3000
MHz
10 – 100 cm
Gelombang
Decimeter
SHF
3 – 30 GHz
1- 10 cm
Gelombang
Sentimeter
EHF
30 –
GHz
1 – 10 mm
Gelombang
Milimeter
300
1 – 10m
NAMA
Tabel 2.1 Band Frekuensi Radio
Berikut adalah penjelasan dari pembagian band frekuensi radio :
2.2.1
Radio Frekuensi Rendah (VLF, LF, MF)
Pada frekuensi- frekuensi ini, energi gelombang radio meninggalkan
antena pemancar dan mengikuti bentuk atau kurva dari permukaan bumi
dalam semua arah, yang dikenal sebagai gelombang permukaan bumi
(Ground Wave). Untuk berkomunikasi dengan menggunakan media
gelombang tanah, maka gelombang harus terpolarisasi secara vertikal,
karena bumi akan menghubungsingkatkan medan listriknya bila
berpolarisasi horisontal.
8
Perubahan kadar air mempunyai pengaruh yang besar terhadap
gelombang tanah. Redaman gelombang tanah berbanding lurus terhadap
impedansi pemukaan tanah dimana impedansi ini merupakan fungsi dari
konduktifitas dan frekuensi. Jika bumi mempunyai konduktifitas tinggi,
maka redaman (penyerapan energi gelombang) akan berkurang. Dengan
demikian, propagasi gelombang tanah di atas air, terutama air garam (air
laut) jauh lebih baik dari pada di tanah kering (berkonduktivitas rendah),
seperti padang pasir. Rugi-rugi (redaman) tanah akan menigkat dengan
cepat seiring besarnya frekuensi. Sehingga gelombang tanah sangat
tidak efektif pada frekuensi diatas 2 MHz.
Namun demikian, gelombang tanah sangat handal bagi hubungan
komunikasi. Penerimaan gelombang tidak terpengaruh oleh perubahan
harian maupun musiman, sebagaimana yang terjadi pada gelombang
langit (gelombang ionosfir). Propagasi gelombang tanah merupakan
satu-satunya cara untuk berkomunikasi di dalam lautan.
Untuk memperkecil redaman laut, maka digunakan frekuensi yang
sangat rendah, yaitu band ELF (Extremely Low Frequency), yaitu antara
30 hingga 300 Hz. Dalam pemakaian tertentu dengan frekuensi 100 Hz,
redamannya hanya sekitar 0,3 dB per meter. Redaman ini akan
meningkat drastis bila frekuensinya makin tinggi, misalnya pada 1 GHz
redamannya menjadi 1000 dB per meter.
2.2.2
Radio Frekuensi Tinggi (HF)
Pada frekuensi tinggi atau daerah HF, yang mempunyai range frekuensi
3 – 30 MHz, gelombang dapat dipropagasikan menempuh jarak yang
jauh akibat dari pembiasan dan pemantulan lintasan pada lapisan
ionospher. Gelombang yang berpropagasi melalui lapisan ionosfir ini
disebut sebagai gelombang ionosfir (ionospheric wave) atau juga disebut
gelombang langit (sky wave).
Aksi pembiasan pada lapisan ionosfir dan permukaan bumi tersebut
disebut dengan skipping. Ilustrasi dari efek skipping ini dapat dilihat
pada gambar 2.2. Gelombang radio yang dipancarkan dari pemancar
(transmitter) melalui antena menuju ionofir dan dibiaskan/dipantulkan
kembali pada titik B ke permukaan bumi pada titik C. Kemudian oleh
permukaan tanah dipantulkan kembali ke ionosfir dan sekali lagi
9
dibiaskan bumi kembali pada titik D menuju penerima (receiver) di titik
E pada permukaan bumi.
Pada frekuensi ini, gelombang permukaan bumi diserap atau berkurang
dengan cepat, tetapi di samping itu juga terjadi radiasi ke atas sampai
mencapai ionosfer, yang berada kira-kira 50 – 400 km diatas permukaan
bumi. Dalam ionosfer, gas-gas yang ada mengalami radiasi ultraviolet
Molekul-molekulnya kemudian melepaskan atau kehilangan beberapa
elektron-elektron dan dengan demikian menjadi ion-ion bermuatan
positif. Pada lapisan ionisasi, gelombang radio dibiaskan dengan sudutsudut tertentu sedemikian rupa sehingga mereka akan dikembalikan ke
bumi pada jarak yang sama dari antene pemancar.
Dengan menggunakan antena pemancar yang dapat diarahkan,
gelombang angkasa dapat diarahkan untuk mencapai suatu tujuan
tertentu pada jarak yang jauh meskipun dengan menggunakan daya yang
kecil dibandingkan dengan daya yang dipergunakan untuk gelombang
permukaan bumi pada jarak yang sama.
