inovasi kelautan dan perikanan memperkuat konsep ekonomi biru

advertisement
INOVASI
KELAUTAN DAN PERIKANAN
MEMPERKUAT KONSEP
EKONOMI BIRU
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Kementerian Kelautan dan Perikanan
i
PEMBINA:
Achmad Poernomo
PENGARAH:
Duto Nugroho, I. Nyoman Adiasmara Giri
Budi Sulistyo, Ngurah Nyoman Wiadnyana
Hari Eko Irianto, Agus Heri Purnomo
REDAKSI:
Dewan Redaksi
Ketua:
Aryo Hanggono
Anggota:
Wudianto, Estu Nugroho
Widodo Setiyo Pranowo, Sri Suryo Sukoraharjo
Singgih Wibowo, Armen Zulham
Redaksi Pelaksana
Ketua:
Khairul Amri
Anggota:
Taufik Dwi Ferindra, Erfind Nurdin
Joni Haryadi, Ifan Ridlo Suhelmi
Handy Chandra, Dina Fransiska
Yayan Hikmayani, Hj. Theresia Lolita N
Sekretariat Redaksi
Ketua:
Hj. Theresia Lolita N
Anggota:
Hamdan Sarwo Edi, Solichin
Muhammad Danial Yusuf, Siti Alkuwati, Irma Yulianti
Desain Sampul:
Bagus Hendrajana
Tata Letak:
Winarto Rachmat
ii
Diterbitkan oleh:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
Telp. : 021 6471 1583 Fax.: 021 6471 1438
Website: www.litbang.kkp.go.id
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan
Inovasi Kelautan dan Perikanan
Memperkuat Konsep Ekonomi Biru
2013
ISBN 978-979-3692-47-0
xiv + 238 hlm; 24 X 20,5 cm
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
SAMBUTAN
Sektor kelautan dan perikanan telah memberikan sumbangan bagi pembangunan di tanah air, baik
dalam bentuk pengembangan ekonomi nasional secara umum maupun dalam menyejahterakan
masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan. Pembangunan kelautan dan perikanan di masa
datang diharapkan menjadi andalan dalam menopang perekonomian negara, khususnya dalam
meningkatkan pemberdayaan masyarakat yang bergerak dan menggantungkan hidupnya di sektor
ini.
Seiring perjalanan waktu, pembangunan kelautan dan perikanan di masa datang akan menghadapi
tantangan yang jauh lebih luas dan kompleks. Langkah konkret yang perlu segera diwujudkan adalah
berkonsentrasi menata kembali pola pembangunan kelautan dan perikanan dengan mengadopsi konsep pembangunan
berkelanjutan yang lebih menekankan pada implementasi konsep “Ekonomi Biru (Blue Economy)”. Konsep ini bertujuan
untuk memberikan keuntungan yang berkelanjutan, disamping meningkatkan kesejahteraan kepada perusahaan nasional.
Ekonomi biru juga menggambarkan langkah nyata pemerintah menuju pilar pembangunan yang berkelanjutan. Untuk itu,
diperlukan melibatkan inovasi dalam melakukan bisnis pengembangan sumber daya laut Indonesia.
iii
Menyadari hal tersebut, peran ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kelautan dan perikanan, yang dalam hal
ini menjadi tugas pokok dan fungsi dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, menjadi sangat
penting. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan selaku unit pelaksana penelitian dan pengembangan
inovasi terbarukan, memegang peran sangat strategis dalam mengedepankan hasil-hasil penelitian, baik berupa data dan
informasi, rekomendasi serta teknologi, bagi kegiatan pembangunan kelautan dan perikanan.
Oleh karena itu, saya memandang kehadiran buku “INOVASI KELAUTAN DAN PERIKANAN MEMPERKUAT
KONSEP EKONOMI BIRU” ini, sesuai dengan tuntutan dan konsep pembanguan berkelanjutan yang menjadi tantangan
kita ke depan. Sebab, prinsip-prinsip yang terkandung dalam ekonomi biru dapat menjadi kunci emas dalam perencanaan
pembangunan nasional yang berkelanjutan, yang dalam buku ini digambarkan secara gamblang.
Kiranya buku ini dapat menjadi cermin dan jendela untuk melihat tentang apa saja yang telah dilakukan dan dihasilkan
oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan selama ini.
Jakarta, Oktober 2013
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN
SHARIF CICIP SUTARDJO
iv
Plt. KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KELAUTAN DAN PERIKANAN
KATA PENGANTAR
Kita menyadari, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam sektor kelautan dan perikanan,
baik dari aspek pengelolaan sumberdaya, kehidupan nelayan dan pelaku usaha pembudidaya
ikan, maupun sumbangan sektor kelautan dan perikanan dalam pembangunan nasional yang
masih perlu terus ditingkatkan. Untuk tujuan itulah, para peneliti di Badan Penelitian dan
Pengembangan Kelautan dan Perikanan, dipacu untuk terus berkarya menghasilkan kajian-kajian
yang sifatnya aplikatif.
Buku ini memuat hasil karya para peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan
Perikanan yang terbaru. Hasil penelitian yang ditampilkan merupakan karya inovatif yang sifatnya
menunjang industrialisasi kelautan dan perikanan berbasis konsep ekonomi biru (blue economy). Tema tersebut diangkat
mengingat bahwa dalam pendekatan pembangunan kelautan dan perikanan berbasis ekonomi biru, akan bersinergi dengan
pelaksanaan quadruple track strategy, yaitu program pro-poor (pengentasan kemiskinan), pro-growth (pertumbuhan), pro-job
(penyerapan tenaga kerja) dan pro-environment (melestarikan lingkungan). Artinya, penelitian dan pengembangan yang
dilakukan para peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, selain ditujukan untuk mencapai
hasil maksimal juga ramah lingkungan.
Hasil-hasil penelitian yang disampaikan dalam buku ini mencakup inovasi penelitian dari berbagai aspek, yaitu:
aspek ekosistem, sumberdaya, teknologi produksi, teknologi pengolahan dan produk turunannya, bahkan sampai ke
v
aspek kelembagaannya. Materinya berasal dari satker yang terdapat di Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan
Perikanan, yaitu Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan (P4KSI), Pusat Pengkajian dan
Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP), Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya (P4B),
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Perikanan dan Kelautan (BBP4BKP), dan
Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBPSEKP).
Materi inovatif dari hasil penelitian ini dikemas dalam bahasa yang sederhana. Tujuannya, agar semua pembaca dan
peminat hasil penelitian dapat dengan mudah memahaminya. Semoga bermanfaat.
Jakarta, Oktober 2013
Plt. KEPALA BADAN PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN KELAUTAN DAN PERIKANAN,
ACHMAD POERNOMO
vi
PENDAHULUAN
Kegiatan penelitian dan pengembangan di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan diarahkan untuk
mengakselerasi penerapan konsep Ekonomi Biru. Konsep ini mencakup upaya terkait mendorong aktivitas meminimumkan
limbah (“minimize waste”), memperluas inklusi sosial, penggunaan teknologi inovatif dan adaptif, serta mendorong tercapainya
multiplier effect hasil penelitian dan pengembangan. Implementasinya mulai dari penelitian dasar sampai terapan atau pada
berbagai tipologi kelautan dan perikanan, maupun berdasarkan sistem bisnis perikanan. Diharapkan dapat meningkatkan
produksi, memperkuat daya saing komparatif dan kompetitif, mutu dan jenis produk. Pada akhirnya dapat mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.
Oleh sebab itu, penggunaan teknologi untuk eksploitasi sumberdaya kelautan dan perikanan memiliki arti penting dalam
mendukung pembangunan ekonomi nasional. Manfaatnya untuk mendorong penyediaan lapangan kerja, meningkatkan
pendapatan, serta menumbuhkan berbagai peluang usaha masyarakat. Paradigma Ekonomi Biru menempatkan teknologi
sebagai basis penting dari inovasi pembangunan ekonomi, karena dapat mengakselerasi peningkatan dan diversifikasi
produksi yang dihasilkan masyarakat, memanfaatkan limbah sebagai sarana produksi untuk menghasilkan produk baru.
Peran teknologi hasil litbang, memberi sinyal bahwa teknologi tersebut, dapat mendorong peningkatan produksi,
memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan. Terbukti teknologi hasil litbang dapat mengawal pencapaian
pertumbuhan produk domestik bruto sekitar 6,48 % per tahun, produksi perikanan sebesar 15,26 juta ton, produksi
garam konsumsi sebesar 2,02 juta ton, tingkat konsumsi ikan domestik sebesar 33,89 kg per kapita, nilai tukar nelayan
sebesar 105,37%, persentase wilayah perairan yang bebas IUU fishing dan kegiatan yang merusak sumberdaya kelautan
dan perikanan dapat ditekan hingga mencapai 41%.
vii
Berbagai penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) telah menghasilkan
teknologi untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip Ekonomi Biru, yaitu teknologi yang dapat meminalisasi dan
memanfaatkan limbah, teknologi yang mendorong peningkatan partisipasi masyarakat (inklusi sosial), teknologi yang
adaptif dan inovatif yang mendukung peningkatan produksi dan nilai tambah, teknologi yang dapat mendorong tumbuhnya
multiplier effect yang luas dalam masyarakat. Berbagai hasil penelitian di lingkup Balitbang KP selama dasa warsa terakhir
ini, telah mengarah pada konsep pemanfaatan sumberdaya yang optimum dengan mempertimbangkan kelestarian
sumberdaya.
Peran dari penelitian yang inovatif dan adaptif sangat diperlukan untuk menjawab berbagai isu yang terkait dengan: a).
kebutuhan data dan informasi potensi kelautan dan perikanan. b). kebutuhan informasi stok ikan dalam menetapkan status
pemanfaatan sumberdaya pada suatu perairan. c). kebutuhan informasi untuk menyusun kebijakan pengembangan usaha
dan industri kelautan dan perikanan. d). informasi yang terkait antisipasi perubahan iklim serta kelangkaan energi. e).
keperluan informasi untuk menyusun kebutuhan infrastruktur, strategi penetrasi pasar dalam mengembangkan berbagai
komoditas kelautan dan perikanan pada pasar domestik dan manca negara.
Buku ini disusun dalam beberapa bagian, yaitu: Bagian I. Karakteristik Ekosistem, memberi gambaran tentang
bagaimana sesungguhnya karakteristik ekosistem perairan Indonesia, berikut pengaruhnya terhadap sumberdaya kelautan
dan perikanan. Bagian II. Teknologi Penangkapan dan Produksi, mengedepankan hasil penelitian terkait berbagai
rekayasa dan aplikasi teknologi eksplorasi sumberdaya kelautan dan perikanan. Bagian III. Teknologi Pengolahan dan
Produk Turunan, memberi pemahaman aneka inovasi terkait hasil olahan produksi kelautan dan perikanan berikut
produk turunannya, yang multi manfaat. Dan, Bagian IV. Kelembagaan, membahas inovasi sosial ekonomi hasil litbang
yang akan memberi informasi aspek sosial dan ekonomi, terkait upaya peningkatan produksi, penanganan pasca panen,
pemasaran dan perdagangan.
viii
DAFTAR ISI
Sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan .....................................................................................
Kata Pengantar Kepala Balitbang Kelautan dan Perikanan ....................................................................
Pendahuluan ..........................................................................................................................
Daftar Isi ..............................................................................................................................
iii
v
vii
ix
BAB I KARAKTERISTIK EKOSISTEM ................................................................................................
A. Pengantar ........................................................................................................................
B. Ikan Tuna .........................................................................................................................
1. Dipole Mode: Di Darat Jadi Bencana di Laut Membawa “Berkah” .....................................................
2. Tuna Samudera Hindia: Jenis, Potensi, dan Peluang Pemanfaatannya .............................................
3. Status Stok Perikanan Tuna Samudra Pasifik ..........................................................................
4. ROV Mini, “Mata” Observasi Bawah Air ...............................................................................
5. Buoy Pluto Pemantau Air Kolam, Tambak, dan Waduk .............................................................
C. Udang ............................................................................................................................
1. Udang Windu: Mencari Sumber Induk Baru ..........................................................................
D. Rumput Laut ....................................................................................................................
1. Mengenal Lebih Dekat Rumput Laut: Manfaat dan Ekosistemnya ................................................
E. Bandeng ..........................................................................................................................
1. Bandeng, Komoditas dengan Daya Toleran Tinggi ...................................................................
F. Ikan Patin, Nila dan Lele ......................................................................................................
1. Seluk Beluk Ikan Patin, Si Kumis Saudara Lele .......................................................................
2. Kesesuaian Lahan Ikan Patin di Kawasan Minapolitan Kabupaten Banjar .........................................
1
3
4
6
8
10
12
14
14
16
16
18
20
22
ix
G. Garam ............................................................................................................................
1. Produksi Garam tanpa Pengaruh Variabilitas Iklim ..................................................................
2. Kesesuaian Lahan untuk Tambak Garam ...............................................................................
3. Mengenal Teknologi Pembuatan Garam ...............................................................................
4. Industri Garam dan Produk Turunannya ...............................................................................
BAB II TEKNOLOGI PENANGKAPAN DAN PRODUKSI ....................................................................
A. Pengantar ........................................................................................................................
B. Tuna
1. Tangkapan Tuna Melimpah dengan “Mini Loger” .....................................................................
2. Mengungkap Rahasia, Kapan Tuna Menyambar Umpan? ...........................................................
3. Melacak Keragaman Genetik Tuna ......................................................................................
4. Tuna SBT Mahal Harganya Langka Stoknya ...........................................................................
5. Rumpon, Alat Bantu Pemikat Ikan .....................................................................................
6. Si Lambung Kembar Bertenaga Surya .................................................................................
7. Menangkap Ikan dengan SMS ...........................................................................................
C. Udang
1. Mengungkap Stok Udang Laut Arafura ................................................................................
2. Sinar Gamma sebagai Disinfektan Udang Vanamei ...................................................................
3. “Kompartemen”Praktis untuk Si Lobster Hijau ......................................................................
4. Cara Cepat dan Akurat Deteksi Bakteri Berpendar (Vibriosis) dengan PCR .....................................
5. Satu Lagi Cara Budidaya Polikultur ala IMTA ........................................................................
6. Mendongkrak Sintasan dengan Menggunakan Induk Unggul SPR ) ................
7. Hemat Pakan dengan Aplikasi Bioflok pada Pemeliharaan Udang Vanamei ......................................
8. Paket Praktis, Polikultur Udang Galah, Nila dan Nilem dengan Sistem Akuaponik ............................
9. Memacu Maturasi Udang Windu dengan Pakan Formula ...........................................................
10. GI Macro 2, Varietas Unggul Udang Galah ............................................................................
11. Ultrasonik Pemantau Pakan Udang “Seberapa Rakus Kamu Makan” ..............................................
12. Probioter Terapung Mandiri (PROTAM) “Makanan Siap Saji Berprotein Tinggi” ...............................
x
24
26
28
30
33
35
36
38
40
42
44
46
48
50
52
54
56
58
60
62
64
66
68
70
72
D. Rumput Laut
1. Solusi Tepat: Peningkatan 200% Produksi Rumput Laut G. veruccosa dan K. alvarezii dengan
Kebun Bibit Unggul .......................................................................................................
2. Kantong Rumput Laut (KRL) “Selamat Tinggal Organisme Pengganggu Rumput Laut”.......................
E. Bandeng
1. Benih Bandeng Tumbuh Cepat ..........................................................................................
2. Pakan Ekonomis Bandeng Berbasis Fermentasi .......................................................................
F. Patin dan Nila
1. Patin Super Growth, Memecahkan Masalah Lama Pemeliharaan pada Patin ....................................
2. Nila Srikandi, Varietas Ikan Nila untuk Daerah Tambak .............................................................
3. Nila Best Generasi ke-5, Perbaikan Mutu Genetik ..................................................................
4. Lahan Gambut? No Problem, Ada Ikan Nila Spesifik Lahan Gambut .............................................
5. Vaksin Streptovac, Pencegah Serangan Bakteri pada Budidaya Ikan Nila .........................................
G. Garam
1. Teknologi Pemurni Garam Sistem Mekanik ..........................................................................
2. Produksi Garam SistemThermal ....................................................................................................
BAB III TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PRODUK TURUNAN .....................................................
A. Pengantar ..........................................................................................................................
B. TTC
1. Antilin : Alat Penguji cepat Residu Formalin pada Ikan Tongkol dan Cakalang .................................
2. Menghambat dan Mereduksi Histamin pada Pindang TTC Menggunakan Teh Hijau ...........................
3. Alat Produksi Asap Cair Untuk Pengasapan Ikan Tongkol ..........................................................
4. Gelatin “Halal” dari Limbah Kulit Ikan Tuna ..........................................................................
C. Udang
74
76
78
80
82
84
86
88
90
92
94
97
99
100
102
104
106
1. Transportasi Udang Hidup Dengan Sistem Kering Untuk Ekspor ................................................ 108
2. Cara Aman Tranportasi Udang Hidup: Pingsankan Saja dengan Ekstrak Biji Karet ............................. 110
xi
D. Rumput Laut & Mikro Alga
1. Pengolahan Agar Kertas dari Glacilaria sp. .............................................................................
2. Ekstraksi Agar Bakto Rumput Laut Gelidium sp. ......................................................................
3. Ekstraksi Natrium Alginat ...............................................................................................
4. Teh Herbal Sargassum ......................................................................................................
5. Alginat sebagai Bahan Pengental dan Pengikat Tinta Batik Ramah Lingkungan ................................
6. Edible Film Alginat dari Sargassum sp. ..................................................................................
7. Tablet Effervescent Alginat yang Kaya Serat dan Penurunan Kolesterol ............................................
8. Effervescent Alginat, Serbuk Minuman Berkarbonat dari Rumput Laut ............................................
9. Fukoidan dari Rumput Laut Coklat Sargassum sp. ....................................................................
10. Karaginan sebagai Pengikat Fruit Leather Mangga .....................................................................
11. Kemasan Bumbu Mie Instan Ramah Lingkungan dari Rumput Laut ..............................................
12. Daging Kepiting Analog dengan Bahan Pengikat Alginat ............................................................
13. Sirup Markisa dengan Pengental Karaginan ...........................................................................
14. Pengharum Ruangan dari ATC Rumput Laut .........................................................................
15. Pudding Instan Alginat ....................................................................................................
16. Tepung Pudding Karaginan ..............................................................................................
17. dari Alginat .................................................................................................
18. Tablet Ekstrak Turbinaria sebagai Anti Tumor .........................................................................
19. Tablet Vitamin A Disalut Alginat ........................................................................................
20. Minuman Sehat Teh Agar .................................................................................................
21. Fucoxanthin: Anti Tumor dari Rumput Laut ...........................................................................
22. Alat Pengering Kista Artemia untuk Pakan Benur Udang ...........................................................
23. Masker Kecantikan dari Mikro Alga Spirulina dan Chlorella ...............................................................
24. Mie Sehat Spirulina .....................................................................................................................
25. Minuman Sehat Spirulina Bandrek ......................................................................................
26. Tablet dan Minuman Kesehatan dari Spirulina .................................................................................
27. Pengolahan Alkali Treated Cottonii (ATC) dari Rumput Laut Eucheuma .................................................
28. Pengolahan Karaginan Semi dari Rumput Laut Eucheuma sp ...............................................
xii
112
114
116
118
120
122
124
126
128
130
132
134
136
138
140
142
144
146
148
150
152
154
156
158
160
162
164
166
29. Teknologi Pengolahan Karaginan Murni ...............................................................................
30. SAP Liquid: Pupuk Cair dari Eucheuma Cottonii ...............................................................................
31. Pupuk Cair dari Sargassum sp ............................................................................................
E. Bandeng
1. Bandeng Tanpa Duri Siap Saji Aneka Rasa ...............................................................................
F. Patin, Lele, Nila, Gurame
1. Produk Baru Olahan Lele dari Induk Afkir: Cirimen Lele .........................................................
2. Dendeng Surimi Rendah Lemak dari Ikan Patin .....................................................................
3. Membuat ‘Daging Scallop’ dari Lele ...................................................................................
4. Kolagen Halal dari Kulit Ikan Nila ......................................................................................
5. Gelatin Halal dari Kulit Patin ............................................................................................
G. Limbah Perikanan
1. Duri Lele Kering Asin ....................................................................................................
2. Biodiesel dari Limbah Minyak Ikan .....................................................................................
3. Produk Fashion Istimewa dari Kulit Ikan Tersamak .................................................................
4. Alat Daur Ulang Limbah Cair SRC .....................................................................................
5. Gelatin Halal dari Limbah Kulit dan Tulang Ikan .....................................................................
6. Nano Kalsium dari Sisik Ikan Nila ......................................................................................
7. Alat Pembuat Papan Partikel Limbah Rumput Laut .................................................................
8. Briket Arang Limbah Rumput Laut ....................................................................................
9. Oligomer Kitosan: Antikapang dari Limbah Krustasea .............................................................
10. Camilan Berkalsium dari Tulang Ikan Nila ............................................................................
11. Alat Pengolahan Selulosa dari Limbah Rumput Laut ................................................................
12. Papan Partikel dari Limbah Rumput Laut .............................................................................
13. Bioremedian Alami dari Limbah Cair Pengolahan Rajungan dan Surimi .........................................
14. Kitin dan Kitosan dari Limbah Krustase ...............................................................................
168
170
172
174
176
178
180
182
184
186
188
190
192
194
196
198
200
202
204
206
208
210
212
xiii
H. Bioteknologi
1. Emestrin: Produk dari Kapang Laut sebagai Anti Kanker .......................................................... 214
2. Produksi Enzim Protease dari Ikan ..................................................................................... 216
3. Limbah Cair Surimi untuk Produksi Enzim Transglutaminase ..................................................... 218
BAB IV KELEMBAGAAN ...................................................................................................................
A. Pengantar ........................................................................................................................
B. Model Kelembagaan Usaha
1. Mengenal Klinik IPTEK MINA BISNIS sebagai pelopor Penyebaran Iptek .......................................
2. Inovasi Kelembagaan Ko-Manajemen pada Perikanan Tangkap Berbasis Budidaya
(Culture-Based Fisheries) di Perairan Waduk..............................................................................
221
223
224
226
BAB V PENUTUP ............................................................................................................................... 229
LAMPIRAN ........................................................................................................................................ 233
Satuan Kerja Lingkup Balitbang Kelautan dan Perikanan ...................................................................... 235
xiv
BAGIAN I
Karakteristik Ekosistem
1
2
PENGANTAR
KARAKTERISTIK EKOSISTEM
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki
pantai sepanjang lebih dari 81.000 km dengan 17.508 pulau dan
porsi luasan laut mencapai 2/3 dari total luas keseluruhan wilayah
Indonesia.Wilayahnya membentang pada garis khatulistiwa beriklim
tropis, dengan panjang dari timur ke barat 5.100 km dan dari utara
ke selatan 1.888 km. Dua fenomena anomali iklim regional, yaitu
ENSO (El-Nino dan La Nina) di belahan timur (Samudra Pasifik)
dan Indian Ocean Dipole Mode (Positif dan Negatif) di belahan barat
(Samudra Hindia), mempengaruhi ekosistem perairan Indonesia
berikut biota yang hidup di dalamnya.
Berbagai jenis sumberdaya ikan ekonomis penting yang
menghuni perairan Indonesia, baik perairan laut maupun perairan
tawar. Sebagian di antara spesies ekonomis penting tersebut
merupakan komoditas andalan dalam industrialisasi perikanan,
yaitu: TTC (tuna, tongkol, cakalang), udang (tawar dan laut),
bandeng, patin, lele, nila dan rumput laut. Adapun garam, yang
merupakan sumberdaya non hayati, banyak diusahakan di wilayah
tertentu, juga memegang peran penting bagi perekonomian rakyat.
Tidak semua jenis sumberdaya ikan yang terdapat di perairan
Indonesia berada dalam kondisi “aman”. Jenis tuna mata besar (big
eye) misalnya, di Samudra Hindia (selatan Jawa) stoknya sudah over
exploited, sementara albakora dan madidihang (yellow fin) sudah
fully exploited, hanya cakalang yang pemanfaatannya masih dalam
tingkat moderate. Di Samudra Pasifik, data estimasi hasil tangkapan
tahunan (2009-2011) menunjukkan terjadinya penurunan hasil
tangkapan dari alat tangkap longline. Di Laut Sulawesi, ikan cakalang
yang tertangkap nelayan banyak yang belum matang gonad (ikan
muda). Jika dibiarkan terus berlanjut, hal ini akan mengancam
kelestarian sumberdaya laut Indonesia.
Dari aspek budidaya perikanan air tawar (patin, nila dan
lele), analisis spasial kesesuaian lahan untuk budidaya di beberapa
lokasi minapolitan menunjukkan angka yang beragam. Untuk
lele di Kabupaten Bogor (Jawa Barat) kategori lahan yang sesuai
luasnya hanya sekitar 31 % (8.789 ha); untuk patin di Kabupaten
Banjar (Kalimantan Selatan) menunjukkan kategori sangat sesuai
di 15.330 ha (56%); dan untuk pengembangan nila dalam KJA
(karamba jaring apung) di Danau Batur (Bali), hampir seluruh
potensi perairan di danau ini masuk dalam kategori sangat sesuai
(270 ha).
Dari hasil riset dan kegiatan perekayasaan, tersedia
berbagai pilihan teknologi untuk eksplorasi maupun eksploitasi
sumberdaya kelautan dan perikanan. Peneliti di Pusat Pengkajian
dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP)
berhasil merancang “wahana benam bawah laut” berukuran mini,
yang disebut mini ROV (Remotely Observation Vehicle), yang dapat
digunakan sebagai “mata” observasi bawah laut, serta pelampung
(buoy) “PLUTO” untuk pemantauan kualitas perairan pantai,
pesisir, waduk/kolam/tambak dan Laut. Temuan ini tentunya
dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai tuntutan kebutuhan.
3
DIPOLE MODE : DI DARAT JADI BENCANA,
DI LAUT MEMBAWA “BERKAH”
Perspektif
Indian Ocean Dipole
Mode (IOD) merupakan
gejala penyimpangan iklim
akibat interaksi laut-atmosfer
di Samudra Hindia. IOD “positif ”
dicirikan dengan adanya anomali suhu
permukaan laut (SPL) lebih hangat dari normalnya di bagian
barat Samudra Hindia (timur Afrika) dan lebih dingin
dari normalnya di bagian timur Samudra Hindia (barat
Sumatera). Pada fase “positif ”, di wilayah timur Afrika curah
hujan meningkat bahkan terjadi banjir, sedangkan di wilayah
kepulauan Indonesia (timur Samudra Hindia/Sumatera)
terjadi kekeringan. Pada fase “negatif ” terjadi sebaliknya,
SPL di perairan Indonesia menghangat dan terjadi curah
hujan tinggi (banjir), sementara di wilayah Afrika terjadi
kekeringan.
The Indian Ocean Dipole Mode (IOD) is an
inter-annual phenomenon in Indian Ocean. IOD is a bipolar
structure that characterized by the anomaly of sea surface
temperature (SST) to normal. The impact of phenomenon
are influence to several oceanographyc parameters,
including of upwelling processes with intensive in these
waters. The impact of upwelling while the positive IOD
event produced higher primary productivity (chlorophyll-a
concentration). During this periods there has been
observed some significan increase on the catch of fishermen
who landed at severals landing places in western Sumatera
(Lampulo, Sibolga, Air Bangis, Padang, Bungus, Painan, and
Bengkulu). The understanding of this phenomenon, can
serve as the basis of forcasting in management of fisheries
resources in this region.
Dampak
Dampak IOD “positif ” di daratan sangat merugikan, yaitu kemarau panjang diikuti kebakaran hutan akibat kekeringan,
juga kegagalan panen pertanian. Pada bidang peternakan, hal ini dapat mempengaruhi produksi daging, telur dan susu,
akibat sulitnya mendapatkan pakan dan air. Pada fase”negatif ”, selain kegagalan panen akibat terendam banjir, periode
musim tanam juga pergeser, berpengaruh kepada ketersediaan dan ketahanan pangan lokal maupun nasional.
4
Lalu bagaimana di lautan? Pada fase “positif ”, terjadi peningkatan intensitas upwelling (naiknya massa air dari dasar
ke permukaan) yang kaya nutrien, sehingga perairan menjadi sangat subur (klorofil-a tinggi). Peningkatan klorofil-a
identik dengan melimpahnya fitoplankton, menandakan tingginya produktivitas primer perairan, yang akan diikuti
dengan melimpahnya sumberdaya ikan.
Temuan
Korelasi antara peningkatan produktivitas primer akibat upwelling dengan kelimpahan sumberdaya ikan, dapat
dijelaskan bahwa dengan terjadinya peningkatan kesuburan perairan memacu pertumbuhan fitoplankton sebagai pakan
zooplankton. Selanjutnya zooplankton menjadi pakan utama bagi jenis-jenis ikan kecil, yang diikuti dengan proses
makan memakan (rantai makanan) oleh ikan berukuran sedang, ikan berukuran besar, dan seterusnya. Dibuktikan,
pada saat IOD “positif ” hasil tangkapan nelayan yang beroperasi di barat Sumatra, mulai dari Lampulo (Aceh); Sibolga
(Sumatera Utara); Air Bangis, Bungus/Padang, Painan (Sumatera Barat) dan Bengkulu meningkat tajam.
Peluang Aplikasi
Pemahaman terhadap fenomena IOD, dan dampak positifnya terhadap kesuburan perairan serta kelimpahan
sumberdaya ikan, sangat dibutuhkan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di perairan barat Sumatera. Untuk
jangka panjang, dapat dijadikan dasar forecasting pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap secara berkelanjutan,
khususnya di Samudra Hindia.
Inovator/ Peneliti
Nama : Khairul Amri ([email protected])
Instansi : Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) Muara Baru
Alamat : Jl. Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan
Samudera Nizam Zachman, Muara Baru - Jakarta Utara 14440
5
TUNA SAMUDRA HINDIA :
JENIS, POTENSI, DAN PELUANG PEMANFAATANNYA
Perspektif
Perairan Samudra Hindia
WPP 572 (barat Sumatra)
dan WPP 573 (selatan JawaBali-Nusatenggara) kaya sumber
daya ikan pelagis besar kelompok
tuna. Pemanfaatannya tidak dibatasi di dalam perairan
zona ekonomi eksklusif Indonesia (ZEEI) saja, dapat juga
melampaui batas-batas ZEEI, meliputi seluruh kawasan
Samudera Hindia. Akan tetapi, pemanfaatan sumber daya
ikan tuna di luar perairan ZEEI oleh nelayan Indonesia, hanya
dapat dilakukan dan diakui masyarakat internasional bila
bergabung dalam organisasi pengolalaan perikanan regional
atau Regional Fisheries Management Organization (RFMO).
Samudra Hindia merupakan wilayah kompetensi (competent
area) bagi 2 (dua) RFMO, yaitu Commission for the Conservation
of the Blue Fin Tuna (CCSBT) dan Indian Ocean Tuna Commission
(IOTC).
Waters of the Indian Ocean has vast potential of tuna
resources, ranging from yellowfin (Thunnus albacares), big
eye (Thunnus obesus), Albacore (Thunnus allalunga), southern
bluefin tuna (Thunnus macoyii), and gray (Thunnus tonggol)
and skipjack (Katsuwonus pelamis). In addition, there is also a
group of coastal tuna (neritic tuna) in the form of the types
of cob: krai (frigate tuna / Auxis thazard), gray (longtail tuna
/ Thunnus tonggol), Komo (Eastern litle tuna / Euthynnus
), and cigar (Bullet tuna / Auxis rochei). The landing
bases of this species spread from western Sumatra, south of
Java, Bali and Nusa Tenggara to the south. National Stock
Commission study results show over-exploitation on big eye
tuna stocks, full-exploitation on albacor and yellowfin while
skipjact remains moderately exploited.
Jenis-Jenis Sumberdaya
Jenis-jenis tuna di Samudra Hindia adalah: madidihang (Thunnus albacares), tuna mata besar (Thunnus obesus), albakora
(Thunnus allalunga), tuna sirip biru selatan (Thunnus macoyii), dan tuna abu-abu (Thunnus tonggol) serta cakalang
(Katsuwonus pelamis). Selain itu, juga terdapat kelompok neritic tuna atau tuna pantai: tongkol krai (frigate tuna/Auxis
6
thazard), tongkol abu-abu (longtail tuna/Thunnus tonggol), tongkol komo ( Eastern litle tuna/), dan
tongkol lisong (Bullet tuna /Auxis rochei). Basis pendaratannya menyebar sepanjang wilayah yang berbatasan dengan
perairan tersebut, mulai dari barat Sumatra, selatan Jawa, bahkan sampai selatan Bali dan Nusatenggara.
Hasil Kajian
Kajian aspek biologi dan tingkat pemanfaatannya bisa digunakan untuk menduga optimasi pemanfaatannya dan
mendukung program industrialisasi perikanan di wilayah ini. Di selatan Jawa, jumlah armada perikanan tuna cenderung
terus meningkat, terutama kelompok ukuran 10-30 GT yang banyak beroperasi di perairan teritorial. Volume
produksi tuna, tongkol dan cakalang mengalami tren produksi berfluktuatif. Hasil kajian Komisi Stok Ikan Nasional
menunjukaan bahwa stok tuna mata besar sudah over exploited, albakora dan madidihang sudah fully exploited, hanya
cakalang yang pemanfaatannya masih dalam tingkat moderate (KepMen KP nomor 45/Men/2011).
Peluang Industrialisasi
Perikanan tuna Samudra Hindia dibagi dua,yaitu tuna industri dan artisanal. Tuna industri dieksploitasi menggunakan
alat tangkap tuna long line, dengan tujuan menangkap tuna besar untuk ekspor pada kedalaman di atas dan di bawah
lapisan termoklin (kedalaman 100 s.d 300 m). Sedangkan perikanan tuna skala rakyat, menggunakan alat tangkap
artisanal (gill net, payang, tonda, dan pukat cincin), menangkap tuna berukuran kecil (baby tuna), cakalang dan jenisjenis tongkol. Sampai saat ini, industri perikanan tuna Indonesia masih sangat membutuhkan pasokan bahan baku tuna
dari Samudra Hindia.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti BPPL dan P4KSI
Instansi : Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi
Sumberdaya Ikan (P4KSI)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
7
STATUS STOK PERIKANAN TUNA
SAMUDRA PASIFIK
Perspektif
Sumberdaya perikanan
pelagis besar yang
tertangkap di perairan
Samudra Pasifik bagian barat
(wilayah Indonesia termasuk Laut
Sulawesi) memiliki nilai ekonomis tinggi, terdiri dari
kelompok tuna, skipjack tuna, shark, tenggiri, setuhuk, tongkol,
Karena
lokasinya berbatasan dengan negara lain, pemanfaatannya
berpotensi konflik dengan negara tetangga antara lain
Philipina dan Malaysia, serta negara-negara Pasifik Barat.
Oleh karena itu pengelolaannya dilakukan secara khusus.
Pemanfaatan sumber daya ikan di Samudera Pasifik
dikelola oleh organiasi regional WCPFC (Western Central
!").
