tinjauan pustaka

advertisement
9
TINJAUAN PUSTAKA
Kemiskinan
Kemiskinan pada hakekatnya merupakan persoalan klasik yang telah ada
sejak umat manusia ada. Kemiskinan merupakan persoalan kompleks dan
tampaknya akan terus menjadi persoalan aktual dari masa ke masa. Meskipun
sampai saat ini belum ditemukan suatu rumusan maupun formula penanganan
kemiskinan yang dianggap paling jitu dan sempurna, penemu-kenalan konsep
dan strategi penanganan kemiskinan harus terus menerus diupayakan (Suharto,
1997).
Kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang senantiasa hadir di
tengah-tengah
masyarakat,
khususnya
di
negara-negara
berkembang.
Kemiskinan senantiasa menarik perhatian berbagai kalangan, baik para
akademisi maupun para praktisi. Berbagai teori, konsep dan pendekatan pun
terus menerus dikembangkan untuk menyibak tirai dan mungkin “misteri”
mengenai kemiskinan ini. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah
kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji
secara terus menerus. Ini bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak
lama, melainkan pula karena masalah ini masih hadir di tengah-tengah kita dan
bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional
yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia. Meskipun pembahasan kemiskinan
pernah mengalami tahap kejenuhan sejak pertengahan 1980-an, upaya
pengentasan kemiskinan kini semakin mendesak kembali untuk dikaji ulang.
Beberapa alasan yang mendasari pendapat ini antara lain adalah:
Pertama, konsep kemiskinan masih didominasi oleh perspektif tunggal, yakni
“kemiskinan pendapatan” atau “income-poverty” (Chambers, 1997). Pendekatan
ini banyak dikritik oleh para pakar ilmu sosial sebagai pendekatan yang kurang
bisa menggambarkan potret kemiskinan secara lengkap. Kemiskinan seakanakan hanyalah masalah ekonomi yang ditunjukkan oleh rendahnya pendapatan
seseorang atau keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kedua, jumlah orang miskin di Indonesia senantiasa menunjukkan angka yang
tinggi, baik secara absolut maupun relatif, di pedesaan maupun perkotaan
Meskipun Indonesia pernah dicatat sebagai salah satu negara berkembang yang
10
sukses dalam mengentaskan kemiskinan, ternyata masalah kemiskinan kembali
menjadi isu sentral di Tanah Air karena bukan saja jumlahnya yang kembali
meningkat, melainkan dimensinya pun semakin kompleks seiring dengan
menurunnya kualitas hidup masyarakaat akibat terpaan krisis ekonomi sejak
tahun 1997.
Ketiga, kemiskinan mempunyai dampak negatif yang bersifat menyebar
(multiplier effects) terhadap tatanan kemasyarakatan secara menyeluruh.
Berbagai peristiwa konflik di Tanah Air yang terjadi sepanjang krisis ekonomi,
misalnya, menunjukkan bahwa ternyata persoalan kemiskinan bukanlah sematamata mempengaruhi ketahanan ekonomi yang ditampilkan oleh rendahnya daya
beli masyarakat, melainkan pula mempengaruhi ketahanan sosial masyarakat
dan ketahanan nasional (Suharto, 1997).
Sadar bahwa isu kemiskinan merupakan masalah laten yang senantiasa
aktual,
pengkajian
konsep
kemiskinan
merupakan
upaya
positif
guna
menghasilkan pendekatan dan strategi yang tepat dalam menanggulangi
masalah krusial yang dihadapi Bangsa Indonesia dewasa ini.
Kemiskinan disepakati sebagai masalah yang bersifat sosial ekonomi,
tetapi penyebab dan cara mengatasinya terkait dengan ideologi yang
melandasinya. Untuk memahami ideologi tersebut ada tiga pandangan pemikiran
yaitu konservatisme, liberalisme, dan radikalisme (Swasono, 1987). Penganut
masing–masing pandangan memiliki cara yang berbeda dalam menjelaskan
kemiskinan. Kaum konservatif memandang bahwa kemiskinan bermula dari
karakteristik khas orang miskin itu sendiri. Orang menjadi miskin karena tidak
mau bekerja keras, boros, tidak mempunyai rencana, kurang memiliki jiwa
wiraswasta, fatalis, dan tidak ada hasrat untuk berprestasi. Menurut Oscar Lewis
(1983), orang–orang miskin adalah kelompok sosial yang mempunyai budaya
kemiskinan sendiri yang mencakup karakteristik psikologis, sosial dan ekonomi.
Kaum liberal memandang bahwa manusia sebagai mahluk yang baik tetapi
sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Budaya kemiskinan hanyalah semacam
realistic and situational adaptation pada lingkungan yang penuh diskriminasi dan
peluang yang sempit. Kaum radikal mengabaikan budaya kemiskinan, mereka
menekankan peranan struktur ekonomi, politik dan sosial, dan memandang
bahwa manusia adalah mahluk yang kooperatif. Guna menjelaskan lebih lanjut
mengenai faktor–faktor yang mempengaruhi terhadap kemiskinan antara lain :
(1) Faktor personal, dan (2) faktor situasional.
11
Faktor Personal
Lewin (Blanchard, et al.1996) mengemukakan bahwa perilaku manusia
dipengaruhi oleh interaksi faktor personal dan faktor situasional. Faktor persanal
antara lain : motif, kebutuhan yang direfleksikan dalam sikap, kemampuan, sikap,
kemampuan,
perasaan,
kepercayaan,
kepribadian,
sistem
nilai
kecenderungan untuk bertindak (Barata, 2003; Thoha, 1996).
Hipocrates-Galenus terdapat empat tipologi kepribadian, yaitu :
dan
Menurut
(1) kepribadian
sanguinis, (2) kepribadian koleris, (3) kepribadian melankolis, dan (4) kepribadian
plegmatis.
Faktor personal juga terkait dengan aspek psikologis (Mashoed, 2004).
Menurut teori Freud (Suryabrata, 2001), struktur kepribadian terdiri dari: (1) Das
Es (the id), yaitu aspek biologis, terkait dengan alam bawah sadar/tidak sadar
(kesadaran magis); (2) Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis, terkait dengan
alam prasadar (kesadaran naif); dan (3) Das uber ich (the super ego), yaitu
aspek sosiologis, terkait dengan alam sadar (kesadaran kritis). Kesadaran magis
dan kesadaran naif terkait dengan perspektif berpikir masyarakat di era pramodern dan modern, sedangkan perspektif berpikir masyarakat post modern
cenderung berada pada kesadaran kritis (Maksum dan Ruhendi, 2004).
Faktor Situasional
Faktor situasional adalah lingkungan yang berhubungan dengan faktor
pribadi yang mempengaruhi perilaku antara lain: kondisi sosial, budaya, ekonomi,
dan
lingkungan
alam/tataruang.
merupakan
persoalan
kemiskinan
yang
situasional.
melanda
setiap
Menurut
Faktor
Mubyarto
situasional
(1998),
kemiskinan
berasumsi
individu/sekelompok masyarakat
bahwa
lebih
diakibatkan oleh faktor yang berasal dari luar individu/sekelompok masyarakat
tersebut. Dengan kalimat lain, penyebab kemiskinan terkait dengan faktor
kultural, struktural, dan alamiah (Kartasasmita, 1996; Bappenas, 2002)
Paradigma penanggulangan kemiskinan pada saat ini adalah bahwa
kebijakan atau program anti kemiskinan akan dapat berhasil apabila “kaum
miskin menjadi aktor utama dalam perang melawan kemiskinan.” Untuk
membantu kaum miskin keluar dari lingkaran kemiskinan dibutuhkan kepedulian,
komitmen, kebijaksanaan, organisasi, dan program yang tepat. Diperlukan pula
sikap yang tidak memperlakukan orang miskin sebagai obyek, tetapi sebagai
12
subyek. “Orang miskin bukan orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan
orang yang memiliki sesuatu, walaupun serba seadanya” (Mubyarto: 2001).
Ukuran Kemiskinan
Beragam alternatif ukuran garis kemiskinan yang diajukan H.Esmara
(Sajogyo, 1996 : 1) yang hanya menggunakan ukuan “di bawah rata-rata”, yaitu
angka: (a) konsumsi beras (kg per orang), (b) konsumsi 9 bahan pokok, (c)
pengeluaran
rumah
tangga
(Rp/orang),
dan
(d)
konsumsi
kalori
dan
protein/orang/hari (secara terpisah) dengan membedakan nilai rata-rata menurut
Jawa dan lain daerah, dan desa dan kota.
Sajogyo
(1996:2-3)
merinci
garis
kemiskinan
dengan
ciri-ciri:
(a) spesifikasi atas tiga garis kemiskinan yang mencakup konsepsi “nilai ambang
kecukupan
pangan”
(food
threshold);
dan
(b)
menghubungkan
tingkat
pengeluaran rumah tangga dengan ukuran kecukupan pangan (kalori dan
protein).
Penjelasan dari ciri-ciri di atas adalah sebagai berikut: garis kemiskinan ciri
pertama dinyatakan dalam Rp/bulan, dalam bentuk “ekuivalen nilai tukar beras”
(kg/orang/bulan) agar dapat saling dibandingkan nilai tukar antar daerah dan
antar-jaman, sesuai dengan harga beras setempat.
Ciri yang kedua, memakai data tingkat pengeluaran rumah tangga dinilai
lebih tepat karena: (a) dalam survei data ini dapat lebih tepat dilaporkan
dibandingkan dengan angka “penghasilan”; (b) sudah mencakup penghasilan
bukan uang, pemakaian tabungan masa lalu, pinjaman, pemberian barang modal
yang “dimakan,” mekanisme transfer penghasilan di lingkungan masyarakat
tersebut; (c) data dari BPS, mulai banyak tersedia (sampel besar). Dan lebih baik
lagi jika mencakup data selama minimal satu tahun penuh.
Menurut Nugroho (1995), Karena ukuran–ukuran obyektif kemiskinan
sangat bervariasi, maka perlu hati–hati dan juga bersifat kritis terhadap
penggunaan dan pemilihan alat ukur tesebut. Selain ukuran–ukuran yang
diajukan itu banyak mendapat kritik tajam karena hanya bersifat ekonomi
semata-mata. Pada kenyataannya kebutuhan manusia sangat bervariasi
sehingga setiap upaya penentuan garis kemiskinan yang direduksi dalam soalsoal ekonomi tidak akan mewakili persoalan kemiskinan yang sebenarnya.
13
Kebutuhan manusia sangat beraneka ragam yang juga berkaitan dengan
dimensi-dimensi politis, kebudayaan dan sosial, sehingga setiap upaya
menentukan garis batas kemiskinan obyektif seyogyanya juga mengacu pada
multidimensionalitas tersebut.
Karena sifat multidimensional tersebut maka kemiskinan tidak hanya
berurusan dengan kesejahteraan sosial (social well–being). Untuk mengejar
seberapa jauh seseorang memerlukan kesejahteraan materi dapat diukur secara
kuantitatif dan obyektif seperti dalam mengukur kemiskinan absolut yaitu
ditunjukkan dengan angka rupiah. Namun untuk memahami besar nya
kesejahteraan sosial yang harus dipenuhi seseorang ukurannya menjadi sangat
relatif dan kualitatif, Menurut Ellis (Nugroho, 1995), dalam butir ini yang
dipersoalkan bukan besarnya ukuran kemiskinan tetapi macam dimensi –
dimensi yang terkait dalam gejala kemiskinan tersebut antara lain:
Pertama, yang paling jelas bahwa kemiskinan berdimensi ekonomi atau
material. Dimensi ini menjelma dalam berbagai kebutuhan dasar manusia yang
sifatnya material, yaitu seperti pangan, sandang, perumahan, kesehatan,
pendidikan dan lain-lain. Dimensi ini dapat diukur dalam rupiah meskipun
harganya akan selalu berubah-ubah setiap tahunnya tergantung tingkat inflasi itu
sendiri.
Kedua, kemiskinan berdimensi sosial budaya. Ukuran kuantitatif kurang
dapat digunakan untuk memahami dimensi ini sehingga ukuran sangat bersifat
kualitatif. Lapisan yang secara ekonomis miskin akan berbentuk kantong-kantong
kebudayaan yang disebut budaya kemiskinan demi kelangsungan hidup. Budaya
kemiskinan ini dapat ditunjukkan dengan terlembaganya nilai-nilai seperti apatis,
apolitis, fatalistik, ketidakberdayaan dan lain-lain. Untuk itu, serangan terhadap
kemiskinan sama artinya pula dengan pengikisan budaya ini. Apabila budaya ini
tidak dihilangkan maka kemiskinan ekonomi juga sulit ditanggulangi.
Ketiga, Kemiskinan berdimensi struktural atau politik sama artinya orang
yang mengalami kemiskinan ekonomi pada hakekatnya karena mengalami
kemiskinan struktural dan politik. Kemiskinan ini terjadi karena orang miskin
tersebut tidak memiliki sarana untuk terlibat dalam proses politik, tidak memiliki
kekuatan politik, sehingga menduduki struktur sosial yang paling bawah. Ada
asumsi yang menegaskan bahwa orang yang miskin secara struktural atau politis
akan berakibat pula miskin dalam material (ekonomi). Untuk itu langkah
14
pengentasan kemiskinan apabila ingin efektif juga harus mengatasi hambatanhambatan yang sifatnya struktural dan politis.
Dimensi kemiskinan ini pada hakekatnya merupakan gambaran bahwa
kemiskinan bukan hanya dalam artian ekonomi, tetapi memperhatikan prioritas,
namun bersamaan dengan itu seyogyanya juga mengejar target mengatasi
kemiskinan non-ekonomi. Ini sejalan dengan pergeseran strategi pembangunan
nasional, bahwa yang dikejar bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi tetapi
juga pembangunan kualitas manusia seutuhnya (sosial, budaya dan politik).
Pemahaman terhadap inti dari masalah kemiskinan itu dari pandangan
kelompok miskin itu sendiri masih kurang. Di kalangan pakar ilmu sosial yang
berusaha memahami hakekat kemiskinan dari sudut pandang orang miskin itu
sendiri adalah Robert Chambers, seorang ahli pembangunan pedesaan
berkebangsaan Inggris.