2.2.3 Radio dengan Frekuensi – frekuensi sangat Tinggi
Pada frekuensi-frekuensi ini energi gelombang radio dipancarkan
melalui ruang angkasa dalam garis lurus, sebagaimana energi cahaya.
Dengan menggunakan antena yang dapat diarahkan, sinyal energi dapat
diarahkan langsung ke horison (kaki langit), sehinga menghasilkan suatu
lintasan perambatan yang sesuai dengan garis pandangan mata.
Gelombang ruang angkasa (space wave) dapat diarahkan ke bawah, ke
permukaan bumi, dimana kemudian ia akan dipantukan, dan karena itu
ia dapat mencapai antena penerima. Gelombang pantulan ini dapat
menghasilkan suatu interferensi (gangguan) pada gelombang yamg
dipancarkan langsung.
Propagasi troposfir bisa dianggap sebagai kasus dari propagasi
gelombang langit. Gelombang tidak ditujukan ke ionosfir, tetapi
ditujukan ke troposfir. Batas troposfir hanya sekitar 6,5 mil atau 11 km
dari permukaan bumi. Frekuensi yang bisa digunakan adalah sekitar 35
MHz sampai dengan 10 GHz dengan jarak jangkau mencapai 400 km.
Dengan menempatkan antena pemancar maupun penerima di daerah
dataran tinggi atau menara akan memberikan kelebihan tersendiri pada
10
gelombang ruang angkasa saat menempuh jarak dari pemancar ke
penerima. Ketinggian antena dan kelengkungan permukaan bumi
merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada gelombang ini.
Jenis propagasi lain dalam frekuensi ini adalah propagasi garis pandang
atau yang lebih dikenal dengan sebutan line of sight (LOS), yang
mempunyai keterbatasan pada jarak pandang penglihatan. Jadi
ketinggian antena dan kelengkungan permukaan bumi merupakan faktor
pembatas. Jarak jangkauannya sangat terbatas, kira-kira 30 – 50 mil per
link, tergantung topologi dari permukaan buminya. Propagasi garis
pandang, disebut dengan propagasi dengan gelombang langsung (direct
wave), karena gelombang yang terpancar dari antena pemancar langsung
berpropagasi menuju antena penerima dan tidak merambat di atas
permukaan tanah. Oleh karena itu, permukaan bumi/tanah tidak
meresamnya.
Band frekuensi yang digunakan pada jenis propagasi ini sangat lebar,
yaitu maliputi band VHF, UHF, SHF, dan EHF, yang sering dikenal
dengan band gelombang mikro. Aplikasi untuk pelayanan komunikasi,
antara lain : untuk televisi, komunikasi data, komunikasi suara, radar,
komunikasi satelit.
2.3 FREQUENCY TV
Agar di dunia ini dibidang pertelevisian tidak timbul kekacauan atau
saling mengganggu dan agar dapat bekerja sama, maka pertelevisian di
dunia ini diatur oleh badan dunia yang bernama International
Telecommunication Unit (ITU). Pada dasarnya Televisi berwarna
terdapat 3 sistem bebas yang membedakan satu sama yang lain adalah
banyaknya garis dan frekuensi.
1) PAL
(Phase Alternating Line)
Th. 1961
2) NTSC (National Television Standard Committee) Th. 1948
3) SECAM (Sequential a’Memo)
Th. 1957
Standar TV di Indonesia: VHF: PAL-B, UHF: PAL-G
Pengelompokan kanal frekuensi TV UHF Di Indonesia :
11
Tabel 2.2 kanal frekuensi TV
Sedangkan Untuk Wilayah Jawa Timur , Pembagian saluran
frekuensi TV Di Jawa Timur adalah sebagai berikut
Gambarl 2.1 pembagian saluran frekuensi di Jawa Timur
Keterangan :
12
kanal
Stasiun televisi
22
Trans TV
24
ANTV
26
TVRI
28
Indosiar
30
RCTI
32
TPI
34
SCTV
50
Global TV
52
TV One
54
Metro TV
56
Trans 7
58
TV Anak
60
JTV
62
SBO
Tabel 2.3 saluran TV berdasarkan pembagian kanal
2.3.1
Pemancar TV
13
Menurut Departemen Perhubungan , Letak lokasi pemancar dan ERP di
rencanakan sebagai berikut :
o Di dalam suatu daerah layanan, sebaiknya pemancar televisi
baru berada co-located dengan pemancar televisi dan radio
FM-VHF yang ada, dan juga sebaiknya dapat menggunakan
fasilitas (menara, antena) secara bersama terutama jika layanan
yang akan diberikan berada pada daerah yang sama.
o Apabila beberapa stasiun pemancar berada dalam satu lokasi
tetapi tidak menggunakan fasilitas antena dan menara secara
bersama, maka jarak orientasi dan tingginya harus dibuat
sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya refleksi dan reradiasi.
