Efektifitas Pembelajaran Berbantuan Media Audio

advertisement
Efektifitas Pembelajaran Berbantuan Media Audio Visual Melalui
Metakognitif Terhadap Pelajaran PAI Di SMP Al Falah
(Studi Pada Pelajaran PAI Di SMP Al Falah Bekasi)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.PdI)
Oleh:
ABDILLAH
105011000001
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt. Yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan
skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad saw. Sebagai suri teladan yang sempurna bagi kita semua.
Selama masa perkuliahan hingga tahap akhir penyusunan skripsi ini, banyak
pihak yang telah memberikan bantuan dan motivasi kepada penulis. Sebagai tanda
syukur atas terselesaikannya penulisan skripsi yang berjudul “EFEKTIFITAS
PEMBELAJARAN MEDIA AUDIO VISUAL MELALUI METAKOGNITIF
TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Pada pelajaran PAI Di SMP
Al Falah Bekasi)”. Maka penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, M.A.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bapak Bahrissalim, M. Ag.
3. Dosen pembimbing skripsi Bapak Yudhi Munadi, M. Ag. yang telah
memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran kepada penulis dalam
menyelesaikan penulisan skripsi ini, dan merupakan suatu kesenangan dan
kebanggaan tersendiri bagi penulis berada di bawah bimbingan beliau.
4. Dosen pembimbing Akademik Dr. Hj. Siti Salmiah M.A. yang telah
memberikan bimbingan, motivasi, dan nasehat kepada penulis dalam
menyelesaikan perkuliahan.
5. Perpustakaan Utama serta Perpustakaan Syariah dan Hukum Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Yang telah memberikan bantuan berupa
bahan-bahan yang menjadi referensi dalam penulisan skripsi.
6. Kapala sekolah, dan para guru SMP Al Falah Bekasi yang telah memberikan
ijin penelitian dan kerjasama yang baik kepada penulis terutama kepada guru
Pendidikan Agama Islam.
7. Secara khusus penulis juga mengucapkan terimakasih yang mendalam kepada
Almarhum ayahanda semoga diampuni semua dosanya dan bangga atas
keberhasilan anaknya. Dan kepada ibunda
tercinta yang senantiasa
mengasuh, membimbing membiayai dan memotivasi penulis dengan tulus,
serta selalu mendoakan penulis agar penulis selalu sukses dalam segala hal.
Semua yang telah mereka berikan tidak akan dapat tergantikan dengan
apapun di dunia ini.
8. Keluarga besar yang telah memberikan motivasi dan juga semangat, serta
memberikan saran-saran kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Sahabat dan teman seperjuangan di Jurusan Pendidikan Agama islam, Arbi
Putra Musawi, Arifin, Muhammad Nur, Jon Umang Khoirul Badriyah yang
senantiasa membangkitkan semangat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
10. Istriku tercinta Suci Lastari ST, yang senantiasa memberikan motivasi dan
dukungannya kepada penulis baik berupa moril, tenaga, maupun materi.
11. Dan tidak terlupakan pula terimakasih kepada semua pihak yang turut
membantu dalam kelancaran penulisan skripsi ini yang penulis tidak dapat
sebutkan namanya satu per satu.
Penulis tidak mempunyai daya upaya untuk membalas semua kebaikan ini
hanyalah do’a yang dapat penulis panjatkan, semoga segala kebaikan semua pihak
yang turut membantu dalam kelancaran penulisan skripsi dicatat sebagai amal sholeh,
selanjutnya penulus juga berharap mudah-mudahan semua yang telah penulis lakukan
mendapat Ridha Allah SWT, dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat. Amin.
Bila ada kekurangan itu datangnya dari pribadi penulis sendiri dan
kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Jakarta 15 Pebuari 2011
Penulis
ABDILLAH
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................... 5
C. Pembatasan Masalah .................................................................. 6
D. Perumusan Masalah ................................................................... 6
BAB II
E.
Tujuan Penelitian ....................................................................... 6
F.
Manfaat Penelitian ..................................................................... 7
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Efektivitas ................................................................. 8
B. Pengertian Teori Belajar.............................................................. 9
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar ......... 10
1. Faktor Exsternal siswa ....................................................... 10
2. Faktor Internal Siswa ......................................................... 10
D. Kognitif Dan Metakognitif ....................................................... 11
1. Teori Kognitif ...................................................................... 11
2. Tokoh Dan Pemikiran Ahli Teori kognitif ........................... 12
3. Pengertian Metakognitif ....................................................... 22
E. Media Audio Visual ................................................................. 24
1. Pengertian Media ............................................................... 24
2. Media Audio Visual. .......................................................... 31
3. Vidio .................................................................................. 32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................. 37
B. Metode Penelitian .................................................................... 38
C. Objek Penelitian....................................................................... 40
D. Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 40
E. ................................................................................................. Te
knik Analisis Data .................................................................... 44
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Profil Informan ........................................................................ 45
B. Interaksi Sosial ........................................................................ 48
C. Kondisi sarana Dan Prasarana .................................................. 49
D. Pelaksanaan Pembelajaran Berbantuan Media Audio Visual .... 52
E.
Hasil Uji Efaktifitas Pembelajaran ........................................... 58
F.
Pencapaian Tingkat Kognitif Siswa .......................................... 62
G. Pengamatan Metakognitif ........................................................ 64
H. Efektifitas Pembelajaran Media Audio Visual .......................... 67
I.
BAB V
Upaya SMP Al Falah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan . 69
PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................... 70
B. Saran ......................................................................................... 71
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar menurut aliran psikologi dianggap sebagai suatu proses perubahan
perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan :
"Learning is the process by with an activity, originates or changed through training
procedure (wether in
the laboratory or in
the natural environment) as
distinguished from changes by factors not atributable to training. " Bagi Hilgard,
belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik
latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.1
Henry Garrett dalam General psikology mengatakan “Learning is The
process which, as result of training and experience, leads to new or changed
respo”n. Menurut Henry Garrett,
belajar merupakan proses yang berlangsung
dalam jangka waktu yang lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa
kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang
1
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Proses Pendidikan, ( Jakarta:
kencana prenada media group, 2006), cet. I, h.112.
tertentu.2
Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan tingkah laku.
Namun demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat
manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan John Locke dan hakikat
manusia menurut Leibnitz.
Menurut John Locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif
dengan teori tabularasanya. Locke menganggap bahwa anak yang baru lahir itu
seperti kertas putih bersih yang belum ditulisi, hendak ditulisi apa kertas itu
sangat tergantung pada orang
yang menulisnya, artinya pendidikan atau
lingkungan berkuasa atas pembentukan karakter anak. 3 Dari pandangan yang
mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar behavioristik
Menurut
aliran
behavioristik,
belajar
pada
hakekatnya
adalah
pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap oleh panca indra dengan
kecendrungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respon.
Berbeda dengan pandangan locke, Leibnitz menganggap bahwa manusia
organisme yang aktif. Manusia merupakan sumber dari segala kegiatan. Pada
hakekatnya manusia bebas untuk berbuat dan bebas untuk membuat suatu
keputusan dalan situasi tertentu. Pandangan hakekat manusia menurut Leibnitz
ini kemudian melahirkan aliran belajar kognitif.
Menurut aliran kognitif belajar bukan hanya sekedar hubungan antara
stimulus dan respon saja bersifat mekanistik,
tetapi lebih dari itu, kegiatan
belajar juga melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks yang ada di dalam
diri individu yang sedang belajar dan memerlukan pengaturan kegiatan kognitif. 4
Metakognitif merupakan kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui
dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui
bagaimana untuk belajar, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar
efektif. 5 Kemampuan metakognitif sangat penting dalam proses pembelajaran
2
Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta : Uhamka Press, 2003 ),
Cet. III, h. 27.
3
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis ( Bandung : Remaja Rosdakarya,
1995), Cet. VIII, h. 15.
4
Wina sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Proses Pendidikan …, h.114
5
http://sahabatguru.wordpress.com/2008/12/11/metakognitif-belajar-bagaimana-untuk-belajar.
karena keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh kemampuan siswa dalam
melakukan metakognitif. Siswa yang metakognitifnya baik akan lebih mandiri
dalam belajar , kreatif, dan mampu mengeksplorasi pengetahuan tanpa batas.
Bila di tinjau dari prosesnya, pendidikan adalah komunikasi karena dalam
peoses komunikasi terdapat komunikator, komunikan, dan pesan yang disampaikan.
Pesan atau informasi yang disampaikan berupa pengetahuan, keahlian, skill, nilainilai, ide, pengalaman, dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan apa yang
diungkapkan oleh Yudhi Munadi. “ Proses pendidikan adalah proses komunikasi,
karena dalam proses pendidikan terdapat komunikator, komunikan dan pesan
(message), yakni sebagai komponen yang dikomunikasikan ”.6
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada di kurikulum dituangkan oleh
guru atau sumber lain kedalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal
maupun simbol non-verbal atau visual. Proses penuangan pesan kedalam simbolsimbol komunikasi itu disebut enconding. Selanjutnya penerima pesan (siswa,
peserta latihan ataupun guru) menafsirkan simbol-simbol komunikasi tersebut
sehingga diperoleh pesan. Proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang
mengandung pesan-pesan tersebut disebut deconding.7
Melalui proses komunikasi, pesan atau informasi dapat diserap dan dihayati
oleh siswa. Namun pada kenyataannya seringkali terjadi kegagalan dalam proses
komunikasi pembelajaran. Kegagalan komunikasi pembelajaran ini ditandai dengan
kurang berhasilnya siswa dalam memahami, salah paham, atau tidak mengerti sama
sekali tentang apa yang telah dijelaskan oleh gurunya. Ini menunjukkan bahwa
proses pembelajaran disekolah belum berjalan dengan efektif (tepat sasaran).
Kegagalan komunikasi ini terjadi karena adanya gangguan ketika proses
pembelajaran berlangsung.
Gangguan yang menghambat proses komunikasi tersebut biasa dikenal dengan
istilah noises. Gangguan-gangguan tersebut dapat di identifikasikan dari faktorfaktor sebagai berikut :
6
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru, ( Jakarta: Gaung Persada
Press), cet.1, h. 13-114. hlm.
7
Arif S. Sadiman, Dkk., Media Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), cet. I, h.
6-7.
1.
Faktor raw input, yakni faktor siswa itu sendiri, bahwa setiap siswa
memiliki kondisi yang berbeda-beda baik kondisi fisiologis maupun
psikologis.
2.
Faktor environmental input, yakni faktor lingkungan, baik lingkungan
sosial maupun lingkungan alam.
3.
Faktor instrumental input, diantaranya meliputi kurikulum, bahan, sarana,
sarana atau fasilitas, guru.8
Untuk mengatasi gangguan pada saat proses pembelajaran serta agar proses
penyampaian pesan dapat diterima dengan baik oleh siswa ,
maka guru perlu
menggunakan variasi dalam penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan karakteristik siswa.
Ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media
diantaranya :
1.
Tujuan instruksional yang ingin dicapai.
2.
karakteristik siswa.
3.
Jenis rangsangan belajar yang diinginkan (audio, visual, gerak dan
seterusnya)
4.
Keadaan lingkungan.
5.
Kondisi setempat, dan luas jangkauan yang ingin dilayani.9
Saat ini cukup banyak jenis dan bentuk media yang telah dikenal dewasa ini,
mulai dari yang paling sederhana berupa cetakan sampai kepada yang berteknologi
tinggi seperti komputer.
Namun pada kenyataannya masih banyak guru yang menggunakan
metode ceramah dan tidak menggunakan media pembelajaran dalam proses
pembelajaran. Hal ini lebih dirasakan lagi pada pelajaran Pendidikan Agama
Islam.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa secara pasif
individu
dipengaruhi oleh lingkungan, namun individu juga aktif dalam memilih,
memutuskan, memperhatikan, mengabaikan dan membuat banyak respon lain untuk
8
9
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru…, h. 13.
Arif S. Sadiman, Dkk., Media Pendidika…, h. 83.
mengejar tujuan.
Keberhasilan belajar bukan hanya dipengaruhi oleh lingkungan belajar saja,
namun juga di pengaruhi oleh kemampuan siswa dalam mengatur metakognitifnya.
Agar siswa mampu mengatur metakognitifnya dengan baik diperlukan media
pembelajaran yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran serta di dukung oleh
metode pembelajaran yang baik pula.
Berdasarkan latar belakang diatas penulis merasa tertarik untuk meneliti “
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN MEDIA AUDIO VISUAL MELALUI
METAKOGNITIF ”
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang yang sudah dikemukakan dapat diidentifikasi masalah
pada pembelajaran PAI antara lain:
1.
Penggunaan media pembelajaran disekolah SMP Al Falah sangat jarang
dilakukan karena faktor fasilitas dan biaya.
2.
Para guru SMP Al Falah kebanyakan tidak menggunakan metode belajar yang
berfareatif.
3.
Para guru SMP Al Falah masih memandang siswa sebagai objek dalam
pembelajaran, sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran.
4.
Guru SMP Al Falah belum mampu secara prosudur dalam memanfaatkan
fungsi media audio visual sabagai pembelajaran.
5.
Siswa belum mampu melakukan metakognitif dengan baik, karena media dan
metode pembelajaran yang digunakan tidak mendukung siswa untuk mampu
melakukan metakognitif.
C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah, agar permasalahan tidak meluas penelitian
dibatasi pada:
1.
Media audio visual, yang dimaksud adalah media audio visual yang sudah
jadi dalam bentuk VCD kisah Nabi yusuf AS.
2.
Metakognitif siswa, yang dimaksud adalah kemampuan pengaturan otak
siswa untuk belajar secara efektif.
3.
Jenjang kognitif, yang dimaksud adalah jenjang kognitif yang disampaikan
oleh Bunyamin S, Bloom.
4.
Siswa yang dimaksud adalah siswa kelas VII SMP Al Falah Bekasi.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan
identifikasi
dan
pembatasan
masalah
diatas,
penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Bagaimanakah efektifitas pembelajaran dengan bantuan media audio
visual ?
2.
Bagaimanakah proses metakognitif
siswa yang belajar dengan
menggunakan media audio visual ?
E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah terjawabnya
semua permasalahan yang dirumuskan yaitu :
1.
Untuk mengetahui efektifitas pembelajaran melalui media audio visual.
2.
Untuk mengetahui proses metakognitif siswa yang belajar dengan bantuan
media audio visual.
F.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna tidak hanya bagi peneliti tetapi juga untuk
semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah tempat
peneliti melaksanakan penelitian antara lain:
1.
Sebagai suatu kajian ilmiah yang dapat menambah khasanah pengetahuan
khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi para praktisi dunia
pendidikan.
2.
Bagi kepala sekolah SMP Al Falah Bekasi, sebagai bahan evaluasi bagi
pemanfaatan media pembelajaran di sekolah,
3.
Bagi Guru PAI SMP Al Falah Bekasi, sebagai bahan masukan dalam
upaya meningkatkan Profesionalisme khususnya dalam memanfaatkan
metode dan media pembelajaran.
4.
Bagi siswa, memberikan kontribusi untuk senantiasa terpacu dalam
meningkatkan kreatifitas belajarnya untuk hasil yang lebih optimal.
5.
Untuk memberi tahukan kepada para guru akan pentingnya kemampuan
metakognitif ini diajarkan kepada siswa.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
F. Pengertian Efektivitas Pembelajaran
Kata efektifitas biasanya dipakai dalam hubungannya dengan hasil atau
produk yang sangat diharapkan dari suatu kegiatan atau lembaga pendidikan. Kata
efektifitas adalah kata sifat dari kata efektif yang berarti adanya efek (akibat,
pengaruh, berhasil) manjur atau mujarab dapat membawa hasil guna.10
Keefektifan berkenaan dengan hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi
berkenaan dengan proses pencapaian hasil tersebut. Keefektifan dalam penggunaan
media meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut informasi pengajaran
dapat diserap oleh anak didik dengan optimal menimbulkan suatu perubahan pada
diri siswa. 11
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa efektifitas dalam
pembelajaran adalah tercapainya tujuan dalam sebuah proses pembelajaran atau
dapat juga diartikan dengan terserapnya informasi dalam sebuah proses
pembelajaran oleh peserta didik secara maksimal.
10
Tim Penyusun Kamus pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia ( Jakarta : Balai Pustaka, 2007) h, 284.
11
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Rineka Cipta
2006), cet. III, h. 147.