Sesudah melakukan penelitian di kalangan orang miskin di beberapa
Negara Asia Selatan dan Afrika, Chambers menyimpulkan bahwa inti dari
masalah kemiskinan terletak pada sesuatu yang disebut sebagai deprivation trap
atau jebakan kekurangan (Chambers, 1983). Selanjutnya dikatakan bahwa
deprivation trap itu terdiri dari lima ketidakberuntungan yang melilit kehidupan
keluarga miskin. Kelima ketidakberuntungan yang melilit kehidupan keluarga
miskin itu adalah : (1) Kemiskinan itu sendiri, (2) Kelemahan fisik, (3)
Keterasingan,
(4)
Kerentanan,
dan
(5)
Ketidakberdayaan.
Lima
ketidakberuntungan itu saling berkait satu sama lain sehingga merupakan
deprivation trap ini. Dari lima jenis ketidakberuntungan ini, Chambers
menganjurkan agar dua jenis ketidakberuntungan yang dihadapi keluarga miskin
diperhatikan, yaitu: (1) Kerentanan, dan (2) Ketidakberdayaan. Hal ini
disebabkan dua jenis ketidakberuntungan itu sering menjadi sebab keluarga
miskin menjadi lebih miskin.
Kerentanan menurut Chambers dapat dilihat dari ketidakmampuan dari
keluarga miskin untuk menyediakan sesuatu untuk menghadapi suatu darurat
seperti datangnya bencana alam atau penyakit yang tiba-tiba menimpa keluarga
tersebut. Kerentanan ini sering menimbulkan poverty rackets atau “roda
penggerak kemiskinan” yang menyebabkan keluarga miskin harus menjual harta
benda berharga sehingga keluarga itu semakin dalam memasuki lembah
kemiskinan.
15
Ketidakberdayaan keluarga miskin tercermin dalam kasus yakni elit dari
komunitas dengan sengaja memfungsikan diri sebagai jaring yang menjaring
bantuan yang sebenarnya diperuntukkan bagi orang miskin. Ketidakberdayaan
keluarga miskin juga dimanifestasikan dalam hal seringnya keluarga miskin ditipu
oleh orang yang mempunyai kekuasaan baik dalam bidang politik dan ekonomi,
dan lemahnya keluarga miskin to bargaining. Ketidakberdayaan keluarga miskin
inipun dapat menjadikan keluarga miskin secara cepat menjadi lebih miskin.
Ada satu masalah yang belum dijelaskan oleh Chambers yakni mengapa
deprivation trap muncul ?. Adakah faktor eksternal yang menyebabkan timbulnya
deprivation trap itu ?. Di sinilah pentingnya penggabungan studi tentang
kebijaksanaan pembangunan pemerintah dan peranannya dalam menciptakan
deprivation trap di kalangan keluarga miskin.
Dimensi Kemiskinan
Kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam memenuhi kebutuhan
dasar minimal untuk hidup layak (BPS dan Depsos, 2002 : 3). Kemiskinan
merupakan sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan
minimum, baik untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan
(poverty line) atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan
adalah sejumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat
membayar kebutuhan makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan
kebutuhan non-makanan yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan,
pendidikan, transportasi, serta aneka barang dan jasa lainnya (BPS dan Depsos,
2002:4).
Kemiskinan pada umumnya didefinisikan dari segi pendapatan dalam
bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntunan non-material yang
diterima oleh seseorang. Menurut SMERU (Suharto dkk, 2004), secara luas
kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan
kesehatan yang buruk, dan kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh
masyarakat.
Fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang
yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak memenuhi kebutuhan
pokok yang layak bagi kemanusiaan (Depsos, 2002).
16
Kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan
basis kekuasaan sosial. Menurut Friedman (Suharto, dkk.,2004:6), basis
kekuasaan sosial meliputi: (a) modal produktif atau asset (tanah, perumahan, alat
produksi, kesehatan), (b) sumber keuangan (pekerjaan, kredit), (c) organisasi
sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama
(koperasi, partai politik, organisasi sosial), (d) jaringan sosial untuk memperoleh
pekerjaan, barang, dan jasa, (e) pengetahuan dan keterampilan, dan (f) informasi
yang berguna untuk kemajuan hidup.
Kemiskinan merupakan fenomena yang sangat kompleks (Suharto, dkk,
2004). David Cox (2004:1-6) membagi kemiskinan kedalam beberapa dimensi:
(a) Kemiskinan
yang
diakibatkan
globalisasi.
Globalisasi
menghasilkan
pemenang dan pengalah. Pemenang umumnya adalah negara-negara maju.
Di negara-negara berkembang seringkali orang yang miskin semakin
terpinggirkan oleh persaingan dan pasar bebas yang merupakan prasyarat
globalisasi.
(b) Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan. Kemiskinan subsisten
(kemiskinan
akibat
rendahnya
pembangunan),
kemiskinan
pedesaan
(kemiskinan akibat peminggiran pedesaan dalam proses pembangunan),
kemiskinan perkotaan (kemiskinan yang sebabkan oleh hakekat dan
kecepatan pertumbuhan perkotaan).
(c) Kemiskinan sosial: Kemiskinan yang dialami oleh perempuan, anak-anak,
dan kelompok minoritas.
(d) Kemiskinan konsekuensial: Kemiskinan yang terjadi akibat kejadian-kejadian
lain atau faktor-faktor eksternal di luar si miskin, seperti konflik, bencana
alam, kerusakan lingkungan, dan tingginya jumlah penduduk.
Menurut SMERU (Suharto, 2004), kemiskinan memiliki berbagai dimensi:
(1) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang
dan papan).
(2) Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,
pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
(3) Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk
pendidikan dan keluarga).
(4) Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal.
(5) Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam.
(6) Tidak dilibatkannya dalam kegiatan sosial masyarakat.
17
(7) Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang
berkesinambungan.
(8) Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
(9) Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita
korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan
terpencil).
Kemiskinan di Perkotaan
Masalah kemiskinan di perkotaan disebabkan kedudukan kota-kota dalam
masyarakat negara tersusun dalam jaringan yang bertingkat-tingkat dan
merupakan pusat-pusat penguasaan atau pendominasian bagi pengaturan
kesejahteraan, kehidupan masyarakat Negara. Sistem pendominasian yang
berpusat di kota-kota bukan hanya melibatkan aspek–aspek ekonomi, sosial dan
komunikasi, dan kebudayaan, namun dalam kenyataan sosial yang ada dalam
masyarakat manapun di dunia ini, manusia cenderung untuk berorientasi ke kota
atau dengan kata lain bahwa orang desalah yang berorientasi ke kota dan bukan
orang kota yang berorientasi ke desa (Suparlan, 1995). Karena adanya orientasi
pada kota, kota cenderung untuk tumbuh terus dan menjadi semakin kompleks
karena kota mempunyai potensi atau kemampuan untuk menampung pendatangpendatang baru dari pedesaan atau kota-kota dan tempat-tempat lainnya.
Adams (Suparlan, 1995) mengemukakan bahwa penambahan jumlah
penduduk yang pesat dan tidak disertai dengan pesatnya peningkatan kemajuan
ekonomi, telah menyebabkan tumbuhnya kemiskinan. Beban yang terlalu berat
untuk dipikul di daerah pedesaan, yang alternatif-alternatifnya untuk memperoleh
pekerjaan dan pendapatan ekonomi guna menyambung hidup amat terbatas,
telah menyebabkan adanya penyerbuan-penyerbuan ke kota secara besarbesaran oleh penduduk desa untuk mencari nafkah dan hidup di kota.
Kemampuan atau potensi kota untuk menampung pendatang-pendatang
baru untuk dapat hidup dalam wilayahnya karena corak sistem ekonomi di
daerah perkotaan yang lebih menekankan pada pekerjaan-pekerjaan dalam
bidang industri saja dan produksi barang jadi atau setengah jadi. Walaupun
alternative-alternatif
untuk memperoleh pekerjaan lebih terbuka di daerah
perkotaan daripada di daerah pedesaan, namun kemiskinan di perkotaan tetap
ada atau laten karena potensi-potensi yang ada (lingkungan fisik dan alam,
18
sistem sosial, dan kebudayaan), tidak atau belum dapat dimanfaatkan untuk
menciptakan alternatif-alternatif baru atau tidak dapat memberikan nafkah yang
cukup memadai bagi sebagian besar para warganya. Kebudayaan yang ada
dalam
masyarakat
perkotaan
kemungkinan-kemungkinan
tersebut
bagi
tidak mendorong
pengembangan
tingkat
untuk
adanya
pemanfaatan
sumberdaya-sumberdaya yang secara obyektif dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan taraf hidup ekonomi dan sosial pada warga masyarakatnya
(Suparlan, 1995).
Konsep Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah sebuah kata yang bersifat emotif dan menarik bagi
beberapa orang. Istilah pemberdayaan mengandung suatu kekuatan yang
diyakini oleh sebagian orang mampu mengubah kondisi menjadi lebih baik.
Orang tertarik kepadanya karena tampaknya menawarkan sesuatu yang pada
saat sekarang tidak ada tetapi mampu mengubah kehidupannya. Kata ini
mengandung ide bahwa orang berada dalam pengendalian diri sendiri dan
lingkungan mereka, yang memperluas
kemampuan dan wawasan dan
mengevaluasi diri sendiri sampai pada tingkat prestasi dan kepuasan yang lebih
besar.
Akhir-akhir
ini,
istilah
pemberdayaan
sering
digunakan
sebagai
terjemahan dari kata empowerment. Berdasarkan penelitian kepustakaan,
terdapat beberapa definisi pemberdayaan baik dalam arti yang sempit maupun
dalam arti yang luas. Terhadap pengertian konsep pemberdayaan tersebut,
terjadi tindakan saling korektif dengan upaya mencari definisi pemberdayaan
yang lebih aplikatif dan dapat diterima secara umum.
Pemberdayaan menunjukkan dimensi proses dan dimensi hasil (outcome)
pada subyek yang diberdayakan. Dimensi proses dari pemberdayaan merupakan
berbagai upaya yang dilakukan terhadap subyek yang diberdayakan. Dimensi
hasil menunjukkan sejauhmana tingkat keberdayaan dari subyek tersebut.
Pemberdayaan pada hakekatnya merupakan upaya yang dilakukan, kelompok,
atau komunitas lokal kurang mampu agar memiliki kemampuan, kekuatan,
pengaruh, kontrol, penguasaan dan akses yang lebih besar terhadap
sumberdaya sehingga meningkatkan kualitas kehidupannya secara mandiri.
19
Guna memperjelas dan memaknai konsep pemberdayaan ini dapat dilihat
dari beberapa sumber yang ada pada Tabel 1.
Tabel 1. Beberapa Definisi tentang Konsep Pemberdayaan
No.
Sumber
Definisi
1.
Dharmawan (2002)
2.
Bookman
(1988: 4)
3.
Freire (1992)
4.
Soemodiningrat (1999)
5.
Molyneux (1986 : 280 )
6.
Moeljarto dalam Prijono dan
Pranarka (1996)
7.
Jim Ife (1995)
dan
Morgen
Pemberdayaan adalah suatu proses pemenuhan
energi yang cukup, sehingga masyarakat mampu
untuk
mengembangkan
kemampuannya,
memperoleh bargaining power yang lebih besar,
membuat keputusan mereka sendiri, dan
memperoleh akses yang lebih mudah terhadap
sumber daya dalam rangka menuju kehidupan
yang lebih baik
Pemberdayaan sebagai konsep yang mengacu
pada usaha usaha menumbuhkan keinginan pada
seseorang
untuk
mengaktualisasikan
diri,
melakukan mobilitas ke atas, serta memberikan
pengalaman psikologis yang membuat seseorang
merasa berdaya.
Konsep pemberdayaan sebagai metode yang
mengubah persepsi sehingga memungkinkan
individu beradaptasi dengan lingkungannya.
Pemberdayaan masyarakat mempunyai arti
meningkatkan kemampuan atau meningkatkan
kemandirian
masyarakat.
Pemberdayaan
masyarakat bukan hanya meliputi penguatan
individu anggota masyarakat tetapi juga pranatapranata sosialnya.
Empowerment is a capacity in thought and action
to address the condition and position of
marginalization
Pemberdayaan merupakan proses pematahan
atau breakdown dari hubungan atau relasi antara
subyek dengan obyek. Proses ini mementingkan
adanya “pengakuan” subyek akan “kemampuan”
atau “daya” (power) yang dimiliki obyek. Secara
garis besar, proses ini melihat pentingnya
mengalirnya daya (flow of power) dari subyek ke
obyek
Pemberdayaan
mengacu
kepada
kata
“empowerment”, yang berarti memberi daya,
memberi “power” (kuasa), kekuatan, kepada pihak
yang kurang berdaya. Segala potensi yang dimiliki
oleh pihak yang kurang berdaya itu ditumbuhkan,
diaktifkan, dikembangkan sehingga mereka
memiliki kekuatan untuk membangun dirinya.
Pemberdayaan
masyarakat
dalam
pengembangan
masyarakat
menekankan
kemandirian masyarakat itu sebagai suatu system
yang mampu mengorganisir dirinya
20
Dari beberapa konsep pemberdayaan yang telah disampaikan di atas,
menurut penulis bahwa konsep pemberdayaan adalah sebuah proses yang
dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan di dalam menumbuhkan dan
mengembangkan kekuatan dan kekuasaan (power) bagi individu maupun
kelompok sehingga tercipta kemandirian individu dan kelompok tersebut di dalam
berprakarsa dan mengornisir dirinya dan kelompoknya serta terlibat secara
langsung guna memecahkan permasalahan dirinya, keluarga, serta kelompoknya
sehingga tercipta kondisi yang lebih baik.
Menurut Ife (1995), dalam membicarakan konsep pemberdayaan, tidak
dapat dilepas-pisahkan dengan dua konsep sentral, yaitu konsep daya (power)
dan konsep ketimpangan (disadvantage). Pengertian pemberdayaan yang terkait
dengan konsep daya dapat ditelusuri dari beberapa perspektif, yaitu perspektif
pluralis, elitis, strukturalis dan post-strukturalis:
(1)
Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif pluralis adalah suatu
proses untuk mendorong kelompok-kelompok masyarakat dan individu
yang kurang beruntung untuk bersaing secara lebih efektif dengan
kepentingan-kepentingan lain dengan jalan menolong mereka untuk
belajar, dan menggunakan keahlian dalam melobi, menggunakan media
yang berhubungan
dengan tindakan politik, dan memahami bagaimana
bekerjanya system.
(2)
Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif elitis adalah suatu upaya
untuk bergabung dan mempengaruhi para elitis, membentuk aliansi dengan
elitis,
melakukan
konfrontasi dan
mencari perubahan
pada
elitis.
Masyarakat menjadi tak berdaya adanya power dan control yang besar
sekali dari para elitis terhadap media, pendidikan, partai politik, kebijakan
publik, birokrasi, parlemen, dan sebagainya.