Direncanakan seperti itu supaya mencapai kuat medan maksimum
sebagaimana yang dipersyaratkan, dan tidak menimbulkan gangguan
interferensi di daerah layanan lain. Sebagai catatan layanan penyiaran
televisi dengan daya yang tinggi dapat menyebabkan interferensi yang
serius pada layanan komunikasi, meskipun layanan televisi telah
memenuhi semua persyaratan teknis seperti radiasi di luar band, dan
telah dipisahkan dengan baik dari layanan lain.
2.3.2
Jangkauan TV
Gambarl 2.2 skema jangkauan
2.4 WEB – GIS
Web-GIS merupakan Sistem Informasi Geografi berbasis web yang
terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait. Web - GIS
14
merupakan gabungan antara design grafis pemetaan, peta digital dengan
analisa geografis, pemrograman komputer, dan sebuah database yang
saling terhubung menjadi satu bagian web design dan web pemetaan.
Berikut adalah contoh aplikasi Web-GIS:
Gambar 2.3. Aplikasi WEB - GIS
Nama lain untuk Web-GIS sendiri bermacam-macam yang diantaranya
adalah sebagai berikut :
- Web-Based GIS
- Online GIS
- Distributed GIS
- Internet Mapping
Dimana sebuah Web - GIS yang potensial merupakan aplikasi GIS
atau pemetaan untuk pengguna di seluruh dunia, tidak memerlukan
software GIS , tidak tergantung pada platform ataupun sistem operasi.
Web - GIS
mempunyai beberapa
kelebihan , disamping
kekurangan yang diantaranya sebagai berikut :
1. Kelebihan Web-GIS :
o
Satu data yang terpusat
o
Biaya lebih murah untuk hardware dan software
o
Penggunaan lebih mudah
o
Pengaksesan yang lebih luas terhadap data GIS dan
fungsi- fungsinya
2. Kekurangan Web-GIS :
o
Waktu akses tergantung pada komputer server,
computer client, koneksi internet, traffic web-site,
dan efisiensi data
o
Resolusi dan ukuran display perlu diperbaiki
15
o
o
diantaranya
adalah support dual monitor, high
resolution setting , toolbar dan menu browser, layout
yang efisien
Variasi dari teknologi terbaru
Kompleksitas dan ketahanannya .
2.5 MAPSERVER
2.5.1
Pengenalan MapServer
MapServer merupakan aplikasi freeware dan open source yang
memungkinkan kita menampilkan data spasial (peta) di web. Aplikasi
ini pertama kali dikembangkan di Universitas Minesota, Amerika
Serikat untuk proyek ForNet (sebuah proyek untuk manajemen sumber
daya alam) yang disponsori NASA (Nasional Aeronautics and Space
Administration). Dukungan NASA dilanjutkan dengan dikenbangkan
proyek TerraSIP untuk manajemen data lahan. Saat ini, karena sifatnya
yang terbuka (open source), pengembangan MapServer dilakukan oleh
pengembangan dari berbagai Negara.
Pengembangan MapServer menggunakan berbagai aplikasi open source
atau freeware seperti Shapelib untuk baca/tulis format data Shapelib,
FreeType untuk merender karakter, GDAL/OGR untuk baca/tulis
berbagai format data vector maupun raster dan Proj.4 untuk menangani
beragam proyeksi peta.
Pada bentuk paling dasar, MapServer berupa sebuah program CGI
(Common Gateway Interface). Program tersebut akan dieksekusi di web
server dan berdasarkan beberapa parameter tertentu (terutama
konfigurasi dalam bentuk file *.MAP) akan menghasilkan data yang
kemudian akan dikirim ke web browser, baik dalam bentuk gambar peta
atau bentuk lain.
MapServer mempunyai fitur-fitur berikut :
o Menampilkan data spasial dalam format vector seperti : Shapefile
(ESRI), ArcSDE (ESRI), PostGIS dan bebagai format data vector
lain dengan menggunakan library OGR.
o Menampilkan data spatial dalam format raster seperti :
TIFF/GeoTIFF, EPPL7 dan berbagai format data raster lain dengan
menggunakan library GDAL.