8
Large pelagic fish resources in the western Pacific Ocean
(parts of Indonesia including Sulawesi Sea) has a high
economic value, consisting of a group of tuna, skipjack
tuna, shark, mackerel, setuhuk, tuna, swordfish, fishing
voyage, short bill and sperm fish. Due to its location
adjacent to other countries (Philippines and Malaysia,
and western Pacific countries), its use may raise conflict
hence requires comprehensive management under
regional organization, WCPFC (Western Central Pacific
Fisheries Commission). An estimated annual catches
data (2009-2011) shows a decrease in the catches of
longline while purse seine catches was relatively stable
but the composition of yellowfin tuna (yellowfin) and
bigeye tuna declined. Skipjack resources in the Sulawesi
Sea (2012) experienced overfishing, thus it urgently
requires sustainable management in order to maintain the
sustainability of resources.
Tingkat Pemanfaatan
Data estimasi hasil tangkapan tahunan dari perairan Samudera Pasifik wilayah Indonesia menunjukkan terjadinya
penurunan hasil tangkapan dari alat tangkap longline dari tahun 2009 – 2011. Pada periode ini tangkapan purse seine
relatif stabil, tetapi komposisi # (madidihang) dan bigeye tuna (tuna mata besar) menurun. Jika dilihat dari
kompoisisinya, komposisi hasil tangkapan longline di dominasi # yaitu sebesar 92% dan sisanya bigeye tuna.
Sementara komposisi hasil tangkapan purse seine didominasi skipjack (cakalang) 93%, # 6%, dan bigeye 1%.
Adapun komposisi hasil tangkapan pole and line didominasi skipjack 94%, # 3%, dan bigeye 3%.
Kajian Akustik
Hasil survei akustik menunjukkan schooling ikan pelagis besar di Laut Sulawesi banyak ditemukan di bagian utara P.
Sangihe dan P. Siauw, dengan persentase terbesar terdapat pada strata kedalaman 200-250 m, sedangkan terkecil pada
strata 100-150 m. Dari data oseanografi (suhu dan salinitas) diketahui bahwa perairan di lokasi tersebut memiliki suhu
lebih rendah dan salinitas tinggi, mengindikasikan massa airnya merupakan bagian massa air Samudera Pasifik.
Indikator Biologi
Dari analisis data pendaratan, terlihat kecenderungan ikan cakalang yang tertangkap di Laut Sulawesi memiliki nilai
Lc (ukuran panjang pertama kali tertangkap) lebih kecil dari pada Lm (ukuran panjang ikan yang matang gonad),
yang berarti bahwa ikan yang tertangkap belum matang gonad dan prosentase tertangkapnya fase juwana lebih tinggi
dibanding periode bulan lainnya. Artinya, kondisi sumberdaya cakalang di Laut Sulawesi telah mengalami tekanan
penangkapan, sehingga perlu dilakukan pengaturan penangkapan agar keberlangsungan sumberdaya dapat terjaga.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti BPPL dan P4KSI
Instansi : Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi
Sumberdaya Ikan (P4KSI)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
9
ROV MINI, “MATA” OBSERVASI BAWAH LAUT
Perspektif
Lingkungan laut kita
memiliki kekayaan
sumberdaya yang potensial.
Alam bawah laut, merupakan salah
satu ekosistem yang selama ini belum banyak
digali dan belum terpetakan secara utuh. Padahal, dari waktu
ke waktu aktivitas observasi bawah laut semakin meningkat
intensitasnya. Namun keterbatasan fisik manusia dan
lingkungan laut yang berbahaya, membuat aktivitas observasi
bawah air menjadi terbatas. Bagaimana solusinya?
The mini ROV (remotely observation vehicle) has made to
operate in specific conditions. Its specifications are 150
depth operation ability, 4 hours working battery, 12 kgs
weight only, high definition video camera, and water
quality sensors. The ROV can assist activities such as ship’s
hull observation, offshore platform observation, fish cage
observation, and reefs monitoring, etc.
Keunggulan Teknologi
Mini ROV (remotely observation vehicle) adalah teknologi yang dapat membantu manusia melakukan aktivitas observasi,
inspeksi dan survei bawah laut dengan aman, mudah dan murah. Alat yang prinsip kerjanya mirip kapal selam ini
memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
9Dapat beroperasi hingga kedalaman 150 meter
9Memiliki sistem baterai internal yang dapat diisi ulang dan dapat menggerakkan sistem hingga 4 jam pemakaian.
9Bentuk sangat kompak dengan berat hanya 12 kg, sehingga memudahkan proses mobilisasinya
9Dilengkapi dengan kamera yang dapat menghasilkan gambar dan video dengan kualitas HD (High Density).
9Dilengkapi dengan sensor ukur kualitas lingkungan perairan.
10
Peluang Aplikasi
Mini ROV adalah wahana observasi dibawah permukaan laut portable
yang efektif memiliki fitur yang unik. Digerakkan oleh baterai yang dapat
dioperasikan pada area yang sulit dijangkau secara manual. Peralatan ini
memiliki bobot yang ringan, hanya 12 kg, dilengkapi kamera dengan kualitas
tinggi (high quality color camera/HD) dan HD LED Video Screen.
Inovator/ Peneliti
Nama : Budhi Gunadharma G.
Instansi : Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi
Kelautan dan Perikanan (P3TKP)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta Utara
Email : [email protected]
11
BUOY PLUTO WAHANA PEMANTAU AIR KOLAM,
TAMBAK DAN WADUK
Perspektif
Agar mudah mengamati
karakteristik ekosistem
perairan baik di laut, pesisir dan
danau diperlukan wahana yang bisa
dijadikan tempat “menaruh” berbagai komponen pengukur
kualitas air. Komponen tersebut bisa berupa sensor pencatat
data, batere, pemancar sinyal dan panel solar-cell (sel surya).
Menjawab kebutuhan tersebut, Pusat Pengkajian dan
Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP)
merancang dan memproduksi wahana pelampung (buoy)
yang dinamakan PLUTO (Perairan selaLU termoniTOr).
The water quality monitoring – at sea or lake – require a
water-proof slot for devices. The devices are sensors, data
logger, solar-cell panel, and radio transmitter. Innovation
had been made for water-proof slot, commonly called buoy.
The buoy made of aluminum material, load capacity 45 kg
and proven to endure for 2 years. It is called PLUTO buoy.
Keunggulan Teknologi
Pelampung (buoy) PLUTO terbuat dari aluminium dengan kapasitas muatan peralatan sebesar 45 kg. Sudah teruji
bertahan di laut mendekati dua (2) tahun tanpa mengalami kebocoran. Beberapa keunggulan buoy PLUTO adalah sbb:
dimanapun di Indonesia akan mudah dilakukan.
12
Peluang Aplikasi
Buoy PLUTO ini dapat diaplikasikan antara lain untuk:
Perikanan laut: pemantauan kualitas perairan budidaya Tuna, Rumput laut,
Ikan Kerapu, dan Bandeng.
Perikanan darat: pemantauan kualitas air di Waduk (Cirata, Jatiluhur, dan
Saguling), danau (Toba, Maninjau, Kerinci).
Perikanan pesisir: pemantauan kualitas air di tambak udang (Lampung
dan Pantura Jawa)
Inovator/ Peneliti
Nama : Handy Chandra
Instansi : Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan
Perikanan (P3TKP)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
Email : [email protected]
13
UDANG WINDU: MENCARI SUMBER
INDUK BARU
Perspektif
Tingginya harga
induk membebani
biaya operasional industri
perbenihan udang di tengah
lesunya budidaya udang saat ini.
Inventarisasi sumber induk termasuk karakterisasi secara
morfologi dan genetika perlu dilakukan untuk memecahkan
masalah penyediaan induk udang alami hasil tangkapan di
laut, untuk industri perbenihan, dan sekaligus mendorong
berkembangnya budidaya udang windu di Indonesia.
Udang windu tidak suka mengelompok atau berkumpul
(schooling) seperti halnya udang jerbung. Populasi udang ini
lebih banyak di perairan yang ada tumbuhannya, misalnya
padang lamun (sea grass), menyenangi dasar perairan
berpasir atau pasir berlumpur. Pada siang hari lebih banyak
membenamkan diri (burrowing) di dasar perairan dan malam
hari udang windu bergerak lebih aktif. Udang windu dewasa
umumnya berada pada kedalaman 30-40 m. Perairan
Kalimantan Timur dan Kep. Aru merupakan salah satu
lokasi alternatif sumber induk. Kategori udang windu yang
termasuk induk adalah yang berkelamin betina dan sudah
matang telur (TKG III dan IV).
14
The high price of brood-stock in shrimp seed industry
pose a major hurdle for the development of the industry.
Inventory of parent resources including morphological
and genetic characterization may become a solution to
the deminishing natural stocks of parents from the sea.
East Kalimantan waters and Aru Islands are two of the
main sources of new alternative locations. Shrimps to
be categorized as qualified broodstock parent includes
androgynous females with mature eggs (TKG III and IV).
Swept area method shows potential yield of shrimp in the
waters of East Kalimantan ranges from 1.31 to 11.9 tonnes,
about 0.5 to 4.9 tons (3313-32471 shrimps) of which are
already mature in gonads and constituting tiger shrimp
potential. Aru Islands have an estimated potential of 10.17
tons of shrimp. Based on the estimation of the first term
mature individuals, the estimated potential of the parent
amounted to 4.24 to 5.8 tons (30.525 shrimps).
Hasil Kajian
- Kalimantan Timur
Laju tangkap udang windu di perairan Timur Kalimantan dengan alat tangkap dogol berkisar 0,1 kg – 0,45 kg/jam
dengan kepadatan 1,18 kg – 4,21 kg/km2 pada daerah penangkapan seluas 3.956 km2. Panjang karapas pertama kali
tertangkap ($) adalah 52,5 mm. Analisis berdasarkan data frekwensi panjang karapas diperoleh nilai
Lm (lenght maturity/panjang pertama kali matang gonad) pada ukuran 45,9 mm. Dengan metode swept area diperoleh
potential yield (potensi) udang windu berkisar 1,31 – 11,9 ton. Berdasarkan tingkat kematangan gonad, sekitar 0,5 4,9 ton diantaranya merupakan potensi induk windu. Jika rata-rata berat induk betina berdasarkan matang telur 150,9
gram, maka potensi induk windu yang ditemukan dalam penelitian ini diperkirakan 3.313 – 32.471 ekor. Ditinjau
dari nilai Lm, diperoleh estimasi potensi induk berkisar 0,7 – 6,6 ton. Lokasi sebarannya berada di perairan timur
Balikpapan dan timur Kabupaten Paser.
- Kepulauan Aru
Di perairan sebelah barat kep. Aru, usaha penangkapan udang windu umumnya menggunakan alat tangkap mini trawl
dengan armada berkukuran 5-10 GT. Daerah penangkapan nelayan Dobo terdapat di sekitar perairan P. Babi, P.
Wasir dan P. Ujir. Laju tangkap sebesar 0,12 kg/jam dengan kepadatan 2,34 kg/km2 pada daerah penangkapan seluas
4226,45 km2. Diduga potensi udang windu sebesar 10,17 ton. Panjang karapas pertama kali tertangkap (lengthat
$) adalah 46,0 mm. Penghitungan kategori induk udang windu dilakukan melalui dua pendekatan yaitu
berdasarkan nilai panjang pertama kali matang gonad (Lm) dan matang gonad (TKG III dan IV).
Berdasarkan nilai Lm (45,52 CLmm) pada udang windu diperoleh estimasi potensi induk sebesar 5,8 ton, sementara
berdasarkan kematangan gonad diperoleh estimasi potensi induk sebesar 4,24 ton. Jika rata-rata berat induk betina
berdasarkan matang telur 138,9 gram, maka potensi induk windu diperkirakan berjumlah 30.525 ekor.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti Udang BPPL ([email protected])
Instansi : Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) Muara Baru
Alamat : Jl. Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam
Zachman, Muara Baru - Jakarta Utara 14440
15
MENGENAL LEBIH DEKAT RUMPUT LAUT:
MANFAAT DAN EKOSISTEMNYA
Perspektif
Rumput laut
l merupakan
y hidup
ganggang yang
termas divisi
di laut, termasuk
Berbagai jenis rumput
laut ada di Indonesia, terbagi berdasarkan sifat
tanamannya. Thalus yang lunak seperti gelatin (gelatinous),
keras mengandung zat kapur (calcareous), lunak bagaikan
tulang rawan (cartilagenous) dan berserabut (spongeous).
Bisnis rumput laut mempunyai prospek yang cukup baik,
mengingat periode pemeliharaan yang sangat pendek, yaitu
sekitar 45 hari. Jika pengolahan terjamin, maka diperkirakan
rumput laut adalah komoditas masa datang.
Euchema cottonii or known by Kappaphycus alvarezii
which widely cultured in Indonesia is caragenan source.
Environment condition influences the quality of carrageenan
produced. The ideal location for seaweed cultured is covered
area from typhoon and big wave with water temperature
range of 20-28o C. Water depth level is 2-15 m, with
water salinity of 28-35 ppt and rich with micro and macro
nutrients.
Hasil Kajian
Jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya adalah Eucheuma cottonii atau dikenal sebagai Kappaphycus
alvarezii sebagai sumber karaginan. Keberhasilan budidaya rumput laut tergantung pada lokasi yang tepat, yang
mempengaruhi daya hidupnya dan mutu kandungan karaginan. Wilayah pesisir yang terlindung dari angin dan ombak
yang kuat (arus < 20-40 m/detik), dengan dasar bebas dari lumpur merupakan lokasi yang cocok bagi .
Kedalaman air laut antara 2-15 m pada saat surut terendah. Suhu perairan yang cocok adalah 20-28°C dengan fluktuasi
harian maksimum 4°C. Tingkat kecerahan yang tinggi tidak kurang dari 5 meter. Salinitas perairan yang dianjurkan
16
untuk budidaya rumput laut adalah 28- 35 ppt. Mengandung cukup makanan berupa
makro dan mikro nutrien. Kandungan fosfat sangat baik bila berada pada kisaran
0,10-0,20 mg/1, sedangkan nitrat dalam kondisi berkecukupan biasanya berada pada
kisaran antara 0,01- 0,7 mg/1.
Peluang dan Manfaat
Dengan diketahui manfaat dan persyaratan ekosistem untuk pertumbuhan rumput laut yang baik,
maka budidayanya dapat lebih dikembangkan lebih jauh. Budidaya rumput laut termasuk bisnis yang
menjanjikan, mengingat masa tanam rumupt laut yang sangat singkat, yaitu sekitar 45 hari sudah dapat
dipanen hasilnya.
Inovator/ Peneliti
Nama : Petrus Rani P.
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Raya Ragunan No. 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Hp.
: 0852-1620-7601
17
BANDENG, KOMODITAS DENGAN DAYA
TOLERAN TINGGI
Perspektif
Usaha budidaya bandeng
sudah banyak dilakukan oleh
para pembudidaya. Komoditas ini
tidak hanya dikenal di Indonesia, bahkan
masyarakat Filipina sangat menyukainya. Pengetahuan
ekosistem dan daerah penyebarannya sangat membantu
pembudidaya untuk mendapatkan benih alam yang bermutu
baik.
Milkfish is the only one of Chanidae family which still
exist. Distribution area of this fish is all of open wáter in
Indonesia. The young fish which just hatched live in sea for
2-3 weeks, and then mígrate to swamp area, brackhis wáter
and lake wáter. When become mature fish, this fish come
back to the sea for spawning. Milkfish culture is not only
conducted in brackhis wáter but also in open fresh wáter
such as Jatiluhur and Cirata reservoir by adaptation.
Hasil Kajian
Ikan bandeng merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam familia Chanidae. Ikan ini hidup bergerombol
di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan koral seperti di Samudera Hindia dan Pasifik. Penyebaran ikan bandeng
meliputi seluruh perairan Indonesia utamanya di daerah Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Jakarta dan
Jogjakarta. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut selama 2-3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau,
daerah payau dan kadangkala di danau-danau. Bandeng baru kembali ke laut lagi kalau dewasa untuk berkembang
biak. Pembudidayaan bandeng dilakukan dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. Selain itu, melalui
proses adaptasi, ikan bandeng juga banyak dipelihara di perairan tawar seperti di waduk Ir. H. Juanda, Jatiluhur dan
waduk Cirata, Jawa Barat.
18
Peluang Manfaat
Ikan bandeng dapat dijadikan model bisnis budidaya komoditas yang memanfaatkan
hampir seluruh wilayah perairan di Indonesia. Peluang ini akan dapat dimanfaatkan
dengan baik jika pasarnya tersedia cukup besar.
Inovator/ Peneliti
Nama
: Usman, Neljte N. Palinggi, Kamaruddin,
Noor Bimo Adhiyudanto, Naftali Kabangnga,
Asda Laining
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan
Budidaya (P4B)
Alamat : Jl. Raya Ragunan No. 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan12540
Email : [email protected]
Telp.
: 0411-371544/45
19
SELUK BELUK IKAN PATIN, SI KUMIS
SAUDARA LELE
Perspektif
Usaha budidaya ikan patin
banyak tersebar di daerah
Sumatera dan Kalimantan.
Dewasa ini mulai merambah ke pulau
Jawa, namun belum banyak berkembang. Kendala utama dari
budidaya ikan patin adalah jangka waktu pemeliharaan yang
relatif lama, yaitu mencapai 7-8 bulan. Pengenalan terhadap
berbagai aspek ikan patin merupakan langkah awal yang
penting dalam mendorong kesuksesan budidaya ikan patin.
Name of Patin is used for all species members of Pangasidae,
one of them is Pangasius jambal or patin jambal which famous
in Indonesia. This fish lives in a big river or estuary area.
Patin is categoryzed into nocturnal fish, omnívora fish,
and it has spesific spawning season i.e. during rain season
(November-Maret). Nomurous feed can be used to patin is
worm, insect, shrimp and others.
Hasil Kajian
Ikan patin adalah nama lokal untuk ikan asli Indonesia yang memiki nama ilmiah Pangasius pangasius. Sekarang
nama patin digunakan untuk ikan keluarga adalah nama ilmiah patin siam, karena
berasal dari Siam (Thailand). Pangasius djambal, adalah nama ilmiah untuk patin jambal, yang merupakan patin asli
Indonesia. Ikan ini termasuk jenis ikan demersal atau ikan yang hidup di dasar perairan dengan ciri fisik bentuk
mulutnya yang lebar, persis seperti ikan demersal pada umumnya. Habitatnya di sungai-sungai besar dan muaramuara sungai. Ikan patin termasuk hewan nocturnal/aktif di malam hari. Ikan ini kawin secara musiman dan
sangat sulit memijah di kolam atau wadah budidaya. Hanya sekali memijah dalam satu tahun, yaitu pada musim
hujan (November-Maret). Ikan patin bersifat omnívora (pemakan segala).
20
Malam hari ia akan keluar dari lubangnya dan mencari makanan berupa renik yang terdiri dari
cacing, serangga, udang sungai, jenis-jenis siput dan biji-biji-an. Sedangkan untuk larva patin
yang dipelihara pada kolam-kolam maupun akuarium dapat diberikan makanan alami seperti
artemia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Peluang Manfaat
Pengembangan budiaya ikan patin dapat ditingkatkan dengan penyediaan benih
yang kontinu sepanjang tahun. Penyediaan pakan alami saat larva, merupakan
salah satu kunci sukses dalam budidaya ikan patin
Inovator/ Peneliti
Nama : Sri Pudji, Sularto, Wahyu Pamungkas dan Ika Nurlaela
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan
Budidaya (P4B)
Alamat : Jl. Raya Ragunan No. 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan12540
Email : [email protected]
Telp.
: 0260-520500
21
KESESUAIAN LAHAN IKAN PATIN DI KAWASAN
MINAPOLITAN KABUPATEN BANJAR
Perspektif
Salah satu kabupaten yang
mempunyai prospek untuk
budidaya ikan patin adalah
daerah Banjar. Kesuksesan dalam
budidaya sangat tergantung pada ketepatan
dalam memilih lokasi untuk memelihara ikan tersebut,
baik secara teknis maupun secara bisnis. Keakuratan
dalam memilih lokasi dapat dibantu dengan menggunakan
teknologi GIS yang dikombinasikan dengan hasil pengamatan
kualitas air pada titik tertentu dengan koordinat yang dipilih.
Banjar región is known well as a center of patin production
area which obtain about 12,207 ton in 2010. Some district
in Banjar region is decided into a Minapolitan area. Wáter
condition in Minapolitan area is good to support the
development of patin culture with result of spacial analysis
of 56% of total area of minapolitan in Banjar región.
Hasil Kajian
Kabupaten Banjar merupakan salah satu sentra produksi ikan patin di Kalimantan Selatan. Produksinya pada
tahun 2010 mencapai 12.207,30 ton atau memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi secara nasional
sebesar 23,9 %. Wilayah minapolitan Kabupaten Banjar telah ditetapkan, yaitu di desa Cindai Alus sebagai sentra
pengembangan, sedangkan kawasan penyanga meliputi desa Tungkaran, desa Sungai Sipai, desa Sungai Rangas
Hambuku, desa Sungai Batang Ilir dan desa Pengagalaman. Kondisi kualitas perairan di wilayah minapolitan masih
mendukung untuk pengembangan budidaya ikan patin. Análisis spasial kesesuaian lahan menunjukkan sekitar 56% (
15.330 ha) dari total 27.070 ha dapat dikategorikan sesuai untuk budidaya ikan patin
22
Peluang Manfaat
PETA AKHIR KESESUAIAN
LAHAN DI BANJAR
Pada daerah yang sudah dilakukan pemetaan ini,
selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk usaha
budidaya ikan patin
Inovator/ Peneliti
Nama : Nyoman Radiata
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan
Budidaya (P4B)
Alamat : Jl. Raya Ragunan No. 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan12540
Email : [email protected]
Hp.
: 0813-1902-2210
23
PRODUKSI GARAM TANPA PENGARUH
VARIABILITAS IKLIM
Perspektif
Industri garam
g
di
t
Indonesia telah
berlangsung
sejak jaman pe
penjajahan VOC
Belanda, dengan se
sentra di Pati, Jawa
Tengah dan sekitarnya. Saat ini Kementerian
Kelautan dan Perikanan menetapkan daerah sentra garam
adalah di sepanjang pantai utara Jawa hingga Madura,
serta Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Tahun 2013 dilakukan ekstensifikasi ladang garam di Nusa
Tenggara Timur yakni di Sumba Timur. Sampai saat ini,
petani garam di Indonesia sangat bertumpu kepada sinar
matahari dan musim kering yang dibawa oleh monsoon
barat. Walaupun di wilayah tropis sinar matahari selalu
kontinyu (rerata 12 jam sehari), tetapi kondisi meteorologi
lokal seperti evaporasi, curah hujan dan kelembaban
udara sangat berpengaruh kepada masa produksi garam.
Kondisi salinitas air laut sebagai bahan baku juga penting
diperhatikan, selain hal teknis pembuatan ladang garam.
24
Salt industries in Indonesia have flourished in almost
northwest Java, Madura and up to Nusa Tenggara.
Generally, the production is highly influenced by oceanclimatic variability, such as monsoon in Asia-Australia
region, El Nino Southern Oscillation (ENSO) and Indian
Ocean Dipole (IOD). In 2010, a strong La Nina occurred
in Asia-Australia region brought early wet season causing
a massive failure in national salt production. Research and
Development Center for Marine and Coastal Resources
has conducted extensive studies since 2002 to obtain an
effective technology to improve national salt and increase
economical added value products upon salt production
independent on seasonal variations, among others: locating
new areas as solar salt-fields which are less influenced by
climatic variations and finding potential salt co-products
during the productions.
Variabilitas Iklim dan Fenomena Regional
Lokasi sentra garam di atas, sangat dipengaruhi oleh monsoon (iklim) regional Asia-Australia dan iklim ini merupakan
kebutuhan dasar untuk pembuatan garam. Fenomena regional lain yang menambah keunikan variabilitas iklim-laut
adalah El Nino Southern Oscillaction (ENSO) dari Samudera Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) dari Samudera Hindia.
Awal musim penghujan yang patut diwaspadai berdasarkan prakiraan klimatologis di sentra-sentra garam sepanjang
pantai utara Jawa hingga Nusa Tenggara berturut-turut bergerak dari barat ke timur: Cirebon (November), Indramayu
(November/Desember), Pati (November), Rembang (Rembang), Gresik (November), Pamekasan (November/
Desember), Sumenep (November/Desember), Lamongan (November), kemudian Bima (Desember) di Nusa Tenggara
Barat, dan Nagekeo (November) serta Sumba Timur (November/Desember), di Nusa Tenggara Timur.
Dampak Terhadap Produksi
Tahun 2010, musim penghujan datang lebih awal dari normalnya, berlangsung mulai April-Mei dan Juli-Desember.
Pada kedua periode terjadi adalah kondisi La Nina, akibatnya terjadi kegagalan panen garam secara nasional. Pada
kondisi normal, panen garam dilakukan sekitar Juli dan Oktober/November.
Solusi Riset
Bagaimana menyiasatinya? Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir, sejak tahun 2002 telah
melakukan penelitian dan pengembangan terkait upaya intensifikasi dan ekstensifikasi produksi garam. Salah satunya
mencari solusi iptek untuk peningkatan produksi garam dan produk turunannya tanpa terpengaruh oleh kondisi
variabilitas dan perubahan iklim. Konsep utama yang diusung adalah suatu teknologi yang mampu memanfaatkan air
laut menjadi garam dan limbah produksi garam menjadi produk turunannya berupa mineral.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti Garam
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
Tel.: 021-64711583, Fax.: 021-64711654, Email: [email protected]
25
KESESUAIAN LAHAN UNTUK TAMBAK GARAM
Perspektif
Dalam proses produksi
garam ddiperlukan
kondisi lin
lingkungan
yang optimal untuk dapat
menghasilkan pro
produk garam
berkualitas baik. Parame
Parameter lingkungan
tersebut berpengaruh terhadap kualitas dan jumlah panen
yang dihasilkan. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
produksi garam antara lain aspek ekologi dan lahan.
An optimum condition of the environment is important
and plays a key role in salt production process in order to
get high quality products. Environmental aspects two of
which are ecology and land area contribute and determine
the final salt products both quantity and quality. Locations
recommended for salt production in ponds are locations
with stable area and/or free/less affected from natural
disaster.
Aspek Ekologis
Aspek ekologis yang terkait dengan proses produksi garam meliputi: sumberdaya air laut, pasang surut, iklim
dan cuaca (angin, kelembaban udara, curah hujan, evaporasi, dan lama penyinaran matahari). Sedangkan aspek
lahan meliputi: topografi dan sifat fisis/tekstur tanah. Selain itu, kondisi lahan/tanah untuk penggaraman harus
mempertimbangkan: ketinggian lahan dari permukaan laut, kehidupan hewan/tumbuhan di sekitarnya, dan potensi
bencana alam. Secara lebih spesifik, 4 aspek ekologis utama yang penting dalam produksi garam seperti sumberdaya
air laut, iklim dan cuaca, kondisi tanah dan potensi kebencanaan, lebih lengkapnya adalah sebagai berikut:
a. Sumberdaya Air Laut
Air laut merupakan bahan baku utama untuk produksi garam memiliki kriteria:
1. Kadar garam rata-rata 3 – 3,5 Be.
2. Tingkat kejernihan air laut dapat menentukan mutu bahan baku:
polusi antropogenik, zat kimia, dan lumpur;
26
! lahan garam sebaiknya terletak jauh dari sumber polutan seperti daerah industri, pelabuhan, pemukiman,
pertanian maupun kota besar;
Derajat keasaman (pH) air laut yang ideal berkisar 7 – 8 sebagai nilai normal;
"asang surut air laut, sebaiknya tidak lebih dari 1 meter, hal ini terkait erat kondisi kelandaian
lahan terhadap sumber bahan baku air laut.
b. Iklim dan Cuaca
Parameter iklim dan cuaca yang menentukan produksi garam: curah hujan dibawah 50 mm/dekade, kecepatan
angin minimal 5 mm/detik, kelembaban udara dibawah 70 %, dan lama penyinaran matahari yang optimal
menyebabkan tingginya tingkat penguapan.
c. Kondisi Tanah
Kondisi tanah yang perlu diperhatikan: kelandaian topografi dan sifat fisis/tekstur tanah. Topografi yang landai
memungkinkan fenomena pasang surut dapat menjangkau seluruh areal lahan garam untuk memastikan pasokan
air laut sebagai bahan baku terpenuhi. Kondisi tekstur yang berpori semakin kecil menjadikan tanah kedap air,
sehingga sangat baik untuk proses produksi. Tabel di bawah ini menunjukkan tingkat kesesuaian tekstur tanah untuk
produksi garam.
d. Bencana Alam
Lokasi tambak garam yang direkomendasikan diusahakan di daerah yang terbebas dari bencana alam
seperti banjir, gempa dan gelombang pasang.
Tabel. Tingkat Kesesuaian Tekstur Tanah Untuk Produksi Garam
Tekstur Tanah
Permeabilitas
Kelayakan
Lempung (Clay)
Kedap air
Sangat baik
Lempung pasiran (Sandy clay)
Kedap air
Baik
Liat $%
Semi kedap air
Sedang
Lanau (Silt)y
Semi kedap air
Jelek
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti Garam
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
Tel.: 021-64711583, Fax.: 021-64711654, Email: [email protected]
27
MENGENAL TEKNOLOGI PEMBUATAN GARAM
Perspektif
Teknol pembuatan
Teknologi
garam yyang umum
dilakukan petani garam
adalah dengan metode
penguapan air laut menggunakan
tenaga surya, penguapan air laut/
air garam dengan direbus ( memerlukan bahan bakar),
elektrodialisis (ionexchange membrane) dan dengan metode
penambangan garam dari batuan garam (rock salt). Produksi
garam di Indonesia sebagian besar melalui metode penguapan
air laut, hanya di beberapa lokasi yang menggunakan sistem
perebusan, seperti di Aceh. Metode yang digunakan oleh
petani garam saat ini sebenarnya adalah metode warisan dari
3 (tiga) metode klasik yang sangat tergantung pada iklim
(musim kering/kemarau) dan penyediaan air.
There are several methods commonly used by salt farmers
to produce salt from seawater, among others: solar
evaporation, boiling evaporation, electro dialysis, and
rock salt mining. Solar evaporation is a salt production
method by solely using solar energy to evaporate seawater
form salt crystals, meanwhile boiling evaporation is a
method in which fossil fuel is used as an energy source
to evaporate seawater. In electro dialysis method, an ionexchange membrane is used. Solar evaporation is the
method predominantly performed in salt production in
Indonesia. However, a boiling method is found in only
few areas like Aceh and Nusa Tenggara Timur. Indonesian
salt farmers conduct three classical existing methods (by
solar evaporation), i.e. Portuguese, Maduris, and Tussen
(combination of Maduris and Portuguese) methods which
highly depends on seasonal and water availability factors.
Teknologi Pembuatan Garam
-
28
Metode Portugis atau PT. Garam (Persero)
Metode ini dapat dilaksanakan apabila penyediaan air (volume dan konsentrasinya) memadai dan iklim (musim
kering/kemarau) pada daerah tersebut cukup panjang (di atas 5 bulan), serta relatif tidak ada gangguan hujan.
Pada metode ini, garam yang di hasilkan kualitasnya sangat baik.
-
Metode Maduris
Metode ini dapat dilaksanakan sebagai salah satu metode
adaptif apabila ketersediaan air (volume dan
konsentrasinya) kurang memadai dan iklim (musim
kering/kemarau) pada daerah tersebut relatif pendek
(kurang dari 5 bulan) atau sering ada gangguan hujan.
Pada metode ini, garam yang dihasilkan kualitasnya
kurang baik. Desain lahan penggaraman yang cocok untuk
metode ini adalah menggunakan sistem bertangga (trap),
yaitu lahan peminihan letaknya tepat di atas meja–meja.
-
Metode Campuran/Tussen
Metode ini adalah gabungan/campuran dari 2(dua)
metode, yakni Portugis dan Maduris, yang dilaksanakan
apabila iklim (musim kering/kemarau) tidak menentu
(terkadang cerah, terkadang hujan). Pada metode
ini, garam yang dihasilkan kualitasnya kurang baik. Desain
penggaraman yang cocok untuk metode ini adalah juga
sistem bertangga (trap).
Proses pembuatan garam evaporasi
(Purbani, 2009)
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti Garam
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
Tel.: 021-64711583, Fax.: 021-64711654, Email: [email protected]
29
INDUSTRI GARAM DAN PRODUK TURUNANNYA
Perspektif
Garam merupakan
salah satu produk yang
dihasilkan dari pengolahan
air laut. Contoh lain, air laut
dapat diolah menjadi air minum
dalam kemasan melalui proses desalinasi
dengan menghasilkan produk turunan berupa garam, atau
sebaliknya sistem produksi garam menggunakan sistem
perebusan dapat menghasilkan produk turunan berupa air
minum dalam kemasan.
Salt products are classified into two categories based on its
sodium quality, i.e. salt for edible and chemical production
purposes. In the salt production process, bittern is produced
at the final step of the process. However, bittern is rich
in minerals such as magnesium, bromium, kalium which
are valuable in industrial applications. Bromium, for
example, is used as disinfectant, additives in oil rig mud
application, sedatives, insecticides, rodent poison and Freon
replacement. Magnesium, on the other hand, is potential
for fireproof or refractory agent, antacids, fertilizers, and as
additives in textile or pulp and paper industries.
Produk Garam
Tabel. Komposisi Garam Konsumsi Dan Garam Industri
Produk garam dapat dikelompokkan
menjadi 2 (dua) kategori kualitas,
yakni kualitas garam untuk industri
dan kualitas garam untuk konsumsi.
Tabel berikut menunjukkan perbedaan
komposisi garam konsumsi dan garam
industri tersebut.
Komposisi
NaCl
Sulfat
Magnesium
Kalsium
Kotoran lain
Kadar air
Sumber: Susanto (2009)
30
Kadar mineral/unsur
dalam garam konsumsi
95 %
2%
2%
2%
1%
7%
Kadar mineral/unsur
dalam garam industri
> 97,5 %
< 0,5 %
< 0,3 %
< 0,2 %
3–5%
Produk Turunan
Dalam proses produksi garam, selain dihasilkan garam
sebagai produk akhir, dihasilkan pula air tua yang
mengandung unsur-unsur mineral yang berpotensi
memiliki nilai ekonomis tinggi. Produk turunan garam
seperti unsur Magnesium, Brom dan Kalium memiliki
nilai ekonomis tinggi untuk memenuhi berbagai
kebutuhan industri. Contohnya unsur Brom digunakan
untuk aplikasi desinfektan, isi lampu halogen, aditif/
bubuhan lumpur pengeboran minyak, obat penenang, zat
kimia fotografi, insektisida, racun tikus dan pengganti
freon. Contoh lainnya, unsur Magnesium digunakan dalam
beta tahan api/refraktor, obat sakit maag, pupuk kieserite,
garam epsom (bahan obat/textile).
Teknologi
Pohon Industri Garam dan Produk Turunan
Pusat Penelitian dan pengembangan Sumberdaya Laut dan
Pesisir telah mengembangkan teknologi pencucian garam
mekanik untuk memperoleh kualitas garam yang lebih baik,
mesin mekanis ini dilengkapi dengan mesin Iodisasi dan mesin
Pengemasan.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti Garam
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
Tel.: 021-64711583, Fax.: 021-64711654,
Email: [email protected]
31
32
BAGIAN II
Teknologi Penangkapan dan
Produksi
33
34
PENGANTAR
TEKNOLOGI PENANGKAPAN DAN PRODUKSI
Fokus pembangunan Kelautan dan Perikanan pada
industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan
blue economy (Ekonomi Biru) adalah melalui peningkatan nilai
tambah dan sinergi hulu-hilir, berbasis pada komoditas, dan
menuntut dukungan teknologi handal hasil penelitian.