G. Pengertian Teori Belajar
Belajar bukanlah sekadar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses
mental yang terjadi dalam diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya
perubahan prilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu
dengan lingkungan yang sadari.
Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan tingkah laku.
Namun demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat
manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan John Locke dan hakikat
manusia menurut Leibnitz.
Menurut John Locke, manusia itu merupakan organisme yang pasif. Dengan
teori tabularasanya, Locke menganggap bahwa manusia itu seperti kertas putih,
hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada orang yang menulisnya. Dari
pandangan yang mendasar tentang hakikat manusia itu, memunculkan aliran belajar
behavioristik.
Berbeda dengan pandangan Locke, Leibnitz menganggap bahwa manusia
adalah organisme yang aktif. Manusia merupakan sumber daripada semua kegiatan.
Pada hakikatnya manusia bebas untuk berbuat, manusia bebas untuk membuat suatu
pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan ini adalah kesadarannya sendiri.
Menurut aliran ini tingkah laku manusia hanyalah ekspresi yang dapat diamati
sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi.
Pandangan hakikat manusia menurut pandangan Leibnitz ini kemudian melahirkan
aliran belajar kognitif.
Menurut aliran behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan
asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indra dengan kecendrungan untuk
bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respons (S-R ). Oleh karena itu,
teori ini juga dinamakan teori Stimulus-Respons. Belajar adalah upaya untuk
membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya. 12
H. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar
Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa
12
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Standar Proses Pendidikan , (
Jakarta : Kencana Pranada Media Group, 2006 ), Cet. I, h. 115.
di sekolah yang secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bagian. Yaitu faktor
exsternal dan faktor internal siswa.
3. Faktor Exsternal siswa
Faktor exsternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Faktor
exsternal terdiri dari dua bagian yaitu lingkungan dan instrumental.
Faktor lingkungan terdiri dari dua bagian yaitu lingkungan alam dan
lingkungan sosial. Lingkungan alam seperti, keadaan suhu, kelembaban udara,
waktu, cuaca, letak gedung sekolah ditempat yang ramai atau tidak dan lain
sebagainya. Lingkungan sosial seperti : interaksi sosial dengan teman sebangku,
interaksi peserta didik dengan guru-guru, dan kebudayaan.
Faktor instrumental terdiri dari sarana dan
alat-alat belajar yang
digunakan guru dalam proses belajar mengajar seperti media pendidikan,
metodelogi mengajar yang di gunakan, dan buku yang di pakai. 13
4. Faktor Internal Siswa
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa faktor
internal dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor fsiologis dan faktor psikologis..
Faktor fisiologis siswa terdiri dari kondisi kesehatan dan kebugaran fisik,
kondisi panca indranya terutama pada penglihatan dan pendengarannya.
Faktor psikologis siswa terdiri ketenangan jiwa, perhatian, motivasi, minat,
intelegensi dan kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi,
berfikir dan kemampuan dasar yang di miliki siswa.
I.
ingatan,
14
Teori Kognitif dan Metakognitif
1. Teori Kognitif
Psikologi kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum dan
mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental sejauh berkaitan
dengan cara manusia berpikir dalam memperoleh pengetahuan, mengolah kesankesan yang masuk melalui indra, pemecahan masalah, menggali ingatan dan
h. 59.
13
Muhammad Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, ( Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. I,
14
Aminudin Rasyad. Teori Belajar Dan Pembelajaran ( Jakarta : Uhamka Press, 2003), Cet,
IV. h.103.
prosudur kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.15
Pendekatan teori kognitif lebih menekankan proses mental manusia.
Dalam pandangan ahli penganut aliran kognitif, tingkahlaku siswa yang tampak
tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti
motivasi, minat, kesengajaan dan sebagainya. 16
Ahli teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah hasil dari usaha kita
untuk dapat mengerti_dunia. Untuk dapat melakukan ini kita menggunakan
semua alat mental kita. Caranya, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita
berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan
mempengaruhi bagaimana dan apa yang kita pelajari. Dua siswa mungkin dalam
kelas yang sama, tetapi mungkin saja yang mereka pikirkan akan berbeda. Apa
yang dipelajari setiap siswa tergantung pada apa yang diketahui dari masingmasing siswa dan bagaimana informasi baru itu diproses.
Pandangan kognitif melihat belajar sebagai sesuatu yang aktif. Mereka
berinisiatif
mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk
menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telah
mereka ketahui untuk mencapai pelajaran baru. Meskipun secara pasif
dipengaruhi oleh lingkungan, orang akan aktif memilih, memutuskan,
mempraktikkan, memperhatikan, mengabaikan, dan membuat banyak respon
lain untuk mengejar tujuan. Satu hal paling penting yang mempengaruhi dalam
proses ini adalah apa yang individu pikirkan dalam situasi belajar.
Bransford menguraikan singkat tentang teori kognitif. Yang penting
dalam hal ini ialah bagaimana orang belajar, mengerti dan mengingat informasi,
dan mengapa beberapa orang dapat melakukan dengan baik dan yang lain tidak.
Kenyataannya, ahli-ahli psikologi kognitif lebih cenderung menyelidiki aspekaspek penting dalam belajar, seperti bagaimana orang dewasa mengingat
informasi verbal atau bagaimana anak-anak memahami cerita-cerita. Mereka
tidak mencari hukum-hukum umum belajar yang menerapkan semua organisme
15
16
63.
Djaali, psikologi pendidikan, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2008 ), Cet. III, h. 63.
Nety Hartati, Dkk. Islam dan psikologi ( Jakarta : Raja Grafindo persada, 2004 ), Cet. I, h.
(binatang, manusia) dalam semua situasi. 17
Dalam perspektif teori belajar kognitif, hanya ada dua kategori penting,
yaitu bagaimana informasi itu diproses dan bagaimana manusia itu dapat
mengingat informasi.
2. Tokoh Dan Pemikiran Para Ahli Teori Kognitif
a. Teori Insight ( Gestalt )
Aliran ini berkembang pesat di jerman, ketika behaviorisme
mencapai puncak perkembanganya di Amerika Serikat. Kata gestalt sendiri
diambil dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti “ bentuk “ atau “ pola
umum.“ sesuai dengan namanya, para psikolog gestalt yakin bahwa
pengalaman seseorang mempunyai struktur umum.18
Belajar, menurut Gestaltis, adalah fenomena kognitif. Organisme
"mulai melihat" solusi setelah memikirkan problem. Pembelajar memikirkan
semua
unsur
yang
dibutuhkan
untuk
memecahkan
problem
dan
menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian
ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul,
organisme mendapatkan wawasan (insight) tentang solusi problem. Problem
dapat eksis hanya dalam dua keadaan, terpecahkan atau tak terpecahkan.
Tidak ada keadaan solusi parsial di antara dua keadaan itu.
Untuk menguji gagasan tentang belajar ini, Kohler melakukan
percobaan mengharuskan organisme menggunakan alat untuk menjangkau
objek yang diinginkannya. Misalnya, sebuah pisang diletakkan di luar
jangkauan si monyet sehingga si monyet itu harus menggunakan tongkat
untuk menggapainya atau menggunakan dua tongkat agar cukup panjang
untuk menjangkaunya. Dalam masing-masing kasus, hewan itu punya semua
unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem, ini adalah soal
menyatukannya dengan cara yang tepat.
Gambar 2.1, menunjukkan Bagaimana monyet bernama Chica
17
Sri Esti Djiwandono, Psikologi Pendidikan, ( Jakarta : Grasindo, 2006 ), Cet. III, h. 149-
18
Akyas Azhar, Psikologi Umum Dan Perkembangan, ( Jakarta PT. Mizan Publika, 2004),
150.
Cet. I, h. 49
menggunakan satu tongkat untuk menjangkau buah. Gambar 2.2,
menunjukkan monyet bernama Grande mengmenggunakan tumpukan peti
untuk menjangkau pisang. Gambar 2.3, menunjukkan bagaimana Chica
menggunakan peti dan tongkat untuk mendapatkan buah. Gambar 2.4,
menunjukkan monyet bernama Sultan, monyet paling cerdas, menggunakan
dua buah tongkat untuk menjangkau buah.19
Gambar 1
Gambar 3
Gambar 2
Gambar 4
Insight adalah di dapatkannya pemecahan problem, di mengertinya
sebuah persoalan inilah yang merupakan inti dari belajar menurut teori
Gestalt, jadi bukan mengulang-ngulang hal yang harus dipelajari tetapi yang
terpenting adalah
19
mengertinya dan mendapatkan insight. Hilgard
Tri Wibowo, Teori Belajar, Terj. Dari Theory Of Learning Oleh BR Hergenhan dan
Matthew H. Olson ( Jakarta : Kencana Prenada Grup ), Cet. I, h. 292-293.
memberikan lima macam sifat khas belajar dengan insight diantaranya :
1. Kemampuan insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar
orang tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada
usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompok (spesies) nya.
Pada umumnya anak yang masih sangat muda sulit untuk belajar
dengan insight.
2. Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa
lalunya yang relevan. Walaupun dipengaruhi oleh pengalaman masa
lalu yang relevan, namun belum menjadi jaminan dapat memecahkan
problem. 20
3. Insight
tergantung kepada pengaturan dan penyediaan ling-
kungannya. Simpanse tidak mungkin dapat meraih pisang yang ada
di luar jerujinya apabila tidak disediakan tongkat.
4. Pengertian merupakan inti dari insight, pengertian harus di usahakan
dan tidak datang dengan sendirinya. Melalui pengertian individu
akan dapat memecahkan persoalan. Pengertian itulah yang bisa
menjadi dalam memecahkan persoalan lain pada situasi yang
berlainan.
5. Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk
menghadapi persoalan dalam situasi lain. Di sini terdapat semacam
transfer belajar, namun yang ditransfer bukanlah materi yang
dipelajari, tetapi relasi-relasi dan generalisasi yang diperoleh melalui
insight.21
Dalam pelaksanaan pembelajaran dengan teori Gestalt, guru tidak
memberikan bagian-bagian bahan ajaran, tetapi selalu satu kesatuan yang
utuh. Guru memberikan suatu kesatuan situasi atau bahan yang mengandung
persoalan-persoalan, di mana anak harus berusaha menemukan hubungan
antar bagian.22 Karena Insight hanya dapat diperoleh apabila siswa mau
20
21
121.
11.
22
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, ( Jakarta: Rajawali Pres, 1990), Cet. IV, h. 298
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Standar Proses Pendidikan..., h.
Yatim Rianto, Pradigma Baru Pembelajaran, ( Jakarta: kencana prenada media group) h.
belajar, mencoba, memahami dan memperoleh kejelasan mengenai konsep
masalah yang dihadapi. Mengetahui kejelasan atau memahami makna
masalah yang diamati atau dipelajari dalam situasi belajar lebih penting
artinya dalam meningkatkan keberhasilan belajar, dari pada memberikan
ganjaran atau hukuman.
Menurut teori Gestalt ini pengamatan manusia pada awalnya bersifat
global terhadap objek-objek yang dilihat, Karena itu belajar harus dimulai
dari keseluruhan,
baru
kemudian berproses kepada bagian-bagian.
pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan dan memberi arti
rangsangan yang masuk melalui indra-indra seperti mata dan telinga.
b. Teori Medan ( Kurt Lewin )
Kurt Lewin (1890-1947) mengembangkan teori motivasi berdasarkan
teori medan. Lewin mengatakan bahwa perilaku manusia pada waktu
tertentu ditentukan oleh jumlah total dari fakta psikologis pada waktu
tertentu.
Menurutnya, fakta psikologis adalah segala sesuatu yang disadari
manusia, seperti rasa lapar, ingatan masa lalu, memiliki sejumlah uang,
berada di tempat tertentu atau di depan orang lain. Life space (ruang
kehidupan) seseorang adalah jumlah total dari semua fakta psikologis ini.
Beberapa fakta ini akan menimbulkan pengaruh positif pada perilaku
seseorang, dan sebagian lainnya menimbulkan efek negatif. Totalitas dari
kejadian itulah yang akan menentukan perilaku seseorang pada waktu
tertentu. Menurut Lewin, hanya hal-hal yang dialami secara sadar itulah
yang akan memengaruhi perilaku. Jadi agar segala sesuatu yang pernah
dialami di masa lalu ini lebih memengaruhi perilaku saat ini, seseorang
harus lebih dahulu menyadarinya.
Perubahan dalam fakta psikologis akan menata ulang seluruh ruang
kehidupannya. Jadi sebab-sebab perilaku senantiasa berubah, sebab-sebab
itu bersifat dinamis. seseorang berada dalam medan pengaruh yang terusmenerus berubah, dan satu perubahan dalam salah satu sebab akan
memengaruhi semua sebab lainnya. Inilah yang dimaksud dengan teori
medan psikologis.
Menurut teori Kurt Lewin otak manusia bukan penerima pasif dan
gudang penyimpan informasi dari lingkungan. Otak bereaksi terhadap
informasi sensoris yang masuk dan otak melakukan penataan yang membuat
informasi itu lebih bermakna. Karena otak adalah sistem fisik, otak
menciptakan medan yang memengaruhi sesuatu yang masuk ke dalamnya,
seperti medan magnet memengaruhi partikel logam kekuatan inilah yang
mengatur pengalaman sadar. Apa yang kita alami secara sadar adalah
informasi sensoris setelah ia dikelola oleh medan kekuatan dalam otak.23
Kurt lewin juga beranggapan bahwa di dalam diri seseorang terdapat
energi psikis. Energi inilah yang dipergunakannya untuk bermacam-macam
aktivitas, seperti mengamati, mengingat, berfikir, dan sebagainya. 24
c. Teori Konstruktivistik ( Jean Piaget )
Teori konstruktivistik dikembangkan oleh piaget pada pertengahan
abad ke 20.
Teori ini menjelaskan bahwa individu sejak kecil sudah
memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek, maka akan
menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan pengetahuan yang hanya
diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan
yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah
itu dilupakan. 25
Mengkonstruksi pengetahuan menurut Piaget dilakukan melalui tiga
proses yakni, asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbang).
Asimilasi adalah proses pengintegrasian (penyatuan) informasi baru ke
struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. akomodasi adalah
proses penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru. Equilibrasi
adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Bagi seorang siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika
gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian
23
Tri wibowo, Teori Belajar, Terj. Dari Theory Of Learning Oleh BR Hergenhn dan
Matthew H. Olson..., 291-292
24
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan…, h. 311.
25
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Standar Proses Pendidikan..., h.
123.
antara prinsip penjumlahan yang sudah ada dibenak siswa dengan prinsip
perkalian sebagai informasi baru, inilah yang disebut proses asimilasi. Jika
seseorang diberi sebuah soal perkalian, maka situasi ini disebut akomodasi,
dalam hal ini berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam
situasi yang baru dan spesifik. Agar seseorang dapat terus berkembang dan
menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental
dalam dirinya, untuk itu diperlukan proses penyeimbang. Proses inilah yang
disebut proses equilibrasi proses penyeimbang antara “dunia luar” dan
"dunia dalam” tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan
tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur (disorganized).26
Piaget juga berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan
dengan tahapan perkembangan kognitif yang dilalui siswa, dalam hal ini
Peaget membaginya menjadi empat tahapan. Masing masing tahap
berhubungan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda-beda,
tahapan-tahapan kognitif tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Tahap Sensi Motor
Tahap ini berlangsung sejak awal kelahiran sampai usia 0 -2
tahun. Dalam tahap ini, bayi menyusun pemahaman dunia dengan
mengoordinasikan pengalaman indra (sensory) mereka seperti melihat,
mendengar dan dengan gerakan otot seperti meraba dan menyentuh,
karenanya di istilahkan dengan sensimotor. la hanya mampu
mengetahui informasi yang di tangkap dengan indranya.
2. Tahap Pra Operasional
Pada tahap ini objek-objek dan pristiwa mulai menerima arti
secara simbolis. Sebagai contoh, kursi adalah tempat untuk diduduki,
sekolah merupakan tempat belajar, masjid, gereja, dan vihara
merupakan tempat beribadang masing-masing individu sesuai dengan
kepercayaannya
masing-masing.
Anak
menyadari
bahwa
kemampuannya untuk belajar tentang konsep-konsep yang lebih
kompleks meningkat bila ia diberi contoh-contoh nyata atau yang
26
Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara,
2008 ) Cet. III, h.11
familiar.27
3. Tahap Operasional Konkret
Tahap ini dimulai dari sekitar usia 7 - 11 tahun. pemikiran
operasional konkret mencakup operasi. Operasi konkret adalah tindakan
mental yang dapat dibalikkan yang berkaitan dengan objek konkret.