16
o Menggunakan quadtree dalam indexing data spatial, sehingga
operasi-operasi spatial dapat dilakukan dengan cepat.
o Dapat dikembangkan (customizable), dengan tampilan keluaran
yang dapat diatur menggunakan file-file template.
o Dapat melakukan seleksi objek berdasar nilai, titik, area atau
sebuah objek spatial tertentu.
o Mendukung rendering karakter berupa font TrueType.
o Mendukung penggunaan data raster maupun vector yang di-tiled
(dibagi-bagi menjadi sub bagian yang lebih kecil sehingga proses
untuk mengambil dan menampilkan gambar dapat dipercepat).
o Dapat menggambarkan elemen peta secara otomatis : skala grafis,
peta indeks dan legenda peta.
o Dapat menggambarkan peta tematik yang dibangun menggunakan
ekspresi logic maupun ekspresi regular.
o Dapat menampilkan label dari objek spatial dengan label dapat
diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih.
o Konfigurasi dapat diatur secara on the fly melalui parameter yang
ditentukan pada URL.
o Dapat menangani beragam system proyeksi secara on the fly.
Saat ini, selain dapat mengakses MapServer sebagai program CGI, dapat
juga mengakses MapServer sebagai modul MapScript melalui barbagai
bahasa skrip : PHP, Perl, Phyton atau Java. Akses fungsi-fungsi
MapSever melalui skrip akan lebih memudahkan pengembangan
aplikasi. Pengembang dapat memilih bahasa yang paling familiar.
2.5.2
Instalasi Mapserver
Extract file – file yang diperlukan untuk mapserver sebagai berikut :
ms4w_2.2.7.zip
pmapper-3.2.0-ms4w.zip
lalu setelah di extract ,pindahkan ke direktiro C:/ , atau direktori
yang di gunakan untuk program, buka folder ms4w_2.2.7 , lalu klik
’apache-install.bat ’ , untuk mnegecek apakah mapserver telah
terinstall, maka buka http://localhost , apabila telah terinstall , maka
tampilan web browser, akan tampil seperti ini :
17
Gambar 2.4 Tampilan web apabila telah terinstall ms4w
lalu setelah mengisntall ms4w nya, di lanjutkan menginstall,
pmapper pmapper-3.2.0-ms4w, caranya, setelah extract folder
pmapper copi isi foldernya , yang berisi apache, apps, http.d copy
ke dalam folder C:/ ms4w , lalu replace, untuk mengecek , silahkan
buka browser ,ketik http://localhost , dan tampilannya sebagai
berikut :
18
Gambar 2.5 Tampilan web apabila telah terinstall pmapper
2.5.3
Arsitektur Umum Aplikasi Pemetaan di Web
Bentuk umum arsitektur aplikasi berbasis peta di web dapat dilihat pada
Gambar 2.7.
Gambar 2.6 Arsitektur Umum Aplikasi Pemetaan Berbasis Web
Pada gambar di atas, interaksi antara klien dengan server berdasar
skenario request dan respon. Web browser di sisi klien mengirim request
ke server web karena server web tidak memiliki kemampuan
pemrosesan peta, maka akan diteruskan oleh server web ke server
aplikasi dan MapServer. Hasil pemrosesan akan dikembalikan lagi
melalui server web, terbungkus dalam bentuk file HTML atau apllet.
Arsitektur aplikasi pemetaan di web dibagi menjadi dua pendekatan
sebagai berikut :
19
o Pendekatan Thin Client
Pendekatan ini memfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua
proses dan analisis data dilakukan berdasar request di sisi server.
Data hasil pemrosesan kemudian dikirimkan ke klien dalam format
standart HTML, yang di dalamnya terdapat file gambar dalam
format standart (misalnya GIF, PNG atau JPG) sehinga dapat dilihat
menggunakan sembarang web browser. Kelemahan utama
pendekatan itu menyangkut keterbatasan opsi interaksi dengan user
yang kurang fleksibel.
o Pendekatan Thick Client
Pada pendekatan ini, pemrosesan data dilakukan di sisi klien
menggunakan beberapa teknologi seperti kontrol ActiveX atau
apllet. Kontrol ActiveX atau apllet akan dijalankan di klien untuk
memungkinkan web browser dengan format data yang tidak dapat
ditangani oleh web browser dengan kemampuan standart. Dengan
adanya pemrosesan di klien maka transfer data antara klien dengan
web server akan berkurang. MapServer menggunakan pendekatan
thin client. Semua pemrosesan dilakukan di sisi server. Informasi
peta dikirimkan ke web browser di sisi klien dalam bentuk file
gambar (JPG, PNG, GIF atau TIFF). Saat ini kelemahan pendekatan
thin client dalam hal interaksi dengan user sudah jauh berkurang
dengan adanya framework aplikasi seperti Chameleon atau
CartoWeb.
2.5.4
Komponen Pembentuk MapServer
Pengembangan MapServer sebagai sebuah aplikasi open source banyak
memanfaatkan aplikasi lain yang juga bersifat open source. Sedapat
mungkin menggunakan aplikasi yang sudah tersedia jika memang
memenuhi kebutuhan untuk menghemat sumber daya dan waktu
pengembangan.