Untuk bidang penangkapan, berbagai hasil penelitian
yang telah dilakukan, terbukti mampu memberikan hasil
tangkapan yang optimal dengan tetap memperhatikan
kelestarian sumberdaya dan lingkungan. Untuk menangkap
tuna, penggunaan “mini loger”, berhasil mengungkap suhu
optimum dan kedalaman renang masing-masing jenis tuna
di Samudra Hindia, sehingga hasil tangkapan melimpah.
Kapan persisnya ikan tuna memakan umpan? Peneliti kita
mendeteksinya dengan hooktimer, sehingga dapat diketahui
kapan saat yang tepat untuk memancing. Tahukah Anda,
ternyata tuna Samudra Hindia yang terdapat di barat
Sumatera merupakan kelompok (subpopulasi) yang berbeda
dengan di selatan Jawa, dengan dibuktikan nilai keragaman
haplotipe-nya. Jika nelayan tuna kita beruntung mendapatkan
tuna SBT ( & '), niscaya akan kaya raya,
karena harganya dapat mencapai Rp 90 juta/ekor! Namun
sayang, populasinya semakin langka. Agar mudah ditangkap,
ikan mesti “dibujuk” dulu untuk berkumpul menggunakan
rumpon. Tapi sayang, ikan yang tertangkap mayoritas masih
muda, sehingga penangkapan di rumpon perlu diatur dan
diawasi. Untuk menyiasati harga BBM yang semakin mahal,
ada baiknya kita melirik penggunaan kapal bertenaga surya.
Tentu yang lebih menggembirakan, nelayan kita sekarang bisa
menggunakan “SMS”untuk menangkap ikan.
Dalam bidang budidaya, radiasi sinar Gamma mampu
menumpas bakteri penyebab Vibriosis pada udang dalam
waktu relatif singkat dan bisa digunakan untuk udang vaname.
Pembudidaya udang vaname tidak perlu repot menghitung
benihnya yang imut-imut, karena peneliti kita berhasil
merancang prototype mesin penghitung cepat benih udang.
Juga ada banyak cara memacu pertumbuhan ikan dan udang
budidaya, misalnya dengan pengaturan kombinasi pakan,
serta penerapan IMTA (* +'01),
yaitu pola budidaya yang dilakukan secara terintegrasi.
Usaha garam rakyat secara tradisional menghasilkan
garam dengan kualitas yang kurang baik. Peneliti kita
berhasil meningkatkan kualitasnya dengan teknik pencucian
secara mekanik. Selanjutnya, dengan rekayasa alat dan
teknologi berupa penggunaan sistem panas (thermal) berhasil
mempersingkat waktu yang diperlukan untuk produksi,
sehingga swasembada garam dapat segera tercapai.
35
Perspektif
Untuk mendapatkan
hasil tangkapan tuna yang
maksimal, selain dengan cara
mengetahui lokasi penyebaran
secara horizontal (menurut letak
geografis) dan vertikal (menurut kedalaman perairan),
diperlukan juga alat tangkap yang mampu menjangkau
kedalaman renang ikan. Salah satu alat tangkap yang efektif
untuk itu adalah tuna long line, karena konstruksinya
mampu menjangkau swimming layer (lapisan renang) tuna.
Selain efektif, tuna longline juga selektif, disamping cara
pengoperasiannya yang bersifat pasif, sehingga tidak
merusak sumberdaya hayati perairan.
Tuna fishing in the Indian Ocean is getting more
competitive. In order to catch abundantly, requires
knowledge of the depth and temperature optimum
swimming tuna. “Mini logger”, managed to reveal, where
albakor tuna (') caught at depths of 86125 m (temperature 21-26 ° C), yellowfin tuna ('
albacares) caught at depths of 86-168 m (22-26 ° C) , big
eye (Thunnus obesus) is at a depth of 194-470 m (8-15 ° C),
and the southern bluefin tuna (') at a depth
of 190 -194 m (14-15 ° C).
Tatangan
Saat ini, penangkapan tuna di Samudera Hindia semakin kompetitif, menuntut teknik-teknik
penangkapan yang lebih efisien lagi. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai kedalaman renang dan
kondisi lingkungannya, terutama suhu optimum bagi ruaya ikan tuna.
36
Temuan
Penelitian menggunakan alat pengukur kedalaman dan suhu perairan menggunakan ”mini logger”, berhasil
mengungkap suhu optimum dan kedalaman renang masing-masing jenis tuna di Samudra Hindia. Untuk
tuna jenis albakor (') dapat tertangkap pada interval kedalaman 86-125 m dengan suhu 2126 °C, madidihang (') tertangkap pada interval kedalaman 86-168 m dengan suhu 22-26
°C, tuna mata besar (') berada pada interval kedalaman 194-470 m dengan suhu 8-15 °C, dan
tuna sirip biru selatan (') pada interval kedalaman 190 -194 m dengan suhu 14-15 °C.
Keuntungan bagi nelayan
Dengan berpedoman pada hasil penelitian ini, untuk mendapat hasil tangkapan yang berlimpah,
nelayan tuna tinggal mengatur kedalaman pancingnya. Jika sesuai dengan suhu optimumnya, akan
diketahui jenis tuna yang bakal tertangkap. Dengan kata lain, memancing tuna, kini tak lagi “jauh
panggang dari api” !
Inovator/ Peneliti
Nama
: Dian Novianto, Andi Bahtiar dan Irwan Julianto
([email protected])
Instansi : Loka Penelitian Perikanan Tuna (LPPT) Benoa
Alamat : Jl. Raya Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan, Bali 80223
37
MENGUNGKAP RAHASIA, KAPAN TUNA
MENYAMBAR UMPAN?
Perspektif
Kebanyakan ikan
mendeteksi makanan
dengan penglihatan,
termasuk tuna. Ikan yang
mencari makan menggunakan
mata, akan mengukur apakah makanan
itu cocok atau tidak dengan ukuran mulutnya. Mereka aktif
mencari mangsa dengan berenang kian kemari. Tetapi ada
juga ikan yang tidak aktif, ikan jenis ini akan menunggu
mangsa di suatu tempat yang terlindung. Ikan pemangsa yang
berkelompok, jika telah berhasil melokalisir mangsanya,
akan mengambil mangsa tersebut secara intensif (cepat).
Sehubungan dengan kebiasaan ikan mencari makanannya
tersebut, dikenal istilah feeding periodicity, yaitu masa ikan
aktif mengambil makanan selama 24 jam. Periodisitas
makan ikan ada yang satu atau dua kali, dengan durasi 1
atau 2 jam, bahkan ada yang terus menerus. Pada ikan buas
yang memakan mangsa ukuran besar, interval pengambilan
makanannya mungkin lebih dari satu hari. Periodisitas
makan ikan nocturnal (aktif pada malam hari) dimulai dari
matahari terbenam sampai pagi dan untuk ikan diurnal hanya
pada siang hari.
To know exactly when the tuna take the bait can be detected
by hooktimer, chronometer mounted on tuna fishing.
From the data obtained from hook timer, the activity of
tuna actively consumes food for 24 hours. This knowledge
is useful to get the maximum possible catch. The results
showed, Big Eye tuna in the Indian Ocean having the habit
of taking meals throughout the day. They take more food
during the day (13:00 to 14:00 pm) and afternoon early
evening (17:00 to 18:00 o’clock).
Teknik Penelitian
Untuk mengetahui kapan persisnya ikan memakan umpan, peneliti tuna kini bisa mendeteksinya dengan
menggunakan hooktimer, pencatat data tentang waktu ikan tertangkap atau waktu ikan memakan umpan pada
pancing tuna. Dari data hook timer ini diperoleh informasi mengenai masa ikan aktif mengambil makanan selama
24 jam.
38
Temuan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuna mata besar di Samudra Hindia
mempunyai kebiasaan mengambil makanan sepanjang hari. Mereka lebih
banyak mengambil makanan pada siang hari (pukul 13.00-14.00) dan sore
hari menjelang malam (pukul 17.00-18.00).
Aplikasi
Dengan diketahuinya kapan ikan tersebut makan, maka diketahui jenis pola makannya, apakah aktif mencari
makan di malam hari (nocturnal) atau siang hari (diurnal), sehingga dapat diketahui kapan saat yang tepat
untuk memancing atau menangkapnya. Dari data hook timer juga diperoleh informasi mengenai lamanya tuna
dapat bertahan hidup setelah menyambar atau memakan umpan pada pancing yang dipasang. Ternyata, tuna
mata besar dapat bertahan hidup hingga 13 jam setelah menyambar atau memakan umpan.
Inovator/ Peneliti
Nama
: Irwan Jatmiko, Dian Novianto dan Andi Bahtiar
([email protected])
Instansi : Loka Penelitian Perikanan Tuna (LPPT) Benoa)
Alamat : Jl. Raya Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan, Bali 80223a
39
MELACAK KERAGAMAN GENETIK TUNA
Perspektif
Ikan tuna dibedakan
dalam dua kelompok
berdasarkan sebaran
geografisnya, yaitu tuna
perairan dingin atau beriklim
sedang/temperate species (tuna sirip
biru utara/'; tuna sirip biru
selatan/'. maccoyii); albakora/'. alalunga), dan kelompok
tuna yang hidup di perairan tropis/tropical species (tuna
sirip kuning atau madidihang/'. albacares). Ikan tuna mata
besar ('. obesus) memiliki sifat kedua kelompok tersebut,
karena jenis tuna ini dapat hidup di daerah yang sangat luas
dari daerah tropis hingga daerah beriklim sedang. Untuk
mengetahui keragaman genetiknya, tuna mata besar di
Samudera Hindia perlu diketahui supaya dapat dibedakan
antara populasi yang berada di perairan barat Sumatera
dengan di selatan Jawa. Data/informasi tentang status stok
(struktur populasi) ini penting agar dikenali hubungan
kekerabatannya dengan stok lainnya.
Data and information about the status of tuna fish stocks
in the Indian Ocean is important to understand genetic
relationship with other stock in other regions and is a
contribution of Indonesia in the IOTC (Indian Ocean Tuna
Commission). From the study of the genetic basis of the
big eye tuna in the Indian Ocean, tuna is understood to be
classified into two sub-populations, namely: big eye tuna of
south of Java and Nusa Tenggara, thought to have come from
the Pacific Ocean; sub-populations west Sumatra is derived
populations of the Indian Ocean. From a research on gonad
maturity index, it was found that both sub-populations
spawning season occurs throughout the year.
Data dan Sampel
Data utama yang dikumpulkan berupa data basis keragaman genetik (mtDNA) yang diperoleh dari analisis genetik
terhadap contoh jaringan (sirip) dan data biologi reproduksi (maturity dan Gonado Somatic Index) yang diperoleh dari
hasil preparasi jaringan gonad di laboratorium. Data biologi tiap individu ikan tersebut dilengkapi data karakter biologi
individu ikan yang disampling (ukuran panjang/berat), serta catatan tentang operasional penangkapan dari kapal yang
diikuti (posisi lintang-bujur) pada waktu ikan tertangkap.
40
Temuan
Nilai keragaman haplotipe (genetik) kelompok sampel ikan tuna mata besar di Samudera Hindia berkisar antara
0,7766-0,8267 dengan nilai rata-rata 0,8017. Jarak genetik antar kelompok sampel adalah 0,0038. Dendrogram yang
dibentuk berdasarkan jarak genetik menunjukkan bahwa kelompok sampel ikan tuna mata besar yang diamati dapat
dibagi menjadi dua kelompok populasi (subpopulasi), yaitu kelompok pertama terdiri dari ikan tuna mata besar yang
berasal dari kelompok sampel Samudra Hindia selatan Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan kelompok kedua yang berasal
dari kelompok sampel Samudra Hindia barat Sumatera. Subpopulasi Samudera Hindia selatan Jawa dan Nusa Tenggara
diduga merupakan populasi yang berasal dari Samudera Pasifik, sedangkan subpopulasi Samudera Hindia barat Sumatera
merupakan populasi yang berasal dari Samudera Hindia. Dari hasil analisis gonad (Tingkat Kematangan Gonad/TKG)
terlihat bahwa musim pemijahan ikan tuna mata besar di Samudra Hindia (barat Sumatera dan selatan Jawa) diduga terjadi
sepanjang tahun.
Aplikasi
Data/informasi tentang status stok (struktur populasi) ini penting untuk melihat hubungan kekerabatannya dengan stok
lain di wilayah lainnya. Informasi ini juga merupakan kontribusi Indonesia kepada IOTC (*'"),
sebagai upaya bagi pengelolaan sumberdaya tuna di Samudera Hindia berbasis ‘unit biologi’ (unit stok).
Inovator/ Peneliti
Nama
: Budi Nugraha, Irwan Jatmiko dan Dian Novianto
([email protected])
Instansi : Loka Penelitian Perikanan Tuna (LPPT) Benoa
Alamat : Jl. Raya Pelabuhan Benoa, Denpasar Selatan, Bali 80223
41
TUNA SBT, MAHAL HARGANYA LANGKA STOKNYA
Perspektif
Ikan tuna sirip biru
selatan atau lebih dikenal
sebagai Southern Bluefin
Tuna/SBT (')
adalah jenis tuna beruaya sangat jauh dan hidup
di perairan Samudera Hindia. Fenomena yang sangat
menarik, SBT memijah di perairan Selatan Jawa dan Bali,
kemudian beruaya ke selatan dan barat hingga mencapai
selatan Australia pada umur 2-3 tahun. Pada umur
4-5 tahun, mereka menyebar di selatan dan tenggara
Australia dan banyak ditangkap nelayan Australia untuk
dibesarkan di dalam keramba. Hasil tangkapannya pada
tahun 1960-an mencapai 80.000 ton/tahun, kemudian
terus menurun hingga saat ini tertangkap tidak lebih
dari 10.000 ton/tahun. Dikhawatirkan, jenis ikan
42
ini akan mengalami kepunahan, sehingga pada 1994
dibentuk lembaga regional ""2
&' (CCSBT) yang mengatur
pengelolaan secara bersama.
The Southern Bluefin Tuna / SBT (')
is a highly migratory species of tuna live in the Indian
Ocean. Its selling price is very expensive so most hunted
by fishermen. As a result, their catch has declined from
year to year until nowadays caught no more than 10,000
tons / year. It is deeply concerned this fish species will
become extinct so that in 1994 the Commission for
Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) was
established to collaboratively govern the management of
tuna.
Hasil Kajian
Di Indonesia SBT tertangkap rawai tuna di perairan selatan Jawa dan Bali pada kedalaman 150-200 m, tepatnya di
bawah thermocline dengan suhu air yang rendah. Sebagian besar hasil tangkapan SBT didaratkan di pelabuhan Benoa,
Bali dan kadang-kadang di pelabuhan perikanan Cilacap. Tahun 2005 total tangkapan SBT yang didaratkan di Indonesia
mencapai 1.831 ton, namun pada tahun 2010 menjadi 496 ton. Indonesia diberikan kuota untuk menangkap ikan
ini sebesar 685 ton (2012); 707 ton (2013) dan kuota ini meningkat menjadi 750 ton per tahun pada 2014. Ukuran
panjang ikan yang tertangkap 120-205 cm dengan kisaran terbanyak berkisar 160-180 cm (September-April). Hasil
penelitian Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan (P4KSI) bekerjasama dengan
CSIRO Australia, menunjukkan bahwa pada ukuran 160-180 cm sebagian besar ikan dalam keadaan bertelur. Artinya,
jika ditangkap secara berlebihan sangat riskan terhadap kelestariannya. Untuk itu, pemanfaatannya perlu dikontrol.
Peluang dan Pemanfaatan
SBT merupakan komoditas ekspor dan jarang dijumpai di pasaran lokal/domestik. Pasar utama adalah Jepang sebagai
bahan sashimi dan sushi. Untuk bahan sashimi dagingnya sangat lezat terutama di bagian perutnya yang disebut “toroh”.
Harga ikan SBT segar kualitas terbaik di pasar Sukiji Jepang (tahun 2006) mencapai 50-60 US dolar/kg. Jika nelayan
rawai tuna bisa menangkap satu ekor ikan ini dengan berat 200 kg maka dia akan memperoleh uang sekitar 10.000 US
dolar (Rp 90 juta/ekor). Saat ini diperkirakan harga ikan SBT jauh lebih mahal lagi.
Inovator/ Peneliti
Nama
: Wudianto dan Tim Peneliti
([email protected])
Instansi : Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi
Sumberdaya Ikan (P4KSI)
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
43
RUMPON, ALAT BANTU PEMIKAT IKAN
Perspektif
Rumpon adalah alat
bantu yang berfungsi
memikat ikan agar berkumpul
dalam satu lokasi, sehingga mudah
ditangkap. Bagi ikan, fungsi rumpon
sebagai tempat berteduh, berlindung dari predator dan
juga tempat mencari makan. Rumpon dapat meningkatkan
efisiensi penangkapan. Intensifikasi penggunaan rumpon
diikuti berkembangnya usaha penangkapan tuna skala rakyat
(<20 GT), menggunakan berbagai jenis alat tangkap seperti:
pancing tonda (troll), pancing ulur (hand line), pancing
layang-layang (kite hook and line), pancing tegak (2),
dan jaring insang (gillnet).
Fish Aggregating Devices (FADs) is a tool that attracts fish
to gather in one location to be easily captured. For fish,
cages have function as a shelter, refuge from predators and
foraging field. FADs can improve capture efficiency. For the
long term, the use of uncontrolled FADs in capture fisheries
will result in negative impact on the sustainability of fish
resources. The dominance of the catch in the tuna close
to the cage is generally small size (small tuna). Therefore,
the management of which required the application of
conservative and cautious (Cautionary) approaches are
deemed to be necessary.
Temuan
Hasil penelitian tahun 2010 di PPN Prigi Jawa Timur, menunjukkan ukuran panjang ikan tuna yang tertangkap di
rumpon, untuk jenis tuna mata besar 95 ekor dengan dominasi panjang tubuh (panjang cagak – FL) pada kisaran 40–
44 cm dan tuna sirip kuning 107 ekor pada kisaran 28–32 cm. Hal ini menggambarkan hasil tangkapan berukuran
belum dewasa (small tuna). Tingkat kematangan gonad tuna sirip kuning dan tuna mata besar yang tertangkap di
rumpon berada pada tingkat belum matang gonad (immature) atau dengan kata lain belum layak tangkap.
44
Potensi Pemanfaatan
Pemanfaatan dan pengelolaan secara bersama (community based management),
pengendalian upaya penangkapan (effort), batasan ukuran ikan yang tertangkap
serta jumlah dan jarak antar rumpon perlu diatur untuk memperbaiki tingkat
pemanfaatan sumberdaya yang ada. Surat Keputusan Menteri Kelautan
dan Perikanan Nomor: KEP. 30/MEN/2004, tentang pemasangan dan
pemanfaatan rumpon, menyatakan bahwa rumpon dipasang dengan jarak
pemasangan 10 mil laut antara rumpon satu dengan rumpon lainnya.
Dampak
Untuk jangka panjang, penangkapan ikan tuna di rumpon dikhawatirkan berdampak negative
terhadap kelestarian sumberdaya yang ada, bila pemanfaatannya tidak terkontrol dengan
dominasi hasil tangkapan berukuran kecil. Oleh sebab itu diperlukan penerapan pengelolaan
yang bersifat konservatif dan berhati-hati.
Inovator/ Peneliti
Nama : Erfind Nurdin ([email protected])
Instansi : Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) Muara Baru
Alamat : Jl. Muara Baru Ujung, Kompleks Pelabuhan Perikanan
Samudera Nizam Zachman, Muara Baru - Jakarta Utara 14440
45
SI LAMBUNG KEMBAR BERTENAGA SURYA
Perspektif
Kapal lambung kembar
(twin hull) atau biasa
dikenal katamaran memiliki
keistimewaan dibandingkan kapal
lambung tunggal (monohull). Kelebihannya
adalah tahanan yang lebih kecil dan kapasitas dek yang
lebih luas. Kapal multifungsi (penelitian, pemantauan dan
perikanan) ini, didesain menggunakan mesin 6 tenaga kuda,
berkecepatan 11 km/jam dan berbahan , mampu
menjadi solusi kebutuhan masyarakat dan nelayan tanpa
khawatir merusak atau mencemari lingkungan.
The twin-hull vessel (catamaran) has advantages compared
to mono-hull vessel. First it has lower hull resistance,
second it has bigger deck capacity. Designed with six
horsepower engine (6 HP), speed of 11km/hr, and
constructed from fibre glass material, it can serve as multipurpose vessel (research, surveying, and fishing). Also, it
can be a solution for green and eco-friendly vessel.
Keunggulan
Katamaran dipilih karena tipe lambung kembarnya, sangat cocok sebagai sarana angkut dengan geladaknya luas
dan lebih besar. Disamping itu, olah geraknya lebih mantap dan stabil, bahkan pada tinggi gelombang hingga 0,8
meter. Pokoknya nyaman untuk sarana transportasi. Pembuatan lambung kapal dari yang ringan telah
meningkatkan kapasitas angkut kapal jenis ini. Teknik pembuatan yang sederhana dan material yang banyak tersedia
memberikan peluang bagi berkembangnya pembangunan jenis kapal ini di daerah.
46
Potensi Aplikasi
Di saat harga BBM melambung, matahari sebagai sumber energi surya yang berlimpah di Indonesia,
dapat digunakan sebagai tenaga penggerak motor listrik kapal. Selain ramah lingkungan, kapal katamaran
tenaga surya memberikan nilai tambah bagi pelestarian ekosistem perairan. Lagi pula dapat digunakan
untuk berbagai keperluan, antara lain:
$'
digunakan pembudidaya rumput laut; untuk pengangkut hasil perikanan di perairan sempit
(sungai dan danau), dan sebagai kapal pulang hari ().
$'
pengangkutan sampah padat; pemantauan perairan; pengambilan sampel air.
$$'
olah raga memancing; selam; wisata danau dan sungai; dan sebagai sarana
pengenalan energi alternatif.
Inovator/ Peneliti
Nama : Donal Daniel Manurung
Instansi : Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan
dan Perikanan (P3TKP)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
Email : [email protected]
47
MENANGKAP IKAN DENGAN “SMS”
Perspektif
Keberadaan ikan di suatu
perairan sangat dipengaruhi
oleh faktor oseanografi dan
ketersediaan makanan. Dengan
mengetahui kedua kondisi tersebut
selanjutnya dapat diduga keberadaan suatu jenis ikan di suatu
perairan. Pengetahuan tentang keberadaan suatu jenis ikan
di lokasi tertentu, akan sangat membantu nelayan untuk
mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah.
Knowledge on the presence of a species of fish in a
particular location will help fishermen to obtain abundant
catches. The existence of a species of fish associated with
environmental oceanographic conditions. Satellite remote
sensing can be used to monitor the characteristics and
dynamics of water for the oceanographic conditions.
Since the year 2000, Maps of Local Forecast on Fishing
Area (PPDPI) has been developed. Currently, PPDPI has
contained the information on wave height, wind speed
and direction for the safety at sea. With the advancement
of technology, the developed PPDPI can be distributed via
short message service (SMS).
Keunggulan
Salah satu data yang dapat digunakan untuk menduga parameter oseanografi (suhu, arus) dan ketersediaan makanan
(klorofil-a) adalah data satelit penginderaan jauh. Sistem penginderaan jauh satelit dapat memantau karakteristik
dan dinamika lingkungan perairan dengan cakupan area yang luas. Selain itu datanya bersifat kontinu dan memiliki
kemampuan memprediksi fenomena di laut dengan cepat dan tepat. Untuk itu dikembangkanlah Peta Prakiraan
Daerah Penangkapan Ikan (PPDPI), dan sudah beroperasi sejak tahun 2000 lalu.
48
Potensi Aplikasi
Dalam pengembangannya, PPDPI saat ini sudah dilengkapi pula dengan informasi mengenai tinggi gelombang, arah dan
kecepatan angin untuk panduan keselamatan pelayaran. Ke depan diharapkan kita dapat menghasilkan PPDPI per jenis
sumber daya ikan. Dengan kemajuan teknologi yang ada, dikembangkan pula penyebaran PPDPI melalui short message
2 atau yang biasa dikenal sebagai SMS.
Keunggulannya adalah:
*=
$*
Q=[
Aplikasinya bisa dimanfaatkan untuk:
\
$
$
]
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim peneliti
Instansi : Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) Perancak-Bali
Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan
Perikanan (P3TKP)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
49
MENGUNGKAP STOK UDANG LAUT ARAFURA
Perspektif
Penangkapan udang
di Laut Arafura sudah
dilakukan mulai 1970-an
melalui usaha patungan (joint
2) antara Indonesia dengan Jepang.
Pada perkembangannya perusahaan tersebut menjadi
PMDN. Saat ini basis operasional penangkapan udang
yang utama terdapat di Sorong, Ambon, Benjina, Merauke
dan Kendari. Dengan perkembangan tersebut, tekanan
penangkapan terhadap sumberdaya udang ikut bertambah.
Hasil penelitian menunjukkan, periode tahun 1970-1984
produksinya rata-rata sekitar 30% dari total nilai ekspor
udang Indonesia per tahun, sekitar 60% diantaranya
merupakan udang jerbung (white shrimp). Tahun 2005, stok
udang di Laut Arafura diperkirakan menyumbang 45%
dari seluruh stok udang Indonesia. Untuk menangkap
udang digunakan pukat udang, hasil tangkapannya tidak
hanya udang tetapi juga jenis biota laut lainnya sebagai hasil
tangkapan sampingan (by-catch).
50
Shrimp fishing effort in the Arafura Sea dates as far back
as 1970s through the Indonesian-Japanese joint venture
in Ambon and Sorong. Shrimp trawl fishing gear catches
not only shrimp but also other types of biota as by-catch.
Over years of utilization, this type of gear is proven to be
hazardous for the fish resources in the oceans. One study
shows, the catch per unit effort (CPUE) and density trends,
tend to decline from year to year. Through the application
of Schaefer and Fox models, it is known that Maximum
Sustainable Yield (MSY) ranges 37250-38550 ton / year
with optimum effort between 669-857 using shrimp
trawlers (130 GT). In biology, utilization rate (2008) is at
optimum level with the smaller size of shrimp caught.
Temuan
Hasil penelitian menunjukkan, terdapat lebih dari 17 jenis udang penaeid dari 4 kelompok jenis, yaitu kelompok udang
windu (Penaeus monodon, P. semisulcatus, P. esculentus); udang jerbung (Penaeus merguiensis); udang dogol (Metapenaeus ensis,
+2+); dan udang krosok (Parapenaeopsis stylifera, P. cornuta, P. arafurica, Solenocera australiana).
Distribusi geografisnya berbeda menurut sub area. Udang jerbung, dogol dan krosok terkonsentrasi di sebelah barat
daya Papua dan sekitar Pulau Dolak. Udang windu banyak tertangkap di Aru. Tren kepadatan stok, menurun dari tahun
ke tahun. Berdasarkan lokasi penangkapannya, stok udang di Kaimana dan Dolak relatif lebih tinggi dibandingkan
daerah lainnya.
Status Sumberdaya
Berdasarkan data hasil tangkapan dan upaya tahun 1986-2008, indeks kelimpahan stok (CPUE) cenderung menurun.
Melalui aplikasi model Schaefer dan Fox diperoleh nilai dugaan MSY berkisar 37.250 – 38.550 ton/tahun dengan
upaya optimum antara 669 -857 kapal pukat udang (130 GT). Secara biologi, tingkat pemanfaatan udang di Laut
Arafura pada tahun 2008 berada pada tingkat optimum disertai dengan meningkatnya udang krosok yang berukuran
kecil. Untuk menjaga kelestarian sumber daya dan keaneragaman hayati tetap terpelihara, maka sebaiknya hasil
tangakapan sampingan agar diupayakan sesedikit mungkin yang ikut tertangkap.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim peneliti Udang BPPL
Instansi : Balai Penelitian Perikanan Laut (BPPL) Muara Baru
Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumberdaya Ikan (P4KSI)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
51
SINAR GAMMA SEBAGAI DISINFEKTAN
UDANG VANAMEI
Perspektif
Udang merupakan
komoditas utama perikanan
Indonesia. Upaya peningkatan
produksi udang sering terkendala
ancaman penyakit, misalnya vibriosis oleh
32. Penggunaan benih bebas patogen spesifik
(SPF/
!) merupakan salah satu strategi
pengelolaan penyakit. Pada budidaya udang vaname, benih
udang yang ditebar membutuhkan air laut yang bebas
mikroorganisme patogen.
Efforts to increase shrimp production is often constrained
by the threat of disease, such as vibriosis. The use of specific
pathogen-free seed (SPF / Specific Pathogen Free) is one
of disease management strategies. At the white shrimp
farming, shrimp seeds were stocked requiring sea water
free of pathogenic microorganisms. The use of conventional
disinfectants using chemicals potentially damages to the
environment. Alternatively, irradiation with gamma rays
Cobalt 60 radiation source, the dose of 20 kGy, proved
to be capable of killing pathogenic microorganisms and
parasites more effectively. This process is able to kill the
bacteria 32 in a relatively short time.
Teknologi
Selama ini disinfektan dilakukan secara konvensional menggunakan bahan-bahan kimia. Kini penggunaan
teknologi radio isotop memungkinkan dilakukan disinfektan tanpa bahan kimia. Irradiasi dengan sinar gamma
berpotensi besar sebagai alternatif metode disinfeksi air laut secara praktis dan cepat, karena mampu membunuh
mikroorganisme patogen dan parasit lebih efektif.
52
Temuan
Berdasarkan hasil penelitian, untuk mematikan 32yang terkandung dalam air laut, dapat
dilakukan iradiasi terhadap air laut menggunakan radiasi sinar Gamma dengan sumber radiasi Cobalt 60,
dosis 20 kGy. Proses ini membutuhkan waktu singkat dan mampu menumpas bakteri 32 penyebab
Vibriosis pada udang dalam waktu relatif singkat.
Peluang Aplikasi
Teknologi baru ini dapat diaplikasikan dalam budidaya udang vaname, terutama untuk
sterilisasi air pada hatchery, dan juga potensial jika diaplikasikan untuk sterilisasi air tambak
dan produk perikanan lainnya.
Inovator/ Peneliti
Nama : Niken F. Gusmawati, Lolita Thesiana, Penny Dyah K
Instansi : Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan
Perikanan (P3TKP).
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
Email : [email protected]
53
“KOMPARTEMEN” PRAKTIS UNTUK
SI LOBSTER HIJAU
Perspektif
Lobster, selain memiliki
rasa daging yang enak
harganya juga relatif mahal.
Salah satu jenis lobster yang
potensial di Indonesia adalah lobster
hijau atau dikenal juga lobster hijau pasir. Lobster jenis ini
kini banyak dibudidayakan masyarakat. Tingkat kelangsungan
hidup dan pertumbuhannya yang pesat, merupakan tujuan
dari proses budidaya lobster hijau pasir ini. Namun, selama
proses budidaya maupun penyimpanan di bak, banyak sekali
gangguan yang datang, baik dari organisme budidaya itu
sendiri (seperti kanibalisme), maupun penyakit, serta juga
faktor lingkungan perairan yang kurang kondusif.
Green sand lobster generally is susceptible to pests and
diseases, due to unfavorable environmental factors. That is
why there is a need to design a container that can reduce
all these disorders, as well as supporting the growth and
survival during cultivation. The innovation brings the
use of “compartments” made of fiber glass. Cube-shaped
compartments can be created and easily applied by fishing
communities without fabrication. It can also be applied
to systems of marine aquaculture in floating cages (KJA)
and allows for application at water locations with extreme
waves and currents.
Temuan
Untuk itu dibutuhkan solusi dengan merancang suatu wadah yang bisa meredam semua gangguan
tersebut. Sekaligus diharapkan konstruksi wadah tersebut bisa mendukung pertumbuhan dan
kelangsungan hidupnya selama dibudidayakan. Pilihannya jatuh pada penggunakan “kompartemen”
berbahan atau bahan jenis lainnya.
54
Peluang Aplikasi
Kompartemen yang berbentuk kubus ini berfungsi sebagai pelindung sekaligus wadah budidaya. Dapat
dibuat dengan mudah dan diaplikasikan oleh masyarakat nelayan tanpa perlu fabrikasi. Menggunakan
material lebih awet dari pada menggunakan jaring. Mudah dalam sistem pemberian pakan dan
pengontrolan kondisi lobster, serta mudah dalam perawatan. Komparteman ini juga dapat diaplikasikan
pada sistem budidaya laut (marikultur) di keramba jaring apung (KJA). Karena bentuknya yang kompak,
memungkinkan pula untuk diaplikasikan pada lokasi perairan dengan gelombang dan arus yang ekstrem.
Inovator/ Peneliti
Nama : Nur Azmi Ratna Setyawidati
Instansi : Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan
dan Perikanan (P3TKP)
Alamat : Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur,Jakarta Utara
Email : [email protected]
55
Perspektif
Upaya pencegahan
penyakit yang disebabkan
oleh bakteri, utamanya oleh
bakteri berpendar (vibriosis) pada
budidaya udang windu saat ini dapat dilakukan
melalui diagnosis cepat menggunakan metode molekuler
dengan teknik PCR "%.
Preventive efforts toward bacteria- caused diseases
particularly luminous bacteria (vibriosis) in tiger shrimp
culture, nowadays can be done through quick diagnosis
using PCR technique. Compared to commercial kit, the
primer output is more specific and sensitive in detecting
the presence of pathogenic luminous bacteria directly from
shrimp organ sample.
Hasil Kajian
Pengujian spesifisitas dilakukan untuk pasangan primer haemolysin (IAVhF1 dan IAVhR1), serta
pasangan primer gyrase (IAGyrF1 dan IAGyr2). Suhu annealing yang optimal adalah kisaran 59C- 60C.
Gen haemolysin dan gyrase yang dimiliki oleh bakteri Vibrio berpendar patogenik dapat dijadikan
sebagai penanda spesifik. Penanda haemolysin dapat mendeteksi Vibrio berpendar patogenik pada
tingkat sensitivitas 100 CFU/mL dan konsentrasi DNA 10 pg/mL. Hasil primer lebih spesifik dan lebih
sensitif mendeteksi keberadaan bakteri Vibrio berpendar patogenik langsung dari sampel organ udang
yang sakit dibandingkan kit komersial.
56
Peluang dan Manfaat
Dapat dijadikan alat deteksi yang akurat di lapangan dalam rangka
mencegah perluasan serangan bakteri berpendar.
Inovator/ Peneliti
Nama
: Ince Ayu Khairana Kadriah dan
Muharijadi Atmowiloto
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Telp.
: 0411-371544/45
57
SATU LAGI CARA BUDIDAYA
POLIKULTUR ALA IMTA
Perspektif
Prinsip dasar IMTA
(Integrated Multi Trophic
Aquaculture) adalah aliran nutrient
dan enerji dari limbah pakan dari udang/
ikan sebagai trophic pertama mengalir ke komoditas
lainnya yang lebih rendah tingkatannya, yaitu teripang
atau kekerangan (tropic menengah) dan terendah adalah
rumput laut. IMTA selain memanfaatkan enerji juga
nutrien sekaligus sebagai diversifikasi komoditas yang
ramah lingkungan.
The basic principle of IMTA is the flow of nutrient and
energy generated from fish/shrimp food waste as the first
tropic level flowing to other subordinate commodities
such as sea cucumber and shellfish (medium tropic level)
and being the lowest is seaweed. Survival rate of tiger
shrimp increases from 50,68 % (monoculture) to 71,26
% by IMTA System.