(3)
Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif strukturalis adalah suatu
agenda yang lebih menantang dan dapat dicapai apabila bentuk-bentuk
ketimpangan struktural dieliminir. Masyarakat tak berdaya suatu bentuk
atruktur dominant yang menindas masyarakat, seperti masalah kelas,
gender, ras atau etnik.
(4)
Pemberdayaan masyarakat ditinjau dari perspektif post-strukturalis adalah
suatu proses yang menantang dan mengubah diskursus. Pemberdayaan
lebih ditekankan pertama-tama pada aspek intelektualitas ketimbang
21
aktivitas aksi pemberdayaan masyarakat adalah upaya pengembangan
pengertian
terhadap
pengembangan
pemikiran
baru,
analitis,
dan
pendidikan dari pada suatu usaha aksi.
Demikian juga menurut Payne (Hikmat, 2001), bahwa pemberdayaan
memerlukan partisipasi aktif dalam langkah-langkah, identifikasi kebutuhan,
identifikasi pilihan atau strategis, keputusan atau
pilihan tindakan, mobilisasi
sumber daya, serta tindakan itu sendiri, secara menyeluruh dengan intervensi
minimal pihak luar komunitas. Pemberdayaan dan patisipasi merupakan strategi
yang sangat potensial dalam rangka meningkatkan ekonomi, sosial dan
transformasi budaya,
sehingga pada proses
ini,
akhirnya
akan dapat
menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat.
Pengertian pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu pada kata
“empowering”
yaitu
“aktualisasi
potensi
masyarakat.”
Jadi
pendekatan
pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan masyarakat miskin adalah
penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai sistem yang
mengorganisasi diri mereka sendiri.
Dalam rangka pembangunan nasional upaya pembangunan masyarakat
dapat dilihat dari sudut pandang: Pertama, penciptaan suasana atau iklim yang
memungkinkan masyarakat untuk berkembang; kedua, peningkatan kemampuan
masyarakat dalam membangun dirinya melalui berbagai bantuan dana,
pelatihan, pembangunan sarana dan prasarana baik fisik maupun sosial, serta
pengembangan kelembagaan di daerah; dan ketiga, perlindungan melalui
pemilihan kepada kaum yang lemah untuk menciptakan kemitraan yang saling
menguntungkan
dan
mencegah
persaingan
yang
tidak
seimbang
(Soemodiningrat ,1999).
Konsep Kelompok
Kelompok merupakan kumpulan manusia yang berinteraksi satu sama lain
untuk suatu tujuan tertentu. Haiman (1950 : 76) mendefinisikan kelompok
sebagai “dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis eksplisit
satu dengan yang lain.” Cartwright dan Zander (1968 : 46) mengartikan kelompok
sebagai “kumpulan individu yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain
yang membuat mereka saling bergantung (interdependent) pada tingkat yang
nyata.”
22
Schermerhorn, Hunt, dan Osborn (1997 : 174) menyebut kelompok adalah
“kumpulan dua orang atau lebih yang bekerja bersama satu dengan lainnya
secara teratur untuk mencapai satu atau lebih tujuan bersama.” Pada kelompok
yang sebenarnya, anggota bergantung satu sama lain untuk mengejar tujuan itu
untuk suatu periode waktu.
Lau dan Shai (1992:121) mengaitkan kelompok dengan aspek identitasnya.
Keduanya menyebut kelompok sebagai sebuah “ himpunan tiga orang atau lebih
yang dapat mengidentifikasikan diri atau diidentifikasi oleh yang lain sebagai
kelompok.” Dari perspektif perilaku keorganisasian, kelompok mereka definisikan
sebagai kumpulan individu yang (1) mempunyai hubungan saling bergantung
yang nyata satu sama lain, (2) memandang dirinya sebagai sebuah kelompok
dan membedakan anggota dengan bukan anggota, (3) identitas kelompok diakui
oleh bukan anggota, (4) sebagai anggota kelompok bertindak sendiri atau
bersama mempunyai hubungan saling bergantung dengan kelompk yang lain,
dan (5) peran-peran dalam kelompok merupakan fungsi harapan mereka sendiri,
orang lain dalam kelompok, serta bukan anggota kelompok.
Beberapa pandangan menekankan tidak semua kumpulan manusia adalah
kelompok. Cartwright dan Zander (1968) mengemukakan: “adalah tidak benar
bahwa setiap kumpulan manusia merupakan suatu kelompok.” Suatu kumpulan
orang hanya layak disebut sebagai kelompok bila mereka berhubungan satu
dengan yang lainnya dengan pola yang jelas. Mardikanto (1993: 185) menyebut
kelompok berbeda dengan kerumunan. Anggota kelompok memiliki interaksi kuat
satu sama lain. Pada kerumunan, orang-orang secara fisik tampak bersatu,
namun sebenarnya tidak ada hubungan atau interaksi antar individu yang ada di
tempat itu.
Kesamaan antar individu juga dinilai belum memadai untuk menjadi
batasan kelompok. Catright dan Zander (1968:46) menyebut bahwa kesamaan
atau ketidaksamaan bukan kriteria untuk menetapkan orang-orang berada dalam
kelompok yang sama atau berbeda. Seorang suami, istri, serta bayinya
merupakan sebuah kelompok alami yang sangat kuat. Padahal antar ketiganya
memiliki sedikit kesamaan dibandingkan dengan kesamaan suami dengan lakilaki yang lain, istri dengan perempuan yang lain, bayi dengan bayi yang lain.
Kelompok yang kuat dan terorganisasi baik, jauh dari homogen serta berisikan
beragam sub-kelompok dan individu yang berbeda.
23
Keberadaan kelompok terkait dengan harapan orang untuk memenuhi
kebutuhan
tak
dapat
dilakukannya
sendiri
(Haiman,
1950:79;
dan
Ruben,1988:338). Haiman menyebut alasan utama keberadaan kelompok adalah
bahwa setiap anggota percaya bahwa dia akan dapat memenuhi sebagian
kebutuhannya yang tak dapat ia penuhi sendiri dengan cara berkolaborasi
dengan orang lain. Seseorang akan tetap berada dalam kelompok sepanjang ia
masih
percaya
bahwa
menjadi
bagian
dari
kelomkpok
tetap
lebih
menguntungkan disbanding meninggalkannya.
Berdasar kebutuhan tersebut, Haiman (1950:79) membagi kelompok
menjadi “kelompok belajar” dan “kelompok bertindak.” Kelompok belajar adalah
yang terbentuk berdasar kebutuhan untuk berbagi gagasan dan perasaan, dan
juga untuk mendapat pengertian lebih dari orang-orang lain, sedangkan
kelompok bertindak adalah kelompok yang berdasar kebutuhan untuk bekerja
sama dalam membuat keputusan maupun kerja yang tak ditangani sendiri.
“Kita memerlukan kelompok untuk memenuhi banyak aspirasi serta
kebutuhan psikologis, personal, maupun sosial” (Ruben,1988:338). Kelompok
dibentuk
guna
menyelesaikan
tugas
seperti
menorganisasikan
acara,
membangun rumah, dan melaksanakan program masyarakat. Kelompok juga
dibentuk untuk orientasi personal dan sosial. Klub social, kelompok diskusi
masuk dalam kategori ini. Kebanyakan kelompok disebut mempunyai kombinasi
kedua orientasi tersebut.
Meskipun kelompok dibentuk untuk memenuhi kebutuhan, namun tujuan
kelompok sering tak dinyatakan secara jelas. Ruben (1988:340) menyebut
bahwa pada kebanyakan kelompok kecil, tujuan muncul secara alami untuk
menjawab kebutuhan individu seperti kesetia-kawanan (Companionship) atau
penyelesaian tugas. Pada kelompok kecil itu, tujuan biasanya tak dinyatakan
secara tegas, anggota bahkan tidak dapat mengemukakan tujuan itu secara
pasti.
Hal serupa dikemukakan oleh Krueger (1994:14) yang menyebut tujuan
kelompok terkadang jelas, tetapi lebih sering samar-samar. Ketidakjelasan itu
terjadi karena dua hal. Pertama karena pemahaman atau penerimaan anggota
terhadap tujuan tersebut yang berbeda-beda. Kedua, tujuan itu berubah karena
waktu.
24
Krueger (1994) menyebut bahwa kerancuan mengenai kelompok tak hanya
menyangkut tujuan, melainkan juga proses dari interaksi kolektif. Berkaitan
dengan proses interaksi dalam kelompok, Ruben (1988:341) menekankan pada
aspek jaringan komunikasi dalam kelompok. Pada jaringan tersebut, sebagian
orang berada pada titik pusat jaringan, sebagian lagi berada pada di peripheral.
Terkadang ada juga anggota yang terisolasi dari yang lain dalam jaringan. Pola
jaringan tersebut berubah seiring perjalanan waktu. Jaringan komunikasi tersebut
adalah serupa dengan dipergunakan oleh Rogers dan Kincaid (1981) dalam
konteks difusi inovasi.
Kelompok akan berkembang melalui tahapan tertentu. Pada kelompok
yang berorientasi tugas, tahapan tersebut adalah: (1) fase orientasi, (2) fase
konflik, (3) fase kebangkitan (emergence); serta (4) fase reinforcement. Fase
pertama
ditandai
dengan
pernyataan
awal
perundang-undangan,
serta
pembentukan keterkaitan (linkage) berhubungan dengan tugas. Bagitu kelompok
berlanjut, pernyataan dengan sudut pandang berbeda akan mengalami
polarisasi. Secara berangsur individu dan sub-kelompok yang berbeda
pandangan tersebut akan melakukan akomodasi satu sama lain. Bersama
dengan perkembangan penyelesaian tugas, kerjasama antar individu dalam
jaringan akan meningkat. Setiap orang akan dituntut untuk aktif dalam tim, dalam
hal tersebut dapat memberi akibat positif meupun negative bagi individu serta
kelompok (Ruben, 1988:343).
Tahapan pengembangan kelompok juga dikemukakan Schemerhorn et al.
(1997:178-9). Tahapan tersebut adalah pembentukan, pembadaian (storming),
penormaan, penyelenggaraan (performing), dan istirahat (adjourning). Perhatian
awal tertuju pada masuknya anggota ke dalam kelompok. Kebutuhan individu
dan kemampuan kelompok untuk memenuhinya menjadi perhatian utama.
Setelah tahap tersebut terlampaui, kelompok akan masuk pada tahap tekanan
dan emosi tinggi di antara anggotanya. Pada tahap ini, setiap individu mulai
mengenal karakter individu lain. Konflik acap terjadi pada tahap ini.
Pada
tahap
berikutnya
kelompok
mengalami
integrasi.
Harmoni
dikedepankan, pandangan minoritas akan tersisih. Keadaan ini menjadi pondasi
bagi tahap kematangan kelompok. Pada tahap ini, kelompok akan terorganisasi
dan mampu menangani tugas-tugas yang kompleks. Setelah menyelesaikan
25
tugasnya, maka kelompokpun memasuki fase istirahat (Schemerhorn, Hunt, dan
Osborn, 1997:178-9).
Ruben (1988:343) menyebut bahwa proses perkembangan tersebut
relative sama pada setiap kelompok tugas. Namun kelompok tidak hanya
berorientasi tugas. Kelompok dapat dikategorikan melalui berbagai pendekatan.
Diantaranya adalah kelompok sosial dan tugas; formal dan informal; interaksim
koaksi, dan cointeraction; primer dan sekunder; serta peguyuban (gemeinschaft)
dan patembayan (geselschaft) (Mardikanto, 1993 186-8)
Hal yang banyak dikaitkan dengan kelompok adalah dinamika kelompok.
Menurut Cartwright dan Zander (1968:7), dinamika kelompok mengandung tiga
makna.
Pertama,
sebagai
ideologi
politis
menyangkut
cara
kelompok
diorganisasikan atau dikelola. Kedua, terkait dengan tehnik seperti observasi dan
umpan balik dalam proses kelompok, atau mengenai keputusan kelompok.
Ketiga, menyangkut kondisi alamiah kelompok, hukum-hukum yang berlaku
dalam pengembangan kelompok, interaksi antar anggota dan sebagainya.
Adapun unsure dinamika kelompok adalah tujuan kelompok, struktur kelompok,
fungsi-tugas, pembinaan dan pemeliharaan, kekompakan kelompok, suasana
kelompok, tekanan kelompok, efektivitas kelompok, serta agenda tersembunyi.
Kirst-Ashman (2000-231) mengemukakan tujuh aspek dinamika kelompok,
yakni komunikasi, interaksi antar individu, norma, peran, kekompakan kelompok,
kekuasaan dan status, serta kepemimpinan. Hughes, Kroehler, dan Vander
Zanden (2002:103-10) mengaitkan dinamika kelompok dengan ukuran kelompok,
kepemimpinan, kemalasan sosial (social loafing), dilema sosial, pikiran kelompok
(group think), serta persesuaian (conformity).
Dinamika kelompok bukan satu-satunya pendekatan dalam pengkajian
kelompok. Bertrand (1972:44) menyebut bahwa kelompok merupakan satuan
sistem sosial yang paling kecil. Maka kajian terhadap kelompok dapat dilakukan
melalui pendekatan sistem sosial.
Pendekatan Kelompok
Membantu mengatasi keluarga miskin khususnya di kota besar pada
dasarnya sering menggunakan pendekatan ekonomi, antara lain memberikan
bantuan modal kepada keluarga miskin tersebut. Pemberian bantuan modal
selama ini tanpa diikuti oleh adanya pengembangan kapasitas (capacity building)
26
dari keluarga miskin tersebut, baik secara individu (anggota keluarga miskin)
maupun keluarga sebagai sebuah kelompok.
Adanya bantuan modal dalam bentuk charity hanya akan menciptakan
ketergantungan dari keluarga miskin tersebut terhadap pihak-pihak yang
memberikan bantuan modal tersebut baik pihak pemerintah maupun pihak
swasta. Meskipun selama ini sering diberlakukan melalui metode bantuan
bergulir, ternyata pemahaman keluarga miskin terhadap system bergulir ternyata
tidak menjadikan keluarga miskin tersebut semakin berdaya. Kebanyakan
bantuan yang diberikan secara bergulir tersebut, dihabiskan untuk kebutuhan
konsumtif. Keluarga miskin tersebut belum memiliki kemampuan mengelola
modal serta belum memiliki jaringan kerja dalam rangka memperluas pangsa
pasar untuk menambah modal.