Pada tahap ini Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif, tetapi
hanya dalam situasi konkret. Kemampuan untuk menggolonggolongkan sudah ada namun belum bisa memecahkan problem-problem
yang abstrak.
4. Tahap Operasional Formal
Tahap ini berlangsung mulai dari usia 11 tahun keatas. Tahap ini
juga disebut sebagai tahap operasi hipotetikdeduktif yang merupakan
tahap tertinggi dari perkembangan intelektual. Maksudnya bila
berhadapan dengan masalah, anak dapat membuat perumusan teori,
merumuskan hipotesis dan menguji hipotesis.28
Secara umum, semakin tinggi tingkat kognitif seseorang akan
semakin abstrak dan teratur cara berfikirnya. Dalam kaitannya dengan
seorang guru seyogyanya memahami tahapan perkembangan kognitif anak
didiknya, serta memberikan materi belajar dalam jumlah dan jenis yang
sesuai dengan tahapan tersebut.
Guru yang mengajar, tetapi tidak memperhatikan tahapan-tahapan
perkembangan kognitif ini akan cenderung menyulitkan siswanya. Misalnya
saja, mengajarkan konsep abstrak tentang matematika kepada siswa kelas
satu SD, tanpa adanya usaha untuk “mengkongkretkan” konsep tersebut,
maka siswa akan kesulitan untuk memahaminya.
d.
Taksonomi (Benyamin S. Bloom)
Benyamin S. Bloom telah mengembangkan “Taksonomi” untuk
domain kognitif. Taksonomi adalah metode untuk membuat urutan
27
E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, ( Bandung : Remaja Rosda Karya,
2008 ), Cet. III, h. 97.
28
Yatim Rianto, Pradigma baru pembelajaran…, h. 126.
pemikiran dari tahap rendah kearah yang lebih tinggi dari kegiatan
mental, Enam tahap berfikir yang di kembangkan oleh Bloom adalah
sebagai berikut : 29
1. Mengingat ( C1 )
Adalah
kemampuan
seseorang
untuk
mengingat-ingat
kembali atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumusrumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk
menggunakannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan
proses berfikir yang paling rendah.
2. Pemahaman ( C2 )
Adalah
kemampuan
seseorang
untuk
mengerti
atau
memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan
kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat
melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan
memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau
memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan
kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan
berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang
pemahaman ini misalnya, siswa mampu menguraikan tentang makna
kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-Ashar secara lancar dan
jelas.30
3. Penerapan ( C3 )
Adalah kemampuan menggunakan informasi, teori, dan
aturan pada situasi baru dalam kehidupan siswa. Salah satu contoh
hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik
mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang
29
Djaali, Psikologi Pendidikan …, h. 77.
Muhammad Uzer Usman, menjadi guru professional ( Bandung : Remaja Rosda Karya,
2005 ), Edisi. II, Cet. XIV. h. 35.
30
diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan
keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
4. Analisis ( C4 )
Adalah
kemampuan
seseorang
untuk
merinci
atau
menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang
lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian
atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang
analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.
Contohnya, peserta didik dapat merenung dan memikirkan
dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa
dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengahtengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.
5. Sintesis ( C5 )
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari
proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang
memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga
menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau berbentuk
pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi
daripada jenjang analisis. Salah satu hasil belajar kognitif dari
jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan
tentang pentingnya kedisiplinan sebagimana telah diajarkan oleh
islam.
6. Evaluasi ( C6 )
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah
kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilain/evaluasi disini merupakan
kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu
kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada
beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik
sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.
Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang evaluasi
adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang manfaat yang
dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat
menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa
seseorang yang bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya
sampai pada kesimpulan penilaian, bahwa kedisiplinan merupakan
perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan dalam sehari-hari.
Keenam jenjang berpikir ranah kognitif bersifat continue
(berkelanjutan) dan overlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih
tinggi meliputi semua ranah yang ada dibawahnya. 31
Dari jenjang tingkatan kognitif ini dapat dijadikan sebuah
acuan bagi para pendidik untuk memberikan soal yang sesuai dengan
kemampuan tingkat kognitif siswa.
3. Pengertian Metakognitif
Metakognif adalah kognitif tentang kognitif atau “ mengetahui tentang
mengetahui ” ( Flavell, 1999 ).32 Ferrari dan Sternberg mengatakan “ meta
kognitif adalah kesadaran siswa dalam menyesuaikan dan mengelola strategi
pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan tujuan”.
Sri Esti Wuryani Djiwandono mengatakan, “ Metakognitif adalah
pengetahuan yang berasal dari proses kognitif kita sendiri beserta hasilhasilnya”.33
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa metakognitif adalah
kesadaran berpikir tentang apa yang apa yang harus dilakukan, dalam konteks
pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana caranya untuk belajar, dan
mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif.
Metakognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri. Orang yang
memiliki kemampuan metakognitif tinggi ia akan mampu mengontrol dan
menyalurkan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya sendiri,
31
32
Http://Massofa.Wordpress.Com/2008/08/04/aspek-penilaian-dalam-ktsp-bag-1-aspek-kognitif/
Tri Wibowo, Psikologi Pendidikan, Terj. Dari Educational Psychology Oleh John W. Santrck
( Jakarta : Kencana Prenada Group, Edisi II ), Cet. II, h. 340.
33
Sri Esti Djiwandono, Psikologi Pendidikan…, h.168.
bagaimana la memusatkan perhatian, bagaimana ia belajar, bagaimana menggali
ingatan, bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki, bagaimana
berpikir menggunakan konsep, kaidah, pengetahuan yang dimiliki yang
merupakan satu perangkat kemahiran yang terorganisasikan dengan baik dalam
menghadapi problem.
Adapun fase-fase jalur belajar metakognitif adalah sebagai berikut:
a. Fase Motivasi, yaitu untuk mendapat motivasi siswa harus memeras
otaknya sendiri. Jika motivasi lemah, anak akan membiarkan problem
tetap menjadi problem dan terlalu susah untuk memikirkan.
b. Fase Konsentrasi, yaitu anak harus mengamati dengan cermat, jika
penyelesaian masalah memerlukan pengamatan.
c. Fase Pengolahan, yaitu anak harus menggali ingatannya terhadap siasat
yang pernah digunakan untuk mengatasi hal serupa, yang cocok untuk
suatu problem. Jika siasat dalam ingatan tidak tersedia, la harus
menciptakan siasat baru dengan menggunakan kreativitas dan pikiran
terarah.
d. Fase Umpan Balik, yaitu konfirmasi tepat tidaknya penyelesaian yang
ditempuh. Konfirmasi ini dapat meningkatkan dan melemahkan motivasi
anak untuk memeras otak lagi pada kesempatan yang akan datang.34
Para pendidik seharusnya mengajarkan pengetahuan tentang metakognitif,
agar siswa mampu berfikir secara efektif dan mampu mengatasi berbagai problem
yang dihadapinya, bukan hanya dalam masalah pelajaran tapi juga dalam
memecahkan masalah kehidupannya.
J.
Media Audio Visual
1. Pengertian Media
Media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti
“tengah” “perantara“ atau “pengantar“. Atau dengan kata lain media adalah
perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan.
sedangkan menurut istilah seperti yang telah didefinisikan oleh Gerlach & Ely
(1971) media adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi
34
Djaali, psikologi pendidikan… , h. 77.
yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau
sikap..35
Association For Education and Communication technology (AFEC)
memberi batasan tentang media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk
suatu proses penyaluran pesan atau informasi. 36
Dari
keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah semua alat yang
digunakan dalam proses pembelajaran untuk memudahkan siswa dalam
menerima informasi yang disampaikan oleh guru, sehingga proses pembelajaran
menjadi lebih menarik dan lebih efektif.
a. Media Jadi dan Media Rancang
Ditinjau dari kesiapan pengadaannya, media dikelompokkan
menjadi dua jenis yakni, media jadi dan media rancangan. Media jadi ialah
media yang sudah merupakan komoditi perdagangan dan terdapat di pasaran
luas dalam keadaan siap pakai (media by utilization), sedangkan media
rancangan ialah media yang perlu dirancang dan dipersiapkan secara khusus
untuk maksud atau tujuan pembelajaran tertentu (media by design).
Masing-masing jenis media ini mempunyai kelebihan dan
keterbatasan. Kelebihan dari media jadi adalah hemat dalam waktu, tenaga
dan biaya untuk pengadaannya. Namun kecil kemungkinan mendapatkan
media jadi yang dapat sepenuhnya sesuai dengan tujuan atau kebutuhan
pembelajaran setempat. Sedangkan kelebihan media rancang adalah lebih
sesuai dengan tujuan atau kebutuhan pembelajaran setempat. Namun media
yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan tertentu akan
memeras banyak waktu, tenaga maupun biaya karena untuk mendapatkan
keandalan dan kesahihannya diperlukan serangkaian kegiatan validasi
prototipenya.37
b. Fungsi Media pembelajaran
35
Pupuh Fathurohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung : PT Refika
Aditama, 2007), Cet. I, h. 65.
36
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005), h. 3-5
37
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, ( Jakarta: Ciputat Pres, 2002),
h. 124.
Kegiatan
belajar
mengajar
dikelas
merupakan
suatu
dunia
komunikasi tersendiri dimana guru dan siswa bertukar pikiran untuk
mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering timbul dan
terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak
efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh adanya kecendrungan
verbalisme.
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah dengan
menggunakan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar,
karena fungsi media dalam kegiatan tersebut disamping sebagai penyaji
stimulus, informasi, sikap dan lain-lain, media juga meningkatkan keserasian
dalam menerima informasi.
Fungsi media dalam proses belajar mengajar mempunyai nilai-nilai
praktis sebagai berikut :
1. Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang
dimiliki siswa atau mahasiswa. Pengalaman masing-masing individu
yang beragam karena kehidupan keluarga dan masyarakat sangat
menentukan macam pengalaman yang dimiliki mereka. Dalam hal ini
media dapat mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut.
2. Media dapat mengatasi ruang kelas. Banyak hal yang sukar untuk
dialami secara langsung oleh siswa / mahasiswa di dalam kelas,
seperti : objek yang terlalu besar atau terlalu kecil, gerakan-gerakan
yang diamati telalu cepat / lambat. Maka dengan melalui media akan
dapat diatasi kesukaran-kesukaran tersebut.
3. Media memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan
lingkungan. Gejala fisik dan sosial dapat diajak berkomunikasi
dengannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan
realistis. Penggunaan media seperti gambar, film, model, grafik dan
lainnya dapat memberikan konsep dasar yang benar.
6. Media dapat membangkitkan keinginan dan minat dan minat yang
baru.
7. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk
belajar. Pemasangan gambar di papan bulletin pemutaran film dan
mendengarkan program audio dapat menimbulkan rangsangan tertentu
kearah keinginan untuk belajar.
8. Media dapat memberikan pengalaman yang integral dari suatu yang
konkrit sampai yang abstrak. Sebuah film tentang suatu benda atau
kejadian yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh siswa, akan
dapat memberikan gambaran konkrit tentang wujud, ukuran, dan
lokasi.
c. Krucut Pengalaman
Edgar Dale mengklasifikasi pengalaman belajar anak mulai dari halhal yang paling kongkrit sampai kepada hal-hal yang paling abstrak
klasifikasi tersebut diikuti secara luas oleh kalangan pendidik dalam
menentukan alat bantu apa yang seharusnya digunakan dan sesuai dengan
pengalaman belajar tertentu. Klasifikasi pengalaman tersebut dikenal dengan
krucut pengalaman. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini.
Abstrak
Kongkret
Gambar 5 Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Dari gambar diatas terlihat bahwa krucut pengalaman terdiri dari 9
macam klasifikasi media pengajaran yang digunakan, diantaranya. 38
1. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling
bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam
pengalaman itu, oleh karena ia melibatkan indera penglihatan,
pendengaran dan perasaan penciumandan peraba. Ini dikenal dengan
learning by doing. Di sini siswa secara aktif bekerja sendiri,
memecahkan masalah sendiri yang kesemuanya didasarkan atas
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
38
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran…, h. 10.
2. Pengalaman tiruan, pengalaman ini diperoleh melalui benda atau
kejadian-kejadian tiruan yang hampir sama dengan benda atau
kejadian-kejadian yang sesungguhnya, seperti proses mengkafani
orang yang meninggal dengan menggunakan boneka manusia.
3. Pengalaman melalui dramatisasi, pengalaman semacam ini diperoleh
dalam bentuk derama dari berbagai gerakan. Dramatisasi ini dapat
dilakukan dipanggung, pertunjukan sejarah setempat yang dilakukan
ditempat terbuka, sandiwara bisu atau pantomin, sandiwara yang
terdiri
dari
boneka-boneka
yang
diberi
pakaian,
drama
kemasyarakatan, atau bermain peran.
4. Pengalaman melalui karya wisata, pengalaman semacam ini
diperoleh dengan mengajak siswa ke objek diluar kelas dengan
maksud memperkaya dan memperluas pengalaman siswa, siswa aktif
melakukan observasi, mencatat, melakukan tanya jawab, membuat
laporan dan lain-lain.
5. Pengalaman melalui televisi, pengalaman ini diperoleh melalui
program pendidikan yang ditayangkan melalui televisi, seperti
program acara anak-anak yang diasuh oleh kak setomulyadi.
6. Pengalaman melalui gambar hidup atau film, gambar hidup
merupakan rangkaian gambar- gambar yang diproyeksikan kelayar
dengan kecepatan tertentu, bergerak secara kontinue sehingga
menghasilkan gerakan gambar yang normal dari apa yang
diproyeksikan.
7. Pengalaman melalui radio, pengalaman ini diperoleh melalui siaran
radio dalam bentuk ceramah, wawancara, sandiwara dan lain
sebagainya.
8. Pengalaman melaui gambar, pengalaman ini diperoleh melalui segala
sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi
sebagai curahan perasaan dan pikiran, misalnya lukisan ilustrasi,
karikatur, kartun, poster, dan slide.
9. Pengalaman melalui lambang kata, pengalaman seperti ini diperoleh
melalui buku atau bahan bacaan 39
Dari krucut yang disampaikan oleh Edgar Dale dapat diketahui hasil
pengalaman belajar anak mulai dari hal-hal yang paling kongkrit sampai
kepada hal-hal yang paling abstrak. Semakin abstarak suatu pembelajaran
maka tingkat pemahamannya juga akan semakin sedikit dan begitu pula
sebaliknya.
Berdasarkan krucut pengalaman belajar Edgar Dale ini, dapat
dijadikan acun bagi para guru dalam memanfaatkan media pembelajaran.
d. Faktor-Faktor Yang Perlu Di Perhatikan Dalam Memilih Media
Pembelajaran.
Agar media pengajaran yang dipilih itu tepat, ada beberapa faktor
dan kriteria yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Objektivitas
Da
lam memilih media pembelajaran guru harus objektif. Guru tidak
boleh memilih media berdasarkan kesenangan pribadinya. Apabila
secara objektif, berdasarkan hasil penelitian atau percobaan, suatu
media pengajaran menunjukkan keefektifan dan efisiensi yang tinggi,
maka
guru
jangan
merasa
bosan
menggunakannya.
Untuk
menghindari pengaruh unsur subjektivitas guru, alangkah baiknya
apabila dalarn memilih media pengajaran itu guru meminta pandangan
atau saran dari teman sejawat, atau melibatkan siswa.
2. Program Pengajaran
Progra
m pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai
dengan kurikulum yang berlaku, baik isinya, strukturnya, maupun
kedalamannya. Meskipun secara teknis program itu sangat baik, jika tidak
sesuai dengan kurikulum ia tidak akan banyak rnernbawa manfaat,
bahkan mungkin hanya menambah beban, baik bagi anak didik maupun
bagi guru di samping akan membuang-buang waktu, tenaga dan biaya.
39
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran.., h. 22-24
3. Sasaran Program
Sasaran program yang dimaksud adalah anak didik yang akan
menerima informasi pengajaran melalui media pengajaran. Pada tingkat
usia tertentu dan dalam kondisi tertentu anak didik mempunyai
kemampuan tertentu pula, baik cara berpikirnya, daya imajinasinya,
kebutuhannya, maupun daya tahan dalam belajarnya. Untuk itu maka
media yang akan digunakan harus dilihat kesesuaiannya dengan tingkat
perkembangan anak didik, baik dari segi bahasa, simbol-sirnbol yang
digunakan,
cara
dan
kecepatan
penyajiannya,
ataupun
waktu
penggunaannya.