Hasil Kajian
Komoditas budidaya yang digunakan adalah udang windu (Penaeus monodon), udang vaname (Lithopenaeus
2), nila merah (Oreochromis niliticus), kekerangan (" dan Saccostrea cucullata) dan
rumput laut (52) dipelihara secara bersama di tambak..
Sintasan udang windu meningkat dari 50,68% (monokultur) menjadi 71,26% dengan sistem IMTA.
Produksi udang windu pada budidaya sistem IMTA mencapai 1.488 kg/petak (3.720 kg/ha).
58
Peluang/Manfaat
Sistem IMTA dapat meningkatkan keuntungan tidak hanya
dari udang, namun juga dari produksi komoditas lainnya.
Inovator/ Peneliti
Nama : Tim Peneliti BPPBAP, Maros
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540.
Email : [email protected]
Telp.
: 0411-371544/46
59
Perspektif
Pasokan induk udang
alam sudah tidak bisa lagi
dijamin untuk menghasilkan
benur bermutu dan aman untuk
dibudidayakan, karena uji laboratorium
menunjukkan bahwa induk alampun sudah terinfeksi virus.
Produksi induk unggul yang mempunyai sifat Specific
Pathogen Resistant (SPR) merupakan salah satu solusinya.
Supply of natural broodstock can no longer be guaranteed
to produce quality and safe larva cultivated, because
laboratory testing showed that the natural broodstock
already infected with the virus. Production excellent
broodstock that have superior properties of SPR could be
one solution.
Tape number 317 of mikrosatellite results can be used as a
marker that the shrimp have resistance to bacterial attack V.
62, whereas the tape number 520 bp is WSSV-resistant
marker. 3963 numbers of PL obtained from F1 are used as
broodstock for the next breeding activities. Survival rate
increased from 6.67% to 66.67% when challenged with
bacterial attack
Hasil Kajian
Pemeliharaan induk dengan menggunakan sistem resirkulasi berdasar pasir, kemudian dilanjutkan di tambak.
Kegiatan pemuliaan dilakukan dengan menerapkan MAS (+0) .
Selain kecepatan tumbuh dan tahan virus penyebab WSSV, parameter lainnya adalah tingkat kematangan gonad,
waktu pematangan gonad, pemijahan dan penetasan telur, serta kualitas larva.
Pita no 317 hasil mikrosatelit dapat dijadikan penanda bahwa udang tersebut mempunyai ketahanan terhadap
serangan bakteri 362, sedangkan pita 520 bp adalah penanda tahan WSSV. Didapatkan 3.963 PL dari F1
yang dijadikan sebagai calon induk untuk kegiatan pemuliaan berikutnya. Sintasan meningkat dari 6,67% menjadi
66,67% pada saat ditantang dengan serangan bakteri.
60
Peluang dan Manfaat
Peningkatan sintasan sebesar 60% dapat meningkatkan keuntungan
pembudidaya secara nyata.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
Alamat
Email
Hp.
:
:
:
:
:
Syarifuddin Tone, Andi Parenrengi, Andi Tenriulo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540
[email protected]
0812-4255-792
61
HEMAT PAKAN DENGAN APLIKASI BIOFLOK
PADA PEMELIHARAAN UDANG VANAMEI
Perspektif
Biaya produksi terbesar
pada budidaya udang adalah
biaya pakan yang mencapai 70%
dari total biaya produksi. Penerapan
Bioflok merupakan salah satu alternatif dalam efisiensi
biaya, karena teknologi bioflok dapat memanfaatkan
cemaran dari limbah organik, terutama amoniak yang
dapat dikonversi menjadi protein bioflok, dan selanjutnya
bioflok tersebut dapat dimanfaatkan sebagai subsitusi
pakan bagi udang yang dibudidayakan.
In shrimp culture, the feed cost takes up to 70% of
total production costs. The application of Biofloc is
economically efficient as this technology enables the
utilization of organic waste particularly ammonia
into biofloc protein which can be subsequently used
as substitute feed for the cultured shrimp. Biofloc
cultivation can serve as a replacement to commercial
feeding with 50% higher level of protein resulting in
equal yields with FCR 1,89 compared to 1,61.
Hasil Kajian
Penumbuhan bioflok dilakukan dengan penambahan molase sebanyak 40-60% dari total pakan yang diberikan
dengan kadar protein yang lebih rendah, C: N di air tambak dipertahankan pada > 10 : 1 pada pemeliharaan
udang vanamei dengan kepadatan 125 ekor/m2 selama 120 hari. Penumbuhan bioflok dapat menggantikan
50% pemberian pakan komersial dengan kadar protein yang tinggi dengan hasil yang setara, yaitu nilai konversi
pakannya 1,89 dibandingkan 1,61.
62
Peluang dan Manfaat
Penghematan biaya akibat mahalnya pakan dengan kadar
protein yang tinggi dapat disiasati dengan penumbuhan
bioflok dengan pemberian molase.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
Alamat
Email
Hp.
:
:
:
:
Gunarto, Usman, Abdul Mansyur,
Nur Ansari Angka dan Brata Pantjara
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540
[email protected]
0813-4278-8509
63
PAKET PRAKTIS, POLIKULTUR UDANG GALAH, NILA
DAN NILEM DENGAN SISTEM AKUAPONIK
Perspektif
Ketersediaan air di alam
semakin terbatas, sehingga
diperlukan suatu terobosan dalam
teknologi budidaya ikan yang hemat
air. Akuaponik merupakan salah satu alternatif
pemecahannya. Penggunaan biofilter yang dikombinasikan
dengan pemeliharaan dengan jenis ikan lain yang berbeda
posisi dalam rantai pakan merupakan suatu teknologi
praktis yang layak untuk usaha skala rumah tangga.
As the availability of natural fresh water becomes scarce,
aquaponic is a ground breaking alternative in aquaculture
technology as it is water efficient. This method uses
biofilter combined with various species of fish cultured
in one tank. Harvest of giant freshwater shrimp along
with tilapia and carp as well as snails and assorted kinds
vegetable is made possible by applying this system.
Hasil Kajian
Pemeliharaan udang galah yang air limbahnya dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan nila dan nilem,
serta dilengkapi dengan sistem resirkulasi-biofilter dengan menggunakan keong air,
tanaman kangkung dan tanaman hias air, telah sukses diuji coba pada skala rumah tangga.
Panen udang galah di ikuti dengan panen ikan nila dan nilem; keong dan sayuran kangkung; dan
tanaman hias sebagai bonus, merupakan kelebihan dari sistem ini.
64
Peluang / Manfaat
Pengembangan secara masal teknologi aplikatif ini akan dapat
dijadikan sebagai sumber pendapatan atau setidaknya sumber
protein bagi keluarga/rumah tangga.
Inovator/ Peneliti
Nama : Sutrisno dan Heri Setiadi
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Hp.
: 0812-9560-461
65
MEMACU MATURASI UDANG WINDU
DENGAN PAKAN FORMULA
Perspektif
Rendahnya performansi
reproduksi induk asal tambak
diduga berhubungan dengan
tidak lengkapnya komposisi nutrisi
yang esensial dalam pakan yang diberikan selama masa
perkembangan gonad (fase prematurasi dan maturasi).
Pengembangan pakan buatan untuk induk udang windu
menjadi salah satu aspek yang perlu diprioritaskan dalam
mendukung suksesnya usaha budidaya udang windu.
The low reproductive performance of parent of origin
ponds were related to incomplete composition of essential
nutrients in the feed during gonadal development (phase
pre maturation and maturation). The use of formula feeding
with flour worms as much as 10% on a dry pellet combined
fresh feed (squid) with a proportion of 60%: 40% can
increase the number of broodstock maturation of up to 80%
compared to fresh feed used by farmers.
Hasil Kajian
Penggunaan formula pakan dengan tepung cacing sebanyak 10% pada pellet kering yang dikombinasikan
pakan segar (cumi-cumi) dengan proporsi 60%:40%, diberikan pada induk udang windu dengan berat
> 90g (betina) dan >70g (jantan). Formulasi ini dapat meningkatan jumlah induk yang maturasi hingga
sebesar 80%, dibandingkan pakan segar yang biasa digunakan oleh pembudidaya. Sedangkan jumlah
naupli yang dihasilkan tidak berbeda antara keduanya.
66
Peluang/Manfaat
Peningkatan jumlah induk yang sudah mencapai maturasi, dapat mengurangi
besarnya biaya produksi per satuan larva, karena jumlah larva total yang
semakin banyak.
Inovator/ Peneliti
Nama : Asda Laning
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540
Email
: [email protected]
Hp.
: 0813-8913-3535
67
GI Macro 2, VARIETAS UNGGUL UDANG GALAH
Perspektif
GI Macro adalah varietas
udang galah hasil pemuliaan
yang sudah dirilis pada tahun
2001. Perbaikan mutu genetis terus
dilakukan untuk memperbaiki keragaan udang
galah GIMacro.
GI Macro is a giant fresh water shrimp strain resulted from
genetic improvement which has been released in 2001.
Genetic improvement is continuously conducted to enhance
the performance of Gi Macro giant fresh water shrimp.
Growth rate of this strain is 100% higher than that of
control towards brackish water shrimp culture in ponds in
Karawang region
Hasil Kajian
Seleksi family diterapkan pada populasi udang galah Gi Macro untuk perbaikannya. Hasil turunan pada generasi 4
atau F3, telah di ujicoba di sejumlah sentra udang galah di Indonesia.
Kegiatan seleksi meningkatkan pertumbuhan panjang standar sebesar 4,43%, dengan panjang standar rata-rata
pada betina 76,49±9,28 mm dan pada pejantan 65,36±16,18mm. Percepatan pertumbuhan naik sebesar 100%
dibandingkan kontrol pada pemeliharaan udang di lahan bersalinitas misalnya di Karawang.
68
Peluang dan Manfaat
Peningkatan keragaan udang galah Gi Macro 2 dapat digunakan untuk meningkatkan
produkstifitas budidaya udang galah di Indonesisa.
Inovator/ Peneliti
Nama : Hary Kretiawan, Asep Sopian dan Fajar Angraeni
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Telp.
: 0260-520500
69
ULTRASONIK PEMANTAU PAKAN UDANG
“SEBERAPA RAKUS KAMU MAKAN”
Perspektif
Kebera
Keberadaan
jumlah
da
pelet dalam
ancho
tamb udang
pada tambak
meru
intensif merupakan
indikator
terpenting untuk mengetahui
m
seberapa lama udang memakan
pelet
d areall tambak.
b k Inovasinya
I
i diarahkan
di hk untuk memantau
pada
tingkah laku udang di ancho melalui teknologi ultrasonik
secara terkendali. Tingkah laku populasi udang saat makan
di ancho terpantau selama 1 jam pada area tambak seluas
5000 m2. Rata-rata sinyal akustik yang terekam mempunyai
nilai intensitas diantara 3 dB sampai 4 dB. Semakin tinggi
nilai intensitasnya maka adanya gerakan udang mendekati
sumber makanan. Dengan demikian jumlah sisa pelet
dapat diketahui untuk terhindar dari perubahan kualitas air
tambak yang mempengaruhi nilai FCR !"2
% dan produktivitas udang.
There are amount the shrimp pellet in ancho which is
important indicator to detect the shrimp feeding time in
they ponds. Its invention is to monitor some shirmps by an
intergrated acoustic technology. The shrimps behaviour feed
in ancho to be monitored for one hour that those ponds
5000 m2 wide. The acoustic signal recorded have intensity
between 3 to 4 dB. More high intensity shown the shrimps
behavior by they antena wriggle when the feeding time.
Therefore amount of pellet residu can known to minimize
of water quality change that influence a FCR (Feed
Conversation Ratio) value and the shrimps productivity.
Hasil Kajian
Meningkatnya produksi udang dikarenakan oleh beberapa hal, antara lain: hama penyakit udang, permintaan pasar
sangat besar, dan tidak adanya kuota yang ditetapkan oleh negara pengimpor udang sehingga peluang ekspornya
masih sangat besar. Departemen Perdagangan telah menetapkan komoditas udang pada urutan keenam sebagai
komoditas ekspor non migas. Pemberian makanan berupa pelet, baik yang ditebar maupun yang disimpan dalam ancho
merupakan prosedur standar tambak. Selain sebagai tempat menyimpan pelet, ancho juga dapat menjadi indikator
terhadap pengujian pelet dan nafsu makan udang.
70
Keunggulan Teknologi
1. Waktu pemberian pelet pada ancho udang terkendali. Waktu makan udang
disesuaikan dengan fisiologi udang di dalam tambak.
2. FCR !"2% merupakan nilai kemampuan udang untuk mengetahui seberapa
efektif udang memakan sejumlah pelet berdasarkan umur udang. Dengan demikian efesiensi
pemberian pelet berkorelasi mengurangi biaya pembelian pakan/pelet dalan jumlah besar.
3. Memanfaatkan bahan lokal yang ada di Indonesia
4. Membuka wawasan baru kepada petambak udang dalam menerima teknologi baru
Potensi Aplikasi
Ada 3 (tiga) potensi aplikasi dari inovasi alat ultrasonik pemantau
pakan udang yang harus diperhatikan, yaitu:
1.Potensi Habitat
2. Potensi sumberdaya udang
3. Potensi pasar
Inovator/ Peneliti
Nama : Agus Cahyadi
Instansi : Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan-Wakatobi
Alamat : Jl. Soekarno KM 2 Wangi-wangi 93791
Wakatobi-Sulawesi Tenggara
71
PROBIOTER TERAPUNG MANDIRI (PROTAM)
“MAKANAN SIAP SAJI BERPROTEIN TINGGI”
Perspektif
Probioter Terapung
Mandiri disingkat
PROTAM adalah wahana
yang difungsikan memfasilitasi
bakteri pengurai dan bahan
probiotik lainnnya yang terurai menjadi
nutrien sebagai bahan makanan bagi pertumbuhan plankton
secara mandiri dan ditempatkan terapung di permukaan
air tambak. PROTAM mampu menstabilkan kualitas air
tambak, sintasan (survival rate) udang di atas 65 %, berat
udang rata-rata sekitar 27 gram, dan kestabilan kelimpahan
plankton di atas 8.000 sel/cc.
Probioter Terapung Mandiri is Indonesian term or
PROTAM is the automatic floating container on the shirimp
or fish pond that used to facilate the microorganism and
other probiotik materials which are decomposed to become
the nutrien for the phytoplankton growth. PROTAM ability
stabilize the water quality for the shrimp pond whereas
survival rate of shrimp is more 65% and stabilizing the
phytoplankton abundant is 8000 cel/cc average.
Hasil Kajian
501
s (GAP) atau cara budidaya udang yang baik merupakan tuntutan dan keharusan untuk
dilaksanakan oleh para pembudidaya skala tradisional, semintensif maupun pembudidaya intensif guna menjamin
hasil produksi yang berkualitas, ramah lingkungan dan aman dikonsumsi %. Tantangan untuk melaksanakan
GAP ini cukup besar yang datang dari beberapa permasalahan yang belum dapat teratasi bagi petambak udang.
Permasalahannya seperti penurunan daya dukung lahan tambak, penurunan pencemaran lingkungan, dan timbulnya
serangan penyakit seperti White Spot/WSSV pada udang umur 1-3 bulan yang mematikan dalam waktu singkat.
72
Keunggulan Teknologi
1. PROTAM memfasilitasi bakteri bacillus sp sebagai organisme pengurai bahan organic dalam probiotik secara
mandiri tanpa bantuan operator. Bakteri ini mempunyai fungsi memecah atau menguraikan protein sebagai
bahan makanan plankton sehingga jumlah mikroorganisme dalam tambak udang stabil.
2. Meningkatkan sintasan 22% udang yang berkorelasi terhadap produktivitas udang pun meningkat.
Disamping itu juga flok yang terbentuk menjadi suplemen tambahan sebagai pakan alternative meningkatan
produktivitas udang.
3. PROTAM bekerja secara mekanik, mandiri, terapung dan tidak membutuhkan banyak tempat di dalam tambak.
4. Mudah pengoperasiannya dikarenakan energi untuk mensuplai oksigen kebutuhan bakteri pengurai (probiotik)
digerakan oleh angin secara otomatis.
5. Menjaga kualitas air lebih baik, sehingga stabilitas air tambak terjaga. Sebelumnya pemberian probiotik
diberikan secara manual, mengandalkan tenaga operator tambak sehingga fluktuatif kualitas air tambak tidak
mampu diatasi dengan cepat.
6. Menjaga pemberian pakan berlebih dengan menerapkan konsep
tambak terbebas polusi organik yang berlebihan.
Inovator/ Peneliti
Nama : Agus Cahyadi
Instansi : Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan-Wakatobi
Alamat : Jl. Soekarno KM 2 Wangi-wangi 93791
Wakatobi-Sulawesi Tenggara
73
Perspektif
Target produksi rumput
laut meningkat dari 2,6
juta ton per tahun (2012)
menjadi 10 juta ton per tahun pada
2014. Dukungan teknologi budidaya sangat
dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan budidaya rumput
laut. Salah satu kendala pada proses budidaya rumput laut
saat ini adalah kurang tersedianya bibit yang berkualitas.
Production target of seaweed increases from 2.6 million ton
per year in 2012 to 10 million per year in 2014. Utilization
of genetic improved strain is an alternative to support the
success of seaweed culture. Selection program to seaweed
seed of 52 and 728are being used. Genetic
Improved quality seed are taken from the seaweed with the
highest Daily Growth Rate. Selected seed has higher daily
growth rate (DGR) than internal and external controls,
and increase about 200% of seaweed production using local
variety.
Hasil Kajian
Bibit rumput laut 52dan K28 digunakan sebagai bahan untuk seleksi varietas. Bibit diambil dari
rumpun yang memiliki “laju pertumbuhan harian (LPH)” tertinggi secara cut off. Dilakukan selama 3 siklus secara
bertahap, masing-masing siklus memerlukan waktu 30 hari. Pemeliharaan dengan metode long-line.
Telah diperoleh produk 52sebanyak ± 3.600 kg setelah melalui seleksi dari parent stock, dan Generasi 1-3.
Laju pertubuhan harian (LPH) bibit hasil seleksi varietas lebih tinggi dengan nilai kisaran 4,9 %-8,1 %
dibandingkan dengan kontrol internal (LPH 2,5 %-4,8 %) dan kontrol eksternal (LPH 2,4 %-4,3 %) .
74
Peluang/Manfaat
Produksi rumput laut meningkat sebesar 200% jika menggunakan bibit
unggul hasil seleksi.
Inovator/ Peneliti
Nama
: Petrus Rani P.
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540.
Email : [email protected]
Hp.
: 0852-1620-7601
75
KANTONG RUMPUT LAUT (KRL) “SELAMAT TINGGAL
ORGANISME PENGGANGGU RUMPUT LAUT”
Perspektif
Kantong Rumput Laut
disingkat (KRL) adalah
wadah untuk melindungi
rumput laut dari lumut,
terhindar dari tali rapia, benang
pancing hanyut, serta hama pemangsaan oleh ikan baronang,
dan ikan pelagis kecil lainnya.Terbelitnya sampah laut hanyut
dapat menyulitkan pemisahan dan penanganan hasil panen
rumput laut. Dengan memfalitasi dengan wadah KRL ini
memperbaiki mutu kualitas rumput laut dan berkorelasi
terhadap harga rumput laut di pasaran meningkat secara
signigfinikan.
The seaweed cage which abbrieved KRL or Kantong
Rumput Laut (Indonesian term) is the cage to protect
the seaweed from gulmae, avoid from sea rubbish, a drift
handline and keeping from fishes as predator which eat
some young seaweed. Mixed same rubbish that drift on
sea surface can trouble to separate and handling a cropping
seaweed. By KRL can improve the seaweed quality and
significantly correlated that its high prizing of seaweed in
the market.
Hasil Kajian
Banyaknya gulma atau lumut yang menempel pada batang rumput laut menyebabkan pertumbuhan rumput laut
menjadi terhambat atau pertumbuhan kerdil. Sampah laut sering dijumpai seperti tali plastik (tali rapia, benang
pancing), jaring ikan hanyut dan sampah lainnya menyatu dan terbelit bersama rumput laut. Terbelitnya sampah
tersebut bersama rumput laut mempunyai 2 (dua) masalah, yaitu masalah penanganan hasil 2% menjadi
lebih lama dikarenakan harus dibersihkan terlebih dahulu dan masalah proses pemisahan/penyortiran. Tidak sedikit
sejumlah batang rumput laut terputus %akibat sampah laut yang tercampur merata dengan sesama
rumput laut lainnya.
76
Keunggulan
1. Dapat menjaga kebersihan rumput laut, sehingga kualitas rumput laut tetap terjaga.
2. Teratasinya gulma atau lumut yang menempel pada batang rumput laut dikarenakan terdapat
karbon yang mengeliminir lumut.
3. Rumput laut terhindar dari pemangsaan ikan baronang, ikan julung-julung dan lainnya. Ikan ini memakan
pucuk rumput laut muda. Oleh karenanya pertumbuhan menjadi terhambat bahkan kerdil,
4. Pengontrolan stok rumput laut dalam kantong terjaga.
5. Mempertahankan batang rumput laut karena terputus oleh sesuatu sebab secara non teknis,
misalnya tercabut dengan tidak sengaja saat pemanenan.
6. Produktivitas rumput laut meningkat karena batangnya menjadi besar-besar,
7. Mudah dioperasikan sehingga nelayan atau petani rumput laut tidak akan mengalami
kesulitan dalam mengoperasikan alat ini.
8. Terbuat dari bahan lokal Indonesia.
Inovator/ Peneliti
Nama : Agus Cahyadi
Instansi : Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan-Wakatob
Alamat : Jl. Soekarno KM 2 Wangi-wangi 93791
Wakatobi-Sulawesi Tenggara
77
BENIH BANDENG TUMBUH CEPAT
Perspektif
Benih bandeng dari
hatchery sekitar pantai Utara
di Bali sepuluh tahun terakhir ini
mendominasi pasar lokal dan ekspor,
terutama ke Philipina karena kualitasnya. Peningkatan
kualitas benih melalui program seleksi adalah salah satu cara
untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.
Improvement of milkfish seed quality through selection
program is an alternative to support milk fish seed trading.
Genetic improvement program can raise the weight of
milkfish seed about 23% from catch milkfish.
Hasil Kajian
Seleksi individu terhadap populasi benih-benih bandeng yang berasal dari daerah yang
mempunyai kualitas atau mutu genetik yang baik dilakukan untuk mendapatkan calon induk
bandeng dengan kualitas yang baik. Terdapat kenaikan bobot benih bandeng dari induk
hasil program seleksi sebesar 23% dibandingkan benih control.
78
Peluang dan Manfaat
Penggunaan benih-benih unggul dari induk-induk unggul hasil pemuliaan dapat
meningkatkan produktifitas budiaya bandeng, disamping peluang ekspor yang
semakin besar.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
Alamat
Email
Telp.
: Irwan Setyadi, Agus Priyono, Ketut Mahardika,
Hirmawan Tirta Yudha,Gigih Setia Wibawa
: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
: Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540
: [email protected]
: 0362-92272/71
79
PAKAN EKONOMIS BANDENG BERBASIS
FERMENTASI
Perspektif
Pemanfaatan bungkil kopra
dapat dijadikan sebagai
alternatif dalam penyusunan
formulasi pakan untuk pembesaran
ikan bandeng di tambak. Dengan penggunaan bahan pakan
ini, maka biaya operasional budidaya bandeng menjadi lebih
murah.
Residue of copra can be used as alternative feed formulation
for fishpond milkfish. By using copra residue can reduce
operational cost of milkfish culture so the price of milkfish
will be lower and support the environment cleanliness.
Substitution of this feed about 55 - 65% of total feed will
obtain normal growth.
Hasil Kajian
Penggunaan bungkil kopra yang telah difermentasi dalam pakan ikan bandeng adalah sebanyak
55-65%. Bandeng dipelihara di tambak dengan kepadatan 6.000 ekor/ha. Pakan diberikan setelah
pakan alami berkurang secara drastis. Bandeng dapat tumbuh dengan normal dengan pemberian
pakan ekonomis ini selama pemeliharaan 120 hari.
80
Peluang dan Manfaat
Pemanfaatan limbah pengolahan kopra dapat menghemat biaya opersional
budidaya bandeng, serta mendukung kebersihan lingkungan.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
Alamat
Email
Hp.
: Usman, Neljte N. Palinggi, Kamaruddin,
Noor Bimo Adhiyudanto, Naftali Kabangnga, Asda Laining
: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
: Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540.
: [email protected]
: 0852-8178-651
81
PATIN SUPER GROWTH, MEMECAHKAN
MASALAH LAMA PEMELIHARAAN PADA PATIN
Perspektif
Perkemban budidaya
Perkembangan
sia terkendala
ikan patin siam
oleh lama pemel
pemeliharaan yang
mencapai 7-8 bulan dalam
dal satu
i d PPenemuan ddan penggunaan ik
periode.
ikan patin yang cepat
tumbuh akan dapat memangkas lama pemeliharaan, serta
menekan biaya produksi sehingga bisnis budidaya ikan patin
siam menjadi lebih menarik
The innovation and usage of grow fast catfish can make
cultivation faster and reduce cost production. Catfish super
growth is produced with trans genesis technique by using
catfish hormone growth. The growth rate of catfish super
growth is 20% higher than normal catfish.
Hasil Kajian
Ikan patin super growth diproduksi dengan teknik trans genesis dengan
menggunakan hormon pertumbuhan 5#% dari ikan patin sendiri.
82
Peluang / Manfaat
Terjadi kenaikan pertumbuhan sebesar 20%
pada patin super growth dibandingkan ikan patin normal
Inovator/ Peneliti
Nama
: RR. Sri Pudji, Sularto, Wahyu Pamungkas dan
Ika Nurlaela
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Telp.
: 0260-520500
SG = Super Growth
83
NILA SRIKANDI, VARIETAS IKAN NILA
UNTUK DAERAH TAMBAK
Perspektif
Banyak areal tambak
udang windu yang
terbengkalai akibat adanya
wabah pada budidaya udang
windu. Pemanfaatan tambak-tambak ini
untuk budidaya ikan nila merupakan salah satu alternatif
dalam meningkatkan pendapatan pembudidaya. Produksi
varietas ikan nila yang tahan salinitas tertentu akan dapat
membantu keberhasilan budidaya ikan nila tersebut.
The utilization of unused shrimp pond for tilapia is one of
the alternatives to increase income of Aquaculture farmer.
Srikandi tilapia produced by genetic improvement of tilapia
by family selection with salinity tolerance level. Srikandi
tilapia can grow faster on salinity until 30 ppt.
Hasil Kajian
Ikan nila Srikandi didapatkan melalui program pemuliaan, yaitu seleksi family
terhadap toleransi tingkat salinitas. Selain itu perbaikan pertumbuhan juga
merupakan aspek yang ikut diperbaiki. Ikan nila Srikandi dapat tumbuh cepat pada
salinitas hingga 30 ppt.
84
Peluang/Manfaat
Produksi benih nila Srikandi secara masal akan dapat membantu para
pembudidaya untuk dapat kembali berusaha dengan areal tambak yang
terbengkalai sebelumnya.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
Alamat
Email
Telp.
: Devi Dwiyanti,Bambang Gunadi,Dewi, Priadi
Setyawan,Adam Robisalmi dan Rita Febrianti
: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
: Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540
: [email protected]
: 0251-313200
85
Nila BEST Generasi Ke-5, Perbaikan
Mutu Genetik
Perspektif
Nila Bogor Enhanced Strain
' (BEST) telah dirilis
pada tahun 2010 dengan
keunggulan pertumbuhan yang
mencapai 200% dibandingkan ikan nila lokal.
Perbaikan pertumbuhan terus dilakukan sampai mencapai
pertumbuhan seperti ikan nila 5*2!
'(GIFT) diawal perkembangannya, yaitu mencapai
5-6 gram per hari.
BEST Tilapia has been released in 2010 with prominence
growth 200% compare with local tilapia. Family selection
of BEST Tilapia population from 3rd generation until 5th
generation has been conducted. The average of weight daily
growth rate of BEST Tilapia F5 on 3 months old 33.8%
higher than BEST F4.
Hasil Kajian
Seleksi familia terhadap populasi ikan nila BEST generasi ke-3 terus dilakukan hingga mencapai generasi
ke-5. Rata-rata laju pertumbuhan harian bobot benih Ikan Nila BEST F5 pada umur 3 bulan lebih tinggi
33,8% di bandingkan kontrol (BEST F-4). Terdapat kenaikan percepatan pertumbuhan harian sekitar 32%
dibandingkan ikan nila lokal di daerah Banten.
86
Peluang dan Manfaat
Nila BEST tahap ke dua ini, diharapkan dapat menjadi benih sebar pada
setiap pembudidaya untuk dapat meningkatkan produktifitasnya.
Inovator/ Peneliti
Nama : Irin Iriana
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Telp.
: 0251-313200
87
LAHAN GAMBUT ? NO PROBLEM, ADA IKAN
NILA SPESIFIK LAHAN GAMBUT
Perspektif
Lahan gambut di wilayah
Sumatera dan Kalimantan
meliputi jutaan hektar luasnya,
namun hanya sedikit yang termanfaatkan.
Nila &' (BEST) telah dirilis
pada tahun 2010 dengan keunggulan pertumbuhan yang
mencapai 200% dibandingkan ikan nila lokal, di arahkan
untuk mempunyai toleransi yang cukup pada kondisi
gambut.
BEST Tilapia has enough tolerance to peatland area.
Adaptation to peatland area has been done since on
hatchery stadium 2. After becoming prime fish, fish is being
spawned in the same area so the larva can put up with the
condition. Next step is tilapia selection to get fast grow
seed, and repeatedly to the next generation. BEST Tilapia
on peatland area has 1.6 times growth than local tilapia.
Hasil Kajian
Adaptasi terhadap lahan gambut telah dilakukan saat benih ikan BEST masih pada stadia pendederan 2.
Setelah menjadi induk, ikan dipijahkan di area yang sama, sehingga mendapat larva yang relatif tahan
terhadap kondisi setempat. Kegiatan selanjutnya adalah seleksi secara individu untuk mendapatkan benih
yang tumbuh cepat, dan diulang pada generasi berikutnya. Ikan nila BEST F-2 pada lahan gambut mempunyai
pertumbuhan yang lebih baik sebesar 1,6 kali dibandingkan ikan nila lokal.
88
Peluang/Manfaat
Kemampuan ikan nila BEST ini diharapkan menjadi stimulator untuk
pengembangan budidaya ikan di daerah rawa gambut.
Inovator/ Peneliti
Nama : Rudhy Gustiano
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu
Jakarta Selatan 12540
Email : [email protected]
Hp.
: 0812-900-1363
89
VAKSIN STREPTOVAC, PENCEGAH SERANGAN
BAKTERI PADA BUDIDAYA IKAN NILA
Perspektif
Bakteri Streptococcus sp.
adalah bakteri yang sering
menggagalkan hasil budidaya
ikan nila. Penggunaan vaksin untuk
membuat kekebalan pada tubuh ikan terhadap
serangan bakteri tersebut merupakan suatu alternatif yang
menguntungkan dibandingkan dengan pengobatan.
Streptococcus sp. is bacteria which often attack tilapia fish
farming. One alternative efforts to make the body’s immune
fish against bacterial attack is to use Streptovac vaccine
which produced by the Institute of Freshwater Aquaculture
Research and Development. The use of the vaccine could
increase 20% the survival rate of tilapia seed compared to
unvaccinated fish seed.
Hasil Kajian
Vaksin Streptovac yang diproduksi oleh Balai Litbang Perikanan Budidaya Air Tawar terbuat dari bakteri
Streptococcus sp. yang sudah dilemahkan. Penggunaan vaksin secara perendaman dan dicampur lewat pakan,
telah diuji cobakan pada benih ikan nila untuk budidaya. Terdapat kenaikan sintasan sebesar 20% dengan
penggunaan vaksin Streptovac dibandingkan benih ikan yang tanpa vaksin setelah diuji tantang.
90
Peluang dan Manfaat
Kegiatan vaksinasi sebagai keharusan dalam suatu budidaya ikan nila dapat
dilaksanakan dengan pengembangan vaksin Streptovac ini.
Inovator/ Peneliti
Nama : Taukhid
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya
Alamat : Jl. Ragunan No 20, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540
Email
: [email protected]
Hp.
: 0812-964-3379
91
TEKNOLOGI PEMURNI GARAM SISTEM MEKANIK
Perspektif
Usaha garam
ga
rakyat
secara tra
tradisional
menghasilkan garam dengan
kualitas yang kur
kurang baik dengan
kadar NaCl di bawah 990%. Untuk
i k k kkualitas
li garam kkrosokk petani,
i diperlukan
meningkatkan
teknik perlakuan dengan cara pencucian hingga dihasilkan
garam dengan kualitas yang lebih baik.
Salt quality produced by traditional salt farmers is relatively
poor with NaCl level <90%. This makes their product could
not meet the market demand and have lower price. A way
to improve its quality, a washing technique (mechanically) is
necessary to be performed on the raw salt. The mechanical
washing technology could increase NaCl content up to
95%, resulting to an increase in economical values. The
technology is also equipped with iodizing and packaging
machines. The technology has been applied in most salt
centers in Indonesia.
Hasil Kajian
Teknologi pencucian garam dengan sistem mekanis dapat meningkatkan kualitas garam sekaligus memberikan
nilai tambah kepada petani garam, karena akan diperoleh nilai jual garam yang lebih tinggi. Teknologi ini dapat
diaplikasikan di seluruh sentra garam nasional untuk memperoleh nilai tambah bagi petani garam. Proses pencucian
garam dengan sistem mekanis mempunyai keunggulan dalam hal:
Meningkatkan kualitas garam (kristal lebih lembut dan berwarna putih cerah).
Meningkatkan nilai jual garam.
Teknologi yang digunakan relatif sederhana, mudah untuk diaplikasikan oleh petani garam.
Paket teknologi sudah dilengkapi dengan mesin iodisasi (penambahan kadar iodium) dan mesin pengemasan
sehingga produk garam siap untuk pemasaran.
92
Peluang dan Manfaat
Teknologi ini dapat diaplikasikan di seluruh sentra garam nasional untuk
memperoleh nilai tambah bagi petani garam.
Inovator/ Peneliti
Nama
: Tim IPTEKMAS: Tukul Rameyo Adi, Erish Widjanarko,
Hariyanto Triwibowo, Aris Wahyu Widodo, Hari Prihatno,
Ahmad Najid, Ifan R. Suhelmi, Bagus Hendrajana, dan
Bagiyo Suwasono.
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan
Pesisir bekerjasama dengan Universitas Hang Tuah Surabaya
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur
Jakarta 14430. Tel. 021-64711583, Fax. 64711654,
http://p3sdlp.litbang.kkp.go.id,
Email
: [email protected], [email protected]
93
Perspektif
Usaha untuk menuju
swasembada garam dilakukan
dengan meningkatkan produksi garam
nasional. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas
lahan garam adalah dengan merekayasa alat dan teknologi.
94
An alternative way to increase the salt-field production can
be achieved by tool designing and technology improvement.
A technology to improve salt production studied by
Research and Development Center for Marine and Coastal
Resources is thermal system technique. In this system, salt
produced from boiling the sea brine resulted from solar
evaporation. The solar evaporation was carried out on blackceramic ponds as black color could absorb heat faster and
retain it longer. By applying the technology, time needed in
salt crystallization and production will be shortened with
better quality.