Salah satu model yang perlu untuk dilakukan didalam memberdayakan
keluarga miskin di kota besar yaitu melalui pendekatan kelompok. Pendekatan
kelompok pada dasarnya didasarkan kepada asumsi bahwa setiap keluarga
pada dasarnya berkelompok antara keluarga yang satu dengan keluarga yang
lain, baik berdasarkan kedaerahan (etnosentris), berdasarkan kelompok kerja,
berdasarkan kepentingan dan kebutuhan, berdasarkan ikatan agama, serta
berdasarkan ikatan-ikatan lainnya.
Keberadaan
kelompok-kelompok
tersebut
pada
dasarnya
sangat
potensial untuk dikembangkan dan dikelola. Pengembangan dan pengelolaan
kelompok tersebut didasarkan manajemen kelompok dan spirit kebersamaan
untuk membesarkan kelompok tersebut. Kekuatan yang ada dalam kelompok
tersebut, pada dasarnya merupakan “social capital” (modal sosial) yang perlu
dikembangkan dalam kelompok-kelompok pada keluarga miskin tersebut. Melalui
kerja sama, interaksi, kebersamaan serta dinamika kelompok yang ada dalam
kelompok tersebut akan semakin memudahkan bagi anggota kelompok untuk
mengembangkan rencana, perluasan jaringan, serta perluasan kesempatan
untuk meningkatkan usaha memperolah keuntungan yang lebih banyak.
Melalui pendekatan kelompok, pada dasarnya di dalamnya terdapat
pendidikan, pemberdayaan dan kemandirian anggota kelompok sesuai dengan
substansi yang ada dalam disiplin penyuluhan. Penekanan dalam pendekatan
kelompok tersebut adalah bagaimana kelompok yang di dalamnya terdiri dari
27
keluarga
miskin
tersebut
mampu
mampu
mengorganisir
dirinya
untuk
menyelesaikan permasalahan kemiskinan yang mereka hadapi selama ini.
Mengutip pendapat Whitaker (1989), beberapa hal yang terkait dengan
menggunakan kelompok untuk membantu masyarakat antara lain:
Pertama, Orientasi pengambilan keputusan untuk bekerja melalui
kelompok , dengan maksud : (1) pentingnya keputusan dan pembagian tugas
ketika perencanaan kelompok dan pembentukan kelompok; dan (2) mengetahui
karakter dari kelompok sebagai media untuk membantu anggota kelompoknya.
Bagi keluarga miskin sebagai anggota kelompok bekerja melalui
kelompok akan melatih keluarga miskin tersebut untuk mengambil keputusan
yang dianggap baik, khususnya terkait dengan bagaimana meningkatkan
pendapatan dan penghasilan keluarga. Keputusan yang diambil secara bersama
itu didasarkan atas tanggung jawab bersama untuk saling membantu di antara
anggota kelompok itu sendiri. Misalnya saja terkait dengan jenis pekerjaan yang
mampu meningkatkan taraf hidup anggota kelompok tersebut. Setelah keputusan
tersebut dibuat, maka anggota kelompok tersebut diajarkan untuk melakukan
pembagian tugas masing-masing guna mencapai tujuan dari kelompok itu
sendiri.
Selain
itu,
setiap
anggota
kelompok
dapat
memahami
dan
menyosialisasikan karakter kelompok yang akan dibangun bersama tersebut.
Karakter kelompok tersebut, merupakan sebuah “glue” (pengikat) di antara
anggota kelompok tersebut. Melalui pemahaman dan komitmen yang kuat
terhadap karakter kelompok tersebut menjadikan anggota kelompok tersebut
untuk selalu mempertahankan karakter kelompok yang dibangun tersebut.
Kedua, membangun dinamika kelompok, mulai dari saling mendengar
antar
anggota,
menguatkan
kelompok,
menyelesaikan
masalah
dan
membangun kekuatan kelompok itu sendiri.
Kelompok dari keluarga miskin tersebut pada dasarnya memiliki dinamika
kelompok sendiri. Idealnya dalam kelompok tersebut anggota kelompok
mengembangkan nilai demokratisasi, mulai dari saling menyampaikan ide dan
gagasan
dalam
kelompok,
menyelesaikan
masalah
kelompok
secara
musyawarah, serta membangun kekuatan kelompok sesuai dengan potensi
masing–masing anggota kelompok untuk membangun kelompok menjadi lebih
profesional.
28
Ketiga, Membuat keputusan tentang pekerjaan yang akan dilakukan
pada masa yang akan datang guna memperluas pengalaman.
Dalam konteks membantu keluarga miskin melalui pendekatan kelompok
tersebut, adanya pengalaman yang telah dilakukan oleh anggota kelompok di
dalam bekerja sama tersebut, maka pada tahap selanjutnya ketika anggota
kelompok merasa saling membutuhkan terhadap kelompok yang dibentuk
tersebut, maka kelompok akan selalu mencoba membuat keputusan yang akan
dilakukan pada masa selanjutnya melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat
bagi anggota kelompok mapun pada kelompok itu sendirinya.
Dengan demikian melalui pendekatan kelompok, pada dasarnya akan
memberikan pembelajaran dan pendidikan kepada anggota kelompok untuk
selalui terlibat secara langsung, bekerja sama, berpartisipasi, belajar bersama di
dalam menyelesaikan permasalahan kemiskinan yang dihadapi bersama. Melalui
penyelesaian terhadap masalah kemiskinan secara bersama tersebut diharapkan
dapat memberikan kesejahteraan yang labih baik bagi keluarga miskin di kota
besar tersebut.
Dinamika Kelompok
Cartwright dan Zander (1968) menyatakan bahwa “ Group dynamics is a
field of inquiry dedicatd to advancing kenowledge about the nature of groups, the
laws of their development, and their interrelations with individuals, other groups
and larger institutions. ”
Berdasarkan konsep di atas, pada dasarnya dinamika kelompok
merupakan sebuah kondisi yang menggambarkan tentang keadaan kelompok,
perkembangan kelompok tersebut, hubungan individu dalam kelompok tersebut
serta hubungan dengan kelompok lain dalam konteks yang lebih luas. Artinya,
bahwa dalam dinamika kelompok mengkaji semua aspek yang berkaitan dengan
kelompok tersebut, baik aspek yang bersifat internal dalam kelompok maupun
aspek eksternal dari kelompok tersebut, aspek individu dalam kelompok maupun
aspek dari kelompok itu sendiri.
Cartwright dan Zander (1968 : 23) menyatakan bahwa terdapat beberapa
asumsi dasar mengenai dinamika kelompok antara lain:
(1) Bahwa keberadaan kelompok tidak bisa dihindari dan berada dimana-mana.
Artinya bahwa dalam komunitas manusia pasti akan membentuk kelompok-
29
kelompok baik kelompok dalam ukuran besar maupun dalam ukuran kecil. Di
sisi lain setiap manusia pasti akan berhadapan dan berurusan dengan
kelompok, karena kelompok dapat mengatur setiap kebutuhan dan
kepentingan dari setiap individu;
(2) Setiap kelompok akan mampu memobilisasi kekuatan yang mampu
memberikan efek yang sangat penting bagi setiap individu. Setiap individu
akan
selalu
mengidentifikasikan
dengan
kelompoknya,
baik
dalam
keluarganya, pekerjaannya, lingkungan sosial dan sebagainya. Melalui
kelompok, setiap individu akan meningkatkan kapasitas dan kualitas
individunya agar dapat berkembang menjadi lebih baik.
(3) Setiap kelompok juga menciptakan sebuah konsekuensi yang baik maupun
yang jelek. Kompleksitas yang ada dalam setiap kelompok tentunya memiliki
konsekuensi terhadap hal-hal yang baik, tetapi di sisi lain juga membawa
konsekuensi yang jelek. Misalnya saja dalam kelompok terdapat adanya
interaksi, integrasi, konflik dan sebagainya. Melalui kepemimpinan dan
koordinasi yang baik, kelompok tersebut mampu meminimalisasi hal-hal yang
jelek dan memaksimalkan hal-hal yang pisitif.
(4) Melalui adanya pengertian yang baik dari dinamika kelompok membawa
konsekuensi yang layak menjadikan kelompok tersebut menjadi lebih baik
(kondusif). Melalui pengertian tentang dinamika kelompok , setiap kelompok
memberikan pelayanan yang baik kepada anggotanya, selain itu melalui
pengetahuan juga akan mampu merubah perilaku manusia bahkan lembagalembaga sosial. Artinya bahwa kelompok memiliki kekuatan yang luar biasa
untuk merubah perilaku individu bahkan perilaku masyarakat (komunitas).
Perkembangan setiap kelompok yang dimulai dan didasari oleh beberapa
asumsi di atas semakin menempatkan kelompok tersebut memiliki pengaruh
yang besar terhadap setiap orang; memberikan pengaruh terhadap setiap
individu serta kelompok itu sendiri bahkan terhadap masyarakat yang lebih luas.
Kelompok dibentuk untuk mempermudah anggota-anggota mencapai
sebagian hal-hal yang dibutuhkan dan/atau dinginkan. Dengan kesadaran
semacam
itu
setiap
anggota
menginginkan
dan
akan
berusaha
agar
kelompoknya dapat benar-benar efektif dalam menjalankan fungsinya, dengan
meningkatkan mutu interaksi/kerjasamanya dalam memanfaatkan segala potensi
yang ada pada anggota dan lingkungannya untuk mencapai tujuan kelompok.
30
Dinamika kelompok adalah suatu keadaan suatu kelompok dapat
menguraikan, mengenali kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam situasi
kelompok yang dapat membuka perilaku kelompok dan anggota-anggotanya.
Dinamika kelompok merupakan tingkat kegiatan dan tingkat keefektifan
kelompok dalam rangka mencapai tujuannya (Slamet, 2006).
Slamet (2006) menyatakan bahwa dalam psikologi sosial ada disebutkan
kelompok mempunyai perilaku, demikian juga anggotanya yang dipengaruhi oleh
sembilan faktor/unsur. Faktor ini berfungsi sebagai sumber energi bagi kelompok
yang bersangkutan. Adanya keyakinan yang sama akan menghasilkan kelompok
yang dinamis. Unsur-unsur tersebut antara lain:
(1) Tujuan Kelompok
(2) Struktur Kelompok
(3) Fungsi Tugas
(4) Pembinaan dan Pengembangan Kelompok
(5) Kekompakan Kelompok
(6) Suasana Kelompok
(7) Ketegangan Kelompok
(8) Kefektifan Kelompok
(9) Maksud Tersembunyi
Konsep dan Unsur Dinamika Kelompok
Mengapa pendekatan kelompok dipandang sebagai cara yang efektif
dalam berbagai upaya pemberdayaan?.
Setiap kelompok, baik yang sengaja dibentuk maupun yang terjadi secara
spontan memiliki dinamika tertentu. Dinamika kelompok menggambarkan
kekuatan-kekuatan dalam situasi kelompok yang menentukan perilaku kelompok
dan anggota-anggotanya (Jenkins, 1961). Kekuatan-kekuatan tersebut berasal
dari : adanya interaksi antara anggota kelompok, hubungan inter-personal,
struktur kelompok dan komunikasi, yang terjadi karena terdapat tujuan tertentu
yang hendak dicapai.
Suatu kelompok memiliki dinamika yang tinggi jika kelompok efektif dalam
mencapai tujuannya (Etzioni, 1980). Proses yang terjadi dalam kelompok adalah
kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah diputuskan
bersama (Sofer,1972).
31
Dapatkah pengertian yang lebih baik tentang kelompok menolong kita agar
kegiatan penyuluhan dalam kelompok dapat lebih baik?. Terdapat dua
pengertian yaitu: (1) Kita mengerti lebih baik tentang sifat dan kondisi kelompok
tertentu; dan (2) Kita dapat lebih baik menilai dan memilih tehnik yang tepat
dalam penyuluhan kelompok, sehingga tujuan kelompok tercapai secara efektif.
Tumbuh dan berkembangnya cara-cara kemunikasi dalam kelompok
dipengaruhi oleh tiga factor berikut, yaitu: (1) Unsur kepemimpinan kelompok,
(2) Tingkat produktivitas dan keeratan kelompok, dan (3) Proses-proses interaksi
yang terjadi antar anggota (Leagens, 1961).
Ciri-ciri kepemimpinan dalam kelompok dapat dipelajari menggunakan
model kepemimpinan Contingency dari Fiedler seperti dikemukakan oleh Hersey
dan Blanchard (1978). Menurut model tersebut terdapat tiga peubah utama yang
menentukan keadaan tertentu yang cocok bagi kepemimpinan seseorang yaitu:
(1) Hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota, (2) Struktur tugas yang
diberikan: umumnya tugas-tugas dalam kelompok tidak berstruktur, dan
(3) Kekuasaan yang berkaitan dengan kedudukannya sebagai pemimpin.
Menurut Broom dan Selznick (1968), jika kelompok berfungsi dengan baik,
maka terdapat beberapa proses yang dapat diamati, yaitu: (1) Interaksi positif
antara para anggota dengan pemimpin, (2) Adanya kegiatan-kegiatan untuk
mencapai tujuan yang telah disepakati bersama, (3) Terdapat pembagian dan
pendelegasian
wewenang
dan
tanggung
jawab,
(4)
Terdapat
fungsi
pemeliharaan kepemimpinan dan pendelegasian kegiatan, dan (5) Ada penilaian
terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan.
Namun ada kalanya terjadi jaringan komunikasi yang terbatas pada klik-klik
tertentu dalam kelompok (Rogers dan Kincaid, 1982).
Tingkat dinamika kelompok dipengaruhi oleh beberapa unsur yang selalu
ada dalam sistem sosial lain. Unsur-unsur ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi dinamika kelompok dalam sudut ilmu Sosiologi (Loomis, 1960),
yang terdiri dari: tujuan, kepercayaan atau pengetahuan, sentimen, norma,
peranan, status, sanksi, kekuasaan, jenjang sosial, fasilitas dan tegangan.
Tergantung dari kepekatan dari masing-masing unsur, maka seseorang dapat
menilai tingkat dinamika sesuatu kelompok.
32
Pendekatan pemberdayaan
masyarakat
melalui
kelompok akan
memberikan hasil positif jika perencana dan pengantar pembaruan atau agen
pembaruan mendalami ciri-ciri kelompok (Lippitt,1961), yang terdiri dari:
(1) Latar belakang kelompok: perilaku peserta dipengaruhi oleh lingkungan
mental dan perasaan masing-masing anggota kelompok.