2.5.4.1 Komponen Untuk Akses Data Spatial
Komponen pada kelompok ini bertugas untuk menangani baca/tulis data
spatial, baik yang tersimpan sebagai file maupun tersimpan pada DBMS.
o Shapelib
20
Shapelib merupakan library yang ditulis dalam bahasa C, untuk
keperluan baca/tulis format data Shapelib (*.shp) yang didefinisikan
ESRI (Environmental System Research Institute). Format Shapelib
umum digunakan oleh berbagai aplikasi GIS untuk menyimpan data
vektor simple (tanpa topologi) dengan atribut. Pada MapServer,
format data Shapelib merupakan format data default.
o GDAL/OGR
GDAL (Geographic Data Abstraction Library) merupakan library
yang berfungsi sebagai penerjemah untuk berbagai format data
raster. Library ini memungkinkan abstraksi untuk semua format
data yang didukung, sehingga beragam format data tadi akan
terlihat sebagai sebuah data model abstrak. Keberadaan data model
abstrak tunggal akan memudahkan pengembang aplikasi karena
dapat menggunakan antarmuka yang seragam untuk semua format
data. OGR merupakan library dengan fungsionalitas yang identik
untuk beragam format data vektor. Kode OGR sekarang ini
digabung dalam kode library GDAL.
2.5.3.2 Komponen Untuk Akses Data Peta
MapServer akan mengirimkan tampilan peta berupa gambar. Beberapa
komponen di bawah ini berperan dalam membentuk gambar peta yang
dihasilkan oleh MapServer :
o Libpng
Libpng merupakan library yang digunakan untuk baca/tulis
gambar dalam format PNG.
o Libjpeg
Libjpeg merupakan library yang digunakan untuk baca/tulis
gambar dalam format JPG/JPEG.
o GD
Library GD digunakan MapServer untuk menggambar objek
geografisseperti garis, polygon atau bentuk geometris lain. GD
juga dapat digunakan untuk menghasilkan gambar dalam format
PNG, JPEG selain menggunakan libpng atau libjpeg secara
langsung.
21
o FreeType
FreeType merupakan library yang digunakan MapServer untuk
menampilkan tulisan menggunakan font TrueType.
2.5.3.3 Komponen Untuk Menangani Proyeksi Peta
Library Proj4 digunakan MapServer untuk menangani sistem proyeksi
peta. Aplikasi ini dikembangkan pertama kali oleh Gerald Evenden.
2.5.3.4 Komponen Pendukung
o Zlib
Zlib dibutuhkan oleh library GD untuk keperluan kompresi data
gambar.
o Regex
Library ini digunakan MapServer untuk keperluan menangani
ekspresi reguler.
2.5.5 Struktur File Map
MapServer menggunakan file *.MAP (file dengan akhiran .map,
misalnya jawa.map) sebagai file konfigurasi peta. File ini akan berisi
komponen tampilan peta seperti definisi layer, definisi proyeksi peta ,
pengaturan legenda , skala dsb. Secara umum file *.map memiliki
beberapa karakteristik sebagai berikut :
o Berupa file teks.
o Tidak case sensitive (tidak membedakan antara karakter
yang ditulis dengan huruf besar atau kecil), sebagai contoh :
kata “LAYER”, “layer” maupun “Layer” memiliki arti yang
sama pada file *.map. Hal ini tidak berlaku bagi penamaan
atribut, misalnya nama field pada sebuah Shapelib (file *.shp).
Nama field harus dituliskan persis seperti yang tertulis pada
sumbernya. Meskipun tidak case sensitive, sebaiknya
menentukan aturan penggunaan huruf besar atau kecil untuk
menjaga konsistensi. Pada umumnya digunakan huruf besar
untuk menuliskan isi file *.map.
o Teks yang mengandung karakter bukan alfanumerik (huruf
dan angka), harus berada di dalam tanda petik, misalnya :
“/opt/webgis/map” (karena ‘/’ bukan karakter alfanumerik).
22
Meskipun keharusan ini hanya berlaku untuk teks yang
mengandung karakter bukan alfanumerik, sebaiknya secara
konsisten menggunakan tanda petik untuk setiap variable teks.
o Pada kondisi normal, jumlah definisi layer pada sebuah file
*.map maksimum sebanyak 50 buah.
o Komentar pada MapServer dimulai dengan karakter ’#’.
Teks yang berada setelah karakter tersebut akan diabaikan,
kecuali jika karakter ’#’ berada di dalam tanda petik dan
menjadi bagian dari variabel teks.
o Terdiri dari definisi objek dengan struktur yang hirarkis
(berbentuk tree) dengan objek MAP pada hirarki tertinggi.