Keunggulan Inovasi
Rekayasa alat dan teknologi yang terkait dengan produksi garam dalam inovasi ini adalah penggunaan
sistem panas (thermal) melalui proses perebusan setelah, melalui proses evaporasi alami (pemanasan dengan
cahaya matahari). Proses evaporasi dilakukan pada petak kristalisasi garam yang berkeramik hitam. Warna
hitam adalah warna yang dapat menyerap panas lebih cepat dan menyimpan panas lebih lama. Penerapan
teknologi ini dapat mempersingkat waktu yang diperlukan untuk produksi garam, dengan menghasilkan
kualitas garam yang lebih baik dibandingkan sistem konvensional.
Beberapa keunggulan dari teknologi ini antara lain:
"
{
Inovator/ Peneliti
Nama
: Tim IPTEKMAS: Tukul Rameyo Adi, Erish Widjanarko, Hariyanto
Triwibowo, Aris Wahyu Widodo, Hari Prihatno, Ahmad Najid, Ifan R.
Suhelmi, Bagus Hendrajana, dan Bagiyo Suwasono
Instansi : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir
bekerjasama dengan Universitas Hang Tuah Surabaya
Alamat : Jl. Pasir Putih 1, Komplek Bina Samudera, Ancol Timur Jakarta 14430
Email
Tel. 021-64711583, Fax. 64711654,http://p3sdlp.litbang.kkp.go.id ,
: [email protected], [email protected]
95
96
BAGIAN III
Teknologi Pengolahan dan
Produk Turunan
T
97
98
PENGANTAR
TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PRODUK TURUNAN
Seribu satu manfaat bisa dipetik dari rumput laut. Mulai
dari bahan pangan, kosmetik dan obat-obatan. Tahukah anda,
rumput laut hijau Ulva fasciata ternyata berpotensi sebagai
obat kanker. Rumput laut yang tergolong jenis non ekonomis
ini ternyata mengandung senyawa aktif antitumor fucoxanthin,
yang secara in vitro telah teruji khasiatnya sebagai antitumor
serviks dan payudara, serta secara in vivo teruji mampu
menghambat pertumbuhan tumor kelenjar susu pada hewan
uji. Kedepan kita tentu bisa manfaatkan untuk manusia.
Produk turunan alginat hasil ekstraksi dari rumput laut
Sargassum sp. ternyata berfungsi sebagai polimer tunggal dan
dapat digunakan sebagai penyalut tipis pada tablet Vitamin
A. Melindungi obat dari pengaruh–pengaruh yang dapat
mengganggu kestabilan produk, sekaligus menutupi rasa dan
bau yang tidak enak suatu obat pada tablet.
Juga jangan heran, jika suatu waktu karaginan digunakan
sebagai sebagai gel pengharum ruangan, menggantikan
bahan pengharum ruangan dalam bentuk cair dari bahan
sintetis yang mengandung hidrokarbon yang berbahaya bagi
kesehatan, karena diduga sebagai salah satu pemicu kanker.
Gel pengharum ruangan yang menggunakan karaginan, akan
mudah terurai dan limbahnya tidak membahayakan, serta
aman untuk kesehatan.
Manfaat alginat lainnya: dapat dibuat sebagai serbuk
minuman berkarbonat dengan rasa sensasi effervescent (efek
soda), diolah dari jenis rumput laut coklat Sargasum sp.
Rumput laut Sargasum sp. juga dapat seperti teh hijau yang
disajikan dalam kemasan kertas permeabel, seperti halnya teh
celup dengan berbagai flavor tambahan. Adapun rumput laut
Gracilaria sp. dapat diolah menjadi produk baru minuman
fungsional “teh-agar” yang berpeluang dipasarkan secara
komersial.
Jika ingin sensasi lainnya, cobalah “ rulina bandrek”,
minuman kesehatan yang dibuat dari serbuk ganggang laut
Spirulina dan difortifikasi dengan rempah-rempah alami
seperti jahe,pala,lada, kayu manis,cabe jawa dan gula aren.
Dikemas menggunakan aluminium foil, sehingga tahan lama,
diproses secara modern dan sangat cocok menjadi oleh-oleh
khas Indonesia yang dapat menghangatkan tubuh dan menjaga
stamina.
Semua produk di atas, adalah sebagian dari inovasi
pengolahan hasil perikanan yang dilakukan para peneliti di
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Perikanan dan Kelautan (BBP4BKP).
Sebagian besar dari produk inovatif tersebut sedang dalam
proses pendaftaran dan perolehan hak patennya.
99
ANTILIN: ALAT PENGUJI CEPAT RESIDU FORMALIN
A
PADA IKAN TONGKOL DAN CAKALANG
Penggunaan
b
bahan berbahaya
pada
makanan dirasakan
men
makin mengkhawatirkan,
pen
termasuk penggunaan
pe
formalin untuk pengawetan
da produk
makanan, sayuran, ikan dan
olahan ikan. Tersedianya alat penguji cepat (test kit) untuk
mengetahui penggunaan bahan berbahaya tersebut akan
sangat bermanfaat, terutama dalam rangka pengawasan
oleh pemerintah. Tersedianya test kit ini juga memberikan
kesempatan bagi siapa pun, termasuk konsumen, untuk
menyeleksi ikan yang dikonsumsinya.
Inovasi ini adalah test kit “ANTILIN” berupa alat penguji
cepat (test kit) untuk menguji residu formalin pada bahan
(ikan) secara kualitatif menggunakan larutan campuran
pararosanilin dengan sulfit jenuh pada suasana asam. Test
kit ini dibuat praktis dan mudah digunakan untuk menguji
residu formalin pada bahan padat maupun cair dengan batas
deteksi minimal 2 ppm hanya dengan mengamati perubahan
warna pada larutan pengujinya.
A test kit for formalin residue is now available. ANTILIN is
a test kit that qualitatively detects formalin residue on fish
or other food products. This test kit is practical, easy to use,
and capable to detect as low as 2 ppm of formalin.
Perspektif
Antilin dengan cepat dan mudah mampu mendeteksi adanya bahan berbahaya formalin pada makanan,
sehingga memungkinkan bagi peningkatan kinerja pengawasan. Tidak hanya fungsi pengawasan yang
berjalan dengan baik, tetapi juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, melindungi masyarakat dari
paparan bahan berbahaya dan sekaligus membatasi penggunaan bahan berbahaya tersebut pada makanan.
100
Keunggulan Inovasi
Dapat digunakan untuk mendeteksi adanya formalin pada ikan dan
produk olahannya, serta jenis makanan lain dalam bentuk
padat maupun cair.
Sensitif, batas deteksi minimal rendah .
Praktis dan mudah digunakan.
Hasil deteksi cepat didapat.
Hasil deteksi dengan mudah dapat dilihat.
Murah, sehingga biaya pengujian tidak membebani harga produk.
Potensi Aplikasi
Industri makanan tradisional/modern atau pihak-pihak yang membutuhkan
alat yang praktis, murah dan cepat untuk mendeteksi kandungan formalin
pada bahan padat ataupun cair, terutama pada makanan mentah ataupun matang.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Endang Sri Heruwati; Farida Ariyani; J. Tri Murtini;
Ikna Suyatna Djalil, Ninoek Indriati; Rudi Riyanto
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Telah dipatenkan
Email
: [email protected], [email protected]
101
MENGHAMBAT DAN MEREDUKSI HISTAMIN PADA
PINDANG TTC MENGGUNAKAN TEH HIJAU
Tuna,
Tuna tongkol dan
cakala merupakan
cakalang
ika dari kelompok
jenis ikan
skomb
ikan skombroid
yang sering
mengandung histamin tinggi,
terutama jika pen
penanganan dan
pengolahannya kurang aatau tidak baik.
K
t i ddapatt mengakibatkan
kib tk alergi
l
Keracunan hi
histamin
seperti
gatal, pusing dan mual. Mencegah terbentuknya histamin
dapat dilakukan dengan penanganan dan pengolahan yang
baik, namun mereduksi histamin yang telah terbentuk tidak
mudah dilakukan.
Teh hijau ternyata terbukti dapat menghambat pembentukan
histamin selama pengolahan bahkan dapat mereduksi
kandungan histamin setelah pindang ikan selesai diolah.
Untuk daerah di sentra-sentra pengolahan yang sulit
mendapatkan es, teh hijau dapat digunakan sebagai alternatif
pengawet alami yang aman melalui perendaman ikan
sebelum dilakukan pengolahan.
Green tea is found to be effective to inhibit the formation
of histamine during processing as well as reducing histamine
contents in salted fish (pindang). This benefit can be an
alternative to the usage of ice cubes as fish preservative in
the area where ice cubes are scarce.
Perspektif
Kekhawatiran konsumen akibat keracunan histamin karena mengkonsumsi pindang TTC dapat dikurangi dengan
cara sederhana, yaitu dengan menggunakan teh hijau. Pengawet makanan alami yang menghambat pembentukan
histamin yang merupakan zat berbahaya pada ikan sebelum diolah, saat diolah, bahkan setelahnya mempunyai
nilai tambah yang sangat besar bagi konsumen, industri dan sentra penangkapan ikan.
102
Keunggulan Inovasi
Pembentukan histamin dapat dihambat atau bahkan dicegah. Histamin
yang telah terbentuk dapat direduksi dengan cara yang mudah dan
sederhana, yaitu dengan menggunakan teh hijau.
Teh hijau merupakan produk pangan yang sudah banyak dikenal
masyarakat untuk meningkatkan kesehatan, mudah diperoleh
dengan harga yang terjangkau.
Memanfaatkan teh hijau kualitas rendah (ranting dan daun tua), sehingga
tidak mengganggu produksi teh hijau kualitas tinggi.
Penggunaan teh hijau dalam pindang dapat mengawetkan ikan.
Potensi Aplikasi
baik di lingkungan keluarga, usaha pengolahan skala kecil hingga menengah dan bahkan industri besar.
Inovator/ Peneliti
Inovator
:
Institusi
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Endang Sri Heruwati; Farida Ariyani; Novalia Rachmawati;
Radestya Triwibowo; Irma Hermana
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
103
ALAT PRODUKSI ASAP CAIR UNTUK
PENGASAPAN IKAN TONGKOL
Ikan asap merupakan
salah satu jenis olahan
yang digemari sebagian
masyarakat yang sejauh
ini cara pengolahannya masih
tradisional, yaitu pengasapan
dengan menggunakan asap langsung.
Akibatnya, produk berwarna gelap atau coklat gelap dan
seringkali kotor, akibat terkontaminasi oleh abu dan kotoran
lain. Asap cair dapat digunakan untuk menggantikan cara
pengasapan yang masih tradisional tersebut dan dapat
menghasilkan produk yang lebih cerah, cemerlang dan
bersih serta seragam. Inovasi ini berupa rancang bangun
alat untuk memproduksi asap cair mutu pangan, dengan
kandungan senyawa penyebab kankernya (polyaromatic
hydrocarbon atau PAH) yang rendah. Asap cair ini dapat
digunakan untuk memproduksi ikan asap, misalnya ikan
tongkol asap. Alat produksi asap cair ini dapat disesuaikan
skalanya sesuai kebutuhan.
The liquid smoke processing device produces food-grade
liquid smoke which is safe to give the fish smoke flavor.
This device is more environment-friendly than conventional
smoking process since it reduces CO2 and ash.
Perspektif
Pengasapan yang semula menggunakan pengasapan langsung dan dilakukan secara tradisional dapat
diperbaiki dengan menggunakan asap cair untuk menghasilkan produk yang lebih cemerlang, bersih dan
seragam. Alat yang digunakan untuk memproduksi asap cair dapat dirakit oleh bengkel setempat dan dapat
menghasilkan asap cair mutu pangan yang rendah kandungan senyawa PAH nya.
104
Keunggulan Inovasi
Alat pengolahan asap cair ini dapat digunakan untuk memproduksi
asap cair mutu pangan dengan beberapa tingkatan mutu asap cair
yang bebas senyawa PAH atau kandungan PAH rendah.
Asap cair yang diproduksi bermutu pangan dan dapat digunakan
untuk pengolahan ikan tongkol asap dan ikan lainnya dengan
cara yang praktis, lebih efisien, lebih higienis, dan tidak
menimbulkan polusi ligkungan.
Potensi Aplikasi
Dapat dimanfaatkan untuk memproduksi asap cair mutu pangan yang
bebas atau rendah kandungan PAHnya pada skala UKM hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Bagus Sediadi Bandol Utomo; Rodiah NS; Tri Nugroho W
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
tlp (021) 53650157, fax(021) 53650158
Belum dipatenkan
[email protected]
105
GELATIN “HALAL” DARI LIMBAH KULIT IKAN TUNA
Gelatin merupakan
polimer protein yang
banyak dimanfaatkan
oleh industri, makanan
dan farmasi karena sifatnya
yang unik dan mempunyai
fungsi yang beragam. Biasanya
gelatin diperoleh dari kulit dan tulang babi atau sapi, yang
menimbulkan masalah bagi umat Islam dan Hindu. Gelatin
dari ikan merupakan jawaban tepat untuk mengatasi masalah
tersebut. Di dunia farmasi, gelatin digunakan sebagai bahan
pengikat pengisi tablet dan gelatin dari kulit tuna mampu
menghasilkan performa yang tidak kalah mutunya dibanding
bahan pengikat yang lazim digunakan. Selain itu, jumlah
penggunaannya lebih kecil dibandingkan bahan yang ada. Di
sisi lain, ketersediaan kulit tuna sebagai bahan baku gelatin
cukup melimpah sebagai limbah di unit pengolahan tuna
yang membuka peluang untuk memanfaatkan limbahnya
(zero waste concept).
Gelatin, a polymer of protein which is widely used by the
food and pharmaceutical industries, is usually extracted
from either pork or beef skin and bone that cause religious
problem for Muslims and Hindus. This innovation produces
a high quality of halal gelatin product from a cheap tuna
skin waste. With its comparable quality performance with
commonly used binders, the utilization of gelatin made
from tuna skin waste in the cosmetics and pharmaceutical
industries is widely open.
Perspektif
Limbah kulit tuna merupakan sumber potensial untuk pembuatan gelatin halal yang selama ini belum
termanfaatkan dengan baik. Dengan performa yang baik sebagai pengikat, maka peluang gelatin dari kulit
ikan untuk masuk ke industri kosmetik dan farmasi dapat terbuka lebar.
106
Keunggulan Inovasi
Inovasi ini menghasilkan produk halal bermutu tinggi dengan
menggunakan bahan murah (limbah kulit ikan tuna).
Produk yang dihasilkan (gelatin) lebih ekonomis, dengan
penggunaan bahan yang lebih sedikit menghasilkan performa yang
sama dengan bahan pengikat komersial.
Potensi Aplikasi
[`= banyak menghasilkan limbah kulit untuk menghasilkan gelatin halal.
Inovator/ Peneliti
Inovator
:
Institusi
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Fera Roswita Dewi; Widodo Farid Ma’ruf;
Effionora Anwar; Rosmawaty Peranginangin
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
107
TRANSPORTASI UDANG HIDUP DENGAN
SISTEM KERING UNTUK EKSPOR
Harga
Harg udang hidup
untuk konsumsi
nilainya dapat mencapai
h
5 kali dari harga
udang
mat Peluang ini
yang telah mati.
dim
potensial untuk dimanfaatkan,
upay diversifikasi
sekaligus merupakan upaya
produk, optimalisasi pemanfaatan sumberdaya, peningkatan
nilai tambah, meningkatkan devisa, dan merupakan
usaha baru yang juga menawarkan lapangan kerja baru.
Teknologi yang disediakan adalah teknologi penanganan
dan transportasi yang lengkap mulai dari pemanenan/
penangkapan, penanganan dan transportasi dari tambak
atau dari tempat penangkapan ke tempat penampungan,
hingga penanganan dan transportasi untuk ekspor.
Transportasi sistem basah menggunakan media air cocok
untuk pengangkutan udang hidup domestik, sedangkan
untuk ekspor digunakan transportasi dengan sistem kering
menggunakan media bukan air.
The dry system transportation for live shrimp that uses nonwater media is capable of delivering live shrimp up to 16
hours with shelf life of about 100%. The system is capable
of increasing volume capacity up to twice than that of wet
system. This system can be modified for other Crustasea such
as lobster.
Perspektif
Transportasi udang hidup untuk konsumsi menjadi sangat mungkin dilakukan secara komersial dan dapat
meningkatkan jaminan keamanan selama transportasi udara untuk ekspor dengan sistim kering menggunakan
media bukan air. Inovasi ini terdiri atas metode penanganan, penampungan, pemingsanan, dan pengemasan dalam
media kering bukan air. Pemingsanan udang dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah (shock langsung atau
bertahap) atau dengan ekstrak biji karet.
108
Keunggulan Inovasi
Teknologi penanganan dan penampungan mampu meningkatkan tingkat kelulusan hidup udang dan
dapat mempertahankan tingkat kebugaran udang tanpa kehilangan bobot hingga 20 hari.
Transportasi udang hidup sistem kering menggunakan media bukan air mampu menghantarkan udang
hidup hingga 16 jam dengan tingkat kelulusan hidup 100%.
Transportasi udang hidup sistem kering menggunakan media tanpa air mampu meningkatkan kapasitas
angkut hingga 2X dari sistem basah menggunakan media air.
Potensi Aplikasi
Teknologi ini dapat digunakan untuk penanganan, penampungan dan transportasi udang hidup untuk
konsumsi, baik untuk ekspor maupun domestik, dan dengan modifikasi dapat dimanfaatkan untuk
krustase lain seperti lobster
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Singgih Wibowo; Theresia Dwi Suryaningrum
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
109
CARA AMAN TRANSPORTASI UDANG HIDUP:
PINGSANKAN SAJA DENGAN EKSTRAK BIJI KARET
Kini ada cara baru
untuk mengirim
udang dengan aman
dalam kondisi hidup
untuk konsumsi. Dalam
transportasi sistem kering
menggunakan media bukan air,
udang diimotilisasi atau dibius, sehingga metabolisme,
respirasi, dan aktivitasnya rendah. Dengan kondisi tersebut,
kemampuan untuk bertahan hidup di luar kondisi habitat
hidupnya tinggi. Pembiusan dapat dilakukan menggunakan
suhu rendah atau bahan pembius seperti MS-222. Risikonya,
MS-222 mempunyai efek negatif dari residu obat bius
tersebut terhadap manusia yang mengkonsumsinya. Ekstrak
biji karet yang mengandung linamarin (glikosidik sianogen)
dapat digunakan sebagai bahan pembius alami dalam
transportasi udang hidup untuk konsumsi. Inovasi dari
teknologi ini adalah penggunaan ekstrak biji karet untuk
membius udang dalam transportasi udang hidup. Setelah
dibius dengan esktrak biji karet, udang ditransportasikan
dengan sistem kering menggunakan media bukan air.
The use of rubber seed extract to hibernate shrimp for live
shrimp transportation is now applicable. This innovation
is capable of delivering live shrimp for consumption up to
13 hours with shelf life of about 70%. The extract has the
potential to be used as tranquilizer for other fish.
Perspektif
$
menjadikan teknologi ini sangat ramah lingkungan dan aman bagi manusia.
"]*
meningkatkan jaminan keamanan selama transportasi udara untuk ekspor dengan sistim kering menggunakan
media bukan air. Inovasi ini terdiri atas metode penanganan, penampungan, pemingsanan, dan pengemasan dalam
media kering bukan air. Pemingsanan udang dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah (shock langsung
atau bertahap) atau dengan ekstrak biji karet.
110
Keunggulan Inovasi
Pemingsanan udang menggunakan ekstrak biji karet dalam transportasi udang hidup sistem kering
menggunakan media tanpa air mampu menghantarkan udang hidup hingga 13 jam dengan tingkat
kelulusan hidup 70%.
Potensi Aplikasi
Ekstrak biji karet dapat digunakan untuk memingsankan udang hidup dalam transportasi
udang hidup untuk konsumsi, baik untuk ekspor maupun domestik, dan berpotensi untuk
membius ikan lain untuk tujuan lain.
Teknologi ini dapat digunakan untuk penanganan, penampungan dan transportasi udang
hidup untuk konsumsi, baik untuk ekspor maupun domestik, dan dengan modifikasi dapat
dimanfaatkan untuk krustase lain seperti lobster.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Singgih Wibowo; Th Dwi Suryaningrum
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
111
Salah satu sumber agar
yang banyak dijumpai di
Indonesia adalah rumput
laut Gracilaria, baik yang
tumbuh secara alami di laut,
maupun yang dibudidayakan di
tambak. Gracilaria alami di laut memiliki
karakteristik berbeda dengan Gracilaria budidaya di tambak,
sehingga memerlukan cara ekstraksi yang berbeda meskipun
secara garis besar serupa. Cara sederhana yang paling mudah
untuk dilakukan oleh pengolah, baik skala UKM maupun
skala besar adalah dengan mengolahnya menjadi agar kertas.
Inovasi pengolahan agar kertas dari Gracilaria meliput
tahap ekstraksi, penjendalan, penipisan dengan pengirisan,
pengurangan kandungan air dengan pengepresan, dan
pengeringan. Caranya sangat sederhana dan mudah,
sehingga cocok bagi pengolah kecil atau skala rumah tangga,
meskipun tidak tertutup untuk dilakukan pengolah skala
besar.
Gracilaria sp. seaweed, either naturally grown or cultivated,
is abundant in Indonesia. The species can be handily
processed into agar paper by both SMEs and large scale
enterprises processing. The resulting agar paper can be
conveniently applied by various segments of society,
especially in the rural areas.
Perspektif
Teknik pengolahan Gracillaria sp. menjadi agar kertas adalah salah satu upaya untuk meningkatkan nilai
tambah rumput laut Gracilaria sp. yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk kering dan dapat
dilakukan oleh pengolah kecil di pedesaan. Agar kertas yang dihasilkan dapat digunakan oleh berbagai
lapisan masyarakat, terutama di daerah dan pedesaan.
112
Keunggulan Inovasi
|
kering maupun segar.
Potensi Aplikasi
"Gracilaria spp menjadi agar kertas
dapat dengan mudah diterapkan oleh pengolah kecil, menengah,
hingga industri kecil maupun menengah.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Bagus Sediadi Bandol Utomo; Th Dwi Suryaningrum;
Murdinah; Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
113
Agar bakto adalah
agar-agar khusus
yang digunakan sebagai
media pertumbuhan
mikroorganisme di
laboratorium, biasanya digunakan
di bidang mikrobiologi dan bioteknologi.
Sayangnya, kebutuhan agar bakto selama ini masih diimpor
dari luar negeri, karena ekstraksi yang sulit, sehingga mahal
harganya. Agar bakto ini dapat diekstrak dari rumput laut
Gelidium sp, yang tersedia melimpah di Indonesia.
Invensi ini menawarkan proses ekstraksi agar bakto
dari rumput laut Gelidium sp., dengan memanfaatkan
proses bertekanan tinggi pada suhu tinggi. Cara ini dapat
menghasilkan agar bakto dengan kekuatan gel dan rendemen
yang tinggi, selisih antara titik leleh dan titik jendal
(hysteresis) cukup besar, sehingga bagus untuk digunakan di
laboratorium, terutama karena memudahkan pengamatan
Angka Lempeng Total (ALT) untuk uji jumlah total bakteri
di laboratorium.
Bacto agar is used as a growth medium for microorganisms
in the field of microbiology and biotechnology. It is made
from seaweed Gellidium sp. raw material, is available in
abundance in Indonesia. This innovation offers bacto agar
extraction process from seaweed Gellidium sp., by utilizing
high pressure at high temperatures.
Perspektif
Inovasi ini memungkinkan diproduksinya agar bakto dalam negeri yang selama ini diimpor. Selain menjadi
pilihan untuk substitusi impor, juga meningkatkan nilai tambah rumput laut Gelidium sp. yang selama ini
belum dimanfaatkan secara optimal di dalam negeri.
114
Keunggulan Inovasi
gel strength 1.019 g/cm².
*]Gelidium sp.,
yaitu 15,03%.
]hysteresis), sehingga
memudahkan pengamatan Angka Lempeng Total (ALT) di laboratorium.
Potensi Aplikasi
Agar Bakto Rumput Laut
Gelidium Sp.
|
]
Angka Lempeng Total (ALT), isolasi bakteri, maupun uji mikrobiologi atau
bioteknologi yang memerlukan bakto agar lainnya.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Subaryono; Murdinah; M. Darmawan; Dina Fransiska
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Sedang dalam proses mendapatkan paten
[email protected]
115
EKSTRAKSI NATRIUM ALGINAT
Alginat merupakan
pikokoloid yang
diekstrak dari rumput
laut cokelat (Phaedophyceae)
penghasil alginat (alginofit).
Jenis-jenis rumput laut coklat
yang tumbuh di perairan tropis
Indonesia terutama adalah dari marga Macrocytis, Laminari,
Aschophyllum, Necrocytis, Ecklonia, Fucus dan Sargassum dan
Turbinaria. Salah satu sumber alginat penting di Indonesia
adalah Sargassum dan Turbinaria yang banyak ditemukan di
berbagai pantai berkarang di Indonesia. Kegunaan jenis
pikokoloid ini sangat luas, mulai dari makanan, minuman,
bahan industri, hingga bahan farmasi atau nutrasetikal.
Cara ekstraksi alginat ini cukup mudah dikerjakan dan
dapat dilakukan oleh pengolah kecil, UKM hingga industri.
Alginat yang diekstraksi dari rumput laut, di dunia
perdagangan dan industri dikenal dalam bentuk asam
alginat atau garam alginat, tergantung cara ekstraksi yang
digunakan.
Alginate is a phycocolloid extracted from alginophyt
brown seaweed (Phaedophyceace) that grows abundantly
in Indonesian tropical waters. This innovation provides a
simple yet applicable technology to extract a high yield
alginate from Sargassum and Turbinaria brown seaweeds.
The alginate extraction technology can be used by smallmedium enterprises (SMEs) to industrial-scale processing.
Perspektif
Ekstraksi alginat masih belum banyak dilakukan, karena keterbatasan teknologi. Inovasi ini
menyediakan teknologi yang mudah diaplikasikan untuk mengekstrak alginat dari rumput laut
coklat jenis Sargassum dan Turbinaria.
116
Keunggulan Inovasi
Teknologi yang digunakan untuk ekstraksi alginat mudah
diaplikasikan dan menghasilkan rendemen yang tinggi,
yaitu hingga 20 – 30%.
Potensi Aplikasi
Teknologi ekstraksi alginat dapat digunakan oleh pengolah skala UKM hingga industri.
Alginat yang dihasilkan banyak digunakan dalam industri makanan, minuman,
obat-obatan, kosmetik, kertas, deterjen, cat, tekstil, vernis, fotografi, kulit buatan,
dan lain-lain, sebagai bahan pembentuk gel (gelling agent), pengemulsi dan penstabil
emulsi (emulsifying and stabilizing agent), pensuspensi (suspending agent), pengikat (binding agent),
penghalus (), pembentuk struktur (sizing agent), penjernih (clarifying agent), dan
sebagainya.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
:
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Yunizal; Jamal Basmal; Murdinah; Tazwir
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
117
Sargassum merupakan
salah satu jenis rumput
laut yang banyak dijumpai
tumbuh secara alami di
Indonesia. Selama ini jenis
rumput laut coklat ini dimanfaatkan
sebagai sumber alginat. Jenis rumput
laut ini banyak mengandung polifenol yang memiliki
aktifitas sebagai anti oksidan, anti kanker dan sebagainya.
Teh herbal Sargassum, merupakan produk teh yang dibuat
dari daun rumput laut Sargassum yang diproses seperti
teh hijau. Dengan kemasan kertas permeabel untuk sekali
hidangan (teh celup) dan dengan berbagai flavor tambahan,
menjadikan teh rumput laut ini sangat menarik untuk
dikomersialkan. Teh ini merupakan inovasi ragam produk
teh yang bermanfaat sebagai minuman kesehatan atau
minuman fungsional.
Sargassum brown seaweed is not only a rich source of
alginate but also is a source of polifenol which has
bioactivity as antioxidant, anticancer and so on. Sargassum
herbal tea is a beverage product made from the leaves of
Sargassum seaweed. The Sargassum herbal tea is a practical and
easy to serve product conveniently consumed as a healthy
drink.
Perspektif
Teh herbal Sargassum dari laut merupakan terobosan baru dalam inovasi minuman kesehatan/
fungsional. Inovasi ini berpeluang besar untuk dikomersialkan dalam bentuk minuman teh sehat.
118
Keunggulan Inovasi
Mengandung polifenol seperti teh hijau dan pigmen karotenoid,
berfungsi sebagai antioksidan, serta mengandung fukiodan yang
memiliki banyak khasiat.
Dapat dikonsumsi sebagai minuman kesehatan.
Produk dengan sensasi aroma flavor dalam kemasan kertas permeabel
praktis, mudah penyajiannya, diseduh dengan air panas untuk sekali hidang.
Bahan alami Sargassum mudah di dapat, melimpah di perairan Indonesia dan
belum dimanfaatkan optimal.
Potensi Aplikasi
Sargassum dapat dikembangkan menjadi minuman seperti
teh pada umumnya, maupun minuman kesehatan/fungsional. Inovasi ini berpeluang
untuk dikomersialkan melalui kerjasama usaha dengan industri minuman maupun
farmasi. Inovasi ini juga cocok untuk usaha skala UKM.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Murdinah; Ijah Muljanah
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
119
ALGINAT SEBAGAI BAHAN PENGENTAL DAN
PENGIKAT TINTA BATIK RAMAH LINGKUNGAN
Dalam proses
pewarnaan batik
digunakan bahan
pengental dan pengikat
warna yang biasanya
menggunakan bahan yang
diimpor. Bahan serupa dapat diproduksi
dari alginat yang sumber bahan bakunya terdapat melimpah
di Indonesia, yaitu rumput laut coklat seperti Sargassum
dan Turbinaria. Pemanfaatan alginat dari rumput laut untuk
bahan pengental dan pengikat warna batik ini sekaligus
dapat meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut
dan nilai tambah tersebut dapat dinikmati di dalam negeri.
Selain itu, penggunaan produk inovasi ini juga dapat
dijadikan upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap
produk impor.
Thickeners and colours binding used in the dyeing process
of batik are predominantly imported materials while
similar material can be made from alginate such as anionic
polysaccharide extracted from brown Sargassum and
Turbinaria which abundantly grow in Indonesia. The use of
alginate from seaweed as a thickener and binder of batik
inks not only increases the seaweeds value-added but also
reduces the dependence on imported product of thickeners
and colors binding for batik.
Perspektif
Alginat sebagai pengental pencapan tekstil menggunakan bahan baku rumput laut coklat yang
tersedia melimpah di Indonesia. Peluang pemakaian alginat ini sangat tinggi, selain itu bahan baku
murah dan melimpah.
120
Keunggulan Inovasi
Dapat diproduksi di dalam negeri.
Mampu mengikat warna lebih kuat.
Kemampuannya sebagai bahan pengental dan pengikat tinta
tidak kalah dengan produk komersial.
Potensi Aplikasi
|[
]
maupun negeri, sehingga industri pembuatan batik akan semakin bertambah. Selama ini bahan
atau media pewarna batik masih diimpor, karena belum bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin; Murdinah;
Dina Fransiska
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
121
Salah satu produk
turunan yang dapat
dihasilkan dari alginat
yang diekstrak dari Sargassum
sp. adalah lapis film tipis atau
. ini merupakan
lapisan film tipis yang dibuat dari alginat, sehingga dapat
dimakan dan dapat digunakan sebagai bahan pengemas
ramah lingkungan, karena tidak menyisakan limbah. Edible
juga dapat didegradasi oleh bakteri, sehingga jika
dibuang tidak menyebabkan masalah bagi lingkungan. Selain
dapat dimakan dan ramah lingkungan, bahan ini dibuat
dari sumberdaya yang dapat diperbaharui. Karakter ini
menyebabkan produk lebih unggul jika dibandingkan
dengan bahan kemasan sintetis (misalnya plastik).
Edible film is a thin film coating made from alginate that
is edible and can be used as an environmental-friendly
packaging material. Made from brown seaweed-alginate,
this eco- friendly and safe product can be used to replace
the synthetic pacakaging materials (plastic) which is
environmentally hazardous. In addition this product
contains healthy food fiber thus potential for further
development as food supplement.
Perspektif
Produk inovasi dari ekstrak rumput laut coklat dapat dijadikan bahan untuk
menggantikan pengemas sintetik (plastik), sehingga ramah lingkungan, dapat dimakan
dan aman bagi manusia.
122
Keunggulan Inovasi
Bersifat ramah lingkungan (degradable).
Aman dikonsumsi dan bahkan mengandung serat pangan yang
menyehatkan tubuh.
Rumput laut Sargassum mudah di dapat dan melimpah di perairan
Indonesia.
Mencetak Edible Film
Potensi Aplikasi
|=
ramah lingkungan, yang dapat dimakan dan baik untuk kesehatan.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Murdinah; Dina Fransiska; M. Darmawan
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
Edible Film
123
Alginat yang diekstrak
dari rumput laut
coklat memiliki banyak
khasiat, di antaranya adalah
kemampuannya dalam mereduksi
kandungan kolesterol dan gula dalam
darah, menyembuhkan tukak lambung, serta dapat digunakan
sebagai suplemen pelangsing tubuh (dietetic food) berkalori
rendah. Formulasi alginat dengan bahan lain dapat dijadikan
tablet effervescent. Tablet ini jika dimasukkan ke dalam air
akan larut dan menghasilkan gelembung-gelembung udara
dan memberikan sensasi yang menyenangkan jika diminum.
Tablet ini dapat diperkaya dengan vitamin C, sehingga terasa
lebih menyegarkan. Produk inovasi ini tahan lama dan mudah
disimpan, serta mudah digunakan/disajikan.
Cholesterol-reducing high fiber effervescent tablet is an
innovation that introduces alginate, a bioactive compound
from brown seaweed. This compound is found to be an
effective agent for lowering the level of cholesterol and
sugar in blood. The product is easy to be stored, has a long
shelf life, and can be developed by any level of food or
nutraceutical industry.
Perspektif
Produk inovasi ini menambah ragam produk dari rumput laut (terutama alginat) sebagai upaya
penganekaragaman pemanfaatan rumput laut yang mampu meningkatkan nilai tambah, sekaligus
menjadikan minuman ini sebagai minuman fungsional yang berkhasiat bagi kesehatan.
124
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi ini mengandung alginat yang dapat mereduksi
kandungan kolesterol dan gula dalam darah dengan sensasi
effervescent (efek soda).
Produk berupa tablet yang tahan lama, mudah disimpan, praktis, siap saji
dan mudah cara penyajiannya.
Menggunakan bahan alami yang mudah di dapat dan tersedia melimpah di
Indonesia.
Potensi Aplikasi
Teknik pembuatan produk ini tidak sulit dan dapat diperkaya dengan vitamin C,
sehingga menyegarkan dan cocok untuk dikembangkan oleh usaha skala UKM hingga
industri dan bahkan farmasi.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Dina Fransiska; Murdinah; Muhammad Darmawan.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
125
Minat masyarakat
terhadap minuman
bercarbonat cenderung
meningkat, karena
minuman ini mampu
memberikan sensasi effervescent
(efek soda) yang menyenangkan.
Alginat yang diekstrak dari rumput laut coklat Sargassum
sp juga dapat dimanfaatkan menjadi serbuk minuman
berkarbonat yang dapat diperkaya dengan vitamin C.