(2) Pola partisipasi kelompok
(3) Pola komunikasi antar anggota-anggota dalam kelompok: apakah ada
anggota yang cenderung dominan.
(4) Kessatuan kelompok
(5) Iklim atau suasana dalam kelompok: apakah antara para anggota
terdapat kesediaan untuk membagi pengalaman dan perasaan.
(6) Adanya sub-kelompok
(7) Adanya baku tertentu dalam kelompok
(8) Prosedur kelompok.
Cartwright dan Zander (1956) menunjukkan peranan fungsi kelompok
kaitannya dengan pencapaian tujuan kelompok, yang terdiri dari:
(1) Fungsi yang berkaitan dengan penggerak kelompok
(2) Yang berkaitan dengan fungsi pemeliharaan kelompok
(3) Fungsi yang berkenaan dengan pencapaian tujuan-tujuan pribadi dalam
kelompok
Kekuatan kelompok agar para anggota menerima tujuan kelompok dan
menampilkan fungsi-fungsi kelompok, amat tergantung dari sejauh mana para
anggota tertarik menduduki keanggotaan dalam kelompok.
Kedua penulis tersebut mengemukakan empat proposisi mengenai
kelompok yang dipandang menguntungkan dalam kegiatan pemberdayaan
masyarakat, yaitu:
(1) Bahwa kelompok-kelompok dalam masyarakat memang ada
(2) Bahwa adanya kelompok-kelompok tersebut tidak dapat dihindarkan dan
ada dimana-mana
(3) Bahwa kelompok dapat menggerakkan kekuatan-kekuatan tertentu yang
dapat mempengaruhi para anggota, baik kea rah positif maupun negatif.
(4) Bahwa dengan melalui pendalaman pengetahuan mengenai dinamika
kelompok, terdapat kemungkinan untuk memaksimalkan nilai-nilai positif
sesuatu kelompok.
33
Komunikasi antar Kelompok
Komunikasi mutlak harus terjadi, yang utama sekali adalah komunikasi
antar kelompok di dalam sistem sosial. Menurut Slamet (2006), sesuai dengan
teori kelompok, orang berkelompok untuk bisa bekerja sama mencapai tujuan
yang dibutuhkan, tidak bisa dicapai sendiri, melainkan melalui kerjasama, baik
internal dalam kelompok maupun antar kelompok. Jadi terdapat suatu kerjasama
dan kerjasama semacam itu memerlukan prasyarat berupa komunikasi.
Komunikasi dalam hal ini bisa dengan kata-kata, isyarat, tertulis. Kalau tidak ada
komunikasi, maka tidak adakan terjadi interaksi.
Di dalam usaha pembinaan kelompok, sistem komunikasi antar kelompok
harus senantiasa diperhatikan dan diperbaiki. Apabila terputus , kehidupan
kelompok akan terganggu.
Hubungan Penyuluhan dengan Kemiskinan
Penyuluhan adalah proses pendidikan , yaitu para penyuluh mendatangi
pelaku pembangunan, perorangan atau kelompok, di domisili atau tempat
bekerja, melalui berbagai metode penyuluhan (Azis, 1992). Menurut Slamet
(1995), penyuluhan pertanian adalah industri jasa yang menawarkan pelayanan
pendidikan (non-formal) dan informasi pertanian kepada pihak-pihak lain yang
memerlukan. Menurut Leagan (Kamath, 1961), sasaran penyuluhan adalah
meningkatnya perilaku petani atau pihak lain yang mengikuti penyuluhan, yaitu
meningkatnya hierarkhi kawasan koginitif, afektif, dan psikomotorik dalam
menerima dan menggunakan ide baru usahatani dan usaha lainnya. Peningkatan
perilaku ini diikuti dengan meningkatnya produktivitas usahataninya dan usaha
lainnya (Benor dan Harrison, 1977).
Untuk
mencapai
sasaran
perubahan
tersebut
diperlukan
proses
penyuluhan yang memperhatikan pendekatan penyuluhan dengan menerapkan
pendekatan penyuluhan pembangunan (Wardoyo, 1992). Lebih lanjut dijelaskan
bahwa Penyuluhan Pembangunan di Indonesia yaitu komponen konsep
penyuluhan pertanian dan bidang lain untuk mempercepat pencapaian tujuan
pembangunan pertanian dan bidang lainnya.
Beberapa pendekatan antara lain: (1) pendekatan umum, (2) pendekatan
komuditas, (3) pendekatan latihan dan kunjungan (laku), (4)
pendekatan
34
partisipatif, (5) pendektaan proyek, dan (6) pendekatan sistem usaha tani.
Kesemuanya termasuk ke dalam pendekatan kelompok. Pendekatan dari bawah
(bottom up) dan pendekatan dari atas (top down). Slamet (1992) mengemukakan
bahwa pembangunan tidak hanya mencakup pendekatan top down, tetapi juga
bottom up, keduanya menuntut partisipasi aktif dari rakyat banyak dan energo
ekstra untuk mempelajari hal-hal baru yang dibawa oleh pembangunan.
Profil kemiskinan dan pola perilaku yang mempengaruhinya akan
menentukan pendekatan penyuluhan untuk membantu menanggulanginya,
penelusuran terhadap kemiskinan dan pendekatan penyuluhan untuk membantu
menanggulangi sebagaimana terlihat pada Gambar 1 .
KEMISKINAN
1.
2.
KONDISI:
PERILAKU
STRUKTUR EKONOMI
3.
KARAKTERISTIK
TINGKAT
PENDAPATAN
PENGUBAHAN
PERILAKU, DIIKUTI
PERBAIKAN
STRUKTUR EKONOMI
TINGKAT
PEMENUHAN
KEBUTUHAN
HIDUP
PROFIL KEMISKINAN
PENDEKATAN
PENYULUHAN
Gambar 1: Profil Kemiskinan dan Pendekatan penyuluhan (Marzuki, 1997)
Pendekatan
penyuluhan
sebagaimana
dikemukakan
Carl Rogers
(Winkle, 1978:115), yaitu pendekatan penyuluhan non directive yakni pendekatan
yang berorientasi pada klien atau sasaran, yang bersumber pada keyakinan
tentang manusia, bahwa manusia berhak menentukan haluan hidupnya sendiri,
manusia memiliki daya yang kuat untuk mengembangkan diri, manusia
bertanggungjawab atas tindakannya sendiri, dan manusia bertindak atas
pendangan-pandangan subyektif terhadap dirinya sendiri (konsep diri) dan
35
terhadap dunia sekitar. Pendekatan ini cocok digunakan untuk sasaran atau klien
yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir, bertindak, maupun saran
agar mereka membuat keputusan dan bertindak dengan baik. Pendekatan
eclective menurut Winkle (1978:119) merupakan penggabungan dari dua
pendekatan tersebut. Penggunaan pendekatan ini adalah menurut kemampuan
dan fleksibilitas yang tinggi bagi penyuluh dalam melaksanakan tugasnya.
Gambaran model pendekatan penyuluhan untuk mambantu menanggulangi kemiskinannya, dirancang sesuai dengan kondisi profil kemiskinan, pola
perilaku dan faktor-faktor penyebabnya. Model pendekatan penyuluhan menggambarkan : (1) Arah perubahan sasaran, perubahan dari kategori kurang berkembang ke cukup berkembang dan ke arah berkembang, perubahan dari cukup
berkembang ke berkembang, dan dari berkembang agar tetap dan lebih
berkembang lagi; (2) Materi, yaitu aspek-aspek yang harus diubah agar dapat
mencapai sasaran yaitu mencakup komponen perilakunya baik pengetahuan,
sikap dan keterampilan kerjanya, aspirasi kerjanya, kemampuan adaptasi
kerjanya, aktivitas kerja, dan aktivitas pemasarannya; (3) Metode, tehnik
mengubahnya, dan media; dan (4) Peran penyuluhnya.
Konsep Keluarga
Keluarga merupakan pranata sosial yang sangat penting bagi kehidupan
sosial di Negara manapun. Betapa tidak, selama ini sebagian besar masyarakat
banyak menghabiskan waktunya dalam sehari bersama keluarga dibandingkan
dengan aktivitas lain seperti di tempat kerja atau sekolah. Keluarga dalam hal ini
merupakan wadah mulai sejak dini masyarakat dikondisikan dan dipersiapkan
untuk kelak dapat melakukan peranan-peranannya pada masa yang akan
datang.
Terkait dengan peran keluarga, seperti yang ditulis Goode dalam bukunya
“World Revolution and Family Patterns (1970 :46), bahwa dalam era perubahan
global seperti sekarang, struktur keluarga dalam masyarakat juga mengalami
perubahan menjadi bentuk conjugal, yaitu keluarga menjadi semakin mandiri
melakukan peran-perannya lebih terlepas dari hubungan kerabat-kerabat luas
baik dari pihak suami maupun pihak istri. Secara ekonomi, keluarga conjugal itu
36
berdiri sendiri, tempat tinggal juga secara tersendiri, tidak bersatu dengan
keluarga luas.
Secara psikologis, satuan kecil ini menjadi semakin berdirikari. Ini berarti
juga bahwa hubungan emosional diantara suami istri menjadi lebih sentral dalam
kehidupan keluarga yang memang menyababkan hubungan mereka mencaji
akrab. Akan tetapi, kemungkinan keluarga pecah dan retak juga lebih besar
karena yang mengikatnya hanya suami istri saja, sedangkan dalam keluarga
tradisional masih ada anggota keluarga luas yang mengikat keluarga kecil.
Dalam konteks Indonesia, keluarga menjadi basis terpenting dalam
perkembangan kehidupan manusia. Keluarga merupakan lingkungan hidup
primer dan fundamental tempat terbentuknya kepribadian yang mewarnai
kehidupan manusia. Persemaian nilai-nilai agama, kemanusiaan, kebangsaan,
keadilan sosial dan nilai-nilai moral secara praktis akan berproses dan ditentukan
oleh keluarga. Keluarga merupakan pranata social pertama dan utama yang
mengemban fungsi strategis dalam membekali nilai-nilai kehidupan bagi anak
manusia yang tengah tumbuh dan berkembang untuk mencari makna dalam
perjalanan hidupnya.
Keluarga diidentikkan sebagai tempat atau lembaga pengasuhan yang
paling dapat memberi kasih sayang, kegiatan menyusui, afektif dan ekonomis. Di
dalam keluargalah kali pertama anak-anak manusia mendapat pengalaman dini
langsung yang akan digunakan sebagai bekal hidupnya dikemudian hari melalui
latihan fisik, social, mental, emosional dan spiritual. Karena anak ketika baru lahir
tidak memiliki tata cara dan kebiasaan (budaya) yang begitu saja terjadi sendiri
secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain. Oleh karena itu harus
dikondisikan ke dalam suatu hubungan kebergantungan antara anak dengan
agen lain (orang tua dan anggota keluarga lain) dan lingkungan yang
mendukungnya baik dalam keluarga atau lingkungan yang lebih luas
(masyarakat), selain faktor genetik berperan pula (Zanden : 1986)
Perlu diingat bahwa keluarga merupakan suatu sistem yang terdiri atas
elemen-elemen yang saling terkait antara satu dengan lainnya dan memiliki
hubungan yang kuat. Oleh karena itu, untuk mewujudkan satu fungsi tertentu
bukan yang bersifat alami saja melainkan juga adanya berbagai faktor atau
kekuatan yang ada di sekitar keluarga, seperti nilai-nilai, norma dan tingkah laku
serta faktor-faktor lain yang ada di masyarakat, sehingga di sini keluarga dapat
37
dinilai juga sebagai sub-sistem dalam masyarakat (unit terkecil dalam
masyarakat) yang saling berinteraksi dengan sub sistem lainnya yang ada dalam
masyarakat, seperti sistem agama, ekonomi, politik dan pendidikan, untuk
mempertahankan fungsinya dalam memelihara keseimbangan social dalam
masyarakat.
Fungsi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri,
atau suami-istri dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Keluarga adalah tempat
yang penting, tempat bagi anak memperoleh dasar dalam membentuk
kemampuannya agar kelak menjadi orang yang berhasil dalam masyarakat
(Depsos, 2003 : 23).
Selanjutnya dijelaskan bahwa ada tiga elemen utama dalam struktur
internal keluarga, yaitu: (1) Status sosial, dimana dalam keluarga inti
distrukturkan oleh tiga struktur utama, yaitu bapak/suami, ibu/istri dan anak-anak.
Sehingga keberadaan status sosial menjadi penting karena dapat memberikan
identitas kepada individu serta memberikan rasa memiliki, karena ia merupakan
bagian dari sistem tersebut, (2) Peran sosial, yang menggambarkan peran dari
masing-masing individu atau kelompok menurut status sosialnya, dan (3) Norma
sosial,
yaitu
standar
tingkah
laku
berupa
sebuah
peraturan
yang
menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan sosial
(Depsos, 2003 : 20).
Bila dilihat menurut fungsinya, keluarga salah satunya berperan dalam
melaksanakan proses sosialisasi. Zanden (1986) menyatakan bahwa fungsi
keluarga adalah sebagai wahana terjadinya sosialisasi antara individu dengan
warga yang lebih besar. Sama halnya yang tertuang dalam Peraturan
Pemerintah RI No.21 1994 tentang penyelenggaraan pembangunan keluarga
sejahtera, salah satu fungsi dari delapan yang ada adalah sosialisasi dan
pendidikan, yaitu fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk
mendidik
keturunan
agar
bisa
melakukan
penyesuaian
dengan
alam
kehidupannya.
Secara umum terdapat upaya sosialisasi nilai terhadap anggota keluarga
dari kepala keluarga yang memiliki wewenang untuk mentransfernya. Bentuk
38
sosialisasi dan transfer nilai dalam lingkungan internal keluarga bisa bermacammacam diantaranya:
(1) Keluarga yang relatif memiliki keteraturan dalam bersikap akan merusaha
mengembangkan sikap social yang baik dan kebiasaan berprilaku kepada
anggota keluarga.
(2) Akan
terbentuk
pola
hubungan
antar
anggota
keluarga
berbentuk
penyesuaian nilai sebagai dasar bagi hubungan sosial dan interaksi sosial
yang lebih luas.
(3) Adanya interaksi internal yang dapat melahirkan ikatan keluarga yang akrab
dan hangat, sehingga anak akan memperoleh pengertian tentang hak,
kewajiban, tanggung jawab yang diharapkan.