4. Situasi dan Kondisi
Situasi dan kondisi yang ada juga perlu mendapat perhatian dalam
menentukan pilihan media pengajaran yang akan digunakan.
Situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan
dipergunakan, seperti ukurannya, perlengkapannya, ventilasi udara dan
pencahayaannya.
Situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran
mengenai jumlahnya, motivasi dan kegairahannya. Anak didik yang
sudah melakukan praktek yang berat, seperti praktek olah raga, biasanya
kegairahan belajarnya sangat menurun.
5. Kualitas Teknik
Dari segi teknik, media pengajaran yang akan digunakan perlu
diperhatikan, apakah sudah memenuhi syarat. Barangkali ada rekarnan
audionya atau gambar-gambar atau alat-alat bantunya yang kurang jelas
atau kurang lengkap, sehingga perlu penyempurnaan sebelum digunakan.
Suara atau gambar yang kurang jelas bukan saja tidak menarik, tetapi jugs
dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
6. Keefektifan Dan Efesiensi Penggunaan
Keefektifan berkenaan dengan hasil yang dicapai, sedangkan
efisiensi berkenaan dengan proses pencapaian hasil tersebut. Keefektifan
dalam penggunaan media meliputi apakah dengan menggunakan media
tersebut informasi pengajaran dapat diserap oleh anak didik dengan opti-
mal, sehingga menimbulkan perubahan tingkah lakunya. Sedangkan
efisiensi meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut waktu,
tenaga, dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut
sedikit mungkin. 40
2. Media Audio Visual
Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan
gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan
dengan media yang lain, karena media ini melibatkan indra penglihatan dan
pendengaran sekaligus dalam satu proses. Media audio visual dibagi menjadi
dua yaitu:
1.
Audio visual murni yaitu media yang memberikan unsur suara dan
gambar yang berasal dari satu sumber seperti film, dan video.
2.
Audio visual tidak murni yaitu media yang unsur suara dan unsur
gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai
suara yang unsur gambarnya bersumber dari tape recorder.41
3. Vidio
Video merupakan salah satu dari jenis media audio visual. Karena
video mampu menyampaikan materi pelajaran melalui gambar dan suara.
Video merupakan suatu system penyimpanan informasi yang berupa gambar
atau suara pada piringan (disk). Ada dua sistem yang dikembangkan dalam
vidio disc ini, yaitu sistem optical dan sistem capacitance.
Sistem optical adalah menggunakan laser untuk menjajaki informasi
encode electric yang direkam dipermukaan piringan, dan sistem capacitance
adalah penjajakan informasi gambar dan suara dengan menggunakan
tracking arm dan stylus sebagaimana layaknya pada turn table audio.42
a. Karakteristik Vidio
Vidio mempunyai beberapa karakteristik di antaranya adalah:
1. Mengatasi keterbatasan jarak dan waktu.
40
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, ( Jakarta: Rineka Cipta
2006), cet. III, h. 147.
41
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar…, h. 141.
42
Arif S. Sadiman, DKK, Media pendidikan…, 280.
2. Video dapat diulangi bila perlu untuk menambah kejelasan.
3. Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah di ingat.
4. Mengembangkan pikiran dan pendapat para siswa.
5. Mengembangkan imajinasi peserta didik.
6. Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang
lebih realistik.
7. Sangat kuat memengaruhi emosi seseorang.
8. Sangat baik menjelaskan suatu proses dan keterampilan, mampu
menunjukkan rangsangan yang sesuai dengan tujuan dan respon yang
diharapkan dari siswa.
9. Semua peserta didik dapat belajar dari video, baik yang pandai
maupun yang kurang pandai.
10. Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
11. Dengan video penampilan siswa dapat segera dilihat kembali untuk
dievaluasi.
b. Keuntungan Video
1. Video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar siswa ketika
mereka membaca, berdiskusi, berpraktik, dan lain-lain.
2. Video dapat menggambarkan suatu poses secara tepat yang dapat
disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu. Misalnya,
langkah dan cara-cara yang benar dalam berwudhu.
3. Video
mampu
membenagkitkan
motivasi belajar
siswa
dan
menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya. Misalnya, dalam
menyajikan proses berjangkitnya penyakit diare dapat membuat siswa
sadar terhadap pentingkan menjaga kebersihan makanan dan
lingkungan.
4. Video yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang
pernikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa. Bahkan video
seperti slogan yang sering didengar, dapat membawa dunia ke dalam
kelas.
5. Video dapat menyajikan peristiwa yang berbahaya bila dilihat secara
langsung seperti lahar gunung berapi atau perilaku binatang buas.
6. Video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau kelompok kecil,
kelompok yang heterogen, maupun perorangan.
7. Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar kecajian yang
dalarn kecepatan normal memakan waktu satu minggu atau lebih
dapat ditarnpilkan dalam satu atau dua menit saja, sebagaimana kejadian mekarnya kembang mulai dari lahirnya kuncup bunga hingga
kuncup itu mekar.
c. Keterbatasan Video
Video mempunyai beberapa keterbatasan diantaranya ialah pengadaan
video umumnya memerlukan biaya yang mahal dan waktu yang banyak,
pada saat video dipertunjukkan, gambar-gambar bergerak terus sehingga
tidak semua siswa mampu mengikuti informasi yang ingin di sampaikan
melalui video tersebut, dan video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan
kebutuhan dan tujuan pelajaran yang diinginkan, kecuali video tersebut
dirancang untuk kebutuhan sendiri.43
d. Pemanfaatan Video
Pemanfaatan
video
dalam
proses
pembelajaran
hendaknya
memperhatikan hal-hal berikut:
1. Program video harus dipilih agar sesuai dengan untuk hal-hal yang
menyangkut kemampuan mengenal kembali dan kemampuan
memberikan rangsangan berupa gerak yang serasi. Umpamanya,
pengamatan terhadap kecepatan relatif suatu objek atau benda yang
bergerak, penyimpangan dalam gerak interaksi antara objek dan
benda. Mengajarkan pengenalan makna sebuah konsep, seperti
konsep jujur, sabar, demokrasi, dan lain-lain. Di samping itu untuk
mengajarkan aturan dan prinsip, seperti aturan dan prinsip zakat,
waris, dan lain-lain.
2. Pemakaian video untuk tujuan psikomotor dapat digunakan untuk
memperlihatkan contoh keterampilan gerak, seperti gerakan shalat,
adab makan bersama, cara pengurusan mayat mayat, dan lain-lain.
Melalui media ini, siswa dapat langsung mendapat umpan balik
43
Azhar Arsyad, media pembelajaran…, h. 50.
secara
visual
terhadap
kemampuan
mereka
mencobakan
keterampilan yang menyangkut gerakan tadi.
3. Dengan menggunakan berbagai teknik dan efek, video dapat menjadi
media yang sangat ampuh untuk mempengaruhi sikap dan emosi.
4. Guru harus mengenal program video yang tersedia dan terlebih
dahulu melihatnya untuk mengetahui manfaatnya bagi pelajaran.
5. Sesudah program video dipertunjukkan, perlu diadakan diskusi, yang
juga perlu dipersiapkan sebelumnya. Di sini siswa melatih diri untuk
mencari pemecahan masalah, membuat dan menjawab pertanyaan.
6. Adakalanya program video tertentu perlu diputar dua kali
atau lebih untuk memperhatikan aspek-aspek tertentu.
7. Agar siswa tidak memandang program vidio sebagai media hiburan
belaka, sebelumnya perlu ditugaskan untuk memperhatikan bagianbagian tertentu.44
Berdasarkan kerangka teori yang penulis kemukakan diatas, kegiatan belajar
menurut teori kognitif bukan hanya sekedar hubungan antara stimulus dan respon
saja yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu kegiatan belajar juga melibatkan
proses berfikir yang sangat komplek yang ada didalam diri individu yang sedang
belajar.
Proses berpikir itu terjadi sebagai akibat dari adanya stimulus yang mengenai
salah satu panca indra atau semua indra, kemudia siswa merespon terhadap stimulus
tersebut dengan melakukan metakognitif semakin baik siswa melakukan proses
metakognitifnya maka akan semakin baik pula hasil belajar yang akan diperolehnya.
Stimulus yang baik adalah stimulus yang mampu melibatkan banyak penca
indra dalam proses pembelajaran, semakin banyak panca indra yang terlibat pada
saat belajar maka akan semaikin baik pula hasil belajar yang didapat, seperti yang
digambarkan oleh Edgar Dale dalam piramida pengalaman belajarnya.
Salahsatu media yang mengaktifkan banyak panca indra adalah media audio
44
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru, ( Jakarta: Gaung Persada
Press), cet.1, h. 127-128.
visual. Media ini mampu mengaktifkan indra penglihatan dan pendengaran sehingga
diharapkan mampu
membantu
siswa dalam
melakukan metakognitif dan
meningkatkan kualitas pembelajaran.
Proses metakognitif tidak dapat dilihat oleh kasad mata, Karena metakognitif
merupakan sesuatu yang abstrak dan berada dalam system kenerja otak manusia,
namun dapat diamati melalui tingkahlaku belajar siswa selama melakukan
pembelajaran dan sesudah melakukan pembelajaran, seperti memperhatikan,
memfokuskan pada kegiatan belajar dan umpan balik yang diberikan oleh siswa.
Efektivitas atau tidaknya pembelajaran pada penelitian ini dapat diketahui
dari hasil pencapaian rata-rata tes yang diberikan kepada siswa diteliti. Sedangkan
untuk mengetahui metakognitif yang dilakukan siswa dapat ketahui melalui hasil
wawancara dan observasi terhadap rekaman video yang direkam selama siswa
melakukan pembelajaran melalui media audio visual dengan menggunakan form
observasi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini akan menjelaskan tentang metodologi penelitian yang terdiri dari
lokasi dan waktu penelitian, metode penelitian, objek penelitian, teknik pengumpulan
data, dan teknik analisis data.
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian ini mengambil tempat di SMP Al Falah Bekasi.
Pemilihan tempat tersebut berdasarkan atas beberapa pertimbangan secara
akademis dan teknis yakni:
Pertama, secara akademis SMP Al Falah memiliki potensi untuk
menggunakan media audio visual, ini dilihat dari peralatan yang dimiliki oleh
SMP Al Falah seperti DVD Player, Telavisi 29 Inch, Speker aktif, dan ruang
serbaguna. namun guru Pendidikan Agama Islam di SMP Al Falah belum pernah
menggunakan media audio visual.
Kedua, secara teknis SMP Al Falah dekat dengan tempat tinggal peneliti
dan peneliti memiliki akses (teman) yang dapat memudahkan bagi peneliti untuk
melakukan penelitian.
Penelitian ini dilaksanakan selama semester ganjil tahun pelajaran 20102011 dimulai sejak bulan September 2010 sampai dengan Februari 2011 dengan
jadwal pelaksanan penelitian sebagai berikut:
Tabel 1
Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Waktu Pelaksanaan Kegiatan Penelitian
No. Kegiatan Penelitian
September
2010
Oktober
2010
November
2010
Desember
2010
Januari
2011
Februari
2011
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I
Pemantapan Bab I
2
Tinjauan Pustaka
3
Penyusunan Alat
Pengumpulan Data
4
Pelaksanaan
Pengumpulan Data
5
6
Triangulasi dan
verifikasi data
Pengolahan dan
Analisis Data
7
Penyusunan hasil
penelitian
8
Penyerahan Laporan
Penelitian
b. Metode Penelitian
Secara umum metode penelitian diartikan cara ilmiyah untuk mendapatkan
data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sedangkan penelitian itu sendiri sering
diartikan sebagai upaya dalam bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk
memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, dan sistematis
untuk mewujudkan kebenaran.45 Jadi metode penelitian adalah suatu cara atau
upaya untuk memperoleh fakta yang sistematis untuk mewujudkan suatu
kebenaran.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif kualitatif, yaitu metode penelitian yang berusaha membuat deskripsi
dari fenomena yang diselidiki dengan cara mengklasifikasikan karakteristik
fenomena tersebut secara faktual dan cermat, kemudian menuangkannya dalam
bentuk gambaran yang jelas dan akurat tentang fenomena yang diselidiki. Dengan
45
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, (Bandung:
Alfabeta, 2009), h 3.
kata lain tujuan penelitian deskristif digunakan untuk menjawab pertanyaan
tentang apa, dan bagaimana keadaan suatu penomena kemudian dituangkannya
kedalam bentuk jurnalistik.
Suharsimin Arikunto mengemukakan bahwa metode deskriptif merupakan
penelitian non hipotesis sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu
merumuskan hipotesis. 46
Penelitain kualitatif ini memberikan informasi yang mutakhir sehingga
bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta lebih banyak diterapkan
dalam berbagai masalah. Sedangkan penelitian ini lebih memfokuskan pada studi
kasus yang merupakan penelitian yang rinci mengenai suatu obyek tertentu
selama kurun waktu tertentu dengan cukup mendalam dan menyeluruh. Studi
kasus merupakan setrategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu
penelitian berkenaan dengan how atau why, yang bilamana fokus penelitiannya
terletak pada fenomena di dalam kontek kehidupan nyata.47
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
I.
Studi kepustakaan (library, reseach), yaitu penelitian yang dilakukan dengan
cara membaca, mempelajari, dan meneliti buku-buku, kitab-kitab, majalah,
Surat kabar, dan sumber lain yang berkaitan dengan tema Skripsi.
2.
Satudi lapangan (field reseach), yaitu penelitian ini dilakukan dengan cara
mengkaji data-data yang diperoleh dari SMP Al Falah Bekasi.
Dari segi penulisan, penulis berpedoman pada buku Panduan penulisan
Skripsi, yang telah diterbitkan oleh Tim Penyusun UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
c.
Subyek Penelitian
Penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
yang deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang diamati. 48 Dengan demikian dalam penelitian ini yang menjadi objek
penelitian adalah siswa SMP Al Falah kelas VII A dan VII B yang berjumlah 50
siswa, 25 siswa kelas
46
VII A
dan
25
siswa kelas VII B. Untuk
Suharsimin arikunto, Prosudur Penelitian (Jakarta: PT Rineka Cipta ). Cet. X, h. 76.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif…, h.35
48
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif…, h. 27.
47
mengetahui efektifitas pembelajaran dan metakognitif siswa penulis melakukan
praktek pembelajaran berbantuan media audio visual dan melakukan evaluasi
pembelajaran pada siswa tersebut.
d.
Teknik Pengumpulan Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penelitian ini di dapat dari
observasi dan wawancara. Informasi yang didapat dari observasi langsung,
catatan wawancara, vidio rekaman dalam proses pembelajaran. Informasi
tersebut dalam bentuk dokumen dan catatan pristiwa yang diolah menjadi
sumber data.
1.
Jenis dan sumber data
Prosudur pengambilan data penelitian menggunakan dua jenis data
yang dapat digolongkan sebagai berikut:
a.
Data Primer, yang dirnaksud dengan data primer disini adalah datadata pokok yang diperoleh dari pihak SMP Al Falah, Meliputi
wawancara terstruktur terhadap siswa, observasi terstruktur terhadap
rekaman kegiatan belajar dengan menggunakan form observasi.
b.
Data Sekunder. data sekunder yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah data pendukung yang diperoleh melalui studi kepustakaan,
wawancara tidak berstruktur yang dilakukan terhadap guru dan kepala
sekolah, observasi terhadap sarana dan prasarana, serta pola interaksi
sosial siswa.
2.
Cara Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
sebagai berikut:
a.
Observasi, yaitu dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya
dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan
yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering
dengan menggunakan bantuan alat yang canggih sehingga dapat
diobservasi dengan jelas, seperti proton dan elektron maupun benda
yang sangat jauh diluar angkasa. 49 pada penelitan ini peneliti
menggunakan observasi terstruktur yakni observasi yang telah
dirancang secara sistematis tentang apa yang diamati, kapan dan
bagaimana cara melaksanakannya.
50
Data dikumpulkan dengan cara
mempelajari media pembelajaran audio visual Kisah Nabi Yusuf AS,
kemudian peneliti melakukan observasi terhadap media tersebut,
peneliti
juga
melakukan
pencatatan
data
meliputi:
Pertama,
mempelajari media pembelajaran audio visual tersebut kemudian
mensesuaikannya dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Kedua, mengintegrasikan media tersebut dengan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dengan masing-masing alokasi waktu belajar.