Setiap definisi objek di dalam file *.map akan diawali oleh
nama objek dan diakhiri dengan kata kunci END. Berikut ini
adalah contoh kerangka sebuah file *.map dalam bentuk hirarki
Gambar 2.7 Contoh kerangka file .*map
2.5.6 Pemrograman dengan PHP/MapScripts
MapScript adalah antarmuka pemrograman MapServer. Saat ini
MapScript tersedia dalam beberapa bahasa pemrograman : PHP, Perl,
Phyton dan Ruby. Antarmuka MapScript menggunakan bahasa
pemrograman PHP disebut dengan PHP/MapScript. PHP/MapScript
memungkinkan untuk melakukan akses terhadap MapSCript API
(Application Programming Interface) dari lingkungan PHP dengan
menggunakan berbagai kelas PHP.
PHP/MapScript tersedia sebagai sebuah modul PHP dalam bentuk file
DLL (Dynamic Linked Library) pada platform Windows atau dalam
bentuk ahared objek pada platform Linux.
Seperti juga bahasa pemrograman PHP itu sendiri, modul
PHP/MapScript disusun menggunakan pendekatn pemrograman
23
berorientasi objek atau OOP (Object Oriented Programming). Jadi,
ketika bekerja dengan PHP/MapScript, kita akan bekerja dengan
berbagai kelas, di samping beberapa fungsi dan variable khusus.
Berikut beberapa deskripsi singkat kelas-kelas pada PHP/MapScript :
o ClassObj
Mengatur kelas-kelas pada sebuah layer.
o ColorObj
Mengatur tampilan warna.
o ErrorObj
Manajemen kesalahan (error). MapServer akan secara otomatis
menginisiasi ErrorObj ketika terjadi kesalahan.
o ImageObj
Mengatur penggambaran peta pada file.
o LabelObj
Mengatur kenampakan label.
o LayerObj
Mengatur operasi-operasi yang berhubungan dengan layer
pembuatan, penggambaran dan query.
o LegendObj
Mengatur tampilan legenda.
o LineObj
Mengatur objek peta berupa garis.
o MapObj
Mengatur karakteristik peta yang akan ditampilkan.
o PointObj
Mengatur objek berupa titik.
2.6 POSTGRESQL
2.6.1 TENTANG POSTGRESQL
PostgreSQL merupakan hubungan Data Base Manajemen System
(DBMS) yang membantu sebuah model data yang terdiri dari kumpulan
named relation (hubungan nama) dan berisikan sebuah atribut dari
sebuah tipe yang spesifik. System yang ditawarkan PostgreSQL dapat
mencukupi untuk proses aplikasi data masa depan.
PostgreSQL juga menawarkan tambahan kekuatan besar, yaitu class,
inheritance, type, dan function. Tambahan keistimewaan lain yang tidak
24
dimiliki database management system yang lain berupa constraint,
triggers, rule, dan transaction integrity. Dengan adanya keistimewaan
tersebut,
maka
para
pemakai
dapat
dengan
mudah
mengimplementasikan dan menyampaikan system ini. Berbagai
keistimewaan dari PostgreSQL sanggup membuat database ini melebihi
database lain dari berbagai sudut pandang.
2.6.2 KELEBIHAN POSTGRESQL
Berbeda dengan database yang lain, PostgreSQL menyediakan begitu
banyak dokumentasi sehingga para pembaca bisa dengan mudah
mempelajari dan mengimplementasikannya. Tidak hanya itu, berbagai
dokumentasi yang bertebaran di internet maupun mailing list dapat kita
ambil dan kita pelajari. PostgreSQL memiliki keluwesan dan kinerja
yang tinggi.
Hal ini sesuai dengan niat awal para pembuat PostgreSQL bahwa
database yang mereka buat harus melebihi database lain dan ini terbukti
pada arsitekturnya. Dengan arsitektur yang luwes, maka sebuah user
PostgreSQL mampu mendefinisikan sendiri SQL-nya. Hal ini yang
membuat PostgreSQL berbeda dengan database relasional standar.
Disamping mendefinisikan sendiri SQL-nya, PostgreSQL juga
memungkinkan setiap user membuat sendiri
object file yang dapat diterapkan untuk mendefinisikkan tipe data,
fungsi dan bahasa pemrograman yang baru sehingga PostgreSQL sangat
mudah dikaembangkan maupun diimplementasikan pada tingkat user.
2.6.3 INSTALASI DATABASE POSTGRESQL
Database yang digunakan pada proyek akhir ini adalah PostGIS yang
merupakan spatial database yang ditambahkan pada PostgreSQL server
database relasional. Karena itu sebelum melakukan instalasi PostGIS
terlebih dahulu dilakukan instalasi PostgreSQL dengan menjalankan
aplikasi postgresql-8.2.msi dan menentukan pilihan bahasa yang akan
digunakan.
25
Gambar 2.8 Memilih Bahasa
Kemudian mengikuti seluruh intruksi yang ada sampai muncul pilihan
instalasi seperti yang terlihat pada gambar berikut .