Serbuk minuman berkarbonat dari alginat ini merupakan
produk inovasi yang dapat meningkatkan nilai tambah dari
alginat yang diekstrak dari rumput laut coklat Sargassum sp.
Mengingat alginat mengandung serat pangan yang terbukti
dapat mereduksi kolesterol dalam darah dan menurunkan
kadar gula darah, maka serbuk minuman berkarbonat alginat
ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga dapat dijadikan
minuman yang berkhasiat bagi kesehatan atau minuman
sehat.
Extracted alginate from brown seaweed Sargassum sp can be
formulated as carbonate beverage that can give effervescent
sensation and can enriched with vitamin C. Alginat contains
food fiber which can reduce cholesterol and sugar level
in the blood. The product is easy to be stored, has a long
expired time, and can be developed by any level of food or
nutraceutical industry.
Perspektif
Produk inovasi ini menambah ragam produk dari rumput laut sebagai upaya penganekaragaman
pemanfaatan rumput laut yang mampu meningkatkan nilai tambah, sekaligus menjadikan minuman ini
sebagai minuman fungsional yang berkhasiat bagi kesehatan.
126
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi ini mengandung alginat yang dapat mereduksi
kandungan kolesterol dan gula dalam darah dengan sensasi
effervescent (efek soda).
Produk berupa serbuk, praktis, siap saji dan mudah cara penjajiannya.
Menggunakan bahan alami yang mudah di dapat dan tersedia melimpah di
Indonesia.
Potensi Aplikasi
Teknik pembuatan produk ini tidak sulit dan dapat diperkaya dengan vitamin C,
sehingga menyegarkan dan cocok untuk dikembangkan oleh usaha skala
UKM hingga industri dan bahkan farmasi.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Murdinah; Ranti Dwijayanti; Joko Santosa
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
127
Senyawa penting lain
selain alginat yang dapat
diekstrak dari rumput
laut coklat Sargassum sp
(terutama Sargassum crassifolium
yang banyak ditemukan di
Indonesia) adalah fukoidan, yaitu senyawa
polisakarida yang mengandung fukosa dan sulfat yang hanya
ditemukan di rumput laut coklat yang tidak ditemukan pada
rumput laut lain. Senyawa fukoidan diketahui memiliki
bioaktivitas yang tinggi sebagai antikoagulan, anti oksidan,
antitukak lambung, dan bahkan sebagai anti kanker.
Di Indonesia, sumberdaya rumput laut sumber fukoidan ini
dapat ditemukan tumbuh secara alami hampir di seluruh
pantai yang berkarang, yang hingga kini belum banyak
dimanfaatkan kecuali diekspor dalam bentuk kering,
terutama ke China untuk dijadikan bahan baku industri
farmasi.
This innovation explains about the effective method to
produce fucoidant from brown seaweed Sargassum sp.
Fucoidant known a polysaccharide compound and contains
of fucosa as well as sulfate which extracted from brown
seaweed Sargassum sp. Fucoidant has high bioactive as
anti-coagulant, anti-oxidant, anti-ulcer even anti-cancer.
This innovative extraction method is not complicated,
high throughput result, and can be applied by any level of
industry.
Perspektif
Inovasi ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan obat dari rumput laut coklat di dalam negeri.
Selain membuka peluang usaha dan kerja, juga dapat mengurangi ketergantungan bahan obat yang
diimpor dari luar negeri dengan harga yang tinggi.
128
Keunggulan Inovasi
melimpah.
$
`
antikoagulan, anti oksidan, anti kanker, antitukak lambung.
Potensi Aplikasi
[`=}{
dengan cara yang tidak sulit dan tidak mahal.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
129
Diversifikasi pemanfaatan
rumput laut pada makanan
merupakan upaya untuk
meningkatkan nilai tambah rumput
laut, sekaligus meningkatkan nilai nutrisi
makan itu sendiri. Salah satunya adalah paduan
rumput laut dengan buah mangga, menjadi produk baru yang inovatif.
Produk ini berupa camilan berbasis buah berbentuk lembaran tipis,
yang memiliki konsistensi dan citarasa khas buah manga yang dikenal
dengan fruit leather, yaitu manisan kering manga. Produk ini dapat
dijadikan produk olahan komersial dan dapat diusahakan dalam skala
UKM hingga industri. Fruit leather yang diperkaya dengan rumput laut
ini merupakan manisan kering yang kaya vitamin A (karoten), vitamin
C dan serat, sehingga dapat dijadikan makanan fungsional berbasis
rumput laut dan buah lokal.
This innovation introduces a new functional food product by fusing
carageenan from seaweed and mango named mango fruit leather.
Mango fruit leather which enriched with seaweed is a snack with
vitamin A, C and fiber. This snack can be served as functional food
made of seaweed and local fruit. Carageenan may serve as fruits
binder and the seaweed overall will enhance the nutritional value in
the product. This innovative product prospects to be developed by any
level of food industry.
Perspektif
Meningkatkan nilai tambah rumput laut dengan memberikan sentuhan inovatif pada
produk lain yang telah ada sekaligus meningkatkan nilai nutrisi produknya.
130
Keunggulan Inovasi
Meningkatkan nilai tambah rumput laut dan ragam produk dari rumput laut
Karaginan merupakan bahan tambahan alami yang berasal dari laut, halal,
sehat dan aman dikonsumsi.
Alternatif bagi konsumen yang tidak suka mengkonsumsi buah dalam bentuk aslinya.
Bentuk produk menarik dengan cita rasa khas buah, kaya akan vitamin A ( karoten),
Fruit Leather Mangga
vitamin C dan serat pangan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Potensi Aplikasi
Inovasi produk baru ini memiliki prospek diaplikasikan oleh industri makanan dalam
skala rumah tangga, UKM hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
:
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Murdinah; Dina Fransiska; Siti Nurbaity Kartika Apriani
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
131
KEMASAN BUMBU MIE INSTAN RAMAH
LINGKUNGAN DARI RUMPUT LAUT
Mie instan merupakan
makanan yang banyak
digemari dan dikonsumi
oleh masyarakat Indonesia,
diantaranya karena mudah
disajikan. Mie instan akan makin
banyak digemari jika kemasan bumbunya
dapat langsung dimakan, sehingga ketika disajikan tidak
perlu lagi dibuang. Selain sangat praktis, kemasan semacam
ini menjadi ramah lingkungan, tidak seperti kemasan seperti
sekarang yang menjadi sampah bagi lingkungan. Hal ini
dapat terjadi dengan menggunakan kemasan bumbu mie
instan yang dibuat dari karaginan. Karaginan yang diekstrak
dari rumput laut, dapat dibuat menjadi kemasan setelah
diformulasikan dengan tepung tapioka dan dibuat lapis tipis
film yang transparan dan dapat dimakan. Dengan kemasan
semacam ini, bumbu mie instan tidak perlu dibuka dan
dibuang kemasannya, tetapi dapat langsung dicelupkan
bersama kemasannya ketika mie instan disiapkan untuk
disajikan.
Instant noodles as one of the favorite food will be more
popular if the seasoning package can be eaten. This practical
and environmental friendly seasoning package can be made
from carrageenan, which extracted from seaweed, after
being formulated with tapioca flour. This package is directly
immersed when instant noodles prepared to be served, and
safe to be consumed.
Perspektif
Kemasan bumbu mie instan dari ekstrak rumput laut dapat ikut membantu mengatasi
pencemaran akibat kemasan sintetik (plastik), sehingga ramah lingkungan, dapat dimakan dan
aman bagi manusia.
132
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi ini bersifat ramah lingkungan (biodegradable), dapat
dimakan, aman dikonsumsi dan bahkan mengandung serat pangan
yang menyehatkan untuk tubuh.
Tidak mengubah rasa dan aroma produk makanan.
Lebih praktis digunakan, karena seluruh kantong bumbu bisa
langsung dicelupkan ke masakan.
Potensi Aplikasi
|=
lingkungan yang dapat dimakan dan baik untuk kesehatan, tidak hanya
sebagai kemasan bumbu mie instan, tetapi juga kemasan lain pengganti
kemasan plastik di industri makanan maupun obat-obatan.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Muhamad Darmawan; Hari Eko Irianto; Endang Mindarwati.
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
133
DAGING KEPITING ANALOG DENGAN BAHAN
PENGIKAT ALGINAT
Daging
kepiting merupakan
salah satu produk seafood
yang bernilai tinggi dan
disukai konsumen. Kesukaan
konsumen menjadi terganggu
akibat kandungan kolesterol pada
kepiting yang cukup tinggi. Selain itu, sebagian penggemar
daging ini tidak mudah mendapatkannya, karena harganya
yang cukup mahal. Membuat daging kepiting analog (crab
meat analog) menggunakan surimi ikan dari ikan rucah
merupakan salah satu upaya untuk mengatasi masalah
tersebut, sekaligus merupakan diversifikasi produk olahan
ikan. Untuk itu diperlukan bahan pengikat yang sesuai, yaitu
dengan menggunakan alginat yang diekstrak dari rumput laut
coklat Sargassum sp. Penambahan alginat tidak hanya berfungsi
sebagai pengikat, tetapi juga berfungsi untuk membentuk
tekstur kenyal khas daging kepiting sekaligus meningkatkan
kandungan serat. Rasa kepiting dapat diperoleh dengan
menambahkan flavor kepiting, sedangkan warna kemerahan
kepiting dapat diperoleh dengan menambahkan pewarna
makanan. Produk ini tidak hanya merupakan upaya
diversifikasi produk, tetapi juga meningkatkan nilai tambah
rumput laut dan ikan rucah.
Crab meat analogue using surimi fish from small trash fish
can be a potential alternative from the real crab meat which
is expensive and high cholesterol. Adding extracted alginate
from brown seaweed Sargassum sp as binder into surimi fish
increases meat fiber, resulting in distinctive crab texture yet
having low prices, low level of cholesterol, and high level of
healthy fiber.
Perspektif
Produk inovasi ini merupakan pilihan ideal untuk menyediakan daging kepiting (analog) murah yang
rendah kolesterol. Rasa, tekstur dan warnanya tidak berbeda jauh dengan daging kepiting aslinya.
134
Keunggulan Inovasi
$*
tekstur) dengan harga murah dan rendah kolesterol, serta
mengandung serat tinggi.
Potensi Aplikasi
$* sulit, sehingga dapat diproduksi pada skala rumah tangga, UKM
hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
:
Institusi
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin;
Singgih Wibowo; Tyas Hermala Anindita
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
135
SIRUP MARKISA DENGAN PENGENTAL KARAGINAN
Penambahan
karaginan ke dalam
sirup markisa, produk
asli Indonesia yang dibuat
dari buah markisa, merupakan
bentuk diversifikasi pemanfaatan rumput
laut Eucheuma cottonii ke dalam berbagai produk makanan
dan minuman. Fungsi karaginan dalam sirup markisa
adalah sebagai pengental, sekaligus menambahkan serat ke
dalamnya. Dengan penambahan karaginan sirup markisa
menjadi lebih kental dan memberikan sensasi tekstur yang
khas. Selain itu, sifat bioaktif karaginan juga akan terbawa,
sehingga sirup markisa menjadi lebih menyehatkan.
Adding carrageenan, extracted from Eucheuma cottonii,
into passion fruit syrup not only functions as thickener but
also raises fiber. In addition, the bioactivity of carrageenan
can made passion fruit healthier.
Perspektif
Sirup markisa yang diperkaya dengan karaginan akan memberikan sensasi
yang khas dan meningkatkan nilai sirup markisa.
136
Keunggulan Inovasi
$`
*]]
Potensi Aplikasi
[`*]
tangga, UKM hingga industri kecil minuman.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
:
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Rosmawaty Peranginangin, Fifi Arfini
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
137
PENGHARUM RUANGAN DARI ATC
RUMPUT LAUT
Produk turunan lain
dari rumput laut adalah
gel pengharum ruangan,
yaitu dengan memanfaatkan
karaginan dari ATC. Jika
selama ini bahan sintetis yang
mengandung hidrokarbon sangat berbahaya
bagi kesehatan dan diduga menjadi salah satu pemicu
kanker banyak digunakan untuk pengharum ruangan (dalam
bentuk cair), maka penggunaan bahan dari karaginan alami
akan menghindari masalah tersebut. Karaginan dari ATC
merupakan bahan biologis alami yang akan mudah terurai
dan limbahnya tidak membahayakan, sehingga aman untuk
kesehatan.
This innovation introduces the use of carrageenan from
ATC as a gel air freshener. As its biodegradable properties,
this product will be more safer for human health and
environmental friendly and have more unique texture
and fiber content. This innovative product prospects to be
developed by any level of industry.
Perspektif
Produk inovasi berupa pengharum ruangan yang gelnya dibuat dari ATC hasil olahan
rumput laut Eucheuma cottonii yang alami, biodegradable sehingga ramah lingkungan, dan
aman bagi kesehatan.
138
Keunggulan Inovasi
$`
biodegradable,
ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan.
`== untuk meningkatkan nilai tambah.
Potensi Aplikasi
$
*
~ bahan lokal dan tidak mahal, sehingga cocok untuk diproduksi pada skala
UKM hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin; Murdinah;
Dina Fransiska
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
139
PUDDING INSTAN ALGINAT
Puding merupakan
makanan yang banyak
digemari dan disajikan
sebagai dessert. Untuk
menyiapkan puding biasanya
diperlukan waktu dan energi,
karena penyiapan puding memerlukan
pemanasan agar bahan-bahan yang digunakan tidak
mudah larut dalam air. Dengan menjadikan bahan-bahan
tersebut siap pakai atau instan, penyiapan puding menjadi
lebih mudah, praktis dan cepat, serta tidak memerlukan
pemanasan. Puding instan ini buat dari alginat yang mudah
larut dalam air dingin sehingga dapat disiapkan dalam
sekejap.
This innovation introduces a new innovative practical
pudding product made from alginate. The use of water
soluble substance in this product makes cooking pudding
very easy, practical, and less time-consuming. This
innovative product is prospective to be developed by any
level of food industry.
Perspektif
Meningkatnya aktifitas manusia makin menuntut penyiapan makanan yang mudah, praktis
dan cepat, sehingga tidak banyak menyita waktu. Puding instan alginat merupakan salah
satu jawaban yang tepat untuk produk puding, yang sekaligus hemat energi.
140
Keunggulan Inovasi
Penyiapan puding menggunakan puding instan alginat sangat mudah, praktis, cepat dan
tidak memerlukan proses pemanasan.
Potensi Aplikasi
Produk inovasi dapat digunakan untuk membuat puding oleh siapa saja, mulai dari
anak-anak hingga manula.
Produk ini dapat dihasilkan dengan cara yang tidak sulit dan tidak mahal, sehingga
dapat diaplikasikan oleh usaha skala UKM hingga industri kecil.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Subaryono; Rosmawaty Peranginangin; Murdinah
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
141
TEPUNG PUDDING KARAGINAN
Menyiapkan puding
untuk disajikan setelah
makan memerlukan
waktu karena harus
mencampurkan bahanbahannya. Proses pembuatan
akan lebih mudah, praktis, jika sudah
siap olah, sehingga puding dapat disiapkan dalam sekejap
atau instan. Dengan mencampurkan bahan-bahan puding
dalam bentuk tepung menjadikan bahan-bahan tersebut
siap pakai atau instan. Puding instan terbuat dari karaginan
yang diekstrak dari rumput laut Eucheuma cottonii, sehingga
menghasilkan puding dengan tekstur lembut namun kenyal.
This innovation introduces new innovative mixed pudding
flour made from carageenan. Extracted carrageenan from
seaweed Eucheuma cottoni can be made as instant pudding
flour. The form of flour make this product is very practical
and requires no process of ingredients mixing. The prevalent
of this product are easier in making, serving and can be
made into several tastes. Additionally this product has a soft
and chewy texture.
Perspektif
Inovasi tepung puding instan ini mudah dibuat, waktu penyajian singkat dan dapat dibuat dalam beberapa rasa dan menghasilkan puding yang kenyal tetapi lembut.
142
Keunggulan Inovasi
Inovasi ini menghasilkan puding yang kenyal, tidak mudah
pecah namun lembut.
Potensi Aplikasi
Penyiapan puding menggunakan tepung puding instan mudah lakukan
dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Formulasi produk inovasi ini tidak
sulit, sehingga sesuai untuk usaha skala UKM maupun industri kecil.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Rosmawaty Peranginangin; Indah Kusumaningrum;
Ellya Sinurat; M. Darmawan
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
143
Produk pulpy
orange atau bulir
jeruk akhir-akhir ini
menjadi produk yang sangat
disukai karena menghadirkan
sensasi keaslian jeruk. Masalahnya,
sebagian bulir jeruk tersebut mudah pecah,
sehingga sensasi keaslian bulir jeruk tidak dapat diperoleh
sepenuhnya. Bulir serupa dapat dibuat analognya dengan
menggunakan formulasi yang menggunakan alginat dari
rumput laut coklat. Bulir jeruk analog atau pulpy orange
analog ini disiapkan dengan teknik difusi alginat ke dalam
larutan beraroma jeruk, dengan proses penjendalam
menggunakan larutan kalsium. Hasilnya adalah butirbutir atau bulir-bulir yang menyerupai bulir jeruk dengan
rasa jeruk asli. Karena mengandung alginat, maka sifat
bioaktifitas alginat pun akan terbawa ke dalam bulir analog
ini, sehingga menghasilkan produk yang berkhasiat bagi
kesehatan.
Pulpy orange or orange grain is a favorable product because
it can give a sensation of real orange. This innovation
introduces a new innovative pulpy orange made from
alginate. The pulpy orange has grainy texture, orange like
taste, and additionally the bioactivity of alginate in this
product is beneficial for human health.
Perspektif
Produk inovasi ini dapat menghadirkan sensasi bulir jeruk asli dengan keistimewaan alginat
di dalamnya. Bulirnya utuh dan menghadirkan sensasi lebih bertekstur.
144
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi dapat menghadirkan sensasi bulir jeruk
asli dengan keistimewaan alginat di dalamnya. Bulirnya utuh dan
menghadirkan sensasi lebih bertekstur.
Potensi Aplikasi
Teknik pembuatan pulpy orange alginate analog tidak terlalu
sulit dan dapat dilakukan oleh usaha skala UKM hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin; Singgih Wibowo;
Muhammad Darmawan; Helen Koe
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
145
Salah satu jenis
rumput laut coklat
potensial yang banyak
dijumpai di Indonesia
adalah Turbinaria decurrens.
Rumput laut ini praktis belum
banyak dimanfaatkan, padahal banyak
mengandung senyawa bioaktif fukosantin. Senyawa
karotenoid diketahui memiliki khasiat sebagai antioksidan,
antitumor serviks, hepatoprotektor dan anti diabetes.
Melihat potensi bioaktivitasnya tersebut, ekstrak Turbinaria
decurrens sangat potensial untuk dikembangkan sebagai
produk nutrasetikal berkhasiat obat.
Turbinaria sp. is brown seaweed that has not been optimally
used In Indonesia. This seaweed contains fucoxanthin which
has many biological active properties. This innovation
introduces a nutraceutical tablet made from Turbinaria
sp. Extract that can be served as antitumor, antioxidant,
heptoprotector, and antidiabetes properties.
Perspektif
Banyak jenis rumput laut di Indonesia yang belum dimanfaatkan dengan baik, seperti misalnya
rumput laut coklat Turbinaria decurrens yang banyak mengandung senyawa bioaktif focoxanthin.
Ekstrak senyawa ini memiliki peluang besar untuk dijadikan produk nutrasetikal dengan teknologi
formulasi.
146
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi ini potensial untuk dijadikan bahan nutrasetikal
maupun bahan farmasi.
Produk ini dapat diformulasikan ke berbagai jenis produk
formulasi, mulai dari tablet hingga produk makanan maupun
minuman yang berkhasiat sebagai anti oksidan,
anti tumor serviks, hepatoprotektor dan anti diabetes.
Potensi Aplikasi
Teknologi ekstraksi senyawa bioaktif dari T. decurrencs ini dapat diaplikasikan
oleh usaha skala UKM hingga industri dan produk hasil ekstraksinya dapat
diformulasikan menjadi berbagai jenis produk nutrasetikal maupun makanan
atau minuman sehat.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Thamrin Wikanta; Ekowati Chasanah; Muhammad Nursid;
Hedi Indra Januar; Nurahmi Dewi Fajarningsih
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
147
TABLET VITAMIN A DISALUT ALGINAT
Vitamin A
merupakan senyawa yang
sensitif terhadap kondisi
lingkungan, terutama udara,
cahaya dan kelembaban yang
dapat menyebabkan terjadinya oksidasi,
terutama apabila terdapat besi dan tembaga. Perlindungan
terhadap vitamin A perlu diberikan, diantaranya dengan
memberikan lapisan yang dapat melindunginya dari
pengaruh lingkungan tersebut. Penyalutan atau pemberian
lapisan dapat dilakukan dengan menggunakan alginat yang
diekstrak dari rumput laut coklat pada tablet vitamin A.
Pemanfaatan alginat sebagai bahan penyalut tablet vitamin
A merupakan upaya diversifikasi pemanfaatan alginat yang
mampu meningkatkan nilai tambah rumput laut.
This innovation introduces a process to enhance the stability
of vitamin A tablet using a coating film made by alginate
extracted from brown seaweed. This coating of alginate
will induce the reservation, block the taste/odor in the
tablets, and enhance the added value of tablet as alginate is a
bioactive compound. This innovative process may be applied
to any level of nutraceuticals industry.
Perspektif
Penyalutan vitamin A dengan alginat merupakan cara untuk memberikan stabilitas pada vitamin A,
sekaligus memberikan penampakan yang menarik, membantu memudahkan penyerapan atau menutup
rasa dan bau yang kurang enak atau tidak enak pada tablet. Penyalutan dengan alginat juga memberikan
nilai tambah tersendiri, karena alginat merupakan senyawa yang memiliki nilai bioaktifitas yang
menguntungkan.
148
Keunggulan Inovasi
Melindungi obat dari pengaruh-pengaruh yang dapat mengganggu kestabilan produk
sekaligus memberikan nilai tambah tersendiri akibat bioaktifitas alginat.
Potensi Aplikasi
Produk inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh industri farmasi.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Murdinah; Dina Fransiska
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
149
MINUMAN SEHAT TEH AGAR
Teh-agar merupakan
produk yang akan
menghasilkan teh dengan
citarasa dan sensasi tersendiri,
terutama karena teh-agar ini
memiliki mouth feels yang khas. Produk
teh-agar dikemas dengan cup plastik, sehingga menjadi
minuman siap konsumsi dan dapat disimpan dalam jangka
waktu yang lama. Selain memberikan citarasa dan mouth
feels yang khas, teh-agar juga dapat menghasilkan sensasi rasa
kenyang tanpa memberikan asupan kalori, sehingga dapat
dijadikan minuman diet. Pemanfaatan agar dalam produk
ini merupakan upaya diversifikasi produk rumput laut yang
dapat meningkatkan nilai tambah.
This innovation introduce a new innovative
formula between tea and agar to serve as healty beverage,
are packaged in a plastic cup so be prepared beverage
consumption and can be stored in the long term. This
formulation can be used as diet beverage as it can give
satisfied sensation without any addition of calorie.
Perspektif
Diversifikasi pemanfaatan agar dari rumput laut Gracilaria sp. menjadi produk baru
minuman fungsional teh-agar diharapkan dapat dipasarkan secara komersial.
150
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi memberikan citarasa dan sensasi tersendiri dan
memiliki mouth feels yang menarik.
Produk ini dapat menimbulkan sensasi rasa kenyang tanpa
memberikan asupan kalori sehingga cocok untuk dijadikan
minuman diet.
Potensi Aplikasi
Cara pembuatan minuman fungsional teh-agar cukup sederhana,
sehingga memungkinkan untuk diaplikasikan di tingkat rumah
tangga, usaha skala UKM hingga industri minuman.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Murdinah; Siti Nurbaity K. Apriani; Dina Fransiska
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
151
Rumput
laut tidak hanya
menghasilkan
makromolekul yang biasa
digunakan seperti karaginan,
agar dan alginat, tetapi juga
mengandung senyawa tertentu yang memiliki
bioaktivitas yang tinggi, di antaranya adalah sebagai anti
kanker atau anti tumor. Salah satu rumput laut sumber
kekayaan hayati laut Indonesia yang potensial untuk
dikembangkan adalah rumput laut hijau Ulva fasciata yang
mengandung fucoxanthin, senyawa antikanker. Fucoxanthin
yang diekstrak dari U. fasciata telah diuji secara in vitro,
memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan
tumor serviks dan payudara.
Fucoxanthin is well known to be anti-cancer compounds,
surprisingly this compound can be extracted from sea weed
Ulva fasciata. Fucoxanthin extracted from Ulva fasciata has
been clinically tested in vitro to be capable of inhibiting the
growth of cervix and breast cancers.
Perspektif
Hasil ekstraksi U. fasciata yang mengandung senyawa fucoxanthin dapat membantu mengatasi
salah satu penyebab kematian yang ditakuti, yaitu kanker, terutama kanker serviks dan payudara.
Pemanfaatan senyawa dari rumput laut akan meningkatkan nilai tambah rumput laut.
152
Keunggulan Inovasi
Inovasi ini dapat menghasilkan senyawa bioaktif potensial sebagai
produk nutrasetikal yang berkhasiat sebagai antitumor serviks dan
payudara.
Inovasi ini dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut hijau Ulva
fasciata yang selama ini di Indonesia dikenal sebagai rumput laut
non ekonomis.
Ketersediaan bahan baku U. fasciata cukup melimpah.
Potensi Aplikasi
Dapat dikembangkan sebagai produk nutrasetikal dari bahan alam
laut dalam bentuk sediaan obat tradisional maupun modern.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Thamrin Wikanta; Ekowati Chasanah; Muhammad Nursid;
Hedi Indra Januar; Endar Marraskuranto; Nurrahmi Dewi Fajarningsih
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
153
ALAT PENGERING KISTA ARTEMIA UNTUK
PAKAN BENUR UDANG
Keunggulan kista
artemia sebagai pakan
larva udang dan ikan
yang mampu menghasilkan
tingkat kelangsungan hidup
(survival rate) tinggi masih belum
dapat tergantikan oleh jenis pakan lainnya.
Sayangnya, kebutuhan kista artemia dalam negeri sebagian
besar masih dipenuhi dari impor yang harganya mahal.
Kendala utama dalam budidaya kista artemia terletak pada
penanganan pascapanen, di antaranya disebabkan belum
tersedianya teknologi dan tetas kista artemia kering masih
belum tinggi.
Inovasi ini tidak hanya menawarkan alat pengering kista
artemia, tetapi juga teknologinya. Alat pengering kista
artemia tipe drum berputar (rotary drum dryer) dapat
meningkatkan daya tetas kista artemia kering, sehingga lebih
dari 70% melalui proses pengeringan dalam waktu kurang
dari 8 jam, hingga mencapai kadar air kurang dari 10%.
Artemia Cysts as a shrimp and fish larvae feed is able to
produce higher survival rate of shrimp and fish during
culture which cannot be reached by other type of feeds. The
artemia cysts production is still very low due to bad post
harvest handling. The innovation offers not only the artemia
cysts dryer but also post harvest technology of artemia, and
hence improve the shrimp and fish larvae feed.
Perspektif
Kemampuan mengolah jasad renik yang kecil dapat memberikan kontribusi besar bagi
perekonomian bangsa, karena meletakkan dasar kokoh bagi industri perikanan nasional.
154
Keunggulan Inovasi
Tingkat daya tetas kista artemia yang dikeringkan lebih dari 70%.
Tingkat pengeringan mencapai 10% kandungan air dan tidak
tergantung sinar matahari.
Kista artemia kering yang dihasilkan sangat homogen.
Potensi Aplikasi
Inovasi dapat diaplikasikan di daerah-daerah pertambakan, khususnya tambak
garam yang juga membudidayakan artemia, baik skala kecil maupun besar.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Bagus Sediadi Bandol Utomo; Singgih Wibowo;
Th Dwi Suryaningrum
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
155
Laut dan perikanan
memiliki sumber
daya yang sangat besar,
di antaranya bagi sumber
daya industri kosmetika.
Spirulina dan Chlorella merupakan
mikro alga serbaguna, termasuk untuk masker kosmetika.
Polisakarida dari mikroalga ini dapat dimanfaatkan sebagai
masker dalam perawatan kecantikan yang dapat disesuaikan
dengan kebutuhan, sesuai dengan sifat fisika dan kimia yang
diinginkan, terutama dikaitkan dengan pembentukan gel,
viscous, serta kemampuan mengikat air dan mengikat ion,
sehingga dapat mempertahankan kelembaban pada kulit.
Polysaccharides from micro algae such as Alga Spirulina dan
Chlorella can be used as a mask for beauty treatment. This
innovation produces beauty mask products which is similar
to or even better than any other commercial products. This
beauty mask is capable to retain elasticity, smoothen and
brighten the skin.
Perspektif
Mikroalga merupakan bahan alami kosmetik yang mudah dikembangkan dan
cukup menjanjikan.
156
Keunggulan Inovasi
Inovasi ini menghasilkan produk masker untuk perawatan
kecantikan yang tidak kalah dibanding produk komersial lainnya. Produk
yang dihasilkan mampu mempertahankan kekenyalan atau elatisitas kulit,
mengencangkan, memperhalus dan mencerahkan tekstur kulit wajah.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh produsen kosmetik dan salon-salon
kecantikan.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Sri Amini ; Emma Hastarini; Syamdidi
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
157
Salah satu makanan
yang banyak digemari
konsumen di berbagai
tingkatan adalah mie.
Penambahan bahan spirulina
diharapkan untuk memperkaya
kandungan nutrisi pada mie. fortifikasi
Spirulina pada mie tidak hanya menambahkan kandungan
nutrisi pada mie, tetapi juga menambahkan manfaat lain
bagi kesehatan karena kandungan senyawa yang ada pada
Spirulina. Penambahan Spirulina juga berpotensi bagi
pemeliharaan kesehatan dan kebugaran tubuh, dan bahkan
berpeluang untuk menyembuhkan atau menghilangkan efek
negatif dari penyakit tertentu.
The addition of spirulina in noodles doesn’t only enrich the
nutrients but also provides the healthy food for consumers
due to its healthy compounds beneficial to overcome health
issue. This innovation has a potential opportunity as a source
of healthy functional compounds needed by the human body
to fight against certain diseases.
Perspektif
Inovasi ini berpotensi sebagai sumber senyawa fungsional yang dibutuhkan tubuh dan
sekaligus dapat digunakan sebagai pencegah efek negatif dari penyakit tertentu, serta
aman dikonsumsi.
158
Keunggulan Inovasi
Inovasi menghasilkan produk yang mempunyai kandungan
nutrisi tinggi dan mengandung senyawa fungsional yang
dibutuhkan tubuh.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh pengolah skala rumah tangga,
UKM hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Sugiyono; Thamrin Wikanta; Umi Rahayu
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
159
Spirulina,
sebagaimana diketahui,
memiliki khasiat yang
menguntungkan bagi
kesehatan, karena mengandung
senyawa fungsional didalamnya.
Pemanfaataan Spirulina untuk ditambahkan pada produk
makanan atau minuman menawarkan peluang bisnis yang
menarik, di antaranya, yaitu dengan menambahkan Spirulina
pada minuman tradisional yang digemari masyarakat,
seperti misalnya ’bandrek’. Bandrek yang diperkaya dengan
Spirulina telah mulai beredar di pasaran dengan nama
’Rulina Bandrek’, yang merupakan produk diversifikasi
minuman yang menyehatkan.
The utilization of Spirulina for Bandrek, a local popular
beverage, is potential opportunity for beverage industry.
Bandrek enriched with Spirulina named ’Rulina Bandrek’
has currently been distributed to the local and regional
market which is known as a healthy beverage.
Perspektif
Menawarkan produk tradisional yang disukai masyarakat dan lebih menguntungkan bagi
kesehatan, sehingga selain melestarikan kearifan lokal juga meningkatkan taraf kesehatan
masyarakat.
160
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi ini sangat unik dan menarik, karena memiliki khasiat
yang menguntungkan bagi kesehatan akibat bahan-bahan yang
digunakan.
Potensi Aplikasi
Dapat diproduksi dan dikerjasamakan dengan perusahaan-perusahaan
herbal.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Sri Amini; Rini Susilowati; PT Lisa Herbal
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Ijin Kemenkes
[email protected]
161
Spirulina
merupakan ganggang
halus laut yang mudah
diisolasi diperairan
Indonesia. Khasiat Spirulina
cukup memenuhi kebutuhan
gizi dan merupakan suplemen yang tidak
bisa diabaikan. Selain memiliki kandungan klorofil dan
karotenoid sebagai anti oksidan, juga mempunyai enzim
superdi sebagai pencegah kanker.
Spirulina, a bundantly found in Indonesian waters, has been
considered a reliable source of chlorophyll, carotenoids (act
as anti-oxidant) and enzyme Superoxide dismutase (act as
cancer prevention). Spirulina is sufficiently able to meet the
need of nutrition as a food supplement.
Perspektif
Di era global ini, masyarakat membutuhkan suplemen yang digunakan untuk mendukung aktivitas
yang sangat padat. Suplemen dari laut sangat potensial untuk dikonsumsi dan memberikan kesehatan
kepada pengkonsumsi.
162
Keunggulan Inovasi
Produk inovasi ini menggunakan bahan baku Spirulina yang
mengandung enzim Superoxide dismutase (SOD) yang dapat mencegah
terbentuknya kanker, mengandung fikosianin yang berperan dalam
pembentukan sel darah putih di dalam tubuh manusia, mengandung
klorofil yang berperan sebagai darah hijau (green blood) yang
membantu meningkatkan dan kestabilan hemoglobin dan
mengandung karoten yang berperan sebagai antioksidan.
Bahan baku Spirulina yang digunakan mengandung glikolipid dan
fosfolipid yang dapat melawan virus AIDS.
Potensi Aplikasi
Teknologi untuk menghasilkan produk inovasi ini dapat dimanfaatkan
oleh pengusaha skala kecil, UKM hingga skala besar.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Sri Amini; M. Darmawan; Syamdidi
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Dalam proses dipatenkan
[email protected]
163
Selama ini
rumput laut Eucheuma
cottonii lebih banyak
diekspor dalam bentuk
kering sehingga nilai tambah
yang dapat dihasilkan dari komoditi
tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan baik di dalam
negeriuntuk meningkatkan nilai tambah. Cara paling
sederhana adalah dengan mengolahnya menjadi alkali treated
cottonii (ATC) yang sebenarnya adalah rumput laut Eucheuma
cottonii yang diawetkan dengan alkali panas. Dengan
mengolahnya menjadi ATC, dapat terjadi peningkatan harga
hingga 8-10 X dibandingkan rumput laut kering. Produk
ATC dapat langsung dimanfaatkan sebahai bahan untuk
berbagai industri dan dapat ditepungkan menjadi carrageenan (SRC).
Seaweed Eucheuma cottonii are more widely exported
in dried form but it has low price. The simplest way is to
alternatively process it into alkali treated cottonii (ATC),
which is actually a preserved Eucheuma cottonii in hot
alkali. This preservation process increases its price up to 8 –
10 times compared to the dried form. This product can be
directly used as ingredient for various industries.