Ketiga, melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan
media pembelajaran audio
visual. Observasi kegiatan belajar
menggunakan alat bantu rekaman
Hanydcam untuk memudahkan
peneliti dalam mengamati proses metakognitif siswa. observasi
terhadap rekaman kegiatan belajar ini dengan mengunakan form
observasi.
Peneliti juga melakukan observasi tidak berstruktur dengan cara
mengunjungi sekolah SMP Al FAlah Bekasi untuk melakukan praktek
mengajar dengan menggunakan media audio visual dalam rangka
mengetahui efektivitas pembelajaran berbantuan media audio visual, dan
mengetahui keadaan siswa/siswi serta gambaran umum SMP Al Falah
Bekasi. Selain itu Peneliti juga mengamati pola interaksi sosial antara
siswa dengan siswa, siswa terhadap guru dan guru terhadap guru serta
pelayanan yang sekolah berikan terhadap siswa.
b.
Dalam penelitian ini peneliti juga melakukan wawancara.
wawancara adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan
sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri
49
50
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif…, h. 310.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif…, h. 205.
utama dari wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka antar
pencari informasi (interviewer) dengan sumber informasi (interviewee).
Dalam penelitian ini peneliti melakukan tatap muka langsung untuk
memperoleh data skunder dan data primer. Untuk mendapatkan data
skunder peneliti memanfaatkan wawancara tidak berstruktur, Artinya,
wawancara yang dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan
secara lebih luas dan leluasa tanpa terikat oleh susunan pertanyaan yang
telah disiapkan sebelumnya. Biasanya pertanyaan muncul secara spontan
sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi ketika melakukan
wawancara tersebut. Dengan teknik ini di harapkan terjadi komunikasi
langsung, luwes, fleksibel dan terbuka, sehingga informasi yang didapat
lebih banyak dan luas. Wawancara ini dilakukan pada tanggal 3-5
November 2010, bertempat diruangan guru, kantor dan kepala sekolah.
Dipilihnya tempat tersebut karena cukup kondusif untuk melaksanakan
wawancara. Wawancara ini dilakukan terhadap kepala sekolah, guru
Pendidikan Agama Islam, guru Bahasa Inggris, siswa dan staf tata usaha.
Untuk memperoleh data primer peneliti melakukan wawancara
berstruktur, yaitu pertanyaan dan alternatif jawaban yang diberikan kepada
interviewee telah ditetapkan terlebih dahulu. Hal ini disebabkan
pertanyaan-pertanyaan yang dilakukan harus mengikuti daftar pertanyaan
yang telah disiapkan. Dengan kata Iain, peneliti menghindari kehilangan
arah agar jangan sampai terlibat jauh terhadap penjelasan informan yang
sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan penelitian. Wawancara
ini dilakukan pada tanggal 2 November 2010, bertempat diruangan
serbaguna SMP Al Falah terhadap beberapa siswa. dipilihnya tempat
tersebut karena dianggap cukup kondusif untuk melakukan wawancara.
c. Untuk mengetahui hasil penelitian efektifitas pembelajaran berbantuan
media audio visual maka dilakukan tes. Tes ialah seperangkat rangsangan
(Stimulus) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk
mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan skor atau
angka. Peneliti menggunakan tes objektif adalah suatu tes yang disusun
dimana setiap pertanyaan tes disediakan alternatif jawaban yang dapat
dipilih, dengan bentuk tes pilihan ganda (multipel choice items). Tes
pilihan ganda diberikan pada kelas yang akan diteliti. Soal dibuat
berdasarkan tingkatan kognitif yang disampaikan oleh Bunyamin S.
Bloom. Jumlah soal sebanyak 30, terdiri dari 5 soal untuk masing-masing
tingkatan kognitif. Dibuatnya soal berdasarkan tingkatan kognitif untuk
mengetahui efektifitas pembelajaran audio visual melalui meta kognitif.
d. Dokumentasi, merupakan kegiatan penelitian dengan mengamati berbagai
dokumen yang berkaitan dengan topik dan tujuan penelitian, teknik ini
sering disebut observasi historis. Dokumentasi merupakan suatu teknik
pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumendokumen, baik dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik. Dokumen
yang telah diperoleh kemudian dianalisi (diurai), dibandingkan dan
dipadukan, (sintesis) membentuk hasil kajian yang sistematis, terpadu, dan
utuh.
E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan dengan cara mencari
dan menyusun data secara sistematis data yang diperoleh melalui hasil
wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga dapat dengan
mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. 51
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan
diantaranya:
1. Pengumpulan informasi, melalui observasi, wawancara, hasil tes, dan rekaman
kegiatan belajar.
2. Reduksi,
langkah ini adalah untuk memilih informasi mana yang sesuai dan
tidak dengan masalah penelitian untuk kemudian dipelajari oleh peneliti.
51
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif dan kualitatif…, h. 334.
3. Penyajian, setelah informasi dipilih maka disajikan dalam bentuk deskripsi
ataupun tabel.
4. Tahap akhir adalah manarik kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang
lain.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.
Profil Informan
Profil informan dari penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, guru
bidang studi Pendidikan Agama islam. dan siswa-siswa kelas VII A dan VII B
SMP Al Falah. Informasi mengenai para informan dengan menggunakan nama
samaran untuk menjaga kode etik penelitian. Adapun para informannya adalah
sebagai berikut:
1. Bapak Hasan Basri, adalah informan yang menjabat sebagai kepala SMP Al
Falah. Bapak Hasan Basri berasal dari Pondok gede Bekasi, ia adalah salah
seorang putra pemilik yayasan Al Falah yaitu Bapak H. Saiman. Bapak
Hasan Basri telah menamatkan pendidikan Sarjana Pendidikan (S.Pd.). la
menjadi kepala sekolah SMP Al Falah sejak tahun 2000 sampai sekarang,
menggantikan kepala sekolah sebelumnya yakni Drs. Rahmat Efendi.
2. Ibu Nur Laila . Adalah informan yang merupakan guru bidang studi
Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas V11 A dan VII B. Ia berasal dari
Pondok Gede Bekasi. Ia telah menamatkan pendidikan Sarjana Pendidikan
Islam (S.Ag). ibu Nur Laila menjadi tenaga pengajar sejak tahun 2005
sampai sekarang.
3. Ibu suci lestari ST. Ia adalah informan yang merupakan guru bidang studi
B. inggris. Ia berasal dari Pondok Gede Bekasi. Ia
telah menamatkan
pendidikan Sarjana Teknik (ST) dan telah menjadi tenaga pengajar sejak
tahun 2006 sampai sekarang.
4. Muhammad Irfan, adalah informan siswa kelas VII A berasal dari Ujung
Aspal Pondok Gede Bekasi. la bersekolah di SMP Al Falah angkatan tahun
2010. la termasuk siswa yang berprestasi di sekolah. Kepribadiannya yang
santun serta rajin belajar ia dikenal baik terhadap guru dan teman satu
kelasnya.
5. Rahmat hidayat, ia adalah informan siswa kelas VII A berasal dari Pondok
Gede Bekasi. Ia bersekolah di SMP Al Falah angkatan tahun 2010. Ia
termasuk siswa cukup berprestasi di sekolah, kepribadiannya yang pendiam
dan bertanggung jawab, karena ia menjabat sebagai ketua kelas ia sering
berkomunikasi dengan para guru terutama wali kelasnya.
6. Dwi Sartika, adalah informan siswi kelas VII B berasal dari kota Tasik
Jawabarat, ia tinggal di pesantren yang letaknya tidak jauh dari sekolah. la
bersekolah di SMP Al Falah angkatan tahun 2010. Ia termasuk siswi
berprestasi di sekolah ia juga memiliki kepribadian yang santun dan
disenangi oleh para guru dan teman-temannya.
7. Muhammad Fikri, adalah informan siwa kelas VII B berasal Pondok Gede
Bekasi. la bersekolah di la bersekolah di SMP Al Falah angkatan tahun
2010, ia termasuk siswa yang cukup berprestasi di sekolah, sifatnya yang
suka membantu tanpa pamrih membuat ia cukup dikenal oleh guru dan siswa
disekolah.
8. Saipul anwar, adalah informan siswa kelas VII B. Ia berasal dari Pondok
Gede Bekasi. la bersekolah di SMP Al Falah angkatan tahun 2010. Ia
termasuk siswa berprestasi di sekolah ia juga memiliki prestasi dalam bidang
olahraga membuat ia cukup dikenal oleh para guru dan teman-temannya.
9. Herul, adalah informan siswa kelas VII A, ia berasal dari kota Tasik
Jawabarat, ia tinggal di pesantren yang letaknya tidak jauh dari sekolah. la
bersekolah di SMP Al Falah angkatan tahun 2010. Ia termasuk siswa
berprestasi di sekolah ia juga memiliki kepribadian yang santun dan
disenangi oleh para guru dan teman-temannya.
10. Zulfikar, ia adalah informan siswa kelas VII B, yang berasal dari Pondok
Gede Bekasi. Siswa tersebut mengalami gangguan penglihatan dan kurang
berprestasi. Ia terkenal dengan kepribadiannya yang ramah dan mudah
bergaul dengan siapa saja baik teman-temannya, para guru maupun peneliti.
Berikut ini adalah rangkuman daftar informan pada penelitian Efektifitas
Pembelajaran Media Audio Visual Melalui Metakognitif.
Tabel 2
Informan Penelitian
No
Nama
Jabatan
I
Hasan Basri
2
Nur Laila
3
Suci Lestari
Kepala sekolah
Pendidikan
Sarjana Pendidikan(S.Pd)
Daerah Asal
Pondok gede
Sarjana Pendidikan Islam
Guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) (S.Ag)
(S.Pd. I Teknik
)
Guru B. inggris
Sarjana
(ST)
Pondok Gede
4 Muhammad irfan
Siswa
Kelas VII. A
Pondok Gede
5 Rahmat hidayat
Siswa/ketua kelas
Kelas VII. A
Pondok Gede
6 Dewi sartika
Siswa
Kelas VII. B
Tasik
7 Muhammad fikri
Siswa
Kelas VII. B
Pondok Gede
8 Saiful anwar
Siswa
Kelas VII. B
Pondok Gede
9 Herul
Siswa
Kelas VII. A
Tasik
10 Zulfikar
Siswa
Kelas VII. B
Pondok Gede
Pondok Gede
Demikianlah daftar tabel yang menjadi informan penelitian, dalam rangka
melengkapi informasi dan data-data dalam penulisan skripsi ini.
B. Hubungan Sosial
Yang dimaksud hubungan sosial ini adalah interaksi sosial yang terjalin
antara guru dan siswa di SMP Al Falah. Hubungan sosial ini dibagi menjadi empat
bagian yaitu : hubungan sosial guru dengan sesama guru, hubungan sosial siswa
dengan guru, hubungan sosial siswa dengan teman sebaya.
Perta
ma, hubungan sosial guru dengan guru. Hubungan sosial antara sesama guru terjalin
dengan baik, ini ditunjukkan dengan adanya saling tegur sapa dan komunikasi
antara sesama guru di sisa-sisa waktu mengajar, para guru juga membesuk bila ada
salah seorang guru yang sakit atau melahirkan.
Kedua, hubungan sosial siswa dengan guru. Hubungan sosial antara
guru dan siswa terlihat cukup baik, ini terlihat dari sikap hormat siswa terhadap
guru seperti bersalaman bila bertemu dengan salah seorang guru. Hubungan
sosial antara guru dan siswa terbagi menjadi dua bagian yakni hubungan sosial
formal yang diwujudkan dalam bentuk pembelajaran didalam kelas dan
hubungan sosial nonformal yakni tegursapa yang dilakukan guru terhadap siswa
di luar jam pembelajaran.
Ketiga, Hubungan sosial siswa dengan teman sebaya. Hubungan
sosial terhadap sesame siswa ini terjalin dengan baik, ini ditunjukkan dari
adanya tegursapa dan kegembiraan saat bersama dengan teman-temannya.
hubungan sosial ini terlihat lebih erat pada waktu kegiatan tour, pramuka,
perkemahan olahraga dan perlombaan-perlombaan.
C. Kondisi Sarana Dan Prasarana Pendidikan di SMP Al Falah
Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat
pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan. Sarana pendidikan ini berfungsi
untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas pembelajaran. seperti, bahan bacaan,
media pembelajaran, alat tulis dan komputer.
Sedangkan prasarana pendidikan adalah segala sesuatu yang merupakan
penunjang terselenggaranya proses pembelajaran. Prasarana pembelajaran dapat
berupa bangunan sekolah, tempat olahraga, masjid/ mushola, tempat berwudhu, WC
guru dan siswa, kantin, jalan dan transportasi yang menghubungkan antara
masyarakat dengan sekolah.
Penulisan sarana dan prasarana bertujuan untuk mengetahui apakah sarana
dan prasarana di SMP Al Falah mendukung dalam proses pembelajaran atau tidak.
“…Sarana dan prasaran di SMP Al Falah sudah cukup memadai untuk
penggunaan media pembelajaran, ada apa saja, bahan bacaan, media
pembelajaran, lab computer, OHP, VCD, peralatan musik, lapangan olahraga,
pokoknya lengkap dah ada apa saja, kamu lihat saja sendiri…”52
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap kepala sekolah, sarana
dan prasarana di SMP Al Falah adalah sebagai berikut.
Ruang kelas tempat siswa belajar berjumlah 6 kelas. Masing-masing ruangan
kelas dilengkapi dengan 30 set kursi dan meja, 1 set kursi dan meja guru, 1 set
papantulis white board, lampu 40 watt sebanyak 2 buah, 1 buah saklar serta colokan
listrik dan masing-masing kelas dilengkapi dengan jendela yang cukup besar
disebelah kanan dan kiri kelas untuk pencahayaan dan ventilasi udara.
Berdasarkan hasil observasi tentang kelas Di SMP Al Falah sudah cukup
memadai untuk pelaksanaan pembelajaran.
Untuk keberlangsungan pelayanan akademik dan administrasi, sekolah SMP
Al Falah memiliki 3 ruangan dan masing-masing ruangan terpisah. Pertama ruang
kantor yang diisi oleh 3 staf yaitu : Tata usaha (TU), kesiswaan dan kurikulum.
Adapun pelayanan yang dilakukan adalah oleh stap petugas kantor yakni pelayanan
pembayaran SPP, gaji para guru dan petugas sekolah, penjadwalan proses
pembelajaran, absensi, surat menyurat, bimbingan konseling dan evaluasi hasil
belajar. Fasilitas di ruang kantor terdiri dari 3 set computer, 3 set bangku dan meja,
3 lemari File, 2 set kipas angin, dan 1 dispenser. Kedua ruang kepala sekolah
sekaligus merangkap menjadi ruang tamu, fasilitas di ruang kepala sekolah 1 set
computer, 5 set bangku dan 2 meja tamu, 3 lemari File, 1 set kipas angin, dan 1
kulkas. ketiga ruangan untuk para guru 10 set bangku dan I meja besar, 10 lemari
untuk guru, 1 buah cermin, 1 dispenser dan I televisi.
Berdasarkan hasil observasi tentang ruangan para guru dan administrasi di
SMP Al Falah sudah cukup memadai untuk pelaksanaan administrasi.
52
Hasil wawancara dengan informan kepala SMP Al Falah pada tanggal 29 Oktober 2010.
Prasarana lain yang dimiliki oleh SMP Al Falah adalah ruang serbaguna.
Kondisi gedung serbaguna SMP Al Falah mempunyai panjang 15 M dan lebar 9 M,
maka luas gedung serbaguna tersebut adalah 135 M2. Keadaan gedung serbaguna
terdiri dari 2 pintu keluar masuk, 1 buah kamar kecil, 3 buah ventilasi cahaya dan
udara di sebelah kanan dan sebelah kiri, tiga lampu neon 40 watt, Televisi 29 inchi,
1 DVD player, speker aktif, dan 1 set peratan musik.
Sekolah juga mempunyai beberapa peralatan media pembelajaran yang
disimpan di kantor, di antaranya, peralatan olahraga, alat peraga matematika, patung
organ tubuh bagaian dalam manusia, kerangka tengkorak manusia, bola dunia, OHP,
dam mikroskop.
Kebanyakan dari peralatan media yang ada di SMP Al Falah nampak sangat
jarang digunakan oleh para guru dan masih kurang dalam perawatan. Hal ini dapat
diketahui dari banyaknya debu yang menempel pada peralatan media pembelajaran
tersebut sehingga menyebabkan para guru enggan untuk menggunakan peralatan
media tersebut karena berdebu.