(4) Penyelaman terhadap kejadian sehari-hari yang berupa peristiwa-peristiwa
yang menyenangkan, menyedihkan, penolakan, belas kasihan dan prustasi
akan berpengaruh terhadap sikap mental anggota keluarga (anak) menjadi
lebih
berpikir
dewasa
karena
belajar
dari
pengalaman
yang
ada
(reinforcement) (Blood:1972).
Adanya hubungan dan interaksi yang erat antara kepala keluarga dan
anggota keluarga tersebut akan memperkuat kesiapan keluarga dalam
menghadapi perubahan lingkungan yang lebih besar. Sehingga kebutuhan fisik,
intelektual, emosional dan kebutuhan moral anggota keluarga harus dapat
terpenuhi dengan baik oleh keluarganya sebagai prasyarat untuk bekal
beradaptasi dengan lingkungan luarnya. Kelangsungan hidup dan tumbuh
kembang anak sangat dipengaruhi oleh berfungsinya keluarga.
Keluarga baik keluarga batih/inti maupun keluarga besar mempunyai fungsi
dan kedudukan dalam keluarga. Fungsi-fungsi keluarga secara umum dapat
dijelaskan sebagai berikut (Depsos, 2003 : 25) :
(1) Fungsi Reproduksi
Fungsi reproduksi mencakup kegiatan melanjutkan keturunan secara
terencana,
sehingga
menunjang
terciptanya
kesinambungan
dan
kesejahteraan sosial keluarga.
(2) Fungsi Afeksi
Fungsi afeksi meliputi kegiatan untuk menumbuhkembangkan hubungan
sosial dan kejiwaan yang diwarisi kasih sayang, ketentraman dan kedekatan.
39
(3) Fungsi Perlindungan
Yaitu menghindarkan anggota keluarga dari situasi atau tindakan yang dapat
membahayakan atau menghambat kelangsungan hidup, pertumbuhan dan
perkembangan secara wajar.
(4) Fungsi Pendidikan
Mencakup kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan maupun
sikap dan perilaku anggota-anggota keluarga guna mendukung proses
penciptaan kehidupan dan penghidupan keluarga yang sejahtera.
(5) Fungsi Keagamaan
Yaitu kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan anggota
keluarga dengan Tuhan Yang Maha Esa. sehingga keluarga dapat menjadi
wahana persemaian nilai-nilai keagamaan, guna membangun jiwa anggota
keluarga yang beriman dan bertaqwa.
(6) Fungsi Sosial Budaya
Yaitu kegiatan yang ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan nilainilai sosial budaya, guna memperkaya khasanah budaya, maupun integrasi
sosial bangsa dalam rangka menciptakan kesejahteraan sosial keluarga.
(7) Fungsi Sosialisasi
Yaitu kegiatan yang ditujukan untuk menanam dan mengembangkan nilainilai sosial/kebersamaan bagi anggota keluarga guna menciptakan suasana
harmonis dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Melalui sosialisasi
yang dilakukan keluarga, anak dapat mempelajari tentang bagaimana
berpikir, berbicara, dan mengikuti adap istiadat/kebiasaan, perilaku dan nilainilai di dalam masyarakat dimana dia berada.
(8) Fungsi Pengembangan Lingkungan
Yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memberdayakan anggota keluarga guna
melestarikan, memberdayakan dan meningkatkan daya dukung lingkungan,
baik lingkungan fisik maupun lingkungan social dalam rangka mencipta
keserasian antara kehidupan alam dan manusia.
(9) Fungsi Ekonomi
Yaitu kegiatan mencari nafkah, merencanakan, meningkatkan pemeliharaan
dan mendistribusikan penghasilan keluarga guna meningkatkan dan
melangsungkan kesejahteraan keluarga.
40
(10) Fungsi Rekreatif
Yaitu kegiatan mengisi waktu senggang secara positif guna terciptanya
suasana santai diantara keluarga, sebagai upaya untuk mengoptimalkan
pendayagunaan energi fisik dan psikis, menghilangkan ketegangan; dan
(11) Fungsi Kontrol Sosial
Yaitu menghindarkan anggota keluarga dari perilaku menyimpang serta
membantu mengatasinya guna menciptakan suasana kehidupan keluarga
dan masyarakat yang tertib, aman dan tentram. (Depsos, 2003 :25).
Dengan asumsi apabila keluarga dapat melaksanakan fungsi-fungsi pokok
di atas, maka keluarga berserta anggota akan terbebas dari potensi gangguan
pertumbuhan fisik, intelektual, sosial, emosional atau moralnya. Keluarga
semacam ini membutuhkan pertolongan dari pihak lain.
Konsep Sumber Daya Keluarga
Keluarga sebagai satuan organisasi terkecil yang menghimpun manusia
dalam tatanan masyarakat, juga merupakan basis kegiatan ekonomi. Keluarga
juga menghimpun sumber daya materi/alam dan sumber daya waktu. Sehingga
dapat dikatakan bahwa sumber daya keluarga merupakan gabungan antara
sumber daya manusia dan sumber daya materi (Guhardja, 1993 : 1). Sumber
daya keluarga ini digunakan untuk mencapai tujuan keluarga, melalui proses
pengelolaan yang dilakukan dalam suatu rumah tangga. Sumber daya keluarga
tidak hanya terdapat di dalam keluarga sendiri (internal) tetapi juga yang berada
di berbagai lingkungan sekitarnya yaitu lingkungan dimana keluarga itu berada
(Guhardja, 1993 : 3).
Sumber daya adalah alat atau bahan yang tersedia dan diketahui
potensinya untuk memenuhi keinginan. Terdapat 3 (tiga)
asumsi dasar
mempelajari sumber daya keluarga yaitu:
(1). Sumber daya keluarga tidak hanya terdapat di dalam keluarga sendiri tetapi
juga terdapat di berbagai lingkungan sekitar keluarga.
(2). Kondisi dari sumber daya merupakan elemen dari sistem yang dapat
mendorong atau menghambat pencapaian tujuan keluarga.
(3). Perubahan salah satu sumber daya akan berpengaruh pada sumber daya
lainnya dalam sistem keluarga (Juniarti, 2008 : 3)
41
Sumber daya keluarga pada dasarnya memiliki nilai dan fungsi bagi
keluarga itu sendiri. Bahkan dalam beberapa hal, sumber daya keluarga tersebut
memiliki nilai ekonomi yang sangat menguntungkan terhadap keluarga.
Berdasarkan nilai ekonomi terdapat beberapa jenis sumber daya antara lain:
(1) Sumber daya ekonomi (Home economics) yaitu sumber daya yang dapat
dipertukarkan dan diukur bukan hanya untuk tujuan konsumsi tetapi untuk proses
produksi dan distribusi.(lahan, tenaga kerja, modal, keterampilan & segala
sesuatu yang ada di dalam dan diluar kelauarga yang bermanfaat; (2) Sumber
daya non ekonomi : jumlahnya relatif terbatas, tidak dapat dipertahankan, sulit
diukur (Friedman, 1995).
Lebih lanjut Juniarti (2008 : 4 – 5) mengatakan bahwa terdapat empat
faktor yang mempengaruhi sumber daya keluarga yaitu:
(1). Kompleksitas
kehidupan
keluarga. Kehidupan keluarga yang sangat
kompleks memerlukan gaya manajemen yang berbeda daripada keluarga
yang memiliki masalah tidak terlalu kompleks.
(2). Stabilitas/ketidakstabilan keluarga. Keluarga yang stabil cenderung dapat
melakukan manajemen sumber daya keluarga dengan lebih baik karena
semua anggota keluarga dapat difokuskan untuk melakukan kegiatan untuk
mencapai tujuan.
(3). Peran dan Perubahan Keluarga. Manajemen sumber daya keluarga juga
dipengaruhi oleh peran masing-masing anggota keluarga di masyarakat dan
juga oleh perubahan dalam keluarga, misalnya adanya keluarga yang
meninggal atau baru lahir.
(4). Teknologi. Dengan teknologi yang sudah semakin canggih, keluarga dapat
melakukan manajemen sumber dayanya dengan lebih terarah.
Keempat faktor di atas sangat menentukan terhadap perkembangan dari
sebuah keluarga. Kekuatan sebuah keluarga memerlukan adanya perhatian
keluarga terhadap keempat faktor tersebut.
Selain keempat faktor di atas
kekuatan keluarga ditentukan oleh pengelolaan sumber daya yang ada dalam
keluarga. Sumber daya yang terdapat dalam keluarga, yaitu (1) Kekuatan fisik
dan psikososial setiap anggota, (2) Kemampuan keuangan, (3) Fasilitas fisik, dan
(4) Adanya dukungan dari kelompok yang lain (Ali, 2006: 71)
Menurut Guhardja (1993:19), berdasarkan tinjauan dari asal/letak sumber
daya, maka sumber daya keluarga dibagi menjadi dua, yaitu sumber daya
42
lingkungan mikro atau internal dan sumber daya lingkungan makro atau
eksternal.
(1) Sumber
daya
lingkungan
mikro/internal.
Sumber
daya
lingkungan
mikro/internal adalah sumber daya yang ada pada suatu individu dan
keluarga baik fisik maupun non fisik. Sumber daya internal keluarga antara
lain: jumlah dan susunan keluarga; tingkat pendidikan/pengetahuan dan
keterampilan; tingkat pendapatan; luas, status dan mutu lahan; keadaan gizi
dan kesehatan; ketersediaan waktu luang; tata nilai/agama dan hubungan
dengan keluarga lain.
(2) Sumber daya lingkungan makro/eksternal. Sumber daya lingkungan
makro/eksternal adalah sumber daya yang ada pada lingkungan yang lebih
luas dan pada masyarakat luas, baik fisik maupun non fisik. Adapun sumber
daya eksternal keluarga meliputi: keadaa/sanitasi lingkungan pemukiman,
potensi sumber daya alam, kesempatan berusaha/bekerja, tata nilai
masyarakat, fasiilitas pendidikan, ekonomi dan fasilitas lain di lingkungan
pemukiman.
Berdasarkan kedua sumber tersebut baik internal maupun eksternal
menunjukkan bahwa dalam keluarga tidak bisa dilepaskan dari sumber daya fisik
maupun fisik yang sangat menentukan terhadap daya tahan keluarga.
Konsep Lingkungan Sosial
Sebagai mahluk sosial, manusia tidak pernah bisa hidup seorang diri. Di
manapun, manusia senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain.
Manusia membentuk pengelompokan sosial (social grouping) diantara sesama
dalam upayanya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan.
Kemudia dalam kehidupan bersamanya itu manusia memerlukan pula adanya
organisasi, yaitu suatu jaringan interaksi sosial antar sesama untuk menjamin
ketertiban sosial. Interaksi-interaksi sosial itulah yang kemudian melahirkan
sesuatu yang dinamakan lingkungan sosial. Lingkungan sosial tersebut sebagai
tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara anggota atau
kelompok masyarakat beserta pranatanya dengan simbol dan nilai serta norma
yang sudah mapan, serta terkait dengan lingkungan alam (ekosistemnya dan
lingkungan binaan/buatan (tata ruang) (Purba , 2005 : 1). Definisi lingkungan
sosial ini adalah definisi yang dibuat dengan mempertimbangkan keterkaitan
43
antara seluruh komponen yang terdapat dalam lingkungan hidup; bukan sematamata interaksi sosial an sich beserta pranata, simbol, nilai dan normanya saja
tetapi juga kaitannya dengan unsur-unsur lingkungan hidup lainnya, alam dan
lingkungan buatan.
Manusia memerlukan lingkungan sosial yang serasi demi kelangsungan
hidupnya. Lingkungan sosial yang serasi itu bukan hanya dibutuhkan oleh orang
perorang melainkan juga oleh orang di dalam kelompoknya. Untuk mewujudkan
lingkungan sosial yang serasi itu diperlukan lagi kerja sama kolektif diantara
sesama
anggota.
Kerja
sama
itu
dimaksudkan
untuk
membuat
dan
melaksanakan aturan-aturan yang disepakati bersama oleh warga sebagai
mekanisme pengendalian perilaku sosial. Aturan-aturan itu, seringkali terwujud
dalam bentuk pranata atau norma-norma sosial yang harus dipatuhi oleh setiap
anggota kelompok (norma hukum).
Secara teoritis pemahaman mengenai lingkungan sosial dapat diartikan
sebagai upaya atau serangkaian tindakan untuk perencanaan, pelaksanaan,
pengendalian/pengawasan, dan evaluasi yang bersifat kemunikatif dengan
mempertimbangkan: (1) ketahanan sosial (daya dukung dan daya tampung
sosial setempat); (2) keadaan ekosistemnya; (3) tata ruangnya; (4) kualitas sosial
setempat (kualitas objektif dan subjektif); (5) sumber daya sosial (potensi) dan
keterbatasan (pantangan) yang bersifat kemasyarakatan (yang tampak dalam
wujud pranata, pengetahuan lingkungan, dan etika lingkungannya); dan
(6) kesesuaian dengan azas, tujuan dan sasaran pengelolaan lingkungan hidup
(Purba, 2005 : 14).
Dalam rangka memahami lingkungan sosial, sesuai dengan konsep
pembangunan
berkelanjutan,
maka
titik
berat
perhatian
adalah
pada
kesinambungan dari interaksi-interaksi di dalam lingkungan sosial itu sendiri
dengan lingkungan-lingkungan yang lain. Terkait dengan kesinambungan
lingkungan sosial maka setidaknya terdapat enam komponen atau ruang lingkup
lingkungan sosial yang perlu diperhatikan. Keenam komponen tersebut ialah:
addanya pengelompokan sosial (social grouping), media sosial (social media),
pranata sosial (social institution), pengendalian sosial (social control), penataan
sosial (social alignment), dan kebutuhan sosial (social needs) (Boedhisantoso,
1997).
44
Lingkungan Sosial Perkotaan
Di Indonesia, kota ditentukan secara politiko-administratif, seperti kota
metropolitan/ibukota Jakarta, ibukota popinsi, ibukota kabupaten. Kota atau
daerah perkotaan dapat didefinisikan sebagai sebuah komunitas yang relatif
luas, dihuni secara pada oleh penduduk yang beraneka ragam dari segi
pekerjaan, pendidikan, dan gaya hidup. Di sini jaringan komunikasi sangat
kompleks dan intensif, dan bangunan bangunannya banyak terbuat dari batu
yang tahan lama, tinggi dan besar. Kemudian, di kota juga terdapat banyak
spesialis yang bekerja penuh pada berbagai kegiatan non-pertanian (Marzali,
1978).
Munculnya kota adalah karena adanya kegiatan sosial dan ekonomi
tertentu yang memerlukan penduduk, bangunan, dan mesin-mesin untuk
berkonsentrasi pada suatu daerah yang relatif kecil.