Gambar 2.9 Pilihan Instalasi
Memilih pilihan instalalsi yang tersedia dengan menghilangkan
tanda silang dan dilanjutkan dengan memasukkan Account Domain dan
Account Password yang digunakan untuk menjalankan program
database server PostgreSQL. Seperti pada gambar berikut .
Gambar 2.10 Memasukkan Account Domain dan Account Password
26
\Selanjutnya akan muncul informasi bahwa user yang dimasukkan
belum ada dan apakah Account tersebut ingin dibuat seprti gambar 3.84
dan muncul informasi berikutnya yang menanyakan apakah password
yang dimasukkan diganti dengan password baru yang disediakan oleh
installer, seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.
Gambar 2.11 Membuat Account Domain
Gambar 2.12 Membuat Account Password
Membuat inisialisai kelompok database dengan memasukkan password.
Sebagai contoh passwordnya adalah postgres seperti pada ganbar 3.86 di
bawah ini.
Gambar 2.13 Inisialisasi kelompok database
27
Berikutnya memilih modul apa saja yang ingin ditambahkan dengan
memberi tanda centang pada check box untuk modul yang ingin
ditambahkan (Gambar 3.87). Menunggu beberapa saat hingga tampil
instruksi yang menyatakan bahwa PostgreSQL sukses diinstalasi maka
instalasi PostgreSQL telah berhasil.
Gambar 2.14 Memilih modul yang ingin ditambahkan
2.7 ARCGIS
2.7.1 TENTANG ARCGIS
ArcGIS adalah sistem yang lengkap untuk pembuatan, pelayanan dan
penggunaan informasi geografis. Software GIS ini merupakan koleksi
yang terpadu untuk membangun atau yang sedang membuat sistem
informasi geografis yang lengkap sesuai kebutuhan, dalam desktop,
server, web bahkan di lapangan. Apapun kebutuhannya baik itu analisis
keruangan, mengatur data spasial yang sangat banyak atau menghasilkan
peta peta yang secara kartografi terpenuhi sebagai pembuat keputusan.
ArcGIS bisa digunakan sebagai salah satu dasar untuk semua kebutuhan
Sistem Informasi yang bersifat Geografis. Sebagai sistem informasi
geografis yang lengkap, dengan ArcGIS sangatlah mudah untuk
membuat data, peta dan model dalam desktop dan menggunakannya
melalui web, desktop atau perangkat mobile.
28
ArcGIS menyediakan perangkat yang lengkap untuk model informasi
geografis. Sebagai alat yg mendukung pengambilan keputusan secara
pintar dan cepat, ArcGIS bisa digunakan untuk :
•
menemukan dan penentuan karakteristik pola geografi
•
membuat model dan menganalisa semua data geografi
•
mengoptimalkan jaringan dan alokasi sumber
•
membuat alur kerja otomatis model lingkungan secara visual .
2.7.2
KEMAMPUAN ARCGIS
ArcGis memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat digunakan untuk
melakukan berbagai macam proses dalam SIG. Kemampuankemampuan ArcGis tersebut secara umum dapat dijabarkan sebagai
berikut:
1. Pertukaran data.
ArcGis dapat melakukan pembacaan dan penulisan data dari dan ke
dalam format perangkat lunak SIG lainnya.
2. Melakukan analisis statistik dan operasi-operasi matematis.
ArcGis dapat melakukan perhitungan matematik yang digunakan untuk
mengolah data, yang dapat disajikan dalam bentuk tabel-tabel dan
grafik-grafik yang menarik.
3. Menampilkan informasi (basisdata) spasial maupun atribut.
ArcGis dapat mengakses dan menampilkan basis data eksternal (Basis
data atribut yang dapat dibuat dengan menggunakan perangkat lunak
DBMS relasional yang ada : misal: Ms. Access, Dbase, Oracle, dan
sebagainya)
4. Menjawab query spasial maupun atribut.
Menghubungkan informasi spasial dengan atribut-atributnya yang
terdapat (disimpan) didalam basis data atribut:
1.Memilih feature (entitas) spasial, muncul informasi spasialnya.
2. Memilih data atribut dari basis data atribut, muncul representasi
spasial feature yang dipilih.
3. Memilih data atribut, muncul data atribut-atribut lainnya yang
terdapat di dalam basis data tersebut.
4. Memilih suatu feature spasial, muncul feature spasial lainnya yang
terkait.
29
5. Melakukan fungsi-fungsi dasar SIG.
Menyediakan alat bantu analitis spasial sederhana yang dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah-masalah SIG.Misalnya: mencari jumlah
sumur bor yang terdapat di dalam suatu area pertambangan, mencari
jumlah rumah yang terdapat di dalam buffer (area) 50 meter dari pinggir
sungai.