Perspektif
Teknologi pengolahan rumput laut Eucheuma menjadi ATC merupakan teknologi sederhana yang
melibatkan proses pemanasan rumput laut Eucheuma cottonii dalam larutan alkali panas. Karena
teknologinya yang sederhana, proses pengolahan dapat diaplikasikan oleh usaha skala UKM.
164
Keunggulan Inovasi
Inovasi ini dapat menggunakan peralatan yang
dirancangbangun di dalam negeri, karena peralatan yang
digunakan cukup sederhana.
Potensi Aplikasi
Inovasi dapat digunakan oleh usaha kecil skala menengah.
Produk yang dihasilkan merupakan bahan dasar untuk industri lain,
baik di dalam maupun di luar negeri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
:
Institusi
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Bagus Sediadi Bandol Utomo; Singgih Wibowo; Th Dwi Suryaningrum;
Jamal Basmal; M Darmawan; Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
165
PENGOLAHAN KARAGINAN DARI
RUMPUT LAUT Eucheuma
Keberhasilan
budidaya rumput laut
di beberapa daerah di
Indonesia, telah mendorong
tumbuhnya agribisnis rumput
laut di bidang budidaya, pengumpul,
eksportir dan industri pengolah rumput
laut. Berdasarkan peruntukannya, rumput laut Euchema
dapat diolah menjadi beberapa produk, yaitu carrageenan (SRC) dan karaginan murni (RC). Kedua produk ini merupakan produk setengah jadi
yang digunakan di berbagai bidang, mulai dari industri
makanan, minuman, farmasi, tekstil, kimia, pengeboran
minyak, dan sebagainya. Pengolahan rumput laut menjadi
produk ini merupakan tindakan untuk meningkatkan nilai
tambah dengan teknologi yang tidak terlalu sulit untuk
diaplikasikan.
Semi Refined Carrageenan (SRC) and Refined carrageenan
(RC) are semi-finished products from Euchema Seaweed
that are used in various industries ranging from food,
beverage, pharmaceutical, textile, chemical, oil drilling.
Seaweed processing into these products enhances seaweed
value-added using simple applied technology.
Perspektif
Teknologi pengolahan rumput laut Eucheuma menjadi karaginan merupakan teknologi yang
dapat diterapkan pada usaha skala UKM hingga industri sehingga meningkatkan nilai tambah
rumput laut.
166
Keunggulan Inovasi
Inovasi menggunakan teknologi yang tidak terlalu sulit
diaplikasikan dan dapat menggunakan peralatan yang
dirancangbangun di dalam negeri.
Potensi Aplikasi
Inovasi dapat digunakan oleh usaha kecil skala menengah.
Produk yang dihasilkan merupakan bahan dasar untuk industri lain,
baik di dalam maupun di luar negeri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
:
Institusi
:
Alamat
Status paten
Email
:
:
:
Bagus Sediadi Bandol Utomo; Singgih Wibowo;
Th Dwi Suryaningrum; Jamal Basmal; M Darmawan;
Ellya Sinurat; Rosmawaty Peranginangin
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
167
TEKNOLOGI PENGOLAHAN KARAGINAN MURNI
Salah satu
produk bernilai tambah
tinggi yang dihasilkan dari
rumput laut Eucheuma cottonii adalah karaginan murni yang
nilainya dapat mencapai 20X dari nilai
rumput laut kering. Karaginan murni ini merupakan produk
hasil olahan rumput laut yang bermutu tinggi. Peluang
pengembangan pengolahan karaginan murni di Indonesia
sangat besar, mengingat permintaan akan produk ini tinggi
sementara produsen dalam negeri jumlahnya masih terbatas,
yaitu sekitar 14 perusahaan.
One of high value-added products produced from Eucheuma
cottonii seaweed is refine carrageenan whose value can reach
20 times higher than dried seaweed. Pure carrageenan is a
high quality processed seaweed product. The opportunity
to develop pure carrageenan processing in Indonesia is
enormous considering high demand for these products while
domestic producers are still limited.
Perspektif
Rumput laut yang ada di Indonesia umumnya masih diekspor dalam bentuk rumput laut
kering. Pengolahan rumput laut menjadi karaginan murni mampu meningkatkan nilai
rumput laut hingga 20 kali lipat.
168
Keunggulan Inovasi
Mampu menghasilkan karaginan murni dengan gel strength yang
tinggi, lebih dari 1.000 g/cm2.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini sesuai untuk industri skala menengah.
Inovator/ Peneliti
Inovator
:
Institusi
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Rosmawaty Peranginangin; M. Darmawan; Ellya Sinurat;
Arif Rahman Hakim
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
169
Rumput laut
Eucheuma cottonii
banyak mengandung
senyawa pemacu tumbuh
(giberelin, sitokinin, auksin)
dan mineral (Fe, B, Ca, Cu, C1, K,
Mg, Mn, dan Mo) yang selain bermanfaat sebagai pupuk
juga dapat memperbaiki struktur tanah. Senyawa pemacu
tumbuh ini ditemukan dalam thallus rumput laut dan
dapat dikeluarkan dari thallus bersama dengan cairan (SAP)
thallus yang jumlahnya mencapai 50% dari berat thallus atau
rumput laut segar. Jumlah ini sangat besar sekali mengingat
Indonesia memproduksi tidak kurang dari 700.000 ton
rumput laut segar atau tidak kurang dari 350.000 ton SAP
dapat diproduksi secara nasional untuk dijadikan pupuk
cair. Inovasi ini dapat menghasilkan pupuk cair dari rumput
laut Eucheuma cottonii yang berguna untuk mempercepat
pertumbuhan tanaman.
Eucheuma cottonii seaweed contains many compounds which
is very useful as a raw material for plant fertilizer and for
improving soil structure. This innovation shows how to
develop the seaweed into a plant fertilizer product. The
liquid fertilizer from this innovation is a high value fertilizer
applicable by any industry, including fishery and the fertilizer
industry.
Perspektif
Rumput laut Eucheuma cottonii banyak mengandung unsur hara yang banyak dibutuhkan oleh tumbuhan
dalam pertumbuhannya, selama ini terbuang karena tidak dimanfaatkan. Pemanfaatan cairan rumput laut
untuk pupuk dapat dilakukan sebelum rumput laut dikeringkan atau setelah pengeringan, namun dengan
risiko menghasilkan rendemen SAP yang rendah.
170
Keunggulan Inovasi
Produk hasil inovasi ini kaya akan senyawa pengatur pertumbuhan
tanaman dan dapat dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk
tanaman hortikultura.
Potensi Aplikasi
Inovasi disusun cukup sederhana, sehingga dapat diaplikasikan oleh
petani rumput laut tanpa harus memiliki keahlian khusus dan dapat
juga dimanfaatkan oleh industri pengolahan rumput laut.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
:
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
171
Salah satu jenis rumput
laut yang banyak
ditemukan di Indonesia
adalah Sargassum sp.,
meskipun belum dibudidayakan,
namun banyak ditemukan di daerah
pantai berkarang dan berombak di Indonesia seperti di
pantai selatan Jawa. Selain alginat, Sargassum juga banyak
mengandung unsur hara makro (N-P-K) dan mikro seperti
Fe, B, Mn, Zn, Mo, Cu, C1 dan Ca. Selain itu, Sargassum
sp. juga mengandung senyawa pemacu tumbuh seperti
sitokinin (kinetin dan zeatin), auksin (IAA) dan giberelin
(GA3). Inovasi ini dapat menghasilkan pupuk cair dari
rumput laut Sargassum sp. yang berguna untuk mempercepat
pertumbuhan tanaman.
Sargassum sp. seaweed contains many compounds which
is very useful as a raw material for plant fertilizer and for
improving soil structure. This innovation shows how to
develop the seaweed into a plant fertilizer product. The
liquid fertilizer from this innovation is a high value fertilizer
applicable by any industry, including fishery and the
fertilizer industry.
Perspektif
Rumput laut Sargassum mengandung unsur hara makro dan mikro, serta senyawa pemacu tumbuh
yang banyak dibutuhkan oleh tumbuhan dalam pertumbuhannya. Unsur hara dan senyawa pemacu
tumbuh dapat diambil bersama cairan thallus rumput laut dan dijadikan pupuk cair yang bernilai
tinggi.
172
Keunggulan Inovasi
Produk hasil inovasi ini kaya akan senyawa pengatur
pertumbuhan tanaman dan dapat dimanfaatkan menjadi pupuk
cair untuk tanaman hortikultura dengan cara yang sederhana.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini disusun cukup sederhana, sehingga dapat diaplikasikan oleh
siapapun termasuk nelayan hingga industri pupuk.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
:
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Jamal Basmal
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
173
BANDENG TANPA DURI SIAP SAJI
ANEKA RASA
Untuk anda yang super
sibuk dan kesulitan
menyiapkan makanan
dalam waktu yang singkat,
kini ada solusinya: bandeng tanpa
duri ‘siap saji’ aneka rasa. Selama ini
penggemar bandeng seringkali terganggu dengan banyaknya
duri halus dalam daging. Penyediaan bandeng tanpa duri
akan makin meningkatkan apresiasi konsumen terhadap
bandeng. Bandeng tanpa duri dapat divariasikan citarasanya
maupun bentuk akhirnya dan dapat diolah dengan cara yang
mudah, yaitu menggunakan microwave atau alat masak lain.
Produk ini merupakan diversifikasi olahan bandeng yang
diolah tanpa duri dan dibuat setengah kering, serta memiliki
aneka citarasa seperti pedas, manis, asin, asap atau lainnya
sesuai selera.
Assorted flavor ready-to-serve boneless milkfish is
diversified processed food based on milkfish. This process
involves taking off the bones and dry cooking the milkfish
and mix it with certain ingredients to deliver a supreme
taste of hot, sweet, smoked and piquant. This is practical
to those who enjoy eating milkfish but are daunted by its
bones.
Perspektif
Menghasilkan bandeng tanpa duri dengan citarasa yang beraneka, serta dapat diolah dengan mudah dan
cepat menggunakan microwave merupakan pilihan cerdas bagi mereka yang memiliki tingkat kesibukan
tinggi, terutama bagi kaum perempuan karir.
174
Keunggulan Inovasi
**`
disajikan.
"
*
(juicy).
$]
Potensi Aplikasi
Diversifikasi produk bandeng tanpa duri ini dapat diolah oleh Usaha
Kecil Menengah (UKM).
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Th Dwi Suryaningrum; Ijah Muljanah
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
Bandeng Tanpa Duri
Siap Saji Aneka Rasa
175
PRODUK BARU OLAHAN LELE DARI INDUK
AFKIR : CIRIMEN LELE
Ki in
Kini
indukan afkir lele
tid produktif lagi
yang tidak
bisa meng
menghasilkan uang.
Indukan afki
afkir tersebut dapat
dimanfaatkan un
untuk berbagai
produk olahan. Salah satunya menjadi
nila tambah. Inovasi
‘cirimen lele’ yang dapat meningkatkan nilai
ini merupakan cara pengolahan baru berupa irisan tipis dan
memanjang daging lele yang dikeringkan dan diperkaya
dengan rumput laut, sehingga menghasilkan produk
mengkilap.
Non-productive brood-stock of catfish can still make money
by processing it into ‘catfish cirimen’, lean sliced enriched
with seaweed. Cirimen is simply made from non-productive
catfish flesh mixed with various spices and ingredient
commonly found in your kitchen.
Perspektif
Sisa lele indukan cukup besar, sejalan dengan usaha pembenihan lele untuk mendukung budidaya lele yang
berkembang dan meningkat pesat. Daging lele diiris tipis-tipis memanjang dan dikeringkan. Setelah dibumbui
dengan garam dan rumput laut, produknya mengkilat. Produk ini dapat dijadikan upaya diversifikasi olahan lele,
dan meningkatkan nilai tambah lele sekaligus dapat dijadikan upaya penyediaan gizi masyarakat.
176
Keunggulan Inovasi
Caranya sangat sederhana dengan menggunakan daging lele
dari sisa indukan dan bahan -bahan lain yang biasa digunakan untuk
memasak sehari-hari.
Menghasilkan produk baru siap olah yang belum ada di pasaran
dengan penampilan yang mengkilap menarik.
Cirimen Lele
Potensi Aplikasi
Inovasi dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat untuk
memenuhi keperluan rumah tangga, maupun untuk usaha skala UKM.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Th Dwi Suryaningrum
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
tlp (021) 53650157, fax (021) 53650158
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
177
DENDENG SURIMI RENDAH LEMAK
DARI IKAN PATIN
Dendeng surimi
patin merupakan
produk diversifikasi
yang dapat diolah dengan
cara yang sangat mudah dan
murah, sehingga dapat diaplikasikan
oleh semua lapisan masyarakat, baik untuk kebutuhan
rumah tangga maupun usaha skala UKM. Produk ini tidak
hanya menjadi diversifikasi olahan patin, tetapi juga dapat
digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi
masyarakat, yang pada gilirannya ikut membantu program
ketahanan pangan. Karena dendeng dibuat dari surimi yang
telah dikurangi lemaknya, maka dendeng ini berkadar lemak
rendah sehingga tidak mudah tengik.
Catfish flesh contains high fat content which is easily
decomposed by oxidation process. It produces unwanted
odor and taste. However, processing catfish into surimi will
reduce its fat content thus extending the shelf life.
Perspektif
Daging patin dikenal mempunyai kandungan lemak yang tinggi, sehingga sering menjadi sumber
kerusakan produk olahan patin karena oksidasi lemak yang menyebabkan timbulnya bau dan rasa
tengik. Dengan dibuat menjadi surimi lebih dahulu, maka kandungan lemaknya dikurangi, sehingga
menghasilkan produk yang lebih awet dan tidak mudah tengik.
178
Keunggulan Inovasi
Cara memproduksinya sangat sederhana, mudah diaplikasikan dan
murah.
Menghasilkan produk berlemak rendah sehingga
tidak mudah tengik.
Potensi Aplikasi
Karena caranya sangat sederhana dan murah, sehingga dapat
diaplikasikan oleh semua lapisan masyarakat baik untuk kebutuhan
rumah tangga maupun usaha skala UKM.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Suryanti; Hari Eko Irianto
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
tlp (021) 53650157, fax (021) 53650158
Belum dipatenkan
[email protected]
179
MEMBUAT ‘DAGING SCALLOP’ DARI LELE
Bentuk olahan lain
dari lele sisa indukan
adalah scallop lele.
Scallop merupakan jenis
kerang, termasuk makanan
mahal dan disukai masyarakat
Eropa maupun Amerika. Di Indonesia,
scallop kini bisa dibuat dari daging indukan lele afkir.
Inovasi ini merupakan cara pengolahan scallop analog
dengan menggunakan daging lele, sebagai bahan baku yang
menghasilkan produk dengan kharakteristik mirip aslinya.
Produk yang dihasilkan merupakan produk baru olahan lele
dalam bentuk kering sehingga tahan lama.
Scallop is member of mollusk with high value and good
taste, making it a favorite culinary among European and
American, yet it is very expensive seafood. Non-productive
brood stock of catfish can be processed into scallop-like
texture which is similar to the original scallop. Dried
scallop made from catfish has a long shelf life.
Perspektif
Sisa lele indukan jumlahnya cukup besar, selaras dengan usaha pembenihan lele untuk mendukung budidaya lele
yang berkembang dan meningkat pesat. Daging lele dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi scallop lele kering
yang tahan lama dan dapat dijadikan alternatif (scallop analog), bagi mereka yang ingin mengkonsumsi scallop
kering (asli yang menggunakan bahan dari scallop) namun tidak dapat menjangkau harganya. Di sisi lain, scallop
lele kering dapat dijadikan upaya diversifikasi olahan lele dan meningkatkan nilai tambah lele.
180
Keunggulan Inovasi
Cara pembuatannya sangat sederhana, dengan menggunakan
daging lele dari sisa indukan dan bumbu sosis yang ada dipasaran.
Menghasilkan produk baru siap olah yang belum ada di pasaran,
mirip dengan scallop aslinya dengan penampilan dan warna yang menarik.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat,
mulai dari tingkat rumah tangga hingga usaha skala UKM.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Th Dwi Suryaningrum
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
tlp (021) 53650157, fax (021) 53650158
Status Paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
181
KOLAGEN HALAL DARI KULIT IKAN NILA
Selama ini kolagen
kulit umumnya diolah
dari babi atau sapi.
Kolagen merupakan
protein yang terdapat pada
hewan dan digunakan untuk
industri makanan, farmasi, kosmetik
dan lainnya. Jumlahnya mencapai sekitar 30% dari seluruh
protein yang terdapat dalam tubuh hewan tersebut. Sumber
alternatif lain dapat digunakan kulit nila. Hampir seluruh
protein pada kulit ikan nila adalah kolagen. Inovasi ini adalah
teknologi pengolahan kolagen halal dengan menggunakan
kulit ikan nila sebagai bahan baku.
Collagen that is widely used by industry was generally
derived from either pig or cow skin that causes some
religious problem for Muslims and Hindus to consume it.
The nile tilapia skin, a waste product of nile tilapia fillet
processing, is a ‘halal’ material that is potential to be utilized
into ‘halal’ collagen. The innovation to produce ‘halal’
collagen from nile tilapia skin raw material will increase the
value-added of tilapia waste.
Perspektif
Kolagen yang beredar dan banyak digunakan oleh industri umumnya berasal dari kulit babi dan sapi yang
menimbulkan masalah bagi umat Islam dan Hindu untuk mengkonsumsi dan menggunakannya. Kulit nila yang
merupakan produk samping yang belum banyak termanfaatkan dari pengolahan filet nila merupakan bahan
protensial dan halal untuk diolah menjadi kolagen, sehingga diharapkan dapat menyediakan kolagen yang halal
dan meningkatkan nilai tambah perikanan.
182
Keunggulan Inovasi
Menghasilkan produk halal bagi umat Islam dan umat Hindu, dengan
menggantikan kolagen babi atau sapi.
Membantu mengatasi masalah produk samping yang belum banyak
termanfaatkan di unit pengolahan filet nila, sekaligus meningkatkan
nilai tambah ikan nila.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh unit pengolahan fillet nila yang banyak
menghasilkan produk samping seperti kulit, untuk menghasilkan kolagen halal.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Murniyati
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan.
Email
: [email protected]
183
GELATIN HALAL DARI KULIT PATIN
Gelatin merupakan
polimer protein yang
banyak dimanfaatkan
oleh industri makanan dan
farmasi, karena sifatnya yang
unik dan mempunyai fungsi yang
beragam. Biasanya gelatin diperoleh dari kulit
dan tulang babi atau sapi, yang menimbulkan masalah
bagi umat Islam dan Hindu. Gelatin dari ikan merupakan
jawaban tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Di dunia
farmasi, gelatin digunakan sebagai bahan pengikat pengisi
tablet dan gelatin dari kulit patin mampu menghasilkan
performa yang tidak kalah mutunya, dibanding bahan
pengikat yang lazim digunakan.
Gelatin, a polymer of protein which is widely used by the
food and pharmaceutical industries, is usually extracted
from either pork or beef skin and bone that cause religious
problem for Muslims and Hindus. This innovation produces
a high quality of halal gelatin product from a cheap catfish
(patin) skin waste. With its comparable quality performance
with commonly used binders, the utilization of gelatin
made from catfish (patin) skin waste in the cosmetics and
pharmaceutical industries is widely open.
Perspektif
Pemanfaatan limbah kulit patin memiliki multi fungsi, yaitu meningkatkan nilai tambah,
mengimplementasikan konsep ‘nir limbah’ dan blue economy, serta menyediakan gelatin
halal terutama bagi umat Islam dan Hindu.
184
Keunggulan Inovasi
Gelatin kulit patin memiliki sifat-sifat fisik dan kimia yang tidak
kalah dengan gelatin komersial dari kulit babi, bahkan memiliki
nilai sensori yang sangat baik.
Menghasilkan produk halal bagi umat Islam dan umat Hindu yang
menggantikan gelatin dari babi atau sapi.
Membantu mengatasi masalah limbah di unit pengolahan fillet patin.
Potensi Aplikasi
Inovasi ini dapat dimanfaatkan oleh unit pengolahan fillet patin yang
banyak menghasilkan limbah kulit patin, untuk menghasilkan gelatin halal.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Rosmawati Peranginangin; Arham Rusli
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
185
DURI LELE KERING ASIN
Pemanfaatan daging
lele untuk berbagai
olahan mulai dari
abon, bakso, nugget dan
sebagainya menyisakan tulang
dan duri yang jumlahnya cukup
besar dan menjadi limbah. Di antara duriduri tersebut masih terdapat dagingnya, sehingga duri ini
masih dapat dimanfaatkan sebagai makanan dengan cara
dikering-asinkan. Duri lele kering asin cocok untuk lelelele ukuran kecil yang tulangnya masih belum terlalu keras,
sehingga setelah kering dan digoreng akan sangat renyah.
Lebih dari itu, mengingat tulang dan duri lele banyak
mengandung kalsium, maka olahan duri lele kering asin ini
dapat menjadi pilihan untuk memasuk kalsium bagi tubuh.
All parts of catfish including its bones can be processed all
the way to make zero waste products. Processing catfish
normally produces mounted piles of bones and spines,
causing waste issues. The bones and spines from catfish of
small to medium sizes can be further processed by using
dried and salted method which eventually creates crispy
crackers.
Perspektif
Inovasi ini melengkapi upaya untuk memanfatkan lele secara total. Semua bagian tubuh lele dapat
dimanfaatkan termasuk tulang dan duri lele sehingga pengolahan lele, menjadi nir limbah (zero waste).
Dengan konsep seperti ini, usaha pengolahan lele secara total merupakan implementasi dari konsep blue
economy.
186
Keunggulan Inovasi
]
yang kaya akan kalsium.
Potensi Aplikasi
[`=
oleh siapa pun juga mulai dari tingkat rumah tangga hingga usaha
pengolahan skala UKM.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Th Dwi Suryaningrum
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
187
BIODIESEL DARI LIMBAH MINYAK IKAN
Minyak ikan yang
banyak ditemukan di
daerah pengalengan ikan,
pengolahan pindang dan
sebagainya, umumnya mencemari
lingkungan meskipun sudah mulai
dimanfaatkan. Menggunakan minyak ikan tersebut untuk
diproses menjadi biodiesel akan membuka peluang besar
terutama karena ketersediaan cadangan minyak bumi makin
menipis. Inovasi ini menawarkan peluang bagi penyediaan
alternatif pengganti bahan bakar fosil dan juga memberikan
peluang bagi daerah industri perikanan untuk memanfaatkan
limbahnya menjadi produk yang bernilai tinggi.
Fish oil waste can be found abundantly in fish canning and
‘pindang’ processing area and usually poses environmental
problems. Fish oil waste that can be used as a material for
biodiesel production offers an alternative solution to replace
the fossil fuels. It provides an opportunity for the local
fishing industry to utilize their fish oil waste into high value
products of biodiesel.
Perspektif
Penggunaan energi dari fosil masih dominan, sementara tidak dapat diperbaharui, dan
menimbulkan masalah lingkungan. Sumberdaya hayati perikanan dapat dimanfaatkan untuk
bioenergi, seperti minyak ikan yang merupakan limbah pengolahan dapat digunakan sebagai
bahan dasar pembuatan biodiesel.
188
Keunggulan Inovasi
alternative menggunakan bahan yang belum banyak dimanfaatkan
dan bukan merupakan saingan sumber pangan.
Potensi Aplikasi
|
= sisa/limbah olahan perikanan, terutama mendukung program
pemanfaatan limbah ikan patin yang mengandung banyak minyak.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Bagus Sediadi Bandol Utomo; Sugiyono;
Tri Nugroho Widianto
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
189
PRODUK FASHION ISTIMEWA DARI KULIT
IKAN TERSAMAK
Kulit ikan setelah
disamak dapat
dimanfaatkan dan
diolah menjadi produk
kerajinan yang sangat khas,
menawan, bernilai estetika tinggi dan
mahal. Kulit ikan tersamak sangat bagus untuk dijadikan
produk kerajinan seperti dompet, tas, sepatu, sandal, dan
sebagainya. Cara penyamakannya tidak sulit dan dapat
dilakukan oleh usaha penyamakan skala rumah tangga hingga
UKM. Berbagai jenis ikan kulitnya dapat disamak seperti
ikan hiu, pari, kerapu, nila, remang, dan sebagainya.
Tanned fish skin can be utilized to various fashion products
such as wallet, bag, shoes and slippers. Fish skin tanning
process can easily be done by house hold and small scale
industry. Almost all fish skin such as from shark, stingray,
grouper, Tilapia etc. can be tanned into high value as fish
leather products.
Perspektif
Kulit ikan yang biasanya merupakan hasil samping dapat diolah menjadi kulit tersamak yang sangat
khas, menawan, bernilai estetika tinggi dan berharga mahal. Usaha untuk memanfaatkan kulit ikan
menjadi kulit tersamak ini dapat memanfaatkan hasil samping menjadi produk bernilai tambah
tinggi (zero waste concept).
190
Keunggulan Inovasi
[`
memanfaatkan hasil samping menjadi produk khas bernilai tinggi.
$*\[
kulit tersamak sapi, kambing) dan mempunyai corak permukaan kulit
yang unik, serta berbeda dari kulit lainnya, sehingga sangat bagus untuk
dijadikan produk kerajinan kulit.
Potensi Aplikasi
[`=
industri pengolahan ikan yang menghasilkan kulit yang cocok untuk disamak,
misalnya industri fillet nila, pengolahan ikan pari, dan sebagainya.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Nurul Haq
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260 tlp (021) 53650157,
fax (021) 53650158
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
191
ALAT DAUR ULANG LIMBAH CAIR SRC
I n d u s t r i
pengolahan carrageenan (SRC) dari
rumput laut Eucheuma cottonii
menyisakan sejumlah besar limbah
cair yang kaya akan mineral organik,
maupun anorganik utamanya ion K+. Pemanfaatan kembali air
limbah yang kaya akan ion K+ ini akan menguntungkan, yaitu
menghemat air dan sekaligus meningkatkan mutu produk
yang dihasilkan. Inovasi ini berupa rancang bangun alat
daur ulang air limbah dari pengolahan rumput laut menjadi
SRC, untuk dimanfaatkan kembali dalam proses pengolahan
karaginan.
Industrial processing of semi refined carrageenan (SRC)
from seaweed Eucheuma cottonii produces large amount of
liquid waste which is rich in organic and inorganic content,
especially K+ ion. The use of ion K+ from this component
will improve the quality of the products and also save water
during the process of SRC.
Perspektif
Air dari limbah cair hasil pengolahan SRC yang menggunakan penambahan KOH, dapat di daur ulang
dan digunakan kembali dalam proses pengolahan SRC. Air limbah ini kaya akan ion K+ yang dapat
dimanfaatkan kembali sehingga menghemat air dan sekaligus bermanfaat untuk pengolahan serta dapat
meningkatkan rendemen, kekentalan dan kekuatan gel produk.
192
Keunggulan Inovasi
Sederhana, mudah dikonstruksi dan dioperasikan.
Mampu menangani limbah pengolahan SRC, menghasilkan
air yang dapat dimanfaatkan kembali untuk pengolahan.
Air daur ulang yang dihasilkan mengandung ion K+ yang
tinggi, bermanfaat untuk meningkatkan rendemen,
kekentalan, dan kekuatan gel.
Potensi Aplikasi
|
limbah cair yang airnya dapat dimanfaatkan kembali untuk pengolahan.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu; Diini Fithriani; Rodiah N
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
193
GELATIN HALAL DARI LIMBAH KULIT DAN
TULANG IKAN
Gelatin merupakan
polimer protein yang
banyak dimanfaatkan
oleh industri makanan dan
farmasi, karena sifatnya yang
unik dan mempunyai fungsi yang
beragam. Biasanya gelatin diperoleh dari
kulit dan tulang babi atau sapi yang menimbulkan masalah
bagi umat Islam dan Hindu. Gelatin dari ikan merupakan
jawaban tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Mengingat
kulit dan tulang ikan masih sering menjadi limbah yang
menimbulkan masalah bagi lingkungan, maka pemanfaatan
gelatin dari kulit dan tulang ikan memberikan peluang
untuk meningkatkan nilai tambah, sekaligus menjadi pilihan
untuk menerapkan konsep nir limbah (zero waste concept),
sertamerupakan implementasi nyata dari blue economy.
Usually, gelatin is extracted from either pork or beef skins
or bones that cause some religious problem for Muslims and
Hindus who consume it. On the other hand, halal gelatin
can be extracted either from fish skins or bones using an
easy acid extraction method. Moreover, the halal gelatin
product from fish waste is comparable with gelatin product
extracted from beef or pork. The utilization of fish skins and
bones into halal gelatin provides an opportunity to increase
the value added of the fish waste as well as an option to
apply the zero waste concept
Perspektif
Pemanfaatan limbah kulit dan tulang ikan memiliki multi fungsi, yaitu meningkatkan nilai
tambah, mengimplementasikan konsep ‘nir limbah’ dan blue economy, serta menyediakan
gelatin halal terutama bagi umat Islam dan Hindu.
194
Keunggulan Inovasi
[€
menggantikan gelatin dari babi atau sapi.
`
dan memenuhi persyaratan untuk memenuhi gelatin di industri farmasi.
banyak menghasilkan limbah kulit dan tulang ikan.
*‚~ƒ„
Potensi Aplikasi
[`=
menghasilkan limbah kulit dan tulang ikan untuk menghasilkan gelatin halal.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Rosmawaty Peranginangin
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
195
NANO KALSIUM DARI SISIK IKAN NILA
Salah satu limbah
dari pengolahan
fillet nila yang masih
terabaikan adalah sisiknya,
banyak mengandung kalsium
organik yang dapat dimanfaatkan.
Selama ini, kalsium biasanya diperoleh
dari sumber anorganik, dapat digantikan dengan kalsium
organik yang lebih disukai, karena lebih mudah beradaptasi
atau diserap oleh tubuh. Inovasi ini merupakan teknologi
untuk memanfaatkan kalsium dan mengolahnya menjadi
nano-kalsium yang bernilai tinggi. Upaya ini tidak hanya
ikut mengatasi masalah limbah yang sering mengganggu
lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tinggi,
sehingga dapat meningkatkan nilai tambah nila.
One of tilapia fillet processing neglected waste products
is the fish scales that are rich in organic calcium. This
innovative technology utilizes the calcium from tilapia fish
scales into a high value nano-calcium. This effort will not
only solve the waste problem that impair our environment
but also produce a high value products of nano calcium
which will improve the value-added of tilapia fish.
Perspektif
Kalsium yang banyak beredar biasanya berasal dari bahan anorganik. Pemanfaatan kalsium dari
sisik ikan nila menghasilkan kalsium organik (biologis) yang lebih mudah diserap. Pemanfaatan kalisum
ini dapat meningkatkan nilai tambah ikan nila, mengatasi masalah lingkungan, mengimplemetasikan
konsep nir limbah dan blue economy.
196
Keunggulan Inovasi
[`
~
kalsium yang bernilai tinggi.
=
sekaligus meningkatkan nilai tambah ikan nila.
Potensi Aplikasi
[`==
banyak menghasilkan limbah sisik untuk menghasilkan kalsium organik
dalam ukuran nano yang bernilai tinggi atau oleh usaha lain dari skala
UKM hingga industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Fera Roswita Dewi; Murniyati; Rosmawaty Peranginangin
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
197
ALAT PEMBUAT PAPAN PARTIKEL
LIMBAH RUMPUT LAUT
Industri pengolahan
agar,dari Gracillaria
maupun Gellidium,
menyisakan limbah
padat, mencapai 70-85%
dari rumput laut yang diolah
dan berpotensi mencemari lingkungan.
Limbah ini masih banyak mengandung selulosa dan dapat
dimanfaatkan untuk dijadikan produk lain, yaitu papan
partikel atau papan komposit. Kekuatan, kekompakan
dan ketahanan papan partikel tersebut akan menjadi lebih
baik jika dicampur bahan pengikat atau binder. Untuk itu
diperlukan peralatan khusus untuk menghasilkan lembaran
komposityang kompak dan kuat. Alat tersebut dirancang
dapat menghantarkan panas (hingga 2000 C) ke campuran
limbah rumput laut dengan binder, sehingga terjadi
percampuran sempurna. Binder mencair kemudian dicetak
dengan hydraulic press.
The seaweed Gracillaria or Gelidium processing industry
may generate high amount of wastes which mainly
composed by cellulose and lignin. By applying high
temperature and hydraulic pressure, this innovative
device converts those wastes into a high value product i.e.
particle or composite board. This deviceis easily assembled,
operated, and used by small or high scale industries.
Perspektif
Limbah pengolahan agar yang sering mengganggu dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai
tambah dan berdayaguna tinggi dengan menggunakan alat yang sederhana. Inovasi ini ikut mendorong
kegiatan yang ramah lingkungan dan sekaligus mengimplementasikan konsep nir limbah (zero waste concept)
yang merupakan inti dari konsep ekonomi biru (blue economy).
198
Keunggulan Inovasi
|
Potensi Aplikasi
[`
limbah rumput laut baik skala UKM maupun industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu;
Tri Nugroho Widiyanto, Diini Fithriani
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
199
BRIKET ARANG LIMBAH RUMPUT LAUT
Limbah padat
pengolahan agaragar dari rumput laut,
terutama Gracillaria sp.,
dapat menimbulkan masalah
bagi lingkungan dan juga bagi
pabrik pengolahan bila tidak tersedia
tempat penampungan atau teknologi untuk pemanfaatannya.
Padahal, limbah padat rumput laut (jumlahnya mencapai
70% dari rumput laut yang diolah) banyak mengandung
selulosa yang potensial untuk dimanfaatkan. Diantaranya
adalah dengan diolah menjadi briket arang untuk bahan
bakar berbagai keperluan, sebagai pengganti bahan bakar
fosil.
The seaweed Gracillaria or Gelidium processing industry
may generate high amount of wastes which mainly
composed by cellulose and lignin. By applying high
pressure, this innovative device converts those wastes into
a high value product i.e. charchoal briquette. This device is
easily assembled, operated, and used by small or high scale
industries.
Perspektif
Pemanfaatan limbah padat pengolahan agar menjadi briket arang merupakan langkah
pasti untuk menyediakan alternatif energi terbarukan, untuk mengantisipasi semakin
menipisnya persediaan bahan bakar fosil di Indonesia.
200
Keunggulan Inovasi
[`*
yang canggih dan produk yang dihasilkan tidak kalah dengan
briket arang yang telah ada.
Potensi Aplikasi
Limbah Rumput Laut
[`
dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berminat dalam skala
kecil atau UKM, hingga skala industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Hari Eko Irianto; Muhammad Darmawan; Murdinah;
Kokom Komariyah (UIN Jakarta)
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum patentkan
Email
: [email protected]
Briket Arang
201
OLIGOMER KITOSAN: ANTIKAPANG
DARI LIMBAH KRUSTASEA
Cangkang
krustase (udang,
rajungan), selama ini
menjadi limbah potensial
untuk diolah menjadi kitin dan
kitosan dan sangat diperlukan oleh berbagai industri, mulai
dari industri pangan, kimia, medis, farmasi, lingkungan,
hingga bioteknologi. Produk turunan kitosan yang
memiliki manfaat lebih besar adalah oligomer kitosan,
karena memiliki struktur yang lebih pendek dan ukuran
molekul yang lebih kecil. Oligomer kitosan larut sempurna
dalam air dan mudah berinteraksi dengan dinding sel dan
mikroorganisme target. Produk turunan kitosan ini dibuat
dari kitosan dengan menggunakan enzim kitosanase yang
dihasilkan oleh bakteri dan memiliki biofungsional yang
tinggi, salah satunya sebagai antikapang 0:2
penghasil aflatoksin yang menjadi ancaman pada bidang
pangan.