Berdasarkan sarana dan prasarana diatas menunjukkan bahwa peralatan
untuk pemanfaatan media pembelajaran telah disediakan oleh pihak sekolah, namun
sangat disayangkan belum dimanfaat secara maksimal oleh guru Pendidikan Agama
Islam dengan alasan tidak tidak adanya biaya untuk membeli dan tidak sempat
merancang media. Seperti yang peneliti kutip pada hasil wawancara terhadap guru
Pendidikan Agama Islam.
“…Ya, selama mengajar PAI saya belum pernah menggunakan media
pelajaran, kalau saya harus membeli harus media pakai uang pribadi, gajinya saja
sudah habis hanya untuk ongkos, kalau saya harus merancang tidak sempat karena
saya perempuan jadi kalau sudah pulang kerumah sibuk dengan urusan rumah
tangga… “53
Untuk lebih jelasnya mengenai sarana dan prasarana di SMP Al Falah,
penulis menggambarkannya pada tabel dibawah ini.
Tabel 3
53
Hasil wawancara dengan informan Guru PAI kelas VII SMP Al Falah pada tanggal 29
Oktober 2010.
Sarana Dan Prasarana
NO
JENIS BARANG
A
1
2
3
4
LAHAN
Lahan Terbangun
Lahan Terbuka
Lahan Krg. Praktik
Lahan Pengembang
B
1
A
B
C
D
E
F
G
RUANG
RUANG PENDIDIKAN
Ruang Teori/Kelas
5
Ruang Lab IPA
Ruang Lab Komputer
1
Ruang Olahraga
Ruang Perpustakaan
1
Ruang Kesenian
1
Ruang Serbaguna
-
2
A
B
C
RUANG ADM
Ruang Kep Sek
Ruang Guru
Ruang TU
3
A
B
C
D
E
JML
WAS (M2)/
KEPEMILIKAN
KEADAAN
1.500 M2
1.500 M2
1.500 M2
2.190 m2
Milik
Milik
Milik
Milik
Baik
Baik
Baik
Baik
7x9M
14 x 7 M
7x9M
25 x 14 M
4x4M
4x4M
15 X 9 M
Milik
Milik
Milik
Baik
Rusak
Baik
Milik
Milik
Milik
Ringan
Rusak
Baik
Baik
1
1
1
3x7M
3x7M
4x4M
Milik
Milik
Milik
Baik
Baik
Baik
RUANG PENUNJANG
Ruag Ibadah
Ruang OSIS
Ruang BP/BK
WC
UKS
1
3
-
14 x 7 M
Milik
Baik
3x3M
2x2M
Milik
Milik
Baik
Baik
C
1
2
3
4
5
6
7
8
9
ALAT DAN MEDIA
Alat Peraga Olahraga
Alat Peraga MTK
Alat Peraga KTK
DVD Player
TV 29 Inch
Salon Aktif
Alat Peraga Fisika
OHP
Alat Peraga Biologi
2
1
2
1
1
1
1
1
1
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Milik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
D
BUKU
1
1
PEMBAGIAN
1
2
3
Buku Pelajaran
Pelajaran Pelengkap
Buku Bacaan
16
130
Semua
Milik
Milik
Rusak
baik
Secara umum saran dan prasarana di SMP Al Falah dapat dikatakan telah
cukup memadai, karena telah didukung dengan peralatan yang cukup modern.
D. Pelaksanaan Pembelajaran Berbantuan Media Audio Visual
Dalam pelaksanaan pembelajaran berbantuan media audio visual. penulis
membagainya menjadi dua bagian yakni persiapan, pelaksanaan dan evaluasi.
Pertama Persiapan, penulis melakukan persiapan sebelum pembelajaran
berbantuan media audio visual dilaksanakan. Persiapan ini dilakukan oleh
penulis agar pelakanaan pembelajaran berbantuan media audio visual berjalan
dengan efektif, inovativ menyenangkan, dan tercapainya tujuan pembelajaran.
Adapun persiapan yang dilakukan seperti melakukan observasi terhadap vidio
Kisah Nabi Yusuf AS. Adapun hasil observasi terhadap vidio Kisah Nabi Yusuf
AS adalah sebagai berikut :
Durasi vidio ini selama 35 menit, vidio ini menceritakan bagaimana
kisah kehidupan Nabi Yusuf AS, sejak masa kecil hingga dewasa. Banyak
hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini, karena sejak ia masih
kanak-kanak sampai dewasa banyak mengalami cobaan yang sangat berat
namun dengan kesabarannya dan keyakinannya kepada Allah Nabi Yusuf AS
berhasil melewati ujian tersebut dan pada akhirnya karena kesabarannya tersebut
beliau akhirnya meraih kedudukan yang mulia di sisi Allah dan manusia. Secara
garis besar cerita ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1.
Masa kecil nabi yusuf AS (12 menit )
Pa
da massa kecilnya ini mengisahkan tentang mimpi Nabi Yusuf AS,
bagaimana sikap ayahnya terhadapnya, dan rasa dengki saudara-saudaranya
terhadapnya sehingga karena rasa kedengkiannya tersebut nabi yusuf
dibuang kesumur dan dipisahkan dari keluarganya sampai akhirnya ia
dijadikan budak dan dibeli oleh seorang raja mesir.
2.
Masa Remaja Nabi Yusuf AS (12 menit )
Ke
tika nabi yusuf beranjak dewasa ia tumbuh semakin tampan sehingga banyak
menarik perhatian para wanita, terutama istri raja yang bernama dzulaikha,
sehingga pada akhirnya dzulaikha tidak mampu lagi menahan nafsunya dan
ia mengajak yusuf untuk berbuat selingkuh, namun karena keimanannya
kepada Allah yusuf menolak ajakan tersebut. Karena penolakannya tersebut
yusuf dipenjara atas tuduhan telah mengajak istri raja untuk berbuat
selingkuh. Namun didalarn penjara yusuf justru tumbuh semakin dewasa dan
mempunyai keimanan yang semakin baik. Didalam penjara juga Nabi Yusuf
AS mampu menafsirkan mimpi dari salah seorang penghuni penjara dengan
keakuratan mimpi 100%.
3.
Masa Dewasa (15 menit )
Se
telah melewati banyak cobaan akhirnya sampailah nabi yusuf pada masamasa kebahagiaan, hal ini dimulai sejak raja bermimpi dan tidak ada
seorangpun yang mampu menafsirkan mimpi raja tersebut kecuali Nabi
Yusuf AS, tidak hanya itu nabi yusuf juga mampu memberi solusi atas
permasalahan yang dihadapi Negara mesir tersebut. Karena kecerdasannya
itulah beliau diangkat menjadi seorang mentri dan mengemban amanat untuk
mengatasi kelaparan yang dihadapi rakyat mesir, kelaparan tersebut juga
mengenai keluarganya yang berada jauh dari negeri mesir yang Kemudian
membeli makanan kepada Nabi Yusuf AS. sehingga pada akhirnya nabi
yusuf dapat berkumpul lagi dengan keluarganya.
Dari hasil observasi video Nabi Yusuf AS ini penulis menyimpulkan.
Nabi Yusuf AS merupakan seorang nabi yang sangat penyabar, cerdas dan
pemaaf. Walaupun ia mengalami ujian yang berat mulai dari dibuang kesumur
oleh saudara-saudaranya, diajak berjina, difitnah dan dipenjara namun ia
menerimanya dengan sabar dan terus berdoa memohon pertolongan kepada
Allah, ia yakin bahwa pada setiap pristiwa pasti ada hikmahnya. Karena
kesabarannya itu beliau akhirnya meraih kemuliaan disisi manusia dan Allah.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah nabi yusuf AS ini adalah :
a. Kita tidak boleh berbuat dengki karena perbuatan dengki bukan hanya
merusak diri orang yang mendengkiki tapi juga membahayakan bagi orang
yang didengkikan dan perbuatan dengki itu adalah perbuatan syaitan, dan
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.
b. Tidak boleh berbohong, karena sebaik-baiknya menutupi kebohongan pasti
akan ketahuan, dan ingatlah Allah itu maha mengetahui.
c. Hendaklah kita bersabar dan berdoa' ketika menghadapi cobaan/ kesulitan,
jangan berputus asa karena setelah menghadapi kesulitan kita akan menemui
kemudahan.
d. Hendaklah kita memiliki sifat pemaaf dan jangan memiliki sifat pendendam,
seperti yusuf yang telah memaafkan perbuatan saudara-saudaranya.
Kemudian penulis membuat Rancangan Proses Pembelajaran (RPP)
merupakan acuan guru sebelum proses kegiatan belajar mengajar dilaksanakan.
Dalam penelitian ini penulis membuat RPP yang disesuaikan dengan materi
pembelajaran. Adapun isi RPP tersebut terdiri dari : alokasi waktu, standar
kompetensi,
kompetensi
dasar,
indicator,
materi
pelajaran,
metode
pembelajaran, media pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian
hasil pembelajaran.
Setelah penulis melakukan observasi terhadap video dan membuat RPP,
penulis melakukan penulis perkenalan diri kepada siswa agar terjalin hubungan
emosi yang positif antara peneliti dan siswa. Dalam perkenalan ini juga peneliti
menjelaskan maksud dan tujuan dari diadakannya penelitian ini. Selain itu
penulis juga menyempatkan diri untuk melakukan pengecekan terhadap fasilitas
pendukung untuk pelaksanaan pembelajaran berbantuan media audio visual,
seperti DVD Player, televisi dan kondisi ruangan. Ini bertujuan untuk
mengantisipasi hal-hal yang tidak dinginkan agar tidak ada halangan pada waktu
pelaksanaan pembelajaran berbantuan media audio visual.
Kedua pelaksanaan. Pada tanggal 14 November kegiatan pembelajaran
berbantuan media audio visual dilaksanakan. Dari awal sampai akhir
pembelajaran direkam oleh teman penulis yang bernama Muhammad Arbi
dengan menggunakan handycam agar dapat sumber data dokumentasi serta
memudahkan penulis dalam
mengikuti pembelajaran.
mengamati semua tingkah laku siswa selama
Waktu pelaksanaan pembelajaran berbantuan media audio visual pada
pagi hari pukul 08 : 00 Wib S/d pukul 09 : 30 Wib. Bertempat di gedung
serbaguna SMP Al Falah, keadaan gedung serbaguna seperti yang telah
dijelaskan
pada
bagian
sarana
dan
prasarana.
Sebelum
pelaksanaan
pembelajaran berbantuan media audio visual dilaksanakan, Siswa kelas VII A
yang berjumlah 25 siswa dan VII B yang berjumlah 25 siswa digabungkan
menjadi 50 siswa. Memang ini bukan kondisi ideal dalam memanfaatkan media
pembelajaran hal ini dilakukan karena untuk mengefisienkan waktu dan tenaga
serta waktu yang dibutuhkan untuk pembelajaran berbantuan media audio visual
tercukupi.
Kedua pelaksanaan. Setelah siswa berkumpul, penulis melakukan
strategi pembelajaran yang telah terkonsep dalam Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran ( RPP ) seperti memberikan salam, melakukan absensi,
menjelaskan indikator pembelajaran yang akan dicapai, memberikan pretest
untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa tentang kisah Nabi Yusuf AS,
menjelaskan langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan oleh guru dan siswa
seperti melihat video dan berdiskusi. Setelah siswa mengerti tentang langkahlangkah pembelajaran dan indikator yang akan dicapai, baru kemudian
pembelajaran berbantuan media audio visual pada pelajaran Pendidikan Agama
Islam tentang kisah Nabi Yusuf AS disampaikan.
Pada saat pelaksanaan penayangan video tentang kisah Nabi Yusuf AS,
para siswa menunjukkan beberapa kegiatan diantaranya melihat vidio tentang
kisah Nabi Yusuf AS, berdiskusi, dan mengerjakan soal. Selama proses
pembelajaran siswa nampak sangat termotivasi dan merespon dengan baik
terhadap tayangan video tersebut. Hal ini dikarenakan dengan menayangkan
video kisah Nabi Yusuf AS merupakan hal yang baru bagi siswa.
“…Saya senang melihat video ini, ini baru pertama kali saya belajar
seperti ini, biasanya kisah Nabi yusuf itu hanya diceritakan saja…”54
“…Saya senang belajar dengan menggunakan media audio visual, lebih
jelas, kalau ceramah kurang jelas dan tidak enak…”.55
54
2010.
Hasil wawancara dengan informan siswa kelas VII SMP Al Falah pada tanggal 14 Oktober
Ternyata selama ini guru PAI dalam menagajarkan kisah para nabi hanya
dengan menceritakannya saja tanpa menggunakan media pembelajaran sehingga
tingkat pemahaman siswa masih rendah, motivasi belajar siswa menjadi
berkurang, dan cenderung terjadi verbalisme.
“ …Selama mengajar saya belum pernah menggunakan media
pembelajaran, kalau saya harus membeli harus pakai uang pribadi, gajinya saja
sudah habis hanya untuk ongkos, kalau saya harus merancang tidak sempat
karena saya perempuan jadi kalau sudah pulang kerumah sibuk dengan urusan
rumah tangga. Untuk pelajaran yang memerlukan paraktek ya.. saya
peraktekkan saja, sedangkan untuk yang cerita ya.. saya ceritakan saja apa
yang ada dibuku…”.56
Pada pertengahan waktu penayangan video penulis menghentikan
tayangan video tersebut, lalu memberikan pertanyaan kepada siswa tentang apa
mimpi dari Nabi Yusuf dan apa arti mimpinya tersebut ?... Kemudian salah
seorang siswa menjawab.
“ Nabi yusuf bermimpi sebelas bintang, matahari dan bulan bersujud
kepadanya artinya sebelas bintang itu adalah saudaranya sedangkan bulan dan
matahari adalah ayah dan ibunya mereka semuanya bersujud kepada nabi
yusuf. Ini merupakan isyarat bahwa ia akan menjadi seorang nabi ”.57
Dari jawaban siswa menunjukkan mereka mampu menjawab dan
mengingat tayangan vidio kisah Nabi Yusuf AS dengan baik. Setelah itu
pemutaran video dilanjutkan kembali.
Setelah penayangan video kisah Nabi Yusuf AS selesai, siswa dibagi
menjadi
enam
kelompok.
Dalam
pembentukan
kelompok
penulis
mengkoordinasi kesulitan dalam melakukan koordinasi, karena siswa belum
terbiasa dalam berdiskusi. Ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan oleh
para guru masih kurang bervariatif.
Dalam berdiskusi setiap kelompok memberikan satu pertanyaan. Setiap
pertanyaan dibacakan dan dipersilakan kepada setiap kelompok untuk
55
Hasil wawancara dengan informan siswa kelas VII SMP Al Falah pada tanggal 14
Oktober 2010.
56
Hasil wawancara dengan informan Guru PAI kelas VII SMP Al Falah pada tanggal 29
Oktober 2010.
57
Salah satu jawaban yang disampaikan oleh informan pada waktu peneliti bertanya tentang
mimpi dan tafsir mimpi Nabi Yusuf AS.
memberikan menjawabnya. Yang berhak menjawab pertanyaan hanyalah ketua
kelompok atau perwakilannya, sementara anggota kelompok hanyalah
memberikan ide tentang pertanyaan atau jawaban yang akan disampaikan oleh
ketua kelompok.
Setelah semua pertanyaan terjawab, masing-masing ketua
kelompok menyimpulkan hasil diskusi, diantara kesimpulan yang disampaikan
oleh anggota diskusi adalah :
“… Nabi yusuf adalah seorang nabi yang tampan, penyabar dan tidak
pendendam walaupun ia di ceburkan kesumur oleh saudara-saudaranya dan
difitnah oleh siti dzulaikha… “.58
“…Nabi Yusuf seorang nabi yang pemaaf, penyabar dan memiliki
keimanan yang teguh walaupun ia diajak berselingkuh dengan istri pejabat
yang cantik ia mampu menolaknya…”59
“…Nabi Yusuf itu orang yang berakhlak mulia, pemaaf, penyabar dan
tidak
pendendam
terhadap
perbautan
buruk
yang
telah
dilakukan
saudaranya…”60
“…nabi yusuf seorang nabi yang sangat tampan ian mengalami banyak
ujian yang berat dalam hidupnya, mulai dari dibuang oleh saudara-saudaranya,
menolak berjina, difitnah dan dipenjara namun ia menerimanya dengan
sabar…”61
Berdasarkan pada deskripsi tentang kegiatan pembelajaran berbantuan
media audio visual, menunjukkan bahwa telah terdapat keefektifan dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan media audiovisual.