6. Membuat peta tematik.
Menyediakan pustaka simbol dan warna (feature) untuk pembuatan peta
tematik.
Keuntungan-keuntungan jika bekerja dengan menggunakan data
spasial ArcGis adalah sebagai berikut:
- Proses penggambaran (draw) atau penggambaran ulang (redraw)
dari features petanya dapat dilakukan dengan
relatif cepat.
- Informasi atribut dan geometriknya dapat di edit.
- Dapat dikonfersikan kedalam format-format data spasial lainnya.
- Memungkinkan untuk proses on-sceen digitizing.
2.7.3 GEOPROCESSING
Geoprocessing adalah suatu cara yang dapat ditempuh dalam membuat
data (spasial) yang baru berdasarkan existing layer(s) di dalam objek
data. Berikut beberapa operasi spasial yng dapat dengan mudah
dilakukan ArcGis :
1) Mereduksi jangkauan atau luas sebuah layer
o Clip, digunakan untuk ‘memotong’ dan ’menggunting’ suatu
layer (layer yang bertindak sebagai objek) berdasarkan (batasbatas yang di miliki oleh) layer yang lain yang bertipe poligon
(layer yang bertindak sebagai pemotong/cutter).
o Intersect, layer hasil operasi merupakan data spasial irisan
kedua layer yang menjadi masukkannya layer overlay sebagai
batas intersecting-nya.
2) Mengkombinasikan unsur-unsur spasial dengan ciri tertentu
(kesamaan pada nilai field tertentu) pada sebuah layer..
30
o
Dissolve, menyatukan (menghilangkan batas-batas) unsureunsur spasial yang tepat bersebelahan, memiliki suatu nilai
atribut yang sama, dan terdapat di dalam layer yang sama.
3) Mengkombinasikan unsur-unsur spasial yang terdapat di dalam layer
yang berbeda.
o Union, menghasilkan layer yang baru dengan cara
mengkombinasikan dua layer yang bertipe poligon.
o Merge, merupakan kombinasi dari beberapa layer tetapi ,
unsur-unsur spasial tersebut tidak saling memotong (intersect).
4) Menggunakan data milik sebuah layer di dalam layer yang lain
o Assign, menandai suatu data (spasial) berdasarkan lokasinya
dengan menggunakan relasi spasial untuk menggabungkan
suatu layer ke dalam layer yang lain.
2.7.4 BUFFERING
Buffer digunakan untuk mendefinisikan fungsi-fungsi kedekatankedekatan secara spasial suatu objek terhadap objek-objek lain yang
berada di sekitarnya.
Gambar 2.15 Contoh tampilan buffer (Peta Jarak) untuk jangkauan pemancaran
31
2.8 QUANTUM GIS
Merupakan aplikasi desktop SIG yang mendukung format data vector ,
raster dan database (PostGIS dan oracle).
Berikut ini merupakan langkah – langkah cara penginstallan Quantum
GIS :
1. Extract file yang berisi installer quantum GIS , lalu klik setup-nya ,
tampilannya sebagai berikut :
Gambar 2.16 instalasi awal Quantum Gis
2. Lalu klik NEXT
Gambar 2.17 instalasi step-2 Quantum Gis
32
Gambar 2.18 instalasi step-3 Quantum Gis
3. Setelah proses install selesai klik finish
Gambar 2.19 akhir instalasi Quantum Gis
Quantum GIS mempunyai beberapa fitur , fitur- fiturnya di bagi menjadi
dua bagian , yaitu fitur inti dan plugins.
Fitur intinya, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Raster dan vektor didukung oleh pustaka OGR
2. Mendukung kemungkinan tabel - tabel PostgreSQL dengan menggunakan
PostGIS
3. Penyempurnaan GRASS, termasuk pandangan, edit, dan analisa
4. Digitizing GRASS dan OGR/SHAPEFILE
5. Map Composer / Penggubah Peta
6. OGC Support
7. Overview Panel / Panel ikhtisar
8. Spatial Bookmarks
9. Identify/Select features
10. Edit / View / Search Attributes
11. Labeling feature
12. Proyeksi diudara
13. Save and restore projects
33
14. Ekspor ke file peta Mapserver
15. Merubah vektor dan raster symbology
16. Arsitektur plugin yang dapat diperlukan
Sedangkan pluginsnya adalah sebagai berikut :
1. Add WFS Layer
2. Add Delimited Text Layer
3. Dekorasi-dekorasi (Copyright Label, North Arrow and Scale Bar)
4. Georeferencer
5. GPS Tools (sistem penentu posisi global)
6. GRASS
7. Graticule Creator
8. Fungsi-fungsi PostgreSQL Geoprocessing
9. SPIT Shapefile ke PostgreSQL / PostGIS Import Tool
10. PYTON Console
11. openModeller
34
Download