The low value of crustacea waste that are abundantly
available in Indonesia can be utilized to produce an
economical high value product of chitosan oligomers. This
chitosan derivative can be made using chitosanase enzyme
which produced by bacteria. The product of chitosan
oligomers has a high biofunction, one of its function is as
antifungi of aflatoxin-producing 0:2that is a
threat in food sector. This utilization will increase the valueadded of shrimp as well as will implement the zero waste
and the blue economy concept.
Perspektif
Limbah krustase yang tersedia berlimpah di Indonesia dengan nilai rendah dapat diolah menjadi produk bernilai
ekonomis tinggi (harganya 5 kali lipat dari kitosan), yang memiliki bioaktivitas tinggi. Pemanfaatan ini akan
meningkatkan nilai tambah udang sekaligus mengimplementasikan konsep nir limbah dan blue economy.
202
Keunggulan Inovasi
"*†
=
ramah lingkungan.
$
rentang pemanfaatan yang sangat luas, mulai dari industri pangan,
kimia, medis, farmasi, lingkungan, hingga bioteknologi.
Potensi Aplikasi
[`==
kimia yang menghasilkan produk bernilai tinggi.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Ekowati Chasanah;Yusro Nuri Fawzya;
Gintung Patantis; Asri Pratitis
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
203
CAMILAN BERKALSIUM DARI TULANG IKAN NILA
Pengolahan filet nila
menghasilkan limbah
tulang ikan yang cukup
besar jumlahnya dan belum
banyak dimanfaatkan. Salah
satu bentuk pemanfaatannya adalah
dengan mengolahnya menjadi camilan tik-tik
(stik) tulang ikan berkalsium tinggi. Cara pengolahannya
sangat sederhana dan mudah, sehingga dapat dilakukan
oleh seluruh lapisan masyarakat. Produk yang dihasilkan
merupakan makanan camilan yang banyak mengandung
kalsium dengan tekstur yang renyah dan rasa yang gurih.
Selain itu, tik-tik memiliki kandungan protein yang tinggi
pula, sehingga cocok untuk camilan mulai dari anak-anak
hingga orang dewasa.
Tilapia fillet processing industry leaves large amounts of
fishbone waste that is still underutilized. One approach to
utilize the fishbone waste is to process them into tik-tik
fishbone snack which rich in calcium. The tik tik processing
step is very simple and easily done by anyone. The resulting
product is a snack that contains lots of calcium with a
crunchy texture and a savory flavor, with a high content of
protein.
Perspektif
Tulang ikan nila selama ini belum dimanfaatkan dan praktis menjadi masalah bagi lingkungan.
Memanfaatkan tulang ikan nila untuk diolah menjadi makanan camilan yang berkalsium dan berprotein
tinggi akan meningkatkan nilai tambah. Produk ini cocok untuk camilan sehat anak-anak usia sekolah.
204
Keunggulan Inovasi
semua lapisan masyarakat.
Produk yang dihasilkan berkalsium dan berprotein tinggi.
Potensi Aplikasi
[`=
mulai dari skala rumah tangga hingga usaha kecil skala UKM.
Tulang Ikan Nila
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Murniyati; Fera Roswita Dewi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
205
ALAT PENGOLAHAN SELULOSA DARI
LIMBAH RUMPUT LAUT
Limbah padat yang
dihasilkan dari
industri pengolahan
agar, (Gracillaria
maupun Gellidium), banyak
mengandung selulosa, hemi
selulosa dan lignin, yang jumlahnya dapat
mencapai 45% dari berat rumput laut yang diolah. Selulosa
dari limbah ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk,
diantaranya adalah karboksimetil selulosa (CMC) yang
berfungsi sebagai bahan pengental makanan dan minuman.
Inovasi ini berupa rancang bangun alat untuk memurnikan
selulosa. Alat ini dirancang cukup sederhana, sehingga dapat
dirakit oleh bengkel lokal.
Solid waste from agar processing industry contains
cellulose, hemi cellulose and lignin amounting to 45% of
the weight of the processed-seaweed. Cellulose contained
in the seaweed waste can be utilized into various products,
such as carboxymethyl cellulose (CMC). This innovation is
a device specifically designed to purify the cellulose. The
design of the device is simple that it can be assembled by
local garage.
Perspektif
Hasil pengolahan agar dari rumput laut masih menyisakan limbah yang banyak mengandung selulosa.
Selulosa ini dapat dimanfaatkan dan dimurnikan dengan alat yang sederhana dan dapat dikonstruksi
oleh bengkel lokal. Pemanfaatan selulosa dari limbah ini melengkapi usaha pengolahan yang nir
limbah (zero waste) dan meningkatkan nilai tambah rumput laut.
206
Keunggulan Inovasi
Dapat dirangkai dan dioperasikan dengan mudah.
Potensi Aplikasi
Inovasi dapat digunakan oleh usaha atau industri pengolahan
limbah rumput laut, baik skala UKM maupun industri.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
:
:
Alamat
:
Status paten :
Email
:
Abdul Sari; Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk
dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Belum dipatenkan
[email protected]
207
PAPAN PARTIKEL LIMBAH RUMPUT LAUT
Industri pengolahan
rumput laut, terutama
pengolahan agar dari
rumput laut Gracillaria
atau Gellidium, merupakan
salah satu industri penghasil
limbah padat yang cukup besar,
mencapai 70 – 85 % dari berat rumput
laut yang diolah. Limbah tersebut hingga kini menjadi
masalah besar, karena tidak saja menjadi masalah bagi
lingkungan, tetapi juga membutuhkan lahan yang
luas untuk membuangnya dan seringkali lebih besar dari
lahan untuk pabrik pengolahannya. Limbah padat tersebut
terutama terdiri atas selulosa dan lignin yang cukup besar
(45,9%), filter air diatom (3%) dan sisanya adalah air dan
mineral. Dengan kandungan selulosa yang tinggi tersebut,
limbah padat ini dapat dimanfaatkan untuk dijadikan produk
lain, misalnya papan partikel atau papan komposit yang
kuat dan kompak namun ringan. Kekuatan, kekompakan
dan ketahanan papan partikel akan menjadi lebih baik jika
dicampur bahan pengikat atau binder. Produk inovasi ini
merupakan produk baru berupa papan partikel dari limbah
padat indfustri pengolahan rumput laut.
The seaweed Gracillaria or Gelidium processing
industry may generate high amount of waste which are
mainly composed by cellulose and lignin. This waste can be
converted into particle or composite board. This innovative
product is resulted through the application of high
temperature and hydraulic pressure process. The products
can be manufactured at any scale of industry, as substitute
of particle board made from wood or being used as an
insulator.
Perspektif
Limbah sering diartikan sebagai barang yang merugikan dan harus dibuang. Namun, banyak limbah yang memiliki nilai
tinggi jika dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk lain. Contohnya, limbah padat dari pengolahan agar yang banyak
mengandung selulosa dapat dimanfaatkan menjadi papan partikel yang lebih bermanfaat dan bernilai tinggi. Inovasi ini
ikut mendorong kegiatan yang ramah lingkungan dan sekaligus mengimplementasikan konsep nir limbah (zero waste
concept) yang merupakan inti konsep ekonomi biru (blue economy).
208
Keunggulan Inovasi
$`
rayap dan tahan air, sehingga tidak mudah lepas atau terurai.
Produk inovasi dapat diolah dari bahan limbah dengan cara yang
tidak sulit.
Potensi Aplikasi
$` limbah rumput laut baik skala UKM, maupun industri pengolahan rumput
laut untuk memanfaatkan limbahnya, agar tidak mencemari lingkungan. Produknya
dapat dijadikan substitusi papan partikel kayu atau digunakan sebagai insulator.
Inovator/ Peneliti
Nama
:
Instansi
:
Alamat
:
Status Paten :
Email
:
Jamal Basmal; Bakti Berlyanto Sedayu;
Tri Nugroho W; Diini Fithriani
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Telah diajukan untuk mendapatkan paten
[email protected]
209
BIOREMEDIAN ALAMI DARI LIMBAH CAIR
RAJUNGAN DAN SURIMI
Bakteri dari limbah cair
pengolahan rajungan dan
surimi (Serratia marcescens
Strain PN1400, Staphylococcus
sciuri, Exigiobacterium sp., Bacillus
thuringiensis Strain) dapat digunakan
sebagai bioremedian alami. Penanganan limbah cair secara
biologis menggunakan sumberdaya lokal di kawasan
industri, memberikan nilai tambah yang tinggi dan ramah
lingkungan. Bakteri ini mereduksi cemaran dalam limbah
cair seperti protein, lemak, ammonia, dan sulfida, serta
tidak meningkatkan pH, menurunkan kadar BOD5 limbah
sebesar 50% dan COD sebesar 25%. Konsentrasi 5% dari
volume limbah sudah menurunkan polutan yang ada pada
limbah cair perikanan.
Liquid waste from fish processing industry may contain high
level of pollutant which is a problem for the environment.
This innovation shows how to reduce the pollutant level
in the wastewater by using natural bio-remediant which
is composed by local bacteria (Serratia marcescens Strain
PN1400, Staphylococcus sciuri, Exigiobacterium sp., Bacillus
thringiensis Strain).
Perspektif
Bioremedian alami dari limbah cair industri surimi dan rajungan dimanfaatkan untuk mengatasi
limbah cair itu sendiri, merupakan inovasi untuk mengatasi permasalahan limbah yang cukup
besar di industri perikanan.
210
Keunggulan Inovasi
Dapat mereduksi kandungan cemaran dalam limbah cair, seperti
protein, lemak, ammonia, dan sulfida serta tidak meningkatkan pH
limbah cair.
Dapat menurunkan kadar BOD5 limbah sebesar 50% dan COD sebesar 25%.
Konsentrasi 5% dari volume limbah sudah menurunkan polutan
yang ada pada limbah cair perikanan.
Diisolasi dari bahan lokal Indonesia asal limbah cair rajungan dan surimi.
Potensi Aplikasi
|]
*!
apabila limbah cair ditampung sebelum dibuang ke saluran pembuangan
atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Devi Ambarwaty Oktavia; Singgih Wibowo
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
211
KITIN DAN KITOSAN DARI LIMBAH KRUSTASE
Industri pengolahan
ikan banyak
menghasilkan limbah
yang sebenarnya dapat
dimanfaatkan untuk diolah
menjadi produk lain yang
bernilai tinggi, bahkan sering kali
lebih tinggi dari daging ikannya sendiri. Limbah tersebut
diantaranya adalah cangkang atau kulit krustase, terutama
udang atau rajungan/kepiting, yang dapat diolah menjadi
kitin dan kitosan. Kitin merupakan polimer hidrokarbon
yang mengandung nitrogen yang banyak diperlukan oleh
industri makanan dan industri lainnya. Kitosan merupakan
senyawa turunan kitin yang diperoleh dari proses deasetilasi
menjadi senyawa yang lebih mudah larut air. Kedua senyawa
ini memiliki karakteristik yang lebih baik daripada selulosa,
sehingga pemanfaatannya lebih luas. Pemanfaatan cangkang
krustase selain dapat mengatasi masalah limbah, juga
sekaligus menghasilkan senyawa yang bernilai tambah dan
bernilai guna tinggi.
This innovation is a technology to produce chitin and
chitosan from shrimp or crab shell as an implementation of
zero waste concept and blue economy.
Perspektif
Limbah krustase sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan. Harga kitin di pasar Internasional berkisar
antara USD 5-15 per kg, sedangkan kitosan mencapai USD 20-100 per kg, tergantung karakteristik mutu dan
peruntukannya. Bahan baku untuk produksi kitin dan kitosan yang berupa cangkang krustase tersedia dalam
jumlah melimpah di pabrik pengolahan udang dan unit pengolahan rajungan dengan harga yang murah. Inovasi ini
merupakan teknologi untuk memproduksi kitin dan kitosan dari cangkang udang atau rajungan yang merupakan
implementasi dari zero waste concept dan blue economy.
212
Keunggulan Inovasi
"*
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
$
rentang pemanfaatan yang sangat luas, mulai dari industri pangan,
kimia, medis, farmasi, lingkungan, hingga bioteknologi.
Potensi Aplikasi
"*
kecil, UKM hingga industri dalam skema satelit sesuai dengan karakteristik teknologinya. Teknologi
untuk mengawetkan cangkang, yang menghasilkan Cangkang Awet (CA) dan tidak berbau, dapat
dimanfaatkan oleh nelayan atau pengolah kecil. Teknologi pengolahan kitin atau Cangkang Lemas (CA)
dapat dimanfaatkan oleh usaha skala UKM, sedangkan pengolahan kitosan dapat dimanfaatkan
oleh industri yang lebih besar.
Inovator/ Peneliti
Inovator
Institusi
: Singgih Wibowo; Syamdidi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
213
EMESTRIN: PRODUK DARI KAPANG LAUT
SEBAGAI ANTI KANKER
Salah satu senyawa
yan sudah berhasil
obat yang
da diproduksi
diisolasi dan
oleh Balitbang KP adalah
dipr
emestrin yang diproduksi
oleh
kapang laut Emericella nidu
nidulans. Kapang
laut dapat menghasilkan senyawa obat secara kontinyu. Jika
ditumbuhkan dalam kondisi yang sesuai, dapat menjadi
“pabrik” berbagai macam senyawa obat yang mampu
menghambat perkembangan sel kanker dan bakteri patogen.
Senyawa ini dapat dikembangkan dalam skala industri kimia
dan farmasi.
Marine fungi is a biological factory which may produce
high amount of compounds for pharmaceutical use. This
innovation reveals the method to produce emestrin, one of
the valuable pharmaceutical compounds from marine fungi
to inhibit the development of cancer cells and pathogenic
bacteria. This innovation can be applied in pharmaceutical
or chemical industry.
Perspektif
214
dalam pencarian obat-obatan dari kapang laut.
|
=~
obat dari bahan alami laut, baik secara kimia maupun biologi.
Keunggulan Inovasi
{[
{
sehingga produksi senyawa obat dapat dilakukan secara menerus.
]
karena selama ini belum dimanfaatkan.
Potensi Aplikasi
kapang laut
Emericella nidulans
|
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Muhamamad Nursid; Nurrahmi Dewi Fajarningsih; Asri
Pratitis; Ekowati Chasanah
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
215
PRODUKSI ENZIM PROTEASE DARI IKAN
Enzim protease
(proteinase dan
peptidase) berperan
sebagai biokatalisator
bagi berlangsungnya reaksi
pemecahan protein. Protease
dapat diisolasi dan diproduksi dengan
bantuan mikroba yang tumbuh di ikan. Mikroba ini dapat
didorong untuk memproduksi protease dalam jumlah
besar, dengan bioaktifitas tinggi, untuk kemudian diisolasi
menjadi ekstrak skala industri. Protease hasil ekstraksi ini
dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri yang
kebutuhanya sangat tinggi, mulai dari industri makanan,
minuman, detergen, pasta gigi dan sebagainya.
Fish is a good medium for the growth of various microbes
which can produce useful enzyme, such as protease. This
innovation introduces protease from microbes which grow
in fish. Microbial protease of fish has high activity level and
very suitable for fish processing industry.
Perspektif
Ikan merupakan media yang baik bagi tumbuhnya berbagai mikroba penghasil protease dan menghasilkan protease
yang tinggi bioaktifitasnya, yang selanjutnya menyebabkan kerusakan atau pembusukan ikan. Memanfaatkan
mikroba yang tumbuh dari ikan untuk dimanfaatkan proteasenya untuk keperluan pengolahan ikan merupakan
cara yang cerdas dan produktif, karena protease tersebut sudah terinduksi oleh protein ikan, sehingga kinerja
protease pada protein ikan akan lebih baik. Inovasi ini meliputi seleksi mikroba penghasil protease potensial,
isolasi dan propogasi mikroba, produksi dan ekstraksi protease.
216
Keunggulan Inovasi
$
=** kembali pada industri pengolahan ikan.
Potensi Aplikasi
|=
$=
untuk industri pengolahan ikan, seperti misalnya untuk mengurangi rasa pahit pada
produksi hidrolisat ikan, produksi bumbu penyedap, mempercepat pembuatan kecap ikan,
silase, penghilangan sisik, dsb.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Rosmawaty Peranginangin; Singgih Wibowo;
Bagus Sediadi Bandol Utomo; Mono Hartono
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
217
LIMBAH CAIR SURIMI UNTUK PRODUKSI ENZIM
TRANSGLUTAMINASE
Di industri pangan,
Transglutaminase
mikroba (MTGase)
antara lain digunakan
untuk meningkatkan mutu
tekstur daging, mengurangi
kerusakan daging ketika dipotong tipistipis, dan dengan penambahan kaseinat dapat membentuk
struktur (restrukturisasi) potongan kecil daging menjadi
satu kesatuan yang utuh. Enzim ini umumnya diproduksi
dari mikroba menggunakan medium yang mengandung
bahan-bahan yang masih diimpor dan relatif mahal, sehingga
harga enzimnya pun mahal. Bahan-bahan lokal seperti dan
tapioka limbah cair surimi dapat dimanfaatkan sebagai
medium pertumbuhan mikroba untuk menghasilkan enzim
MTGase. Inovasi ini meliputi cara produksi MTGase
menggunakan mikroba Streptoverticillium ladakanum dengan
memanfaatkan bahan lokal, terutama limbah cair surimi.
The medium used to produce microbial transglutaminase,
is expensive. This innovation introduces the process to
produce microbial transglutaminase using inexpensive
surimi liquid waste and cassava flours hydrolysates. This
process results in high activity of transglutaminase enzyme
which is potential to be directly used by food industries.
Perspektif
Enzim TGase merupakan enzim yang sangat penting dalam industri makanan yang dapat diproduksi oleh mikroba.
Namun, biaya produksinya relatif tinggi akibat medium yang digunakan umumnya dari bahan impor yang mahal.
Menggantikan bahan-bahan medium tersebut dengan bahan lokal yang murah, seperti tepung tapioka sebagai
sumber karbon dan limbah cair surimi sebagai sumber protein, dapat menekan biaya produksi. Pemanfaatan limbah
untuk medium ini sekaligus membantu mengatasi masalah lingkungan dan mengimplemetasikan zero waste concept
dan blue economy.
218
Keunggulan Inovasi
†"
medium lokal yang murah.
Potensi Aplikasi
|= meningkatkan nilai tambah produk berbasis protein.
Inovator/ Peneliti
Inovator
: Yusro Nuri Fawzya; Ekowati Chasanah; Pujoyowono M;
Dewi Seswita Zilda; Gintung Patantis; Achmad Poernomo;
Asri Pratitis; Singgih Wibowo
Institusi
: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan
Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Alamat
: Jl. KS Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Status paten : Belum dipatenkan
Email
: [email protected]
219
220
BAGIAN IV
Kelembagaan
221
222
PENGANTAR
KELEMBAGAAN
Inovasi sosial ekonomi hasil balitbang dalam bentuk kebijakan dan kelembagaan merupakan strategi yang dibangun untuk
mengawal tercapainya Indikator Kinerja Utama dan tujuan pembangunan kelautan dan perikanan. Implementasi kebijakan
sangat dipengaruhi oleh aspek sosial ekonomi masyarakat. Kebijakan sosial ekonomi kelautan dan perikanan sangat dinamis
dan banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Oleh sebab itu, hasil penelitian sosial ekonomi kelautan dan perikanan akan
menjelaskan pengaruh dari dinamika faktor eksternal, yang diikuti dengan usulan kebijakan atau pendekatan kelembagaan
untuk mengawal pencapaian tujuan pembangunan kelautan dan perikanan.
Secara umum, usulan kebijakan untuk mengawal pencapaian tujuan pembangunan kelautan dan perikanan dapat
dikategorikan menjadi:
a. Kebijakan untuk mengadvokasi kebijakan yang sedang dilaksanakan.
b. Kebijakan untuk merenovasi kebijakan yang telah ada.
c. Kebijakan untuk mengkoreksi dan memperkuat kebijakan yang sedang berjalan.
Kategori kebijakan pembangunan tersebut dapat dilaksanakan untuk memacu pembangunan sektor kelautan dan perikanan,
melalui intervensi kebijakan fiskal, kebijakan moneter ataupun dalam bentuk kegiatan aksi yang dilaksanakan melalui berbagai
bentuk kelembagaan.
223
MENGENAL KLINIK IPTEK MINA BISNIS SEBAGAI
PELOPOR PENYEBARAN IPTEK
Perspektif
Klinik IPTEK Mina Bisnis
(KIMBis) merupakan
lembaga masayarakat
kelautan dan perikanan yang
dibentuk secara partisipatif oleh
berbagai pemangku kepentingan, untuk
mengembangkan berbagai peluang dalam rangka mewujudkan
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kelembagaan ini
dikembangkan dengan pendekatan bottom-up.
Pemangku kepentingan yang berperan adalah : instansi
pemerintah pusat dan daerah, kelompok masyarakat, swasta,
LSM, peneliti dan penyuluh. Potensi yang dimiliki pemangku
kepentingan adalah : teknologi, program perbantuan, jaringan
pasar dan lain sebagainya. Keberadaan KIMBis diharapkan
membantu tercapainya tujuan dari setiap pemangku
kepentingan.
Pembentukan KIMBis terkait dengan kebijakan pemerintah
tentang program pengentas kemiskinan dan program-program
pro rakyat. Tahun 2011 dibentuk 5 KIMBis, yaitu : di Desa
Langensari Kecamatan Blanakan Kabupaten Subang, Desa
Eretan Wetan Kec. Kandanghaur Kab. Indramayu, Desa Sidharjo
Kec. Pacitan Kab. Pacitan, Desa Weru Komplek, Kecamatan
Paciran, Kab. Lamongan, Desa Kampuh Bunga dan Desa Muara
Tinobu, Kecamatan Lasolo, Kab. Konawe Utara. Tahun 2012
dibentuk KIMBis di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari,
224
Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal, Desa Gringsing, Kecamatan
Bulakamba, Kab. Brebes, Desa Deah Baro, Kecamatan Meuraxa,
Kota Banda Aceh, Desa Ponjong, Kecamatan Genjahan, Kab.
Gunung Kidul, Desa Wiring, Kecamatan Suppa, Kab. Pinrang,
Desa Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro, Kab. Wonogiri.
Pada tahun 2013 akan dibentuk KIMBis baru di Kabupaten
Sukabumi, Kab. Lombok Timur, dan kawasan Danau Toba.
Klinik IPTEK Mina Bisnis (KIMBis) or Clinic of Marine and
Fisheries Science Technology Business developed by bottomup approach and established by the participation of marine
and fisheries communities such as government, private sector,
NGO, researcher and extension officer, in order to enhance
the people’s welfare by using the research and development
result from The Agency of Marine and fisheries Research and
Development. In order to empower the community, KIMBis
carries out these following activities:
Assisting on accelerating technology from IPTEKMAS
program.
Implementing the principles of blue economy in the
fisheries industry.
Developing network with local government.
Helping on achieving aid program and optimize the utilization
of aid for the community.
Tujuan
Tujuan jangka panjang KIMBis adalah untuk mewujudkan tumbuh dan berkembangnya kelembagaan yang mampu
mewujudkan kewirausahaan masyarakat yang memanfaatkan IPTEK dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.
Adapun tujuan jangka pendeknya adalah :
Mendorong percepatan peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan.
Mempercepat dan mengkaji proses penerapan teknologi hasil penelitian dari satker lingkup Balitbang Kelautan dan
perikanan.
Mendorong data dan informasi, serta menganalisis perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat sebagai dampak dari
penerapan IPTEK.
Implementasi
Operasional KIMBis pada setiap lokasi dilaksanakan oleh Manajer KIMBis yang dibantu oleh 3 asisten manajer KIMBis.
Dalam melaksanakan tugasnya, Manajer KIMBis berkoordinasi dengan dan unsur dari Dinas Kelautan dan
Perikanan. Oleh sebab itu, dalam rangka pemberdayaan masyarakat KIMBis tersebut melakukan empat hal, yaitu :
Membantu percepatan penyebaran teknologi hasil introduksi dari program IPTEKMAS.
Mengimplementasikan prinsip-prinsip & usaha perikanan.
Membangun jaringan kerja dengan SKPD dalam rangka memperoleh kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penerapan
IPTEK.
Membantu pencapaian program perbantuan dan mengoptimalkan pemanfaatannya untuk masyarakat banyak.
Kondisi KIMBis dalam penerapan IPTEK, bermitra dengan satker lingkup Balitbang KP yang memiliki teknologi tersebut.
Sedangkan dalam pemberdayaan masyarakat, bermitra dengan berbagai tenaga professional : peneliti, penyuluh, maupun
tenaga dari universitas dan LSM. donasi untuk melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dan penerapan
IPTEK, diharapkan berasal dari institusi pemerintah pusat, SKPD-SKPD, dan program "(CSR)
dari perusahaan swasta nasional dan asing.
Inovator/ Peneliti
Nama
Instansi
Alamat
Email
:
:
:
:
Armen Zulham
Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS. Tubun, Petamburan IV, Jakarta Pusat 10260
[email protected]
225
Perspektif
Perikanan
Tangkap
berbasis Budidaya (";
!, "&!) adalah
kegiatan perikanan tangkap
dimana ikan hasil tangkapan
berasal dari benih ikan hasil budidaya
yang ditebarkan ke badan air dan benih ikan
yang ditebarkan tumbuh dengan memanfaatkan makanan
alami yang tersedia. Pengembangan CBF ikan patin siam
(
) di waduk Gajahmungkur,
Wonogiri telah meningkatkan produksi ikan sebesar 200%
dari total produksi ikan sebelumnya dan di Waduk Malahayu,
Brebes telah meningkatkan produksi ikan sebesar 60% dari
total produksi sebelumnya. Peningkatan hasil tangkapan
tersebut telah berdampak terhadap peningkatan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat sekitar. Salah satu kunci keberhasilan
dalam pengembangan CBF di perairan waduk tersebut adalah
terbentuknya kelembagaan pengelola secara lokal yang handal
(dalam perspektif perberdayaan masyarakat lokal) yang berperan
sebagai ujung tombak dalam pengelolaan perikanan di perairan
waduk tersebut, baik pada tahap perencanaan, penebaran ikan
maupun pemanfaatan serta pendayagunaannya. Pada tahun 2002,
di Waduk Gajahmungkur terbentuk sebanyak 15 kelompok
nelayan dan berkembang menjadi 34 kelompok nelayan pada
tahun 2012 dengan total anggota sebanyak 1320 orang, sedangkan
di waduk Malahayu telah terbentuk kelompok Nelayan Nila Jaya
yang mempunyai multi-fungsi dan beranggotakan 120 orang.
226
Rejim pengelolaan yang dikembangkan di ke dua perairan waduk
tersebut dikenal sebagai rejim “ ;” atau
pengelolaan perikanan secara bersama dimana terjadi pembagian
peran dan wewenang antara pemerintah dan masyarakat
(kelompok pemanfaat perikanan) dalam pengambilan keputusan
pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya.
";#
";
2##
<2 ;
"
%
5=2>%+2
&%"?2
2@JJQXJQ
2 2' 2
20"&!2#
2
;*@JJ@5=
2YZ5[2
\]5[@JY@#Y\@J#
+25[^_
?`#Y@J0
2;5[
#
2 8 8 ;
Permasalahan
Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan kelembagaan ko-manajemen CBF di perairan waduk adalah
sebagai berikut:
$
‡ˆ[
didasarkan pada hasil kajian ilmiah yang memadai sehingga banyak yang hanya bersifat seremonial dan politis.
$
‡ˆ = diperlukan, yakni (1) pemberdayaan masyarakat lokal, (2) penebaran benih ikan, (3) penetapan daerah dengan pemanfaatan
terbatas, (4) pembenihan ikan yang sesuai untuk ditebar, (5) pengelolaan lingkungan dan (6) pengaturan perikanan.
{
* pemanfaat (nelayan, pembudidaya, pedagang dan pengolah) belum banyak terlibat dalam proses pengelolaan perikanan.
Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat lokal melalui penguatan kelembagaan pengelola perikanan secara bersama
menjadi kunci keberhasilan pengembangan CBF di perairan waduk yang biasanya tidak pernah diperhatikan dan menjadi
fokus serta persyaratan utama.
Implikasi
$]
pengembangan CBF. Untuk itu, identifikasi produktivitas dan potensi produksi ikan di perairan waduk Indonesia yang
mencapai luas lebih dari 55.000 hektar perlu dilakukan.
$
‡ˆ
lokal, (2) penebaran benih ikan, (3) penetapan daerah dengan pemanfaatan terbatas, (4) pembenihan ikan yang sesuai untuk
ditebar, (5) pengelolaan lingkungan dan (6) pengaturan perikanan.
$
]=
]
tombak dan pelaku utama dalam pengelolaan perikanan. Penguatan kapasitas tersebut sekaligus mendorong rasa kepedulian,
memiliki dan memanfaatkan sumberdaya perikanan yang dikelola secara berkelanjutan.
]]~]
Inovator/ Peneliti
Nama :
Instansi :
Alamat :
Email :
Endi Setiadi Kartamihardja dan Sonny Koeshendrajana
Pusat Penelitian Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Sumbedaya Ikan
Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta
[email protected]
227
228
P enutup
229
230
PENUTUP
Menjadi jelas bagi kita, bahwa hasil-hasil penelitian dan pengembangan (litbang) di Badan Penelitian dan
Pengembangan Kelautan dan Perikanan sesungguhnya sudah mengarah pada akselerasi penerapan konsep “Blue
Economy”. Hal ini terlihat dari berbagai temuan dan produk hasil litbang yang ditampilkan dalam buku ini, mengarah
pada pencapaian keseimbangan ekologi, meminimalkan limbah (“minimize waste”), memperluas inklusi sosial, serta
mendorong tercapainya multiplier effect menggunakan pendekatan teknologi inovatif dan adaptif.
Sesuai dengan judul buku ini, pendekatan inovatif adalah pendekatan yang mengedepankan suatu gagasan baru
untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa penelitian. Pendekatan inovatif dilengkapi
dengan upaya perbaikan yaitu usaha sistematis untuk melakukan penyempurnaan dan “improvement” yang terus menerus
sehingga buah inovasi itu dapat dirasakan manfaatnya. Semua ini, tentunya bermuara pada suatu harapan besar yakni
dapat meningkatkan produksi, memperkuat daya saing komparatif dan kompetitif, menghasilkan mutu produk yang
tinggi dan jenis produk yang beragam.
Pada akhirnya, semua ini diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kiranya, hasil litbang yang
tertuang dalam buku ini menginspirasi stake holders di bidang kelautan dan perikanan untuk terus menerus melakukan
perbaikan dan perubahan yang diperlukan untuk peningkatan kemanfaatan sumberdaya kelautan perikanan yang
maksimal bagi masyarakat. Semoga.
231
232
LAMPIRAN
233
Satuan Kerja Lingkup Balitbang
Kelautan dan Perikanan
234
DAFTAR ALAMAT UPT
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KELAUTAN DAN PERIKANAN
No
Unit Kerja
Alamat
PUSAT PENELITIAN PENGELOLAAN
PERIKANAN DAN KSDI
Jl. Pasir Putih I, Ancol, Jakarta Utara
Telp 021-6414686
Fax 021-6414640
2
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
PERIKANAN BUDIDAYA
Jl. Raya Ragunan No. 20 Pasar Minggu,
Jakarta Selatan 12540 – DKI Jakarta
Telp (021) 7805052
Fax (021) 7815101
3
PUSAT PEREKAYASAAN DAN PENGKAJIAN
TEKNOLOGI KELAUTAN DAN PERIKANAN
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur Jakarta 14430
Telp 021- 64711583
Fax 021- 64711438
4
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
SDLP
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur Jakarta 14430
Telp 021- 64711583
Fax 021- 64711438
5
BALAI BESAR PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA
LAUT – GONDOL
Dusun Gondol Desa Penyabangan
PO BOX 140 Singaraja 81101
Telp. (0362) 92278
Faks. (0362) 92272
6
BALAI BESAR PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN PENGOLAHAN PRODUK
DAN BIOTEKNOLOGI KELAUTAN DAN
PERIKANAN
7
BALAI BESAR PENELITIAN SOSIAL EKONOMI
KELAUTAN DAN PERIKANAN
1
Jl. KS. Tubun Petamburan VI Jakarta 10260
Telp. (021) 53650157
Faks. (021) 53650158
Jl. KS. Tubun Petamburan VI Jakarta 10260
Telp. (021) 53650162
Faks. (021) 53650159
235
8
BALAI PENELITIAN PERIKANAN LAUT
Jl. Muara baru Ujung, Kompleks Pelabuhan
Perikanan Samudera Nizam Zachman, Kelurahan
Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara
14440 – DKI Jakarta
Telp. (021) 6602044
Faks. (021) 6605912
9
BALAI PENELITIAN PERIKANAN PERAIRAN
UMUM
Jl. Beringin No. 08 Mariana Palembang
Telp. (0711) 7537194
Faks. (0711) 7537205
10
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU
Jl. Makmur Dg. Sittaka No.129
Maros 90512 – Sulawesi Selatan
Telp. (0411) 371544
Faks. (0411) 371545
11
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR
Jl. Sempur No.1 Po Box 150, Kelurahan Sempu,
Kecamatan Tanah Sareal, Bogor 16154 – Jawa Barat
Telp. (0251) 8313200
Faks. (0251) 8327890
BALAI PENELITIAN OBSERVASI LAUT
Banjar Dangin Berawah, Desa Perancak,
Kecamatan Negara
Kabupaten Jembrana 82251 – Bali
Telp. (0365) 44266
Faks. (0365) 44277 / 44278
BALAI PENELITIAN PEMULIHAN DAN SUMBER DAYA IKAN JATILUHUR
Jl. Cilalawi No. 01 Jatiluhur,
Purwakarta – Jawa Barat
Telp. (0264) 231836
Faks. (0264) 208768
12
13
236
BALAI PENELITIAN PEMULIAAN IKAN
Jl. Raya 2 Sukamandi, Kecamatan Ciasem,
Kabupaten Subang 41256 – Jawa Barat
Telp. (0260) 520500
Faks. (0260) 520663
15
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
BUDIDAYA IKAN HIAS
Jl. Perikanan No.13 RT/RW.01/02 Kelurahan
Pancoran Mas
Depok 16436 – Jawa Barat
Telp/Faks . (021) 7520482
17
LOKA PENELITIAN SUMBERDAYA DAN
KERENTANAN PESISIR
Jl. Raya Padang Painan Km. 16,Bungus Padang
SUMBAR 25245
Telp/Faks 0751-751458
18
LOKA PENELITIAN PERIKANAN TUNA
Jl. Pelabuhan Benoa, Pelabuhan Benoa Bali
Telp. (0361) 726201
19
LOKA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
MEKANISASI PENGOLAHAN HASIL
PERIKANAN
Jl. Imogiri Barat km. 11,5 Jetis – Bantul
DI Yogyakarta 55781
Telp (0274) 6600022
Faks : (0274) 6600028
20
LOKA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Jl. Etalase Perikanan, Ds. Tabulo Selatan
Kec. Mananggu, Boalemo, Gorontalo
Telp (-)
21
LOKA PEREKAYASAAN TEKNOLOGI
KELAUTAN DAN PERIKANAN
Jl. Poros Longa, Ds. Wangi-Wangi, Kec. Patuno,
Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Telp (-)
14
237
238
Download
Study collections