E. Hasil Uji efektifitas pembelajaran
Setelah siswa selesai berdiskusi, kemudian penulis melakukan uji
efektifitas ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas hasil pembelajaran melalui
58
Salah satu kesimpulan hasil diskusi yang disampaikan oleh informan pada waktu
berdiskusi yang dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2010.
59
Salah satu kesimpulan hasil diskusi yang disampaikan oleh informan pada waktu
berdiskusi yang dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2010
60
Salah satu kesimpulan hasil diskusi yang disampaikan oleh informan pada waktu
berdiskusi yang dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober .
61
Salah satu kesimpulan hasil diskusi yang disampaikan oleh informan pada waktu
berdiskusi yang dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober
media audio visual. Uji efektifitas tersebut dilakukan dalam bentuk tes tertulis,
soal tersebut berjumlah 30 butir soal dalam bentuk pilihan ganda.
Soal ini diberikan setelah siswa melihat video dan berdiskusi. Selama
mengerjakan soal siswa tampak tenang, dan tidak ada yang mencontek ini dapat
dibuktikan melalui hasil rekaman handycam, setelah kurang lebih 25 menit
siswa telah selesai mengerjakan soal yang penulis berikan, kemudian jawaban
siswa di input kekomputer untuk di analisis atau dikoreksi. koreksian soal
pilihan ganda menggunakan program yang di buat oleh Bapak Sudibyo yaitu
Pengawas Pendidikan Kota Bekasi untuk SMP. Hasil belajar siswa dapat dilihat
pada tabel dibawah ini.
Tabel 4
Efektifitas Hasil Belajar Siswa
No. Urut
NAMA/KODE PESERTA
1
Abdurahman Haris
2
3
L/P
JAWABAN SISWA DAN HASIL PEMERIKSAAN
SKOR PG NILAI
CATATAN
L
CB-BC-A-ACA-CCADAD-CBAC--AAAAA
23
77
Tuntas
Adilla Nur Faizah
p
BCBCBABACABCCADADBCBACACAAAAA
30
100
Tuntas
Agus Tri Hendratno
L
CBCB-BABACAB--ADA--CBACACAAAAA
25
83
Tuntas
4
Ahmad Mushowwir
L
CBCBCBA-ACABCC-DADBCBACA-AAAA-
26
87
Tuntas
5
Ahmad Sofyan
L
CBCBCBABACAB-CADADBCBAC-CAAAAA
28
93
Tuntas
6
Ajeng Restu
L
CBCBCBABACABC-A-ADBCBACA-AAA--
25
83
Tuntas
7
Aldi Risaldin
L
CBCBCBA-ACABCC-DADBCBACACAAAAA
28
93
Tuntas
8
Andi A
L
CBCBCBABACAB-CADAD-CBACACAAAAA
28
93
Tuntas
9
Arif febrian
L
CBCBC--BAC---CADAD-CBACA--AA--
20
67
Tidak tuntas
10
As'ab taki
L
CBC--B-BA--B-CADAD-CBACA-A-A--
19
63
Tidak tuntas
11
Asep s
L
CBCBCBA-ACABCCA-AD-CBACA-AA-AA
25
83
Tuntas
12
Ayu kartika sari
P
CBCB-BA-ACAB--A-AD-CBACA-AAAA-
22
73
Tuntas
13
Deni
P
CBCB-BA-ACABCCADAD-CBACA-AAAAA
26
87
Tuntas
14
Dea avanda putri
L
CBCB-BA-A-----AD--B--ACA-AAA--
16
53
Tidak tuntas
15
Diah d. L
P
CBCBCBA-ACAB-CAD-D-C-ACACAA-AA
24
80
Tuntas
16
Dinda Zulfa W
P
CBCBCBABACAB--ADADBCB-CACAAAAA
27
90
Tuntas
17
Dwi Ayu Rosmalasari
P
CBCBCBABACAB--ADAD-CBACACAAAAA
27
90
Tuntas
18
Eka Yulianah
P
CBCB-BA-ACABCCA--D-CBACACAAAAA
25
83
Tuntas
19
Fadli Salam
L
CBC--B-BA--B-CADAD-CBACA-A-A--
19
63
Tidak tuntas
20
Hadi Muhamad
L
CBCBCBABACAB--ADADBCBA-A-A-AAA
25
83
Tuntas
21
Hamidah
P
CBCBCBAB-CABCCADADBCBACACAAAAA
29
97
Tuntas
22
Hilman Kadarusman
L
CBCBCBABACAB-CADAD--BACACAA-AA
26
87
Tuntas
23
Hilda Syarifah
P
CBCBCBABACAB-C-DADBC-A-ACA---A
23
77
Tuntas
24
Husain Mubarok
L
CBCBCBA-ACABCCADADBCBACACAAAAA
29
97
Tuntas
REKAPITULASI
REKAP.DLM (%)
25
Indriyani
P
CBCBCBA-ACABCCADADBCBA-ACAAAAA
28
93
Tuntas
26
Maryani
P
CBCBCBA-ACA--CADADBCBACACAAA--
27
Maulida Fitria
P
BCBCBABACABCCADADBCBACACAAAAA
25
83
Tuntas
30
100
Tuntas
28
Medi Sulastika
P
29
Mitha Y.A
P
CB-BCBA-ACABC-A-ADBCBACACAAAAA
26
87
Tuntas
CBCB--ABACAB--ADADBCBACACAAAAA
26
87
Tuntas
30
Muhamad Bustomi
31
Muhamad Irpan
L
CBCBCBABACAB-CADADBCBACACAAAAA
29
97
Tuntas
L
CBCBCBABACABC-A-ADBCBACA-AAA--
25
83
Tuntas
32
33
Muhamad Mukhlis
L
CBCBC-A-ACABCCA-AD-CBA----AAA-
21
70
Tuntas
Muhamad Ridwan
L
CBCBCBABACAB--ADADB-BACACA-A-A
25
83
Tuntas
34
Mulyana
L
CBCBCBABACABCCADADBCBACA-AAAAA
29
97
Tuntas
35
Neni
P
CBCBCBABA-AB-CAD--BCBACACAAAAA
26
87
Tuntas
36
Priyanti
P
CBCBCBA-ACABCCADADBCBACACAAAAA
29
97
Tuntas
37
Putri Ayu M
P
CB-BC-A-ACA-CCADAD-CBAC--AAAAA
23
77
Tuntas
38
Reza M
L
CBCBCBABACAB-CADADBCBACACAAAAA
29
97
Tuntas
39
Rizki Ardianti
P
CBCBCBA-ACABC-ADADBCBACACAAA-A
27
90
Tuntas
40
Rudayah
L
BCBCBABACABCCADADBCBACACAAAAA
30
100
Tuntas
41
Selvi Antika Sari
P
CBCB-BA-ACABCCA-AD-CBA-A-AAA--
22
73
Tuntas
42
Shella Irawan
P
CBCBCBABACAB-CADAD-CBACACAAAAA
28
93
Tuntas
43
Syifa Fauzia
P
CBCBCBABACAB-CADADBCBACACAAAAA
29
97
Tuntas
44
Tessa Mustikawati
P
CBCBCBABACAB-CADAD-CBACA-AA-AA
26
87
Tuntas
45
Tia Septiani
P
CBCBCBABACAB-CADAD-CBACACAAAAA
28
93.33
Tuntas
46
Tiara Eka Hasanah
P
BCBCBABACABCCADADBCBACACAAAAA
30
100
Tuntas
47
Valeria Alina
P
CBCB-BABACAB-CADAD-CBACACAAAAA
27
90
Tuntas
48
Vina Siti R.A
P
BCBCBABACABCCADADBCBACACAAAAA
30
100
Tuntas
49
Yolanda Septiani P
P
CBCB-BA-ACAB--ADAD-CB-CA-AAAAA
23
76.67
Tuntas
50
Zulfikar
L
C--B-BA-A----------C--CA-----A
9
30
Tidak tuntas
- Jumlah peserta ikut tes
: 50 siswa
JML.TOT.NIL.:
0
4250
- Jumlah yang tuntas
: 45 siswa
NIL.T.KECIL :
0.00
30.00
- Jumlah tidak tuntas
: 5 siswa
NIL.T.BESAR :
0.00
100.00
- Jumlah di atas rata
: 29 siswa
RATA-RATA
#DIV/0!
85.000
- Jumlah dibawah rata – rata
: 21 siswa
SIMPNG. BAKU :
#DIV/0!
13.355
- Jumlah peserta ikut tes
: 100 %
Jml.Tot. Siswa Kls.Ybs.: 50 siswa
- Jumlah yang tuntas
: 90%
- Jumlah yang tidaktuntas
: 10%
- Jumlah yang di atas rata
: 58%
- Jumlah yang dibawah rata
: 42%
:
Remidial Tugas
Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa 90 % siswa yang tuntas
belajar dengan menggunakan media audio visual dan 10 % siswa yang tidak
tuntas. Ini menunjukkan pembelajaran telah berjalan secara efektif.
Bagi siswa yang tidak tuntas peneliti mencari tahu apa penyebab dari
ketidak tuntasan siswa tersebut melalui pengamatan terhadap rekaman
Handycam kegiatan belajar dan wawancara terhadap Informan. Adapun hasil
pengamatan melalui handycam menunjukkan ada beberapa siswa yang terlihat
mengalami kesulitan dalam membaca, mendengar, dan tidak dapat duduk
dengan tenang, dan hasil wawancara terhadap informan adalah sebagai berikut:
“…Siswa yang bernama zulfikar mengalami gangguan penglihatan
sehingga ia tidak dapat melihat dari jarak jauh, lihat saja dari kacamatanya
yang tebal itu. Siswa yang bernama Dea mengalami gangguan pendengaran ia
tidak mampu mendengar dengan baik. Fadli salam, siswa tersebut mempunyai
IQ yang rendah( debil ), siswa pernah mengalami tidak naik kelas sebanyak dua
kali dan merasa kesulitan untuk memahami pelajaran. Arif pebrian siswa
tersebut mengidap penyakit autis, siswa suka berbuat sekehendak hatinya dan
sulit diatur, bila diatur dia akan mengamuk dan mengacaukan kegiatan belajar.
Pihak orang tuanya sudah diberi tahu bahwa anak ini mengalami autis dan
harus disekolahkan di Sekolah Luar Biasa, namun orang tuanya bilang “ tidak
apa-apa sekolah disini saja….”62
Kemudian penulis juga melakukan wawancara terhadap guru yang lain
yaitu guru B. inggris demi keakuratan informasi.
“…Zulfikar memang mengalami gangguan penglihatan sehingga ia
kurang mampu membaca apa lagi B. inggris,kalau saya suruh membaca ia
terlihat sangat kesulitan dan membacanya ditempo. Dea mengalami gangguan
pendengaran mungkin pendengarannya sudah rusak. Fadli salam, memang
anaknya kurang pandai, ia pernah tidak naik kelas, nilai ulangannya juga tidak
bagus. Arif pebrian sepertinya siswa tersebut gangguan emosi, suka mengamuk
pak didalam kelas kalau dia lagi kesel…”.63
Penulis juga melakukan wawancara terhadap zulfikar, salah seorang
siswa yang diduga mengalami rabun jarak jauh.
62
Hasil wawancara dengan informan Guru PAI kelas VII SMP Al Falah pada tanggal 29
Oktober 2010.
63
Hasil wawancara dengan informan Guru B. Inggris kelas VII SMP Al Falah pada tanggal 5
november 2010.
“…Saya memang mengalami rabun jauh pak, bila melihat dari jarak
jauh tulisan atau gambarnya menjadi pudar…”64
Berdasarkan hasil pengamatan melalui rekaman handycam dan
wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan menunjukkan bahwa
penyebab siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran itu karena adanya
beberapa faktor penghambat yang bersumber dari internal siswa sendiri seperti :
1.
Gangguan penglihatan seperti rabun jarak jauh sehingga siswa tidak dapat
melihat dengan jelas.
2.
Tingkat IQ yang rendah( debil ), siswa pernah mengalami tidak naik kelas
sebanyak dua kali dan merasa kesulitan untuk memahami pelajaran.
3.
Autis, siswa suka berbuat sekehendak hatinya dan sulit diatur, bila diatur
dia akan mengamuk dan mengacaukan kegiatan belajar .
4.
Gangguan pendengaran, siswa tidak dapat mendengar dengan jelas dan
baik.
Dari keterangan diatas tentang penyebab ketidak tuntasan siswa dalam
belajar menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran melalui media audio
visual dipengaruhi pula oleh faktor internal siswa.
F.
Pencapaian Tingkat Kognitif Siswa
Pencapaian tingkat kognitif siswa yang dimaksud adalah pencapaian
kognitif siswa dalam memahami pelajaran. Tingkatan kognitif ini berdasarkan
pada teori belajar kognitif yang disampaikan Benyamin S. Bloom.
Untuk mengetahui pencapaian tingkat kognitif ini siswa diberikan tes
tertulis. Soal tersebut berjumlah 30 butir soal dalam bentuk pilihan ganda. Soal
tersebut masing-masing terdiri dari 5 soal C1 ( ingatan ), 5 soal C2
(
pemahaman ) , 5 soal C3 ( Penerapan ), 5 soal C4 ( Analisis ), 5 soal C5
(
Sintesis ), dan 5 soal C6 ( Analisis ). Bobot nilai per butir soal adalah 1,
sehingga total nilai setiap tingkat kognitif adalah 5 (lima). Hasil uji kognitif
dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
64
Hasil wawancara dengan informan siswa kelas VII A SMP Al Falah pada tanggal 5
november 2010.
Tabel 5
Pencapaian Tingkat Kognitif Siswa
NO
NAMA SISWA
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
Abdurahman Haris
Adilla Nur Faizah
Agus Tri Hendratno
ahmad mushowwir
Ahmad Sofyan
Ajeng Restu
Aldi Risaldin
Andi a
Arif Febrian
As'ab Taki
Asep S
Ayu Kartika Sari
Dea Avanda Putri
Deni
Diah d. l
Dinda Zulfa w
Dwi Ayu Rosmalasari
Eka Yulianah
Fadli Salam
Hadi Muhamad
Hamidah
Hilman Darusman
Hilda Syarifah
Husain Mubarok
Indriyani
Maryani
Maulida Fitria
Medi Sulastika
Mitha Yanti
Muhamad Bustomi
Muhamad Irpan
Muhamad Mukhlis
Muhamad Ridwan
Mulyana
C1
4
5
4
4
5
5
5
5
4
3
5
5
5
3
5
5
5
4
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
TINGKAT KOGNITIF
C2 C3 C4 C5
4
4
3
4
5
5
5
5
5
4
4
4
5
4
5
4
4
5
5
5
5
4
4
4
5
5
5
4
5
4
4
5
3
3
3
4
4
3
3
3
4
5
3
4
3
4
3
3
5
3
4
4
2
3
3
2
3
5
3
4
5
4
4
5
5
4
4
4
5
5
2
5
3
4
3
4
5
3
4
4
5
4
5
5
4
4
5
4
3
4
3
4
5
5
4
5
4
5
5
4
4
4
5
3
5
5
5
5
3
4
5
4
4
3
5
4
5
5
5
5
4
4
4
5
3
4
3
3
4
4
5
4
5
4
5
5
C6
4
5
4
4
4
3
4
5
3
3
4
4
5
3
4
4
5
4
3
4
5
4
4
5
5
5
5
5
5
4
4
3
3
5
JUMLAHRATA-RATA
23
30
25
26
28
25
28
28
20
19
25
22
26
16
24
27
27
25
19
25
29
26
23
29
28
26
30
26
26
29
26
21
25
29
3.83
5.00
4.17
4.33
4.67
4.17
4.67
4.67
3.33
3.17
4.17
3.67
4.33
2.67
4.00
4.50
4.50
4.17
3.17
4.17
4.83
4.33
3.83
4.83
4.67
4.33
5.00
4.33
4.33
4.83
4.33
3.50
4.17
4.83
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
Neni
Priyanti
Putri ayu m
Reza M
Rizki Ardianti
Rudayah
Selvi Antika Sari
Shella Irawan
Syifa Fauzia
Tessa Mustikawati
Tia Septiani
Tiara Eka Hasanah
Valeria Alina
Vina Siti Royani
Yolanda Septiani p
Zulfikar
JUMLAH
RATA-RATA
5
4
4
4
5
4
5
5
5
5
5
4
4
3
3
4
5
4
5
5
4
5
5
5
5
4
4
5
5
4
5
5
5
5
5
5
5
4
4
2
3
4
5
5
4
4
5
5
5
5
4
5
5
5
5
5
4
4
4
4
5
5
4
5
5
4
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
4
4
5
5
5
5
5
5
4
3
4
4
4
4
2
2
0
2
2
1
233 213 204 206 213 208
4.66 4.26 4.08 4.12 4.26 4.16
26
29
23
29
27
30
22
28
29
26
28
30
27
30
23
9
1277
25.54
4.33
4.83
3.83
4.83
4.50
5.00
3.67
4.67
4.83
4.33
4.67
5.00
4.50
5.00
3.83
1.50
212.83
4.26
Skor nilai tertinggi untuk soal C1, C2, C3, C4, dan C5 adalah 5,00.