Beberapa ciri-ciri lingkungan sosial perkotaan menurut Sorokin dan
Zimmerman (Purba, 2005 : 62) adalah sebagai berikut:
(a) Dilihat dari pekerjaan, bahwa pekerjaan masyarakat perkotaan cenderung
mengarahkan orang kepada spesialisasi. Masing-masing orang hanya
mendalami pekerjaannya sendiri, sedangkan untuk keperluan lain, dia
tergantung kepada bantuan jasa orang lain.
(b) Lingkungan alam perkotaan memunculkan masalah yang berhubungan
lingkungan fisik seperti kepadatan penduduk, kumuh, bising, polusi udara
dan sebagainya, yang ditimbulkan karena kurang terencana dan kirang
terkontrolnya perkembangan lingkungan kota.
(c) Besaran komunitas perkotaan mengikuti tingkat kepadatan penduduk yang
sangat tinggi. Jumlah jiwa per unit wilayah dan jumlah keluarga per unit
rumah adalah berkorelasi secara positif dengan lingkungan perkotaan.
(d) Dilihat dari heteregonitas dan homogenitas penduduk menunjukkan bahwa
penduduk perkotaan adalah sangat heterogen. Kehidupan urban berkorelasi
secara positif dengan heteregonitas penduduk.
(e) Dilihat dari mobilitas sosial menunjukkan bahwa perkotaan memiliki tingkat
mobilitas yang tinggi.
45
Konsep Kesejahteraan Keluarga
Istilah kesejahteraan menurut tim perumus indikator sosial dalam
Amiyatsih (1986) didefinisikan sebagai “ringkasan dari serangkaian data statistik
social yang diturunkan dan disusun untuk menggambarkan suatu keadaan atau
kecenderungan keadaan-keadaan sosial yang menjadi pokok perhatian atau
usaha pembangunan masyarakat. Definisi di atas, membedakan antara statistik
sosial dan indikator sosial yang diturunkan dari data statistik sosial. Indikator
sosial biasanya merupakan kumpulan data yang lebih sedikit dan dapat dianggap
sebagai petunjuk singkat pembangunan sosial.”
Kesejahteraan keluarga adalah upaya keluarga untuk dapat memenuhi
kebutuhan fisik, psikologi, sosial dan kerohanian (Anonymous, 2003). Sumarti
(1999) mendefinisikan kesejahteraan merupakan kondisi relatif yang dibentuk
masyarakat melalui interaksi sosial. Pendefinisian kesejahteraan tersebut
didasarkan pada stratifikasi sosial dalam masyarakat. Ketika suatu golongan
menempati posisi dominan dalam mesyarakat maka definisi kesejahteraan lebih
berorientasi pada golongan status tersebut. Misalnya golongan priyayi dan wong
cilik. Golongan priyayi berorientasi pada kraton dan sebagai pusat tradisi besar
Jawa, golongan wong cilik berorientasi pada desa sebagai tradisi lokal.
Lee dan Hanna (1990) mendefinisikan kesejahteraan sebagai total dari
net worth (manfaat yang benar-benar diperoleh) dan human capital wealth
(kesejahteraan sumber daya manusia). Manfaat yang diperoleh merupakan nilai
atas
asset
yang
dimiliki
dikurang
pengeluaran
(liabilitas).
Sedangkan
kesejahteraan SDM (human capital income) yang ada saat ini, atau dihitung dari
nilai pendapatan non asset.
Sajogyo
(1984)
mendefinisikan
kesejahteraan
keluarga
sebagai
penjabaran delapan jalur pemerataan dalam Trilogi Pembangunan sejak Repelita
III yaitu: (1) peluang berusaha, (2) peluang bekerja, (3) tingkat pendapatan,
(4) tingkat pangan, sandang, perumahan, (5) tingkat pendidikan dan kesehatan,
(6) peran serta, (7) pemerataan antar daerah, desa/kota, dan (8) kesamaan
dalam hukum.
Grant (1978) dan Morris (1982) (Budiman, 1996) mengukur tingkat
kesejahteraan dengan membuat indeks (suatu ukuran ringkas yang merupakan
46
gabungan dari beberapa indikator), seperti Indeks Mutu Hidup Fisik (Physical
Quality of life Index/PQLI) adalah suatu indeks pengukuran yang terdiri dari tiga
unsur yaitu: (1) rata-rata harapan hidup sesudah umur satu tahun, (2) rata-rata
jumlah kematian bayi, dan (3) rata-rata persentase buta dan melek aksara.
Menurut Syarief dan Hartoyo (1993), faktor kesejahteraan keluarga
dipengaruhi oleh:
(1) Faktor Ekonomi
Adanya kemiskinan yang dialami oleh keluarga akan menghambat upaya
peningkatan pengembangan sumber daya yang dimiliki oleh keluarga, yang
pada gilirannya akan menghambat upaya peningkatan kesejahteraan
keluarga. Masalah kemiskinan saling berkaitan dengan rendahnya kualitas
sumberdaya
manusia
sebagai
salah
satu
faktor
produksi.
Strategi
pembangunan ekonomi yang tidak semata-mata ditujukan untuk mencapai
laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mampu menciptakan kondisi
yang baik dalam mengatasi masalah kemiskinan.
(2) Faktor Budaya
Kualitas kesejahteraan keluarga ditandai oleh adanya kemantapan budaya
yang dicerminkan dengan penghayatan dan pengalaman nilai-nilai luhur
budaya bangsa. Kemantapan budaya ini dimaksudkan untuk menetralisir
akibat dari adanya pengaruh budaya luar. Adanya kemantapan budaya
diharapkan akan mampu memperkokoh keluarga dalam melaksanakan
fungsinya.
(3) Faktor Teknologi
Peningkatan
kesejahteraan
keluarga
juga
harus
didukung
oleh
pengembangan teknologi. Keberadaaan teknologi dalam proses produksi
diakui telah mampu meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.
Penguasaan dan teknologi ini berkaitan dengan tingkat pendidikan dan
pemilikan modal.
(4) Faktor Keamanan
Keberhasilan
pelaksanaan
pembangunan
dalam
rangka
peningkatan
kesejahteraan masyarakat ditentukan pula oleh adanya stabilitas keamanan
yang terjamin. Hal ini dimaksudkan agar program-program pembangunan
47
dapat dilaksanakan dengan baik dan hasil-hasilnya bisa dimanfaatkan untuk
kesejahteraan masyarakat.
(5) Faktor Kehidupan Agama
Kesejahteraan keluarga akan menyangkut masalah kesejahteraan spiritual,
sperti ketakwaan. Oleh karenanya, program peningkatan kesejahteraan
keluarga harus didukung oleh kehidupan beragama yang baik. Setiap
keluarga diberi hak untuk dapat mempelajari dan menjalankan syariat
agamanya masing-masing dengan tanpa memaksakan agama yang satu
kepada agama yang lainnya. Sehingga pemahaman keagamaan dan
pelaksanaan syariat akan mampu meningkatkan kesejahteraan sppiritualnya.
(6) Faktor Kepastian Hukum
Peningkatan kesejahteraan keluarga juga menuntut adanya jaminan atau
kepastian
hukum.
Sebagai
contoh:
suatu
keluarga
akan
mampu
mengusahakan lahannya dengan baik, kalau kepastian akan hak milik lahan
tersebut terjamin. Kepastian hukum atas berlakunya peraturan upah
minimum yang diterima oleh pekerja pabrik hal ini akan memperbesar
kemungkinan pekerja atau keluarga dapat meningkatkan kesejahteraannya.
Dalam perkembangan selanjutnya, BPS (2003) menggunakan berbagai
indikator untuk menentukan kesejahteraan rakyat antara lain: (1) kependudukan,
(2) kesehatan dan gizi, (3) pendidikan, (4) ketenagakerjaan, (5) taraf dan pola
konsumsi, (6) perumahan dan lingkungan, dan (7) sosial budaya. Pengaruh
pertumbuhan penduduk diantaranya terlihat pada komposisi, usia, dan distribusi
penduduk. Semakin rendah proporsi penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun
dan 65 tahun ke atas), semakin rendah angka beban ketergantungan, sehingga
memberi kesempatan usia produktif untuk meningkatkan kualitas personalnya,
sedangkan jumlah penduduk yang besar merupakan sumber daya, tetapi
kemudia akan menjadi beban jika mutunya rendah, sementara itu, distribusi
penduduk yang merata akan sangat meringankan beban di wilayah yang
ditemaptinya, Konsentrasi penduduk secara dahsyat pada salah satu wilayah
akan
menimbulkan
banyak
masalah
seperti:
pengangguran,
pelacuran,
perampokan dan lain-lain karena ketidakmampuan mengkases pekerjaan yang
layak.
Tingkat kesejahteraan masyarakat, juga terlihat dari angka kematian bayi
dan angka harapan hidup. Artinya, menurunnya angka kematian bayi dan
48
meningkatnya angka harapan hidup mengindikasikan meningkatnya derajat
kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi dan angka harapan hidup dapat
dilihat dari efektivitas masyarakat berobat ke berbagai sarana dan prasarana
kesehatan yang ada maupun efektivitas pelayanan medis terhadap ibu hamil dan
keluarga yang sakit.
Tingkat pendidikan masyarakat juga sebagai salah satu indikator
kesejahteraan rakyat. Ukuran yang sangat mendasar adalah kemampuan baca
tulis penduduk dewasa. Selain itu, rata-rata lama sekolah penduduk juga menjadi
indikator kesejahteraan rakyat Tingkat partisipasi angkatan kerja (usia 15-64
tahun) adalah proporsi penduduk usia kerja yang termasuk ke dalam angkatan
kerja, yakni mereka yang bekerja dan mencari pekerjaan. Pekerjaan merupakan
salah satu aspek penting dalam mencapai kepuasan individu dan memenuhi
perekonomian rumahtangga dan kesejahteraan keluarga. Taraf dan pola
konsumsi masyarakat juga dijadikan indikasi untuk melihat tingkat kemiskinan
keluarga.
Berbagai indikator yang digunakan untuk mengetahui taraf dan pola
konsumsi adalah (1) tingkat pendapatan, dan (2) pengeluaran pangan dan non
pangan. Penduduk miskin ditafsirkan sebagai penduduk yang pendapatannya
(didekati dengan pengeluaran) lebih kecil dari pendapatan yang dibutuhkan
untuk hidup secara layak. Kebutuhan tersebut diterjemahkan sebagai jumlah
rupiah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi makanan setara 2100 kalori
sehari, perumahan, pakaian, kesehatan, dan pendidikan. Jumlah rupiah tersebut
kemudian dijadikan sebagai standar kemiskinan. Selain itu, pengeluaran rumah
tangga juga dijadikan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan.
Semakin tinggi pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari
pengeluaran untuk makanan ke pengeluaran bukan makanan.
Perumahan
dan
lingkungan,
juga
dijadikan
sebagai
indikator
kesejahteraan rakyat. Semakin baik fasilitas yang dimiliki, dapat diasumsikan
semakin sejahtera rumahtangga yang menempati rumah tersebut. Berbagai
fasilitas yang dapat mencerminkan tingkat kesejahteraan tersebut antara lain
dapat dilihat dari luas lantai rumah, sumber air minum, fasilitas tempat buang air
besar rumah tangga dan juga tempat penampungan kotoran akhir. Indikator
terakhir adalah faktor sosial budaya. Sosial budaya merupakan salah satu aspek
kesejahteraan yang memiliki cakupan yang amat luas. Semakin banyak
49
seseorang memanfaatkan waktu luang untuk melakukan kegiatan sosial budaya
maka dapat dikatakan kesejahteraan semakin meningkat, karena waktu yang
ada tidak semata-mata dipakai untuk mencari nafkah, tetapi juga digunakan
untuk wisata, nonton TV, mendengar radio dan lain-lain.
Saragih et al. (1993)
mengukur indikator kemiskinan berdasarkan
keluarga yang tidak memiliki mata pencaharian atau memiliki mata pencaharian
dengan penghasilan rendah, kondisi rumah dan lingkungan fisik tidak memenuhi
syarat kesehatan, pendidikan terbatas. Studi yang dilakukan oleh Salim dalam
Soemarjan (1984) mengemukakan bahwa ada lima karakteristik membuat
munculnya kemiskinan adalah (1) penduduk miskin pada umumnya tidak
memiliki faktor produksi, (2) tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh
aset produksi dengan kekuatan sendiri, (3) tingkat pendidikan pada umumnya
yang rendah, (4) tidak mempunyai fasilitas, dan (5) mereka berusaha dalam
usaha yang relatif muda dan tidak mempunyai keterampilan atau pendidikan
yang mamadai.
Konsep Kepemimpinan
Kepemimpinan, menurut
Siagian (1988; 24), diartikan sebagai:
kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai
pimpinan satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain, terutama
bawahannya, untuk berpikir an bertindak sedemikian rupa sehingga melalui
perilaku yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan
organisasi.
Dalam pengertian di atas terdapat tuntutan kemampuan serta tuntutan
normatif yang harus diperankan oleh seorang pimpinan dalam melaksanakan
kegiatan organisasi.
Peranan kepemimpinan dalam organisasi merupakan suatu yang vital,
karena
dengan
adanya
fungsi
kepemimpinan
yang
baik
akan
dapat
menggerakkan dan mempengaruhi setiap elemen dalam organisasi, baik elemen
yang terkait dengan manusia atau elemen fisik yang ada dalam organisasi.
Pentingnya
peranan
kepemimpinan
dalam
organisasi,
menurut
Sastrodiningrat (1998 : 3), sesuai dengan fungsinya antara lain:
(1) Mengisi kekurangan-kekrangan yang terdapat dalam pola dan struktur
organisasi.
50
(2) Mengalami dan melakukan penyesuaian-penyesuaian akibat
perubahan
yang terus menerus mengenai situasi, kondisi dan lingkungan di segala
aspek.
(3) Mengadakan penyempurnaan-penyempurnaan sebagai akibat dinamika dan
perkembangan organisasi intern.
(4) Melakukan pengisian yang disebabkan perubahan (keluar masuk) sumber
daya manusia dalam organisasi.
Oleh karena itu, peran pimpinan dalam organisasi menempati posisi yang
sangat penting. Hal ini bertujuan agar suatu organisasi itu dapat terorganisir
secara baik melalui fungsi-fungsi manajemen yang efektif.