Berdasarkan tabel diatas nilai rata-rata untuk soal tingkatan kognitif CI sebesar
4, 66, C2 sebesar 4, 26, C3 sebesar 4, 08, C4 sebesar 4,12, C5 sebesar 4, 26, dan
C6 sebesar 4, 16. Nilai rata-rata keseluruhan adalah 4, 26. Berdasarkan rata-rata
pencapaian kognitif siswa dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan bantuan
media audio visual membuat pencapaian tingkat kognitif siswa sangat baik.
G. Pengamatan Metakognitif Siswa Melalui Rekaman Handycam
Dalam melakukan pengamatan penulis menggunakan form observasi,
penulis mengamati tingkahlaku belajar siswa yang direkam malalui handycam,
kemudian penulis membaginya menjadi empat tahapan yakni Fase motivasi,
konsentrasi, pengolahan informasi, dan umpan balik. adapun deskripsi hasil
pengamatannya adalah sebagai berikut :
Pertama fase motivasi, berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan
terhadap rekaman hanydcam menunjukkan bahwa siswa tampak termotivasi
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media audio visual. Hal ini
ditunjukkan dengan besarnya rasa antusias, rasa ingin tahu, dan ketertarikan
siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
“…Saya termotivasi untuk mengikuti pelajaran dengan video, karena
baru pertamakali belajar seperti ini…”65
Kedua fase konsentrasi, berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan
terhadap rekaman hanydcam menunjukkan bahwa siswa tampak berkonsentrasi
dalam mengikuti kegiatan pembelajaran melalui media audio visual. Hal ini
ditunjukkan melalui tingkahlaku siswa dalam memfokuskan penglihatannya
pada tayangan video,
tidak memperdulikan lingkungan sekitar, tidak
mengalihkan penglihatannya kepada yang lain, mengamati, tidak melakukan
kegiatan yang lain selain proses pembelajaran, dan banyak siswa yang mencatat
hal-hal yang dianggap penting.
“ … Saya memperhatikan, mendengarkan dan mencatat yang saya
anggap penting agar tidak lupa…”66
Ketiga Fase Pengolahan informasi, berdasarkan pengamatan yang
penulis lakukan terhadap rekaman hanydcam menunjukkan bahwa siswa tampak
melakukan pengolahan informasi. Hal ini ditunjukkan oleh tingkahlaku siswa
yang memperhatikan penayangan vidio, terdiam sejenak kemudian mencatat,
mengerut dahi, berfikir keras sebelum menjawab pertanyaan, dan kemampuan
siswa dalam menyimpukan hasil diskusi.
“…Belajar melalui media audio visual memudahkan saya dalam
mengingat karena ada gambar dan suaranya jadi mudah untuk dingat…”
Keempat Fase Umpan balik, berdasarkan pengamatan yang penulis
lakukan terhadap rekaman hanydcam menunjukkan bahwa siswa mampu
memberikan umpan balik. Hal ini ditunjukkan ketenangan siswa saat
mengerjakan soal yang diberikan, kemampuan siswa dalam menjawab
pertanyaan diwaktu berdiskusi, dan kelancaran siswa dalam menjawab
pertanyaan saat wawancara.
65
Hasil wawancara dengan informan siswa kelas VII A SMP Al Falah pada tanggal 5
november 2010.
66
Hasil wawancara dengan informan siswa kelas VII A SMP Al Falah pada tanggal 5
november 2010
Berikut ini adalah tabel daftar hasil pengamatan metakognitif siswa yang
direkam melalui handycam.
Tabel 5
Form Pengamatan Metakognitif
No.
Sasaran Yang Di Amati
Ya
Tidak
Keterangan
1 Fase Motivasi
a. Siswa antusias untuk
melihat vidio
2
3
√
Siswa ingin segera melihat
vidio
b. Siswa tertarik mengikuti
kegiatan belajar
√
Siswa sungguh-sungguh
ketika melihat video dan
berdiskusi
c. Siswa ingin tahu tentang
isi cerita dalam vidio
√
Banyak siswa yang bertanya
ketika berdiskusi
Fase Konsentrasi
Siswa memfokuskan
penglihatannya pada
tayangan vidio
Siswa tidak mengalihkan
penglihatannya pada yang
lain
a. Siswa mengamati
pemutaran vidio
√
b. Siswa memusatkan
penglihatannya
√
c. Siswa fokus pada
kegiatan pembelajaran
√
Tidak melakukan kegiatan
yang lain
d. Siswa mencatat point
yang penting
√
Banyak siswa yang
mencatat hal-hal yang
dianggap penting
e. Siswa fokuskan
pendengarannya
√
Tidak memperdulikan pada
suara yang lain
a. Siswa menyimpan
informasi
√
Memperhatikan, terdiam
sejenak dan mencatat
b. Siswa mengingat
informasi
√
Berfikir keras sebelum
menjawab pertanyaan
Fase Pengolahan
d. Siswa menggali kembali
informasi yang telah di
ingatnya
4
√
Siswa mampu
menyimpukan
a. Siswa mampu
menyampaikan
pertanyaan
√
Banyak siswa yang bertanya
saat berdiskusi
b. Siswa mampu
menjawab pertanyaan
√
Siswa mampu mejawab
pertanyaan saat berdiskusi
dan saat wawancara
c. Siswa mampu mengatasi
masalah
√
Siswa mampu mengerjakan
soal yang diberikan
d. Siswa mampu menjawab
wawancara
√
Siswa menjawab dengan
lancar
Fase Umpan Balik
Berdasarkan tabel metakognitif diatas menunjukkan siswa telah
melakukan proses metakognitif dengan baik. Ini ditunjukkan dari tingkahlaku
belajar siswa seperti termotivasi, konsentrsi, mengingat dan memberikan
umpanbalik.
H. Efektifitas Pembelajaran Media Audio Visual
Keefektifan media audio visual dalam pembelajaran berhubungan dengan
banyak faktor diantaranya :
1. Metode, bila media pembelajaran sudah dianalisis dan dinyatakan baik oleh
para praktisi pendidikan namun dalam pemanfaatannya tidak didukung oleh
metode pembelajaran yang tepat, maka media tersebut tidak akan banyak
memberikan manfaat bahkan hanya akan menjadi tontonan belaka. Media
pembelajaran biasanya dapat dijadikan sebuah bahan pembelajaran sebelum
siswa melaksanakan diskusi atau praktek.
2. Kondisi siswa, kondisi siswa yang sehat tentu berbeda dengan siswa yang
tidak sehat, contoh siswa yang mengalami gangguan penglihatan akan
berberda hasil belajarnya dengan siswa yang tidak mengalami gangguan
penglihatan.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah berbagai alat yang dapat mendukung dalam
pelaksanaan proses pembelajaran. Sarana dan prasarana di SMP Al Falah sudah
dapat dikatakan cukup memadai karena kualitas televisi, DVD player, pengeras
suara, tempat duduk, luas ruangan, pencahayaan dan suhu udara sudah sangat
baik dan mendukung untuk pemanfaatan media pembelajaran.
Contoh yang menunjukkan bahwa media berhubungan dengan sarana dan
prasarana adalah apabila guru telah merancang atau membeli media
pembelajaran dan hendak menggunakannya dalam pelaksanaan pembelajaran
tetapi disekolah tidak tersedia peralatan yang mendukung untuk pemanfaatan
media pembelajaran tersebut maka media tersebut tidak akan dapat digunakan.
Terlebih lagi pemanfaatan media audio visual yang membutuhkan peralatan
elektronik.
4. Waktu
Waktu penayangan media audio visual juga harus diperhatikan, waktu
yang yang terlalu lama, atau terlalu sebentar tentu akan mempengaruhi terhadap
hasil pemanfaatan media pembelajaran. Contoh waktu penayangan yang terlalu
lama akan menghabiskan banyak waktu pembelajaran sehingga waktu
pembelajaran sudah habis hanya untuk melihat video, selain itu penayangan
vidio yang terlalu lama juga akan mempengaruhi terhadap motivasi dan
konsentrasi belajar siswa.
5. Tipe mengajar guru
Gaya mengajar guru, gaya mengajar guru juga mempengaruhi dalam
keberhasilan media pembelajaran, seperti guru yang otoriter, demokkratis,
apatis. Bila gaya mengajar guru yang otoriter komunikasi hanya akan terjadi
pada satu arah yaitu hanya dari guru saja. Bila gaya mengajar guru yang
demokrasi maka komunikasi akan menjadi dua arah, baik siswa ataupun guru
sama-sama dapat menyampaikan pendapatnya sehingga suasana belajar menjadi
lebih menarik. Sedangkan gaya apatis akan menyebabkan siswa menjadi tidak
terkontrol.
Untuk pemanfaatan media audio visual akan sengat efektif bila
menggunakan metode diskusi, karena siswa akan menjadi lebih aktif dan dapat
menyampaikan komentar atau pendapatnya.
C. Upaya SMP Al Falah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Agar peserta didik menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu pengetahuan, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Dengan fungsi pendidikan nasional tersebut diharapkan semua sekolah
dapat mengembangkan potensi yang dimilki oleh siswa dengan cara
meningkatkan mutu pendidikan yang ada di sekolah sesuai dengan standar
nasional pendidikan.
Upaya yang dilakukan oleh SMP Al Falah dalam meningkatkan mutu
pendidikan yang ada disekolah dilakukan dengan cara meningkatkan pelayanan
dan fasilitas dari tahun ke tahun demi kemajuan sekolah tersebut. Hal ini dapat
terlihat dari segi peningkatan pembangunan sarana dan prasarana sekolah seperti
Lab komputer, peralatan media pembelajaran, pembangunan gedung serbaguna
dan kelas.
Dari segi kualitas guru SMP Al Falah, hampir semua guru memiliki
jenjang pendidikan Starta (SI). Dalam upaya meningkatkan pengetahuan para
guru, sekolah sering, mengikutsertakan para guru pada seminar-seminar dan
pelatihan-pelatihan dengan diikut sertanya guru pada seminar dan pelatihan
diharapkan guru dapat memberikan sumbangsih terhadap perkembangan
pengetahuan siswa.
Untuk mengisi waktu luang siswa. sekolah mengadakan kegiatan
ekstrakulikuler, kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan
bakat yang dimiliki siswa. Kegiatan ekstrakulikuler yang dimiliki sekolah antara lain
paskibra, pramuka, drum band, qiroat, marawis, futsal, dan tekondo. Kegiatan
ekastrakulikuler ini membuktikan sekolah memenuhi semua kebutuhan siswa dan
menyalurkan kemampuan yang dimiliki siswa.
Selain upaya diatas pihak sekolah juga menjalin kerjasama dengan
masyarakat sekitar dan para walimurid dalam rangka menjalin kerjasama yang
saling menguntungkan dan tindakan prefentif untuk mengantisipasi hal-hal yang
tidak dinginkan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah di jelaskan pada bab IV dapat di paparkan
beberapa kesimpulan diantaranya yaitu :
1. Pembelajaran dengan bantuan media audio visual sangat efektif, ini
ditunjukkan dengan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah penulis
tetapkan dalam rencana program pengajaran dan mencukupinya waktu yang
disediakan untuk proses pembelajaran. Tercapainya tujuan pembelajaran
dapat diketahui melalui hasil uji kognitif dan wawancara terhadap siswa
tersebut.
2. Proses metakognitif siswa yang belajar melalui media audio visual dilakukan
dengan cara memotivasi diri sendiri, konsentrasi /memfokuskan perhatian,
mengolah informasi, mengingat dan memberikan umpan balik, dengan
melakukan tahapan-tahapan tersebut maka pengetahuan akan diperoleh oleh
siswa yang sedang belajar.
3. Siswa yang Siswa yang memiliki kemampuan metakognitif akan lebih
mandiri dalam belajar , kreatif, dan mampu mengeksplorasi pengetahuan
tanpa batas.
4. Belajar bukan hanya terjadi karena hubungan stimulus dan respon saja, tetapi
belajar juga melibatkan proses metakognitif yang terjadi dalam diri individu
yang sedang belajar.
B. Saran-saran
untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam
pemanfaatan media
pembelajaran disekolah, penulis juga menyarankan kepada pihak sekolah, guru,
dan siswa. Adapun saran-saran tersebut adalah :
1. Sekolah
Kepada pihak sekolah hendaknya meningkatkan kemampuan para
guru khususnya dalam memanfaatkan fungsi media pembelajaran, mengingat
dalam penelitian ini telah membuktikan tentang efektifitas pembelajaran
dengan bantuan media audio visual.
Selanjutnya pihak sekolah juga menyediakan fasilitas penunjang
untuk mengoptimalkan pemanfaatan media pembelajaran di sekolah seperti
menyediakan proyektor dan bangku untuk kenyamanan duduk siswa ketika
menyaksikan media pembelajaran.
2. Guru
a. Kepada para guru khususnya guru Pendidikan Agama Islam hendaknya
menggunakan berbagai macam metode dan
media pelajaran untuk
membantu siswa dalam memahami pelajaran.
b. Guru harus meningkatkan pemahamannya tentang pemanfaatan media
pembelajaran agar dalam proses pembelajaran pemanfaatan media
menjadi lebih optimal.
c. Guru
harus
meningkatkan
pengetahuannya
tentang
psikologi
pembelajaran khususnya tentang kemampuan metakognitif
sehingga
dapat memaksimalkan hasil belajar siswa.
Daftar Pustaka
1. Akyas Azhar, Psikologi Umum Dan Perkembangan, Jakarta : PT. Mizan
Publika, 2004.
2. Aminuddin Rasyad, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Uhamka
Press, Cet. III, 2003.
3. Arif
S. Sadiman, Dkk.,
Media Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, Cet. I, 2007.
4. Asnawir dan M. Basyiruddin Usman,
Media Pembelajaran, Jakarta:
Ciputat Pres, 2002.
5. Djaali, psikologi pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, Cet. III, 2008.
6. E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung : Remaja
Rosda Karya, Cet. III, 2008 .
7. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa,
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 2007.
8. Hamzah B. Uno, Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran, Cet. III,
2008.
9. Http://Massofa.Wordpress.Com/2008/08/04/aspek-penilaian-dalam-ktspbag-1-aspek-kognitif/
10. Http://Sahabat
guru.Wordpress.Com/2008/12/11/metakognitif-belajar-
bagaimana-untuk-belajar
11. Muhammad Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Pedoman Ilmu
Jaya, Cet. I, 1996.
12. Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru Professional Bandung : Remaja
Rosda Karya, 2005, Edisi. II, Cet. XIV.
13. Nety Hartati, Dkk. Islam dan psikologi Jakarta : Raja Grafindo persada,
2004, Cet. I.
14. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis Bandung :
Remaja rosdakarya, 1995, Cet. VIII,
15. Pupuh Fathurohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar,
Bandung: PT Refika Aditama, Cet. I, 2007.
16. Sri Esti Djiwandono, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Grasindo, Cet. III,
2006.
17. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfa Beta, 2009
18. Suharsimi Ari Kunto Prosedur Penelitian, Yogyakarta : PT. Rineka Cipta,
Cet. 10, 1996.
19. Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rajawali Pres, Cet. IV,
1990.
20. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar,
Jakarta: Rineka Cipta, Cet. III, 2006.
21. Tri Wibowo, Psikologi Pendidikan, Terj. Dari Educational Psychology
Oleh John W. Santrock Jakarta : Kencana Prenada Group, Edisi II, Cet. II,
2006
22. Tri Wibowo, Teori Belajar, Terj. Dari Theory Of Learning Oleh BR
Hergenhan dan Matthew H. Olson Jakarta : Kencana Prenada Grup, Cet.
VII, 2009.
23. Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Pada Proses
Pendidikan, Jakarta: kencana Prenada Media Group, Cet. I, 2006.
24. Yatim Rianto, Pradigma Baru Pembelajaran, Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, Cet. III, 2006.
25. Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru,
Gaung Persada Press, Cet.1, 2008.
Jakarta:
Download