Perannya peran pimpinan di dalam menjalankan fungsi manajemen
ditunjukkan karena pimpinan memiliki daya kemampuan mempengaruhi dan
menggerakkan segala sumber daya yang ada dalam organisasi tersebut baik
yang sifatnya fisik maupun sumber daya manusianya.
Pada tahun
1938, Bernard (Gannon,1979:202) pernah mengajukan
konsep baru tentang kepemimpinan, yaitu “leadership is the ability of superior to
influence the behavior of subordinates and persuade them to follow a particular
course of action.” Dalam pandangan ini tersirat bahwa di dalam kepemimpinan
tersebut terdapat kemampuan untuk dapat memotivasi para bawahan untuk lebih
proaktif melalui segala bentuk pendekatan yang harus dilakukan.
Konsep lain tentang kepemimpinan dikemukakan oleh Filley & House
(1969:39) bahwa “leadership (kepemimpinan) merupakan proses seseorang
berusaha menggunakan pengaruh kemasyrakatannya terhadap para anggota
kelompok (organisasi).” Jadi pemimpin adalah
seseorang dengan daya
kekuatannya terhadap orang lain dalam melakukan kewenangannya untuk tujuan
mempengaruhi perilaku mereka.
Hal tersebut lebih dipertegas oleh pendapat Sastrodiningrat (1998:17)
yang menyatakan bahwa pada hakikatnya kepemimpinannya adalah:
(1) Kemampuan mempengaruhi perilaku orang lain, apakah dia pegawai
bawahan, rekan sekerja atau atasan.
(2) Adanya pengikut yang dapat dipengaruhi baik oleh ajakan, anjuran, bujukan,
sugesti, perintah, saran atau bentuk lainnya.
(3) Adanya tujuan yang hendak dicapai.
51
Dari beberapa konsep yang dikemukakan di atas, penulis dapat
mengambil suatu kesimpulan bahwa terdapat tiga unsur penting yang ada dalam
konsep kepemimpinan antara lain: personal ability (kemampuan personal),
influence (pengaruh) dan kekuaan bawahan atai followership (kepengikutan).
Konsep Motivasi
Seseorang mencari apa dari sebuah pekerjaan, mengapa dan untuk apa,
kapan dan dimana, dan bagaimana ia bekerja senantiasa. Ahli psikologi
meneropongnya dari aspek motivasi
dan perilaku. Perilaku seseorang yang
kemudian yang diekspresikan dalam tindakan/perbuatannya ditentukan oleh
dorongan yang berasal dari dalam diri orang tersebut. Dorongan itulah yang
memotivasi seseorang untuk melakukan sesuatu dengan suatu tujuan terttnu
pula. Dorongan yang memotivasi seseorang melakukan suatu tindakan tertentu
tidak selamanya dsadari oleh orang yang bersangkutan (Sahlan, 2002: 13-20).
Menurut Schiffman dan Kanuk (1992), individu merupakan kesatuan yang
terdapat pada manusia untukmelakukan sesuatu tindakan dikenal dengan nama
motivasi. Tindakan yang dilakukan disebabkan adanya tegangan yang
diakibatkan oleh belum terpenuhinya suatu kebutuhan.
Menurut Padmowihardjo (1994:135), motivasi berasal dari dua kata, yaitu
motif dan aksi (action). Motif berarti dorongan dan asi berarti usaha, sehingga
motivasi merupakan usaha yang dilakukan manusia untuk menimbulkan
dorongan berbuat dan melakukan tindakan. Setiap tindakan manusia pasti
memilikimotif atau dorongan. Menurut Handoko (1995:9), motif sebagai salah
satu alasan atau dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu atau
melakukan suatu tindakan.
Motif terdiri dari dua unsur pokok, yaitu unsur dorongan dan unsur tujuan
yang ingin dicapai. Proses interaksi antar kedua unsur ini (unsur dorongan dan
unsur tujuan) dalam diri seseorang yang dipengaruhi oleh faktor eksternal
sehingga menimbulkan motivasi untuk melakukan sesuatu.
Menurut Padmowihardjo (1999:135), selain dengan kebutuhan , motivasi
juga berhubungan dengan drive. Drive adalah suatu perubahan dalam struktur
seseorang yang menjadi dasar organis dari perubahan energi, yang disebut
motivasi.
Timbulnya
motivasi
karena
terjadinya
perubahan-perubahan
neurofisiologis. Selain itu motivasi berhubungan dengan minat (interest) dan
52
keinginan (want). Minat dapat diartikan sebagai sifat hati nurani yang timbul
dengan sendirinya dan memiliki daya dorong. Keinginan adalah sifat hati nurani
karena orang meminati sesuatu dan mendorong terbentuknya motif untuk
berbuat untuk mewujudkannya. Motif seseorang akan bangkit jika ada minat,
sedangkan minat sendiri dapat bangkit karena ada perhatian/kesadaran akan
kebutuhan, dari kesadaran akan timbul keinginan dan karena ada keinginan akan
timbul motif untuk mencoba danmelakukan sesuatu tindakan.
Karakteristik Individu
Menurut Mardikanto (1993:213), karakteristik individu ialah sifat-sifat yang
melekat pada diri seseorang dan berhubungan dengan aspek kehidupan, antara
lain : umur, jenis kelamin, posisi, jabatan, status sosial dan agama. Combs
(1985: 15), meyatakan bahwa karakteristik individu meliputi umur, jenis kelamin,
tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, bangsa, agama dan sebagainya.
Sedangkan karakteristik demografik meliputi: umur, pendidikan dan penghasilan.
Karakteristik adalah sesuatu yang mempunyai sifat khas sesuai perwatakan
tertentu.
Gonzalez (Jahi, 1998:21) menyatakan bahwa karakteristik demografik
orang dewasa seperti umur, jenis kelamin status perkawinan, penghasilan dan
pekerjaan. Slamet (2003:16) menyebutkan bahwa umur , pendidikan, status
sosial ekonomi, pola hubungan dan sikap merupakan faktor-faktor individu yang
mempengaruhi proses difusi inovasi.
Usia
Usia
berkaitan
dengan
pengalaman
belajar,
kemampuan
dan
kematangan. Padmowiharjo (1994:36), Gesel (Salkind,1985:56) dan Purwanto
(1991:56) menyatakan bahwa usia berkaitan erat dengan kematangan
seseorang; terdapat dua faktor yang menentukan kemampuan seseorang
berhubungan dengan usia yakni mekanisme belajar dan kematangan otak, organ
seksual, dan otot organ tertentu dan akumulasi pengalaman dan bentuk-bentuk
proses belajar yang lain. Usia dapat menjadi tanda dari suatu perkembangan.
Usia terkait dengan tugas pengembangan, proses belajar, kelangsungan hidup
serta berbagai aspek yang melatar belakanginya (Havighurst, 1974:2).
53
Menurut Schemerhorn, et al., (1997:43), usia seseorang berhubungan
dengan kemampuan dan kemauan belajar dan fleksibilitas. Banyak orang
beranggapan bahwa usia tua berhubungan dengan kepikunan. Hal ini berbeda
dengan pada masing-masing individu. Schemerhorn berkesimpulan bahwa usia
tidak ada hubungannya dengan kinerja seseorang dalam hal ini orang yang lebih
tua tidak lebih umproduktif daripada orang muda, meskipun demikian orang yang
sudah tua lebih banyak tidak dapat menghindari absen daripada orang yang
lebih muda.
Selanjutnya Szilagyi dan Wallace (1990:72) menyatakan beberapa pola
perilaku mengalami perubahan ketika manusia tumbuh dewasa sebagai akibat
dari proses sosialisasi. Sedangkan beberapa potensi untuk mempelajari
keterampilan tertentu dipengaruhi oleh usia.
Pendidikan Formal
Menurut Gilley dan Eggland (1989:32) konsep behavior dari kinerja
manusia dan konsep pendidikan menjadi dasar bagi pengembangan sumber
daya manusia, orientasi ini menekankan pada pentingnya pendidikan dan
pelatihan untuk tujuan meningkatkan produktivitas manusia.
Menurut Schemerhorn, et al.,(1997:134) pendidikan dan pelatihan
merupakan proses seseorang dalam memperoleh kompetensi dan kepercayaan
dirinya yang mempengaruhi perilakunya. Seperti dikemukakan oleh konsutan
manajemen Tom Peters dalam Schemerhorn, et al.,(1997:134) bahwa (1)
pendidikan adalah kunci menuju sukses dan (2) pendidikan tidak berhenti ketika
memperoleh sertifikat.
Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilakukan secara
terencana di luar sekolah formal. Kegiatan
penyuluhan adalah suatu sistem
pendidikan luar sekolah (non formal) yang bertujuan mempengaruhi individu dan
keluarganya agar mengubah perilakunya sesuai dengan yang diinginkan, yang
untuk memperbaiki mutu hidupnya. Perubahan perilaku tersebut dapat berupa:
(1) bertambahnya perbendaharaan informasi yang berguna bagi individu,
(2) tumbuhnya keterampilan, kemampuan dan kebiasaan baru yang bertambah
54
baik, dan (3) timbulnya sikap mental dan motivasi yang lebih kuat sesuai dengan
yang dikehendaki (Slamet, 2003:20).
Carnevale dan Golstein (Gilley dan Eggland, 1989:32) menekankan
bahwa persentase terbesar dari pembelajaran dilaksanakan secara informal
melalui konsultasi dengan peer, dalam kelompok kerja, melalui coaching dan
mentoring serta melalui kesempatan networking. Menurut Siagian (1996:182),
pendidikan non formal khususnya dalam bentuk pelatihan merupakan usaha
untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan produktivitas
kerja seseorang. Menurut Dahama (Halim dan Ali, 1997:135), pelatihan
membantu seseorang untuk menjadi terampil dan berkualitas dalam pekerjaan.
Menurut Manulang (1996:100), pelatihan sebagai pendidikan non formal
merupakan usaha untuk mengembangkan kecakapan atau menambah keahlian
adan efisiensi kerja seseorang.
Konsep Strategi
Strategi didefinisikan sebagai suatu tindakan yang bersifat “incremental”
(senantiasa meningkat), terus menerus dan dilakukan berdasarkan sudut
pandang tentang apa yang diharapkan oleh para perlaku di masa depan
(Prahat,1995). Rangkuti (2000), memastikan bahwa strategi merupakan alat
untuk mencapai tujuan. Dengan demikian perencanaan strategis adalah
perencanaan yang terintegrasi (menyatu, menyeluruh dan terpadu), hampir
selalu dimulai dengan pertanyaan “apa yang dapat terjadi”, bukan mulai dengan
“apa yang terjadi.”
Pada prinsipnya strategi dapat dikelompokkan berdasarkan tiga tipe
strategi, Rangkuti (2000),yaitu (1) strategi manajemen, (2) strategi investasi, dan
(3) strategi bisnis. Strategi manajemen meliputi strategi secara makro. Strategi
investasi merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi. Strategi bisnis
sering juga disebut strategi fungsional, karena berorientasi pada fungsi-fungsi
manajemen.
Formulasi strategi atau biasa disebut dengan perencanaan strategis
merupakan proses penyusunan perencanaan jangka panjang, karena itu lebih
banyak menggunakan proses analisis. Tujuannya adalah untuk menyusun
strategi sehingga sesuai dengan misi sasaran serta kebijakan lembaga.
55
Strategi Program Penanggulangan Kemiskinan
Menurut Mc Nicholas (1977), strategi adalah “ suatu seni menggunakan
kecakapan dan sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya
melalui hubungannya yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling
menguntungkan.” Hax dan Majluf (1991) menguraikan pengertian strategi secara
terinci, yaitu (1) suatu pola keputusan yang konsisten, menyatu dan integral, (2)
menentukan dan menampilkan tujuan/sasaran jangka panjang, program aksi,
dan prioritas sumberdaya, (3) menyeleksi bidang yang akan digeluti, (4)
mencoba mendapatkan keuntungan yang mampu bertahan lama dengan
memberikan respon yang tepat terhadap peluang dan ancaman dari lingkungan
eksternal dan kekuatan, serta kelemahannya, dan (5) melibatkan semua
tingkatan hierarkhi dari organisasi.
Kooten (1991) mengemukaan bahwa ada beberapa tipe strategi, antara
lain: (1) coorporate strategy (strategi organisasi), (2) program strategy (strategi
program), (3) resource support strategy (strategi pendukung sumber daya), dan
(4) institutional strategy (strategi kelembagaan). Mengacu pada keempat tipe
strategi tersebut, maka dalam penelitian ini lebih menekankan kepada strategi
program khususnya program pemberdayaan kelompok.
Dalam kaitan dengan penanggulangan kemiskinan, Bappenas (2005)
telah menetapkan lima strategi nasional penanggulangan kemiskinan (SNPK) ,
yaitu:
(1) Perluasan kesempatan, yaitu untuk menciptakan kondisi dan lingkungan
ekonomi, politik dan sosial yang memungkinkan masyarakat miskin, baik
laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh kesempatan seluas-luasnya
dalam pemenuhan hak-hak dasar dan peningkatan taraf hidup secara
berkelanjutan.
(2) Pemberdayaan
kelembagaan
masyarakat,
yaitu
untuk
memperkuat
kelembagaan sosial, ekonomi, politik, budaya, dan memperluas partisipasi
masyarakat miskin, baik laki-laki maupun perempuan dalam pengambilan
keputusan kebijakan public yang menjamin penghormatan, perlindungan dan
pemenuhan hak-hak dasar.
56
(3) Peningkatan kapasitas, yaitu untuk mengembangkan kemampuan dasar dan
kemampuan berusaha miskin, baik laki-laki maupun perempuan agar dapat
memanfaatkan perkembangan lingkungan.
(4) Perlindungan sosial, yaitu untuk memberikan perlindungan dan rasa aman
bagi kelompok yang rentan (perempuan kepala rumah tangga, fakir miskin,
orang jompo, anak terlantar, kemampuan berbeda/penyandang cacat) dan
masyarakat miskin baru, baik laki-laki maupun permpuan yang disebabkan
oleh : bencana alam, dampak negatif krisis ekonomi dan konflik sosial.
(5) Penataan kemitraan global, yaitu untuk mengembangkan dan menataulang
hubungan dan kerjasama internasional guna mendukung pelaksanaan
keempat strategi tersebut.
Selaras
dengan
strategi
tersebut,
Carner
dan
Korten
(1983)
mengemukakan lima strategi penanggulangan masyarakat miskin, yaitu : (1) a
runemurative strategy, (2) food and nutrition strategy, (3) natural resources
management strategy, (4) a human resources development strategy, dan (5) a
balanced regional development strategy.
Download